Salah satu buku yang pernah saya baca dan mampu mengubah prinsip hidup adalah “Goodbye, Things” karya Fumio Sasaki. Buku yang mengajarkan pentingnya melepaskan keterikatan kita pada benda dan citra diri yang melekat. Sasaki mengingatkan kita sering menyimpan barang bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena takut kehilangan, merasa sayang, atau berharap suatu saat akan menggunakannya. Maka pesannya, jangan terikat pada apa yang dimiliki. Agar kita memiliki ruang hidup yang lebih sederhana dan menyadari bahwa kebahagiaan tidak otomatis bertambah seiring bertambahnya barang.
Buku itu mengajak kita untuk
mengenali dan mengetahui apa yang benar-benar penting bagi kita. Ketika
barang-barang yang tidak relevan disingkirkan, perhatian dan energi mental juga
menjadi lebih ringan. Kita tidak lagi terlalu sibuk merawat, mencari, membeli,
atau membandingkan diri melalui benda yang kita miliki. Begitu juga dalam
pergaulan, pada akhirnya saya memilih lingkungan yang benar-benar pantas dan
layak untuk digauli, Selebihnya biasa saja dan tidak terjebak pada euforia, Cukup
menjaga kesederhanaan dalam hidup, termasuk urusan pikiran, perhatian, dan cara
kita menjalani hidup.
Buku “Goodbye, Things” justru
membuat saya untuk berhenti bertanya tentang “Apa yang perlu saya tambah?”. Tapi
bertanya balik tentang “Apa yang perlu saya kurangi?” Dalam pekerjaan,
misalnya, kita bisa terus menambah proyek, target, ide, rapat, relasi, dan
tanggung jawab karena semuanya terlihat penting. Padahal, ada kemungkinan
sebagian justru membuat energi terpecah. Prinsip Goodbye, Things bisa
diterapkan sebagai latihan untuk memilah: mana yang benar-benar memberi nilai,
mana yang hanya menjadi beban, dan mana yang sebenarnya sudah waktunya
dilepaskan.
Intinya, hidup yang lebih
bermakna tidak selalu membutuhkan lebih banyak—kadang membutuhkan keberanian
untuk melepaskan. Saat membaca buku itu, saya seakan disuruh melakukan refleksi
kecil tentang “Apa yang sedang saya pertahankan karena memang penting, dan apa
yang saya pertahankan hanya karena sudah terbiasa? Ini berlaku untuk barang,
pekerjaan, kebiasaan, ambisi, bahkan cara lama dalam memandang diri sendiri.
Dengan mengurangi yang tidak esensial, kita bukan kehilangan sesuatu. Tapi
justru mendapatkan kembali ruang, fokus, waktu, dan kebebasan untuk memberi
perhatian pada hal yang benar-benar kita anggap penting.
Akhirnya, dari buku “Goodbye,
Things”. Saya menjadi lebih fokus pada hal-hal yang esensial. Bukan tentang
hidup sengsara dengan sedikit barang, tapi tentang menyingkirkan gangguan agar
bisa fokus pada hal yang benar-benar penting. karena di situ, saya bisa
merasakan akan arti bersyukur dan ketenangan. Sebab hanya ruang yang bersih dan
lapang yang mampu menciptakan ketenangan dan kejernihan di dalam hari dan pikiran.















.jpg)
.jpg)
%20rev.png)

.jpg)
