Kamis, 23 April 2026

Penelitian Taman Bacaan: Akses Literasi Terbatas 60 Persen TBM di Indonesia Beroperasi 2-5 Hari Seminggu

Minat baca itu tergantung pada akses. Sebab tanpa akses bacaan sangat sulit mint abaca ditingkatkan. Karenanya, akses literasi masyarakat merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan pendidikan, khususnya pada jalur nonformal. Di situlah pentingnya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai sarana strategis dalam menyediakan bahan bacaan serta ruang belajar yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Melalui TBM, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan minat baca, memperluas wawasan, serta mengembangkan kemampuan belajar sepanjang hayat.

 

Sayangnya, pemanfaatan TBM sebagai pusat literasi masih menghadapi berbagai kendala, salah satunya terkait keterbatasan akses layanan yang belum sepenuhnya menjangkau kebutuhan masyarakat. Salah satu faktor yang memengaruhi aksesibilitas TBM adalah waktu operasional. Banyak TBM yang memiliki jam layanan terbatas dan kurang fleksibel, sehingga tidak sesuai dengan pola aktivitas masyarakat yang beragam. Pelajar, pekerja, maupun kelompok masyarakat lainnya seringkali tidak dapat mengakses TBM karena waktu buka yang bersamaan dengan jam sekolah atau jam kerja. Kondisi ini menyebabkan rendahnya tingkat kunjungan dan partisipasi dalam kegiatan pembelajaran nonformal, meskipun kebutuhan terhadap akses literasi sebenarnya cukup tinggi.

 

Keterbatasan waktu operasional juga berdampak pada rendahnya intensitas interaksi masyarakat dengan sumber belajar yang tersedia di TBM. TBM yang tidak mampu menyesuaikan jadwal layanan dengan kebutuhan pengguna cenderung kurang optimal dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat pembelajaran nonformal. Padahal, peningkatan akses literasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan koleksi buku, tetapi juga oleh kemudahan masyarakat dalam mengakses layanan tersebut secara waktu dan kesempatan.

 

Sebagai sarana pendidikan nonformal, TBM berperan penting dalam menyediakan bahan bacaan, ruang belajar, serta aktivitas literasi bagi masyarakat. Saah satu faktor yang memengaruhi tingkat kunjungan dan jumlah pembaca di TBM adalah waktu operasional. Banyak TBM yang beroperasi pada jam-jam tertentu yang kurang fleksibel, sehingga membatasi akses masyarakat yang memiliki kesibukan pada waktu tersebut. Bahkan tidak sedikit TBM yang beroperasi pada saat ada kegiatan atau kunjungan tamu dari luar. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan waktu operasional menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan efektivitas layanan TBM.

 


Sebuah penelitian yang dilakukan Syarifudin Yunus, pegiat literasi TBM Lentera Pustaka tentang “Optimalisasi Waktu Operasional Taman Bacaan Masyarakat dalam Meningkatkan Akses Literasi dan Partisipasi Pembelajaran Nonformal” menyebutkan terdapat 60% TBM di Indonesia beroperasi antara 2-5 hari dalam seminggu sehingga jumlah pembaca TBM yang tidak optimal. Sebanyak 50% TBM hanya memiliki jumlah pembaca di bawah 30 anak, 39% TBM pembacanya di antara 30-60 anak. Ini berarti 9 dari 10 TBM secara rata-rata pembacanya di bawah 60 anak. Waktu operasional TBM menjadi faktor strategis yang sangat memengaruhi tingkat akses literasi masyarakat terhadap layanan TBM. Waktu layanan yang terbatas dan tidak sesuai dengan pola aktivitas masyarakat dapat menghambat pemanfaatan TBM sebagai sumber belajar.

 

Fleksibilitas waktu layanan TBM menjadi kunci dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber literasi. Waktu operasional TBM terbukti membatasi akses literasi dan partisipasi pembelajaran nonformal. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan waktu operasional yang lebih efektif, seperti pengaturan jadwal layanan yang fleksibel, pelibatan relawan, serta dukungan komunitas agar TBM dapat berfungsi secara maksimal sebagai pusat literasi dan pembelajaran nonformal yang inklusif serta berkelanjutan bagi masyarakat. Penelitian  ini dilakukan dengan kuesioner yang melibatkan sampel 172 pengelola TBM di seluruh Indonesia sebagai responden dan wawancara dengan 3 pengelola TBM. Penelitian bertajuk “Optimalisasi Waktu Operasional Taman Bacaan Masyarakat dalam Meningkatkan Akses Literasi dan Partisipasi Pembelajaran Nonformal” dapat disimak pada Jurnal Pengabdian Masyarakat “Inspirasi” Vol. 4 (1) terbit 30 Maret 2026 dengan link:https://jurnal.kolibi.id/index.php/inspirasi/article/view/371

 

Selain menjalankan kiprah di TBM, gerakan literasi dan TBM Indonesia ada baiknya melakukan penelitain sebagai bahan evaluasi sekaligus membuat strategi berbasis data/riset. Khususnya untuk optimalisasi waktu operasional TBM sebagai strategi dalam meningkatkan akses literasi dan partisipasi pembelajaran nonformal di masyarakat. Agar ada gambaran mengenai pola waktu kunjungan masyarakat dan pola pelayana TBM  yang lebih adaptif dan responsive sehingga TBM dapat berfungsi secara lebih efektif sebagai pusat literasi yang inklusif, serta mampu mendorong peningkatan kualitas pembelajaran nonformal secara berkelanjutan. Salam literasi!



Apa Sih Financial Independence Retire Early (FIRE)?

Ada yang bertanya, apa sih Financial Independence Retire Early atau disingkat FIRE? Jawaban simpelnya, FIRE itu intinya “kita punya uang cukup untuk hidup tanpa kerja lagi”. Hanya penekanan FIRE bukan “tidak kerja lagi” tapi lebih ke perilaku dan gerakan gaya hidup yang fokusnya pada penghematan ekstrem dan investasi agresif. Gimana caranya hdup hemat (bukan pelit) dan punya passive income agar bisa mencapai kemandirian finansial. Di luar kerja, kita bisa punya income yang cukup untuk menutupi biaya hidup. Kata penganut FIRE, kira-kira antara 50% s.d. 75% dari pendapatan bulanan. Bila kondisi itu terjadi, maka silakan “pensiun dini”, sekalipun “pensiun normal” pun tidak dilarang.

 

Tujuan utama FIRE bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan yang disukai tanpa ketergantungan pada gaji bulanan. Punya uang yang cukup untuk menutupi biaya hidup. Caranya, tentu dengan menurunkan pengeluaran drastic (apalagi yang tidak diperlukan), meningkatkan pendapatan, dan menginvestasikan sisa dana secara konsisten untuk tujuan FIRE. Berapa besarnya uang yang disediakan? Umumnya untuk menutupi biaya hidup selama 25 tahun ke depan. Bila mengacu pada usia harapan hidup orang Indonesia yang 73 tahun (setelah pensiun di uisa 55 tahun), setidaknya butuh 18 tahun setara pendapatan bulanan.

 

Senagai contoh saja, bila pengeluaran atau biaya hidup kita setahun Rp.120 juta (Rp.10 juta/bulan). Berarti kita harus punya aset Rp. 2,16 miliar (18 tahun x Rp.120 juta). Gede ya jumlahnya? Iyalah, bila kita punya gaji Rp. 20 juta per bulan saja butuh 9 tahun untuk punya uang segitu. Tapi di Indonesia, angka segitu bisa lebih "ringan", kenapa? 

 

Karena Cost of living (biaya hidup) di Indonesia tergolong “murah”. Makanan hari-hari, transportasi, biaya tempat tinggal jauh lebih terjangkau dibandingkan di Eropa atau Amerika. Bahkan di Jakarta yang kota besar saja, survei saya ke pensiunan pegawai swasta dibutuhkan biaya hidup pensiunan sebesar 56% dari gaji terakhir. Berapaun gaji terakhirnya. Misal gaji terakhir Rp. 10 juta, maka dibutuhkan Rp. 5,6 juta per bulan untuk menutupi biaya hidup.

 

 


Tentu ada tapinya. Karena FIRE tidak memperhitungkan beberapa hal yang penting di Indoneisa. Yaitu 1) inflasi, 2) gaya hidup, dan 3) kesehatan. Inflasi jadi sebab uang Rp. 2 miliar tahun 2026 tidak akan sama nilainya di tahun 2030. Di Indonesia rata-rata inflasi 3-4% per tahun. Artinya, pengeluaran akan terus naik maka aset – income kita harus tumbuh lebih besar dari laju inflasi. Kira-kira begitu.

 

Gaya hidup, mungkin waktu kita kerja bisa hemat. Makan di warteg, naik KRL, ngopi di warung (bukan di kafe). Tapi gaya hidup di sini apalagi godaan buat "reward ke diri sendiri" tergolong besar. Liburan rutin, makan enak, dan beli barang. Tanpa disadari, pengeluaran gaya hidup itu bisa “meledak”. Dan yang paling mengkhawatirkan itu soal kesehatan. Asuransi Kesehatan memang penting tapi biaya berubat atau rumah sakit juga terus naik setiap tahun. Apalagi kalau punya penyakit serius. Makanya, FIRE tanpa proteksi Kesehatan sama dengan “bunuh diri finansial”. Bila tidak siap, aset berapa pun akan habis “dimakan” biaya kesehatan”.

  

Terus sebagai pekerja, gimana caranya bisa FIRE? Coba dilatih untuk “hitung biaya hidup”, berapa yang uang yang kita butuhkan agar “bebas” secara finansial. Realistis saja, apa 25 kali pengeluaran bulanan atau 18 kali biaya bulanan? Lalu, bikin anggaran yang detail, catat semua pengeluaran untuk apa saja? Kemudian, mulai berpikir dan eksekusi diversifikasi sumber pengeluaran, dari mana? Dan yang penting, upgrade diri untuk berhemat dan menambah sumber pemasukan. Terus belajar dan tingkatkan skill untuk menambah aset atau pendapatan.

 

Jangan ngeyel, bilangnya “gaji tidak cukup melulu”. Cona dulu untuk berhemat dan berhemat, bila pengen pensiun nyaman ya mulai menabung di dana pensiun untuk hari tua. Tetap investasi di mana pun, mulai juga bikin bisnis kecil atau jadi freelance. Intinya, agar punya passive income sekalipun tetap bekerja. Dan mulai berani siapkan “dana darurat” yang cukup. Minimal untuk 6-12 bulan pengeluaran. Biar kalau ada masalah (seperti PHK, sakit), kita tetap aman. Financial Independence Retire Early (FIRE) itu bukan soal siapa yang lebh cepat? Tapi soal “ketahanan” finansial, soal kemandirian finansial yang tidak perlu tergantung kepada siapapun.

 

Jadi gimana, FIRE itu berat atau mudah? Kita tetap punya uang cukup untuk hidup sekalipun tanpa kerja lagi. Tapi yang penting, mulailah untuk punya perilaku dan gaya hidup yang fokus pada penghematan dan tabungan sesuai tujuan keuangan kita. Punya uang cukup untuk pendidikan anak, kesehatan, bahkan pensiun. Bira tidak menyusahkan anak, keluarga atau orang lain. #YukSiapkanPensiun

 

 

Literasinya Orang Kerja: Semuanya Pengen Tampil di Kantor tapi …

Elo pernah nggak? Kerja bareng satu tim, yang isinya anak-anak muda ambisius. Saking ambisiusnya, semua pengen "tampil." Hebatnya lagi, ada satu orang di antara mereka. Setiap ada project, dia selalu kelihatan sibuk. Rapat sana-sini. Email sana-sini. Tapi anehnya, nggak pernah ngerjain apa-apa. Semua tugas selalu didelegasikan ke orang lain, termasuk ke gue.

 

Kesal banget gue. Karena yang ngerjain orang lain tapi yang dapat kredit dia. Bahkan lebih dari itu. Gue inget banget, waktu itu, sebut saja namanya Alex. dia baru selesai presentasi. Keringet dingin. Mikir keras. Proyeknya gede. Hasilnya bagus. Tapi pas nama tim disebut, nama dia yang paling banyak disebut. Padahal, dia nggak ngapa-ngapain.  Gue diam aja. Si Alex senyum.

 

Gue langsung inget kata-kata mentor gue. "Kalau lo gak ngerti kenapa orang sukses, mungkin karena lo gak tahu apa yang mereka lakuin." Malam itu gue nggak bisa tidur. Ada yang salah. 

Gue mulai perhatiin si Alex. Rapat selalu datang paling telat, pulang paling cepat. Tapi emailnya selalu paling banyak. Isinya: "Tolong bantu ini," "Cek ini ya," "Update progress dong." Delegasi-nya jago, dan itulah yang dia lakuin.  

 

Gue mulai ngitung. Di proyek terakhir, Alex mendelegasikan 80% pekerjaannya. Tapi di akhir, dia dapat 30% pujian dari atasan. Gue? 10%. Padahal gue yang ngurus semua. Gue mulai paham, ini bukan soal kerja keras. Ini soal "penampilan." Alex jago banget bikin dirinya kelihatan sibuk. Rapat. Email. Diskusi. Presentasi. Semuanya buat nunjukkin dia "berkontribusi." Padahal, dia cuma "mengatur."

 


Jadi, ya kayak begitulah, keahlian yang harus kita kuasai di dunia kerja. Kenapa? Karena: 1) Era spesialisasi. Nggak mungkin lo bisa semua. Delegasi adalah kunci, 2) "Soft skill" lebih penting dari "hard skill." Komunikasi, negosiasi, manajemen, itu yang dicari, dan 3) "Visibility" = mata uang baru. Lo harus kelihatan, meskipun nggak ngerjain.  

 

Gue mulai coba. Gue belajar mendelegasikan tugas yang nggak gue kuasai. Gue bikin tim kecil yang fokus di satu hal. Gue mulai berani minta bantuan. Hasilnya?  

 

Gue lebih fokus. Kerja lebih efisien. Gue punya waktu buat belajar hal baru. Dan yang paling penting: orang lain mulai ngeliat gue sebagai "pemimpin," bukan cuma "tukang kerja." Tapi ada satu hal yang harus lo perhatiin: delegasi bukan cuma nyuruh. Lo harus jelasin: tujuan,  kenapa tugas ini penting – ekspektasi, hasil yang diharapkan – deadline, kapan harus selesai?  

 

Dan jangan lupa, kasih apresiasi ke yang teman yang ikut ngerjain. Beri kredit yang pantas dan mention mereka. Kalau nggak, lo akan ditinggalin teman. Setelah itu, mulailah  "mengatur" diri sendiri. atur waktu untuk belajar hal-hal baru, bangun jaringan, dan rencanakan karier. Biar nggak cuma jadi "tukang kerja" dan sering kena tipu di dunia kerja. Salam literasi!


Rabu, 22 April 2026

ADPI Gelar Goes to Campuss di UKSW Salatiga, Tingkatkan Literasi Dana Pensiun di Generasi Muda


Sebagai bagian dari kampanye GENCARKAN (Gerakan Nasional Cerdas Keuangan) yang diinisiasi OJK sekaligus untuk meningkatkan literasi keuangan khususnya dana pensiun, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menggelar acara "ADPI Goes tp Campuss" bertajuk “Kuliah Umum -  Sosialisasi Dana Pensiun dan Pengelolaan Keuangan kepada Generasi Milenial dan Gen Z" di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (22/4/2026). Dihadiri 125 peserta (mahasiswa, dosen dan umum), bertindak sebagai narasumber: Budi Sutrisno, BEc, MM, CFIA, CRP. (Direktur Utama Dana Pensiun BCA & Wakil Ketua ADPI Bidang Edukasi & Kompetensi dan Sosialisasi & Literasi) dengan moderator : Prof. Apriani Dorkas Rambbu Atahu, S.E., M.Com., Ph.D. (Dosen FEB UKSW). 

 

Acara ADPI Goes to Campuss ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan dan kesadaran (awareness) mahasiswa serta generasi muda mengenai pentingnya mempersiapkan dana pensiun sejak dini, di samping memberikan pemahaman fungsi dan manfaat dana pensiun. Sebagai organisasi tempat berhimpunnya DPPK di Indonesia, ADPI memiliki komitmen untuk terus meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun bagi masyarakat Indonesia.

 

"Kami di ADPI secara rutin melakukan edukasi dana pensiun, baik ke kampus atau industri dan melalui podcast. Agar generasi muda dan publik paham sejak dini pentingnya dana pensiun untuk kemandirian finansial di hari tua. Untuk menjaga stabilitas finansial seseorang di saat pensiun. Karenanya, edukasi dana pensiun harus terus disosialisasikan" ujar Budi Sutrisno, Wakil Ketua ADPI Bidang Edukasi & Kompetensi dan Sosialisasi & Literasi) dalam pemaparannya.




Sesuai dengan pesan regulator, ADPI akan proaktif meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun ke masyarakat, termasuk mahasiswa, Gen Z, dan milenial. Hal ini sejalan dengan Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK tahun 2025, di mana tingkat literasi pada sektor dana pensiun berada pada level 27,79 persen, sedangkan inklusi pada level 5,37 persen. Untuk itu, ADPI bertekad memperkuat tiga komponen literasi finansial yang mencakup perilaku (behavior), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude) terkait literasi keuangan di dana pensiun.

 

Kegiatan ADPI Goes to Campuss ini menjadi bukti pentingnya edukasi dan kolaborasi  dalam memperkuat pemahaman masyarakat akan pentingnya membangun kemandirian finansial di masa pensiun, di samping aktif mengkampanyekan GENCARKAN (Gerakan Nasional Cerdas Keuangan).  #ADPIGoesToCampuss #YukSiapkanPensiun #GencarkanDanaPensiun

 

Membaca Buku Biar Tahu Semua Itu Ada Batasnya

Hidup itu nikmat karena ada batasnya. Makanya, kalau suka ikan tidak usah punya empangnya. Kalau suka durian, jangan miliki kebunnya.  Kalau suka somay, nggak usah punya tokonya. Itu pesan sederhana yang mengingatkan kita pada satu hal penting tentang hidup. Semua ada batasnya dan batas itu yang membuat nikmat.  

 

Banyak kenikmatan dalam hidup justru lahir dari “adanya batas”. Tanpa ada batas, sesuatu yang dulu terasa istimewa perlahan bisa menjadi biasa saja. Liburan terasa menyenangkan karena kita “tidak liburan setiap hari”. Ada waktu penantian. Ada jeda dengan kerja. Ada momen yang membuat liburan terasa special bila tepat waktunya.  

 

Pertemuan dengan orang yang kita sayangi terasa hangat dan bermakna karena ada “jarak ddan waktu” yang membuat kita kembali saling menghargai. Makanan favorit terasa luar biasa nikmat bukan karena rasanya saja, tapi karena “kita tidak memakannya setiap saat”.  

 

Tahu batasan, ada batasnya. Tanpa adanya batasan, hal yang awalnya sangat kita nikmati perlahan bisa berubah menjadi “sesuatu yang biasa saja”. Dari situ kita belajar satu hal penting: “tidak semua hal yang kita sukai harus kita miliki sepenuhnya”. Karena sering kali yang membuat sesuatu terasa berharga bukan karena kepemilikannya, melainkan “karena “jarak, jeda, dan kesempatan untuk merindukannya”.  

 

Ketika semuanya selalu tersedia, rasa syukur perlahan menghilang. Namun ketika ada batas, kita belajar untuk “menghargai setiap momen”. Belajar mengenal batas, berarti mengajarkan kita untuk menikmati dan bersyukur di segala keadaan.   

 


Jadi, terkadang cara terbaik menikmati sesuatu bukan dengan “memiliki sepeneuhnya”, tetapi dengan “menjaganya tetap Istimewa”. Tahu batasnya, ada batasnya. Karena dalam hidup, “batas sering kali membuat sesuatu tetap bernilai”.

 

Semua ada batasnya. Jadi, kalau kita suka minyak goreng, bukan berarti semua hutan harus diubah jadi kebun kelapa sawit. Kalau pengen makanan yang bergizi, tidak semua harus di-MBG-kan. Kalau pengen ketupat sayur, nggak usah punya warungnya. Kalau tahu kerja ada batasnya (pensiun), ya siapkan gaji untuk masa pensiun kita sendiri. Bila paham semua ada batasnya, itulah yang membuat kita tetap waras di segala keadaan. 

Mau marah, mau benci juga ada batasnya kan. Dan akhirnya, lebih baik membaca buku biar tahu batas setiap halaman. Sesederhana itulah hidup. Salam literasi!

 

Urusan Pekerjaan, Banyak yang Capek tapi Dilakukan Setiap Hari

Seorang kawan mengeluh soal kerjaan di kantor. Katanya, kerja sudah lebih dari 10 tahun tapi merasa tidak maju. Semua kerjaan dikerjain dan beres tapi merasa tidak dihargai. Dia bertanya, “apa yang salah dengan gue soal kerjaan?”

 

Jawabnya, sederhana sih. Tidak ada yang salah. Tapi kita sering kurang paham. Bahwa di tempat kerja, kita nggak akan naik kalau rajin mengerjakan semua hal. Kedengarannya aneh. Tapi begitulah nyatanya. Sebab, semakin kita ambil semua kerjaan justru semakin kita kelihatan sebagai karyawan yang biasa. Karena yang bikin kita naik bukan banyaknya kerja, tapi nilai dari kerjaan kita.  

 

Banyak karyawan di tempat kerja, mikirnya “yang penting semua kerjaan beres dulu.” Akhirnya, semua dikerjain. Dari yang penting, sampai yang cuma numpang lewat. Kita jadi sibuk terus tiap hari. Tapi di akhir hari, kita merasa capek tanpa merasa maju. Lelah tapi demotivasi. Nah, kalau kita merasa kerja kayak gitu, itu bukan karena kita nggak mampu milih kerjaan. Tapi kita belum pernah diajarin: “mana kerjaan yang punya value tinggi, dan mana yang cuma buang energi?”.

 

Anehnya di tempat kerja, sistem kerja itu jarang dibahas. Job desc ada tapi apresiasi jarang ada. Bahkan ada yang dikotori politik kantor, akhirnya jadi pilih kasih soal carrier path. Makanya ada karyawan yang kerja lebih sedikit, tapi naik lebih cepat. Bukan karena dia malas. Tapi karena dia fokus ke kerjaan yang berdampak. Sementara kita? Hanya menghabiskan waktu untuk kerjaan-kerjaan yang seharusnya nggak perlu kita sentuh.  

 


Kita sering lupa. Di tempat kerja, yang bikin kita naik bukan jumlah kerjaan. Tapi pilihan kerjaan. Kita dibayar bukan untuk sibuk, tapi buat memberi dampak. Dan selama kita belum bisa memilih, kita bakal terus muter di situ.  

 

Kerja yang bernilai itu bukan soal jadi lebih rajin. Tapi soal mulai sadar: “mana yang harus kita ambil, dan mana yang harus kita lepas”. Kerjaan memang nggak sesimpel kelihatannya tapi harus ada sikap yang jelas dalam bekerja. Sama seperti urusan dana pensiun, sangat gampang bilang nanti saja atau masih lama pensiun. Tapi bila kerja sudah puluhan tahun, tapi nggak punya dana pensiun, itu berarti kita tidak punya prioritas dalam bekerja. Bukankah cepat atau lambat, setiap karyawan pasti pensiun?

 

Urusan kerjaan di kantor memang pelik. Banyak orang tahu mereka capek di hal yang salah, tapi tetap dilakukan setiap hari. Karena nggak tahu harus mulai dari mana., dan akhirnya kerja jadi begitu-begitu saja. Sama halnya banyak karyawan tahu dana pensiun itu penting tapi kok belum mau mulai nabung untuk masa pensiunnya sendiri? Akhirnya, berjaya hanya saat bekerja, setelah pensiun jadi merana. Hari tua yang bergantung pada anak dan tidak mandiri secara finansial. Jadi, relasi kerjaan di kantor dan dana pensiun: bukan soal jumlahnya tapi dampaknya buat si karyawan. #YukSiapkanPensiun

Bottom of Form

 

Mendingan Baca Buku daripada Sibuk Mengurusi Hidup Orang Lain

 

Ini sebuah catatan reflektif sih. Bahwa orang yang benar-benar fokus membangun hidupnya biasanya memiliki prioritas yang jelas. Waktu, energi, dan pikirannya diarahkan untuk selalu bertumbuh, baik dalam karier, keuangan, kesehatan, maupun kualitas diri. Karena itu, ia tidak tertarik untuk mencampuri urusan orang lain secara berlebihan. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena ia sadar bahwa hidupnya sendiri sudah cukup menuntut perhatian dan tanggung jawab. Bahkan popularitas pun tidak dicari, rileks dan diam-diam saja.

 

Sebab kesibukan yang sehat itu membuat seseorang lebih selektif dalam menggunakan energi. Ia tidak mudah terpancing gosip, konflik, atau drama yang tidak memberi nilai tambah. Fokusnya adalah bagaimana hari ini bisa lebih baik dari kemarin. Dalam proses itu, ia belajar bahwa membandingkan diri atau menjatuhkan orang lain tidak akan mempercepat kemajuannya, justru hanya membuang waktu.

 

Makanya, orang yang damai dengan dirinya juga memiliki penerimaan yang kuat. Ia memahami kelebihan dan kekurangannya tanpa perlu menutupi dengan cara merendahkan orang lain. Kedamaian batin selalu membuatnya tidak merasa terancam oleh kesuksesan orang lain. Sebaliknya, ia bisa melihat keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan ancaman. Sementara banyak orang lebih suka membandingkan diri, bahkan merendahkan orang lain. Lebih baik fokus pada diri sendiri. Lebih baik makan sop sum-sum yang enak wkwkw…

 


Sebab, sikap menjatuhkan orang lain seringkali lahir dari ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Ketika seseorang merasa kurang, ia cenderung mencari pelampiasan dengan mengkritik atau merendahkan orang lain agar terlihat lebih baik. Namun bagi orang yang sudah berdamai dengan dirinya, kebutuhan semacam itu tidak ada. Ia tidak perlu validasi dari menjatuhkan orang lain, karena ia sudah cukup kuat dengan nilai dirinya sendiri.

Jadi, lebih baik fokus pada diri sendiri. Bukan berarti egois, melainkan bentuk tanggung jawab. Agar cenderung lebih tulus dalam membantu, karena bantuannya tidak disertai niat tersembunyi untuk merasa lebih unggul. Ia berjalan di jalurnya sendiri, menghargai perjalanan orang lain, dan menjaga hidupnya tetap sederhana, tenang, serta bermakna

Ketahuilah, orang yang fokus membangun hidupnya tidak punya waktu untuk mengurus hidup orang lain. Sebab orang damai dengan dirinya tidak akan sibuk menjatuhkan orang lain. Makanya, fokuslah agar kelar pada diri sendiri sehingga tidak sibuk mengurusi hidup orang lain. Jadilah literat!



Selasa, 21 April 2026

Bukan Soal Seberapa Banyak Kita Tahu tapi Cara Memperlakukan Orang yang Tidak Tahu

 

Ini hanya catatan literasi. Kualitas seseorang tidak hanya diukur dari luasnya pengetahuan yang ia miliki, tetapi dari cara ia menggunakan pengetahuan itu dalam berinteraksi dengan orang lain. Banyak orang pintar, tetapi tidak semua memiliki kebijaksanaan. Ilmu yang sejati seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Ketika seseorang merasa lebih tahu lalu memilih merendahkan orang yang belum paham, maka ilmunya belum benar-benar menjadi cahaya, melainkan hanya alat untuk meninggikan diri.

 

Sikap terhadap orang yang belum tahu menunjukkan kedewasaan karakter. Apakah ia memilih membimbing dengan sabar, menjelaskan dengan tenang, dan memberi ruang untuk belajar? Ataukah ia justru mengejek, mempermalukan, dan membuat orang lain takut untuk bertanya? Lingkungan yang sehat lahir dari orang-orang yang mau berbagi ilmu tanpa merendahkan. Sebab setiap orang pernah berada di posisi tidak tahu, dan setiap proses belajar membutuhkan keberanian untuk bertanya serta kesempatan untuk salah.

 

Pada akhirnya, orang akan lebih mengingat bagaimana kita membuat mereka merasa daripada seberapa banyak teori yang kita sampaikan. Pengetahuan bisa membuat seseorang terlihat hebat, tetapi akhlak menentukan apakah ia benar-benar bernilai. Menjadi pintar itu penting, tetapi menjadi manusia yang mampu mengangkat orang lain jauh lebih mulia. Karena ilmu terbaik bukan yang hanya disimpan untuk diri sendiri, melainkan yang mampu menuntun orang lain menuju pemahaman. Karena itu, yang pentingnya bukan cara bagaimana menambah ilmu atau memperoleh pengetahuan. Tapi untuk apa ilmu dan pengetahuan yang dimiliki?

 


Jelas sekali, kualitas seseorang tidak dilihat dari seberapa banyak yang ia tahu, tapi dari bagaimana ia memperlakukan mereka yang belum tahu. Apakah ia merendahkan atau membimbing? Mengejek atau memberi ruang? Ilmu bisa dipelajari siapa saja. Tapi sikap lahir dari kesadaran. Orang yang benar-benar bertumbuh tidak sibuk memamerkan isi kepala, ia menjaga cara memperlakukan sesama karena tahu satu hal penting "Hari ini kita paham, besok bisa jadi kita yang kebingungan".  

 

Dan sebab itulah, yang kita butuhkan bukan orang yang paling pintar tapi orang yang paling manusiawi. Itu standar kualitas yang jarang dibahas tapi terasa dampaknya seumur hidup. Tereuslah berbuat baik dan menebar manfaat. Salam literasi!  

 


Literasi Dana Pensiun: Kerja Makin Capek tapi Gaji Tidak Cukup?

Mungkin ini penting buat pekerja. Di kantor atau di tempat kerja, ternyata kerja keras itu tidak otomatis bikin si pekerja dihargai. Karena kalau di hargai, harusnya sekarang posisi si pekerja sudah naik. Bisa gajinya, bisa pangkatnya. Tapi kenyataannya? Kok tetap begitu-begitu saja. Si pekerja malah makin capek, bukan makin dilirik. Akhirnya, stuck dan menjalani rutinitas semata. Tentu, bukan karena si pekerja kurang usaha tapi karena “main” di aturan yang salah.  

 

Begitu juga urusan pensiun, banyak pekerja punya gaji tapi tidak mau menabung untuk hari tua. Alasannya, gaji tidak cukup untuk menabung di dana pensiun. Selalu ada alasan untuk merasa belum perlu menyiapkan masa pensiun. Akhirnya, kerja puluhan tahun tapi dihantui rasa “tidak aman” bila pensiun atau berhenti bekerja. Ternyata, urusan pensiun bukan soal gaji tidak cukup tapi tidak mau mempersiapkan masa pensiunnya sendiri.

 

Di tempat kerja, kita bisa mengerjakan banyak hal. Datang tepat waktu, beresin tugas yang tertunda, bahkan membantu kerjaan orang lain. Kita jadi orang yang bisa diandalkan. Tapi di balik itu, kita justru sering merasa capek sendirian. Merasa kerja banyak tapi tidak pernah dianggap penting. Bila ada pekerja yang merasa seperti itu, harus paham itu terjadi bukan karena kita lemah. Dan bukan pula karena kita kurang kerja keras. Masalahnya bukan di effort kita. Tapi di cara tempat kerja kita menilai orang. Karena tempat kerja tidak sesimpel “siapa yang paling capek”.  

 

Makanya jangan heran, yang kerjanya biasa saja, malah bisa naik duluan. Bukan karena dia lebih rajin. Tapi karena dia keliatan lebih “bernilai”. Sementara kita? Merasa kerja keras tiap hari, tapi tidak terlihat penting di mata atasan atau di “politik” kantor.  Begitu pula urusan pensiun, ada pekerja yang gajinya tidak besar tapi punya dana pensiun lumayan karena punya komitmen untuk menyisihkan sebagian gajinya ke dana pensiun. Biar lebih tenang dan nyaman di hari tua.

 


Selain itu, ternyata di tempat kerja itu yang dihargai bukan effort tapi impact. Bukan kerja kerasnya tapi dampaknya. Bukan siapa yang paling sibuk tapi siapa yang paling berngaruh ke hasil. Karenanya, selama kita masih fokus ke capeknya kerja, kita bakal terus kalah sama yang paham “politik” kantor. Maka solusinya bukan kerja lebih keras. Tapi ubah cara kita “main” di kantor. Apapun alasannya, gimana caranya kerja kita bisa terlihat berdampak? Gimana caranya orang lihat kita sebagai aset? Dan berdampak itu beda jauh dari sekadar rajin. Sayangnya, banyak pekerja yang tidak sadar dan mungkin tidak mau jujur soal ini. Seberapa dampak kita terhadap pekerjaan dan kantor?

 

Banyak pekerja tahu kondisi ini tapi tetap kerja dengan cara lama. Capek iya, naik posisi tidak. Bahkan dalam 2-3 tahun ke depan, posisinya masih sama. Sama persis dengan menyiapkan masa pensiun, kerja bertahun-tahun tapi tetap tidak punya dana pensiun. Lupa, segala hal itu tergantung kita, bukan tergantung tempat kerja. Sebab apapun, kalau bukan kita mau siapa lagi? #YukSiapkanPensiun



Orang Kantoran tapi Kerjanya Ngeluh, Apalagi Saat Pensiun

Sob, pernah nggak sekantor atau ketemu orang kantoran yang kerjanya mengeluh. Apa-apa dikeluhin. Sebabnya, bukan soal kebijakan atau sistem yang jelek. Tapi soal kinerja orang lain, kayak kesel sama rekan kerja. Setiap meeting, setiap coffee break, bahkan pas makan siang. Selalu ada aja yang di-komplain. "Si A kerjanya lambat benget deh" atau bilang "Si B nggak proaktif". Dan ujungnya bilang, "Si C itu kurang komunikasi". 

 

Kita sering lupa, di tengah tuntutan dunia kerja yang makin kompleks dan serba cepat, tekanan buat perform memang tinggi. Tapi ada satu tipe karyawan yang justru jadi penghambat terbesar. Ironisnya, dia sering nggak sadar. Boleh setuju boleh nggak sih, “karyaawa yang paling bkomplain soal orang lain di kantor, biasanya adalah sumber masalahnya ada di dirinya sendiri”.

 

Kenapa? Karena komplain itu bentuk dari externalized blame. Fokusnya hanya mencari kesalahan di luar dirinya. Gagal dan nggak mau melihat ke dirinya sendiri. Di matanya, semua orang salah dan dirinya selalu benar. Sadar nggak sih, orang begitu itu cuma sibuk mengamati kekurangan orang lain sampai lupa memperbaiki diri sendiri.  

 

Data menunjukkan, satu karyawan 'toxic' bisa menurunkan moral tim dan efisiensi kerja sampai 30% dalam sebulan. Dan 7 dari 10 karyawan menganggap 'tukang komplain' itu sebagai faktor penghancur budaya kerja di mana pun. Kerjanya menghabiskan energi untuk bergosip dan menyalahkan.  Padahal, energi itu bisa dipakai untuk kontribusi nyata. Ujungnya, pekerjaan utama jadi terbengkalai atau cuma dikerjakan sesuai standar saka.  

 

Apa orang tukang complain itu korban? Bukan, ini soal mindset. Orang yang punya victim mentality di kantor itu cirinya khas: selalu jadi yang “paling lantang” nunjuk jari ke orang lain. Tapi pas ditanya solusi, jawabnya “nol”.  Bandingkan sama karyawan yang punya impact. Hanya fokus pada apa yang bisa dikontrol. Kalau ada masalah, ya cari solusi. Kalau ada kekurangan, mereka menawarkan bantuan, bukan cuma komentar pedas.  

 


Pernah lihat nggak, satu tim yang tadinya solid, hancur lebur cuma gara-gara satu orang 'toxic'. Output jadi turun, meeting jadi arena drama, semua jadi serba nggak nyaman.  Lingkungan kerja jadi penuh prasangka. Inovasi mati. Kolaborasi jadi berat. Semua gara-gara ada orang yang kerjaannya cuma nyinyir, tapi kontribusinya “nol besar”. Akhirnya, biaya yang ditanggung perusahaan bukan cuma dari penurunan produktivitas. Tapi juga tingginya turnover karyawan lain yang nggak betah. Jelas, realitas itu jadi cost yang mahal buat perusahaan.

 

Si karyawan tukang mengeluh lupa ya, mendingan keluhin punya dana pensiun atau nggak kalau nanti pensiun atau berhenti kerja. Daripada ngeluhin orang lai, lebih baik ngeluhin “apa yang sudah disiapkan untuk hari tua?”. Kerja puluhan tahun tapi tidak punya dana pensiun, jelas itu bahaya banget sih.

 

Orang kantoran tapi kok kerjanya ngeluh, apalagi saat pensiun nanti saat tidak punya gaji lagi. #YuksiapkanPensiun

 

Bottom of Form

 

Minggu, 19 April 2026

Kisah Pensiunan: Uang Tabungan Saat Bekerja Habis, Bingung Biaya Hidup di Hari Tua

Pak Darto dulu dikenal sebagai pekerja yang disiplin. Selama lebih dari tiga puluh tahun ia bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Datang paling pagi dan pulang paling akhir. Ia bukan orang yang boros. Setiap bulan selalu ada sisa gaji yang ia simpan di rekening tabungan. Baginya, memiliki tabungan sudah cukup untuk menghadapi masa tua. Ia sering berpikir, “Nanti saja soal pensiun, yang penting sekarang keluarga tercukupi.” Cara pandang yang sama dengan pekerja pada umumnya.

 

Ketika masa pensiun tiba, Pak Darto merasa cukup tenang. Tabungannya terlihat lumayan besar jika dilihat sepintas. Ia membayangkan hidup sederhana bersama istrinya di rumah kecil di kampung halamannya. Menikmati hari-hari tanpa tekanan pekerjaan. Di awal pensiun, semua memang berjalan baik. Ia masih bisa membeli kebutuhan sehari-hari, sesekali memberi uang saku untuk cucu, dan bahkan sesekali mentraktir keluarga.

 

Namun, waktu berjalan pelan tapi pasti. Harga kebutuhan pokok terus naik, biaya kesehatan mulai muncul, dan pengeluaran tidak terduga semakin sering terjadi. Tanpa pemasukan tetap, tabungan yang dulu terasa cukup mulai tergerus sedikit demi sedikit. Pak Darto mulai mengurangi pengeluaran, tidak lagi membeli hal-hal yang dulu ia anggap wajar. Ia berhenti memberi uang saku untuk cucu, bahkan mulai menahan diri untuk membeli obat jika belum benar-benar mendesak.

 

Beberapa tahun kemudian, tabungan Pak Darto akhirnya benar-benar habis. Hari itu datang tanpa peringatan yang jelas, hanya sebuah angka nol di buku tabungan yang membuatnya terdiam lama. Ia duduk di ruang tamu, memandangi dinding kosong, menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki pegangan finansial di hari tua. Pensiun yang dulu ia bayangkan tenang berubah menjadi masa penuh kekhawatiran. Gelisah, karena tidak cukup uang untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari.

 


Sejak saat itu, Pak Darto mulai bergantung pada anak-anaknya. Ia yang dulu menjadi tulang punggung keluarga, kini harus menunggu kiriman uang setiap bulan. Perasaan tidak enak sering muncul, apalagi ketika ia melihat anaknya juga harus membiayai keluarganya sendiri. Ia sering berkata pelan kepada istrinya, “Maaf ya, sekarang kita jadi merepotkan anak-anak.” Memang, hubungannya dengan anak-anak tetap hangat, tetapi ada rasa yang tidak bisa ia sembunyikan. Rasa kehilangan kemandirian finansial. Ia menjadi lebih pendiam, lebih sering duduk sendiri di teras rumah, memikirkan masa lalu.

 

Pak Darto, mulai menyadari bahwa tabungan saja tidak cukup tanpa perencanaan yang matang. Seandainya dulu ia memiliki dana pensiun dengan penghasilan berkala, mungkin hidupnya tidak akan seperti ini.

 

Kini, di usianya yang semakin senja, Pak Darto hanya bisa berharap anak-anaknya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ia sering berpesan kepada cucunya, “Kalau sudah kerja nanti, jangan cuma menabung. Siapkan juga dana pensiun.” Sebuah kalimat sederhana, tapi lahir dari penyesalan panjang seorang pria yang pernah merasa cukup hingga akhirnya menyadari bahwa masa depan butuh persiapan yang lebih dari sekadar tabungan. #YukSiapkanPensiun

Catatan Literasi: Ada yang Menghakimi Tanpa Tahu, Ada yang Menyimpulkan Tanpa Bertanya

Dalam perjalanan hidup, kita pasti akan bertemu dengan orang-orang yang salah paham terhadap diri kita. Ada yang menilai hanya dari potongan cerita, ada yang menghakimi tanpa mengetahui kenyataan sebenarnya, dan ada pula yang menyimpulkan sesuatu tanpa pernah bertanya langsung. Hal seperti ini sering kali menyakitkan, karena manusia pada dasarnya ingin dipahami dan diterima. Namun kenyataannya, tidak semua orang akan melihat kita dengan cara yang adil.

 

Sering kali, dorongan pertama yang muncul adalah keinginan untuk menjelaskan semuanya. Kita ingin meluruskan setiap kesalahpahaman, membela diri dari setiap tuduhan, dan memastikan semua orang tahu versi kebenaran kita. Tetapi hidup akan terasa sangat melelahkan jika kita terus berusaha mengendalikan cara orang lain memandang kita. Tidak semua pikiran bisa diubah, dan tidak semua hati terbuka untuk menerima penjelasan.

 

Di sinilah kita belajar tentang batas kendali. Tugas kita bukan memastikan semua orang menyukai atau memahami kita, melainkan memastikan bahwa kita tetap jujur pada diri sendiri. Selama kita tahu niat kita benar, langkah kita lurus, dan hati kita tidak dipenuhi kebencian, maka kita sudah melakukan bagian kita. Kita tidak hidup untuk memenuhi persepsi semua orang, tetapi untuk menjalani hidup dengan integritas.

 


Lebih penting lagi, kita perlu menjaga kelurusan di hadapan Allah. Penilaian manusia bisa berubah-ubah, sering kali dipengaruhi emosi, prasangka, atau informasi yang tidak utuh. Namun Allah mengetahui isi hati, perjuangan yang tidak terlihat, dan niat yang tidak terucap. Ketika kita memilih tetap sabar, tetap benar, dan tidak membalas dengan keburukan, di situlah kekuatan sejati muncul. Kita menyerahkan apa yang tidak bisa kita kendalikan kepada-Nya.

 

Pada akhirnya, kedamaian bukan datang dari berhasil menjelaskan diri kepada semua orang, tetapi dari ketenangan karena kita tahu kita tidak sedang mengkhianati nilai hidup kita sendiri. Biarkan orang menilai sesuai kapasitas mereka, sementara kita tetap berjalan sesuai prinsip yang kita yakini. Menjadi lurus di hadapan Allah jauh lebih penting daripada terlihat benar di hadapan manusia. Karena yang benar-benar menentukan bukan opini manusia, melainkan ridha-Nya.

 

Kita pasti bertemu orang yang salah paham tentang kita. Yang menghakimi tanpa tahu, yang menyimpulkan tanpa bertanya. Tugas kita bukan meluruskan mereka tapi  tetap jujur pada diri kita sendiri dan lurus di hadapan Allah SWT, sisanya bukan wilayah kita untuk dikendalikan. Maka lebih baik membaca buku di TBM Lentera Pustaka. Salam literasi!



Mikir tentang Pikiran Di Atas LRT

Minggu pagi ini, keluar rumah bareng istri pengen kulineran. Naik LRT sambil menikmati perjalanan. Saking enaknya nyandar, tahu-tahu terpikirkan satu hal. Berpikir tentang pikiran, kadang ada yang sempit ada yang luas. Kok bisa ya?

 

Orang yang sempit pikirannya, ternyata biasanya bukan karena “kurang pintar” tapi karena terlalu cepat merasa paling benar. Segala hal yang sampai ke telinga dan otkanya, buru-buru dimasukkan ke kotak. Pendapat orang buru-buru diredam dan dianggap salah. Terlalu cepat menilai, bahkan cepat melabeli salah. Setia phal yang tidak dipahamimnya pasti dianggap salah. Hal yang beda selalu dianggap aneh. Begitulah adanya.

 

Siapapun yang pikirannya sempit selalu tidaak nyaman pada hal-hal yang tidak bisa dia kontrol, termasuk perspektif orang lain. Akhirnya, sering defensif, reaktif, dan gampang tersinggung. Subjektivitasnya terlalu tinggi, akibat sempitnya pikiran.

 

Sementara orang yang luas pikirannya, bukan berarti selalu setuju. Tapi dia cukup tenang untuk mengerti dulu sebelum menilai. Dia tahu realitas hidup itu kompleks. Ada banyak sudut pandang terhadap satu hal. Paham betul, bahwa satu hal bisa punya banyak sisi. Bahwa kebenaran pun tidak selalu hitam-putih.

 


Saking luas pikirannya, saat berbeda pendapat. Dia bisa bilang, “gue tidak sepakat tapi gue paham kenapa elo mikir begitu.” Orang yang pikirannya luas tidak butuh jadi yang paling benar. Apalagi merasa paling tahu segalanya. Karena dia lebih tertarik untuk terus berkembang dan tetap tumbuh di jalurnya.

 

Kalau kita tarik ke energi personal. Pikiran yang sempit itu frekuensinya kaku. Selalu butuh kepastian, butuh kontrol sehingga sulit toleran terhadap pendapat atau hal baru. Sementara pikiran yang luas biasanya lebih fleksibel, lebih terbuka sehingga lebih mudah “nyambung” sama banyak kemungkinan. Selalu ada alternatif dalam berpikir.

 

Sempit atau luasnya pikiran bukan karena siapa yang lebih tinggi. Tapi soal siapa yang siap untuk terus bertumbuh. Apapun alasannya dan siapapun orangnya. Dan ternyata, menikmati hari Minggu sambil naik LRT nyaman dan bikin segar pikiran.

 

Jadi, kita pilih pikiran sempit atau luas nih?