Senin, 01 Juni 2026

Kisah Pekerja Pensiun Dini: Pilih Uang atau Tenang?

Minggu lalu, saya ketemu Pak Darto. Usianya 52 tahun dan baru 3 bulan lalu pensiun dini. Berhenti bekerja untuk pensiun atas kemauan sendiri. Bukan karena sudah kaya raya. Bukan pula karena warisan. Tapi karena satu keputusan yang bikin hidupnya berubah 180 derajat. Karena cara pandangnya tentang bekerja sudah berubah. Mindset tentang uang pun berubah.

 

Waktu itu, Pak Darto cerita, "Dulu Mas, saya kerja tiap hari cuma mikir: gimana caranya cepet kaya." Samnpai-sampai nggak peduli caranya. Yang penting: punya banyak aset, investasi sana-sini, portfolio berkembang terus. Dia mengejar semua "strategi finansial" yang ada di buku.  

 

Dan hasilnya? Portofolio lumayan. Rumah sudah lunas. Tapi, dia bilang: "Saya nggak pernah ngerasa merdeka." Setiap hari kerja kayak robot. Berangkat pagi pulang malam. Terjebak rutinitas. Stres. Kesehatan mulai drop. Hubungan rusak. Dan yang paling parah katanya, "Saya malah nggak punya waktu buat hidup."

 

Dia cerita lagi. Suatu waktu, dia hampir nggak bisa menemani anaknya yang lagi sakit. Semua "kesuksesan" finansialnya, tiba-tiba nggak ada artinya. Di titik itu, dia ambil keputusan besar.  Dia berhenti kerja. Minta pensiun dini.

 

Saat memutuskan pensiun dini. Semua orang sekantor kaget. "Gila, Pak Darto. Udah nggak waras ya. Ekonomi lagi begini dia malah pensiun dini?" Tapi Pak Darto tenang saja. Sambil senyum sejenak, Pak Darto bilang “Saya mau hidup bukan buat uang. Tapi uang buat hidup." 

Pergeseran mindset tentang kerja, tentang hidup dan uang itulah yang paling penting, kata Pak Darto ke teman-teman di kantornya saat memutuskan pensiun dini.

 

Apa yang dilakukan Pak Darto? Ternyata, bukan strategi investasi. Bukan reksadana, bukan saham atau properti. Tapi dia mengubah “prioritas”. Dari "punya banyak" jadi "punya cukup". Dari "kerja keras" jadi "hidup bermakna". Dari material ke psikologis. Pengen hidup yang tenang, bukan yang bergelimang.    

 


Maka saya pun bertanya ke Pak Darto. "Gimana caranya mengubah mindset itu Pak?"

Pak Darto menjawab, "Pertama, lakukan definisi ulang tengan uang". Dulu, uang itu “angka” di rekening. Tapi sekarang buat saya, uang itu waktu, kesehatan, hubungan baik, dan pengalaman bermakna.  

 

Kedua, hidup minimalis dann sederhana saja. Saya menjual beberapa aset yang nggak perlu. Rumah besar dijual. Mobil mewah dijual. Semua yang bikin dia terjebak dalam siklus konsumsi disingkirkan. "Untuk apa uang atau harta kalau nggak bisa dinikmatin?", katanya.  

 

Ketiga, mulai diversifikasi waktu. Dulu, 90% waktu hanya buat kerja. Sekarang, Pak Darro membagi waktu yang pas buat keluarga, hobi, bersosial dan belajar hal baru. "Saya sekarang mulai berkiprah sosial, menulis, jalan-jalan sambil kulineran. Lebih bahagia banget"  .

 

Dan yang paling penting, keempat, ternyata investasi terbaik itu investasi pada diri sendiri. Pelajari hal yang baru, baca buku, dan ikuti workshop yang lagi tren. Jadi, hidup bukan cuma soal skill kerja. Tapi skill hidup, gimana berkomunikasi, manajemen emosi, dan yang penting cara bersyukur. “Akhirnya, saya jadi lebih kenal diri sendiri", katanya lagi.  

 

Saya pun bertanya lagi, "Terus, gimana soal finansialnya, Pak?"

Dia menjawab santai, "Ya sejak pensiun dini cukup-cukup aja. Nggak kekurangan. Malah lebih tenang secara psikologis. Untuk bulanan, saya juga punya DPLK. Sekarang tinggal nikmatin hasilnya, dibayar secara bulanan”.

 

Kerja lebih dari 25 tahun, Pak Darto akhirnya memilih pensiun dini. Dai mulai fokus pada diri sendiri dan menekuni hobi yang sesuai passion-nya. Tidak lagi mengejar "kekayaan" selama masih bekerja. Dan ternyata, pensiun bukan hanya urusan uang. Tapi lebih ke masalah psikologis, untuk meraih ketenangan yang hakiki.

  

Ada pesan penting dari kisah Pak Darto. Ternyata uang memang penting tapi bukan segalanya. Jangan sampai kita mengejar uang mati-matian, hingga lupa caranya hidup yang yang bermakna. Kerja bukan hanya lahir tapi batin. Kerja bukan Cuma untuk hari ini tapi juga untuk masa pensiun. Dan ternyata, di situlah banyak pekerja nggak sadar. Kerja hanya dianggap untuk mengejar kekayaan.

 

Di akhir obrolan pun, saya baru tersadar. Selama ini saya memandang kerja itu terbalik. Kerja keras dianggap untuk “sukses". Tapi nggak pernah mikir, apa iotu arti sukses buat diri diri saya sendiri? Saya terjebak pada rutinitas dan pola yang sama dalam hidup.

 

Dan akhirnya, tidak sedikit orang yang merasa sudah bekerja keras tapi perasaanya tetap ada yang kurang. Ini kurang itu kurang, ada yang salah dengan cara pandang tentang uang. Pilih tenang atau uang? #YukSiapkanPensiun



Ibarat Pohon, Kiprah di Taman Bacaan Tidak Mengeluh saat Diterpa Hujan, Tidak Sombong saat Tumbuh Tinggi

Ini sebuah nasihat literasi. Pohon itu tidak pernah mengeluh saat diterpa hujan, tidak sombong saat tumbuh tinggi, dan tidak marah saat daunnya gugur. Ia tetap berdiri, tetap memberi teduh sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak menyadari keberadaannya. Begitu pula hidup yang indah, bukan tentang menjadi yang paling terlihat. Tapi tentang tetap konsisten memberi manfaat meski tidak selalu mendapat penghargaan. Begitulah filosofi berkiprah di taman bacaan masyarakat (TBM).

 

Berkiprah di taman bacaan, ternyata mengajarkan tentang kerendahan hati, keteguhan, dan ketulusan dalam memberi manfaat kepada sesama. Pohon tetap berdiri kokoh saat diterpa hujan dan angin, sebagaimana manusia menghadapi berbagai tantangan hidup. Seperri relawan taman bacaan mengabdi untuk literasi. Tidak mengeluh ketika menghadapi kesulitan, tidak membanggakan diri ketika tumbuh tinggi, dan tidak kecewa ketika kehilangan daun-daunnya. Pesan ini mengajak kita untuk menjalani hidup dengan sikap sabar, rendah hati, dan tetap berbuat baik dalam berbagai keadaan.

 

Entah kenapa, sering kali manusia ingin dihargai, dipuji, atau diakui atas setiap kebaikan yang dilakukan. Pengen banget dipuji dan mendapat validasi orang lain. Padahal, tidak semua kontribusi akan mendapatkan perhatian dari orang lain. Pohon memberikan keteduhan, menghasilkan oksigen, dan menjadi tempat berlindung tanpa pernah meminta imbalan. Begitul pula, nilai sebuah kebaikan tidak ditentukan oleh banyaknya pujian yang diterima, melainkan oleh manfaat yang dirasakan oleh orang lain. Ketulusan justru tampak ketika seseorang tetap berbuat baik meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan.

 


Seperti berkiprah di taman bacaan, semangat seperti pohon sangat relevan. Banyak relawan dan pengelola taman bacaan bekerja di balik layar: membersihkan rak buku, memperbaiki buku yang rusak, menata ruang baca, mencari donasi, atau mendampingi anak-anak membaca dan belajar, bagkan menjalankan motor baca keliling ke kampung-kampung. Kerja-kerja sosial itu mungkin jarang terlihat dan tidak selalu mendapatkan ucapan terima kasih. Namun, hasilnya dapat dirasakan oleh banyak anak usia sekolah yang akhirnya menjadi lebih gemar membaca, lebih percaya diri, dan memiliki kesempatan belajar yang lebih baik karena tersedia akses bacaan.

 

Seperti relawan di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Enam hari dalam seminggu melayani kegiatan membaca anak-anak, mengajar kelas prasekolah, meberantas buta aksara, hingga menjalankan motor baca keliling (Mobake) ke kampung-kampung yang tidak punya akses bacaan. Relawan yang tanpa pamrih datang ke TBM dan mengabdi atas nama kemanusiaan. Semuanya dilakukan dengan konsisten dan sepenuh hati. Tentu, tidak banyak yang mengetahui kiprah relawan di taman bacaan. Tapi kontribusinya sangat besar sehingga kegiatan membaca jadi lebih asyik dan menyenangkan.

 

Relawan TBM yang sabar mendampingi anak yang kesulitan membaca selama berbulan-bulan tanpa mengharapkan pujian. Ketika suatu hari anak itu mampu membaca cerita dengan lancar dan berani tampil di depan teman-temannya, itulah buah dari ketulusan yang selama ini ditanam. Seperti pohon yang memberi teduh tanpa memilih siapa yang akan berteduh di bawahnya, taman bacaan yang dikelola dengan hati akan terus memberi manfaat bagi masyarakat, meskipun tidak selalu menjadi pusat perhatian. Salam literasi!

 



Minggu, 31 Mei 2026

Terkuak Nih, Rata-rata Gaji Dosen di Indonesia Cuma Rp. 3,36 Juta

Ini sih sungguh memprihatinkan. Ternyata rata-rata gaji dosen di Indonesia hanya Rp. 3,36 juta per bulan. Angka itu terkuak saat Ketua Umum Asosiasi Dosen Indonesia, Mohammed Ali Berawi saat memberikan keterangan dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen di Mahkamah Konstitusi, Senin (25/5/2026). Bukan hanya nggak cukup, makanya wajar banyak dosen di Indonesia terpaksa mencari pekerjaan tambahan di luar kampus untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

 

Gila ya, gaji dosen di Indonesia rendah banget. Jauh tertinggal dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Sebut saja, Singapore yang gaji dosennya mencapai Rp. 85,5 juta per bulan, Thailand yang Rp. 21,9 juta, atau Filipina yang Rp. 7,6 juta per bulan, sedangkan Indonesia Rp. 3,36 juta per bulan. Serem nggak sih, kondisi dunia pendidikan kayak begini? Memang sih, bila mengacu ke portal Indeed dan Jobstreet, total penghasilan dosen berada di kisaran Rp5,5 juta hingga Rp8,5 juta per bulan. Khusus kampus swasta, tergantung  dari jenjang pendidikan si dosen, jabatan akademik, jam mengajar, hingga reputasi perguruan tinggi.

 

Sesuai pengalaman, saya sendiri yang sudah mengajar lebih dari 30 tahun di kampus swasta di Jakarta nggak membantah soal gaji dosen di angka tersebut. Di balik gelar, penelitian, dan pengabdian untuk masyarakat ternyata gaji dosen memang rendah, tergolong jauh dari penghasilan yang layak. Akibatnya ya apa boleh buat? Rata-rata dosen jadi fokus meneliti karena tekanan ekonomi dan kehabisan energi untuk inovasi secara akademik. Riset tertinggal, inovasi lambat, kampus sulit bersaing global, dan kualitas pengajaran tidak maksimal.

 

Gaji dosen, tentu bukan sekadar masalah profesi. Ini juga bukan sekadar soal penghasilan. Tapi soal penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Soal arah pembangunan nasional dan mau di bawa ke mana pendidikan di Indonesia? Katanya, dosen adalah pencetak pemimpin, ilmuwan, profesional, dan masa depan Indonesia. Tapi sayangnya, bekerja sebagai dosen kurang dihargai. Terbukti dari gajinya yang rendah.

 

Pemerintah sebenarnya sudah lumayan bagus, dengan program sertifikasi dosen (serdos). Sebuah proses penilaian formal oleh pemerintah untuk memberikan pengakuan profesional terhadap dosen di perguruan tinggi. Tujuannya adalah memastikan kelayakan dosen dalam menjalankan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) sekaligus meningkatkan kesejahteraannya. Tiap semester dosen harus memenuhi BKD (Beban Kerja Dosen) ntuk mendapatkan “tunjangan fungsional” dari pemerintah. Tapi sekarang, ada lagi tambahan kerjaan dosen. Wajib ikut pelatihan 20JP setahun untuk dapat mencairkan dana serdos. Bila nggak dipenuhi, maka dana serdos tidak bisa cair. Agak repot tapi okelah untuk menigkatkan kualitas dan pengembangan diri dosen. Sah-sah saja sih.

 

Apa yang saya mau bilang di sini? Di negara-negara maju, ada pinsip yang dipegang dalam pendidikan. Bila negara mau maju maka ekonomi harus tumbuh cepat. Karenanya, pendidikan harus kuat dan mampu mencetak lulusan yang kreatif, inovatif, dan kompetitif. Masalahnya, pendidikan tinggi yang kuat dann lulusan yang kompetitif agak sulit dicapai bila dosennya tidak sejahtera. Gajinya rendah dan fokusnya jadi kemana-mana. Sampai-sampai penelitian pun di-proyek-kan.

 


Dosen harus sejahtera adalah keniscayaan. Agar bisa fokus mengajar dan mendidik, riset jadi lebih produktif, inovasi lahir lebih cepat, mahasiswa pun mendapatkan kualitas pendidikan terbaik, industri mendapat SDM unggul, dan akhirnya negara punya daya saing yang kompetitif. Makanya, kesejahteraan dosen jangan dilihat sebagai beban pengeluaran negara atau kampus. Tapi investasi strategis untuk kemajuan bangsa dan negara. Sungguh, pendidikan tinggi sulit jadi pusat ilmu pengetahuan dan teknoogi bila dosennya masih “dipaksa” bertahan hidup.

 

Dosen nggak bersyukur? Sudah dari lama para dosen bersyukur, bahkan sabar dan tetap konsisten menjalankan tugasnya sekalipun gajinya kurang. Dan bukan karena saya berprofesi sebagai dosen lantas mengharapkan dosen bergaji tinggi dan sejahtera. Apa iya dosen minta naik gaji 100%, saya kira tidak! Hanya mengingatkan pemangku kebijakan, bila pendidikan ingin maju maka profesi dosen pun harus dihargai dan dibikin lebih layak. Pemikiran ini penting, walau eksekusinya entah kapan terlaksana?

 

Kata banyak orang, bekerja sebagai dosen enak. Ya, sah-sah saja. Tergantung melihatnya, dari sudut pandang mana? Tapi faktanya, rata-rata gaji dosen di Indonesia hanya Rp. 3,36 juta per bulan. Bahkan banyak dosen swasta, yang masa pensiunnya tidak pasti dan berpotensi mengalami masalah keuangan di hari tua. Karenanya, harus ada komitmen untuk memperjuangkan kesejahteraan dosen dan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat ke depan.

 

Tesisnya sederhana. Jika dosen bisa hidup layak maka mengajar jadi semangat. Dosen yang kuat maka kampus akan kuat. Bila kampus kuat maka SDM yang dihasilkan lebih kompetitif. Dan SDM yang kompetitif pasti bikin negara lebih maju. Maka, sudah waktunya kesejahteraan dosen dipandang sebagai agenda nasional, bukan sekadar isu profesi semata. Selamat mendidik para dosen Indonesia!

 


Motor Baca TBM Lentera Pustaka Kunjungi 4 Kampung, Sediakan Akses Baca 120 Anak Usia Sekolah

Sebagai bagian untuk meningkatkan kegemaran membaca masyarakat, MOtor BAca KEliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka seharian di hari Minggu melayani lebih dari 130 anak usia sekolah di 4 kampung di kaki Gunung Salak Bogor untuk membaca buku (31/05/2026). Aktivitas literasi ini menekankan pada penyediaan akses bacaan kepada anak-anak di kampung-kampung. Karena TBM Lentera Pustaka meyakini tidak ada minat baca tanpa tersedianya akses bacaan.

 

Dijalani oleh 8 relawan TBM Lentera Pustaka, kegiatan MOBAKE berangkat pukul 10.00 WIB menuju Kp. Calobak Desa Sukaluyu, dilanjutkan ke Kp. Kemang Desa Sukaluyu. Setelah makan siang, MOBAKE TBM Lentera Pustaka menuju Kp. Sinarwangi dan berakhir pukul 17,00 WIB di Kp. Gadog Tengah Desa Sukajadi. Setelah melewati jalan berliku dan sedikit terjal, relawan MOtor BAca KEliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka sangat sibuk dan begitu produktif untuk melayani kegiatan membaca anak-anak usia sekolah. Bahkan para orang tua di setiap Lokasi pun ikut menyaksikan proses membaca anak-anaknya.

 

Relawan MOBAKE TBM Lentera Pustaka dengan sepenuh hati menjalankan aktivitas motor baca keliling. Tujuannya, untuk sediakan akses bacaan ke anak-anak yang di wilayahnya tidak ada tempat membaca buku. Anak-anak pun antusias membaca dan silih-berganti menukar buku-buku yang akan dibacanya. Kegiatan MOBAKE ini beroperasi sekitar 1 jam di setiap lokasi. Hingga di sore hari saat langit mulai mendung, relawan MOBAKE kembali ke “markas” TBM Lentera Pustaka untuk istirahat.

 

Melalui aktivitas motor baca keliling, TBM Lentera Pustaka membuktikan masih animo ada anak-anak Indonesia untuk membaca buku. Asal tersedia akses membaca, seperti motor baca keliling yang menghampiri kampung-kampung untuk mengajak anak-anak membaca buku. Pemandangan di MOBAKE TBM Lentera Pustaka sangat jelas, antusias anak-anak sangat tinggi karena akses buku bacaan mendekati mereka. Jadi, jangan persoalkan minat baca. Tapi sediakan dulu akses bacaan ke anak-anak.

 


MOBAKE TBM Lentera Pustaka yang digagas langsung oleh Pendiri TBM Lentera Pustaka sejak Februari 2022, hingga kini masih berlangsung dan berkeliling sediakan akses buku bacaan ke kampung-kampung. Dengan membawa lebih dari 200 buku dan 2 buah tikar, motor baca keliling setiap hari Minggu menyusuri jalan-jalan berliku dan tanjakan hanya untuk menyediakan akses bacaan secara konsisten dan sepenuh hati.

 

“Motor baca keliling TBM Lentera Pustaka ini tujuannya untuk mendekatkan buku-buku bacaan kepada anak-anak usia sekolah. Agar terbentuk kebiasaan membaca, di samping mampu menekan angka putus sekolah yang masih "menghantui" banyak kampung. Maka jangan persoalkan minat baca tanpa mau sediakan akses bacaan” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka di Bogor…

 

Memang aktivitas motor baca keliling fi kaki Gunung Salak dihadapkan pada kendala cuaca yang sering hujan. Tapi dengan semangat pantang menyerah dan penuh komitmen, hingga kini TBM Lentera Pustaka masih terus menjalankan aktivitas motor baca keliling sepenuh hati. Untuk sediakan akses bacaan ke anak-anak di kampung-kampung. Salam literasi #MoBaKe #MotorPustaka #TBMLenteraPustaka





Sabtu, 30 Mei 2026

Dunia Itu Tidak Kejam tapi Bekerja Sesuai Perbuatan kita

Hati-hati ya, luka yang kita anggap kecil bisa menjadi doa yang tidak pernah kita duga jawabannya. Jangan bangga menjadi penyebab air mata seseorang, sebab setiap luka yang kita tinggalkan akan menemukan jalannya kembali sebagai pelajaran kehidupan. Menjadi baik bukan hanya tentang ucapan, tetapi juga tentang menjaga hati yang tidak terlihat. Karena Tuhan adil, dan setiap rasa yang kita tanam, cepat atau lambat akan kita tuai di kemudian hari.

 

Hati-hati, luka yang kita anggap kecil bisa menjadi doa yang tidak pernah kita duga jawabannya. Itulah pentingnya menjaga sikap dan perasaan orang lain. Sering kali seseorang menganggap perkataan kasar, penghinaan, atau perlakuan tidak adil sebagai hal sepele. Padahal, bagi orang yang menerimanya, luka itu bisa membekas lama. Ketika seseorang yang terluka hanya bisa mengadu kepada Tuhan, kita tidak pernah tahu bagaimana dan kapan keadilan-Nya bekerja? Karena itu, setiap tindakan dan ucapan perlu dipertimbangkan dengan bijaksana.

 

Ketahuilah, hidup berjalan dengan hukum sebab-akibat. Bukan berarti setiap kejadian buruk adalah hukuman, tetapi setiap perilaku memiliki konsekuensi. Ketika kita menebar kebaikan, kepercayaan, dan penghormatan kepada orang lain, kita menciptakan lingkungan yang positif. Sebaliknya, jika kita gemar menyakiti, meremehkan, atau mempermalukan orang lain, suatu saat kita dapat merasakan dampak dari sikap tersebut melalui berbagai pelajaran kehidupan yang membuat kita memahami perasaan yang pernah kita abaikan.

 

Menjadi pribadi yang baik tidak hanya terlihat dari kata-kata manis atau citra yang ditampilkan di depan umum. Kebaikan sejati juga tercermin dari kemampuan menjaga hati orang lain, terutama saat tidak ada yang melihat. Menghargai usaha seseorang, menjaga kepercayaan, tidak mempermalukan kekurangan orang lain, dan memilih kata-kata yang penuh empati adalah bentuk kebaikan yang sering kali sederhana tetapi sangat berarti. Hati yang terlindungi dari luka yang tidak perlu adalah hadiah berharga yang bisa kita berikan kepada sesama.

 


Contoh konkretnya, seorang pengurus taman bacaan melihat seorang anak yang membaca dengan terbata-bata. Jika ia berkata di depan teman-temannya, “Kamu kok lambat sekali membaca?”, anak itu mungkin merasa malu dan kehilangan semangat belajar. Sebaliknya, jika ia berkata, “Tidak apa-apa, yang penting kamu terus mencoba. Setiap hari pasti semakin lancar,” anak tersebut akan merasa didukung. Contoh lain, seorang relawan yang telah bekerja keras menyiapkan kegiatan ternyata melakukan kesalahan kecil. Daripada memarahinya di depan banyak orang, lebih baik mengajaknya berbicara secara pribadi dan membantu memperbaiki kesalahan tersebut. Sikap seperti inilah yang menjaga hati, memperkuat hubungan, dan menumbuhkan lingkungan yang penuh rasa hormat serta kepedulian.

 

Ingat, dunia itu tidak kejam. Tapi dunia akan bekerja sesuai dengan perbuatan yang kita lakukan. Saat bertindak zolim dan tidak adil kepada orang lain, maka tinggal tunggu waktunya akan Kembali kepada diri kita sendiri. Salam literasi!



Kaget, Saat Pensiun Setelah 30 Tahun Kerja Swasta

Kawan saya cerita, apa sih yang dialami setelah pensiun? Di hari pertama setelah pensiun, dia tetap bangun pukul 5 pagi. Bergegas mandi dan pakai kemeja, siap-siap ke kantor. Terus sadar, ternyata sudah pensiun. Akhirnya, dilepas lagi kemejanya. Lalu membuat secangkir kopi untuk menikmati pagi di teras rumah.

 
Setelah pensiun, kawan saya memang nggak perlu absen lagi. Nggak ada pula bos yang WA malam-malam. Bahakn nggak ada gaji lagi tiap tanggal 25. Dia 30 tahun jadi karyawan swasta dan sejak pensiun resmi jadi ‘pengangguran’ dengan hormat. Rasanya? Yah, campur aduk. Ada senangnya tapi juga ada takutnya. Karena beda sama ASN, karyawan swasta kan nggak ada pensiun bulanan. Yang ada hanya uang pesangon. Habis itu? Ya cari jalan sendiri.

Kawan saya pensiun di usia 56 tahun. Jabatan terakhirnya manajer, gaji terakhirnya Rp. 15 juta. Saat pensiun dapat pesangon Rp. 385 juta. Saat itu, rasanya jadi “sultan” punya uang gede. Pikirnya, uang pesangon cukup buat 10 tahun. Ternyata nggak, uang pesangon habis dalam 3 tahun. Dia bingung, kok bisa cepat habis uang segitu. Tapi faktanya, uang pesangonnya 3 tahu sudah habis.

 
Uang pesangon ke mana? Tahun pertama: dipakai untuk renovasi rumah dan beli motor baru. Tahun kedua: ajak keluarga umroh dan tukar tambah mobil. Tahun ketiga: mulai bingung. Bunga deposito nggak nutup biaya hidup. Sedikit dipakai usaha dagang? Tapi gagal. Kawan saya baru tersadar, selama 30 tahun jadi karyawan swasta tidak pernah diajarin mengatur uang buat 10 atau 20 tahun ke depan. Karyawan swasta cuma diajarin kerja yang loyak dan berdedikasi. Maka kawan saya berpesan, “kalau elo karyawan swasta yang mau pensiun, jangan lakukan kesalahan seperti gue ini...”


Setelah uang pesangon habis, kawan saya memang pengangguran dan diam di rumah. Anak dan istri mulai ngomong pelan-pelan, disuruh cari kerja lagi. Badannya terasa remuk karena hari-hari nggak ngapa-ngapain. Akhirnya dia memutuskan: daftar ojol. Jadi driver ojol setelah pensiun.

 

Awalnya malu. Apalagi saat ketemu teman eks satu kantor di lampu merah. Lagi pas-pasan di jalan. Tapi biarlah, buat apa malu? Ojol kan halal, asal bukan nyolong atau korupsi. Dan sekarang, kawan saya yang sudah pensiun pun hidupnya lebih sehat. Punya teman baru sesama ojol dan yang penting: ada duit masuk tiap hari. Makanya, pensiunan swasta memang nggak usah gengsi. Agar dapur tetap ngebul.



Kata istrinya: ‘Kirain kalau udah pensiun bisa nemenin saya tiap hari?’. Ternyata nggak, kawan saya setelah 3 tahun pensiun sibuk kerja. Jadi ojol, antar orang ke sana ke mari. Ibadah bantuin orang nggak kena macet. Bahkan masih sempat pagi antar cucu ke sekolah. Bedanya sama dulu? Sekarang dia sibuk buat diri sendiri. Nggak ada target dari bos. Nggak ada lembur yang nggak dibayar. Pensiunan swasta, ternyata punya kemewahan: sibuk sesuka hatinya.

Makanya, kawan saya berpesan buat siapapun yang masih bekerja di dunia swasta. Jangan samapi menyesal di masa pensiun. Sebabnya 1) konflik batin akibat gaji stop, pesangon cepat habis, dan nggak ada pensiun bulanan, 2) berjuang: untuk adaptasi waktu, cari kesibukan, dan buang gengsi, dan 3) kemenangan karena punya income baru, jadi lebih tenang dan lebih bebas.


Pesannnya lagi, jangan terllau asyik sama kerjaan. Tapi siapkan juga untuk pensiun, Nggak terasa, cepat atau lambat semua karyawan swasta bakal pensiun. Masalahnya, siap nggak lahir batin? Jangan cuma mengandalkan JHT BPJS Ketenagakerjaan doang, jangan kebanyakan cicilan. Apalagi kalau tabungan pas-pasan. Lebih baik siapkan dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Sebab kalau punya DPLK, pasti menolong banget untuk masa pensiun, apalagi bila dibayarkan secara bulanan. Biar kecil tapia da pemasukan tiap bulan untuk jagain kebutuhan dasar di hari tua.

 

Usaha dan dagang setelah pensiun? Jangan deh kalau nggak punya ilmunya. Kita puluhan tahun kerja, terus mau dagang, dari mana ilmu dan pengalamannya? Terbukti cuma indah di rencana, begitu dijalanin bangkrut. Belajar investasi saat usia tua juga telat dan susah. Intinya, siapkan aja pensiun. Asal fisik tetap sehat, mental tetap waras, Insya allah rezeki bisa dicari. #YukSiapkanPensiun

Literasi Orang Baik

Pernah mengalami nggak? Tiba-tiba ada orang yang tadinya dikenal baik, lalu berubah dingin. Bukan karena dia tiba-tiba jadi jahat. Tapi karena dia sudah terlalu capek jadi orang baik yang terus-terusan dikecewain. Sering disangka buruk, bahkan disakiti atas apa yang tidak dilakukannya. Fakta seperti itu ada di sekitar kita kan?

 

Ini kisah seorang kawan. Dulu dikenal orang paling nggak tegaan sedunia. Kalau ada teman yang sakit, dia yang pertama menggalang donasi. Kalau ada yang kerjaannya keteteran, dia yang stay hingga larut malam untuk bantu backup sekalipun bukan bagian dari jobdesc-nya. Semua orang senang sama dia. Ada pula orang yang punya kiprah sosial, berguna bagi orang banyak dan terasa manfaatnya. Orang-orang baik, sering mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membantu orang lain.

 

Hingga suatu hari, roda berputar. Sebut saja Si Fulan yang orang baik, tiba-tiab Bapaknya masuk ICU gara-gara serangan jantung. Fulan butuh uang cepat buat DP operasi karena BPJS-nya ada masalah administrasi. Malam itu dia nge-chat semua teman dekatnya di kantor yang dulu sering banget dia bantu. Dia cuma mau pinjem uang, gajinya bulan depan dia jaminin. Dari belasan orang yang dia chat, tahu berapa yang balas? Hanya tiga. Sisanya cuma ngebaca. Dan dari tiga orang itu, semuanya bilang: "Maaf banget ya lagi nggak ada uang nih."  

 

Besoknya, salah satu temannya yang nggak mau minjemin uang itu update story. Lagi makan di restoran All You Can Eat yang harganya 300 ribu per orang. Si Fulan hanya bisa ngeliatin layar HP-nya, lama banget lihatnya. Mukanya nggak marah, nggak nangis juga.

 

Tapi kelihatan dari raut wajah Si Fulan kosong. Pikirannya hampa. Kayak ada sesuatu di dalam dadanya yang benar-benar mati detik itu juga. Dan sedihnya, dua hari kemudian, bapaknya meninggal dunia ..... 

 

Setelah cuti duka seminggu, Fulan balik ke kantor. Dan dia berubah jadi orang yang sama sekali beda. Berubah jadi dingin dan kaku. Jam 5 sore langsung pulang. Ada kerjaan teman yang telat, dia memilih pakai earphone untuk langsung pulang. Begitu ada kawannya yang mau pinjam uang, dia langsung jawab datar tanpa menoleh: "Nggak ada." Nah, orang-orang mulai bisik-bisik di belakang dia. "Si Fulan sekarang sombong ya." "Si Fulan sekarang egois banget, pulangnya tepat waktu terus." Fulan pun mendengar itu dan rasanya jadi pengen ketawa. Ketawa miris. 

 

Terkadang memang capek jadi orang baik. Banyak orang menyedot energi orang baik kayak Si Fulan bertahun-tahun. Memanfaatkan kebaikannya untuk meringankan beban kerja temannya. Tapi giliran dunia dia hancur dan dia butuh bantaun teman-temannya, mereka malah pura-pura buta. Terus pas Si Fulan pasang tembok buat melindungi dirinya yang sudah hancur, teman-temannya menyebut dia sombong? Hellow, memangnya kalian siapa. Dunia memang tempat yang kejam buat orang baik. Orang baik cuma dihargai selama masih berguna. Tapi begitu orang baik butuh bantuan, semua temanya pergi dan hilang entah ke mana?  

 

Orang yang berubah dingin itu sebenarnya lagi masa berkabung. Dia lagi mengubur versi dirinya yang lama. Versi yang naif. Versi yang mikir kalau kita baik sama orang, maka orang lain bakal baik sama kita. Rasa sakit karena diperlakukan tidak adil itu ternyata jauh lebih parah dari luka fisik. Jadi, Si Fulan bikin mekanisme pertahanan diri: lebih baik nggak usah peduli sama sekali, daripada peduli tapi akhirnya ditinggal sendirian pas lagi jatuh.  

 

Terkdang, banyak orang baik yang akhirnya memilih jadi "penjahat" di cerita orang lain. Karena menilak untuk dimanfaatin dan berani mulai bilang "enggak". Mulai jaga jarah, membatasi diri, dan mulai enggan membantu. Bukan tanpa sebab, pasti ada alasannya. Dan saat mengambil sikap, maka orang-orang toxic di sekitarnya bakal bereaksi kaget dan bilang "Kok elo berubah sih?" Iya, pasti berubah. Karena kebaikan yang nggak dikasih batas itu namanya kebodohan. Dan akhirnya sadar, capek jadi orang bodoh yang baik.  

 

Orang-orang toxic yang banyak di kantor harusnya nggak bisa menyalahkan orang yang menarik diri dari lingkungan setelah kita melihat “warna asli” dari orang-orang di sekitarnya. Dinginnya Si Fulan itu ibarat luka yang sudah mengering. Apatisnya itu tameng, pelindung. Maka jangan berharap orang yang sudah “dibakar” rumahnya oleh rekan kerja masih berpikir tetap disediakan “the hangat” waktu orang-orang itu kedinginan. Nggak ada yang gratis di dunia ini, termasuk kebaikan hati orang.  

 


Terkadang jadi orang baik memang capek. Orang yang kerjanya menghadirkan senyum, ringan tangan, menebar kebaikan tapi di akhirnya disakiti, dimanfaatin, bahkan dipinggirkan. Waktu orang baik yang terus-terusan diinjak akhirnya meledak, ledakannya itu horor yang paling menyeramkan. Hantu paling menakutkan bukan setan. Tapi orang baik yang sudah nggak punya alasan berbuat baik lagi.  

 

Maka harus bisa dimengerti, pada akhirnya orang baik "berubah jadi dingin" karena sudah terlalu capek dimanfaatin orang lain. Orang baik nggak salah bila akhirnya bersikap, untuk melindungi dirinya sendiri dari parasit hidup. Bersikap tegas pada orang-orang toxic itu bukan kejahatan. Karena terkadang jadi orang baik itu capek!

 

Jumat, 29 Mei 2026

Jika Tangan Belum Bisa Meringankan Beban Orang Lain, Jangan Gunakan Mulut untuk Merendahkan

Ada nasihat bijak yang bagus nih. “Jika tanganmu belum bisa meringankan beban orang lain, setidaknya jangan gunakan mulutmu untuk merendahkan mereka”.

 

Faktanya dalam hidup ini, tidak semua orang selalu mampu membantu secara materi, tenaga, atau solusi. Namun, setiap orang tetap memiliki pilihan untuk menjaga ucapan dan sikapnya. Kata-kata yang merendahkan sering kali menambah beban psikologis seseorang yang sedang berjuang, sementara ucapan yang baik dapat menjadi sumber semangat dan harapan.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menghadapi tantangan yang tidak terlihat oleh orang lain. Ada yang sedang kesulitan ekonomi, mengalami masalah keluarga, atau berjuang meningkatkan kemampuan dirinya. Ketika seseorang menerima kritik yang menjatuhkan atau ejekan, rasa percaya dirinya dapat berkurang. Sebaliknya, kata-kata yang menghargai usaha dan proses akan membantu mereka tetap termotivasi untuk berkembang.

 

Bila ada orang-orang yang secara sukarela berkiprah di taman bacaan, jangan diganggu apalagi dihancurkan. Sebab taman bacaan bukan hanya tempat membaca buku, tetapi juga ruang tumbuh bagi anak-anak dan masyarakat. Pengelola, relawan, maupun pengunjung perlu menciptakan suasana yang aman dan mendukung. Anak yang masih terbata-bata membaca, misalnya, membutuhkan dorongan dan kesabaran, bukan celaan. Lingkungan yang penuh penghargaan akan membuat mereka lebih berani belajar dan mencoba hal-hal baru.

 


Ketika seorang anak kesulitan membaca sebuah cerita, relawan dapat berkata, “Bagus, kamu sudah berani mencoba. Ayo kita baca pelan-pelan bersama,” daripada mengatakan, “Masa begitu saja tidak bisa?” Contoh lain, jika ada remaja yang baru mulai aktif membantu kegiatan taman bacaan tetapi masih sering melakukan kesalahan, lebih baik memberikan arahan dengan kalimat, “Terima kasih sudah membantu. Mungkin bagian ini bisa kita perbaiki bersama,” daripada mengkritiknya di depan banyak orang. Dengan memilih kata-kata yang membangun, taman bacaan akan menjadi tempat yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, kepedulian, dan semangat belajar sepanjang hayat.

 

Jadi, jika tanganmu belum bisa meringankan beban orang lain, setidaknya jangan gunakan mulutmu untuk merendahkan mereka. Hidup akan lebih ringan jika kita memilih kata-kata yang membangun, bukan yang melukai. Salam literasi!

 


 

Rezeki Lancar Bukan Cuma karena Kerja Keras

Banyak orang sukses tapi belum tentu berkah hidupnya. Kenapa? Karena gagal memperlakukan orang tua dengan baik. Dalam banyak ajaran agama, berbakti dan menghormati orang tua disejajarkan dengan ibadah utama. Sebagai investasi moral dan spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih menghargai orang lain. Maka bila ada yang kurang menghargai orang lain hari ini, bisa jadi sebelumnya tidak terbiasa menghargai orang tuanya.

 

Rezeki lancar itu bukan cuma karena kerja keras. Bukan pula karena kita pintar atau hebat. Tapi juga karena cara kita memperlakukan orang tua. Karena menyanyangi dan bersikap lemah lembut pada orang tua. Rela berkorban untuk orang tua yang telah merawat, mendidik, dan berkorban tanpa syarat sejak kita dilahirkan. Rezeki lancar, badan sehat dan hati tenang, sunggug karena restu dan doa orang tua yang memiliki kekuatan luar biasa. Karena orang tua, segala urusan jadi lancar.

 

Menghormati orang tua itu bukan sekadar sopan santun. Itu latihan mengendalikan ego. Dan banyak masalah hidup datang dari ego yang tidak pernah dilatih. Orang yang kasar ke orang tuanya biasanya jadi haus validasi, sulit dikoreksi, gampang bereaksi, dan merasa paling benar. Bila sulit mengakui kesalahan dan hanya bisa mencari kesalahan orang, sudah pasti karena tidak menghormati orang tua. Akibatnya, kondisi itu pelan-pelan akan merusak hidupnya sendiri. Rezeki seret, Kesehatan terganggu, dan sulit untuk tenang.

  

Sebaliknya, orang yang menghormati orang tua sering punya energi yang lebih tenang. Lebih sabar. Lebih sederhan. Lebih bisa dipercaya. Dan berujung, rezekinya sering datang lewat kepercayaan. Bukan cuma kerja semata.  

 


Jadi, bila ada orang yang baik-baik saja dalam hidupnya, Tanya deh, sudah pasti karena sangat menghormati dan berbakti pada orang tuanya. Terbiasa mengabari, mau mendengarkan,, selalu membantu tanpa diminta, dan tidak membentak saat emosi. Niat dan tekadnya, hanya ingin membuat senyum pada orang tuanya. Apapun alasan dan dalihnya.

 

Sungguh, ada hal kecil yang memberi dampak panjang dalam hidup. Yaitu selalu memperlakukan orang tua dengan baik. Sebab hidup yang baik biasanya lahir dari hati yang lembut, bukan ego yang besar.

 

Kamis, 28 Mei 2026

Bank Sinarmas Salurkan 220 Paket Daging Qurban ke Taman Bacaan di Bogor

Sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan, Bank Sinarmas menyalurkan 1 ekor sapi yang dibagikan kepada 220 keluarga pengguna layanan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (28/5/2027). Penyerahan daging qurban dilakukan oleh Narita Kusumawardhani (Corporate Communications Bank Sinarmas) didampingi Epul Saepulloh, Carlos, dan Ramdhan yang disaksikan oleh wali baca dan relawan serta warga Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Bogor.

 

"Hari ini Bank Sinarmas membagikan paket daging qurban ke 220 keluarga pengguna layanan dan warga sekitar TBM Lentera Pustaka. Kami senang bisa menjalankan amanat dan berbagi kepada sesama. Terima kasih, taman bacaan ini sudah menjadi jembatan penyalur Bank Sinarmas peduli masyarakat, Semoga jadi berkah kita semua" ujar Retno Tri Wulandari, Head of Corporate Secretary Bank Sinarmas melalui pesan singkatnya.

 

Pemotongan hewan qurban 1 ekor sapi setiap tahun dilakukan Bank Sinarmas di TBM Lentera Pustaka sebagai bentuk wujud syukur atas nikmat allah SWT, di samping untuk memperkuat kepedulian sosial dengan berbagi daging kepada sesama yang membutuhkan. Warga yang sudah memiliki kupon datang dan antre saat daging qurban dibagikan. Raut wajah senang dan ceria terpancar dari keluarga pengguna layanan TBM Lentera Pustaka yang menerima daging qurban. “Alhamdulillah, saya bisa menikmati daging qurban dari Bnk Sinarmas melalui TBM Lentera Pustaka. Semoga sehat dan berkah untuk tim B


ank Sinarmas atas kepeduliannya" ujar Vanessa, salah satu anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka.

 

Saat penyerahan secara simbolik sapi qurban Bank Sinarmas, Syarifudin Yunus (Pendiri TBM Lentera Pustaka) bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada Bank Sinarmas atas kolaborasi yang sudah terjalin selama ini. Daging qurban ini sangat bermanfaat untuk keluarga pengguna layanan taman bacaan yang sebagian besar berasal dari keluarga tidak mampu, sekaligus menjadi motivasi anak-anak untuk tetap rajin membaca di taman bacaan.

"Kita bisa lihat anak-anak dan para ibu yang tersenyum saat menerima daging qurban. Sungguh ini jadi motivasi warga untuk terus membaca. Terima kasih kepada Bu Retno dan Bank Sinarmas atas qurban sapi ke warga TBM Lentera Pustaka, Semoga jadi berkah dan ladang amal kita semua" kata Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka dalam pesan singkatnya.

 

Bertajuk "Idul Adha 1447 H - Senyum untuk Sesama", Bank Sinarmas dan TBM Lentera Pustaka menilai penyaluran hewan qurban ini sangat memotivasi anak-anak dan warga untuk lebih rajin membaca buku. Inilah kolaborasi nyata antara korporasi dan taman bacaan dalam menghadirkan senyum di masyarakat. Di samping memperkuat eksistensi TBM Lentera Pustaka dalam menjalankan 15 program literasi seperti taman bacaan, kelas prasekolah, berantas buta aksara, motor baca keliling, dan literasi digital yang melayani lebih dari 200 anak pembaca aktif. Salam literasi #BankSinarmas #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen

 



 

 

Rabu, 27 Mei 2026

Di Kantor, Orang Rajin Lebih Dihargai atau Ditambahi Kerjaan?

Ini cerita di dunia kerja. Ada pekerja yang dulu sangat antusias. Datang pagi dengan segudang ide. Mau belajar sampai kompeten. Mau ambil tanggung jawab pekerjaan yang belum selesai. Mau bantu rekan kerja bahkan lintas divisi sekalipun. Masih percaya, bahwa kantor bisa jadi tempat bertumbuh. Tapi sekarang, pelan-pelan berubah jadi orang yang bekerja seperlunya?

 

Bukan tiba-tiba, tentu ada sebabnya. Dimulai dari idenya sering diabaikan. Kontribusinya mulai diambil rekan kerja lainnya. Lemburnya dianggap biasa. Atasannya hanya muncul saat ada salah doang. Dan setiap kali berhasil, yang didengar hanya kalimat: “Ya memang itu tugas kamu”. Kalimat itu sederhana atau terlihat sepele. Tapi kalau diulang bertahun-tahun, efeknya besar baget buat pekerja.  

 

Faktanya, banyak kantor atau perusahaan kurang sadar. Bahwa semangat pekerja itu tidak hilang begitu saja. Semangat biasanya habis karena terkikis. Terkikis oleh beban yang tidak adil. Terkikis oleh janji yang tidak ditepati. Terkikis oleh evaluasi yang abu-abu. Terkikis oleh budaya “yang penting selesai” tanpa peduli siapa yang menanggung? Dan terkikis orang “politik kantor” yang tidak sehat.   

 

Di banyak kantor, pekerja yang paling bisa kerja justru sering jadi tempat menambal kekurangan sistem. Pekerja rajin sering jadi tumbal. Orangnya kurang? Dia yang bantu. Deadline mepet? Dia yang lembur. Tim lain kacau? Dia yang diminta turun. Ada masalah mendadak? Dia yang dicari untuk kasih solusi. Tapi saat bicara kompensasi, semuanya mendadak formal.  

 

Maka, ketika ada pekerja yang rajin akhirnya memutuskan untuk bekerja sesuai porsinya, jangan cepat-cepat menyebutnya tidak loyal. Mungkin dia sedang mengembalikan batas. Mungkin dia mulai merasakan kerja yang tidak adil. Mulai burnout dan capek sendiri di kerjaan. Capek mental dan fisik, sering dialami pekerja yang rajin.

 


Kita suka lupa. Loyalitas kerja yang sehat itu harus dua arah. Pekerja menjaga pekerjaan dan tanggung jawabnya. Kantor juga harus menjaga manusia yang mengerjakan pekerjaan itu. Kalau hanya satu pihak yang menjaga, lama-lama pasti timpang.  Solusinya bukan langsung resign.  Tapi mulai dari tiga hal ini: 1) catat beban kerja dan kontribusi, 2)  bicarakan prioritas dengan atasan, dan 3) tentukan batas: mana yang memang tanggung jawab kita, mana yang selama ini hanya kita tampung karena tidak enak?

 

Kalau tidak berubah juga, maka siapkan opsi.  Kadang quiet quitting (kebiasaan karyawan yang hanya bekerja sesuai porsi atau batas tanggung jawab yang tertulis di job description) bukan tanda orang tidak punya etos kerja. Kadang itu adalah tanda bahwa kantor terlalu lama menganggap dedikasi sebagai sesuatu yang gratis.

 

Pertanyaannya, apakah di kantor kamu, orang rajin lebih sering dihargai atau justru lebih sering ditambahi kerjaan? Maka bekerjalah sesuai porsi dan tahu batas, sambil siapkan dana pensiun. Karena cepat atau lambat, setiap pekerja akan berhneti bekerja. Entah karena di-PHK atau pensiun? #YukSiapkanPensiun

Nasihat Literasi: Perbanyak Melihat ke Bawah, Kurangi Melihat ke Atas

Ini hanya pesan literasi sederhana. Siapapun, kalau nggak mau mental terganggu, kurang-kurangin melihat stories atau update-an orang lain terutama yang berbau flexing. Perbanyak melihat yang di bawah kita supaya kita bersyukur dengan apa yang kita punya. Kurangin melihat yang di atas kita supaya kita jauh dari rasa iri, dengki dan hasad.


Kesehatan mental sering terganggu bukan karena hidup kita kurang, tetapi karena kita terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Di era media sosial, orang cenderung hanya menampilkan bagian terbaik hidupnya: liburan mewah, mobil baru, pencapaian karier, atau hubungan yang terlihat sempurna. Kalau kita terus-menerus melihat itu tanpa sadar, kita bisa merasa tertinggal, gagal, atau kurang berharga, padahal yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan mereka. Contohnya, seseorang yang sebenarnya hidup cukup dan punya keluarga harmonis bisa tiba-tiba merasa miskin hanya karena melihat temannya upload rumah baru atau jalan-jalan ke luar negeri setiap bulan.


Karena itu, memperbanyak melihat ke bawah bukan berarti merendahkan orang lain, melainkan melatih rasa syukur. Kita jadi sadar bahwa masih banyak orang yang sedang berjuang lebih berat dari kita. Misalnya, ketika kita mengeluh tentang pekerjaan yang melelahkan, ternyata ada orang lain yang sudah berbulan-bulan mencari kerja tetapi belum mendapat kesempatan. Saat kita merasa motor kita jelek, ada orang yang setiap hari harus berjalan kaki jauh untuk bekerja. Kesadaran seperti ini membuat hati lebih tenang dan membantu kita menghargai apa yang sudah dimiliki.


Sebaliknya, terlalu sering melihat ke atas tanpa kontrol bisa memicu iri, dengki, bahkan rasa tidak pernah puas. Kita mulai mengukur nilai diri berdasarkan pencapaian orang lain. Contohnya, seseorang yang awalnya bahagia dengan usahanya sendiri tiba-tiba merasa gagal setelah melihat teman seusia sudah punya bisnis besar atau penghasilan tinggi. Akhirnya, hidup berubah menjadi perlombaan yang tidak ada habisnya. Padahal setiap orang punya waktu, jalan hidup, dan perjuangan yang berbeda. Apa yang terlihat sukses di luar belum tentu berarti mereka tidak punya masalah.



Intinya, media sosial dan kehidupan orang lain sebaiknya dijadikan inspirasi secukupnya, bukan standar kebahagiaan. Fokus utama tetap pada perjalanan hidup sendiri. Bersyukur bukan berarti berhenti berkembang, tetapi tahu kapan merasa cukup agar hati tetap damai. Orang yang hatinya tenang biasanya bukan yang paling banyak hartanya, melainkan yang mampu menikmati apa yang sudah ada sambil tetap berusaha menjadi lebih baik tanpa sibuk membandingkan diri dengan orang lain.

Jadi, bila mau tetap sehat dan waras, kurangi melhiat stories atau update-an orang lain. Perbanyak melihat yang di bawah kita supaya kita bersyukur, kurangi melihat yang di atas kita supaya kita jauh dari rasa iri dengki dan hasad. Salam literasi!


Ada Tempat yang Terlalu Parah untuk Disinggahi sebagai Tempat Kerja

Seorang kawan mengeluh soal tempat kerja, tentang kantornya sendiri. Memang dia baru 4 tahun kerja di kantor itu, setelah resign dari kantor lamanya. Sekalipun belum lama terlalu lama, dia dikenal kompeten dan berdedikasi terhadap pekerjaannya. Tergolong Cuma kontribusi yang signifikan atas job desc yang jadi tanggung jawabnya. Tapi belakangan, hampir semua pekerjaan diserahkan kepada dia. Di situlah, dia merasa tempat kerjanya mulai tidak adil. Dia berpikir sendiri, sepertinya dia dimanfaatkan oleh atasan dan rekan kerjanya sendiri. Kini, dia sering mengeluh dan akhirnya capek sendiri. Begitulah relaitas di dunia kerja.

 

Banyak karyawan berpikir, semakin kompeten dirinya, semakin aman posisi kerjanya. Akhirnya semua kerjaan diambil. Semua masalah kantor coba diselesaikan, dan semua tanggung jawab diterima tanpa banyak menolak.  Dianggap loyal dan berdedikasi sehingga jadi capek sendiri. Padahal, di lingkungan kerja yang toxic, orang yang paling bisa sering jadi orang yang paling dibebani.  

 

Dalam kasus kawan saya tadi. Karena dia dianggap kuat. Dianggap mampu. Dan dianggap tidak bakal protes walaupun kerjaannya terus ditambah. Sementara rekan kerja lainnya Santai, dia bekerja keras mengerjakan target kerja setiap harinya. Lama lama, bukannya dihargai sebagai karyawan yang kompeten. Tapi dijadikan “penyelamat keadaan” setiap ada masalah di kantor.

 

Makanya penting banget untuk setiap karyawan. Belajar mengatur image dan energi di tempat kerja. Bukan berarti pura-pura bodoh atau jadi pemalas. Tapi jangan membiasakan selalu jadi orang pertama yang maju. Apalagi karyawan baru atau belum lama bekerja, jangan terlalu kelihatan jadi problem solver atau dikenal loyal tanpa ada batas. Selalu jadi orang yang menutupi semua kekacauan di kantor. Atau selalu jadi tempat “lempar” tanggung jawab pekerjaan yang bukan bagiannya.   

 

Jadi, jangan terlalu sering menunjukkan semua kemampuan di kerjaan. Jangan sampai dianggap punya kompetensi yang berlebihan. Sebab di tempat kerja toxic, orang kompeten malah jadi sasaran. Semakin kelihatan kuat menanggung beban, maka makin banyak kerjaan yang dikasih. Akhirnya, pulang paling malam dan kerja paling lelah. Sementara gaji sama, bahkan bisa lebih kecil dari yang rekan kerjanya yang terlihat lebih santai.  

 


Orang kerja itu butuh sehat dan waras. Karenanya, karyawan di mana pun harus fokus pada kerjaan yang menyehatkan. Tetap menjaga kewarasan di kantor. Kerja dan menjalankan tugas dengan baik, tapi tetap punya batas. Sebab semakin kita kelihatan tidak punya batas, semakin gampang orang lain bermain “politik kantor”. Orang lain yang manfaatin  kemampuan kita untuk kepentingan mereka. Kita capek sendiri, yang lainnya asyik-asyik saja. Dan yang paling penting, jangan ukur harga diri kita di kantor dari seberapa banyak orang yang memanfaatkan kita. Atau seberapa banyak orang memuji kita di kantor.

 

Di kantor mana pun, pasti atasan akan bilang “ini untuk kemajuan bersama di perusahaan. Kita capek kerja dan mental babak belur untuk jadi kuat dan tahan banting di kantor”. Tentu, masalahnya bukan di situ. Tapi sikap adil dalam pekerjaan dan bersih dari politik kantor yang berpotensi kotor, Apalagi di lingkungan kerja toxic, siapapun perlu cara dan strategi untuk  bikin batas profesional dalam menghadapi atasan yang subjektif dan rekan kerja toxic. Tekanan kerja boleh tinggi tapi mental harus tetap sehat. Kerjaan boleh banyak tapi “bukan dimanfaatkan”untuk kepentingan orang lain. Karena di dunia kerja, terlalu berguna tanpa batas sering bikin kita dijadikan “alat”, bukan dihargai sebagai manusia. Apalagi di kantor yang kasih gaji standar dan tidak punya dana pensiun, tetap saja masa depan belum pasti. Dan saat berhenti bekerja, akibat PHK atau pensiun, kita tetap tidak punya jaminan finansial dan akhirnya bergantung pada orang lain.

 

Kerja memang harus rajin dan loyal. Tapi harus diingat juga, ada tempat yang terlalu parah untuk disinggahi sebagai tempat kerja. #YukSiapkanPensiun