Ada pekerja yang takut saat kerja tahu-tahu kena PHK daripada saat pensiun tidak punya uang. Mungkin banyak pekerja lebih takut tidak punya kuota internet daripada tidak punya dana pensiun. Lebih senang punya gaya hidup selagi kerja daripada mengalami masalah keuangan di hari tuanya. Begitulah realita yang ada di kalangan pekerja.
Bagi seorang pekerja, PHK bisa terjadi kapan saja. Kuota internet sebenarnya tidak terlalu urgen. Gaya hidup pun bisa dikurangi. Bahkan saat bekerja, mungkin semua kebutuhan masih bisa diusahakan karena masih punya gaji. Tapi siapapun yang bekerja, masa pensiun pasti datang. Hari tua yang jadi sebab kita harus pensiun pasti tiba. Lebih dari itu, semua biaya dan standar hidup harus tetap dipenuhi. Beban finansial di hari tua akan terus berjalan sekalipun kita sudah tidak lagi bekerja.
Bila seorang pekerja tidak punya dana pensiun, ceritanya berbeda. Saat pensiun hanya mengandalkan uang pesangon dari perusahaan, ternyata sering kali habis sebelum waktunya karena dipakai untuk konsumsi biaya besar seperti beli kendaraan atau renovasi rumah. Uang JHT BPJS sering habis tidak lebih dari 60 bulan setelah berhenti bekerja. Lalu, dari mana uang untuk memenuhi biaya hidup di masa pensiun?
Saat kita pensiun, sudah pasti tidak punya gaji lagi. Penghasilan bulanan berhenti, pemasukan tidak ada lagi. Tapi biaya hidup tetap ada, standar hidup harus dijaga. Bahkan seringkali uang yang dibutuhkan jauh lebih besar daripada saat masih bekerja.
Biaya-biaya di hari tua tetap ada. Seperti bayar listrik dan air. Belanja rutin bulanan untuk rumah tangga. Biaya makan. Biaya internet. Bahkan biaya kesehatan atau beli obat harus tetap disiapkan. Belum lagi biaya hiburan atau rekreasi. Plus biaya rutin tiap keluarga yang berbeda-beda. Semua biaya tetap harus berjalan. Belum lagi tekanan post power syndrome dan pengaruh emosional.
Dan faktanya saat ini, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan biaya hidup dari transferan anaknya setiap bulan (ADB, 2024). Laporan BPS (2024) menyebut 84% pensiunan atau lansia menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota rumah tangga yang bekerja, hanya 5% dari uang pensiunnya sendiri. Ini artinya, 8 dari 10 pensiunan bergantung secara finansial kepada anggota keluarganya yang bekerja.
Realitas pekerja di hari tua, jadi bukti bahwa pekerja tidak “jatuh miskin” karena PHK, kuota internet atau gaya hidup. Tapi pekerja akan mengalami masalah keuangan dan gagal memenuhi satnadar hidupnya di masa pensiun karena tidak siap pensiun, tidak punya kesinambungan penghasilan di hari tua. Hidupnya tidak mandiri secara finansial di hari tua, akibat tidak punya dana pensiun yang dipersiapkan saat masih bekerja.
Karena, ujian terbesar pekerja bukan berjuang memenuhi kebutuhan bulanan saat masih bekerja dan masih punya gaji. Tapi bagaimana mempertahankan standar hidup di massa pensiun saat tidak punya gaji lagi. Tetap punya kesinambungan penghasilan sekalipun sudah pensiun. Itulah ujian ketahanan finansial di masa pensiun.
Karena itu, dana pensiun penting bukan karena takut miskin di hari tua. Bukan pula diabaikan saat masih bekerja dengan alasan gaji tidak cukup. Tapi dana pensiun soal memastikan biaya hidup tetap bisa diatasi sekalipun tidak punya gaji lagi. Soal kemandirian finansial di hari tua. Agar tidak merepotkan anak dan tidak bergantung secara finansial kepada keluarga. Dan tetap bisa menjalani hari-hari di hari tua dengan lebih tenang dan bahagia. Tidak stress, tidak gelisah karena soal uang.
Jadi, sudahkah kita siap pensiun? Sebelum saat pensiun benar-benar datang nantinya. Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM








_cropped_processed_by_imagy.jpg)









_cropped_processed_by_imagy.jpg)

%20rev.jpg)
%20rev.jpg)

.jpeg)
.jpeg)