Rabu, 24 April 2024

Literasi Umroh, Gimana Tau Mabrur atau Tidak?

Semua orang pasti ingin berhaji atau umroh. Melakukan perjalanan menuju rumah Allah, Ka’bah baitullah di Masjidil Haram Mekkah. Doa dan harapan sepulangnya, tentu ingin menhadi haji yang mabruru. Yaitu haji yang baik atau yang diterima oleh Allah SWT. Secara syar’i, mabrur berarti melaksanakn iandah haji atau umroh sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dengan memperhatikan berbagai syarat, rukun, dan wajib, serta menghindari hal-hal yang dilarang (muharramat). Semuanya dilakukan atas niat dan dorongan iman serta semata-mata hanya mengharap ridho Allah.


Lalu, gimana menilai ibadah haji atau umroh seseorang mabrur atau tidak? Jawabnya, tentu ada banyak literatur yang menjadi rujukan. Tapi dapat dismpulkan, bahwa ada 3 (tiga) ciri ibadah haji atau umroh yang mendapatkan predikat mabrur, yaitu 1) santun dalam bertutur kata (thayyibul kalam), 2) menebarkan kedamaian (ifsya’us salam), dan 3) memiliki kepedulian sosial untuk mengenyangkan orang lapar (ith’amut tha’am). Artinya, ibadah haji atau umroh yang mabrur tidak hanya berdampak positif terhadap kehidupan orang yang menjalankannya. Melainkan juga berdampak besar terhadap sisi sosial di lingkungannya berada.

 

Ada pula yang menyebut, mabrur atau tidak mabrurnya dalam berhaji atau umroh sangat dipengaruhi lima sifat atau tanda yang terkado pada orangnya. Yaitu 1) dilakukan secara ikhlas, tidak ada riya’, tidak ada sum’ah, 2) menggunakan harta yang halal, 3) dilakukan jauh dari maksiat, dosa, dan penyimpangan agama, 4) Atas dasar akhlak yang baik, dan 5) melakukan syiar dan menebar manfaatnya atas dasar ketundukan kepada Allah. Lebih tenang dan tidak tergesa-gesa saat berucap dan berbuat. Lebih sabar dan bersyukur dalam kesehariannya.

 


Wallahu a’lam, siapapun dan kita tidak pernah tahu mabrur atau tidaknya haji atau umroh seseorang. Tapi sejauh niat dan ikhitar yang dilakukan baik, plus ditambah doa yang dipanjatkan, insya Allah haji kita mabrur. Seperti yang saya dan anak saya jalankan bersama rombongan umroh syawal Alhijaz pada 14-23 April 2024 lalu. Selain menjalankan ibadah dan mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya.” (QS. Al-Hajj: 30).

 

Siapapun saat berada di hadapan Ka’bah baitulllah, ada yang tersujud sambil menangis, sambil berlama-lama sujud. Atau hanya menempelkan telapak tangan atau mencium kiswah Ka’bah, siapapun tidak aada yang tahu. Karena hanya pribadi yang menjalankan haji/umroh an Allah SWT yang tahu. Saat terjadi dialog batin antara seorang hamba dan Allah SWT. Sebagai pengakuan atas dosa dan ssalahnya, di samping menyadari kekurangannya sebagai mahkluk Allah. Semuanya, untuk menjadikan diri lebih baik dari kondisi sebelumnya.

 

Dan semuanya dapat dibuktikan sepulan haji atau umroh, agar menjadi lebih santun dalam bertutur kata, lebih damai hati dan pikirannya, serta lebih peduli sosial kepada sesama. Dan pada akhirnya, “Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga.” (HR Bukhari). Salam literasi #CatatanUmroh #HajiMabrur #TBMLenteraPustaka



 

Sabtu, 13 April 2024

Literasi Seorang Musafir

Memang benar, kehidupan dunia ini hanya sebentar. Hanya sekadar melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Bahwa kita sedang melakukan perjalanan atau safar. Sebagai yang melakoni, kita sendiri hanya seoarang musafir. Tidak lebih tidak kurang. Karenanya, siapapun harus sadar. Dan jangan lalai mengingat “kita dalam perjalanan”. Seperti kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, “Manusia sejak diciptakan senantiasa menjadi musafir, batas akhir perhentian perjalanan mereka adalah surga atau neraka” (Al-Fawaid, hal. 400).

 

Patut direnungkan, mudik lebaran hari ini. Hanya sebuah perjalanan “pulang kampung”. Saat mudik, apa kita bisa membawa semua bekal untuk ke kampung? Apakah semua yang kita raih dan cari di perantauan bisa dibawa pulang ke kampung? Sama sekali tidak, hanya yang kita ingat dan mampu membawanya saja. Begitu pula perjalanan kita ke kampung akhirat. Tidak satu pun dari kekayaan dunia dan kemegahannya yang akan kita bawa. Harta, pangkat, bahkan jabatan sekalipun tidak sedikit pun bisa dibawa. Hanya amal kebaikan kita saja yang terbawa. Amal yang tidak terlihat (tidak ada bendanya) di dunia, di tempat merantau kita sekarang.

 

Besok, ketika manusia akan dibawa ke kubur dan masuk ke liang lahat. Semua akan mengikutinya, yaitu keluarga, harta, dan amalnya. Tapi keluarga dan harta akan kembali ke dunia dan ke tempatnya di perantauan. Tapi yang tetap mengikuti bersama si mayit hanya amalnya saja, hanya amal soleh yang menyertainya.

 

Maka kata Rasulullah SAW, “Apa peduliku dengan dunia? Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya” (HR. Tirmidzi no. 2551).

 

Namanya dalam perjalanan atau safar, pasti ada kesusahan dan ketidaknyamanan. Apalagi dalam perjalanan yang jauh lagi Panjang. Tidak mungkin kita hanya mengalami senang dan gembira terus-menerus. Pasti ada sedih dan duka. Ada manis ada pahit. Bahkan tidak sedikit yang dipakai untuk bermain-main dan senda gurau. Maka Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan, “Orang yang berakal akan tahu bahwa safar itu identik dengan kesusahan dan terpapar berbagai bahaya. Tempat di mana manusia berharap adanya nikmat, kelezatan dan kenyamanan hanya terjadi ada saat safar telah selesai” (Al-Fawaid hal. 400).

 


Semoga kita tidak lagi tertipu dunia. Tidak lagi dilalaikan oleh kehidupan dunia. Karena dunia hanya sementara. Jangan terlena dengan kehidupan dunia. Apalagi hanya untuk bermain-main dan bersenda-gurau serta saling berbangga-bangga saja. Lebih baik persiapkan bekal untuk pulang kampung akhirat. Karena akhirat adalah pemberhentian terakhir dan ruang kehidupan yang sesungguhnya. “Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah kesenangan sementara. Dan sesungguhya akhirat itu adalah negeri tempat kembali” (QS. Ghafir: 39).

 

Berbagai literatur telah jelas menyebut. Bahwa dunia adalah “hukuman” bagi Nabi Adam dan Siti Hawa. Mumpung masih ada waktu, mulailah berbenah menjadi lebih baik. Hijrah untuk memperbaiki urusan akhirat, bukan semata-mata dunia. Sungguh, sebaik-baik waktu adalah saat kita menyadari kekurangan dan mengakui kerendahan. Agar kelak, kita termasuk orang-orang beruntung dan sukses. Yaitu dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari neraka.

 

Alhamdulillah hari ini (14/4/2024), saya pun berniat melakukan perjalanan menuju rumah Allah SWT. Umroh syawal, sebagai cara untuk terus memperbaiki diri dan tetap bertekad menjadi baik di balik cerita buruk yang dibuat orang lain. Untuk menggapai ridho-Nya, meraih rahmat-Nya. Karena saya, bukan apa-apa dan bukan pula siapa-siapa. Literasi seoarang musafir, sadar dan mau memperbaiki diri.

 

Nawaitul 'umrota wa ahramtu bihi lillahi ta'ala. Saya berniat melaksanakan umroh dan berihram karena Allah Subhaanahu Wata'ala, amiin. Jadilah literat! #HikmahLebaran #CatatanIdulFitri #TBMLenteraPustaka

 


Literasi Lebaran, Momen Untuk Lebih Zuhud Terhadap Dunia

Bulan Syawal, sebagai tanda hadirnya Idul Fitri, adalah bulan peningkatan. Meningkat dalam amal ibadah setelah ditempa habis-habisan di bulan Ramadan, di samping kesalehan sosial. Sekaligus sedih “ditinggal” bulan Ramadan yang belum tentu bertemu lagi tahun depan. Sehingga Idul Fitri di bulan Syawal hasrunya tidak hanya identik dengan mudik, silaturahim, pakaian baru, makanan lezat, dan lainnya yang bersifat konsumtif. Tapi juga momen penting untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas ibadah.

 

Karenanya, Insya Allah besok Minggu sore (14 s.d 23 April 2024), saya bersama anak bungsu saya Farah G. Elsyarif menunaikan ibadah umroh ke tanah suci Mekah dan Madinah sebagai perjalanan mendekatkan diri pada Sang Khalik. Difasilitasi oleh AlHijaz Indowisata dengan Tour Leader Bagas Wirantoro dan muthowif Ustadz Muhammad Huraibi bersama 43 jamaah lainnya, Insya Allah “hijrah” melalui Dubai sebelum ke Madinah dan Mekah sebagai momen umroh awal Syawal untuk merenung dan memperbaiki diri dalam ibadah konkret kepada-Nya.

 

Selain menghadapkan diri pada kebesaran dan keagungan Allah SWT, umroh Syawal pun diniatkan menjadi ajang pembersihan diri dari dosa-dosa yang telah dilakukan plus mendidik hati menjadi lebih ikhlas dalam berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama.

 

Umroh kali ini memang bukan yang pertama. Tapi melalui umroh Syawal ini, saya berniat untuk belajar lebih zuhud terhadap dunia. Untuk menjalankan pola hidup yang menjaga diri dari pengaruh harta atau soal keduniaan. Untuk tidak terlalu sibuk terhadap hal-hal yang bersifat materi. Tapi lebih fokus pada urusan akhirat. Selain karena alasan usia, juga untuk menggapai ketenangan hati dan komitmen menebar manfaat kepada sesama, khususnya melalui kiprah sosial di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.  Semoga umroh kali ini berjalan lancar, sehat dan mendapat ridho Allah SWT.

 


Dengan berzuhud, seperti memakai ihram dan melepas pakaian yang berjahit, berarti bersedia untuk menjuauhkan diri dari sifat iri, dengki, hasud, benci yang ada dalam tubuh ini. Untuk melangkah ke sifat-sifat Allah, seperti “rahman” dan “rahim”, penuh cinta dan kasih sayang atas nama kemanusiaaan. Agar lebih peduli kepada orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita.

 

Umroh untuk lebih bersemangat dalam mencari akhriat. (At Tabshirah karya Ibnul Jauzi). Membesarkan asma Allah di Masjid Nabawi dan pintu raudhah (Madinah), serta menitikkan air mata syahdu kehambaan di Masjidil Haram dan Ka’bah (Mekah). Untuk menjalankan thawaf, sholat wajib dan sunnah, zikir, i’tikaf, dan memanjatkan doa terbaik keharibaan-Nya.

 

Karena saat ber-umroh, siapapun harus bersedia untuk menjauhkan diri dari kesibukan dunia. Untuk lebih banyak berhijrah menuju tempat yang lebih baik sambil merenung untuk selalu memperbaiki diri. Sehingga ibadah apapun, termasuk umroh dan puasa, sejatinya bukan sekadar rirual semata. Tapi mampu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. 


Literasi lebaran menyiratkan. Untuk lebih zuhud terhadap dunia. Salam literasi #UmrohSyawal #TBMLenteraPustaka #HikmahLebaran



Jumat, 12 April 2024

Gimana Lebarannya Bu? Kisah Literasi di Momen Idul Fitri

Sore hari, tanggal 3 Syawal kemarin, saat bertemu dengan salah seorang ibu, warga belajar Gerakan BERantas Buta aksaRA (GEBERBURA) TBM Lentera Pustaka di Bogor, saya bersalaman dan berucap. Selamat Idul Fitri 1445 H dan mohon maaf lahir batin. Sambil sejenak ngobrol tentang suasana lebaran.

 

“Gimana Bu, lebarannya?” tanya saya.

Si ibu menjawab, “Yah, namanya lebaran di kampung begini aja Pak”. Katanya, tidak ada yang istimewa. Pakaian baru tidak ada, ketupat pun tidak ada. Hanya masak seperti makan sehari-hari. Justru malah susah karena tukang sayur yang keliling malah libur. Lebaran atau tidak lebaran sama saja. Tetap hidup prihatin (bila tidak mau disebut miskin) dan seadanya. Serba tidak mampu, namun tetap dijalani hari-harinya.   

“Saya sih Pak, asal masih bisa makan setiap hari saja, udah alhamdulillah. Lebaran nggak lebaran biasa saja. Tetap jadi orang tidak mampu” begitu kata si ibu.

 

Mendengar kata-kata si ibu, saya pun termenung. Mungkin si ibu hanya potret dari sebagian banyak orang-orang di kampung. Bahwa lebaran sama sekali tidak berdampak terhadap kehidupannya. Tetap susah dan sama saja. Tapi tetap mampu menjalaninya dengan pasrah, dengan apa adanya tanpa keluh-kesah. Saya pun membatin, “orang-orang seperti ibu ini mungkin sudah tidak perlu lagi belajar tentang arti sabar dan syukur”. Karena sudah jadi bagian dari “urat nadi” kehidupan sehari-harinya.

 

Sementara di luar sana, tidak sedikit orang yang hanya asyik mendongak memandang ke langit. Cemburu melihat apa yang tidak mampu dicapainya. Kita lupa menunduk ke bawah, merenungkan apa yang sudah bumi berikan. Lupa mensyukuri nikmat yang telah diperoleh dan dirasakan. Lalu berkeluh kesah, merasa tersisih secara ekonomi, dan lupa bersyukur. Kita sering gagal mensyukuri nikmat yang dikaruniakan Allah. Sehingga masih meminta lebih dari apa yang telah dimiliki. Sedangkan di kampung-kampung, masih banyak orang yang serba kekurangan. Tapi tetap sabar dan bersyukur pada rezeki yang tidak seberapa di mata kita.

 

Di momen lebaran, tidak sedikit orang yang merungut. Akibat tidak bisa bergaya dengan pakaian serba baru. Tapi si ibu di kampung yang buta aksara,, merasa sudah cukup bahagia dengan hidup seadanya. Tanpa pakaian baru, tanpa ketupat. Seolah - olah tidak ada gundah di hatinya, yang terlihat hanya riak wajah yang datar saja. Hari-harinya tanpa eufria lebaran atau hari raya. Hidupnya yang prihatin tela melahirkan ketenangan dan kesabaran dalam versi yang sederhana. Allah berfirman, “Sesungguh­nya jika kalian bersyukur (atas nikmat-Ku), pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih." (Surat Ibrahim: 7).

 


Momen lebaran selalu memberi pelajaran. Bahwa siapapun dianjurkan untuk “melihat ke bawah”, bukan mendengak ke atas. Agar selalu bersyukur dan bersuyukur atas karunia Allah SWT sehingga tetap bertindak di jalan-Nya. Bukan menempuh jalan yang sembrono. “Pandanglah orang yang berada dibawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih baik membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah” (HR. Muslim)

 

Bersyukurlah, karena semua yang ada dan dimiliki memang sudah pantas utuk kita. Bersyukur atas nikmat nafas yang dihela, nikmat mata yang bisa melihat, nikmat tangan yang bisa memegang, nikmat kaki yang bisa berjalan, nikmat pakaian yang leindungi badan, nikmat kendaraan yang memudahkan perjalanan, nikmat rumah untuk perlindungan. Berhentilah merungut dan mengeluh pada sesuatu yang tidak kita miliki. Mulailah menghitung nikmat yang lupa untuk disyukuri.

 

Begitulah kisah literasi di momen Idul Fitri kali ini. Sungguh, kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang sentiasa berasa cukup. Jadilah literat #HikmahLebaran #HikmahIdulFitri #TBMLenteraPustaka

Silaturahim Tidak Literat, Sempat-sempatnya Menilai Pakaian Orang

Saat lebaran kemarin, saya bersama dua orang teman pergi silaturahmi ke rumah Pak Ustaz, sang guru spiritual. Sekaligus ngobrool ringan tentang puasa dan idul fitri, bukan soal politik seperti khutbah sholat Ied di Yogya yang “ditinggal” jamaahnya. Setibanya kami di rumah Pak Ustaz, saya fokus memandangi foto-foto di ruang tamu, sambil bertanya ke Pak Ustaz, “Itu foto saat kapan Pak Ustaz?” ujar saya.

 

Bagaimana dengan teman saya? Tentu berbeda lagi. Tatapan matanya lebih ke arah Pak Ustaz. Entah, apa yang dilihat dan dipandangi. Seperti agak takjub gitu.   

 

Hingga suatu hari, teman saya yang satu bilang. Bahwa baju gamis Pak Ustaz yang dipakai kemarin itu terbuat dari tenun mahal, kualitasnya tinggi. Memang, teman saya bekerja di pasar pakaian. Jadi wajar, penilaiannya tertuju pada apa yang dikenakan Pak Ustaz.

 

Sementara teman yang satu lagi berbeda. Ia justru sempat-sempatnya memperhatikan cincin yang melingkari jari Pak Ustaz. Katanya, batu cincinnya dari jenis permata. Mahal banget itu batunya. Nah, teman saya yang satu ini memang hobi dengan batu permata dan perhiasan. Jadi wajar juga, mungkin karena dia paham soal batu-batu cincin.

 

Dari cerita di atas, kita bisa mengambil hikmahnya. Ada contoh tentang bagiamana orang-orang menilai orang lain. Bahwa seseorang akan mendapat penilaian yang berbeda dari tipa-tiap orang. Sudut pandangnya berbeda, cara menilainya berbeda. Tergantung siapa yang menilai dan kepada siapa dinilai?

 

Pesan utamanya adalah penilaian kita tentang apapun, mencerminkan diri kita sendiri. Sikap kit aitu menunjukkan kualitas diri kita sendiri. Apa yang jadi perhatian kita, itulah kita. Dan bagaimanapun penilaian kita maka itulah diri kita sendiri.

 


Orang baik pasti akan melihat dan mendapati orang lain yang baik-baiknya saja. Sebaliknya orang yang tidak baik pun fokusnya akan selalu tertuju pada keburukan orang lain. Begitulah hidup, ada orang yang sangat fokus pada keburukan orang lain. Ada pula yang hanya diam dan tidak berkomentar banyak. Terserah kita, mau bagaimana?

 

"When you judge another, you do not define them, you define yourself." Ketika kita menilai seseorang, sebenarnya kita bukan sedang menunjukkan siapa dia. Tapi justru menunjukkan siapa kita sebenarnya.

 

Maka di momen lebaran ini, jagalah prasangka baik kepada semua orang. Fokus pada yang baik-baik dan bermanfaat. Hingga kita lupa bagaimana caranya berburuk sangka? Hilangkan semua prasangka buruk dari benak kita. Karena prasangka buruk itu hanya menyakitkan diri sendiri.

 

Silarahim tidak literat, sempatnya-sempatnya ngomong pakaian Pak Ustaz. Tidak usah berkomentar yang hanya tahu sedikit saja. Tanpa tahu banyak yang sebenarnya. Maka jangan terburu-buru berprasangka buruk bila tidak mampu berprasangka baik. Salam literasi #HikmahLebaran #CatatanIdulFitri #TBMLenteraPustaka

Kamis, 11 April 2024

Literasi Idul Fitri, Tidak Ada Pesta di Dunia yang Tidak Berakhir

Sebulan penuh puasa telah usai. Sebulan malam bertarawih sudah selesai. Ditutup hari Idul Fitri, hari kemenangan pun terlaksana. Sebulan, semalam atau berapapun hanya soal jumlah. Tapi pasca ramadan dan lebaran, justru tantangan berat adalah merawat kualitas ibadah.  

 

Ketahuilah, hanya ada satu janji yang benar-benar terbukti. Yaitu perbaiki ibadahmu, maka Allah perbaiki hidupmu. Maka esok, apakah kaulitas ibadah kita menjadi lebih baik atau tidak? Atau tetap sama saja seperti sebelum ramadan? Berarti puasa dan ramadan hanya euforia belaka.

 

Bertanyalah, hari ini kita sedang mencintai apa? Cinta dunia atau akhirat? Cinta kepada orang atau kepada Allah SWT? Perbaikilah rasa cinta itu, kepada siapa dan untuk apa? Lihatlah dunia itu setelah kematian orang lain. Bagaimana seorang pecinta melupakan sosok-sosok yang dicintainya setelah meninggal dunia. Saat itu kita akan yakin bahwa sosok yang paling kita cintai akan melupakan kita setelah kematian kita. Dia akan tersibukkan dengan dunianya sendiri.

 

Maka hikmah puasa dan lebaran, perbaiki kualitas ibadah kita. Jadikan hidup kita seluruhnya untuk Allah. Sebab Allah-lah satu-satunya yang tidak akan pernah melupakan. Segera perbaiki kualitas hubungan dengan Allah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

 

Ketahuilah, kualitas kita dinilai dari perbuatan. Bukan dari omongan atau kata-kata. Wajah yang elok, kekayaan yang berlimpah, dan jabatan tinggi tidak sedikit pun menambah kemuliaan seseorang di mata Allah. Ketenangan hati seseorang pun bergantung pada amal perbuatannya. Maka perbaiki kualitas ibadah kita dan tetaplah berbuat baik di mana pun.

 


Di luar sana, ada sebagian orang yang tetap bersikap baik kepada siapapun, dalam keadaan apapun, bahkan kepada orang yang telah menyakitinya. Ada lagi sebagian orang yang bisa menahan amarahnya, dan menggantikannya dengan senyuman untuk melegakan hati. Ada sebagian orang yang lain senantiasa bersabar dan pandai bersyukur serta ikhlas menerima ketetapan Allah. Ada pula sebagian orang yang bisa menolong sesama, membantu melakukan hal-hal kecil yang ternyata kesannya sangat besar. Dan ada kok sebagian orang yang menjadi perantara rezeki bagi orang lain yang lebih memerlukan.  Begitulah kualiatas ibadah yang semakin baik.

 

Dan saat kita memperbaiki kualitas ibadah, pasti saja ada godaan dan tangangannya. Bahkan risikonya besar di mata orang-orang yang cinta dunia atyau pembenci. Jangan khawatir, jauhi orang-orang yang berpikir buruk. Hindari pergaulan dengan mereka dan jaga jarak saja. Toh, mereka tidak berkontribusi atas kebaikan dan kualitas ibadah kita. Karena itu, cukup fokus pada memperbaiki kualitas ibadah kita. Berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama. Kelak, Allah menabur berkah-Nya dan senantiasa memotivasi untuk selalu berbuat baik. Sampai tidak ada lagi alasan seseorang untuk tidak berbuat baik.

 

Tekadkan dalam hati dan tindakan setelah puasa, untuk memperbaiki kualitas ibadah kepada-Nya. Karena hanya ada satu janji di dunia ini yang benar-benar terbukti. Yaitu perbaiki ibdahmu, maka Allah perbaiki hidupmu. Dan Allah berfirman, "Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu” (QS. Al-Qashas : 77).

 

Literasi Idul Fitri menegaskan, tidak ada pesta di dunia yang tidak akan berakhir. Maka rawat kualitas ibadah maka hidup akan berkah. Salam literasi #HikmahLebaran #CatatanLebaran #TBMLenteraPustaka




Rabu, 10 April 2024

Literasi Senyum di Hari Lebaran

Geleng-geleng dan menganggukkan kepala, artinya tidak selalu sama antara orang Indonesia dengan India. Kontak mata antara kita dengan orang Timur Tengah pun punya makna yang berbeda. Semua tergantung budayanya. Tiap bangsa punya bahasa tubuh yang kadang berbeda maknanya.

 

Tapi lainnya halnya dengan “senyum” yang tulus. Maknanya pasti tidak jauh berbeda antara satu bangsa dengan bangsa lainnya. Senyum kurang lebih sama artinya di seluruh dunia. Sebuah ekspresi tidak bersuara yang menunjukkan rasa senang, gembira, atau suka. Ada kebahagiaan dan keramahan di balik senyuman.

 

Senyum itu simbol keaslian. Senyum bermakna universal, hampir semua tempat di dunia tahu maknanya. Tidak ada orang dihujat karena tersenyum. Berbeda dengan orang “meludah”, langsung viral seantero Nusantara. Jadi, lebih baik memilih senyum daripada cemberut. Lebih baik tersenyum daripada banyak omong yang belum tentu benar. Senyumlah di hari lebaran.

 

Senyuman di hari lebaran itu membahagiakan diri sendiri, apalagi untuk orang lain yang menerimanya. Senyum lebaran adalah silaturahim yang hakiki sambil bersalaman untuk memaafkan lahir dan batin. Karena senyumlah saat bahagia berarti kita menjaga kewaspadaan. Senyum saat duka pun meneguhkan kesabaran. Senyumlah saat berjuang makin memperkuat pengorbanan.

 

Lebih dari itu, senyumlah pada kekasih pasti menyuburkan cinta. Senyum pada musuh berarti membenamkan hormat. Senyum pada pendengk bisa menjejalkan sesal. Senyum pada si ramah pasti menjalinkan ketulus.an Senyumlah pada si marah bisa menuangkan sejuk. Dan senyum pada si gelisah pun mampu mengalirkan rasa tenteram.

 

Senyum di hari lebaran itu indah. Senyum pada kaum miskin itu bisa jadi pelipur lara. Senyum pada si kaya kian mahal harganya. Senyum pada si aniaya pun jadi cahaya atas gelap hatinya. Lalu, kenapa di hari lebaran masih ada orang-orang yang susah tersenyum? Apa masih ada benci dan dendam di hatinya? Lebaran tanpa senyuman, sungguh mengotori dan merusak amalan sebulan penuh saat berpuasa.

 

“Termasuk akhlaq jelita seseorang; pada saudara senyumnya mengembang, di kala mereka sedang berbincang” (Habib ibn Abi Tsabit). Karena tidak ada masalah yang tidak bisa dilewati dengan senyum di wajah. Maka jangan biarkan amarah, benci dan dendam merenggut seutas senyum yang sederhana. Jangan boleh masalah merenggut senyum kita. Karena energi senyum lebih kuat dari segalanya. Belajar dari senyum, ada banyak cerita yang mampu dituntaskan. Karena sebagian besar orang percaya. Bahwa senyum adalah cahaya di tengah rintangan yang gelap.

 


Senyumlah di hari lebaran. Kepada orang-orang yang berbahagia, kepada mereka yang beersuka cita. Bahkan kepada musuh-musuh dan lawan berseteru sehari-hari. Karena senyum itu indah dan menyejukkan. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau meremehkan sekecil apapun kebaikan, walau dengan wajah ceria ‎kala bertemu saudara (HR. Muslim: 2626).

 

Maka tersenyumlah di hari lebaran dan seterusnya. Sebab senyum adalah bagian kebaikan yang tidak butuh biaya mahal. Dan sepercik sedekah tanpa kepayahan bagi siapapun. Percayalah, cemberut itu tidak mengenakkan den mengotori hati siapapun. Untuk apa cemberut? Apalagi cemberut atas alasan dan sebab yang subjektif dan tidak diketahui.

 

Kok masih ada orang yang “gagal senyum” di hari lebaran? Tersenyumlah lebih banyak, senyumlah lebih tulus kepada siapapun. Sambil bertutur dalam hati, Ya Allah mampukan kami tersenyum karena-Mu. Salam literasi #HikmahLebaran #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Selasa, 09 April 2024

Jadilah Pemaaf, Catatan Lebaran dari Taman Bacaan

Hubungan antarmanusia itu, di mana pun memang rumit. Ada kalanya salah paham, ada kalanya berbaik hati bahkan benci. Akibat amarah dan sikap ego, sering kali hubungan kita dengan orang lain jadi renggang. Bermusuhan atau tidak lagi bertegur sapa. Memang tidak semuah membalik telapak tangan. Tapi meminta maaf atau memaafkan adalah solusinya. Terlepas dari siapa yang salah?

 

Sayangnya, acap kali banyak orang terselip rasa gengsi untuk meminta maaf atau memaafkan. Maaf menjadi sulit karena gengsi, karena sikap ego yang merasa tinggi. Apalagi mengingat perbuatan orang lain yang telah melukai hati, sungguh memaafkan pun semakin sulit. Tapi semua terpulang kepada diri sendiri. Apa sih gunanya menyimpan amarah, benci, dan dendam kepada orang lain? Bila akhirnya membuat kita menjadi lebih menderita. Maka suka tidak suka, memaafkan siapapun memang membutuhkan ketulusan dan keikhlasan. Allah ta'ala berfirman, “Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah" (QS. Asy-Syura: 40).

 

Hari ini, 10 April 2024, sudah hari Idul Fitri 1445 H. Inilah momen penting jadi pemaaf. Pilihannya hanya dua, meminta maaf atau memaafkan orang lain. Maaf lahir batin, atas segala khilaf dan salah yang pernah terjadi. Atas ucapan, sikap, dan perilaku yang kurang berkenan. Disengaja atau tidak disengaja, telah membuat tersinggung. Dan manusia memang tempatnya khilaf dan salah. Bahwa yang benar hanya dapat dari Allah SWT. Jadilah pemaaf!

 

Sebulan penuh kita telah berpuasa. Menanam kesucian hati dari subuh hingga maghrib. Melatih menahan diri dari perbuatan buruk dan sia-sia. Memperoleh mahmat-Nya, memohon ampunan-Nya, dan berdoa dibebaskan dari siksa api neraka. Dan kini dianggap meraih kemenangan hakiki, kemenangan ruhaniah. Untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki diri. Sambil meminta maaf atau memaafkan orang lain. Lalu, untuk apa berpuasa bila tidak mau memaafkan?

 

Sungguh, tidak ada di dunia ini, manusia yang tidak berbuat salah. Tidak satupun manusia yang tidak punya masalah. Dan tidak ada pula manusia yang sempurna. Kini di momen idul fitri, kita hanya membutuhkan kelapangan hati. Untuk meminta maaf atau memaafkan. Untuk bersedia menjadi pemaaf.

 


Adalah anugerah-Nya, tiap orang pasti dikaruniai kelembutan hati. Kepekaan psikologis untuk saling memaafkan. Agar tidak ada lagi tersimpan rasa dendam, marah, benci, iri dan dengki, bahkan buruk sangka kepada sesama anak manusia. Yang sudah berlalu biarlah dan maafkanlah. Agar tidak ada lagi ganjalan dan beban yang bergelayut di hati dan pikiran. Karena benci dan marah yang tidak termaaafkan, menjadi sumber doa-doa yang terhalang. Menjadi “kerikil” yang menghalangi keluarnya keajaiban Allah SWT.  Puasa sudah, ibdaha terbaik pun sudah, amalan baik pun sudah. Berdia pun sampai menangis. Tapi apa geranagan “miracle” atau keajaiban-Nya belum datang juga?

 

Jawabnya, mungkin hati dan pikiran kita yang tidak bersih. Masih menyimpan segudang rasa dendam, marah, benci, iri dan dengki, bahkan buruk sangka kepada orang lain. Masih ada “ganjalan” yang belum dilepaskan. Maka hilangkan ganjalan dan beban itu, dengan cara jadilah pemaaf!

 

Yuk, jadilah pemaaf. Mari bersihkan “sampah-sampah” emosi dan nafsu yang tidak berujung. Buang jauh-jauh pikiran negatif dan cara berpikir yang menyalahkan orang lain. Bahwa apapun yang terjadi adalah sifat manusiawi semata dan atas kehendak Allah SWT. Kembalikan semuanya ke fitrah manusia. Untuk selalu memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

 

 

Jadilah pemaaf, itulah catatan lebaran dari taman bacaan. Agar kita tidak perlu bersusah payah untuk membalas dendam. Cukup maafkan setiap kesalahan orang lain karena memaafkan adalah pembalasan yang terbaik. Sungguh, emosi dan kemarahan hanya membuat kita lebih kecil. Sementara memaafkan menjadikan kita berkembang melampaui diri kita yang sebelumnya. Salam literasi #IdulFitri #HikmahLebaran #TBMLenteraPustaka

 


Senin, 08 April 2024

Semuanya Sudah Pantas untuk Kita, Catatan Penghujung Ramdan dari Taman Bacaan

Salah satu hikmah puasa adalah mengurangi frekuensi dan durasi mengeluh. Bersedia lapar dan haus dari kebiasaan makan dan minum di siang hari. Mampu menahan diri dari segala godaan. Memperbanyak tadarus, sholawat tarawih, hingga bersedekah. Tanpa ada keluhan, tanpa ada alasan. Semua dilakukan sepenuh hati, karena Allah SWT.

 

Di luar puasa, bisa jada kita termasuk yang bergelimang keluh-kesah. Berprasangka buruk dan menyalahkan orang lain. Sibuk mengejar dunia lalu melupakan akhirat. Menuntut hak tapi lupa kewajiban. Membaikkan diri sendiri tapi gampang menjelekkan orang lain. Meninggikan diri sendiri tapi merendahkan orang lain. Tapi di bulan puas,a semuanya dikurangi bahkan diberantas habis. Tidak ada ruang untuk pebuatan dan pikiran buruk akibat sedang berpuassa.

 

Sesungguhnya, tidak perlu ada keluhan, Atas alasan apapun. Karena ketika Allah memberi pada kita. Berarti Dia sedang memperlihatkan kemurahan-Nya. Sebaliknya di kala Allah Allah menolak permintaan kita, maka Dia sedang menunjukkan kekuasaan-Nya. Bahwa kita dan manusia di mana pun sangat lemah tanpa-Nya. Maka bersyukurlah ketika Allah sedang memberi, Dan bersabarlah ketika Allah belum memberi. Tanpa perlu keluh-kesah.

 

Kita sering lupa. Di balik semua ketetapan-Nya pasti ada hikmah yang terbaik untuk kita. Allah akan memberi jika Dia melihat waktu dan usaha kita telah cukup. Yaitu di saat dan waktu yang tepat bahwa kita memang pantas menerimanya. Ikhtiar kita telah bersungguh-sungguh memperjuangkannya, dengan niat dan cara-cara yang baik. Man jadda wa jadda.

 

Di lain waktu, Allah akan meminta kita bersabar. Karena waktunya belum tepat. Dan Dia melihat bahwa kita memang belum pantas menerimanya. Kita masih harus terus berjuang lagi. Allah pasti menolak, jika kita menginnginkan sesuatu yang menurut-Nya tidak baik sekalipun dianggap baik menurut kita. Krena Allah maha tahu manfaat dan mudaratnya tentang apa yang akan terjadi setelahnya.

 


Bila mau direnungkan, sungguh betapa sayangnya Allah kepada hamba-Nya. Selalu memberikan yang terbaik kepada kita.. Namun kitalah yang sering kali salah dalam memahami rahmat dan karunia-Nya. Maka sama sekali tidak pantas bila masih banyak mengeluh. Jangan mudah berputus asa. Dan sebaliknya, apapun keadaannya tetaplah bersandar hanya kepada Allah. Karena tidak ada pinta dan harap yang terluput, kecuali semua pengabulannya selalu yang terbaik,

 

Sudah pasti Allah maha tahu, soal apapun. Meski pun terkadang tidak sesuai harapan kita tapi itulah yang terbaik untuk kita. Karena Allah memberi bukan apa yang kita inginkan. Tapi Allah memberi apa yang senantiasa terbaik untuk kita. Prinsipnya sesederhana itu, bukan atas keinginan kita tapi yang terbaik untuk kita.

 

Seperti saya “ditunjuki” jalan untuk berkiprah di taman bacaan. Sejak 7 tahun lalu hingga kini, mengabdi di kampung kecil di kaki Gunung Salak Bogor. Hanya untuk menegakkan kegemaran membaca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah. Dari tidak punya akses dan tempat membaca, kini terkumpul 200-an anak dan warga yang rajin ke taman bacaan. Dan akhirnya, saya yakin taman bacaan menjadi “jalan hidup” yang terbadik dari-Nya. "Kabarkan kepada hamba-hambaKu, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..." [QS.Al Hijr : 49].

 

Maka di penghujung ramadan ini, renungkanlah apapun yang harus diperbaiki. Tanpa keluh-kesah lagi. Segeralah berlari menuju ampunan Rabb, wahai diri. Songsong hari esok dengan penuh harapan dan kedekatan bersama-Nya. Tutup masa lalu yang tidak akan terulang lagi. Melangkahlah dengan pasti dalam keyakinan bahwa Allah-lah penggenggam hidup dan mati kita. Hanya Allah-lah yang paling menyayangi dan mencintai kita lebih dari siapapun. Bahkan lebih besar cinta-Nya daripada kecintaan kita pada dirimu sendiri..

 

Hidup di dunia itu cuma sekali, maka buatlah menjadi besar dan berarti. Selalu berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama. Untuk Allah dan untuk diri kita sendiri. Salam literasi #NgabubuRead #HikmahRamadan #TBMLenteraPustaka