Jumat, 29 Mei 2026

Rezeki Lancar Bukan Cuma karena Kerja Keras

Banyak orang sukses tapi belum tentu berkah hidupnya. Kenapa? Karena gagal memperlakukan orang tua dengan baik. Dalam banyak ajaran agama, berbakti dan menghormati orang tua disejajarkan dengan ibadah utama. Sebagai investasi moral dan spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih menghargai orang lain. Maka bila ada yang kurang menghargai orang lain hari ini, bisa jadi sebelumnya tidak terbiasa menghargai orang tuanya.

 

Rezeki lancar itu bukan cuma karena kerja keras. Bukan pula karena kita pintar atau hebat. Tapi juga karena cara kita memperlakukan orang tua. Karena menyanyangi dan bersikap lemah lembut pada orang tua. Rela berkorban untuk orang tua yang telah merawat, mendidik, dan berkorban tanpa syarat sejak kita dilahirkan. Rezeki lancar, badan sehat dan hati tenang, sunggug karena restu dan doa orang tua yang memiliki kekuatan luar biasa. Karena orang tua, segala urusan jadi lancar.

 

Menghormati orang tua itu bukan sekadar sopan santun. Itu latihan mengendalikan ego. Dan banyak masalah hidup datang dari ego yang tidak pernah dilatih. Orang yang kasar ke orang tuanya biasanya jadi haus validasi, sulit dikoreksi, gampang bereaksi, dan merasa paling benar. Bila sulit mengakui kesalahan dan hanya bisa mencari kesalahan orang, sudah pasti karena tidak menghormati orang tua. Akibatnya, kondisi itu pelan-pelan akan merusak hidupnya sendiri. Rezeki seret, Kesehatan terganggu, dan sulit untuk tenang.

  

Sebaliknya, orang yang menghormati orang tua sering punya energi yang lebih tenang. Lebih sabar. Lebih sederhan. Lebih bisa dipercaya. Dan berujung, rezekinya sering datang lewat kepercayaan. Bukan cuma kerja semata.  

 


Jadi, bila ada orang yang baik-baik saja dalam hidupnya, Tanya deh, sudah pasti karena sangat menghormati dan berbakti pada orang tuanya. Terbiasa mengabari, mau mendengarkan,, selalu membantu tanpa diminta, dan tidak membentak saat emosi. Niat dan tekadnya, hanya ingin membuat senyum pada orang tuanya. Apapun alasan dan dalihnya.

 

Sungguh, ada hal kecil yang memberi dampak panjang dalam hidup. Yaitu selalu memperlakukan orang tua dengan baik. Sebab hidup yang baik biasanya lahir dari hati yang lembut, bukan ego yang besar.

 

Kamis, 28 Mei 2026

Bank Sinarmas Salurkan 220 Paket Daging Qurban ke Taman Bacaan di Bogor

Sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan, Bank Sinarmas menyalurkan 1 ekor sapi yang dibagikan kepada 220 keluarga pengguna layanan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (28/5/2027). Penyerahan daging qurban dilakukan oleh Narita Kusumawardhani (Corporate Communications Bank Sinarmas) didampingi Epul Saepulloh, Carlos, dan Ramdhan yang disaksikan oleh wali baca dan relawan serta warga Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Bogor.

 

"Hari ini Bank Sinarmas membagikan paket daging qurban ke 220 keluarga pengguna layanan dan warga sekitar TBM Lentera Pustaka. Kami senang bisa menjalankan amanat dan berbagi kepada sesama. Terima kasih, taman bacaan ini sudah menjadi jembatan penyalur Bank Sinarmas peduli masyarakat, Semoga jadi berkah kita semua" ujar Retno Tri Wulandari, Head of Corporate Secretary Bank Sinarmas melalui pesan singkatnya.

 

Pemotongan hewan qurban 1 ekor sapi setiap tahun dilakukan Bank Sinarmas di TBM Lentera Pustaka sebagai bentuk wujud syukur atas nikmat allah SWT, di samping untuk memperkuat kepedulian sosial dengan berbagi daging kepada sesama yang membutuhkan. Warga yang sudah memiliki kupon datang dan antre saat daging qurban dibagikan. Raut wajah senang dan ceria terpancar dari keluarga pengguna layanan TBM Lentera Pustaka yang menerima daging qurban. “Alhamdulillah, saya bisa menikmati daging qurban dari Bnk Sinarmas melalui TBM Lentera Pustaka. Semoga sehat dan berkah untuk tim B


ank Sinarmas atas kepeduliannya" ujar Vanessa, salah satu anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka.

 

Saat penyerahan secara simbolik sapi qurban Bank Sinarmas, Syarifudin Yunus (Pendiri TBM Lentera Pustaka) bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada Bank Sinarmas atas kolaborasi yang sudah terjalin selama ini. Daging qurban ini sangat bermanfaat untuk keluarga pengguna layanan taman bacaan yang sebagian besar berasal dari keluarga tidak mampu, sekaligus menjadi motivasi anak-anak untuk tetap rajin membaca di taman bacaan.

"Kita bisa lihat anak-anak dan para ibu yang tersenyum saat menerima daging qurban. Sungguh ini jadi motivasi warga untuk terus membaca. Terima kasih kepada Bu Retno dan Bank Sinarmas atas qurban sapi ke warga TBM Lentera Pustaka, Semoga jadi berkah dan ladang amal kita semua" kata Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka dalam pesan singkatnya.

 

Bertajuk "Idul Adha 1447 H - Senyum untuk Sesama", Bank Sinarmas dan TBM Lentera Pustaka menilai penyaluran hewan qurban ini sangat memotivasi anak-anak dan warga untuk lebih rajin membaca buku. Inilah kolaborasi nyata antara korporasi dan taman bacaan dalam menghadirkan senyum di masyarakat. Di samping memperkuat eksistensi TBM Lentera Pustaka dalam menjalankan 15 program literasi seperti taman bacaan, kelas prasekolah, berantas buta aksara, motor baca keliling, dan literasi digital yang melayani lebih dari 200 anak pembaca aktif. Salam literasi #BankSinarmas #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen

 



 

 

Rabu, 27 Mei 2026

Di Kantor, Orang Rajin Lebih Dihargai atau Ditambahi Kerjaan?

Ini cerita di dunia kerja. Ada pekerja yang dulu sangat antusias. Datang pagi dengan segudang ide. Mau belajar sampai kompeten. Mau ambil tanggung jawab pekerjaan yang belum selesai. Mau bantu rekan kerja bahkan lintas divisi sekalipun. Masih percaya, bahwa kantor bisa jadi tempat bertumbuh. Tapi sekarang, pelan-pelan berubah jadi orang yang bekerja seperlunya?

 

Bukan tiba-tiba, tentu ada sebabnya. Dimulai dari idenya sering diabaikan. Kontribusinya mulai diambil rekan kerja lainnya. Lemburnya dianggap biasa. Atasannya hanya muncul saat ada salah doang. Dan setiap kali berhasil, yang didengar hanya kalimat: “Ya memang itu tugas kamu”. Kalimat itu sederhana atau terlihat sepele. Tapi kalau diulang bertahun-tahun, efeknya besar baget buat pekerja.  

 

Faktanya, banyak kantor atau perusahaan kurang sadar. Bahwa semangat pekerja itu tidak hilang begitu saja. Semangat biasanya habis karena terkikis. Terkikis oleh beban yang tidak adil. Terkikis oleh janji yang tidak ditepati. Terkikis oleh evaluasi yang abu-abu. Terkikis oleh budaya “yang penting selesai” tanpa peduli siapa yang menanggung? Dan terkikis orang “politik kantor” yang tidak sehat.   

 

Di banyak kantor, pekerja yang paling bisa kerja justru sering jadi tempat menambal kekurangan sistem. Pekerja rajin sering jadi tumbal. Orangnya kurang? Dia yang bantu. Deadline mepet? Dia yang lembur. Tim lain kacau? Dia yang diminta turun. Ada masalah mendadak? Dia yang dicari untuk kasih solusi. Tapi saat bicara kompensasi, semuanya mendadak formal.  

 

Maka, ketika ada pekerja yang rajin akhirnya memutuskan untuk bekerja sesuai porsinya, jangan cepat-cepat menyebutnya tidak loyal. Mungkin dia sedang mengembalikan batas. Mungkin dia mulai merasakan kerja yang tidak adil. Mulai burnout dan capek sendiri di kerjaan. Capek mental dan fisik, sering dialami pekerja yang rajin.

 


Kita suka lupa. Loyalitas kerja yang sehat itu harus dua arah. Pekerja menjaga pekerjaan dan tanggung jawabnya. Kantor juga harus menjaga manusia yang mengerjakan pekerjaan itu. Kalau hanya satu pihak yang menjaga, lama-lama pasti timpang.  Solusinya bukan langsung resign.  Tapi mulai dari tiga hal ini: 1) catat beban kerja dan kontribusi, 2)  bicarakan prioritas dengan atasan, dan 3) tentukan batas: mana yang memang tanggung jawab kita, mana yang selama ini hanya kita tampung karena tidak enak?

 

Kalau tidak berubah juga, maka siapkan opsi.  Kadang quiet quitting (kebiasaan karyawan yang hanya bekerja sesuai porsi atau batas tanggung jawab yang tertulis di job description) bukan tanda orang tidak punya etos kerja. Kadang itu adalah tanda bahwa kantor terlalu lama menganggap dedikasi sebagai sesuatu yang gratis.

 

Pertanyaannya, apakah di kantor kamu, orang rajin lebih sering dihargai atau justru lebih sering ditambahi kerjaan? Maka bekerjalah sesuai porsi dan tahu batas, sambil siapkan dana pensiun. Karena cepat atau lambat, setiap pekerja akan berhneti bekerja. Entah karena di-PHK atau pensiun? #YukSiapkanPensiun

Nasihat Literasi: Perbanyak Melihat ke Bawah, Kurangi Melihat ke Atas

Ini hanya pesan literasi sederhana. Siapapun, kalau nggak mau mental terganggu, kurang-kurangin melihat stories atau update-an orang lain terutama yang berbau flexing. Perbanyak melihat yang di bawah kita supaya kita bersyukur dengan apa yang kita punya. Kurangin melihat yang di atas kita supaya kita jauh dari rasa iri, dengki dan hasad.


Kesehatan mental sering terganggu bukan karena hidup kita kurang, tetapi karena kita terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Di era media sosial, orang cenderung hanya menampilkan bagian terbaik hidupnya: liburan mewah, mobil baru, pencapaian karier, atau hubungan yang terlihat sempurna. Kalau kita terus-menerus melihat itu tanpa sadar, kita bisa merasa tertinggal, gagal, atau kurang berharga, padahal yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan mereka. Contohnya, seseorang yang sebenarnya hidup cukup dan punya keluarga harmonis bisa tiba-tiba merasa miskin hanya karena melihat temannya upload rumah baru atau jalan-jalan ke luar negeri setiap bulan.


Karena itu, memperbanyak melihat ke bawah bukan berarti merendahkan orang lain, melainkan melatih rasa syukur. Kita jadi sadar bahwa masih banyak orang yang sedang berjuang lebih berat dari kita. Misalnya, ketika kita mengeluh tentang pekerjaan yang melelahkan, ternyata ada orang lain yang sudah berbulan-bulan mencari kerja tetapi belum mendapat kesempatan. Saat kita merasa motor kita jelek, ada orang yang setiap hari harus berjalan kaki jauh untuk bekerja. Kesadaran seperti ini membuat hati lebih tenang dan membantu kita menghargai apa yang sudah dimiliki.


Sebaliknya, terlalu sering melihat ke atas tanpa kontrol bisa memicu iri, dengki, bahkan rasa tidak pernah puas. Kita mulai mengukur nilai diri berdasarkan pencapaian orang lain. Contohnya, seseorang yang awalnya bahagia dengan usahanya sendiri tiba-tiba merasa gagal setelah melihat teman seusia sudah punya bisnis besar atau penghasilan tinggi. Akhirnya, hidup berubah menjadi perlombaan yang tidak ada habisnya. Padahal setiap orang punya waktu, jalan hidup, dan perjuangan yang berbeda. Apa yang terlihat sukses di luar belum tentu berarti mereka tidak punya masalah.



Intinya, media sosial dan kehidupan orang lain sebaiknya dijadikan inspirasi secukupnya, bukan standar kebahagiaan. Fokus utama tetap pada perjalanan hidup sendiri. Bersyukur bukan berarti berhenti berkembang, tetapi tahu kapan merasa cukup agar hati tetap damai. Orang yang hatinya tenang biasanya bukan yang paling banyak hartanya, melainkan yang mampu menikmati apa yang sudah ada sambil tetap berusaha menjadi lebih baik tanpa sibuk membandingkan diri dengan orang lain.

Jadi, bila mau tetap sehat dan waras, kurangi melhiat stories atau update-an orang lain. Perbanyak melihat yang di bawah kita supaya kita bersyukur, kurangi melihat yang di atas kita supaya kita jauh dari rasa iri dengki dan hasad. Salam literasi!


Ada Tempat yang Terlalu Parah untuk Disinggahi sebagai Tempat Kerja

Seorang kawan mengeluh soal tempat kerja, tentang kantornya sendiri. Memang dia baru 4 tahun kerja di kantor itu, setelah resign dari kantor lamanya. Sekalipun belum lama terlalu lama, dia dikenal kompeten dan berdedikasi terhadap pekerjaannya. Tergolong Cuma kontribusi yang signifikan atas job desc yang jadi tanggung jawabnya. Tapi belakangan, hampir semua pekerjaan diserahkan kepada dia. Di situlah, dia merasa tempat kerjanya mulai tidak adil. Dia berpikir sendiri, sepertinya dia dimanfaatkan oleh atasan dan rekan kerjanya sendiri. Kini, dia sering mengeluh dan akhirnya capek sendiri. Begitulah relaitas di dunia kerja.

 

Banyak karyawan berpikir, semakin kompeten dirinya, semakin aman posisi kerjanya. Akhirnya semua kerjaan diambil. Semua masalah kantor coba diselesaikan, dan semua tanggung jawab diterima tanpa banyak menolak.  Dianggap loyal dan berdedikasi sehingga jadi capek sendiri. Padahal, di lingkungan kerja yang toxic, orang yang paling bisa sering jadi orang yang paling dibebani.  

 

Dalam kasus kawan saya tadi. Karena dia dianggap kuat. Dianggap mampu. Dan dianggap tidak bakal protes walaupun kerjaannya terus ditambah. Sementara rekan kerja lainnya Santai, dia bekerja keras mengerjakan target kerja setiap harinya. Lama lama, bukannya dihargai sebagai karyawan yang kompeten. Tapi dijadikan “penyelamat keadaan” setiap ada masalah di kantor.

 

Makanya penting banget untuk setiap karyawan. Belajar mengatur image dan energi di tempat kerja. Bukan berarti pura-pura bodoh atau jadi pemalas. Tapi jangan membiasakan selalu jadi orang pertama yang maju. Apalagi karyawan baru atau belum lama bekerja, jangan terlalu kelihatan jadi problem solver atau dikenal loyal tanpa ada batas. Selalu jadi orang yang menutupi semua kekacauan di kantor. Atau selalu jadi tempat “lempar” tanggung jawab pekerjaan yang bukan bagiannya.   

 

Jadi, jangan terlalu sering menunjukkan semua kemampuan di kerjaan. Jangan sampai dianggap punya kompetensi yang berlebihan. Sebab di tempat kerja toxic, orang kompeten malah jadi sasaran. Semakin kelihatan kuat menanggung beban, maka makin banyak kerjaan yang dikasih. Akhirnya, pulang paling malam dan kerja paling lelah. Sementara gaji sama, bahkan bisa lebih kecil dari yang rekan kerjanya yang terlihat lebih santai.  

 


Orang kerja itu butuh sehat dan waras. Karenanya, karyawan di mana pun harus fokus pada kerjaan yang menyehatkan. Tetap menjaga kewarasan di kantor. Kerja dan menjalankan tugas dengan baik, tapi tetap punya batas. Sebab semakin kita kelihatan tidak punya batas, semakin gampang orang lain bermain “politik kantor”. Orang lain yang manfaatin  kemampuan kita untuk kepentingan mereka. Kita capek sendiri, yang lainnya asyik-asyik saja. Dan yang paling penting, jangan ukur harga diri kita di kantor dari seberapa banyak orang yang memanfaatkan kita. Atau seberapa banyak orang memuji kita di kantor.

 

Di kantor mana pun, pasti atasan akan bilang “ini untuk kemajuan bersama di perusahaan. Kita capek kerja dan mental babak belur untuk jadi kuat dan tahan banting di kantor”. Tentu, masalahnya bukan di situ. Tapi sikap adil dalam pekerjaan dan bersih dari politik kantor yang berpotensi kotor, Apalagi di lingkungan kerja toxic, siapapun perlu cara dan strategi untuk  bikin batas profesional dalam menghadapi atasan yang subjektif dan rekan kerja toxic. Tekanan kerja boleh tinggi tapi mental harus tetap sehat. Kerjaan boleh banyak tapi “bukan dimanfaatkan”untuk kepentingan orang lain. Karena di dunia kerja, terlalu berguna tanpa batas sering bikin kita dijadikan “alat”, bukan dihargai sebagai manusia. Apalagi di kantor yang kasih gaji standar dan tidak punya dana pensiun, tetap saja masa depan belum pasti. Dan saat berhenti bekerja, akibat PHK atau pensiun, kita tetap tidak punya jaminan finansial dan akhirnya bergantung pada orang lain.

 

Kerja memang harus rajin dan loyal. Tapi harus diingat juga, ada tempat yang terlalu parah untuk disinggahi sebagai tempat kerja. #YukSiapkanPensiun

 

Selasa, 26 Mei 2026

Literasi Idul Adha, Bukan Hanya Soal Qurban

Sedari kecil, saya diajarkan Idul Adha hanya tentang tentang Nabi Ibrahim AS, tentang Nabi Ismail AS, dan tentang qurban. Tentang pengorbanan yang dibuktikan dengan menyembelih hewan qurban. Dari dulu cerita tentang Idul Adha kira-kira seperti itu. Maka ada yang menyebut sebagai Iudl qurban.

 

Namun semakin tua, semakin ke sini. Saya menyadari bahwa Idul Adha bisa jadi bukan hanya tentang qurban, bukan hanya tentang pengorbanan. Karena kata guru saya, sejatinya “setiap dari kita adalah Ibrahim. Dan setiap dari kita memiliki Ismail”. Nasihat itulah yang akhirnya “mengubah pandangan” saya terhadap Idul Adha.

 

Sebab Ismail tidak selalu berupa seseorang. Mungkin Ismail bisa “diganti” dengan kekayaan kita, pekerjaan kita, status kita bahkan ego yang kita miliki. Atau hal-hal yang sangat kita cintai hingga kita mulai percaya itu milik kita. Sesuatu yang akhirnya kita takut kehilangan. Apapun yang kita miliki, apalagi dari jerih payah kita sendiri sudah pasti akan takut kehilangan.

 

Dan berangkat dari pemikiran itulah,, saya memahami sesuatu yang lebih dalam dari idul Adha. Terbukti, Allah tidak meminta Nabi Ibrahim AS untuk berhenti mencintai Nabi Ismail AS. Allah SWT meminta untuk melepaskan perasaan kepemilikan atas dirinya. Untuk melepaskan, apa yang dianggap “Ini milik Saya”. Seorang anak sekalipun, bukan milik kita.

 

Ternyata apapun, sejak awal tidak ada yang benar-benar menjadi milik kita. Orang-orang yang kita cintai. Hal-hal yang kita kumpulkan. Apapun yang selama ini kita pegang teguh dan pertahankan, ternyata itu bukan milik kita. Segala sesuatu yang ada di kita adalah amanah. Dipercayakan kepada kita untuk sementara waktu. Dan itulah arti pengorbanan yang sebenarnya. Agar kita tetap ikhals melepaskan apapun yang ada dalam genggaman kita kepada-Nya.

 


Idul Adha hanya mengingatkan. Hanya Allah SWT yang memiliki segalanya. Manusia hanya mendapat titipan dari-Bya. Maka “Jika Engkau memintanya, saya akan melepaskannya. Karena ia selalu menjadi milik-Mu sebelum sampai kepadaku.” Idul Adha mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang berpegang teguh.Tapi iman juga menuntut penyerahan diri. Ada totalitas pengabdian hanya kepada-Nya. Bukan setengah-stengah, apalagi berjuang keras untuk “menggenggam” erat apapun yang dianggap miliki kita.

   

Idul Adha ternyata bukan hanya semangat pengorbanan. Tapi menuntut keikhlasan dan kepedulian selama masih hidup di dunia. Agar apapun yang dititikan dapat membawa keberkahan, kedamaian, serta kebahagiaan. Dan yang terpenting, untuk selalu berparsangka baik kepada Allah dan kepada manusia. Seperti Nabi Ibrahim AS yang “mempersilakan” anaknya Nabi Ismail AS disembelih atas perintah Allah SWT

 

Semoga Allah SWT membantu kita untuk mengenali “Ismail” kita sendiri. Sehingga Allah memberi kita kekuatan untuk tidak pernah menempatkan apa pun di atas-Nya di dalam hati kita. Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H. 

Senin, 25 Mei 2026

Literasi Kehidupan: Yang Bikin Berat Itu Bukan Masalahnya tapi ...

 

Terkadang yang membuat sesuatu terasa besar itu bukan masalahnya. Tapi pikiran kita yang bikin rumit sendiri. akhirnya jadi stress, gelisah dan negative thinking.

 

Kan gampang ya, apapun dan di mana pun.

Kalau meja kerja kita berantakan, tinggal rapikan.

Kalau kritikannya hanya menjatuhkan, tinggal abaikan.

Kalau nggak minta pendapat kita, tinggal diam.

Kalau nggak cocok, tinggal hindari.

Kalau obrolannya terasa garing, tinggal alihkan.

Kalau jalan lewat depan orang, tinggal bilang permisi.

Kalau konten yang muncul nggak relevan, tinggak skip

Kalau dirasa nggak butuh produknya, jangan dibeli.

Kalau suasananya nggak bikin tenang, tinggal pergi.

Kalau tubuh kita sudah terasa lelah, tinggal istirahat.

Kalau berisik, tingga cari tempat sepi.

Kalau waktu terbuang percuma, tinggal baca buku.

Kalau nggak punya uang, tinggal zikir dan ibadah.

Dan kalau pusing lagi nggak kuat ngejalanin, tinggal ngopi aja.

 

Sekali lagi, kadang yang membuat sesuatu terasa berat dan besar bukan masalahnya. Tapi pikiran kita yang terlalu lama memeluknya.

 

Coba deh, kendalikan pikiran kita sendiri. Dan mulai dengan yang positif dan baik-baik saja. Sederhana kan …

 


Pekerja Gelisah 3 Tahun Lagi Mau Pensiun, Tidak Siap Nggak Punya Gaji Lagi

Kawan saya lagi gelisah, karena 3 tahun lagi mau pensiun. Masa kerjanya bisa mencapai 22 tahun saat pensiun nanti. Gaji sekitar Rp 20 jutaan, okelah. Tapi kenapa bimbang ya? Dia bertanya, gimana cara mempersiapkan masa pensiun?

 

Saya hanya bertutur sederhana. Bahwa pensiun itu pasti datang. Cepat atau lambat, siapapun pasti akan berhenti bekerja. Dan saat pensiun, banyak pekerja bukan takut karena rambutnya memutih. Atau fisiknya mulai melemah. Bukan pula soal post power syndrome. Tapi dalam banyak kasus pensiunan, ketakutan jelang pensiun adalah gagal menjawab satu pertanyaan: "Kalau penghasilan atau gaji berhenti saat pensiun, saya harus mengandalkan apa untuk tetap bisa jaga standar hidup?"  

 

Sudah tentu, saat masih bekerja, banyak masalah bisa diselesaikan saat tanggal gajian tiba. Biaya sekolah anak? Ada gaji. Tagihan datang? Tunggu pas gajian. Kebutuhan mendadak? Ada gaji. Anak butuh bantuan? Nanti pas gajian. Mau beli barang mahal? Nanti habis gajian. Kita sering nggak sadar, tenangnya hidup itu hanya bergantung dari gaji. Saat selalu ada pemasukan rutin setiap bulan.

 

Hingga suatu hari nanti, rutinitas pemasukan atau gaji itu berhenti. Seperti kawan saya yang 3 tahun lagi mau pensiun. Yang dulu gaji selalu datang dan ditransfer setiap bulan, kini tidak lagi ada. Dan untuk pertama kalinya, harus berhitung lebih keras daripada biasanya. Menghitung antara sumber keuangan dari mana dan berapa biaya hidup yang harus ditanggung?

  

Ini bukan soal kurang bersyukur atau menikmati masa bekerja. Tapi soal biaya hidup yang tetap berjalan. Hidup yang tetap ada risiko. Harga kebutuhan pokok naik, biaya kesehatan di usia tua pun makin mahal. Anak masih butuh biaya. Orang tua masih butuh bantuan. Sementara standar hidup harus tetap dijaga sekalipun sudah pensiun. Cuma masalahnya, dari mana uangnya, kan sudah tidak punya gaji lagi saat pensiun? Itulah kondisi yang bikin pensiunan stres bahkan takut. Fakta hari ini, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Sebabnya, karena takut nggak punya pemasukan atau gaji lagi.

 

Ironisnya, banyak pekerja paham masa pensiun pasti tiba. Tapi banyak pekerja tidak mau mempersiapkannya. Terlalu sedikit pekerja yang sadar dan mau menabung untuk biaya hidup setelah pensiun. Kita sering sibuk menghitung kapan berhenti bekerja, kapan pensiun? Tapi kita lupa menyiapkan bagaimana uang bisa terus bekerja untuk kita di saat pensiun?   

 


Setelah ditelisik, ternyata masa pensiun yang tenang bukan karena punya uang paling banyak. Bukan soal jumlah harta dan kekayaan yang dimiliki. Tapi tentang punya arus kas yang cukup untuk menjalani hidup setelah pensiun. Punya tabungan atau dana pensiun yang bisa “menggantikan” fungsi gaji, sebagai pemasukan setiap bulan. Lalu dikendalikan untuk memenuhi kebutuhan dan biaya hidup bulanan. Tenang di masa pensiun itu akibat tidak ada lagi rasa cemas setiap hari di usia tua. Karena tetap ada sumber pemasukan sata pensiun. Makanya, ketenangan di masa pensiun itu mahal dan sangat menyehatkan. Sayangnya, banyak pekerja tidak siap pensiun. Bahkan 55% pekerja di Jabodetabek tidak yakin bisa memenuhi biaya hidup di hari tua, tidak punya gambaran di masa pensiun?  (Silakan baca penelitian Syarifudin Yunus berjudul “Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia” di jurnal  JiMaKeBiDI (Agt 2025) - https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776).

 

Tidak ada jalan pintas untuk bisa tenang dan sejahtera di masa pensiun. Kabar baiknya, selama kita masih diberi kesehatan dan masih mau menyadari, selalu ada peluang untuk memperbaiki keadaan. Selalu ada cara untuk mempersiapkan diri untuk pensiun yang lebih berkualitas. Bersiap untuk pensiun dari sekarang dan jangan ditunda lagi.

 

Mulailah dari hal sederhana. Catat pengeluaran yang tidak perlu, rapikan alokasi gaji dengan bijak. Pahami ke mana uang pergi. Cari sumber pemasukan tambahan yang sesuai kemampuan. Dan yang penting, mulailah menabung di dana pensiun atau DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Karena dana pensiun adalah satu-satunya produk keuangan yang didedikasikan untuk masa pensiun atau hari tua, saat tidak bekerja lagi. Jangan pernah merasa terlalu tua untuk belajar hal baru. Jangan “berdiam diri” bila tahu masa pensiun harus dipersiapkan.

 

Sebab, masa pensiun seharusnya menjadi fase menikmati hasil perjalanan selama bekerja. Bukan fase hidup dalam ketakutan atau kegelisahan. Usia yang bertambah adalah hal yang wajar. Tetapi ketenangan finansial adalah sesuatu yang perlu dipersiapkan. Ketahuilah, yang bikin masa pensiun terasa mencekam itu bukan usia bertamabah atau rambut memutih. Tapi cash flos yang berantakan. Tidak punya alokasi yang ditabung untuk masa pensiun, saat tidak bekerja lagi. #YukSiapkanPensiun

 

 

 


Dihadiri 106 Anak Pembaca Aktif, PNM Peduli Peringati Hari Buku Nasional di TBM Lentera Pustaka

Sebagai bentuk kepedulian sosial (Corporate Social Responsibility) dan memperingati Hari Buku Nasional, Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui PNM Peduli menggelar "Cinta Pustaka" di TBM Lentera Pustaka Kab. Bogor (24/5/2026). Dihadiri 106 anak membaca aktif TBM dan Kepra sebagai bagian kampanye cinta buku dan aktivitas membaca di kalangan anak-anak usia sekolah. Turut hadir 6 orang dari PNM Peduli dan 6 Relawan TBM Lentera Pustaka.

 

Adapun kegiatan Hari Buku Nasional dari PNM Peduli adalah 1) lomba membaca puisi, 2) kegiatan mengungkapkan kembali isi buku bacaan, dan 3) mewarnai gambar bagi anak-anak kelas prasekolah. Di akhir kegiatan, PNM Peduli membagikan hadiah kepada peserta lomba dan bingkisan snack kepada ibu-ibu pengantar anak TBM dan relawan TBM Lentera Pustaka.

"Kami senang bisa memperingati Hari Buku Nasional di TBM Lentera Pustaka. Selain jumlah anaknya banyak, tempatnya nyaman untuk kegiatan literasi. Semoga kami dapat berkunjung kembali dalam memotivasi kegiatan baca di taman bacaan ini" ujar Pimpinan PNM Peduli dalam sambutannya.

 

Kegiatan CSR Hari Buku Nasional menjadi bukti komitmen PNM Peduli terhadap pendidikan anak. PNM Peduli adalah program tanggung jawab sosial (CSR) dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) yang fokus pada tiga pilar utama: pendidikan, lingkungan, dan sosial. Program ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.

 


Pemilihan TBM Lentera Pustaka sebagai lokasi CSR Hari Buku Nasional PNM Peduli karena TBM Lentera Pustaka dikenal aktif dan konsisten dalam menjalankan program literasi. Per Desember 2025 lalu, TBM Lentera Pustaka memiliki jumlah pengguna layanan mencapai 360 orang per minggu, yang terdiri dari 223 anak pembaca aktif, 70 ibu-ibu pengantar anak ke TBM, 6 warga belajar berantas buta aksara, 14 yatim binaan, 13 jompo binaan, dan 40-an anak pembaca motor baca keliling. Dengan dukungan 18 relawan aktif, TBM Lentera Pustaka menjalankan 15 program literasi seperti TABA (TAman BAcaan), GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA), KEPRA (Kelas PRAsekolah), 4) YABI (YAtim BInaan), 5) JOMBI (JOMpo BInaan), RABU (RAjin menaBUng), LITDIG (LITerasi DIGital), LITFIN (LITerasi FINansial), dann MOBAKE (MOtor BAca KEliling). Dengan dukungan lebih dari 12.000 koleksi buku bacaan, TBM Lentera Pustaka beroperasi 6 hari dalam seminggu (kecuali Senin).

 

"Atas nama TBM Lentera Pustaka, kami ucapkan terima kasih kepada PNM Peduli. semoga kegiatan ini menjadi motivasi anak-anak kami untuk terus membaca di tengah gempuran era digital" kata Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka yang diwakili Alwi, Koordinator Relawan TBM Lentera Pustaka dalam sambutannya.

 

Maka teruslah membaca, karena buku segalanya dapat dipelajari. Salam literasi!

 


Tegaskan Pentingnya Kompetensi SDM, LSP Dana Pensiun Uji Sertifikasi KKNI 44 Praktisi Dapen

Sebagai bukti komitmen tingkatkan kompetensi SDM dana pensiun sesuai standar nasional, LSP Dana Pensiun menggelar Uji Sertifikasi KKNI Dana Pensiun yang diikuti 44 peserta dari jenjang Jenjang 4, 6C, dan 7 di Jakarta (25/5/2026).  Dengan melibatkan 12 asesor kompetensi berlisensi BNSP seperti: Inderahadi K, Arif Hartanto, Ganis Widio Ananto, Edy Rahardja, Asep Saepurohman, Purwaningsih, R. Herna Gunawan, Satino, Sri Murtiningsih, Syarifudin Yunus, Widiyanto Fajar T, dan Yuni Pratikno, asesmen sertifikasi KKNI Dana Pensiun dijalankan sesuai dengan SEOJK 12/2025 tentang sertifikasi kompetensi kerja bagi dana pensiun dan POJK 34 Tahun 2024 tentang Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada Dana Pensiun.

 

Selain untuk meningkatkan profesionalisme, uji sertifikasi KKNI dana pensiun juga menjadi bagian dalam meningkatkan kepercayaan publik atas pengelolaan dana pensiun di Indonesia. Peserta uji sertifikasi KKNI kali ini berasal dari 33 DPPK/DPLK seperti Dapen Bank Negara Indonesia, Dapen Tigaraksa Satria, Dapen BPD Jawa Barat dan Banten, Dapen LIA, DPLK Syariah Bank Muamalat, DPLK Asuransi Jiwa Taspen, Dapen BPD Sulawesi Tengah, Dapen PLN, Dapen Antam, Dapen JIHD, Dapen Bank Mandiri, Dapen Pupuk Kaltim, Dapen Syariah Muhammadiyah, Dapen GPIB, DPLK BPD Jawa Tengah, Dapen Kalbe Farma, Dapen BPD Jambi, Dapen Pelindo Purnakarya, Dapen Jasa Raharja, Dapen BPD Sumatera Utara, Dapen Tirta Nusantara, DPLK Manulife Indonesia, Dapen Ukhuwah UMI, Dapen Semen Gresik, Dapen Bank Mandiri Satu, Dapen Bank Mandiri Dua, Dapen ASDP, Dapen Bank Mandiri Empat, Dapen Angkasa Pura I, Dapen Angkasa Pura II, Dapen BPD Nusa Tenggara Timur, Dapen Universitas Trisakti, dan Dapen Bank Indonesia Iuran Pasti. Melalui uji sertifikasi KKNI dana pensiun, LSP Dana Pensiun menjalankan perannya untuk memastikan standar kompetensi, di samping kredibilitas mutu praktisi dana pensiun di Indonesia. Sebab KKNI dana pensiun menjadi cerminan standar pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang dipersyaratkan regulasi.

 

"Uji sertifikasi KKNI dana pensiun mengacu pada POJK 34/2024 dan menjadi fondasi profesionalisme SDM dana pensiun. Karena itu, LSP Dana Pensiun hari ini melakukan asesmen uji kompetensi dan sertifikasi KKNI Dana Pensiun yang diikuti 44 peserta dari jenjang 4, 6C, dan 7" ujar Edi Pujiyanto, Direktur LSP Dana Pensiun di sela asesmen uji sertifikasi KKNI Dana Pensiun hari ini.

 

Melalui uji sertifikasi KKNI, LSP Dana Pensiun berkomitmen untuk mengoptimalkan kompetensi SDM dana pensiun. Sertifikasi berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) memastikan bahwa pengurus, pengelola, dan pelaksana dana pensiun memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang terstandar, baik dari regulasi dana pensiun, investasi - manajemen risiko, dan tata kelolanya. Tidak hanya berpengalaman, tapi teruji secara objektif dengan kualifikasi yang ditetapkan OJK dan BNSP. Melalui asesmen sertifikasi KKNI, setiap SDM dana pensiun divalidasi dan diwawancara atas makalah atau kinerja yang dijalankan sesuai standar kompetensi nasional. Proses asesmen dilakukan secara objektif, adil, dan valid sesuai sistem dan prosedur pengembangan kualitas SDM yang berkelanjutan untuk melindungi peserta dana pensun yang ada.

 


Untuk diketahui, saat ini LSP Dana Pensiun memiliki 29 asesor kompetensi berlisensi BNSP untuk melaksanakan dan memantau realisasi pengembangan kualitas SDM dana pensiun. LSP Dana Pensiun merupakan satu-satunya LSP di bidang dana pensiun yang terdaftar di OJK sesuai dengan Surat Tanda Terdaftar Lembaga Sertifikasi Profesi Sektor Jasa Keuangan No: STTD.LSP-03/MS.1/2025 tertanggal 23 Juli 2025 dan Keputusan Ketua BNSP No: KEP.0015/BNSP/I/2023. Untuk informasi dan program LSP Dana Pensiun dapat disimak melalui: https://lspdapen.com/.

 

Kompetensi sesuai KKNI bidang Dana Pensiun diterapkan semata-mata untuk a) pelaksanaan pendidikan atau pelatihan, b) pelaksanaan sertifikasi kompetensi, c) pengembangan sumber daya manusia, dan d) pengakuan kesetaraan kualifikasi. Melalui KKNI bidang Dana Pensiun diharapkan SDM dana pensiun mampu meningkatkan kompetensinya, sehingga 1) mengetahui ukuran kemampuan yang dimiliki, 2) dapat meningkatkan akses untuk mengembangkan diri, dan 3) menambah produktivitas kerja. Selain berkomitmen dalam mengoptimalkan KKNI dana pensiun, LSP Dana Pensiun terus melakukan koordinasi untuk memastikan kompetensi SDM di sektor dana pensiun sesuai standar nasional dan standar profesionalisme dalam pengelolaan dana pensiun. Salam Kompeten!



Sabtu, 23 Mei 2026

Rindu Dalam Kata Hangat Dalam Jumpa Angkatan 90 PBSI UNJ

Alumni Angkatan 90 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKABINDO 90) menggelar "Silaturahmi dan Temu Kangen - Rindu Dalam Kata Hangat Dalam Jumpa" dalam balutan kebersamaan yang indah pada 23-24 Mei 2025 di Villa Hers Pamijahan Gn Halimun Salak, milik Ajie salah atau alumni Angkatan 90. Diikuti 30 alumni Angkatan 90 yang dikomandoi Keyis, Widia, dan Aji, acara ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan setelah berjuang bersama menyelesaikan studi 36 tahun lalu di kampus IKIP Jakarta. 

 

Tujuan utama acara temu kangen adalah untuk mempererat tali silaturahmi, melepas rindu, dan bernostalgia bersama orang-orang terdekat setelah lama tidak berjumpa

 

Angkatan 90 IKABINDO FBS UNJ yang hadir antara lain: Keyis, Upi, Nunik, Kosasih, Nurhayati Ray, Farichin, Suprianto, Aji, Isye, Tanti, Martina, Rini, Widiyati, Trie Alfiatun, Widia, Lina, Anita, Mimin, Tati, Agustus, Risma, Maman, Marjono, Yully, Sukriyanto, Endah Lina, Euis Kusmawati, Niken, Suji, Wawa, Erti, dan Agus Triyanto. Ikut hadir pula Syarif dan Mujiono dari Angkatan 89.

 

 

 

Berangkat dari Kampus UNJ Rawamangun, setelah perjalanan 2 jam, rombongan rileks sejenak sebelum main game, menikmati suasana outdoor. Sambil menikmati kopi dan snack sore Angkatan 90 PBSI FBS UNJ ngobrol nostalgia masa-masa kuliah dan ditutup barbaue-an diiringi angin malam nan sejuk. Rencananya, esok hari melakukan tracking di area Lembah Citepus.

 

 

Masa-masa belajar mengenal fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik menjadi perekat di antara Angkatan 90 yang kini sebagian besar berkiprah di dunia pendidikan. Saling bercerita kabar, kondisi keluarga hingga mengenang momen seru selama kuliah mampu melepas lamanya rasa tidak bertemu selepas kuliah dan bekerja.

 


"Alhamdulillah, kita semua silaturahim dalam keadaan sehat wal afiat. Selain melepas rindu, acara ini juga bernostalgia masa kuliah setelah lama tidak berjumpa. Semoga di usia seperti sekarang kita bisa lebih banyak silaturahim sambil bernostalgia dalam nuansa yang positif dan penuh tawa" ujar Suprianto, Angkatan 90 yang datang dari Banyumas.

 

Temu kangen Angkatan 90 ini  jadi momen silaturahim yang tidak terputus sekaligus mengenang masa-masa menimba ilmu di kampus IKIP Jakarta Rawamangun. Berkisah tentang masa-masa kuliah dan menjalani pertemanan dalam bingkai kebersamaan. 

 

"Wow, seneng banget bisa ketemu teman kuliah di Bahasa Indonesia IKIP Jakarta, sehat-sehat ya semua. Insya Allah kita tetap silaturahim" kata Farichin yang datang dari Tegal.

 

Bagi Angkatan 90 PBSI IKIP Jakarta, pertemanan adalah hal yang menyenangkan, bukan membebankan. Dan di usia yang tidak lagi muda, silaturahmi menjadi penting dilakukan. Semoga sehat selalu semuanya, alumni Angkatan 90 PBSI FPBS IKIP Jakarta. Bravo the story of Rawamangun!

 


 

 

Jumat, 22 Mei 2026

Literasi Pertemanan: Teman yang Baik Itu menenangkan, Bukan Melelahkan

Tidak semua teman hadir untuk membuat hidup lebih ramai. Ada teman yang justru membuat hati lebih tenang, pikiran lebih ringan, dan langkah terasa lebih kuat. Teman yang baik tidak selalu memberi solusi hebat. Tapi tahu cara mendengarkan tanpa menghakimi. Taman yang tidak membuat kita lelah menjadi diri sendiri. Tidak memaksa kita terlihat sempurna hanya agar diterima.

 

Teman harus pilih yang baik. Seseorang yang kehadirannya membuat kita merasa nyaman, didengar, dan diterima apa adanya. Dalam pertemanan yang sehat, kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk disukai. Teman seperti ini mampu memberi rasa tenang karena hadir tanpa banyak drama, tidak suka menghakimi, dan menghargai batasan maupun perasaan kita. Bersama teman yang baik, kita bisa merasa lebih ringan setelah bercerita, bukan justru semakin tertekan.

 

Sebaliknya, pertemanan yang melelahkan sering kali dipenuhi tuntutan emosional, persaingan, atau sikap yang membuat kita kehilangan energi. Misalnya, ada teman yang hanya datang saat membutuhkan bantuan, tetapi menghilang ketika kita sedang kesulitan. Ada juga teman yang suka membanding-bandingkan hidup, meremehkan pencapaian, atau membuat kita merasa bersalah jika tidak selalu tersedia untuk mereka. Hubungan seperti ini perlahan bisa membuat mental lelah karena lebih banyak tekanan daripada ketenangan dalam pertemanan.

 


Teman itu menenangkan, bila mau mendengarkan cerita tanpa langsung menghakimi, memberi dukungan saat kita gagal, dan tetap menghargai keputusan hidup kita meskipun berbeda pandangan. Ketika kita sedang stres karena pekerjaan, ia tidak menambah beban dengan komentar negatif, tetapi justru berkata, “Istirahat dulu, kamu sudah berusaha sebaik mungkin.” Sikap sederhana seperti itu menunjukkan bahwa teman yang baik bukan yang selalu ada setiap saat, melainkan yang mampu membawa rasa aman dan ketenangan dalam hidup kita.

 

Kita pasti punya banyak teman, bahkan bertemu banyak orang. Namun yang paling berharga adalah mereka yang tetap hadir saat keadaan sedang tidak baik-baik saja. Mau mengingatkan kita kepada kebaikan, menjaga lisan, dan membawa hati lebih dekat kepada Allah. Karena pertemanan yang sehat bukan tentang siapa yang paling sering bersama, tapi siapa yang membuat hati tetap damai setelah bertemu.

 

Jadi, teman yang baik Itu menenangkan, bukan melelahkan!

Nasihat Literasi: Jujur Dihukum, Bohong Dihadiahi

Ada yang bilang ini zaman edan. Ketika orang jujur malah dihukum, sedangkan orang bohong diberi hadiah. Katanya rakyat sejahtera dan ekonomi tumbuh, nyatanya rakyat tetap susah. Katanya swasembada tapi harga sembako naik. Begitu pula dalam kehidupan sosial sehari-hari. Orang yang mengejar "citra" dipercaya, justru orang objektif disingkirkan. Dan mungkin banyak lagi contohnya. 

 

Sebuah ironi dalam kehidupan sosial: sering kali orang yang jujur justru menghadapi banyak kesulitan, sementara kebohongan kadang terlihat lebih menguntungkan dan lebih cepat membawa seseorang pada kenyamanan atau keuntungan tertentu. Suka tidak suka, orang yang jujur harus siap menghadapi risiko ditolak, dimusuhi, atau kehilangan sesuatu karena ia memilih mengatakan kenyataan apa adanya. Sebaliknya, kebohongan sering terasa lebih aman karena mampu menyenangkan banyak pihak dan menjaga citra di depan orang lain.

 

Dari situlah kemunafikan tumbuh. Banyak manusia akhirnya memilih memakai topeng, mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati dan pikirannya, hanya agar diterima lingkungan atau memperoleh keuntungan tertentu.

 


Namun meskipun kebohongan kadang terlihat menang dalam jangka pendek, hidup yang dibangun di atas kepalsuan perlahan akan menguras ketenangan batin. Sebab kejujuran mungkin berat dan menyakitkan, tetapi ia memberi manusia kebebasan untuk hidup tanpa terus-menerus menyembunyikan dirinya sendiri di balik kepura-puraan.

 

Hidup dalam kebohongan dan kepura-puraan. Karena banyak orang takut kehilangan simbol. Sebab di zaman begini, moral bukan lagi soal benar atau salah. Tapi soal citra dan pujian yang diharapkan. Topeng lebih dipercaya daripada tindakan. Bahkan ayat lebih sering dipakai buat tameng daripada cermin. Dan lucunya, orang paling marah waktu kemunafikan dibongkar biasanya orang yang hidup dari kemunafikan itu sendiri.


Faktanya, orang jujur dihukum, orang bohong diberi hadiah. Jadi, hati-hati dan tetaplah mawas diri. Agar tidak tertipu dengan dunia dan segala kebohongannya. Sebab hari ini, ada yang baik tapi dibilang tidak baik dan ada yang jahat tapi pura-pura baik.