Rabu, 17 Juni 2026

Pentingnya Konsolidasi Pengurus - Pengawas dan Pendiri DPLK untuk Optimalkan Pelayanan

Sebagai Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) pertama yang berasal dari manajer investasi di Indonesia, DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) melakukan konsolidasi bersama Pendiri (Sinarmas Asset Management) terkait dengan program kerja dan inisiatif yang dijalankan dalam melayani kebutuhan dana pensiun bagi pekerja di Indonesia (17/6/2026). Konsolidasi antara pendiri dan pengurus - pengawas DPLK SAM sangat penting karena DPLK bukan hanya lembaga keuangan biasa, tetapi lembaga yang mengelola amanah dana pensiun peserta untuk jangka panjang. Konsolidasi juga diperlukan untuk memastikan arah kebijakan, pengelolaan investasi, pelayanan peserta, hingga kepatuhan regulasi dapat berjalan sesuai aturan.

 

Hadir dalam konsolidasi DPLK SAM antara lain:Alex Setyawan WK (Presidenn Direktur Sinarmas AM), Soegeng Wibowo (Presiden Komisaris Sinarmas AS). Rudy Utomo (Direktur Utama Sinarmas Sekuritas), Genta Wira Anjalu (Chief Investment Officer Sinarmas AM) dan tim DPLK SAM yang terdiri dari: Stephanus Rudi (Ketua Pengurus), Yoel Tanzil (Pengurus), Syarifudin Yunus (Ketua Dewan Pengawas), Al Iskandar (Anggota Pengawas), dan Dewi Anggraini.

 

“Selain sebagai wujud Syukur atas beroperasinya DPLK SAM, kami juga meminta arahan dari pendiri untuk memastikan program sesuai dengan visi dan dukungan strategis dari pendiri. Pengurus fokus dalam operasional dan pengembangan program, sedangkan pengawas memastikan tata kelola berjalan sehat, transparan, dan sesuai ketentuan. Ketiganya harus memiliki kesamaan visi agar tujuan utama DPLK, yaitu memberikan manfaat pensiun optimal kepada peserta, dapat tercapai” ujar Stephanus Rudi, Ketua Pengurus DPLK SAM.

 

Sesuai dengan Keputusan DK OJK No. KEP-39/D.05/2026 tertanggal 5 Juni 2026, DPLK SAM resmi beroperasi sebagai DPLK pertama pasca era UU No. 4/2023 tentang P2SK dan menjadi DPLK yang berasal dari manajer investasi pertama di Indonesia. Untuk itu, DPLK bertekad untuk menyediakan layanan DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) berbasis digital atau aplikasi online “SimPensiun”.  Harapannya, DPLK SAM dapat memberikan kontribusi dan dampak positif bagi pertumbuhan industri dana pensiun di Indonesia, khususnya untuk menggarap pekerja individual dan sektor informal yang saat ini masih sedikit ikut dalam program dana pensiun. Untuk itu, DPLK SAM berkomitmen untuk menjadi pilar terpercaya dalam mewujudkan kemandirian finansial bagi masyarakat Indonesia di hari tua melalui pengelolaan dana pensiun yang aman dan berbasis teknologi digital.

 


DPLK SAM memegang prinsip untuk 1) mendorong peningkatan kesadaran tentang pentingnya perencanaan pensiun sejak dini demi masa depan yang lebih tenang, 2) menyediakan produk dana pensiun yang inklusif dan mudah diakses, sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhan generasi masa kini, dan 3) mengintegrasikan teknologi digital untuk menghadirkan layanan dana pensiun yang efisien, transparan, dan terpercaya. DPLK SAM menyediakan produk dan layanan utama DPLK yang terdiri dari: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan orientasi digitalisasi dana pensiun, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK. (Silakan kunjungi: https://simpensiun.com/). Dengan iuran Rp. 50.000 per bulan, setiap pekerja dapat mendaftar menjadi peserta DPLK secara online sekaligus memantau akumulasi dananya secara riil time.

 

Konsolidasi DPLK SAM bersama pendiri juga untuk memperkuat tata kelola dana pensiun yang baik sekaligus memastikan digitalisasi pensiun DPLK SAM berjalan optimal, di samping edukasi literasi DPLK yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Sehingga nantinya dapat mewujudkan DPLK yang berkualitas, profesional, solid, dan mampu menciptakan koordinasi yang efektif, pengawasan yang sehat, serta pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat. Semuanya untuk melayani dan melindungi peserta DPLK dalam mempersiapkan masa pensiun yang nyaman dan sejahtera. #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #DanaPensiun



Selasa, 16 Juni 2026

Pensiun Serem Bukan karena Usia tapi Cashflow Berantakan

Masa pensiun sering kali jadi momok bagi banyak pekerja. Bukan karena rambut yang memutih, bukan pula karena fisik yang mulai lemah. Tapi karena gaji tidak ada lagi, karena penghasilan rutin tidak diterima lagi. Sama sekali tidak siap untuk berhenti bekerja atau pensiun. Karenanya, masa pensiun memang penting untuk dipersiapkan sejak dini.

 

Pensiun serem bukan karena usia. Tapi karena tidak punya gaji lagi atau karena cashflow berantakan. Siapapun saat masih bekerja, banyak masalah bisa diselesaikan saat tanggal gajian tiba. Bayar cicilan? Ada gaji. Tagihan datang? Ada gaji. Kebutuhan mendadak? Ada gaji. Anak butuh bantuan? Ada gaji. Kita sering tidak sadar tenangnya hidup itu saat selalu ada pemasukan yang rutin tiap bulan. Hingga suatu haru, masa pensiun tiba, semuanya berhenti. Tidak ada lagi sumber pemasukan. Gaji yang tadinya rutin setiap bulan, kini tidak lagi ada. Dan untuk pertama kalinya, mulai menghitung lebih sering daripada biasanya.  

 

Bukan karena kurang bersyukur, tapi karena hidup tetap berjalan. Harga kebutuhan naik, kesehatan makin tambah usia makin perlu perhatian lebih. Keluarga kadang masih butuh bantuan. Ironisnya., masa pensiun pasti akan tiba. Tapi masih cukup banyak yang tidak mempersiapkan kehidupan setelah pensiun dengan baik. Kita sibuk menghitung kapan berhenti bekerja, tapi lupa menyiapkan bagaimana uang bisa terus bekerja untuk kita di masa pensiun? Kita sering lupa untuk Bersiap pensiun.  

 

Ternyata, masa pensiun yang tenang bukan tentang punya uang paling banyak. Tapi tentang punya arus kas yang cukup untuk menjalani hidup tanpa rasa cemas setiap hari. Tetap punya kesinambungan penghasilan sehingga cashflow tidak berantakan. Tetap mandiri secara finansial di hari tua, tanpa bergantung pada anak atau keluarga. Tenang dan sejahtera di massa pensiun memang sangat mahal nilainya di hari tua.

 


Kabar baiknya bagi pekerja, selama masih diberi kesehatan, masih mau belajar, dan masih mau bergerak. Selalu ada peluang untuk memperbaiki keadaan. Mungkin bukan dengan bekerja lebih keras tapi untuk berpikir lebih bijak. Masa pensiun memang harus dipersiapkan sejak dini. Mumpung masih ada waktu, mumpung masih punya gaji. Salah satu caranya, dengan menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin melalui program dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Kuncinya bukan pada besarnya iuran, melainkan pada konsistensi dan waktu memulai. Semakin muda seseorang mulai menabung untuk pensiun, semakin besar manfaat pensiun yang akan diperolehnya.

 

Tentu saja di era digital begini, pilihlah DPLK yang punya akses digital. DPLK yang menyediakan pendaftaran secara online, bisa mengubah arahan investasi, bahkan mencairkan manfaat pensiun secara online.  DPLK yang memberi kemudahan akses untuk punya DPLK, di samping transparan dan layanannya cepat. Sehingga peserta DPLK bisa terlibat aktif dalam mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Bisa memantau akumulasi dananya kapan saja dan di mana saja? DPLK secara online, salah satunya melalui aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang berkomitmen memberi kemudahan akses pekerja (formal dan informal) untuk membeli DPLK. Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

DPLK SAM merupakan DPLK pertama yang berasal dari manajer investasi di Indonesia dan berbasis digital. Saat ini menyediakan produk dan layanan utama seperti: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan dukungan teknologi digital, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website “SimPensiun” untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK.

 

Jadi, pensiun serem bukan karena usia. Tapi karena tidak punya gaji lagi atau karena cashflow berantakan. Maka mulailah untuk siapman masa pensiun kita sendiri. Rapikan pengeluaran, pahami ke mana uang pergi? Dan mulai sisihkan sebagian untuk hari tua melalui DPLK. Dan jangan pernah merasa terlambat untuk siapkan masa pensiun sendiri. #YukSiapkanPensiun

 


 

Minggu, 14 Juni 2026

Hidup Nyaman Jadi Relawan Taman Bacaan?

Dulu saya selalu berpikir. Kalau hidup yang nyaman itu cuma milik orang yang punya banyak uang. Lihat handphone orang lain mahal atau lihat orang lain makan enak di resto. Apalagi saat melihat rumah orang lain enak dipandang? Saat lihat orang lain aksesorinya keren, langsung terpikir “nyaman banget sih orang itu?”. Saya selalu mengira mereka yang punya sesuatu yang tidak saya punya., itulah kenyamanan.

 

Sampai suatu hari saya sadar. Ternyata bukan karena mereka lebih beruntung. Bukan pula karena mereka lebih kaya. Tapi karena mereka selalu memperhatikan hal-hal kecil yang sering saya abaikan. Saya termasuk orang yang sering bilang, "Ahh, nanti aja" atau "Masih bisa dipakai kok". Atau sering bilang “Belum terlalu penting". Padahal setiap hari saya tetap merasakan tidak nyaman dengan ungkapan itu semua. Setiap hari mengeluh tentang hal yang sama. Tapi tidak pernah benar-benar memperbaikinya. Agak lucu sih.

 

Saya bisa menghabiskan uang untuk hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Tapi selalu menunda sesuatu yang jelas-jelas membuat aktivitas saya lebih nyaman setiap hari. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menunda. Saya mencoba memperbaiki satu hal kecil yang selama ini selalu mengganggu. Dan ternyata...

 

Perubahannya jauh lebih terasa daripada yang saya bayangkan. Bukan karena hidup saya langsung berubah drastis. Bukan karena tiba-tiba jadi orang sukses. Tapi karena setiap hari terasa sedikit lebih mudah. Saya merasa lebih bermanfaat untuk orang lain. Jadi tahu, betapa pentingnya saya buat orang lain. Hidup menjadi lebih nyaman, menjadi lebih menyenangkan. Dan kalau dipikir-pikir, itulah pentingnya nyaman dalam hidup.

 


Apa yang membuat saya nyaman sekarang? Karena saya menjalankan aktivitas Motor Baca Keliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Setiap hari Minggu, saya berkeliling kampung bersama relawan TBM Lentera Pustaka. Hanya untuk sediakan akses bacaan untuk anak-anak usia sekolah di kampung-kampung yang selama ini tidak punya akses bacaan. Memarkir motor baca, menggelar tikar merah, menyediakan buku, dan duduk bersama anak-anak sambil membaca buku. Membimbing anak-anak yang membaca buku. Semuanya jadi lebih nyaman dan lebih bermakna. Begitulah kiprah saya dan relawan TBM Lentera Pustaka dalam 9 tahun belakangan ini. Nyaman berbuat baik, nyaman menebar manfaat kepada orang lain.

 

Kini, saya baru menyadari. Bahwa kenyamanan itu tidak harus berupa barang mahal. Apalagi rumah mewah. Tapi bisa berbuat baik dan menebar manfaat kepada anak-anak melalui buku bacaan itu jadi kenyamanan yang tidak ternilai harganya. Maka kerjakanlah sesuatu yang baik dan bermanfaat, maka kenyamanan pasti akan menghampiri.

 

Ternyata hal-hal yang dianggap kecil seperti berkiprah di taman bacaan atau menjadi relawan motor baca keliling benar-benar bikin hari-hari dan hidup kita lebih nyaman. Salam literasi!

 



Bahagia di Masa Pensiun, Tanggung Jawab Siapa?

Bisa jadi, banyak pekerja tidak siap pensiun. Karena masa pensiun merupakan fase kehidupan yang sering kali diiringi oleh berbagai perubahan, termasuk berkurangnya interaksi dengan rekan kerja yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. saat pensiun, kita akan menyadari bahwa hidup memang menghadirkan orang-orang yang datang dan pergi. Kepergian rekan kerja, perubahan lingkungan sosial, atau berakhirnya peran profesional bukanlah sesuatu yang harus disesali secara berlebihan. Justru, hubungan yang terjalin dengan tulus selama masa bekerja akan meninggalkan kenangan dan nilai yang bermakna, jauh lebih berharga daripada hubungan yang hanya didasarkan pada kepentingan sesaat.

 

Ketika memasuki masa pensiun, kualitas hubungan sosial menjadi lebih penting daripada kuantitasnya. Seseorang tidak lagi membutuhkan banyak teman atau relasi sekadar untuk mendukung karier, melainkan membutuhkan orang-orang yang dapat menerima dirinya apa adanya. Teman yang tulus akan tetap hadir meskipun status pekerjaan telah berubah. Mereka tidak menuntut seseorang untuk menjadi pribadi yang berbeda, melainkan memberikan dukungan, penghargaan, dan kenyamanan dalam menjalani kehidupan setelah pensiun. Oleh karena itu, masa pensiun dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan yang lebih autentik dan bermakna.

 

Siapapun saat pensiun, diajarkan bahwa kebahagiaan tidak boleh bergantung sepenuhnya pada orang lain. Selama masa bekerja, banyak orang mengaitkan kebahagiaan dengan jabatan, pangkat, pengakuan, atau lingkungan kerja. Namun setelah pensiun, sumber kebahagiaan perlu dibangun dari dalam diri sendiri. Mengembangkan hobi, menjaga kesehatan, mempererat hubungan keluarga, serta tetap aktif dalam kegiatan sosial atau komunitas dapat menjadi cara untuk menciptakan kehidupan yang bermakna. Sebab kebahagiaan tidak lagi ditentukan oleh faktor eksternal, tetapi oleh kemampuan seseorang dalam mensyukuri dan mengelola kehidupannya hingga hari tua.

 

Karenanya, masa pensiun bukanlah akhir dari perjalanan hidup, melainkan awal dari babak baru yang memberi ruang untuk mengenal diri lebih dalam. Kepergian orang-orang tertentu, perubahan peran sosial, dan berkurangnya aktivitas kerja adalah bagian alami dari proses kehidupan. Yang terpenting adalah tetap menjaga hubungan yang tulus, menerima perubahan dengan lapang dada, dan menyadari bahwa kebahagiaan merupakan tanggung jawab pribadi. Agar masa pensiun dapat dijalani dengan lebih tenang, bermartabat, dan penuh makna.

 

Sayangnya banyak pekerja hari ini belum mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Faktnya, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Maka kesadaran untuk merencanakan masa pensiun jadi penting dilakukan. Salah satu caranya, dengan menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin melalui program dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Untuk menjaga standar hidup dan kesinambungan penghasilan di hari tua, di samping tidak merepotkan anak atau keluarga di hari tua.

 


Di era digital begini, pilihlah DPLK yang punya akses digital (mendaftar secara online).  Agar kita sebagai pekerja bisa lebih mudah akses, transparan, dan layanannya cepat. Peserta DPLK harus terlibat aktif untuk mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Peserta bukan hanya sebagai penerima manfaat. Tapi juga bisa aktif memantau akumulasi dana dan mengelola perencanaan pensiun secara digital. Untuk bisa mendaftar DPLK secara online, salah satunya melalui  aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang berkomitmen memberi kemudahan akses pekerja (formal dan informal) untuk membeli DPLK. Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

DPLK SAM merupakan DPLK pertama yang berasal dari manajer investasi di Indonesia. Saat ini menyediakan produk dan layanan utama seperti: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan dukungan teknologi digital, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website “SimPensiun” untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK. Maka semakin muda seseorang mulai menabung untuk pensiun, semakin besar manfaat pengembangan investasi yang diperolehnya.

 

Memamg hidup menghadirkan seseorang untuk datang dan pergi. Tapi setiap kepergian yang jujur lebih bermartabat daripada kehadiran yang palsu. Dalam hidup, kita tidak butuh terlalu banyak teman, cukup mereka yang berani menjadi diri sendiri, tanpa perlu membuat kita ikut menjadi orang lain. Orang lain bukanlah orang yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita, melainkan diri kita sendirilah yang harus bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan diri kita sendiri hingga hari tua nanti. #YukSiapkanPensiun

 


Kamis, 11 Juni 2026

Melatih Kejujuran Anak via Membaca

Sudah pasti, bahwa kebiasaan berbuat jujur akan membuat hidup kita senantiasa berjalan di atas kebenaran. Sementara kebiasaan berbohong hanya akan membuat hidup kita berjalan di atas tumpukan masalah. Maka jangan pernah tanya ke pembohong kenapa dia berbohong; karena untuk menjelaskannya, dia harus berbohong lagi. Pembohong biasanya karena tidak senang membaca. Sebab jarang membaca berarti jarang jujur.

 

Membaca buku itu dapat melatih kejujuran karena melalui cerita, pengalaman tokoh, dan berbagai nilai kehidupan yang disajikan, pembaca belajar memahami pentingnya berkata dan bertindak sesuai kenyataan. Banyak buku menggambarkan konsekuensi dari kebohongan serta manfaat yang diperoleh ketika seseorang bersikap jujur. Dari situ, pembaca dapat merefleksikan perilakunya sendiri dan terdorong untuk menerapkan nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

 

Selain itu, membaca buku juga membantu seseorang mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran diri. Ketika membaca, seseorang diajak untuk memahami fakta, membedakan antara informasi yang benar dan yang menyesatkan, serta menghargai kebenaran. Kebiasaan ini membentuk karakter yang lebih terbuka dan bertanggung jawab, sehingga kejujuran tidak hanya menjadi sebuah nilai yang dipahami, tetapi juga menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam berbagai situasi.




Karena itu, TBM Lentera Pustaka sudah melatih kejujuran anak-anak sedini mungkin melalui kebiasaan membaca buku. Selain jujur, membaca buku juga dapat mengisi aktivitas anak-anak secara positif. Karena itu, hingga kini TBM Lentera Pustaka masih komit dan konsisten menjalankan aktivitas membaca buku di taman bacaan dan motor baca keliling.

 

Sejatinya, menjadi jujur itu mungkin terkadang menyakitkan. Akan tetapi, pada akhirnya kejujuranlah yang akan menyelamatkan kita dari jerat kebohongan. Biasakanlah jujur, meski itu pahit. Tetaplah menjadi orang jujur, tidak mudah tapi ia selalu berharga. Ketaatan kita adalah bukti bahwa Tuhan bekerja dalam setiap bagian hidup agar kita tidak kehilangan arah. Salam literasi!

 



Buat yang Terbiasa Gosip di Kantor

Ini literasi tentang gosip di kantor. Dari berbagai kawan yang cerita kondisinya, ternyata gosip di kantor itu rumit ya. Satu sisi, seperti hiburan di tengah kerja yang melelahkan. Tapi di sisi lain, bila tidak dikendalikan, gosip di kantor bisa berubah jadi racun. Seperti kawan saya yang rusak reputasinya. Bahkan gosip di kantor, bisa memecah tim, membuat orang saling curiga, dan mengubah kantor jadi tempat yang tidak nyaman. Sebut saja jadi kantor toxic.

 

Survei sih membuktikan kebanyakan pekerja tidak benar-benar suka gosip. Tapi faktanya, gosip di kantro sudah jadi budaya. Apalagi di sebagian perusahaan yang memang “maju” karena gosip. Dan siapapun sulit menghindar dari gosip di kantornya. Di pantry ada obrolan. Di grup kecil ada sindiran. Saat makan siang ada cerita. Saat lembur ada curhatan. Saat ada skandal, semua orang tiba-tiba punya versi masing-masing. Anehnya, kalau tidak ikut, dianggap sok suci. Tapi kalau ikutan gosip, lama-lama jadi terseret.  

 

Maka ada yang bilang, gosip di kantor itu memberi rasa dekat yang “palsu”. Saat dua orang membicarakan orang ketiga, keduanya merasa punya rahasia bersama. Terkesan akrab. Tapi kedekatan yang dibangun dari “membongkar aib orang lain” biasanya tidak aman. Hari ini kita membicarakan orang lain. Tapi besok, bisa jadi giliran kita yang dibicarakan teman kantor sendiri.  

 

Suatu kali, seorang pekerja telat masuk kerja, telat datang. Langsung muncul cerita: “Kayaknya dia mulai malas”. Ada yang bilang lagi “Dia memang dari dulu begitu”. “Katanya lagi ada masalah rumah”. “Dengar-dengar mau resign”. Itu semua gosip yang terjadi dan jadi cerota kantor saat temannya telat masuk kerja. Padahal faktanya sederhana: si pekerja itu lagi sakit, bisa jadi ada urusan keluarga, atau ada masalah transportasi di jalan. Ya begitulah gosip beredar di kantor, tidak butuh fakta lengkap. Gosip di kantor itu hanya butuh celah.  

 

Gosip di kantor sih sah-sah saja. Hanya saja, kita harus sadar, Tidak semua pembicaraan tentang orang lain adalah gosip buruk. Tidak semua gosip di kantor itu harus yang jelek-jelek. Kadang kita perlu membahas perilaku kerja yang berdampak. Memang bedanya ada pada tujuan. Kalau tujuannya mencari solusi, itu diskusi. Kalau tujuannya menikmati aib orang lain itulah gosip. Bahkan kalau setelah ngobrol tidak ada tindakan selain makin sinis, mungkin itu bukan kepedulian. Itu konsumsi drama semata.  

 


Karenanya, siapapun yang kerja di kantor. Hati-hati dan penting punya cara menyikapi gosip di kantor. Sebaiknya, jangan buru-buru menambah informasi yang belum jelas. Tanya dulu, “Kita bahas ini untuk apa?”. Kalau menyangkut urusan kerjaan, arahkan ke solusi. Tapi kalau mulai masuk urusan personal, tahan diri dna hindari saja. Jangan kirim screenshot WA ke grup lain. Jangan jadi penyambung lidah drama. Ketika gosip terjadi di kantor, kita tidak harus menegur semua orang. Terkadang cukup tidak ikut memberi “bahan bakar” saja.   

 

Yang agak aneh dari gosip di kantor, biasanya datang dari pekerja-pekerja yang “nggak becus” kerja. Kerja Cuma sebagai gaya hidupm bukan sebagai “passion”. Dan sering terjadi, penggosip di kantor biasanya ekonominya lebih “berantakan” dari kawan yang di-gosipin. Lebih serem lagi, penggosip di kantor biasayanya tidak punya dana pensiun. Masa pensiunnya nggak jelas, tidak mandiri secara finansial, dan berpotensi bergantung pada anak di hari tuanya. Karena itu, sebaiknya pastikan dulu sudah punya dana pensiun atau DPLK sebelum gosipin kawan sendiri diri kantor. Gamang kok untuk punya DPLK, cukup nabung dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan cek: https://simpensiun.com/).

 

Jadi hati-hati bila terlibat gosip di kantor. Memang gosip di kantor terasa kecil. Tapi reputasi orang bisa hancur dari cerita yang bahkan belum tentu benar. Di kantor itu bahaya bila ada orang yang mulai gosipndan diam-diam menyebarkannya ke banyak orang padahal mereka hanya “tahu sedikit” saja. Jangan gosip di kantor! #YukSiapkanPensiun

 


Rabu, 10 Juni 2026

LSP Dana Pensiun Sosialisasikan Sistem NAS Online untuk Asesor dalam Uji Sertifikasi SDM Dapen

Dalam rangka memperkuat kualitas pelaksanaan sertifikasi KKNI dan profesi, LSP Dana Pensiun hari ini menyelenggarakan Training Akun Asesor dengan sistem NAS Online untuk Uji Sertifikasi Kompetensi SDM Dana Pensiun di Jakarta (11/6/2026). Tujuannya, agar proses asesmen dana pensiun menjadi paperless. 

 

Sosialisasi ini diikuti oleh 24 asesor kompetensi LSP Dana Pensiun berlisensi BNSP untuk meningkatkan kompetensi, pemahaman, dan profesionalisme asesor dalam proses asesmen uji sertifikasi. Para asesor dibekali cara dan proses penggunaan sistem NAS online sehingga tidak lagi menggunakan kertas kerja asesmen. Tapi semuanya dilakukan secara online. Hal ini untuk memudahkan proses dan mengoptimalkan layanan uji sertifikasi dana pensiun.Para asesor kompetensi LSP Dana Pensiun yang hadir, yaitu:  A. Inderahadi Kartakusumah, Bambang Herwanto, M. Jihadi, Suheri, Yuni Pratikno, Zain Zainuddin, Asep Saepurohman, R. Herna Gunawan, Purwaningsih, Siti Rakhmawati, Sularno, Syarifudin Yunus, Antonius Resep Tyas Artono, Edi Pujiyanto, Edy Rahardja, Ernita Putri, Junaedi, Vera Lolita, Arif Hartanto, Bambang Sri Mulyadi, Bambang Wibisono, Budi Ruseno, Satino, dan Sri Murtiningsih.

 

Kegiatan sosialisasi akun Asesor secara online juga dilakukan dengan praktik asesmen, diskusi studi kasus, serta evaluasi akhir yang dipandu tim NAS. Simulasi nyata bagaimana melaksanakan asesmen mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga pelaporan hasil jika menggunakan sistem online. "Hal ini menjadi bagian komitmen LSP Dana Pensiun dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor dana pensiun. Dengan asesor yang berkompeten, proses sertifikasi dapat berjalan sesuai standar nasional, sekaligus membangun kepercayaan terhadap lembaga sertifikasi profesi" ujar Edi Pujiyanto, Direktur LSP Dana Pensiun dalam sambutannya.

 


Untuk diketahui, LDP Dana Pensiun merupakan lembaga penyelenggara uji sertifikasi KKNI Dana Pensiun yang terdaftar di OJK sesuai dengan Surat Tanda Terdaftar Lembaga Sertifikasi Profesi Sektor Jasa Keuangan No: STTD.LSP-03/MS.1/2025 tertanggal 23 Juli 2025 dan Keputusan Ketua BNSP No: KEP.0015/BNSP/I/2023. LSP Dana Pensiun berkomitmen untuk meningkatkan proses dan mekanisme uji sertifikasi yang objektif, valid, dan berkualitas. 

 

Saat ini LSP Dana Pensiun yang memiliki 29 asesor kompetensi berlisensi BNSP dan memiliki komitmen untuk melaksanakan serta memantau realisasi pengembangan kualitas SDM dana pensiun dan wajib memiliki kompetensi yang dibuktikan dengan Sertifikasi Kompetensi Kerja (SKK) sesuai level masing-masing. Terkait dengan program dan informasi LSP Dana Pensiun dapat disimak melalui: https://lspdapen.com/

 

Mari tingkatkan kualitas SDM dana pensiun secara lebih optimal. Untuk melayani program pensiun yang profesional dan berdampak nyata untuk kesejahteraan hari tua pesertanya. Salam kompeten!

 


Pensiunan Tanpa Dana Pensiun, Inilah 5 Risikonya di Hari Tua

Hidup tenang saat masih bekerja itu biasa. Karena masih bekerja dan masih punya gaji setiap bulan. Harga BBM naik masih bisa diantisipasi. Kebutuhan harian dan biaya hidup masih bisa dipenuhi. Jika gaji kurang masih bisa “utang” yang kemudian dibayar saat gajian. Fenomena itu sering terjadi di kalangan pekerja.

 

Tapi di pensiun, dari mana uang untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari? Gaji sudah tidak ada. Utang belum tentu bisa dibayar. Harga BBM naik pasti terkena dampak. Cepat atau lambat, semua pekerja di mana pun pasti akan pensiun. Tapi tidak punya dana pensiun. Maka ada risiko hari tua yang mengintai pekerja, akibat belum punya dana pensiun.

 

Apa saja risiko yang mengintai pekerja bila belum punya dana pensiun? Setidaknya ada 5 (lima) risiko hari tua akibat belum punya dana pensiun:

1. Turunnya standar dan kualitas hidup. Akibat tidak punya gaji lagi, banyak pekerja menurunn standar hidupnya: gagal memenuhi kebutuhan dasar, tidak bisa membayar utang, bahkan mengalami kesulitan membayar biaya Kesehatan saat sakit.

2. Bergantung hidup pada anak atau keluarga. Tanpa dana pensiun, banyak pekerja yang akhirnya bergantung pada anak atau keluarga setelah pensiun. Tidak mandiri secara finansial dan terpaksa mengandalkan bantuan finansial dari anak-anaknya setiap bulan. Akhirnya merepotkan anak atau keluarga di hari tua.

4. Rentan terhadap kemiskinan di hari tua. Tanpa dana pesiun, risiko kemiskinan di hari tua meningkat. Faktanya 8 dari 10 pensiunan di Indonesia mengalami masalah keuangan di masa pensiunnya.

3. Terpaksa tetap bekerja di usia tua. Sebagian orang akhirnya tetap bekerja di usia lanjut bukan karena ingin tetap produktif, tetapi karena terpaksa untuk bertahan hidup. Padahal kondisi fisik tidak lagi sekuat saat muda.

5. Beban psikologis di usia tua. Akibat tidak punya dana yang cukup untuk membiayai hidup di masa pensiun. Tidak tenang dan cemas tentang biaya hidup sehingga menggangu ketenangan jiwa dan psikologis di hari tua.

 

Dana pensiun memang bukan untuk hari ini. Tapi untuk masa pensiun, saat tidak bekerja lagi. Di hari tua, biaya hidup akan terus ada bahkan meningkat. Tapi gaji sudah tidak punya. Sementara standar hidup harus terjaga, kemandirian finansial harus diuoayakan agar tidak bergantung kepada anak atau keluarga. Karenanya, dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) menjadi penting dipersiapkan pekerja sejak dini.

 


Salah satu caranya, dengan menyisihkan sebagian gaji atau penghasilan secara rutin melalui program DPLK. Konsisten menabung untuk hari tua selagi masih bekerja. Semakin muda seorang pekerja mulai menabung untuk pensiun, semakin besar manfaat pensiun yang akan diterimanya. Uang yang disisihkan hari ini tidak hanya tersimpan, tetapi juga berkembang dari tahun ke tahun sehingga menjadi manfaat pensiun yang jauh lebih besar.

 

Di era digital seperti sekarang, pilihlah DPLK yang punya akses digital (mendaftar secara online).  Agar kita sebagai pekerja bisa lebih mudah akses, transparan, dan layanannya cepat. Untuk bisa mendaftar DPLK secara online, salah satunya melalui  aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM). Pekerja formal atau informal perlu siapkan dana pensiun. Agar terhindar dari 5 risiko di hari tua. Setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/). DPLK SAM merupakan DPLK pertama di Indonesia yang berasal dari manajer investasi, yang menyediakan produk dan layanan utama seperti: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan dukungan teknologi digital, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website “SimPensiun” untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK.

 

Hari ini, 9 dari 10 pekerja sama sekali tidak siap pensiun. Berpotensi mengalami 5 risiko hari tua akibat belum punya dana pensiun. Karenanya, mulailah menjadi peserta DPLK agar bisa memiliki "penghasilan pengganti" di hari tua, saat tidak berhenti bekerja. Sebab setelah pensiun, rata-rata orang Indonesia masih menjalani 15--20 tahun masa kehidupan. Lalu, dari mana uang atau dana untuk membiayai hidup di hari tua? Salam #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDanaPensiun

 


150 Mahasiswa PBSI UNJ Ikuti Workshop Menulis Populer, Untuk Apa?

Bertajuk "Tulis dengan Mudah, Sampaikan dengan Menarik”, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FBS Universitas Negeri Jakarta menggelar Workshop Keterampilan Menulis Populer di Kampus UNJ Rawamangun (10/6/2026). Kegiatan untuk meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa ini dibuka oleh Dr. Edi Puryanto, M.Pd. (Koord. Prodi PBSI UNJ) didampingi Dr. Nurita Bayu K (Ketua Tim Kemahiran) yang diikuti 150 mahasiswa PBSI angkatan 2025 dengan Narasumber Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. (Dosen PBSI Unindra, Penulis 58 Buku dan Alumni Angkatan 1989 PBSI UNJ).

 

"Workshop menulis populer ini penting untuk meningkatkan aspek praktis menulis bagi mahasiswa. Berbahasa yang baik harus ditandai dengan kemampuan menulis yang baik. Selain untuk memperkuat budaya literasi, menulis populer bisa jadi keterampilan yang berlaku di dunia kerja, apalagi mahasiswa yang mau menjadi guru” ujar Dr. Edi Puryanto, M.Pd. (Koord. Prodi PBSI UNJ)

 

Syarifudin Yunus dalam pemaparannya menegaskan menulis populer saat ini lagi tren, utamanya di media sosial. Sebuah kemampuan menulis dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, menarik, relevan, dan komunikatif tanpa mengurangi akurasi isi. Tujuannya bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membuat pembaca memahami, tertarik, dan terdorong untuk berpikir atau bertindak. Menulis popular seperti artikel yang terbit di media massa, opini koran, blog, newsletter, dan konten edukasi digital seperti threads, IG atau FB.

 

Karena itu, menulis populer bukan "menyederhanakan tulisan". Tapi “mengubah informasi menjadi sesuatu yang bermakna bagi pembaca”. Di era digital begini, penulis yang berhasil bukan yang paling pintar atau paling banyak datanya, melainkan yang mampu menjawab pertanyaan pembaca: "Mengapa informasi ini penting bagi saya?" Jadi, menulis  populer adalah kemampuan mengemas ide dan informasi menjadi tulisan yang mudah dipahami, menarik dibaca tapi tetap bermakna.

 

“Menulis populer bukan menulis ilmiah. Sebab menekankan pada 1) keterbacaan, 2) kedekatan dengan pembaca, dan 3) kekuatan bercerita. Menulis dengan asyik seperti sedang ngobrol dengan pembaca. Tentu topik yang ditulis harus spesifik dan dikuasai, bisa atas dasar pengalaman, pengetahuan, atau perasaan” kata Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. di sela acara.

 

Secara substansi, menulis popular bertumpu pada tulisan yang penting bagi pembaca, bukan yang penting menurut penulis. Karena tulisan populer yang baik bukan menunjukkan seberapa banyak penulis tahu, melainkan membuat pembaca merasa tertarik dan ada manfaatnya.  Karena itu, kejelasan pesan dan aspek persuasif dalam tulisan popular sangat penting. Penulisannya pun bersifat ringan dan mengalir.

 


Workshop selama 2 jam ini juga memberikan tips praktis mengembangkan tulisan populer berdasarkan teknik “lead” dengan kata-kata yang mudah dipahami. Mahasiswa PBSI UNG sangat antusiasi mengikutinya sambil mencatat bagina-bagian penting dalam menulis populer. Di sesi akhir, kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab dan foto bersama.

 

Apakah menulis populer bisa jadi profesi? Tentu saja, menulis populer bisa menghasilkan uang. Sebab menulis populer sama seperti podcast atau youtube. Hanya saja formatnya berbeda. Tapi yang paling penting, menulis populer bukan hanya honor tulisan tapi dapat membangun ekosistem profesi di sekitar tulisan yang dipublikasikan.

 

Patut disadari dalam menulis populer. Menulis tidak haru dibayar. Tapi yag sering terjadi, karena menulis jadi dikenal dan dipercaya sehingga bisa mendapat peluang untuk punya relasi dan profesi di masa depan. Karena itu, nilai ekonomi terbesar dari menulis populer bukan pada honor artikelnya, melainkan pada reputasi yang dibangun oleh tulisan.

 

Mulailah untuk menulis populer. Sebab menulis populer adalah perbuatan bukan Pelajaran. Menulis itu praktik bukan teori bila mau terampil. Scripta manent verba volant, apa yang tertulis akan abadi dan yang terucap akan hilang. #PBSIUNJ #WorkshopMenulisPopuler





Senin, 08 Juni 2026

MEMBACA DI SUDUT KAMPUNG, KISAH MOTOR BACA KELILING SEDIAKAN AKSES BACA

Di sebuah sudut kampung yang sederhana, belasan anak duduk melingkar di atas karpet merah sambil memegang buku di tangan. Tidak ada ruang kelas yang megah, tidak ada pendingin ruangan, bahkan semuanya datang dengan berjalan kaki dari rumah masing-masing. Menghampiri Motor Baca Keliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka. Namun di tempat itulah, anak-anak menemukan sesuatu yang berharga: kesempatan untuk membaca dan mengenal dunia yang lebih luas. Setiap halaman yang dibaca, membawa mereka pada cerita, pengetahuan, dan mimpi-mimpi yang sebelumnya belum pernah dibayangkan.

 

Sebut saja, Rani, siswi kelas 4 SD yang awalnya tidak suka membaca. Baginya, buku hanya kumpulan tulisan yang membosankan. Namun sejak rutin membaca di MOBAKE pandangannya mulai berubah. Ia mulai mengenal tokoh-tokoh inspiratif, belajar tentang hewan, alam, dan berbagai tempat yang belum pernah ia kunjungi. Dari buku-buku itu, Rani mulai berani bermimpi menjadi seorang guru yang kelak dapat membantu banyak anak belajar seperti dirinya.

 

Di tengah aktivitasnya, anak-anak itu menunjukkan bahwa semangat belajar tidak selalu bergantung pada fasilitas yang mewah. Cukup duduk di tukar merah, membaca, bertanya, dan berdiskusi tentang cerita yang dibaca. Mendengarkan relawan yang memotivasi. Sebuah perilaku dan kebiasaan sederhana. Membaca perlahan membentuk rasa ingin tahu, menambah kosakata, serta melatih untuk berpikir dan berimajinasi. Terlihat kecil tapi penuh makna ...

 


Tidak ada perubahan besar tanpa dimulai dari langkah kecil. Seorang anak yang hari ini membaca satu buku bisa menjadi pemimpin, guru, penulis, atau tokoh masyarakat di masa depan. Karena setiap buku yang dibaca anak-anak bukan sekadar lembaran kertas yang dibuka. Melainkan jendela harapan untuk masa depan mereka. Dan Ari membaca lahir pengetahuan, dan dari pengetahuan lahirlah peradaban.

 

Sederhana saja, cukup sediakan akses baca. Agar anak-anak tetap bisa membaca di sudut kampung. Salam literasi! #MotorBacaKeliling #RelawanTBM #TBMLenteraPustaka

 



DPLK dan Hari Tua Pekerja: Mengapa Harus Dimulai Sekarang?

Banyak pekerja menganggap pensiun masih sangat jauh. Sering ditunda dan tidak tertarik membahasnya hari ini. Padahal, hari tua datang lebih cepat daripada yang dibayangkan. Kerja puluhan tahun tiba-tiba sebentar lagi akan pensiun. Saat masih produktif, masih ada gaji dan bisa menikmati berbagai fasilitas dari tempat kerja. Namun ketika memasuki masa pensiun, sumber penghasilan rutin bisa berhenti, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan. Maka wajar hari ini, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti kerja.

 

Terus terang, tanpa dana pensiun yang cukup, seseorang berisiko mengalami penurunan kualitas hidup dan harus bergantung kepada anak, keluarga, atau orang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Persiapan dana pensiun sesungguhnya bukan tentang menjadi kaya di hari tua, melainkan tentang menjaga kemandirian finansial dan martabat hidup di hari tua. Banyak pensiunan yang tetap bahagia bukan karena memiliki harta berlimpah, tetapi karena memiliki penghasilan pensiun yang mampu membiayai kebutuhan dasar, biaya kesehatan, dan aktivitasnya di masa pensiun. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang selama masa kerja memperoleh penghasilan besar, tetapi mengalami kesulitan keuangan setelah pensiun karena tidak pernah menyisihkan dana secara khusus untuk masa depan. Alhasil, 8 dari 10 pensiunan di Indonesia akhirnya mengandalkan bantuan finansial dari anak-keluarga yang bekerja.

 

Mau tidak mau, masa pensiun memang harus disiapkan. Salah satu caranya, dengan menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin melalui program dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Kuncinya bukan pada besarnya iuran, melainkan pada konsistensi dan waktu memulai. Semakin muda seseorang mulai menabung untuk pensiun, semakin besar manfaat pengembangan investasi yang diperoleh. Uang yang disisihkan hari ini tidak hanya tersimpan, tetapi juga bertumbuh dari tahun ke tahun sehingga membentuk dana yang jauh lebih besar saat memasuki usia pensiun.

 

Lalu gimana caranya memulai nabung di DPLK? Tentu di era digital begini, pilihlah DPLK yang punya akses digital (mendaftar secara online).  Agar kita sebagai pekerja bisa lebih mudah akses, transparan, dan layanannya cepat. Peserta DPLK harus terlibat aktif dalam mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Peserta bukan hanya sebagai penerima manfaat. Tapi juga bisa aktif memantau akumulasi dana dan mengelola perencanaan pensiun secara digital. Untuk bisa mendaftar DPLK secara online, salah satunya melalui  aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang berkomitmen memberi kemudahan akses pekerja (formal dan informal) untuk membeli DPLK. Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 


DPLK SAM merupakan DPLK pertama yang berasal dari manajer investasi di Indonesia. Saat ini menyediakan produk dan layanan utama seperti: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan dukungan teknologi digital, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website “SimPensiun” untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK.

 

Karena itu, setiap pekerja perlu memandang dana pensiun sebagai kebutuhan, bukan pilihan. Rumah, kendaraan, dan berbagai kebutuhan lainnya memang penting, tetapi kehidupan setelah berhenti bekerja juga harus dipersiapkan dengan serius. Masa pensiun yang nyaman tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten selama masa kerja. Menyiapkan dana pensiun sejak dini berarti memberi hadiah terbaik bagi diri sendiri: hari tua yang lebih tenang, sejahtera, dan tetap bermartabat tanpa harus menjadi beban bagi siapa pun.

 


Pada akhirnya, siapkan masa pensiun kita sendiri. Dari langkah kecil hari ini menuju ketenangan hari tua. Jangan hanya bekerja akhirnya lupa masa pensiun. Karena rahasia hari tua yang nyaman adalah “mulai nenabung pensiun sejak dini”. #YukSiapkanPensiun


Minggu, 07 Juni 2026

Pembayaran Manfaat Bulanan di DPLK untuk Kesinambungan Penghasilan di Hari Tua

Pada tahun 2025 lalu, data industri DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) menunjukkan pembayaran manfaat pensiun kepada peserta mencapai Rp. 20,9 triliun. Dari jumlah tersebut, jumlah manfaat pensiun yang dilakukan secara berkala atau nilainya di atas Rp 625 juta sebesar 40% atau setara Rp. 8,3 triliun. Berarti sisanya Rp. 12,6 triliun tergolong dibayarkan secara sekaligus (lumpsum).

   

Berangkat dari realitas itu, sudag saatnya DPLK mendorong pembanyaran manfaat pensiun secara berkala (bulanan), baik untuk di atas Rp. 625 juta atau di bawahnya sekalipun. Tujuannya untuk kesinambungan penghasilan di hari tua, saat peserta tidak bekerja lagi. Sekaligus untuk memastikan kemandirian finansial peserta setelah tidak bekerja lagi. Pembayaran manfaat pensiun secara berkala di DPLK harus terus didorong.

 

Tegas dinyatakan pada POJK No. 27/2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Dana Pensiun, Pasal 70 ayat 1) DPLK harus membayarkan Manfaat Pensiun secara berkala kepada Peserta, Janda/Duda, atau anak. Hal ini pun berlaku terhadap Janda/Duda atau anak dari Peserta DPLK yang meninggal di periode pembayaran Manfaat Pensiun secara berkala. Karena itu, Peserta, Janda/Duda, atau anak dapat memilih pembayaran Manfaat Pensiun secara berkala (ayat 3) dengan cara: a) dibayarkan oleh Dana Pensiun; dan/atau b) memilih untuk membeli anuitas atau anuitas syariah dari perusahaan asuransi jiwa atau perusahaan asuransi jiwa syariah. Ini berarti, opsi pembayaran manfaat pensiun secara berkala sangat dianjurkan, baik dijalankan oleh dana pensiun itu sendiri atau melalui anuitas dari Perusahaan asuransi jiwa.

 

Apabila pembayaran Manfaat Pensiun secara berkala dibayarkan oleh Dana Pensiun (ayat 4) yang dipilih peserta DPLK, maka harus memenuhi ketentuan: 1) dibayarkan secara berkala berdasarkan pilihan Peserta, Janda/Duda, atau anak untuk periode paling singkat 10 (sepuluh) tahun setelah Peserta mencapai usia pensiun sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Dana Pensiun. Opsinya, perhitungan periode pembayaran Manfaat Pensiun secara berkala terhitung periode paling cepat adalah 10 (sepuluh) tahun sampai dengan 25 (dua puluh lima) tahun setelah Peserta tersebut mencapai Usia Pensiun Normal, 2) risiko atas pengembangan akumulasi iuran merupakan tanggung jawab dari Peserta, Janda/Duda, atau anak, dan 3) harus didasarkan pada tabel yang dibuat untuk mengkonversi total akumulasi iuran dan hasil pengembangan menjadi pembayaran bulanan.

 

Selain untuk memberikan kesinambungan penghasilan, pembayaran manfaat pensiun secara berkala di DPLK seharusnya menjadi “prioritas” karena dapat menjaga arus kas bagi peserta saat menjalani hari-hari setelah pensiun. Alih-alih menerima dana sekaligus (lumpsum) yang berisiko cepat habis, pembayaran berkala memastikan pensiunan tetap memiliki penghasilan rutin setiap bulan. Sehingga terbebas dari tekanan finansial dan ketergantungan finansial kepada anak-anaknya.

 


Pembayaran manfaat pensiun secara berkala juga berfungsi sebagai alat pengelolaan risiko umur panjang (longevity risk). Banyak orang tidak dapat memperkirakan berapa lama mereka akan hidup setelah pensiun. Jika dana diambil sekaligus dan digunakan tanpa perencanaan matang, ada risiko kehabisan dana di usia lanjut. Skema pembayaran berkala mengurangi risiko tersebut karena dirancang agar dana bertahan lebih lama. Dari sisi perilaku, sistem pembayaran berkala membantu mengatasi bias konsumsi berlebihan di awal pensiun. Tanpa mekanisme manfaat berkala, sebagian pensiunan cenderung menggunakan dana besar di awal untuk kebutuhan atau keinginan yang tidak prioritas. Maka dengan pembayaran yang dicicil setiap bulan, pengeluaran menjadi lebih terjaga dan terarah. Dan yang penting, pembayaran manfaat pensiun secara berkala akan berdampak besar pada psikologis pensiunan. Sebab merasa tetap memiliki “gaji bulanan” meskipun sudah tidak bekerja lagi.

 

Sebagai upaya membantu peserta DPLK dalam pembayaran manfaat pensiun berkala, DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) sebagai DPLK pertama di Indonesia yang berasal dari manajer investasi memiliki fitur “pembayaran manfaat bulanan” yang dapat dipantau secara online. Melalui aplikasi “SimPensiun” DPLK SAM,peserta memiliki akses digital agar lebih mudah, cepat, dan transparan. Termasuk untuk daftar menjadi peserta DPLK secara online. Selain pembayaran manfaat pensiun secara bulanan, DPLK SAM memiliki produk dan layanan seperti: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, dan 4) Dana Pendidikan Anak yang semuanya dapat dilakukan secara online baik melalui aplikasi digital maupun website. (Silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

Karena itu, pembayaran manfaat DPLK secara berkala atau bulanan menjadi penting untuk disosialisasikan. Tujuannya, untuk menciptakan rasa aman secara finansial di hari tua dan kesehatan psikologis pensiunan. Sebab masa pensiun seringkali diiringi perubahan besar dalam kehidupan, sehingga kepastian finansial menjadi faktor kunci dalam menjaga standar dan kualitas hidup di hari tua. #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDanaPensiun

Apakah Aku Siap untuk Pensiun?

Fakta hari ini, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun. Alhasil, 8 dari 10 pensiunan bergantung secara finansial kepada anggota keluarganya yang bekerja (BPS, 2024).  Sementara ADB (2024) menyebut 1 dari 2 pensiunan di Indonesia benar-benar mengandalkan transferan anak untuk memenuhi biaya hidupnya setiap bulan. Bila begitu, maka ada pertanyaan penting. Bagaimana aku menghadapi masa pensiun?

 

Mungkin ada yang sepakat. Akan kuhadapi masa pensiun dengan penuh kesiapan, keyakinan, dan rasa syukur. Pensiun bukanlah akhir dari perjalanan hidup, melainkan awal dari babak baru yang memberi kesempatan untuk menikmati hasil kerja keras selama bertahun-tahun. Masa ini menjadi momentum untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang, lebih bermakna, dan lebih dekat dengan hal-hal yang selama ini mungkin tertunda karena kesibukan pekerjaan.

 

Akan kuhadapi masa pensiun dengan semangat untuk terus bertumbuh dan berkarya. Berhentinya aktivitas kerja formal tidak berarti berhentinya produktivitas. Justru pensiun dapat menjadi waktu yang tepat untuk mengembangkan hobi, menekuni usaha kecil, berbagi pengalaman kepada generasi muda, atau terlibat dalam kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki selama bekerja tetap menjadi aset yang berharga.

 

Akan kuhadapi masa pensiun dengan hati yang bahagia dan pikiran yang positif. Masa pensiun adalah kesempatan untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarga, menjaga kesehatan, memperkuat hubungan sosial, dan menikmati berbagai pengalaman yang membawa kebahagiaan. Dengan persiapan yang baik, masa pensiun dapat menjadi periode kehidupan yang penuh makna, produktif, sehat, dan sejahtera.

 


Tapi sayangnya, aku belum siap pensiun karena belum punya perencanaan yang matang dan pengelolaan keuangan yang bijak untuk pensiun. Mau tidak mau, di sisa wkatu tersisa, aku harus persiapkan masa pensiunku sendiri. untuk memastikan tetap mandiri secara finansial di hari tua sekaligus tidak bergantung kepada anak atau keluarga. Lebih dari itu, aku harus mencari cara untuk bisa memiliki kesinambungan penghasilan setiap bulan setelah pensiun. Agar masa pensiun bisa lebih tenang dan tetap sejahtera.

 

Karena itu, aku mulai berpikir untuk mulai menjadi peserta DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Menabung rutin setiap bulan dan menyisihkan sebagian gaji untuk hari tua. Sebab melalui DPLK, aku berharap 1) ada kepastian dan yang cukup untuk hari tua, 2) punya kesinambungan penghasilan di masa pensiun, dan 3) bisa menjaga standar hidup seperti saat masih bekerja.

 

Karenanya, aku mencari di mana ada DPLK yang bisa mendaftar secara online? Tentu, aku harus memilih DPLK yang punya akses digital (melalui aplikasi dana pensiun secara online). Agar aku sebagai pekerja  bisa lebih mudah memantau akumulasi dana dan terlayani dengan cepat. Sebagai peserta DPLK, aku ingin terlibat langsung dalam menentukan pilihan investasi, tahu biaya yang dikenakan, dan bisa memanta dana secara langsung di mana pun dan kapan pun. Apalagi sekalipun sudah puluhan tahun bekerja, kantor tempatku bekerja tidak menyediakan fasilitas DPLK. Maka harus mencarinya sendiri untuk bisa memiliki DPLK. Agar aku tahu, berapa iuran yang harus disetor dan berapa besar manfaat yang akan diterima saat pensiun? (Untuk itu, silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

Aku sadar, cepat atau lambat pasti akan pensiun. Karena itu, aku harus persiapkan masa pensiunku sendiri. agar kelak, aku tidak menyusahkan anak-anak atau orang lain. Dan kini aku sadar, harus berani siapkan masa pensiun yang tenang dan sejahtera untuk diriku sendiri, Salam sehat selalu dan #YukSiapkanPensiun