Minggu, 31 Mei 2026

Motor Baca TBM Lentera Pustaka Kunjungi 4 Kampung, Sediakan Akses Baca 120 Anak Usia Sekolah

Sebagai bagian untuk meningkatkan kegemaran membaca masyarakat, MOtor BAca KEliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka seharian di hari Minggu melayani lebih dari 130 anak usia sekolah di 4 kampung di kaki Gunung Salak Bogor untuk membaca buku (31/05/2026). Aktivitas literasi ini menekankan pada penyediaan akses bacaan kepada anak-anak di kampung-kampung. Karena TBM Lentera Pustaka meyakini tidak ada minat baca tanpa tersedianya akses bacaan.

 

Dijalani oleh 8 relawan TBM Lentera Pustaka, kegiatan MOBAKE berangkat pukul 10.00 WIB menuju Kp. Calobak Desa Sukaluyu, dilanjutkan ke Kp. Kemang Desa Sukaluyu. Setelah makan siang, MOBAKE TBM Lentera Pustaka menuju Kp. Sinarwangi dan berakhir pukul 17,00 WIB di Kp. Gadog Tengah Desa Sukajadi. Setelah melewati jalan berliku dan sedikit terjal, relawan MOtor BAca KEliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka sangat sibuk dan begitu produktif untuk melayani kegiatan membaca anak-anak usia sekolah. Bahkan para orang tua di setiap Lokasi pun ikut menyaksikan proses membaca anak-anaknya.

 

Relawan MOBAKE TBM Lentera Pustaka dengan sepenuh hati menjalankan aktivitas motor baca keliling. Tujuannya, untuk sediakan akses bacaan ke anak-anak yang di wilayahnya tidak ada tempat membaca buku. Anak-anak pun antusias membaca dan silih-berganti menukar buku-buku yang akan dibacanya. Kegiatan MOBAKE ini beroperasi sekitar 1 jam di setiap lokasi. Hingga di sore hari saat langit mulai mendung, relawan MOBAKE kembali ke “markas” TBM Lentera Pustaka untuk istirahat.

 

Melalui aktivitas motor baca keliling, TBM Lentera Pustaka membuktikan masih animo ada anak-anak Indonesia untuk membaca buku. Asal tersedia akses membaca, seperti motor baca keliling yang menghampiri kampung-kampung untuk mengajak anak-anak membaca buku. Pemandangan di MOBAKE TBM Lentera Pustaka sangat jelas, antusias anak-anak sangat tinggi karena akses buku bacaan mendekati mereka. Jadi, jangan persoalkan minat baca. Tapi sediakan dulu akses bacaan ke anak-anak.

 


MOBAKE TBM Lentera Pustaka yang digagas langsung oleh Pendiri TBM Lentera Pustaka sejak Februari 2022, hingga kini masih berlangsung dan berkeliling sediakan akses buku bacaan ke kampung-kampung. Dengan membawa lebih dari 200 buku dan 2 buah tikar, motor baca keliling setiap hari Minggu menyusuri jalan-jalan berliku dan tanjakan hanya untuk menyediakan akses bacaan secara konsisten dan sepenuh hati.

 

“Motor baca keliling TBM Lentera Pustaka ini tujuannya untuk mendekatkan buku-buku bacaan kepada anak-anak usia sekolah. Agar terbentuk kebiasaan membaca, di samping mampu menekan angka putus sekolah yang masih "menghantui" banyak kampung. Maka jangan persoalkan minat baca tanpa mau sediakan akses bacaan” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka di Bogor…

 

Memang aktivitas motor baca keliling fi kaki Gunung Salak dihadapkan pada kendala cuaca yang sering hujan. Tapi dengan semangat pantang menyerah dan penuh komitmen, hingga kini TBM Lentera Pustaka masih terus menjalankan aktivitas motor baca keliling sepenuh hati. Untuk sediakan akses bacaan ke anak-anak di kampung-kampung. Salam literasi #MoBaKe #MotorPustaka #TBMLenteraPustaka





Sabtu, 30 Mei 2026

Dunia Itu Tidak Kejam tapi Bekerja Sesuai Perbuatan kita

Hati-hati ya, luka yang kita anggap kecil bisa menjadi doa yang tidak pernah kita duga jawabannya. Jangan bangga menjadi penyebab air mata seseorang, sebab setiap luka yang kita tinggalkan akan menemukan jalannya kembali sebagai pelajaran kehidupan. Menjadi baik bukan hanya tentang ucapan, tetapi juga tentang menjaga hati yang tidak terlihat. Karena Tuhan adil, dan setiap rasa yang kita tanam, cepat atau lambat akan kita tuai di kemudian hari.

 

Hati-hati, luka yang kita anggap kecil bisa menjadi doa yang tidak pernah kita duga jawabannya. Itulah pentingnya menjaga sikap dan perasaan orang lain. Sering kali seseorang menganggap perkataan kasar, penghinaan, atau perlakuan tidak adil sebagai hal sepele. Padahal, bagi orang yang menerimanya, luka itu bisa membekas lama. Ketika seseorang yang terluka hanya bisa mengadu kepada Tuhan, kita tidak pernah tahu bagaimana dan kapan keadilan-Nya bekerja? Karena itu, setiap tindakan dan ucapan perlu dipertimbangkan dengan bijaksana.

 

Ketahuilah, hidup berjalan dengan hukum sebab-akibat. Bukan berarti setiap kejadian buruk adalah hukuman, tetapi setiap perilaku memiliki konsekuensi. Ketika kita menebar kebaikan, kepercayaan, dan penghormatan kepada orang lain, kita menciptakan lingkungan yang positif. Sebaliknya, jika kita gemar menyakiti, meremehkan, atau mempermalukan orang lain, suatu saat kita dapat merasakan dampak dari sikap tersebut melalui berbagai pelajaran kehidupan yang membuat kita memahami perasaan yang pernah kita abaikan.

 

Menjadi pribadi yang baik tidak hanya terlihat dari kata-kata manis atau citra yang ditampilkan di depan umum. Kebaikan sejati juga tercermin dari kemampuan menjaga hati orang lain, terutama saat tidak ada yang melihat. Menghargai usaha seseorang, menjaga kepercayaan, tidak mempermalukan kekurangan orang lain, dan memilih kata-kata yang penuh empati adalah bentuk kebaikan yang sering kali sederhana tetapi sangat berarti. Hati yang terlindungi dari luka yang tidak perlu adalah hadiah berharga yang bisa kita berikan kepada sesama.

 


Contoh konkretnya, seorang pengurus taman bacaan melihat seorang anak yang membaca dengan terbata-bata. Jika ia berkata di depan teman-temannya, “Kamu kok lambat sekali membaca?”, anak itu mungkin merasa malu dan kehilangan semangat belajar. Sebaliknya, jika ia berkata, “Tidak apa-apa, yang penting kamu terus mencoba. Setiap hari pasti semakin lancar,” anak tersebut akan merasa didukung. Contoh lain, seorang relawan yang telah bekerja keras menyiapkan kegiatan ternyata melakukan kesalahan kecil. Daripada memarahinya di depan banyak orang, lebih baik mengajaknya berbicara secara pribadi dan membantu memperbaiki kesalahan tersebut. Sikap seperti inilah yang menjaga hati, memperkuat hubungan, dan menumbuhkan lingkungan yang penuh rasa hormat serta kepedulian.

 

Ingat, dunia itu tidak kejam. Tapi dunia akan bekerja sesuai dengan perbuatan yang kita lakukan. Saat bertindak zolim dan tidak adil kepada orang lain, maka tinggal tunggu waktunya akan Kembali kepada diri kita sendiri. Salam literasi!



Kaget, Saat Pensiun Setelah 30 Tahun Kerja Swasta

Kawan saya cerita, apa sih yang dialami setelah pensiun? Di hari pertama setelah pensiun, dia tetap bangun pukul 5 pagi. Bergegas mandi dan pakai kemeja, siap-siap ke kantor. Terus sadar, ternyata sudah pensiun. Akhirnya, dilepas lagi kemejanya. Lalu membuat secangkir kopi untuk menikmati pagi di teras rumah.

 
Setelah pensiun, kawan saya memang nggak perlu absen lagi. Nggak ada pula bos yang WA malam-malam. Bahakn nggak ada gaji lagi tiap tanggal 25. Dia 30 tahun jadi karyawan swasta dan sejak pensiun resmi jadi ‘pengangguran’ dengan hormat. Rasanya? Yah, campur aduk. Ada senangnya tapi juga ada takutnya. Karena beda sama ASN, karyawan swasta kan nggak ada pensiun bulanan. Yang ada hanya uang pesangon. Habis itu? Ya cari jalan sendiri.

Kawan saya pensiun di usia 56 tahun. Jabatan terakhirnya manajer, gaji terakhirnya Rp. 15 juta. Saat pensiun dapat pesangon Rp. 385 juta. Saat itu, rasanya jadi “sultan” punya uang gede. Pikirnya, uang pesangon cukup buat 10 tahun. Ternyata nggak, uang pesangon habis dalam 3 tahun. Dia bingung, kok bisa cepat habis uang segitu. Tapi faktanya, uang pesangonnya 3 tahu sudah habis.

 
Uang pesangon ke mana? Tahun pertama: dipakai untuk renovasi rumah dan beli motor baru. Tahun kedua: ajak keluarga umroh dan tukar tambah mobil. Tahun ketiga: mulai bingung. Bunga deposito nggak nutup biaya hidup. Sedikit dipakai usaha dagang? Tapi gagal. Kawan saya baru tersadar, selama 30 tahun jadi karyawan swasta tidak pernah diajarin mengatur uang buat 10 atau 20 tahun ke depan. Karyawan swasta cuma diajarin kerja yang loyak dan berdedikasi. Maka kawan saya berpesan, “kalau elo karyawan swasta yang mau pensiun, jangan lakukan kesalahan seperti gue ini...”


Setelah uang pesangon habis, kawan saya memang pengangguran dan diam di rumah. Anak dan istri mulai ngomong pelan-pelan, disuruh cari kerja lagi. Badannya terasa remuk karena hari-hari nggak ngapa-ngapain. Akhirnya dia memutuskan: daftar ojol. Jadi driver ojol setelah pensiun.

 

Awalnya malu. Apalagi saat ketemu teman eks satu kantor di lampu merah. Lagi pas-pasan di jalan. Tapi biarlah, buat apa malu? Ojol kan halal, asal bukan nyolong atau korupsi. Dan sekarang, kawan saya yang sudah pensiun pun hidupnya lebih sehat. Punya teman baru sesama ojol dan yang penting: ada duit masuk tiap hari. Makanya, pensiunan swasta memang nggak usah gengsi. Agar dapur tetap ngebul.



Kata istrinya: ‘Kirain kalau udah pensiun bisa nemenin saya tiap hari?’. Ternyata nggak, kawan saya setelah 3 tahun pensiun sibuk kerja. Jadi ojol, antar orang ke sana ke mari. Ibadah bantuin orang nggak kena macet. Bahkan masih sempat pagi antar cucu ke sekolah. Bedanya sama dulu? Sekarang dia sibuk buat diri sendiri. Nggak ada target dari bos. Nggak ada lembur yang nggak dibayar. Pensiunan swasta, ternyata punya kemewahan: sibuk sesuka hatinya.

Makanya, kawan saya berpesan buat siapapun yang masih bekerja di dunia swasta. Jangan samapi menyesal di masa pensiun. Sebabnya 1) konflik batin akibat gaji stop, pesangon cepat habis, dan nggak ada pensiun bulanan, 2) berjuang: untuk adaptasi waktu, cari kesibukan, dan buang gengsi, dan 3) kemenangan karena punya income baru, jadi lebih tenang dan lebih bebas.


Pesannnya lagi, jangan terllau asyik sama kerjaan. Tapi siapkan juga untuk pensiun, Nggak terasa, cepat atau lambat semua karyawan swasta bakal pensiun. Masalahnya, siap nggak lahir batin? Jangan cuma mengandalkan JHT BPJS Ketenagakerjaan doang, jangan kebanyakan cicilan. Apalagi kalau tabungan pas-pasan. Lebih baik siapkan dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Sebab kalau punya DPLK, pasti menolong banget untuk masa pensiun, apalagi bila dibayarkan secara bulanan. Biar kecil tapia da pemasukan tiap bulan untuk jagain kebutuhan dasar di hari tua.

 

Usaha dan dagang setelah pensiun? Jangan deh kalau nggak punya ilmunya. Kita puluhan tahun kerja, terus mau dagang, dari mana ilmu dan pengalamannya? Terbukti cuma indah di rencana, begitu dijalanin bangkrut. Belajar investasi saat usia tua juga telat dan susah. Intinya, siapkan aja pensiun. Asal fisik tetap sehat, mental tetap waras, Insya allah rezeki bisa dicari. #YukSiapkanPensiun

Literasi Orang Baik

Pernah mengalami nggak? Tiba-tiba ada orang yang tadinya dikenal baik, lalu berubah dingin. Bukan karena dia tiba-tiba jadi jahat. Tapi karena dia sudah terlalu capek jadi orang baik yang terus-terusan dikecewain. Sering disangka buruk, bahkan disakiti atas apa yang tidak dilakukannya. Fakta seperti itu ada di sekitar kita kan?

 

Ini kisah seorang kawan. Dulu dikenal orang paling nggak tegaan sedunia. Kalau ada teman yang sakit, dia yang pertama menggalang donasi. Kalau ada yang kerjaannya keteteran, dia yang stay hingga larut malam untuk bantu backup sekalipun bukan bagian dari jobdesc-nya. Semua orang senang sama dia. Ada pula orang yang punya kiprah sosial, berguna bagi orang banyak dan terasa manfaatnya. Orang-orang baik, sering mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membantu orang lain.

 

Hingga suatu hari, roda berputar. Sebut saja Si Fulan yang orang baik, tiba-tiab Bapaknya masuk ICU gara-gara serangan jantung. Fulan butuh uang cepat buat DP operasi karena BPJS-nya ada masalah administrasi. Malam itu dia nge-chat semua teman dekatnya di kantor yang dulu sering banget dia bantu. Dia cuma mau pinjem uang, gajinya bulan depan dia jaminin. Dari belasan orang yang dia chat, tahu berapa yang balas? Hanya tiga. Sisanya cuma ngebaca. Dan dari tiga orang itu, semuanya bilang: "Maaf banget ya lagi nggak ada uang nih."  

 

Besoknya, salah satu temannya yang nggak mau minjemin uang itu update story. Lagi makan di restoran All You Can Eat yang harganya 300 ribu per orang. Si Fulan hanya bisa ngeliatin layar HP-nya, lama banget lihatnya. Mukanya nggak marah, nggak nangis juga.

 

Tapi kelihatan dari raut wajah Si Fulan kosong. Pikirannya hampa. Kayak ada sesuatu di dalam dadanya yang benar-benar mati detik itu juga. Dan sedihnya, dua hari kemudian, bapaknya meninggal dunia ..... 

 

Setelah cuti duka seminggu, Fulan balik ke kantor. Dan dia berubah jadi orang yang sama sekali beda. Berubah jadi dingin dan kaku. Jam 5 sore langsung pulang. Ada kerjaan teman yang telat, dia memilih pakai earphone untuk langsung pulang. Begitu ada kawannya yang mau pinjam uang, dia langsung jawab datar tanpa menoleh: "Nggak ada." Nah, orang-orang mulai bisik-bisik di belakang dia. "Si Fulan sekarang sombong ya." "Si Fulan sekarang egois banget, pulangnya tepat waktu terus." Fulan pun mendengar itu dan rasanya jadi pengen ketawa. Ketawa miris. 

 

Terkadang memang capek jadi orang baik. Banyak orang menyedot energi orang baik kayak Si Fulan bertahun-tahun. Memanfaatkan kebaikannya untuk meringankan beban kerja temannya. Tapi giliran dunia dia hancur dan dia butuh bantaun teman-temannya, mereka malah pura-pura buta. Terus pas Si Fulan pasang tembok buat melindungi dirinya yang sudah hancur, teman-temannya menyebut dia sombong? Hellow, memangnya kalian siapa. Dunia memang tempat yang kejam buat orang baik. Orang baik cuma dihargai selama masih berguna. Tapi begitu orang baik butuh bantuan, semua temanya pergi dan hilang entah ke mana?  

 

Orang yang berubah dingin itu sebenarnya lagi masa berkabung. Dia lagi mengubur versi dirinya yang lama. Versi yang naif. Versi yang mikir kalau kita baik sama orang, maka orang lain bakal baik sama kita. Rasa sakit karena diperlakukan tidak adil itu ternyata jauh lebih parah dari luka fisik. Jadi, Si Fulan bikin mekanisme pertahanan diri: lebih baik nggak usah peduli sama sekali, daripada peduli tapi akhirnya ditinggal sendirian pas lagi jatuh.  

 

Terkdang, banyak orang baik yang akhirnya memilih jadi "penjahat" di cerita orang lain. Karena menilak untuk dimanfaatin dan berani mulai bilang "enggak". Mulai jaga jarah, membatasi diri, dan mulai enggan membantu. Bukan tanpa sebab, pasti ada alasannya. Dan saat mengambil sikap, maka orang-orang toxic di sekitarnya bakal bereaksi kaget dan bilang "Kok elo berubah sih?" Iya, pasti berubah. Karena kebaikan yang nggak dikasih batas itu namanya kebodohan. Dan akhirnya sadar, capek jadi orang bodoh yang baik.  

 

Orang-orang toxic yang banyak di kantor harusnya nggak bisa menyalahkan orang yang menarik diri dari lingkungan setelah kita melihat “warna asli” dari orang-orang di sekitarnya. Dinginnya Si Fulan itu ibarat luka yang sudah mengering. Apatisnya itu tameng, pelindung. Maka jangan berharap orang yang sudah “dibakar” rumahnya oleh rekan kerja masih berpikir tetap disediakan “the hangat” waktu orang-orang itu kedinginan. Nggak ada yang gratis di dunia ini, termasuk kebaikan hati orang.  

 


Terkadang jadi orang baik memang capek. Orang yang kerjanya menghadirkan senyum, ringan tangan, menebar kebaikan tapi di akhirnya disakiti, dimanfaatin, bahkan dipinggirkan. Waktu orang baik yang terus-terusan diinjak akhirnya meledak, ledakannya itu horor yang paling menyeramkan. Hantu paling menakutkan bukan setan. Tapi orang baik yang sudah nggak punya alasan berbuat baik lagi.  

 

Maka harus bisa dimengerti, pada akhirnya orang baik "berubah jadi dingin" karena sudah terlalu capek dimanfaatin orang lain. Orang baik nggak salah bila akhirnya bersikap, untuk melindungi dirinya sendiri dari parasit hidup. Bersikap tegas pada orang-orang toxic itu bukan kejahatan. Karena terkadang jadi orang baik itu capek!

 

Jumat, 29 Mei 2026

Jika Tangan Belum Bisa Meringankan Beban Orang Lain, Jangan Gunakan Mulut untuk Merendahkan

Ada nasihat bijak yang bagus nih. “Jika tanganmu belum bisa meringankan beban orang lain, setidaknya jangan gunakan mulutmu untuk merendahkan mereka”.

 

Faktanya dalam hidup ini, tidak semua orang selalu mampu membantu secara materi, tenaga, atau solusi. Namun, setiap orang tetap memiliki pilihan untuk menjaga ucapan dan sikapnya. Kata-kata yang merendahkan sering kali menambah beban psikologis seseorang yang sedang berjuang, sementara ucapan yang baik dapat menjadi sumber semangat dan harapan.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menghadapi tantangan yang tidak terlihat oleh orang lain. Ada yang sedang kesulitan ekonomi, mengalami masalah keluarga, atau berjuang meningkatkan kemampuan dirinya. Ketika seseorang menerima kritik yang menjatuhkan atau ejekan, rasa percaya dirinya dapat berkurang. Sebaliknya, kata-kata yang menghargai usaha dan proses akan membantu mereka tetap termotivasi untuk berkembang.

 

Bila ada orang-orang yang secara sukarela berkiprah di taman bacaan, jangan diganggu apalagi dihancurkan. Sebab taman bacaan bukan hanya tempat membaca buku, tetapi juga ruang tumbuh bagi anak-anak dan masyarakat. Pengelola, relawan, maupun pengunjung perlu menciptakan suasana yang aman dan mendukung. Anak yang masih terbata-bata membaca, misalnya, membutuhkan dorongan dan kesabaran, bukan celaan. Lingkungan yang penuh penghargaan akan membuat mereka lebih berani belajar dan mencoba hal-hal baru.

 


Ketika seorang anak kesulitan membaca sebuah cerita, relawan dapat berkata, “Bagus, kamu sudah berani mencoba. Ayo kita baca pelan-pelan bersama,” daripada mengatakan, “Masa begitu saja tidak bisa?” Contoh lain, jika ada remaja yang baru mulai aktif membantu kegiatan taman bacaan tetapi masih sering melakukan kesalahan, lebih baik memberikan arahan dengan kalimat, “Terima kasih sudah membantu. Mungkin bagian ini bisa kita perbaiki bersama,” daripada mengkritiknya di depan banyak orang. Dengan memilih kata-kata yang membangun, taman bacaan akan menjadi tempat yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, kepedulian, dan semangat belajar sepanjang hayat.

 

Jadi, jika tanganmu belum bisa meringankan beban orang lain, setidaknya jangan gunakan mulutmu untuk merendahkan mereka. Hidup akan lebih ringan jika kita memilih kata-kata yang membangun, bukan yang melukai. Salam literasi!

 


 

Rezeki Lancar Bukan Cuma karena Kerja Keras

Banyak orang sukses tapi belum tentu berkah hidupnya. Kenapa? Karena gagal memperlakukan orang tua dengan baik. Dalam banyak ajaran agama, berbakti dan menghormati orang tua disejajarkan dengan ibadah utama. Sebagai investasi moral dan spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih menghargai orang lain. Maka bila ada yang kurang menghargai orang lain hari ini, bisa jadi sebelumnya tidak terbiasa menghargai orang tuanya.

 

Rezeki lancar itu bukan cuma karena kerja keras. Bukan pula karena kita pintar atau hebat. Tapi juga karena cara kita memperlakukan orang tua. Karena menyanyangi dan bersikap lemah lembut pada orang tua. Rela berkorban untuk orang tua yang telah merawat, mendidik, dan berkorban tanpa syarat sejak kita dilahirkan. Rezeki lancar, badan sehat dan hati tenang, sunggug karena restu dan doa orang tua yang memiliki kekuatan luar biasa. Karena orang tua, segala urusan jadi lancar.

 

Menghormati orang tua itu bukan sekadar sopan santun. Itu latihan mengendalikan ego. Dan banyak masalah hidup datang dari ego yang tidak pernah dilatih. Orang yang kasar ke orang tuanya biasanya jadi haus validasi, sulit dikoreksi, gampang bereaksi, dan merasa paling benar. Bila sulit mengakui kesalahan dan hanya bisa mencari kesalahan orang, sudah pasti karena tidak menghormati orang tua. Akibatnya, kondisi itu pelan-pelan akan merusak hidupnya sendiri. Rezeki seret, Kesehatan terganggu, dan sulit untuk tenang.

  

Sebaliknya, orang yang menghormati orang tua sering punya energi yang lebih tenang. Lebih sabar. Lebih sederhan. Lebih bisa dipercaya. Dan berujung, rezekinya sering datang lewat kepercayaan. Bukan cuma kerja semata.  

 


Jadi, bila ada orang yang baik-baik saja dalam hidupnya, Tanya deh, sudah pasti karena sangat menghormati dan berbakti pada orang tuanya. Terbiasa mengabari, mau mendengarkan,, selalu membantu tanpa diminta, dan tidak membentak saat emosi. Niat dan tekadnya, hanya ingin membuat senyum pada orang tuanya. Apapun alasan dan dalihnya.

 

Sungguh, ada hal kecil yang memberi dampak panjang dalam hidup. Yaitu selalu memperlakukan orang tua dengan baik. Sebab hidup yang baik biasanya lahir dari hati yang lembut, bukan ego yang besar.

 

Kamis, 28 Mei 2026

Bank Sinarmas Salurkan 220 Paket Daging Qurban ke Taman Bacaan di Bogor

Sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan, Bank Sinarmas menyalurkan 1 ekor sapi yang dibagikan kepada 220 keluarga pengguna layanan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (28/5/2027). Penyerahan daging qurban dilakukan oleh Narita Kusumawardhani (Corporate Communications Bank Sinarmas) didampingi Epul Saepulloh, Carlos, dan Ramdhan yang disaksikan oleh wali baca dan relawan serta warga Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Bogor.

 

"Hari ini Bank Sinarmas membagikan paket daging qurban ke 220 keluarga pengguna layanan dan warga sekitar TBM Lentera Pustaka. Kami senang bisa menjalankan amanat dan berbagi kepada sesama. Terima kasih, taman bacaan ini sudah menjadi jembatan penyalur Bank Sinarmas peduli masyarakat, Semoga jadi berkah kita semua" ujar Retno Tri Wulandari, Head of Corporate Secretary Bank Sinarmas melalui pesan singkatnya.

 

Pemotongan hewan qurban 1 ekor sapi setiap tahun dilakukan Bank Sinarmas di TBM Lentera Pustaka sebagai bentuk wujud syukur atas nikmat allah SWT, di samping untuk memperkuat kepedulian sosial dengan berbagi daging kepada sesama yang membutuhkan. Warga yang sudah memiliki kupon datang dan antre saat daging qurban dibagikan. Raut wajah senang dan ceria terpancar dari keluarga pengguna layanan TBM Lentera Pustaka yang menerima daging qurban. “Alhamdulillah, saya bisa menikmati daging qurban dari Bnk Sinarmas melalui TBM Lentera Pustaka. Semoga sehat dan berkah untuk tim B


ank Sinarmas atas kepeduliannya" ujar Vanessa, salah satu anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka.

 

Saat penyerahan secara simbolik sapi qurban Bank Sinarmas, Syarifudin Yunus (Pendiri TBM Lentera Pustaka) bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada Bank Sinarmas atas kolaborasi yang sudah terjalin selama ini. Daging qurban ini sangat bermanfaat untuk keluarga pengguna layanan taman bacaan yang sebagian besar berasal dari keluarga tidak mampu, sekaligus menjadi motivasi anak-anak untuk tetap rajin membaca di taman bacaan.

"Kita bisa lihat anak-anak dan para ibu yang tersenyum saat menerima daging qurban. Sungguh ini jadi motivasi warga untuk terus membaca. Terima kasih kepada Bu Retno dan Bank Sinarmas atas qurban sapi ke warga TBM Lentera Pustaka, Semoga jadi berkah dan ladang amal kita semua" kata Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka dalam pesan singkatnya.

 

Bertajuk "Idul Adha 1447 H - Senyum untuk Sesama", Bank Sinarmas dan TBM Lentera Pustaka menilai penyaluran hewan qurban ini sangat memotivasi anak-anak dan warga untuk lebih rajin membaca buku. Inilah kolaborasi nyata antara korporasi dan taman bacaan dalam menghadirkan senyum di masyarakat. Di samping memperkuat eksistensi TBM Lentera Pustaka dalam menjalankan 15 program literasi seperti taman bacaan, kelas prasekolah, berantas buta aksara, motor baca keliling, dan literasi digital yang melayani lebih dari 200 anak pembaca aktif. Salam literasi #BankSinarmas #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen

 



 

 

Rabu, 27 Mei 2026

Di Kantor, Orang Rajin Lebih Dihargai atau Ditambahi Kerjaan?

Ini cerita di dunia kerja. Ada pekerja yang dulu sangat antusias. Datang pagi dengan segudang ide. Mau belajar sampai kompeten. Mau ambil tanggung jawab pekerjaan yang belum selesai. Mau bantu rekan kerja bahkan lintas divisi sekalipun. Masih percaya, bahwa kantor bisa jadi tempat bertumbuh. Tapi sekarang, pelan-pelan berubah jadi orang yang bekerja seperlunya?

 

Bukan tiba-tiba, tentu ada sebabnya. Dimulai dari idenya sering diabaikan. Kontribusinya mulai diambil rekan kerja lainnya. Lemburnya dianggap biasa. Atasannya hanya muncul saat ada salah doang. Dan setiap kali berhasil, yang didengar hanya kalimat: “Ya memang itu tugas kamu”. Kalimat itu sederhana atau terlihat sepele. Tapi kalau diulang bertahun-tahun, efeknya besar baget buat pekerja.  

 

Faktanya, banyak kantor atau perusahaan kurang sadar. Bahwa semangat pekerja itu tidak hilang begitu saja. Semangat biasanya habis karena terkikis. Terkikis oleh beban yang tidak adil. Terkikis oleh janji yang tidak ditepati. Terkikis oleh evaluasi yang abu-abu. Terkikis oleh budaya “yang penting selesai” tanpa peduli siapa yang menanggung? Dan terkikis orang “politik kantor” yang tidak sehat.   

 

Di banyak kantor, pekerja yang paling bisa kerja justru sering jadi tempat menambal kekurangan sistem. Pekerja rajin sering jadi tumbal. Orangnya kurang? Dia yang bantu. Deadline mepet? Dia yang lembur. Tim lain kacau? Dia yang diminta turun. Ada masalah mendadak? Dia yang dicari untuk kasih solusi. Tapi saat bicara kompensasi, semuanya mendadak formal.  

 

Maka, ketika ada pekerja yang rajin akhirnya memutuskan untuk bekerja sesuai porsinya, jangan cepat-cepat menyebutnya tidak loyal. Mungkin dia sedang mengembalikan batas. Mungkin dia mulai merasakan kerja yang tidak adil. Mulai burnout dan capek sendiri di kerjaan. Capek mental dan fisik, sering dialami pekerja yang rajin.

 


Kita suka lupa. Loyalitas kerja yang sehat itu harus dua arah. Pekerja menjaga pekerjaan dan tanggung jawabnya. Kantor juga harus menjaga manusia yang mengerjakan pekerjaan itu. Kalau hanya satu pihak yang menjaga, lama-lama pasti timpang.  Solusinya bukan langsung resign.  Tapi mulai dari tiga hal ini: 1) catat beban kerja dan kontribusi, 2)  bicarakan prioritas dengan atasan, dan 3) tentukan batas: mana yang memang tanggung jawab kita, mana yang selama ini hanya kita tampung karena tidak enak?

 

Kalau tidak berubah juga, maka siapkan opsi.  Kadang quiet quitting (kebiasaan karyawan yang hanya bekerja sesuai porsi atau batas tanggung jawab yang tertulis di job description) bukan tanda orang tidak punya etos kerja. Kadang itu adalah tanda bahwa kantor terlalu lama menganggap dedikasi sebagai sesuatu yang gratis.

 

Pertanyaannya, apakah di kantor kamu, orang rajin lebih sering dihargai atau justru lebih sering ditambahi kerjaan? Maka bekerjalah sesuai porsi dan tahu batas, sambil siapkan dana pensiun. Karena cepat atau lambat, setiap pekerja akan berhneti bekerja. Entah karena di-PHK atau pensiun? #YukSiapkanPensiun

Nasihat Literasi: Perbanyak Melihat ke Bawah, Kurangi Melihat ke Atas

Ini hanya pesan literasi sederhana. Siapapun, kalau nggak mau mental terganggu, kurang-kurangin melihat stories atau update-an orang lain terutama yang berbau flexing. Perbanyak melihat yang di bawah kita supaya kita bersyukur dengan apa yang kita punya. Kurangin melihat yang di atas kita supaya kita jauh dari rasa iri, dengki dan hasad.


Kesehatan mental sering terganggu bukan karena hidup kita kurang, tetapi karena kita terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Di era media sosial, orang cenderung hanya menampilkan bagian terbaik hidupnya: liburan mewah, mobil baru, pencapaian karier, atau hubungan yang terlihat sempurna. Kalau kita terus-menerus melihat itu tanpa sadar, kita bisa merasa tertinggal, gagal, atau kurang berharga, padahal yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan mereka. Contohnya, seseorang yang sebenarnya hidup cukup dan punya keluarga harmonis bisa tiba-tiba merasa miskin hanya karena melihat temannya upload rumah baru atau jalan-jalan ke luar negeri setiap bulan.


Karena itu, memperbanyak melihat ke bawah bukan berarti merendahkan orang lain, melainkan melatih rasa syukur. Kita jadi sadar bahwa masih banyak orang yang sedang berjuang lebih berat dari kita. Misalnya, ketika kita mengeluh tentang pekerjaan yang melelahkan, ternyata ada orang lain yang sudah berbulan-bulan mencari kerja tetapi belum mendapat kesempatan. Saat kita merasa motor kita jelek, ada orang yang setiap hari harus berjalan kaki jauh untuk bekerja. Kesadaran seperti ini membuat hati lebih tenang dan membantu kita menghargai apa yang sudah dimiliki.


Sebaliknya, terlalu sering melihat ke atas tanpa kontrol bisa memicu iri, dengki, bahkan rasa tidak pernah puas. Kita mulai mengukur nilai diri berdasarkan pencapaian orang lain. Contohnya, seseorang yang awalnya bahagia dengan usahanya sendiri tiba-tiba merasa gagal setelah melihat teman seusia sudah punya bisnis besar atau penghasilan tinggi. Akhirnya, hidup berubah menjadi perlombaan yang tidak ada habisnya. Padahal setiap orang punya waktu, jalan hidup, dan perjuangan yang berbeda. Apa yang terlihat sukses di luar belum tentu berarti mereka tidak punya masalah.



Intinya, media sosial dan kehidupan orang lain sebaiknya dijadikan inspirasi secukupnya, bukan standar kebahagiaan. Fokus utama tetap pada perjalanan hidup sendiri. Bersyukur bukan berarti berhenti berkembang, tetapi tahu kapan merasa cukup agar hati tetap damai. Orang yang hatinya tenang biasanya bukan yang paling banyak hartanya, melainkan yang mampu menikmati apa yang sudah ada sambil tetap berusaha menjadi lebih baik tanpa sibuk membandingkan diri dengan orang lain.

Jadi, bila mau tetap sehat dan waras, kurangi melhiat stories atau update-an orang lain. Perbanyak melihat yang di bawah kita supaya kita bersyukur, kurangi melihat yang di atas kita supaya kita jauh dari rasa iri dengki dan hasad. Salam literasi!


Ada Tempat yang Terlalu Parah untuk Disinggahi sebagai Tempat Kerja

Seorang kawan mengeluh soal tempat kerja, tentang kantornya sendiri. Memang dia baru 4 tahun kerja di kantor itu, setelah resign dari kantor lamanya. Sekalipun belum lama terlalu lama, dia dikenal kompeten dan berdedikasi terhadap pekerjaannya. Tergolong Cuma kontribusi yang signifikan atas job desc yang jadi tanggung jawabnya. Tapi belakangan, hampir semua pekerjaan diserahkan kepada dia. Di situlah, dia merasa tempat kerjanya mulai tidak adil. Dia berpikir sendiri, sepertinya dia dimanfaatkan oleh atasan dan rekan kerjanya sendiri. Kini, dia sering mengeluh dan akhirnya capek sendiri. Begitulah relaitas di dunia kerja.

 

Banyak karyawan berpikir, semakin kompeten dirinya, semakin aman posisi kerjanya. Akhirnya semua kerjaan diambil. Semua masalah kantor coba diselesaikan, dan semua tanggung jawab diterima tanpa banyak menolak.  Dianggap loyal dan berdedikasi sehingga jadi capek sendiri. Padahal, di lingkungan kerja yang toxic, orang yang paling bisa sering jadi orang yang paling dibebani.  

 

Dalam kasus kawan saya tadi. Karena dia dianggap kuat. Dianggap mampu. Dan dianggap tidak bakal protes walaupun kerjaannya terus ditambah. Sementara rekan kerja lainnya Santai, dia bekerja keras mengerjakan target kerja setiap harinya. Lama lama, bukannya dihargai sebagai karyawan yang kompeten. Tapi dijadikan “penyelamat keadaan” setiap ada masalah di kantor.

 

Makanya penting banget untuk setiap karyawan. Belajar mengatur image dan energi di tempat kerja. Bukan berarti pura-pura bodoh atau jadi pemalas. Tapi jangan membiasakan selalu jadi orang pertama yang maju. Apalagi karyawan baru atau belum lama bekerja, jangan terlalu kelihatan jadi problem solver atau dikenal loyal tanpa ada batas. Selalu jadi orang yang menutupi semua kekacauan di kantor. Atau selalu jadi tempat “lempar” tanggung jawab pekerjaan yang bukan bagiannya.   

 

Jadi, jangan terlalu sering menunjukkan semua kemampuan di kerjaan. Jangan sampai dianggap punya kompetensi yang berlebihan. Sebab di tempat kerja toxic, orang kompeten malah jadi sasaran. Semakin kelihatan kuat menanggung beban, maka makin banyak kerjaan yang dikasih. Akhirnya, pulang paling malam dan kerja paling lelah. Sementara gaji sama, bahkan bisa lebih kecil dari yang rekan kerjanya yang terlihat lebih santai.  

 


Orang kerja itu butuh sehat dan waras. Karenanya, karyawan di mana pun harus fokus pada kerjaan yang menyehatkan. Tetap menjaga kewarasan di kantor. Kerja dan menjalankan tugas dengan baik, tapi tetap punya batas. Sebab semakin kita kelihatan tidak punya batas, semakin gampang orang lain bermain “politik kantor”. Orang lain yang manfaatin  kemampuan kita untuk kepentingan mereka. Kita capek sendiri, yang lainnya asyik-asyik saja. Dan yang paling penting, jangan ukur harga diri kita di kantor dari seberapa banyak orang yang memanfaatkan kita. Atau seberapa banyak orang memuji kita di kantor.

 

Di kantor mana pun, pasti atasan akan bilang “ini untuk kemajuan bersama di perusahaan. Kita capek kerja dan mental babak belur untuk jadi kuat dan tahan banting di kantor”. Tentu, masalahnya bukan di situ. Tapi sikap adil dalam pekerjaan dan bersih dari politik kantor yang berpotensi kotor, Apalagi di lingkungan kerja toxic, siapapun perlu cara dan strategi untuk  bikin batas profesional dalam menghadapi atasan yang subjektif dan rekan kerja toxic. Tekanan kerja boleh tinggi tapi mental harus tetap sehat. Kerjaan boleh banyak tapi “bukan dimanfaatkan”untuk kepentingan orang lain. Karena di dunia kerja, terlalu berguna tanpa batas sering bikin kita dijadikan “alat”, bukan dihargai sebagai manusia. Apalagi di kantor yang kasih gaji standar dan tidak punya dana pensiun, tetap saja masa depan belum pasti. Dan saat berhenti bekerja, akibat PHK atau pensiun, kita tetap tidak punya jaminan finansial dan akhirnya bergantung pada orang lain.

 

Kerja memang harus rajin dan loyal. Tapi harus diingat juga, ada tempat yang terlalu parah untuk disinggahi sebagai tempat kerja. #YukSiapkanPensiun

 

Selasa, 26 Mei 2026

Literasi Idul Adha, Bukan Hanya Soal Qurban

Sedari kecil, saya diajarkan Idul Adha hanya tentang tentang Nabi Ibrahim AS, tentang Nabi Ismail AS, dan tentang qurban. Tentang pengorbanan yang dibuktikan dengan menyembelih hewan qurban. Dari dulu cerita tentang Idul Adha kira-kira seperti itu. Maka ada yang menyebut sebagai Iudl qurban.

 

Namun semakin tua, semakin ke sini. Saya menyadari bahwa Idul Adha bisa jadi bukan hanya tentang qurban, bukan hanya tentang pengorbanan. Karena kata guru saya, sejatinya “setiap dari kita adalah Ibrahim. Dan setiap dari kita memiliki Ismail”. Nasihat itulah yang akhirnya “mengubah pandangan” saya terhadap Idul Adha.

 

Sebab Ismail tidak selalu berupa seseorang. Mungkin Ismail bisa “diganti” dengan kekayaan kita, pekerjaan kita, status kita bahkan ego yang kita miliki. Atau hal-hal yang sangat kita cintai hingga kita mulai percaya itu milik kita. Sesuatu yang akhirnya kita takut kehilangan. Apapun yang kita miliki, apalagi dari jerih payah kita sendiri sudah pasti akan takut kehilangan.

 

Dan berangkat dari pemikiran itulah,, saya memahami sesuatu yang lebih dalam dari idul Adha. Terbukti, Allah tidak meminta Nabi Ibrahim AS untuk berhenti mencintai Nabi Ismail AS. Allah SWT meminta untuk melepaskan perasaan kepemilikan atas dirinya. Untuk melepaskan, apa yang dianggap “Ini milik Saya”. Seorang anak sekalipun, bukan milik kita.

 

Ternyata apapun, sejak awal tidak ada yang benar-benar menjadi milik kita. Orang-orang yang kita cintai. Hal-hal yang kita kumpulkan. Apapun yang selama ini kita pegang teguh dan pertahankan, ternyata itu bukan milik kita. Segala sesuatu yang ada di kita adalah amanah. Dipercayakan kepada kita untuk sementara waktu. Dan itulah arti pengorbanan yang sebenarnya. Agar kita tetap ikhals melepaskan apapun yang ada dalam genggaman kita kepada-Nya.

 


Idul Adha hanya mengingatkan. Hanya Allah SWT yang memiliki segalanya. Manusia hanya mendapat titipan dari-Bya. Maka “Jika Engkau memintanya, saya akan melepaskannya. Karena ia selalu menjadi milik-Mu sebelum sampai kepadaku.” Idul Adha mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang berpegang teguh.Tapi iman juga menuntut penyerahan diri. Ada totalitas pengabdian hanya kepada-Nya. Bukan setengah-stengah, apalagi berjuang keras untuk “menggenggam” erat apapun yang dianggap miliki kita.

   

Idul Adha ternyata bukan hanya semangat pengorbanan. Tapi menuntut keikhlasan dan kepedulian selama masih hidup di dunia. Agar apapun yang dititikan dapat membawa keberkahan, kedamaian, serta kebahagiaan. Dan yang terpenting, untuk selalu berparsangka baik kepada Allah dan kepada manusia. Seperti Nabi Ibrahim AS yang “mempersilakan” anaknya Nabi Ismail AS disembelih atas perintah Allah SWT

 

Semoga Allah SWT membantu kita untuk mengenali “Ismail” kita sendiri. Sehingga Allah memberi kita kekuatan untuk tidak pernah menempatkan apa pun di atas-Nya di dalam hati kita. Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H. 

Senin, 25 Mei 2026

Literasi Kehidupan: Yang Bikin Berat Itu Bukan Masalahnya tapi ...

 

Terkadang yang membuat sesuatu terasa besar itu bukan masalahnya. Tapi pikiran kita yang bikin rumit sendiri. akhirnya jadi stress, gelisah dan negative thinking.

 

Kan gampang ya, apapun dan di mana pun.

Kalau meja kerja kita berantakan, tinggal rapikan.

Kalau kritikannya hanya menjatuhkan, tinggal abaikan.

Kalau nggak minta pendapat kita, tinggal diam.

Kalau nggak cocok, tinggal hindari.

Kalau obrolannya terasa garing, tinggal alihkan.

Kalau jalan lewat depan orang, tinggal bilang permisi.

Kalau konten yang muncul nggak relevan, tinggak skip

Kalau dirasa nggak butuh produknya, jangan dibeli.

Kalau suasananya nggak bikin tenang, tinggal pergi.

Kalau tubuh kita sudah terasa lelah, tinggal istirahat.

Kalau berisik, tingga cari tempat sepi.

Kalau waktu terbuang percuma, tinggal baca buku.

Kalau nggak punya uang, tinggal zikir dan ibadah.

Dan kalau pusing lagi nggak kuat ngejalanin, tinggal ngopi aja.

 

Sekali lagi, kadang yang membuat sesuatu terasa berat dan besar bukan masalahnya. Tapi pikiran kita yang terlalu lama memeluknya.

 

Coba deh, kendalikan pikiran kita sendiri. Dan mulai dengan yang positif dan baik-baik saja. Sederhana kan …

 


Pekerja Gelisah 3 Tahun Lagi Mau Pensiun, Tidak Siap Nggak Punya Gaji Lagi

Kawan saya lagi gelisah, karena 3 tahun lagi mau pensiun. Masa kerjanya bisa mencapai 22 tahun saat pensiun nanti. Gaji sekitar Rp 20 jutaan, okelah. Tapi kenapa bimbang ya? Dia bertanya, gimana cara mempersiapkan masa pensiun?

 

Saya hanya bertutur sederhana. Bahwa pensiun itu pasti datang. Cepat atau lambat, siapapun pasti akan berhenti bekerja. Dan saat pensiun, banyak pekerja bukan takut karena rambutnya memutih. Atau fisiknya mulai melemah. Bukan pula soal post power syndrome. Tapi dalam banyak kasus pensiunan, ketakutan jelang pensiun adalah gagal menjawab satu pertanyaan: "Kalau penghasilan atau gaji berhenti saat pensiun, saya harus mengandalkan apa untuk tetap bisa jaga standar hidup?"  

 

Sudah tentu, saat masih bekerja, banyak masalah bisa diselesaikan saat tanggal gajian tiba. Biaya sekolah anak? Ada gaji. Tagihan datang? Tunggu pas gajian. Kebutuhan mendadak? Ada gaji. Anak butuh bantuan? Nanti pas gajian. Mau beli barang mahal? Nanti habis gajian. Kita sering nggak sadar, tenangnya hidup itu hanya bergantung dari gaji. Saat selalu ada pemasukan rutin setiap bulan.

 

Hingga suatu hari nanti, rutinitas pemasukan atau gaji itu berhenti. Seperti kawan saya yang 3 tahun lagi mau pensiun. Yang dulu gaji selalu datang dan ditransfer setiap bulan, kini tidak lagi ada. Dan untuk pertama kalinya, harus berhitung lebih keras daripada biasanya. Menghitung antara sumber keuangan dari mana dan berapa biaya hidup yang harus ditanggung?

  

Ini bukan soal kurang bersyukur atau menikmati masa bekerja. Tapi soal biaya hidup yang tetap berjalan. Hidup yang tetap ada risiko. Harga kebutuhan pokok naik, biaya kesehatan di usia tua pun makin mahal. Anak masih butuh biaya. Orang tua masih butuh bantuan. Sementara standar hidup harus tetap dijaga sekalipun sudah pensiun. Cuma masalahnya, dari mana uangnya, kan sudah tidak punya gaji lagi saat pensiun? Itulah kondisi yang bikin pensiunan stres bahkan takut. Fakta hari ini, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Sebabnya, karena takut nggak punya pemasukan atau gaji lagi.

 

Ironisnya, banyak pekerja paham masa pensiun pasti tiba. Tapi banyak pekerja tidak mau mempersiapkannya. Terlalu sedikit pekerja yang sadar dan mau menabung untuk biaya hidup setelah pensiun. Kita sering sibuk menghitung kapan berhenti bekerja, kapan pensiun? Tapi kita lupa menyiapkan bagaimana uang bisa terus bekerja untuk kita di saat pensiun?   

 


Setelah ditelisik, ternyata masa pensiun yang tenang bukan karena punya uang paling banyak. Bukan soal jumlah harta dan kekayaan yang dimiliki. Tapi tentang punya arus kas yang cukup untuk menjalani hidup setelah pensiun. Punya tabungan atau dana pensiun yang bisa “menggantikan” fungsi gaji, sebagai pemasukan setiap bulan. Lalu dikendalikan untuk memenuhi kebutuhan dan biaya hidup bulanan. Tenang di masa pensiun itu akibat tidak ada lagi rasa cemas setiap hari di usia tua. Karena tetap ada sumber pemasukan sata pensiun. Makanya, ketenangan di masa pensiun itu mahal dan sangat menyehatkan. Sayangnya, banyak pekerja tidak siap pensiun. Bahkan 55% pekerja di Jabodetabek tidak yakin bisa memenuhi biaya hidup di hari tua, tidak punya gambaran di masa pensiun?  (Silakan baca penelitian Syarifudin Yunus berjudul “Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia” di jurnal  JiMaKeBiDI (Agt 2025) - https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776).

 

Tidak ada jalan pintas untuk bisa tenang dan sejahtera di masa pensiun. Kabar baiknya, selama kita masih diberi kesehatan dan masih mau menyadari, selalu ada peluang untuk memperbaiki keadaan. Selalu ada cara untuk mempersiapkan diri untuk pensiun yang lebih berkualitas. Bersiap untuk pensiun dari sekarang dan jangan ditunda lagi.

 

Mulailah dari hal sederhana. Catat pengeluaran yang tidak perlu, rapikan alokasi gaji dengan bijak. Pahami ke mana uang pergi. Cari sumber pemasukan tambahan yang sesuai kemampuan. Dan yang penting, mulailah menabung di dana pensiun atau DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Karena dana pensiun adalah satu-satunya produk keuangan yang didedikasikan untuk masa pensiun atau hari tua, saat tidak bekerja lagi. Jangan pernah merasa terlalu tua untuk belajar hal baru. Jangan “berdiam diri” bila tahu masa pensiun harus dipersiapkan.

 

Sebab, masa pensiun seharusnya menjadi fase menikmati hasil perjalanan selama bekerja. Bukan fase hidup dalam ketakutan atau kegelisahan. Usia yang bertambah adalah hal yang wajar. Tetapi ketenangan finansial adalah sesuatu yang perlu dipersiapkan. Ketahuilah, yang bikin masa pensiun terasa mencekam itu bukan usia bertamabah atau rambut memutih. Tapi cash flos yang berantakan. Tidak punya alokasi yang ditabung untuk masa pensiun, saat tidak bekerja lagi. #YukSiapkanPensiun