Membangun budaya literasi di era digital memang tidak mudah. Begitu pula mengembangkan taman bacaan sebagai sentra perilaku membaca anak-anak pun tidak gampang. Maka wajar, banyak taman bacaan seakan “mati enggan hidup tak mau”. Lalu, bagaimana mempertahankan taman bacaan di tengah era digital?
Salah satu yang bisa
dilakukan adalah menerapkan konsep “TBM Edutainment”, sebuah model pengelolaan taman bacaan yang
menggabungkan unsur edukasi (pendidikan) dan hiburan - edutainment. Konsep ini
digagas oleh Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. pada tahun 2017 yang secara langsung
diterapkan di TBM Lentera Pustaka Bogor hingga saat ini. Intin dari TBM
Edutainment adalah menjadikan kegiatan membaca sebagai aktivitas yang asyik,
kreatif, dan menyenangkan bagi masyarakat, khususnya anak-anak,
Semua orang tahu, membaca itu
penting. Tapi sayangnya, aktivitas membaca dianggap banyak orang tidak asyik
dan tidak menyenangkan. Karenanya TBM Edutainment menyajikan cara-cara
menjadikan kegiatan membaca sebagai aktivitas yang asyuk dan menyenangkan. Beberapa
poin-poin utama dari konsep TBM Edutainment dalam mengelola taman bacaan antara
lain:
1.
Prinsip
dasar: Menjadikan taman bacaan bukan sekadar tempat membaca buku, melainkan
pusat kegiatan masyarakat yang rekreatif namun tetap memiliki muatan nilai
pendidikan,.
2.
Aktivitas
khas TBM Edutainment: Dirancang khusus untuk menjadikan taman bacaan sebagai
tempat yang asyik dan menyenangkan sehingga menjadi pemicu anak-anak untuk
konsisten datang ke taman bacaan seperti kegiatan:
o
Salam literasi,
yel-yel sebelum kegiatan membaca dimuali
o
Doa
literasi, membaca doa bersama sebelum membaca
o
Senam literasi,
gerakan senam yang dilakukan sebelum waktu baca dimulai untuk membangkitkan
semangat dan mengusir rasa bosan.
o
Membaca
bersuara, teknik membaca bersuara secara massal untuk meningkatkan kepercayaan
diri dan konsentrasi terhadap bacaan.
o
Laboratorium
baca, aktivitas motivasi setiap hari Minggu di ruang terbuka untuk bermain,
motivasi bahkan eksplorasi buku-buku bacaan melalui permainan.
o
Event bulanan,
selalu ada event setiap bulan yang dibarengi dengan jajanan kampung gratis
untuk anak-anak pembaca aktif agar mereka lebih betah,.
o
Membaca
di alam, dengan memanfaatkan ruang terbuka (seperti di Sungai, di kebun) untuk
membaca agar anak-anak tidak merasa terkekang di dalam ruangan.
3.
Model
Inovasi: TBM Edutainment juga mencakup sarana akses bacaan yang fleksibel,
seperti Motor Baca Keliling (MOBAKE) yang mendatangi kampung-kampung untuk
menyediakan akses buku bacaan bagi warga yang memiliki keterbatasan bahan
bacaan.
TBM Edutainment sudah dijadikan
buku berjudul “Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan berbasis Edukasi dan
Hiburan – TBM Edutainment” oleh Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. pada November 2022.
Sebagai antisipasi terhadap keadaan taman bacaan yang nyatanya hanya 20% ruang
baca TBM yang memadai, 60% koleksi buku TBM tidak memadai, dan 60% TBM yang
beroperasi tidak punya legalitas. Taman bacaan sebagai jalan sunyi pengabdian
kian “jauh panggang dari api”, karena itu dibutuhkan model pengembangan taman
bacaan yang lebih kreatif dan kompetitif. Agar taman bacaan di mana pun dapat
tetap eksis dan bertahan dalam menebarkan virus membaca ke tengah masyarakat.
TBM Edutainment pun
menekankan pentingnya praktik baik di taman bacaan, di samping memelihara 3
syarat utama TBM dapat bertahan di era digital, yaitu 1) ada anak, 2) ada buku
bacaan, dan 3) ada komitmen pengelola sepenuh hati. Untuk itu, salah satu cara
yang ditempuh adalah menerapkan model “TBM Edutainment” sebuah model tata
kelola taman bacaan berbasis edukasi dan hiburan sebagai solusi untuk
menjadikan taman bacaan sebagai tempat asyik dan menyenangkan.
Pada tahun 2024, konsep TBM
Edutainment akhirnya dijadikan penelitian disertasi Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd.
untuk meraih gelar doktor manajemen pendidikan dari SPs Universitas Pakuan dengan
tujuan sebagai strategi untuk meningkatkan efektivitas tata kelola taman bacaan
sebagai layanan dasar pendidikan nonformal.
Bebekal pengalaman nyata menerapkan
TBM Edutainment, kini TBM Lentera Pustaka menjalani 16 program literasi dengan
200-an anak pembaca aktif dan melayani 350-an pengguna layanann setiap
minggunya. Beroperasi 6 hari dalam seminggu dan didukung 18 relawan aktif,
kebiasaan membaca sudah melekat di anak-anak TBM Lentera Pustaka, di samping
adanya partisipasi orang tua untuk ikut serta berada di taman bacaan. Dengan
menerapkan model TBm Edutainment, TBM Lentera Pustaka berhasil membina
anak-anak yang semula jauh dari akses buku menjadi pembaca aktif yang mampu
melahap 5 hingga 8 buku per minggu, salam literasi!










.jpeg)



.jpeg)
.jpeg)
.jpg)

.jpeg)
.jpeg)
.png)





.jpeg)
.jpg)

