Jumat, 10 April 2026

Bersenang-senang Saat Bekerja, Menderita di Masa Pensiun

Raka adalah sosok yang selalu terlihat bahagia di tempat kerja. Gajinya besar, lingkar pergaulannya luas, dan setiap akhir pekan ia hampir selalu bepergian. Sering healing sambil menikmati hasil kerjanya. Baginya, hidup adalah tentang menikmati hari ini. Ia percaya, selama masih muda dan berpenghasilan, tidak ada alasan untuk menahan diri dari kesenangan. Hitung-hitung memanjakan diri dari jerih payah sendiri, benar banget sih.

 

Setiap kali menerima gaji, Raka langsung merencanakan liburan, membeli barang-barang baru, atau menghabiskan waktu di tempat hiburan. Rekeningnya jarang benar-benar terisi penuh. Ia tidak pernah memikirkan tabungan jangka panjang, apalagi dana pensiun. Ketika ada rekan kerja yang mulai berinvestasi atau ikut program pensiun, ia justru menganggap mereka terlalu khawatir terhadap masa depan. Jangan terlalu khawatir dengan masa tua.

 

“Tua itu masih lama,” begitu kalimat yang sering Raka ucapkan. Ia yakin kariernya akan terus moncer. Kerja keras sudah cukup jadi modal untuk naik jabatan dan penghasilannya makin meningkat. Sebagai pekerja, uangnya selalu cukup. Bahkan ketika perusahaannya menawarkan program dana pensiun tambahan, Raka menolaknya. Baginya, potongan gaji sekecil apa pun terasa sayang jika tidak bisa dinikmati saat itu juga. Mumpung masih muda, batinnya.

 

Tahun demi tahun berlalu. Tanpa terasa, usia Raka mendekati masa pensiun. Masa kerjanya sudah lebih dari 28 tahun. Gaya hidupnya tidak banyak berubah, sementara tabungan nyaris tidak ada. Saat akhirnya ia benar-benar berhenti bekerja, barulah ia merasakan perubahan besar dalam hidupnya. Tidak ada lagi gaji bulanan, tidak ada lagi bonus, dan tidak ada lagi fasilitas kantor yang dulu ia nikmati.

 


Di awal masa pensiun, Raka masih mencoba mempertahankan gaya hidup lamanya. Ia menggunakan sisa uang yang ada untuk tetap bersenang-senang, seolah belum siap menerima kenyataan. Namun, uang itu cepat habis. Kebutuhan hidup tetap berjalan, bahkan biaya hari-harinya kian meningkat. Apalagi biaya kesehatan makin besar seiring bertambahnya usia.

 

Beberapa tahun kemudian, kehidupan Raka berubah drastis. Ia harus hidup dengan sangat hemat, bahkan sering kali kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Dari seseorang yang dulunya pekerja keras, selalu tampil percaya diri dan dikelilingi teman, kini ia lebih sering sendiri, memikirkan bagaimana cara bertahan hidup. Penyesalan mulai datang, namun semuanya sudah terlambat. Apa daya, Raka harus menjalani hari tuanya dengan keuslitan keuangan. Akibat tidak mau mempersiapkan masa pensiunnya sendiri dan terlalu bersenang-senang di saat bekerja.

 

Dalam keheningan hari-harinya, Raka menyadari satu hal penting: kesenangan sesaat yang ia kejar selama bertahun-tahun sata bekerja ternyata harus dibayar mahal di masa tua. Ia belajar dengan cara yang paling pahit bahwa masa pensiun bukanlah waktu untuk menyesal, melainkan hasil dari keputusan-keputusan yang diambil sejak masa bekerja. Kisah Raka menjadi pengingat bahwa menikmati hidup itu penting, tetapi mempersiapkan masa pensiun jauh lebih penting.

 

Sebab siapapun yang bekerja, cepat atau lambat akan pensiun. Hari tua pasti tiba, masalahnya sudah siap atau belum? #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPK #DanaPensiun

 

 

Perjaka Dana Pensiun: Pensiun Sehat Jalan Kaki Jadi Obat

Banyak orang belum paham arti penting mempersiapkan masa pensiun. Karenanya,  Komunitas PERJAKA DP (Persaudaraan Pejalan Kaki - Dana Pensiun) menggelar aktivitas olah raga jalan kaki sambil menyambut “Hari Pensiun - 20 April” dengan melakukan olahraga jalan kaki di area Ragunan pada Sabtu, 11 April 2026. Bertajuk “Pensiun Bakal Sehat, Jalan Kaki Jadi Obat”, sekitar 25 anggota PERJAKA DP berbaur dalam kebersamaan dan kekompakan untuk menguatkan semangat untuk selalu menjaga Kesehatan. Di samping tetap semangat dalam mengkampanyekan akan pentingnya mempersiapkan masa pensiun yang sehat dan nyaman.

 

“Kami di Perjaka Dana Pensiun rutin olah raga jalan kaki. Cara sederhana menjaga Kesehatan di samping mengkampanyekan pentingnya dana pensiun. Agar masyarakat makin aware dan merasa penting mempersiapkan masa pensiun. Yuk jalan kaki sambil siapkan pensiun” ujar Satino, sesepuh Perjaka DP didampingi Gandhi, Suheri, Budi sulistijo, Edi Pujiyanto, Gatut Subadio, dan anggota Perjaka DP saat berjalan kaki di Ragunan pagi ini..

 

Komuitas PERJAKA DP (Persaudaraan Pejalan Kaki Dana Pensiun), merupakan komunitas informal praktisi dan pemerhati industri dana pensiun di Indonesia yang secara rutin menggeluti olahraga jalan kaki, di setiap waktu di manapun berada. Tujuannya untuk menjalin komunikasi dan kebersamaan di antara seluruh pemangku kepentingan industri dana pensiun.

 

“Olahraga jalan kaki itu murah meriah. Semua orang dapat melakukannya. PERJAKA Dana Pensiun hadir untuk menjadikan urusan pensiun lebih asyik, lebih rileks. Karena masa pensiun harus dihadapi dengan asyik” tambah Suheri.

 


Jalan kaki itu penting karena merupakan bentuk aktivitas fisik paling sederhana tapi berdampak besar bagi kesehatan. Dengan rutin berjalan kaki, tubuh menjadi lebih aktif, sirkulasi darah lancar, dan risiko berbagai penyakit seperti penyakit jantung, Diabetes tipe 2, dan obesitas bisa berkurang. Selain itu, jalan kaki juga membantu menjaga berat badan, memperkuat otot, serta meningkatkan daya tahan tubuh tanpa perlu alat atau biaya mahal.

 

Tidak hanya fisik, jalan kaki juga baik untuk kesehatan mental. Aktivitas ini bisa membantu mengurangi stres, memperbaiki suasana hati, dan memberi waktu untuk berpikir lebih jernih—terutama jika dilakukan di pagi hari atau di lingkungan yang nyaman. Bahkan, jalan kaki ringan secara rutin sering dikaitkan dengan peningkatan fokus dan kreativitas. Jadi, kebiasaan sederhana ini punya manfaat besar untuk keseimbangan tubuh dan pikiran.

 

Dalam balutan kebersamaan, aktivitas jalan kaki PERJAKA DP pun kerapkali diselingi dengan kudapan-kulineran tradisional, seperti pecel, mendoan, dan sebagainya. Sambil refreshing di lokasi wisata atau area yang menarik, dan dibumbui canda tawa, humor khas tentang pensiunan.

 

Ke depan, PERJAKA DP diharapkan dapat menjadi "ruang informal" yang mampu menyatukan persaudaraan para praktisi, pemerhati, dan masyarakat dana pensiun Indonesia. Tentu, dikemas melalui jalan kaki sambil jalan-jalan. Karena di era seperti sekarang, justru rasa persaudaraan semakin terkikis akibat perbedaan. Maka sangat penting menjaga persaudaraan, di manapun dan kapanpun.

 

Ingat, pensiun itu bukan soal “waktu” karena cepat atau lambat pasti tiba. Tapi pensiun adalah soal “keadaan” mau seperti dan kayak apa di masa pensiun? Maka penting untuk mempersiapkannya sejak dini. Dalam kesempatan ini pula, Komunitas PERJAKA DP mengucapkan “SELAMAT IDUL FITRI – Mohon Maaf Lahir Batin” atas lisan yang tak terjaga; atas janji yang terabaikan; atas hati yang penuh prasangka; dan atas sikap yang menyakitkan. Ikhlaskan semua dan semoga puasa kita diterima Allah SWT, amiin. Salam Perjaka Dana Pensiun, jaga Kesehatan!




Kenapa Israel Bengis?

 

Kata banyak orang, menjaga hubungan baik itu penting. Karena manusia sejatinya makhluk sosial. Kita hidup, bekerja, dan berkembang lewat interaksi dengan orang lain. Maka hubungan yang sehat menciptakan rasa aman, saling percaya, dan dukungan emosional, yang sangat berpengaruh pada kesehatan mental. Lahir batin jadi lebih positif.

 

Saat kita punya relasi yang baik dengan keluarga, teman, atau rekan kerja, kita lebih mudah berbagi beban, mendapatkan perspektif baru, dan menghadapi tantangan hidup dengan lebih kuat. Selain itu, hubungan baik juga membuka banyak peluang dalam kehidupan. Dalam dunia kerja misalnya, kepercayaan dan komunikasi yang baik bisa memperlancar kolaborasi dan bahkan membuka pintu rezeki atau kesempatan baru.

 

Dalam jangka panjang, menjaga hubungan baik juga membentuk reputasi dan karakter kita sebagai pribadi yang dapat diandalkan. Jadi, hubungan yang baik bukan sekadar “nice to have”, tapi fondasi penting untuk kehidupan yang seimbang dan berkelanjutan. Tapi hubungan baik bukan hanya kata-kata. Harus tercermin dalam sikap dan perbuatan.

 

Menjaga hubungan baik pastinya tidak ada yang instan. Harus dilatih dan dibiasakan. Dan cara untuk menjaga hubungan baik dengan orang-orang sekitar sangat sederhana. Mulailah melatih diri untuk:

1. Jangan terlalu mengumbar kebahagiaan

2. Jangan pernah memamerkan kesuksesan

3. Berhenti bergosip dan ikut campur urusan orang lain

4. Jangan pernah bersikap sok pintar

5. Jangan gampang benci dan dendam

6. Jangan iri melihat kelebihan orang lain

7. Kurangi bicara yang tidak perlu

Coba deh cek, Israel itu bengis karena apa? AS-Israel invasi Iran itu karena apa? Karena pemimpin Israel dan AS itu gampang benci dan suka ikut campur urusan negara lain. Cuma sesederhana itu, apapun motifnya. Dan kita perlu sadar, sifat asli manusia yang paling jahat dan mengerikan adalah “gampang benci”. Tidak tahan melihat hidup orang lain lebih enak daripada dirinya.

 


Maka jaga hubungan baik, tidak usah arogan atau subjektif dalam bertindak. Rileks saja, karena semuanya sudah ada jalannya. Kita juga tidak perlu terlihat pintar setiap saat. Tidak perlu mendominasi percakapan. Tidak perlu mengoreksi semua hal. Terkadang yang membuat orang bertahan di sekitar kita bukan karena apa yang kita tahu. Tapi karena bagaimana kita membuat mereka merasa nyaman di dekat kita. Enak ngobrol dengan kita. Sederhana kan?  

 

Sikap menjaga hubungan baik itu penting. Dan sikap itu bukan soal umur, bukan soal pangkat atau seberapa tinggi kita berdiri? It’s about how u treat people when you don’t have to. Tentang bagaimana kita memanusiakan manusia tanpa pilih-pilih, tanpa merasa lebih tinggi. Kalau ingin dihargai, ya kita harus belajar menghargai. Respect itu bukan sesuatu yang bisa dituntut. It’s something you give first. Jadi, berperilakulah sebagai mana kita ingin diperlakukan. Untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.

Ngobrol Bareng Teman: Pulang Kerja Capek, Isinya Energi Buruk

Saya punya teman, sudah 20 tahun lebih kerja di pom bensin alias bagian distribusi BBM. Dia kasih tahu satu hal di pom bensin yang 99% orang nggak tahu selama ini. Dan itu akhirnya, bisa mengubah cara kita melihat keluarga. Kok bisa?

 

Kata teman saya yang sudah malang-melintang di pom bensin. Suatu hari, lagi ngopi sambil makan ketupat padang bareng, dia bilang: "Elo tahu nggak, di pom bensin itu ada satu aturann yang kalau dilanggar, satu pom bensin bisa meledak?"

Saya pun berpikir, “Apa ya? Nggak boleh merokok ya?"

"Bukan. Itu mah semua orang tahu." kata teman saya.

"Terus apa?", tanya saya  

"Yang nggak banyak orang tahu adalah “urutan pengisian”. Jadi gini, tangki di bawah tanah pom bensin diisi oleh truk tangki. Prosesnya namanya "pembongkaran." Dan ada aturan: setelah truk tangki selesai mengisi tangki bawah tanah, harus ada “jeda minimal 30 menit” sebelum pom bensin boleh melayani pelanggan lagi”.

 

Kenapa begitu? Karena proses pengisian itu “mengaduk” endapan di dasar tangki. Air, kotoran, partikel karat, semua teraduk dan tercampur ke dalam bensin.  

Kalau elo isi bensin tepat setelah truk tangki selesai bongkar, elo nggak isi bensin murni.
Elo isi bensin + air + kotoran. Dan itu bisa merusak mesin motor/mobil elo pelan-pelan tanpa disadari. Makanya, kalau elo lihat ada truk tangki Pertamina lagi nongkrong di pom bensin, mendingan cari pom bensin lain. Atau tunggu 30 menit, begitu kata teman saya. Saya pun terdiam. 

 

Terus teman saya nambah satu kalimat yang bikin saya mikir sampai sekarang: "Tahu nggak kenapa gue ceritain ini ke elo? Karena keluarga, juga kayak tangki bensin."

Saya malah bingung, tangki bensin berhubungan sama keluarga, kok bisa?

"Ibaratnya, elo pulang kerja. Capek. Kepala penuh masalah kantor. Emosi terpendam. Stres.  Kelelahan. Semuanya teraduk jadi satu. Itu sama saja, elo itu truk tangki yang baru selesai “bongkar”. Dan yang pertama elo temui di rumah? Anak. Istri” katanya.

"Jadi, kalua langsung berinteraksi tanpa jeda, apa yang elo 'tuangkan' ke keluarga bukan cinta. Tapi endapan kotor di kantor elo”.

"Emosi negatif. Kesabaran yang tipis. Nada bicara yang tinggi. Muka yang datar."

Saya sampai merinding dengarnya waktu dia ngomong gitu. Semuanya karena endapan yang “kotor”, yang bikin emosi.

 


Ada buku judulnya "The Seven Principles for Making Marriage Work" karya John Gottman. Di buku itu, ternyata bilang 96% percakapan bisa diprediksi hasilnya “dari 3 menit pertama”. Kalau 3 menit pertama kita pulang kerja itu penuh keluhan dan muka masam, pasti seluruh sisa waktu yang ada jadi rusak.

Studi dari American Psychological Association: orang yang nggak punya ritual transisi dari kerja ke rumah berpotensi 2 sampai 3 kali lebih mungkin ribut sama pasangan di malam hari. Kata teman saya lagi, "Makanya di Pertamina dan pom bensin, kasih jeda 30 menit supaya endapan kotor itu mengendap dulu."

"Tapi di rumah, elo hanya butuh 15 menit". Lima belas menit sebelum pulang ke rumah: nongkrong dulu sama teman-teman sambil ngopi atau makan ketupat padang. Atau duduk dulu di mobil atau di warung depan gang. Tarik napas sambil nyeruput secangkir kopi. Matikan HP sebentar, biarkan endapan rusak itu turun. Baru pulang ke rumah.

 

Bukan malah dengan sisa energi yang jelek langsung pulang ke rumah. Karena di situ, masih ada “kotoran” sisa kantor yang masih mendendap. Jadi, banyakin ngopi sambil canda tawa dengan teman di tempat ngopi. Hidup kita jadi tenang dan rileks. Gampang kan, mau coba nggak? Mengelola emosi dengan secangkir kopi …

 

Dan saya pun mengajak teman-teman alumni 18KS2 program doktor manajemen pendidikan pascasarjana Unpak untuk ngopi dulu sambil makan ketupat padang, yummy ...



Kisah Pak Darto Pensiunan: Terbelit Utang dan Gagal Bayar

Pak Darto dulu dikenal sebagai karyawan yang rajin dan setia di sebuah perusahaan swasta di jakarta. Selama lebih dari 26 tahun bekerja, ia selalu datang paling pagi dan pulang paling akhir. Namun, di balik kerja keraasnya, ada satu hal yang ia abaikan selama bekerja: tidak menyiapkan masa pensiun. Terlalu enak kerja dan cuek terhadap hari tuanya sendiri. Baginya, gaji bulanan hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan sedikit gaya hidup. Tidak ada gaji yang disisihkan untuk tabungan pensiun. Ia selalu berpikir, “Pensiun nanti saja, masih lama.”

 

Setiap kali ada rekan kerja yang mulai membicarakan tabungan hari tua atau program pensiun, Pak Darto hanya tersenyum. Mau tahu tapi tidak mau siapkan. Ia lebih memilih menggunakan penghasilannya untuk merenovasi rumah, membeli kendaraan baru, dan membantu kebutuhan keluarga besar. Ia merasa selama masih bekerja dan sehat, semua akan baik-baik saja. Masa pensiun terasa terlalu jauh untuk dikhawatirkan.

 

Waktu pun berlalu tanpa terasa. Pak Darto akhirnya mencapai masa pensiun, saatnya berhenti bekerja. Di hari terakhirnya bekerja, ia menerima uang pesangon yang menurutnya cukup besar. Ia merasa lega, bahkan sempat berpikir hidupnya akan tetap nyaman. Kan ada uang pesangon, pikiran. Namun, tanpa perencanaan yang matang, uang pesangon perlahan habis, tidak sampai 2 tahun setelah pensiun. Sebagian untuk membantu anak, sebagian untuk kebutuhan sehari-hari, dan sebagian lagi untuk memenuhi keinginan yang dulu tertunda.

 


Memasuki tahun ketiga masa pensiun, keadaan mulai berubah. Gaji sudah tidak ada, uang pesangon sudah habis. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Biaya makan sehari-hari, listrik, air, internet di tumah, hingga kebutuhan kesehatan semakin terasa berat. Pak Darto mulai mengambil utang kecil untuk menutupi kekurangan biaya bulanannya. Awalnya ia yakin bisa mengatur, tetapi kenyataannya semakin sulit.

 

Utang itu kemudian menumpuk. Dari pinjaman tetangga hingga cicilan di koperasi, semuanya mulai jatuh tempo. Tanpa penghasilan tetap, Pak Darto mulai kesulitan membayar utang. Ia yang dulu dihormati sebagai pekerja keras kini harus menghadapi kenyataan pahit di hari tua: gagal bayar utang. Rasa malu dan penyesalan perlahan menghantui hari-harinya.

 

Dalam kesunyian rumahnya, Pak Darto sering termenung sendiri. Ia mulai menyadari bahwa kesalahannya bukan karena kurang bekerja keras, melainkan karena tidak merencanakan masa masa pensiunnya sendiri. Ia terlalu fokus pada hari ini, tanpa memikirkan hari esok. Setiap tagihan yang datang seperti pengingat akan keputusan-keputusan masa lalunya. Dan semuanya sudah terlambat, kini Pak Darto hidup dalam belitan utang dan kekuarangan secara finansial.

 

Di usia senja, Pak Darto hidup dengan keterbatasan dan penyesalan. Ia berharap waktu bisa diputar kembali, agar ia bisa mulai menabung untuk pensiun sejak dulu. Sayang semuanya sudah terlambat bagi Pak Darto. Kisah Pak Darto hanya menjadi pelajaran berharga: bahwa masa pensiun bukan sekadar akhir dari bekerja, tetapi awal dari kehidupan yang harus dipersiapkan dengan bijak sejak dini. Maka selali masih bekerja, siapkanlah masa pensiun kita sendiri. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DanaPensiun



Kamis, 09 April 2026

Literasi Kebaikan: Knowing the Good atau Doing the Good?

Kebaikan itu tidak cukup berhenti pada pengetahuan karena pada dasarnya nilai moral baru memiliki makna ketika diwujudkan dalam tindakan nyata. Seseorang bisa saja memahami apa itu jujur, adil, atau peduli, tetapi tanpa perilaku yang mencerminkan nilai-nilai tersebut, pengetahuan itu belum memberi dampak apa pun bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

Dalam filsafat moral, sangat jelas dibedakan antara “knowing the good” dan “doing the good”. Yang pertama bersifat kognitif, sedangkan yang kedua bersifat praksis. Kebaikan yang hanya diketahui ibarat peta tanpa perjalanan: memberi arah, tetapi tidak membawa kita ke tujuan.

 

Maka salah satu indikator kebaikan, tanpa basa-basi. Silakan cek saja, apakah kita sudah memiliki 7 tanda baik di dalam diri sendiri:

 

1. Tidak sibuk menjatuhkan orang. Karena kkita lebih suka damai daripada drama. Energi kita terlalu berharga buat dihabiskan untuk hal-hal negatif.

2. Mudah memaafkan. Bukan kita lupa sakitnya tapi kita sadar, dendam itu berat. Dan kita lebih memilih yang ringan-ringan saja.

3. Tidak iri dengan rezeki orang. Karena kita tahu, tiap orang punya timeline hidupnya sendiri, punya ikhitar masing-masing. Jika sudah hak kita, nggak bakal salah Alamat pastinya.  

4. Tetap tenang saat disalahpahami. Karena nggak semua tuduhan butuh penjelasan. Yang penting, kita tahu siapa diri kita sebenarnya.



5. Senang membantu tanpa pamrih. Karena hati kita punya ruang luas untuk berbagi. Kita memberi bukan untuk dilihat tapi bentuk vibrasi rasa bahagia kita sendiri.

6. Tidak haus validasi. Kita tetap berbuat baik walaupun nggak ada yang lihat. Karena standar kita bukan tepuk tangan manusia.

7. Menjaga lisan. Sebab kita paham: kata bisa jadi doa atau bisa jadi luka. Maka itulah, kita berhati-hati dalam lisan bahkan Tindakan.

 

Kebaikan itu tafsirnya Tunggal, tidak bias. Sebab ajarannya pun jelas. Karena itu, hanya perilaku dan Tindakan yang membuat kebaikan jadi terlihat, teruji, dan dirasakan dalam kehidupan sosial. Orang lain tidak bisa menilai isi pikiran kita, tetapi bisa merasakan dampak dari tindakan kita. Apakah kita menolong, menghargai, atau justru merugikan? Dengan bertindak baik secara konsisten, seseorang juga membentuk karakter dan kebiasaan yang memperkuat nilai-nilai baik dalam dirinya.

 

Jadi, kebaikan perlu “ciri” dalam perilaku karena di situlah ia menjadi nyata, membangun kepercayaan, dan menciptakan perubahan yang konkret. Maka kenali 7 tanda baik pada diri sendiri, tidak perlu menyalahkan orang lain. Salam literasi!

 

Tafsir Soal Dana Kompensasi Pascakerja atau Dana Pesangon di DPLK?

Sesuai Edaran terkait Penyelenggaraan Dana Kompensasi Paska Kerja di DPLK dari PPDP OJK No: S-11/D.05/2026 tanggal 30 Maret 2026, dinyatakan terdapat perbedaan pemahaman/penafsiran atas ketentuan terkait pengelolaan Dana Pesangon, khususnya yang diatur dalam POJK No. 27/2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Dana Pensiun.

 

Ditegaskan, Dana Pesangon (Dana Kompensasi Pascakerj – DKP) dapat dikategorikan sebagai Manfaat Pensiun Lainnya apabila manfaat yang diterima mengikuti ketentuan mengenai manfaat pensiun sebagaimana diatur dalam Bab III POJK 27/2023, khususnya Bagian Ketiga Manfaat Pensiun DPLK (cermati Pasal 65 s.d. 78).

 

Bisa jadi, perbedaan pemahaman antar Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) dalam mengelola Dana Kompensasi Pascakerja (dana pesangon) akibat “masih adanya ruang interpretasi” dari regulasi yang ada. Karena memang, regulasi lebih mengatur prinsip-prinsip umum penyelenggaraan dana pensiun, termasuk fleksibilitas dalam desain program dan pengelolaan manfaat, namun tidak selalu memberikan petunjuk teknis yang sangat rinci untuk setiap skema, termasuk dana pesangon. Akibatnya, masing-masing DPLK menafsirkan batasan dan ruang lingkup pengelolaan dana pesangon secara berbeda sesuai dengan pemahaman internal dan kebijakan institusinya.

 

Di sisi lain, beda tafsir muncul karena adanya irisan antara ketentuan dana pensiun dan regulasi ketenagakerjaan, khususnya yang diatur dalam UU No. 6/2023 tentang Perppu cipta Kerja atau PP No. 35/2021 tentang tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja. Dana pesangon pada dasarnya adalah kewajiban pemberi kerja kepada pekerja. Sebagai uang kompensasi atau penghargaan yang wajib dibayarkan pemberi kerja/prusahaan kepada karyawan akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau berakhirnya masa kerja. Nah, ketika dana pesangon dikelola melalui DPLK, timbul pertanyaan apakah mekanismenya harus sepenuhnya mengikuti prinsip dana pensiun atau tetap tunduk pada karakteristik kewajiban pesangon? Interpretasi pada titik inilah membuat DPLK memiliki interpretasi berbeda terkait mekanisme pembayaran manfaat, ketentuan usia, cara administrasi dana, pola iuran, bahkan penerapan pajaknya.

 

Ambil contoh saja dan sebagai bahan diskusi. Di JHT BPJS, pembayaran manfaat dilakukan secara lumpsum (sekaligus) namun harus mencapai usia 56 tahun dengan pajak final 5%, sementara uang pesangon (bila didanakan self funding oleh perusahaan), maka dibayarkan sepenuhnya dari “kantong” perusahaan dengan syarat “terjadi berakhirnya masa kerja” si karyawan (PHK, pensiun, meninggal dunia) dengan pajak progresif (walau kebijakan perusahaan bisa gross atau net). Nah, bagaimana dana pesangon yang didanakan melalui DPLK? Pembayaran manfaatnya lumpsum (sekaligus) dalam jumlah tertentu atau berkala bila melebih julah tertentu? Bila belum mencapai usia pensiun (UPD/UPN), tentu pajaknya progresif dan/atau “ditunda”? Jangan sampai usia pensiun belum tercapai, mau dibayar lumpsum dan pajak 5% final? Ini butuh pemahaman bersama dan tentu edukasi yang permanen.

    

Faktor lain yang menyebabkan variasi penafsiran adalah belum seragamnya pemahaman mengenai klasifikasi program. Sebagian DPLK, mungkin menganggap dana pesangon sebagai bagian dari program pensiun iuran pasti (PPIP) yang dimodifikasi (apa iya?), sementara yang lain melihatnya sebagai skema terpisah yang hanya “dititipkan” pengelolaannya. Perbedaan klasifikasi ini, tentu berdampak pada sistem administrasi, cara pengelolaan investasi, pencatatan akuntansi, hingga perlakuan terhadap risiko, sehingga implementasinya di lapangan menjadi tidak seragam. Lagi-lagi, kita butuh diskusi dan kesepahaman terkait administrasi dan operasional dana kompensasi pascakerja atau dana pesangon di DPLK.

 

Juga tidak kalah penting, soal tingkat kesiapan dan kapasitas masing-masing DPLK ikut  memengaruhi interpretasi regulasi. DPLK yang memiliki pengalaman “lebih panjang” dan sistem yang matang cenderung mengembangkan penafsiran yang lebih komprehensif dan berhati-hati. Sebaliknya, DPLK yang “masih berkembang” mungkin lebih konservatif atau justru lebih fleksibel dalam menafsirkan ketentuan, tergantung pada strategi bisnis dan kapasitas pemahaman program secara internal. Di sini, akhirnya timbul “mazhab berbeda” terkait dana pesanon. Lagi-lagi, kapasitas dan kompetensi tanpa disadari makin memperlebar perbedaan implementasi antar DPLK soal dana pesangon.

 

Mari kita ambil contoh, ketika sebuah perusahaan ikut Dana Kompensasi Pascakerja (DKP) di DPLK, apakah daftar nama karyawan yang berhak menerima manfaat ikut dilampirkan dan dicatat dalam sistem administrasi tersendiri? Bila iya, apa digabungkan dengan peserta PPIP? Lalu, komunikasi apa yang dilakukan untuk meng-update jumlah dan rincian karyawan yang berhak menerima manfaat? Semua layak didiskusikan dan disepahamkan.

 


Bila mau jujur, dinamika industri dan bisnis terus berkembang. Konstelasi pekerja atau karyawan pun kian kompleks. Maka program terkait dana pensiun sukarela, termasuk dana kompensasi pascakerja pun butuh adaptasi ke arah yang lebih baik. Agar DPLK lebih dipercaya, regulasi disesuaikan dinamika, tata kelolanya baik, manajemen risiko efektif, dan yang penting melindungi kepentingan peserta (baik pemberi kerja maupun karyawan). Apapun programnya, jangan sampai hanya “begitu-begitu saja atau begini-begini saja”. Sebagai contoh, secara subjektif, dana kompensasi pascakerja “tidak bisa lagi” ditawarkan kepada seluruh pekerja di suatu perusahaan hanya atas adanya “kewajiban bayar pesangon”. Harus bisa diverifikasi tingkat turn over pekerja seperti apa? Dengan kata lain, program DKP sebaiknya difokuskan pada “pekerja yang loyal dan bakal pensiun di suatu perusahaan”, bukan yang bakal di-PHK. Atau program DKP diberikan kepada karyawan yang punya masa kerja di atas 5 tahun (karena loyalitasnya teruji) sehingga tidak menimbulkan “tafsir beda” di kemudian hari.

 

Berbeda penafsiran, tentu sah-sah saja. Tapi jangan dibiarkan berlama-lama, karenanya perlu ada ruang diskusi untuk “saling adu argumentasi” sehingga “disepakati” argumen yang paling bisa diterima atau masuk akal terkait program di DPLK sebagai “best practice”. Itulah yang disebut kesamaan pemahaman. Jangan sampai program-nya sama DKP tapi impelmetasi dan pemahamannya berbeda. Regulasi dibuat, tentu untuk mencapai kesamaan pemahaman sebagai “standar praktik” bersama. Bila perlu, regulasi dapat disesuaikan bila dinamika dan pasar menghendakinya. Apapaun, pemahaman bersama menuju “tafsir tunggal” tentu lebih baik daripada bertahan pada “tafsir ganda”. Setuju kan?

    

Bila perlu, untuk mengurangi pemahaman beda yang melebar di DPLK, tidak ada salahnya dibuat kesepakatan berupa “pedoman teknis” atas suatu program di DPLK. Termasuk urusan “fee” yang “layak” di pasar, bukan fee yang “banting-bantingan”. Untuk apa? Agar tercapai pemahaman dan interpretasi yang sama tentang apapun di DPLK. Sebab, tanpa panduan yang seragam dan rinci, DPLK cenderung mengandalkan interpretasi masing-masing atau hasil konsultasi terbatas, yang tidak selalu konsisten dan belum sepenuhnya tepat. Lagi-lagi, tradisi berdiskusi dan komunikasi yang ajeg di DPLK memang perlu diperkokoh.

 

Pada akhirnya di DPLK, praktik industri dan kebutuhan pasar terus berdinamika. Karenanya selalu ada potensi tafsir yang berbeda. Setiap pemberi kerja memiliki kebutuhan yang berbeda dalam mengikuti program pensiun di DPLK, berbeda pula cara memenuhi  kewajiban pesangon kepada karyawannya. Karena itu, DPLK  pun harus berupaya menyesuaikan produk dan layanan agar tetap kompetitif dan sesuai regulasi yang berlaku. Lagi-lagi, ruang diskusi untuk menguji tafiran jadi makin perlu dan penting. Sebab, bila interpretasi terhadap regulasi hanya bersifat pragmatis maka ke depan berpotensi pula menimbulkan disparitas alias ketimpangan.

 

Karenanya, yuk diskusi melalui mekanisme yang objektif (bukan subjektif) untuk kemajuan industri DPLK ke depan dalam memenuhi kebutuhan pemberi kerja dan pekerja terkait dana pensiun sukarela. Dialog industri, penguatan kapasitas SDM, regulasi turunan, dan peningkatan literasi dan edukasi atas regulasi harusnya menjadi kunci untuk memajukan industri DPLK ke depan.

 

Pastinya, DPLK adalah program yang mulia untuk mempersiapkan kenyamanan pekerja saat pensiun, saat tidak bekerja lagi. Bisnia iktikad baik untuk hari tua. Maka kata Broery Marantika, biar "jangan ada dusta di antara kita". Salam semangat #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DanaPensiun



Unindra Gelar Lomba Pidato Bahasa Inggris tahun 2026 untuk Siswa, Mahasiswa, dan Guru

Lembaga Pengembangan Bahasa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) kembali menyelenggarakan Speaking Contest 2026 sebagai ajang penguatan kemampuan berpikir kritis, literasi, dan keterampilan public speaking generasi muda di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

 

Mengusung tema “Speaking in the AI Era: Literacy, Education, and Creativity of the Future Generation”, kompetisi ini terbuka bagi siswa SMA/SMK/MA, mahasiswa, serta guru SMP/SMA/SMK/MA dari berbagai daerah.

 

Rektor Unindra, Prof. Dr. Sumaryoto, menyambut baik kegiatan ini sebagai wujud inovasi institusi dalam pengembangan literasi bahasa dan peningkatan kemampuan berbahasa Inggris.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Unindra dalam meningkatkan literasi bahasa dan kemampuan memahami Bahasa Inggris sesuai dengan tuntutan dunia pendidikan saat ini,” ujarnya.

 

Kepala Lembaga Pengembangan Bahasa (LPB) Unindra, M. Kabul Budiono, menegaskan bahwa ajang ini memiliki nilai strategis dalam membangun kompetensi generasi muda.

“Ajang ini dirancang tidak sekadar sebagai lomba pidato, tetapi juga sebagai ruang aktualisasi gagasan dan kemampuan komunikasi peserta dalam merespons tantangan era digital. Peserta dituntut mampu menyampaikan ide secara kritis, kreatif, dan komunikatif dalam bahasa Inggris. Kompetisi ini juga menunjukkan kesungguhan Unindra dalam penyelenggaraan mata kuliah Bahasa Inggris,” jelasnya.

 

Kompetisi dibagi dalam dua skema, yaitu kategori kelompok untuk siswa (2–3 orang per tim) serta kategori individu untuk mahasiswa dan guru. Setiap peserta diwajibkan mengirimkan naskah gagasan dengan tingkat kemiripan maksimal 25 persen serta video presentasi berdurasi 5–10 menit.

 

Sekretaris LPB Unindra yang juga Ketua Panitia, Dr. Muhammad Sulhan, menyampaikan bahwa proses seleksi akan dilakukan secara ketat untuk menjaring peserta terbaik.

“Melalui tahapan seleksi yang objektif dan profesional, kami berharap dapat menghadirkan finalis yang tidak hanya unggul secara bahasa, tetapi juga memiliki kualitas gagasan yang kuat dan relevan dengan perkembangan zaman,” ungkapnya.



 

Proses seleksi akan menentukan lima peserta terbaik pada setiap kategori untuk melaju ke babak final yang dijadwalkan berlangsung pada 21 Mei 2026. Selain memperoleh uang pembinaan dan peluang beasiswa, para finalis juga akan mendapatkan pengalaman edukatif dan inspiratif. Sebanyak lima pemenang di masing-masing kategori akan dihadirkan pada acara final, mengikuti campus tour Universitas Indraprasta PGRI, serta berkesempatan melakukan kunjungan edukatif ke TVRI World dan RRI World (Voice of Indonesia). Dua lembaga penyiaran publik ini, yaitu RRI Siaran Luar Negeri atau yang dikenal Voice of Indonesia  ( VOI ) dan TVRI World menjadi media partner dalam kegiatan kompetisi Pidato Bahasa Inggeris yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Bahasa Unindra. Baik VOI maupun TVRI World adalah stasiun penyiaran LPP RRI dan TVRI yang bertugas menyiarkan program ke luar negeri.

 

Rangkaian kegiatan dimulai dari pendaftaran pada 1 April hingga 10 Mei 2026, dilanjutkan dengan tahap penjurian pada 11–15 Mei 2026, serta pengumuman finalis pada 17 Mei 2026.

Menariknya, kompetisi ini memberikan akses luas bagi pelajar dengan bebas biaya pendaftaran untuk kategori siswa, sementara mahasiswa dan guru dikenakan biaya yang relatif terjangkau, masing-masing Rp25.036 dan Rp50.036.

 

Melalui kegiatan ini, Unindra menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam penguasaan bahasa, tetapi juga memiliki daya pikir kritis, kreativitas tinggi, serta kesiapan menghadapi transformasi global di era AI. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi: Puji Anto (0813 8397 2448) Email: unindra.lpb@gmail.com

Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan - https://forms.gle/eu9zArkU6mHam8jX

Informasi selengkapnya dapat mengunjungi  https://lpb.unindra.ac.id/index.php/speaking-contest-2026/

 

Literasi Para Doktor: Ilmu Jangan Terbang saat Dipuji, Jangan Hancur saat Diabaikan

Di suatu sore yang hangat masih di suasana Idulfitri 1447 H, lima sahabat yang dulu satu kelas S3 di 18KS2 (Angkatan 2018) Program Doktoral Manajemen Pendidikan Unpak sekaligus dosen Universitas Indraprasta PGRI Jakarta akhirnya bersilaturahmi sambil menikmati ketupat padang + tunjang. Sederhana tapi berkesan, begitu obrolan yang dibangun sambil berkisah masa-masa kuliah dan menuntaskan disertasi. Di balik kesibukan tugas mengajar masing-masing, sebut saja “sidang” para doktor ini menjadi bagian komitmen untuk merawat pertemanan plus obrolan ringan dan serius.

 

Mereka adalah Dr. Dasmo, Dr. Huri, Dr. Ghufron, Dr. Irwan, dan Dr. Syarif mewakili 23 orang teman sekelas 18KS2 S3 MP Unpak menjaga soliditas sejawat, di samping ngobrol ilmiah yang bernas untuk publikasi jurnal ilmiah. Pertemuan itu berlangsung di tempat kuliner pinggir jalan dekat kampus, dengan suasana santai namun penuh kehangatan. Tawa dan cerita masa lalu mengalir begitu saja, seolah waktu tidak pernah memisahkan masa-masa di kelas dulu.

 

Setelah obrolan ringan tentang masa-masa perjuangan dan pekerjaan, diskusi perlahan beralih ke topik yang lebih serius. Ngobrol tentang publikasi jurnal ilmiah, tantangan dunia pendidikan, hingga obrolan pentingnya menyiapkan masa pensiun. Karena siapapun, cepat atau lambat pasti akan pensiun. Masalahnya, apakah punya kesinambungan penghasilan di hari tua atau bergantung kepada anak? Biar tidak hanya asyik mengajar tapi juga mulai mempersiapkan hari tua dengan lebih baik.

 

Sementara obrolan penuh canda berlanjut, mulailah suguhan khas “teh talua pinang” dihidangkan ke atas meja. Segelas minuman tradisional yang popular, dikenal berkhasiat meningkatkan stamina pria secara drastis, mengurangi kelelahan, dan memberikan kehangatan tubuh. Kombinasi kuning telur bebek, teh, dan parutan pinang muda ini kaya nutrisi untuk meningkatkan energi, melancarkan peredaran darah, serta berpotensi menjaga kesehatan jantung. Sebuah bukti para doktor pun peduli terhadap Kesehatan, tentu lahir dan batin.

 

Energi teh talua pinang yang membara, akhirnya membawa obrolan berujung pada tekad untuk tetap menjalin silaturahmi sesama teman sekelas semasa kuliah S3 MP di 18KS2 Unpak. Sebagai cara untuk menjaga semangat kebersamaan sekaligus berbagi cerita ringan tentang apapun. Boleh serius boleh topik-topik yang rileks. Untuk menjaga keseimbangan hidup lahir batin, tetap rileks di tengan kesibukan mengajar.



Diskusi semakin hidup ketika mereka mulai saling mengaitkan perspektif masing-masing, dari berbagai latar belakang program studinya. Ada yang dari Bahasa Indonesia, Bahasa Inggria, Fisika, dan Biologi namun dalam rumpun pendidikan. Meskipun program studinya berbeda, mereka menemukan titik temu: “bahwa solusi terbaik ilmu adalah yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis kolaborasi”. Percakapan pun terasa seperti kembali ke masa kuliah dulu, idenya liar namun semangatnya tetap objektif. Di situlah bukti, betapa saling terhubungnya berbagai bidang ilmu bila diikat dengan pertemanan.

 

Tidak terasa waktu Magrib tiba, siding para doktor ditutup. Sebagian Kembali ke rumah, sebagian mengajar kelas malam. Diiringi rasa syukur dan harapan baru untuk tetap menjaga silaturahmi. Bersepakat untuk tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi juga merancang kolaborasi bersama yang positif. Sidang para doktor ini bukan sekadar temu kangen, melainkan awal dari melanggengkan persahabatan untuk memberi dampak nyata kepada masyarakat.

 

Dalam gelapnya malam, lima doktor itu “membungkus” satu keyakinan: ilmu akan lebih bermakna jika dibagikan dan diperjuangkan bersama. Dan akhirnya, ilmu tidak boleh terbang saat dipuji, tidak boleh hancur saat diabaikan. Salam sidang para doktor.


Rabu, 08 April 2026

Literasi Dana Pensiun: Hidup Sederhana di Hari Tua

Di sebuah sudut kota kecil, hiduplah seorang pria bernama Arif yang dikenal sederhana oleh orang-orang di sekitarnya. Ia tidak memiliki rumah mewah, tidak pula kendaraan mahal. Pakaian yang dikenakannya biasa saja, bahkan sering terlihat itu-itu saja. Namun, setiap kali orang bertemu dengannya, ada satu hal yang selalu sama: wajahnya tenang, senyumnya tulus, dan sorot matanya terasa ringan tanpa beban.

 

Arif bekerja sebagai pengelola taman bacaan kecil di lingkungannya. Penghasilannya tidak besar, bahkan sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi ia tidak pernah terlihat mengeluh. Baginya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa cukup ia merasa. Setiap hari, ia melayani anak-anak yang datang membaca, mengajari mereka dengan sabar, dan pulang dengan hati yang penuh, meski kantongnya tidak selalu penuh.

 

Malam hari adalah waktu yang paling ia nikmati. Tanpa pikiran yang berisik tentang persaingan atau keinginan untuk terlihat hebat di mata orang lain, Arif bisa tidur dengan nyenyak. Ia makan dengan sederhana, tapi selalu terasa nikmat karena tidak dibumbui oleh kecemasan. Hidupnya mungkin tampak biasa dari luar, tetapi di dalam, ia merasakan ketenangan yang jarang dimiliki banyak orang.

 

Suatu hari, seorang teman lamanya datang berkunjung. Temannya itu sukses secara materi: rumah besar, mobil mewah, dan kehidupan yang tampak sempurna. Namun, di balik semua itu, ia mengaku sulit tidur, pikirannya penuh tekanan, dan hidupnya terasa berat. Makanan pun sudah banyak yang dilarang.. Ia heran melihat Arif yang tampak bahagia dengan kehidupan yang jauh lebih sederhana. “Apa rahasianya?” tanyanya dengan penasaran.

 


Arif hanya tersenyum dan menjawab pelan, “Saya tidak mengejar untuk terlihat tinggi di mata orang lain. Saya hanya berusaha tidak meninggikan diri. Prinsip saya sederhana: merendahkan hati, meningkatkan mutu. Kalau hati rendah, kita tidak mudah iri. Kalau mutu meningkat, kita tetap bertumbuh tanpa harus pamer.” Jawaban itu sederhana, tapi mengena, seolah membuka sesuatu yang selama ini terlupakan.

 

Sejak hari itu, temannya mulai belajar dari Arif. Bukan tentang bagaimana memiliki lebih banyak, tetapi bagaimana merasa cukup. Arif tetap menjalani hidupnya seperti biasa, tanpa berubah. Ia tidak dikenal luas, tidak dipuji banyak orang, tetapi hidupnya penuh berkah yang tidak bisa dihitung. Karena pada akhirnya, yang membuat hidup terasa kaya bukanlah apa yang terlihat, melainkan apa yang dirasakan di dalam hati.

 

Dan yang tidak kalah penting, saat hidup di hari tuanya, Arif sudah mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Agar tidak merepotkan anak, tidak bergantung pada orang lain. Tetap ikhtiar berbuat baik dan menebar manfaat selagi bisa dan mampu. Di usia senja, bersyukur bisa menikmati apa yang dimiliki, tentu sudah cukup!

 


12 Hal Realitas Hidup, Harus Terima!

Belakangan banyak orang keluh-kesah soal realitas hidup. Susah menerima dan tidak mau jujur pada dirinya sendiri. Bahwa dalam hidup, tidak ada satu orang pun yang baik-baik saja. Semua ada masalahnya sendiri. Tinggal bagaimana menyikapi realitas hidup. Bila mampu, ikhtiar untuk diselesaikan. Bila tidak mampu, di situlah pentinya sikap bijak dalam menyikapinya.

 

Ini bukan soal uang, bukan soal pangkat apalagi jabatan. Tapi tentang literasi kehidupan. Cara untuk menerima realitas hidup. Agar tetap waras, bukan malah terpuruk karena keadaan.

 

Setidaknya ada 12 (dua belas) realitas hidup yang harus disikapi. Agar bisa tetap tumbuh dan ikhtiar yang baik, apapun keadaannya. Sadarilah tiap realitas hidup yang mungkin terjadi dan bisa dialami siapapun bahwa:

1. Orang tua kita tidak akan selalu ada selamanya.

2. Orang yang kita cintai akan menyakiti, entah disengaja atau tidak.

3. Teman bisa berubah jadi orang asing lebih cepat dari yang kita kira.

4. Keluarga dan uang adalah dua hal yang paling berpengaruh.

5. Hidup tidak akan menjadi lebih mudah, justru kita yang harus menjadi lebih kuat. 

6. Patah hati dan kegagalan selalu ada dan jadi bagian dari kehidupan.

7. Tidak seorang pun peduli pada alasan kita, mereka hanya ingin melihat hasilnya.

8. Kesuksesan seringkali menuntut pengorbanan kenyamanan.

9. Tidak ada tempat seaman dan senyaman rumah.

10. Kita tidak berhak mendapatkan apa pun begitu saja, semuanya harus diperjuangkan.

11. Selalu ada orang yang tidak senang pada kita, tidak mungkin semuanya senang.

12. Tidak ada satu orang pun yang baik-baik saja, hanya soal cara menjalaninya yang beda.

 

Maka bersikaplah realistis dalam hidup. Jangan hidup dalam angan dan mimpi. Hadapi apapun yang terjadi dengan lapang hati, sabar, dan syukur. Sebab hidup di mana pun memang tidak selalu mudah. Tapi selalu ada ruang untuk tumbuh, belajar, dan memperbaiki diri. Selalu ada hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk membuat hidup menjadi lebih bermakna. Literat itu mampu menerima realitas hidup, jadilah literat. Salam literasi!