Ada sebuah prinsip hidup yang sangat menarik dan relevan dengan kondisi kehidupan saat ini, yaitu pepatah Arab yang disampaikan oleh seorang ustadz: “Min awwalil khairi an tatruka asy-syarra.” Artinya, awal dari sebuah kebaikan adalah meninggalkan keburukan atau dosa. Pesan ini mengingatkan kita bahwa memperbaiki diri tidak selalu harus dimulai dengan melakukan banyak hal hebat. Terkadang, langkah pertama justru dimulai dari keberanian menghentikan kebiasaan buruk yang selama ini kita anggap biasa. Sebab, bagaimana mungkin kita berharap tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik jika masih terus memelihara hal-hal yang merusak diri sendiri?
Berani tinggalkan keburukan.
Contohnya sangat dekat dengan kita. Kita ingin menjadi pribadi yang jujur,
tetapi masih terbiasa memanipulasi laporan pekerjaan. Kita ingin memiliki
keluarga yang harmonis, tetapi masih gemar berkata kasar, mudah marah, dan
enggan meminta maaf. Doyan ngutang dan tidak dibayar, bahkan merendahkan orang
lain. Kita ingin hidup lebih tenang, tetapi setiap hari sibuk membandingkan
kehidupan sendiri dengan pencapaian orang lain di media sosial. Bahkan, kita
ingin rezeki yang berkah, tetapi masih mengabaikan kejujuran dalam bekerja,
mengambil hak orang lain, atau mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar.
Bukankah langkah awal untuk menjadi lebih baik adalah berhenti melakukan
hal-hal yang buruk?
Begitu pula dalam kehidupan
sosial. Kita ingin lingkungan yang damai, tetapi masih senang menyebarkan
gosip, menghakimi orang lain, atau meneruskan berita yang belum jelas
kebenarannya. Kita berharap dihargai, tetapi sering kali lupa menghargai orang
lain. Kita menginginkan perubahan besar di sekitar kita, padahal perubahan itu
bisa dimulai dari hal sederhana: berhenti mengeluh berlebihan, berhenti
menyalahkan orang lain, berhenti menyebarkan kebencian, dan mulai menjaga lisan
serta perilaku. Sebab, kebaikan tidak hanya diukur dari banyaknya hal positif
yang kita lakukan, tetapi juga dari keburukan yang berhasil kita hentikan.
Berhenti dari berbuat dosa.
Karenanya, memperbaiki diri
bukanlah perlombaan untuk terlihat paling baik di hadapan orang lain, melainkan
perjalanan untuk menjadi lebih baik di hadapan Allah. Jangan menunggu menjadi
sempurna untuk memulai kebaikan. Mulailah dengan meninggalkan satu keburukan hari
ini, lalu lanjutkan dengan keburukan lainnya secara bertahap. Berhenti dari
kebiasaan berbohong, tinggalkan rasa iri, kendalikan amarah, jaga lisan, dan
perbaiki niat. Ingat, terkadang perubahan terbesar dalam hidup bukan terjadi
ketika kita mulai melakukan sesuatu yang luar biasa, melainkan ketika kita
berani berhenti melakukan sesuatu yang selama ini salah. Karena sebelum mengisi
hidup dengan kebaikan, kita perlu memberi ruang dengan menyingkirkan keburukan.
Untuk menjadi lebih baik,
beranilah menyendiri sambil ngopi sekaligus tafakur pada alam. Seperti ngopi di
kopi pensiunan di Puncak 2 Sukamakmur.


.jpg)
.jpg)

.png)

.png)

.jpeg)
(1).jpg)










