Minggu, 09 Agustus 2026

Sambut Bulan Dana Pensiun & IPFS 2026: Inilah 5 Prioritas Investasi Masyarakat Wujudkan Tujuan Masa Depan

Menentukan prioritas investasi secara finansial sangat penting karena membantu seseorang mengalokasikan sumber daya yang terbatas ke tujuan yang paling mendesak dan bernilai tinggi. Dengan menetapkan prioritas, investor dapat menyesuaikan pilihan investasi dengan kebutuhan, jangka waktu, dan tingkat risiko yang mampu ditanggung, sehingga mengurangi kemungkinan salah mengambil keputusan. Selain itu, prioritas yang jelas membantu menjaga disiplin keuangan, memaksimalkan potensi hasil investasi, serta memastikan tujuan penting seperti dana darurat, pendidikan, pembelian rumah, atau dana pensiun dapat tercapai secara lebih terencana dan efektif.

 

Menyambut Bulan Dana Pensiun dan IPFS tahun 2026, ternyata diketahui hampir setengah dari generasi muda dan pekerja Indonesia mulai sadar hari tua. Faktanya ada berbagai prioritas finansial yang mendasari keputusan investasi bagi para pekerja, pengusaha, dan generasi muda di Indonesia. Data riset Populix  (2024) menyebutkan prioritas utama pekerja, pengusaha, dan generasi muda Indonesia dalam melakukan investasi saat ini adalah 1) mempersiapkan dana darurat 68%, 2) menambah pendapatan 61%, 3) membeli aset 48%, 4) dana pensiun 46%, dan 5) dana pendidikan 40%. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya memiliki jaring pengaman finansial (dana darurat) dan mencari sumber pemasukan tambahan masih menjadi fokus paling dominan bagi masyarakat Indonesia saat ini. Dana pensiun menempati prioritas ke-4 sebagai bagian menjaga kesinambungan pengghasilan saat tidak bekerja lagi.

 

Secara umum, setidaknya terdapat beberapa implikasi logis dalam perencanaan keuangan masyarakat Indonesia yaitu 1) prioritas pada likuiditas dan keamanan (dana rarurat & menambah pendapatan) sehingga masih memerlukan instrumen investasi yang aman, berisiko rendah, dan sangat likuid, 2) kebutuhan alokasi aset untuk jangka menengah dan jangka panjang (membeli aset, dana pensiun, dana pendidikan) agar memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi guna melawan inflasi, dan 3) pentingnya strategi diversifikasi karena tujuannya bisa jangka pendek dan jangka panjang.

 


Di sisi lain, prioritas investasi masyarakat Indonesia saat ini dihadapkan pada tiga hambatan utama seperti kurangnya literasi dan edukasi, keterbatasan finansial, dan minimnya akses digital. Namun sebagian besar responden menyatakan untuk mencapai tujuan investasinya diperlukan mekanisme digitalisasi atau akses digital daripada konvensional. Seperti di dana pensiun, masyarakat lebih menyukai saluran pendaftaran dan pembelian dana pensiun secara mandiri (seperti produk DPLK) melalui akses digital.

 

Maka, mulailah ber-investasi sesuai tujuan keuangan yang diharapkan. Kalau bukan kita, mau siapa lagi? Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? #YuksiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

 




Belajar Energi Bersih Sambil Bermain, Mahasiswa Gunadarma Ajak Anak-anak TBM Mengenal PLTS dan K3 Listrik

Program pengabdian masyarakat yang dijalankan mahasiswa Teknik Elektro Universitas Gunadarma terus menunjukkan dampak positif bagi masyarakat. Sejak Jumat lalu, para mahasiswa melaksanakan program berkelanjutan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka Bogor (9/8/2026). Aktivitas utamanya, melakukan peremajaan sistem PLTS melalui pergantian kabel yang baru untuk meningkatkan keamanan dan keandalan instalasi. Selain itu, mereka juga menambah titik lampu di area kebun baca guna mendukung aktivitas belajar pada sore hingga malam hari, sekaligus mempercantik lingkungan dengan pengecatan pagar dan tempat duduk.

 

Kegiatan Elefunch dan Student Care yang dilaksanakan selama 3 hari. Untuk 2 hari pertama mahasiswa Gunadarma menjalankan program kerja Elefunch yang berupa peremajaan komponen PLTS, penambahan lampu sebanyak 5 titik lampu, perbaikan instalasi penerangan, pengecatan bangku yang ada di TBM. Untuk hari ke-3, mahasiswa Univ. Gunadarma melaksanakan Student Care dalam bentuk edukasi, games, dan santunan kepada anak yatim di lingkungan TBM dan sekitarnya. Kegiatan ini merupakan kolaborasi kedua bersama TBM Lentera Pustaka, kegiatan ini diikuti oleh 23 Mahasiswa Teknik Elektro serta diikuti oleh ±60 anak pembaca serta 17 ibu pengantar anak, dan 12 relawan.

Dalam kesempatan tersebut, para mahasiswa memberikan pengajaran dan pembelajaran mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) kelistrikan. Materi disampaikan secara interaktif – sambil bermain dan mudah dipahami agar anak-anak dapat mengenali potensi bahaya listrik serta memahami cara menggunakan peralatan listrik dengan aman dalam kehidupan sehari-hari.

 

Tidak hanya itu, tim mahasiswa juga mengadakan edukasi mengenai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kepada masyarakat. Dengan memanfaatkan instalasi PLTS yang telah terpasang di kawasan taman baca sebagai sarana pembelajaran langsung, warga diajak mengenal cara kerja energi surya, manfaat energi terbarukan, serta pentingnya pemanfaatan energi ramah lingkungan untuk mendukung kebutuhan listrik masyarakat di masa depan.

 

Suasana kegiatan semakin meriah dengan berbagai permainan edukatif yang melibatkan anak-anak peserta. Sebagai bentuk kepedulian sosial, mahasiswa Teknik Elektro Universitas Gunadarma juga menyalurkan santunan kepada anak-anak yatim yang berada di lingkungan TBM. Melalui rangkaian kegiatan ini, para mahasiswa tidak hanya menghadirkan solusi teknologi yang berkelanjutan, tetapi juga menanamkan semangat berbagi ilmu, kepedulian sosial, dan kesadaran akan pentingnya energi bersih bagi masyarakat. Salam literasi! #TeknikElektroGundar #TBMLenteraPustaka #GerakanLiterasi

 





Psikologi Uang: Gaji Besar tapi Merasa Nggak Cukup

Saat di kantor, pernah nggak melihat orang dengan gaji besar tapi merasa kurang. Gajji cukup tapi merasa miskin? Coba cek deh, teman sebaya yang rumahnya lebih gede, mobilnya lebih bagus tapi perasaan "kurang-nya" ada terus. Bukan karena nggak punya uang tapi karena tolak ukurnya bergerak terus. Jadi, cukup atau nggak cukup itu bukan soal nominal. Tapi soal cara kita mengukur atas apa yang dimiliki.  

 

Ada orang dengan gaji besar tapi tetap merasa miskin. Sementara orang dengan gaji biasa bisa merasa cukup. Bedanya bukan di angka. Bedanya di perilaku dan ekspektasi. Kan sederhana saja, kalau kita selalu membandingkan diri dengan orang yang lebih kaya ya kita pasti akan selalu kalah. Selalu ada yang lebih kaya. Selalu ada yang lebih mewah dan selalu ada yang lebih banyak. Sebab yang dilihat yang “lebih” kan.  

 

Sudah pasti ada bedanya. Dua orang dengan gaji yang sama kerja di kantor yang sama tapi bisa merasa sangat berbeda. Satu gelisah, yang satunya tenang. Satu merasa kurang, satu lagi merasa cukup. Bedanya hanya di definisi.  Maka, perasaan kaya dan miskin itu subjektif. Karena faktor yang menentukan adalah ekspektasi atau harapannya, bukan saldonya. Kira-kita begitu kalau membaca buku “The Psychology of Money” Morgan Housel, yang mengulas tentang cara berpikir soal uang. Bukan jumlah uang!

 

Urusan uang, kenapa orang merasa miskin atau kurang? Jawabnya, bisa jadi karena “tidak punya definisi tentang cukup”. Cukup itu berarti dapat memenuhi kebutuhan, sudah memadai atau tidak kurang, serta tidak perlu ditambah lagi. Tapi bila tidak punya definisi tentang “cukup”, maka akan membandingkan. Atau ekspektasi-nya terlalu tinggi, akhirnya tidak pernah puas. Setiap naik gaji, setiap naik kelas sosial, kerjanya selalu melihat kelas yang di atasnya. Terus begitu dan begitu terus tanpa henti. Wajar jadinya gelisah, terkadang bingung. Sementara orang yang tenang, pasti tahu arti “cukup”. Tahu di titik mana merasa "sudah" dan alhamdulillah. Bahkan tahu batas dan kebal dari gengsi.  

 

Sayangnya, sebagian besar orang tidak pernah duduk dan menuliskan apa artinya cukup. Cukup dianggap abstrak selama tidak dihitung. Dan kalau abstrak, gampang digoyang oleh hidup orang lain yang kelihatan lebih bagus. Maka solusinya bukan menekan ambisi atau mengurangi ekspektasi. Tapi solusinya adalah “membuat definisi cukup” jadi lebih konkret. Misalnya, kita tidur nyenyak tanpa mikir lagi soal uang. Asal kebutuhan bisa dipenuhi sudah tenang. Punya tabunagn cukup, sekaliipun untuk kebutuahn darurat. Berapapun angkanya, itu bisa dihitung dan ada nilainya. Coba bandingkan dengan “kebutuhan” yang muncul akibat melihat orang lain beli barang baru. Jelas, itu susah dihitung dan bukan kebutuhan nyata. Itu ekspektasi.  

 


Merasa cukup itu penting banget. Biar kita bisa kenal, mana yang kebutuhan mana yang keinginan. Tanpa perlu membandingkan diri dengan orang lain. Tentu, ambisi perlu bahkan tetap tumbuh itu bagus. Tapi kita harus ingat, kejar-kejaran soal uang itu semu. Tidak akan pernah bisa menghancurkan kepuasan yang sudah kita punya. Untuk mengejar lebih tapi tidak pernah tahu rasanya “cukup”.  Rugi total, mengejar uang terus tanpa pernah merasa cukup. Mau sampai kapan?  

 

Mungkin kita sepakat, bahwa kekayaan itu tidak akan pernah kelihatan. Sebab yang kelihatan itu pengeluaran. Barang itu kelihatan, harga itu biaya. Dan yang kelihatan, biasanya hanya pameran. Hanya sesuatu yang tampak, bukan kondisi sebenarnya. Orang yang punya gaji besar tapi habis buat gaya hidup itu bukan kekayaan. Itu cuma siklus kerja – cari uang – belanja – dan kerja lagi. Di dunia kerja, siklus kayak begitu tidak akan pernah membuat orang tenang apalagi nyaman. Justru yang penting itu merasa cukup. Cukup kondisi bertahan di segala keadaan, bukan “garis finish”.

 

Jadi, kalau ada orang dengan gaji besar tapi tetap merasa miskin. Bisa jadi, karena nggak bisa menghitung pengeluaran per bulan-nya. Dan pastinya, tidak pernah paham tentang definis “cukup” dan jumlah tabungannya belum mampu bikin tidurnya nyenyak. Kenapa begitu, karena kita nggak patuh pada versi diri sendiri. Tapi senagnya ikut versi teman kantor atau orang lain!

Sambut Kemerdekaan RI ke-81, Chubb Life Edukasi Asuransi Jiwa di Bogor

Sebagai bagian menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI ke-81 dan memberikan pemahaman perbedaan antara menyimpan uang di bank dan asuransi jiwa, Chubb Life hari ini menggelar edukasi keuangan bertajuk “Asuransi vs Menabung Biasa”yang diikuti 70 anak-anak usia sekolah di Taman Bacaan Lentera Pustaka Bogor (9/8/2026). Selain menjadi bagian dari kampanye Gencarkan (Gerakan Nasional Cerdas Keuangan) yang diinisiasi OJK, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan khususnya asuransi jiwa di kalangan pelajar sekaligus menjadi bukti nyata tanggung jawab sosial (CSR) Chubb Life Indonesia terhadap gerakan literasi dan aktivitas taman bacaan di Indonesia.

 

Bertindak sebagai narasumber adalah Resa Frasiska, pegiat literasi Bogor yang memaparkan asuransi jiwa berbeda dengan tabungan. Asuransi adalah cara untuk mendapatkan perlindungan dari risiko yang tidak terduga. Misalnya, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti sakit dan harus dirawat di rumah sakit, perusahaan asuransi dapat membantu menanggung sebagian atau seluruh biaya sesuai ketentuan polis. Jadi, tujuan utama asuransi bukan untuk mengumpulkan uang, melainkan untuk melindungi dari kerugian yang besar. 

 

Sementara menabung di bank, ibarat menyisihkan uang jajan untuk disimpan di celengan atau tabungan bank. Menabung artinya menyisihkan uang sedikit demi sedikit agar jumlahnya bertambah dan bisa digunakan di masa depan, misalnya untuk membeli sepeda, buku, atau biaya sekolah. Jadi intinya, menabung membantu kita mencapai tujuan keuangan, sedangkan asuransi jiwa membantu kita melindungi kita dari risiko yang tidak terduga.

 

Sebagai bagian sosialisasi fungsi dan manfaat asuransi jiwa, Chubb Life tiap 6 bulan sekali secara rutin memberikan edukasi tentang asuransi jiwa baik untuk perlindungan diri, kesehatan, maupun pendidikan. Sebagai Perusahaan asuransi jiwa multinasional, Chubb Life Indonesia memiliki komitmen untuk meningkatkan literasi dan inklusi asuransi jiwa di masyarakat Indonesia. Karena itu, melalui dukungan CSR ke TBM Lentera Pustaka, Chubb Life Indonesia akan proaktif dalam memberikan pemahaman akan pentingnya asuransi jiwa.

 


Untuk diketahui, tahun 2026 ini, Chubb Life menjadikan TBM Lentera Pustaka di Bogor sebagai sarana untuk melakukan edukasi asuransi jiwa bagi anak-anak usia sekolah, di samping untuk meningkatkan tingkat literasi perasuransian di Indonesia, Untuk itu, Chubb Life Indonesia tersu memperkuat  tiga komponen literasi finansial yang mencakup perilaku (behavior), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude) terkait asuransi jiwa.

 

"Saya ucapkan terima kasih kepada Chubb Life Indonesia yang melakukan edukasi – literasi asuransi jiwa bersama puluhan anak-anak TBM Lentera Pustaka. Kegiatan ini penting untuk mengenalkan bedanya asuransi jiwa vs tabungan. Sangat bagus dan layak dilanjutkan ke depannya" ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka dalam sambutannya.

 

Kegitan edukasi literasi keuangan Chubb Life Indonesia ini menjadi bukti pentingnya kolaborasi dalam memperkuat pemahaman masyarakat akan pentingnya proteksi diri dan mengenal risiko dalam kehidupan sekaligus mengkampanyekan GENCARKAN (Gerakan Nasional Cerdas Keuangan) sesuai arahan regulator. Salam literasi #ChubbLifeIndonesia #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Sabtu, 08 Agustus 2026

Ketika Rak Buku Penuh, Tetapi Empati Tetap Kosong

Banyak orang mengukur kecerdasan dari jumlah buku yang berhasil dibaca setiap tahun. Bacaannya berat, mulai dari buku bisnis, kepemimpinan, investasi, produktivitas, dan pengembangan diri. Rak bukunya penuh. Semua bacaannya bermanfaat karena membantu dirinya untuk memahami cara mencapai tujuan dan meningkatkan kemampuan diri. Namun, ada pertanyaan yang jarang diajukan: mengapa sebagian orang yang sangat rajin membaca buku tetap kesulitan memahami perasaan, pergulatan, dan sudut pandang manusia lain? Di sinilah letak kekosongan yang sering tidak disadari pembaca buku.

 

Salah satu penyebabnya adalah karena banyak bacaan yang berfokus pada egoisme, orientasinya hanya hasil, strategi, dan pencapaian. Tapi tidak cukup mengajak pembacanya masuk ke dalam kehidupan manusia yang penuh konflik, kelemahan, kehilangan, dan harapan. Berbeda dengan buku-buku sastra. Novel, cerpen, dan karya sastra selalu mengajak kita hidup sejenak dalam pikiran orang lain. Kita belajar memahami tokoh yang gagal, terluka, miskin, kesepian, atau bahkan membuat kesalahan. Sastra melatih empati, yaitu kemampuan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda dari diri kita sendiri.

 

Contoh nyata dapat dilihat di lingkungan kerja. Seorang manajer mungkin telah membaca banyak buku kepemimpinan dan manajemen. Ia memahami teori motivasi, target kinerja, dan strategi bisnis. Namun ketika ada karyawan yang performanya menurun karena masalah keluarga, ia langsung menilainya sebagai pegawai yang tidak profesional. Sebaliknya, pemimpin yang memiliki empati akan berusaha memahami latar belakang masalah orang lain sebelum mengambil keputusan. Pengetahuan membantu mengelola pekerjaan, tetapi pemahaman terhadap manusia membantu mengelola hubungan.

 

Seseorang yang gemar membaca buku finansial mungkin sangat terampil mengatur uang dan berinvestasi. Namun ketika melihat tetangganya yang masih kesulitan ekonomi, ia mudah menghakimi dengan mengatakan bahwa orang tersebut malas atau tidak memiliki perencanaan. Padahal kenyataannya bisa jauh lebih kompleks: ada yang harus merawat orang tua sakit, membiayai pendidikan saudara, atau menghadapi musibah yang tidak terlihat dari luar. Di situlah bedanya, buku sastra justru mengajarkan bahwa setiap manusia membawa cerita yang tidak selalu tampak di permukaan.

 

Karena itu, membaca seharusnya tidak hanya membuat kita lebih pintar. Tapi juga lebih manusiawi. Buku-buku pengetahuan mengajarkan cara memahami dunia, sedangkan sastra mengajarkan cara memahami manusia yang hidup di dalam dunia tersebut. Ketika keduanya berjalan seimbang, seseorang tidak hanya memiliki wawasan yang luas, tetapi juga hati yang mampu menghargai perbedaan, memahami kelemahan orang lain, dan melihat kehidupan dengan lebih bijaksana. Sebab tujuan tertinggi membaca bukan hanya menambah isi kepala, melainkan juga memperluas ruang di dalam hati.

 

Hari ini, bisa jadi banyak orang rajin baca buku. Tapi tetap sulit memahami dan menghargai orang lain? Banyak orang bangga karena membaca puluhan buku. Namun ada satu rak yang sengaja dihindari yaitu sastra. Akhirnya, saat sastra ditinggalkan, pengetahuan bertambah tapi kedewasaan emosional sering kali tertinggal. Kita sering lupa, membaca juga untuk menghargai orang lain.

 

Membaca buku, bukan hanya untuk pintar. Tapi mampu menjadi manusia yang punya hati. Salam literasi!

 





Usia Matang dan Mandiri Finansial Jadi Kunci Kebanggaan Pensiunan Jabodetabek


Seorang pekerja pantas bangga saat memasuki masa pensiun karena itu adalah bukti perjalanan panjang yang dilalui dengan kerja keras, disiplin, dan dedikasi. Pensiun bukan tanda berakhirnya produktivitas, melainkan penghargaan atas puluhan tahun kontribusi yang telah memberi manfaat bagi keluarga, perusahaan, dan masyarakat. Di balik setiap masa pensiun yang baik, tersimpan kisah perjuangan, pengalaman berharga, serta jejak karya yang akan terus dikenang dan menjadi warisan bagi generasi berikutnya.

 

Lalu, apa yang membuat pekerja bangga pada saat pensiun? Tentu, ada banyak faktor yang biikin bangga pekerja saat pensiun. Survei Pekerja tentang Pensiun yang melibatkan 139 pekerja Jabodetabek oleh Syarifudin Yunus (Agustus 2026) menyimpulkan ada beberapa faktor yang membuat pekerja merasa bangga dan puas saat pensiun yaitu usia matang 30%, mandiri finansial 21%, bebas utang 17%, tubuh sehat 15%, kondisi kesehatan 14%, waktu luang 11%, tidak stres 10%, pikiran tenang 9%, bekerja lagi 8%, dan aktif sosial 4%. Dapat dikatakan, aspek kesiapan mental dan kemandirian finansial mencapai 68% (usia matang, manidir finansial, bebas utang) menjadi hal dominan yang memberikan rasa bangga bagi pekerja saat pensiun.

 

Pentingnya kemandirian finansial saat pensiun memiliki keterkaitan dengan faktor-faktor kepuasan lainnya seperti kesejahteraan mental, kesehatan, dan kualitas hidup. Suka tidak suka, survei ini mengungkap kemandirian finansial dianggap sangat penting dan menjadi elemen kunci yang memungkinkan pensiunan mencapai ketenangan pikiran dan kebanggaan diri setelah masa kerja berakhir.

 

Karena itu, persiapan pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, melainkan sebuah strategi komprehensif yang mencakup aspek finansial, fisik, dan mental. Implikasinya, pekerja perlu melakukan perencanaan keuangan sejak dini untuk masa pensiun. Selain menabung jauh sebelum masa pensiun tiba, di samping menghindari utang. Di sisi lain, investasi pada kesehatan juga penting untuk menjaga gaya hidup sehat selama masa produktif. Kesehatan fisik menjadi modal utama untuk menikmati masa pensiun tanpa ketergantungan pada bantuan medis yang intensif.

 


Kesiapan mental juga menjadi faktor penting yang memberikan rasa bangga. Pekerja perlu mempersiapkan diri secara psikologis untuk memasuki fase kehidupan baru saat pensiun agar dapat meraih pikiran tenang dan tidak stres. Karena itu, masa pensiun tetap membutuhkan keseimbangan antara waktu luang dan aktivitas sebagi sarana aktualisasi diri atau interaksi sosial. Jadi, kepuasan pensiun adalah hasil dari keseimbangan antara keamanan finansial dan kualitas hidup (kesehatan serta ketenangan pikiran).

 

Nah, salah satu upaya untuk mempersiapkan pensiun dengan bangga adalah memiliki DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Untuk menciptakan kemandirian finansial di hari tua, di samping memastikan adanya kesinambungan penghasilan saat pensiun agar tidak bergantung kepada anak atau keluarga. Sebab pensiun bukan sekadar berhenti kerja, Tapi membutuhkan kesiapan mental dan kesehatan fisik yang memadai. Agar bisa menjalani hari-hari pensiun dengan bangga dan rasa syukur. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Jumat, 07 Agustus 2026

Hahh, Kecerdasan Bukan Dari Sekolah?

Agak tergelitik, ketika yang terhormat Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa “kecerdasan itu bukan dari sekolah?”. Sambil mencontohkan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia kemarin (7 Agustus 2026). Katanya, kecerdasan juga lahir dari tempaan kesulitan hidup dan pengalaman. Apa iya begitu, bahwa kecerdasan bukan dari sekolah?

 

Mohon maaf dan terus terang, menurut saya, kalimat "kecerdasan bukan berasal dari sekolah" kurang tepat. Apalagi bila dipahami oleh kalangan awam, agar “tidak disalahpahami” bahwa sekolah tidak penting. Memang secara logika, kecerdasan memang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti bakat, lingkungan keluarga, pengalaman hidup, dan pendidikan. Sekolah (pendidikan) adalah salah satu sarana penting yang membantu mengembangkan kemampuan berpikir, pengetahuan, keterampilan memecahkan masalah, dan daya analisis seseorang. Karena itu, mengatakan bahwa kecerdasan “bukan” berasal dari sekolah mengabaikan peran besar pendidikan dalam membentuk dan mengasah potensi intelektual manusia.

 

Mohon maaf lagi ya Pak, mungkin yang lebih tepat adalah membedakan antara kecerdasan dan kesuksesan. Sebab, kecerdasan dapat tumbuh melalui proses belajar yang terstruktur, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Namun, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau pendidikan formal. Kesuksesan juga dipengaruhi oleh karakter, disiplin, ketekunan, kemampuan beradaptasi, keterampilan berkomunikasi, keberanian mengambil peluang, serta kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Bolehlah ditambahkan, kecerdasan dibentuk oleh kesulitan hidup serta didikan keras di masa lalu, bukan sekadar teori di ruang kelas. Jadi, pendidikan membantu membangun kecerdasan, tetapi kecerdasan saja belum tentu menjamin keberhasilan.

 

Contoh konkretnya begini. Misal, ada 2 orang lulusan universitas yang sama dengan nilai akademik yang sama tinggi. Orang pertama sangat cerdas secara akademis, tetapi kurang disiplin, sulit bekerja sama, dan mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Sementara orang kedua memiliki kemampuan akademis yang biasa saja, namun juga rajin, mau belajar dari kesalahan, serta mampu membangun hubungan yang baik dengan banyak orang. Dalam perjalanan karier, sering kali orang kedua memiliki peluang lebih besar untuk mencapai posisi penting karena keberhasilan di dunia nyata membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Sementara orang pertama, dianggap tidak sukses dalam pekerjaannya.

 

Karena itu, pernyataan yang lebih logis adalah: "Kecerdasan dapat berkembang melalui pendidikan dan proses belajar, sedangkan kesuksesan tidak ditentukan oleh pendidikan semata." Sekolah dan pendidikan tetap memiliki peran besar dalam membangun fondasi pengetahuan dan kemampuan berpikir. Namun, untuk mencapai keberhasilan, seseorang perlu melengkapi kecerdasannya dengan sikap, karakter, pengalaman, kerja keras, dan ketekunan. Biar bagaimana pun, pendidikan adalah salah satu faktor penting menuju sukses, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan hasil akhir kehidupan seseorang.

 

Saya menuliskan ini, agar masyarakat tidak salah paham. Apapun alasannya, sekolah atau pendidikan tetap penting. Teruslah sekolah setinggi-tingginya, jagan pernah berpikir sekolah tidak penting. Sebab sekolah (pendidikan) tidak berhubungan langsung dengan kesuksesan. Ketahuilah, saat ini 86% pekerja di Indonesia berpendidikan SMA/SMK ke bawah, akhirnya terjebak pada rata-rata gaji di bawah Rp 3 juta per bulan. Logika sederhananya, semakin tinggi pendidikan maka akan semakin besar gaji yang diterima. Silakan saja cek di lapangan, di dunia kerja.

 


Kalau contohnya Pak Bahlil, mungkin bisa diterima bila beliau jadi Menteri bukan berasal dari latar belakang dan kampus yang tidak terkenal. Bahkan katanya bila kampusnya dicari di google mungkin sudah tidak ada. Tapi realitas itu tidak ada hubungannya dengan kalimat “kecerdasan bukan dari sekolah”. Sebab, kenapa Pak Bahlil jadi Menteri pun saya tidak tahu? Apa beliau jadi Menteri karena kecerdasan atau faktor lainnya? Itu sama artinya, bila saya yang jadi presiden, lalu teman ngopi sehari-hari, saya jadikan Menteri sama sekali tidak ada hubungan dengan kecerdasan. Mungkin dasarnya hanya kedekatan semata. Apalagi di Indonesia, tidak ada kriteria khusus untuk jadi Menteri?

 

Jangan lupa, Indonesia didirikan oleh Ir,. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Ada juga Prof. Dr. B.J. Habibie bahkan banyak menteri sekarang yang berpendidikan tinggi. Itu artinya, banyak juga pejabat yang berasal dari orang-orang sekolahan. Tanpa perlu membuat statement tentang orang-orang bukan sekolahan. Biarlah apapun berjalan apa adanya. Sebab realitas dan fakta tentang sekolah dan tidak sekolah, cerdas dan tidak cerdas memang sulit diperdebatkan, apalagi di negeri kita. Persis seperti “kenapa kita lebih ngotot mementingkan MBG (Makan Bergizi Gratis) daripada sekolah/pendidikan gratis?”. Saya tidak ingin berdebat, tapi saya menerima realitas MBG saja.   

 

Jadi menurut saya, dengan ngotot menyatakan kecerdasan tetap berasal dari sekolah (pendidikan). Tapi kalau mau sukses, tidak harus dari sekolah. Sebab, kecerdasan memang tumbuh dari proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Tapi kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau pendidikan formal. Kira-kira begitu sih, sekadar berbagi pemikiran …

 

 


Di Balik Gelar Doktor: Kisah Persahabatan yang Tak Pernah Lulus

Perjalanan menempuh pendidikan S3 sering kali digambarkan sebagai perjalanan intelektual yang penuh tantangan. Namun bagi kami alumni S3 Doktoral Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak, perjalanan itu juga menjadi kisah persahabatan yang tumbuh di tengah berbagai perjuangan. Berawal dari ruang kuliah yang sama di tahun 2018, kami datang dengan latar belakang usia, dan pengalaman yang berbeda. Di balik tumpukan tugas, aktivitas kuliah di kelas, proposal penelitian, dan tenggat waktu yang seolah tidak pernah habis, terjalin ikatan pertemanan yang membuat setiap langkah terasa lebih ringan.

 

Masa-masa penyusunan disertasi menjadi ujian yang sesungguhnya. Ada saat ketika semangat menurun karena revisi yang tak kunjung selesai, data penelitian yang sulit diperoleh, atau tuntutan pekerjaan dan keluarga yang harus berjalan beriringan. Di saat-saat seperti itulah kami saling menguatkan. Sebuah pesan singkat di grup, secangkir kopi setelah seminar proposal atau diskusi santai di sela rehat perkuliahan sering kali menjadi penyemangat yang membantu kami kembali bangkit dan melanjutkan perjuangan.

 

Ketika satu per satu berhasil melewati ujian proposal, ujian tertutup, publikasi ilmiah, hingga sidang terbuka, kebahagiaan itu terasa bukan hanya milik individu, melainkan milik bersama. Kami menyaksikan langsung bagaimana setiap sahabat berjuang dengan caranya masing-masing hingga akhirnya menyandang gelar doktor. Momen kelulusan menjadi bukti bahwa ketekunan, kerja keras, dan dukungan lingkungan yang positif dapat membawa seseorang melewati tantangan yang tampaknya begitu berat.

 


Meski kini telah kembali ke kesibukan dan kerja  masing-masing, hubungan persahabatan itu tidak berhenti di gerbang wisuda. Kami tetap meluangkan waktu untuk bertemu, walau hanya di warung kopi atau di warung ketupat padang dekat kampus Unindra tempat kami mengabdi sebagai dosen. Obrolannya sering kali ringan, mulai dari suka duka kuliah, dosen semasa kuliah S3, pekerjaan, hingga cerita keseharian. Namun tanpa disadari, percakapan tersebut kerap berkembang menjadi diskusi tentang masa depan setelah pensiun atau gagasan yang dapat dikembangkan bersama. Sesederhana itulah persahabatan para doktor. Sebab doktor itu oleh ilmu, sementara bersaudara oleh perjuangan. Sungguh, di balik gelar doktor, ada kisah kisah persahabatan yang tak pernah lulus.

 

Tradisi sederhana untuk tetap terhubung itulah yang kami jaga hingga hari ini. Silaturahmi tidak hanya mempererat persahabatan, tetapi juga memelihara semangat akademik yang pernah kami bangun bersama selama menempuh studi doktoral. Kami percaya bahwa gelar doktor bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan intelektual yang lebih panjang. Dan seperti dahulu, perjalanan itu akan terasa lebih bermakna ketika dijalani bersama sahabat-sahabat seperjuangan yang terus saling menginspirasi.

 

Tetap semangat selalu pejuang disertasi!

 

 


Potret Pahit Masa Tua: 9 dari 10 Pensiunan Kesulitan Masalah Keuangan

Ternyata, antisipasi terhadap risiko finansial di hari tua sangat penting. Karena setelah pensiun tidak punya gaji lagi dan kemampuan mendapat penghasilan berkurang, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan dan cenderung meningkat. Belum lagi maslaah kesehatan di hari tua yang tetap membutuh biaya. Tanpa dana pensiun, sangat mungkin para pekerja yang memasuki masa pensiun mengalami masalah keuangan. Agak sulit pekerja dapat menjaga kualitas hidup, mempertahankan kemandirian finansial, dan terhindar dari ketergantungan pada keluarga tanpa dana pensiun.

 

Survei terbaru mengenai risiko masa tua yang dilakukan terhadap 30 pensiunan di wilayah Jabodetabek oleh Syarifudin Yunus (Edukator DPLK Sinarmas AM) pada Agustus 2026, mengungkap potret kelam masa pensiun tanpa persiapan finansial. Temuan paling mengejutkan menunjukkan bahwa 33% pensiunan kini terancam tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup dasar karena tidak memiliki pendapatan atau sumber keuangan yang cukup. Kondisi ini pun merembet pada masalah sosial yang lebih luas, di mana 27% responden mengaku terpaksa menjadi beban finansial anak atau keluarga. Ada 17% orang mengalami "gagal pensiun" akibat ketidaksiapan finansial yang memadai sejak dini. Dampak buruk lainnya mencakup 13% pensiunan yang kehilangan akses ke fasilitas kesehatan karena kendala biaya, serta 10% lainnya yang tidak sanggup lagi mempertahankan gaya hidup seperti saat masih bekerja. Maka dapat dinyatakan 87% pensiun mengalami masalah keuangan di hari tua, khususnya gagal memenuhi kebutuhan hidup dan menjadi beban ekonomi keluarga. Itu berarti, 9 dari 10 pensiunan jelas-jelas kesulitan keuangan di masa pensiunnya.

 

Survei ini menegaskan betapa rapuhnya kemandirian finansial masyarakat di usia non-produktif tanpa adanya dana pensiun. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pokok dan menjadi beban ekonomi keluarga sebagai risiko tertinggi yang dihadapi pensiunan di Indonesia saat ini. Sebuah realitas pahit yang dihadapi oleh pensiunan yang tidak memiliki persiapan finansial yang matang.

 

Apa artinya bagi pekerja saat ini? Tentu, survei ini menjadi “peringatan dini” bahwa masa pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, melainkan fase hidup yang penuh risiko finansial jika tidak direncanakan. Risiko terbesarnya adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang berarti banyak pensiunan berjuang hanya untuk bertahan hidup. Ada pula risiko tinggi menjadi beban bagi anak atau keluarga, yang seringkali memicu fenomena "generasi sandwich", di samping kerentanan kesehatan akibat biaya medis di masa tua cenderung meningkat, dan tanpa dana pensiun, akses terhadap layanan kesehatan menjadi terbatas atau hilang sama sekali.

 


Maka sebagai solusi, ada beberapa implikasi krusial yang harus diperhatikan oleh para pekerja saat ini:

1.   Urgensi perencanaan dana pensiun sejak dini. Untuk menghindari kesulitan keuangan di hari tua, pekerja tidak bisa hanya mengandalkan gaji bulanan tanpa menyisihkan sebagian untuk masa tua melalui dana pensiun.

2.   Memutus rantai ketergantungan finansial. Setiap pekerja perlu menyiapkan dana pensiun agar di hari tua tidak membebani kondisi ekonomi anak-anak atau keluarnya, sehingga dapat memutus siklus beban finansial antar generasi.

3.   Proteksi kesehatan adalah mutlak. Akibat biaya yang terus meningkat, pekerja harus mulai memikirkan instrumen yang menggabungkan dana pensiun dengan perlindungan kesehatan jangka panjang.

4.   Penyesuaian ekspektasi gaya hidup. Standar hidup saat bekerja kemungkinan besar akan turun drastis jika tidak didukung oleh akumulasi dana pensiun atau investasi yang memadai untuk masa pensiun.

5.   Risiko bekerja seumur hidup. Pekerja mungkin terpaksa terus bekerja di usia tua bukan karena keinginan, melainkan karena keharusan ekonomi untuk menutupi kebutuhan yang tidak tercukupi.

 

Jadi jelas, tanpa dana pensiun, masa tua berisiko berubah dari masa istirahat menjadi masa perjuangan finansial yang berat. Faktanya hari ini, 87% pensiunan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup dan jadi beban keluarga. Jangan sampai potret pahit masa melanda kita. Yuk siapkan pensiun sejak dini melalui DPLK. #EdukasiDPLK #DanaPensiun #DPLKSAM

 


Rabu, 05 Agustus 2026

Berjuang untuk Literasi Melatih Mental Kuat

Berjuang di dunia literasi bukan hanya melatih kemampuan berpikir, tetapi juga membentuk mental yang tangguh. Mengelola taman bacaan, membimbing anak-anak untuk membaca, hingga menjalankan motor baca keliling untuk sediakan akses bacaan atau menggerakkan kegiatan literasi sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti minimnya dana, sedikitnya pengunjung, kurangnya dukungan, hingga kritik yang datang tanpa memahami perjuangan di baliknya. Berjuang di literasi, mengajarkan siapapun untuk tetap konsisten berkiprah meskipun hasilnya belum langsung terlihat. Misalnya, seorang pengelola taman bacaan yang membuka layanan baca selama bertahun-tahun dengan jumlah pembaca yang sedikit namun tetap memilih bertahan. Ketekunan itu melatih kesabaran, kedisiplinan, dan keyakinan bahwa perubahan besar selalu diawali dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

 

Mental yang kuat juga terbentuk karena pegiat literasi belajar menghadapi penolakan tanpa kehilangan semangat. Ketika mengajukan proposal dana hibah atau bantuan buku yang berkali-kali ditolak, atau mengadakan kegiatan membaca yang hanya dihadiri beberapa anak namun tetap eksis dan berjuang tanpa pamrih. Terus mengevaluasi, memperbaiki cara, dan berjuang terus. Seiring waktu, jumlah pembaca bertambah, kepercayaan masyarakat meningkat, dan dampak kegiatan mulai terasa. Pengalaman menghadapi kegagalan, bangkit kembali, dan terus berbuat inilah yang menjadikan dunia literasi sebagai ruang yang efektif untuk membangun ketangguhan mental, daya juang, serta kemampuan bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

 

Seperti pegiat literasi dari TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor yang tetap konsisten berjuang untuk literasi. Tanpa disadari, akhirnya membentuk ketahanan mental yang kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan dan keadaan. Untuk selalu bangkit dari kegagalan, mengontrol emosi dengan baik, dan tetap konsisten berliterasi. Mental semakin kuat karena tidak bergantung pada validasi orang lain, berani menetapkan batasan diri, serta menerima hal-hal di luar kendali alih-alih menyalahkan keadaan atau meratapi keadaan. Beberapa ciri mental kuat yang terbentuk dari perjuangan literasi antara lain;

1.    Berani menerima kenyataan. Tetap menghadapi masalah apa adanya tanpa menyangkal apalagi menghindar.

2.    Fokus pada solusi. Untuk selalu mencurahkan energi pada hal-hal yang bisa diubah dan mencari solusi dari setiap masalah.

3.    Ambil Pelajaran. Menganggap tantangan dan kegagalan sebagai batu loncatan untuk terus tumbuh dan berbuat.

4.    Bertanggung jawab penuh. Selalu siap menanggung akibat dari setiap Keputusan yang dijalankan.

5.    Mampu mengendalikan emosi. Selaku sabar dalam perjuangan dan mampu meredam amarah dalam segala keadaan pahit.

6.    Berani mengambil keputusan. Tegas menolak hal buruk tanpa merasa bersalah sebagai sikap yang dipegang teguh.

7.    Tidak mencari validasi. Apapun keadannya tetap tenang tanpa haus pujian orang dari lain.

 


Mental yang kuat akibat berjuang di jalan literasi pada akhirnya bisa membentuk kepribadian yang kokoh. Hingga membuat orang lain segan. Karena berjuang di literasi tidak menyukai percakapan yang terlalu dangkal. Fokusnya pada perbuatan baik dan hal-hal yang memberi manfaat. Waktu yang dihabiskan untuk literasi juga melatih untuk membuat batasan yang sehat dan jelas dalam pergaulan. Secara tegas, akhirnya mampu meninggalkan situasi maupun hubungan yang dianggap tidak sehat, apalagi toxic. Dan akhirnya, mental kuat yang terbentuk saat berjuang di literasi  menjadikan pegiat literasi tidak mudah terpengaruh, tidak gampang dikendalikan.

 

Seperti kata bijak, kekuatan mental tidak lahir dari air yang tenang melainkan dari ombak yang menggulung. Berjuang di literasi mengajarkan untuk tidak mudah hanyut dalam tekanan, rasa bersalah, maupun permainan emosi dari orang lain. Cenderung memilih untuk tetap tenang dan mencari solusi daripada ikut terseret dalam drama. Mental yang kuat pada akhirnya akan terlihat dari kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri, menjaga nilai pribadi, serta menghargai orang lain tanpa kehilangan jati diri.

 

Dan harus dipahami, sebagai konsekuensinya, seseorang dengan mental yang kuat akan membuat orang lain menjadi tidak nyaman. Sulit untuk diintimidasi, bahkan sebagian orang akan “menjauh” dengan sendirinya. Karenanya, tidak semua orang akan merasa senang orang yang memiliki karakter yang tegas dan asli. Tidak semua orang suka pada orang yang mentalnya kuat. Itulah buah berjuang di literasi. #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan



Apa Sih Bedanya Tabungan Biasa vs DPLK?

Ada yang bertanya, apa bedanya tabungan biasa dengan DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Sederhananya, bisa dijawab bahwa tabungan biasa untuk jangka pendek, sedangkan DPLK untuk jangka panjang (masa tua). Karena sifatnya simpanan jangka pendek, tabungan biasa bisa diambil kapan saja untuk kebutuhan harian atau darurat. Sebaliknya, DPLK adalah investasi jangka panjang khusus untuk masa tua saat seseorang sudah tidak lagi bekerja maka aturan pencairan dananya bila sampai usia pensiun

 

Dari sisi finansial, perbedaan mendasar antara tabungan biasa vs DPLK bisa dirinci sebagai berikut:

1.   Tujuan. Tabungan biasa umumnya bersifat likuid atau untuk kebutuhan jangka pendek, sedangkan DPLK dirancang khusus untuk menggantikan pendapatan rutin saat pensiun atau tidak bekerja lagi.

2.   Waktu pencairan. Tabuangan biasa bebas diambil kapan saja, sedangkan DPLK hanya bisa dicairkan saat usia pensiun tiba.

3.   Ketahanan terhadap Inflasi. Tabungan biasa memiliki bunga yang rendah sehingga nilainya berisiko tergerus inflasi, sedangkan DPLK biasanya dikelola dalam instrumen investasi yang bertujuan agar nilainya tumbuh melampaui inflasi.

4.   Proteksi dari penggunaan impulsive. Tabungan Biasa aksesnya yang sangat mudah dan terpakai untuk keinginan sesaat, sedangkan DPLK memiliki sistem "terkunci" atau aturan pencairan hanya pada usia pensiun.

5.   Dampak jangka panjang. Tabungan biasa jumlahnya tidak bisa dihitung untuk masa tua dan cepat habis, sedangkan DPLK dampaknya dapat memutus rantai generasi sandwich dan ada kepastian dana untuk hari tua.

6.   Pengelola. Tabungan biasa dikelola bank, sedangkan DPLK dikelola oleh dana pensiun lembaga keuangan.

 


Lebih dari itu, DPLK secara teknis sering kali memberikan “keuntungan hasil investasi dan pajak”  yang tidak dimiliki oleh tabungan biasa. Bila untuk memastikan kemandirian finansial di hari tua dan adanya kesinambungan penghasilan di saat pensiun maka DPLK yang paling pas. Tapi bila untuk kebutuhan jangka pendek, maka tabungan biasa layak jadi pilihan.

 

Kira-kira begitu beda antara tabungan biasa vs DPLK. Tinggal orientasi kita mau ke mana, jangka pendek atau jangka panjang? #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Selasa, 04 Agustus 2026

Ingin Mandiri Sejak Dini: Pekerja Muda Pilih DPLK Setelah Emas untuk Siapkan Masa Pensiun

Semua pekerja pasti paham, mempersiapkan pensiun itu penting. Mempersiapkan masa pensiun sejak usia muda sangat penting karena memberikan waktu yang lebih panjang untuk membangun dana pensiun secara bertahap, sehingga beban keuangan menjadi lebih ringan. Selain itu, persiapan dini membantu pekerja muda menghadapi risiko masa depan, seperti inflasi, biaya kesehatan, dan berkurangnya penghasilan saat tidak lagi bekerja. Dengan perencanaan yang baik sejak sekarang, mereka dapat menikmati masa pensiun yang lebih mandiri, nyaman, dan tetap produktif tanpa bergantung sepenuhnya pada keluarga atau orang lain.

 

Lalu, apa preferensi tabungan untuk masa pensiun pekerja muda? Survei bertajuk “strategi investasi dan optimisme dana pensiun” oleh Syarifudin Yunus (Edukator DPLK Sinarmas AM) yang melibatkan 100 pekerja muda di Jabodetabek (Agt 2026) menyebutkan emas dan DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) merupakan dua pilihan utama instrumen tabungan hari tua bagi pekerja muda. Adapaun preferensi tabungan untuk hari tua bagi pekerja muda adalah: 1) emas (43%), 2) DPLK (21%), 3) tabungan bank (17%), 4) reksadana (14%), dan 5) kripto (5%). Artinya, pekerja muda di wilayah Jabodetabek mengenai strategi persiapan dana masa tua lebih cenderung memilih emas yang paling dominan, sementara pilihan lain seperti DPLK dan tabungan bank berada di posisi berikutnya.

 

Menariknya dalam hal dana pensiun, pekerja muda di Jabodetabek punya tekad mandiri sejak dini. Karenanya untuk urusan DPLK, pekerja muda tidak mengandalkan diikutsertakan dari kantornya. Mereka memilih untuk menyiapkan dana pensiun secara mandiri. Karena itu, diperlukan edukasi dan kemudahan akses dana pensiun bagi pekerja muda sebagai bagian memfasilitasi perencanaan keuangan jangka panjang dan hari tua yang terstruktur.  Dari sisi persepsi, survei ini menyebut 31% responden merasa mungkin kantor akan menyediakan DPLK, sementara 29% lainnya menganggap DPLK tidak mungkin disedikan kantornya, dan 40% ragu-ragu menjawabnya.



Strategi investasi pekerja muda untuk masa pensiun tergolong konservatif. Tingginya minat pada emas (43%) menunjukkan bahwa pekerja muda cenderung mencari aman untuk melindungi nilai aset yang dimiliki dari inflasi. Di sini, ada potensi kehilangan pertumbuhan aset yang lebih tinggi dari instrumen seperti DPLK atau reksadana. Di sisi lain, prefrensi DPLK “kalah” dibandingkan emas mencerminkan kurangnya pemahaman pekerja muda terhadap produk dana pensiun formal. Karena itu, edukasi finansial yang lebih baik agar pekerja muda dapat memanfaatkan instrumen yang memiliki keunggulan pajak dan manfaat jangka panjang seperti DPLK harus dilakukan terus-menerus.

 

Tren persiapan pensiun bagi pekerja muda perlu diantisipasi. Karena sejatinya, pekerja muda memiliki tekad untuk mandiri secara finansial sejak dini. Bahkan mau menjadi peserta DPLK secara mandiri, tanpa perlu diikut-sertakan dari kantornya. Maka lagi-lagi, masalah edukasi dan ketersediaan akses digital seperti https://simpensiun.com/ harus terus disosialisasikann ke kalangan pekerja muda. Untuk memastikan kesinambungan penghasilan di hari tua, saat tidak bekerja lagi. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Setiap Orang Ada Masanya, Setiap Masa Ada Orangnya

Pak Syarif hanya seorang pegawai biasa yang hidup sederhana bersama keluarganya. Sesekali mengajar di kampus tempatnya mengabdi. Setiap pagi ia berangkat kerja dengan transportasi umum. Di saat teman-temannya sibuk mengejar gaya hidup yang lebih mewah dan sering membandingkan pencapaiannya dengan orang lain, Pak Syarif memilih mensyukuri apa yang dimilikinya. Baginya, rumah yang nyaman, keluarga yang sehat, dan pekerjaan yang halal sudah menjadi rezeki yang patut disyukuri setiap hari. Plus, dalam Sembilan tahun terakhir, ia mengabdikan dirinya di taman bacaan masyarakat. Hanya sekadar sediakan akses bacaan untuk anak-anak kampung.

 

Suatu ketika, seorang sahabatnya berhasil membeli mobil baru dan rumah yang lebih besar. Banyak orang mengira Pak Syarif akan merasa iri. Namun yang ia lakukan justru berbeda. Ia ikut bahagia atas keberhasilan sahabatnya, lalu pulang ke rumah dan menikmati makan malam sederhana bersama istri dan anak-anaknya. Saat melihat tawa keluarganya di meja makan, ia sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari apa yang dimiliki. Tapi dari kemampuan menikmati apa yang sudah ada. Menjalani hidup apa adanya.

 

Setiap bulan, Pak Syarif menggunakan uangnya untuk kebutuhan yang memang bisa dibeli: pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan kebutuhan sehari-hari. Namun untuk hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, ia menginvestasikan waktunya. Ia menyempatkan diri menemani anaknya yang masih kuliah, bermain dengan cucunya dan ngobrol ringan dengan anak-anaknya. Membantu anak-anak yatim dan kaum jompo, hingga bersosial. Ia memahami bahwa waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa dibeli kembali, seberapa banyak pun harta yang dimiliki seseorang.

 


Bertahun-tahun kemudian, ketika anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan semakin dewas, Pak Syarif menyadari satu hal penting. Setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk berhasil, dan setiap masa memiliki orangnya sendiri untuk bersinar. Karena itu, tidak ada gunanya terus membandingkan hidup dengan orang lain. Yang terpenting adalah menjalani hidup dengan rasa syukur, menikmati setiap proses, dan mengisi waktu dengan hal-hal yang benar-benar bermakna. Maka, di situlah kebahagiaan sejati sering kali ditemukan.

 

Ketahuilah, saat orang lain mengejar kemewahan, Justru ada kebahagiaan di rumah sendiri. Rezeki itu bukan tentang siapa yang paling banyak tapi siapa yang paling brsyukur. Maka belanjakan uangmu dengan bijak, habiskan waktumu dengan orang-orang yang berharga.  Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Jangan berjeluh-kesah, Jalani dengan asyik tanpa berisi dan mengusik orang lain.

 

Tenang itu ada, ketika amu mensyukuri yang ada dan menikmati yang dimiliki. Ketika syukur menjadi cara hidup, kebahagiaan datang dengan sendirinya. Salam literasi!