Rabu, 31 Maret 2021

Mengenal Makna Literasi Numerasi

Sebagian orang tidak suka ilmu matematika. Selain bikin pusing, katanya hidup itu tidak bisa dijalani hanya dengan rumus matematika. Tidak semua hal dapay dihadapi dengan hitung-hitungan. Ada yang kerja gajinya kecil tapi cukup. Tapi ada yang gajinya besar tapi tidak cukup. Itulah realitasnya.

 

Namun begitu, bukan berarti matematika tidak penting. Karena siapa pun, sejak kecil sudah diajarkan ilmu matematika, ilmu berhitung di sekolah. Dari tingkat SD, SMP, SMA, bahkan di perguruan tinggi. Makanya ada yang disebut literasi numerasi sebagai salah satu literasi dasar yang harus dikuasai.

 

Numerasi atau matematika. Agar siapa pun punya pengetahuan dan kecakapan menggunakan angka-angka. Untuk memecahkan masalah praktis dalam konteks kehidupan sehari-hari. Dan yang terpenting, numerasi mengajak semua orang untuk selalu mampu menyeleksi informasi dan memakai data. Untuk memprediksi dan mengambil keputusan. Agar hidup jadi lebih bermanfaat, lebih bermakna.

 

Cobalah cek dan cermati. Dalam ilmu matematika, ada yang harus dipahami. Seperti 1) mengapa PLUS dikali PLUS hasilnya PLUS?, 2) mengapa MINUS dikali PLUS atau sebaliknya, PLUS dikali MINUS hasilnya MINUS?, dan 3) mengapa MINUS dikali MINUS hasilnya PLUS?

 

Bila PLUS itu BENAR dan MINUS itu SALAH. Maka maknanya adalah:

1.  Berkata BENAR terhadap sesuatu hal yang BENAR adalah suatu tindakan yang BENAR.

2. Berkata BENAR terhadap sesuatu yang SALAH, atau sebaliknya berkata SALAH terhadap sesuatu yang BENAR adalah suatu tindakan yang SALAH.

3.  Berkata SALAH terhadap sesuatu yang SALAH adalah suatu tindakan yang BENAR

Numerasi atau matematika memang hanya ilmu. Tapi sejatinya punya sarat makna. Kaarena kebenarannya selalu pasti sehingga bisa jadi pelajaran hidup bagi siapa pun.

 


Sebagai contoh dalam “pembagian” matematika. Rumusnya sederhana, 1:1=1, 1:2=½, 1:10=1/10, 1:100=1/100. Tapi, 1:0= ~ ( tidak terhingga). Kenapa bisa begitu? Jawabnya ternyata sederhana.

1.      Saat kita melakukan perbuatan baik, seperti sedekah, donasi. Bila mengharapkan imbalan atas perbuatan itu, maka semakin banyak berharap, hasilnya akan semakin kecil (1/100 dan seterusnya).

2.      Tapi saat kita melakukan kebaikan dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apa pun (1: 0), maka hasilnya akan "tidak terhingga". Maka tiap kebaikan sekecil apa pun bila dilakukan ikhlas, maka Allah SWT akan memberi balasan yang tidak terhingga,

 

Persis seperti kebaikan yang ditebarkan di taman bacaan. Bila dilakukan dengan ikhlas, menyediakan tempat membaca anak-anak demi tegaknya tradisi baca. Insya Allah hasilnya pasti “tidak terhingga”. Maka jangan menyerah dalam berkiprah pada gerakan literasi. Kerjakan saja tiap langkah kebaikan di taman bacaan, seberapa sulit tantangan yang menghadang.  

Jadi, literasi numerasi atau matematika hanya ingin memberi pesan. Bahwa perbaikilah niat, maka saat itu pula Allah akan perbaiki keadaan. Siapa pun yang berjuang untuk kebaikan orang lain, maka kebaikan pun akan datang kepada kita dari arah yang tidak diduga, Bila kita tidak menyusahkan orang lain, maka kita pun tidak adak disusahkan. Maka pilihlah cara-cara yang baik dalam hidup. Apa pun dan untuk apa pun, lebih baik “memberi” daripada “mengambil”. Karena saat kita memberi, maka saat itu pula Alllah SWT akan memberi kita tanpa perlu memintanya.

 

Teruslah perkuat litrerasi numerasi. Agar hidup jadi lebih bermakna. Salam literasi #KampanyeLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 




 

Selasa, 30 Maret 2021

Literasi Nongkrong, Menjaga Harmoni Bukan Merawat Disharmoni

Zaman begini nongkrong itu sudah jadi gaya hidup. Baik di kota maupun di kampung-kampung. Maka wajar, banyak orang lagi gandrung nongkrong. Di kafe-kafe, di pinggir jalan. Tempat-tempat nongkrong ada di mana-mana. Tingkat konsumsi kopi pun meningkat pesat. pesat. Budaya nongkrong kian marak.

 

Nongkrong atau disebut kongkow atau hang out. Intinya, berkumpul bersama teman di suatu tempat. Anak muda, mahasiswa, orang dewasa, atau ibu-ibu boleh nongkrong. Entah, untuk mengisi waktu luang, mengerjakan tugas atau sekadar silaturahim.  Asal jangan nongkrong untuk ngomongin orang.

 

Sebagai makhluk sosial, tentu nongkrong bisa berdampak positif. Sebagai ruang bercerita dan bertukar pikiran . Saling berbincang sesama teman, di samping mempererat relasi. Nongkrong juga bisa menyegarkan pikiran. Itu sisi positifnya nongkrong.

 

Tapi hati-hati juga. Beberapa kalangan justru menganggap nongkrong pun bisa berdampak negatif. Karena dianggap membuang-buang waktu. Terjebak pada kegiatan yang produktif. Apalagi bila nongkorng cuma sekadar ingin popular atau untuk keperluan medsos. Nongkrong yang buang0buang uang, sementara setiap hari kerjanya mengeluh. Maka ketahuilah, nongkrong itu bukan berkumpul untuk membicarakan yang tidak berguna. Apalagi menambah dosa.


 

Literasi nongkrong, tentu jadi penting. Bila siapa pun bisa menjadikan nongkrong sambil membaca buku. Maka pegiat literasi pun perlu menjadikan taman nacaan sebagai tempat nongkrong, tempat bercengkrama dengan teman sambil minum kopi. Maka nongkrong di taman bacaan pun bisa jadi pembelajaran. Tentang kehidupan, tentang kebaikan.  

 

Maka lebih baik nongkrong. Daripada membenci, mencaci-maki atau berkeluh-kesah. Bila ada yang hari ini masih gemar menghujat atau menyalahkan orang lain, mungkin dia kurang nongkrong. Alias kaum jarang nongkrong. Sehingga berpikir sempit dan gemar mempermasalahkan. Bukan mencari solusi dari masalah.  Jarang nongkrong, jadinya orang lain pasti salah lalu dia sendiri yang benar.

 

Karena basisnya toleransi dan bersikap demokratis. Maka saat nongkrong tidak boleh egois. Harus mampu membangun empati. Jangan bawa-bawa status, apalagi pangkat. Karena nongkrong itu melatih diri untuk menjalin hubungan baik, menjaga keharmonian. Bukan malah mau menang sendiri.

 

Nongkrong, harusnya dilihat sebagai value, sebagai nilai-nilai baik. Bukan melihat orangnya. Agar kita terlatih untuk membiasakan menutup mata terhadap subjek. Dan mulai menghargai isi perkataannya. Sangat salah bila nongkrong dipakai untuk pamer apalagi mempengaruhi orang lain.

 

Maka nongkrong-lah yang positif. Jangan nongkrong yang sia-sia atau berdampak negative. Karena nongrong berarti menjaga harmoni. Bukan merawat disharmoni. Salam literasi #KampanyeLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 

Literasi Tahan Godaan, Gimana Taman Bacaan Seharusnya?

Bila ada hal yang dianggap sepele tapi berdampak besar, itulah “tahan godaan”.

Hari ini mungkin hingga esok, banyak orang tidak lagi tahan godaan. Terlalu mudah diganggu. Atau bersahabat denngan gangguan. Maka wajar, ada yang di penjara, ada yang korupsi. Berjiwa konsumtif lalu hedonis, bisa jadi akibat tidak tahan godaan. Ngomongin orang pun termasuk tidak tahan godaan. Tidak tahan godaan dunia, tidak tahan godaan setan dan godaan-godaan lainnya.

 

Banyak orang lupa. Semua godaan itu pasti lebih menarik, lebih enak. Maka jadi muda tergoda. Itulah sifat alami godaan. Ingat kan pepatah “rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri”, itu pun sebuah godaan. Mengatakan tidak pada sesuatu yang menarik itu memang sulit. Maka kata orang banyak lagi, godaan itu selalu sulit untuk ditolak. Apa iya begitu?

 

Godaan itu pasti jadi ujian sebuah komitmen, ujian terhadap konsistensi. Bahkan bisa jadi ujian kesederhanaan. Karena memang semua godaan pasti menyenangkan. Lebih enak daripada hal yang tanpa godaan. Nongkrong di kafe pastinya lebih enak daripada membaca buku. Memang tugas godaan itu menganggu. Agar mampu mengisi ‘ruang keinginan’ setiap anak manusia. Untuk sebuah kepuasan diri. Untuk sebuah nafsu.

 


Pegiat literasi atau taman bacaan pun bukan tanpa godaan. Selalu saja ada gangguan. Atau pasti ada yang menganggu. Karena taman bacana adalah kebaikan. Maka konsekuensinya pasti ada godaan. Masalahnya, mampukah pegiat literasi atau taman bacaan tahan godaan? Tetap bertahan untuk menegakkan tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Sekalipun ada gangguan, ada godaan.

 

Sebut saja namanya literasi tahan godaan. Harusnya ukuran keberhasilan pendidikan dan orang yang belajar itu adalah kemampuan "tahan godaan". Mahir menahan godaan, mampu mengatasi gangguan. Apapun bentuknya. Seperti anak-anak yang tetap mampu membaca buku di tengah gempuran era digital. Anak yang rutin membaca buku, sekalipun anak-anak lainnya nongkrong atau bermain ponsel.

 

Seperti besok, saat bulan suci Ramadhan. Seberapa banyak orang yang mampu menahan lapar di siang hari? Seberapa banyak yang mampu menahan berbagai godaan dari ngomongin orang atau membenci? Agar bisa kembali ke fitrahnya sebagai manusia yang suci. Tentu sulit bagi mereka yang tidak mampu “tahan godaan”.

 

Literasi tahan godaan itu sungguh penting. Untuk siapa pun dalam konteks apa pun. Karena sejatinya, orang yang tekun dan konsisten pasti akan menghadapi sejumlah godaan. Apalagi bagi mereka yang galau dan berdiam diri, justru seluruh godaan akan menyerang mereka. Maka esok bila mau lebih baik, siapa pun harus tahan godaan. Maka di situ diperlukan kurikulum tentang "tahan godaan". Apa pun dan siapa pun tidak boleh menyerah pada godaan. Salam literasi #KampanyeLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Minggu, 28 Maret 2021

Literasi Hedonisme, Hidup Tidak Cukup Akal Sehat

Bisa jadi, orang yang paling stres selama pandemi Covid-19 adalah kaum hedonis.

Kaum individualis, penikmat kenikmatan sesaat. Alumni sekolah cinta dunia. Kerja untuk dunia. Untuk senang-senang dan kenikmatan diri sendiri. Hobi mencari kesenangan di mana saja. Asal bikin senang akan selalu dihampiri. Demi status sosial dianggap tinggi. Dan sejak Covid-19, terbelenggu di dalam rumah. Tidak bisa kemana-mana. Kaum hedonis, mungkin sedang pusing.

 

Namanya “Hedon”. Nama panjangnya “Hedonisme Panglima Hidup”, anggota komunitas hedonisme. Tinggal di kota besar, tidak suka urusan politik. Agama cukup biasa-biasa saja. Hidup yang penting untuk kesenangan, kenikmatan, dan kepuasan. Tidak masalah bila ada orang bilang “hidup hanya untuk kepentingan dunia”. Karena egois dan individualis adalah filsafat hidupnya.

 

Kaum hedonis kini merajalela. Kumpulan orang-orang yang gemar pada kesenangan sesaat. Ada di mana-mana. Apalagi di media sosial. Utamanya ada di kota besar. Dan kini, mulai merambah ke daerah-daerah. Titik kumpulnya ada di mal-mal, di kafe-kafe, dan tempat tongkrongan lainnya. Hedonis, ada di tempat senang-senang, Ada di tempat-tempat gaya hidup dan konsumtif.

 

Hedon itu bisa jadi sifat, bisa jadi perilaku. Katanya, menyesuaikan kemajuan zaman. Gaya hidup yang disesuaikan status sosial. Konsumsinya, mulai dari fashion, gadget, dan lainnya dipandang sebagai “kemewahan”. Hura-hura sesaat. Namun bebas tanpa batas, tanpa etika.  Resep hidupnya pun sederhana. Semau gue saja. Alias demi enaknya sendiri. Bisa jadi moralitas dan kemanusiaaan hanya jadi pajangan, bukan kenyataan.

 


Sementara kaum pegiat literasi di taman bacaan. Terus-menerus berjuang bahkan berkorban demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Untuk bertahan dan tetap eksis di era digital, di era hedonisme. Tekadnya untuk memperbaiki diri untuk lingkungannya. Karena taman bacaan yakin. Membaca buku, walau hanya sesaat, akan dapat menjadikan hidup lebih baik untuk sesama.

 

Kenapa bisa hedon, gemar terhadap hedonisme?

Mungkin, karena derajat manusia hanya diukur dari penampilan fisik dan materi semata. Hidup untuk mencintai dunia. Bukan akhlak, bukan etika. Bahkan urusan moral dan batin jadi barang tidak laku. Semuanya serba boleh. Kesenangan dunia adalah segalanya. Hedon, bisa jadi “cabang” gaya hidup baru yang layak dipertontonkan.

 

Kaum hedon, bisa jadi tidak suka dengan tulisan ini. Dan itu tidak masalah. Kan demokrasi. Apa saja boleh. Mau hedon boleh, tidak pun boleh. Tapi secara moral, hedonis pun hanya sekadar simbol. Tudak lebih hanya status sosial. Untuk kesenangan sesaat.

 

Tapi sejatinya, manusia di mana pun tetap bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Kecuali kemanfaatannya kecuali ketakwaannya. Agar tidak terbuai dan terpenjara pada hedonisme. Karena esok, ada hukum bisa di bawah pun bisa di atas. Seperti hidup, terkadang tidak cukup hanya akal sehat. Tapi harus ada hati nurani. Salam literasi #KampanyeLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Sabtu, 27 Maret 2021

TBM Edutainment, Tips Optimalkan Aktivitas Taman Bacaan

Memang benar. Mengubah perilaku anak-anak yang terbiasa main menjadi dekat dengan buku tidak semudah membalik telapak tangan. Aoakagi berkiprah di taman bacaan. Bukan hanya butuh tekad kuat. Tapi komitmen dan konsistensi sangat diperlukan. Sabar pun tidak cukup. Tanpa harus dibarengi sikap “tutup kuping” dan jiwa kreatif. Agar eksistensi taman bacaan dan tradisi baca benar-benar tercipta sesuai dengan tujuan. Bagi saya, taman bacaan bukan sekadar tempat membaca. Tapi ikhtiar membangung peradaban masyarakat.

 

Saat merenung sejenak. Kenapa banyak taman bacaan di Indonesia seperti kepayahan. Membangun tradisi baca seperti tergopoh-gopoh. Hingga terkesan “mati suri”. Hidup mau, mati pun enggan. Kondisi itu terjadi akibat 3 sebab. Yaitu 1) buku ada anak tidak ada, 2) anak ada buku tidak ada, dan 3) komitmen pengelola taman bacaan yang setengah hati, tidak sepenuh hati.

 

Maka mau tidak mau, taman bacaan atau membangun tradisi baca di mana pun. Harus ada cara yang beda. Beda dalam tata kelola, beda dalam program. Beda artinya harus lebih kreatif. Agar taman bacaan dan membaca jadi kegiatan yang menyenangkan. Taman bacaan harus asyik, untuk yang mengelola maupun audiens-nya.

 

Sekadar berbagi cerita saja. TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor. Tepatnya di Kampung Warung Loa Desa Sukaluyu. Daerah ini bolehlah disebut kawasan prasejahtera. Angka putus sekolah anak pun tinggi, 81% SD. Plus tingkat  ekonomi yang minus. Maka anak-anak pun sama sekali tidak punya akses bacaan.

 

Saat didirikan 4 tahun lalu, hanya 14 anak yang mau bergabung. Untuk membaca tiap Rabu-Jumat-Minggu. Koleksi buku bacaan pun hanya 600 buku. Namun seiring berjalannya waktu. Kini, TBM Lentera Pustaka sudah jadi “rumah” bagi 160 anak pembaca aktif. Anak-anak kampung yang mampu melahap “melahap” 5-10 buku per minggu. Dengan jumlah koleksi 6.000 buku bacaan yang 95%-nya adalah donasi orang-orang baik.

 


Lalu, apa yang dilakukan di taman bacaan?

Saya hanya berpikir “out of the box”. Tidak mau ikut pakem taman bacaan yang ada. Tanpa referensi tanpa rujukan. Saya menggagas sendiri cara mengelola taman bacaan, yang disebut “TBM Edutainment”. Sebuah tata Kelola taman bacaan yang memadukan edukasi dan entertainment. Bahkan kini, TBM Edutainment itu pula yang saya angkat sebagai disertasi di S3 Manajemen Pendidikan Unpak. Biar jadi “doktor taman bacaan”.

 

Harus diakui, TBM Edutainment kini sudah jadi energi dan “darah segar” taman bacaan. Partisipasi masyarakat terus bertambah, program kian meluas seperti berantas buta aksara, yatim binaan, kelas prasekolah, koperasi, dan jompo binaan. Taman bacaan yang tadinya sepi bak “jalan sunyi” kini berubah jadi sentra kehidupan masyarakat. Titik kumpul untuk aktivitas yang positif dan bermanfaat.

 

Maka taman bacaan harus terus bergerak. Kreatif dalam bikin program. Dan tidak terjebak pada diskusi dan ruang seminar tanpa istiqomah berada di taman bacaan, sebagai “rumahnya”. Karena masalah tradisi baca, budaya literasi atau taman bacaan tidak akan pernah selesai lewat diskusi atau seminar. Saya menyebutnya di taman bacaan, “ubah biat baik jadi aksi nyatra”. Tanpa aksi nyata di lapangan, tidak jadi apa-apa, tidak berguna.

 

Taman bacaan tidak akan hidup tanpa kolaborasi, tanpa sinergi. Maka idealisme taman bacaan harus “disesuaikan”, bukan “dihilangkan”. Gerakan literasi itu gerkan yang realistis bukan utopis. Tetap membumi dan membuka ruang tegaknya tradisi baca dan budaya literasi. Bersama siapa pun, oleh siapa pun.

 

Dan penting diketahui. Taman bacaan jangan fokus pada orang-orang jahat, kaum yang apatis. Tantangan dan cobaan pasti ada. Tapi itu semua akan terlewati. Bila taman bacaan tidak menggubris-nya. Biarkan saja, karena setelah gelap malam pasti akan muncul sinar mentari pagi.

  

Akhirnya, hanya waktu yang akan membuktikan proses di taman bacaan. Bila terang, maka audiens-nya semakin banyak. Bila gelap maka akan terus sepi. Waktu itu penting. Karenaakan tiba masa. Ganjil berubah genap, sabar berujung indah. Semua itu perlu waktu dan kita hanya diminta ikhtiar dan doa. Begitulah taman bacaan seharusnya. Salam literasi #KampanyeLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka



Jumat, 26 Maret 2021

Literasi Humor, Hidup Itu Lucu Jadi Jangan Lupa Tawa

Kata orang bijak, apa pun dalam hidup jadi lebih indah bila dihadapi dengan humor. Dengan tawa ceria asal tulus. Bukan mentertawakan.

 

Humor dan tertawa bisa jadi aktivitas yang paling menyenangkan. Karena tanpa tawa, hidup siapa pun rasanya hambar dan membosankan. Humor bukan saja murah. Tapi ada pada setiap orang. Lagian, tidak semua hal harus dihadapi dengan serius. Toh, apa yang terjadi di dunia ini sudah dalam skenario-Nya. Rezeki pun tidak akan pernah tertukar. Jadi jangan tinggalkan humor. Ituah substansi literasi humor.

 

Kadang, hidup itu sendiri sebuah humor. Lucu dan bisa ditertawakan. Ada yang kerja keras tapi tidak kaya-kaya. Ada yang tidak kerja sama sekali tapi tetap bisa hidup. Jadi tetaplah bersahabat dengan humor. Karena humor itu membawa banyak hal positif dalam hidup. Katanya, humor itu bikin sehat. Tekanan darah turun, jantung normal, imunitas bertambah. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, banyak orang yang ketakutan dan imunitas-nya drop.

 

Menariknya, humor dianggap dapat mengusir penyakit mental (stress, depresi). Tertawa pun dianggap bisa menambah masa hidup seseorang. Semakin sering tertawa semakin tinggi angka harapan hidupnya. Luar biasa. Selain teman bertambah, humor pun dapat mengusir perbedaan. Karena tawa itu universal dan milik bersama. Tanpa peduli partainya apa, presidennya siapa atau alirannya apa? Humor itu bikin bersatu dan damai. Indonesia pun butuh humor.

 

Seperti di taman bacaan pun butuh humor. Bukan hanya mengurusi anak-anak yang membaca buku. Bukan melulu soal cara taman bacaan tetap eksis. Taman bacaan pun butuh hiburan. Ajaklah anak-anak dan orang dewasa ke taman bacaan dengan humor. Dengan sesuatu yang lucu dan menyenangkan.  


 

Seperti kemarin. Saat matahari terik, saya pun pengen banget minum es campur. Setelah keliling, akhirnya ada juga tukang es campur di pinggir jalan. Penjualnya pun perempuan cantik. Terjadilah dialog antara pembeli dan penjual es campur:

L : Mbak, pesen es campur-nya satu dong…

P : Iyaa Pak, sebentar ya …. (sambil siapkan mangkok)

L : Ehh Mbak, maap ya. Es campur-nya boleh dipisah gak?

P : Lahh, emang kenapa dipisah Pak? (tampang agak kesel, kok es campur dipisah)

L : Soalnya kalo dicampur, saya khawatir gak bisa bedain mana yang tulus mana yang modus mbak.

P : Ohh gitu. Bapak mau sekalian dicampur di mangkok gak?

L : Maap Mbak, kan cuma usul. Jangan marah dong. Ya udah, dicampur aja deh.

 

Mungkin karena Covid-19, pembeli sepi. Tukang es campur saja jadi gampang marah. Mudah lupa pentingnya bercanda, pentingnya humor. Maka jangan tinggalkan humor. Agar lebih rileks dalam menghadapi soal apa pun. Dan tentu, agar lebih sehat dan panjang umur.

 

Ketahuilah, humor itu berkah terbesar yang dimiliki seseorang dan patut disyukuri. Karena humor, tidak ada yang bisa merampasnya. Sekuat apa pun niat dan usaha orang-orang di luar sana. Salam literasi. #KampanyeLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka