Minggu, 23 Agustus 2026

Rata-Rata Pendapatan Lansia (Pensiunan) Hanya Rp1,7 Juta, Takut Sakit karena Tak Mampu Berobat

Momentum Bulan Dana Pensiun (September2026) tahun ini menjadi alarm keras bagi upaya perluasan kepesertaan dana pensiun dan jaminan hari tua nasional, terutama saat Indonesia bersiap menggelar Indonesia Pension Fund Summit 2026. Data historis menunjukkan Indonesia tengah mengalami pergeseran demografis yang sangat masif, di mana proporsi warga lansia (pensiunan) melonjak dari hanya 4,37 persen (5,21 juta jiwa) pada Sensus Penduduk 1971 menjadi 9,93 persen (26,84 juta jiwa) pada Sensus Penduduk 2020. Diperkirakan akan mencapai 20% pada tahun 2045 nanti. Lonjakan populasi lansia hingga lima kali lipat dalam setengah abad ini menuntut keseriusan semua pihak untuk segera merumuskan solusi perlindungan finansial yang berkelanjutan sebelum krisis kesejahteraan lansia semakin mendalam.

 

Fenomena lansia (pensiunan) yang masih harus memeras keringat di usia senja kini bukan lagi sekadar pilihan aktualisasi diri, melainkan keharusan untuk bertahan hidup. Sepanjang periode 2014 hingga 2023, persentase lansia yang aktif bekerja justru meningkat sebesar 6,45 persen. Faktor pendorong utamanya adalah ketidaktersediaan jaminan pensiun yang memadai yang memaksa mereka tetap bertahan di pasar kerja demi memenuhi kebutuhan perut sehari-hari. Realita ini menjadi sorotan utama kondisi masa pensiun di Indonesia, yang menekankan bahwa tanpa perencanaan dana pensiun sejak dini, masa tua yang sejahtera hanya akan menjadi angan-angan bagi sebagian besar masyarakat.

 

Kondisi para pekerja lansia (pensiunan) ini kian diperparah oleh tren pendapatan yang rendah dan sangat fluktuatif. Pada tahun 2023, rata-rata pendapatan lansia yang bekerja hanya berada di angka Rp1,711 juta per bulan. Tren ini sempat mengalami penurunan tajam dari Rp1,56 juta pada 2019 menjadi Rp1,34 juta pada 2021, sebelum akhirnya perlahan merangkak naik ke Rp1,621 juta pada 2022. Fluktuasi pendapatan yang berada di bawah standar hidup layak ini merefleksikan betapa rentannya posisi tawar pekerja lansia di sektor informal yang tidak memiliki kepastian jaminan pendapatan rutin seperti halnya kepemilikan dana pensiun terstruktur.

 

Di sisi lain, potret ketimpangan gender dan wilayah rural memperlebar jurang kemiskinan di masa tua. Berdasarkan data Sakernas Agustus 2023, sebanyak 32,24 persen pekerja lansia terjebak dalam kategori upah rendah, dengan kerentanan tertinggi didominasi oleh lansia perempuan dan mereka yang tinggal di pedesaan. Lansia perempuan rata-rata hanya mengantongi penghasilan sebesar Rp1,182 juta per bulan, sangat timpang jika dibandingkan dengan lansia laki-laki yang menerima rata-rata Rp2,045 juta per bulan. Angka-angka ini menjadi fondasi argumen dalam Bulan Dana Pensiun mengenai pentingnya perluasan kepesertaan dana pensiun yang inklusif bagi pekerja perempuan dan sektor informal.

 

Dampak dari rendahnya pendapatan ini pada akhirnya merembet pada penurunan kualitas hidup dan kesehatan. Akibat keterbatasan finansial, banyak lansia yang akhirnya enggan atau takut mencari perawatan medis ketika sakit karena tidak mampu membayar biaya pengobatan. Kehadiran negara serta penguatan industri dana pensiun nasional melalui Indonesia Pension Fund Summit 2026 diharapkan mampu melahirkan skema jaminan kesehatan universal yang terintegrasi dan sistem kesehatan ramah lansia. Langkah konkret ini sangat krusial agar masa menua tidak dijalani dengan penderitaan, melainkan sebagai fase hidup yang sehat, produktif, mandiri, dan bermartabat guna menyongsong bonus demografi kedua Indonesia.

 


Karena itu, sebagai upaya mengkampanyekan program pensiun secara nasional, OJK bersama ADPI, ADPLK, PT. Taspen, PT. Asabri, dan BPJS Ketenagakerjaan siap menggelar "Bulan Dana Pensiun" sepanjang bulan September 2026. Kegiatan ini menjadi gerakan kolaboratif seluruh ekosistem penyelenggara program pensiun di Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mempersiapkan masa pensiun sejak usia produktif, di samping meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun di Indonesia. Kegiatan Bulan Dana Pensiun akan dilakukan oleh seluruh pelaku program pensiun di Indonesia berbentuk kegiatan dan edukasi dan pensiun kepada masyarakat.

 

Puncaknya, akan digelar "Indonesia Pension Fund Summit (IPFS) 2026" pada 24-25 September 2026 di Balai Kartini Jakarta dengan tema "Memperkuat Ekosistem Pensiun yang Berkelanjutan: Hidup Sehat, Pensiun Bahagia". IPFS 2026 akan membahas arah pengembangan industri dana pensiun Indonesia agar menjadi lebih kuat, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan, di samping meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun di masyarakat. #BulanDanaPensiun #EdukasiDPLK #IPFS2026



Sabtu, 22 Agustus 2026

Fokus Sehat Fisik dan Tenang Masa Tua: Meriahkan Kick Off Bulan Dana Pensiun 2026 di CFD Sudirman

Dalam rangka meningkatkan literasi keuangan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya ptogram pensiun dan jaminan hari tua, pelaku industri program pensiun seperti Taspen, BPJS TK, Asabri, ADPI, dan ADPLK yang difasilitasi OJK siap menggelar kampanye edukasi berskala besar melalui “Kick Off Bulan Dana Pensiun Tahun 2026”. Kegiatan pencanangan resmi ini akan diselenggarakan pada Minggu, 6 September 2026, pukul 06.00 – 09.30 WIB di area Car Free Day (CFD) GBK - Sudirman, tepatnya berpusat di depan FX Sudirman.

 

Acara akbar yang kali pertama digelar ini sebagai wadah kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemangku kepentingan utama program pensiun bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mempersiapkan masa pensiun sejak usia produktif, di samping meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun di Indonesia. Kegiatan ini direncanakan akan dihadiri langsung oleh OJK dan seluruh praktisi dan pemerhati program pensiun di Indonesia.

 

Kick Off Bulan Dana Pensiun ini mengusung konsep interaktif yang memadukan aktivitas fisik sehat dengan edukasi finansial. Agenda akan diawali dengan registrasi peserta mulai pukul 05.30 WIB, diikuti dengan kegiatan Senam Sehat bersama masyarakat umum pada pukul 06.15 WIB. Setelah sesi sambutan pelaksana dan regulator, prosesi Pencanangan Resmi Bulan Dana Pensiun 2026 akan dilaksanakan secara simbolis oleh Ketua OJK/KE PPDP bersama jajaran Direktur Utama TASPEN, ASABRI, BPJS-TK, serta Ketua ADPI dan ADPLK.

 

Masyarakat umum yang hadir di area CFD juga dapat mengunjungi Pension Festival, sebuah pameran booth edukatif yang diikuti oleh DPPK, DPLK, OJK, TASPEN, ASABRI, dan BPJS TK. Di festival ini, pengunjung dapat mengakses zona edukasi interaktif serta memanfaatkan layanan pojok konsultasi pensiun secara gratis guna mendiskusikan perencanaan masa depan mereka bersama para ahli program pensiun. Sebagai pelengkap edukasi, panggung utama akan menghadirkan Mini Talkshow interaktif bertajuk "Merencanakan Pensiun di Era Digital" dengan panel narasumber dari pakar keuangan serta public figure .

 


Kemeriahan acara akan ditutup dengan pengundian aneka doorprize menarik bagi para peserta yang hadir sebelum acara berakhir pada pukul 09.30 WIB. Melalui sinergi erat ini, diharapkan masyarakat luas—khususnya generasi muda pekerja—mulai bergerak aktif untuk merencanakan masa pensiun yang sejahtera, mandiri, dan bahagia di era digital

 

Sepanjang bulan September 2026, seluruh pelaku program pensiun di Indonesia akan melakukan edukasi dan kampanye pentingnya mempersiapkan masa pensiun melalui Bulan Dana Pensiun 2026. Puncaknya, akan digelar "Indonesia Pension Fund Summit (IPFS) 2026" pada 24-25 September 2026 di Balai Kartini Jakarta dengan tema "Memperkuat Ekosistem Pensiun yang Berkelanjutan: Hidup Sehat, Pensiun Bahagia". IPFS 2026 nantinya menjadi forum strategis yang mempertemukan regulator, pemerintah, pengelola dana pensiun, lembaga jasa keuangan, organisasi internasional, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas arah pengembangan industri dana pensiun Indonesia agar menjadi lebih kuat, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Salam Yuk Siapkan Pensiun!

Jumat, 21 Agustus 2026

Bukan Soal Jabatan, Ini Rahasia Menjadi Pribadi Berkelas yang Dihormati Orang Lain

Rasa hormat sejati dari orang-orang di sekitar kita rupanya tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan, gelar akademik, atau seberapa melimpah kekayaan yang dimiliki seseorang. Alih-alih mengandalkan status sosial, wibawa yang asli justru tumbuh secara organik dari kekuatan karakter, ketenangan diri, dan cara seseorang bersikap dalam kehidupan sehari-hari.

 

Pribadi yang paling dihormati bukanlah orang yang berada di posisi paling atas, melainkan orang yang mampu berdiri paling tenang dan tahu cara menempatkan diri tanpa harus panik ketika tidak disukai orang lain. Untuk membangun karakter yang kokoh, ada beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan guna menanam rasa hormat secara alami tanpa perlu memaksakannya.

1. Menetapkan batasan diri yang tegas (boundaries). Menjadi pribadi yang terlalu mudah didekati atau selalu siap sedia kapan saja tanpa batasan justru dapat menurunkan nilai diri kita. Ketika kehadiran kita selalu diumbar tanpa batas, orang lain akan mulai menganggapnya sebagai kewajiban biasa, bukan lagi sebuah pilihan atau hak istimewa.

2. Menjaga batas komunikasi dan privasi. Kedekatan personal adalah hak istimewa yang harus diuji oleh waktu, situasi, dan tingkat kepercayaan, bukan sesuatu yang langsung diobral murah kepada semua orang. Oleh karena itu, penting untuk tidak terburu-buru akrab atau terlalu terbuka menceritakan detail privasi hidup kita (oversharing). Selain itu, hargai batas privasi orang lain, misalnya dengan tidak menelepon lebih dari dua kali jika tidak diangkat sebagai sinyal untuk tahu kapan harus mundur.

3. Menguasai seni menahan diri. Karakter yang berkelas juga tercermin dari kemampuan menahan diri. Simpanlah nasihat berharga kita sampai ada orang yang memintanya secara langsung. Begitu pula dengan rencana masa depan; simpanlah sebagai kekuatan misteri dan biarkan hasil kerja nyata yang membuktikannya ke publik alih-alih menjadikannya sekadar bahan konten.

4. Membangun kemandirian finansial. Seberapa mandiri seseorang dalam mengatur hidupnya menjadi salah satu pilar penting dalam menumbuhkan rasa hormat. Memiliki jaring pengaman seperti membangun lebih dari satu sumber penghasilan—baik melalui investasi, usaha sampingan, atau kerja lepas—akan menjaga kemandirian kita agar tidak bergantung hanya pada satu pintu kehidupan saja.

5. Berhenti menyenangkan semua orang dan menjaga prinsip. Menyadari bahwa menyenangkan semua orang bukanlah tugas kita adalah langkah krusial untuk menjaga batas energi diri. Dibanding sibuk mencari validasi eksternal, fokuslah untuk memegang teguh prinsip dan melakukan hal-hal yang benar-benar kita yakini, sehingga kita tidak mudah disetir atau dikendalikan oleh ekspektasi orang lain.

6. Membudayakan rasa terima kasih. Tindakan sederhana namun bernilai mahal seperti mengucapkan terima kasih yang tulus atas bantuan orang lain adalah penanda utama kepribadian yang berkelas. Ucapan terima kasih yang tulus ini jauh lebih kuat dan bermakna dibandingkan seribu basa-basi pujian.

 

Pada akhirnya, tujuan utama dari pembentukan karakter ini bukanlah untuk mengejar popularitas semata, melainkan untuk bertransformasi menjadi pribadi tenang dan berkelas yang kehadirannya senantiasa mampu memberikan rasa nyaman bagi orang-orang di sekitar kita. Salam literasi!



Paradoks Pasar Kerja: Gen Z Alami Burnout dan Pilih "Kerja Secukupnya"

Pasar kerja Indonesia saat ini tengah berada dalam kondisi yang kontradiktif antara statistik makro nasional dan realitas yang dihadapi generasi muda. Di satu sisi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional per Mei 2026 menyentuh angka 4,65 persen, yang merupakan titik terendah sejak tahun 1994. Namun di sisi lain, gerbang kesempatan kerja justru menyempit bagi kelompok usia termuda (15-24 tahun) dengan angka pengangguran yang merangkak naik hingga mencapai 17,37 persen. Ditambah lagi, mayoritas pekerja Indonesia, yakni sebesar 59,30 persen, masih bertahan di sektor informal yang umumnya berada di luar jangkauan perlindungan kerja standar seperti pesangon, cuti berbayar, dan jaminan sosial.

 

Kondisi pasar kerja yang serbanyata dengan berbagai kompromi ini mendorong terjadinya pergeseran nilai yang mendalam bagi generasi milenial dan Gen Z dalam memandang pekerjaan. Alih-alih mengejar promosi jabatan secara instan, kedua generasi ini sepakat menempatkan keseimbangan hidup dan kerja (work-life balance) sebagai pendorong kebahagiaan utama mereka di tempat kerja. Gelombang tuntutan terhadap keseimbangan ini kian mendesak seiring dengan laporan bahwa 43 persen pekerja Indonesia lintas generasi saat ini tengah mengalami kelelahan mental atau burnout. Akibatnya, kebahagiaan kerja kelompok Gen Z yang baru merintis karir berada di titik terendah (76 persen) karena sering merasa kurang dihargai dan kesulitan menyelaraskan tugas harian dengan visi besar perusahaan.

 


Resistensi terhadap budaya kerja berlebihan (hustle culture) ini mewujud ke dalam tindakan nyata di lapangan, mulai dari perubahan cara pandang hingga keputusan karir yang berisiko finansial. Di tingkat perilaku harian, publik dihebohkan oleh fenomena quiet quitting, di mana pekerja secara sadar membatasi usaha (effort) mereka hanya untuk menyelesaikan tugas-tugas dasar sesuai deskripsi pekerjaan tertulis tanpa mengambil inisiatif ekstra atau melakukan lembur sukarela. Sementara pada tingkat keputusan karir yang lebih ekstrem, sebagian pekerja berani melakukan downshifting—yaitu sengaja berpindah ke posisi dengan jabatan atau gaji lebih rendah demi mendapatkan waktu luang, fleksibilitas, dan kualitas hidup yang lebih manusiawi.

 

Meskipun keputusan downshifting membawa konsekuensi keuangan yang berat mengingat rata-rata upah nasional pekerja penerima gaji hanya Rp3,39 juta per bulan dan pekerja termuda di dasar tangga upah hanya menerima Rp1,99 juta per bulan, generasi muda tidak tinggal diam. Data menunjukkan bahwa Gen Z justru menjadi kelompok yang paling berani dalam menegosiasikan kompensasi mereka. Sebanyak 60 persen pekerja Gen Z tercatat berani memulai sendiri diskusi kenaikan gaji dengan atasan atau divisi SDM, mengungguli generasi milenial (55 persen) dan Gen X (37 persen). Fenomena ini menegaskan bahwa bagi angkatan kerja muda Indonesia, pekerjaan tetaplah penting, namun posisinya kini telah bergeser dari ukuran tunggal kesuksesan hidup menjadi salah satu variabel yang harus dinegosiasikan secara terus-menerus demi kehidupan yang lebih utuh.



Kamis, 20 Agustus 2026

Menatap Lanskap Emas dari Ketinggian Bandar Lampung: Bukit Aslan Jadi Primadona Baru Wisata dan Kebudayaan

Sejak resmi berdiri pada tanggal 5 Agustus 2022, destinasi wisata alam Bukit Aslan terus memikat hati para pelancong dari berbagai wilayah. Terletak di dataran tinggi kawasan Way Gubak, Sukabumi, destinasi ini hanya berjarak sekitar 11 km saja dari pusat Kota Bandar Lampung. Dikelola secara profesional dengan tarif tiket masuk yang ramah di kantong, tempat rekreasi ini sukses bertransformasi menjadi lokasi favorit bagi wisatawan yang ingin melepas penat dan berkumpul hangat bersama keluarga maupun sahabat. Bagi pecinta foto, panorama Bukit Aslan sangat layak jadi pilihan.

 

Daya tarik utama yang membuat pengunjung berbondong-bondong datang adalah sajian panorama 360 derajat yang luar biasa spektakuler dari atas ketinggian. Dari satu titik pandang, para tamu disuguhkan kombinasi lanskap perkotaan Bandar Lampung, hamparan lautan luas, jajaran perbukitan hijau, hingga lembah yang eksotis. Menjelang sore hari, area amfiteater terbuka yang dikenal dengan nama “Sunset Courtyard” menjadi titik paling ramai di mana para pemburu matahari terbenam (sunset) berkumpul menikmati keindahan langit senja.

 

Pengalaman visual di Bukit Aslan tidak berhenti saat matahari tenggelam, melainkan berlanjut hingga malam hari melalui keindahan gemerlap lampu kota (city lights) Bandar Lampung serta kehadiran ”The Magical Forest”. Hutan wisata alam yang dirancang dengan dekorasi cahaya estetis ini sukses menjadi spot foto terfavorit para pengunjung di malam hari. Selain itu, bagi pencinta petualangan, tersedia pula arena bermain ATV serta area berkemah (camping) di ketinggian, sementara mereka yang mendambakan ketenangan sejuk dapat menuruni anak tangga menuju lembah asri bernama “The Hidden Valley” untuk berpiknik santai.

 


Lebih dari sekadar tempat rekreasi biasa, Bukit Aslan memegang peranan penting di bidang sosial-budaya sebagai wadah alamiah untuk sarana edukasi, pelestarian sejarah, seni, dan budaya lokal. Keberhasilan fungsi edukasi ini dibuktikan melalui kesuksesan pementasan seni bergengsi bertajuk Tanoh Krakatau yang telah diselenggarakan sebanyak dua kali sepanjang bulan Agustus 2026 kemarin. Acara kebudayaan tersebut tidak hanya menarik minat masyarakat umum, tetapi juga mendapat apresiasi tinggi dengan dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur beserta jajaran tokoh penting daerah lainnya.

 

Bagi yang tertarik berkunjung, tempat wisata unggulan Lampung ini siap menyambut kedatangan Anda setiap hari Selasa hingga Sabtu mulai pukul 14.00 sampai 22.00 WIB. Sementara pada hari Minggu atau Hari Libur Nasional, loket kunjungan dibuka lebih awal sejak pukul 10.00 hingga pukul 22.00 WIB. Hari Senin tutup. Dengan segala kelengkapan fasilitas rekreasi dan nilai pelestarian budaya yang dimilikinya, Bukit Aslan menjadi pilihan destinasi wajib yang sangat layak dikunjungi saat berkeliling di Provinsi Lampung. Yukk healing ke Bukit Aslan!

 



Rabu, 19 Agustus 2026

Bulan Dana Pensiun: Usia Berapa Bagusnya Nabung untuk Pensiun?

Seorang pekerja bertanya, kapan sebaiknya seorang pekerja mulai menabung untuk pensiun? Ini jelas pertanyaan penting yang patut dijawab dengan tepat. Sebab, jarang pekerja punya kesadaran untuk mepersiapkan masa pensiunnya sendiri. Faktanya hari ini, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti kerja dikarenakan tidak tersedianya dana yang cukup untuk membiayai hidupnya.

 

Pekerja di mana pun atau individu yang ingin merencanakan masa tua melalui program dana pensiun atau DPLK, prinsip yang paling pentng adalah “makin cepat makin hebat”. Betapa krusialnya soal waktu dalam berinvestasi untuk mencapai target akumulasi dana di masa pensiun. Meskipun iuran bulanan dan estimasi imbal hasil tetap sama, siapapun yang mulai menabung lebih awal akan memperoleh akumulasi dana yang jauh lebih signifikan. Sebaliknya, menunda pendaftaran hingga usia lanjut akan memangkas hasil akhir secara drastis karena durasi pertumbuhan dana yang lebih pendek.

 

Usia mulai menabung (usia masuk) memiliki pengaruh besar terhadap total akumulasi dana pensiun yang diperoleh di akhir, meskipun jumlah iuran bulanan dan tingkat hasil investasi tetap sama. Sebagai contoh simulasi saja, apabila pekerja menyetor iuran bulanan sama-sama Rp.500.000 per bulan dengan tingkat imbal hasil 9% per tahun dan pensiun di usia 56 tahun, namun yang membedakan usia masuk-nya maka diperoleh hasil akhir dana pensiun sebagai berikut:

1.    Semakin dini memulai, semakin besar dana yang terkumpul. Jika seorang pekerja mulai menabung pada usia 28 tahun, dengan iuran Rp500.000 per bulan dan asumsi hasil investasi 9%, akan memperoleh akumulasi dana sebesar Rp1.870.500.000 saat pensiun di usia 56 tahun.

2.    Dampak penundaan terhadap total dana. Menunda waktu mulai menabung di dana pensiun secara drastis mengurangi hasil akhir. Contohnya: Jika baru mulai pada usia 37 tahun (menunda 9 tahun dari usia 28), akumulasi dana turun menjadi Rp575.000.000 saat pensiun di usia 56 tahun. Jika baru mulai pada usia 48 tahun (menunda 20 tahun dari usia 28), akumulasi dana hanya mencapai Rp92.000.000 saat pensiun di usia 56 tahun.

3.    Lama masa kepesertaan. Usia mulai yang lebih muda memberikan "lama jadi peserta" yang lebih panjang (misalnya 28 tahun vs 8 tahun), yang memungkinkan hasil investasi (9%) bekerja lebih maksimal melalui pertumbuhan majemuk seiring berjalannya waktu.

Singkatnya, semakin muda usia saat mulai masuk program dana pensiun atau DPLK, semakin besar peluang untuk mendapatkan akumulasi dana pensiun yang jauh lebih tinggi karena durasi investasi yang lebih lama. Makin cepat masuk dana pensiun, makin hebat hasil akhrinya.

 


Gimana cara memulai ikut dana pensiun? Cara sederhana, setiap pekerja bisa mendaftar menjadi peserta DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) khususnya melalu platform digital DPLK (playstor atau Appstore) sebagai program yang dirancang untuk membantu individu mempersiapkan akumulasi dana yang akan diperoleh saat pensiun. Untuk meraih kesinambungan penghasilan di hari tua dan membangun kemandirian finansial di masa tua. Sebab dana pensiun atau DPLK memberikan beberapa 5 manfaat utama yaitu::

1.    Perencanaan masa pensiun yang terukur. Program ini membantu peserta menentukan target jumlah uang yang ingin dimiliki saat pensiun dengan mengatur iuran bulanan dan lama masa kepesertaan.

2.    Pertumbuhan melalui hasil investasi. Iuran/dana yang disetorkan setiap bulan akan berkembang melalui hasil investasi sehingga total dana yang diterima bisa jauh lebih besar daripada total iuran yang dibayarkan.

3.    Keuntungan memulai lebih awal. Manfaat pensiun akan lebih besar diperoleh bila menjadi peserta dalam jangka waktu yang lebih lama. Sebagai contoh, dengan iuran yang sama (Rp500.000/bulan), seseorang yang menjadi peserta selama 28 tahun bisa mendapatkan dana hingga Rp1,87 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan yang hanya menjadi peserta selama 8 tahun (Rp92 juta).

4.    Kedisiplinan menabung. Program ini mendorong peserta untuk secara konsisten menyisihkan dana setiap bulan demi kesejahteraan di masa tua.

5.    Punya kepastian dana di masa tua. Tanpa dana pensiun, berapa lama pun bekerja tidak akan memiliki kepastian dana untuk membiayai hidup dan kebutuhan di hari tua.

 

Penting untuk diketahui, untuk menentukan target dana pensiun yang paling ideal, kita perlu mempertimbangkan beberapa faktor seperti 1) gaya hidup, berapa biaya hidup bulanan yang diharapkan setelah tidak lagi bekerja?, 2) tingkat inflasi, karena nilai uang di masa depan tentu berbeda daya belinya dengan nilai uang saat ini, dan 3) usia harapan hidup, berapa lama dana yang tersedia harus mencukupi biaya hidup setelah pensiun. Artinya, target "ideal" dana pensiun sangat bergantung pada kapan kita mulai bertindak. Jika ingin memiliki dana pensiun di angka miliaran (seperti Rp1,87 miliar) dengan iuran yang terjangkau, maka usia ideal untuk mulai masuk program DPLK adalah sedini mungkin, misalnya di usia 28 tahun. Jika kita baru mulai di usia tua, mungkin perlu menyesuaikan target atau meningkatkan jumlah iuran secara signifikan untuk mencapai angka "ideal" di masa pensiun.

 

Kita tahu, semua pekerja bercita-cita ingin “hidup sehat, pensiun bahagia”. Tapi sayangnya peserta dana pensiun sukarela seperri DPPK/DPLK hanya sebesar 3,68% atau baru 5,43 juta peserta. Maka wajar, data BPS (2025) menyebut 8 dari 10 pensiunan di Indonesia menggantungkan hidupnya di hari tua dari anggota keluarga yang bekerja. Mau sampai kapan sandwich generation atau kondisi masa pensiun yang bermasalah secara keuangan akan terus dipertahankan? Mungkin sudah saatnya, siapapun pekerja di sektorformal ddan informal untuk mulai menyiapkan masa pensiunnya sendiri.

 

Nah, mumpung mau ada "Bulan Dana Pensiun” di bulan September 2026 ini, kini saatnya bagi pekerja untuk siapkan pensiun. Nabung untuk hari tua, sisihkan gaji untuk kenyamanan di saat tidak bekerja lagi. Agar terwujud hidup sehat, pensiun bahagia. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Hidup Mau Lebih Tenang, Lepaskanlah 7 Hal Ini

Seorang kawan duduk sendirian di sebuah kedai kecil sambil menatap secangkir kopi yang mulai dingin. Entah kenapa, belakangan hidupnya terasa sesak. Hatinya selalu terasa berat. Ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana agar semua orang menyukainya. Merasa terlalu sering mengulang kesalahan masa lalu. Bahkan terlalu lama menyimpan sakit hati kepada orang-orang yang pernah mengecewakannya.

 

Beban kian memuncak. Karena ia juga sering membandingkan hidupnya dengan orang lain. Sring takut terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Segala sesuatu dipikirkan, segala sesuatu ingin terlihat indah. Mungkin terlalu banyak hal yang ingin ia genggam dalam hidup. Padahal, kata banyak orang hidup tidak seindah yang dibayarkan. Selalu ada jarak antara harapan dan kenyataan.

 

Saat meminta nasihat, gimana caranya bisa hidup lebih tenang? Buarb isa hidup lebih damai. Jawabnya sederhana tapi berat untuk dilakukan. Namun siapapun harus berjuang untuk “melepaskan” 7 (tujuh) hal agar hidup lebih tenang, lebih damai:

1. Melepaskan keinginan untuk menyenangkan semua orang. Karena tidak semua orang  bisa memahami kata dan memang tidak semua orang layak untuk disenangkan.  

2.  Melepaskan masa lalu yang tidak bisa diubah. Apapun di masa lalu cukup dijadikan pelajaran, bukan tempat tinggal. Pergilah dari masa lalu sesegera mungkin.

3.  Melepaskan dendam dan rasa sakit yang dipendam. Bukan karena orang lain layak dimaafkan, tapi karen hati kita layak untuk lebih tenang.

4.  Melepaskan perbandingan dengan hidup orang lain. Sebab tidak ada hal yang pantas diabndingkan, setiap orang punya jalannya sendidi, punya ujian dan waktunya sendiri. 

5.  Melepaskan rasa bersalah yang berlebihan. Setiap orang selalgi di dunia pasti punya kesalahan, tidak manusia yang sempurna. Cukup ikhtiar untuk memperbaiki diri.

6. Melepaskan ketakutan pada perkara yang belum terjadi. Fokus pada ikhtiar hari ini, bukan pada angan-angan. Bersiaplah untuk masa depan.

7. Melepaskan orang yang hanya hadir saat butuh. Jangan buang waktu untuk orang-orang yang tidak lagi menghargai. Fokuslah pada orang-orang yang hadir dengan ikhlas.

 


Harus disadari, terkadang hidup bukan tentang menambah sesuatu. Tapi belajar untuk melepaskan apapun yang membebankan hati. Berani meninggalkan hal-hal yang tidak penting dan tidak ada manfaatnya.

 

Pada siapapun, masalah akan selalu datang dan ada. Karenanya, ketenangan atau kedamaian hati tidak ditemukan dengan menambah lebih banyak hal dalam hidup, melainkan dengan berani melepaskan apa yang sudah terlalu lama membebani hati. Karena ada hal-hal yang memang harus diperjuangkan, tetapi ada pula yang harus direlakan. Sebab semakin sedikit yang kita genggam dengan terpaksa, semakin banyak ruang yang kita miliki untuk menerima ketenangan. Salam literasi!



Bulan Dana Pensiun: Apa Mungkin Pekerja Bisa Hidup Sehat Pensiun Bahagia di Hari Tua?

Di sudut sebuah perkantoran yang sibuk, seorang pemuda berusia 28 tahun menyisihkan Rp500.000 dari gaji pertamanya setiap bulan. Baginya, uang itu bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan benih ketenangan yang ia tanam untuk masa depannya sendiri. Ia tidak sedang bermimpi muluk; ia hanya ingin memastikan bahwa saat rambutnya memutih nanti, ia memiliki sandaran yang kokoh untuk beristirahat tanpa harus membebani anak cucunya.

 

Waktu ternyata menjadi sahabat terbaik bagi mereka yang berani memulainya lebih awal. Dengan kesabaran selama 28 tahun dan asumsi hasil investasi yang terus tumbuh sebesar 9%, benih kecil yang ia tanam secara konsisten diproyeksikan akan mekar menjadi dana pensiun senilai Rp1.870.500.000 saat ia menginjak usia 56 tahun. Angka miliaran tersebut adalah buah dari kasih sayang seseorang kepada dirinya di masa depan, memberikan kebebasan untuk menikmati hari tua dengan senyuman yang tulus dan hati yang tenang.

 

Namun, cerita seringkali terasa berbeda bagi mereka yang terlanjur membiarkan waktu berlalu dalam keraguan. Bagi pekerja yang baru tersadar pentingnya menabung di usia 37 tahun atau bahkan 48 tahun, perjalanan menuju masa pensiun terasa jauh lebih berat dan menyesakkan. Akumulasi dana yang hanya mencapai Rp92 juta di akhir masa kerja menyadarkan kita bahwa penundaan bukan sekadar kehilangan waktu, melainkan hilangnya peluang emas untuk hidup lebih sejahtera di masa tua nanti.

 

Masa pensiun sejatinya bukan hanya tentang berhenti bekerja, melainkan tentang menjaga martabat dan kemandirian di usia senja. Pertanyaan mendalam seperti "Pengen punya uang berapa saat pensiun?" kini bukan lagi sekadar wacana finansial, melainkan sebuah refleksi tentang sedalam apa kita peduli pada diri kita sendiri. Kita semua bermimpi untuk bisa menikmati hari tua dengan damai, tanpa harus mencemaskan kebutuhan hidup saat raga tak lagi sekuat dahulu.

 


Pada akhirnya, setiap rupiah yang kita sisihkan hari ini melalui program dana pensiun atau DPLK adalah "surat cinta" yang kita kirimkan untuk diri kita di masa depan. Meskipun angka-angka tersebut hanyalah sebuah ilustrasi, pesan yang disampaikan sangatlah nyata: mulailah hari ini, karena waktu adalah satu-satunya aset yang tidak bisa kita putar kembali. Mari persiapkan masa depan dengan bijak, agar masa tua kita nanti tetap indah, penuh makna, dan bermartabat.

 

Hari ini semua pekerja bercita-cita ingin “hidup sehat, pensiun bahagia”. Tapi sayangnya peserta dana pensiun sukarela hanya sebesar 3,68% atau baru 5,43 juta peserta. Maka wajar, sebuah survei menyebut 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Bahkan BPS (2025) menyebut 8 dari 10 pensiunan di Indonesia menggantungkan hidupnya di hari tua dari angota keluarga yang bekerja. Mau sampai kapan sandwich generation atau kondisi masa pensiun yang bermasalah secara keuangan akan terus dipertahankan? Mungkin sudah saatnya, siapapun dan bekerja di mana pun untuk mulai menyiapkan masa pensiunnya sendiri.

 

Nah, mumpung mau ada "Bulan Dana Pensiun” di bulan September 2026 ini, kini saatnya yang tepat bagi pekerja untuk siapkan pensiun. Nabung untuk hari tua, sisihkan gaji untuk kenyamanan di saat tidak bekerja lagi. Agar terwujdu hidup sehat, pensiun bahagia. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Selasa, 18 Agustus 2026

71% Masyarakat Cuma Anggarkan di Bawah Rp100 Ribu Sebulan untuk Buku, Tantangan Literasi Gede Banget

Tren anggaran belanja buku bulanan di kalangan masyarakat umum menunjukkan bahwa mayoritas besar mengalokasikan anggaran yang relatif terbatas untuk membeli buku setiap bulannya. Survei yang melibatkan 1.000 orang dari Goodstats (2025) menyebutkan rata-rata pengeluaran bulanan masyarakat untuk membeli buku terdiri dari:

1.    Kurang dari Rp100.000, kategori yang paling dominan, mencakup 71% dari total masyarakat.

2.    Rp100.000 – Rp500.000, berada di posisi kedua dengan persentase 24%.

3.    Lebih dari Rp500.000, hanya sebagian kecil masyarakat yang mengalokasikan anggaran tinggi untuk buku, 5% responden.

 

Artinya, anggaran belanja membeli buku di Indonesia 71% masih di bawah Rp100.000 per bulan. Daya beli buku masih tergolong rendah, sebab mayoritas masyarakat hanya mengalokasikan anggaran di bawah Rp100.000 per bulan untuk membeli buku. Angka ini menunjukkan bahwa buku baru fisik (yang umumnya saat ini dihargai di atas Rp100.000 per eksemplar) masih dianggap sebagai barang yang relatif mahal atau belum menjadi prioritas belanja utama bagi sebagian besar orang.

 

Bila dilihat dari cara masyarakat mendapatkan informasi mengenai buku baru, ternyata hasilnya: 62,5% dari media sosial, 11,3% dari platform buku daring, 10,7% dari toko buku, 5,4% dari rekomendasi teman atau keluarga, 4% dari ulasan atau blog buku, dan 3% dari lainnya. Kondisi ini menyiratkan toko buku fisik tidak lagi menjadi tempat utama masyarakat untuk menemukan atau mengetahui keberadaan buku baru (hanya 10,7%). Peran pencari tahu atau penemu buku (book discovery) kini hampir sepenuhnya bergeser ke ranah digital, dengan media sosial memegang kendali penuh sebesar 62,5%.

 


Bila mau dicermati, maka ada beberapa implikasi penting dari kondisi anggaran buku dan cara mendapatkan informasi buku baru di Indonesia, antara lain:

1.   Kebutuhan terhadap buku murah, untuk menjangkau pangsa pasar terbesar (70,8%), industri harus mampu menghadirkan buku dengan harga terjangkau di bawah Rp100.000. Hal ini memaksa penerbit untuk menekan biaya produksi (misalnya menggunakan kertas yang lebih ekonomis, mengurangi tebal halaman) atau beralih ke format digital (e-book) yang biaya produksinya lebih rendah.

2.   Optimalisasi platform daring, dengan model langganan bulanan (subscription) berbasis aplikasi digital bisa menjadi solusi menarik agar pembaca dengan anggaran terbatas tetap dapat mengakses banyak buku.

3.   Promosi wajib berpusat di media sosial, pemasaran konvensional (seperti memajang buku di etalase depan toko buku fisik tidak lagi efektif jika berjalan sendiri. Kampanye pemasaran harus dialihkan ke media sosial lewat kolaborasi dengan pembuat konten buku (bookfluencers), ulasan video (BookTok/BookTube), serta promosi interaktif yang memicu rekomendasi dari mulut ke mulut secara digital.

4.   Memainkan peran TBM sebagai penyelamat akses literasi, keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) gratis menjadi instrumen yang sangat krusial. TBM berperan menjembatani jurang antara tingginya rasa ingin tahu masyarakat dengan keterbatasan finansial masyarakat untuk membeli buku sendiri.

 

Jadi, untuk urusan belanja buku, mungkin kantong masih pas-pasan. Sebab massyarakat cuma anggarkan di bawah Rp100 ribu sebulan untuk buku. Daya beli masyarakat sangat terbatas untuk membeli buku. Karenanya, keberadaan TBM bisa jadi penyelamat literasi masyarakat. Salam literasi! #GerakanLiterasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan



Bulan Dana Pernsiun: Kisah Dina dan Rara Nabung untuk Pensiun

Ini kisah tetangga sebelah. Dua anak kost cewek, kerjanyanya sekantor. Gajinya pun sama persis Rp.6,8 juta sebulan. Sama-sama sudah kerja 5 tahun, sama-sama belum nikah, keduanya kost sebelahan. Yang satu namanya Dina, umurnya baru 30 tahun tapi tabungannya sudah Rp120 juta. Yang satu lagi Rara, justru minus Rp15 juta di kartu kreditnya. Orang sekantor pada menyangka yang minus itu pasti hobi foya-foya. Padahal Rara yang minus itu justru paling jarang jajan di kantor.  

 

Dina punya tabungan 120 juta. Hidupnya sederhana banget. Tiap hari dia bawa bekel dari kost, naik KRL, nggak pernah ikut pesen kopi kekinian. Sementara Rara, yang minus 15 juta, juga bukan orang yang boros. Rara malah sering banget traktir kawannya pas makan siang. Dia jarang beli baju, tasnya cuma 2, sepatunya dipakai sampe rusak. Makanya makin aneh saja, uang Rara itu sebenarnya lari ke mana?  

 

Mereka cerita, bulan lalu keduanya liburan bareng ke Bandung, 3 hari 2 malam. Dari ceritanya, baru terihat bedanya satu per satu, pelan-pelan. Rara kalau mau beli apa-apa lihatnya lama banget, muter-muter 15 menitan. Ujung-ujungnya dia beli barang yang nggak direncanain, karena ada promo 50 persen. Sementara Dina justru paling cepat mutusin, beli cuma yang sudah masuk daftar saja. Sisa duitnya dibawa pulang, nggak dihabiskan buat kalap belanja.  

 

Pas balik ke Jakarta, Rara tunjukin aplikasi belanjanya, isinya 9 cicilan paylater aktif. Totalnya Rp1,4 juta tiap bulan, padahal barangnya udah nggak terasa kepakenya. Sementara Dina tunjukin hal lain, satu rekening bank yang beda dari rekening gajian. Setiap tanggal 25 gajian masuk, dia langsung pindahin 40 persen gaji ke situ. Rekening itu nggak ada kartu ATM-nya, sengaja biar susah diambil dadakan. 

 

Saya iseng menghitung duit Dina yang pindah tiap bulan 40 persen dari Rp6,8 juta, berarti Rp2,72 juta per bulan. Dikalikan 48 bulan selama 4 tahun terakhir, totalnya sekitar 130 juta. Tabungannya sekarang 120 juta, sisanya 10 juta sudah terpakai buat dana darurat. Hitungannya rapi, nggak ada yang janggal sama sekali. Sekarang saya paham dari mana datangnya Rp120 juta itu? 

 

Giliran menghitung duitnya Rara. Rp. 1,4 juta per bulan dikali 12 bulan, setahun jadi Rp16,8 juta. Itu buat barang-barang yang tiap hari harganya turun terus. Parfum 4 botol yang belum kebuka, sepatu yang cuma dipake 2 kali. Dia belinya bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan diskon. Dia sendiri baru sadar pas ditunjukin angkanya di atas kertas. 

 

Dari situ siapapun sadar, masalah Rara itu bukan gaji kecil. Dina sama Rara dua-duanya punya gaji Rp6,8 juta, bedanya nol rupiah. Yang bikin beda cuma satu hal kecil: kapan keputusan menabung dimulai? Dina menyimpan di awal, pas gajinya baru masuk rekening. Rara menyimpan di akhir, dan selalu nggak ada sisanya. Beda posisi menyimpannya saja, tapi hasilnya beda puluhan juta.  

 

Gara-gara cerita Dina dan Rara, saya jadi penasaran kenapa keputusan duit orang bisa beda sejauh itu? Ternyata, intinya bukan soal gaji berapa, tapi kapan kita menyimpan duitnya. Dina simpan duluan sebelum dipakai. Rara nunggu sisa yang nggak pernah ada. Keputusan kecil yang diulang tiap bulan, hasilnya bisa beda puluhan juta. Coba deh cek rekening masing-masing, kita termasuk yang seperti Dina atau Rara.

 


Tiga puluh tahun berlalu kisah di kantor, Gimana bedanya masa pensiun antara Dina dan Rara? Sudah bisa diprediksi, meskipun keduanya memulai dari titik yang sama dengan gaji Rp6,8 juta rupiah, cara mereka mengelola "waktu" menabung telah menciptakan kondisi  hari tua yang sangat berbeda.

1.    Masa Pensiun Dina. Masa pensiunnya tenang dan bisa menikmati masa pensiunnya. Kebiasaannya menyisihkan 40% gaji di awal bulan secara konsisten dilakukan sejak usia 30 tahun telah berubah menjadi aset yang sangat besar,. Rekening tanpa kartu yang dulu ia buat sengaja agar "susah diambil" kini menjadi dana abadi yang menjamin hidupnya. Ia tidak perlu bingung mencari diskon untuk bertahan hidup karena ia sudah terbiasa hidup cukup dengan daftar rencana yang jelas. Baginya, pensiun bukan tentang berhenti bekerja karena tidak mampu lagi, tapi karena dananya sudah siap jauh-jauh hari,.

2.    Masa Pensiun Rara. Masa pensiunnya penuh penyesalan. Rara harus menghadapi masa tua dengan lebih berat. Meskipun di masa muda ia merasa tidak boros, kebiasaan menunggu sisa uang di akhir bulan membuatnya sering kali tidak memiliki tabungan sama sekali, Cicilan paylater yang dulu ia anggap kecil ternyata menjadi penghambat besar bagi dana pensiunnya. Di hari tuanya, Rara masih harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan harian karena ia baru sadar di usia tua bahwa "menunggu sisa" adalah strategi yang paling berisiko.

Jadi urusan menabung atau siapkan masa pensiun, bukan soal besaran gaji. Tapi kapan memulainya adalah penentu nasib finansial jangka panjang. Dina (menabung di awal), memastikan masa tuanya aman sebelum uangnya sempat terpakai untuk hal-hal konsumtif. Sedangkan Rara (menabung di akhir), sering kali mendapati rekeningnya kosong di hari tua karena uangnya habis untuk barang-barang yang nilainya terus turun seiring waktu. Maka jelas, kecilnya gaji tidak menentukan kenyamanan di masa pensiun, melainkan kapan keputusan untuk menyimpan uang itu diambil. Keputusan kecil yang diulang setiap bulan selama puluhan tahun menghasilkan perbedaan kualitas hidup yang sangat kontras di masa tua.

Nah, mumpung mau ada "Bulan Dana Pensiun, sudah saatnya pekerja siapkan pensiun sejak dini. Nabung untuk hari tua, sisihkan gaji untuk kenyamanan di masa pensiun. Agar tidak bergantung pada anak atau keluarga di hari tua. "#YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

Membaca Buku untuk Pintar atau Memperbaiki Diri?

Ada orang yang begitu berambisi untuk naik jabatan, memperoleh gelar, atau mengumpulkan harta hanya agar terlihat lebih tinggi daripada orang lain. Ada pula orang ingin lebiih populer dan terkenal dibandingkan orang lain. Sayangnya, semua prosesnya nggak alami. Terlalu banyak rekayasa atau siasat. Entah apa tujuannya?

 

Kita sering lupa. Naik yang sesungguhnya itu bukan sekadar soal posisi, melainkan tentang memperluas cara memandang kehidupan. Semakin seseorang bertumbuh, seharusnya semakin mampu memahami berbagai sudut pandang, menghargai perbedaan, dan menyadari bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk mengalahkan orang lain, melainkan perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada dirinya kemarin.

 

Bayangkan dua orang pekerja yang sama-sama dipromosikan menjadi manajer. Yang pertama merasa jabatan itu membuatnya lebih hebat. Ia mulai sulit menerima kritik, senang membandingkan dirinya dengan rekan kerja, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, manajer yang kedua justru semakin banyak mendengar, belajar memahami kesulitan bawahannya, dan mencari solusi agar seluruh tim berkembang. Jabatan yang sama menghasilkan sikap yang berbeda. Yang satu hanya naik posisi, sedangkan yang lain naik cara pandangnya.

 

Seperti dua orang yang membaca buku. Yang satu, agar terlihat pintar atau mendapat sanjungan dari orang lain. Sementara yang satu lagi, justru membaca buku untuk menambahh pengatahuannya yang masih terbatas dan untuk memperbaiki diri. Jadi, motif orang yang membaca buku pun berbeda-beda. Ada yang ingin dipuji dan meraih sanjungan, ada yang sadar karena pengetahuannya masih terbatas.

 


Hal yang sama juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang memiliki wawasan yang semakin luas, ia tidak lagi mudah terpancing untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak penting, seperti perbedaan selera, pilihan hidup, atau sekadar komentar di media sosial. Ia juga tidak merasa perlu memamerkan setiap pencapaiannya. Misalnya, seorang pengusaha yang baru meraih keuntungan besar memilih menggunakan sebagian hasil usahanya untuk memberikan beasiswa bagi anak-anak di lingkungan sekitar daripada menghabiskan waktunya memamerkan gaya hidup mewah. Ia memahami bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang mengaguminya, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan.

 

Karena itu, teruslah bertumbuh. Belajarlah setiap hari, bukalah pikiran terhadap pengalaman baru, dan jangan pernah berhenti memperbaiki diri. Semakin tinggi kita melangkah, semakin rendah hati seharusnya kita bersikap. Sebab, orang yang benar-benar besar bukanlah mereka yang membuat orang lain merasa kecil, melainkan orang yang mampu mengangkat, menginspirasi, dan menghadirkan manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Itulah makna sesungguhnya dari naik: bukan agar terlihat lebih tinggi, tetapi agar pandangan kita semakin luas dan kehidupan kita semakin bermakna.

 

Maka,jangan naik hanya untuk terlihat lebih tinggi. Naiklah agar pandangan kita semakin luas. Dalam perjalanan hidup, pertumbuhan bukan tentang mengalahkan orang lain, melainkan melampaui diri kita yang kemarin. Semakin luas cara pandang kita, maka semakin bijak kita memahami bahwa tidak semua hal harus diperdebatkan, tidak semua pencapaian perlu dipamerkan. Teruslah bertumbuh, tetap rendah hati, dan jadilah pribadi yang keberadaannya membawa manfaat bagi masyarakat sekitar. Salam literasi!



Senin, 17 Agustus 2026

Pembaca Masa Kini Lebih Pilih Realitas ketimbang Imajinasi, Buku Nonfiksi Ungguli Fiksi

Pergeseran menarik tengah terjadi dalam lanskap minat baca masyarakat. Alih-alih mencari pelarian lewat dunia imajiner, pembaca masa kini tampak jauh lebih pragmatis dengan mengutamakan buku-buku yang menawarkan peningkatan kapasitas diri serta pengetahuan fungsional.

 

Survei Goodstats (2025) menyebutkan urutan lengkap preferensi genre buku dari yang paling tinggi hingga terendah menarik minat baca masyarakat adalah: 1) Pengembangan diri 65%, 2) Nonfiksi 60%, 3) Pendidikan/akademik 57%, 4) Fiksi 50%, 5) Lainnya 9%, dan 6) Buku anak-anak 7%. Temuan ini menjadi cermin preferensi genre buku yang paling disukai. Genre pengembangan diri kukuh berada di posisi puncak tertinggi paling disukai, sebagi bukti tingginya kesadaran publik untuk terus meningkatkan keterampilan hidup (soft skills) dan kualitas personal secara mandiri. Genre nonfiksi di peringkat ke-2 paling disukai yang mempertegas dominasi bacaan yang berbasis pada fakta dan realitas, diikuti ke-3 buku bertema pendidikan/akademik sebagai indikasi buku penunjang studi, teori ilmiah, dan literatur pembelajaran formal tetap menjadi kebutuhan pokok yang tidak tergantikan bagi masyarakat. Khusus genre fiksi berada di posisi ke-4 menunjukkan setengah dari total responden masih menyukai fiksi dan menjadi bukti karya imajinatif tetap memiliki basis pembaca setia yang sangat solid.

 


Pemahaman mengenai dinamika preferensi ini sangat krusial bagi pengelola taman bacaan, pelaku industri penerbitan, penulis, dan institusi pendidikan dalam menyelaraskan konten dengan kebutuhan pembaca saat ini. Genre buku yang disukai ini merefleksikan pergeseran minat baca masyarakat yang kini cenderung lebih berorientasi pada aspek pragmatis, aplikatif, dan peningkatan kapasitas diri (self-improvement). Artinya, ketersediaan buku-buku bacaan utamanya di taman bacaan lebih diarahkan pada tema-tema peningkatan keterampilan hidup, literatur profesional, serta sains populer tanpa mengabaikan ceruk pasar fiksi yang tetap memiliki basis pembaca loyal yang solid.

 

Tingginya minat pada pengembangan diri, nonfiksi, dan literatur akademik menandai era baru di mana kegiatan membaca kini telah bergeser, bukan lagi sekadar sarana rekreasi pengisi waktu luang, melainkan sebuah instrumen investasi diri yang krusial dalam menghadapi tantangan masa depan. Yuk terus membaca! #TamanBacaan #GerakanLiterasi #TBMLenteraPustaka



Berdamai dengan Diri yang Pernah Kita Benci

Setiap pagi, Naya selalu bercermin sebelum memulai hari. Namun yang ia lihat bukan sekadar wajah, melainkan daftar panjang kekurangan yang ia bawa dalam kepala. Ia mengingat keputusan yang salah, kata-kata yang pernah menyakiti orang lain, kesempatan yang terlewat, dan hidup yang menurutnya belum menjadi seperti yang ia bayangkan. “Seandainya waktu bisa diulang,” pikirnya berkali-kali. Ia ingin kembali ke masa lalu, memilih jalan yang berbeda, dan menjadi seseorang yang lebih baik. Tanpa sadar, orang yang paling sering menghakiminya ternyata bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri.

 

Bertahun-tahun Naya mengejar versi dirinya yang menurutnya pantas untuk dicintai. Ia merasa harus lebih sukses, lebih kuat, lebih sempurna, dan tidak boleh melakukan kesalahan yang sama. Setiap kali gagal, ia menghukum dirinya sendiri dengan penyesalan. Setiap kali mengingat masa lalu, ia bertanya mengapa dulu tidak mengambil keputusan yang berbeda. Sampai suatu hari, seorang sahabat berkata kepadanya, “Kamu tidak harus menjadi sempurna dulu untuk pantas hidup dengan tenang.” Kalimat itu sederhana, tetapi membuat Naya terdiam. Mungkin selama ini ia terlalu sibuk memperbaiki dirinya sampai lupa memeluk dirinya yang sedang berjuang.

 

Sejak hari itu, Naya mulai belajar menerima dirinya sedikit demi sedikit. Ia melihat kembali luka-luka yang pernah membuatnya malu dan berkata dalam hati, “Ini juga bagian dari ceritaku.” Ia tidak lagi menyangkal kesalahan, tetapi juga tidak terus menghukum dirinya karena kesalahan itu. Ia mulai memahami bahwa menerima diri bukan berarti berhenti bertumbuh. Justru, seseorang bisa berubah dengan lebih sehat ketika ia tidak lagi membenci dirinya sendiri. Ada hari ketika Naya merasa kuat, ada pula hari ketika keraguan datang lagi. Namun kali ini ia tidak panik. Ia belajar bahwa healing tidak punya jadwal yang pasti—kadang membutuhkan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan sepanjang hidup.

 


Perlahan, hidup Naya terasa lebih ringan. Ia berhenti meminta masa lalu untuk berubah karena tahu itu mustahil. Kegagalan yang dulu ia anggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik, kini ia lihat sebagai guru. Kehilangan yang dulu terasa seperti akhir segalanya, ia pahami sebagai bagian dari perjalanan. Bahkan kelemahan yang selama ini ia sembunyikan mulai ia terima sebagai pengingat bahwa dirinya hanyalah manusia. Ia tidak selalu kuat, tidak selalu benar, dan tidak selalu tahu harus melangkah ke mana. Tetapi ternyata, menjadi manusia memang tidak pernah menuntut kita untuk sempurna.

 

Pada akhirnya, Naya mengerti bahwa menerima diri adalah bentuk syukur atas cara Tuhan membentuk hidupnya. Ada bagian yang indah, ada bagian yang berantakan, ada luka yang belum sepenuhnya sembuh, dan ada masa lalu yang tidak mungkin diulang. Namun semuanya telah membentuk dirinya menjadi seseorang yang ia kenal hari ini. Ia tidak perlu menjadi orang lain untuk merasa berharga. Ia hanya perlu terus belajar menjadi versi terbaik dari dirinya, sambil tetap menghargai versi lama yang pernah jatuh, salah, menangis, dan bertahan. Karena mungkin, damai bukanlah ketika kita akhirnya menjadi sempurna—melainkan ketika kita mampu berkata, “Aku menerima diriku, dengan segala yang pernah terjadi. Dan aku tetap memilih untuk mencintai diriku sambil terus bertumbuh.”