Jumat, 27 Maret 2026

Lebin Baik Baca Buku daripada Mernyalahkan Orang Lain

Ini cuma pesan refleksi. Usai Lebaran, hindari manusia yang kerjanya menyalahkan orang lain. Karena lebaran adalah momentum kembali ke hati yang bersih. Setelah Idulfitri, kita diharapkan kembali ke kondisi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih rendah hati. Maka, bila ada orang yang kerjanya menyalahkan orang lain hindari saja. Mungkin, dia belum tahu arti lebaran?

 

Kebiasaan menyalahkan itu “energi negatif”. Orang yang gemar menyalahkan biasanya sulit introspeksi, cenderung mencari “kambing hitam”, dan membuat suasana tidak nyaman. Berada di dekat oranggseperti itu bisa melelahkan secara emosional dan memicu konflik berulang. Bergaul pada orang yang kerjanya menyalahkan, akan menghambat pertumbuhan diri dan hubungan baik. Orang yang tidak mau bertanggung jawab atas dirinya sendiri sulit berkembang, sulit belajar dari kesalahan, dan cenderung mengulang masalah yang sama. Bahkan susah memaafkan orang lain. jika terus dekat, kita bisa ikut terseret dalam pola pikir yang tidak sehat.

 

Hindari orang yang kerjanya menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan kita. Padahal, semuanya tergantung pikirand an tingkah lakunya sendiri. Orang model begitu, bicaranya bukan mencari solusi. Tapi mencaro-cari salahnya orang lan. Terkadang, justru salahnya dia sendiri. Tapi selalu berusaha untuk mencuci tangannya sendiri. Sekalipun harus mengotori nama orang lain.


Orang yang kerjanya menyalahkan orang lain. Saat dia salah, pasti orang lain yang disalahkan. Saat dia gagal, pasti orang lain juga yang dituduh penyebabnya. Bahkan saat kita diam, dia malah merasa menang. Jangan terjebak permainannya. Tidak semua yang menuduh kita patut dijawab. Tidak semua yang menyakiti kita layak dijelaskan. Biarkan saja dan hindari jauh-jauh.



Terkadang, ada fase dalam hidup ketika kita harus tegas. Menjaga jarak bukan karena benci tapi karena kita tahu nilai diri kita. Karena kita sadar, terus bertahan di dekat orang yang kerjanya menyalahkan orang lain hanya akan mengikis harga diri. Mengotori ketenangan hati kita sedikit demi sedikit.


Kita tidak diciptakan untuk menanggung kesalahan orang lain. Kita juga tidak wajib memikul luka yang bukan milik kita. Jika hari ini kita disalahkan atas sesuatu yang tidak kita lakukan, lepaskan! Serahkan pada Allah. Dia Maha Tahu siapa yang jujur, siapa yang memutar cerita, dan siapa yang diam padahal terluka.


Biarkan waktu yang membuktikan. Biarkan Allah yang membalikkan keadaan. Tugas kita hanya satu: tetap jaga hati, tetap luruskan niat, dan tetap berjalan tanpa harus menjelaskan
segalanya. Karena yang benar tidak perlu berisik untuk terlihat benar.


Jadi, hindari orang yang kerjanya menyalahkan orang lain. Jaga jarak, bukan berarti membenci. Tapi menjaga batas, melindungi kesehatan mental, dan memilih lingkungan yang lebih sehat. Lebaran, bukan hanya memaafkan orang lain. Tapi juga lebih selektif dalam menjaga hubungan dan lingkungan yang positif.

 

Ingat, orang lain kalau dicari-cari salahnya tidak akan pernah ada habisnya! Lebih baik baca buku daripada menyalahkan orang lain.

Kamis, 26 Maret 2026

Di Usia Tua, Memilih Pensiun atau Tetap Lanjut Kerja?

Rata-rata orang bekerja hingga usia 55 tahun. Cepat atau lambat pasti akan pensiun. Bukan karena mau kita sebagai pekerja. Tapi karena peraturan kantor, sudah ditetapkan usia pensiunnya. Lalu ada yang bertanya, bila sudah tua (usia pensiun) sebaiknya pensiun atau tetap lanjut kerja?

 

Memilih pensiun atau tetap lanjut kerja itu bukan soal usia. Bukan pula soal fisik masih kuat. Pensiun atau tetap lanjut kerja, bagi seorang karyawan itu erat kaitannya dengan kesiapan finansial. Pensiun bukan hanya soal usia tapi soal kondisi finansial. Apakah cukup uang untuk membiayai hidup di saat tidak punya gaji lagi? Itu saja soalnya, sederhana sekali.

 

Jika memilih pensiun, berarti gaji bulanan sudah tidak ada. Penghasilan aktif berhenti. Kebutuhan dan biaya hidup sepenuhnya bergantung pada “uang yang ada”. Bisa dari JHT BPJS, pesangon dari kantor atau dana pensiun. Mungkin ditambah tabungan atau aset investasi yang dimiliki. Karenanya saat memilih pensiun, kita harus mampu mencukupi kebutuhan hidup bulanan, punya uang yang cukup, dan mampu menutup biaya kesehatan bila terjadi sakit. Memastikan pensiun yang tidak bergantung pada anak atau keluarga. Bila dana pensiun manfaatnya cukup dan sudah terencana, memilih pensiun bisa jadi pilihan yang nyaman. Namun bila tidak cukup atau tidak punya dana pensiun, pensiun pasti berisiko menurunkan kualitas hidup, bahkan gagal menjaga standar hidup seperti saat bekerja.

 

Jika memilih tetap bekerja, tidak masalah. Tapi harus disadari, Keputusan tetap bekerja atau menunda pensiun biasanya diambil karena kondisi finansial “belum stabil”. Uang pensiun yang diterima tidak cukup, dana pensiun tidak punya, dan “terpaksa” bekerja untuk menjaga stabilitas finansial demi biaya hidup. Masih tetap bekerja di usia pensiun, oke-oke saja. Karena masih punya penghasilan aktif dan tidak langsung bergantung pada tabungan. Namun, patut dipertimbangkan faktor kesehatan, keseimbangan hidup (work-life balance), dan kesempatan menikmati masa pensiun. Jadi yang baik, tetap bekerja setelah pensiun karena untuk berkontribusi atas keahlian atau aktualisasi diri, bukan karena “terpaksa” tidak punya uang yang cukup.

 

Memilih pensiun atau tetap lanjut kerja, intinya hanya soal finansial. Punya uang yang cukup atau belum? Dan tentu, apapun keputusannya menjadi hak privasi setiap pekerja. Mau pensiun (alias menikmati masa pensiun) atau tetap bekerja, sah-sah saja. Jika punya uang pensiun + dana pensiun yang cukup maka pensiun adalah pilihan. Jika uang pensiun belum cukup (khawatir atas biaya hidup di hari tua) maka lanjut kerja adalah strategi untuk bertahan. 

 


Cukup atau tidak cukup soal finansial di masa pensiun, biasanya dihitung dari 1) berapa kebutuhan dan biaya hidup per bulan, 2) berapa usia harapan hidup setelah pensiun (saat ini UHH di Indonesia di 73 tahun), 3) potensi biaya kesehatan + inflasi. Nah, semua itu dikurangi “uang pensiun” + tabungan yang dimiliki hari ini. Mampu atau tidak menjaga standar hidup kita setelah tidak bekerja lagi, settelah pensiun?

  

Idealnya, seseorang tidak hanya memilih antara “berhenti total” atau “terus bekerja penuh”. Tapi bisa mengambil jalan tengah untuk “pensiun tapi tetap punya aktivitas produktif (usaha kecil, konsultan, punya kontrakan, dll)” sehingga tetap ada pemasukan bulanan tanpa tekanan kerja tinggi.

 

Jadi, memilih pensiun atau lanjut kerja adalah keputusan finansial yang sifatnya personal. Kuncinya ada pada kesiapan di hari tua, perencanaan pensiun yang dilakukan. Bila dana cukup bisa jadi memilih untuk pensiun. Tapi bila dana belum cukup maka pilihannya tetap lanjut bekerja.

 

Tapi faktanya hari ini, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan transferan dari anaknya setiap bulan untuk menutupi biaya hidup. Bahkan 8 dari 10 lansia (pensiunan) bergantung secara finansial dari anggota keluarganya yang bekerja. Sandwich generation masih besar dan stabil di Indonesia.

 

Jadi, mau pilih pensiun atau tetap lanjut bekerja? Jawabnya, tergantung pada kesiapan finansial kita di hari tua. #YukSiapkanPensiun

Bahagia Kok Tergantung Orang Lain, Jadilah Literat

Dulu aku pernah ada di satu titik. Di mana bahagia itu tergantung orang lain. Kalau dipuji, rasanya cukup. Kalau dikritik, rasanya runtuh. Setiap keputusan selalu dipikirkan, selau ditimbang: “Nanti orang lain bakal bilang apa ya?”

 

Sampai suatu hari aku sadar. Capek juga ya, hidup terus-menerus pakai standar orang lain. Semuanya harus dapat validasi. Punya ide tapi menunggu persetujuan orang lain. Dan ternyata, sebaik apa pun kita, akan selalu ada yang tidak suka. Benar adanya, kita tidak akan pernah mampu menyenangkan semua orang.

 

Pelan-pelan aku belajar. Bahwa bahagia itu bukan soal mereka setuju atau tidak. Tapi soal aku jujur atau tidak sama diri sendiri. Dan hidup juga bukan tentang membuat semua orang senang. Seperti halnya kebenaran, tidak selalu nyaman tapi tetap harus diterima.

 


Hari ini aku memilih berbeda. Mengelola taman bacaan, berbagi cerita senyum pada anak-anak dan membangun tradisi baca di sebuah kampung kecil. Menjadikan pengabdian sebagai jalan hidup. Justru lebih tenang. Lebih jujur sama diri sendiri. Karena akhirnya aku paham. Bahagia itu di tangan kita. Bukan di jari, atau di mulut orang lain.

 

Maka, stop hidup dari standar orang lain. Bahagia itu di tangan kita. Bukan di komentar orang lain. Dan tidak semua hal harus terasa nyaman. Karena yang baik tidak selalu diterima, dan yang benar tidak selalu menyenangkan. Jadikan sehat untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Jadilah literat!

 


Cerita Pensiun: Pekerja Nekad Nabung Biar Punya 70% dari Gaji Terakhir

Setiap habis gajian, di akhir bulan, Rudi selalu punya kebiasaan yang sama. Mengecek slip gaji, lalu menghitung pengeluaran. Gajinya Rp10 juta per bulan. Biasanya cepat habis, Bayar cicilan, untuk kebutuhan rumah, dan sedikit hiburan. Sisihkan juga alokasi buat ngop bareng teman-teman di kantor.

“Hidup ya begini… yang penting cukup,” pikirnya.

 

Suatu hari, di kantor, Rudi ikut sesi edukasi keuangan. Ngomongin tentang pensiun. Sekalipun dia masih 20 tahun lagi pensiun. Tapi ada satu kalimat yang bikin Rudi terus terngiang di kepalanya: “Saat pensiun, idealnya penghasilan Anda sekitar 70% dari gaji terakhir.”

 

Setelah sesi itu. Rudi mulai berpikir. Kalau sekarang Rp10 juta, berarti nanti ia butuh sekitar Rp7 juta per bulan sata pensiun. Padahal saat pensiun tiba, ia sudah tidak bekerja. Tidak punya gaji bulanan lagi.” Terus, dari mana uang segitu tiap bulan di masa pensiun?” batin Rudi.

 

Malam itu, Rudi tidak bisa langsung tidur. Sedikit merenung. Ia membayangkan dirinya di usia 60 tahun. Tanpa gaji, tanpa penghasilan lagi. Tapi tetap harus makan. Tetap harus bayar listrik. Mungkin juga terjadang harus bayar biaya Kesehatan, akibat sakit.

“Kalau bukan dari sekarang… dari mana nanti Rp7 juta per bulan itu datang?”

 

Rudi sadar, dari mana Rp 7 juta per bulan di hari tua? Biar punya program JHT BPJS, pasti nggak cukup. Apalagi diambil sekaligus jadi gampang habis. Uang pesangon dari kantor, bisa dibayar bisa nggak? Atau dikasih pesangon semampu perusahaannya. Makin pusing Rudi mikirin pensiun.

 

Besoknya, Rudi nekad dan mengambil keputusan kecil. Tanpa pikir panjang lagi. Rudi mulai menyisihkan sebagian gajinya untuk dana pensiun. Nabung ke DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Iurannya nggak langsung besar. Rp. 1 juta per bulan. Biar tidak terasa berat, tapi konsisten. Dia hanya mau siapin pensiunnya sendiri.

 

Tahun demi tahun berlalu. Kariernya berkembang. Gajinya naik. Dan dana pensiunnya, ikut tumbuh diam-diam. Mulai tambah iuran bulanan, bahkan sering juga top up. Apalagi saat terima bonus atau THR. Bagi Rudi, kalua sudah biasa nabung buat pensiun malah jadi asyik. Disiplin nabung bukan untuk gaya hidup atau liburan. Tapi untuk hari tua. Langka banget pekerja muda mau nabung untuk pensiun.

 


Hingga akhirnya, masa pensiun itu tiba. Usia Rudi sudah 55 tahun. Harus pensiun kata peraturan kantornya. Dia berhenti bekerja, tidak punya gaji lagi. Uang JHT BPJS dicairkan buat modal usaha. Uang pesangon dari kantor “ditabung” untuk biaya kuliah anaknya.  


Untungnya, dia punya DPLK. Nilainya juga lumayan besar. Akumulasi dananya tembus Rp. 900 juta. Dia meminta dibayar secara bulanan selama 10 tahun. Dan sejak pensiun, Rudi jadi punya “penghasilan” tiap bulan. Rp. 7,2 juta per bulan, lebih sedikit dari 70% gaji terakhirnya. Punya income setelaah pensiun, dan tidak kehabisan uang di hari tua.

 

Rp. 7 juta per bulan di masa pensiun, memang tidak persis sama seperti saat masih bekerja. Tapi cukup untuk biaya hidup di hari tua. Dan tidak perlu bergantung pada anaknya. Sekitar 70% dari gaji terakhirnya. Cukup untuk hidup layak. Cukup untuk hidup tenang di masa tua.

 

Dalam hati Rudi, ternyata pensiun bukan tentang mengganti 100% gaji. Bukan pula untuk kaya. Tapi untuk memastikan, hidup bisa terus berjalan. Tetap mampu menjaga standar hidup sekalipun sudah tidak punya gaji. Rudi bersyukur sudah membuat keputusan penting, untuk menabung di DPLK saat masih kerja dulu.

 

Terbukti benar, tenangnya masa pensiun ternyata karena tersedia dana yang cukup untuk hari tua. Tidak gelisah, tidak khawatir karena nggak punya uang. Rudi pun tersenyum simpul, menjalani hari tuanya dengan nyaman. “Ohh, begini ya yang dibilang kerja yes pensiun oke” batin Rudi sambil menikmati secangkir kopi.

 

Rabu, 25 Maret 2026

Jangan Salahkan Keadaan

Ini catatan hikmah lebaran. Ketika seseorang terus menerus menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan takdir, justu ia sedang memperpanjang penderitaannya sendiri. Sebuah lingkaran negatif yang sulit diputus. Menyalahkan keadaan dan berkeluh-kesah, hanya menjauhkan seseorang dari ketenangan. Menerima bahwa ada bagian dari kesulitan yang merupakan akibat dari dosa bukan berarti menyerah, melainkan mengambil kembali kendali atas hidup.

 

Menyalahkan keadaan hanya memperpanjang luka. Saat kita terus menyalahkan situasi, orang lain, atau kondisi hidup makan akan terjebak dalam rasa sakit itu lebih lama. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, kita bisa memilih menerima dan mencari solusi atau terus menyalahkan keadaan. Bila memilih menyalahkan keadaan, maka pikiran akan terus berputar pada “kenapa ini terjadi?” Emosi negatif (marah, kecewa, frustrasi) jadi berulang. Dan kita sulit bergerak maju. Akibatnya, “luka” (emosional maupun mental) tidak pernah benar-benar sembuh.

 

Kita ser


ing lupa. Fokus pada masalah hanya memperkuat rasa sakit. Fokus pada solusi maka dapat mempercepat pemulihan. Menyalahkan keadaan sejatinya dapat memberi energi pada luka. Sedangkan menerima keadaan akan menyembuhkan luka, sebesar apapun. Seperti luka fisik, kalau terus digaruk akan makin lama sembuhnya. Kalau dirawat maka pelan-pelan pasti pulih. Menyalahkan keadaan itu seperti terus menggaruk luka.

 

Berhentilah menyalahkan keadaan. Sebab menyalahkan keadaan tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi hanya membuat kita tinggal lebih lama di dalam rasa sakit. Saat kita berhenti menyalahkan dan mulai menerima, di situlah proses penyembuhan benar-benar dimulai. Tinggal piliha, mau yang mana? Salam literasi!

Literasi Refleksi Diri untuk Paham Hakikat Hidup

Manusia sering lupa hakikat hidup akibat kesibukan, keinginan, dan distraksi yang terus-menerus. Aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, mencari penghasilan, mengejar prestasi, atau memenuhi tuntutan sosial sering kali membuat seseorang lebih fokus pada hal-hal yang bersifat duniawi dan jangka pendek. Dalam kondisi ini, manusia cenderung menjalani hidup secara otomatis tanpa sempat berhenti untuk merenung tentang makna, tujuan, dan arah hidupnya.

 

Manusia memiliki kecenderungan psikologis untuk terikat pada kenyamanan dan kesenangan. Keinginan untuk merasa aman, diakui, dan bahagia sering membuat seseorang terjebak dalam rutinitas yang berulang tanpa mempertanyakan esensi hidup yang lebih dalam. Lingkungan sosial juga berperan besar, ketika nilai yang dominan adalah materialisme atau pencapaian eksternal, maka refleksi tentang hakikat hidup menjadi semakin jarang dilakukan.

 

Lupa terhadap hakikat hidup juga merupakan bagian dari sifat manusia itu sendiri. Manusia bukan makhluk yang selalu konsisten dalam kesadaran; bisa sadar, lalu lalai, kemudian sadar kembali. Karena itu, banyak tradisi pemikiran, baik filsafat maupun spiritual, menekankan pentingnya refleksi diri, jeda, dan pengingat (reminder) agar manusia tidak sepenuhnya larut dalam kesibukan. Dengan meluangkan waktu untuk merenung, membaca, atau berinteraksi dengan lingkungan yang bermakna, seseorang dapat kembali mengingat tujuan hidupnya dan menjalani kehidupan dengan lebih sadar.

 

Imam Al-Ghazali telah mengingatkan dengan tajam tentang hakikat hidup yang sering dilupakan manusia.

1.   Yang jauh adalah waktu, manusia sering merasa hidupnya masih panjang, seolah masa depan masih terbentang luas. Padahal itu hanyalah perasaan, tidak ada yang benar-benar tahu berapa lama waktu yang tersisa?

2.   Yang dekat adalah mati, sebab kematian bisa datang kapan saja. Bukan sesuatu yang jauh, melainkan sangat dekat, hanya saja manusia sering lalai menyadarinya.

3.   Yang besar itu nafsu, adanya dorongan keinginan dalam diri manusia yang sangat kuat sehingga menguasai pikiran dan Tindakan. Jika tidak dikendalikan, nafsu dapat menjerumuskan pada kesalahan dan dosa.



4.   Yang berat adalah amanah, karena tanggung jawab menuntut kesungguhan, kejujuran, dan pengorbanan. Menjaga amanah tidak mudah, karena sering bertentangan dengan kepentingan pribadi.

5.   Yang mudah adalah berbuat dosa, melakukan kesalahan sering kali tidak membutuhkan usaha besar, bahkan terkadang terasa ringan dan cepat.

Hakikat hidup sering diupakan. Manusia sejatinya hadir untuk berbuat baik dan menebar manfaat, sambil menyadari peringatan dari Al-Ghazali. Untuk lebih sadar dan waspada terhadap hidup. Jangan terlena oleh anggapan waktu masih panjang, jangan meremehkan nafsu, dan jangan mengabaikan tanggung jawab. Sebagai sebauh ajakan untuk hidup dengan lebih hati-hati dan penuh kesadaran, karena yang tampak mudah belum tentu baik, dan yang terasa berat justru bisa menjadi jalan keselamatan.

Selasa, 24 Maret 2026

Literasi Dana Pensiun: Nanti Kalau Sudah Tua ...

Pak Darto selalu berpikir, “Nanti saja mikirin hari tua. Sekarang masih kuat kerja.” Setiap bulan gajinya habis untuk kebutuhan hari ini.  Tidak ada yang disisihkan. Karena menurutnya, masa pensiun masih jauh. Untuk apa mikirin pensiun selagi masih kerja?

 

Waktu berlalu. Sebentar lagi pensiun, berhenti dari pekerjaan hari-hari. Tanpa terasa, usia sudah tidak muda lagi. Tenaga mulai berkurang. Bekerja pun tidak lagi sekuat dulu. Di titik itu, Pak Darto baru sadar.  Ia tidak tahu pasti seperti apa masa tuanya. Tapi satu hal yang jelas: ia tetap butuh hidup. Biaya makan tetap ada. Kebutuhan hari-hari harus dipenuhi. Dan biaya kesehatan harus tersedia. Dan sayangnya, penghasilan tidak lagi sama. Saat pensiun, gaji sudah tidak ada.

 

Sementara itu, temannya, Pak Syarif, memilih jalan berbeda. Sejak muda, ia menyisihkan sedikit demi sedikit di dana pensiun. Ia menabung di DPLK. Bukan karena ia tahu masa depan, bukan ingin kaya di hari tua. Tapi Pak Syarif sadar. Masa depan itu tidak pasti. Akan hidup sampai usia berapa setelah pensiun. Dan gimana kondisi ekonominya di hari tua nanti? Pak Syarif hanya tahu satu hal:  tetap butuh biaya hidup saat tidak lagi bekerja.

 


Hari ini, Pak Syarif memang tidak lebih kaya dari Pak Darto. Bedanya, hari ini Pak Darto kian gelisah dan makin khawatir akan masa tuanya. Sementara Pak Syarif lebih tenang dan bisa mengabdikan diri secara sosial di taman bacaan masyarakat. Hari tuanya dipakai untuk berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama.

 

Bersiap untuk masa pensiun, bukan untuk kaya di hari tua. Tapi untuk mempersiapkan diri saat nanti tidak bekerja lagi. Saat tidak punya gaji lagi. Menabung untuk hari tua ibarat sedia payung sebelum hujan. Sebab kita tidak tahu, kapan hujan datang? Tapi kalau sudah siap, kita tidak akan kesulitan. Tidak akan bergantung pada anak atau orang lain di masa pensiun. Itu saja!

 

Kita memang tidak tahu masa depan seperti apa? Tapi justru karena itu, kita perlu mempersiapkannya. Karena hari tua bukan tentang menebak apa yang terjadii. Tapi tentang siap menghadapi apa pun yang terjadi. Tetap mampu menjaga standar hidup di saat tidak bekerja lagi. Kerja Yes, Pensiun Oke.

 

Pegiat Literasi yang Mengabdi: Saya Bermanfaat Untukmu, Bukan Saya Lebih Keren Darimu

Mungkin, kita sering melihat orang yang banyak gaya tapi minim manfaat. Bicaranya pandai tapi sulit diandalkan. Pakaiannya mentereng tapi sering manipulatif. Bahkan mengaku hebat padahal sehari-harinya tidak jelas ngapain. Sebaliknya di sekitar kita, ada pula  orang yang sederhana. Tidak banyak bicara tapi aktivitasnya selalu bermanfaat untuk bayak orang. Santai tapi selalu hadir saat dibutuhkan.

 

Seorang pegiat literasi yang mengabdi di taman bacaan, pedagang kecil yang jujur, seorang guru yang sabar, atau bahkan seorang tetangga yang suka membantu: bisa jadi mereka tidak terlihat hebat. Tapi keberadaannya sangat dirasakan. Tetap berbuat di segala keadaan dan selalu mau menebar manfaat kepada sesama. Itulah contoh nyata dari “saya bermanfaat untukmu”.

 

Sayangnya hari ini, banyak orang justru sibuk mengejar citra. Merasa penting mendapat pengakuan dari orang lain walau tidak ada manfaatnya. Ingin terlihat hebat, ingin dianggap pintar, ingin dipuji banyak orang. Namun lupa bahwa nilai sejati seseorang bukan pada penampilannya, melainkan pada dampaknya. Bukan pada omongannya dan kerasnya bicara tapi pada manfaatnya untuk orang lain.

 

Maka dalam hidup, jangan pernah mengukur kebahagiaan dari sisi orang lain. Jangan pula mengukur kesuksesan dari “pintu” orang lain. Sebab, bahagia out berbeda maknanya bagi orang per orang. Bahagian bukan soal memiliki segalanya, tapi tentang hidup yang merasa cukup. Tentang bisa tidur dengan hati tenang karena tidak menyakiti siapa pun. Tentang bisa tersenyum karena tahu hidupnya memberi arti bagi orang lain.

 

Seperti mahasiswa yang tekun belajar lebih punya makna. Anak-anak yang masih mau membaca lebih bermakna daripada anak-anak yang main gawai. Bukan karena ingin berprestasi di sekolah, bukan sekadar untuk terlihat pintar. Tapi agar ilmu pengetahuan itu bisa digunakan untuk membantu orang lain. Punya ilmu yang bermanfaat itu membahagiakan.

 

Bila hari ini kita ingin memperbaiki hidup, maka tidak perlu bertekad melakukan hal-hal besar. Lakukan saja hal kecil tapi baik dan bermanfaat. Mulailah dari dua hal sederhana: jadilah orang yang menyenangkan dan bermanfaat. Tidak usah banyak mengeluh dan jangan berprasangka buruk pada apapun. Tidak usah sibuk mengurusi hidup orang lain, apalagi membandingkannya. Insya allah, perlahan hidup kita akan berubah dengan sendirinya. Menjadi lebih baik dan berkah.

 


Sungguh, dunia ini sudah disesaki oleh orang yang ingin terlihat hebat. Penuh dengan orang-orang yang mengejar pengakuan bahkan ingin dipuji. Akhirnya jadi banyak gaya dan sibuk untuk hal-hal yang tidak manfaat. Kita sering lupa, justru yang paling dicari saat ini adalah orang yang tidak banyak gaya tapi diam-diam membuat hidup orang lain terasa lebih mudah. Diam tapi tidak pernah menyakiti orang lain. Diam tanpa membenci dan prasangka buruk.

 

Di momen Idul Fitri ini patut direnungkan. Tidak harus menunggu kaya untuk berbuat baik. Tidak perlu menunggu punya jabatan untuk menebar manfaat kepada orang lain. Tidak perlu modal besar untuk membenahi hidup. Kita bisa memulainya dari hal kecil dan sederhana. Caranya bisa dimulai dari hal kecil: 1) menjaga lisan, 2) memperbaiki sikap, dan 3) peduli terhadap sesama.

 

Di sinilah kita belajar, biar bagaimana pun akhlak tetap di atas ilmu. Pangkat, jabatan atau status sosial hanya titipan. Bukan jaminan untuk bisa bermanfaat untuk orang lain. Itulah pentinganya kekuatan iman, bukan hebatnya pergaulan. Semakin kuat iman dan keyakinan seseorang kepada Allah, semakin tenang hatinya dan semakin tulus perbuatannya. Saat kita berbuat baik dan bermanfaat bukan demi pujian, tapi karena kesadaran. Mengerjakan sesuatu yang kecil tapi bermanfaat. Salam literasi!



Senin, 23 Maret 2026

Tersadar 5 Tahun Lagi Pensiun, Gimana Kondisi Keuangan Karyawan di Masa Pensiun?

Di mana pun, setiap karyawan pasti hanya mengandalkan gaji tiap bulan. Saking asyiknya kerja, ternyata baru sadar 5 tahun lagi mau pensiun.Katanya, waktu begitu cepat berjalan. Usia semakin bertambah, tahu-tahu sudah mau pensiun. Gimana bisa mempertahankan standar hidup saat pensiun, kan tidak punya gaji lagi?

 

Bila seorang karyawann baru “tersadar” bahwa masa pensiun tinggal 5 tahun lagi, arus diakui durasi waktu tergolong sempit tapi belum terlambat. Fokusnya bukan lagi mengejar “uang pensiun “ yang besar. Tapi mengamankan yang sudah ada dan mengoptimalkan tabungan di waktu tersisa sebelum pensiun.

 

Mau tidak mau, harus realistis dan strateginya berdampak untuk hari tua. Pertama seklai jelas, harus hitung posisi keuangan saat ini (reality check). Jangan mulai dari harapan, tapi dari angka nyata. Yang harus dihitung: 1) total tabungan dan investasi saat ini, 2) estimasi kebutuhan hidup saat pensiun, dan 3) perkiraan pemasukan saat pensiun (misalnya dari DPLK). Tujuannya agar tahu apakah akan surplus atau deficit?

 

Mari kita bikin ilustrasinya, biar lebih personal. Anggap saja si karyawan punya gaji saat ini Rp. 20 juta per bulan. Usianya sekarang 50 tahun dan akan pensiun di usia 55 tahun. Punya tabungan di bank Rp. 30 juta tapi masih ada cicilan Rp. 1 juta untuk 10 tahun lagi. Apa yang harus dilakukan dan gimana kondisinya sata pensiun?

 

Ini bisa jadi simulasi yang lebih realistis. Usia: 50 tahun, pensiun: 55 tahun (5 tahun lagi). Gaji: Rp20 juta/bulan dan tabungan saat ini: Rp30 juta + punya cicilan: Rp1 juta/bulan (masih 10 tahun). Asumsi usia hidup hingga 75 tahun, maka akan menjalani masa pensiun sekitar 20 tahun. Kira-kira begitu ya.

 

Maka estimasi kebutuhan saat pensiun, anggap saja butuh 70% dari gaji (tingkat penghasilan pensiun yang diharapkan). Berarti nilainya, 70% × Rp20 juta = Rp14 juta per bulan. Namun secara realistis (karena pensiun dan penyesuaian hidup), kita turunkan ke Rp10–12 juta per bulan. Kita pakai saja Rp11 juta per bulan yang dibutuhkan untuk menjaga standar hidup di masa pensiun.

 

Berapa kebutuhan uang selama masa pensiun? Ya kira-kira, Rp11 juta × 12 = Rp132 juta per tahun. Bila dikalikan durasi masa pensiun berarti menjadi Rp132 juta × 20 tahun = Rp2,64 miliar. Itulah “nilai uang” yang diperlukan selama pensiun, dengan asummi tidak punya gaji lagi dan untuk mempertahankan stnadar hidup seperti saat masih bekerja.

 

Penting diperhatikan adanya koreksi inflasi. Bila dalam 5 tahun ke depan (tingkat inflasi ±5%) maka  nilai Rp11 juta akan jadi sekitar ± Rp14 juta per bulan saat pensiun. Sehingga kebutuhan riil menjadi Rp14 juta × 12 × 20 = ± Rp3,36 miliar, total dana yang dibutuhkan saat pensiun. Oke ya untuk dipahami.

 

Sedangkan posisi dana saat ini, hanya punya tabungan sebesar: Rp30 juta. Anggap saja belum ada dana pensiun. Artinya: hampir mulai dari nol untuk siapkan kebutuhan masa pensiun. Tantangannya, waktu pensiun tinggal 5 tahun lagi. Kebutuhan dana saat pensiun besar (mencapai Rp3,3 M). Masih ada cicilan sampai usia 60. Harus dipahami, kondisi ini tergolong “warning zone”, tapi masih bisa diselamatkan.

 

Bila saja di waktu tersisa yang 5 tahun lagi bertekad untuk menabung (misal di DPLK), maka skenario realistis: menabung Rp5 juta per bulan × 12 × 5 tahun = Rp300 juta. Bila ditambah hasil investasi, kira-kira diperoleh ± Rp350–400 juta.   

 

Dengan begitu, maka terjadi “gap nyata”. Yaitu kebutuhan saat pensiun Rp3,36 miliar, sedangkan tabungan yang dihasilkan ± Rp400 juta. Maka masih ada gap (kekurangan) ± Rp3 miliar. Artinya, tidak mungkin ditutup hanya dengan menabung.

 


Apa strateginya? Secara realistis, si karyawan di waktu tersisa perlu menjalankan “5 cara sekaligus” untuk mempersiapkan masa pensiun yang tinggal 5 tahun lagi, yaitu:

1. Turunkan kebutuhan hidup. Misalnya: dari kebutuhan Rp14 juta per bulan menjadi Rp7 juta per bulan di masa pensiun. Maka dampaknya: Rp7 juta × 12 × 20 = Rp1,68 miliar. Berarti, besarannya “hemat” Rp1,6 miliar.

2.  Tetap punya penghasilan setelah pensiun. Misalnya: usaha/kerja tambahan dengan income: Rp4 juta/bulan. Dampaknya: Rp4 juta × 12 × 20 = Rp960 juta.

3. Maksimalkan waktu 5 tahun terakhir. Misalnya: menabung (di DPLK biar tidak diambil-ambil) dengan target agresif Rp5–8 juta per bulan (THR/bonus tabung semua). Maka bisa mendapat Rp400–600 juta selama periode 5 tahun tersisa.  

4.  Selesaikan masalah cicilan. Cicilan Rp1 juta sampai usia 60 sama dengan “beban”. Idealnya: percepat pelunasan (kalau bisa) atau pastikan tetap aman bayar cicilan saat pensiun nanti.  

5. Fokus siapkan masa pensiun, bukan fokus gaya hidup dan perilaku konsumtif.

 

Maka gambaran setelah disesuaikan. Kebutuhan hidup saat pensiun turun menjadi Rp1,68 miliar.  Ada penghasilan tambahan Rp960 juta. Tabungan dioptimalkan (missal DPLK) mencapai Rp500 juta. Maka sisa kebutuhan dana “hanya kurang” Rp200–300 juta (ini proyeksi yang lebih realistis).

 

Dengan kondisi tersebut, maka sama sekali tidak realistis masa pensiun dijalani dengan “full santai” di 55 tahun. Tapi sangat mungkin untuk pensiun dengan hidup cukup sesuai standar dan tetap produktif.

 

Penting untuk dipahami, karyawan yang akan pensiun sebentar lagi (5-10 tahun lagi) untuk 1) jangan hanya mengandalkan tabungan, 2) mulai bangun penghasilan pasif/aktif sekarang, 3) latih hidup sederhana dari sekarang, 4) jangan hanya mengandalkan program wajib seperti JHT BPJS, 5) segera menabung di DPLK, dan 6) ubah mindset pensiun sebagai “pindah fase”, bukan berhenti total.  

 

Jadi tolong dipahami, cepat atau lambat masa pensiun pasti tiba, Semua karyawan akan pensiun pada waktunya. Masalahnya, sudah dipersiapkan untuk pensiun atau belum? Dan berpikrilah, pensiun bukan soal berapa “uang pensiun” yang dimiliki? Tapi jadikan uang pensiun yang ada sebagai motivasi untuk tetap produktif dan menghasilkan income di hari tua. #YukSiapkanPensiun

Minggu, 22 Maret 2026

Catatan Literasi: Peta Batin Manusia

Abu al-Hasan al-Shadhili pernah merangkum tentang peta batin manusia. Tentang apa yang merusak, apa yang menjerumuskan, dan apa yang menyelamatkan seorang manusia. Sebagai literasi kehidupan, sebagai pembelajaran ke depan.

 

Penyebab rusaknya akal adalah nafsu. Ketika keinginan dibiarkan menguasai, akal kehilangan kejernihannya. Keputusan tidak lagi didasarkan pada kebenaran, tetapi pada dorongan sesaat. Nafsu sering kali menguasai akal manusia.

 

Penyebab kesengsaraan adalah cinta dunia. Bukan berarti dunia harus ditinggalkan, melainkan peringatan agar tidak terlalu terikat. Ketika hati bergantung pada hal yang fana, maka kian mudah kecewa saat kehilangan. Sengsara karena terlalu cinta dunia.

 

Penyebab fitnah adalah kedengkian. Karena iri hati selau mendorong seseorang melihat orang lain dengan buruk, bahkan memutarbalikkan kebenaran. Dari sinilah banyak konflik bermula. Sering kali fitnah, ghibah dan prasangka buruk lahir dari sifat dengki.

 

Penyebab perpecahan adalah perselisihan. Ego yang tidak dikendalikan akan memperbesar perbedaan hingga merusak persatuan, menghancurkan kebersamaan. Kian banyak orang berselisih untuk urusan sepel dan tidak sepatutnya. Hati-hati soal ini.

 


Namun ada penutupnya yang memberi jalan. Bahwa penyebab keselamatan adalah diam. Diam  bukan pasif, tapi menahan diri dari ucapan yang tidak perlu, menjaga lisan dari menyakiti, dan memberi ruang bagi kebijaksanaan untuk muncul. Diam lebih baik dari apapuan. Jangan bicara bila tidak diminta, apalagi tidak didengarkan.

 

Nasihat literasi ini mengajarkan bahwa sumber kerusakan dan keselamatan sama-sama ada dalam diri manusia. Ketika nafsu, cinta dunia, dan iri hati tidak dikendalikan, hidup menjadi sempit. Namun ketika lisan dijaga dan hati ditenangkan, keselamatan pun mendekat. Pada akhirnya, inilah renungan akan pentingnya mengelola diri dengan sadar. Karena dari situlah arah hidup seseorang ditentukan. Semakin baik atau buruk!

 



Kisah Pensiunan: Dulu Punya Segalanya, Kini Tidak Punya Apa-apa

Namanya Darto. Dulu, orang-orang di kantor memanggilnya “Pak Darto Direktur” dengan nada hormat, kadang juga sedikit takut. Langkahnya tegas, jasnya selalu rapi, dan keputusannya menentukan nasib banyak orang. Ia terbiasa duduk di kursi empuk, berbicara di ruang rapat berpendingin udara, dan disambut dengan senyum penuh hormat di setiap sudut kantor.

 

Selama lebih dari dua puluh enam tahun, hidupnya hanya satu: bekerja. Ia bangga. Sangat bangga. Gajinya besar. Fasilitas lengkap. Rumah megah berdiri di sudut kota. Mobil berganti tiap beberapa tahun. Anak-anak sekolah di tempat terbaik. Di matanya, itulah bukti bahwa hidupnya berhasil. Namun, ada satu hal yang tak pernah benar-benar ia siapkan: berhenti.

 

Hari itu datang juga. Hari terakhir kerja. Acara pelepasan dibuat meriah. Banyak yang memuji, banyak yang berterima kasih. Ia berdiri di depan podium, tersenyum lebar, tapi dalam hatinya ada ruang kosong yang mulai terasa kecil, tapi nyata.

“Selamat menikmati masa pensiun, Pak.” Kalimat itu terdengar indah… tapi asing.

 

Minggu pertama, semuanya terasa seperti liburan panjang. Bangun siang. Minum kopi tanpa terburu-buru. Menonton televisi. Sesekali bertemu teman lama. Namun perlahan, hari-hari mulai terasa panjang… terlalu panjang. Tidak ada lagi telepon penting. Tidak ada rapat. Tidak ada yang menunggu keputusannya. Tidak ada yang memanggilnya “Pak Direktur”. Ia hanya… Darto, seorang pensiunan.

 

Masalah mulai muncul. Pengeluaran tetap berjalan seperti saat ia masih bekerja. Gaya hidup sulit diturunkan. Tabungan yang dulu terasa besar, perlahan terkikis. Anak-anaknya sudah punya kehidupan sendiri. Istrinya sibuk dengan kegiatannya. Rumah besar yang dulu terasa membanggakan, kini terasa sepi dan dingin.

 

Pak Darto pensiunan mencoba mencari kesibukan, tapi tidak mudah. Selama ini, identitasnya melekat pada jabatan. Tanpa itu, ia seperti kehilangan arah.

 

Suatu sore, ia duduk sendirian di teras. Menatap halaman rumah yang luas, tapi terasa hampa. Ia berbisik pelan, hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri:

“Dulu aku punya segalanya… kenapa sekarang rasanya tidak punya apa-apa?”

 


Hari-hari berikutnya tidak banyak berubah. Ia mulai menghindari pertemuan dengan mantan rekan kerja. Malu, bukan karena miskin tapi karena merasa “hilang”. Tidak lagi relevan. Tidak lagi dibutuhkan. Lebih menyakitkan lagi, ia menyadari sesuatu yang dulu ia abaikan: Selama ini ia membangun karier… tapi tidak membangun kehidupan setelahnya. Tidak menyiapkan cukup dana yang berkelanjutan. Tidak membangun kebiasaan hidup sederhana. Tidak menyiapkan makna hidup di luar pekerjaan.

 

Suatu pagi, ia menemukan album lama. Foto-foto saat muda. Saat anak-anak masih kecil. Saat ia masih sering tertawa tanpa beban. Ia terdiam lama. Air matanya jatuh perlahan. Bukan karena menyesal telah bekerja keras tapi karena ia lupa bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja.

 

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia keluar rumah tanpa tujuan besar. Hanya berjalan kaki di sekitar kompleks. Menyapa tetangga. Duduk di warung kecil, berbincang ringan dengan orang-orang yang bahkan tidak tahu siapa dirinya dulu. Aneh… tapi hangat. Ia mulai belajar lagi—menjadi manusia biasa.

 

Pak Darto kini seorang pensiunan, tidak akan pernah kembali ke masa jayanya. Tapi perlahan, ia mulai menemukan sesuatu yang baru: bukan kejayaan… melainkan ketenangan. Kini, ia mengisi hari-harinya dengan membaca buku.

 

Pesan dari kisah ini sederhana, tapi dalam: Banyak orang hebat saat bekerja, tapi tidak semua siap saat berhenti. Karena sejatinya, pensiun bukan akhir dari pekerjaan saja tapi ujian apakah kita sudah benar-benar menyiapkan hidup. Sudahkah kita siap pensiun?

 

Dua Hal Besar dalam Hidup

 

Ini sebuah refleksi di momen lebaran. Bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah rangkaian perjalanan hidup. Dan skenario dari Allah SWT adalah yang terbaik buat kita, buat hambanya. Tergantung tiap kita untuk menjalankannya dengan cara yang baik atau kurang baik. 

 

Sebab, memang ada manusia yang fokus pada kebaikan. Hanya tahu berbuat baik dan menebar manfaat apapun alasannya. Di sisi lain, ada pula manusia yang fokusnya pada kejelekan, berprasangka buruk pada orang lain, dan berbuat baiknya dipilih sesuai dengan pikirannya yang subjektif. Baik hanya menurut dirinya, bukan baik versi kebanyakan orang.

 

Kita sering lupa, tentang dua hal besar dalam hidup yaitu 1) takdir (ketentuan Allah) dan 2) ikhtiar (cara manusia menjalaninya). Sebagai rangkaian skenario terbaik, hidup siapapun dan semua yang terjadi berada dalam ketetapan Allah. Itulah konsep Qada dan Qadar, bahwa Allah sudah mengetahui dan menetapkan segala sesuatu. Disebut "skenario terbaik" bukan berarti semua terasa menyenangkan, tapi apa yang terjadi selalu punya hikmah. Kadang yang kita anggap buruk justru menyelamatkan. Sebaliknya, kadang yang kita inginkan belum tentu baik untuk kita. Artinya, Allah melihat dari sudut pandang yang lebih luas daripada manusia.

 

Kita sebagai manusia, hanya berperan memilih cara menjalaninya. Walaupun ada takdir, manusia tetap diberi pilihan (free will). Di sinilah letak ujiannya: dua orang bisa mengalami kejadian yang sama. Tapi hasil hidupnya bisa sangat berbeda. Kenapa Karena cara menyikapinya berbeda. Ada yang sabar, belajar, dan bangkit. Ada yang mengeluh, menyalahkan, dan menyerah. Jadi, bukan hanya "apa yang terjadi", tapi bagaimana kita merespons apapun yang menentukan kualitas hidup kita?

 


Kehilangan pekerjaan itu takdir. Bangkit dan mencari peluang baru adalah ikhtiar baik, sedangkan menyerah dan putus asa adalah ikhtiar kurang baik. Maka takdir + sikap = hasil akhir. Takdir adalah kejadian yang datang, sedangkan sikap adalah pilihan kita. Karenya, hasil akhir adalah kombinasi keduanya.

 

Pesan utamanya adalah keseimbangan: antara takdir dan ikhtiar. Tenang dalam menerima karena percaya segala yang terjadi adalah skenario Allah. Aktif dalam bertindak karena kita bertanggung jawab atas pilihan kita. Jadi, hidup bukan pasrah tanpa usaha. Tapi juga bukan merasa segalanya di tangan sendiri. Semuanya ada takdirnya tapi harus ada ikhtiarnya.

 

Hidup memang sudah ditulis, tapi cara membacanya apakah dengan sabar, syukur, atau keluh kesah? Jawabnya tergantung pilihan kita. Kalau dijalani dengan cara yang baik, takdir yang sama bisa menjadi jalan kemuliaan. Kalau dijalani dengan cara yang buruk, bisa terasa sebagai beban. Begitulah hidup yang selalu dihadapkan pada dua hal besar.

Sabtu, 21 Maret 2026

Momen Lebaran: Belajar Memaafkan Diri Sendiri, Bukan Hanya Orang Lain

Kesalahan bukan hanya milik orang lain kepada kita. Tapi kita juga sering salah terhadap diri sendiri. Ada banyak banyak hal yang belum tercapai, banyak rencana yang tertunda. Dan banyak pula salah serta penyesalan yang diam-diam disimpan. Karenanya di momen lebaran, aku mencoba menerima dan mengakuinya. Bahwa hidup memang tidak harus selalu sempurna, selalu ada salah yang diperbuat pada diri sendiri.

 

Aku belajar memaafkan bukan hanya orang lain tapi diri sendiri. Kalimat itu memang sederhana, tapi dalam sekali maknanya. Memaafkan diri sendiri justru lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Kenapa? Karena kita hidup dengan diri kita setiap hari. Kita ingat kesalahan, kegagalan, keputusan yang keliru, bahkan hal-hal kecil yang orang lain mungkin sudah lupa tapi kita masih menyimpan rapat. Salah kita, bukan salah orang lain.

 

Dalam hidup dan hari-hari kemarin, ada hal-hal yang sudah terjadi dan tidak bisa diubah. Memaafkan diri sendiri berarti berhenti terus-menerus menghukum diri atas apa yang sudah lewat. Bukan melupakan, tapi menerima bahwa saat itu kita bertindak dengan kemampuan dan pemahaman yang kita punya. Selalu ada potensi salah dan khilaf. Maka aku belajar memaafkan bukan hanya orang lain tapi diri sendiri. untuk berdamai dengan masa lalu.

Memaafkan diri sendiri berarti melepaskan rasa bersalah yang berlebihan. Rasa bersalah itu manusiawi, tapi kalau terus disimpann akan berubah jadi beban. Memaafkan diri sendiri adalah memberi ruang untuk bernapas: mengakui salah tapi tidak menjadikannya identitas diri. Siapapun pasti dan pernah berbuat salah, maka maafkanlah. Kita juga layak diperlakukan dengan baik. Seringkali kita sangat baik pada orang lain, tapi keras pada diri sendiri. Padahal, diri kita juga butuh dimengerti. Memaafkan diri sendiri berarti memperlakukan diri dengan empati yang sama seperti kita memperlakukan orang yang kita sayangi.

 


Memaafkan diri sendiri, membuka jalan untuk melangkah lagi. Selama kita belum memaafkan diri sendiri, maka kita cenderung tertahan. Takut mencoba lagi, takut gagal lagi dan penuh rasa khawatir. Padahal hidup terus berjalan. Memaafkan diri sendiri itu seperti membuka pintu yang lama terkunci.

 

Setelah memaafkan diri sendiri, kemudian memaafkan orang lain. Apapun bentuknya dan perlakuannya. Fitnah, ghibah, kezoliman bahkan sikap merendahkan dari orang lain di masa lampau biarkan dan maafkanlah. Diminta atau tidak diminta, maafkanlah. Sebagai bentuk kelapangan hati dan sikap sabar yang utuh. Sebab dalam hidup, lebih baik fokus memperbaiki diri daripada menghitung kesalahan orang lain. Lapang dada dan lapang hati atas setiap perlakuan orang lain.

 

Aku belajar memaafkan bukan hanya orang lain tapi diri sendiri. Sebuah spirit momen lebaran atau idul fitri yang maknanya jadi lebih kuat. Kita saling memaafkan dengan orang lain, tapi sering lupa bahwa ada “diri sendiri” yang juga menunggu dimaafkan. Karena pada akhirnya, hati yang benar-benar lapang itu bukan hanya yang sudah memaafkan orang lain. Tapi juga hati yang sudah berhenti memusuhi dirinya sendiri. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.