Rabu, 06 Mei 2026

Orang Bisa Terlihat Baik Saat Semuanya Berjalan Sesuai Harapan

Dari persfektif literasi, orang bisa terlihat baik saat semuanya berjalan sesuai keinginannya. Asal semua yang berjalan sesuai harapannya, pasti baik. Tapi coba lihat, bagaimana saat sia kecewa? Saat tidak diuntungkan, ketika tidak mendapatkan yang dia mau? Di situlah karakter asli seseorang keluar. Jadi, kondisi ini patut dipertimbangkan dalam pergaulan atah hubungan kerja. 

 

Memang, membaca orang itu bukan soal insting semata. Tapi soal mau memperhatikan pola. Gimana reaksinya atas hal-hal yang sesuai harapan dan tidak sesuai harapan. Apakah dia konsisten? Apakah ucapannya sejalan dengan tindakannya? Dan apakah dia menghargai orang lain atau hanya di saat butuh saja?  

 

Semua orang bisa terlihat baik di momen tertentu. Tapi tidak semua orang bisa konsisten dalam waktu lama. Masalahnya, banyak orang yang sudah melihat tanda-tandanya. Tapi memilih untuk mengabaika karakternya. Karena berharap orang itu akan berubah.   

 

Padahal kenyataannya sederhana. Orang tidak akan berubah hanya karena kita menyenanginya. Orang tidak akan berubah saat harapannya tidak tercapai. Jadi sebelum terlalu jauh, belajarlah pelan-pelan tentang karakter orang. Utamanya orang-orang di dekat kita, karena lingkungan dekat sangat berpengaruh besar membentuk pikiran dan perilaku kita. Amati, saring, lalu jujur pada apa yang kita lihat. Bila baik yang pertahankan, bila buruk ya tinggalkan.

  


Seperti orang yang membaca buku, ada yang sesekali ada yang jadi kebiasaan. Ada yang tetap membaca buku sekalipun di tempat sepi. Tapi tidak sedikit orang yang membaca buku di saat ramai. Karena membaca buku, bisa jadi alat pembentuk “image”. Biar dibilang apa saat kita membaca buku? Ada yang menjadikan membaca buku untuk pujian dan popularitas. Tapi ada juga yang tetap membaca buku secara diam-diam, tanpa perlu validasi dari orang lain atau mana pun.

 

Itulah pentingnya “membaca”. Karena sekali kita salah membaca, maka yang kita hadapi bukan cuma kecewa. Tapi waktu yang terbuat percuma dan tidak bisa diulang lagi. Salam literasi!

 

Selasa, 05 Mei 2026

Cukstaw Cerpen "Kejutan Pahit di Hari Sabtu"

Ini cerita anak muda yang lagi pacaran. Sebulan lalu, di hari Sabtu. Saat pacar gue menelpon dan bilang ada kegiatan badminton sama teman-teman kantornya. Ohh, olah raga ya. Biasa aja dong, nothing suspicious. Tidak ada yang mencurigakan.

 

Terus gue nawarin jemput pakai motor. Tapi dia bilang "nggak usah, aku pulang sendiri aja." Oke deh, ya gue iya-in aja. Tapi dia bilang habis itu mau ke SM (Semanggi Mall). Lucunya, gue juga pas lagi di SM. Jadi gue stay aja di situ. Mikirnya nanti bisa pulang bareng kan. Begitulah rencana simpel dan normal aja buat lelaki yang lagi punya pacar. Nggak ada yang aneh kan?

 

Sabtu itu terasa biasa saja. Langit mendung tipis, seperti ragu untuk hujan atau sekadar lewat. Gue masih ingat nada suara cewek gue di telepon tadi. Ringan, santai, dan tanpa beban. Katanya ada badminton bareng teman kantor. Gue percaya, karena memang nggak ada alasan untuk curiga. Bahkan ketika gue menawarkan untuk menjemput, dia menolak dengan lembut. "Nggak usah, aku pulang sendiri." Itu kalimat biasa dan sederhana di kalangan orang yang lagi pacaran. Biasa dan tidak berarti apa-apa.

 

Lalu, dia menyebut akan ke Semanggi Mall setelah badminton. Kebetulan yang terasa seperti takdir kecil, gue juga sedang di sana. Gue nggak bilang ke dia. Gue memilih diam, sambil berpikir akan jadi kejutan kecil yang manis. Gue nunggu dong di SM, sambil hunting dan berjalan pelan dari lantai ke lantai, sesekali mengecek ponsel, membayangkan wajahnya saat melihat dia tiba-tiba muncul. Rencana sederhana seorang lelaki sama pacarnya, sama seperti yang lainnya.

 

Waktu berjalan lebih lama dari yang gue kira sih. Satu jam. Dua jam. Pesan gue hanya dibalas singkat, atau kadang tidak sama sekali. Gue mulai merasa ada yang aneh, tapi gue tepis sendiri. Nggak boleh mikir macam-macam. Mungkin dia masih di jalan. Mungkin macet. Mungkin baterainya habis. Gue terus menunggu, duduk di sudut kafe dengan kopi yang sudah dingin, berharap setiap orang yang lewat adalah dia. Kebayang dong kalau lagi kasmaran?

 


Sampai akhirnya gue benar-benar melihat dia dari kejauhan. Bukan sendirian. Tapi dia berjalan pelan, tertawa kecil bersama seseorang yang nggak gue kenal. Atau mungkin nggak pernah gue sadari sebelumnya. Siapa ya yang jalan bareng pacar gue itu? Laki-laki sawo matang tapi bukan cowok motoran tampangnya. 

 

Tapi dari cara jalan mereka berdua seperti bukan sekadar teman. Dari cara berdiri yang terlalu dekat melebihi sekadar kawan. Bahkan cara pacar gue menatap ke cowok itu seperti bukan tatapan yang biasa. Dan gue mulai mikir sih. Siapa ya cowok itu? Entah kenapa, gue merasa dunia jadi mengecil saat itu juga, seolah semua suara di mall menghilang. Yang tersisa hanya detak jantung gue yang tiba-tiba berdegup cepat. Mulai dag dig dug. "Apaan sih ini?" Gue membatin sendiri. 

 

Gue nggak menghampirinya. Hanya memandang dari jauh. Nggak juga memanggil namanya. Gue hanya berdiri di tempat, lalu menyadari bahwa rencana sederhana pulang bareng dari mall itu tidak pernah benar-benar ada untuk gue. Tadinya gue berpikir, seolah nggak sengaja bisa ketemu dia di mall, lalu pulang bareng. Namanya juga rencana tapi realitasnya beda ya.

 

Ternyata "aku pulang sendiri" memang bukan sekadar judul novel atau film. Hari Sabtu itu mungkin tetap terlihat biasa bagi orang lain, tapi nggak buat gue. Hari Sabtu nggak lagi bisa buat kejutan manis. Itu adalah hari ketika sesuatu yang gue kira pasti... diam-diam sudah pergi tanpa pernah benar-benar berpamitan. Tanpa basa-basi, selalu ada permainan di belakang gue.

 

Sambil menunduk, gue akhirnya berjalan ke parkiran motor sambil menutup kepala dengan jaket kupluk. Melangkah pelan, sepelan kura-kura yang habis cari makan. Gue kira kejutan manis ada di hari Sabtu, nggak tahunya kejutan pahit seperti yang dirasakan banyak anak muda  cowok lainnya. 

 

Gue pun bergumam, badiminton badminton. Gampang banget bikin alasannya cuma mau menyimpang. #CukstawCerpen

 

 


Membaca Buku di Taman Bacaan, Butuh Apa?

Ada yang bilang integritas itu sepi. Karena tidak semua orang kuat untuk jujur Terutama saat tidak ada yang melihat. Orang berintegritas itu konsisten. Di depan orang sama, di belakang juga sama. Tidak punya dua wajah untuk dua situasi.  

 

Orang berintegritas tidak gampang ikut arus. Tidak mudah bilang iya hanya untuk suasana aman. Tidak mengubah prinsip, hanya demi diterima. Siapapun yang punya integritas pasti tahu batasnya. Kapan harus berbuat kapan harus rileks? Tahu kapan harus berhenti. Berani bilang “tidak” tanpa harus merasa bersalah.  

 

Tentu, orang yang punya integritas bisa saja rugi. Bisa saja kehilangan peluang. Bahkan kehilangan orang. Tapi dia tetap “memilih benar”. Bukan karena sempurna. Tapi karena tidak mau hidup dengan kebohongan yang dibuat sendiri.  

 

Orang yang punya integritas, tetap bertindak saat sepi atau ramai. Tidak butuh panggung, apalagi popularitas. Sebab ukurannya bukan apa yang didapat. Tapi seberapa konsisten melakukannya? Karenanya, integritas tidak butuh pujian apalagi validasi orang lain. Selain memegang komitmen dan konsistensi, dari dulu hingga kini.

 


Orang-orang yang punya integritas memang sering tidak terlihat. Sebab dia berperang dengan dirinya sendiri. Menahan yang ingin dilampiaskan. Menolak yang sebenarnya menguntungkan. Dan memilih yang benar, meski berat.  

 

Karena dia paham. Karakter tidak dibentuk saat semua mudah. Tapi saat kita punya pilihan untuk menyimpang namun kita tetap lurus. Dan pada akhirnya, integritas bukan tentang terlihat baik di mata orang lain. Tapi tentang tetap jujur pada diri sendiri, bahkan saat tidak ada yang menilai sekalipun.

 

Seperti membaca buku atau berkiprah di taman bacaan. Pun butuh integritas, untuk selalu komit dan konsisten dalam membaca. Ada atau tidak orang lain tetap membaca. Ada panggung atau tidak ada panggung, buku-buku tetap dibaca tanpa mau dibiarkan berserakan. Itulah kenapa membaca buku butuh integritas, bukan hanya “panggung” sosial. Salam literasi!  

 


Pekerja Kalau Naik Gaji Rp 5 Juta, Buat Apa?

Seorang kawan kerja di dana pensiun, salah satu perusahaan manajer investasi gede. Suatu hari, ngopi bareng dan ngobrol santai di kafe. Dia bilang begini, "Orang yang paling tenang soal uang itu yang nggak gampang panik waktu investasi turun atau inflasi naik. Apapun kondisinya, nggak panik”

 

Saya agak bingung. Lalu bertanya, “Apa maksudnya?"

Dia jawab, "Iya, itu orang-orang yang nggak langsung mengubah standar hidup begitu gaji naik. Biar gajinya naik tetap biasa saja"

Saya pun mikir. Dalam hati, langsung membatin, "Oh, ini mah saya banget. Tapi kok bisa ya?” 

Dia lanjut cerita, "Elo lihat ya, orang yang baru naik gaji, hal pertama yang mereka lakukan biasanya apa?"

Saya jawab, "Biasanya beli barang baru? Ganti HP? Atau liburan?"

Dia mengangguk. "Dan itu yang bikin mereka nggak pernah benar-benar tenang soal uang."  

 

Saya pun ingat, dulu saat gaji naik, saya langsung mikir: "Wah, sekarang saya bisa lebih hedon. Sedikit konsumtif". Langsung ganti HP. Beli sepatu baru. Makan di restoran mahal bisa dua Minggu sekali. Dan nggak lama kemudian, tetap saja uang saya nggak cukup. 

 

Kenapa? Karena setiap ada tambahan pemasukan, standar hidup ikut naik. Begitu gaji naik, gaya hidup ikutan naik. Gaji naik 20%, pengeluaran naik 20% juga. Nggak ada yang namanya "nabung" atau "investasi" dengan serius. Gaji naik bukannya buat nabung malah naikin gaya hidup.  

 

Kawan saya bilang lagi, "Coba elo hitung. Berapa banyak kenaikan gaji elo yang benar-benar bikin elo lebih kaya? Bukan cuma lebih gaya". Duhh, saya langsung tersinggung sih.

Saya mikir keras. Selama ini, hampir semua kenaikan gaji saya habis buat hidup dan bergaya.  

 

Ini bukan soal pelit. Tapi soal punya kesadaran: setiap ada "kelebihan," prioritasnya bukan langsung "habiskan." Kan ada opsi lain: investasi, siapin dana pensiun, jadiin dana darurat, atau bahkan sekadar "biarin" di rekening.  

 


Contoh konkret dari temen saya nih:

Si A: Gaji naik Rp 5 juta. Tetap hidup seperti biasa, Rp 3 juta buat investasi, sisanya nabung.

Si B: Gaji naik Rp 5 juta. Langsung cicil mobil, gaya hidup naik drastis.

Dan 5 tahun kemudian, apa yang terjadi?

Si A: Punya aset investasi yang nilainya sudah bikin dia "tenang" secara finansial.

Si B: Masih kerja keras, takut PHK, hidup dari gaji ke gaji.

Kalau begitu faktanya, siapa yang lebih tenang? Jelas si A kan.  

 

Dari obrolan santai dengan kawan. Saya akhirnya sadar. Bahwa  kekuatan terbesar bukan di "menambah" (penghasilan/gaji). Tapi gimana "tidak buru-buru mengubah" standar hidup saat gaji naik. Tidak memperbesar gaya hidup saat pendapatan meningkat. Inilah yang perlu dipikirkan banyak pekerja. Mungkin, kita perlu menata ulang pikiran kita sendiri soal uang. Gimana bisa lebih bijak memakai uang, sekalipun itu uang kita sendiri.

 

Hingga saya menyimpulkan sendiri. Bahwa kerja itu nggak akan terus-menerus. Pasti ada masa pensiun atau berhenti bekerja. Bisa karena usia pensiun atau karena di-PHK. Jadi, kenapa kita nggak berpikir nabung untuk masa pensiun atau saat nanti tidak punya gaji lagi.

 

Itulah pentingnya pekerja punya dana pensiun seperti DPLK. Siap-siap bila suatu saat tidak bekerja lagi. Biar bisa lebih tenang saat punya atau tidak punya uang.  Jadi, gimana Menurut ana saat naik gaji? Langsung bikin jadi "naik kelas" atau lebih mikir panjang untuk hari tua? #YukSiapkanPensiun

 

Injak Punggungku Nak, Literasi Ayah saat Lelah Bekerja

 

Dulu, waktu kecil, kita sering menganggap hal-hal sederhana sebagai permainan. Saat Ayah atau Ibu berkata, “Injak punggungku, Nak…,” kita melompat dengan riang, tertawa tanpa beban, tanpa benar-benar memahami maknanya. Kita kira itu hanya bagian dari kehangatan keluarga, momen kecil yang menyenangkan di sela-sela hari. Tidak pernah terpikir bahwa di balik itu, ada tubuh yang lelah, ada beban hidup yang sedang mereka pikul diam-diam.

 

Seiring waktu, ketika kita mulai dewasa, perlahan kesadaran itu datang. Kita mulai mengerti bahwa punggung yang kita injak dulu adalah punggung yang bekerja keras seharian. Punggung yang menahan letih demi mencari nafkah, demi memastikan anaknya bisa makan, sekolah, dan punya masa depan yang lebih baik. Mereka tidak banyak bercerita tentang lelahnya, tidak mengeluh, hanya meminta sedikit kelegaan dengan cara yang sederhana—dekat dengan anaknya. Lelahnya bekerja orang tua, hilang dengan injakan sang anak.

 

Dari situ, kita belajar bahwa cinta orang tua sering hadir dalam bentuk pengorbanan yang tidak terlihat. Mereka menunda istirahat, menahan keinginan pribadi, bahkan mengorbankan masa tua mereka demi masa depan anak. Banyak dari mereka bekerja tanpa benar-benar memikirkan hari pensiun. Fokusnya hanya satu: anaknya tidak kekurangan, anaknya bisa hidup lebih baik dari dirinya.

 

Di sinilah kita mulai melihat pentingnya dana pensiun dengan sudut pandang yang lebih dalam. Orang tua kita telah menghabiskan masa produktifnya untuk kita, tapi siapa yang memastikan mereka tetap sejahtera di hari tua? Dana pensiun bukan sekadar soal uang, tapi tentang menjaga martabat dan kualitas hidup saat tenaga sudah tidak sekuat dulu. Ini adalah bentuk penghargaan nyata—agar mereka tidak perlu terus bekerja keras ketika seharusnya bisa beristirahat dengan tenang.

 


Akhirnya, memahami kenangan sederhana seperti “injak punggung” itu membawa kita pada kesadaran yang lebih besar: sudah saatnya kita memikirkan masa depan, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Kita tidak bisa mengulang waktu, tapi kita bisa memastikan bahwa lelah mereka dulu tidak berlanjut menjadi kesulitan di hari tua. Karena pada akhirnya, cinta terbaik adalah yang tidak hanya dikenang, tapi juga dibalas dengan tindakan yang nyata. Untuk selalu menyiapkan kemandirian finansial di hari tua. Sebuah pesan penting untuk pekerja.

 

“Injak punggungku Nak...”, begitulah cara orang tua menggapai kenyamanan setelah lelah bekerja. Dan kini saatnya menyiapkan masa pensiun yang lebih baik dan berkualitas. Agar tidak merepotkan anak di hari tua. Sebab hari ini, respek terhadap orang tua tidak lagi cukup hanya dengan rela capek bekerja. Tapi memastikan punya kesinambungan penghasilan di masa pensiun. #YukSiapkanPensiun

 

Catatan Literasi: Selalu Dibenci Sekalipun Berbuat Baik


Di sebuah kantor kecil yang sibuk, ada seorang karyawan bernama Raka yang dikenal ramah dan suka membantu. Ia sering menggantikan rekan kerja yang izin, membantu menyelesaikan tugas orang lain, bahkan rela lembur tanpa banyak bicara. Namun anehnya, ada satu orang di timnya yang tetap memandang Raka dengan sinis. Apa pun yang Raka lakukan, selalu saja dianggap salah atau penuh kepentingan tersembunyi.

 

Suatu hari, Raka membantu orang itu menyelesaikan laporan penting yang hampir terlambat dikumpulkan. Ia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, memastikan semuanya rapi dan tepat waktu. Alih-alih berterima kasih, orang itu justru berkata dingin, "Nggak usah sok baik. Saya tahu kamu cuma cari muka." Kalimat itu menusuk, tapi Raka memilih diam. Ia sadar, tidak semua kebaikan akan diterima dengan hati yang lapang.

 

Hari demi hari berlalu, dan Raka mulai memahami sesuatu. Bahwa masalahnya bukan selalu pada apa yang ia lakukan, tetapi pada cara orang lain melihat. Ada hati yang sudah dipenuhi prasangka, sehingga kebaikan pun tampak seperti ancaman. Ada luka yang belum sembuh, sehingga kehadiran orang lain terasa mengganggu. Dan dalam kondisi seperti itu, sebaik apa pun usaha kita, tetap tidak akan cukup di mata mereka. Kita selalu salah di matanya.

 

Raka pun berhenti berusaha menyenangkan semua orang. Ia tetap berbuat baik, tetapi bukan lagi untuk mendapat pengakuan. Ia melakukannya karena baik adalah nilai yang ia pegang. Ia tidak lagi menghabiskan energi untuk menjelaskan dirinya pada orang yang memang tidak ingin mengerti. Ia sadar, hidup bukan tentang disukai semua orang, tetapi tentang tetap menjadi pribadi yang benar di hadapan diri sendiri. Orientasinya dalam hidup hanya berbuat baik dan menebar manfaat.

 


Pada akhirnya, waktulah yang akan menjawab segalanya. Orang-orang mulai melihat ketulusan Raka dari konsistensinya, bukan dari kata-katanya. Sementara mereka yang tetap membencinya akan terus membencinya. Hingga perlahan tenggelam dalam penilaian dan prasangka buruknya sendiri. Dari situ Raka belajar, bahwa semesta memang punya caranya sendiri untuk menimbang. Dan kadang, kebencian orang lain bukanlah cerminan siapa kita, melainkan cerminan apa yang ada di dalam hati si pembenci.

 

Jadi dalam hidup, meskipun kita pernah berbuat baik pada orang yang tidak menyukai, kita akan tetap tidak disukai. Mau sebaik apapun hal yang kita lakukan, akan tetap dibenci. Maka teruslah berbuat baik dan menebar manfaat, jangan menyerah. Semesta memang mempunyai hukumnya sendiri. Permasalahannya bukan di diri kita tapi kotornya hati orang yang menilai kita. Begitulah hidup, semoga Allah SWT selalu melindungi orang-orang baik yang tidak butuh validasi sekalipun dibenci sebagian orang. Semangat kawan!

Senin, 04 Mei 2026

FLS3N SMP Wilayah II Jaktim, Bangun Budaya Literasi Siswa

Sebagai bagian menumbuhkan karakter bangsa melalui kreativitas dan apresiasi seni budaya, Sudin Pendidikan Wilayah 2 Jakarta Timur menggelar Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SMP/MTs tahun 2026 yang berlangsung di SMPN 283 dan SMKN 24 Cipayung Jaktim (4-5 Mei 2026).

 

Ada 8 kreativitas siswa yang dilombakan seperti: 1) Ilustrasi, 2) Menyanyi Solo, 3) Mendongeng, 4) Menulis Cerita, 5) Pantomim, 6) Ansambel Campuran 3 Alat 

Musik, 7) Tari Kreasi, dan 8) Kreativitas Musik Tradisional. FLS3N 2026 ini menjadi ajang kompetisi seni dan sastra bergengsi untuk siswa SMP di wilayah Jakarta Timur 2 untuk mengembangkan kreativitas siswa. 

 

"FLS3N SMP JT 2 ini menjadi sarana kreativitas yang diikuti ratusan siswa SMP, di samping menjadi ajang kompetisi yang positif. Para siswa dari berbagai SMP berkreasi dan menunjukkan bakatnya, sebagai fondasi penting untuk membangun cara siswa berpikir dan berkembang yang lebih berkualitas" ujar Horale Tua Simanullang (Kasudin Pendidikan JT 2) didampingi Agus Wibowo (Koordinator Lomba), Try Rismayati Kusuma (Wakil Koordinator Lomba), dan Ronald Ferdinan (Sekretaris) dan Margareta Wiyanti (Bendahara) saat berlangsung acara.

 

Khusus untuk lomba menulis cerita bertindak sebagai PJ lomba yaitu Suharya yang menjelaskan Lomba Menulis Cerita diikuti oleh 104 siswa SMP dari berbagai sekolah. Bertindak sebagai dewan juri yaitu: Syarifudin Yunus (Universitas Indraprasta PGRI, Reni Nur Eriyani (UNJ) dan Slamet Slamet Samsoerizal (Praktisi Penulis). Rencananya, pengumuman pemenang akan dilakukan siang nanti.

 


Sebagai wadah ekspresi, bakat, dan kreativitas seni budaya siswa SMP, FLS3N sejatinya dapat membantu siswa lebih percaya diri. Sebab saat siswa diberi ruang untuk mengekspresikan ide, maka menjadi lebih berani untuk mencoba, tidak takut salah, dan lebih mandiri dalam belajar. Bahkan lebih dari itu, kreativitas juga mampu memacu kemampuan memecahkan masalah. Lebih fokus ke solusi daripada masalah. Sebab kelak di dunia nyata, apapun tidak selalu punya satu jawaban pasti. Maka siswa yang terbiasa berpikir kreatif akan lebih siap menghadapi tantangan karena mereka terbiasa mencari alternatif solusi. 

 

Di tengah dinamika zaman dan teknologi yang cepat, kemampuan berinovasi jauh lebih bernilai daripada sekadar pengetahuan statis. Karena itu, FLS3N SMP JT 2 penting untuk memacu siswa SMP lebih kreatif sehingga punya peluang lebih besar untuk beradaptasi, menciptakan peluang sekaligus membentuk karakter siswa yang lebih maju. Ajang ini juga menjadi momen untuk membangun budaya literasi siswa. Salam FLS3N!

Sabtu, 02 Mei 2026

Untuk Apa Loyal Bekerja tapi Tidak Siap Pensiun?

Tetangga saya, seminggu lalu sudah pensiun. Berhenti bekerja setelah 28 tahun. Hari terakhirnya kerja, dia cerita kantornya menggelar acara perpisahan. Bikin tumpengan sambil foto-foto sama teman sekantor. Dapat apresiasi dari pimpinan dan dijadikan contoh sebagai karyawan teladan yang loyal pada perusahaan. Meriah sekali, katanya. Keren sekali tetangga saya, jadi ikut bangga.

 

Sesampainya di rumah, tetangga saya senyumnya sumringah. Dia cerita suka-dukanya orang bekerja. Mulai dari berangkat pagi, pulang malam hari. Selain untuk menafkahi keluarga, semua hidupnya didedikasikan untuk pekerjaan. Bahkan dia cerita, ikut membangun perusahaannya dari masa-masa sulit hingga maju seperti sekarang. Maklum baru pensiun, jadi masih semangat bila cerita urusan kantor. Beliau memang pantas disebut pekerja keras. Sehari-hari hidupnya hanya untuk pekerjaan dan kantor. Itu cerita seminggu lalu ketika beliau pensiun.

 

Tapi semalam, saya melihat beliau termenung di teras rumahnya. Ada sesuatu yang beda dan tidak seperti biasanya. Matanya seperti kosong. Kayak lagi melamun. Beliau duduk lama di kursi depan rumahnya. Diam sambil menatap jalanan yang gelap.

 

Saya bertanya "Bapak kenapa?"

Beliau jawab pelan, "Iya Pak, besok nggak ada lagi tempat yang harus dituju."  

“Ya nggak apa-apa Pak, kan memang sudah pensiun. Tinggal dinikmati saja” ujar saya menghibur. 

Beliau menjawab, “Itulah masalahnya, bagaimana dengan biaya hidup di hari tua?”

 

Ternyata, masa pensiun bukan soal kesepian. Tapi soal pekerjaan dan gaji. Apalagi tetangga saya selama ini identitasnya adalah pekerjaannya. Dan sekarang itu hilang. Ditambah satu ketakutan yang nggak beliau ucapkan. Apakah uang pensiun yang tersisa cukup buat hidup?  

 

Banyak pekerja khawatir jelang pensiun, apalagi yang sudah pensiun. Dulu selagi aktif, katanya pensiun masih lama. Tapi begitu waktu pensiun tiba, banyak pekerja yang tidak siap. Maka wajar, 8 dari 10 pensiunan akhirnya mengandalkan biaya hidup dari anggota keluarganya yang bekerja (BPS, 2024). Ada 1 dari 2 pensiunan yang meminta transferan dari anaknya setiap bulan (ADB, 2024). Begitulah realitas pensiunan di Indonesia.

 


Seperti tetangga saya yang pensiun itu. Kini hanya melamun setiap malam. Bingung harus ngapain dan bagaimana cara menutupi kebutuhan hidupnya. Pengen bekerja lagi tapi fisiknya sudah tidak sekuat dulu. Sementara biaya hidup terus berjalan. Baginya, apalah arti tumpengan ketika pensiun. Apalah arti dijadikan teladan sebagai karyawan yang loyal. Tapi masa pensiun yang nyaman sama sekali tidak dipersiapkan saat masih bekerja.

 

Dari obrolan dengan tetangga saya yang sudah pensiun. Saya pun berjanji ke diri sendiri. saya tidak mau pensiun tanpa persiapan. Untuk apa berjaya saat kerja tapi merana saat pensiun. Dan saya tidak mau anak-anak saya terbebani karena Bapaknya pensiun dan tidak punya uang. Karenanya, saya akan pastikan untuk pensiun dengan nyaman dan mandiri secara finansial. Agar tidak merepotkan anak-anak secara ekonomi.  

 

Saya juga bekerja keras. Bahkan membangun penghasilan tambahan. Tapi yang paling penting, saya sudah persiapkan masa pensiun dengan mengikuti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Agar tetap punya kesinambungan penghasilan di hari tua. Bukan cuma buat saya. Tapi buat bilang ke anak-anak suatu hari nanti, "Tenang saja Nak, Bapak punya uang untuk biaya hidup bahkan membantu kamu bila diperlukan".

 

Begitulah spirit punya dana pensiun nsejak dini. Biar tenang di masa pensiun dan tidak tergantung kepada siapapun, #YukSiapkanPensiun

 

8 Tipe Teman yang Dihindari di Taman Bacaan

Siapapun di keseharian, kita bisa bertemu dengan banyak orang. Beberapa di antaranya bisa menjadi teman. Tapi sebagian lain mungkin tidak pantas dijadikan teman. Sebab, berteman itu harus menyehatkan dan bermanfaat. Jangan sampai berteman tapi tidak ada manfaatnya.

 

Saat membimbing anak-anak pembaca aktif di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, salah satu nasihat yang disampaikan adalah pentingnya memilih teman. Nasihat literasi tentang bagaimana memilih teman. Maka ada tipe-tipe orang yang tidak layak dijadikan teman, karena lebih banyak meimbulkan kerugian daripada manfaat. Agar tidak merusak kebiasaan membaca anak-anak. Beberapa tipe orang yang tidak pantas dijadikan teman:

1.   Tukang mengeluh. Teman yang kerjanya mengeluh sebagai kebiasaan sehari-hari. Bawannya pikiran negatif terus sehingga dapat memengaruhi kesehatan mental jadi lebih buruk. Nenghabiskan waktu dengan teman yang hanya mengeluh, pasti menguras energi.

2.   Teman yang bertepuk sebelah tangan. Taman yang hanya ada di kala senang, sementara di saat susah menghilang. Bertemann itu harus saling memberi dan menerima di semua keadaan.

3. Tukang drama. Selalu ada teman yang kerjanya bermain drama, hal sepele dipersoalkan tanpa henti. Kepribadiannya cenderung mencari konflik untuk mendapat perhatian dan pengakuan.

4. Merasa bersaing. Semua hal dipandang seperti kontes dan maunya bersaing terus. Teman yang selalu ingin unggul dari yang lain. Teman yang bikin stress.



5. Penyebar gosip. Kerjanya membongkar rahasia bahkan menebar aib temannya sendiri. Doyan bergosip dan membuang waktu. Tidak tahu banyak tapi bicara banyak. Teman yang jadi sebab kecemasan dan ketidakpercayaan.

6. Teman yang egois. Teman yang maunya menang sendiri dan anti timbal balik. Teman yang susah menghargai orang lain.

7. Pengaruh negatif. Teman yang kerjanya berpikir buruk dan auranya jelek. Teman yang bikin tidak nyaman.

8. Teman yang hanya ada saat senang. Teman yang oportunis, hadirya hanya di saat-saat senang tapi menghilang ketika keadaan menjadi sulit.

 

Jadi, kalau ada orang mengaku teman tapi gayanya seperti di atas lebih baik tinggalkan dan hindari. Tidak usah berteman dan lebih baik lanjutkan membaca buku. Salam literasi!

 


Jadikan Belajar Lebih Menyenangkan

Saat diskusi bareng mahasiswa di kelas siang tadi. Kita sepakat, bahwa hidup bukan siapa yang paling banyak gelar dan punya sertifikat keahlian. Tapi siapa paling kuat mental dan istiqomah dalam kebaikan dan menebar manfaat. Terus bergerak namun tetap pandai dalam bersyukur. 

 

Selalu adaptif dan tetap belajar dari kehidupan. Jatuh bangun, ahh sudah biasa dan jadi makanan sehari hari. Asal tetap mandiri, punya visi. Bukan jadi orang yang oportunis. Bukan pula jadi pengecut yang hilang pas susah.

 

Karenanya dalam konteks pendidikan, ukuran keberhasilan seseorang tidak lagi bisa disempitkan pada gelar atau sertifikat semata. Dunia nyata menuntut sesuatu yang lebih dalam: ketangguhan mental, konsistensi dalam nilai (istiqomah), dan kemampuan memberi manfaat bagi orang lain. Pendidikan yang bermakna adalah yang membentuk karakter, bukan sekadar menumpuk legitimasi formal. Sebab pada akhirnya, yang bertahan bukan yang paling banyak titel, tetapi yang paling kuat menghadapi realitas.

 

Di sisi lain, sikap istiqomah dalam kebaikan menjadi fondasi penting. Banyak orang pintar, tapi tidak semua konsisten. Banyak yang tahu, tapi tidak semua melakukan. Di sinilah pendidikan seharusnya berperan—membentuk kebiasaan baik, integritas, dan kesadaran untuk terus bergerak meski pelan. Disertai rasa syukur, seseorang tidak mudah goyah oleh tekanan atau perbandingan sosial. Ia tahu posisinya, tahu prosesnya, dan tidak kehilangan arah.

Kemampuan adaptif juga menjadi kunci utama di era perubahan cepat. Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan teori, tetapi harus melatih cara berpikir fleksibel, belajar dari pengalaman, dan membaca situasi. Belajar, apapun alasannya harus menyenangkan. Belajar sebagai hiburan edukatif.

 

Tentu, jatuh bangun jadi konsekuensinya.  Bukan sebagai kegagalan, tapi bagian dari kurikulum kehidupan. Orang yang terdidik secara utuh akan melihat kegagalan sebagai data, bukan akhir cerita. Dari situ lahir kemandirian dan keberanian untuk mencoba lagi. Karena di situlah ada sikap visioner, ketika mampu membedakan antara membangun masa depan dan yang hanya bereaksi terhadap keadaan.

 


Maka jelas, pendidikan harus melahirkan individu yang punya arah, bukan sekadar ikut arus. Bukan oportunis yang hanya muncul saat peluang mudah, dan bukan pengecut yang menghilang saat keadaan sulit. Justru dalam kondisi sulit, karakter asli seseorang terlihat. Di situlah nilai pendidikan diuji. Apakah hanya pengetahuan, atau sudah menjadi prinsip hidup?

Pada akhirnya, mindset akan menentukan. Pemenang hanya fokus pada proses dan tujuan, bukan sibuk membandingkan diri atau menjatuhkan orang lain. Sebaliknya, mereka yang kalah sering terjebak pada distraksi sosial: mengomentari, menghakimi, dan mengurusi hidup orang lain. 

 

Sejatinya, pendidikan yang benar akan mengarahkan seseorang untuk fokus pada pengembangan diri, kontribusi, dan keteguhan langkah. Bukan terjebak pada aktivitas yang sia-sia dan pikiran yang terbuang percuma.


 

Bukan hanya ingin cerdas, pendidikan harus mengajarkan siapapun bersikap berani dan memilih untuk maju terus. Sebab, winner fokus menang. Hanya loser yang sibuk ngurusin pemenang, ngurusin orang lain. Itu saja yang perlu dijaga dalam pendidikan. Salam Pendidikan!


Pendidikan: Bukan Bertanya Anak Sekolah Di Mana tapi Rumahnya Seperti Apa?

Mumpung Hari Pendidikan Nasional. Ada yang bertanya, apa sih pendidikan? Jawabnya, pendidikan bukan tentang membuat anak pintar atau cerdas. Tapi sejatinya pendidikan tentang proses membentuk “manusia yang utuh”. Manusia yang memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang memadai sesuai dinamika peradaban. Manusia yang belajar dengan menyenangkan dan memiliki kesadaran untuk terus bertumbuh.

 

Kita sering menyempitkan pendidikan jadi identik dengan nilai tinggi, banyak prestasi. Padahal sejatinya, pendidikan adalah “menumbuhkan manusia” itu sendiri. Manusia yang utuh itu bukan hanya cerdas. Tapi juga kuat mentalnya, hidup jiwanya, peka sosialnya, dan kokoh spiritualnya. Dan menariknya, menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu tidak dimulai di sekolah atau kampus tapi di keluarga. Keluarga adalah pendidik pertama dan utama setiap orang.  

 

Sebelum anak mengenal huruf, ia sudah “membaca” rumahnya sendiri. Gimana cara ayah dan ibunya merespon diri sang anak, cara ibunya bicara, dan cara ayahnya bersikap. Cara menghadapi masalah, cara menyelesaikan konflik hingga cara komunikasi yang beradab. Semuanya dimulai dari rumah, dan di situlah pendidikan dimulai.  

 

Maka fondasi pertama pendidikan seharusnya dibangun dan dimulai di rumah. Bukan dari hafal huruf, angka, warna atau bisa menjawab setiap pertanyaan. Tapi dimulai dari rasa aman, rasa menghormati dan menghargai yang dikembangkan di rumah.   

 

Anehnya, banyak orang tua merasa sudah memberi rasa aman karena anaknya tercukupi, anaknya terlindungi. Padahal rasa aman tidak hanya fisik, tapi juga psikologis. Rasa aman itu hadir saat anak tidak direndahkan, tidak dipermalukan, dan tidak dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Karena saat itu terjadi, yang rusak bukan hanya perasaan. Tapi cara anak melihat dirinya sendiri. Anak mulai berpikir: “aku tidak cukup”, “aku banyak kurangnya”,  “aku harus sempurna agar diterima” dan “aku lebih baik diam daripada salah”. Anak-anak yang “terpenjara” secara perasaan dan eksistensinya.  

 


Dan ketika itu terjadi, anak tidak lagi belajar untuk berkembang. Tapi belajar untuk bertahan. Sebaliknya, ketika anak merasa aman, ia akan berani mencoba. Tidak takut salah dan mau belajar sambil mencoba. Karena si anak tahu “aku tetap berharga, bahkan saat aku belum bisa sekalipun”. Memberi rasa aman dan nyaman pada anak, itulah pendidikan yang dimulai dari hati nurani.   

 

Dari keluarga, anak juga belajar hal paling kuat bukan dari nasihat. Tapi dari keteladangan, bukan dari omongan. Sedikit-sedikit dilarang, sedikit-sedikit tidak boleh. Bila anak terlalu dilindungi atau sedikit-sedikit tidak boleh, lalu di mana anak-anak itu belajar mengenal jati dirinya sendiri. Mari bertanya sekarang, di mana pendidikan yang menempatkan anak mengenal dirinya, bukan mengenal kurikulum yang harus dijalankannya.

  

Pendidikan memang dimulai dari rumah. Ketika anak melihat bagaimana ayah mengelola emosi, bagaimana ibu mengambil keputusan, dan bagaimana orang tua memperlakukan orang lain. Dari situlah terbentuk sesuatu yang mahal yaitu “integritas”. Sebab, integritas tidak lahir dari ceramah panjang. Tapi dari hal sederhana yang diulang setiap hari. Sesuatu yang dibiasakan untuk jujur, punya empati dan kasih sayang, serta tanggung jawab dan amanah. Dan  lagi-lagi, semua itu dimulai dari rumah.   

 

Ayah bunda harus tahu. Bila kita ingin anak jadi pemimpin, punya mental kuat, berani dan percaya diri, tidak merendahkan orang lain, peduli, amanah, termasuk dekat dengan Allah. Maka pertanyaannya sederhana. Jangan bertanya “sekolahnya di mana?” tapi "rumahnya seperti apa?”. Salam literasi!



Jumat, 01 Mei 2026

Catatan Hardiknas: Tidak Semua Suara di Luar Sana Layak Didengarkan

 

Ini sebuah catatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026. Sebuah ajaran kehidupan. Bahwa "tidak semua suara di luar sana, layak kamu dengarkan. Karena nadanya jelek dan tidak positif. Ada yang meragukan, ada yang meremehkan, ran ada yang mencoba membuatmu berhenti. Tapi seringnya, itu bukan tentang kamu. Itu tentang ketakutan mereka sendiri dalam hidupnya.

 

Jadi jelas, tidak semua suara di luar sana punya niat baik atau pemahaman yang utuh tentang perjalananmu. Ada orang yang berbicara hanya dari sudut pandangnya sendiri, tanpa benar-benar tahu apa yang sedang kamu bangun, perjuangkan, atau korbankan. Kalau semua suara itu kamu dengarkan, kamu bisa kehilangan arah, bahkan meragukan langkahmu sendiri.

 

Dalam konteks pendidikan, ungkapan “tidak semua hal di luar sana layak didengarkan” sangat relevan karena siswa dan pendidik hidup di tengah arus informasi yang begitu deras. Tidak semua opini, komentar, atau tren memiliki nilai edukatif atau kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika semua hal diserap tanpa filter, proses belajar bisa terganggu oleh distraksi, misinformasi, bahkan tekanan sosial yang melemahkan kepercayaan diri. Karena itu, pendidikan bukan hanya soal menyerap ilmu, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis untuk memilah mana yang perlu didengar, dipertimbangkan, atau justru diabaikan.

 

Selain itu, ungkapan ini mengajarkan pentingnya fokus dan keteguhan dalam proses belajar. Banyak siswa yang kehilangan arah karena terlalu mendengarkan keraguan, ejekan, atau standar orang lain yang tidak sesuai dengan tujuan mereka. Padahal, setiap individu memiliki ritme dan jalur belajar yang berbeda. Dalam konteks ini, pendidikan seharusnya membentuk karakter yang kuat: mampu mendengar masukan yang membangun, namun tetap teguh terhadap tujuan. Dengan begitu, siswa tidak mudah goyah oleh “suara-suara” yang justru menghambat perkembangan diri mereka.

 


Ketika ada yang meragukan atau meremehkan, itu sering kali bukan cerminan dari kapasitasmu. Itu lebih mencerminkan batasan cara berpikir mereka. Orang hanya bisa menilai sejauh yang mereka pahami. Jadi ketika mereka tidak melihat potensimu, bukan berarti potensimu tidak ada. Bisa jadi mereka belum sampai pada level pemahaman yang baik.

 

Banyak juga yang tanpa sadar mencoba membuatmu berhenti, bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka takut. Takut melihat perubahan, takut tertinggal, atau takut menghadapi kenyataan bahwa orang lain berani melangkah lebih jauh dari mereka. Ketakutan ini sering muncul dalam bentuk komentar negatif, saran yang melemahkan, atau bahkan kritik yang menjatuhkan bahkan fitnah yang begitu kejam.

 

Di titik itulah, kamu perlu punya filter yang kuat. Belajar membedakan mana suara yang membangun dan mana yang hanya menguras energi. Tidak semua kritik harus ditelan, dan tidak semua opini harus dijadikan pegangan. Fokuslah pada suara yang mendorongmu bertumbuh, bukan yang membuatmu ragu untuk melangkah.

 

Pada akhirnya, perjalanan ini adalah tentang dirimu sendiri. Kamu yang menjalani, kamu yang merasakan, dan kamu yang bertanggung jawab atas hasilnya. Jadi, tetap dengarkan dirimu, jaga keyakinanmu, dan biarkan waktu yang membuktikan. Karena sering kali, suara paling penting bukan yang paling keras—tapi yang paling jujur dari dalam dirimu sendiri. 

 

Suara-suara yang negatif, sering kali merepresentasikan dirinya sendiri. Teruslah melangkah hingga suara-suara itu hilang sendiri. Selamat Hari Pendidikan Nasional!

 



Yang Kelihatan Tenang, Belum Tentu Hidupnya Mudah.

Ada benarnya sebuah nasihat. Yang menegaskan “kadang hidup ini bukan untuk dikendalikan tapi untuk dipahami. Ada fase di mana kita sudah berusaha rapi, tapi hasilnya tetap berantakan. Bukan karena kita gagal tapi karena kita sedang dilatih jadi lebih kuat dari rencana kita sendiri”, kira-kira begitu.

 

Yang kelihatan tenang, belum tentu hidupnya mudah. Yang jalannya santai, sering justru yang paling tahan banting. Hidup memang sering kali “hard to handle”. Tapi justru di situ, karakter kita terbentuk tanpa banyak bicara.

 

Memang, hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Itu hal yang wajar. Banyak orang berusaha menyusun hidupnya dengan rapi: membuat target, strategi, dan harapan, namun kenyataannya tidak selalu mengikuti skenario tersebut. Pesan utamanya adalah bahwa hidup bukan hanya tentang mengendalikan hasil, tetapi tentang memahami proses yang sedang terjadi.

 

Ketika usaha yang sudah maksimal tetap menghasilkan sesuatu yang terasa “berantakan”, itu bukan selalu tanda kegagalan. Justru dalam kondisi seperti itulah seseorang sedang ditempa. Tantangan dan ketidakpastian sering kali berfungsi sebagai sarana pembentukan mental dan ketahanan diri, yang mungkin tidak bisa didapat jika semuanya berjalan mulus.

 


Kita diingatkan bahwa apa yang terlihat di permukaan tidak selalu mencerminkan kenyataan. Orang yang tampak tenang belum tentu hidupnya mudah, dan mereka yang terlihat santai bisa jadi adalah pribadi yang sudah melalui banyak ujian. Ada kekuatan yang terbentuk dalam diam, tanpa perlu ditunjukkan atau dijelaskan kepada orang lain. Karenannya, terkadang hidup jadi “hard to handle” sebagai simbol bahwa hidup memang sering kali sulit dipahami dan tidak selalu nyaman dijalani. Namun justru dalam kesulitan itulah karakter seseorang terbentuk secara alami. Proses ini sering terjadi tanpa disadari, tanpa banyak kata, tetapi meninggalkan dampak yang mendalam terhadap kepribadian.

 

Pada akhirnya, itulah pesan tentang penerimaan dan pertumbuhan. Hidup tidak harus selalu terkendali untuk bisa bermakna. Dengan memahami setiap fase, baik yang rapi maupun yang berantakan, seseorang dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih tahan banting, dan lebih siap menghadapi masa depan.