Selasa, 23 Juni 2026

CSR Edu-Aksi Literasi Keuangan Avrist Life di TBM Lentera Pustaka Bogor

Sebagai aksi nyata tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility), Avrist Assurance menggelar program CSR bertajuk "Avrist Edu-Aksi: Learn Today, Lead Tomorrow" di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (23/6/2026). Selain memberi motivasi akan pentingnya membaca buku, aksi CSR Avrist Assurance ditandai dengan edukasi literasi keuangan, games interaktif, penyerahan bantuan tablet untuk sarana belajar literasi digital, dan bingkisan belajar untuk 100 anak usia sekolah yang menjadi pembaca aktif.

 

Kiprah CSR Avrist Assurance dihadiri oleh Aldi Rinaldi (Direktur Avrist Assurance), Ita Novianty (Head of Avrist Academy & Product Strategy), Vici (MarkComm), dan 15 tim volunteer CSR yang diterima langsung oleh Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka dan para relawan TBM. Hal ini sekaligus menjadi bukti kepedulian sosial Avrist Assurance terhadap gerakan literasi, pendidikan anak, dan pentingnya literasi keuangan sejak dini. Avrist juga akan memberikan "perlindungan asuransi" kepada pengurus dan relawan TBM Lentera Pustaka selama 1 tahun.

 

“Kami senang dapat ber-CSR dan berbagi ke Taman Bacaan Lentera Pustaka, untuk memotivasi pentingnya baca buku dan literasi keuangan tentang asuransi jiwa ke anak-anak usia sekolah yang rajin membaca di TBM. Avrist Edu-Aksi ini mengajak anak-anak untuk rajin belajar agar bisa meraih mimpi di masa depan. Bisa jadi pemimpin nantinya. Tetap semangat ya” ujar Aldi Rinaldi, Direktur Avrist Assurance dalam sambutannya di Bogor.

 

Sebagai perusahaan asuransi jiwa patungan dengan pengalaman lebih dari 45 tahun di Indonesia, Avrist Assurance (Avrist) terus berkembang menjadi salah satu perusahaan asuransi jiwa terkemuka yang mampu bersaing di industri asuransi jiwa dengan mengembangkan kanal distribusi antara Iain Agency, Bancassurance, Alternate Partnership, Employee Benefit, dan Syariah. Karena itu, Avrist juga berkomitmen meningkatkan literasi keuangan khususnya asuransi jiwa kepada masyarakat Indonesia seperti yang dilakukan di TBM Lentera Pustaka.

 


Seperti diketahui, TBM Lentera Pustaka saat ini dikenal sebagai taman bacaan yang komprehensif di Indonesia. Selain taman bacaan, taman bacaan yang telah beroperasi lebih dari 9 tahun ini juga menjalankan program literasi seperti GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA), KEPRA (Kelas PRAsekolah), YABI (YAtim BInaan), JOMBI (JOMpo BInaan), TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, Koperasi SImpan Pinjam, DonBuk (Donasi Buku), RABU (RAjin menaBUng), Literasi Finansial (LitFin), Literasi Digital (LitDig), dan MOBAKE (MOtor BAca KEliling) untuk sediakan akses baca anak ke kampung-kampung. Tidak kurang 330 orang setiap minggunya menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka yang didukung oleh 12 relawan dan beroperasi 6 hari dalam seminggu.

 

"Atas nama TBM Lentera Pustaka, saya apresiasi atas CSR Avrist Assurance Edu Aksi hari ini. Selain untuk menambah wawasan terkiat literasi keuangan, CSR Avrist ini sangat memotivasi anak-anak kami untuk terus membaca dan tidak putus sekolah.  Terima kasih atas kepeduliannya Avrist Assurance, semoga selalu maju bisnisnya" kata Syarifudin Yunus, Kepala Program TBM Lentera Pustaka.

 

Aksi CSR Avrist Assurance ini menjadi bukti kepedulian sosial dan pentingnya literasi keuangan digencarkan ke masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah. Melalui kegiatan CSR ini, kita dapat "menapaki jalan gelap menjadi lebih terang dalam nuansa kepedulian". Hadirnya CSR Avrist Assurance di TBM Lentera Pustaka jadi bukti adanya kolaborasi antara korporasi dan taman bacaan. Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka #AvristAssurance




Senin, 22 Juni 2026

Peran Akses Digital DPLK untuk Hari Tua Pekerja

Selain edukasi yang berkelanjutan, ketersediaan akses digital untuk DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) memiliki peran krusial sebagai sebagai jembatan antara produk dana pensiun dengan pekerja. Utamanya untuk proses pendaftaran (onboarding), mempermudah proses setoran iuran, memantau akumulasi dana, dan pencairan manfaat pensiun saat waktunya tiba.

 

Sebagai upaya memacu pertumbuhan kepesertaan DPLK, setidaknya ada 5 (lima) peran akses digital bagi pekerja biasa untuk menjadi peserta DPLK antara lain:

 

1.   Meningkatkan jangkauan dan aksesibilitas. Akses digital memungkinkan pekerja untuk mendaftar dan melakukan setoran tanpa harus terhambat oleh batasan fisik atau administratif yang rumit. Mengingat mayoritas pekerja biasa (59%) mampu menyisihkan iuran antara Rp100.000 hingga Rp500.000, kemudahan akses digital memastikan bahwa iuran yang disetorkan dapat dilakukan secara rutin dengan biaya transaksi yang rendah.

2.   Mendukung pengelolaan mandiri. Melalui platform digital, pekerja dapat secara mandiri memantau perkembangan saldo dan memastikan setoran telah masuk dengan benar. Hal ini memberikan transparansi yang meningkatkan kepercayaan pekerja terhadap program FPLK yang diikutinya.

3.   Efisiensi distribusi produk. Digitalisasi DPLK membantu penyelenggara dana pensiun dalam mendistribusikan produk yang telah disesuaikan dengan tingkat kemampuan finansial pekerja secara lebih luas dan efisien.

4.   Mengonversi pemahaman menjadi tindakan. Akses digital berfungsi untuk mengubah hasil edukasi menjadi tindakan nyata untuk menjadi peserta DPLK. Ketika pekerja memahami pentingnya hari tua, ketersediaan akses digital dapat memudahkan pekerja untuk langsung mengeksekusi niat menabung untuk hari tua.

5.   Menjadi sarana edukasi dan literasi yang terintegrasi. Akses digital dapat meningkatkan pemahaman pekerja akan pentingnya dana pensiun untuk kesinambungan penghasilan di hari tua.

 

Syarifudin Yunus telah meneliti pentingnya peran akses digital DPLK berjudul “Persepsi dan Preferensi Pekerja Biasa Terhadap Dana Pensiun Sebagai Perencanaan Hari Tua” yang terbit di Politeknik Pratama, jurnal publikasi ilmu manajemen (Juni 2025) yang secara lengkap ada di https://ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/jupiman/article/view/5002.

 


Maka di era digital seperti sekarang, ketersediaan akses digital DPLK menjadi sangat penting. Agar pekerja bisa lebih mudah akses dan mendapat layanan cepat. Selain transparan, pekerja juga terlibat aktif dalam pengelolaan dana DPLK-nya. Peserta DPLK bukan hanya sebagai penerima manfaat. Tapi juga aktif memantau akumulasi dana dan mengelola perencanaan pensiun secara digital. Untuk bisa mendaftar DPLK secara online, salah satunya melalui aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang berkomitmen memberi kemudahan akses pekerja (formal dan informal) untuk memiliki DPLK. Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

DPLK SAM merupakan DPLK pertama yang berasal dari manajer investasi di Indonesia. Saat ini menyediakan produk dan layanan utama seperti: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan dukungan teknologi digital, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website “SimPensiun” untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK.

 

Penyediaan akses digital tentu menjadi salah satu implikasi utama untuk memastikan bahwa produk DPLK benar-benar dapat dijangkau dan digunakan oleh pekerja biasa dengan berbagai tingkat kemampuan finansial. #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM



 

Bayangan Masa Pensiun Seorang Lelaki Bersandal Jepit

 

Di sebuah siang, seorang lelaki bersandal jepit sedang terduduk menata jalan yang luas.  Tanpa ditemani secangkir kopi hangat, pikirannya melayang jauh ke masa depan. Ia bukan orang kaya, bukan pula pemilik jabatan tinggi. Hanya seorang karyawan biasa. Namun di usianya yang mulai menua, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, "Bagaimana hidupku saat pensiun nanti?" Pertanyaan itu terus berputar di benaknya, mengiringi setiap langkah kaki dan pikiran yang menghantuinya.

 

Selama puluhan tahun ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Gaji yang diterimanya sering kali habis untuk biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, dan berbagai keperluan mendadak. Ia sadar bahwa selama ini hampir seluruh energinya digunakan untuk bertahan hari ini, sementara hari tua sering kali hanya menjadi rencana yang ditunda. Kini, ketika rambutnya mulai memutih, ia menyadari bahwa pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, melainkan fase kehidupan yang juga membutuhkan persiapan. Entah bagaimana dirinya di masa pensiun?

 

Sambil terus menatap jalanan, lelaki bersandal jepit itu mulai menghitung-hitung kemungkinan. Ia membayangkan biaya hidup yang tetap harus berjalan meski gaji bulanan sudah tidak ada. Ia pun bertekad mulai menyisihkan sebagian penghasilannya, sekecil apa pun nilainya. Baginya, dana pensiun bukan hanya soal angka, tetapi tentang menjaga martabat agar tetap mandiri secara finansial dan tidak menjadi beban bagi anak-anaknya kelak.

 


Hingga sore hari, akhirnya ia pulang dengan langkah yang lebih ringan. Sandal jepit yang dipakainya mungkin tampak biasa, tetapi pikirannya telah melangkah jauh ke depan. Ia memahami bahwa masa pensiun yang nyaman tidak ditentukan oleh seberapa mahal sepatu yang dikenakan hari ini, melainkan oleh keputusan-keputusan bijak yang dibuat sejak sekarang. Dan sejak hari itu, lelaki bersandal jepit tersebut percaya bahwa setiap orang, sesederhana apa pun kehidupannya, berhak memiliki hari tua yang tenang dan sejahtera.

 

Setibanya di rumah, lekaki bersandal jepit pun mencari cara untuk bisa punya dana pensiun atau DPLK. Ingin mendaftar dan menjadi peserta DPLK secara online. agar lebih transparan dan layanannya cepat hingga bisa memantau dananya sendiri secara riil time. Dan lelaki bersandal jepit pun mendapati aplikasi “SimPensiun”, sebuah platform digital untuk DPLK dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM). Dengan iuran Rp 50.000 per bulan, kini lelaki bersandal jepit sudah menjadi peserta DPLK. Untuk hari tua yang lebih baik, lebih mandiri secara finansial.

 

Dan kini lelaki bersandal jepit sudah punya dana pensiun. Tidak besar iurannya tapi sudah memulainya untuk mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Agar kerja yes pensiun oke...

 


 

Minggu, 21 Juni 2026

Era Orang Selalu Merasa Benar, Susah Mengakui Dirinya Salah

Banyak orang tidak lagi mau mengaku dirinya salah, bisa jadi fenomena umum. Faktanya terkadang yang membuat seseorang sulit berubah bukan karena tidak tahu kebenaran. Tapi karena terlalu sulit menerima bahwa dirinya bisa salah. Belajar mendengarkan, menerima nasihat, dan mengakui kekurangan bukan berarti kalah. Justru di situlah tanda seseorang mulai dewasa. Jangan biarkan ego menutup diri dari hal-hal yang bisa membuat kita menjadi lebih baik.

 

Dalam banyak hal, sering kali perubahan tidak terhambat oleh kurangnya pengetahuan, melainkan oleh ego yang membuat seseorang enggan mengakui bahwa dirinya pernah keliru. Banyak orang sebenarnya sudah mengetahui apa yang benar dan apa yang perlu diperbaiki. Tapi merasa tidak nyaman ketika harus mengakui kesalahan. Padahal, kemampuan menerima bahwa diri sendiri tidak selalu benar merupakan langkah awal menuju pertumbuhan pribadi. Orang yang terus merasa paling benar biasanya akan sulit belajar karena menutup ruang bagi perspektif baru.

 

Maka belajar mendengarkan dan menerima nasihat adalah bentuk kecerdasan emosional. Ketika seseorang mampu mendengarkan masukan tanpa langsung membela diri, ia sedang membuka kesempatan untuk melihat kelemahan yang mungkin tidak disadarinya. Sikap ini bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian. Dibutuhkan kerendahan hati untuk berkata, "Mungkin saya perlu memperbaiki cara saya." Dari situlah proses belajar yang sesungguhnya dimulai.

 

Kedewasaan juga terlihat dari kemampuan mengakui kekurangan. Orang yang dewasa tidak takut terlihat tidak sempurna karena memahami bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan. Sebaliknya, orang yang terlalu mempertahankan citra diri sering kali menghabiskan energi untuk membenarkan kesalahan daripada memperbaikinya. Dengan mengakui kekurangan, seseorang justru memperoleh kesempatan untuk berkembang, memperbaiki hubungan dengan orang lain, dan mengambil keputusan yang lebih bijaksana di masa depan.

 


Contoh konkretnya dapat dilihat di lingkungan kerja sehari-hari. Seorang manajer yang mendapat masukan dari timnya bahwa gaya komunikasinya terlalu keras memiliki dua pilihan. Ia bisa menolak kritik dengan mengatakan bahwa bawahannya terlalu sensitif, atau ia bisa mendengarkan, mengevaluasi diri, lalu memperbaiki cara berkomunikasi. Jika memilih pilihan kedua, suasana kerja menjadi lebih nyaman, hubungan dengan tim membaik, dan produktivitas meningkat. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, seorang yang mau menerima koreksi dari kawannya atas kesalahan yang pernah terjadi akan berkembang lebih cepat dibandingkan orang yang terus mencari alasan untuk membenarkan kesalahannya. Kemampuan menerima koreksi bukanlah kekalahan, melainkan tanda bahwa seseorang sedang bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijaksana.

 

Karena itu, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor secara konsisten menanamkan kepada anak-anak usia sekolah untuk berani membaca dan mengakui kekurangan. Terlalu banyak ilmu pengetahuan yang tidak dikuasai manusia, karenanya jangan pernqah merasa tahu segalanya atau bahkan merasa selalu benar. Teruslah membaca bukan untuk pintar dan tahu semuanya. Tapi untuk memperbaiki diri dan berani mengakui saat kita salah. Lagi-lagi, terkadang yang membuat seseorang sulit berubah bukan karena tidak tahu kebenaran. Tapi karena terlalu sulit menerima bahwa dirinya bisa salah. Maka jangan biarkan ego menutup diri dari hal-hal yang bisa membuat kita menjadi lebih baik. Salam literasi!

 


46% Kebutuhan Pensiun Pegawai Swasta Jakarta Belum Terpenuhi

 

Hasil survei terhadap 20 pensiunan pegawai swasta di Jakarta, ternyata tingkat penghasilan pensiun (TPP) bagi mantan pekerja di Jakarta denga gaji terakhir Rp. 10 juta ditemukan bahwa pengeluaran bulanan yang diperlukan untuk menjaga standar hidup layak di hari tua adalah Rp. 5,6 juta rupiah atau setara dengan 56% dari gaji terakhirnya. Namun, program jaminan hari tua (JHT BPJS) yang tersedia rata-rata hanya mampu meng-cover Rp. 1 juta per bulan. Karena itu, terjadi kekurangann biaya hidup yang cukup signifikan, kurangnya mencapai 46% dari total kebutuhan rutin yang harus dipenuhi setiap bulannya atau setara Rp. 4,6 juta per bulan.

 

Maka wajar bila BPS (2025) menyebut 8 dari 10 pensiunan atau lansia sangat mengandalkan anggota keluarga yang bekerja di rumah untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Di sisi lain, ADB (2024) mennyatakan 1 dari 2 atau 50% dari pensiunan di Indonesia mengandalkan transferan dari anaknya setiap bulan. Begitulah realitas pensiunan di Jakarta, apalagi di daerah.

 

Ada beberapa poin penting yang dapat diceritakan kepada masyarakat mengenai realitas ekonomi masa pensiun, khususnya bagi warga Jakarta antara lain:

1.   Realitas biaya hidup pensiun yang tinggi: Bagi seorang karyawan dengan gaji terakhir Rp10.000.000, biaya hidup minimal yang dibutuhkan saat pensiun di Jakarta adalah sebesar Rp5.600.000 per bulan. Ini menunjukkan bahwa standar hidup pensiun membutuhkan sekitar 56% dari gaji terakhir (Tingkat Penghasilan Pensiun/TPP aktual).

2.   Adanya defisit atau "kekurangan" dana: Masyarakat perlu menyadari adanya jurang pemisah (gap) yang besar antara dana yang tersedia dengan kebutuhan nyata. Meskipun memiliki program JHT BPJS TK, dana tersebut rata-rata hanya mampu menutup kebutuhan sebesar Rp1.000.000 per bulan. Hal ini menyebabkan pensiunan mengalami kekurangan dana sebesar 46% dari total kebutuhan bulanan mereka atau mencapai Rp4.600.000 per bulan.

3.   Perubahan struktur pengeluaran: Data menunjukkan bahwa meskipun biaya transportasi bisa ditekan hingga tidak ada, kebutuhan dasar seperti makanan tetap menjadi beban terbesar (Rp2.700.000). Selain itu, muncul kebutuhan tetap lainnya seperti asuransi kesehatan (Rp500.000) serta biaya listrik, air, dan internet yang harus terus dibayar di saat pensiunan tidak bekerja lagi (tidak punya gaji lagi).

4.   Pentingnya persiapan sejak dini: Terbukti masa pensiun akan sulit bila mengandalkan satu sumber saja (JHT). Sebab tdak cukup untuk mempertahankan gaya hidup di hari tua. Tanpa perencanaan tambahan, akan sulit bagi pensiunan untuk menutupi kebutuhan Rp5.600.000 per bulan ketika sudah tidak lagi memiliki penghasilan aktif.

5.   Tantangan menjaga standar hidup: bagaimana cara menjaga standar dan gaya hidup di usia 55 tahun ke atas agar tidak mengalami penurunan kualitas hidup yang drastis setelah berhenti bekerja, mau tidak mau diperlukan dana pensiun seperti DPLK.

Hasil survei terkait tingkat penghasilan pensiun di Jakarta dapat disimak dalam penelitian berjudul “Analisis Tingkat Penghasilan Pensiun (TPP) Pekerja dan Faktor yang Mempengaruhinya Serta Optimalisasi Peran Dana Pensiun Swasta di Indonesia” yang terbut di Lokawati : Jurnal Penelitian Manajemen dan Inovasi Riset Volume. 3 Nomor. 3 Mei 2025. (silakan kunjungi: https://journal.arimbi.or.id/index.php/Lokawati/article/view/1709).

 


Sebagai solusi, salah satu cara yang bisa ditempuh pegawai swasta atau karyawan di Jakarta adalah menjadi peserta DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Tentu di era digital begini, pilihlah DPLK yang punya akses digital (mendaftar secara online).  Agar kita sebagai pekerja bisa lebih mudah akses, transparan, dan layanannya cepat. Karena peserta DPLK harus terlibat aktif dalam mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Dan untuk bisa mendaftar DPLK secara online, salah satunya melalui  aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang berkomitmen memberi kemudahan akses pekerja (formal dan informal) untuk membeli DPLK. Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

DPLK SAM merupakan DPLK pertama yang berasal dari manajer investasi di Indonesia. Saat ini menyediakan produk dan layanan utama seperti: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan dukungan teknologi digital, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website “SimPensiun” untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK.

 

Mumpung masih bekerja, mulailah untuk mempersiapkan masa pensiun kita sendiri. Untuk menjaga standar hidup di hari tua sekaligus untuk memenuhi tingkat penghasilan pensiun =TPP pensiunan yang mencapai 56% dari gaji terakhir, berapapun gaji terakhirnya. Sebab masa pensiun yang tenang dan Sejahtera, siapa lagi kalau bukan kkita yang harus persiapkan sendiri? Pensiun sejahtera, kalau tidak sekarang mau kapan lagi? #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM



Jumat, 19 Juni 2026

Ramainya Taman Bacaan Berbekal Konsep TBM Edutainment

Membangun budaya literasi di era digital memang tidak mudah. Begitu pula mengembangkan taman bacaan sebagai sentra perilaku membaca anak-anak pun tidak gampang. Maka wajar, banyak taman bacaan seakan “mati enggan hidup tak mau”. Lalu, bagaimana mempertahankan taman bacaan di tengah era digital?

 

Salah satu yang bisa dilakukan adalah menerapkan konsep “TBM Edutainment”, sebuah  model pengelolaan taman bacaan yang menggabungkan unsur edukasi (pendidikan) dan hiburan - edutainment. Konsep ini digagas oleh Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. pada tahun 2017 yang secara langsung diterapkan di TBM Lentera Pustaka Bogor hingga saat ini. Intin dari TBM Edutainment adalah menjadikan kegiatan membaca sebagai aktivitas yang asyik, kreatif, dan menyenangkan bagi masyarakat, khususnya anak-anak,

 

Semua orang tahu, membaca itu penting. Tapi sayangnya, aktivitas membaca dianggap banyak orang tidak asyik dan tidak menyenangkan. Karenanya TBM Edutainment menyajikan cara-cara menjadikan kegiatan membaca sebagai aktivitas yang asyuk dan menyenangkan. Beberapa poin-poin utama dari konsep TBM Edutainment dalam mengelola taman bacaan antara lain:

1.        Prinsip dasar: Menjadikan taman bacaan bukan sekadar tempat membaca buku, melainkan pusat kegiatan masyarakat yang rekreatif namun tetap memiliki muatan nilai pendidikan,.

2.        Aktivitas khas TBM Edutainment: Dirancang khusus untuk menjadikan taman bacaan sebagai tempat yang asyik dan menyenangkan sehingga menjadi pemicu anak-anak untuk konsisten datang ke taman bacaan seperti kegiatan:

o  Salam literasi, yel-yel sebelum kegiatan membaca dimuali

o  Doa literasi, membaca doa bersama sebelum membaca

o  Senam literasi, gerakan senam yang dilakukan sebelum waktu baca dimulai untuk membangkitkan semangat dan mengusir rasa bosan.

o  Membaca bersuara, teknik membaca bersuara secara massal untuk meningkatkan kepercayaan diri dan konsentrasi terhadap bacaan.

o  Laboratorium baca, aktivitas motivasi setiap hari Minggu di ruang terbuka untuk bermain, motivasi bahkan eksplorasi buku-buku bacaan melalui permainan.

o  Event bulanan, selalu ada event setiap bulan yang dibarengi dengan jajanan kampung gratis untuk anak-anak pembaca aktif agar mereka lebih betah,.

o  Membaca di alam, dengan memanfaatkan ruang terbuka (seperti di Sungai, di kebun) untuk membaca agar anak-anak tidak merasa terkekang di dalam ruangan.

3.        Model Inovasi: TBM Edutainment juga mencakup sarana akses bacaan yang fleksibel, seperti Motor Baca Keliling (MOBAKE) yang mendatangi kampung-kampung untuk menyediakan akses buku bacaan bagi warga yang memiliki keterbatasan bahan bacaan.

 

TBM Edutainment sudah dijadikan buku berjudul “Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan berbasis Edukasi dan Hiburan – TBM Edutainment” oleh Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. pada November 2022. Sebagai antisipasi terhadap keadaan taman bacaan yang nyatanya hanya 20% ruang baca TBM yang memadai, 60% koleksi buku TBM tidak memadai, dan 60% TBM yang beroperasi tidak punya legalitas. Taman bacaan sebagai jalan sunyi pengabdian kian “jauh panggang dari api”, karena itu dibutuhkan model pengembangan taman bacaan yang lebih kreatif dan kompetitif. Agar taman bacaan di mana pun dapat tetap eksis dan bertahan dalam menebarkan virus membaca ke tengah masyarakat.

 

TBM Edutainment pun menekankan pentingnya praktik baik di taman bacaan, di samping memelihara 3 syarat utama TBM dapat bertahan di era digital, yaitu 1) ada anak, 2) ada buku bacaan, dan 3) ada komitmen pengelola sepenuh hati. Untuk itu, salah satu cara yang ditempuh adalah menerapkan model “TBM Edutainment” sebuah model tata kelola taman bacaan berbasis edukasi dan hiburan sebagai solusi untuk menjadikan taman bacaan sebagai tempat asyik dan menyenangkan.

 

Pada tahun 2024, konsep TBM Edutainment akhirnya dijadikan penelitian disertasi Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. untuk meraih gelar doktor manajemen pendidikan dari SPs Universitas Pakuan dengan tujuan sebagai strategi untuk meningkatkan efektivitas tata kelola taman bacaan sebagai layanan dasar pendidikan nonformal.

 

Bebekal pengalaman nyata menerapkan TBM Edutainment, kini TBM Lentera Pustaka menjalani 16 program literasi dengan 200-an anak pembaca aktif dan melayani 350-an pengguna layanann setiap minggunya. Beroperasi 6 hari dalam seminggu dan didukung 18 relawan aktif, kebiasaan membaca sudah melekat di anak-anak TBM Lentera Pustaka, di samping adanya partisipasi orang tua untuk ikut serta berada di taman bacaan. Dengan menerapkan model TBm Edutainment, TBM Lentera Pustaka berhasil membina anak-anak yang semula jauh dari akses buku menjadi pembaca aktif yang mampu melahap 5 hingga 8 buku per minggu, salam literasi!

 







Rabu, 17 Juni 2026

Pentingnya Konsolidasi Pengurus - Pengawas dan Pendiri DPLK untuk Optimalkan Pelayanan

Sebagai Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) pertama yang berasal dari manajer investasi di Indonesia, DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) melakukan konsolidasi bersama Pendiri (Sinarmas Asset Management) terkait dengan program kerja dan inisiatif yang dijalankan dalam melayani kebutuhan dana pensiun bagi pekerja di Indonesia (17/6/2026). Konsolidasi antara pendiri dan pengurus - pengawas DPLK SAM sangat penting karena DPLK bukan hanya lembaga keuangan biasa, tetapi lembaga yang mengelola amanah dana pensiun peserta untuk jangka panjang. Konsolidasi juga diperlukan untuk memastikan arah kebijakan, pengelolaan investasi, pelayanan peserta, hingga kepatuhan regulasi dapat berjalan sesuai aturan.

 

Hadir dalam konsolidasi DPLK SAM antara lain:Alex Setyawan WK (Presidenn Direktur Sinarmas AM), Soegeng Wibowo (Presiden Komisaris Sinarmas AS). Rudy Utomo (Direktur Utama Sinarmas Sekuritas), Genta Wira Anjalu (Chief Investment Officer Sinarmas AM) dan tim DPLK SAM yang terdiri dari: Stephanus Rudi (Ketua Pengurus), Yoel Tanzil (Pengurus), Syarifudin Yunus (Ketua Dewan Pengawas), Al Iskandar (Anggota Pengawas), dan Dewi Anggraini.

 

“Selain sebagai wujud Syukur atas beroperasinya DPLK SAM, kami juga meminta arahan dari pendiri untuk memastikan program sesuai dengan visi dan dukungan strategis dari pendiri. Pengurus fokus dalam operasional dan pengembangan program, sedangkan pengawas memastikan tata kelola berjalan sehat, transparan, dan sesuai ketentuan. Ketiganya harus memiliki kesamaan visi agar tujuan utama DPLK, yaitu memberikan manfaat pensiun optimal kepada peserta, dapat tercapai” ujar Stephanus Rudi, Ketua Pengurus DPLK SAM.

 

Sesuai dengan Keputusan DK OJK No. KEP-39/D.05/2026 tertanggal 5 Juni 2026, DPLK SAM resmi beroperasi sebagai DPLK pertama pasca era UU No. 4/2023 tentang P2SK dan menjadi DPLK yang berasal dari manajer investasi pertama di Indonesia. Untuk itu, DPLK bertekad untuk menyediakan layanan DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) berbasis digital atau aplikasi online “SimPensiun”.  Harapannya, DPLK SAM dapat memberikan kontribusi dan dampak positif bagi pertumbuhan industri dana pensiun di Indonesia, khususnya untuk menggarap pekerja individual dan sektor informal yang saat ini masih sedikit ikut dalam program dana pensiun. Untuk itu, DPLK SAM berkomitmen untuk menjadi pilar terpercaya dalam mewujudkan kemandirian finansial bagi masyarakat Indonesia di hari tua melalui pengelolaan dana pensiun yang aman dan berbasis teknologi digital.

 


DPLK SAM memegang prinsip untuk 1) mendorong peningkatan kesadaran tentang pentingnya perencanaan pensiun sejak dini demi masa depan yang lebih tenang, 2) menyediakan produk dana pensiun yang inklusif dan mudah diakses, sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhan generasi masa kini, dan 3) mengintegrasikan teknologi digital untuk menghadirkan layanan dana pensiun yang efisien, transparan, dan terpercaya. DPLK SAM menyediakan produk dan layanan utama DPLK yang terdiri dari: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan orientasi digitalisasi dana pensiun, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK. (Silakan kunjungi: https://simpensiun.com/). Dengan iuran Rp. 50.000 per bulan, setiap pekerja dapat mendaftar menjadi peserta DPLK secara online sekaligus memantau akumulasi dananya secara riil time.

 

Konsolidasi DPLK SAM bersama pendiri juga untuk memperkuat tata kelola dana pensiun yang baik sekaligus memastikan digitalisasi pensiun DPLK SAM berjalan optimal, di samping edukasi literasi DPLK yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Sehingga nantinya dapat mewujudkan DPLK yang berkualitas, profesional, solid, dan mampu menciptakan koordinasi yang efektif, pengawasan yang sehat, serta pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat. Semuanya untuk melayani dan melindungi peserta DPLK dalam mempersiapkan masa pensiun yang nyaman dan sejahtera. #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #DanaPensiun



Selasa, 16 Juni 2026

Pensiun Serem Bukan karena Usia tapi Cashflow Berantakan

Masa pensiun sering kali jadi momok bagi banyak pekerja. Bukan karena rambut yang memutih, bukan pula karena fisik yang mulai lemah. Tapi karena gaji tidak ada lagi, karena penghasilan rutin tidak diterima lagi. Sama sekali tidak siap untuk berhenti bekerja atau pensiun. Karenanya, masa pensiun memang penting untuk dipersiapkan sejak dini.

 

Pensiun serem bukan karena usia. Tapi karena tidak punya gaji lagi atau karena cashflow berantakan. Siapapun saat masih bekerja, banyak masalah bisa diselesaikan saat tanggal gajian tiba. Bayar cicilan? Ada gaji. Tagihan datang? Ada gaji. Kebutuhan mendadak? Ada gaji. Anak butuh bantuan? Ada gaji. Kita sering tidak sadar tenangnya hidup itu saat selalu ada pemasukan yang rutin tiap bulan. Hingga suatu haru, masa pensiun tiba, semuanya berhenti. Tidak ada lagi sumber pemasukan. Gaji yang tadinya rutin setiap bulan, kini tidak lagi ada. Dan untuk pertama kalinya, mulai menghitung lebih sering daripada biasanya.  

 

Bukan karena kurang bersyukur, tapi karena hidup tetap berjalan. Harga kebutuhan naik, kesehatan makin tambah usia makin perlu perhatian lebih. Keluarga kadang masih butuh bantuan. Ironisnya., masa pensiun pasti akan tiba. Tapi masih cukup banyak yang tidak mempersiapkan kehidupan setelah pensiun dengan baik. Kita sibuk menghitung kapan berhenti bekerja, tapi lupa menyiapkan bagaimana uang bisa terus bekerja untuk kita di masa pensiun? Kita sering lupa untuk Bersiap pensiun.  

 

Ternyata, masa pensiun yang tenang bukan tentang punya uang paling banyak. Tapi tentang punya arus kas yang cukup untuk menjalani hidup tanpa rasa cemas setiap hari. Tetap punya kesinambungan penghasilan sehingga cashflow tidak berantakan. Tetap mandiri secara finansial di hari tua, tanpa bergantung pada anak atau keluarga. Tenang dan sejahtera di massa pensiun memang sangat mahal nilainya di hari tua.

 


Kabar baiknya bagi pekerja, selama masih diberi kesehatan, masih mau belajar, dan masih mau bergerak. Selalu ada peluang untuk memperbaiki keadaan. Mungkin bukan dengan bekerja lebih keras tapi untuk berpikir lebih bijak. Masa pensiun memang harus dipersiapkan sejak dini. Mumpung masih ada waktu, mumpung masih punya gaji. Salah satu caranya, dengan menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin melalui program dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Kuncinya bukan pada besarnya iuran, melainkan pada konsistensi dan waktu memulai. Semakin muda seseorang mulai menabung untuk pensiun, semakin besar manfaat pensiun yang akan diperolehnya.

 

Tentu saja di era digital begini, pilihlah DPLK yang punya akses digital. DPLK yang menyediakan pendaftaran secara online, bisa mengubah arahan investasi, bahkan mencairkan manfaat pensiun secara online.  DPLK yang memberi kemudahan akses untuk punya DPLK, di samping transparan dan layanannya cepat. Sehingga peserta DPLK bisa terlibat aktif dalam mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Bisa memantau akumulasi dananya kapan saja dan di mana saja? DPLK secara online, salah satunya melalui aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang berkomitmen memberi kemudahan akses pekerja (formal dan informal) untuk membeli DPLK. Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

DPLK SAM merupakan DPLK pertama yang berasal dari manajer investasi di Indonesia dan berbasis digital. Saat ini menyediakan produk dan layanan utama seperti: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan dukungan teknologi digital, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website “SimPensiun” untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK.

 

Jadi, pensiun serem bukan karena usia. Tapi karena tidak punya gaji lagi atau karena cashflow berantakan. Maka mulailah untuk siapman masa pensiun kita sendiri. Rapikan pengeluaran, pahami ke mana uang pergi? Dan mulai sisihkan sebagian untuk hari tua melalui DPLK. Dan jangan pernah merasa terlambat untuk siapkan masa pensiun sendiri. #YukSiapkanPensiun

 


 

Minggu, 14 Juni 2026

Hidup Nyaman Jadi Relawan Taman Bacaan?

Dulu saya selalu berpikir. Kalau hidup yang nyaman itu cuma milik orang yang punya banyak uang. Lihat handphone orang lain mahal atau lihat orang lain makan enak di resto. Apalagi saat melihat rumah orang lain enak dipandang? Saat lihat orang lain aksesorinya keren, langsung terpikir “nyaman banget sih orang itu?”. Saya selalu mengira mereka yang punya sesuatu yang tidak saya punya., itulah kenyamanan.

 

Sampai suatu hari saya sadar. Ternyata bukan karena mereka lebih beruntung. Bukan pula karena mereka lebih kaya. Tapi karena mereka selalu memperhatikan hal-hal kecil yang sering saya abaikan. Saya termasuk orang yang sering bilang, "Ahh, nanti aja" atau "Masih bisa dipakai kok". Atau sering bilang “Belum terlalu penting". Padahal setiap hari saya tetap merasakan tidak nyaman dengan ungkapan itu semua. Setiap hari mengeluh tentang hal yang sama. Tapi tidak pernah benar-benar memperbaikinya. Agak lucu sih.

 

Saya bisa menghabiskan uang untuk hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Tapi selalu menunda sesuatu yang jelas-jelas membuat aktivitas saya lebih nyaman setiap hari. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menunda. Saya mencoba memperbaiki satu hal kecil yang selama ini selalu mengganggu. Dan ternyata...

 

Perubahannya jauh lebih terasa daripada yang saya bayangkan. Bukan karena hidup saya langsung berubah drastis. Bukan karena tiba-tiba jadi orang sukses. Tapi karena setiap hari terasa sedikit lebih mudah. Saya merasa lebih bermanfaat untuk orang lain. Jadi tahu, betapa pentingnya saya buat orang lain. Hidup menjadi lebih nyaman, menjadi lebih menyenangkan. Dan kalau dipikir-pikir, itulah pentingnya nyaman dalam hidup.

 


Apa yang membuat saya nyaman sekarang? Karena saya menjalankan aktivitas Motor Baca Keliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Setiap hari Minggu, saya berkeliling kampung bersama relawan TBM Lentera Pustaka. Hanya untuk sediakan akses bacaan untuk anak-anak usia sekolah di kampung-kampung yang selama ini tidak punya akses bacaan. Memarkir motor baca, menggelar tikar merah, menyediakan buku, dan duduk bersama anak-anak sambil membaca buku. Membimbing anak-anak yang membaca buku. Semuanya jadi lebih nyaman dan lebih bermakna. Begitulah kiprah saya dan relawan TBM Lentera Pustaka dalam 9 tahun belakangan ini. Nyaman berbuat baik, nyaman menebar manfaat kepada orang lain.

 

Kini, saya baru menyadari. Bahwa kenyamanan itu tidak harus berupa barang mahal. Apalagi rumah mewah. Tapi bisa berbuat baik dan menebar manfaat kepada anak-anak melalui buku bacaan itu jadi kenyamanan yang tidak ternilai harganya. Maka kerjakanlah sesuatu yang baik dan bermanfaat, maka kenyamanan pasti akan menghampiri.

 

Ternyata hal-hal yang dianggap kecil seperti berkiprah di taman bacaan atau menjadi relawan motor baca keliling benar-benar bikin hari-hari dan hidup kita lebih nyaman. Salam literasi!

 



Bahagia di Masa Pensiun, Tanggung Jawab Siapa?

Bisa jadi, banyak pekerja tidak siap pensiun. Karena masa pensiun merupakan fase kehidupan yang sering kali diiringi oleh berbagai perubahan, termasuk berkurangnya interaksi dengan rekan kerja yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. saat pensiun, kita akan menyadari bahwa hidup memang menghadirkan orang-orang yang datang dan pergi. Kepergian rekan kerja, perubahan lingkungan sosial, atau berakhirnya peran profesional bukanlah sesuatu yang harus disesali secara berlebihan. Justru, hubungan yang terjalin dengan tulus selama masa bekerja akan meninggalkan kenangan dan nilai yang bermakna, jauh lebih berharga daripada hubungan yang hanya didasarkan pada kepentingan sesaat.

 

Ketika memasuki masa pensiun, kualitas hubungan sosial menjadi lebih penting daripada kuantitasnya. Seseorang tidak lagi membutuhkan banyak teman atau relasi sekadar untuk mendukung karier, melainkan membutuhkan orang-orang yang dapat menerima dirinya apa adanya. Teman yang tulus akan tetap hadir meskipun status pekerjaan telah berubah. Mereka tidak menuntut seseorang untuk menjadi pribadi yang berbeda, melainkan memberikan dukungan, penghargaan, dan kenyamanan dalam menjalani kehidupan setelah pensiun. Oleh karena itu, masa pensiun dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan yang lebih autentik dan bermakna.

 

Siapapun saat pensiun, diajarkan bahwa kebahagiaan tidak boleh bergantung sepenuhnya pada orang lain. Selama masa bekerja, banyak orang mengaitkan kebahagiaan dengan jabatan, pangkat, pengakuan, atau lingkungan kerja. Namun setelah pensiun, sumber kebahagiaan perlu dibangun dari dalam diri sendiri. Mengembangkan hobi, menjaga kesehatan, mempererat hubungan keluarga, serta tetap aktif dalam kegiatan sosial atau komunitas dapat menjadi cara untuk menciptakan kehidupan yang bermakna. Sebab kebahagiaan tidak lagi ditentukan oleh faktor eksternal, tetapi oleh kemampuan seseorang dalam mensyukuri dan mengelola kehidupannya hingga hari tua.

 

Karenanya, masa pensiun bukanlah akhir dari perjalanan hidup, melainkan awal dari babak baru yang memberi ruang untuk mengenal diri lebih dalam. Kepergian orang-orang tertentu, perubahan peran sosial, dan berkurangnya aktivitas kerja adalah bagian alami dari proses kehidupan. Yang terpenting adalah tetap menjaga hubungan yang tulus, menerima perubahan dengan lapang dada, dan menyadari bahwa kebahagiaan merupakan tanggung jawab pribadi. Agar masa pensiun dapat dijalani dengan lebih tenang, bermartabat, dan penuh makna.

 

Sayangnya banyak pekerja hari ini belum mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Faktnya, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Maka kesadaran untuk merencanakan masa pensiun jadi penting dilakukan. Salah satu caranya, dengan menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin melalui program dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Untuk menjaga standar hidup dan kesinambungan penghasilan di hari tua, di samping tidak merepotkan anak atau keluarga di hari tua.

 


Di era digital begini, pilihlah DPLK yang punya akses digital (mendaftar secara online).  Agar kita sebagai pekerja bisa lebih mudah akses, transparan, dan layanannya cepat. Peserta DPLK harus terlibat aktif untuk mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Peserta bukan hanya sebagai penerima manfaat. Tapi juga bisa aktif memantau akumulasi dana dan mengelola perencanaan pensiun secara digital. Untuk bisa mendaftar DPLK secara online, salah satunya melalui  aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang berkomitmen memberi kemudahan akses pekerja (formal dan informal) untuk membeli DPLK. Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

DPLK SAM merupakan DPLK pertama yang berasal dari manajer investasi di Indonesia. Saat ini menyediakan produk dan layanan utama seperti: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan dukungan teknologi digital, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website “SimPensiun” untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK. Maka semakin muda seseorang mulai menabung untuk pensiun, semakin besar manfaat pengembangan investasi yang diperolehnya.

 

Memamg hidup menghadirkan seseorang untuk datang dan pergi. Tapi setiap kepergian yang jujur lebih bermartabat daripada kehadiran yang palsu. Dalam hidup, kita tidak butuh terlalu banyak teman, cukup mereka yang berani menjadi diri sendiri, tanpa perlu membuat kita ikut menjadi orang lain. Orang lain bukanlah orang yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita, melainkan diri kita sendirilah yang harus bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan diri kita sendiri hingga hari tua nanti. #YukSiapkanPensiun

 


Kamis, 11 Juni 2026

Melatih Kejujuran Anak via Membaca

Sudah pasti, bahwa kebiasaan berbuat jujur akan membuat hidup kita senantiasa berjalan di atas kebenaran. Sementara kebiasaan berbohong hanya akan membuat hidup kita berjalan di atas tumpukan masalah. Maka jangan pernah tanya ke pembohong kenapa dia berbohong; karena untuk menjelaskannya, dia harus berbohong lagi. Pembohong biasanya karena tidak senang membaca. Sebab jarang membaca berarti jarang jujur.

 

Membaca buku itu dapat melatih kejujuran karena melalui cerita, pengalaman tokoh, dan berbagai nilai kehidupan yang disajikan, pembaca belajar memahami pentingnya berkata dan bertindak sesuai kenyataan. Banyak buku menggambarkan konsekuensi dari kebohongan serta manfaat yang diperoleh ketika seseorang bersikap jujur. Dari situ, pembaca dapat merefleksikan perilakunya sendiri dan terdorong untuk menerapkan nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

 

Selain itu, membaca buku juga membantu seseorang mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran diri. Ketika membaca, seseorang diajak untuk memahami fakta, membedakan antara informasi yang benar dan yang menyesatkan, serta menghargai kebenaran. Kebiasaan ini membentuk karakter yang lebih terbuka dan bertanggung jawab, sehingga kejujuran tidak hanya menjadi sebuah nilai yang dipahami, tetapi juga menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam berbagai situasi.




Karena itu, TBM Lentera Pustaka sudah melatih kejujuran anak-anak sedini mungkin melalui kebiasaan membaca buku. Selain jujur, membaca buku juga dapat mengisi aktivitas anak-anak secara positif. Karena itu, hingga kini TBM Lentera Pustaka masih komit dan konsisten menjalankan aktivitas membaca buku di taman bacaan dan motor baca keliling.

 

Sejatinya, menjadi jujur itu mungkin terkadang menyakitkan. Akan tetapi, pada akhirnya kejujuranlah yang akan menyelamatkan kita dari jerat kebohongan. Biasakanlah jujur, meski itu pahit. Tetaplah menjadi orang jujur, tidak mudah tapi ia selalu berharga. Ketaatan kita adalah bukti bahwa Tuhan bekerja dalam setiap bagian hidup agar kita tidak kehilangan arah. Salam literasi!

 



Buat yang Terbiasa Gosip di Kantor

Ini literasi tentang gosip di kantor. Dari berbagai kawan yang cerita kondisinya, ternyata gosip di kantor itu rumit ya. Satu sisi, seperti hiburan di tengah kerja yang melelahkan. Tapi di sisi lain, bila tidak dikendalikan, gosip di kantor bisa berubah jadi racun. Seperti kawan saya yang rusak reputasinya. Bahkan gosip di kantor, bisa memecah tim, membuat orang saling curiga, dan mengubah kantor jadi tempat yang tidak nyaman. Sebut saja jadi kantor toxic.

 

Survei sih membuktikan kebanyakan pekerja tidak benar-benar suka gosip. Tapi faktanya, gosip di kantro sudah jadi budaya. Apalagi di sebagian perusahaan yang memang “maju” karena gosip. Dan siapapun sulit menghindar dari gosip di kantornya. Di pantry ada obrolan. Di grup kecil ada sindiran. Saat makan siang ada cerita. Saat lembur ada curhatan. Saat ada skandal, semua orang tiba-tiba punya versi masing-masing. Anehnya, kalau tidak ikut, dianggap sok suci. Tapi kalau ikutan gosip, lama-lama jadi terseret.  

 

Maka ada yang bilang, gosip di kantor itu memberi rasa dekat yang “palsu”. Saat dua orang membicarakan orang ketiga, keduanya merasa punya rahasia bersama. Terkesan akrab. Tapi kedekatan yang dibangun dari “membongkar aib orang lain” biasanya tidak aman. Hari ini kita membicarakan orang lain. Tapi besok, bisa jadi giliran kita yang dibicarakan teman kantor sendiri.  

 

Suatu kali, seorang pekerja telat masuk kerja, telat datang. Langsung muncul cerita: “Kayaknya dia mulai malas”. Ada yang bilang lagi “Dia memang dari dulu begitu”. “Katanya lagi ada masalah rumah”. “Dengar-dengar mau resign”. Itu semua gosip yang terjadi dan jadi cerota kantor saat temannya telat masuk kerja. Padahal faktanya sederhana: si pekerja itu lagi sakit, bisa jadi ada urusan keluarga, atau ada masalah transportasi di jalan. Ya begitulah gosip beredar di kantor, tidak butuh fakta lengkap. Gosip di kantor itu hanya butuh celah.  

 

Gosip di kantor sih sah-sah saja. Hanya saja, kita harus sadar, Tidak semua pembicaraan tentang orang lain adalah gosip buruk. Tidak semua gosip di kantor itu harus yang jelek-jelek. Kadang kita perlu membahas perilaku kerja yang berdampak. Memang bedanya ada pada tujuan. Kalau tujuannya mencari solusi, itu diskusi. Kalau tujuannya menikmati aib orang lain itulah gosip. Bahkan kalau setelah ngobrol tidak ada tindakan selain makin sinis, mungkin itu bukan kepedulian. Itu konsumsi drama semata.  

 


Karenanya, siapapun yang kerja di kantor. Hati-hati dan penting punya cara menyikapi gosip di kantor. Sebaiknya, jangan buru-buru menambah informasi yang belum jelas. Tanya dulu, “Kita bahas ini untuk apa?”. Kalau menyangkut urusan kerjaan, arahkan ke solusi. Tapi kalau mulai masuk urusan personal, tahan diri dna hindari saja. Jangan kirim screenshot WA ke grup lain. Jangan jadi penyambung lidah drama. Ketika gosip terjadi di kantor, kita tidak harus menegur semua orang. Terkadang cukup tidak ikut memberi “bahan bakar” saja.   

 

Yang agak aneh dari gosip di kantor, biasanya datang dari pekerja-pekerja yang “nggak becus” kerja. Kerja Cuma sebagai gaya hidupm bukan sebagai “passion”. Dan sering terjadi, penggosip di kantor biasanya ekonominya lebih “berantakan” dari kawan yang di-gosipin. Lebih serem lagi, penggosip di kantor biasayanya tidak punya dana pensiun. Masa pensiunnya nggak jelas, tidak mandiri secara finansial, dan berpotensi bergantung pada anak di hari tuanya. Karena itu, sebaiknya pastikan dulu sudah punya dana pensiun atau DPLK sebelum gosipin kawan sendiri diri kantor. Gamang kok untuk punya DPLK, cukup nabung dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan cek: https://simpensiun.com/).

 

Jadi hati-hati bila terlibat gosip di kantor. Memang gosip di kantor terasa kecil. Tapi reputasi orang bisa hancur dari cerita yang bahkan belum tentu benar. Di kantor itu bahaya bila ada orang yang mulai gosipndan diam-diam menyebarkannya ke banyak orang padahal mereka hanya “tahu sedikit” saja. Jangan gosip di kantor! #YukSiapkanPensiun