Minggu, 31 Oktober 2021

TBM Lentera Pustaka Sematkan Bima Arya Sebagai Tokoh Literasi Bogor

Sebagai bukti peduli terhadap kegemaran membaca dan budaya literasi, Bima Arya Sugiarto, Walikota Bogor beserta istri mengunjungi Taman Bacaan Lentera Pustaka sekaligus memperingati Hari Sumpah Pemuda bersama 80 anak pembaca aktif, relawan, dan warga di Desa Sukaluyu Bogor (31/10/2021). 


Didampingi Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka, Bima Arya memberikan motivasi akan pentingnya membaca bagi anak-anak dan generasi muda. Agar dapat meraih cita-cita. Karena menurutnya, tidak ada orang yang sukses tanpa membaca buku. Maka agar tidak putus sekolah dan bisa mencapai cita-cita, Bima Arya mengimbau anak-anak Indonesia untuk selalu membaca buku,


“Saya apresiasi kegiatan membaca yang dilakukan TBM Lentera Pustaka. Sangat antusias dan inilah kegiatan literasi inilah yang diperlukan bangsa Indonesia. Karena itu, saya selalu mendukung aktivitas taman bacaan. Sebagai cara untuk memperluas cakrawala menuju cita-cita” ujar Bima Arya dalam sesi motivasinya.



Dalam kunjungan ke TBM Lentera Pustaka, Bima Arya pun menandatangani “Pencanangan Kampung Literasi Sukaluyu” dan nasihat literasi ke taman bacaan. Selain itu, Bima Arya pun berdialog dengan anak difabel, kaum ibu buta aksara, dan menyaksikan kreasi angklung anak-anak TBM Lentera Pustaka secara sepenuh hati. Di samping berdialog dan menceritakan isi buku kepada anak-anak TBM Lentera Pustaka. Agar nantinya, tercipta tradisi baca dan budaya literasi yang memadai di masyarakat. Karena masyarakat literat memang harus dimulai dari membaca buku. 


Di akhir kunjungannya, Pendiri TBM Lentera Pustaka pun menobatkan Bima Arya sebagai “Tokoh dan Pemimpin Peduli Literasi Bogor” ditandai dengan pemakaian selempang tokoh literasi. Hal ini dilakukan karena Bima Arya dipandang sebagai pemimpin yang peduli literasi dengan kegemaran membaca dan menulis buku. Di samping tokoh masyarakat yang mau terjun langsung ke taman bacaan dalam mendukung gerakan literasi.

“Sebagai pegiat literasi, TBM Lentera Pustaka memandang perlu menobatkan tokoh dan pemimpin peduli literasi di Bogor. Agar gerakan literasi di Indonesia mendapat perhatian dari pemimpin atau tokoh masyarakat yang mengharapkan kehadirannya di taman bacaan” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka. 


Selain menyerahkan puluhan buku-buku bacaan, Bima Arya kembali menegaskan anak-anak Indonesia untuk membaca buku sebagai penyeimbang gempuran era digital atau gawai. Karena tanpa baca akan merana di masa depan.





Kamis, 28 Oktober 2021

Saat Mubes Ke-9, IKA UNJ Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Alumni untuk Almamater

Dalam upaya memelihara tradisi demokrasi dan membangun sinergi, IKA UNJ (Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta) menggelar Musyawarah Besar ke-9 sebagai realisasi pertanggungjawaban kepengurusan periode 2017-2021 dan pemilihan ketua umum IKA UNJ periode 2021-2025 pada 29-30 Oktober 2021 di Hotel Avenzel Jakarta. Dibuka oleh Rektor UNJ, Prof. Dr. Komarudin Sahid, M.Si., menegaskan pentingnya peran alumni UNJ dalam menopang reputasi dan tradisi akademik UNJ di mata publik.

 

“UNJ sangat mendukung IKA UNJ dan apresiasi sekali karena alumni mampu berkiprah penuh semangat demi nama baik UNJ. Sehingga UNJ kini meraih akreditasi unggul. Karena itu, mari teruskan kolaborasi yang lebih erat dan sinergis antara IKA UNJ dengan UNJ sebagai almamaternya” ujar Prof. Dr. Komarudin Sahid, M.Si., Rektor UNJ dalam sambutan pembukaannya.

 

Bertajuk “Alumni Unggul Menuju Indonesia Emas”, Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) terus bertekad menghimpun segenap potensi alumni UNJ yang ada. Juri Ardiantoro, P. hD., Ketua IKA UNJ menegaskan komitmen IKA UNJ untuk terus bersinergi dengan kampus alamamater demi citra dan reputasi UNJ yang lebih optimal. Di samping mampu mewujudkan kampus bereputasi Asia.

“IKA UNJ berkomitmen penuh mendukung citra UNj yang lebih aik. Maka kami akan terus fokus menghimpun potensi alumni UNJ sebagai bukti pengabdian kepada almamater. Melalui alumni mengabid, kami mengajak alumni UNJ bersatu dan berkiprah nyata” ujar Juri Ardiantoro.

 


Selain melaporkan pertanggungjawaban pengurus IKA UNJ periode 2017-2021, Mubes ke-9 IKA UNJ diharapkan mampu memperkokoh kebersamaan dan mewujudkan sinergi yang lebih nyata para alumni UNJ dalam upaya memberi kontribusi pemikiran dan praktik baik, khususnya untuk dunia pendidikan di Indonesia.

 

Nanti malam di Mubes ke-9 IKA UNJ ini dijadwalkan akan berlangsung pemilihan ketua umum IKA UNJ periode 2021-2025, setelah mendengar pemandangan umum dari IKA fakultas-fakultas yang hadir. Hingga saat ini tercatat ada 2 kandidat calon Ketua Umum IKA UNJ periode 2021-20245. Dan IKA UNJ pun berkomitmen untuk menjalankan proses demokrasi dalam pemilihan ketua umum IKA UNJ secara jujur dan transparan di hadapan para alumni yang hadir saat musyawarah besar ini.

 

Seiring tantangan di era digital yang kian kompleks, IKA UNJ menyadari pentingnya meningkatkan peran dan kontribusi alumni UNJ di berbagai bidang profesi sesuai dengan kompetensi dan profesionalisme yang dimiliki. Salam IKA UNJ.

Ngobrol Santai Forum TBM Kab. Bogor, Taman Bacaan Menulis untuk Branding

Branding dan menulis, mungkin jadi dua hal yang penting di taman bacaan. Karena praktik baik tanpa dituliskan maka menjadi tidak ada orang yang tahu. Sehingga taman bacaan pun menjadi sulit untuk mem-branding diri ke tengah masyarakat. Sebuah citra yang bisa menarik dan melekat di benak publik.

 

Berangkat dari realitas itulah, Forum TBM Kabupaten Bogor menggelar acara bulanan Ngobrol Santai Pegiat Literasi bertajuk “Menulis untuk Branding dan Promosi TBM" melalui zoom meeting (28/10/2021). Bertindak sebagai narasumber: Syarifudin Yunus, Penasihat Forum TBM Kab. Bogor/Pengelola TBM Lentera Pustaka dan host: Dwi Sulistya, Bendahara Forum TBM Kab. Bogor/Pengelola TBM Bale Baca Cijayanti.

 

Mengingat pentingnya peran branding dan publikasi, maka acara ini menyimpulkan tidak ada pilihan lain bagi pegiat literasi atau taman bacaan selain “menuliskan” setiap praktik baik yang berlangsung di taman bacaan.  Agar public tahu dan memahami aktivitas literasi yang terjadi di taman bacaan.

 


Karena itu Syarifudin Yunus pun memberi tips sederhana untuk mudah menulis. Yaitu dapat menerapkan metode ADIKASIMBA (Apa-Dimana-Kapan-Siapa-Mengapa-Bagaimana). Dengan menjawab pertanyaaan itu, maka bisa dihasilkan satu tulisan tentang taman bacaan. Peserta pun diberi tips cara mencari sumber tulisan yang bertumpu pada 1) pengetahuan, 2) pengalaman, dan 3) perasaan selama menjalankan aktivitas literasi di taman bacaan,

 

“Sejatinya, menulis untuk literasi dan taman bacaan mudah. Mulai saja dari bikin triga paragraph tentang taman bacaan. Gunakan kata-kata yang sederhana dan menulis seperti ngobrol. Agar mengalir” ujar Syarifudin Yunus.

 

Dalam kesempatan ini, peserta pun diberi contoh cara mudah menulis untuk taman bacaan. Agar ke depan, pegiat literasi bukan hanya mampu mengelola taman bacaan. Tapi juga mampu menuliskan setiap aktivitas literasi yang dilakukannya. Salam literasi. #FTBMKabBogor #NgobrolSantaiPegiatLiterasi #ForumTamanBacaan

Catatan Hari Sumpah Pemuda, Jadi Pemuda Itu Potensi atau Masalah?

Tanggal 28 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Terus, siapa sih pemuda itu? Ada yang bilang, katanya, pemuda itu individu yang secara fisik sedang mengalami perkembangan; lalu secara psikis sedang mengalami berdinamika emosional. Kata orang banyak, pemuda itu calon generasi penerus bangsa. Ada lagi yang bilang, pemuda itu “agent of change”, agen perubahan. Apa iya begitu yang disebut pemuda?

 

Tapi kok, hari ini, kabarnya ada ribuan pemuda (mahasiswa) demo bersama buruh?  Aksi demonstrasi dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 2021, di kawasan Patung Kuda, Jakarta. Katanya menuntut pemerintah mencabut UU Nomor 11 Tahun 2019 tentang Cipta Kerja dan berbagai aturan turunannya, serta menghentikan pembungkaman dan represifitas terhadap gerakan rakyat. Jadi, yang benar pemuda harusnya gimana sih ya?

 

Katanya, sumpah pemuda.

Sumpah itu kan pernyataan yang diucapkan secara resmi. Tentu, dengan bersaksi kepada Tuhan. Sumpah juga sesuatu yang suci. Lagi harus dijunjung tinggi. Maka, sumpah itu sekaligus janji. Lalu, kenapa ada pemuda yang kehilangan jati diri? Atau pemuda yang berdemontrasi tapi merusak fasilitas publik? Bisa jadi, hari ini bukan lagi sumpah pemuda. Tapi gegabah pemuda yang kian jadi masalah.

 

Pemuda demonstrasi sih tidak masalah. Kan negara demokrasi, bebas-bebas saja. Tapi yang masalah, bila konten demo-nya yang bermasalah. Sehingga terkesan gegabah. Lalu di jalan-jalan, jadi terlalu mudah sumpah serapah. Menebar masalah, meracik fitnah. Membalut kebencian dengan membuat resah. Maka hoaks pun membuat banyak orang gelisah. Pandai bertingkah dan terlalu cepat membantah. Banyak yang dituntut, banyak yang dipinta. Tapi akhirnya jadi sampah. Terlalu gegabah, hingga negeri yang indah pun jadi terbelah-belah.

 

Pemuda terkadang lupa. Memang di belahan bumi mana, ada negara yang tidak punya masalah? Harusnya fokusnya bukan masalah. Tapi mencarikan solusi atas masalah. Ber-demo dengan menyajikan solusi yang berfaedah. Bukan malah masalah dijadikan panggung khutbah.

 


Mungkin pemuda lupa. Sumpah itu bukan gegabah.

Bahwa era digital itu berkonsekuensi jadi sebab bangkitnya individualisme. Arus materialisme dan hedonisme pun jadi sebab redupnya nasionalisme. Bahwa demokrasi dan partisipasi itu tidak hanya dimaknakan demontrasi, apalagi anarkisme dan liberalisme. Kesejahteraan itu sulit diraih bila tidak diimbangi etos dan produktivitas kerja. Apalagi bila pemuda mau jadi “agent of change”, sangat tidak boleh kehilangan jati diri dan nilai-nilai nasionalisme. Karena siapa yang mau menolong bangsanya sendiri bila bukan pemuda-nya?

 

Maka, pemuda mungkin perlu mereposisi eksistensinya. Karena pemuda adalah aset bangsa yang mahal dan tidak ternilai harganya. Maju atau tidaknya bangsa Indonesia tergantung pada kaum mudanya, tergantung pemudanya. Lalu, bagaimana bila pemuda sudah kehilangan nilai-nilai patriotism dan nasionaliisme terhadap bangsanya sendiri. Apa hari ini  pemuda masih cinta terhadap tanah airnya? Itu harus dijawab, pemuda!

 

Jadi, pemuda itu sebenarnya potensi atau masalah?

Agak susah menjawabnya karena tergantung kepada pemuda-nya. Pemuda pasti jadi potensi. Bila punya kemampuan yang kemungkinan untuk dikembangkan menjadi kekuatan, menjadi daya untuk membangun. Pemuda yang sanggup jadi solusi seperti pemuda-pemuda yang jadi relawan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Pemuda yang tanpa pamrih dan tidak mengenal lelah untuk berbuat kepada masayarakat.

 

Tapi sebaliknya, pemuda pun akan jadi masalah. Bila pemuda justru jadi bagian yang harus diselesaikan. Jadi soal dan persolan untuk bangsanya. Pemuda yang lebih banyak berdemonstrasi di jalan tanpa konsep yang jelas. Pemuda yang fanatic pada akal sehat tapi kehilangan hati Nurani. Pemuda yang merasa berjuang tapi mengabaikan realitas. Pemuda memble. Pemuda yang banyak omong tapi kosong.

 

Maka di Hari Sumpah Pemuda kali ini. Patut ditegaskan “tidak ada pemandangan yang lebih menyedihkan daripada PEMUDA yang pesimis dan hanya berteriak di jalan. Tanpa berbuat untuk menjadi solusi dari masalah”. Pemuda pun harus lebih literat. SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA. Salam literasi #SumpahPemuda #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyu



Rabu, 27 Oktober 2021

Pemimpin Politik Peduli Literasi, Bima Arya Peringati Sumpah Pemuda di TBM Lentera Pustaka

Dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda dan pencanangan Kampung Literasi Sukaluyu, TBM Lentera Pustaka menghadirkan Bapak Bima Arya Sugiarto sebagai Pemimpin dan Tokoh Muda Peduli Literasi. Saksikanlah MINGGU, 31 OKTOBER 2021 Pukul 10.00-11.30 WIB di TBM Lentera Pustaka kaki Gunung Salak Bogor.

 

Sebagai wujud kepedulian, Kang Bima yang juga Walikota Bogor akan ber-story telling dengan anak-anak pembaca aktif. Sekaligus memotivasi pentingnya membaca buku bagi generasi muda penerus bangsa. Di mata pegiat literasi dan taman bacaan, Kang Bima adalah  sosok pemimpin dan tokoh muda yang peduli literasi. Selain memiliki kompetensi dan kepemimpinan yang mumpuni, karakter dan kepedulian terhadap masyarakat pun dibuktikan dengan sering "terjun langsung" ke daerah-daerah yang memang perlu dikunjungi dan dimotivasi atas kehadirannya. 

 


Selain terlibat dalam kegiatan membaca bersama anak-anak, beliau pun akan mencanangkan program Kampung Literasi Sukaluyu tahun 2021 yang diinisiasi oleh Direktorat PMPK Kemdikbudristek RI dan Forum TBM. TBM Lentera Pustaka merupakan satu-satunya taman bacaan yang terpilih menyelenggarakan program kampung literasi dari 30 TBM di Indonesia yang terpilih. Selain itu, Kang Bima pun akan dinobatkan sebagai “Tokoh Literasi Bogor” oleh Pendiri TBM Lentera Pustaka + Penasihat FTBM Kab. Bogor. Hatur nuhun Kang Bima, salam literasi #PeduliLiterasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyu

Percepat Vaksinasi, Legenda Wisata Tuntaskan Gerakan 1000 Vaksin Tahap 2

Sebagai upaya mempercepat akselerasi vaksinasi Covid-19, Legenda Wisata tuntaskan Gerakan 1000 Vaksin Tahap 2 yang dimotori Pejuang Bravo Lima Jawa Barat (PBL Jabar) bekerjasama dengan VGMC (Vangogh Motor Community) serta Paguyuban Klaster se-Legenda Wisata (23/10/2021).  Kegiatan ini pun menjadi bukti kesadaran masyarakat akan pentingnya mempercepat vaksinasi agar tercipta herd immunity.

 

“Kami sangat senang dapat menuntaskan Gerakan 1000 Vaksin Covid 19 tahap 2 di Legenda Wisata. Apalagi didukung oleh warga dan para donatur dari berbagai klaster perumahan ini. Inilah kolaborasi untuk menciptakan herd immunity” ujar Cahya, perwakilan Paguyuban Klaster se-Legenda Wisata.

 

Paguyuban Klaster Van Gogh Legenda Wisata sebagai tim penggerak fasilitas vaksinasi. Seperti jaringan internet, komputer serta penghimpunan para dokter dan tenaga nakes yang berada di sekitar Legenda Wisata. “Vaksinasi ini ikut mempercepat target tercapainya ekosistem sehat dan tangguh dari Covid-19. Karena itu, kami sangat serius mendorong tuntasnya baksinasi tahap 2 agar tidak terjadi penularan lagi” kata Ditya Ferianto, Ketua Paguyuban Klaster Van Gogh Legenda Wisata.

 

Gerakan 1.000 vaksinasi ini diharapkan dapat memicu semangat warga untuk optimis melewati masa pandemi Covid-19. Rasa bangga pun disampaikan Mangatur Manurung, Sekjen VGMC (Vangogh Motor Community) yang melakukan sweeping para pedagang kaki 5, para karyawan pasar swalayan, ART yang pulang pergi, sopir, perawat taman dan orang-orang yang berkegiatan sehari hari di Legenda wisata. Vaksinasi ini jadi bukti adanya kebersamaan dan sikap pengertian untuk meminimalisasi penularan Covid-19.

 


Tovi Singgih, Ketua Pejuang Bravo Lima (PBL) DPD Provinsi Jawa Barat menegaskan gerakan 1000 vaksin Legenda Wisata kali ini lebih partisipatif dan melibatkan lebih banyak warga. Apresiasi pun diberikan kepada tenaga Kesehatan yang membantu sebagai vaksinator dan verifikator. Termasuk adanya donatur seperti Organisasi Sahabat Indonesia yang membuat dapur umum untuk free lunch. Di samping stand minuman dan makanan, dukungan internet berkapasitas besar dari My Republic dan BesQ yang memberi fasilitas hardware.

“Berkat koolaborasi, gerakan 1000 vaksin akhirnya bisa tuntas. Semoga di wilayah kami segera bisa mencapai PPKM level 2 dari sebelumnya level 3” ujra Tovi Singgih.

 

Namun begitu, Komunitas Legenda Wisata tetap mengimbau masyarakat untuk tetap patuhi protokol kesehatan. Sekalipun vaksinasi 2 tahap sudah dilakukan. Agar kesehatan dan keselamatan warga tetap terjaga.

 


Senin, 25 Oktober 2021

TBM Lentera Pustaka Bogor, Pentingkan Proses Daripada Hasil

Banyak orang buru-buru ingin punya hasil. Tapi mereka lupa, apapun ada prosesnya. Tidak akan ada hasil tanpa ada proses. Karena sejatinya, semua yang terjadi esok. Adalah hasil dari apa yang dikerjakan hari ini. Maka harusnya, “dilarang” memikirkan hasil. Tapi pikirkanlah proses, apa yang mau dilakukan hari ini untuk esok?

 

Kata pepatah “proses tidak akan pernah mengkhianati hasil”. Siapa pun yang saat ini sedang berproses untuk mencapai sesuatu. Maka suatu hari nanti, pasti akan mendapatkan hasilnya. Terlepas dari gagal ataupun sukses. Terlepas dari sedikit atau banak tantangan. Asal prosesnya dilakukan, maka hasilnya akan muncul. Karena itu sudah menjadi ketetapan Allah SWT.

 

Begitu pula yang terjadi di taman bacaan. Bila taman bacaan dikelola dengan proses yang baik dan benar. Maka insya Allah, pada akhirnya akan mencapai hasil yang optimal. Donasi buku-buku yang kian banyak. Anak-anak yang membaca terus berdatangan. Tamu-tamu berkunjung pun silih berganti. Aktivitas literasi-nya pun kian terprogram dan menyenangkan. Percayalah, taman bacaan yang melewati sebuah proses. Maka pasti, akan sampai di titik yang memuaskan siapa pun. Sebuat saja, taman bacaan from zero to hero.

 


Proses itulah yang dijalani TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Saat berdiri 4 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka hanya punya 1 program yaitu taman bacaan dengan 14 anak pembaca. Tapi siapa sangka di tahun 2021 ini, TBM Lentera Pustaka memliki 11 program literasi yang luar biasa, yaitu:

1.   TABA (TAman BAcaan) dengan 160 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, tamansari, Sukajaya). Dengan waktu baca 3 kali seminggu, kini setiap anak mampu membaca 5-8 buku per minggu.

2.   GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 9 warga belajar buta huruf dengan waktu belajar 2 kali seminggu dan kini terbebas dari belenggu buta aksara

3.   KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah atau PAUD dari keluarga yang tidak mampu dengan waktu belajar 2 kali seminggu

4.   YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni setipa bulan dan 4 diantaranya mendapat beasiswa belajar, dari siswa SD hingga perguruan tinggi.

5.   JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo usia lanjut yang tidak berpenghasilan dan mendapatkan santunan bulanan

6.   TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel sebagai sarana aktualisasi diri dan bermain di taman bacaan

7.   KOPERASI LENTERA dengan 28 ibu-ibu anggota koperasi simpan pinjam sebagai upaya pemberdayaan ekonomi dan menghndari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi

8.   DonBuk (Donasi Buku) untuk menerima dan menyalurkan buku-buku bacaan

9.   RABU (RAjin menaBUng) untuk mengajarkan pentingnya menabung dan hidup hemat kepada anak-anak

10. LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat dan teknologi informasi seminggu sekali ke setiap anak

11. LITFIN (LITerasi FINansial) sebagai sarana edukasi literasi keuangan akan pentingnya mengelola keuangan sejak dini.

12. LIDAB (LIterasi ADAb) sebagai sarana mengajarkan adab ke anak-anak seperti memberi salam, mencium tangan, berkata-kata santun, dan budaya antre.

 

Bahkan tahun ini, melalui program “Kampung Literasi Sukaluyu” yang Direktorat PMPK Kemdikbudristek RI dan Forum TBM, TBM Lentera Pustaka akan memperkuat perilaku gemar membaca dan budaya literasi masyarakat. Karena TBM Lentera Pustaka Bogor merupakan satu-satunya taman bacaan dari Bogor yang terpilih 1 dari 30 TBM di Indonesia yang menggelar Kampung Literasi tahun 2021. Sebuah capaian yang melengkapi prestasi "31 Wonderful People 2021" kategori Pegiat literasi dan pendiri taman bacaan yang diraih Pendiri TBM Lentera Pustaka dari Guardian Indonesia tahun 2021 ini.

 

TBM Lentera Pustaka pun terus berproses. Setelah memiliki fasilitas “kebun baca lentera”. Kini, TBM Lentera Pustaka telah menyiapkan 1) giant letter kampung literasi, 2) fasilitas surau lentera, dan 3) toilet. Semuanya dilakukan untuk menciptakan kenyamanan anak-anak pembaca aktif dan pengunjung taman bacaan. Di samping menegaskan, taman bacaan memang harus dikelola secara professional bukan asal-asalan. Sekalipun taman bacaan bersifat sosial, tetap harus dikelola dengan optimal, kreatif, dan menyenangkan.

 

Lagi-lagi, banyak orang sering fokus pada hasil. Tapi tidak peduli pada proses. Maka sebaiknya, perbaiki kembali orientasi dalam hidup. Jangan mengharapkan hasil yang optimal bila tidak didukung proses yang memadai. Termasuk di taman bacaan, proses jauh lebih penting daripada hasil. Di taman bacaan, melamun untuk kreativitas lebih menyenangkan daripada sibuk tanpa hasil apapun.

 

Karena sejatinya, mimpi siapa pun selalu mempunyai dua hasil akhir. Sebatas angan-angan melulu atau berubah menjadi kenyataan. Dan kata kuncinya adalah proses. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyu

 





Sabtu, 23 Oktober 2021

Catatan Pegiat Literasi: Bila Orang Lain Salah Apa Kamyu Pasti Benar?

Zaman begini, memang ngeri-ngeri sedap. Era digital, justru makin banyak orang yang gemar gibah alias ngomongin orang lain. Atau mengumbar aib orang lain. Atas dalih peduli atau apalah namanya. Mereka jadi lupa. Bahwa mereka tidak memberi makan orang lain. Bahkan tidak sedikitpun bertanggung jawab pada orang lain. Di dunia apalagi di akhirat.

 

Bila orang lain salah, apa kamu pasti benar?

Begitulah pertanyaan penting. Untuk kamu atau orang-orang yang “sok peduli” atau sering ber-gibah. Kaum yang gemar membicarakan orang lain. Secara tatap muka, online atau di grup WA. Apalagi ditambah embel-embel, atas nama kepedulian. Untuk kebaikan an dalih-dalih lainnya.

 

Kamu lupa ya. Perhatian itu bagus. Peduli itu penting. Tapi untuk hal-hal yang bersifat kebaikan. Untuk membantu kesusahan orang lain. Atau memberikan solusi atas masalah. Orang lapar itu butuh diberi makan, bukan nasihat. Begitulah perhatian dan kepedulian yang hakiki bekerja. Bukan sebaliknya, membantu tidak malah lebih banyak ngomongin. Sama sekali tidak literat.

 

Peduli itu bukan untuk mencari aib atau salah orang lain. Apalagi ber-gibah yang tidak berakhir. Apa tdiak ada kerjaan lain? Katanyaraji ibadah, rajin zikir dan ngaji. Tapi kok perilakunya bertolak belakang? Makin ngeri-ngeri sedap. Bila setiap hari, ada saja yang di-share hanya untuk mendapat respon dan komentar “sepaham”. Bersetuju untuk kejelekan, apa ada gunanya?

 

Katanya, manusia tempatnya berbuat salah. Katanya tidak ada manusia yang sempurna. Bahkan katanya, dunia pun hanya sementara. Bilat ahu sementara, kenapa jatah hidup dipakai untuk perbuatan yang sia-sia dan tidak bermanfaat?

 


Sudah jadi kodrat manusia. Bahwa siapa pun pasti punya kekurangan, pasti pula punya kelebihan. Tinggal apapun realitas-nya, setiap manusia dituntut untuk mampu mengendalikan atau menyelaraskannya. Karena apa pun yang terjadi, sudah ada dalam genggaman-Nya. Bila ikhtiar sudah, doa pun rampung maka selebihnya tinggal menerima lapang dada sesuai ketentuan-Nya. Itu sudah lebih dari cukup.

 

 

Lagi pula selagi di dunia, siapa pun pada akhirnya hanya akan menanggung dua hal saja. Satu, memperoleh kebaikan yang telah ditanamnya. Kedua, menerima keburukan yan telah ditebarkannya. Karena apapun, semua akan kembali kepada yang melakukan perbuatannya. Itu hukum Allah SWT. Seperti pegiat literasi di taman bacaan. Hanya tahu berbuat untuk menyediakan akses bacaan anak-anak kampung, memberantas buta huruf bahkan menyantuni anak-anak yatim dan kaum jompo. Menebar kebaikan, membantu kaum yang membutuhkan bantuan. Maka kerjakanlah yang baik, bukan sebaliknya.

 

Jadi, bila orang lain salah, apa kamu pasti benar?

Belum tentu. Karena kamu tidak bertanggung jawab terhadap orang lain. Seperti orang lain pun tidak bertanggung jawab kepada kamu. Maka kerjakanlah bagian masing-masing sesuai kaidah dan norma-nya. Bila perlu, perbanyka ikhtiar yang baik. Sambil muhasabah diri, introspeksi diri. Lebih baik mencari apa yang salah dari diri sendir. Bukan mencari salah orang lain.

 

Tajassus itu mencari-cari salah orang lain, sekaligus mengumbar aib. Mengumbar aib diri sendiri saja dilarang, apalagi mengumbar aib orang lain. Lalu mengorek-ngorek alias kepo atas nama kepedulian. Lupa ya, tajassus itu tergolong dosa besar. Terus, bila orang lain salah. Apa kamu pasti benar?

 

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka. Karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat:12). Bahkan Rasulullah SAW bersabda, "Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk. Karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

 

Maka pahamilah. Bila orang lain salah, apa kamu benar?

Sungguh di luar sana, masih banyak anugerah Allah SWT yang patut disyukui dan mengajak siapapun untuk mampu “melihat” kebaikan-kebaikan yang lebih besar dalam hidup. Salam literasi. #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyu