Selasa, 18 Agustus 2026

71% Masyarakat Cuma Anggarkan di Bawah Rp100 Ribu Sebulan untuk Buku, Tantangan Literasi Gede Banget

Tren anggaran belanja buku bulanan di kalangan masyarakat umum menunjukkan bahwa mayoritas besar mengalokasikan anggaran yang relatif terbatas untuk membeli buku setiap bulannya. Survei yang melibatkan 1.000 orang dari Goodstats (2025) menyebutkan rata-rata pengeluaran bulanan masyarakat untuk membeli buku terdiri dari:

1.    Kurang dari Rp100.000, kategori yang paling dominan, mencakup 71% dari total masyarakat.

2.    Rp100.000 – Rp500.000, berada di posisi kedua dengan persentase 24%.

3.    Lebih dari Rp500.000, hanya sebagian kecil masyarakat yang mengalokasikan anggaran tinggi untuk buku, 5% responden.

 

Artinya, anggaran belanja membeli buku di Indonesia 71% masih di bawah Rp100.000 per bulan. Daya beli buku masih tergolong rendah, sebab mayoritas masyarakat hanya mengalokasikan anggaran di bawah Rp100.000 per bulan untuk membeli buku. Angka ini menunjukkan bahwa buku baru fisik (yang umumnya saat ini dihargai di atas Rp100.000 per eksemplar) masih dianggap sebagai barang yang relatif mahal atau belum menjadi prioritas belanja utama bagi sebagian besar orang.

 

Bila dilihat dari cara masyarakat mendapatkan informasi mengenai buku baru, ternyata hasilnya: 62,5% dari media sosial, 11,3% dari platform buku daring, 10,7% dari toko buku, 5,4% dari rekomendasi teman atau keluarga, 4% dari ulasan atau blog buku, dan 3% dari lainnya. Kondisi ini menyiratkan toko buku fisik tidak lagi menjadi tempat utama masyarakat untuk menemukan atau mengetahui keberadaan buku baru (hanya 10,7%). Peran pencari tahu atau penemu buku (book discovery) kini hampir sepenuhnya bergeser ke ranah digital, dengan media sosial memegang kendali penuh sebesar 62,5%.

 


Bila mau dicermati, maka ada beberapa implikasi penting dari kondisi anggaran buku dan cara mendapatkan informasi buku baru di Indonesia, antara lain:

1.   Kebutuhan terhadap buku murah, untuk menjangkau pangsa pasar terbesar (70,8%), industri harus mampu menghadirkan buku dengan harga terjangkau di bawah Rp100.000. Hal ini memaksa penerbit untuk menekan biaya produksi (misalnya menggunakan kertas yang lebih ekonomis, mengurangi tebal halaman) atau beralih ke format digital (e-book) yang biaya produksinya lebih rendah.

2.   Optimalisasi platform daring, dengan model langganan bulanan (subscription) berbasis aplikasi digital bisa menjadi solusi menarik agar pembaca dengan anggaran terbatas tetap dapat mengakses banyak buku.

3.   Promosi wajib berpusat di media sosial, pemasaran konvensional (seperti memajang buku di etalase depan toko buku fisik tidak lagi efektif jika berjalan sendiri. Kampanye pemasaran harus dialihkan ke media sosial lewat kolaborasi dengan pembuat konten buku (bookfluencers), ulasan video (BookTok/BookTube), serta promosi interaktif yang memicu rekomendasi dari mulut ke mulut secara digital.

4.   Memainkan peran TBM sebagai penyelamat akses literasi, keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) gratis menjadi instrumen yang sangat krusial. TBM berperan menjembatani jurang antara tingginya rasa ingin tahu masyarakat dengan keterbatasan finansial masyarakat untuk membeli buku sendiri.

 

Jadi, untuk urusan belanja buku, mungkin kantong masih pas-pasan. Sebab massyarakat cuma anggarkan di bawah Rp100 ribu sebulan untuk buku. Daya beli masyarakat sangat terbatas untuk membeli buku. Karenanya, keberadaan TBM bisa jadi penyelamat literasi masyarakat. Salam literasi! #GerakanLiterasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan



Bulan Dana Pernsiun: Kisah Dina dan Rara Nabung untuk Pensiun

Ini kisah tetangga sebelah. Dua anak kost cewek, kerjanyanya sekantor. Gajinya pun sama persis Rp.6,8 juta sebulan. Sama-sama sudah kerja 5 tahun, sama-sama belum nikah, keduanya kost sebelahan. Yang satu namanya Dina, umurnya baru 30 tahun tapi tabungannya sudah Rp120 juta. Yang satu lagi Rara, justru minus Rp15 juta di kartu kreditnya. Orang sekantor pada menyangka yang minus itu pasti hobi foya-foya. Padahal Rara yang minus itu justru paling jarang jajan di kantor.  

 

Dina punya tabungan 120 juta. Hidupnya sederhana banget. Tiap hari dia bawa bekel dari kost, naik KRL, nggak pernah ikut pesen kopi kekinian. Sementara Rara, yang minus 15 juta, juga bukan orang yang boros. Rara malah sering banget traktir kawannya pas makan siang. Dia jarang beli baju, tasnya cuma 2, sepatunya dipakai sampe rusak. Makanya makin aneh saja, uang Rara itu sebenarnya lari ke mana?  

 

Mereka cerita, bulan lalu keduanya liburan bareng ke Bandung, 3 hari 2 malam. Dari ceritanya, baru terihat bedanya satu per satu, pelan-pelan. Rara kalau mau beli apa-apa lihatnya lama banget, muter-muter 15 menitan. Ujung-ujungnya dia beli barang yang nggak direncanain, karena ada promo 50 persen. Sementara Dina justru paling cepat mutusin, beli cuma yang sudah masuk daftar saja. Sisa duitnya dibawa pulang, nggak dihabiskan buat kalap belanja.  

 

Pas balik ke Jakarta, Rara tunjukin aplikasi belanjanya, isinya 9 cicilan paylater aktif. Totalnya Rp1,4 juta tiap bulan, padahal barangnya udah nggak terasa kepakenya. Sementara Dina tunjukin hal lain, satu rekening bank yang beda dari rekening gajian. Setiap tanggal 25 gajian masuk, dia langsung pindahin 40 persen gaji ke situ. Rekening itu nggak ada kartu ATM-nya, sengaja biar susah diambil dadakan. 

 

Saya iseng menghitung duit Dina yang pindah tiap bulan 40 persen dari Rp6,8 juta, berarti Rp2,72 juta per bulan. Dikalikan 48 bulan selama 4 tahun terakhir, totalnya sekitar 130 juta. Tabungannya sekarang 120 juta, sisanya 10 juta sudah terpakai buat dana darurat. Hitungannya rapi, nggak ada yang janggal sama sekali. Sekarang saya paham dari mana datangnya Rp120 juta itu? 

 

Giliran menghitung duitnya Rara. Rp. 1,4 juta per bulan dikali 12 bulan, setahun jadi Rp16,8 juta. Itu buat barang-barang yang tiap hari harganya turun terus. Parfum 4 botol yang belum kebuka, sepatu yang cuma dipake 2 kali. Dia belinya bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan diskon. Dia sendiri baru sadar pas ditunjukin angkanya di atas kertas. 

 

Dari situ siapapun sadar, masalah Rara itu bukan gaji kecil. Dina sama Rara dua-duanya punya gaji Rp6,8 juta, bedanya nol rupiah. Yang bikin beda cuma satu hal kecil: kapan keputusan menabung dimulai? Dina menyimpan di awal, pas gajinya baru masuk rekening. Rara menyimpan di akhir, dan selalu nggak ada sisanya. Beda posisi menyimpannya saja, tapi hasilnya beda puluhan juta.  

 

Gara-gara cerita Dina dan Rara, saya jadi penasaran kenapa keputusan duit orang bisa beda sejauh itu? Ternyata, intinya bukan soal gaji berapa, tapi kapan kita menyimpan duitnya. Dina simpan duluan sebelum dipakai. Rara nunggu sisa yang nggak pernah ada. Keputusan kecil yang diulang tiap bulan, hasilnya bisa beda puluhan juta. Coba deh cek rekening masing-masing, kita termasuk yang seperti Dina atau Rara.

 


Tiga puluh tahun berlalu kisah di kantor, Gimana bedanya masa pensiun antara Dina dan Rara? Sudah bisa diprediksi, meskipun keduanya memulai dari titik yang sama dengan gaji Rp6,8 juta rupiah, cara mereka mengelola "waktu" menabung telah menciptakan kondisi  hari tua yang sangat berbeda.

1.    Masa Pensiun Dina. Masa pensiunnya tenang dan bisa menikmati masa pensiunnya. Kebiasaannya menyisihkan 40% gaji di awal bulan secara konsisten dilakukan sejak usia 30 tahun telah berubah menjadi aset yang sangat besar,. Rekening tanpa kartu yang dulu ia buat sengaja agar "susah diambil" kini menjadi dana abadi yang menjamin hidupnya. Ia tidak perlu bingung mencari diskon untuk bertahan hidup karena ia sudah terbiasa hidup cukup dengan daftar rencana yang jelas. Baginya, pensiun bukan tentang berhenti bekerja karena tidak mampu lagi, tapi karena dananya sudah siap jauh-jauh hari,.

2.    Masa Pensiun Rara. Masa pensiunnya penuh penyesalan. Rara harus menghadapi masa tua dengan lebih berat. Meskipun di masa muda ia merasa tidak boros, kebiasaan menunggu sisa uang di akhir bulan membuatnya sering kali tidak memiliki tabungan sama sekali, Cicilan paylater yang dulu ia anggap kecil ternyata menjadi penghambat besar bagi dana pensiunnya. Di hari tuanya, Rara masih harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan harian karena ia baru sadar di usia tua bahwa "menunggu sisa" adalah strategi yang paling berisiko.

Jadi urusan menabung atau siapkan masa pensiun, bukan soal besaran gaji. Tapi kapan memulainya adalah penentu nasib finansial jangka panjang. Dina (menabung di awal), memastikan masa tuanya aman sebelum uangnya sempat terpakai untuk hal-hal konsumtif. Sedangkan Rara (menabung di akhir), sering kali mendapati rekeningnya kosong di hari tua karena uangnya habis untuk barang-barang yang nilainya terus turun seiring waktu. Maka jelas, kecilnya gaji tidak menentukan kenyamanan di masa pensiun, melainkan kapan keputusan untuk menyimpan uang itu diambil. Keputusan kecil yang diulang setiap bulan selama puluhan tahun menghasilkan perbedaan kualitas hidup yang sangat kontras di masa tua.

Nah, mumpung mau ada "Bulan Dana Pensiun, sudah saatnya pekerja siapkan pensiun sejak dini. Nabung untuk hari tua, sisihkan gaji untuk kenyamanan di masa pensiun. Agar tidak bergantung pada anak atau keluarga di hari tua. "#YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

Membaca Buku untuk Pintar atau Memperbaiki Diri?

Ada orang yang begitu berambisi untuk naik jabatan, memperoleh gelar, atau mengumpulkan harta hanya agar terlihat lebih tinggi daripada orang lain. Ada pula orang ingin lebiih populer dan terkenal dibandingkan orang lain. Sayangnya, semua prosesnya nggak alami. Terlalu banyak rekayasa atau siasat. Entah apa tujuannya?

 

Kita sering lupa. Naik yang sesungguhnya itu bukan sekadar soal posisi, melainkan tentang memperluas cara memandang kehidupan. Semakin seseorang bertumbuh, seharusnya semakin mampu memahami berbagai sudut pandang, menghargai perbedaan, dan menyadari bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk mengalahkan orang lain, melainkan perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada dirinya kemarin.

 

Bayangkan dua orang pekerja yang sama-sama dipromosikan menjadi manajer. Yang pertama merasa jabatan itu membuatnya lebih hebat. Ia mulai sulit menerima kritik, senang membandingkan dirinya dengan rekan kerja, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, manajer yang kedua justru semakin banyak mendengar, belajar memahami kesulitan bawahannya, dan mencari solusi agar seluruh tim berkembang. Jabatan yang sama menghasilkan sikap yang berbeda. Yang satu hanya naik posisi, sedangkan yang lain naik cara pandangnya.

 

Seperti dua orang yang membaca buku. Yang satu, agar terlihat pintar atau mendapat sanjungan dari orang lain. Sementara yang satu lagi, justru membaca buku untuk menambahh pengatahuannya yang masih terbatas dan untuk memperbaiki diri. Jadi, motif orang yang membaca buku pun berbeda-beda. Ada yang ingin dipuji dan meraih sanjungan, ada yang sadar karena pengetahuannya masih terbatas.

 


Hal yang sama juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang memiliki wawasan yang semakin luas, ia tidak lagi mudah terpancing untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak penting, seperti perbedaan selera, pilihan hidup, atau sekadar komentar di media sosial. Ia juga tidak merasa perlu memamerkan setiap pencapaiannya. Misalnya, seorang pengusaha yang baru meraih keuntungan besar memilih menggunakan sebagian hasil usahanya untuk memberikan beasiswa bagi anak-anak di lingkungan sekitar daripada menghabiskan waktunya memamerkan gaya hidup mewah. Ia memahami bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang mengaguminya, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan.

 

Karena itu, teruslah bertumbuh. Belajarlah setiap hari, bukalah pikiran terhadap pengalaman baru, dan jangan pernah berhenti memperbaiki diri. Semakin tinggi kita melangkah, semakin rendah hati seharusnya kita bersikap. Sebab, orang yang benar-benar besar bukanlah mereka yang membuat orang lain merasa kecil, melainkan orang yang mampu mengangkat, menginspirasi, dan menghadirkan manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Itulah makna sesungguhnya dari naik: bukan agar terlihat lebih tinggi, tetapi agar pandangan kita semakin luas dan kehidupan kita semakin bermakna.

 

Maka,jangan naik hanya untuk terlihat lebih tinggi. Naiklah agar pandangan kita semakin luas. Dalam perjalanan hidup, pertumbuhan bukan tentang mengalahkan orang lain, melainkan melampaui diri kita yang kemarin. Semakin luas cara pandang kita, maka semakin bijak kita memahami bahwa tidak semua hal harus diperdebatkan, tidak semua pencapaian perlu dipamerkan. Teruslah bertumbuh, tetap rendah hati, dan jadilah pribadi yang keberadaannya membawa manfaat bagi masyarakat sekitar. Salam literasi!



Senin, 17 Agustus 2026

Pembaca Masa Kini Lebih Pilih Realitas ketimbang Imajinasi, Buku Nonfiksi Ungguli Fiksi

Pergeseran menarik tengah terjadi dalam lanskap minat baca masyarakat. Alih-alih mencari pelarian lewat dunia imajiner, pembaca masa kini tampak jauh lebih pragmatis dengan mengutamakan buku-buku yang menawarkan peningkatan kapasitas diri serta pengetahuan fungsional.

 

Survei Goodstats (2025) menyebutkan urutan lengkap preferensi genre buku dari yang paling tinggi hingga terendah menarik minat baca masyarakat adalah: 1) Pengembangan diri 65%, 2) Nonfiksi 60%, 3) Pendidikan/akademik 57%, 4) Fiksi 50%, 5) Lainnya 9%, dan 6) Buku anak-anak 7%. Temuan ini menjadi cermin preferensi genre buku yang paling disukai. Genre pengembangan diri kukuh berada di posisi puncak tertinggi paling disukai, sebagi bukti tingginya kesadaran publik untuk terus meningkatkan keterampilan hidup (soft skills) dan kualitas personal secara mandiri. Genre nonfiksi di peringkat ke-2 paling disukai yang mempertegas dominasi bacaan yang berbasis pada fakta dan realitas, diikuti ke-3 buku bertema pendidikan/akademik sebagai indikasi buku penunjang studi, teori ilmiah, dan literatur pembelajaran formal tetap menjadi kebutuhan pokok yang tidak tergantikan bagi masyarakat. Khusus genre fiksi berada di posisi ke-4 menunjukkan setengah dari total responden masih menyukai fiksi dan menjadi bukti karya imajinatif tetap memiliki basis pembaca setia yang sangat solid.

 


Pemahaman mengenai dinamika preferensi ini sangat krusial bagi pengelola taman bacaan, pelaku industri penerbitan, penulis, dan institusi pendidikan dalam menyelaraskan konten dengan kebutuhan pembaca saat ini. Genre buku yang disukai ini merefleksikan pergeseran minat baca masyarakat yang kini cenderung lebih berorientasi pada aspek pragmatis, aplikatif, dan peningkatan kapasitas diri (self-improvement). Artinya, ketersediaan buku-buku bacaan utamanya di taman bacaan lebih diarahkan pada tema-tema peningkatan keterampilan hidup, literatur profesional, serta sains populer tanpa mengabaikan ceruk pasar fiksi yang tetap memiliki basis pembaca loyal yang solid.

 

Tingginya minat pada pengembangan diri, nonfiksi, dan literatur akademik menandai era baru di mana kegiatan membaca kini telah bergeser, bukan lagi sekadar sarana rekreasi pengisi waktu luang, melainkan sebuah instrumen investasi diri yang krusial dalam menghadapi tantangan masa depan. Yuk terus membaca! #TamanBacaan #GerakanLiterasi #TBMLenteraPustaka



Berdamai dengan Diri yang Pernah Kita Benci

Setiap pagi, Naya selalu bercermin sebelum memulai hari. Namun yang ia lihat bukan sekadar wajah, melainkan daftar panjang kekurangan yang ia bawa dalam kepala. Ia mengingat keputusan yang salah, kata-kata yang pernah menyakiti orang lain, kesempatan yang terlewat, dan hidup yang menurutnya belum menjadi seperti yang ia bayangkan. “Seandainya waktu bisa diulang,” pikirnya berkali-kali. Ia ingin kembali ke masa lalu, memilih jalan yang berbeda, dan menjadi seseorang yang lebih baik. Tanpa sadar, orang yang paling sering menghakiminya ternyata bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri.

 

Bertahun-tahun Naya mengejar versi dirinya yang menurutnya pantas untuk dicintai. Ia merasa harus lebih sukses, lebih kuat, lebih sempurna, dan tidak boleh melakukan kesalahan yang sama. Setiap kali gagal, ia menghukum dirinya sendiri dengan penyesalan. Setiap kali mengingat masa lalu, ia bertanya mengapa dulu tidak mengambil keputusan yang berbeda. Sampai suatu hari, seorang sahabat berkata kepadanya, “Kamu tidak harus menjadi sempurna dulu untuk pantas hidup dengan tenang.” Kalimat itu sederhana, tetapi membuat Naya terdiam. Mungkin selama ini ia terlalu sibuk memperbaiki dirinya sampai lupa memeluk dirinya yang sedang berjuang.

 

Sejak hari itu, Naya mulai belajar menerima dirinya sedikit demi sedikit. Ia melihat kembali luka-luka yang pernah membuatnya malu dan berkata dalam hati, “Ini juga bagian dari ceritaku.” Ia tidak lagi menyangkal kesalahan, tetapi juga tidak terus menghukum dirinya karena kesalahan itu. Ia mulai memahami bahwa menerima diri bukan berarti berhenti bertumbuh. Justru, seseorang bisa berubah dengan lebih sehat ketika ia tidak lagi membenci dirinya sendiri. Ada hari ketika Naya merasa kuat, ada pula hari ketika keraguan datang lagi. Namun kali ini ia tidak panik. Ia belajar bahwa healing tidak punya jadwal yang pasti—kadang membutuhkan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan sepanjang hidup.

 


Perlahan, hidup Naya terasa lebih ringan. Ia berhenti meminta masa lalu untuk berubah karena tahu itu mustahil. Kegagalan yang dulu ia anggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik, kini ia lihat sebagai guru. Kehilangan yang dulu terasa seperti akhir segalanya, ia pahami sebagai bagian dari perjalanan. Bahkan kelemahan yang selama ini ia sembunyikan mulai ia terima sebagai pengingat bahwa dirinya hanyalah manusia. Ia tidak selalu kuat, tidak selalu benar, dan tidak selalu tahu harus melangkah ke mana. Tetapi ternyata, menjadi manusia memang tidak pernah menuntut kita untuk sempurna.

 

Pada akhirnya, Naya mengerti bahwa menerima diri adalah bentuk syukur atas cara Tuhan membentuk hidupnya. Ada bagian yang indah, ada bagian yang berantakan, ada luka yang belum sepenuhnya sembuh, dan ada masa lalu yang tidak mungkin diulang. Namun semuanya telah membentuk dirinya menjadi seseorang yang ia kenal hari ini. Ia tidak perlu menjadi orang lain untuk merasa berharga. Ia hanya perlu terus belajar menjadi versi terbaik dari dirinya, sambil tetap menghargai versi lama yang pernah jatuh, salah, menangis, dan bertahan. Karena mungkin, damai bukanlah ketika kita akhirnya menjadi sempurna—melainkan ketika kita mampu berkata, “Aku menerima diriku, dengan segala yang pernah terjadi. Dan aku tetap memilih untuk mencintai diriku sambil terus bertumbuh.”

 

Intip Besaran Gaji Pensiunan PNS: Dari Rp1,5 Juta hingga Rp4,4 Juta, Cukupkah untuk Masa Tua?

Berapa sih rentang gaji pensiunan Pegawai Negeri sipil (PNS) atau ASN? Apakah cukup secara finansial di hari tua? Berdasarkan data Goodstats (2022) dapat diabarkan gaji pensiunan PNS sebagai berikut:

1.    Gaji Terendah. Semua golongan, mulai dari Golongan I hingga Golongan IV, memiliki nominal gaji pensiunan terendah yang sama, yaitu sebesar Rp1.560.800.

2.    Gaji Tertinggi. Perbedaan gaji pensiunan terlihat pada batas maksimal gaji yang diterima setiap golongan yaitu Golongan I batas tertinggi Rp2.041.900, Golongan II batas tertinggi Rp2.865.000, Golongan IIIbatas tertinggi Rp3.597.800, dan Golongan IV batas tertinggi Rp4.425.900.

Artinya, semakin tinggi golongan PNS saat menjabat, semakin besar pula potensi gaji pensiun maksimal yang akan diterima. Sebagai contoh, gaji tertinggi pada Golongan IV (Rp4.425.900) adalah lebih dari dua kali lipat dari gaji tertinggi Golongan I (Rp2.041.900).

 

Dengan kata lain, tingkat rata-rata gaji pensiunan PNS adalah 1) Golongan I rata-rata Rp1.801.350, 2) Golongan II rata-rata Rp2.212.900, 3) Golongan III rata-rata Rp2.579.300, dan 4) Golongan IV rata-rata Rp2.993.350. Tentu saja, gaji pensiunan PNS bisa dibilang sebagai jaminan hari tua yang diberikan negara, namun besarannya membawa berbagai implikasi terhadap kualitas hidup setelah tidak lagi bekerja. Dari sisi besaran, terbukti gaji pensiunan PNS hanya menjadi jaring pengaman finansial yang bersifat dasar sebagai penghasilan rutin bulanan. Hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok dasar.

 


Selain pangkat dan jabatan PNS selama masa aktif bekerja sangat menentukan kenyamanan di masa pensiun, seorang PNS atau ASN perlu memiliki strategi keuangan tambahan untuk masa pensiun. PNS pun perlu memiliki dana pensiun atau DPLK secara sukarela. Sebab besaran gaji pensiunan PNS masih belum mencukupi jika dibandingkan dengan potensi kenaikan biaya hidup atau inflasi di masa depan. Melalui dana pensiun atau DPLK, nantinya pensiunan PNS memiliki bantalan ekonomi yang lebih kuat di hari tua.

 

Jadi, gaji pensiunan PNS dari negara sifatnya dasar dan hanya memberikan ketenangan batin karena sifatnya yang tetap. Namun besaran nominalnya belum cukup untuk menjaga standar hidup di hari tua. Apalagi bila saat masih bekerja punya tunjangan ini itu yang membuat gaya hidup PNS “terkesan” wah.

 

Bila PNS saja masih butuh dana pensiun atau DPLK, apalagi pegawai swasta. Yuk siapkan pensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM #YukSiapkanPensiun

 


Gaji Sama Rp 10 Juta, Nasib Pensiun Berbeda Bak Langit dan Bumi

Banyak orang beranggapan bahwa besaran gaji adalah penentu utama kemakmuran di masa tua. Namun, realitas menunjukkan hal yang berbeda; dua orang dengan gaji yang sama, misalnya Rp 10 Juta per bulan, dapat memiliki nasib finansial yang kontras saat masa kerja berakhir atau saat pensiun. Fenomena ini membuktikan bahwa bukan nominal angka yang masuk ke rekening setiap bulan yang paling penting, melainkan bagaimana uang tersebut dikelola melalui kebiasaan sehari-hari yang konsisten.

 

Kelompok pertama sering terjebak dalam pola hidup yang berorientasi pada kepuasan instan. Pekerja kelompok ini memiliki kebiasaan "Belanja Semua" segera setelah menerima gaji dan cenderung menggunakan sisa dana untuk "Beli Kewajiban", seperti barang konsumtif yang nilainya menyusut atau justru menambah beban pengeluaran. Fokus utamanya adalah "Cari Kenyamanan" sesaat tanpa mempertimbangkan kebutuhan masa depan. Pola pikir jangka pendek ini secara perlahan namun pasti membawa pekerja pada kondisi akhir yang menyedihkan saat pensiun, yaitu "Akhirnya Kehabisan" modal untuk bertahan hidup.

 

Di sisi lain, kelompok yang diprediksi akan hidup sejahtera memulai perjalanannya dengan prinsip "Simpan Dulu". Alih-alih menghabiskan seluruh pendapatan, pekerja kelompok ini lebih disiplin menyisihkan uang di awal untuk "Beli Aset", seperti property, instrumen investasi, atau dana pensiun yang nilainya dapat terus berkembang seiring waktu. Pekerja ini tidak sekadar mencari kenyamanan sekarang, melainkan memilih untuk "Bangun Disiplin" dalam mengatur arus kas setiap bulan. Keteguhan ini membuahkan hasil yang manis di masa depan, di mana akhirnya dapat menikmati masa pensiun dengan kondisi yang "Berkelimpahan".

 


Perbedaan mendasar dari kedua nasib pekerja ini terletak pada arah pandangnya tentang masa depan: "Pikir Jangka Pendek" melawan "Pikir Jangka Panjang". Seseorang dengan visi jangka pendek akan selalu melihat gaji sebagai alat pemuas keinginan saat ini, sehingga sumber daya finansialnya selalu habis tanpa sisa. Sebaliknya, pekerja yang berpikir jangka panjang melihat setiap rupiah sebagai benih yang harus ditanam untuk dipanen di masa tua. Perbedaan pola pikir inilah yang menjadi navigasi utama dalam menentukan apakah seseorang sedang menuju kemiskinan atau kekayaan di masa pensiunnya.

 

Kesimpulannya, kondisi pensiun yang berbeda adalah hasil dari akumulasi pilihan-pilihan kecil yang dibuat setiap bulan selama bertahun-tahun semasa bekerja. Meskipun saat ini kita memiliki pendapatan yang cukup, tanpa perubahan kebiasaan dari konsumtif menjadi produktif, risiko kehabisan uang di masa tua akan tetap nyata. Membangun kemakmuran finansial memerlukan transformasi nyata dari sekadar mencari kenyamanan menjadi membangun disiplin investasi, demi memastikan bahwa masa pensiun kita benar-benar berkelimpahan, bukan justru menjadi beban.

 

Maka, siapkan pensiun sejak dini. Jangan sampai kita bergantung secara finansial kepada anak di hari tua, bahkan menjadi beban ekonomi bagi keluarga.



Laki-laki yang Terkena PHK?

Tahun 2017 awal, saya pernah terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dari kantor. Setelah bekerja lebih dari 17 tahun, saya kena lay off. Pastinya, panik dong. Kerja belasan tahun, akhirnya berakhir di PHK. Gaji puluhan juta pun berhenti, sekalipun dapat uang pesangon yang besarannya lumayan-lah bisa buat bangun kontrakan 10 pintu. Tapi intinya, saya pernah kena PHK.

 

Setelah peristiwa PHK itu, saya bilang ke istri dengan suara paling datar. Bahwa saya di-PHK dari kantor. Istri pun diam dan raut wajahnya seperti kebingungan. Akankah uang bulanann berhenti atau berkurang? Saya tegaskan, "Santai saja Bu. Saya akan cari kerja baru lagi." Sambil tersenyum dikit, pikiran saya mulai menyala. Walau di dalam hati, ada bagian yang kayak jatuh dari lantai 10 untuk memberi kabar di PHK.  

 

Malam itu saya nggak bisa tidur. Mulai menghtung-hitung: alokasi biaya bulanan, cicilan, tagihan, urusan dapur. Terus saya berpikir: saya sekarang bukan apa-apa, bukan pula siapa-siapa. Saya mencoba memahami sekilas. Selama 17 tahun, saya nempel banget sama gaji. Gaji saya selalu kasih tahu, bahwa saya berharag. Tapi sejak di PHK, gaji itu hilang.  

 

Besoknya, saya pura-pura normal. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Saya bangun pagi seperri biasa, pakai baju rapi seakan mau ke kantor. Tapi cuma duduk di depan laptop di rumah. Saya nggak ngomong ke siapa-siapa, termasuk ke anak-anak. Pikiran saya bekerja. Istri saya bertanya, " Pak ngelamar kerjaan?". Saya jawab "Iya." Padahal, saya cuma melihat layar kosong sambil bingung, kerja apa?

  

Seminggu. Dua minggu. Belum ada panggilan. Bahkan 3 bulan belum ada tanda-tanda bakal kerja lagi. Saya mulai marah-marah urusan hal sepele. Gampang panik dan emosi. Anak saya meinta jajan, saya marah. Anak numpahin susu, saya teriak. Anak-anak pun menangis. Karena ayahnya gampang emosi. Saya pun menyesal, lalu merenung sejenak. Bukan susu yang bikin saya teriak. Saya lagi marah ke diri saya sendiri, dan yang kena marah cuma orang orang terdekat!  

 

Memang benar sih, ada riset yang bilang, kehilangan kerja itu bisa menaikkan risiko depresi, dan efeknya lebih kerasa di laki-laki. Karena banyak dari kita yang diajarkan: harga diri itu penghasilan. Saya berpikir sejenak. Saya nggak sedih karena kehilangan kerja. Tapi saya sedih akibat kehilangan alasan buat meras berharga, apalagi untuk orang-orangt terdekat. Benar adanya, meta-analisis Paul dan Moser (2009) menyebut kehilangan pekerjaan atau menganggur itu merusak kesehatan mental, dan makin lama makin dalam. Dan efeknya lebih terasa pada laki-laki.  

 

Suatu malam istri saya duduk di sebelah saya. "Mas, boleh sedih kok." Saya jawab dan bilang bilang, "Saya nggak sedih. Saya lagi nyari kerja." Lalu, dia pegang tangan saya, "Mas boleh sedih sambil nyari kerja kan." Saya mencoba memahami lebih dalam kata-kata itu. Saya menahan tangis selama berminggu-minggu sejak di PHK. Satu kalimat itu yang bikin bobol batin dan mental.  

 

Dia bilang, "Aku nikah sama Mas, bukan sama gajinya. Anak-anak sayang sama Bapaknya, bukan sama jabatan bapaknya." Saya meneteskan air mata, tiba-tiba kayak anak kecil. Menyala pikiran saya. Belasan tahun saya bangun harga diri dari angka di slip gaji. Ternyata di rumah, saya sudah berharga dari dulu tanpa slip gaji sekalipun. Sayangnya, saya saja yang nggak pernah menyadari.


 

Saya mulai bangun ulang. Rutinitas harian: bangun pagi, ngopi sambil siapkan plan, istirahat, bantu istri. Pas anak-anak tidur, saya membaca buku dan siapkan bahan untuk mengajar di kampus. Pikiran saya bekerja. Ternyata yang membuat saya waras bukan pekerjaan. Tapi selalu merasa berharga. Vandello (2008) menyebut maskulinitas itu rapuh: laki-laki yang kehilangan peran pencari nafkah, harga dirinya mau nggak mau ikut goyah.  

 

Saya pernah kena PHK. Dan sejak itu, saya bisa bilang ke diri saya sendiri. Saya ini bukan cuma pencari nafkah. Pak bapak, Pak suami. Bapak itu yang mengajarkan anak-anak naik sepeda, menemani belajar anak di malam hari. Bapak yang menemani istri belanja. Bahkan bapak pula yang membeli gas saat habis. Saya pun mencoba memahami sekilas semua perjuangan seorang bapak. Maka siapapun yang dalam posisi kehilangan pekerjaan atau terkena PHK, ingat ini “kerja bapak bisa hilang tapi peran bapak nggak akan pernah hilang”.  

 

Besoknya saya membuat rencana sekalipun tanpa tanggal. Saya bagi hari-hari menjadi lima bagian: jaga kesehatan, tetap berkarya apapun, ibadah, istirahat, dan tetap berbuat baik di mana pun. Mungkin kata orang sederhana, nggak masalah. Saya tetap menulis, ngopi-ngopi, membahas dana pensiun, dan tetap mengajar. Semuanya saya Jalani apa adanya. Memang, terkesan nggak menghasilkan uang. Tapi hidup terasa lebih tenang dan penuh syukur.  Hari-hari yang nggak kosong. Setiap pagi saya cuma menulis tiga hal yang harus selesai. Setiap malam saya centang dan semuanya tuntas. Sebuah kebiasaan kecil setiap hari, menuntaskan semua pekerjaan sekecil apapun walau tanpa imbalan.   

 

Saat terkena PHK, tetaplah bikin rencana dan terus ikhtiar untuk dijalankan. Hingga saya berhentikan dari duduk berjam-jam hanya menatap layar sambil merasa nggak berguna. Saya jadi paham, saat terkenapHK dan belum bekerja lagi bukan berarti hari ini nggak melakukan apa-apa. Selau ada kerjaan dan karya yang bisa diperbuat. Terkadang di dunia kerja, yang perlu dibangun bukan hanya karier atau gaji. Tapi alasan untuk selalu bangun besok pagi dengan semangat dan optimism besar. Berpikir positif tanpa keluh-kesah.

 

Dan akhirnya, setelah 10 tahun saya di PHK, kini saya lebih bisa menikmati hidup. Punya kontrakan 10 pintu untuk menambah biaya hidup bulanan, tetap mengajar di kampus, aktif mengelola taman bacaan, jadi konsultan dan pengajar dana pensiun, jadi dewan pengawas di dana pensiun, hingga kecil-kecilan jadi “tukang durian” (bukan tukang kupas bawang).

 

Sungguh, memang nggak semua hal dalam hidup selalu membawa bahagia. Terkadang menerima apadanya, selalu merasa cukup saja sudah membuat banyak hal lebih tenang. Jadi, lebih bayak bersyukur. Hidup itu mudah asal dilakoni, tanpa perlu ekspektasi besar. Asal nggak punya hutang, nggak dikejar angsuran, nggak punya gaya hiudp sudah cukup. Makan enak, tidur nyenyak, dan badan tetap sehat. Dan yang penting, nggak usah ngurusin hidup orang lain. Sebab, setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Setelah di PHK, akhirnya berucap, Alhamdulillah ya Allah …

 


Minggu, 16 Agustus 2026

Trip 3 Negara: Cukup Cintai Diri Sendiri dan Pergilah Ke Mana Hendak Melangkah?

Trip 3 negara (Singapore – Malaysia – Thailand) memang bukan sekadar perjalanan biasa. Ada kenangan yang besar yang sulit dilupakan. Selain untuk membangun ruang saling mendekat bersama keluarga dan teman seperjalanan, trip 3 negara menadi momen kebersamaan yang tak ternilai. Kebahagiaan dirasakan lewat momen-momen sederhana sepanjang perjalanan di bus—seperti duduk bersama, melihat pemandangan dari balik jendela, mengobrol, dan saling memperkenalkan diri.

 

Sungguh, kebersamaan dengan keluarga atau teman seperjalanan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Karenanya, trip 3 negara bukan hanya destinasi. Tapi tentang siapa yang berjalan bersama kita dan kenangan apa yang dibawa pulang ke rumah. Sebuah momen sederhana yang berkesan seperti menikmati es krim durian, naik tuktuk, atau kereta gantung di Genting. Momen-momen sederhana yang manis dan kelak akan sangat dirindukan. Begitulah Kesan saat mengikuti Trip 3 Negara bersama Abunawas Travel yang dipandu Kak Feby sebagai toru leader dan Cikgu Nabil tour guide dari Malaysia. Rombongan berjumlah 41 orang berlangsung dari 11-16 Agustus 2026 ke Singapore, Malaysia, dan Thailand.

 

Lalu, apa hikmah di balik perjalanan trip 3 negara ini? Perjalanan ini bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah kesempatan berharga yang sengaja diluangkan untuk saling mendekatkan diri antaranggota keluarga dan rombongan. Sebuah proses mengumpulkan kenangan manis bersama orang-orang tercinta sebelum waktu terus berlalu.

 


Melalui perjalanan trip 3 negara, setiap peserta setidaknya memperoleh 3 pengalaman berharga yaitu:

1.    Kesadaran bahwa kebersamaan tidak bisa dibeli. Perjalanan ini memberikan implikasi emosional yang kuat bagi rombongan, di mana mereka menyadari bahwa kebersamaan dengan keluarga atau sahabat adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai atau dibeli dengan apa pun.

2.    Momen sederhana menjadi kenangan yang dirindukan. Hal-hal kecil dan sederhana sepanjang perjalanan seperti duduk bersama di bus, melihat pemandangan jendela, menikmati es krim, naik tuktuk, belajan di night market, atau bermain di Samila Beach berimplikasi pada terciptanya momen-momen manis yang kelak akan sangat dirindukan.

3.    Kebahagiaan yang mengalahkan rasa Lelah. Meskipun perjalanan panjang ini secara fisik melelahkan, implikasi dari eratnya kebersamaan dan interaksi antarpeserta (seperti saling memperkenalkan diri dan bersenda gurau) mampu memancarkan kebahagiaan mendalam yang sulit disembunyikan dari wajah-wajah tiap peserta.

 

Mengintip keseruan Trip 3 Negara, selalu menemukan ruang saling mendekat dalam kebersamaan. Sebuah kehangatan serta kedekatan keluarga yang tercipta sepanjang rute perjalanan. Maka di momen 17 Agustus 2026, HUT ke-81 RI, jangan pernah merasa dicintai negara. Cukup cintai diri sendiri dan pergilah ke mana kita hendak melangkah?



Merasa Dicintai, Salah Paham Paling Fatal dalam Hidup

Banyak orang tidak sadar. Ada satu bentuk salah paham yang sering kali hadir sejak dini. Tapi dampaknya sangat menyakitkan: “merasa dicintai”. Padahal yang terjadi hanyalah perhatian, keramahan, atau kepedulian biasa. Kita kemudian membangun harapan, menafsirkan setiap pesan, senyuman, atau sikap baik sebagai tanda kasih sayang. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi, yang muncul bukan hanya rasa kecewa tapi juga rasa malu karena ternyata selama ini kita sedang mencintai sebuah asumsi, bukan sebuah kepastian.

 

Dalam bukunya Social Intelligence, Daniel Goleman menjelaskan bahwa hubungan antarmanusia dibentuk oleh kemampuan membaca sinyal sosial secara akurat. Namun, otak manusia tidak selalu objektif. Emosi, kebutuhan untuk diterima, dan keinginan untuk dicintai sering kali membuat kita menafsirkan sinyal sosial sesuai harapan, bukan sesuai kenyataan. Akibatnya, empati berubah menjadi ilusi, keramahan dianggap ketertarikan, dan perhatian profesional dipersepsikan sebagai ungkapan cinta. Salah paham paling fatal itu bernama "merasa dicintai".

 

Goleman juga menegaskan bahwa kecerdasan sosial bukan hanya kemampuan memahami orang lain, tetapi juga kemampuan memahami diri sendiri. Orang yang memiliki kecerdasan sosial akan mampu membedakan antara fakta dan interpretasi. Ia tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa dirinya istimewa hanya karena diperlakukan dengan baik. Sebaliknya, ia mampu mengelola emosinya sehingga tidak mudah terjebak dalam bias yang lahir dari kebutuhan akan afeksi atau pengakuan.

 

Karena itu, salah paham yang paling memalukan bukanlah ketika orang lain tidak mencintai kita, melainkan ketika kita meyakinkan diri bahwa mereka mencintai kita tanpa dasar yang jelas. Kecerdasan sosial mengajarkan bahwa hubungan yang sehat dibangun di atas komunikasi yang nyata, bukan asumsi yang dibentuk oleh harapan. Sebab, cinta yang sesungguhnya tidak perlu ditebak-tebak; ia akan terlihat melalui konsistensi sikap, kejelasan komitmen, dan keberanian untuk menyatakannya secara nyata.

 


Pada akhirnya, mungkin yang paling penting adalah belajar menikmati kehidupan kita sendiri. Jangan menjadikan kehadiran atau ketidakhadiran seseorang sebagai ukuran apakah hidup kita layak untuk bahagia? Mau pergi ke mana, lakukan; mau belajar sesuatu yang baru, jalani; ingin mencoba hal yang selama ini ditunda, kerjakan. Hidup terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk menunggu seseorang membalas perasaan yang bahkan belum tentu pernah ia miliki. Menikmati hidup bukan berarti berhenti membutuhkan orang lain, melainkan menyadari bahwa kebahagiaan kita tidak boleh sepenuhnya bergantung pada bagaimana orang lain memperlakukan kita?

 

Jangan pernah merasa dicintai siapapun. Lebih baik cintai diri sendiri. Pergilah ke mana kita mau? Sebab, ketika kita nyaman dengan kehidupan sendiri, kita tidak lagi sibuk mencari tanda-tanda dicintai. Kita hanya menjalani hari-hari, mencintai apa yang kita lakukan, dan membiarkan orang yang memang ingin tinggal memilih untuk tinggal dalam hidupanya. Asal besok, jangan begini-begi saja atau begit-begitu saja. Berangkatlah untuk hidup sendiri! @Catatan pelancong 3 negara (Singapore - Malaysia - Thailand)




Minggu, 09 Agustus 2026

Sambut Bulan Dana Pensiun & IPFS 2026: Inilah 5 Prioritas Investasi Masyarakat Wujudkan Tujuan Masa Depan

Menentukan prioritas investasi secara finansial sangat penting karena membantu seseorang mengalokasikan sumber daya yang terbatas ke tujuan yang paling mendesak dan bernilai tinggi. Dengan menetapkan prioritas, investor dapat menyesuaikan pilihan investasi dengan kebutuhan, jangka waktu, dan tingkat risiko yang mampu ditanggung, sehingga mengurangi kemungkinan salah mengambil keputusan. Selain itu, prioritas yang jelas membantu menjaga disiplin keuangan, memaksimalkan potensi hasil investasi, serta memastikan tujuan penting seperti dana darurat, pendidikan, pembelian rumah, atau dana pensiun dapat tercapai secara lebih terencana dan efektif.

 

Menyambut Bulan Dana Pensiun dan IPFS tahun 2026, ternyata diketahui hampir setengah dari generasi muda dan pekerja Indonesia mulai sadar hari tua. Faktanya ada berbagai prioritas finansial yang mendasari keputusan investasi bagi para pekerja, pengusaha, dan generasi muda di Indonesia. Data riset Populix  (2024) menyebutkan prioritas utama pekerja, pengusaha, dan generasi muda Indonesia dalam melakukan investasi saat ini adalah 1) mempersiapkan dana darurat 68%, 2) menambah pendapatan 61%, 3) membeli aset 48%, 4) dana pensiun 46%, dan 5) dana pendidikan 40%. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya memiliki jaring pengaman finansial (dana darurat) dan mencari sumber pemasukan tambahan masih menjadi fokus paling dominan bagi masyarakat Indonesia saat ini. Dana pensiun menempati prioritas ke-4 sebagai bagian menjaga kesinambungan pengghasilan saat tidak bekerja lagi.

 

Secara umum, setidaknya terdapat beberapa implikasi logis dalam perencanaan keuangan masyarakat Indonesia yaitu 1) prioritas pada likuiditas dan keamanan (dana rarurat & menambah pendapatan) sehingga masih memerlukan instrumen investasi yang aman, berisiko rendah, dan sangat likuid, 2) kebutuhan alokasi aset untuk jangka menengah dan jangka panjang (membeli aset, dana pensiun, dana pendidikan) agar memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi guna melawan inflasi, dan 3) pentingnya strategi diversifikasi karena tujuannya bisa jangka pendek dan jangka panjang.

 


Di sisi lain, prioritas investasi masyarakat Indonesia saat ini dihadapkan pada tiga hambatan utama seperti kurangnya literasi dan edukasi, keterbatasan finansial, dan minimnya akses digital. Namun sebagian besar responden menyatakan untuk mencapai tujuan investasinya diperlukan mekanisme digitalisasi atau akses digital daripada konvensional. Seperti di dana pensiun, masyarakat lebih menyukai saluran pendaftaran dan pembelian dana pensiun secara mandiri (seperti produk DPLK) melalui akses digital.

 

Maka, mulailah ber-investasi sesuai tujuan keuangan yang diharapkan. Kalau bukan kita, mau siapa lagi? Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? #YuksiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

 




Belajar Energi Bersih Sambil Bermain, Mahasiswa Gunadarma Ajak Anak-anak TBM Mengenal PLTS dan K3 Listrik

Program pengabdian masyarakat yang dijalankan mahasiswa Teknik Elektro Universitas Gunadarma terus menunjukkan dampak positif bagi masyarakat. Sejak Jumat lalu, para mahasiswa melaksanakan program berkelanjutan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka Bogor (9/8/2026). Aktivitas utamanya, melakukan peremajaan sistem PLTS melalui pergantian kabel yang baru untuk meningkatkan keamanan dan keandalan instalasi. Selain itu, mereka juga menambah titik lampu di area kebun baca guna mendukung aktivitas belajar pada sore hingga malam hari, sekaligus mempercantik lingkungan dengan pengecatan pagar dan tempat duduk.

 

Kegiatan Elefunch dan Student Care yang dilaksanakan selama 3 hari. Untuk 2 hari pertama mahasiswa Gunadarma menjalankan program kerja Elefunch yang berupa peremajaan komponen PLTS, penambahan lampu sebanyak 5 titik lampu, perbaikan instalasi penerangan, pengecatan bangku yang ada di TBM. Untuk hari ke-3, mahasiswa Univ. Gunadarma melaksanakan Student Care dalam bentuk edukasi, games, dan santunan kepada anak yatim di lingkungan TBM dan sekitarnya. Kegiatan ini merupakan kolaborasi kedua bersama TBM Lentera Pustaka, kegiatan ini diikuti oleh 23 Mahasiswa Teknik Elektro serta diikuti oleh ±60 anak pembaca serta 17 ibu pengantar anak, dan 12 relawan.

Dalam kesempatan tersebut, para mahasiswa memberikan pengajaran dan pembelajaran mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) kelistrikan. Materi disampaikan secara interaktif – sambil bermain dan mudah dipahami agar anak-anak dapat mengenali potensi bahaya listrik serta memahami cara menggunakan peralatan listrik dengan aman dalam kehidupan sehari-hari.

 

Tidak hanya itu, tim mahasiswa juga mengadakan edukasi mengenai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kepada masyarakat. Dengan memanfaatkan instalasi PLTS yang telah terpasang di kawasan taman baca sebagai sarana pembelajaran langsung, warga diajak mengenal cara kerja energi surya, manfaat energi terbarukan, serta pentingnya pemanfaatan energi ramah lingkungan untuk mendukung kebutuhan listrik masyarakat di masa depan.

 

Suasana kegiatan semakin meriah dengan berbagai permainan edukatif yang melibatkan anak-anak peserta. Sebagai bentuk kepedulian sosial, mahasiswa Teknik Elektro Universitas Gunadarma juga menyalurkan santunan kepada anak-anak yatim yang berada di lingkungan TBM. Melalui rangkaian kegiatan ini, para mahasiswa tidak hanya menghadirkan solusi teknologi yang berkelanjutan, tetapi juga menanamkan semangat berbagi ilmu, kepedulian sosial, dan kesadaran akan pentingnya energi bersih bagi masyarakat. Salam literasi! #TeknikElektroGundar #TBMLenteraPustaka #GerakanLiterasi

 





Psikologi Uang: Gaji Besar tapi Merasa Nggak Cukup

Saat di kantor, pernah nggak melihat orang dengan gaji besar tapi merasa kurang. Gajji cukup tapi merasa miskin? Coba cek deh, teman sebaya yang rumahnya lebih gede, mobilnya lebih bagus tapi perasaan "kurang-nya" ada terus. Bukan karena nggak punya uang tapi karena tolak ukurnya bergerak terus. Jadi, cukup atau nggak cukup itu bukan soal nominal. Tapi soal cara kita mengukur atas apa yang dimiliki.  

 

Ada orang dengan gaji besar tapi tetap merasa miskin. Sementara orang dengan gaji biasa bisa merasa cukup. Bedanya bukan di angka. Bedanya di perilaku dan ekspektasi. Kan sederhana saja, kalau kita selalu membandingkan diri dengan orang yang lebih kaya ya kita pasti akan selalu kalah. Selalu ada yang lebih kaya. Selalu ada yang lebih mewah dan selalu ada yang lebih banyak. Sebab yang dilihat yang “lebih” kan.  

 

Sudah pasti ada bedanya. Dua orang dengan gaji yang sama kerja di kantor yang sama tapi bisa merasa sangat berbeda. Satu gelisah, yang satunya tenang. Satu merasa kurang, satu lagi merasa cukup. Bedanya hanya di definisi.  Maka, perasaan kaya dan miskin itu subjektif. Karena faktor yang menentukan adalah ekspektasi atau harapannya, bukan saldonya. Kira-kita begitu kalau membaca buku “The Psychology of Money” Morgan Housel, yang mengulas tentang cara berpikir soal uang. Bukan jumlah uang!

 

Urusan uang, kenapa orang merasa miskin atau kurang? Jawabnya, bisa jadi karena “tidak punya definisi tentang cukup”. Cukup itu berarti dapat memenuhi kebutuhan, sudah memadai atau tidak kurang, serta tidak perlu ditambah lagi. Tapi bila tidak punya definisi tentang “cukup”, maka akan membandingkan. Atau ekspektasi-nya terlalu tinggi, akhirnya tidak pernah puas. Setiap naik gaji, setiap naik kelas sosial, kerjanya selalu melihat kelas yang di atasnya. Terus begitu dan begitu terus tanpa henti. Wajar jadinya gelisah, terkadang bingung. Sementara orang yang tenang, pasti tahu arti “cukup”. Tahu di titik mana merasa "sudah" dan alhamdulillah. Bahkan tahu batas dan kebal dari gengsi.  

 

Sayangnya, sebagian besar orang tidak pernah duduk dan menuliskan apa artinya cukup. Cukup dianggap abstrak selama tidak dihitung. Dan kalau abstrak, gampang digoyang oleh hidup orang lain yang kelihatan lebih bagus. Maka solusinya bukan menekan ambisi atau mengurangi ekspektasi. Tapi solusinya adalah “membuat definisi cukup” jadi lebih konkret. Misalnya, kita tidur nyenyak tanpa mikir lagi soal uang. Asal kebutuhan bisa dipenuhi sudah tenang. Punya tabunagn cukup, sekaliipun untuk kebutuahn darurat. Berapapun angkanya, itu bisa dihitung dan ada nilainya. Coba bandingkan dengan “kebutuhan” yang muncul akibat melihat orang lain beli barang baru. Jelas, itu susah dihitung dan bukan kebutuhan nyata. Itu ekspektasi.  

 


Merasa cukup itu penting banget. Biar kita bisa kenal, mana yang kebutuhan mana yang keinginan. Tanpa perlu membandingkan diri dengan orang lain. Tentu, ambisi perlu bahkan tetap tumbuh itu bagus. Tapi kita harus ingat, kejar-kejaran soal uang itu semu. Tidak akan pernah bisa menghancurkan kepuasan yang sudah kita punya. Untuk mengejar lebih tapi tidak pernah tahu rasanya “cukup”.  Rugi total, mengejar uang terus tanpa pernah merasa cukup. Mau sampai kapan?  

 

Mungkin kita sepakat, bahwa kekayaan itu tidak akan pernah kelihatan. Sebab yang kelihatan itu pengeluaran. Barang itu kelihatan, harga itu biaya. Dan yang kelihatan, biasanya hanya pameran. Hanya sesuatu yang tampak, bukan kondisi sebenarnya. Orang yang punya gaji besar tapi habis buat gaya hidup itu bukan kekayaan. Itu cuma siklus kerja – cari uang – belanja – dan kerja lagi. Di dunia kerja, siklus kayak begitu tidak akan pernah membuat orang tenang apalagi nyaman. Justru yang penting itu merasa cukup. Cukup kondisi bertahan di segala keadaan, bukan “garis finish”.

 

Jadi, kalau ada orang dengan gaji besar tapi tetap merasa miskin. Bisa jadi, karena nggak bisa menghitung pengeluaran per bulan-nya. Dan pastinya, tidak pernah paham tentang definis “cukup” dan jumlah tabungannya belum mampu bikin tidurnya nyenyak. Kenapa begitu, karena kita nggak patuh pada versi diri sendiri. Tapi senagnya ikut versi teman kantor atau orang lain!