Kamis, 07 Mei 2026

Orang Lain Punya Aib tapi Kita Juga Punya Kan?

 

Ini realitas sehari-hari. Kita sering begitu mudah melihat kekurangan orang lain. Tapi sangat sulit melihat kekurangan diri sendiri. Padahal setiap manusia punya aib, kelemahan, dan pernah melakukan kesalahan. Tidak ada orang yang hidupnya benar-benar bersih dari kekeliruan. Karena itu, ketika kita terlalu sibuk menghakimi orang lain, sebenarnya kita sedang lupa bahwa diri kita pun tidak sempurna. Kesadaran inilah yang seharusnya membuat manusia lebih rendah hati dalam bersikap.

 

Contohnya bisa dilihat di lingkungan kerja. Ada seorang karyawan yang sering datang terlambat lalu menjadi bahan omongan teman-temannya. Mereka menilai ia malas dan tidak disiplin. Namun ternyata, setiap pagi ia harus mengantar ibunya berobat sebelum masuk kantor. Orang-orang hanya melihat kesalahannya di permukaan, tanpa mengetahui perjuangan yang sedang ia hadapi. Sementara mereka yang menghakimi mungkin juga punya kekurangan lain yang tidak terlihat oleh orang lain.

 

Di lingkungan keluarga juga sering terjadi hal serupa. Seorang anak dianggap kurang berhasil karena belum memiliki pekerjaan mapan seperti saudara-saudaranya. Ia sering dibanding-bandingkan dan dianggap tidak membanggakan keluarga. Padahal, diam-diam ia sedang berjuang melawan kegagalan dan terus mencoba bangkit. Orang lain mudah melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat luka, tekanan, dan usaha yang sedang dijalani seseorang.


 

Hal yang sama banyak terjadi di media sosial. Seseorang melakukan kesalahan kecil lalu langsung dihujat ramai-ramai seolah ia manusia paling buruk di dunia. Padahal orang yang menghujat pun belum tentu lebih baik. Bedanya hanya satu: kesalahan mereka belum terlihat publik. Di era sekarang, banyak orang terlalu cepat menjadi hakim atas hidup orang lain, tetapi sangat lambat mengoreksi dirinya sendiri. Akibatnya, empati semakin hilang dan manusia lebih senang menjatuhkan daripada memahami.

 

Karena itu, menjadi orang baik tidak harus disertai perasaan paling baik. Kebaikan sejati justru lahir dari kesadaran bahwa kita pun penuh kekurangan. Orang yang bijak akan lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari-cari cela orang lain. Ia tahu bahwa hidup bukan perlombaan siapa paling suci, melainkan perjalanan untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih rendah hati, lebih memahami, dan lebih berbelas kasih kepada sesama.

 

Maka pesan sederhananya. Orang lain memang punya aib tapi kita juga punya. Orang lain punya kekurangan, kita juga punya. Orang lain pernah melakukan kesalahan, kita juga sama. Maka jangan terlalu pintar melihat kekurangan orang lain. Tapi buta dengan kekurangan diri sendiri. Ketahuilah, tidak ada orang yang sempurna. Belajarlah terus untuk menjadi orang baik tanpa harus merasa paling baik.

 

Rabu, 06 Mei 2026

Gelar Akademik Hanya Tanda Bahwa Kita Pernah Kuliah

Semakin tinggi gelar yang dimiliki, semakin besar pula penghormatan yang diberikan masyarakat. Karenanya, gelar akademik memang sering dianggap sebagai simbol keberhasilan seseorang dalam menempuh pendidikan. Namun pada hakikatnya, ijazah hanyalah tanda bahwa seseorang pernah belajar di lembaga pendidikan, bukan ukuran mutlak tentang kedewasaan sikap, kebijaksanaan, atau kemuliaan akhlaknya. Sebab pendidikan yang sejati tidak berhenti pada kemampuan berpikir, tetapi juga membentuk cara bersikap dan memperlakukan sesama manusia.

 

Kita sering menemukan kenyataan bahwa ada orang berpendidikan tinggi tetapi mudah menghina, merendahkan, atau menyakiti orang lain lewat perkataannya. Ada pula yang cerdas secara akademik, namun tidak mampu mengendalikan emosi dan ego ketika menghadapi perbedaan pendapat. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa karakter bisa kehilangan maknanya. Kepintaran memang dapat membuat seseorang dihormati, tetapi akhlaklah yang membuat seseorang benar-benar dihargai dalam kehidupan.

 

Maka integritas menjadi bagian penting yang seharusnya lahir dari proses pendidikan. Pendidikan bukan hanya mengajarkan cara meraih kesuksesan, tetapi juga mengajarkan kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian menjaga prinsip. Ketika seseorang rela mengorbankan kejujuran demi jabatan, keuntungan, atau kepentingan pribadi, maka nilai pendidikan yang dimilikinya menjadi kosong. Sebab ilmu yang tidak dibarengi moral justru bisa digunakan untuk membenarkan kesalahan dan merugikan banyak orang.

 

Di tengah perkembangan zaman saat ini, dunia sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Teknologi membuat ilmu pengetahuan semakin mudah diakses, dan banyak orang mampu tampil hebat secara intelektual. Namun yang semakin langka adalah pribadi yang memiliki empati, rendah hati, serta mampu menjaga martabat dirinya di tengah godaan dunia. Manusia yang tetap jujur saat punya kesempatan berbuat curang, tetap santun saat berbeda pendapat, dan tetap menghormati orang lain meski merasa lebih pintar—itulah sosok yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat hari ini.

 


Karena itu, tujuan akhir pendidikan seharusnya bukan sekadar mendapatkan gelar atau pengakuan sosial, melainkan membentuk manusia yang utuh: cerdas pikirannya, matang emosinya, dan baik perilakunya. Ilmu pengetahuan akan menjadi cahaya yang bermanfaat jika dibarengi hati yang bersih dan karakter yang kuat. Sebab pada akhirnya, yang paling dikenang dari seseorang bukan hanya seberapa tinggi pendidikannya, tetapi bagaimana ia memperlakukan manusia lain dengan nilai, hati, dan harga dirinya.

 

Sekali lagi, gelar akademik itu hanyalah bukti bahwa kita pernah menempuh pendidikan, tapi bukan jaminan bahwa kita telah menjadi 'manusia. Jika ijazah setinggi langit namun lisan penuh caci maki, emosi masih mentah, dan integritas digadaikan demi kepentingan, maka ada yang salah dengan proses belajar kita. Mari ingat lagi: tujuan akhir pendidikan adalah karakter, bukan sekadar lembaran kertas. Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, ia hanya sedang rindu pada manusia yang punya hati dan harga diri. 

Dan gelar akademik juga bukan bukti bahwa seseorang gemar membaca. Salam literasi!

Kita Tidak Bisa Membuat Semua Orang Suka

Sudah pasti, kita tidak bisa membuat semua orang suka. Sebab hati manusia berbeda-beda arah rasanya. Ada yang melihat dengan cinta, ada pula yang menilai dengan prasangka. Kita tidak perlu memaksa dunia menerima, tidak perlu lelah menjelaskan siapa diri kita? Karena sekeras apa pun kita berusaha, akan selalu ada yang memilih untuk tidak menyukai. Maka, biarlah semuanya terjadi. Asal kita tetap berjalan dengan niat yang lurus, tetap berbuat baik tanpa harus dipuji, tetap menebar manfaat tanpa merendaahkan, dan tetap tulus meski tidak selalu dimengerti. Di mana pun hingga kapan pun.


Bisa jadi, di sebuah kantor, ada seorang karyawan yang selalu membantu rekan-rekannya menyelesaikan pekerjaan. Ia sering lembur demi memastikan timnya tidak tertinggal target. Sebagian teman menganggapnya baik dan peduli, tetapi ada juga yang menilai ia hanya ingin mencari perhatian atasan. Padahal niatnya sederhana: ia hanya ingin pekerjaan selesai dengan baik. Dari situ terlihat bahwa satu tindakan yang sama bisa diterima dengan rasa yang berbeda oleh setiap orang.


Begitu pula dalam kehidupan bertetangga juga sering terjadi hal serupa. Misalnya, ada seseorang yang jarang ikut berkumpul karena sibuk bekerja dan mengurus keluarga. Sebagian tetangga memahami keadaan itu dan tetap menghargainya. Namun ada pula yang menganggapnya sombong atau tidak mau bersosialisasi. Padahal kenyataannya belum tentu demikian. Ini mengajarkan bahwa manusia sering menilai hanya dari apa yang terlihat, bukan dari keseluruhan cerita yang sebenarnya.


Di media sosial, seseorang membagikan konten motivasi atau pengalaman hidup dengan tujuan memberi semangat kepada orang lain. Banyak orang merasa terbantu dan terinspirasi, tetapi ada juga yang memberi komentar sinis, menuduh pencitraan, atau mencari popularitas. Dunia digital membuat setiap orang bebas berpendapat, bahkan tanpa memahami isi hati orang lain. Karena itu, jika terlalu sibuk memikirkan penilaian semua orang, seseorang bisa kehilangan ketenangan dirinya sendiri.


Contoh lain terjadi dalam lingkungan keluarga. Ada anak yang memilih jalan hidup berbeda dari harapan keluarganya, misalnya memilih pekerjaan sederhana yang ia cintai dibanding pekerjaan bergengsi dengan gaji besar. Sebagian keluarga mendukung karena melihat kebahagiaannya, tetapi sebagian lain menganggap ia tidak punya ambisi. Padahal setiap manusia memiliki ukuran kebahagiaan dan tujuan hidup yang tidak selalu sama. Tidak semua pilihan hidup harus dipahami semua orang agar menjadi benar.



Dalam persahabatan pun demikian. Kadang kita sudah tulus membantu teman saat ia kesulitan, mendengarkan keluh kesahnya, bahkan hadir di saat sulit. Namun ketika terjadi kesalahpahaman kecil, kebaikan yang pernah dilakukan bisa terlupakan begitu saja. Ada teman yang tetap mengerti ketulusan kita, ada juga yang memilih pergi karena sudut pandangnya berbeda. Dari situ kita belajar bahwa berbuat baik bukan berarti kita akan selalu mendapatkan balasan yang sama dari manusia.


Karena itu, hidup tidak perlu dihabiskan untuk mengejar agar semua orang menyukai kita. Yang lebih penting adalah menjaga niat tetap lurus, bersikap baik tanpa berharap pujian, dan tetap menjadi diri sendiri tanpa merugikan orang lain. Penilaian manusia akan selalu berubah-ubah sesuai perasaan dan sudut pandangnya. Tetapi ketulusan, kesabaran, dan kejujuran dalam menjalani hidup adalah hal yang akan membuat hati tetap tenang, meski tidak selalu dimengerti oleh semua orang.


Jadi apapun, teruslah perbaiki niat dan ikhtiar yang baik. Tetap fokus pada diri sendiri dan abaikan penilaian orang lain. Sebab kita tidak bisa membuat semua orang suka pada kita. Bekerja yang optimal dan jangan lupa siapkan dana pensiun untuk hari tua yang nyaman. #YukSiapkanPensiun


Burung Kok Mempermasalahkan Ikan Berenang, Pasti Lelah Hidup Kayak Begitu

Dunia sering terasa melelahkan bukan karena terlalu banyak masalah besar, tetapi karena terlalu banyak orang sibuk mencampuri hal yang bukan wilayahnya. Terlalu gampang mempermasalahkan sesuatu yang bukan urusannya. Doyann ikut campur, ngurusin hal-hal yang bukan urusannya. Ketika setiap orang merasa berhak menilai kehidupan orang lain, suasana menjadi penuh tekanan. Padahal, tidak semua hal perlu dikomentari, tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Banyak kegaduhan lahir hanya karena orang melihat dari sudut pandangnya sendiri, tanpa mencoba memahami realitas orang lain. Orang kerja kok bahas orang nganggur dan sebaliknya. Begitulah seterusnya.

 

Bayangkan sebuah lingkungan kantor. Ada seorang karyawan yang pulang tepat waktu setiap hari. Rekan-rekannya mulai berbisik, “Kurang dedikasi,” atau “Nggak total kerja.” Mereka menilai hanya dari apa yang terlihat. Padahal, karyawan itu pulang cepat karena harus merawat orang tuanya yang sakit di rumah. Tanpa tahu latar belakangnya, orang lain sudah lebih dulu menyimpulkan. Di sinilah masalah muncul: penilaian tanpa pemahaman.

 

Di lingkungan tetangga pun sering terjadi hal serupa. Seorang ibu muda memilih bekerja dari rumah sambil mengurus anak. Ada yang berkomentar, “Cuma di rumah aja,” seolah itu hal yang mudah dan tidak bernilai. Sementara itu, ibu tersebut harus membagi waktu antara pekerjaan, anak, dan rumah tangga tanpa jeda. Orang lain melihat dari kacamata mereka sendiri, tanpa pernah mencoba masuk ke realitas yang berbeda.

 

Contoh lain terjadi di media sosial. Seseorang membagikan pencapaiannya—entah itu usaha yang mulai berkembang atau perjalanan hidup yang membaik. Alih-alih memberi apresiasi, sebagian orang justru mencibir, “Pamer,” atau “Baru segitu saja.” Mereka tidak melihat proses panjang di baliknya: kegagalan, kerja keras, dan pengorbanan yang tidak pernah diposting. Seperti burung yang mempertanyakan cara ikan berenang—karena ia tidak pernah hidup di air.

 


Hal yang sama juga terjadi dalam keluarga. Seorang anak memilih jalan karier yang berbeda dari harapan orang tuanya. Orang tua menilai pilihan itu salah hanya karena tidak sesuai dengan pengalaman mereka sendiri. Padahal zaman sudah berubah, peluang juga berbeda. Ketika penilaian hanya didasarkan pada sudut pandang pribadi, tanpa ruang untuk memahami, konflik menjadi sulit dihindari.

 

Dari semua kisah itu, kita belajar bahwa tidak semua hal adalah urusan kita untuk dinilai. Setiap orang punya jalan, latar belakang, dan perjuangannya sendiri. Ketika kita berhenti terlalu ikut campur dan mulai belajar memahami, dunia terasa sedikit lebih ringan. Damai bukan datang dari semua orang menjadi sama, tetapi dari kemampuan kita untuk menghargai perbedaan tanpa harus menghakimi. Jadi, tidak usah ikut campur urusan orang lain. Apalagi bila niatnya hanya merusak atau karena benci.

 

Maka sudahilah, burung tidak usah mempermasalahkan cara ikan berenang. Dan ikan pun tidak usah mempermasalahkan cara buaya melata. Semuanya punya jalan hidupnya masing-masing. Fokus saja pada diri sendiri untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat!

Buat apa Gaji Gede tapi Stres Kerja dan Nggak Punya Dana Pensiun?

 

Ini menarik nih buat diceritakan. Saya punya kawan, keren banget. Gajinya gede, sekitar 3 kali lipat saya. Kawan saya biasa makan siang di tempat yang saya cuma bisa lihat dari luar. Mobilnya baru. Jabatannya mentereng di LinkedIn. Tapi tiap kali kita ngobrol, matanya nggak pernah kawan saya jarangtenang.  

 

Awalnya saya iri. Atas kesuksesan kawan ini. Wajar kan, sebab kita semua pernah lihat orang "sukses" dan otomatis menghitung “apa kekurangan kita?”. Kok kita nggak bisa seberuntung kawan yang sukses, kira-kira begitu.

 

Tapi lama-lama, saya justru mulai menangkap hal lain dari kawan yang sukses ini. Dia nggak pernah cerita soal hal-hal yang bikin dia senang saat bekerja. Dia cuma cerita soal hal-hal yang bikin dia bertahan. Dia sering cerita strategi untuk bertahan di posisinya, bukan hal yang menyenangkan dari pekerjaannya.

 

Satu malam, dia chat saya via WA. Bukan darurat, tapi dia cerita nggak bisa tidur. Katanya sudah 4 bulan ini kayak gitu. Tidur Cuma 3-4 jam, bangun dengan jantung berdegup, langsung cek email. Atau nge-cek kerjaan yang masuk lewat WA. Susah tidur tapi “dihantui” pekerjaan, berat juga ya dalam hati saya.  

 

Saya akhirnya bertanya, "Elo kerja Cuma buat bertahan? Terus pernah kepikir untuk resign nggak?"

Dia diam lama dan belum jawab chat di WA. Lalu, menjawab dengan "Kepikir sih, tapi gue udah di level ini. Kalau gue turun, orang bakal mengira gue gagal."

Yah, saya nggak jawab apa-apa. Karena saya tahu itu bukan alasan yang pas. Itu hanya ketakutan yang “dikasih” baju logika. Dan saya sangat memhami ketakutan kawan saya itu.

 

Bukan soal gajinya. Tapi soal title-nya. Soal persepsi orang. Soal identitas yang sudah terlanjur dibangun dari jabatan. Memang, jabatan itu suka bikin pemiliknya ketakutan. Takut hilang jabatannya, Sebab ketika jabatan itu pergi, “yah siapalah kita sebenarnya?”  

 

Punya jabatan jadi susah tidur, jantung selalu berdegup soal kerjaan. Terladang saya suka mikir keras soal ini. Kawan saya lelah pikirannya. Waktu yang dia habiskan untuk recover dari burnout gara-gara jabatan. Dan nggak sadar kondisi begitu nggak bisa dibeli balik. Saraf yang sudah terlalu sering terbakar juga kan ada batasnya. Gaji boleh besar. Tapi “tagihan” kesehatan mental yang datang belakangan juga jauh lebih besar. Maka pantas, banyak orang kerja mungkin mentalnya agak sakit tapi jaran disadari. 

 


Jujur sih saya nggak bilang gaji kecil itu mulia. Saya juga nggak mau me-romantisasi tidak cukupnya gaji untuk biaya hidup. Karena kondisi itu fakta di lapangan. Ada yang gaji gede ada yang gaji kecil tapi kesehatan mental kerja sering diabaikan.

 

Tapi jelas dari obrolan dengan kawan tadi. Ada jarak yang gede antara "gaji cukup dan tenang" dengan "gaji besar tapi selalu di ujung jurang." Dan banyak orang kerja milih yang kedua. Bukan karena itu lebih baik. Tapi karena takut dilihat mundur, takut kehilangan jabatan.   

 

Dan setelah enam bulan kemudian, apa yang terjadi? Kawan saya akhirnya keluar dari tempat kerjanya itu. Dan bekerja lagi di kantor lain. Gajinya turun hampir separuh. Jabatannya nggak sekeren dulu. Tapi waktu saya ketemu dia minggu lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Kawan saya bisa tertawa beneran, kelihatan lebih happy di kerjaan yang sekarang.

 

Dan saya pun tanya ke dia, “’elo sudah punya dana pensiun belum? Buat hari tua, takutnya elo berhenti kerja mendadak?” Jangan sampai kerja puluhan tahun punya gaji tapi nggak mau siapin masa pensiun sendiri. Seperti orang yang aktif kerja, masa pensiun juga butuh “ketenangan” dan itu mahal harganya. #YukSiapkanPensiun

 

Orang Bisa Terlihat Baik Saat Semuanya Berjalan Sesuai Harapan

Dari persfektif literasi, orang bisa terlihat baik saat semuanya berjalan sesuai keinginannya. Asal semua yang berjalan sesuai harapannya, pasti baik. Tapi coba lihat, bagaimana saat sia kecewa? Saat tidak diuntungkan, ketika tidak mendapatkan yang dia mau? Di situlah karakter asli seseorang keluar. Jadi, kondisi ini patut dipertimbangkan dalam pergaulan atah hubungan kerja. 

 

Memang, membaca orang itu bukan soal insting semata. Tapi soal mau memperhatikan pola. Gimana reaksinya atas hal-hal yang sesuai harapan dan tidak sesuai harapan. Apakah dia konsisten? Apakah ucapannya sejalan dengan tindakannya? Dan apakah dia menghargai orang lain atau hanya di saat butuh saja?  

 

Semua orang bisa terlihat baik di momen tertentu. Tapi tidak semua orang bisa konsisten dalam waktu lama. Masalahnya, banyak orang yang sudah melihat tanda-tandanya. Tapi memilih untuk mengabaika karakternya. Karena berharap orang itu akan berubah.   

 

Padahal kenyataannya sederhana. Orang tidak akan berubah hanya karena kita menyenanginya. Orang tidak akan berubah saat harapannya tidak tercapai. Jadi sebelum terlalu jauh, belajarlah pelan-pelan tentang karakter orang. Utamanya orang-orang di dekat kita, karena lingkungan dekat sangat berpengaruh besar membentuk pikiran dan perilaku kita. Amati, saring, lalu jujur pada apa yang kita lihat. Bila baik yang pertahankan, bila buruk ya tinggalkan.

  


Seperti orang yang membaca buku, ada yang sesekali ada yang jadi kebiasaan. Ada yang tetap membaca buku sekalipun di tempat sepi. Tapi tidak sedikit orang yang membaca buku di saat ramai. Karena membaca buku, bisa jadi alat pembentuk “image”. Biar dibilang apa saat kita membaca buku? Ada yang menjadikan membaca buku untuk pujian dan popularitas. Tapi ada juga yang tetap membaca buku secara diam-diam, tanpa perlu validasi dari orang lain atau mana pun.

 

Itulah pentingnya “membaca”. Karena sekali kita salah membaca, maka yang kita hadapi bukan cuma kecewa. Tapi waktu yang terbuat percuma dan tidak bisa diulang lagi. Salam literasi!

 

Selasa, 05 Mei 2026

Cukstaw Cerpen "Kejutan Pahit di Hari Sabtu"

Ini cerita anak muda yang lagi pacaran. Sebulan lalu, di hari Sabtu. Saat pacar gue menelpon dan bilang ada kegiatan badminton sama teman-teman kantornya. Ohh, olah raga ya. Biasa aja dong, nothing suspicious. Tidak ada yang mencurigakan.

 

Terus gue nawarin jemput pakai motor. Tapi dia bilang "nggak usah, aku pulang sendiri aja." Oke deh, ya gue iya-in aja. Tapi dia bilang habis itu mau ke SM (Semanggi Mall). Lucunya, gue juga pas lagi di SM. Jadi gue stay aja di situ. Mikirnya nanti bisa pulang bareng kan. Begitulah rencana simpel dan normal aja buat lelaki yang lagi punya pacar. Nggak ada yang aneh kan?

 

Sabtu itu terasa biasa saja. Langit mendung tipis, seperti ragu untuk hujan atau sekadar lewat. Gue masih ingat nada suara cewek gue di telepon tadi. Ringan, santai, dan tanpa beban. Katanya ada badminton bareng teman kantor. Gue percaya, karena memang nggak ada alasan untuk curiga. Bahkan ketika gue menawarkan untuk menjemput, dia menolak dengan lembut. "Nggak usah, aku pulang sendiri." Itu kalimat biasa dan sederhana di kalangan orang yang lagi pacaran. Biasa dan tidak berarti apa-apa.

 

Lalu, dia menyebut akan ke Semanggi Mall setelah badminton. Kebetulan yang terasa seperti takdir kecil, gue juga sedang di sana. Gue nggak bilang ke dia. Gue memilih diam, sambil berpikir akan jadi kejutan kecil yang manis. Gue nunggu dong di SM, sambil hunting dan berjalan pelan dari lantai ke lantai, sesekali mengecek ponsel, membayangkan wajahnya saat melihat dia tiba-tiba muncul. Rencana sederhana seorang lelaki sama pacarnya, sama seperti yang lainnya.

 

Waktu berjalan lebih lama dari yang gue kira sih. Satu jam. Dua jam. Pesan gue hanya dibalas singkat, atau kadang tidak sama sekali. Gue mulai merasa ada yang aneh, tapi gue tepis sendiri. Nggak boleh mikir macam-macam. Mungkin dia masih di jalan. Mungkin macet. Mungkin baterainya habis. Gue terus menunggu, duduk di sudut kafe dengan kopi yang sudah dingin, berharap setiap orang yang lewat adalah dia. Kebayang dong kalau lagi kasmaran?

 


Sampai akhirnya gue benar-benar melihat dia dari kejauhan. Bukan sendirian. Tapi dia berjalan pelan, tertawa kecil bersama seseorang yang nggak gue kenal. Atau mungkin nggak pernah gue sadari sebelumnya. Siapa ya yang jalan bareng pacar gue itu? Laki-laki sawo matang tapi bukan cowok motoran tampangnya. 

 

Tapi dari cara jalan mereka berdua seperti bukan sekadar teman. Dari cara berdiri yang terlalu dekat melebihi sekadar kawan. Bahkan cara pacar gue menatap ke cowok itu seperti bukan tatapan yang biasa. Dan gue mulai mikir sih. Siapa ya cowok itu? Entah kenapa, gue merasa dunia jadi mengecil saat itu juga, seolah semua suara di mall menghilang. Yang tersisa hanya detak jantung gue yang tiba-tiba berdegup cepat. Mulai dag dig dug. "Apaan sih ini?" Gue membatin sendiri. 

 

Gue nggak menghampirinya. Hanya memandang dari jauh. Nggak juga memanggil namanya. Gue hanya berdiri di tempat, lalu menyadari bahwa rencana sederhana pulang bareng dari mall itu tidak pernah benar-benar ada untuk gue. Tadinya gue berpikir, seolah nggak sengaja bisa ketemu dia di mall, lalu pulang bareng. Namanya juga rencana tapi realitasnya beda ya.

 

Ternyata "aku pulang sendiri" memang bukan sekadar judul novel atau film. Hari Sabtu itu mungkin tetap terlihat biasa bagi orang lain, tapi nggak buat gue. Hari Sabtu nggak lagi bisa buat kejutan manis. Itu adalah hari ketika sesuatu yang gue kira pasti... diam-diam sudah pergi tanpa pernah benar-benar berpamitan. Tanpa basa-basi, selalu ada permainan di belakang gue.

 

Sambil menunduk, gue akhirnya berjalan ke parkiran motor sambil menutup kepala dengan jaket kupluk. Melangkah pelan, sepelan kura-kura yang habis cari makan. Gue kira kejutan manis ada di hari Sabtu, nggak tahunya kejutan pahit seperti yang dirasakan banyak anak muda  cowok lainnya. 

 

Gue pun bergumam, badiminton badminton. Gampang banget bikin alasannya cuma mau menyimpang. #CukstawCerpen

 

 


Membaca Buku di Taman Bacaan, Butuh Apa?

Ada yang bilang integritas itu sepi. Karena tidak semua orang kuat untuk jujur Terutama saat tidak ada yang melihat. Orang berintegritas itu konsisten. Di depan orang sama, di belakang juga sama. Tidak punya dua wajah untuk dua situasi.  

 

Orang berintegritas tidak gampang ikut arus. Tidak mudah bilang iya hanya untuk suasana aman. Tidak mengubah prinsip, hanya demi diterima. Siapapun yang punya integritas pasti tahu batasnya. Kapan harus berbuat kapan harus rileks? Tahu kapan harus berhenti. Berani bilang “tidak” tanpa harus merasa bersalah.  

 

Tentu, orang yang punya integritas bisa saja rugi. Bisa saja kehilangan peluang. Bahkan kehilangan orang. Tapi dia tetap “memilih benar”. Bukan karena sempurna. Tapi karena tidak mau hidup dengan kebohongan yang dibuat sendiri.  

 

Orang yang punya integritas, tetap bertindak saat sepi atau ramai. Tidak butuh panggung, apalagi popularitas. Sebab ukurannya bukan apa yang didapat. Tapi seberapa konsisten melakukannya? Karenanya, integritas tidak butuh pujian apalagi validasi orang lain. Selain memegang komitmen dan konsistensi, dari dulu hingga kini.

 


Orang-orang yang punya integritas memang sering tidak terlihat. Sebab dia berperang dengan dirinya sendiri. Menahan yang ingin dilampiaskan. Menolak yang sebenarnya menguntungkan. Dan memilih yang benar, meski berat.  

 

Karena dia paham. Karakter tidak dibentuk saat semua mudah. Tapi saat kita punya pilihan untuk menyimpang namun kita tetap lurus. Dan pada akhirnya, integritas bukan tentang terlihat baik di mata orang lain. Tapi tentang tetap jujur pada diri sendiri, bahkan saat tidak ada yang menilai sekalipun.

 

Seperti membaca buku atau berkiprah di taman bacaan. Pun butuh integritas, untuk selalu komit dan konsisten dalam membaca. Ada atau tidak orang lain tetap membaca. Ada panggung atau tidak ada panggung, buku-buku tetap dibaca tanpa mau dibiarkan berserakan. Itulah kenapa membaca buku butuh integritas, bukan hanya “panggung” sosial. Salam literasi!  

 


Pekerja Kalau Naik Gaji Rp 5 Juta, Buat Apa?

Seorang kawan kerja di dana pensiun, salah satu perusahaan manajer investasi gede. Suatu hari, ngopi bareng dan ngobrol santai di kafe. Dia bilang begini, "Orang yang paling tenang soal uang itu yang nggak gampang panik waktu investasi turun atau inflasi naik. Apapun kondisinya, nggak panik”

 

Saya agak bingung. Lalu bertanya, “Apa maksudnya?"

Dia jawab, "Iya, itu orang-orang yang nggak langsung mengubah standar hidup begitu gaji naik. Biar gajinya naik tetap biasa saja"

Saya pun mikir. Dalam hati, langsung membatin, "Oh, ini mah saya banget. Tapi kok bisa ya?” 

Dia lanjut cerita, "Elo lihat ya, orang yang baru naik gaji, hal pertama yang mereka lakukan biasanya apa?"

Saya jawab, "Biasanya beli barang baru? Ganti HP? Atau liburan?"

Dia mengangguk. "Dan itu yang bikin mereka nggak pernah benar-benar tenang soal uang."  

 

Saya pun ingat, dulu saat gaji naik, saya langsung mikir: "Wah, sekarang saya bisa lebih hedon. Sedikit konsumtif". Langsung ganti HP. Beli sepatu baru. Makan di restoran mahal bisa dua Minggu sekali. Dan nggak lama kemudian, tetap saja uang saya nggak cukup. 

 

Kenapa? Karena setiap ada tambahan pemasukan, standar hidup ikut naik. Begitu gaji naik, gaya hidup ikutan naik. Gaji naik 20%, pengeluaran naik 20% juga. Nggak ada yang namanya "nabung" atau "investasi" dengan serius. Gaji naik bukannya buat nabung malah naikin gaya hidup.  

 

Kawan saya bilang lagi, "Coba elo hitung. Berapa banyak kenaikan gaji elo yang benar-benar bikin elo lebih kaya? Bukan cuma lebih gaya". Duhh, saya langsung tersinggung sih.

Saya mikir keras. Selama ini, hampir semua kenaikan gaji saya habis buat hidup dan bergaya.  

 

Ini bukan soal pelit. Tapi soal punya kesadaran: setiap ada "kelebihan," prioritasnya bukan langsung "habiskan." Kan ada opsi lain: investasi, siapin dana pensiun, jadiin dana darurat, atau bahkan sekadar "biarin" di rekening.  

 


Contoh konkret dari temen saya nih:

Si A: Gaji naik Rp 5 juta. Tetap hidup seperti biasa, Rp 3 juta buat investasi, sisanya nabung.

Si B: Gaji naik Rp 5 juta. Langsung cicil mobil, gaya hidup naik drastis.

Dan 5 tahun kemudian, apa yang terjadi?

Si A: Punya aset investasi yang nilainya sudah bikin dia "tenang" secara finansial.

Si B: Masih kerja keras, takut PHK, hidup dari gaji ke gaji.

Kalau begitu faktanya, siapa yang lebih tenang? Jelas si A kan.  

 

Dari obrolan santai dengan kawan. Saya akhirnya sadar. Bahwa  kekuatan terbesar bukan di "menambah" (penghasilan/gaji). Tapi gimana "tidak buru-buru mengubah" standar hidup saat gaji naik. Tidak memperbesar gaya hidup saat pendapatan meningkat. Inilah yang perlu dipikirkan banyak pekerja. Mungkin, kita perlu menata ulang pikiran kita sendiri soal uang. Gimana bisa lebih bijak memakai uang, sekalipun itu uang kita sendiri.

 

Hingga saya menyimpulkan sendiri. Bahwa kerja itu nggak akan terus-menerus. Pasti ada masa pensiun atau berhenti bekerja. Bisa karena usia pensiun atau karena di-PHK. Jadi, kenapa kita nggak berpikir nabung untuk masa pensiun atau saat nanti tidak punya gaji lagi.

 

Itulah pentingnya pekerja punya dana pensiun seperti DPLK. Siap-siap bila suatu saat tidak bekerja lagi. Biar bisa lebih tenang saat punya atau tidak punya uang.  Jadi, gimana Menurut ana saat naik gaji? Langsung bikin jadi "naik kelas" atau lebih mikir panjang untuk hari tua? #YukSiapkanPensiun

 

Injak Punggungku Nak, Literasi Ayah saat Lelah Bekerja

 

Dulu, waktu kecil, kita sering menganggap hal-hal sederhana sebagai permainan. Saat Ayah atau Ibu berkata, “Injak punggungku, Nak…,” kita melompat dengan riang, tertawa tanpa beban, tanpa benar-benar memahami maknanya. Kita kira itu hanya bagian dari kehangatan keluarga, momen kecil yang menyenangkan di sela-sela hari. Tidak pernah terpikir bahwa di balik itu, ada tubuh yang lelah, ada beban hidup yang sedang mereka pikul diam-diam.

 

Seiring waktu, ketika kita mulai dewasa, perlahan kesadaran itu datang. Kita mulai mengerti bahwa punggung yang kita injak dulu adalah punggung yang bekerja keras seharian. Punggung yang menahan letih demi mencari nafkah, demi memastikan anaknya bisa makan, sekolah, dan punya masa depan yang lebih baik. Mereka tidak banyak bercerita tentang lelahnya, tidak mengeluh, hanya meminta sedikit kelegaan dengan cara yang sederhana—dekat dengan anaknya. Lelahnya bekerja orang tua, hilang dengan injakan sang anak.

 

Dari situ, kita belajar bahwa cinta orang tua sering hadir dalam bentuk pengorbanan yang tidak terlihat. Mereka menunda istirahat, menahan keinginan pribadi, bahkan mengorbankan masa tua mereka demi masa depan anak. Banyak dari mereka bekerja tanpa benar-benar memikirkan hari pensiun. Fokusnya hanya satu: anaknya tidak kekurangan, anaknya bisa hidup lebih baik dari dirinya.

 

Di sinilah kita mulai melihat pentingnya dana pensiun dengan sudut pandang yang lebih dalam. Orang tua kita telah menghabiskan masa produktifnya untuk kita, tapi siapa yang memastikan mereka tetap sejahtera di hari tua? Dana pensiun bukan sekadar soal uang, tapi tentang menjaga martabat dan kualitas hidup saat tenaga sudah tidak sekuat dulu. Ini adalah bentuk penghargaan nyata—agar mereka tidak perlu terus bekerja keras ketika seharusnya bisa beristirahat dengan tenang.

 


Akhirnya, memahami kenangan sederhana seperti “injak punggung” itu membawa kita pada kesadaran yang lebih besar: sudah saatnya kita memikirkan masa depan, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Kita tidak bisa mengulang waktu, tapi kita bisa memastikan bahwa lelah mereka dulu tidak berlanjut menjadi kesulitan di hari tua. Karena pada akhirnya, cinta terbaik adalah yang tidak hanya dikenang, tapi juga dibalas dengan tindakan yang nyata. Untuk selalu menyiapkan kemandirian finansial di hari tua. Sebuah pesan penting untuk pekerja.

 

“Injak punggungku Nak...”, begitulah cara orang tua menggapai kenyamanan setelah lelah bekerja. Dan kini saatnya menyiapkan masa pensiun yang lebih baik dan berkualitas. Agar tidak merepotkan anak di hari tua. Sebab hari ini, respek terhadap orang tua tidak lagi cukup hanya dengan rela capek bekerja. Tapi memastikan punya kesinambungan penghasilan di masa pensiun. #YukSiapkanPensiun

 

Catatan Literasi: Selalu Dibenci Sekalipun Berbuat Baik


Di sebuah kantor kecil yang sibuk, ada seorang karyawan bernama Raka yang dikenal ramah dan suka membantu. Ia sering menggantikan rekan kerja yang izin, membantu menyelesaikan tugas orang lain, bahkan rela lembur tanpa banyak bicara. Namun anehnya, ada satu orang di timnya yang tetap memandang Raka dengan sinis. Apa pun yang Raka lakukan, selalu saja dianggap salah atau penuh kepentingan tersembunyi.

 

Suatu hari, Raka membantu orang itu menyelesaikan laporan penting yang hampir terlambat dikumpulkan. Ia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, memastikan semuanya rapi dan tepat waktu. Alih-alih berterima kasih, orang itu justru berkata dingin, "Nggak usah sok baik. Saya tahu kamu cuma cari muka." Kalimat itu menusuk, tapi Raka memilih diam. Ia sadar, tidak semua kebaikan akan diterima dengan hati yang lapang.

 

Hari demi hari berlalu, dan Raka mulai memahami sesuatu. Bahwa masalahnya bukan selalu pada apa yang ia lakukan, tetapi pada cara orang lain melihat. Ada hati yang sudah dipenuhi prasangka, sehingga kebaikan pun tampak seperti ancaman. Ada luka yang belum sembuh, sehingga kehadiran orang lain terasa mengganggu. Dan dalam kondisi seperti itu, sebaik apa pun usaha kita, tetap tidak akan cukup di mata mereka. Kita selalu salah di matanya.

 

Raka pun berhenti berusaha menyenangkan semua orang. Ia tetap berbuat baik, tetapi bukan lagi untuk mendapat pengakuan. Ia melakukannya karena baik adalah nilai yang ia pegang. Ia tidak lagi menghabiskan energi untuk menjelaskan dirinya pada orang yang memang tidak ingin mengerti. Ia sadar, hidup bukan tentang disukai semua orang, tetapi tentang tetap menjadi pribadi yang benar di hadapan diri sendiri. Orientasinya dalam hidup hanya berbuat baik dan menebar manfaat.

 


Pada akhirnya, waktulah yang akan menjawab segalanya. Orang-orang mulai melihat ketulusan Raka dari konsistensinya, bukan dari kata-katanya. Sementara mereka yang tetap membencinya akan terus membencinya. Hingga perlahan tenggelam dalam penilaian dan prasangka buruknya sendiri. Dari situ Raka belajar, bahwa semesta memang punya caranya sendiri untuk menimbang. Dan kadang, kebencian orang lain bukanlah cerminan siapa kita, melainkan cerminan apa yang ada di dalam hati si pembenci.

 

Jadi dalam hidup, meskipun kita pernah berbuat baik pada orang yang tidak menyukai, kita akan tetap tidak disukai. Mau sebaik apapun hal yang kita lakukan, akan tetap dibenci. Maka teruslah berbuat baik dan menebar manfaat, jangan menyerah. Semesta memang mempunyai hukumnya sendiri. Permasalahannya bukan di diri kita tapi kotornya hati orang yang menilai kita. Begitulah hidup, semoga Allah SWT selalu melindungi orang-orang baik yang tidak butuh validasi sekalipun dibenci sebagian orang. Semangat kawan!

Senin, 04 Mei 2026

FLS3N SMP Wilayah II Jaktim, Bangun Budaya Literasi Siswa

Sebagai bagian menumbuhkan karakter bangsa melalui kreativitas dan apresiasi seni budaya, Sudin Pendidikan Wilayah 2 Jakarta Timur menggelar Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SMP/MTs tahun 2026 yang berlangsung di SMPN 283 dan SMKN 24 Cipayung Jaktim (4-5 Mei 2026).

 

Ada 8 kreativitas siswa yang dilombakan seperti: 1) Ilustrasi, 2) Menyanyi Solo, 3) Mendongeng, 4) Menulis Cerita, 5) Pantomim, 6) Ansambel Campuran 3 Alat 

Musik, 7) Tari Kreasi, dan 8) Kreativitas Musik Tradisional. FLS3N 2026 ini menjadi ajang kompetisi seni dan sastra bergengsi untuk siswa SMP di wilayah Jakarta Timur 2 untuk mengembangkan kreativitas siswa. 

 

"FLS3N SMP JT 2 ini menjadi sarana kreativitas yang diikuti ratusan siswa SMP, di samping menjadi ajang kompetisi yang positif. Para siswa dari berbagai SMP berkreasi dan menunjukkan bakatnya, sebagai fondasi penting untuk membangun cara siswa berpikir dan berkembang yang lebih berkualitas" ujar Horale Tua Simanullang (Kasudin Pendidikan JT 2) didampingi Agus Wibowo (Koordinator Lomba), Try Rismayati Kusuma (Wakil Koordinator Lomba), dan Ronald Ferdinan (Sekretaris) dan Margareta Wiyanti (Bendahara) saat berlangsung acara.

 

Khusus untuk lomba menulis cerita bertindak sebagai PJ lomba yaitu Suharya yang menjelaskan Lomba Menulis Cerita diikuti oleh 104 siswa SMP dari berbagai sekolah. Bertindak sebagai dewan juri yaitu: Syarifudin Yunus (Universitas Indraprasta PGRI, Reni Nur Eriyani (UNJ) dan Slamet Slamet Samsoerizal (Praktisi Penulis). Rencananya, pengumuman pemenang akan dilakukan siang nanti.

 


Sebagai wadah ekspresi, bakat, dan kreativitas seni budaya siswa SMP, FLS3N sejatinya dapat membantu siswa lebih percaya diri. Sebab saat siswa diberi ruang untuk mengekspresikan ide, maka menjadi lebih berani untuk mencoba, tidak takut salah, dan lebih mandiri dalam belajar. Bahkan lebih dari itu, kreativitas juga mampu memacu kemampuan memecahkan masalah. Lebih fokus ke solusi daripada masalah. Sebab kelak di dunia nyata, apapun tidak selalu punya satu jawaban pasti. Maka siswa yang terbiasa berpikir kreatif akan lebih siap menghadapi tantangan karena mereka terbiasa mencari alternatif solusi. 

 

Di tengah dinamika zaman dan teknologi yang cepat, kemampuan berinovasi jauh lebih bernilai daripada sekadar pengetahuan statis. Karena itu, FLS3N SMP JT 2 penting untuk memacu siswa SMP lebih kreatif sehingga punya peluang lebih besar untuk beradaptasi, menciptakan peluang sekaligus membentuk karakter siswa yang lebih maju. Ajang ini juga menjadi momen untuk membangun budaya literasi siswa. Salam FLS3N!

Sabtu, 02 Mei 2026

Untuk Apa Loyal Bekerja tapi Tidak Siap Pensiun?

Tetangga saya, seminggu lalu sudah pensiun. Berhenti bekerja setelah 28 tahun. Hari terakhirnya kerja, dia cerita kantornya menggelar acara perpisahan. Bikin tumpengan sambil foto-foto sama teman sekantor. Dapat apresiasi dari pimpinan dan dijadikan contoh sebagai karyawan teladan yang loyal pada perusahaan. Meriah sekali, katanya. Keren sekali tetangga saya, jadi ikut bangga.

 

Sesampainya di rumah, tetangga saya senyumnya sumringah. Dia cerita suka-dukanya orang bekerja. Mulai dari berangkat pagi, pulang malam hari. Selain untuk menafkahi keluarga, semua hidupnya didedikasikan untuk pekerjaan. Bahkan dia cerita, ikut membangun perusahaannya dari masa-masa sulit hingga maju seperti sekarang. Maklum baru pensiun, jadi masih semangat bila cerita urusan kantor. Beliau memang pantas disebut pekerja keras. Sehari-hari hidupnya hanya untuk pekerjaan dan kantor. Itu cerita seminggu lalu ketika beliau pensiun.

 

Tapi semalam, saya melihat beliau termenung di teras rumahnya. Ada sesuatu yang beda dan tidak seperti biasanya. Matanya seperti kosong. Kayak lagi melamun. Beliau duduk lama di kursi depan rumahnya. Diam sambil menatap jalanan yang gelap.

 

Saya bertanya "Bapak kenapa?"

Beliau jawab pelan, "Iya Pak, besok nggak ada lagi tempat yang harus dituju."  

“Ya nggak apa-apa Pak, kan memang sudah pensiun. Tinggal dinikmati saja” ujar saya menghibur. 

Beliau menjawab, “Itulah masalahnya, bagaimana dengan biaya hidup di hari tua?”

 

Ternyata, masa pensiun bukan soal kesepian. Tapi soal pekerjaan dan gaji. Apalagi tetangga saya selama ini identitasnya adalah pekerjaannya. Dan sekarang itu hilang. Ditambah satu ketakutan yang nggak beliau ucapkan. Apakah uang pensiun yang tersisa cukup buat hidup?  

 

Banyak pekerja khawatir jelang pensiun, apalagi yang sudah pensiun. Dulu selagi aktif, katanya pensiun masih lama. Tapi begitu waktu pensiun tiba, banyak pekerja yang tidak siap. Maka wajar, 8 dari 10 pensiunan akhirnya mengandalkan biaya hidup dari anggota keluarganya yang bekerja (BPS, 2024). Ada 1 dari 2 pensiunan yang meminta transferan dari anaknya setiap bulan (ADB, 2024). Begitulah realitas pensiunan di Indonesia.

 


Seperti tetangga saya yang pensiun itu. Kini hanya melamun setiap malam. Bingung harus ngapain dan bagaimana cara menutupi kebutuhan hidupnya. Pengen bekerja lagi tapi fisiknya sudah tidak sekuat dulu. Sementara biaya hidup terus berjalan. Baginya, apalah arti tumpengan ketika pensiun. Apalah arti dijadikan teladan sebagai karyawan yang loyal. Tapi masa pensiun yang nyaman sama sekali tidak dipersiapkan saat masih bekerja.

 

Dari obrolan dengan tetangga saya yang sudah pensiun. Saya pun berjanji ke diri sendiri. saya tidak mau pensiun tanpa persiapan. Untuk apa berjaya saat kerja tapi merana saat pensiun. Dan saya tidak mau anak-anak saya terbebani karena Bapaknya pensiun dan tidak punya uang. Karenanya, saya akan pastikan untuk pensiun dengan nyaman dan mandiri secara finansial. Agar tidak merepotkan anak-anak secara ekonomi.  

 

Saya juga bekerja keras. Bahkan membangun penghasilan tambahan. Tapi yang paling penting, saya sudah persiapkan masa pensiun dengan mengikuti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Agar tetap punya kesinambungan penghasilan di hari tua. Bukan cuma buat saya. Tapi buat bilang ke anak-anak suatu hari nanti, "Tenang saja Nak, Bapak punya uang untuk biaya hidup bahkan membantu kamu bila diperlukan".

 

Begitulah spirit punya dana pensiun nsejak dini. Biar tenang di masa pensiun dan tidak tergantung kepada siapapun, #YukSiapkanPensiun