Di sebuah perusahaan teknologi, ada seorang programmer muda bernama Arga yang dikenal sebagai karyawan paling cerdas. Ia mampu menyelesaikan pekerjaan yang rumit hanya dalam hitungan jam, sementara rekan-rekannya membutuhkan waktu berhari-hari. Selain cerdas, Arga punya banyak kelebihan secara personal.
Awalnya, Arga sering merasa
kesal ketika harus membantu rekan yang tertinggal. Namun suatu hari ia melihat
seorang karyawan baru hampir mengundurkan diri karena terus merasa gagal
mengikuti ritme pekerjaan. Sejak saat itu, Arga mulai meluangkan waktu setiap
minggu untuk mengajar, membuat panduan sederhana, dan berbagi trik yang selama
ini hanya ia kuasai sendiri. Arga bersedia tanpa pamrih membantu temannya dalam
pekerjaan yang sulit.
Beberapa bulan kemudian,
hasilnya sangat terasa. Tim yang sebelumnya bergantung pada Arga kini mampu
menyelesaikan proyek bersama dengan lebih cepat dan minim kesalahan. Atasan
bukan hanya memuji kecerdasan Arga, tetapi lebih menghargai kemampuannya membangun
orang lain. Ia menyadari bahwa kemampuan yang disimpan untuk diri sendiri hanya
menghasilkan prestasi pribadi, sedangkan kemampuan yang dibagikan melahirkan
banyak orang yang ikut bertumbuh. Sinergi lebih baik daripada sekadar
kompetensi.
Kisah serupa juga sering
terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seorang siswa yang selalu menjadi juara
kelas memilih menemani temannya yang kesulitan memahami matematika menjelang
ujian. Ia tidak takut nilainya tersaingi, justru merasa senang ketika temannya
akhirnya lulus dengan hasil yang membanggakan. Di lingkungan sekitar, ada pula
dokter yang setiap akhir pekan membuka layanan kesehatan gratis bagi warga
kurang mampu. Ilmu yang dimilikinya tidak dipakai untuk menunjukkan siapa yang
paling hebat, tetapi untuk menghadirkan harapan bagi orang-orang yang
membutuhkan. Ada pula relawan taman bacaan yang selalu membimbing anak-anak di
kampung punya akses bacaan, mengelola taman bacaan hingga terbentuk kebiasaan
membaca di kalangan anak-anak usia sekolah.
Dari kisah-kisah itu, jelas
tersirat bahwa kelebihan bukanlah senjata untuk membuat orang lain merasa
kecil, melainkan titipan yang akan bernilai ketika digunakan untuk mengangkat
sesama. Kepintaran, kekayaan, jabatan, atau keterampilan akan menemukan makna
tertingginya saat menjadi jalan bagi orang lain untuk bangkit. Pada akhirnya,
dunia mungkin lupa siapa yang paling berbakat, tetapi akan selalu mengenang siapapun
yang memakai kelebihannya untuk menolong, menguatkan, dan meninggalkan jejak
kebaikan yang terus hidup dalam kehidupan banyak orang.
Maka kelebihanmu adalah
titipan, bukan senjata. Saat kemampuan dipakai untuk mengangkat, bukan
menjatuhkan, di situlah nilainya menjadi cahaya. Dunia tidak selalu mengingat
siapa yang paling kuat, tetapi tak pernah lupa pada siapa yang menjadikan
kelebihannya sebagai jalan untuk menolong, menguatkan, dan menyelamatkan
sesama. Itulah kemenangan yang paling bermakna. Salam literasi #TBMLenteraPustaka
#TamanBacaan #GerakanLiterasi
.jpg)
.jpeg)
rev.png)

%20rev.png)


%20rev.png)
%20rev.png)

%20rev.png)

%20rev.png)




%20rev.png)

