Sebuah penelitian dana pensiun terbaru berjudul “Determinasi Rendahnya Literasi Dana Pensiun pada Pekerja: Peran Edukasi dan Digitalisasi dalam Industri Dana Pensiun di Indonesia” yang dilakukan oleh Syarifudin Yunus (Dosen Unindra & Dewas DPLK SAM) dan Farid Nabil Elsyarif (KKA Edial) yang diterbitkan jurnal ilmiah pada April 2026 menyebutkan mayoritas pekerja belum memiliki kesiapan pensiun yang memadai. Terdapat 86% pekerja belum siap pensiun dan 89% pekerja belum punya dana pensiun sukarela. Artinya, dapat disimpulkan 9 dari 10 pekerja tidak siap untuk pensiun. Hanya 1 pekerja yang siap berhenti bekerja atas sebab apapun.
Untuk menjawab, apakah pekerja mengandalkan penyediaan dana pensiun dari
tempatnya bekerja? Ternyata, 80% pekerja tidak mengandalkan dana pensiun dari
tempat kerjanya. Tapi hanya 45,5% pekerja yang merasa yakin dapat memenuhi
kebutuhan hidup di masa tua. Kondisi ini menyiratkan adanya pseudo-awareness
(kesadaran semu), di mana pekerja tahu dana pensiun penting tapi sebenaranya belum
punya dana pensiun. Terbukti pula, rendahnya literasi dana pensiun pada pekerja
tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tapi hasil dari kombinasi
berbagai faktor, seperti rendahnya kesadaran, perilaku keuangan jangka pendek,
kompleksitas produk, serta belum optimalnya edukasi dan pemanfaatan
digitalisasi di dana pensiun.
Penelitian yang menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan
eksplanatori ini mempertegas tingkat determinasi rendahnya literasi dana
pensiun pada pekerja. Dengan melibatkan 66 responden pekerja sektor formal dan
informal di Jakarta, penelitian dana pensiun ini mempertegas adanya ketidaksesuaian
antara persepsi dan realitas perilaku dana pensiun di kalangan pekerja. Terjadi
kesenjangan antara pemahaman (awareness) dan implementasi (action)
soal dana pensiun. Karenanya, peningkatan literasi dana pensiun memerlukan
pendekatan yang terintegrasi antara edukasi yang bersifat transformatif dan
digitalisasi yang mempermudah akses kepesertaan dana pensiun sukarelai. Edukasi
harus mampu mendorong perubahan perilaku, sementara digitalisasi berperan
sebagai enabler yang menyederhanakan proses, meningkatkan
keterjangkauan, dan memperluas jangkauan literasi. Sinergi antara edukasi,
teknologi digital, dan dukungan kebijakan menjadi kunci dalam meningkatkan
kesiapan finansial pekerja menghadapi masa pensiun yang berkualitas.
Penelitian tentang “Determinasi Rendahnya Literasi Dana Pensiun pada
Pekerja: Peran Edukasi dan Digitalisasi dalam Industri Dana Pensiun di
Indonesia” secara lengkap dapat disimak di Jurnal Manajemen Bisnis Digital
Terkini, Volume. 3 No. 2 April 2026 hal 01-15 dengan DOI: https://doi.org/10.61132/jumbidter.v3i2.1308
di link: https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JUMBIDTER/article/view/1308
Memang potensi pasar dana pensiun, khususnya DPLK di kalangan pekerja
sangat besar. Ada 150 juta pekerja (60% di sektor informal dan 40% di sektor
informal) di Indonesia, namun inovasi pendekatannya ke pekerja harus lebih
divariasikan, sesuai kebutuhann dan kondisi pekerja. Salah satunya, berbasis
data seperti penelitian dan melihat tren yang terjadi di pasar pekerja Indonesia.
Tujuannya hanya satu, untuk menyiapkan masa pensiun atau hari tua pekerja yang
lebih nyaman dan berkualitas. Punya kesinambungan penghasilan di hari tua,
tanpa merepotkan anak atau keluarga di masa pensiun. #YukSiapkanPensiun
#PenelitianDanaPensiun #EdukasiDPLK


.jpg)
.jpg)







.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

