Tetangga saya, seminggu lalu sudah pensiun. Berhenti bekerja setelah 28 tahun. Hari terakhirnya kerja, dia cerita kantornya menggelar acara perpisahan. Bikin tumpengan sambil foto-foto sama teman sekantor. Dapat apresiasi dari pimpinan dan dijadikan contoh sebagai karyawan teladan yang loyal pada perusahaan. Meriah sekali, katanya. Keren sekali tetangga saya, jadi ikut bangga.
Sesampainya di
rumah, tetangga saya senyumnya sumringah. Dia cerita suka-dukanya orang
bekerja. Mulai dari berangkat pagi, pulang malam hari. Selain untuk menafkahi
keluarga, semua hidupnya didedikasikan untuk pekerjaan. Bahkan dia cerita, ikut
membangun perusahaannya dari masa-masa sulit hingga maju seperti sekarang. Maklum
baru pensiun, jadi masih semangat bila cerita urusan kantor. Beliau memang pantas
disebut pekerja keras. Sehari-hari hidupnya hanya untuk pekerjaan dan kantor.
Itu cerita seminggu lalu ketika beliau pensiun.
Tapi semalam,
saya melihat beliau termenung di teras rumahnya. Ada sesuatu yang beda dan tidak
seperti biasanya. Matanya seperti kosong. Kayak lagi melamun. Beliau duduk lama
di kursi depan rumahnya. Diam sambil menatap jalanan yang gelap.
Saya bertanya
"Bapak kenapa?"
Beliau jawab
pelan, "Iya Pak, besok nggak ada lagi tempat yang harus
dituju."
“Ya nggak apa-apa
Pak, kan memang sudah pensiun. Tinggal dinikmati saja” ujar saya menghibur.
Beliau menjawab, “Itulah
masalahnya, bagaimana dengan biaya hidup di hari tua?”
Ternyata, masa
pensiun bukan soal kesepian. Tapi soal pekerjaan dan gaji. Apalagi tetangga
saya selama ini identitasnya adalah pekerjaannya. Dan sekarang itu hilang.
Ditambah satu ketakutan yang nggak beliau ucapkan. Apakah uang pensiun yang
tersisa cukup buat hidup?
Banyak pekerja
khawatir jelang pensiun, apalagi yang sudah pensiun. Dulu selagi aktif, katanya
pensiun masih lama. Tapi begitu waktu pensiun tiba, banyak pekerja yang tidak
siap. Maka wajar, 8 dari 10 pensiunan akhirnya mengandalkan biaya hidup dari
anggota keluarganya yang bekerja (BPS, 2024). Ada 1 dari 2 pensiunan yang
meminta transferan dari anaknya setiap bulan (ADB, 2024). Begitulah realitas
pensiunan di Indonesia.
Seperti tetangga
saya yang pensiun itu. Kini hanya melamun setiap malam. Bingung harus ngapain
dan bagaimana cara menutupi kebutuhan hidupnya. Pengen bekerja lagi tapi
fisiknya sudah tidak sekuat dulu. Sementara biaya hidup terus berjalan. Baginya,
apalah arti tumpengan ketika pensiun. Apalah arti dijadikan teladan sebagai
karyawan yang loyal. Tapi masa pensiun yang nyaman sama sekali tidak
dipersiapkan saat masih bekerja.
Dari obrolan
dengan tetangga saya yang sudah pensiun. Saya pun berjanji ke diri sendiri.
saya tidak mau pensiun tanpa persiapan. Untuk apa berjaya saat kerja tapi
merana saat pensiun. Dan saya tidak mau anak-anak saya terbebani karena
Bapaknya pensiun dan tidak punya uang. Karenanya, saya akan pastikan untuk
pensiun dengan nyaman dan mandiri secara finansial. Agar tidak merepotkan
anak-anak secara ekonomi.
Saya juga bekerja
keras. Bahkan membangun penghasilan tambahan. Tapi yang paling penting, saya
sudah persiapkan masa pensiun dengan mengikuti DPLK (Dana Pensiun Lembaga
Keuangan). Agar tetap punya kesinambungan penghasilan di hari tua. Bukan cuma buat
saya. Tapi buat bilang ke anak-anak suatu hari nanti, "Tenang saja Nak, Bapak
punya uang untuk biaya hidup bahkan membantu kamu bila diperlukan".
Begitulah spirit punya
dana pensiun nsejak dini. Biar tenang di masa pensiun dan tidak tergantung
kepada siapapun, #YukSiapkanPensiun





.jpg)
.jpg)





.jpg)


.jpeg)


.jpg)
