Jumat, 10 April 2026

Kisah Pak Darto Pensiunan: Terbelit Utang dan Gagal Bayar

Pak Darto dulu dikenal sebagai karyawan yang rajin dan setia di sebuah perusahaan swasta di jakarta. Selama lebih dari 26 tahun bekerja, ia selalu datang paling pagi dan pulang paling akhir. Namun, di balik kerja keraasnya, ada satu hal yang ia abaikan selama bekerja: tidak menyiapkan masa pensiun. Terlalu enak kerja dan cuek terhadap hari tuanya sendiri. Baginya, gaji bulanan hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan sedikit gaya hidup. Tidak ada gaji yang disisihkan untuk tabungan pensiun. Ia selalu berpikir, “Pensiun nanti saja, masih lama.”

 

Setiap kali ada rekan kerja yang mulai membicarakan tabungan hari tua atau program pensiun, Pak Darto hanya tersenyum. Mau tahu tapi tidak mau siapkan. Ia lebih memilih menggunakan penghasilannya untuk merenovasi rumah, membeli kendaraan baru, dan membantu kebutuhan keluarga besar. Ia merasa selama masih bekerja dan sehat, semua akan baik-baik saja. Masa pensiun terasa terlalu jauh untuk dikhawatirkan.

 

Waktu pun berlalu tanpa terasa. Pak Darto akhirnya mencapai masa pensiun, saatnya berhenti bekerja. Di hari terakhirnya bekerja, ia menerima uang pesangon yang menurutnya cukup besar. Ia merasa lega, bahkan sempat berpikir hidupnya akan tetap nyaman. Kan ada uang pesangon, pikiran. Namun, tanpa perencanaan yang matang, uang pesangon perlahan habis, tidak sampai 2 tahun setelah pensiun. Sebagian untuk membantu anak, sebagian untuk kebutuhan sehari-hari, dan sebagian lagi untuk memenuhi keinginan yang dulu tertunda.

 


Memasuki tahun ketiga masa pensiun, keadaan mulai berubah. Gaji sudah tidak ada, uang pesangon sudah habis. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Biaya makan sehari-hari, listrik, air, internet di tumah, hingga kebutuhan kesehatan semakin terasa berat. Pak Darto mulai mengambil utang kecil untuk menutupi kekurangan biaya bulanannya. Awalnya ia yakin bisa mengatur, tetapi kenyataannya semakin sulit.

 

Utang itu kemudian menumpuk. Dari pinjaman tetangga hingga cicilan di koperasi, semuanya mulai jatuh tempo. Tanpa penghasilan tetap, Pak Darto mulai kesulitan membayar utang. Ia yang dulu dihormati sebagai pekerja keras kini harus menghadapi kenyataan pahit di hari tua: gagal bayar utang. Rasa malu dan penyesalan perlahan menghantui hari-harinya.

 

Dalam kesunyian rumahnya, Pak Darto sering termenung sendiri. Ia mulai menyadari bahwa kesalahannya bukan karena kurang bekerja keras, melainkan karena tidak merencanakan masa masa pensiunnya sendiri. Ia terlalu fokus pada hari ini, tanpa memikirkan hari esok. Setiap tagihan yang datang seperti pengingat akan keputusan-keputusan masa lalunya. Dan semuanya sudah terlambat, kini Pak Darto hidup dalam belitan utang dan kekuarangan secara finansial.

 

Di usia senja, Pak Darto hidup dengan keterbatasan dan penyesalan. Ia berharap waktu bisa diputar kembali, agar ia bisa mulai menabung untuk pensiun sejak dulu. Sayang semuanya sudah terlambat bagi Pak Darto. Kisah Pak Darto hanya menjadi pelajaran berharga: bahwa masa pensiun bukan sekadar akhir dari bekerja, tetapi awal dari kehidupan yang harus dipersiapkan dengan bijak sejak dini. Maka selali masih bekerja, siapkanlah masa pensiun kita sendiri. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DanaPensiun



Kamis, 09 April 2026

Literasi Kebaikan: Knowing the Good atau Doing the Good?

Kebaikan itu tidak cukup berhenti pada pengetahuan karena pada dasarnya nilai moral baru memiliki makna ketika diwujudkan dalam tindakan nyata. Seseorang bisa saja memahami apa itu jujur, adil, atau peduli, tetapi tanpa perilaku yang mencerminkan nilai-nilai tersebut, pengetahuan itu belum memberi dampak apa pun bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

Dalam filsafat moral, sangat jelas dibedakan antara “knowing the good” dan “doing the good”. Yang pertama bersifat kognitif, sedangkan yang kedua bersifat praksis. Kebaikan yang hanya diketahui ibarat peta tanpa perjalanan: memberi arah, tetapi tidak membawa kita ke tujuan.

 

Maka salah satu indikator kebaikan, tanpa basa-basi. Silakan cek saja, apakah kita sudah memiliki 7 tanda baik di dalam diri sendiri:

 

1. Tidak sibuk menjatuhkan orang. Karena kkita lebih suka damai daripada drama. Energi kita terlalu berharga buat dihabiskan untuk hal-hal negatif.

2. Mudah memaafkan. Bukan kita lupa sakitnya tapi kita sadar, dendam itu berat. Dan kita lebih memilih yang ringan-ringan saja.

3. Tidak iri dengan rezeki orang. Karena kita tahu, tiap orang punya timeline hidupnya sendiri, punya ikhitar masing-masing. Jika sudah hak kita, nggak bakal salah Alamat pastinya.  

4. Tetap tenang saat disalahpahami. Karena nggak semua tuduhan butuh penjelasan. Yang penting, kita tahu siapa diri kita sebenarnya.



5. Senang membantu tanpa pamrih. Karena hati kita punya ruang luas untuk berbagi. Kita memberi bukan untuk dilihat tapi bentuk vibrasi rasa bahagia kita sendiri.

6. Tidak haus validasi. Kita tetap berbuat baik walaupun nggak ada yang lihat. Karena standar kita bukan tepuk tangan manusia.

7. Menjaga lisan. Sebab kita paham: kata bisa jadi doa atau bisa jadi luka. Maka itulah, kita berhati-hati dalam lisan bahkan Tindakan.

 

Kebaikan itu tafsirnya Tunggal, tidak bias. Sebab ajarannya pun jelas. Karena itu, hanya perilaku dan Tindakan yang membuat kebaikan jadi terlihat, teruji, dan dirasakan dalam kehidupan sosial. Orang lain tidak bisa menilai isi pikiran kita, tetapi bisa merasakan dampak dari tindakan kita. Apakah kita menolong, menghargai, atau justru merugikan? Dengan bertindak baik secara konsisten, seseorang juga membentuk karakter dan kebiasaan yang memperkuat nilai-nilai baik dalam dirinya.

 

Jadi, kebaikan perlu “ciri” dalam perilaku karena di situlah ia menjadi nyata, membangun kepercayaan, dan menciptakan perubahan yang konkret. Maka kenali 7 tanda baik pada diri sendiri, tidak perlu menyalahkan orang lain. Salam literasi!

 

Tafsir Soal Dana Kompensasi Pascakerja atau Dana Pesangon di DPLK?

Sesuai Edaran terkait Penyelenggaraan Dana Kompensasi Paska Kerja di DPLK dari PPDP OJK No: S-11/D.05/2026 tanggal 30 Maret 2026, dinyatakan terdapat perbedaan pemahaman/penafsiran atas ketentuan terkait pengelolaan Dana Pesangon, khususnya yang diatur dalam POJK No. 27/2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Dana Pensiun.

 

Ditegaskan, Dana Pesangon (Dana Kompensasi Pascakerj – DKP) dapat dikategorikan sebagai Manfaat Pensiun Lainnya apabila manfaat yang diterima mengikuti ketentuan mengenai manfaat pensiun sebagaimana diatur dalam Bab III POJK 27/2023, khususnya Bagian Ketiga Manfaat Pensiun DPLK (cermati Pasal 65 s.d. 78).

 

Bisa jadi, perbedaan pemahaman antar Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) dalam mengelola Dana Kompensasi Pascakerja (dana pesangon) akibat “masih adanya ruang interpretasi” dari regulasi yang ada. Karena memang, regulasi lebih mengatur prinsip-prinsip umum penyelenggaraan dana pensiun, termasuk fleksibilitas dalam desain program dan pengelolaan manfaat, namun tidak selalu memberikan petunjuk teknis yang sangat rinci untuk setiap skema, termasuk dana pesangon. Akibatnya, masing-masing DPLK menafsirkan batasan dan ruang lingkup pengelolaan dana pesangon secara berbeda sesuai dengan pemahaman internal dan kebijakan institusinya.

 

Di sisi lain, beda tafsir muncul karena adanya irisan antara ketentuan dana pensiun dan regulasi ketenagakerjaan, khususnya yang diatur dalam UU No. 6/2023 tentang Perppu cipta Kerja atau PP No. 35/2021 tentang tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja. Dana pesangon pada dasarnya adalah kewajiban pemberi kerja kepada pekerja. Sebagai uang kompensasi atau penghargaan yang wajib dibayarkan pemberi kerja/prusahaan kepada karyawan akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau berakhirnya masa kerja. Nah, ketika dana pesangon dikelola melalui DPLK, timbul pertanyaan apakah mekanismenya harus sepenuhnya mengikuti prinsip dana pensiun atau tetap tunduk pada karakteristik kewajiban pesangon? Interpretasi pada titik inilah membuat DPLK memiliki interpretasi berbeda terkait mekanisme pembayaran manfaat, ketentuan usia, cara administrasi dana, pola iuran, bahkan penerapan pajaknya.

 

Ambil contoh saja dan sebagai bahan diskusi. Di JHT BPJS, pembayaran manfaat dilakukan secara lumpsum (sekaligus) namun harus mencapai usia 56 tahun dengan pajak final 5%, sementara uang pesangon (bila didanakan self funding oleh perusahaan), maka dibayarkan sepenuhnya dari “kantong” perusahaan dengan syarat “terjadi berakhirnya masa kerja” si karyawan (PHK, pensiun, meninggal dunia) dengan pajak progresif (walau kebijakan perusahaan bisa gross atau net). Nah, bagaimana dana pesangon yang didanakan melalui DPLK? Pembayaran manfaatnya lumpsum (sekaligus) dalam jumlah tertentu atau berkala bila melebih julah tertentu? Bila belum mencapai usia pensiun (UPD/UPN), tentu pajaknya progresif dan/atau “ditunda”? Jangan sampai usia pensiun belum tercapai, mau dibayar lumpsum dan pajak 5% final? Ini butuh pemahaman bersama dan tentu edukasi yang permanen.

    

Faktor lain yang menyebabkan variasi penafsiran adalah belum seragamnya pemahaman mengenai klasifikasi program. Sebagian DPLK, mungkin menganggap dana pesangon sebagai bagian dari program pensiun iuran pasti (PPIP) yang dimodifikasi (apa iya?), sementara yang lain melihatnya sebagai skema terpisah yang hanya “dititipkan” pengelolaannya. Perbedaan klasifikasi ini, tentu berdampak pada sistem administrasi, cara pengelolaan investasi, pencatatan akuntansi, hingga perlakuan terhadap risiko, sehingga implementasinya di lapangan menjadi tidak seragam. Lagi-lagi, kita butuh diskusi dan kesepahaman terkait administrasi dan operasional dana kompensasi pascakerja atau dana pesangon di DPLK.

 

Juga tidak kalah penting, soal tingkat kesiapan dan kapasitas masing-masing DPLK ikut  memengaruhi interpretasi regulasi. DPLK yang memiliki pengalaman “lebih panjang” dan sistem yang matang cenderung mengembangkan penafsiran yang lebih komprehensif dan berhati-hati. Sebaliknya, DPLK yang “masih berkembang” mungkin lebih konservatif atau justru lebih fleksibel dalam menafsirkan ketentuan, tergantung pada strategi bisnis dan kapasitas pemahaman program secara internal. Di sini, akhirnya timbul “mazhab berbeda” terkait dana pesanon. Lagi-lagi, kapasitas dan kompetensi tanpa disadari makin memperlebar perbedaan implementasi antar DPLK soal dana pesangon.

 

Mari kita ambil contoh, ketika sebuah perusahaan ikut Dana Kompensasi Pascakerja (DKP) di DPLK, apakah daftar nama karyawan yang berhak menerima manfaat ikut dilampirkan dan dicatat dalam sistem administrasi tersendiri? Bila iya, apa digabungkan dengan peserta PPIP? Lalu, komunikasi apa yang dilakukan untuk meng-update jumlah dan rincian karyawan yang berhak menerima manfaat? Semua layak didiskusikan dan disepahamkan.

 


Bila mau jujur, dinamika industri dan bisnis terus berkembang. Konstelasi pekerja atau karyawan pun kian kompleks. Maka program terkait dana pensiun sukarela, termasuk dana kompensasi pascakerja pun butuh adaptasi ke arah yang lebih baik. Agar DPLK lebih dipercaya, regulasi disesuaikan dinamika, tata kelolanya baik, manajemen risiko efektif, dan yang penting melindungi kepentingan peserta (baik pemberi kerja maupun karyawan). Apapun programnya, jangan sampai hanya “begitu-begitu saja atau begini-begini saja”. Sebagai contoh, secara subjektif, dana kompensasi pascakerja “tidak bisa lagi” ditawarkan kepada seluruh pekerja di suatu perusahaan hanya atas adanya “kewajiban bayar pesangon”. Harus bisa diverifikasi tingkat turn over pekerja seperti apa? Dengan kata lain, program DKP sebaiknya difokuskan pada “pekerja yang loyal dan bakal pensiun di suatu perusahaan”, bukan yang bakal di-PHK. Atau program DKP diberikan kepada karyawan yang punya masa kerja di atas 5 tahun (karena loyalitasnya teruji) sehingga tidak menimbulkan “tafsir beda” di kemudian hari.

 

Berbeda penafsiran, tentu sah-sah saja. Tapi jangan dibiarkan berlama-lama, karenanya perlu ada ruang diskusi untuk “saling adu argumentasi” sehingga “disepakati” argumen yang paling bisa diterima atau masuk akal terkait program di DPLK sebagai “best practice”. Itulah yang disebut kesamaan pemahaman. Jangan sampai program-nya sama DKP tapi impelmetasi dan pemahamannya berbeda. Regulasi dibuat, tentu untuk mencapai kesamaan pemahaman sebagai “standar praktik” bersama. Bila perlu, regulasi dapat disesuaikan bila dinamika dan pasar menghendakinya. Apapaun, pemahaman bersama menuju “tafsir tunggal” tentu lebih baik daripada bertahan pada “tafsir ganda”. Setuju kan?

    

Bila perlu, untuk mengurangi pemahaman beda yang melebar di DPLK, tidak ada salahnya dibuat kesepakatan berupa “pedoman teknis” atas suatu program di DPLK. Termasuk urusan “fee” yang “layak” di pasar, bukan fee yang “banting-bantingan”. Untuk apa? Agar tercapai pemahaman dan interpretasi yang sama tentang apapun di DPLK. Sebab, tanpa panduan yang seragam dan rinci, DPLK cenderung mengandalkan interpretasi masing-masing atau hasil konsultasi terbatas, yang tidak selalu konsisten dan belum sepenuhnya tepat. Lagi-lagi, tradisi berdiskusi dan komunikasi yang ajeg di DPLK memang perlu diperkokoh.

 

Pada akhirnya di DPLK, praktik industri dan kebutuhan pasar terus berdinamika. Karenanya selalu ada potensi tafsir yang berbeda. Setiap pemberi kerja memiliki kebutuhan yang berbeda dalam mengikuti program pensiun di DPLK, berbeda pula cara memenuhi  kewajiban pesangon kepada karyawannya. Karena itu, DPLK  pun harus berupaya menyesuaikan produk dan layanan agar tetap kompetitif dan sesuai regulasi yang berlaku. Lagi-lagi, ruang diskusi untuk menguji tafiran jadi makin perlu dan penting. Sebab, bila interpretasi terhadap regulasi hanya bersifat pragmatis maka ke depan berpotensi pula menimbulkan disparitas alias ketimpangan.

 

Karenanya, yuk diskusi melalui mekanisme yang objektif (bukan subjektif) untuk kemajuan industri DPLK ke depan dalam memenuhi kebutuhan pemberi kerja dan pekerja terkait dana pensiun sukarela. Dialog industri, penguatan kapasitas SDM, regulasi turunan, dan peningkatan literasi dan edukasi atas regulasi harusnya menjadi kunci untuk memajukan industri DPLK ke depan.

 

Pastinya, DPLK adalah program yang mulia untuk mempersiapkan kenyamanan pekerja saat pensiun, saat tidak bekerja lagi. Bisnia iktikad baik untuk hari tua. Maka kata Broery Marantika, biar "jangan ada dusta di antara kita". Salam semangat #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DanaPensiun



Unindra Gelar Lomba Pidato Bahasa Inggris tahun 2026 untuk Siswa, Mahasiswa, dan Guru

Lembaga Pengembangan Bahasa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) kembali menyelenggarakan Speaking Contest 2026 sebagai ajang penguatan kemampuan berpikir kritis, literasi, dan keterampilan public speaking generasi muda di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

 

Mengusung tema “Speaking in the AI Era: Literacy, Education, and Creativity of the Future Generation”, kompetisi ini terbuka bagi siswa SMA/SMK/MA, mahasiswa, serta guru SMP/SMA/SMK/MA dari berbagai daerah.

 

Rektor Unindra, Prof. Dr. Sumaryoto, menyambut baik kegiatan ini sebagai wujud inovasi institusi dalam pengembangan literasi bahasa dan peningkatan kemampuan berbahasa Inggris.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Unindra dalam meningkatkan literasi bahasa dan kemampuan memahami Bahasa Inggris sesuai dengan tuntutan dunia pendidikan saat ini,” ujarnya.

 

Kepala Lembaga Pengembangan Bahasa (LPB) Unindra, M. Kabul Budiono, menegaskan bahwa ajang ini memiliki nilai strategis dalam membangun kompetensi generasi muda.

“Ajang ini dirancang tidak sekadar sebagai lomba pidato, tetapi juga sebagai ruang aktualisasi gagasan dan kemampuan komunikasi peserta dalam merespons tantangan era digital. Peserta dituntut mampu menyampaikan ide secara kritis, kreatif, dan komunikatif dalam bahasa Inggris. Kompetisi ini juga menunjukkan kesungguhan Unindra dalam penyelenggaraan mata kuliah Bahasa Inggris,” jelasnya.

 

Kompetisi dibagi dalam dua skema, yaitu kategori kelompok untuk siswa (2–3 orang per tim) serta kategori individu untuk mahasiswa dan guru. Setiap peserta diwajibkan mengirimkan naskah gagasan dengan tingkat kemiripan maksimal 25 persen serta video presentasi berdurasi 5–10 menit.

 

Sekretaris LPB Unindra yang juga Ketua Panitia, Dr. Muhammad Sulhan, menyampaikan bahwa proses seleksi akan dilakukan secara ketat untuk menjaring peserta terbaik.

“Melalui tahapan seleksi yang objektif dan profesional, kami berharap dapat menghadirkan finalis yang tidak hanya unggul secara bahasa, tetapi juga memiliki kualitas gagasan yang kuat dan relevan dengan perkembangan zaman,” ungkapnya.



 

Proses seleksi akan menentukan lima peserta terbaik pada setiap kategori untuk melaju ke babak final yang dijadwalkan berlangsung pada 21 Mei 2026. Selain memperoleh uang pembinaan dan peluang beasiswa, para finalis juga akan mendapatkan pengalaman edukatif dan inspiratif. Sebanyak lima pemenang di masing-masing kategori akan dihadirkan pada acara final, mengikuti campus tour Universitas Indraprasta PGRI, serta berkesempatan melakukan kunjungan edukatif ke TVRI World dan RRI World (Voice of Indonesia). Dua lembaga penyiaran publik ini, yaitu RRI Siaran Luar Negeri atau yang dikenal Voice of Indonesia  ( VOI ) dan TVRI World menjadi media partner dalam kegiatan kompetisi Pidato Bahasa Inggeris yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Bahasa Unindra. Baik VOI maupun TVRI World adalah stasiun penyiaran LPP RRI dan TVRI yang bertugas menyiarkan program ke luar negeri.

 

Rangkaian kegiatan dimulai dari pendaftaran pada 1 April hingga 10 Mei 2026, dilanjutkan dengan tahap penjurian pada 11–15 Mei 2026, serta pengumuman finalis pada 17 Mei 2026.

Menariknya, kompetisi ini memberikan akses luas bagi pelajar dengan bebas biaya pendaftaran untuk kategori siswa, sementara mahasiswa dan guru dikenakan biaya yang relatif terjangkau, masing-masing Rp25.036 dan Rp50.036.

 

Melalui kegiatan ini, Unindra menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam penguasaan bahasa, tetapi juga memiliki daya pikir kritis, kreativitas tinggi, serta kesiapan menghadapi transformasi global di era AI. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi: Puji Anto (0813 8397 2448) Email: unindra.lpb@gmail.com

Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan - https://forms.gle/eu9zArkU6mHam8jX

Informasi selengkapnya dapat mengunjungi  https://lpb.unindra.ac.id/index.php/speaking-contest-2026/

 

Literasi Para Doktor: Ilmu Jangan Terbang saat Dipuji, Jangan Hancur saat Diabaikan

Di suatu sore yang hangat masih di suasana Idulfitri 1447 H, lima sahabat yang dulu satu kelas S3 di 18KS2 (Angkatan 2018) Program Doktoral Manajemen Pendidikan Unpak sekaligus dosen Universitas Indraprasta PGRI Jakarta akhirnya bersilaturahmi sambil menikmati ketupat padang + tunjang. Sederhana tapi berkesan, begitu obrolan yang dibangun sambil berkisah masa-masa kuliah dan menuntaskan disertasi. Di balik kesibukan tugas mengajar masing-masing, sebut saja “sidang” para doktor ini menjadi bagian komitmen untuk merawat pertemanan plus obrolan ringan dan serius.

 

Mereka adalah Dr. Dasmo, Dr. Huri, Dr. Ghufron, Dr. Irwan, dan Dr. Syarif mewakili 23 orang teman sekelas 18KS2 S3 MP Unpak menjaga soliditas sejawat, di samping ngobrol ilmiah yang bernas untuk publikasi jurnal ilmiah. Pertemuan itu berlangsung di tempat kuliner pinggir jalan dekat kampus, dengan suasana santai namun penuh kehangatan. Tawa dan cerita masa lalu mengalir begitu saja, seolah waktu tidak pernah memisahkan masa-masa di kelas dulu.

 

Setelah obrolan ringan tentang masa-masa perjuangan dan pekerjaan, diskusi perlahan beralih ke topik yang lebih serius. Ngobrol tentang publikasi jurnal ilmiah, tantangan dunia pendidikan, hingga obrolan pentingnya menyiapkan masa pensiun. Karena siapapun, cepat atau lambat pasti akan pensiun. Masalahnya, apakah punya kesinambungan penghasilan di hari tua atau bergantung kepada anak? Biar tidak hanya asyik mengajar tapi juga mulai mempersiapkan hari tua dengan lebih baik.

 

Sementara obrolan penuh canda berlanjut, mulailah suguhan khas “teh talua pinang” dihidangkan ke atas meja. Segelas minuman tradisional yang popular, dikenal berkhasiat meningkatkan stamina pria secara drastis, mengurangi kelelahan, dan memberikan kehangatan tubuh. Kombinasi kuning telur bebek, teh, dan parutan pinang muda ini kaya nutrisi untuk meningkatkan energi, melancarkan peredaran darah, serta berpotensi menjaga kesehatan jantung. Sebuah bukti para doktor pun peduli terhadap Kesehatan, tentu lahir dan batin.

 

Energi teh talua pinang yang membara, akhirnya membawa obrolan berujung pada tekad untuk tetap menjalin silaturahmi sesama teman sekelas semasa kuliah S3 MP di 18KS2 Unpak. Sebagai cara untuk menjaga semangat kebersamaan sekaligus berbagi cerita ringan tentang apapun. Boleh serius boleh topik-topik yang rileks. Untuk menjaga keseimbangan hidup lahir batin, tetap rileks di tengan kesibukan mengajar.



Diskusi semakin hidup ketika mereka mulai saling mengaitkan perspektif masing-masing, dari berbagai latar belakang program studinya. Ada yang dari Bahasa Indonesia, Bahasa Inggria, Fisika, dan Biologi namun dalam rumpun pendidikan. Meskipun program studinya berbeda, mereka menemukan titik temu: “bahwa solusi terbaik ilmu adalah yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis kolaborasi”. Percakapan pun terasa seperti kembali ke masa kuliah dulu, idenya liar namun semangatnya tetap objektif. Di situlah bukti, betapa saling terhubungnya berbagai bidang ilmu bila diikat dengan pertemanan.

 

Tidak terasa waktu Magrib tiba, siding para doktor ditutup. Sebagian Kembali ke rumah, sebagian mengajar kelas malam. Diiringi rasa syukur dan harapan baru untuk tetap menjaga silaturahmi. Bersepakat untuk tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi juga merancang kolaborasi bersama yang positif. Sidang para doktor ini bukan sekadar temu kangen, melainkan awal dari melanggengkan persahabatan untuk memberi dampak nyata kepada masyarakat.

 

Dalam gelapnya malam, lima doktor itu “membungkus” satu keyakinan: ilmu akan lebih bermakna jika dibagikan dan diperjuangkan bersama. Dan akhirnya, ilmu tidak boleh terbang saat dipuji, tidak boleh hancur saat diabaikan. Salam sidang para doktor.


Rabu, 08 April 2026

Literasi Dana Pensiun: Hidup Sederhana di Hari Tua

Di sebuah sudut kota kecil, hiduplah seorang pria bernama Arif yang dikenal sederhana oleh orang-orang di sekitarnya. Ia tidak memiliki rumah mewah, tidak pula kendaraan mahal. Pakaian yang dikenakannya biasa saja, bahkan sering terlihat itu-itu saja. Namun, setiap kali orang bertemu dengannya, ada satu hal yang selalu sama: wajahnya tenang, senyumnya tulus, dan sorot matanya terasa ringan tanpa beban.

 

Arif bekerja sebagai pengelola taman bacaan kecil di lingkungannya. Penghasilannya tidak besar, bahkan sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi ia tidak pernah terlihat mengeluh. Baginya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa cukup ia merasa. Setiap hari, ia melayani anak-anak yang datang membaca, mengajari mereka dengan sabar, dan pulang dengan hati yang penuh, meski kantongnya tidak selalu penuh.

 

Malam hari adalah waktu yang paling ia nikmati. Tanpa pikiran yang berisik tentang persaingan atau keinginan untuk terlihat hebat di mata orang lain, Arif bisa tidur dengan nyenyak. Ia makan dengan sederhana, tapi selalu terasa nikmat karena tidak dibumbui oleh kecemasan. Hidupnya mungkin tampak biasa dari luar, tetapi di dalam, ia merasakan ketenangan yang jarang dimiliki banyak orang.

 

Suatu hari, seorang teman lamanya datang berkunjung. Temannya itu sukses secara materi: rumah besar, mobil mewah, dan kehidupan yang tampak sempurna. Namun, di balik semua itu, ia mengaku sulit tidur, pikirannya penuh tekanan, dan hidupnya terasa berat. Makanan pun sudah banyak yang dilarang.. Ia heran melihat Arif yang tampak bahagia dengan kehidupan yang jauh lebih sederhana. “Apa rahasianya?” tanyanya dengan penasaran.

 


Arif hanya tersenyum dan menjawab pelan, “Saya tidak mengejar untuk terlihat tinggi di mata orang lain. Saya hanya berusaha tidak meninggikan diri. Prinsip saya sederhana: merendahkan hati, meningkatkan mutu. Kalau hati rendah, kita tidak mudah iri. Kalau mutu meningkat, kita tetap bertumbuh tanpa harus pamer.” Jawaban itu sederhana, tapi mengena, seolah membuka sesuatu yang selama ini terlupakan.

 

Sejak hari itu, temannya mulai belajar dari Arif. Bukan tentang bagaimana memiliki lebih banyak, tetapi bagaimana merasa cukup. Arif tetap menjalani hidupnya seperti biasa, tanpa berubah. Ia tidak dikenal luas, tidak dipuji banyak orang, tetapi hidupnya penuh berkah yang tidak bisa dihitung. Karena pada akhirnya, yang membuat hidup terasa kaya bukanlah apa yang terlihat, melainkan apa yang dirasakan di dalam hati.

 

Dan yang tidak kalah penting, saat hidup di hari tuanya, Arif sudah mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Agar tidak merepotkan anak, tidak bergantung pada orang lain. Tetap ikhtiar berbuat baik dan menebar manfaat selagi bisa dan mampu. Di usia senja, bersyukur bisa menikmati apa yang dimiliki, tentu sudah cukup!

 


12 Hal Realitas Hidup, Harus Terima!

Belakangan banyak orang keluh-kesah soal realitas hidup. Susah menerima dan tidak mau jujur pada dirinya sendiri. Bahwa dalam hidup, tidak ada satu orang pun yang baik-baik saja. Semua ada masalahnya sendiri. Tinggal bagaimana menyikapi realitas hidup. Bila mampu, ikhtiar untuk diselesaikan. Bila tidak mampu, di situlah pentinya sikap bijak dalam menyikapinya.

 

Ini bukan soal uang, bukan soal pangkat apalagi jabatan. Tapi tentang literasi kehidupan. Cara untuk menerima realitas hidup. Agar tetap waras, bukan malah terpuruk karena keadaan.

 

Setidaknya ada 12 (dua belas) realitas hidup yang harus disikapi. Agar bisa tetap tumbuh dan ikhtiar yang baik, apapun keadaannya. Sadarilah tiap realitas hidup yang mungkin terjadi dan bisa dialami siapapun bahwa:

1. Orang tua kita tidak akan selalu ada selamanya.

2. Orang yang kita cintai akan menyakiti, entah disengaja atau tidak.

3. Teman bisa berubah jadi orang asing lebih cepat dari yang kita kira.

4. Keluarga dan uang adalah dua hal yang paling berpengaruh.

5. Hidup tidak akan menjadi lebih mudah, justru kita yang harus menjadi lebih kuat. 

6. Patah hati dan kegagalan selalu ada dan jadi bagian dari kehidupan.

7. Tidak seorang pun peduli pada alasan kita, mereka hanya ingin melihat hasilnya.

8. Kesuksesan seringkali menuntut pengorbanan kenyamanan.

9. Tidak ada tempat seaman dan senyaman rumah.

10. Kita tidak berhak mendapatkan apa pun begitu saja, semuanya harus diperjuangkan.

11. Selalu ada orang yang tidak senang pada kita, tidak mungkin semuanya senang.

12. Tidak ada satu orang pun yang baik-baik saja, hanya soal cara menjalaninya yang beda.

 

Maka bersikaplah realistis dalam hidup. Jangan hidup dalam angan dan mimpi. Hadapi apapun yang terjadi dengan lapang hati, sabar, dan syukur. Sebab hidup di mana pun memang tidak selalu mudah. Tapi selalu ada ruang untuk tumbuh, belajar, dan memperbaiki diri. Selalu ada hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk membuat hidup menjadi lebih bermakna. Literat itu mampu menerima realitas hidup, jadilah literat. Salam literasi!



Literasi Dana Pensiun: Pekerja Cemas Finansial di Hari Tua

Raka dikenal sebagai pekerja keras. Profesional dan disiplin saat bekerja. Setiap pagi ia berangkat lebih awal, pulang paling akhir, dan jarang mengeluh. Sayangnya, bekerja bagi Raka adalah cara untuk bertahan hidup hari ini. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan hari tua. Masa pensiun dianggapmasih jauh, terlalu dini untuk dikhawatirkan. Selama gaji masih cukup untuk kebutuhan bulanan, ia merasa semuanya baik-baik saja.

 

Masa 20 tahun bekerja bagi Raka akhirnya tiba. Waktu berjalan tanpa terasa. Rambutnya mulai memutih, tenaganya tidak lagi sekuat dulu. Suatu hari, ketika melihat rekan kerjanya yang lebih muda dengan mudah menyelesaikan pekerjaan yang dulu terasa ringan baginya, Raka merasa ada yang berubah. Untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam hati: “Kalau nanti aku tidak bisa bekerja lagi, bagaimana hidupku?”

 

Pertanyaan tentang masa pensiun menghantuinya. Di malam hari, saat rumah sudah sunyi, ia duduk sendiri di ruang tamu, memandangi tumpukan tagihan dan tabungan yang tak seberapa. Selama ini ia bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hari ini. Tanpa pernah menyisihkan untuk masa depan. Dana pensiun? Ia bahkan tidak pernah benar-benar memahaminya. Jangankan punya dana pensiun, manfaatnya pun tidak tahu.

 

Kecemasannya semakin nyata ketika ia menghadiri acara perpisahan seorang senior di kantor. Pria itu pensiun dengan wajah tenang, bercerita tentang rencana menikmati hari tua bersama keluarga. Raka tersenyum, tapi dalam hatinya terasa sesak. Ia sadar, dirinya tidak memiliki kesiapan untuk hari tua seperti seniornya. Tidak ada tabungan yang cukup, tidak ada jaminan penghasilan tetap setelah berhenti bekerja. Tidak punya dana pensiun.

 


Hari-hari berikutnya terasa lebih berat. Bukan karena pekerjaannya, tetapi karena pikiran yang terus berputar. Ia mulai membayangkan dirinya di usia senja. Hidup bersama istri, dengan tubuh yang melemah, namun tetap harus bekerja karena kebutuhan hidup. Bayangan itu membuat dadanya sesak. Raka takut menjadi beban bagi anak-anaknya, takut hidup dalam kekurangan di usia yang seharusnya menjadi masa menikmati hari tua, istirahat dari hiruk-pikuk dunia kerja.

 

Suatu malam, Raka membuka kembali catatan keuangannya. Untuk pertama kalinya, ia mencoba jujur pada diri sendiri: ia terlambat mempersiapkan hari tuanya sendiri? Sekalipun belum sepenuhnya kehilangan kesempatan. Air matanya jatuh perlahan, bukan hanya karena takut, tetapi juga karena penyesalan. Mengapa ia tidak mulai lebih awal menyiapkan pensiun? Mengapa ia terlalu lama merasa “pensiuan masih jauh”?

 

Di tengah kecemasan itu, Raka akhirnya mengambil keputusan kecil. Ia mulai menyisihkan sedikit dari penghasilannya, belajar tentang perencanaan keuangan, dan mencoba membangun harapan yang sempat hilang. Ia tahu jalannya tidak mudah, dan mungkin tidak sempurna. Tapi setidaknya, ia tidak lagi diam dalam ketakutan. Karena ia sadar, hari tua bukan sesuatu yang bisa ditunda untuk dipikirkan melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan, selagi masih ada waktu.

 

Raka menyadari, kerja keras memang penting. Tapi menyiapkan masa pensiun juga sangat penting. Sebagai kesinambungan penghasilan di hari tua, untuk menjaga standar hidup di masa pensiun. Agar tidak merepotkan anak-anaknya bahkan orang lain. #YukSiapkanPensiun

Selasa, 07 April 2026

Literasi Manusia Rapuh, Dipuji Dikit Terbang Diabaikan Dikit Hancur

Banyak orang mulai lupa. Salah satu hal paling berbahaya dalam hidup adalah “terlalu bergantung” pada bagaimana orang lain melihat kita. Merasa penting banget dapat validasi dari orang lain. Lupa, saat nilai diri kita terlalu ditentukan oleh respons orang lain. Maka di situ, hidup kita mudah sekali goyah. Begitulah manusia rapuh.

 

Manusia rapuh itu dipuji sedikit langsung terbang. Diabaikan sedikit langsung hancur hancur. Tidak dipilih, merasa disingkirkan. Tidak diperhatikan, malah meragukan diri sendiri. Terlalu bergantung pada penilaian orang lain, rapuh.

 

Ketika seseorang terlalu bergantung pada bagaimana orang lain melihat dirinya, di situlah titik yang membuat identitas dan harga diri menjadi rapuh. Ketika penilaian orang lain dijadikan tolok ukur utama, seseorang akan mudah berubah-ubah, menyesuaikan diri secara berlebihan, bahkan kehilangan keaslian dirinya. Obsesinya, hanya mencari validasi terus-menerus, takut tidak disukai, dan akhirnya mengambil keputusan bukan berdasarkan nilai atau prinsip pribadi, melainkan demi memenuhi ekspektasi orang lain. Kasihan ya …

 


Akibatnya, hidup jadi melelahkan dan penuh tekanan. Karena standar yang diikuti bukan berasal dari dalam diri sendiri. Siapapun, bisa merasa tidak pernah cukup, mudah kecewa, dan rentan terhadap kritik atau penolakan. Sebaliknya, ketika kita mampu melepaskan ketergantungan dari orang lain maka akan lebih bebas menjadi dirinya sendiri, lebih tenang dalam menjalani hidup, dan lebih kuat dalam menghadapi penilaian orang lain. Toh, kebahagiaan yang sejati justru datang dari penerimaan diri, bukan dari pengakuan orang lain.

 

Manusia rapuh, masalahnya itu bukan karena kita kurang berharga. Tapi karena kita terlalu lama belajar melihat diri kita lewat “mata” orang lain. Jadi capek sendiri dan melelahkan. Kita lupa, manusia itu berubah-ubah. Standar mereka pun berubah. Penilaian mereka mudah berubah. Bahkan kedekatan mereka selalu berubah. Jadi, kalua kita terus menggantungkan rasa cukup pada orang lain. Sudah pasti, kita akan hidup dalam kelelahan yang tidak ada ujungnya.

 

Siapapun, semakin dewasa harusnya makin sadar. Tidak semua orang harus mengerti nilai kita agar kita tetap punya nilai. Maka, salah satu bentuk kebebasan paling tenang adalah ‘saat kita tidak lagi sibuk mengejar pengakuan orang lain”. Karena kita sudah selesai berdamai dengan diri kita sendiri. Salam literasi!  

 


Dua Isu Penting DPLK: Mendorong Pembayaran Manfaat Berkala dan Perluasan Cakupan Kepesertaan

Pada tahun 2025 lalu, data industri DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) menunjukkan pertambahan aset/iuran yang masuk sebesar Rp. 14,5 triliun, sedangkan manfaat pensiun yang dibayarkan mencapai Rp. 20,9 triliun. Artinya, nilai manfaat yang dibayarkan lebih besar daripada pertambahan aset/iuran yang masuk. Begitulah potret industri DPLK di tahun 2025 lalu.

 

Berangkat dari kondisi tersebut, maka ke depan setidaknya ada 2 (dua) prioritas yang perlu dioptimalkan di DPLK untuk menjaga ketahanan dana pensiun sukarela dalam jangka panjang. Yaitu 1) mendorong skema pembayaran manfaat pensiun secara berkala sebagai pendapatan pensiun dan 2) upaya peningkatan cakupan kepesertaan DPLK, khususnya peserta individual, pekerja sektor informal termasuk generasi milenial dan Gen Z.

1.   Pembayaran manfaat pensiun secara berkala sebagai pendapatan pensiun. Tahun 2025 lalu, DPLK membayarkan manfaat pensiun kepada peserta mencapai Rp. 20,9 triliun. Dari jumlah tersebut, nilai manfaat pensiun DPLK di atas Rp.625 juta mencapai 36% atau senilai Rp. 5,79 triliun sebagai potensi pembayaran manfaat pensiun secara berkala di dana pensiun. Adapun komposisi pembayaran manfaat diberikan kepada 60% peserta PPIP (Program Pensiun Puran Pasti) dan 40% peserta manfaat lain DKP (Dana Kompensasi Pascakerja). Oleh karena itu, pembayaran manfaat pensiun secara berkala di DPLK seharusnya menjadi “prioritas” untuk memberikan kesinambungan penghasilan dan kepastian arus kas bagi peserta setelah tidak lagi bekerja. Alih-alih menerima dana sekaligus (lumpsum) yang berisiko cepat habis, pembayaran berkala memastikan pensiunan tetap memiliki penghasilan rutin setiap bulan. Hal ini sangat membantu peserta yang pensiun dalam memenuhi kebutuhan hidup dasar secara berkelanjutan tanpa tekanan finansial yang tiba-tiba.

Di sisi lain, pembayaran manfaat pensiun secara berkala juga berfungsi sebagai alat pengelolaan risiko umur panjang (longevity risk). Banyak orang tidak dapat memperkirakan berapa lama mereka akan hidup setelah pensiun. Jika dana diambil sekaligus dan digunakan tanpa perencanaan matang, ada risiko kehabisan dana di usia lanjut. Skema pembayaran berkala mengurangi risiko tersebut karena dirancang agar dana bertahan lebih lama. Dari sisi perilaku, sistem pembayaran berkala membantu mengatasi bias konsumsi berlebihan di awal pensiun. Tanpa mekanisme manfaat berkala, sebagian pensiunan cenderung menggunakan dana besar di awal untuk kebutuhan atau keinginan yang tidak prioritas. Dengan pendapatan yang dicicil setiap bulan, pengeluaran menjadi lebih terdisiplin dan terarah pada kebutuhan jangka panjang. Pembayaran manfaat pensiun secara berkala akan berdampak besar pada kesejahteraan psikologis pensiunan. Memiliki “gaji bulanan” meskipun sudah tidak bekerja menciptakan rasa aman dan stabilitas emosional. Hal ini penting karena masa pensiun seringkali diiringi perubahan besar dalam kehidupan, sehingga kepastian finansial menjadi faktor kunci dalam menjaga standar dan kualitas hidup.



 

2.   Peningkatan cakupan kepesertaan DPLK.  Khususnya peserta individual, pekerja sektor informal termasuk generasi milenial dan Gen Z. Data menunjukkan dari sekitar 4,3 juta peserta DPLK, peserta yang diikutkan oleh pemberi kerja (korporasi) sebesar 80%, sedangkan peserta atas inisiatif sendiri sebesar 20%. Artinya, peserta DPLK yang diikutkan pemberi kerja sangat dominan. Sementara itu, peserta individu DPLK yang ada berasal dari sektor formal 30% dan sektor informal 70%. Artinya, sektor informal memiliki potensi besar untuk dikembangkan di DPLK. Jadi garap saja dulu sektor informal, seperti apa kondisinya? Jangan fokus pada kendala atau hambatan tanpa mau menggarap sektor informal.      

Peningkatan cakupan kepesertaan DPLK sangat krusial untuk memperluas perlindungan sosial masyarakat. Semakin banyak individu yang terdaftar dalam program dana pensiun, semakin kecil kemungkinan mereka jatuh ke dalam kemiskinan di usia tua. Ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga mengurangi beban negara dalam menyediakan bantuan sosial. Peningkatan kepesertaan DPLK secara individu dan sektor informal juga berkontribusi pada pendalaman pasar keuangan. Dana pensiun yang terkelola secara kolektif dapat menjadi sumber investasi jangka panjang yang stabil bagi perekonomian, di samping dapat menguatkan kondisi pasar modal dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, sehingga manfaatnya dirasakan lebih luas.

 

Melalui penguatan pembayaran manfaat pensiun secara berkala dan peningkatan cakupan kepesertaan, industri DPLK dapat berkontribusi dalam menciptakan sistem pensiun yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan tangguh. Dengan lebih banyak peserta yang terlindungi dan mekanisme pembayaran yang terstruktur, sistem dana pensiun dapat berfungsi optimal sebagai penopang kesejahteraan di hari tua, kesinambungan penghasilan pensiunan sekaligus menjaga stabilitas sosial dan ekonomi dalam jangka panjang. Keren kan bila begitu.

 

Tentu saja, DPLK harus tetap ditopang pengembangan strategi investasi berbasis life-cycle yang disiplin, tata kelola yang baik, dan penerapan manajemen risiko yang efektif agar dapat mendukung stabilitas industri dana pensiun dan mengutakan perlindungan peserta. #YukSiapkanPensiun



Orang Berkelas

 

Orang berkelas tidak selalu paling ramai, bukan pula merasa paling jago. Orang berkelas orientasinya hanya kualitas. Dan paling tahu kapan harus bicara, kapan harus diam. Karena tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua hal harus ditanggapi oleh orang berkelas.

 

Orang berkelas tidak sibuk meyakinkan semua orang bahwa dirinya layak. Karena yang benar-benar bernilai, tidak perlu dipaksa untuk terlihat. Tidak perlu pengakuan dan validasi orang lain. Berkelas itu ada pada diri: dari akhlak, adab dan ilmunya.

 

Orang berkelas tahu betul. Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai menyadari bahwa ketenangan batin jauh lebih berharga daripada pengakuan dari orang lain. Validasi eksternal tidak lagi dibutuhkan. Karena seseorang telah menemukan rasa cukup dalam dirinya sendiri. Ia tidak lagi merasa perlu membuktikan sesuatu kepada dunia, melainkan lebih fokus menjaga keseimbangan emosi dan kualitas hidupnya.

 

Kesadaran ini biasanya lahir dari pengalaman, baik keberhasilan maupun kekecewaan yang mengajarkan bahwa tidak semua perhatian atau pengakuan membawa kebahagiaan. Justru, terlalu mengejar pengakuan seringkali menguras energi, menimbulkan tekanan, dan menjauhkan seseorang dari dirinya sendiri. Karena itu, ketenangan menjadi pilihan sadar, bukan karena menyerah, tetapi karena memahami apa yang benar-benar bernilai.

 


Orang yang “berkelas” adalah mereka yang mampu mengelola energi dengan bijak. Mereka tahu bahwa waktu, perhatian, dan emosi adalah sumber daya yang terbatas, sehingga tidak semua hal layak mendapatkan respons. Mereka mulai selektif dalam berinteraksi, memilih lingkungan yang sehat, dan menghindari konflik yang tidak perlu. Bagi mereka, menjaga kualitas hidup lebih penting daripada memenangkan penilaian orang lain.

 

Orang berkelas justru selalu sadar. Bahwa tidak semua salah paham harus diluruskan. Tidak semua penolakan harus dilawan. Tidak semua orang harus mengerti kita. Sebab dalam hidup, ketenangan lebih penting daripada pengakuan. Orang berkelas tahu, energi itu mahal, maka tidak semua tempat layak diberi akses ke dirinya.

 

Orang berkelas, tidak lagi mudah terpancing oleh opini, drama, atau tuntutan sosial yang tidak esensial. Ia hanya memahami bahwa tidak semua pintu harus diketuk, dan tidak semua ruang harus dimasuki. Dengan menjaga batasan diri, ia justru mampu hidup lebih tenang, fokus, dan bermakna. Itulah orang berkelas!

Senin, 06 April 2026

Sambil Pakai Topi, ADPI Gelar Munas 1/2026 Optimalkan Kompetensi SDM Dana Pensiun

Dihadiri 60 pengurus dan komda, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) hari ini (7/4/2026) menggelar Munas 1/2026 sebagai amanat anggaran dasar organisasi untuk melaporkan kinerja dan keuangan ADPI periode 2025 lalu. Dipimpin oleh pengurus teras ADPI terdiri dari: Abdul Hadi (Ketua Umum), Sularno (Sekjen), Chairi Pitono (Waka 1), Antonius R. Tyas (Waka 2), Budi Sutrisno (Waka 3), Abdul Hadie (Bendahara), Mujiharno (Dewan Pengawas) dan Budi Sulistijo (Direktur Eksekutif).

 

Munas ADPI kali ini fokus untuk melaporkan kinerja pada tahun lalu, mencakup bidang 1) Investasi & kemitraan - kelembagaan, 2) Kepesertaan & database – litbang, 3) Edukasi – kompetensi & sosialisasi literasi, dan 4) Regulasi & Advisory. Dilaporkan pula sepanjang tahun 2025, ADPI telah menggelar Pelatihan Dana Pensiun secara reguler 51 kali dan inhouse training 64 kali sebagai bagian peningkatan kompetensi SDM dana pensiun. Saat ini, ADPI memiliki anggota 160 dana pensiun pemberi kerja.

 

Sularno, Sekjen ADPI menyampaikan pula update terkait KKNI Manajemen Risiko Dana Pensiun (MRDP) yang memasuki tahap konvensi nasional sebelum dijalankan, harmonisasi program pensiun, dan arahan kepada DPPK untuk mengoptimalkan program sebagai bagian perlindungan peserta.

"Melalui Munas ADPI ini mari kita update pengetahuan bersama untuk optimalkan industri dana pensiun. Kolaborasi dan sinergi yang lebih produktif, mari kita bergandengan tangan untuk ADPI yang lebih bermanfaat untuk anggotanya" ujar Sularno dalam paparannya di kantor ADPI Wisma BNI 46 Jakarta.

 


Dengan tekad kolaborasi antar pengurus dan anggota, ADPI berusaha untuk memajukan industri dana pensiun, di samping mewujudkan tata kelola dana pensiun yang berkualitas. Untuk itu, upaya meningkatkan kompetensi insan dana pensiun melalui MUDP, MRDP, dan KKNI dana pensiun akan dioptimalkan. Sebagai bagian implementasi regulasi yang berlaku di dana pensiun, baik POJK 27/2023, POJK 35/2024, dan POJK 34/2024 tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia.

 

Munas ADPI memakai topi ini, terinspirasi dari konsep Six Thinking Hats yang diperkenalkan oleh Edward de Bono, di mana setiap “topi” melambangkan cara berpikir berbeda: logika (fakta), emosi (perasaan), kritis (risiko), optimis (manfaat), kreatif (ide baru), dan pengendali (proses). Sehingga rapat menjadi lebih terarah, tidak didominasi satu sudut pandang, dan membantu menghasilkan keputusan yang lebih objektif dan komprehensif. Secara filosofis, “pakai topi” juga berarti menanggalkan ego pribadi dan tidak kaku pada satu posisi.

 

Sekalipun dihadapkan pada tantangan yang besar, ADPI bertekad untuk terus mendorong pertumbuhan dana pensiun yang lebih signifikan ke depannya. Per Desember 2025, total aset dana pensiun sukarela (DPPK/DPLK) mencapai Rp411,29 triliun, tumbuh 7,52% year-on-year dengan melayani 5,41 juta peserta tahun 2025 untuk mengelola kepesertaan secara memadai, pengelolaan investasi, tata kelola, dan manajemen risiko menjadi perhatian yang harus dijaga oleh pelaku dana pensiun.