Senin, 25 Mei 2026

Literasi Kehidupan: Yang Bikin Berat Itu Bukan Masalahnya tapi ...

 

Terkadang yang membuat sesuatu terasa besar itu bukan masalahnya. Tapi pikiran kita yang bikin rumit sendiri. akhirnya jadi stress, gelisah dan negative thinking.

 

Kan gampang ya, apapun dan di mana pun.

Kalau meja kerja kita berantakan, tinggal rapikan.

Kalau kritikannya hanya menjatuhkan, tinggal abaikan.

Kalau nggak minta pendapat kita, tinggal diam.

Kalau nggak cocok, tinggal hindari.

Kalau obrolannya terasa garing, tinggal alihkan.

Kalau jalan lewat depan orang, tinggal bilang permisi.

Kalau konten yang muncul nggak relevan, tinggak skip

Kalau dirasa nggak butuh produknya, jangan dibeli.

Kalau suasananya nggak bikin tenang, tinggal pergi.

Kalau tubuh kita sudah terasa lelah, tinggal istirahat.

Kalau berisik, tingga cari tempat sepi.

Kalau waktu terbuang percuma, tinggal baca buku.

Kalau nggak punya uang, tinggal zikir dan ibadah.

Dan kalau pusing lagi nggak kuat ngejalanin, tinggal ngopi aja.

 

Sekali lagi, kadang yang membuat sesuatu terasa berat dan besar bukan masalahnya. Tapi pikiran kita yang terlalu lama memeluknya.

 

Coba deh, kendalikan pikiran kita sendiri. Dan mulai dengan yang positif dan baik-baik saja. Sederhana kan …

 


Pekerja Gelisah 3 Tahun Lagi Mau Pensiun, Tidak Siap Nggak Punya Gaji Lagi

Kawan saya lagi gelisah, karena 3 tahun lagi mau pensiun. Masa kerjanya bisa mencapai 22 tahun saat pensiun nanti. Gaji sekitar Rp 20 jutaan, okelah. Tapi kenapa bimbang ya? Dia bertanya, gimana cara mempersiapkan masa pensiun?

 

Saya hanya bertutur sederhana. Bahwa pensiun itu pasti datang. Cepat atau lambat, siapapun pasti akan berhenti bekerja. Dan saat pensiun, banyak pekerja bukan takut karena rambutnya memutih. Atau fisiknya mulai melemah. Bukan pula soal post power syndrome. Tapi dalam banyak kasus pensiunan, ketakutan jelang pensiun adalah gagal menjawab satu pertanyaan: "Kalau penghasilan atau gaji berhenti saat pensiun, saya harus mengandalkan apa untuk tetap bisa jaga standar hidup?"  

 

Sudah tentu, saat masih bekerja, banyak masalah bisa diselesaikan saat tanggal gajian tiba. Biaya sekolah anak? Ada gaji. Tagihan datang? Tunggu pas gajian. Kebutuhan mendadak? Ada gaji. Anak butuh bantuan? Nanti pas gajian. Mau beli barang mahal? Nanti habis gajian. Kita sering nggak sadar, tenangnya hidup itu hanya bergantung dari gaji. Saat selalu ada pemasukan rutin setiap bulan.

 

Hingga suatu hari nanti, rutinitas pemasukan atau gaji itu berhenti. Seperti kawan saya yang 3 tahun lagi mau pensiun. Yang dulu gaji selalu datang dan ditransfer setiap bulan, kini tidak lagi ada. Dan untuk pertama kalinya, harus berhitung lebih keras daripada biasanya. Menghitung antara sumber keuangan dari mana dan berapa biaya hidup yang harus ditanggung?

  

Ini bukan soal kurang bersyukur atau menikmati masa bekerja. Tapi soal biaya hidup yang tetap berjalan. Hidup yang tetap ada risiko. Harga kebutuhan pokok naik, biaya kesehatan di usia tua pun makin mahal. Anak masih butuh biaya. Orang tua masih butuh bantuan. Sementara standar hidup harus tetap dijaga sekalipun sudah pensiun. Cuma masalahnya, dari mana uangnya, kan sudah tidak punya gaji lagi saat pensiun? Itulah kondisi yang bikin pensiunan stres bahkan takut. Fakta hari ini, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Sebabnya, karena takut nggak punya pemasukan atau gaji lagi.

 

Ironisnya, banyak pekerja paham masa pensiun pasti tiba. Tapi banyak pekerja tidak mau mempersiapkannya. Terlalu sedikit pekerja yang sadar dan mau menabung untuk biaya hidup setelah pensiun. Kita sering sibuk menghitung kapan berhenti bekerja, kapan pensiun? Tapi kita lupa menyiapkan bagaimana uang bisa terus bekerja untuk kita di saat pensiun?   

 


Setelah ditelisik, ternyata masa pensiun yang tenang bukan karena punya uang paling banyak. Bukan soal jumlah harta dan kekayaan yang dimiliki. Tapi tentang punya arus kas yang cukup untuk menjalani hidup setelah pensiun. Punya tabungan atau dana pensiun yang bisa “menggantikan” fungsi gaji, sebagai pemasukan setiap bulan. Lalu dikendalikan untuk memenuhi kebutuhan dan biaya hidup bulanan. Tenang di masa pensiun itu akibat tidak ada lagi rasa cemas setiap hari di usia tua. Karena tetap ada sumber pemasukan sata pensiun. Makanya, ketenangan di masa pensiun itu mahal dan sangat menyehatkan. Sayangnya, banyak pekerja tidak siap pensiun. Bahkan 55% pekerja di Jabodetabek tidak yakin bisa memenuhi biaya hidup di hari tua, tidak punya gambaran di masa pensiun?  (Silakan baca penelitian Syarifudin Yunus berjudul “Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia” di jurnal  JiMaKeBiDI (Agt 2025) - https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776).

 

Tidak ada jalan pintas untuk bisa tenang dan sejahtera di masa pensiun. Kabar baiknya, selama kita masih diberi kesehatan dan masih mau menyadari, selalu ada peluang untuk memperbaiki keadaan. Selalu ada cara untuk mempersiapkan diri untuk pensiun yang lebih berkualitas. Bersiap untuk pensiun dari sekarang dan jangan ditunda lagi.

 

Mulailah dari hal sederhana. Catat pengeluaran yang tidak perlu, rapikan alokasi gaji dengan bijak. Pahami ke mana uang pergi. Cari sumber pemasukan tambahan yang sesuai kemampuan. Dan yang penting, mulailah menabung di dana pensiun atau DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Karena dana pensiun adalah satu-satunya produk keuangan yang didedikasikan untuk masa pensiun atau hari tua, saat tidak bekerja lagi. Jangan pernah merasa terlalu tua untuk belajar hal baru. Jangan “berdiam diri” bila tahu masa pensiun harus dipersiapkan.

 

Sebab, masa pensiun seharusnya menjadi fase menikmati hasil perjalanan selama bekerja. Bukan fase hidup dalam ketakutan atau kegelisahan. Usia yang bertambah adalah hal yang wajar. Tetapi ketenangan finansial adalah sesuatu yang perlu dipersiapkan. Ketahuilah, yang bikin masa pensiun terasa mencekam itu bukan usia bertamabah atau rambut memutih. Tapi cash flos yang berantakan. Tidak punya alokasi yang ditabung untuk masa pensiun, saat tidak bekerja lagi. #YukSiapkanPensiun

 

 

 


Dihadiri 106 Anak Pembaca Aktif, PNM Peduli Peringati Hari Buku Nasional di TBM Lentera Pustaka

Sebagai bentuk kepedulian sosial (Corporate Social Responsibility) dan memperingati Hari Buku Nasional, Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui PNM Peduli menggelar "Cinta Pustaka" di TBM Lentera Pustaka Kab. Bogor (24/5/2026). Dihadiri 106 anak membaca aktif TBM dan Kepra sebagai bagian kampanye cinta buku dan aktivitas membaca di kalangan anak-anak usia sekolah. Turut hadir 6 orang dari PNM Peduli dan 6 Relawan TBM Lentera Pustaka.

 

Adapun kegiatan Hari Buku Nasional dari PNM Peduli adalah 1) lomba membaca puisi, 2) kegiatan mengungkapkan kembali isi buku bacaan, dan 3) mewarnai gambar bagi anak-anak kelas prasekolah. Di akhir kegiatan, PNM Peduli membagikan hadiah kepada peserta lomba dan bingkisan snack kepada ibu-ibu pengantar anak TBM dan relawan TBM Lentera Pustaka.

"Kami senang bisa memperingati Hari Buku Nasional di TBM Lentera Pustaka. Selain jumlah anaknya banyak, tempatnya nyaman untuk kegiatan literasi. Semoga kami dapat berkunjung kembali dalam memotivasi kegiatan baca di taman bacaan ini" ujar Pimpinan PNM Peduli dalam sambutannya.

 

Kegiatan CSR Hari Buku Nasional menjadi bukti komitmen PNM Peduli terhadap pendidikan anak. PNM Peduli adalah program tanggung jawab sosial (CSR) dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) yang fokus pada tiga pilar utama: pendidikan, lingkungan, dan sosial. Program ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.

 


Pemilihan TBM Lentera Pustaka sebagai lokasi CSR Hari Buku Nasional PNM Peduli karena TBM Lentera Pustaka dikenal aktif dan konsisten dalam menjalankan program literasi. Per Desember 2025 lalu, TBM Lentera Pustaka memiliki jumlah pengguna layanan mencapai 360 orang per minggu, yang terdiri dari 223 anak pembaca aktif, 70 ibu-ibu pengantar anak ke TBM, 6 warga belajar berantas buta aksara, 14 yatim binaan, 13 jompo binaan, dan 40-an anak pembaca motor baca keliling. Dengan dukungan 18 relawan aktif, TBM Lentera Pustaka menjalankan 15 program literasi seperti TABA (TAman BAcaan), GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA), KEPRA (Kelas PRAsekolah), 4) YABI (YAtim BInaan), 5) JOMBI (JOMpo BInaan), RABU (RAjin menaBUng), LITDIG (LITerasi DIGital), LITFIN (LITerasi FINansial), dann MOBAKE (MOtor BAca KEliling). Dengan dukungan lebih dari 12.000 koleksi buku bacaan, TBM Lentera Pustaka beroperasi 6 hari dalam seminggu (kecuali Senin).

 

"Atas nama TBM Lentera Pustaka, kami ucapkan terima kasih kepada PNM Peduli. semoga kegiatan ini menjadi motivasi anak-anak kami untuk terus membaca di tengah gempuran era digital" kata Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka yang diwakili Alwi, Koordinator Relawan TBM Lentera Pustaka dalam sambutannya.

 

Maka teruslah membaca, karena buku segalanya dapat dipelajari. Salam literasi!

 


Tegaskan Pentingnya Kompetensi SDM, LSP Dana Pensiun Uji Sertifikasi KKNI 44 Praktisi Dapen

Sebagai bukti komitmen tingkatkan kompetensi SDM dana pensiun sesuai standar nasional, LSP Dana Pensiun menggelar Uji Sertifikasi KKNI Dana Pensiun yang diikuti 44 peserta dari jenjang Jenjang 4, 6C, dan 7 di Jakarta (25/5/2026).  Dengan melibatkan 12 asesor kompetensi berlisensi BNSP seperti: Inderahadi K, Arif Hartanto, Ganis Widio Ananto, Edy Rahardja, Asep Saepurohman, Purwaningsih, R. Herna Gunawan, Satino, Sri Murtiningsih, Syarifudin Yunus, Widiyanto Fajar T, dan Yuni Pratikno, asesmen sertifikasi KKNI Dana Pensiun dijalankan sesuai dengan SEOJK 12/2025 tentang sertifikasi kompetensi kerja bagi dana pensiun dan POJK 34 Tahun 2024 tentang Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada Dana Pensiun.

 

Selain untuk meningkatkan profesionalisme, uji sertifikasi KKNI dana pensiun juga menjadi bagian dalam meningkatkan kepercayaan publik atas pengelolaan dana pensiun di Indonesia. Peserta uji sertifikasi KKNI kali ini berasal dari 33 DPPK/DPLK seperti Dapen Bank Negara Indonesia, Dapen Tigaraksa Satria, Dapen BPD Jawa Barat dan Banten, Dapen LIA, DPLK Syariah Bank Muamalat, DPLK Asuransi Jiwa Taspen, Dapen BPD Sulawesi Tengah, Dapen PLN, Dapen Antam, Dapen JIHD, Dapen Bank Mandiri, Dapen Pupuk Kaltim, Dapen Syariah Muhammadiyah, Dapen GPIB, DPLK BPD Jawa Tengah, Dapen Kalbe Farma, Dapen BPD Jambi, Dapen Pelindo Purnakarya, Dapen Jasa Raharja, Dapen BPD Sumatera Utara, Dapen Tirta Nusantara, DPLK Manulife Indonesia, Dapen Ukhuwah UMI, Dapen Semen Gresik, Dapen Bank Mandiri Satu, Dapen Bank Mandiri Dua, Dapen ASDP, Dapen Bank Mandiri Empat, Dapen Angkasa Pura I, Dapen Angkasa Pura II, Dapen BPD Nusa Tenggara Timur, Dapen Universitas Trisakti, dan Dapen Bank Indonesia Iuran Pasti. Melalui uji sertifikasi KKNI dana pensiun, LSP Dana Pensiun menjalankan perannya untuk memastikan standar kompetensi, di samping kredibilitas mutu praktisi dana pensiun di Indonesia. Sebab KKNI dana pensiun menjadi cerminan standar pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang dipersyaratkan regulasi.

 

"Uji sertifikasi KKNI dana pensiun mengacu pada POJK 34/2024 dan menjadi fondasi profesionalisme SDM dana pensiun. Karena itu, LSP Dana Pensiun hari ini melakukan asesmen uji kompetensi dan sertifikasi KKNI Dana Pensiun yang diikuti 44 peserta dari jenjang 4, 6C, dan 7" ujar Edi Pujiyanto, Direktur LSP Dana Pensiun di sela asesmen uji sertifikasi KKNI Dana Pensiun hari ini.

 

Melalui uji sertifikasi KKNI, LSP Dana Pensiun berkomitmen untuk mengoptimalkan kompetensi SDM dana pensiun. Sertifikasi berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) memastikan bahwa pengurus, pengelola, dan pelaksana dana pensiun memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang terstandar, baik dari regulasi dana pensiun, investasi - manajemen risiko, dan tata kelolanya. Tidak hanya berpengalaman, tapi teruji secara objektif dengan kualifikasi yang ditetapkan OJK dan BNSP. Melalui asesmen sertifikasi KKNI, setiap SDM dana pensiun divalidasi dan diwawancara atas makalah atau kinerja yang dijalankan sesuai standar kompetensi nasional. Proses asesmen dilakukan secara objektif, adil, dan valid sesuai sistem dan prosedur pengembangan kualitas SDM yang berkelanjutan untuk melindungi peserta dana pensun yang ada.

 


Untuk diketahui, saat ini LSP Dana Pensiun memiliki 29 asesor kompetensi berlisensi BNSP untuk melaksanakan dan memantau realisasi pengembangan kualitas SDM dana pensiun. LSP Dana Pensiun merupakan satu-satunya LSP di bidang dana pensiun yang terdaftar di OJK sesuai dengan Surat Tanda Terdaftar Lembaga Sertifikasi Profesi Sektor Jasa Keuangan No: STTD.LSP-03/MS.1/2025 tertanggal 23 Juli 2025 dan Keputusan Ketua BNSP No: KEP.0015/BNSP/I/2023. Untuk informasi dan program LSP Dana Pensiun dapat disimak melalui: https://lspdapen.com/.

 

Kompetensi sesuai KKNI bidang Dana Pensiun diterapkan semata-mata untuk a) pelaksanaan pendidikan atau pelatihan, b) pelaksanaan sertifikasi kompetensi, c) pengembangan sumber daya manusia, dan d) pengakuan kesetaraan kualifikasi. Melalui KKNI bidang Dana Pensiun diharapkan SDM dana pensiun mampu meningkatkan kompetensinya, sehingga 1) mengetahui ukuran kemampuan yang dimiliki, 2) dapat meningkatkan akses untuk mengembangkan diri, dan 3) menambah produktivitas kerja. Selain berkomitmen dalam mengoptimalkan KKNI dana pensiun, LSP Dana Pensiun terus melakukan koordinasi untuk memastikan kompetensi SDM di sektor dana pensiun sesuai standar nasional dan standar profesionalisme dalam pengelolaan dana pensiun. Salam Kompeten!



Sabtu, 23 Mei 2026

Rindu Dalam Kata Hangat Dalam Jumpa Angkatan 90 PBSI UNJ

Alumni Angkatan 90 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKABINDO 90) menggelar "Silaturahmi dan Temu Kangen - Rindu Dalam Kata Hangat Dalam Jumpa" dalam balutan kebersamaan yang indah pada 23-24 Mei 2025 di Villa Hers Pamijahan Gn Halimun Salak, milik Ajie salah atau alumni Angkatan 90. Diikuti 30 alumni Angkatan 90 yang dikomandoi Keyis, Widia, dan Aji, acara ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan setelah berjuang bersama menyelesaikan studi 36 tahun lalu di kampus IKIP Jakarta. 

 

Tujuan utama acara temu kangen adalah untuk mempererat tali silaturahmi, melepas rindu, dan bernostalgia bersama orang-orang terdekat setelah lama tidak berjumpa

 

Angkatan 90 IKABINDO FBS UNJ yang hadir antara lain: Keyis, Upi, Nunik, Kosasih, Nurhayati Ray, Farichin, Suprianto, Aji, Isye, Tanti, Martina, Rini, Widiyati, Trie Alfiatun, Widia, Lina, Anita, Mimin, Tati, Agustus, Risma, Maman, Marjono, Yully, Sukriyanto, Endah Lina, Euis Kusmawati, Niken, Suji, Wawa, Erti, dan Agus Triyanto. Ikut hadir pula Syarif dan Mujiono dari Angkatan 89.

 

 

 

Berangkat dari Kampus UNJ Rawamangun, setelah perjalanan 2 jam, rombongan rileks sejenak sebelum main game, menikmati suasana outdoor. Sambil menikmati kopi dan snack sore Angkatan 90 PBSI FBS UNJ ngobrol nostalgia masa-masa kuliah dan ditutup barbaue-an diiringi angin malam nan sejuk. Rencananya, esok hari melakukan tracking di area Lembah Citepus.

 

 

Masa-masa belajar mengenal fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik menjadi perekat di antara Angkatan 90 yang kini sebagian besar berkiprah di dunia pendidikan. Saling bercerita kabar, kondisi keluarga hingga mengenang momen seru selama kuliah mampu melepas lamanya rasa tidak bertemu selepas kuliah dan bekerja.

 


"Alhamdulillah, kita semua silaturahim dalam keadaan sehat wal afiat. Selain melepas rindu, acara ini juga bernostalgia masa kuliah setelah lama tidak berjumpa. Semoga di usia seperti sekarang kita bisa lebih banyak silaturahim sambil bernostalgia dalam nuansa yang positif dan penuh tawa" ujar Suprianto, Angkatan 90 yang datang dari Banyumas.

 

Temu kangen Angkatan 90 ini  jadi momen silaturahim yang tidak terputus sekaligus mengenang masa-masa menimba ilmu di kampus IKIP Jakarta Rawamangun. Berkisah tentang masa-masa kuliah dan menjalani pertemanan dalam bingkai kebersamaan. 

 

"Wow, seneng banget bisa ketemu teman kuliah di Bahasa Indonesia IKIP Jakarta, sehat-sehat ya semua. Insya Allah kita tetap silaturahim" kata Farichin yang datang dari Tegal.

 

Bagi Angkatan 90 PBSI IKIP Jakarta, pertemanan adalah hal yang menyenangkan, bukan membebankan. Dan di usia yang tidak lagi muda, silaturahmi menjadi penting dilakukan. Semoga sehat selalu semuanya, alumni Angkatan 90 PBSI FPBS IKIP Jakarta. Bravo the story of Rawamangun!

 


 

 

Jumat, 22 Mei 2026

Literasi Pertemanan: Teman yang Baik Itu menenangkan, Bukan Melelahkan

Tidak semua teman hadir untuk membuat hidup lebih ramai. Ada teman yang justru membuat hati lebih tenang, pikiran lebih ringan, dan langkah terasa lebih kuat. Teman yang baik tidak selalu memberi solusi hebat. Tapi tahu cara mendengarkan tanpa menghakimi. Taman yang tidak membuat kita lelah menjadi diri sendiri. Tidak memaksa kita terlihat sempurna hanya agar diterima.

 

Teman harus pilih yang baik. Seseorang yang kehadirannya membuat kita merasa nyaman, didengar, dan diterima apa adanya. Dalam pertemanan yang sehat, kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk disukai. Teman seperti ini mampu memberi rasa tenang karena hadir tanpa banyak drama, tidak suka menghakimi, dan menghargai batasan maupun perasaan kita. Bersama teman yang baik, kita bisa merasa lebih ringan setelah bercerita, bukan justru semakin tertekan.

 

Sebaliknya, pertemanan yang melelahkan sering kali dipenuhi tuntutan emosional, persaingan, atau sikap yang membuat kita kehilangan energi. Misalnya, ada teman yang hanya datang saat membutuhkan bantuan, tetapi menghilang ketika kita sedang kesulitan. Ada juga teman yang suka membanding-bandingkan hidup, meremehkan pencapaian, atau membuat kita merasa bersalah jika tidak selalu tersedia untuk mereka. Hubungan seperti ini perlahan bisa membuat mental lelah karena lebih banyak tekanan daripada ketenangan dalam pertemanan.

 


Teman itu menenangkan, bila mau mendengarkan cerita tanpa langsung menghakimi, memberi dukungan saat kita gagal, dan tetap menghargai keputusan hidup kita meskipun berbeda pandangan. Ketika kita sedang stres karena pekerjaan, ia tidak menambah beban dengan komentar negatif, tetapi justru berkata, “Istirahat dulu, kamu sudah berusaha sebaik mungkin.” Sikap sederhana seperti itu menunjukkan bahwa teman yang baik bukan yang selalu ada setiap saat, melainkan yang mampu membawa rasa aman dan ketenangan dalam hidup kita.

 

Kita pasti punya banyak teman, bahkan bertemu banyak orang. Namun yang paling berharga adalah mereka yang tetap hadir saat keadaan sedang tidak baik-baik saja. Mau mengingatkan kita kepada kebaikan, menjaga lisan, dan membawa hati lebih dekat kepada Allah. Karena pertemanan yang sehat bukan tentang siapa yang paling sering bersama, tapi siapa yang membuat hati tetap damai setelah bertemu.

 

Jadi, teman yang baik Itu menenangkan, bukan melelahkan!

Nasihat Literasi: Jujur Dihukum, Bohong Dihadiahi

Ada yang bilang ini zaman edan. Ketika orang jujur malah dihukum, sedangkan orang bohong diberi hadiah. Katanya rakyat sejahtera dan ekonomi tumbuh, nyatanya rakyat tetap susah. Katanya swasembada tapi harga sembako naik. Begitu pula dalam kehidupan sosial sehari-hari. Orang yang mengejar "citra" dipercaya, justru orang objektif disingkirkan. Dan mungkin banyak lagi contohnya. 

 

Sebuah ironi dalam kehidupan sosial: sering kali orang yang jujur justru menghadapi banyak kesulitan, sementara kebohongan kadang terlihat lebih menguntungkan dan lebih cepat membawa seseorang pada kenyamanan atau keuntungan tertentu. Suka tidak suka, orang yang jujur harus siap menghadapi risiko ditolak, dimusuhi, atau kehilangan sesuatu karena ia memilih mengatakan kenyataan apa adanya. Sebaliknya, kebohongan sering terasa lebih aman karena mampu menyenangkan banyak pihak dan menjaga citra di depan orang lain.

 

Dari situlah kemunafikan tumbuh. Banyak manusia akhirnya memilih memakai topeng, mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati dan pikirannya, hanya agar diterima lingkungan atau memperoleh keuntungan tertentu.

 


Namun meskipun kebohongan kadang terlihat menang dalam jangka pendek, hidup yang dibangun di atas kepalsuan perlahan akan menguras ketenangan batin. Sebab kejujuran mungkin berat dan menyakitkan, tetapi ia memberi manusia kebebasan untuk hidup tanpa terus-menerus menyembunyikan dirinya sendiri di balik kepura-puraan.

 

Hidup dalam kebohongan dan kepura-puraan. Karena banyak orang takut kehilangan simbol. Sebab di zaman begini, moral bukan lagi soal benar atau salah. Tapi soal citra dan pujian yang diharapkan. Topeng lebih dipercaya daripada tindakan. Bahkan ayat lebih sering dipakai buat tameng daripada cermin. Dan lucunya, orang paling marah waktu kemunafikan dibongkar biasanya orang yang hidup dari kemunafikan itu sendiri.


Faktanya, orang jujur dihukum, orang bohong diberi hadiah. Jadi, hati-hati dan tetaplah mawas diri. Agar tidak tertipu dengan dunia dan segala kebohongannya. Sebab hari ini, ada yang baik tapi dibilang tidak baik dan ada yang jahat tapi pura-pura baik.

 

Kamis, 21 Mei 2026

Nasihat Literasi: Jangan Jadi Penyebab Orang Tidak Makan atau Menangis

Saat ditanya, apa saja yang boleh di dunia ini? Saya menjawab, selagi itu baik dan bermanfaat apa saja boleh. Silakan, apapun bentuknya kerjakanlah. Tapi yang harus dipahami adalah ada satu jenis manusia yang paling berbahaya di dunia ini. Bukan orang yang kasar, bukan orang yang keras. Banyak yang tidak sadar bahwa ada perilaku atau tingkah kita yang membuat orang lain tidak bisa makan, membuat orang lain menangis diam-diam, atau memilih membisu karena lelah menjelaskannya.

 

Semuanya boleh, asal jangan jadi penyebab orang tidak makan atau menangis. Kalimat itu memang sederhana. Tapi sebenarnya tamparan halus buat kita semua. Jangan jadi penyebab orang tidak makan. Jangan jadi penyebab orang menangis. Jangan jadi penyebab orang jadi diam. Jangan pernah menjadi manusia yang menjadi alasan seseorang berdoa sambil menangis.

 

Agak miris memang, karena kita semua pernah, entah sadar atau tidak, berada di posisi itu. Bukan sebagai monster yang sengaja menyakiti. Tapi sebagai manusia biasa yang abai. Lalai pada ucapan. Lalai pada nada bicara.  Lalai bahwa diamnya seseorang bukan berarti baik-baik saja. Yang paling nyelekit adalah kalimat terakhir: doa sambil menangis. Dalam tradisi spiritual kita, doa orang yang terzalimi itu tidak bertirai. Ia langsung naik, tanpa filter, tanpa antre.

 

Tidak peduli siapa yang berdoa, tidak peduli agamanya apa, tidak peduli ia rajin ibadah atau tidak. Air mata yang jatuh karena luka yang tidak adil adalah tanda tangan semesta yang paling sah.  

 

Kita sering terlalu sibuk menjaga wudhu, menjaga jadwal ibadah, menjaga bacaan, tapi lupa menjaga hati orang lain. Padahal, bisa jadi satu kalimat enteng kita yang menyakitkan, lebih merusak daripada setumpuk dosa yang kita minta ampun setiap malam. Bukankah itu ironi spiritual yang paling getir? Rajin sujud, tapi jadi alasan seseorang menangis di sajadahnya. Coba lihat sekeliling. Pasangan yang memilih diam karena setiap bicara selalu dipatahkan.  

 


Ada kawan yang perlahan menjauh karena nasihat kita selalu terasa seperti vonis. Anak yang berhenti cerita karena orang tuanya selalu menyela dengan "kamu sih...". Orang tua yang menahan lapar karena uangnya kita pinjam tanpa kabar atau tidak dikembalikan. Karyawan yang menunduk karena atasannya tidak pernah puas. Kita memang belum tentu jahat. Tapi kita mungkin sedang melatih diri menjadi penyebab sunyi yang menyakitkan bagi orang lain.  

 

Spiritualitas bukan cuma soal hubungan vertikal. Ia juga soal memastikan bahwa kehadiran kita di bumi ini tidak membuat orang lain berdoa dalam isak tangis. Jangan sampai ibadah kita rapi, tapi ada nama kita disebut di sepertiga malam oleh seseorang yang dadanya sesak karena perbuatan kita. Itu bukan amal, itu utang yang sulit dilunasi.  

 

Jadi, sebelum tidur malam, bolehlah kita bertanya pelan: “adakah aku yang jadi penyebab orang tidak enak makan hari ini? Adakah air mata yang jatuh karena ucapanku? Adakah doa yang sedang dipanjatkan seseorang, dan aku adalah alasannya?” Kalau ada, besok masih sempat. Belum terlambat. Meminta maaf itu tidak menurunkan gengsi. Ia justru menaikkan derajat jiwa. Karena hanya orang yang kenal dirinya sendiri yang berani berkata, "Aku salah. Maafkan aku."  

 

Semoga kita semua dijauhkan dari menjadi manusia yang membuat orang lain menangis dalam doanya. Sebab, doa dari mata yang sembab tidak pernah main-main. Ia didengar tanpa halangan hingga ke atas. Pasti dan selalu. Maka, jangan jadi penyebab orang tidak makan atau menangis. #TBMLenteraPustaka



Ini 13 Tanda Pekerja Udah Muak di Kantor, Pengen Resign?

Ada kawan yang dikenal sebagai pekerja loyal. Berdedikasi untuk tempat kerjanya, Sudah 12 tahun lebih dia bekerja. Nggak neko-neko di kantor. Tiap awal tahun naik gaji, alhamdulillah katanya. Tapi bila nggak naik pun dia nggak banyak menuntut. Tipe pekerja yang ideal banget untuk kantor. Nggak banyak drama, nggak punya politik. Baginya, kerja ya kerja.

 

Tapi kemarin, saat ngopi bareng, dia muali berkeluh-kesah tentang kondisi kantor dan pekerjaannya. Ada yang berubah. Bos-nya “orang baru”. Meeting bisa sampai 3-4 kali seminggu. Aroma geng-gengan di bagiannya mulai terasa. Dia mulai merasakan suasana yang nggak nyaman di kantor. Mulai malas berangkat ke kantor. Dan katanya, mulai merasakan Lelah bekerja.

 

Dia mengeluh, “gue udah mulai malas kerja nih. Elo ada saran nggak?”

“Saran apa?” tanya saya.

“Kantor udah nggak enak, kira-kira gue harus ngapain ya?” katanya.

 

Saya mulai berpikir. Cari jawaban yang bisa diterima dia. Dan akhirnya, saya kasih tahu ke dia. Kondisi kantor nggak nyaman itu bisa terjadi kapan saja, tergantung car akita menyikapinya. Tapi kalau mau jujur,, seorang pekerja itu sudah mulai muak sama kondisi kantor bukan tanpa sebab.

 

Jadi, saya coba kasih tahu nih ya. Siapapun pekerjanya, seperti kawan saya itu, asal sudah merasakan kondisi kerja kayak begini, yah biasanya sudah tinggal tunggu waktu untuk resign atau cabut dari kantornya.

 

1.       Sudah mulai nggak peduli sama pekerjaan

2.       Tiap pada WA urusan kantor sudah mulai gelisah, bukan semangat

3.       Tiap Senin pagi terasa malas dan berat

4.       Bangun pagi rasanya kayak mau perang

5.       Mulai berpikir “kok kerja dan hidup gue begini aja”

6.       Pujian atasan sudah nggak berpengaruh

7.       Mulai jaga energi dan batasan dengan rekan kerja

8.       Mulai berasa di kantor banyak drama

9.       Diam-diam sudah mulai cari peluang untuk pindah kerja

10.    Ada rasa lega setiap kali bayangin resign

11.    Mulai sadar kesehatan fisik dan mental lebih penting

12.    Mulai nggak tertarik sama urusan pekerjaan dan kantor.

13.    Gampang emosi di kantor

 

Jadi, kalau salah satu atau lebih sudah mulai terasa di pekerja. Itu tanda sudah terassa lelah banget bekerja. Omongan urusan kantor yang keluar hanya keluh-kesah dan perasaan nggak nyaman. Mulai nggak nyaman berada di kantor. Bila itu terjadi, berarti tinggal nunggu waktu untuk resign atau cabut dari kantor. Buat si pekerja, urusan kantor “sudah selesai”, terserah mau gimana?

 


Faktanya, banyak pekerja nggak menyadari kondisinya sendiri, Terkadang, tanda kita harus pergi dan meninggalkan kantor nggak harus dari logika. Justru, seringnya datang dari perasaan. Dari kondisi nggak nyaman saat bekerja dan ada di kantor. Dan penting diketahui, kondisi kerja yang begitu sama sekali nggak sehat. Baik untuk fisik maupun mental.

 

Lalu, kawan saya pun bertanya, “apa gue harus resign dari kantor?”

Wah kalau soal itu agak susah jawabnya. Tergantung, si pekerja sudah punya tabungan yang cukup atau belum untuk resign. Kan nggak ada gaji lagi kalau berhenti kerja. Apalagi kalau belum dapat tempat kerja baru untuk pindah? Karena yang saya tahu, banyak pekerja “terpaka” tetap bekerja sekalipun di kantor yang sudah nggak nyaman. Karena yang penting masih dapat gaji, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan menfakahi keluarganya.

 

Jadi, jangan gegabah soal kerjaan. Lebih baik mikir, untuk mulai menabung untuk masa-masa nggak kerja lagi. Entah karena resign, PHK atau pensiun. Makanya, mulai sisihakn gaji untuk DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Biar siap saat mau berhenti bekerja.

 

Jangan gedein gaya hidup. Tapi besarin iuran untuk dana pensiun. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun

 

Rabu, 20 Mei 2026

Nggak Usah Sok Peduli Urusan Orang Lain, Inilah Akibatnya Lho!

 

Seorang kawan mengeluh, gajinya tidak cukup untuk biaya hidup keluarga dengan dua anak. Padahal kerja sudah dari pagi hingga malam. Bingung, mau cari usaha apa lagi untuk menutupi kekurangan biaya hidup. Pengen nyoba jadi ojol tapi fisiknya mulai lemah. Gimana solusinya? tanya kawan kepada saya. 

 

Ada yang bisa bantu? Menurut saya, yah dicoba dulu saja untuk memperbaiki diri. Karena setahu saya, orang yang rezekinya kurang, badannya gampang lemah, bahkan hatinya keras sebabnya karena "suka ikut campur urusan orang lain". Hindari dulu perilaku buruk "sok peduli" urusan orang. Buat yang paham, terlalu sibuk mencampuri urusan yang bukan bagian kita itu bahaya. 

 

Ikut campur urusan orang lain itu bikin hati keras. Sok peduli alias kepo. Akhirnya, urusannya sendiri nggak dituntaskan. Tambah lagi urusan orang lain ya keraslah hati. Akhirnya, mudah gelisah, sulit tenang, atau kehilangan kelembutan spiritual.

 

Konsekuensinya, hati yang keras jadi sebab "tubuh melemah". Sebagai akibat hilangnya ketenangan dan energi. Pikirannya terus-menerus dipenuhi urusan orang lain, gosip, atau hal-hal yang sebenarnya tidak ada manfaatnya. Hati-hati, hari inipun banyak orang sibuk tapi bukan urusannya. Sok sibuk sok peduli padahal zonk.

 

Dari situlah, bila mau disadari, akhirnya jadi sebab kekurangan rezeki. Bukan cuma soal uang tapi berkah hidupnya berkurang. Sebab terlalu sibuk ikut campur urusan orang lain. Hidupnya nggak berkah, bahkan rezeki sempit. Allah itu nggak suka pada orang-orang yang "sok ikut campur" urusan yang bukan urusannya, apapun dalihnya.

 


Jadi, ketika kita berbicara tentang hal-hal yang tidak ada urusannya dengan diri kita itu merusak diri sendiri. Terlalu banyak membicarakan kehidupan orang lain itu menghilangkan berkah, apalagi orang yang dibicarakan tidak senang. Hati-hati soal-soal begini. Tidak usah sok peduli, fokus saja untuk diri sendiri. Kesannya sederhana, tapi mengurusi hidup orang lain itu "wajib" dihindari. Dan banyak orang susah untuk tidak peduli urusan orang, begitu faktanya.

 

Pesan ini penting, untuk mengajak kita lebih menjaga lisan, fokus memperbaiki diri, dan tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai bahan pembicaraan yang tidak bermanfaat. Ngurus diri sendiri saja belum tentu benar, ngapain urus hidup orang lain?

 

Semakin seseorang sibuk mengurusi hal yang bukan bagiannya, semakin sedikit ruang untuk memperbaiki dirinya sendiri. Di situlah mulai menjalar "hati keras, tubuh kemah dan rezeki kurang".

 

Ketahuilah, ketenangan hidup hanya datang ketika kita mau membatasi ucapan, menjaga hati, dan lebih sibuk memperbaiki diri daripada membicarakan kehidupan orang lain. Urus diri sendiri, bukan urus hidup orang lain!

 


Kalau Dizolimi Tidak Perlu Dibalas

Kalau tidak dihargai, berhenti memohon untuk dipilih. Kalau dizolimi, tidak perlu dibalas. Cukup diam saja. Kalau difitnah, tidak perlu diklarifikasi karena risiko akan ditanggung oleh yang terlibat dalam fitnahan itu. Begitulah sikap yang literat!

 

Kalau ditinggalkan, nggak usah sibuk mencari dan biarkan mereka pergi. Kalau dokhianati, nggak perlu dibalas. Biarkan dia menuai apa yang dia lakukan sendiri. Dan kalau disakiti, jangan pernah membalas untuk menyakiti. Begitulah sikap yang literat!

 

Lebih baik fokus pada hidup kita sendiri. Terulah memperbaiki diri dan ikhtiar yang baik. Kalau sebuah tempat bikin kita selalu dikecewakan dan membuat luka. Berarti ada yang nggak beres sama lingkungan itu. Pasang batas atau cut off saja. Jauhi lingkungan yang toxic.

 

Kalau setiap hari hidup kita penuh resah, jangan dipendam. Cari akar masalahnya dan selesaikan. Bila tidak mampu, cukup diam dan serahkan kepada-Nya.

 


Intinya, apapun yang baik untuk kesehatan maka tinggalkan pelan-pelan, jaga kesehatan bukan hanya memelihara pola makan atau fisik semata. Tapi juga menjauhi lingkungan toxic dan menjaga mental yang sehat. Jangan sakiti diri sendiri dengan bergaul pada orang-orang yang salah.

 

Caranya bagaimana? Salah satunya mengabdi di taman bacaan, Berbuat baik dan menebar manfaat kepada orang lain melalu aktivitas sosial di taman bacaan masyarakat. Seperti yang dilakukan relawan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.


Selasa, 19 Mei 2026

Nantinya Pekerja Merasa Nggak Berguna di Masa Pensiun?

​Seorang pensiunan cerita. Bangun jam 10 pagi, melihat rumah sudah sepi. Tidak ada yang dikerjakan lagi. Yang dirasakan bukan "asyik libur" tapi hatinya merasa gelisah. ​Ada rasa bersalah yang tiba-tiba dipikirkan. Padahal, si pensiunan nggak lagi melakukan kesalahan fatal. Kan sudah pensiun, yaw ajar saja bangun siang dan tidak ada kerjaan lagi sehari-hari.

 

Banyak orang yang bilang, musuh terbesar seorang pensiunan adalah nggak punya uang. Salah. Uang itu masalah teknis. Masalah mentalnya jauh lebih horor dari soal uang. Bila mau jujur, pensiunan merasa gelisah bukan bukan status "tidak bekerja" di KTP. Bukan pula karena nggak ada kerjaan sehari-hari. Tapi karena merasa “sudah nggak berguna” lagi, buat banyak orang atau keluarga.

 

Itulah cara pandang yang kurang pas tentang pensiunan. Selama ini, lingkungan membentuk kita buat percaya kalau "bekerja = hidup" dan "pensiun = manusia nggak berdaya". Kita dipaksa percaya kalau nilai diri seorang manusia itu diukur dari ID Card yang dikalungin di leher atau slip gaji yang masuk tiap tanggal 25. ​Dampaknya apa? Begitu kerjaan itu hilang dan pensiun datang, kita merasa diri kita juga ikutan hilang. Kita merasa jadi rongsokan yang cuma ngabisin nasi di magic com dan hanya menuh-menuhin space di rumah. ​Mondar-mandir dari teras ke dalam rumah, dan sebaliknya.   

 

Sayangny akita sering nggak sadar. Waktu kita sibuk bekerja, 8 sampai 12 jam sehari penuh. Bahkan berangkat gelap pulang gelap. Sering banget mengeluh pengen bebas, pengen punya banyak waktu buat diri sendiri, pengen punya waktu untuk keluarga. Dan pengen belajar ini itu tapi nggak sempat.

 

Sekarang di masa pensiun, justru semesta lagi memberi kita waktu itu secara cuma-cuma. Kita dikasih kemewahan paling mahal di dunia yang nggak bisa dibeli sama bos perusahaan lama tempat kita bekerja yaitu “waktu luang”.

 

Terus kenapa kita saat pensiun malah gelisah? Karena kita belum siap mental jadi "CEO" buat hidup kita sendiri. Selama ini kita cuma bisa gerak kalau disuruh bos, dikasih target sama kantor, atau dikejar deadline. Begitu nggak ada yang nyuruh, kita bingung mau ngapain? Lalu kita menyimpulkan diri merasa nggak berguna. Nggak bisa lagi aktualisasi diri.

 

​Pikiran seperti itu adalah jebakan psikologis yang paling jahat yang kita ciptain sendiri. Pensiun alias berhenti bekerja karena usia itu bukan akhir dari dunia. Pensiun itu cuma momen di mana kita berhenti jadi robot orang lain, dan dipaksa buat mulai membangun "kepercayaan diri" paling penting di dunia.  

 


Makanya, mulai hari ini, stop memposisikan diri kita sebagai “korban” yang layak dikasihani. Jangan biarkan isi kepala kita didominasi sama pertanyaan ketakutan kayak, "Besok gue mau ngapain?". Seolah-olah hari esok dan masa depan kita itu barang ghaib yang nggak bisa kita kontrol.

 

​Masa depan pensiunan itu bukan ditebak besok. Tapi ditentukan dari apa yang kitapegang di tangan hari ini selama 24 jam ke depan. Kita punya kuota internet, punya HP, punya otak yang masih utuh. Justru waktu luang kita di masa pensiun sekarang jadi modal awal paling gede yang kita punya. Tinggal kita mau putar modal itu buat belajar keterampilan baru, memgabdi pada orang lain. Atau kita habiskan buat dengerin suara-suara di kepala kita yang makin hari makin beracun.

 

Sebagian pekerja bilang pensiun itu akhir. Salah banget. Justru masa pensiun itu awal untuk melanjutkan hidup menjadi lebih berguna untuk banyak orang. Mimpi yang nggak bisa dilakukan saat masih bekerja, semua bisa diwujudkan saat pensiun. Agar tetap sehat, waras dan lebih berdaya. Sebab “khoirunnass anfa’uhum linnass”, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya.

 

Mau lebih bermanfaat di masa pensiun, masa siapkan dana pensiun dari sekarang. Asal punya dana yang cukup untuk berkiprah dan bermanfaat bagi banyak orang di hari tua. #YukSiapkanPensiun

 

Orang yang Cukup Tidak Sibuk Berebut, Lebih Baik Baca

Orang yang cukup tidak sibuk berebut. Orang yang berilmu tidak sibuk berdebat. Dan orang yang mulia tidak sibuk mencaci. Begitulah ungkapan yang patut jadi renungan literasi.

 

Ungkapan itu mengajarkan kedewasaan seseorang terlihat dari cara ia mengelola energi, pikiran, dan waktunya. Orang yang merasa cukup tidak terus-menerus sibuk berebut pengakuan, jabatan, atau harta, karena ia memahami bahwa hidup bukan sekadar perlombaan untuk menang dari orang lain. Rasa cukup melahirkan ketenangan batin. Dalam kehidupan sehari-hari, orang seperti ini cenderung lebih fokus pada pengembangan diri dibanding membandingkan hidupnya dengan orang lain.

 

Orang yang berilmu juga tidak gemar berdebat tanpa tujuan. Semakin luas wawasan seseorang, biasanya semakin ia sadar bahwa pengetahuan manusia memiliki batas. Ia tidak merasa perlu memenangkan semua perdebatan demi terlihat pintar. Sebaliknya, ia lebih suka berdiskusi untuk saling memahami. Kebiasaan membaca buku banyak membentuk sikap ini, karena buku mempertemukan seseorang dengan berbagai sudut pandang, pengalaman, dan pemikiran yang membuatnya lebih rendah hati dalam menyikapi perbedaan.

 


Dan begitu pula, orang yang mulia tidak sibuk mencaci karena ia memahami bahwa ucapan mencerminkan kualitas diri. Mencela orang lain sering kali lahir dari hati yang penuh kemarahan, iri, atau kekosongan. Orang yang berkarakter baik akan lebih memilih memberi manfaat daripada menyakiti. Membaca buku, terutama buku-buku tentang kehidupan, sejarah, dan kebijaksanaan, dapat membantu seseorang melatih empati dan memahami perjuangan manusia lain. Dari sana lahir sikap yang lebih bijak dalam berbicara maupun bertindak.

 


Pada akhirnya, kebiasaan membaca buku bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian. Buku melatih seseorang untuk berpikir lebih dalam, mendengar lebih banyak, dan berbicara lebih seperlunya. Orang yang rajin membaca biasanya tidak mudah terpancing untuk berebut, berdebat tanpa arah, atau mencaci, karena pikirannya dipenuhi pemahaman dan refleksi. Semakin banyak seseorang belajar, semakin ia sadar bahwa hidup bukan tentang menjadi paling keras suaranya, melainkan tentang menjadi paling matang sikapnya. Tradisi membaca buku itulah yang terus dikembangkan di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #PegiatLiterasi