Senin, 31 Agustus 2026

Secukupnya Saja, Agar Hidup Tetap Terasa Istimewa

Ini hanya sebuah cerita literasi. Dulu, ada seorang pria yang setiap pagi duduk di teras rumahnya sambil menikmati secangkir kopi. Suatu hari, seorang teman bertanya, “Kenapa cuma satu cangkir? Kalau enak, bukankah lebih nikmat minum sebanyak-banyaknya?” sang pria pun hanya tersenyum dan menjawab, “Justru karena hanya secangkir, aku bisa benar-benar menikmatinya.” Dari sana, ia mulai menyadari bahwa banyak hal dalam hidup memang terasa indah bukan karena jumlahnya banyak, melainkan karena kita mampu menikmatinya dengan penuh kesadaran.

 

Ia teringat pada semangkuk mie ayam yang selalu terasa begitu nikmat ketika disantap perlahan. Bukan karena porsinya besar, tetapi karena setiap suapan dinikmati tanpa terburu-buru. Begitu pula dengan pelangi. Keindahannya justru terasa istimewa karena tidak berlangsung lama. Jika pelangi muncul sepanjang hari, mungkin orang tidak lagi berhenti untuk mengaguminya. Rupanya, keterbatasan sering kali membuat sesuatu menjadi lebih berharga.

 

Dalam perjalanan hidup, manusia sering terjebak dalam keinginan untuk memiliki lebih banyak: lebih banyak uang, lebih banyak makanan, lebih banyak waktu, bahkan lebih banyak kesenangan. Kita mengejar semuanya tanpa sadar bahwa terlalu banyak justru bisa menghilangkan rasa. Apa yang awalnya membahagiakan dapat berubah menjadi kebiasaan yang hambar ketika dinikmati tanpa batas. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki lebih, tetapi kita perlu tahu kapan harus merasa cukup.

 


Karenanya, hidup itu bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita miliki, melainkan seberapa dalam kita mampu mensyukuri apa yang kita punya. Kopi cukup secangkir, mie ayam cukup semangkuk, dan pelangi cukup hadir sesaat untuk membuat kita tersenyum. Karena pada akhirnya, segala sesuatu terasa lebih bermakna ketika dinikmati secukupnya, bukan semaunya.

 

Kopi enak karena secangkir, bukan segalon. Mie ayam nikmat karena semangkok, bukan sebaskom. Pelangi indah karena muncul sebentar, bukan sehari penuh. Dan ternyata, segala sesuatu terasa lebih baik ketika kita menikmati secukupnya, bukan semaunya. Salam literasi! 

Bulan Dana Pensiun: Saatnya Siapkan Hari Tua agar Tidak Bergantung pada Keluarga

Realitas kehidupan pensiunan di Indonesia masih menyisakan persoalan besar. Data BPS (2025) menyebut sekitar 82% penduduk lansia atau pensiunan masih bergantung secara finansial kepada anak atau anggota keluarga yang masih bekerja. Sementara itu, hanya sekitar 5% yang mampu hidup dari dana pensiun yang dipersiapkan secara mandiri. Kondisi ini menunjukkan bahwa masa pensiun bagi sebagian besar masyarakat Indonesia belum sepenuhnya menjadi fase kehidupan yang mandiri dan sejahtera, melainkan masih diwarnai ketergantungan ekonomi kepada keluarga.

 

Konsekuensinya, tingkat penghasilan pensiun (TPP) pensiunan di Indonesia tergolong sangat rendah. Banyak pensiunan hanya menerima pendapatan sekitar 10%–15% dari gaji terakhir, jauh di bawah rekomendasi tingkat penggantian penghasilan atau replacement ratio yang layak untuk menjaga keberlangsungan hidup setelah berhenti bekerja. Penurunan pendapatan yang drastis pada masa pensiun tentu dapat berdampak pada kualitas hidup lansia, sekaligus berpotensi menambah beban ekonomi bagi generasi produktif yang harus menopang orang tua dan keluarganya secara bersamaan.

 

Karena itu, Bulan Dana Pensiun 2026 menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa masa pensiun harus dipersiapkan sejak masih produktif. Menyiapkan pensiun tidak cukup dilakukan menjelang usia pensiun, tetapi membutuhkan perencanaan jangka panjang melalui kepesertaan program dana pensiun, tabungan, investasi, dan pengelolaan keuangan yang disiplin. Semakin dini seseorang mempersiapkan dana pensiunnya, semakin besar peluang untuk mempertahankan kemandirian finansial dan kualitas hidup pada hari tua.

 


OJK bersama TASPEN, ADPI, ADPLK, ASABRI, dan BPJS TK akan mencanangkan “Bulan Dana Pensiun” pada Minggu, 6 September 2026, pukul 06.00 -- 09.30 WIB di area Car Free Day (CFD) GBK - Sudirman, tepatnya berpusat di depan FX Sudirman. Acara akbar yang kali pertama digelar ini sebagai wadah kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemangku kepentingan utama program pensiun bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mempersiapkan masa pensiun sejak usia produktif, di samping meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun di Indonesia. Masyarakat umum yang hadir di area CFD juga dapat mengunjungi Pension Festival, sebuah pameran dan akses zona edukasi interaktif serta memanfaatkan layanan pojok konsultasi pensiun secara gratis guna mendiskusikan perencanaan masa depan bersama para ahli program pensiun. Ada pula mini talkshow  bertajuk "Merencanakan Pensiun di Era Digital" dengan panel narasumber dari pakar keuangan serta public figure.

 

Nantinya, sepanjang bulan September 2026, seluruh pelaku program pensiun di Indonesia akan melakukan edukasi dan kampanye pentingnya mempersiapkan masa pensiun melalui Bulan Dana Pensiun 2026. Dan puncaknya, akan digelar "Indonesia Pension Fund Summit (IPFS) 2026" pada 24-25 September 2026 di Balai Kartini Jakarta dengan tema "Memperkuat Ekosistem Pensiun yang Berkelanjutan: Hidup Sehat, Pensiun Bahagia". IPFS 2026 nantinya menjadi forum strategis yang mempertemukan regulator, pemerintah, pengelola dana pensiun, lembaga jasa keuangan, organisasi internasional, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas arah pengembangan industri dana pensiun Indonesia agar menjadi lebih kuat, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

 

Bulan Dana Pensiun dan IPFS 2026 pada akhirnya akan menjadi gerakan bersama untuk mengubah cara pandang masyarakat: pensiun bukan akhir dari produktivitas, tetapi awal dari kehidupan baru yang harus dipersiapkan dengan baik. Saatnya meningkatkan kesadaran bahwa memiliki dana pensiun berarti menjaga martabat, kemandirian, dan ketenangan di hari tua. Dengan persiapan yang tepat, masyarakat tidak hanya dapat mengurangi ketergantungan kepada anak dan keluarga, tetapi juga mewujudkan masa pensiun yang lebih aman, mandiri, dan sejahtera. #BulanDanaPensiun #IPFS2026 #YukSiapkanPensiun #PekerjaDiHariTua



Indonesia Menuju Krisis Pensiun 2038: 100 Juta Warga Terancam Tanpa Tabungan Hari Tua

Kementerian Keuangan RI memproyeksikan sekitar 100 juta warga Indonesia terancam tidak memiliki tabungan pensiun pada tahun 2038 mendatang. Alarm serius ini berbunyi di tengah kondisi Indonesia yang mulai memasuki fase pre-aging society, di mana dalam dua hingga tiga dekade ke depan, gelombang besar penduduk usia produktif akan bertransformasi menjadi kelompok lansia (pensiunan). Tanpa adanya jaminan perlindungan hari tua dan program pensiun yang memadai, jutaan lansia (pensiunan) di masa depan berisiko mengalami penurunan standar hidup yang drastis, ketergantungan finansial pada anak dan keluarga, hingga terjerembab ke jurang kemiskinan di usia lanjut.

 

Salah satu pemicu utama dari krisis ini adalah rendahnya kapasitas menabung, di mana rata-rata masyarakat saat ini hanya menyisihkan sekitar 3 persen dari pendapatannya untuk hari tua. Padahal, menurut standar keamanan finansial yang ideal, setiap individu setidaknya perlu menyisihkan minimal 10 persen dari pendapatan atau gajinya sejak dini. Rendahnya tabungan hari tua ini diperparah oleh cakupan jaminan pensiun formal yang masih sangat terbatas; bahkan di kalangan pekerja formal saja, kepesertaan aktifnya baru mencapai sekitar 15,2 juta peserta dari total 61,8 juta pekerja, atau belum menyentuh angka 25 persen.

 

Edukasi masyarakat juga perlu menyoroti kelemahan pemahaman terkait skema Jaminan Hari Tua (JHT) yang selama ini sering disalahartikan sebagai dana pensiun yang sifatnya jangka panjang. Berbeda dengan dana pensiun, skema JHT memiliki karakteristik yang mudah dicairkan sebelum pekerja memasuki usia pensiun, salah satunya ketika pekerja mengalami transisi atau perpindahan kerja. Bahkan cara pencairannya pun bersifat sekaligus (lumpsum). Akibatnya, akumulasi dananya sering kali gambang habis dan tidak tersisa lagi. Saat pekerja benar-benar menjalani hidup di masa tua justru sudah tidak tersedia  lagi dananya.

 

Menyikapi tantangan pensiun ini, peningkatan literasi keuangan akan pentingnya mempersiapkan dana pensiun sejak dini menjadi diperlukan. Pekerja di sektor fomrla maupun informal perlu membiasakan diri menabung dana pensiun secara disiplin sebagai langkah edukasi yang sangat mendesak bagi masyarakat. Di sisi lain, OJK sudah menetapkan Peta Jalan Pengembangan dan Penguatan Dana Pensiun 2024-2028 yang mendorong penyediaan dana pensiun untuk pekerja informal (selain pekerja formal), digitalisasi dana pensiun, dan upaya meningkatkan tingkat penghasilan pensiun (TPP) sesuai rekomendasi International Labour Organization (ILO).

 


Di sisi lain, kepesertaan dana pensiun sukarela pun masih tergolong sangat rendah. Saat ini peserta dana pensiun sukarela seperti DPPK/DPLK hanya sebesar 3,68% atau baru 5,43 juta peserta. Maka wajar, data BPS (2025) menyebut 8 dari 10 pensiunan di Indonesia menggantungkan hidupnya di hari tua dari anggota keluarga yang bekerja. Begitu pula, tingkat literasi dana pensiun tercatat 27,79 persen, sementara tingkat inklusinya baru 5,37 persen. Masih ada kesenjangan pemahaman masyarakat tentang dana pensiun.

 

Semua pekerja pasti bercita-cita ingin "hidup sehat, pensiun bahagia". Tapi sayangnya, masih banyak pekerja yang belum mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Fenomena sandwich generation atau kondisi masa pensiun yang bermasalah secara keuangan masih akan terus berlanjut. Nah, mumpung ada "Bulan Dana Pensiun" sepanjang bulan September 2026 ini, mungkin saatnya pekerja menaruh perhatiann terhadap dana pensiun. Bila perlu, mulai menyisihkan sebagian gajinya untuk masa pensiun melalui program DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Salah satunya melalui aplikasi digital DPLK “SimPensiun” (https://simpensiun.com/).

 

Menabung untuk hari tua, untuk kenyamanan di masa pensiun Agar terwujud hidup sehat, pensiun bahagia. #BulanDanaPensiun #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Mengetuk Pintu Langit: Kisah Nyata Keajaiban Rezeki Tak Terduga di Balik Sikap Tawakal

Rezeki tak terduga sering kali menjadi misteri yang melampaui batas logika perencanaan manusia, namun dalam ajaran spiritual, hal ini merupakan pembuktian nyata atas janji Sang Pencipta. Sesuai dengan firman Allah dalam Surah At-Thalaq ayat 2–3, setiap hamba yang senantiasa menjaga ketakwaan dan kesadaran spiritualnya kepada Tuhan dijanjikan akan diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan hidup serta dikaruniai rezeki dari arah yang tidak pernah ia sangka-sangka. Konsep spiritual ini mengajarkan bahwa kesuksesan sejati bermula dari kedekatan hubungan dengan Sang Pengatur rezeki, sehingga setiap usaha fisik atau ikhtiar lahiriah yang dilakukan manusia di dunia dapat berjalan beriringan dengan keberkahan serta ketenangan batin yang mendalam.

 

Keajaiban spiritual ini telah terbukti secara historis, salah satunya melalui kisah melegenda seorang penyair klasik asal Madinah bernama Urwah bin Udzainah yang sempat terjepit kesulitan ekonomi dahsyat. Atas saran dari para sahabatnya, Urwah melakukan perjalanan jauh ke Syam demi menemui sahabat lamanya, Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, untuk meminta bantuan finansial. Bukannya langsung diberi bantuan, sang khalifah justru menyindir Urwah dengan mengingatkannya pada bait syair gubahannya sendiri mengenai keyakinan mutlak bahwa rezeki pasti akan datang menghampiri tanpa perlu meminta-minta. Sindiran tersebut seketika menyentak kesadaran spiritual Urwah; ia sadar telah lalai karena berharap kepada sesama manusia, lalu memutuskan langsung pulang ke Madinah dengan kepasrahan total. Menyaksikan ketulusan batin sahabatnya yang murni berserah diri kepada Tuhan, khalifah yang menyesal segera mengirimkan utusan pembawa hadiah melimpah yang secara ajaib tiba di rumah Urwah tepat setelah ia sampai.

 

Keajaiban serupa pun terus terulang dalam kehidupan modern saat ini, seperti yang dialami seorang penjual gorengan di pasar tradisional. Di kala dagangannya sepi pembeli dan dirinya sedang dihimpit kesulitan ekonomi, sang pedagang memilih untuk bersedekah secara tulus dengan membagikan seluruh sisa gorengannya kepada anak-anak yatim yang lewat. Keesokan harinya, ia secara mengejutkan mendapatkan pesanan katering dalam skala sangat besar untuk sebuah acara pernikahan, yang keuntungannya bahkan cukup menopang kebutuhan hidup keluarganya selama beberapa bulan. Kisah senada diukir oleh seorang daiyah yang tidak memiliki penghasilan tetap namun dikenal sangat ringan tangan dalam membantu sesama dan rajin menjaga silaturahmi. Berkat keikhlasannya, rumah sang daiyah tiada henti dikirimi berbagai kebutuhan pokok, bahkan ia berkali-kali mendapatkan hadiah perjalanan haji dan umrah gratis dari arah yang sama sekali tidak ia duga sebelumnya.

 

Seperti mengabdi sosial di taman bacaan. Membimbing anak-anak yang memebaca, mengajar kaum buta aksara, hingga menjalankan motor baca keliling ke kampung-kampung hanya untuk sediakan akses bacaan. Selalu konsisten menebar kebaikan melalui taman bacaan dan literasi. Insya Allah, rezeki dan kemudahan selalu menyertai kita, Begitu pula yang terjadi di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.

Kisah-kisah itu menegaskan pentingnya penerapan prinsip "tawakal aktif", yaitu kombinasi antara ikhtiar nyata yang wajar dan kepasrahan batin yang penuh. Rezeki yang berkah pada hakikatnya bukan sekadar penumpukan materi yang dikejar dengan penuh kecemasan duniawi, melainkan segala hal yang membawa kedamaian, kebermanfaatan, serta kelapangan jiwa bagi pemiliknya. Ketika seseorang berani mengesampingkan kesombongan diri, bertobat dengan tulus, serta membiasakan diri berbagi di kala sempit, hambatan ekonomi perlahan akan runtuh dan pintu-pintu kemudahan akan terbuka lebar. Pada akhirnya, ketakwaan dan hubungan yang harmonis dengan Sang Pencipta menjadi pendorong utama yang membangkitkan semangat baru dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan.






Minggu, 30 Agustus 2026

Renungan Kopi Pensiunan

Ada masa dalam hidup ketika kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum tentu menjadi milik kita. Kita memikirkan apa yang dikatakan orang, menunggu sesuatu yang tak kunjung datang, dan mempertahankan hal-hal yang justru membuat hati lelah. Sampai akhirnya kita sadar, tidak semua yang kita inginkan harus diperjuangkan sampai kehilangan ketenangan. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan belajar menerima bahwa hidup akan jauh lebih indah ketika hati tidak lagi dipenuhi oleh sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan.

 

Fokuslah pada apa yang bermanfaat dan tinggalkan apa yang hanya menguras hati. Percayalah, apa yang memang menjadi milik kita tidak akan salah alamat. Allah memiliki cara yang indah untuk mendekatkan apa yang terbaik bagi kita, meskipun terkadang jalannya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Sebaliknya, sesuatu yang memang bukan untuk kita, sekeras apa pun kita menggenggamnya, pada akhirnya akan pergi. Maka, lepaskan dengan ikhlas, bukan karena kita kalah, tetapi karena kita memilih kedamaian hati daripada terus hidup dalam penantian dan kegelisahan.

 

Teruslah melangkah dengan hati yang lebih ringan. Perbaiki diri sedikit demi sedikit, isi hari dengan kebaikan, perbanyak rasa syukur, dan jangan terlalu sibuk membandingkan perjalanan kita dengan orang lain. Setiap orang memiliki waktunya sendiri. Apa yang terlihat terlambat bagi kita, bisa jadi sedang Allah persiapkan pada waktu yang paling tepat. Ketika kita belajar percaya kepada-Nya, hati perlahan menemukan ketenangan—bukan karena semua masalah telah selesai, tetapi karena kita yakin bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian.

 

Pada akhirnya, hidup bukan tentang memiliki semuanya, melainkan tentang mampu menikmati apa yang ada dengan hati yang damai. Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, maka jangan biarkan hari ini habis hanya untuk memikirkan sesuatu yang seharusnya sudah kita lepaskan. Nikmati secangkir kopi, rasakan udara yang menenangkan, dengarkan suara alam, dan izinkan hati beristirahat sejenak. Sebab ketenangan bukan selalu tentang mengubah keadaan, tetapi tentang belajar menerima, percaya, dan ikhlas atas apa yang telah Allah tetapkan.


Pergilah ke Sukamakmur, nikmati kopi pensiunan.. #KopiPensiunan #NgopiDulu #SaungPurna

 






Selasa, 25 Agustus 2026

5 Agenda Penting yang Harus Dijawab Indonesia Pension Fund Summit 2026

Selain mengkampanyekan “Bulan Dana Pensiun” sepanjang September 2025, industri dana pensiun di Indonesia akan menggelar “Indonesia Pension Fund Summit (IPFS) 2026” pada 24-25 September 2026 di Balai Kartini Jakarta. Dengan mengambil tema “Memperkuat Ekosistem Pensiun yang Berkelanjutan: Hidup Sehat, Pensiun Bahagia”, kegiatan IPFS 2026 diharapkan menjadi forum strategis yang mempertemukan regulator, pemerintah, pengelola dana pensiun, lembaga jasa keuangan, organisasi internasional, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas arah pengembangan industri dana pensiun Indonesia agar menjadi lebih kuat, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

 

Agar tidak menjadi acara seremoni semata, IPFS memiliki peran strategis dan dapat menjadi katalisator untuk 2 hal, yaitu 1) memperluas cakupan kesepesertaan dana pensiun di Indonesia (baik program wajib maupun sukarela) dan 2) meningkatkan aset kelolaan program pensiun sebagai pendanaan jangka panjang untuk hari tua masyarakat Indonesia.

 

Namun fakta hari ini, tingkat literasi dana pensiun di Indonesia sebesar 27,79% dan tingkat inklusi dana pensiun hanya 5,37% (SNLIK 2025). Artinya, tingkat pemahaman dan kepesertaan dana pensiun di Indonesia tergolong masih rendah. Apalagi dibandingkan jumlah tenaga kerja yang ada, yang mencapai 150-an juta pekerja (60% sektor informal dan 40% sektor formal). Di sisi lain, peserta dana pensiun sukarela seperti DPPK/DPLK baru mencapai 3,68% atau sekitar 5,43 juta peserta. Maka wajar saat ini, 9 dari 10 lansia atau pensiunan di Indonesia bergantung secara finansial kepada keluarga atau terpaksa bekerja lagi.


 

Karenanya, gelaran “Indonesia Pension Fund Summit (IPFS) 2026” setidaknya memiliki beberapa agenda penting sekaligus menjawab tantangan utama industri dana pensiun di Indonesia. Suka tidak suka, tingkat kemandirian finansial pasca-kerja di kalangan masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Maka IPFS 2025 harus menjawab isu-isu penting di dana pensiun antara lain:

1.   Dominasi pekerja sektor informal. Sekitar 60% tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal (seperti pedagang, petani, dan pekerja mandiri) yang tidak tersentuh jaminan pensiun wajib karena skema formal lebih banyak menyasar pekerja penerima upah tetap. Perlu ada cara khusus untuk memudahkan pekerja sektor informal untuk memiliki program pensiun.

2.   Kesenjangan literasi dan inklusi. Tingkat literasi dan inklusi dana pensiun di Indonesia masih sangat rendah sehingga banyak pekerja yang belum menganggap dana pensiun atau jaminan masa tua sebagai prioritas dan masih mengandalkan sokongan finansial dari anak atau keluarga. Harus ada komitmen untuk melakukan edukasi dan sosialisasi akan pentingnya dana pensiun secara masif dan berkelanjutan.

3.   Tingkat pendapatan masyarakat. Bagi mayoritas pekerja harian atau kontrak, pendapatan bulanan yang pas-pasan membuat harus memprioritaskan kebutuhan mendesak saat ini (seperti biaya hidup dan sekolah anak) dibanding membayar iuran dana pensiun jangka panjang. Maka pertumbuhan ekonomi nasional harus dijaga agar masyarakat punya kemampuan untuk menyisihkan dana sebagai peserta dana pensiun.

4.   Tingkat penghasilan pensiun yang rendah. Saat ini tingkat penghasilan pensiun (TPP) pekerja Indonesia hanya 10-15% dari gaji terakhir. Sementara ILO merekomendasikan 40% dari gaji terakhir. Maka upaya meningkatkan TPP pekerja harus lebih konkret agar pekerja dapat mempertahankan standar hidup layak di hari tua.

5.   Digitalisasi dana pensiun. Untuk memberikan kemudahan akses pekerja memiliki dana pensiun, khususnya pekerja individu dan informal sekaligus memastikan transparansi dan fleksibilitas program pensiun bagi pesertanya.

 

Semua pasti sepakat. Siapapun ingin "hidup sehat, pensiun bahagia". Siapapun ingin punya dana pensiun yang memadai. Agar tidak bergantung secara finansial di hari tua pada anak atau keluarga, di sampung dapat menjaga kemandirian finansial di masa pensiun. Karena itu, IPFS 2026 seharusnya mampu menjawab tantangan industri dana pensiun. Agar terwujud hidup sehat, pensiun bahagia. Agar kerja yes, pensiun oke. #IPFS2026 #BulanDanaPensiun #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Merangkum Dampak Sosial dan Efektivitas Program Literasi Taman Bacaan (Studi Kasus TBM Lentera Pustaka Bogor)

Di tengah dinamika filantropi modern, transparansi bukan lagi sekadar pelengkap administratif, melainkan fondasi vital yang membangun kepercayaan publik. Dalam pengelolaan organisasi nirlaba, evaluasi berkelanjutan menjadi instrumen strategis untuk memastikan setiap kontribusi berdampak nyata. TBM Lentera Pustaka, melalui laporan kinerja tahun 2025, membuktikan bahwa tata kelola yang akuntabel mampu mengonversi dukungan mitra menjadi gerakan sosial yang masif dan terukur.

 

Sepanjang tahun 2025 lalu, TBM Lentera Pustaka berhasil mengonsolidasikan kekuatannya dengan melayani total 319 pengguna layanan aktif . Capaian ini merupakan refleksi dari konsistensi organisasi dalam menjaga marwah gerakan literasi di akar rumput. Pendiri TBM Lentera Pustaka, Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd., menekankan bahwa integritas organisasi diukur dari keberaniannya untuk dievaluasi. "Tahun boleh berganti tapi evaluasi harus tetap tersaji,"  tegasnya. Prinsip akuntabilitas inilah yang kemudian diakselerasi oleh dedikasi sumber daya manusia yang militan di balik layar.

 

Kekuatan Relawan: Motor Penggerak 16 Program Literasi

Dalam arsitektur sosial, dedikasi relawan adalah "nyawa" yang menghidupkan program. Efisiensi manajerial yang ditunjukkan TBM Lentera Pustaka mematahkan mitos bahwa organisasi akar rumput minim tata kelola. Dengan tim yang terdiri dari 21 orang —mencakup 3 Wali Baca dan 18 Relawan Aktif (termasuk penambahan 2 relawan baru di tahun 2025)— organisasi ini berhasil melakukan institusionalisasi program secara sistematis.Tim ini mengorkestrasi 16 program literasi kreatif setiap minggunya di 4 desa tujuan: Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya, dan Sukajadi. Pembagian tugas yang presisi memastikan program-program kritikal seperti GEBERBURA (Gerakan Berantas Buta Aksara) mampu memitigasi risiko buta huruf di kalangan dewasa, sementara MOBAKE (Motor Baca Keliling) menjalankan fungsi last-mile delivery untuk menjangkau wilayah terpencil yang sulit mengakses lokasi fisik TBM. Keberhasilan operasional internal ini menjadi basis kuat bagi terciptanya sinergi multipihak dengan entitas eksternal.

 

Sinergi Multipihak: Kolaborasi CSR dan Institusi Akademik sebagai Laboratorium Sosial

Membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan mensyaratkan kolaborasi strategis antara sektor privat, akademisi, dan organisasi masyarakat. Kehadiran TBM Lentera Pustaka kini telah bertransformasi menjadi sebuah "Laboratorium Sosial" bagi berbagai mitra. Dukungan CSR dari korporasi besar seperti Bank Sinarmas, Chubb Life dan AAI Pernacis  memberikan stabilitas sumber daya, sementara kolaborasi dengan institusi akademik dan komunitas, seperti  IPB University, Universitas Indraprasta PGRI, UNJ, Universitas Gunadarma, Universitas Pakuan, SMANIT, Zilenial Bergerak, Nurul Fikri Bogor, SMP Al-Azhar, IARI, dan SAN Chapter Bogor, memperkaya dimensi edukasi yang ditawarkan.Sinergi ini membuahkan output kuantitatif yang impresif berupa pelaksanaan 29 event edukatif sepanjang tahun, atau rata-rata  2,4 event per bulan. Lebih jauh, kolaborasi ini mewujudkan "Holistic Development Model" melalui pembangunan infrastruktur strategis. Pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari mahasiswa Univ. Gunadarma bukan sekadar proyek fisik, melainkan pernyataan sikap mengenai eco-literacy dan keberlanjutan energi. Ditambah dengan pembuatan lahan parkir dan revitalisasi area, TBM kini menjadi ruang publik yang representatif dan nyaman bagi warga belajar.

Transparansi Dampak: Data Layanan dan "Radical Transparency" dalam Donasi

Sebuah gerakan literasi yang kredibel harus mampu memvalidasi klaimnya melalui data empiris. TBM Lentera Pustaka menerapkan standar tinggi dalam pelaporan data layanan tahun 2025 untuk menunjukkan dampak sosial yang inklusif:

·      Total Pengguna Layanan: 319 Orang

·      184 Anak-anak (termasuk 52 anggota baru yang bergabung pada periode Des 2024 - Des 2025).

·      74 Ibu-ibu pengantar anak (literasi keluarga).

·      14 Yatim Binaan (YABI) dan 13 Jompo Binaan (JOMBI), mempertegas fungsi pemberdayaan sosial.

·      6 Warga Belajar GEBERBURA (pemberantasan buta aksara).

·      25 Pembaca MOBAKE (akses baca keliling). 

Dalam aspek pengelolaan aset, TBM menerapkan prinsip "Radical Transparency". Pencatatan donasi dilakukan secara mendetail, di mana bantuan dari 19 donatur yang mencakup 4.138 buku dan 12 jenis alat tulis kantor (ATK) diverifikasi dengan nilai valuasi mencapai Rp103.260.000. Peran TBM sebagai katalisator juga terlihat dari kedermawanan organisasionalnya yang menyalurkan 150 buku ke 5 TBM mitra, menciptakan efek bola salju bagi ekosistem literasi yang lebih luas.

 


Milestone Strategis dan Rekognisi Nasional

Capaian tahun 2025 semakin mengukuhkan posisi TBM Lentera Pustaka sebagai referensi literasi nasional. Keterlibatan dalam “National Financial Health Event” serta penunjukan sebagai lokasi KKNT Literasi oleh Perpusnas RI menunjukkan bahwa model yang dikembangkan di kaki Gunung Salak ini layak menjadi standar percontohan nasional. Perluasan dampak juga dilakukan melalui inisiasi Program Kredit UMKM, sebuah langkah strategis untuk memutus rantai kemiskinan dan ketergantungan pada pinjaman berbunga tinggi melalui pemberdayaan ekonomi.Rekam jejak ini memperpanjang deretan prestasi emas yang telah diraih, mulai dari predikat Kampung Literasi (2021), TBM Komunitas Penggerak Literasi (2024) dari Badan Bahasa Kemdikbud RI, hingga rekognisi dari Guardian Indonesia sebagai "Wonderful People". Prestasi ini menjadi testimoni atas keberlanjutan visi jangka panjang organisasi.

 

Komitmen Berkelanjutan melalui Model TBM Edutainment

Laporan Kinerja 2025 menegaskan bahwa model "TBM Edutainment" —integrasi antara edukasi dan hiburan—adalah jawaban efektif atas tantangan rendahnya minat baca. Keberhasilan yang diraih bukan sekadar deretan angka statistik, melainkan bukti nyata transformasi karakter anak bangsa yang diupayakan melalui kolaborasi relawan dan kemitraan strategis. Ke depan, TBM Lentera Pustaka berkomitmen untuk terus menjadi sentra pemberdayaan masyarakat yang inklusif. Dengan fokus utama menekan angka putus sekolah dan memperluas akses pengetahuan, TBM Lentera Pustaka memastikan bahwa api literasi akan tetap menyala, menggerakkan perubahan dari desa untuk Indonesia. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #GerakanLiterasi

 


Senin, 24 Agustus 2026

Masa Tua Belum Tenang: 38% Pensiunan di Indonesia Terpaksa Tetap Bekerja demi Sambung Hidup

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data tahun 2025 mengenai sebaran sumber finansial utama bagi penduduk lanjut usia (lansia) atau pensiunan di Indonesia, yang menegaskan bahwa keluarga masih menjadi penopang hidup terbesar di hari tua. Adapun sumber finansial utamam lansia atau pensiunan di Indonesia bertumpu pada:

1.   Keluarga, 48% lansia mengandalkan sumber dana utama dari anak-cucu sehingga pensiunan masih menjadi beban ekonomi keluarga.

2.   Pekerjaan, 38% lansia atau pensiuan terpaksa bekerja lagi sebagai seumber pendapatan bulanan untuk menopang hidup di hari tua.

3.   Uang Pensiun, hanya 9% lansia atau pensiunan yang mengandalkan uang pensiun sebagai sumber keuangan utama di hari tua.

4.   Jaminan Sosial, terdapat 2% lansia mengandalkan bantuan sosial dari negara.

5.   Tabungan/Investasi, terdapat 1% lansia yang mampu membiayai hidupnya dari tabungan atau investasi yang dimilikinya.

6.   Lainnya, 1% lansia atau pensiunan hidup dari sumber lainnya.

Dapat dikatakan, 86% lansia atau pensiuan di Indonesai sangat bergantung pada aliran dana dari keluarganya atau bekerja lagi. Ini berarti 9 dari 10 lansia atau pensiun bergantung secara finansial kepada keluarganya atau bekerja lagi di hari tua.

 

Bisa jadi, beberapa sebab ketergantungan finansial di hari tua pada keluarga atau lansia terpaksa bekerja lagi antara lain: 1) dominasi pekerja sektor informal yang pendapatan hariannya belum mampu untuk menabung pensiun dan belum tersentuh program pensiun, 2) kesenjangan literasi dan inklusi sehingga banyak pekerja menganggap program pensiun belum  prioritas, 3) ketidakstabilan pendapatan pekerja, dan 4) rasio tingkat penghasilan pensiun yang rendah sehingga sulit untuk mempertahankan standar hidup layak di hari tua.

 


Karena itu, untuk memperbaii taraf hidup lansia atau pensiun sangat penting mempersiapkan tabungan pensiun sejak dini. Setiap pekerja harus mulai berani menyisihkan sebagian gaji untuk dana pensiun. Agar persiapan finansial untuk hari tua bisa terjaga dan menghindari ketergantunan finansial pada anak atau kelaurag. Disiplin menyisihkan dana sejak usia produktif untuk masa pensiun. Katanya, semua pekerja bercita-cita ingin "hidup sehat, pensiun bahagia". Tapi sayangnya peserta dana pensiun sukarela seperri DPPK/DPLK hanya sebesar 3,68% atau baru 5,43 juta peserta. Maka wajar, 9 dari 10 lansia atau pensiunan di Indonesia bergantung secara finansial kepada keluarag atau terpaksa bekerja lagi.

 

Nah, mumpung mau ada "Bulan Dana Pensiun" di bulan September 2026 ini, kini saatnya bagi pekerja untuk siapkan pensiun. Nabung untuk hari tua, sisihkan gaji untuk kenyamanan di masa tua. Siapapun pekerja di sektor formal dan informal sudah saatnya mebanung untuk masa pensiunnya sendiri. Agar terwujud hidup sehat, pensiun bahagia. #BulanDanaPensiun #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Gerakan Literasi dari Kampung: Motor Baca Keliling Melaju Bawa Buku, Tumbuhkan Mimpi Anak Negeri

Murai batu tak pernah sibuk menghitung seberapa jauh burung lain terbang. Ia hanya tahu ke mana arah yang ingin dituju. Begitu pula kiprah menyediakan akses bacaan bagi anak-anak melalui motor baca keliling yang dilakukan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung salak Bogor. Dengan mengendarai motor, relawan TBM Lentera Pustaka memilih untuk fokus pada tujuan: membawa buku lebih dekat kepada anak-anak, terutama di kampung-kampung yang belum mudah menjangkau perpustakaan atau taman bacaan.

 

Setiap perjalanan motor baca keliling bukan sekadar membawa tumpukan buku, tetapi membawa kesempatan. Kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal dunia yang lebih luas, menemukan cerita baru, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan membangun mimpi melalui bacaan. Mungkin langkah ini terlihat sederhana, tetapi kami percaya perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.

 

Dalam perjalanannya, kiprah motor baca keliling mungkin ada tantangan, keterbatasan, atau suara yang membuat kita ragu. Namun seperti murai batu yang terus terbang menuju arah yang dituju, relawan TBM memilih untuk tetap fokus, sabar, dan bertahan. Karena keberhasilan bukan semata tentang seberapa jauh kita bergerak, tetapi tentang seberapa banyak manfaat yang dapat kita hadirkan di sepanjang perjalanan.

 

Setiap Minggu, MOtor BAca KEliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka seharian bergerak untuk melayani lebih dari 130 anak usia sekolah di 4 kampung di kaki Gunung Salak Bogor untuk membaca buku. Aktivitas literasi ini menekankan pada penyediaan akses bacaan kepada anak-anak, di samping meningkatkan kegemaran membaca. TBM Lentera Pustaka meyakini tidak ada minat baca tanpa tersedianya akses bacaan. Difasilitasi 12 relawan TBM Lentera Pustaka, kegiatan MOBAKE menyusuri jalan dan menuju Kp. Calobak dan ke Kp. Kemang di Desa Sukaluyu. Setelah makan siang dilanjutkan ke kp. Sinarwangi dan berakhir di Kp. Gadog Tengah Desa Sukajadi. Para orang tua di setiap Lokasi pun ikut menyaksikan proses membaca anak-anaknya.

 


Relawan MOBAKE TBM Lentera Pustaka dengan sepenuh hati menjalankan aktivitas motor baca keliling. Tujuannya, untuk sediakan akses bacaan ke anak-anak yang di wilayahnya tidak ada tempat membaca buku. Dan terbukti, masih ada animo anak-anak Indonesia untuk membaca buku. Asal tersedia akses membaca, maka minat baca tetap besar. Seperti kiprah motor baca keliling yang menghampiri kampung-kampung untuk mengajak anak-anak membaca buku. MOBAKE TBM Lentera Pustaka yang digagas langsung oleh Pendiri TBM Lentera Pustaka sejak Februari 2022, hingga kini masih berlangsung dan berkeliling sediakan akses buku bacaan ke kampung-kampung. Dengan membawa lebih dari 200 buku dan 2 buah tikar, motor baca keliling setiap hari Minggu menyusuri jalan-jalan berliku dan tanjakan hanya untuk menyediakan akses bacaan secara konsisten dan sepenuh hati.

 

Maka saat berkiprah di taman bacaan atau motor baca keliling, tetaplah fokus pada tujuan, nikmati proses, dan biarkan hasil berbicara. Biarlah motor baca keliling terus melaju dari satu tempat ke tempat lain, dari satu anak ke anak berikutnya, membawa buku, pengetahuan, dan harapan. Sebab setiap halaman yang dibaca hari ini bisa menjadi awal dari mimpi besar yang tumbuh di masa depan. Salam literasi!





Minggu, 23 Agustus 2026

Ketika Gerbang Pendidikan Dibuka dengan Transaksi: Refleksi dari OTT Rektor Unsoed

Kasus operasi tangkap tangan (OTT) yang melibatkan Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menjadi pukulan serius bagi dunia pendidikan tinggi. Peristiwa ini bukan semata persoalan hukum yang melibatkan individu, tetapi juga menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana integritas dijaga di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu pengetahuan, karakter, dan keteladanan? Ketika seorang pimpinan perguruan tinggi terseret perkara dugaan korupsi, reputasi institusi dan kampus pun ikut dipertaruhkan.

 

Kasus ini semakin ironis adalah dugaan perkaranya berkaitan dengan proses penerimaan mahasiswa baru. Ini soal integritas, bukan ilmu pengetahuan. Karenanya, masyarakat perlu memahami, perguruan tinggi itu bukan sekadar tempat memperoleh gelar, melainkan simbol karakter, akhlak dan etika. Makanya ada budaya akademik, ada budaya kampus. Karena itu, apabila proses masuk perguruan tinggi (negeri) diduga dipengaruhi transaksi atau kepentingan tertentu, yang terancam bukan hanya aturan administratif. Tapi juga kepercayaan terhadap prinsip bahwa pendidikan harus dapat diakses berdasarkan kemampuan dan mekanisme yang adil. Semua orang berhak berpendidikan tapi cara-caranya harus etis.

 

Sudah semestinya kasus ini tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab secara hukum? Ada pertanyaan yang lebih penting bagi perguruan tinggi: apakah sistem pengawasan ada di kampus? Bagaimana budaya integritas dijalankan di perguruan tinggi? Kita sering lupa, integritas di kampus tidak cukup dibangun melalui slogan, kode etik, atau pakta integritas. Integritas itu aksi nyata, harus hadir dalam setiap proses pengambilan keputusan, apalagi yang menyangkut kepentingan mahasiswa, orang tua, dan masyarakat. Keteladanan pimpinan kampus jadi penting. Tapi sistem yang transparan dan mekanisme pengawasan yang kuat juga tidak kalah menentukan agar “nama kampus” tidak tercoreng.

 

Bila ada pimpinan kampus atau akademisi terjerat OTT atau bahkan korupsi berapapun rupiahnya, sungguh ironi. Bukan hanya mencoreng nama kampus bahkan perguruan tinggi. Apalagi bila dilakukan oleh pimpinan kampus atau guru besar bergelar professor.  Ironis paling besar adalah “menghancurkan” misi kampus sebagai tempat pendidikan karakter. Sebab kampus, bukan hanya menjadi ruang pendidikan dan mengajarkan ilmu tapi juga nilai-nilai dan karakter yang baik. Tapi begitulah faktanya, masih ada oknum yang menjadikan penerimaan mahasiswa baru sebagai “ladang transaksional”.  Di kasus Unsoed ini, diduga tokoh kuncinya akademi yang tadinya dianggap keren. Sudah jadi doktor di usia 30th,  menjabat wakil rektor di usia 40th, diangkat jadi guru besar – professor di usia 43th. Tapi akhirnya terjerat OTT di usia 44th. Sering kali, sesuatu yang kecepatan atau didasari ambisi akhirnya jadi “berantakan”.

 


Buat kalangan kampus atau perguruan tinggi, sudah semestinya kasus OTT orang kampus ini bisa jadi momentum untuk melakukan introspeksi menyeluruh terhadap tata kelola pendidikan tinggi, sekaligus pembelajaran berharga tentang integritas di kampus. Kampus harus kembali menegaskan bahwa ilmu tanpa integritas akan kehilangan maknanya bila kewenangan diberikan tanpa pengawasan. Apapun tanpa pengawasan berpotensi disalahgunakan. Kasus Unsoed menjadi pengingat bahwa menjaga nama baik kampus bukan dengan menutupi persoalan, melainkan dengan berani memperbaiki sistem, menegakkan aturan, dan memastikan bahwa ruang akademik tetap menjadi tempat di mana kejujuran dan integritas benar-benar dipraktikkan.

 

Jadi dosen atau jadi orang kampus, insya Allah cukup bila disyukuri dan menjaga integritas. Tetap sederhana, tidak punya gaya hidup, dan yang penting rajin menabung. Setelah lebih dari 32 tahun mengajar di kampus swasta di Jakarta, saya merasa cukup dan tetap menjaga integritas. Cukup, bukan berkecukupan. Tergantung orangnya, punya ambisi di kampus atau tidak?

 

Memang, integritas itu milik individu, bukan label sebuah kampus atau profesi. Kasus OTT di kampus itu jelas perbuatan oknum dan bukan representasi seluruh akademisi atau orang kampus. Tapi siapapun yang berada di lingkungan kampus “harus mikir”, kok bisa tempat pendidikan karakter sekelas kampus terjadi OTT?

 

Bila ada dari ruang akademik jadi ruang OTT, maka kita wajib bertanya “apa masih ada integritas di kampus?”



Rata-Rata Pendapatan Lansia (Pensiunan) Hanya Rp1,7 Juta, Takut Sakit karena Tak Mampu Berobat

Momentum Bulan Dana Pensiun (September2026) tahun ini menjadi alarm keras bagi upaya perluasan kepesertaan dana pensiun dan jaminan hari tua nasional, terutama saat Indonesia bersiap menggelar Indonesia Pension Fund Summit 2026. Data historis menunjukkan Indonesia tengah mengalami pergeseran demografis yang sangat masif, di mana proporsi warga lansia (pensiunan) melonjak dari hanya 4,37 persen (5,21 juta jiwa) pada Sensus Penduduk 1971 menjadi 9,93 persen (26,84 juta jiwa) pada Sensus Penduduk 2020. Diperkirakan akan mencapai 20% pada tahun 2045 nanti. Lonjakan populasi lansia hingga lima kali lipat dalam setengah abad ini menuntut keseriusan semua pihak untuk segera merumuskan solusi perlindungan finansial yang berkelanjutan sebelum krisis kesejahteraan lansia semakin mendalam.

 

Fenomena lansia (pensiunan) yang masih harus memeras keringat di usia senja kini bukan lagi sekadar pilihan aktualisasi diri, melainkan keharusan untuk bertahan hidup. Sepanjang periode 2014 hingga 2023, persentase lansia yang aktif bekerja justru meningkat sebesar 6,45 persen. Faktor pendorong utamanya adalah ketidaktersediaan jaminan pensiun yang memadai yang memaksa mereka tetap bertahan di pasar kerja demi memenuhi kebutuhan perut sehari-hari. Realita ini menjadi sorotan utama kondisi masa pensiun di Indonesia, yang menekankan bahwa tanpa perencanaan dana pensiun sejak dini, masa tua yang sejahtera hanya akan menjadi angan-angan bagi sebagian besar masyarakat.

 

Kondisi para pekerja lansia (pensiunan) ini kian diperparah oleh tren pendapatan yang rendah dan sangat fluktuatif. Pada tahun 2023, rata-rata pendapatan lansia yang bekerja hanya berada di angka Rp1,711 juta per bulan. Tren ini sempat mengalami penurunan tajam dari Rp1,56 juta pada 2019 menjadi Rp1,34 juta pada 2021, sebelum akhirnya perlahan merangkak naik ke Rp1,621 juta pada 2022. Fluktuasi pendapatan yang berada di bawah standar hidup layak ini merefleksikan betapa rentannya posisi tawar pekerja lansia di sektor informal yang tidak memiliki kepastian jaminan pendapatan rutin seperti halnya kepemilikan dana pensiun terstruktur.

 

Di sisi lain, potret ketimpangan gender dan wilayah rural memperlebar jurang kemiskinan di masa tua. Berdasarkan data Sakernas Agustus 2023, sebanyak 32,24 persen pekerja lansia terjebak dalam kategori upah rendah, dengan kerentanan tertinggi didominasi oleh lansia perempuan dan mereka yang tinggal di pedesaan. Lansia perempuan rata-rata hanya mengantongi penghasilan sebesar Rp1,182 juta per bulan, sangat timpang jika dibandingkan dengan lansia laki-laki yang menerima rata-rata Rp2,045 juta per bulan. Angka-angka ini menjadi fondasi argumen dalam Bulan Dana Pensiun mengenai pentingnya perluasan kepesertaan dana pensiun yang inklusif bagi pekerja perempuan dan sektor informal.

 

Dampak dari rendahnya pendapatan ini pada akhirnya merembet pada penurunan kualitas hidup dan kesehatan. Akibat keterbatasan finansial, banyak lansia yang akhirnya enggan atau takut mencari perawatan medis ketika sakit karena tidak mampu membayar biaya pengobatan. Kehadiran negara serta penguatan industri dana pensiun nasional melalui Indonesia Pension Fund Summit 2026 diharapkan mampu melahirkan skema jaminan kesehatan universal yang terintegrasi dan sistem kesehatan ramah lansia. Langkah konkret ini sangat krusial agar masa menua tidak dijalani dengan penderitaan, melainkan sebagai fase hidup yang sehat, produktif, mandiri, dan bermartabat guna menyongsong bonus demografi kedua Indonesia.

 


Karena itu, sebagai upaya mengkampanyekan program pensiun secara nasional, OJK bersama ADPI, ADPLK, PT. Taspen, PT. Asabri, dan BPJS Ketenagakerjaan siap menggelar "Bulan Dana Pensiun" sepanjang bulan September 2026. Kegiatan ini menjadi gerakan kolaboratif seluruh ekosistem penyelenggara program pensiun di Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mempersiapkan masa pensiun sejak usia produktif, di samping meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun di Indonesia. Kegiatan Bulan Dana Pensiun akan dilakukan oleh seluruh pelaku program pensiun di Indonesia berbentuk kegiatan dan edukasi dan pensiun kepada masyarakat.

 

Puncaknya, akan digelar "Indonesia Pension Fund Summit (IPFS) 2026" pada 24-25 September 2026 di Balai Kartini Jakarta dengan tema "Memperkuat Ekosistem Pensiun yang Berkelanjutan: Hidup Sehat, Pensiun Bahagia". IPFS 2026 akan membahas arah pengembangan industri dana pensiun Indonesia agar menjadi lebih kuat, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan, di samping meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun di masyarakat. #BulanDanaPensiun #EdukasiDPLK #IPFS2026



Sabtu, 22 Agustus 2026

Fokus Sehat Fisik dan Tenang Masa Tua: Meriahkan Kick Off Bulan Dana Pensiun 2026 di CFD Sudirman

Dalam rangka meningkatkan literasi keuangan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya ptogram pensiun dan jaminan hari tua, pelaku industri program pensiun seperti Taspen, BPJS TK, Asabri, ADPI, dan ADPLK yang difasilitasi OJK siap menggelar kampanye edukasi berskala besar melalui “Kick Off Bulan Dana Pensiun Tahun 2026”. Kegiatan pencanangan resmi ini akan diselenggarakan pada Minggu, 6 September 2026, pukul 06.00 – 09.30 WIB di area Car Free Day (CFD) GBK - Sudirman, tepatnya berpusat di depan FX Sudirman.

 

Acara akbar yang kali pertama digelar ini sebagai wadah kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemangku kepentingan utama program pensiun bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mempersiapkan masa pensiun sejak usia produktif, di samping meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun di Indonesia. Kegiatan ini direncanakan akan dihadiri langsung oleh OJK dan seluruh praktisi dan pemerhati program pensiun di Indonesia.

 

Kick Off Bulan Dana Pensiun ini mengusung konsep interaktif yang memadukan aktivitas fisik sehat dengan edukasi finansial. Agenda akan diawali dengan registrasi peserta mulai pukul 05.30 WIB, diikuti dengan kegiatan Senam Sehat bersama masyarakat umum pada pukul 06.15 WIB. Setelah sesi sambutan pelaksana dan regulator, prosesi Pencanangan Resmi Bulan Dana Pensiun 2026 akan dilaksanakan secara simbolis oleh Ketua OJK/KE PPDP bersama jajaran Direktur Utama TASPEN, ASABRI, BPJS-TK, serta Ketua ADPI dan ADPLK.

 

Masyarakat umum yang hadir di area CFD juga dapat mengunjungi Pension Festival, sebuah pameran booth edukatif yang diikuti oleh DPPK, DPLK, OJK, TASPEN, ASABRI, dan BPJS TK. Di festival ini, pengunjung dapat mengakses zona edukasi interaktif serta memanfaatkan layanan pojok konsultasi pensiun secara gratis guna mendiskusikan perencanaan masa depan mereka bersama para ahli program pensiun. Sebagai pelengkap edukasi, panggung utama akan menghadirkan Mini Talkshow interaktif bertajuk "Merencanakan Pensiun di Era Digital" dengan panel narasumber dari pakar keuangan serta public figure .

 


Kemeriahan acara akan ditutup dengan pengundian aneka doorprize menarik bagi para peserta yang hadir sebelum acara berakhir pada pukul 09.30 WIB. Melalui sinergi erat ini, diharapkan masyarakat luas—khususnya generasi muda pekerja—mulai bergerak aktif untuk merencanakan masa pensiun yang sejahtera, mandiri, dan bahagia di era digital

 

Sepanjang bulan September 2026, seluruh pelaku program pensiun di Indonesia akan melakukan edukasi dan kampanye pentingnya mempersiapkan masa pensiun melalui Bulan Dana Pensiun 2026. Puncaknya, akan digelar "Indonesia Pension Fund Summit (IPFS) 2026" pada 24-25 September 2026 di Balai Kartini Jakarta dengan tema "Memperkuat Ekosistem Pensiun yang Berkelanjutan: Hidup Sehat, Pensiun Bahagia". IPFS 2026 nantinya menjadi forum strategis yang mempertemukan regulator, pemerintah, pengelola dana pensiun, lembaga jasa keuangan, organisasi internasional, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas arah pengembangan industri dana pensiun Indonesia agar menjadi lebih kuat, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Salam Yuk Siapkan Pensiun!

Jumat, 21 Agustus 2026

Bukan Soal Jabatan, Ini Rahasia Menjadi Pribadi Berkelas yang Dihormati Orang Lain

Rasa hormat sejati dari orang-orang di sekitar kita rupanya tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan, gelar akademik, atau seberapa melimpah kekayaan yang dimiliki seseorang. Alih-alih mengandalkan status sosial, wibawa yang asli justru tumbuh secara organik dari kekuatan karakter, ketenangan diri, dan cara seseorang bersikap dalam kehidupan sehari-hari.

 

Pribadi yang paling dihormati bukanlah orang yang berada di posisi paling atas, melainkan orang yang mampu berdiri paling tenang dan tahu cara menempatkan diri tanpa harus panik ketika tidak disukai orang lain. Untuk membangun karakter yang kokoh, ada beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan guna menanam rasa hormat secara alami tanpa perlu memaksakannya.

1. Menetapkan batasan diri yang tegas (boundaries). Menjadi pribadi yang terlalu mudah didekati atau selalu siap sedia kapan saja tanpa batasan justru dapat menurunkan nilai diri kita. Ketika kehadiran kita selalu diumbar tanpa batas, orang lain akan mulai menganggapnya sebagai kewajiban biasa, bukan lagi sebuah pilihan atau hak istimewa.

2. Menjaga batas komunikasi dan privasi. Kedekatan personal adalah hak istimewa yang harus diuji oleh waktu, situasi, dan tingkat kepercayaan, bukan sesuatu yang langsung diobral murah kepada semua orang. Oleh karena itu, penting untuk tidak terburu-buru akrab atau terlalu terbuka menceritakan detail privasi hidup kita (oversharing). Selain itu, hargai batas privasi orang lain, misalnya dengan tidak menelepon lebih dari dua kali jika tidak diangkat sebagai sinyal untuk tahu kapan harus mundur.

3. Menguasai seni menahan diri. Karakter yang berkelas juga tercermin dari kemampuan menahan diri. Simpanlah nasihat berharga kita sampai ada orang yang memintanya secara langsung. Begitu pula dengan rencana masa depan; simpanlah sebagai kekuatan misteri dan biarkan hasil kerja nyata yang membuktikannya ke publik alih-alih menjadikannya sekadar bahan konten.

4. Membangun kemandirian finansial. Seberapa mandiri seseorang dalam mengatur hidupnya menjadi salah satu pilar penting dalam menumbuhkan rasa hormat. Memiliki jaring pengaman seperti membangun lebih dari satu sumber penghasilan—baik melalui investasi, usaha sampingan, atau kerja lepas—akan menjaga kemandirian kita agar tidak bergantung hanya pada satu pintu kehidupan saja.

5. Berhenti menyenangkan semua orang dan menjaga prinsip. Menyadari bahwa menyenangkan semua orang bukanlah tugas kita adalah langkah krusial untuk menjaga batas energi diri. Dibanding sibuk mencari validasi eksternal, fokuslah untuk memegang teguh prinsip dan melakukan hal-hal yang benar-benar kita yakini, sehingga kita tidak mudah disetir atau dikendalikan oleh ekspektasi orang lain.

6. Membudayakan rasa terima kasih. Tindakan sederhana namun bernilai mahal seperti mengucapkan terima kasih yang tulus atas bantuan orang lain adalah penanda utama kepribadian yang berkelas. Ucapan terima kasih yang tulus ini jauh lebih kuat dan bermakna dibandingkan seribu basa-basi pujian.

 

Pada akhirnya, tujuan utama dari pembentukan karakter ini bukanlah untuk mengejar popularitas semata, melainkan untuk bertransformasi menjadi pribadi tenang dan berkelas yang kehadirannya senantiasa mampu memberikan rasa nyaman bagi orang-orang di sekitar kita. Salam literasi!