Kamis, 14 Mei 2026

Catatan Literasi: Kalau Ingin Jadi Pohon yang Tinggi Siaplah Diterpa Angin

Ini sebuah pesan literasi. Kalau ingin jadi pohon yang tinggi, siaplah diterpa angin. Karena semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar juga ujian dan omongannya. Tapi kalau memilih jadi rumput, memang jarang diterpa badai. Sayangnya harus rela diinjak-injak banyak kaki. Jadi hidup bukan soal mau aman atau hebat, tapi soal seberapa kuat kita bertahan. Begitulah kira-kira.

 

Kalau ingin jadi pohon yang tinggi, siaplah diterpa angin. Bahwa setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi. Dalam pengabdian sosial, seseorang yang memilih untuk terlibat membantu masyarakat sering kali menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ada kritik, salah paham, fitnah bahkan cibiran ketika niat baik tidak selalu dipahami semua orang. Namun seperti pohon yang tinggi, keberadaan mereka memberi manfaat luas: menghadirkan keteduhan, harapan, dan perubahan bagi banyak orang yang membutuhkan.

 

Hal yang sama terlihat dalam aktivitas di taman bacaan masyarakat. Orang-orang yang mengabdikan waktu untuk mengelola taman bacaan sering bekerja tanpa sorotan besar. Mereka harus menghadapi keterbatasan buku, minimnya dukungan, hingga rendahnya minat baca di lingkungan sekitar. Tetapi mereka tetap bertahan karena percaya bahwa membaca adalah jalan untuk mengubah masa depan. Semakin besar dampak yang ingin diberikan, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi.

 

Sebaliknya, memilih hidup “aman” tanpa berbuat apa-apa mungkin terasa nyaman seperti rumput yang rendah dan tidak diterpa angin besar. Namun kehidupan yang terlalu takut menghadapi tantangan sering membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk bertumbuh dan memberi arti bagi orang lain. Dalam konteks sosial, diam terhadap masalah pendidikan dan rendahnya literasi sama saja membiarkan banyak anak kehilangan kesempatan berkembang. Karena itu, keberanian untuk tetap hadir di tengah masyarakat menjadi bentuk keteguhan yang sangat berharga.

 

Dari taman bacaan kita belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang menjadi hebat, tetapi tentang konsistensi untuk bertahan dan memberi manfaat. Seorang relawan yang setiap minggu membacakan buku untuk anak-anak mungkin tidak dikenal banyak orang, tetapi pengaruhnya bisa mengubah cara berpikir generasi muda. Seperti pohon yang tetap berdiri meski diterpa angin, mereka yang mengabdikan diri melalui literasi menunjukkan bahwa ketahanan, kesabaran, dan kepedulian adalah akar yang membuat kehidupan menjadi lebih bermakna. Salam literasi!

 




IPK Tinggi Lulus Cum Laude tapi Kerja Nggak Nyambung Sama Kuliah

Teman anak saya saat kuliah S1, lulus cum laude, IPK-nya 3,80. Kuliah rajin dan wisuda tepat waktu. Saat itu, orang tuanya menangis bangga. Tapi 6 bulan setelah wisuda, teman anak saya cerita tentang pekerjaannya yang susah saya lupakan, "Gelar saya Om, tidak ada di job description. Bingung, kok kuliah nggak nyambung sama pekerjaan"  

 

Kok bisa nggak nyambung? Dia belajar 4 tahun di kampus. Banyak teori sedikit praktik. Hafal rumus, lulus ujian semua mata kuliah. Skripsi kelar dan jadi sarjana. Tapi waktu masuk dunia kerja, yang ditanya bukan IPK-nya. Tapi yang ditanya: Bisa software apa? Punya portofolio apa? Sudah punya pengalaman belum? Ijazah dan IPK cuma buat seleksi administrasi doang. Tidak ada tuh di dunia kerja yang tanya IPK berapa?  

 

Kalau mau jujur, itulah hal tidak pernah diajarkan di kampus. Dunia kerja itu tidak menghargai apa yang kita tahu. Paham teori segudang juga nggak ada gunanya. Sebab dunia kerja hanya menghargai apa yang bisa kita kerjakan, apa yang mampu diselesaikan? Kita tahu dan kitab isa mengerjakan, dua hal yang kelihatannya sama. Tapi sangat berbeda. Orang yang bisa menyelesaikan masalah nyata tidak selalu yang nilainya paling bagus di kelas. Orang yang bisa kerja, belum tentu orang yang paham teorinya. Begitulah nyatanya.   

 

Bukan pendidikannya yang salah. Tapi masalahnya kita terlalu lama percaya satu narasi: "Kuliah yang rajin, sekolah yang benar biar nanti mudah dapat kerja." Tidak ada yang bilang: “Ijazah itu cuma tiket masuk, bukan jaminan skill yang dicari”. Kita lupa, dunia kerja dan bisnis itu berubah lebih cepat dari kurikulum. Skill dan networking itu jauh lebih penting dari sekadar nilai IPK atau sudah pernah lulus kuliah.

 


Dan akhirnya, teman anak saya itu sekarang kerja di bidang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusannya. Dan dia baik-baik saja. Gaji punya dan bisa buat hidup sendiri dulu. Tapi dia bilang satu hal ke saya: "Gini ya Om, harusnya waktu kuliah ada yang bilangin bahwa pendidikan itu penting. Tapi belajar caranya hidup dan membangun skill itu jauh lebih penting." Pesan yang menohok dari seorang anak muda.

 

Memang benar sih. Kita bisa punya pendidikan tinggi, tekun sekolah. Tapi kalau tidak tahu cara belajar dari realita yang ada, kita akan selalu merasa tertinggal. Belajar itu bukan hanya teori tapi praktik untuk membangun skill. Biar sadar, dunia kerja nggak butuh IPK. Tapi mereka butuh orang yang bisa kerja dan berkontribusi selesaikan masalah. Di kantor mana pun, di industri apapun.

 

Hari gini, jangan terlalu bangga dengan ijazah atau IPK. Karena ijazah dan IPK itu hanya bukti bahwa kita pernah sekolah. Bukan bukti bahwa kita bisa bekerja?

 



Rabu, 13 Mei 2026

Nadiem dan Begonya Gue

Kemarin baca berita di mana-mana, Nadiem Makarim dituntut jaksa 18 tahun penjara + kembalikan uang Rp. 5 triliun. Nadiem, diduga ikut korupsi pengadaan laptop Chromebook, zaman dia jadi Menteri Pendidikan RI. Nadiem pun menangis dalam pelukan istrinya. Plus, puluhan driver gojek pun ikut memberi dukungan moral ke Nadiem.

 

Nadiem, Nadiem. Gue ini orang awam (baca: bego) untuk urusan laptop Chromebook, apalagi hukum di pengadilan. Tapi yang gue paham, Nadiem itu orang kaya (sudah kenyang), dia kan yang bikin Gojek. Jadi yang ada di otak gue, orang yang sudah “kenyang” kayak Nadiem itu nggak akan berebut makanan lagi. Jadi Menteri ya buar pengabdian dan berbagi ilmu. Sebab siapapun yang perutnya sudah kenyang, harusnya nggak kepengen “nilep” duit orang lain, apalagi negara. Belum tentu begitu. Iya mungkin, di situlah cara pikir gue yang tergolong bego. Kadang naif juga.

 

Tapi begini, sebagai orang awam, urusan korupsi sih ukurannya gampang. Berapa uang yang diterima Nadiem dan buka saja aliran dananya ke dia? Cari tahu saja, saat Nadiem belum jadi Menteri punya harta kekayaan berapa? Dan setelah jadi Menteri jadi berapa, katanya kan korupsinya triliunan? Jadi, Nadiem itu “korupsi” uang apa kebijakan? Apa sih yang di korupsi Nadiem? Tolong buktikan itu saja, maklum gue ini orang awam.

 

Maaf nih, saking begonia gue. Jangan-jangan Nadiem memang dijadiin target. Dituntut 18 tahun penjara + uang Rp. 5 triliun (setara hukuman 9 tahun). Kalau ditotal, penjaranya lebih dari 27 tahun. Lebih berat dari kasus terorisme ya, sementara korupsi “uang” yang diterima Nadiem belum bisa dibuktikan. Bisa jadi, Nadiem ini tumbal mafia pendidikan di Indonesia, yang memang sudah puluhan tahun bersemayam di republik ini. Atau ini bagian dari politik balas dendam? Ahh, mungkin pikiran gue salah sih!

 

Mungkin banyak orang paham. Jaksa menuntut Nadiem asal-asalan. Hukum dan pengadilan pun sudah susah dipercaya. Gimana orang mau cari kebenaran? Apa masih ada keadailan? Maka akhirnya, banyak orang (rkayat) jadi bungkam alias diam. Menerima saja walau tidak masuk akal. Seperti Nadiem akhirnya hanya bisa menangis di pelukan istrinya saat mendengan dituntut 18 tahun penjara. Apa benar Nadiem korupsi, dan apa ini adil buat rakyat?

 

Nadiem pasti menyesal. Karena sebagai profesional yang membangun Gojek di republik ini akhirnya “terpenjara”. Gojek itu sudah jadi kerjaan dan tempat cari makan sekitar 3 juta orang di Indonesia. Sudah terbukti kok Gojek! Sementara, orang yang janji buka lowongan kerja 19 Juta tenaga kerja gimana? Belajar dari kasus Nadiem, makanya para profesional kalau diajak masuk “pemerintahan” mendingan ditolak. Daripada jadi masalah di kemudian hari. Profesional kan pengennya cepat dan segera bermanfaat. Beda dengan pemerintahan, yang pengennya lama. Minta izin saja bisa 1-2 tahun, sampai Pak Presiden kesal sendiri. Budayanya kan “kalau bisa dipersulit ngapain dipermuda, kalau bisa lama kenapa harus sebentar?”. Nadiem… Nadiem, kenapa mau dulu jadi Menteri? Mana yang ngajak diam aja sekarang.

 


Nadiem, Nadiem. Kerja di pemerintahan itu nggak gampang. Politik-nya tajam, prosedurnya panjang, prosesnya lama, dan mafia-nya banyak. Sementara orang profesional maunya efektif dan efisien. Tapi terpaksa “melawan” politik internal, prosedur dan mafia-nya di pemerintahan. Jadi, siapa yang kuat kan?

 

Begonya gue, di kasus Nadiem ini, hue kesannya membela Nadiem. Padahal gue nggak kenal Nadiem, gue juga orang yang menolak POP (Program Organisasi Penggerak) saat dia jadi Menteri. Makin bego lagi, karena gue nggak tahu apa itu laptop Chromebook dan gimana persidangan Nadiem itu berjalan? Aneh ya gue, nggak kenal Nadiem kok membela. Tapi, orang bego kan masih boleh menulis dan berpendapat di negeri tercinta ini. Karena tergelitik aja, karena di pikiran gue Nadiem nggak “makan” uang negara. Tahu benar apa nggak pikiran gue ini. Maaf aja kalau salah ya.

 

Nadiem siap-siap masuk penjara nih! Semoga saja jutaan driver gojek turun ke jalan untuk menyuarakan keadilan untuk pendirinya, mantan CEO-nya. Dan sebaiknya, para profesional mikir uang kalau mau masuk ke pemerintahan. Lebih baik tetap profesional dan independen. Jangan nambahin ribet di republik ini, biar fokus pada kerja masing-masing aja.

 

Nadiem, Nadiem. Kayak nggak tahu aja. Ikan itu mencintai air, namun air pula merebusnya. Daun itu setia pada angin, namun angin pula menggugurkannya. Dan manusia itu bergantung hidup pada tanah, tapi tanah pula yang menguburnya. Nadiem, dunia itu nggak seindah yang dibayangkan. Sering kali kita menyalahkan hal yang terlihat tanpa menyadari akar dari segalanya.

 

Nadiem, Nadiem …..

Kerja Paling Rajin Nggak Cukup untuk Pensiun Sejahtera

Di dunia kerja, setiap karyawan selalu diajarin satu hal. “Kerja aja yang rajin, nanti pasti dihargai kantor kok”. Doktrin itu dianut sebagian besar atasan dan HRD. Makanya, karyawan yang fanatik alias “kena” doktrin itu, sampai sekarang selalu datang paling pagi, paling cekatan di kantor, paling jarang menolak kerjaan bahkan pulnganya pun paling malam. Jadilah karyawan yang berdedikasi.

 

Tapi salah seoarang kawan saya, belakangan bbaru sadar. Dia tanya, “kok gue kerja udah paling rajin, paling malam pulangnya tapi begini-begini aja ya” katanya.

 

Sambil tersenyum, saya kasih tahu kawan itu. “Begini bro, kerja paling rajin itu belum tentu bikin posisi elo di kantor ikut naik. Pulang kerja paling malam bukan berarti gaji paling gede. Kerja ya ikut jobdes aja” jawab saya.

 

Mungkin, kita pernah lihat orang kerja kayak kawan saya. Paling rajin, paling cekatan dan paling rapi urusan kerjaan. Tia pada kerjaan yang belum selesai, dia paling duluan turun tangan. Sangat membantu sekali. Bahkan sering bantu atasi kerjaan orang lain juga. Tapi anehnya, tiap ada promosi di kantor, namanya jarang masuk hitungan. Seolah sistem kantor nyaman banget memakai dia sebatas pekerja yang rajin.

 

Saya pun kasih tahu ke kawan tadi, Jadi, kalau elo begitu terus kerja dan posisinya begitu-begitu aja, sangat mungkin elo bakal capek sendiri. Karena dari sudut pandang elo, semua kerjaan sudah dilakukan dengan benar. Loyal, dedikasi, rajin, kerja sama, dan tanggung jawab. Cuma akhirnya elo bingung sendiri nantinya. Penghargaan dan hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan effort yang kita keluarkan setiap hari di kantor.  Jadi, banyak karyawan burnout ya karena kayak gitu-gitu di kantor.  

 

Kerja yang rajin sih nggak ada yang salah, bagus banget malah. Kalau karier gitu-gitu aja bukan karena kita kurang bagus kerjanya. Tapi karena kita terlalu fokus jadi “orang rajin di kantor”. Sampai lupa bangun value dan posisi tawar di kantor. Kita cuma sibuk nunjukin ke atasan kalau kita ini rajin dan bisa kerja keras. Tapi nggak pernah bikin sistem di kantor sadar, “kenapa kita layak dianggap penting dan dihargai?”.

 


Dan akhirnya, kerja model begitu justru makin bahaya. Karena orang mulai menganggap kerja keras  kerja rajin itu hal biasa. Beban kerja makin bertambah, ekspektasi atasan makin tinggi tapi posisi kita tetap segitu-gitu saja. Kita capek terus, sementara orang lain mulai naik. Karena orang lain paham “cara main” yang beda di kantor. Sementara si rajin si pekerja keras ya tetap saja datang paling pagi pulang paling malam.   

 

Banyak orang lupa, effort memang penting di dunia kerja. Tapi effort tanpa positioning cuma bikin kita jadi “karyawan andalan” di kantor, bukan karyawan yang “diprioritaskan” untuk punya karier berkembang atau naik. Makanya di kantor-kantor itu, ada karyawan yang kelihatannya Santai. Tapi lebih cepat naik, lebih cepat berkembang. Coba deh dicek, siapa?

 

Faktanya, banyak karyawan yang rajin justru mentok di level worker. Kerja paling rajin bahkan kerja keras itu nggak cukup untuk menyelamatkan karier atau masa depan. Tapi kalau mau jadi pekerja rajin dan keras ya silakan sih dilanjut saja. Cuma besok-besok jangan kaget, beberapa tahun lagi kita masih jadi orang yang paling sibuk. Tapi bukan yang paling dianggap besar kontribusinya. Dan akhirnya, untuk bisa naik level terpaksa harus “cari muka” bukan bikin kerjaan lebih berdampak dan nail value-nya.

 

Dan yang paling memprihatinkan, buat apa dikenal kerja paling rajin paling loyal kalau akhirnya nggak bisa nabung di dana pensiun. Kerjanya pasti bisa puluhan tahun tapi hari tuanya nggak pasti. Bisa sehat dan Sejahtera nggak di masa pensiun? #YukSiapkanPensiun   

Selasa, 12 Mei 2026

Hati Capek ketika Melangkah di Taman Bacaan

Berkiprah sosial itu memang nggak mudah. Seperti mengelola taman bacaan masyarakat, yang sering melelahkan justru bukan soal pengabdian, bukan pula soal pekerjaan membimbing anak-anak yang membaca. Bukan pula mengajar buta aksara atau menyusun buku di rak-nya. Tapi yang paling menguras hati adalah ketika niat baik terus diuji oleh komentar miring, gangguan, atau sikap orang yang tidak suka melihat sesuatu tumbuh. Sekalipun jalannya baik, gangguan di taman bacaan itu nyata ada.

 

Terkadang ada yang meremehkan atau mencari-cari salahnya aktivitas sosial. Bagkan ada yang menganggap kegiatan di taman bacaan tidak penting. Dan akhirnya, membuat kekacauan internal di taman bacaan. Mencoba menghambat semangat yang sudah dibangun perlahan dari titik nol. Di titik itu, rasa frustrasi dan ragu sering datang hingga merusak apa yang telah dijalani. Memang benar, menjadi literat itu nggak mudah.

 

Memang, setiap perjuangan sosial memang tidak selalu langsung dipahami. Taman bacaan bukan sekadar tempat membaca buku, tetapi ruang harapan bagi anak-anak yang haus perhatian, ilmu, dan lingkungan yang baik. Ketika ada gangguan dari orang sekitar, sering kali itu menjadi ujian ketulusan niat. Sebab kalau niatnya hanya mencari pujian, mungkin langkah sudah berhenti sejak lama. Tetapi jika niatnya benar-benar ingin memberi manfaat, hati akan tetap menemukan alasan untuk bertahan walau tidak selalu mendapat dukungan.

 


Tidak semua perjuangan harus cepat terlihat hasilnya. Ada anak yang baru berani membaca setelah berbulan-bulan datang. Ada lingkungan yang awalnya sinis, lalu perlahan ikut membantu karena melihat konsistensi. Kebaikan memang sering tumbuh diam-diam. Maka yang penting bukan seberapa cepat taman bacaan itu besar, tetapi seberapa tulus langkah itu terus dijaga. Karena sering kali bukan kesempatan yang jauh, melainkan rasa ragu yang membuat seseorang berhenti sebelum sampai tujuan.

 

Jadi ketika hati mulai lelah karena banyak gangguan, tarik napas sejenak dan tenangkan diri. Ingat kembali alasan awal mengapa taman bacaan itu dibangun. Bisa jadi jalan yang sedang diperjuangkan memang tidak mudah, tetapi setiap niat baik selalu punya jalannya sendiri untuk sampai. Teruslah melangkah pelan-pelan, sebab anak-anak yang datang membaca, tertawa, dan merasa punya tempat belajar yang nyaman adalah bukti bahwa perjuangan itu tidak sia-sia.

 

Jangan berkiprah di taman bacaan bila bikin hati capek. Salam literasi!



Nasib Karyawan: Hasil Kerja Nggak Terbaca Apalagi Pensiun

Di dunia kerja, banyak orang berpikir kerja keras itu cukup. Katanya, kerja yang bagus pasti nanti hasilnya akan kelihatan sendiri. Logikanya bisa diterima dan terdengar masuk akal sih. Tapi dalam realitasnya, dunia kerja tidak selalu begitu. Ada yang namanya politik kantor.

 

Buktinya, ada karyawan yang kerja keras, mampu jadi problem solver, kerja sama tim-nya keren. Berangkat gelap pulang gelap. Bisa tuntaskan banyak hal yang mandek di kerjaan. Loyal dan berdedikasi. Tapi waktunya penilaian – KPI justru tidak terbaca sama atasannya. Kata kita sudah kerja bagus tapi kata atasan biasa-biasa saja. Kenaikan gaji stag, boro-boro di promosi.

 

Masalahnya, bukan di kerja bagus. Bukan pula soal kinerja kita sendiri. Hasil kerjanya jelas ada tapi tidak terbaca oleh atasan atau oleh kantor. Kerja bagus kita tidak terbaca dengan jelas, apa dan di mananya? Kontribusi kita nyampur, bahkan dianggap memang sudah bagian jobdesc kita. Tidak ada yang Istimewa dari kerjaan kita.

 

Banyak karyawan kerjanya bagus. Tapi tidak terdokmentasi dengan baik. Tidak ada catatan kondisi kerjaan before-after. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan kerjaan dituntaskan tapi tidak ada buktinya. Dan pelan pelan, apa yang kita kerjakan akhirnya dianggap hal biasa saja. Sementara sistem kantor terlihat semuanya berjalan, profit company juga meningkat. Tapi siapa yang kontribusi, tidak terbaca sama sekali.

 

Realitas itu yang sering bikin karyawan mulai frustrasi kerja. Mulai memandang negatif atasan dan kantornya sendiri. Merasa sudah kasih tenaga, effort pikiran, bahkan waktu dan mental dikorbankan untuk pekerjaan. Tapi ujungnya, karyawan merasa kurag dihargai. Gaji tidak bertambah, posisi tidak berubah. Akhirnya, burnout sama kerjaannya, sama atasannya bahkan sama kantornya sendiri. Sementara di kantor lain, yang dinilai sering bukan cuma siapa yang kerja paling keras. Tapi siapa yang kontribusinya paling terbaca?

  

Sederhana sih urusan kerjaan. Salah satu kebiasaan kecil yang penting itu “mencatat kontribusi kita atas pekerjaan”. Dari kondisi seperti apa sebelumnya jadi bagaimana sekarang? Semuanya harus didokumentasikan. Proyek apa yang kita pegan, masalah apa dan gimana cara kira membereskan? Proses apa yang diperbaiki dan apa dampaknya? Semua harus tercatat dalam pekerjaan. Bukan untuk pamer tapi supaya rekam jejak pekerjaan kita tidak hilang ditelan rutinitas.   

 


Banyak karyawan setiap hari kerja. Beresin ini beresin itu. Tapi semuanya ada di kepalanya, ada di fisiknya. Terjebak pada rutinitas kerjaan. Tidak ada dokumentasinya. Padahal, atasan atau kantor seringnya hanya melihat hasil akhir. Kontribusinya apa? Kita lupa, atasan atau kantor itu tidak akan pernah mau melihat tekanan, proses, dan keputusan kecil yang bikin semua sistem di kantor bisa jalan.

Maka bila kita tidak menyimpan dokumentasi atau rekam jejak kerjaan, sudah pasti narasi soal kontribusi kita gampang dibentuk orang lain. Dan di kantor, orang yang posisinya makin kuat biasanya bukan cuma rajin kerja. Tapi juga paham cara bikin value-nya terbaca dan tahu banget politik kantor. Harus ada bukti, ada rekam jejak, ada dokumentasi, dan ada alasan konkret. Kenapa kontribusi dann keberadaannya sangat bernilai di kantor? Itulah kontribusi yang terbaca.

 

Selagi jadi karyawan, sama sekali tidak cukup cuma kerja bagus. Tapi harus tahu cara membangun track record yang terukur. Mampu bikin kontribusi yang lebih terbaca, dan bisa meningkatkan value supaya posisi kita tidak gampang tergeser. Terkadang yang bikin karyawan mandek di karier bukan kurang kerja keras tapi hasil kerjanya tidak pernah terbaca sehingga terlihat biasa-biasa saja.

 

Sama seperti karyawan yang bekerja puluhan tahun tapi tidak mau menyiapkan masa pensiunnya sendiri. Lupa, masa pensiun yang Sejahtera itu harus ada rekam jejaknya ada dokumentasinya, di mana menabung untuk dana pensiun? Agar tetap sehat dan Sejahtera sata tidak bekerja lagi, saat nanti pensiun. #YukSiapkanPensiun

Senin, 11 Mei 2026

Raden Pardede di Seminar ADPI: Krisis Masih Jauh Tapi Dana Pensiun Harus Hati-hati dalam Investasi

Sebagai bagian dari antisipasi terhadap kondisi ekonomi dan geopolitik yang terus berdinamika, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menggelar Seminar “Penguatan Strategi Investasi Dana Pensiun melalui Outlook Ekonomi, Pendekatan Liability Driven Investment (LDI), dan Tata Kelola serta Standar Akuntansi yang Berkelanjutan” di Jakarta (12/05/2026). Acara ini menghadirkan keynote speaker Iwan Pasila, Deputi Komisioner Bidang Pengawasan  Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun - OJK dan dihadiri 100 peserta dari pengelola dana pensiun dan pengurus DPP ADPI. Turut hadir pula Ronald dari Kemenkeu RI dan Asep Suwondo dari OJK.

 

"Seminar penguatan strategi investasi ini penting untuk dana pensiun. Karena di tahun 2045 nanti, kontribusi dana pensiun diharapkan mencapai 60% dari GDP. Inilah tantangan kita bersama untuk memastikan kesejahteraan yang memadai masyarakat Indonesia di masa pensiun" ujar Iwan Pasila dalam pemaparannya.

 

Dalam sambutannya, Abdul Hadi, Ketua Perkumpulan ADPI berharap seminar yang memaparkan outlook ekonomi, Liability Driven Investment (LDI), dan Tata Kelola serta Standar Akuntansi yang Berkelanjutan dapat memperkuat strategi investasi dana pensiun. “Seminar ini sangat penting untuk pelaku dana pensiun, khususnya anggota ADPI. Selain untuk mengoptimalkan tata kelola dana pensiun, seminar ini juga untuk meningkatkan kapasitas investasi dana pensiun” kata Abdul Hadi, Ketua ADPI.

 

Tampil sebagai pembicara pada sesi 1, Raden Pardede (Ekonomi senior) yang memaparkan "Economic & Market Outlook 2026: Tantangan dan Peluang bagi Investasi Dana Pensiun” yang dimoderatori Chairi Pitono, Waka 1 ADPI.

"Terlepas dari kondisi geopolitik yang terjadi, saya sering menyatakan bangsa yang besar harus memperkuat asuransi dan dana pensiun secara lebih berkualitas. Dana pensiun harus tetap hati-hati di kondisi ekonomi saat ini meskipun krisis masih jauhlah, investasinya harus prudent" ujar Raden Pardede mengawali presentasinya.

 


Pada sesi siang, seminar ini menghadirkan panelis 1) Randy Sugiarto Wijoyo CFA, Head of Product & Distribution Bahana TCW yang membahas "Liability Driven Investment (LDI): Menjembatani Ketidaksesuaian Aset dan Liabilitas untuk Optimalisasi Investasi dan Stabilitas Rasio Kecukupan Dana” dan  2) Yakub, Direktur IAI bertajuk “Standar Akuntansi Investasi Fixed Income Dana Pensiun dan Penguatan  Tata Kelola untuk Mendukung Liability Driven Investment (LDI)” yang dimoderatori Siti Rakhmawati, Pengurus ADPI.                       

 

Selain menjadi bagian untuk meningkatkan kompetensi SDM dana pensiun, seminar ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman peserta terkait strategi investasi dana pensiun yang lebih kompetitif dengan tetap mengacu pada kewajiban pembayaran manfaat pensiun kepada pesertanya. Salam #YukSiapkanPensiun #HumasADPI



Minggu, 10 Mei 2026

Inilah 10 Sebab Pekerja Usia 25-39 Tahun Khawatir Saat Pensiun

Banyak pekerja usia 25–39 tahun sebenarnya sudah memiliki penghasilan tetap, tetapi tetap merasa khawatir menghadapi masa pensiun. Bisa jadi, sebabnya karena biaya hidup terus meningkat dari tahun ke tahun. Harga rumah, pendidikan anak, biaya kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari terasa semakin mahal. Dan akhirnya, mereka belum yakin apakah tabungan atau aset yang dimiliki saat ini akan cukup untuk memenuhi kebutuhan di masa tua?

 

Kekhawatiran pekerja usia 25–39 tahun makin besar karena sebagian menyadari bahwa usia harapan hidup semakin panjang, artinya mereka harus menyiapkan dana untuk hidup lebih lama setelah tidak bekerja lagi. Saat ini usia harapan hidup orang Indonesia mencapai 73 tahun, yang berarti masih ada masa kehidupan 16 tahun sejak pensiun dan tidak punya gaji lagi. Dari mana biaya hidup dapat dipenuhi?

 

Selain faktor ekonomi, gaya hidup dan tekanan finansial masa kini juga menjadi penyebab utama kecemasan pensiun. Banyak pekerja usia 25–39 tahun masih harus membayar cicilan rumah, kendaraan, kartu kredit, atau kebutuhan keluarga sehingga sulit menyisihkan uang khusus untuk dana pensiun. Di sisi lain, budaya “hidup saat ini” dan kebutuhan mengikuti tren membuat sebagian orang lebih fokus pada kebutuhan jangka pendek dibandingkan perencanaan jangka panjang. Akibatnya, walaupun memiliki gaji, mereka merasa belum benar-benar aman secara finansial untuk masa depan.

 

Survei Litbang Kompas (2025) tentang kekhawatiran pekerja usia 25–39 tahun saat memasuki usia pensiun terdiri dari:

1.       Tidak punya pendapatan tetap lagi atau tidak terjamin lagi – 23%

2.       Tidak punya kesibukan/kegiatan seperti saat masih bekerja – 15%

3.       Belum memiliki tabungan/investasi yang cukup – 12%

4.       Rentan fisik, mudah sakit dan lelah – 11%

5.       Kesepian karena anak tidak lagi tinggal bersama – 10%

6.       Kehilangan rekan dan lingkungan sosial – 9%

7.       Tidak khawatir – 8%

8.       Akan merepotkan anak/keluarga – 5%

9.       Merasa tidak berguna – 2%

10.    Tidak tahu – 5%

Maka dapat dinyatakan, tiga besar kekhawatiran pekerja usia 25–39 tahun saat pensiun sisebabkan oleh tidak punya pendapatan tetap lagi, tidak punya kesibukan/kegiatan seperti saat masih bekerja, dan belum memiliki tabungan/investasi yang cukup untuk pensiun. Namun demikian, ada 8% tidak khawatir akan masa pensiunnya. Yang berarti pula, 92% pekerja usia 25–39 tahun khawatir akan masa pensiunnya.

 


Secara lebih spesifik, Syarifudin Yunus (2025) dalam penelitian bertajuk  “Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia” menyebutkan tingkat kesiapan pensiun pekerjabiasa di Jabodetabek tergolong rendah, 55% pekerja tidak yakin bisa memenuhi biaya hidup di hari tua akibat penghasilan sekarang dianggap pas-pasan dan tidak punya gambaran biaya hidup yang diperlukan di masa pensiun. (Simak di JiMaKeBiDI, Jurnal Inovasi Manajemen dan Kewirausahaan https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776).

 

Kekhawatiran pekerja usia 25–39 tahun, bisa jadi disebabkan tidak siap untuk pensiun. Karena tidak pemahaman tentang perencanaan pensiun dan kurangnya persiapan pensiun sejak dini. Banyak pekerja belum menghitung berapa dana yang sebenarnya dibutuhkan saat pensiun atau belum memiliki program pensiun yang terencana. Sebagian juga masih berharap bisa terus bekerja di usia tua atau bergantung pada keluarga. Padahal, tanpa persiapan yang konsisten sejak usia produktif, risiko kekurangan dana saat pensiun menjadi lebih besar. Karena itu, kekhawatiran yang muncul bukan hanya soal penghasilan saat ini, tetapi tentang ketidakpastian apakah pendapatan tersebut mampu menjamin kehidupan yang layak di masa pensiun nanti.

 

Sebenarnya tujuan pensiun sederhana, yaitu sehat dan sejahtera. Maka wujudkan kondisi sehat di masa pensiun dan tetap sejahtera di hari tua. Sebab sehat tanpa Sejahtera akan menyusahkan anak atau keluarga. Sebaliknya, Sejahtera tanpa sehat maka uang pensiun akan habis dengan sendirinya. Maka siapkanlah pensiun sejak dini. #YukSiapkanPensiun



Sabtu, 09 Mei 2026

Aku Sudah Tidak Memaksa Diri untuk Punya Banyak Teman

Aku sudah tidak memaksa diri untuk punya banyak teman. Aku juga mulai membatasi pergaulan. Tidak lagi sibuk mencari tempat untuk diterima. Tidak gemar lagi berkata-kata tanpa makna. Dan tidak lagi sedih kalau tidak diajak ke mana-mana. Aku biasa-biasa saja, dan tetap membaca buku.

 

Ternyata, semakin banyak membaca buku. Aku mulai sadar. Betapa melelahkannya terus- menerus menyesuaikan diri agar diterima orang lain. Betapa capeknya mengejar validasi orang lain. Tertawa saat sebenarnya lelah. Ngobrol saat sebenarnya kosong, Berusaha nyambung padahal di dalam hati merasa asing. Dan terlihat akrab padahal jauh. Dan aku sadar, sudah terlalu lama melakukan itu. Sebuah perbuatan yang tidak banyak manfaatnya.

 

Terlalu lama memaksa diri bertahan di tempat yang tidak pernah benar-benar seperti rumah. Sampai akhirnya aku memilih mundur pelan-pelan. Mengambil sebuah buku dan menyendiri. Menikmati sambil mensyukri apa yang menjadi jalan hidupku.

 


Bukan karena smbong atau membenci siapa-siapa. Aku cuma lebih menikmati waktuku sendiri. Lebih nyaman dengan duniaku yang kecil. Lebih tenang tanpa selalu menjelaskan diri. Sepertinya, aku memang bukan manusia yang ditakdirkan untuk ramai.

 

Kata orang-orang, aku manusia tanpa circle. Ya, tidak apa karena aku lebih suka membaca buku. Agar tetap jujur pada diri sendiri, tetap apa adanya. Dan tetap konsisten menjaga diri untuk terus memperbaiki diri. Salam literasi!



Tidak Ada yang Memikul Bebanmu Selain Punggungmu Sendiri

 

Tidak akan ada yang memikul bebanmu selain punggungmu sendiri, begitu kata sastrawan peraih Nobel asal Mesir, Naguib Mahfouz. Apapun dalihnya, setiap orang harus menjalani dan menanggung perjuangannya sendiri. Orang lain mungkin hadir memberi dukungan, tetapi rasa sakit, tanggung jawab, dan keputusan tetap harus kita hadapi sendiri.

 

Adapun orang lain, mereka hanya ingin mengetahui ceritamu saja. Maka tidak perlu menggantungkan harapan atau perhatian dari orang lain. Banyak orang bisa mendengar cerita kita, tetapi tidak semua benar-benar memahami atau ikut menanggung apa yang kita rasakan. Fokus saja pada diri sendiri, tentu untuk mencari solusi bukan memikirkan masalah.

 

Kemandirian dalam hidup itu penting banget. Agar mampu berdiri di atas kaki sendiri, mengambil keputusan dengan bijak, dan bertanggung jawab atas hidup yang dijalani. Dalam kenyataannya, tidak semua orang akan selalu ada saat kita membutuhkan bantuan. Karena itu, terlalu bergantung pada orang lain hanya akan membuat seseorang mudah kecewa. Sudah jelas, harapan itu tidak sesuai kenyataan. Orang yang mandiri akan lebih kuat menghadapi tekanan hidup, karena ia terbiasa mencari solusi, belajar dari kegagalan, dan terus berkembang tanpa menunggu pertolongan datang. Kemandirian juga melatih mental agar lebih tangguh, disiplin, serta mampu menghargai proses kehidupan.

 


Mandiri bukan berarti menolak bantuan atau hidup sendirian tanpa orang lain. Manusia tetap membutuhkan kebersamaan dan dukungan sosial. Hanya saja, jangan sampai hidup sepenuhnya bergantung pada belas kasihan, validasi, atau keputusan orang lain. Ketika seseorang memiliki kemandirian dalam berpikir, bekerja, dan mengelola hidupnya, ia akan lebih tenang menjalani masa depan. Ia tidak mudah goyah oleh penilaian orang lain dan mampu tetap berjalan meski keadaan tidak selalu mudah. Bila ingin lebih dewasa, percaya diri, dan siap menghadapi berbagai tantangan hidup dengan penuh tanggung jawab jadilah manusia yang mandiri.

 

Pesan ini bukan untuk membuat seseorang menutup diri atau kehilangan kepercayaan pada orang lain, melainkan untuk membangun keteguhan dan kemandirian batin. Belajarlah menerima bantuan dengan syukur, tetapi jangan menyerahkan kekuatan hidup sepenuhnya kepada manusia. Tempat bergantung hanya Allah, bukan manusia.

 

Ketahuilah, yang membuat seseorang kuat bukan karena banyaknya orang yang mengetahui lukanya, tetapi karena kemampuannya untuk tetap berdiri dan melangkah meski memikul bebannya sendiri. Sebab, tidak akan ada yang memikul bebanmu selain punggungmu sendiri.

Dan jangan lupa, membaca buku!

 

Orang-orang Biasa yang Terus Memilih Berbuat Baik di Taman Bacaan

Ada yang bertanya, kenapa sih kita perlu berkiprah di taman bacaan? Sebelum menjawab itu, saya sampaikan dulu. Kita harus yakin dan percaya bahwa “kebaikan yang kita tanam sekarang itu sebenarnya "tabungan batin" buat kita sendiri dan orang-orang yang kita sayangi nanti”.  Jadi, tidak akan pernah ada ruginya berbuat baik di mana pun.

 

Sebab siapapun yang suka menolong tanpa pamrih, pasti kita akan dipertemukan dengan orang-orang baik di saat paling nggak terduga sekalipun. Bila kita jujur di dunia yang penuh tipu-tipu, maka kita akan jaga nama baik keluarga dan keturunan biar tetap bersih, dan siapapun yang suka mempermudah urusan orang lain, maka jalannya sendiri bakal dibikin mulus pas lagi mentok. Itulah prinsip kebaikan di mana pun.

 

Seperti saya berkiprah di TBM Lentera Pustaka. Berbuat baik dan menebar manfaat di taman bacaan memang terlihat sederhana. Tapi dampaknya sangat panjang dan penuh berkah. Hanya meluangkan waktu untuk membimbing anak-anak yang membaca, memotivasi belejar, atau sekadar mendengarkan cerita mereka, sebenarnya kita sedang menanam “tabungan batin.” Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat hari itu juga, tetapi kebaikan seperti ini membentuk lingkungan yang lebih hangat, saling peduli, dan penuh harapan. Energi baik yang ditanam dalam aktivitas sosial sering kembali dalam bentuk yang tidak terduga.

 

Di taman bacaan, ada relawan yang setiap minggu datang membantu anak-anak belajar meskipun tidak dibayar. Ia sabar menemani anak yang lambat membaca, memberi semangat kepada yang minder, dan membantu tanpa berharap imbalan. Kebaikan seperti ini sering kali menjadi contoh nyata bahwa menolong orang lain tidak akan pernah sia-sia. Anak-anak yang tumbuh dengan pengalaman bertemu orang baik akan membawa nilai itu ke dalam hidup mereka. Suatu hari nanti, ketika anak dari relawan tersebut membutuhkan bantuan, bisa jadi dunia mempertemukannya dengan orang-orang baik juga.

 


Kejujuran juga menjadi nilai penting dalam aktivitas sosial di taman bacaan. Ada pengelola TBM yang tetap transparan mengelola donasi buku atau bantuan meskipun tidak ada yang mengawasi secara langsung. Di tengah dunia yang kadang penuh kepentingan pribadi, sikap jujur seperti ini bukan hanya menjaga nama baik dirinya, tetapi juga meninggalkan warisan moral bagi keluarganya. Anak-anak yang melihat orang tuanya hidup dengan integritas akan belajar bahwa nama baik dibangun dari kebiasaan kecil yang dijaga terus-menerus.

 

Di taman bacaan, spiritnya adalah mempermudah urusan orang lain, melalui ketersediaan akses bacaan dan mengajak anak-anak membaca buku. Dengan kebiasaan mempermudah urusan orang lain, ada orang yang rela membuka ruang rumahnya untuk dijadikan tempat membaca dan belajar anak-anak, ada yang membantu mencarikan buku, bahkan ada yang bersedia mengantarkan anak membaca saat hujan turun. Orang-orang seperti ini mungkin tidak merasa sedang melakukan hal besar, tetapi mereka sedang menciptakan jalan kemudahan bagi banyak orang. Menariknya, dalam hidup sering kali kemudahan itu kembali kepada mereka ketika sedang mengalami kesulitan.

 

Pada akhirnya, aktivitas sosial di taman bacaan bukan hanya tentang buku atau pendidikan, tetapi tentang menanam nilai kemanusiaan. Kebaikan yang dilakukan hari ini bisa menjadi “tabungan batin” yang manfaatnya dirasakan di masa depan—oleh diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat sekitar. Karena dunia yang lebih baik tidak dibangun dari orang-orang sempurna, melainkan dari orang-orang biasa yang terus memilih berbuat baik meskipun sederhana. Salam literasi!



Manajer Usia 40 Tahun, Berapa Iuran untuk Dana Pensiun?

Seorang kawan bertanya. Dia posisinya manajer di satu perusahaan swasta. Sudah bekerja selama 12 tahun dan gaji sekarang Rp. 18 juta. Usianya sudah 40 tahun dan 15 tahun lagi akan pensiun dari kantornya. Bila ingin punya masa pensiun yang nyaman, berapa yang harus disishkan untuk dana pensiun?

 

Tentu, masa pensiun yang nyaman tidak dimulai saat usia pensiun tiba. Tapi dari keputusan yang dibuat hari ini. Mumpung masih ada waktu, setidaknya 15 tahun lagi baru pensiun. Dengan usia 40 tahun dan gaji Rp18 juta per bulan serta sisa masa kerja sekitar 15 tahun, inilah fase yang sangat menentukan bagi seorang pekerja.Sebagai manajer dengan pengalaman panjang, tantangan terbesar bukan lagi sekadar mencari penghasilan, tetapi memastikan penghasilan itu bisa terus “bekerja” saat sudah tidak aktif bekerja nanti. Harus mulai berani menyiapkan masa pensiunnya sendiri. Karena cepat atau lambat, masa pensun pasti tian.

 

Spiritnya sederhana, “Masa pensiun bukan hanya berhenti bekerja, tetapi tetap memiliki kualitas hidup yang terjaga dan punya kebebasan finansial”. Secara umum, kebutuhan dana pensiun ideal adalah sekitar 70–80% dari pengeluaran bulanan saat ini. Jika diasumsikan pengeluaran berdasarkan gaji kawan saya Rp. 18 juta, maka tingkat kebuthan di masa pensiun nanti sekitar Rp12–14 juta per bulan. Saat pensiun kan sudah tidak bekerja lagi, lalu dari mana dana tersebut diperoleh? Inilah yang harus dipikirkan kawan saya. Harus punya aset produktif yang cukup besar atau kesinambungan penghasilan untuk hari tua dalam jangka panjang.

 

Dengan waktu 15 tahun, langkah realistis yang bisa dilakukan adalah mulai menyisihkan minimal 20–30% dari penghasilan bulanan khusus untuk dana pensiun. Dari gaji Rp18 juta, target idealnya sekitar Rp3,5–5 juta per bulan dialokasikan secara disiplin untuk dana pensiun. Itu angka ideal, untuk bisa menjaga standar hidup yang sama seperti saat masih bekerja di masa pensiun. Tapi bila tidak mau, ya bisa dimulai dengan Rp. 1 juta per bulan dulu ke dana pensiun.

 

Karenanya, agar niat kawan saya bisa tercapai. Harus muali membangun strategi yang disiplimm. Pertama, pisahkan dana pensiun dari tabungan biasa agar tidak mudah terpakai. Kedua, manfaatkan program pensiun seperti DPLK, reksa dana, atau investasi bertahap yang sesuai profil risikonya. Ketiga, tingkatkan aset produktif, misalnya investasi yang menghasilkan cash flow seperti deposito, obligasi, atau properti sewa. Intinya, “Saat masih produktif, harus membangun mesin penghasil uang untuk masa ketika tidak lagi bekerja.”

 


Selain menyiapkan dana, persiapan pensiun juga menyangkut gaya hidup dan mentalitas. Banyak orang bergaji besar gagal menikmati pensiun karena pengeluarannya terus naik mengikuti gaya hidup. Mulai sekarang, penting membedakan kebutuhan dan gengsi. Hindari utang konsumtif menjelang usia 50 tahun, lunasi kewajiban besar lebih awal, dan siapkan dana darurat minimal 12 bulan pengeluaran. Semakin kecil beban finansial saat pensiun nanti, semakin besar rasa tenang yang dimiliki. Pensiun nyaman bukan soal terlihat kaya, tetapi tentang tetap mandiri tanpa bergantung pada orang lain.

 

Dana pensiun jangan menunggu “nanti saat penghasilan lebih besar” untuk mulai serius menyiapkan pensiun. Waktu 15 tahun masih sangat cukup jika dimulai sekarang dengan disiplin dan konsisten. Dengan pengalaman kerja, posisi manajerial, dan penghasilan yang stabil, siapapaun sebenarnya sudah memiliki fondasi yang baik. Tinggal bagaimana membangun kebiasaan finansial yang terarah. Pegang prinsip: “Gaji membiayai hidup hari ini, tetapi dana pensiun menjaga martabat hidup di masa depan.”

 

Sebab masa pensiun itu yang penting “sehat dan sejahtera” di hari tua. Untuk apa sehat bila tidak Sejahtera? Atau untuk apa Sejahtera bila tidak sehat? Maka siapkanlah masa pensiun sejak dini. #YukSiapkanPensiun

Jumat, 08 Mei 2026

Literasi Orang Kerja, Loyal tapi di-PHK

Ini kisah orang kerja. Teman saya di kantor dikenal pekerja keras dang sangat loyal.  Sudah 12 tahun kerja di kantor itu, sebuah perusahaan swasta. Dia selalu cerita saat makan siang bareng. Selama kerja nggak pernah absen, jarang ambil cuti. Bahkan nggak pernah complain urusan kantor. Selalu bilang ke teman-teman, "Yang penting kita loyal." Keren dan luar biasa banget teman saya ini.

 

Tapi setelah lebaran kemarin. Katanya, dia dipanggil HRD. Agak mendadak, sekitar jam 10-an. Lalu sorenya, meja kerjanya sudah kosong. Atas alasan apapun, kantor akhirnya mem-PHK teman saya. Itu hari terakhirnya di kantor. 

 

Sebagai teman, saya ikut prihatin sih. Kok bisa ya? Pekerja yang loyal dan berdedikasi di PHK. Sedih, tapi mau bagaimana? Saat dia cerita kenapa di PHK, saya agak terkejut. Ternyata, dia bukan dipecat karena nggak perform. Dia dipecat karena angkanya nggak cocok lagi di level dia. Gajinya dianggap kegedean untuk posisi dia.

"Gue kira kantor bakal pertimbangkan kontribusi gue selama ini" kata teman saya.

Hebatnya, teman saya sama sekali nggak marah. Dia hanya bingung, karena dia nggak nyangka itu bisa terjadi pada dirinya yang selama ini loyal ke perusahaan.

 

Dari kisah teman saya ini. Akhirnya, saya makin paham tentang dunia kerja. Ngggak ada posisi yang “aman” di kantor. Semuanya bisa terjadi, bahkan loyalitas pun bisa jadi dikorbankan. Terbukti, biar bagaimana pun “perusahaan bukan keluarga”. Bukan karena kantor jahat. Tapi karena memang dari awal strukturnya berbeda. Keluarga nggak punya opsi buat restrukturisasi. Tapi perusahaan bisa kapan saja bikin retsruktirasai. Ketika nggak masuk bagan, maka kita akan dikeluarkan alias PHK.

 

Mungkin, banyak pekerja masih ingat. Momen di mana ikut gathering perusahaan. Saat dikasih bahasa yang bikin kita begitu nyaman bekerja. “Kita semua satu tim", mari kita maju bersama. "Kita bekerja sebagai keluarga besar" atau "Kami peduli dengan perkembangan karyawan". Nggak ada yang salah dengan kalimat itu. Hanya saja, kalimat itu bisa hilang seketika dalam satu rapat direksi atau pimpinan yang karyawannya sama sekali nggak tahu.

 


Apa yang terjadi pada teman saya, tentu bukan untuk sinis. Apalagi jadi nggak loyal ke perusahaan. Bukan itu tapi itulah realitas di dunia kerja. Jadi, kita harus realistis. Nggak ada yang abadi selama masih kerja. Hari ini bisa dipuji, besok di-PHK. Kasih yang terbaik di kerjaan boleh dan wajib. Tapi jangan taruh seluruh identitas atau kepercayaan ke kantor.  Karena identitas yang cuma hidup di satu tempat, rapuh banget. Nggak ada jaminan!  

 

Kalau kita sadari, justru aset yang kita bangun di luar jam kerja itulah yang nggak bisa di-PHK. Skill yang kita asah sendiri. Relasi yang kita jaga bukan karena jabatan. Karya atas anam kita, bukan atas nama perusahaan. Itulah kompetensi yang tetap ada sekalipun meja kerja sudah kosong.  

 

Gimana sekarang teman saya? Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Walau sampai sekarang masih nggak percata atas apa yang dia alami sendiri. Dia tetap survive bukan karena uang pesangon dari kantornya. Karena pesangon gampang habisnya. Dia juga punya dana pensiun alias DPLK tapi belum bisa diambil. Karena belum sampai usia pensiun dipercepat. Dia tetap survive karena jaringan dan skill yang dia miliki di luar kantor, yang selama ini dia anggap hobi.

 

Hikmahnya, selagi masih kerja jangan taruh seluruh identitas atau kepercayaan ke kantor. Tetap bangun aset di luar jam kantor. Sama seperti uang, jangan bangga masih punya gaji. Tapi siapkan juga dana pensiun, untuk masa pensiun kita sendiri. Sebab hari tua atau saat berhenti kerja, biaya hidup tetap jalan. Kerja biasa-biasa saja asal tetap punya dana pensiun, itu baru keren. #YukSiapkanPensiun