Rabu, 22 Juli 2026

Edukasi dan Digitalisasi Jadi Kunci Tarik Minat UMKM & Freelancer ke DPLK

Dana pensiun untuk pekerja informal harus terus disuarakan. Karena hak untuk pensiun dengan sehat dan sejahtera adalah milik semua orang, milik semua pekerja di mana paun. Tapi sayangnya, partisipasi pekerja sektor informal ke dalam program dana pensiun (DPLK) masih tergolong rendah. Pekerja lepas, UMKM, freelancer atau pekerja individu masih terbatas pemahaman akan pentingnya dana pensiun.

 

Hasil survei terbaru tentang pemasaran inklusif dana pensiun bagi pekerja informal, dditemukan beberapa hambatan yang menyebabkan rendahnya partisipasi mereka dalam program dana pensiun (DPLK) yaitu:

1.    Dianggap tidak likuid/sulit dicairkan (28%). Pekerja informal merasa dana yang disetorkan tidak dapat ditarik dengan mudah atau cepat saat dibutuhkan.

2.    Kurangnya edukasi (22%). Banyak pekerja informal belum mendapatkan pemahaman atau sosialisasi yang cukup mengenai manfaat dan cara kerja dana pensiun.

3.    Bersifat tidak wajib atau tidak tahu (19%). Tidak adanya kewajiban dan ketidaktahuan akan pentingnya dana pensiun.

4.    Tidak digital (13%). Ketiadaan akses atau platform digital yang memudahkan proses pendaftaran dan pembayaran kontribusi juga menghambat partisipasi pekerja informal.

5.    Alasan absurd (13%). Terdapat faktor-faktor lain yang dianggap tidak masuk akal atau tidak relevan oleh para pekerja.

6.    Persepsi hanya untuk pegawai kantoran (5%). Masih ada anggapan bahwa program dana pensiun hanya diperuntukkan bagi pekerja formal/kantoran.

Dapat disimpulkan pula, bahwa partisipasi pekerja informal ke dana pensiun belum optimal karena 35% akibat kurangnya edukasi dan tidak digital (gabungan 22% dan 13%). Survei bertajuk “Strategi Pemasaran Inklusif untuk Meningkatkan Partisipasi Dana Pensiun Pekerja Sektor Informal di Indonesia: Analisis Hambatan, Segmentasi Pasar, dan Rekomendasi Implementasi” dilakukan oleh Syarifudin Yunus dan Farid Nabil Elsyarif yang terbit di jurnal ilmiah Lokawat pada Juli 2026 dengan DOI: https://doi.org/10.61132/lokawati.v4i4.2643. Survei ini melibatkan pekerja informal, yang terdiri pelaku UMKM (18%, pekerja lepas atau freelancer (11%), dan pekerja sektor lainnya (71%).

 


Karenanya, edukasi dan digitalisasi menjadi kunci daya tarik minat UMKM serta Freelancer ke dana pensiun. Beberapa solusi untuk mengatasi hambatan partisipasi pekerja informal, khususnya UMKM dan freelancer antara lain:

1.    Meluruskan persepsi "hanya untuk pegawai kantoran". Edukasi harus menekankan bahwa dana pensiun bukan hanya untuk pegawai kantoran. Konten edukasi perlu menggunakan testimoni atau profil dari sesama freelancer untuk menunjukkan relevansi program dana pensiun untuk pekerja yang tidak memiliki gaji tetap.

2.    Digitalisasi informasi dan akses. Sistem yang "tidak digital" harus diantisipasi dengan platform edukasi dan pendaftaran DPLK yang sepenuhnya berbasis aplikasi atau web. Freelancer yang terbiasa bekerja secara digital akan lebih mudah terpapar informasi jika melalui kanal yang sesuai dengan gaya hidup mereka.

3.    Penjelasan mengenai fleksibilitas vs likuiditas. Edukasi harus fokus pada pemahaman manfaat jangka panjang dibandingkan kebutuhan jangka pendek. Strategi ini bisa berupa simulasi pertumbuhan dana dalam jangka waktu lama untuk meyakinkan pekerja informal bahwa sifat "tidak likuid" tersebut justru melindungi masa tua mereka.

4.    Kampanye kesadaran (awareness) yang masif. Masih banyak pekerja informal yang tidak tahu tentang dana pensiun. Strategi edukasi perlu meningkatkan frekuensi sosialisasi agar program ini dipandang sebagai kebutuhan dasar, bukan sekadar pilihan sukarela.

5.    Penyederhanaan materi. Untuk mengatasi masalah "kurang edukasi" (22%), materi harus dibuat sederhana dan menghindari istilah teknis yang rumit (mengatasi hambatan "absurd" sebesar 13%) agar lebih mudah diterima oleh pekerja informal.

Jadi, untuk meningkatkan partisipasi pekerja sektor informal seperti UMKM dan freelancer adalah melakukan edukasi yang berkelanjutan dan menyediakan akses digital DPLK. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Selasa, 21 Juli 2026

Riset Ungkap Kesenjangan Persepsi dan Kompetensi Berbahasa Mahasiswa

Bahasa Indonesia memiliki peran strategis sebagai bahasa persatuan, bahasa resmi negara, serta sarana utama dalam kegiatan akademik di perguruan tinggi. Mahasiswa, khususnya yang berada pada Program Studi Bahasa Indonesia, diharapkan memiliki kemampuan berbahasa yang baik dan benar, baik dalam aspek menyimak, berbicara, membaca, maupun menulis. Kemampuan ini tidak hanya menjadi tuntutan akademik, tetapi juga menjadi cerminan kompetensi intelektual dan profesional calon pendidik maupun praktisi bahasa di masa depan.

 

Namun, dalam praktiknya, tidak semua mahasiswa memiliki tingkat kemampuan berbahasa Indonesia yang sesuai dengan harapan. Masih ditemukan mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam menyusun karya tulis ilmiah, menggunakan kaidah bahasa yang tepat, maupun menyampaikan gagasan secara efektif. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi yang diharapkan dengan kondisi nyata di lapangan, bahkan di kalangan mahasiswa yang secara khusus mempelajari Bahasa Indonesia.

 

Kemampuan berbahasa di kalangan mahasiswa sangat penting. Apalagi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Sebab, kemampuan bahasa Indonesia menggambarkan tingkat kemampuan berbahasa mahasiswa, di samping dapat menjadi bahan evaluasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Bahasa hakikatnya adalah ucapan pikiran dan perasan manusia secara teratur, yang mempergunakan bunyi sebagai alatnya. Karena mampu berbahasa, mahasiswa dapat menyampaikan ide dan gagasannya dengan optimal. Kompetensi berbahasa yang tidak bias, sebuah tindak tutur yang komunikatif.

 

Lalu, bagaimana kesenjangan persepsi dan kompetensi berbahasa Indonesia di kalangan mahasiswa? Sebuah studi terbaru mengungkap adanya kesenjangan yang cukup signifikan antara persepsi dan kompetensi berbahasa Indonesia mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia. Meskipun 69% mahasiswa menilai dirinya memiliki kompetensi berbahasa Indonesia yang baik, namun pengukuran kompetensi menunjukkan bahwa hanya 43% mahasiswa yang memiliki kompetensi pada aspek morfologi, 40% pada aspek sintaksis, dan 40% pada aspek semantik. Temuan ini mengindikasikan bahwa persepsi positif terhadap kemampuan berbahasa tidak selalu sejalan dengan kompetensi kebahasaan yang sesungguhnya. Menarik dari studi ini, minat mahasiswa untuk menjadi guru Bahasa Indonesia cukup tinggi, mencapai 81%. Intinya, skor persepsi 69% namun rata-rata kompetensi di skor 41% sebagai bukti kesenjangan berbahasa Indonesia di mahasiswa. Karena itu, mahasiswa perlu meningkatkan kompetensi kebahasaan secara lebih terarah dan aplikatif. Diperlukan upaya yang berkelanjutan dari program studi untuk memperkuat pembelajaran bahasa, meningkatkan praktik literasi, serta membangun kepercayaan diri mahasiswa.



 

Kesenjangan persepsi dan kompetensi berbahasa Indonesia yang terjadi dipengaruhi oleh determinasi faktor internal dan eksternal, meliputi motivasi belajar, minat, kepercayaan diri, kualitas pembelajaran, metode pengajaran, lingkungan sosial, serta pengalaman literasi mahasiswa. Karenanya, penguatan kompetensi kebahasaan tidak cukup dilakukan melalui peningkatan pengetahuan teoretis semata. Tapi memerlukan strategi pembelajaran yang lebih aplikatif, berbasis praktik, dan didukung oleh budaya literasi yang berkelanjutan.

 

Studi dengan pendekatan kuantitatif - deskriptif ini menggunakan sampel 42 mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia dengan teknik simple random sampling telah terbit di jurnal ilmiah Alinea (Sinta 2) berjudul “Analisis Kesenjangan antara Persepsi dan Kompetensi Berbahasa Indonesia serta Faktor-Faktor Determinannya pada Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia” (Analysis of the Gap Between Perceptions and Competence in Indonesian Language and Its Determining Factors Among Students in the Indonesian Language Program) yang diteliti oleh Syarifudin Yunus dan Dewi Indah Susanti (Universitas Indraprasta PGRI) pada Juli 2026 dengan DOI: https://doi.org/10.58218/alinea.v6i2.3071.

 

Karena itu, mahasiswa perlu menyelaraskan persepsi terhadap kemampuan berbahasa dengan kompetensi yang sesungguhnya menjadi aspek penting dalam membangun kualitas akademik dan profesional. Persepsi yang terlalu tinggi dapat menghambat kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri, sedangkan persepsi yang terlalu rendah dapat mengurangi kepercayaan diri dalam berkomunikasi. Dengan meminimalkan kesenjangan antara persepsi dan kompetensi berbahasa Indonesia, mahasiswa dapat mengenali kemampuan secara lebih objektif, meningkatkan keterampilan berbahasa sesuai kebutuhan, serta menghasilkan komunikasi lisan dan tulisan yang lebih efektif, kritis, dan sesuai kaidah. Hal ini tidak hanya mendukung keberhasilan selama menempuh pendidikan tinggi, tetapi juga menjadi bekal penting dalam memasuki dunia kerja dan berkontribusi secara profesional di masyarakat.

 

Bagaimana ke depan? Mungkin studi lanjutan terkait kompetensi berbahasa mahasiswa menjadi penting ditindaklanjuti.

 


Senin, 20 Juli 2026

Kota Bogor Juara Literasi! Pimpin Tingkat Kegemaran Membaca Se-Jawa Barat dengan Skor Fantastis 91,79.

Gimana kondisi tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat di Jawa Barat? Sesuai data BPS Jawa Barat tahun 2024, terdapat 13 kabupaten atau kota yang berhasil mencapai kategori sangat tinggi. Kota Bogor menempati posisi puncak sebagai daerah dengan minat baca paling aktif, diikuti oleh Bandung dan Depok. Secara keseluruhan, Provinsi Jawa Barat memiliki skor rata-rata yang cukup bersaing di angka 75,07.

 

Perbandingan tingkat kegemaran membaca (TGM) antar wilayah di Jawa Barat pada tahun 2024 menunjukkan variasi yang cukup signifikan, dengan rincian sebagai berikut:

·      Rata-rata Provinsi. Tingkat kegemaran membaca untuk wilayah Jawa Barat secara keseluruhan berada di angka 75,07, yang masuk dalam kategori "Sangat Tinggi" (di atas skor 75).

·      Wilayah dengan Capaian Tertinggi. Terdapat 13 kabupaten/kota yang memiliki indeks TGM dengan kategori Sangat Tinggi. Lima wilayah teratas adalah: Kota Bogor 91,79, Kabupaten Bandung: 87,14, Kota Depok: 86,19., Kota Bandung: 82,54, dan Kota Tasikmalaya: 82,09.

·      Wilayah dengan Capaian Terendah. Meskipun dengan skor paling rendah adalah Subang dengan skor 57,03, diikuti oleh Purwakarta (60,21) dan Kabupaten Bekasi (64,65).

·      Distribusi Kategori. Wilayah yang berada di atas rata-rata provinsi (skor > 75,07) mencakup 13 daerah, mulai dari Kota Bogor hingga Indramayu (76,58) dan wilayah lainnya (sebanyak 14 daerah) memiliki skor di bawah rata-rata provinsi namun tetap berada dalam kategori "Tinggi" (skor 50-75), seperti Kota Banjar (74,65) hingga Subang.

Intinya, wilayah perkotaan seperti Kota Bogor, Kota Depok, dan Kota Bandung cenderung mendominasi peringkat atas dibandingkan dengan beberapa wilayah kabupaten.

 

Berdasarkan grafik Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Tahun 2024, diperoleh data di Jawa Barat dari skor tertinggi ke terendah adalah:

1.       Kota Bogor: 91,79.

2.       Kabupaten Bandung: 87,14.

3.       Kota Depok: 86,19.

4.       Kota Bandung: 82,54.

5.       Kota Tasikmalaya: 82,09.

6.       Kota Banjar (74,65)

7.       Sumedang (72,27)

8.       Tasikmalaya (72,15)

9.       Kota Cirebon (71,18)

10.    Pangandaran (70,87)

11.    Ciamis (70,42)

12.    Kota Sukabumi (69,27)

13.    Cirebon (68,97)

14.    Garut (68,64)

15.    Bogor (Kabupaten) (65,96)

16.    Bandung Barat (64,74)

17.    Bekasi (Kabupaten) (64,65)

18.    Purwakarta (60,21)

19.    Subang (57,03)

 

Patut dipahami, skor Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) merupakan indikator yang digunakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) untuk mengukur budaya membaca masyarakat di suatu daerah (provinsi maupun kabupaten/kota). TGM tidak hanya mengukur "berapa banyak orang membaca", tetapi juga mengukur kebiasaan dan dukungan terhadap aktivitas membaca.

 


Setidaknya, ada 5 (lima) dimensi utama yang memengaruhi skor TGM:

Dimensi

Indikator yang diukur

Contoh

1. Frekuensi membaca

Seberapa sering seseorang membaca

Membaca setiap hari atau beberapa kali seminggu

2. Durasi membaca

Lama waktu yang digunakan untuk membaca

1–2 jam per hari, 30 menit per hari, dll.

3. Jumlah bahan bacaan

Banyaknya bahan bacaan yang dibaca dalam periode tertentu

Buku, majalah, koran, e-book, artikel digital

4. Frekuensi akses internet untuk membaca

Seberapa sering internet digunakan sebagai media membaca

Membaca berita online, jurnal, e-book, website edukasi

5. Durasi akses internet untuk membaca

Lama waktu menggunakan internet khusus untuk aktivitas membaca

Misalnya 1 jam membaca artikel atau e-book

 

Walaupun bukan komponen langsung dalam perhitungan indeks, beberapa kondisi yang memengaruhi tinggi-rendahnya TGM suatu daerah adalah sebagi berikut:

1. .      1. Ketersediaan perpustakaan atau taman bacaan

2.      2. Koleksi bahan Pustaka (jumlah buku dan keberagaman koleksi) 

       3. Akses terhadap bahan bacaan.

      4. Program literasi dan kampanye gemar membaca.

      5. Dukungan pemerintah daerah. 

  6. Karakteristik sosial masyarakat (tingkat pendidikan, pendapatan, akses teknologi, budaya membaca dalam keluarga)

 

Maka jadi “pekerjaan rumah” ke depan, untukterus mengembangkan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat yang aktif mengadakan kegiatan literasi dan menjangkau masyarakat untuk sediakan akses bacaan dan layanan motor baca keliling/perpustakaan keliling. Salam literasi!

 


Potret Pahit Masa Tua: 80% Pensiunan Bergantung pada Anak, Akankah Rantai Generasi Sandwich Terus Berlanjut?

Faktanya mayoritas pensiunan yang tidak memiliki dana pensiun akhirnya menciptakan beban finansial bagi anak-anak dan keluarganya. Hasil survei tentang kondisi finansial pekerja saat pensiun, menyebutkan 80% pensiunan terjebak dalam fenomena generasi sandwich karena harus bergantung secara finansial kepada anak-anaknya. Sementara 15% pensiunan “terpaksa” tetap aktif bekerja demi memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan hanya 5% pensiunan yang benar-benar menikmati masa tua dengan tenang karena memiliki tabungan pensiun yang mencukupi. Survei yang dilakukan Syarifudin Yunus (edukator DPLK Sinarmas Asset Management) pada juli 2025 ini  menekankan pentingnya kemandirian finansial di hari tua agar tidak membebani generasi berikutnya di masa mendatang.

 

Mayoritas pekerja yang pensiun (80%) masih bergantung secara ekonomi pada anak karena sudah tidak bekerja, tidak punya gaji lagi, dan tidak memiliki dana pensiun untuk memenuhi kebutuhan hidup di hari tua. Kondisi ini terjadi akibat tidak punya dana pensiun sebagai sumber penghasilan setelah berhenti bekerja. Dan akhirnya, jadi sebab generasi sandwich tetap berlanjut di mana anak harus memikul tanggung jawab finansial untuk orang tuanya. Maka persiapan finansial sebelum memasuki usia pensiun adalah faktor krusial agar tidak menjadi beban bagi anak dan keluarga.

 

Sebagai solusi untuk masa pensiun, pekerja perlu sadar akan pentingnya dana pensiun melalui cara-cara:

1.    Memiliki dana pensiun sedini mungkin. Untuk memastikan memiliki tabungan atau dana pensiun yang memadai agar tidak bergantung secara ekonomi pada anak karena tidak memiliki dana untuk hari tua.

2.    Memastikan dana mencukupi kebutuhan tanpa bekerja. Untuk memastikan tersediakan kesinambungan penghasilan di hari tau, punya kemandirian finansial yang total tanpa harus bekerja keras untuk bertahan hidup.

3.    Perencanaan pensiun yang matang. Untuk memutus mata rantai "generasi sandwich" dengan memastikan kebutuhan hidup di hari tua terpenuhi dan dan benar-benar bisa "menikmati masa tua".

 


Selagi masih produktif, pekerja harus mulai berani memiliki DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Di era digital begini, ikut serta ke DPLK bisa lebih mudah, melalui akses digital (mendaftar secara online) untuk mempersiapkan masa pensiun diri sendiri. DPLK digital yang memungkinkan kita terlibat aktif dalam merencanakan masa pensiun dan bias memantau akumulasi dana di mana saja dan kapan saja. Untuk bisa mendaftar DPLK secara online, dapat dilakukan melalui platform DPLK digital “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang tersedia di Appstore dan playstore atau melalui website: https://simpensiun.com/. Akses DPLK yang mudah untuk formal dan informal, karena dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan sudah bisa memiliki DPLK untuk masa pensiun.

 

Setelah bertahun-tahun bekerja, kini saatnya membangun kemandirian finansial untuk hari tua. Dengan beralih dari kondisi "bergantung ke anak" menjadi kondisi "dana pensiun memenuhi kebutuhan", agar setiap pekerja secara otomatis menghentikan siklus di mana anak harus menanggung beban finansial orang tuanya. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

 


Minggu, 19 Juli 2026

La Furia Roja, Campeones del Mundo 2026

Hari ini, Spanyol menyandang “campeones del mundo 2026”, juara dunia sepak bola FIFA tahun 2026. Tim Nasional Spanyol menorehkan sejarah dengan mengangkat trofi Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Argentina. Lamine Yamal yang “dimandikan” Leonel Messi, kini berbalik Yamal yang “memandikan” Messi. Begitulah dunia bekerja, selalu ada pasang-surut. Selalu ada yang menang dan kalah. Semua sudah ada waktunya.

 

Sejak laga pertama, tim berjuluk La Furia Roja (Sang Amarah Merah) tampil bukan hanya dengan permainan indah. Tapi juga dengan sikap hormat kepada setiap lawan. Para pemainnya menyajikan seni bermain bola yang luar biasa, patut ditiru timnas Indonesia. Tim yang selalu percaya bahwa kemenangan sejati tidak hanya diukur dari skor, melainkan juga dari cara mereka memperlakukan orang lain di lapangan.

 

Pada babak gugur, Spanyol menghadapi lawan-lawan tangguh yang memaksa mereka berjuang hingga menit-menit terakhir. Menjalani laga demi laga yang penuh tantangan, bahkan menegangkan. Ketika terjatuh segera berdiri, bangkit dan mencetak gol. Ketika pemain lawan terjatuh, kedua tangan pemain Spanyol disodorkan untuk membantu lawannya berdiri. Tindakan sederhana itu menjadi bukti bahwa semangat fair play lebih berharga daripada mengejar kemenangan semata.

 

Perjalanan La Furia Roja menuju final tidak pernah mudah. Ada pertandingan yang harus dimenangkan dengan kerja keras, disiplin, dan kesabaran. Ketika tertinggal atau mengalami tekanan, mereka tidak saling menyalahkan. Sebaliknya, mereka terus menyemangati satu sama lain, percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa mereka semakin dekat kepada impian. Man jadda wajada pun berlaku di sepak bola. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka pasti berhasil.

 


Harus diakui, Spanyol menunjukkan mental juara. Bermain penuh determinasi, pantang menyerah, dan terselip tiki-taka nan indah si kulit bundar. Tetap menjunjung tinggi sportivitas hingga peluit panjang berbunyi. Saat akhirnya dinobatkan sebagai Campeones del Mundo, para pemain merayakan kemenangan dengan rendah hati, menghormati lawan yang telah memberikan perlawanan luar biasa sepanjang pertandingan.

 

Kisah Spanyol sebagai Campeones del Mundo 2026 – juara dunia sepak bola 2026 jadi bukti kesuksesan tidak datang hanya karena bakat. Tapi karena kerja keras, ketekunan, dan sikap adil terhadap sesama. Fair play membangun rasa hormat, sementara perjuangan tanpa lelah membawa kita selangkah demi selangkah menuju tujuan. Itulah makna sejati seorang juara: menang dengan kehormatan dan menginspirasi orang lain untuk tidak pernah menyerah mengejar impiannya. Begitu pula masa pensiun yang sehat dan sejahtera, harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

 

Selamat tim Spanyol, sang campeoned del mundo. Bravo!

 

Singkirkan Orang-orang Beracun dalam Hidupmu

Ada nasihat yang berlaku sepanjang zaman. Singkirkan orang-orang beracun (toxic people) dalam hidup kita. Bukan berarti membenci atau memutus hubungan dengan semua orang yang pernah berkonflik dengan kita. Tapi untuk mengurangi pengaruh orang-orang yang secara konsisten menghadirkan manipulasi, meremehkan, mengeksploitasi kebaikan, atau terus-menerus menciptakan drama yang menguras energi mental. Menjaga jarak dan  hubungan dari orang-orang beracun itu untuk menjaga kesehatan emosional, bukan tindakan egois. Sebab bahagia tidak selalu berarti menyenangkan semua orang, melainkan mampu menciptakan kehidupan yang lebih sehat dan seimbang.

 

Tidak masalah, bila kita akhirnya memutuskan keluar dari grup pertemanan yang selama bertahun-tahun dipenuhi gosip, saling menjatuhkan, dan tekanan untuk ikut menyebarkan rumor tentang rekan sendiri. Toh, setelah membatasi interaksi dengan kelompok toxic jadi lebih sehat dan tenang. Bergabung dengan komunitas profesional yang lebih positif, mengikuti pelatihan pengembangan diri, dan membangun relasi yang saling mendukung. Hingga akhirnya, produktivitas kerja lebih meningkat dan tingkat stres menurun. Lebih baik fokus pada kinerja daripada konflik yang tidak produktif. Maka memilih lingkungan yang sehat bukan berarti memusuhi orang lain. Tapi mengambil keputusan yang mendukung pertumbuhan pribadi dan kebahagiaan jangka panjang.

 

Tetapkan batasan (boundaries) dari orang-orangberacun. Adalah salah satu cara paling efektif untuk melindungi diri dari hubungan yang tidak sehat. Tolak permintaan yang tidak masuk akal, batasi komunikasi, atau jangan lagi terlibat dalam gosip yang tidakada habisnya. Buat batasan yang jelas, agar lebih fokus pada pekerjaan, keluarga, dan hubungan yang saling menghargai. Sebab, lingkungan dan teman yang positif dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri, produktivitas, dan kesehatan mental diri kita.

 


Namun, penting untuk berhati-hati. Agar istilah "orang beracun" tidak digunakan secara sembarangan untuk melabeli setiap orang yang berbeda pendapat atau pernah melakukan kesalahan. Perbedaan pandangan, kritik yang membangun, atau konflik sesekali merupakan bagian yang wajar dalam hubungan sosial. Sebelum memutuskan menjaga jarak, sebaiknya lakukan komunikasi yang jujur dan beri kesempatan untuk memperbaiki hubungan. Jika perilaku negatif terus berulang dan berdampak buruk pada diri kita, menjaga jarak adalah pilihan wajib.

 

Boleh kok, menyingkirkan atau menjaga jarak dari orang yang benar-benar bersikap toksik. Agar tidak ada lagi manipulasi, penghinaan, kebohongan, atau drama yang berkepanjangan. Hingga bikin energi terkuras sia-sia dan mengganggu kesehatan mental, bahkan menghambat perkembangan diri. Ketahuilah, lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan mencapai tujuan hidup. Maka Batasi diri dari pergaulan yang tidak sehat. Pilihlah teman yang saling menghargai, mendukung, dan memberi kritik yang membangun. Sebab di situ, ada ketenangan, produktivitas, dan kehidupan yang lebih sehat dan berkualitas. Salam literasi!

Pekerja Rajin Bawa Bekal Makan Siang ke Kantor Akhirnya Bisa Pensiun Dini

Luar biasa,inspiratif sih untuk urusan pensiun. Sepasang suami istri di Inggris, bisa pensiun dini di usia 40 dan 35 tahun. Karena selalu membawa bekal makan siang ke tempat kerja selama 10 tahun. Namanya Alan dan Katie Donegan. Sekalipun dianggap “pelit” oleh rekan kerja, terbukti keduanya mampu  menghemat Rp965 juta selama 10 tahun hanya dari kebiasaan membawa bekal makan siang ke kantor. Lebih dari itu, setiap musim dingin pun, Alan dan Katie Donegan menghindari menyalakan pemanas di rumahnya supaya tagihan tidak membengkak. Sebuah praktik berhemat yang butuh perjuangan.

 

Ternyata di balik kisah itu, keduanya bertekad untuk “membeli kebebasan". Sekalipun bekerja dan punya gaji yang cukup, keduanya selalu hemat dan terbiasa menabung agar bisa pensiun lebih dini, lebih awal dari yang seharusnya. Selalu berusaha menempatkan uang sebanyak mungkin dan menyisihkannya untuk kehidupan setelah pensiun dini. "Setiap pound yang kami kumpulkan adalah satu langkah nyata untuk lebih dekat menuju kehidupan yang kami inginkan," kata Katie sant istri.

 

Dan akhirnya, "kebebasan" yang dimaksud pasangan suami istri ini adalah pensiun dini. Sang suami, Alan pensiun dini saat usia 40 tahun dan istrinya Katie pensiun di usia 35 tahun. Keduanya memutuskan berhenti bekerja setelah tabungan yang dikumpulkannya mencapai £1 juta (setara Rp24,1 miliar). Sebuah perencaaan pensiun yang keren!

 

Sementara itu, di negeri tercinta Indonesia, mungkin banyak pekerja justru ingin tetap bekerja selama mungkin. Alasanya karena faktor ekonomi, budaya, dan kondisi sistem perlindungan hari tua yang belum sepenuhnya memberikan rasa aman. Ada benarnya, sebab gaji atau pendapatan yang diperoleh setiap bulan lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, membiayai pendidikan anak, membantu keluarga besar, atau menghadapi kenaikan biaya hidup. Akibatnya, kemampuan untuk menabung atau berinvestasi secara konsisten jadi terbatas. Dana pensiun pun tidak punya. Bahkan hari ini, tidak sedikit pekerja yang “hantui” rasa takut karena tabungannya tidak akan cukup untuk membiayai masa pensiun yang bisa berlangsung puluhan tahun. Maka wajar, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti kerja.

 


Budaya kerja di Indonesia pun berperan membentuk cara pandang tersendiri. Bekerja sering kali dipandang bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas, status sosial, dan cara untuk tetap produktif. Banyak pekerja merasa pensiun dini bukanlah tujuan utama, melainkan pilihan yang hanya bisa dinikmati oleh pekerja yang berpenghasilan tinggi atau memiliki aset besar. Di samping itu, literasi keuangan mengenai konsep financial independence dan pensiun dini masih relatif rendah, sehingga strategi seperti hidup hemat, berinvestasi secara konsisten, dan merencanakan pensiun sejak usia muda belum menjadi kebiasaan yang luas. Istilahnya, selalu ada alasan untuk “tidak menabung” atau belum mau “menyisihkan” gaji untuk masa depan.

 

Apalagi di tengah gaya hidup dan perilaku konsumtif yang “bergengsi”, banyak orang cenderung lebih menghargai apa yang terlihat hari ini, senang terlihat dari apa yang dipakai dan ditampilkan. Orientasinya, serba manfaat sekarang dan hari ini. Bukan manfaat jangka panjang atau masa depan. Terlalu nafsu untuk melampiaskan gaya hidup. Katanya, ingin meningkatkan kualitas hidup, mengikuti gaya hidup, atau memenuhi ekspektasi sosial. Maka wajar, biaya hidup dan pengeluarannya meningkat seiring kenaikan pendapatan. Tiap tahun pekerja naik gaji, dan penghasilan bertambah tapi tingkat tabungan tidak ikut meningkat secara signifikan. Puluhan tahun bekerja tetap tidak punya dana pensiun. Makin paripurna, kombinasi keterbatasan gaji, budaya kerja yang adaptif, rendahnya literasi perencanaan pensiun, dan perilaku konsumtif akhirnya membuat banyak pekerja memilih terus bekerja selagi masih mampu, dibandingkan mengejar pensiun dini melalui penghematan dan akumulasi kekayaan sejak usia produktif seperti kisah alan dan Katie di Inggris.

 

Maka penting diingatkan, apalagi untuk diri sendiri. Hiduplah sederhana, gunakan uang sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan. Mulailah menabung dan miliki dana pensiun. Agar bisa pensiun dini dari pekerjaan, lalu menjalani hidup dengan sehat dan sejahtera. Sebab pensiun, cepat atau lambat pasti tiba. #YukSiapkanPensiun

 


Sabtu, 18 Juli 2026

Jangan Iri pada Jalan Hidup Orang Lain: Setiap Orang Sedang Menempuh Prosesnya Sendiri

Di era media sosial, kita begitu mudah melihat pencapaian orang lain. Ada yang sukses membangun bisnis di usia muda, memiliki rumah impian, berkeliling dunia, atau tampak menjalani hidup tanpa beban. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan apa yang terlihat di layar. Padahal, yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan mereka. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui perjuangan, kegagalan, pengorbanan, atau air mata yang mereka lalui sebelum mencapai titik tersebut. Karena itu, iri terhadap jalan hidup orang lain hanya akan menguras energi dan membuat kita lupa mensyukuri proses yang sedang kita jalani.

 

Sejatinya, bukan mudah atau sulitnya hidup yang menentukan nilai seseorang. Melainkan bagaimana seseorang bertumbuh di dalam setiap pengalaman yang dihadapinya. Kesulitan memang tidak otomatis menjadikan seseorang lebih baik. Ada orang yang menjadi putus asa karena cobaan, tetapi ada pula yang justru menjadi lebih tangguh, lebih bijaksana, dan lebih peduli kepada sesama. Semua bergantung pada pilihan untuk belajar dari setiap peristiwa. Karakter yang kuat lahir bukan karena hidup selalu keras, melainkan karena seseorang memilih untuk tetap bertumbuh di tengah berbagai tantangan.

 

Contoh nyata dapat kita temukan di sekitar kita. Seorang pegawai yang memulai karier dari posisi paling bawah mungkin harus bekerja sambil melanjutkan pendidikan pada malam hari. Bertahun-tahun ia hidup sederhana dan menahan keinginan demi meningkatkan kompetensi. Ketika akhirnya dipercaya menduduki posisi manajerial, orang lain hanya melihat hasil akhirnya, bukan perjalanan panjang yang telah ditempuh. Begitu pula seorang pelaku usaha kecil yang berkali-kali mengalami kerugian sebelum usahanya berkembang. Keberhasilan mereka bukan terjadi karena hidup lebih mudah, tetapi karena mereka tidak berhenti belajar dan terus memperbaiki diri setiap kali mengalami kegagalan.

 

Daripada menghabiskan waktu membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik menjadikan perjalanan mereka sebagai inspirasi. Fokuslah pada langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan setiap hari. Tingkatkan keterampilan, kelola keuangan dengan bijak, jaga kesehatan, bangun relasi yang positif, dan terus belajar dari setiap pengalaman. Ketika kita berhenti berlomba dengan kehidupan orang lain, kita akan memiliki lebih banyak ruang untuk menghargai pencapaian diri sendiri, sekecil apa pun itu. Setiap kemajuan adalah bukti bahwa kita sedang bergerak menuju versi terbaik dari diri kita.

 


Mulailah untuk tidak mudah iri dengan kehidupan orang lain. Lakukan hal-hal yang bisa kita kendalikan:

1.   Batasi kebiasaan membandingkan diri. Ingatlah bahwa media sosial lebih banyak menampilkan momen terbaik, bukan keseluruhan kehidupan seseorang.

2.   Fokus pada perngembangan diri. Bandingkan diri kita sendiri di enam bulan atau satu tahun yang lalu, bukan dengan pencapaian orang lain.

3.   Bersyukur setiap hari. Luangkan waktu untuk menuliskan tiga hal yang patut disyukuri. Kebiasaan sederhana ini membantu mengubah fokus dari kekurangan menjadi anugerah yang dimiliki.

4.   Jadikan orang sukses sebagai inspirasi, bukan ancaman. Pelajari kebiasaan baiknya dan terapkan sesuai kemampuan kita.

5.   Terus belajar dan bertumbuh. Setiap keterampilan baru, pengalaman baru, dan tantangan yang berhasil dilewati merupakan investasi yang akan membentuk masa depan kita sendiri.

 

Hidup itu bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat, melainkan perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Setiap orang memiliki garis waktu, tantangan, dan tujuan yang berbeda. Jangan iri pada jalan hidup orang lain, karena setiap orang sedang memikul beban yang mungkin tidak terlihat. Yang terpenting bukan seberapa cepat kita sampai di tujuan, tetapi apakah kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana, lebih tangguh, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat bagi sesama selama perjalanan itu berlangsung. Bersikaplah untuk diri sendiri!

Riset Taman Bacaan: Jumlah Pembaca 50% TBM di Bawah 30 Orang dan Koleksi Buku 58% TBM Tidak Memadai

Hasil evaluasi strategis menunjukkan bahwa Taman Bacaan Masyarakat (TBM) memiliki peran yang sangat penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap sumber belajar dan memperkuat budaya literasi. Sayangnya, kapasitas koleksi buku dan jumlah pembaca pada TBM di Indonesia masih menunjukkan ketimpangan. Sebuah penelitian taman bacaan terbaru berjudul “Evaluasi strategis: analisis kapasitas jumlah pembaca dan koleksi buku Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Indonesia” menyebutkan jumlah pembaca 50% TBM kurang dari 30 anak, 39% TBM memiliki 30-60 pembaca, dan hanya 11% TBM dengan jumlah pembaca lebih dari 70 anak. Sementara rasio ketersediaan koleksi buku 58% TBM tergolong "tidak memadai", 24% TBM "mungkin memadai", dan hanya 18% TBM yang koleksi bukunya “memadai". Hanya sebagian kecil TBM yang telah mencapai ambang kedaulatan koleksi buku yang ideal.

 

Terdapat paradoks dalam ekosistem literasi dan TBM saat ini, tingginya kunjungan (di mana 49% TBM dengan lebih dari 30 anak pembaca) tidak diimbangi oleh kedaulatan koleksi buku (hanya 18% yang memadai). Diperlukan integrasi sumber pendanaan TBM, baik dari pemerintah/dana desa atau CSR sektor swasta untuk memperkuat gerakan literasi nasional dan eksistensi TBM ke depannya. Dibutuhkan skalabilitas koleksi buku TBM yang lebih memadai, pentingnya hibah buku nasional, dan pemerataan akses berbasis wilayah untuk mengubah profil literasi Indonesia dari sekadar penyediaan "akses fisik" menjadi pencapaian "penguasaan materi" yang berkualitas. Penelitian yang dilakukan Syarifudin Yunus (Universitas Indraprasta PGRI) dan Ismarita Ramayanti (Universitas LIA) dengan pendekatan mixed methods secara evaluatif-deskriptif dengan melibatkan 172 pengelola TBM dari 27 provinsi di Indonesia ini telah terbit id jurnal ilmiah Aspirasi Vol. 4/juli 2026 DOI: https://doi.org/10.61132/aspirasi.v4i4.2841.

 


Dalam perspektif evaluasi strategis, jumlah pembaca dan koleksi buku merupakan dua indikator penting yang saling berkaitan dalam menilai efektivitas penyelenggaraan TBM. Semakin beragam, relevan, dan berkualitas koleksi yang dimiliki, semakin besar peluang TBM menarik serta mempertahankan minat masyarakat untuk berkunjung dan membaca. Sebaliknya, jumlah pembaca yang rendah dapat menjadi sinyal perlunya perbaikan strategi pengelolaan, pengembangan koleksi, promosi literasi, serta penguatan kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Jumlah pembaca dan koleksi buku merupakan landasan dalam merumuskan strategi penguatan TBM agar lebih efektif dalam mendukung peningkatan budaya baca dan pembelajaran sepanjang hayat di Indonesia. Salam literasi!