Sabtu, 07 Maret 2026

Tokoh Jomblo dalam Cerita Kreatif, Seperti Apa?

Menulis Kreatif adalah menulis dengan cara yang beda. Beda dari berbagai hal, boleh dari perilakunya saat menulis atau dari pikiran dan hasil karyanya. Intinya, menulis kreatif mempelajari cara menuangkan ide, perasaan, dan pengalaman menjadi tulisan yang menarik, imajinatif, dan bermakna. Maka kuliahnya, tidak hanya teori belaka tapi melatih kreativitas dan  praktik menulis sebagai sarana ekspresi melalui bahasa.

 

Sebagai dosen pengampu mata kuliah Menulis Kreatif di semester 6 Prodi PBSI FBS Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), saya menekankan pentingnya menulis secara kreatif, baik berbentuk puisi, cerpen atau novel bahkan tulisan ilmiah tentang sastra sebagai hasil penelitian. Saat kuliah perdana semester gasal tahun 2026 (7/3/2026), saya memberi contoh pengembangan tulisan kreatif berdasarkan pengenalan di dalam kelas. Sebutkan nama panggilan dan status “jomblo atau bukan”?  Dan hasilnya, 36% dari mahasiswa yang berasal dari dua kelas adalah “jomblo”. Ini berarti, 3 sampai 4 mahasiswa di kelas saya tidak punya pasangan. Saya tidak bertanya, kenapa jomblo atau alasannya. Maka pembaca yang tertarik, silakan saja hehe…..

 

Dalam tulisan kreatif (baca: sastra), ada yang disebut tokoh dalam cerita. Pelaku atau karakter yang terlibat dalam suatu cerita dan menjalankan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Tokoh dalam cerita itu punya peran dalam alur cerita, punya sifat atau karakter, bahkan berinteraksi dengan tokoh lain. Setiap tokoh dalam cerita pasti punya kebiasaan tokoh. Misalnya tokoh yang selalu membaca buku menunjukkan sifat rajin belajar dan ingin tahu.

 


Begitu pula dengan tokoh “jomblo” seperti 36% dari mahasiswa yang mengikuti kuliah menulis kreatif. Sebagai insan yang tidak memiliki pasangan, biasanya sering melakukan aktivitas secara sendirian. Buka puasa sendiri, datang ke acara sendirian, bahkan nonton atau makan pun sendirian. Para jomblo tidak memiliki rutinitas komunikasi yang romantis. Tidak ada chat atau telepon rutin dari pasangan. Kasihan nggak sih? Makanya, kaum jomblo fokusnya pada diri sendiri. Banyak jomblo memanfaatkan waktunya untuk belajar atau bekerja, hobi dan pengembangan diri, dan berkumpul dengan teman.

 

Tapi yang paling substansi adalah jomblo pastinya “tidak sedang memiliki pasangan”. Dalam konteks tulisan kreatif, status jomblo itu sebagai bagian pengungkapan tokoh atau penokohan dalam cerita. Dan lingkungan tempat tokoh berada juga dapat menggambarkan karakternya. Selamat menulis kreatif!



Ngabubu-Read di TBM: Pilihan Kecil di Ruang Sunyi

Selama bulan puasa, minimal seminggu 3 kali anak-anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka selalu tadarusan dan mengejar khataman Al Quran setiap Sabtu sore, sambil disediakan takjil. Tiap anak memegang Al Quran dan melanjutkan “jatah bacaannya”, ayat demi ayat dan uz demi juz. Hingga secara bersama-sama, pada akhirnya 30 juz dapat dikhatamkan oleh 30 kelompok anak pembaca aktif. Begitulah program “Ngabubu-Read Ramadhan Ceria” yang setiap tahun dijalankan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.

 

Khataman Al Quran di taman bacaan dan ngabubu-read dengan membaca buku di bulan puasa, bolehlah disebut dengan “pilihan kecil di ruang sunyi” yang menentukan kualitas hidup anak-anak di masa depan. Sebagai cerminan, hidup yang tidak lagi ditentukan oleh keputusan besar. Melainkan oleh pilihan kecil seperti membaca di taman bacaan yang diulang setiap hari. Dan sebagian besar pilihan membaca di taman bacaan dibuat tanpa perintah tapi berjalan secara alamiah. Atas kesadaran personal. Sebagai latihan karakter anak-anak untuk berani memilih yang benar ketika salah terasa lebih mudah. Di situlah arah hidup perlahan dibentuk, bukan oleh sorotan publik, tetapi oleh kesetiaan pada nilai di saat sunyi.

 


Terbukti di taman bacaan, konsistensi punya nilai lebih penting daripada citra moral. Banyak orang tampak bermoral di depan umum, tetapi longgar dalam praktik pribadi. Mereka fasih berbicara tentang nilai di ruang diskusi, tetapi lalai menerapkannya di praktik sehari-hari. Hingga lupa, karakter sejati tidak butuh panggung. Ia tidak sibuk terlihat benar, tetapi sibuk bertindak benar. Konsistensi antara apa yang diyakini dan apa yang dilakukan di ruang privat adalah ukuran moral yang sesungguhnya.

 

Karakter bukan topeng sosial, melainkan kebiasaan batin. Ia tidak dibangun dari apa yang kita tunjukkan kepada dunia, tetapi dari apa yang kita lakukan ketika dunia tidak melihat. Maka jika ingin hidup kokoh dan utuh, berhentilah bertanya bagaimana terlihat baik. Dan mulailah bertanya, apakah pilihan kita tetap benar saat tidak ada yang melihat? Di sanalah sejatinya karakter dibentuk, di jalan pengabdian di taman bacaan. Salam literasi!

 



Jumat, 06 Maret 2026

Substansi Kuliah Menulis Kreatif di Unindra, Menuangkan Ide dengan Cara Beda

Apa sih substansi kuliah menulis kreatif? Singkatnya, menulis kreatif adalah menulis untuk sastra dengan cara yang beda. Entah menulis puisi, menulis cerpen, menulis novel atau naskah drama sekalipun. Menulis kreatif bukanlah menulis ilmiah, karenya dibutuhkan imajinasi yang kuat sebagai landasan menulis kreatif.

 

Saat kuliah perdana semester gasal tahun 2026 ini (7/3/2026), sebagai dosen pengampu kuliah menulis kreatif di semester 6 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), saya menekankan substansi kuliah menulis kreatif adalah mempelajari cara menuangkan ide, perasaan, dan pengalaman menjadi tulisan yang menarik, imajinatif, dan bermakna. Mata kuliah ini tidak hanya mengajarkan teori menulis, tetapi juga melatih kreativitas, teknik bercerita, dan kemampuan berekspresi melalui bahasa.

 

Menulis kreatif bukan hanya proses menulis berbasis daya cipta dan imajinasi. Tapi menulis kreatif adalah proses untuk membangun kemauan menulis. Menulis untuk berkarya. Itu berarti, menulis kreatif tidak cukup hanya dipahami. Tapi lebih dari itu, menulis kreatif sangat membutuhkan kompetensi. Seseorang yang kompeten atau mampu menuangkan ide dan gagassan secara tertulis dengan baik dan menarik.

 


Menulis kreatif dapat disebut menulis dengan cara beda. Cara “beda” inilah yang menjadi kekuatan utama menulis kreatif. Setidaknya ada 4 (empat) ciri pembeda karya menulis kreatif, yaitu 1) pikirannya yang beda dalam menghasilkan karya, 2) perilakunya yang beda di saat menulis, 3) batinnya yang beda jadi latar bekakang lahirnya sebuah tulisan, dan 4) karya dari menulis kreatif yang memang beda dari lainnya.

 

Melalui kuliah menulis kreatif, nantinya mahasiswa PBSI Unindra dibimbing untuk menulis secara kreatif, lalu dipublikasikan dalam bentuk buku atau jurnal. Sebagai cerminan menulis adalah yang tersurat, bukan yang tersirat. Menulis kreatif sebagai perbuatan, bukan Pelajaran semata. Selamat menulis kreatif!



Sebagian Besar Masalah di Dunia karena Orang yang ingin Merasa Penting

Masalah memang selalu ada, apalagi di dunia yang fana. Tapi sayangnya, banyak masalah disebabkan karena ego manusia. Ingin dirinya merasa penting. Seperti serangan AS-Israel ke Iran, karena AS dan Israel ingin dianggap penting di dunia. Trump dan Netanyahu ingin eksis di mata dunia. Maka pertikaian, perdebatan, konflik bahkan perang sekalipun sering kali bermula dari hal yang sederhana: saat seseorang ingin berdiri sedikit lebih tinggi daripada yang lain. Ingin merasa penting.

 

Ironisnya, semakin keras manusia berusaha menjadi penting maka semakin jauh dari makna yang sebenarnya. Sikap arogan dan sok penting justru mengabaikan sisi kemanusiaan. Kepentingan diri yang berlebihan membuat dunia menjadi penuh suara, tetapi miskin makna. Banyak orang berbicara, tetapi sedikit yang benar-benar mendengarkan. Bahkan tidak sedikit pemimpin organisasi yang ingin merasa penting, maka semuanya pengen diatur.

 

Sebagian besar masalah di dunia itu disebabkan oleh orang-orang yang ingin merasa penting. Keinginan untuk menjadi penting sering lahir dari ruang yang sunyi di dalam diri manusia. Ruang yang tidak terisi oleh pengertian, melainkan oleh kegelisahan. Dari kegelisahan itu tumbuh kebutuhan untuk diakui, untuk dilihat, untuk didengar lebih keras daripada yang lain. Dan dari kebutuhan itulah jadi “biang” masalah atau keributan terjadi.

 

Entah kenapa ada orang ingin merasa penting. Bahkan ingin terlihat “sok penting”. Bisa jadi, karena orang-orang itu merasa butuh pengakuan. Pengen mendapat validasi. Merasa ingin dihargai atau diakui. Akibat kurang mendapat apresiasi, akhirnya ingin tampil dan menunjukkan diri seolah-olah sangat penting. Sok merasa penting, bisa jadi untuk menutupi rasa tidak percaya dirinya. Orang-orang insecure, ingin terlihat dominan. Dengan terlihat penting, lalu mencoba menutupi rasa kurang percaya diri di dalam dirinya.

 


Lebih dari itu, biasanya sok merasa penting akibat kurangnya empati sosial. Sehingga tidak sadar kalau sikapnya sering merendahkan orang lain atau terlalu menonjolkan diri. Manusia memang tidak selalu mencari kebenaran. Sering kali hanya mencari panggung. Kata-kata diucapkan bukan untuk menjernihkan pikiran, tetapi untuk menegaskan keberadaan diri.

 

Bekerja ingin dipuji. Mengatakan sesuatu untuk terlihat besar. Ingin popular, ingin terkenal bahkan ingin dipandang orang lain. Ingin merasa penting. Hingga lupa, orang yang merasa pentingg justru tidak akan pernah sebesar yang dibayangkan. Maka berhentilah untuk merasa penting di mana pun. Sebab, sebagian besar masalah di dunia itu disebabkan oleh orang-orang yang ingin merasa penting.

 

Ketahuilah, orang yang benar-benar penting biasanya tidak perlu menunjukkan bahwa dia penting. Justru orang lain yang akan melihat nilai atau dampaknya. Tidak usah merasa penting, biasa-biasa saja jauh lebih baik. Salam literasi!



Akibat Pekerja Tidak Punya Dana Pensiun?

Ada yang bertanya, kenapa saya perlu dana pensiun? Jawabnya sederhana, karena tidak ada satu pun orang kerja yang tidak akan penaoun. Cepat atau lambat, pasti akan penaiun. Saat bekerja punya gaji untuk memenuhi kebutuhan dan biaya hidup. Tapi saat penaiun, dari mana uang untuk kebutuhan sehari-gari di saat tidak punya gaji lagi?

 

Dana pensiun memang bukan untuk hari ini. Tapi untuk masa pensiun, saat tidak bekerja lagi. Di hari tua, biaya hidup akan terus ada. Tapi gaji sudah tidak ada lagi. Untuk mempersiapkan masa pensiun itulah dana pensiun jadi diperlukan. Tentu bukan untuk kaya di hari tua. Tapi untuk menjaga standar hidup saat sudah pensiun dan tetap mandiri secara finansial di hari tua. Agar tidak bergantung secara finansial kepada anak-anak di hari tua.

 

Nah, apa dampaknya bila pekerja tidak mau atau tidak punya dana pensiun? Dampaknya tentu baru terasa ketika memasuki usia tua, saat pensiun. Beberapa kondisi yang sering terjadi di kalangan pekerja bila tidak punya dana pensiun adalah:

 

1. Turunnya kualitas hidup. Saat masih bekerja, penghasilan datang setiap bulan. Namun ketika pensiun, sumber penghasilan berhenti. Tanpa tabungan atau dana pensiun, banyak orang harus menurunkan standar hidupnya: mengurangi kebutuhan dasar, kesulitan membayar biaya kesehatan, dan bergantung pada anak atau bantuan orang lain.

 

2. Ketergantungan pada keluarga. Tanpa dana pensiun, banyak pensiunan akhirnya bergantung pada anak atau keluarga untuk biaya hidup. Padahal anak juga memiliki tanggung jawab finansialnya sendiri. Hal ini kadang memunculkan tekanan ekonomi maupun psikologis dalam keluarga. Akhirnya masa pensiun malah merepotkan anak atau keluarga.

 

3. Terpaksa tetap bekerja di usia tua. Sebagian orang akhirnya tetap bekerja di usia lanjut bukan karena ingin tetap produktif, tetapi karena terpaksa untuk bertahan hidup. Padahal kondisi fisik tidak lagi sekuat saat muda. Realitas ini makin banyak terjadi di Indonesia.

 


 

4. Rentan terhadap kemiskinan di hari tua. Tanpa persiapan finansial, risiko kemiskinan pada saat pensiun atau di usia lanjut meningkat. Ini menjadi masalah sosial yang juga menjadi perhatian pemerintah dan lembaga keuangan, termasuk pengembangan program dana pensiun. Hari ini faktanya 7 dari 10 pensiunan mengalami masalah keuangan di hari tuanya.

 

5. Beban psikologis dan rasa tidak aman di usia tua.Ketiadaan tabungan membuat masa tua terasa tidak tenang. Banyak orang mengalami kecemasan tentang biaya hidup, rasa tidak berdaya, kehilangan kemandirian bahkan status sosial akibat susah di hari tua.

 

Jadi, tidak menabung di dana pensiun membuat seseorang tidak memiliki "penghasilan pengganti" ketika berhenti bekerja. Padahal masa pensiun bisa berlangsung 15--25 tahun setelah seseorang berhenti bekerja. Karena itu, dana pensiun seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) bukan sekadar tabungan, tetapi alat menjaga martabat dan kemandirian di hari tua. Salam #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDanaPensiun

Kamis, 05 Maret 2026

Kok Bisa, Berani Baca Sendiri?

Pernah nggak lihat orang yang nyaman banget saat membaca buku sendiri? Di perpustakaan, diangkutan umum, di taman bacaan atau bahkan di suatu tempat. Keren kan, berani baca sendiri sementara orang banyak lebih memilih nongkrong di kafe atau ngerumpi bareng.  Lalu, apa artinya orang yang berani membaca sendiri?

 

Jadi, bila ada di dekat kita, orang yang berani membaca sendiri itu berarti orangnya sudah nyaman dengan kesendirian. Sebagai tanda bahwa ia telah melewati fase pertumbuhan diri (inner growth) yang signifikan. Sebab membaca sendiri menunjukkan kenyamanan dengan diri sendiri. Tidak semua orang nyaman berada dalam kesendirian. Banyak orang merasa perlu ditemani atau distraksi. Maka ketika seseorang membaca sendirian jadi sinyal orang itu mampu menikmati waktu tanpa keramaian, tidak takut dengan kesunyian, dan bisa berdialog dengan pikirannya sendiri. Itulah titik penting yang disebut kedewasaan emosional, karena tidak lagi bergantung pada orang lain untuk merasa nyaman.

 

Membaca adalah proses dialog batin. Ketika membaca, seseorang sebenarnya tidak hanya menerima informasi, tetapi juga merenungkan makna, membandingkan dengan pengalaman hidup, dan mempertanyakan ide yang dibaca. Sebuah proses dialog batinyang alami. Melalui dialog dengan bacaan, seseorang mulai mengenal dirinya sendiri, memahami nilai hidup, dab memperluas cara berpikir. Di situlah terjadi proses pertumbuhan diri (inner growth). Inner growth itu proses penting dalam pengembangan diri, karena melibatkan kesadaran, pemahaman, dan penerimaan diri sendiri yang saat ini tidak dimiliki banyak orang. Membaca sendiri berarti mau introspeksi, refleksi, dan menuju perubahan yang positif.

 


Ciri terpenting dari orang yang punya inner growth bagus diantaranya nyaman dengan kesendirian, bersikap realistis tanpa perlu membandingkan diri dengan orang lain. Bertumpu pada kesadaran yang lebih baik tentang pikiran, emosi, dan kebutuhan dirinya sendiri sehingga mampu mengelola emosi. Ujungnya mampu membuat Keputusan yang lebiih baik tanpa pengaruh dari orang lain. Memang terkesan subjektif, akan tetapi inner growth memang penting di zaman yang penuh hiduk-pikuk seperti sekarang.

 

Berani membaca sendiri menandakan kemandirian intelektual. Orang yang gemar membaca sendiri biasanya memiliki kemandirian belajar. Tidak selalu menunggu diajari orang lain, aktif mencari pengetahuan sendiri, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Hingga terus bertumbuh secara mental dan intelektual.

 

Maka jangan takut dengan membaca buku sendiri. Jangan peduli pula pada prasangka orang lain. Sebab berani membaca sendirian berarti kita nyaman dengan diri sendiri, mau refleksi diri, dan memiliki kemandirian dalam belajar. Sebagai proses menjadi pribadi yang lebih matang secara emosional, intelektual, dan spiritual. Berani membaca sendiri, bukan di tengah keramaian berarti telah menemukan kedamaian dan kepuasan dalam diri sendiri. Tidak lagi perlu validasi dari orang lain untuk apapun. Sebab sudah selesai dengan dirinya sendiri. Salam literasi!

Mulia Itu Bukan Jabatan atau Harta tapi Akal dan Akhlak

Ternyata, ukuran kemuliaan seseorang bukan jabatan atau hartanya. Ini hanya menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari siapa dirinya sebenarnya. Jabatan dan harta hanyalah atribut luar yang bisa berubah, hilang, atau dipinjamkan oleh keadaan. Sedangkan kemuliaan sejati bersumber dari kualitas batin dan perilaku seseorang.

 

Jabatan hanya titipan, bukan ukuran nilai manusia. Seseorang bisa memiliki jabatan tinggi karena kesempatan, kekuasaan, atau sistem. Namun jabatan tidak otomatis membuat seseorang mulia. Banyak orang berjabatan tinggi tetapi tidak dihormati karena perilakunya tidak baik. Sebaliknya, ada orang tanpa jabatan apa pun tetapi dihormati karena kejujuran, kebijaksanaan, dan kebaikan hatinya. Jabatan memang memberi kekuasaan, tetapi tidak selalu memberi kemuliaan.

 

Begitu pula harta, hanya menunjukkan kemampuan memiliki, bukan kualitas diri. Harta sering dianggap simbol keberhasilan. Namun harta hanya menunjukkan bahwa seseorang mampu mengumpulkan kekayaan. Ia tidak selalu mencerminkan kedewasaan, kebijaksanaan, atau kebaikan hati. Orang kaya bisa saja dermawan dan rendah hati, tetapi bisa juga sombong dan merendahkan orang lain. Karena itu harta bukan ukuran kemuliaan, melainkan hanya alat yang bisa digunakan untuk kebaikan atau keburukan.

 


Jadi, kemuliaan sejati terlihat dari akhlak dan cara memperlakukan orang lain. Kemuliaan lebih terlihat dari hal-hal seperti:kejujuran, kerendahan hati, kepedulian pada orang lain, kemampuan menahan diri, dan konsistensi dalam kebaikan. Orang yang mulia biasanya tetap baik ketika tidak diawasi, tetap rendah hati ketika dihormati, dan tetap adil ketika memiliki kekuasaan.

 

Dan pada akhirnya, yang diingat orang bukanlah berapa besar jabatan atau kekayaan seseorang, tetapi bagaimana ia memperlakukan manusia lain. Banyak tokoh besar dikenang bukan karena hartanya, tetapi karena integritas, pemikiran, dan manfaat yang ia tinggalkan.

 

Jelas sudah, kemuliaan tidak melekat pada status, tetapi pada karakter. Bukan pada apa yang dimiliki, tetapi pada bagaimana seseorang hidup dan memperlakukan sesama. Kadang justru terlihat jelas ketika jabatan hilang dan harta berkurang, kemuliaan sejati tetap tinggal pada diri seseorang. Ternyata, ukuran kemuliaan seseorang bukan jabatan atau hartanya. 

 

Kata Umar bin Khattab, kemuliaan sejati ada pada tiga hal: akal, agama, dan akhlak. Selamat berpuasa!



Membaca, Jadikan Kualitas Diri Lebih Mahal

Ini kisah dari taman bacaan, selama “ngabubu-read” di TBM Lentera Pustaka. Mahal karena membaca, bukan berarti seseorang menjadi mahal dalam arti materi. Tapi nilainya sebagai manusia menjadi lebih tinggi karena pengetahuan dan wawasan hingga komitmen untuk meenegakkan literasi dsan tradisi baca.

 

Anak-anak yang membaca di taman bacaan, mungkin tidak tahu. Bahwa membaca dapat menaikkan nilai intelektual seseorang. Orang yang banyak membaca biasanya memiliki pengetahuan yang lebih luas dan cara berpikir yang lebih tajam. Ia mampu melihat masalah dari banyak sudut pandang, tidak mudah terjebak pada opini yang dangkal. Dalam konteks ini, “mahal” berarti nilai pemikirannya berharga. Ketika ia berbicara atau memberi pandangan, orang lain merasa ada bobot yang layak dihargai.

 

Membaca juga membentuk kedalaman karakter. Buku bukan hanya memberi informasi, tetapi juga membentuk cara memahami kehidupan. Melalui membaca, seseorang belajar tentang sejarah, psikologi manusia, nilai-nilai moral, dan pengalaman hidup orang lain. Karena itu, orang yang gemar membaca sering terlihat lebih tenang dalam menilai sesuatu, tidak mudah menghakimi, dan lebih bijak dalam mengambil Keputusan. Kedalaman inilah yang membuat seseorang terlihat “mahal” secara kualitas diri.

 


Membaca membuat seseorang tidak mudah “murahan” dalam berpikir. Tanpa wawasan, seseorang mudah terjebak pada opini yang dangkal, emosi sesaat, dan informasi yang menyesatkan. Membaca membuat seseorang lebih kritis dan selektif. Ia tidak mudah terbawa arus. Dalam arti ini, membaca membuat seseorang tidak murah dalam cara berpikir.

 

Kita sadar, pengetahuan punya nilai yang tidak bisa dibeli. Uang bisa membeli pakaian mahal, tetapi tidak bisa membeli wawasan. Pengetahuan yang diperoleh dari membaca adalah investasi jangka panjang dalam diri. Karena itu sering muncul gagasan sederhana. Orang yang membaca mungkin tidak langsung terlihat kaya, tetapi nilai dirinya menjadi mahal.

 

Mahal karena membaca berarti harga diri seseorang meningkat karena kualitas pikirannya. Bukan karena apa yang ia pakai, tetapi karena apa yang ia ketahui, pahami, dan bagaimana ia memandang dunia. Orang yang membaca tidak selalu terlihat mewah, tetapi sering kali berkelas tanpa perlu pamer. Salam literasi!



Rabu, 04 Maret 2026

Setelah Puluhan Tahun Kerja, Berapa Uang Pensiun Bulanan Ideal di Hari Tua?

Ada yang bertanya, berapa sih tingkat penghasilan pensiun yang ideal seorang pekerja setelah puluhan tahun bekerja di hari tuanya? Nah, sebelum menjawab itu, mari kita sepakati dulu. Bahwa Tingkat Penghasilan Pensiun (TPP) atau replacement rate adalah persentase dari gaji terakhir pekerja yang diterima sebagai pendapatan bulanan setelah pensiun. TPP diperlukan untuk menjaga standar kualitas hidup dan mempertahankan gaya hidup di hari tua setelah tidak bekerja lagi. Jadi, TPP penting untuk mengukur kecukupan “uang pensiun” (seperti JHT BPJS TK atau dana pensiun) dibandingkan biaya hidup yang diperlukan saat nanti kita pensiun.

 

Maka TPP adalah rasio pendapatan pasif saat pensiun dibandingkan pendapatan aktif saat bekerja. Sebagai cerminan kemampuan seorang pekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa punya gaji lagi di hari tuanya. Bila TPP-nya rendah atau kurang dari harapan, maka dapat dipastikan si pensiunan akan sangat bergantung secara finansial dari anak-anaknya atau terpaksa bekerja lagi di masa pensiun. Bila tidak maka akan mengalami masalah keuangan di hari tuanya.

 

Pertanyaannya, berapa tingkat penghasilan pensiun yang ideal bagi pekerja di Indonesia? Tentu, jawabnya relatif. Tergantung pada besaran biaya hidup di hari tua,  gaya hidup di masa pensiun, dan ketersediaan uang pensiunnya. Standar hidup seperti apa yang ingin dipertahankan di hari tua.

 

Ada beberapa acuan untuk menentukan target tngkat penghasilan pensiun atau replacement rate seorang pekerja pada hari tua. Soal persentase dari gaji terakhir saat bekerja yang dibutuhkan setiap bulan setelah pensiun untuk dapat hidup layak di hari tua, diantaranya:

1.    70%–80% dari gaji terakhir, besaran ini dianggap ideal untuk mempertahankan kualitas dan gaya hidup yang hampir sama seperti saat masih bekerja. Bila gaji terakhir Rp, 10 juta, maka setelah pensiun punya penghasilan bulanan sebesar rp. 7-8 juta dianggap ideal.  

2.    40% dari gaji terakhir, besaran ini sesuai rekomendasi ILO sebagai titik minimum layak untuk biaya hidup dasar di hari tua. Bila gaji terakhir Rp, 10 juta, maka setelah pensiun punya penghasilan bulanan sebesar rp. 4 juta dianggap cukup.  

3.     56% dari gaji terakhir, besaran ini sesuai studi Syarifudin Yunus (edukator dana pensiun) terhadap 20 pensiun di Jakarta. Bila gaji terakhir Rp, 10 juta, maka setelah pensiun punya penghasilan bulanan sebesar rp.5,6 juta dianggap layak. (Baca: https://www.indonesiana.id/read/191008/berapa-tingkat-penghasilan-pensiun-yang-ideal-di-jakarta-untuk-hidup-di-hari-tua).

4.    Tapi di Indonesia, saat ini aktual TPP yang diterima berada di kisaran 10%-15% dari gaji terakhir, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa pensiun. Tidak cukup untuk hidup nyaman di hari tua dan terpaksa bergantung pada anak atau keluarga secara finansial.

 


Selain persentase dari gaji terakhir, banyak perencana keuangan menetapkan target jumlah tabungan pensiun agar bisa memiliki TPP yang layak di kisaran Rp3–5 miliar, mungkin lebih tinggi lagi. Semuanya tergantung pada besaran biaya hidup, gaya hidup yang diinginkan, inflasi, kesehatan, dan durasi hidup setelah pensiun. Bila pensiun di usia 55 tahun dan diperkirakan usia panjang hingga 75 tahun, maka dapat dihitung kebutuhan biaya hidup sepanjang durasi waktu tersebut. Intinya, target uang pensiun bisa lebih tinggi bila ingin mempertahankan gaya hidup sama seperti saat masih bekerja.

 

Jadi, menentukan target berapa penghasilan pensiun di hari tua sangat penting. Selain untuk memastikan kemandirian finansial juga untuk kesinambungan penghasilan bulanan setelah pensiun di saat tidak punya gaji lagi. Tapi fakta di Indonesia saat ini, banyak pekerja belum siap secara finansial untuk pensiun atau berhenti bekerja. Sehingga pensiunan tetap harus bekerja di usia lanjut, bergantung pada anak atau keluarga, dan akhirnya kesulitan menutupi biaya hidup sehari-hari.

 

Karenanya, untuk meraih penghasilan pensiun yang ideal di hari tua sangat diperlukan keberanian untuk mulai menabung dan berinvestasi sejak dini, berani memiliki program pensiun sukarela seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), mulai mempertimbangkan investasi lain untuk mendukung pendapatan pasif di hari tua, atau membuat perencanaan pensiun dengan memperhitungkan inflasi dan kebutuhan di masa tua.

 

Kita boleh bekerja puluhan tahun, boleh pula punya gaya hidup saat masih bekerja. Tapi untuk disiapkan, berapa tingkat penghasilan pensiun ideal yang kita inginkan di hari tua nanti? Karena itu, menjadi peserta DPLK bisa jadi salah satu pilihannya,. Agar nantinya, pensiunan tidak lagi bergantung secara finansial kepada anak atau keluarganya. Salam #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDanaPensiun

 

Literasi Ketenangan dari Taman Bacaan

Hari ini, budaya reaksi instan membuat orang terbiasa menilai apapun dari permukaan. Seperti invasi AS-Israel ke Iran yang menewaskan ratusan anak-anak. Aneh, zaman sekarang siapa yang paling cepat merespons dianggap paling kuat. Siapa yang paling keras bersuara dianggap paling berani. Akibatnya, orang tenang sering disalahpahami. Orang tenang dianggap tertinggal. Orang diam malah dikira tidak tahu apa-apa. Begitulah pikiran orang-orang yang tidak tenang.

 

Jadilah tenang. Sebab orang tenang mengendalikan situasi dengan menjaga posisinya. Tidak perlu emosi apalagi amarah. Orang tenang itu tetap stabil. Tidak naik turun mengikuti suasana. Saat situasi berubah, orang tenang justru menyesuaikan diri, bukan bereaksi. Untuk menentukan langkah yang tepat, tanpa perlu kehilangan arah. Hanya orang tenang yang memiliki solusi, bukan reaksi. Tidak perlu menjawab dengan meluapkan perasaan. Tapi bersikap untuk mengarahkan situasi ke arah yang lebih baik. Mungkin agak terlambat tapi lebih efektif. Karena tenang, banyak orang lain kehilangan pegangan. Orang tenang tidak memberi apa yang dicari oleh siapapun yang provokatif.

 

 

Entah kenapa, di dunia yang bising dan serba reaktif, ketenangan sering dianggap sebagai kelemahan. Orang yang tidak banyak bicara dikira tidak paham. Orang yang tidak bereaksi cepat dianggap kalah. Orang diam dianggap pasif. Lupa ya, tenang itu dipilih untuk membaca situasi dan menghindari jebakan oranglain. Tenang itu bukan kehilangan kendali, justru sedang memegang kendali. Sebab tenang, memberi ruang untuk memahami situasi secara utuh. Tidak terburu-buru menyimpulkan, tidak cepat menghakimi. Orang tenang, justru mengamati siapa yang terlibat, apa kepentingannya, dan ke mana arah masalah sebenarnya?

 


Jadi, tenang itu bukan ketidak-tahuan. Diam pun bukan ketidakmampuan. Tapi cara untuk kontrol diri, menghindari emosi, dan sadar bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi. Banyak orang niatnya membantu tapi malah memperburuk keadaan, karena tidak tenang. Bersikap tenang inilah yang sering disalahartikan sebagai kelemahan. Padahal, justru menahan diri untuk tidak bereaksi itu adalah kekuatan yang tidak dimiliki semua orang. Apalagi bulan puasa, momen penting melatih ketenangan. 

 

Ketika tenang, setiap orang tidak akan membiarkan emosi mengambil alih arah. Agar lebih jernih menyikapi keadaan dan keputusan yang diambil lebih objektfif. Dan akhirnya, orang tenang tidak peduli pada urusan orang lain. Sebab orang tenang, hanya diam atau membaca buku. Seperti anak-anak yang tenang saat berada di taman bacaan.

 

Banyak hal makin kacau, makin rusak karena satu hal: tidak tenang. Salam literasi!

 


Selasa, 03 Maret 2026

Kamu Tahu Nggak? Pensiun Bukan Masalah Orang Tua Tapi Orang Muda yang Belum Sadar

Pensiun adalah satu-satunya kepastian dalam karier yang sering kita abaikan. Setiap orang yang bekerja pasti akan berhenti bekerja. Entah karena usia, kesehatan, atau kebijakan perusahaan. Namun anehnya, sebagian besar dari kita baru mulai memikirkan pensiun ketika usia sudah mendekati 50 tahun, bahkan lebih. Padahal, masa pensiun bisa berlangsung 15–25 tahun setelah seseorang berhenti menerima gaji tetap. Persiapan pensiun cenderung ditunda oleh pekerja di Indonesia.

 

Sebuah survei menyebut 24% pekerja (kamu) mengaku tidak memiliki rencana pensiun dan 34% lagi baru menyusun rencana dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja penuh waktu. Dapat dikatakan, 60% tidak punya rencana pensiun atau terlambat mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Padahal idealnya, masa pensiun yang Sejahtera setidaknya harus dipersiapkan lebih dari 20 tahun, dengan cara menabung di dana pensiun untuk hari tua.

 

Pertanyaannya, mengapa pekerja (kamu0 selalu terlambat menyiapkan masa pensiunnya sendiri? Masalah terbesar dalam perencanaan pensiun adalah soal psikologis. Usia 25 atau 30 terasa terlalu muda untuk memikirkan hidup di usia 60. Otak manusia cenderung memprioritaskan kebutuhan yang terasa dekat: cicilan rumah, kendaraan, sekolah anak, liburan, gaya hidup. Pensiun dianggap masih lama, jadi tidak perlu dipersiapkan sedini mungkin. Perspesi yang salah.

 

Pensiun juga dianggap abstrak. Tidak mendesak, tidak terlihat. Padahal dalam skema iuran pasti seperti yang dikelola Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), waktu adalah faktor terpenting. Seseorang yang mulai menabung di usia 25 dengan nominal kecil bisa mengumpulkan dana jauh lebih besar dibanding mereka yang mulai di usia 40 dengan nominal dua kali lipat. Di dana pensiun, justru waktu bekerja untuk pekerja yang memulai lebih awal. Dan waktu pula yang akan menghukumnya bila menunda.

 

Hari ini, banyak pekerja merasa cukup karena sudah terdaftar dalam program JHT BPJS TK. Namun manfaat dari program dasar umumnya dirancang sebagai perlindungan minimum, bukan sebagai pengganti penghasilan penuh saat pensiun. Tanpa tambahan tabungan atau program pensiun sukarela, standar hidup saat pensiun hampir pasti turun. Program wajib seperti JHT hanya bisa meng-cover 10%-15% dari kebutuhan bulanan di hari tua. Masalahnya bukan pada sistemnya, tetapi pada ekspektasi pekerja yang terlalu optimistis, terlalu bergantung pada program wajib.

 


Harus diakui, hari ini kita hidup dalam era di mana keberhasilan diukur dari apa yang terlihat sekarang. Rumah, kendaraan, liburan, dan gaya hidup semuanya memiliki panggung di media sosial. Berlomba untuk budaya konsumtif dan status sosial. Media sosial jadi ajang pamer. Tidak ada yang memamerkan saldo dana pensiun, sudah menabung berapa per bulan dan berapa akumulasi dana untuk hari tuanya? Akibatnya, alokasi dana lebih sering diarahkan untuk kepuasan jangka pendek dibanding keamanan jangka panjang di waktu pensiun. Kita rela mencicil barang selama 5 tahun, tetapi ragu berkomitmen menabung untuk 25 tahun ke depan yang berguna di masa pensiun.

 

Pensiun jarang menjadi topik obrolan di meja makan atau diskusi publik. Pendidikan formal hampir tidak pernah mengajarkan bagaimana menghitung kebutuhan dana hari tua. Pekerja tidak di-edukasi, gimana menjaga standar hidup di hari tua saat tidak punya gaji lagi. Kita hanya diajarkan mencari pekerjaan, tetapi tidak diajarkan bagaimana berhenti bekerja dengan tenang? Sangat jelas, literasi dan obrolan soal dana pensiun sangat minin. Tanpa literasi yang cukup, banyak orang baru sadar pentingnya dana pensiun ketika usia produktif hampir habis. Pada titik itulah, risiko dan pilihan menjadi lebih berat: menaikkan iuran untuk dana pensiun atau menunda usia pensiun.

 

Pekerja selalu terlambat menyiapkan pensiun. Dan “terpaksa” harus membayar harga dari penundaan menjadi lebih mahal. Yang berarti harus menyisihkan lebih besar uang untuk tabungan hari tua, risiko kekurangan dana kian meningkat, dan ketergantungan pada anak atau keluarga saat pensiun menjadi lebih besar. Atau terpaksa terus bekerja ketika fisik tidak lagi sekuat dulu. Kita sering berpikir pensiun adalah akhir karier. Padahal tanpa persiapan, pensiun bisa menjadi awal dari kecemasan baru.

 

Maka saatnya mengubah pola pikir tentang pensiun. Pertanyaannya bukan lagi “berapa besar gaji kita hari ini?” melainkan “berapa lama kita ingin hidup mandiri tanpa gaji nanti?” Memulai lebih awal bukan soal nominal besar tapi soal disiplin dan konsistensi. Bahkan jumlah kecil yang disisihkan sejak usia 20-an di dana pensiun bisa menjadi fondasi kemandirian di usia 60-an.

 

Jangan lupa, pensiun bukan masalah orang tua. Tapi masalah orang muda yang belum sadar. Dan mungkin alasan kita selalu terlambat adalah karena kita terlalu sibuk membangun kehidupan hari ini, tanpa memastikan kehidupan esok tetap berdiri. Salam literasi! #YukSiapkanPensiun



Suara dari TBM: Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

Ada benarnya sih, ungkapan yang menyebut “Jangan pernah menilai seseorang hanya dari bungkusnya saja”. Karena memang, bungkusnya bisa indah tapi belum tentu isinya. Bisa bungkusnya cakep tapi isinya jelek. Atau bungkusnya buruk tapi isinya sangat bagus. Begitulah realitas yang sering terjadi.

 

Jangan pernah menilai seseorang hanya dari bungkusnya saja. Seperti pepatah di taman bacaan, “don’t judge a book by its cover”. Saat kita melihat buku, yang pertama terlihat memang sampulnya: warna, desain, judul. Tapi buku bisa dipahami dari isinya. Tentang pengetahuan, pemikran, cerita, atau makna. Tentu setelah membacanya.

 

Di taman bacaan, ternyata memang sampul tidak selalu mencerminkan kualitas isi buku. Ada buku dengan desain sederhana tapi isinya sangat dalam dan mengubah cara pandang hidup pembacanya. Sebaliknya, ada juga yang tampilannya menarik tapi isinya biasa saja. Begitu pula manusia, ada yang merekayasa diri ada pula yang apa adanya saja. Semuanya demi citra.

 

Terburu-buru menilai dari bungkusnya belum tentu valid. Sebab tidak ada hasil yang baik tanpa proses. Dan setiap proses butuh waktu. Seperti membaca halaman demi halaman, memahami seseorang juga butuh proses. Tidak cukup hanya melihat penampilan, latar belakang, atau kesan pertama. Kita harus menyelami lebih dalam, untuk tahu apa dan bagaimananya? Maka, jangan pernah menilai seseorang hanya dari bungkusnya saja. Karena setiap orang punya “cerita”. Sama seperti buku yang punya alur dan pesan tersembunyi, setiap orang punya pengalaman, perjuangan, dan nilai yang mungkin tidak terlihat dari luar.

 


Begitulah kesan kuat setelah berkiprah 9 tahun lebih di taman bacaan. Ketika anak-anak sedang membaca buku, duduk di lantai dan belajar. Bahwa semuanya sama dan setara. Tidak ada yang Istimewa, kecuali proses yang dijalani dengan penuh komitmen dan konsistensi. Anak-anak yangg tadinya tidak punya akses baca kini jadi rajin membaca. Tadinya hanya berdiam diri, kini berubah penuh energi. Semuanya, bukan dari bungkusnya tapi dari isinya. Memang manusia, bukan dilihat dari status atau pangkatnya. Tapi dari ikhtiarnya dalam berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama.

 

Maka, bila kita berkecukupan biarlah tetap rendah hati. Bila kita dalam kekurangan jangan sampai menjadi rendah diri. Karena manusia dinilai dari harkat dan martabatnya. Bukan dari penampilan dan materi belaka. Sebab bungkusnya bagus, belum tentu isinya bermanfaat. Kadang yang “apa adanya” bisa jauh lebih terhormat dan lebih bisa dipercaya daripada yang “ada apanya” dengan segala trik dan sikap angkuhnya.

 

Memang seperti buku, manusia punya sampul dan isi. Sampul mungkin menarik perhatian, tapi hanya dengan ‘membaca’ lebih dalam kita bisa memahami makna sebenarnya. Maka bacalah. Karena membaca melatih kita untuk tidak cepat menghakimi, tapi belajar memahami, berpikir kritis, dan melihat lebih dalam. Dan yang penting, jangan pernah menilai seseorang hanya dari bungkusnya saja. Salam literasi!




Berkiprah Di Taman Bacaan Itu Nggak Prestius

Saat kita berkiprah di taman bacaan, sudah pasti tidak semua orang melihat apa yang kita lihat. Sebagian besar orang mungkin hanya melihat hasilnya kecil, tidak menghasilkan uang besar, atau dianggap kurang “prestisius”. Padahal, kita sedang membangun sesuatu yang dampaknya jangka panjang: budaya baca, ruang aman untuk anak-anak, dan harapan untuk masa depan.

 

Menang tidak semua orang mengerti jalan kita. Alasannya sederhana, karena nilainya tidak langsung terlihat Dampak taman bacaan itu pelan tapi dalam. Tidak seperti bisnis yang keuntungannya bisa dihitung cepat. Lagi pula, sudut pandang tiap orang berbeda. Ada yang mengukur keberhasilan dari materi, jabatan, atau popularitas. Sementara kita mungkin mengukurnya dari perbuatan dan perubahan hidup seseorang. Apalagi kiprah di taman bacaan yang prosesnya sunyi. Mengelola taman bacaan sering penuh perjuangan: cari buku, urus relawan, dana terbatas. Dari luar terlihat sederhana, padahal penuh dedikasi.

 

Ibaratnya, “Saat berkiprah di taman bacaan, kita mungkin tidak membangun gedung tinggi, tapi kita membantu membangun mimpi anak-anak lewat buku. Hasilnya mungkin tidak terlihat hari ini, tapi akan terasa di masa depan.” Intinya, tidak semua orang harus mengerti jalan kita di taman bacaan. Yang penting, kita paham alasannya untuk melangkah dan tahu nilai-nilai yang kita perjuangkan.


Saat orang tidak mengerti jalan kita, tentu bukan berarti salah. Ada pesimisme, ada pikiran negatif bahkan selalu dipertanyakan. Biarlah, berbeda bukan tanda kesalahan. Sebab, jalan hidup dan persepsi tentang kebaikan setiap orang memang tidak sama. Dan ketikaa kita menyadari bahwa tidak dipahami bukan berarti keliru, beban di dada terasa lebih ringan. Lebih dari itu, setiap orang punya hidupnya sendiri. Semuanya dibentuk oleh pilihan, pendidikan, lingkungan, dan pengalaman emosional. Jadi, sangat wajar saat berkiprah di taman bacaan terlihat asing bagi yang tidak memahaminya. Yang penting, kita tidak perlu mengubah arah hanya demi menyesuaikan diri dengan peta orang lain.

 


Spirit itulah yang melekat pada relawan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Untuk tetap mengabdi dan memilih jalan hidup berkiprah di taman bacaan. Membimbing anak-anak yang membaca, bermain bersama, mengajar kaum buta aksara, hingga menjalankan aktivitas taman bacaan dengan sepenuh hati. Atas komitmen dan konsistensi personal. Sekalipun di bulan puasa, tetap menjalankan “Ngabubu Read di TBM” sebagai bagian mendidik akhlak dan adab anak-anak usia sekolah di taman bacaan. Dan akhirnya, menjadi relawan TBM memang berhadapan dengan realitas. Bahwa tidak semua orang mengerti jalan kita dan yang penting kita mengerti arah Langkah kita sendiri.

 

Sungguh, betapa menenangkannya ketika kita berhenti memaksa dunia untuk selalu setuju dan mulai fokus merawat kompas dalam diri. Untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat di taman bacaan. Jadi, tidak semua orang mengerti jalan kita. Salam literasi!