Senin, 09 Februari 2026

Abang Ojol Ngetem di Pedestrian, Lagi Menguatkan Diri Cari Cuan di Jalan

Pernah lihat nggak, abang-abang ojol lagi istirahat alias ngaso di trotoar? Apalagi di siang yang terik matahari, banyak abang ojol lagi ngobrol sambil menikmati secangkir kopi dari pedagang kopi starling. Ngaso di trotoar, kenapa ya kira-kira abang ojol begitu?

 

Tentu, bukan karena abang ojol nggak punya rumah. Bukan pula karena nggak ada orderan. Tapi karena di trotoar itu mereka bisa berhenti sebentar. Tanpa harus menjelaskan apa pun, kepada siapa pun.  Di trotoar, abang ojol lebih rileks dan menjauh dari penatnya mengais rezeki.

 

Abang ojol, begitulah hidupnya. Di jalan, mereka dikejar target. Di aplikasi, dikejar rating. Di konsumen, harus antar kemana pun. Bahkan di rumah, tetap dituntut kuat tapi harus penuhi segala kebutuhan rumah.

 

Beban hidup abang ojol berat. Lebih berat dari pekerja kantoran. Setiap hari haru keluar rumah, bukan cuma tanggung jawab tapi untuk menafkahi keluarganya. Capek ditahan, kecewa ditelan. Terus, harus mengeluh ke mana? Cuan kan harus dicari, bukan diadukan ke pemerintah.

 


Ngaso di trotoar, istirahat di pinggir jalan. Ngetem di pedestrian. Memang nggak bagus bahkan nggak boleh. Tapi di trotoar itulah abang ojol cuma duduk. Ngaso sambil menikmati kopi sachet buatan pedagang jalanan. Sambil narik napas panjang. Lega lega dan lega buat abang ojol.

 

Di atas trotoar, Abang ojol ngaso sebentar. Kadang, bengong dan ngobrol sebentar. Kumpulin tenaga untuk narik lagi, untuk layani dan antar penumpang lagi.

 

Abang ojol nggak perlu cerita. Nggak perlu terlihat hebat. Nggak perlu menjelaskan kenapa hari ini berat? Abang ojol hanya tahu berjuang dan bertahan di segala keadaan.

 

Laki-laki termasuk abang ojol, nggak perlu gaya hidup nggak butuh liburan mahal. Mereka hanya butuh jeda kecil, rileks yang murah, tenang, dan nggak banyak prasangka. Cukup dengan Rp4000 kopi sachet dan meneguknya. Tapi rasanya seperti istirahat dari dunia sebentar.

 

Jadi kalau kita lihat abang ojol duduk lama di trotoar, bareng sama teman-temannya. Mereka bukan malas, bukan pula ngga punya etos. Tapi mereka sedang menguatkan diri sebelum kembali ke jalan.

 

Karena hidup memang harus terus jalan. Cuan memang harus dicari (karena nggak ada yang ngasih). Tapi hati juga kan perlu “parkir” sebentar.

 

Ngaso di trotoar, nongkrong sambil ngopi buat Abang ojol. Sungguh jadi saksi cucuran keringat seorang pejuang jalanan. Salam literasi!

 

Orang Baca Itu Tidak Perlu Pengakuan

 

Orang baca itu tidak perlu sibuk membuktikan diri. Baca bukan karena ingin dipuji, diakui, dan disukai. Ketika membaca, tidak terlalu penting orang lain menilai kita baik. Justru membaca untuk menyadarkan diri sendiri. Bahwa ketenangan justru datang saat kita tidak lagi sibuk meyakinkan siapa pun, bahkan dunia.

 

Membaca memang untuk diri sendiri. Kata Nathaniel Branden dalam “The Six Pillars of Self-Esteem”, percaya diri dan penghargaan bukan sesuatu yang diberikan orang lain, tapi dibangun dari dalam diri sendiri. Lewat kesadaran, tanggung jawab, dan kejujuran pada diri. Karenanya, orang yang hidup autentik tidak perlu mencari validasi. Seperti orang yang membaca tidak perlu pengakuan, karena siapapun yang membaca sejatinya sudah mampu berdamai dengan dirinya sendiri.

 

Sekali lagi, membaca tidak butuh validasi orang lain. Tentang berapa banyak buku yang dibaca, tentang paham atau tidak atas bacaannya. Baca itu proses dan kebiasaan. Karenanya sama sekali tidak perlu membuktikan diri. Jutsru membaca untuk tahu siapa diri kita? Agar tidak mudah digoyang opini orang. Membaca untuk mengenal diri dengan jujur, tahu kelebihan dan kekurangan serta menghidupkan nilai-nilai yang dipegang. Ucapan orang lain tidak lagi menentukan arah hidup kita. Orang bisa menilai, tapi mereka tidak tahu seluruh kisah kita.

 

Apalagi membaca karena cinta, sudah jadi kebiasaan. Bukan karena ingin dilihat orang tapi karena motivasinya murni. Membaca bukan untuk mengejar pujian. Tapi siklus kehidupan yang tetap dijalani, mumpung dekat dengan buku dan tempat membaca seperti taman bacaan. Baca untuk memperbaiki diri dan bertumbuh, bukan untuk dianggap pintar apalagi hebat. Orang yang membaca dalam diam  tapi punya makna tanpa banyak bicara. Membaca bukan untuk mencari sorotan, tapi ketenangan batin yang tidak bisa diberikan dari tempat lain..

 


Orang baca itu tahu dan sadar. Bahwa tidak semua orang akan suka padanya. Menerima perbedaan bahkan silang pandangan. Karena membaca tanda kematangan emosional. Orang baca itu tidak berharap semua orang paham, setuju, atau menyukai dirinya. Sebab, orang baca tahu bahwa pandangan orang sering dipengaruhi pengalaman dan lukanya sendiri. Jadi, orang baca ketika ada yang menghakimi tidak merasa tersinggung. Cukup tersenyum dan melanjutkan bacaannya halaman demi halaman. Dan akhirnya, orang baca itu sampai pada rasa nyaman jadi diri sendiri tanpa perlu topeng. Sadar, membaca adalah saran untuk menjadi diri sendiri, apa adanya, dan tetap berusaha tumbuh. Baca bukan untuk bermain peran atau drama. Tidak perlu terlihat bahagia atau berpura-pura kuat.

 

Hari ini banyak orang mencari validasi dari orang lain. Merasa butuh pengakuan dari orang lain, mencari pembenaran dari luar. Semua niat dan ikhtiar hanya untuk dipuji atau mendapat validasi orang lain. Iya boleh-boleh saja.  Asal jangan lupa,, justru pengakuan terbaik ada pada diri sendiri, sebuah percaya diri yang datang dari dalam. Untuk selalu tumbuh, melakukan yang terbaik, dan hidup dengan niat yang bersih. Di situlah, membaca diperlukan dan sudah cukup bila masih mau membaca. Salam literasi!

 


Minggu, 08 Februari 2026

Gimana Kondisi Finansial Pensiunan Setelah Tidak Punya Gaji Lagi?

Hampir separuh pensiunan atau lansia di Indonesia hidup di rumah tangga miskin–rentan miskin. Laporan BPS (2024) menyebut 42% pensiunan atau lansia berada pada rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 40% terbawah. Sisanya 38% pensiunan hidup di rumah tangga dengan pengeluaran 40% menengah dan 20% pensiunan pada rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 20% teratas. Artinya, sebagian besar pensiunan atau lansia Indonesia hidup di rumah tangga berpengeluaran rendah, dan hanya sedikit yang berada di kelompok ekonomi atas.

 

Sebanyak 42% pensiunan ada di pengeluaran 40% terbawah. Itu berarti, hampir separuh pensiunan hidup di rumah tangga miskin–rentan miskin. Kelompok rumah tangga dengan pengeluaran paling kecil secara nasional. Indikasi kuatnya adalah banyak pensiunan tidak punya cadangan ekonomi sendiri, bergantung pada keluarga, dan rentan kemiskinan di usia tua. Sementara 38% pensiun berada di pengeluaran 40% menengah. Artinya, sepertiga pensiun hidup “cukup” tapi masih rentan mengalami masalah keuangan. Tidak miskin tapi sangat sensitif terhadap guncangan ekonomi (sakit, tidak dikirim uang oleh anak, inflasi). Sebuah kondisi hari tua yang mudah jatuh ke kemiskinan.

 

Hanya 20% pensiunan berada di pengeluaran 20% teratas. Artinya cuma 1 dari 5 pensiunan yang hidup relatif mapan secara finansial. Kelompok ini biasanya punya program pensiun sukarela seperti DPLK, punya aset dan tabungan atau atau punya usaha di hari tua. Kesimpulannya sederhana, sekitar 80% pensiunan atau lansia di Indonesia hidup dalam keadaan miskin atau menengah ke bawah. Mayoritas berada di kelompok bawah dan menengah bawah.

 


Kondisi ini menegaskan bahwa pensiunan atau lansia di Indonesia sama sekali tidak mandiri secara finansial di hari tua. Biaya hidupnya bergantung pada keluarga atau anak-anaknya. Sebanyak 84% pensiunan atau lansia menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota rumah tangga yang bekerja, 11% bergantung pada kiriman dari anak, 5% dari uang pensiunnya sendiri, dan hanya 0,28% yang bergantung pada investasi yang dimiliki. Ini artinya, 8 dari 10 pensiunan bergantung secara finansial kepada anggota keluarganya yang bekerja (BPS, 2024).

 

Terbukti, sistem pensiun belum menjangkau mayoritas penduduk, khususnya sektor individual dan pekerja informal. Pensiunan atau lansia masih sangat bergantung secara finansial pada anak atau keluarganya sehingga risiko kemiskinan di usia tua sangat besar. Dana pensiun baru dimiliki oleh minoritas masyarakat. Sebuah kondisi yang menegaskann rendahnya perlindungan hari tua dan masih tingginya ketergantungan pensiunan pada dukungan keluarga.

 

Karena itu, dana pensiun sukarela seperti DPLK (Dana Pensiunn Lembaga Keuangan) menjadi penting untuk terus disosialisasikan ke masyarakat. Butuh edukasi yang masif dan kemudahan akses agar masyarakat bisa memiliki dana pensiun. Yuk Siapkan Pensiun!




Membaca sebagai Jalan Ketenangan dan Cinta

Mungkin terlalu klise untuk menyatakan “Membaca buku untuk kejernihan batin dan menemukan makna hidup yang sejati”. Tapi memang, sebagian orang membaca bukan untuk pintar secara akademik. Sebab membaca baginya sebagai proses batiniah.

 

Membaca untuk menjernihkan batin. Agar pikiran tidak terlalu gaduh, emosi lebih tertata, dan  mampu melihat hidup dengan lebih tenang. Saat membaca buku, apapun jenisnya seperti cerita rakyat, sastra, sains, refleksi hidup, atau biografi. Siapapun akan berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Masuk ke ruang sunyi pikiran dan belajar memahami perasaan sendiri lewat pengalaman orang lain. Bukti bahwa buku menjadi cermin untuk melihat diri sendiri di dalamnya. Bukan sekadar tahu banyak hal tapi “tahu apa yang sedang kita rasakan dan butuhkan”.

Terkadang, membaca juga untuk menemukan makna hidup. Sebab makna hidup tidak datang dari jawaban instan. Ia tumbuh dari perenungan, perbandingan pengalaman, dan ialog batin. Buku bisa menghadirkan penderitaan orang lain, perjuangan tokoh, pilihan moral, bahkan cerita kegagalan dan harapan. Maka sering saat membaca, kita bertanya: “Apa yang penting dalam hidup kita?” atau “Untuk apa kita berjalan sejauh ini?”. Jadi, buku tidak memberi makna secara langsung. Tapi membantu kita menemukannya sendiri.

 

Di zaman modern, membaca buku kian penting. Karena hidup modern terlalu cepat, dangkal, penuh distraksi dan terkadang instan. Media sosial melatih kita untuk “bereaksi cepat tanpa berpikir” hingga lupa merenung. Sedangkan membaca melatih kita untuk diam, menyelami, dan memahami. Maka, membaca jadi bentuk perlawanan halus terhadap kehidupan yang serba tergesa-gesa.

 




Jalaludin Rumi pernah menyebut pentingnya melepaskan, menjernihkan batin, dan menemukan makna hidup yang sejati. Tentang pentingnya “Saat kita melepaskan semua yang tidak penting”. Mengajak manusia untuk berani menanggalkan hal-hal yang sering menyita energi batin: ambisi berlebihan, pengakuan semu, gengsi, dendam, perbandingan, dan keterikatan pada hal-hal yang fana. Sebab banyak kegelisahan hidup bukan berasal dari kekurangan, tetapi dari kelebihan beban yang kita pikul tanpa perlu.

 

Ketika membaca, siapapun akan mampu menemukan apa yang benar-benar penting. Ruang batin dibersihkan, pikiran dijernihkan sehingga yang tersisa justru nilai-nilai hakiki berupa ketenangan dan kejujuran pada diri sendiri. Hubungan yang tulus, cinta yang bersih, serta kedekatan dengan Tuhan. Hal-hal inilah yang sering tertutup oleh hiruk-pikuk keinginan dan tuntutan dunia. Apa yang dilepaskan mungkin terasa berharga di mata dunia. Tapi sering kali jadi penghalang bagi ketenangan dan kedamaian. Dengan melepaskan, kita tidak menjadi miskin, melainkan menjadi ringan dan lebih merdeka.

 

Membaca, sering kali mengembalikan hati tidak lagi terikat pada yang sementara. Membaca sangat mampu menyeleksi pikiran. Agar siapapun mau berhenti menggenggam terlalu banyak hal. Tapi cukup dengan menyadari apa yang pantas dijaga dan diperjuangkan. Siapapun yang membaca, berarti berani memilah: apa yang sekadar ramai dan apa yang benar-benar bermakna? Karena dengan melepaskan yang tidak penting, hati akan memiliki ruang untuk menerima yang paling penting: ketenangan, cinta, dan kebenaran.

 

Membaca buku bukan sekadar menambah pengetahuan. Tapi jalan untuk menenangkan batin, memahami diri, dan perlahan menemukan apa yang benar-benar bermakna dalam hidup. Salam literasi!




Sabtu, 07 Februari 2026

Hanya 5% Pensiunan Hidup Ditopang Uang Pensiun, 84% Bergantung dari Anggota Keluarga yang Bekerja

 Faktanya hari ini, pensiunan atau lansia di Indonesia sama sekali tidak mandiri secara finansial. Biaya hidupnya bergantung pada keluarga atau anak-anaknya. Laporan Badan Pusat Statistik (2024), sebanyak 83,74% pensiunan atau lansia menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota rumah tangga yang bekerja. Sedangkan 10,97% bergantung pada kiriman dari anak atau pihak lain, 5,01% dari uang pensiunnya sendiri, dan hanya 0,28 yang bergantung pada investasi yang dimiliki. Ini artinya, 8 dari 10 pensiunan bergantung secara finansial kepada anggota keluarganya yang bekerja. Sementara pensiunan yang hidup di hari tua dari uang pensiun tidak sampai 1 orang.

 

Menarik dicermati dari laporan BPS ini, ada pensiunan atau lansia yang menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota rumah tangga yang bekerja dan ada pula yang bergantung pada kiriman dari anak atau pihak lain. Bergantung secara finansial pada anggota keluarga yang bekerja, berarti kebutuhan hidup utama (makan, tempat tinggal, kesehatan) ditanggung anggota keluarga akibat si pensiunan tidak lagi punya penghasilan. Tinggal serumah dengan anak, dibiayai langsung tiap hari atau atau diberi uang rutin. Kondisi ini menunjukkan si pensiunan bergantung ekonomi secara total. Sedangkan pensiunan yang menunggu kiriman uang dari anak atau pihak lain, berarti si pensiunan menerima transfer uang dari anak/keluarga secara bulanan. Tetap tergantung secara finansial tapi tidak total.

 

Mayoritas pensiunan di Indonesia tidak memiliki dana pensiun mandiri yang cukup, sehingga hidup hari tuanya menjadi tanggungan anak atau keluarganya serumah. Minimnya persiapan masa tua di saat masih bekerja menjadi penyebab utama. Selain literasi keuangan yang rendah, banyak pekerja tidak memiliki program pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Tidak punya tabungan pensiun, sehingga tidak tersedia uang yang cukup untuk hari tua.

 


Data dari Asian Development Bank (Mei 2024)  menyebut 50% penduduk lanjut usia (60+ tahun) atau pensiunan mengandalkan transferan uang dari anaknya. Artinya, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia benar-benar mengandalkan transferan anak untuk memenuhi biaya hidupnya setiap bulan. Konsekuensinya, generasi sandwich makin sulit diputus. Karena anak yang bekerja harus menanggung biaya hidup orang tua sekaligus pasangan dan anak-anaknya.

 

Hanya 5% pensiunan hidupnya ditopang dari uang pensiun. Agak miris, karena sebagian besar pensiunan di Indonesia tidak siap secara finansial. Akibat tidak memiliki perencanaan keuangan yang jelas untuk masa pensiun. Karena itu, edukasi dan kesadaran akan pentingnya mempersiapkan masa pensiun jadi penting disuarakan. Agar kerja yes, pensiun oke!




Jumat, 06 Februari 2026

Anak SD dan Akses Baca

Kisah pilu menyelimuti langit Ngada NTT, ketika seorang anak SD kelas IV gantung diri akibat tidak bisa membeli buku dan pena. Sesederhana itukah? Bisa jadi iya, karena mungkin si anak juga tidak ada tempat aktualisasi diri. Ke mana harus bisa lebih dekat dengan buku? Selain persoalann kemiskinan yang ekstrem dan hilangnya kepedulian pemerintah daerah terhadap warganya.

 

Terkadang, bahagianya anak-anak tidak selalu soal uang. Tapi tersedianya akses bacaan, ada tempat untuk bersosialisasi dan membaca buku. Kebahagiaan dan masa depan anak nggak cuma ditentukan oleh uang. Tapi oleh kesempatan mereka untuk belajar dan membayangkan dunia, buku-buku bacaan adalah pintu masuknya. Bacaan membuka dunia, bukan cuma dompet. Anak yang punya akses buku bisa “pergi” ke mana-mana: ke masa depan, ke masa lalu, ke kehidupan orang lain. Imajinasi, empati, dan rasa ingin tahunya tumbuh. Itu bikin mereka merasa kaya pengalaman, meski secara materi sederhana bahkan miskin.

 

Akses bacaan, suka tidak suka adalah soal “keadilan kesempatan”. Tidak semua anak lahir di keluarga berduit. Tapi semua anak berhak punya kesempatan berkembang. Perpustakaan, taman bacaan, pojok baca di mana pun bisa jadi jembatan agar anak dari latar belakang mana pun bisa bermimpi setinggi yang sama. Bisa terhibur di kala sedih, bisa punya alternatif ketika tidak bisa beli buku atau pena. Maaf ya, daripada kasih makan kenyang anak-anak sekolah lewat MBG, lebih baik sediakan lebih banyak tempat-tempat anak bersosialisasi dan membaca. Di samping menggratiskan sekolah dan bebaskan biaya apapun anak-anak yang secara ekonomi tidak mampu.

 

Anak bisa diperkuat secara mental dan emosional lewat membaca, melalui buku-buku bacaan. Momen anak dibacakan cerita sebelum tidur, atau anak tenggelam membaca buku favoritnya pasti menciptakan rasa aman dan nyaman. Kebahagiaan anak sering lahir dari rasa diperhatikan, bukan dari harga barang. Anak gampang senang bila ada tenpat yang memfasilitasi kegemarannya, sekalipun main di taman bacaan.



Kita sering lupa. Buku itu memberi alat, bukan hadiah instan. Uang bisa memberi kesenangan cepat (mainan, gawai). Tapi bacaan memberi alat hidup: kemampuan berpikir, memahami emosi, bahkan memecahkan masalah. Anak yang bisa membaca dengan baik cenderung lebih percaya diri dan mandir, tidak mudah frustrasi. Mentalitas ini penting untuk anak-anak dan berlaku jangka panjang.

 

Apapun alasannya, bahagia itu bukan soal banyaknya uang. Tapi cukupnya hati dan rasa syukur. Rumah kecil bisa terasa luas kalau hatinya lapang. Makan sederhana bisa terasa nikmat kalau dimakan bersama. Pakaian lama tetap indah jika dipakai dengan senyum. Banyak orang kaya merasa kurang, karena lupa nikmat yang sudah dimiliki. Kadang, kita atau anak-anak tidak perlu segalanya, cukup apa yang membuat hati tenang.

 

Anak-anak hari ini nggak cukup cuma pintar atau nilai rapor bagus. Tapi butuh mental yang kuat, butuh tempat-tempat bersosialisasi seperti taman bacaan. Datang bersama, duduk bersama dan membaca buku bersama. Tidak perlu tempat mewah, tapi cukup tempat yang bisa membuat anak-anak betah. Memang tidak mudah tapi dari situlah kebahagiaann anak-anak terjaga.

 

Uang memang bisa membeli fasilitas, tapi bacaan membentuk fondasi batin dan masa depan anak. Anak yang punya akses bacaan punya “modal batin” untuk bahagia, belajar, dan bertahan di hidup, apa pun kondisi ekonominya. Salam literasi!

 



Kamis, 05 Februari 2026

Ibu Tidak Minta Diingat tapi Selalu Dikenang

 

Berbahagialah, siapapun yang masih memiliki ibu. Masih bisa bercengkrama dengan ibu, bahkan memeluk dan membelai rambutnya. Betapa indahnya hari-hari ini masih bersama ibu. Sementara banyak orang lain yang hari ini sudah kehilangan ibu. Hanya bisa meneteskan aor mata ketika mengingat ibu. Ibu dan ibu ….

 

Ibu tidak minta diingat, tapi selalu dikenang. Kata-kata itu bukan hanya menyentuh hati tapi prinsip yang dipegang ibu untuk anak-anaknya. Esensi kasih sayanga seorang ibu yang sesungguhnya: cinta tanpa syarat dan tanpa pamrih. Seorang ibu berbuat segala sesuatu karena cinta, bukan untuk dikenang jasanya. Setiap hal yang yang kita anggap kecil: senyumnya, nasihatnya, doanya, bahkan pengorbanan yang tidak terlihat melekat dalam diri anak-anaknya.

 

Kenangan ibu selalu hidup dalam cara kita berbicara, dalam nilai-nilai yang kita pegang, dan dalam cinta yang kita berikan kepada orang lain hingga hari ini. Ibu meninggalkan jejak yang tidak memudar, bukan pada batu nisan tapi pada hati yang dibentuknya. Meskipun waktu berlalu, kehadirannya tetap terasa, seperti aroma yang tersisa di udara setelah hujan reda: begitu halus, menghangatkan, dan mengingatkan kita pada sebuah tempat yang disebut "rumah".

 


Ibu tidak minta diingat. Sebuah pengakuan bahwa meskipun ibu tidak memintanya, kenangan itu hadir dengan sendirinya, abadi, sebagai bukti cinta yang tidak terkatakan dan tidak pernah benar-benar pergi.

 

Terima kasih Ibu, telah membagikan cinta dan kasih sayang tanpa pamrih. Hingga maknanya masih tterasa hingg kini. Maka diamlah sejenak untuk mengenang Ibu. Terima kasih Ibu, di mana pun engkau berada. Salam literasi!

 

 

Pensiun Itu Bekal Bukan Beban

Dulu, hampir setiap hari kita berangkat pagi dan pulang malam. Semua dilakukan demi satu hal sederhana: keluarga cukup. Waktu pun terus berjalan, anak-anak tumbuh dan kian dewasa. Akhirnya, mereka mulai sibuk dengan hidup dan tanggung jawabnya sendiri. Dan di situ, kita belajar satu hal: “cinta juga berarti memberi ruang”.

 

Setelah puluhan tahun bekerja, akhirnya kita tiba di satu titik. Harus pensiun. Bukan karena tua tapi karena aturan yang berlaku di tempat kerja. Harus berhenti bekerja untuk memberi kesempatan anak muda punya pekerjaan yang layak. Siklus kehidupan yang tidak bisa dihindari. Ada saat bekerja, ada saat berhenti bekerja.

 

Sayangnya, banyak orang mengira pensiun itu akhir dari segalanya. Padahal, pensiun justru awal menikmati hidup dengan lebih tenang. Kita sudah bekerja puluhan tahun, sangat wajar kalau nanti ingin tetap nyaman tanpa bergantung pada siapa pun. Menyiapkan pensiun bukan soal takut jadi beban. Justru ini bekal supaya tetap bisa menjalani hari-hari seperti biasa, tetap berbagi, dan tetap membahagiakan keluarga.

 


Karena pensiun yang disiapkan dengan baik, bukan beban untuk siapa pun. Tapi bekal untuk menikmati hidup. Itulah kenapa pensiun perlu disiapkan. Bukan karena takut kekurangan tapi supaya tetap tenang, tetap mandiri. Karena saat hari pensiun tiba, bukan beban untuk anak. Tapi bekal untuk menikmati hidup yang sudah kita perjuangkan semasa bekerja.

 

Dulu, memang pensiun terasa masih jauh. Bahkan tidak mendesak. Tapi hari ini, pensiun jadi penting dipersiapkan. Seperti dulu kita kerja keras untuk membesarkan anak. Dan kini, biarlah mereka fokus membesarkan masa depannya sendiri.


Sementara kita, tetap fokus menyiapkan pensiun dari sekarang. Supaya nanti tidak merepotkan anak. Karena pensiun itu bekal, bukan beban #YukSiapkanPensiun

 

 

 

Rabu, 04 Februari 2026

Jika Sesuatu Berjalan Tidak Seperti yang Kita Mau, Berarti ...

 

Mungkin ini penting untuk self reminder, siapapun. Jika sesuatu nggak berjalan seperti yang kita mau, berarti kita sedang menjalankan yang Tuhan mau. Maka tetap berpikir positif tetaplah ikhtiar yang baik.

 

Di musim hujan begini. Terkadang kasihan pada anak-anak TBM Lentera Pustaka. Sudah siap mau berangkat ke TBM, ternyata hujan deras terpaksa tidak jadi baca. Ada pula ibu-ibu yang mengantar anaknya ke TBM pakai motor, terpaksa hujan-hujanan dan basah kuyup. Pengennya cuaca cerah dan matahari bersinar. Tapi seharian hujan dan awan pekat di langit kaki Gunung Salak Bogor. Harapan memang sering nggak sesuai kenyataan.

 

Seperti saya hari ini, pengen meeting dengan calon klien di Jl. Jend. Sudirman. Tapi dikarenakan cuaca hujan pas di siang hari, akhirnya meeting dibatalkan. Sama seperti kita lagi pengen banget makan bakso. Tapi begitu sampai, kata pedagangnya mohon maaf baksonya sudah habis. Dalam hidup, selalu saja ada rencana yang tidak sesuai. Tidak apa-apa, itu tidak dosa dan tidak jadi masalah.

 

Kita sering tidak sadar. Untuk berhenti sejenak, menjauh dari obsesi dan harapan yang berlebihan. Berhenti sejenak itu adalah bagian dari perjalanan. Mau beristirahat atau terhambat sesuatu, itu hal yang biasa layaknya berkendara. Nggak usah buru-buru apalagi bernafsu, rileks saja.

 


Percayalah, hidup ini sudah ada yang mengatur. Jadi jangan pernah heran jika  terkadang perjalanan kita tidak selalu lurus. Jangan khawatir bila langkah kita nggak selalu maju, kadang terpaku pada satu titik. Asal tetap berdiri tegak.

 

Nggak usah mengeluh, nggak usah pula sumpah serapah. Saat rencana nggak sesuai rencana. Biasa saja, hidup kan ada pasang surutnya. Lebih baik berpikir positif, mengapa Tuhan memberhentikan sejenak perjalanan kita. Mungkin, Tuhan sedang menjaga kita dari hal-hal buruk. Sebab jika berhenti itu baik maka yang buruk itu pasti terus berjalan dan menjauh dari kita.

 

Maka jika sesuatu nggak berjalan seperti yang kita mau, berarti kita sedang menjalankan yang Tuhan mau. Maka tetap berpikir positif tetaplah ikhtiar yang baik. Salam literasi!



Karena Buku dan Pena, Siswa SD Bunuh Diri? Tamparan buat Negara!

Sedih dan miris banget, saat membaca YBR (10), siswa kelas IV SD di Ngada NTT gantung diri karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk sekolah. Sebuah akumulasi diabaikannya hak hidup dan terbebas dari kemiskinan bagi masyarakat di daerah. Mungkin masih banyak lagi anak-anak sekolah yang mengalami kondisi sama di daerah lain. Lagi-lagi miris dan memprihatinkan.

 

Dengan tegas, negara dan pemerintah harus bertanggung jawab atas kasus ini. Presiden, Mensos, Mendikdasmen dan menteri terkait lainnya, Gubernur, dan Bupati harus secara terbuka meminta maaf dan memastikan kejadian seperti tidak terulang lagi. Jangan cuma nongol di TV hanya bilang “sedih dan prihatin”, itu tidak menyelesaikan masalah. Kok bisa, siswa SD hanya karena bunuh diri karena tidak bisa membeli buku dan pulpen untuk sekolah? Kok negara atau pemda tidak mampu bantu. Apa gunanya BLT, apa gunanya PKH? Percuma bikin kenyang di sekolah lewat MBG, bila masyarakatnya tetap miskin dan tidak berdaya secara ekonomi.

 

Sangat jelas, kejadian memprihatinkan ini bukan tragedi tunggal. Tapi “alarm keras” dari kemiskinan yang fatal dialami masyarakat. Neggara lalai soal ini, pemda abai terhadap hak dasar anak untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak. Kepala Desa, Camat, Bupati “dosa besar” atas kejadian ini. Pemda buukan hanya bobrok tapi gagal melindungi rakyatnya. Anak SD sampai memilih mati karena alat tulis, jelas kita semua gagal sebagai bangsa!!!

 




Hai negara, halo Pemda. Ini bukan soal sederhana karena buku dan peupen. Kasus seperti ini akibat frustrasi sosial yang numpuk dan terjadi di daerah lain. Anak SD itu belum punya kemampuan mengelola emosi seperti orang dewasa. Rasa malu, takut dimarahi guru, merasa “gagal”, atau merasa jadi beban orang tua bisa terasa sangat ekstrem bagi mereka. Bila keluarga sedang kesulitan, anak bisa menyerap stres orang tua. Kalimat seperti “uang nggak ada” bisa ditafsirkan anak merasa bersalah. Maka membuat dirinya jadi “aku masalah”.  

Belum lagi lingkungannya kurang aman secara psikologis. Takut dihukum, dibentak, dipermalukan di sekolah, atau dibanding-bandingkan. Untuk anak, hal-hal ini bisa terasa buntu: nggak tahu harus cerita ke siapa? Bahkan anak belum tahu apa itu kematian? Kadang tindakan ekstrem dilakukan tanpa benar-benar mengerti akibat akhirnya. Jadi, anak bunuh diri “karena tidak dibelikan buku dan pulpen” itu simbol kefrustrasian anak, bukan akar masalahnya. Akar masalahnya, ada pada negara ada di Pemda yang lalai terhadap kemiskinan dan hak pendidikan anak!

 

Ini bukan salah anak! Inilah salahnya sistem pendidikan. Salahnya sekolah, lingkungan, dan Pemda. Gagal menangkap sinyal tentang kemiskinan ekstrem, lalai terhadap hak pendidikan anak. Pendidikan cuma textbook, sekolah cuma formalitas. Hingga kehilangan empati terhadap keadaan anak. Kita semua salah, sebab kehilangan kepedulian atas soal-soal sederhana tentang buku dan alat tulis.

 

Jelas hari ini, anak-anak kita perlu ruang aman untuk bercerita. Untuk ber-aktualisasi ke mana? Sekolah perlu lebih peka, bukan hanya menjejali anak dengan pelajaran. Pemda datangi warganya yang miskin ekstrem, bantu mereka! Orang dewasa perlu sadar kata-kata dan sikap kita bisa terasa sangat berat bagi anak. Jangan hanya prihatin dan menyesal, perbaiki keadaan model begini. Karena masih banyak lagi di tempat lain kondisi seperti ini …!!

Ikut Senam Literasi, Aparatur Desa Kedisan Gianyar Bali Puas Berkunjung ke TBM Lentera Pustaka: Studi Pengelolaan Taman Bacaan

 Adalah sebuah kehormatan bagi TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor yang hari ini dipilih menjadi tempat Studi Komparatif tentang Tata Cara Pengelolaan Pojok Baca Digital, yang diikuti oleh 28 aparatur Desa Kedisan Kec. Tegallalng Kab. Gianyar Bali (4/2/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian upaya peningkatan kapasitas aparatur desa Kedisan tahun 2026, di samping memberi pengalaman nyata aktivitas literasi yang dijalankan TBM Lentera Pustaka yang kini melayani lebih dari 200 anak pembaca aktif dari 4 desa di Kec. Tamansari.

 

Rombongan yang dipimpin oleh Pak Dewa Ketut Raka (Kades Kedisan Kab. Gianyar Bali) dan 27 staf diterima oleh Susilawati (Ketua Harian TBM Lentera Pustaka) didampingi relawan. Turut hadir pula Dudi (Sekdes Sukaluyu) dan 2 staf desa. Studi komparatif dan kunjungan literasi ini dilakukan untuk belajar dan mendapat pengalaman langsung dalam mendirikan taman bacaan atau pojok baca dan pengelolaannya. Mulai dari mendapatkan anak-anak usia sekolah yang mau membaca, relawan, dan program literasi yang dijalankan oleh TBM Lentera Pustaka.

 

“Kami aparatur desa Kedisan Gianyar sengaja ke sini untuk belajar pengelolaan taman bacaan. Karena anggaran kami sudah tersedia untuk mendirikan TBM, hanya gimana cara mulai dan mengelola TBM. Kami mengamati TBM Lentera Pustaka di Bogor terkenal aktif dan keren, maka kami koordinasi dengan pihak Desa Sukaluyu Kec. Tamansari untuk ke sini. Kami puas atas jawaban dan info yang diberikan, terima kasih” ujar Pak Dewa Ketut Raka (Kades Kedisan Kab. Gianyar Bali) dalam sharing session tadi.

 

Sengaja datang jauh-jauh dari Bali untuk melihat secara langsung aktivitas TBM, fasilitas dan prasarana serta berdialog bersama anak-anak dan orang tua yang kebetulan sedang “jam baca” di TBM Lentera Pustaka. Di samping menggali inspirasi untuk pengembangan literasi berbasis masyarakat di wilayahnya, rombongan aparatur desa Kedisan Gianyar. Pada sesi ngobrol santai di Rooftop Baca, TBM Lentera Pustaka memaparkan 15 program literasi yang dijalankan dan hari-hari operasional termasuk fungsi fasilitas ruang baca utama, kebun baca, rooftop baca dan gudang buku. Berbagai hal bisa dipelajari dari TBM yang sudah beroperasi 9 tahun ini sebagai model taman bacaan yang bisa dicontoh di Kab. Gianyar Bali. Dalam kesempatan ini, rombongan desa Kedisan Gianyar Bali juga menyerahkan donasi untuk biaya operasional TBM Lentera Pustaka.

 

“Terima kasih rombongan dari Desa Kedisan Gianyar Bali atas studi komparatif dan menjadikan TBM Lentera Pustaka sebagai rujukan. Kami senang berbagi cerita dan kisah nyata pengelolaan taman bacaan. Semoga taman bacaan di Bali bisa segera berdiri, kami akan diundang untuk menengoknya bila sudah berjalan” kata Susilawati siang tadi.

 


Selama 2,5 jam di Lokasi dan disambut hangat dengan hidangan khas TBM “rebusan tampah”, rombongan aparatur desa Kedisan juga bangga dengan sopan santun anak-anak TBM Lentera Pustaka yang terbiasa cium tangan kepada tamu. Bahkan rombongan ikut bersuara saat dilantunkan salam literasi dan doa literasi serta bergoyang ala senam literasi TBM Lentera Pustaka.  

“TBM Lentera Pustaka ini luar biasa, sangat welcome melayani tamu seperti kami dari Bali. Tata kelola dan manajemen TBM-nya tertib, dan didukung sinergi TBM dan masyarakat untuk menghidupkan aktivitas literasi. Bagus dan kreatif, kami ingin kembangkan model taman bacaan ini di Bali” ujar salah satu anggota rombongan.

 

Tentu bukan tanpa alasan aparatur desa Kedisan Gianyar Bali memilih TBM Lentera Pustaka sebagai tempat studi komparatif. Selain konsistensi dalam berkegiatan, jumlah anak-anak pembaca aktifnya sangat banyak. Hal penting yang harus dipelajari. Ada kolaborasi melalui CSR, ada sinergi dengan komunitas dan organisasi, bahkan rutin menggelar event literasi di taman bacaan setiap bulan. Dari studi komparatif ini, tercermin pesan akan pentingnya praktik baik berliterasi yang dijalankan dengan komitmen tinggi dan konsistensi sepenuh hati. Agar tradisi baca dan budaya literasi masyarakat semakin meningkat. Salam literasi #StudiKomparatif #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #DesaKedisan




Selasa, 03 Februari 2026

Selalu Lebih Baik di Taman Bacaan

 

Pastikan hari ini lebih baik. Tidak ada orang yang sempurna, tidak pula ada orang yang tidak punya masalah. Tapi semuanya harus dijalnai, harus dihadapi. Maka apapun alasannya, pastikan hari ini lebih baik.

   

Kita itu tidak bisa menilai diri kita sendiri. Hanya orang lain yang bisa menilai kekurangan dan kelemahan kita. Tetaplah belajar instrospeksi diri saat orang lain memberikan masukan atau nasihat, karena itu yang akan memajukan kita. Selagi baik terima dan kerjakan saja.

 

Tidak perlu menyalahkan siapapun dalam hidup. Karena orang-orang baik akan memberikan kebahagiaan, sementara orang-orang buruk sampai kapanpun akan memberikan pengalaman. Orang-orangg terburuk pasti jadi pelajaran, sedangkan orang-orang terbaik akan jadi kenangan. Jadi jangan pusing soal-soal yang telah lalu dan telah lewat, cukup ambil pelajaran dari setiappenggalan kehidupan kita. Selalu ada tawa, selalu ada air mata yang silih berganti. Biarlah semuanya menjadi bagian perjalanan hidup dan membuat kita semakin dewasa dalam jalan kehidupan.

 


Biar bagaimana, kita punya dan diberikan kehidupan yang sangat berharga. Tapi kita sering kali kurang menghargai waktu dan masa hidup itu sendiri. Tidak ada hidup yang sia-sia, semuanya pasti berguna. Tinggal cara kita menyikapi dan menggunakannya, untuk apa? Sebab hidup pasti bernilai, jauh lebih bernilai daripada batu permata. Itulah sebabnya agar kita tidak menyesal di kemudian hari, maka kita harus menjalani hidup dengan baik. Berikan yang terbaik, bekerja dengan maksimal, dan selalu tebarkan manfaat di mana pun.

 

Begitulah spirit yang selalu hadir di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. Setiap waktu selalu digunakan untuk berbuat baik dan menebar manfaat. Mendamping anakanak yang membaca, mengajar calistung, memberantas buta aksara, hingg berkiprah secara sosial untuk meningkatkan kegemaran membaca anak-anak usia sekolah. Tidak ada yang sia-sia, semuanya akan kembali kepadayang melakukannya. Siapa yang menabur maka dia yang akan menuai hasilnya.

 

Maka jangan pernah sesali apa yang sudah pergi, jangan tangisi apa yang sudah berlalu. Biarlah semua berjalan sesuai kehendak-Nya. Bangkitlah dan kerjakan apapun yang lebih baik. Teruslah bertumbuh, teruslah belajar, teruslah berjuang. Dan pastikan hari ini lebih baik. Salam literasi!




Kenali Anda Tipe Pekerja Seperti Apa di kantor?

 

Ini penting buat orang-orang yang kerja. Di kantor itu, sebenarnya kayak ekosistem kecil. Orang-orangnya beragam dan punya banyak model. Sebut saja tipe orang-orang kerja di kantor.

 

Ada “si pekerja benaran”. Kerjanya rapi, konsisten, bisa diandalin. Hari-harinya jarang ribut, mau digaji berapapun diam saja. Jarang pamer dan nggak terlibat politik kantor. Sayangnya, dia sering under-recognized padahal dia tulang punggung tim. Sebaliknya, ada “si pekerja ambisius”. Orientasinya Cuma target, nafsu banget naik jabatan, pengen cepat terlihat. Kerjanya bisa bagus, bisa juga jelek. Bolehlah disebuat pekerja setengah matang. Fokusnya cuma “kelihatan sukses”. Model begini, kalau sehat bisa jadi pendorong tim. Tapi kalau nggak bisa jadi sumber drama di kantor.

 

Ada juga “pekerja si penjilat”. Selalu pintar membaca selera atasan, loyalitasnya ke orang bukan ke kerjaan. Ada maunya di setiap perbuatan “baik”. Selalu berusaha untuk aman di segala keadaan, tentua sampai situasi berubah. Sementara “pekerja si oportunis”. Bilangnya hanya ikut arus tapi dipilih yang menguntungkan dia saja. Netral di konflik, tapi cepat pindah orientasi. Kalau kerja jarang salah, tapi jarang benar juga.

Ada lagi “pekerja si drama”. Kerjanya biasanya saja. Tapi masalah kecil sukda dibikin jadi gosip besar. Heboh banget, energinya habis buat konflik, bukan solusi. Biasanya kantor tanpa orang begini jadi lebih tenang. Sementara “pekerja si manipulator” lain lagi. Senangnya main kata-kata, bukan kerja. Dia paling senang kalau meeting, doyan putar cerita biar dia dianggap sebagai korban atau pahlawan. Bikin orang lain ragu sama persepsinya sendiri. Temannya “pekerja si toxic pasif”. Kelakuaknya nggak frontal, tapi kerjanya nyindir. Sering ngerem kerjaan diam-diam. Akhirnya bikin suasana kantor jadi berat tanpa kelihatan arahnya mau ke mana?

 

Tapi ada juga pekerja yang orientasinya positif. Sebut saja “pekerja di polos”. Ini pekerja terlalu baik. Niatnnya tulus, tapi gampang dimanfaatkan. Sulit bilang “nggak” kepada siapapun. Kerja banyak tao kredit sedikit. Ada lagi “pekerja si realistis”. Kerja nyasesuai jobdesc saja, hidupnya juga seimbang. Waktunya kerja ya kerja waktunya pulang ya pulang. Nggak cari ribut, nggak cari muka dan nggak mau dimanfaatkan. Stabil, jarang jadi sorotan di kantor. Dan ada “pekerja si visioner”. Kerjanya selalu melihat jauh ke depan. Kadang idenya kejauhan dari kondisi lapangan dan butuh eksekutor biar jalan. Begitulah tipe-tipe pekerja di kantor.

 

Tentu saja, nggak ada pekerja yang 100% di satu tipe. Kebanyakan itu campuran, tergantung: posisinya sebagai apa?, tekanan kerjaan, dan budaya kantornya.

 


Tapi yang perbedaan mencolok di kantor. Saya sering lihat orang kerja yang baik di kantor. Niatnya tulus. Kerjanya benar. Nggak pernah neko-neko. Tapi anehnya, dia sering diabaikan. Bukan karena dia nggak layak. Tapi karena nggak pernah menjual dirinya sendiri. Mikirnya sederhana, kerja yang bagus saja sudah cukup. Lupa, padahal di kantor, kalau kita nggak ngomongin kontribusi maka orang lain yang akan ngomong. Akhirnya, kalah melulu di kantor. Kalah gaji, kalah nggak dipromosi, bahkan kalah di mata atasannya senditri.

 

Sementara lawannya, sebut saja “orang licik” di kantor. Pekerja jahat, yang kelihatannya sibuk dan pintar, tapi niatnya nggak lurus. Kerjanya nggak ada tapi banyak omong. Kerjaannya banyak gaya, tapi minim hasil. Rajin ambil panggung, jarang ambil tanggung jawab. Bahkan selalu merasa tersaining bila ada orang lain yang lberkontribusi positif. Giliran sukses katanya “gue banget”. Tapi kalau gagal: “kan bukan gue”. Sering main aman, tapi diam-diam lempar orang lain ke depan bus. Arogan dan subjektif banget otaknya.

 

Hati-hati di kantor itu bukan orang baik semua. Ada yang licik ada yang cuma cari panggung. Entah tujuannya apa? Makanya ada yang namanya  “politik kantor”, biasanya diperagakan oleh-oleh jahat saat bekerja dan ada di kantor. Sementara pekerja lainnya, sudah bersyukur bisa kerja dan dapat gaji. Nggak ribut, tapi konsisten. Nggak cari sorotan, tapi hasilnya kepake. Sering dianggap “biasa”, padahal fondasi tim

 

Ironisnya, dunia kantor sering lebih cepat notice sama yang ribut daripada yang benar. Lebih peduli sama pekerja yang banyak drama daripada yang polos. Jadi hati-hati saja, dan tetaplah bekerja dengan tulus dan rapi karena pekerja beitu lebih susah diganti. Kalau resign pun, susah cari gantinya.

 

Dan harus diakui, di dunia kerja, rendah hati itu bagus. Tapi nggak mau nunjukkin kontribusi pun akhirnya bisa membunuh karier. Orang baik di kantor bukan kalah, cuma nggak kelihatan dan terlalu polos dalam bekerja. Dan ingat, jangan sampai puluhan tahun kerja tapi nggak punya dana pensiun. Sebab suatu kali di PHK atau disuruh resign, kan harus tetap punya tabungan untuk biaya hidup setelah tidak bekerja lagi. Itulah pentingnya pekerja punya dana pensiun.

 

Jadi, kamu termasuk pekerja yang model gimana nih? Atau mau dikenal sebagai pekerja tipe yang mana?