Selasa, 24 Maret 2026

Literasi Dana Pensiun: Nanti Kalau Sudah Tua ...

Pak Darto selalu berpikir, “Nanti saja mikirin hari tua. Sekarang masih kuat kerja.” Setiap bulan gajinya habis untuk kebutuhan hari ini.  Tidak ada yang disisihkan. Karena menurutnya, masa pensiun masih jauh. Untuk apa mikirin pensiun selagi masih kerja?

 

Waktu berlalu. Sebentar lagi pensiun, berhenti dari pekerjaan hari-hari. Tanpa terasa, usia sudah tidak muda lagi. Tenaga mulai berkurang. Bekerja pun tidak lagi sekuat dulu. Di titik itu, Pak Darto baru sadar.  Ia tidak tahu pasti seperti apa masa tuanya. Tapi satu hal yang jelas: ia tetap butuh hidup. Biaya makan tetap ada. Kebutuhan hari-hari harus dipenuhi. Dan biaya kesehatan harus tersedia. Dan sayangnya, penghasilan tidak lagi sama. Saat pensiun, gaji sudah tidak ada.

 

Sementara itu, temannya, Pak Syarif, memilih jalan berbeda. Sejak muda, ia menyisihkan sedikit demi sedikit di dana pensiun. Ia menabung di DPLK. Bukan karena ia tahu masa depan, bukan ingin kaya di hari tua. Tapi Pak Syarif sadar. Masa depan itu tidak pasti. Akan hidup sampai usia berapa setelah pensiun. Dan gimana kondisi ekonominya di hari tua nanti? Pak Syarif hanya tahu satu hal:  tetap butuh biaya hidup saat tidak lagi bekerja.

 


Hari ini, Pak Syarif memang tidak lebih kaya dari Pak Darto. Bedanya, hari ini Pak Darto kian gelisah dan makin khawatir akan masa tuanya. Sementara Pak Syarif lebih tenang dan bisa mengabdikan diri secara sosial di taman bacaan masyarakat. Hari tuanya dipakai untuk berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama.

 

Bersiap untuk masa pensiun, bukan untuk kaya di hari tua. Tapi untuk mempersiapkan diri saat nanti tidak bekerja lagi. Saat tidak punya gaji lagi. Menabung untuk hari tua ibarat sedia payung sebelum hujan. Sebab kita tidak tahu, kapan hujan datang? Tapi kalau sudah siap, kita tidak akan kesulitan. Tidak akan bergantung pada anak atau orang lain di masa pensiun. Itu saja!

 

Kita memang tidak tahu masa depan seperti apa? Tapi justru karena itu, kita perlu mempersiapkannya. Karena hari tua bukan tentang menebak apa yang terjadii. Tapi tentang siap menghadapi apa pun yang terjadi. Tetap mampu menjaga standar hidup di saat tidak bekerja lagi. Kerja Yes, Pensiun Oke.

 

Pegiat Literasi yang Mengabdi: Saya Bermanfaat Untukmu, Bukan Saya Lebih Keren Darimu

Mungkin, kita sering melihat orang yang banyak gaya tapi minim manfaat. Bicaranya pandai tapi sulit diandalkan. Pakaiannya mentereng tapi sering manipulatif. Bahkan mengaku hebat padahal sehari-harinya tidak jelas ngapain. Sebaliknya di sekitar kita, ada pula  orang yang sederhana. Tidak banyak bicara tapi aktivitasnya selalu bermanfaat untuk bayak orang. Santai tapi selalu hadir saat dibutuhkan.

 

Seorang pegiat literasi yang mengabdi di taman bacaan, pedagang kecil yang jujur, seorang guru yang sabar, atau bahkan seorang tetangga yang suka membantu: bisa jadi mereka tidak terlihat hebat. Tapi keberadaannya sangat dirasakan. Tetap berbuat di segala keadaan dan selalu mau menebar manfaat kepada sesama. Itulah contoh nyata dari “saya bermanfaat untukmu”.

 

Sayangnya hari ini, banyak orang justru sibuk mengejar citra. Merasa penting mendapat pengakuan dari orang lain walau tidak ada manfaatnya. Ingin terlihat hebat, ingin dianggap pintar, ingin dipuji banyak orang. Namun lupa bahwa nilai sejati seseorang bukan pada penampilannya, melainkan pada dampaknya. Bukan pada omongannya dan kerasnya bicara tapi pada manfaatnya untuk orang lain.

 

Maka dalam hidup, jangan pernah mengukur kebahagiaan dari sisi orang lain. Jangan pula mengukur kesuksesan dari “pintu” orang lain. Sebab, bahagia out berbeda maknanya bagi orang per orang. Bahagian bukan soal memiliki segalanya, tapi tentang hidup yang merasa cukup. Tentang bisa tidur dengan hati tenang karena tidak menyakiti siapa pun. Tentang bisa tersenyum karena tahu hidupnya memberi arti bagi orang lain.

 

Seperti mahasiswa yang tekun belajar lebih punya makna. Anak-anak yang masih mau membaca lebih bermakna daripada anak-anak yang main gawai. Bukan karena ingin berprestasi di sekolah, bukan sekadar untuk terlihat pintar. Tapi agar ilmu pengetahuan itu bisa digunakan untuk membantu orang lain. Punya ilmu yang bermanfaat itu membahagiakan.

 

Bila hari ini kita ingin memperbaiki hidup, maka tidak perlu bertekad melakukan hal-hal besar. Lakukan saja hal kecil tapi baik dan bermanfaat. Mulailah dari dua hal sederhana: jadilah orang yang menyenangkan dan bermanfaat. Tidak usah banyak mengeluh dan jangan berprasangka buruk pada apapun. Tidak usah sibuk mengurusi hidup orang lain, apalagi membandingkannya. Insya allah, perlahan hidup kita akan berubah dengan sendirinya. Menjadi lebih baik dan berkah.

 


Sungguh, dunia ini sudah disesaki oleh orang yang ingin terlihat hebat. Penuh dengan orang-orang yang mengejar pengakuan bahkan ingin dipuji. Akhirnya jadi banyak gaya dan sibuk untuk hal-hal yang tidak manfaat. Kita sering lupa, justru yang paling dicari saat ini adalah orang yang tidak banyak gaya tapi diam-diam membuat hidup orang lain terasa lebih mudah. Diam tapi tidak pernah menyakiti orang lain. Diam tanpa membenci dan prasangka buruk.

 

Di momen Idul Fitri ini patut direnungkan. Tidak harus menunggu kaya untuk berbuat baik. Tidak perlu menunggu punya jabatan untuk menebar manfaat kepada orang lain. Tidak perlu modal besar untuk membenahi hidup. Kita bisa memulainya dari hal kecil dan sederhana. Caranya bisa dimulai dari hal kecil: 1) menjaga lisan, 2) memperbaiki sikap, dan 3) peduli terhadap sesama.

 

Di sinilah kita belajar, biar bagaimana pun akhlak tetap di atas ilmu. Pangkat, jabatan atau status sosial hanya titipan. Bukan jaminan untuk bisa bermanfaat untuk orang lain. Itulah pentinganya kekuatan iman, bukan hebatnya pergaulan. Semakin kuat iman dan keyakinan seseorang kepada Allah, semakin tenang hatinya dan semakin tulus perbuatannya. Saat kita berbuat baik dan bermanfaat bukan demi pujian, tapi karena kesadaran. Mengerjakan sesuatu yang kecil tapi bermanfaat. Salam literasi!



Senin, 23 Maret 2026

Tersadar 5 Tahun Lagi Pensiun, Gimana Kondisi Keuangan Karyawan di Masa Pensiun?

Di mana pun, setiap karyawan pasti hanya mengandalkan gaji tiap bulan. Saking asyiknya kerja, ternyata baru sadar 5 tahun lagi mau pensiun.Katanya, waktu begitu cepat berjalan. Usia semakin bertambah, tahu-tahu sudah mau pensiun. Gimana bisa mempertahankan standar hidup saat pensiun, kan tidak punya gaji lagi?

 

Bila seorang karyawann baru “tersadar” bahwa masa pensiun tinggal 5 tahun lagi, arus diakui durasi waktu tergolong sempit tapi belum terlambat. Fokusnya bukan lagi mengejar “uang pensiun “ yang besar. Tapi mengamankan yang sudah ada dan mengoptimalkan tabungan di waktu tersisa sebelum pensiun.

 

Mau tidak mau, harus realistis dan strateginya berdampak untuk hari tua. Pertama seklai jelas, harus hitung posisi keuangan saat ini (reality check). Jangan mulai dari harapan, tapi dari angka nyata. Yang harus dihitung: 1) total tabungan dan investasi saat ini, 2) estimasi kebutuhan hidup saat pensiun, dan 3) perkiraan pemasukan saat pensiun (misalnya dari DPLK). Tujuannya agar tahu apakah akan surplus atau deficit?

 

Mari kita bikin ilustrasinya, biar lebih personal. Anggap saja si karyawan punya gaji saat ini Rp. 20 juta per bulan. Usianya sekarang 50 tahun dan akan pensiun di usia 55 tahun. Punya tabungan di bank Rp. 30 juta tapi masih ada cicilan Rp. 1 juta untuk 10 tahun lagi. Apa yang harus dilakukan dan gimana kondisinya sata pensiun?

 

Ini bisa jadi simulasi yang lebih realistis. Usia: 50 tahun, pensiun: 55 tahun (5 tahun lagi). Gaji: Rp20 juta/bulan dan tabungan saat ini: Rp30 juta + punya cicilan: Rp1 juta/bulan (masih 10 tahun). Asumsi usia hidup hingga 75 tahun, maka akan menjalani masa pensiun sekitar 20 tahun. Kira-kira begitu ya.

 

Maka estimasi kebutuhan saat pensiun, anggap saja butuh 70% dari gaji (tingkat penghasilan pensiun yang diharapkan). Berarti nilainya, 70% × Rp20 juta = Rp14 juta per bulan. Namun secara realistis (karena pensiun dan penyesuaian hidup), kita turunkan ke Rp10–12 juta per bulan. Kita pakai saja Rp11 juta per bulan yang dibutuhkan untuk menjaga standar hidup di masa pensiun.

 

Berapa kebutuhan uang selama masa pensiun? Ya kira-kira, Rp11 juta × 12 = Rp132 juta per tahun. Bila dikalikan durasi masa pensiun berarti menjadi Rp132 juta × 20 tahun = Rp2,64 miliar. Itulah “nilai uang” yang diperlukan selama pensiun, dengan asummi tidak punya gaji lagi dan untuk mempertahankan stnadar hidup seperti saat masih bekerja.

 

Penting diperhatikan adanya koreksi inflasi. Bila dalam 5 tahun ke depan (tingkat inflasi ±5%) maka  nilai Rp11 juta akan jadi sekitar ± Rp14 juta per bulan saat pensiun. Sehingga kebutuhan riil menjadi Rp14 juta × 12 × 20 = ± Rp3,36 miliar, total dana yang dibutuhkan saat pensiun. Oke ya untuk dipahami.

 

Sedangkan posisi dana saat ini, hanya punya tabungan sebesar: Rp30 juta. Anggap saja belum ada dana pensiun. Artinya: hampir mulai dari nol untuk siapkan kebutuhan masa pensiun. Tantangannya, waktu pensiun tinggal 5 tahun lagi. Kebutuhan dana saat pensiun besar (mencapai Rp3,3 M). Masih ada cicilan sampai usia 60. Harus dipahami, kondisi ini tergolong “warning zone”, tapi masih bisa diselamatkan.

 

Bila saja di waktu tersisa yang 5 tahun lagi bertekad untuk menabung (misal di DPLK), maka skenario realistis: menabung Rp5 juta per bulan × 12 × 5 tahun = Rp300 juta. Bila ditambah hasil investasi, kira-kira diperoleh ± Rp350–400 juta.   

 

Dengan begitu, maka terjadi “gap nyata”. Yaitu kebutuhan saat pensiun Rp3,36 miliar, sedangkan tabungan yang dihasilkan ± Rp400 juta. Maka masih ada gap (kekurangan) ± Rp3 miliar. Artinya, tidak mungkin ditutup hanya dengan menabung.

 


Apa strateginya? Secara realistis, si karyawan di waktu tersisa perlu menjalankan “5 cara sekaligus” untuk mempersiapkan masa pensiun yang tinggal 5 tahun lagi, yaitu:

1. Turunkan kebutuhan hidup. Misalnya: dari kebutuhan Rp14 juta per bulan menjadi Rp7 juta per bulan di masa pensiun. Maka dampaknya: Rp7 juta × 12 × 20 = Rp1,68 miliar. Berarti, besarannya “hemat” Rp1,6 miliar.

2.  Tetap punya penghasilan setelah pensiun. Misalnya: usaha/kerja tambahan dengan income: Rp4 juta/bulan. Dampaknya: Rp4 juta × 12 × 20 = Rp960 juta.

3. Maksimalkan waktu 5 tahun terakhir. Misalnya: menabung (di DPLK biar tidak diambil-ambil) dengan target agresif Rp5–8 juta per bulan (THR/bonus tabung semua). Maka bisa mendapat Rp400–600 juta selama periode 5 tahun tersisa.  

4.  Selesaikan masalah cicilan. Cicilan Rp1 juta sampai usia 60 sama dengan “beban”. Idealnya: percepat pelunasan (kalau bisa) atau pastikan tetap aman bayar cicilan saat pensiun nanti.  

5. Fokus siapkan masa pensiun, bukan fokus gaya hidup dan perilaku konsumtif.

 

Maka gambaran setelah disesuaikan. Kebutuhan hidup saat pensiun turun menjadi Rp1,68 miliar.  Ada penghasilan tambahan Rp960 juta. Tabungan dioptimalkan (missal DPLK) mencapai Rp500 juta. Maka sisa kebutuhan dana “hanya kurang” Rp200–300 juta (ini proyeksi yang lebih realistis).

 

Dengan kondisi tersebut, maka sama sekali tidak realistis masa pensiun dijalani dengan “full santai” di 55 tahun. Tapi sangat mungkin untuk pensiun dengan hidup cukup sesuai standar dan tetap produktif.

 

Penting untuk dipahami, karyawan yang akan pensiun sebentar lagi (5-10 tahun lagi) untuk 1) jangan hanya mengandalkan tabungan, 2) mulai bangun penghasilan pasif/aktif sekarang, 3) latih hidup sederhana dari sekarang, 4) jangan hanya mengandalkan program wajib seperti JHT BPJS, 5) segera menabung di DPLK, dan 6) ubah mindset pensiun sebagai “pindah fase”, bukan berhenti total.  

 

Jadi tolong dipahami, cepat atau lambat masa pensiun pasti tiba, Semua karyawan akan pensiun pada waktunya. Masalahnya, sudah dipersiapkan untuk pensiun atau belum? Dan berpikrilah, pensiun bukan soal berapa “uang pensiun” yang dimiliki? Tapi jadikan uang pensiun yang ada sebagai motivasi untuk tetap produktif dan menghasilkan income di hari tua. #YukSiapkanPensiun

Minggu, 22 Maret 2026

Catatan Literasi: Peta Batin Manusia

Abu al-Hasan al-Shadhili pernah merangkum tentang peta batin manusia. Tentang apa yang merusak, apa yang menjerumuskan, dan apa yang menyelamatkan seorang manusia. Sebagai literasi kehidupan, sebagai pembelajaran ke depan.

 

Penyebab rusaknya akal adalah nafsu. Ketika keinginan dibiarkan menguasai, akal kehilangan kejernihannya. Keputusan tidak lagi didasarkan pada kebenaran, tetapi pada dorongan sesaat. Nafsu sering kali menguasai akal manusia.

 

Penyebab kesengsaraan adalah cinta dunia. Bukan berarti dunia harus ditinggalkan, melainkan peringatan agar tidak terlalu terikat. Ketika hati bergantung pada hal yang fana, maka kian mudah kecewa saat kehilangan. Sengsara karena terlalu cinta dunia.

 

Penyebab fitnah adalah kedengkian. Karena iri hati selau mendorong seseorang melihat orang lain dengan buruk, bahkan memutarbalikkan kebenaran. Dari sinilah banyak konflik bermula. Sering kali fitnah, ghibah dan prasangka buruk lahir dari sifat dengki.

 

Penyebab perpecahan adalah perselisihan. Ego yang tidak dikendalikan akan memperbesar perbedaan hingga merusak persatuan, menghancurkan kebersamaan. Kian banyak orang berselisih untuk urusan sepel dan tidak sepatutnya. Hati-hati soal ini.

 


Namun ada penutupnya yang memberi jalan. Bahwa penyebab keselamatan adalah diam. Diam  bukan pasif, tapi menahan diri dari ucapan yang tidak perlu, menjaga lisan dari menyakiti, dan memberi ruang bagi kebijaksanaan untuk muncul. Diam lebih baik dari apapuan. Jangan bicara bila tidak diminta, apalagi tidak didengarkan.

 

Nasihat literasi ini mengajarkan bahwa sumber kerusakan dan keselamatan sama-sama ada dalam diri manusia. Ketika nafsu, cinta dunia, dan iri hati tidak dikendalikan, hidup menjadi sempit. Namun ketika lisan dijaga dan hati ditenangkan, keselamatan pun mendekat. Pada akhirnya, inilah renungan akan pentingnya mengelola diri dengan sadar. Karena dari situlah arah hidup seseorang ditentukan. Semakin baik atau buruk!

 



Kisah Pensiunan: Dulu Punya Segalanya, Kini Tidak Punya Apa-apa

Namanya Darto. Dulu, orang-orang di kantor memanggilnya “Pak Darto Direktur” dengan nada hormat, kadang juga sedikit takut. Langkahnya tegas, jasnya selalu rapi, dan keputusannya menentukan nasib banyak orang. Ia terbiasa duduk di kursi empuk, berbicara di ruang rapat berpendingin udara, dan disambut dengan senyum penuh hormat di setiap sudut kantor.

 

Selama lebih dari dua puluh enam tahun, hidupnya hanya satu: bekerja. Ia bangga. Sangat bangga. Gajinya besar. Fasilitas lengkap. Rumah megah berdiri di sudut kota. Mobil berganti tiap beberapa tahun. Anak-anak sekolah di tempat terbaik. Di matanya, itulah bukti bahwa hidupnya berhasil. Namun, ada satu hal yang tak pernah benar-benar ia siapkan: berhenti.

 

Hari itu datang juga. Hari terakhir kerja. Acara pelepasan dibuat meriah. Banyak yang memuji, banyak yang berterima kasih. Ia berdiri di depan podium, tersenyum lebar, tapi dalam hatinya ada ruang kosong yang mulai terasa kecil, tapi nyata.

“Selamat menikmati masa pensiun, Pak.” Kalimat itu terdengar indah… tapi asing.

 

Minggu pertama, semuanya terasa seperti liburan panjang. Bangun siang. Minum kopi tanpa terburu-buru. Menonton televisi. Sesekali bertemu teman lama. Namun perlahan, hari-hari mulai terasa panjang… terlalu panjang. Tidak ada lagi telepon penting. Tidak ada rapat. Tidak ada yang menunggu keputusannya. Tidak ada yang memanggilnya “Pak Direktur”. Ia hanya… Darto, seorang pensiunan.

 

Masalah mulai muncul. Pengeluaran tetap berjalan seperti saat ia masih bekerja. Gaya hidup sulit diturunkan. Tabungan yang dulu terasa besar, perlahan terkikis. Anak-anaknya sudah punya kehidupan sendiri. Istrinya sibuk dengan kegiatannya. Rumah besar yang dulu terasa membanggakan, kini terasa sepi dan dingin.

 

Pak Darto pensiunan mencoba mencari kesibukan, tapi tidak mudah. Selama ini, identitasnya melekat pada jabatan. Tanpa itu, ia seperti kehilangan arah.

 

Suatu sore, ia duduk sendirian di teras. Menatap halaman rumah yang luas, tapi terasa hampa. Ia berbisik pelan, hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri:

“Dulu aku punya segalanya… kenapa sekarang rasanya tidak punya apa-apa?”

 


Hari-hari berikutnya tidak banyak berubah. Ia mulai menghindari pertemuan dengan mantan rekan kerja. Malu, bukan karena miskin tapi karena merasa “hilang”. Tidak lagi relevan. Tidak lagi dibutuhkan. Lebih menyakitkan lagi, ia menyadari sesuatu yang dulu ia abaikan: Selama ini ia membangun karier… tapi tidak membangun kehidupan setelahnya. Tidak menyiapkan cukup dana yang berkelanjutan. Tidak membangun kebiasaan hidup sederhana. Tidak menyiapkan makna hidup di luar pekerjaan.

 

Suatu pagi, ia menemukan album lama. Foto-foto saat muda. Saat anak-anak masih kecil. Saat ia masih sering tertawa tanpa beban. Ia terdiam lama. Air matanya jatuh perlahan. Bukan karena menyesal telah bekerja keras tapi karena ia lupa bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja.

 

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia keluar rumah tanpa tujuan besar. Hanya berjalan kaki di sekitar kompleks. Menyapa tetangga. Duduk di warung kecil, berbincang ringan dengan orang-orang yang bahkan tidak tahu siapa dirinya dulu. Aneh… tapi hangat. Ia mulai belajar lagi—menjadi manusia biasa.

 

Pak Darto kini seorang pensiunan, tidak akan pernah kembali ke masa jayanya. Tapi perlahan, ia mulai menemukan sesuatu yang baru: bukan kejayaan… melainkan ketenangan. Kini, ia mengisi hari-harinya dengan membaca buku.

 

Pesan dari kisah ini sederhana, tapi dalam: Banyak orang hebat saat bekerja, tapi tidak semua siap saat berhenti. Karena sejatinya, pensiun bukan akhir dari pekerjaan saja tapi ujian apakah kita sudah benar-benar menyiapkan hidup. Sudahkah kita siap pensiun?

 

Dua Hal Besar dalam Hidup

 

Ini sebuah refleksi di momen lebaran. Bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah rangkaian perjalanan hidup. Dan skenario dari Allah SWT adalah yang terbaik buat kita, buat hambanya. Tergantung tiap kita untuk menjalankannya dengan cara yang baik atau kurang baik. 

 

Sebab, memang ada manusia yang fokus pada kebaikan. Hanya tahu berbuat baik dan menebar manfaat apapun alasannya. Di sisi lain, ada pula manusia yang fokusnya pada kejelekan, berprasangka buruk pada orang lain, dan berbuat baiknya dipilih sesuai dengan pikirannya yang subjektif. Baik hanya menurut dirinya, bukan baik versi kebanyakan orang.

 

Kita sering lupa, tentang dua hal besar dalam hidup yaitu 1) takdir (ketentuan Allah) dan 2) ikhtiar (cara manusia menjalaninya). Sebagai rangkaian skenario terbaik, hidup siapapun dan semua yang terjadi berada dalam ketetapan Allah. Itulah konsep Qada dan Qadar, bahwa Allah sudah mengetahui dan menetapkan segala sesuatu. Disebut "skenario terbaik" bukan berarti semua terasa menyenangkan, tapi apa yang terjadi selalu punya hikmah. Kadang yang kita anggap buruk justru menyelamatkan. Sebaliknya, kadang yang kita inginkan belum tentu baik untuk kita. Artinya, Allah melihat dari sudut pandang yang lebih luas daripada manusia.

 

Kita sebagai manusia, hanya berperan memilih cara menjalaninya. Walaupun ada takdir, manusia tetap diberi pilihan (free will). Di sinilah letak ujiannya: dua orang bisa mengalami kejadian yang sama. Tapi hasil hidupnya bisa sangat berbeda. Kenapa Karena cara menyikapinya berbeda. Ada yang sabar, belajar, dan bangkit. Ada yang mengeluh, menyalahkan, dan menyerah. Jadi, bukan hanya "apa yang terjadi", tapi bagaimana kita merespons apapun yang menentukan kualitas hidup kita?

 


Kehilangan pekerjaan itu takdir. Bangkit dan mencari peluang baru adalah ikhtiar baik, sedangkan menyerah dan putus asa adalah ikhtiar kurang baik. Maka takdir + sikap = hasil akhir. Takdir adalah kejadian yang datang, sedangkan sikap adalah pilihan kita. Karenya, hasil akhir adalah kombinasi keduanya.

 

Pesan utamanya adalah keseimbangan: antara takdir dan ikhtiar. Tenang dalam menerima karena percaya segala yang terjadi adalah skenario Allah. Aktif dalam bertindak karena kita bertanggung jawab atas pilihan kita. Jadi, hidup bukan pasrah tanpa usaha. Tapi juga bukan merasa segalanya di tangan sendiri. Semuanya ada takdirnya tapi harus ada ikhtiarnya.

 

Hidup memang sudah ditulis, tapi cara membacanya apakah dengan sabar, syukur, atau keluh kesah? Jawabnya tergantung pilihan kita. Kalau dijalani dengan cara yang baik, takdir yang sama bisa menjadi jalan kemuliaan. Kalau dijalani dengan cara yang buruk, bisa terasa sebagai beban. Begitulah hidup yang selalu dihadapkan pada dua hal besar.

Sabtu, 21 Maret 2026

Momen Lebaran: Belajar Memaafkan Diri Sendiri, Bukan Hanya Orang Lain

Kesalahan bukan hanya milik orang lain kepada kita. Tapi kita juga sering salah terhadap diri sendiri. Ada banyak banyak hal yang belum tercapai, banyak rencana yang tertunda. Dan banyak pula salah serta penyesalan yang diam-diam disimpan. Karenanya di momen lebaran, aku mencoba menerima dan mengakuinya. Bahwa hidup memang tidak harus selalu sempurna, selalu ada salah yang diperbuat pada diri sendiri.

 

Aku belajar memaafkan bukan hanya orang lain tapi diri sendiri. Kalimat itu memang sederhana, tapi dalam sekali maknanya. Memaafkan diri sendiri justru lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Kenapa? Karena kita hidup dengan diri kita setiap hari. Kita ingat kesalahan, kegagalan, keputusan yang keliru, bahkan hal-hal kecil yang orang lain mungkin sudah lupa tapi kita masih menyimpan rapat. Salah kita, bukan salah orang lain.

 

Dalam hidup dan hari-hari kemarin, ada hal-hal yang sudah terjadi dan tidak bisa diubah. Memaafkan diri sendiri berarti berhenti terus-menerus menghukum diri atas apa yang sudah lewat. Bukan melupakan, tapi menerima bahwa saat itu kita bertindak dengan kemampuan dan pemahaman yang kita punya. Selalu ada potensi salah dan khilaf. Maka aku belajar memaafkan bukan hanya orang lain tapi diri sendiri. untuk berdamai dengan masa lalu.

Memaafkan diri sendiri berarti melepaskan rasa bersalah yang berlebihan. Rasa bersalah itu manusiawi, tapi kalau terus disimpann akan berubah jadi beban. Memaafkan diri sendiri adalah memberi ruang untuk bernapas: mengakui salah tapi tidak menjadikannya identitas diri. Siapapun pasti dan pernah berbuat salah, maka maafkanlah. Kita juga layak diperlakukan dengan baik. Seringkali kita sangat baik pada orang lain, tapi keras pada diri sendiri. Padahal, diri kita juga butuh dimengerti. Memaafkan diri sendiri berarti memperlakukan diri dengan empati yang sama seperti kita memperlakukan orang yang kita sayangi.

 


Memaafkan diri sendiri, membuka jalan untuk melangkah lagi. Selama kita belum memaafkan diri sendiri, maka kita cenderung tertahan. Takut mencoba lagi, takut gagal lagi dan penuh rasa khawatir. Padahal hidup terus berjalan. Memaafkan diri sendiri itu seperti membuka pintu yang lama terkunci.

 

Setelah memaafkan diri sendiri, kemudian memaafkan orang lain. Apapun bentuknya dan perlakuannya. Fitnah, ghibah, kezoliman bahkan sikap merendahkan dari orang lain di masa lampau biarkan dan maafkanlah. Diminta atau tidak diminta, maafkanlah. Sebagai bentuk kelapangan hati dan sikap sabar yang utuh. Sebab dalam hidup, lebih baik fokus memperbaiki diri daripada menghitung kesalahan orang lain. Lapang dada dan lapang hati atas setiap perlakuan orang lain.

 

Aku belajar memaafkan bukan hanya orang lain tapi diri sendiri. Sebuah spirit momen lebaran atau idul fitri yang maknanya jadi lebih kuat. Kita saling memaafkan dengan orang lain, tapi sering lupa bahwa ada “diri sendiri” yang juga menunggu dimaafkan. Karena pada akhirnya, hati yang benar-benar lapang itu bukan hanya yang sudah memaafkan orang lain. Tapi juga hati yang sudah berhenti memusuhi dirinya sendiri. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.

 


Literasi Lebaran: Hindari Popularitas dan Sikap Pamer

Salah satu hikmah lebaran kali ini adalah “hindari ketenaran dan sikap menonjolkan diri”. Seba popularitas dan pengakuan sering kali membuat hati terikat pada pandangan manusia. Ketika seseorang terlalu ingin dilihat, maka ia mudah terjebak dalam kesombongan dan akhirnya kehilangan keikhlasan. Kita berbuat karena ingin dilihat dan menonjolkan diri.

 

Lebaran harusnya momen fitrah, kembali ke suci (apa adanya). Momen untuk melatih dan mempertahankan kesederhanaan sekaligus merindukan ketiadaan. Sebuah ajakan untuk kembali pada kerendahan hati. Sebab apapun yang ada di dunia adalah fana, hakikat ketiadaan. Agar kita mau melepaskan ego, tidak lagi merasa diri paling penting, paling indah, atau paling layak dipuji. Justru dalam keadaan itulah, seseorang menjadi lebih dekat dengan sang pencipta. Semakin merasa kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

 

Seperti burung merak yang sangat kuat. Burung merak dikenal karena keindahan bulunya, tapi ketika ia sibuk memamerkannya itulah simbol kesombongan. Kesombongan sering kali jadi awal mula kehancuran. Jalaludin Rumi pernah berkata: celakalah mereka yang terlalu sibuk menunjukkan keindahan diri, karena keindahan itu justru bisa menjadi sebab jatuhnya hati ke dalam kesia-siaan.



Maka di momen lebaran, mulailah untuk menghindari ketenaran dan sikap menonjolkan diri. Entah karena baju baru, sepatu baru atau aksesori yang baru. Sebab keindahan sejati pada manusia tidak perlu dipamerkan. Tidak ada yang perlu disombongkan. Manfaat silaturahim dan momen saling memaafkan dengan bijak. Bukan justru menjadi “babak baru” sikap pamer dan menonjolkan diri.

 

Sungguh, pada akhirnya manusia akan tercermin pada sikap, akhlak, dan ketulusan. Semakin menjauh dari ketenaran dan pamer. Sebab, semakin seseorang berusaha terlihat, semakin ia menjauh dari keikhlasan. Agar kita tidak sibuk pamer, tapi menjadi pribadi yang sederhana, yang keindahannya justru bersinar dalam diam.

 

Sebuah teguran halus terhadap kecenderungan manusia yang gemar menonjolkan diri, apalagi di mmen lebaran. Salam literasi!.

 



Jumat, 20 Maret 2026

Bed Rotting, Penyakit Rebahan Berjam-jam Main HP di Musim Lebaran

Bed rotting itu penyakit rebahan berjam-jam main handphone, minim gerak. Apalagi di musim lebaran, ditambah sambil ngemil atau makan ketupat sayur. Bed rotting lagi tren di media sosial, saat seseorang hanya menghabiskan waktu hampir seharian di atas kamar atau tempat tidur. Untuk beristirahat dari kelelahan fisik maupun mental, sayangnya disambih bermain ponsel, menonton film, atau makan. Bikin malas gerak.

 

Di musim Lebaran, bed rotting perlu diwaspadai sebagai bentuk penyalahgunaan momen sacral dan waktu libur. Lebaran seringkali melelahkan karena mudik atau silaturahmi. Alih-alih memulihkan energi, bed rotting berlebihan dapat membuat tubuh terasa semakin lelah, pegal-pegal, dan lesu karena kurang bergerak. Selain mengganggu pola tidur, rebahan seharian sambil sambil main ponsel dapat memicu insomnia sekaligus kesehatan mental. Jadi gampang cemas, depresi, dan perasaan tidak berdaya, bukan membuat pikiran lebih sehat. Lebih dari itu, bed rotting jadi sebab kehilangan momen sosial. Sebab terlalu asyik "membusuk" di kasur dapat membuat kita melewatkan waktu berkualitas bersama keluarga dan kerabat saat lebaran.

 

Tentu boleh-boleh saja,, rebahan sambil main ponsel. Tapi perlu dibatasi, durasinya tidak berlebihan. Lebih baik ditopang dengan aktivitas fisik ringan, seperti peregangan atau jalan santai di pagi-sore hari. Karena keseimbangan istirahat dan beraktivitas tetap diperlukan agar energi kembali pulih secara maksimal.

 


Kebiasaan rebahan terlalu lama di tempat tidur sambil main HP, scroll media sosial, atau menonton konten tanpa henti jadi tidak rileks. Bukannya melepas stress malah tambah stress, bikin tambah lelal dan Lelah. Dampaknya, bed rotting bisa mengganggu energi dan  produktivitas. Tubuh menjadi terlalu pasif, sementara otak terus menerima paparan konten tanpa jeda. Apakagi anank-anak muda – Gen Z, hati-hati dengan bed rotting sbab bisa jadi gaya hidup yang susah diperbaiki.

 

Kok bisa rebahan berjam-jam sambil main HP dan minim Gerak. Selamat Idul Fitri – mohon maaf  lahir batin.

Resep Literasi: Rezeki Tetap Lancar Setelah Idul Fitri, Ini 6 Caranya

Setelah puasa dan Idul Fitri, banyak orang berharap rezekinya lancar. Tapi dalam pandangan yang lebih utuh, “rezeki lancar” itu bukan hanya soal uang, melainkan kelapangan hidup, keberkahan, dan kemudahan urusan.

 

Karenanya, ada yang perlu dijaga setelah puasa dan Idul Fitri. Yaitu ibadah dan kebaikan dalam kehdupan sehari-hari. Bukan sekadar ritual tapi kebiasaan yang berdampak nyata pada diri sendiri

 

Sebelum membahas gimana rezeki lancar setelah puasa dan Idul Fitri. Fondasinya adalah menjaga kualitas ibadah (bukan hanya kuantitas). Ramadan melatih kedekatan dengan Allah. Setelahnya tetap jaga salat tepat waktu, lanjutkan tilawah walau sedikit, dan perbanyak dzikir – doa. Sebab rezeki sering “terbuka” dari hati yang dekat, bukan hanya usaha yang keras.

 

Perbanyak sedekah (walau kecil). Ini kunci yang sering diremehkan. Sedekah tidak harus besar, yang penting rutin dan Ikhlas. Prinsipnya “memberi tidak mengurangi, tapi membuka jalan rezeki” untuk ditambah. Selalu menjaga hati, perilaku, bahkan omongan. Hal yang sering menghambat rezeki karena iri hati, dengki, suka mengeluh, menyakiti orang lain, dan bicara hal yang tidak [erlu dibicarakan. Rezeki bukan cuma soal usaha, tapi juga “kelayakan hati” untuk menerimanya.

 

Tingkatkan ikhtiar (jangan hanya spiritual). Setelah Ramadan, jangan justru menurun semangatnya. Kerja lebih disiplin, tambah skill, dan cari peluang baru. Ikhtiar harus konsisten, bukan cuma keras. Dan ingat, doa tanpa usaha = lemah. Usaha tanpa doa = kering.


 

Rapikan niat bekerja. Ubah cara pandang “bukan hanya cari uang tapi juga ibadah, memberi manfaat”. Niat yang lurus sering membawa keberkahan yang tidak terduga. Mulailah membangun kebiasaan baik pasca-Ramadan. Misalnya bangun lebih pagi, mengurangi hal sia-sia, dan menjaga lisan. Sebab Ramadan itu “latihan”, setelahnya adalah “pembuktian”.

 

Perbanyak silaturahmi. Jaga hubungan keluarga, perbaiki relasi yang renggang, dan jangan putus komunikasi. Banyak rezeki datang lewat manusia. Terima dan syukuri yang ada. Kadang rezeki terasa sempit karena tidak disyukuri dan selalu membandingkan. Syukur itu bukan hasil dari banyaknya rezeki, tapi justru yang melapangkan rezeki.

 

Maka rezeki lancar setelah puasa dan Idul Fitri bukan karena satu amalan saja, tapi gabungan dari ibadah terjaga, hati bersih, usaha meningkat, relasi baik, dan hidup yang penuh syukur.

 

Dan ingat akan enam hal yang jadi sebab datangnya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Yaitu 1) senantiasa bertakwa, 2) kerjakan sholat, 3) selalu tawakkal, 4) perbanyak istighfar, 5) berani sedekah – infak, dan 6) mencari sebabnya atau selalu ikhtiar tanpa putus. Bila dijalankan, Insya allah rezeki pasti lancar. Jangankan kita manusia, burung saja sudah pasti ada rezekinya dari Allah. Salam literasi!

Literasi Idul Fitri: Memelihara Ibadah dan Kebaikan setelah Hari Nan Fitri

Idul fitri atau lebaran sering dipersepsi sebagai puncak kemenangan. Tidak salah tapi tidak sepenuhnya benar. Justru setelah hari nan fitri (suci), setiap kita dihadapkan pada ujian sekaligus tantangan untuk memelihara ibadah dan kebaikan. Tetap istiqomah dalam ibadah dan kebaikan di kehidupan sehari-hari. Itulah ujian yang sesungguhnya setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Sebab, yang dinilai bukan hanya kuatnya kita di bulan Ramadan tapi konsistensi kita setelahnya.

 

Idul Fitri bukan garis akhir, tapi titik awal. Sering orang merasa “Ramadan sudah selesai, kembali ke kehidupan normal.” Padahal makna fitri adalah kembali suci, bukan kembali ke kebiasaan lama. Artinya ibadah tidak berhenti, kebaikan tidak surut, dan hati tetap dijaga.

 

Ukuran keberhasilan Ramadan adalah setelahnya. Para ulama sering mengatakan: tanda diterimanya amal adalah dimudahkan untuk amal berikutnya. Jadi indikatornya sederhana, masihkah kita menjaga salat tepat waktu? Masihkah Al-Qur’an dibaca walau sedikit? Dan masihkah sedekah tetap berjalan? Kalau iya, itu tanda Ramadan meninggalkan jejak. Ada bekas yang lebih baik setelah sebulan penuh berpuasa.

 

Maka tantangan terbesar adalah konsistensi atau sikap istiqamah. Selama Ramadan suasananya mendukung, lingkungan ikut menjaga. Tapi setelahnya godaan kembali normal, ritme hidup kembali sibuk. Di situlah nilai istiqamah muncul. Sedikit tapi terus menerus, lebih dicintai daripada banyak tapi terputus

 

Sangat penting untuk menjaga ibadah dan kebaikan. Agar tetap bersemayam dalam hati dan perilaku keseharian setelah puasa. Ada banyak cara tapi cukup kerjakan yang sederhana. Kalau di Ramadan mampu membaca 1 juz per hari, setelahnya cukup 1–2 halaman, tapi rutin. Turunkan target tidak apa asal jangan berhenti. Tilawah dibikin ringan tapi konsisten

 


Jaga “ritual inti”. Minimal pertahankan salat tepat waktu, dzikir harian, dan tilawah meski sedikit. Ini jadi “tulang punggung” spiritual. Pertahankan kebiasaan baik, misalnya sedekah rutin, bangun lebih pagi, dan mengurangi hal sia-sia. Jangan biarkan Ramadan hanya jadi “event tahunan” tanpa meninggalkan “bekas” sedikit pun.

 

Mulailah memilah dan memilih lingkungan yang positif. Jangan yang toxic. Cari teman yang mengingatkan, komunitas yang mengajak kebaikan, dan keluarga yang saling menguatkan. Karena iman itu naik turun, dan lingkungan sangat berpengaruh.

 

Ketahuilah, kebaikan kecil yang dijaga = besar nilainya. Kita sering berpikir, “Sedikit, tidak berarti”. Padahal dalam pandangan Allah “yang kecil tapi istiqamah akan bernilai besar”. Sebalaiknya, “yang besar tapi sesekali justru mudah hilang”. Sebaga refleksi sederhana, pertanyaannya bukan “Sehebat apa saya di Ramadan?” Tapi “Apa yang masih saya bawa setelah Ramadan pergi?”

 

Jadi, tetaplah pelihara ibadah dan kebaikan setelah Idul Fitri. Untuk menjaga ruh Ramadan tetap hidup dan menjadikan kebaikan sebagai kebiasaan. Agar esok, kita semua lebih baik dan lebih baik. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.

 

Kamis, 19 Maret 2026

Literasi Pensiunan: Dari Target Kerjaan ke Tawa Kecil Seorang Cucu

Selama lebih dari dua puluh enam tahun, hidup Pak Darto berjalan seperti jam kantor: rapi, teratur, dan penuh target. Pukul delapan pagi sudah duduk di meja kerja, sore pulang dengan wajah lelah, malam masih memikirkan angka-angka target yang belum selesai.

Dulu ia sering berkata,
“Kalau sudah pensiun, saya mau istirahat. Nggak mau pusing lagi.”

Dan waktu itu akhirnya datang.

 

Hari terakhir di kantor diisi dengan ucapan selamat, bunga, dan foto bersama. Semua terlihat hangat, tapi dalam perjalanan pulang, ada perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti meninggalkan sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari dirinya.

Minggu pertama pensiun terasa seperti liburan panjang. Bangun lebih siang, minum kopi tanpa tergesa, duduk santai di teras rumah. Tapi memasuki minggu ketiga, rasa itu mulai berubah.

 

Sepi. Tidak ada lagi telepon kerja. Tidak ada lagi rapat. Tidak ada lagi yang memanggil, “Pak, ini perlu keputusan Bapak.”

Suatu pagi, istrinya berkata,
“Besok kamu antar aku ke rumah anak kita, ya. Katanya butuh bantuan jaga cucu.”

Pak Darto hanya mengangguk.

 

Hari itu, hidupnya berubah. Cucunya, Aleena, baru berusia tiga tahun. Cucu perempaun yang aktif, cerewet, dan tidak bisa diam. Dalam lima menit, ruang tamu sudah berantakan oleh mainan. Dalam sepuluh menit, Pak Darto sudah kelelahan.

“Dulu Bapak kuat lembur sampai malam,” gumamnya sambil tersenyum kecil, “sekarang kejar anak kecil saja ngos-ngosan.”

 

Namun ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali Aleena tertawa, ada rasa hangat yang tidak pernah ia temukan di ruang rapat mana pun. Tidak ada target, tidak ada tekanan, hanya tawa kecil seoarang cucu yang jujur.

 


Hari-hari berikutnya mulai terisi. Pagi, ia menjemput Aleena cucunya. Siang, mereka bermain atau membaca buku bergambar. Sore, ia mengantar kembali ke rumah anaknya.

Awalnya ia merasa “hanya” menjadi pengasuh. Tapi perlahan, cara pandangnya berubah.

Suatu sore, saat mereka duduk di teras, Aleena bertanya polos,
“Kakek kerja apa?”

Pak Darto terdiam sejenak. Dulu, ia punya banyak jawaban: jabatan, posisi, tanggung jawab. Tapi sekarang? Ia hanya bisa tersenyum,
“Kakek kerja bikin Aleena ketawa.”

Anak kecil itu tertawa lagi, tanpa tahu bahwa jawabannya menyimpan makna besar.

 

Di usia pensiun, Pak Darto akhirnya mengerti sesuatu yang dulu terlewat. Selama ini, ia terlalu sibuk mengejar hal besar, sampai lupa bahwa kebahagiaan sering datang dalam bentuk sederhana. Dulu ia mengejar angka, sekarang ia mengejar langkah kecil cucunya yang mulai belajar berlari.

 

Dulu ia merasa penting karena jabatan. Sekarang ia merasa berarti karena kehadirannya.

Ia memang tidak lagi menghasilkan laporan bulanan. Tapi ia menghasilkan kenangan.

 

Suatu malam, sambil duduk bersama istrinya, ia berkata pelan, “Ternyata pensiun itu bukan berhenti bekerja, ya.”

Istrinya menatapnya, “Terus?”

Pak Darto tersenyum, “Cuma pindah pekerjaan. Dari yang dikejar target… jadi yang dikejar cucu.”

Mereka tertawa bersama. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Pak Darto tidak lagi merasa Lelah karena kerjaan. Tapi karena bermain dengan cucunya. Sebuah masa pensiun yang nyaman, asal punya dana pensiun yang cukup untuk hari tua. #YuksiapkanPensiun

 


Aku Tidak Sebaik yang Kau Ucapkan

"Aku tidak sebaik yang kau ucapkan” begitu kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sebagai pelajaran tentang kerendahan hati, kejujuran diri, dan keadilan dalam menilai manusia.

 

Kalimat "Aku tidak sebaik yang kau ucapkan" menunjukkan sikap tawadhu' yang mendalam dan menolak pujian berlebihan. Karena Ali bin Abi Thalib menyadari bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan sisi gelap yang tidak diketahui orang lain. Pujian yang melampaui kenyataan bisa menjerumuskan pada kesombongan dan ilusi kesucian diri. Akhirnya, jadi manusia yang merasa paling benar.

 

Namun tidak cukup kalimat itu, Ali bin Abi Thalib melanjutkan dengan keseimbangan yang bijak: "tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas di hatimu." Kalimat itu jadi teguran terhadap prasangka dan penilaian negatif yang tergesa-gesa. Manusia sering menilai berdasarkan potongan perilaku, gosip, atau persepsi subjektif, lalu menggeneralisasikannya seolah-olah benar tentang seseorang. Kalimat yang mengingatkan untuk tidak menghakimi orang lain, apalagi bila tidak tahu cerita utuhnya.

 


Ungkapan Ali bin Abi Thalib menegaskan bahwa manusia selalu berada di antara dua titik ekstrem: tidak sepenuhnya suci dan tidak sepenuhnya hina. Setiap orang adalah makhluk yang berproses, berjuang antara niat baik dan kelemahan, antara cahaya dan kekhilafan. Hanya Allah yang mengetahui keadaan hati dan amal seseorang secara sempurna.

 

Nasihat ini mengajarkan dua hal penting kepada kita tentang kerendahan hati dalam menilai diri sendiri dan kehati-hatian dalam menilai orang lain. Karenanya, manusia sebaiknya tidak mudah terbuai oleh pujian, tidak pula hancur oleh prasangka. UIntuk tetap berdiri di posisi yang lebih jujur, seimbang, dan beradab.