Rabu, 23 September 2026

Buku Goodbye Things: Tak Harus Memiliki Banyak untuk Menemukan Kebahagiaan Sejati

Salah satu buku yang pernah saya baca dan mampu mengubah prinsip hidup adalah “Goodbye, Things” karya Fumio Sasaki.  Buku yang mengajarkan pentingnya melepaskan keterikatan kita pada benda dan citra diri yang melekat. Sasaki mengingatkan kita sering menyimpan barang bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena takut kehilangan, merasa sayang, atau berharap suatu saat akan menggunakannya. Maka pesannya, jangan terikat pada apa yang dimiliki. Agar kita memiliki ruang hidup yang lebih sederhana dan menyadari bahwa kebahagiaan tidak otomatis bertambah seiring bertambahnya barang.

 

Buku itu mengajak kita untuk mengenali dan mengetahui apa yang benar-benar penting bagi kita. Ketika barang-barang yang tidak relevan disingkirkan, perhatian dan energi mental juga menjadi lebih ringan. Kita tidak lagi terlalu sibuk merawat, mencari, membeli, atau membandingkan diri melalui benda yang kita miliki. Begitu juga dalam pergaulan, pada akhirnya saya memilih lingkungan yang benar-benar pantas dan layak untuk digauli, Selebihnya biasa saja dan tidak terjebak pada euforia, Cukup menjaga kesederhanaan dalam hidup, termasuk urusan pikiran, perhatian, dan cara kita menjalani hidup.

 

Buku “Goodbye, Things” justru membuat saya untuk berhenti bertanya tentang “Apa yang perlu saya tambah?”. Tapi bertanya balik tentang “Apa yang perlu saya kurangi?” Dalam pekerjaan, misalnya, kita bisa terus menambah proyek, target, ide, rapat, relasi, dan tanggung jawab karena semuanya terlihat penting. Padahal, ada kemungkinan sebagian justru membuat energi terpecah. Prinsip Goodbye, Things bisa diterapkan sebagai latihan untuk memilah: mana yang benar-benar memberi nilai, mana yang hanya menjadi beban, dan mana yang sebenarnya sudah waktunya dilepaskan.

 


Intinya, hidup yang lebih bermakna tidak selalu membutuhkan lebih banyak—kadang membutuhkan keberanian untuk melepaskan. Saat membaca buku itu, saya seakan disuruh melakukan refleksi kecil tentang “Apa yang sedang saya pertahankan karena memang penting, dan apa yang saya pertahankan hanya karena sudah terbiasa? Ini berlaku untuk barang, pekerjaan, kebiasaan, ambisi, bahkan cara lama dalam memandang diri sendiri. Dengan mengurangi yang tidak esensial, kita bukan kehilangan sesuatu. Tapi justru mendapatkan kembali ruang, fokus, waktu, dan kebebasan untuk memberi perhatian pada hal yang benar-benar kita anggap penting.

 

Akhirnya, dari buku “Goodbye, Things”. Saya menjadi lebih fokus pada hal-hal yang esensial. Bukan tentang hidup sengsara dengan sedikit barang, tapi tentang menyingkirkan gangguan agar bisa fokus pada hal yang benar-benar penting. karena di situ, saya bisa merasakan akan arti bersyukur dan ketenangan. Sebab hanya ruang yang bersih dan lapang yang mampu menciptakan ketenangan dan kejernihan di dalam hari dan pikiran.

Selasa, 22 September 2026

Kritik Bukan Serangan: Ketika Pemimpin Perlu Mendengar Suara yang Berbeda

Presiden Prabowo Subianto menyatakan sejumlah pakar yang disebutnya “saking pintarnya jadi goblok” patut dikritisi. Dalam konteks pidatonya, Presiden sedang mempersoalkan kritik yang menurutnya telah berubah menjadi tuduhan atau fitnah dan menekankan pentingnya intellectual honesty. Jadi, secara substansi, Presiden memiliki hak untuk membantah kritik yang dianggap keliru atau tidak berbasis fakta. Namun, pilihan kata “goblok” itu yang kemudian menjadi sorotan karena yang dipersoalkan bukan hanya isi kritik, melainkan juga cara seorang kepala negara merespons orang-orang yang menyampaikan kritik.

 

Persoalan pentingnya, Presiden bisakah membedakan kritik terhadap gagasan atau serangan terhadap orang yang mengemukakan gagasan. Pakar, profesor, akademisi, maupun pengamat tentu tidak selalu benar. Pendapat atau kritik para pakar itu tetap harus diuji dengan data, metodologi, fakta, dan argumentasi. Demikian pula pemerintah tidak otomatis benar hanya karena memiliki kewenangan mengambil keputusan. Ketika sebuah program atau kebijakan yang berdampak luas kepada masyarakat seperti MBG atau Kopdes, kritik justru diperlukan dan dapat menjadi mekanisme untuk menemukan kelemahan, mengantisipasi risiko, dan memperbaiki implementasinya. Karena itu, kritik yang keliru dapat dibantah dengan data, sedangkan tuduhan yang tidak benar dapat diklarifikasi atau dikoreksi. Tanpa harus merendahkan kapasitas intelektual orang yang menyampaikan kritiknya.

 

Menariknya, ada kontras dalam komunikasi Presiden sendiri. Pada Juni 2026, ketika berbicara di hadapan guru besar, rektor, ilmuwan, dan peneliti, Prabowo menyebut para guru besar sebagai “orang-orang terpintar yang dimiliki bangsa Indonesia” dan menekankan pentingnya gagasan serta inovasi akademik bagi kemajuan bangsa. Karena itu, ketika pada kesempatan lain muncul istilah yang merendahkan terhadap sebagian pakar, publik wajar mempertanyakan bagaimana seharusnya hubungan antara kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan kritik itu dibangun. Kritik terhadap pemerintah semestinya tidak diperlakukan sebagai permusuhan. Sebaliknya, pemerintah juga berhak meminta kritik yang disampaikan secara jujur, berbasis data, dan bertanggung jawab. Dua hal itulah yang seharusnya berjalan bersamaan. Diberi atau meminta kritik secara terbuka.

 


Pada akhirnya, kita jadi tahu ukuran kualitas kepemimpinan ternyata bukan terletak pada apakah seorang pemimpin selalu disetujui, melainkan pada bagaimana perbedaan pendapat dikelola? Presiden tentu boleh menyatakan, bahwa sebuah analisis salah, data tidak tepat, atau tuduhan tidak berdasar. Bahkan pemerintah berkewajiban menjelaskan faktanya kepada publik. Tapi ketika perdebatan bergeser dari “apakah argumen itu benar?” menjadi “apakah orang yang mengatakannya goblok atau pintar?”, maka esensi kritik dan kebijakan justru jadi tersisih. Suka tidak suka, pendapat pakar atau bahkan kajian ilmiah serta dialog dengan ahli sejatinya dapat membantu mengidentifikasi risiko serta memperbaiki desain sebuah kebijakan. Dalam demokrasi begini, kritik tidak harus selalu benar untuk tetap memiliki fungsi. Sebab kritik juga dapat menjadi bahan koreksi agar kebijakan yang menyangkut banyak orang semakin matang, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

Jadi, bila ada seorang presiden menyebut pakar “saking pintarnya jadi goblok” sama sekali tidak etis dan tidak layak. Kan gampang public membalasanya. Bila pakar dibilang goblok, maka di dunia ini juga banyak presiden goblok! Kira-kira begitu kan ….   

 

Senin, 21 September 2026

Pensiun Itu Sepi Jika Tak Ada Lagi Alasan untuk Berkarya

Ternyata, yang paling berat setelah pensiun bagi sebagian orang bukan kehilangan pekerjaan, melainkan kehilangan alasan untuk bangun pagi dan merasa dibutuhkan. Selama puluhan tahun bekerja, kehidupan berjalan dengan ritme yang teratur: ada jadwal, target, rapat, rekan kerja, perjalanan dinas, hingga pelatihan yang membuat hari-hari terasa penuh. Ketika masa kerja berakhir, semua rutinitas itu tiba-tiba hilang. Waktu yang sebelumnya terasa kurang justru menjadi sangat longgar. Pada awalnya kondisi tersebut terasa seperti hadiah setelah bertahun-tahun bekerja keras. Namun beberapa bulan kemudian, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar: “Sekarang saya mau melakukan apa?”

 

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pensiun sesungguhnya bukan hanya perubahan status pekerjaan, tetapi juga perubahan identitas dan pola kehidupan. Seseorang yang selama puluhan tahun terbiasa menjadi manajer, guru, dokter, pegawai, pengusaha, atau profesional tiba-tiba tidak lagi memiliki jabatan yang menjadi bagian dari kesehariannya. Karena itu, tidak sedikit pensiunan yang kemudian mencari aktivitas baru. Motivasinya tidak selalu berkaitan dengan penghasilan. Ada kebutuhan lain yang tidak kalah penting, yaitu merasa tetap berguna, memiliki tujuan, bertemu orang lain, dan menghasilkan sesuatu yang dapat memberikan makna bagi dirinya maupun lingkungan.

 

Contohnya dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pensiunan pegawai yang sebelumnya terbiasa memimpin rapat setiap pagi mulai mengubah garasi rumahnya menjadi tempat ngopi sederhana. Awalnya hanya untuk teman-teman lama, tetapi kemudian berkembang menjadi ruang pertemuan warga dan tempat anak-anak muda berdiskusi. Contoh lain, seorang mantan guru memilih tetap mengajar beberapa anak di sekitar rumah secara sukarela atau membuka taman bacaan. Ada pula pensiunan yang mengisi waktunya dengan berkebun, lalu membagikan hasil panennya kepada tetangga. Aktivitas-aktivitas sederhana tersebut mungkin tidak menghasilkan pendapatan besar, tetapi memberikan sesuatu yang sering kali lebih penting setelah pensiun: rutinitas, interaksi sosial, rasa dibutuhkan, dan kepuasan karena masih dapat memberikan manfaat.

 


Di sinilah pentingnya mempersiapkan pensiun bukan hanya dari sisi finansial, tetapi juga dari sisi psikologis dan sosial. Tabungan dan dana pensiun memang diperlukan untuk menjaga kualitas hidup, tetapi seseorang juga perlu memikirkan bagaimana ia akan mengisi waktu setelah tidak lagi bekerja. Hobi yang selama ini tertunda dapat dikembangkan, keterampilan lama dapat digunakan kembali, atau pengalaman profesional dapat dibagikan kepada generasi yang lebih muda. Bahkan kegiatan sederhana seperti menulis, memotret, berkebun, menjadi relawan, mengajar, atau bergabung dalam komunitas dapat menjadi cara untuk membangun kembali rutinitas dan tujuan hidup.

 

Pada akhirnya, pensiun mungkin mengakhiri sebuah pekerjaan, tetapi tidak harus mengakhiri produktivitas. Justru setelah terbebas dari target dan rutinitas kantor, seseorang memiliki kesempatan untuk menentukan sendiri bentuk karya yang ingin dilakukan. Ukuran produktivitas pun tidak lagi harus selalu berupa jabatan, gaji, atau pencapaian perusahaan. Membantu seorang anak belajar, menghasilkan tulisan, merawat tanaman, membuka ruang pertemuan bagi masyarakat, atau sekadar hadir bagi orang yang membutuhkan juga merupakan bentuk kontribusi. Karena itu, pertanyaan yang perlu disiapkan menjelang pensiun bukan hanya “Apakah saya punya cukup uang?”, tetapi juga “Untuk apa saya ingin bangun setiap pagi setelah pensiun?” Jawaban atas pertanyaan kedua itulah yang sering menjadi kunci agar masa pensiun tidak sekadar panjang, tetapi juga bermakna.

 

Begitulah sedikit cerita pensiunan di Kopi Pensiunan (Saung Purna) di Kawasan Puncak 2 Sukamakmur. #YukSiapkanPensiun #LiterasiPensiun #CeritaPensiunan



Yang Saya Takuti Bukan Menjadi Tua, tetapi Berhenti Berpikir

Usia 56 tahun bukan alasan untuk mengurangi rasa ingin tahu; justru bisa menjadi alasan untuk semakin rajin menggunakan pikiran. Membaca membuat kita berjumpa dengan gagasan yang belum pernah kita pikirkan, menulis memaksa kita merapikan pikiran, memotret melatih mata untuk memperhatikan hal-hal kecil, sementara berdiskusi mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari kepala sendiri. Belajar hal baru juga bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjaga pikiran tetap lentur. Orang yang terus belajar memberi kesempatan kepada dirinya untuk berubah tanpa kehilangan jati diri. Sebab yang membuat seseorang tua bukan semata-mata bertambahnya angka pada usia, melainkan ketika ia berhenti penasaran dan merasa sudah mengetahui segalanya.

 

Karena itu, memilih teman dan lingkungan juga merupakan bagian dari menjaga kesehatan pikiran. Bergaul dengan orang-orang yang sehat secara emosional membuat kita lebih mudah bertumbuh, sementara terlalu lama berada dalam lingkungan yang penuh sinisme, drama, dan intrik dapat membuat kita tanpa sadar ikut mengadopsi cara berpikir yang sama. Mendekat kepada alam pun dapat menjadi bentuk syukur sekaligus latihan kesadaran: berjalan pagi, memotret cahaya matahari di antara pepohonan, memperhatikan burung, atau sekadar duduk tanpa tergesa-gesa mengajarkan bahwa hidup tidak selalu harus dipenuhi kompetisi. Tetap bersosial dan menebar kebaikan penting, tetapi kedewasaan juga berarti mampu memilih lingkungan yang membuat kita pulang dengan pikiran lebih jernih, bukan hati yang semakin keruh.

 

Saya tidak takut menjadi tua. Yang lebih saya khawatirkan adalah ketika kemampuan berpikir ikut menua: ketika kita semakin cepat menghakimi, semakin malas mendengar, dan semakin mudah melontarkan kata-kata yang merendahkan orang lain hanya karena berbeda pandangan. Menyebut seseorang “goblok” mungkin membutuhkan waktu satu detik, tetapi menahan diri untuk memahami mengapa orang itu berpikir demikian membutuhkan kedewasaan. Dalam kehidupan sehari-hari, contohnya sederhana: ketika membaca pendapat yang tidak kita setujui di media sosial, kita bisa langsung membalas dengan hinaan, atau berhenti sejenak, membaca ulang, memeriksa konteks, lalu memilih kata yang lebih bermartabat. Kemampuan untuk berhenti sebelum bereaksi itulah salah satu bentuk kecerdasan yang layak dipelihara ketika usia bertambah.

 


 

Pada akhirnya, saya tidak sedang berlomba membuktikan bahwa saya lebih pintar daripada orang lain. Saya hanya ingin menjadi versi diri yang sedikit lebih baik daripada kemarin: lebih banyak membaca daripada menghakimi, lebih banyak mendengar daripada menyela, lebih banyak belajar daripada merasa paling tahu, dan lebih banyak bersyukur daripada mengeluh. Saya ingin hidup lebih tenang, bebas dari kebutuhan untuk selalu dipuji, dan tidak terseret dalam drama atau intrik yang sebenarnya tidak menambah kualitas kehidupan. Jika kelak usia terus bertambah, semoga yang ikut tumbuh bukan hanya keriput dan uban, tetapi juga kebijaksanaan, empati, kemampuan menimbang kata-kata, dan kesediaan untuk terus belajar. Sebab bagi saya, menua adalah keniscayaan; tetapi membiarkan pikiran menjadi sempit adalah pilihan.

 

Dan semua pikiran saya tentang hari tua, insya Allah akan direfleksikan di Kopi Pensiunan di kawasan Puncak 2 Sukamakmur. Tempat ngopinya pensiunan dan pekerja lelah!



Minggu, 20 September 2026

Tujuan Hidup adalah Kompas, Bukan Sekadar Impian

Lautan kehidupan memang penuh dengan misteri. Angin dapat berubah arah, gelombang bisa datang tanpa diduga, dan kita tidak pernah benar-benar tahu kejutan apa yang telah menanti di seberang sana. Begitu pula kehidupan, tidak semua perjalanan dapat diprediksi dan tidak semua rencana berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Namun, ketidakpastian takdir bukan alasan untuk menyerah dan membiarkan diri terombang-ambing tanpa arah.

 

Di tengah ketidakpastian yang terjadi, tujuan hidup menjadi kompas yang membantu seseorang menentukan arah perjalanan. Ibarat seorang nahkoda, kita mungkin tidak mampu mengendalikan angin dan gelombang, tetapi kita tetap dapat menentukan ke mana kapal harus diarahkan. Ketika tujuan sudah jelas, berbagai tantangan tidak serta-merta menjadi lebih mudah, tetapi kita memiliki alasan untuk tetap bertahan dan terus mengemudikan kehidupan menuju dermaga yang ingin dicapai.

 

Karena itu, tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk mulai melangkah. Tetapkan tujuan, sekecil apa pun, kemudian mulailah dari hal yang mampu dilakukan hari ini. Perjelas impian, terus belajar, perbaiki cara melangkah, dan jangan berhenti mengevaluasi arah perjalanan. Sebab, perjalanan panjang selalu dimulai dari satu langkah kecil yang dilakukan dengan kesungguhan dan keyakinan.

 


Yang tidak kalah penting adalah menjaga ikhtiar tetap konsisten. Sebuah tujuan tidak akan mendekat hanya karena sering dibayangkan atau didoakan, tetapi membutuhkan usaha yang terus dilakukan meskipun hasilnya belum terlihat. Ada kalanya langkah terasa lambat, usaha belum membuahkan hasil, bahkan jalan yang ditempuh harus berulang kali diperbaiki. Namun, konsistensi membuat langkah kecil hari ini menjadi kemajuan yang berarti di kemudian hari. Ikhtiar bukan tentang memastikan bahwa semua keinginan pasti tercapai, melainkan tentang memastikan bahwa kita tidak berhenti berusaha selama masih memiliki kesempatan untuk melangkah.

 

Pada akhirnya, manusia memang tidak pernah mengetahui seluruh rahasia masa depan. Yang dapat dilakukan adalah menyiapkan arah terbaik, menjalani proses dengan sungguh-sungguh, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. Ketika kita mengetahui dermaga yang ingin dituju, setiap lelah akan memiliki makna dan setiap ujian dapat menjadi bagian dari perjalanan. Sebab, hidup bukan sekadar tentang seberapa tenang laut yang kita lalui, tetapi tentang seberapa kuat kita memegang kemudi ketika gelombang datang menghampiri. Salam literasi! #KopiPensiunan #TBMLenteraPustaka #PakDartoPensiunan

 

Kopi Pensiunan: Menyeruput Kopi Sambil Menikmati Gemericik Air Sungai


Entah kenapa, pagi ini, secangkir kopi terasa berbeda ketika dinikmati di tepi sungai. Di tempat sederhana bernama Kopi Pensiunan, suara gemericik air berpadu dengan aroma kopi yang mengepul perlahan. Tidak ada yang perlu dikejar, tidak ada yang harus dibandingkan. Duduk menghadap sungai, saya seperti diingatkan bahwa hidup sebenarnya tidak serumit yang sering kita pikirkan. Kadang, kita hanya perlu berhenti sejenak dan menikmati apa yang sudah Allah letakkan di hadapan kita.

 

Ngopi di Kopi Pensiunan di Kp. Cipancar Desa Sirnajaya kawasan Puncak 2 Sukamakmur ternyata indah dan reflektif. Selama ini, manusia sering sibuk melihat “gelas” orang lain. Melihat rumahnya, pekerjaannya, hartanya, perjalanannya, bahkan kebahagiaannya. Tanpa sadar, kita lupa menikmati kopi di gelas sendiri atau makanan yang tersaji di piring sendiri. Padahal, di hadapan kita mungkin sudah ada rezeki yang cukup, keluarga yang menyayangi, tubuh yang masih diberi kesehatan, dan kesempatan untuk menyeruput kopi sambil mendengarkan sungai mengalir. Di Kopi Pensiunan, secangkir kopi sederhana pun terasa seperti pengingat: tidak semua kenikmatan harus mahal untuk membuat hati bahagia.


Di tepi sungai pagi ini, saya belajar bahwa menikmati hidup bukan berarti memiliki segala sesuatu, melainkan mampu mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Kita tidak harus menunggu kaya untuk bahagia, tidak harus menunggu pensiun untuk menikmati ketenangan, dan tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk mengucapkan alhamdulillah. Ada kebahagiaan yang tumbuh justru ketika kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan mulai merawat kehidupan sendiri—menjaga kesehatan, mencintai keluarga, mengabdi sosial, memperbanyak silaturahmi, dan memberi ruang bagi hati untuk tenang.

 

Maka pagi ini, ngopi di Kopi Pensiunan bukan sekadar minuman, melainkan sebuah pelajaran kehidupan. Sungai terus mengalir tanpa pernah sibuk membandingkan dirinya dengan sungai lain; ia hanya menjalankan jalannya menuju tujuan. Begitu pula manusia. Nikmati saja gelas kita sendiri, syukuri rezeki kita hari ini, pelihara kesehatan kita, dan rayakan ketenangan sekecil apa pun yang Allah berikan. Sebab bisa jadi, hidup yang selama ini kita cari ternyata sudah ada di depan mata—dalam secangkir kopi, suara sungai, udara pagi, dan hati yang akhirnya belajar berkata: “Cukup. Aku bersyukur dengan hidupku hari ini.” Alhamdulillah, yuk kita ngopi!

 

 




Kamis, 17 September 2026

Pelukan di Tengah Air Mata: Ketika Ayah dan Ibu Berjuang Melawan Takdir

Malam ini, suamiku pulang tanpa sepatah kata. Ia membuka pintu perlahan, meletakkan tasnya, lalu duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada keluhan, tidak ada cerita tentang bagaimana hari yang panjang telah menguras tenaganya. Namun, dari matanya, aku tahu ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan. Aku pun berdiri, menghampirinya, dan memeluk tubuhnya erat. Seolah-olah pelukan itu bisa menjadi tempat baginya untuk meletakkan seluruh beban yang dipikulnya. Dan benar saja, dalam pelukan, suamiku menangis sesenggukan. Tangannya mencengkeram tubuhku, seakan takut jika ia melepaskan pelukan itu, seluruh kekuatannya akan ikut menghilang.

 

Aku hanya bisa menyucurkan air mata. Bukan karena aku tidak ingin menguatkannya, tetapi karena aku sendiri sudah terlalu lama menahan kesedihan. Sejak anak kami terbaring di rumah sakit, hatiku seperti tak pernah benar-benar menemukan ketenangan. Dokter mengatakan anak kami mengidap thalassemia, kelainan darah bawaan yang membuat tubuhnya lemas dan wajahnya tampak pucat. Kami pun masih berusaha memahami semuanya.

 

Mengapa anak kami? Mengapa harus ia yang menanggung sakit sebesar ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku, tetapi tidak satu pun mampu menemukan jawaban. Aku hanya seorang ibu yang ingin melihat anaknya tumbuh sehat, berlari, tertawa, dan memanggilku dengan suara riang.

 

Di bangsal rumah sakit, aku duduk di sisi tempat tidurnya. Wajah kecil itu terlihat begitu pucat. Tangannya yang mungil terbaring lemah, sementara selang dan berbagai peralatan medis menjadi pemandangan yang belum pernah kubayangkan akan hadir dalam kehidupan kami. Aku menggenggam jemarinya, berusaha tersenyum meskipun air mata terus jatuh. Di sisi lain, suamiku masih tertunduk lesu. Seorang ayah yang biasanya menjadi tempat kami bersandar, malam itu terlihat begitu rapuh. Aku tahu ia sedang berjuang. Bukan hanya melawan rasa takut kehilangan, tetapi juga melawan perasaan bersalah karena belum mampu melakukan lebih banyak untuk anak kami.

 

Tiba-tiba, dari dalam kamarnya, terdengar suara lirih yang begitu kukenal. “Mana... Mama!” Dua kata sederhana itu langsung menghancurkan sisa kekuatan yang masih kusimpan. Aku segera menghampirinya, membelai kepalanya, lalu mendekap tubuhnya dengan hati-hati.

 

“Mama di sini, Nak... Mama di sini,” bisikku berulang kali. Ia mungkin belum mengerti mengapa tubuhnya harus merasakan sakit, mengapa ia harus berada di rumah sakit, atau mengapa wajah Mama dan Papanya selalu dipenuhi air mata. Yang ia tahu hanyalah ketika rasa sakit datang, ia membutuhkan mamanya. Dan aku ingin selalu ada, meskipun hatiku sendiri sedang berkeping-keping.

 


Malam semakin larut. Suamiku duduk di samping tempat tidur anak kami, mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Aku melihatnya diam-diam, lalu menyadari bahwa kami sedang menghadapi ujian yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Kami bukan keluarga yang memiliki semua jawaban. Kami juga bukan manusia yang selalu kuat. Ada saatnya kami ingin berteriak, bertanya kepada Tuhan mengapa jalan ini begitu berat. Namun, di antara tangis dan ketidakpastian, kami masih memiliki satu sama lain. Kami masih bisa saling memeluk. Masih bisa menggenggam tangan anak kami. Dan masih bisa berdoa, meskipun doa itu terkadang hanya berupa bisikan yang keluar dari hati yang hancur.

 

Aku pun menatap wajah anakku yang mulai terlelap. Tanganku masih menggenggam jemarinya, sementara suamiku duduk di sampingku. Dalam hati, aku berbisik, “Ya Allah, jika sakit ini harus kami jalani, berikanlah kami kekuatan. Jika air mata ini harus terus mengalir, jangan biarkan kami kehilangan harapan. Sembuhkanlah anak kami, atau setidaknya, jangan biarkan ia merasa sendirian dalam sakitnya.”

 

Malam itu, kami tidak tahu bagaimana hari esok akan berjalan. Kami hanya tahu bahwa cinta seorang ibu dan ayah tidak akan berhenti ketika tubuh anaknya mulai lemah. Sebab, bagi kami, anak ini bukan sekadar bagian dari kehidupan. Ia adalah alasan kami tetap bertahan, bahkan ketika hati kami sendiri hampir menyerah. Terkadang, ada pelukan yang menyimpan sejuta luka …

 

PKKMB 2026 Universitas Lia Dorong Mahasiswa Baru Menjadi Generasi Berkarakter

Semangat dan antusiasme mahasiswa baru mewarnai kegiatan PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) 2026 Universitas Lia dengan tema “The Great Start: Navigating the Unknown”. Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah “Profil Mahasiswa Pancasila” yang disampaikan oleh Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd., Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) di Kampus Univ. Lia (17/09/2026). Sesi ini mengajak mahasiswa baru memahami bahwa memasuki perguruan tinggi bukan hanya tentang mengejar prestasi akademik, tetapi juga mempersiapkan karakter untuk menghadapi kehidupan yang semakin kompleks.

 

“Sesi profil mahasiswa Pancasila ini penting untuk membentuk generasi muda yang berkarakter di tengah dinamika zaman. Bukan hanya menjadi mahasiswa yang punya ilmu pengetahuan dan akademik tapi memahami karakter Pancasila. Sebagai bekal untuk menavigasi dunia kampus dalam mencetak lulusan yang unggul” ujar Syarifudin Yunus saat presentasi. Ikut hadir pula Ismarita Ramayanti, Ph.D (Warek I Akademik, Kemahasiswaan & Humas Universitas Lia) dan Alver Javi Ketua PKKMB 2026).

 

Dalam paparannya, Syarifudin Yunus menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran penting sebagai generasi yang tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam karakter. Nilai-nilai Pancasila perlu hadir dalam cara mahasiswa berpikir, bersikap, berkomunikasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan. Menurutnya, kehidupan kampus merupakan ruang untuk membangun pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, kritis, kreatif, sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial. Untuk itu, setiap mahasiswa harus memahami dan memiliki nilai-nilai profil mahasiswa Pancasila yang terdiri dari: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, 2) berkebinekaan global, 3) bergotong royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif.

 


Tema “The Great Start: Navigating the Unknown” menjadi semakin relevan karena mahasiswa baru akan memasuki fase kehidupan yang penuh pengalaman dan tantangan baru. Menjadi mahasiswa yang dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan, terbuka terhadap perbedaan, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta tetap memiliki prinsip dalam menghadapi berbagai pilihan. Karakter menjadi kompas ketika seseorang berada dalam situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Karena itu, keberhasilan mahasiswa tidak semata-mata diukur dari indeks prestasi, tetapi juga dari kemampuan menjadi pribadi yang berintegritas dan bermanfaat bagi sesama.

 

Sesi “Profil Mahasiswa Pancasila” pun disambut antusias oleh mahasiswa baru Universitas Lia. Interaksi dan perhatian peserta menunjukkan bahwa pembentukan karakter menjadi bagian yang penting dalam memulai perjalanan pendidikan tinggi. PKKMB 2026 akhirnya bukan sekadar pintu masuk menuju kehidupan akademik, tetapi juga momentum untuk menanamkan kesadaran bahwa masa depan membutuhkan generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berkarakter Pancasila. The Great Start menjadi awal perjalanan untuk berani menavigasi hal-hal yang belum diketahui dengan ilmu, karakter, dan nilai-nilai kebangsaan. Salam Pancasila!

 


Rabu, 16 September 2026

Belajar Tenang dalam Sunyi, Belajar Ikhlas dalam Takdir

Ada kalanya hidup terasa terlalu penuh. Terlalu banyak masalah yang harus dipikirkan, terlalu banyak tekanan yang harus ditanggung, dan terlalu banyak emosi yang harus disimpan. Sampai akhirnya, yang kita butuhkan bukan nasihat baru. Bukan pula lebih banyak orang yang datang menyelamatkan, melainkan sedikit jarak dan ruang untuk bernapas. Dalam kesunyian, pikiran perlahan menemukan kembali kejernihannya, hati belajar menenangkan dirinya sendiri. Dan kita mulai memahami bahwa ketenangan tidak selalu harus dicari dari kehadiran orang lain.

 

Mungkin memang ada fase dalam hidup. Ketika kita perlu berhenti sejenak dari keramaian, bukan karena kita membenci dunia atau tidak membutuhkan siapa-siapa. Tapi karena kita ingin kembali mengenali siapa diri kita sebenarnya. Kita belajar bahwa orang lain boleh menjadi tempat berbagi cinta, dukungan, dan kebahagiaan. Tapi jangan sampai mereka menjadi satu-satunya tempat kita menggantungkan ketenangan. Sebab ada bagian dari diri kita yang hanya bisa kita temukan ketika dunia sedang sunyi dan tidak ada siapa-siapa selain diri kita sendiri.

 

Di sanalah kedewasaan emosional perlahan tumbuh. Bukan ketika kita menjadi seseorang yang tidak membutuhkan siapa pun, melainkan ketika kita mampu mencintai seseorang tanpa kehilangan diri sendiri. Mampu menerima kehadiran tanpa takut pada kesendirian; dan mampu tetap utuh meskipun orang yang kita cintai tidak selalu berada di sisi kita. Terkadang, yang paling kita perlukan bukanlah jawaban baru. Tapi cukup ruang untuk diam, menepi, dan mendengarkan suara hati yang selama ini tertutup oleh riuhnya dunia.

 

Dan pada akhirnya, ketenangan terdalam bukan semata-mata lahir karena semua keadaan berjalan sesuai keinginan kita. Ketenangan datang ketika kita belajar berpasrah sepenuhnya kepada Ilahi, menerima setiap takdir-Nya dengan cinta, serta percaya bahwa bahkan sesuatu yang terasa buruk bagi kita belum tentu buruk di hadapan-Nya. Seperti seorang bayi yang menangis ketika wajahnya dibasuh oleh tangan ibunya karena merasa dingin dan tidak nyaman, padahal sang ibu sedang membersihkannya dengan penuh kasih sayang. Begitulah terkadang kita menangisi sesuatu yang sebenarnya sedang Tuhan gunakan untuk membersihkan, menjaga, atau mengarahkan kita kepada sesuatu yang belum mampu kita pahami.

 


Barangkali yang paling sering membuat kita terluka bukanlah kenyataan itu sendiri, melainkan ego kita yang ingin kenyataan berjalan sesuai kehendak kita. Kita memaksa apa yang ingin pergi untuk tetap tinggal, memaksa sesuatu yang telah berakhir untuk kembali, dan memaksa takdir mengikuti apa yang kita anggap paling baik. Padahal mungkin, ketenangan mulai hadir ketika kita berhenti melawan apa yang sudah ditetapkan, lalu berkata dalam hati, “Ya Allah, aku tidak selalu mengerti jalan-Mu, tetapi aku percaya kepada-Mu.”

 

Maka ambillah waktu untuk menepi, kenali kembali diri kita, pulihkan hati, lalu kembalilah menghadapi dunia dengan keyakinan bahwa tidak semua yang menyakitkan adalah bentuk kehilangan. Bisa jadi, di balik sesuatu yang tidak kita mengerti, ada kasih sayang Tuhan yang sedang bekerja dalam cara yang belum mampu kita lihat. Jadilah literat!

 


Selasa, 15 September 2026

Nggak Perlu Membalas Hinaan, Biarkan Waktu dan Perjuangan yang Membuktikan

Sering kali kita mengira bahwa pujian adalah sumber kekuatan terbesar untuk terus melangkah. Padahal, dalam kehidupan nyata, justru keraguan, cibiran, bahkan hinaan dari orang lain bisa menjadi bahan bakar yang membuat seseorang semakin kuat. Ketika seseorang mengatakan kita tidak mampu, terlalu bermimpi, atau tidak akan berhasil, kita memang tidak harus membalasnya dengan kata-kata. Cukup simpan ucapan itu sebagai pengingat bahwa perjalanan kita belum selesai. Sebab, tidak semua orang akan memahami perjuangan yang sedang kita jalani.

 

Kisah seperti ini pernah dialami Colonel Harland Sanders, pendiri KFC. Sebelum berhasil mengembangkan bisnis ayam gorengnya, Sanders menjalani berbagai pekerjaan dan menghadapi banyak penolakan. Resep ayam goreng yang kemudian menjadi terkenal itu pun tidak langsung diterima. Ia berkeliling menawarkan resepnya kepada berbagai restoran dan mengalami penolakan berkali-kali. Namun, ia tidak menjadikan penolakan tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Ia terus mencoba, memperbaiki cara menawarkan produknya, hingga akhirnya berhasil membangun bisnis yang berkembang menjadi jaringan restoran besar.

 

Kisah Sanders menunjukkan bahwa keberhasilan sering kali bukan tentang siapa yang paling cepat mendapatkan hasil, melainkan siapa yang mampu bertahan ketika hasil belum terlihat. Orang boleh meragukan kita, tetapi jangan sampai keraguan mereka berubah menjadi keyakinan dalam diri kita sendiri. Hinaan tidak perlu dibalas dengan kemarahan, apalagi dengan keinginan untuk menjatuhkan orang lain. Balaslah dengan proses yang konsisten, kerja keras yang nyata, dan hasil yang suatu hari akan berbicara dengan sendirinya. Kita tidak perlu menjelaskan seluruh perjuangan kepada orang yang memang tidak ingin memahami.

 


Karena itu, ketika hari ini ada yang meremehkan, jangan buru-buru menyerah. Mungkin jalan yang kita tempuh memang masih panjang, mungkin hasilnya belum terlihat, tetapi setiap langkah tetap memiliki arti. Tetap fokus, tetap rendah hati, dan terus belajar. Jangan bekerja keras hanya untuk membungkam orang lain, tetapi lakukan karena kita ingin menjadi manusia yang lebih baik daripada diri kita kemarin. Pada akhirnya, kemenangan terbesar bukan ketika orang yang menghina kita mengakui kesalahannya, melainkan ketika kita mampu membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita tidak berhenti hanya karena pernah diremehkan.

 

Terkadang, motivasi terbesar bukan datang dari pujian, melainkan dari mereka yang meremehkan kita. Jadikan setiap keraguan sebagai bahan bakar untuk tumbuh, setiap hinaan sebagai pengingat untuk terus melangkah. Tidak perlu membuktikan diri lewat kata-kata: biarkan proses, kerja keras, dan hasil yang berbicara. Tetap fokus, tetap rendah hati, dan terus berproses menjadi versi terbaik diri kita sendiri. Semangat!

Kemandirian Finansial Masa Pensiun Butuh Strategi Berkelanjutan Sesuai Tahapan Usia

Kita mungkin sepakat. Menua dengan tenang dan bermartabat sama sekali tidak mudah. Karenanya menyiapkan pensiun memang harus dilakukan langkah demi langkah sejak masa muda. Sebab mencapai kemandirian finansial di hari tua merupakan proses panjang yang memerlukan perencanaan matang dan terstruktur sesuai kelompok usia.

 

Berdasarkan analisis Syarifudin Yunus dari Dewan Pengawas DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM), strategi penyiapan dana pensiun tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus dibangun secara bertahap sejak masa muda. Pendekatan berbasis tahapan usia ini memastikan setiap individu memiliki arah finansial yang jelas pada setiap fase kehidupannya demi mengamankan masa depan. Untuk hari tua yang lebih tenang dan berkualitas.

Pensiun bukan soal apa pekerjaannya? Bukan pula berapa gajinya? Tapi lebih ditekankan sejak kapan memulainya, pada usia berapa? Sebagai contoh, pada tahap awal di usia 16–19 tahun, lebih baik fokus utama ditekankan pada pemahaman dasar-dasar keuangan, pengenalan cara bijak mengelola uang, penentuan tujuan finansial, mulai membuka rekening tabungan, dan latihan menghasilkan pendapatan sendiri.

 

Berlanjut ke usia 20–29 tahun, saat mulai bekerja, strategi keuangan bergeser ke pembentukan fondasi yang kokoh melalui penyusunan anggaran keuangan, pembentukan dana darurat, membuat findasi keuangan yang sehat, mulai punya dana pensiun, bahkan mulai berani investasi sejak dini sembari menghindari utang atau pinjol. Fase usia ini sangat penting untuk pembentukan fundamental keuangan. Jadi orang yang suka itang atau tidak, jadi orang yang konsumtif atau tidak?

 

Nah, memasuki usia 30–39 tahun, arah perencanaan berfokus pada akumulasi aset dan perlindungan keluarga, termasuk pertimbangan membeli rumah, diversifikasi investasi, pemaksimalan tabungan pensiun, serta perlindungan keluarga dan evaluasi kebutuhan keuagan yang lebih besar. Di samping antisipasi, biaya pendidikan anak atau kebutuhan tumahtangga mulai melonjak pesat di fase ini.

 


Selanjutnya pada usia 40–49 tahun, langkah finansial berfokus pada pemaksimalan iuran pensiun, pelunasan utang secara agresif (bila ada), optimalkan biaya pendidikan anak, evaluasi portofolio investasi, dan pelaksanaan check-up kesehatan keuangan. Sehat atau tidak secara keuangan, mengukir keseimbangan pendapatan dan pengeluaran? Di fase ini, kemapanan finansial harus sudah terbentuk sebab masa bekerja dalam hitungan 10-15 tahun akan pensiun. Karena itu, dana pensiun sangat penting sebagai pengganti gaji saat berhenti bekerja.

 

Penerapan strategi keuangan berdasraknusia ini memberikan kepastian bahwa setiap keputusan finansial yang diambil hari ini berdampak langsung pada kesejahteraan di masa depan. Dengan kedisiplinan menjaga portofolio dan melakukan evaluasi berkala, impian untuk menikmati masa pensiun yang mandiri, sejahtera, dan bebas dari beban finansial dapat diwujudkan secara nyata. Agar tidak bergantung pada anak atau kelurag di hari tua.

 

Maka siapkan tabungan dan dana pensiun sesuai usia. Sebab hari ini faktanya, 9 dari 10 pekerja sama sekali tidak siap berhenti bekerja atau di-PHK. Bahkan 8 dari 10 pensiunan bergantung secara fnansial pada anggota keluarga yang bekerja, jadi beban ekonomi keluarga. Kondisi itu terjadi akibat tidak mau menyiapkan tabungan atau dana pensiun sejak awal bekerja. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Pak Purbaya dan Rapuhnya Orang Kerja, Momen Bangun Perahu Sendiri

Lagi rapat di DPD, tiba-tiba Pak Purbaya dicopot dari jabatannya. Ditelepon Mensekneg, bahwa dia diganti orang lain. Efektif hari itu, Pak Purbaya pun dicopot atau dipecat. Berhenti jadi Menteri Keuangan RI.

 

Ternyata, serapuh itulah orang kerja. Bisa diganti kapan saja sama bos. Apapun alasannya, bos atau atasan bisa pecat kapan pun. Mau punya kinerja kayak apapun, selagi Cuma pekerja, kapan pun bisa digeser atau dicopot. Paham kan ya. Pejabat sekelas Pak Purbaya yang menteri saja bisa di cut off alias dipecat mendadak. Apalagi kita bisanya cuma jadi robot di kantor.  Maka, sudah ssaatnya orang kerja berpikir. Jangan hanya membesarkan bisnis kantor. Tapi mulailah mempersiapkan dan membangun “perahu” sendiri. Jaga-jaga, kalau dicopot atau digeser pada saat lagi senang-senangnya kerja.

 

Hikmah dicopotnya Pak Purbaya, ternyata pekerjaan sebagai karyawan tidak selalu memberikan jaminan keamanan dalam jangka panjang. Atas nama hak prerogratif, Presiden bisa kapan saja cut off menterinya. Lagi-lagi, apapun alasannya selagi Cuma kerja untuk bos ya kapan pun bisa dipecat secara mendadak. Apalagi cuma pekerja kantoran, asal bos atau kantor sudah tidak suka ya kapan pun bisa di PHK atau diuruh resign. Sebab kondisi perusahaan dapat berubah sewaktu-waktu. Akibatnya, tidak ada posisi karyawan yang baik-baik saja. Suatu saat bisa digeser atau dicopot seperti Pak Purbaya.

 


Memang ngeri sih selagi masih jadi pekerja. Apalagi bila terlalu bergantung pada pekerjaan kantor, 100% Cuma jadi “NPC kantor”. Orang yang hanya menjalankan rutinitas sebagai pekerja tanpa memikirkan alternatif atau rencana untuk masa depan. Kerja seperti robot, semuanya tergantung atasan dan kantor. Tanpa persiapan suatu saat bisa diberhentikan. Bekerja memang penting. Tapi ketergantungan penuh pada satu sumber penghasilan itu yang bisa jadi risiko besar.

 

Maka pekerja di mana pun, mungkin sudah saatnya untuk membangun “perahu” sendiri. Mulai siapkan dana pensiun bila sewaktu-waktu dipecat atau di-PHK. Mulai merintis usaha kecil, punya keterampilan atau keahlian, atau sumber penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama. Dengan memiliki kemampuan atau usaha sendiri, seorang pekerja akan lebih siap menghadapi kemungkinan kehilangan pekerjaan dan tidak sepenuhnya bergantung pada perusahaan. Tetap bisa survive, saat atasann atau kantor memperlakukan apapun.

 

Tentu, tidak mudah membangun usaha sendiri. Jadi pekerja mandiri itu bukan berarti lebih mudah atau pasti lebih aman daripada menjadi karyawan. Karena bisnis atau bekerja mandiri tetap punya risiko gagal dan tidak pasti, bahkan harus siap secara mental. Tapi intinya, siapapun yang jadi pekerja pasti punya risiko dipecat atau dicopot seperti Pak Purbaya. Karenanya, kapan pun harus diganti. Tidak ada pekerja atau karyawan yang selamanya di posisi enak. Makanya siapkan “perahu” sendiri. Bisa beruap dana pensiun, tabungan, investasi, keahlian khusus, atau atau sumber penghasilan alternatif agar lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja atau atasan di kantor. Jangan bergantung 100% dari kantor!

 

Jangan bangga jadi “robot” yang hanya membesarkan bisnis kantor. Tapi siapkan juga “perahu” sendiri untuk hari esok. Sebab ketika pekerjaan tidak lagi menjamin, maka persiapan untuk masa depan seperti dana pensiun jadi penting dimiliki sejak mulai bekerja. Tidak ada pekerjaan yang aman Bro, semuanya bisa diganti atau digeser!

 

 

 

Senin, 14 September 2026

Orang Baik yang Tiba-Tiba Pergi, Bukan Berubah tapi Sudah Selesai Menilai

Ada satu hal yang sering disalahpahami tentang orang baik. Ketika orang baik tiba-tiba pergi tanpa drama, bukan berarti ia tidak peduli. Bisa jadi ia sudah terlalu lama peduli sampai akhirnya melakukan silent assessment. Orang baik biasanya tidak langsung marah ketika diperlakukan tidak adil. Ia hanya mengamati, memberi kesempatan, memahami alasan, bahkan memaafkan. Tetapi diam bukan berarti bodoh. Ia mencatat pola: siapa yang hanya berharap dibantu, siapa yang tidak lagi menghargai, dan siapa yang tidak lagi mau bekerjasama dengan orang baik. Dan siapa yang menganggap kebaikan sebagai sesuatu yang wajib diberikan kepadanya. Ketika penilaian itu selesai, orang baik tidak selalu membuat keributan. Ia cukup berkata dalam hati, “Saya sudah tahu siapa kamu.” Lalu pergi.

 

Karena itu, kebaikan tanpa batas justru bisa mengundang orang untuk memanfaatkannya. Membuat orang tidak tahu diri dan tidak lagi bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Ada orang yang ketika kita selalu membantu, menganggap bantuan itu kewajiban. Ketika kita selalu mengalah, lalu menganggap kita tidak punya harga diri. Ketika kita selalu berkata “iya”, banyak orang lupa bahwa kita sebenarnya punya hak untuk berkata “tidak”. Maka kebaikan membutuhkan pagar. Orang baik pun punya batas.

 

Boundaries bukan tanda bahwa kita berubah menjadi jahat; boundaries adalah cara menghormati diri sendiri. Tahu batas. Contohnya sederhana: seorang teman terus-menerus meminjam uang, tidak pernah mengembalikan, lalu datang lagi ketika membutuhkan. Selama ini kita membantu karena kasihan. Suatu hari kita berkata, “Maaf, kali ini saya tidak bisa.” Kalau setelah itu dia marah dan menganggap kita berubah, mungkin yang hilang bukan persahabatan tetapi akses dia terhadap kebaikan kita. Bila kita sudah baik pada satu lingkungan tapi ada orang yang kerjanya mengganggu bahkan menjadi informan orang jahat, maka orang baik layak untuk pegi.

 

Begitu pula dengan self-compassion. Jangan sampai kita begitu sibuk menyelamatkan orang lain sampai lupa menyelamatkan diri sendiri. Kita tidak harus membakar diri agar orang lain merasa hangat. Dalam keluarga, pekerjaan, bahkan pertemanan, ada kalanya kita terus menjadi tempat curhat, penolong, pemberi solusi, tetapi ketika kita sendiri sedang jatuh, tidak ada yang bertanya, “Kamu baik-baik saja?” Pada titik tertentu, mundur bukan berarti membenci. Mengurangi komunikasi bukan berarti sombong. Berhenti membantu bukan berarti kehilangan hati. Itu bisa menjadi bentuk paling sehat dari mencintai diri sendiri: “Saya tetap mendoakanmu, tetapi saya tidak lagi membiarkan perilakumu menghancurkan ketenangan hidup saya.”

 


Jadi, jangan heran jika suatu hari orang baik tiba-tiba pergi tanpa drama. Mungkin itu bukan keputusan yang tiba-tiba—melainkan hasil dari penilaian yang dilakukan diam-diam selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Orang tulus memang langka. Karena itu, kalau kita menemukan orang yang tulus, jangan diuji terus-menerus sampai ia lelah. Dan kalau kita sendiri menjadi korban orang licik, jangan merasa bersalah ketika memilih pergi.

 

Pergi dengan tenang setelah berkali-kali disakiti bukan berarti kalah. Itu kemenangan atas diri sendiri yang akhirnya berani berkata: “Saya boleh baik kepada siapa pun, tetapi saya juga wajib baik kepada diri saya sendiri.” Jadilah orang baik di mana pun!