Sabtu, 02 Mei 2026

Pendidikan: Bukan Bertanya Anak Sekolah Di Mana tapi Rumahnya Seperti Apa?

Mumpung Hari Pendidikan Nasional. Ada yang bertanya, apa sih pendidikan? Jawabnya, pendidikan bukan tentang membuat anak pintar atau cerdas. Tapi sejatinya pendidikan tentang proses membentuk “manusia yang utuh”. Manusia yang memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang memadai sesuai dinamika peradaban. Manusia yang belajar dengan menyenangkan dan memiliki kesadaran untuk terus bertumbuh.

 

Kita sering menyempitkan pendidikan jadi identik dengan nilai tinggi, banyak prestasi. Padahal sejatinya, pendidikan adalah “menumbuhkan manusia” itu sendiri. Manusia yang utuh itu bukan hanya cerdas. Tapi juga kuat mentalnya, hidup jiwanya, peka sosialnya, dan kokoh spiritualnya. Dan menariknya, menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu tidak dimulai di sekolah atau kampus tapi di keluarga. Keluarga adalah pendidik pertama dan utama setiap orang.  

 

Sebelum anak mengenal huruf, ia sudah “membaca” rumahnya sendiri. Gimana cara ayah dan ibunya merespon diri sang anak, cara ibunya bicara, dan cara ayahnya bersikap. Cara menghadapi masalah, cara menyelesaikan konflik hingga cara komunikasi yang beradab. Semuanya dimulai dari rumah, dan di situlah pendidikan dimulai.  

 

Maka fondasi pertama pendidikan seharusnya dibangun dan dimulai di rumah. Bukan dari hafal huruf, angka, warna atau bisa menjawab setiap pertanyaan. Tapi dimulai dari rasa aman, rasa menghormati dan menghargai yang dikembangkan di rumah.   

 

Anehnya, banyak orang tua merasa sudah memberi rasa aman karena anaknya tercukupi, anaknya terlindungi. Padahal rasa aman tidak hanya fisik, tapi juga psikologis. Rasa aman itu hadir saat anak tidak direndahkan, tidak dipermalukan, dan tidak dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Karena saat itu terjadi, yang rusak bukan hanya perasaan. Tapi cara anak melihat dirinya sendiri. Anak mulai berpikir: “aku tidak cukup”, “aku banyak kurangnya”,  “aku harus sempurna agar diterima” dan “aku lebih baik diam daripada salah”. Anak-anak yang “terpenjara” secara perasaan dan eksistensinya.  

 


Dan ketika itu terjadi, anak tidak lagi belajar untuk berkembang. Tapi belajar untuk bertahan. Sebaliknya, ketika anak merasa aman, ia akan berani mencoba. Tidak takut salah dan mau belajar sambil mencoba. Karena si anak tahu “aku tetap berharga, bahkan saat aku belum bisa sekalipun”. Memberi rasa aman dan nyaman pada anak, itulah pendidikan yang dimulai dari hati nurani.   

 

Dari keluarga, anak juga belajar hal paling kuat bukan dari nasihat. Tapi dari keteladangan, bukan dari omongan. Sedikit-sedikit dilarang, sedikit-sedikit tidak boleh. Bila anak terlalu dilindungi atau sedikit-sedikit tidak boleh, lalu di mana anak-anak itu belajar mengenal jati dirinya sendiri. Mari bertanya sekarang, di mana pendidikan yang menempatkan anak mengenal dirinya, bukan mengenal kurikulum yang harus dijalankannya.

  

Pendidikan memang dimulai dari rumah. Ketika anak melihat bagaimana ayah mengelola emosi, bagaimana ibu mengambil keputusan, dan bagaimana orang tua memperlakukan orang lain. Dari situlah terbentuk sesuatu yang mahal yaitu “integritas”. Sebab, integritas tidak lahir dari ceramah panjang. Tapi dari hal sederhana yang diulang setiap hari. Sesuatu yang dibiasakan untuk jujur, punya empati dan kasih sayang, serta tanggung jawab dan amanah. Dan  lagi-lagi, semua itu dimulai dari rumah.   

 

Ayah bunda harus tahu. Bila kita ingin anak jadi pemimpin, punya mental kuat, berani dan percaya diri, tidak merendahkan orang lain, peduli, amanah, termasuk dekat dengan Allah. Maka pertanyaannya sederhana. Jangan bertanya “sekolahnya di mana?” tapi "rumahnya seperti apa?”. Salam literasi!



Jumat, 01 Mei 2026

Catatan Hardiknas: Tidak Semua Suara di Luar Sana Layak Didengarkan

 

Ini sebuah catatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026. Sebuah ajaran kehidupan. Bahwa "tidak semua suara di luar sana, layak kamu dengarkan. Karena nadanya jelek dan tidak positif. Ada yang meragukan, ada yang meremehkan, ran ada yang mencoba membuatmu berhenti. Tapi seringnya, itu bukan tentang kamu. Itu tentang ketakutan mereka sendiri dalam hidupnya.

 

Jadi jelas, tidak semua suara di luar sana punya niat baik atau pemahaman yang utuh tentang perjalananmu. Ada orang yang berbicara hanya dari sudut pandangnya sendiri, tanpa benar-benar tahu apa yang sedang kamu bangun, perjuangkan, atau korbankan. Kalau semua suara itu kamu dengarkan, kamu bisa kehilangan arah, bahkan meragukan langkahmu sendiri.

 

Dalam konteks pendidikan, ungkapan “tidak semua hal di luar sana layak didengarkan” sangat relevan karena siswa dan pendidik hidup di tengah arus informasi yang begitu deras. Tidak semua opini, komentar, atau tren memiliki nilai edukatif atau kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika semua hal diserap tanpa filter, proses belajar bisa terganggu oleh distraksi, misinformasi, bahkan tekanan sosial yang melemahkan kepercayaan diri. Karena itu, pendidikan bukan hanya soal menyerap ilmu, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis untuk memilah mana yang perlu didengar, dipertimbangkan, atau justru diabaikan.

 

Selain itu, ungkapan ini mengajarkan pentingnya fokus dan keteguhan dalam proses belajar. Banyak siswa yang kehilangan arah karena terlalu mendengarkan keraguan, ejekan, atau standar orang lain yang tidak sesuai dengan tujuan mereka. Padahal, setiap individu memiliki ritme dan jalur belajar yang berbeda. Dalam konteks ini, pendidikan seharusnya membentuk karakter yang kuat: mampu mendengar masukan yang membangun, namun tetap teguh terhadap tujuan. Dengan begitu, siswa tidak mudah goyah oleh “suara-suara” yang justru menghambat perkembangan diri mereka.

 


Ketika ada yang meragukan atau meremehkan, itu sering kali bukan cerminan dari kapasitasmu. Itu lebih mencerminkan batasan cara berpikir mereka. Orang hanya bisa menilai sejauh yang mereka pahami. Jadi ketika mereka tidak melihat potensimu, bukan berarti potensimu tidak ada. Bisa jadi mereka belum sampai pada level pemahaman yang baik.

 

Banyak juga yang tanpa sadar mencoba membuatmu berhenti, bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka takut. Takut melihat perubahan, takut tertinggal, atau takut menghadapi kenyataan bahwa orang lain berani melangkah lebih jauh dari mereka. Ketakutan ini sering muncul dalam bentuk komentar negatif, saran yang melemahkan, atau bahkan kritik yang menjatuhkan bahkan fitnah yang begitu kejam.

 

Di titik itulah, kamu perlu punya filter yang kuat. Belajar membedakan mana suara yang membangun dan mana yang hanya menguras energi. Tidak semua kritik harus ditelan, dan tidak semua opini harus dijadikan pegangan. Fokuslah pada suara yang mendorongmu bertumbuh, bukan yang membuatmu ragu untuk melangkah.

 

Pada akhirnya, perjalanan ini adalah tentang dirimu sendiri. Kamu yang menjalani, kamu yang merasakan, dan kamu yang bertanggung jawab atas hasilnya. Jadi, tetap dengarkan dirimu, jaga keyakinanmu, dan biarkan waktu yang membuktikan. Karena sering kali, suara paling penting bukan yang paling keras—tapi yang paling jujur dari dalam dirimu sendiri. 

 

Suara-suara yang negatif, sering kali merepresentasikan dirinya sendiri. Teruslah melangkah hingga suara-suara itu hilang sendiri. Selamat Hari Pendidikan Nasional!

 



Yang Kelihatan Tenang, Belum Tentu Hidupnya Mudah.

Ada benarnya sebuah nasihat. Yang menegaskan “kadang hidup ini bukan untuk dikendalikan tapi untuk dipahami. Ada fase di mana kita sudah berusaha rapi, tapi hasilnya tetap berantakan. Bukan karena kita gagal tapi karena kita sedang dilatih jadi lebih kuat dari rencana kita sendiri”, kira-kira begitu.

 

Yang kelihatan tenang, belum tentu hidupnya mudah. Yang jalannya santai, sering justru yang paling tahan banting. Hidup memang sering kali “hard to handle”. Tapi justru di situ, karakter kita terbentuk tanpa banyak bicara.

 

Memang, hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Itu hal yang wajar. Banyak orang berusaha menyusun hidupnya dengan rapi: membuat target, strategi, dan harapan, namun kenyataannya tidak selalu mengikuti skenario tersebut. Pesan utamanya adalah bahwa hidup bukan hanya tentang mengendalikan hasil, tetapi tentang memahami proses yang sedang terjadi.

 

Ketika usaha yang sudah maksimal tetap menghasilkan sesuatu yang terasa “berantakan”, itu bukan selalu tanda kegagalan. Justru dalam kondisi seperti itulah seseorang sedang ditempa. Tantangan dan ketidakpastian sering kali berfungsi sebagai sarana pembentukan mental dan ketahanan diri, yang mungkin tidak bisa didapat jika semuanya berjalan mulus.

 


Kita diingatkan bahwa apa yang terlihat di permukaan tidak selalu mencerminkan kenyataan. Orang yang tampak tenang belum tentu hidupnya mudah, dan mereka yang terlihat santai bisa jadi adalah pribadi yang sudah melalui banyak ujian. Ada kekuatan yang terbentuk dalam diam, tanpa perlu ditunjukkan atau dijelaskan kepada orang lain. Karenannya, terkadang hidup jadi “hard to handle” sebagai simbol bahwa hidup memang sering kali sulit dipahami dan tidak selalu nyaman dijalani. Namun justru dalam kesulitan itulah karakter seseorang terbentuk secara alami. Proses ini sering terjadi tanpa disadari, tanpa banyak kata, tetapi meninggalkan dampak yang mendalam terhadap kepribadian.

 

Pada akhirnya, itulah pesan tentang penerimaan dan pertumbuhan. Hidup tidak harus selalu terkendali untuk bisa bermakna. Dengan memahami setiap fase, baik yang rapi maupun yang berantakan, seseorang dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih tahan banting, dan lebih siap menghadapi masa depan.

 

Kamis, 30 April 2026

Cerita Calon Pensiunan: Disiapin Aja Mental Kena, Apalagi Nggak Siap?

Seorang kawan cerita, setahun lagi akan pensiun. Dia kerja di perusahaan swasta. Gaji lumayan dan punya punya dana pensiun. Kalau dihitung-hitung, katanya uang pensiun dari kantor ditambah DPLK-nya bisa mencapai Rp. 400 juta. Tapi dia tetap khawatir, takut tidak cukup uang segitu untuk pensiun.

 

Makanya dia bilang, sekarang ini hidupnya lebih irit. Sudah jarang nongkrong di kafe, gaya hidup mulai dikurangi, Dan yang paling dia takutkan. Karena istrinya begitu dikasih tahu setahun lagi akan pensiun langsung shock. Mentalnya kena, karena bingung. Masih punya gaji saja terkadang punya masalah keuangan, apalagi nanti sudah pensiun yang tidak ada gaji lagi. Kata istrinya, susahnya orang yang pensiun itu “hilangnya penghasilan bulanan”, sementara biaya hidup tetap jalan terus. Begitu cerita kawan saya menjelang pensiun.

 

Cerita jelang pensiun atau mas apensiun memang nggak aka nada habisnya. Seperti kawan saya itu, padahal masih satu tahun lagi pensiun. Bakal dapat uang pensiun dari kantor ditambah punya DPLK yang akan cair saat pensiun. Khawatir dan gelisah, karena tidak akan kerja lagi dan tidak punya gaji bulanan lagi. Belum lagi, riset yang menyebut 1 dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan tranferan dari anaknay setiap bulan. akibat tidak mandiri secara finansial di hari tua. Fenomena sandwich generation. Sementara usia harapan hidup sekarang sudah mencapai 73 tahun. Kawan saya akan pensiun di usia 57 tahun, maka masih ada 16 tahun masa kehidupan di hari tua tanpa kerja tanpa gaji. Bila kekhawatirannya benar, akibat uang pensiun tidak cukup, bisa jadi dia akan bekerja lagi di masa pensiunnya. Untuk menutupi kekuarangan biaya dan kebutuhan di hari tua.

 

Jadi, memang ada benarnya bila “Pensiun disiapin aja mental bisa kena, apalagi nggak disiapin?”. Karena masa pensiun bukan hanya soal finansial, tetapi juga perubahan besar dalam identitas, rutinitas, dan peran sosial seseorang. Bahkan bagi mereka yang sudah menyiapkan dana pensiun dengan baik, tetap ada potensi “shock” psikologis ketika kehilangan peran kerja, jaringan sosial, dan rasa produktif. Inilah yang sering disebut sebagai post-retirement adjustment, di mana individu harus beradaptasi dengan kehidupan baru yang lebih longgar namun juga bisa terasa kosong.

 


Jika pensiun tidak disiapkan sama sekali, baik dari sisi keuangan maupun mental, dampaknya bisa jauh lebih berat. Ketidakpastian ekonomi dapat memicu stres berkepanjangan, sementara hilangnya rutinitas kerja bisa menimbulkan rasa tidak berguna, kesepian, bahkan depresi. Dalam banyak kasus, individu menjadi bergantung pada keluarga, yang pada akhirnya dapat memicu tekanan relasi dan menurunkan kualitas hidup di hari tua. Jadi, tanpa persiapan, pensiun bukan lagi fase menikmati hidup, tetapi justru menjadi fase bertahan hidup.

 

Karena itu, persiapan pensiun idealnya mencakup dua hal sekaligus: kesiapan finansial dan kesiapan psikologis. Selain menabung atau berinvestasi, penting juga merancang aktivitas pasca-pensiun seperti hobi, kegiatan sosial, atau bahkan pekerjaan ringan agar tetap merasa bermakna. Pensiun yang sehat adalah pensiun yang tetap aktif, mandiri, dan memiliki tujuan hidup. Jadi, kalau yang sudah siap saja masih bisa “kena mental”, maka tidak menyiapkan masa pensiunnya sama sekali jelas berisiko jauh lebih besar.

 

Maka siapkanlah masa pensiun kita sendiri. Mau seperti apa dan bagaimana di hari tua? Sebab, pensiun disiapin aja mental bisa kena, apalagi nggak disiapin?”. #YukSiapkanPensiun

 

Apa Sih Untungnya Mencari yang Salah? Orang Lain Salah, Kita Belum Tentu Benar

Ini sebuah pesan literasi. Jangan mencari yang salah. Karena tidak semua hal perlu dicari kesalahannya. Tidak semua keadaan harus disalahkan. Tidak semua yang terlihat salah itu benar-benar salah.

 

Jangan mencari yang salah. Agar kita tidak sibuk membongkar kekurangan orang lain tanpa alasan yang jelas. Agar kita tidak terbiasa mencari-cari kesalahan orang. Karena bila orang lain salah, kita belum tentu benar.

 

Dalam banyak hal, dorongan untuk mencari-cari kesalahan justru lahir dari ego. Ingin merasa lebih benar, atau bahkan iri hati. Itu kebiasaan buruk yang tidak membangun apa pun. Hanya memperkeruh hubungan dan menciptakan suasana yang penuh prasangka.

 

Jangan lupa, mencari kesalahan orang lain tanpa kebutuhan yang konstruktif akan merusak kepercayaan. Orang jadi merasa tidak aman, takut disalahkan, dan enggan terbuka. Membuat komunikasi jadi kaku dan penuh defensif. Bahkan jadi sebab orang apatis. Sebaliknya, ketika kita lebih fokus pada memahami, memberi ruang, dan memperbaiki diri sendiri, hubungan menjadi lebih sehat dan produktif. Kritik tetap penting, tetapi harus disampaikan dengan niat memperbaiki, bukan menjatuhkan. Apalagi hanya untuk mengungkap dan mengumbar kesalahan orang lain, untuk apa?

 


Kebiasaan tidak mencari-cari kesalahan orang lain justru membantu kita menjaga kebersihan hati dan energi. Waktu dan pikiran kita tidak habis untuk hal-hal negatif, melainkan bisa diarahkan pada pertumbuhan diri. Kita menjadi lebih tenang, lebih bijak, dan lebih fokus pada hal yang benar-benar bisa kita kendalikan. Sebab pada akhirnya, hidup yang dijalani dengan niat baik dan sikap positif akan membawa ketenangan yang tidak bisa didapat dari sekadar merasa “paling benar.”

 

Jangan mencari yang salah. Sebab hidup seperti apapun hanya perlu diterima. Bukan terus-menerus dipertanyakan tanpa henti. mencari yang salah tidak selalu memberi jawaban. Justru bisa menambah beban di hati. Belajarlah melihat dengan lebih bijak. Memahami tanpa terburu menilai. Karena tidak semua yang terjadi butuh disalahkan. Ada yang cukup dijadikan pelajaran.

 

Maka jangan sibuk mencari yang salah. Lebih baik belajar memperbaiki dan melangkah. Agar lebih bisaj dan tenang. Sebab bila orang lain salah, kita belum tentu benar. Cukup diam dan membaca buku. Salam literasi!

Literasi Pekerjaan: Ikhitar Dalam Diam

Banyak orang hanya dihargai saat sudah berhasil. Sebelum itu, sering diabaikan, diremehkan, bahkan dinomorduakan. Tapi justru dari situ, kita belajar jadi kuat tanpa bergantung pada siapa pun.

 

Ketahuilah, tidak semua orang akan percaya pada proses kita sekarang, dan itu tidak masalah. Biarlah apa kata mereka, asal kita terus berkembang dalam diam. Karena suatu hari nanti, hasil kita akan membuat mereka sadar siapa yang dulu mereka remehkan.

 

Fenomena dihargai setelah berhasil itu nyata, terutama dalam dunia kerja. Saat seseorang masih berproses: belajar, jatuh bangun, bahkan belum terlihat "hasilnya"---sering kali ia dipandang sebelah mata. Padahal justru fase itulah yang paling menentukan. Dalam pekerjaan, banyak orang hanya dilihat dari jabatan atau pencapaiannya, bukan dari usaha panjang yang sedang ia jalani. Dari sini, kita belajar bahwa validasi eksternal itu tidak bisa dijadikan sandaran utama.

 

Ketika kita tidak terlalu diakui di awal karier, sebenarnya itu adalah ruang untuk membangun fondasi yang kuat. Kita jadi terbiasa mengandalkan diri sendiri, meningkatkan skill, dan memperbaiki pola pikir tanpa harus menunggu pengakuan. Dalam konteks pekerjaan, ini penting karena dunia kerja tidak selalu adil atau objektif. Mereka yang tahan dalam proses biasanya justru lebih siap menghadapi tekanan dan perubahan di masa depan.

 

Kondisi ini juga berkaitan erat dengan bagaimana kita mempersiapkan hari tua. Gimana bisa siap untuk masa pensiun? Orang yang terbiasa berjuang tanpa banyak sorotan cenderung lebih disiplin dalam mengelola keuangan, termasuk menyiapkan masa pensiun. Tidak bergaya dalam hidup dan berani menyisihkan untuk dana pensiun, berapapun besarannya. Mereka tidak menunggu "nanti sukses dulu baru menabung", tapi mulai dari sekarang, meski kecil. Karena mereka paham, keberhasilan di masa depan bukan hanya soal karier, tapi juga soal keberlanjutan hidup setelah tidak lagi produktif. Tetap bisa mandiri secara finansial sekalipun sudah pensiun.

 


Sebaliknya, jika kita terlalu bergantung pada pengakuan atau kenyamanan saat ini, kita bisa lengah terhadap masa depan. Banyak orang terlihat "berhasil" di usia produktif, tapi tidak siap menghadapi hari tua karena tidak membangun sistem keuangan sejak awal. Faktanya, 8 dari 10 pensiunan hari ini sangat bergantung secara ekonomi pada anggota keluarga yang bekerja. 

 

Tetap ikhtiar baik dalam kerja dan mau siapkan masa pensiun, itulah fase yang sering diremehkan orang lain. Justru bekerja adalah waktu terbaik untuk menanam, baik dari sisi kompetensi maupun aset keuangan.

 

Akhirnya, berkembang dalam diam bukan hanya tentang membuktikan sesuatu kepada orang lain, tapi tentang menyiapkan versi terbaik diri kita di masa depan. Dalam pekerjaan, itu berarti terus bertumbuh tanpa perlu banyak validasi. Dalam kehidupan jangka panjang, itu berarti memastikan hari tua kita tetap bermartabat, tidak bergantung, tidak menyesal, dan tetap punya kendali atas hidup kita sendiri. Selamat bekerja ... #YukSiapkanPensiun

Rabu, 29 April 2026

Disdik Jakarta Timur 1 Gelar FLS3N SMP, Ajang Kompetisi Kreativitas Seni dan Sastra Siswa SMP

Sebagai bagian menumbuhkan karakter bangsa melalui kreativitas dan apresiasi seni budaya, Sudin Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Timur menggelar Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SMP/MTs tahun 2026 yang berlangsung di SMPN 195 Duren Sawit Jaktim (30 April 2026).

 

Ada 8 kreativitas siswa yang dilombakan seperti: 1) Ilustrasi, 2) Menyanyi Solo, 3) Mendongeng, 4) Menulis Cerita, 5) Pantomim, 6) Ansambel Campuran 3 Alat Musik, 7) Tari Kreasi, dan 8) Kreativitas Musik Tradisional. FLS3N 2026 ini menjadi ajang kompetisi seni dan sastra bergengsi untuk siswa SMP di wilayah Jakarta Timur 1 untuk mengembangkan kreativitas siswa. 

"Selain jadi ajang kompetisi yang positif, FLS3N SMP JT 1 ini menjadi sarana kreativitas yang diikuti ratusan siswa SMP. Ini bukan sekadar “bakat tambahan” tapi fondasi penting untuk membangun cara siswa berpikir dan berkembang" ujar Tri Kurniasih (Ketua Panitia dari Sudindik wilayah 1 Jakarta Timur) didamping Ketua Koordinator Lomba, Reni Afriani saat berlangsung acara.


Khusus untuk lomba menulis cerita bertindak sebagai PJ lomba yaitu Suciati dan Eka Yulianti yang menjelaskan Lomba Menulis Cerita diikuti oleh 67 siswa SMP dari berbagai sekolah. Bertindak sebagai dewan juri yaitu: Syarifudin Yunus (Universitas Indraprasta PGRI, Reni Nur Eriyani (UNJ) dan Hikmawan Nurdiansyah (Al Jabr Islamic School). Rencananya, pengumuman pemenang akan dilakukan siang nanti.

 

Sebagai wadah ekspresi, bakat, dan kreativitas seni budaya siswa SMP, FLS3N sejatinya dapat membantu siswa lebih percaya diri. Sebab saat siswa diberi ruang untuk mengekspresikan ide, maka menjadi lebih berani untuk mencoba, tidak takut salah, dan lebih mandiri dalam belajar. Bahkan lebih dari itu, kreativitas juga mampu memacu kemampuan memecahkan masalah. Lebih fokus ke solusi daripada masalah. Sebab kelak di dunia nyata, apapun tidak selalu punya satu jawaban pasti. Maka siswa yang terbiasa berpikir kreatif akan lebih siap menghadapi tantangan karena mereka terbiasa mencari alternatif solusi. 

 

Di tengah dinamika zaman dan teknologi yang cepat, kemampuan berinovasi jauh lebih bernilai daripada sekadar pengetahuan statis. Karena itu, FLS3N penting untuk memacu siswa SMP lebih kreatif sehingga punya peluang lebih besar untuk beradaptasi, menciptakan peluang, dan tidak hanya menjadi “pengikut”, tapi juga pencipta solusi. Salam FLS3N!



Jalankan Regulasi Pengembangan SDM, LSP Dana Pensiun Lakukan Asesmen Sertifikasi KKNI 37 Praktisi Dana Pensiun

Sebagai upaya memastikan kualitas sumber daya manusia (SDM) sesuai dengan standar kompetensi yang dibutuhkan oleh industri, LSP Dana Pensiun hari ini menggelar Uji Sertifikasi KKNI Dana Pensiun yang diikuti 37 asesi – peserta dari 27 Dana Pensiun (DPPK & DPLK) untuk jenjang 4, 5, 6C, dan 7 di Jakarta (29/4/2026). Uji sertifikasi KKNI ini juga menjadi bagian meningkatkan kompetensi, pengetahuan, dan keterampilan SDM dana pensiun sesuai standar KKNI bidang dana pensiun sesuai dengan SEOJK 12/2025 tentang sertifikasi kompetensi kerja bagi dana pensiun dan POJK 34 Tahun 2024 tentang Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada Dana Pensiun.

 

Sertifikasi KKNI kali ini melibatkan 12 asesor kompetensi LSP Dana Pensiun berlisensi BNSP seperti Inderahadi K, Arif Hartanto, Edi Pujiyanto, Edy Rahardja, Nurhasan Kurniawan, Purwaningsih, R. Herna Gunawan, Satino, Sri Murtiningsih, Widiyanto Fajar T, Yuni Pratikno, dan Syarifudin Yunus. Selama rata-rata 1 jam, setiap peserta di-asesmen dan wawancara terkait pengetahuan dan keterampilan sebagai pelaku dana pensiun, baik berdasarkan portofolio kerja atau instruksi terstruktur. Melalui uji sertifikasi KKNI Dana Pensiun, nantinya tiap asesi akan direkomendasikan “kompeten” atau “belum kompeten” oleh asesor yang bertugas.

 

Menjaga kompetensi SDM dana pensiun melalui asesmen KKNI ini sangat penting untuk mengukur dan memverifikasi kesetaraan capaian pekerjaan sesuai dengan pendidikan dan pengalamam sesuai standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional. Sertifikasi KKNI pada akhirnya memberikan pengakuan kompetensi berupa sertifikat kompetensi atas keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki setiap asesi. Di samping menjaga standar profesionalisme sesuai kebutuhan industri dana pensiun. Melalui asesmen ini, kemampuan SDM tidak lagi dinilai secara subjektif, tetapi berdasarkan level kompetensi yang jelas sesuai jenjang KKNI. Dalam sektor dana pensiun yang berkaitan dengan tata kelola, investasi, kepatuhan, dan perlindungan hak peserta, standar kompetensi KKNI menjadi fondasi profesionalisme.

 


“LSP Dana Pensiun secara rutin menggelar uji sertifikasi KKNI untuk memastikan kompetensi pelaku industri dana pensiun. Selain mengacu pada regulasi yang berlaku, uji sertifikasi KKNI ini penting untuk menjawab kebutuhan terkait kompetensi dan kepercayaan dana pensiun bagi pesertanya dan masyarakat” ujar Edi Pujiyanto, Direktur LSP Dana Pensiun di sela asesmen uji sertifikasi KKNI Dana Pensiun hari ini.

 

Untuk diketahui, saat ini LSP Dana Pensiun memiliki 29 asesor kompetensi berlisensi BNSP untuk melaksanakan dan memantau realisasi pengembangan kualitas SDM dana pensiun. LSP Dana Pensiun merupakan satu-satunya LSP di bidang dana pensiun yang terdaftar di OJK sesuai dengan Surat Tanda Terdaftar Lembaga Sertifikasi Profesi Sektor Jasa Keuangan No: STTD.LSP-03/MS.1/2025 tertanggal 23 Juli 2025 dan Keputusan Ketua BNSP No: KEP.0015/BNSP/I/2023. Untuk informasi dan program LSP Dana Pensiun dapat disimak melalui: https://lspdapen.com/.

 

Melalui uji sertifikasi KKNI, LSP Dana Pensiun berkomitmen untuk mengoptimalkan kompetensi SDM dana pensiun. Sertifikasi berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) memastikan SDM dapat mengetahui posisi kompetensinya saat ini, area yang perlu ditingkatkan, serta jalur pengembangan menuju level yang lebih tinggi. Bagi organisasi, ini memudahkan dalam succession planning, pemetaan talenta, dan peningkatan kualitas layanan. Jadi, asesmen KKNI bukan sekadar formalitas sertifikasi, tetapi merupakan instrumen strategis untuk membangun SDM dana pensiun yang kompeten, kredibel, dan berdaya saing tinggi. Salam Kompeten!

 


Selasa, 28 April 2026

Kisah Pekerja yang Tanggung Semuanya Sendiri, Capek Psikologis dan Uang

Saya pernah punya teman satu kantor. Hidupnya kelihatan rapi, tidak banyak gaya. Dia sendiri sudah bekerja lebih dari 10 tahun di kantor itu. Gajinya naik tiap tahun, KPI-nya juga lumayan. Dia yang bilang sendiri saat kerja dulu. Rumahnya sudah lunas. Anaknya sekolah di tempat bagus bagus. Saat pekerja lainnya berkeluh-kesah soal harga sembako dan lainya naik dia cuma senyum. "Santai aja. Rezeki sudah ada yang atur." Katanya.

 

Kamis Minggu kemarin, tiba-tiba dia telepon dan minta ketemu sambil ngopi. Empat mata, katanya. Saya juga agak bingung, tumben mau ketemu empat mata. Tumbenn banget nih teman. Ada apa gerangan, pikir saya. 

 

Saat ketemuan dan ngopi. Dia bilang, "Bro, gue mau jujur sesuatu yang belum pernah gue ceritain ke siapapun sebelumnya."

"Apaan?" kata saya.

"Sebanranya, rumah gue itu belum lunas. Masih 10 tahun lagi. Dan bulan ini, gue tidak tahu dari mana bayar buat bulan depannya."

 

Saya pun diam. "Tapi elo bilang dulu kan …."

"Iya, gue tahu apa yang gue bilang. Itu kann yang orang perlu dengar, bukan yang benaran terjadi pada diri gue."  

 

"Jadi selama ini elo pura-pura aja?"

"Iya, pura-pura tiap hari. Di kantor, di rumah dan di mana saja."

"Kenapa begitu?" tanya saya.

"Karena gue kan seorang ayah. Ayah tidak boleh kelihatan tidak punya jawaban. Itu yang gue percaya sejak pertama kali jadi kepala keluarga."

 

Lalu, dia pegang gelas kopinya. Sambil meneguk sebentar lalu dipegangnya lagi.

"Dan yang paling capek bukan kerjanya, Bro. Tapi pura-puranya itu yang menguras energi. Pikiran dan mental gue capek"  

 

Sejenak, saya mengalihkan pembicaraan masa-masa sekantor dulu. Sambil meneguk, kopi hitam kesukaaan saya. Karena ngobrol masalah serius begini butuh kepala jernih lebih. Karena percakapan seperti begini, tidak bisa dihadapi dengan pikiran yang setengah hadir.  

 

Lanjut lagi ceritanya. "Berapa lama elo sudah seperti ini?" tanya saya.

"Empat tahunan."

"Empat tahun?!"

"Iya. Selain gue punya cicilan rumah, gue juga ada cicilan motor. Tadinya, gue pikir aman. Ternyata tidak. Tapi gue nggak cerita ke istri."

"Kenapa?"

"Takut dia panik. Takut dia kecewa. Takut dia kelihatan gagal."

"Terus sekarang gimana?"

"Sekarang gue yang panik sendirian, tiap malam. Sudah empat tahun."  

"Jadi yang bikin elo hancur bukan cicilannya?"

Dia geleng pelan.

"Bukan. Cicilan bisa dihitung. Bisa dinegosiasi. Bisa dicari jalan keluarnya kalau pun nggak kebayar."

"Terus?"

"Yang bikin hancur adalah hue menganggu sendirian perasaan kayak gini selama empat tahun. Tanpa satu orang pun yang tauh. Setiap pagi bangun pasang muka yang sama. Setiap malam tidur dengan beban yang sama."

 

"Itu beneran menguras pikiran elo. Bukan karena cicilannya. Tapi karena elo merasa menanggung sendirinya?" 

“Iya bro ..”

 


Lalu, saya tanya satu hal: "Istri elo tahu nggak sekarang?"

Dia mengangguk pelan. "Baru dua minggu lalu gue cerita ke istri"

"Terus reaksinya gimana?"

"Dia nangis. Gue pikir karena marah. Ternyata bukan…."

"Kenapa?"

Istri gue bilang: “Kenapa baru sekarang cerita sekarang? Aku ini istrimu. Bukan penilaimu.'"

Taman saya pun mikir sebentar. "Kalimat dari istri itu yang gue sesali juga. Kenapa dari empat tahun lalu, gue nggak tahu bedanya antara istri dan penilai”.  

 

Mau tahu lanjutannya? Sepertinya sudah cukup. Saya pun masih ngobrol soal itu. Tapi apa hikmah di balik cerita teman saya itu?

 

Justru, cerita kawan saya itulah yang tidak pernah diajarkan untuk menjadi “Ayah”. Harus menanggung sendiri itu bukan bentuk tanggung jawab. Tapi bentuk “kesepian” yang paling mahal harganya. Karena kita menanggung yang berat sendirian. Kita tidak bayar dengan uang. Tapi dengan kesehatan. Dengan tidur, dengan kehadiran. Dengan tahun-tahun yang tidak bisa diulang lagi.  

 

Sebelum pulang, dia bilang satu hal ke saya: "Bro, satu yang gue pelajari dari kondisi gue ini"

"Apa?"

"Masalah keuangan itu bisa diselesaikan. Sekalipun butuh waktu, butuh rencana tapi tapi bisa diselesaikan. Tapi kerusakan pikiran dan mental yang terjadi pada gue selama tahun itu lebih berat. Menanggung sendiri semuanya itu, capek psikologis dan lebih lama waktu sembuhnya."

 

Lalu teman saya berdiri hendak pamit duluan. Saya pun berpesan: "Ingat, jangan tunggu empat tahun untuk cerita ke istri kalau besok ada lagi. Daripada nanggung sendiri. Uang memang penting tapi psikologis jauh lebih penting. Sehat itu mahal bro …."  

==== 

Bisa jadi, cerita teman saya ini dialami juga oleh banyak “ayah” di luar sana. Ayah-ayah yang lagi makan siang atau ngopi sambil baca ini. Saya tidak tahu beban apa yang lagi ditanggung sendirian seorang ayah. Berceritalah, masalah itu bukan hukuman, bukan pula vois hidup yang tidak sempurna. Tiap orang punya masalah itu pasti. Tinggal cara menanganinya, mau gimana?

 

Coba deh untuk cerita satu hal saja. Tidak harus semuanya. Tidak harus dengan detail atau angka yang lengkap. Tapi cukup bilang "Aku lagi berat. Aku butuh kamu tahu." Kalimat itu sudah bikin lebih ringan kok, daripada menanggung sendirian. Dan buat ayah yang masih bekerja, bersyukurlah dan bijaklah mengelola uang. Gunakan sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Jangan pura-pura, lebih baik apa adanya saja.

 

Termasuk jangan pura-pura punya dana pensiun, padahal belum punya. Memang dana pensiun nggak diperlukan saat kerja. Tapi sangat dibutuhkan saat pensiun atau tidak kerja lagi. #YukSiapkanPensiun

 

Gimana Hidup dengan Baik di Taman Bacaan?

Saat lagi membimbing anak-anak yang membaca di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung salak, seorang tamu yang sengaja berkunjung bertanya. Apa sih tanda seseorang benar-benar hidup dengan baik?

 

Jujur saja, itu pertanyaan yang susah dijawabnya. Apalagi bila dibalikin, apa kita sudah hidup dengan baik? Tapi secara literasi, kira-kira begini. Orang yang hidup dengan baik itu bukan dari apa yang dia tunjukkan. Tapi dari apa yang dia nggak lagi butuh tunjukkan? Ketika kita sudah tidak tertarik untuk menunjukkan apapun.

 

Orang baik nggak sibuk membuktikan diri. Nggak haus validasi. Nggak merasa perlu dilihat terus-menerus. Karena saat hidup kita benar-benar sudah “penuh”, kita nggak lagi butuh tepuk tangan. Yang kita cari, justru ketenangan. Ya, tenang itu barang mahal di zaman sekarang.   

 

Makanya orang yang benar-benar bahagia itu “aneh”. Semakin baik hidupnya, semakin dia menjaga “privasinya”. Bukan karena sombong. Tapi karena dia tahu. Nggak semua hal perlu diumumkan. Nggak semua kebahagiaan perlu dibagikan.  

 


Tahu nggak? ada fase dalam hidup, di mana kita sudah berhenti “menampilkan” hidup dan mulai benar-benar menjalaninya. Segala yang baik dan bermanfata hanya dikerjaka tanpa lagi diumumkan atau meminta validasi orang lain.  

 

Sebab di titik itu, kita nggak lagi peduli siapa yang melihat. Karena kita sudah cukup dengan apa yang kita rasakan kita alami sendiri. Bukan berarti nggak boleh berbagi. Tapi kalau semua harus ditunjukkan, mungkin kita belum benar-benar “tenang”.   

 

Karena hidup yang paling terasa “cukup”, biasanya biasanya justru yang paling sedikit terlihat. Kalau boleh bertanya, kapan terakhir kali kita merasa bahagia tanpa perlu orang lain tahu? Coba dicek dan mulai dijalankan deh, sebab nggak semua perlu validasi orang lain. Salam literasi!

 


Banyak Pria Teman Saya Takut Tua dan Pensiun, Kenapa?

Setelah ngobrol sambil ngopi dengan teman-teman kerja, ternyata banyak teman pria yang takut tua. Khawatir akan masa pensiunnya sendiri, entah kenapa?

Tapi bila dipikir-pikir, pria takut tua mungkin ada banyak penyebabnya. Bisa karena tidak punya uang di hari tua, bisa takut bingung kalau tidak kerja, atau karena lainnya. Tentu, pria-pria itulah yang lebih tahu, kenapanya?

 

Ada teman saya. Dia sepanjang hidupnya berdiri paling depan. Disapa banyak orang, ditanya pendapatnya. Diandalkan dalam setiap keputusan penting. Dia tumbuh dengan identitas mentereng. Dia merasa “bernilai” karena sibuk dan dibutuhkan di kantornya. Tapi ketika masa pensiun tiba, panggung itu tiba-tiba gelap. Sekarang dia sudah pensiun, tidak bekerja lagi.

 

Di minggu-minggu awal pensiun, semuanya terasa seperti liburan panjang. Bangun siang, minum kopi, olahraganya jalan santai. Tapi setelah beberapa minggu, sunyi mulai terdengar dengan nyata. HP yang dulu penuh panggilan, kini sepi. Rapat yang dulu padat, kini tidak ada.

 

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia tidak tahu harus ke mana. Ada ketakutan yang jarang ia akui ke siapa pun: “Kalau saya nggak kerja… siapa saya?” Karena sejak kecil ia diajarkan: laki-laki harus kuat, harus berguna, dan harus menghasilkan. Bisa jadi, ini alasannya kenapa teman-teman saya takut tua hehehe.


Pria memang tidak pernah diajarkan untuk merasakan. Inner child-nya dulu tidak pernah diizinkan menangis. Setelah pensiun, baru terasa. Teman saya kembali ke masa kecilnya, mengingat “Dulu aku pengen diperhatikan…”. “Dulu aku takut…”. “Dulu aku sendirian…”

 

Dan sekarang, di usia senjanya, perasaan itu menagih untuk dipeluk. Post power syndrome bukan soal hilangnya jabatan. Bukan soal pensiun. Tapi yang sebenarnya hilang adalah: penghargaan diri, identitas, dan pelarian dari rasa yang pernah ditahan.

 

Ketika sibuk, ia tidak sempat merasa. Ketika bekerja, iya seakan tidak punya waktu. Ketika berhenti kerja, kini ia tidak bisa lagi lari. Dan di situ, semuanya terungkap. Dan memang, sepertinya banyak pria sebenarnya takut tua. Takut bila duduk berdampingan dengan hatinya sendiri. Takut melawan badai pikirannya sendiri di hari tua.

 


Banyak pria lupa, apalagi saat belerja.upa hal yang paling menakutkan adalah kejujuran pada diri sendiri. Saat kerja boleh rapi, keren dengan outfit barang-barang branded. Gagah perkasa. Tapi begitu pensiun, para pria itu cerita mengalami depresi berat, linglung. Makanya psikolog, menganjurkan para pria bekerja apa saja di hari tua. Asal punya aktivitas, alasannya. Agar kesehatan mentalnya tidak terganggu. 

 

Semua pria pasti akan pensiun, akan tua. Maka jangan takut tua. Karena para pria harus mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Nabung di dana pensiun, karena pria butuh hobi butuh aktivitas. Bila pensiun dengan uang banyak maka bisa menjalani hobi dengan bebas. Waktu tersedia, fisik masih sehat dan uang pensiun yang akan membantu untuk mewujudkannya. 

 

Begitulah kisah pria di masa pensiun. Ternyata, pensiun bukan hanya urusan berhenti kerja. Tapi harus punya kesiapan mental, psikologis, dan uang tentunya. Agar tetap mandiri secara finansial di hari tua. Dan yang penting, pensiun itu mengajarkan para pria untuk "berhenti sejenak" dari hiruk pikuk dunia atau apapun. Selamat menjalani masa pensiun teman!

Bottom of Form

 

Minggu, 26 April 2026

Arah Hidup itu Dicari atau Ditemukan?

Seorang anak pembaca aktif di TBM Lentera Pustaka bertanya. “Pak, arah hidup itu dicari atau ditemukan?”

 

Dan anehnya, saya yang sehari-hari berdiri di depan kelas dan mengajar agak terdiam cukup lama sebelum menjawab. Karena ternyata, tidak semua pertanyaan harus langsung dijawab. Ada yang perlu direnungkan dulu.  

 

Begini ya Nak, saya melihat banyak anak-anak mulai benar-benar memegang kemudi hidupnya sendiri. Biasanya dimulai saat SMA. Memilih kampus sendiri, memilih jurusan. Memilih teman dan memilih lingkungan. Ada yang terlihat siap. Tapi lebih banyak yang masih kebingungan. Ada yang cepat belajar dan beradaptasi. Ada yang masih keras kepala, belum paham arah. Ada yang memilih mengalir. Ada yang kritis, terus bertanya dan mempertanyakan. Ada yang punya privilege. Ada juga yang harus mulai dari nol—bahkan dari minus.  

 

Maka saya sadar, jadi dosen atau guru saja tidak cukup. Kadang kita juga dipaksa belajar menjadi “pemikir”. Dan ini yang ingin saya sampaikan untuk kita yang sedang ada di fase 18–20 tahun, tentang arah hidup:  

 

1. Punya referensi yang solid. Belajarlah tentang hidup dari “Yang memberi hidup”. Pelajari, pahami, dan perbarui terus cara pandang kita. Bahkan dari ayat yang sama, pemahaman yang berbeda bisa melahirkan nilai dan keyakinan yang berbeda. Dan dua hal itu, nilai dan keyakinan, sering jadi fondasi cara kita mengambil keputusan. Baca juga kisah orang-orang terdahulu. Karena dalam banyak hal, pola hidup manusia itu berulang. Yang berubah hanya konteksnya.  

 


2. Hiduplah dengan cara pikir ilmuwan. Mencoba, gagal atau berhasil. Belajar. Lalu ulangi lagi di aspek lain. Dengan cara ini, arah hidup bukan sesuatu yang “ditunggu”, tapi sesuatu yang perlahan terbentuk. Memang tetap relatif cepat atau lambatnya, karena setiap orang mulai dari titik yang berbeda.  

 

3. Fokus pada diri sendiri. Saat ini media sosial media membuat standar hidup terasa sangat ramai. Kita jadi mudah terpicu oleh pencapaian orang lain. Padahal yang sering kita lihat hanyalah “highlight”, bukan keseluruhan cerita. Proses jatuh bangun, gagal, ragu—jarang sekali ditampilkan. Maka mungkin bukan soal berhenti bermain sosial media, tapi belajar untuk tetap sadar dan tidak kehilangan arah diri di dalamnya.  

 

Jadi, arah hidup itu bukan sekadar dicari atau ditemukan. Tapi dibangun, pelan-pelan, dari pilihan kecil yang kita ambil setiap hari. Mulailah dari yang sederhana, asal baik dan bermanfaat lakukan dan kerjakanlah. Seperti anak-anak TBM Lentera Pustaka yang konsisten membaca buku di taman bacaan. Salam literasi!

 


Naik Jabatan Malah Stress, Pengen Kerja yang Biasa-Biasa Aja

Ini cuma cerita di kantor sebelah. Seorang kawan awal tahun 2026 ini baru dapat promosi jabatan. Jadi manajer di kantornya, gajinya naik dan dapat fasilitas mobil. Hampir semua orang di kantor tepuk tangan buat dia.

 

Saat ketemuan sambil ngopi dengan dia, saya ucapkan selamat dan doa semoga sukses selalu di kerjaannya. Tapi mimik wajahnya malah kayak orang gelisah. Dia bilang "Gue merasa semua ini cuma kebetulan aja bro. Sebenarny ague belum pantas. Sekarang, malah tiap hari gue takut kalau orang kantor sadar, sebenernya nggak jago-jago amat. Takut dipecat kalau gue ketahuan aslinya” ujar dia.

 

Agak aneh kawan saya ini. Naik jabatan kok malah merasa kayak “pencuri yang lagi nunggu ditangkap”. Naik pangkat malah stress dan bilangnya mendingan jadi pekerja biasa-biasa saja. Bukannya bersyukur dan bangga, kok malah jadi gelisah.

 

Mungkin, perasaan seperti kawan saya ini bisa terjadi di banyak orang. Pekerja yang justru khawatir saat dapat promosi. Gelisah saat naik jabatan atau pangkat. Orang-orang yang stress bukan pada saat gagal. Tapi stress gara-gara ptomoosi jabatan atau llagi sukses-suksesnya. Dan ternyata, di kalangan pekerja, itulah yang disebut dengan “imposter syndrome”. Sebuah kondisi psikologis di mana seseorang merasa tidak layak atas pencapaiannya, meragukan kemampuan diri, dan takut dianggap sebagai penipu meskipun ada bukti kompetensi yang jelas.

 

​Ada benarnya di kalangan pekerja. Semakin tinggi pencapaian justru semakin besar suara batin yang bilang "ini cuma keberuntungan" atau "ini cuma hasil akting atas kerjaan”. Naik jabatan dianggap hasil spekulasi. Sehingga pengidapnya sering merasa kesuksesan hanyalah faktor keberuntungan, bukan kerja keras. Dan akhirnya, si pekerja yang imposter syndrome jadi cemas dan burnout. Lelah sendiri dengan jabatan dan kerjaannya.

 

Saya pun berpikir, kok ada ya pekerja yang tidak yakin dengan pencapaiannya sendiri? Dan ternyata, memang sebagian pekerja menganut “perfeksionis”.  Pekerja yang tidak mampu melihat keberhasilan kerjanya sendiri yang begitu banyak. Karena fokusnya pada satu hal kecil yang dirasa kurang. Dari perasaan inilah, si pekerja akan merasa dirinya tidak kompeten.

 


​Kasihan juga ya, pekerja yang mengalami imposter syndrome. Malah tersikssa batin dan pikiran saat naik jabatan atau dipromosikan di kantornya, Tidak bisa menikmati “kemenangan” yang diraihnya sendiri. Merasa kemampuan dan kerjanya biasa saja tapi diapresiasi bos atau kantor. Dia merasa jadi penipu, karena apa yang dikerjakannya bukan kehebatan tapi standar yang bisa dilakukan semua orang.

 

Tidak sedikit pekerja yang kurang percaya diri. Bahkan menyatakan dirinya tidak kompeten. Bikin simpel saja di kantor, semua apresiasi harusnya diterima karena ada mekanismenya. Berhentilah berpikir perfeksionis. Teruslah ikhtiar untuk membuktikan bahwa apa yang diraih sepada dengan kerja dan tanggung jawab yang dijalankan.

 

Jangan gampang bilang hoki atau keberuntungan. Sebab tidak ada di dunia ini yang “kebetulan”, semuanya sudah ada jalannya masing-masing. Hoki itu tidak mungkin bisa diulang. Justru karena kita punya kapasitas maka diapresiasi orang lain atau kantor. Jangan terllau merendahkan apa yang sudah dicapai diri sendiri, apalagi yang diraih orang lain. Sikap menghargai itu penting, buat diri sendiri dan orang lain.

 

Jadi, buat siapapun yang lagi ada di posisi sekarang. Bersyukurlah, karena itu adalah hasil ikhtiar yang panjang. Berhenti merasa bersalah atas kesuksesan diri sendiri. Dan kita memang panras untuk mendapatkannya.

 

Jangan sampai naik jabatan malah stress, lalu berpikir pengen kerja yang biasa-biasa aja. Pikiran itu salah. Justru dengan naik jabatan dan gaji besar, muali nabung untuk masa pensiun. Bila perlu bilang ke kantor, tolong sediakan dana pensiun untuk semua karyawan. Sebab cepat atau lambat, semua pekerja akan pensiun. #YukSiapkanPensiun