Rabu, 04 Februari 2026

Ikut Senam Literasi, Aparatur Desa Kedisan Gianyar Bali Puas Berkunjung ke TBM Lentera Pustaka: Studi Pengelolaan Taman Bacaan

 Adalah sebuah kehormatan bagi TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor yang hari ini dipilih menjadi tempat Studi Komparatif tentang Tata Cara Pengelolaan Pojok Baca Digital, yang diikuti oleh 28 aparatur Desa Kedisan Kec. Tegallalng Kab. Gianyar Bali (4/2/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian upaya peningkatan kapasitas aparatur desa Kedisan tahun 2026, di samping memberi pengalaman nyata aktivitas literasi yang dijalankan TBM Lentera Pustaka yang kini melayani lebih dari 200 anak pembaca aktif dari 4 desa di Kec. Tamansari.

 

Rombongan yang dipimpin oleh Pak Dewa Ketut Raka (Kades Kedisan Kab. Gianyar Bali) dan 27 staf diterima oleh Susilawati (Ketua Harian TBM Lentera Pustaka) didampingi relawan. Turut hadir pula Dudi (Sekdes Sukaluyu) dan 2 staf desa. Studi komparatif dan kunjungan literasi ini dilakukan untuk belajar dan mendapat pengalaman langsung dalam mendirikan taman bacaan atau pojok baca dan pengelolaannya. Mulai dari mendapatkan anak-anak usia sekolah yang mau membaca, relawan, dan program literasi yang dijalankan oleh TBM Lentera Pustaka.

 

“Kami aparatur desa Kedisan Gianyar sengaja ke sini untuk belajar pengelolaan taman bacaan. Karena anggaran kami sudah tersedia untuk mendirikan TBM, hanya gimana cara mulai dan mengelola TBM. Kami mengamati TBM Lentera Pustaka di Bogor terkenal aktif dan keren, maka kami koordinasi dengan pihak Desa Sukaluyu Kec. Tamansari untuk ke sini. Kami puas atas jawaban dan info yang diberikan, terima kasih” ujar Pak Dewa Ketut Raka (Kades Kedisan Kab. Gianyar Bali) dalam sharing session tadi.

 

Sengaja datang jauh-jauh dari Bali untuk melihat secara langsung aktivitas TBM, fasilitas dan prasarana serta berdialog bersama anak-anak dan orang tua yang kebetulan sedang “jam baca” di TBM Lentera Pustaka. Di samping menggali inspirasi untuk pengembangan literasi berbasis masyarakat di wilayahnya, rombongan aparatur desa Kedisan Gianyar. Pada sesi ngobrol santai di Rooftop Baca, TBM Lentera Pustaka memaparkan 15 program literasi yang dijalankan dan hari-hari operasional termasuk fungsi fasilitas ruang baca utama, kebun baca, rooftop baca dan gudang buku. Berbagai hal bisa dipelajari dari TBM yang sudah beroperasi 9 tahun ini sebagai model taman bacaan yang bisa dicontoh di Kab. Gianyar Bali. Dalam kesempatan ini, rombongan desa Kedisan Gianyar Bali juga menyerahkan donasi untuk biaya operasional TBM Lentera Pustaka.

 

“Terima kasih rombongan dari Desa Kedisan Gianyar Bali atas studi komparatif dan menjadikan TBM Lentera Pustaka sebagai rujukan. Kami senang berbagi cerita dan kisah nyata pengelolaan taman bacaan. Semoga taman bacaan di Bali bisa segera berdiri, kami akan diundang untuk menengoknya bila sudah berjalan” kata Susilawati siang tadi.

 


Selama 2,5 jam di Lokasi dan disambut hangat dengan hidangan khas TBM “rebusan tampah”, rombongan aparatur desa Kedisan juga bangga dengan sopan santun anak-anak TBM Lentera Pustaka yang terbiasa cium tangan kepada tamu. Bahkan rombongan ikut bersuara saat dilantunkan salam literasi dan doa literasi serta bergoyang ala senam literasi TBM Lentera Pustaka.  

“TBM Lentera Pustaka ini luar biasa, sangat welcome melayani tamu seperti kami dari Bali. Tata kelola dan manajemen TBM-nya tertib, dan didukung sinergi TBM dan masyarakat untuk menghidupkan aktivitas literasi. Bagus dan kreatif, kami ingin kembangkan model taman bacaan ini di Bali” ujar salah satu anggota rombongan.

 

Tentu bukan tanpa alasan aparatur desa Kedisan Gianyar Bali memilih TBM Lentera Pustaka sebagai tempat studi komparatif. Selain konsistensi dalam berkegiatan, jumlah anak-anak pembaca aktifnya sangat banyak. Hal penting yang harus dipelajari. Ada kolaborasi melalui CSR, ada sinergi dengan komunitas dan organisasi, bahkan rutin menggelar event literasi di taman bacaan setiap bulan. Dari studi komparatif ini, tercermin pesan akan pentingnya praktik baik berliterasi yang dijalankan dengan komitmen tinggi dan konsistensi sepenuh hati. Agar tradisi baca dan budaya literasi masyarakat semakin meningkat. Salam literasi #StudiKomparatif #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #DesaKedisan




Selasa, 03 Februari 2026

Selalu Lebih Baik di Taman Bacaan

 

Pastikan hari ini lebih baik. Tidak ada orang yang sempurna, tidak pula ada orang yang tidak punya masalah. Tapi semuanya harus dijalnai, harus dihadapi. Maka apapun alasannya, pastikan hari ini lebih baik.

   

Kita itu tidak bisa menilai diri kita sendiri. Hanya orang lain yang bisa menilai kekurangan dan kelemahan kita. Tetaplah belajar instrospeksi diri saat orang lain memberikan masukan atau nasihat, karena itu yang akan memajukan kita. Selagi baik terima dan kerjakan saja.

 

Tidak perlu menyalahkan siapapun dalam hidup. Karena orang-orang baik akan memberikan kebahagiaan, sementara orang-orang buruk sampai kapanpun akan memberikan pengalaman. Orang-orangg terburuk pasti jadi pelajaran, sedangkan orang-orang terbaik akan jadi kenangan. Jadi jangan pusing soal-soal yang telah lalu dan telah lewat, cukup ambil pelajaran dari setiappenggalan kehidupan kita. Selalu ada tawa, selalu ada air mata yang silih berganti. Biarlah semuanya menjadi bagian perjalanan hidup dan membuat kita semakin dewasa dalam jalan kehidupan.

 


Biar bagaimana, kita punya dan diberikan kehidupan yang sangat berharga. Tapi kita sering kali kurang menghargai waktu dan masa hidup itu sendiri. Tidak ada hidup yang sia-sia, semuanya pasti berguna. Tinggal cara kita menyikapi dan menggunakannya, untuk apa? Sebab hidup pasti bernilai, jauh lebih bernilai daripada batu permata. Itulah sebabnya agar kita tidak menyesal di kemudian hari, maka kita harus menjalani hidup dengan baik. Berikan yang terbaik, bekerja dengan maksimal, dan selalu tebarkan manfaat di mana pun.

 

Begitulah spirit yang selalu hadir di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. Setiap waktu selalu digunakan untuk berbuat baik dan menebar manfaat. Mendamping anakanak yang membaca, mengajar calistung, memberantas buta aksara, hingg berkiprah secara sosial untuk meningkatkan kegemaran membaca anak-anak usia sekolah. Tidak ada yang sia-sia, semuanya akan kembali kepadayang melakukannya. Siapa yang menabur maka dia yang akan menuai hasilnya.

 

Maka jangan pernah sesali apa yang sudah pergi, jangan tangisi apa yang sudah berlalu. Biarlah semua berjalan sesuai kehendak-Nya. Bangkitlah dan kerjakan apapun yang lebih baik. Teruslah bertumbuh, teruslah belajar, teruslah berjuang. Dan pastikan hari ini lebih baik. Salam literasi!




Kenali Anda Tipe Pekerja Seperti Apa di kantor?

 

Ini penting buat orang-orang yang kerja. Di kantor itu, sebenarnya kayak ekosistem kecil. Orang-orangnya beragam dan punya banyak model. Sebut saja tipe orang-orang kerja di kantor.

 

Ada “si pekerja benaran”. Kerjanya rapi, konsisten, bisa diandalin. Hari-harinya jarang ribut, mau digaji berapapun diam saja. Jarang pamer dan nggak terlibat politik kantor. Sayangnya, dia sering under-recognized padahal dia tulang punggung tim. Sebaliknya, ada “si pekerja ambisius”. Orientasinya Cuma target, nafsu banget naik jabatan, pengen cepat terlihat. Kerjanya bisa bagus, bisa juga jelek. Bolehlah disebuat pekerja setengah matang. Fokusnya cuma “kelihatan sukses”. Model begini, kalau sehat bisa jadi pendorong tim. Tapi kalau nggak bisa jadi sumber drama di kantor.

 

Ada juga “pekerja si penjilat”. Selalu pintar membaca selera atasan, loyalitasnya ke orang bukan ke kerjaan. Ada maunya di setiap perbuatan “baik”. Selalu berusaha untuk aman di segala keadaan, tentua sampai situasi berubah. Sementara “pekerja si oportunis”. Bilangnya hanya ikut arus tapi dipilih yang menguntungkan dia saja. Netral di konflik, tapi cepat pindah orientasi. Kalau kerja jarang salah, tapi jarang benar juga.

Ada lagi “pekerja si drama”. Kerjanya biasanya saja. Tapi masalah kecil sukda dibikin jadi gosip besar. Heboh banget, energinya habis buat konflik, bukan solusi. Biasanya kantor tanpa orang begini jadi lebih tenang. Sementara “pekerja si manipulator” lain lagi. Senangnya main kata-kata, bukan kerja. Dia paling senang kalau meeting, doyan putar cerita biar dia dianggap sebagai korban atau pahlawan. Bikin orang lain ragu sama persepsinya sendiri. Temannya “pekerja si toxic pasif”. Kelakuaknya nggak frontal, tapi kerjanya nyindir. Sering ngerem kerjaan diam-diam. Akhirnya bikin suasana kantor jadi berat tanpa kelihatan arahnya mau ke mana?

 

Tapi ada juga pekerja yang orientasinya positif. Sebut saja “pekerja di polos”. Ini pekerja terlalu baik. Niatnnya tulus, tapi gampang dimanfaatkan. Sulit bilang “nggak” kepada siapapun. Kerja banyak tao kredit sedikit. Ada lagi “pekerja si realistis”. Kerja nyasesuai jobdesc saja, hidupnya juga seimbang. Waktunya kerja ya kerja waktunya pulang ya pulang. Nggak cari ribut, nggak cari muka dan nggak mau dimanfaatkan. Stabil, jarang jadi sorotan di kantor. Dan ada “pekerja si visioner”. Kerjanya selalu melihat jauh ke depan. Kadang idenya kejauhan dari kondisi lapangan dan butuh eksekutor biar jalan. Begitulah tipe-tipe pekerja di kantor.

 

Tentu saja, nggak ada pekerja yang 100% di satu tipe. Kebanyakan itu campuran, tergantung: posisinya sebagai apa?, tekanan kerjaan, dan budaya kantornya.

 


Tapi yang perbedaan mencolok di kantor. Saya sering lihat orang kerja yang baik di kantor. Niatnya tulus. Kerjanya benar. Nggak pernah neko-neko. Tapi anehnya, dia sering diabaikan. Bukan karena dia nggak layak. Tapi karena nggak pernah menjual dirinya sendiri. Mikirnya sederhana, kerja yang bagus saja sudah cukup. Lupa, padahal di kantor, kalau kita nggak ngomongin kontribusi maka orang lain yang akan ngomong. Akhirnya, kalah melulu di kantor. Kalah gaji, kalah nggak dipromosi, bahkan kalah di mata atasannya senditri.

 

Sementara lawannya, sebut saja “orang licik” di kantor. Pekerja jahat, yang kelihatannya sibuk dan pintar, tapi niatnya nggak lurus. Kerjanya nggak ada tapi banyak omong. Kerjaannya banyak gaya, tapi minim hasil. Rajin ambil panggung, jarang ambil tanggung jawab. Bahkan selalu merasa tersaining bila ada orang lain yang lberkontribusi positif. Giliran sukses katanya “gue banget”. Tapi kalau gagal: “kan bukan gue”. Sering main aman, tapi diam-diam lempar orang lain ke depan bus. Arogan dan subjektif banget otaknya.

 

Hati-hati di kantor itu bukan orang baik semua. Ada yang licik ada yang cuma cari panggung. Entah tujuannya apa? Makanya ada yang namanya  “politik kantor”, biasanya diperagakan oleh-oleh jahat saat bekerja dan ada di kantor. Sementara pekerja lainnya, sudah bersyukur bisa kerja dan dapat gaji. Nggak ribut, tapi konsisten. Nggak cari sorotan, tapi hasilnya kepake. Sering dianggap “biasa”, padahal fondasi tim

 

Ironisnya, dunia kantor sering lebih cepat notice sama yang ribut daripada yang benar. Lebih peduli sama pekerja yang banyak drama daripada yang polos. Jadi hati-hati saja, dan tetaplah bekerja dengan tulus dan rapi karena pekerja beitu lebih susah diganti. Kalau resign pun, susah cari gantinya.

 

Dan harus diakui, di dunia kerja, rendah hati itu bagus. Tapi nggak mau nunjukkin kontribusi pun akhirnya bisa membunuh karier. Orang baik di kantor bukan kalah, cuma nggak kelihatan dan terlalu polos dalam bekerja. Dan ingat, jangan sampai puluhan tahun kerja tapi nggak punya dana pensiun. Sebab suatu kali di PHK atau disuruh resign, kan harus tetap punya tabungan untuk biaya hidup setelah tidak bekerja lagi. Itulah pentingnya pekerja punya dana pensiun.

 

Jadi, kamu termasuk pekerja yang model gimana nih? Atau mau dikenal sebagai pekerja tipe yang mana?

 

Ada Kepuasan Batin Tak Ternilai saat Berkiprah di Taman Bacaan

 

Ada kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan uang ketika kita komitmen berkiprah di aktivitas sosial. Sama seperti ada kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang ketika kita menikmati hasil dari jerih payah sendiri. Sekalipun mungkin kata orang lain, jalannya lebih lambat dan prosesnya berliku. Bahkan mungkin lelahnya lebih terasa. Namun, di setiap tetes keringat dan lelah bersosial, selalu ada harga diri yang terjaga.

 

Selalu ada kepuasan batin saat berkiprah di taman bacaan. Sesuatu yang lahir dari makna, bukan dari materi. Kenapa? Saat berkiprah di taman bacaan memberi rasa puas karena merasa berguna bagi orang lain. Melihat anak yang awalnya tidak punya akses baca jadi mulai jatuh cinta pada buku. Berani bermimpi karena bacaan hingga menumbuhkan rasa “hidup jadi ada artinya.”

 

Berkiprah di taman bacaan, ikut menyalakan harapan. Taman bacaan bukan sekadar rak buku, tapi ruang tumbuh. Saat kita terlibat, kita sadar sedang menanam benih masa depan. Kepuasan ini datang dari kesadaran bahwa kita ikut memperbaiki sesuatu, sekecil apa pun. Menjadi kebahagiaan yang tenang dan tahan lama.

 

Berbeda dengan kepuasan materi yang cepat habis, kepuasan batin bersifat sunyi tapi dalam. Ia tinggal lama, bahkan ketika lelah, karena berakar pada nilai. Lebih dari itu, di taman bacaan, kita belajar sabar, empati, konsistensi, dan rendah hati. Ada kebahagiaan ketika kita bertumbuh sambil membantu orang lain untuk tumbuh pula.

 


Banyak pegiat TBM merasa “ini tempatku.” Bukan karena fasilitas, tapi karena hati merasa selaras dengan yang dikerjakan. Puas secara batin, tentu jadi sebab sehat secara fisik. Kepuasan yang muncul karena kita tidak sekadar melakukan sesuatu, tapi menjadi bagian dari sesuatu yang bermakna. Uang bisa membayar tenaga, tapi tidak bisa membeli rasa cukup, bangga secara diam-diam, dan damai karena memberi yang berdampak.

 

Di banyak tempat, mungkin memberi cara instan. Dunia mungkin menawarkan jalan pintas. Tapi di taman bacaan, kita diingatkan bahwa kemajuan sejati lahir dari kepuasan batin saat mampu berkontribusi sekecil apapun kepada orang lain. Sekalipun jalannya berliku, taman bacaan memberi pengalaman pahit-manis yang bermakna. Dan akhirnya, menjadi tuan atas kiprah sosial diri sendiri adalah kemerdekaan yang sesungguhnya. Maka jangan takut berproses, karena hasil yang dipetik dari pohon yang kita tanam sendiri akan terasa jauh lebih manis. Salam literasi!

 



Senin, 02 Februari 2026

Pengen Pensiun Seperti Ibu Chen Shu-chu Pedagang Sayur di Taiwan

Mau seperti apa kita di masa pensiun? Banyak orang bingung di hari tua, setelah tidak bekerja lagi dan tidak punya gaji lagi. Dari cerita yang beredar, ada beragam aktivitas yang dilakukan setelah pensiun. Ada yang mau menikmati hari tua dengan menekuni hobi yang tidak sempat dikerjakannnya saat bekerja. Ada yang masih ingi bekerja karena untuk mengisi waktu luang di hari tua. Ada pula yang ingin bisnis atau usaha, mungkin karena uangnya cukup.

 

Tapi adakah pensiunan yang mau mengisi hari-hari tuanya dengan aktivitas sosial? Menjadi seorang filantropis atau pekerja sosial untuk membantu masyarakat yang membutuhkan? Tentu, ada yang mau ada yang tidak. Tergantung kondisi seperti apa di masa pensiun.

 

Tapi sebagai inspirasi, mungkin kisah nyata Chen Shu-chu dari Taiwan bisa disimak untuk calon pensiunan. Chen Shu-chu, perempauan kelahiran tahun 1951. Kerjaannya "cuma" penjual sayur di pasar tradisional Taitung di Taiwan Timur. Hidupnya sangat hemat, bahkan cenderung pelit pada diri sendiri. Dia makan nasi kecap tahu setiap hari dan tidur di lantai. Tapi dunia dibuat gempar olehnya. Karena di hari tuanya, ia telah menyumbangkan Rp 3,2 miliar untuk membangun perpustakaan sekolah dan Rp 4,5 miliar untuk panti asuhan dan rumah sakit. Totalnya hampir Rp 7,7 miliar telah disumbangkan untuk sosial di hari tua.

 

Uang sebanyak itu bukan dari warisan, bukan pula akumulasi dana pensiun yang diperoleh selama bekerja. Tapi receh demi receh yang dikumpulkan dari keuntungan menjual kol, kangkung, dan bayam selama puluhan tahun di pasar. Dia bergadang 18 jam sehari tanpa libur. Begitulah etos kerjanya sebagai pedagang sayur.

 

Bisnis Chen yang penjual sayur tentu tidak ada di lantai bursa. Sahamnya pun tidak pernah anjlok. Hidupnya hanya mengutamakan memberi daripada menerima. Dengan gaya hidup sangat sederhana, ia menyumbangkan sebagian besar penghasilannya untuk pendidikan dan kebutuhan anak-anak, kesehatan, dan kesejahteraan sosial. Dia mendedikasikan dirinya untuk filantropi, untuk orang-orang yang membutuhkan. Sebuah kondisi pensiun yang ideal.

 

Chen percaya bahwa uang lebih berguna bagi mereka yang membutuhkan daripada disimpan sendiri. Dalam hidupnya, Chen berprinsip bahwa uang tidak dibawa mati, sehingga lebih bermanfaat jika disumbangkan untuk membantu orang lain. Baginya, saat memberi harus tulus karena memberi bukan tentang seberapa banyak uang yang disumbang, melainkan seberapa besar manfaat uang tersebut bagi orang lain. Hiduplah sederhana dan hemat, seperti dia  hanya makan nasi dan tahu yang diawetkan, serta tidak memprioritaskan barang-barang mewah. Tidak konsumtif, tidak bergaya hidup apalagi hedon.

 

Chen selalu menemukan kebahagiaan dan kepuasan dalam membantu orang lain, terlepas dari statusnya sebagai penjual sayur yang sederhana. Baginya, uang hanya berguna bila dipakai untuk membantu orang yang membutuhkan. Karena uang banyak bila tidak disumbangkan hanya tumpukan kertas semata. Sikapnya yang dermawan di hari tua, membuat hidupnya jauh dari kemewahan. Tapi hebatnya, dia merasa bahagia setelah menyumbang dan membantu orang lain.

 


Saat ditanya, kenapa Chen di hari tuanya tidak menikmati uangnya untuk jalan-jalan atau beli rumah bagus? Ternyata jawabannya menohok, "Uang itu hanya berguna jika digunakan untuk membantu orang yang membutuhkannya. Kalau cuma ditumpuk, dia cuma kertas." Ini bukan tentang jumlah uang yang dihasilkan tapi bagaimana kita menggunakan uang, katanya.

 

Memang mengikuti jejak Chen untuk masa pensiun tergolong susah. Tapi setidaknya, inspirasi untuk memanfaatkan waktu di hari tua dengan kegiatan sosial dan filantropis bisa jadi pilihan. Bukan untuk menyumbang uang sebesar Chen, tapi berkiprah secara sosial seperti yang dilakukan Chen. Karenanya, sangat penting menyiapkan kondisi finansial yang mandiri di hari tua, ada kesinambungan penghasilan di masa pensiun. Agar bisa melakukan aktivitas sosial dengan tenang dan bermanfaat untuk orang lain. Pensiun ideal kan tidak harus jadi dermawan. Tapi menghabiskan waktu untuk kegiatan sosial juga baik. Maka siapkan masa pensiun sedini  mungkin, diantaranya milikilah dana pensiun. Agar tetap nyaman dan sejahtera di hari tua, saat tidak bekerja lagi.

 

Atas kedermawanannya, Chen pun masuk dalam daftar bergengsi "100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia" versi Majalah Time tahun 2010, menerima penghargaan Ramon Magsaysay Award, dan diakui sebagai salah satu Pahlawan Filantropi oleh Forbes Asia. Di hari tuanya, Chen bisa jadi inspirasi banyak calon pensiun.

 

Dan ternyata, tidak semua filantropis kaya raya. Membantu orang lain tidak harus berlimpah harta. Tidak mesti kaya dulu untuk bisa memberi donasi kepada orang-orang yang membutuhkan. Persis seperti dana pensiun, tidak perlu menabung uang besar untuk bisa Sejahtera di hari tua. Cukup sadar untuk mempersiapkan hari tua dengan baik. Agar tidak bergantung kepada anak di masa pensiun.

 

Mulailah rancang masa pensiun kita, mau seperti apa dan mau bagaimana? #YukSiapkanPensiun




Nyumbang Nggak Harus Kaya, Kisah Filantropis dari Negeri Taiwan

Kerjaannya cuma penjual sayur di pasar tradisional Taitung di Taiwan Timur. Hidupnya sangat hemat, bahkan cenderung pelit pada diri sendiri. Dia makan nasi kecap tahu setiap hari dan tidur di lantai. Tapi dunia dibuat gempar ketika tahu ke mana larinya uang hasil jualan sayurnya puluhan tahun?

 

Namanya Chen Shu-chu, dia tidak berlimpah harta dan hanya penjual sayur. Tapi dia masih bersemangat mendonasikan sebagian besar penghasilannya receh menjual sayur sehari-hari untuk tujuan amal. Selama hidupnya, Perempuan ini telah menyumbangkan Rp 3,2 miliar untuk membangun perpustakaan sekolah dan Rp 4,5 miliar untuk panti asuhan dan rumah sakit. Totalnya hampir Rp 7,7 miliar! Uang sebanyak itu bukan dari warisan. Tapi dikumpulkan receh demi receh dari keuntungan menjual kol, kangkong, dan bayam selama 50 tahun. Dia bekerja 18 jam sehari tanpa libur.

 

Sebagai UMKM, usaha Chen tidak ada di lantai bursa. Baginya, uang hanya berguna bila dipakai untuk membantu orang yang membutuhkan. Karena uang banyak bila tidak disumbangkan hanya tumpukan kertas semata. Tiap keuntungan dari usahanya, setelah dipotonga untuk pengeluaran pribadinya, selalu disumbangkan. Sikapnya yang dermawan, membuat hidupnya jauh dari kemewahan. Bahkan hidupnya masih bergelut dengan kemiskinan. Tapi hebatnya, dia merasa bahagia setelah menyumbang dan membantu orang lain.

 

Bukan tanpa sebab, Chen harus meninggalkan bangku sekolah untuk menopang keluarga di usia muda. Ibunya meninggal usai persalinan yang sulit dan saudara laki-lakinya menyusul sang ibu beberapa tahun kemudian. Semuanya karena keluarga Chen tidak mampu membiayai perawatan kesehatan. Alih-alih membuatnya menjadi orang yang kikir, kemiskinan dan kesulitan hidup di masa lalu membuatnya lebih dermawan kepada orang-orang yang lebih malang daripada dirinya. Hidupnya penuh sejarah pahit.

 

Chen Shu-chu, hanya penjual sayur dari Taiwan. Tapi hidupnya mengutamakan memberi daripada menerima. Dengan gaya hidup sangat sederhana, ia menyumbangkan sebagian besar penghasilannya untuk pendidikan dan kebutuhan anak-anak. Dia percaya bahwa uang lebih berguna bagi mereka yang membutuhkan daripada disimpan sendiri. Beberapa prinsip hidupnya patut dicontoh. Chen berprinsip bahwa uang tidak dibawa mati, sehingga lebih bermanfaat jika disumbangkan untuk membantu orang lain. Baginya, saat memberi harus tulus. Karena memberi bukan tentang seberapa banyak uang yang disumbang, melainkan seberapa besar manfaat uang tersebut bagi orang lain.  Hiduplah sederhana dan hemat, dia  hanya makan nasi dan tahu yang diawetkan, serta tidak memprioritaskan barang-barang mewah. Selalu kerja keras hingga 18 jam sehari, enam hari seminggu di pasar untuk mengumpulkan dana yang akan disumbangkan. Dan Chen selalu menemukan kebahagiaan dan kepuasan dalam membantu orang lain, terlepas dari statusnya sebagai penjual sayur sederhana. 

 


Atas kedermawanannya itu, Chen masuk dalam daftar bergengsi "100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia" versi Majalah Time tahun 2010, menerima penghargaan Ramon Magsaysay Award, dan diakui sebagai salah satu Pahlawan Filantropi oleh Forbes Asia

 

Saat ditanya, kenapa Chen tidak menikmati uangnya untuk jalan-jalan atau beli rumah bagus? Katanya, "Uang itu hanya berguna jika digunakan untuk membantu orang yang membutuhkannya. Kalau cuma ditumpuk, dia cuma kertas. Dan setiap orang bisa menyumbang, bukan hanya saya”. Ini bukan tentang jumlah uang yang dihasilkan tapi bagaimana kita menggunakan uang. Ternyata, uang tidak begitu penting karena setelah mati kita tidak akan membawanya.

 

Sebuah pelajaran penting, ternyata tidak semua filantropis kaya raya. Bersikap dermawan tidak harus berlimpah harta. Maka tidak mesti kaya dulu untuk memberi donasi atau sumbangan kepada yang membutuhkan. Salam literasi!



Akal Manusia

Manusia sering lupa. Bahwa sejatinya manusia itu datang ke dunia tanpa taring, tanpa cakar, tanpa perisai. Tubuhnya rapuh jika dibandingkan dengan banyak makhluk lain. Tapi ada satu hal yang ia bawa sejak awal, sesuatu yang tidak terlihat namun menentukan segalanya yaitu akal. Dari sanalah manusia mulai bertahan, melangkah, dan membangun arti hidupnya. Bukan untuk angkuh atau arogan. Tapi untuk mengabdi kepada-Nya.

 

Akal membuat manusia belajar dari rasa sakit, membaca tanda-tanda, dan memilih jalan. Akal yang harusnya bisa membedakan yang baik mana yang buruk. Akal pula yang menentukan derajat dan martabat manusia. Akal bukan sekadar alat untuk berpikir, tapi juga untuk menimbang, menahan diri, dan memahami akibat. Dengan akalnya, manusia mengubah kelemahan menjadi daya. Ia mencipta alat, aturan, dan nilai, bukan karena kuat. Tapi karena mampu berpikir jauh ke depan.

 


Lalu, mengapa masih ada manusia yang tidak mau menggunakan akalnya? Hingga hatinya mati, hidupnya dipenuhi prasangka buruk bahkan kezoliman yang dibuat untuk orang lain. Hai manusia, siapakah kalian? Dari mana dan mau ke mana nantinya setelah berakhir hidup di dunia?

 

Hati-hatilah manusia. Ketika akal tidak digunakan, manusia sebenarnya sedang melepaskan satu-satunya senjata yang ia miliki. Bukan tubuh yang membuat manusia jatuh, melainkan pikiran yang dibiarkan tumpul. Selama akal dijaga, diasah, dan digunakan, manusia selalu punya cara untuk bertahan, bahkan di dunia yang paling keras sekalipun.

 

Hanya akal yang bisa mengubah manusia jadi lebih baik. Jangan remehkan akal selagi sehat. Salam literasi!

 

Minggu, 01 Februari 2026

Biarkan IHSG Anjlok, Asal Pekerja Tetap Siap Pensiun

Lagi ramai nih, soal IHSG anjlok lalu bos BEI dan pejabat OJK mundur. Sarannya, biasa-biasa saja dan tidak usah khawatir. Urusan pasar dan pasar modal kayak begitu sudah biasa. IHSG anjlok itu siklus, bukan kiamat. Pasar saham memang naik–turun. Krisis datang dan pergi, tapi dalam jangka panjang ekonomi terus tumbuh. Tidak usah panik bila IHSG anjlok, apalagi yang tidak punya saha tidak punya dana pensiun.

 

Sebagai pekerja tidak usah peduli IHSG anjlok, justru peduli bila tidak siap pensiun. Tidak punya dana pensiun, apalagi sudah puluhan tahun kerja. Kalau IHSG itu soal hari ini. Tapi dana pensiun itu soal hidup puluhan tahun ke depan, setelah tidak bekerja dan tidak punya gaji lagi. Dan lagi pula, IHSG atau saham tidak akan menanggung hidup kita di hari tua, di masa pensiun.

 

Biarkan saja IHSG anjlok. Risiko kita bukan karena pasar turun tapi kita tidak siap pensiun. Saat ini 9 dari 10 pekerja sama sekali tidak siap berhenti kerja atau pensiun. Bahkan 1 dari 2 pensiunan mengalami masalah keuangan di hari tuanya. Mengandalkan transferan dari anak-anaknya untuk biaya hidup di hari tua. Itu semua karena tidak tersedianya dana yang cukup untuk biaya hidup di hari tua, akibat tidak punya persiapan pensiun.

 

Kita sepakata, waktu adalah senjata utama dana pensiun. Dana pensiun bukan buat besok atau tahun depan. Dengan horizon 20–30 tahun, fluktuasi jangka pendek jadi “noise”, yang penting disiplin setor iuran dan konsisten siapkan hari tua kita sendiri. Risiko terbesar itu bukan pasar turun, tapi tidak siap pensiun. IHSG bisa pulih. Tapi waktu yang hilang karena tidak menabunguntukpensiun tidak bisa diputar ulang. Banyak orang takut investasi, tapi lupa takut hidup tanpa penghasilan di usia tua.

 

Dana pensiun tidak cuma saham. DPLK dan dana pensiun dikelola secara diversifikasi, bisa ke SBN, obligasi, pasar uang, atau saham. Jadi bukan taruhan satu kartu. Saat saham jatuh, instrumen lain menahan guncangan. Mentalitas pensiun itu tenang, bukan panik. Orang yang panik saat pasar turun biasanya tidak punya tujuan jangka panjang. Dana pensiun itu kebalikannya: tujuan jelas, proses panjang, dan emosi harus stabil.

 

Jangan takut IHSG anjlok. Tapi takutlah bila di masa pensiun tidak punya uang, tidak bisa memenuhi standar hidup seperti saat bekerja. Jangan sampai kita “gagal bayar” (Listrik,, wifi, air atau biaya hidup lainnya) di hari tua akibat tidak punya dana pensiun. Sebagai pekerja, siapapun harus mempersiapan masa pensiunnya sendiri. Syukur-syukur bila disediakan dari kantor. Jadi, yuk siapkan pensiun!

 

Gagal bayar, dalam istilah keuangan, digambarkan suatu keadaan saat seseorang atau korporasi tidak dapat memenuhi kewajibannya dan tidak mampu memenuhi standar hidupnya. Gagal bayar bisa dibilang proses menuju bangkrut atau pailit. Lebih besar pasak daripada tiang, karena jumlah kewajiban yang harus dibayar lebih kecil dari ketersediaan uang yang ada. Apapun motifnya, gagal bayar terjadi akibat kelalaian.

 


Nah, salah satu cara untuk siap pensiun adalah menjadi peserta DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Menjadi peserta DPLK agar tidak anjlok ekonominya di masa pensiun, agar tetap mampu mempertahankan stnadar hidup. DPLK jadi sebab mandiri secara finansial di hari tua, agar tidak bergantung kepada anak atau keluarga saat tidak bekerja lagi. DPLK memang dirancang khusus untuk kesinambungan penghasilan di hari tua. Punya uang yang cukup untuk biaya hidup di saat pensiun.

 

Kenapa siapkan masa pensiun di DPLK? Karena DPLK, setidaknya punya manfaat utama yaitu ada kepastian dana untuk hari tua, ada hasil investasi yang optimal karena jangka panjang, bisa mandiri secara finansial, dan punya kesinambungan penghasilan saat tidak kerja lagi. Maka agar tidak “gagal bayar” di masa pensiun. Mulailah untuk mempersiapkan masa pensiun sejak dini.  Karena setiap orang, setiap pekerja tidak akan bekerja terus. Ada saat bekerja ada saat pensiun.

 

Singkatnya, IHSG boleh jatuh, asal masa tua kita tidak ikut jatuh. Biarkan IHSG anjlok, risikonya bukan pasar turun tapi tidak siap pensiun. Ketahuilah, pensiun itu bukan soal waktu tapi soal keadaan.… #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

 


CSR Bermanfaat, Periksa Kesehatan Gigi 200 Anak Pembaca Aktif

Menggandeng GWS Medika, Bank Sinarmas gelar CSR periksa kesehatan gigi untuk 200 anak sekolah di Taman Bacaan Lentera Pustaka Bogor (1/2/2026). Kegiatan ini sekaligus untuk memberikan edukasi dan akses kesehatan masyarakat secara langsung, di samping menjadi bagian program tanggung jawab sosial perusahaan. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran kesehatan gigi, mendeteksi masalah gigi sejak dini, dan mengajarkan kebiasaan sehat.

 

Ditangani oleh 6 dokter gigi GWS Medika seperti drg. Alivia, drg. Arvina, drg. Rania, drg. Yoga, dan drg. Tomo dan 9 perawat, kegiatan sosial ini diawali dengan edukasi dan penyuluhan cara sikat gigi yang benar, periksa gigi, dan catatan kondisi gigi. Turut hadir dalam cara ini Retno Tri Wulandari (Head of Corporate Secretary Bank Sinarmas), Narita Kusumawardhani, Epul Saepulloh, Carlos, dan Ramdhan (Bank Sinarmas), Syarifudin Yunus (Pendiri TBM Lentera Pustaka), 20 relawan TBM, dan disaksikan oleh 260 anak dan ibu pengguna layanan TBM Lentera Pustaka.

 

Acara yang berlangsung dari pukul 09.00-12.30 WIB disambut antusias oleh masyarakat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma (gratis). Dengan kupon antrean, setiap anak bergiliran untuk periksa gigi dan mendapat tindakan dan catatan kondisi gigi sebagai tindak lanjut. Anak-anak diperiksa akan kondisi gigi, gusi, lidah, dan mulut, dan deteksi dini gigi berlubang atau infeksi.

 


Dalam event kepedulian sosial ini, Bank sinarmas juga meluncurkan program CSR tahun 2026 di TBM Lentera Pustaka yang mencakup perbaikan kebun baca, pembangunan gudang buku, penutupan got, tembok – pagar, dan bantuan 100 kaos TBM, di samping menjadi mitra korporasi yang membina aktivitas TBM Lentera Pustaka. Ke depan, Bank Sinarmas juga menjadikan anak-anak TBM Lentera Pustaka laboratorium literasi finansial untuk edukasi akan pentingnya menabung di bank ke anak-anak usia sekolah dan para relawan.

 

"TBM Lentera Pustaka ucapkan terima kasih untuk Bank Sinarmas dan GWS Medika atas kegiatan edukasi dan periksa gigi 200 anak pembaca aktif kami. Sungguh, kontribusi Bank Sinarmas ke TBM Lentera Pustaka sangat luar biasa, sangat peduli pada pendidikan anak dan gerakan literasi. Sinergi yang nyata untuk masyarakat" ujar Syarifudin Yunus, Kepala Program TBM Lentera Pustaka.




Sabtu, 31 Januari 2026

Diikuti 200 Anak Pembaca Aktif, Bank Sinarmas dan GWS Medika Gelar CSR Tahun 2026 di TBM Lentera Pustaka

Sebagai bentuk kepedulian sosial (Corporate Social Responsibility), Bank Sinarmas meluncurkan Program CSR tahun 2026 bertajuk "Peduli Literasi dan Pendidikan" di TBM Lentera Pustaka di Bogor, Minggu (1/2/2025). Menggandeng GWS Medika, Bank Sinarmas melakukan edukasi dan periksa Kesehatan gigi 200 anak usia sekolah sebagai bagian program tanggung jawab sosial perusahaan. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran kesehatan gigi, mendeteksi masalah gigi sejak dini, dan mengajarkan kebiasaan sehat.

 

Penyerahan dilakukan langsung oleh Retno Tri Wulandari, Head of Corporate Secretary Bank Sinarmas dan diterima oleh Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka disaksikan oleh 200 anak pembaca aktif. Ikut hadir dalam event CSR ini: Narita Kusumawardhani, Epul Saepulloh, Carlos, dan Ramdhan (Bank Sinarmas), puluhan ibu, wali baca, dan relawan TBM Lentera Pustaka. Adapun tim dokter GWS Medika yang hadir drg. Alivia, drg. Arvina, drg. Rania, drg. Yoga, dan drg. Tomo dan tim yang melakukan edukasi & penyuluhan, periksa gigi, dan bantuan sikat dan pasta gigi.

 

"Peluncuran CSR Bank Sinarmas tahun 2026 ini sebagai bentuk tanggung jawab sosial kami terhadap pendidikan anak dan gerakan literasi. Kami senang dapat mengajak GWS Medika untuk edukasi dan periksa gigi gratis kepada 200 anak-anak sekolah. Selain menyalurkan bantuan renovasi perbaikan kebun dan Pembangunan gudang buku. Semoga bermanfaat dan jadi motivasi anak-anak untuk terus membaca buku” ujar Retno Tri Wulandari, Head of Corporate Secretary Bank Sinarmas dalam sambutannya.

 

Di tahun 2026 ini, Bank Sinarmas menyalurkan CSR ke TBM Lentera Pustaka berupa perbaikan kebun baca, pembangunan gudang buku, penutupan got, tembok – pagar, dan bantuan 100 kaos TBM. Di samping dukungan biaya operasional taman bacaan selama tahun 2026 sekaligus emnjadikan TBM Lentera Pustaka sebagai laboartorium literasi finansial untuk edukasi akan pentingnya menabung di bank ke anak-anak usia sekolah dan para relawan. Sebelumnya, Bank Sinarmas juga menyalurkan bantuan UMKM kepada 12 ibu pengantar anak untuk membuka usaha rumahan sebagai bagian pemberdayaan ekonomi warga. Diawali dengan senam literasi dan bernyanyi bersama gemar membaca, peluncuran CSR Bank Sinarmas tahun 2026 berlangsung meriah dan mendapat sambutan antusasi dari warga pengguna layanan taman bacaan.

 


Sebagai bank swasta nasional yang membina TBM Lentera Pustaka memasuki tahun ke-6, Bank Sinarmas memiliki komitmen yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak dan gerakan literasi melalui aktivitas membaca buku. Karenanya, aktivitas CSR Bank Sinarmas juga melibatkan pilar grup Sinarmas seperti GWS Medika. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kegemaran membaca dan keberlanutan pendidikan anak-anak di taman bacaan, di samping pemberdayaan masyarakat khususnya di sektor ekonomi.

 

Dengan antrean, edukasi dan periksa kesehatan gigi bersama tim dokter GWS Medika berlangsung tertib dan mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat. Anak-anak diperiksa secara visual terhadap gigi, gusi, lidah, dan mulut, dan deteksi dini gigi berlubang atau infeksi. Konstribusi CSR Bank Sinarmas melalui perisak gigi oleh GWS Mediak menjadi cerminan kepedulian sosial yang berkelanjutan untuk masyarakat secara nyata. selain ber-CSR, Bank Sinarmas pun menyediakan akses perbankan ke anak-anak usia sekolah secara langsung melalui Tabungan SIMPEL dan relawan untuk meningkatkan inklusi perbankan.

 

"Saya ucapkan terima kasih untuk Bank sinarmas dan GWS Medika atas kegiatan CSR yang luar biasa ini, edukasi dan periksa gigi 200 anak pembaca aktif. TBM Lentera Pustaka bersyukur dapat dibina Bank Sianrmas dalam memastikan keberlanjutan pendidikan anak dan kegemaran membaca. Terus terang, apa yang diberikan Bank Sinarmas sangat bermanfaat untuk taman bacaan, anak-anak jadi lebih semangat dan termotivasi untuk membaca buku" sambut Syarifudin Yunus, Kepala Program TBM Lentera Pustaka.

 

Melalui event CSR Bank Sinarmas ini, TBM Lentera Pustaka kian menegaskan fokusnya terhadap praktik baik di gerakan literasi dan taman bacaan. Setelah 8 tahun berdiri, TBM Lentera Pustaka kini menjalankan 15 program literasi seperti TABA (Taman Bacaan) dengan 150 anak usia sekolah, GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 60 anak usia prasekolah, YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, Koperasi SImpan Pinjam dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, DonBuk (Donasi Buku), RABU (RAjin menaBUng), Literasi Digital, Literasi Finansial, dan MOBAKE (MOtor BAca KEliling). Tidak kurang 360 orang setiap minggunya menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka yang didukung oleh 18 wali baca dan relawan, di samping koleksinya mencapai lebih dari 12.000 buku.

 

Dalam konteks kepedulian sosial dan kerjasama CSR, inisiatif Bank Sinarmas ini patut menjadi teladan bagi industri jasa keuangan, khususnya dalam menggerakkan literasi dan keberlanutan pendidikan anak. Kegiatan ini diakhiri dengan pembagian goody bag dan makan siang kepada seluruh anak dan ramah-tamah tim Bank Sinarmas, GWS Medika dan relawan TBM Lentera Pustaka. Salam literasi!






Jumat, 30 Januari 2026

Ini 5 Sebab Rezeki Relawan TBM Jadi Lancar?

Siapa yang tidak ingin bila punya utang tahu-tahu bisa terbayarkan? Siapa yang tidak mau kebutuhan selalu tercukupi. Semuanya selalu cukup dan berkah. Tentu, kondisi keuangan seperti itu tidak datang dengan sendirinya. Selalu ada ikhtiar dan doa yang melandasinya.

 

Sebut saja Alwi namanya, seorang relawan TBM Lentera Pustaka. Setiap hari Minggu, dia dari Jakarta datang ke Bogor untuk mengabdi secara sosial di taman bacaan. Dia tidak kaya tapi selalu cukup. Dia tidak pernah dapat rezeki besar sekaligus. Tapi anehnya, ia juga tidak pernah benar-benar kekurangan. Saat beras habis, ada tetangga yang mengantar. Saat dompet lagi seret, ada bonus kecil dari kantor. Saat utang hampir macet, ada tambahan penghasilan yang tidak diduga. Ia merasa hidupnya dilindungi. Jadi lebih tenang hidupnya.

 

Saat ditanya, kenapa Alwi selalu cukup dan tidak kekuarangan. Ternyata, landasannya moraknya begini. Ia bertutur, kenapa rezekinya lancar dan kebutuhan tercukupi.

1     Selalu minta ampun sebelum minta rezeki tambahan, karena di situ langit terbuka saat yang kita perlukan bukan angka tapi ampunan.

2     Selalu ridho dengan apa yang dimiliki, karena di situlah Allah tambahkan rezeki tanpa perlu diminta

3     Sujud di sepertiga malam dan bilang “Ya Allah, aku lelah dan aku nggak mau mengeluh”. Maka pertolongan akan datang diam-diam. Tidak besar tapi cukup, tidak mewah tapi tepat sasaran.

4     Berani berbuat asal baik, tidak menunggu untuk siap tidak menunggu saat kaya. Tapi memulai kebaikan karena Allah yang akan sempurnakan.

5     Berhenti mengatur rezeki versi kita sendiri dan mulai ikuti maunya Allah sebab versi-Nya jauh lebih indah dan pas untuk kita.

Bila saja, satu dari lima hal di atas sudah dilakukan atau dirasakan itu pertanda Allah lagi membuka jalan untuk kita. Maka jangan berhenti, dan teruslah jaga hati dan ikhtiar yang baik.

 


Dan yang penting selalu berbuat baik dan menebar manfaat kepada orang lain. Seperti yang dilakukan Alwi sebagai relawan TBM Lentera Pustaka. Dia meyakini “balasan kebaikan adalah kebaikan”. Rezeki bukan hanya hasil kerja, tapi ketetapan Allah. Dan Allah secara langsung menjanjikan balasan bagi orang yang berbuat baik. “Apa saja kebaikan yang kamu kerjakan, niscaya kamu akan mendapat balasannya.” (QS. Al-Baqarah: 110). Balasannya, tentu tidak selalu uang tapi bisa berupa: kemudahan urusan, pertolongan di waktu sempit, utang yang tiba-tiba ada jalan keluarnya, dan kebutuhan yang selalu tercukupi Sering kali merasa “kok pas butuh, ada saja jalannya?” Itulah salah satu bentuk balasan kebaikan.

 

Biar bagaimana pun, kebaikan selalu menjadi tabungan tak terlihat. Ada masa kita memberi, ada masa kita membutuhkan. Kebaikan yang dulu kita tanam bisa Allah kembalikan di saat paling genting. Bukan karena kita menuntut balasan tapi karena Allah Maha Adil dan Maha Menepati janji.

 

Berbuat baik dan menebar manfaat kepada orang lain, di manapun, memang bukan cara instan jadi kaya tapi jalan agar rezeki diberkahi, dilapangkan, dan dicukupkan Rezeki jadi lancar karena Allah ridho, hati tenang, urusan dimudahkan, dan pertolongan datang tepat waktu. Salam literasi!

Hitung Uang Pesangon akibat PHK atau Pensiun, Berapa Besarannya?

UU No. 6/2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang, pada Pasal 156 ayat 1) ditegaskan “Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, pengusaha wajib membayar uang pesangon dan/atau uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima”.

 

Kata “wajib” di situ bersifat imperatif dan tidak memberi ruang bagi pengusaha untuk menunda atau mencicil pembayaran tersebut secara bertahap. Konsekuensinya, pelanggaran atas kewajiban pembayaran pesangon merupakan tindak pidana, dengan ancaman pidana penjara dan denda (Pasal 185 ayat 1 UU 6/2023). Sebab uang pesangon merupakan perlindungan finansial pekerja/buruh atas hilangnya pendapatan tetap pekerja/buruh akibat pemutusan hubungan kerja dan sebagai penghargaan atas masa kerja dan kontribusi yang telah diberikan pekerja/buruh. Kewajiban tersebut termasuk pesangon karena alasan selain pensiun.

 

Adapun acuan besaran pesangon terdiri dari: a) uang pesangon (ayat 2), b) uang penghargaan masa kerja (UPMK) (ayat 3), dan c) uang penggantian hak (UPH) seperti cuti tahunan dan biaya ongkos pekerja (ayat 4). Setidaknya, ada 15 alasan terjadinya PHK seperti: penggabungan/peleburan, efisiensi, tutup, orce majeure, PKPU, pailit, melakukan perbuatan yang merugikan pekerja/buruh, mengundurkan diri, mangkir, pelanggaran, pensiun, meninggal dunia, tindak pidana hukum, tindak pidana di perusahaan, dan sakit berkepanjangan atau cacat. Karena itu, setiap pekerja harus tahu aturan mainnya dan setiap pemberi kerja harus benar-benar menerapkannya aturan pesangon yang ada di PP No. 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja.

 


Lalu, bagaimana hitung-hitungan pesangon pekerja? Ini sebagai contoh saja, uang pesangon pekerja yang berhenti bekerja akibat “pensiun” dan “PHK karena efisiensi perusahaan”.  Sebut saja si A memiliki masa kerja 20 tahun dengan upah terakhirnya Rp. 10 juta. Maka sesuai regulasi yang berlaku, saat si A berhenti bekerja atas alasan memasuki usia PENSIUN, maka perhitungan uang pesangan (UP), uang penghargaam masa kerja (UPMK), dan uang penggantian hak (UPH) yang diperoleh ada sebagai berikut:

– UP = 9 X 1,75 X Rp. 10 juta = 157,5 juta

– UPMK = 7 X Rp. 10 juta = 70 juta

– UPH = 1 (relatif) X Rp. 10 juta = 10 juta

Maka, uang pensiun yang diperoleh si A sebesar Rp. 237,5 juta.


Berbeda bila dengan si B yang terkena PHK atas alasan EFISIENSI PERUSAHAAN, maka  maka perhitungan UP – UPMK – UPH yang diperoleh si B sebagai berikut:

– UP = 9 X 1 X Rp. 10 juta = 90 juta

– UPMK = 7 X Rp. 10 juta = 70 juta

– UPH = 1 (relatif)  X Rp. 10 juta = 10 juta

Maka, uang pesangon yang diperoleh si B sebesar Rp. 170 juta.

 

Tentu saja, besar kecilnya uang pesangon bersifat relatif. Tergantung pada lamanya masa kerja - besarnya gaji - sebab berhenti bekerja, di samping aturan yang tertera di peraturan perusahaan atau PKB. Sekali lagi, soal pesangon memang harus dicermati dan dipahami pekerja. Tentang regulasi yang berlaku dan acuan yang dipakai perusahaan. Tapi yang penting adalah penegakan aturan dalam pembayaran pesangon.

 

Namun sayangnya, saat ini masih banyak pemberi kerja atau perusahaan yang tidak membayar pesangon saat terjadi PHK atas sebab apapun. Diduga  90% perusahaan tidak membayar uang pesangon pekerja saat terjadinya pemutusan hubungan kerja atau pensiun. Ambil contoh yang terjadi di Sritex. Hingga kini, uang pesangon pekerja belum dibayarkan. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena 1) tidak tersedianya uang saat pesangon harus dibayarkan perusahaan dan 2) kesadaran perusahaan untuk mendanakan uang pesangon sangat rendah, termasuk uang pensiun pekerjanya. Oleh karena itu, inilah momentum perusahaan harus mulai mendanakan uang pesangon atau uang pensiun pekerja. Karena cepat atau lambat, uang pesangon atau pensiun pekerja pasti dibayarkan.

 

Bagaimana caranuya mendanakan uang pesangon atau pensiun pekerja? Salah satunya, dapat dilakukan melalui DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Perusahaan dapat mulai mendanakan uang pesangon atau uang pensiun pekerja melalui program pensiun di DPLK. Selain dapat disesuaikan dengan kondisi perusahaan, DPLK bisa menjadi pilihan dalam eksekusi pembayaran pesangon atau imbalan pasacakerja, baik saat pensiun, meninggal dunia, atau pekerja di-PHK. Salam #YukSiapkanPensiun #DanaPensiun #EdukasiDPLK