Minggu, 07 Juni 2026

Apakah Aku Siap untuk Pensiun?

Fakta hari ini, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun. Alhasil, 8 dari 10 pensiunan bergantung secara finansial kepada anggota keluarganya yang bekerja (BPS, 2024).  Sementara ADB (2024) menyebut 1 dari 2 pensiunan di Indonesia benar-benar mengandalkan transferan anak untuk memenuhi biaya hidupnya setiap bulan. Bila begitu, maka ada pertanyaan penting. Bagaimana aku menghadapi masa pensiun?

 

Mungkin ada yang sepakat. Akan kuhadapi masa pensiun dengan penuh kesiapan, keyakinan, dan rasa syukur. Pensiun bukanlah akhir dari perjalanan hidup, melainkan awal dari babak baru yang memberi kesempatan untuk menikmati hasil kerja keras selama bertahun-tahun. Masa ini menjadi momentum untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang, lebih bermakna, dan lebih dekat dengan hal-hal yang selama ini mungkin tertunda karena kesibukan pekerjaan.

 

Akan kuhadapi masa pensiun dengan semangat untuk terus bertumbuh dan berkarya. Berhentinya aktivitas kerja formal tidak berarti berhentinya produktivitas. Justru pensiun dapat menjadi waktu yang tepat untuk mengembangkan hobi, menekuni usaha kecil, berbagi pengalaman kepada generasi muda, atau terlibat dalam kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki selama bekerja tetap menjadi aset yang berharga.

 

Akan kuhadapi masa pensiun dengan hati yang bahagia dan pikiran yang positif. Masa pensiun adalah kesempatan untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarga, menjaga kesehatan, memperkuat hubungan sosial, dan menikmati berbagai pengalaman yang membawa kebahagiaan. Dengan persiapan yang baik, masa pensiun dapat menjadi periode kehidupan yang penuh makna, produktif, sehat, dan sejahtera.

 


Tapi sayangnya, aku belum siap pensiun karena belum punya perencanaan yang matang dan pengelolaan keuangan yang bijak untuk pensiun. Mau tidak mau, di sisa wkatu tersisa, aku harus persiapkan masa pensiunku sendiri. untuk memastikan tetap mandiri secara finansial di hari tua sekaligus tidak bergantung kepada anak atau keluarga. Lebih dari itu, aku harus mencari cara untuk bisa memiliki kesinambungan penghasilan setiap bulan setelah pensiun. Agar masa pensiun bisa lebih tenang dan tetap sejahtera.

 

Karena itu, aku mulai berpikir untuk mulai menjadi peserta DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Menabung rutin setiap bulan dan menyisihkan sebagian gaji untuk hari tua. Sebab melalui DPLK, aku berharap 1) ada kepastian dan yang cukup untuk hari tua, 2) punya kesinambungan penghasilan di masa pensiun, dan 3) bisa menjaga standar hidup seperti saat masih bekerja.

 

Karenanya, aku mencari di mana ada DPLK yang bisa mendaftar secara online? Tentu, aku harus memilih DPLK yang punya akses digital (melalui aplikasi dana pensiun secara online). Agar aku sebagai pekerja  bisa lebih mudah memantau akumulasi dana dan terlayani dengan cepat. Sebagai peserta DPLK, aku ingin terlibat langsung dalam menentukan pilihan investasi, tahu biaya yang dikenakan, dan bisa memanta dana secara langsung di mana pun dan kapan pun. Apalagi sekalipun sudah puluhan tahun bekerja, kantor tempatku bekerja tidak menyediakan fasilitas DPLK. Maka harus mencarinya sendiri untuk bisa memiliki DPLK. Agar aku tahu, berapa iuran yang harus disetor dan berapa besar manfaat yang akan diterima saat pensiun? (Untuk itu, silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

Aku sadar, cepat atau lambat pasti akan pensiun. Karena itu, aku harus persiapkan masa pensiunku sendiri. agar kelak, aku tidak menyusahkan anak-anak atau orang lain. Dan kini aku sadar, harus berani siapkan masa pensiun yang tenang dan sejahtera untuk diriku sendiri, Salam sehat selalu dan #YukSiapkanPensiun

 


Workshop TBM Naik Kelas dari Forum TBM Kabupaten Bogor, Gimana Caranya?

Sebagai upaya meningkatkan kapasitas pengelola TBM (Taman Bacaan Masyarakat), Forum TBM Kabupaten Bogor menggelar workshop “TBM Naik Kelas: Menguatkan TBM sebagai Pusat Literasi, Kreativitas, dan Pemberdayaan Masyarakat” di Bogor (7/6/2026). Bertindak sebagai narasumber 1) Syarifudin Yunus (Pendiri TBM Lentera Pustaka) dan 2) Agus Nazmudin (Pengurus Bale Baca Cijayanti) dengan moderator Mila Fitrina, di samping kegiatan mewarnai untuk anak-anak.  

 

Acara literasi yang disponsori Noura Publishing dan Cimory ini dihadiri 30 pengelola TBM dan dibuka oleh Sri Lina Qomariyah (Ketua Forum TBM Kab. Bogor), kegiatan workshop ini bertujuan untuk menggerakkan TBM sebagai pusat literasi dan kreativitas masyarakat yang berdaya. Karena itu, TBM Naik Kelas dimaknai agar TBM di Kab. Bogor dapat “naik kelas” daari kondisi saat ini menjadi lebih baik lagi. Utamanya dari pengembangan, kolaborasi dan pendanaan, dan praktik baik yang dijalankan sebagai program literasi TBM.

 

Syarifudin Yunus dalam paparannya menjelaskan bahwa naik kelas berarti tahu posisi TBM sekarang dan mau ke mana TBM esok? Dari hasil penelitiannya, Syarif menjelaskan kondisi TBM di Kab. Bogor sebagai berikut: a) 85% TBM memiliki koleksi di bawah 3.000 buku, b) 60% jumlah pembaca di bawah 60 anak, c) 70% punya SDM/relawan di bawah 10 orang, d) 60% TBM beroperasi 2-3 hari seminggu, e) 75% TBM dibiayai secara swadaya, dan f) 65% TBM membutuhkan dana di bawah Rp. 25.000.000 setahun.

 

“Atas kondisi TBM di Kab. Bogor, sesuai riset saya maka untuk naik kelas indikator seperti jumlah pembaca, koleksi buku, relawan, dan jadwal operasi masih perlu dioptimalkan. Maka pengelola TBM harus punya komitmen dan konsistensi dalan menjalankan program di TBM-nya. Untuk pendanaan dari pihak ketiga, harus diperkuat relasi, promosi, dan kolaborasi” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka yang meraih doktor manajemen pendidikan di bidang tata kelola taman bacaan.

 


Sementara itu, Agus Nazmudin dari BBC menyampaikan praktik baik dalam pengelolaan TBM, khususnya yang berkaitan dengan kolaborasi dan rekrutmen relawan. Tujuannya untuk mengoptimalkan program yang dijalankan taman bacaan.

 

Antusiasme peserta terlihat dari pertanyaan yang diajukan dan perhatian selama berlangsung acara “TBM Naik Kelas”. Di akhir acara, Ketua Forum TBM Kab. Bogor menyampaikan sertifikat kepada narasumber dan ditutup dengan foto bersama. Semoga pengelola TBM di Kabupaten Bogor bisa melakukan inisiasi yang konkret sepulang dari acara ini. Untuk literasi yang lebih berdaya dan berdampak ke masyarakat. Salam literasi!

 



 


Sabtu, 06 Juni 2026

Literasi Lapang Hati: Apapun yang Terjadi, Mulailah Belajar Menerima

"Mulailah belajar menerima dengan lapang hati, apapun yang terjadi. Karena mau kita terima atau tolak, semuanya tetap berjalan”. Sebab takdir tidak pernah bertanya, bagaimana perasaan kita, apakah kita suka, tidak suka, atau bahagia? Takdir juga tidak peduli proses kita, tapi di situlah letaknya kekuatan. Ketika kita bisa. menerima, kita jadi lebih kuat, lebih tenang dan siap menghadapi apapun yang datang.

 

Hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan kita. Ada kalanya keadaan berubah, rencana tidak tercapai, atau tantangan datang tanpa diduga. Menerima kenyataan bukan berarti menyerah, tetapi memahami bahwa ada hal-hal yang berada di luar kendali kita. Sikap menerima dengan lapang hati justru membuat kita lebih tenang dan mampu mencari jalan terbaik untuk melangkah ke depan.

 

Dalam konteks taman bacaan, sikap menerima sangat penting bagi para pengelola maupun relawan. Tidak semua program berjalan sesuai rencana. Terkadang jumlah pengunjung sedikit, buku yang tersedia terbatas, atau dukungan dari masyarakat belum maksimal. Jika kondisi tersebut ditolak dengan rasa kecewa yang berlebihan, semangat untuk mengembangkan taman bacaan bisa menurun. Sebaliknya, dengan menerima keadaan dan terus berusaha, taman bacaan dapat berkembang secara bertahap. Begitulah spirit relawan di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.

 

Bila sebuah taman bacaan di desa hanya dikunjungi lima anak pada saat awal dibuka. Pengelola mungkin berharap puluhan anak datang setiap hari. Namun, mereka menerima kondisi tersebut sebagai proses awal, lalu tetap konsisten mengadakan kegiatan membaca, mendongeng, dan belajar bersama. Beberapa bulan kemudian, jumlah pengunjung meningkat karena anak-anak mulai merasa nyaman dan mengajak teman-temannya untuk datang.

 


Ketika banyak buku di taman bacaan sudah usang atau jumlahnya terbatas. Daripada mengeluh, pengelola dapat menerima keadaan tersebut dan mencari solusi, seperti mengadakan program donasi buku atau bekerja sama dengan sekolah dan komunitas. Dari sikap menerima itulah muncul kekuatan, kreativitas, dan ketekunan yang akhirnya membuat taman bacaan tetap hidup serta memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

 

Jadi, mulailah belajar menerima dengan lapang hati, apapun yang terjadi. Karena mau kita terima atau tolak, semuanya tetap berjalan. Salam literasi!



Pekerja 26 Tahun Nabung Rp. 1 Juta per Bulan di DPLK, Berapa Uang Pensiunnya di Usia 56 Tahun?

Ada pekerja Gen Z bertanya. Dia usianya 26 tahun dengan gaji 10 juta, kira-kira bila nabung untuk dana pensiun Rp. 1 juta per bulan dapatnya berapa saat pensiun di usia 56 tahun nanti? Menarik dan pertanyaan bagus banget sih. Tapi sebelum menjawab, pastikan dulu kita paham bedanya dana pensiun dan asuransi jiwa ya. Dana pensiun memang didedikasikan untuk hari tua, sedangkan asuransi jiwa ya pastinya untuk proteksi, baik jiwa maupun kesehatan. Biar nggak tertukar, intiny bila mau siapkan masa pensiun yang tenang dan sejahtera ya di dana pensiun atau DPLK. Karena syarat pensiun itu: ada ketentuan usia dan masa bekerja. Sesuai aturan ketenagakerjaan, bukan usia pensiun kita yang tentukan, bukan pula kita juga yang menentukan masa ber-asuransi.

 

Ok sekarang kita jawab dan bahas. Bila pekerja Gen Z usia 26 tahun, nabung di DPLK Rp. 1 juta per bulan. Maka berapa besar manfaat pensiunnya di usia 56 tahun nanti?

Hitungannya kira-kira begini. Iuran DPLK: Rp1.000.000 per bulan. Mulai menabung usia: 26 tahun. Pensiun usia: 56 tahun. Masa iuran: 30 tahun (360 bulan). Hasil investasi rata-rata: 5% per tahun. Iuran dibayarkan setiap bulan

 

Maka saat pensiun di usia 56 tahun, dengan asumsi hasil investasi 5% per tahun dan iuran Rp. 1 juta setiap bulan selama 30 tahun, dana yang terkumpul pada saat pensiun (manfaat pensiun) diperkirakan sekitar: Rp832.258.635 (± Rp832 juta). Meskipun total iuran yang disetor hanya: Rp1.000.000 × 12 × 30 = Rp360.000.000. Tapi dana berkembang menjadi sekitar Rp832 juta karena adanya akumulasi hasil investasi selama 30 tahun.

 

Gimana cara bayarnya? 

Kita harus paham, siapapun saat pensiun pasti nggak punya gaji lagi. Maka uang pensiun lebih baik dibayarkan secara berkala atau bulanan. Bila uang pensiun kita Rp. 832 juta, lalu dibayarkan sebagai manfaat pensiun selama 10 tahun maka 1) bila tanpa pengembangan lagi menjadi Rp 832.258.635 ÷ 120 bulan = Rp 6.935.489 per bulan atau sekitar Rp6,9 juta per bulan selama 10 tahun atau 2) bila dana tetap diinvestasikan dengan imbal hasil 5% per tahun, maka manfaat pensiun bulanan yang diterima sekitar: Rp 8.827.394 per bulan atau sekitar Rp 8,8 juta per bulan selama 10 tahun. Namun lain lagi bila saat pensiun, manfaatnya diambil sekaligus 20% (sekitar Rp. 166 juta) dan sisanya Rp. 665 juta baru dibayarkan bulanan selama 10 tahun bisa lebih rendah dari Rp. 6,9 juta.

 

Ilustrasi DPLK Nabung Rp 1 Juta selama 30 tahun dan manfaat dibayar 10 tahun

Keterangan

Nilai

Iuran bulanan

Rp1.000.000

Masa iuran

30 tahun

Total iuran disetor

Rp360.000.000

Dana pensiun usia 56 tahun

Rp832.258.635

Manfaat pensiun (dibagi rata 10 tahun)

Rp6.935.489/bulan

Manfaat pensiun (tetap berkembang 5%)

Rp8.827.394/bulan

 


Lalu gimana caranya memulai nabung di DPLK? Tentu di era digital begini, pilihlah DPLK yang punya akses digital (mendaftar secara online).  Agar kita sebagai pekerja bisa lebih mudah, transparan, dan layanannya cepat. Sebagai peserta DPLK, kita harus terlibat dalam mempersiapkan masa pensiun. Peserta bukan hanya menjadi nabung dan penerima manfaat. Tapi juga bisa aktif memantau akumulasi dana dan mengelola perencanaan pensiun secara digital. Untuk bisa mendaftar DPLK secara online, bisa menggunakan aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang berkomitmen memberi kemudahan akses pekerja (formal dan informal) untuk membeli DPLK. Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan.

 

Saat ini DPLK SAM menyediakan produk dan layanan utama terdiri dari: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan orientasi digitalisasi dana pensiun, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK. (Silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

Jadi buat pekerja Gen Z, pesan pentingnya dengan iuran Rp 1 juta per bulan sejak usia 26 tahun, maka manfaat pensiun yang diperoleh menjadi “dua kali lipat” dari total iuran yang disetor. Semakin dini mulai menabung untuk pensiun, emakin besar pengaruh compounding (bunga berbunga) terhadap manfaat pensiun yang diperoleh. Ketahuilah, cepat atau lambat, setiap pekerja akan pensiun. Saatnya untuk siapkan masa pensiun yang tenang dan Sejahtera sejak dini. Salam sehat selalu dan #YukSiapkanPensiun

 


Jumat, 05 Juni 2026

Permudah Pekerja Punya Dana Pensiun, DPLK SAM Sediakan Akses Digital

Selain edukasi yang berkelanjutan, salah satu kendala pekerja memiliki dana pensiun adalah ketersediaan akses digital. Cara mempermudah pekerja formal maupun informal untuk membeli Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Karena itu, DPLK SAM (Sinarmas Asset Management) sebagai DPLK yang berasal dari manajer investasi pertama di Indonesia, bertekad memberi kemudahan akses secara digital bagi pekerja untuk memiliki program pensiun.

 

Berbekal visi “Menjadi pilar terpercaya dalam mewujudkan kemandirian finansial bagi masyarakat Indonesia di hari tua melalui pengelolaan dana pensiun yang aman dan berbasis teknologi digital”, DPLK SAM mendorong peningkatan kesadaran tentang pentingnya perencanaan pensiun sejak dini melalui edukasi yang berkelanjutan. di samping menyediakan produk DPLK yang inklusif dan mudah diakses, sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhan setiap pekerja. Karenanya, dukungan teknologi digital untuk menghadirkan layanan dana pensiun yang efisien, transparan, dan terpercaya menjadi diperlukan.

 

Melalui aplikasi “SimPensiun”, DPLK SAM berkomitmen untuk memberi kemudahan akses pekerja (formal dan informal) untuk membeli DPLK. Dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan, maka setiap pekerja sudah bisa memiliki akun DPLK yang dapat dipantau sebagai cerminan transparansi pengelolaan dana pensiun. Sebagai “Mitra Terpercaya Anda untuk Hari Tua Sejahtera”, DPLK SAM meyakini ketersediaan akses digital DPLK dapat memberikan banyak manfaat bagi peserta maupun penyelenggara program pensiun seperti:

1.       Kemudahan Onboarding atau mendaftar sebagai peserta DPLK secara online.

2.       Dapat memantau saldo dan perkembangan akumulasi dana setiap saat.

3.       Transparansi yang lebih baik, seperti Riwayat iuran dan kinerja investasi.

4.       Dapat di-akses kapan saja dan di mana saja.

5.       Proses administrasi lebih cepat.

6.       Dapat meningkatkan kesadaran perencanaan pensiun.

7.       Menjadi sarana komunikasi dan edukasi yang lebih efektif.

8.       Keamanan data yang lebih baik melalui OTP atau biometrik.

9.       Transaksi secara real-time



Ringkasnya, melalui akses digital, DPLK SAM memberikan kemudahan, transparansi, kecepatan layanan, dan peningkatan keterlibatan peserta dalam mempersiapkan masa pensiun. Peserta tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga dapat secara aktif memantau dan mengelola perencanaan pensiunnya sejak dini.

 


Saat ini DPLK SAM menyediakan produk dan layanan utama terdiri dari: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan orientasi digitalisasi dana pensiun, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK. (Silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

Untuk diketahui, Dana Pensiun Lembaga Keuangan Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) merupakan DPLK pioner yang didirikan dari manajer investasi di Indonesia melalui Keputusan DK OJK No. KEP-39/D.05/2026 tertanggal 5 Juni 2026. DPLK SAM didirikan oleh Sinarmas Asset Management, salah satu perusahaan manajer investasi terkemuka di Indonesia yang merupakan bagian dari pilar bisnis keuangan Grup Sinar Mas yang berdiri sejak tahun 2012, dengan dana kelolaan lebih dari Rp. 62 triliun yang melayani lebih dari 75.000 nasabah di 40 kantor pemasaran. Salam #YukSiapkanPensiun

Ada Anak Bisa Beli Buku Lalu Membacanya, Ada Pula Anak yang Baru Bisa Baca bila Disediakan Tempatnya

Ada orang yang makan dulu sebelum bekerja. Ada pula yang bekerja dulu baru bisa makan. Begitu pula di dunia literasi. Ada anak yang bisa membeli buku lalu membacanya. Tapi ada anak yang baru bisa membaca buku bila disediakan tempatnya. Ternyata, sebegitu adilnya hidup dan dunia ini.

 

Karena itu, apapun selagi baik dan bermanfaat Jalani prosesnya. Kerjakan sepenuh hati dan syukuri selapang hati. Jangan banyak mengeluh, sampai semuanya akan indah pada waktunya. Berhentilah menjelaskan diri kepada semua orang. Stop mengejar pengakuan. Bukan karena menyerah, melainkan karena sadar bahwa tidak semua orang datang untuk memahami. Ada yang hanya singgah sebentar, meninggalkan pelajaran, lalu melanjutkan perjalanannya. Dan itu tidak apa-apa.

 

Ketahuilah, orang yang membenci kita akan tetap mencari kesalahan. Dan orang yang menghargai tidak membutuhkan penjelasan apapun. Maka jangan lagi menghabiskan energi untuk meyakinkan semua orang. Sebab kita tidak bisa mengontrol  apapu di luar kendali kita. Dan kita, tidak akan pernah mampu menyenangkan semua orang.

 

Fakta yang sering terjadi adalah kerja bagus kita selama setahun selalu dianggap sudah kewajiban. Tapi satu kesalahan kecil kita hari Senin akan dibahas sampai hari Jumat. Realitas itu ada di dekat kita dan terus berulang. Maka tetaplah jadi diri sendiri tanpa kehilangan ketenangan hanya untuk mendapatkan pengertian dari mereka yang memang tidak berniat mengerti.

 


Mulai hari ini, jangan lagi habiskan waktu hanya untuk takut dan cemas pada apa yang dikatakan orang lain. Jangan memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Karena hidup ini tidak ada yang tahu sampai kapan. Selagi masih diberi kesempatan, nikmati, syukuri, dan jalani hidup dengan sebaik-baiknya. Teruslah berbuat baik dan menebar manfaat di mana pun.

 

Percayalah, apa yang menjadi takdir kita pasti akan mencari jalannya sendiri. Tenanglah skenario Tuhan selalu lebih rapi dari rencana manusia manapun. Toh, pada akhirnya bukan seberapa terkenal kita. Tapi seberapa banyak kebaikan yang bisa kita sebarkan kepada sesama. Begitulah spirit relawan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Salam literasi!

 



Kamis, 04 Juni 2026

OJK Sahkan DPLK Sinarmas Asset Management sebagai Manajer Investasi Pertama Pendiri DPLK di Indonesia

Sesuai dengan UU No. 4/2023 tentang P2SK dan POJK No. 35/2024 tentang Perizinan dan Kelembagaan Dana Pensiun, OJK hari ini merilis Pengesahan atas Pendirian Dana Pensiun Lembaga Keuangan Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) melalui Keputusan DK OJK No. KEP-39/D.05/2026 tertanggal 5 juni 2026, yang ditandatangani oleh Ogi Prastomiyono (Kepala eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK). Dengan begitu, DPLK SAM menjadi DPLK yang berasal dari Manajer investasi pertama di Indonesia.

 

Dengan berdirinya DPLK SAM yang didirikan manajer investasi harapannya dapat memberikan dampak positif bagi industri dana pensiun, khususnya untuk menggarap peserta individual dan pekerja informal yang saat ini masih sedikit ikut dalam program dana pensiun. DPLK SAM bertekad menjadi pilar terpercaya dalam mewujudkan kemandirian finansial bagi masyarakat Indonesia di hari tua melalui pengelolaan dana pensiun yang aman dan berbasis teknologi digital.

 

Berbekal visi “Menjadi pilar terpercaya dalam mewujudkan kemandirian finansial bagi masyarakat Indonesia di hari tua melalui pengelolaan dana pensiun yang aman dan berbasis teknologi digital”, DPLK Sinarmas Asset Management memegang prinsip 1) mendorong peningkatan kesadaran tentang pentingnya perencanaan pensiun sejak dini demi masa depan yang lebih tenang, 2) menyediakan produk dana pensiun yang inklusif dan mudah diakses, sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhan generasi masa kini, dan 3) mengintegrasikan teknologi digital untuk menghadirkan layanan dana pensiun yang efisien, transparan, dan terpercaya.

 

Dengan tagline menjadi “Mitra Tepercaya Anda untuk Hari Tua Sejahtera”, DPLK SAM didukung tim profesional yang berdedikasi mendampingi pekerja dan masyarakat Indonesia dalam merencanakan masa depan dengan tenang dan pasti. Selalu bersedia membantu setiap individu membangun masa depan yang aman dan sejahtera melalui perencanaan pensiun yang terpercaya dan berkelanjutan. Sesuai dengan pengesahan OJK pula, komposisi struktur DPLK SAM terdiri dari: Stephanus Rudi (Ketua Pengurus), Yoel Tanzil (Pengurus), Syarifudin Yunus (Ketua Dewan Pengawas), dan Al Iskandar (Anggota Pengawas).


Sebagai upaya ikut mengembangkan dana pensiun di Indonesia, DPLK SAM menyediakan produk dan layanan utama terdiri dari: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan orientasi digitalisasi dana pensiun, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK. (Silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 


“Terima kasih kepada OJK atas izin operasi DPLK Sinarmas Asset Management yang diberikan. Kami bertekad untuk menjadi mitra terpercaya untuk hari tua yang sejahtera, senantiasa membantu setiap individu membangun masa depan yang aman dan tenang secara berkelanjutan” ujar Stephanus Rudi (Ketua Pengurus) didampingi Syarifudin Yunus (Ketua Dewan Pengawas) hari ini di Jakarta.

 

DPLK SAM didirikan oleh Sinarmas Asset Management, salah satu perusahaan manajer investasi terkemuka di Indonesia yang merupakan bagian dari pilar bisnis keuangan Grup Sinar Mas yang berdiri sejak tahun 2012, dengan dana kelolaan Rp. 62 triliun yang melayani lebih dari 75.000 nasabah. Salam #YukSiapkanPensiun

 

Apa Iya Kantor sebagai Rumah Kedua?

Ini cerita kawan saya. Sejak kerja di usia 28 tahun, dikenal sebagai pekerja keras. Loyal untuk kantornya, dedikasi buat pekerjaannya. Kerja datang pagi, pulang larut malam. Maka kawan saya bilang “kantor itu rumah kedua gue”.

 

Dan seminggu lalu, kawan saya akhirnya pensiun. Usianya sudah 56 tahun. Dia ceriat, dibikin acara perpisahan. Atasannya kasih sambutan dan ucapan terima kasih. Rekan kerja sekantor menyalaminya. Foto bersama dan makan-makan. Setelah itu, kawan saya pulang. Berakhir sudah puluhan tahun bekerja, saatnya pensiun.

 

Besoknya, apa yang terjadi di kantor kawan saya? Kursinya sudah ditempati orang lain. Seolah tidak pernah ada siapa-siapa di sana. Semuanya berjalan normal. Dan begitulah tempat kerja, begitulah kantor di banyak tempat.

 

Ya memang begitu orang kerja. Hidup di kantor ya seperti itu. Kita datang. Kita bekerja. Lalu, suatu hari kita pergi alias pensiun. Dikenal loyal, berdedikasi, dan kerja keras. Kontribusi besar ke perusahaan, sampai-sampai bilang “kantor sebagai rumah kedua”. Dan pertanyaannya, apakah kita benar-benar menikmati hidup yang sesungguhnya?  

 

Patut direnungkan, pada akhirnya kantor itu hanyalah transaksional. Tempat ncari uang, tempat aktualisasi diri yang berbatas waktu. Rekan kerja pun ada masanya. Karena itu, kantor itu bukan rumah kedua. Kita kerja, rajin ke kantor dan punya gaji. Begitu pensiun, meninggalkan kantor dan tidak punya gaji lagi. Ya, sesimpel itulah orang kerja dan kantor. Jangankan pensiun, jika kita meninggal dunia saat aktif pun esoknya meja sudah terisi dengan yang lain. Apa kantor dan rekan kerja ikut berkabung? The show must go on, bro.

 


Terkadang, kita (banyak pekerja) pengen banget dihargai di kantor. Berharap terlalu banyak sama perusahaan. Sangat manusiawi sih. Tapi ya begitulah kantor, hanya tempat cari uang. Tidak lebih tidak kurang. Begitu pensiun, bayar uang pesangon dan bikin event perpisahan, disalamin dan pulang. Jadilah seorang pensiunan. Sudah jadi, eks karyawan di kantor itu.

 

Ada kalimat yang sering diucapkan bos saat perpisahan pensiun. “Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Jadi, terima kasih dan selamat menikmati masa pensiun”. Penuh basa-basi, setelah itu rekan kerja mulai ngomongin. “Kasihan ya udah pensiun, dari mana bisa memenuhi biaya hidupnya. Stres kali ya…” begitulah gibahan rekan kerja setelah kita pensiun.

 

Maka ada benarnya, tulisan yang pernah saya baca. “Cintailah apa yang kita kerjakan tapi jangan mencintai tempat kerja kita”. Karena saat pensiun, posisi kita terlalu mudah diganti orang lain. Terus kok, masih mau bilang “kantor sebagai rumah kedua?”. Prinsip kerja sederhana saja, dedicated is ok, but loyalty NO!  

 

Jadi, apa iya kantor sebagai rumah kedua? Sementara kita setelah pensiun, kebingungan akibat tidak punya gaji lagi. Mulai pusing cara memenuhi kebutuhan hidup, hingga akhirnya bergantung secara finansial dari anak-anak. Maka mumpung masih kerja, siapkan dana pensiun atau DPLK. Biar bisa lebih tenang, sehat, dan sejahtera di masa pensiun. Sebab hari ini, banyak pensiunan tidak tenang, tidak sehat, dan tidak sejahtera karena kerja keras di kantor tapi lupa siapkan tabungan untuk hari tua, untuk masa pensiunnya sendiri.

 

Mumpung masih kerja, selamat mempersiapkan masa pensiun. #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDanaPensiun

Rupiah Dah 18.000 per Dollar AS

Gila juga nih. Rupiah hari ini dah 18.000 per Dollar AS. Buat orang desa sih nggak penting kali ya. Cuma mau pesan saja. Buat yang masih kerja ya jaga baik-baik kerjaannya. Biar nggak kerasan di kantor ya tahan-tahan dulu. Asal masih terima gaji dan bisa buat menutupi kebutuhan hidup + biaya okelah. Apapun kondisinya, jangan resign kalau belum ada pekerjaan baru. Sebab, rupiah di level begini, apa saja bisa terjadi. Yang pasti harga barang naik, apalagi yang ada unsur luar negeri-nya. Utang Indonesia saja ikutan naik kok.

 

Bisa jadi, rupiah akan melemah terus. Hanya MBG – SPPG yang akan terus menguat. Tapi gara-gara rupiah merosot, sudah pasti daya beli kita menurun. Pekerja juga harus hemat, jangan beli barang yang nggak perlu. Bayar cicilan harus disiplin. Jangan sampai kita ikut-ikutan melemah.

 


Rupiah lagi nggak baik-baik saja. Memang orang kaya masih banyak. Tapi buat yang di level “menengah” hati-hati, ada potensi turun ke level “miskin”. Akhirnya, lebih besar pasak daripada tiang kian terbukti. Banyak kawan di level menengah, sekarang sudah mulai berat. Takut menuju ke miskin.

 

Gara-gara rupiah dah 18.000. Kangan konsumtif dulu, beli yang dibutuhkan saja. Kalau bisa rem pengeluaran. Biar tetap survive. Yuk sama-sama berdoa, biar kita bisa bertahan. Dan tetap bisa senyum walau sedikit. Selam rupiah …

Rabu, 03 Juni 2026

Literasi Keuangan Keluarga Muda Milenial: Suami Istri Kerja tapi Tiap Bulan Minus?

Ini cerita pekerja suami-istri yang milenial. Gaji suami Rp. 8 juta. Istrinya Rp. 6 juta. Totalnya  Rp. 14 juta sebulan. Dua orang yang kerja. Dua karier. Dua sarjana. Aware terhadap literasi keuangan. Tiap akhir bulan, mereka cek saldo rekening bersama. Tapi di bulan ini: minus Rp. 340.000. Bulan lalu: minus Rp. 820.000. Dua bulan lalu: minus Rp. 1,2 juta. Tiga bulan terakhir, justru minus. Gaji keduanya tipa bulan berarti tidak cukup. Keduanya bingung dan saling berkata, "Gaji kita segitu. Kok malah minus tiap bulan?"

 

Hingga suatu malam, keduanya berdiskusi. Duduk bersama dan menghitung, kenapa bisa minus? Hitung satu per satu. Di mana bocornya? Dan hasilnya, ternyata di luar yang mereka bayangkan.  

 

Satu per satu, alokasi pengeluaran tetap mereka tulis. Cicilan rumah Rp. 3.000.000. Biaya listrik, air, internet Rp 800.000. Cicilan utang Rp. 1.500.000. Biaya makan harian Rp. 2.500.000. Bensin Rp. 600.000. Kebutuhan anak Rp 1.200.000. BPJS dan asuransi Rp. 400.000. Kiriman ke orangtua Rp. 1.000.000. Total pengeluaran tercatat Rp 11.000.000 per bulan. Berarti ada sisa Rp 3.000.000 per bulan. Keduanya sepakat, "Masih ada sisa Rp. 3 juta. Harusnya cukup dong".  

 

Kok tidak cukup? Ternyata, bulan ini ada kondangan teman kantor + jenguk bayi Rp. 600.000.  Berobat anak ke dokter + obat Rp. 450.000. Keperluan sekolah anak Rp. 380.000. Tagihan kartu kredit bulan lalu Rp. 870.000. Service motor Rp 350.000 dan lain-lain Rp. 700.000. Total biaya tidak terduga mencapai Rp. 3.350.000.  Sisa gaji Rp. 3.000.000. Maka wajar, akhirnya minus Rp. 350.000 di bulan ini. Dan "biaya lain-lain" itu selalu ada. Setiap bulan. Berbeda bentuknya tapi selalu ada. Apapun alasannya.   

 

Mungkin cerita dan alokasi keuangan bulanan suami-istri yang bekerja kira-kira begitu. Tergantung pada besaran gaji, standar hidup, dan gaya hidupnya. Ini sekadar potret satu keluarga tapi bisa terjadi di banyak pekerja. Karenanya, survei DBS & Privy Indonesia (2023) menyebut 6 dari 10 milenial Indonesia gaji habis dalam 2 minggu pertama. OJK, Survei Nasional Literasi Keuangan (2024) menyebut 40% masyarakat tidak punya tabungan darurat sama sekali. BPS, Susenas (2024) bilang pengeluaran rumah tangga urban naik rata-rata 8,4% per tahun, sedangkan kenaikan UMP rata-rata: 6–7% per tahun. Artinya: biaya hidup tumbuh “lebih cepat” daripada pendapatan. Kita tidak boros tapi kita kalah dari angka, kalah secara hitung-hitungan.  

 

Tingkat inflasi tahunan Indonesia sepanjang tahun 2025 sebesar 2,92%. Tapi faktanya, inflasi yang dirasakan keluarga muda atau milenial bisa beda. Biaya pendidikan: naik 10–15%/tahun (BPS/Kemendikbud). Biaya kesehatan: naik 8–12%/tahun (BPS/Kemenkes). Harga BBM Pertalite: naik 31% sejak 2020 (ESDM). Angka-angka itu tidak masuk dalam headline inflasi 2,92%. Tapi aktualnya, masuk ke dalam dompet kita setiap bulan. Diam-diam dan konsisten, sekalipun tanpa pengumuman seperti program MBG atau koperasi merah putih.  

 


Fakta, gaji tahun 2020 Rp. 5 juta terasa cukup. Tapi gaji di tahun 2024 Rp. 8 juta tapi minus.  Bukan karena gaya hidup naik. Tpi biaya hidup yang naik lebih besar daripada kenaikan gaji + inflasi. Ibaratnya, kita berjalan tapi biaya hidup berlari. Apalagi banyak pekerja tidak punya dana darurat, apalagi dana pensiun. Karenanya, sebagai solusi ke depan, perlu 1) pisah masing-masing alokasi tiap bulan, mana yang tetap/darurat/bebas. Begitu gaji masuk langsung transfer otomatis ke masing-masing alokasi, 2) anggarkan "biaya tak terduga" sebagai pos tetap minimal Rp 500.000 per bulan, 3) mulai cek langganan digital yang tidak pelu (TV berbayar, asuransi yang autodebet, atau aplikasi berbayar. Dan hitung lagi, apa gaji masih tetap minus?

 

Begitulah cerita di keluarga muda yang suami-istri bekerja, keluarga milenial. Selain dana darurat yang tidak siap, keluarga milenial pun tidak punya dana pensiun untuk hari tua. Hasil penelitian menyebut 61% milenial tidak tahu tentang dana pensiun. Akibatnya, 86% milenial yang bekerja belum memiliki dana pensiun. Artinya, hanya 1 dari 10 milenial yang punya dana pensiun. Suka tidak suka, milenial pun harus Bersiap kondisi keuangan saat ini maupun masa depan. (Silakan baca riset “Persepsi Dan Kepemilikan Generasi Milenial Terhadap Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Untuk Kesejahteraan Hari Tua” di jurnal Jkpim (Apr 2025) – https://jurnal.aksaraglobal.co.id/index.php/jkpim/article/view/605.

 

Ketahuilah, tidak ada jalan pintas untuk bisa tenang secara finansial setiap bulan. Semuanya harus diperhitungkan, dialokasikan, dan lebih disiplin dalam penggunaan uangnya. Jangan sampai “lebih besar pasak daripada tiang”, sebagai penyakit keuangan yang sulit diobati. Maka, mulailah dari hal sederhana. Catat pengeluaran yang tidak perlu, rapikan alokasi gaji dengan bijak. Pahami ke mana uang pergi? Dan mulai menabung untuk hari tua, di dana pensiun atau DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan).

 

Mulai pelan-pelan saja, jangan sampai suami istri kerja dan gaji terima. Tapi setiap bulan masih “minus”. Berbenahlah untuk kondisi keuangan kita sendiri. Jangan sampai cash flow berantakan tiap bulan. #YukSiapkanPensiun



Selasa, 02 Juni 2026

Tiga Mata Uang Kehidupan: Pengetahuan, Waktu, dan Uang

Hari ini, 3 Juni 2026, Bogor berusia 544 tahun. Usia itu bukan bukan sekadar angka kronologis, melainkan simbol perjalanan panjang pendidikan dan peradaban masyarakat. Dari sisi pendidikan, usia 544 tahun menjadi sumber pembelajaran, pembentukan karakter, dan pelestarian nilai-nilai budaya. Sedangkan dari sisi peradaban, usia 544 tahun menunjukkan kematangan, serta kemampuan masyarakat dalam mewariskan pengetahuan dan budaya untuk membangun masa depan yang lebih baik. Karenanya, peringatan hari jadi  ke-544 Bogor seharusnya jadi momentum untuk merefleksikan warisan sejarah sekaligus memperkuat komitmen dalam memajukan pendidikan dan peradaban generasi mendatang untuk, dari, dan oleh Bogor sendiri.

 

Bertajuk “Membangun Peradaban Bogor dari Literasi”, begitulah catatan hari jadi ke-544 Bogor. Semangatnya bukan sekadar mengajak masyarakat Bogor gemar membaca, melainkan membangun budaya berpikir, belajar, dan bertindak berdasarkan pengetahuan. Sebab, peradaban yang maju selalu lahir dari masyarakat yang memiliki tradisi literasi yang kuat. Bogor, sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang pendidikan, pertanian, keindahan alam, dan keberagaman budaya memiliki modal besar untuk menjadi kota dan kabupaten yang bertumpu pada kekuatan literasi. Ketika masyarakat terbiasa membaca, berdiskusi, menulis, dan belajar sepanjang hayat, maka kualitas sumber daya manusia akan meningkat dan menjadi fondasi kemajuan daerah uang signifikan.

 

Dalam bidang pendidikan, literasi berperan sebagai pintu masuk bagi peningkatan kualitas pembelajaran dan sumber daya manusia. Anak-anak yang terbiasa membaca sejak dini cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan daya analisis yang lebih baik, di samping dapat menekan angka putus sekolah dan penikahan dini. Di Bogor, gerakan literasi dapat dimulai dari keluarga, sekolah, dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) seperti yang dilakukan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (Contoh: Dari garasi kecil di kaki Gunung Salak, nyala harapan itu dimulai
https://www.instagram.com/p/DMuCvYTPyhC/?igsh=NmlyY3QxOGp6MXN3). Ketika akses buku bacaan tersedia dan lingkungan mendukung kegiatan membaca, maka anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga membangun karakter, empati, dan kemampuan memecahkan masalah. Di situlah, literasi menjadi investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

 

Harus diakui, literasi berkontribusi besar terhadap kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat. Warga yang memiliki kemampuan literasi yang baik akan lebih mudah memahami informasi tentang kesehatan, keuangan, lingkungan, teknologi, bahkan peluang usaha. Seorang petani di Bogor misalnya, dapat meningkatkan hasil panennya dengan membaca informasi tentang teknik pertanian modern. Pelaku UMKM dapat belajar pemasaran digital melalui berbagai sumber bacaan dan pelatihan. Bahkan seorang siswa SD dapat mengenal kebiasaan baik negara-negara lain dari buku-buku bacaan. Dengan kata lain, literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca buku. Tapi menjadi sarana pemberdayaan masyarakat yang berdampak langsung pada kesejahteraan dan peradaban manusianya.

 


Pembangunan peradaban manusia melalui literasi dapat dilihat dari kegiatan TBM yang aktif menyelenggarakan program membaca rutin, Gerakan berantas buta aksara, belajar calistung, kelas menulis, pelatihan keterampilan, dan pendampingan keluarga. Misalnya, sebuah TBM di desa mengadakan program "Satu Jam Membaca Setiap Hari" bagi anak-anak sepulang sekolah, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan mendongeng dan menulis cerita sederhana. Di sisi lain, para ibu diberikan pelatihan literasi keuangan keluarga, sementara para pemuda mengikuti pelatihan kewirausahaan berbasis digital. Dari kegiatan sederhana tersebut lahir kebiasaan belajar yang kemudian mendorong perubahan perilaku dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Memang membangun peradaban Bogor dari literasi bukan hal yang mudah. Membutuhkan komitmen, implementasi, dan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Kebijakan literasi yang mudah diterapkan pun harus tersedia. Sebab. membangun peradaban Bogor dari literasi berarti membangun masyarakat yang cerdas, berkarakter, produktif, dan berdaya saing. Peradaban tidak dibangun oleh gedung-gedung megah semata, melainkan oleh manusia yang memiliki kemampuan berpikir dan kemauan untuk terus belajar. Ketika gerakan literasi tumbuh di rumah-rumah, sekolah, kampung, dan ruang-ruang publik di seluruh Bogor, maka akan lahir generasi yang tidak hanya mampu membaca buku tetapi juga mampu membaca zaman, memahami perubahan, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi daerahnya. Inilah hakikat literasi sebagai fondasi kemajuan pendidikan sekaligus peradaban masyarakat Bogor.

 

Gilbert Ntimba, seorang peneliti dan penulis ekonomi menyebut pentingnya konsep "Tiga Mata Uang Kehidupan" (The 3 Currencies of Life) yaitu pengetahuan, waktu, dan uang. Bila kita tidak memiliki satu dari ketiganya, maka gunakanlah kedua hal yang kita miliki untuk meraihnya. Bila punya waktu dan uang, maka gunakan untuk meraih pengetahuan untuk membangun peradaban masyarakat. Dan hari ini, Bogor membutuhkan peradaban yang lebih baik dari literasi. Selamat hari jadi ke-544 Bogor!



Senin, 01 Juni 2026

Kisah Pekerja Pensiun Dini: Pilih Uang atau Tenang?

Minggu lalu, saya ketemu Pak Darto. Usianya 52 tahun dan baru 3 bulan lalu pensiun dini. Berhenti bekerja untuk pensiun atas kemauan sendiri. Bukan karena sudah kaya raya. Bukan pula karena warisan. Tapi karena satu keputusan yang bikin hidupnya berubah 180 derajat. Karena cara pandangnya tentang bekerja sudah berubah. Mindset tentang uang pun berubah.

 

Waktu itu, Pak Darto cerita, "Dulu Mas, saya kerja tiap hari cuma mikir: gimana caranya cepet kaya." Samnpai-sampai nggak peduli caranya. Yang penting: punya banyak aset, investasi sana-sini, portfolio berkembang terus. Dia mengejar semua "strategi finansial" yang ada di buku.  

 

Dan hasilnya? Portofolio lumayan. Rumah sudah lunas. Tapi, dia bilang: "Saya nggak pernah ngerasa merdeka." Setiap hari kerja kayak robot. Berangkat pagi pulang malam. Terjebak rutinitas. Stres. Kesehatan mulai drop. Hubungan rusak. Dan yang paling parah katanya, "Saya malah nggak punya waktu buat hidup."

 

Dia cerita lagi. Suatu waktu, dia hampir nggak bisa menemani anaknya yang lagi sakit. Semua "kesuksesan" finansialnya, tiba-tiba nggak ada artinya. Di titik itu, dia ambil keputusan besar.  Dia berhenti kerja. Minta pensiun dini.

 

Saat memutuskan pensiun dini. Semua orang sekantor kaget. "Gila, Pak Darto. Udah nggak waras ya. Ekonomi lagi begini dia malah pensiun dini?" Tapi Pak Darto tenang saja. Sambil senyum sejenak, Pak Darto bilang “Saya mau hidup bukan buat uang. Tapi uang buat hidup." 

Pergeseran mindset tentang kerja, tentang hidup dan uang itulah yang paling penting, kata Pak Darto ke teman-teman di kantornya saat memutuskan pensiun dini.

 

Apa yang dilakukan Pak Darto? Ternyata, bukan strategi investasi. Bukan reksadana, bukan saham atau properti. Tapi dia mengubah “prioritas”. Dari "punya banyak" jadi "punya cukup". Dari "kerja keras" jadi "hidup bermakna". Dari material ke psikologis. Pengen hidup yang tenang, bukan yang bergelimang.    

 


Maka saya pun bertanya ke Pak Darto. "Gimana caranya mengubah mindset itu Pak?"

Pak Darto menjawab, "Pertama, lakukan definisi ulang tengan uang". Dulu, uang itu “angka” di rekening. Tapi sekarang buat saya, uang itu waktu, kesehatan, hubungan baik, dan pengalaman bermakna.  

 

Kedua, hidup minimalis dann sederhana saja. Saya menjual beberapa aset yang nggak perlu. Rumah besar dijual. Mobil mewah dijual. Semua yang bikin dia terjebak dalam siklus konsumsi disingkirkan. "Untuk apa uang atau harta kalau nggak bisa dinikmatin?", katanya.  

 

Ketiga, mulai diversifikasi waktu. Dulu, 90% waktu hanya buat kerja. Sekarang, Pak Darro membagi waktu yang pas buat keluarga, hobi, bersosial dan belajar hal baru. "Saya sekarang mulai berkiprah sosial, menulis, jalan-jalan sambil kulineran. Lebih bahagia banget"  .

 

Dan yang paling penting, keempat, ternyata investasi terbaik itu investasi pada diri sendiri. Pelajari hal yang baru, baca buku, dan ikuti workshop yang lagi tren. Jadi, hidup bukan cuma soal skill kerja. Tapi skill hidup, gimana berkomunikasi, manajemen emosi, dan yang penting cara bersyukur. “Akhirnya, saya jadi lebih kenal diri sendiri", katanya lagi.  

 

Saya pun bertanya lagi, "Terus, gimana soal finansialnya, Pak?"

Dia menjawab santai, "Ya sejak pensiun dini cukup-cukup aja. Nggak kekurangan. Malah lebih tenang secara psikologis. Untuk bulanan, saya juga punya DPLK. Sekarang tinggal nikmatin hasilnya, dibayar secara bulanan”.

 

Kerja lebih dari 25 tahun, Pak Darto akhirnya memilih pensiun dini. Dai mulai fokus pada diri sendiri dan menekuni hobi yang sesuai passion-nya. Tidak lagi mengejar "kekayaan" selama masih bekerja. Dan ternyata, pensiun bukan hanya urusan uang. Tapi lebih ke masalah psikologis, untuk meraih ketenangan yang hakiki.

  

Ada pesan penting dari kisah Pak Darto. Ternyata uang memang penting tapi bukan segalanya. Jangan sampai kita mengejar uang mati-matian, hingga lupa caranya hidup yang yang bermakna. Kerja bukan hanya lahir tapi batin. Kerja bukan Cuma untuk hari ini tapi juga untuk masa pensiun. Dan ternyata, di situlah banyak pekerja nggak sadar. Kerja hanya dianggap untuk mengejar kekayaan.

 

Di akhir obrolan pun, saya baru tersadar. Selama ini saya memandang kerja itu terbalik. Kerja keras dianggap untuk “sukses". Tapi nggak pernah mikir, apa iotu arti sukses buat diri diri saya sendiri? Saya terjebak pada rutinitas dan pola yang sama dalam hidup.

 

Dan akhirnya, tidak sedikit orang yang merasa sudah bekerja keras tapi perasaanya tetap ada yang kurang. Ini kurang itu kurang, ada yang salah dengan cara pandang tentang uang. Pilih tenang atau uang? #YukSiapkanPensiun



Ibarat Pohon, Kiprah di Taman Bacaan Tidak Mengeluh saat Diterpa Hujan, Tidak Sombong saat Tumbuh Tinggi

Ini sebuah nasihat literasi. Pohon itu tidak pernah mengeluh saat diterpa hujan, tidak sombong saat tumbuh tinggi, dan tidak marah saat daunnya gugur. Ia tetap berdiri, tetap memberi teduh sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak menyadari keberadaannya. Begitu pula hidup yang indah, bukan tentang menjadi yang paling terlihat. Tapi tentang tetap konsisten memberi manfaat meski tidak selalu mendapat penghargaan. Begitulah filosofi berkiprah di taman bacaan masyarakat (TBM).

 

Berkiprah di taman bacaan, ternyata mengajarkan tentang kerendahan hati, keteguhan, dan ketulusan dalam memberi manfaat kepada sesama. Pohon tetap berdiri kokoh saat diterpa hujan dan angin, sebagaimana manusia menghadapi berbagai tantangan hidup. Seperri relawan taman bacaan mengabdi untuk literasi. Tidak mengeluh ketika menghadapi kesulitan, tidak membanggakan diri ketika tumbuh tinggi, dan tidak kecewa ketika kehilangan daun-daunnya. Pesan ini mengajak kita untuk menjalani hidup dengan sikap sabar, rendah hati, dan tetap berbuat baik dalam berbagai keadaan.

 

Entah kenapa, sering kali manusia ingin dihargai, dipuji, atau diakui atas setiap kebaikan yang dilakukan. Pengen banget dipuji dan mendapat validasi orang lain. Padahal, tidak semua kontribusi akan mendapatkan perhatian dari orang lain. Pohon memberikan keteduhan, menghasilkan oksigen, dan menjadi tempat berlindung tanpa pernah meminta imbalan. Begitul pula, nilai sebuah kebaikan tidak ditentukan oleh banyaknya pujian yang diterima, melainkan oleh manfaat yang dirasakan oleh orang lain. Ketulusan justru tampak ketika seseorang tetap berbuat baik meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan.

 


Seperti berkiprah di taman bacaan, semangat seperti pohon sangat relevan. Banyak relawan dan pengelola taman bacaan bekerja di balik layar: membersihkan rak buku, memperbaiki buku yang rusak, menata ruang baca, mencari donasi, atau mendampingi anak-anak membaca dan belajar, bagkan menjalankan motor baca keliling ke kampung-kampung. Kerja-kerja sosial itu mungkin jarang terlihat dan tidak selalu mendapatkan ucapan terima kasih. Namun, hasilnya dapat dirasakan oleh banyak anak usia sekolah yang akhirnya menjadi lebih gemar membaca, lebih percaya diri, dan memiliki kesempatan belajar yang lebih baik karena tersedia akses bacaan.

 

Seperti relawan di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Enam hari dalam seminggu melayani kegiatan membaca anak-anak, mengajar kelas prasekolah, meberantas buta aksara, hingga menjalankan motor baca keliling (Mobake) ke kampung-kampung yang tidak punya akses bacaan. Relawan yang tanpa pamrih datang ke TBM dan mengabdi atas nama kemanusiaan. Semuanya dilakukan dengan konsisten dan sepenuh hati. Tentu, tidak banyak yang mengetahui kiprah relawan di taman bacaan. Tapi kontribusinya sangat besar sehingga kegiatan membaca jadi lebih asyik dan menyenangkan.

 

Relawan TBM yang sabar mendampingi anak yang kesulitan membaca selama berbulan-bulan tanpa mengharapkan pujian. Ketika suatu hari anak itu mampu membaca cerita dengan lancar dan berani tampil di depan teman-temannya, itulah buah dari ketulusan yang selama ini ditanam. Seperti pohon yang memberi teduh tanpa memilih siapa yang akan berteduh di bawahnya, taman bacaan yang dikelola dengan hati akan terus memberi manfaat bagi masyarakat, meskipun tidak selalu menjadi pusat perhatian. Salam literasi!