Minggu, 30 Juni 2019

Demi Tegaknya Budaya Literasi, TBM Lentera Pustaka Gelar Khitanan Massal


Kepedulian sosial itu perlu?
Jangankan biaya khitan, untuk ongkos sehari-hari saja sulit.

Siang itu, tangis anak berkumandang di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Desa Sukaluyu Kaki Gn. Salak Bogor. Rasa sakit saat dikhitan seketika berubah menjadi tangis bahagia 18 anak-anak dari tiga di desa (Sukaluyu, Sukajaya, Pasir Eurih) yang menjadi peserta khitanan massal TBM Lentera Pustaka pada Sabtu, 29 Juni 2019.

Dibuka oleh Kepala Desa Sukaluyu, Sarip, dan doa yang dibacakan oleh Farid Nabil Elsyarif, alumni SMAN CMBBS Pandeglang yang hafiz 3 juz menjadi tanda dimulainya khitanan massal sebagai wujud tanggung jawab sosial TBM Lentera Pustaka kepada masyarakat, di samping meringankan beban keluarga tidak mampu yang anaknya ingin dikhitan saat liburan sekolah tahun ini.

Sekali lagi, tanggung jawab sosial memang perlu. Apalagi bagi keluarga dan masyarakat yang tidak mampu. Maka uluran tangan para donatur bisa menjadi solusi. Seperti di khitanan massal TBM Lentera Pustaka kali ini. Ada 2 anak yang dikhitan berasal dari kampung yang relative jauh. Datangnya diantar tetangga yang punya motor. Namun pulangnya, ternyata tidak ada kendaraan. Apa pasalnya? Karena tidak ada ongkos. Saat itu pula, anak yang dikhitan pun diantar pulang ke rumahnya. Jangankan biaya khitan, ongkos pun tidak punya.


Ikut hadir dalam acara khitanan massal TBM Lentera Pustaka, Kapolsek Tamansari, koramil dan tokoh masyarakat yang bergabung bersama ratusan warga dan anak-anak di sekitar TBM Lentera Pustaka. Menariknya, Khitanan Massa TBM Lentera Pustaka ini adalah hasil dari kolaborasi bersama para donatur teman pendiri TBM Lentera Pustaka yang sedekah untuk biaya khitan, warga yang menjadi panitia, anak-anak yang mau dikhitan dan masyarakat seluruhnya. Semoga kegiatan rutin 5 tahunan TBM Lentera Pustaka ini menjadi ladang amal semua pihak dan diberkahi Allah SWT.

"TBM Tentara Pustaka bersyukur bisa mewujudkan tanggung jawab sosial kepada masyarakat yanv membutuhkan. Khitanan massal ini menjadi bukti kolaborasi yang luar biasa dalam menegakkan budaya literasi masyarakat sambil bersosial" ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka di sela acara.

Dalam kesempatan ini, TBM Lentera Pustaka pun menampilkan anak-anak pembaca aktif melakukan senam literasi sebelum khitanan dimulai. Termasuk penampilan orga. Tunggal sumbangan Kepala Desa Sukaluyu yang diminati masyarakat hingga pukul 17.00 WIB. Khitanan massal ini menjadi sangat berkesan karena anak-anak yang dikhitan datang dari desa yang jauh dengan segala keterbatasannya sangat antusias mengikuti khitanan massal yang dilakukan oleh mantri Puskesmas Tamansari.


Seperti diketahui, TBM Lentera Pustaka saat ini memiliki 62 anak pembaca aktif usia sekolah yang rajin membaca seminggu 3 kali. Dengan koleksi lebih dari 3.000 buku bacaan, TBM Lentera Pustaka mengambil peran untuk menegakkan tradisi baca dan budaya literasi di kalangan anak-anak usia sekolah di kampung yanv selama ini jauh dari akses bacaan. Tiap tahun TBM Lentera Pustaka disponsori oleh perusahaan yang menyalurkan CSR ke taman bacaan, di samping memiliki donatur buku yang selalu mendukung budaya literasi.

Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka pun aktif sebagai pegiat literasi yang membagi kisah pentingnya menegakkan budaya literasi di anak-anak dan masyarakat sebagai penyeimbang laju pesatnya era digital. Karena tanpa tradisi baca dan budaya literasi, maka anak-anak akan tergilas zaman.

"Selain tanggung jawab sosial, TBM Lentera Pustaka menggelar khitanan massal pun untuk mensosialisasikan akan pentingnya budaya literasi. Karena semaju apapun zamannya, budaya literasi harus tegak dalam perilaku anak-anak kita" ujar Syarifudin Yunus. #TBMLenteraPustaka #KhitananMassal



Selasa, 25 Juni 2019

TBM Lentera Pustaka Berbagi Kisah Literasi di Pascasarjana UNJ


Geliat literasi literasi di bumi Indonesia kian menggelora. Bahkan literasi telah menjadi gerakan nasional. Ditandai adanya beragam inisiatif di masyarakat, seperti gerakan literasi sekolah, pojok literasi, aktivitas budaya literasi, hingga komunitas pegiat literasi. Spiritnya, untuk menghidupkan secara konkret budaya literasi di Indonesia.
  
Bahkan di tengah gempuran era digital, tingkat literasi bangsa Indonsia kian terpinggirkan. Budaya membaca dianggap sudah hilang, dan tergantikan budaya gawai. Aktivitas membaca masih bak “hutan belantara”, bahkan tradisi menulis pun bisa jadi masih wacana. Literasi, seakan ada yang hilang di dekat kita?

Berangkat dari kepedulian terhadap budaya literasi inilah, Program Doktor Pendidikan Bahasa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar Diskusi Ilmiah bertajuk “Literasi untuk Mencerdaskan Bangsa” pada Selasa, 25 Juni 2019 di Kampus UNJ Rawamangun dengan menghadirkan Syarifudin Yunus, pegiat literasi yang sekaligus Pendiri TBM Lentera Pustaka. Diskusi ilmiah yang menjadi terobosan Pascasarjana ini dibuka oleh Prof Dr. Ilza Mayuni, Plt. Direktur Pascasarjana UNJ dan penggiat Gerakan Literasi Nasional. Ikut hadir pula Prof. Dr. Endry Boeriswati, Prof. Dr. Zuriyati Koto, Dr. Miftahul Khaira, dan 25 mahasiswa S3-Program Doktor Pascasarjana UNJ.

“Kecakapan dan kajian tentang literasi menjadi suatu keniscayaan untuk dikembangkan di perguruan tinggi untuk menjawab tantangan era revolusi industri 4.0. Literasi tidak hanya terkait kecakapan seseorang dalam memahami dan mengelola informasi atau memanfaatkan teknologi, tetapi juga tentang kecakapan seseorang menjadi warga dunia yang bijak agar mampu hidup berdampingan di tengah masyarakat yang multikultur” ujar Prof. Dr. Ilza Mayuni yang juga mantan Sekretaris Badan Bahasa.


Untuk itu, menurut Ilza Mayuni, tugas perguruan tinggi adalah membekali mahasiswa dengan literasi agar mampu mengatasi berbagai masalah yang kompleks dalam segala situasi dan kondisi. Selain untuk membekali mahasiswa menjadi warga yang mandiri, literasi juga  menjadi bidang kajian penting dan menarik yang dapat mengungkap perkembangan literasi di Indonesia dan di belahan dunia lain. Oleh karena itu, pemikiran tentang pentingnya membumikan literasi harus seiring dengan implementasinya di masyarakat.

Menegaskan hal itu, Syarifudin Yunus, alumni UNJ yang juga pegiat literasi TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor berbagi kisah tentang “aksi terjun langsung” dalam membudayakan literasi di masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah. Secara prinsip, budaya literasi seharusnya dimulai dari diri sendiri. Karena literasi merupakan kemampuan atau keterampilan yang bersifat individual. Aktivitas membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah harus melekat dalam aktivitas hidup sehari-hari; literasi dalam praktik bukan teori.

“Semua pihak sepakat literasi adalah aspek penting bagi manusia. Tapi perilaku literasi harus dimulai dari diri sendiri. Karena tidak mungkin tercipta masyarakat yang literat, bila setiap individu enggan berperilaku literatif” ujar Syarifudin Yunus yang sekaligus mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak Bogor.

Patut disadari, pengabaian terhadap budaya literasi di era revolusi industri saat ini pasti berdampak fatal pada masyarakat. Akibat rendahnya budaya literasi, maka sangat berpotensi tumbuhnya “penyakit sosial” seperti: kebodohanyang tidak berujung, produktivitas manusia yang rendah, angka putus sekolah meningkat, kemiskinan yang meluas, kriminalitas yang meninggi, dan hilangnya sikap bijak terhadap informasi.


Oleh karena itu, literasi sangat pantas tidak lagi hanya sebatas wacana. Ke dpean, literasi harus dikembangkan sebagai model pembudayaan pada masyarakat, di samping melibatkan secara praktis seluruh unsur masyarakat. Pemerintah harus mempu menjadi garda terdepan dalam gerakan literasi untuk meningkatkan taraf kehidupan dan kebudayaan yang berlaku masyarakat.

Diskusi ilmiah tentang literasi untuk mencerdaskan bangsa Program Doktor Pascasarajan UNJ ini tergolong terobosan baru bagi dunia kampus. Agar mahasiswa dapat mengenal realitas implementasi budaya literasi di masyarakat, khususnya yang dikelola taman bacaan seperti TBM Lentera Pustaka. dengan antusiasme pertanyaan dari mahasiswa dalam diskusi ini, setidaknya ada secercah harapan agar kaum intelektual di kampus untuk makin menggemakan tradisi literasi, di samping membangun inisiatif baru program literasi yang lebih berdaya guna. Tujuan untuk menumbuhkan daya kreatif, daya tahan, dan daya saing sebagai ciri masyarakat yang literat.

Patut direnungkan. Bahwa bertambahnya usia atau bertambahnya ilmu bukan berarti kita bisa menjadi manusia yang literat. Karena literasi adalah sesuatu yang harus dijalankan, bukan diabaikan ….#BudayaLiterasi #PascasarjanaUNJ

Minggu, 23 Juni 2019

TBM Lentera Pustaka Ajarkan PPPK Pertolongan Pertama Kecelakaan


TBM Lentera Pustaka Ajarkan Anak-Anak Cara Tangani PPPK

Kecelakaan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.
Tapi masalahnya, punyakah kita keterampilan untuk melakukan pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan itu? Di situlah pentingnya pertolongan pertama pada kecelakaan. Banyak orang menyebutnya PPPK; tindakan awal dalam menolong sesama, saat terjadi kecelakaan.

Maka untuk memberikan edukasi dan pemahaman lebih dini, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kaki Gunung Salak Bogor menggelar event bulanan bertajuk “Tindakan Menolong Saat Darurat melalui PPPK” oleh Kak Aji, seorang mahasiswa aktivis Pramuka pada Minggu, 23 Juni 2019. Ikut hadir 60 anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka yang belajar secara praktis cara perban, kompres, dan mengangkat korban dalam keadaan darurat.

“Event bulanan TBM Lentera Pustaka kali ini mengajarkan anak-anak agar bisa menolong orang lain dalam keadaan darurat. Karena anak-anak ini ada di kampung dan jauh akses kesehatan, maka PPPK sangat diperlukan. Agar tiap kecelakaan tidak jadi lebih fatal karena mereka tahu cara menanganinya” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka.


Melalui kegiatan ini, anak-anak TBM Lentera Pustaka dilatih untuk bisa menggunakan obat-obatan dalam boks PPPK untuk keperluan pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan secara darurat. Misalnya, bila luka memar maka dapat dilakukan komprs dengan es batu selama 5 menit lalu diusap balsam atau minyak angina untuk melancarkan darah. Begitu pula, cara mengangkat korban yang terletak di jalan melalui penempatan posisi tangan saat mengangkat sehingga lebih efektif.

Saat terjadi kecelakaan dan keadaan darurat, anak-anak pun diajarkan untuk tahu sistematika keadaan darurat, seperti 1) tahu keadaan bahaya dan pertolongan pertama diperlukan, 2) melakukan respon cepat untuk menangani, 3) mengecek tekanan tekanan pada dada, 4) memastikan jalan nafas berlangsung lancar.

Secara prinsip, anak-anak TBM Lentera Pustaka pun diajarkan untuk tidak panic saat terjadi kecelakaan, perlu mengambil tindakan agar korban terhindar dari kecelakaan berikutnya, dan memperhatikan pernafasan dan denyut jantung korban. Agar tiap kecelakaan yang terjadi tidak berdampak fatal pada korbannya.


Seusai event bulanan, seperti biasa di TBM Lentera Pustaka selalu diberikan kupon untuk menikmati jajanan kampus gratis seperti bakso, es cincau yang lewat di depan taman bacaan. Hal ini dilakukan sebagai bagian melatih budaya antre anak-anak secara perilaku nyata.

Patut diketahui, saat ini, TBM Lentera Pustaka memiliki 60 anak pembaca aktif yang sudah terbiasa membaca 5-10 buku per minggu. Dengan koleksi 3.000 buku bacaan, anak-anak di sekitar Kp. Warung Loa Desa Sukaluyu aktif membaca secara rutin 3 hari dalam seminggu. Beberapa tradisi unik di TBM Lentera Pustaka, antara lain: adanya senam literasi, salam literasi, doa literasi, dan kegiatan membaca bersuara. Setiap bulan, TBM Lentera Pustaka selalu menyelenggarakan event bulanan untuk memotivasi anak-anak agar lebih gemar membaca, di samping demi tegaknya budaya literasi anak-anak usia sekolah.

Maka ke depan, ajaklah anak-anak untuk lebih banyak membaca dan sedikit menonton televisi. Karena membaca adalah harapan untuk mereka #TBMLenteraPustaka #BacaBUkanMaen #BudayaLiterasi #KhitananMassal

Minggu, 16 Juni 2019

TBM Lentera Pustaka Beri Tips Bangun Budaya Literasi


Durasi waktu membaca orang Indonesia per hari rata-rata hanya 30-59 menit, kurang dari sejam. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. Itu hasil penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017. Kondisi itu, tentu jauh di bawah  standar Unesco yang meminta agar waktu membaca tiap orang 4-6 jam per hari.

Itulah salah satu bukti budaya literasi di Indonesia masih sangat rendah. Angka membaca Indonesia sangat jauh tertinggal. Sementara masyarakat di negara maju rata-rata menghabiskan waktu membaca 6-8 jam per hari. Anehnya, orang Indonesia mampu menghabiskan waktu 5,5 jam sehari untuk bermain gawai atau gadget.

Teknologi boleh makin maju. Tapi itu semua tidak menjamin budaya literasi di Indonesia makin baik. Orang makin kaya belum tentu makin peduli pada budaya literasi. Bahkan tidak sediki hari ini oprang pintar yang meninggalkan kegiatan literasi.  Katanya era digital, era revolusi industri 4.0. Tapi faktanya, justru banyak orang makin malas membaca, makin malas menulis. Maka wajar, budaya literasi makin dikebiri. Bahkan hari ini, budaya literasi dianggap cukup diseminarkan tanpa perlu aksi nyata.

Budaya literasi itu budaya membaca dan menulis. Masyarakat yang lebih gemar membaca dan menulis daripada berceloteh di media sosial atau menonton TV. Agak sulit menjadikan budaya literasi sebagai gaya hidup. Karena banyak orang hari ini, lebih senang budaya milenial, budaya serba instan, dan budaya gaya hidup.

Maka di tengah memprihatinkannya budaya literasi di Indonesia, taman bacaan masyarakat atau perpustakaan mau tak mau harus mengambil peran yang lebih besar.  Taman bacaan harus mampu menjadi ujung tombak untuk mengkampanyekan budaya literasi di anak-anak dan masyarakat. Bahwa membaca sesuatu yang penting. Untuk menggali informasi dan pengetahuan, bahkan menjadi tempat pemberdayaan masyarakat berbasis literasi. Apalagi di tengah gempuran era digital yang kian tak terbendung.

“Budaya literasi di Indonesia makin ke sini makin memprihatinkan. Untuk itu, taman bacaan masyarakat harus bisa jadi ujung tombak untuk menghidupkan tradisi baca dan tulis. Jangan biarkan dunia gawai atau dunia maya memgendalikan hidup anak-anak kita” ujar Syarifudin Yunus, pegiat literasi sekaligus Pendiri TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor.


Berangkat dari realitas budaya literasi yang memprihatinkan itulah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka yang berlokasi di Desa Sukaluyu Kaki Gunung Salak Bogor sangat peduli untuk membangun budaya literasi di masyarakat, di lingkungan, di keluarga bahkan di sekolah. Budaya literasi yang dibuat menarik dan menyenangkan. Agara anak-anak mau lebih dekat dengan buku bacaan.  Karena inti budaya literasi, membaca harus jadi perilaku anak-anak dalam keseharian. Membaca harus jadi kebiasaan, bahkan gaya hidup. Setelah itu, kemudian membiasakan menulis.

Melalui konsep “TBM-Edutainment”, TBM Lentera Pustaka saat ini telah menjadi tempat membaca bagi 60-an anak pembaca aktif. Dengan jam baca 3 kali seminggu, rata-rata setiap anak membaca 5-10 buku. Dengan koleksi lebih dari 3.000 buku, TBM Lentera Pustaka ingin mengubah “mind set” agar anak-anak agar mau membaca dan selalu dekat dengan buku.

Memang tidak mudah membangun budaya literasi masyarakat. Namun dengan pengalaman yang telah dimplementasikan, TBM Lentera Pustaka memberikan resep membangun budaya literasi yang bertumpu pada 7 (tujuh) tahapan sebagai berikut:

1. Pahami pentingnya membaca (karena dapat menambah kosakata, wawasan, kesabaran, karakter) sebagai landasan untuk menulis.
2.  Optimalkan taman bacaan atau perpustakaan di manapun; agar tercipta kesempatan untuk membaca.
3.  Budayakan membaca sebagai gaya hidup sehari-hari sebagai penyeimbang gawai.
4. Hadiahkan buku kepada anak perlu dibiasakan.
5.  Komunitas baca masyarakat perlu ditebarkan  di masyarakat.
6. Omong sedikit tapi harus banyak membaca. Jadikan membaca sebagai kebiasaan, tanpa perlu banyak omong.
7. Menulislah setiap hari. Tanpa menulis, maka sulit tercipta budaya literasi.

Budaya literasi, tentu tidak boleh kalah dari gaya hidup modern yang serba instan, bergantung pada gawai atau gadget. Karena masa depan bangsa Indonesia bukan terletak pada pengguna gawai. Tapi ada dan melekat pada anak-anak, generasi muda yang mau membaca dan menulis. Anak-anak yang dekat dengan buku.

“Budaya literasi kini semakin tersingkir. Inilah momentum semua pihak untuk turun tangan menghidupkan kembali budaya membaca dan menulis di kalangan anak-anak kita. Jika tidak, anak-anak itu akan terlindas zaman” tambah Syarifudin Yunus yang saat ini tengah menekuni disertasi S3 tentang taman bacaan.

Budaya literasi adalah sinyal. Bila kita jauh dari buku maka akan merana. Bila dekat dengan buku maka akan bahagia. Jangan bilang cinta anak, bila tidak ada aksi nyata. Karena cinta bukan hanya serpihan ludah yang terpancar dari lisan semata. Tapi cinta itu tentang kepedulian terhadap budaya literasi. Salam Literasi. #TBMLenteraPustaka #BudayaLiterasi #TradisiBaca #BacaBukanMaen


Jumat, 14 Juni 2019

Temuan TBM Lentera Pustaka; 60% Fasilitas Taman Bacaan di Indonesia Tidak Memadai


60% Fasilitas Taman Bacaan di Indonesia Tidak Memadai

Ternyata 60% fasilitas ruang baca yang ada di taman bacaan di Indonesia tidak memadai. Begitu simpulan sementara Survei Tata Kelola Taman Bacaan di Indonesia yang dilakukan TBM Lentera Pustaka (hingga 14 Juni 2019). Sementara ruang baca yang sudah memadai 20% dan 20% lagi menjawab mungkin memadai. Fasilitas ruang baca menyangkut rak buku, boks tempat buku, alas/karpet baca, maupun bangunan fisik taman bacaan. Kondisi ini tentu menjadi tantangan bagi pegiat literasi dalam upaya membangun budaya literasi. Karena fasilitas ruang baca pada dasarnya dapat memberikan kenyamanan dan kemudahan anak-anak pada saat jam baca.

Tidak memadai fasilitas ruang baca di taman bacaan harusnya menjadi cambuk pemerintah daerah maupun korporasi untuk ikut peduli dalam memperbaiki fasilitas ruang baca di taman bacaan. Sehingga kegiatan membaca dan budaya literasi dapat berlangsung optimal. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa taman bacaan yang sebagian besar dikelola secara swadaya oleh pegiat literasi perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak, utamanya pemerintah daerah.

Karena pada hakikatnya, taman bacaan merupakan ruang publik untuk membangun tradisi baca dan budaya literasi bagi masyarakat setempat. Bahkan lebih dari itu, taman bacaan pun dapat menjadi salah satu pusat sumber informasi dan bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Maka sangat wajar bila fasilitas ruang baca tidak memadai, akan sulit bagi taman bacaan untuk ambil bagian dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sarana dan prasarana taman bacaan yang tidak memadai inilah yang menjadi “pekerjaan rumah” para pegiat literasi dan masyarakat dalam mengemban misi membudayakan kegiatan membaca dan literasi anak-anak.

Sebagai informasi, jawaban survei Tata Kelola Taman Bacaan di Indonesia ini diperoleh dari pegiat literasi yang ada di 33 lokasi di Indonesia, seperti dari Bogor -- Sukoharjo- Banyuwangi- Sumba Tengah -- Jambi -- Purwokerto - Nias Selatan - Buru Selatan - Sorong Selatan - Kab. Gowa -- Asahan - Padang Panjang -- Rappang -- Cirebon - Seram - Mamuju Tengah - Tapanuli Utara -- Matawae - Landak - Manggarai Barat -- Grobogan -- Wonogiri - Buton Tengah - Kota Baru -- Boyolali - Aceh Barat - Probolinggo -- Purworejo -- Malang - Semarang - Lampung Timur -- Tanggamus – Jeneponto – Sumba Barat.


Harus diakui, saat ini menjadikan anak-anak “dekat” dengan budaya membaca memang tidaklah mudah. Untuk itu, dibutuhkan komitmen dan aksi nyata dalam mengajak anak-anak untuk mau bergelut dengan buku bacaan. Maka tentum dukungan sarana dan prasarana pun harus dioptimalkan. Demi tegaknya budaya literasi di kalangan anak-anak usia sekolah.
“Budaya literasi di anak-anak kita hampir hilang. Untuk itu, semua pihak baik korporasi dan individu harus peduli terhadap tradisi baca dan budaya literasi anak-anak. Maka keterbatasan fasilitas ruang baca di taman bacaan harus didukung oleh semua pihak, utamanya pemerintah daerah dan korporasi” ujara Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka.

Maka sebagai solusi, gerakan CSR Korporasi sebagai aksi nyata dalam mewujudkan tanggung jawab sosial harus terus didengungkan. Agar pihak korporasi mau menyisihkan dana CSR untuk aktivitas membaca dan budaya literasi anak-anak Indonesia. Karena survei ini mempertegas bahwa budaya literasi di Indonesia bukan hanya masalah ketersediaan buku. Tapi fasilitas ruang baca pun ikut menentukan minat dan daya tarik anak-anak untuk membaca.

Merujuk pada survei UNESCO (2012), indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih 'mau' membaca buku secara serius. Maka, sangat wajar Indonesia ditempatkan pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Maka sebagai konsekuensi atas kondisi taman bacaan ini, solusi yang paling memungkinkan adalah taman bacaan dapat mengkombinasikan jadwal jam baca yang bersifat “out door” di alam terbuka. Di samping pegiat literasi harus tetap berjuang mencari “jalan keluar” atas problema keterbatasan fasilitas ruang baca yang ada di taman bacaannya.


Berangkat dari realitas itulah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Kp. Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari di Kaki Gunung Salak Bogor pun menjalankan program jam baca di alam terbuka, seperti di sungai, di kebun, di jalanan. Hal ini dilakukan untuk memberikan suasana yang berbeda kepada sekitar 60 anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka.  Agar upaya meningkatkan tradisi baca anak-anak usia sekola tetap tumbuh dan berjalan lancar.

Ke depannya, kawasan di sekitar TBM Lentera Pustaka pun rencananya akan dijadikan kawsan “Wisata Literasi Lentera Pustaka”, sebuah wisata edukasi berbasis membaca buku sambil melakukan perjalanan di sungai dan kebun yang dilengkapi spot-spot foto menarik. Saat ini wisata literasi sedang studi penjajakan untuk mencari investor yang tertarik berpartisipasi dalam menyebarkan virus membaca kepada anak-anak dan masyarakat.

“Intinya, pegiat literasi harus terus berjuang agar membaca dan buku tidak tersingkir dari peradaban anak-anak. Taman bacaan di manapun harus mengimbangi gempuran era digital yang kian ganar.  Inilah tantangan pegiat literasi” tambah Syarifudin Yunus, yang berprofesi sebagai Dosen Unindra dan tengah menempuh S3 Program Doktor Manajemen Pendidikan di Pascasarjana Universitas Pakuan. Salam Literasi !


Kamis, 13 Juni 2019

Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor


Berangkat dari terancamnya anak-anak di Desa Sukaluyu putus sekolah. Akibat tingkat partisipasi pendidikan 81% selevel SD, harus ada upaya serius yang dilakukan. Apalagi susahnya anak-anak usia sekolah di daerah itu mendapatkan akses buku bacaan. Berangkat dari realitas itulah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka berdiri di Kp.Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kaki Gn. Salak Bogor.

Adalah Syarifudin Yunus, lebih akrab dipanggil Syarif sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Masyarakat(TBM) Lentera Pustaka. Pria yang berprofesi sebagai Konsultan di DSS Consulting dan Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia FBS Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) ini terjun sebagai pegiat literasi untuk meningkatkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah khususnya bagi masyarakat yang tidak mampu. Tujuannya untuk menekan angka putus sekokah, di samping membangun kebiasaan membaca anak-anak di tengah gempuran era digital.

Alumni UNJ Peraih UNJ Award 2017 bidang Pengabdian Masyatakat dan peraih Dosen Berprestasi Unindra Tahun 2009 ini bertekad menjadikan TBM Lentera Pustaka sebagai taman bacaan kreatif dan menyenangkan melalui konsep "TBM Edutainment", kegiatan membaca yang memadukan unsur edukatif dan entertainment. Ke depan, taman bacaannya berharap mampu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, selain sebagai "warisan" kepada umat yang akan ditinggalkan.


Sejak didirikan 2 tahun lalu, Syarif  melalui TBM Lentera Pustaka fokus  mengkampanyekan pentingnya membaca buku bagi anak-anak di tengah gempuran era digital. Karena membaca dianggapnya dapat menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Dengan bantuan donasi buku dari teman-temannya, kini TBM Lentera Pustaka telah memiliki koleksi lebih dari 3.000 buku bacaan yang siap dibaca sekitar 62 anak-anak pembaca aktif seminggu 3 kali (Rabu-Jumat-Minggu). Bahkan, sebagai realitasi teakd dan komitmenynya, saat ini setiap week end, dia selalu berada di Kaki Gunung Salak Bogor untuk mengajar anak-anak membaca dengan baik dan benar sekaligus memotivasi masyarakat demi tegaknya budaya literasi.

Alhasil, kini anak-anak di TBM Lentera Pustaka bisa membaca 5-10 buku per minggu. Bahkan tata kelola taman bacaan yang disajikan tergolong unik dan menyenangkan. Karenqa setiap bulan selalu ada event bulanan dan jajanan kampung gratis, senam literasi, salam literasi, doa literasi, dan membaca wajb bersuara. Itu semua dipilih Syarif untuk menjadikan membaca sebagai kegiatan yang tidak membosankan. Harus ada kreasi dalam membaca. Literasi yang menyenangkan, atas sebab itu acara Halo Indonesai DAAI TV menjadikan Syarif sebagai narasumber pada 8 Mei 2019 lalu.

Sebagai realisasi kecintaannya terhadap budaya literasi di Indonesia, Syarif menjadikan menulis sebagai gaya hidup. Setiap hari menulis, apapun yang ada dibenaknya selalu dituliskan. Dari awalnya tidak bisa menulis, namun ketekunannya menjadikan prinsip hidupnya bertumpa pada “scripta manent verba volant – yang tertulis akan abadi yang terucap akan hilang”.  Maka ia menekankan pada budaya tulisan kemudia budaya lisan, bukan sebaliknya. Karena menurutnya, budaya literasi hanya bisa dimulai dari budaya membaca dan menulis, bukan budaya berbicara dan menyimak.

Dengan tekad budaya literasi yang melekat pada dirinya, kini Syarif  telah melahirkan 25 buku seperti; 1) Jurnalistik Terapan(2010), 2) Bunga Rampai Problematika Bahasa Indonesia(Ed.-2010),  3)Kumpulan Puisi & Cerpen “Kata Anak Muda” (Ed.-2011), 4)  Antologi Puisi “Perempuan Dimana Mereka?” (Ed.-2012), 5) Antologi Puisi “Potret Orang-Orang Metropolitan” (Ed.-2013), 6) Antologi 44 Cerpen “Surti Bukan Perempuan Metropolis”(Maret 2014), 7)  Antologi 85 Cerpen “Kecupan Di Pintu Langit” (Mei 2014), 8) Antologi 70 Cerpen “Di Balik Jendela Kampus” (Juli 2014), 9) Kumpulan 30 Cukstaw Cerpen “Surti Tak Mau Gelap Mata”(November 2014), dan 10) Antologi Puisi Kritik Sosial “Tiada Kata Dusta Untuk Presiden” (November 2014), 11) Kompetensi Menulis Kreatif (April 2015), 12) Kumpulan Cerpen “Hati Yang Mencari Ibu” (Mei, 2015), 13) Kumpulan Cerpen “Bukan Senyuman Terakhiir” (April 2016), 14) Kumpulan Cerpen “Resonansi Cinta Yang Terbelah” (Mei 2016), 15) Kumpulan Artikel Ilmiah “Bahasa Di Panggung Politik; Antara Kasta dan Nista” (Desember 2016), Kenapa Kau Membenciku (2017), Cerita Bibir Di Atas Tangan (2017) Oasis Dari kampus (2017), Jangan Mencintai perempuan Biasa (2018), Noda Di Ruang Kelas (2018), Sentimen Bahasa Politik (2018), Politik Orang Susah (2018), Jakarta Di Atas Kertas (2019). Bahkan di tahun 2019 ini pula, akan ada tambahan 3 buku baru.

Tidak sekadar itu, Syarif pun masih sangat aktif menulis artikel opini di media cetak harian dan online, seperti: Bisnis Indonesia, Koran Jakarta, Media Indonesia, dan detik.com termasuk media warga yang ada di Indonesia.


Bekerja lebih dari 25 tahun sebagai Dosen dan aktif mengajar di beberapa kampus dengan spesialiasi bidang menulis, jurnalistik, penyuntingan, kehumasan, penelitian, dan bahasa dan sastra Indonesia ini pernah berkiprah sebagai Wartawan Majalah Forum Keadilan (1996) dan Mobil Indonesia (1998). Kebiasaan yang paling menonjol darinya adalah selalu menulis setiap hari. Karena baginya, hidup tanpa menulis berarti hampa.

Lahir di Jakarta, 15 Maret 1970. Syarif lahir sebagai anak seorang pensiunan tentara namun dibesarkan dalam nuansa toleransi dan kepedulian sosial yang tinggi. Dari seorang ayah keturunan Makassar dan Ibu berasal dari Sunda, anak sulung berbintang Pieces ini sangat getol terhadap gerakan sosial dalam membantu anak-anak yatim, para janda dan jompo, serta anak-anak yang terancam putus sekolah. Prinsip hidupnya sederhana saja, "apa adanya dan bukan ada apanya" sehingga hidup harus dijalani dengan penuh kewaspadaan dan tidak perlu terbuai oleh gaya hidup yang berlebihan.

Ayah dari Fahmi, Farid, dan Farah ini menghabiskan masa kecilnya di Jakarta, bersekolah di SDN Kenari 12 Salemba, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 216 Jakarta, dan SMA Negeri 30 Jakarta. Pendidikan tingginya dimulai dari S1- Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (1994) dari Universitas Negeri Jakarta (d/h IKIP Jakarta) dan S2 - Magister Pendidikan PascaSarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta (2006). Saat ini, beliau tengah melanjutkan studi S3 Program Doktor Manajemen Pendidikan di Pascasarjana Universitas Pakuan Bogor atas beasiswa dari Universitas Indraprasta PGRI tempatnya mengajar. Setelah mendapat persetujuan dari pembimbing akademik, sebagai pegiat literasi, ia bertekad meraih Doktor Manajemen Pendidikan bidang Tata Kelola Taman Bacaan dengan judul “PENINGKATAN MINAT BACA MASYARAKAT DAN BUDAYA LITERASI MELALUI MODEL TBM EDUTAINMENT PADA TAMAN BACAAN MASYARAKAT DI KABUPATEN BOGOR”.

Untuk karier professional, Syarif sesuai kuliah memulainya dari Staf Pengajar Program Keterampilan Komunikasi Sekretariat Negara RI (1994-1996), di samping sebagai dosen tetap di Unindra (d/h STKIP PGRI Jakarta). Setelah itu terjun ke dunia jurnalistik sebagai wartawan di Majalah Forum Keadilan (1996) dan Majalah Mobil Indonesia (1998). Sejak 1999, ia memulai sebagai praktisi asuransi jiwa sebagai Corporate Commnucation Supervisor di AJ Principal Indonesia dan berlanjut sebagai Corporate Communications Manajer di AJ Manulife Indonesia (2001-2006) dan Corporate Communication Manajer AIA Financial (2006-2011) yang bertanggung jawab dalam hal komunikasi internal dan eksternal perusahaan, media relations, marketing communications, di samping kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility). Karier profesional terakhirnya adalah AVP Sales Support & Training Employee Benefits AJ Manulife Indonesia (2012-2016). Dan kini, ia menekuni sebagai konsultan DSS Consulting, Dosen Unindra, dan Edukator Dana Pensiun.


Catatan prestasi dan pengalaman yang pernah diraih, antara lain: Dosen Berprestasi Universitas Indraprasta PGRI Jakarta (2009), Asia Communicator’s Conference di Hongkong (2002 & 2004), Pemenang ‘Relawan Sejati’ Manulife Indonesia (2002), Winner Citizenship Award-Star of Excellence Manulife Financial Asia di Hongkong (2003), meraih Gold Quill of Excellence Award – Crisis Communication Team dari International Association Business Communicator (2002), Inisiator & Presenter Corporate Social Responsibilty (CSR) Award 2005 – 3rd The Best Practise in Social Program, Inisiator & Pemenang Rekor Bisnis Award bidang CSR dari Harian SINDO & Tera Foundation (2010), Pemenang Marketing Dream Team Champion 2010 dari Majalah SWA & MarkPlus, dan Peraih Rekor Bisnis Award 2014 bidang Employee Benefits dari Koran Sindo & Tera Foundation (Mei 2014), Nara Sumber ASEAN Literary Festival – ALF 2016. Periah UNJ Award 2017 bidang Pengabdian Masyarakat Alumni. Berbagai aktivitas yang digelutinya, telah mengantarkan dirinya meneguk inspirasi dari 9 negara, seperti: Hongkong, Singapore, Malaysia, Thailand, Shanghai Cina, Perth Australia, Seoul Korea Selatan, Tokyo Jepang, Madinah-Mekah Saudi Arabia.

Aktif di organisasi seolah menjadi “nafas harian” seorang Syarifudin Yunus. Dia telah banyak “makan asam garam” di berbagai organisasi. Saat masih mahasiswa, ia aktif di organisasi sebagai Ketua HMJ Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (1990), Ketua Senat Mahasiswa FPBS IKIP Jakarta/UNJ (1991), dan Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Senat Mahasiswa IKIP Jakarta (1992). Kepedulian sosialnya dimulai pada saat menjadi Pengelola Komunitas Peduli Anak Yatim CARAKA MUDA YAJFA di Kreo, Cileungsi, dan Gn. Salak Bogor yang memiliki 34 anak yatim binaan, 5 janda, dan 4 jompo (1994-sekarang), Penggagas Komunitas Ranggon Sastra Unindra (2006-sekarang), Penggagas Klub Jurnalistik KJPost Unindra (2009-sekarang), Owner & Education Specialis Gema Didaktika (2006-sekarang), dan menjadi Juri Bilik Sastra Award VoI RRI dari 2013 hingga sekarang.

Saat ini pun masih aktif di berbagai organisasi, antara lain: Ketua IKA BINDO UNJ (sejak 2009- sekarang), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-2021), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020), dan Ketua Bidang Humas dan Pelayanan Konsumen Asosiasi DPLK Indonesia (2003-sekarang).

Bahkan sejak November 2018 lalu, Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka ini pun membuka program baru yang diberi nama GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) untuk mengajarkan baca-tulisa bagi kaum buta huruf di Desa Sukaluyu Kaki Gn. Salak Bogor.

Dengan mengusung motto #BacaBukanMaen, Syarif melalui TBM Lentera Pustaka di Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kaki Gunung Salak Kab. Bogor ingin mengingatkan pentingnya orang-orang dewasa dan para korporasi ikut peduli dan berkontribusi dalam menegakkan tradisi baca anak-anak sebagai antisipasi terhadap gempuran era digital yang kian masif.
“Karena taman bacaan, bukan hanya membangun tradisi baca anak-anak. Tapi kita sebagai orang dewasa harus berpikir untuk meninggalkan legacy atau warisan kepada sesama umat. Saya bertekad untuk menjadi Doktor bidang taman bacaan di Indonesia” ujar Syarifudin Yunus.

Harapan Syarif ke depan sederhana, ingin tetap konsisten sebagai pegiat literasi di Indonesia dan selalu sehat untuk ibadah dan menulis, menulis, menulis … #TGS #BudayaLiterasi #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka



Selasa, 11 Juni 2019

61,5% Koleksi Buku Taman Bacaan di Indonesia Masih Minim

Adalah fakta 61,5% jumlah koleksi buku taman bacaan di Indonesia belum memadai, 33% mungkin memadai, dan hanya 5,5% saja yang sudah memadai. Itulah simpulan hasil survei Tata Kelola Taman Bacaan di Indonesia via Pustaka Bergerak Indonesia (walau belum selesai surveinya).  Hal ini menjadi bukti perlunya partisipasi pemerintah dan lembaga manapun untuk ikut serta memaksimalkan keberadaan taman bacaan dan perpustakaan di tingkat desa/lingkungan melalui penyediaan buku bacaan. Karena buku adalah hal penting yg menjadi daya tarik masyarakat/anak-anak untuk membaca. Karena halaman demi halaman buku yg dibaca terlalu sulit dilupakan.

Survei yang masuk diberikan oleh para pegiat literasi dari Bogor – Sukoharjo- Banyuwangi- Sumba Tengah – Jambi – Purwokerto - Nias Selatan - Buru Selatan - Sorong Selatan - Kab. Gowa – Asahan - Padang Panjang – Rappang – Cirebon - Seram - Mamuju Tengah - Tapanuli Utara – Matawae - Landak - Manggarai Barat – Grobogan – Wonogiri - Buton Tengah - Kota Baru – Boyolali - Aceh Barat - Probolinggo – Purworejo – Malang - Semarang - Lampung Timur – Tanggamus – Jeneponto.

Survei ini mempertegas bahwa tradisi baca dan budaya literasi di Indonesia bukan hanya masalah minat yang rendah. Tapi ketersediaan buku bacaan di taman bacaan atau perpustakaan yang ada di daerah pun masih tergolong minim. Maka sangat wajar, bila  tengah di era digital seperti sekarang, budaya baca semakin terpinggirkan. Minat baca anak-anak makin rendah. Beragam jenis hiburan, game, handphone, tayangan TV, internet yang kurang mendidik makin menjauhkan anak-anak dari buku bacaan. Bahkan guru atau pendidik pun ikut terbawa arus. Karena faktanya, guru dan pendidik di Indonesia saat ini pun makin “jauh” dari aktivitas membaca dan menulis.

“Sebagai pengelola taman bacaan, survei ini saya lakukan untuk mendapatkan potret objektif dari pendiri atau pengelola taman bacaan yang ada di Indonesia. Walau belum selesai surveinya, tapi banyak fakta mengisyaratkan bahwa pegiat literasi di Indonesia kurang mendapat dukungan dari pemerintah atau lembaga apapun” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka yang menggagas survei Tata Keloa Taman Bacaan di Indonesia.

Merujuk pada survei UNESCO (2012), indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih ‘mau’ membaca buku secara serius. Alhasil, sangat wajar Indonesia ditempatkan pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Karena budaya membaca sangat rendah. Budaya literasi pun baru sebatas didengung-dengungkan, belum dimplementasi secara nyata, masif, dan berkelanjutan. Dan dukungan ketersediaan buku bacaan pun menjadi masalah, 61,5% jumlah koleksi buku masih minim.

Oleh karena itu, budaya membaca tidak cukup sekadar bahan diskusi atau seminar. Membaca harus jadi perilaku anak-anak dalam keseharian. Membaca harus jadi kebiasaan, bahkan gaya hidup. “Kalau tidak baca tidak keren”, begitu istilahnya.  Dan jangan sampai, kebiasaan hidup anak-anak kita “dikendalikan” oleh gawai. Apalagi masa depan anak-anak hanya da di dunia maya, sungguh sangat bahaya.

Berangkat dari realitas itu, TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Lentera Pustaka yang berlokasi di Desa Sukaluyu Kaki Gunung Salak Bogor sangat peduli untuk membangun tradisi baca dan budaya literasi di kalangan anak-anak usia sekolah. Saat ini, TBM Lentera Pustaka memiliki 60 anak pembaca aktif yang sudah terbiasa membaca 5-10 buku per minggu, dengan koleksi yang tersedia 3.000 buku bacaan. TBM Lentera Pustaka pun dikenal sebagai taman bacaan yang unik dan menyenangkan. Karena cara-cara dalam membangun tradisi baca tergolong unik, dengan adanya senam literasi, salam literasi, doa literasi, bahkan kegiatan membaca bersuara untuk melatih vocal dan konsentrasi dalam membaca. Bahkan melalui “Lab Baca”, anak-anak TB Lentera Pustaka pun diajarkan untuk memahmi bacaan melalui aktivitas di alam terbuka, seperti di sungai, di kebun atau di jalanan.

“Tradisi baca tidak bisa hanya didiskusikan. Maka semua pihak, pemerintah dan korporasi, seharusnya ikut aktif membina taman bacaan dan memberikan kontribusi dalam bentuk penyediaan buku bacaan di daerah yang membutuhkan. Karena tanpa baca, kita merana” tambah Syarifudin Yunus yang Dosen Unindra dan Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak Bogor yang sedang mempersiapkan disertasi tentang taman bacaan.

Mari kita dukung aktivitas taman bacaan di Indonesia. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi yang lebih baik untuk anak-anak Indonesia… tabik #TBMLenteraPustaka #BacaBUkanMaen #BudayaLiterasi #DonasiBuku

Senin, 10 Juni 2019

CSR Ke Taman Bacaan, Jangan Hit and Run


Corporate Social Responsibility (CSR) bagi korporasi bukan hanya penting tapi wajib. Sebagai bukti kepedulian sosial dalam memberdayakan masyarakat yang tidak mampu, dari segala ukuran.

Karena itu, CSR jangan hit and run; kasih lalu pergi.
Patut direnungi untuk korporasi. CSR Jangan HIT and RUN.
Menebar kebaikan lalu pergi. Selesai. Tanpa dipantau bahkan ditindaklanjuti. CSR sekecil apapun, apalagi yang besar harus didasari komitmen, konsistensi, dan berkelanjutan. Sehingga ada dampak positif dari kepedulian sosial yang diberikan. CSR bukan hanya seremoni apalagi event semata. Tapi CSR harus dapat diukur, berdampak nyata bagi masyarakat, dan mampu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat-nya.

Terima kasih tak terhingga kepada CHUBB LIFE, AJ TUGU MANDIRI, & P-DPLK yang telah menjadi SPONSOR CSR KORPORASI Tahun 2019 TBM Lentera Pustaka. Berkat partisipasi dan sinergi mereka, aktivitas meningkatkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah serta edukasi literasi keuangan di TBM Lentera Pustaka berjalan lancar hingga Mei 2019 ini. Insya Allah sampai Desember 2019 nanti.


Karena faktanya hari ini. Akibat CSR Korporasi di TBM Lentera Pustaka telah berhasil mengukri catatan kemajuan sebagai berikut:
  1. -      Ada 62 anak pembaca aktif saat ini, padahal sebelumnya mereka tidak memiliki akses buku bacaan karena memang tidak ada taman bacaan.
  2.         Rata-rata per anak mampu membaca 5-10 buku per minggu, sebuah tradisi baca yang luar biasa untuk ukuran anak-anak kampung yang selama ini tidak punya kebiasaan membaca.
  3.    Koleksi buku mencapai 3.300 buku bacaan yang membuat anak-anak semangat membaca dan mau datang ke taman bacaan.
  4.       Jam baca 3 kali seminggu sudah menjadi kebiasaan anak-anak kampung untuk membaca pada tiap Rabu-Jumat-Minggu, sambil belajar memahami isi bacaan.
  5.    Selalu ada “event bulanan” dengan menghadirkan “tamu dari luar” untuk berbagi pengetahuan, motivasi atau keterampilan sekaligus menjadi ajang “pesta jajanan kampung gratis” untuk anak-anak yang gemar membaca di taman baca.
  6.      Bahkan kini, TBM Lentera Pustaka telah dipilih menjadi 1) tempat riset 4 mahasiswa tentang taman bacaan, 2) aksi komunitas relawan peduli sosial dari Unindra, IPB, dan Nurul Fikri Boarding School, dan 3) menjadi narasumber acara Halo Indonesia DAAI TV bertajuk “Literasi yang Menyenangkan”.


Memang belum banyak CSR Korporasi diberikan ke Taman Bacaan.
Namun bercermin dari CSR Korporasi yang dilakukan Chubb Life, AJ Tugu Mandiri, dan Perkumpulan DPLK di tahun 2019 secara berkelanjutan dalam jangka setahun, terbukti mampu meningkatkan tradisi baca anak-anak kampung usia sekolah. Sehingga mampu menekan angka putus sekolah di wilayah tersebut. Karena CSR Korporasi mampu memberikan harapan yang lebih baik kepada anak-anak dan masyarakat yang kurang beruntung, bahkan mungkin tidak terperhatikan selama ini.

Taman bacaan memang kecil lagi biasa. Tapi dampak sosial dan pendidikannya sangat besar dan luar biasa. Teruskan ubah niat baik jadi aksi nyata …

Sekali lagi, terima kasih kepada Sponsor CSR Korporasi Tahun 2019 TBM Lentera Pustaka. Semoga menjadi ladang amal bagi korporasi Anda dan mejandi berkah yang melimpah, amiin. CSR jangan hit and run …

Kami menyebutnya "SINERGI UNTUK MEMBAIKKAN ANAK-ANAK USIA SEKOLAH"… tabik #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen #BudayaLiterasi #CSR