Minggu, 19 Juli 2026

Singkirkan Orang-orang Beracun dalam Hidupmu

Ada nasihat yang berlaku sepanjang zaman. Singkirkan orang-orang beracun (toxic people) dalam hidup kita. Bukan berarti membenci atau memutus hubungan dengan semua orang yang pernah berkonflik dengan kita. Tapi untuk mengurangi pengaruh orang-orang yang secara konsisten menghadirkan manipulasi, meremehkan, mengeksploitasi kebaikan, atau terus-menerus menciptakan drama yang menguras energi mental. Menjaga jarak dan  hubungan dari orang-orang beracun itu untuk menjaga kesehatan emosional, bukan tindakan egois. Sebab bahagia tidak selalu berarti menyenangkan semua orang, melainkan mampu menciptakan kehidupan yang lebih sehat dan seimbang.

 

Tidak masalah, bila kita akhirnya memutuskan keluar dari grup pertemanan yang selama bertahun-tahun dipenuhi gosip, saling menjatuhkan, dan tekanan untuk ikut menyebarkan rumor tentang rekan sendiri. Toh, setelah membatasi interaksi dengan kelompok toxic jadi lebih sehat dan tenang. Bergabung dengan komunitas profesional yang lebih positif, mengikuti pelatihan pengembangan diri, dan membangun relasi yang saling mendukung. Hingga akhirnya, produktivitas kerja lebih meningkat dan tingkat stres menurun. Lebih baik fokus pada kinerja daripada konflik yang tidak produktif. Maka memilih lingkungan yang sehat bukan berarti memusuhi orang lain. Tapi mengambil keputusan yang mendukung pertumbuhan pribadi dan kebahagiaan jangka panjang.

 

Tetapkan batasan (boundaries) dari orang-orangberacun. Adalah salah satu cara paling efektif untuk melindungi diri dari hubungan yang tidak sehat. Tolak permintaan yang tidak masuk akal, batasi komunikasi, atau jangan lagi terlibat dalam gosip yang tidakada habisnya. Buat batasan yang jelas, agar lebih fokus pada pekerjaan, keluarga, dan hubungan yang saling menghargai. Sebab, lingkungan dan teman yang positif dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri, produktivitas, dan kesehatan mental diri kita.

 


Namun, penting untuk berhati-hati. Agar istilah "orang beracun" tidak digunakan secara sembarangan untuk melabeli setiap orang yang berbeda pendapat atau pernah melakukan kesalahan. Perbedaan pandangan, kritik yang membangun, atau konflik sesekali merupakan bagian yang wajar dalam hubungan sosial. Sebelum memutuskan menjaga jarak, sebaiknya lakukan komunikasi yang jujur dan beri kesempatan untuk memperbaiki hubungan. Jika perilaku negatif terus berulang dan berdampak buruk pada diri kita, menjaga jarak adalah pilihan wajib.

 

Boleh kok, menyingkirkan atau menjaga jarak dari orang yang benar-benar bersikap toksik. Agar tidak ada lagi manipulasi, penghinaan, kebohongan, atau drama yang berkepanjangan. Hingga bikin energi terkuras sia-sia dan mengganggu kesehatan mental, bahkan menghambat perkembangan diri. Ketahuilah, lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan mencapai tujuan hidup. Maka Batasi diri dari pergaulan yang tidak sehat. Pilihlah teman yang saling menghargai, mendukung, dan memberi kritik yang membangun. Sebab di situ, ada ketenangan, produktivitas, dan kehidupan yang lebih sehat dan berkualitas. Salam literasi!

Pekerja Rajin Bawa Bekal Makan Siang ke Kantor Akhirnya Bisa Pensiun Dini

Luar biasa,inspiratif sih untuk urusan pensiun. Sepasang suami istri di Inggris, bisa pensiun dini di usia 40 dan 35 tahun. Karena selalu membawa bekal makan siang ke tempat kerja selama 10 tahun. Namanya Alan dan Katie Donegan. Sekalipun dianggap “pelit” oleh rekan kerja, terbukti keduanya mampu  menghemat Rp965 juta selama 10 tahun hanya dari kebiasaan membawa bekal makan siang ke kantor. Lebih dari itu, setiap musim dingin pun, Alan dan Katie Donegan menghindari menyalakan pemanas di rumahnya supaya tagihan tidak membengkak. Sebuah praktik berhemat yang butuh perjuangan.

 

Ternyata di balik kisah itu, keduanya bertekad untuk “membeli kebebasan". Sekalipun bekerja dan punya gaji yang cukup, keduanya selalu hemat dan terbiasa menabung agar bisa pensiun lebih dini, lebih awal dari yang seharusnya. Selalu berusaha menempatkan uang sebanyak mungkin dan menyisihkannya untuk kehidupan setelah pensiun dini. "Setiap pound yang kami kumpulkan adalah satu langkah nyata untuk lebih dekat menuju kehidupan yang kami inginkan," kata Katie sant istri.

 

Dan akhirnya, "kebebasan" yang dimaksud pasangan suami istri ini adalah pensiun dini. Sang suami, Alan pensiun dini saat usia 40 tahun dan istrinya Katie pensiun di usia 35 tahun. Keduanya memutuskan berhenti bekerja setelah tabungan yang dikumpulkannya mencapai £1 juta (setara Rp24,1 miliar). Sebuah perencaaan pensiun yang keren!

 

Sementara itu, di negeri tercinta Indonesia, mungkin banyak pekerja justru ingin tetap bekerja selama mungkin. Alasanya karena faktor ekonomi, budaya, dan kondisi sistem perlindungan hari tua yang belum sepenuhnya memberikan rasa aman. Ada benarnya, sebab gaji atau pendapatan yang diperoleh setiap bulan lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, membiayai pendidikan anak, membantu keluarga besar, atau menghadapi kenaikan biaya hidup. Akibatnya, kemampuan untuk menabung atau berinvestasi secara konsisten jadi terbatas. Dana pensiun pun tidak punya. Bahkan hari ini, tidak sedikit pekerja yang “hantui” rasa takut karena tabungannya tidak akan cukup untuk membiayai masa pensiun yang bisa berlangsung puluhan tahun. Maka wajar, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti kerja.

 


Budaya kerja di Indonesia pun berperan membentuk cara pandang tersendiri. Bekerja sering kali dipandang bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas, status sosial, dan cara untuk tetap produktif. Banyak pekerja merasa pensiun dini bukanlah tujuan utama, melainkan pilihan yang hanya bisa dinikmati oleh pekerja yang berpenghasilan tinggi atau memiliki aset besar. Di samping itu, literasi keuangan mengenai konsep financial independence dan pensiun dini masih relatif rendah, sehingga strategi seperti hidup hemat, berinvestasi secara konsisten, dan merencanakan pensiun sejak usia muda belum menjadi kebiasaan yang luas. Istilahnya, selalu ada alasan untuk “tidak menabung” atau belum mau “menyisihkan” gaji untuk masa depan.

 

Apalagi di tengah gaya hidup dan perilaku konsumtif yang “bergengsi”, banyak orang cenderung lebih menghargai apa yang terlihat hari ini, senang terlihat dari apa yang dipakai dan ditampilkan. Orientasinya, serba manfaat sekarang dan hari ini. Bukan manfaat jangka panjang atau masa depan. Terlalu nafsu untuk melampiaskan gaya hidup. Katanya, ingin meningkatkan kualitas hidup, mengikuti gaya hidup, atau memenuhi ekspektasi sosial. Maka wajar, biaya hidup dan pengeluarannya meningkat seiring kenaikan pendapatan. Tiap tahun pekerja naik gaji, dan penghasilan bertambah tapi tingkat tabungan tidak ikut meningkat secara signifikan. Puluhan tahun bekerja tetap tidak punya dana pensiun. Makin paripurna, kombinasi keterbatasan gaji, budaya kerja yang adaptif, rendahnya literasi perencanaan pensiun, dan perilaku konsumtif akhirnya membuat banyak pekerja memilih terus bekerja selagi masih mampu, dibandingkan mengejar pensiun dini melalui penghematan dan akumulasi kekayaan sejak usia produktif seperti kisah alan dan Katie di Inggris.

 

Maka penting diingatkan, apalagi untuk diri sendiri. Hiduplah sederhana, gunakan uang sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan. Mulailah menabung dan miliki dana pensiun. Agar bisa pensiun dini dari pekerjaan, lalu menjalani hidup dengan sehat dan sejahtera. Sebab pensiun, cepat atau lambat pasti tiba. #YukSiapkanPensiun

 


Sabtu, 18 Juli 2026

Jangan Iri pada Jalan Hidup Orang Lain: Setiap Orang Sedang Menempuh Prosesnya Sendiri

Di era media sosial, kita begitu mudah melihat pencapaian orang lain. Ada yang sukses membangun bisnis di usia muda, memiliki rumah impian, berkeliling dunia, atau tampak menjalani hidup tanpa beban. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan apa yang terlihat di layar. Padahal, yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan mereka. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui perjuangan, kegagalan, pengorbanan, atau air mata yang mereka lalui sebelum mencapai titik tersebut. Karena itu, iri terhadap jalan hidup orang lain hanya akan menguras energi dan membuat kita lupa mensyukuri proses yang sedang kita jalani.

 

Sejatinya, bukan mudah atau sulitnya hidup yang menentukan nilai seseorang. Melainkan bagaimana seseorang bertumbuh di dalam setiap pengalaman yang dihadapinya. Kesulitan memang tidak otomatis menjadikan seseorang lebih baik. Ada orang yang menjadi putus asa karena cobaan, tetapi ada pula yang justru menjadi lebih tangguh, lebih bijaksana, dan lebih peduli kepada sesama. Semua bergantung pada pilihan untuk belajar dari setiap peristiwa. Karakter yang kuat lahir bukan karena hidup selalu keras, melainkan karena seseorang memilih untuk tetap bertumbuh di tengah berbagai tantangan.

 

Contoh nyata dapat kita temukan di sekitar kita. Seorang pegawai yang memulai karier dari posisi paling bawah mungkin harus bekerja sambil melanjutkan pendidikan pada malam hari. Bertahun-tahun ia hidup sederhana dan menahan keinginan demi meningkatkan kompetensi. Ketika akhirnya dipercaya menduduki posisi manajerial, orang lain hanya melihat hasil akhirnya, bukan perjalanan panjang yang telah ditempuh. Begitu pula seorang pelaku usaha kecil yang berkali-kali mengalami kerugian sebelum usahanya berkembang. Keberhasilan mereka bukan terjadi karena hidup lebih mudah, tetapi karena mereka tidak berhenti belajar dan terus memperbaiki diri setiap kali mengalami kegagalan.

 

Daripada menghabiskan waktu membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik menjadikan perjalanan mereka sebagai inspirasi. Fokuslah pada langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan setiap hari. Tingkatkan keterampilan, kelola keuangan dengan bijak, jaga kesehatan, bangun relasi yang positif, dan terus belajar dari setiap pengalaman. Ketika kita berhenti berlomba dengan kehidupan orang lain, kita akan memiliki lebih banyak ruang untuk menghargai pencapaian diri sendiri, sekecil apa pun itu. Setiap kemajuan adalah bukti bahwa kita sedang bergerak menuju versi terbaik dari diri kita.

 


Mulailah untuk tidak mudah iri dengan kehidupan orang lain. Lakukan hal-hal yang bisa kita kendalikan:

1.   Batasi kebiasaan membandingkan diri. Ingatlah bahwa media sosial lebih banyak menampilkan momen terbaik, bukan keseluruhan kehidupan seseorang.

2.   Fokus pada perngembangan diri. Bandingkan diri kita sendiri di enam bulan atau satu tahun yang lalu, bukan dengan pencapaian orang lain.

3.   Bersyukur setiap hari. Luangkan waktu untuk menuliskan tiga hal yang patut disyukuri. Kebiasaan sederhana ini membantu mengubah fokus dari kekurangan menjadi anugerah yang dimiliki.

4.   Jadikan orang sukses sebagai inspirasi, bukan ancaman. Pelajari kebiasaan baiknya dan terapkan sesuai kemampuan kita.

5.   Terus belajar dan bertumbuh. Setiap keterampilan baru, pengalaman baru, dan tantangan yang berhasil dilewati merupakan investasi yang akan membentuk masa depan kita sendiri.

 

Hidup itu bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat, melainkan perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Setiap orang memiliki garis waktu, tantangan, dan tujuan yang berbeda. Jangan iri pada jalan hidup orang lain, karena setiap orang sedang memikul beban yang mungkin tidak terlihat. Yang terpenting bukan seberapa cepat kita sampai di tujuan, tetapi apakah kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana, lebih tangguh, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat bagi sesama selama perjalanan itu berlangsung. Bersikaplah untuk diri sendiri!

Riset Taman Bacaan: Jumlah Pembaca 50% TBM di Bawah 30 Orang dan Koleksi Buku 58% TBM Tidak Memadai

Hasil evaluasi strategis menunjukkan bahwa Taman Bacaan Masyarakat (TBM) memiliki peran yang sangat penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap sumber belajar dan memperkuat budaya literasi. Sayangnya, kapasitas koleksi buku dan jumlah pembaca pada TBM di Indonesia masih menunjukkan ketimpangan. Sebuah penelitian taman bacaan terbaru berjudul “Evaluasi strategis: analisis kapasitas jumlah pembaca dan koleksi buku Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Indonesia” menyebutkan jumlah pembaca 50% TBM kurang dari 30 anak, 39% TBM memiliki 30-60 pembaca, dan hanya 11% TBM dengan jumlah pembaca lebih dari 70 anak. Sementara rasio ketersediaan koleksi buku 58% TBM tergolong "tidak memadai", 24% TBM "mungkin memadai", dan hanya 18% TBM yang koleksi bukunya “memadai". Hanya sebagian kecil TBM yang telah mencapai ambang kedaulatan koleksi buku yang ideal.

 

Terdapat paradoks dalam ekosistem literasi dan TBM saat ini, tingginya kunjungan (di mana 49% TBM dengan lebih dari 30 anak pembaca) tidak diimbangi oleh kedaulatan koleksi buku (hanya 18% yang memadai). Diperlukan integrasi sumber pendanaan TBM, baik dari pemerintah/dana desa atau CSR sektor swasta untuk memperkuat gerakan literasi nasional dan eksistensi TBM ke depannya. Dibutuhkan skalabilitas koleksi buku TBM yang lebih memadai, pentingnya hibah buku nasional, dan pemerataan akses berbasis wilayah untuk mengubah profil literasi Indonesia dari sekadar penyediaan "akses fisik" menjadi pencapaian "penguasaan materi" yang berkualitas. Penelitian yang dilakukan Syarifudin Yunus (Universitas Indraprasta PGRI) dan Ismarita Ramayanti (Universitas LIA) dengan pendekatan mixed methods secara evaluatif-deskriptif dengan melibatkan 172 pengelola TBM dari 27 provinsi di Indonesia ini telah terbit id jurnal ilmiah Aspirasi Vol. 4/juli 2026 DOI: https://doi.org/10.61132/aspirasi.v4i4.2841.

 


Dalam perspektif evaluasi strategis, jumlah pembaca dan koleksi buku merupakan dua indikator penting yang saling berkaitan dalam menilai efektivitas penyelenggaraan TBM. Semakin beragam, relevan, dan berkualitas koleksi yang dimiliki, semakin besar peluang TBM menarik serta mempertahankan minat masyarakat untuk berkunjung dan membaca. Sebaliknya, jumlah pembaca yang rendah dapat menjadi sinyal perlunya perbaikan strategi pengelolaan, pengembangan koleksi, promosi literasi, serta penguatan kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Jumlah pembaca dan koleksi buku merupakan landasan dalam merumuskan strategi penguatan TBM agar lebih efektif dalam mendukung peningkatan budaya baca dan pembelajaran sepanjang hayat di Indonesia. Salam literasi!



Jumat, 17 Juli 2026

Ironi Gerakan Literasi: 83% Taman Bacaan di Indonesia Berjuang Sendiri Tanpa Hibah Pemerintah

Dimulai dari pertanyaan sederhana. Apakah taman bacaan Anda pernah mendapat bantuan dana/hibah dari Pemerintah (pusat/daerah)? Faktanya, mayoritas pengelola TBM (Taman Bacaan Masyarakat) melaporkan belum pernah menerima hibah baik dari instansi pemerintah pusat maupun daerah. Kondisi  serupa terjadi pada sektor privat, di mana sebagaian besar TBM belum pernah mendapat bantuan dana melalui program CSR.

 

Survei yang diperbaharui oleh Syarifudin Yunus (TBM Lentera Pustaka Bogor) Bogor pada Juli 2026 yang melibatkan 172 pengelola TBM yang tersebar di 97 Kabupaten/Kota di 27 Provinsi melalui google form menyebutkan tantangan utama yang dihadapi oleh TBM di Indonesia dalam mendapatkan dukungan dana hibah atau bantuan luar adalah sangat rendahnya aksesibilitas atau tingkat keberhasilan dalam memperoleh bantuan dana, baik dari sektor publik maupun swasta. Simpulan utama survei bertajuk “Potret TBM di Indonesia” adalah sebagai berikut:

1.    Kesulitan mengakses hibah pemerintah. Sebanyak 83% TBM menyatakan “belum pernah mendapatkan bantuan dana atau hibah dari pemerintah”, baik dari tingkat pusat maupun daerah. Selaian dana hibah pemerintah yang terbatas, kondisi ini menunjukkan adanya hambatan besar bagi mayoritas TBM untuk menembus birokrasi atau memenuhi kriteria “bantuan sosial TBM” yang ditetapkan oleh pemerintah.

2.    Keterbatasan dukungan CSR Swasta. Kondisi serupa terjadi pada akses dana Corporate Social Responsibility (CSR), di mana 84% TBM di Indonesia “belum pernah menerima bantuan CSR dari pihak swasta”. Hanya 16% TBM yang berhasil mendapatkan dukungan dari sektor swasta, yang mengindikasikan bahwa kerja sama antara TBM dan perusahaan swasta masih sangat terbatas.

Tantangan bantuan dana/hibah dan CSR swasta ini bersifat nasional. Tingginya angka “belum pernah” mendapat bantuan dana – CSR menunjukkan bahwa masalah pendanaan eksternal adalah kendala sistemik yang dihadapi oleh sebagian besar pengelola literasi di lapangan. Meskipun TBM berperan penting dalam literasi dan dianggap ujung tombak aktivitas kegemaran membaca di masyarakat, nyatanya mayoritas TBM masih harus berjuang secara mandiri karena belum tersentuh oleh skema bantuan dana formal dari pemerintah maupun swasta.

 


Tingginya angka TBM yang belum pernah menerima bantuan dana CSR (84%) maupun hibah pemerintah (83%) membawa beberapa implikasi serius terhadap ekosistem literasi di Indonesia:

1.    Beban finansial mandiri yang berat. Karena mayoritas besar TBM tidak tersentuh bantuan eksternal formal, operasional TBM kemungkinan besar sangat bergantung pada pendanaan pribadi pengelola atau swadaya masyarakat yang sangat terbatas. Hal ini menempatkan keberlangsungan TBM pada posisi yang rentan secara finansial.

2.    Keterbatasan skala program dan fasilitas. Tanpa dukungan CSR atau dana hibah, TBM akan kesulitan untuk melakukan pengadaan koleksi buku baru secara rutin, memperbaiki fasilitas bangunan, atau mengadakan kegiatan literasi yang berskala besar. Hal ini dapat menyebabkan stagnasi kualitas layanan bagi masyarakat di sekitarnya.

3.    Ancaman terhadap keberlanjutan (sustainability). Tingginya angka kegagalan mendapatkan bantuan (di atas 80% pada kedua kategori bantuan) menunjukkan bahwa TBM beroperasi dalam kondisi "bertahan hidup". Tanpa adanya suntikan dana yang stabil, banyak TBM berisiko tutup jika pengelola tidak lagi memiliki sumber daya pribadi untuk mendukung operasionalnya.

4.    Lemahnya sinergi antara gerakan akar rumput dan sektor formal. Ada kesenjangan komunikasi dan koordinasi yang lebar antara pengelola literasi di lapangan dengan pemerintah maupun sektor swasta. Potensi TBM sebagai garda depan literasi belum dimanfaatkan secara optimal oleh program pemberdayaan masyarakat secara formal.

5.    Ketimpangan distribusi bantuan. Dukungan sektor swasta masih sangat terbatas dan tersentralisasi atau sulit dijangkau oleh sebagian besar TBM di berbagai daerah di Indonesia.

Mau tidak mau, memang saat ini gerakan literasi melalui TBM di Indonesia masih bersifat “voluntarisme murni” yang berjalan tanpa dukungan sistemik dari pihak luar, yang pada jangka panjang dapat menghambat upaya peningkatan literasi nasional secara masif. Salam literasi! #SurveiTamanBacaan #PotretTBM #TBMLenteraPustaka

 


Kamis, 16 Juli 2026

Gen Z Paling Takut Bokek: 41% Anak Muda Cemas Nggak Punya Gaji Tetap Saat Pensiun

Ternyata, kekhawatiran saat pensiun menghantui banyak pekerja dari berbagai kelompok usia. Survei Litbang Kompas di 72 kota 38 provinsi (September 2025) tentang masa pensiun menyebut ada perbedaan motif kekhawatiran di kalangan pekerja saat pensiun. Apa saja hal-hal yang dikhawatirkan berbagai kelompok usia menjelang masa pensiun:

1. Kelompok Usia Muda – Gen Z (17-24 tahun). Khawatir tidak punya pendapatan tetap atau gaji lagi saat pensiun (41,8%). Takut menjadi beban bagi anak atau keluarga serta merasa kesepian karena keluarga tidak tinggal bersama (keduanya 11,4%). Menariknya, Gen Z tidak khawatir akan kehilangan kesibukan atau lingkungan sosial.

2. Kelompok Usia 25-39 tahun – milenial. Khawatir akan tidak punya pendapatan tetap (30,9%) dan kurangnya tabungan atau investasi (28,4%). Di usia ini, mulai khawatir akan hilangnya kesibukan atau jabatan saat bekerja (10,8%).

3. Kelompok Usia 40-54 tahun – Paruh baya.  Meskipun pendapatan tetap masih menjadi kekhawatiran utama (23,3%), kelompok paruh baya juga khawatir akan hilangnya kesibukan, kegiatan, atau jabatan (14,5%), di samping mulai khawatir terhadap kerentanan fisik seperti mudah sakit atau lelah (10,5%).

4. Kelompok Usia 55+ tahun – Pensiunan. Karena sudah pensiun atau mendekati usia pensiun, kekhawatiran kelompok ini terletak pada belum memiliki tabungan atau investasi yang cukup (24,1%), diikuti oleh kekhawatiran akan hilangnya pendapatan tetap (22,9%). Akan tetapi, kelompok ini juga paling banyak merasa "tidak khawatir" menghadapi masa pensiun (16,9%) dibandingkan kelompok usia lainnya.


Bila disimpulkan, kekhawatiran akan hilangnya pendapatan tetap cenderung menurun seiring bertambahnya usia, sementara kekhawatiran terkait fisik dan hilangnya rutinitas kerja lebih menonjol pada kelompok usia paruh baya menuju masa pensiun.



Kekhawatiran pekerja terhadap masa pensiun umumnya disebabkan oleh ketidakpastian pendapatan setelah berhenti bekerja, meningkatnya biaya hidup dan kesehatan, serta belum memadainya tabungan atau dana pensiun yang dimiliki. Solusi yang efektif tidak hanya bergantung pada individu, tetapi juga memerlukan dukungan dari pemberi kerja, penyelenggara dana pensiun, dan pemerintah. Karenanya, bagi pekerja, Langkah penting yang harus dilakukan adalah memulai perencanaan pensiun sedini mungkin. Menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin ke dalam program pensiun, seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), akan memberikan manfaat dari akumulasi iuran dan hasil pengembangan investasi dalam jangka panjang. Selain itu, pekerja perlu membangun portofolio keuangan yang seimbang, memiliki dana darurat, mengelola utang secara bijak, serta meningkatkan literasi keuangan agar mampu menentukan target kebutuhan dana pensiun sesuai gaya hidup yang diinginkan.


Di sisi perusahaan atau pemberi kerja, penyediaan program pensiun melalui DPLK atau fasilitas manfaat pascakerja menjadi salah satu bentuk perlindungan yang dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus loyalitas karyawan. Perusahaan juga dapat memberikan edukasi mengenai perencanaan pensiun dan mendorong karyawan untuk berpartisipasi secara aktif dalam program pensiun sejak awal masa kerja. Sementara itu, regulator dan industri dana pensiun perlu memperluas akses terhadap program pensiun sukarela melalui digitalisasi layanan dana pensiun, penyederhanaan proses pendaftaran, fleksibilitas iuran, serta peningkatan literasi dana pensiun. Upaya ini penting terutama bagi pekerja sektor informal, UMKM, dan gig worker yang umumnya belum memiliki perlindungan pensiun dari pemberi kerja.


Intinya, solusi terbaik tentang masa pensiun adalah mengubah pola pikir dari "memikirkan pensiun saat mendekati usia pensiun" menjadi "mempersiapkan pensiun sejak mulai bekerja." Semakin dini seseorang mulai berkontribusi pada dana pensiun, semakin besar peluang untuk memperoleh manfaat yang memadai di hari tua. Dengan kombinasi disiplin menabung, kepesertaan dalam program pensiun, pengelolaan keuangan yang baik, dan dukungan kebijakan yang tepat, kekhawatiran terhadap kondisi finansial saat pensiun dapat dikurangi secara signifikan. 


Ternyata, Gen Z paling takut bokek dan cemas nggak punya gaji lagi saat pensiun. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Mayoritas 75% TBM di Indonesia Dikelola Secara Mandiri/Swadaya

Survei membuktikan, Mayoritas taman bacaan masyarakat (TBM) di Indonesia beroperasi secara mandiri/swadaya, sementara sebagian kecil lainnya terintegrasi dengan lembaga pendidikan formal seperti PAUD/PKBM/sekolah. Keberadaan taman bacaan pun mendapatkan dukungan yang sangat kuat dari warga lokal di sekitarnya. Hanya sebagian kecil responden yang merasa ragu atau tidak merasakan adanya sokongan dari lingkungan sosialnya. Kondisi ini jadi bukti, adanya peran vital inisiatif masyarakat dalam memperluas akses membaca di tingkat daerah, di samping memberikan gambaran nyata mengenai ekosistem literasi akar rumput.

Hasil survei yang diperbaharui oleh Syarifudin Yunus (TBM Lentera Pustaka Bogor) menyebutkan 75% TBM di Indonesia didirikan dan dikelola secara mandiri/swadaya sekaligus jadi bukti mayoritas TBM bersifat independen, 21% berafiliasi dengan PKBM/pendidikan formal, dan 4% kategori lainnya. Tingkat penerimaan dan dukungan masyarakat sekitar terhadap keberadaan TBM pun sangat positif. Ada 81% TBM mendapat dukungan masyarakat sekitarnya, 18% mungkin mendukung, dan ada 1% tidak mendukung. Kondisi ini menunjukkan bahwa gerakan literasi melalui TBM di Indonesia didominasi oleh inisiatif swadaya masyarakat dengan dukungan sosial yang sangat kuat dari lingkungan sekitarnya. Survei bertajuk “Potret TBM di Indonesia” ini dilakukan oleh Syarifudin Yunus (TBM Lentera Pustaka Bogor pada Juli 2026 yang melibatkan 172 pengelola TBM yang tersebar di 97 Kabupaten/Kota di 27 Provinsi melalui google form.

 


Kendala TBM (Taman Bacaan Masyarakat) yang dikelola secara mandiri/swadaya umumnya berkaitan dengan keterbatasan sumber daya, baik finansial, sarana, maupun sumber daya manusia. Sebagian besar TBM bergantung pada dana pribadi pengelola, donasi masyarakat, atau bantuan yang sifatnya tidak berkelanjutan, sehingga mengalami kesulitan dalam menambah koleksi buku, memperbaiki fasilitas, maupun menyelenggarakan program literasi secara rutin. Selain itu, pengelolaan TBM sering dilakukan oleh relawan dengan waktu yang terbatas sehingga kegiatan administrasi, promosi, dan pengembangan program belum optimal. Tantangan lainnya adalah rendahnya minat baca masyarakat di beberapa wilayah, persaingan dengan media digital yang lebih menarik, serta belum terbangunnya jejaring kemitraan yang kuat dengan pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, maupun komunitas literasi. Akibatnya, banyak TBM menghadapi kesulitan mempertahankan keberlangsungan layanan dalam jangka panjang.

 

Karena itu, strategi pengembangan TBM mandiri/swadaya perlu diarahkan pada penguatan kelembagaan, diversifikasi sumber pendanaan, dan inovasi layanan berbasis kebutuhan masyarakat. Pengelola dapat membangun kemitraan dengan pemerintah daerah, perpustakaan, sekolah, perguruan tinggi, perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), serta organisasi masyarakat untuk memperoleh dukungan koleksi, pelatihan, maupun pembiayaan. Di sisi lain, TBM perlu bertransformasi menjadi pusat pembelajaran masyarakat yang tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga menyelenggarakan kegiatan seperti kelas literasi digital, pelatihan keterampilan, pendampingan belajar anak, klub membaca, diskusi komunitas, hingga pelatihan kewirausahaan. Pemanfaatan media sosial dan platform digital juga penting untuk memperluas jangkauan layanan, membangun jejaring relawan, dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Dengan strategi tersebut, TBM tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi berkembang sebagai ruang belajar sepanjang hayat (lifelong learning center) yang berkelanjutan, inklusif, dan memiliki dampak sosial yang lebih luas. Salam literasi!

 


Apa Rencana Pekerja di Jabodetabek Setelah Pensiun, Ini Jawabnya!

Lagi enak-enak kerja, apa yang ada di benak pekerja di Jabodetabek saat pensiun nanti? Ternyata, tren utama rencana pensiun bagi pekerja di Jabodetabek menunjukkan mayoritas memiliki keinginan untuk tetap produktif secara ekonomi atau fokus pada pengembangan diri. Survei “Rencana Pensiun Pekerja” yang dilakukan Syarifudin Yunus (Edukator Dana Pensiun DPLK Sinarmas AM) terhadap 66 pekerja aktif di Jabodetabek pada Juli 2026 menyebutkan tren pekerja saat pensiun adalah:

1.    Membuka bisnis (21%). Pilihan yang paling banyak diminati oleh pekerja di Jabodetabek setelah masa pensiun tiba.

2.    Fokus pada spiritual (18%). Keinginan kuat untuk lebih mendekatkan diri pada aspek keagamaan atau spiritualitas.

3.    Ketidakpastian rencana (17%). Cukup banyak pekerja yang menyatakan "tidak tahu" mengenai apa yang akan dilakukan setelah pensiun?

4.    Kesehatan dan hobi. Menjaga kesehatan fisik (14%) dan menjalani hobi (12%) juga menjadi prioritas yang signifikan bagi para calon pensiunan.

5.    Aktivitas sosial dan rekreasi. Sebagian kecil pekerja berencana untuk tetap aktif secara sosial (7,50%), melakukan traveling (6%), atau melakukan kegiatan di alam (4,50%).

Survei ini menegaskan adanya pergeseran di mana pensiun tidak lagi hanya dipandang sebagai waktu untuk beristirahat total, melainkan kesempatan untuk berwirausaha atau memperdalam nilai spiritual.

 

Menariknya dari survei ini, rencana spiritual (18%) menjadi rencana terpopuler kedua bagi pekerja Jabodetabek setelah pensiun. Sebagian besar pekerja, masa pensiun dianggap sebagai momentum untuk lebih fokus pada aspek keagamaan atau nilai-nilai batiniah dibandingkan sekadar beristirahat. Di samping, kesehatan fisik (14%) menempati posisi keempat terbesar, sebagai bukti adanya kesadaran pekerja bahwa kualitas hidup di masa tua sangat bergantung pada kondisi fisik yang prima.

 


Sayangnya, masih ada 17% pekerja di Jabodetabek merasa "tidak tahu" atau belum memiliki rencana yang pasti setelah pensiun nanti. Ketidak-tahuan bisa berarti tidak siap atau tidak adanya edukasi dana pensiun yang memadai selama bekerja. Fenomena banyaknya pekerja yang belum tahu rencana masa pensiunnya sering kali disebabkan oleh beberapa faktor seperti: 1) kurangnya literasi dana pensiun, 2) terlalu fokus pada kebutuhan saat ini, 3) mengalami kondisi ketidakpastian eonomi, dan 4) adanya kecemasan akan masa tua.

 

Survei ini kian membuktikan bahwa ogah Cuma diam di rumah setelah pensiun. Ada beragam aspirasi pekerja untuk masa pensiun. Mulai dari membuka usaha sendiri, fokus pada kegiatan spiritual dan menjaga kesehatan fisik, menekuni hobi, berkontribusi dalam kegiatan sosial, hingga traveling. Tapi yang paling penting, tanpa kesiapan finansial di masa pensiun semua rencana akan sulit terlaksan, Karena itu, siapkan dana pensiun sejak dini. Sebab masa pensiun yang sehat Sejahtera, kalau bukan kita mausiapa yang menyiapkan? #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

 


 

Rabu, 15 Juli 2026

Potret Peserta DPLK di Indonesia: 80% Korporasi, 20% Individu

Salah satu tantangan literasi dana pensiun, khususnya DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) adalah kepesertaan individu (mandiri) masihh tertinggal jauh dari peserta yang diikutkan perusahaan atau pemberi kerja. Artinya, seseorang menjadi peserta DPLK lebih banyak karena inisiatif perusahaan, bukan atas kesadaran personal untuk memiliki program dana pensiun.

 

Rendahnya kepesertaan DPLK secara individu menjadi bukti DPLK dihadapkan pada tantangan yang sangat besar akibat kurangnya edukasi dan sosialisasi akan pentingnya dana pensiun bag pekerja, di samping sulitnya akses pekerja secara indivdiual untuk mengikuti program DPLK. Realitas ini juga bertentangan dengan prinsip pengembangan DPLK yang sifatnya “kepesertaan individu”, bukan kepesertaan secara korporasi. Sebab di DPLK, seluruh akun dicatatkan atas nama peserta (individual).

 

Kajian dari Syarifudin Yunus, Ketua Dewan Pengawas DPLK Sinarmas Asset Management (September 2025) menyebutkan dari jumlah peserta DPLK yang mencapai 4 juta peserta, sebanyak 80% berasal dari sektor korporasi (diikutkan perusahaan), sedangkan peserta individu (mandiri) hanya 20% (per Desember 2024). Sementara dari seluruh peserta individual, didapati peserta sektor informal mencapai 70%, sedangkan sektor formal 30%. Hingga periode tersebut (2024), total aset yang dikelola DPLK mencapai Rp. 144 triliun. Itulah potret kepesertaan DPLK di Indonesia sebagai gambaran peserta dana pensiun di pasar nasional.

 

Kajian berjudul “Analisis Kepesertaan DPLK Secara Individu dan Karakteristiknya untuk Meningkatkan Penetrasi Dana Pensiun Pekerja Sektor Informal di Indonesia” yang terbit di Jurnal JUPSIM - https://journalcenter.org/index.php/jupsim/article/view/5333 diperoleh poin-poin penting sebagai berikut:

·      Dominasi kepesertaan DPLK berasal  dari korporasi. Mayoritas peserta DPLK berasal dari sektor korporasi sebesar 80% atau berjumlah 3,2 juta orang, sedangkan peserta individu hanya 20% atau berjumlah 800.000 orang.

·      Peserta Individu DPLK. Terdapat komposisi 70% merupakan pekerja sektor informal atau 560.000 orang dan sisanya 30% adalah pekerja sektor formal atau sekitar 240.000 orang.

·      Total aset kelolaan dan peserta. Total aset yang dikelola oleh DPLK mencapai Rp 144 triliun, dengan total peserta 4 juta orang.

·      Di tahun 2025, dengan total jumlah peserta DPLK 4,1 juta orang dan aset yang dikelola rp. 159 triliun (Desember 2025), maka komposisi kepesertaan DPLK yang berasal dari perusahaan dan individu relatif tidak mengalami pergeseran yangsignifikan.  

Komposisi peserta DPLK yang 80% berasal dari perusahaan dan 20% peserta individu  merupakan gambaran yang umum di industri DPLK Indonesia. Hal ini bukan semata-mata karena produk DPLK lebih cocok untuk perusahaan, tetapi karena mekanisme pemasaran yang diterapkan selama ini lebih ke pasar korporasi. Karena itu, OJK dalam “Peta Jalan Pengembangan dan Penguatan Dana Pensiun 2024-2028” mendorong perluasan kepesertaan dana pensiun, khususnya dari segmen pekerja informal dan individual. Bahkan di tahun 2026 ini, OJK berencana meluncurkan inisiatif “Bulan Pensiun Nasional” untuk mendukung pengembangan dana pensiun yang lebih inklusif dan menyasar pekerja sektor informal da individual.

 

Potret peserta DPLK lebih banyak berasal dari perusahaan, tentu bukan tanpa alasan. Setidaknya, ada beberapa argumen yang dapat disajikan terkiat kepesertaan DPLK uang lebih didominasi dari korporasi, antara lain:

1. Kepesertaan terjadi secara otomatis (default enrollment). Perusahaan mendaftarkan seluruh atau sebagian karyawannya melalui kerja sama dengan DPLK.

2.  Perusahaan memiliki kewajiban pembayaran pesangon (imbalan pascakerja) dan kepentingan bisnis. DPLK menjadi bagian dari strategi employee benefit, retensi karyawan, dan pengelolaan kewajiban pascakerja sehingga lebih efisien mengelola program pensiun melalui DPLK dibanding membangun program sendiri.

3.  Literasi dana pensiun masyarakat masih rendah. Banyak orang memahami tabungan, deposito, atau reksa dana, tetapi belum memahami DPLK. Dana pensiun dianggap kebutuhan yang masih jauh sehingga sering kalah prioritas dengan kebutuhan jangka pendek. Alasan utama pekerja informal dan individual belum menjadi peserta DPLK adalah kurangnya edukasi tentang DPLK.

4.  Pendapatan pekerja informal dan individual tidak stabil. Sebagian besar calon peserta individu dan sektor informal memiliki pendapatan yang tidak tetap sehingga khawatir tidak mampu menyetor iuran DPLK secara rutin.

5.  DPLK selama ini lebih berorientasi B2B. Secara historis, pengembangan DPLK lebih banyak melalui pemasaran ke perusahaan daripada pemasaran langsung ke individu.

 

Sebenarnya, memperluas peserta DPLK berasal dari pekerja individual dan sktor informal memiliki peluang besar. Sebab dari 150 juta angkatan kerja di Indonesia, 60%-nya atau sekitar 90 juta pekerja berada di sektor informal, seperti pekerja informal, UMKM, freelancer, dan gig worker. Karena itu, diperlukan upaya-upaya konkret untuk menyasar peserta DPLK yang berasal dari individual atau pekerja informal (linear dengan sasaran pekerja korporasi) yaitu melalui 1) edukasi DPLK yang berkelanjutan dan 2) akses melalui platform digital untuk individual dan pekerja informal.

 


Beberapa inisiatif untuk menarik pekerja informal dan individual menjadi peserta DPLK diantaranya dapat diperkuat melalui cara-cara:

1. Mengubah positioning DPLK dari "produk pensiun" menjadi "tabungan masa depan". Istilah "pensiun" terasa terlalu jauh bagi usia produktif sehingga perlu diubah pesannya menjadi "Mulai dari Rp50.000 per bulan untuk masa depan" atau "Gaji boleh habis, dana pensiun jangan kosong."

2. Fokus pada segmen yang belum memiliki program pensiun. Target utama DPLK digeser ke UMKM, freelancer, driver online, content creator, tenaga kesehatan praktik mandiri, agen asuransi, Artis, pekerja hiburan, konsultan, petani dan nelayan modern. Segmen-segmen informal umumnya tidak memiliki program pensiun.

3. Permudah onboarding digital. Digitalisasi DPLK merupakan faktor penting untuk memperluas kepesertaan individu. Registrasi online melalui aplikasi seluler, pembayaran iuran digital, bahkan pencairan manfaat pensiun secara online akan mengurangi hambatan bagi calon peserta.  Idealnya di DPLK: daftar dalam 5 menit, e-KYC, auto debit, QRIS atau e-wallet.

4. Fleksibilitas iuran. Karena pendapatan pekerja informal dan individual sering tidak tetap maka pembayaran iuran tidak harus setiap bulan, boleh top up kapan saja, iuran mulai nominal kecil  atau tersedia fitur "libur iuran".

5. Bangun kebiasaan, bukan sekadar menjual produk. Edukasi DPLK semestinya melalui: simulasi kebutuhan pensiun, kalkulator dana pensiun, webinar DPLK, media sosial, dan komunitas profesi. Tujuannya agar masyarakat menyadari bahwa mereka memiliki "pension gap" yang perlu dipersiapkan sejak dini.

6. Manfaatkan komunitas dan ekosistem. Daripada menjual ke individu satu per satu, bekerja sama dengan asosiasi profesi, komunitas UMKM, koperasi, platform freelancer, komunitas olahraga atau hobi atau organisasi keagamaan. Pendekatan berbasis komunitas menurunkan biaya akuisisi dan efektif meningkatkan kepercayaan.

7. Jadikan DPLK sebagai bagian dari perencanaan keuangan. Saat seseorang membeli rumah, memiliki anak, mulai berinvestasi, atau menyusun rencana pensiun, DPLK sebaiknya selalu muncul sebagai salah satu pilihan, bukan hanya produk yang dicari menjelang pensiun.

 

Strategi jangka panjang bagi industri DPLK. Untuk mengubah komposisi kepesertaan DPLK dari 80:20 menjadi misalnya 60:40, maka strategi industri DPLK dapat difokuskan pada tiga pilar:

Pilar

Fokus

Awareness

Literasi dana pensiun sejak usia produktif melalui kampanye digital dan edukasi.

Accessibility

Registrasi digital, iuran fleksibel, dan pembayaran yang mudah.

Affordability

Nominal iuran rendah, auto-debit, serta produk yang sesuai dengan kebutuhan pekerja informal dan gig economy.

Jika ketiga aspek tersebut diperkuat, potensi pasar peserta individu dan sektor informal sangat besar. Sebab peningkatan penetrasi DPLK di kalangan pekerja individu dan informal dapat menghasilkan akumulasi dana yang signifikan dalam jangka panjang, asalkan didukung edukasi dan akses digital yang memadai.

 

Saah satu cara optimalisasi edukasi dan akses DPLK, diperlukan platform digital khusus DPLK. Agar setiap orang memiliki akses digital untuk mendaftar DPLK secara online.  Setiap pekerja dapat lebih tahu dan paham akan pentingnya dana pensiun, di samping mendapat akses yang mudah, transparan, dan layanan cepat. Karena peserta DPLK harus terlibat aktif dalam mempersiapkan masa pensiunnya sendiri, bukan hanya sebagai penerima manfaat. Melalui platform digital, peserta DPLK juga dapat memantau akumulasi dana, mengetahui Riwayat transaksi bahkan mencairkan manfaat pensiun secara online. Sebuah perencanaan pensiun secara digital harus dikembangkan secara konkret.

 

Maka dalam menimngkatkan kepesertaan DPLK secara individual dan pekerja informal, dapat dilakukan melalui platform digital DPLK “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang tersedia di playstore atau melalaui web: https://simpensiun.com/. Melalui platform digital ini, pekerja memiliki akses yang mudah untuk menjadi peserta DPL dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan.  DPLK SAM merupakan DPLK pertama yang berasal dari manajer investasi di Indonesia, dengan menyediakan produk dan layanan utama seperti: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak.

 

Semakin muda seseorang mulai menabung untuk pensiun, maka semakin besar manfaat manfaat pensiun yang akan diterima. Untuk mencapai masa pensiun yang sehat dan sejahtera. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

 


Selasa, 14 Juli 2026

Kiprah Motor Baca Keliling, Langkah Kecil Literasi dari Pelosok

Ada langkah-langkah kecil yang tak pernah ramai oleh tepuk tangan atau pujian. Langkah yang sederhana, namun terus bergerak dengan keyakinan. Setiap pagi, sebuah motor yang dipenuhi buku melaju menyusuri jalan berdebu, menembus gang sempit hingga kampung-kampung yang jauh dari perpustakaan. Di balik kemudinya, seorang pegiat literasi mengantarkan lebih dari sekadar buku. Ia membawa harapan, rasa ingin tahu, dan kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal dunia yang lebih luas. Semuanya dari buku bacaan, semuanya karena adanya akses bacaan.

 

Perjalanan itu tidak selalu mudah. Jalan berbatu, cuaca yang tak menentu, serta jarak yang panjang menjadi bagian dari rutinitasnya. Debu jalanan menempel di pakaian, panas matahari menyengat kulit, namun semangatnya tak pernah surut. Baginya, setiap senyum anak yang menyambut kedatangan motor baca keliling adalah energi yang menghapus rasa lelah. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju masa depan yang lebih baik.

 

Di setiap kampung yang disinggahi, buku-buku menjadi jembatan yang menghubungkan mimpi dengan kenyataan. Anak-anak berkumpul dengan mata berbinar, membuka lembar demi lembar cerita yang membawa mereka menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah mereka lihat. Orang tua pun perlahan menyadari bahwa literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca, melainkan tentang membuka cara berpikir, menumbuhkan keberanian bermimpi, dan memperluas harapan.

 


Dari perjalanan itu, tersimpan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar mengantarkan buku. Hidup mengajarkan bahwa makna tidak selalu lahir dari langkah yang besar atau pencapaian yang gemilang. Terkadang, perubahan justru dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan penuh ketulusan dan konsisten. Setiap kilometer yang ditempuh adalah bukti bahwa kepedulian mampu menjangkau tempat-tempat yang mungkin terlupakan.

 

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita mencapai tujuan, melainkan seberapa tulus kita menjalani setiap langkah yang membawa manfaat bagi sesama. Seperti motor baca keliling yang terus melaju tanpa banyak sorotan, kebaikan sering bekerja dalam diam. Dan justru dari perjalanan yang sederhana itulah lahir ketenangan, harapan, serta masa depan yang perlahan berubah—satu buku, satu kampung, dan satu senyum pada satu waktu.

 

Begitulah kisah seoarang driver motor baca keliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung salak Bogor. Bukan mempersoalkan minat baca tapi fokus sediakan akses baca anak-anak Indonesia. Salam literasi! #TBMLenteraPustaka #MotorBacaKeliling #TamanBacaan

 




DPLK: Solusi Cerdas Kelola Pesangon Perusahaan dan Masa Depan Karyawan

Bukan hanya mengelola bisnis, salah satu tantangan perusahaan di era sekarang adalah mengelola kewajiban imbalan kerja (pesangon) yang menjadi kewajiban perusahaan. Entah saat karyawan pensiun, di-PHK atau meninggal dunia. Sayangnya, banyak perusahaan tidak tahu cara mengelola kewajiban pesangon. Begitu pula karyawan tidak paham cara untuk menyiapkan masa pensiun untuk menjaga kesinambungan penghasilan di hari tua. Yang sering terjadi, hanya “cerita luka” tentang pesangon karyawan yang tidak dibayar perusahaan seperti kasus Sritex. Atau karyawan demo karena uang pesangon tidak dibayarkan.

 

Faktanya, memang banyak perusahaan dan karyawan yang belum tahu DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). DPLK adalah solusi cerdas bagi perusahaan untuk menyiapkan pendanaan pesangon karyawan (jika suatu waktu harus dibayarkan). Bagi karyawan, DPLK juga menjadi pilihan terbaik untuk menyiapkan masa pensiun yang sehat dan Sejahtera di hari tua. Intinya, DPLK menjadi instrumen strategis yang memberikan manfaat timbal balik nbagi perusahaan maupun karyawan.

 

Dari sisi perusahaan, DPLK menjadi implementasi konkret efisiensi finansial dan kepatuhan regulasi ketenagakerjaan. Melalui DPLK, perusahaan atau pemberi kerja mendapat manfaat seperti: 1) pengamanan aruskas (cash fow) untuk menghindari beban finansial mendadak di masa depan, 2) menjadi “kendaraan" pendanaan pesangon untuk memenuhi kewajiban pembayaran imbalan pesangon sesuai dengan regulasi ketenagakerjaan yang berlaku, 3) manfaat fiskal dan akuntansi karena iuran perusahaan sebagai pengurang Pajak Penghasilan Badan (PPh 25) sesuai PP 58/PMK 58 th 2023 dan menjadi bagian penerapan Asset Program yang sejalan dengan standar akuntansi PSAK 24, dan 4) fleksibilitas program karena iuran bersifat fleksibel, dapat disesuaikan dengan kapasitas dan kondisi keuangan perusahaan.

 

Dari sisi karyawan, DPLK sangat jelas menjadi jaring pengaman keuangan di masa pensiun dan ketenangan di hari tua. Melalui DPLK, setipa karyawan mampu meraih 1) kepastian finansial di masa pensiun dengan adanya kesinambungan penghasilan setelah tidak lagi aktif bekerja, 2) mendapat fasilitas pajak secara individu karena iuran karyawan sebagai pengurang Pajak Penghasilan (PPh 21), hasil investasi bersifat bebas pajak selama masa kepesertaan, dan pajak final 5% saat manfaat dibayarkan, 3) adanya transparansi pengelolaan karena akumulasi dana dibukukan secara individu atas nama karyawan dan dana terpisah dari kekayaan perusahaan, serta 4) menjadi lebih disiplin menabung untuk masa pensiun.

 

Selain perusahaan dapat lebih fokus pada “core business” dan karyawann lebih profuktif dalam bekerja, DPLK terbukti mampu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman di kantor. DPLK sebagai “nilai tambah”’ yang tidak banyak dimiliki banyak perusahaan atau karyawan. Selain untuk mempertahankan talenta terbaik, DPLK dapat menciptakan lingkungan kerja yang nyaman karena adanya rasa aman secara finansial bagi karyawan. Itulah ketenangan substansi bagi karyawan, yaitu nyaman saat bekerja dan tenang saat pensiun. Kerja yes, pensiun oke.

 


Hari ini, 9 dari 10 karyawan sama sekali tidak siap pensiun, sedangkan 8 dari 10 pensiunan di Indonesia mengandalkan transferan dari anggota keluarga yang bekerja setiap bulan. Realitas pekerja yang tidak siap pensiun dan pensiunan yang merana di hari tua, menjadi “isu penting” yang harus dipecahkan oleh perusahaan dan karyawan. Karenanya, di era digital sekarang, edukasi dan akses yang mudah bagi perusahaan dan karyawan untuk “lebih akrab” dengan DPLK menjadi penting dikedepankan. DPLK digital bagi perusahaan dan karyawan, agar lebih mudah mendaftar secara online. Agar bisa memantau akumulasi dana setiap saat dan proses mencairkan manfaat pensiun yang mudah. Sebagai solusi edukasi dan akses DPLK yang mudah, bisa diperoleh melalui platform digital DPLK “SimPensiun” atau website: https://simpensiun.com/ dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) sebagai DPLK pertama dari manajer investasi di Indonesia. Di sini, setiap karyawan sudah bisa punya DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan, sedangkan perusahaan bisa memiliki program pesangon seusai kemampuan finansialnya untuk pembayaran manfaat pensiun atau uang pesangon karyawan. DPLK SAM menyediakan produk dan layanan utama seperti: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan dukungan teknologi digital, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online dan menjadi solusi perusahaan dan karyawan untuk menyiapkan masa pensiun yang lebih berkualitas.

 

Sangat jelas di mata perusahaan dan karyawan, bahwa DPLK bukan sekadar tabungan pensiun, melainkan strategi bisnis cerdas untuk keberlanjutan perusahaan dan kesejahteraan karyawan. Sebab DPLK mampu jadi solusi keuangan jangka panjang perusahaan dan karyawan yang saling menguntungkan. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM