Cut the Noise, Back to Essential, dapat diartikan singkirkan kebisingan, kembali ke hal-hal yang mendasar (esensial). Begitulah nasihat untuk diri sendiri dan gaya hidup. Bahkan untuk pengembangan diri sehingga fokus hal-hal prioritas. Tanpa perlu peduli dan ikut campuur pada urusan orang lain.
Maka berhentilah memusingkan
gangguan (noise) yang tidak penting. Hindari orang-orang toxic, jauhkan dari
validasi orang lain. Agar fokus pada diri sendiri, untuk selalu memperbaiki
diri. Lebih fokus pada tujuan baik diri sendiri. Energi yang dihabiskan untuk
tujuan baik diri sendiri.
Kenapa orang pintar sering
kalah atau gagal? Karena orang pintar sering tidak punya 3 (tiga) tiga hal yang
penting untuk dirinya sendiri. Banyak orang yang merasa sudah cukup “pintar”, nilainya
bagus, wawasannya luas, dan logikanya tajam. Tapi anehnya, justru yang maju
lebih cepat adalah orang yang berani bergerak, bukan yang pintar.
1. Mental
inisiatif orang pintar sering menunggu “waktu tepat”. Sementara orang biasa
(bukan orang pintar) langsung mencoba dan belajar sambil berjalan. Kerjakan
dulu, lalu diperbaiki bila ada yang kurang. Bedanya, orang piintar selalu
berpikir tentang kemungkinan, sementara orang biasa bergerak untuk mendapat pengalaman
yang berharga.
2. Konsistensi.
Banyak orang piintar hanya jago di awal, tapi tidak tahan prosesnya. Orang pintar
sering bosan bila hasilnya tidak secepat harapannya. Akhirnya tidak konsisten
dan mundur setahap demi setahap. Padahal konsistensi itu bukan bakat atau
harapan, melainkan keputusan harian yang selalu dikerjakan.
3. Arah
yang jelas. Orang pintar sering kali terlalu sibuk untuk jadi “serba bisa”. Sampai
lupa menentukan mau apa dan ingian jadi siapa? Orang pintar sering tanpa arah,
seperti kompas tanpa tujuan. Sementara orang biasa, cukup satu tujuan yang jelas
dan dikerjakan sepenuh hati, apapun kondisinya.
Orang pintar bukan tidak
kompeten. Tapi hidupnya lebih sering dibangun dari pendapat orang lain. Membangun
identitas dari opini orang lain. Saat dipuji, orang pintar akan semangat dan bekerja.
Tapi saat diremehkan justru frustrasi dan berhenti bergerak. Orang pintar lupa,
pendapat orang lain mudah berubah setiap saat. Jadi, untuk apa mencari
pengakuan dari orang lain?
Tidak sedikit orang yang
merasa pintar tapi belum (tidak) kemana-mana. Bukan karena logikanya kurang
tapi aksinya yang kurang dan arahnya belum jelas. Kita sering lupa, pintar itu
modal. Tapi yang bikin kita maju dan menang adalah keberanian membuka jalan,
tetap konsisten dan tahu ke mana akan pergi?
Maka mulai hari ini. Cut the noise,
back to essential. Singkirkan kebisingan, kembali ke hal-hal yang mendasar
(esensial). Tidak usah ikut campur urusan orang lain dan hindari validasi orang
lain. Sebab orang yang tahu value0nya sendiri, tidak tidak butuh pengakuan dari
eksternal. Orang biasa selama ini hanya fokus dengan tujuannya dan bekerja
keras untuk mewujudkannya. Sementara opini orang lain tidak akan menentukan
langkah kita.
Sibuklah pada diri sendiri,
bukan sibuk pada hidup orang lain. Karena hidup tidak ditentukan oleh “pintar”.
Tapi keberanian untuk melangkah. Jadilah literat!

%20rev.jpg)
.jpg)




%20rev.png)

.png)

.png)

.jpeg)
.jpeg)



.jpg)


