Banyak pekerja usia 25–39 tahun sebenarnya sudah memiliki penghasilan tetap, tetapi tetap merasa khawatir menghadapi masa pensiun. Bisa jadi, sebabnya karena biaya hidup terus meningkat dari tahun ke tahun. Harga rumah, pendidikan anak, biaya kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari terasa semakin mahal. Dan akhirnya, mereka belum yakin apakah tabungan atau aset yang dimiliki saat ini akan cukup untuk memenuhi kebutuhan di masa tua?
Kekhawatiran pekerja
usia 25–39 tahun makin besar karena sebagian menyadari bahwa usia harapan hidup
semakin panjang, artinya mereka harus menyiapkan dana untuk hidup lebih lama
setelah tidak bekerja lagi. Saat ini usia harapan hidup orang Indonesia
mencapai 73 tahun, yang berarti masih ada masa kehidupan 16 tahun sejak pensiun
dan tidak punya gaji lagi. Dari mana biaya hidup dapat dipenuhi?
Selain faktor
ekonomi, gaya hidup dan tekanan finansial masa kini juga menjadi penyebab utama
kecemasan pensiun. Banyak pekerja usia 25–39 tahun masih harus membayar cicilan
rumah, kendaraan, kartu kredit, atau kebutuhan keluarga sehingga sulit
menyisihkan uang khusus untuk dana pensiun. Di sisi lain, budaya “hidup saat
ini” dan kebutuhan mengikuti tren membuat sebagian orang lebih fokus pada kebutuhan
jangka pendek dibandingkan perencanaan jangka panjang. Akibatnya, walaupun
memiliki gaji, mereka merasa belum benar-benar aman secara finansial untuk masa
depan.
Survei Litbang Kompas
(2025) tentang kekhawatiran pekerja usia 25–39 tahun saat memasuki usia pensiun
terdiri dari:
1.
Tidak punya
pendapatan tetap lagi atau tidak terjamin lagi – 23%
2.
Tidak punya
kesibukan/kegiatan seperti saat masih bekerja – 15%
3.
Belum memiliki
tabungan/investasi yang cukup – 12%
4.
Rentan fisik,
mudah sakit dan lelah – 11%
5.
Kesepian karena
anak tidak lagi tinggal bersama – 10%
6.
Kehilangan rekan dan
lingkungan sosial – 9%
7.
Tidak khawatir – 8%
8.
Akan merepotkan anak/keluarga
– 5%
9.
Merasa tidak
berguna – 2%
10.
Tidak tahu – 5%
Maka dapat
dinyatakan, tiga besar kekhawatiran pekerja usia 25–39 tahun saat pensiun sisebabkan
oleh tidak punya pendapatan tetap lagi, tidak punya kesibukan/kegiatan seperti
saat masih bekerja, dan belum memiliki tabungan/investasi yang cukup untuk
pensiun. Namun demikian, ada 8% tidak khawatir akan masa pensiunnya. Yang berarti
pula, 92% pekerja usia 25–39 tahun khawatir akan masa pensiunnya.
Secara lebih
spesifik, Syarifudin Yunus (2025) dalam penelitian bertajuk “Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di
Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia” menyebutkan
tingkat kesiapan pensiun pekerjabiasa di Jabodetabek tergolong rendah, 55%
pekerja tidak yakin bisa memenuhi biaya hidup di hari tua akibat penghasilan
sekarang dianggap pas-pasan dan tidak punya gambaran biaya hidup yang
diperlukan di masa pensiun. (Simak di JiMaKeBiDI, Jurnal Inovasi Manajemen dan Kewirausahaan
https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776).
Kekhawatiran pekerja
usia 25–39 tahun, bisa jadi disebabkan tidak siap untuk pensiun. Karena tidak pemahaman
tentang perencanaan pensiun dan kurangnya persiapan pensiun sejak dini. Banyak
pekerja belum menghitung berapa dana yang sebenarnya dibutuhkan saat pensiun
atau belum memiliki program pensiun yang terencana. Sebagian juga masih
berharap bisa terus bekerja di usia tua atau bergantung pada keluarga. Padahal,
tanpa persiapan yang konsisten sejak usia produktif, risiko kekurangan dana
saat pensiun menjadi lebih besar. Karena itu, kekhawatiran yang muncul bukan
hanya soal penghasilan saat ini, tetapi tentang ketidakpastian apakah
pendapatan tersebut mampu menjamin kehidupan yang layak di masa pensiun nanti.
Sebenarnya tujuan
pensiun sederhana, yaitu sehat dan sejahtera. Maka wujudkan kondisi sehat di
masa pensiun dan tetap sejahtera di hari tua. Sebab sehat tanpa Sejahtera akan
menyusahkan anak atau keluarga. Sebaliknya, Sejahtera tanpa sehat maka uang
pensiun akan habis dengan sendirinya. Maka siapkanlah pensiun sejak dini.
#YukSiapkanPensiun
.jpg)

.jpg)

.jpg)



.jpg)






.jpg)
.jpg)