Setiap habis gajian, di akhir bulan, Rudi selalu punya kebiasaan yang sama. Mengecek slip gaji, lalu menghitung pengeluaran. Gajinya Rp10 juta per bulan. Biasanya cepat habis, Bayar cicilan, untuk kebutuhan rumah, dan sedikit hiburan. Sisihkan juga alokasi buat ngop bareng teman-teman di kantor.
“Hidup ya
begini… yang penting cukup,” pikirnya.
Suatu hari, di
kantor, Rudi ikut sesi edukasi keuangan. Ngomongin tentang pensiun. Sekalipun dia
masih 20 tahun lagi pensiun. Tapi ada satu kalimat yang bikin Rudi terus
terngiang di kepalanya: “Saat pensiun, idealnya penghasilan Anda sekitar 70%
dari gaji terakhir.”
Setelah sesi
itu. Rudi mulai berpikir. Kalau sekarang Rp10 juta, berarti nanti ia butuh
sekitar Rp7 juta per bulan sata pensiun. Padahal saat pensiun tiba, ia sudah
tidak bekerja. Tidak punya gaji bulanan lagi.” Terus, dari mana uang segitu
tiap bulan di masa pensiun?” batin Rudi.
Malam itu, Rudi
tidak bisa langsung tidur. Sedikit merenung. Ia membayangkan dirinya di usia 60
tahun. Tanpa gaji, tanpa penghasilan lagi. Tapi tetap harus makan. Tetap harus
bayar listrik. Mungkin juga terjadang harus bayar biaya Kesehatan, akibat sakit.
“Kalau bukan
dari sekarang… dari mana nanti Rp7 juta per bulan itu datang?”
Rudi sadar,
dari mana Rp 7 juta per bulan di hari tua? Biar punya program JHT BPJS, pasti
nggak cukup. Apalagi diambil sekaligus jadi gampang habis. Uang pesangon dari
kantor, bisa dibayar bisa nggak? Atau dikasih pesangon semampu perusahaannya.
Makin pusing Rudi mikirin pensiun.
Besoknya, Rudi nekad
dan mengambil keputusan kecil. Tanpa pikir panjang lagi. Rudi mulai menyisihkan
sebagian gajinya untuk dana pensiun. Nabung ke DPLK (Dana Pensiun Lembaga
Keuangan). Iurannya nggak langsung besar. Rp. 1 juta per bulan. Biar tidak
terasa berat, tapi konsisten. Dia hanya mau siapin pensiunnya sendiri.
Tahun demi
tahun berlalu. Kariernya berkembang. Gajinya naik. Dan dana pensiunnya, ikut
tumbuh diam-diam. Mulai tambah iuran bulanan, bahkan sering juga top up. Apalagi
saat terima bonus atau THR. Bagi Rudi, kalua sudah biasa nabung buat pensiun
malah jadi asyik. Disiplin nabung bukan untuk gaya hidup atau liburan. Tapi
untuk hari tua. Langka banget pekerja muda mau nabung untuk pensiun.
Hingga
akhirnya, masa pensiun itu tiba. Usia Rudi sudah 55 tahun. Harus pensiun kata
peraturan kantornya. Dia berhenti bekerja, tidak punya gaji lagi. Uang JHT BPJS
dicairkan buat modal usaha. Uang pesangon dari kantor “ditabung” untuk biaya
kuliah anaknya.
Untungnya, dia punya DPLK. Nilainya juga lumayan besar. Akumulasi dananya tembus
Rp. 900 juta. Dia meminta dibayar secara bulanan selama 10 tahun. Dan sejak
pensiun, Rudi jadi punya “penghasilan” tiap bulan. Rp. 7,2 juta per bulan,
lebih sedikit dari 70% gaji terakhirnya. Punya income setelaah pensiun, dan
tidak kehabisan uang di hari tua.
Rp. 7 juta per
bulan di masa pensiun, memang tidak persis sama seperti saat masih bekerja. Tapi
cukup untuk biaya hidup di hari tua. Dan tidak perlu bergantung pada anaknya. Sekitar
70% dari gaji terakhirnya. Cukup untuk hidup layak. Cukup untuk hidup tenang di
masa tua.
Dalam
hati Rudi, ternyata pensiun bukan tentang mengganti 100% gaji. Bukan
pula untuk kaya. Tapi untuk memastikan, hidup bisa terus berjalan. Tetap mampu
menjaga standar hidup sekalipun sudah tidak punya gaji. Rudi bersyukur sudah membuat
keputusan penting, untuk menabung di DPLK saat masih kerja dulu.
Terbukti benar,
tenangnya masa pensiun ternyata karena tersedia dana yang cukup untuk hari tua.
Tidak gelisah, tidak khawatir karena nggak punya uang. Rudi pun tersenyum simpul,
menjalani hari tuanya dengan nyaman. “Ohh, begini ya yang dibilang kerja yes
pensiun oke” batin Rudi sambil menikmati secangkir kopi.
.jpg)

.jpg)

.jpg)





.jpg)
.jpg)
%20rev.jpg)
.jpg)

.jpg)
_cropped_processed_by_imagy.jpg)
.jpg)