Rabu, 19 Agustus 2026

Bulan Dana Pensiun: Usia Berapa Bagusnya Nabung untuk Pensiun?

Seorang pekerja bertanya, kapan sebaiknya seorang pekerja mulai menabung untuk pensiun? Ini jelas pertanyaan penting yang patut dijawab dengan tepat. Sebab, jarang pekerja punya kesadaran untuk mepersiapkan masa pensiunnya sendiri. Faktanya hari ini, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti kerja dikarenakan tidak tersedianya dana yang cukup untuk membiayai hidupnya.

 

Pekerja di mana pun atau individu yang ingin merencanakan masa tua melalui program dana pensiun atau DPLK, prinsip yang paling pentng adalah “makin cepat makin hebat”. Betapa krusialnya soal waktu dalam berinvestasi untuk mencapai target akumulasi dana di masa pensiun. Meskipun iuran bulanan dan estimasi imbal hasil tetap sama, siapapun yang mulai menabung lebih awal akan memperoleh akumulasi dana yang jauh lebih signifikan. Sebaliknya, menunda pendaftaran hingga usia lanjut akan memangkas hasil akhir secara drastis karena durasi pertumbuhan dana yang lebih pendek.

 

Usia mulai menabung (usia masuk) memiliki pengaruh besar terhadap total akumulasi dana pensiun yang diperoleh di akhir, meskipun jumlah iuran bulanan dan tingkat hasil investasi tetap sama. Sebagai contoh simulasi saja, apabila pekerja menyetor iuran bulanan sama-sama Rp.500.000 per bulan dengan tingkat imbal hasil 9% per tahun dan pensiun di usia 56 tahun, namun yang membedakan usia masuk-nya maka diperoleh hasil akhir dana pensiun sebagai berikut:

1.    Semakin dini memulai, semakin besar dana yang terkumpul. Jika seorang pekerja mulai menabung pada usia 28 tahun, dengan iuran Rp500.000 per bulan dan asumsi hasil investasi 9%, akan memperoleh akumulasi dana sebesar Rp1.870.500.000 saat pensiun di usia 56 tahun.

2.    Dampak penundaan terhadap total dana. Menunda waktu mulai menabung di dana pensiun secara drastis mengurangi hasil akhir. Contohnya: Jika baru mulai pada usia 37 tahun (menunda 9 tahun dari usia 28), akumulasi dana turun menjadi Rp575.000.000 saat pensiun di usia 56 tahun. Jika baru mulai pada usia 48 tahun (menunda 20 tahun dari usia 28), akumulasi dana hanya mencapai Rp92.000.000 saat pensiun di usia 56 tahun.

3.    Lama masa kepesertaan. Usia mulai yang lebih muda memberikan "lama jadi peserta" yang lebih panjang (misalnya 28 tahun vs 8 tahun), yang memungkinkan hasil investasi (9%) bekerja lebih maksimal melalui pertumbuhan majemuk seiring berjalannya waktu.

Singkatnya, semakin muda usia saat mulai masuk program dana pensiun atau DPLK, semakin besar peluang untuk mendapatkan akumulasi dana pensiun yang jauh lebih tinggi karena durasi investasi yang lebih lama. Makin cepat masuk dana pensiun, makin hebat hasil akhrinya.

 


Gimana cara memulai ikut dana pensiun? Cara sederhana, setiap pekerja bisa mendaftar menjadi peserta DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) khususnya melalu platform digital DPLK (playstor atau Appstore) sebagai program yang dirancang untuk membantu individu mempersiapkan akumulasi dana yang akan diperoleh saat pensiun. Untuk meraih kesinambungan penghasilan di hari tua dan membangun kemandirian finansial di masa tua. Sebab dana pensiun atau DPLK memberikan beberapa 5 manfaat utama yaitu::

1.    Perencanaan masa pensiun yang terukur. Program ini membantu peserta menentukan target jumlah uang yang ingin dimiliki saat pensiun dengan mengatur iuran bulanan dan lama masa kepesertaan.

2.    Pertumbuhan melalui hasil investasi. Iuran/dana yang disetorkan setiap bulan akan berkembang melalui hasil investasi sehingga total dana yang diterima bisa jauh lebih besar daripada total iuran yang dibayarkan.

3.    Keuntungan memulai lebih awal. Manfaat pensiun akan lebih besar diperoleh bila menjadi peserta dalam jangka waktu yang lebih lama. Sebagai contoh, dengan iuran yang sama (Rp500.000/bulan), seseorang yang menjadi peserta selama 28 tahun bisa mendapatkan dana hingga Rp1,87 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan yang hanya menjadi peserta selama 8 tahun (Rp92 juta).

4.    Kedisiplinan menabung. Program ini mendorong peserta untuk secara konsisten menyisihkan dana setiap bulan demi kesejahteraan di masa tua.

5.    Punya kepastian dana di masa tua. Tanpa dana pensiun, berapa lama pun bekerja tidak akan memiliki kepastian dana untuk membiayai hidup dan kebutuhan di hari tua.

 

Penting untuk diketahui, untuk menentukan target dana pensiun yang paling ideal, kita perlu mempertimbangkan beberapa faktor seperti 1) gaya hidup, berapa biaya hidup bulanan yang diharapkan setelah tidak lagi bekerja?, 2) tingkat inflasi, karena nilai uang di masa depan tentu berbeda daya belinya dengan nilai uang saat ini, dan 3) usia harapan hidup, berapa lama dana yang tersedia harus mencukupi biaya hidup setelah pensiun. Artinya, target "ideal" dana pensiun sangat bergantung pada kapan kita mulai bertindak. Jika ingin memiliki dana pensiun di angka miliaran (seperti Rp1,87 miliar) dengan iuran yang terjangkau, maka usia ideal untuk mulai masuk program DPLK adalah sedini mungkin, misalnya di usia 28 tahun. Jika kita baru mulai di usia tua, mungkin perlu menyesuaikan target atau meningkatkan jumlah iuran secara signifikan untuk mencapai angka "ideal" di masa pensiun.

 

Kita tahu, semua pekerja bercita-cita ingin “hidup sehat, pensiun bahagia”. Tapi sayangnya peserta dana pensiun sukarela seperri DPPK/DPLK hanya sebesar 3,68% atau baru 5,43 juta peserta. Maka wajar, data BPS (2025) menyebut 8 dari 10 pensiunan di Indonesia menggantungkan hidupnya di hari tua dari anggota keluarga yang bekerja. Mau sampai kapan sandwich generation atau kondisi masa pensiun yang bermasalah secara keuangan akan terus dipertahankan? Mungkin sudah saatnya, siapapun pekerja di sektorformal ddan informal untuk mulai menyiapkan masa pensiunnya sendiri.

 

Nah, mumpung mau ada "Bulan Dana Pensiun” di bulan September 2026 ini, kini saatnya bagi pekerja untuk siapkan pensiun. Nabung untuk hari tua, sisihkan gaji untuk kenyamanan di saat tidak bekerja lagi. Agar terwujud hidup sehat, pensiun bahagia. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Hidup Mau Lebih Tenang, Lepaskanlah 7 Hal Ini

Seorang kawan duduk sendirian di sebuah kedai kecil sambil menatap secangkir kopi yang mulai dingin. Entah kenapa, belakangan hidupnya terasa sesak. Hatinya selalu terasa berat. Ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana agar semua orang menyukainya. Merasa terlalu sering mengulang kesalahan masa lalu. Bahkan terlalu lama menyimpan sakit hati kepada orang-orang yang pernah mengecewakannya.

 

Beban kian memuncak. Karena ia juga sering membandingkan hidupnya dengan orang lain. Sring takut terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Segala sesuatu dipikirkan, segala sesuatu ingin terlihat indah. Mungkin terlalu banyak hal yang ingin ia genggam dalam hidup. Padahal, kata banyak orang hidup tidak seindah yang dibayarkan. Selalu ada jarak antara harapan dan kenyataan.

 

Saat meminta nasihat, gimana caranya bisa hidup lebih tenang? Buarb isa hidup lebih damai. Jawabnya sederhana tapi berat untuk dilakukan. Namun siapapun harus berjuang untuk “melepaskan” 7 (tujuh) hal agar hidup lebih tenang, lebih damai:

1. Melepaskan keinginan untuk menyenangkan semua orang. Karena tidak semua orang  bisa memahami kata dan memang tidak semua orang layak untuk disenangkan.  

2.  Melepaskan masa lalu yang tidak bisa diubah. Apapun di masa lalu cukup dijadikan pelajaran, bukan tempat tinggal. Pergilah dari masa lalu sesegera mungkin.

3.  Melepaskan dendam dan rasa sakit yang dipendam. Bukan karena orang lain layak dimaafkan, tapi karen hati kita layak untuk lebih tenang.

4.  Melepaskan perbandingan dengan hidup orang lain. Sebab tidak ada hal yang pantas diabndingkan, setiap orang punya jalannya sendidi, punya ujian dan waktunya sendiri. 

5.  Melepaskan rasa bersalah yang berlebihan. Setiap orang selalgi di dunia pasti punya kesalahan, tidak manusia yang sempurna. Cukup ikhtiar untuk memperbaiki diri.

6. Melepaskan ketakutan pada perkara yang belum terjadi. Fokus pada ikhtiar hari ini, bukan pada angan-angan. Bersiaplah untuk masa depan.

7. Melepaskan orang yang hanya hadir saat butuh. Jangan buang waktu untuk orang-orang yang tidak lagi menghargai. Fokuslah pada orang-orang yang hadir dengan ikhlas.

 


Harus disadari, terkadang hidup bukan tentang menambah sesuatu. Tapi belajar untuk melepaskan apapun yang membebankan hati. Berani meninggalkan hal-hal yang tidak penting dan tidak ada manfaatnya.

 

Pada siapapun, masalah akan selalu datang dan ada. Karenanya, ketenangan atau kedamaian hati tidak ditemukan dengan menambah lebih banyak hal dalam hidup, melainkan dengan berani melepaskan apa yang sudah terlalu lama membebani hati. Karena ada hal-hal yang memang harus diperjuangkan, tetapi ada pula yang harus direlakan. Sebab semakin sedikit yang kita genggam dengan terpaksa, semakin banyak ruang yang kita miliki untuk menerima ketenangan. Salam literasi!



Bulan Dana Pensiun: Apa Mungkin Pekerja Bisa Hidup Sehat Pensiun Bahagia di Hari Tua?

Di sudut sebuah perkantoran yang sibuk, seorang pemuda berusia 28 tahun menyisihkan Rp500.000 dari gaji pertamanya setiap bulan. Baginya, uang itu bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan benih ketenangan yang ia tanam untuk masa depannya sendiri. Ia tidak sedang bermimpi muluk; ia hanya ingin memastikan bahwa saat rambutnya memutih nanti, ia memiliki sandaran yang kokoh untuk beristirahat tanpa harus membebani anak cucunya.

 

Waktu ternyata menjadi sahabat terbaik bagi mereka yang berani memulainya lebih awal. Dengan kesabaran selama 28 tahun dan asumsi hasil investasi yang terus tumbuh sebesar 9%, benih kecil yang ia tanam secara konsisten diproyeksikan akan mekar menjadi dana pensiun senilai Rp1.870.500.000 saat ia menginjak usia 56 tahun. Angka miliaran tersebut adalah buah dari kasih sayang seseorang kepada dirinya di masa depan, memberikan kebebasan untuk menikmati hari tua dengan senyuman yang tulus dan hati yang tenang.

 

Namun, cerita seringkali terasa berbeda bagi mereka yang terlanjur membiarkan waktu berlalu dalam keraguan. Bagi pekerja yang baru tersadar pentingnya menabung di usia 37 tahun atau bahkan 48 tahun, perjalanan menuju masa pensiun terasa jauh lebih berat dan menyesakkan. Akumulasi dana yang hanya mencapai Rp92 juta di akhir masa kerja menyadarkan kita bahwa penundaan bukan sekadar kehilangan waktu, melainkan hilangnya peluang emas untuk hidup lebih sejahtera di masa tua nanti.

 

Masa pensiun sejatinya bukan hanya tentang berhenti bekerja, melainkan tentang menjaga martabat dan kemandirian di usia senja. Pertanyaan mendalam seperti "Pengen punya uang berapa saat pensiun?" kini bukan lagi sekadar wacana finansial, melainkan sebuah refleksi tentang sedalam apa kita peduli pada diri kita sendiri. Kita semua bermimpi untuk bisa menikmati hari tua dengan damai, tanpa harus mencemaskan kebutuhan hidup saat raga tak lagi sekuat dahulu.

 


Pada akhirnya, setiap rupiah yang kita sisihkan hari ini melalui program dana pensiun atau DPLK adalah "surat cinta" yang kita kirimkan untuk diri kita di masa depan. Meskipun angka-angka tersebut hanyalah sebuah ilustrasi, pesan yang disampaikan sangatlah nyata: mulailah hari ini, karena waktu adalah satu-satunya aset yang tidak bisa kita putar kembali. Mari persiapkan masa depan dengan bijak, agar masa tua kita nanti tetap indah, penuh makna, dan bermartabat.

 

Hari ini semua pekerja bercita-cita ingin “hidup sehat, pensiun bahagia”. Tapi sayangnya peserta dana pensiun sukarela hanya sebesar 3,68% atau baru 5,43 juta peserta. Maka wajar, sebuah survei menyebut 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Bahkan BPS (2025) menyebut 8 dari 10 pensiunan di Indonesia menggantungkan hidupnya di hari tua dari angota keluarga yang bekerja. Mau sampai kapan sandwich generation atau kondisi masa pensiun yang bermasalah secara keuangan akan terus dipertahankan? Mungkin sudah saatnya, siapapun dan bekerja di mana pun untuk mulai menyiapkan masa pensiunnya sendiri.

 

Nah, mumpung mau ada "Bulan Dana Pensiun” di bulan September 2026 ini, kini saatnya yang tepat bagi pekerja untuk siapkan pensiun. Nabung untuk hari tua, sisihkan gaji untuk kenyamanan di saat tidak bekerja lagi. Agar terwujdu hidup sehat, pensiun bahagia. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Selasa, 18 Agustus 2026

71% Masyarakat Cuma Anggarkan di Bawah Rp100 Ribu Sebulan untuk Buku, Tantangan Literasi Gede Banget

Tren anggaran belanja buku bulanan di kalangan masyarakat umum menunjukkan bahwa mayoritas besar mengalokasikan anggaran yang relatif terbatas untuk membeli buku setiap bulannya. Survei yang melibatkan 1.000 orang dari Goodstats (2025) menyebutkan rata-rata pengeluaran bulanan masyarakat untuk membeli buku terdiri dari:

1.    Kurang dari Rp100.000, kategori yang paling dominan, mencakup 71% dari total masyarakat.

2.    Rp100.000 – Rp500.000, berada di posisi kedua dengan persentase 24%.

3.    Lebih dari Rp500.000, hanya sebagian kecil masyarakat yang mengalokasikan anggaran tinggi untuk buku, 5% responden.

 

Artinya, anggaran belanja membeli buku di Indonesia 71% masih di bawah Rp100.000 per bulan. Daya beli buku masih tergolong rendah, sebab mayoritas masyarakat hanya mengalokasikan anggaran di bawah Rp100.000 per bulan untuk membeli buku. Angka ini menunjukkan bahwa buku baru fisik (yang umumnya saat ini dihargai di atas Rp100.000 per eksemplar) masih dianggap sebagai barang yang relatif mahal atau belum menjadi prioritas belanja utama bagi sebagian besar orang.

 

Bila dilihat dari cara masyarakat mendapatkan informasi mengenai buku baru, ternyata hasilnya: 62,5% dari media sosial, 11,3% dari platform buku daring, 10,7% dari toko buku, 5,4% dari rekomendasi teman atau keluarga, 4% dari ulasan atau blog buku, dan 3% dari lainnya. Kondisi ini menyiratkan toko buku fisik tidak lagi menjadi tempat utama masyarakat untuk menemukan atau mengetahui keberadaan buku baru (hanya 10,7%). Peran pencari tahu atau penemu buku (book discovery) kini hampir sepenuhnya bergeser ke ranah digital, dengan media sosial memegang kendali penuh sebesar 62,5%.

 


Bila mau dicermati, maka ada beberapa implikasi penting dari kondisi anggaran buku dan cara mendapatkan informasi buku baru di Indonesia, antara lain:

1.   Kebutuhan terhadap buku murah, untuk menjangkau pangsa pasar terbesar (70,8%), industri harus mampu menghadirkan buku dengan harga terjangkau di bawah Rp100.000. Hal ini memaksa penerbit untuk menekan biaya produksi (misalnya menggunakan kertas yang lebih ekonomis, mengurangi tebal halaman) atau beralih ke format digital (e-book) yang biaya produksinya lebih rendah.

2.   Optimalisasi platform daring, dengan model langganan bulanan (subscription) berbasis aplikasi digital bisa menjadi solusi menarik agar pembaca dengan anggaran terbatas tetap dapat mengakses banyak buku.

3.   Promosi wajib berpusat di media sosial, pemasaran konvensional (seperti memajang buku di etalase depan toko buku fisik tidak lagi efektif jika berjalan sendiri. Kampanye pemasaran harus dialihkan ke media sosial lewat kolaborasi dengan pembuat konten buku (bookfluencers), ulasan video (BookTok/BookTube), serta promosi interaktif yang memicu rekomendasi dari mulut ke mulut secara digital.

4.   Memainkan peran TBM sebagai penyelamat akses literasi, keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) gratis menjadi instrumen yang sangat krusial. TBM berperan menjembatani jurang antara tingginya rasa ingin tahu masyarakat dengan keterbatasan finansial masyarakat untuk membeli buku sendiri.

 

Jadi, untuk urusan belanja buku, mungkin kantong masih pas-pasan. Sebab massyarakat cuma anggarkan di bawah Rp100 ribu sebulan untuk buku. Daya beli masyarakat sangat terbatas untuk membeli buku. Karenanya, keberadaan TBM bisa jadi penyelamat literasi masyarakat. Salam literasi! #GerakanLiterasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan



Bulan Dana Pernsiun: Kisah Dina dan Rara Nabung untuk Pensiun

Ini kisah tetangga sebelah. Dua anak kost cewek, kerjanyanya sekantor. Gajinya pun sama persis Rp.6,8 juta sebulan. Sama-sama sudah kerja 5 tahun, sama-sama belum nikah, keduanya kost sebelahan. Yang satu namanya Dina, umurnya baru 30 tahun tapi tabungannya sudah Rp120 juta. Yang satu lagi Rara, justru minus Rp15 juta di kartu kreditnya. Orang sekantor pada menyangka yang minus itu pasti hobi foya-foya. Padahal Rara yang minus itu justru paling jarang jajan di kantor.  

 

Dina punya tabungan 120 juta. Hidupnya sederhana banget. Tiap hari dia bawa bekel dari kost, naik KRL, nggak pernah ikut pesen kopi kekinian. Sementara Rara, yang minus 15 juta, juga bukan orang yang boros. Rara malah sering banget traktir kawannya pas makan siang. Dia jarang beli baju, tasnya cuma 2, sepatunya dipakai sampe rusak. Makanya makin aneh saja, uang Rara itu sebenarnya lari ke mana?  

 

Mereka cerita, bulan lalu keduanya liburan bareng ke Bandung, 3 hari 2 malam. Dari ceritanya, baru terihat bedanya satu per satu, pelan-pelan. Rara kalau mau beli apa-apa lihatnya lama banget, muter-muter 15 menitan. Ujung-ujungnya dia beli barang yang nggak direncanain, karena ada promo 50 persen. Sementara Dina justru paling cepat mutusin, beli cuma yang sudah masuk daftar saja. Sisa duitnya dibawa pulang, nggak dihabiskan buat kalap belanja.  

 

Pas balik ke Jakarta, Rara tunjukin aplikasi belanjanya, isinya 9 cicilan paylater aktif. Totalnya Rp1,4 juta tiap bulan, padahal barangnya udah nggak terasa kepakenya. Sementara Dina tunjukin hal lain, satu rekening bank yang beda dari rekening gajian. Setiap tanggal 25 gajian masuk, dia langsung pindahin 40 persen gaji ke situ. Rekening itu nggak ada kartu ATM-nya, sengaja biar susah diambil dadakan. 

 

Saya iseng menghitung duit Dina yang pindah tiap bulan 40 persen dari Rp6,8 juta, berarti Rp2,72 juta per bulan. Dikalikan 48 bulan selama 4 tahun terakhir, totalnya sekitar 130 juta. Tabungannya sekarang 120 juta, sisanya 10 juta sudah terpakai buat dana darurat. Hitungannya rapi, nggak ada yang janggal sama sekali. Sekarang saya paham dari mana datangnya Rp120 juta itu? 

 

Giliran menghitung duitnya Rara. Rp. 1,4 juta per bulan dikali 12 bulan, setahun jadi Rp16,8 juta. Itu buat barang-barang yang tiap hari harganya turun terus. Parfum 4 botol yang belum kebuka, sepatu yang cuma dipake 2 kali. Dia belinya bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan diskon. Dia sendiri baru sadar pas ditunjukin angkanya di atas kertas. 

 

Dari situ siapapun sadar, masalah Rara itu bukan gaji kecil. Dina sama Rara dua-duanya punya gaji Rp6,8 juta, bedanya nol rupiah. Yang bikin beda cuma satu hal kecil: kapan keputusan menabung dimulai? Dina menyimpan di awal, pas gajinya baru masuk rekening. Rara menyimpan di akhir, dan selalu nggak ada sisanya. Beda posisi menyimpannya saja, tapi hasilnya beda puluhan juta.  

 

Gara-gara cerita Dina dan Rara, saya jadi penasaran kenapa keputusan duit orang bisa beda sejauh itu? Ternyata, intinya bukan soal gaji berapa, tapi kapan kita menyimpan duitnya. Dina simpan duluan sebelum dipakai. Rara nunggu sisa yang nggak pernah ada. Keputusan kecil yang diulang tiap bulan, hasilnya bisa beda puluhan juta. Coba deh cek rekening masing-masing, kita termasuk yang seperti Dina atau Rara.

 


Tiga puluh tahun berlalu kisah di kantor, Gimana bedanya masa pensiun antara Dina dan Rara? Sudah bisa diprediksi, meskipun keduanya memulai dari titik yang sama dengan gaji Rp6,8 juta rupiah, cara mereka mengelola "waktu" menabung telah menciptakan kondisi  hari tua yang sangat berbeda.

1.    Masa Pensiun Dina. Masa pensiunnya tenang dan bisa menikmati masa pensiunnya. Kebiasaannya menyisihkan 40% gaji di awal bulan secara konsisten dilakukan sejak usia 30 tahun telah berubah menjadi aset yang sangat besar,. Rekening tanpa kartu yang dulu ia buat sengaja agar "susah diambil" kini menjadi dana abadi yang menjamin hidupnya. Ia tidak perlu bingung mencari diskon untuk bertahan hidup karena ia sudah terbiasa hidup cukup dengan daftar rencana yang jelas. Baginya, pensiun bukan tentang berhenti bekerja karena tidak mampu lagi, tapi karena dananya sudah siap jauh-jauh hari,.

2.    Masa Pensiun Rara. Masa pensiunnya penuh penyesalan. Rara harus menghadapi masa tua dengan lebih berat. Meskipun di masa muda ia merasa tidak boros, kebiasaan menunggu sisa uang di akhir bulan membuatnya sering kali tidak memiliki tabungan sama sekali, Cicilan paylater yang dulu ia anggap kecil ternyata menjadi penghambat besar bagi dana pensiunnya. Di hari tuanya, Rara masih harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan harian karena ia baru sadar di usia tua bahwa "menunggu sisa" adalah strategi yang paling berisiko.

Jadi urusan menabung atau siapkan masa pensiun, bukan soal besaran gaji. Tapi kapan memulainya adalah penentu nasib finansial jangka panjang. Dina (menabung di awal), memastikan masa tuanya aman sebelum uangnya sempat terpakai untuk hal-hal konsumtif. Sedangkan Rara (menabung di akhir), sering kali mendapati rekeningnya kosong di hari tua karena uangnya habis untuk barang-barang yang nilainya terus turun seiring waktu. Maka jelas, kecilnya gaji tidak menentukan kenyamanan di masa pensiun, melainkan kapan keputusan untuk menyimpan uang itu diambil. Keputusan kecil yang diulang setiap bulan selama puluhan tahun menghasilkan perbedaan kualitas hidup yang sangat kontras di masa tua.

Nah, mumpung mau ada "Bulan Dana Pensiun, sudah saatnya pekerja siapkan pensiun sejak dini. Nabung untuk hari tua, sisihkan gaji untuk kenyamanan di masa pensiun. Agar tidak bergantung pada anak atau keluarga di hari tua. "#YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

Membaca Buku untuk Pintar atau Memperbaiki Diri?

Ada orang yang begitu berambisi untuk naik jabatan, memperoleh gelar, atau mengumpulkan harta hanya agar terlihat lebih tinggi daripada orang lain. Ada pula orang ingin lebiih populer dan terkenal dibandingkan orang lain. Sayangnya, semua prosesnya nggak alami. Terlalu banyak rekayasa atau siasat. Entah apa tujuannya?

 

Kita sering lupa. Naik yang sesungguhnya itu bukan sekadar soal posisi, melainkan tentang memperluas cara memandang kehidupan. Semakin seseorang bertumbuh, seharusnya semakin mampu memahami berbagai sudut pandang, menghargai perbedaan, dan menyadari bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk mengalahkan orang lain, melainkan perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada dirinya kemarin.

 

Bayangkan dua orang pekerja yang sama-sama dipromosikan menjadi manajer. Yang pertama merasa jabatan itu membuatnya lebih hebat. Ia mulai sulit menerima kritik, senang membandingkan dirinya dengan rekan kerja, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, manajer yang kedua justru semakin banyak mendengar, belajar memahami kesulitan bawahannya, dan mencari solusi agar seluruh tim berkembang. Jabatan yang sama menghasilkan sikap yang berbeda. Yang satu hanya naik posisi, sedangkan yang lain naik cara pandangnya.

 

Seperti dua orang yang membaca buku. Yang satu, agar terlihat pintar atau mendapat sanjungan dari orang lain. Sementara yang satu lagi, justru membaca buku untuk menambahh pengatahuannya yang masih terbatas dan untuk memperbaiki diri. Jadi, motif orang yang membaca buku pun berbeda-beda. Ada yang ingin dipuji dan meraih sanjungan, ada yang sadar karena pengetahuannya masih terbatas.

 


Hal yang sama juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang memiliki wawasan yang semakin luas, ia tidak lagi mudah terpancing untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak penting, seperti perbedaan selera, pilihan hidup, atau sekadar komentar di media sosial. Ia juga tidak merasa perlu memamerkan setiap pencapaiannya. Misalnya, seorang pengusaha yang baru meraih keuntungan besar memilih menggunakan sebagian hasil usahanya untuk memberikan beasiswa bagi anak-anak di lingkungan sekitar daripada menghabiskan waktunya memamerkan gaya hidup mewah. Ia memahami bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang mengaguminya, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan.

 

Karena itu, teruslah bertumbuh. Belajarlah setiap hari, bukalah pikiran terhadap pengalaman baru, dan jangan pernah berhenti memperbaiki diri. Semakin tinggi kita melangkah, semakin rendah hati seharusnya kita bersikap. Sebab, orang yang benar-benar besar bukanlah mereka yang membuat orang lain merasa kecil, melainkan orang yang mampu mengangkat, menginspirasi, dan menghadirkan manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Itulah makna sesungguhnya dari naik: bukan agar terlihat lebih tinggi, tetapi agar pandangan kita semakin luas dan kehidupan kita semakin bermakna.

 

Maka,jangan naik hanya untuk terlihat lebih tinggi. Naiklah agar pandangan kita semakin luas. Dalam perjalanan hidup, pertumbuhan bukan tentang mengalahkan orang lain, melainkan melampaui diri kita yang kemarin. Semakin luas cara pandang kita, maka semakin bijak kita memahami bahwa tidak semua hal harus diperdebatkan, tidak semua pencapaian perlu dipamerkan. Teruslah bertumbuh, tetap rendah hati, dan jadilah pribadi yang keberadaannya membawa manfaat bagi masyarakat sekitar. Salam literasi!



Senin, 17 Agustus 2026

Pembaca Masa Kini Lebih Pilih Realitas ketimbang Imajinasi, Buku Nonfiksi Ungguli Fiksi

Pergeseran menarik tengah terjadi dalam lanskap minat baca masyarakat. Alih-alih mencari pelarian lewat dunia imajiner, pembaca masa kini tampak jauh lebih pragmatis dengan mengutamakan buku-buku yang menawarkan peningkatan kapasitas diri serta pengetahuan fungsional.

 

Survei Goodstats (2025) menyebutkan urutan lengkap preferensi genre buku dari yang paling tinggi hingga terendah menarik minat baca masyarakat adalah: 1) Pengembangan diri 65%, 2) Nonfiksi 60%, 3) Pendidikan/akademik 57%, 4) Fiksi 50%, 5) Lainnya 9%, dan 6) Buku anak-anak 7%. Temuan ini menjadi cermin preferensi genre buku yang paling disukai. Genre pengembangan diri kukuh berada di posisi puncak tertinggi paling disukai, sebagi bukti tingginya kesadaran publik untuk terus meningkatkan keterampilan hidup (soft skills) dan kualitas personal secara mandiri. Genre nonfiksi di peringkat ke-2 paling disukai yang mempertegas dominasi bacaan yang berbasis pada fakta dan realitas, diikuti ke-3 buku bertema pendidikan/akademik sebagai indikasi buku penunjang studi, teori ilmiah, dan literatur pembelajaran formal tetap menjadi kebutuhan pokok yang tidak tergantikan bagi masyarakat. Khusus genre fiksi berada di posisi ke-4 menunjukkan setengah dari total responden masih menyukai fiksi dan menjadi bukti karya imajinatif tetap memiliki basis pembaca setia yang sangat solid.

 


Pemahaman mengenai dinamika preferensi ini sangat krusial bagi pengelola taman bacaan, pelaku industri penerbitan, penulis, dan institusi pendidikan dalam menyelaraskan konten dengan kebutuhan pembaca saat ini. Genre buku yang disukai ini merefleksikan pergeseran minat baca masyarakat yang kini cenderung lebih berorientasi pada aspek pragmatis, aplikatif, dan peningkatan kapasitas diri (self-improvement). Artinya, ketersediaan buku-buku bacaan utamanya di taman bacaan lebih diarahkan pada tema-tema peningkatan keterampilan hidup, literatur profesional, serta sains populer tanpa mengabaikan ceruk pasar fiksi yang tetap memiliki basis pembaca loyal yang solid.

 

Tingginya minat pada pengembangan diri, nonfiksi, dan literatur akademik menandai era baru di mana kegiatan membaca kini telah bergeser, bukan lagi sekadar sarana rekreasi pengisi waktu luang, melainkan sebuah instrumen investasi diri yang krusial dalam menghadapi tantangan masa depan. Yuk terus membaca! #TamanBacaan #GerakanLiterasi #TBMLenteraPustaka



Berdamai dengan Diri yang Pernah Kita Benci

Setiap pagi, Naya selalu bercermin sebelum memulai hari. Namun yang ia lihat bukan sekadar wajah, melainkan daftar panjang kekurangan yang ia bawa dalam kepala. Ia mengingat keputusan yang salah, kata-kata yang pernah menyakiti orang lain, kesempatan yang terlewat, dan hidup yang menurutnya belum menjadi seperti yang ia bayangkan. “Seandainya waktu bisa diulang,” pikirnya berkali-kali. Ia ingin kembali ke masa lalu, memilih jalan yang berbeda, dan menjadi seseorang yang lebih baik. Tanpa sadar, orang yang paling sering menghakiminya ternyata bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri.

 

Bertahun-tahun Naya mengejar versi dirinya yang menurutnya pantas untuk dicintai. Ia merasa harus lebih sukses, lebih kuat, lebih sempurna, dan tidak boleh melakukan kesalahan yang sama. Setiap kali gagal, ia menghukum dirinya sendiri dengan penyesalan. Setiap kali mengingat masa lalu, ia bertanya mengapa dulu tidak mengambil keputusan yang berbeda. Sampai suatu hari, seorang sahabat berkata kepadanya, “Kamu tidak harus menjadi sempurna dulu untuk pantas hidup dengan tenang.” Kalimat itu sederhana, tetapi membuat Naya terdiam. Mungkin selama ini ia terlalu sibuk memperbaiki dirinya sampai lupa memeluk dirinya yang sedang berjuang.

 

Sejak hari itu, Naya mulai belajar menerima dirinya sedikit demi sedikit. Ia melihat kembali luka-luka yang pernah membuatnya malu dan berkata dalam hati, “Ini juga bagian dari ceritaku.” Ia tidak lagi menyangkal kesalahan, tetapi juga tidak terus menghukum dirinya karena kesalahan itu. Ia mulai memahami bahwa menerima diri bukan berarti berhenti bertumbuh. Justru, seseorang bisa berubah dengan lebih sehat ketika ia tidak lagi membenci dirinya sendiri. Ada hari ketika Naya merasa kuat, ada pula hari ketika keraguan datang lagi. Namun kali ini ia tidak panik. Ia belajar bahwa healing tidak punya jadwal yang pasti—kadang membutuhkan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan sepanjang hidup.

 


Perlahan, hidup Naya terasa lebih ringan. Ia berhenti meminta masa lalu untuk berubah karena tahu itu mustahil. Kegagalan yang dulu ia anggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik, kini ia lihat sebagai guru. Kehilangan yang dulu terasa seperti akhir segalanya, ia pahami sebagai bagian dari perjalanan. Bahkan kelemahan yang selama ini ia sembunyikan mulai ia terima sebagai pengingat bahwa dirinya hanyalah manusia. Ia tidak selalu kuat, tidak selalu benar, dan tidak selalu tahu harus melangkah ke mana. Tetapi ternyata, menjadi manusia memang tidak pernah menuntut kita untuk sempurna.

 

Pada akhirnya, Naya mengerti bahwa menerima diri adalah bentuk syukur atas cara Tuhan membentuk hidupnya. Ada bagian yang indah, ada bagian yang berantakan, ada luka yang belum sepenuhnya sembuh, dan ada masa lalu yang tidak mungkin diulang. Namun semuanya telah membentuk dirinya menjadi seseorang yang ia kenal hari ini. Ia tidak perlu menjadi orang lain untuk merasa berharga. Ia hanya perlu terus belajar menjadi versi terbaik dari dirinya, sambil tetap menghargai versi lama yang pernah jatuh, salah, menangis, dan bertahan. Karena mungkin, damai bukanlah ketika kita akhirnya menjadi sempurna—melainkan ketika kita mampu berkata, “Aku menerima diriku, dengan segala yang pernah terjadi. Dan aku tetap memilih untuk mencintai diriku sambil terus bertumbuh.”

 

Intip Besaran Gaji Pensiunan PNS: Dari Rp1,5 Juta hingga Rp4,4 Juta, Cukupkah untuk Masa Tua?

Berapa sih rentang gaji pensiunan Pegawai Negeri sipil (PNS) atau ASN? Apakah cukup secara finansial di hari tua? Berdasarkan data Goodstats (2022) dapat diabarkan gaji pensiunan PNS sebagai berikut:

1.    Gaji Terendah. Semua golongan, mulai dari Golongan I hingga Golongan IV, memiliki nominal gaji pensiunan terendah yang sama, yaitu sebesar Rp1.560.800.

2.    Gaji Tertinggi. Perbedaan gaji pensiunan terlihat pada batas maksimal gaji yang diterima setiap golongan yaitu Golongan I batas tertinggi Rp2.041.900, Golongan II batas tertinggi Rp2.865.000, Golongan IIIbatas tertinggi Rp3.597.800, dan Golongan IV batas tertinggi Rp4.425.900.

Artinya, semakin tinggi golongan PNS saat menjabat, semakin besar pula potensi gaji pensiun maksimal yang akan diterima. Sebagai contoh, gaji tertinggi pada Golongan IV (Rp4.425.900) adalah lebih dari dua kali lipat dari gaji tertinggi Golongan I (Rp2.041.900).

 

Dengan kata lain, tingkat rata-rata gaji pensiunan PNS adalah 1) Golongan I rata-rata Rp1.801.350, 2) Golongan II rata-rata Rp2.212.900, 3) Golongan III rata-rata Rp2.579.300, dan 4) Golongan IV rata-rata Rp2.993.350. Tentu saja, gaji pensiunan PNS bisa dibilang sebagai jaminan hari tua yang diberikan negara, namun besarannya membawa berbagai implikasi terhadap kualitas hidup setelah tidak lagi bekerja. Dari sisi besaran, terbukti gaji pensiunan PNS hanya menjadi jaring pengaman finansial yang bersifat dasar sebagai penghasilan rutin bulanan. Hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok dasar.

 


Selain pangkat dan jabatan PNS selama masa aktif bekerja sangat menentukan kenyamanan di masa pensiun, seorang PNS atau ASN perlu memiliki strategi keuangan tambahan untuk masa pensiun. PNS pun perlu memiliki dana pensiun atau DPLK secara sukarela. Sebab besaran gaji pensiunan PNS masih belum mencukupi jika dibandingkan dengan potensi kenaikan biaya hidup atau inflasi di masa depan. Melalui dana pensiun atau DPLK, nantinya pensiunan PNS memiliki bantalan ekonomi yang lebih kuat di hari tua.

 

Jadi, gaji pensiunan PNS dari negara sifatnya dasar dan hanya memberikan ketenangan batin karena sifatnya yang tetap. Namun besaran nominalnya belum cukup untuk menjaga standar hidup di hari tua. Apalagi bila saat masih bekerja punya tunjangan ini itu yang membuat gaya hidup PNS “terkesan” wah.

 

Bila PNS saja masih butuh dana pensiun atau DPLK, apalagi pegawai swasta. Yuk siapkan pensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM #YukSiapkanPensiun

 


Gaji Sama Rp 10 Juta, Nasib Pensiun Berbeda Bak Langit dan Bumi

Banyak orang beranggapan bahwa besaran gaji adalah penentu utama kemakmuran di masa tua. Namun, realitas menunjukkan hal yang berbeda; dua orang dengan gaji yang sama, misalnya Rp 10 Juta per bulan, dapat memiliki nasib finansial yang kontras saat masa kerja berakhir atau saat pensiun. Fenomena ini membuktikan bahwa bukan nominal angka yang masuk ke rekening setiap bulan yang paling penting, melainkan bagaimana uang tersebut dikelola melalui kebiasaan sehari-hari yang konsisten.

 

Kelompok pertama sering terjebak dalam pola hidup yang berorientasi pada kepuasan instan. Pekerja kelompok ini memiliki kebiasaan "Belanja Semua" segera setelah menerima gaji dan cenderung menggunakan sisa dana untuk "Beli Kewajiban", seperti barang konsumtif yang nilainya menyusut atau justru menambah beban pengeluaran. Fokus utamanya adalah "Cari Kenyamanan" sesaat tanpa mempertimbangkan kebutuhan masa depan. Pola pikir jangka pendek ini secara perlahan namun pasti membawa pekerja pada kondisi akhir yang menyedihkan saat pensiun, yaitu "Akhirnya Kehabisan" modal untuk bertahan hidup.

 

Di sisi lain, kelompok yang diprediksi akan hidup sejahtera memulai perjalanannya dengan prinsip "Simpan Dulu". Alih-alih menghabiskan seluruh pendapatan, pekerja kelompok ini lebih disiplin menyisihkan uang di awal untuk "Beli Aset", seperti property, instrumen investasi, atau dana pensiun yang nilainya dapat terus berkembang seiring waktu. Pekerja ini tidak sekadar mencari kenyamanan sekarang, melainkan memilih untuk "Bangun Disiplin" dalam mengatur arus kas setiap bulan. Keteguhan ini membuahkan hasil yang manis di masa depan, di mana akhirnya dapat menikmati masa pensiun dengan kondisi yang "Berkelimpahan".

 


Perbedaan mendasar dari kedua nasib pekerja ini terletak pada arah pandangnya tentang masa depan: "Pikir Jangka Pendek" melawan "Pikir Jangka Panjang". Seseorang dengan visi jangka pendek akan selalu melihat gaji sebagai alat pemuas keinginan saat ini, sehingga sumber daya finansialnya selalu habis tanpa sisa. Sebaliknya, pekerja yang berpikir jangka panjang melihat setiap rupiah sebagai benih yang harus ditanam untuk dipanen di masa tua. Perbedaan pola pikir inilah yang menjadi navigasi utama dalam menentukan apakah seseorang sedang menuju kemiskinan atau kekayaan di masa pensiunnya.

 

Kesimpulannya, kondisi pensiun yang berbeda adalah hasil dari akumulasi pilihan-pilihan kecil yang dibuat setiap bulan selama bertahun-tahun semasa bekerja. Meskipun saat ini kita memiliki pendapatan yang cukup, tanpa perubahan kebiasaan dari konsumtif menjadi produktif, risiko kehabisan uang di masa tua akan tetap nyata. Membangun kemakmuran finansial memerlukan transformasi nyata dari sekadar mencari kenyamanan menjadi membangun disiplin investasi, demi memastikan bahwa masa pensiun kita benar-benar berkelimpahan, bukan justru menjadi beban.

 

Maka, siapkan pensiun sejak dini. Jangan sampai kita bergantung secara finansial kepada anak di hari tua, bahkan menjadi beban ekonomi bagi keluarga.



Laki-laki yang Terkena PHK?

Tahun 2017 awal, saya pernah terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dari kantor. Setelah bekerja lebih dari 17 tahun, saya kena lay off. Pastinya, panik dong. Kerja belasan tahun, akhirnya berakhir di PHK. Gaji puluhan juta pun berhenti, sekalipun dapat uang pesangon yang besarannya lumayan-lah bisa buat bangun kontrakan 10 pintu. Tapi intinya, saya pernah kena PHK.

 

Setelah peristiwa PHK itu, saya bilang ke istri dengan suara paling datar. Bahwa saya di-PHK dari kantor. Istri pun diam dan raut wajahnya seperti kebingungan. Akankah uang bulanann berhenti atau berkurang? Saya tegaskan, "Santai saja Bu. Saya akan cari kerja baru lagi." Sambil tersenyum dikit, pikiran saya mulai menyala. Walau di dalam hati, ada bagian yang kayak jatuh dari lantai 10 untuk memberi kabar di PHK.  

 

Malam itu saya nggak bisa tidur. Mulai menghtung-hitung: alokasi biaya bulanan, cicilan, tagihan, urusan dapur. Terus saya berpikir: saya sekarang bukan apa-apa, bukan pula siapa-siapa. Saya mencoba memahami sekilas. Selama 17 tahun, saya nempel banget sama gaji. Gaji saya selalu kasih tahu, bahwa saya berharag. Tapi sejak di PHK, gaji itu hilang.  

 

Besoknya, saya pura-pura normal. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Saya bangun pagi seperri biasa, pakai baju rapi seakan mau ke kantor. Tapi cuma duduk di depan laptop di rumah. Saya nggak ngomong ke siapa-siapa, termasuk ke anak-anak. Pikiran saya bekerja. Istri saya bertanya, " Pak ngelamar kerjaan?". Saya jawab "Iya." Padahal, saya cuma melihat layar kosong sambil bingung, kerja apa?

  

Seminggu. Dua minggu. Belum ada panggilan. Bahkan 3 bulan belum ada tanda-tanda bakal kerja lagi. Saya mulai marah-marah urusan hal sepele. Gampang panik dan emosi. Anak saya meinta jajan, saya marah. Anak numpahin susu, saya teriak. Anak-anak pun menangis. Karena ayahnya gampang emosi. Saya pun menyesal, lalu merenung sejenak. Bukan susu yang bikin saya teriak. Saya lagi marah ke diri saya sendiri, dan yang kena marah cuma orang orang terdekat!  

 

Memang benar sih, ada riset yang bilang, kehilangan kerja itu bisa menaikkan risiko depresi, dan efeknya lebih kerasa di laki-laki. Karena banyak dari kita yang diajarkan: harga diri itu penghasilan. Saya berpikir sejenak. Saya nggak sedih karena kehilangan kerja. Tapi saya sedih akibat kehilangan alasan buat meras berharga, apalagi untuk orang-orangt terdekat. Benar adanya, meta-analisis Paul dan Moser (2009) menyebut kehilangan pekerjaan atau menganggur itu merusak kesehatan mental, dan makin lama makin dalam. Dan efeknya lebih terasa pada laki-laki.  

 

Suatu malam istri saya duduk di sebelah saya. "Mas, boleh sedih kok." Saya jawab dan bilang bilang, "Saya nggak sedih. Saya lagi nyari kerja." Lalu, dia pegang tangan saya, "Mas boleh sedih sambil nyari kerja kan." Saya mencoba memahami lebih dalam kata-kata itu. Saya menahan tangis selama berminggu-minggu sejak di PHK. Satu kalimat itu yang bikin bobol batin dan mental.  

 

Dia bilang, "Aku nikah sama Mas, bukan sama gajinya. Anak-anak sayang sama Bapaknya, bukan sama jabatan bapaknya." Saya meneteskan air mata, tiba-tiba kayak anak kecil. Menyala pikiran saya. Belasan tahun saya bangun harga diri dari angka di slip gaji. Ternyata di rumah, saya sudah berharga dari dulu tanpa slip gaji sekalipun. Sayangnya, saya saja yang nggak pernah menyadari.


 

Saya mulai bangun ulang. Rutinitas harian: bangun pagi, ngopi sambil siapkan plan, istirahat, bantu istri. Pas anak-anak tidur, saya membaca buku dan siapkan bahan untuk mengajar di kampus. Pikiran saya bekerja. Ternyata yang membuat saya waras bukan pekerjaan. Tapi selalu merasa berharga. Vandello (2008) menyebut maskulinitas itu rapuh: laki-laki yang kehilangan peran pencari nafkah, harga dirinya mau nggak mau ikut goyah.  

 

Saya pernah kena PHK. Dan sejak itu, saya bisa bilang ke diri saya sendiri. Saya ini bukan cuma pencari nafkah. Pak bapak, Pak suami. Bapak itu yang mengajarkan anak-anak naik sepeda, menemani belajar anak di malam hari. Bapak yang menemani istri belanja. Bahkan bapak pula yang membeli gas saat habis. Saya pun mencoba memahami sekilas semua perjuangan seorang bapak. Maka siapapun yang dalam posisi kehilangan pekerjaan atau terkena PHK, ingat ini “kerja bapak bisa hilang tapi peran bapak nggak akan pernah hilang”.  

 

Besoknya saya membuat rencana sekalipun tanpa tanggal. Saya bagi hari-hari menjadi lima bagian: jaga kesehatan, tetap berkarya apapun, ibadah, istirahat, dan tetap berbuat baik di mana pun. Mungkin kata orang sederhana, nggak masalah. Saya tetap menulis, ngopi-ngopi, membahas dana pensiun, dan tetap mengajar. Semuanya saya Jalani apa adanya. Memang, terkesan nggak menghasilkan uang. Tapi hidup terasa lebih tenang dan penuh syukur.  Hari-hari yang nggak kosong. Setiap pagi saya cuma menulis tiga hal yang harus selesai. Setiap malam saya centang dan semuanya tuntas. Sebuah kebiasaan kecil setiap hari, menuntaskan semua pekerjaan sekecil apapun walau tanpa imbalan.   

 

Saat terkena PHK, tetaplah bikin rencana dan terus ikhtiar untuk dijalankan. Hingga saya berhentikan dari duduk berjam-jam hanya menatap layar sambil merasa nggak berguna. Saya jadi paham, saat terkenapHK dan belum bekerja lagi bukan berarti hari ini nggak melakukan apa-apa. Selau ada kerjaan dan karya yang bisa diperbuat. Terkadang di dunia kerja, yang perlu dibangun bukan hanya karier atau gaji. Tapi alasan untuk selalu bangun besok pagi dengan semangat dan optimism besar. Berpikir positif tanpa keluh-kesah.

 

Dan akhirnya, setelah 10 tahun saya di PHK, kini saya lebih bisa menikmati hidup. Punya kontrakan 10 pintu untuk menambah biaya hidup bulanan, tetap mengajar di kampus, aktif mengelola taman bacaan, jadi konsultan dan pengajar dana pensiun, jadi dewan pengawas di dana pensiun, hingga kecil-kecilan jadi “tukang durian” (bukan tukang kupas bawang).

 

Sungguh, memang nggak semua hal dalam hidup selalu membawa bahagia. Terkadang menerima apadanya, selalu merasa cukup saja sudah membuat banyak hal lebih tenang. Jadi, lebih bayak bersyukur. Hidup itu mudah asal dilakoni, tanpa perlu ekspektasi besar. Asal nggak punya hutang, nggak dikejar angsuran, nggak punya gaya hiudp sudah cukup. Makan enak, tidur nyenyak, dan badan tetap sehat. Dan yang penting, nggak usah ngurusin hidup orang lain. Sebab, setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Setelah di PHK, akhirnya berucap, Alhamdulillah ya Allah …

 


Minggu, 16 Agustus 2026

Trip 3 Negara: Cukup Cintai Diri Sendiri dan Pergilah Ke Mana Hendak Melangkah?

Trip 3 negara (Singapore – Malaysia – Thailand) memang bukan sekadar perjalanan biasa. Ada kenangan yang besar yang sulit dilupakan. Selain untuk membangun ruang saling mendekat bersama keluarga dan teman seperjalanan, trip 3 negara menadi momen kebersamaan yang tak ternilai. Kebahagiaan dirasakan lewat momen-momen sederhana sepanjang perjalanan di bus—seperti duduk bersama, melihat pemandangan dari balik jendela, mengobrol, dan saling memperkenalkan diri.

 

Sungguh, kebersamaan dengan keluarga atau teman seperjalanan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Karenanya, trip 3 negara bukan hanya destinasi. Tapi tentang siapa yang berjalan bersama kita dan kenangan apa yang dibawa pulang ke rumah. Sebuah momen sederhana yang berkesan seperti menikmati es krim durian, naik tuktuk, atau kereta gantung di Genting. Momen-momen sederhana yang manis dan kelak akan sangat dirindukan. Begitulah Kesan saat mengikuti Trip 3 Negara bersama Abunawas Travel yang dipandu Kak Feby sebagai toru leader dan Cikgu Nabil tour guide dari Malaysia. Rombongan berjumlah 41 orang berlangsung dari 11-16 Agustus 2026 ke Singapore, Malaysia, dan Thailand.

 

Lalu, apa hikmah di balik perjalanan trip 3 negara ini? Perjalanan ini bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah kesempatan berharga yang sengaja diluangkan untuk saling mendekatkan diri antaranggota keluarga dan rombongan. Sebuah proses mengumpulkan kenangan manis bersama orang-orang tercinta sebelum waktu terus berlalu.

 


Melalui perjalanan trip 3 negara, setiap peserta setidaknya memperoleh 3 pengalaman berharga yaitu:

1.    Kesadaran bahwa kebersamaan tidak bisa dibeli. Perjalanan ini memberikan implikasi emosional yang kuat bagi rombongan, di mana mereka menyadari bahwa kebersamaan dengan keluarga atau sahabat adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai atau dibeli dengan apa pun.

2.    Momen sederhana menjadi kenangan yang dirindukan. Hal-hal kecil dan sederhana sepanjang perjalanan seperti duduk bersama di bus, melihat pemandangan jendela, menikmati es krim, naik tuktuk, belajan di night market, atau bermain di Samila Beach berimplikasi pada terciptanya momen-momen manis yang kelak akan sangat dirindukan.

3.    Kebahagiaan yang mengalahkan rasa Lelah. Meskipun perjalanan panjang ini secara fisik melelahkan, implikasi dari eratnya kebersamaan dan interaksi antarpeserta (seperti saling memperkenalkan diri dan bersenda gurau) mampu memancarkan kebahagiaan mendalam yang sulit disembunyikan dari wajah-wajah tiap peserta.

 

Mengintip keseruan Trip 3 Negara, selalu menemukan ruang saling mendekat dalam kebersamaan. Sebuah kehangatan serta kedekatan keluarga yang tercipta sepanjang rute perjalanan. Maka di momen 17 Agustus 2026, HUT ke-81 RI, jangan pernah merasa dicintai negara. Cukup cintai diri sendiri dan pergilah ke mana kita hendak melangkah?