Sabtu, 14 Februari 2026

Orang Lain Nggak Akan Membantumu Kecuali Diri Sendiri yang Melakukannya

Ungkapan “orang lain nggak akan membantumu” bukan soal pesimisme. Tapi sebuah pernyataan yang menegaskan pentingnya fokus pada diri sendiri. Karena memang nggak akan ada orang lain yang benar-benar membantu kita, kecuali diri kita sendiri yang melakukannya.

 

Ungkapan itu pada akhirnya, mengingatkan bahwa tanggung jawab utama atas hidup dan perjuangan kita ada di tangan kita sendiri. Orang lain bisa memberi saran, dukungan, atau bantuan. Tapi mereka tetap tidak bisa menjalani hidup atau mengambil keputusan penting untuk kita. Maka semuanya jadi tanggung jawab kita sendiri. Perubahan nyata (belajar, bekerja keras, memperbaiki diri) hanya terjadi kalau kita sendiri yang bertindak.

 

Mau sebaik apapun orang lain, realitasnya tidak semua orang akan peduli atau siap menolong pada saat kita membutuhkannya. Hanya diri kita sendiri yang bisa melakukannya. Kita mengandalkan diri sendiri, dengan bantuan Tuhan tentunya. Ini bukan berarti menolak bantuan orang lain. Tapi menekankan bahwa bantuan hanya efektif kalau kita yang bergerak sendiri. Contoh sederhananya: kalau kita ingin lulus ujian, guru hanya bisa mengajar dan teman bisa membantu belajar. Tapi yang mengerjakan ujian tetap kita sendiri.

 


Maka, mulailah bangun kepercayaan pada diri sendiri. Tingkatkan kualitas dan daya juang. Karena hasil yang baik dan apapun, sejatinya hanya masalah waktu untuk memcapainya. Asal tetap ikhtiar dan konsisten di jalan yang baik. Bersabarlah dalam menunggu hasil dari upaya kita sendiri. Jalani prosesnya, ikhtiarkan yang baik. Selebihnya serahkan kepada Tuhan yang menentukan hasilnya.

 

Pada akhirnya, ayam yang selalu dalam kandang nggak akan mengerti bagaimana cara elang terbang di angkasa. Bagaimana cara elang berhasil menghadapi bahaya-bahaya yag dihadapinya? Maka jangan meminta izin untuk terbang karena sayap itu milik kita dan langit bukan milik siapa-siapa.

 

Biar bagaimana pun, orang lain nggak akan membantumu kecuali diri kita sendiri yang melakukannya. Salam literasi!

 

Jumat, 13 Februari 2026

Literasi Kesuksesan: Tidak Semua yang Baik Perlu Validasi Orang Lain

 

Banyak orang mengukur kesuksesan dari materi atau kinerja. Bahkan tidak sedikit yang menyebut sukses karena diketahui orang banyak dan dijadikan bahan diskusi. Katanya succes story. Sharing dan berbagi kisah sukses di mana-mana. Setelah itu, merasa sudah jadi role model atau motivator. Serem nggak sih zaman begini?

 

Apalagi di era media sosial, semua hasil yang baik seakan harus dapat validasi dari orang lain. Berhasil karena diakui banyak orang. Maka wajar banyak orang merasa harus memamerkan setiap keberhasilan agar dianggap berhasil. Merasa perlu memberi tahu, bahwa dia sudah melakukan yang hebat. Apa iya begitu? Lupa, bahwa tidak semua hal perlu dipamerkan. Tidak semua capaian layak diumbar.

 

Sukses atau berhasil itu relatif. Dari mana sudut pandangnya. Dan nilai sebuah pencapaian sama sekali tidak diukur dari seberapa banyak orang yang mengetahuinya. Tapi soal komitmen dan konsistensi saja. Seberapa komitmen untuk fokus pada bidangnya? Seberapa konsisten tindakan atau perilaku untuk mengerjakannya? Asal tetap komit dan konsisten sudah cukup walau tidak ada yang mengetahuinya.

 


Mungkin kita hampir lupa. Sukses atau berhasil yang hakiki sering kali lahir dari diam. Keberhasilan dalam sepi. Proses dijalani dalam sunyi, kerja keras tanpa sorotan, dan doa yang tidak dipublikasikan. Semua itu justru memiliki kekuatan yang lebih dalam. Tetap rendah hati untuk menjaga agar tetap fokus pada tujuan, bukan pada pujian.

 

Tanpa pujian tanpa orang tahu, apa yang menjadi komitmennya dijalani. Sepenuh hati dan menjunjung tinggi privasi sebagai kekuatan terselubung. Lagi-lagi, tetap komitmen dan konsisten pada jalannya. Tidak perlu semua orang tahu. Tentang rencana, perjuangan, atau pencapaian kita. Sebab, semakin sedikit yang tahu, semakin besar peluang kita melangkah tanpa gangguan.

 

Maka rawatlah komitmen dan konsistensi yang baik, soal apapun. Lakukan apapun yang baik dan bermanfaat tanpa perlu validasi orang lain. Biarkan nanti hasil yang berbicara dan waktu yang akan membuktikannya sendiri. Itulah literasi kesuksesan yang sejati!


 

Bengong Itu Bukan Dosa

Berhentilah pura-pura produktif, apalagi sok sibuk. Coba latih diri untuk bengong, bertindak melongo. Karena bengong atau melongo itu “kemewahan” otak yang paling mahal saat ini. Sebab ide kreatif justru muncul saat otak masuk ke area melamun. Cuma aktif waktu kita bengong atau istirahat. Aktivitas yang rileks, saat istirahat atau tidak fokus pada rutinitas.

 

Bengong itu bukan dosa. Tidak ngapa-ngapain pun bukan kesalahan. Melamun itu bukan aib. Jangn pernah merasa berdosa bila tidak ngapa-ngapain, justru itu kemewahan. Karena sekarang, banyak orang justru terlalu sibuk sehingga gemar mengerjakan yang bukan kerjaannya. Terlalu peduli pada urusan orang lain. Tiap detik scroll atau melirik medsos itu bukan istirahat. Tapi memaksa otak bekerja keras melebihi porsinya. Maka cobalah bengong, melamun atau tidak ngapa-ngapain.

 

Zaman begini banyak orang merasa otaknya lemot, kadang sering pusing, Itu bukan karena pekerjaannya berat. Tapi otaknya lelah akibat “rapid switching”, karena identitas dirinya terlalu cepat berganti. Pagi jadi motivator, siang pekerja keras, sore jadi korban, dan malam berubah jadi pemimpi. Berganti dari satu identitas ke identitas lain dalam waktu singkat. Semuanya bikin capek, gampang disorientasi, dan akhirnya sulit mempertahankan satu identitas dalam waktu lama. 

 

Terkadang, multitasking itu hanya mitos. Multitalenta cuma obrolan diskusi di kalangan pemuja kesuksesan, bukan kisah nyata. Efisiensi juga tidak selalu baik. Dalam banyak sisi, multitaskingatau efisiensi justru mengabaikan kualitas. Mengerjakan dua aatu lebih pekerjaan itu pasti menurunkan fokus dan kinerja. Bayangkan, bila otak dipaksa pindah fokus tiap 10 detik saat scrolling. Itulah yang diam-diam biki glukosa meninggi dan oksigen mengalir deras di kepala. Jadi gelisah, resah, dan jadi banyak yang dipengen. Benar nggak?

 


Tidak apa-apa bila gampang lupa. Tidak masalah kebanyakan bengong. Itu bukan berarti bodoh, bukan pula dosa. Sering lupa atau lemot itu karena otak terlalu sering terdistraksi. Sehingga otak tidak bisa lagi membedakan mana yang penting mana yang tidak penting. Semua hal dianggap darurat dan mendesak. Fokusnya bergeser pada orang lain bukan diri sendiri. Jadi sederhana saja, kurangi konsumsi konten instan atau kendalikan jadwal scroll. Cobalah bengong sejenak atau membaca buku bila mau lebih sehat. Sempatkan melamun atau jalan kaki ke warung kopi justru bisa menjaga kesehatan pikiran kita. Dan bila ada yang menyindir karena kebanyakan bengong, jawab saja: "Saya bengong untuk mengistirahatkan otak dari informasi yang tidak perlu dan memilih ide baru".

 

Kita sering lupa, kesehatan otak bahkan mental itu dimulai dari kemampuan untuk tidak tahu segala hal. Nggak perlu tahu urusan orang lain. Dunia nggak kiamat kalau kita ketinggalan satu gosip viral. Kita lebih butuh banyak bengong dan istirahat. Lebih enak ngobrol nyata sambil ngopi daripada ngotot dapat validasi di dunia maya. Buat apa multitasking tapi stress. Bua tapa bilangnya efisien tapi dipikirin samapi 3 hari setelah dikerjakan? Lebih baik bengong atau baca buku, rileks dan betul-betul tenang.

 

Waktu istirahat ya rileks, jangan buka medsos. Sebab itu namanya pindah kerjaan bukan istirahat. Cobalah untuk bengong atau melamun, justru itu kemewahan otak paling mahal saat ini. Berhentilah pura-pura produktif dan sibuk. Biar nggak stress sendiri. Salam literasi!




Kamis, 12 Februari 2026

Puisi Taman Bacaan "Berperang dengan Diri Sendiri"

 

Tak ada runtuh yang lebih sunyi.

Selain perang di dalam kepala sendiri.

Tanpa dentuman, bahkan tanpa asap.

Namun serpihannya menancap lebih dalam dari peluru.

Merasuk hingga ke dada, hingga sesak.

 

Di sana, di luar sana.

Suara-suara bertempur tanpa seragam, tanpa jeda.

Ragu menuduh, takut berteriak.

Dan keyakinan kadang berdiri gemetar di sudut ruang.

 

Pikiran bisa jadi rumah.

Tempat kau pulang dengan napas yang utuh.

Dindingnya hangat oleh syukur, jendelanya terbuka pada cahaya harapan.

 

Namun ia pun bisa menjadi puing.

Atapnya runtuh oleh prasangka.

Lantainya retak oleh kenangan yang tak kau sembuhkan.

Dan kau sendiri berjalan di atasnya setiap hari.

Tanpa alas kaki, tanpa sadar kau berdarah pelan-pelan.

 

Betapa sunyi perang itu.

Tak ada yang melihat lukamu.

Sebab semua terjadi di balik dahi.

Di ruang yang tak terpetakan.

 

Maka jagalah pikiranmu.

Seperti kau menjaga rumah masa depanmu.

Sapu perlahan debu ketakutan.

tegakkan kembali tiang keyakinan.

Dan biarkan kasih pada diri sendiri menjadi arsitek yang setia.

Sebab ketika kepala menjadi teduh, dunia tak lagi terasa runtuh.

 

Maka simpan tenaga untuk hal yang bisa kau genggam.

Lepaskan yang memang tak mau dikendalikan.

Sebab tenang bukan berarti kalah.

Ia hanya tanda kau memilih hidup, bukan lelah.

 

Dan kau akhirnya tahu.

Kedamaian bukan ditemukan di luar sana.

Melainkan dibangun diam-diam di dalam dirimu sendiri.

 

Kau, mungkin sedang berperang dengan diri sendiri.



Antisipasi Isu MSCI, Asosiasi Dana Pensiun Gelar FGD Pasar Modal dan Investasi

Sebagai upaya antisipasi terhadap kondidi pasar modal di Indonesia dan isu MSCI, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menggelar Focus Group Discussion “Kondisi Pasar Modal dan Implikasinya terhadap Investasi Dana Pensiun” di Jakarta (13/2/2026). Acara dibuka oleh Abdul Hadi (Ketua ADPI) dan dihadiri 60 peserta dari pengurus DPP dan komda ADPI.

 

Dimoderatori oleh Ch. Pitono, WaKa Ketua ADPI, FGD pasar modal ini menghadirkan narasumber 1) Poltak Hotradero (Penasihat Pengembangan Bisnis BEI), 2) Aliyahdin Saugi (Wakil Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia), dan 3) Handy Yunianto (Ekonom) yang memaparkan tentang damapk MSCI, kondisi aktual pasar modal Indonesia dan upaya yang perlu dilakukan, hingga kondisi pasar saham pasca Moody’s di Indonesia.

 

Ada tantangan dana pensiun di pasar modal, untuk menjaga keseimbangan risiko dan penempatan investasi. Upaya menghadapi volatilitas jangka pendek dan tetap menjaga kecukupan dana saat peserta pensiun. Dengan situais yang ada, maka transformasi p[asar modal di Indonesia patut dilakukan. Sebab dalam kondisi pasar modal yang sehat dan bertumbuh, dana pensiun akan sangat diuntungkan. Namun saat pasar melemah, pengelolaan profesional dan strategi jangka panjang menjadi sangat krusial.

 

Karena dana pensiun bersifat jangka panjang, maka volatilitas pasar berdampak risiko jangka pendek. Karenanya, stabilitas ekonomi jadi kunci pertumbuhan dana dan manajemen risiko harus tetap prioritas.



 

“FGD ini penting di tengah kondisi pasar modal di Indonesia dan dapat memberi pencerahan bagi pengelola dana pensiun di ADPI.  Semoga nantinya pasar modal kita segera membaik dan dana pensiun bisa lebih leluasa dalam menjalankan investasinya” ujar Abudl Hadi, Ketua ADPI dalam sambutannnya.

 

Melalui FGD pasar modal, diharapkan dapat memperkuat pemahaman tentang kondisi pasar modal di Indonesia sekaligus antisipasi invetsasi di dana pensiun. Tanya jawab dari peserta sangat antusias, yang menegaskan FGD pasar modal ini sebagai forum diskusi dan menambah wawasan terkait pasar modal dan investasi saham di dana pensiun. Salam #YukSiapkanPensiun




 

Rabu, 11 Februari 2026

Lebih Baik Baca daripada Ngomongin Orang

Ini sebuah ajakan. Ayo hilangkan kebiasaan membicarakan orang lain, hindari membahas kebutukan orang lain. Karena mungkin, sekarang ini banyak yang punya kebiasaan membicarakan orang lain (terutama yang negatif). Kita sadar bersama, tidak ada manfaatnya membicarakan orang lain. Karena setiap orang, pasti punya jalannya masing-masing.

 

Mulailah dari kesadaran: kenapa kita suka membicarakan orang? Biasanya karena kita ingin merasa lebih unggul darinya, sering ikut arus obrolan biar nyambung atau pelampiasan emosi (kesal, iri, kecewa). Bahkan bisa jadi “ngomongin orang” dianggap sebagai selingan atau hiburan. Itu kebiasaan buruk, karena bisa melatih otak fokusnya hanya pada kekurangan orang, bikin hati makin negative, dan lama-lama orang juga nggak percaya sama kita

 

Bedakanlah antara diskusi vs gosip. Memang, tidak semua membicarakan orang itu salah. Bila niatnya baik, diskusi sehat maka tujuannya mencari solusi, disampaikan dengan empati, dan tidak dilebih-lebihkan. Tapi diskusi berubah jadi gosip karena tidak ada manfaatnya, menambah-nambahi cerita, membahas hal pribadi tanpa izin, dan tujuannya hiburan atau menjatuhkan. Jadi kata kuncinya, apa niat dan manfaat membicarakan orang lain?

 

Orang sering lupa bahwa efek terbesar dari membicarakan orang lain adalah ke diri sendiri. Hati jadi mudah menghakimi, pikiran dipenuhi hal-hal negatif. Energinya habis untuk urusan orang dan reputasi jadi turun (orang takut jadi bahan obrolan berikutnya). “Kalau kita sering ngomongin orang, pelan-pelan karakter kita juga kebentuk dari situ.

 


Maka cara mengurangi kebiasaan membicarakan orang lain adalah sadar dulu – tiap mau cerita, tanya: perlu nggak? bermanfaat nggak? Kalau orangnya ada di sini, tetap berani ngomong nggak? Lebih baik alihkan topik dan  ganti dengan ngomongin ide atau gagasan, rencana yang baik, insight yang manfaat atau pengalaman pribadi yang inspiratif.

 

Karenanya, batasi circle yang hobi gosip. Sebab lingkungan sangat mempengaruhi kebiasaan kita sehar-hari. Latih empati untuk peduli sesama yang positif, bukan yyang buruk. Ingat kita juga punya kekurangan yang nggak ingin dibicarakan orang lain. Jadi, kalau nggak bisa menambah nilai, lebih baik diam. Lebih baik bicarakan ide, bukan orangnya.Atau minimal, lebih baik membaca daripada ngomongin orang lain. Salam literasi!

Senin, 09 Februari 2026

Abang Ojol Ngetem di Pedestrian, Lagi Menguatkan Diri Cari Cuan di Jalan

Pernah lihat nggak, abang-abang ojol lagi istirahat alias ngaso di trotoar? Apalagi di siang yang terik matahari, banyak abang ojol lagi ngobrol sambil menikmati secangkir kopi dari pedagang kopi starling. Ngaso di trotoar, kenapa ya kira-kira abang ojol begitu?

 

Tentu, bukan karena abang ojol nggak punya rumah. Bukan pula karena nggak ada orderan. Tapi karena di trotoar itu mereka bisa berhenti sebentar. Tanpa harus menjelaskan apa pun, kepada siapa pun.  Di trotoar, abang ojol lebih rileks dan menjauh dari penatnya mengais rezeki.

 

Abang ojol, begitulah hidupnya. Di jalan, mereka dikejar target. Di aplikasi, dikejar rating. Di konsumen, harus antar kemana pun. Bahkan di rumah, tetap dituntut kuat tapi harus penuhi segala kebutuhan rumah.

 

Beban hidup abang ojol berat. Lebih berat dari pekerja kantoran. Setiap hari haru keluar rumah, bukan cuma tanggung jawab tapi untuk menafkahi keluarganya. Capek ditahan, kecewa ditelan. Terus, harus mengeluh ke mana? Cuan kan harus dicari, bukan diadukan ke pemerintah.

 


Ngaso di trotoar, istirahat di pinggir jalan. Ngetem di pedestrian. Memang nggak bagus bahkan nggak boleh. Tapi di trotoar itulah abang ojol cuma duduk. Ngaso sambil menikmati kopi sachet buatan pedagang jalanan. Sambil narik napas panjang. Lega lega dan lega buat abang ojol.

 

Di atas trotoar, Abang ojol ngaso sebentar. Kadang, bengong dan ngobrol sebentar. Kumpulin tenaga untuk narik lagi, untuk layani dan antar penumpang lagi.

 

Abang ojol nggak perlu cerita. Nggak perlu terlihat hebat. Nggak perlu menjelaskan kenapa hari ini berat? Abang ojol hanya tahu berjuang dan bertahan di segala keadaan.

 

Laki-laki termasuk abang ojol, nggak perlu gaya hidup nggak butuh liburan mahal. Mereka hanya butuh jeda kecil, rileks yang murah, tenang, dan nggak banyak prasangka. Cukup dengan Rp4000 kopi sachet dan meneguknya. Tapi rasanya seperti istirahat dari dunia sebentar.

 

Jadi kalau kita lihat abang ojol duduk lama di trotoar, bareng sama teman-temannya. Mereka bukan malas, bukan pula ngga punya etos. Tapi mereka sedang menguatkan diri sebelum kembali ke jalan.

 

Karena hidup memang harus terus jalan. Cuan memang harus dicari (karena nggak ada yang ngasih). Tapi hati juga kan perlu “parkir” sebentar.

 

Ngaso di trotoar, nongkrong sambil ngopi buat Abang ojol. Sungguh jadi saksi cucuran keringat seorang pejuang jalanan. Salam literasi!

 

Orang Baca Itu Tidak Perlu Pengakuan

 

Orang baca itu tidak perlu sibuk membuktikan diri. Baca bukan karena ingin dipuji, diakui, dan disukai. Ketika membaca, tidak terlalu penting orang lain menilai kita baik. Justru membaca untuk menyadarkan diri sendiri. Bahwa ketenangan justru datang saat kita tidak lagi sibuk meyakinkan siapa pun, bahkan dunia.

 

Membaca memang untuk diri sendiri. Kata Nathaniel Branden dalam “The Six Pillars of Self-Esteem”, percaya diri dan penghargaan bukan sesuatu yang diberikan orang lain, tapi dibangun dari dalam diri sendiri. Lewat kesadaran, tanggung jawab, dan kejujuran pada diri. Karenanya, orang yang hidup autentik tidak perlu mencari validasi. Seperti orang yang membaca tidak perlu pengakuan, karena siapapun yang membaca sejatinya sudah mampu berdamai dengan dirinya sendiri.

 

Sekali lagi, membaca tidak butuh validasi orang lain. Tentang berapa banyak buku yang dibaca, tentang paham atau tidak atas bacaannya. Baca itu proses dan kebiasaan. Karenanya sama sekali tidak perlu membuktikan diri. Jutsru membaca untuk tahu siapa diri kita? Agar tidak mudah digoyang opini orang. Membaca untuk mengenal diri dengan jujur, tahu kelebihan dan kekurangan serta menghidupkan nilai-nilai yang dipegang. Ucapan orang lain tidak lagi menentukan arah hidup kita. Orang bisa menilai, tapi mereka tidak tahu seluruh kisah kita.

 

Apalagi membaca karena cinta, sudah jadi kebiasaan. Bukan karena ingin dilihat orang tapi karena motivasinya murni. Membaca bukan untuk mengejar pujian. Tapi siklus kehidupan yang tetap dijalani, mumpung dekat dengan buku dan tempat membaca seperti taman bacaan. Baca untuk memperbaiki diri dan bertumbuh, bukan untuk dianggap pintar apalagi hebat. Orang yang membaca dalam diam  tapi punya makna tanpa banyak bicara. Membaca bukan untuk mencari sorotan, tapi ketenangan batin yang tidak bisa diberikan dari tempat lain..

 


Orang baca itu tahu dan sadar. Bahwa tidak semua orang akan suka padanya. Menerima perbedaan bahkan silang pandangan. Karena membaca tanda kematangan emosional. Orang baca itu tidak berharap semua orang paham, setuju, atau menyukai dirinya. Sebab, orang baca tahu bahwa pandangan orang sering dipengaruhi pengalaman dan lukanya sendiri. Jadi, orang baca ketika ada yang menghakimi tidak merasa tersinggung. Cukup tersenyum dan melanjutkan bacaannya halaman demi halaman. Dan akhirnya, orang baca itu sampai pada rasa nyaman jadi diri sendiri tanpa perlu topeng. Sadar, membaca adalah saran untuk menjadi diri sendiri, apa adanya, dan tetap berusaha tumbuh. Baca bukan untuk bermain peran atau drama. Tidak perlu terlihat bahagia atau berpura-pura kuat.

 

Hari ini banyak orang mencari validasi dari orang lain. Merasa butuh pengakuan dari orang lain, mencari pembenaran dari luar. Semua niat dan ikhtiar hanya untuk dipuji atau mendapat validasi orang lain. Iya boleh-boleh saja.  Asal jangan lupa,, justru pengakuan terbaik ada pada diri sendiri, sebuah percaya diri yang datang dari dalam. Untuk selalu tumbuh, melakukan yang terbaik, dan hidup dengan niat yang bersih. Di situlah, membaca diperlukan dan sudah cukup bila masih mau membaca. Salam literasi!

 


Minggu, 08 Februari 2026

Gimana Kondisi Finansial Pensiunan Setelah Tidak Punya Gaji Lagi?

Hampir separuh pensiunan atau lansia di Indonesia hidup di rumah tangga miskin–rentan miskin. Laporan BPS (2024) menyebut 42% pensiunan atau lansia berada pada rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 40% terbawah. Sisanya 38% pensiunan hidup di rumah tangga dengan pengeluaran 40% menengah dan 20% pensiunan pada rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 20% teratas. Artinya, sebagian besar pensiunan atau lansia Indonesia hidup di rumah tangga berpengeluaran rendah, dan hanya sedikit yang berada di kelompok ekonomi atas.

 

Sebanyak 42% pensiunan ada di pengeluaran 40% terbawah. Itu berarti, hampir separuh pensiunan hidup di rumah tangga miskin–rentan miskin. Kelompok rumah tangga dengan pengeluaran paling kecil secara nasional. Indikasi kuatnya adalah banyak pensiunan tidak punya cadangan ekonomi sendiri, bergantung pada keluarga, dan rentan kemiskinan di usia tua. Sementara 38% pensiun berada di pengeluaran 40% menengah. Artinya, sepertiga pensiun hidup “cukup” tapi masih rentan mengalami masalah keuangan. Tidak miskin tapi sangat sensitif terhadap guncangan ekonomi (sakit, tidak dikirim uang oleh anak, inflasi). Sebuah kondisi hari tua yang mudah jatuh ke kemiskinan.

 

Hanya 20% pensiunan berada di pengeluaran 20% teratas. Artinya cuma 1 dari 5 pensiunan yang hidup relatif mapan secara finansial. Kelompok ini biasanya punya program pensiun sukarela seperti DPLK, punya aset dan tabungan atau atau punya usaha di hari tua. Kesimpulannya sederhana, sekitar 80% pensiunan atau lansia di Indonesia hidup dalam keadaan miskin atau menengah ke bawah. Mayoritas berada di kelompok bawah dan menengah bawah.

 


Kondisi ini menegaskan bahwa pensiunan atau lansia di Indonesia sama sekali tidak mandiri secara finansial di hari tua. Biaya hidupnya bergantung pada keluarga atau anak-anaknya. Sebanyak 84% pensiunan atau lansia menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota rumah tangga yang bekerja, 11% bergantung pada kiriman dari anak, 5% dari uang pensiunnya sendiri, dan hanya 0,28% yang bergantung pada investasi yang dimiliki. Ini artinya, 8 dari 10 pensiunan bergantung secara finansial kepada anggota keluarganya yang bekerja (BPS, 2024).

 

Terbukti, sistem pensiun belum menjangkau mayoritas penduduk, khususnya sektor individual dan pekerja informal. Pensiunan atau lansia masih sangat bergantung secara finansial pada anak atau keluarganya sehingga risiko kemiskinan di usia tua sangat besar. Dana pensiun baru dimiliki oleh minoritas masyarakat. Sebuah kondisi yang menegaskann rendahnya perlindungan hari tua dan masih tingginya ketergantungan pensiunan pada dukungan keluarga.

 

Karena itu, dana pensiun sukarela seperti DPLK (Dana Pensiunn Lembaga Keuangan) menjadi penting untuk terus disosialisasikan ke masyarakat. Butuh edukasi yang masif dan kemudahan akses agar masyarakat bisa memiliki dana pensiun. Yuk Siapkan Pensiun!




Membaca sebagai Jalan Ketenangan dan Cinta

Mungkin terlalu klise untuk menyatakan “Membaca buku untuk kejernihan batin dan menemukan makna hidup yang sejati”. Tapi memang, sebagian orang membaca bukan untuk pintar secara akademik. Sebab membaca baginya sebagai proses batiniah.

 

Membaca untuk menjernihkan batin. Agar pikiran tidak terlalu gaduh, emosi lebih tertata, dan  mampu melihat hidup dengan lebih tenang. Saat membaca buku, apapun jenisnya seperti cerita rakyat, sastra, sains, refleksi hidup, atau biografi. Siapapun akan berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Masuk ke ruang sunyi pikiran dan belajar memahami perasaan sendiri lewat pengalaman orang lain. Bukti bahwa buku menjadi cermin untuk melihat diri sendiri di dalamnya. Bukan sekadar tahu banyak hal tapi “tahu apa yang sedang kita rasakan dan butuhkan”.

Terkadang, membaca juga untuk menemukan makna hidup. Sebab makna hidup tidak datang dari jawaban instan. Ia tumbuh dari perenungan, perbandingan pengalaman, dan ialog batin. Buku bisa menghadirkan penderitaan orang lain, perjuangan tokoh, pilihan moral, bahkan cerita kegagalan dan harapan. Maka sering saat membaca, kita bertanya: “Apa yang penting dalam hidup kita?” atau “Untuk apa kita berjalan sejauh ini?”. Jadi, buku tidak memberi makna secara langsung. Tapi membantu kita menemukannya sendiri.

 

Di zaman modern, membaca buku kian penting. Karena hidup modern terlalu cepat, dangkal, penuh distraksi dan terkadang instan. Media sosial melatih kita untuk “bereaksi cepat tanpa berpikir” hingga lupa merenung. Sedangkan membaca melatih kita untuk diam, menyelami, dan memahami. Maka, membaca jadi bentuk perlawanan halus terhadap kehidupan yang serba tergesa-gesa.

 




Jalaludin Rumi pernah menyebut pentingnya melepaskan, menjernihkan batin, dan menemukan makna hidup yang sejati. Tentang pentingnya “Saat kita melepaskan semua yang tidak penting”. Mengajak manusia untuk berani menanggalkan hal-hal yang sering menyita energi batin: ambisi berlebihan, pengakuan semu, gengsi, dendam, perbandingan, dan keterikatan pada hal-hal yang fana. Sebab banyak kegelisahan hidup bukan berasal dari kekurangan, tetapi dari kelebihan beban yang kita pikul tanpa perlu.

 

Ketika membaca, siapapun akan mampu menemukan apa yang benar-benar penting. Ruang batin dibersihkan, pikiran dijernihkan sehingga yang tersisa justru nilai-nilai hakiki berupa ketenangan dan kejujuran pada diri sendiri. Hubungan yang tulus, cinta yang bersih, serta kedekatan dengan Tuhan. Hal-hal inilah yang sering tertutup oleh hiruk-pikuk keinginan dan tuntutan dunia. Apa yang dilepaskan mungkin terasa berharga di mata dunia. Tapi sering kali jadi penghalang bagi ketenangan dan kedamaian. Dengan melepaskan, kita tidak menjadi miskin, melainkan menjadi ringan dan lebih merdeka.

 

Membaca, sering kali mengembalikan hati tidak lagi terikat pada yang sementara. Membaca sangat mampu menyeleksi pikiran. Agar siapapun mau berhenti menggenggam terlalu banyak hal. Tapi cukup dengan menyadari apa yang pantas dijaga dan diperjuangkan. Siapapun yang membaca, berarti berani memilah: apa yang sekadar ramai dan apa yang benar-benar bermakna? Karena dengan melepaskan yang tidak penting, hati akan memiliki ruang untuk menerima yang paling penting: ketenangan, cinta, dan kebenaran.

 

Membaca buku bukan sekadar menambah pengetahuan. Tapi jalan untuk menenangkan batin, memahami diri, dan perlahan menemukan apa yang benar-benar bermakna dalam hidup. Salam literasi!




Sabtu, 07 Februari 2026

Hanya 5% Pensiunan Hidup Ditopang Uang Pensiun, 84% Bergantung dari Anggota Keluarga yang Bekerja

 Faktanya hari ini, pensiunan atau lansia di Indonesia sama sekali tidak mandiri secara finansial. Biaya hidupnya bergantung pada keluarga atau anak-anaknya. Laporan Badan Pusat Statistik (2024), sebanyak 83,74% pensiunan atau lansia menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota rumah tangga yang bekerja. Sedangkan 10,97% bergantung pada kiriman dari anak atau pihak lain, 5,01% dari uang pensiunnya sendiri, dan hanya 0,28 yang bergantung pada investasi yang dimiliki. Ini artinya, 8 dari 10 pensiunan bergantung secara finansial kepada anggota keluarganya yang bekerja. Sementara pensiunan yang hidup di hari tua dari uang pensiun tidak sampai 1 orang.

 

Menarik dicermati dari laporan BPS ini, ada pensiunan atau lansia yang menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota rumah tangga yang bekerja dan ada pula yang bergantung pada kiriman dari anak atau pihak lain. Bergantung secara finansial pada anggota keluarga yang bekerja, berarti kebutuhan hidup utama (makan, tempat tinggal, kesehatan) ditanggung anggota keluarga akibat si pensiunan tidak lagi punya penghasilan. Tinggal serumah dengan anak, dibiayai langsung tiap hari atau atau diberi uang rutin. Kondisi ini menunjukkan si pensiunan bergantung ekonomi secara total. Sedangkan pensiunan yang menunggu kiriman uang dari anak atau pihak lain, berarti si pensiunan menerima transfer uang dari anak/keluarga secara bulanan. Tetap tergantung secara finansial tapi tidak total.

 

Mayoritas pensiunan di Indonesia tidak memiliki dana pensiun mandiri yang cukup, sehingga hidup hari tuanya menjadi tanggungan anak atau keluarganya serumah. Minimnya persiapan masa tua di saat masih bekerja menjadi penyebab utama. Selain literasi keuangan yang rendah, banyak pekerja tidak memiliki program pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Tidak punya tabungan pensiun, sehingga tidak tersedia uang yang cukup untuk hari tua.

 


Data dari Asian Development Bank (Mei 2024)  menyebut 50% penduduk lanjut usia (60+ tahun) atau pensiunan mengandalkan transferan uang dari anaknya. Artinya, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia benar-benar mengandalkan transferan anak untuk memenuhi biaya hidupnya setiap bulan. Konsekuensinya, generasi sandwich makin sulit diputus. Karena anak yang bekerja harus menanggung biaya hidup orang tua sekaligus pasangan dan anak-anaknya.

 

Hanya 5% pensiunan hidupnya ditopang dari uang pensiun. Agak miris, karena sebagian besar pensiunan di Indonesia tidak siap secara finansial. Akibat tidak memiliki perencanaan keuangan yang jelas untuk masa pensiun. Karena itu, edukasi dan kesadaran akan pentingnya mempersiapkan masa pensiun jadi penting disuarakan. Agar kerja yes, pensiun oke!




Jumat, 06 Februari 2026

Anak SD dan Akses Baca

Kisah pilu menyelimuti langit Ngada NTT, ketika seorang anak SD kelas IV gantung diri akibat tidak bisa membeli buku dan pena. Sesederhana itukah? Bisa jadi iya, karena mungkin si anak juga tidak ada tempat aktualisasi diri. Ke mana harus bisa lebih dekat dengan buku? Selain persoalann kemiskinan yang ekstrem dan hilangnya kepedulian pemerintah daerah terhadap warganya.

 

Terkadang, bahagianya anak-anak tidak selalu soal uang. Tapi tersedianya akses bacaan, ada tempat untuk bersosialisasi dan membaca buku. Kebahagiaan dan masa depan anak nggak cuma ditentukan oleh uang. Tapi oleh kesempatan mereka untuk belajar dan membayangkan dunia, buku-buku bacaan adalah pintu masuknya. Bacaan membuka dunia, bukan cuma dompet. Anak yang punya akses buku bisa “pergi” ke mana-mana: ke masa depan, ke masa lalu, ke kehidupan orang lain. Imajinasi, empati, dan rasa ingin tahunya tumbuh. Itu bikin mereka merasa kaya pengalaman, meski secara materi sederhana bahkan miskin.

 

Akses bacaan, suka tidak suka adalah soal “keadilan kesempatan”. Tidak semua anak lahir di keluarga berduit. Tapi semua anak berhak punya kesempatan berkembang. Perpustakaan, taman bacaan, pojok baca di mana pun bisa jadi jembatan agar anak dari latar belakang mana pun bisa bermimpi setinggi yang sama. Bisa terhibur di kala sedih, bisa punya alternatif ketika tidak bisa beli buku atau pena. Maaf ya, daripada kasih makan kenyang anak-anak sekolah lewat MBG, lebih baik sediakan lebih banyak tempat-tempat anak bersosialisasi dan membaca. Di samping menggratiskan sekolah dan bebaskan biaya apapun anak-anak yang secara ekonomi tidak mampu.

 

Anak bisa diperkuat secara mental dan emosional lewat membaca, melalui buku-buku bacaan. Momen anak dibacakan cerita sebelum tidur, atau anak tenggelam membaca buku favoritnya pasti menciptakan rasa aman dan nyaman. Kebahagiaan anak sering lahir dari rasa diperhatikan, bukan dari harga barang. Anak gampang senang bila ada tenpat yang memfasilitasi kegemarannya, sekalipun main di taman bacaan.



Kita sering lupa. Buku itu memberi alat, bukan hadiah instan. Uang bisa memberi kesenangan cepat (mainan, gawai). Tapi bacaan memberi alat hidup: kemampuan berpikir, memahami emosi, bahkan memecahkan masalah. Anak yang bisa membaca dengan baik cenderung lebih percaya diri dan mandir, tidak mudah frustrasi. Mentalitas ini penting untuk anak-anak dan berlaku jangka panjang.

 

Apapun alasannya, bahagia itu bukan soal banyaknya uang. Tapi cukupnya hati dan rasa syukur. Rumah kecil bisa terasa luas kalau hatinya lapang. Makan sederhana bisa terasa nikmat kalau dimakan bersama. Pakaian lama tetap indah jika dipakai dengan senyum. Banyak orang kaya merasa kurang, karena lupa nikmat yang sudah dimiliki. Kadang, kita atau anak-anak tidak perlu segalanya, cukup apa yang membuat hati tenang.

 

Anak-anak hari ini nggak cukup cuma pintar atau nilai rapor bagus. Tapi butuh mental yang kuat, butuh tempat-tempat bersosialisasi seperti taman bacaan. Datang bersama, duduk bersama dan membaca buku bersama. Tidak perlu tempat mewah, tapi cukup tempat yang bisa membuat anak-anak betah. Memang tidak mudah tapi dari situlah kebahagiaann anak-anak terjaga.

 

Uang memang bisa membeli fasilitas, tapi bacaan membentuk fondasi batin dan masa depan anak. Anak yang punya akses bacaan punya “modal batin” untuk bahagia, belajar, dan bertahan di hidup, apa pun kondisi ekonominya. Salam literasi!

 



Kamis, 05 Februari 2026

Ibu Tidak Minta Diingat tapi Selalu Dikenang

 

Berbahagialah, siapapun yang masih memiliki ibu. Masih bisa bercengkrama dengan ibu, bahkan memeluk dan membelai rambutnya. Betapa indahnya hari-hari ini masih bersama ibu. Sementara banyak orang lain yang hari ini sudah kehilangan ibu. Hanya bisa meneteskan aor mata ketika mengingat ibu. Ibu dan ibu ….

 

Ibu tidak minta diingat, tapi selalu dikenang. Kata-kata itu bukan hanya menyentuh hati tapi prinsip yang dipegang ibu untuk anak-anaknya. Esensi kasih sayanga seorang ibu yang sesungguhnya: cinta tanpa syarat dan tanpa pamrih. Seorang ibu berbuat segala sesuatu karena cinta, bukan untuk dikenang jasanya. Setiap hal yang yang kita anggap kecil: senyumnya, nasihatnya, doanya, bahkan pengorbanan yang tidak terlihat melekat dalam diri anak-anaknya.

 

Kenangan ibu selalu hidup dalam cara kita berbicara, dalam nilai-nilai yang kita pegang, dan dalam cinta yang kita berikan kepada orang lain hingga hari ini. Ibu meninggalkan jejak yang tidak memudar, bukan pada batu nisan tapi pada hati yang dibentuknya. Meskipun waktu berlalu, kehadirannya tetap terasa, seperti aroma yang tersisa di udara setelah hujan reda: begitu halus, menghangatkan, dan mengingatkan kita pada sebuah tempat yang disebut "rumah".

 


Ibu tidak minta diingat. Sebuah pengakuan bahwa meskipun ibu tidak memintanya, kenangan itu hadir dengan sendirinya, abadi, sebagai bukti cinta yang tidak terkatakan dan tidak pernah benar-benar pergi.

 

Terima kasih Ibu, telah membagikan cinta dan kasih sayang tanpa pamrih. Hingga maknanya masih tterasa hingg kini. Maka diamlah sejenak untuk mengenang Ibu. Terima kasih Ibu, di mana pun engkau berada. Salam literasi!