Minggu, 02 Agustus 2026

Siap-Siap Jadi Bos di Hari Tua: Lebih dari Separuh Kelas Menengah Pilih Berwirausaha Saat Pensiun

Di Indonesia, kelas menengah sering disebut kelompok masyarakat yang memiliki tingkat pengeluaran dan pendapatan di atas kebutuhan dasar, tetapi belum tergolong kaya. Menurut Bank Dunia, kelas menengah di Indonesia adalah individu yang memiliki pengeluaran antara 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan nasional per kapita per bulan. Bila pendapatan “garis kemiskinan” sekitar Rp600 ribu per kapita per bulan, maka kelas menengah berada pada kisaran sekitar Rp2,1 juta hingga Rp10 juta per orang per bulan untuk pengeluaran.

 

BPS melihat kelas menengah dari kombinasi pendapatan, konsumsi, dan pola hidup. Dalam praktik sehari-hari, rumah tangga kelas menengah biasanya memiliki ciri-ciri: 1) mampu memenuhi kebutuhan pokok tanpa kesulita, 2) memiliki rumah atau sedang mencicil rumah, 3) memiliki kendaraan pribadi, 4) dapat menyisihkan dana untuk pendidikan anak, kesehatan, tabungan, atau investasi, 5) memiliki akses terhadap teknologi dan layanan keuangan formal, dan 6) sesekali melakukan rekreasi atau perjalanan wisata. Banyak analis mengelompokkan rumah tangga kelas menengah dengan pendapatan sekitar Rp7 juta s.d. Rp50 juta per bulan per rumah tangga.

 

Menariknya, kelas menengah sering dianggap sebagai kelompok yang paling rentan mengalami penurunan status ekonomi ketika terjadi krisis, karena meskipun memiliki aset dan pendapatan yang cukup, mereka juga memiliki berbagai kewajiban finansial seperti cicilan rumah, biaya pendidikan, dan persiapan dana pensiun. Karena itu, perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk dana pensiun, menjadi salah satu karakteristik penting bagi rumah tangga kelas menengah yang ingin mempertahankan kualitas hidupnya di masa depan.

 

Lalu, apa yang dilakukan kelas menengah untuk mempersiapkan pensiun? Secara umum, prioritas utama kelas menengah dalam menyambut masa pensiun adalah menjaga kesehatan fisik dan membangun dana cadangan untuk menghadapi situasi darurat di masa depan. Selain aspek finansial seperti pengurangan utang dan kepemilikan asuransi, banyak individu juga mulai merintis usaha pribadi sebagai sumber penghasilan tambahan. Kesiapan non-materi juga menjadi perhatian penting, mulai dari kesehatan mental hingga upaya mempertahankan hubungan sosial yang baik. Kelas menengah lebih multidimensi dalam memepersiapkan kesejahteraan hidup di hari tua.

Menurut laporan Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) tahun 2026, prioritas utama kelas menengah dalam menyiapkan masa pensiun terdiri dari:

1.    Pola hidup sehat (64,2%). Kesehatan fisik dianggap sebagai aset terpenting di masa tua.

2.    Tabungan darurat (56,7%). Dana cadangan untuk situasi yang tidak terduga.

3.    Memulai usaha sendiri (51,3%). Berencana untuk tetap produktif secara ekonomi dengan berwiraswasta.

4.    Asuransi jiwa/kesehatan (44,5%). Sebagai perlindungan tambahan terhadap risiko hidup dan kesehatan.

5.    Persiapan mental (43,7%). Menyiapkan kondisi psikologis dalam menghadapi perubahan fase hidup.

6.    Mengurangi utang (40,8%). Berusaha memasuki masa pensiun dengan beban finansial yang lebih ringan.

Selain itu, kelas menengah juga memperhatikan faktor lain seperti menjaga hubungan sosial (38,5%), menjaga pengeluaran (37,1%), serta merencanakan kegiatan pensiun (32,1%) dan mencari hunian yang strategis (30,8%). Persiapan lainnya mencakup dana perawatan (24,6%) dan mobilitas personal (19%).

 


Dari data tersebut, implikasi mendalam mengenai cara pandang kelas menengah modern terhadap masa tua adalah menjadikan kesehatan adalah investasi terpenting, sebesar 64,2% untuk pola hidup sehat. Masa pensiun tidak lagi hanya dilihat sebagai masalah uang, tetapi masalah kualitas hidup. Kelas menengah menyadari bahwa tanpa kesehatan yang prima, aset finansial apa pun akan terkuras habis untuk biaya pengobatan di masa depan. Selain itu, ada tren "silver entrepreneurship" (wirausaha masa tua) untuk memulai usaha sendiri. Kelaas menengah menganggap pensiun bukan berarti berhenti bekerja tapi tetap produktif secara ekonomi untuk membangun kemandirian finansial. Ujungnya, kelas menengah fokus pada ketahanan finansial di hari tua.

 

Intinya, kelas menengah di Indonesia ternyata lebih proaktif dan menyadari bahwa masa pensiun yang ideal memerlukan keseimbangan antara kesehatan fisik, kemandirian ekonomi, dan stabilitas emosional. Dan salah satu cara untuk mewujudkan masa pensiun yang sehat dan sejahtera adalah melalui dana pensiun atu DPLK. Selain untuk memastikan kesinambungan penghasilan di hari tua, dana pensiun juga efektif untuk menghindari ketergantungan finansial kepada anak atau keluarga di masa pensiun. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

 


Pensiun Asyik Itu Bukan Cuma Uang tapi ...

Ini cuma kisah nyata di kalangan pekerja. Kawan saya, kerja nonstop lebih dari 15 tahun. Tiap tahun gaji naik, tabungan cukup. Tapi pas cuti panjang, selalu mengeluh. Bilangnya badan udah nggak fit buat hiking atau trekking. Diajak kemping sambil motoran, katanya badan usah capek. Seperti kawan saya, banyak pekerja sekarang udah nggak bisa lagi menikmati hidup.

 

Kita sering lupa,, di kalangan pekerja, banyak pula yang meninggal dunia dengan kondisi saldo tertinggi seumur hidup di rekeningnya. Itu artinya, semua lembur, semua kerja dan pengorbanan, cuma jadi angka di layar bank yang nggak pernah bisa dinikmati. Kerja keras kahirnya hanya berbuah saldo yang cuma bisa dilihat.

 

Memang benar sih. Kita diajari menabung sebanyak mungkin buat hari tua., untuk masa pensiun. Tapi masalahnya, kita lupa kalau energi dan kesehatan itu cenderung menurun. Tabungan oleh naik seiring umur. Tapi grafik kemampuan kita menikmati dan memperbanyak pengalaman hidup justru melandai. Di titik tertentu, kita boleh punya uang banyak tapi fisik sering udah nggak support.

 

Itulah “gap” yang jarang disadari pekerja. Coba deh bayangin. Di umur 30, kita masih kuat naik gunung, diving, atau backpacking sebulan penuh sekalipun uangnya terbatas. Tapi di umur 56, uang kita mungkin 10 kali lipat lebih besar.  Tapi lutut udah sering sakit, punggung gampang pegel. Pengalaman seru yang bisa “dibeli” jadi terbatas. Akhirnya, uang itu kehilangan fungsi utamanya: “menciptakan hidup yang memorable”.  

 

Kalau pernah baca buku “Die With Zero” karya Bill Perkins, ternyata ada puncak kekayaan yang sia-sia. Karena kita terlalu fokus mengejar saldo tertinggi di detik terakhir hidup, padahal seharusnya kita menikmati seluruh perjalanan hidup yang tersisa. Bukan berarti kita boros atau nggak menabung untuk hari tua. Tapi “timing” pengalaman itu krusial. Uang harus dikonversi jadi kenangan selagi kita benar-benar bisa menikmatinya.  

 

Masa pensiun atau hari tua yang asyik itu bukan yang “banyak uang”. Tapi yang sehat, sejahtera, dan bermanfaat buat orang banyak. Jadi, uang yang ditumpuk untuk hari tua semestinya dipakai untuk menikmati hidup dan mengukir pengalaman hidup yang indah. Hari tua yang mampu mengoptimalkan waktu dan uang. Mampu memberi di saat masih hidup, mau amal, sedekah dan menyiapkan warisan untuk anak-anak. Tapi harus tetap menghindari penundaan hidup, baik untuk kebahagiaan atau ketenangan yang perlu dirintis untuk hari tua.

 

Entah kenapa? Kita suka menunda kepuasan. Nanti saja liburan panjang kalau udah pensiun. Nanti saja ajak orang tua atau anak-anak jalan-jalan. Padahal kita nggak pernah tahu, kapan batas sehat kita habis? Misal nih, kita pasang target pensiun di usia 60 tahun. Dari 60th ke 70th emang masih lumayan fit. Tapi setelah 70th, risiko sakit makin tinggi. Uang yang kita tumpuk susah payah akhirnya cuma lari ke biaya rumah sakit, bukan ke memperbanyak pengalaman hidup.

 

Maka solusinya bukan stop menabung. Tapi ubah mindset dari sekadar “numpuk harta untuk hari tua” ke “mengelola pengalaman hidup sepanjang hayat.” Agar hidup lebih punya warna dan kesan, tentu barengin dengan banyak ibadah dan amal ya. Silakan hitung estimasi biaya dan pengeluaran hidup untuk hari tua sampai usia harapan hidup yang wajar. Sisanya,  alokasikan untuk hal-hal yang bisa dinikmati di fase hidup sekarang. Intinya, jangan cuma kaya di atas kertas. Jangan Cuma numpuk uang untuk masa pensiun tanpa pernah menikmatinya.  

 


Coba deh disimak realitas orang kerja. Saat 25th–35th, energi kita masih tinggi, tapi penghasilan mulai naik. Itulah usia yang pas untuk mengukir pengalaman hidup yang butuh fisik prima. Saat usia 35th – 50th, karier mulai menuju puncak, mungkin ada tanggungan. Tapi tetap sisihkan waktu untuk quality time sama keluarga dan diri sendiri. Maka seharusnya, di usia di atas 50th, porsi menabung sudah dikurangi, tida lagi agresif. Dan mulai menyisihkan waktu untuk menikmati hasil kerja keras sebelum tubuh makin banyak memberi batasan.  

 

Hari ini, ada pekerja yang mungkin takut. “Gimana kalau umur panjang terus duit habis?”. Lagi-lagi kalau baca buku “Die With Zero” karya Bill Perkins, kita itu disuruh “menghitung hitung buffer” hidup di hari tua yang masuk akal, bukan “safety net” tanpa batas. Dana pensiun udah punya, asuransi kesejatan udah ada. Terus, mau apa lagi di hari tua? Jadi, kita nggak perlu paranoid sampai nggak berani nikmatin hidup. Uang itu alat, bukan dewa yang disembah di rekening. 

 

Jadi pensiunan itu bukan hanya soal “uang banyak”. Tapi pengalaman untuk menikmati hidup. Tua bukan karena uang tapi karena psikologis dan sosial-nya sehat. Dan warisan terbesar buat anak itu bukan cuma uang. Tapi kenangan bersama saat masih sehat: kemping bareng, liburan bareng, dan obrolan Santai di tempat indah. Soal kita mau dikenang sebagai orang tua yang selalu sibuk dan ninggalin tabungan tebal. Atau yang sering hadir dan punya cerita seru dengan pengalaman indah? Uang memang bisa dicari lagi. Tapi waktu dan momen nggak bisa diputar ulang.  

 

Pensiunan yang asyik itu bukan cuma uang. Tapi psikologis yang sehat, pikiran yang bersih, dan sosial yang bermanfaat. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DanaPensiun




Perjalanan Usia Senja ke Sukamakmur, Menemukan Kebahagiaan Sejati

Di usia 56 tahun, Pak Syarif cuma pengen asyik. Karena rezeki sudah ditulis, umur sudah ditetapkan. Usia senja yang asyik nggak usah berisik apalagi mengusik. Ia hanya ingin menikmati hari tua. Anak sudah besar-besar, sudah saatnya menikmati apa yang dimiliki.

 

Setelah puluhan tahun bekerja dan sibuk mengejar berbagai target hidup, hari ini ia mengemas ransel sederhana lalu berangkat menjelajahi daerah perbukitan di Sukamakmur Kab. Bogor. Ditemani istrinya dan berkendara motor menikmati perjalanandemi perjalanan. Diselingi udara sejuk dan hembusan angin. Ia berjalan perlahan menyusuri jalur setapak, gemericik air sungai, dan semilir angin yang menari di antara pepohonan. Setelah sekian lama, Pak Syarif dan istri merasa benar-benar hadir di setiap momen.

 

Perjalanan itu membawanya ke sebuah situ Rawagede yang berada di 1.072 mdpl dan dikelilingi perbukitan. Di sana, Pak Syarif bertemu banyak orang dengan latar belakang berbeda, mulai dari petualang, pekemah, riders, hingga pedagang lokal yang juga mencari ketenangan. Dari setiap percakapan, ia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari harta atau jabatan, melainkan dari rasa syukur dan kemampuan menikmati hal-hal sederhana yang sering terlewatkan dalam kesibukan hidup. Pak syarif pun menyewa sebuah tenda dan kemping di pinggir Situ Rawa Gede malam itu.

 

Esok paginya, Pak Syarif dan istri segera bergegas. Menuju titik pendakian Gunung Luhur yang lagi viral dan banyak dikunjungi petualang dari berbagai tempat. Di daerah ketinggian 1.750 mdpl, ia menyaksikan suasana pendakian gunung yang ramai sekali. Untuk mendekati alam dan menikmati hamparan bunga yang indah sambil menyaksikan matahari terbit. Pak Syarif duduk diam sambil mengenang perjalanan hidupnya. Ia menyadari bahwa setiap tantangan, kegagalan, dan keberhasilan yang pernah dialami telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Di tengah keheningan alam, ia menemukan kedamaian yang sejati. Makin memahami tentang manusia, dari mana berasal dan mau ke mana akan pergi?



 

Setelah turun dari pendakian, istirahat sejenak di Rest Area 99 sambil menikmati secangkir kopi. Memandangi panorama indah di Sukamakmur, ditemani cemilan bakwan. Jelang siang, Bersiap motoran lagi untuk mengunjungi beberapa lokasi. Mulai ke Desa Sirnajaya, Warung De Padee, Desa Sukamulya di pendakian Datar Buluh dan berujung di Hanjawong Villas sambil menengok tanah kavling tempatnya menikmati hari tua. Perjalanan menyusuri hutan pinus, melewati jalan berbatu hingga jembatan sungai terasa indah dan penuh kenangan. Tanpa terburu-buru, Pak Syarif sekaligus belajar menghargai waktu sebagai anugerah yang berharga. Ia tidak lagi memikirkan apa yang belum dimiliki, melainkan mensyukuri apa yang telah ada. Alam mengajarkannya bahwa segala sesuatu memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh, berkembang, dan beristirahat.

 

Sambil menikmati perjalanan kembali ke Jakarta setelah maghrib, Pak Syarif pulang dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih. Ia memahami bahwa usia senja bukanlah akhir dari petualangan, melainkan kesempatan untuk menikmati hidup dengan cara yang lebih bermakna. Uisa senja yang asyik tanpa berisik tanpa mengusik orang lain. Sebuah pesan moral bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak yang kita kumpulkan sepanjang hidup, tetapi pada kemampuan untuk mensyukuri perjalanan, menjaga keseimbangan batin, dan menikmati setiap momen yang diberikan kehidupan. Salam usia senja! #YukSiapkanPensiun #DanaPensiun #PakSyarifPensiunan



Sabtu, 01 Agustus 2026

Kemping di Usia Senja: Tenang Menatap Langit Malam

Banyak orang mengira kebahagiaan harus dicari di tempat-tempat yang jauh atau dengan biaya yang mahal. Namun bagi sepasang suami istri yang telah mengarungi puluhan tahun kehidupan bersama, kebahagiaan justru hadir saat mereka mendirikan tenda sederhana di tengah alam. Di usia senja, ketika kesibukan telah berganti dengan waktu yang lebih lapang, kita lebih memilih berkemah bukan untuk menaklukkan gunung, melainkan untuk menemukan kembali ketenangan jiwa. 

 

Di bawah langit yang luas dan diiringi suara alam, sambil menyadari bahwa hidup yang sederhana sering kali menghadirkan kebahagiaan yang paling tulus. Damai dan tenang, memang harus diusahakan.

 

Sambil menikmati secangkir kopi hangat dan malam yang gelap diiringin rintik hujan. Damai itu nyata. Tanpa tergesa-gesa, menikmati suasana tenda sambil menatap lampu malam di kejauhan. Berjalan beriringan sambil mengenang perjalanan panjang membangun keluarga, mendidik anak-anak, melewati masa-masa sulit, merayakan setiap anugerah-Nya, dan belajar menerima setiap kekurangan. Kerutan di wajah bukan lagi tanda bertambahnya usia, melainkan bukti bahwa kita telah bertahan, saling menguatkan, dan sambil melewati setiap musim kehidupan dengan manis getirnya.

 

Malam kini menyelimuti seisi tenda, terduduk sambil memandang ribuan bintang dan menikmati heningnya malam. Tidak lagi membicarakan harta, jabatan, atau pencapaian. Yang ada hanya mensyukuri yang ada, bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa kemping dan bertukar cerita. Menikmati waktu yang tak dapat dibeli dengan apa pun. Saya dan istri sadar bahwa usia senja bukanlah masa untuk meratapi yang telah berlalu, melainkan waktu terbaik untuk menikmati setiap detik kehidupan dengan hati yang penuh syukur.

 


Perjalanan berkemah itu akhirnya mengajarkan sebuah pelajaran berharga: masa tua bukanlah tentang seberapa kuat tubuh melangkah. Tapi seberapa damai hati menjalani hidup. Selama cinta tetap dipelihara, rasa syukur terus dijaga, dan kebersamaan selalu diutamakan, usia senja akan menjadi babak kehidupan yang paling indah. Sebab pada akhirnya, kenangan terbaik bukanlah tentang tempat yang pernah dikunjungi, melainkan tentang siapa yang mampu berjalan bersama hingga akhir perjalanan.

 

Dari balik tenda, saya dan istri berdoa. Semoga setiap langkah menuju usia senja bukan dipenuhi rasa takut, melainkan keyakinan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hati yang bersyukur dan dari pasangan yang tetap memilih berjalan berdampingan, apa pun musim kehidupan yang sedang dihadapi.

 

Diiringi rintikan hujan di atas tenda, bahwa hal-hal kecil yang dijalani dengan sederhana ternyata mampu membuat pikiran menjadi jauh lebih tenang dan damai, dalam sehat dan sejahtera! @Situ Rawa Gede Sukamakmur, 31 Juli 2026



Kamis, 30 Juli 2026

Dari Data Menjadi Kesejahteraan: Peran Strategis Penelitian dalam Pengembangan Dana Pensiun

Bila dihitung sejak UU No. 11/1992, maka dana pensiun di Indonesia sudah lebih dari 34 tahun. Hasilnya, kepesertaan dana pensiun sukarela mencapai 5,2 juta orang dan aset yang dikelola sekitar Rp. 400 triliun (DPPK/DPLK). Sulit diukur, apakah capain itu tergolong berhasil atau tidak? Tapi bila dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja di Indonesia saat ini yang mencapai 147 juta pekerja, bolehlah kepesertaan dana pensiun dianggap masih rendah. Apalagi bila dibandingkan dengan industri asuransi jiwa, reksadana, atau lainnya.  

 

Studi menunjukkan kepesertaan dana pensiun sukarela saat ini 80% didominasi oleh peserta korporasi, sementara peserta individual/informal sekitar 20%. Padahal, porsi pekerja sektor informal saat ini mencapai 60% dari total angkatan kerja atau sekitar 88,2 juta pekerja. Dan hari ini kepesertaan dana pensiun sektor informal kurang dari 1%. Apakah pekerja sektor informal tidak boleh punya dana pensiun? Atau ke mana bila pekerja sektor inin ikut dana pensiun?

 

Berangkat dari realitas itu, mungkin sudah saatnya dana pensiun sukarela mulai menggunakan data. Agar pemasaran atau cara-caranya tidak lagi berdasar insting atau kebiasaan. Perlu ada penyesuaian dengan dinamika pasar dan pekerja, diantaranya pentingnya digitalisasi dana pensiun. Agar nantinya, dana pensiun sukarela benar-benar inklusif dan punya ekosistem yang lebih optimal. Karena itu, untuk memperkuat “asupan data”, berbagai penelitian terkait dana pensiun menjadi penting diperbanyak dan dilakukan.

Penelitian dana pensiun sebagai instrumen berbasis data menjadi sangat penting karena keputusan terkait pensiun menyangkut kesejahteraan jangka panjang individu, perusahaan, dan stabilitas ekonomi nasional. Beberapa alasan utamanya adalah 1) meningkatkan akurasi perencanaan pensiun sesuai dengan kondisi demografi, tingkat penghasilan, pola kontribusi, dan harapan hidup, 2) mengambil kebijakan yang tepat sehingga ada bukti empiris untuk merancang strategi, produk, bahkan pemasaran yang efektif, dan 3) mengidentifikasi perubahan perilaku pekerja atau peserta tentang faktor-faktor yang memengaruhi keputusan seseorang untuk mengikuti program dana pensiun, besaran iuran, hingga preferensi investasinya.

 

Sebagai contoh, penelitian dana pensiun yang pernah dilakukan oleh Syarifudin Yunus sepanjang tahun 2025 dan 2026 ini dan telahterbit di jurnal ilmiah antara lain:

 

1.       Faktor Penyebab Pekerja Tidak Paham Dana Pensiun, Pentingnya Edukasi dan Digitalisasi Industri Dana Pensiun di Indonesia. Jurnal AKSIOMA, Feb 2025 https://manggalajournal.org/index.php/AKSIOMA/article/view/981/1239

 

2.       ANALISIS POTENSI PEMBAYARAN MANFAAT PENSIUN SECARA BERKALA PADA PESERTA DPLK BERDASARKANMETODE EX POST FACTO. Jurnal Neraca, Maret 2025 https://jurnal.researchideas.org/index.php/neraca/article/view/770

 

3.       Tingkat Kekhawatiran Gen Z atas Keuangan Pensiun Orang Tua dan Strategi Kebebasan Finansial. Jurnal Menawan, Maret 2025 https://journal.areai.or.id/index.php/MENAWAN/article/view/1276

 

4.       Persepsi Dan Kepemilikan Generasi Milenial Terhadap Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Untuk Kesejahteraan Hari Tua. Jurnal Jkpim, April 2025. https://ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/jupiman/article/view/5002,

 

5.       Potret Kinerja Investasi 6 Tahun Terakhir (2019-2024) Pada DPLK dan Tantangannya. Jurnal Moneter, April 2025. https://journal.areai.or.id/index.php/Moneter/article/view/1312

 

6.       Analisis Tingkat Penghasilan Pensiun (TPP) Pekerja dan Faktor yang Mempengaruhinya Serta Optimalisasi Peran Dana Pensiun Swasta di Indonesia. Jurnal Lokawati, Mei 2025. https://journal.arimbi.or.id/index.php/Lokawati/article/view/1709

 

 

7.       Persepsi dan Preferensi Pekerja Biasa Terhadap Dana Pensiun Sebagai Perencanaan Hari Tua. Jurnal Jupiman, Juni 2025. https://ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/jupiman/article/view/5002,

 


8.       Tantangan Literasi dan Inklusi Dana Pensiunserta Dampaknya terhadap Ekonomi Nasional dan Generasi Tua di Indonesia. Jurnal Maeswara, Juni 2025. https://journal.arimbi.or.id/index.php/Maeswara/article/view/1782

 

9.       Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia. Jurnal JiMaKeBiDI, Agustus 2025. https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776,

 

10.    Analisis Kepesertaan DPLK Secara Individu dan Karakteristiknya untuk Meningkatkan Penetrasi Dana Pensiun Pekerja Sektor Informal di Indonesia. Jurnal JUPSIM, Sept 2025. https://journalcenter.org/index.php/jupsim/article/view/5333

 

11.    Tingkat Gaya Hidup dan Potensi Kepesertaan Dana Pensiun pada Pekerja Muda di Jakarta. Jurnal Menawan, Sept 2025.https://journal.areai.or.id/index.php/MENAWAN/article/view/1841

 

12.    Optimalisasi Layanan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) melalui Pengelolaan Manfaat Pensiun Berkala, Manfaat Lain, dan Iuran Sukarela. Jurnal Moneter, 2 April 2026. DOI: https://doi.org/10.61132/moneter.v4i2.2165

 

13.    Determinasi Rendahnya Literasi Dana Pensiun pada Pekerja: Peran Edukasi dan Digitalisasi dalam Industri Dana Pensiun di Indonesia. Jurnal Manajemen Bisnis Digital. April 2026. DOI: https://doi.org/10.61132/jumbidter.v3i2.1308

 

14.    Strategi Pemasaran Inklusif untuk Meningkatkan Partisipasi Dana Pensiun Pekerja Sektor Informal di Indonesia: Analisis Hambatan, Segmentasi Pasar, dan Rekomendasi Implementasi. Jurnal Lokawati, Juli 2026. DOI: https://doi.org/10.61132/lokawati.v4i4.2643

 

Jelas, penelitian dana pensiun penting sebagai acuan persepsi dan preferensi masyarakat tentang dana pensiun di Indonesia. Berapa besar kemampuan iuran pekerja di dana pensiun, Bagaimana dana pensiun di mata pekerja antargenerasi (Gen Z, milenial)? Atau alternatif investasi yang dilakukan pekerja saat ini? Semuanya membutuhkan data dan bukti empiris. Di situlah, penelitian dana pensiun menjadi penting dilakukan.

 

Sudah pasti, masyarakat ingin punya dana pensiun sebagai bagian perencanaan pensiun dan hari tua. Apalagi Indonesia akan menghadapi tantangan penuaan penduduk (aging population) seiring meningkatnya usia harapan hidup, penelitian berbasis data membantu memproyeksikan kebutuhan dana pensiun di masa depan dan memastikan keberlanjutan program pensiun. Selain untuk merancang produk dan pemasaran dana pensiun yang lebih efektif, penelitian dana pensiun pada akhirnya dapat berkontribusi untuk membangun kepercayaan public terhadap dana pensiun, sekaligus meningkatkan transparansi pengelolaan dana kepada peserta. #PenelitianDanaPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

 


PPJKI & Sertifikasiku Gelar Webinar Membedah Industri Dana Pensiun

Perkumpulan Praktisi Jasa Keuangan Indonesia (PPJKI) didukung oleh Sertifikasiku hari ini menggelar Financial Insight Series - 5, webinar series bertajuk “Mastering Pension Funds : Membedah Tantangan Industri & Strategi Mengamankan Finansial Masa Tua” secara daring (20/7/2026). Diikuti oleh 120 peserta, webinar ini dibuka oleh Drs. Budi Ruseno, MM., CSA., CRP selaku Ketua Umum PPJKI Perkumpulan Praktisi Jasa Keuangan Indonesia.

 

“Webinar PPJKI ini petning untuk meningkatkan literasi kita tentang dana pensiun dan harapannya bisa ikut meningkatkan partisipasi dana pensiun di Indonesia.  Tentu untuk mempersiapkan masa pensiun yang lebih bermartabat” ujar Budi Ruseno dalam sambutannya.

 

Bertindak sebagai pembicara yaitu 1) Zulfianto Arbi, SE., MM., AAAI-K, ACII, AMII, QIP, WMI, CSA, CRP, AMRP, CRGPsebagai Dosen Vokasi UI, Fasilitator Sertifikasiku, dan Wakil Divisi Organisasi dan Keanggotaan PPJKI yang membahas tentang pentingnya pekerja mempersiapkan masa pensiun sejak dini untuk menjadi kesinambungan penghasilan di hari tua.

 

 

Pembicara kedua Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd (Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM, Asesor LSP Dana Pensiuun dan Sekretaris 5 Bidang Komisariat  Profesi Dana Pensiun PPJKI) membahas tentang apa dan bagaimana dana pensiun sekaligis tantangan serta strateginya untuk memperluas kepesertaan dana pensiun bagi pekerja sektor formal maupun informal.

 


Seperti diketahui, tingkat literasi (27,79%) dan inklusi (5,37%) dana pensiun di Indonesia masih tergolong rendah. Karena itu upaya memperkuat pemahaman pekerja tentang dana pensiun menjadi pensiun menjadi penting dilakukan. Sebab intinya, dana pensiun sesuai regulasi dimaksudkan untuk: 1) meningkatkan perlindungan hari tua bagi masyarakat, khususnya para pekerja, 2) meningkatkan literasi dana pensiun, 3) mendorong kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan program pensiun, dan 4) mempercepat akumulasi sumber dana jangka panjang sebagai sumber utama pembiayaan pembangunan.

 

Peserta webinar sangat antusias mengikuti webinar yang ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan. Sebuah kesadaran baru akan pentingnya mempersiapkan masa pensiun selalu didengungkan oleh PPJK sebagai organisasi para praktisi jasa keuangan di Indonesia (https://ppjki.or.id/)

 

Sebagai konklusi dalam webinar ini, maka pekerja diimbau untuk berani mempersiapkan masa pensiun dengan menyisihkan sebagian gaji untuk dana pensiun secara mandiri. Dan strategi mengamankan finansial di masa tua dpaat ditempuh dengan 1) edukasi terus-menerus, 2) digitalisasi pensiun untuk memudahkan publik memiliki dana pensiun, dan 3) menyadari cepat atau lambat, masa pensiun pasti tiba. Karena itu, siapkanlah masa pensiun sejak dini.  #YukSiapkanPensiun #WebinarPPJKI #PraktisiKeuangan

 




Rabu, 29 Juli 2026

Hidup Dosen Disangka Enak, Ini Fakta Objektif-nya

Banyak orang beranggapan bahwa profesi dosen adalah pekerjaan yang nyaman: mengajar beberapa jam dalam seminggu, memiliki jadwal yang fleksibel, dan menikmati libur akademik yang panjang. Namun, di balik ruang kelas dan gelar akademik yang melekat, terdapat beban administratif yang tidak sedikit. Dosen tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga harus menyusun laporan, mengisi berbagai sistem pelaporan, mengurus beban kerja dosen, melakukan penelitian dan publikasi, membimbing mahasiswa, hingga menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat. Akibatnya, waktu dan energi dosen sering kali tersita oleh pekerjaan administratif yang kompleks, sehingga profesi yang terlihat "enak" dari luar justru menyimpan tekanan dan tuntutan yang tidak selalu terlihat oleh publik.

 

Ada persepsi publik dan kenyataan objektif yang timpang mengenai beban kerja seorang dosen di Indonesia. Masyarakat menganggap waktu dosen hanya terbagi untuk mengajar, meneliti, dan beristirahat, namun realitanya jauh lebih rumit. Justru keseharian dosen dipenuhi oleh tumpukan tugas administratif, seperti pengisian sistem pelaporan, urusan akreditasi, dan bimbingan mahasiswa yang tidak kunjung usai. Selain itu, para akademisi kampus harus menghadapi tekanan tenggat waktu serta berbagai tuntutan teknis lainnya yang menyita banyak energi. Kondisi ini sering kali berujung pada kelelahan fisik dan mental akibat kurangnya waktu luang yang tersedia. Padahal, profesi dosen itu kompleks dan sering kali terabaikan oleh pandangan awam.

 

Soal dosen, ada perbedaan yang sangat mencolok antara apa yang dibayangkan masyarakat umum mengenai kehidupan dosen dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya. Persepsi Publik (yang orang kira), menganggap pekerjaan dosen hanya terbagi menjadi tiga fokus utama yang seimbang, yaitu mengajar, meneliti, dan memiliki banyak waktu luang. Tapi realitas kehidupan dosen justru waktu dan pikirannya tersita oleh berbagai detail pekerjaan yang jauh lebih kompleks dan melelahkan, seperti 1) beban administrasi yang berat karena dosen harus mengisi BKD (Beban Kerja Dosen), membuka aplikasi SISTER, mencari bukti kinerja, mengurus administrasi kampus, serta terlibat dalam proses akreditasi, 2) tanggung jawab akademik yang detail mencakup bimbingan skripsi, revisi jurnal, revisi RPS (Rencana Pembelajaran Semester), mengoreksi tugas dan ujian, input nilai, hingga menyusun proposal hibah, di samping mengajar, 3) interaksi dan pengabdian di mana harus melakukan pengabdian masyarakat, menghadiri rapat, dan menghadapi mahasiswa yang mengirim pesan (chat) pada malam hari, dan 4) kondisi fisik dan mental yang dipenuhi tenggat waktu (deadline), rasa lelah, panik, ketergantungan pada kopi, rapat mendadak, hingga sering kali belum sempat beristirahat. Singkatnya, jika publik mengira hidup dosen itu sederhana dan santai, realitanya adalah kumpulan dari puluhan tugas kecil maupun besar yang porsinya sangat terfragmentasi dan menuntut waktu ekstra.

 

Harus diakui, jadi dosen tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Orang mengira dosen memiliki pembagian waktu yang rapi dan seimbang antara mengajar, meneliti, dan istirahat. Tapi faktanya, waktu dosen terpecah menjadi puluhan "potongan kecil" tugas yang tidak seragam. Pekerjaan inti seperti mengajar dan meneliti kini harus berebut ruang dengan urusan birokrasi seperti mengisi aplikasi SISTER, BKD, mencari bukti kinerja, hingga urusan akreditasi.

 


Ternyata, jadi dosen sangat melelahkan. Bahkan sering kali dosen panik akibat harus selesaikan studi (seperti disertasi S3), mengurus BKD, hingga bimbingan skripsi mahasiswa yang harus dituntaskan. Terlalu banyak deadline (tenggat waktu) yang akhirnya jadi beban kerja. Kenapa begitu? Jawabnya karena:

1.    Banyaknya tugas administratif yang rumit. Dosen tidak hanya fokus mengajar, tetapi harus menghadapi tugas klerikal yang menyita waktu seperti isi BKD, buka SISTER, cari bukti kinerja, serta mengurus administrasi kampus dan akreditasi. Tugas-tugas ini memiliki tenggat waktu pelaporan yang kaku.

2.    Beban akademik yang terus-menerus. Selain mengajar, dosen harus menyelesaikan revisi jurnal, menyusun proposal hibah, melakukan publikasi, hingga melakukan revisi RPS. Proses kreatif dan ilmiah ini sering kali berbenturan dengan deadline administratif.

3.    Tanggung jawab terhadap mahasiswa. Aktivitas seperti bimbingan skripsi, koreksi tugas, koreksi ujian, dan input nilai harus diselesaikan dalam waktu tertentu, seringkali ditambah dengan gangguan seperti mahasiswa yang mengirim pesan (chat) pada malam hari.

4.    Kondisi kerja yang tidak terduga. Ada rapat mendadak dan pengabdian ke masyarakat semakin memecah fokus dosen.

5.    Kurangnya waktu pemulihan. Dosen sering kali "belum sempat istirahat" dan harus mengandalkan kopi untuk tetap bertahan di tengah tumpukan tugas yang tidak ada habisnya.

Kombinasi dari puluhan tanggung jawab kecil dan besar inilah yang menciptakan tekanan mental (panik) dan kelelahan fisik (lelah), sangat kontras dengan persepsi publik yang menganggap dosen memiliki banyak waktu luang.

 

Jadi, begitulah realitas kehidupan dosen yang sebenarnya sekalipun dikira hidupnya enak. Ternyata, di balik persepsi public ada kenyataan objektif yang dihadapi dosen di Indonesia. Dan dosen itu nggak punya dana pensiun. Pensiunnya minmal di usia 65 tahun tapi kesejahteraannya di hari tua belum terjamin. Percaya atau nggak? #ProfesiDosen #DosenDisangkaEnak #HidupDosen



Pensiun di Usia 56, Stres Hingga 73: Ketika Penghasilan Berhenti dan Dana Pensiun Tak Pernah Disiapkan

Pak Darto pernah menjadi sosok yang dikagumi banyak orang di tempat kerjanya. Selama lebih dari 30 tahun bekerja di sebuah perusahaan swasta, hidupnya terlihat mapan dan nyaman. Ia selalu berpakaian rapi, memiliki kendaraan pribadi, rutin mengajak keluarga berlibur, dan dikenal sebagai pribadi yang sukses. Gajinya cukup besar, bonus tahunan selalu dinikmati, dan hampir tidak pernah ada masalah keuangan yang berarti. Namun di balik semua kenyamanan itu, Pak Darto memiliki satu kelemahan yang tidak pernah ia sadari: ia tidak pernah mempersiapkan dana pensiun secara serius. Baginya, selama masih bekerja dan penghasilan terus mengalir, masa tua terasa sangat jauh.

 

Semua akhirnya berubah ketika Pak Darto memasuki usia 56 tahun dan harus pensiun. Hari terakhir bekerja yang semula ia bayangkan sebagai awal kehidupan yang tenang justru menjadi awal kegelisahan. Gaji bulanan yang selama puluhan tahun menjadi sandaran utama keluarga tiba-tiba berhenti. Uang pesangon yang diterima memang cukup besar, tetapi sebagian habis untuk melunasi kebutuhan keluarga, membantu biaya pendidikan anak, dan memenuhi berbagai kebutuhan yang selama ini tertunda. Dalam beberapa tahun, tabungan yang tersisa semakin menipis, sementara biaya hidup terus berjalan tanpa kompromi.

 

Memasuki usia 60 tahun, Pak Darto mulai merasakan tekanan yang semakin berat. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mencoba berbagai pekerjaan serabutan. Kadang menjadi konsultan lepas, kadang membantu usaha teman, dan sesekali menerima pekerjaan apa pun yang menghasilkan uang. Namun penghasilannya tidak menentu. Ada bulan ketika ia memperoleh cukup uang, tetapi lebih sering penghasilannya jauh dari kebutuhan. Setiap malam ia menghitung sisa uang di rekening sambil memikirkan tagihan yang harus dibayar. Tidurnya tidak lagi nyenyak seperti dulu.

 


Yang membuat Pak Darto semakin cemas adalah kenyataan bahwa usia harapan hidup masyarakat Indonesia kini diperkirakan mencapai sekitar 73 tahun. Artinya, ia masih harus menjalani belasan tahun lagi tanpa kepastian penghasilan tetap. Ia sempat berpikir untuk berutang, tetapi takut tidak mampu mengembalikannya karena penghasilannya tidak menentu. Ia juga ingin meminta bantuan kepada anak-anaknya, tetapi merasa sungkan dan khawatir menjadi beban. Dalam hatinya muncul pertanyaan yang terus menghantui, "Bagaimana jika uang ini habis sebelum usia saya berakhir?" Pertanyaan itu menjadi sumber stres yang terus menggerogoti pikirannya setiap hari.

 

Kisah Pak Darto menggambarkan kenyataan yang dialami banyak pekerja. Saat masih produktif dan berpenghasilan tinggi, masa pensiun sering dianggap sebagai urusan yang masih sangat jauh. Padahal tanpa dana pensiun yang cukup, seseorang dapat kehilangan kemandirian finansial ketika memasuki usia lanjut. Apa yang dulu tampak sebagai kehidupan yang mapan dapat berubah menjadi masa tua yang penuh ketidakpastian, kecemasan, dan ketergantungan pada orang lain. Karena itu, mempersiapkan dana pensiun bukan sekadar soal menabung, melainkan upaya menjaga martabat, ketenangan, dan kualitas hidup di hari tua. 

Maka hari ini, yuk siapkan pensiun melalui aplikasi DPLK digital "SimPensiun". #EdukasiDPLK #DanaPensiun #DPLKSAM

 


 

Untuk Apa Jahat di Kehidupan Orang Lain?

Ini pertanyaan penting. Untuk apa sih jahat di kehidupan orang lain? Bukankah hidup hanya sekali. Usia atau umur sudah ada batasnya. Rezeki juga sudah ditentukan. Terus, bila masih mau berbuat atau bersikap jahat pada orang lain. Bertanyalah, untuk apa? Dan, kenapa kita tidak mau berbuat baik?


Jangan lupa, kita ini hanya tamu di atas tanah. Kita berbuat baik saja  belum tentutanah mau menerimanya? Apalagi berbuat jahat, bisa jadi tanah menolak kedatangan kita. Sekali lagi, untuk apa menjadi jahat dalam kehidupan orang lain?


Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan rasa benci, iri, dendam. Apalagi saling menjatuhkan atau menghalangi perbuatan baik orang lain. Ingat, jangan pernah menyimpan kebencian terlalu lama. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Dan kelak, kita akan pulang pun tanpa membawa apa-apa.

 

Soal rezeki, jangan bingung. Setiap kita sudah punya “jatah” rezeki masing-masing. Rezeki orang lain pun tidak akan mengurangi rezeki kita. Rezeki sudah punya jalan sendiri untuk menemui pemiliknya. Tentu, bila pemiliknya baik maka reeki baik akan menghampirinya. Dan bila pemiliknya buruk, maka yang akan datang rezeki buruk pula.


Keberhasilan orang lain dan siapapun, sama sekali tidak akan mengambil takdir baik yang telah Allah tetapkan untuk kita. Maka tidak perlu gelisah melihat orang lain bahagia. Jangan susah melihat orang senang. Jangan senang melihat orang susah. Jadi, cukup berbuat baik dan jangan jahat di kehidupan orang lain.



Memang benar, menjadi baik memang tidak selalu membuat kita diperlakukan dengan baik. Terkadang, ada ketulusan yang disalahpahami. Kebaikan yang tidak dibalas. Bahkan hati yang tetap terluka meski sudah berusaha menjaganya. Biarlah, semua akan ada waktunya ada balasannya.


Tetaplah memilih menjadi baik. Bukan karena semua orang pantas menerima kebaikan kita. Tapi karena kita ingin menjaga hati kita tetap baik di hadapan Allah. Sebab, kita tidak bisa mengendalikan bagaimana orang memperlakukan kita? Kitahanya punya pilihan untuk berbuat baik atau buruk?


Hidup itu bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita miliki. Yang jauh lebih penting adalah dalam keadaan seperti apa hati kita ketika akhirnya kembali kepada Allah?
Selama masih diberi waktu, tinggalkanlah jejak yang baik. Ringankan beban orang lain, maafkan yang mampu kita maafkan, dan teruslah memperbaiki diri.


Sebab kebaikan tidak pernah sia-sia di sisi Allah. Kita hanya tamu di buminya Allah. Dunia hanya tempat singgah. Semoga kita kembali kepada Allah dengan hati yang tenang. Maka hati-hati dengan hati, karena hati adalah kunci. Dan bila tidak bisa berbuat baik, cukup diam. Jangan jahat di kehidupan orang lain!



Darurat Kesiapan Pensiun: 8 dari 10 Pensiunan Indonesia Bergantung Hidup pada Anggota Keluarga yang Bekerja.

Bolehlah hari ini , Indonesia berada pada krisis kesiapan masa tua. Di mana mayoritas pekerja saat ini belum memiliki perencanaan finansial yang matang. Sebagian besar pensiunan masih memiliki ketergantungan ekonomi yang tinggi terhadap anggota keluarga yang masih aktif bekerja untuk mencukupi kebutuhan bulanannya. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya partisipasi dalam program dana pensiun serta minimnya alokasi tabungan pribadi dari penghasilan rutin masyarakat. Generasi muda, termasuk Milenial dan Gen Z, turut merasakan kecemasan finansial yang signifikan terkait masa depan orang tuannya sekaligus ketidaktahuan mengenai instrumen investasi untuk pensiun.

Faktanya, hari ini tingkat ketergantungan finansial pensiunan (lansia) tergolong tinggi. Hingga “memaksa” anggota keluarganya/anak ikut menanggung biaya hidupnya. Maka ada  urgensi edukasi literasi keuangan guna menghadapi masa purnabakti di tengah angka harapan hidup yang terus meningkat. Dengan saldo tabungan rata-rata yang masih rendah, masyarakat Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mencapai kemandirian finansial di hari tua.

 

Berdasarkan data yang dioleh Syarifudin Yunus, (Edukator DPLK Sinarmas Asset Management) diperoleh kondisi pensiunan di Indonesia sebagai berikut;

1.    Ketergantungan pada anggota Keluarga yang bekerja.Sebanyak 8 dari 10 pensiunan memenuhi kebutuhan hidupnya dari anggota keluarga (anak) yang masih aktif bekerja.

2.    Transfer dari anak. Sebanyak 1 dari 2 pensiunan sangat mengandalkan kiriman atau transferan uang dari anaknya setiap bulan.

3.    Kekhawatiran generasi muda. Karenanya, 87% Gen Z merasa khawatir dengan kondisi keuangan orang tua mereka saat memasuki masa pensiun nanti.

 


Kondisi ini kemungkinan besar dipicu oleh kurangnya persiapan dana pensiun mandiri, mengingat kondisi yang menunjukkan bahwa 9 dari 10 pekerja di Indonesia belum siap untuk pensiun dan hampir 80% pekerja belum memiliki program pensiun.

 

Maka ke depan, tidak ada lagi alasan untuk menunda memiliki dana pensiun. Sebab cepat atau lambat, siapapun pasti akan pensiun. Mumpung masih ada waktu, siapkan pensiun sejak dini. Mulailah dengan menabung untuk pensiun melalui aplikasi digital DPLK “SimPensiun”. #YukSiapkanPensiun #EduukasiDPLK #DPLKSAM