Rabu, 05 Agustus 2026

Apa Sih Bedanya Tabungan Biasa vs DPLK?

Ada yang bertanya, apa bedanya tabungan biasa dengan DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Sederhananya, bisa dijawab bahwa tabungan biasa untuk jangka pendek, sedangkan DPLK untuk jangka panjang (masa tua). Karena sifatnya simpanan jangka pendek, tabungan biasa bisa diambil kapan saja untuk kebutuhan harian atau darurat. Sebaliknya, DPLK adalah investasi jangka panjang khusus untuk masa tua saat seseorang sudah tidak lagi bekerja maka aturan pencairan dananya bila sampai usia pensiun

 

Dari sisi finansial, perbedaan mendasar antara tabungan biasa vs DPLK bisa dirinci sebagai berikut:

1.   Tujuan. Tabungan biasa umumnya bersifat likuid atau untuk kebutuhan jangka pendek, sedangkan DPLK dirancang khusus untuk menggantikan pendapatan rutin saat pensiun atau tidak bekerja lagi.

2.   Waktu pencairan. Tabuangan biasa bebas diambil kapan saja, sedangkan DPLK hanya bisa dicairkan saat usia pensiun tiba.

3.   Ketahanan terhadap Inflasi. Tabungan biasa memiliki bunga yang rendah sehingga nilainya berisiko tergerus inflasi, sedangkan DPLK biasanya dikelola dalam instrumen investasi yang bertujuan agar nilainya tumbuh melampaui inflasi.

4.   Proteksi dari penggunaan impulsive. Tabungan Biasa aksesnya yang sangat mudah dan terpakai untuk keinginan sesaat, sedangkan DPLK memiliki sistem "terkunci" atau aturan pencairan hanya pada usia pensiun.

5.   Dampak jangka panjang. Tabungan biasa jumlahnya tidak bisa dihitung untuk masa tua dan cepat habis, sedangkan DPLK dampaknya dapat memutus rantai generasi sandwich dan ada kepastian dana untuk hari tua.

6.   Pengelola. Tabungan biasa dikelola bank, sedangkan DPLK dikelola oleh dana pensiun lembaga keuangan.

 


Lebih dari itu, DPLK secara teknis sering kali memberikan “keuntungan hasil investasi dan pajak”  yang tidak dimiliki oleh tabungan biasa. Bila untuk memastikan kemandirian finansial di hari tua dan adanya kesinambungan penghasilan di saat pensiun maka DPLK yang paling pas. Tapi bila untuk kebutuhan jangka pendek, maka tabungan biasa layak jadi pilihan.

 

Kira-kira begitu beda antara tabungan biasa vs DPLK. Tinggal orientasi kita mau ke mana, jangka pendek atau jangka panjang? #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Selasa, 04 Agustus 2026

Ingin Mandiri Sejak Dini: Pekerja Muda Pilih DPLK Setelah Emas untuk Siapkan Masa Pensiun

Semua pekerja pasti paham, mempersiapkan pensiun itu penting. Mempersiapkan masa pensiun sejak usia muda sangat penting karena memberikan waktu yang lebih panjang untuk membangun dana pensiun secara bertahap, sehingga beban keuangan menjadi lebih ringan. Selain itu, persiapan dini membantu pekerja muda menghadapi risiko masa depan, seperti inflasi, biaya kesehatan, dan berkurangnya penghasilan saat tidak lagi bekerja. Dengan perencanaan yang baik sejak sekarang, mereka dapat menikmati masa pensiun yang lebih mandiri, nyaman, dan tetap produktif tanpa bergantung sepenuhnya pada keluarga atau orang lain.

 

Lalu, apa preferensi tabungan untuk masa pensiun pekerja muda? Survei bertajuk “strategi investasi dan optimisme dana pensiun” oleh Syarifudin Yunus (Edukator DPLK Sinarmas AM) yang melibatkan 100 pekerja muda di Jabodetabek (Agt 2026) menyebutkan emas dan DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) merupakan dua pilihan utama instrumen tabungan hari tua bagi pekerja muda. Adapaun preferensi tabungan untuk hari tua bagi pekerja muda adalah: 1) emas (43%), 2) DPLK (21%), 3) tabungan bank (17%), 4) reksadana (14%), dan 5) kripto (5%). Artinya, pekerja muda di wilayah Jabodetabek mengenai strategi persiapan dana masa tua lebih cenderung memilih emas yang paling dominan, sementara pilihan lain seperti DPLK dan tabungan bank berada di posisi berikutnya.

 

Menariknya dalam hal dana pensiun, pekerja muda di Jabodetabek punya tekad mandiri sejak dini. Karenanya untuk urusan DPLK, pekerja muda tidak mengandalkan diikutsertakan dari kantornya. Mereka memilih untuk menyiapkan dana pensiun secara mandiri. Karena itu, diperlukan edukasi dan kemudahan akses dana pensiun bagi pekerja muda sebagai bagian memfasilitasi perencanaan keuangan jangka panjang dan hari tua yang terstruktur.  Dari sisi persepsi, survei ini menyebut 31% responden merasa mungkin kantor akan menyediakan DPLK, sementara 29% lainnya menganggap DPLK tidak mungkin disedikan kantornya, dan 40% ragu-ragu menjawabnya.



Strategi investasi pekerja muda untuk masa pensiun tergolong konservatif. Tingginya minat pada emas (43%) menunjukkan bahwa pekerja muda cenderung mencari aman untuk melindungi nilai aset yang dimiliki dari inflasi. Di sini, ada potensi kehilangan pertumbuhan aset yang lebih tinggi dari instrumen seperti DPLK atau reksadana. Di sisi lain, prefrensi DPLK “kalah” dibandingkan emas mencerminkan kurangnya pemahaman pekerja muda terhadap produk dana pensiun formal. Karena itu, edukasi finansial yang lebih baik agar pekerja muda dapat memanfaatkan instrumen yang memiliki keunggulan pajak dan manfaat jangka panjang seperti DPLK harus dilakukan terus-menerus.

 

Tren persiapan pensiun bagi pekerja muda perlu diantisipasi. Karena sejatinya, pekerja muda memiliki tekad untuk mandiri secara finansial sejak dini. Bahkan mau menjadi peserta DPLK secara mandiri, tanpa perlu diikut-sertakan dari kantornya. Maka lagi-lagi, masalah edukasi dan ketersediaan akses digital seperti https://simpensiun.com/ harus terus disosialisasikann ke kalangan pekerja muda. Untuk memastikan kesinambungan penghasilan di hari tua, saat tidak bekerja lagi. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Setiap Orang Ada Masanya, Setiap Masa Ada Orangnya

Pak Syarif hanya seorang pegawai biasa yang hidup sederhana bersama keluarganya. Sesekali mengajar di kampus tempatnya mengabdi. Setiap pagi ia berangkat kerja dengan transportasi umum. Di saat teman-temannya sibuk mengejar gaya hidup yang lebih mewah dan sering membandingkan pencapaiannya dengan orang lain, Pak Syarif memilih mensyukuri apa yang dimilikinya. Baginya, rumah yang nyaman, keluarga yang sehat, dan pekerjaan yang halal sudah menjadi rezeki yang patut disyukuri setiap hari. Plus, dalam Sembilan tahun terakhir, ia mengabdikan dirinya di taman bacaan masyarakat. Hanya sekadar sediakan akses bacaan untuk anak-anak kampung.

 

Suatu ketika, seorang sahabatnya berhasil membeli mobil baru dan rumah yang lebih besar. Banyak orang mengira Pak Syarif akan merasa iri. Namun yang ia lakukan justru berbeda. Ia ikut bahagia atas keberhasilan sahabatnya, lalu pulang ke rumah dan menikmati makan malam sederhana bersama istri dan anak-anaknya. Saat melihat tawa keluarganya di meja makan, ia sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari apa yang dimiliki. Tapi dari kemampuan menikmati apa yang sudah ada. Menjalani hidup apa adanya.

 

Setiap bulan, Pak Syarif menggunakan uangnya untuk kebutuhan yang memang bisa dibeli: pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan kebutuhan sehari-hari. Namun untuk hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, ia menginvestasikan waktunya. Ia menyempatkan diri menemani anaknya yang masih kuliah, bermain dengan cucunya dan ngobrol ringan dengan anak-anaknya. Membantu anak-anak yatim dan kaum jompo, hingga bersosial. Ia memahami bahwa waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa dibeli kembali, seberapa banyak pun harta yang dimiliki seseorang.

 


Bertahun-tahun kemudian, ketika anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan semakin dewas, Pak Syarif menyadari satu hal penting. Setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk berhasil, dan setiap masa memiliki orangnya sendiri untuk bersinar. Karena itu, tidak ada gunanya terus membandingkan hidup dengan orang lain. Yang terpenting adalah menjalani hidup dengan rasa syukur, menikmati setiap proses, dan mengisi waktu dengan hal-hal yang benar-benar bermakna. Maka, di situlah kebahagiaan sejati sering kali ditemukan.

 

Ketahuilah, saat orang lain mengejar kemewahan, Justru ada kebahagiaan di rumah sendiri. Rezeki itu bukan tentang siapa yang paling banyak tapi siapa yang paling brsyukur. Maka belanjakan uangmu dengan bijak, habiskan waktumu dengan orang-orang yang berharga.  Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Jangan berjeluh-kesah, Jalani dengan asyik tanpa berisi dan mengusik orang lain.

 

Tenang itu ada, ketika amu mensyukuri yang ada dan menikmati yang dimiliki. Ketika syukur menjadi cara hidup, kebahagiaan datang dengan sendirinya. Salam literasi!



Semakin Tenang Menjalani Hidup, Semakin Muda Aura yang Terpancar

Suatu kali, ada yang bertanya. Gimana caranya bisa awet muda? Jawabnya simpel, tidak ada resep awet muda. Yang ada Pelajaran tentang Ikhlas dan bersikap legowo. Sebab siapapun, tidak akan pernah bisa menyenangkan banyak orang. Hanya hati yang bisa diajak untuk “menerima apa adanya”, soal apapun.

 

Coba perhatikan deh. Pernahkah kita bertemu seseorang yang usianya sudah tua tapi terlihat seperti masih muda? Wajahnya tampak segar, senyumnya hangat, dan auranya menenangkan. Bukan karena perawatan mahal atau keberuntungan semata. Ada sesuatu yang terpancar dari dalam dirinya. Lihat dari cara berjalan yang tidak terburu-buru, caranya berbicara tidak lagi meledak-ledak, dan caranya menghadapi masalah terlihat begitu tenang. Seolah hidup telah mengajarinya banyak hal, lalu ia memilih menyimpan pelajaran itu menjadi Pelajaran bahkan kebijaksanaan.

 

Suatu kali, ada seorang bapak bahkan sudah jadi kakek yang usianya hampir enam puluh tahun. Rambutnya mulai memutih, tetapi wajahnya terlihat jauh lebih muda. Ketika ditanya rahasianya, ia hanya tersenyum. Padahal hidupnya tidak mudah. Ia pernah kehilangan pekerjaan, mengalami kegagalan usaha, bahkan menghadapi berbagai kesulitan keluarga. Namun ia tidak membiarkan luka-luka itu berubah menjadi kemarahan. Ia menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus dijalani. Semuanya diterima dengan legowo dan membiarkan orang lain menjadikan topik pembicaraan.

 

Yang menarik, setiap kali ada masalah di lingkungan sekitar, beliau selalu menjadi orang yang paling tenang. Saat orang lain sibuk menyalahkan keadaan, ia memilih mencari solusi. Saat orang lain tersulut emosi, ia memilih mendengarkan. Dari sikapnya itu, banyak orang merasa nyaman berada di dekatnya. Kehadirannya seperti teduhnya pohon besar di tengah terik matahari, memberi ketenangan bagi siapa saja yang singgah.

 

Lama-kelamaan kita mulai sadar. Bahwa wajah yang tampak muda sering kali bukan soal usia, melainkan soal beban yang sudah selesai diperdamaikan. Orang-orang seperti ini tidak lagi sibuk membuktikan diri kepada siapa pun. Mereka tidak gemar drama, tidak mudah tersinggung oleh hal-hal kecil, dan tidak menghabiskan energi untuk membenci. Hatinya sudah cukup lapang untuk menerima kenyataan, bahkan ketika kenyataan itu tidak sesuai harapan.

 

Itulah pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Jika ingin terlihat lebih muda, mulailah dengan menenangkan hati. Belajarlah memaafkan, mengikhlaskan, dan menerima hidup apa adanya. Karena pada akhirnya, ketenangan batin akan memancarkan keindahan yang tidak bisa dibeli. Dan sering kali, orang yang tampak paling muda adalah mereka yang telah berdamai dengan banyak hal dalam hidupnya. Mentalnya terbukti kuat. Hidupnya kokoh sekokoh sikapnya, nggak kaleng-kaleng.

 


Jangan terbuai pada hidup yang sementara. Orang yang terlihat muda utu bukan karena usia, buka pula karena skincare. Tapi karena hatinya sdah selesai dengan banyak hal. Sudah selesai dengan dirinya sendjri, selalu berdama hidup. Sebab semakin legowo dalam hidup, semakin muda aura yang terpancar. Dan ingat, kita tidak usah menyenangkan semua orang. Kita nggak akan bisa kontrol semua orang tapi bisa kendalikan diri sendiri. Pilih tempat yang sehat dan jauhi siapapun yang toxic.

 

Hiduplah apa adanya dan jangan menyusahkan orang lain, insya Allah awet muda. Perbanyak diam dan ibadah sambil merenung, nggak usah berisik apalagi mengusik hidup orang lain. Sebab hukum tabur – tuai itu nyata. Resep awet muda itu menjaga hati dan mapan secara finansial.

Dan pada orang-orang yang terlihat muda dari usia sebenarnya, jangan pernah tanya apa yang sudah Allah ambil dari hidupnya. Karena saat menjelaskannya, pasti air matanya menetes berkali-kali. Paham kan?

 


 

Senin, 03 Agustus 2026

Mayoritas Pekerja Indonesia Bakal Tetap Kerja Setelah Pensiun

Pensiun itu bukan berarti berhenti kerja dana nggak ngapa-ngapain. Sebab pensiun sejatinya kita tetap punya aktivitas (kerja) namun mampu menikmati hidup. Tidak lagi “ngoyo” kerja keras seperti saat masih muda. Jadi, kurang tepat bila pensiun dimaknai “nggak ngapa-ngapain”. Justru saat pensiun, kerja sebtasa aktualisasi diri sambil menjalani keseharian secara rileks. Maklum udah nggak muda lagi, fisik makin terbatas.

 

Lalu, gimana sih tren pensiun secara global? Ternyata, di berbagai negara, survei membuktikan banyak orang berencana untuk tetap bekerja meskipun sudah memasuki usia pensiun. Di Indonesia, lebih dari separuh penduduknya masih berniat untuk tetap bekerja. Survei tren pensiun global (HSBC, 2024) menegaskan perbandingan tren di Indonesia dengan negara-negara lainnya:

1.    Di Indonesia, sebanyak 54% orang menyatakan keinginan untuk tetap bekerja di masa pensiun. Itu artinya, 1 dari 2 pekerja di Indonesia tetap ingin bekerja di masa pensiun.

2.    Beberapa negara Asia niat bekerja setelah pensiun justru lebih besar, seperti Taiwan (60%), Singapura (59%), serta India dan Hong Kong (keduanya 58%), dan Uni Emirat Arab (57%).

3.    Di kawasan Asia Tenggara, minat bekerja setelah pensiun seperti Singapura (59%), Malaysia (48%), Indonesia (54%)

4.    Di negara Barat dan ekonominya maju, penduduk yang berniat tetapbekerja setelah pensiun komposisinya seperri Meksiko 52%, Amerika Serikat 47%, China: 46%, Inggris: 45%.

Artinya, Indonesia menunjukkan tren di mana lebih dari separuh penduduknya untuk tetap produktif bekerja setelah memasuki usia pensiun, melampaui angka di negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan China.

 

Dari hasil survei itu, ada beberapa poin terkait tren pensiun global antara lain:

1.    Peralihan paradigma pensiun. Perencanaan finansial untuk masa pensiun atau program pensiun tidak lagi hanya berfokus pada pengumpulan dana untuk berhenti total, melainkan pada strategi untuk menjaga produktivitas dan pendapatan aktif di usia senja.

2.    Perbandingan global. Indonesia (54%) memiliki proporsi yang lebih tinggi untuk tetap bekerja dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat (47%) atau Inggris (45%). Bekerja di masa pensiun merupakan bagian integral dari rencana keberlangsungan finansial dan aktualiasi diri.

3.    Fleksibilitas dana pensiun. Tingginya minat bekerja ini menunjukkan bahwa strategi finansial di Indonesia mungkin lebih mengandalkan kombinasi antara dana pensiun/hasil investasi/tabungan dengan pendapatan dari pekerjaan sampingan atau bisnis di masa tua.

 

Khusus di Indonesia, 54% responden tetap berencana untuk bekerja setelah pensiun. Ini berarti, pensiun tidak lagi dianggap sebagai titik akhir aktivitas profesional, melainkan sebuah masa transisi menuju bentuk pekerjaan yang lebih fleksibel atau berbeda. Pekerja Indonesia perlu mulai memikirkan jenis pekerjaan apa yang ingin atau bisa mereka lakukan di usia senja. Karena itu, diperlukan pentingnya keberlanjutan keterampilan (skill sustainability) yang cocok untuk hari tua, di samping kesiapan fisik dan kesehatan haru smenjadi perhatian. Agar keinginan untuk tetap bekerja tetap didukug oleh fisik dan Kesehatan yang memadai.

 

Mak jelas, strategi keuangan setiap orang pun akan berbeda saat memasuki pensiun. Di situlah, dana pensiun atau DPLK sebagai “kendaraan” untuk perencanaan keuangan hari tua perlu lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi pekerja. Produk dana pensiun harus sesuai dengan aspirasi pekerja, termasuk cara bayar manfaat pensiun secara sekaligus atau bulanan.

 

Dan bagaimana pun kondisi yang diinginkan di hari tua, tentu dana pensiun seharusnya menjadi prioritas untuk disiapkan setiap pekerja. Kuncinya, ada di edukasi dan akses digital untuk memiliki dana pensiun seperti DPLK. #YukSiapkanPensiun #edukasiDPLK #DPLKSAM



 

Tingkat Kegemaran Membaca 2025 Jatuh ke Titik Terendah dalam 6 Tahun Terakhir

Tingkat kegemaran membaca sangat penting bagi suatu bangsa karena berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas wawasan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Masyarakat yang gemar membaca cenderung lebih mudah menyerap pengetahuan, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan menghasilkan inovasi. Oleh karena itu, budaya membaca yang tinggi menjadi salah satu fondasi penting bagi kemajuan pendidikan, ekonomi, dan daya saing bangsa di tingkat global.

 

Sayangnya, data BPS menujukkan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia periode 2020-2025 yang tadinya menunjukkan tren meningkat secara konsisten dari tahun 2020 hingga 2024, namun mengalami penurunan drastis pada tahun 2025. Data TGM dari tahun ke tahun menyebut tahun 2020 (55,74), tahun 2021 (59,52), tahun 2022 (63,9), tahun 2023 (66,77), tahun 2024 (72,44), dan tahun 2025 ( 54,80). Dapat disimpulkan bahwa meskipun terdapat tren positif selama empat tahun berturut-turut, pada tahun 2025 angka tersebut merosot tajam hingga berada di bawah pencapaian awal tahun 2020.

 

Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Indonesia menunjukkan adanya tren pertumbuhan positif (2020-2024), dari 55,74 di tahun 2020 hingga mencapai puncaknya di angka 72,44 pada tahun 2024. Sebagai simbol adanya keberhasilan dalam upaya peningkatan literasi. Namun di tahun 2025, terdapat penurunan drastis ke angka 54,80. Angka ini lebih rendah daripada tahun 2020 (55,74). Artinya, pencapaian yang dibangun selama empat tahun seolah "terhapus" hanya dalam satu tahun.

 

Implikasi dari potret TGM ini adalah 1) adanya masalah keberlanjutan program literasi atau faktor eksternal kuat yang memengaruhi kebiasaan membaca masyarakat secara mendadak, 2) kondisi kegemaran membaca saat ini (tahun 2025) berada di titik terendah dalam enam tahun terakhir, dan 3) perlu evaluasi mendalam terkait kebijakan literasi nasional atau perubahan perilaku konsumsi informasi di masyarakat yang mungkin beralih dari aktivitas "membaca" ke format lain.

 


Bisa jadi, tingkat kegemaran membaca di Indonesia pada tahun 2025 cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya karena semakin tingginya penggunaan media sosial dan platform video pendek. Masyarakat, terutama generasi muda, lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengonsumsi konten visual yang cepat dan menghibur dibandingkan membaca buku, artikel, atau bahan bacaan yang membutuhkan konsentrasi lebih lama. Perubahan pola konsumsi informasi ini membuat minat membaca secara mendalam semakin berkurang.

Selain itu, akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas belum merata di berbagai daerah. Ketersediaan perpustakaan atau taman bacaan, koleksi buku yang menarik, serta budaya literasi di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat masih menjadi tantangan serius. Di tengah berbagai pilihan hiburan digital yang mudah diakses, kegiatan membaca sering kali kalah menarik sehingga frekuensi dan durasi membaca masyarakat menurun. Salam literasi! #TBMLenteraPustaka #GerakanLiterasi #TamanBacaan



Minggu, 02 Agustus 2026

Siap-Siap Jadi Bos di Hari Tua: Lebih dari Separuh Kelas Menengah Pilih Berwirausaha Saat Pensiun

Di Indonesia, kelas menengah sering disebut kelompok masyarakat yang memiliki tingkat pengeluaran dan pendapatan di atas kebutuhan dasar, tetapi belum tergolong kaya. Menurut Bank Dunia, kelas menengah di Indonesia adalah individu yang memiliki pengeluaran antara 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan nasional per kapita per bulan. Bila pendapatan “garis kemiskinan” sekitar Rp600 ribu per kapita per bulan, maka kelas menengah berada pada kisaran sekitar Rp2,1 juta hingga Rp10 juta per orang per bulan untuk pengeluaran.

 

BPS melihat kelas menengah dari kombinasi pendapatan, konsumsi, dan pola hidup. Dalam praktik sehari-hari, rumah tangga kelas menengah biasanya memiliki ciri-ciri: 1) mampu memenuhi kebutuhan pokok tanpa kesulita, 2) memiliki rumah atau sedang mencicil rumah, 3) memiliki kendaraan pribadi, 4) dapat menyisihkan dana untuk pendidikan anak, kesehatan, tabungan, atau investasi, 5) memiliki akses terhadap teknologi dan layanan keuangan formal, dan 6) sesekali melakukan rekreasi atau perjalanan wisata. Banyak analis mengelompokkan rumah tangga kelas menengah dengan pendapatan sekitar Rp7 juta s.d. Rp50 juta per bulan per rumah tangga.

 

Menariknya, kelas menengah sering dianggap sebagai kelompok yang paling rentan mengalami penurunan status ekonomi ketika terjadi krisis, karena meskipun memiliki aset dan pendapatan yang cukup, mereka juga memiliki berbagai kewajiban finansial seperti cicilan rumah, biaya pendidikan, dan persiapan dana pensiun. Karena itu, perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk dana pensiun, menjadi salah satu karakteristik penting bagi rumah tangga kelas menengah yang ingin mempertahankan kualitas hidupnya di masa depan.

 

Lalu, apa yang dilakukan kelas menengah untuk mempersiapkan pensiun? Secara umum, prioritas utama kelas menengah dalam menyambut masa pensiun adalah menjaga kesehatan fisik dan membangun dana cadangan untuk menghadapi situasi darurat di masa depan. Selain aspek finansial seperti pengurangan utang dan kepemilikan asuransi, banyak individu juga mulai merintis usaha pribadi sebagai sumber penghasilan tambahan. Kesiapan non-materi juga menjadi perhatian penting, mulai dari kesehatan mental hingga upaya mempertahankan hubungan sosial yang baik. Kelas menengah lebih multidimensi dalam memepersiapkan kesejahteraan hidup di hari tua.

Menurut laporan Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) tahun 2026, prioritas utama kelas menengah dalam menyiapkan masa pensiun terdiri dari:

1.    Pola hidup sehat (64,2%). Kesehatan fisik dianggap sebagai aset terpenting di masa tua.

2.    Tabungan darurat (56,7%). Dana cadangan untuk situasi yang tidak terduga.

3.    Memulai usaha sendiri (51,3%). Berencana untuk tetap produktif secara ekonomi dengan berwiraswasta.

4.    Asuransi jiwa/kesehatan (44,5%). Sebagai perlindungan tambahan terhadap risiko hidup dan kesehatan.

5.    Persiapan mental (43,7%). Menyiapkan kondisi psikologis dalam menghadapi perubahan fase hidup.

6.    Mengurangi utang (40,8%). Berusaha memasuki masa pensiun dengan beban finansial yang lebih ringan.

Selain itu, kelas menengah juga memperhatikan faktor lain seperti menjaga hubungan sosial (38,5%), menjaga pengeluaran (37,1%), serta merencanakan kegiatan pensiun (32,1%) dan mencari hunian yang strategis (30,8%). Persiapan lainnya mencakup dana perawatan (24,6%) dan mobilitas personal (19%).

 


Dari data tersebut, implikasi mendalam mengenai cara pandang kelas menengah modern terhadap masa tua adalah menjadikan kesehatan adalah investasi terpenting, sebesar 64,2% untuk pola hidup sehat. Masa pensiun tidak lagi hanya dilihat sebagai masalah uang, tetapi masalah kualitas hidup. Kelas menengah menyadari bahwa tanpa kesehatan yang prima, aset finansial apa pun akan terkuras habis untuk biaya pengobatan di masa depan. Selain itu, ada tren "silver entrepreneurship" (wirausaha masa tua) untuk memulai usaha sendiri. Kelaas menengah menganggap pensiun bukan berarti berhenti bekerja tapi tetap produktif secara ekonomi untuk membangun kemandirian finansial. Ujungnya, kelas menengah fokus pada ketahanan finansial di hari tua.

 

Intinya, kelas menengah di Indonesia ternyata lebih proaktif dan menyadari bahwa masa pensiun yang ideal memerlukan keseimbangan antara kesehatan fisik, kemandirian ekonomi, dan stabilitas emosional. Dan salah satu cara untuk mewujudkan masa pensiun yang sehat dan sejahtera adalah melalui dana pensiun atu DPLK. Selain untuk memastikan kesinambungan penghasilan di hari tua, dana pensiun juga efektif untuk menghindari ketergantungan finansial kepada anak atau keluarga di masa pensiun. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

 


Pensiun Asyik Itu Bukan Cuma Uang tapi ...

Ini cuma kisah nyata di kalangan pekerja. Kawan saya, kerja nonstop lebih dari 15 tahun. Tiap tahun gaji naik, tabungan cukup. Tapi pas cuti panjang, selalu mengeluh. Bilangnya badan udah nggak fit buat hiking atau trekking. Diajak kemping sambil motoran, katanya badan usah capek. Seperti kawan saya, banyak pekerja sekarang udah nggak bisa lagi menikmati hidup.

 

Kita sering lupa,, di kalangan pekerja, banyak pula yang meninggal dunia dengan kondisi saldo tertinggi seumur hidup di rekeningnya. Itu artinya, semua lembur, semua kerja dan pengorbanan, cuma jadi angka di layar bank yang nggak pernah bisa dinikmati. Kerja keras kahirnya hanya berbuah saldo yang cuma bisa dilihat.

 

Memang benar sih. Kita diajari menabung sebanyak mungkin buat hari tua., untuk masa pensiun. Tapi masalahnya, kita lupa kalau energi dan kesehatan itu cenderung menurun. Tabungan oleh naik seiring umur. Tapi grafik kemampuan kita menikmati dan memperbanyak pengalaman hidup justru melandai. Di titik tertentu, kita boleh punya uang banyak tapi fisik sering udah nggak support.

 

Itulah “gap” yang jarang disadari pekerja. Coba deh bayangin. Di umur 30, kita masih kuat naik gunung, diving, atau backpacking sebulan penuh sekalipun uangnya terbatas. Tapi di umur 56, uang kita mungkin 10 kali lipat lebih besar.  Tapi lutut udah sering sakit, punggung gampang pegel. Pengalaman seru yang bisa “dibeli” jadi terbatas. Akhirnya, uang itu kehilangan fungsi utamanya: “menciptakan hidup yang memorable”.  

 

Kalau pernah baca buku “Die With Zero” karya Bill Perkins, ternyata ada puncak kekayaan yang sia-sia. Karena kita terlalu fokus mengejar saldo tertinggi di detik terakhir hidup, padahal seharusnya kita menikmati seluruh perjalanan hidup yang tersisa. Bukan berarti kita boros atau nggak menabung untuk hari tua. Tapi “timing” pengalaman itu krusial. Uang harus dikonversi jadi kenangan selagi kita benar-benar bisa menikmatinya.  

 

Masa pensiun atau hari tua yang asyik itu bukan yang “banyak uang”. Tapi yang sehat, sejahtera, dan bermanfaat buat orang banyak. Jadi, uang yang ditumpuk untuk hari tua semestinya dipakai untuk menikmati hidup dan mengukir pengalaman hidup yang indah. Hari tua yang mampu mengoptimalkan waktu dan uang. Mampu memberi di saat masih hidup, mau amal, sedekah dan menyiapkan warisan untuk anak-anak. Tapi harus tetap menghindari penundaan hidup, baik untuk kebahagiaan atau ketenangan yang perlu dirintis untuk hari tua.

 

Entah kenapa? Kita suka menunda kepuasan. Nanti saja liburan panjang kalau udah pensiun. Nanti saja ajak orang tua atau anak-anak jalan-jalan. Padahal kita nggak pernah tahu, kapan batas sehat kita habis? Misal nih, kita pasang target pensiun di usia 60 tahun. Dari 60th ke 70th emang masih lumayan fit. Tapi setelah 70th, risiko sakit makin tinggi. Uang yang kita tumpuk susah payah akhirnya cuma lari ke biaya rumah sakit, bukan ke memperbanyak pengalaman hidup.

 

Maka solusinya bukan stop menabung. Tapi ubah mindset dari sekadar “numpuk harta untuk hari tua” ke “mengelola pengalaman hidup sepanjang hayat.” Agar hidup lebih punya warna dan kesan, tentu barengin dengan banyak ibadah dan amal ya. Silakan hitung estimasi biaya dan pengeluaran hidup untuk hari tua sampai usia harapan hidup yang wajar. Sisanya,  alokasikan untuk hal-hal yang bisa dinikmati di fase hidup sekarang. Intinya, jangan cuma kaya di atas kertas. Jangan Cuma numpuk uang untuk masa pensiun tanpa pernah menikmatinya.  

 


Coba deh disimak realitas orang kerja. Saat 25th–35th, energi kita masih tinggi, tapi penghasilan mulai naik. Itulah usia yang pas untuk mengukir pengalaman hidup yang butuh fisik prima. Saat usia 35th – 50th, karier mulai menuju puncak, mungkin ada tanggungan. Tapi tetap sisihkan waktu untuk quality time sama keluarga dan diri sendiri. Maka seharusnya, di usia di atas 50th, porsi menabung sudah dikurangi, tida lagi agresif. Dan mulai menyisihkan waktu untuk menikmati hasil kerja keras sebelum tubuh makin banyak memberi batasan.  

 

Hari ini, ada pekerja yang mungkin takut. “Gimana kalau umur panjang terus duit habis?”. Lagi-lagi kalau baca buku “Die With Zero” karya Bill Perkins, kita itu disuruh “menghitung hitung buffer” hidup di hari tua yang masuk akal, bukan “safety net” tanpa batas. Dana pensiun udah punya, asuransi kesejatan udah ada. Terus, mau apa lagi di hari tua? Jadi, kita nggak perlu paranoid sampai nggak berani nikmatin hidup. Uang itu alat, bukan dewa yang disembah di rekening. 

 

Jadi pensiunan itu bukan hanya soal “uang banyak”. Tapi pengalaman untuk menikmati hidup. Tua bukan karena uang tapi karena psikologis dan sosial-nya sehat. Dan warisan terbesar buat anak itu bukan cuma uang. Tapi kenangan bersama saat masih sehat: kemping bareng, liburan bareng, dan obrolan Santai di tempat indah. Soal kita mau dikenang sebagai orang tua yang selalu sibuk dan ninggalin tabungan tebal. Atau yang sering hadir dan punya cerita seru dengan pengalaman indah? Uang memang bisa dicari lagi. Tapi waktu dan momen nggak bisa diputar ulang.  

 

Pensiunan yang asyik itu bukan cuma uang. Tapi psikologis yang sehat, pikiran yang bersih, dan sosial yang bermanfaat. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DanaPensiun




Perjalanan Usia Senja ke Sukamakmur, Menemukan Kebahagiaan Sejati

Di usia 56 tahun, Pak Syarif cuma pengen asyik. Karena rezeki sudah ditulis, umur sudah ditetapkan. Usia senja yang asyik nggak usah berisik apalagi mengusik. Ia hanya ingin menikmati hari tua. Anak sudah besar-besar, sudah saatnya menikmati apa yang dimiliki.

 

Setelah puluhan tahun bekerja dan sibuk mengejar berbagai target hidup, hari ini ia mengemas ransel sederhana lalu berangkat menjelajahi daerah perbukitan di Sukamakmur Kab. Bogor. Ditemani istrinya dan berkendara motor menikmati perjalanandemi perjalanan. Diselingi udara sejuk dan hembusan angin. Ia berjalan perlahan menyusuri jalur setapak, gemericik air sungai, dan semilir angin yang menari di antara pepohonan. Setelah sekian lama, Pak Syarif dan istri merasa benar-benar hadir di setiap momen.

 

Perjalanan itu membawanya ke sebuah situ Rawagede yang berada di 1.072 mdpl dan dikelilingi perbukitan. Di sana, Pak Syarif bertemu banyak orang dengan latar belakang berbeda, mulai dari petualang, pekemah, riders, hingga pedagang lokal yang juga mencari ketenangan. Dari setiap percakapan, ia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari harta atau jabatan, melainkan dari rasa syukur dan kemampuan menikmati hal-hal sederhana yang sering terlewatkan dalam kesibukan hidup. Pak syarif pun menyewa sebuah tenda dan kemping di pinggir Situ Rawa Gede malam itu.

 

Esok paginya, Pak Syarif dan istri segera bergegas. Menuju titik pendakian Gunung Luhur yang lagi viral dan banyak dikunjungi petualang dari berbagai tempat. Di daerah ketinggian 1.750 mdpl, ia menyaksikan suasana pendakian gunung yang ramai sekali. Untuk mendekati alam dan menikmati hamparan bunga yang indah sambil menyaksikan matahari terbit. Pak Syarif duduk diam sambil mengenang perjalanan hidupnya. Ia menyadari bahwa setiap tantangan, kegagalan, dan keberhasilan yang pernah dialami telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Di tengah keheningan alam, ia menemukan kedamaian yang sejati. Makin memahami tentang manusia, dari mana berasal dan mau ke mana akan pergi?



 

Setelah turun dari pendakian, istirahat sejenak di Rest Area 99 sambil menikmati secangkir kopi. Memandangi panorama indah di Sukamakmur, ditemani cemilan bakwan. Jelang siang, Bersiap motoran lagi untuk mengunjungi beberapa lokasi. Mulai ke Desa Sirnajaya, Warung De Padee, Desa Sukamulya di pendakian Datar Buluh dan berujung di Hanjawong Villas sambil menengok tanah kavling tempatnya menikmati hari tua. Perjalanan menyusuri hutan pinus, melewati jalan berbatu hingga jembatan sungai terasa indah dan penuh kenangan. Tanpa terburu-buru, Pak Syarif sekaligus belajar menghargai waktu sebagai anugerah yang berharga. Ia tidak lagi memikirkan apa yang belum dimiliki, melainkan mensyukuri apa yang telah ada. Alam mengajarkannya bahwa segala sesuatu memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh, berkembang, dan beristirahat.

 

Sambil menikmati perjalanan kembali ke Jakarta setelah maghrib, Pak Syarif pulang dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih. Ia memahami bahwa usia senja bukanlah akhir dari petualangan, melainkan kesempatan untuk menikmati hidup dengan cara yang lebih bermakna. Uisa senja yang asyik tanpa berisik tanpa mengusik orang lain. Sebuah pesan moral bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak yang kita kumpulkan sepanjang hidup, tetapi pada kemampuan untuk mensyukuri perjalanan, menjaga keseimbangan batin, dan menikmati setiap momen yang diberikan kehidupan. Salam usia senja! #YukSiapkanPensiun #DanaPensiun #PakSyarifPensiunan



Sabtu, 01 Agustus 2026

Kemping di Usia Senja: Tenang Menatap Langit Malam

Banyak orang mengira kebahagiaan harus dicari di tempat-tempat yang jauh atau dengan biaya yang mahal. Namun bagi sepasang suami istri yang telah mengarungi puluhan tahun kehidupan bersama, kebahagiaan justru hadir saat mereka mendirikan tenda sederhana di tengah alam. Di usia senja, ketika kesibukan telah berganti dengan waktu yang lebih lapang, kita lebih memilih berkemah bukan untuk menaklukkan gunung, melainkan untuk menemukan kembali ketenangan jiwa. 

 

Di bawah langit yang luas dan diiringi suara alam, sambil menyadari bahwa hidup yang sederhana sering kali menghadirkan kebahagiaan yang paling tulus. Damai dan tenang, memang harus diusahakan.

 

Sambil menikmati secangkir kopi hangat dan malam yang gelap diiringin rintik hujan. Damai itu nyata. Tanpa tergesa-gesa, menikmati suasana tenda sambil menatap lampu malam di kejauhan. Berjalan beriringan sambil mengenang perjalanan panjang membangun keluarga, mendidik anak-anak, melewati masa-masa sulit, merayakan setiap anugerah-Nya, dan belajar menerima setiap kekurangan. Kerutan di wajah bukan lagi tanda bertambahnya usia, melainkan bukti bahwa kita telah bertahan, saling menguatkan, dan sambil melewati setiap musim kehidupan dengan manis getirnya.

 

Malam kini menyelimuti seisi tenda, terduduk sambil memandang ribuan bintang dan menikmati heningnya malam. Tidak lagi membicarakan harta, jabatan, atau pencapaian. Yang ada hanya mensyukuri yang ada, bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa kemping dan bertukar cerita. Menikmati waktu yang tak dapat dibeli dengan apa pun. Saya dan istri sadar bahwa usia senja bukanlah masa untuk meratapi yang telah berlalu, melainkan waktu terbaik untuk menikmati setiap detik kehidupan dengan hati yang penuh syukur.

 


Perjalanan berkemah itu akhirnya mengajarkan sebuah pelajaran berharga: masa tua bukanlah tentang seberapa kuat tubuh melangkah. Tapi seberapa damai hati menjalani hidup. Selama cinta tetap dipelihara, rasa syukur terus dijaga, dan kebersamaan selalu diutamakan, usia senja akan menjadi babak kehidupan yang paling indah. Sebab pada akhirnya, kenangan terbaik bukanlah tentang tempat yang pernah dikunjungi, melainkan tentang siapa yang mampu berjalan bersama hingga akhir perjalanan.

 

Dari balik tenda, saya dan istri berdoa. Semoga setiap langkah menuju usia senja bukan dipenuhi rasa takut, melainkan keyakinan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hati yang bersyukur dan dari pasangan yang tetap memilih berjalan berdampingan, apa pun musim kehidupan yang sedang dihadapi.

 

Diiringi rintikan hujan di atas tenda, bahwa hal-hal kecil yang dijalani dengan sederhana ternyata mampu membuat pikiran menjadi jauh lebih tenang dan damai, dalam sehat dan sejahtera! @Situ Rawa Gede Sukamakmur, 31 Juli 2026



Kamis, 30 Juli 2026

Dari Data Menjadi Kesejahteraan: Peran Strategis Penelitian dalam Pengembangan Dana Pensiun

Bila dihitung sejak UU No. 11/1992, maka dana pensiun di Indonesia sudah lebih dari 34 tahun. Hasilnya, kepesertaan dana pensiun sukarela mencapai 5,2 juta orang dan aset yang dikelola sekitar Rp. 400 triliun (DPPK/DPLK). Sulit diukur, apakah capain itu tergolong berhasil atau tidak? Tapi bila dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja di Indonesia saat ini yang mencapai 147 juta pekerja, bolehlah kepesertaan dana pensiun dianggap masih rendah. Apalagi bila dibandingkan dengan industri asuransi jiwa, reksadana, atau lainnya.  

 

Studi menunjukkan kepesertaan dana pensiun sukarela saat ini 80% didominasi oleh peserta korporasi, sementara peserta individual/informal sekitar 20%. Padahal, porsi pekerja sektor informal saat ini mencapai 60% dari total angkatan kerja atau sekitar 88,2 juta pekerja. Dan hari ini kepesertaan dana pensiun sektor informal kurang dari 1%. Apakah pekerja sektor informal tidak boleh punya dana pensiun? Atau ke mana bila pekerja sektor inin ikut dana pensiun?

 

Berangkat dari realitas itu, mungkin sudah saatnya dana pensiun sukarela mulai menggunakan data. Agar pemasaran atau cara-caranya tidak lagi berdasar insting atau kebiasaan. Perlu ada penyesuaian dengan dinamika pasar dan pekerja, diantaranya pentingnya digitalisasi dana pensiun. Agar nantinya, dana pensiun sukarela benar-benar inklusif dan punya ekosistem yang lebih optimal. Karena itu, untuk memperkuat “asupan data”, berbagai penelitian terkait dana pensiun menjadi penting diperbanyak dan dilakukan.

Penelitian dana pensiun sebagai instrumen berbasis data menjadi sangat penting karena keputusan terkait pensiun menyangkut kesejahteraan jangka panjang individu, perusahaan, dan stabilitas ekonomi nasional. Beberapa alasan utamanya adalah 1) meningkatkan akurasi perencanaan pensiun sesuai dengan kondisi demografi, tingkat penghasilan, pola kontribusi, dan harapan hidup, 2) mengambil kebijakan yang tepat sehingga ada bukti empiris untuk merancang strategi, produk, bahkan pemasaran yang efektif, dan 3) mengidentifikasi perubahan perilaku pekerja atau peserta tentang faktor-faktor yang memengaruhi keputusan seseorang untuk mengikuti program dana pensiun, besaran iuran, hingga preferensi investasinya.

 

Sebagai contoh, penelitian dana pensiun yang pernah dilakukan oleh Syarifudin Yunus sepanjang tahun 2025 dan 2026 ini dan telahterbit di jurnal ilmiah antara lain:

 

1.       Faktor Penyebab Pekerja Tidak Paham Dana Pensiun, Pentingnya Edukasi dan Digitalisasi Industri Dana Pensiun di Indonesia. Jurnal AKSIOMA, Feb 2025 https://manggalajournal.org/index.php/AKSIOMA/article/view/981/1239

 

2.       ANALISIS POTENSI PEMBAYARAN MANFAAT PENSIUN SECARA BERKALA PADA PESERTA DPLK BERDASARKANMETODE EX POST FACTO. Jurnal Neraca, Maret 2025 https://jurnal.researchideas.org/index.php/neraca/article/view/770

 

3.       Tingkat Kekhawatiran Gen Z atas Keuangan Pensiun Orang Tua dan Strategi Kebebasan Finansial. Jurnal Menawan, Maret 2025 https://journal.areai.or.id/index.php/MENAWAN/article/view/1276

 

4.       Persepsi Dan Kepemilikan Generasi Milenial Terhadap Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Untuk Kesejahteraan Hari Tua. Jurnal Jkpim, April 2025. https://ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/jupiman/article/view/5002,

 

5.       Potret Kinerja Investasi 6 Tahun Terakhir (2019-2024) Pada DPLK dan Tantangannya. Jurnal Moneter, April 2025. https://journal.areai.or.id/index.php/Moneter/article/view/1312

 

6.       Analisis Tingkat Penghasilan Pensiun (TPP) Pekerja dan Faktor yang Mempengaruhinya Serta Optimalisasi Peran Dana Pensiun Swasta di Indonesia. Jurnal Lokawati, Mei 2025. https://journal.arimbi.or.id/index.php/Lokawati/article/view/1709

 

 

7.       Persepsi dan Preferensi Pekerja Biasa Terhadap Dana Pensiun Sebagai Perencanaan Hari Tua. Jurnal Jupiman, Juni 2025. https://ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/jupiman/article/view/5002,

 


8.       Tantangan Literasi dan Inklusi Dana Pensiunserta Dampaknya terhadap Ekonomi Nasional dan Generasi Tua di Indonesia. Jurnal Maeswara, Juni 2025. https://journal.arimbi.or.id/index.php/Maeswara/article/view/1782

 

9.       Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia. Jurnal JiMaKeBiDI, Agustus 2025. https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776,

 

10.    Analisis Kepesertaan DPLK Secara Individu dan Karakteristiknya untuk Meningkatkan Penetrasi Dana Pensiun Pekerja Sektor Informal di Indonesia. Jurnal JUPSIM, Sept 2025. https://journalcenter.org/index.php/jupsim/article/view/5333

 

11.    Tingkat Gaya Hidup dan Potensi Kepesertaan Dana Pensiun pada Pekerja Muda di Jakarta. Jurnal Menawan, Sept 2025.https://journal.areai.or.id/index.php/MENAWAN/article/view/1841

 

12.    Optimalisasi Layanan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) melalui Pengelolaan Manfaat Pensiun Berkala, Manfaat Lain, dan Iuran Sukarela. Jurnal Moneter, 2 April 2026. DOI: https://doi.org/10.61132/moneter.v4i2.2165

 

13.    Determinasi Rendahnya Literasi Dana Pensiun pada Pekerja: Peran Edukasi dan Digitalisasi dalam Industri Dana Pensiun di Indonesia. Jurnal Manajemen Bisnis Digital. April 2026. DOI: https://doi.org/10.61132/jumbidter.v3i2.1308

 

14.    Strategi Pemasaran Inklusif untuk Meningkatkan Partisipasi Dana Pensiun Pekerja Sektor Informal di Indonesia: Analisis Hambatan, Segmentasi Pasar, dan Rekomendasi Implementasi. Jurnal Lokawati, Juli 2026. DOI: https://doi.org/10.61132/lokawati.v4i4.2643

 

Jelas, penelitian dana pensiun penting sebagai acuan persepsi dan preferensi masyarakat tentang dana pensiun di Indonesia. Berapa besar kemampuan iuran pekerja di dana pensiun, Bagaimana dana pensiun di mata pekerja antargenerasi (Gen Z, milenial)? Atau alternatif investasi yang dilakukan pekerja saat ini? Semuanya membutuhkan data dan bukti empiris. Di situlah, penelitian dana pensiun menjadi penting dilakukan.

 

Sudah pasti, masyarakat ingin punya dana pensiun sebagai bagian perencanaan pensiun dan hari tua. Apalagi Indonesia akan menghadapi tantangan penuaan penduduk (aging population) seiring meningkatnya usia harapan hidup, penelitian berbasis data membantu memproyeksikan kebutuhan dana pensiun di masa depan dan memastikan keberlanjutan program pensiun. Selain untuk merancang produk dan pemasaran dana pensiun yang lebih efektif, penelitian dana pensiun pada akhirnya dapat berkontribusi untuk membangun kepercayaan public terhadap dana pensiun, sekaligus meningkatkan transparansi pengelolaan dana kepada peserta. #PenelitianDanaPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM