Minggu, 29 Maret 2026

Kisah Pak Darto Pensiunan: Terpaksa Minta Bantuan anak di Hari Tuanya

Pak Darto bekerja hampir sepanjang hidupnya. Sejak usia dua puluh lima tahun, ia sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit, berangkat kerja dengan semangat, dan pulang saat langit sudah gelap. Baginya, lelah adalah hal biasa, karena di rumah ada istri dan anak-anak yang selalu menjadi alasan untuk terus bertahan. Ia bukan orang yang banyak mengeluh, yang penting dapur tetap mengepul, anak-anak bisa sekolah, dan keluarganya hidup lebih baik darinya dulu.

 

Tahun demi tahun berlalu. Anak-anaknya tumbuh, satu per satu lulus, bekerja, bahkan berkeluarga. Pak Darto merasa bangga. Dalam pikirannya, semua pengorbanan itu terbayar lunas. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan masa pensiun. Baginya, selama masih bisa bekerja, ya bekerja saja. Soal nanti, ia percaya “pasti ada jalan.” Ia juga merasa anak-anaknya kelak akan membantu jika diperlukan. Keyakinan itu membuatnya tidak pernah menyisihkan dana khusus untuk hari tua.

 

Namun waktu tidak pernah bisa ditawar. Di usia 58 tahun, tubuhnya mulai sering sakit. Tenaga yang dulu kuat kini mudah lelah. Perusahaan tempatnya bekerja akhirnya tidak memperpanjang kontraknya. Sejak saat itu, penghasilannya berhenti. Tidak punya gaji lagi. Tabungan yang ada pun sangat terbatas, karena selama ini habis untuk kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak-anak. Awalnya ia mencoba bertahan dengan sisa uang yang ada, tetapi perlahan semuanya habis. Tidak punya uang lain.

 

Hari-hari Pak Darto menjadi jauh berbeda. Tagihan listrik mulai menunggak. Untuk makan, Pak Darto dan istrinya harus berhemat bahkan sering kali hanya makan seadanya. Dengan perasaan berat, ia mulai meminta bantuan kepada anak-anaknya. Bukan karena ingin, tetapi karena terpaksa. Setiap kali menghubungi anaknya, ada rasa yang sulit dijelaskan. Antara harap dan malu. Pak Darto yang dulu selalu memberi ke anaknya, kini harus meminta pada anaknya.

 


Di suatu malam, saat listrik hampir diputus karena belum dibayar, Pak Darto duduk diam di ruang tamu yang gelap. Ia menatap foto keluarganya yang tergantung di dinding. Dalam hatinya ada penyesalan yang pelan-pelan muncul. Bukan karena ia tidak bekerja keras. Tapi karena ia tidak pernah benar-benar mempersiapkan masa ketika ia tidak lagi bisa bekerja. Ia sadar, kerja keras saja tidak cukup tanpa perencanaan hari tua.

 

Kisah Pak Darto bukanlah cerita yang berdiri sendiri. Banyak orang menjalani hidup dengan pola yang sama. Fokus pada hari ini, tetapi lupa mempersiapkan hari esok. Seperti survei yang menyebut, ternyata 1 dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan transferan dari anaknya setiap bulan untuk biaya hidup. Sebuah potret hari tua pekerja yang hingga kini belum ada solusinya.

 

Di sinilah pentingnya dana pensiun. Dana pensiun bukan hanya soal angka atau tabungan, tetapi tentang menjaga martabat di usia tua, tentang tetap mandiri tanpa harus bergantung pada anak atau orang lain. Tentang memastikan bahwa pengorbanan puluhan tahun selama bekerja jangan sampai berakhir dengan kesulitan ekonomi di masa pensiun. Mandiri secara finansial itu bukan hanya saat bekerja tapi hingga masa pensiun yang harus dijalani.

 

Karena pada akhirnya, masa pensiun bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan fase hidup yang tetap layak dijalani dengan tenang. Dan ketenangan itu tidak datang tiba-tiba, yapi harus dipersiapkan sejak hari ini. Bersiapkan untuk pensiun, karena cepat atau lambat waktunya akan tiba. #YukSiapkanPensiun

 

 

Sabtu, 28 Maret 2026

Bila Sudah Tidak Antusias Bekerja ya Pensiun Aja, Kenapa?

Libur lebaran telah usai, besok Senin (20/3/2026), semua pekerja mulai aktivitas lagi ke kantor. Bekerja, bekerja, dan belerja seperti biasanya. Tapi bukan tidak mungkin, ada pekerja yang sejujurnya sudah tidak antusias dengan pekerjaan. Sehingga datang ke kantor hanya memenuhi rutinitas. Bekerja seperti hari-hari sebelumnya.

 

Banyak pekerja masih aktif datang ke kantor tapi sudah tidak antusias dengan pekerjaannya. Sebabnya, mungkin karena kita merasa di kantor hanya mengerjakan pekerjaan yang tidak penting. Bisa juga karena kita hanya mengerjakan pekerjaan yang “itu-itu lagi” dalam beberapa tahun terakhir. Atau berada di pekerjaan yang sebenarnya dapat dikerjakan oleh karyawan lain yang lebih junior. Tapi yang paling banyak, atas sebab burn out, sudah capek kerja. Lelah mental Lelah fisik.

 

Survei global dari Gallup (2024) menyebut hanya sekitar 20–25% pekerja di dunia yang benar-benar engaged (bersemangat dan terlibat dalam pekerjaan). Artinya, sekitar 75–80% pekerja berada pada kondisi tidak terlibat (disengaged) atau sangat tidak terlibat (actively disengaged). Itu artinya, mayoritas pekerja tidak bekerja dengan semangat optimal. Sekitar 7–8 dari 10 pekerja tidak bekerja dengan semangat penuh.

 

Sudah tidak semangat bekerja. Biasanya terlihat dari motivasi kerja menurun, produktivitas rendah, tidak antusias terhadap pekerjaan atau bekerja hanya “sekadar memenuhi kewajiban. Akhirnya, bekerja tidak lagi sebagai bagian aktualisasi diri atau berkontribusi atas keahlian. Tapi hanya sekadar kewajiban rutin. Dan pikiran mulai bergeser pada pertanyaan: “Setelah ini mau apa?”

 

Sayangnya di Indonesia, 9 dari 10 pekerja sama sekali tidak siap berhenti bekerja apalagi pensiun (HSBC, 2019). Akibat tidak tersedianya dana yang cukup untukmemenuhi kebutuhan hidup bila tidak bekerja lagi alias menganggur. Seperti “buah simalakama”, tetap datang ke kantor meskipun sudah tidak antusias terhadap pekerjaan tapi mau resign atau pensiun pun tidak siap. Begitulah kondisi psikologis banyak pekerja hari ini.

 


Sederhana saja sih. Bila sudah tidak antusias dengan pekerjaan tapi masih aktif datang ke kantor. Itu tanda-tanda kita sudah pengen berhenti bekerja alias pensiun. Tapi karena tidak punya persiapan pensiun (tidak punya dana pensiun) akhirnya tetap aktif datang ke kantor. Padahal, hati dan pikiran sudah tidak lagi “pengen ngantor”. Sebuah kondisi psikologis pekerja yang tidak disadari. Seseorang mungkin tetap datang ke kantor setiap hari, tetapi bekerja tanpa energi dan motivasi seperti sebelumnya. Pekerjaan sudah tidak lagi memberikan rasa aman. Eaktu produktif makin terbatas tapi persiapan keuangan belum optimal. Akibatnya, muncul rasa cemas yang menggerus antusiasme dalam bekerja.

 

Memang sulit sih, bila pekerja sudah berada di titik kejenuhan karier (career plateau) dan tidak lagi semangat bekerja. Tapi harus berhadapan dengan ketidakpastian finansial akibat tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Berada di posisi yang “serba tanggung”, belum siap berhenti bekerja tapi juga tidak lagi memiliki dorongan kuat untuk berkembang dan produktif di kantor. Bila sudah begitu, mau gimana lagi dong?

 

Maka penting bagi pekerja untuk melakukan evaluasi diri dan bersikap serius tentang perencanaan masa pensiun. Jangan sampai kerja bertahun-tahun tapi tidak mau mempersiapkan “masa pensiun”. Cepat atau lambat, siapapun akan pensiun. Jangan sampai gaji bulanan dipakai hanya untuk menutupin biaya hidup atau gaya hidup. Tapi tidak mau menyisihkan 10% - 15% gaji untuk dana pensiun. Kenapa dan alasan apalagi yang harus dibuat? Bila akhirnya sudah tidak antusias dengan pekerjaan tapi tetap datang ke kantor.

 

Bila dicermati, di stulah pentingnya dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Sebagai jaminan kesinambungan penghasilan saat tida bekerja lagi atau pensiun. Sebagai sumber penghasilan alternatif untuk menjaga standar hidup dan kemandirian finansial. Agar tidak bergantung secar ekonomi kepada orang lain. Punya dana pensiun itu bukan untuk kaya. Tapi untuk memastikan punya uang” bila berhenti bekerja, pensiun atau kondisi darurat terkait pekerjaan seperti di-PHK.

 

 

Di mata pekerja yang punya dana pensiun, mereka merasa lebih tenang punya dana pensiun. Bukan karena merasa kaya atau punya uang banyak. Tapi tidak khawatir bila situasi terburuk terjadi misal resign atau PHK. Sebab ada kepastian dana di saat tidak bekerja lagi. Maka dana pensiun bukan soal “nilai manfaatnya” tapi lebih ke “nilai psikologisnya”. Agar tetap semangat dan antusias untuk mencari alternatif “pekerjaan baru” yang lebih sesuai dengan passion. Masih dapat gaji bulanan masih aktif datang ke kantor tapi tidak antusias pada pekerjaan, kenapa tidak mau pensiun?

 

 

Jadi, bila pekerja masih aktif datang ke kantor tapi sudah tidak antusias dengan pekerjaannya itu tanda kita lebih baik pensiun. Alias berhenti dari pekerjaan yang sudah tidak lagi memotivasi. Bila masih aktif datang ke kantor, bisa jadi karena atasan segan untuk memecat atau perusahaan tidak mau bayar uang pesangon. Begitulah kira-kira.

 

Maka, siapkan masa pensiun sejak dini. Nabung di DPLK biar tetap punya uang saat pensiun atau saat berhenti bekerja. #YukSiapkanPensiun

Membaca Ungkapan "Tuhan Melihat Semua yang Kita Perbuat"

Ini sebuah ungkapan, yang berarti setiap tindakan, niat, dan perilaku kita tidak pernah luput dari pengawasan-Nya. Kita diajak untuk selalu berbuat baik, jujur, dan bertanggung jawab, meskipun tidak ada orang lain yang melihat.

 

Tuhan melihat semua yang aku perbuat, sebuah pengakuan jujur bahwa tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya. Setiap perbuatan, sekecil apa pun, diketahui dengan sempurna.

Tapi yang paling hebat adalah “Dia memilih tidak membeberkan aib dosa-dosa.” Meskipun manusia penuh kekurangan, Tuhan tetap menutupinya. Tuhan tidak pernah mempermalukan hamba-Nya, tidak membuka aib di hadapan manusia lain, bahkan memberi kesempatan untuk berubah. Selalu ada ampunan dan balasan, untuk menjadi lebih baik. Bukti bahwa Tuhan, penuh kasih sayang dan kelembutan terhadap hamba-Nya.

 

Sebagai hamba, inilah kesadaran yang seharusnya melahirkan rasa malu yang menyejukkan. Bukan malu yang membuat putus asa. Tapi malu yang mendorong untuk memperbaiki diri. Karena ketika seseorang menyadari betapa banyak dosanya yang ditutupi harusnya akan lebih lembut, lebih rendah hati, dan lebih berhati-hati dalam bertindak.

 


Tersirat pesan penting, agar manusia belajar meneladani sifat ini: tidak mudah membuka aib orang lain, sebagaimana Tuhan menutup aib kita.

 

Tuhan melihat semua yang aku perbuat. Ungkapan ini bukan hanya tentang dosa, tapi juga tentang harapan. Selama aib masih ditutup, berarti pintu taubat masih terbuka dari-Nya. Dan selama itu pula, selalu ada kesempatan untuk kembali menjadi lebih baik. Lebih baik dari yang kemarin.

 

Bahkan saat sedang membaca pun, Tuhan tahu apa yang ada di pikiran kita. Karena pada akhirnya, bukan penilaian manusia yang paling utama. Tapi pertanggungjawaban kita di hadapan Tuhan. Salam literasi!



Kisah Pak Darto: Ketika Hari Tua Datang Tanpa Persiapan

Pak Darto pernah menjadi sosok yang sangat dihormati di tempat kerjanya. Selama lebih dari dua puluh enam tahun tahun, ia bekerja dengan tekun di sebuah perusahaan swasta. Setiap pagi ia berangkat lebih awal, pulang menjelang malam, dan jarang sekali mengeluh. Bagi Pak Darto, bekerja adalah bentuk tanggung jawab terhadap keluarga. Ia merasa bangga bisa menyekolahkan anak-anaknya, membantu saudara yang kesulitan, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar ia pikirkan: masa pensiun.

 

Saat masih bekerja, Pak Darto merasa semuanya akan baik-baik saja. Gaji yang ia terima setiap bulan selalu habis untuk berbagai kebutuhan. Ada biaya sekolah anak, cicilan rumah, membantu orang tua di kampung, dan sesekali menikmati liburan bersama keluarga.

 

Beberapa temannya pernah berbicara tentang pentingnya menyiapkan dana pensiun atau investasi. Tapi Pak Darto selalu berkata, “Nanti saja, yang penting kebutuhan sekarang terpenuhi.” Ia merasa masa pensiun masih sangat lama.

 

Waktu berjalan tanpa terasa. Anak-anaknya tumbuh dewasa dan mulai menjalani kehidupan masing-masing. Hingga suatu hari, surat keputusan pensiun itu benar-benar datang. Di hari terakhirnya bekerja, Pak Darto menerima ucapan terima kasih dari rekan-rekan kerja. Mereka berjabat tangan, berfoto bersama, dan melepasnya dengan senyum.

 

Namun ketika hari-hari berikutnya datang, suasana berubah. Tidak ada lagi rutinitas kantor, tidak ada lagi gaji bulanan yang masuk ke rekeningnya. Awalnya Pak Darto masih merasa tenang karena ada sedikit tabungan. Ia mencoba menikmati masa pensiun dengan lebih banyak berada di rumah. tapi perlahan-lahan, tabungannya semakin menipis. Biaya hidup tetap berjalan: listrik, makan, kebutuhan rumah tangga, dan sesekali biaya kesehatan yang mulai muncul seiring bertambahnya usia. Pada titik itu, Pak Darto mulai menyadari bahwa ia tidak memiliki sumber penghasilan yang cukup untuk menjalani masa tuanya.

 

Dengan perasaan berat, Pak Darto akhirnya harus meminta bantuan kepada anak-anaknya. Anak-anaknya sebenarnya sangat menghormatinya dan berusaha membantu sebisanya. Namun mereka juga memiliki keluarga dan tanggung jawab masing-masing. Pak Darto sering merasa tidak enak hati setiap kali harus menerima bantuan. Ia yang dulu selalu memberi, kini perlahan menjadi pihak yang bergantung pada orang lain, pada anaknya.

 


Suatu sore, ketika duduk di teras rumah sambil memandang jalan yang mulai sepi, Pak Darto berkata pelan kepada seorang tetangganya, “Dulu saya pikir bekerja keras saja sudah cukup. Ternyata tidak. Seharusnya saya menyiapkan hari tua sejak masih punya penghasilan.” Kata-kata itu bukan keluhan, melainkan penyesalan yang lahir dari pengalaman hidup seorang Pak Darto.

 

Sejak saat itu, setiap kali ada orang yang lebih muda bercerita tentang pekerjaan dan penghasilan, Pak Darto selalu memberikan nasihat yang sama. Ia berkata bahwa bekerja bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan hari ini. tapi juga tentang menyiapkan kehidupan di hari tua, di masa pensiun. Karena ketika usia tidak lagi muda dan tenaga tidak lagi kuat, kemandirian finansial menjadi sesuatu yang sangat berharga. Harus punya uang di masa pensiun, biar tidak merepotkan orang lain, Pak Darto membatin.

 

Kisah Pak Darto bukan sekadar cerita tentang kekurangan uang di hari tua. Lebih dari itu, kisah ini adalah pengingat bahwa masa depan sering datang lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Persiapan yang dilakukan ketika masih produktif dapat menentukan apakah seseorang akan menjalani masa tua dengan tenang atau dengan ketergantungan pada orang lain? Dan bagi banyak orang, pelajaran itu sering kali baru terasa ketika waktu sudah terlalu jauh berjalan.

 

Begitulah potret seorang pensiunan, berjaya saat bekerja merana saat pensiun. #YukSiapkanPensiun

Jumat, 27 Maret 2026

Lebih Baik Baca Buku daripada Menyalahkan Orang Lain

Ini cuma pesan refleksi. Usai Lebaran, hindari manusia yang kerjanya menyalahkan orang lain. Karena lebaran adalah momentum kembali ke hati yang bersih. Setelah Idulfitri, kita diharapkan kembali ke kondisi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih rendah hati. Maka, bila ada orang yang kerjanya menyalahkan orang lain hindari saja. Mungkin, dia belum tahu arti lebaran?

 

Kebiasaan menyalahkan itu “energi negatif”. Orang yang gemar menyalahkan biasanya sulit introspeksi, cenderung mencari “kambing hitam”, dan membuat suasana tidak nyaman. Berada di dekat oranggseperti itu bisa melelahkan secara emosional dan memicu konflik berulang. Bergaul pada orang yang kerjanya menyalahkan, akan menghambat pertumbuhan diri dan hubungan baik. Orang yang tidak mau bertanggung jawab atas dirinya sendiri sulit berkembang, sulit belajar dari kesalahan, dan cenderung mengulang masalah yang sama. Bahkan susah memaafkan orang lain. jika terus dekat, kita bisa ikut terseret dalam pola pikir yang tidak sehat.

 

Hindari orang yang kerjanya menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan kita. Padahal, semuanya tergantung pikirand an tingkah lakunya sendiri. Orang model begitu, bicaranya bukan mencari solusi. Tapi mencaro-cari salahnya orang lan. Terkadang, justru salahnya dia sendiri. Tapi selalu berusaha untuk mencuci tangannya sendiri. Sekalipun harus mengotori nama orang lain.


Orang yang kerjanya menyalahkan orang lain. Saat dia salah, pasti orang lain yang disalahkan. Saat dia gagal, pasti orang lain juga yang dituduh penyebabnya. Bahkan saat kita diam, dia malah merasa menang. Jangan terjebak permainannya. Tidak semua yang menuduh kita patut dijawab. Tidak semua yang menyakiti kita layak dijelaskan. Biarkan saja dan hindari jauh-jauh.



Terkadang, ada fase dalam hidup ketika kita harus tegas. Menjaga jarak bukan karena benci tapi karena kita tahu nilai diri kita. Karena kita sadar, terus bertahan di dekat orang yang kerjanya menyalahkan orang lain hanya akan mengikis harga diri. Mengotori ketenangan hati kita sedikit demi sedikit.


Kita tidak diciptakan untuk menanggung kesalahan orang lain. Kita juga tidak wajib memikul luka yang bukan milik kita. Jika hari ini kita disalahkan atas sesuatu yang tidak kita lakukan, lepaskan! Serahkan pada Allah. Dia Maha Tahu siapa yang jujur, siapa yang memutar cerita, dan siapa yang diam padahal terluka.


Biarkan waktu yang membuktikan. Biarkan Allah yang membalikkan keadaan. Tugas kita hanya satu: tetap jaga hati, tetap luruskan niat, dan tetap berjalan tanpa harus menjelaskan
segalanya. Karena yang benar tidak perlu berisik untuk terlihat benar.


Jadi, hindari orang yang kerjanya menyalahkan orang lain. Jaga jarak, bukan berarti membenci. Tapi menjaga batas, melindungi kesehatan mental, dan memilih lingkungan yang lebih sehat. Lebaran, bukan hanya memaafkan orang lain. Tapi juga lebih selektif dalam menjaga hubungan dan lingkungan yang positif.

 

Ingat, orang lain kalau dicari-cari salahnya tidak akan pernah ada habisnya! Lebih baik baca buku daripada menyalahkan orang lain.

Kamis, 26 Maret 2026

Di Usia Tua, Memilih Pensiun atau Tetap Lanjut Kerja?

Rata-rata orang bekerja hingga usia 55 tahun. Cepat atau lambat pasti akan pensiun. Bukan karena mau kita sebagai pekerja. Tapi karena peraturan kantor, sudah ditetapkan usia pensiunnya. Lalu ada yang bertanya, bila sudah tua (usia pensiun) sebaiknya pensiun atau tetap lanjut kerja?

 

Memilih pensiun atau tetap lanjut kerja itu bukan soal usia. Bukan pula soal fisik masih kuat. Pensiun atau tetap lanjut kerja, bagi seorang karyawan itu erat kaitannya dengan kesiapan finansial. Pensiun bukan hanya soal usia tapi soal kondisi finansial. Apakah cukup uang untuk membiayai hidup di saat tidak punya gaji lagi? Itu saja soalnya, sederhana sekali.

 

Jika memilih pensiun, berarti gaji bulanan sudah tidak ada. Penghasilan aktif berhenti. Kebutuhan dan biaya hidup sepenuhnya bergantung pada “uang yang ada”. Bisa dari JHT BPJS, pesangon dari kantor atau dana pensiun. Mungkin ditambah tabungan atau aset investasi yang dimiliki. Karenanya saat memilih pensiun, kita harus mampu mencukupi kebutuhan hidup bulanan, punya uang yang cukup, dan mampu menutup biaya kesehatan bila terjadi sakit. Memastikan pensiun yang tidak bergantung pada anak atau keluarga. Bila dana pensiun manfaatnya cukup dan sudah terencana, memilih pensiun bisa jadi pilihan yang nyaman. Namun bila tidak cukup atau tidak punya dana pensiun, pensiun pasti berisiko menurunkan kualitas hidup, bahkan gagal menjaga standar hidup seperti saat bekerja.

 

Jika memilih tetap bekerja, tidak masalah. Tapi harus disadari, Keputusan tetap bekerja atau menunda pensiun biasanya diambil karena kondisi finansial “belum stabil”. Uang pensiun yang diterima tidak cukup, dana pensiun tidak punya, dan “terpaksa” bekerja untuk menjaga stabilitas finansial demi biaya hidup. Masih tetap bekerja di usia pensiun, oke-oke saja. Karena masih punya penghasilan aktif dan tidak langsung bergantung pada tabungan. Namun, patut dipertimbangkan faktor kesehatan, keseimbangan hidup (work-life balance), dan kesempatan menikmati masa pensiun. Jadi yang baik, tetap bekerja setelah pensiun karena untuk berkontribusi atas keahlian atau aktualisasi diri, bukan karena “terpaksa” tidak punya uang yang cukup.

 

Memilih pensiun atau tetap lanjut kerja, intinya hanya soal finansial. Punya uang yang cukup atau belum? Dan tentu, apapun keputusannya menjadi hak privasi setiap pekerja. Mau pensiun (alias menikmati masa pensiun) atau tetap bekerja, sah-sah saja. Jika punya uang pensiun + dana pensiun yang cukup maka pensiun adalah pilihan. Jika uang pensiun belum cukup (khawatir atas biaya hidup di hari tua) maka lanjut kerja adalah strategi untuk bertahan. 

 


Cukup atau tidak cukup soal finansial di masa pensiun, biasanya dihitung dari 1) berapa kebutuhan dan biaya hidup per bulan, 2) berapa usia harapan hidup setelah pensiun (saat ini UHH di Indonesia di 73 tahun), 3) potensi biaya kesehatan + inflasi. Nah, semua itu dikurangi “uang pensiun” + tabungan yang dimiliki hari ini. Mampu atau tidak menjaga standar hidup kita setelah tidak bekerja lagi, settelah pensiun?

  

Idealnya, seseorang tidak hanya memilih antara “berhenti total” atau “terus bekerja penuh”. Tapi bisa mengambil jalan tengah untuk “pensiun tapi tetap punya aktivitas produktif (usaha kecil, konsultan, punya kontrakan, dll)” sehingga tetap ada pemasukan bulanan tanpa tekanan kerja tinggi.

 

Jadi, memilih pensiun atau lanjut kerja adalah keputusan finansial yang sifatnya personal. Kuncinya ada pada kesiapan di hari tua, perencanaan pensiun yang dilakukan. Bila dana cukup bisa jadi memilih untuk pensiun. Tapi bila dana belum cukup maka pilihannya tetap lanjut bekerja.

 

Tapi faktanya hari ini, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan transferan dari anaknya setiap bulan untuk menutupi biaya hidup. Bahkan 8 dari 10 lansia (pensiunan) bergantung secara finansial dari anggota keluarganya yang bekerja. Sandwich generation masih besar dan stabil di Indonesia.

 

Jadi, mau pilih pensiun atau tetap lanjut bekerja? Jawabnya, tergantung pada kesiapan finansial kita di hari tua. #YukSiapkanPensiun

Bahagia Kok Tergantung Orang Lain, Jadilah Literat

Dulu aku pernah ada di satu titik. Di mana bahagia itu tergantung orang lain. Kalau dipuji, rasanya cukup. Kalau dikritik, rasanya runtuh. Setiap keputusan selalu dipikirkan, selau ditimbang: “Nanti orang lain bakal bilang apa ya?”

 

Sampai suatu hari aku sadar. Capek juga ya, hidup terus-menerus pakai standar orang lain. Semuanya harus dapat validasi. Punya ide tapi menunggu persetujuan orang lain. Dan ternyata, sebaik apa pun kita, akan selalu ada yang tidak suka. Benar adanya, kita tidak akan pernah mampu menyenangkan semua orang.

 

Pelan-pelan aku belajar. Bahwa bahagia itu bukan soal mereka setuju atau tidak. Tapi soal aku jujur atau tidak sama diri sendiri. Dan hidup juga bukan tentang membuat semua orang senang. Seperti halnya kebenaran, tidak selalu nyaman tapi tetap harus diterima.

 


Hari ini aku memilih berbeda. Mengelola taman bacaan, berbagi cerita senyum pada anak-anak dan membangun tradisi baca di sebuah kampung kecil. Menjadikan pengabdian sebagai jalan hidup. Justru lebih tenang. Lebih jujur sama diri sendiri. Karena akhirnya aku paham. Bahagia itu di tangan kita. Bukan di jari, atau di mulut orang lain.

 

Maka, stop hidup dari standar orang lain. Bahagia itu di tangan kita. Bukan di komentar orang lain. Dan tidak semua hal harus terasa nyaman. Karena yang baik tidak selalu diterima, dan yang benar tidak selalu menyenangkan. Jadikan sehat untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Jadilah literat!

 


Cerita Pensiun: Pekerja Nekad Nabung Biar Punya 70% dari Gaji Terakhir

Setiap habis gajian, di akhir bulan, Rudi selalu punya kebiasaan yang sama. Mengecek slip gaji, lalu menghitung pengeluaran. Gajinya Rp10 juta per bulan. Biasanya cepat habis, Bayar cicilan, untuk kebutuhan rumah, dan sedikit hiburan. Sisihkan juga alokasi buat ngop bareng teman-teman di kantor.

“Hidup ya begini… yang penting cukup,” pikirnya.

 

Suatu hari, di kantor, Rudi ikut sesi edukasi keuangan. Ngomongin tentang pensiun. Sekalipun dia masih 20 tahun lagi pensiun. Tapi ada satu kalimat yang bikin Rudi terus terngiang di kepalanya: “Saat pensiun, idealnya penghasilan Anda sekitar 70% dari gaji terakhir.”

 

Setelah sesi itu. Rudi mulai berpikir. Kalau sekarang Rp10 juta, berarti nanti ia butuh sekitar Rp7 juta per bulan sata pensiun. Padahal saat pensiun tiba, ia sudah tidak bekerja. Tidak punya gaji bulanan lagi.” Terus, dari mana uang segitu tiap bulan di masa pensiun?” batin Rudi.

 

Malam itu, Rudi tidak bisa langsung tidur. Sedikit merenung. Ia membayangkan dirinya di usia 60 tahun. Tanpa gaji, tanpa penghasilan lagi. Tapi tetap harus makan. Tetap harus bayar listrik. Mungkin juga terjadang harus bayar biaya Kesehatan, akibat sakit.

“Kalau bukan dari sekarang… dari mana nanti Rp7 juta per bulan itu datang?”

 

Rudi sadar, dari mana Rp 7 juta per bulan di hari tua? Biar punya program JHT BPJS, pasti nggak cukup. Apalagi diambil sekaligus jadi gampang habis. Uang pesangon dari kantor, bisa dibayar bisa nggak? Atau dikasih pesangon semampu perusahaannya. Makin pusing Rudi mikirin pensiun.

 

Besoknya, Rudi nekad dan mengambil keputusan kecil. Tanpa pikir panjang lagi. Rudi mulai menyisihkan sebagian gajinya untuk dana pensiun. Nabung ke DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Iurannya nggak langsung besar. Rp. 1 juta per bulan. Biar tidak terasa berat, tapi konsisten. Dia hanya mau siapin pensiunnya sendiri.

 

Tahun demi tahun berlalu. Kariernya berkembang. Gajinya naik. Dan dana pensiunnya, ikut tumbuh diam-diam. Mulai tambah iuran bulanan, bahkan sering juga top up. Apalagi saat terima bonus atau THR. Bagi Rudi, kalua sudah biasa nabung buat pensiun malah jadi asyik. Disiplin nabung bukan untuk gaya hidup atau liburan. Tapi untuk hari tua. Langka banget pekerja muda mau nabung untuk pensiun.

 


Hingga akhirnya, masa pensiun itu tiba. Usia Rudi sudah 55 tahun. Harus pensiun kata peraturan kantornya. Dia berhenti bekerja, tidak punya gaji lagi. Uang JHT BPJS dicairkan buat modal usaha. Uang pesangon dari kantor “ditabung” untuk biaya kuliah anaknya.  


Untungnya, dia punya DPLK. Nilainya juga lumayan besar. Akumulasi dananya tembus Rp. 900 juta. Dia meminta dibayar secara bulanan selama 10 tahun. Dan sejak pensiun, Rudi jadi punya “penghasilan” tiap bulan. Rp. 7,2 juta per bulan, lebih sedikit dari 70% gaji terakhirnya. Punya income setelaah pensiun, dan tidak kehabisan uang di hari tua.

 

Rp. 7 juta per bulan di masa pensiun, memang tidak persis sama seperti saat masih bekerja. Tapi cukup untuk biaya hidup di hari tua. Dan tidak perlu bergantung pada anaknya. Sekitar 70% dari gaji terakhirnya. Cukup untuk hidup layak. Cukup untuk hidup tenang di masa tua.

 

Dalam hati Rudi, ternyata pensiun bukan tentang mengganti 100% gaji. Bukan pula untuk kaya. Tapi untuk memastikan, hidup bisa terus berjalan. Tetap mampu menjaga standar hidup sekalipun sudah tidak punya gaji. Rudi bersyukur sudah membuat keputusan penting, untuk menabung di DPLK saat masih kerja dulu.

 

Terbukti benar, tenangnya masa pensiun ternyata karena tersedia dana yang cukup untuk hari tua. Tidak gelisah, tidak khawatir karena nggak punya uang. Rudi pun tersenyum simpul, menjalani hari tuanya dengan nyaman. “Ohh, begini ya yang dibilang kerja yes pensiun oke” batin Rudi sambil menikmati secangkir kopi.

 

Rabu, 25 Maret 2026

Jangan Salahkan Keadaan

Ini catatan hikmah lebaran. Ketika seseorang terus menerus menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan takdir, justu ia sedang memperpanjang penderitaannya sendiri. Sebuah lingkaran negatif yang sulit diputus. Menyalahkan keadaan dan berkeluh-kesah, hanya menjauhkan seseorang dari ketenangan. Menerima bahwa ada bagian dari kesulitan yang merupakan akibat dari dosa bukan berarti menyerah, melainkan mengambil kembali kendali atas hidup.

 

Menyalahkan keadaan hanya memperpanjang luka. Saat kita terus menyalahkan situasi, orang lain, atau kondisi hidup makan akan terjebak dalam rasa sakit itu lebih lama. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, kita bisa memilih menerima dan mencari solusi atau terus menyalahkan keadaan. Bila memilih menyalahkan keadaan, maka pikiran akan terus berputar pada “kenapa ini terjadi?” Emosi negatif (marah, kecewa, frustrasi) jadi berulang. Dan kita sulit bergerak maju. Akibatnya, “luka” (emosional maupun mental) tidak pernah benar-benar sembuh.

 

Kita ser


ing lupa. Fokus pada masalah hanya memperkuat rasa sakit. Fokus pada solusi maka dapat mempercepat pemulihan. Menyalahkan keadaan sejatinya dapat memberi energi pada luka. Sedangkan menerima keadaan akan menyembuhkan luka, sebesar apapun. Seperti luka fisik, kalau terus digaruk akan makin lama sembuhnya. Kalau dirawat maka pelan-pelan pasti pulih. Menyalahkan keadaan itu seperti terus menggaruk luka.

 

Berhentilah menyalahkan keadaan. Sebab menyalahkan keadaan tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi hanya membuat kita tinggal lebih lama di dalam rasa sakit. Saat kita berhenti menyalahkan dan mulai menerima, di situlah proses penyembuhan benar-benar dimulai. Tinggal piliha, mau yang mana? Salam literasi!

Literasi Refleksi Diri untuk Paham Hakikat Hidup

Manusia sering lupa hakikat hidup akibat kesibukan, keinginan, dan distraksi yang terus-menerus. Aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, mencari penghasilan, mengejar prestasi, atau memenuhi tuntutan sosial sering kali membuat seseorang lebih fokus pada hal-hal yang bersifat duniawi dan jangka pendek. Dalam kondisi ini, manusia cenderung menjalani hidup secara otomatis tanpa sempat berhenti untuk merenung tentang makna, tujuan, dan arah hidupnya.

 

Manusia memiliki kecenderungan psikologis untuk terikat pada kenyamanan dan kesenangan. Keinginan untuk merasa aman, diakui, dan bahagia sering membuat seseorang terjebak dalam rutinitas yang berulang tanpa mempertanyakan esensi hidup yang lebih dalam. Lingkungan sosial juga berperan besar, ketika nilai yang dominan adalah materialisme atau pencapaian eksternal, maka refleksi tentang hakikat hidup menjadi semakin jarang dilakukan.

 

Lupa terhadap hakikat hidup juga merupakan bagian dari sifat manusia itu sendiri. Manusia bukan makhluk yang selalu konsisten dalam kesadaran; bisa sadar, lalu lalai, kemudian sadar kembali. Karena itu, banyak tradisi pemikiran, baik filsafat maupun spiritual, menekankan pentingnya refleksi diri, jeda, dan pengingat (reminder) agar manusia tidak sepenuhnya larut dalam kesibukan. Dengan meluangkan waktu untuk merenung, membaca, atau berinteraksi dengan lingkungan yang bermakna, seseorang dapat kembali mengingat tujuan hidupnya dan menjalani kehidupan dengan lebih sadar.

 

Imam Al-Ghazali telah mengingatkan dengan tajam tentang hakikat hidup yang sering dilupakan manusia.

1.   Yang jauh adalah waktu, manusia sering merasa hidupnya masih panjang, seolah masa depan masih terbentang luas. Padahal itu hanyalah perasaan, tidak ada yang benar-benar tahu berapa lama waktu yang tersisa?

2.   Yang dekat adalah mati, sebab kematian bisa datang kapan saja. Bukan sesuatu yang jauh, melainkan sangat dekat, hanya saja manusia sering lalai menyadarinya.

3.   Yang besar itu nafsu, adanya dorongan keinginan dalam diri manusia yang sangat kuat sehingga menguasai pikiran dan Tindakan. Jika tidak dikendalikan, nafsu dapat menjerumuskan pada kesalahan dan dosa.



4.   Yang berat adalah amanah, karena tanggung jawab menuntut kesungguhan, kejujuran, dan pengorbanan. Menjaga amanah tidak mudah, karena sering bertentangan dengan kepentingan pribadi.

5.   Yang mudah adalah berbuat dosa, melakukan kesalahan sering kali tidak membutuhkan usaha besar, bahkan terkadang terasa ringan dan cepat.

Hakikat hidup sering diupakan. Manusia sejatinya hadir untuk berbuat baik dan menebar manfaat, sambil menyadari peringatan dari Al-Ghazali. Untuk lebih sadar dan waspada terhadap hidup. Jangan terlena oleh anggapan waktu masih panjang, jangan meremehkan nafsu, dan jangan mengabaikan tanggung jawab. Sebagai sebauh ajakan untuk hidup dengan lebih hati-hati dan penuh kesadaran, karena yang tampak mudah belum tentu baik, dan yang terasa berat justru bisa menjadi jalan keselamatan.

Selasa, 24 Maret 2026

Literasi Dana Pensiun: Nanti Kalau Sudah Tua ...

Pak Darto selalu berpikir, “Nanti saja mikirin hari tua. Sekarang masih kuat kerja.” Setiap bulan gajinya habis untuk kebutuhan hari ini.  Tidak ada yang disisihkan. Karena menurutnya, masa pensiun masih jauh. Untuk apa mikirin pensiun selagi masih kerja?

 

Waktu berlalu. Sebentar lagi pensiun, berhenti dari pekerjaan hari-hari. Tanpa terasa, usia sudah tidak muda lagi. Tenaga mulai berkurang. Bekerja pun tidak lagi sekuat dulu. Di titik itu, Pak Darto baru sadar.  Ia tidak tahu pasti seperti apa masa tuanya. Tapi satu hal yang jelas: ia tetap butuh hidup. Biaya makan tetap ada. Kebutuhan hari-hari harus dipenuhi. Dan biaya kesehatan harus tersedia. Dan sayangnya, penghasilan tidak lagi sama. Saat pensiun, gaji sudah tidak ada.

 

Sementara itu, temannya, Pak Syarif, memilih jalan berbeda. Sejak muda, ia menyisihkan sedikit demi sedikit di dana pensiun. Ia menabung di DPLK. Bukan karena ia tahu masa depan, bukan ingin kaya di hari tua. Tapi Pak Syarif sadar. Masa depan itu tidak pasti. Akan hidup sampai usia berapa setelah pensiun. Dan gimana kondisi ekonominya di hari tua nanti? Pak Syarif hanya tahu satu hal:  tetap butuh biaya hidup saat tidak lagi bekerja.

 


Hari ini, Pak Syarif memang tidak lebih kaya dari Pak Darto. Bedanya, hari ini Pak Darto kian gelisah dan makin khawatir akan masa tuanya. Sementara Pak Syarif lebih tenang dan bisa mengabdikan diri secara sosial di taman bacaan masyarakat. Hari tuanya dipakai untuk berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama.

 

Bersiap untuk masa pensiun, bukan untuk kaya di hari tua. Tapi untuk mempersiapkan diri saat nanti tidak bekerja lagi. Saat tidak punya gaji lagi. Menabung untuk hari tua ibarat sedia payung sebelum hujan. Sebab kita tidak tahu, kapan hujan datang? Tapi kalau sudah siap, kita tidak akan kesulitan. Tidak akan bergantung pada anak atau orang lain di masa pensiun. Itu saja!

 

Kita memang tidak tahu masa depan seperti apa? Tapi justru karena itu, kita perlu mempersiapkannya. Karena hari tua bukan tentang menebak apa yang terjadii. Tapi tentang siap menghadapi apa pun yang terjadi. Tetap mampu menjaga standar hidup di saat tidak bekerja lagi. Kerja Yes, Pensiun Oke.

 

Pegiat Literasi yang Mengabdi: Saya Bermanfaat Untukmu, Bukan Saya Lebih Keren Darimu

Mungkin, kita sering melihat orang yang banyak gaya tapi minim manfaat. Bicaranya pandai tapi sulit diandalkan. Pakaiannya mentereng tapi sering manipulatif. Bahkan mengaku hebat padahal sehari-harinya tidak jelas ngapain. Sebaliknya di sekitar kita, ada pula  orang yang sederhana. Tidak banyak bicara tapi aktivitasnya selalu bermanfaat untuk bayak orang. Santai tapi selalu hadir saat dibutuhkan.

 

Seorang pegiat literasi yang mengabdi di taman bacaan, pedagang kecil yang jujur, seorang guru yang sabar, atau bahkan seorang tetangga yang suka membantu: bisa jadi mereka tidak terlihat hebat. Tapi keberadaannya sangat dirasakan. Tetap berbuat di segala keadaan dan selalu mau menebar manfaat kepada sesama. Itulah contoh nyata dari “saya bermanfaat untukmu”.

 

Sayangnya hari ini, banyak orang justru sibuk mengejar citra. Merasa penting mendapat pengakuan dari orang lain walau tidak ada manfaatnya. Ingin terlihat hebat, ingin dianggap pintar, ingin dipuji banyak orang. Namun lupa bahwa nilai sejati seseorang bukan pada penampilannya, melainkan pada dampaknya. Bukan pada omongannya dan kerasnya bicara tapi pada manfaatnya untuk orang lain.

 

Maka dalam hidup, jangan pernah mengukur kebahagiaan dari sisi orang lain. Jangan pula mengukur kesuksesan dari “pintu” orang lain. Sebab, bahagia out berbeda maknanya bagi orang per orang. Bahagian bukan soal memiliki segalanya, tapi tentang hidup yang merasa cukup. Tentang bisa tidur dengan hati tenang karena tidak menyakiti siapa pun. Tentang bisa tersenyum karena tahu hidupnya memberi arti bagi orang lain.

 

Seperti mahasiswa yang tekun belajar lebih punya makna. Anak-anak yang masih mau membaca lebih bermakna daripada anak-anak yang main gawai. Bukan karena ingin berprestasi di sekolah, bukan sekadar untuk terlihat pintar. Tapi agar ilmu pengetahuan itu bisa digunakan untuk membantu orang lain. Punya ilmu yang bermanfaat itu membahagiakan.

 

Bila hari ini kita ingin memperbaiki hidup, maka tidak perlu bertekad melakukan hal-hal besar. Lakukan saja hal kecil tapi baik dan bermanfaat. Mulailah dari dua hal sederhana: jadilah orang yang menyenangkan dan bermanfaat. Tidak usah banyak mengeluh dan jangan berprasangka buruk pada apapun. Tidak usah sibuk mengurusi hidup orang lain, apalagi membandingkannya. Insya allah, perlahan hidup kita akan berubah dengan sendirinya. Menjadi lebih baik dan berkah.

 


Sungguh, dunia ini sudah disesaki oleh orang yang ingin terlihat hebat. Penuh dengan orang-orang yang mengejar pengakuan bahkan ingin dipuji. Akhirnya jadi banyak gaya dan sibuk untuk hal-hal yang tidak manfaat. Kita sering lupa, justru yang paling dicari saat ini adalah orang yang tidak banyak gaya tapi diam-diam membuat hidup orang lain terasa lebih mudah. Diam tapi tidak pernah menyakiti orang lain. Diam tanpa membenci dan prasangka buruk.

 

Di momen Idul Fitri ini patut direnungkan. Tidak harus menunggu kaya untuk berbuat baik. Tidak perlu menunggu punya jabatan untuk menebar manfaat kepada orang lain. Tidak perlu modal besar untuk membenahi hidup. Kita bisa memulainya dari hal kecil dan sederhana. Caranya bisa dimulai dari hal kecil: 1) menjaga lisan, 2) memperbaiki sikap, dan 3) peduli terhadap sesama.

 

Di sinilah kita belajar, biar bagaimana pun akhlak tetap di atas ilmu. Pangkat, jabatan atau status sosial hanya titipan. Bukan jaminan untuk bisa bermanfaat untuk orang lain. Itulah pentinganya kekuatan iman, bukan hebatnya pergaulan. Semakin kuat iman dan keyakinan seseorang kepada Allah, semakin tenang hatinya dan semakin tulus perbuatannya. Saat kita berbuat baik dan bermanfaat bukan demi pujian, tapi karena kesadaran. Mengerjakan sesuatu yang kecil tapi bermanfaat. Salam literasi!



Senin, 23 Maret 2026

Tersadar 5 Tahun Lagi Pensiun, Gimana Kondisi Keuangan Karyawan di Masa Pensiun?

Di mana pun, setiap karyawan pasti hanya mengandalkan gaji tiap bulan. Saking asyiknya kerja, ternyata baru sadar 5 tahun lagi mau pensiun.Katanya, waktu begitu cepat berjalan. Usia semakin bertambah, tahu-tahu sudah mau pensiun. Gimana bisa mempertahankan standar hidup saat pensiun, kan tidak punya gaji lagi?

 

Bila seorang karyawann baru “tersadar” bahwa masa pensiun tinggal 5 tahun lagi, arus diakui durasi waktu tergolong sempit tapi belum terlambat. Fokusnya bukan lagi mengejar “uang pensiun “ yang besar. Tapi mengamankan yang sudah ada dan mengoptimalkan tabungan di waktu tersisa sebelum pensiun.

 

Mau tidak mau, harus realistis dan strateginya berdampak untuk hari tua. Pertama seklai jelas, harus hitung posisi keuangan saat ini (reality check). Jangan mulai dari harapan, tapi dari angka nyata. Yang harus dihitung: 1) total tabungan dan investasi saat ini, 2) estimasi kebutuhan hidup saat pensiun, dan 3) perkiraan pemasukan saat pensiun (misalnya dari DPLK). Tujuannya agar tahu apakah akan surplus atau deficit?

 

Mari kita bikin ilustrasinya, biar lebih personal. Anggap saja si karyawan punya gaji saat ini Rp. 20 juta per bulan. Usianya sekarang 50 tahun dan akan pensiun di usia 55 tahun. Punya tabungan di bank Rp. 30 juta tapi masih ada cicilan Rp. 1 juta untuk 10 tahun lagi. Apa yang harus dilakukan dan gimana kondisinya sata pensiun?

 

Ini bisa jadi simulasi yang lebih realistis. Usia: 50 tahun, pensiun: 55 tahun (5 tahun lagi). Gaji: Rp20 juta/bulan dan tabungan saat ini: Rp30 juta + punya cicilan: Rp1 juta/bulan (masih 10 tahun). Asumsi usia hidup hingga 75 tahun, maka akan menjalani masa pensiun sekitar 20 tahun. Kira-kira begitu ya.

 

Maka estimasi kebutuhan saat pensiun, anggap saja butuh 70% dari gaji (tingkat penghasilan pensiun yang diharapkan). Berarti nilainya, 70% × Rp20 juta = Rp14 juta per bulan. Namun secara realistis (karena pensiun dan penyesuaian hidup), kita turunkan ke Rp10–12 juta per bulan. Kita pakai saja Rp11 juta per bulan yang dibutuhkan untuk menjaga standar hidup di masa pensiun.

 

Berapa kebutuhan uang selama masa pensiun? Ya kira-kira, Rp11 juta × 12 = Rp132 juta per tahun. Bila dikalikan durasi masa pensiun berarti menjadi Rp132 juta × 20 tahun = Rp2,64 miliar. Itulah “nilai uang” yang diperlukan selama pensiun, dengan asummi tidak punya gaji lagi dan untuk mempertahankan stnadar hidup seperti saat masih bekerja.

 

Penting diperhatikan adanya koreksi inflasi. Bila dalam 5 tahun ke depan (tingkat inflasi ±5%) maka  nilai Rp11 juta akan jadi sekitar ± Rp14 juta per bulan saat pensiun. Sehingga kebutuhan riil menjadi Rp14 juta × 12 × 20 = ± Rp3,36 miliar, total dana yang dibutuhkan saat pensiun. Oke ya untuk dipahami.

 

Sedangkan posisi dana saat ini, hanya punya tabungan sebesar: Rp30 juta. Anggap saja belum ada dana pensiun. Artinya: hampir mulai dari nol untuk siapkan kebutuhan masa pensiun. Tantangannya, waktu pensiun tinggal 5 tahun lagi. Kebutuhan dana saat pensiun besar (mencapai Rp3,3 M). Masih ada cicilan sampai usia 60. Harus dipahami, kondisi ini tergolong “warning zone”, tapi masih bisa diselamatkan.

 

Bila saja di waktu tersisa yang 5 tahun lagi bertekad untuk menabung (misal di DPLK), maka skenario realistis: menabung Rp5 juta per bulan × 12 × 5 tahun = Rp300 juta. Bila ditambah hasil investasi, kira-kira diperoleh ± Rp350–400 juta.   

 

Dengan begitu, maka terjadi “gap nyata”. Yaitu kebutuhan saat pensiun Rp3,36 miliar, sedangkan tabungan yang dihasilkan ± Rp400 juta. Maka masih ada gap (kekurangan) ± Rp3 miliar. Artinya, tidak mungkin ditutup hanya dengan menabung.

 


Apa strateginya? Secara realistis, si karyawan di waktu tersisa perlu menjalankan “5 cara sekaligus” untuk mempersiapkan masa pensiun yang tinggal 5 tahun lagi, yaitu:

1. Turunkan kebutuhan hidup. Misalnya: dari kebutuhan Rp14 juta per bulan menjadi Rp7 juta per bulan di masa pensiun. Maka dampaknya: Rp7 juta × 12 × 20 = Rp1,68 miliar. Berarti, besarannya “hemat” Rp1,6 miliar.

2.  Tetap punya penghasilan setelah pensiun. Misalnya: usaha/kerja tambahan dengan income: Rp4 juta/bulan. Dampaknya: Rp4 juta × 12 × 20 = Rp960 juta.

3. Maksimalkan waktu 5 tahun terakhir. Misalnya: menabung (di DPLK biar tidak diambil-ambil) dengan target agresif Rp5–8 juta per bulan (THR/bonus tabung semua). Maka bisa mendapat Rp400–600 juta selama periode 5 tahun tersisa.  

4.  Selesaikan masalah cicilan. Cicilan Rp1 juta sampai usia 60 sama dengan “beban”. Idealnya: percepat pelunasan (kalau bisa) atau pastikan tetap aman bayar cicilan saat pensiun nanti.  

5. Fokus siapkan masa pensiun, bukan fokus gaya hidup dan perilaku konsumtif.

 

Maka gambaran setelah disesuaikan. Kebutuhan hidup saat pensiun turun menjadi Rp1,68 miliar.  Ada penghasilan tambahan Rp960 juta. Tabungan dioptimalkan (missal DPLK) mencapai Rp500 juta. Maka sisa kebutuhan dana “hanya kurang” Rp200–300 juta (ini proyeksi yang lebih realistis).

 

Dengan kondisi tersebut, maka sama sekali tidak realistis masa pensiun dijalani dengan “full santai” di 55 tahun. Tapi sangat mungkin untuk pensiun dengan hidup cukup sesuai standar dan tetap produktif.

 

Penting untuk dipahami, karyawan yang akan pensiun sebentar lagi (5-10 tahun lagi) untuk 1) jangan hanya mengandalkan tabungan, 2) mulai bangun penghasilan pasif/aktif sekarang, 3) latih hidup sederhana dari sekarang, 4) jangan hanya mengandalkan program wajib seperti JHT BPJS, 5) segera menabung di DPLK, dan 6) ubah mindset pensiun sebagai “pindah fase”, bukan berhenti total.  

 

Jadi tolong dipahami, cepat atau lambat masa pensiun pasti tiba, Semua karyawan akan pensiun pada waktunya. Masalahnya, sudah dipersiapkan untuk pensiun atau belum? Dan berpikrilah, pensiun bukan soal berapa “uang pensiun” yang dimiliki? Tapi jadikan uang pensiun yang ada sebagai motivasi untuk tetap produktif dan menghasilkan income di hari tua. #YukSiapkanPensiun