Rabu, 15 April 2026

Literasi Kelapa Ijo, Bagus untuk Detoks Alami Tubuh

 

Kelapa ijo (sering disebut juga kelapa hijau) dikenal luas dalam pengobatan tradisional karena kandungan air dan nutrisinya yang cukup lengkap. Berikut beberapa khasiat utamanya:

1. Detoks alami tubuh. Air kelapa ijo mengandung elektrolit alami yang membantu membersihkan racun dalam tubuh. Karena sifatnya ringan dan mudah diserap, sering dipakai untuk membantu pemulihan setelah sakit.

2. Menjaga hidrasi dan stamina. Kaya akan kalium, natrium, dan magnesium, kelapa ijo sangat baik untuk mencegah dehidrasi, apalagi saat cuaca panas atau setelah aktivitas berat.

3. Membantu mengatasi masalah pencernaan. Air kelapa ijo bisa membantu meredakan gangguan seperti sembelit ringan dan perut tidak nyaman karena efeknya yang menenangkan sistem pencernaan.



4. Baik untuk kesehatan kulit. Sering digunakan secara tradisional untuk membantu mengatasi jerawat, iritasi, atau membuat kulit tampak lebih segar karena sifat antioksidannya.

5. Membantu menetralisir racun ringan. Dalam pengobatan tradisional, kelapa ijo sering digunakan sebagai “penawar” setelah konsumsi makanan/minuman yang dianggap kurang baik bagi tubuh.

6. Mendukung kesehatan jantung. Kandungan kalium membantu menjaga tekanan darah tetap stabil jika dikonsumsi secara rutin dalam jumlah wajar.

 

Meskipun banyak manfaat, kelapa ijo bukan obat utama untuk penyakit serius. Konsumsi tetap harus wajar, terutama bagi penderita gangguan ginjal atau yang harus membatasi asupan kalium. Apalagi sambil membaca buku, kelapa ijo makin enak disedot untuk menambah konsentrasi. Begitulah literasi kelapa ijo. Salam sehat ...

 


Selasa, 14 April 2026

Literasi Dana Pensiun untuk Gen Z: Bantu Ekonomi Orang Tua dari Gajinya

Raka, seorang Gen Z berusia 24 tahun, baru saja menerima gaji pertamanya sebagai karyawan tetap. Seharusnya itu menjadi momen membahagiakan dirinya. Gaji yang patit dinikmati, sebagai hasil dari perjuangan kuliah dan kerja kerasnya selama ini. Namun di balik senyumnya, ada kegelisahan yang sulit ia abaikan. Setiap kali melihat orang tuanya yang sudah pensiun mulai menua, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang sama: “Bagaimana kondisi ekonomi orang tuanya di masa pensiun?”

 

Ayahnya bekerja sebagai pegawai swasta dengan penghasilan yang cukup, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga. Selama ini, kebutuhan keluarga memang tercukupi, tetapi tidak pernah ada pembicaraan serius tentang dana pensiun. Raka mulai menyadari bahwa orang tuanya tidak memiliki persiapan keuangan yang memadai untuk hari tua. Tidak ada tabungan khusus, apalagi program pensiun yang jelas.

 

Kekhawatiran itu semakin nyata ketika suatu malam ayahnya mengeluh soal kesehatan yang mulai menurun. Raka melihat sendiri, bagaimana usia mulai mengambil alih hidup ayahnya. Ia terdiam, membayangkan masa depan beberapa tahun ke depan. Ketika ayahnya tidak lagi bekerja, tetapi kebutuhan hidup tetap berjalan. Saat itulah Raka sadar, masa pensiun orang tuanya bukan lagi sesuatu yang jauh.

 

Dengan hati yang berat, Raka mulai menyisihkan sebagian gajinya setiap bulan. Awalnya kecil, hanya sekitar 10%, tetapi bagi Raka itu sudah terasa besar. Ia harus menunda banyak hal: membeli gadget baru, jalan-jalan dengan teman, nongkrong di kafe, bahkan sekadar menikmati hasil kerjanya sendiri. Ada rasa iri ketika melihat teman-temannya bebas menikmati gaji mereka tanpa beban serupa.

 


Namun di sisi lain, Raka juga merasa ini adalah tanggung jawab yang tidak bisa dihindari. Ia tidak tega membayangkan orang tuanya kesulitan di hari tua. Setiap kali ia memberikan uang kepada ibunya, selalu ada senyum haru yang membuatnya bertahan. Tapi di dalam hati, ia tahu, ini bukan solusi jangka panjang. Ini hanya menutup lubang yang seharusnya sudah dipersiapkan sejak dulu.

Di tengah tekanan itu, Raka mulai berpikir lebih jauh. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia mulai belajar tentang pentingnya dana pensiun, investasi, dan perencanaan keuangan. Ia bertekad, suatu hari nanti, anaknya tidak perlu merasakan beban yang sama seperti yang ia rasakan sekarang. Tidak ingin menjadi beban anaknya kelak di usia tua.

 

Kisah Raka adalah gambaran banyak Gen Z hari ini. Terjebak di antara mimpi masa depan dan tanggung jawab masa lalu. Mereka ingin hidup mandiri, tetapi realita memaksa mereka berbagi beban dengan orang tua. Fenomena “generasi sandwich” yang belum terpecahkan. Dan dari situlah lahir kesadaran baru: bahwa menyiapkan dana pensiun bukan hanya soal diri sendiri, tetapi juga tentang memutus rantai kekhawatiran lintas generasi.

 

Raka berpesan, Gen Z harus mulai menabung untuk masa pensiun. Agar tidak merepotkan anak di hari tua, sekaligus tetap mandiri secara finansial sekalipun tidak bekerja lagi. #YukSiapkanPensiun

Penelitian Dana Pensiun Masih Terbatas

Bisa jadi, penelitian tentang dana pensiun di Indonesia masih terbatas. Ada penelitian yang membahas kinerja dana pensiun, struktur program (wajib vs sukarela), tingkat kepesertaan, persepsi pekerja hingga analisis investasi dan portofolio. Namun, jika dibandingkan dengan topik lain seperti perbankan atau fintech, jumlah penelitian dana pensiun relatif lebih sedikit dan belum menjadi arus utama riset di Indonesia.

 

Padahal, penelitian tentang dana pensiun sangat penting karena berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat di masa tua. Seiring meningkatnya usia harapan hidup, seseorang akan menjalani masa pensiun yang lebih panjang dibandingkan generasi sebelumnya. Tanpa perencanaan dan sistem dana pensiun yang baik, risiko penurunan kualitas hidup di hari tua akan semakin besar. Oleh karena itu, penelitian diperlukan untuk memahami bagaimana skema pensiun dapat menjamin keberlanjutan finansial individu setelah tidak lagi bekerja.

 

Di sisi lain, penelitian dana pensiun semsetinya dapat membantu mengidentifikasi perilaku dan tingkat kesadaran finansial masyarakat. Banyak individu, terutama usia produktif, masih menganggap pensiun sebagai sesuatu yang “masih lama” dan tidak mendesak. Melalui penelitian, dapat diketahui faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya partisipasi atau minimnya iuran dalam program pensiun. Temuan ini penting sebagai dasar penyusunan strategi edukasi dan kebijakan agar masyarakat lebih siap menghadapi masa pensiun.

 

Salah satu peneliti dana pensiun yang ada seperti Syarifudin Yunus, seorang edukator dana pensiun dan dosen Universitas Indraprasta PGRI sekaligus Ketua Dewan Pengawas DPLK SAM yang belakangan aktif meneliti dana pensiun dan dipublikasikan di jurnal ilmiah. Beberapa penelitian dana pensiun sebagai “rekam jejak” dokumentatif antara lain:

1.        Faktor Penyebab Pekerja Tidak Paham Dana Pensiun, Pentingnya Edukasi dan Digitalisasi Industri Dana Pensiun di Indonesia. AKSIOMA: Jurnal Sains Ekonomi dan Edukasi. Vol 2 No. 2, Feb 2025. https://manggalajournal.org/index.php/AKSIOMA/article/view/981/1239

2.        ANALISIS POTENSI PEMBAYARAN MANFAAT PENSIUN SECARA BERKALA PADA PESERTA DPLK BERDASARKANMETODE EX POST FACTO. Neraca, jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi. Vol. 3 No. 5, Maret 2025. https://jurnal.researchideas.org/index.php/neraca/article/view/770

3.        Tingkat Kekhawatiran Gen Z atas Keuangan Pensiun Orang Tua dan Strategi Kebebasan Finansial. Menawan: Jurnal Riset dan Publikasi Ilmu Ekonomi. Vol. 3 No. 2, Maret 2025. https://journal.areai.or.id/index.php/MENAWAN/article/view/1276

4.        Persepsi Dan Kepemilikan Generasi Milenial Terhadap Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Untuk Kesejahteraan Hari Tua. Jkpim: Jurnal Kajian dan Penalaran Ilmu Manajemen. Vol 3 No 2, April 2025. https://jurnal.aksaraglobal.co.id/index.php/jkpim/article/view/605

5.        Potret Kinerja Investasi 6 Tahun Terakhir (2019-2024) Pada DPLK dan Tantangannya. Moneter: Jurnal Ekonomi dan Keuangan. Vol 3, No 2, April 2025. https://journal.areai.or.id/index.php/Moneter/article/view/1312

6.        Analisis Tingkat Penghasilan Pensiun (TPP) Pekerja dan Faktor yang Mempengaruhinya Serta Optimalisasi Peran Dana Pensiun Swasta di Indonesia. Lokawati: Jurnal Penelitian Manajemen dan Inovasi Riset. Vol. 3 No. 3, Mei 2025. https://journal.arimbi.or.id/index.php/Lokawati/article/view/1709

7.        Persepsi dan Preferensi Pekerja Biasa Terhadap Dana Pensiun Sebagai Perencanaan Hari Tua. Jupiman: Politeknik Pratama, jurnal publikasi ilmu manajemen. Vol. 4 No. 2, Juni 2025. https://ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/jupiman/article/view/5002,

8.        Tantangan Literasi dan Inklusi Dana Pensiunserta Dampaknya terhadap Ekonomi Nasional dan Generasi Tua di Indonesia. Maeswara: Jurnal Riset Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan. Vol. 3 No. 3, Juni 2025. https://journal.arimbi.or.id/index.php/Maeswara/article/view/1782

9.        Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia. JiMaKeBiDI: Jurnal Inovasi Manajemen, Kewirausahaan, Bisnis dan Digital. Vol 2, No 3, Agustus 2025. https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776,

10.     Analisis Kepesertaan DPLK Secara Individu dan Karakteristiknya untuk Meningkatkan Penetrasi Dana Pensiun Pekerja Sektor Informal di Indonesia. JUPSIM Jurnal Publikasi Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis. Vol. 4, No. 3, Sept 2025. https://journalcenter.org/index.php/jupsim/article/view/5333

11.     Tingkat Gaya Hidup dan Potensi Kepesertaan Dana Pensiun pada Pekerja Muda di Jakarta. Menawan: Jurnal Riset dan Publikasi Ilmu Ekonomi.Vol. 3, No. 5, September 2025. https://journal.areai.or.id/index.php/MENAWAN/article/view/1841

 


Selain itu, Syarifudin Yunus juga masih menggarap topik-topik penelitian dana pensiun lainnya,  yang akan dipublikasikan di tahun 2026 ini seperti: optimalisasi Layanan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) melalui Pengelolaan Manfaat Pensiun Berkala, Manfaat Lain, dan Iuran Sukarela, dan Determinasi Rendahnya Literasi Dana Pensiun pada Pekerja: Peran Edukasi dan Digitalisasi dalam Industri Dana Pensiun di Indonesia.

 

Sejatinya, penelitian dana pensiun berperan dalam meningkatkan kualitas pengelolaan program oleh lembaga penyelenggara, termasuk yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Evaluasi terhadap kinerja investasi, efisiensi biaya, serta tata kelola dapat membantu memastikan bahwa dana yang dikelola aman, berkembang, dan mampu memenuhi kewajiban pembayaran manfaat di masa depan. Tanpa penelitian yang berkelanjutan, potensi risiko seperti ketidakseimbangan dana atau kegagalan pembayaran bisa meningkat. Bahkan lebih dari itu, penelitian dana pensiun juga dapat memacu tingkat partisipasi pekerja dalam program pensiun, khususnya dana pensiun sukarela seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan).

 

Hari ini dari 152 juta pekerja di Indonesia (60% di sektor informal dan 40% di sektor formal), hanya 5 juta pekerja yang memiliki dana pensiun sukarela. Tingkat penetrasi dana pensiun sukarela masih sangat rendah, Maka wajar, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan tranferan dari anaknya setiap bulan untuk memenuhi biaya hidup (ADB, 2024). Bahkan 84% pensiunan sangat bergantung secara finansial dari anggota keluarga yang bekerja (BPS, 2024).

   

Karena itu, penelitian dana pensiun menjadi penting untuk mengembangkan dana pensiun di Indonesia berbasis data dan riset. Selain memiliki nilai strategis, penelitian dana pensiun juga dapat mendukung kebijakan publik terkait perencanaan hari tua. Dana pensiun merupakan salah satu sumber investasi jangka panjang yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan stabilitas ekonomi nasional. Dengan penelitian yang kuat, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat merancang regulasi yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. #YukSiapkanPensiun



Jangan Kebiasaan Ngomong "Nanti Saja"

Pernah bertemu beberapa pekerja yag lebih dari 15 tahun bekerja sebagai profesional. Yang menarik, bukan soal pencapaian yang dibahas tapi hal yang tidak bisa dibeli kembali: waktu. Bukan karena mereka “salah jalan”. Justru karena dulu mereka terlalu terbiasa bilang “nanti saja” Kita sering ketemu orang yang gampang bicara “nanti saja”. Apa-apa bilangnya “nanti saja”. Jangankan urusan hari tua atau masa pensiun, urusan kecil disuruh makan pun bilang “nanti saja”. Cek kesehatan “nanti saja”. Membaca buku “nanti saja”, mengabdi secara sosial pun “nanti saja”. Dikit-dikit “nanti saja”, terus kapan dimulainya?

 

Fenomena “nanti saja” sering kita temui, apalagi di kalangan pekerja atau profesional.  Dalam perjalanan karier yang panjang, fokus mereka sering terserap pada pencapaian, target, dan tanggung jawab. Tanpa disadari, waktu berjalan lebih cepat dari yang dirasakan. Ketika masih berada di fase produktif, banyak hal terasa bisa ditunda, termasuk urusan pribadi, keluarga, dan bahkan perencanaan keuangan jangka panjang.

 

Kebiasaan mengatakan “nanti saja” menjadi pola yang perlahan mengakar. Awalnya terlihat sepele: menunda liburan keluarga, menunda waktu berkualitas dengan anak, atau menunda mulai menabung untuk masa pensiun. Namun, akumulasi dari penundaan kecil ini menciptakan dampak besar. Waktu yang sudah lewat tidak bisa diulang, dan kesempatan yang terlewat tidak selalu datang kembali.

 

Menariknya, kondisi ini bukan disebabkan oleh kesalahan besar dalam hidup. Justru banyak dari mereka adalah individu yang disiplin, pekerja keras, dan sukses secara profesional. Mereka mengambil keputusan yang secara logika benar untuk karier, tetapi lupa menyeimbangkannya dengan kehidupan personal. Fokus yang terlalu berat pada pekerjaan membuat aspek lain menjadi prioritas kedua.

 

Ketika usia bertambah, perspektif mulai berubah. Hal-hal yang dulu dianggap kecil seperti makan malam bersama keluarga, menemani anak tumbuh, atau berbincang santai dengan orang tua menjadi sesuatu yang sangat berharga. Di titik ini, muncul kesadaran bahwa waktu adalah aset yang tidak bisa dibeli kembali, berbeda dengan uang atau pencapaian karier. Di sisi lain, penundaan dalam menyiapkan dana pensiun juga mulai terasa dampaknya. Saat masih muda, pensiun terasa jauh sehingga tidak mendesak untuk dipikirkan. Namun, ketika mendekati usia pensiun, realitas mulai terlihat: kebutuhan hidup tetap berjalan, sementara penghasilan aktif akan berhenti. Tanpa persiapan yang matang, muncul kekhawatiran finansial yang seharusnya bisa dihindari sejak awal.

 


Kondisi ini seringkali menimbulkan perasaan campur aduk: antara bangga atas pencapaian yang diraih dan penyesalan atas hal-hal yang terlewat. Bukan karena mereka gagal, tetapi karena ada bagian kehidupan yang tidak sempat dinikmati sepenuhnya. Ini menjadi refleksi bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari karier, tetapi juga dari kualitas hidup secara keseluruhan.

 

Dari sini, pelajaran penting yang bisa diambil adalah pentingnya keseimbangan. Karier memang penting, tetapi waktu bersama keluarga, kesehatan, dan perencanaan masa depan juga tidak kalah krusial. Menunda boleh, tetapi tidak untuk hal-hal yang esensial. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukan hanya apa yang kita capai, tetapi juga bagaimana kita menjalani waktu yang kita miliki.

 

Sebagai saran, kalau bisa jangan gampang ngomong nanti saja. Mulai apapun yang baik sejak sekarang, mumpung masih ada waktu mumpung masih ada umur. Asal baik dan bermanfaat, kerjakan dari sekarang. Kalau bukan kita, mau siapa lagi? #YukSiapkanPensiun

Senin, 13 April 2026

Nasihat untuk Pekerja Keras di Kantor

Ini terjadi di banyak kantor, apalagi yang tempat kerjanya bayak intrik. Ada politik kantor sebagai hukum yang tidak tertulis tapi berpenngaruh besar. Ternyata, orang yang paling kerja keras belum tentu gajinya paling tinggi. Iya nggak?

 

Ini pengalaman nyata di suatu kantor. Ada satu pekerja, datang pagi buta. Pulang paling malam. Weekend tetep balas email. Kerjaannya, tiap hari numpuk di mejanya. Hampir semua orang bilang, dia itu "pekerja keras." Sebuah stempel karena buat pekerja di kantor, sebab dikenal pekerja keras.

 

Lantas, kita berpikir dong. Bila pekerja keras, "Wah, pasti gajinya gede." Ternyata, nggak tuh! Beberapa tahun kemudian, si pekerja keras tadi resign. Banyak orang pengen tahu sebabnya. Dan jawabnya karena gaji. Gajinya, jauh di bawah ekspektasi orang banyak. Bahkan dibandingkan “anak baru” sekalipun. Kok bisa ya?

 

Jadi, siapapun yang bekerja perlu mikir soal begini. Ternyata, orang yang paling keras kerja di kantor, belum tentu yang paling tinggi gajinya. Dan itu bukan kebetulan. Ada alasan sistematis di baliknya. Ada acuannya di kantor mana pun. Kenapa?

 

Satu, karena "hard worker" seringkali nggak bisa nolak kerjaan. Atasan kasih tugas, bilangnya "Siap!". Temen minta bantuan? Jawabnya "Bisa!". Akhirnya, workload-nya “kepenuhan” alias overload. Tapi kompensasinya, nggak sepadan. Buat apa?

 

Kedua, fokus ke output, bukan impact. Kerja keras itu bagus. Tapi, kalau hasilnya nggak berdampak signifikan ke bisnis, ya percuma. Apalagi ke pribadi pekerja. Untuk apa lembur bikin laporan yang nggak dibaca siapa-siapa. Buang waktu kan ya.

 

Ketiga, nggak berani minta lebih. Sudah kerja keras tapi nggak berani nego gaji. Nggak berani minta naik jabatan. Nggak berani "menjual" diri sendiri. Akhirnya, gaji mentok di angka standar. Hanya cukup buat hidup bulanan tanpa bisa nabung untuk dana pensiun.

 


Dari dulu kita diajarkan, kerja keras sama dengan sukses. Setiap orang sukses katanya pasti pekerja keras. Ternyata bukan, tapi kerja yang cerdas. Lembur tiap hari. Nggak pernah nolak tugas. Tiap disuruh ngerajain sesuatu, bilangnya siap. Akhirnya, burnout alias kelelahan sendiri. Sementara gaji segitu-gitu saja. Sedih nggak sih kerja begitu?

 

Banyak orang kerja, sering lupa satu hal: "kerja itu soal value, bukan soal jam kerja". Siapapun bisa kerja 60 jam seminggu, tapi kalau value-nya kecil, ya gaji juga kecil. Riset Gallup (2024) yang bilang, "karyawan yang merasa "burnout" cenderung punya kinerja lebih rendah dan nggak jarang dibayar lebih rendah pula". Masih mau keras kerja? Mendingan kerja cerdas, waktunya efektif, sikapnya terhadap kerjaan jelas. Bila sudah waktunya "berhenti" ya berhenti atas kemauan sendiri. Apalagi kalau sudah punya dana pensiun yang optimal.

 

Jadi, gimana solusinya buat pekerja keras? Ya harus diubah, jangan lagi kerja keras. Tapi kerja cerdas. Fokus ke skill -- keahlian yang dibutuhkan pasar. Jual skill yang dipunya, jangan cuma jual waktu. Belajar nego gaji, jangan takut minta lebih. Dan jangan takut "pergi" bila nggak sesuai dengan kerjaannya. Cari mentor dan belajar pada orang yang sudah sukses, bukan yang cuma sibuk.

 

Bekerja di mana pun hampir sama. Ada kerjaan, ada atasan, ada gaji. Tapi itu semua tidak menjamin hidup selama bekerja bahkan pensiun bisa tenang dan nyaman. Makanya, urusan kerjaan harus hati-hati. Sebab hidup kita, bukan hanya saat kerja tapi saat berhenti kerja alias pensiun. Siapin masa pensiun sejak lagi bekerja. Jangan sampai masa pensiun jauh lebih susah dari masa bekerja. Untuk apa kerja puluhan tahun, tapi nggak bisa siapin masa pensiun sendiri.

 

Ada wejangan orangtua yang masih relevan hingga sekarang. Dan bisa bikin semangat pekerja di mana pun. Bahwa kita nggak pernah bisa memilih gimana kita lahir dan di mana kita bekerja? Tapi kalau kita mati dalam keadaan miskin dan menyedihkan maka itu salah kita. Kalau kita bekerja puluhan tahun tapi susah di masa pensiun, jelas itu salah kita juga. #YukSiapkanPensiun #DanaPensiun #EdukasiDPLK




Taman Bacaan untuk Melatih Empati

Makin ke sini, banyak orang makin tidka punya empati. Bahkan rasa peduli kian tergerus. Fenomena orang “tidak punya empati” terasa menakutkan, karena empati adalah fondasi utama hubungan manusia. Secara sederhana, empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang orang lain alami. Ketika kemampuan ini rendah atau tidak berkembang dengan baik, seseorang bisa kesulitan membaca emosi, menangkap sinyal sosial, atau menyadari dampak dari tindakannya terhadap orang lain.

 

Dalam banyak kasus, kurangnya empati bukan sekadar “pilihan”, melainkan hasil dari berbagai faktor. Bisa karena pola asuh yang minim kehangatan emosional, pengalaman traumatis, atau lingkungan yang mengajarkan bahwa perasaan orang lain tidak penting. Ada juga kondisi psikologis tertentu yang membuat seseorang memang memiliki keterbatasan dalam merasakan empati, sehingga respons mereka terhadap situasi sosial berbeda dari kebanyakan orang.

 

Hal yang membuatnya terasa “seram” adalah karena mekanisme kontrol internal yang biasanya dimiliki orang lain, seperti rasa bersalah atau penyesalan, tidak bekerja dengan cara yang sama. Rasa bersalah biasanya muncul ketika kita menyadari bahwa kita telah melukai orang lain. Namun, jika seseorang tidak benar-benar memahami atau merasakan penderitaan orang lain, maka sinyal untuk merasa bersalah itu pun tidak pernah aktif. Orang tidak punya empati, cenderung arogan dan subjektif!

 

Dari sudut pandang mereka, dunia bisa terlihat sangat berbeda. Mereka mungkin menilai tindakan berdasarkan logika pribadi, keuntungan, atau pembenaran internal, bukan berdasarkan dampak emosional terhadap orang lain. Karena itu, hal-hal yang bagi kita terasa kejam atau tidak pantas, bagi mereka bisa terasa wajar, netral, atau bahkan benar.

 


Penting untuk diingat, memahami fenomena ini bukan berarti membenarkan perilakunya. Justru ini membantu kita lebih waspada dan menetapkan batasan yang sehat. Berhadapan dengan orang yang minim empati sering kali membutuhkan kehati-hatian, kejelasan dalam komunikasi, dan kemampuan untuk melindungi diri sendiri secara emosional, karena kita tidak bisa mengandalkan mereka untuk secara alami “merasakan” apa yang kita rasakan.

 


Dan ternyata orang yang kurang empati itu serem banget. Jangankan untuk memahami kondisi orang lain, untuk sekadar sadar bahwa tindakannya menyakiti pun mereka tidak mampu. Dan yang lebih seram lagi adalah mereka tidak merasa bersalah. Dalam kepalanya, semua tampak wajar, semua tampak layak bagi orang yang kurang empati. Mengerikan sekali.

 

Maka latihlah empati dan peduli sejak dini. Jadilah relawan dan berkiprah di TBM Lentera Pustaka. Untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat kepada ratussan anak-anak yang gemar membaca di taman bacaan masyarakat. Salam literasi!

Buku-buku Syarifudin Yunus: Mengabadikan Gagasan dan Pengalaman

Menulis buku itu penting karena menjadi cara paling kuat untuk mengabadikan gagasan dan pengalaman. Pikiran manusia bisa berubah dan lupa, tetapi tulisan membuat ide tetap hidup, bahkan bisa dibaca lintas generasi. Sulit dibantah, buku adalah jejak intelektual seseorang, tentang apa yang kita ketahui, alami, dan rasakan lalu dituliskan. Agar apa yang kita pikirkan dan pelajari tidak hilang begitu saja, melainkan tersimpan dan dapat memberi manfaat bagi orang lain. Untuk dibaca, atau minimal dikenang.

 

Selain itu, menulis buku membantu menjernihkan cara berpikir. Saat menulis, seseorang dipaksa untuk menyusun ide dan gagasanya sendiri. Dibalut kreativitas untuk “meramu” ke dalam judul yang menarik wlaau tidak harus mendalam. Proses ini bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga membentuk kualitas berpikir yang lebih kritis dan reflektif. Banyak orang baru benar-benar memahami sesuatu justru ketika mereka mencoba menuliskannya.

 

Begitulah yang dilakukan Syarifudin Yunus, seoarang dosen PBSI FBS universitas Indraprasta PGRI (unindra) dan pegiat literasi TBM Lentera Pustaka. Setiap hari menulis, tentang apa saja asal dapat dibaca orang. Dia menulis buku pertama kali di tahun 2010, buku “Jurnalistik Terapan” terbitan Ghalia Indonesia. Lalu di tahun 2014, dia memberi “hadiah” ulang tahun ke-44 dengan menerbitkan buku kumpulan cerpen pertama kalinya berjudul “Surti Bukan Perempuan Metropolis” dan menulis bersama kedua anaknya dalam buku reflektif “Surti Tak Mau Gelap Mata” (2015) dan buku kuliah “Kompetensi Menulis Kreatif” terbitan Ghalia Indonesia (2015). Dalam periode 2010-2025, Syarifudin Yunus sudah menulis 57 buku (baik karya sendiri maupun kolaborasi). Menariknya, bila dihitung rata-rata, maka dia menulis 3,8 buku per tahun. Sebuah produktivitas menulis yang sulit diabaikan. Selalu menulis, menulis dan terpublikasi sebagai karya.



 

Berikut buku-buku yang ditulis Syarifudin Yunus sebagai dokumentasi sekaligus “rekam jejak” atas gagasan dan pengalaman yang ditorehkannya.   

 

No

Judul Buku

Tahun

Hal.

Penerbit

1

Anatomi Belanja Online; Dari Klik Ke Keranjang (Liputan Jurnalistik)

Jan 2026

230

LovRinz Publishing

2

Uangku Hilang Entah Ke Mana? (Liputan Jurnalistik)

ISBN    978-602-359-007-0

Jan 2026

 

168

LovRinz Publishing

3

Paradoks Aritficial Intelligence (Liputan Jurnalistik)

ISBN 978-623-459-560-4

Jan 2026

 

90

LovRinz Publishing

4

Pilkada Bikin Pusing (Liputan Jurnalistik)

Des 2024

142

LovRinz Publishing

5

31 Relawan TBM Menulis untuk Literasi

Nov 2024

120

LovRinz Publishing

6

Pilkada Makin Dekat Pujaan Hati Makin Jauh (Liputan Jurnalistik)

2024

166

LovRinz Publishing

7

Buku Receh Pemilih Pilkada (Liputan Jurnalistik)

2024

168

LovRinz Publishing

8

Efektivitas Tata Kelola Taman Bacaan: Membangun Ruang Membaca untuk semua

2024

281

LovRinz Publishing

9

Terjebak Cinta (Antologi Cerpen)

2024

220

LovRinz Publishing

10

Gelisah (Antologi Cerpen)

2024

286

LovRinz Publishing

11

Republik Anak Muda (Antologi Cerpen)

Des 2023

184

LovRinz Publishing

12

Mario Si Anak Pejabat (Antologi Cerpen)

2023

320

LovRinz Publishing

13

Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan

ISBN: 978-623-99780-5-1

Nov 2022

 

271

Endnote Press

14

100 Kisah di Langit Taman Bacaan

Nov 2022

278

Endnote Press

15

Literasi Finansial: Biaya Hidup Itu Murah, yang Mahal Itu Biaya Pamer

ISBN : 978-602-56811-3-5

Des 2022

 

168

LovRinz Publishing

16

Literasi Budaya “Mikul Dhuwur Mendhem Jero

Des 2022

 

146

LovRinz Publishing

17

Literasi Digital “Is It Bad or Good Habits?

Des 2022

152

LovRinz Publishing

18

Literasi untuk Semua

Des 2022

98

LovRinz Publishing

19

Jejak Cinta (Antologi Cerpen)

ISBN: 978-623-5897-03-5

Mei 2022

240

El Nisa Media Utama

20

Anak-anak Pinggiran (Antologi Cerpen)

ISBN: 978-623-5897-02-8

Mei 2022

220

El Nisa Media Utama

21

Dipaksa Bertahan

ISBN: 978-623-92147-9-1

Des 2021

230

El Nisa Media Utama

22

Menguak Tabir Pandemi Covid-19

ISBN: 978-623-92147-3-9

Des 2021

220

El Nisa Media Utama

23

Akankah Pandemi Covid-19 Berakhir?

ISBN: 978-623-92147-8-4

Des 2021

180

El Nisa Media Utama

24

Aku Pilih Kamu (2 jilid) (Antologi Cerpen)

ISBN: 978-623-92147-6-0

Jun 2021

300

El Nisa Media Utama

25

Perempuan Terakhir (Antologi Puisi)

ISBN: 978-623-92147-4-6

Mei 2021

186

El Nisa Media Utama

26

Milenial Menguak Tabir Covid-19

ISBN: 978-623-5897-00-

Feb 2021

168

El Nisa Media Utama

27

50% Anak Muda Pilih: Jelek tapi Kaya daripada Cakap tapi Miskin

ISBN: 978-623-92147-2-2

Feb 2020

284

El Nisa Media Utama

28

Negeri hancur akibat korupsi

ISBN: 978-623-90958-7-1

Nov 2019

194

El Nisa Media Utama

29

Apa Enaknya Sih jadi Koruptor?

ISBN: 978-623-90958-8-8

Nov 2019

180

El Nisa Media Utama

30

Politik dalam Persfektif Anak Kampus

ISBN: 978-602-52737-6-6

Jun 2019

120

El Nisa Media Utama

31

Cinta Sang Politikus (Antologi Cerpen)

ISBN: 978-602-53428-6-8

Jun 2019

164

El Nisa Media Utama

32

Aku Salah Mencintaimu (Antologi Cerpen)

ISBN: 978-602-53428-5-1

Mei 2019

176

El Nisa Media Utama

33

Jakarta di Atas Kertas (Antologi Cerpen)

ISBN: 978-602-53428-1-3

Feb 2019

224

El Nisa Media Utama

34

Politik Orang Susah

ISBN: 978-602-52737-6-6

Nov 2018

278

El Nisa Media Utama

35

Sentimen Bahasa Politik

ISBN:978-602-52737-8-0

Nov 2018

166

El Nisa Media Utama

36

Noda di Ruang Kelas (Antologi Cerpen)

 ISBN: 978-602-52737-2-8

Nov 2018

210

El Nisa Media Utama

37

Jangan Mencintai Perempuan Biasa (Antologi Cerpen)

ISBN: 978-602-52737-1-1

Mei 2018

164

El Nisa Media Utama

38

Cerita Bibir di Atas Tangan (Antologi Cerpen)

ISBN: 978-602-52737-0-4

Jan 2018

184

El Nisa Media Utama

39

Oasis dari Kampus

ISBN: 978-602-52737-3-5

Mar 2018

242

El Nisa Media Utama

40

Resonansi Cinta yang Terbelah

ISBN: 978-602-1169-27-8

Jun 2016

194

El Nisa Publisher

41

Bedah Teks Ujaran kebencian

ISBN: 978-602-52737-4-2

Des 2017

195

Nisa Media Utama

42

Kenapa Kau Membenciku (Antologi Cerpen)

ISBN: 978-602-6588-21-0

Jun 2017

184

Rafferty Publishing House

43

Cinta Perempuan Senja (Antologi Cerpen)

ISBN: 978-602-6588-18-0

Jun 2017

243

Rafferty Publishing House

44

Bukan Senyuman Terakhir (Antologi Cerpen)

ISBN: 978-602-1169-24-7

Jun 2016

242

El Nisa Publisher

45

Bahasa di Panggung Politik: Antara Kasta dan Nista

ISBN: 978-602-6777-34-8

2016

198

El-Markazi Sukses Grup

46

Surti Tak Mau Gelap Mata (Antologi Cerpen)

Jul 2015

168

El Nisa Publisher

47

Hati yang Mencari Ibu (Antologi Cerpen)

Mei 2015

282

El Nisa Publisher

48

Komptensi Menulis Kreatif

Apr 2015

120

Ghalia Indonesia

49

Tiada Kata Dusta untuk Presiden

ISBN: 978-602-1169-15-5

Des 2014

120

El Nisa Publisher

50

Di Balik Jendela Kampus (Antologi Cerpen)

Jul 2014

184

El Nisa Publisher

51

Kecupan di Pintu Langit (Antologi Cerpen)

ISBN: 978-602-1169-01-8

Mei 2014

234

El Nisa Publisher

52

Surti Bukan Perempuan Metropolis (Antologi Cerpen)

Mar 2014

148

El Nisa Publisher

53

Bunga Rampai Problematika Bahasa Indonesia

Okt 2013

188

Media Pustaka

54

Potret Orang-orang Metropolitan (Antologi Puisi)

ISBN: 978-602-14142-2-4

2013

142

El Nisa Publisher

55

Perempuan: Dimana Mereka (Antologi Puisi)

ISBN: 978-602-19030-2-5

2012

 

Pena utama

56

Kata Anak Muda (Antologi Puisi)

2011

132

-

57

Jurnalistik terapan

ISBN: 978-979-450-576-2

Feb 2010

140

Ghalia Indonesia

 

Ada banyak hal yang menunggu untuk ditulis, begitulah prinsip Syarifudin Yunus dalam menulis buku. Menurutnya, menulis buku memiliki nilai dalam pengembangan diri dan kredibilita. Bahkan menulis buku juga menjadi alat introspeksi diri sekaligus untuk memperpanjang “usia” dengan berbagi bacaan kepada orang lain.  Dan pada akhirnya, menulis buku adalah bukti bahwa sesorang masih hidup, baik dalam dunia akademik, profesional, maupun sosial. Sebagai bukti kesungguhan untuk menulis.

 

Terakhir, Syarifudin Yunus menulis buku sebagai bentuk kontribusi dan warisan. Tidak semua orang meninggalkan sesuatu yang nyata bagi dunia. Tapi buku bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk memberi dampak dan menebar manfaat. Entah itu berupa ilmu, inspirasi, atau pengalaman hidup, sebab tulisan dapat menyentuh orang lain yang mungkin tidak pernah kita temui, namun merasakan manfaat dari apa yang kita bagikan.

 

Menulis buku adalah wujud “scripta manent verba volant”, apa yang ditulis akan abadi; apa yang diucap akan hilang. Salam literasi #MenulisBuku #Syarifidin Yunus #AyoMenulis