Kata Pak Presiden
“Orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok”. Saat merespon nilai tukar Rupiah
yang melemah dan menembus kisaran Rp17.592 per dolar AS. Tapi kenapa jadinya, masyarakat
desa yang dijadikan “pembelaan”. Yang tahu dollar kan negara, importir, korporasi,
dan semua barang-barang yang masuk ke Indonesia. Masalahnya, bukan soal “siapa
yang pegang dolar kan Pak?”
Sebagai orang
kampung alias orang desa, jawabnya “Iya Pak, kami tahu kok belanja di kampung nggak
pakai dollar”. Bahkan melihat uang dollar juga nggak pernah Pak. Mungkin bukan
karena dollar-nya naik Pak. Tapi karena dampak dari kenaikan dollar itu yang
bikin uang orang desa jadi “berkurang”.
Gara-gara dollar
naik Pak, pedagang di desa mulai sepi. Orang-orang yang beli berkurang. Banyak
yang “menahan” uangnya untuk belanja. Makan tadinya pakai kerupuk, sekarang sudah
nggak lagi. Bahkan gara-gara dollar naik ya Pak, sembako juga mulai naik
harganya. Kami di kampung jadi ikut pusing gara-gara dollar Pak.
Katanya orang
pintar nih Pak, Indonesia masih impor minyak. Dan belinya pakai dollar. Kalau
dollarnya naik berarti keluar uang rupiahnya jadi lebih banyak kan ya Pak. Akhirnya,
harga BBM jadi naik. Begitu juga barang-barang yang tergantung pada BBM jadi
berubah harganya.
Di desa, kami menanam sayur-sayuran pakai pupuk Pak. Tapi kalau bahan baku
pupuknya masih impor, mau nggak mau harga pupuk jadi naik kan Pak. Modal
menanam jadi naik, dan harga panenan juga naik. Tapi belum tentu ada yang beli
Pak.
Kami di desa
sering makan mie instan Pak. Sesekali beli roti, susu atau obat-obatan. Tapi
kalau bahan baku barang-barang itu masih impor pasti harganya jadi naik kan ya.
Jadi, sekalipun kami di desa tidak punya dollar (bahkan nggak pernah pegang
dollar) tapi biaya hidup jadi ikut naik Pak. Hidup terasa makin susah, bukan
makin gampang.
Tetangga kami yang
pedagang di desa, sekarang ini lagi sedih Pak. Katanya harga barang-barang
naik. Tapi pembeli makin sedikit. Itu karena apa ya Pak? Mungkin Bapak tahu jawabnya?
Kalau kata orang desa nih Pak, gaji atau uang yang dipunya segitu-segitu saja
tapi harga beberapa kebutuhan hidup malah naik. Jadi tambah susah lagi Pak.
Bapak sudah
benar, memang rakyat di desa nggak pakai dolar. Tapi rakyat di desa beli
bensin, beli pupuk, beli minyak goreng, beli beras, dan semuanya ikut naik harganya
saat rupiah melemah daripada dollar. Masalahnya, mungkin bukan soal rakyat desa
pakai dollar atau nggak kali Pak. Tapi karena rakyat Indonesia memang terhubung
dengan sistem ekonomi dunia. Akibatnya, kalau dollar “batuk”, rakyat desa
ikutan “pilek” ya Pak.
Bapak harus tahu.
Rakyat desa nggak suka drama apalagi mengkritik Bapak. Rakyat desa juga nggak
kenal dollar. Tapi rakyat desa tahu banget kalau rupiah anjlok, yang paling susah
duluan rakyat kecil yang di desa-desa seperti kami Pak. Mungkin kalau yang di
istana, di DPR, konglomerat bahkan koruptor sih nggak pengaruh apa-apa ya Pak.
Bapak tahu nggak?
Hidup kami sampai sekarang masih sama saja dengan 10 tahun terakhir. Tidak
makin baik, tapi kami juga nggak bilang makin susah. Kalau harga sembako dan barang-barang
kebutuhan pokok masih normal sesuai kemampuan kami di desa nggak masalah. Tapi saat
ini, kadang-kadang kami dibikin pusing dengan harga barang yang nggak menentu.
Kadang naik kadang turun, sebagai orang desa kami nggak tahu apa sebabnya ya
Pak?
Makanya sampai sekarang,
kami hidup sudah sangat irit (bukan hemat ya Pak). Sesekali nabung, buat
jaga-jaga kalau ada kebutuhan mendesak atau harga barang naik. Maklum ya Pak,
hidup di desa. Lebih banyak susahnya daripada senangnya.
Jadi, kami pertegas ya Pak. Iya Pak, kami di desa nggak pakai dollar cuma dampak dari kenaikan dollar itu yang kami kena imbasnya. Sebab kalau dollar naik, kami di desa sebagai rakyat kecil yang susah duluan, bukan yang di istana atau di Senayan Salam sehat selalu Pak!
.jpg)
%20rev.jpg)





.jpg)
.jpg)

.jpeg)
.jpg)
%20rev.jpg)


.jpg)
.jpg)

.jpg)

.jpg)

.jpg)