Memang tidak mudah mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Selain dihadapkan pada tantangan sosial, TBM juga dihadapkan pada tantangan “pendanaan” yang kompleks. Tidak punya dana atau uang untuk menutupi biaya operasional TBM. Entah untuk membeli buku, bikin kegiatan, membayar listrik, transport relawan, biaya wifi, atau lainnya. Antara ketersediaan dana vs kebutuhan operasional TBM, bak jauh panggang dari api. Sering tidak nyambung, antara harapan dengan kenyataan?
Melalui survei “Realitas Pendanaan TBM di Indonesia” terungkap kondisi
finansial taman bacaan masyarakat (TBM) di Indonesia. Ternyata, mayoritas (88%)
pembiayaan operasional TBM bersumber dari dana pribadi atau swadaya pengelola,
sementara kontribusi dari donator (10%) dan pemerintah (2%) tergolong minim.
Ketimpangan biaya makin terlihat jelas karena 73% TBM yang ada hanya memiliki
ketersediaan dana “di bawah seperempat” dari total kebutuhan biaya operasional
mereka. Ibaratnya, bila TBM butuh biaya Rp. 1.000.000 per bulan tapi kemampuan
pengelola TBM hanya di bawah Rp. 250.000. Sangat sedikit pengelola yang mampu
memenuhi sebagian besar kebutuhan anggaran mereka secara ideal. Realitas
pendanaan TBM memang mengkhawatirkan, begitulah survei TBM di Indonesia (diperbarui)
yang melibatkan 172 pengelola TBM dari 97 Kab/Kota di 27 Provinsi yang
dilakukan oleh Syarifudin Yunus (TBM Lentera Pustaka Bogor) pada Juli 2026.
Intinya, ada tantangan soal finansial yang dihadapi oleh para pegiat
literasi di berbagai provinsi. Bukan tidak mungkin, kondisi finansial TBM bisa
jadi ancaman keberlangsungan taman bacaan di masa depan. Hasil survei menyebut,
tantangan terbesar dalam pemenuhan anggaran operasional Taman Bacaan Masyarakat
(TBM) di Indonesia mencakup:
1. Kesenjangan
dana yang sangat besar. Tantangan yang paling mencolok adalah tingkat
ketersediaan dana yang sangat jauh dari kebutuhan operasional. Sebanyak 73% TBM
melaporkan bahwa dana yang tersedia berada di bawah 25% dari total kebutuhan
biaya operasionalnya. Hal ini menunjukkan adanya defisit anggaran yang sangat
signifikan bagi mayoritas taman bacaan.
2. Ketergantungan
tinggi pada dana pribadi. Sumber pendanaan utama TBM sangat tidak proporsional.
Sebagian besar operasional TBM, yaitu sebesar 88%, dibiayai melalui dana
sendiri atau swadaya pengelolanya.
3. Minimnya
dukungan eksternal dan pemerintah. Tantangan lainnya adalah rendahnya
kontribusi dari pihak luar. Dukungan dari pemerintah hanya mencakup 2% dari
total sumber dana, sementara bantuan dari donatur hanya sebesar 10%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa beban finansial untuk menjalankan taman
bacaan di Indonesia hampir sepenuhnya ditanggung secara mandiri oleh para
pengelola dengan sumber daya yang masih sangat terbatas dibandingkan kebutuhan
riil di lapangan.
Ketergantungan yang sangat tinggi pada dana pribadi (88%) memiliki
dampak serius terhadap keberlanjutan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Indonesia.
Apa yang akan terjadi pada TBM ke depan?
· Rentan
terhadap penghentian operasional. Karena sumber dana utama bersifat swadaya,
keberlangsungan TBM sangat bergantung pada kondisi finansial pribadi
pengelolanya. Jika pengelola mengalami kesulitan ekonomi, TBM berisiko tinggi
untuk “tutup” karena tidak ada jaring pengaman finansial yang memadai dari
pihak luar.
· Kualitas
layanan yang terbatas. Dengan 73% TBM hanya memiliki dana di bawah 25% dari
kebutuhan operasional riil, maka ketergantungan pada dana pribadi sering kali
hanya cukup untuk "bertahan hidup" saja. Hal ini menyulitkan TBM
untuk berkembang, memperbarui koleksi buku, atau mengadakan program literasi
yang lebih berdampak.
· Kesenjangan
dukungan sistemik. Rendahnya kontribusi dari Pemerintah (2%) dan Donatur (10%)
menunjukkan bahwa beban keberlanjutan literasi masyarakat saat ini masih
bersifat individual, bukan merupakan tanggung jawab kolektif yang terinstitusi.
Tanpa diversifikasi sumber dana, TBM akan terus berada dalam kondisi finansial
yang genting.
Secara keseluruhan, ketergantungan ini menciptakan ekosistem literasi
yang rapuh, di mana semangat pengelola menjadi satu-satunya mesin penggerak
utama di tengah keterbatasan dana yang sangat mencolok.
Jika kondisi pendanaan TBM seperti saat ini dan terus berlanjut,
beberapa kemungkinan risiko dan dampak yang dapat terjadi pada masa depan Taman
Bacaan Masyarakat (TBM) di Indonesia antara lain:
· Risiko
penutupan TBM (Ketidakberlanjutan). Dengan 88% dana berasal dari kantong
pribadi pengelola dan 73% TBM beroperasi dengan dana di bawah 25% dari
kebutuhan sebenarnya, kondisi ini sangat tidak stabil. Jika pengelola mengalami
perubahan situasi ekonomi pribadi atau kehilangan motivasi karena beban
finansial yang berat, TBM tersebut kemungkinan besar akan berhenti beroperasi.
· Stagnasi
kualitas dan layanan. Karena mayoritas TBM (73%) mengalami defisit anggaran
yang sangat besar (hanya memiliki kurang dari seperempat dana yang dibutuhkan),
sulit bagi TBM untuk melakukan inovasi. Ke depannya, TBM mungkin hanya menjadi
tempat penyimpanan buku yang pasif tanpa mampu memperbarui koleksi, memperbaiki
fasilitas, atau menjalankan program literasi yang aktif dan menarik bagi
masyarakat.
· Kelelahan
mental dan finansial pengelola (burnout). Beban operasional yang hampir
sepenuhnya ditanggung secara swadaya dapat menyebabkan kejenuhan pada para
relawan dan pengelola. Tanpa adanya peningkatan dukungan dari pemerintah yang
saat ini hanya sebesar 2%, tanggung jawab literasi nasional akan terus
membebani individu secara tidak proporsional, yang dapat menurunkan semangat
gerakan literasi di tingkat akar rumput.
· Sulitnya
standardisasi dan pengembangan. Selama ketersediaan dana vs kebutuhan biaya
operasional tetap timpang (hanya 2% TBM yang memiliki dana di atas 75% dari
kebutuhan), akan sulit untuk menciptakan standar layanan TBM yang berkualitas
secara merata di seluruh Indonesia. Hal ini dapat memperlebar kesenjangan akses
literasi antar wilayah.
· Ketergantungan
yang rentan pada donator. Meskipun donatur menyumbang 10%, angka ini masih
kecil dan sering kali bersifat tidak tetap. Tanpa skema pendanaan yang lebih
institusional atau mandiri secara ekonomi, TBM akan selalu berada dalam posisi
"bertahan hidup" (survival mode) daripada posisi untuk berkembang.
Secara ringkas, jika pola ini tidak berubah, TBM di Indonesia berisiko
mengalami penurunan jumlah secara drastis atau tetap ada namun dalam kondisi
kualitas yang ala kadarnya, karena besarnya kesenjangan antara semangat
pengabdian dengan dukungan finansial yang nyata. Maka seluruh pihak, patut
peduli terhadap pendanaan TBM di Indonesia. Demi tegaknya kegemaran membaca dan
ketersediaan akses bacaan di masyarakat. Bila tidak, maka TBM akan berada di
posisi “hidup enggan, mati tak mau”. Salam literasi! #TBMLenteraPustaka
#TamanBacaan #GerakanLiterasi

%20rev.png)
%20rev.png)



%20rev.png)



%20rev.png)

.jpg)
%20rev.png)

%20rev.png)




