Kamis, 17 September 2026

Pelukan di Tengah Air Mata: Ketika Ayah dan Ibu Berjuang Melawan Takdir

Malam ini, suamiku pulang tanpa sepatah kata. Ia membuka pintu perlahan, meletakkan tasnya, lalu duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada keluhan, tidak ada cerita tentang bagaimana hari yang panjang telah menguras tenaganya. Namun, dari matanya, aku tahu ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan. Aku pun berdiri, menghampirinya, dan memeluk tubuhnya erat. Seolah-olah pelukan itu bisa menjadi tempat baginya untuk meletakkan seluruh beban yang dipikulnya. Dan benar saja, dalam pelukan, suamiku menangis sesenggukan. Tangannya mencengkeram tubuhku, seakan takut jika ia melepaskan pelukan itu, seluruh kekuatannya akan ikut menghilang.

 

Aku hanya bisa menyucurkan air mata. Bukan karena aku tidak ingin menguatkannya, tetapi karena aku sendiri sudah terlalu lama menahan kesedihan. Sejak anak kami terbaring di rumah sakit, hatiku seperti tak pernah benar-benar menemukan ketenangan. Dokter mengatakan anak kami mengidap thalassemia, kelainan darah bawaan yang membuat tubuhnya lemas dan wajahnya tampak pucat. Kami pun masih berusaha memahami semuanya.

 

Mengapa anak kami? Mengapa harus ia yang menanggung sakit sebesar ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku, tetapi tidak satu pun mampu menemukan jawaban. Aku hanya seorang ibu yang ingin melihat anaknya tumbuh sehat, berlari, tertawa, dan memanggilku dengan suara riang.

 

Di bangsal rumah sakit, aku duduk di sisi tempat tidurnya. Wajah kecil itu terlihat begitu pucat. Tangannya yang mungil terbaring lemah, sementara selang dan berbagai peralatan medis menjadi pemandangan yang belum pernah kubayangkan akan hadir dalam kehidupan kami. Aku menggenggam jemarinya, berusaha tersenyum meskipun air mata terus jatuh. Di sisi lain, suamiku masih tertunduk lesu. Seorang ayah yang biasanya menjadi tempat kami bersandar, malam itu terlihat begitu rapuh. Aku tahu ia sedang berjuang. Bukan hanya melawan rasa takut kehilangan, tetapi juga melawan perasaan bersalah karena belum mampu melakukan lebih banyak untuk anak kami.

 

Tiba-tiba, dari dalam kamarnya, terdengar suara lirih yang begitu kukenal. “Mana... Mama!” Dua kata sederhana itu langsung menghancurkan sisa kekuatan yang masih kusimpan. Aku segera menghampirinya, membelai kepalanya, lalu mendekap tubuhnya dengan hati-hati.

 

“Mama di sini, Nak... Mama di sini,” bisikku berulang kali. Ia mungkin belum mengerti mengapa tubuhnya harus merasakan sakit, mengapa ia harus berada di rumah sakit, atau mengapa wajah Mama dan Papanya selalu dipenuhi air mata. Yang ia tahu hanyalah ketika rasa sakit datang, ia membutuhkan mamanya. Dan aku ingin selalu ada, meskipun hatiku sendiri sedang berkeping-keping.

 


Malam semakin larut. Suamiku duduk di samping tempat tidur anak kami, mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Aku melihatnya diam-diam, lalu menyadari bahwa kami sedang menghadapi ujian yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Kami bukan keluarga yang memiliki semua jawaban. Kami juga bukan manusia yang selalu kuat. Ada saatnya kami ingin berteriak, bertanya kepada Tuhan mengapa jalan ini begitu berat. Namun, di antara tangis dan ketidakpastian, kami masih memiliki satu sama lain. Kami masih bisa saling memeluk. Masih bisa menggenggam tangan anak kami. Dan masih bisa berdoa, meskipun doa itu terkadang hanya berupa bisikan yang keluar dari hati yang hancur.

 

Aku pun menatap wajah anakku yang mulai terlelap. Tanganku masih menggenggam jemarinya, sementara suamiku duduk di sampingku. Dalam hati, aku berbisik, “Ya Allah, jika sakit ini harus kami jalani, berikanlah kami kekuatan. Jika air mata ini harus terus mengalir, jangan biarkan kami kehilangan harapan. Sembuhkanlah anak kami, atau setidaknya, jangan biarkan ia merasa sendirian dalam sakitnya.”

 

Malam itu, kami tidak tahu bagaimana hari esok akan berjalan. Kami hanya tahu bahwa cinta seorang ibu dan ayah tidak akan berhenti ketika tubuh anaknya mulai lemah. Sebab, bagi kami, anak ini bukan sekadar bagian dari kehidupan. Ia adalah alasan kami tetap bertahan, bahkan ketika hati kami sendiri hampir menyerah. Terkadang, ada pelukan yang menyimpan sejuta luka …

 

PKKMB 2026 Universitas Lia Dorong Mahasiswa Baru Menjadi Generasi Berkarakter

Semangat dan antusiasme mahasiswa baru mewarnai kegiatan PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) 2026 Universitas Lia dengan tema “The Great Start: Navigating the Unknown”. Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah “Profil Mahasiswa Pancasila” yang disampaikan oleh Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd., Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) di Kampus Univ. Lia (17/09/2026). Sesi ini mengajak mahasiswa baru memahami bahwa memasuki perguruan tinggi bukan hanya tentang mengejar prestasi akademik, tetapi juga mempersiapkan karakter untuk menghadapi kehidupan yang semakin kompleks.

 

“Sesi profil mahasiswa Pancasila ini penting untuk membentuk generasi muda yang berkarakter di tengah dinamika zaman. Bukan hanya menjadi mahasiswa yang punya ilmu pengetahuan dan akademik tapi memahami karakter Pancasila. Sebagai bekal untuk menavigasi dunia kampus dalam mencetak lulusan yang unggul” ujar Syarifudin Yunus saat presentasi. Ikut hadir pula Ismarita Ramayanti, Ph.D (Warek I Akademik, Kemahasiswaan & Humas Universitas Lia) dan Alver Javi Ketua PKKMB 2026).

 

Dalam paparannya, Syarifudin Yunus menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran penting sebagai generasi yang tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam karakter. Nilai-nilai Pancasila perlu hadir dalam cara mahasiswa berpikir, bersikap, berkomunikasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan. Menurutnya, kehidupan kampus merupakan ruang untuk membangun pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, kritis, kreatif, sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial. Untuk itu, setiap mahasiswa harus memahami dan memiliki nilai-nilai profil mahasiswa Pancasila yang terdiri dari: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, 2) berkebinekaan global, 3) bergotong royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif.

 


Tema “The Great Start: Navigating the Unknown” menjadi semakin relevan karena mahasiswa baru akan memasuki fase kehidupan yang penuh pengalaman dan tantangan baru. Menjadi mahasiswa yang dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan, terbuka terhadap perbedaan, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta tetap memiliki prinsip dalam menghadapi berbagai pilihan. Karakter menjadi kompas ketika seseorang berada dalam situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Karena itu, keberhasilan mahasiswa tidak semata-mata diukur dari indeks prestasi, tetapi juga dari kemampuan menjadi pribadi yang berintegritas dan bermanfaat bagi sesama.

 

Sesi “Profil Mahasiswa Pancasila” pun disambut antusias oleh mahasiswa baru Universitas Lia. Interaksi dan perhatian peserta menunjukkan bahwa pembentukan karakter menjadi bagian yang penting dalam memulai perjalanan pendidikan tinggi. PKKMB 2026 akhirnya bukan sekadar pintu masuk menuju kehidupan akademik, tetapi juga momentum untuk menanamkan kesadaran bahwa masa depan membutuhkan generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berkarakter Pancasila. The Great Start menjadi awal perjalanan untuk berani menavigasi hal-hal yang belum diketahui dengan ilmu, karakter, dan nilai-nilai kebangsaan. Salam Pancasila!

 


Rabu, 16 September 2026

Belajar Tenang dalam Sunyi, Belajar Ikhlas dalam Takdir

Ada kalanya hidup terasa terlalu penuh. Terlalu banyak masalah yang harus dipikirkan, terlalu banyak tekanan yang harus ditanggung, dan terlalu banyak emosi yang harus disimpan. Sampai akhirnya, yang kita butuhkan bukan nasihat baru. Bukan pula lebih banyak orang yang datang menyelamatkan, melainkan sedikit jarak dan ruang untuk bernapas. Dalam kesunyian, pikiran perlahan menemukan kembali kejernihannya, hati belajar menenangkan dirinya sendiri. Dan kita mulai memahami bahwa ketenangan tidak selalu harus dicari dari kehadiran orang lain.

 

Mungkin memang ada fase dalam hidup. Ketika kita perlu berhenti sejenak dari keramaian, bukan karena kita membenci dunia atau tidak membutuhkan siapa-siapa. Tapi karena kita ingin kembali mengenali siapa diri kita sebenarnya. Kita belajar bahwa orang lain boleh menjadi tempat berbagi cinta, dukungan, dan kebahagiaan. Tapi jangan sampai mereka menjadi satu-satunya tempat kita menggantungkan ketenangan. Sebab ada bagian dari diri kita yang hanya bisa kita temukan ketika dunia sedang sunyi dan tidak ada siapa-siapa selain diri kita sendiri.

 

Di sanalah kedewasaan emosional perlahan tumbuh. Bukan ketika kita menjadi seseorang yang tidak membutuhkan siapa pun, melainkan ketika kita mampu mencintai seseorang tanpa kehilangan diri sendiri. Mampu menerima kehadiran tanpa takut pada kesendirian; dan mampu tetap utuh meskipun orang yang kita cintai tidak selalu berada di sisi kita. Terkadang, yang paling kita perlukan bukanlah jawaban baru. Tapi cukup ruang untuk diam, menepi, dan mendengarkan suara hati yang selama ini tertutup oleh riuhnya dunia.

 

Dan pada akhirnya, ketenangan terdalam bukan semata-mata lahir karena semua keadaan berjalan sesuai keinginan kita. Ketenangan datang ketika kita belajar berpasrah sepenuhnya kepada Ilahi, menerima setiap takdir-Nya dengan cinta, serta percaya bahwa bahkan sesuatu yang terasa buruk bagi kita belum tentu buruk di hadapan-Nya. Seperti seorang bayi yang menangis ketika wajahnya dibasuh oleh tangan ibunya karena merasa dingin dan tidak nyaman, padahal sang ibu sedang membersihkannya dengan penuh kasih sayang. Begitulah terkadang kita menangisi sesuatu yang sebenarnya sedang Tuhan gunakan untuk membersihkan, menjaga, atau mengarahkan kita kepada sesuatu yang belum mampu kita pahami.

 


Barangkali yang paling sering membuat kita terluka bukanlah kenyataan itu sendiri, melainkan ego kita yang ingin kenyataan berjalan sesuai kehendak kita. Kita memaksa apa yang ingin pergi untuk tetap tinggal, memaksa sesuatu yang telah berakhir untuk kembali, dan memaksa takdir mengikuti apa yang kita anggap paling baik. Padahal mungkin, ketenangan mulai hadir ketika kita berhenti melawan apa yang sudah ditetapkan, lalu berkata dalam hati, “Ya Allah, aku tidak selalu mengerti jalan-Mu, tetapi aku percaya kepada-Mu.”

 

Maka ambillah waktu untuk menepi, kenali kembali diri kita, pulihkan hati, lalu kembalilah menghadapi dunia dengan keyakinan bahwa tidak semua yang menyakitkan adalah bentuk kehilangan. Bisa jadi, di balik sesuatu yang tidak kita mengerti, ada kasih sayang Tuhan yang sedang bekerja dalam cara yang belum mampu kita lihat. Jadilah literat!

 


Selasa, 15 September 2026

Nggak Perlu Membalas Hinaan, Biarkan Waktu dan Perjuangan yang Membuktikan

Sering kali kita mengira bahwa pujian adalah sumber kekuatan terbesar untuk terus melangkah. Padahal, dalam kehidupan nyata, justru keraguan, cibiran, bahkan hinaan dari orang lain bisa menjadi bahan bakar yang membuat seseorang semakin kuat. Ketika seseorang mengatakan kita tidak mampu, terlalu bermimpi, atau tidak akan berhasil, kita memang tidak harus membalasnya dengan kata-kata. Cukup simpan ucapan itu sebagai pengingat bahwa perjalanan kita belum selesai. Sebab, tidak semua orang akan memahami perjuangan yang sedang kita jalani.

 

Kisah seperti ini pernah dialami Colonel Harland Sanders, pendiri KFC. Sebelum berhasil mengembangkan bisnis ayam gorengnya, Sanders menjalani berbagai pekerjaan dan menghadapi banyak penolakan. Resep ayam goreng yang kemudian menjadi terkenal itu pun tidak langsung diterima. Ia berkeliling menawarkan resepnya kepada berbagai restoran dan mengalami penolakan berkali-kali. Namun, ia tidak menjadikan penolakan tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Ia terus mencoba, memperbaiki cara menawarkan produknya, hingga akhirnya berhasil membangun bisnis yang berkembang menjadi jaringan restoran besar.

 

Kisah Sanders menunjukkan bahwa keberhasilan sering kali bukan tentang siapa yang paling cepat mendapatkan hasil, melainkan siapa yang mampu bertahan ketika hasil belum terlihat. Orang boleh meragukan kita, tetapi jangan sampai keraguan mereka berubah menjadi keyakinan dalam diri kita sendiri. Hinaan tidak perlu dibalas dengan kemarahan, apalagi dengan keinginan untuk menjatuhkan orang lain. Balaslah dengan proses yang konsisten, kerja keras yang nyata, dan hasil yang suatu hari akan berbicara dengan sendirinya. Kita tidak perlu menjelaskan seluruh perjuangan kepada orang yang memang tidak ingin memahami.

 


Karena itu, ketika hari ini ada yang meremehkan, jangan buru-buru menyerah. Mungkin jalan yang kita tempuh memang masih panjang, mungkin hasilnya belum terlihat, tetapi setiap langkah tetap memiliki arti. Tetap fokus, tetap rendah hati, dan terus belajar. Jangan bekerja keras hanya untuk membungkam orang lain, tetapi lakukan karena kita ingin menjadi manusia yang lebih baik daripada diri kita kemarin. Pada akhirnya, kemenangan terbesar bukan ketika orang yang menghina kita mengakui kesalahannya, melainkan ketika kita mampu membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita tidak berhenti hanya karena pernah diremehkan.

 

Terkadang, motivasi terbesar bukan datang dari pujian, melainkan dari mereka yang meremehkan kita. Jadikan setiap keraguan sebagai bahan bakar untuk tumbuh, setiap hinaan sebagai pengingat untuk terus melangkah. Tidak perlu membuktikan diri lewat kata-kata: biarkan proses, kerja keras, dan hasil yang berbicara. Tetap fokus, tetap rendah hati, dan terus berproses menjadi versi terbaik diri kita sendiri. Semangat!

Kemandirian Finansial Masa Pensiun Butuh Strategi Berkelanjutan Sesuai Tahapan Usia

Kita mungkin sepakat. Menua dengan tenang dan bermartabat sama sekali tidak mudah. Karenanya menyiapkan pensiun memang harus dilakukan langkah demi langkah sejak masa muda. Sebab mencapai kemandirian finansial di hari tua merupakan proses panjang yang memerlukan perencanaan matang dan terstruktur sesuai kelompok usia.

 

Berdasarkan analisis Syarifudin Yunus dari Dewan Pengawas DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM), strategi penyiapan dana pensiun tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus dibangun secara bertahap sejak masa muda. Pendekatan berbasis tahapan usia ini memastikan setiap individu memiliki arah finansial yang jelas pada setiap fase kehidupannya demi mengamankan masa depan. Untuk hari tua yang lebih tenang dan berkualitas.

Pensiun bukan soal apa pekerjaannya? Bukan pula berapa gajinya? Tapi lebih ditekankan sejak kapan memulainya, pada usia berapa? Sebagai contoh, pada tahap awal di usia 16–19 tahun, lebih baik fokus utama ditekankan pada pemahaman dasar-dasar keuangan, pengenalan cara bijak mengelola uang, penentuan tujuan finansial, mulai membuka rekening tabungan, dan latihan menghasilkan pendapatan sendiri.

 

Berlanjut ke usia 20–29 tahun, saat mulai bekerja, strategi keuangan bergeser ke pembentukan fondasi yang kokoh melalui penyusunan anggaran keuangan, pembentukan dana darurat, membuat findasi keuangan yang sehat, mulai punya dana pensiun, bahkan mulai berani investasi sejak dini sembari menghindari utang atau pinjol. Fase usia ini sangat penting untuk pembentukan fundamental keuangan. Jadi orang yang suka itang atau tidak, jadi orang yang konsumtif atau tidak?

 

Nah, memasuki usia 30–39 tahun, arah perencanaan berfokus pada akumulasi aset dan perlindungan keluarga, termasuk pertimbangan membeli rumah, diversifikasi investasi, pemaksimalan tabungan pensiun, serta perlindungan keluarga dan evaluasi kebutuhan keuagan yang lebih besar. Di samping antisipasi, biaya pendidikan anak atau kebutuhan tumahtangga mulai melonjak pesat di fase ini.

 


Selanjutnya pada usia 40–49 tahun, langkah finansial berfokus pada pemaksimalan iuran pensiun, pelunasan utang secara agresif (bila ada), optimalkan biaya pendidikan anak, evaluasi portofolio investasi, dan pelaksanaan check-up kesehatan keuangan. Sehat atau tidak secara keuangan, mengukir keseimbangan pendapatan dan pengeluaran? Di fase ini, kemapanan finansial harus sudah terbentuk sebab masa bekerja dalam hitungan 10-15 tahun akan pensiun. Karena itu, dana pensiun sangat penting sebagai pengganti gaji saat berhenti bekerja.

 

Penerapan strategi keuangan berdasraknusia ini memberikan kepastian bahwa setiap keputusan finansial yang diambil hari ini berdampak langsung pada kesejahteraan di masa depan. Dengan kedisiplinan menjaga portofolio dan melakukan evaluasi berkala, impian untuk menikmati masa pensiun yang mandiri, sejahtera, dan bebas dari beban finansial dapat diwujudkan secara nyata. Agar tidak bergantung pada anak atau kelurag di hari tua.

 

Maka siapkan tabungan dan dana pensiun sesuai usia. Sebab hari ini faktanya, 9 dari 10 pekerja sama sekali tidak siap berhenti bekerja atau di-PHK. Bahkan 8 dari 10 pensiunan bergantung secara fnansial pada anggota keluarga yang bekerja, jadi beban ekonomi keluarga. Kondisi itu terjadi akibat tidak mau menyiapkan tabungan atau dana pensiun sejak awal bekerja. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Pak Purbaya dan Rapuhnya Orang Kerja, Momen Bangun Perahu Sendiri

Lagi rapat di DPD, tiba-tiba Pak Purbaya dicopot dari jabatannya. Ditelepon Mensekneg, bahwa dia diganti orang lain. Efektif hari itu, Pak Purbaya pun dicopot atau dipecat. Berhenti jadi Menteri Keuangan RI.

 

Ternyata, serapuh itulah orang kerja. Bisa diganti kapan saja sama bos. Apapun alasannya, bos atau atasan bisa pecat kapan pun. Mau punya kinerja kayak apapun, selagi Cuma pekerja, kapan pun bisa digeser atau dicopot. Paham kan ya. Pejabat sekelas Pak Purbaya yang menteri saja bisa di cut off alias dipecat mendadak. Apalagi kita bisanya cuma jadi robot di kantor.  Maka, sudah ssaatnya orang kerja berpikir. Jangan hanya membesarkan bisnis kantor. Tapi mulailah mempersiapkan dan membangun “perahu” sendiri. Jaga-jaga, kalau dicopot atau digeser pada saat lagi senang-senangnya kerja.

 

Hikmah dicopotnya Pak Purbaya, ternyata pekerjaan sebagai karyawan tidak selalu memberikan jaminan keamanan dalam jangka panjang. Atas nama hak prerogratif, Presiden bisa kapan saja cut off menterinya. Lagi-lagi, apapun alasannya selagi Cuma kerja untuk bos ya kapan pun bisa dipecat secara mendadak. Apalagi cuma pekerja kantoran, asal bos atau kantor sudah tidak suka ya kapan pun bisa di PHK atau diuruh resign. Sebab kondisi perusahaan dapat berubah sewaktu-waktu. Akibatnya, tidak ada posisi karyawan yang baik-baik saja. Suatu saat bisa digeser atau dicopot seperti Pak Purbaya.

 


Memang ngeri sih selagi masih jadi pekerja. Apalagi bila terlalu bergantung pada pekerjaan kantor, 100% Cuma jadi “NPC kantor”. Orang yang hanya menjalankan rutinitas sebagai pekerja tanpa memikirkan alternatif atau rencana untuk masa depan. Kerja seperti robot, semuanya tergantung atasan dan kantor. Tanpa persiapan suatu saat bisa diberhentikan. Bekerja memang penting. Tapi ketergantungan penuh pada satu sumber penghasilan itu yang bisa jadi risiko besar.

 

Maka pekerja di mana pun, mungkin sudah saatnya untuk membangun “perahu” sendiri. Mulai siapkan dana pensiun bila sewaktu-waktu dipecat atau di-PHK. Mulai merintis usaha kecil, punya keterampilan atau keahlian, atau sumber penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama. Dengan memiliki kemampuan atau usaha sendiri, seorang pekerja akan lebih siap menghadapi kemungkinan kehilangan pekerjaan dan tidak sepenuhnya bergantung pada perusahaan. Tetap bisa survive, saat atasann atau kantor memperlakukan apapun.

 

Tentu, tidak mudah membangun usaha sendiri. Jadi pekerja mandiri itu bukan berarti lebih mudah atau pasti lebih aman daripada menjadi karyawan. Karena bisnis atau bekerja mandiri tetap punya risiko gagal dan tidak pasti, bahkan harus siap secara mental. Tapi intinya, siapapun yang jadi pekerja pasti punya risiko dipecat atau dicopot seperti Pak Purbaya. Karenanya, kapan pun harus diganti. Tidak ada pekerja atau karyawan yang selamanya di posisi enak. Makanya siapkan “perahu” sendiri. Bisa beruap dana pensiun, tabungan, investasi, keahlian khusus, atau atau sumber penghasilan alternatif agar lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja atau atasan di kantor. Jangan bergantung 100% dari kantor!

 

Jangan bangga jadi “robot” yang hanya membesarkan bisnis kantor. Tapi siapkan juga “perahu” sendiri untuk hari esok. Sebab ketika pekerjaan tidak lagi menjamin, maka persiapan untuk masa depan seperti dana pensiun jadi penting dimiliki sejak mulai bekerja. Tidak ada pekerjaan yang aman Bro, semuanya bisa diganti atau digeser!

 

 

 

Senin, 14 September 2026

Orang Baik yang Tiba-Tiba Pergi, Bukan Berubah tapi Sudah Selesai Menilai

Ada satu hal yang sering disalahpahami tentang orang baik. Ketika orang baik tiba-tiba pergi tanpa drama, bukan berarti ia tidak peduli. Bisa jadi ia sudah terlalu lama peduli sampai akhirnya melakukan silent assessment. Orang baik biasanya tidak langsung marah ketika diperlakukan tidak adil. Ia hanya mengamati, memberi kesempatan, memahami alasan, bahkan memaafkan. Tetapi diam bukan berarti bodoh. Ia mencatat pola: siapa yang hanya berharap dibantu, siapa yang tidak lagi menghargai, dan siapa yang tidak lagi mau bekerjasama dengan orang baik. Dan siapa yang menganggap kebaikan sebagai sesuatu yang wajib diberikan kepadanya. Ketika penilaian itu selesai, orang baik tidak selalu membuat keributan. Ia cukup berkata dalam hati, “Saya sudah tahu siapa kamu.” Lalu pergi.

 

Karena itu, kebaikan tanpa batas justru bisa mengundang orang untuk memanfaatkannya. Membuat orang tidak tahu diri dan tidak lagi bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Ada orang yang ketika kita selalu membantu, menganggap bantuan itu kewajiban. Ketika kita selalu mengalah, lalu menganggap kita tidak punya harga diri. Ketika kita selalu berkata “iya”, banyak orang lupa bahwa kita sebenarnya punya hak untuk berkata “tidak”. Maka kebaikan membutuhkan pagar. Orang baik pun punya batas.

 

Boundaries bukan tanda bahwa kita berubah menjadi jahat; boundaries adalah cara menghormati diri sendiri. Tahu batas. Contohnya sederhana: seorang teman terus-menerus meminjam uang, tidak pernah mengembalikan, lalu datang lagi ketika membutuhkan. Selama ini kita membantu karena kasihan. Suatu hari kita berkata, “Maaf, kali ini saya tidak bisa.” Kalau setelah itu dia marah dan menganggap kita berubah, mungkin yang hilang bukan persahabatan tetapi akses dia terhadap kebaikan kita. Bila kita sudah baik pada satu lingkungan tapi ada orang yang kerjanya mengganggu bahkan menjadi informan orang jahat, maka orang baik layak untuk pegi.

 

Begitu pula dengan self-compassion. Jangan sampai kita begitu sibuk menyelamatkan orang lain sampai lupa menyelamatkan diri sendiri. Kita tidak harus membakar diri agar orang lain merasa hangat. Dalam keluarga, pekerjaan, bahkan pertemanan, ada kalanya kita terus menjadi tempat curhat, penolong, pemberi solusi, tetapi ketika kita sendiri sedang jatuh, tidak ada yang bertanya, “Kamu baik-baik saja?” Pada titik tertentu, mundur bukan berarti membenci. Mengurangi komunikasi bukan berarti sombong. Berhenti membantu bukan berarti kehilangan hati. Itu bisa menjadi bentuk paling sehat dari mencintai diri sendiri: “Saya tetap mendoakanmu, tetapi saya tidak lagi membiarkan perilakumu menghancurkan ketenangan hidup saya.”

 


Jadi, jangan heran jika suatu hari orang baik tiba-tiba pergi tanpa drama. Mungkin itu bukan keputusan yang tiba-tiba—melainkan hasil dari penilaian yang dilakukan diam-diam selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Orang tulus memang langka. Karena itu, kalau kita menemukan orang yang tulus, jangan diuji terus-menerus sampai ia lelah. Dan kalau kita sendiri menjadi korban orang licik, jangan merasa bersalah ketika memilih pergi.

 

Pergi dengan tenang setelah berkali-kali disakiti bukan berarti kalah. Itu kemenangan atas diri sendiri yang akhirnya berani berkata: “Saya boleh baik kepada siapa pun, tetapi saya juga wajib baik kepada diri saya sendiri.” Jadilah orang baik di mana pun!

 

Uang Bisa Membeli Banyak Hal tapi Tidak Waktu

Siapapun bekerja, tentu untuk mendapatkan uang. Dengan uang, kita bisa membeli rumah yang nyaman, makanan yang lebih baik, pendidikan untuk anak, perjalanan untuk melihat dunia, dan berbagai kemudahan yang membuat hidup terasa lebih ringan. Uang memang penting, karena ia membantu kita menjalani hidup dengan lebih layak. Tetapi uang seharusnya menjadi alat untuk menikmati kehidupan, bukan alasan untuk terus menunda kehidupan. Sebab, rumah yang besar tidak akan terasa berarti jika kita tidak punya waktu untuk menikmatinya bersama keluarga. Perjalanan yang indah pun kehilangan makna jika kita terlalu sibuk untuk benar-benar hadir di dalamnya.

 

Ada hal-hal yang tidak memiliki harga, karena nilainya jauh melampaui uang. Pelukan seorang ibu, tawa anak ketika pulang sekolah, percakapan sederhana bersama pasangan, secangkir kopi bersama sahabat, tubuh yang sehat, bermain dengan cucu atau kesempatan untuk duduk tenang menikmati matahari terbenam. Kita bisa membayar dokter untuk merawat kesehatan, tetapi tidak bisa membeli kembali tubuh yang telah lama kita abaikan. Kita bisa membelikan anak berbagai hadiah, tetapi tidak bisa membeli kembali masa kecil mereka. Kita bisa memberikan keluarga kehidupan yang berkecukupan, tetapi tidak bisa membeli kembali waktu yang tidak pernah kita luangkan untuk mereka.

 

Ironisnya, terkadang kita terlalu sibuk mencari uang sampai lupa untuk apa uang itu kita cari. Kita menukar pagi dengan perjalanan menuju kantor, siang dengan pekerjaan, malam dengan lembur, dan akhir pekan dengan urusan yang belum selesai. Kita berkata, “Nanti kalau sudah punya cukup uang, saya akan punya waktu untuk keluarga. Nanti kalau sudah sukses, saya akan menikmati hidup.” Tetapi waktu tidak pernah menunggu kita sampai merasa siap. Anak-anak terus tumbuh. Orang tua terus menua. Tubuh terus berubah. Dan hari-hari yang kita kira masih panjang, ternyata diam-diam sedang berkurang.

 


Maka, mungkin kekayaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan. Tapi berapa banyak waktu yang berhasil kita gunakan untuk hal-hal yang benar-benar berarti. Gunakan uang untuk membeli kenyamanan, tetapi gunakan waktu untuk menciptakan kenangan. Gunakan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi gunakan waktu untuk menjalani kehidupan. Karena uang yang hilang masih mungkin dicari kembali. Kesempatan yang hilang mungkin masih bisa datang lagi. Tapi waktu yang telah berlalu tidak pernah kembali.

 

Sungguh, pada akhirnya kita bukan hanya akan mengingat berapa banyak yang berhasil kita miliki. Tapi akan lebih mengingat dengan siapa kita menghabiskan waktu dan bagaimana kita menjalani hidup hingga akhir hayat. Jadi, pilih uang atau waktu?

 


 

Minggu, 13 September 2026

Melatih Cucu Peduli Sosial melalui Pengajian dan Santunan di Kopi Pensiunan

Pengajian bersama anak yatim dan lanjut usia menjadi momentum sederhana untuk mempertemukan kepedulian, kebersamaan, dan kasih sayang dalam satu kegiatan. Di tengah kesibukan kehidupan, berkumpul bersama mereka mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dari sesuatu yang besar. Duduk bersama, mendengarkan nasihat, membaca doa, dan berbagi cerita dapat menjadi bentuk perhatian yang sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan kehadiran dan dukungan.

 

Ngaji bersama yatim dan kaum lanjut usia (jompo) itulah yang dilakukan Kopi Pensiunan (Saung Purna) sekaligus memberikan santunan secara bulanan di Kp. Cipancar Desa Sirnajaya Kec. Sukamakmur Puncak2 Bogor Timur. Ada 11 anak yatim, 9 jompo dan 2 disabilitas (tunanetra & tunawicara). Dimotori Syarifudin Yunus, seorang pegiat literasi bersama anak dan cucunya. Santunan diberikan oleh Aleena (cucu Pemilik kopi pensiuan) untuk melatih cucu lebih peduli sosial. Kegiatan pengajian kemudian dilanjutkan dengan santunan sebagai wujud kepedulian sosial. Bantuan yang diberikan mungkin tidak menyelesaikan seluruh kebutuhan mereka, tetapi setidaknya dapat meringankan beban dan menghadirkan rasa bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Bagi anak yatim, santunan menjadi bentuk perhatian dan dukungan untuk terus tumbuh serta belajar. Sementara bagi para lanjut usia, perhatian dan kebersamaan menjadi pengingat bahwa mereka tetap dihargai, dihormati, dan menjadi bagian penting dari lingkungan sosial. Sesuai dengan nama “Kopi Pensiunan” untuk lebih peduli pada pensiunan atau kaum lansia.

 


Lebih dari sekadar memberikan bantuan materi, kegiatan seperti ini membangun empati dan solidaritas sosial. Orang-orang yang hadir belajar melihat kehidupan dari sudut pandang orang lain, memahami bahwa ada saudara yang mungkin memiliki keterbatasan, kesepian, atau membutuhkan dukungan. Pengajian juga memberikan ruang untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan seperti berbagi, menyayangi sesama, menghormati orang tua, serta menumbuhkan keikhlasan dalam membantu tanpa mengharapkan balasan.

 

Pada akhirnya, pengajian dan santunan bersama anak yatim serta lanjut usia bukan hanya memberikan manfaat kepada penerima, tetapi juga kepada mereka yang berbagi. Ada ketenangan batin ketika mampu menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Kepedulian sosial tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar; cukup dengan hadir, berbagi, dan peduli. Sebab, ketika kebahagiaan dibagikan bersama, nilai kebaikannya akan tumbuh jauh lebih besar dan menjadi energi positif bagi kehidupan bermasyarakat. Insya Allah, kegiatan pengajian yatim dann jompo di Kopi Pensiunan akan berlangsung setiap bulan, tepatnya di hari Sabtu setiap pekan terakhir. Untuk silaturahim dan bercengkrama dengan anak-anak yatim dan kaum jompo.

 



Kamis, 10 September 2026

Literasi Kehidupan: Mana Ada Orang Suka Bila Musuhnya Berhasil?

Ini patut jadi renungan. Bahwa keberhasilan seseorang pada dasarnya patut diapresiasi. Tapi situasinya jadi berbeda ketika yang berhasil adalah pihak yang selama ini dianggap sebagai musuh atau lawan. Secara naluriah, manusia cenderung memiliki rasa tidak suka ketika orang yang berseberangan dengannya justru mencapai kemenangan. Karena itu, ungkapan “mana ada orang suka bila musuhnya berhasil” sesungguhnya menggambarkan realitas psikologis yang sangat manusiawi. Sulit meminta seseorang bersorak ketika keberhasilan lawannya justru dipandang sebagai kekalahan bagi dirinya sendiri. Memang nyata, mana ada orang suka ketika musuhnya berhasil?

 

Entah apa alasannya tidak suka? Tapi dalam sebuah persaingan, keberhasilan pihak musuh sering kali dipersepsikan sebagai ancaman. Ketika seseorang telah menghabiskan waktu, tenaga, dan sumber daya untuk mengalahkan lawannya, kemenangan sang lawan tentu dapat menimbulkan rasa kecewa, iri, atau frustrasi. Hal tersebut bukan berarti setiap orang memiliki niat buruk, melainkan merupakan konsekuensi dari adanya kepentingan yang saling berhadapan. Dalam dunia bisnis, politik, olahraga, pergaulan maupun kehidupan sehari-hari, persaingan memang membuat keberhasilan satu pihak terkadang terasa seperti kerugian bagi pihak lainnya. Ibaratnya, ketika musuh berjaya maka ego terluka.

 

Tidak menyukai keberhasilan musuh tidak selalu berarti seseorang harus merayakan kegagalannya. Ada perbedaan antara mengakui bahwa kemenangan lawan terasa menyakitkan dan berharap lawan tersebut hancur. Sikap yang lebih dewasa adalah menerima kenyataan bahwa persaingan merupakan bagian dari kehidupan, sembari tetap menghormati kemampuan pihak yang berhasil. Bahkan, keberhasilan seorang lawan dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kelemahan dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan berikutnya.

 


Jadi, “mana ada orang suka bila musuhnya berhasil” bukanlah pembenaran untuk bersikap buruk terhadap lawan. Melainkan gambaran tentang bagaimana emosi dan ego manusia bekerja dalam situasi persaingan. Wajar jika seseorang merasa kecewa ketika pihak yang berseberangan dengannya menang. Yang membedakan adalah bagaimana perasaan tersebut dikelola. Kekalahan lawan mungkin terasa menyenangkan, tetapi kemampuan untuk tetap sportif ketika lawan berhasil justru menunjukkan kedewasaan dan kualitas seseorang dalam menghadapi persaingan.

 

Ketahuilah, bersaing atau kompetisi itu bagus. Tapi landasannya harus sikap sportif dan objektif. Yang susah itu bia bersaing tapi dasarnya kebencian atau iri hari. Maka sudah pasti terjadi, “mana ada orang suka bila musuhnya berhasil?”. Dan akhirnya jadi sakit. Jadilah literat!

Dua Sisi Kehidupan: Nggak Usah Merasa Beruntung atau Menderita

Hidup sering kali menghadirkan sesuatu yang tidak selalu bisa kita nilai hanya dari apa yang terlihat. Kebaikan yang kita rasakan hari ini bisa jadi justru menjadi ujian bagi orang lain. Begitu pula sebaliknya, kesulitan yang sedang kita hadapi mungkin saja menjadi jalan kebaikan bagi orang lain. Kehidupan memang seperti dua sisi mata uang: ada bahagia dan sedih, ada keberhasilan dan kegagalan, ada kelapangan dan keterbatasan. Karena itu, setiap keadaan membutuhkan cara pandang yang bijaksana agar kita tidak cepat merasa paling beruntung ataupun paling menderita.

 

Tidak ada pilihan yang benar-benar bebas dari konsekuensi. Ketika seseorang memilih sebuah jalan, selalu ada risiko, tanggung jawab, dan kemungkinan yang harus dihadapi. Jabatan dapat membawa kebahagiaan sekaligus tekanan. Kekayaan dapat memberikan kenyamanan sekaligus tanggung jawab. Sementara kesulitan dapat menghadirkan kesedihan sekaligus membuka kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Dalam perspektif keimanan, ujian juga tidak selalu hadir dalam bentuk kesusahan; kelapangan, harta, kedudukan, dan keberhasilan dapat menjadi ujian tentang bagaimana seseorang menggunakan nikmat tersebut.

 

Karena itu, mungkin yang paling penting bukan mencari kehidupan tanpa masalah, melainkan membangun kemampuan untuk menerima, belajar, dan tetap melangkah dalam setiap keadaan. Saat mendapatkan kebaikan, jangan lupa bersyukur dan tetap rendah hati. Saat menghadapi kesulitan, jangan buru-buru menganggap semuanya sebagai akhir dari perjalanan. Kesabaran bukan berarti berhenti berusaha, tetapi tetap menjaga hati sekaligus mencari jalan keluar. Ujian dapat menjadi proses yang membuat seseorang lebih matang, tangguh, dan memahami kehidupan dengan lebih dalam.

 


Pada akhirnya, setiap orang sedang menjalani cerita dan ujian masing-masing. Karena itu, jangan terlalu sibuk membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Apa yang terlihat sebagai keberuntungan bagi seseorang belum tentu ringan untuk dijalani, dan apa yang tampak sebagai kesulitan bagi kita belum tentu tidak membawa hikmah. Tetaplah semangat dalam kondisi apa pun. Terima kebaikan dengan syukur, hadapi ujian dengan sabar, dan jalani setiap pilihan dengan penuh tanggung jawab. Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu, mungkin keadaan yang sedang kita jalani hari ini sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat untuk hari esok.

 

Dan ingatlah, sering kali ujian atau masalah adalah cara untuk membersihkan jalan kita, bukan untuk menyusahkan apalagi menghancurkan. Salam literasi!  

Rabu, 09 September 2026

Nabung Sedikit Demi Sedikit, Bisa Jadi Bekal Masa Depan

Jangan remehkan uang Rp50.000. Di tengah pengeluaran harian yang terus berjalan, nominal tersebut mungkin terasa terlalu kecil untuk mengubah masa depan. Namun, jika disisihkan secara konsisten setiap minggu selama 25 tahun, Rp50.000 dapat berubah menjadi Rp65 juta. Dengan setoran Rp100.000 per minggu, dana yang terkumpul mencapai Rp130 juta, sedangkan Rp150.000 per minggu dapat menjadi Rp195 juta, belum termasuk potensi hasil pengembangan. Bahkan bila mau lebih besar lagi, tinggal tingkatkan besaran uang yang ditabung.

 

“Yang sering menjadi persoalan bukan semata-mata kemampuan seseorang untuk menabung, tetapi kebiasaan untuk menyisihkan uang secara konsisten. Nominal kecil tidak boleh dianggap tidak berarti, karena dalam jangka panjang akumulasinya bisa menjadi sangat besar,” ujar Syarifudin Yunus, Edukator Dana Pensiun DPLK Sinarmas AM.

 

Menurutnya, persiapan masa depan idealnya dimulai ketika seseorang masih memiliki penghasilan aktif. Menunggu sampai mendekati usia pensiun justru dapat membuat waktu untuk mengumpulkan dana semakin terbatas. “Kita tidak pernah tahu persis seperti apa kondisi finansial 20 atau 25 tahun mendatang. Karena itu, yang bisa dilakukan hari ini adalah membangun kebiasaan dan menyiapkan dana sedikit demi sedikit,” katanya.

 


Kita tahu, menabung bukan sekadar menyimpan uang, tapi membeli rasa aman untuk masa depan. Kenapa perlu menabung? Karena masa depan tetap membutuhkan biaya dan penghasilan dari bekerja itu tidak selamanya ada. Belum lagi kebutuhan masa depan sering kali lebih besar dari yang kita bayangkan. Inflasi membuat Rp1 juta hari ini tidak memiliki daya beli yang sama 10–20 tahun mendatang. Dan karena menabung akan memberi kita pilihan. Agar tidak bergantung pada anak, keluarga, atau orang lain. Karenanya, menabung adalah cara kita mempersiapkan masa depan. Mulai dari sedikit, mulai dari sekarang dan yang penting konsisten.

 

Makanya, menabung untuk masa depan tidak harus dimulai dengan angka yang besar. Yang terpenting adalah menentukan nominal yang realistis, dilakukan secara rutin, dan tidak mudah dihentikan. “Rp50.000 per minggu mungkin terlihat kecil hari ini. Tetapi ketika dilakukan selama bertahun-tahun, uang tersebut bisa menjadi bagian penting dari persiapan masa depan. Bukan soal seberapa besar kita mulai, tetapi seberapa konsisten kita menjalaninya,” ujarnya.

 

DESIL & SI MISKIN

Tanpa sengaja, kemarin saya melihat TV yang isinya berita tentang “desil”. Ketika orang miskin di daerah, sama si desil dianggap mampu/kaya. Sementara ada anggota DPR/DPRD justru tercatat di desil sebagai miskin dan layak dapat bantuan. Terus terang, saya nggak tahu cara kerja “si desil” itu kayak apa? Katanya, desil itu dipakai untuk memetakan tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Hebat banget si desil.

 

Gara-gara itu dan soal desil yang nggak akurat, saya berpikir. Ternyata di negera ini jadi orang miskin itu serba salah. Harus berjuang dan membuktikan bahwa mereka memang miskin. Bantuannya belum tentu dapat tapi disuruh membuktikan kemiskinannnya dengan datang ke kantor pemerintah. Lalu bilang, “saya ini miskin” dan serahkan data-data kemiskinannya. Luar biasa sistem di negera ini, sangat menyesakkan dada.

 

Sependek pergaulan saya dengan orang yang layak dibantu, hidup mereka itu sudah jelas kekurangan. Penghasilannya tidak tetap, utang menumpuk dan sering ditagih bank emok, rumahnya juga sederhana banget. Pusing bila anaknya belum makan, apalagi bila ada urusan biaya kebutuhan sekolah anak. Jelas miskin tapi diminta membuktikan kemiskinannya dengan mengurus surat ini itu, datang dan antre ke kantor pemerintahan. Ditanyain, difoto, diverifikasi, disuruh nunggu, lalu dipanggil lagi. Untuk apa begitu? Ternyata, bukan untuk dapat bantuan pemerintah. Tapi cuma diberi tahu, datanya akan diproses dan layak dipertimbangkan miskin”.  

 

Ironi dan menyakitkan sih. Orang miskin yang sering pusing, paling tidak punya waktu karena harus cari sesuap nasi. Tidak punya ongkos dan paling tidak punya akses informasi, bahkan paling bingung untuk menghidupi keluarganya justru di-treatment oleh “sistem di negera ini” suapay aktif membuktikan ketidak-mampuannya agar bisa masuk dalam daftar desil orang miskin.  

 

Verifikasi data desil itu mungkin niatnya baik. Biar nggak salah sasaran, biar akurat. Tapi eksekusinya malah membebani kelompok masyarakat yang paling lemah. Jadi tambah bikin pusing orang miskin. Harus ke sana ke sini, bolak balik. Disuruh isi formulir yang orangnya belum tentu bisa baca bisa tulis (kayak gini banyak banget di kampung-kampung). Disuruh ke kantor desa, belum lagi disuruh lengkapi dokumen yang ada biayanya biarpun murah. Ngurus data saja lama banget, bisa setengah hari sendiri. Jujur, suka kasihan sama orang-orang yang lemah. Bukannya dibantu secara konkret, malah direpotin ke sana ke sini.

 

Urusan data miskin doang kok melelahkan ya. Sudah miskin, malah disuruh membuktikan kemiskinannya. Segitu nggak percayanya negara sama rakyatnya yang miskin. Padahal mereka, kasat mata, jelas layak mendapat pertolongan dan bantuan bukan hanya dari negara. Tapi dari warga lain yang merasamampu atau “the have”. Sedih banget sih kalau melihat kondisi begini.

 


Maaf ya, mungkin birokrasi data di negara ini memang urgen untuk dibenahi. Jangan sampai sistem-nya malah memberatkan beban orang-orang yang hidupnya sudah berat banget. Bagi orang miskin itu, dunia nyata sudah jadi ujian hidup yang berat, malah ditambah berat dengan verifikasi data si desil. Orang miskin itu hanya bisa diam dan nggak bisa bersuara keras seperti demonstran. Orang miskin akhirnya hanya bisa membatin, “Kok kayak gini amat sih urusan membuktikan saya ini miskin?”. Capek dan ruwet, padahal belum tentu dapat bantuannya.

 

Secara subjektif, maaf lagi ya, mungkin sistem di negara ini kayaknya memang dirancang. Agar orang miskin harus bisa membuktikan kemiskinannya dan makin tersisih dari tanggung jawab negaranya sendiri. Negara sering lupa, di tanah gemah ripah loh jinawi ini, masih banyak orang tua yang terpaksa berpuasa dan lagi berjuang agar anaknya bisa makan besok!

 

Bisa nggak sih didatangi saja rumahnya orang miskin (bukan yang mengaku miskin), perbaiki datanya segera. Belum dikasih bantuannya saja udah merepotkan. Jadi pusing kepala. Duh jadi lapar nih, mana nasi MBG mau dong …!