Di
mana pun, setiap karyawan pasti hanya mengandalkan gaji tiap bulan. Saking
asyiknya kerja, ternyata baru sadar 5 tahun lagi mau pensiun.Katanya, waktu
begitu cepat berjalan. Usia semakin bertambah, tahu-tahu sudah mau pensiun.
Gimana bisa mempertahankan standar hidup saat pensiun, kan tidak punya gaji
lagi?
Bila
seorang karyawann baru “tersadar” bahwa masa pensiun tinggal 5 tahun lagi, arus
diakui durasi waktu tergolong sempit tapi belum terlambat. Fokusnya bukan lagi
mengejar “uang pensiun “ yang besar. Tapi mengamankan yang sudah ada dan
mengoptimalkan tabungan di waktu tersisa sebelum pensiun.
Mau
tidak mau, harus realistis dan strateginya berdampak untuk hari tua. Pertama
seklai jelas, harus hitung posisi keuangan saat ini (reality check). Jangan
mulai dari harapan, tapi dari angka nyata. Yang harus dihitung: 1) total
tabungan dan investasi saat ini, 2) estimasi kebutuhan hidup saat pensiun, dan 3)
perkiraan pemasukan saat pensiun (misalnya dari DPLK). Tujuannya agar tahu
apakah akan surplus atau deficit?
Mari
kita bikin ilustrasinya, biar lebih personal. Anggap saja si karyawan punya gaji
saat ini Rp. 20 juta per bulan. Usianya sekarang 50 tahun dan akan pensiun di
usia 55 tahun. Punya tabungan di bank Rp. 30 juta tapi masih ada cicilan Rp. 1
juta untuk 10 tahun lagi. Apa yang harus dilakukan dan gimana kondisinya sata
pensiun?
Ini
bisa jadi simulasi yang lebih realistis. Usia: 50 tahun, pensiun: 55 tahun (5
tahun lagi). Gaji: Rp20 juta/bulan dan tabungan saat ini: Rp30 juta + punya cicilan:
Rp1 juta/bulan (masih 10 tahun). Asumsi usia hidup hingga 75 tahun, maka akan
menjalani masa pensiun sekitar 20 tahun. Kira-kira begitu ya.
Maka
estimasi kebutuhan saat pensiun, anggap saja butuh 70% dari gaji (tingkat penghasilan
pensiun yang diharapkan). Berarti nilainya, 70% × Rp20 juta = Rp14 juta per bulan.
Namun secara realistis (karena pensiun dan penyesuaian hidup), kita turunkan ke
Rp10–12 juta per bulan. Kita pakai saja Rp11 juta per bulan yang dibutuhkan
untuk menjaga standar hidup di masa pensiun.
Berapa
kebutuhan uang selama masa pensiun? Ya kira-kira, Rp11 juta × 12 = Rp132 juta
per tahun. Bila dikalikan durasi masa pensiun berarti menjadi Rp132 juta × 20
tahun = Rp2,64 miliar. Itulah “nilai uang” yang diperlukan selama pensiun,
dengan asummi tidak punya gaji lagi dan untuk mempertahankan stnadar hidup
seperti saat masih bekerja.
Penting
diperhatikan adanya koreksi inflasi. Bila dalam 5 tahun ke depan (tingkat inflasi
±5%) maka nilai Rp11 juta akan jadi
sekitar ± Rp14 juta per bulan saat pensiun. Sehingga kebutuhan riil menjadi Rp14
juta × 12 × 20 = ± Rp3,36 miliar, total dana yang dibutuhkan saat pensiun. Oke ya
untuk dipahami.
Sedangkan
posisi dana saat ini, hanya punya tabungan sebesar: Rp30 juta. Anggap saja
belum ada dana pensiun. Artinya: hampir mulai dari nol untuk siapkan kebutuhan
masa pensiun. Tantangannya, waktu pensiun tinggal 5 tahun lagi. Kebutuhan dana
saat pensiun besar (mencapai Rp3,3 M). Masih ada cicilan sampai usia 60. Harus
dipahami, kondisi ini tergolong “warning zone”, tapi masih bisa diselamatkan.
Bila
saja di waktu tersisa yang 5 tahun lagi bertekad untuk menabung (misal di DPLK),
maka skenario realistis: menabung Rp5 juta per bulan × 12 × 5 tahun = Rp300
juta. Bila ditambah hasil investasi, kira-kira diperoleh ± Rp350–400 juta.
Dengan
begitu, maka terjadi “gap nyata”. Yaitu kebutuhan saat pensiun Rp3,36 miliar,
sedangkan tabungan yang dihasilkan ± Rp400 juta. Maka masih ada gap
(kekurangan) ± Rp3 miliar. Artinya, tidak mungkin ditutup hanya dengan menabung.
Apa
strateginya? Secara realistis, si karyawan di waktu tersisa perlu menjalankan “5
cara sekaligus” untuk mempersiapkan masa pensiun yang tinggal 5 tahun lagi,
yaitu:
1.
Turunkan kebutuhan hidup. Misalnya: dari kebutuhan
Rp14 juta per bulan menjadi Rp7 juta per bulan di masa pensiun. Maka dampaknya:
Rp7 juta × 12 × 20 = Rp1,68 miliar. Berarti, besarannya “hemat” Rp1,6 miliar.
2. Tetap punya penghasilan setelah pensiun. Misalnya:
usaha/kerja tambahan dengan income: Rp4 juta/bulan. Dampaknya: Rp4 juta × 12 ×
20 = Rp960 juta.
3.
Maksimalkan waktu 5 tahun terakhir.
Misalnya: menabung (di DPLK biar tidak diambil-ambil) dengan target agresif
Rp5–8 juta per bulan (THR/bonus tabung semua). Maka bisa mendapat Rp400–600
juta selama periode 5 tahun tersisa.
4. Selesaikan masalah cicilan. Cicilan Rp1 juta
sampai usia 60 sama dengan “beban”. Idealnya: percepat pelunasan (kalau bisa) atau
pastikan tetap aman bayar cicilan saat pensiun nanti.
5.
Fokus siapkan masa pensiun, bukan fokus
gaya hidup dan perilaku konsumtif.
Maka
gambaran setelah disesuaikan. Kebutuhan hidup saat pensiun turun menjadi Rp1,68
miliar. Ada penghasilan tambahan Rp960
juta. Tabungan dioptimalkan (missal DPLK) mencapai Rp500 juta. Maka sisa kebutuhan
dana “hanya kurang” Rp200–300 juta (ini proyeksi yang lebih realistis).
Dengan
kondisi tersebut, maka sama sekali tidak realistis masa pensiun dijalani dengan
“full santai” di 55 tahun. Tapi sangat mungkin untuk pensiun dengan hidup cukup
sesuai standar dan tetap produktif.
Penting
untuk dipahami, karyawan yang akan pensiun sebentar lagi (5-10 tahun lagi)
untuk 1) jangan hanya mengandalkan tabungan, 2) mulai bangun penghasilan
pasif/aktif sekarang, 3) latih hidup sederhana dari sekarang, 4) jangan hanya
mengandalkan program wajib seperti JHT BPJS, 5) segera menabung di DPLK, dan 6)
ubah mindset pensiun sebagai “pindah fase”, bukan berhenti total.
Jadi
tolong dipahami, cepat atau lambat masa pensiun pasti tiba, Semua karyawan akan
pensiun pada waktunya. Masalahnya, sudah dipersiapkan untuk pensiun atau belum?
Dan berpikrilah, pensiun bukan soal berapa “uang pensiun” yang dimiliki? Tapi
jadikan uang pensiun yang ada sebagai motivasi untuk tetap produktif dan menghasilkan
income di hari tua. #YukSiapkanPensiun