Jabatan dan kekuasaan sering dikejar, bahkan diperebutkan banyak orang. Di kantor, di organisasi profesi bahkan komunitas, jabatan dan kekuasaan sering diburu. Sayangnya, banyak pemburu jabatan dan kekuasaan itu lupa. Bahwa jabatan dan kekuasaan sebenarnya bukan tempat untuk membentuk karakter orang. Tapi "panggung" yang akan membongkar siapa kita sebenarnya? Orang kalau sudah diberi jabatan, kekuasaan dan kedudukan, maka sifat aslinya yang selama ini tersembunyi akan keluar tanpa filter dengan sendirinya.
Ketika
seseorang belum memiliki jabatan dan kekuasaan, banyak sikap dan kecenderungan
dirinya masih tertahan oleh aturan, tekanan sosial, atau keterbatasan ruang
gerak. Namun, saat ia diberi wewenang, kontrol atas keputusan, dan pengaruh
terhadap orang lain, batas-batas itu mulai longgar. Di titik inilah nilai-nilai
yang selama ini diyakini seperti integritas, empati, atau justru ambisi dan ego
akan tampak lebih jelas dalam tindakan nyata. Karena itu, kekuasaan sering
disebut sebagai “panggung” yang membongkar jati diri. Orang yang sejak awal
memiliki karakter baik cenderung menggunakan kekuasaan untuk melayani dan
memberi manfaat, sementara yang menyimpan kecenderungan negatif bisa menjadi
lebih dominan dan arogan, bahkan tanpa disadari. Jabatan dan kekuasaan memang
tidak mengubah seseorang sepenuhnya, tetapi ia memperbesar dan mempercepat
kemunculan sifat asli yang sebelumnya tersembunyi. Inilah sebabnya, sebelum
mengejar jabatan, yang lebih penting adalah membangun karakter yang kuat,
karena ketika panggung itu datang, yang tampil bukan lagi topeng, melainkan
diri yang sebenarnya.
Di dekat kita,
ada orang yang sebelum menjabat terlihat ramah, peduli, dan rendah hati. Tapi
begitu menjabat dan memegang kuasa, mendadak jadi arogan, subjektif dan sulit
diberi saran. Sebaliknya, ada orang yang justru menggunakan otoritasnya untuk
benar-benar melayani spepenuh hati untuk kemajuan organisasinya. Sebelum dipilih
dan menjabat terlihat tidak punya ambisi. Tapi begitu terpilih dan menjabat, karakternya
berubah. Merasa berkuasa sehingga meminta akses, kontrol, dan privilese bahkan ego
meningkat. Merasa butuh akan pengakuan atau dorongan dominasi yang sebelumnya
tersembunyi menjadi lebih dominan dan tampak sebagai arogansi. Sebaliknya, pada
orang yang sejak awal memiliki nilai integritas dan orientasi pelayanan yang
kuat, kekuasaan justru memperluas kapasitas untuk berbuat baik, membuat
keputusan yang berpihak pada kepentingan umum, dan melayani secara konsisten
tanpa syarat, sehingga otoritas menjadi sarana kemajuan, bukan alat untuk
meninggikan diri.
Ada sebuah
organisasi, yang kini dipimpin orang yang ambisi meraih jabatan dan kekuasaan. Bersikap
arogan dan subjektif dengan segala argument yang terkesan baik. Tapi faktanya
saat memimpin, kantor organisasinya yang “dijanjikan” akan dijadikan lebih
besar malah berubahn jadi lebih kecil atas alasan efisiensi. Keputusan
organisasi yang selama ini dibangun atas demokrasi kini berubah jadi subjektif
alias “terserah” si pemilik jabatan dan kekuasaan. Bahkan fungsi pelayanan dan
akomodasi anggota akhirnya “hilang”. Tentu, semuanya atas dalih dan argument yang
Menurut si pemiliki jabatan dan kekuasaan “masuk akal”.
Ternyata, jabatan
dan kekuasaan itu seperti mikroskop. Dia memperbesar apa yang sudah ada di
dalam hati. Kalau dasarnya arogan dan subjektif akan makin terlihat. Kalau
dasarnya tulus, akan makin terasa manfaat bagi anggotanya. Maka jabatan dan kekuasaan
sama sekali tidak menciptakan sifat baru, melainkan memperjelas dan memperbesar
apa yang sudah ada dalam diri seseorang. Ketika seseorang memiliki
kecenderungan subjektif misalnya memihak, egois, atau tidak adil maka saat ia
memegang jabatan, sikap tersebut akan semakin tampak dalam keputusan dan
tindakannya. Sebaliknya, jika dasar hatinya tulus, berintegritas, dan
berorientasi pada kepentingan bersama, maka kekuasaan akan menjadi sarana untuk
memperluas kebaikan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi banyak orang.
Dengan kata lain, jabatan bukan penentu baik atau buruknya seseorang, tetapi
alat yang membuat kualitas batin seseorang menjadi lebih nyata dan terlihat.
Maka hati-hati
dengan jabatan dan "sindrom merasa lebih tinggi." Ketahuilah, jabatan
itu titipan yang ada masa kedaluwarsa-nya, tapi integritas dan nama baik akan
diingat selamanya. Jangan pernah “merasa lebih tinggi” di mana pun, karena cenderung
merasa paling berkuasa, paling benar, atau sulit dikritik, padahal posisi itu
hanyalah amanah yang sifatnya sementara dan bisa berakhir kapan saja. Ketika
seseorang terlena oleh kekuasaan, ia berisiko mengambil keputusan yang arogan
dan merusak hubungan dengan orang lain. Sebaliknya, jika ia menyadari bahwa
jabatan adalah titipan, maka ia akan lebih rendah hati, berhati-hati, dan
bertanggung jawab dalam bertindak.
Sebab pada
akhirnya, yang paling bertahan bukanlah jabatan yang pernah dipegang, melainkan
integritas dan nama baik yang akan terus diingat dan dinilai oleh orang lain
dalam jangka panjang. Pernah punya pengalaman melihat perubahan sifat seseorang
setelah meraih jabatan?

.jpg)



.jpg)

.jpg)


%20rev.jpg)





.jpg)
