Kamis, 26 Februari 2026

Ngabubu-Read TBM Lentera Pustaka, Kokohkan Akhlak Anak di Bulan Puasa

Selain bulan suci, bulan puasa atau Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim di dunia. Karena di bulan suci ini, semua aktivitas yang dilakukan bernilai ibadah. Puasa untuk menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, termasuk lapar dan haus. Tadarusan, bersedekah, hingga zikir pun dilipatgandakan pahalanya. Maka, optimalkan aktivitas ibadah di bulan suci, bulan Ramadhan.

 

Ada banyak cara untuk optimalkan ibadah di bulan puasa. Salah satu yang khas adalah ngabuburit. Sebuah kegiatan menghabiskan waktu sambil menunggu waktu berbuka puasa tiba. Aktivitas menantikan azan maghrib.Tentu, ngabuburit harus diisi diisi dengan kegiatan yang positif dan baik. Sehingga ngabuburit jadi penyempurna ibadah puasa yang lebih berkualitas, seperti tadarus, pengajian, atau berzikir.

 

Agar bulan puasa lebih berfaedah dan meninggalkan bekas yang baik dalam pikiran dan tindakan sesudahnya, ada baiknya kegiatan ngabuburit dioptimalkan. Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor pun membagikan tips untuk optimalkan waktu ngabuburit saat menunggu waktu berbuka puasa dengan melakukan 4 aktivitas berikut:

1.   Tadarusan atau Khataman Al Quran. Agar bulan puasa bisa jadi momen untuk mendekatkan diri umat muslim kepada kitab sucinya. Selain menambah pahala, membaca Al Quran pun untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amalan baik. Sehingga rahmat Allah SWT selalu terlimpah setelah bulan puasa.

2.   Sedekah. Selain untuk berlimpah pahala, sedekah pun menjadi ajaran yang patut dibiasakan di bulan puasa karena untuk menggembirakan orang-orang lain yang berpuasa dan bisa meringankan beban atau kesedihan orang lain. Karena sedekah dapat meningkatkan hartanya di masa kehidupan, di samping meringankan kepedihan saat mautnya.

3.   Muhasabah diri. Untuk membuka hati dan menyadari segala dosa dan kesalahan yang diperbuat sebelumnya. Momen untuk introspeksi diri, berani mengoreksi segala sikap, perbuatan, kesalahan, dan kelemahan diri selama ini. Menyesal atas dosa untuk tidak mengulanginya. Karena penyesalan adalah taubat.

4.   Menambah Ilmu. Bulan puasa pun sangat baik dijadikan momen untuk menambah ilmu. Membaca buku, mengikuti kajian keagamaan atau tausiyah agama yang berdampak positif bagi pikiran, hati, dan perbuatan.

 


Atas spirit menambah faedah bulan puasa itulah, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menggelar program “Ngabubu-Read Ramadhan Ceria”, dengan melakukan aktivitas 1) tadarusan pada Rabu dan Jumat, 2) Khataman Al Quran setiap Sabtu, dan 3) Tausiyah Literasi dan doa jelang buka puasa setiap Sabtu. Melalui “Ngabubu-Read” di bulan puasa ini, TBM Lentera Pustaka mengajarkan 120-an anak pembaca aktif untuk makin “mengokohkan akhlak dengan iman, menaklukkan dunia dengan Al Quran”.

 

Sejatinya, bulan puasa adalah momen penggemblengan lahir batin untuk menjadi manusia yang lebih baik sesudah sebulan penuh berpuasa. Apakah kita menjadi lebih baik dalam keimanan dan ketakwaan setelah puasa? Itulah faedah yang harus dicapai di bulan puasa.

Maka, jangan meninggalkan apa pun selain jejak. Jangan membunuh apa pun kecuali waktu. Untuk selalu berpikir dan bertindak yang baik, sekalipun di taman bacaan. Salam literasi.





Nggak Usah Sibuk Cari Validasi Orang Lain

 

Sekarang banyak orang berlomba mencari validasi orang lain. Anaknya dapat paspor WNA saja sampai dipamerkan. Sebegitu pentingkah validasi dari orang lain? 

 

Mumpung lagi puasa, ada baiknya muhasabah diri. Introspeksi diri bahwa validasi atau pengakuan orang lain sama sekali tidak ada maknanya. Lagi pula, bila sudah dipuji atau di kasih jempol orang lain, kita mau apa?

 

Ketahuilah, orang berkualitas tidak sibuk mencari validasi karena mereka memiliki kepercayaan diri yang kuat. Berani bersikap dan tidak perlu membuktikan diri kepada orang lain. Orang berkualitas hanya fokus pada tujuan dan nilai-nilai yang dipegang, bukan pada pendapat orang lain. Bahkan tidak mau disibuki oleh urusan orang lain. Lebih fokus ke diri sendiri.

 

Jadi bila ada orang yang masih butuh validasi dari orang lain, bolehlah dikategorikan bukan orang berkualitas.  Sebab orang berkualitas cenderung memiliki kesadaran diri yang tinggi, sehingga tidak perlu mencari pengakuan dari luar untuk merasa baik tentang dirinya sendiri. Orang berkualitas sudah tahu siapa dirinya dan apa yang ingin capai? Tetap fokus pada tujuan dan tidak perlu membuang waktu untuk mencari validasi dari orang lain.

 


Lebih dari itu, orang berkualitas juga cenderung memiliki mental yang kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain. Orang lain boleh mengkritik atau berpendapat negatif tentang dirinya. Tapi dia tidak akan terpengaruh, baik dari cara mengambil keputusan atau tindakannya. 

 

Maka, jika kita ingin menjadi orang berkualitas, fokuslah pada tujuan dan nilai-nilai kita. Dan jangan sibuk mencari validasi dari orang lain karena tidak ada gunanya.

 

Gimana dengan Anda? Tapi lebih baik baca buku di TBM Lentera Pustaka



Rabu, 25 Februari 2026

Lebih Baik THR Disisihkan untuk Top up DPLK, Apa Alasannya?

Ada yang bertanya, gimana cara menggunakan uang THR (Tunjangan Hari Raya) di musim lebaran? Patut dipahami, THR itu sifatnya pendapatan tambahan, bukan gaji rutin. Artinya, uang rutin cenderung sudah punya alokasi tetap, sedangkan pendapatan tambahan seperti THR biasanya lebih mudah dihabiskan, apalagi tanpa perencanaan. Karenanya, perlu keberanian menggunakan uang THR untuk mengubah konsumsi jangka pendek menjadi aset jangka panjang sekaligus untuk menghindari perilaku belanja impulsif.

 

Biasanya, sekitar 50% - 60% dari uang THR memang digunakan untuk kebutuhan langsung lebaran (seperti mudik, belanja baju baru, makanan, dan angpau), maka seharusnya 40%-50% uang THR tersisa sebaiknya disisihkan untuk menambah tabungan atau menambah iuran top up (sukarela) di DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Apalagi survei menyebutkan 90% uang THR cenderung habis untuk belanja atau perilaku konsumtif.

 

Maka lebih baik uang THR disisihkan untuk top up DPLK. secara finansial dan psikologis, menyisihkan sebagian THR untuk top up DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) adalah keputusan yang rasional dan sangat baik. Alasannya, uang THR yang disisihkan menjadi iuran sukarela DPLK bisa “berkembang” lebih optimal dan dapat menambah akumulasi dana untuk masa pensiun. Contoh sederhana: bila mendapat THR Rp. 10 juta, maka digunakan untuk keperluan lebarann Rp. 5-6 juta. Sisanya Rp. 4-5 juta dijadikan iura top up DPLK sehingga bisa bernilai jauh lebih besar dalam 15–20 tahun ke depan.

 

Menyisihkan uang THR sebagai iurann top up DPLK dalah momentum untuk disiplin finansial. Sebab menabung yang baik seharusnya tidak dalam tekanan kebutuhan dan saat memiliki likuiditas dana lebih. Karenanya, THR memberi ruang untuk menambah saldo dana pensiun tanpa mengganggu cashflow bulanan dan mampu meningkatkan rasio kesiapan pensiun secara signifikan. Banyak orang menunda karena merasa “gaji belum cukup”. Padahal justru momen seperti THR yang bisa dimanfaatkan untuk menambah tabungan pensiun.

 


Studi menunjukkan 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Mayoritas pekerja belum siap secara finansial saat pensiun karena tidak tersedianya dana yang cukup untuk hari tua. Tingkat penghasilan pensiun (TPP) atau replacement ratio tergolong rendah, hanya 10%-15% dari gaji terakhir di saat pensiun. Karenanya, top up iuran DPLK seperti dari THR akan dapat meningkatkan akumulasi dana DPLK dan dapat mengurangi ketergantungan pada anak atau keluarga di hari tua.

 

Menggeser mindset bahwa THR bukan hanya untuk konsumsi memang butuh keberanian. Secara budaya, THR sering identik dengan belanja, mudik atau gaya hidup musiman. Tidak salah sih, tapi jika seluruh uang THR habis untuk konsumsi, maka THR hanya memberi bahagia sesaat. Sebaliknya, jika sebagian dialokasikan ke DPLK maka THR menjadi hadiah untuk diri kita di masa depan.

 

Intinya, dibutuhkan strategi bijak dalam mengelola uang THR. Tentu, tidak harus 100% ke DPLK. Bila 50%-60% untuk kebutuhan langsung saat lebaran, maka sisanya lebih baik ditabung. Minimal, 20% bisa dialokasikan untuk top up iuran DPLK. Atau disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

 

Top up DPLK dari THR itu baik karena tidak mengganggu cashflow rutin, dapat meningkatkan kesiapan pensiun, dan mengubah bonus jangka pendek menjadi keamanan jangka panjang. Jadi kenapa tidak, uang THR dialokasikan untuk top up iuran DPLK? Selamat menikmati uang THR …

Ngabubu Read, Puasa Makin Semangat karena Membaca Buku yang Sehat

Memang benar, puasa makin semangat karena membaca buku yang sehat. Karena membaca buku yang sehart berarti membaca bacaan yang positif, menenangkan, dan memberi nilai kebaikan. Seperti membaca buku-buku tentang pengembangan diri, spiritualitas, atau kehidupan.

 

Isi bacaan buku yang sehat biasanya membantu kita untuk menjaga pikiran tetap jernih saat tubuh lemah karena puasa. Mampu mengalihkan fokus dari lapar dan haus ke hal-hal yang lebih bermakna dan menambah motivasi untuk menjalani puasa dengan niat yang lebih kuat. Jadi, buku menjadi asupan mental, sebagaimana makanan adalah asupan fisik.

 

Secara simbolik, membaca buku yang sehat ibarat saat tubuh sedang menahan, jiwa justru diberi makan. Puasa bukan cuma soal menahan lapar, tapi juga membersihkan batin. Membaca “buku yang sehat” melambangkan usaha merawat pikiran dan hati sehingga puasa terasa lebih ringan, lebih sadar, dan lebih bermakna. Puasa jadi makin semangat karena pikiran diisi hal-hal baik. Hati jadi lebih tenang sehingga tujuan puasa terasa lebih dalam dan waktu luang diisi dengan pertumbuhan, bukan keluhan.

 

Realitas itulah yang dijalani anak-anak TBM Lentera Pustaka selama bulan puasa. Bertajuk “Ngabubu Read Ramadhan Ceria di TBM”, anak-anak mengisi waktu puasa dengan membaca buku, sambil khataman Al Quran seminggu sekali. Program ini bertujuan meningkatkan literasi, memperkuat akhlak, dan mendekatkan anak-anak pada buku yang  dikombinasikan dengan berbagi takjil atau mengaji bersama setiap hari Sabtu jelang waktu berbuka puasa.



Aktivitas utama Ngabubu-Read di TBM Lentera Pustaka diisi dengan membaca buku dari berbagai jenis buku cerita atau pengetahuan di taman bacaan. Khataman Al-Quran setiap hari Sabtu, di mana anak-anak dibagi kelompok untuk menyelesaikan 2-3 juz per Minggu per kelompok. Di samping ada aktivitas sosial dan donasi yang digelar oleh berbagai lembaga atau komunitas. Tujuannya adalah untuk membentuk perilaku baik dan kebiasaan akhlak yang positif selama bulan puasa. 

 

Setiap tahun di bulan puasa, Ngabubu Read selalu digelar di TBM Lentera Pustaka. Sebagai kegiatan yang edukatif dan menyenangkan di bulan puasa, di samping mengubah taman bacaan menjadi pusat aktivitas Ramadan yang produktif. Salam literasi! 

 



Selasa, 24 Februari 2026

LSP Dana Pensiun Komit Perkuat SDM Melalui Uji Sertifikasi KKNI untuk Praktisi Dapen

Sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi, pengetahuan, dan keterampilan praktisi dana pensiun sesuai standar nasional, LSP Dana Pensiun menggelar Uji Sertifikasi KKNI Dana Pensiun yang diikuti 37 peserta dari jenjang 7, 6C, 6A, dan 4 di Jakarta (24/2/2026).  Dengan melibatkan 13 asesor kompetensi berlisensi BNSP seperti: Arif Hartanto, Zain Zainuddin, Edi Pujiyanto, Budi Ruseno, Asiwardi Gandhi, Syarifudin Yunus, Bambang Sri Mulyadi, Sri Murtiningsih, Purwaningsih, A. Indrahadi K, Satino, Ganis Widio Ananto, dan Yuni Pratikno,  asesmen sertifikasi KKNI Dana Pensiun dijalankan sesuai dengan SEOJK 12/2025 tentang sertifikasi kompetensi kerja bagi dana pensiun dan POJK 34 Tahun 2024 tentang Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada Dana Pensiun.

 

Selain untuk meningkatkan profesionalisme, uji sertifikasi KKNI dana pensiun juga menjadi bagian dalam meningkatkan kepercayaan public atas pengelolaan dana pensiun di Indonesia. Peserta uji sertifikasi KKNI berasal dari 24 DPPK/DPLK seperti Dana Pensiun Askrida, Dana Pensiun Bank Mandiri Satu, DPLK Manulife Indonesia, Dana Pensiun Kimia Farma, Dana Pensiun Bank Mandiri Tiga, Dana Pensiun PPIP-PUSRI, Dana Pensiun PT. BPD Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Dana Pensiun Bank Nagari, Dana Pensiun PT. BPD Jawa Tengah, Dana Pensiun PT. BPD Jambi, Dana Pensiun Bank Mandiri, Dana Pensiun Bank Indonesia Iuran Pasti, Dana Pensiun Pusri, Dana Pensiun LIA, DPLK Capital Life Indonesia, Dana Pensiun PT. Asuransi Jasa Indonesia, Dana Pensiun Pegawai Perum Peruri, Dana Pensiun Hutama Karya, Dana Pensiun Karyawan Taspen, Sucor Asset Manajemen, Dana Pensiun Bank Central Asia, Dana Pensiun BTN, Dana Pensiun Pegawai Pembangunan Jaya Group, dan Dana Pensiun Smart. Melalui uji sertifikasi KKNI dana pensiun, LSP Dana Pensiun menjalankan perannya untuk memastikan standar kompetensi, di samping kredibilitas mutu pelaku dana pensiun di Indonesia. Sebab KKNI dana pensiun menjadi cerminan standar pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang dipersyaratkan regulasi.

 

“Uji sertifikasi KKNI dana pensiun menjadi fondasi profesionalisme SDM sekaligus tata kelola industri dana pensiun, di samping menjawab kebutuhan terkait kompetensi, kepercayaan, dan keberlanjutan. Karena itu, LSP Dana Pensiun hari ini melakukan asesmen uji kompetensi dan sertifikasi KKNI Dana Pensiun yang diikuti … peserta dari jenjang 7, 6C, 6A, dan 4” ujar Edi Pujiyanto, Direktur LSP Dana Pensiun di sela asesmen uji sertifikasi KKNI Dana Pensiun hari ini.

 

Melalui uji sertifikasi KKNI, LSP Dana Pensiun berkomitmen untuk mengoptimalkan kompetensi SDM dana pensiun. Sertifikasi berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) memastikan bahwa pengurus, pengelola, dan pelaksana dana pensiun memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang terstandar, baik dari regulasi dana pensiun, investasi - manajemen risiko, dan tata kelolanya. Tidak hanya berpengalaman, tapi teruji secara objektif dengan kualifikasi yang ditetapkan OJK dan BNSP. Melalui asesmen sertifikasi KKNI, setiap SDM dana pensiun divalidasi dan diwawancara atas makalah atau kinerja yang dijalankan sesuai standar kompetensi nasional. Proses asesmen dilakukan secara objektif, adil, dan valid sesuai sistem dan prosedur pengembangan kualitas SDM yang berkelanjutan untuk melindungi peserta dana pensun yang ada.

 




Untuk diketahui, saat ini LSP Dana Pensiun memiliki 29 asesor kompetensi berlisensi BNSP untuk melaksanakan dan memantau realisasi pengembangan kualitas SDM dana pensiun. LSP Dana Pensiun merupakan satu-satunya LSP di bidang dana pensiun yang terdaftar di OJK sesuai dengan Surat Tanda Terdaftar Lembaga Sertifikasi Profesi Sektor Jasa Keuangan No: STTD.LSP-03/MS.1/2025 tertanggal 23 Juli 2025 dan Keputusan Ketua BNSP No: KEP.0015/BNSP/I/2023. Untuk informasi dan program LSP Dana Pensiun dapat disimak melalui: https://lspdapen.com/.

 

Kompetensi sesuai KKNI bidang Dana Pensiun diterapkan semata-mata untuk a) pelaksanaan pendidikan atau pelatihan, b) pelaksanaan sertifikasi kompetensi, c) pengembangan sumber daya manusia, dan d) pengakuan kesetaraan kualifikasi. Melalui KKNI bidang Dana Pensiun diharapkan SDM dana pensiun mampu meningkatkan kompetensinya, sehingga 1) mengetahui ukuran kemampuan yang dimiliki, 2) dapat meningkatkan akses untuk mengembangkan diri, dan 3) menambah produktivitas kerja. Selain berkomitmen dalam mengoptimalkan KKNI dana pensiun, LSP Dana Pensiun terus melakukan koordinasi untuk memastikan kompetensi SDM di sektor dana pensiun sesuai standar nasional dan standar profesionalisme dalam pengelolaan dana pensiun. Salam Kompeten!

 



Literasi Puasa: Hidup Ini Terlalu Singkat bila Dijalani dengan Standar Orang Lain

Kita sering lupa, bahwa hidup punya batas waktu. Usia manusia di mana pun terbatas. Kalau waktu yang terbatas itu dihabiskan untuk memenuhi standar orang lain pasti semakin berat. Hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial: status, jabatan, gaya hidup, validasi tanpa benar-benar memahami apa yang kita inginkan, maka hidup terasa “dipinjamkan”, bukan dijalani. Kita bisa sukses menurut ukuran orang lain tapi kosong secara batin.

 

Hidup ini terlalu singkat bila dijalani dengan standar orang lain. Sebab standar orang lain tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai personal kita. Setiap orang tumbuh dengan latar belakang berbeda, kondisi ekonomi berbeda. Bahkan minat dan bakat berbeda dan definisi tentang bahagia pun berbeda. Karenanya, memaksakan diri untuk mengikuti standar orang lain justru membuat kehilangan arah. Misalnya: “umur 30 harus punya rumah” atau “karier harus begini begitu” bisa membuat kita kehilangan fokus diri sendiri.

 

Apapun alasannya, standar orang lain pasti jadi tekanan. Membuat hidup jadi reaktif, bukan otentik. Saat hidup dikendalikan oleh standar orang lain, aakhirnya keputusan diambil karena takut dinilai. Bekerja karena gengsi, bukan panggilan. Menabung atau berinvestasi karena ikut tren, bukan rencana pribadi. Akhirnya hidup jadi responsif terhadap tekanan, bukan ekspresi nilai diri.

 

Banyak riset psikologi positif menunjukkan bahwa orang yang hidup sesuai nilai pribadinya lebih stabil secara emosional. Lebih tahan terhadap stres sosial dan kepuasan hidupnya jadi lebih tinggi. Artinya, kualitas hidup tidak ditentukan oleh standar umum, tetapi oleh keselarasan antara tindakan dan nilai diri. Karenanya, autentisitas “sama dengan” kesejahteraan.

 


Hidup ini terlalu singkat bila dijalani dengan standar orang lain. Bukan berarti anti nasihat atau anti sosial. Tapi pesan bahwa menggunakan standar orang lain sebagai referensi adalah penjara. Lebih baik mengikuti kata hati dan jalan hidup sendiri. Dalam konteks finansial dan karier misalnya, banyak orang mengejar karier, jabatan, atau gaya hidup karena perbandingan sosial. Padahal ada yang bahagia dengan stabilitas. Ada yang memilih sederhana tapi bebas waktu. Dan ada yang mengejar makna, bukan sekadar angka. Jadi, standar hidup ideal seharusnya selaras dengan tujuan jangka panjang pribad, bukan sekadar kompetisi sosial.

 

Hidup terlalu singkat untuk membuktikan diri pada orang yang tidak membayar tagihan hidup kita. Mengejar validasi yang tidak pernah selesai dan mngorbankan nilai diri demi penerimaan sosial. Karena pada akhirnya, yang menjalani konsekuensi hidup kita bukan “orang lain”, tetapi diri kita sendiri. Maka hidup ini terlalu singkat bila dijalani dengan standar orang lain. Lebih baik membaca buku atau mengabdi di taman bacaan. Salam literasi!

 


Senin, 23 Februari 2026

Lebih Baik Baca daripada Berkata-kata

 

Ini tentang daya rusak kata-kata, sebagai renungan di bulan puasa. Bahwa “satu kata yang tak lolos sensor hati adalah racun yang mampu menghanguskan hutan persaudaraan”. Maka, lebih baik kunci rapat lisan kita jika ia tak mampu membawa madu kebenaran ke telinga sesama.

 

Hari ini, banyak orang terlalu gampang bicara. Bahkan membahas apapun yang tidak perlu dan sia-sia. Bukan memberi solusi malah menambah masalah. Soal pamer paspor WNA alumni LPDP hingga kasus ijazah yang tak kelar-kelar. Kata-kata yang keluar dari mulut kita lebih merusak daripada memperbaiki. Kata-kata yang keluar tanpa disaring oleh nurani, tanpa empati, tanpa pertimbangan benar-salah, bisa menghancurkan suasana harmoni puasa, merusak keheningan ibadah, bahkan merusak hubungan yang sudah lama dibangun.

 

Persaudaraan itu seperti hutan: tumbuhnya lama, perlu waktu, kesabaran, dan sangat butuh perawatan. Tapi membakarnya? Cukup satu percikan api. Dan sering kali, percikan itu adalah satu kalimat yang tajam, kata-kata yang menyinggung banyak orang. Maka hati-hatilah dalam berkata-kata. Jaga lisan kita, jaga kata-kata kita.

 


Karenanya di bulan puasa, lebih baik kunci rapat lisan kita jika ia tak mampu membawa madu kebenaran ke telinga sesama. Jangan berkata-kata bila hanya menyinggung orang lain. Karena tidak semua hal harus diucapkan. Jika ucapan kita: tidak benar, tidak baik, atau tidak perlu maka diam lebih mulia.

 

Ketahuilah, kebenaran tanpa kelembutan bisa berubah menjadi kekerasan. Dan kejujuran tanpa kebijaksanaan bisa melukai. Bulan puasa bukan hanya menahan diri dari lapar dan haus. Tapi juga melatih kita untuk menyaring kata-kata dengan hati, menimbang dampaknya sebelum diucapkan, dan menjadikan lisan sebagai pembawa kebaikan bukan peluka.

 

Sebab luka oleh tangan mungkin bisa sembuh. Tapi luka oleh kata-kata kadang menetap di dalam dada. Pilihannya adalah lebih baik diam atau membaca buku. Bila perlu berkiprah di taman bacaan sebagai ladang amal kebaikan dan menebar manfaat kepada sesama. Salam literasi!



Sabtu, 21 Februari 2026

Jangan Sampai Waktu Baca Diganggu Pekerjaan, Uang Bukan Segalanya

Mungkin banyak yang lupa. Bahwa pekerjaan atau karier yang sehat tidak dibangun atas kelelahan, kecemasan, atau ekspektasi yang merusak. Sungguh, jika pekerjaan kita  mengorbankan ketenangan itu terlalu mahal. Sebuah harga yang sering tidak kita sadari dalam bekerja atau membangun karier.


Sangat benar, pekerjaan dan karier apapun yang sehat tidak dibangun atas kelelahan, kecemasan, atau ekspektasi yang merusak. Pekerjaan yang baik seharusnya memberi ruang untuk bertumbuh dann membuat kita berkembang secara profesional. Karier yang tetap menjaga kesehatan mental dan fisik. Bila bekerja justru menimbulkan kelelahan kronis (burnout), kecemasan terus-menerus, dan tekanan ekspektasi yang tidak realistis, maka itu bukan “pekerjaan yang sehat”, tapi pola bertahan dalam bekerja yang dipaksakan. Bagaimana mungkin, kesuksesan harus dibayar dengan rusaknya diri sendiri?


Jika pekerjaan mengorbankan ketenangan, itu terlalu mahal. Ini soal biaya tersembunyi. Sering kali orang bekerja hanya menghitung gaji, jabatan, dan status. Padahal ada biaya lain seperti tidur yang terganggu, hubungan yang renggang, kesehatan yang menurun, atau pikiran yang selalu tegang. Jadi, ketenangan batin dalam bekerja adalah aset berharga. Jika pekerjaan menggerus mental dan pikiran, maka harga yang dibayar terlalu tinggi meski secara finansial terlihat menguntungkan.



Siapapun pantas mendapatkan pekerjaan yang membuatnya bisa tidur nyenyak di malam hari. Bukan malah membuat kita meragukan nilai diri, masa depan, atau kewarasan. Pekerjaan yang sehat tidak dibangun atas kelelahan, kecemasan, atau ekspektasi yang merusak. Karier justru dibangun atas batas-batas, rasa hormat, lingkungan kerja yang baik, kepemimpinan yang mendukung, dan pekerjaan yang bermakna. Pekerjaan seharusnya menantang kita, bukan menguras energi. Karier harusnya membuat kita tumbuh, bukan menghancurkan pikiran. Pekerjaan yang sesuai dengan passion dan hati kita, bukan yang menguasai hidup kita.


Pekerjaan yang ideal bukan hanya tentang naik pangkat atau jabatan. Tapi tentang keberlanjutan, keseimbangan, dan kualitas hidup. Karier yang sehat adalah yang membuat kita berkembang, tetap waras, dan masih punya energi untuk hidup di luar pekerjaan. Maka, jangan sampai kita membangun masa depan dengan cara menghancurkan diri sendiri hari ini.


Jika pekerjaan mencuri ketenangan kita, pasti biayanya lebih besar daripada manfaatnya. Dan ingat, siapkan dana pensiun. Karena cepat atau lambat, siapapun yang bekerja akan tiba masanya untuk pensiun. 


Jumat, 20 Februari 2026

Alumni LPDP yang Pamer Paspor WNA Anak Lupa Adab Di Atas Ilmu

Ada yang lagi viral dan kontroversi di media sosial. Soal alumni LPDP yang namanya DS yang menyebut, "cukup saya WNI, anak jangan". Gara-gara pamer paspor Inggris anaknya, alumni LPDP yang memvideokan sendiri ulahnya akhirnya “dirujak” netizen. Dianggap tidak punya nasionalisme dan tidak punya etika sebagai alumni penerima beasiswa LPDP. Walau kahirnya udah minta maaf.

 

Itu alumni lupa, LPDP itu uang rakyat. Uang yang dikumpul dari keringat rakyat untuk biayain dia kuliah. Ehh, ujung-ujungnya malah melecehkan bangsaknya sendiri. Bua tapa pintar kalau “merendahkan” bangsanya sendiri. Jadi, orang kayak gitu ebih baik “pergi” saja dari Indonesia.  Sekeluarga juga boleh pindah, bila perlu ke planet mana kek. Silakan saja, Indonesia nggak butuh orang pintar yang katanya penerima LPDP model kayak gitu. Itu justru orang pintar keblinger, nggak paham “adab itu di atas ilmu”.

 

LPDP itu beasiswa yang dibiayai oleh negara, uangnya pun dari rakyat. Selain untuk meningkatkan kualitas SDM di Indonesia, tujuan LPDP itu untuk mendorong kontribusi bagi bangsa dan memperkuat pembangunan nasional. Tapi kalua punya lulusan model DS begitu ya lebih baik “uang beasiswa” kembalikan saja ke negara dan pihak LPDP bisa pilih calon penerima beasiswa LPDP yang bermoral, yang punya akhlak. Nggak perlu pamer-pamer anaknya jadi WNA.

 


LPDP jangan ragu lagi, coba di cek penerima LPDP semuanya. Bila para penerima melanggar kontrak LPDP seperti 2N + 1 nggak dilakukan, maka berikan sanksi sekaligus minta kembali “uang beasiswa” semuanya.  LPDP harus tegakkan prinsip “kepatuhan terhadap perjanjian”. LPDP itu bukan sekadar bantuan biaya kuliah. Tapi juga amanah moral untuk patuh dan berkontribusi kepada bangsa. Alumni LPDP yang baik itu bila memberi dampak nyata bagi bangsa. Bukan malah pamer paspor anak yang WNA.

 

Aneh sih kalua alumni LPDP nggak punya akhlak. Tidak tahu etika sosial dan sensitivitas publik.  Kuliah pakai uang rakyat tapi begitu kelar malah merendahkan bangsanya sendiri, sok pamer pula. Malah jadi ganggu publik yang tadinya tenang-tenang saja lagi puasa.

 

Semoga ke depan, nggak ada lagi alumni LPDP yang sok dan merendahkan bangsanya sendiri, sementara kuliahnya dibiayai rakyat? Helloww literasi …

 

Kamis, 19 Februari 2026

Dana Pensiun Bukan Soal Angka tapi Martabat di Hari Tua

Bagi sebagian besar pekerja, memang pensiun itu masih jauh dan belum mendesak. Karena masih produktif bekerja. Karenanya, mempersiapkan pensiun bukan hanya soal angka. Tapi tentang ikhtiar untuk tidak merepotkan anak di hari tua. Agar tetap mandiri secara finansial di masa pensiun. Karenanya, dana pensiun sejatinya soal martabat dan kemandirian finansial. Agar hari tua tidak merepotkan anak.

 

Bekerja apapun dan gai berapapun, usia tua itu pasti tiba dan penghasilan pasti berakhir. Tidak punya gaji lagi di masa pensiun. saat masih produktif: ada gaji, ada pekerjaan, dan ada tenaga. Tapi saat pensiun: penghasilan berhenti, kesehatan mulai menurun, dan kebutuhan hidup meningkat. Tanpa dana pensiun, seseorang berisiko: bergantung penuh secara finansial pada anak dan menjual aset darurat. Sehingga kualitas hidup turun dan standar hidup tidak terjaga. Akhirnya mengalami stres finansial di hari tua. Begitulah realitasnya.

 

Bersiap untuk pensiun, bukan soal tidak mau dibantu anak. Sekalipun tidak sedikit yang menganggap anak sebagai “jaminan hari tua”. Namun faktanya: anak punya keluarga sendiri, kondisi ekonomi anak pun bisa berbeda. Masa depan pun semakin tidak pasti. Maka menyiapkan dana pensiun bukan berarti tidak percaya pada anak. tapi justru bentuk tanggung jawab agar “cinta” kepada anak tidak berubah menjadi “beban” di hari tua.

 

Dana Pensiun memang bukan soal angka melainkan ikhtair untuk menjaga martabat.  Kemandirian finansial di hari tua berarti tetap bisa mengambil keputusan sendiri secara finansial, punya kesinambungan penghasilan. Dan tidak meminta-minta karena tidak punya gaji lagi. Dana pensiun soal menjaga standar hidup di hari tua seperti saat masih bekerja. Agar jelas di hari tua, “dibantu karena dihormati” atau “dibantu karena terpaksa”. Itulah esensi dana pensiun untuk menjaga “harga diri”.

 


Dana pensiun bukan soal jumlah manfaat yang besar. Tapi soal keberanian menabung di saat bekerja, konsistensi menyetot iuran, lebih lama jadi peserta, dan akhirnya menimati efek compounding dari uang. Semakin dini memulai, semakin ringan bebannya di hari tua.

 

Dan pada akhirnya, dana pensiun berujung pada ketenangan psikologis di masa pensiun. Orang yang memiliki persiapan hari tua cenderung lebih tenang, lebih rasional dalam Kkeputusan, tidak mudah panik, dan tidak terlalu khawatir soal masa depan. Sebab  ketidakpastian finansial seringkali lebih menakutkan daripada usia tua itu sendiri.

 

Jadi, menyiapkan dana pensiun berarti menghargai diri sendiri di masa depan, bertanggung jawab pada keluarga, dan merencanakan hidup dengan sadar. Sebab hari tua bukan untuk bertahan hidup tapi untuk menikmati hasil “perjalanan” panjang semasa bekerja. Dan agar tidak merepotkan anak di hari tua.

 

Selain menjaga martabat di hari tua, dana pensiun penting sebagai kesinambungan penghasilan di masa pensiun saat tidak bekerja lagi. Salam #YukSiapkanPensiun

 

Bagi sebagian besar pekerja, memang pensiun itu masih jauh dan belum mendesak. Karena masih produktif bekerja. Karenanya, mempersiapkan pensiun bukan hanya soal angka. Tapi tentang ikhtiar untuk tidak merepotkan anak di hari tua. Agar tetap mandiri secara finansial di masa pensiun. Karenanya, dana pensiun sejatinya soal martabat dan kemandirian finansial. Agar hari tua tidak merepotkan anak.

 

Bekerja apapun dan gai berapapun, usia tua itu pasti tiba dan penghasilan pasti berakhir. Tidak punya gaji lagi di masa pensiun. saat masih produktif: ada gaji, ada pekerjaan, dan ada tenaga. Tapi saat pensiun: penghasilan berhenti, kesehatan mulai menurun, dan kebutuhan hidup meningkat. Tanpa dana pensiun, seseorang berisiko: bergantung penuh secara finansial pada anak dan menjual aset darurat. Sehingga kualitas hidup turun dan standar hidup tidak terjaga. Akhirnya mengalami stres finansial di hari tua. Begitulah realitasnya.

 

Bersiap untuk pensiun, bukan soal tidak mau dibantu anak. Sekalipun tidak sedikit yang menganggap anak sebagai “jaminan hari tua”. Namun faktanya: anak punya keluarga sendiri, kondisi ekonomi anak pun bisa berbeda. Masa depan pun semakin tidak pasti. Maka menyiapkan dana pensiun bukan berarti tidak percaya pada anak. tapi justru bentuk tanggung jawab agar “cinta” kepada anak tidak berubah menjadi “beban” di hari tua.

 

Dana Pensiun memang bukan soal angka melainkan ikhtair untuk menjaga martabat.  Kemandirian finansial di hari tua berarti tetap bisa mengambil keputusan sendiri secara finansial, punya kesinambungan penghasilan. Dan tidak meminta-minta karena tidak punya gaji lagi. Dana pensiun soal menjaga standar hidup di hari tua seperti saat masih bekerja. Agar jelas di hari tua, “dibantu karena dihormati” atau “dibantu karena terpaksa”. Itulah esensi dana pensiun untuk menjaga “harga diri”.

 

Dana pensiun bukan soal jumlah manfaat yang besar. Tapi soal keberanian menabung di saat bekerja, konsistensi menyetro iuran, lebih lama jadi peserta, dan akhirnya menimati efek compounding dari uang. Semakin dini memulai, semakin ringan bebannya di hari tua.

 

Dan pada akhirnya, dana pensiun berujung pada ketenangan psikologis di masa pensiun. Orang yang memiliki persiapan hari tua cenderung lebih tenang, lebih rasional dalam Kkeputusan, tidak mudah panik, dan tidak terlalu khawatir soal masa depan. Sebab  ketidakpastian finansial seringkali lebih menakutkan daripada usia tua itu sendiri.

 

Jadi, menyiapkan dana pensiun berarti menghargai diri sendiri di masa depan, bertanggung jawab pada keluarga, dan merencanakan hidup dengan sadar. Sebab hari tua bukan untuk bertahan hidup tapi untuk menikmati hasil “perjalanan” panjang semasa bekerja. Dan agar tidak merepotkan anak di hari tua.

 

Selain menjaga martabat di hari tua, dana pensiun penting sebagai kesinambungan penghasilan di masa pensiun saat tidak bekerja lagi. Salam #YukSiapkanPensiun



Renungan Puasa: Tidak Semua Tanah Siap Menerima Benih

Ada ungkapan “tidak semua tanah siap menerima benih”. Mungkin itu hanya metafora biasa tapi punya makna yang dalam. Akan pentingnya hati dan pikiran untuk terus bertumpuh, untuk bersedia memperbaiki diri seperti di momen bulan puasa ini.

 

Bila tanah sebagai representasi hati dan pikiran. Maka tanah melambangkan kesiapan mental, kematangan emosi, dan keterbukaan pikiran. Bahkan lebih dari itu, menjadi simbol kerendahan hati untuk belajar. Kesediaan pikiran untuk membaca. Akan tetapi, bila hati dan pikiran tertutup dan merasa sudah tahu segalanya, maka membaca hanya untuk membantah. Di situlah, sebaik apa pun “benih” (ilmu), akan sulit tumbuh di “tanah” (hati dan pikiran) yang sempit.

 

Benih adalah ilmu atau bacaan. Buku yang sama bisa mengubah hidup seseorang atau tidak memberi dampak apa-apa pada yang membacanya. Bukan karena isinya berbeda, bukan pula karena pemahamannya. Tapi karena “tanahnya” yang berbeda. Hati dan pikirannya yang tidak sama.

 

Karenanya membaca itu bukan sekadar melihat teks. Agar “benih” tumbuh, maka “tanah” perlu digemburkan (refleksi diri), disirami (diskusi, perenungan), dan dibersihkan dari gulma (prasangka, ego). Begitu juga membaca perlu niat yang benar, perlu kesediaan untuk berubah, dan perlu waktu untuk mencerna.

 

Begitulah yang dilakukan anak-anak TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Selama bulan puasa menggelar “Ngabubu-Read Ramadhan Ceria” sebagai bagian untuk menyirami “tanah” dengan akhlak dan karakter yang baik. Senbulan penuh bertekad melakukan khataman al Quran secara “keroyokan” setiap Minggu. Mengubah bacaan buku umum ke Al Quran, untuk merampungkan khataman secara bersama-sama. Tentu, untuk menggaai berkah bulan suci Ramadhan.   

 


Dalam Al-Qur’an sering disebut bahwa ada orang yang mendengar, tapi tidak memahami. Ada yang melihat tapi tidak menangkap makna. Jadi bukti, lmu bukan hanya soal informasi tapi soal kesiapan batin menerima kebenaran. Karenanya, tidak semua orang siap menerima gagasan baru, meskipun bahasanya jelas, argumennya kuat, dan sumbernya terpercaya. Karena membaca yang sejati bukan sekadar aktivitas mata, melainkan proses menumbuhkan kesadaran.

 

Dan faktanya, memang tidak semua tanah siap menerima benih Salam literasi!

 



Kenapa Diam Saat Berpuasa?

Diam, memang bukan syariat dalam berpuasa. Tidak ada yang menyuruh diam saat berpuasa. Karena puasa fokusnya adalah menahan diri dari makan dan minum, hubungan suami istri, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar hingga maghrib. Tapi ada tradisi orang yang berpuasa untuk tidak berbiacara alias diam.

 

Walaupun tidak wajib, sebagian orang memilih diam saat puasa. Semata-mata untuk menjaga lisan. Agar tidak terjebak pada pembicaraan yang sia-sia atau dapat mengurangi pahala puasa. Diam untuk menghindari ghibah (menggunjing), menghindari fitnah dan dusta. Diam agar terhindar dari perkataan kasar atau debat yang tidak perlu. Makanya ada hadis yang menyebut bahwa jika seseorang diajak bertengkar saat puasa, hendaknya menjawab: “Saya sedang berpuasa.”

 

Diam saat berpuasa, intinya untuk mengendalikan ucapan, mengurangi hal sia-sia, dan menjaga kualitas ibadah. Akan tetapi, diam menjadi wajib bila saat berpuasa bertemu dengan 5 (lima) jenis orang seperti ini:

1.  Orang yang selalu ingin menang dalam setiap percakapan. Bicara bukan untuk mencari kebenaran, tapi mengejar kemenangan. Karenany, diam bukan tanda kalah tapi tanda kita tidak mau masuk ke medan yang penuh egoisme.

2. Orang yang senang menjelekkan orang lain. Apa yang keluar dari mulutnya mencerminkan isi hatinya. Bicara hanya akan menyeret kita ke energi yang sama rendahnya, lebih baik diam.

3. Orang yang menolak memahami. Sebanyak apa pun kita menjelaskan, ia hanya mendengar untuk membalas. Bukan untuk mengerti. Diam adalah bentuk perlindungan diri dari kebisingan batinnya.

4. Orang yang hidup dari drama dan konflik. Orang-orang yang butuh penonton, bukan solusi. Ketika kita diam, maka panggung mereka runtuh dengan sendirinya.

5. Orang yang senang menguji kesabaran kita. Mereka muncul untuk mengajarkan kendali bahkan kontrol diri. Diam adalah bentuk kemenangan batin atas dorongan untuk bereaksi.

 


Bertemu dengan orang-orang seperti di atas, lebih baik diam. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita sedang menjaga energi agar tidak terpapar getaran yang merusak kedamaian batin. Apalagi di saat sedang berpuasa, lebih baik diam.

 

Diam, kadang diperlukan saat puasa. Memang tidak disyariatkan tapi diam adalah cara untuk menjaga lisan dari hal-hal yang tidak perlu atau mengurangi pahala puasa. Saat puasa, justru bicara yang baik-baik bisa bernilai pahala atau lebih baik membaca buku saja.

 



Rabu, 18 Februari 2026

Puasa = Ikhlas

 

Ibadah puasa, bisa jadi momen ibadah melatih ikhlas. Puasa adalah ibadah yang paling sunyi, yang paling sedikit dilihat manusia. Tapi paling jelas dirasakan oleh diri sendiri dan Allah. Puasa di bulan Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan pahala puasa. Di situlah letak latihan ikhlasnya. Maka puasa sama dengan melatih ikhlas. 

 

Puasa adalah ibadah yang "tidak terlihat". Sholat terlihat gerakannya. Zakat terlihat jumlahnya. Tapi puasa? Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang sungguh berpuasa atau tidak, kecuali dirinya dan Allah. Karena itu, puasa memurnikan niat. Kalau bukan karena Allah, untuk apa menahan lapar saat sendirian?

 

Ikhlas saat puasa, seperti ikhlas membaca buku. Pikiran jadi lebih tenang. Saat puasa, ritme hidup biasanya lebih pelan. Kita cenderung mengurangi distraksi seperti makan, nongkrong, atau aktivitas fisik berat. Fokus jadi lebih mudah terjaga, sehingga membaca terasa lebih khusyuk dan mendalam. Membaca di saat puasa, energi dialihkan ke otak. Ketika tidak sedang mencerna makanan, tubuh tidak terlalu sibuk dengan proses pencernaan. Banyak orang merasa pikirannya lebih jernih (meski ini bisa berbeda-beda tiap orang). Makanya, baca buku, refleksi, atau belajar sering terasa lebih “masuk”. Karenanya, membaca di saat puasa bikin suasana lebih reflektif. Sebagai momen kontemplasi dan memperbaiki diri. Aktivitas membaca — apalagi buku yang inspiratif atau spiritual — jadi selaras dengan suasana batin. Rasanya lebih meaningful, bukan sekadar hiburan. Puasa sambil membaca, punya sensasi hening yang nikmat. Karena perut kosong, tubuh cenderung lebih pelan. Detak hidup terasa lebih sunyi. Suasana hening ini cocok banget untuk tenggelam dalam bacaan.

 

Sungguh, siapapun yang berpuasa harus menahan diri dari yang halal. Saat puasa, kita tidak sedang menjauhi yang haram saja. Makan, minum, dan hubungan suami-istri itu halal tapi ditahan demi ketaatan. Ikhlas itu diuji ketika kita meninggalkan sesuatu yang kita boleh lakukan, semata-mata hanya karena perintah-Nya.

 


Puasa juga melatih sabar tanpa tepuk tangan. Lapar tidak dapat pujian. Haus tidak diberi penghargaan. Kita menahan emosi, menahan amarah, menahan keinginan tanpa ada yang tahu. Di situlah hati belajar: berbuat bukan untuk dilihat, tapi karena taat. Ikhlas mengerjakan ibadah tanpa perlu pujian.

 

Sebab puasa, kita ikhlas mengikis ego. Puasa yang meruntuhkan kesombongan fisik dan mental. Tubuh yang biasanya kuat menjadi lemah. Kita sadar bahwa kita bergantung hanya kepada-Nya. Bahwa kita bukan siapa-siapa tanpa pertolongan Allah. Ikhlas lahir saat ego mengecil.

 

Bahkan puasa mampu mengajarkan kita untuk menerima rasa tidak nyaman dengan  tenang. Bukan mengeluh, tapi menjalaninya. Ikhlas bukan berarti tidak merasa berat. Ikhlas adalah tetap taat meski terasa berat. Singkatnya, puasa adalah sekolah keikhlasan. Ia mendidik hati agar: beramal tanpa ingin dilihat, menahan diri tanpa ingin dipuji, dan taat tanpa banyak alasan.

 

Puasa sama dengan ikhlas. Kembali ke hati yang tenang tanpa gaduh. Ikhlas mengerjakan ibadah, ikhlas menerima apa yang terjadi tanpa rasa sakit. Ikhlas adalah kekuatan, yang membebaskan jiwa dari belenggu ego dan keinginan yang tidak terkendali. Dengan ikhlas, kita melepaskan harapan, menerima apa yang ada. Ikhlas adalah jalan menuju kebahagiaan hakiki.

 

Ikhlas bukan berarti pasrah tapi berserah. Untuk menerima apa yang terjadi dengan hati yang lapang. Untuk menjalankan ibadah dalam sunyi. Sebab hanya kita dan Allah yang tahu. Selamat berpuasa, mohon maaf lahir batin.