Jumat, 20 Februari 2026

Alumni LPDP yang Pamer Paspor WNA Anak Lupa Adab Di Atas Ilmu

Ada yang lagi viral dan kontroversi di media sosial. Soal alumni LPDP yang namanya DS yang menyebut, "cukup saya WNI, anak jangan". Gara-gara pamer paspor Inggris anaknya, alumni LPDP yang memvideokan sendiri ulahnya akhirnya “dirujak” netizen. Dianggap tidak punya nasionalisme dan tidak punya etika sebagai alumni penerima beasiswa LPDP. Walau kahirnya udah minta maaf.

 

Itu alumni lupa, LPDP itu uang rakyat. Uang yang dikumpul dari keringat rakyat untuk biayain dia kuliah. Ehh, ujung-ujungnya malah melecehkan bangsaknya sendiri. Bua tapa pintar kalau “merendahkan” bangsanya sendiri. Jadi, orang kayak gitu ebih baik “pergi” saja dari Indonesia.  Sekeluarga juga boleh pindah, bila perlu ke planet mana kek. Silakan saja, Indonesia nggak butuh orang pintar yang katanya penerima LPDP model kayak gitu. Itu justru orang pintar keblinger, nggak paham “adab itu di atas ilmu”.

 

LPDP itu beasiswa yang dibiayai oleh negara, uangnya pun dari rakyat. Selain untuk meningkatkan kualitas SDM di Indonesia, tujuan LPDP itu untuk mendorong kontribusi bagi bangsa dan memperkuat pembangunan nasional. Tapi kalua punya lulusan model DS begitu ya lebih baik “uang beasiswa” kembalikan saja ke negara dan pihak LPDP bisa pilih calon penerima beasiswa LPDP yang bermoral, yang punya akhlak. Nggak perlu pamer-pamer anaknya jadi WNA.

 


LPDP jangan ragu lagi, coba di cek penerima LPDP semuanya. Bila para penerima melanggar kontrak LPDP seperti 2N + 1 nggak dilakukan, maka berikan sanksi sekaligus minta kembali “uang beasiswa” semuanya.  LPDP harus tegakkan prinsip “kepatuhan terhadap perjanjian”. LPDP itu bukan sekadar bantuan biaya kuliah. Tapi juga amanah moral untuk patuh dan berkontribusi kepada bangsa. Alumni LPDP yang baik itu bila memberi dampak nyata bagi bangsa. Bukan malah pamer paspor anak yang WNA.

 

Aneh sih kalua alumni LPDP nggak punya akhlak. Tidak tahu etika sosial dan sensitivitas publik.  Kuliah pakai uang rakyat tapi begitu kelar malah merendahkan bangsanya sendiri, sok pamer pula. Malah jadi ganggu publik yang tadinya tenang-tenang saja lagi puasa.

 

Semoga ke depan, nggak ada lagi alumni LPDP yang sok dan merendahkan bangsanya sendiri, sementara kuliahnya dibiayai rakyat? Helloww literasi …

 

Kamis, 19 Februari 2026

Dana Pensiun Bukan Soal Angka tapi Martabat di Hari Tua

Bagi sebagian besar pekerja, memang pensiun itu masih jauh dan belum mendesak. Karena masih produktif bekerja. Karenanya, mempersiapkan pensiun bukan hanya soal angka. Tapi tentang ikhtiar untuk tidak merepotkan anak di hari tua. Agar tetap mandiri secara finansial di masa pensiun. Karenanya, dana pensiun sejatinya soal martabat dan kemandirian finansial. Agar hari tua tidak merepotkan anak.

 

Bekerja apapun dan gai berapapun, usia tua itu pasti tiba dan penghasilan pasti berakhir. Tidak punya gaji lagi di masa pensiun. saat masih produktif: ada gaji, ada pekerjaan, dan ada tenaga. Tapi saat pensiun: penghasilan berhenti, kesehatan mulai menurun, dan kebutuhan hidup meningkat. Tanpa dana pensiun, seseorang berisiko: bergantung penuh secara finansial pada anak dan menjual aset darurat. Sehingga kualitas hidup turun dan standar hidup tidak terjaga. Akhirnya mengalami stres finansial di hari tua. Begitulah realitasnya.

 

Bersiap untuk pensiun, bukan soal tidak mau dibantu anak. Sekalipun tidak sedikit yang menganggap anak sebagai “jaminan hari tua”. Namun faktanya: anak punya keluarga sendiri, kondisi ekonomi anak pun bisa berbeda. Masa depan pun semakin tidak pasti. Maka menyiapkan dana pensiun bukan berarti tidak percaya pada anak. tapi justru bentuk tanggung jawab agar “cinta” kepada anak tidak berubah menjadi “beban” di hari tua.

 

Dana Pensiun memang bukan soal angka melainkan ikhtair untuk menjaga martabat.  Kemandirian finansial di hari tua berarti tetap bisa mengambil keputusan sendiri secara finansial, punya kesinambungan penghasilan. Dan tidak meminta-minta karena tidak punya gaji lagi. Dana pensiun soal menjaga standar hidup di hari tua seperti saat masih bekerja. Agar jelas di hari tua, “dibantu karena dihormati” atau “dibantu karena terpaksa”. Itulah esensi dana pensiun untuk menjaga “harga diri”.

 


Dana pensiun bukan soal jumlah manfaat yang besar. Tapi soal keberanian menabung di saat bekerja, konsistensi menyetot iuran, lebih lama jadi peserta, dan akhirnya menimati efek compounding dari uang. Semakin dini memulai, semakin ringan bebannya di hari tua.

 

Dan pada akhirnya, dana pensiun berujung pada ketenangan psikologis di masa pensiun. Orang yang memiliki persiapan hari tua cenderung lebih tenang, lebih rasional dalam Kkeputusan, tidak mudah panik, dan tidak terlalu khawatir soal masa depan. Sebab  ketidakpastian finansial seringkali lebih menakutkan daripada usia tua itu sendiri.

 

Jadi, menyiapkan dana pensiun berarti menghargai diri sendiri di masa depan, bertanggung jawab pada keluarga, dan merencanakan hidup dengan sadar. Sebab hari tua bukan untuk bertahan hidup tapi untuk menikmati hasil “perjalanan” panjang semasa bekerja. Dan agar tidak merepotkan anak di hari tua.

 

Selain menjaga martabat di hari tua, dana pensiun penting sebagai kesinambungan penghasilan di masa pensiun saat tidak bekerja lagi. Salam #YukSiapkanPensiun

 

Bagi sebagian besar pekerja, memang pensiun itu masih jauh dan belum mendesak. Karena masih produktif bekerja. Karenanya, mempersiapkan pensiun bukan hanya soal angka. Tapi tentang ikhtiar untuk tidak merepotkan anak di hari tua. Agar tetap mandiri secara finansial di masa pensiun. Karenanya, dana pensiun sejatinya soal martabat dan kemandirian finansial. Agar hari tua tidak merepotkan anak.

 

Bekerja apapun dan gai berapapun, usia tua itu pasti tiba dan penghasilan pasti berakhir. Tidak punya gaji lagi di masa pensiun. saat masih produktif: ada gaji, ada pekerjaan, dan ada tenaga. Tapi saat pensiun: penghasilan berhenti, kesehatan mulai menurun, dan kebutuhan hidup meningkat. Tanpa dana pensiun, seseorang berisiko: bergantung penuh secara finansial pada anak dan menjual aset darurat. Sehingga kualitas hidup turun dan standar hidup tidak terjaga. Akhirnya mengalami stres finansial di hari tua. Begitulah realitasnya.

 

Bersiap untuk pensiun, bukan soal tidak mau dibantu anak. Sekalipun tidak sedikit yang menganggap anak sebagai “jaminan hari tua”. Namun faktanya: anak punya keluarga sendiri, kondisi ekonomi anak pun bisa berbeda. Masa depan pun semakin tidak pasti. Maka menyiapkan dana pensiun bukan berarti tidak percaya pada anak. tapi justru bentuk tanggung jawab agar “cinta” kepada anak tidak berubah menjadi “beban” di hari tua.

 

Dana Pensiun memang bukan soal angka melainkan ikhtair untuk menjaga martabat.  Kemandirian finansial di hari tua berarti tetap bisa mengambil keputusan sendiri secara finansial, punya kesinambungan penghasilan. Dan tidak meminta-minta karena tidak punya gaji lagi. Dana pensiun soal menjaga standar hidup di hari tua seperti saat masih bekerja. Agar jelas di hari tua, “dibantu karena dihormati” atau “dibantu karena terpaksa”. Itulah esensi dana pensiun untuk menjaga “harga diri”.

 

Dana pensiun bukan soal jumlah manfaat yang besar. Tapi soal keberanian menabung di saat bekerja, konsistensi menyetro iuran, lebih lama jadi peserta, dan akhirnya menimati efek compounding dari uang. Semakin dini memulai, semakin ringan bebannya di hari tua.

 

Dan pada akhirnya, dana pensiun berujung pada ketenangan psikologis di masa pensiun. Orang yang memiliki persiapan hari tua cenderung lebih tenang, lebih rasional dalam Kkeputusan, tidak mudah panik, dan tidak terlalu khawatir soal masa depan. Sebab  ketidakpastian finansial seringkali lebih menakutkan daripada usia tua itu sendiri.

 

Jadi, menyiapkan dana pensiun berarti menghargai diri sendiri di masa depan, bertanggung jawab pada keluarga, dan merencanakan hidup dengan sadar. Sebab hari tua bukan untuk bertahan hidup tapi untuk menikmati hasil “perjalanan” panjang semasa bekerja. Dan agar tidak merepotkan anak di hari tua.

 

Selain menjaga martabat di hari tua, dana pensiun penting sebagai kesinambungan penghasilan di masa pensiun saat tidak bekerja lagi. Salam #YukSiapkanPensiun



Renungan Puasa: Tidak Semua Tanah Siap Menerima Benih

Ada ungkapan “tidak semua tanah siap menerima benih”. Mungkin itu hanya metafora biasa tapi punya makna yang dalam. Akan pentingnya hati dan pikiran untuk terus bertumpuh, untuk bersedia memperbaiki diri seperti di momen bulan puasa ini.

 

Bila tanah sebagai representasi hati dan pikiran. Maka tanah melambangkan kesiapan mental, kematangan emosi, dan keterbukaan pikiran. Bahkan lebih dari itu, menjadi simbol kerendahan hati untuk belajar. Kesediaan pikiran untuk membaca. Akan tetapi, bila hati dan pikiran tertutup dan merasa sudah tahu segalanya, maka membaca hanya untuk membantah. Di situlah, sebaik apa pun “benih” (ilmu), akan sulit tumbuh di “tanah” (hati dan pikiran) yang sempit.

 

Benih adalah ilmu atau bacaan. Buku yang sama bisa mengubah hidup seseorang atau tidak memberi dampak apa-apa pada yang membacanya. Bukan karena isinya berbeda, bukan pula karena pemahamannya. Tapi karena “tanahnya” yang berbeda. Hati dan pikirannya yang tidak sama.

 

Karenanya membaca itu bukan sekadar melihat teks. Agar “benih” tumbuh, maka “tanah” perlu digemburkan (refleksi diri), disirami (diskusi, perenungan), dan dibersihkan dari gulma (prasangka, ego). Begitu juga membaca perlu niat yang benar, perlu kesediaan untuk berubah, dan perlu waktu untuk mencerna.

 

Begitulah yang dilakukan anak-anak TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Selama bulan puasa menggelar “Ngabubu-Read Ramadhan Ceria” sebagai bagian untuk menyirami “tanah” dengan akhlak dan karakter yang baik. Senbulan penuh bertekad melakukan khataman al Quran secara “keroyokan” setiap Minggu. Mengubah bacaan buku umum ke Al Quran, untuk merampungkan khataman secara bersama-sama. Tentu, untuk menggaai berkah bulan suci Ramadhan.   

 


Dalam Al-Qur’an sering disebut bahwa ada orang yang mendengar, tapi tidak memahami. Ada yang melihat tapi tidak menangkap makna. Jadi bukti, lmu bukan hanya soal informasi tapi soal kesiapan batin menerima kebenaran. Karenanya, tidak semua orang siap menerima gagasan baru, meskipun bahasanya jelas, argumennya kuat, dan sumbernya terpercaya. Karena membaca yang sejati bukan sekadar aktivitas mata, melainkan proses menumbuhkan kesadaran.

 

Dan faktanya, memang tidak semua tanah siap menerima benih Salam literasi!

 



Kenapa Diam Saat Berpuasa?

Diam, memang bukan syariat dalam berpuasa. Tidak ada yang menyuruh diam saat berpuasa. Karena puasa fokusnya adalah menahan diri dari makan dan minum, hubungan suami istri, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar hingga maghrib. Tapi ada tradisi orang yang berpuasa untuk tidak berbiacara alias diam.

 

Walaupun tidak wajib, sebagian orang memilih diam saat puasa. Semata-mata untuk menjaga lisan. Agar tidak terjebak pada pembicaraan yang sia-sia atau dapat mengurangi pahala puasa. Diam untuk menghindari ghibah (menggunjing), menghindari fitnah dan dusta. Diam agar terhindar dari perkataan kasar atau debat yang tidak perlu. Makanya ada hadis yang menyebut bahwa jika seseorang diajak bertengkar saat puasa, hendaknya menjawab: “Saya sedang berpuasa.”

 

Diam saat berpuasa, intinya untuk mengendalikan ucapan, mengurangi hal sia-sia, dan menjaga kualitas ibadah. Akan tetapi, diam menjadi wajib bila saat berpuasa bertemu dengan 5 (lima) jenis orang seperti ini:

1.  Orang yang selalu ingin menang dalam setiap percakapan. Bicara bukan untuk mencari kebenaran, tapi mengejar kemenangan. Karenany, diam bukan tanda kalah tapi tanda kita tidak mau masuk ke medan yang penuh egoisme.

2. Orang yang senang menjelekkan orang lain. Apa yang keluar dari mulutnya mencerminkan isi hatinya. Bicara hanya akan menyeret kita ke energi yang sama rendahnya, lebih baik diam.

3. Orang yang menolak memahami. Sebanyak apa pun kita menjelaskan, ia hanya mendengar untuk membalas. Bukan untuk mengerti. Diam adalah bentuk perlindungan diri dari kebisingan batinnya.

4. Orang yang hidup dari drama dan konflik. Orang-orang yang butuh penonton, bukan solusi. Ketika kita diam, maka panggung mereka runtuh dengan sendirinya.

5. Orang yang senang menguji kesabaran kita. Mereka muncul untuk mengajarkan kendali bahkan kontrol diri. Diam adalah bentuk kemenangan batin atas dorongan untuk bereaksi.

 


Bertemu dengan orang-orang seperti di atas, lebih baik diam. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita sedang menjaga energi agar tidak terpapar getaran yang merusak kedamaian batin. Apalagi di saat sedang berpuasa, lebih baik diam.

 

Diam, kadang diperlukan saat puasa. Memang tidak disyariatkan tapi diam adalah cara untuk menjaga lisan dari hal-hal yang tidak perlu atau mengurangi pahala puasa. Saat puasa, justru bicara yang baik-baik bisa bernilai pahala atau lebih baik membaca buku saja.

 



Rabu, 18 Februari 2026

Puasa = Ikhlas

 

Ibadah puasa, bisa jadi momen ibadah melatih ikhlas. Puasa adalah ibadah yang paling sunyi, yang paling sedikit dilihat manusia. Tapi paling jelas dirasakan oleh diri sendiri dan Allah. Puasa di bulan Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan pahala puasa. Di situlah letak latihan ikhlasnya. Maka puasa sama dengan melatih ikhlas. 

 

Puasa adalah ibadah yang "tidak terlihat". Sholat terlihat gerakannya. Zakat terlihat jumlahnya. Tapi puasa? Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang sungguh berpuasa atau tidak, kecuali dirinya dan Allah. Karena itu, puasa memurnikan niat. Kalau bukan karena Allah, untuk apa menahan lapar saat sendirian?

 

Ikhlas saat puasa, seperti ikhlas membaca buku. Pikiran jadi lebih tenang. Saat puasa, ritme hidup biasanya lebih pelan. Kita cenderung mengurangi distraksi seperti makan, nongkrong, atau aktivitas fisik berat. Fokus jadi lebih mudah terjaga, sehingga membaca terasa lebih khusyuk dan mendalam. Membaca di saat puasa, energi dialihkan ke otak. Ketika tidak sedang mencerna makanan, tubuh tidak terlalu sibuk dengan proses pencernaan. Banyak orang merasa pikirannya lebih jernih (meski ini bisa berbeda-beda tiap orang). Makanya, baca buku, refleksi, atau belajar sering terasa lebih “masuk”. Karenanya, membaca di saat puasa bikin suasana lebih reflektif. Sebagai momen kontemplasi dan memperbaiki diri. Aktivitas membaca — apalagi buku yang inspiratif atau spiritual — jadi selaras dengan suasana batin. Rasanya lebih meaningful, bukan sekadar hiburan. Puasa sambil membaca, punya sensasi hening yang nikmat. Karena perut kosong, tubuh cenderung lebih pelan. Detak hidup terasa lebih sunyi. Suasana hening ini cocok banget untuk tenggelam dalam bacaan.

 

Sungguh, siapapun yang berpuasa harus menahan diri dari yang halal. Saat puasa, kita tidak sedang menjauhi yang haram saja. Makan, minum, dan hubungan suami-istri itu halal tapi ditahan demi ketaatan. Ikhlas itu diuji ketika kita meninggalkan sesuatu yang kita boleh lakukan, semata-mata hanya karena perintah-Nya.

 


Puasa juga melatih sabar tanpa tepuk tangan. Lapar tidak dapat pujian. Haus tidak diberi penghargaan. Kita menahan emosi, menahan amarah, menahan keinginan tanpa ada yang tahu. Di situlah hati belajar: berbuat bukan untuk dilihat, tapi karena taat. Ikhlas mengerjakan ibadah tanpa perlu pujian.

 

Sebab puasa, kita ikhlas mengikis ego. Puasa yang meruntuhkan kesombongan fisik dan mental. Tubuh yang biasanya kuat menjadi lemah. Kita sadar bahwa kita bergantung hanya kepada-Nya. Bahwa kita bukan siapa-siapa tanpa pertolongan Allah. Ikhlas lahir saat ego mengecil.

 

Bahkan puasa mampu mengajarkan kita untuk menerima rasa tidak nyaman dengan  tenang. Bukan mengeluh, tapi menjalaninya. Ikhlas bukan berarti tidak merasa berat. Ikhlas adalah tetap taat meski terasa berat. Singkatnya, puasa adalah sekolah keikhlasan. Ia mendidik hati agar: beramal tanpa ingin dilihat, menahan diri tanpa ingin dipuji, dan taat tanpa banyak alasan.

 

Puasa sama dengan ikhlas. Kembali ke hati yang tenang tanpa gaduh. Ikhlas mengerjakan ibadah, ikhlas menerima apa yang terjadi tanpa rasa sakit. Ikhlas adalah kekuatan, yang membebaskan jiwa dari belenggu ego dan keinginan yang tidak terkendali. Dengan ikhlas, kita melepaskan harapan, menerima apa yang ada. Ikhlas adalah jalan menuju kebahagiaan hakiki.

 

Ikhlas bukan berarti pasrah tapi berserah. Untuk menerima apa yang terjadi dengan hati yang lapang. Untuk menjalankan ibadah dalam sunyi. Sebab hanya kita dan Allah yang tahu. Selamat berpuasa, mohon maaf lahir batin.

 

Selasa, 17 Februari 2026

Tidak Semua Tuduhan Layak Dijawab

 Mungkin ada benarnya, di era media sosial atau grup WA yang sering bergibah. Tidak semua tuduhan layak dijawab dan tidak semua orang layak mendapatkan penjelasan. Sebab dalam hidup, akan selalu ada orang yang hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka percayai sekalipun bukan kebenaran yang sebenarnya. Apalagi orang-orang yang percaya atas kebenciannya, sama sekali tidak perlu digubris. Udah mau puasa nih, apa masih doyan bergibah?

 

Maka jelang bulan puasa, ada baiknya melatih kedewasaan emosional dan berani membatasi diri. Sebab tidak semua tuduhan layak dijawab, dan tidak semua orang layak mendapatkan penjelasan. Ini bukan tentang sombong atau menghindar, tapi tentang memahami nilai energi, waktu, dan harga diri kita sendiri. agar tetap berpijak pada hal-hal yang produktif dan bermanfaat, yang lainnya diabaikan.

 

Tidak semua tuduhan perlu dijawab. Sebab ada tuduhan yang lahir dari ketidaktahuan dan ada tuduhan yang lahir dari prasangka atau niat buruk. Terkadang, ada orang-orang yang bersifat sudah punya kesimpulan sebelum mendengar fakta. Sering mencari pembenaran, bukan kebenaran. Ingin menang argumen, bukan memahami. Bergaul dengan orang seperti ini hanya membuang energi. Karena sekuat apa pun penjelasan, mereka tetap memilih percaya versi mereka sendiri.

 

Lagi pula, tidak semua orang layak mendapat penjelasan. Sebab ada orang yang hanya ingin tahu untuk bahan gosip, hanya ingin mencari kesalahan orang lain lalu menyerang. Pada titik itu, menjaga batas (boundaries) menjadi penting. Tidak semua orang berhak masuk ke ruang batin kita. Hari ini ada fenomena orang-orang yang suka “mendengar apa yang ingin dipercaya”. Orang yang cenderung mencari informasi yang mendukung keyakinannya, mengabaikan fakta yang bertentangan, dan memelintir penjelasan agar sesuai dengan prasangkanya. Ketika seseorang sudah memutuskan untuk tidak percaya, kebenaran sering kali tidak lagi relevan bagi mereka.

 


Maka lebih baik diam. Karena diam bukan berarti kalah. Tapi bentuk tertinggi dari kendali diri. Harga diri kita sama sekali tidak ditentukan oleh opini orang lain, bahkan yang tidak mengenal kita sepenuhnya. Biarkan prasangka mereka menjadi cermin bagi ketidak-dewasaan mereka sendiri. Karena terkadang, menjelaskan hanya memberi ruang bagi mereka untuk memutar-balikkan fakta dan membuat lebih banyak cerita. Makin banyak cerita main digemari mereka, hingga berlama-lama.

 

Ketahuilah, kita tidak cukup untuk memuaskan persepsi orang, apalagi yang pikirannya buruk. Kita hidup untuk berjalan tenang tanpa perlu validasi atau pembenaran. Karena tidak semua perang harus dimenangkan. Tidak semua orang perlu diyakinkan dan harga diri lebih penting daripada pembenaran. Pada akhirnya, hidup bukan tentang membuat semua orang mengerti kita. Tapi cukup Tuhan yang tahu, dan waktu yang membuktikan.

 

The show must go on. Teruslah berbuat baik dan menebar manfaat di manapun. Tidak semua tuduhan layak dijawab, tidak semua orang bisa dikasih penjelasan. Lebih baik membaca buku di taman bacaan. Kata Imam Syafi’i, jauhilah perdebatan walau kamu benar. Itu sudah cukup! 



Senin, 16 Februari 2026

TBM Lentera Pustaka Sambut Bulan Puasa, Momen Perbaiki Hati

Bulan puasa segera tiba. Maka sebelum perbanyak ibadah, perbaiki hati dulu. Sebagai esensi spiritual puasa itu sendiri. Puasa, di bulan Ramadan, bukan hanya soal menahan lapar dan haus, atau sekadar memperbanyak ibadah secara kuantitas. Tapi intinya, ada pada pembinaan hati (qalbu). Karena dalam ajaran Islam, hati adalah pusat niat, keikhlasan, dan arah hidup seseorang.

 

Puasa itu latihan pengendalian diri, bukan sekadar ritual. Banyak orang bisa menahan makan dan minum, tetapi belum tentu mampu menahan amarah, iri, dengki, atau prasangka buruk. Padahal tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan, yang berawal dari hati yang bersih. Jika hati masih dipenuhi riya (ingin dipuji), sombong, atau kebencian, maka ibadah yang banyak bisa kehilangan ruhnya. Secara lahiriah terlihat rajin, tapi secara batin belum tentu mendekat kepada Tuhan.

 

Perbaikan hati adalah fondasi ibadah. Ibadah tanpa hati yang lurus bisa berubah menjadi rutinitas kosong. Sebaliknya, hati yang bersih akan membuat ibadah sederhana terasa bermakna. Misalnya solat menjadi lebih khusyuk, dedekah terasa ringan, dan membaca Al-Qur’an terasa menenangkan. Karena yang berubah bukan hanya tindakan, tetapi orientasi batinnya.

 

Puasa mengajarkan empati dan kejujuran. Saat berpuasa, tidak ada yang benar-benar mengawasi kecuali Allah. Inilah latihan kejujuran hati. Orang bisa saja berpura-pura puasa di depan orang lain, tetapi puasa yang sejati lahir dari integritas batin. Selain itu, rasa lapar mengajarkan empati kepada yang kekurangan. Empati ini muncul dari hati yang peka, bukan dari sekadar formalitas ibadah.

 


Kualitas lebih utama daripada kuantitas. Kadang kita terjebak pada target berapa kali khatam al Quran? Berapa rakaat tarawih? Berapa banyak sedekah? Padahal pertanyaan yang lebih penting, apakah hati saya lebih sabar? Apakah saya lebih mudah memaafkan? Apakah saya lebih rendah hati?

 

Puasa sejatinya adalah proses tazkiyatun nafs, membersihkan jiwa. Jika hati belum diperbaiki, memperbanyak ibadah hanya memperbanyak aktivitas, bukan transformasi. Memperbaiki hati bukan berarti menunda ibadah, tetapi memastikan bahwa ibadah kita punya arah dan makna.

 

Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menundukkan ego. Bukan sekadar menambah amal, tetapi memperhalus hati. Karena pada akhirnya, yang dinilai bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi bagaimana kondisi hati saat melakukannya. Dan yang penting, tetaplah membaca di TBM Lentera Pustaka saat berpuasa. Selamat berpuasa, Semoga sehat dan berkah!

 



Rakus, Rusak, dan Rasuk yang Menggerogoti Manusia

Kita sering lupa, adanya siklus batin manusia tentang rakus, rusak, dan rasuk. Bukan sekadar soal moral tapi tentang bagaimana satu kebiasaan buruk perlahan menumbuhkan kebiasaan buruk yang lain.

 

Ada tiga serangkai yang menggerogoti manusia. Sifat rakus (kerakusan), rusak (kerusakan), dan rasuk (kerasukan). Karena “kerakusan” membuat manusia lupa batas. Ia membutakan hati, mengikis nurani, dan perlahan mengubah kebutuhan menjadi ketamakan. Dari kerakusan maka lahir kerusakan, bukan hanya pada alam atau sistem, tapi pada jiwa. Ketika seseorang mulai percaya bahwa dia punya kekuasaan meraih semuanya demi keinginannya, maka yang rusak pertama bukanlah dunia, melainkan dirinya sendiri. Ujungnya, berakhir pada kerasukan: keadaan ketika seseorang tidak lagi dikendalikan oleh akal sehat atau nilai yang dulu ia yakini. Ia berjalan, tapi bukan dirinya yang memegang kemudi; hasrat dan muslihat yang sudah menjelma jadi tuan rumah. Ini lebih parah dari sekadar kerasukan setan.

 

Terlihat jelas, bagaimana pola rakus → rusak → rasuk itu bekerja dalam kehidupan, bukan sekadar konsep abstrak. Kasus korupsi besar terjadi dari ambisi ke kehancuran.  Kasus  korupsi tata niaga timah Rp. 300 T yang menyeret nama Harvey Moeis dan melibatkan PT Timah, korupsi CPO, korupsi pejabat pajak dan bea cukai. Polanya dimulai dari “rakus” akan keinginan memperkaya diri lewat proyek dan pengaturan illegal sehingga jadi sebab “rusak” sistem dan negara rugi triliunan, masyarakat sekitar tambang menanggung dampak lingkungan akibat “rasuk” ketika nurani sudah kalah oleh kebohongan, manipulasi, dan pembenaran diri menjadi hal biasa. Tentu, siklus ini tidak langsung terjadi sekaligus. Biasanya dimulai dari “sedikit saja”, lalu membesar karena tidak pernah dihentikan.

 

Begitu pula nafsu kekuasaan + ego menyebabkan tragedi yang lahir dari dalam. Kasus pembunuhan berencana yang melibatkan Ferdy Sambo juga memperlihatkan pola “rakus” bukan soal uang, tapi rakus kuasa, lalu “rusak” di mana struktur hukum dan kepercayaan publik ikut tercoreng akibat “rasuk” keputusan-keputusan ekstrem diambil demi menutup kesalahan, sampai mengorbankan nyawa orang lain.  Ini contoh bagaimana “kerasukan” bisa berarti hilangnya kendali moral akibat ego yang dibiarkan tumbuh.

 

Kerakusan melahirkan kerusakan. Kerusakan membuka pintu kerasukan. Tiga serangkai yang selalu datang berurutan, dan sering kali tanpa kita sadari, mereka mengetuk dari dalam diri kita sendiri.

 


Kerakusan melahirkan kerusakan. Kerakusan bukan cuma soal harta atau materi. Ia bisa berupa ambisi berlebihan, haus pengakuan, ingin selalu menang, atau tidak pernah merasa cukup. Saat “ingin lebih” mengalahkan “cukup”, kita mulai mengorbankan banyak hal: nilai, empati, kesehatan, relasi. Di titik ini, kerusakan mulai muncul—pelan, sering tak terasa.

 

Kerusakan membuka pintu kerasukan. Kerusakan di sini bisa berupa luka batin, kebiasaan buruk, atau hati yang lelah dan kosong. Ketika fondasi diri rapuh, hal-hal negatif mudah masuk: iri, dengki, amarah, kebencian, putus asa. Inilah yang disebut “kerasukan”—bukan selalu dalam arti mistis, tapi ketika pikiran dan emosi gelap mengambil alih kendali diri.

 

Dan yang paling berbahaya: semuanya datang dari dalam. Kita sering mengira ancaman datang dari luar: orang lain, keadaan, atau sistem. Padahal, tiga serangkai ini biasanya berawal dari ruang terdalam diri sendiri: keinginan yang tidak terkendali, pembenaran kecil yang diulang-ulang, lalu kebiasaan yang membentuk karakter. Makanya dikatakan mereka “datang berurutan dan mengetuk dari dalam”.

Ketahuilah, kehancuran besar hampir selalu diawali oleh kelengahan kecil. Kalau kerakusan dijaga sejak awal dengan rasa cukup, kesadaran diri, dan kejujuran pada hati maka rantai tigak serangkai bisa diputus. Tapi kalau dibiarkan, ia tumbuh diam-diam, sampai suatu hari kita sadar: kita bukan lagi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Literasi Imlek: Nikmati Hidup Tanpa Takut Penilaian Orang Lain

Ini hanya renungan di tahun baru Imlek 2026. Agar kita menikmati hidup tanpa takut dengan dengan penilaian orang lain. Karena yang menganggap kita buruk, sejatinya belum tentu dia lebih baik.

 

Jangan takut penilaian orang lain, sebuah cerminan tahun Kuda Api di tahun 2026. Energi api ganda yang berarti membawa semangat, keberanian, kecepatan, dan peluang besar  untuk ikhtiar yang baik. Tahun yang dinamis mendorong perubahan cepat, mobilitas tinggi, dan pengambilan risiko, namun rentan terhadap impulsif, konflik, dan kelelahan (burnout). 

 

Elemen api sebagai lambang keberanian untuk melakukan perubahan besar dan inovasi. Momen tepat untuk siapapun lebih bersikap peduli pada diri sedniri dan mengabaikan penilaian orang lain. Agar tidak lagi berharap pada orang lain, apalagi peduli terhadap hal-hal buruk yang keluar dari mulut orang lain. Sebab pada akhirnya, penilaian orang lain sangat menganggu kesehatan dan emosi personal. Sudah saatnya kita meraih kebebasan batin dan menjaga harga diri sendiri.

 

Hari ini, banyak orang hidup dalam tekanan yang tidak terlihat. Takut dinilai, takut dianggap kurang, takut tidak sesuai standar sosial. Akibatnya, keputusan-keputusan besar, bahkan kebahagiaan sehari-hari sering dikendalikan oleh opini orang lain, bukan oleh suara hati sendiri. Padahal, penilaian manusia itu subjektif. Hari ini kita dipuji, besok bisa direndahkan. Yang menganggap kita buruk belum tentu memiliki hidup yang lebih baik, karakter yang lebih kuat, atau perjuangan yang lebih berat dari kita. Mereka hanya melihat dari permukaan tanpa tahu luka, usaha, dan proses yang kita jalani.

 


Menikmati hidup tanpa takut penilaian orang lain bukan berarti menjadi cuek atau arogan. Justru sebuah sikap tegas untuk berani jadi diri sendiri, lebih fokus pada pertumbuhan, bukan pembuktian. Dan menerima bahwa tidak semua orang harus menyukai kita.

 

Pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan demi menyenangkan semua orang. Selama kita berjalan dengan niat dan ikhtiar baik, masih mau membaca dan terus belajar, serta tidak merugikan siapa pun maka pendapat negatif hanyalah suara luar, bukan kebenaran mutlak. Karena yang paling penting bukan bagaimana orang menilai kita. tapi bagaimana kita menghargai diri sendiri dan menjalani hidup dengan penuh makna. Tetap berbuat baik dan menebar manfaat di mana pun.

 

Happiest Chinese New Year untuk sahabat yang merayakannya. Semoga berlimpah berkat, sukses, dan kesehatan selalu. Gong Xi Fai Cai. Salam literasi!



Minggu, 15 Februari 2026

Realitas Pekerja di Hari Tua Seperti Apa?

 Ada pekerja yang takut saat kerja tahu-tahu kena PHK daripada saat pensiun tidak punya uang. Mungkin banyak pekerja lebih takut tidak punya kuota internet daripada tidak punya dana pensiun. Lebih senang punya gaya hidup selagi kerja daripada mengalami masalah keuangan di hari tuanya. Begitulah realita yang ada di kalangan pekerja.


Bagi seorang pekerja, PHK bisa terjadi kapan saja. Kuota internet sebenarnya tidak terlalu urgen. Gaya hidup pun bisa dikurangi. Bahkan saat bekerja, mungkin semua kebutuhan masih bisa diusahakan karena masih punya gaji. Tapi siapapun yang bekerja, masa pensiun pasti datang. Hari tua yang jadi sebab kita harus pensiun pasti tiba. Lebih dari itu, semua biaya dan standar hidup harus tetap dipenuhi. Beban finansial di hari tua akan terus berjalan sekalipun kita sudah tidak lagi bekerja.


Bila seorang pekerja tidak punya dana pensiun, ceritanya berbeda. Saat pensiun hanya mengandalkan uang pesangon dari perusahaan, ternyata sering kali habis sebelum waktunya karena dipakai untuk konsumsi biaya besar seperti beli kendaraan atau renovasi rumah. Uang JHT BPJS sering habis tidak lebih dari 60 bulan setelah berhenti bekerja. Lalu, dari mana uang untuk memenuhi biaya hidup di masa pensiun?

 
Saat kita pensiun, sudah pasti tidak punya gaji lagi. Penghasilan bulanan berhenti, pemasukan tidak ada lagi. Tapi biaya hidup tetap ada, standar hidup harus dijaga. Bahkan seringkali uang yang dibutuhkan jauh lebih besar daripada saat masih bekerja.


Biaya-biaya di hari tua tetap ada. Seperti bayar listrik dan air. Belanja rutin bulanan untuk rumah tangga. Biaya makan. Biaya internet. Bahkan biaya kesehatan atau beli obat harus tetap disiapkan. Belum lagi biaya hiburan atau rekreasi. Plus biaya rutin tiap keluarga yang berbeda-beda. Semua biaya tetap harus berjalan. Belum lagi tekanan post power syndrome dan pengaruh emosional.


Dan faktanya saat ini, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan biaya hidup dari transferan anaknya setiap bulan (ADB, 2024).  Laporan BPS (2024) menyebut 84% pensiunan atau lansia menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota rumah tangga yang bekerja, hanya 5% dari uang pensiunnya sendiri. Ini artinya, 8 dari 10 pensiunan bergantung secara finansial kepada anggota keluarganya yang bekerja.

 


Realitas pekerja di hari tua, jadi bukti bahwa pekerja tidak “jatuh miskin” karena PHK, kuota internet atau gaya hidup. Tapi pekerja akan mengalami masalah keuangan dan gagal memenuhi satnadar hidupnya di masa pensiun karena tidak siap pensiun, tidak punya kesinambungan penghasilan di hari tua. Hidupnya tidak mandiri secara finansial di hari tua, akibat tidak punya dana pensiun yang dipersiapkan saat masih bekerja.

 

Karena, ujian terbesar pekerja bukan berjuang memenuhi kebutuhan bulanan saat masih bekerja dan masih punya gaji. Tapi bagaimana mempertahankan standar hidup di massa pensiun saat tidak punya gaji lagi. Tetap punya kesinambungan penghasilan sekalipun sudah pensiun. Itulah ujian ketahanan finansial di masa pensiun.


Karena itu, dana pensiun penting bukan karena takut miskin di hari tua. Bukan pula diabaikan saat masih bekerja dengan alasan gaji tidak cukup. Tapi dana pensiun soal memastikan biaya hidup tetap bisa diatasi sekalipun tidak punya gaji lagi. Soal kemandirian finansial di hari tua. Agar tidak merepotkan anak dan tidak bergantung secara finansial kepada keluarga. Dan tetap bisa menjalani hari-hari di hari tua dengan lebih tenang dan bahagia. Tidak stress, tidak gelisah karena soal uang.

 

Jadi, sudahkah kita siap pensiun? Sebelum saat pensiun benar-benar datang nantinya. Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

 


Sabtu, 14 Februari 2026

Tenangnya Membaca Seperti Tenangnya Dunia

Mungkin kita sepakat, membaca membuat seseorang merasa damai, stabil, dan lepas dari kegaduhan hidup. Karena membaca bukan hanya memberikan kenyamanan tapi juga sebagai “ruang aman”. Pikiran jadi fokus pada satu hal. Masalah, tekanan, suara bising seolah mengecil. Membaca menciptakan rasa tenang dan terkendali.

 

Membaca pula yang mengajak kita masuk ke dunia lain. Buku selalu memberi pengalaman baru. Ketika tenggelam dalam cerita atau ilmu, kita merasa punya tempat sendiri yang nyaman. Gerakan mata, alur cerita, dan konsentrasi membuat pikiran lebih terarah. Membaca memberi efek meditasi ringan, punya ritme yang menenangkan.

 

Tenang karena merasa “mengerti”. Membaca sering memberi pemahaman. Saat kita mengerti sesuatu, rasa cemas biasanya berkurang. Saat membaca, kita menciptakan ketenangan dalam diri sendiri—seolah dunia ikut menjadi tenang. Maka jadilah tenang karena membaca.



Tenanglah di dunia, tidak usah gaduh apalagi berisik. Sebab dalam tenang, hati belajar menerima tanpa memaksa, melepaskan tanpa merasa kehilangan diri. Tenanglah, karena di dalamnya ada kedamaian. Selalu ikhlas pada jalan yang Allah SWT pilihkan. Tabah pada dunia yang tidak selalu sejalan dengan harapan. Tenang, sekalipun banyak manusia yang datang hanya untuk melempar kekecewaan.

 

Tetaplah tenang atau jadilah tenang. Sebab tenang, tidak ada lagi yang mampu meruntuhkan kita. Karena yang tenang, sandaran hidupnya bukan lagi pada dunia. Melainkan pada Allah SWT yang tidak pernah meninggalkannya. Tenang saat membaca sama persis tenangnya dunia. Salam literasi!

 


Orang Lain Nggak Akan Membantumu Kecuali Diri Sendiri yang Melakukannya

Ungkapan “orang lain nggak akan membantumu” bukan soal pesimisme. Tapi sebuah pernyataan yang menegaskan pentingnya fokus pada diri sendiri. Karena memang nggak akan ada orang lain yang benar-benar membantu kita, kecuali diri kita sendiri yang melakukannya.

 

Ungkapan itu pada akhirnya, mengingatkan bahwa tanggung jawab utama atas hidup dan perjuangan kita ada di tangan kita sendiri. Orang lain bisa memberi saran, dukungan, atau bantuan. Tapi mereka tetap tidak bisa menjalani hidup atau mengambil keputusan penting untuk kita. Maka semuanya jadi tanggung jawab kita sendiri. Perubahan nyata (belajar, bekerja keras, memperbaiki diri) hanya terjadi kalau kita sendiri yang bertindak.

 

Mau sebaik apapun orang lain, realitasnya tidak semua orang akan peduli atau siap menolong pada saat kita membutuhkannya. Hanya diri kita sendiri yang bisa melakukannya. Kita mengandalkan diri sendiri, dengan bantuan Tuhan tentunya. Ini bukan berarti menolak bantuan orang lain. Tapi menekankan bahwa bantuan hanya efektif kalau kita yang bergerak sendiri. Contoh sederhananya: kalau kita ingin lulus ujian, guru hanya bisa mengajar dan teman bisa membantu belajar. Tapi yang mengerjakan ujian tetap kita sendiri.

 


Maka, mulailah bangun kepercayaan pada diri sendiri. Tingkatkan kualitas dan daya juang. Karena hasil yang baik dan apapun, sejatinya hanya masalah waktu untuk memcapainya. Asal tetap ikhtiar dan konsisten di jalan yang baik. Bersabarlah dalam menunggu hasil dari upaya kita sendiri. Jalani prosesnya, ikhtiarkan yang baik. Selebihnya serahkan kepada Tuhan yang menentukan hasilnya.

 

Pada akhirnya, ayam yang selalu dalam kandang nggak akan mengerti bagaimana cara elang terbang di angkasa. Bagaimana cara elang berhasil menghadapi bahaya-bahaya yag dihadapinya? Maka jangan meminta izin untuk terbang karena sayap itu milik kita dan langit bukan milik siapa-siapa.

 

Biar bagaimana pun, orang lain nggak akan membantumu kecuali diri kita sendiri yang melakukannya. Salam literasi!

 

Jumat, 13 Februari 2026

Literasi Kesuksesan: Tidak Semua yang Baik Perlu Validasi Orang Lain

 

Banyak orang mengukur kesuksesan dari materi atau kinerja. Bahkan tidak sedikit yang menyebut sukses karena diketahui orang banyak dan dijadikan bahan diskusi. Katanya succes story. Sharing dan berbagi kisah sukses di mana-mana. Setelah itu, merasa sudah jadi role model atau motivator. Serem nggak sih zaman begini?

 

Apalagi di era media sosial, semua hasil yang baik seakan harus dapat validasi dari orang lain. Berhasil karena diakui banyak orang. Maka wajar banyak orang merasa harus memamerkan setiap keberhasilan agar dianggap berhasil. Merasa perlu memberi tahu, bahwa dia sudah melakukan yang hebat. Apa iya begitu? Lupa, bahwa tidak semua hal perlu dipamerkan. Tidak semua capaian layak diumbar.

 

Sukses atau berhasil itu relatif. Dari mana sudut pandangnya. Dan nilai sebuah pencapaian sama sekali tidak diukur dari seberapa banyak orang yang mengetahuinya. Tapi soal komitmen dan konsistensi saja. Seberapa komitmen untuk fokus pada bidangnya? Seberapa konsisten tindakan atau perilaku untuk mengerjakannya? Asal tetap komit dan konsisten sudah cukup walau tidak ada yang mengetahuinya.

 


Mungkin kita hampir lupa. Sukses atau berhasil yang hakiki sering kali lahir dari diam. Keberhasilan dalam sepi. Proses dijalani dalam sunyi, kerja keras tanpa sorotan, dan doa yang tidak dipublikasikan. Semua itu justru memiliki kekuatan yang lebih dalam. Tetap rendah hati untuk menjaga agar tetap fokus pada tujuan, bukan pada pujian.

 

Tanpa pujian tanpa orang tahu, apa yang menjadi komitmennya dijalani. Sepenuh hati dan menjunjung tinggi privasi sebagai kekuatan terselubung. Lagi-lagi, tetap komitmen dan konsisten pada jalannya. Tidak perlu semua orang tahu. Tentang rencana, perjuangan, atau pencapaian kita. Sebab, semakin sedikit yang tahu, semakin besar peluang kita melangkah tanpa gangguan.

 

Maka rawatlah komitmen dan konsistensi yang baik, soal apapun. Lakukan apapun yang baik dan bermanfaat tanpa perlu validasi orang lain. Biarkan nanti hasil yang berbicara dan waktu yang akan membuktikannya sendiri. Itulah literasi kesuksesan yang sejati!