Kamis, 12 Maret 2026

Cukup Baca, Nggak Usah Jadi Orang Terkenal

Banyak orang mengejar ketenaran karena dorongan psikologis dan sosial. Terkenal biar eksis atau tenar dianggap sukses. Padahal, orang terkenal belum tentu hidupnya lebih tenang. Untuk apa terkenal seperti Abu Janda, bila akhirnya jadi gampang merendahkan orang lain, meluap-luap bicara tanpa data. Terkenal tapi dikuasai ego dan subjektivitas. Untuk apa terkenal?

 

Kita sering lupa, tidak terkenal tidak membahayakan kok. Sebab nilai hidup seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dikenal kita oleh orang lain. Justru dalam banyak keadaan, tidak terkenal bisa membuat hidup lebih tenang dan lebih nyaman. Tidak terkenal berarti kita tidak hidup untuk mengejar pujian, popularitas, atau validasi publik. Kita bisa menjalani  hidup dengan fokus pada hal-hal yang baik, benar, dan bermanfaat, bukan pada citra. Banyak orang merasa tertekan karena ingin dikenal, padahal ketenangan sering justru datang ketika kita tidak sibuk membangun nama. Ingat, hidup kita tidak bergantung pada pengakuan orang lain.

 

Tidak Terkenal justru keren. Karena lebih sedikit tekanan sosial. Orang yang terkenal sering berada dalam sorotan. Setiap tindakan, kata-kata, bahkan kesalahan kecil bisa menjadi bahan penilaian publik. Ketika tidak terkenal, seseorang memiliki ruang lebih luas untuk belajar, memperbaiki diri, dan berkembang tanpa tekanan besar dari banyak orang.

 

Orang terkenal atau populer pasti sering memunculkan kecemburuan, kritik, bahkan serangan dari orang lain. Ketika seseorang hidup sederhana tanpa mengejar ketenaran, justru lebih jarang menjadi sasaran iri atau konflik sosial. Jadi, bila mau terhindar dari iri dan konflik maka tidak perlu terkenal. Maka siapapun, lebih baik fokus pada makna, bukan citra.

 

Tidak terkenal justru memberi kesempatan untuk menekuni hal-hal yang lebih bermakna: aktivitas sosial, keluarga, pekerjaan yang bermanfaat, membantu orang lain, atau berkarya tanpa harus dipuji. Ketahuilah, hari ini banyak juga orang yang memberi dampak besar di masyarakat dalam diam. Tanpa perlu validasi atau pujian orang lain.

 




Ketahuilah, nilai manusia tidak diukur dari popularitas. Sejarah menunjukkan bahwa banyak orang baik, guru, relawan, atau pekerja sosial yang berjasa tetapi tidak terkenal. Namun kontribusi mereka nyata dan bermanfaat bagi banyak orang. Seperti berkiprah di taman bacaan. Sederhana tapi bermanfaat untuk anak-anak yang tidak punya akses baca.

 

Jadi, ketenaran bukan ukuran keselamatan atau kebahagiaan hidup. Justru lebih penting adalah hidup dengan integritas, manfaat, dan ketenangan hati. Tidak terkenal bukanlah kerugian, malah menjadi sebuah perlindungan dari banyak kerumitan dunia.

 

Cukup membaca saja di taman bacaan, nggak usah jadi orang terkenal. Toh, tidak terkenal tidak akan membahayakan kita kok. Salam terkenal!

 


Rabu, 11 Maret 2026

Rekening Langit (Bukan Rekening Bank) di Taman Bacaan

Saat ada yang bertanya, kenapa mau berkiprah di taman bacaan? Jawab saya sederhana, tidak semua hal diukur dengan uang. Berkiprah secara sosial di taman bacaan bukan urusan dunia tapi investasi akhirat. Bila ada yang berbuat baik dengan membangun masjid, maka saya memilih dengan membangun dan mengelola taman bacaan. Karena di taman bacaan, pasti tidak ada uangnya. Tapi hanya didasari oleh nilai-nilai sosial, kepedulian, dan semangat berbagi pengetahuan melalui buku-buku bacaan.

 

Motivasi utama berkiprah di taman bacaan adalah pengabdian. Banyak pengelola taman bacaan bekerja secara sukarela. Mereka terdorong oleh keinginan meningkatkan literasi masyarakat, membantu anak-anak mendapatkan akses buku, dan menciptakan ruang belajar yang positif. Jadi motivasinya lebih pada pengabdian sosial, bukan mencari keuntungan materi atau uang.

 

Jangan lupa, berbuat baik atau berkontribusi bisa berupa banyak hal, bukan hanya uang. Dalam kegiatan taman bacaan, kontribusi dapat berupa menyumbangkan buku, membimbing anak-anak yang membaca, menjadi relawan, membantu mengelola kegiatan membaca, atau menyediakan ruang atau fasilitas baca. Artinya, peran seseorang tidak selalu diukur dari uang yang diberikan. Itulah tanda  taman bacaan lebih mengutamakan nilai sosial dan pendidikan. Sebab taman bacaan sering menjadi tempat untuk menumbuhkan minat baca, membangun komunitas belajar, dan memperluas wawasan anak-anak dan masyarakat. Bagi sebagian orang, mungkin nilai-nilai sosial dianggap tidak penting daripada keuntungan finansial. Iya tidak apa-apa.

 


Dalam hidup, uang memang diperlukan tapi bukan tujuan utama. Uang tetap dibutuhkan untuk membeli buku, merawat fasilitas atau mengadakan kegiatan. Karenanya di taman bacaan, uang sebagai alat pendukung, bukan tujuan utama dari kegiatan sosialnya.

 

Hari ini, banyak orang bekerja keras bertahun-tahun untuk mengisi “rekening dunia” dan akhirnya akan ditinggalkan. Rumah, mobil, saldo bank dianggap “milik saya” padahal itu semua hanya harta yang dititipkan sementara untuk ahli waris. Maka jangan jadi kurir seumur hidup, cari uang mati-matian tapi tidak bisa dinikmati atau berbagi secara sosial. Rumus kekayaan itu sederhana: “apa yang dimakan akan habis, apa yang dipakai akan using dan hanya yang disedekahkan yang akan kekal”.

 

Maka jangan hanya mengejar rekening bank atau rekening dunia. Tapi pindahkan isinya menjadi “rekening langit” yang tidak akan pernah habis. Jangan berhenti cari dunia tapi jadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat.   

 

Apa yang benar-benar milik kita adalah rekening langit, bukan rekening bank atau dunia. Karenanya, kiprah sosial di taman bacaan adalah ladang amal, yang dasarnya semangat berbagi ilmu, kepedulian, dan pengabdian sosial yang nilainya sama sekali tidak bisa diukur dengan uang. Sebuah pilihan investasi yang cerdas dan kekal walau tidak banyak yang mau melakukannya. Begitulah prinsip saya setelah 9 tahun berkiprah di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Salam literasi!



Training Manajemen Umum Dana Pensiun

 

Bertempat di Jakarta dan diikuti oleh 6 peserta, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) memfasilitasi penyelenggaraan in-house training Manajemen Umum Dana Pensiun (MUDP) DPLK PertaLife (11-12 Maret 2026). Hal ini sekaligus menjadi komitmen dalam meningkatkan kompetensi dan keterampilan para praktisi dana pensiun, di samping untuk mendukung pertumbuhan bisnis dari DPLK PertaLife. Bertindak sebagai pengajar hari ke-1 dari ADPI yaitu Syarifudin Yunus (Asesor LSP Dana Pensiun) dengan materi pengetahuan, lingkungan dan kelembagaan dana pensiun. Training ini disaksikan pula oleh Deny Kurniawan (Ketua Pengurus DPLK PertaLife).

 

Dalam training MUDP ini juga diberikan contoh kasus DPLK sebagai bahan diskusi dan upaya meningkatkan literasi dana pensiun untuk publik. Dana pensiun sebagai badan hukum yang menjanjikan manfaat pensiun perlu disiapkan selama masa bekerja untuk memberikan penghasilan saat seseorang sudah tidak lagi produktif bekerja. Sebuah program pensiun yang mengelola iuran dari pemberi kerja dan/atau karyawan untuk memberikan manfaat finansial saat peserta pensiun. Tujuannya untuk menjamin kesinambungan penghasilan di hari tua, di samping berfungsi sebagai simpanan hari tua, jaminan kemandirian finansial, dan cara memutus rantai generasi sandwich.

 


Training MUDP ini juga diikuti calon dewan pengawas DPLK PertaLife. Antusiasme peserta training MUDP terlihat dari pertanyaan dan dialog interaktif yang terjadi selama training. Melalui training MUDP, peserta diberikan pembekalan terkait materi dasar hukum, asas, dan regulasi dana pensiun, penyelenggaraan usaha dana pensiun, kelembagaan dana pensiun, tata kelola dana pensiun, prinsip investasi dana pensiun, manajemen risiko dana pensiun, dan akuntabilitas dana pensiun. Training MUDP yang diselenggarakan ADPI juga menjadi bagian implementasi dari POJK No. 34/2024 tentang Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia bagi Perusahaan Perasuransian, Penjaminan, Dana Pensiun serta Lembaga Khusus bidang Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun yang menekankan pentingnya pengembangan SDM yang berkelanjutan dan sistematis untuk mendukung adaptasi industri terhadap perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pelanggan.

 

MUDP menjadi bagian dalam pengembangan SDM yang sistematis dan berkelanjutan, di samping memberikan pemahaman terhadap regulasi terbarukan dan memahami sistem dan prosedur dalam pengelolaan dana pensiun. Sehingga dapat mendukung kualitas SDM yang kompeten, beradaptasi dengan perubahan, dan mampu mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di tengah persaingan yang ketat di era digital. Salam #YukSiapkanPensiun #KompetensiSDM #DanaPensiun




Senin, 09 Maret 2026

Nasihat Literasi di Bulan Puasa: Jangan Jahat di Kehidupan Orang Lain

Jangan jahat di kehidupan orang lain, kira-kira gitu pesan moral di bulan puasa. Untuk mengingatkan bahwa setiap tindakan kita bisa memberi dampak besar pada hidup seseorang. Karena itu, kita perlu menjaga sikap, kata-kata, dan perilaku agar tidak menjadi sumber luka bagi orang lain.

 

Ketahuilah, perilaku buruk yang kita anggap kecil bisa jadi meninggalkan “luka” yang besar di mata orang lain. Bersikap sinis, berprasangka buruk, komentar kasar sering dianggap hal sepele. Padahal bagi orang yang menerimanya, bisa jadi itu pengalaman yang membekas lama. Setiap orang punya perjuangan hidup yang tidak selalu terlihat. Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga, tekanan pekerjaan, kesulitan ekonomi, atau masalah kesehatan. Maka ketika bersikap jahat, misalnya merendahkan, menghina, atau menyakiti, hal itu bisa menambah beban yang sudah berat dalam hidup orang tersebut.


Maka, sebelum menilai orang lain, coba nilai diri kita sendiri. Sebelum menghakimi orang lain, coba kroscek dulu diri kita sendiri. Sebelum menganggap orang lain lebih berdosa, coba periksa kehidupan diri kita sendiri. Jangan sampai kita merasa paling benar. Sebelum berkata-kata, coba dipikirkan. Apakah kata-kata kita bisa menyakiti orang lain? Apakah ucapan kita membuat orang lain jadi insecure dengan dirinya? Atau bikin orang lain memendam kepahitan di hatinya?

 

Jangan mudah menghakimi jika tidak mengerti. Jangan mudah berprasangka jika tidak memahami. Dan jangan menjatuhkan orang lain demi kepentingan dan ego yang tidak terbendung. Hiduplah sewajarnya menjadi manusia. Jangan jadi manusia toxic buat orang lain.



Terkadang, kita memang harus banyak belajar untuk kroscek diri sendiri daripada sibuk mengurusi kehidupan orang lain, yang sebenarnya bukan urusan kita. Jangan hanya karena kita merasa lebih pintar, lebih benar, atau lebih punya kuasa lalu dengan sesuka hati menganggap orang lain paling berdosa, paling negatif atau paling nggak benar. Terlalu gampang menganggap orang lain paling banyak salah. Ingat, jangan jahat di kehidupan orang lain.

 


Jangan sampai jahatnya kita, menganggu kehidupan kita sendiri. jangan sampai jahatnya kita, malah menutup pintu berkah yang seharusnya kita terima. Jangan sampai jahatnya kita, menghalangi kuasa Allah bekerja atas hidup kita.

 

Mumpung bulan puasa, belajarlah menjadi pribadi yang lebih baik itu berarti jangan jahat di kehidupann orang lain. Jangan jahat pada orang lain, apalagi pada diri sendiri.


Terima apa yang sudah ada. Syukuri saja apa yang sudah dicapai. Tidak perlu jadi jahat di kehidupannya orang lain. Agar doa mereka tidak menghambat langkah hidup kita ke depan. Jangan jahat di kehidupan orang lain, berusahalah untuk tidak menjadi sumber luka dalam perjalanan hidup orang lain. Jika tidak bisa selalu memberi kebaikan besar, setidaknya kita bisa menahan diri untuk tidak menyakiti.

 

Sebab dalam kehidupan yang sudah penuh tantangan, kehadiran kita seharusnya menjadi penenang, bukan penambah beban orang lain. Karenanya, lebih baik mengabdi di taman bacaan atau baca buku, agar tidak perlu urusi hidup orang lain. Salam literasi!

 



Kenapa Membaca?

Kita, sebagai manusia terbiasa menunda apapun. Mengabaikan perhatian, menangguhkan penghargaan, dan mengira waktu selalu bersedia menunggu kesiapan kita. Padahal waktu tidak pernah benar-benar menunggu, ia hanya bergerak, membawa mereka yang lelah berdiri di depan pintu yang tak kunjung terbuka. Begitulah seringnya manusia memperlakukan kesempatan, pertemuan, dan kehadiran yang tulus dalam hidupnya.

Dalam kehidupan, setiap ketukan adalah bentuk keberanian. Ia lahir dari harapan, dari keyakinan bahwa di balik dinding ada ruang yang bersedia menerima. Namun tidak semua pintu peka terhadap suara itu. Ada yang terlalu sibuk dengan hiruk-pikuk di dalamnya, ada pula yang terlalu takut untuk membuka diri. Maka ketika ketukan berhenti, sering kali yang tersisa hanyalah sunyi, sunyi yang menyadarkan, tetapi sudah terlambat untuk mengubah keadaan.

Manusia kerap baru menyadari arti kehadiran setelah kehilangan. Kita memahami nilai sebuah cahaya justru ketika gelap datang tanpa aba-aba. Penyesalan pun menjadi guru yang mahal, mengajarkan bahwa tidak semua yang pergi diberi kesempatan untuk kembali.



Hidup adalah rangkaian pertemuan yang rapuh. Maka sebelum sunyi mengambil alih, belajarlah membuka diri, menghargai yang datang, dan menyambut setiap ketukan dengan kesadaran. Sebab tidak semua yang mengetuk akan bersedia menunggu selamanya.

Seperti membaca buku, sering kali ditunda. Terlalu sibuk dan tidak punya waktu katanya. Padahal selagi masih ada buku di depan mata, selagi masih ada akses untuk membaca semestinya tidak ada alasan untuk tidak membaca. Membaca untuk diri, membaca untuk sebuah harapan di depan. Karenanya, jangan pernah menunda untuk membaca di mana pun.

Membaca bersama di TBM Lentera Pustaka, sebuah praktik baik yang selalu didengungkan. Untuk anak-anak kampung yang selama ini tidak punya akses bacaan. Salam literasi!



Sabtu, 07 Maret 2026

Tokoh Jomblo dalam Cerita Kreatif, Seperti Apa?

Menulis Kreatif adalah menulis dengan cara yang beda. Beda dari berbagai hal, boleh dari perilakunya saat menulis atau dari pikiran dan hasil karyanya. Intinya, menulis kreatif mempelajari cara menuangkan ide, perasaan, dan pengalaman menjadi tulisan yang menarik, imajinatif, dan bermakna. Maka kuliahnya, tidak hanya teori belaka tapi melatih kreativitas dan  praktik menulis sebagai sarana ekspresi melalui bahasa.

 

Sebagai dosen pengampu mata kuliah Menulis Kreatif di semester 6 Prodi PBSI FBS Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), saya menekankan pentingnya menulis secara kreatif, baik berbentuk puisi, cerpen atau novel bahkan tulisan ilmiah tentang sastra sebagai hasil penelitian. Saat kuliah perdana semester gasal tahun 2026 (7/3/2026), saya memberi contoh pengembangan tulisan kreatif berdasarkan pengenalan di dalam kelas. Sebutkan nama panggilan dan status “jomblo atau bukan”?  Dan hasilnya, 36% dari mahasiswa yang berasal dari dua kelas adalah “jomblo”. Ini berarti, 3 sampai 4 mahasiswa di kelas saya tidak punya pasangan. Saya tidak bertanya, kenapa jomblo atau alasannya. Maka pembaca yang tertarik, silakan saja hehe…..

 

Dalam tulisan kreatif (baca: sastra), ada yang disebut tokoh dalam cerita. Pelaku atau karakter yang terlibat dalam suatu cerita dan menjalankan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Tokoh dalam cerita itu punya peran dalam alur cerita, punya sifat atau karakter, bahkan berinteraksi dengan tokoh lain. Setiap tokoh dalam cerita pasti punya kebiasaan tokoh. Misalnya tokoh yang selalu membaca buku menunjukkan sifat rajin belajar dan ingin tahu.

 


Begitu pula dengan tokoh “jomblo” seperti 36% dari mahasiswa yang mengikuti kuliah menulis kreatif. Sebagai insan yang tidak memiliki pasangan, biasanya sering melakukan aktivitas secara sendirian. Buka puasa sendiri, datang ke acara sendirian, bahkan nonton atau makan pun sendirian. Para jomblo tidak memiliki rutinitas komunikasi yang romantis. Tidak ada chat atau telepon rutin dari pasangan. Kasihan nggak sih? Makanya, kaum jomblo fokusnya pada diri sendiri. Banyak jomblo memanfaatkan waktunya untuk belajar atau bekerja, hobi dan pengembangan diri, dan berkumpul dengan teman.

 

Tapi yang paling substansi adalah jomblo pastinya “tidak sedang memiliki pasangan”. Dalam konteks tulisan kreatif, status jomblo itu sebagai bagian pengungkapan tokoh atau penokohan dalam cerita. Dan lingkungan tempat tokoh berada juga dapat menggambarkan karakternya. Selamat menulis kreatif!



Ngabubu-Read di TBM: Pilihan Kecil di Ruang Sunyi

Selama bulan puasa, minimal seminggu 3 kali anak-anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka selalu tadarusan dan mengejar khataman Al Quran setiap Sabtu sore, sambil disediakan takjil. Tiap anak memegang Al Quran dan melanjutkan “jatah bacaannya”, ayat demi ayat dan uz demi juz. Hingga secara bersama-sama, pada akhirnya 30 juz dapat dikhatamkan oleh 30 kelompok anak pembaca aktif. Begitulah program “Ngabubu-Read Ramadhan Ceria” yang setiap tahun dijalankan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.

 

Khataman Al Quran di taman bacaan dan ngabubu-read dengan membaca buku di bulan puasa, bolehlah disebut dengan “pilihan kecil di ruang sunyi” yang menentukan kualitas hidup anak-anak di masa depan. Sebagai cerminan, hidup yang tidak lagi ditentukan oleh keputusan besar. Melainkan oleh pilihan kecil seperti membaca di taman bacaan yang diulang setiap hari. Dan sebagian besar pilihan membaca di taman bacaan dibuat tanpa perintah tapi berjalan secara alamiah. Atas kesadaran personal. Sebagai latihan karakter anak-anak untuk berani memilih yang benar ketika salah terasa lebih mudah. Di situlah arah hidup perlahan dibentuk, bukan oleh sorotan publik, tetapi oleh kesetiaan pada nilai di saat sunyi.

 


Terbukti di taman bacaan, konsistensi punya nilai lebih penting daripada citra moral. Banyak orang tampak bermoral di depan umum, tetapi longgar dalam praktik pribadi. Mereka fasih berbicara tentang nilai di ruang diskusi, tetapi lalai menerapkannya di praktik sehari-hari. Hingga lupa, karakter sejati tidak butuh panggung. Ia tidak sibuk terlihat benar, tetapi sibuk bertindak benar. Konsistensi antara apa yang diyakini dan apa yang dilakukan di ruang privat adalah ukuran moral yang sesungguhnya.

 

Karakter bukan topeng sosial, melainkan kebiasaan batin. Ia tidak dibangun dari apa yang kita tunjukkan kepada dunia, tetapi dari apa yang kita lakukan ketika dunia tidak melihat. Maka jika ingin hidup kokoh dan utuh, berhentilah bertanya bagaimana terlihat baik. Dan mulailah bertanya, apakah pilihan kita tetap benar saat tidak ada yang melihat? Di sanalah sejatinya karakter dibentuk, di jalan pengabdian di taman bacaan. Salam literasi!

 



Jumat, 06 Maret 2026

Substansi Kuliah Menulis Kreatif di Unindra, Menuangkan Ide dengan Cara Beda

Apa sih substansi kuliah menulis kreatif? Singkatnya, menulis kreatif adalah menulis untuk sastra dengan cara yang beda. Entah menulis puisi, menulis cerpen, menulis novel atau naskah drama sekalipun. Menulis kreatif bukanlah menulis ilmiah, karenya dibutuhkan imajinasi yang kuat sebagai landasan menulis kreatif.

 

Saat kuliah perdana semester gasal tahun 2026 ini (7/3/2026), sebagai dosen pengampu kuliah menulis kreatif di semester 6 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), saya menekankan substansi kuliah menulis kreatif adalah mempelajari cara menuangkan ide, perasaan, dan pengalaman menjadi tulisan yang menarik, imajinatif, dan bermakna. Mata kuliah ini tidak hanya mengajarkan teori menulis, tetapi juga melatih kreativitas, teknik bercerita, dan kemampuan berekspresi melalui bahasa.

 

Menulis kreatif bukan hanya proses menulis berbasis daya cipta dan imajinasi. Tapi menulis kreatif adalah proses untuk membangun kemauan menulis. Menulis untuk berkarya. Itu berarti, menulis kreatif tidak cukup hanya dipahami. Tapi lebih dari itu, menulis kreatif sangat membutuhkan kompetensi. Seseorang yang kompeten atau mampu menuangkan ide dan gagassan secara tertulis dengan baik dan menarik.

 


Menulis kreatif dapat disebut menulis dengan cara beda. Cara “beda” inilah yang menjadi kekuatan utama menulis kreatif. Setidaknya ada 4 (empat) ciri pembeda karya menulis kreatif, yaitu 1) pikirannya yang beda dalam menghasilkan karya, 2) perilakunya yang beda di saat menulis, 3) batinnya yang beda jadi latar bekakang lahirnya sebuah tulisan, dan 4) karya dari menulis kreatif yang memang beda dari lainnya.

 

Melalui kuliah menulis kreatif, nantinya mahasiswa PBSI Unindra dibimbing untuk menulis secara kreatif, lalu dipublikasikan dalam bentuk buku atau jurnal. Sebagai cerminan menulis adalah yang tersurat, bukan yang tersirat. Menulis kreatif sebagai perbuatan, bukan Pelajaran semata. Selamat menulis kreatif!



Sebagian Besar Masalah di Dunia karena Orang yang ingin Merasa Penting

Masalah memang selalu ada, apalagi di dunia yang fana. Tapi sayangnya, banyak masalah disebabkan karena ego manusia. Ingin dirinya merasa penting. Seperti serangan AS-Israel ke Iran, karena AS dan Israel ingin dianggap penting di dunia. Trump dan Netanyahu ingin eksis di mata dunia. Maka pertikaian, perdebatan, konflik bahkan perang sekalipun sering kali bermula dari hal yang sederhana: saat seseorang ingin berdiri sedikit lebih tinggi daripada yang lain. Ingin merasa penting.

 

Ironisnya, semakin keras manusia berusaha menjadi penting maka semakin jauh dari makna yang sebenarnya. Sikap arogan dan sok penting justru mengabaikan sisi kemanusiaan. Kepentingan diri yang berlebihan membuat dunia menjadi penuh suara, tetapi miskin makna. Banyak orang berbicara, tetapi sedikit yang benar-benar mendengarkan. Bahkan tidak sedikit pemimpin organisasi yang ingin merasa penting, maka semuanya pengen diatur.

 

Sebagian besar masalah di dunia itu disebabkan oleh orang-orang yang ingin merasa penting. Keinginan untuk menjadi penting sering lahir dari ruang yang sunyi di dalam diri manusia. Ruang yang tidak terisi oleh pengertian, melainkan oleh kegelisahan. Dari kegelisahan itu tumbuh kebutuhan untuk diakui, untuk dilihat, untuk didengar lebih keras daripada yang lain. Dan dari kebutuhan itulah jadi “biang” masalah atau keributan terjadi.

 

Entah kenapa ada orang ingin merasa penting. Bahkan ingin terlihat “sok penting”. Bisa jadi, karena orang-orang itu merasa butuh pengakuan. Pengen mendapat validasi. Merasa ingin dihargai atau diakui. Akibat kurang mendapat apresiasi, akhirnya ingin tampil dan menunjukkan diri seolah-olah sangat penting. Sok merasa penting, bisa jadi untuk menutupi rasa tidak percaya dirinya. Orang-orang insecure, ingin terlihat dominan. Dengan terlihat penting, lalu mencoba menutupi rasa kurang percaya diri di dalam dirinya.

 


Lebih dari itu, biasanya sok merasa penting akibat kurangnya empati sosial. Sehingga tidak sadar kalau sikapnya sering merendahkan orang lain atau terlalu menonjolkan diri. Manusia memang tidak selalu mencari kebenaran. Sering kali hanya mencari panggung. Kata-kata diucapkan bukan untuk menjernihkan pikiran, tetapi untuk menegaskan keberadaan diri.

 

Bekerja ingin dipuji. Mengatakan sesuatu untuk terlihat besar. Ingin popular, ingin terkenal bahkan ingin dipandang orang lain. Ingin merasa penting. Hingga lupa, orang yang merasa pentingg justru tidak akan pernah sebesar yang dibayangkan. Maka berhentilah untuk merasa penting di mana pun. Sebab, sebagian besar masalah di dunia itu disebabkan oleh orang-orang yang ingin merasa penting.

 

Ketahuilah, orang yang benar-benar penting biasanya tidak perlu menunjukkan bahwa dia penting. Justru orang lain yang akan melihat nilai atau dampaknya. Tidak usah merasa penting, biasa-biasa saja jauh lebih baik. Salam literasi!



Akibat Pekerja Tidak Punya Dana Pensiun?

Ada yang bertanya, kenapa saya perlu dana pensiun? Jawabnya sederhana, karena tidak ada satu pun orang kerja yang tidak akan penaoun. Cepat atau lambat, pasti akan penaiun. Saat bekerja punya gaji untuk memenuhi kebutuhan dan biaya hidup. Tapi saat penaiun, dari mana uang untuk kebutuhan sehari-gari di saat tidak punya gaji lagi?

 

Dana pensiun memang bukan untuk hari ini. Tapi untuk masa pensiun, saat tidak bekerja lagi. Di hari tua, biaya hidup akan terus ada. Tapi gaji sudah tidak ada lagi. Untuk mempersiapkan masa pensiun itulah dana pensiun jadi diperlukan. Tentu bukan untuk kaya di hari tua. Tapi untuk menjaga standar hidup saat sudah pensiun dan tetap mandiri secara finansial di hari tua. Agar tidak bergantung secara finansial kepada anak-anak di hari tua.

 

Nah, apa dampaknya bila pekerja tidak mau atau tidak punya dana pensiun? Dampaknya tentu baru terasa ketika memasuki usia tua, saat pensiun. Beberapa kondisi yang sering terjadi di kalangan pekerja bila tidak punya dana pensiun adalah:

 

1. Turunnya kualitas hidup. Saat masih bekerja, penghasilan datang setiap bulan. Namun ketika pensiun, sumber penghasilan berhenti. Tanpa tabungan atau dana pensiun, banyak orang harus menurunkan standar hidupnya: mengurangi kebutuhan dasar, kesulitan membayar biaya kesehatan, dan bergantung pada anak atau bantuan orang lain.

 

2. Ketergantungan pada keluarga. Tanpa dana pensiun, banyak pensiunan akhirnya bergantung pada anak atau keluarga untuk biaya hidup. Padahal anak juga memiliki tanggung jawab finansialnya sendiri. Hal ini kadang memunculkan tekanan ekonomi maupun psikologis dalam keluarga. Akhirnya masa pensiun malah merepotkan anak atau keluarga.

 

3. Terpaksa tetap bekerja di usia tua. Sebagian orang akhirnya tetap bekerja di usia lanjut bukan karena ingin tetap produktif, tetapi karena terpaksa untuk bertahan hidup. Padahal kondisi fisik tidak lagi sekuat saat muda. Realitas ini makin banyak terjadi di Indonesia.

 


 

4. Rentan terhadap kemiskinan di hari tua. Tanpa persiapan finansial, risiko kemiskinan pada saat pensiun atau di usia lanjut meningkat. Ini menjadi masalah sosial yang juga menjadi perhatian pemerintah dan lembaga keuangan, termasuk pengembangan program dana pensiun. Hari ini faktanya 7 dari 10 pensiunan mengalami masalah keuangan di hari tuanya.

 

5. Beban psikologis dan rasa tidak aman di usia tua.Ketiadaan tabungan membuat masa tua terasa tidak tenang. Banyak orang mengalami kecemasan tentang biaya hidup, rasa tidak berdaya, kehilangan kemandirian bahkan status sosial akibat susah di hari tua.

 

Jadi, tidak menabung di dana pensiun membuat seseorang tidak memiliki "penghasilan pengganti" ketika berhenti bekerja. Padahal masa pensiun bisa berlangsung 15--25 tahun setelah seseorang berhenti bekerja. Karena itu, dana pensiun seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) bukan sekadar tabungan, tetapi alat menjaga martabat dan kemandirian di hari tua. Salam #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDanaPensiun

Kamis, 05 Maret 2026

Kok Bisa, Berani Baca Sendiri?

Pernah nggak lihat orang yang nyaman banget saat membaca buku sendiri? Di perpustakaan, diangkutan umum, di taman bacaan atau bahkan di suatu tempat. Keren kan, berani baca sendiri sementara orang banyak lebih memilih nongkrong di kafe atau ngerumpi bareng.  Lalu, apa artinya orang yang berani membaca sendiri?

 

Jadi, bila ada di dekat kita, orang yang berani membaca sendiri itu berarti orangnya sudah nyaman dengan kesendirian. Sebagai tanda bahwa ia telah melewati fase pertumbuhan diri (inner growth) yang signifikan. Sebab membaca sendiri menunjukkan kenyamanan dengan diri sendiri. Tidak semua orang nyaman berada dalam kesendirian. Banyak orang merasa perlu ditemani atau distraksi. Maka ketika seseorang membaca sendirian jadi sinyal orang itu mampu menikmati waktu tanpa keramaian, tidak takut dengan kesunyian, dan bisa berdialog dengan pikirannya sendiri. Itulah titik penting yang disebut kedewasaan emosional, karena tidak lagi bergantung pada orang lain untuk merasa nyaman.

 

Membaca adalah proses dialog batin. Ketika membaca, seseorang sebenarnya tidak hanya menerima informasi, tetapi juga merenungkan makna, membandingkan dengan pengalaman hidup, dan mempertanyakan ide yang dibaca. Sebuah proses dialog batinyang alami. Melalui dialog dengan bacaan, seseorang mulai mengenal dirinya sendiri, memahami nilai hidup, dab memperluas cara berpikir. Di situlah terjadi proses pertumbuhan diri (inner growth). Inner growth itu proses penting dalam pengembangan diri, karena melibatkan kesadaran, pemahaman, dan penerimaan diri sendiri yang saat ini tidak dimiliki banyak orang. Membaca sendiri berarti mau introspeksi, refleksi, dan menuju perubahan yang positif.

 


Ciri terpenting dari orang yang punya inner growth bagus diantaranya nyaman dengan kesendirian, bersikap realistis tanpa perlu membandingkan diri dengan orang lain. Bertumpu pada kesadaran yang lebih baik tentang pikiran, emosi, dan kebutuhan dirinya sendiri sehingga mampu mengelola emosi. Ujungnya mampu membuat Keputusan yang lebiih baik tanpa pengaruh dari orang lain. Memang terkesan subjektif, akan tetapi inner growth memang penting di zaman yang penuh hiduk-pikuk seperti sekarang.

 

Berani membaca sendiri menandakan kemandirian intelektual. Orang yang gemar membaca sendiri biasanya memiliki kemandirian belajar. Tidak selalu menunggu diajari orang lain, aktif mencari pengetahuan sendiri, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Hingga terus bertumbuh secara mental dan intelektual.

 

Maka jangan takut dengan membaca buku sendiri. Jangan peduli pula pada prasangka orang lain. Sebab berani membaca sendirian berarti kita nyaman dengan diri sendiri, mau refleksi diri, dan memiliki kemandirian dalam belajar. Sebagai proses menjadi pribadi yang lebih matang secara emosional, intelektual, dan spiritual. Berani membaca sendiri, bukan di tengah keramaian berarti telah menemukan kedamaian dan kepuasan dalam diri sendiri. Tidak lagi perlu validasi dari orang lain untuk apapun. Sebab sudah selesai dengan dirinya sendiri. Salam literasi!

Mulia Itu Bukan Jabatan atau Harta tapi Akal dan Akhlak

Ternyata, ukuran kemuliaan seseorang bukan jabatan atau hartanya. Ini hanya menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari siapa dirinya sebenarnya. Jabatan dan harta hanyalah atribut luar yang bisa berubah, hilang, atau dipinjamkan oleh keadaan. Sedangkan kemuliaan sejati bersumber dari kualitas batin dan perilaku seseorang.

 

Jabatan hanya titipan, bukan ukuran nilai manusia. Seseorang bisa memiliki jabatan tinggi karena kesempatan, kekuasaan, atau sistem. Namun jabatan tidak otomatis membuat seseorang mulia. Banyak orang berjabatan tinggi tetapi tidak dihormati karena perilakunya tidak baik. Sebaliknya, ada orang tanpa jabatan apa pun tetapi dihormati karena kejujuran, kebijaksanaan, dan kebaikan hatinya. Jabatan memang memberi kekuasaan, tetapi tidak selalu memberi kemuliaan.

 

Begitu pula harta, hanya menunjukkan kemampuan memiliki, bukan kualitas diri. Harta sering dianggap simbol keberhasilan. Namun harta hanya menunjukkan bahwa seseorang mampu mengumpulkan kekayaan. Ia tidak selalu mencerminkan kedewasaan, kebijaksanaan, atau kebaikan hati. Orang kaya bisa saja dermawan dan rendah hati, tetapi bisa juga sombong dan merendahkan orang lain. Karena itu harta bukan ukuran kemuliaan, melainkan hanya alat yang bisa digunakan untuk kebaikan atau keburukan.

 


Jadi, kemuliaan sejati terlihat dari akhlak dan cara memperlakukan orang lain. Kemuliaan lebih terlihat dari hal-hal seperti:kejujuran, kerendahan hati, kepedulian pada orang lain, kemampuan menahan diri, dan konsistensi dalam kebaikan. Orang yang mulia biasanya tetap baik ketika tidak diawasi, tetap rendah hati ketika dihormati, dan tetap adil ketika memiliki kekuasaan.

 

Dan pada akhirnya, yang diingat orang bukanlah berapa besar jabatan atau kekayaan seseorang, tetapi bagaimana ia memperlakukan manusia lain. Banyak tokoh besar dikenang bukan karena hartanya, tetapi karena integritas, pemikiran, dan manfaat yang ia tinggalkan.

 

Jelas sudah, kemuliaan tidak melekat pada status, tetapi pada karakter. Bukan pada apa yang dimiliki, tetapi pada bagaimana seseorang hidup dan memperlakukan sesama. Kadang justru terlihat jelas ketika jabatan hilang dan harta berkurang, kemuliaan sejati tetap tinggal pada diri seseorang. Ternyata, ukuran kemuliaan seseorang bukan jabatan atau hartanya. 

 

Kata Umar bin Khattab, kemuliaan sejati ada pada tiga hal: akal, agama, dan akhlak. Selamat berpuasa!



Membaca, Jadikan Kualitas Diri Lebih Mahal

Ini kisah dari taman bacaan, selama “ngabubu-read” di TBM Lentera Pustaka. Mahal karena membaca, bukan berarti seseorang menjadi mahal dalam arti materi. Tapi nilainya sebagai manusia menjadi lebih tinggi karena pengetahuan dan wawasan hingga komitmen untuk meenegakkan literasi dsan tradisi baca.

 

Anak-anak yang membaca di taman bacaan, mungkin tidak tahu. Bahwa membaca dapat menaikkan nilai intelektual seseorang. Orang yang banyak membaca biasanya memiliki pengetahuan yang lebih luas dan cara berpikir yang lebih tajam. Ia mampu melihat masalah dari banyak sudut pandang, tidak mudah terjebak pada opini yang dangkal. Dalam konteks ini, “mahal” berarti nilai pemikirannya berharga. Ketika ia berbicara atau memberi pandangan, orang lain merasa ada bobot yang layak dihargai.

 

Membaca juga membentuk kedalaman karakter. Buku bukan hanya memberi informasi, tetapi juga membentuk cara memahami kehidupan. Melalui membaca, seseorang belajar tentang sejarah, psikologi manusia, nilai-nilai moral, dan pengalaman hidup orang lain. Karena itu, orang yang gemar membaca sering terlihat lebih tenang dalam menilai sesuatu, tidak mudah menghakimi, dan lebih bijak dalam mengambil Keputusan. Kedalaman inilah yang membuat seseorang terlihat “mahal” secara kualitas diri.

 


Membaca membuat seseorang tidak mudah “murahan” dalam berpikir. Tanpa wawasan, seseorang mudah terjebak pada opini yang dangkal, emosi sesaat, dan informasi yang menyesatkan. Membaca membuat seseorang lebih kritis dan selektif. Ia tidak mudah terbawa arus. Dalam arti ini, membaca membuat seseorang tidak murah dalam cara berpikir.

 

Kita sadar, pengetahuan punya nilai yang tidak bisa dibeli. Uang bisa membeli pakaian mahal, tetapi tidak bisa membeli wawasan. Pengetahuan yang diperoleh dari membaca adalah investasi jangka panjang dalam diri. Karena itu sering muncul gagasan sederhana. Orang yang membaca mungkin tidak langsung terlihat kaya, tetapi nilai dirinya menjadi mahal.

 

Mahal karena membaca berarti harga diri seseorang meningkat karena kualitas pikirannya. Bukan karena apa yang ia pakai, tetapi karena apa yang ia ketahui, pahami, dan bagaimana ia memandang dunia. Orang yang membaca tidak selalu terlihat mewah, tetapi sering kali berkelas tanpa perlu pamer. Salam literasi!