Minggu, 19 April 2026

Catatan Literasi: Ada yang Menghakimi Tanpa Tahu, Ada yang Menyimpulkan Tanpa Bertanya

Dalam perjalanan hidup, kita pasti akan bertemu dengan orang-orang yang salah paham terhadap diri kita. Ada yang menilai hanya dari potongan cerita, ada yang menghakimi tanpa mengetahui kenyataan sebenarnya, dan ada pula yang menyimpulkan sesuatu tanpa pernah bertanya langsung. Hal seperti ini sering kali menyakitkan, karena manusia pada dasarnya ingin dipahami dan diterima. Namun kenyataannya, tidak semua orang akan melihat kita dengan cara yang adil.

 

Sering kali, dorongan pertama yang muncul adalah keinginan untuk menjelaskan semuanya. Kita ingin meluruskan setiap kesalahpahaman, membela diri dari setiap tuduhan, dan memastikan semua orang tahu versi kebenaran kita. Tetapi hidup akan terasa sangat melelahkan jika kita terus berusaha mengendalikan cara orang lain memandang kita. Tidak semua pikiran bisa diubah, dan tidak semua hati terbuka untuk menerima penjelasan.

 

Di sinilah kita belajar tentang batas kendali. Tugas kita bukan memastikan semua orang menyukai atau memahami kita, melainkan memastikan bahwa kita tetap jujur pada diri sendiri. Selama kita tahu niat kita benar, langkah kita lurus, dan hati kita tidak dipenuhi kebencian, maka kita sudah melakukan bagian kita. Kita tidak hidup untuk memenuhi persepsi semua orang, tetapi untuk menjalani hidup dengan integritas.

 


Lebih penting lagi, kita perlu menjaga kelurusan di hadapan Allah. Penilaian manusia bisa berubah-ubah, sering kali dipengaruhi emosi, prasangka, atau informasi yang tidak utuh. Namun Allah mengetahui isi hati, perjuangan yang tidak terlihat, dan niat yang tidak terucap. Ketika kita memilih tetap sabar, tetap benar, dan tidak membalas dengan keburukan, di situlah kekuatan sejati muncul. Kita menyerahkan apa yang tidak bisa kita kendalikan kepada-Nya.

 

Pada akhirnya, kedamaian bukan datang dari berhasil menjelaskan diri kepada semua orang, tetapi dari ketenangan karena kita tahu kita tidak sedang mengkhianati nilai hidup kita sendiri. Biarkan orang menilai sesuai kapasitas mereka, sementara kita tetap berjalan sesuai prinsip yang kita yakini. Menjadi lurus di hadapan Allah jauh lebih penting daripada terlihat benar di hadapan manusia. Karena yang benar-benar menentukan bukan opini manusia, melainkan ridha-Nya.

 

Kita pasti bertemu orang yang salah paham tentang kita. Yang menghakimi tanpa tahu, yang menyimpulkan tanpa bertanya. Tugas kita bukan meluruskan mereka tapi  tetap jujur pada diri kita sendiri dan lurus di hadapan Allah SWT, sisanya bukan wilayah kita untuk dikendalikan. Maka lebih baik membaca buku di TBM Lentera Pustaka. Salam literasi!



Mikir tentang Pikiran Di Atas LRT

Minggu pagi ini, keluar rumah bareng istri pengen kulineran. Naik LRT sambil menikmati perjalanan. Saking enaknya nyandar, tahu-tahu terpikirkan satu hal. Berpikir tentang pikiran, kadang ada yang sempit ada yang luas. Kok bisa ya?

 

Orang yang sempit pikirannya, ternyata biasanya bukan karena “kurang pintar” tapi karena terlalu cepat merasa paling benar. Segala hal yang sampai ke telinga dan otkanya, buru-buru dimasukkan ke kotak. Pendapat orang buru-buru diredam dan dianggap salah. Terlalu cepat menilai, bahkan cepat melabeli salah. Setia phal yang tidak dipahamimnya pasti dianggap salah. Hal yang beda selalu dianggap aneh. Begitulah adanya.

 

Siapapun yang pikirannya sempit selalu tidaak nyaman pada hal-hal yang tidak bisa dia kontrol, termasuk perspektif orang lain. Akhirnya, sering defensif, reaktif, dan gampang tersinggung. Subjektivitasnya terlalu tinggi, akibat sempitnya pikiran.

 

Sementara orang yang luas pikirannya, bukan berarti selalu setuju. Tapi dia cukup tenang untuk mengerti dulu sebelum menilai. Dia tahu realitas hidup itu kompleks. Ada banyak sudut pandang terhadap satu hal. Paham betul, bahwa satu hal bisa punya banyak sisi. Bahwa kebenaran pun tidak selalu hitam-putih.

 


Saking luas pikirannya, saat berbeda pendapat. Dia bisa bilang, “gue tidak sepakat tapi gue paham kenapa elo mikir begitu.” Orang yang pikirannya luas tidak butuh jadi yang paling benar. Apalagi merasa paling tahu segalanya. Karena dia lebih tertarik untuk terus berkembang dan tetap tumbuh di jalurnya.

 

Kalau kita tarik ke energi personal. Pikiran yang sempit itu frekuensinya kaku. Selalu butuh kepastian, butuh kontrol sehingga sulit toleran terhadap pendapat atau hal baru. Sementara pikiran yang luas biasanya lebih fleksibel, lebih terbuka sehingga lebih mudah “nyambung” sama banyak kemungkinan. Selalu ada alternatif dalam berpikir.

 

Sempit atau luasnya pikiran bukan karena siapa yang lebih tinggi. Tapi soal siapa yang siap untuk terus bertumbuh. Apapun alasannya dan siapapun orangnya. Dan ternyata, menikmati hari Minggu sambil naik LRT nyaman dan bikin segar pikiran.

 

Jadi, kita pilih pikiran sempit atau luas nih?

 

Kampanye GENCARKAN, Chubb Life Edukasi Asuransi Jiwa ke Anak-anak Usia Sekolah di Bogor

Sebagai bagian dari kampanye GENCARKAN (Gerakan Nasional Cerdas Keuangan) yang diinisiasi OJK sekaligus untuk meningkatkan literasi keuangan khususnya asuransi jiwa di kalangan pelajar, Chubb Life Indonesia melakukan edukasi literasi keuangan bertajuk “pentingnya bijak mengelola uang dan proteksi diri” yang diikuti 60 anak Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (19/4/2026). Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata tanggung jawab sosial (CSR) Chubb Life Indonesia terhadap gerakan literasi dan aktivitas taman bacaan di Indonesia.

 

Edukasi asuransi jiwa Chubb Life Indonesia dilakukan oleh Alwi Mustopa, pegiat literasi dan pekerja dari Jakarta. dengan tujuan untuk memberikan pengenalan dan pemahaman fungsi dan manfaat asuransi jiwa, baik untuk perlindungan diri, kesehatan, maupun pendidikan. Sebagai Perusahaan asuransi jiwa multinasional, Chubb Life Indonesia memiliki komitmen untuk terus meningkatkan literasi dan inklusi asuransi jiwa di masyarakat Indonesia. Karena itu, melalui dukungan CSR ke TBM Lentera Pustaka, Chubb Life Indonesia akan proaktif dalam memberikan pemahaman akan pentingnya asuransi jiwa.

 

Edukasi asuransi jiwa penting diperkenalkan sejak dini sebagai bagian mitigasi risiko dan perlindungan terhadap ketidakpastian hidup, seperti sakit, kecelakaan, atau biaya pendidikan. Tanpa proteksi yang memadai, kondisi tidak terduga dapat menguras tabungan dan mengganggu stabilitas finansial seseorang. Oleh karena itu, kombinasi antara pengelolaan uang yang bijak dan proteksi diri yang tepat menjadi fondasi penting untuk mencapai keamanan finansial dan kesejahteraan jangka panjang.

 

Sesuai dengan pesan regulator, Chubb Life Indonesia akan proaktif meningkatkan literasi dan inklusi asuransi jiwa ke masyarakat, termasuk pelajar dan anak-anak usia sekolah. Dukungan Chubb Life Indonesia ke Taman Bacaan Lentera Pustaka di Bogor akan menjadi sarana edukasi literasi keuangan yang inklusif. Hal ini sejalan dengan Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK tahun 2025, di mana tingkat literasi pada sektor perasuransian berada pada level 45,45 persen, sedangkan inklusi pada level 28,50 persen. Untuk itu, Chubb Life Indonesia akan memperkuat tiga komponen literasi finansial yang mencakup perilaku (behavior), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude) terkait literasi keuangan dan proteksi jiwa.

 


Selain akan digunakan untuk program edukasi literasi finansial ke puluhan anak-anak usia sekolah, Chubb Life Indonesia pada tahun 2026 ini memberi dukungan ke TBM Lentera Pustaka untuk menambah koleksi buku bacaan yang berkualitas dan aktivitas berantas buta aksara kaum ibu. Saat ini TBM Lentera Pustaka melayani lebih dari 150 anak usia sekolah sebagai pembaca aktif yang beroperasi 6 hari dalam seminggu dan didukung 12 wali baca dan relawan.

 

"TBM Lentera Pustaka sangat berterima kasih dan mengapresiasi dukungan CSR Chubb Life Indonesia di tahun 2026 ini, di samping edukasi literasi finansial yang sangat diperlukan. Agar anak-anak bisa lebih bijak mengelola uang daripada untuk jajan, di samping paham arti penting proteksi diri" ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka salam sambutannya.

 

Kegitan edukasi literasi keuangan Chubb Life Indonesia menjadi bukti pentingnya kolaborasi  dalam memperkuat pemahaman masyarakat akan pentingnya membangun kestabilan finansial dan menghindari risiko di masa depan, di samping aktif mengkampanyekan GENCARKAN (Gerakan Nasional Cerdas Keuangan). Salam literasi #ChubbLifeIndonesia #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka



Sabtu, 18 April 2026

3 Alasan Pekerja Gampang Kehilangan Arah di Usia 40-55 Tahun Jelang Pensiun

Ternyata, kerja bukan hanya urusan kantong. Bukan hanya soal uang yang cukup. Tapi soal psikologis dan gimana cara mempersiapkan masa pensiun.

 

Saat ngobrol bareng teman-teman pekerja yang usianya di kisaran 40–55 tahun (sudah di atas 15 tahun bekerja), banyak dari mereka yang merasa kehilangan arah. Sebab, selama ini fokus utamanya hanya bekerja dan memenuhi kebutuhan jangka pendek. Tidak punya prioritas, apa yang harus dilakukan dan disiapkan di luar urusan kerja.

 

Salah satu di antara teman pun bertanya. Kenapa sih gue jadi kehilangan arah justru saat lagi bekerja, padahalusia pensiun sebentar lagi datang? Dari diskusi bareng, akhirnya alasan yang jadi sebab pekerja gampang kehilangan arah di usia 40-55 tahun adalah:

1. Hidup si pekerja terlalu reaktif, hidupnya sudah kehilangan fokus. Setiap bangun pagi, template-nya buka HP alias scroll grup WA – akhirnya terseret ke dunia luar. Tanpa disadari, setiap hari fokusnya “fitur HP”, tidak pernah bertanya “gue mau ke ngapain hari ini?”

2. Si pekerja menyerap terlalu banyak kehidupan orang lain. Kerjanya cuma memantau hidup orang, mengecek pencapaian orang, dan timeline orang. Sampai lupa untuk menentykan timeline diri sendiri. Alur hidupnya tergantung atau menjiplak orang lain. Lupa sama ikhtiar dan pencapaian diri sendiri.  

3.  Hari-hari dijalani tanpa ada “essential list”. Semua hal dianggap penting, sampai-sampai kehilangan fokus. Lupa kalau semua hal dianggap penting, konsekuensinya tidak ada hal yang benar-benar penting. Akhirnya, kita kehabisan energi buat hal yang tidak memberi apa-apa ke masa depan. Cuma jalani rutinitas doang.

 

Bila begitu keadaannya, solusinya perlu “detox” diri sendiri. Ambil kendali hidup tahap demi tahap, sedikit demi sedikit. Gunakan HP cuma untuk alat komunikasi, bukan menyerap kehidupan orang lain. Bikin tujuan yang mau dicapai dalam 5 atau 10 tahun lagi secara nyata (bukan tujuan hidup karena abstrak dan tidak bisa diukur). Bebaskan distraksi akibat pakai HP yang berlebihan atau tidak penting. Dan kurangi konsumsi konten, tambah konsumsi diri sendiri. Tanya pada diri sendiri setiap malam: "Apa hal yang bikin gue lebih baik hari ini apa yang sudah gue siapkan untuk masa pensiun gue sendiri? Gimana caranya bisa tercapai?” Kalau kita bingung menjawab pertanyaan itu, terbukti selama ini kita hidup dari orang lain.

 


Usia sudah di 40-55 tahun, kerja sudah di atas 15 tahun. Kita sudah siap apa untuk berhenti bekerja? Biin “essential list”, simpan dan cek setiap hari sudah sampai mana pencapaiannya? Biar kita ingat arah hidup kita sendiri. Distraksi HP itu bahaya banget, bikin kita sibuk tapi kosong. Ingat, hidup kita tidak akan berubah karena insight dari orang lain. Yang bikin kita berubah itu Cuma “keputusan + eksekusi kecil yang diulang terus”. Sederhana kan?

 

Banyak pekerja usia 40–55 tahun merasa kehilangan arah karena selama puluhan tahun fokusnya hanya bekerja dan memenuhi kebutuhan jangka pendek. Tanpa membangun visi kehidupan setelah pensiun. Ketika masa pensiun terasa dekat, baru menyadari bahwa identitas diri selama ini melekat pada pekerjaan semata. Tanpa persiapan psikologis, tanpa budaya personal, bahkan tanpa perencanaan finansial yang matang. Akhirnya cemas dan khawatir, “Nanti mau jadi gimana?” atau “Seperti apa hidup gue setelah berhenti kerja?”. Terlalu banyak waktu terbuang percuma dan ngurusin hal-hak yang tidak penting. Lupa, kalau masa pensiun itu sama pentingnya dengan masa bekerja.

 

Pekerja di usia 40–55 tahun itu periode transisi. Kerja sudah lumayan lama tapi tekanan ekonomi juga tinggi, seperti tanggungan keluarga, biaya pendidikan anak, hingga kesehatan yang mulai menurun. Makanya harus fokus pada diri sendiri, bukan pergaulan apalagi menyerap kehidupan orang lain. Terdistrasi oleh HP atau medsos tanpa punya “essential list” yang konkret. Mau apa dan akan seperti apa?

 

Faktanya hari ini, 9 dari 10 pekerja tidak siap pensiun atau berhenti kerja. Dan 8 dari 10 pensiunan itu mengandalkan urusan finansial dari anggota keluarga yang bekerja. Akibat tidak mandiri secara finansial di hari tua. Terjebak pada lingkaran setan bernama “sandwich generation”. Akibatnya di usia 40-55 tahun, bukannya merasa siap memasuki fase baru kehidupan justru mengalami kebingungan arah, kehilangan rasa percaya diri, bahkan stres karena ketidakpastian finansial dan minimnya gambaran tentang tujuan hidup yang konkret setelah pensiun. Jadi, mau bagaimana dong? #YukSiapkanPensiun

 


Ngobrol Ringan Sesi Kuliah Menulis Kreatif di Depan Kelas

 

Tadi siang setelah sesi kuliah di Unindra, ngobrol ringan sambil becanda bareng mahasiswa. Dari mulai soal kreativitas, menulis cukstaw cerpen, prioritas dalam hidup hingga sampaikan pada tolok ukur sukses atau keberhasilan seseorang.

 

Ternyata, masyarakat kita lebih senang mengukur kesuksesan seseorang dari “urusan finansial”. Banyak uang dan besarnya angka nominal uang menjadi bukti suksesnya seseorang. Apa iya sukses cuma diukur dari uang?

 

Sama sekali tidak cukup, bila ukurannya cuma uang. Tentu, ada banyak indikator untuk sukses, Ada banyak hal yang bisa dilihat untuk tahu bagaimana dan seberapa kemampuan seseorang atau bahkan diri kita sendiri dalam mencapai sukses. Bukan hanya uang, justru orang sukses itu harus bisa dlihat dari:

 

1.  Mandiri. Sekarang ini ada banyak orang dianggap mampu dan cukup dalam secara finansial tapi dalam kehidupan sehari-hari masih sangat bergantung pada orang lain. Hidupnya tidak mandiri. Misalnya, sudah punya penghasilan sendiri tapi masih belum bisa mengatur waktu, belum bisa mengambil keputusan sendiri, atau bahkan masih mengandalkan orang lain untuk hal-hal kecil. Kok bisa begitu?

2. Tanggung Jawab. Sebagai salah satu tanda kedewasaan seseorang. Orang yang benar-benar “sukses” bukan hanya yang punya banyak uang atau prestasi tapi yang mau dan mampu menanggung konsekuensi dari pilihan hidupnya sendiri. Bertanggung jawab atas apa yang dipilihnya, apapun bentuknya.

3. Kesiapan Diri.  Banyak orang sukses yang punya uang tapi tidak punya kesiapan diri dalam menghadapi masalah-masalah kecil dalam hidupnya. Apalagi dikasih masalah besar. Terlalu enak di zona nyaman, akhirnya tidak siap bermasalah. Lupa kalau hidup itu isinya masalah, satu kelar maka masalah yang lain muncul lagi. Kesiapan diri bukan berarti hidup tanpa masalah, tapi bagaimana kita tidak kaget, tidak lari, dan tidak mudah menyerah saat masalah datang?



4. Kreatif. Soal sikap mental dan cara berpikir yang beda, selalu ada cara baru dalam melihat persoalan. Sukses dan banyak uang bila tidak kreatif hidupnya monoton, ya gitu-gitu saja. Orang kreatif itu cara pandangnya luas, bukan sempit. Selalu fokus pada solusi, bukan pada masalah.

5. Bermanfaat. Ini penting banget, orang sukses itu orientasinya menebar manfaat kepada yang lain. Buat apa sukses tapi tidak bermanfaat untuk orang lain? Surg aitu indah karena diisi bareng-bareng, kalau sendiri di surga, apa enaknya? Karena pada akhirnya, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

 

Di penghujung obrolan ringan di kelas, saya pun berpesan lebih baik jadi orang bermanfaat daripada sukses. Karena orang yang bermanfaat pasti sudah kelar dengan dirinya sendiri. Tapi orang sukses belum tentu kelar dengan dirinya sendiri. Sebab belum teruji, banyak orang sukses takut tidak kerja, cepat pusing, dan sering bermentalitas jadi “korban”. Punya masalah kecil saja sudah mengeluh setiap hari, seperti orang paling menderita sedunia.

   

Makanya, tolok ukur sukses itu bukan hanya finansial, Tapi tentang diri sendiri, apa sudah mandiri, tanggung jawa, siap di segala keadaan, kreatif, dan yang paling penting bermanfaat untuk orang lain. Dan akhirnya, kalau belajar tidak usah terlalu serius. Rileks saja, toh “takaran” kita sudah ada yang menetapkan akan seperti apa? Mahasiswa pun tertawa …



Jumat, 17 April 2026

Kreatif Itu Berani Tampil Beda

Di hadapan mahasiswa, pada sesi kuliah Menulis Kreatif, beranilah untuk menulis dengan cara yang beda. Karena menulis kreatif, intinya proses menuangkan ide-gagasan dengan cara yang beda. Apapun alasannya, tulisah harus lahir dari: pikiran yang beda, perilaku yang berbeda, batin yang beda atau karyanya yang berbeda. Asal mau menulis dan menulis.

 

Tidak cukup sampai di situ. Ketika kita menulis sesuatu dengan cara beda, maka akan terjadi pertentangan. Sudah pasti dan itu biasa. Sesuatu yang belum pernah banyak dilakukan atau yang berbeda akan selalu menimbulkan "pertentangan". Sangat wajar, bila kita punya: cara hidup - gaya hidup – cara pandang bahkan cara menulis yang berbeda berbeda dari orang banyak maka kita harus siap untuk tidak disukai, diremehkan, ditentang, bahkan dipertanyakan. Setuju kan?

 

Sebab orang yang memiliki cara hidup, gaya hidup, mindset atau cara menulis yang tidak mengikuti arus mayoritas, maka harus siap menghadapi berbagai respons negatif. Apapaun bentuknya, sebagai konsekuensi atas sikap kreatif. Bukan karena pilihan itu selalu salah, tetapi karena banyak orang menilai berdasarkan kebiasaan umum, bukan berdasarkan nilai atau tujuan yang lebih dalam. Orang yang berani berbeda sering dianggap menantang norma yang sudah mapan.

 

Kita sering lupa, kreativitas atau berbeda adalah letak kekuatan karakter seseorang. Menjalani hidup sesuai nilai yang diyakini memang membutuhkan keberanian dan keteguhan, bukan sekadar keinginan untuk tampil berbeda. Selama pilihan itu baik, bertanggung jawab, dan tidak merugikan orang lain, maka pertentangan tidak perlu menjadi alasan untuk mundur. Sebab sering kali, orang yang hari ini dipertanyakan adalah orang yang suatu saat justru menjadi contoh karena keberaniannya mempertahankan prinsip dan mau bersikap.

 

Lalu, bagaimana menghadapi respon negatif dari banyak orang atas kreativitas atau sikap berbeda yang kita lakukan? Tidak usah khawatir, cukup pahami beberapa prinsip berikut ini:

 

1. Ketika kita sudah yakin dengan "cara hidup" sendiri dan tidak melanggar norma agama dan negara maka pegang teguh saja. Sebab cara hidup yang beda memang membuat  banyak orang yang menentang.  

 

2. Tidak semua orang akan menentang kita. Di luar sana ada orang yang mengerti dengan apa yang kita lakukan. Maka jangan pernah merasa paling beda atau paling benar, cukup Jalani apa adanya.  

 

3. Ketika kita "berbeda", berarti kita berada di jalur yang tepat. Karena kebanyakan orang hanya mengikuti yang umum bahkan mereka tidak tahu alasan di balik itu. Sementara kita sudah dibukakan pintu kebenaran yang kita tidak takut lagi akan hidup dan jalan yang dipiih. Itulah konsekuensi yang harus diterima.  

 

4.   Pikiran atau cara pandang banyak orang senang dianggap tidak penting. Tapi kita berbeda, kita merasa penting untuk membuat hidup kita lebih berarti dan bermakna. Ingat, sebagian orang ternyata tidak tahu hidup untuk apa dan bagaimana hidup harus dijalani.



 

5.   Ketika kita terus berjalan dengan sikap dan pendirian kita maka kebenaran akan makin terbukti. Ternyata nantinya, beberapa orang akan terbuka, ingin tahu dan mau mengikuti cara kita untuk berbeda. Itu artinya, cara hidup kita sudah menginspirasi orang lain.  

 

6.   Teruslah menjadi orang yang kreatif dan mempunyai mental “pembelajar seumur hidup". Agar tetap berani tampil beda dalam hal yang baik, bersikap adil dan fleksibel ketika ada yang perlu diperbaiki pada diri kita sendiri. Jangan sok ingin memperbaiki orang lain.

7.   Berbeda untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat itu tidak banyak dilakukan orang. Maka teruslah berbeda di mana pun dan hingga kapan pun.

 

Ketahuilah, jadi orang yang berbeda pasti ada hambatannya. Setiap hal yang baru, berbeda, atau tidak biasa hampir selalu menimbulkan pertentangan. Sebab, manusia pada dasarnya cenderung nyaman dengan sesuatu yang sudah dikenal dan dianggap normal. Ketika ada seseorang yang memilih jalan hidup berbeda, baik dalam cara berpikir, gaya hidup, maupun prinsip hidup, hal itu sering dianggap aneh, mengganggu, atau bahkan mengancam kenyamanan orang lain. Karena itu, perbedaan sering kali memunculkan penolakan sebelum akhirnya dipahami.

 



Cukstaw Cerpen, Cerita Reflektif yang Memikat

Cerpen atau cerita pendek adalah salah satu jenis karya sastra. Tapi secara teoretik, cerpen ya begitu-begitu saja (bila tidak mau dibilang “kurang” mengalami banyak perkembangan). Sebagai bentuk prosa narasi yang bersifat fiktif, kini cerpen kian kehilangan pembacanya. Cerpen yang didefinisikan sebagai cerita tentang intisari kehidupan manusia (short story) yang memuat satu peristiwa pokok bisa dibilang “kalah bersaing” dengan konten digital cepat seperti: video pendek (TikTok, Reels), thread singkat atau konten visual. Harus diakui, saat ini cerpen sering kalah dari segi “daya tarik instan”.

 

Suka tidak suka, cerpen terlalu terikat pada tokoh, alur, tema, dan gaya bahasa semata. Sebagai karya sastra, cerpen harus dibangun oleh dua unsur yaitu: 1) unsur intrinsik yang terdiri dari: tema adalah ide pokok sebuah cerita, latar (setting), suasana cerita, dan alur (plot) sebagai susunan kejadian yang membentuk cerita dan 2) unsur ekstrinsik yang terdiri dari: nilai-nilai cerita (agama, budaya, politik, ekonomi), latar belakang pengarang, dan situasi sosial cerita. Dari ukuran fisik, cerpen harus dapat dibaca dalam waktu sekali duduk (Edgar Allan Poe dalam "The Philosophy of Composition”). Bahkan jumllah kata dalam cerpen berada di antara 1.000 – 20.000 kata.

 

Cerpen memang tetap relevan, namun memiliki beberapa kelemahan ketika berhadapan dengan pola konsumsi dan budaya di era modern. Selain kedalaman cerita yang terbatas, cerpen kurang mengantisipasi perilaku pembaca yang cenderung menurun. Ibaratnya, cerpen terasa “lebih berat” dibanding scroll cepat. Pasar cerpen dan pembacanya kian lama semakin sempit, ditambah lebih sulit dimonetisasi dibanding novel atau film. Bahkan penerbitan cerpen pun sering terbatas.

 

Berangkat dari realitas itulah hadir “Cukstaw Cerpen”, tentu bukan istilah baku dalam dunia sastra. Cukstaw cerpen mrupakan cerita pendek yang cara penceritaannya lebih singkat lagi dari cerpen biasa. Cukstaw berasal dari istilah bahasa gaul di jejaring sosial, singkatan dari “cukup tahu”. Cukstaw singkatan dari cukup tahu. Cukstaw = cukup tau aja, bersifat sekilas, tidak butuh waktu lama (lihat: http://kamusslang.com/arti/cukstaw). Jadi, Cukstaw Cerpen adalah cerita pendek sekilas yang lebih singkat dari cerpen, tidak butuh waktu lama untuk membacanya dan isi ceritanya memuat inspirasi yang motivatif-reflektif bagi pembaca. Ciri cukstaw cerpen adalah memikat, bisa menarik atau memancing.  Membaca Cukstaw Cerpen hanya butuh waktu 5-10 menit. Secara fisik, Cukstaw Cerpen dibangun dari 400-600 kata atau tidak lebih dari 5.000 karakter/huruf.

 

Beberapa contoh Cukstaw Cerpen dapat disimak sebagai berikut: (Cukstaw aja ya ....)

1.   Air Mata Surti - http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/04/27/air-mata-surti--550678.html

2.   Maafkan Mama Ya Nak - http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/04/20/maafkan-mama-ya-nak-kisah-pilu-ibu-pada-anaknya--548308.html

3.   Surti, Gadis Buta & Kekasihnya - http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/04/13/surti-gadis-buta-kekasihnya--545763.html

 

Di dalam cukstaw cerpen, ceritanya boleh tidak ada konflik namun tetap memikat. Tokohnya pun tidak harus bersedih atau bergembira, melainkan bersifat alami namun tetap memberi inspirasi yang bersifat motivatif – reflektif. Bisa jadi, cukstaw cerpen disajikan secara “kurang tajam” seperti obrolan biasa tapi tetap emosional.

 


Boleh saja, Cukstaw Cerpen digolongkan dalam genre fiksi kilat (flash fiction). Namun yang jelas, Cukstaw Cerpen “sedikit keluar” dari pakem cerita pendek pada umumnya. Beberapa ciri Cukstaw Cerpen antara lain:

1.   Cerita bersifat sekilas, singkat tidak lebih 10 menit

2.   Ceritanya relevan dengan realitas hidup

3.   Gaya bahasa bebas

4.   Memuat pesan moral yang eksplisit, motivatif-reflektif

5.   Ceritanya antara fiksi dan nonfiksi

 

Cukstaw cerpen bukan “lawan” dari cerpen. Tapi menjadi cerita yang komplementer dari cerpen yang saat ini makin “kehilangan” pembacanya. Setidaknya, cukstaw cerpen disajikan untuk memotivasi kalangan muda dan awam untuk menulis cerita secara singkat dan mengalami secara langsung berjibaku dengan imajinasinya sendiri. Cerita yang sekilas dan tidak butuh waktu lama. Cukstaw Cerpen tidak membutuhkan bagian perkenalan, pertikaian, dan penyelesaian seperti dianjurkan H.B. Jassin. Sebab cukstaw cerpen, fokusnya melatih siapapun untuk menulis cerita, baik fiksi maupun nonfiksi yang berdasar pada realitas kehidupan. Di tengah dinamika kehidupan yang makin digital, Cukstaw Cerpen dapat menjadi alternatif dalam bersastra. Tapi secara ilmiah, Cukstaw Cerpen tetap relevan dengan acuan pakar cerita pendek dunia, Edgar Allan Poe, yang tetap memenuhi ciri: 1) cerita harus pendek, 2) menciptakan efek tunggal dan unik, dan 3) ketat dan padat, 4) harus menimbulkan kesan yang tuntas.

 

Dan melalui cukstaw cerpen, siapapun dapat bercerita. Sebagai sarana melatih kreativitas dalam menulis, melatih cara berpikir yang beda. Cerita reflektif yang memikat itulah disebut cukstaw cerpen. Terkadang, ceritanya “nyeleneh” atau absurd pun dipersilakan. Cukstaw cerpen memang bukan genre resmi. Tapi bisa jadi alternatif anak-anak zaman now berkreasi melalui cerita. Salam cukstaw!

 

5 Mitos dan Fakta tentang Dana Pensiun di Kalangan Pekerja?

Harus diakui, rasio penetrasi dana pensiun sukarela (DPLK/DPPK) masih tergolong rendah di Indonesia. Dari 152 juta total pekerja (60% informal, 40% formal), hanya sekitar 3% yang berpartisipasi dalam dana pensiun sukarela. Saat ini peserta dana pensiun sukarela hanya 5,3 juta orang. Sementara sekitar 97% pekerja di Indonesia dilaporkan belum memiliki dana pensiun sukarela. Maka wajar, 84% pensiunan di Indonesia sangat tergantung secara finansial di hari tua kepada anggota keluarga yang bekerja. Akibat minimnya pekerja memiliki dana pensiun untuk kesinambungan penghasilan di hari tua.

 

Masih banyak pekerja yang belum mau memiliki dana pensiun. Bukan karena tidak punya uang tapi karena masih “terjebak” pada mitos dan cara pandang yang kurang tepat tentang dana pensiuan. Sebagai contoh, berikut ini ada 5 mitos dan fakta seputar dana pensiun yang sering ditemui di kalangan pekerja:

 

1. Mitos: Pensiun masih lama, nanti saja dipikirkan.

Fakta: Justru semakin dini memulai dana pensiun, maka semakin ringan beban yang harus ditanggung. Efek compounding membuat iuran kecil sejak muda untuk dana pensiun bisa berkembang jauh lebih besar dibandingkan bila terlambat memulai sekalipun dengan nominal besar.

 

2. Mitos: Saya masih punya anak, nanti mereka yang membantu di hari tua.

Fakta: Mengandalkan anak sebagai sumber keuangan di masa tua sangat berisiko. Kondisi ekonomi generasi berikutnya belum tentu stabil, dan tanpa dana pensiun, justru bisa menimbulkan beban finansial antar generasi. Saat ini banyak orang tua jadi beban finansial anaknya.

 

3. Mitos: Gaji saya kecil, tidak mungkin bisa menabung untuk dana pensiun.

Fakta: Besar kecilnya gaji bukan alasan utama, tetapi konsistensi iuran yang menentukan. Bahkan alokasi kecil yang rutin lebih efektif daripada menunggu “nanti kalau sudah cukup”. Untuk dana pensiun bilangnya gaji kecil tapi untuk gaya hidup dan perilaku konumtif malah jor-joran.

 

4. Mitos: Investasi biasa sudah cukup, tidak perlu dana pensiun.

Fakta: Dana pensiun dirancang khusus untuk tujuan jangka panjang di hari tua dan kesinambungan penghasilan di masa pensiun. Investasi biasa sering tidak memiliki disiplin dan cepat habis, sementara dana pensiun punya tujuan jelas untuk hari tua,

 

5. Mitos: Nanti pasti ada jaminan dari pemerintah atau perusahaan.

Fakta: Program jaminan pensiun atau JHT BPJS pada umumnya tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup di hari tua. Dana tersebut lebih bersifat dasar, hanya 10% dari tingkat penghasilan pensiun. Maka sisanya, harus dicapai dengan cara menabung untuk pensiun. Pemerintah dan perusahaan tidak bisa diandalkan untuk sumber penghasilan di masa tua.

 

Intinya, banyak pekerja menunda dana pensiun karena merasa belum perlu, padahal realitanya dana pensiun adalah tanggung jawab pribadi yang perlu disiapkan sejak dini. Tanpa persiapan, masa pensiun bukan menjadi masa tenang, tetapi justru bisa menjadi fase paling rentan secara finansial. Stres di hari tua karena tidak punya kemandirian finansial. #YukSiapkanPensiun

 

Bottom of Form

 



Jangan Terlalu Sibuk Merendahkan Langkah Orang Lain

Ini sebuah pesan literasi. Jangan terlalu sibuk merendahkan langkah orang lain, sementara jejak kita sendiri masih penuh lumpur. Apalagi sampai mengukur harga diri seseorang, seolah derajat manusia ditentukan oleh lidah kita. Bahkan bila orang lain pun salah, kita belum tentu benar pula.

  

Ketahuilah, manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya. Dan manusia yang paling banyak memiliki kelebihan, adalah mereka yang sama sekali tidak memamerkan kelebihannya. Tetaplah merendah hati seperti ilmu padi. Lebih baik ikhtiar untuk terus memperbaiki diri, sambil tetap berbuat baik dan menebar manfaat seperti berkiprah di taman bacaan masyarakat. Mengabdi secara sosial tanpa pamrih sepenuh hati, dilihat atau tidak dilihat orang lain.

 

Surga itu sangat luas, namun seringkali prasangka manusialah yang sempit. Kadang, yang sempit itu bukan jalan menuju surga, melainkan cara kita melihat orang lain, sehingga dengan mudahnya kita memberikan cap atau stempel buruk pada orang lain. Maka jangan terlalu sibuk merendahkan orang lain, apalagi meremehkannya.

 


Jika hari ini kita belum punya materi untuk diberikan, cukup bersedekah dengan tutur kata yang baik, senyum yang tulus, sikap yang baik, dan perlakukan sesama dengan akhlak yang mulia. Bila belum mampu berbuat baik secara fisik, maka cukup diam saja karena itu jalan yang paling mudah.

 

Bahkan bila hidup terasa terlalu gaduh dan berisik, menyingkirlah sambil membaca buku. Asal baik dan bermanfaat, kerjakanlah. Mari saling mengingatkan dalam kebaikan, bukan sebaliknya. Salam literasi!



Kamis, 16 April 2026

Kerja Loyal Sama Perusahaan, Ujungnya Nggak Punya Dana Pensiun

Ini pelajaran penting untuk pekerja. Kemarin sempat ngobrol sama seorang Bapak yang sudah bekerja lebih dari 25 tahun. Bukan hanya berpengalaman tapi sudah “makan asam garam” dalam pekerjaannya. Awalnya sih basa-basi doang. Tapi ujungnya, si Bapak bercerita dengan penuh semangat lagi berapi-api. Alhamdulillah, saya malah dapat nasihat yang bikin berpikir keras tentang dunia kerja.

 

Bapak itu bukan CEO, bukan direktur. Bukan tergolong pimpinan di kantornya. Dia cuma staf biasa di sebuah perusahaan manufaktur. Tapi pengalamannya, apalagi soal realitas dunia kerja tergolong luar biasa. Terkadang bikin tercengang. 

 

Dulu kita sering dengar di dunia kerja. Tentang hebatnya bekerja atas dasar "passion". Pentingnya kerja keras, bahkan dimotivasi saat training tentang kerennya pekerja yang punya inovasi dan kreatif. Berhari-hari training tentang gimana cara berkontribusi lebih hebat kepada perusahaan. Tapi di tahun 2026 ini, semua sesi motivasi berantakan. AI sudah lebih pintar. Perusahaan lebih bercaya AI daripada keluarin baudget untuk tingkatkan kualitas SDM-nya. Masalahnya, bukan di karyawan tapi di sistem-nya. Sistem dunia kerja sudah berubah.

  

Nah menariknya, Bapak itu bilang begini: "Kamu tahu nggak, setelah 25 tahun bekerja, gue baru sadar satu hal: “loyalitas di perusahaan itu bohong". Dia lanjut cerita, dulu dia pernah menolak tawaran kerja di perusahaan lain karena merasa "berhutang budi" sama perusahaan yang sudah menerima dia bekerja untuk pertama kalinya. Tapi faktanya, si Bapak itu setiap tahun dia cuma dapat kenaikan gaji 3-5%, rata-rata di bawah inflasi. Sementara teman-temannya yang pindah kerja setiap 3 sampai 5 tahun, bisa dapat kenaikan gaji 20-30% setiap kali pindah. Angka memang nggak bisa bohong!, katanya.

 

"Makanya gue nyesel, Nak," katanya lagi. "Gue buang waktu dan potensi gue demi sesuatu yang nggak pernah ada: loyalitas perusahaan." Ternyata, perusahaan itu nggak loyal sama karyawan. Perusahaan hanya loyal sama profit. Kalau karyawan nggak menguntungkan, maka si karyawan bakal diganti. Sesederhana itulah prinsip perusahaan.

 

Si Bapak cerita lagi. Ada temennya yang sudah kerja 20 tahun di perusahaan yang sama. Pas perusahaan lagi butuh "efisiensi", temannya itu langsung kena PHK tanpa pesangon yang layak. Alasannya? "Karena gaji dan biayanya sudah terlalu mahal."  Terlalu lama bekerja, beban perusahaan maikin besar.

 

Simpel kata, pesan dari si Bapak itu jelas. Jangan terlalu percaya sama perusahaan. Anggap saja tempat kerja itu kayak halte bus. Kita bisa naik, bisa turun kapan pun. Nggak ada yang abadi. Maka selagi masih pekerja, fokus sama diri sendiri saja. Tetap upgrade skill, bangun relasi, dan cari peluang yang lebih baik.  

 




Di tahun 2026 begini ini, skill yang relevan itu kayak aset digital. Semakin kita punya banyak skill, semakin tinggi nilai pakai kita di pasar kerja. Dan tidak kalah penting, jangan hanya mengandakan satu skill. Kuasai beberapa skill yang saling melengkapi. Si Bapak itu mencontohkan, dia sekarang lagi belajar data analysis. Padahal umurnya sudah 56 tahun lebih. Apa alasannya? "Gue nggak mau jadi dinosaurus yang punah karena nggak bisa adaptasi." Keren banget nasihat si Bapak ya.  

 

Gara-gara ngobrol sama si Bapak. Saya jadi ingat sama cerita teman yang kerja di startup beberapa tahun lalu. Dia kerja keras banget, lembur tiap hari, sampai akhirnya burnout. Capek sendiri sama kerjaannya. Pas dia minta naik gaji, bosnya malah bilang: "Kamu harus lebih loyal sama perusahaan."

  

 

Intinya, di dunia kerja yang serba nggak pasti ini, satu-satunya orang yang bisa kita andalkan adalah diri kita sendiri. Jangan buang waktu dan energi untuk sesuatu yang semu. Kita disuruh loyak sama petrusahaan. Tapi sebaliknya, perusahaan nggak loyal sama karyawannya. Karenanya, lebih baik fokus sama pengembangan diri, bangun personal branding, dan jangan takut untuk pindah kalau ada kesempatan yang lebih baik.  

 

Ngobrol bareng si Bapak itu luar biasa. Dapat nasihat yang kahirnya membuka mata banyak pekerja. Selama ini kita terlalu fokus sama "apa kata orang", "aturan perusahaan", atau "budaya kerja". Loyalitas, passion, kerja keras, hingga inovasi tapi akhirnya saat perusahaan sudah tidak perlu, gampang banget dibuang. Di situlah, sebagai pekerja yang penting fokus pada “nilai diri sendiri”.

 

Dan si Bapak pun menutup obrolan. “Tahu nggak, biarpun gue sudah bekerja lebih dari 25 tahun ternyata perusahaan nggak sediakan dana pensiun”. Jadi, gue nggak tahu akan seperti apa saat pensiun nanti? #YukSiapkanPensiun 

Literasi Pensiunan: Jaya Lagi Bekerja, Merana Saat Pensiun

Pak Darto adalah seorang pekerja kantoran yang telah menghabiskan lebih dari 25 tahun hidupnya untuk bekerja tanpa henti. Setiap bulan ia menerima gaji yang cukup, bahkan sesekali mendapat bonus. Namun, seperti banyak orang lainnya, ia selalu merasa waktu pensiun masih sangat jauh. Baginya, yang penting adalah memenuhi kebutuhan saat ini: membayar cicilan, menikmati liburan, dan sesekali membeli barang yang diinginkan. Soal hari tua, ia sering berkata dalam hati, “Nanti saja dipikirkan.”

 

Seiring waktu berjalan, usia Pak Darto tidak lagi muda. Rambutnya mulai memutih, tenaga tidak lagi sekuat dulu, dan perusahaan tempatnya bekerja mulai membicarakan restrukturisasi. Saat itu, barulah Pak Darto mulai merasa cemas. Ia mencoba melihat kembali kondisi keuangannya, berharap ada simpanan yang bisa diandalkan. Namun yang ia temukan hanyalah tabungan yang tidak seberapa dan aset yang sulit dicairkan dalam waktu cepat.

 

Ketika hari pensiun itu benar-benar datang, Pak Darto merasakannya seperti pintu yang tertutup tanpa jalan kembali. Tidak ada lagi gaji bulanan yang rutin masuk ke rekeningnya. Tidak ada lagi tunjangan atau bonus yang dulu ia nikmati. Sementara itu, kebutuhan hidup tetap berjalan. Makan, listrik, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya tidak ikut berhenti hanya karena ia sudah pensiun.

 

Hari-hari awal pensiun yang seharusnya tenang justru berubah menjadi penuh kegelisahan. Pak Darto mulai mengurangi pengeluaran, bahkan untuk hal-hal yang dulu dianggap kebutuhan dasar. Ia merasa berat untuk sekadar pergi ke dokter, padahal kesehatannya mulai menurun. Setiap keputusan keuangan kini terasa seperti beban yang harus dipikirkan berulang kali.

 


Dalam keheningan malam, Pak Darto sering merenung. Ia menyesali keputusan-keputusan masa lalu ketika ia lebih memilih kenyamanan sesaat dibandingkan menyiapkan masa depan. Ia teringat betapa mudahnya ia mengabaikan saran untuk mengikuti program dana pensiun atau menabung secara rutin. Kini, semua itu terasa seperti kesempatan yang telah hilang.

 

Lebih menyakitkan lagi, Pak Darto mulai merasa menjadi beban bagi keluarganya. Anak-anaknya yang seharusnya fokus membangun kehidupan mereka sendiri kini harus membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia merasa kehilangan kemandirian secara finansial, sesuatu yang dulu sangat ia banggakan saat masih bekerja. Perasaan tidak berdaya itu perlahan menggerogoti kepercayaan dirinya. Pak Darto, memang jaya saat bekerja tapi kini merana di masa pensiun.

 

Kisah Pak Darto menjadi gambaran nyata bahwa masa pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi juga tentang bagaimana seseorang tetap mampu hidup dengan layak tanpa penghasilan aktif. Tanpa persiapan yang matang, masa tua bisa berubah menjadi masa yang penuh ketidakpastian. Apa yang dulu terasa jauh, pada akhirnya datang juga dan hanya mereka yang siap untuk pensiun yang mampu menjalaninya dengan tenang. #YukSiapkanPensiun

 

 

Catatan Literasi: Tidak Perlu Dicari Tahu yang Tidak Sampai, Tidak Perlu Dipercaya yang Dari Mulut Orang Lain

Ada ajaran sederhana. Tentang “Yang tidak sampai ke kita, tidak perlu dicari tahu. Yang sampai dari mulut orang lain, tidak perlu dipercaya. Dan yang sampai langsung dari orangnya, cukup dimaafkan”.

 

Ajaran itu mengajarkan kebijaksanaan dalam menyikapi informasi, konflik, dan hubungan antar manusia. Bagian pertama, “yang tidak sampai ke kita, tidak perlu dicari tahu”, mengingatkan bahwa tidak semua hal harus diketahui. Rasa ingin tahu yang berlebihan justru sering membawa kita pada keresahan, prasangka, atau bahkan konflik yang sebenarnya tidak perlu. Ada banyak hal di luar kendali kita, dan memilih untuk tidak mencari tahu adalah bentuk kedewasaan dalam menjaga ketenangan batin.

 

Bagian kedua, “yang sampai dari mulut orang lain, tidak perlu dipercaya”, menekankan pentingnya sikap kritis terhadap informasi. Apa yang kita dengar dari orang lain belum tentu benar, bisa saja sudah ditambah, dikurangi, atau dipengaruhi sudut pandang pribadi. Jika kita langsung percaya, kita berisiko salah paham dan memperkeruh keadaan. Oleh karena itu, kalimat ini mengajak kita untuk tidak mudah terprovokasi oleh gosip atau cerita sepihak.

 

Selanjutnya, “dan yang sampai langsung dari orangnya, cukup dimaafkan”, mengandung pesan yang sangat dalam tentang empati dan pengendalian diri. Ketika seseorang secara langsung menyampaikan sesuatu yang mungkin menyakitkan atau mengecewakan, respons terbaik bukanlah membalas, melainkan memaafkan. Ini bukan berarti kita lemah, tetapi justru menunjukkan kekuatan hati dalam menjaga hubungan dan kedamaian diri.

 


Begitulah cara hidup yang tenang dan bijak: tidak sibuk mencari tahu hal yang tidak penting, tidak mudah percaya pada informasi yang belum tentu benar, dan tidak larut dalam emosi ketika menghadapi konflik langsung. Ini adalah bentuk pengendalian diri yang tinggi, yang membantu kita terhindar dari drama sosial yang melelahkan.

 

Ketahuilah, kedamaian hidup sering kali bukan tentang mengetahui segalanya atau memenangkan setiap konflik, melainkan tentang memilih apa yang perlu diperhatikan, apa yang perlu diabaikan, dan kapan harus memaafkan. Dengan prinsip ini, seseorang bisa menjalani hidup dengan lebih ringan, jernih, dan penuh kebijaksanaan.

 

Coba deh dipraktikkan, dan rasakan bedanya. Lebih baik membaca buku daripada banyak omong. Salam literasi!