Membaca merupakan aktivitas penting yang berperan dalam meningkatkan pengetahuan, memperluas wawasan, dan membentuk pola pikir masyarakat. Di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi, minat membaca tetap menjadi indikator penting dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia karena berkaitan erat dengan literasi, pendidikan, dan kemampuan mengakses informasi.
Bagaimana preferensi jenis
bacaan masyarakat Indonesia? Data BPS & Goodstats (2025) menyebut bacaan
paling populer di Indonesia adalah “kitab suci”, setelah itu diikuti buku
pengetahuan dan materi pelajaran sekolah yang menunjukkan minat baca
pada sektor edukasi formal. Sementara itu, media hiburan seperti buku
cerita dan surat kabar memiliki tingkat ketertarikan yang hampir
setara di kalangan pembaca. Di sisi lain, majalah atau tabloid menjadi
jenis bacaan yang paling sedikit diminati.
Komposisi jenis bacaan yang
paling populer di masyarakat Indonesia terdiri dari: 1) Kitab Suci 77,55%, 2) Buku
Pengetahuan 24,42%, 3) Buku Pelajaran Sekolah 20,55%, 4) Buku Cerita 13,96%, 5)
Koran/Surat Kabar 13,27%, 6) Majalah/Tabloid 3,77%, dan 7) Lainnya 20,78%.
Kitab suci jadi bacaan paling favorit seringkali dikaitkan dengan budaya
religiusitas masyarakat yang kuat, di mana membaca kitab suci bukan sekadar
kegiatan literasi, melainkan bagian dari ibadah harian, tradisi pendidikan
agama sejak dini, serta panduan hidup moral dan spiritual. Menariknya, BPS
mengungkap sebanyak 89,75% penduduk Indonesia berusia 5 tahun ke atas pernah
membaca dalam seminggu terakhir pada tahun 2025. Artinya, 9 dari 10 penduduk
Indonesia masih melakukan aktivitas membaca dalam berbagai bentuk dan jenis
bacaan. Hal ini jadi bukti, bahwa membaca bukan soal minat melainkan soal akses
bacaan. Asal ada bacaan yang bisa diakses, maka proses membaca bisa terjadi.
Sebaliknya, bila tidak ada akses bacaan maka sudah pasti tidak ada minat baca.
Memang, membaca kitab suci
lebih tinggi daripada buku pengetahuan. Karena tujuan membacanya berbeda dan implikasi
terhadap cara berpikir serta perilaku pun jadi berbeda. Membaca kitab suci atau
buku pengetahuan tidak saling bertentangan, justru dapat saling melengkapi.
|
Aspek |
Membaca Kitab Suci |
Membaca Buku Pengetahuan |
|
Tujuan utama |
Memperdalam keimanan, spiritualitas, dan
nilai moral |
Menambah pengetahuan, keterampilan, dan
pemahaman ilmiah |
|
Fokus isi |
Ajaran agama, etika, ibadah, makna hidup |
Sains, teknologi, ekonomi, sejarah,
kesehatan, dan bidang lainnya |
|
Cara memperoleh kebenaran |
Berdasarkan ajarann dan penafsiran
keagamaan |
Berdasarkan observasi, penelitian, bukti,
dan argumentasi |
|
Hasil yang diharapkan |
Pembentukan karakter, ketenangan batin,
dan pedoman hidup |
Kemampuan berpikir kritis, pemecahan
masalah, dan inovasi |
Jika seseorang lebih banyak
membaca kitab suci maka cenderung memiliki landasan moral dan spiritual yang
lebih kuat, dapat memperoleh ketenangan batin, tujuan hidup, dan nilai-nilai
etika, namun jika tidak diimbangi dengan pengetahuan umum, wawasan tentang
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, atau isu-isu sosial bisa menjadi
lebih terbatas. Sebaliknya, jika seseorang lebih banyak membaca buku
pengetahuan maka cenderung memiliki wawasan yang luas, kemampuan analitis, dan
keterampilan profesional yang lebih baik, Lebih siap menghadapi tantangan
akademik, pekerjaan, dan perkembangan teknologi. Namun, tanpa refleksi terhadap
nilai-nilai moral atau etika, pengetahuan tersebut belum tentu menjadi dasar
pengambilan keputusan yang bijaksana.
Dalam konteks pengembangan
sumber daya manusia, membaca kitab suci dan buku pengetahuan sebaiknya
dipandang sebagai dua aktivitas yang saling melengkapi. Kitab suci dapat
membentuk karakter, integritas, dan orientasi moral, sedangkan buku pengetahuan
memperkaya kompetensi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Kombinasi
keduanya mendukung perkembangan individu yang tidak hanya cakap secara
intelektual, tetapi juga memiliki landasan etika dalam menerapkan
pengetahuannya. Maka poin-nya bukanlah "mana bacaan yang lebih baik?",
melainkan "bagaimana menyeimbangkan keduanya sesuai kebutuhan hidup dan
tujuan pembelajaran?". Agar terwujud masayarakat Indonesia yang literat. #TBMLenteraPustaka
#GerakanLiterasi #TamanBacaan

%20rev.png)
%20rev.png)

%20rev.png)

%20rev.png)




%20rev.png)



%20rev.png)