Berjuang di dunia literasi bukan hanya melatih kemampuan berpikir, tetapi juga membentuk mental yang tangguh. Mengelola taman bacaan, membimbing anak-anak untuk membaca, hingga menjalankan motor baca keliling untuk sediakan akses bacaan atau menggerakkan kegiatan literasi sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti minimnya dana, sedikitnya pengunjung, kurangnya dukungan, hingga kritik yang datang tanpa memahami perjuangan di baliknya. Berjuang di literasi, mengajarkan siapapun untuk tetap konsisten berkiprah meskipun hasilnya belum langsung terlihat. Misalnya, seorang pengelola taman bacaan yang membuka layanan baca selama bertahun-tahun dengan jumlah pembaca yang sedikit namun tetap memilih bertahan. Ketekunan itu melatih kesabaran, kedisiplinan, dan keyakinan bahwa perubahan besar selalu diawali dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
Mental yang kuat juga
terbentuk karena pegiat literasi belajar menghadapi penolakan tanpa kehilangan
semangat. Ketika mengajukan proposal dana hibah atau bantuan buku yang
berkali-kali ditolak, atau mengadakan kegiatan membaca yang hanya dihadiri
beberapa anak namun tetap eksis dan berjuang tanpa pamrih. Terus mengevaluasi,
memperbaiki cara, dan berjuang terus. Seiring waktu, jumlah pembaca bertambah,
kepercayaan masyarakat meningkat, dan dampak kegiatan mulai terasa. Pengalaman
menghadapi kegagalan, bangkit kembali, dan terus berbuat inilah yang menjadikan
dunia literasi sebagai ruang yang efektif untuk membangun ketangguhan mental,
daya juang, serta kemampuan bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Seperti pegiat literasi dari
TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor yang tetap konsisten berjuang
untuk literasi. Tanpa disadari, akhirnya membentuk ketahanan mental yang kokoh
untuk menghadapi berbagai tantangan dan keadaan. Untuk selalu bangkit dari
kegagalan, mengontrol emosi dengan baik, dan tetap konsisten berliterasi.
Mental semakin kuat karena tidak bergantung pada validasi orang lain, berani
menetapkan batasan diri, serta menerima hal-hal di luar kendali alih-alih
menyalahkan keadaan atau meratapi keadaan. Beberapa ciri mental kuat yang
terbentuk dari perjuangan literasi antara lain;
1.
Berani
menerima kenyataan. Tetap menghadapi masalah apa adanya tanpa menyangkal apalagi
menghindar.
2. Fokus pada solusi. Untuk selalu mencurahkan
energi pada hal-hal yang bisa diubah dan mencari solusi dari setiap masalah.
3. Ambil Pelajaran. Menganggap tantangan dan kegagalan
sebagai batu loncatan untuk terus tumbuh dan berbuat.
4. Bertanggung jawab penuh. Selalu siap
menanggung akibat dari setiap Keputusan yang dijalankan.
5. Mampu mengendalikan emosi. Selaku sabar
dalam perjuangan dan mampu meredam amarah dalam segala keadaan pahit.
6. Berani mengambil keputusan. Tegas menolak
hal buruk tanpa merasa bersalah sebagai sikap yang dipegang teguh.
7. Tidak mencari validasi. Apapun keadannya
tetap tenang tanpa haus pujian orang dari lain.
Mental yang kuat akibat berjuang
di jalan literasi pada akhirnya bisa membentuk kepribadian yang kokoh. Hingga membuat
orang lain segan. Karena berjuang di literasi tidak menyukai percakapan yang terlalu
dangkal. Fokusnya pada perbuatan baik dan hal-hal yang memberi manfaat. Waktu
yang dihabiskan untuk literasi juga melatih untuk membuat batasan yang sehat
dan jelas dalam pergaulan. Secara tegas, akhirnya mampu meninggalkan situasi
maupun hubungan yang dianggap tidak sehat, apalagi toxic. Dan akhirnya, mental kuat
yang terbentuk saat berjuang di literasi menjadikan pegiat literasi tidak mudah terpengaruh,
tidak gampang dikendalikan.
Seperti kata bijak, kekuatan mental
tidak lahir dari air yang tenang melainkan dari ombak yang menggulung. Berjuang
di literasi mengajarkan untuk tidak mudah hanyut dalam tekanan, rasa bersalah,
maupun permainan emosi dari orang lain. Cenderung memilih untuk tetap tenang
dan mencari solusi daripada ikut terseret dalam drama. Mental yang kuat pada
akhirnya akan terlihat dari kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri, menjaga
nilai pribadi, serta menghargai orang lain tanpa kehilangan jati diri.
Dan harus dipahami, sebagai
konsekuensinya, seseorang dengan mental yang kuat akan membuat orang lain
menjadi tidak nyaman. Sulit untuk diintimidasi, bahkan sebagian orang akan “menjauh”
dengan sendirinya. Karenanya, tidak semua orang akan merasa senang orang yang
memiliki karakter yang tegas dan asli. Tidak semua orang suka pada orang yang
mentalnya kuat. Itulah buah berjuang di literasi. #PegiatLiterasi
#TBMLenteraPustaka #TamanBacaan

.jpg)


%20rev.png)

.jpg)






.jpg)
%20rev.png)








