Minggu, 10 Mei 2026

Inilah 10 Sebab Pekerja Usia 25-39 Tahun Khawatir Saat Pensiun

Banyak pekerja usia 25–39 tahun sebenarnya sudah memiliki penghasilan tetap, tetapi tetap merasa khawatir menghadapi masa pensiun. Bisa jadi, sebabnya karena biaya hidup terus meningkat dari tahun ke tahun. Harga rumah, pendidikan anak, biaya kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari terasa semakin mahal. Dan akhirnya, mereka belum yakin apakah tabungan atau aset yang dimiliki saat ini akan cukup untuk memenuhi kebutuhan di masa tua?

 

Kekhawatiran pekerja usia 25–39 tahun makin besar karena sebagian menyadari bahwa usia harapan hidup semakin panjang, artinya mereka harus menyiapkan dana untuk hidup lebih lama setelah tidak bekerja lagi. Saat ini usia harapan hidup orang Indonesia mencapai 73 tahun, yang berarti masih ada masa kehidupan 16 tahun sejak pensiun dan tidak punya gaji lagi. Dari mana biaya hidup dapat dipenuhi?

 

Selain faktor ekonomi, gaya hidup dan tekanan finansial masa kini juga menjadi penyebab utama kecemasan pensiun. Banyak pekerja usia 25–39 tahun masih harus membayar cicilan rumah, kendaraan, kartu kredit, atau kebutuhan keluarga sehingga sulit menyisihkan uang khusus untuk dana pensiun. Di sisi lain, budaya “hidup saat ini” dan kebutuhan mengikuti tren membuat sebagian orang lebih fokus pada kebutuhan jangka pendek dibandingkan perencanaan jangka panjang. Akibatnya, walaupun memiliki gaji, mereka merasa belum benar-benar aman secara finansial untuk masa depan.

 

Survei Litbang Kompas (2025) tentang kekhawatiran pekerja usia 25–39 tahun saat memasuki usia pensiun terdiri dari:

1.       Tidak punya pendapatan tetap lagi atau tidak terjamin lagi – 23%

2.       Tidak punya kesibukan/kegiatan seperti saat masih bekerja – 15%

3.       Belum memiliki tabungan/investasi yang cukup – 12%

4.       Rentan fisik, mudah sakit dan lelah – 11%

5.       Kesepian karena anak tidak lagi tinggal bersama – 10%

6.       Kehilangan rekan dan lingkungan sosial – 9%

7.       Tidak khawatir – 8%

8.       Akan merepotkan anak/keluarga – 5%

9.       Merasa tidak berguna – 2%

10.    Tidak tahu – 5%

Maka dapat dinyatakan, tiga besar kekhawatiran pekerja usia 25–39 tahun saat pensiun sisebabkan oleh tidak punya pendapatan tetap lagi, tidak punya kesibukan/kegiatan seperti saat masih bekerja, dan belum memiliki tabungan/investasi yang cukup untuk pensiun. Namun demikian, ada 8% tidak khawatir akan masa pensiunnya. Yang berarti pula, 92% pekerja usia 25–39 tahun khawatir akan masa pensiunnya.

 


Secara lebih spesifik, Syarifudin Yunus (2025) dalam penelitian bertajuk  “Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia” menyebutkan tingkat kesiapan pensiun pekerjabiasa di Jabodetabek tergolong rendah, 55% pekerja tidak yakin bisa memenuhi biaya hidup di hari tua akibat penghasilan sekarang dianggap pas-pasan dan tidak punya gambaran biaya hidup yang diperlukan di masa pensiun. (Simak di JiMaKeBiDI, Jurnal Inovasi Manajemen dan Kewirausahaan https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776).

 

Kekhawatiran pekerja usia 25–39 tahun, bisa jadi disebabkan tidak siap untuk pensiun. Karena tidak pemahaman tentang perencanaan pensiun dan kurangnya persiapan pensiun sejak dini. Banyak pekerja belum menghitung berapa dana yang sebenarnya dibutuhkan saat pensiun atau belum memiliki program pensiun yang terencana. Sebagian juga masih berharap bisa terus bekerja di usia tua atau bergantung pada keluarga. Padahal, tanpa persiapan yang konsisten sejak usia produktif, risiko kekurangan dana saat pensiun menjadi lebih besar. Karena itu, kekhawatiran yang muncul bukan hanya soal penghasilan saat ini, tetapi tentang ketidakpastian apakah pendapatan tersebut mampu menjamin kehidupan yang layak di masa pensiun nanti.

 

Sebenarnya tujuan pensiun sederhana, yaitu sehat dan sejahtera. Maka wujudkan kondisi sehat di masa pensiun dan tetap sejahtera di hari tua. Sebab sehat tanpa Sejahtera akan menyusahkan anak atau keluarga. Sebaliknya, Sejahtera tanpa sehat maka uang pensiun akan habis dengan sendirinya. Maka siapkanlah pensiun sejak dini. #YukSiapkanPensiun



Sabtu, 09 Mei 2026

Aku Sudah Tidak Memaksa Diri untuk Punya Banyak Teman

Aku sudah tidak memaksa diri untuk punya banyak teman. Aku juga mulai membatasi pergaulan. Tidak lagi sibuk mencari tempat untuk diterima. Tidak gemar lagi berkata-kata tanpa makna. Dan tidak lagi sedih kalau tidak diajak ke mana-mana. Aku biasa-biasa saja, dan tetap membaca buku.

 

Ternyata, semakin banyak membaca buku. Aku mulai sadar. Betapa melelahkannya terus- menerus menyesuaikan diri agar diterima orang lain. Betapa capeknya mengejar validasi orang lain. Tertawa saat sebenarnya lelah. Ngobrol saat sebenarnya kosong, Berusaha nyambung padahal di dalam hati merasa asing. Dan terlihat akrab padahal jauh. Dan aku sadar, sudah terlalu lama melakukan itu. Sebuah perbuatan yang tidak banyak manfaatnya.

 

Terlalu lama memaksa diri bertahan di tempat yang tidak pernah benar-benar seperti rumah. Sampai akhirnya aku memilih mundur pelan-pelan. Mengambil sebuah buku dan menyendiri. Menikmati sambil mensyukri apa yang menjadi jalan hidupku.

 


Bukan karena smbong atau membenci siapa-siapa. Aku cuma lebih menikmati waktuku sendiri. Lebih nyaman dengan duniaku yang kecil. Lebih tenang tanpa selalu menjelaskan diri. Sepertinya, aku memang bukan manusia yang ditakdirkan untuk ramai.

 

Kata orang-orang, aku manusia tanpa circle. Ya, tidak apa karena aku lebih suka membaca buku. Agar tetap jujur pada diri sendiri, tetap apa adanya. Dan tetap konsisten menjaga diri untuk terus memperbaiki diri. Salam literasi!



Tidak Ada yang Memikul Bebanmu Selain Punggungmu Sendiri

 

Tidak akan ada yang memikul bebanmu selain punggungmu sendiri, begitu kata sastrawan peraih Nobel asal Mesir, Naguib Mahfouz. Apapun dalihnya, setiap orang harus menjalani dan menanggung perjuangannya sendiri. Orang lain mungkin hadir memberi dukungan, tetapi rasa sakit, tanggung jawab, dan keputusan tetap harus kita hadapi sendiri.

 

Adapun orang lain, mereka hanya ingin mengetahui ceritamu saja. Maka tidak perlu menggantungkan harapan atau perhatian dari orang lain. Banyak orang bisa mendengar cerita kita, tetapi tidak semua benar-benar memahami atau ikut menanggung apa yang kita rasakan. Fokus saja pada diri sendiri, tentu untuk mencari solusi bukan memikirkan masalah.

 

Kemandirian dalam hidup itu penting banget. Agar mampu berdiri di atas kaki sendiri, mengambil keputusan dengan bijak, dan bertanggung jawab atas hidup yang dijalani. Dalam kenyataannya, tidak semua orang akan selalu ada saat kita membutuhkan bantuan. Karena itu, terlalu bergantung pada orang lain hanya akan membuat seseorang mudah kecewa. Sudah jelas, harapan itu tidak sesuai kenyataan. Orang yang mandiri akan lebih kuat menghadapi tekanan hidup, karena ia terbiasa mencari solusi, belajar dari kegagalan, dan terus berkembang tanpa menunggu pertolongan datang. Kemandirian juga melatih mental agar lebih tangguh, disiplin, serta mampu menghargai proses kehidupan.

 


Mandiri bukan berarti menolak bantuan atau hidup sendirian tanpa orang lain. Manusia tetap membutuhkan kebersamaan dan dukungan sosial. Hanya saja, jangan sampai hidup sepenuhnya bergantung pada belas kasihan, validasi, atau keputusan orang lain. Ketika seseorang memiliki kemandirian dalam berpikir, bekerja, dan mengelola hidupnya, ia akan lebih tenang menjalani masa depan. Ia tidak mudah goyah oleh penilaian orang lain dan mampu tetap berjalan meski keadaan tidak selalu mudah. Bila ingin lebih dewasa, percaya diri, dan siap menghadapi berbagai tantangan hidup dengan penuh tanggung jawab jadilah manusia yang mandiri.

 

Pesan ini bukan untuk membuat seseorang menutup diri atau kehilangan kepercayaan pada orang lain, melainkan untuk membangun keteguhan dan kemandirian batin. Belajarlah menerima bantuan dengan syukur, tetapi jangan menyerahkan kekuatan hidup sepenuhnya kepada manusia. Tempat bergantung hanya Allah, bukan manusia.

 

Ketahuilah, yang membuat seseorang kuat bukan karena banyaknya orang yang mengetahui lukanya, tetapi karena kemampuannya untuk tetap berdiri dan melangkah meski memikul bebannya sendiri. Sebab, tidak akan ada yang memikul bebanmu selain punggungmu sendiri.

Dan jangan lupa, membaca buku!

 

Orang-orang Biasa yang Terus Memilih Berbuat Baik di Taman Bacaan

Ada yang bertanya, kenapa sih kita perlu berkiprah di taman bacaan? Sebelum menjawab itu, saya sampaikan dulu. Kita harus yakin dan percaya bahwa “kebaikan yang kita tanam sekarang itu sebenarnya "tabungan batin" buat kita sendiri dan orang-orang yang kita sayangi nanti”.  Jadi, tidak akan pernah ada ruginya berbuat baik di mana pun.

 

Sebab siapapun yang suka menolong tanpa pamrih, pasti kita akan dipertemukan dengan orang-orang baik di saat paling nggak terduga sekalipun. Bila kita jujur di dunia yang penuh tipu-tipu, maka kita akan jaga nama baik keluarga dan keturunan biar tetap bersih, dan siapapun yang suka mempermudah urusan orang lain, maka jalannya sendiri bakal dibikin mulus pas lagi mentok. Itulah prinsip kebaikan di mana pun.

 

Seperti saya berkiprah di TBM Lentera Pustaka. Berbuat baik dan menebar manfaat di taman bacaan memang terlihat sederhana. Tapi dampaknya sangat panjang dan penuh berkah. Hanya meluangkan waktu untuk membimbing anak-anak yang membaca, memotivasi belejar, atau sekadar mendengarkan cerita mereka, sebenarnya kita sedang menanam “tabungan batin.” Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat hari itu juga, tetapi kebaikan seperti ini membentuk lingkungan yang lebih hangat, saling peduli, dan penuh harapan. Energi baik yang ditanam dalam aktivitas sosial sering kembali dalam bentuk yang tidak terduga.

 

Di taman bacaan, ada relawan yang setiap minggu datang membantu anak-anak belajar meskipun tidak dibayar. Ia sabar menemani anak yang lambat membaca, memberi semangat kepada yang minder, dan membantu tanpa berharap imbalan. Kebaikan seperti ini sering kali menjadi contoh nyata bahwa menolong orang lain tidak akan pernah sia-sia. Anak-anak yang tumbuh dengan pengalaman bertemu orang baik akan membawa nilai itu ke dalam hidup mereka. Suatu hari nanti, ketika anak dari relawan tersebut membutuhkan bantuan, bisa jadi dunia mempertemukannya dengan orang-orang baik juga.

 


Kejujuran juga menjadi nilai penting dalam aktivitas sosial di taman bacaan. Ada pengelola TBM yang tetap transparan mengelola donasi buku atau bantuan meskipun tidak ada yang mengawasi secara langsung. Di tengah dunia yang kadang penuh kepentingan pribadi, sikap jujur seperti ini bukan hanya menjaga nama baik dirinya, tetapi juga meninggalkan warisan moral bagi keluarganya. Anak-anak yang melihat orang tuanya hidup dengan integritas akan belajar bahwa nama baik dibangun dari kebiasaan kecil yang dijaga terus-menerus.

 

Di taman bacaan, spiritnya adalah mempermudah urusan orang lain, melalui ketersediaan akses bacaan dan mengajak anak-anak membaca buku. Dengan kebiasaan mempermudah urusan orang lain, ada orang yang rela membuka ruang rumahnya untuk dijadikan tempat membaca dan belajar anak-anak, ada yang membantu mencarikan buku, bahkan ada yang bersedia mengantarkan anak membaca saat hujan turun. Orang-orang seperti ini mungkin tidak merasa sedang melakukan hal besar, tetapi mereka sedang menciptakan jalan kemudahan bagi banyak orang. Menariknya, dalam hidup sering kali kemudahan itu kembali kepada mereka ketika sedang mengalami kesulitan.

 

Pada akhirnya, aktivitas sosial di taman bacaan bukan hanya tentang buku atau pendidikan, tetapi tentang menanam nilai kemanusiaan. Kebaikan yang dilakukan hari ini bisa menjadi “tabungan batin” yang manfaatnya dirasakan di masa depan—oleh diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat sekitar. Karena dunia yang lebih baik tidak dibangun dari orang-orang sempurna, melainkan dari orang-orang biasa yang terus memilih berbuat baik meskipun sederhana. Salam literasi!



Manajer Usia 40 Tahun, Berapa Iuran untuk Dana Pensiun?

Seorang kawan bertanya. Dia posisinya manajer di satu perusahaan swasta. Sudah bekerja selama 12 tahun dan gaji sekarang Rp. 18 juta. Usianya sudah 40 tahun dan 15 tahun lagi akan pensiun dari kantornya. Bila ingin punya masa pensiun yang nyaman, berapa yang harus disishkan untuk dana pensiun?

 

Tentu, masa pensiun yang nyaman tidak dimulai saat usia pensiun tiba. Tapi dari keputusan yang dibuat hari ini. Mumpung masih ada waktu, setidaknya 15 tahun lagi baru pensiun. Dengan usia 40 tahun dan gaji Rp18 juta per bulan serta sisa masa kerja sekitar 15 tahun, inilah fase yang sangat menentukan bagi seorang pekerja.Sebagai manajer dengan pengalaman panjang, tantangan terbesar bukan lagi sekadar mencari penghasilan, tetapi memastikan penghasilan itu bisa terus “bekerja” saat sudah tidak aktif bekerja nanti. Harus mulai berani menyiapkan masa pensiunnya sendiri. Karena cepat atau lambat, masa pensun pasti tian.

 

Spiritnya sederhana, “Masa pensiun bukan hanya berhenti bekerja, tetapi tetap memiliki kualitas hidup yang terjaga dan punya kebebasan finansial”. Secara umum, kebutuhan dana pensiun ideal adalah sekitar 70–80% dari pengeluaran bulanan saat ini. Jika diasumsikan pengeluaran berdasarkan gaji kawan saya Rp. 18 juta, maka tingkat kebuthan di masa pensiun nanti sekitar Rp12–14 juta per bulan. Saat pensiun kan sudah tidak bekerja lagi, lalu dari mana dana tersebut diperoleh? Inilah yang harus dipikirkan kawan saya. Harus punya aset produktif yang cukup besar atau kesinambungan penghasilan untuk hari tua dalam jangka panjang.

 

Dengan waktu 15 tahun, langkah realistis yang bisa dilakukan adalah mulai menyisihkan minimal 20–30% dari penghasilan bulanan khusus untuk dana pensiun. Dari gaji Rp18 juta, target idealnya sekitar Rp3,5–5 juta per bulan dialokasikan secara disiplin untuk dana pensiun. Itu angka ideal, untuk bisa menjaga standar hidup yang sama seperti saat masih bekerja di masa pensiun. Tapi bila tidak mau, ya bisa dimulai dengan Rp. 1 juta per bulan dulu ke dana pensiun.

 

Karenanya, agar niat kawan saya bisa tercapai. Harus muali membangun strategi yang disiplimm. Pertama, pisahkan dana pensiun dari tabungan biasa agar tidak mudah terpakai. Kedua, manfaatkan program pensiun seperti DPLK, reksa dana, atau investasi bertahap yang sesuai profil risikonya. Ketiga, tingkatkan aset produktif, misalnya investasi yang menghasilkan cash flow seperti deposito, obligasi, atau properti sewa. Intinya, “Saat masih produktif, harus membangun mesin penghasil uang untuk masa ketika tidak lagi bekerja.”

 


Selain menyiapkan dana, persiapan pensiun juga menyangkut gaya hidup dan mentalitas. Banyak orang bergaji besar gagal menikmati pensiun karena pengeluarannya terus naik mengikuti gaya hidup. Mulai sekarang, penting membedakan kebutuhan dan gengsi. Hindari utang konsumtif menjelang usia 50 tahun, lunasi kewajiban besar lebih awal, dan siapkan dana darurat minimal 12 bulan pengeluaran. Semakin kecil beban finansial saat pensiun nanti, semakin besar rasa tenang yang dimiliki. Pensiun nyaman bukan soal terlihat kaya, tetapi tentang tetap mandiri tanpa bergantung pada orang lain.

 

Dana pensiun jangan menunggu “nanti saat penghasilan lebih besar” untuk mulai serius menyiapkan pensiun. Waktu 15 tahun masih sangat cukup jika dimulai sekarang dengan disiplin dan konsisten. Dengan pengalaman kerja, posisi manajerial, dan penghasilan yang stabil, siapapaun sebenarnya sudah memiliki fondasi yang baik. Tinggal bagaimana membangun kebiasaan finansial yang terarah. Pegang prinsip: “Gaji membiayai hidup hari ini, tetapi dana pensiun menjaga martabat hidup di masa depan.”

 

Sebab masa pensiun itu yang penting “sehat dan sejahtera” di hari tua. Untuk apa sehat bila tidak Sejahtera? Atau untuk apa Sejahtera bila tidak sehat? Maka siapkanlah masa pensiun sejak dini. #YukSiapkanPensiun

Jumat, 08 Mei 2026

Literasi Orang Kerja, Loyal tapi di-PHK

Ini kisah orang kerja. Teman saya di kantor dikenal pekerja keras dang sangat loyal.  Sudah 12 tahun kerja di kantor itu, sebuah perusahaan swasta. Dia selalu cerita saat makan siang bareng. Selama kerja nggak pernah absen, jarang ambil cuti. Bahkan nggak pernah complain urusan kantor. Selalu bilang ke teman-teman, "Yang penting kita loyal." Keren dan luar biasa banget teman saya ini.

 

Tapi setelah lebaran kemarin. Katanya, dia dipanggil HRD. Agak mendadak, sekitar jam 10-an. Lalu sorenya, meja kerjanya sudah kosong. Atas alasan apapun, kantor akhirnya mem-PHK teman saya. Itu hari terakhirnya di kantor. 

 

Sebagai teman, saya ikut prihatin sih. Kok bisa ya? Pekerja yang loyal dan berdedikasi di PHK. Sedih, tapi mau bagaimana? Saat dia cerita kenapa di PHK, saya agak terkejut. Ternyata, dia bukan dipecat karena nggak perform. Dia dipecat karena angkanya nggak cocok lagi di level dia. Gajinya dianggap kegedean untuk posisi dia.

"Gue kira kantor bakal pertimbangkan kontribusi gue selama ini" kata teman saya.

Hebatnya, teman saya sama sekali nggak marah. Dia hanya bingung, karena dia nggak nyangka itu bisa terjadi pada dirinya yang selama ini loyal ke perusahaan.

 

Dari kisah teman saya ini. Akhirnya, saya makin paham tentang dunia kerja. Ngggak ada posisi yang “aman” di kantor. Semuanya bisa terjadi, bahkan loyalitas pun bisa jadi dikorbankan. Terbukti, biar bagaimana pun “perusahaan bukan keluarga”. Bukan karena kantor jahat. Tapi karena memang dari awal strukturnya berbeda. Keluarga nggak punya opsi buat restrukturisasi. Tapi perusahaan bisa kapan saja bikin retsruktirasai. Ketika nggak masuk bagan, maka kita akan dikeluarkan alias PHK.

 

Mungkin, banyak pekerja masih ingat. Momen di mana ikut gathering perusahaan. Saat dikasih bahasa yang bikin kita begitu nyaman bekerja. “Kita semua satu tim", mari kita maju bersama. "Kita bekerja sebagai keluarga besar" atau "Kami peduli dengan perkembangan karyawan". Nggak ada yang salah dengan kalimat itu. Hanya saja, kalimat itu bisa hilang seketika dalam satu rapat direksi atau pimpinan yang karyawannya sama sekali nggak tahu.

 


Apa yang terjadi pada teman saya, tentu bukan untuk sinis. Apalagi jadi nggak loyal ke perusahaan. Bukan itu tapi itulah realitas di dunia kerja. Jadi, kita harus realistis. Nggak ada yang abadi selama masih kerja. Hari ini bisa dipuji, besok di-PHK. Kasih yang terbaik di kerjaan boleh dan wajib. Tapi jangan taruh seluruh identitas atau kepercayaan ke kantor.  Karena identitas yang cuma hidup di satu tempat, rapuh banget. Nggak ada jaminan!  

 

Kalau kita sadari, justru aset yang kita bangun di luar jam kerja itulah yang nggak bisa di-PHK. Skill yang kita asah sendiri. Relasi yang kita jaga bukan karena jabatan. Karya atas anam kita, bukan atas nama perusahaan. Itulah kompetensi yang tetap ada sekalipun meja kerja sudah kosong.  

 

Gimana sekarang teman saya? Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Walau sampai sekarang masih nggak percata atas apa yang dia alami sendiri. Dia tetap survive bukan karena uang pesangon dari kantornya. Karena pesangon gampang habisnya. Dia juga punya dana pensiun alias DPLK tapi belum bisa diambil. Karena belum sampai usia pensiun dipercepat. Dia tetap survive karena jaringan dan skill yang dia miliki di luar kantor, yang selama ini dia anggap hobi.

 

Hikmahnya, selagi masih kerja jangan taruh seluruh identitas atau kepercayaan ke kantor. Tetap bangun aset di luar jam kantor. Sama seperti uang, jangan bangga masih punya gaji. Tapi siapkan juga dana pensiun, untuk masa pensiun kita sendiri. Sebab hari tua atau saat berhenti kerja, biaya hidup tetap jalan. Kerja biasa-biasa saja asal tetap punya dana pensiun, itu baru keren. #YukSiapkanPensiun    

Catatan dari Taman Bacaan: Kebenaran Kadang Kalah Sama Kedekatan, Kejujuran Kalah Sama Kepentingan

Ini realitas sosial. Bahwa manusia sering menilai sesuatu bukan murni dari benar atau salah, tetapi dari hubungan, kepentingan, dan manfaat pribadi. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang jujur belum tentu langsung didukung, sementara orang yang punya pengaruh atau memberikan keuntungan sering lebih mudah dibela. Pesan utamanya bukan mengajak kita menjadi curiga kepada semua orang, tetapi supaya lebih bijak memahami dinamika hubungan manusia dan tidak terlalu bergantung pada validasi dari banyak orang.

 

Contoh sederhananya ada di lingkungan kerja. Ada karyawan yang berani mengingatkan bahwa laporan keuangan atau proses kerja tidak sesuai aturan. Walaupun ia benar, justru ia dianggap “tidak enak diajak kerja sama” karena membuat suasana menjadi tidak nyaman. Sementara rekan yang dekat dengan atasan atau sering menyenangkan banyak pihak tetap mendapat dukungan meski kontribusinya biasa saja. Di situ terlihat bahwa kedekatan kadang lebih berpengaruh daripada kejujuran.

 

Dalam pertemanan juga begitu. Ada satu teman yang selalu membantu saat dibutuhkan: meminjamkan uang, menemani ketika susah, atau membantu menyelesaikan masalah. Saat ia masih berguna, banyak orang mendekat dan memujinya. Namun ketika ia mengalami kesulitan finansial atau tidak lagi bisa membantu, perlahan orang-orang mulai menjauh. Dari situ terlihat bahwa sebagian dukungan yang diterima ternyata bukan karena ketulusan, melainkan karena manfaat yang bisa diberikan.

 


Di media sosial, fenomena ini bahkan lebih jelas. Banyak orang membela seseorang bukan karena memahami kebenaran masalahnya, tetapi karena tokoh itu populer, satu kelompok, atau menguntungkan kepentingan tertentu. Kadang orang yang menyampaikan fakta justru diserang karena dianggap mengganggu kenyamanan mayoritas. Sebaliknya, seseorang yang salah bisa tetap didukung karena punya banyak pengikut atau relasi kuat. Ini menunjukkan bahwa suara terbanyak belum tentu mewakili kebenaran.

 

Karena itu, jika suatu saat kita benar tetapi sendirian, itu bukan berarti kita salah. Dan jika suatu saat banyak orang mendukung kita, jangan cepat merasa paling baik, karena dukungan manusia bisa berubah sesuai keadaan. Yang lebih penting adalah tetap menjaga integritas, berbuat baik dengan tulus, dan membangun hubungan yang didasari rasa hormat, bukan sekadar manfaat sementara.

 

Hati-hati, karena di dunia sekarang, kebenaran kadang kalah sama kedekatan, kejujuran kalah sama kepentingan. Maka jangan heran, suatu kali kita akan sendirian saat benar. Dan jangan terlalu bangga saat banyak yang membela. Belum tentu karena kita baik, bisa jadi karena kita masih berguna bagi mereka.

 

Lebih baik membaca buku, salam literasi!



Kamis, 07 Mei 2026

Orang Lain Punya Aib tapi Kita Juga Punya Kan?

 

Ini realitas sehari-hari. Kita sering begitu mudah melihat kekurangan orang lain. Tapi sangat sulit melihat kekurangan diri sendiri. Padahal setiap manusia punya aib, kelemahan, dan pernah melakukan kesalahan. Tidak ada orang yang hidupnya benar-benar bersih dari kekeliruan. Karena itu, ketika kita terlalu sibuk menghakimi orang lain, sebenarnya kita sedang lupa bahwa diri kita pun tidak sempurna. Kesadaran inilah yang seharusnya membuat manusia lebih rendah hati dalam bersikap.

 

Contohnya bisa dilihat di lingkungan kerja. Ada seorang karyawan yang sering datang terlambat lalu menjadi bahan omongan teman-temannya. Mereka menilai ia malas dan tidak disiplin. Namun ternyata, setiap pagi ia harus mengantar ibunya berobat sebelum masuk kantor. Orang-orang hanya melihat kesalahannya di permukaan, tanpa mengetahui perjuangan yang sedang ia hadapi. Sementara mereka yang menghakimi mungkin juga punya kekurangan lain yang tidak terlihat oleh orang lain.

 

Di lingkungan keluarga juga sering terjadi hal serupa. Seorang anak dianggap kurang berhasil karena belum memiliki pekerjaan mapan seperti saudara-saudaranya. Ia sering dibanding-bandingkan dan dianggap tidak membanggakan keluarga. Padahal, diam-diam ia sedang berjuang melawan kegagalan dan terus mencoba bangkit. Orang lain mudah melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat luka, tekanan, dan usaha yang sedang dijalani seseorang.


 

Hal yang sama banyak terjadi di media sosial. Seseorang melakukan kesalahan kecil lalu langsung dihujat ramai-ramai seolah ia manusia paling buruk di dunia. Padahal orang yang menghujat pun belum tentu lebih baik. Bedanya hanya satu: kesalahan mereka belum terlihat publik. Di era sekarang, banyak orang terlalu cepat menjadi hakim atas hidup orang lain, tetapi sangat lambat mengoreksi dirinya sendiri. Akibatnya, empati semakin hilang dan manusia lebih senang menjatuhkan daripada memahami.

 

Karena itu, menjadi orang baik tidak harus disertai perasaan paling baik. Kebaikan sejati justru lahir dari kesadaran bahwa kita pun penuh kekurangan. Orang yang bijak akan lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari-cari cela orang lain. Ia tahu bahwa hidup bukan perlombaan siapa paling suci, melainkan perjalanan untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih rendah hati, lebih memahami, dan lebih berbelas kasih kepada sesama.

 

Maka pesan sederhananya. Orang lain memang punya aib tapi kita juga punya. Orang lain punya kekurangan, kita juga punya. Orang lain pernah melakukan kesalahan, kita juga sama. Maka jangan terlalu pintar melihat kekurangan orang lain. Tapi buta dengan kekurangan diri sendiri. Ketahuilah, tidak ada orang yang sempurna. Belajarlah terus untuk menjadi orang baik tanpa harus merasa paling baik.

 

Rabu, 06 Mei 2026

Gelar Akademik Hanya Tanda Bahwa Kita Pernah Kuliah

Semakin tinggi gelar yang dimiliki, semakin besar pula penghormatan yang diberikan masyarakat. Karenanya, gelar akademik memang sering dianggap sebagai simbol keberhasilan seseorang dalam menempuh pendidikan. Namun pada hakikatnya, ijazah hanyalah tanda bahwa seseorang pernah belajar di lembaga pendidikan, bukan ukuran mutlak tentang kedewasaan sikap, kebijaksanaan, atau kemuliaan akhlaknya. Sebab pendidikan yang sejati tidak berhenti pada kemampuan berpikir, tetapi juga membentuk cara bersikap dan memperlakukan sesama manusia.

 

Kita sering menemukan kenyataan bahwa ada orang berpendidikan tinggi tetapi mudah menghina, merendahkan, atau menyakiti orang lain lewat perkataannya. Ada pula yang cerdas secara akademik, namun tidak mampu mengendalikan emosi dan ego ketika menghadapi perbedaan pendapat. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa karakter bisa kehilangan maknanya. Kepintaran memang dapat membuat seseorang dihormati, tetapi akhlaklah yang membuat seseorang benar-benar dihargai dalam kehidupan.

 

Maka integritas menjadi bagian penting yang seharusnya lahir dari proses pendidikan. Pendidikan bukan hanya mengajarkan cara meraih kesuksesan, tetapi juga mengajarkan kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian menjaga prinsip. Ketika seseorang rela mengorbankan kejujuran demi jabatan, keuntungan, atau kepentingan pribadi, maka nilai pendidikan yang dimilikinya menjadi kosong. Sebab ilmu yang tidak dibarengi moral justru bisa digunakan untuk membenarkan kesalahan dan merugikan banyak orang.

 

Di tengah perkembangan zaman saat ini, dunia sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Teknologi membuat ilmu pengetahuan semakin mudah diakses, dan banyak orang mampu tampil hebat secara intelektual. Namun yang semakin langka adalah pribadi yang memiliki empati, rendah hati, serta mampu menjaga martabat dirinya di tengah godaan dunia. Manusia yang tetap jujur saat punya kesempatan berbuat curang, tetap santun saat berbeda pendapat, dan tetap menghormati orang lain meski merasa lebih pintar—itulah sosok yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat hari ini.

 


Karena itu, tujuan akhir pendidikan seharusnya bukan sekadar mendapatkan gelar atau pengakuan sosial, melainkan membentuk manusia yang utuh: cerdas pikirannya, matang emosinya, dan baik perilakunya. Ilmu pengetahuan akan menjadi cahaya yang bermanfaat jika dibarengi hati yang bersih dan karakter yang kuat. Sebab pada akhirnya, yang paling dikenang dari seseorang bukan hanya seberapa tinggi pendidikannya, tetapi bagaimana ia memperlakukan manusia lain dengan nilai, hati, dan harga dirinya.

 

Sekali lagi, gelar akademik itu hanyalah bukti bahwa kita pernah menempuh pendidikan, tapi bukan jaminan bahwa kita telah menjadi 'manusia. Jika ijazah setinggi langit namun lisan penuh caci maki, emosi masih mentah, dan integritas digadaikan demi kepentingan, maka ada yang salah dengan proses belajar kita. Mari ingat lagi: tujuan akhir pendidikan adalah karakter, bukan sekadar lembaran kertas. Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, ia hanya sedang rindu pada manusia yang punya hati dan harga diri. 

Dan gelar akademik juga bukan bukti bahwa seseorang gemar membaca. Salam literasi!

Kita Tidak Bisa Membuat Semua Orang Suka

Sudah pasti, kita tidak bisa membuat semua orang suka. Sebab hati manusia berbeda-beda arah rasanya. Ada yang melihat dengan cinta, ada pula yang menilai dengan prasangka. Kita tidak perlu memaksa dunia menerima, tidak perlu lelah menjelaskan siapa diri kita? Karena sekeras apa pun kita berusaha, akan selalu ada yang memilih untuk tidak menyukai. Maka, biarlah semuanya terjadi. Asal kita tetap berjalan dengan niat yang lurus, tetap berbuat baik tanpa harus dipuji, tetap menebar manfaat tanpa merendaahkan, dan tetap tulus meski tidak selalu dimengerti. Di mana pun hingga kapan pun.


Bisa jadi, di sebuah kantor, ada seorang karyawan yang selalu membantu rekan-rekannya menyelesaikan pekerjaan. Ia sering lembur demi memastikan timnya tidak tertinggal target. Sebagian teman menganggapnya baik dan peduli, tetapi ada juga yang menilai ia hanya ingin mencari perhatian atasan. Padahal niatnya sederhana: ia hanya ingin pekerjaan selesai dengan baik. Dari situ terlihat bahwa satu tindakan yang sama bisa diterima dengan rasa yang berbeda oleh setiap orang.


Begitu pula dalam kehidupan bertetangga juga sering terjadi hal serupa. Misalnya, ada seseorang yang jarang ikut berkumpul karena sibuk bekerja dan mengurus keluarga. Sebagian tetangga memahami keadaan itu dan tetap menghargainya. Namun ada pula yang menganggapnya sombong atau tidak mau bersosialisasi. Padahal kenyataannya belum tentu demikian. Ini mengajarkan bahwa manusia sering menilai hanya dari apa yang terlihat, bukan dari keseluruhan cerita yang sebenarnya.


Di media sosial, seseorang membagikan konten motivasi atau pengalaman hidup dengan tujuan memberi semangat kepada orang lain. Banyak orang merasa terbantu dan terinspirasi, tetapi ada juga yang memberi komentar sinis, menuduh pencitraan, atau mencari popularitas. Dunia digital membuat setiap orang bebas berpendapat, bahkan tanpa memahami isi hati orang lain. Karena itu, jika terlalu sibuk memikirkan penilaian semua orang, seseorang bisa kehilangan ketenangan dirinya sendiri.


Contoh lain terjadi dalam lingkungan keluarga. Ada anak yang memilih jalan hidup berbeda dari harapan keluarganya, misalnya memilih pekerjaan sederhana yang ia cintai dibanding pekerjaan bergengsi dengan gaji besar. Sebagian keluarga mendukung karena melihat kebahagiaannya, tetapi sebagian lain menganggap ia tidak punya ambisi. Padahal setiap manusia memiliki ukuran kebahagiaan dan tujuan hidup yang tidak selalu sama. Tidak semua pilihan hidup harus dipahami semua orang agar menjadi benar.



Dalam persahabatan pun demikian. Kadang kita sudah tulus membantu teman saat ia kesulitan, mendengarkan keluh kesahnya, bahkan hadir di saat sulit. Namun ketika terjadi kesalahpahaman kecil, kebaikan yang pernah dilakukan bisa terlupakan begitu saja. Ada teman yang tetap mengerti ketulusan kita, ada juga yang memilih pergi karena sudut pandangnya berbeda. Dari situ kita belajar bahwa berbuat baik bukan berarti kita akan selalu mendapatkan balasan yang sama dari manusia.


Karena itu, hidup tidak perlu dihabiskan untuk mengejar agar semua orang menyukai kita. Yang lebih penting adalah menjaga niat tetap lurus, bersikap baik tanpa berharap pujian, dan tetap menjadi diri sendiri tanpa merugikan orang lain. Penilaian manusia akan selalu berubah-ubah sesuai perasaan dan sudut pandangnya. Tetapi ketulusan, kesabaran, dan kejujuran dalam menjalani hidup adalah hal yang akan membuat hati tetap tenang, meski tidak selalu dimengerti oleh semua orang.


Jadi apapun, teruslah perbaiki niat dan ikhtiar yang baik. Tetap fokus pada diri sendiri dan abaikan penilaian orang lain. Sebab kita tidak bisa membuat semua orang suka pada kita. Bekerja yang optimal dan jangan lupa siapkan dana pensiun untuk hari tua yang nyaman. #YukSiapkanPensiun


Burung Kok Mempermasalahkan Ikan Berenang, Pasti Lelah Hidup Kayak Begitu

Dunia sering terasa melelahkan bukan karena terlalu banyak masalah besar, tetapi karena terlalu banyak orang sibuk mencampuri hal yang bukan wilayahnya. Terlalu gampang mempermasalahkan sesuatu yang bukan urusannya. Doyann ikut campur, ngurusin hal-hal yang bukan urusannya. Ketika setiap orang merasa berhak menilai kehidupan orang lain, suasana menjadi penuh tekanan. Padahal, tidak semua hal perlu dikomentari, tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Banyak kegaduhan lahir hanya karena orang melihat dari sudut pandangnya sendiri, tanpa mencoba memahami realitas orang lain. Orang kerja kok bahas orang nganggur dan sebaliknya. Begitulah seterusnya.

 

Bayangkan sebuah lingkungan kantor. Ada seorang karyawan yang pulang tepat waktu setiap hari. Rekan-rekannya mulai berbisik, “Kurang dedikasi,” atau “Nggak total kerja.” Mereka menilai hanya dari apa yang terlihat. Padahal, karyawan itu pulang cepat karena harus merawat orang tuanya yang sakit di rumah. Tanpa tahu latar belakangnya, orang lain sudah lebih dulu menyimpulkan. Di sinilah masalah muncul: penilaian tanpa pemahaman.

 

Di lingkungan tetangga pun sering terjadi hal serupa. Seorang ibu muda memilih bekerja dari rumah sambil mengurus anak. Ada yang berkomentar, “Cuma di rumah aja,” seolah itu hal yang mudah dan tidak bernilai. Sementara itu, ibu tersebut harus membagi waktu antara pekerjaan, anak, dan rumah tangga tanpa jeda. Orang lain melihat dari kacamata mereka sendiri, tanpa pernah mencoba masuk ke realitas yang berbeda.

 

Contoh lain terjadi di media sosial. Seseorang membagikan pencapaiannya—entah itu usaha yang mulai berkembang atau perjalanan hidup yang membaik. Alih-alih memberi apresiasi, sebagian orang justru mencibir, “Pamer,” atau “Baru segitu saja.” Mereka tidak melihat proses panjang di baliknya: kegagalan, kerja keras, dan pengorbanan yang tidak pernah diposting. Seperti burung yang mempertanyakan cara ikan berenang—karena ia tidak pernah hidup di air.

 


Hal yang sama juga terjadi dalam keluarga. Seorang anak memilih jalan karier yang berbeda dari harapan orang tuanya. Orang tua menilai pilihan itu salah hanya karena tidak sesuai dengan pengalaman mereka sendiri. Padahal zaman sudah berubah, peluang juga berbeda. Ketika penilaian hanya didasarkan pada sudut pandang pribadi, tanpa ruang untuk memahami, konflik menjadi sulit dihindari.

 

Dari semua kisah itu, kita belajar bahwa tidak semua hal adalah urusan kita untuk dinilai. Setiap orang punya jalan, latar belakang, dan perjuangannya sendiri. Ketika kita berhenti terlalu ikut campur dan mulai belajar memahami, dunia terasa sedikit lebih ringan. Damai bukan datang dari semua orang menjadi sama, tetapi dari kemampuan kita untuk menghargai perbedaan tanpa harus menghakimi. Jadi, tidak usah ikut campur urusan orang lain. Apalagi bila niatnya hanya merusak atau karena benci.

 

Maka sudahilah, burung tidak usah mempermasalahkan cara ikan berenang. Dan ikan pun tidak usah mempermasalahkan cara buaya melata. Semuanya punya jalan hidupnya masing-masing. Fokus saja pada diri sendiri untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat!

Buat apa Gaji Gede tapi Stres Kerja dan Nggak Punya Dana Pensiun?

 

Ini menarik nih buat diceritakan. Saya punya kawan, keren banget. Gajinya gede, sekitar 3 kali lipat saya. Kawan saya biasa makan siang di tempat yang saya cuma bisa lihat dari luar. Mobilnya baru. Jabatannya mentereng di LinkedIn. Tapi tiap kali kita ngobrol, matanya nggak pernah kawan saya jarangtenang.  

 

Awalnya saya iri. Atas kesuksesan kawan ini. Wajar kan, sebab kita semua pernah lihat orang "sukses" dan otomatis menghitung “apa kekurangan kita?”. Kok kita nggak bisa seberuntung kawan yang sukses, kira-kira begitu.

 

Tapi lama-lama, saya justru mulai menangkap hal lain dari kawan yang sukses ini. Dia nggak pernah cerita soal hal-hal yang bikin dia senang saat bekerja. Dia cuma cerita soal hal-hal yang bikin dia bertahan. Dia sering cerita strategi untuk bertahan di posisinya, bukan hal yang menyenangkan dari pekerjaannya.

 

Satu malam, dia chat saya via WA. Bukan darurat, tapi dia cerita nggak bisa tidur. Katanya sudah 4 bulan ini kayak gitu. Tidur Cuma 3-4 jam, bangun dengan jantung berdegup, langsung cek email. Atau nge-cek kerjaan yang masuk lewat WA. Susah tidur tapi “dihantui” pekerjaan, berat juga ya dalam hati saya.  

 

Saya akhirnya bertanya, "Elo kerja Cuma buat bertahan? Terus pernah kepikir untuk resign nggak?"

Dia diam lama dan belum jawab chat di WA. Lalu, menjawab dengan "Kepikir sih, tapi gue udah di level ini. Kalau gue turun, orang bakal mengira gue gagal."

Yah, saya nggak jawab apa-apa. Karena saya tahu itu bukan alasan yang pas. Itu hanya ketakutan yang “dikasih” baju logika. Dan saya sangat memhami ketakutan kawan saya itu.

 

Bukan soal gajinya. Tapi soal title-nya. Soal persepsi orang. Soal identitas yang sudah terlanjur dibangun dari jabatan. Memang, jabatan itu suka bikin pemiliknya ketakutan. Takut hilang jabatannya, Sebab ketika jabatan itu pergi, “yah siapalah kita sebenarnya?”  

 

Punya jabatan jadi susah tidur, jantung selalu berdegup soal kerjaan. Terladang saya suka mikir keras soal ini. Kawan saya lelah pikirannya. Waktu yang dia habiskan untuk recover dari burnout gara-gara jabatan. Dan nggak sadar kondisi begitu nggak bisa dibeli balik. Saraf yang sudah terlalu sering terbakar juga kan ada batasnya. Gaji boleh besar. Tapi “tagihan” kesehatan mental yang datang belakangan juga jauh lebih besar. Maka pantas, banyak orang kerja mungkin mentalnya agak sakit tapi jaran disadari. 

 


Jujur sih saya nggak bilang gaji kecil itu mulia. Saya juga nggak mau me-romantisasi tidak cukupnya gaji untuk biaya hidup. Karena kondisi itu fakta di lapangan. Ada yang gaji gede ada yang gaji kecil tapi kesehatan mental kerja sering diabaikan.

 

Tapi jelas dari obrolan dengan kawan tadi. Ada jarak yang gede antara "gaji cukup dan tenang" dengan "gaji besar tapi selalu di ujung jurang." Dan banyak orang kerja milih yang kedua. Bukan karena itu lebih baik. Tapi karena takut dilihat mundur, takut kehilangan jabatan.   

 

Dan setelah enam bulan kemudian, apa yang terjadi? Kawan saya akhirnya keluar dari tempat kerjanya itu. Dan bekerja lagi di kantor lain. Gajinya turun hampir separuh. Jabatannya nggak sekeren dulu. Tapi waktu saya ketemu dia minggu lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Kawan saya bisa tertawa beneran, kelihatan lebih happy di kerjaan yang sekarang.

 

Dan saya pun tanya ke dia, “’elo sudah punya dana pensiun belum? Buat hari tua, takutnya elo berhenti kerja mendadak?” Jangan sampai kerja puluhan tahun punya gaji tapi nggak mau siapin masa pensiun sendiri. Seperti orang yang aktif kerja, masa pensiun juga butuh “ketenangan” dan itu mahal harganya. #YukSiapkanPensiun

 

Orang Bisa Terlihat Baik Saat Semuanya Berjalan Sesuai Harapan

Dari persfektif literasi, orang bisa terlihat baik saat semuanya berjalan sesuai keinginannya. Asal semua yang berjalan sesuai harapannya, pasti baik. Tapi coba lihat, bagaimana saat sia kecewa? Saat tidak diuntungkan, ketika tidak mendapatkan yang dia mau? Di situlah karakter asli seseorang keluar. Jadi, kondisi ini patut dipertimbangkan dalam pergaulan atah hubungan kerja. 

 

Memang, membaca orang itu bukan soal insting semata. Tapi soal mau memperhatikan pola. Gimana reaksinya atas hal-hal yang sesuai harapan dan tidak sesuai harapan. Apakah dia konsisten? Apakah ucapannya sejalan dengan tindakannya? Dan apakah dia menghargai orang lain atau hanya di saat butuh saja?  

 

Semua orang bisa terlihat baik di momen tertentu. Tapi tidak semua orang bisa konsisten dalam waktu lama. Masalahnya, banyak orang yang sudah melihat tanda-tandanya. Tapi memilih untuk mengabaika karakternya. Karena berharap orang itu akan berubah.   

 

Padahal kenyataannya sederhana. Orang tidak akan berubah hanya karena kita menyenanginya. Orang tidak akan berubah saat harapannya tidak tercapai. Jadi sebelum terlalu jauh, belajarlah pelan-pelan tentang karakter orang. Utamanya orang-orang di dekat kita, karena lingkungan dekat sangat berpengaruh besar membentuk pikiran dan perilaku kita. Amati, saring, lalu jujur pada apa yang kita lihat. Bila baik yang pertahankan, bila buruk ya tinggalkan.

  


Seperti orang yang membaca buku, ada yang sesekali ada yang jadi kebiasaan. Ada yang tetap membaca buku sekalipun di tempat sepi. Tapi tidak sedikit orang yang membaca buku di saat ramai. Karena membaca buku, bisa jadi alat pembentuk “image”. Biar dibilang apa saat kita membaca buku? Ada yang menjadikan membaca buku untuk pujian dan popularitas. Tapi ada juga yang tetap membaca buku secara diam-diam, tanpa perlu validasi dari orang lain atau mana pun.

 

Itulah pentingnya “membaca”. Karena sekali kita salah membaca, maka yang kita hadapi bukan cuma kecewa. Tapi waktu yang terbuat percuma dan tidak bisa diulang lagi. Salam literasi!