Senin, 17 Agustus 2026

Berdamai dengan Diri yang Pernah Kita Benci

Setiap pagi, Naya selalu bercermin sebelum memulai hari. Namun yang ia lihat bukan sekadar wajah, melainkan daftar panjang kekurangan yang ia bawa dalam kepala. Ia mengingat keputusan yang salah, kata-kata yang pernah menyakiti orang lain, kesempatan yang terlewat, dan hidup yang menurutnya belum menjadi seperti yang ia bayangkan. “Seandainya waktu bisa diulang,” pikirnya berkali-kali. Ia ingin kembali ke masa lalu, memilih jalan yang berbeda, dan menjadi seseorang yang lebih baik. Tanpa sadar, orang yang paling sering menghakiminya ternyata bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri.

 

Bertahun-tahun Naya mengejar versi dirinya yang menurutnya pantas untuk dicintai. Ia merasa harus lebih sukses, lebih kuat, lebih sempurna, dan tidak boleh melakukan kesalahan yang sama. Setiap kali gagal, ia menghukum dirinya sendiri dengan penyesalan. Setiap kali mengingat masa lalu, ia bertanya mengapa dulu tidak mengambil keputusan yang berbeda. Sampai suatu hari, seorang sahabat berkata kepadanya, “Kamu tidak harus menjadi sempurna dulu untuk pantas hidup dengan tenang.” Kalimat itu sederhana, tetapi membuat Naya terdiam. Mungkin selama ini ia terlalu sibuk memperbaiki dirinya sampai lupa memeluk dirinya yang sedang berjuang.

 

Sejak hari itu, Naya mulai belajar menerima dirinya sedikit demi sedikit. Ia melihat kembali luka-luka yang pernah membuatnya malu dan berkata dalam hati, “Ini juga bagian dari ceritaku.” Ia tidak lagi menyangkal kesalahan, tetapi juga tidak terus menghukum dirinya karena kesalahan itu. Ia mulai memahami bahwa menerima diri bukan berarti berhenti bertumbuh. Justru, seseorang bisa berubah dengan lebih sehat ketika ia tidak lagi membenci dirinya sendiri. Ada hari ketika Naya merasa kuat, ada pula hari ketika keraguan datang lagi. Namun kali ini ia tidak panik. Ia belajar bahwa healing tidak punya jadwal yang pasti—kadang membutuhkan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan sepanjang hidup.

 


Perlahan, hidup Naya terasa lebih ringan. Ia berhenti meminta masa lalu untuk berubah karena tahu itu mustahil. Kegagalan yang dulu ia anggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik, kini ia lihat sebagai guru. Kehilangan yang dulu terasa seperti akhir segalanya, ia pahami sebagai bagian dari perjalanan. Bahkan kelemahan yang selama ini ia sembunyikan mulai ia terima sebagai pengingat bahwa dirinya hanyalah manusia. Ia tidak selalu kuat, tidak selalu benar, dan tidak selalu tahu harus melangkah ke mana. Tetapi ternyata, menjadi manusia memang tidak pernah menuntut kita untuk sempurna.

 

Pada akhirnya, Naya mengerti bahwa menerima diri adalah bentuk syukur atas cara Tuhan membentuk hidupnya. Ada bagian yang indah, ada bagian yang berantakan, ada luka yang belum sepenuhnya sembuh, dan ada masa lalu yang tidak mungkin diulang. Namun semuanya telah membentuk dirinya menjadi seseorang yang ia kenal hari ini. Ia tidak perlu menjadi orang lain untuk merasa berharga. Ia hanya perlu terus belajar menjadi versi terbaik dari dirinya, sambil tetap menghargai versi lama yang pernah jatuh, salah, menangis, dan bertahan. Karena mungkin, damai bukanlah ketika kita akhirnya menjadi sempurna—melainkan ketika kita mampu berkata, “Aku menerima diriku, dengan segala yang pernah terjadi. Dan aku tetap memilih untuk mencintai diriku sambil terus bertumbuh.”

 

Intip Besaran Gaji Pensiunan PNS: Dari Rp1,5 Juta hingga Rp4,4 Juta, Cukupkah untuk Masa Tua?

Berapa sih rentang gaji pensiunan Pegawai Negeri sipil (PNS) atau ASN? Apakah cukup secara finansial di hari tua? Berdasarkan data Goodstats (2022) dapat diabarkan gaji pensiunan PNS sebagai berikut:

1.    Gaji Terendah. Semua golongan, mulai dari Golongan I hingga Golongan IV, memiliki nominal gaji pensiunan terendah yang sama, yaitu sebesar Rp1.560.800.

2.    Gaji Tertinggi. Perbedaan gaji pensiunan terlihat pada batas maksimal gaji yang diterima setiap golongan yaitu Golongan I batas tertinggi Rp2.041.900, Golongan II batas tertinggi Rp2.865.000, Golongan IIIbatas tertinggi Rp3.597.800, dan Golongan IV batas tertinggi Rp4.425.900.

Artinya, semakin tinggi golongan PNS saat menjabat, semakin besar pula potensi gaji pensiun maksimal yang akan diterima. Sebagai contoh, gaji tertinggi pada Golongan IV (Rp4.425.900) adalah lebih dari dua kali lipat dari gaji tertinggi Golongan I (Rp2.041.900).

 

Dengan kata lain, tingkat rata-rata gaji pensiunan PNS adalah 1) Golongan I rata-rata Rp1.801.350, 2) Golongan II rata-rata Rp2.212.900, 3) Golongan III rata-rata Rp2.579.300, dan 4) Golongan IV rata-rata Rp2.993.350. Tentu saja, gaji pensiunan PNS bisa dibilang sebagai jaminan hari tua yang diberikan negara, namun besarannya membawa berbagai implikasi terhadap kualitas hidup setelah tidak lagi bekerja. Dari sisi besaran, terbukti gaji pensiunan PNS hanya menjadi jaring pengaman finansial yang bersifat dasar sebagai penghasilan rutin bulanan. Hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok dasar.

 


Selain pangkat dan jabatan PNS selama masa aktif bekerja sangat menentukan kenyamanan di masa pensiun, seorang PNS atau ASN perlu memiliki strategi keuangan tambahan untuk masa pensiun. PNS pun perlu memiliki dana pensiun atau DPLK secara sukarela. Sebab besaran gaji pensiunan PNS masih belum mencukupi jika dibandingkan dengan potensi kenaikan biaya hidup atau inflasi di masa depan. Melalui dana pensiun atau DPLK, nantinya pensiunan PNS memiliki bantalan ekonomi yang lebih kuat di hari tua.

 

Jadi, gaji pensiunan PNS dari negara sifatnya dasar dan hanya memberikan ketenangan batin karena sifatnya yang tetap. Namun besaran nominalnya belum cukup untuk menjaga standar hidup di hari tua. Apalagi bila saat masih bekerja punya tunjangan ini itu yang membuat gaya hidup PNS “terkesan” wah.

 

Bila PNS saja masih butuh dana pensiun atau DPLK, apalagi pegawai swasta. Yuk siapkan pensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM #YukSiapkanPensiun

 


Gaji Sama Rp 10 Juta, Nasib Pensiun Berbeda Bak Langit dan Bumi

Banyak orang beranggapan bahwa besaran gaji adalah penentu utama kemakmuran di masa tua. Namun, realitas menunjukkan hal yang berbeda; dua orang dengan gaji yang sama, misalnya Rp 10 Juta per bulan, dapat memiliki nasib finansial yang kontras saat masa kerja berakhir atau saat pensiun. Fenomena ini membuktikan bahwa bukan nominal angka yang masuk ke rekening setiap bulan yang paling penting, melainkan bagaimana uang tersebut dikelola melalui kebiasaan sehari-hari yang konsisten.

 

Kelompok pertama sering terjebak dalam pola hidup yang berorientasi pada kepuasan instan. Pekerja kelompok ini memiliki kebiasaan "Belanja Semua" segera setelah menerima gaji dan cenderung menggunakan sisa dana untuk "Beli Kewajiban", seperti barang konsumtif yang nilainya menyusut atau justru menambah beban pengeluaran. Fokus utamanya adalah "Cari Kenyamanan" sesaat tanpa mempertimbangkan kebutuhan masa depan. Pola pikir jangka pendek ini secara perlahan namun pasti membawa pekerja pada kondisi akhir yang menyedihkan saat pensiun, yaitu "Akhirnya Kehabisan" modal untuk bertahan hidup.

 

Di sisi lain, kelompok yang diprediksi akan hidup sejahtera memulai perjalanannya dengan prinsip "Simpan Dulu". Alih-alih menghabiskan seluruh pendapatan, pekerja kelompok ini lebih disiplin menyisihkan uang di awal untuk "Beli Aset", seperti property, instrumen investasi, atau dana pensiun yang nilainya dapat terus berkembang seiring waktu. Pekerja ini tidak sekadar mencari kenyamanan sekarang, melainkan memilih untuk "Bangun Disiplin" dalam mengatur arus kas setiap bulan. Keteguhan ini membuahkan hasil yang manis di masa depan, di mana akhirnya dapat menikmati masa pensiun dengan kondisi yang "Berkelimpahan".

 


Perbedaan mendasar dari kedua nasib pekerja ini terletak pada arah pandangnya tentang masa depan: "Pikir Jangka Pendek" melawan "Pikir Jangka Panjang". Seseorang dengan visi jangka pendek akan selalu melihat gaji sebagai alat pemuas keinginan saat ini, sehingga sumber daya finansialnya selalu habis tanpa sisa. Sebaliknya, pekerja yang berpikir jangka panjang melihat setiap rupiah sebagai benih yang harus ditanam untuk dipanen di masa tua. Perbedaan pola pikir inilah yang menjadi navigasi utama dalam menentukan apakah seseorang sedang menuju kemiskinan atau kekayaan di masa pensiunnya.

 

Kesimpulannya, kondisi pensiun yang berbeda adalah hasil dari akumulasi pilihan-pilihan kecil yang dibuat setiap bulan selama bertahun-tahun semasa bekerja. Meskipun saat ini kita memiliki pendapatan yang cukup, tanpa perubahan kebiasaan dari konsumtif menjadi produktif, risiko kehabisan uang di masa tua akan tetap nyata. Membangun kemakmuran finansial memerlukan transformasi nyata dari sekadar mencari kenyamanan menjadi membangun disiplin investasi, demi memastikan bahwa masa pensiun kita benar-benar berkelimpahan, bukan justru menjadi beban.

 

Maka, siapkan pensiun sejak dini. Jangan sampai kita bergantung secara finansial kepada anak di hari tua, bahkan menjadi beban ekonomi bagi keluarga.



Laki-laki yang Terkena PHK?

Tahun 2017 awal, saya pernah terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dari kantor. Setelah bekerja lebih dari 17 tahun, saya kena lay off. Pastinya, panik dong. Kerja belasan tahun, akhirnya berakhir di PHK. Gaji puluhan juta pun berhenti, sekalipun dapat uang pesangon yang besarannya lumayan-lah bisa buat bangun kontrakan 10 pintu. Tapi intinya, saya pernah kena PHK.

 

Setelah peristiwa PHK itu, saya bilang ke istri dengan suara paling datar. Bahwa saya di-PHK dari kantor. Istri pun diam dan raut wajahnya seperti kebingungan. Akankah uang bulanann berhenti atau berkurang? Saya tegaskan, "Santai saja Bu. Saya akan cari kerja baru lagi." Sambil tersenyum dikit, pikiran saya mulai menyala. Walau di dalam hati, ada bagian yang kayak jatuh dari lantai 10 untuk memberi kabar di PHK.  

 

Malam itu saya nggak bisa tidur. Mulai menghtung-hitung: alokasi biaya bulanan, cicilan, tagihan, urusan dapur. Terus saya berpikir: saya sekarang bukan apa-apa, bukan pula siapa-siapa. Saya mencoba memahami sekilas. Selama 17 tahun, saya nempel banget sama gaji. Gaji saya selalu kasih tahu, bahwa saya berharag. Tapi sejak di PHK, gaji itu hilang.  

 

Besoknya, saya pura-pura normal. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Saya bangun pagi seperri biasa, pakai baju rapi seakan mau ke kantor. Tapi cuma duduk di depan laptop di rumah. Saya nggak ngomong ke siapa-siapa, termasuk ke anak-anak. Pikiran saya bekerja. Istri saya bertanya, " Pak ngelamar kerjaan?". Saya jawab "Iya." Padahal, saya cuma melihat layar kosong sambil bingung, kerja apa?

  

Seminggu. Dua minggu. Belum ada panggilan. Bahkan 3 bulan belum ada tanda-tanda bakal kerja lagi. Saya mulai marah-marah urusan hal sepele. Gampang panik dan emosi. Anak saya meinta jajan, saya marah. Anak numpahin susu, saya teriak. Anak-anak pun menangis. Karena ayahnya gampang emosi. Saya pun menyesal, lalu merenung sejenak. Bukan susu yang bikin saya teriak. Saya lagi marah ke diri saya sendiri, dan yang kena marah cuma orang orang terdekat!  

 

Memang benar sih, ada riset yang bilang, kehilangan kerja itu bisa menaikkan risiko depresi, dan efeknya lebih kerasa di laki-laki. Karena banyak dari kita yang diajarkan: harga diri itu penghasilan. Saya berpikir sejenak. Saya nggak sedih karena kehilangan kerja. Tapi saya sedih akibat kehilangan alasan buat meras berharga, apalagi untuk orang-orangt terdekat. Benar adanya, meta-analisis Paul dan Moser (2009) menyebut kehilangan pekerjaan atau menganggur itu merusak kesehatan mental, dan makin lama makin dalam. Dan efeknya lebih terasa pada laki-laki.  

 

Suatu malam istri saya duduk di sebelah saya. "Mas, boleh sedih kok." Saya jawab dan bilang bilang, "Saya nggak sedih. Saya lagi nyari kerja." Lalu, dia pegang tangan saya, "Mas boleh sedih sambil nyari kerja kan." Saya mencoba memahami lebih dalam kata-kata itu. Saya menahan tangis selama berminggu-minggu sejak di PHK. Satu kalimat itu yang bikin bobol batin dan mental.  

 

Dia bilang, "Aku nikah sama Mas, bukan sama gajinya. Anak-anak sayang sama Bapaknya, bukan sama jabatan bapaknya." Saya meneteskan air mata, tiba-tiba kayak anak kecil. Menyala pikiran saya. Belasan tahun saya bangun harga diri dari angka di slip gaji. Ternyata di rumah, saya sudah berharga dari dulu tanpa slip gaji sekalipun. Sayangnya, saya saja yang nggak pernah menyadari.


 

Saya mulai bangun ulang. Rutinitas harian: bangun pagi, ngopi sambil siapkan plan, istirahat, bantu istri. Pas anak-anak tidur, saya membaca buku dan siapkan bahan untuk mengajar di kampus. Pikiran saya bekerja. Ternyata yang membuat saya waras bukan pekerjaan. Tapi selalu merasa berharga. Vandello (2008) menyebut maskulinitas itu rapuh: laki-laki yang kehilangan peran pencari nafkah, harga dirinya mau nggak mau ikut goyah.  

 

Saya pernah kena PHK. Dan sejak itu, saya bisa bilang ke diri saya sendiri. Saya ini bukan cuma pencari nafkah. Pak bapak, Pak suami. Bapak itu yang mengajarkan anak-anak naik sepeda, menemani belajar anak di malam hari. Bapak yang menemani istri belanja. Bahkan bapak pula yang membeli gas saat habis. Saya pun mencoba memahami sekilas semua perjuangan seorang bapak. Maka siapapun yang dalam posisi kehilangan pekerjaan atau terkena PHK, ingat ini “kerja bapak bisa hilang tapi peran bapak nggak akan pernah hilang”.  

 

Besoknya saya membuat rencana sekalipun tanpa tanggal. Saya bagi hari-hari menjadi lima bagian: jaga kesehatan, tetap berkarya apapun, ibadah, istirahat, dan tetap berbuat baik di mana pun. Mungkin kata orang sederhana, nggak masalah. Saya tetap menulis, ngopi-ngopi, membahas dana pensiun, dan tetap mengajar. Semuanya saya Jalani apa adanya. Memang, terkesan nggak menghasilkan uang. Tapi hidup terasa lebih tenang dan penuh syukur.  Hari-hari yang nggak kosong. Setiap pagi saya cuma menulis tiga hal yang harus selesai. Setiap malam saya centang dan semuanya tuntas. Sebuah kebiasaan kecil setiap hari, menuntaskan semua pekerjaan sekecil apapun walau tanpa imbalan.   

 

Saat terkena PHK, tetaplah bikin rencana dan terus ikhtiar untuk dijalankan. Hingga saya berhentikan dari duduk berjam-jam hanya menatap layar sambil merasa nggak berguna. Saya jadi paham, saat terkenapHK dan belum bekerja lagi bukan berarti hari ini nggak melakukan apa-apa. Selau ada kerjaan dan karya yang bisa diperbuat. Terkadang di dunia kerja, yang perlu dibangun bukan hanya karier atau gaji. Tapi alasan untuk selalu bangun besok pagi dengan semangat dan optimism besar. Berpikir positif tanpa keluh-kesah.

 

Dan akhirnya, setelah 10 tahun saya di PHK, kini saya lebih bisa menikmati hidup. Punya kontrakan 10 pintu untuk menambah biaya hidup bulanan, tetap mengajar di kampus, aktif mengelola taman bacaan, jadi konsultan dan pengajar dana pensiun, jadi dewan pengawas di dana pensiun, hingga kecil-kecilan jadi “tukang durian” (bukan tukang kupas bawang).

 

Sungguh, memang nggak semua hal dalam hidup selalu membawa bahagia. Terkadang menerima apadanya, selalu merasa cukup saja sudah membuat banyak hal lebih tenang. Jadi, lebih bayak bersyukur. Hidup itu mudah asal dilakoni, tanpa perlu ekspektasi besar. Asal nggak punya hutang, nggak dikejar angsuran, nggak punya gaya hiudp sudah cukup. Makan enak, tidur nyenyak, dan badan tetap sehat. Dan yang penting, nggak usah ngurusin hidup orang lain. Sebab, setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Setelah di PHK, akhirnya berucap, Alhamdulillah ya Allah …

 


Minggu, 16 Agustus 2026

Trip 3 Negara: Cukup Cintai Diri Sendiri dan Pergilah Ke Mana Hendak Melangkah?

Trip 3 negara (Singapore – Malaysia – Thailand) memang bukan sekadar perjalanan biasa. Ada kenangan yang besar yang sulit dilupakan. Selain untuk membangun ruang saling mendekat bersama keluarga dan teman seperjalanan, trip 3 negara menadi momen kebersamaan yang tak ternilai. Kebahagiaan dirasakan lewat momen-momen sederhana sepanjang perjalanan di bus—seperti duduk bersama, melihat pemandangan dari balik jendela, mengobrol, dan saling memperkenalkan diri.

 

Sungguh, kebersamaan dengan keluarga atau teman seperjalanan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Karenanya, trip 3 negara bukan hanya destinasi. Tapi tentang siapa yang berjalan bersama kita dan kenangan apa yang dibawa pulang ke rumah. Sebuah momen sederhana yang berkesan seperti menikmati es krim durian, naik tuktuk, atau kereta gantung di Genting. Momen-momen sederhana yang manis dan kelak akan sangat dirindukan. Begitulah Kesan saat mengikuti Trip 3 Negara bersama Abunawas Travel yang dipandu Kak Feby sebagai toru leader dan Cikgu Nabil tour guide dari Malaysia. Rombongan berjumlah 41 orang berlangsung dari 11-16 Agustus 2026 ke Singapore, Malaysia, dan Thailand.

 

Lalu, apa hikmah di balik perjalanan trip 3 negara ini? Perjalanan ini bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah kesempatan berharga yang sengaja diluangkan untuk saling mendekatkan diri antaranggota keluarga dan rombongan. Sebuah proses mengumpulkan kenangan manis bersama orang-orang tercinta sebelum waktu terus berlalu.

 


Melalui perjalanan trip 3 negara, setiap peserta setidaknya memperoleh 3 pengalaman berharga yaitu:

1.    Kesadaran bahwa kebersamaan tidak bisa dibeli. Perjalanan ini memberikan implikasi emosional yang kuat bagi rombongan, di mana mereka menyadari bahwa kebersamaan dengan keluarga atau sahabat adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai atau dibeli dengan apa pun.

2.    Momen sederhana menjadi kenangan yang dirindukan. Hal-hal kecil dan sederhana sepanjang perjalanan seperti duduk bersama di bus, melihat pemandangan jendela, menikmati es krim, naik tuktuk, belajan di night market, atau bermain di Samila Beach berimplikasi pada terciptanya momen-momen manis yang kelak akan sangat dirindukan.

3.    Kebahagiaan yang mengalahkan rasa Lelah. Meskipun perjalanan panjang ini secara fisik melelahkan, implikasi dari eratnya kebersamaan dan interaksi antarpeserta (seperti saling memperkenalkan diri dan bersenda gurau) mampu memancarkan kebahagiaan mendalam yang sulit disembunyikan dari wajah-wajah tiap peserta.

 

Mengintip keseruan Trip 3 Negara, selalu menemukan ruang saling mendekat dalam kebersamaan. Sebuah kehangatan serta kedekatan keluarga yang tercipta sepanjang rute perjalanan. Maka di momen 17 Agustus 2026, HUT ke-81 RI, jangan pernah merasa dicintai negara. Cukup cintai diri sendiri dan pergilah ke mana kita hendak melangkah?



Merasa Dicintai, Salah Paham Paling Fatal dalam Hidup

Banyak orang tidak sadar. Ada satu bentuk salah paham yang sering kali hadir sejak dini. Tapi dampaknya sangat menyakitkan: “merasa dicintai”. Padahal yang terjadi hanyalah perhatian, keramahan, atau kepedulian biasa. Kita kemudian membangun harapan, menafsirkan setiap pesan, senyuman, atau sikap baik sebagai tanda kasih sayang. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi, yang muncul bukan hanya rasa kecewa tapi juga rasa malu karena ternyata selama ini kita sedang mencintai sebuah asumsi, bukan sebuah kepastian.

 

Dalam bukunya Social Intelligence, Daniel Goleman menjelaskan bahwa hubungan antarmanusia dibentuk oleh kemampuan membaca sinyal sosial secara akurat. Namun, otak manusia tidak selalu objektif. Emosi, kebutuhan untuk diterima, dan keinginan untuk dicintai sering kali membuat kita menafsirkan sinyal sosial sesuai harapan, bukan sesuai kenyataan. Akibatnya, empati berubah menjadi ilusi, keramahan dianggap ketertarikan, dan perhatian profesional dipersepsikan sebagai ungkapan cinta. Salah paham paling fatal itu bernama "merasa dicintai".

 

Goleman juga menegaskan bahwa kecerdasan sosial bukan hanya kemampuan memahami orang lain, tetapi juga kemampuan memahami diri sendiri. Orang yang memiliki kecerdasan sosial akan mampu membedakan antara fakta dan interpretasi. Ia tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa dirinya istimewa hanya karena diperlakukan dengan baik. Sebaliknya, ia mampu mengelola emosinya sehingga tidak mudah terjebak dalam bias yang lahir dari kebutuhan akan afeksi atau pengakuan.

 

Karena itu, salah paham yang paling memalukan bukanlah ketika orang lain tidak mencintai kita, melainkan ketika kita meyakinkan diri bahwa mereka mencintai kita tanpa dasar yang jelas. Kecerdasan sosial mengajarkan bahwa hubungan yang sehat dibangun di atas komunikasi yang nyata, bukan asumsi yang dibentuk oleh harapan. Sebab, cinta yang sesungguhnya tidak perlu ditebak-tebak; ia akan terlihat melalui konsistensi sikap, kejelasan komitmen, dan keberanian untuk menyatakannya secara nyata.

 


Pada akhirnya, mungkin yang paling penting adalah belajar menikmati kehidupan kita sendiri. Jangan menjadikan kehadiran atau ketidakhadiran seseorang sebagai ukuran apakah hidup kita layak untuk bahagia? Mau pergi ke mana, lakukan; mau belajar sesuatu yang baru, jalani; ingin mencoba hal yang selama ini ditunda, kerjakan. Hidup terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk menunggu seseorang membalas perasaan yang bahkan belum tentu pernah ia miliki. Menikmati hidup bukan berarti berhenti membutuhkan orang lain, melainkan menyadari bahwa kebahagiaan kita tidak boleh sepenuhnya bergantung pada bagaimana orang lain memperlakukan kita?

 

Jangan pernah merasa dicintai siapapun. Lebih baik cintai diri sendiri. Pergilah ke mana kita mau? Sebab, ketika kita nyaman dengan kehidupan sendiri, kita tidak lagi sibuk mencari tanda-tanda dicintai. Kita hanya menjalani hari-hari, mencintai apa yang kita lakukan, dan membiarkan orang yang memang ingin tinggal memilih untuk tinggal dalam hidupanya. Asal besok, jangan begini-begi saja atau begit-begitu saja. Berangkatlah untuk hidup sendiri! @Catatan pelancong 3 negara (Singapore - Malaysia - Thailand)




Minggu, 09 Agustus 2026

Sambut Bulan Dana Pensiun & IPFS 2026: Inilah 5 Prioritas Investasi Masyarakat Wujudkan Tujuan Masa Depan

Menentukan prioritas investasi secara finansial sangat penting karena membantu seseorang mengalokasikan sumber daya yang terbatas ke tujuan yang paling mendesak dan bernilai tinggi. Dengan menetapkan prioritas, investor dapat menyesuaikan pilihan investasi dengan kebutuhan, jangka waktu, dan tingkat risiko yang mampu ditanggung, sehingga mengurangi kemungkinan salah mengambil keputusan. Selain itu, prioritas yang jelas membantu menjaga disiplin keuangan, memaksimalkan potensi hasil investasi, serta memastikan tujuan penting seperti dana darurat, pendidikan, pembelian rumah, atau dana pensiun dapat tercapai secara lebih terencana dan efektif.

 

Menyambut Bulan Dana Pensiun dan IPFS tahun 2026, ternyata diketahui hampir setengah dari generasi muda dan pekerja Indonesia mulai sadar hari tua. Faktanya ada berbagai prioritas finansial yang mendasari keputusan investasi bagi para pekerja, pengusaha, dan generasi muda di Indonesia. Data riset Populix  (2024) menyebutkan prioritas utama pekerja, pengusaha, dan generasi muda Indonesia dalam melakukan investasi saat ini adalah 1) mempersiapkan dana darurat 68%, 2) menambah pendapatan 61%, 3) membeli aset 48%, 4) dana pensiun 46%, dan 5) dana pendidikan 40%. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya memiliki jaring pengaman finansial (dana darurat) dan mencari sumber pemasukan tambahan masih menjadi fokus paling dominan bagi masyarakat Indonesia saat ini. Dana pensiun menempati prioritas ke-4 sebagai bagian menjaga kesinambungan pengghasilan saat tidak bekerja lagi.

 

Secara umum, setidaknya terdapat beberapa implikasi logis dalam perencanaan keuangan masyarakat Indonesia yaitu 1) prioritas pada likuiditas dan keamanan (dana rarurat & menambah pendapatan) sehingga masih memerlukan instrumen investasi yang aman, berisiko rendah, dan sangat likuid, 2) kebutuhan alokasi aset untuk jangka menengah dan jangka panjang (membeli aset, dana pensiun, dana pendidikan) agar memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi guna melawan inflasi, dan 3) pentingnya strategi diversifikasi karena tujuannya bisa jangka pendek dan jangka panjang.

 


Di sisi lain, prioritas investasi masyarakat Indonesia saat ini dihadapkan pada tiga hambatan utama seperti kurangnya literasi dan edukasi, keterbatasan finansial, dan minimnya akses digital. Namun sebagian besar responden menyatakan untuk mencapai tujuan investasinya diperlukan mekanisme digitalisasi atau akses digital daripada konvensional. Seperti di dana pensiun, masyarakat lebih menyukai saluran pendaftaran dan pembelian dana pensiun secara mandiri (seperti produk DPLK) melalui akses digital.

 

Maka, mulailah ber-investasi sesuai tujuan keuangan yang diharapkan. Kalau bukan kita, mau siapa lagi? Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? #YuksiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

 




Belajar Energi Bersih Sambil Bermain, Mahasiswa Gunadarma Ajak Anak-anak TBM Mengenal PLTS dan K3 Listrik

Program pengabdian masyarakat yang dijalankan mahasiswa Teknik Elektro Universitas Gunadarma terus menunjukkan dampak positif bagi masyarakat. Sejak Jumat lalu, para mahasiswa melaksanakan program berkelanjutan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka Bogor (9/8/2026). Aktivitas utamanya, melakukan peremajaan sistem PLTS melalui pergantian kabel yang baru untuk meningkatkan keamanan dan keandalan instalasi. Selain itu, mereka juga menambah titik lampu di area kebun baca guna mendukung aktivitas belajar pada sore hingga malam hari, sekaligus mempercantik lingkungan dengan pengecatan pagar dan tempat duduk.

 

Kegiatan Elefunch dan Student Care yang dilaksanakan selama 3 hari. Untuk 2 hari pertama mahasiswa Gunadarma menjalankan program kerja Elefunch yang berupa peremajaan komponen PLTS, penambahan lampu sebanyak 5 titik lampu, perbaikan instalasi penerangan, pengecatan bangku yang ada di TBM. Untuk hari ke-3, mahasiswa Univ. Gunadarma melaksanakan Student Care dalam bentuk edukasi, games, dan santunan kepada anak yatim di lingkungan TBM dan sekitarnya. Kegiatan ini merupakan kolaborasi kedua bersama TBM Lentera Pustaka, kegiatan ini diikuti oleh 23 Mahasiswa Teknik Elektro serta diikuti oleh ±60 anak pembaca serta 17 ibu pengantar anak, dan 12 relawan.

Dalam kesempatan tersebut, para mahasiswa memberikan pengajaran dan pembelajaran mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) kelistrikan. Materi disampaikan secara interaktif – sambil bermain dan mudah dipahami agar anak-anak dapat mengenali potensi bahaya listrik serta memahami cara menggunakan peralatan listrik dengan aman dalam kehidupan sehari-hari.

 

Tidak hanya itu, tim mahasiswa juga mengadakan edukasi mengenai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kepada masyarakat. Dengan memanfaatkan instalasi PLTS yang telah terpasang di kawasan taman baca sebagai sarana pembelajaran langsung, warga diajak mengenal cara kerja energi surya, manfaat energi terbarukan, serta pentingnya pemanfaatan energi ramah lingkungan untuk mendukung kebutuhan listrik masyarakat di masa depan.

 

Suasana kegiatan semakin meriah dengan berbagai permainan edukatif yang melibatkan anak-anak peserta. Sebagai bentuk kepedulian sosial, mahasiswa Teknik Elektro Universitas Gunadarma juga menyalurkan santunan kepada anak-anak yatim yang berada di lingkungan TBM. Melalui rangkaian kegiatan ini, para mahasiswa tidak hanya menghadirkan solusi teknologi yang berkelanjutan, tetapi juga menanamkan semangat berbagi ilmu, kepedulian sosial, dan kesadaran akan pentingnya energi bersih bagi masyarakat. Salam literasi! #TeknikElektroGundar #TBMLenteraPustaka #GerakanLiterasi

 





Psikologi Uang: Gaji Besar tapi Merasa Nggak Cukup

Saat di kantor, pernah nggak melihat orang dengan gaji besar tapi merasa kurang. Gajji cukup tapi merasa miskin? Coba cek deh, teman sebaya yang rumahnya lebih gede, mobilnya lebih bagus tapi perasaan "kurang-nya" ada terus. Bukan karena nggak punya uang tapi karena tolak ukurnya bergerak terus. Jadi, cukup atau nggak cukup itu bukan soal nominal. Tapi soal cara kita mengukur atas apa yang dimiliki.  

 

Ada orang dengan gaji besar tapi tetap merasa miskin. Sementara orang dengan gaji biasa bisa merasa cukup. Bedanya bukan di angka. Bedanya di perilaku dan ekspektasi. Kan sederhana saja, kalau kita selalu membandingkan diri dengan orang yang lebih kaya ya kita pasti akan selalu kalah. Selalu ada yang lebih kaya. Selalu ada yang lebih mewah dan selalu ada yang lebih banyak. Sebab yang dilihat yang “lebih” kan.  

 

Sudah pasti ada bedanya. Dua orang dengan gaji yang sama kerja di kantor yang sama tapi bisa merasa sangat berbeda. Satu gelisah, yang satunya tenang. Satu merasa kurang, satu lagi merasa cukup. Bedanya hanya di definisi.  Maka, perasaan kaya dan miskin itu subjektif. Karena faktor yang menentukan adalah ekspektasi atau harapannya, bukan saldonya. Kira-kita begitu kalau membaca buku “The Psychology of Money” Morgan Housel, yang mengulas tentang cara berpikir soal uang. Bukan jumlah uang!

 

Urusan uang, kenapa orang merasa miskin atau kurang? Jawabnya, bisa jadi karena “tidak punya definisi tentang cukup”. Cukup itu berarti dapat memenuhi kebutuhan, sudah memadai atau tidak kurang, serta tidak perlu ditambah lagi. Tapi bila tidak punya definisi tentang “cukup”, maka akan membandingkan. Atau ekspektasi-nya terlalu tinggi, akhirnya tidak pernah puas. Setiap naik gaji, setiap naik kelas sosial, kerjanya selalu melihat kelas yang di atasnya. Terus begitu dan begitu terus tanpa henti. Wajar jadinya gelisah, terkadang bingung. Sementara orang yang tenang, pasti tahu arti “cukup”. Tahu di titik mana merasa "sudah" dan alhamdulillah. Bahkan tahu batas dan kebal dari gengsi.  

 

Sayangnya, sebagian besar orang tidak pernah duduk dan menuliskan apa artinya cukup. Cukup dianggap abstrak selama tidak dihitung. Dan kalau abstrak, gampang digoyang oleh hidup orang lain yang kelihatan lebih bagus. Maka solusinya bukan menekan ambisi atau mengurangi ekspektasi. Tapi solusinya adalah “membuat definisi cukup” jadi lebih konkret. Misalnya, kita tidur nyenyak tanpa mikir lagi soal uang. Asal kebutuhan bisa dipenuhi sudah tenang. Punya tabunagn cukup, sekaliipun untuk kebutuahn darurat. Berapapun angkanya, itu bisa dihitung dan ada nilainya. Coba bandingkan dengan “kebutuhan” yang muncul akibat melihat orang lain beli barang baru. Jelas, itu susah dihitung dan bukan kebutuhan nyata. Itu ekspektasi.  

 


Merasa cukup itu penting banget. Biar kita bisa kenal, mana yang kebutuhan mana yang keinginan. Tanpa perlu membandingkan diri dengan orang lain. Tentu, ambisi perlu bahkan tetap tumbuh itu bagus. Tapi kita harus ingat, kejar-kejaran soal uang itu semu. Tidak akan pernah bisa menghancurkan kepuasan yang sudah kita punya. Untuk mengejar lebih tapi tidak pernah tahu rasanya “cukup”.  Rugi total, mengejar uang terus tanpa pernah merasa cukup. Mau sampai kapan?  

 

Mungkin kita sepakat, bahwa kekayaan itu tidak akan pernah kelihatan. Sebab yang kelihatan itu pengeluaran. Barang itu kelihatan, harga itu biaya. Dan yang kelihatan, biasanya hanya pameran. Hanya sesuatu yang tampak, bukan kondisi sebenarnya. Orang yang punya gaji besar tapi habis buat gaya hidup itu bukan kekayaan. Itu cuma siklus kerja – cari uang – belanja – dan kerja lagi. Di dunia kerja, siklus kayak begitu tidak akan pernah membuat orang tenang apalagi nyaman. Justru yang penting itu merasa cukup. Cukup kondisi bertahan di segala keadaan, bukan “garis finish”.

 

Jadi, kalau ada orang dengan gaji besar tapi tetap merasa miskin. Bisa jadi, karena nggak bisa menghitung pengeluaran per bulan-nya. Dan pastinya, tidak pernah paham tentang definis “cukup” dan jumlah tabungannya belum mampu bikin tidurnya nyenyak. Kenapa begitu, karena kita nggak patuh pada versi diri sendiri. Tapi senagnya ikut versi teman kantor atau orang lain!

Sambut Kemerdekaan RI ke-81, Chubb Life Edukasi Asuransi Jiwa di Bogor

Sebagai bagian menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI ke-81 dan memberikan pemahaman perbedaan antara menyimpan uang di bank dan asuransi jiwa, Chubb Life hari ini menggelar edukasi keuangan bertajuk “Asuransi vs Menabung Biasa”yang diikuti 70 anak-anak usia sekolah di Taman Bacaan Lentera Pustaka Bogor (9/8/2026). Selain menjadi bagian dari kampanye Gencarkan (Gerakan Nasional Cerdas Keuangan) yang diinisiasi OJK, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan khususnya asuransi jiwa di kalangan pelajar sekaligus menjadi bukti nyata tanggung jawab sosial (CSR) Chubb Life Indonesia terhadap gerakan literasi dan aktivitas taman bacaan di Indonesia.

 

Bertindak sebagai narasumber adalah Resa Frasiska, pegiat literasi Bogor yang memaparkan asuransi jiwa berbeda dengan tabungan. Asuransi adalah cara untuk mendapatkan perlindungan dari risiko yang tidak terduga. Misalnya, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti sakit dan harus dirawat di rumah sakit, perusahaan asuransi dapat membantu menanggung sebagian atau seluruh biaya sesuai ketentuan polis. Jadi, tujuan utama asuransi bukan untuk mengumpulkan uang, melainkan untuk melindungi dari kerugian yang besar. 

 

Sementara menabung di bank, ibarat menyisihkan uang jajan untuk disimpan di celengan atau tabungan bank. Menabung artinya menyisihkan uang sedikit demi sedikit agar jumlahnya bertambah dan bisa digunakan di masa depan, misalnya untuk membeli sepeda, buku, atau biaya sekolah. Jadi intinya, menabung membantu kita mencapai tujuan keuangan, sedangkan asuransi jiwa membantu kita melindungi kita dari risiko yang tidak terduga.

 

Sebagai bagian sosialisasi fungsi dan manfaat asuransi jiwa, Chubb Life tiap 6 bulan sekali secara rutin memberikan edukasi tentang asuransi jiwa baik untuk perlindungan diri, kesehatan, maupun pendidikan. Sebagai Perusahaan asuransi jiwa multinasional, Chubb Life Indonesia memiliki komitmen untuk meningkatkan literasi dan inklusi asuransi jiwa di masyarakat Indonesia. Karena itu, melalui dukungan CSR ke TBM Lentera Pustaka, Chubb Life Indonesia akan proaktif dalam memberikan pemahaman akan pentingnya asuransi jiwa.

 


Untuk diketahui, tahun 2026 ini, Chubb Life menjadikan TBM Lentera Pustaka di Bogor sebagai sarana untuk melakukan edukasi asuransi jiwa bagi anak-anak usia sekolah, di samping untuk meningkatkan tingkat literasi perasuransian di Indonesia, Untuk itu, Chubb Life Indonesia tersu memperkuat  tiga komponen literasi finansial yang mencakup perilaku (behavior), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude) terkait asuransi jiwa.

 

"Saya ucapkan terima kasih kepada Chubb Life Indonesia yang melakukan edukasi – literasi asuransi jiwa bersama puluhan anak-anak TBM Lentera Pustaka. Kegiatan ini penting untuk mengenalkan bedanya asuransi jiwa vs tabungan. Sangat bagus dan layak dilanjutkan ke depannya" ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka dalam sambutannya.

 

Kegitan edukasi literasi keuangan Chubb Life Indonesia ini menjadi bukti pentingnya kolaborasi dalam memperkuat pemahaman masyarakat akan pentingnya proteksi diri dan mengenal risiko dalam kehidupan sekaligus mengkampanyekan GENCARKAN (Gerakan Nasional Cerdas Keuangan) sesuai arahan regulator. Salam literasi #ChubbLifeIndonesia #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Sabtu, 08 Agustus 2026

Ketika Rak Buku Penuh, Tetapi Empati Tetap Kosong

Banyak orang mengukur kecerdasan dari jumlah buku yang berhasil dibaca setiap tahun. Bacaannya berat, mulai dari buku bisnis, kepemimpinan, investasi, produktivitas, dan pengembangan diri. Rak bukunya penuh. Semua bacaannya bermanfaat karena membantu dirinya untuk memahami cara mencapai tujuan dan meningkatkan kemampuan diri. Namun, ada pertanyaan yang jarang diajukan: mengapa sebagian orang yang sangat rajin membaca buku tetap kesulitan memahami perasaan, pergulatan, dan sudut pandang manusia lain? Di sinilah letak kekosongan yang sering tidak disadari pembaca buku.

 

Salah satu penyebabnya adalah karena banyak bacaan yang berfokus pada egoisme, orientasinya hanya hasil, strategi, dan pencapaian. Tapi tidak cukup mengajak pembacanya masuk ke dalam kehidupan manusia yang penuh konflik, kelemahan, kehilangan, dan harapan. Berbeda dengan buku-buku sastra. Novel, cerpen, dan karya sastra selalu mengajak kita hidup sejenak dalam pikiran orang lain. Kita belajar memahami tokoh yang gagal, terluka, miskin, kesepian, atau bahkan membuat kesalahan. Sastra melatih empati, yaitu kemampuan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda dari diri kita sendiri.

 

Contoh nyata dapat dilihat di lingkungan kerja. Seorang manajer mungkin telah membaca banyak buku kepemimpinan dan manajemen. Ia memahami teori motivasi, target kinerja, dan strategi bisnis. Namun ketika ada karyawan yang performanya menurun karena masalah keluarga, ia langsung menilainya sebagai pegawai yang tidak profesional. Sebaliknya, pemimpin yang memiliki empati akan berusaha memahami latar belakang masalah orang lain sebelum mengambil keputusan. Pengetahuan membantu mengelola pekerjaan, tetapi pemahaman terhadap manusia membantu mengelola hubungan.

 

Seseorang yang gemar membaca buku finansial mungkin sangat terampil mengatur uang dan berinvestasi. Namun ketika melihat tetangganya yang masih kesulitan ekonomi, ia mudah menghakimi dengan mengatakan bahwa orang tersebut malas atau tidak memiliki perencanaan. Padahal kenyataannya bisa jauh lebih kompleks: ada yang harus merawat orang tua sakit, membiayai pendidikan saudara, atau menghadapi musibah yang tidak terlihat dari luar. Di situlah bedanya, buku sastra justru mengajarkan bahwa setiap manusia membawa cerita yang tidak selalu tampak di permukaan.

 

Karena itu, membaca seharusnya tidak hanya membuat kita lebih pintar. Tapi juga lebih manusiawi. Buku-buku pengetahuan mengajarkan cara memahami dunia, sedangkan sastra mengajarkan cara memahami manusia yang hidup di dalam dunia tersebut. Ketika keduanya berjalan seimbang, seseorang tidak hanya memiliki wawasan yang luas, tetapi juga hati yang mampu menghargai perbedaan, memahami kelemahan orang lain, dan melihat kehidupan dengan lebih bijaksana. Sebab tujuan tertinggi membaca bukan hanya menambah isi kepala, melainkan juga memperluas ruang di dalam hati.

 

Hari ini, bisa jadi banyak orang rajin baca buku. Tapi tetap sulit memahami dan menghargai orang lain? Banyak orang bangga karena membaca puluhan buku. Namun ada satu rak yang sengaja dihindari yaitu sastra. Akhirnya, saat sastra ditinggalkan, pengetahuan bertambah tapi kedewasaan emosional sering kali tertinggal. Kita sering lupa, membaca juga untuk menghargai orang lain.

 

Membaca buku, bukan hanya untuk pintar. Tapi mampu menjadi manusia yang punya hati. Salam literasi!

 





Usia Matang dan Mandiri Finansial Jadi Kunci Kebanggaan Pensiunan Jabodetabek


Seorang pekerja pantas bangga saat memasuki masa pensiun karena itu adalah bukti perjalanan panjang yang dilalui dengan kerja keras, disiplin, dan dedikasi. Pensiun bukan tanda berakhirnya produktivitas, melainkan penghargaan atas puluhan tahun kontribusi yang telah memberi manfaat bagi keluarga, perusahaan, dan masyarakat. Di balik setiap masa pensiun yang baik, tersimpan kisah perjuangan, pengalaman berharga, serta jejak karya yang akan terus dikenang dan menjadi warisan bagi generasi berikutnya.

 

Lalu, apa yang membuat pekerja bangga pada saat pensiun? Tentu, ada banyak faktor yang biikin bangga pekerja saat pensiun. Survei Pekerja tentang Pensiun yang melibatkan 139 pekerja Jabodetabek oleh Syarifudin Yunus (Agustus 2026) menyimpulkan ada beberapa faktor yang membuat pekerja merasa bangga dan puas saat pensiun yaitu usia matang 30%, mandiri finansial 21%, bebas utang 17%, tubuh sehat 15%, kondisi kesehatan 14%, waktu luang 11%, tidak stres 10%, pikiran tenang 9%, bekerja lagi 8%, dan aktif sosial 4%. Dapat dikatakan, aspek kesiapan mental dan kemandirian finansial mencapai 68% (usia matang, manidir finansial, bebas utang) menjadi hal dominan yang memberikan rasa bangga bagi pekerja saat pensiun.

 

Pentingnya kemandirian finansial saat pensiun memiliki keterkaitan dengan faktor-faktor kepuasan lainnya seperti kesejahteraan mental, kesehatan, dan kualitas hidup. Suka tidak suka, survei ini mengungkap kemandirian finansial dianggap sangat penting dan menjadi elemen kunci yang memungkinkan pensiunan mencapai ketenangan pikiran dan kebanggaan diri setelah masa kerja berakhir.

 

Karena itu, persiapan pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, melainkan sebuah strategi komprehensif yang mencakup aspek finansial, fisik, dan mental. Implikasinya, pekerja perlu melakukan perencanaan keuangan sejak dini untuk masa pensiun. Selain menabung jauh sebelum masa pensiun tiba, di samping menghindari utang. Di sisi lain, investasi pada kesehatan juga penting untuk menjaga gaya hidup sehat selama masa produktif. Kesehatan fisik menjadi modal utama untuk menikmati masa pensiun tanpa ketergantungan pada bantuan medis yang intensif.

 


Kesiapan mental juga menjadi faktor penting yang memberikan rasa bangga. Pekerja perlu mempersiapkan diri secara psikologis untuk memasuki fase kehidupan baru saat pensiun agar dapat meraih pikiran tenang dan tidak stres. Karena itu, masa pensiun tetap membutuhkan keseimbangan antara waktu luang dan aktivitas sebagi sarana aktualisasi diri atau interaksi sosial. Jadi, kepuasan pensiun adalah hasil dari keseimbangan antara keamanan finansial dan kualitas hidup (kesehatan serta ketenangan pikiran).

 

Nah, salah satu upaya untuk mempersiapkan pensiun dengan bangga adalah memiliki DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Untuk menciptakan kemandirian finansial di hari tua, di samping memastikan adanya kesinambungan penghasilan saat pensiun agar tidak bergantung kepada anak atau keluarga. Sebab pensiun bukan sekadar berhenti kerja, Tapi membutuhkan kesiapan mental dan kesehatan fisik yang memadai. Agar bisa menjalani hari-hari pensiun dengan bangga dan rasa syukur. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Jumat, 07 Agustus 2026

Hahh, Kecerdasan Bukan Dari Sekolah?

Agak tergelitik, ketika yang terhormat Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa “kecerdasan itu bukan dari sekolah?”. Sambil mencontohkan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia kemarin (7 Agustus 2026). Katanya, kecerdasan juga lahir dari tempaan kesulitan hidup dan pengalaman. Apa iya begitu, bahwa kecerdasan bukan dari sekolah?

 

Mohon maaf dan terus terang, menurut saya, kalimat "kecerdasan bukan berasal dari sekolah" kurang tepat. Apalagi bila dipahami oleh kalangan awam, agar “tidak disalahpahami” bahwa sekolah tidak penting. Memang secara logika, kecerdasan memang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti bakat, lingkungan keluarga, pengalaman hidup, dan pendidikan. Sekolah (pendidikan) adalah salah satu sarana penting yang membantu mengembangkan kemampuan berpikir, pengetahuan, keterampilan memecahkan masalah, dan daya analisis seseorang. Karena itu, mengatakan bahwa kecerdasan “bukan” berasal dari sekolah mengabaikan peran besar pendidikan dalam membentuk dan mengasah potensi intelektual manusia.

 

Mohon maaf lagi ya Pak, mungkin yang lebih tepat adalah membedakan antara kecerdasan dan kesuksesan. Sebab, kecerdasan dapat tumbuh melalui proses belajar yang terstruktur, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Namun, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau pendidikan formal. Kesuksesan juga dipengaruhi oleh karakter, disiplin, ketekunan, kemampuan beradaptasi, keterampilan berkomunikasi, keberanian mengambil peluang, serta kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Bolehlah ditambahkan, kecerdasan dibentuk oleh kesulitan hidup serta didikan keras di masa lalu, bukan sekadar teori di ruang kelas. Jadi, pendidikan membantu membangun kecerdasan, tetapi kecerdasan saja belum tentu menjamin keberhasilan.

 

Contoh konkretnya begini. Misal, ada 2 orang lulusan universitas yang sama dengan nilai akademik yang sama tinggi. Orang pertama sangat cerdas secara akademis, tetapi kurang disiplin, sulit bekerja sama, dan mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Sementara orang kedua memiliki kemampuan akademis yang biasa saja, namun juga rajin, mau belajar dari kesalahan, serta mampu membangun hubungan yang baik dengan banyak orang. Dalam perjalanan karier, sering kali orang kedua memiliki peluang lebih besar untuk mencapai posisi penting karena keberhasilan di dunia nyata membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Sementara orang pertama, dianggap tidak sukses dalam pekerjaannya.

 

Karena itu, pernyataan yang lebih logis adalah: "Kecerdasan dapat berkembang melalui pendidikan dan proses belajar, sedangkan kesuksesan tidak ditentukan oleh pendidikan semata." Sekolah dan pendidikan tetap memiliki peran besar dalam membangun fondasi pengetahuan dan kemampuan berpikir. Namun, untuk mencapai keberhasilan, seseorang perlu melengkapi kecerdasannya dengan sikap, karakter, pengalaman, kerja keras, dan ketekunan. Biar bagaimana pun, pendidikan adalah salah satu faktor penting menuju sukses, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan hasil akhir kehidupan seseorang.

 

Saya menuliskan ini, agar masyarakat tidak salah paham. Apapun alasannya, sekolah atau pendidikan tetap penting. Teruslah sekolah setinggi-tingginya, jagan pernah berpikir sekolah tidak penting. Sebab sekolah (pendidikan) tidak berhubungan langsung dengan kesuksesan. Ketahuilah, saat ini 86% pekerja di Indonesia berpendidikan SMA/SMK ke bawah, akhirnya terjebak pada rata-rata gaji di bawah Rp 3 juta per bulan. Logika sederhananya, semakin tinggi pendidikan maka akan semakin besar gaji yang diterima. Silakan saja cek di lapangan, di dunia kerja.

 


Kalau contohnya Pak Bahlil, mungkin bisa diterima bila beliau jadi Menteri bukan berasal dari latar belakang dan kampus yang tidak terkenal. Bahkan katanya bila kampusnya dicari di google mungkin sudah tidak ada. Tapi realitas itu tidak ada hubungannya dengan kalimat “kecerdasan bukan dari sekolah”. Sebab, kenapa Pak Bahlil jadi Menteri pun saya tidak tahu? Apa beliau jadi Menteri karena kecerdasan atau faktor lainnya? Itu sama artinya, bila saya yang jadi presiden, lalu teman ngopi sehari-hari, saya jadikan Menteri sama sekali tidak ada hubungan dengan kecerdasan. Mungkin dasarnya hanya kedekatan semata. Apalagi di Indonesia, tidak ada kriteria khusus untuk jadi Menteri?

 

Jangan lupa, Indonesia didirikan oleh Ir,. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Ada juga Prof. Dr. B.J. Habibie bahkan banyak menteri sekarang yang berpendidikan tinggi. Itu artinya, banyak juga pejabat yang berasal dari orang-orang sekolahan. Tanpa perlu membuat statement tentang orang-orang bukan sekolahan. Biarlah apapun berjalan apa adanya. Sebab realitas dan fakta tentang sekolah dan tidak sekolah, cerdas dan tidak cerdas memang sulit diperdebatkan, apalagi di negeri kita. Persis seperti “kenapa kita lebih ngotot mementingkan MBG (Makan Bergizi Gratis) daripada sekolah/pendidikan gratis?”. Saya tidak ingin berdebat, tapi saya menerima realitas MBG saja.   

 

Jadi menurut saya, dengan ngotot menyatakan kecerdasan tetap berasal dari sekolah (pendidikan). Tapi kalau mau sukses, tidak harus dari sekolah. Sebab, kecerdasan memang tumbuh dari proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Tapi kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau pendidikan formal. Kira-kira begitu sih, sekadar berbagi pemikiran …