Ini pelajaran penting untuk pekerja. Kemarin sempat ngobrol sama seorang Bapak yang sudah bekerja lebih dari 25 tahun. Bukan hanya berpengalaman tapi sudah “makan asam garam” dalam pekerjaannya. Awalnya sih basa-basi doang. Tapi ujungnya, si Bapak bercerita dengan penuh semangat lagi berapi-api. Alhamdulillah, saya malah dapat nasihat yang bikin berpikir keras tentang dunia kerja.
Bapak itu bukan
CEO, bukan direktur. Bukan tergolong pimpinan di kantornya. Dia cuma staf biasa
di sebuah perusahaan manufaktur. Tapi pengalamannya, apalagi soal realitas
dunia kerja tergolong luar biasa. Terkadang bikin tercengang.
Dulu kita sering
dengar di dunia kerja. Tentang hebatnya bekerja atas dasar "passion".
Pentingnya kerja keras, bahkan dimotivasi saat training tentang kerennya
pekerja yang punya inovasi dan kreatif. Berhari-hari training tentang gimana
cara berkontribusi lebih hebat kepada perusahaan. Tapi di tahun 2026 ini, semua
sesi motivasi berantakan. AI sudah lebih pintar. Perusahaan lebih bercaya AI
daripada keluarin baudget untuk tingkatkan kualitas SDM-nya. Masalahnya, bukan
di karyawan tapi di sistem-nya. Sistem dunia kerja sudah berubah.
Nah menariknya, Bapak
itu bilang begini: "Kamu tahu nggak, setelah 25 tahun bekerja, gue baru
sadar satu hal: “loyalitas di perusahaan itu bohong". Dia lanjut cerita,
dulu dia pernah menolak tawaran kerja di perusahaan lain karena merasa
"berhutang budi" sama perusahaan yang sudah menerima dia bekerja
untuk pertama kalinya. Tapi faktanya, si Bapak itu setiap tahun dia cuma dapat
kenaikan gaji 3-5%, rata-rata di bawah inflasi. Sementara teman-temannya yang
pindah kerja setiap 3 sampai 5 tahun, bisa dapat kenaikan gaji 20-30% setiap kali
pindah. Angka memang nggak bisa bohong!, katanya.
"Makanya gue
nyesel, Nak," katanya lagi. "Gue buang waktu dan potensi gue demi
sesuatu yang nggak pernah ada: loyalitas perusahaan." Ternyata, perusahaan
itu nggak loyal sama karyawan. Perusahaan hanya loyal sama profit. Kalau karyawan
nggak menguntungkan, maka si karyawan bakal diganti. Sesederhana itulah prinsip
perusahaan.
Si Bapak cerita
lagi. Ada temennya yang sudah kerja 20 tahun di perusahaan yang sama. Pas
perusahaan lagi butuh "efisiensi", temannya itu langsung kena PHK
tanpa pesangon yang layak. Alasannya? "Karena gaji dan biayanya sudah
terlalu mahal." Terlalu lama bekerja, beban perusahaan maikin
besar.
Simpel kata, pesan
dari si Bapak itu jelas. Jangan terlalu percaya sama perusahaan. Anggap saja
tempat kerja itu kayak halte bus. Kita bisa naik, bisa turun kapan pun. Nggak
ada yang abadi. Maka selagi masih pekerja, fokus sama diri sendiri saja. Tetap
upgrade skill, bangun relasi, dan cari peluang yang lebih baik.
Di tahun 2026 begini
ini, skill yang relevan itu kayak aset digital. Semakin kita punya banyak
skill, semakin tinggi nilai pakai kita di pasar kerja. Dan tidak kalah penting,
jangan hanya mengandakan satu skill. Kuasai beberapa skill yang saling
melengkapi. Si Bapak itu mencontohkan, dia sekarang lagi belajar data analysis.
Padahal umurnya sudah 56 tahun lebih. Apa alasannya? "Gue nggak mau jadi
dinosaurus yang punah karena nggak bisa adaptasi." Keren banget nasihat si
Bapak ya.
Gara-gara ngobrol
sama si Bapak. Saya jadi ingat sama cerita teman yang kerja di startup beberapa
tahun lalu. Dia kerja keras banget, lembur tiap hari, sampai akhirnya burnout.
Capek sendiri sama kerjaannya. Pas dia minta naik gaji, bosnya malah bilang:
"Kamu harus lebih loyal sama perusahaan."
Intinya, di dunia
kerja yang serba nggak pasti ini, satu-satunya orang yang bisa kita andalkan adalah
diri kita sendiri. Jangan buang waktu dan energi untuk sesuatu yang semu. Kita
disuruh loyak sama petrusahaan. Tapi sebaliknya, perusahaan nggak loyal sama
karyawannya. Karenanya, lebih baik fokus sama pengembangan diri, bangun
personal branding, dan jangan takut untuk pindah kalau ada kesempatan yang
lebih baik.
Ngobrol bareng si
Bapak itu luar biasa. Dapat nasihat yang kahirnya membuka mata banyak pekerja. Selama
ini kita terlalu fokus sama "apa kata orang", "aturan
perusahaan", atau "budaya kerja". Loyalitas, passion, kerja
keras, hingga inovasi tapi akhirnya saat perusahaan sudah tidak perlu, gampang
banget dibuang. Di situlah, sebagai pekerja yang penting fokus pada “nilai diri
sendiri”.
Dan si Bapak pun
menutup obrolan. “Tahu nggak, biarpun gue sudah bekerja lebih dari 25 tahun ternyata
perusahaan nggak sediakan dana pensiun”. Jadi, gue nggak tahu akan seperti apa saat
pensiun nanti? #YukSiapkanPensiun
.png)

.jpg)

.jpg)



.jpg)

.jpg)
.jpg)
.png)




