Tahun 2017 awal, saya pernah terkena
PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dari kantor. Setelah bekerja lebih dari 17
tahun, saya kena lay off. Pastinya, panik dong. Kerja belasan tahun, akhirnya
berakhir di PHK. Gaji puluhan juta pun berhenti, sekalipun dapat uang pesangon
yang besarannya lumayan-lah bisa buat bangun kontrakan 10 pintu. Tapi intinya,
saya pernah kena PHK.
Setelah peristiwa PHK itu,
saya bilang ke istri dengan suara paling datar. Bahwa saya di-PHK dari kantor.
Istri pun diam dan raut wajahnya seperti kebingungan. Akankah uang bulanann berhenti
atau berkurang? Saya tegaskan, "Santai saja Bu. Saya akan cari kerja baru
lagi." Sambil tersenyum dikit, pikiran saya mulai menyala. Walau di dalam hati,
ada bagian yang kayak jatuh dari lantai 10 untuk memberi kabar di PHK.
Malam itu saya nggak bisa
tidur. Mulai menghtung-hitung: alokasi biaya bulanan, cicilan, tagihan, urusan dapur.
Terus saya berpikir: saya sekarang bukan apa-apa, bukan pula siapa-siapa. Saya mencoba
memahami sekilas. Selama 17 tahun, saya nempel banget sama gaji. Gaji saya
selalu kasih tahu, bahwa saya berharag. Tapi sejak di PHK, gaji itu
hilang.
Besoknya, saya pura-pura
normal. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Saya bangun pagi seperri biasa,
pakai baju rapi seakan mau ke kantor. Tapi cuma duduk di depan laptop di rumah.
Saya nggak ngomong ke siapa-siapa, termasuk ke anak-anak. Pikiran saya bekerja.
Istri saya bertanya, " Pak ngelamar kerjaan?". Saya jawab
"Iya." Padahal, saya cuma melihat layar kosong sambil bingung, kerja
apa?
Seminggu. Dua minggu. Belum
ada panggilan. Bahkan 3 bulan belum ada tanda-tanda bakal kerja lagi. Saya mulai
marah-marah urusan hal sepele. Gampang panik dan emosi. Anak saya meinta jajan,
saya marah. Anak numpahin susu, saya teriak. Anak-anak pun menangis. Karena
ayahnya gampang emosi. Saya pun menyesal, lalu merenung sejenak. Bukan susu
yang bikin saya teriak. Saya lagi marah ke diri saya sendiri, dan yang kena
marah cuma orang orang terdekat!
Memang benar sih, ada riset
yang bilang, kehilangan kerja itu bisa menaikkan risiko depresi, dan efeknya
lebih kerasa di laki-laki. Karena banyak dari kita yang diajarkan: harga diri
itu penghasilan. Saya berpikir sejenak. Saya nggak sedih karena kehilangan
kerja. Tapi saya sedih akibat kehilangan alasan buat meras berharga, apalagi
untuk orang-orangt terdekat. Benar adanya, meta-analisis Paul dan Moser (2009) menyebut
kehilangan pekerjaan atau menganggur itu merusak kesehatan mental, dan makin
lama makin dalam. Dan efeknya lebih terasa pada laki-laki.
Suatu malam istri saya duduk
di sebelah saya. "Mas, boleh sedih kok." Saya jawab dan bilang bilang,
"Saya nggak sedih. Saya lagi nyari kerja." Lalu, dia pegang tangan saya,
"Mas boleh sedih sambil nyari kerja kan." Saya mencoba memahami lebih
dalam kata-kata itu. Saya menahan tangis selama berminggu-minggu sejak di PHK.
Satu kalimat itu yang bikin bobol batin dan mental.
Dia bilang, "Aku nikah
sama Mas, bukan sama gajinya. Anak-anak sayang sama Bapaknya, bukan sama
jabatan bapaknya." Saya meneteskan air mata, tiba-tiba kayak anak kecil.
Menyala pikiran saya. Belasan tahun saya bangun harga diri dari angka di slip
gaji. Ternyata di rumah, saya sudah berharga dari dulu tanpa slip gaji
sekalipun. Sayangnya, saya saja yang nggak pernah menyadari.
Saya mulai bangun ulang.
Rutinitas harian: bangun pagi, ngopi sambil siapkan plan, istirahat, bantu
istri. Pas anak-anak tidur, saya membaca buku dan siapkan bahan untuk mengajar
di kampus. Pikiran saya bekerja. Ternyata yang membuat saya waras bukan pekerjaan.
Tapi selalu merasa berharga. Vandello (2008) menyebut maskulinitas itu rapuh:
laki-laki yang kehilangan peran pencari nafkah, harga dirinya mau nggak mau ikut
goyah.
Saya pernah kena PHK. Dan
sejak itu, saya bisa bilang ke diri saya sendiri. Saya ini bukan cuma pencari
nafkah. Pak bapak, Pak suami. Bapak itu yang mengajarkan anak-anak naik sepeda,
menemani belajar anak di malam hari. Bapak yang menemani istri belanja. Bahkan
bapak pula yang membeli gas saat habis. Saya pun mencoba memahami sekilas semua
perjuangan seorang bapak. Maka siapapun yang dalam posisi kehilangan pekerjaan
atau terkena PHK, ingat ini “kerja bapak bisa hilang tapi peran bapak nggak akan
pernah hilang”.
Besoknya saya membuat rencana
sekalipun tanpa tanggal. Saya bagi hari-hari menjadi lima bagian: jaga kesehatan,
tetap berkarya apapun, ibadah, istirahat, dan tetap berbuat baik di mana pun. Mungkin
kata orang sederhana, nggak masalah. Saya tetap menulis, ngopi-ngopi, membahas dana
pensiun, dan tetap mengajar. Semuanya saya Jalani apa adanya. Memang, terkesan nggak
menghasilkan uang. Tapi hidup terasa lebih tenang dan penuh syukur. Hari-hari yang nggak kosong. Setiap pagi saya cuma
menulis tiga hal yang harus selesai. Setiap malam saya centang dan semuanya
tuntas. Sebuah kebiasaan kecil setiap hari, menuntaskan semua pekerjaan sekecil
apapun walau tanpa imbalan.
Saat terkena PHK, tetaplah bikin
rencana dan terus ikhtiar untuk dijalankan. Hingga saya berhentikan dari duduk
berjam-jam hanya menatap layar sambil merasa nggak berguna. Saya jadi paham,
saat terkenapHK dan belum bekerja lagi bukan berarti hari ini nggak melakukan
apa-apa. Selau ada kerjaan dan karya yang bisa diperbuat. Terkadang di dunia
kerja, yang perlu dibangun bukan hanya karier atau gaji. Tapi alasan untuk selalu
bangun besok pagi dengan semangat dan optimism besar. Berpikir positif tanpa
keluh-kesah.
Dan akhirnya, setelah 10
tahun saya di PHK, kini saya lebih bisa menikmati hidup. Punya kontrakan 10
pintu untuk menambah biaya hidup bulanan, tetap mengajar di kampus, aktif
mengelola taman bacaan, jadi konsultan dan pengajar dana pensiun, jadi dewan
pengawas di dana pensiun, hingga kecil-kecilan jadi “tukang durian” (bukan
tukang kupas bawang).
Sungguh, memang nggak semua
hal dalam hidup selalu membawa bahagia. Terkadang menerima apadanya, selalu merasa
cukup saja sudah membuat banyak hal lebih tenang. Jadi, lebih bayak bersyukur. Hidup
itu mudah asal dilakoni, tanpa perlu ekspektasi besar. Asal nggak punya hutang,
nggak dikejar angsuran, nggak punya gaya hiudp sudah cukup. Makan enak, tidur
nyenyak, dan badan tetap sehat. Dan yang penting, nggak usah ngurusin hidup
orang lain. Sebab, setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Setelah di
PHK, akhirnya berucap, Alhamdulillah ya Allah …