Rabu, 20 Mei 2026

Kalau Dizolimi Tidak Perlu Dibalas

Kalau tidak dihargai, berhenti memohon untuk dipilih. Kalau dizolimi, tidak perlu dibalas. Cukup diam saja. Kalau difitnah, tidak perlu diklarifikasi karena risiko akan ditanggung oleh yang terlibat dalam fitnahan itu. Begitulah sikap yang literat!

 

Kalau ditinggalkan, nggak usah sibuk mencari dan biarkan mereka pergi. Kalau dokhianati, nggak perlu dibalas. Biarkan dia menuai apa yang dia lakukan sendiri. Dan kalau disakiti, jangan pernah membalas untuk menyakiti. Begitulah sikap yang literat!

 

Lebih baik fokus pada hidup kita sendiri. Terulah memperbaiki diri dan ikhtiar yang baik. Kalau sebuah tempat bikin kita selalu dikecewakan dan membuat luka. Berarti ada yang nggak beres sama lingkungan itu. Pasang batas atau cut off saja. Jauhi lingkungan yang toxic.

 

Kalau setiap hari hidup kita penuh resah, jangan dipendam. Cari akar masalahnya dan selesaikan. Bila tidak mampu, cukup diam dan serahkan kepada-Nya.

 


Intinya, apapun yang baik untuk kesehatan maka tinggalkan pelan-pelan, jaga kesehatan bukan hanya memelihara pola makan atau fisik semata. Tapi juga menjauhi lingkungan toxic dan menjaga mental yang sehat. Jangan sakiti diri sendiri dengan bergaul pada orang-orang yang salah.

 

Caranya bagaimana? Salah satunya mengabdi di taman bacaan, Berbuat baik dan menebar manfaat kepada orang lain melalu aktivitas sosial di taman bacaan masyarakat. Seperti yang dilakukan relawan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.


Selasa, 19 Mei 2026

Nantinya Pekerja Merasa Nggak Berguna di Masa Pensiun?

​Seorang pensiunan cerita. Bangun jam 10 pagi, melihat rumah sudah sepi. Tidak ada yang dikerjakan lagi. Yang dirasakan bukan "asyik libur" tapi hatinya merasa gelisah. ​Ada rasa bersalah yang tiba-tiba dipikirkan. Padahal, si pensiunan nggak lagi melakukan kesalahan fatal. Kan sudah pensiun, yaw ajar saja bangun siang dan tidak ada kerjaan lagi sehari-hari.

 

Banyak orang yang bilang, musuh terbesar seorang pensiunan adalah nggak punya uang. Salah. Uang itu masalah teknis. Masalah mentalnya jauh lebih horor dari soal uang. Bila mau jujur, pensiunan merasa gelisah bukan bukan status "tidak bekerja" di KTP. Bukan pula karena nggak ada kerjaan sehari-hari. Tapi karena merasa “sudah nggak berguna” lagi, buat banyak orang atau keluarga.

 

Itulah cara pandang yang kurang pas tentang pensiunan. Selama ini, lingkungan membentuk kita buat percaya kalau "bekerja = hidup" dan "pensiun = manusia nggak berdaya". Kita dipaksa percaya kalau nilai diri seorang manusia itu diukur dari ID Card yang dikalungin di leher atau slip gaji yang masuk tiap tanggal 25. ​Dampaknya apa? Begitu kerjaan itu hilang dan pensiun datang, kita merasa diri kita juga ikutan hilang. Kita merasa jadi rongsokan yang cuma ngabisin nasi di magic com dan hanya menuh-menuhin space di rumah. ​Mondar-mandir dari teras ke dalam rumah, dan sebaliknya.   

 

Sayangny akita sering nggak sadar. Waktu kita sibuk bekerja, 8 sampai 12 jam sehari penuh. Bahkan berangkat gelap pulang gelap. Sering banget mengeluh pengen bebas, pengen punya banyak waktu buat diri sendiri, pengen punya waktu untuk keluarga. Dan pengen belajar ini itu tapi nggak sempat.

 

Sekarang di masa pensiun, justru semesta lagi memberi kita waktu itu secara cuma-cuma. Kita dikasih kemewahan paling mahal di dunia yang nggak bisa dibeli sama bos perusahaan lama tempat kita bekerja yaitu “waktu luang”.

 

Terus kenapa kita saat pensiun malah gelisah? Karena kita belum siap mental jadi "CEO" buat hidup kita sendiri. Selama ini kita cuma bisa gerak kalau disuruh bos, dikasih target sama kantor, atau dikejar deadline. Begitu nggak ada yang nyuruh, kita bingung mau ngapain? Lalu kita menyimpulkan diri merasa nggak berguna. Nggak bisa lagi aktualisasi diri.

 

​Pikiran seperti itu adalah jebakan psikologis yang paling jahat yang kita ciptain sendiri. Pensiun alias berhenti bekerja karena usia itu bukan akhir dari dunia. Pensiun itu cuma momen di mana kita berhenti jadi robot orang lain, dan dipaksa buat mulai membangun "kepercayaan diri" paling penting di dunia.  

 


Makanya, mulai hari ini, stop memposisikan diri kita sebagai “korban” yang layak dikasihani. Jangan biarkan isi kepala kita didominasi sama pertanyaan ketakutan kayak, "Besok gue mau ngapain?". Seolah-olah hari esok dan masa depan kita itu barang ghaib yang nggak bisa kita kontrol.

 

​Masa depan pensiunan itu bukan ditebak besok. Tapi ditentukan dari apa yang kitapegang di tangan hari ini selama 24 jam ke depan. Kita punya kuota internet, punya HP, punya otak yang masih utuh. Justru waktu luang kita di masa pensiun sekarang jadi modal awal paling gede yang kita punya. Tinggal kita mau putar modal itu buat belajar keterampilan baru, memgabdi pada orang lain. Atau kita habiskan buat dengerin suara-suara di kepala kita yang makin hari makin beracun.

 

Sebagian pekerja bilang pensiun itu akhir. Salah banget. Justru masa pensiun itu awal untuk melanjutkan hidup menjadi lebih berguna untuk banyak orang. Mimpi yang nggak bisa dilakukan saat masih bekerja, semua bisa diwujudkan saat pensiun. Agar tetap sehat, waras dan lebih berdaya. Sebab “khoirunnass anfa’uhum linnass”, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya.

 

Mau lebih bermanfaat di masa pensiun, masa siapkan dana pensiun dari sekarang. Asal punya dana yang cukup untuk berkiprah dan bermanfaat bagi banyak orang di hari tua. #YukSiapkanPensiun

 

Orang yang Cukup Tidak Sibuk Berebut, Lebih Baik Baca

Orang yang cukup tidak sibuk berebut. Orang yang berilmu tidak sibuk berdebat. Dan orang yang mulia tidak sibuk mencaci. Begitulah ungkapan yang patut jadi renungan literasi.

 

Ungkapan itu mengajarkan kedewasaan seseorang terlihat dari cara ia mengelola energi, pikiran, dan waktunya. Orang yang merasa cukup tidak terus-menerus sibuk berebut pengakuan, jabatan, atau harta, karena ia memahami bahwa hidup bukan sekadar perlombaan untuk menang dari orang lain. Rasa cukup melahirkan ketenangan batin. Dalam kehidupan sehari-hari, orang seperti ini cenderung lebih fokus pada pengembangan diri dibanding membandingkan hidupnya dengan orang lain.

 

Orang yang berilmu juga tidak gemar berdebat tanpa tujuan. Semakin luas wawasan seseorang, biasanya semakin ia sadar bahwa pengetahuan manusia memiliki batas. Ia tidak merasa perlu memenangkan semua perdebatan demi terlihat pintar. Sebaliknya, ia lebih suka berdiskusi untuk saling memahami. Kebiasaan membaca buku banyak membentuk sikap ini, karena buku mempertemukan seseorang dengan berbagai sudut pandang, pengalaman, dan pemikiran yang membuatnya lebih rendah hati dalam menyikapi perbedaan.

 


Dan begitu pula, orang yang mulia tidak sibuk mencaci karena ia memahami bahwa ucapan mencerminkan kualitas diri. Mencela orang lain sering kali lahir dari hati yang penuh kemarahan, iri, atau kekosongan. Orang yang berkarakter baik akan lebih memilih memberi manfaat daripada menyakiti. Membaca buku, terutama buku-buku tentang kehidupan, sejarah, dan kebijaksanaan, dapat membantu seseorang melatih empati dan memahami perjuangan manusia lain. Dari sana lahir sikap yang lebih bijak dalam berbicara maupun bertindak.

 


Pada akhirnya, kebiasaan membaca buku bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian. Buku melatih seseorang untuk berpikir lebih dalam, mendengar lebih banyak, dan berbicara lebih seperlunya. Orang yang rajin membaca biasanya tidak mudah terpancing untuk berebut, berdebat tanpa arah, atau mencaci, karena pikirannya dipenuhi pemahaman dan refleksi. Semakin banyak seseorang belajar, semakin ia sadar bahwa hidup bukan tentang menjadi paling keras suaranya, melainkan tentang menjadi paling matang sikapnya. Tradisi membaca buku itulah yang terus dikembangkan di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #PegiatLiterasi

 

Pekerja Harus Tahu Cara Mengukur Tingkat Penghasilan Pensiun di Hari Tua?

Banyak pekerja nggak tahu cara mengukur kebutuhan biaya hidup di masa pensiun. Saking enaknya kerja, lupa siapkan masa pensiunnya sendiri. Padahal bila pensiun tiba, nggak ada lagi gaji nggak ada lagi pemasukan. Saat kerja bilangnya “gaji nggak cukup” untuk nabung pensiun. Tapi jelang 3 tahun mau pensiun, baru kelabakan dan mulai gelisah. Terus, mau bagaimana bila kondisinya begitu? Toh, cepat atau lambat, setiap pekerja pasti akan pensiun.

 

Seperti kawan saya yang 3 tahun lagi akan pensiun. Dia bertanya, gimana caranya mengukur biaya kebutuhan hidup di masa pensiun? Berapa uang yang diperlukan untuk menjaga standar hidup di hari tua? Patut diapresiasi, karena kawan saya masih mau bertanya. Tentang berapa biaya kebutuhan hidup di masa pensiun? Itulah yang disebut “tingkat penghasilan pensiun” atau TPP.

 

Mari kita samakan persepsi dulu. Tingkat Penghasilan Pensiun (TPP) atau replacement rate adalah persentase dari gaji terakhir seorang pekerja yang dibutuhkan sebagai pendapatan bulanan setelah tidak bekerja lagi atau pensiun. TPP digunakan sebagai ukuran untuk melihat kecukupan dana pensiun dalam mempertahankan stnadar dan kualitas hidup seseorang di hari tua. Kira-kira begitu ya.

 

Nah sekarang, berapa persentase dari gaji terakhir yang dibutuhkan seorang pekerja saat pensiun? Tentu jawabnya relatif. Tapi sebagai acuan, ada beberapa rujukan yang bisa dijadikan pegangan, seperti:

1.   TPP 70%-80% dari gaji terakhir (versi LIMRA). Contoh, bila gaji terakhir Rp. 10 juta, maka saat pensiun dibutuhkan dana Rp. 7-8 juta per bulan.

2.   TPP 40% dari gaji terakhir (versi ILO). Contoh, bila gaji terakhir Rp. 10 juta, maka saat pensiun dibutuhkan dana Rp. 4 juta per bulan.

3.   TPP 60% dari gaji terakhir (versi rata-rata negara OECD). Contoh, bila gaji terakhir Rp. 10 juta, maka saat pensiun dibutuhkan dana Rp. 6 juta per bulan.

4.   TPP aktual di Indonesia hari ini adalah 10% dari gaji terakhir (versi BPS/OJK). Artinya, bila gaji terakhir Rp. 10 juta, maka saat pensiun hanya punya dana Rp. 1 juta per bulan. Kondisi ini yang terjadi di pekerja Indonesia karena mengandalkan program pensiun wajib (JHT/JP) sehingga mengalami “kemiskinan” di hari tua atau minimal jadi bergantung kepada anak/keluarga di hari tua.

Jadi, terserah kita mau merujuk TPP yang mana? TPP 70%-80% tentu ideal. Tapi TPP 40% dianggap cukup. Sayangnya, kondisi hari ini aktualnya hanya memncapai 10%. Seorang pekerja dengan gaji terakhir Rp 10 juta (sebelum pensiun) hanya punya uang Rp 1 juta (setelah pensiun) per bulan. Sudah pasti akan mengalami masalah keuangan di hari tua atas sebab terjadi penurunan penghasilan sebesar 90% dari gaji terakhir. Karena itu, menabung untuk masa pensiun seperti melalui dana pensiun/DPLK sangat diperlukan.

 


Bagaimana dengan pensiunan di Jakarta? Kajian saya setelah memawancarai 20 pensiunan di Jakarta, ternyata untuk bisa menjaga standar hidup dibutuhkan 56% dari gaji terakhir. Angkat itu diperlukan untuk “pengeluaran bulanan pensiunan” yang terdiri dari: biaya makan, belanja bulanan, biaya air + listrik, internet, gaya hidup, asuransi Kesehatan, dan lain-lain. Artinya, bila gaji terakhir Rp 10 juta (saat bekerja), maka diperlukan dana Rp 5,6 juta per bulan (saat pensiun) untuk menjaga kualitas hidup di hari tua. Sementara TPP aktual yang tersedia saat ini hanya !0% dari gaji terakhir. Maka bila dihitung secara aktual, tingkat penghasilan pensiun (TPP) di Jakarta masih terjadi kesenjangan atau kekurangan sebesar Rp 4,6 juta per bulan atau kurang 46% dari gaji terakhir. Dapat dikatakan tingkat penghasilan pensiun (TPP) pekerja saat ini mengalami kekurangan 46% dari gaji terakhir. Inilah yang jadi sebabb sebab pensiunan mengalami masalah finansial di hari tua atau gagal mempertahankan standar hidup di masa pensiun (Silakan dibaca kajian lengkapnya berjudul “Analisis Tingkat Penghasilan Pensiun (TPP) Pekerja dan Faktor yang Mempengaruhinya Serta Optimalisasi Peran Dana Pensiun Swasta di Indonesia” di Jurnal Lokawati, Mei 2025 di https://journal.arimbi.or.id/index.php/Lokawati/article/view/1709)

 

Tentu saja, setiap pekerja punya proyeksi sendiri akan kebutuhan biaya hidup di masa pensiun. Seilakan saja, tapi penting untuk tahu tentang tingkat penghasilan pensiun (TPP). Sebab TPP bisa menjadi data untuk memperkirakan kebutuhan dan keadaan di masa pensiun. Silakan ditanyakan ke tetangga yang susah pensiun, seperti apa kondisinya dan berapa dana yang dibutuhkan saat pensiun saat tidak punya gaji lagi? Lagi-lagi data dan angka kebutuhan pensiunan di Indonesia penting untuk diungkap ke publik.

 

Pada akhirnya, TPP hanya ukuran untuk menjaga standar hidup di hari tua. Justru yang penting, setelah tahu TPP, apa yang dilakukan seorang pekerja? Harapannya adalah setiap pekerja harus berani mempersiapkan masa pensiunnya sendiri, dengan menyisihkan sebagian gaji untuk tabungan di hari tua. Caranya, tentu menjadi peserta DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Cari DPLK yang punya akses digital, bisa onboarding atau mendaftar melalui aplikasi digital. Sebab cepat atau lambat, siapapun pasti pensiun.

 

Selamat mempersiapkan masa pensiun kita sendiri. #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDanaPensiun



 

Senin, 18 Mei 2026

Perkokoh Kreativitas Seni & Sastra, Siswa SMA/SMK Wilayah 2 Jaksel Unjuk Bakat di FLS3N 2026

Sudin Pendidikan Wilayah 2 Jakarta Selatan menggelar Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SMA/SMK dan sederajat tahun 2026 yang berlangsung di SMAN 70 Jakarta (19 & 21 Mei 2026). Acara ini sebagai bagian menumbuhkan karakter bangsa melalui kreativitas dan apresiasi seni budaya pada siswa.


Ada 16 kreativitas siswa yang dilombakan seperti: 1) Baca Puisi, 2) Cipta Lagu, 3) Cipta Puisi, 4) Desain Poster, 5) Fotografi, 6) Instrumen Solo Gitar, 7) Menyanyi Solo Putra, 8) Menyanyi Solo Putri, 9) Jurnalistik, 10) Kriya, 11) Komik Digital, 12) Menulis Cerita Pendek, 13) Monolog, 14) Tari Kreasi, 15) Film Pendek, dan 16) Kreativitas Musik Tradisional. FLS3N 2026 ini menjadi ajang kompetisi seni dan sastra bergengsi untuk siswa SMA/SMK di wilayah Jakarta Selatan 2 untuk mengembangkan kreativitas siswa. 


"FLS3N SMA/SMK JS 2 ini menjadi bagian memperkuat karakter siswa dan menjadi sarana kreativitas yang diikuti ratusan siswa SMA/SMK, di samping menjadi ajang kompetisi yang positif sesuai bakat siswa, sebagai fondasi penting untuk membangun cara siswa berpikir dan berkembang yang lebih berkualitas" ujar Sarwoko (Kasudin Pendidikan JS 2) didampingi Mulyanto (PJ Lomba Cerpen - Kepsek SMA 6 Jakarta) dan Anggun Naren (Panitia) saat berlangsung acara.




Khusus untuk lomba menulis cerita pendek diikuti oleh 44 siswa SMA/SMK dari berbagai sekolah untuk diseleksi menuju babak final JS 2 menjadi 12 peserta dengan skor tertinggi. dan hari ini, dilakukan penilaian final untuk menentukan 3 besar untuk mewakili JS 2 ke Kotamadya Jaksel. Bertindak sebagai dewan juri lomba cerpen yaitu: Syarifudin Yunus (Dosen PBSI Universitas Indraprasta PGRI, Tedi Subangun (Guru) dan Sarah Assofiyah (Praktisi ). Rencananya, pengumuman 3 besar akan dilakukan siang nanti.


Sebagai wadah ekspresi, bakat, dan kreativitas seni budaya siswa SMA/SMK, FLS3N sejatinya dapat membantu siswa lebih percaya diri. Sebab saat siswa diberi ruang untuk mengekspresikan ide, maka menjadi lebih berani untuk mencoba, tidak takut salah, dan lebih mandiri dalam belajar. Bahkan lebih dari itu, kreativitas juga mampu memacu kemampuan memecahkan masalah. Lebih fokus ke solusi daripada masalah. Sebab kelak di dunia nyata, apapun tidak selalu punya satu jawaban pasti. Maka siswa yang terbiasa berpikir kreatif akan lebih siap menghadapi tantangan karena mereka terbiasa mencari alternatif solusi. 


Di tengah dinamika zaman dan teknologi yang cepat, kemampuan berinovasi jauh lebih bernilai daripada sekadar pengetahuan statis. Karena itu, FLS3N SMA/SMK JS 2 penting untuk memacu siswa lebih kreatif sehingga punya peluang lebih besar untuk beradaptasi, menciptakan peluang sekaligus membentuk karakter siswa yang lebih maju. Salam FLS3N!



Minggu, 17 Mei 2026

Pak Presiden Tahu Aja Orang Desa Nggak Pakai Dollar, Ngeliat Juga Nggak Pernah Cuma …

Kata Pak Presiden “Orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok”. Saat merespon nilai tukar Rupiah yang melemah dan menembus kisaran Rp17.592 per dolar AS. Tapi kenapa jadinya, masyarakat desa yang dijadikan “pembelaan”. Yang tahu dollar kan negara, importir, korporasi, dan semua barang-barang yang masuk ke Indonesia. Masalahnya, bukan soal “siapa yang pegang dolar kan Pak?”

 

Sebagai orang kampung alias orang desa, jawabnya “Iya Pak, kami tahu kok belanja di kampung nggak pakai dollar”. Bahkan melihat uang dollar juga nggak pernah Pak. Mungkin bukan karena dollar-nya naik Pak. Tapi karena dampak dari kenaikan dollar itu yang bikin uang orang desa jadi “berkurang”.

 

Gara-gara dollar naik Pak, pedagang di desa mulai sepi. Orang-orang yang beli berkurang. Banyak yang “menahan” uangnya untuk belanja. Makan tadinya pakai kerupuk, sekarang sudah nggak lagi. Bahkan gara-gara dollar naik ya Pak, sembako juga mulai naik harganya. Kami di kampung jadi ikut pusing gara-gara dollar Pak.

 

Katanya orang pintar nih Pak, Indonesia masih impor minyak. Dan belinya pakai dollar. Kalau dollarnya naik berarti keluar uang rupiahnya jadi lebih banyak kan ya Pak. Akhirnya, harga BBM jadi naik. Begitu juga barang-barang yang tergantung pada BBM jadi berubah harganya.


Di desa, kami menanam sayur-sayuran pakai pupuk Pak. Tapi kalau bahan baku pupuknya masih impor, mau nggak mau harga pupuk jadi naik kan Pak. Modal menanam jadi naik, dan harga panenan juga naik. Tapi belum tentu ada yang beli Pak.

 

Kami di desa sering makan mie instan Pak. Sesekali beli roti, susu atau obat-obatan. Tapi kalau bahan baku barang-barang itu masih impor pasti harganya jadi naik kan ya. Jadi, sekalipun kami di desa tidak punya dollar (bahkan nggak pernah pegang dollar) tapi biaya hidup jadi ikut naik Pak. Hidup terasa makin susah, bukan makin gampang.

 

Tetangga kami yang pedagang di desa, sekarang ini lagi sedih Pak. Katanya harga barang-barang naik. Tapi pembeli makin sedikit. Itu karena apa ya Pak? Mungkin Bapak tahu jawabnya? Kalau kata orang desa nih Pak, gaji atau uang yang dipunya segitu-segitu saja tapi harga beberapa kebutuhan hidup malah naik. Jadi tambah susah lagi Pak. 

 


Bapak sudah benar, memang rakyat di desa nggak pakai dolar. Tapi rakyat di desa beli bensin, beli pupuk, beli minyak goreng, beli beras, dan semuanya ikut naik harganya saat rupiah melemah daripada dollar. Masalahnya, mungkin bukan soal rakyat desa pakai dollar atau nggak kali Pak. Tapi karena rakyat Indonesia memang terhubung dengan sistem ekonomi dunia. Akibatnya, kalau dollar “batuk”, rakyat desa ikutan “pilek” ya Pak.

 

Bapak harus tahu. Rakyat desa nggak suka drama apalagi mengkritik Bapak. Rakyat desa juga nggak kenal dollar. Tapi rakyat desa tahu banget kalau rupiah anjlok, yang paling susah duluan rakyat kecil yang di desa-desa seperti kami Pak. Mungkin kalau yang di istana, di DPR, konglomerat bahkan koruptor sih nggak pengaruh apa-apa ya Pak.

 

Bapak tahu nggak? Hidup kami sampai sekarang masih sama saja dengan 10 tahun terakhir. Tidak makin baik, tapi kami juga nggak bilang makin susah. Kalau harga sembako dan barang-barang kebutuhan pokok masih normal sesuai kemampuan kami di desa nggak masalah. Tapi saat ini, kadang-kadang kami dibikin pusing dengan harga barang yang nggak menentu. Kadang naik kadang turun, sebagai orang desa kami nggak tahu apa sebabnya ya Pak?

 

Makanya sampai sekarang, kami hidup sudah sangat irit (bukan hemat ya Pak). Sesekali nabung, buat jaga-jaga kalau ada kebutuhan mendesak atau harga barang naik. Maklum ya Pak, hidup di desa. Lebih banyak susahnya daripada senangnya.

 

Jadi, kami pertegas ya Pak. Iya Pak, kami di desa nggak pakai dollar cuma dampak dari kenaikan dollar itu yang kami kena imbasnya. Sebab kalau dollar naik, kami di desa sebagai rakyat kecil yang susah duluan, bukan yang di istana atau di Senayan Salam sehat selalu Pak!

 



Sabtu, 16 Mei 2026

Carilah Dia yang Memberi Pahala, Dekati dengan Penuh Rindu!

Hari gini “masih mengharap pahala?” Ya, memang begitu lazimnya. Semua orang yang beribadah pasti mengharap mengharap pahala dan ujungnya berharap mendapat surga. Tidak salah kok, itu sah-sah saja. Karena Allah memang menjanjikan pahala dan surga bagi hamba-Nya.

 

Namun, ada cinta yang lebih tinggi dari mencari pahala. Apa itu? Yaitu ketika seseorang tidak lagi sibuk menghitung pahala. Karena hatinya sudah jatuh cinta kepada Sang Pemberi Pahala. Kita sholat bukan sekadar ingin surga tapi karena rindu kepada Allah. Jadi, ibadah tertinggi bukan tentang mendapat balasan? Tapi karena cinta sang pemilik pahala.

 

Sungguh, pecinta sejati tidak lagi sibuk menghitung hadiah. Ia hanya takut jauh dari yang dicintainya. Maka jangan hanya mencari pahala tapi carilah Dia yang memberi pahala. Sebab surga memang indah. Tapi pemilik surga itu jauh lebih indah. Dan pada akhirnya, cinta tidak lagi bertanya “kita mendapat apa?”. Tapi “kenapa kita harus bersama-Nya?”.

 

Begitulah diskusi bertajuk "Setiap cerita adalah cermin dan setiap makna adalah pelita…" mahasiswa PBSI FBS Unindra semester 6 saat meluncurkan buku kumpulan cerpen "Secangkir Cerita Sejuta Makna" sebagai hasil kuliah Menulis Kreatif yang dibimbing dosen Dr.  Syarifudin Yunus, M.Pd. di Kampus Unindra (16/5/2026) yang diikuti 94 mahasiswa penulis. Buku fiksi setebal 423 halaman ini merupakan hasil kuliah Menulis Kreatif sebagai praktik (bukan hanya teori) sebagai cara sederhana mengenalkan mahasiswa bahwa menulis adalah perbuatan, bukan pelajaran. Semua cerpen dalam buku ini diangkat dari pengalaman hidup setiap mahasiswa.

 

Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd menegaskan tantangan besar mengajar adalah menjadikan kuliah lebih menyenangkan dan materinya mudah dipahami (bukan diingat). Jangan sampai belajar jadi membosankan. Maka belajar dibuat sevariatif mungkin, termasuk menulis cerpen dan menerbitkannya menjadi buku. Belajar bukan hanya berharap lulus dan mendapat ijazah. “belajar harus jadi momen untuk menemukan potensi diri dan membangun tradisi dan perilaku yang menyenangkan. Senang saat melakukan aktivitas itu barang langka di zaman begini” ujarnya.

 

Maka jangan berhenti hanya pada pahala, karena tujuan tertinggi seorang hamba adalah mengenal dan mencintai Allah. Jangan hanya mencari pahala tapi carilah Dia yang memberi pahala. Ada di mana Dia, dan dekatilah dengan penuh rindu!

 




Mahasiswa Unindra Luncurkan Kumpulan Cerpen Secangkir Cerita Sejuta Makna, Bunga Rampai Kisah Pengalaman Hidup

"Setiap cerita adalah cermin dan setiap makna adalah pelita…".

Begitu kutipan di cover buku Kumpulan cerpen "Secangkir Cerita Sejuta Makna" karya bersama mahasiswa semester 6 PBSI FBS Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) yang diluncurkan di Kampus Unindra (16/5/2026). Dibimbing langsung dosen pengampu mata kuliah Menulis Kreatif, Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd., kumpulan cerpen yang mengangkat tema pengalaman nyata ini melibatkan 94 mahasiswa penulis yang dikomandoi oleh Eneng Herawati, dkk (X6A) dan Septiyan Darma Bahari, dkk (X6B) sebagai bukti mahasiswa melakukan praktik menulis dari perkuliahan.

 

Buku fiksi setebal 423 halaman terbitan LovRinz Publishing ini merupakan bagian dari proses menulis kreatif yang dialami mahasiswa secara langsung, selama kuliah. Sebagai bukti proses dalam mempelajari, mencipta, dan menerbitkan karyanya sendiri. Mahasiswa yang diajarkan bahwa belajar sastra harus dimulai dan berakhir dari yang tertulis. Antologi cerpen ini memberi pesan pentingnya pengalaman hidup yang menghadirkan potongan-potongan kisah sederhana, namun sarat pelajaran hidup. Bahwa makna hidup sering kali justru ditemukan dalam hal-hal kecil seperti percakapan singkat, keputusan sederhana, atau momen yang terkesan sepele. Setiap pengalaman, baik bahagia maupun pahit, membawa pelajaran yang membentuk cara pandang kita terhadap diri sendiri dan orang lain. Seperti tertuang dalam Kumpulan cerpen “Secangkir Cerita Sejuta Makna”, karena setiap cerita adalah cermin dan setiap makna adalah pelita.

 

“Kami senang karena bisa menulis cerpen hingga diterbitkan menjadi buku. Kami bangga dan ke depan bertekad untuk terus melatih menulis” ujar M. Syarif, mahasiswa 6XA.

“Senang bisa menerbitkan buku Kumpulan cerpen sambil kuliah, terima kasih banget untuk Pak Syarif sebagai dosen pengampu mata kuliah menulis kreatif” kata Vika Irvanda, mahasiswa X6B.

 


Melalui lembaran-lembaran cerita dalam kumpulan cerpen ini, pembaca akan menemukan cerita-cerita pendek versi mahasiswa tentang pengalaman hidup, perjuangan, kenangan, bahkan kegelisahan. Sebagai bukti, sebenarnya kita sedang berjuang dan berjalan di jalur yang sama, untuk merangkul labirin perasaan ke dalam bentuk cerpen. Hingga tahu bagaimana cara tetap hidup berdampingan dengan pengalaman nyata. Agar tetap waras dan sehat lagi berdaya.

 

"Antologi cerpen Secangkir Cerita Sejuta Makna ini adalah karya fiksi yang ditulis mahasiswa Unindra dari pengalaman hidupnya. Manis atau pahit kisahnya, mereka tuangkan ke dalam cerpen. Dan setiap cerita bisa jadi pelita setelah dituliskan. Buku ini keren, karena sambil kuliah menulis kreatif, para mahasiswa mampu praktik menulis secara konkret" ujar Syarifudin Yunus, dosen pengampu Menulis Kreatif Unindra saat peluncuran buku hari ini.

 

Selain berkisah melalui cerpen, para mahasiswa begitu antusias karena buku antologi cerpen ini menjadi buku pertama yang diterbitkan selama kuliah. Sebuah cerpen yang disajikan dengan cara yang berbeda, yang menekankan bahwa menulis adalah perbuatan bukan pelajaran. Antologi cerpen ini diharapkan dapat menjadi "obat" untuk mengembalikan rasa, pikir dan perilaku dalam menyikapi setiap pengalaman hidup, semanis atau sepahit apapun. #KuliahMenulisKreatif #UnindraKeren #CukstawCerpen

 


Kamis, 14 Mei 2026

Catatan Literasi: Kalau Ingin Jadi Pohon yang Tinggi Siaplah Diterpa Angin

Ini sebuah pesan literasi. Kalau ingin jadi pohon yang tinggi, siaplah diterpa angin. Karena semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar juga ujian dan omongannya. Tapi kalau memilih jadi rumput, memang jarang diterpa badai. Sayangnya harus rela diinjak-injak banyak kaki. Jadi hidup bukan soal mau aman atau hebat, tapi soal seberapa kuat kita bertahan. Begitulah kira-kira.

 

Kalau ingin jadi pohon yang tinggi, siaplah diterpa angin. Bahwa setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi. Dalam pengabdian sosial, seseorang yang memilih untuk terlibat membantu masyarakat sering kali menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ada kritik, salah paham, fitnah bahkan cibiran ketika niat baik tidak selalu dipahami semua orang. Namun seperti pohon yang tinggi, keberadaan mereka memberi manfaat luas: menghadirkan keteduhan, harapan, dan perubahan bagi banyak orang yang membutuhkan.

 

Hal yang sama terlihat dalam aktivitas di taman bacaan masyarakat. Orang-orang yang mengabdikan waktu untuk mengelola taman bacaan sering bekerja tanpa sorotan besar. Mereka harus menghadapi keterbatasan buku, minimnya dukungan, hingga rendahnya minat baca di lingkungan sekitar. Tetapi mereka tetap bertahan karena percaya bahwa membaca adalah jalan untuk mengubah masa depan. Semakin besar dampak yang ingin diberikan, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi.

 

Sebaliknya, memilih hidup “aman” tanpa berbuat apa-apa mungkin terasa nyaman seperti rumput yang rendah dan tidak diterpa angin besar. Namun kehidupan yang terlalu takut menghadapi tantangan sering membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk bertumbuh dan memberi arti bagi orang lain. Dalam konteks sosial, diam terhadap masalah pendidikan dan rendahnya literasi sama saja membiarkan banyak anak kehilangan kesempatan berkembang. Karena itu, keberanian untuk tetap hadir di tengah masyarakat menjadi bentuk keteguhan yang sangat berharga.

 

Dari taman bacaan kita belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang menjadi hebat, tetapi tentang konsistensi untuk bertahan dan memberi manfaat. Seorang relawan yang setiap minggu membacakan buku untuk anak-anak mungkin tidak dikenal banyak orang, tetapi pengaruhnya bisa mengubah cara berpikir generasi muda. Seperti pohon yang tetap berdiri meski diterpa angin, mereka yang mengabdikan diri melalui literasi menunjukkan bahwa ketahanan, kesabaran, dan kepedulian adalah akar yang membuat kehidupan menjadi lebih bermakna. Salam literasi!

 




IPK Tinggi Lulus Cum Laude tapi Kerja Nggak Nyambung Sama Kuliah

Teman anak saya saat kuliah S1, lulus cum laude, IPK-nya 3,80. Kuliah rajin dan wisuda tepat waktu. Saat itu, orang tuanya menangis bangga. Tapi 6 bulan setelah wisuda, teman anak saya cerita tentang pekerjaannya yang susah saya lupakan, "Gelar saya Om, tidak ada di job description. Bingung, kok kuliah nggak nyambung sama pekerjaan"  

 

Kok bisa nggak nyambung? Dia belajar 4 tahun di kampus. Banyak teori sedikit praktik. Hafal rumus, lulus ujian semua mata kuliah. Skripsi kelar dan jadi sarjana. Tapi waktu masuk dunia kerja, yang ditanya bukan IPK-nya. Tapi yang ditanya: Bisa software apa? Punya portofolio apa? Sudah punya pengalaman belum? Ijazah dan IPK cuma buat seleksi administrasi doang. Tidak ada tuh di dunia kerja yang tanya IPK berapa?  

 

Kalau mau jujur, itulah hal tidak pernah diajarkan di kampus. Dunia kerja itu tidak menghargai apa yang kita tahu. Paham teori segudang juga nggak ada gunanya. Sebab dunia kerja hanya menghargai apa yang bisa kita kerjakan, apa yang mampu diselesaikan? Kita tahu dan kitab isa mengerjakan, dua hal yang kelihatannya sama. Tapi sangat berbeda. Orang yang bisa menyelesaikan masalah nyata tidak selalu yang nilainya paling bagus di kelas. Orang yang bisa kerja, belum tentu orang yang paham teorinya. Begitulah nyatanya.   

 

Bukan pendidikannya yang salah. Tapi masalahnya kita terlalu lama percaya satu narasi: "Kuliah yang rajin, sekolah yang benar biar nanti mudah dapat kerja." Tidak ada yang bilang: “Ijazah itu cuma tiket masuk, bukan jaminan skill yang dicari”. Kita lupa, dunia kerja dan bisnis itu berubah lebih cepat dari kurikulum. Skill dan networking itu jauh lebih penting dari sekadar nilai IPK atau sudah pernah lulus kuliah.

 


Dan akhirnya, teman anak saya itu sekarang kerja di bidang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusannya. Dan dia baik-baik saja. Gaji punya dan bisa buat hidup sendiri dulu. Tapi dia bilang satu hal ke saya: "Gini ya Om, harusnya waktu kuliah ada yang bilangin bahwa pendidikan itu penting. Tapi belajar caranya hidup dan membangun skill itu jauh lebih penting." Pesan yang menohok dari seorang anak muda.

 

Memang benar sih. Kita bisa punya pendidikan tinggi, tekun sekolah. Tapi kalau tidak tahu cara belajar dari realita yang ada, kita akan selalu merasa tertinggal. Belajar itu bukan hanya teori tapi praktik untuk membangun skill. Biar sadar, dunia kerja nggak butuh IPK. Tapi mereka butuh orang yang bisa kerja dan berkontribusi selesaikan masalah. Di kantor mana pun, di industri apapun.

 

Hari gini, jangan terlalu bangga dengan ijazah atau IPK. Karena ijazah dan IPK itu hanya bukti bahwa kita pernah sekolah. Bukan bukti bahwa kita bisa bekerja?

 



Rabu, 13 Mei 2026

Nadiem dan Begonya Gue

Kemarin baca berita di mana-mana, Nadiem Makarim dituntut jaksa 18 tahun penjara + kembalikan uang Rp. 5 triliun. Nadiem, diduga ikut korupsi pengadaan laptop Chromebook, zaman dia jadi Menteri Pendidikan RI. Nadiem pun menangis dalam pelukan istrinya. Plus, puluhan driver gojek pun ikut memberi dukungan moral ke Nadiem.

 

Nadiem, Nadiem. Gue ini orang awam (baca: bego) untuk urusan laptop Chromebook, apalagi hukum di pengadilan. Tapi yang gue paham, Nadiem itu orang kaya (sudah kenyang), dia kan yang bikin Gojek. Jadi yang ada di otak gue, orang yang sudah “kenyang” kayak Nadiem itu nggak akan berebut makanan lagi. Jadi Menteri ya buar pengabdian dan berbagi ilmu. Sebab siapapun yang perutnya sudah kenyang, harusnya nggak kepengen “nilep” duit orang lain, apalagi negara. Belum tentu begitu. Iya mungkin, di situlah cara pikir gue yang tergolong bego. Kadang naif juga.

 

Tapi begini, sebagai orang awam, urusan korupsi sih ukurannya gampang. Berapa uang yang diterima Nadiem dan buka saja aliran dananya ke dia? Cari tahu saja, saat Nadiem belum jadi Menteri punya harta kekayaan berapa? Dan setelah jadi Menteri jadi berapa, katanya kan korupsinya triliunan? Jadi, Nadiem itu “korupsi” uang apa kebijakan? Apa sih yang di korupsi Nadiem? Tolong buktikan itu saja, maklum gue ini orang awam.

 

Maaf nih, saking begonia gue. Jangan-jangan Nadiem memang dijadiin target. Dituntut 18 tahun penjara + uang Rp. 5 triliun (setara hukuman 9 tahun). Kalau ditotal, penjaranya lebih dari 27 tahun. Lebih berat dari kasus terorisme ya, sementara korupsi “uang” yang diterima Nadiem belum bisa dibuktikan. Bisa jadi, Nadiem ini tumbal mafia pendidikan di Indonesia, yang memang sudah puluhan tahun bersemayam di republik ini. Atau ini bagian dari politik balas dendam? Ahh, mungkin pikiran gue salah sih!

 

Mungkin banyak orang paham. Jaksa menuntut Nadiem asal-asalan. Hukum dan pengadilan pun sudah susah dipercaya. Gimana orang mau cari kebenaran? Apa masih ada keadailan? Maka akhirnya, banyak orang (rkayat) jadi bungkam alias diam. Menerima saja walau tidak masuk akal. Seperti Nadiem akhirnya hanya bisa menangis di pelukan istrinya saat mendengan dituntut 18 tahun penjara. Apa benar Nadiem korupsi, dan apa ini adil buat rakyat?

 

Nadiem pasti menyesal. Karena sebagai profesional yang membangun Gojek di republik ini akhirnya “terpenjara”. Gojek itu sudah jadi kerjaan dan tempat cari makan sekitar 3 juta orang di Indonesia. Sudah terbukti kok Gojek! Sementara, orang yang janji buka lowongan kerja 19 Juta tenaga kerja gimana? Belajar dari kasus Nadiem, makanya para profesional kalau diajak masuk “pemerintahan” mendingan ditolak. Daripada jadi masalah di kemudian hari. Profesional kan pengennya cepat dan segera bermanfaat. Beda dengan pemerintahan, yang pengennya lama. Minta izin saja bisa 1-2 tahun, sampai Pak Presiden kesal sendiri. Budayanya kan “kalau bisa dipersulit ngapain dipermuda, kalau bisa lama kenapa harus sebentar?”. Nadiem… Nadiem, kenapa mau dulu jadi Menteri? Mana yang ngajak diam aja sekarang.

 


Nadiem, Nadiem. Kerja di pemerintahan itu nggak gampang. Politik-nya tajam, prosedurnya panjang, prosesnya lama, dan mafia-nya banyak. Sementara orang profesional maunya efektif dan efisien. Tapi terpaksa “melawan” politik internal, prosedur dan mafia-nya di pemerintahan. Jadi, siapa yang kuat kan?

 

Begonya gue, di kasus Nadiem ini, hue kesannya membela Nadiem. Padahal gue nggak kenal Nadiem, gue juga orang yang menolak POP (Program Organisasi Penggerak) saat dia jadi Menteri. Makin bego lagi, karena gue nggak tahu apa itu laptop Chromebook dan gimana persidangan Nadiem itu berjalan? Aneh ya gue, nggak kenal Nadiem kok membela. Tapi, orang bego kan masih boleh menulis dan berpendapat di negeri tercinta ini. Karena tergelitik aja, karena di pikiran gue Nadiem nggak “makan” uang negara. Tahu benar apa nggak pikiran gue ini. Maaf aja kalau salah ya.

 

Nadiem siap-siap masuk penjara nih! Semoga saja jutaan driver gojek turun ke jalan untuk menyuarakan keadilan untuk pendirinya, mantan CEO-nya. Dan sebaiknya, para profesional mikir uang kalau mau masuk ke pemerintahan. Lebih baik tetap profesional dan independen. Jangan nambahin ribet di republik ini, biar fokus pada kerja masing-masing aja.

 

Nadiem, Nadiem. Kayak nggak tahu aja. Ikan itu mencintai air, namun air pula merebusnya. Daun itu setia pada angin, namun angin pula menggugurkannya. Dan manusia itu bergantung hidup pada tanah, tapi tanah pula yang menguburnya. Nadiem, dunia itu nggak seindah yang dibayangkan. Sering kali kita menyalahkan hal yang terlihat tanpa menyadari akar dari segalanya.

 

Nadiem, Nadiem …..

Kerja Paling Rajin Nggak Cukup untuk Pensiun Sejahtera

Di dunia kerja, setiap karyawan selalu diajarin satu hal. “Kerja aja yang rajin, nanti pasti dihargai kantor kok”. Doktrin itu dianut sebagian besar atasan dan HRD. Makanya, karyawan yang fanatik alias “kena” doktrin itu, sampai sekarang selalu datang paling pagi, paling cekatan di kantor, paling jarang menolak kerjaan bahkan pulnganya pun paling malam. Jadilah karyawan yang berdedikasi.

 

Tapi salah seoarang kawan saya, belakangan bbaru sadar. Dia tanya, “kok gue kerja udah paling rajin, paling malam pulangnya tapi begini-begini aja ya” katanya.

 

Sambil tersenyum, saya kasih tahu kawan itu. “Begini bro, kerja paling rajin itu belum tentu bikin posisi elo di kantor ikut naik. Pulang kerja paling malam bukan berarti gaji paling gede. Kerja ya ikut jobdes aja” jawab saya.

 

Mungkin, kita pernah lihat orang kerja kayak kawan saya. Paling rajin, paling cekatan dan paling rapi urusan kerjaan. Tia pada kerjaan yang belum selesai, dia paling duluan turun tangan. Sangat membantu sekali. Bahkan sering bantu atasi kerjaan orang lain juga. Tapi anehnya, tiap ada promosi di kantor, namanya jarang masuk hitungan. Seolah sistem kantor nyaman banget memakai dia sebatas pekerja yang rajin.

 

Saya pun kasih tahu ke kawan tadi, Jadi, kalau elo begitu terus kerja dan posisinya begitu-begitu aja, sangat mungkin elo bakal capek sendiri. Karena dari sudut pandang elo, semua kerjaan sudah dilakukan dengan benar. Loyal, dedikasi, rajin, kerja sama, dan tanggung jawab. Cuma akhirnya elo bingung sendiri nantinya. Penghargaan dan hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan effort yang kita keluarkan setiap hari di kantor.  Jadi, banyak karyawan burnout ya karena kayak gitu-gitu di kantor.  

 

Kerja yang rajin sih nggak ada yang salah, bagus banget malah. Kalau karier gitu-gitu aja bukan karena kita kurang bagus kerjanya. Tapi karena kita terlalu fokus jadi “orang rajin di kantor”. Sampai lupa bangun value dan posisi tawar di kantor. Kita cuma sibuk nunjukin ke atasan kalau kita ini rajin dan bisa kerja keras. Tapi nggak pernah bikin sistem di kantor sadar, “kenapa kita layak dianggap penting dan dihargai?”.

 


Dan akhirnya, kerja model begitu justru makin bahaya. Karena orang mulai menganggap kerja keras  kerja rajin itu hal biasa. Beban kerja makin bertambah, ekspektasi atasan makin tinggi tapi posisi kita tetap segitu-gitu saja. Kita capek terus, sementara orang lain mulai naik. Karena orang lain paham “cara main” yang beda di kantor. Sementara si rajin si pekerja keras ya tetap saja datang paling pagi pulang paling malam.   

 

Banyak orang lupa, effort memang penting di dunia kerja. Tapi effort tanpa positioning cuma bikin kita jadi “karyawan andalan” di kantor, bukan karyawan yang “diprioritaskan” untuk punya karier berkembang atau naik. Makanya di kantor-kantor itu, ada karyawan yang kelihatannya Santai. Tapi lebih cepat naik, lebih cepat berkembang. Coba deh dicek, siapa?

 

Faktanya, banyak karyawan yang rajin justru mentok di level worker. Kerja paling rajin bahkan kerja keras itu nggak cukup untuk menyelamatkan karier atau masa depan. Tapi kalau mau jadi pekerja rajin dan keras ya silakan sih dilanjut saja. Cuma besok-besok jangan kaget, beberapa tahun lagi kita masih jadi orang yang paling sibuk. Tapi bukan yang paling dianggap besar kontribusinya. Dan akhirnya, untuk bisa naik level terpaksa harus “cari muka” bukan bikin kerjaan lebih berdampak dan nail value-nya.

 

Dan yang paling memprihatinkan, buat apa dikenal kerja paling rajin paling loyal kalau akhirnya nggak bisa nabung di dana pensiun. Kerjanya pasti bisa puluhan tahun tapi hari tuanya nggak pasti. Bisa sehat dan Sejahtera nggak di masa pensiun? #YukSiapkanPensiun   

Selasa, 12 Mei 2026

Hati Capek ketika Melangkah di Taman Bacaan

Berkiprah sosial itu memang nggak mudah. Seperti mengelola taman bacaan masyarakat, yang sering melelahkan justru bukan soal pengabdian, bukan pula soal pekerjaan membimbing anak-anak yang membaca. Bukan pula mengajar buta aksara atau menyusun buku di rak-nya. Tapi yang paling menguras hati adalah ketika niat baik terus diuji oleh komentar miring, gangguan, atau sikap orang yang tidak suka melihat sesuatu tumbuh. Sekalipun jalannya baik, gangguan di taman bacaan itu nyata ada.

 

Terkadang ada yang meremehkan atau mencari-cari salahnya aktivitas sosial. Bagkan ada yang menganggap kegiatan di taman bacaan tidak penting. Dan akhirnya, membuat kekacauan internal di taman bacaan. Mencoba menghambat semangat yang sudah dibangun perlahan dari titik nol. Di titik itu, rasa frustrasi dan ragu sering datang hingga merusak apa yang telah dijalani. Memang benar, menjadi literat itu nggak mudah.

 

Memang, setiap perjuangan sosial memang tidak selalu langsung dipahami. Taman bacaan bukan sekadar tempat membaca buku, tetapi ruang harapan bagi anak-anak yang haus perhatian, ilmu, dan lingkungan yang baik. Ketika ada gangguan dari orang sekitar, sering kali itu menjadi ujian ketulusan niat. Sebab kalau niatnya hanya mencari pujian, mungkin langkah sudah berhenti sejak lama. Tetapi jika niatnya benar-benar ingin memberi manfaat, hati akan tetap menemukan alasan untuk bertahan walau tidak selalu mendapat dukungan.

 


Tidak semua perjuangan harus cepat terlihat hasilnya. Ada anak yang baru berani membaca setelah berbulan-bulan datang. Ada lingkungan yang awalnya sinis, lalu perlahan ikut membantu karena melihat konsistensi. Kebaikan memang sering tumbuh diam-diam. Maka yang penting bukan seberapa cepat taman bacaan itu besar, tetapi seberapa tulus langkah itu terus dijaga. Karena sering kali bukan kesempatan yang jauh, melainkan rasa ragu yang membuat seseorang berhenti sebelum sampai tujuan.

 

Jadi ketika hati mulai lelah karena banyak gangguan, tarik napas sejenak dan tenangkan diri. Ingat kembali alasan awal mengapa taman bacaan itu dibangun. Bisa jadi jalan yang sedang diperjuangkan memang tidak mudah, tetapi setiap niat baik selalu punya jalannya sendiri untuk sampai. Teruslah melangkah pelan-pelan, sebab anak-anak yang datang membaca, tertawa, dan merasa punya tempat belajar yang nyaman adalah bukti bahwa perjuangan itu tidak sia-sia.

 

Jangan berkiprah di taman bacaan bila bikin hati capek. Salam literasi!