Malam ini, suamiku pulang tanpa sepatah kata. Ia membuka pintu perlahan, meletakkan tasnya, lalu duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada keluhan, tidak ada cerita tentang bagaimana hari yang panjang telah menguras tenaganya. Namun, dari matanya, aku tahu ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan. Aku pun berdiri, menghampirinya, dan memeluk tubuhnya erat. Seolah-olah pelukan itu bisa menjadi tempat baginya untuk meletakkan seluruh beban yang dipikulnya. Dan benar saja, dalam pelukan, suamiku menangis sesenggukan. Tangannya mencengkeram tubuhku, seakan takut jika ia melepaskan pelukan itu, seluruh kekuatannya akan ikut menghilang.
Aku hanya bisa menyucurkan
air mata. Bukan karena aku tidak ingin menguatkannya, tetapi karena aku sendiri
sudah terlalu lama menahan kesedihan. Sejak anak kami terbaring di rumah sakit,
hatiku seperti tak pernah benar-benar menemukan ketenangan. Dokter mengatakan
anak kami mengidap thalassemia, kelainan darah bawaan yang membuat tubuhnya
lemas dan wajahnya tampak pucat. Kami pun masih berusaha memahami semuanya.
Mengapa anak kami? Mengapa
harus ia yang menanggung sakit sebesar ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar
di kepalaku, tetapi tidak satu pun mampu menemukan jawaban. Aku hanya seorang
ibu yang ingin melihat anaknya tumbuh sehat, berlari, tertawa, dan memanggilku
dengan suara riang.
Di bangsal rumah sakit, aku
duduk di sisi tempat tidurnya. Wajah kecil itu terlihat begitu pucat. Tangannya
yang mungil terbaring lemah, sementara selang dan berbagai peralatan medis
menjadi pemandangan yang belum pernah kubayangkan akan hadir dalam kehidupan
kami. Aku menggenggam jemarinya, berusaha tersenyum meskipun air mata terus
jatuh. Di sisi lain, suamiku masih tertunduk lesu. Seorang ayah yang biasanya
menjadi tempat kami bersandar, malam itu terlihat begitu rapuh. Aku tahu ia
sedang berjuang. Bukan hanya melawan rasa takut kehilangan, tetapi juga melawan
perasaan bersalah karena belum mampu melakukan lebih banyak untuk anak kami.
Tiba-tiba, dari dalam
kamarnya, terdengar suara lirih yang begitu kukenal. “Mana... Mama!” Dua kata
sederhana itu langsung menghancurkan sisa kekuatan yang masih kusimpan. Aku
segera menghampirinya, membelai kepalanya, lalu mendekap tubuhnya dengan hati-hati.
“Mama di sini, Nak... Mama di
sini,” bisikku berulang kali. Ia mungkin belum mengerti mengapa tubuhnya harus
merasakan sakit, mengapa ia harus berada di rumah sakit, atau mengapa wajah
Mama dan Papanya selalu dipenuhi air mata. Yang ia tahu hanyalah ketika rasa
sakit datang, ia membutuhkan mamanya. Dan aku ingin selalu ada, meskipun hatiku
sendiri sedang berkeping-keping.
Malam semakin larut. Suamiku
duduk di samping tempat tidur anak kami, mengusap wajahnya yang basah oleh air
mata. Aku melihatnya diam-diam, lalu menyadari bahwa kami sedang menghadapi
ujian yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Kami bukan keluarga yang
memiliki semua jawaban. Kami juga bukan manusia yang selalu kuat. Ada saatnya
kami ingin berteriak, bertanya kepada Tuhan mengapa jalan ini begitu berat.
Namun, di antara tangis dan ketidakpastian, kami masih memiliki satu sama lain.
Kami masih bisa saling memeluk. Masih bisa menggenggam tangan anak kami. Dan
masih bisa berdoa, meskipun doa itu terkadang hanya berupa bisikan yang keluar
dari hati yang hancur.
Aku pun menatap wajah anakku
yang mulai terlelap. Tanganku masih menggenggam jemarinya, sementara suamiku
duduk di sampingku. Dalam hati, aku berbisik, “Ya Allah, jika sakit ini harus
kami jalani, berikanlah kami kekuatan. Jika air mata ini harus terus mengalir,
jangan biarkan kami kehilangan harapan. Sembuhkanlah anak kami, atau
setidaknya, jangan biarkan ia merasa sendirian dalam sakitnya.”
Malam itu, kami tidak tahu
bagaimana hari esok akan berjalan. Kami hanya tahu bahwa cinta seorang ibu dan
ayah tidak akan berhenti ketika tubuh anaknya mulai lemah. Sebab, bagi kami,
anak ini bukan sekadar bagian dari kehidupan. Ia adalah alasan kami tetap
bertahan, bahkan ketika hati kami sendiri hampir menyerah. Terkadang, ada pelukan
yang menyimpan sejuta luka …




.jpg)
.jpg)
%20rev.png)

.jpg)



.jpg)




.jpg)
(1).jpg)