Senin, 30 Maret 2020

Apa Kata Pegiat Literasi tentang Wabah Virus Corona? Disiplin Jaga Jarak


Wabah virus corona kian merebak. Jumlah pasien Covid-19 pun setiap hari terus meningkat. Tercatat hingga Senin (30/3), terjadi penambahan 129 kasus baru. Totalnya menjadi 1.414 kasus. Dari jumlah tersebut, ada 1.217 orang dirawat, 122 pasien meninggal dunia, dan 75 pasien sembuh. Daerah yang terpapar sudah mencakup 27 provinsi. DKI Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah pasien positif terbanyak, yakni 698 orang.


Presiden Joko Widodo, hari ini saat membuka rapat terbatas membahas laporan Gugus Tugas Penanganan Corona via video conference menegaskan perlunya memperkuat kebijakan pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran virus corona Covid-19 dalam skala lebih besar. Bila perlu physical distancing atau social distancing didampingi kebijakan darurat sipil.

"Physical distancing dilakukan lebih tegas, lebih disiplin, dan lebih efektif lagi. Sehingga tadi sudah saya sampaikan bahwa perlu didampingi adanya kebijakan darurat sipil," kata Jokowi.

Maka penting dikedepankan, pentingnya physical distancing; menjaga jarak fisik antar satu dengan yang lainnya. Masyarakat diminta untuk lebih disiplin dan mematuhi imbauan untuk menghindari kerumunan massa, tetap #DiRumahAja, dan work from home. Bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Tidak berkumpul dengan jumlah orang banyak. Daripada terlibat pada perdebatan soal ada tidaknya lockdown, sungguh patut dioptimalkan sikap “disiplin” masyarakat untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Siapapun harus menyadari. Imbauan untuk “menjaga jarak” memang benar-benar harus direalisasikan dengan penuh disiplin. Agar wabah Covid-19 bisa segera diakhiri dan dan tidak meluas ke daerah-daerah yang tak terjangkit; tidak menyebar ke orang-orang yang sehat.

Menyikapi dinamika yang terus berkembang, Polda Metro Jaya pun masih focus untuk memastikan kebijakan social distancing atau pembatasan aktivitas sosial. Sampai saat ini Polri masih patroli ke tempat-tempat yang sering jadi tempat kerumunan atau berkumpulnya orang. Sebagai upaya memutus rantai penyebaran virus Covid-19 atau corona.

"Polri tetap fokus pada social distancing. Tidak ada lockdown. Kita tegas laksanakan itu sesuai Maklumat Kapolri. Tolong dipatuhi dengan displin. Tetapi apabila masyarakat kita sampaikan dan tidak mau mengindahkan petugas di situ, kita lakukan tindakan tegas terukur," ujar Kombes Yusri Yunus, Kabid Humas Polda Metro Jaya di Polda Metro Jaya (30/3).

Maka sudah menjadi tanggung jawab Polri untuk memastikan berjalannya tertib sipil. Untuk memutus rantai penyebaran virus corona, di samping mengawal kebijkan yang dimabil pemerintah. Karena itu, kata kuncinya ada pada sikap disiplin.

Kedisplinan, inilah karakter yang harus terus diperkuat. Dalam upaya mencegah wabah virus corona. Masyarakat harus disiplin mematuhi imbauan. Virus corona menyebar dari orang ke orang. Tanpa tahu siapa yang menularkan dan siapa yang ditularkan. Maka disiplin untuk #DiRumahAja menjadi kata kuncinya. Disiplin mengikuti imbauan untuk bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, beribadah dari rumah. Karena tanpa sikap disiplin, maka wabah virus corona akan terus merebak dan menelan korban.

"Namanya virus, pasti menular dan menyebar. Maka disiplin jaga jarak sangat penting. Bukan soal lockdown atau tidak. Kita harus disiplin jaga jarak antar satu dengan lainnya" ujar Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka.


Disiplin pun berarti tertib. Termasuk dalam menentukan status wilayah. Oleh karena itu, para kepala daerah pun diimbau disiplin dalam mengikuti kebijakan pemerintah pusat. Bahwa karantina wilayah pun menjadi kewenangan pemerintah pusat, bukan kewenangan pemerintah daerah. Pemerintah pusat dan daerah harus berada dalam satu visi, satu kebijkan yang sama. Agar tidak membingungkan masyarakat.

Maka kian penting hari ini, masyarakat tetap disiplin untuk physical distanding; jaga jarak antara satu dengan yang lainnya dan menghindari berkumpulnya orang banyak. Sehingga wabah virus corona dapat diakhiri penyebarannya. #LawanVirusCorona

Sabtu, 28 Maret 2020

70% Taman Bacaan di Indonesia Berpotensi Bangkrut


Survei Tata Kelola Taman Bacaan di Indonesia yang dilakukan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka pada tahun 2019 lalu menyebutkan bahwa 70% taman bacaan di Indonesia hanya bisa memenuhi seperempat atau di bawah 25% dari kebutuhan operasionalnya. Itu berarti, 7 dari 10 taman bacaan mengalami “ketidakcukupan” biaya operasional yang sangat parah. Sementara lainnya, ada 18% taman bacaan yang hanya mampu penuhi biaya antara 26%-50%, ada 8% taman bacaan mampu penuhi biaya antara 51%-75%, dan hanya 4% taman bacaan yang mampu memenuhi 75%-100% kebutuhan biaya operasionalnya per bulan.


Maka dapat disimpulkan, 88% taman bacaan di Indonesia memiliki tingkat persentase kecukupan dana berbanding kebutuhan biasa operasional masih di bawah 50% atau di bahwa setengahnya. Taman bacaan yang berpotensi bangkrut atau tidak mampu beroperasi. Tentu, realitas ini sangat bertolak belakangan dengan kebijakan “Gerakan Literasi Nasional (GLN)” sebagai bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti untuk mengembangkan literasi dasar masyarakat yang mencakup, yaitu literasi baca-tulis, numerasi, sains, finansial, digital, dan budaya & kewargaan.

Survei Tata Kelola Taman Bacaan di Indonesia yang dilakukan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka ini diikuti oleh 54 pegiat literasi dari 33 lokasi di Indonesia, seperti dari Bogor -- Sukoharjo- Banyuwangi- Sumba Tengah -- Jambi -- Purwokerto - Nias Selatan - Buru Selatan - Sorong Selatan - Kab. Gowa -- Asahan - Padang Panjang -- Rappang -- Cirebon - Seram - Mamuju Tengah - Tapanuli Utara -- Matawae - Landak - Manggarai Barat -- Grobogan -- Wonogiri - Buton Tengah - Kota Baru -- Boyolali - Aceh Barat - Probolinggo -- Purworejo -- Malang - Semarang - Lampung Timur -- Tanggamus – Jeneponto – Sumba Barat.

Oleh karena itu, mau tidak mau, harusnya pemerintah perlu memberikan penguatan pada Gerakan Literasi Masyarakat yang notabene digawangi oleh taman bacaan yang ada di Indonesia. Tidak cukupnya dana operasional taman bacaan pun menjadi bukti prinsip gerakan literasi nasional yang terdiri dari: 1) berkesinambungan, 2) terintegrasi, dan 3) melibatkan semua pemangku kepentingan masih sebatas angan-angan.


Lalu, siapa yang harus terlibat dalam pendanaan taman bacaan?
Selain pemerintah pusat dan korporasi, Pedoman Gerakan Literasi Nasional telah menyatakan peran para pihak yang perlu terlibat, yaitu:
1.    Pemerintah Daerah, berperan dalam hal: a) Memberikan keteladanan berliterasi kepada seluruh warga daerah; b) Membuat dan mengembangkan peraturan, kebijakan GLN di daerah; c) Melaksanakan sosialisasi peraturan dan kebijakan GLN di daerah; d) Mengembangkan materi GLN pada setiap ranah yang disesuaikan dengan karakteristik daerah, seperti mempertimbangkan aspek sosial, budaya, mata pencaharian, lingkungan geografis, dll.; e) Membangun sarana dan prasarana penunjang GLN di daerah; f) Menyediakan bahan bacaan yang bermutu pada satuan pendidikan, fasilitas publik, dan perpustakaan masyarakat; g) Melakukan sinergi dan implementasi GLN dengan para pemangku kepentingan di daerah; h) Memberikan dukungan dalam pendampingan pelaksanaan GLN pada ranah sekolah, keluarga, dan masyarakat; serta i) Melakukan penilaian dan evaluasi terhadap implementasi GLN di daerah.
2. Kelurahan/Desa, berperan dalam hal: a) Memberikan keteladanan berliterasi kepada seluruh warga desa; b) Membuat dan mengembangkan peraturan dan kebijakan GLN di desa; c) Membangun sarana dan prasarana penunjang GLN di desa; d) Melakukan sinergi dan implementasi GLN dengan satuan pendidikan, komunitas literasi serta tokoh msyarakat; dan e) Mengalokasikan dana desa untuk mengembangkan GLN di desa sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Minimnya dana operasional untuk menjalankan aktivitas taman bacaan, sungguh sangat menyulitkan taman bacaan dalam menjalankan perannya untuk membangun tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Jangankan untuk membeli buku baru sebagai koleksi taman bacaan, untuk memenuhi operasional bulanan saja tidak mencukupi. Sementara itu, para pegiat literasi atau pengelola taman bacaan sudah mendedikasikan tenaga, pikiran, dan waktu untuk gerakan literasi di masyarakat. Maka apa boleh buat, sangat mungkin taman bacaan “bangkrut” akibat tidak adanya dana yang cukup untuk menjalankan kegiatan membaca di masyarakat.

Oleh karena itu, kini saaatnya seluruh pihak dan para pemangku kepentingan untuk mulai memperhatikan dan peduli terhadap kegiatan taman bacaan di manapun berada. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi anak-anak dan masyarakat Indonesia. Intinya, pihak pemerintah daerah atau donatur perlu ikut peduli terhadap “kebertahanan” eksistensi taman bacaan di Indonesia, khususnya dalam membantu penyediaan dana operasional bulanan.

Bila taman bacaan penting, maka siapa yang harus membantunya?
Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang mau kapan lagi. Tentu, demi masa depan anak-anak Indonesia. Salam Literasi! #SurveiTamanBacaan #TBMLenteraPustaka #BudayaLiterasi



82% Swadaya 12% Donatur 0% Pemerintah; Dana Operasional Taman Bacaan di Indonesia


Mengenaskan kondisi taman bacaan di Indonesia. Mengapa?

Sekalipun gerakan literasi nasional (GLN) menjadi program pemerintah, namun faktanya dana operasional taman bacaan 82% berasal dari swadaya pendiri/pengelola taman bacaan, 18% dari donator, dan andil pemerintah nol. Maka wajar, banyak taman bacaan di Indonesia yang seakan “mati suri”. Sulit berkembang karena tidak adanya dukungan biaya atau anggaran dari pihak eksternal.

Minimnya dana operasional untuk menjalankan aktivitas taman bacaan, harus diakui menjadi kendala besar. Karena tanpa dana, maka sulit taman bacaan untuk dikelola dengan baik. Bahkan anggaran untuk membeli buku pun tidak ada. Apalagi sekadar “uang kopi” bagi pegiat literasi yang membimbing aktivitas membaca anak-anak di taman bacaan. Berangkat dari realitas itulah, pihak pemerintah daerah atau donatur perlu ikut peduli terhadap “kebertahanan” eksistensi taman bacaan di Indonesia.

Itulah simpulan Survei Tata Kelola Taman Bacaan di Indonesia yang dilakukan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka pada tahun 2019 lalu. Survei ini diikuti oleh 54 pegiat literasi dari 33 lokasi di Indonesia, seperti dari Bogor -- Sukoharjo- Banyuwangi- Sumba Tengah -- Jambi -- Purwokerto - Nias Selatan - Buru Selatan - Sorong Selatan - Kab. Gowa -- Asahan - Padang Panjang -- Rappang -- Cirebon - Seram - Mamuju Tengah - Tapanuli Utara -- Matawae - Landak - Manggarai Barat -- Grobogan -- Wonogiri - Buton Tengah - Kota Baru -- Boyolali - Aceh Barat - Probolinggo -- Purworejo -- Malang - Semarang - Lampung Timur -- Tanggamus – Jeneponto – Sumba Barat.

Tidak dapat dipungkiri. Taman bacaan sebagai aktivitas sosial yang bersifat nonformal pun membutuhkan dana operasional. Baik untuk biaya listrik, honor alakadarnya petugas baca, dan membeli buku koleksi taman bacaan. Tanpa dukungan dana atau anggaran, bisa dipastikan taman bacaan menjadi tidak menarik bagi anak-anak di lokasinya berada. Maka sekali lagi, kepedulian pemerintah dan donatur/korporasi terhadap aktivitas taman bacaan harus digerakkan.

“Survei ini membuktikan, taman bacaan sulit berkembang dan diminati anak-anak karena tidak adanya dukungan dana operasional. Sumbernya hanya dari kantong pendiri atau donatur. Maka pemerintah atau korporasi harus ikut peduli. Bila tidak akan banyak taman bacaan yang mati. Kasihan pegiat literasi di Indonesia” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor.


Di tengah gempuran era digital, harusnya pemerintah dan masyarakat mendukung gerakan untuk “membaca secara manual” di kalangan anak-anak usia sekolah. Agar tercipta tradisi baca dan budaya literasi yang memadai. Karena budaya literasi adalah aspek yang paling penting dalam membentuk peradaban masyarakat. Maraknya hoaks dan ujaran kebencian seperti sekarang, harus diakui akibat budaya literasi masyarakat atau pengguna media sosial yang rendah. Maka salah satu solusinya adlaah menghidupkan tradisi membaca dan budaya literasi di masyarakat.

TBM Lentera Pustaka agak beruntung. Karena sejak berdiri tahun 2017, tiap tahun selalu melibatkan CSR korporasi sebagai sponsor. Sehingga biaya operasional dan kebutuhan membeli buku baru tetap berjalan setiap bulan. Bahkan 2 petugas baca yang “buka tutup warung taman bacaan” pun diberi honor walau tidak besar. Bahkan dengan mengembangkan konsep “TBM Edutainment”, taman bacaan yang di Kp. Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari di Kaki Gunung Salak Bogor saat ini memiliki 60 anak pembaca aktif, yang rutin membaca 3 kali seminggu. Dan rata-rata setiap anak mampu “melahap” 5-10 buku per minggu. Aktivitas di TBM Lentera Pustaka pun didukung oleh puluhan relawan mahasiswa dan individu yang rutin mengabdi setiap 2 mingguan. Melalui ciri-ciri: 1) salam literasi, 2) doa literasi, 3) senam literasi, 4) membaca bersuara, 4) laboratorium baca, 5) event bulanan, dan 6) jajanan kampung gratis, TBM Lentera Pustaka berkomitmen untuk terus menegakkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah di kampung. Agar tidak ada anak yang putus sekolah.

“Sebagai pegiat literasi, saya kelola TBM Lentera Pustaka ini dengan cara kreatif dan menyenangkan. Agar anak-anak senang berada di taman bacaan. Di sini tersedia wifi gratis tiap sabtu dan minggu dan ada kebun baca untuk membaca di alam terbuka” tambah Syarifudin Yunus, yang berprofesi sebagai Dosen Unindra dan kandidat Doktor Taman Bacaan dari S3 Manajemen Pendidikan di Pascasarjana Universitas Pakuan.

Mau tidak mau, pemerintah dan korporasi di Indonesia harus ikut peduli terhadap aktivitas taman bacaan. Demi masa depan anak-anak Indonesia. Agar taman bacaan tidak sepi lagi … Salam Literasi! #SurveiTamanBacaan #TBMLenteraPustaka #BudayaLiterasi


Cegah Virus Corona, TBM Lentera Pustaka Disemprot Disinfektan Aparatur Desa Sukaluyu


Melindungki keselamatan warga, harus jadi spirit aparatur desa di manapun. Apalagi di tengah merebaknya wabah virus corona Covid-19. Karena wabah virus corona belum kunjung reda. Maka upaya melindungi warga harus dijalankan. Di samping mengajak untuk waspada dan mematuhi imbauan pemerintah. Salah satu cara mencegah virus corona, tentu bisa dilakukan dengan penyemprotan disinfektan.

Seperti yang dilakukan aparatur Desa Sukaluyu kec. Tamansari Kab. Bogor. Hari ini, Lurah Desa Sukaluyu bersama Polsek dan Koramil Tamansari serta apartur desa lainnya, berkeliling untuk melakukan penyemprotan disinfektan ke berbagai fasilitas umum di Desa Sukaluyu, termasuk ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Kampung Warung Loa. Karena dengan disinfektan, diharapkan proses dekonteminasi untuk  menghilangkan atau membunuh virus corona bisa dicegah. Di samping, untuk strerilisasi area yang dikunjungi banyak orang sebleumnya.

Dalam kesempatan ini pula, Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka dan Pak Abot, Lurah Desa Sukaluyu sempat berbincang untuk segera merealisasikan rencana program pemberdayaan masyarakat Desa Sukaluyu. Diantaranya adalah rencana menjadikan Desa Sukaluyu sebagai kawasan wisata "petik jagung manis" dan pendirian Koperasi LENTERA sebagai bagian BUMDES. Insya Allah, seusai lebaran tahun ini dan setelah wabah virus corona berakhir, program pemberdayaan masyarakat akan segera direalisasikan.


Penting pula diketahui, sebagai upaya mencegah wabah virus corona. Saat ini masyarakat pun perlu diedukasi tentang bahaya wabah virus corona. Khususnya dengan mematuhi imbauan pemerintah, seperti: 1) pembatasan sosial (social distancing), 2) menghindari kerumunan massa, 3) budaya selalu mencuci tangan, 4) menjaga kesehatan agar imunitas tubuh kuat, dan 5) mau berobat bila mengalami gejala sakit, atas alasan apapun.

"Sebagai aparatur, Desa Sukaluyu meny=gajak masyarakat untuk waspada terhadap bahaya virus corona. Karenanya harus ikuti imbauan pemerintah. Semoga tidak ada warga kami yang terkena wabah virus corna ini, insya Allah” ujar Abot, Lurah Desa Sukaluyu di depan TBM Lentera Pustaka.

Adalah sebuah keharusan, di tengah wabah virus corona. Aparatur desa di manapun, untuk bertindak proaktif untuk ikut mencegah penyebaran virus corona. Minimal dengan menggelar disinfektan dan edukasi kepada masyarakat. Bila tidak ada keperluan untuk tetap #DiRumahAja hingga wabah virus corona berakhir.


Jumat, 27 Maret 2020

TBM Edutainment, Cara Unik Kelola Taman Bacaan Ala TBM Lentera Pustaka

Mengubah perilaku anak-anak yang terbiasa main menjadi dekat dengan buku tidaklah semudah membalik telapak tangan. Bukan hanya butuh tekad kuat, keberanian, dan komitmen. Tapi lebih dari itu, sungguh butuh kesabaran dan kemampuan khusus untuk meyakinkan masyarakat dan anak-anak untuk mau membaca secara rutin. Apalagi anak-anak yang ada di kampung seperti di Kampung Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kaki Gunung Salak Bogor.
Siapa bilang mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) itu mudah?
Karena faktanya di Indonesia, banyak taman bacaan masyarakat yang “mati suri” akibat tiga hal; 1) buku ada anak tidak ada, 2) anak ada buku tidak ada, dan 3) komitmen pengelola TBM yang setengah hati, tidak fokus mengelola taman bacaan.
Alhamdulillah, Taman Bacaan Masyaraat (TBM) Lentera Pustaka belajar betul dari kondisi itu. Sulitnya mengelola taman bacaan. Maka harus ada cara yang beda. Menjadikan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan, sambil memotivasi anak-anak dengan asyik. Itulah yang saya sebut, TBM Edutainment. Sebuah model tata kelola dan pengembangan taman bacaan yang berbasis edukasi dan entertainmet.

Dulu di TBM Lentera Pustaka. Hanya 18 anak yang mau bergabung untuk membaca tiap Rabu-Jumat-Minggu. Koleksi bacaan pun hanya 700 buku. Tapi hari ini, TBM Lentera Pustaka sudah jadi “rumah” bagi 60 anak pembaca aktif, yang rutin membaca 3 kali seminggu dan mampu “melahap” 5-10 buku per minggu. Lebih dari 3.500 koleksi buku bacaan ada di TBM Lentera Pustaka.
Dan kini, anak-anak yang terancam putus sekolah dan berlatar belakang keluarga miskin pun berubah menjadi anak-anak yang giat membaca buku. Anak-anak yang haus akan buku bacaan baru.
TBM Edutainment, model yang saya gagas memang luar biasa. Bisa jadi energi dan “darah segar” bagi pegiat literasi atau pengelola taman bacaan. Maka TBM Edutainment pun saya daulatkan menjadi topik disertasi saya tentang “Peningkatan Minat Baca dan Budaya Literasi Masyarakat melalui Model TBM Edutainment di Taman Bacaan Se-Kabupaten Bogor”. Insya Allah, bermanfaat buat taman bacaan di manapun.

Lalu, siapa yang peduli pada taman bacaan?
Ya tentu, bukan orang-orang yang tidak peduli. Bukan para penonton yang rajin mendiskusikan kebaikan. Tapi mereka yang punya hati dan cinta pada anak-anak; yang mau mengubah “niat baik” menjadi “aksi nyata”. Para relawan, donatur buku bacaan, komunitas pergaulan, dan individu yang peduli terhadap taman bacaan. Termasuk perusahaan yang menyisihkan sebagian dana CSR-nya untuk taman bacaan. Alahamdulillah, di TBM Lentera Pustaka; ada relawan tetap, ada individu dan komunitas, ada donatur buku yang luar biasa. Bahkan operasionalnya didukung oleh 1) Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, 2) Asosiasi DPLK, dan 3) Bank Sinarmas di tahun 2020 ini. Saya menyebutnya, “kolaborasi orang-orang baik kepada taman bacaan”. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi anak-anak kampung.
Maka, jangan bilang kita cinta anak, bila tidak ada aksi nyata. Karena cinta bukan hanya serpihan ludah yang terpancar dari lisan semata. Tapi cinta itu tentang pengabdian dan kepedulian yang tertumpahkan tanpa henti sepanjang masa.
Sekalipun awalnya hanya garasi rumah, TBM Lentera Pustaka kini telah menjadi “lentera” anak-anak dan masyarakat sekitar. Untuk mau dan sadar akan arti penting membaca… Salam literasi #TBLenteraPustaka #BacaBukanMaen #BudayaLiterasi

Selasa, 24 Maret 2020

4 Bahaya Nonton TV Menurut Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka


Di musim wabah virus corona begini, banyak orang menghabiskan waktu di rumah untuk menonton televisi (TV). Apalagi disuruh #DiRumahAja. Setelah makan, minum, main gawai. Hidup makin paripurna bila gemar menonton TV, begitu kata banyak orang.
 
Sementara banyak orang merasa iri terhadap orang lain yang hanya menonton TV. Saya justru berbalik katakana “beruntung, bila Anda tidak suka menonton TV”. Menonton TV, memang jadi kegiatan favorit di rumah. Dari anak-anak sampai orang dewasa. Alasannya, untuk mengisi waktu dan buat hiburan. Alhasil, studi Nielsen (2018) menyebut orang Indonesia mampu habiskan waktu menonton TV rata-rata 5 jam setiap harinya. Sementara berselancar di dunia maya rata-rata 3 jam 14 menit per hari, disusul mendengarkan Radio 2 jam 11 menit. Sedangkan membaca koran hanya31 menit dan membaca majalah hanya 24 menit. Pantas tradisi membaca kian jeblok.

Maka beruntung, bila Anda tidak suka menonton TV, seperti saya pun demikian.
Karena terlalu banyak menonton TV, secara tidak sadar, dapat mengganggu kesehatan mental. Terjebak pada aktivitas gaya hidup yang tidak sehat. Tdak bisa dibantah, menonton TV pun membuang waktu secara sia sia; sama sekali tidak produktif.


Menonton TV jelas berbahaya. Hasil studi menyebutkan, dampak menonton TV dua jam sehari saja dapat membuat orang merasa gelisah. Apalagi naka-anak. Risiko depresinya sangat besar dan gangguan ansietas. Keadaan tegang yang berlebihan atau tidak pada tempatnya. Selalu khawatir, cemas, tidak menentu atau takut. Coba tanya deh ke mereka yang suka menonton TV.

Pada kolom opini tulisan saya, di Harian Media Indonesia 26 Agustus 1995 – 25 tahun lalu, saya menyebutkan kebanyakan menonton TV bisa menimbulkan "Krisis Spiritual". Setidaknya, ada 4 (empat) krisis spiritual yang dialami orang yang gemar menonton TV yaitu:
1.        Krisis informasi akibat melimpahnya informasi yang diterima tanpa ada eksekusi. Maka spritualnya galau gelisah, Makin banyak informasi yang direpoleh, makin bingung makin khawatir.
2.        Krisis imajinasi sosial akibat banyaknya mencerna bahasa hiperbola dan pleonasme. Sehingga gagal aktualisasi diri secara sosial. Hidupnya dalam fantasi tanpa aksi sosial apapun.
3.        Krisis budaya akibat ajaran gaya hidup dan perilaku yang menyimpang. Jadi lebih gemar sensasi daripada esensi.
4.        Krisis identitas akibat pengaruh tayangan yang tidak sesuai dengan realitas hidupnya. Gagal jadi diri sendiri dan mengagumi kehidupan fantasi di televise. Identitasnya goyah, spiritualnya rapuh.
Dan akibat sering menonton TV, banyak orang merasa hidupnya tidak berharga. Lebih gemar membanding-bandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain. Semua penonton TV ingin bahagia. Tapi rujukannya bukan diri sendiri melainkan orang lain. Makin merasa tidak mampu, tidak ideal dalam hidupnya.

Apalagi di musim wabah virus corona seperti sekarang. Justru yang paling takut, paling panic dan khawatir itu para penonton TV. Semua update dimakan mentah-mentah. Akibtat #DiRumahAja, justru mereka makin takut makin gelisah. Maka, hindari menonton TV berlebihan.

Beruntung, bila Anda tidak suka menonton TV.
Inilah momentum Anda dan keluarga untuk ebih banyak membaca, bila perlu menulis. Agar tidak lagi hidup dalam fantasi … #DiRumahAja #BudayaLiterasi


Badai Corona, Taman Bacaan Ajak Netizen dan Warga Saling Menyemangati


BADAI CORONA, SAATNYA NETIZEN DAN WARGA INDONESIA SALING MENYEMANGATI

Yukk, sahabat netizen dan warga Indonesia kita saling menyemangati. Ikuti imbauan Pemerintah. Dukung mereka dalam bekerja untuk “menghentikan” wabah virus corona. Kita sebagai warga dan netizen pun harus berani berjibaku untuk saling menyemangati dan saling menguatkan.

Sungguh, bukan saatnya di tengah wabah virus corona ini. Kita malah saling menyalahkan, saling kritik. Bukan waktunya sama sekali. Inilah momentum netizen dan warga Indonesia BERSATU. Bahwa “musuh tidak terlihat” itu harus kita lawan bersama. Berkat kekompakan dan soliditas kita sebagai bangsa, bukan lagi orang per orang. Jangan kaitkan politik dengan wabah virus corona. Karena hampir sebagian besar negara di dunia ini pun dilanda wabah virus corona. Tinggal kita, bagaimana cara menyikapinya?

Siapapun patut prihatin. Karena per hari ini, Selasa 24 Maret 2020, kasus baru terpapar virus corona bertambah 107 kasus. Ini bukan angka kecil, pertambahan mencapai 18%. Bahkan dari total 686, 62% pasien positif virus corona Covid-19 ada di DKI Jakarta, ibukota negara yang menguasai 70% perekonomian nasional. Tingkat kematian di 8%, sementara tingkat kesembuhan masih 4%. Sungguh, data ini tidak bisa diabaikan begitua saja (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200324114448-20-486374/update-corona-24-maret-686-kasus-55-meninggal-30-sembuh)

Saatnya kita, para netizen dan warga Indonesia saling menyemangati. Saling menguatkan bersama-sama. Jangan lagi tebarkan kabar negatif, apalagi hoaks. Cukup sudah membangun ketakutan dan kepanikan. Akhiri perbedaan dan sikap mencari salahnya orang lain. Saatnya kita peduli, saatnya kita BERSATU.

Yakinkan bersama dalam diri kita. Bahwa virus corona Covid-19 dapat dicegah. Bila kita mau #DiRumahAja, lakukan social distancing, hindari kerumunan. Tetap hidup bersih, menjaga kesehatan dan pastikan imunitas tubuh kokoh. Dan yang tidak kalah penting, mau bersikap positif dan memilih berpikir baik yang realistis. Percayalah, virus corona bisa disembuhkan, pasien pun bisa pulih kembali. Asal pikiran dan perilaku kita positif. Mari bersama-sama kita hadapi musuh yang tidak terlihat ini. Karena gaduh  dan kisruh sama sekali tiada guna.

Tidak ada salahnya, kita belajar dari Wuhan, daerah yang menjadi sumber virus corona di Tiongkok sana. Hari ini mereka sudah 0% pasien positif corona. Kenapa? Karena mereka sangat cepat untuk bangkit, semangat recovery total dari semua warganya.


Jangan ada lagi menebar berita buruk. Apalagi pikiran negatif. Karena virus corona ini musibah. Tidak satu pun negara di dunia yang mau virus ini. Tidak satu pemimpin yang membiarkan merebaknya virus ini. Semua kita harus ikhtiar bersama, sesuai peran dan tanggung jawab yang bisa kita lakukan. Tidak perlu menebar kepanikan, ketakutan apalagi kegaduhan. Sama sekali i9tu semua tidak diperlukan. Karena panik, takut, dan gaduh hanya akan membuat pikiran kacau dan menurunkan imunitas tubuh kita sendiri. Akhirnya, malah jadi sakit.

Yukk, kita ajak orang-orang dekat kita. Untuk bersedia #DiRumahAja, lakukan social distancing, hindari kerumunan. Tetap hidup bersih, menjaga kesehatan dan pastikan imunitas tubuh kokoh. Karena kita pasti sepakat, bertambahnya pasien bari positif corona pun akan membuat Rumah Sakit jadi kewalahan. Tenaga medis pun jadi rentan sakit akibat lelah melayani pasien.

Jangan tunda lagi. Kini saatnya kita, netizen dan warga Indonesia saling menyemangati. Saling menguatkan bersama-sama. Karena kita, pasti tidak ingin membunuh saudara kita sendiri?

Maka Taman Bacaan Lentera Pustaka terpanggil. Agar Indonesia bersatu. Jangan biarkan LELAH berlama-lama di negeri yang kita cintai ini. Mari saling menyemangati saling menguatkan. Ikuti imbauan Pemerintah.  

Kita, jangan gegabah lagi. Tetap ikhtiar baik untuk membasmi virus corona dari bumi Indonesia. Sambil berdoa, semoga Indonesia segera terbebas dari bahaya wabah virus corona ini. Ya Allah, sudahi cobaan dan musibah di bangsa Indonesia. Beri kekuatan kami untuk menghadapinya bersama, amiin. #LawanVirusCorona #IndonesiaBersatu #DiRumahAja #AyoSocialDistancing



Minggu, 22 Maret 2020

Pentingnya Edukasi Social Distancing Di Saat Merebaknya Virus Corona


Harapan memang selalu beda dengan kenyataan. Hari ini, Senin 23 Maret 2020, di tengah merebaknya virus corona dan imbauan untuk #DiRumahAja alias Work From Home (WFH). Ternyata di commuter line (KRL) dan beberapa stasiun, tetap terlihat penumpang yang menumpuk dan berdesak-desakan. Niatnya ingin mencegah penularan Covid-19. Tapi faktanya justru bisa jadi mempercepat penularannya?

Harapan memang beda dengan kenyataan.
Karena harapan adanya di pikiran. Kalau kenyataan adanya di tindakan. Makin tinggi dan tidak realistis si "harapan", maka makin jauh dari si "kenyataan". Apalagi tanpa disertai kesadaran yang penuh, tanpa ikhtiar yang memadai, dan tanpa fasilitas yang mendukung. Harapan hanya tinggal harapan. Kenyataan pun mencari jalannya sendiri.

Maka, bila apa yang kita harapkan belum jadi kenyataan. Itu hanya sebatas harapan. Imbauan sehebat apapun tetap hanya harapan, bukan sebuah keharusan. Inilah kondisi yang mengkhawatirkan semua pihak. Social distancing atau jaga jarak sosial, terkadang hanya harapan bagi sebagian besar orang.

Sungguh, khawatir itu muncul karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Teriring doa, semoga mereka yang berdesak-desakan di KRL  tetap baik-baik saja. Tetap sehat dan waspada. 


Harapan memang beda dengan kenyataan.
Maka agak susah Work From Home (WFH) bila kantornya tidak membuat kebjakan atau bahkan si pekerja khawatir tidak terima gaji. Agak sulit armada angkutan umum dibatasa bila akhirnya tetap menumpuk penumpangnya. Bahkan makin susah social distancing diwujudkan bila jaraksatu sama lainnya makin tidak berjarak. 

Masihkah ada harapan #DiRumahAja ? Atau mungkin tidak perlu lagi berharap?
Seperti kata kaum jomblo; lebih baik tidak usah banyak berharap bila tidak sesuai kenyataan. Lalu, kenapa kamu masih berharap? #BudayaLiterasi #LawanVirusCorona #SocialDistancing #DiRumahAja #WorkFromHome

Simak pula berita berikut ini: 




Tukang Nasi Uduk di Taman Bacaan



Di musim virus corona gini, nyari sarapan nasi uduk gampang-gampang susah. Harus muter agak jauhan. Mungkin karena agak mahal bahan-bahannya kali ya. Alhamdulillah, tidak jauh dari taman bacaan ada juga. Ketemu tukang nasi uduk ... Jajan lagi ahh ...
"Neng, beli nasi uduk dong..."
"Berapa pak ..."
"2 bungkus aja..."
"Bentar ya pak ..." (sambil ngelayanin)
"Maaf Neng, bungkus nasi uduknya boleh gak pake karet gak?"
"TERUSSS.... KARETNYA BUAT JEPRET BAPAK !!!"
"Ohh ya udah, pakein karett deh .... Maaf ya Neng"
Gara-gara virus corona, banyak orang gampang emosian ya. Sabarr emang susah ternyata ...

Sabtu, 21 Maret 2020

TUKANG CILOK

Gara-gara virus corona, banyak orang takut n panik. Saking takutnya, sampai-sampai gak bisa becanda lagi. Terlalu serius. Entah apa yang jadi sebabnya?
Ehh, gak lama tukang cilok lewat di taman bacaan. Jajan dulu ahh ....

Sambil nunggu dilayanin, nanya sama tukang cilok.

"Bang, udah lama jualan cilok?"
"Lumayan Pak, ada 6 tahunan"
"Nanya dong bang, cilok kalo ditusukin gitu ngejerit gak?"
"Bapak mau ditusuk sekalian gak?"
"Maaf bang, kan nanya doang ..."

Gara-gara virus corona, abang cilok aja dah gak suka bejanda (ehh maaf, becanda) ...


🤣🤣

Taman Bacaan Lentera Pustaka Akhirnya Lockdown


AKHIRNYA LOCKDOWN …

Lockdown, memang bukan pilihan mudah.
Akibat virus corona yang mewabah. Tapi apa boleh buat. Sebuah taman bacaan di Kaki Gunung Salak, pun memilih lockdown. Mengunci masuk keluar orang. Karena Taman Bacaan Lentera Pustaka, memang tidak pernah sepi dari 60an anak pembaca aktif. 10 ibu-ibu buta aksara, 12 anak-anak yatim binaan. Bahkan selalu ada tamu atau relawan tiap minggunya. Agak terpaksa dan sedih. Tapi, apa boleh buat harus lockdown. Sekaligus tanda “kematian” tradisi baca anak-anak yang sudah dibentuk 3 tahun belakangan ini.

Akhirnya lockdown. Terjadi di taman bacaan. Mau tidak mau, demi kebaikan dan kesehatan anak-anak pembaca aktif. Padahal sekolah mereka diliburkan. Harusnya kan baca buku di taman bacaan bagus. Tapi lagi-lagi, apa boleh buat? Akhirnya lockdown.


Lockdown di taman bacaan saja menyedihkan. Gimana bila lockdown diberlakukan di Kota Jakarta atau Indonesia? Mungkin mengerikan. Lockdown, sekalipun niatnya untuk menekan penyebaran virus corona. Tapi mengunci semua akses keluar-masuk setiap warga sama sekali gak mudah. Gak mudah banget. Bisa jadi malah morat-marit. Makin panik, makin ketakutan. Alhasil malah rusuh, jadi kisruh. Maklum anak bangsa negeri ini, paling jago nyari salahnya kebijakan orang lain.

Jangankan lockdown. Diimbau untuk social distancing saja susah banget. Disuruh jaga jarak doang belum patuh semua. Dulu belum ada corona, di tempat ramai malah berduaan. Sekarang disuruh berduaan, malah pergi ke tempat ramai. Baru “dirumahkan” 2 minggu, ceritanya sudah macam-macam. Work from home; yang cewek jadi ngeluh karena terpaksa masak di rumah; yang cowok disuruh nyuci sama angkat jemuran. Siapa dong yang salah?

Lagi pula di situasi begini. Lockdown belum tentu bikin keadaan lebih baik.
Kasihan warung-warung kalau harus tutup. Tukang nasi uduk bisa gak ada pemasukan. Tukang ojol juga, sekarang saja sudah sepi. Belum lagi, berapa banyak resepsi pernikahan yang terpaksa batal. Event yang gak jadi digelar atau ditunda. Bahkan sekarang, ada yang meninggal akibat virus corona pun anggota keluarganya gak boleh dekat-dekat. Takut diisolasi atau ketularan. Sedih dengarnya. Apalagi lockdown.

Jadi pertimbangkanlah. Lockdown itu bukan asal jeplak. Apalagi cuma buat efek kejut. Lockdown itu harus rasional dan terukur. Jangan niatnya baik hasilnya berantakan. Itu blunder, bukan lockdown.

Lagi pula, kenapa sih namanya lockdown?
Ketinggian, susah dipahami. Apalagi di Kaki Gunung Salak. Mungkin baru dengar istilah “lockdown”. Kata mereka, lockdown itu ibu kota Inggris. Lebih parah lagi kaum jomblo. Lagi diskusi “lockdown, malah ngomongin “move on”. Pantas, lockdown. Gelap hidupnya. #BudayaLiterasi


Kamis, 19 Maret 2020

Apa Sih Hikmah Wabah Virus Corona Di Mata Pegiat Literasi?


Apa sih hikmah wabah virus corona di mata pegiat literasi?
Hikmahnya, kesadaran literasi tentang penyakit rendah. Sehingga banyak tidak siapnya, tidak solidnya. Literasi penyakit harus diperkuat. Dan yang terpenting, siapaun harus berjuang untuk selalu berada di jalan Allah SWT. Berpihak pada kebaikan, kepedulian terhadap sesama.

Bayangkan saja. Virus corona mewabah. Covid-19 begitu menakutkan. Dunia kocar-kacir. Indonesia pub jadikan virus corona sebagai bencana nasional Banyak orang takut, stress, bahkan frustasi. Disuiruh waspada malah menebarkan ketakutan. Disuruh social distancing malah bergembol. Sungguh, virus corona mengerikan. Virus yang datangnya tiba-tiba, tidak terduga. Bahkan sulit dideteksi kapan tertular dan siapa yang menularkan? Virus yang membuat dunia ketakutan.

Saya hanya merenung sambil berpikir. Betapa hebatnya wabah virus corona. Mencengankan dunia, menghebohkan semua orang. Hingga bikin stress, takut, khawatir suatu negeri.

Sementara kemarin-kemarin, berapa banyak orang lupa. Seolah-olah ia menjadi penguasa dunia. Bahkan pikiran dan perilakunya, hampir tidak ada yang ditakuti lagi. Orang-orang gagal mengendalikan ego dan memenangkan hawa nafsu. Manusia yang merasa digjaya dalam hidupnya. Karena punya harta, punya pangkat, punya jabatan dan merasa status sosialnya tingi. Mereka lupa diri, alpa dalam hidupnya. Manusia yang terlalu cinta dunia. Dan terlalu mudah berpikir buruk. Senang menyalahkan orang lain. Gemar membenci. Hingga hidupnya penuh prasangka. Manusia yang tidak lagi jernih hatinya, tidak bersih hati pikirannya. Sekalipun wajah dan tubuhnya, sangat bersih tampaknya.


Wabah virus corona. Pasti memberikan hikmah.
Virus corona bukan hanya mengingatkan. Tapi menegaskan. Bahwa manusia itu bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di dunia ini. Manusia tidak lain hanya makhluk kecil seperti semut bahkan virus corona juga di mata-Nya. Ini bukan soal takut atau tidak takut. Bukan pula soa stress atau tidak stress. Tapi soal hikmah, siapa yang mampu mengambil hikmah dari wabah virus corona. Manusia yang berpikir, atas apa yang telah diperbuat sebelumnya. Dan mau bagaiman si manusia ke depannya?

“Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar merepa berpikir.” (QS. Al-A’raf: 176).

Ada hikmah yang luar biasa di balik virus corona. Bahwa akhirnya hidup manusia itu hanya sebentar. Dan tidak perlu lagi ada kesombongan, keangkuhan bahkan iri dan dendam. Karena akhirnya, harta yang paling berharga bagi manusia, siapapun, adalah tiga saja. Yaitu 1) ilmu yang bermanfaat, 2) amal jariyah, dan 3) keturunan yang soleh/solehah. Sementara yang lain-lain; kekayaan, pangkat jabatan, dan obrolan sesama teman pun hanya aksesori semata. Hanya bonus dari Allah SWT. Bila aksesorinya dipakai baik maka jadi pahala. Bila aksesorinya dipakai buruk maka jadi dosa. Sangat sederhana.

Hidup ini memang begitu. Ada orang yang diuji terus menerus selama hidupnya. Ada pula yang diujia dengan virus corona, Ada punya dengan sakit. Bahkan ada ujian dengan kekakayaan, kecerdasan dan atas nama pertemanan. Tapi sayang, tidak banyak orang yang bisa “lulus” dari ujian-ujian itu semua. Karena apa? Karena gagal mengambil hikmahnya. Ibarat orang yang doyan ngomongin keburukan orang lain. Tapi tidak mau berhenti, maka itulah orang yang gagal mengambil hikmah dalam hidup.
Jadi, apa hikmah di balik virus corona.

Sangat sederhana. Kerjakan saja yang disenangi Allah SWT. Maka Allah SWT akan senangi dan lindungi kita. Karena kebaikan, adalah sesuatu yang dikerjakan bukan dibicarakan.... Tabikk #BudayaLiterasi