Kamis, 04 Juni 2026

OJK Sahkan DPLK Sinarmas Asset Management sebagai Manajer Investasi Pertama Pendiri DPLK di Indonesia

Sesuai dengan UU No. 4/2023 tentang P2SK dan POJK No. 35/2024 tentang Perizinan dan Kelembagaan Dana Pensiun, OJK hari ini merilis Pengesahan atas Pendirian Dana Pensiun Lembaga Keuangan Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) melalui Keputusan DK OJK No. KEP-39/D.05/2026 tertanggal 5 juni 2026, yang ditandatangani oleh Ogi Prastomiyono (Kepala eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK). Dengan begitu, DPLK SAM menjadi DPLK yang berasal dari Manajer investasi pertama di Indonesia.

 

Dengan berdirinya DPLK SAM yang didirikan manajer investasi harapannya dapat memberikan dampak positif bagi industri dana pensiun, khususnya untuk menggarap peserta individual dan pekerja informal yang saat ini masih sedikit ikut dalam program dana pensiun. DPLK SAM bertekad menjadi pilar terpercaya dalam mewujudkan kemandirian finansial bagi masyarakat Indonesia di hari tua melalui pengelolaan dana pensiun yang aman dan berbasis teknologi digital.

 

Berbekal visi “Menjadi pilar terpercaya dalam mewujudkan kemandirian finansial bagi masyarakat Indonesia di hari tua melalui pengelolaan dana pensiun yang aman dan berbasis teknologi digital”, DPLK Sinarmas Asset Management memegang prinsip 1) mendorong peningkatan kesadaran tentang pentingnya perencanaan pensiun sejak dini demi masa depan yang lebih tenang, 2) menyediakan produk dana pensiun yang inklusif dan mudah diakses, sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhan generasi masa kini, dan 3) mengintegrasikan teknologi digital untuk menghadirkan layanan dana pensiun yang efisien, transparan, dan terpercaya.

 

Dengan tagline menjadi “Mitra Tepercaya Anda untuk Hari Tua Sejahtera”, DPLK SAM didukung tim profesional yang berdedikasi mendampingi pekerja dan masyarakat Indonesia dalam merencanakan masa depan dengan tenang dan pasti. Selalu bersedia membantu setiap individu membangun masa depan yang aman dan sejahtera melalui perencanaan pensiun yang terpercaya dan berkelanjutan. Sesuai dengan pengesahan OJK pula, komposisi struktur DPLK SAM terdiri dari: Stephanus Rudi (Ketua Pengurus), Yoel Tanzil (Pengurus), Syarifudin Yunus (Ketua Dewan Pengawas), dan Al Iskandar (Anggota Pengawas).


Sebagai upaya ikut mengembangkan dana pensiun di Indonesia, DPLK SAM menyediakan produk dan layanan utama terdiri dari: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan orientasi digitalisasi dana pensiun, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK. (Silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 


“Terima kasih kepada OJK atas izin operasi DPLK Sinarmas Asset Management yang diberikan. Kami bertekad untuk menjadi mitra terpercaya untuk hari tua yang sejahtera, senantiasa membantu setiap individu membangun masa depan yang aman dan tenang secara berkelanjutan” ujar Stephanus Rudi (Ketua Pengurus) didampingi Syarifudin Yunus (Ketua Dewan Pengawas) hari ini di Jakarta.

 

DPLK SAM didirikan oleh Sinarmas Asset Management, salah satu perusahaan manajer investasi terkemuka di Indonesia yang merupakan bagian dari pilar bisnis keuangan Grup Sinar Mas yang berdiri sejak tahun 2012, dengan dana kelolaan Rp. 62 triliun yang melayani lebih dari 75.000 nasabah. Salam #YukSiapkanPensiun

 

Apa Iya Kantor sebagai Rumah Kedua?

Ini cerita kawan saya. Sejak kerja di usia 28 tahun, dikenal sebagai pekerja keras. Loyal untuk kantornya, dedikasi buat pekerjaannya. Kerja datang pagi, pulang larut malam. Maka kawan saya bilang “kantor itu rumah kedua gue”.

 

Dan seminggu lalu, kawan saya akhirnya pensiun. Usianya sudah 56 tahun. Dia ceriat, dibikin acara perpisahan. Atasannya kasih sambutan dan ucapan terima kasih. Rekan kerja sekantor menyalaminya. Foto bersama dan makan-makan. Setelah itu, kawan saya pulang. Berakhir sudah puluhan tahun bekerja, saatnya pensiun.

 

Besoknya, apa yang terjadi di kantor kawan saya? Kursinya sudah ditempati orang lain. Seolah tidak pernah ada siapa-siapa di sana. Semuanya berjalan normal. Dan begitulah tempat kerja, begitulah kantor di banyak tempat.

 

Ya memang begitu orang kerja. Hidup di kantor ya seperti itu. Kita datang. Kita bekerja. Lalu, suatu hari kita pergi alias pensiun. Dikenal loyal, berdedikasi, dan kerja keras. Kontribusi besar ke perusahaan, sampai-sampai bilang “kantor sebagai rumah kedua”. Dan pertanyaannya, apakah kita benar-benar menikmati hidup yang sesungguhnya?  

 

Patut direnungkan, pada akhirnya kantor itu hanyalah transaksional. Tempat ncari uang, tempat aktualisasi diri yang berbatas waktu. Rekan kerja pun ada masanya. Karena itu, kantor itu bukan rumah kedua. Kita kerja, rajin ke kantor dan punya gaji. Begitu pensiun, meninggalkan kantor dan tidak punya gaji lagi. Ya, sesimpel itulah orang kerja dan kantor. Jangankan pensiun, jika kita meninggal dunia saat aktif pun esoknya meja sudah terisi dengan yang lain. Apa kantor dan rekan kerja ikut berkabung? The show must go on, bro.

 


Terkadang, kita (banyak pekerja) pengen banget dihargai di kantor. Berharap terlalu banyak sama perusahaan. Sangat manusiawi sih. Tapi ya begitulah kantor, hanya tempat cari uang. Tidak lebih tidak kurang. Begitu pensiun, bayar uang pesangon dan bikin event perpisahan, disalamin dan pulang. Jadilah seorang pensiunan. Sudah jadi, eks karyawan di kantor itu.

 

Ada kalimat yang sering diucapkan bos saat perpisahan pensiun. “Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Jadi, terima kasih dan selamat menikmati masa pensiun”. Penuh basa-basi, setelah itu rekan kerja mulai ngomongin. “Kasihan ya udah pensiun, dari mana bisa memenuhi biaya hidupnya. Stres kali ya…” begitulah gibahan rekan kerja setelah kita pensiun.

 

Maka ada benarnya, tulisan yang pernah saya baca. “Cintailah apa yang kita kerjakan tapi jangan mencintai tempat kerja kita”. Karena saat pensiun, posisi kita terlalu mudah diganti orang lain. Terus kok, masih mau bilang “kantor sebagai rumah kedua?”. Prinsip kerja sederhana saja, dedicated is ok, but loyalty NO!  

 

Jadi, apa iya kantor sebagai rumah kedua? Sementara kita setelah pensiun, kebingungan akibat tidak punya gaji lagi. Mulai pusing cara memenuhi kebutuhan hidup, hingga akhirnya bergantung secara finansial dari anak-anak. Maka mumpung masih kerja, siapkan dana pensiun atau DPLK. Biar bisa lebih tenang, sehat, dan sejahtera di masa pensiun. Sebab hari ini, banyak pensiunan tidak tenang, tidak sehat, dan tidak sejahtera karena kerja keras di kantor tapi lupa siapkan tabungan untuk hari tua, untuk masa pensiunnya sendiri.

 

Mumpung masih kerja, selamat mempersiapkan masa pensiun. #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDanaPensiun

Rupiah Dah 18.000 per Dollar AS

Gila juga nih. Rupiah hari ini dah 18.000 per Dollar AS. Buat orang desa sih nggak penting kali ya. Cuma mau pesan saja. Buat yang masih kerja ya jaga baik-baik kerjaannya. Biar nggak kerasan di kantor ya tahan-tahan dulu. Asal masih terima gaji dan bisa buat menutupi kebutuhan hidup + biaya okelah. Apapun kondisinya, jangan resign kalau belum ada pekerjaan baru. Sebab, rupiah di level begini, apa saja bisa terjadi. Yang pasti harga barang naik, apalagi yang ada unsur luar negeri-nya. Utang Indonesia saja ikutan naik kok.

 

Bisa jadi, rupiah akan melemah terus. Hanya MBG – SPPG yang akan terus menguat. Tapi gara-gara rupiah merosot, sudah pasti daya beli kita menurun. Pekerja juga harus hemat, jangan beli barang yang nggak perlu. Bayar cicilan harus disiplin. Jangan sampai kita ikut-ikutan melemah.

 


Rupiah lagi nggak baik-baik saja. Memang orang kaya masih banyak. Tapi buat yang di level “menengah” hati-hati, ada potensi turun ke level “miskin”. Akhirnya, lebih besar pasak daripada tiang kian terbukti. Banyak kawan di level menengah, sekarang sudah mulai berat. Takut menuju ke miskin.

 

Gara-gara rupiah dah 18.000. Kangan konsumtif dulu, beli yang dibutuhkan saja. Kalau bisa rem pengeluaran. Biar tetap survive. Yuk sama-sama berdoa, biar kita bisa bertahan. Dan tetap bisa senyum walau sedikit. Selam rupiah …

Rabu, 03 Juni 2026

Literasi Keuangan Keluarga Muda Milenial: Suami Istri Kerja tapi Tiap Bulan Minus?

Ini cerita pekerja suami-istri yang milenial. Gaji suami Rp. 8 juta. Istrinya Rp. 6 juta. Totalnya  Rp. 14 juta sebulan. Dua orang yang kerja. Dua karier. Dua sarjana. Aware terhadap literasi keuangan. Tiap akhir bulan, mereka cek saldo rekening bersama. Tapi di bulan ini: minus Rp. 340.000. Bulan lalu: minus Rp. 820.000. Dua bulan lalu: minus Rp. 1,2 juta. Tiga bulan terakhir, justru minus. Gaji keduanya tipa bulan berarti tidak cukup. Keduanya bingung dan saling berkata, "Gaji kita segitu. Kok malah minus tiap bulan?"

 

Hingga suatu malam, keduanya berdiskusi. Duduk bersama dan menghitung, kenapa bisa minus? Hitung satu per satu. Di mana bocornya? Dan hasilnya, ternyata di luar yang mereka bayangkan.  

 

Satu per satu, alokasi pengeluaran tetap mereka tulis. Cicilan rumah Rp. 3.000.000. Biaya listrik, air, internet Rp 800.000. Cicilan utang Rp. 1.500.000. Biaya makan harian Rp. 2.500.000. Bensin Rp. 600.000. Kebutuhan anak Rp 1.200.000. BPJS dan asuransi Rp. 400.000. Kiriman ke orangtua Rp. 1.000.000. Total pengeluaran tercatat Rp 11.000.000 per bulan. Berarti ada sisa Rp 3.000.000 per bulan. Keduanya sepakat, "Masih ada sisa Rp. 3 juta. Harusnya cukup dong".  

 

Kok tidak cukup? Ternyata, bulan ini ada kondangan teman kantor + jenguk bayi Rp. 600.000.  Berobat anak ke dokter + obat Rp. 450.000. Keperluan sekolah anak Rp. 380.000. Tagihan kartu kredit bulan lalu Rp. 870.000. Service motor Rp 350.000 dan lain-lain Rp. 700.000. Total biaya tidak terduga mencapai Rp. 3.350.000.  Sisa gaji Rp. 3.000.000. Maka wajar, akhirnya minus Rp. 350.000 di bulan ini. Dan "biaya lain-lain" itu selalu ada. Setiap bulan. Berbeda bentuknya tapi selalu ada. Apapun alasannya.   

 

Mungkin cerita dan alokasi keuangan bulanan suami-istri yang bekerja kira-kira begitu. Tergantung pada besaran gaji, standar hidup, dan gaya hidupnya. Ini sekadar potret satu keluarga tapi bisa terjadi di banyak pekerja. Karenanya, survei DBS & Privy Indonesia (2023) menyebut 6 dari 10 milenial Indonesia gaji habis dalam 2 minggu pertama. OJK, Survei Nasional Literasi Keuangan (2024) menyebut 40% masyarakat tidak punya tabungan darurat sama sekali. BPS, Susenas (2024) bilang pengeluaran rumah tangga urban naik rata-rata 8,4% per tahun, sedangkan kenaikan UMP rata-rata: 6–7% per tahun. Artinya: biaya hidup tumbuh “lebih cepat” daripada pendapatan. Kita tidak boros tapi kita kalah dari angka, kalah secara hitung-hitungan.  

 

Tingkat inflasi tahunan Indonesia sepanjang tahun 2025 sebesar 2,92%. Tapi faktanya, inflasi yang dirasakan keluarga muda atau milenial bisa beda. Biaya pendidikan: naik 10–15%/tahun (BPS/Kemendikbud). Biaya kesehatan: naik 8–12%/tahun (BPS/Kemenkes). Harga BBM Pertalite: naik 31% sejak 2020 (ESDM). Angka-angka itu tidak masuk dalam headline inflasi 2,92%. Tapi aktualnya, masuk ke dalam dompet kita setiap bulan. Diam-diam dan konsisten, sekalipun tanpa pengumuman seperti program MBG atau koperasi merah putih.  

 


Fakta, gaji tahun 2020 Rp. 5 juta terasa cukup. Tapi gaji di tahun 2024 Rp. 8 juta tapi minus.  Bukan karena gaya hidup naik. Tpi biaya hidup yang naik lebih besar daripada kenaikan gaji + inflasi. Ibaratnya, kita berjalan tapi biaya hidup berlari. Apalagi banyak pekerja tidak punya dana darurat, apalagi dana pensiun. Karenanya, sebagai solusi ke depan, perlu 1) pisah masing-masing alokasi tiap bulan, mana yang tetap/darurat/bebas. Begitu gaji masuk langsung transfer otomatis ke masing-masing alokasi, 2) anggarkan "biaya tak terduga" sebagai pos tetap minimal Rp 500.000 per bulan, 3) mulai cek langganan digital yang tidak pelu (TV berbayar, asuransi yang autodebet, atau aplikasi berbayar. Dan hitung lagi, apa gaji masih tetap minus?

 

Begitulah cerita di keluarga muda yang suami-istri bekerja, keluarga milenial. Selain dana darurat yang tidak siap, keluarga milenial pun tidak punya dana pensiun untuk hari tua. Hasil penelitian menyebut 61% milenial tidak tahu tentang dana pensiun. Akibatnya, 86% milenial yang bekerja belum memiliki dana pensiun. Artinya, hanya 1 dari 10 milenial yang punya dana pensiun. Suka tidak suka, milenial pun harus Bersiap kondisi keuangan saat ini maupun masa depan. (Silakan baca riset “Persepsi Dan Kepemilikan Generasi Milenial Terhadap Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Untuk Kesejahteraan Hari Tua” di jurnal Jkpim (Apr 2025) – https://jurnal.aksaraglobal.co.id/index.php/jkpim/article/view/605.

 

Ketahuilah, tidak ada jalan pintas untuk bisa tenang secara finansial setiap bulan. Semuanya harus diperhitungkan, dialokasikan, dan lebih disiplin dalam penggunaan uangnya. Jangan sampai “lebih besar pasak daripada tiang”, sebagai penyakit keuangan yang sulit diobati. Maka, mulailah dari hal sederhana. Catat pengeluaran yang tidak perlu, rapikan alokasi gaji dengan bijak. Pahami ke mana uang pergi? Dan mulai menabung untuk hari tua, di dana pensiun atau DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan).

 

Mulai pelan-pelan saja, jangan sampai suami istri kerja dan gaji terima. Tapi setiap bulan masih “minus”. Berbenahlah untuk kondisi keuangan kita sendiri. Jangan sampai cash flow berantakan tiap bulan. #YukSiapkanPensiun



Selasa, 02 Juni 2026

Tiga Mata Uang Kehidupan: Pengetahuan, Waktu, dan Uang

Hari ini, 3 Juni 2026, Bogor berusia 544 tahun. Usia itu bukan bukan sekadar angka kronologis, melainkan simbol perjalanan panjang pendidikan dan peradaban masyarakat. Dari sisi pendidikan, usia 544 tahun menjadi sumber pembelajaran, pembentukan karakter, dan pelestarian nilai-nilai budaya. Sedangkan dari sisi peradaban, usia 544 tahun menunjukkan kematangan, serta kemampuan masyarakat dalam mewariskan pengetahuan dan budaya untuk membangun masa depan yang lebih baik. Karenanya, peringatan hari jadi  ke-544 Bogor seharusnya jadi momentum untuk merefleksikan warisan sejarah sekaligus memperkuat komitmen dalam memajukan pendidikan dan peradaban generasi mendatang untuk, dari, dan oleh Bogor sendiri.

 

Bertajuk “Membangun Peradaban Bogor dari Literasi”, begitulah catatan hari jadi ke-544 Bogor. Semangatnya bukan sekadar mengajak masyarakat Bogor gemar membaca, melainkan membangun budaya berpikir, belajar, dan bertindak berdasarkan pengetahuan. Sebab, peradaban yang maju selalu lahir dari masyarakat yang memiliki tradisi literasi yang kuat. Bogor, sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang pendidikan, pertanian, keindahan alam, dan keberagaman budaya memiliki modal besar untuk menjadi kota dan kabupaten yang bertumpu pada kekuatan literasi. Ketika masyarakat terbiasa membaca, berdiskusi, menulis, dan belajar sepanjang hayat, maka kualitas sumber daya manusia akan meningkat dan menjadi fondasi kemajuan daerah uang signifikan.

 

Dalam bidang pendidikan, literasi berperan sebagai pintu masuk bagi peningkatan kualitas pembelajaran dan sumber daya manusia. Anak-anak yang terbiasa membaca sejak dini cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan daya analisis yang lebih baik, di samping dapat menekan angka putus sekolah dan penikahan dini. Di Bogor, gerakan literasi dapat dimulai dari keluarga, sekolah, dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) seperti yang dilakukan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (Contoh: Dari garasi kecil di kaki Gunung Salak, nyala harapan itu dimulai
https://www.instagram.com/p/DMuCvYTPyhC/?igsh=NmlyY3QxOGp6MXN3). Ketika akses buku bacaan tersedia dan lingkungan mendukung kegiatan membaca, maka anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga membangun karakter, empati, dan kemampuan memecahkan masalah. Di situlah, literasi menjadi investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

 

Harus diakui, literasi berkontribusi besar terhadap kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat. Warga yang memiliki kemampuan literasi yang baik akan lebih mudah memahami informasi tentang kesehatan, keuangan, lingkungan, teknologi, bahkan peluang usaha. Seorang petani di Bogor misalnya, dapat meningkatkan hasil panennya dengan membaca informasi tentang teknik pertanian modern. Pelaku UMKM dapat belajar pemasaran digital melalui berbagai sumber bacaan dan pelatihan. Bahkan seorang siswa SD dapat mengenal kebiasaan baik negara-negara lain dari buku-buku bacaan. Dengan kata lain, literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca buku. Tapi menjadi sarana pemberdayaan masyarakat yang berdampak langsung pada kesejahteraan dan peradaban manusianya.

 


Pembangunan peradaban manusia melalui literasi dapat dilihat dari kegiatan TBM yang aktif menyelenggarakan program membaca rutin, Gerakan berantas buta aksara, belajar calistung, kelas menulis, pelatihan keterampilan, dan pendampingan keluarga. Misalnya, sebuah TBM di desa mengadakan program "Satu Jam Membaca Setiap Hari" bagi anak-anak sepulang sekolah, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan mendongeng dan menulis cerita sederhana. Di sisi lain, para ibu diberikan pelatihan literasi keuangan keluarga, sementara para pemuda mengikuti pelatihan kewirausahaan berbasis digital. Dari kegiatan sederhana tersebut lahir kebiasaan belajar yang kemudian mendorong perubahan perilaku dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Memang membangun peradaban Bogor dari literasi bukan hal yang mudah. Membutuhkan komitmen, implementasi, dan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Kebijakan literasi yang mudah diterapkan pun harus tersedia. Sebab. membangun peradaban Bogor dari literasi berarti membangun masyarakat yang cerdas, berkarakter, produktif, dan berdaya saing. Peradaban tidak dibangun oleh gedung-gedung megah semata, melainkan oleh manusia yang memiliki kemampuan berpikir dan kemauan untuk terus belajar. Ketika gerakan literasi tumbuh di rumah-rumah, sekolah, kampung, dan ruang-ruang publik di seluruh Bogor, maka akan lahir generasi yang tidak hanya mampu membaca buku tetapi juga mampu membaca zaman, memahami perubahan, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi daerahnya. Inilah hakikat literasi sebagai fondasi kemajuan pendidikan sekaligus peradaban masyarakat Bogor.

 

Gilbert Ntimba, seorang peneliti dan penulis ekonomi menyebut pentingnya konsep "Tiga Mata Uang Kehidupan" (The 3 Currencies of Life) yaitu pengetahuan, waktu, dan uang. Bila kita tidak memiliki satu dari ketiganya, maka gunakanlah kedua hal yang kita miliki untuk meraihnya. Bila punya waktu dan uang, maka gunakan untuk meraih pengetahuan untuk membangun peradaban masyarakat. Dan hari ini, Bogor membutuhkan peradaban yang lebih baik dari literasi. Selamat hari jadi ke-544 Bogor!



Senin, 01 Juni 2026

Kisah Pekerja Pensiun Dini: Pilih Uang atau Tenang?

Minggu lalu, saya ketemu Pak Darto. Usianya 52 tahun dan baru 3 bulan lalu pensiun dini. Berhenti bekerja untuk pensiun atas kemauan sendiri. Bukan karena sudah kaya raya. Bukan pula karena warisan. Tapi karena satu keputusan yang bikin hidupnya berubah 180 derajat. Karena cara pandangnya tentang bekerja sudah berubah. Mindset tentang uang pun berubah.

 

Waktu itu, Pak Darto cerita, "Dulu Mas, saya kerja tiap hari cuma mikir: gimana caranya cepet kaya." Samnpai-sampai nggak peduli caranya. Yang penting: punya banyak aset, investasi sana-sini, portfolio berkembang terus. Dia mengejar semua "strategi finansial" yang ada di buku.  

 

Dan hasilnya? Portofolio lumayan. Rumah sudah lunas. Tapi, dia bilang: "Saya nggak pernah ngerasa merdeka." Setiap hari kerja kayak robot. Berangkat pagi pulang malam. Terjebak rutinitas. Stres. Kesehatan mulai drop. Hubungan rusak. Dan yang paling parah katanya, "Saya malah nggak punya waktu buat hidup."

 

Dia cerita lagi. Suatu waktu, dia hampir nggak bisa menemani anaknya yang lagi sakit. Semua "kesuksesan" finansialnya, tiba-tiba nggak ada artinya. Di titik itu, dia ambil keputusan besar.  Dia berhenti kerja. Minta pensiun dini.

 

Saat memutuskan pensiun dini. Semua orang sekantor kaget. "Gila, Pak Darto. Udah nggak waras ya. Ekonomi lagi begini dia malah pensiun dini?" Tapi Pak Darto tenang saja. Sambil senyum sejenak, Pak Darto bilang “Saya mau hidup bukan buat uang. Tapi uang buat hidup." 

Pergeseran mindset tentang kerja, tentang hidup dan uang itulah yang paling penting, kata Pak Darto ke teman-teman di kantornya saat memutuskan pensiun dini.

 

Apa yang dilakukan Pak Darto? Ternyata, bukan strategi investasi. Bukan reksadana, bukan saham atau properti. Tapi dia mengubah “prioritas”. Dari "punya banyak" jadi "punya cukup". Dari "kerja keras" jadi "hidup bermakna". Dari material ke psikologis. Pengen hidup yang tenang, bukan yang bergelimang.    

 


Maka saya pun bertanya ke Pak Darto. "Gimana caranya mengubah mindset itu Pak?"

Pak Darto menjawab, "Pertama, lakukan definisi ulang tengan uang". Dulu, uang itu “angka” di rekening. Tapi sekarang buat saya, uang itu waktu, kesehatan, hubungan baik, dan pengalaman bermakna.  

 

Kedua, hidup minimalis dann sederhana saja. Saya menjual beberapa aset yang nggak perlu. Rumah besar dijual. Mobil mewah dijual. Semua yang bikin dia terjebak dalam siklus konsumsi disingkirkan. "Untuk apa uang atau harta kalau nggak bisa dinikmatin?", katanya.  

 

Ketiga, mulai diversifikasi waktu. Dulu, 90% waktu hanya buat kerja. Sekarang, Pak Darro membagi waktu yang pas buat keluarga, hobi, bersosial dan belajar hal baru. "Saya sekarang mulai berkiprah sosial, menulis, jalan-jalan sambil kulineran. Lebih bahagia banget"  .

 

Dan yang paling penting, keempat, ternyata investasi terbaik itu investasi pada diri sendiri. Pelajari hal yang baru, baca buku, dan ikuti workshop yang lagi tren. Jadi, hidup bukan cuma soal skill kerja. Tapi skill hidup, gimana berkomunikasi, manajemen emosi, dan yang penting cara bersyukur. “Akhirnya, saya jadi lebih kenal diri sendiri", katanya lagi.  

 

Saya pun bertanya lagi, "Terus, gimana soal finansialnya, Pak?"

Dia menjawab santai, "Ya sejak pensiun dini cukup-cukup aja. Nggak kekurangan. Malah lebih tenang secara psikologis. Untuk bulanan, saya juga punya DPLK. Sekarang tinggal nikmatin hasilnya, dibayar secara bulanan”.

 

Kerja lebih dari 25 tahun, Pak Darto akhirnya memilih pensiun dini. Dai mulai fokus pada diri sendiri dan menekuni hobi yang sesuai passion-nya. Tidak lagi mengejar "kekayaan" selama masih bekerja. Dan ternyata, pensiun bukan hanya urusan uang. Tapi lebih ke masalah psikologis, untuk meraih ketenangan yang hakiki.

  

Ada pesan penting dari kisah Pak Darto. Ternyata uang memang penting tapi bukan segalanya. Jangan sampai kita mengejar uang mati-matian, hingga lupa caranya hidup yang yang bermakna. Kerja bukan hanya lahir tapi batin. Kerja bukan Cuma untuk hari ini tapi juga untuk masa pensiun. Dan ternyata, di situlah banyak pekerja nggak sadar. Kerja hanya dianggap untuk mengejar kekayaan.

 

Di akhir obrolan pun, saya baru tersadar. Selama ini saya memandang kerja itu terbalik. Kerja keras dianggap untuk “sukses". Tapi nggak pernah mikir, apa iotu arti sukses buat diri diri saya sendiri? Saya terjebak pada rutinitas dan pola yang sama dalam hidup.

 

Dan akhirnya, tidak sedikit orang yang merasa sudah bekerja keras tapi perasaanya tetap ada yang kurang. Ini kurang itu kurang, ada yang salah dengan cara pandang tentang uang. Pilih tenang atau uang? #YukSiapkanPensiun



Ibarat Pohon, Kiprah di Taman Bacaan Tidak Mengeluh saat Diterpa Hujan, Tidak Sombong saat Tumbuh Tinggi

Ini sebuah nasihat literasi. Pohon itu tidak pernah mengeluh saat diterpa hujan, tidak sombong saat tumbuh tinggi, dan tidak marah saat daunnya gugur. Ia tetap berdiri, tetap memberi teduh sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak menyadari keberadaannya. Begitu pula hidup yang indah, bukan tentang menjadi yang paling terlihat. Tapi tentang tetap konsisten memberi manfaat meski tidak selalu mendapat penghargaan. Begitulah filosofi berkiprah di taman bacaan masyarakat (TBM).

 

Berkiprah di taman bacaan, ternyata mengajarkan tentang kerendahan hati, keteguhan, dan ketulusan dalam memberi manfaat kepada sesama. Pohon tetap berdiri kokoh saat diterpa hujan dan angin, sebagaimana manusia menghadapi berbagai tantangan hidup. Seperri relawan taman bacaan mengabdi untuk literasi. Tidak mengeluh ketika menghadapi kesulitan, tidak membanggakan diri ketika tumbuh tinggi, dan tidak kecewa ketika kehilangan daun-daunnya. Pesan ini mengajak kita untuk menjalani hidup dengan sikap sabar, rendah hati, dan tetap berbuat baik dalam berbagai keadaan.

 

Entah kenapa, sering kali manusia ingin dihargai, dipuji, atau diakui atas setiap kebaikan yang dilakukan. Pengen banget dipuji dan mendapat validasi orang lain. Padahal, tidak semua kontribusi akan mendapatkan perhatian dari orang lain. Pohon memberikan keteduhan, menghasilkan oksigen, dan menjadi tempat berlindung tanpa pernah meminta imbalan. Begitul pula, nilai sebuah kebaikan tidak ditentukan oleh banyaknya pujian yang diterima, melainkan oleh manfaat yang dirasakan oleh orang lain. Ketulusan justru tampak ketika seseorang tetap berbuat baik meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan.

 


Seperti berkiprah di taman bacaan, semangat seperti pohon sangat relevan. Banyak relawan dan pengelola taman bacaan bekerja di balik layar: membersihkan rak buku, memperbaiki buku yang rusak, menata ruang baca, mencari donasi, atau mendampingi anak-anak membaca dan belajar, bagkan menjalankan motor baca keliling ke kampung-kampung. Kerja-kerja sosial itu mungkin jarang terlihat dan tidak selalu mendapatkan ucapan terima kasih. Namun, hasilnya dapat dirasakan oleh banyak anak usia sekolah yang akhirnya menjadi lebih gemar membaca, lebih percaya diri, dan memiliki kesempatan belajar yang lebih baik karena tersedia akses bacaan.

 

Seperti relawan di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Enam hari dalam seminggu melayani kegiatan membaca anak-anak, mengajar kelas prasekolah, meberantas buta aksara, hingga menjalankan motor baca keliling (Mobake) ke kampung-kampung yang tidak punya akses bacaan. Relawan yang tanpa pamrih datang ke TBM dan mengabdi atas nama kemanusiaan. Semuanya dilakukan dengan konsisten dan sepenuh hati. Tentu, tidak banyak yang mengetahui kiprah relawan di taman bacaan. Tapi kontribusinya sangat besar sehingga kegiatan membaca jadi lebih asyik dan menyenangkan.

 

Relawan TBM yang sabar mendampingi anak yang kesulitan membaca selama berbulan-bulan tanpa mengharapkan pujian. Ketika suatu hari anak itu mampu membaca cerita dengan lancar dan berani tampil di depan teman-temannya, itulah buah dari ketulusan yang selama ini ditanam. Seperti pohon yang memberi teduh tanpa memilih siapa yang akan berteduh di bawahnya, taman bacaan yang dikelola dengan hati akan terus memberi manfaat bagi masyarakat, meskipun tidak selalu menjadi pusat perhatian. Salam literasi!

 



Minggu, 31 Mei 2026

Terkuak Nih, Rata-rata Gaji Dosen di Indonesia Cuma Rp. 3,36 Juta

Ini sih sungguh memprihatinkan. Ternyata rata-rata gaji dosen di Indonesia hanya Rp. 3,36 juta per bulan. Angka itu terkuak saat Ketua Umum Asosiasi Dosen Indonesia, Mohammed Ali Berawi saat memberikan keterangan dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen di Mahkamah Konstitusi, Senin (25/5/2026). Bukan hanya nggak cukup, makanya wajar banyak dosen di Indonesia terpaksa mencari pekerjaan tambahan di luar kampus untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

 

Gila ya, gaji dosen di Indonesia rendah banget. Jauh tertinggal dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Sebut saja, Singapore yang gaji dosennya mencapai Rp. 85,5 juta per bulan, Thailand yang Rp. 21,9 juta, atau Filipina yang Rp. 7,6 juta per bulan, sedangkan Indonesia Rp. 3,36 juta per bulan. Serem nggak sih, kondisi dunia pendidikan kayak begini? Memang sih, bila mengacu ke portal Indeed dan Jobstreet, total penghasilan dosen berada di kisaran Rp5,5 juta hingga Rp8,5 juta per bulan. Khusus kampus swasta, tergantung  dari jenjang pendidikan si dosen, jabatan akademik, jam mengajar, hingga reputasi perguruan tinggi.

 

Sesuai pengalaman, saya sendiri yang sudah mengajar lebih dari 30 tahun di kampus swasta di Jakarta nggak membantah soal gaji dosen di angka tersebut. Di balik gelar, penelitian, dan pengabdian untuk masyarakat ternyata gaji dosen memang rendah, tergolong jauh dari penghasilan yang layak. Akibatnya ya apa boleh buat? Rata-rata dosen jadi fokus meneliti karena tekanan ekonomi dan kehabisan energi untuk inovasi secara akademik. Riset tertinggal, inovasi lambat, kampus sulit bersaing global, dan kualitas pengajaran tidak maksimal.

 

Gaji dosen, tentu bukan sekadar masalah profesi. Ini juga bukan sekadar soal penghasilan. Tapi soal penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Soal arah pembangunan nasional dan mau di bawa ke mana pendidikan di Indonesia? Katanya, dosen adalah pencetak pemimpin, ilmuwan, profesional, dan masa depan Indonesia. Tapi sayangnya, bekerja sebagai dosen kurang dihargai. Terbukti dari gajinya yang rendah.

 

Pemerintah sebenarnya sudah lumayan bagus, dengan program sertifikasi dosen (serdos). Sebuah proses penilaian formal oleh pemerintah untuk memberikan pengakuan profesional terhadap dosen di perguruan tinggi. Tujuannya adalah memastikan kelayakan dosen dalam menjalankan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) sekaligus meningkatkan kesejahteraannya. Tiap semester dosen harus memenuhi BKD (Beban Kerja Dosen) ntuk mendapatkan “tunjangan fungsional” dari pemerintah. Tapi sekarang, ada lagi tambahan kerjaan dosen. Wajib ikut pelatihan 20JP setahun untuk dapat mencairkan dana serdos. Bila nggak dipenuhi, maka dana serdos tidak bisa cair. Agak repot tapi okelah untuk menigkatkan kualitas dan pengembangan diri dosen. Sah-sah saja sih.

 

Apa yang saya mau bilang di sini? Di negara-negara maju, ada pinsip yang dipegang dalam pendidikan. Bila negara mau maju maka ekonomi harus tumbuh cepat. Karenanya, pendidikan harus kuat dan mampu mencetak lulusan yang kreatif, inovatif, dan kompetitif. Masalahnya, pendidikan tinggi yang kuat dann lulusan yang kompetitif agak sulit dicapai bila dosennya tidak sejahtera. Gajinya rendah dan fokusnya jadi kemana-mana. Sampai-sampai penelitian pun di-proyek-kan.

 


Dosen harus sejahtera adalah keniscayaan. Agar bisa fokus mengajar dan mendidik, riset jadi lebih produktif, inovasi lahir lebih cepat, mahasiswa pun mendapatkan kualitas pendidikan terbaik, industri mendapat SDM unggul, dan akhirnya negara punya daya saing yang kompetitif. Makanya, kesejahteraan dosen jangan dilihat sebagai beban pengeluaran negara atau kampus. Tapi investasi strategis untuk kemajuan bangsa dan negara. Sungguh, pendidikan tinggi sulit jadi pusat ilmu pengetahuan dan teknoogi bila dosennya masih “dipaksa” bertahan hidup.

 

Dosen nggak bersyukur? Sudah dari lama para dosen bersyukur, bahkan sabar dan tetap konsisten menjalankan tugasnya sekalipun gajinya kurang. Dan bukan karena saya berprofesi sebagai dosen lantas mengharapkan dosen bergaji tinggi dan sejahtera. Apa iya dosen minta naik gaji 100%, saya kira tidak! Hanya mengingatkan pemangku kebijakan, bila pendidikan ingin maju maka profesi dosen pun harus dihargai dan dibikin lebih layak. Pemikiran ini penting, walau eksekusinya entah kapan terlaksana?

 

Kata banyak orang, bekerja sebagai dosen enak. Ya, sah-sah saja. Tergantung melihatnya, dari sudut pandang mana? Tapi faktanya, rata-rata gaji dosen di Indonesia hanya Rp. 3,36 juta per bulan. Bahkan banyak dosen swasta, yang masa pensiunnya tidak pasti dan berpotensi mengalami masalah keuangan di hari tua. Karenanya, harus ada komitmen untuk memperjuangkan kesejahteraan dosen dan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat ke depan.

 

Tesisnya sederhana. Jika dosen bisa hidup layak maka mengajar jadi semangat. Dosen yang kuat maka kampus akan kuat. Bila kampus kuat maka SDM yang dihasilkan lebih kompetitif. Dan SDM yang kompetitif pasti bikin negara lebih maju. Maka, sudah waktunya kesejahteraan dosen dipandang sebagai agenda nasional, bukan sekadar isu profesi semata. Selamat mendidik para dosen Indonesia!

 


Motor Baca TBM Lentera Pustaka Kunjungi 4 Kampung, Sediakan Akses Baca 120 Anak Usia Sekolah

Sebagai bagian untuk meningkatkan kegemaran membaca masyarakat, MOtor BAca KEliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka seharian di hari Minggu melayani lebih dari 130 anak usia sekolah di 4 kampung di kaki Gunung Salak Bogor untuk membaca buku (31/05/2026). Aktivitas literasi ini menekankan pada penyediaan akses bacaan kepada anak-anak di kampung-kampung. Karena TBM Lentera Pustaka meyakini tidak ada minat baca tanpa tersedianya akses bacaan.

 

Dijalani oleh 8 relawan TBM Lentera Pustaka, kegiatan MOBAKE berangkat pukul 10.00 WIB menuju Kp. Calobak Desa Sukaluyu, dilanjutkan ke Kp. Kemang Desa Sukaluyu. Setelah makan siang, MOBAKE TBM Lentera Pustaka menuju Kp. Sinarwangi dan berakhir pukul 17,00 WIB di Kp. Gadog Tengah Desa Sukajadi. Setelah melewati jalan berliku dan sedikit terjal, relawan MOtor BAca KEliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka sangat sibuk dan begitu produktif untuk melayani kegiatan membaca anak-anak usia sekolah. Bahkan para orang tua di setiap Lokasi pun ikut menyaksikan proses membaca anak-anaknya.

 

Relawan MOBAKE TBM Lentera Pustaka dengan sepenuh hati menjalankan aktivitas motor baca keliling. Tujuannya, untuk sediakan akses bacaan ke anak-anak yang di wilayahnya tidak ada tempat membaca buku. Anak-anak pun antusias membaca dan silih-berganti menukar buku-buku yang akan dibacanya. Kegiatan MOBAKE ini beroperasi sekitar 1 jam di setiap lokasi. Hingga di sore hari saat langit mulai mendung, relawan MOBAKE kembali ke “markas” TBM Lentera Pustaka untuk istirahat.

 

Melalui aktivitas motor baca keliling, TBM Lentera Pustaka membuktikan masih animo ada anak-anak Indonesia untuk membaca buku. Asal tersedia akses membaca, seperti motor baca keliling yang menghampiri kampung-kampung untuk mengajak anak-anak membaca buku. Pemandangan di MOBAKE TBM Lentera Pustaka sangat jelas, antusias anak-anak sangat tinggi karena akses buku bacaan mendekati mereka. Jadi, jangan persoalkan minat baca. Tapi sediakan dulu akses bacaan ke anak-anak.

 


MOBAKE TBM Lentera Pustaka yang digagas langsung oleh Pendiri TBM Lentera Pustaka sejak Februari 2022, hingga kini masih berlangsung dan berkeliling sediakan akses buku bacaan ke kampung-kampung. Dengan membawa lebih dari 200 buku dan 2 buah tikar, motor baca keliling setiap hari Minggu menyusuri jalan-jalan berliku dan tanjakan hanya untuk menyediakan akses bacaan secara konsisten dan sepenuh hati.

 

“Motor baca keliling TBM Lentera Pustaka ini tujuannya untuk mendekatkan buku-buku bacaan kepada anak-anak usia sekolah. Agar terbentuk kebiasaan membaca, di samping mampu menekan angka putus sekolah yang masih "menghantui" banyak kampung. Maka jangan persoalkan minat baca tanpa mau sediakan akses bacaan” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka di Bogor…

 

Memang aktivitas motor baca keliling fi kaki Gunung Salak dihadapkan pada kendala cuaca yang sering hujan. Tapi dengan semangat pantang menyerah dan penuh komitmen, hingga kini TBM Lentera Pustaka masih terus menjalankan aktivitas motor baca keliling sepenuh hati. Untuk sediakan akses bacaan ke anak-anak di kampung-kampung. Salam literasi #MoBaKe #MotorPustaka #TBMLenteraPustaka





Sabtu, 30 Mei 2026

Dunia Itu Tidak Kejam tapi Bekerja Sesuai Perbuatan kita

Hati-hati ya, luka yang kita anggap kecil bisa menjadi doa yang tidak pernah kita duga jawabannya. Jangan bangga menjadi penyebab air mata seseorang, sebab setiap luka yang kita tinggalkan akan menemukan jalannya kembali sebagai pelajaran kehidupan. Menjadi baik bukan hanya tentang ucapan, tetapi juga tentang menjaga hati yang tidak terlihat. Karena Tuhan adil, dan setiap rasa yang kita tanam, cepat atau lambat akan kita tuai di kemudian hari.

 

Hati-hati, luka yang kita anggap kecil bisa menjadi doa yang tidak pernah kita duga jawabannya. Itulah pentingnya menjaga sikap dan perasaan orang lain. Sering kali seseorang menganggap perkataan kasar, penghinaan, atau perlakuan tidak adil sebagai hal sepele. Padahal, bagi orang yang menerimanya, luka itu bisa membekas lama. Ketika seseorang yang terluka hanya bisa mengadu kepada Tuhan, kita tidak pernah tahu bagaimana dan kapan keadilan-Nya bekerja? Karena itu, setiap tindakan dan ucapan perlu dipertimbangkan dengan bijaksana.

 

Ketahuilah, hidup berjalan dengan hukum sebab-akibat. Bukan berarti setiap kejadian buruk adalah hukuman, tetapi setiap perilaku memiliki konsekuensi. Ketika kita menebar kebaikan, kepercayaan, dan penghormatan kepada orang lain, kita menciptakan lingkungan yang positif. Sebaliknya, jika kita gemar menyakiti, meremehkan, atau mempermalukan orang lain, suatu saat kita dapat merasakan dampak dari sikap tersebut melalui berbagai pelajaran kehidupan yang membuat kita memahami perasaan yang pernah kita abaikan.

 

Menjadi pribadi yang baik tidak hanya terlihat dari kata-kata manis atau citra yang ditampilkan di depan umum. Kebaikan sejati juga tercermin dari kemampuan menjaga hati orang lain, terutama saat tidak ada yang melihat. Menghargai usaha seseorang, menjaga kepercayaan, tidak mempermalukan kekurangan orang lain, dan memilih kata-kata yang penuh empati adalah bentuk kebaikan yang sering kali sederhana tetapi sangat berarti. Hati yang terlindungi dari luka yang tidak perlu adalah hadiah berharga yang bisa kita berikan kepada sesama.

 


Contoh konkretnya, seorang pengurus taman bacaan melihat seorang anak yang membaca dengan terbata-bata. Jika ia berkata di depan teman-temannya, “Kamu kok lambat sekali membaca?”, anak itu mungkin merasa malu dan kehilangan semangat belajar. Sebaliknya, jika ia berkata, “Tidak apa-apa, yang penting kamu terus mencoba. Setiap hari pasti semakin lancar,” anak tersebut akan merasa didukung. Contoh lain, seorang relawan yang telah bekerja keras menyiapkan kegiatan ternyata melakukan kesalahan kecil. Daripada memarahinya di depan banyak orang, lebih baik mengajaknya berbicara secara pribadi dan membantu memperbaiki kesalahan tersebut. Sikap seperti inilah yang menjaga hati, memperkuat hubungan, dan menumbuhkan lingkungan yang penuh rasa hormat serta kepedulian.

 

Ingat, dunia itu tidak kejam. Tapi dunia akan bekerja sesuai dengan perbuatan yang kita lakukan. Saat bertindak zolim dan tidak adil kepada orang lain, maka tinggal tunggu waktunya akan Kembali kepada diri kita sendiri. Salam literasi!



Kaget, Saat Pensiun Setelah 30 Tahun Kerja Swasta

Kawan saya cerita, apa sih yang dialami setelah pensiun? Di hari pertama setelah pensiun, dia tetap bangun pukul 5 pagi. Bergegas mandi dan pakai kemeja, siap-siap ke kantor. Terus sadar, ternyata sudah pensiun. Akhirnya, dilepas lagi kemejanya. Lalu membuat secangkir kopi untuk menikmati pagi di teras rumah.

 
Setelah pensiun, kawan saya memang nggak perlu absen lagi. Nggak ada pula bos yang WA malam-malam. Bahakn nggak ada gaji lagi tiap tanggal 25. Dia 30 tahun jadi karyawan swasta dan sejak pensiun resmi jadi ‘pengangguran’ dengan hormat. Rasanya? Yah, campur aduk. Ada senangnya tapi juga ada takutnya. Karena beda sama ASN, karyawan swasta kan nggak ada pensiun bulanan. Yang ada hanya uang pesangon. Habis itu? Ya cari jalan sendiri.

Kawan saya pensiun di usia 56 tahun. Jabatan terakhirnya manajer, gaji terakhirnya Rp. 15 juta. Saat pensiun dapat pesangon Rp. 385 juta. Saat itu, rasanya jadi “sultan” punya uang gede. Pikirnya, uang pesangon cukup buat 10 tahun. Ternyata nggak, uang pesangon habis dalam 3 tahun. Dia bingung, kok bisa cepat habis uang segitu. Tapi faktanya, uang pesangonnya 3 tahu sudah habis.

 
Uang pesangon ke mana? Tahun pertama: dipakai untuk renovasi rumah dan beli motor baru. Tahun kedua: ajak keluarga umroh dan tukar tambah mobil. Tahun ketiga: mulai bingung. Bunga deposito nggak nutup biaya hidup. Sedikit dipakai usaha dagang? Tapi gagal. Kawan saya baru tersadar, selama 30 tahun jadi karyawan swasta tidak pernah diajarin mengatur uang buat 10 atau 20 tahun ke depan. Karyawan swasta cuma diajarin kerja yang loyak dan berdedikasi. Maka kawan saya berpesan, “kalau elo karyawan swasta yang mau pensiun, jangan lakukan kesalahan seperti gue ini...”


Setelah uang pesangon habis, kawan saya memang pengangguran dan diam di rumah. Anak dan istri mulai ngomong pelan-pelan, disuruh cari kerja lagi. Badannya terasa remuk karena hari-hari nggak ngapa-ngapain. Akhirnya dia memutuskan: daftar ojol. Jadi driver ojol setelah pensiun.

 

Awalnya malu. Apalagi saat ketemu teman eks satu kantor di lampu merah. Lagi pas-pasan di jalan. Tapi biarlah, buat apa malu? Ojol kan halal, asal bukan nyolong atau korupsi. Dan sekarang, kawan saya yang sudah pensiun pun hidupnya lebih sehat. Punya teman baru sesama ojol dan yang penting: ada duit masuk tiap hari. Makanya, pensiunan swasta memang nggak usah gengsi. Agar dapur tetap ngebul.



Kata istrinya: ‘Kirain kalau udah pensiun bisa nemenin saya tiap hari?’. Ternyata nggak, kawan saya setelah 3 tahun pensiun sibuk kerja. Jadi ojol, antar orang ke sana ke mari. Ibadah bantuin orang nggak kena macet. Bahkan masih sempat pagi antar cucu ke sekolah. Bedanya sama dulu? Sekarang dia sibuk buat diri sendiri. Nggak ada target dari bos. Nggak ada lembur yang nggak dibayar. Pensiunan swasta, ternyata punya kemewahan: sibuk sesuka hatinya.

Makanya, kawan saya berpesan buat siapapun yang masih bekerja di dunia swasta. Jangan samapi menyesal di masa pensiun. Sebabnya 1) konflik batin akibat gaji stop, pesangon cepat habis, dan nggak ada pensiun bulanan, 2) berjuang: untuk adaptasi waktu, cari kesibukan, dan buang gengsi, dan 3) kemenangan karena punya income baru, jadi lebih tenang dan lebih bebas.


Pesannnya lagi, jangan terllau asyik sama kerjaan. Tapi siapkan juga untuk pensiun, Nggak terasa, cepat atau lambat semua karyawan swasta bakal pensiun. Masalahnya, siap nggak lahir batin? Jangan cuma mengandalkan JHT BPJS Ketenagakerjaan doang, jangan kebanyakan cicilan. Apalagi kalau tabungan pas-pasan. Lebih baik siapkan dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Sebab kalau punya DPLK, pasti menolong banget untuk masa pensiun, apalagi bila dibayarkan secara bulanan. Biar kecil tapia da pemasukan tiap bulan untuk jagain kebutuhan dasar di hari tua.

 

Usaha dan dagang setelah pensiun? Jangan deh kalau nggak punya ilmunya. Kita puluhan tahun kerja, terus mau dagang, dari mana ilmu dan pengalamannya? Terbukti cuma indah di rencana, begitu dijalanin bangkrut. Belajar investasi saat usia tua juga telat dan susah. Intinya, siapkan aja pensiun. Asal fisik tetap sehat, mental tetap waras, Insya allah rezeki bisa dicari. #YukSiapkanPensiun

Literasi Orang Baik

Pernah mengalami nggak? Tiba-tiba ada orang yang tadinya dikenal baik, lalu berubah dingin. Bukan karena dia tiba-tiba jadi jahat. Tapi karena dia sudah terlalu capek jadi orang baik yang terus-terusan dikecewain. Sering disangka buruk, bahkan disakiti atas apa yang tidak dilakukannya. Fakta seperti itu ada di sekitar kita kan?

 

Ini kisah seorang kawan. Dulu dikenal orang paling nggak tegaan sedunia. Kalau ada teman yang sakit, dia yang pertama menggalang donasi. Kalau ada yang kerjaannya keteteran, dia yang stay hingga larut malam untuk bantu backup sekalipun bukan bagian dari jobdesc-nya. Semua orang senang sama dia. Ada pula orang yang punya kiprah sosial, berguna bagi orang banyak dan terasa manfaatnya. Orang-orang baik, sering mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membantu orang lain.

 

Hingga suatu hari, roda berputar. Sebut saja Si Fulan yang orang baik, tiba-tiab Bapaknya masuk ICU gara-gara serangan jantung. Fulan butuh uang cepat buat DP operasi karena BPJS-nya ada masalah administrasi. Malam itu dia nge-chat semua teman dekatnya di kantor yang dulu sering banget dia bantu. Dia cuma mau pinjem uang, gajinya bulan depan dia jaminin. Dari belasan orang yang dia chat, tahu berapa yang balas? Hanya tiga. Sisanya cuma ngebaca. Dan dari tiga orang itu, semuanya bilang: "Maaf banget ya lagi nggak ada uang nih."  

 

Besoknya, salah satu temannya yang nggak mau minjemin uang itu update story. Lagi makan di restoran All You Can Eat yang harganya 300 ribu per orang. Si Fulan hanya bisa ngeliatin layar HP-nya, lama banget lihatnya. Mukanya nggak marah, nggak nangis juga.

 

Tapi kelihatan dari raut wajah Si Fulan kosong. Pikirannya hampa. Kayak ada sesuatu di dalam dadanya yang benar-benar mati detik itu juga. Dan sedihnya, dua hari kemudian, bapaknya meninggal dunia ..... 

 

Setelah cuti duka seminggu, Fulan balik ke kantor. Dan dia berubah jadi orang yang sama sekali beda. Berubah jadi dingin dan kaku. Jam 5 sore langsung pulang. Ada kerjaan teman yang telat, dia memilih pakai earphone untuk langsung pulang. Begitu ada kawannya yang mau pinjam uang, dia langsung jawab datar tanpa menoleh: "Nggak ada." Nah, orang-orang mulai bisik-bisik di belakang dia. "Si Fulan sekarang sombong ya." "Si Fulan sekarang egois banget, pulangnya tepat waktu terus." Fulan pun mendengar itu dan rasanya jadi pengen ketawa. Ketawa miris. 

 

Terkadang memang capek jadi orang baik. Banyak orang menyedot energi orang baik kayak Si Fulan bertahun-tahun. Memanfaatkan kebaikannya untuk meringankan beban kerja temannya. Tapi giliran dunia dia hancur dan dia butuh bantaun teman-temannya, mereka malah pura-pura buta. Terus pas Si Fulan pasang tembok buat melindungi dirinya yang sudah hancur, teman-temannya menyebut dia sombong? Hellow, memangnya kalian siapa. Dunia memang tempat yang kejam buat orang baik. Orang baik cuma dihargai selama masih berguna. Tapi begitu orang baik butuh bantuan, semua temanya pergi dan hilang entah ke mana?  

 

Orang yang berubah dingin itu sebenarnya lagi masa berkabung. Dia lagi mengubur versi dirinya yang lama. Versi yang naif. Versi yang mikir kalau kita baik sama orang, maka orang lain bakal baik sama kita. Rasa sakit karena diperlakukan tidak adil itu ternyata jauh lebih parah dari luka fisik. Jadi, Si Fulan bikin mekanisme pertahanan diri: lebih baik nggak usah peduli sama sekali, daripada peduli tapi akhirnya ditinggal sendirian pas lagi jatuh.  

 

Terkdang, banyak orang baik yang akhirnya memilih jadi "penjahat" di cerita orang lain. Karena menilak untuk dimanfaatin dan berani mulai bilang "enggak". Mulai jaga jarah, membatasi diri, dan mulai enggan membantu. Bukan tanpa sebab, pasti ada alasannya. Dan saat mengambil sikap, maka orang-orang toxic di sekitarnya bakal bereaksi kaget dan bilang "Kok elo berubah sih?" Iya, pasti berubah. Karena kebaikan yang nggak dikasih batas itu namanya kebodohan. Dan akhirnya sadar, capek jadi orang bodoh yang baik.  

 

Orang-orang toxic yang banyak di kantor harusnya nggak bisa menyalahkan orang yang menarik diri dari lingkungan setelah kita melihat “warna asli” dari orang-orang di sekitarnya. Dinginnya Si Fulan itu ibarat luka yang sudah mengering. Apatisnya itu tameng, pelindung. Maka jangan berharap orang yang sudah “dibakar” rumahnya oleh rekan kerja masih berpikir tetap disediakan “the hangat” waktu orang-orang itu kedinginan. Nggak ada yang gratis di dunia ini, termasuk kebaikan hati orang.  

 


Terkadang jadi orang baik memang capek. Orang yang kerjanya menghadirkan senyum, ringan tangan, menebar kebaikan tapi di akhirnya disakiti, dimanfaatin, bahkan dipinggirkan. Waktu orang baik yang terus-terusan diinjak akhirnya meledak, ledakannya itu horor yang paling menyeramkan. Hantu paling menakutkan bukan setan. Tapi orang baik yang sudah nggak punya alasan berbuat baik lagi.  

 

Maka harus bisa dimengerti, pada akhirnya orang baik "berubah jadi dingin" karena sudah terlalu capek dimanfaatin orang lain. Orang baik nggak salah bila akhirnya bersikap, untuk melindungi dirinya sendiri dari parasit hidup. Bersikap tegas pada orang-orang toxic itu bukan kejahatan. Karena terkadang jadi orang baik itu capek!

 

Jumat, 29 Mei 2026

Jika Tangan Belum Bisa Meringankan Beban Orang Lain, Jangan Gunakan Mulut untuk Merendahkan

Ada nasihat bijak yang bagus nih. “Jika tanganmu belum bisa meringankan beban orang lain, setidaknya jangan gunakan mulutmu untuk merendahkan mereka”.

 

Faktanya dalam hidup ini, tidak semua orang selalu mampu membantu secara materi, tenaga, atau solusi. Namun, setiap orang tetap memiliki pilihan untuk menjaga ucapan dan sikapnya. Kata-kata yang merendahkan sering kali menambah beban psikologis seseorang yang sedang berjuang, sementara ucapan yang baik dapat menjadi sumber semangat dan harapan.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menghadapi tantangan yang tidak terlihat oleh orang lain. Ada yang sedang kesulitan ekonomi, mengalami masalah keluarga, atau berjuang meningkatkan kemampuan dirinya. Ketika seseorang menerima kritik yang menjatuhkan atau ejekan, rasa percaya dirinya dapat berkurang. Sebaliknya, kata-kata yang menghargai usaha dan proses akan membantu mereka tetap termotivasi untuk berkembang.

 

Bila ada orang-orang yang secara sukarela berkiprah di taman bacaan, jangan diganggu apalagi dihancurkan. Sebab taman bacaan bukan hanya tempat membaca buku, tetapi juga ruang tumbuh bagi anak-anak dan masyarakat. Pengelola, relawan, maupun pengunjung perlu menciptakan suasana yang aman dan mendukung. Anak yang masih terbata-bata membaca, misalnya, membutuhkan dorongan dan kesabaran, bukan celaan. Lingkungan yang penuh penghargaan akan membuat mereka lebih berani belajar dan mencoba hal-hal baru.

 


Ketika seorang anak kesulitan membaca sebuah cerita, relawan dapat berkata, “Bagus, kamu sudah berani mencoba. Ayo kita baca pelan-pelan bersama,” daripada mengatakan, “Masa begitu saja tidak bisa?” Contoh lain, jika ada remaja yang baru mulai aktif membantu kegiatan taman bacaan tetapi masih sering melakukan kesalahan, lebih baik memberikan arahan dengan kalimat, “Terima kasih sudah membantu. Mungkin bagian ini bisa kita perbaiki bersama,” daripada mengkritiknya di depan banyak orang. Dengan memilih kata-kata yang membangun, taman bacaan akan menjadi tempat yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, kepedulian, dan semangat belajar sepanjang hayat.

 

Jadi, jika tanganmu belum bisa meringankan beban orang lain, setidaknya jangan gunakan mulutmu untuk merendahkan mereka. Hidup akan lebih ringan jika kita memilih kata-kata yang membangun, bukan yang melukai. Salam literasi!