Minggu, 28 Februari 2021

Gerakan Literasi, Ada Banyak Alasan Untuk Tidak Membaca Buku

Semua yang terjadi pasti ada alasannya. Seperti kata bijak “jika ada akibat pasti ada sebab”. Itu berarti, tidak mungkin ada keputusan tanpa adanya alasan. Selalu ada alasan. Begitu hukum alamnya. Pandemi Covid-19 pun terjadi karena ada alasannya.

 

Bahwa hari ini, ada orang yang selalu bersyukur. Ada yang hanya berkeluh-kesah. Ada yang tetap membenci. Bahkan ada yang berdiam diri. Tidak mau melakukan kebaikan sedikit pun, itu semua ada alasannya. Maka sekali lagi, apa pun itu pasti ada alasannya. Dan setiap alasan, pasti sah-sah saja.

 

Seperti di taman bacaan. Ada anak-anak yang mau membaca buku pasti ada alasannya. Ada pula anak-anak yang hanya main dan tidak suka membaca buku, pasti ada alasannya. Ada orang-orang yang mau bantu dan berkiprah di taman bacaan. Tapi bila ada yang tidak peduli taman bacaan pun ada alasannya. Dan Ketika alasan dibuat, maka menyisakan pertanyaan “kenapa begitu?”.

 

Kawan saya, dulu. Pernah bilang tidak mau beli tanah di Bogor. Sekalipun harganya terjangkau. Karena lokasinya terlalu jauh. Masih sepi dan tidak ada waktu untuk berkunjung. Tapi sekarang setalah ramai, lokasinya terasa tidak jaih. Harganya pun melonjak gila-gilaan. Maka kawan saya pun menyesal? Tentu, ada alasannya.

 

Alasan itu bisa dibuat dan selalu saja ada.

Tapi alasan bisa dibuat-dibuat karena tidak mau, Ada alasan yang baik. Tapia da alasan yang tidak baik. Bahkan ada alasan yang dibuat karena untuk menutupi kekurangan, kelemahan orangnya. Asal punya alasan, begitulah adanya.


 

Hari ini. Ada orang yang takut mengambil keputusan. Ada yang tidak mau menanggung risiko. Ada yang tidak mau bertindak di jalan kebaikan. Ada yang masih banyak omong tapi praktik kosong. Ada pula yang hanya sebatas kata-kata bijak. Itu semua ada alasannya. Dan sah-sah saja. Tapi sayang, bila alasan dibuat hanya untuk “membungkus” ketidak-mauan bertindak. Alasan yang dicari-cari, bukan yang apa adanya.  Lalu berkata, “Tapi kan, karena begini …. Tapi kan karena begitu ….”

 

Kata “tapi” dalam ilmu bahasa itu kata penghubung. Memang sering dipakai untuk sebuah alasan. Untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras. “Saya tahu membaca buku itu penting TAPI belum punya waktu saja”. Pengen sih melakukan yang baik TAPI sekarang lagi focus kerjaan dulu”. Mungkin, kata TAPI pada kalimat itu benar.

 

Namun kata “tapi” itu salah dipakai. Bila mampu membenci tanpa bisa menyukai. Bila mampu mengkritik tanpa bisa memberi solusi. Bila bisa bertanya tanpa mau membantu cari jawabnya. Dan bila sekolahnya bukan di jurusan politik atau tata negara. Tapi bila sudah ngomongin negara seperti pakar kebenaran dan paling benar sendiri.

 

Tapi, tapi, dan tapi. Bisa jadi kata mujarab yang dipakai untuk mencari alasan. Soal apa pun, untuk apa pun. Sedikit-sedikit tapi. Lagi-lagi tapi. Kebanyakan tapi. Semua ada “tapi”-nya. Selalu saja ada alasannya. Padahal, hanya untuk mengungkap kebencian, ketidak-sukaan. Selalu saja ada alasannya, untuk berbuat tidak baik, tidak patut.

 

Di jalanan, orang-orang yang menerobos lampu merah. Pasti alasannya karena “buru-buru”. Orang-orang yang terlambat ke kantor, pasti alasannya ,macet di jalan. Dan mungkin, orang-orang tidak mau membaca buku pasti alasannya “belu ada waktu”. Begitu kira-kita hebatnya sebuah alasan.

 

Literasi “alasan”. Tentu sah-sah saja. Namun sejatinya, alasan dibuat bukan untuk membela diri. Atau melakukan pembenaran atas kesalahan. Maka, sehebat apapun alasannya. Sesuatu yang saah tidak perlu diperjuangan dengan alasan yang benar. Karena itu menyalahi hukum.

 

Alasan itu boleh. Bila dipakai untuk memperbaiki diri. Alasan untuk instrospeski diri, yang lebih bersifat reflektif. Maka bilanglah "Saya memang salah TAPI saya berusaha untuk lebih baik". Logika itu ada bukan untuk mengalahkan hati nurani. Karena logika itu cara, hati burani itu arah.  Maka “jadilah orang yang cukup dan jangan menjadi orang yang selalu merasa kurang”. Tanpa alasan, tanpa perlu dibantah. Jadilah cukup, tanpa merasa kurang.

 

Alasan memang baik. Asal berpegang pada hati nurani.

Mumpung masih ada kesempatan. Mumpung masih ada waktu untuk hidup lebih baik. Sebelum menyesali keputusan yang lalu, sebelum terbaring di ranjang kematian. Jadilah lebih baik, tanpa alasan apa pun. Salam literasi #KampanyeLiterasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan



Yayasan Tunas Cendekia Gelar Kampanye Anti Penipuan di 145 Anak TBM Lentera Pustaka

Sebagai upaya antisipasi dan memperkenalkan anak-anak akan bahaya penipuan, TBM Lentera Pustaka bekerjasama dengan Yayasan Tunas Cendekia menggelar “Kampanye Anti Penipuan Seri #2”, khususnya tentang modus-modus penipuan via media sosial, seperti sms, whatsapp dan facebook. Acara ini diikuti 145 anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka yang diawali dengan kampanye keliling kampung sejauh 1km sambil mengusung pesan bahaya penipuan.

 

Dibimbing oleh Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka, kampanye anti penipuan dilakukan dengan “bermain drama”, terdiri dari dua grup tentang modus penipuan. Modus pertama, terkait penipuan uang kembalian jajan anak, yang dikurangi dari jumlah yang seharusnya. Seperti jajan Rp.10.000 dengan uang Rp. 50.000. Tapi uang kembalian hanya diberikan Rp. 30.000 dari yang seharusnya Rp. 40.000. Modus kedua, terkait dengan anak yang meminta “uang lebih besar” dari yang seharusnya. Misalnya, jajan Rp, 5.000 tapi meminta ke ibunya Rp. 10.000 sehingga ada kebohongan di dalamnya. Semua modus tersebut disajikan dalam bentuk bermain drama, kreasi anak-anak TBM Lentera Pustaka.

 

“Kampanye anti penipuan yang disponsori Yayasan Tunas Cendekia ini memberi pesan agar anak-anak harus bersikap hati-hati atas perilaku penipuan yang marak di media sosial atau di masyarakat. Apapun modusnya, penipuan harus dicegah dengan cara memberi edukasi kepada anak-anak sejak dini” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka di sela acara.

 

Seperti diketahui, penipuan berkedok promo berhadiah melalui gawai dan media sosial kian marak akhir-akhir ini. Maka upaya pencegahan harus dilakukan seperti yang diinisiasi Yayasan Tunas Cendekia. Sejatinya, penipuan terjadi karena ketidak-tahuan. Maka anak-anak perlu diajarkan agar bisa mengenali lalu menghindarinya.

 

Melalui poster-poster anti penipuan yang dibuat anak-anak, kampanye anti penipuan pun dihadiri belasan orang tua anak. Sebagai sarana edukasi dan bentuk penyadaran akan bahaya penipuan kepada masyarakat. Selain pentingnya edukasi, Yayasan Insan Cendekia menilai pengenalan bentuk-bentuk penipuan kepada anak-anak memang harus dilakukan sejak dini. Agar nantinya anak-anak tidak jadi korban penipuan, bahkan dapat ikut aktif mencegahnya.

 

“Kampanye anti penipuan ini snagat penting dilakukan di kalangan anak-anak. Agar mereka mengenal modus dan bahayanya. Yayasan Tunas Cendekia berkomitmen untuk mengikis segala bentuk penipuan yang ada di masyarakat, termasuk melalui gawai dan media sosial. Saya apresiasi TBM Lentera Pustaka yang mau bekerjasama untuk edukasi anak-anaknya. Agar mereka paham tentang penipuan dan pencegahannya” tambah Yudhis Juwono, Pengurus Yayasan Tunas Cendekia.

 


TBM Lentera Pustaka memandang kampanye anti penipuan di era digital harus dilakukan secara intensif dan melibatkan banyak pihak termasuk taman bacaan. Agar masyarakat awam lebih paham tentang praktik penipuan. Edukasi anti penipuan di TBM Lentera Pustaka, rencananya akan dilakukan setiap bulan sekali. Sebagai tindakan preventif terhadap segala bentuk penipuan di masyarakat.

 

Karena kegiatan literasi pun harus bisa mencegah bahaya penipuan. Sekaligus menegakkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah dan masyarakat di Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Bogor.  Kolaborasi TBM Lentera Pustaka dan Yayasan Tunas Cendekia pun menjadi cerminan pentingnya sinergi dalam mencegah maraknya penipuan. Agar masyarakat lebih literat akan modus penipuan. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #YayasanTunasCendekia #TamanBacaan #KampanyeAntiPenipuan

 


Sabtu, 27 Februari 2021

Literasi Berbicara, Banyak Ngomong Praktik Kosong

Sudah konsekuensi, zaman canggih ini akhirnya menghasilkan orang-orang yang omong. Lebih banyak bicara daripada kerja. Lebih banyak argumen daripada eksperimen. Mencari sensasi daripada esensi. Karena terlalu banyak omong. Lihat saja di banyak webinar. Zoom  meeting, apalagi di TV-TV.  Apa saja bisa dibicarakan. Apalagi ditambah sedikit retorika, plus gaya ngomongnya. Woww, kesannya luar biasa. Membius audien lagi mengagumkan, begitulah tukang bicara. Namanya tukang bicara.

 

Oh ya, jangan lupa. Tukang bicara itu sama artinya dengan “jago ngomong. Alias orang yang kerjaannya hanya bicara. Seperti jago bola, orang kerjaannya main bola. Sering kali, tukang bicara hanya ngomong doang. Segala rupa diomongin.

 

Kata tukang bicara. Negara harusnya begini. Agar tidak banjir harusnya begini-begitu. Ekonomi pasti tumbuh bila begini. Organisasi harusnya dikelola seperti ini. Pandemi Covid-19 cepat berlalu bila masyarakat begini. Tukang bicara bilang, “semuanya harus begini, harus begitu”. Seolah semuanya kelar karena omongan. Seakan masalah apa pun akan rampung bila sudah dibicarakan.

 

Tukang bicara sering lupa. Tidak ada satu pun masalah di dunia ini yang kelar karena dibicarakan. Tidak pula ada persoalan rampung karena diomongin. Apalagi ditambah hoaks, fitnah dan gibah. Karena faktanya, tukang bicara itu ya hanya pandai bicara. Tapi tidak pandai berbuat. Ngomong begini-begitu, tapi sedikit sekali dalam eksekusi. Hingga publik terkecoh. Seolah “apa yang diomong” sama dengan “apa yang diperbuat. Padahal bisa jadi, semuanya hanya omong kosong.


 

Jangan banyak omong. Tapi perbanyaklah membaca buku. Atau setidaknya diam.

Seperti di taman bacaan. Sebagai tempat untuk menghidupkan tradisi baca. Membangun peradaban anak-anak yang akrab dengan buku. Agar tidak terlalu mudah berbicara apalagi berkoar-koar. Maka taman bacaan di mana pun. Punya misi sederhana, “Lebih baik membaca buku atau diam daripada banyak omong dan berkata-kata tanpa makna”

   

Sementara di negeri nusantara. Kadang terlalu banyak tukang bicara. Masalah bukan diselesaikan. Tapi malah diperdebatkan. Banyak diskusi di depan publik, disorot di media. Konsepnya keren. Orang-orangnya beken. Tapi sayang, itu semua sebatas tukang bicara, jago ngomong. Tidak jago eksekusi. Maka tiap tahun, masalah yang sama muncul lagi. Dan tukang bicara ngomong lagi.

 

Sejatinya, jadi tukang bicara itu baik. Bila diikuti dengan perbuatan atau tindakan. Apa yang diomong harus dama dengan yang dilakukan. Bukan sebaliknya. Pandai bicara hanya untuk mencari kesalahan. Bicara hanya untuk melemahkan orang lain. Lalu ribut dan berisik. Lalu lupa nasihat hadist “"Yang paling aku takuti atas kamu sesudah aku tiada adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah."

 

Maka berhati-hatilah. Jangan jadi tukang bicara, hindari banyak omong. Karena khawatir. Tukang bicara itu makin banyak omong karena mereka sedang memperjuangkan mimpi-mimpi mereka. Tukang bicara tak lebih dari orang-orang yang hidup dalam harapan, bukan kenyataan. Mereka yang hidup di “negeri fantasi" bukan di "negeri realitas".

 

Tukang bicara, hati-hatilah. Karena zaman now. Makin banyak orang yang pandai bicara. Tapi praktiknya nol besar. Salam literasi #KampanyeLiterasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan

 


Jumat, 26 Februari 2021

Ajarkan Literasi Konflik di Taman Bacaan

Bila ada negeri yang tergolong doyan kisruh, mungkin salah satunya ya Indonesia. 

Kisruh, alias berisik dan dibikin ramai. Urusan vaksin Covid-19 dibikin kisruh. Banjir akibat hujan pun jadi rebut. Ada partai memecat kader-nya karena persoalan internal pun jadi ricuh. Bahkan soal Nikita Mirzani pun, negeri ini bisa heboh. Itulah realitas negeri yang doyan kisruh. 

“Kalau bisa dipersoalkan, kenapa didiamkan?” mungkin begitu slogan negeri doyan kisruh.


Agak pantas pula. Hasil survei menyebut “Indonesia tergolong negara paling berisik di dunia”. Netizen-nya Indonesia bisa jadi paling popular sekaligus paling ganas. Maklum, pengguna media sosial-nya pun sudah menembus angka 160 juta orang. Soal apa saja dibikin berisik. Hoaks dipercaya. Ujaran kebencian disebarkan. Fakta pun dibolak-balik. Gemar kisruh, gemar kebingungan dan kacau balau. Entah, kok gemar pada aktivitas yang tidak bermanfaat. Membuang-buang waktu untuk hal yang sia-sia dan tidak produktif. 


Banyak orang lupa. Kisruh, ricuh, dan berisik itulah awal mula konflik terjadi. Akibat berbeda pendapat. Akibat salah menggunakan saluran komunikasi.  Akibat gagal mengelola masalah. Hingga akhirnya, semua orang “membenarkan” pikirannya sendiri. Adu argumen sambil mempertontinkan “kepintaran” dan ego di ruang publik. Maka kisruh berubah jadi konflik. 


Di negeri kisruh, pada orang-orang doyan konflik. Media sosial bukan digunakan untuk nasihat. Atau promosi kebaikan. Tapi medsos dipakai untuk mempublikasikan emosi dan kebencian. Curcol urusan yang tidak penting. Masalah bukan diselesaikan. Malah di-ekspose ke ruang publik. Aneh, orang-orang itu. Aturan hanya berlaku di atas kertas. Etika hanya berlaku di ruang-ruang religius. Alhasil, setiap perbedaan hanya bisa diselesaikan dengan cara-cara kisruh. Marah-marah, ngotot dan emosi. Entah, di mana benarnya cara-cara itu? Sama sekali tidak literat.



Ini soal literasi kisruh, literasi konflik. 

Maaf ya, bukan anti kisruh atau anti konflik. Kisruh itu boleh, konflik pun silakan. Karena kisruh atau konflik bagian dialektika. Sebuah cara untuk memikirkan masalah, cara melihat persoalan. Dinamika untuk menuju perubahan yang baik. Yang penting jangan kisruh karena tidak sika pada orangnya. Jangan ber-konflik untuk perkara yang tidak jelas. Kisruh bukan sensasi tapi esensi. Sehingga siapa pun yang terlibat kisruh, tetap berpijak pada akal sehat dan hati nurani. Dan jangan pernah kisruh untuk mencapai “kesempurnaan”. Karena itu tidak mungkin. 


Kisruh atau konflik itu wajar. Tapi jangan mempertontonkan ke publik. Apalagi karena sentimen atau rasa benci. Sehingga semua hal diskisruhkan, dipertengkarkan. Kisruh jadi hobby, konflik jadi bahaya laten. 


Seperti di taman bacaan. Maka anak-anak pun bukan hanya membaca. Tapi diajarkan untuk bersikap bijak. Saat berebut buku, saat mencari tepat duduk untuk baca. Bisa saja bertengkar atau berselisih. Tapi jangan libatkan emosi atau amarah. Karena esensinya “membaca buku”. Bukan berebut atau cari tempat duduknya. Jadi, kisruh atau konflik pun harus literat. Buka nasal kisruh, asal konflik saja. 


Ketahuilah, kisruh atau konflik. Dalam tafsir disebut “jidal”, sebutan untuk orang-orang yang suka bertengkar, gemar ksiruh. Senang mempertontonkan perselisihan.Sungguh tidak ada manfaatnya. Bila ada masalah, maka selesaikan dan cari solusi terbaiknya. Bukan berisi di media sosial. Atau bertengkar tidak jelas juntrungan. 


Di dunia literasi. Kisruh atau konflik itu hanya tumbuh karena ketidaktahuan dan kecurigaan. Saat kebenaran bertengkar dengan prasangka. Maka tetaplah berpijak pada akal sehat, akhlak, dan etika. Agar kisruh tidak berubah jadi musuh. Agar konflik tidak menodai toleransi dan harmoni.


Sungguh, selalu ada cara untuk meraih kebenaran dengan cara yang apik. Ada cara mencapai perubahan baik dengan cara yang ciamik. Dan yang terpenting, bila tidak sama kenapa tidak boleh berbeda? Agar siapa pun, tidak lagi bermukim pada kisruh pada konflik. Salam literasi #KampanyeLiterasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan



Kamis, 25 Februari 2021

Literasi Sadar Diri di Taman Bacaan

SADAR itu kata yang gampang diucapkan, Tapi tidak mudah dilakukan.

Sudah tahu korupsi salah, kok baru sadar setelah dipenjara. Sudah tahu menyebar hoaks itu salah, kok baru sadar sudah ditahan. Sudah tahu virus Covid-19 itu mematikan, kok baru sadar protokol kesehatan itu penting. Sadar itu di depan, bukan di belakang.

 

Fakta hari ini. Banyak orang sadar membaca buku itu penting. Tapi sedikit yang mau membaca buku. Banyak orang sadar berbuat baik itu bagus. Tapi sedikit yang mau berperilaku baik. Bahkan banyak orang sadar membenci itu dilarang. Tapi tidak sedikit yang hidupnya dalam kebencian. Sadar tapi tidak sadar.

 

Sadar. Kita harus sekolah dan belajar dulu untuk meraih cita-cita. Kita juga harus bekerja keras untuk mencapai apa yang diinginkan. Sadar, berkiprah di taman bacaan atau jadi pegiat literasi itu penuh tantangan dan cobaan. Sekalipun bersifat sosial, mengelola taman bacaan pun butuh perjuangan keras. Agar tetap sadar untuk berjuang. Agar tetap tegak tradisi baca dan budaya literasi masyarakat.

 

Sadar itu berarti tahu diri, lalu mengerti. Untuk memperbaiki diri, memperbaiki keadaan. Dari yang belum baik menjadi lebih baik. Maka sadar butuh kesadaran dari orangnya. Tetap mawas diri atau aware terhadap keadaan. Sadar untuk bersahabat dengan realitas, bukan melulu mengeluh atau hidup dalam buaian mimpi.

 


Seperti hari ini. Banyak orang tidak sadar. Bahwa dunia yang mereka tinggali saat ini sangat menyenangkan. Tapi karena mereka sibuk dengan rutinitas. Akhirnya merasa hidupnya datar dan biasa-biasa saja. Jadi tidak punya waktu untuk menyadari. Bahwa dunia ini punya nilai dan makna yang lebih dari sekadar yang mereka pikirkan. Sadar bersyukur itu jauh lebih penting dari pikiran dan perasaan orangnya.

 

Seperti pengelola taman bacaan. Harus sadar.

Bahwa selalu saja ada “kerikil” di jalan pengabdian yang harus dilalui. Kadang menyakitkan di kaki walau tidak jadi sebab untuk berhenti melangkah. Selalu saja ada “angin yang menerpa” sehingga menghambat gerak langkah untuk lebih cepat. Selalu saja ada hambatan dan tantangan. Karena memang hidup di taman bacaan, bukan jalan dan panggung popularitas. Sadar, taman bacaan itu jalan sepi yang tidak banyak dilewati orang.

 

Dalam kitab “Nashaihul Ibad, sadar itu harua ada pada setiap diri. Siapa pun, di mana pun.  Sadar akan 3 hal agar tetap ada dalam diri. Sadar yang isinya; 1) RUH agar berpegang pada Allah, 2) AMAL agar terus ditegakkan, dan 3) JASAD yang akan habis ditelan bumi.

 

Maka sadar, seharusnya terletak di depan. Bukan di belakang. Sadar sebelum melakukan sesuatu yang baik itu butuh perjuangan, bukan pengorbanan. Bila sudah sadar, maka perbanyaklah sabar. Salam literasi #KampanyeLiterasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan



Sinergi KKN-Tematik Mahasiswa IPB dan TBM Lentera Pustaka Hasilkan Sistem Database Buku

Memasuki tahap akhir pelaksanaan KKN Tematik di Taman Bacaan Lentera Pustaka Desa Sukaluyu Bogor, mahasiswa IPB hari ini menyerahkan sistem database buku yang diberi nama “SISTABA (SIStem Taman BAcaan) Lentera Pustaka” sebagai acuan basis data buku bacaan dan identitas anggota sebagai kontribusi nyata mahasiswa kepada taman bacaan (25/2).

 

Diterima langsung oleh Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka, sistem database buku bacaan yang dikreasi oleh Ragsa dan Agus menjadi penutup visitasi KKN-T IPB yang berlangsung dari 20 Januari – 28 Februari 2021.

 

Melalui SISTABA ini, seluruh koleksi buku bacaan dan identitas anak pembaca TBM Lentera Pustaka akan dengan mudah dikelola dan di-update. Nantinya, Seluruh koleksi buku yang berjumlah 6.000 buku dan 145 anak pembaca akan dimasukkan ke dalam database. Dalam kesempatan ini, Dedy Firmansyah selaku koordinator KKN-T IPB pun menyerahkan sertifikat mitra KKN kepada TBM Lentera Pustaka.

 

“Kami berterima kasih kepada TBM Lentera Pustaka. Dan senang dapat menyiapkan sistem taman bacaan SISTABA. Agar data buku dan anak, bahkan pinjam buku dan donasi buku dapat diakomodasi secara teknologi komputer. Sekarang masih offline tapi nantinya bisa dibuat online” ujar Ragsa dan Agus di TBM Lentera Pustaka.

 


TBM Lentera Pustaka pun memberi apresiasi atas kiprah mahasiswa IPB yang ber-KKN. Sebagai wujud sinergi kampus dan taman bacaan. Hingga akhirnya memberi kontribusi nyata terhadap penyediaan sistem koleksi buku dan anak yang menjadi anggota. Demi tegaknya  tradisi baca da budaya literasi anak-anak dan masyarakat di kampung.

 

Alhamdulillah dan luar biasa. KKN-T mahasiswa IPB mampu membuatkan SISTABA yang memang kami perlukan untuk database koleksi buku dan identitas anak. Ini bukti nyata sinergi dan kiprah nyata generasi muda kepada masyarakat. Saya apresiasi ide keren mahasiswa IPB. Terima kasih dan SISTABA ini sangat manfaat untuk taman bacaan” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Porgram TBM Lentera Pustaka.

 

Penyerahan SISTABA pun menjadi puncak visitasi KKN-T IPB tahun 2021. Sebelumnya, para mahasiswa telah melakukan kegiatan seperti: 1) sosialisasi pencegahan dan penanganan covid-19, pembuatan hand sanitizer dan distribusi masker, 2) penyuluhan pembuatan pupuk organik cair (POC) dan pekarangan pangan lestari (P2L), dan 3) donasi buku. Inilah bukti sinergi mahasiswa, kampus, dan taman bacaan yang patut ditiru untuk pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.