Jumat, 10 Juli 2026

Pak Darto, Kisah Pensiunan Dosen

Namanya Pak Darto, mengabdikan dirinya sebagai dosen di salah satu PTN di Jakarta selama lebih dari tiga puluh tahun. Menjelang pensiun, gaji terakhir yang diterimanya mencapai Rp10 juta per bulan. Selama masih aktif mengajar, ia merasa penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak, sesekali berlibur, dan membantu sanak saudara. Karena yakin akan memperoleh uang pensiun dari negara, ia tidak pernah berpikir untuk menyiapkan tabungan pensiun tambahan atau mengikuti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

 

Hari yang ditunggu sekaligus dikhawatirkan pun tiba. Setelah resmi pensiun, penghasilannya berubah drastis. Uang pensiun yang diterimanya hanya sekitar Rp2 juta per bulan, sementara aktivitas mengajar dan berbagai tunjangan yang selama ini melengkapi pendapatannya berhenti. Di sisi lain, biaya hidup tidak ikut turun. Untuk kebutuhan makan, listrik, obat-obatan, transportasi, komunikasi, hingga membantu cucu, ia masih membutuhkan sekitar Rp7 juta setiap bulan. Artinya, terdapat kesenjangan sebesar Rp5 juta antara kebutuhan hidup dan pendapatan pensiun yang diterimanya.

 

Dalam beberapa bulan pertama, Pak Darto berusaha bertahan dengan menggunakan tabungan yang masih tersisa. Namun tabungan itu semakin menipis karena terus dipakai menutup kekurangan biaya hidup setiap bulan. Ia mulai menunda pemeriksaan kesehatan, mengurangi kegiatan sosial yang dulu rutin diikuti, bahkan berpikir dua kali sebelum membeli obat atau menghadiri acara keluarga di luar kota. Standar hidup yang selama puluhan tahun dibangun perlahan menurun, bukan karena gaya hidup mewah, melainkan karena penghasilan setelah pensiun tidak lagi mampu menopang kebutuhan dasarnya di hari tua.

 

Di masa pensiunnya, Pak Darto menyadari bahwa yang hilang bukan sekadar besarnya penghasilan. Tapi kemampuan mempertahankan kualitas hidup. Saat masih bekerja, ia terbiasa hidup dengan penghasilan Rp10 juta per bulan. Ketika memasuki masa pensiun dan hanya menerima Rp2 juta per bulan, penyesuaian yang harus dilakukan sangat besar. Ia pun berkata kepada rekan-rekannya yang masih aktif mengajar, "Yang sulit bukan memasuki masa pensiun, tetapi menerima kenyataan bahwa penghasilan turun drastis sementara kebutuhan hidup tetap berjalan."

 


Seandainya waktu dapat diputar kembali, Pak Darto mengaku akan mengambil langkah yang berbeda. Ia akan menyisihkan sebagian penghasilannya, misalnya 5–10% setiap bulan, untuk mengikuti program pensiun tambahan seperti DPLK atau instrumen investasi jangka panjang lainnya. Dengan iuran yang dilakukan secara rutin sejak usia produktif, ia dapat membangun dana pensiun yang menghasilkan manfaat berkala setiap bulan sehingga total pendapatan pensiunnya tidak hanya berasal dari uang pensiun wajib, tetapi juga dari tabungan pensiun yang dipersiapkan sendiri selagi masih bekerja.

 

Kisah Pak Darto, tentu menjadi pelajaran bahwa masa pensiun bukan hanya soal berhenti bekerja. Tapi juga tentang menjaga keberlanjutan standar hidup. Persiapan pensiun sebaiknya dimulai sejak awal karier, bukan menjelang pensiun. Semakin dini seseorang menabung dan berinvestasi untuk hari tua, semakin besar peluangnya menikmati masa pensiun dengan tenang, mandiri, dan tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup tanpa bergantung pada tabungan yang cepat habis atau bantuan anak di hari tua.

 

Sayangnya, Pak Darto tidak bisa lagi memutar waktu. Kini, ia hanya menjalani hari-harinya dengan pasrah. Sambil tetap mencari pekerjaan sambilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tadinya Pak Darto berharap bisa menjalani masa pensiun dengan tenang dan bersyukur. Tapi ternyata, masa pensiunnya “jauh panggang dari api” …  #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM



Kamis, 09 Juli 2026

86% Pekerja Muda Belum Punya Dana Pensiun tapi Pengen Dibayar Bulanan Saat Pensiun

Ini sekadar realitas dana pensiun di kalangan pekerja muda. Tentang survei persiapan masa pensiun di kalangan pekerja muda, ternyata 86% pekerja muda di Jabodetabek belum memiliki dana pensiun/DPLK untuk menunjang kemandirian finansial mereka. Hanya 14% yang sudah punya dana pensiun. Menariknya, jika pekerja muda pensiun, sebanyak 45% pekerja muda lebih memilih pembayaran manfaat pensiun secara bulanan dan 41% memilih kombinasi antara pembayaran sekaligus dan bulanan. Ini berarti, kesadaran pekerja muda terhadap persiapan pensiun tergolong masih rendah.

 

Survei ini bertajuk "Dana Pensiun di Pekerja Muda" yang dilakukan oleh Syarifudin Yunus (Ketua Dewan Pengawas DPLK Sinarmas Asset Management) pada Juli 2026 yang melibatkan 42 pekerja muda di Jabodetabek. Hampir seluruhnya berada di usia 20-35 tahun dengan 80% responden sudah memiliki masa kerja di atas 3 tahun, yang 60%-nya di sektor formal dan 40% di sektor informal.

 

Jelas dari survei ini, tingkat kesadaran atau kepemilikan dana pensiun di kalangan pekerja muda saat ini masih tergolong sangat rendah. Beberapa poin penting dari survei ini antara lain:

1.    Mayoritas pekerja muda belum memiliki dana pensiun. Sebanyak 86% pekerja muda menyatakan belum memiliki Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) untuk kemandirian finansial di hari tua.

2.    Minoritas yang sudah memiliki. Hanya 14% pekerja muda yang tercatat sudah memiliki perlindungan dana pensiun untuk hari tuanya.

3.    Preferensi pembayaran manfaat pensiun. Sebanyak 45% pekerja muda lebih suka manfaat pensiun dibayar setiap bulan, 41% memilih kombinasi yaitu 20% dibayar sekaligus dan 80% dibayar setiap bulan, dan hanya 14% yang lebih suka manfaatnya dibayar sekaligus (lump sum).

 


Ada fenomena yang kontradiksi dari survei ini, yaitu sebagian besar (86%) pekerja muda belum memiliki dana pensiun tapi sebagian besar pula (86%) pekerja muda lebih menginginkan pembayaran manfaat pensiunnya dilakukan secara bulanan. Masalahnya, bagaimana mungkin bisa punya kesinambungan penghasilan di hari tua bila tidak punya dana pensiun.

 

Maka solusinya, pekerja muda sebaiknya punya dana pensiun/DPLK terlebih dulu. Agar bisa memiliki penghasilan bulanan di hari tua, saat tidak bekerja lagi. Dari survei ini tersirat akan pentingnya edukasi dan kemudahan akses DPLK untuk pekerja muda. Agar kerja yes, pensiun oke #YukSiapkPensiun #DPLKSAM #EdukasiDPLK



Mengejar Validasi, Seperti Utang yang Tidak Perlu Dibayar

Pernah perhatikan nggak, kita sering melihat Bapak-bapak sepulang kerja di angkutan umum duduk bersandar sambil pejamkan mata? Ada juga Bapak-bapak lagi ngopi di warung tapi tatapan matanya kosong? Bahkan ada Bapak-bapak yang bawa mobil sesampainya di garasi rumah, tapi memilih duduk diam di dalam mobil 5-10 menit. Lelah banget kayaknya Bapak-bapak itu?

 

Banyak orang mengira kondisi Bapak-bapak yang begitu untuk menenangkan diri setelah kerja seharian. Atau butuh waktu 'me time'. Ternyata, perilaku bapak-bapak begitu bukan cuma lelah fisik biasa. Tapi tentang apa yang diharapkan akan didapat dari dunia luar namun nggak pernah bisa terpenuhi.  

 

Sejak kecil, banyak dari Bapak-bapak itu tumbuh tanpa pernah mendengar satu kalimat sederhana dari figur ayah mereka: "Aku bangga sama kamu." Kalimat yang bisa jadi motivasi dan fondasi identitas diri. Bayangkan, sudah puluhan tahun mereka bekerja, menafkahi keluarga bahkan berjuang sekuat tenaga. Tanpa ada pengakuan dari mana pun.

 

Mengejar pengakuan, berharap validasi. Cerita Bapak-bapak itu hanya analogi. Seperti kita yang pernah merasa semua pencapaian kita terasa hampa, seolah-olah ada yang kurang? Karena di otak kita itu ada mesin pencari validasi. Kalau validasi penting dari orang terdekat (seperri ayah) tidak didapat, maka kita akan otomatis mencari dari orang lain. Makanya, banyak orang berharap validasi dari bos di kantor atau dari klien. Ada juga mengejar pengakuan dari organisasi. Minimal dapat jumlah 'like' di media sosial. Begitulah adanya.

 

Kita bekerja keras bertahun-tahun, bukan cuma buat uang atau status. Tapi juga untuk mengumpulkan 'pujian' yang nggak pernah terucap itu. Dan tanpa sadar, kita sedang berusaha mengisi “ember bocor” dengan air dari keran yang salah. Mengejar sesuatu yang tidak ada maknanya. Validasi kosong.

 

Itulah yang disebut psikolog sebagai external locus of control. Gejala seseorang mencari validasi terus-menerus dari luar dirinya. Kita terlalu percaya bahwa hasil dan kebahagiaan itu ditentukan oleh faktor di luar kendali kita. Seperti pujian dari atasan atau orang lain. Pengen dibilang hebat oleh orang lain. Ironisnya, semakin kita kejar, makin cepat rasa puas itu hilang. Mirip lari mengejar bayangan sendiri di siang bolong. Seperti fatamorgana.  

 


Apa yang terjadi kemudian? Rasa takut nggak diakui atau berharap validasi akhirnya membungkus diri jadi 'logika'. Otaknya menyuruh untuk kerja lebih keras dan lebih sukses, biar dapat validasi. Hingga kita lupa bertanya pada diri sendiri. Apa yang kita lakukan sekarang sebenarnya untuk apa? Untuk mendapat validasi orang lain atau untuk aktualisasi dri?

 

Kita sering gampang marah saat dikritik hal-hal kecil. Karena di bawah sadar kita, kritik sekecil apapun terasa seperti ancaman ke identitas kita. Dan di titik itulah, sejatinya kita bukan lagi mengejar kebahagiaan. Tapi cuma menghindari rasa kalah yang selama ini kita pendam sendiri.  Dan akhirnya, kita sering merasa gagal. Padahal, kita hanya sedang mencoba melunasi utang emosional masa lalu yang sebenarnya tidak perlu kita bayar.  

 

Maka sadarilah, pengakuan yang paling kita butuhkan justru ada di dalam diri kita sendiri. Bukan di dompet, bukan di mobil. Apalagi di ucapan orang lain. Logika atau otak kita terkadang sering “salah jalan” tapi kita sering membiarkannya. Persis seperti ponsel atau sepatu yang sedang kita pakai sekarang, sudah berapa lama kita biarkan rusak tapi nggak diganti? Jadi, nggak usah mengejar validasi tapi teruslah memperbaiki diri!

 

1 dari 2 Gen Z Komit Bantu 10% dari Gaji untuk Kondisi Finansial Orang tua di Masa Pensiun

Sebuah studi menyebut 87% Gen Z khawatir akan kondisi ekonomi – finansial orang tuanya di masa pensiun. Itu berarti, Gen Z peduli terhadap akan kondisi finansial orang tuanya saat tidak bekerj lagi. Gen Z ikut cemas bagaimana orang tuanya dapat memenuhi kebutuhan hidup di hari tua. Bisa jadi, Gen Z juga mau ikut memikul tanggung jawab finansial untuk menopang kondisi ekonomi keluarga di masa depan. Semoga begitu ya Gen Z.

 

Lalu, berapa persen dari gaji Gen Z yang mau dialokasikan untuk membantu ekonomi orang tuanya di masa pensiun? Dari hasil survei tentang komitmen finansial Generasi Z terhadap orang tuanya di masa pensiun menyebut 53% Gen Z berencana untuk mengalokasikan 10% dari gaji mereka untuk membantu kondisi finansial orang tuanya di masa pensiun. Sekitar 27% Gen Z berniat menyisihkan antara 10% hingga 30% dari gaji untuk orang tuanya dan 20% Gen Z bersedia memberikan lebih dari 30% gajinya untuk orang tua. Secara lengkap, survei bertajuk “Tingkat Kekhawatiran Gen Z atas Keuangan Pensiun Orang Tua dan Strategi Kebebasan Finansial” dilakukan oleh Syarifudin Yunus, edukator dana pensiun DPLK SAM dapat disimak - https://journal.areai.or.id/index.php/MENAWAN/article/view/1276.

 

Artinya, 1 dari 2 Gen Z hanya bersedia menyisihkan 10% dari gaji untuk membantu orang tuanya di masa pensiun. Sebagai solusi atas kekhawatiran Gen Z terhadap kondisi ekonomi orang tuanya di masa pensiun, maka Gen Z harus “siap secara keuangan” saat orag tuanya memasuki pensiun. Gen Z yang bekerja harus mulai berpikir untuk membantu ekonomi orang tuanya. Sebab bila gen Z tidak mampu, maka orang tuanya akan mengalami masalah keuangan di hari tua. Lalu, kepada siapa orang tua harus meminta bantuan, apalagi dalam kondisi mendesak?

 


Selain untuk membuktikan komitmen bantuan finansial ke orang tua, Gen Z juga harus mulai berani menabung untuk masa pensiun atau hari tua mereka sendiri. Mempersiapkan tabungan pensiun untuk Gen Z sendiri. Caranya bisa dilakukan melalui DPLK (Dana Pensiun lembaga Keuangan). Gen Z bisa ikut dan memiliki DPLK melalui aplikasi digital yang ada. Gen Z harus terlibat aktif dalam mempersiapkan masa pensiunnya sendiri, di samping dapat memantau akumulasi dana dan mengelola perencanaan pensiun secara digital. Untuk bisa mendaftar DPLK secara online, salah satunya melalui aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang berkomitmen memberi kemudahan akses dana pensiun kepada pekerja (formal dan informal). Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

Maka tantangan ke depan, Gen Z selain komitmen membantu kondisi finansial orang tuanya di masa pensiun. Tapi Gen Z juga perlu mempersiapkan masa pensiunnya sendiri sejak dini. Agar kerja yes, pensiun oke. #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDPLK

 


Rabu, 08 Juli 2026

55% Pekerja Tidak Yakin Dapat Memenuhi kebutuhan Hidup di Masa Pensiun

Sebuah hasil survei persiapan dana pensiun terhadap 100 pekerja di Jabodetabek menyoroti tingkat kepercayaan diri para pekerja dalam menghadapi masa pensiun. Sebanyak 55% pekerja merasa tidak yakin mampu mencukupi kebutuhan ekonomi setelah berhenti bekerja atau pensiun. Sebaliknya, hanya terdapat 45% pekerja yang merasa optimis terhadap kondisi finansial di hari tua. Survei ini menunjukkan adanya kerentanan ekonomi yang signifikan di kalangan pekerja terkait biaya hidup saat pensiun. Artinya, ada risiko masalah keuangan yang membayangi lebih dari separuh populasi pekerja. Ketidakpastian ini menegaskan perlunya perhatian lebih terhadap perencanaan hari tua agar kemandirian finansial pekerja dapat tercapai. Survei bertajuk “Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia” dilakukan oleh Syarifudin Yunus, peneliti dana pensiun dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) pada Agustus 20205 dan terbit di jurnal ilmiah JiMaKeBiDI (link: https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776).

 

Mengcau pada survei tersebut, maka implikasi risiko keuangan bagi pekerja yang tidak memiliki dana pensiun adalah sebagai berikut:

1.    Kerentanan terhadap Masalah Keuangan: Pekerja menjadi sangat rentan terhadap risiko masalah keuangan di hari tua atau masa pensiun.

2.    Ketidakpastian Biaya Hidup: Terdapat tingkat ketidakyakinan yang tinggi dalam memenuhi kebutuhan dasar, di mana 1 dari 2 pekerja merasa tidak yakin dapat memenuhi biaya hidupnya saat masa pensiun tiba atau ketika sudah tidak bekerja lagi.

3.    Rendahnya Kepercayaan Diri Finansial: Data menunjukkan bahwa mayoritas pekerja (55%) merasa "Tidak Yakin" dengan keamanan finansial di masa depan, dibandingkan dengan 45% yang merasa yakin.

 

Tingkat keyakinan pekerja terkait kemampuan memenuhi biaya hidup di hari tua (saat tidak lagi bekerja) menunjukkan kesenjangan yang signifikan yaitu pekerja yang tidak yakin (55%) dan pekerja yang yakin (45%). Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak pekerja yang merasa terancam secara finansial dibandingkan pekerja yang merasa aman di hari tua. Karena itu, beberapa poin penting terkait strategi pekerja untuk menghindari kerentanan di hari tua:

1.    Pentingnya dana pensiun/DPLK sebagai langkah utama agar pekerja untuk menjaga kesinambungan penghasilan di hari tua sekaligus menghindari "masalah keuangan” di masa pensiun.

2.    Meningkatkan keyakinan finansial dengan berfokus pada upaya-upaya yang dapat mengubah status "Tidak Yakin" menjadi "Yakin" (seperti kelompok 45% lainnya) melalui perencanaan keuangan yang lebih matang, menekan perilaku konsumtif, dan menghindari gaya hidup berlebihan.

3.    Kesadaran akan risiko agar terhidndar dari kesulitan memenuhi biaya hidup saat sudah tidak bekerja lagi.

 


Maka sebagai solusi, pekerja harus mulai berani menabung untuk masa pensiun atau hari tua. Tentu di era digital begini, pilihlah DPLK yang punya akses digital (mendaftar secara online).  Karena melalui aplikasi digital, setiap pekerja bisa mendapat edukasi dan akses langusng untuk punya dana pensiun. Pekerja harus terlibat aktif dalam mempersiapkan masa pensiunnya sendiri, di samping dapat memantau akumulasi dana dan mengelola perencanaan pensiun secara digital. Untuk bisa mendaftar DPLK secara online, salah satunya melalui  aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang berkomitmen memberi kemudahan akses pekerja (formal dan informal) untuk membeli DPLK. Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

Jadi, solusi mendasar untuk pekerja adalah memulai atau mengoptimalkan kepemilikan dana pensiun di DPLK. Agar pekerja tidak lagi menjadi kelompok yang "rentan terhadap risiko masalah keuangan" saat sudah tidak bekerja lagi. Mengubah dari tidak yakin menjadi yakin soal urusan finansial di hari tua. #YukSiapkPensiun #DPLKSAM #EdukasiDPLK

 


Selasa, 07 Juli 2026

Survei DPLK: 62,5% Milenial Mau Punya DPLK Secara Online dan 56% Iuran antara 1-5% dari Gaji

Menurut data terbaru SUPAS 2025 oleh BPS, struktur penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh generasi muda, khususnya Gen Z dan Milenial. Bahkan, jika digabungkan, kedua generasi ini mencapai 49,27% dari total populasi Indonesia. Artinya, hampir separuh penduduk Indonesia saat ini berada di usia muda dan produktif.

Berdasarkan hasil SUPAS 2025 oleh BPS per 5 Mei 2026, Gen Z yang lahir pada 1997–2012 menjadi generasi terbesar di Indonesia dengan persentase 24,93% atau 64 juta orang. Sementara itu, generasi Milenial yang lahir pada 1981–1996 berada tepat di bawahnya dengan persentase 24,34% atau 62 juta orang. 

 

Lalu bagaimana sikap dan preferensi generasi milenial terhadap kepemilikan dana pensiun, khususnya DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan)? Ternyata, mayoritas generasi milenial menunjukkan minat yang tinggi untuk menyisihkan sebagian penghasilannya untuk masa pensiun. Bahkan milenial cenderung untuk memiliki akun DPLK secara mandiri daripada hanya mengandalkan fasilitas dari tempat kerja. Dalam hal akses, milenial juga lebih menyukai menyukai metode daftar secara online dibandingkan harus datang langsung ke kantor DPLK. Begitulah hasil survei yang dilakukan Syarifudin Yunus (Ketua Dewan Pengaawas DPLK Sinarmas Asset Management – edukator dana pensiun LSP Dana Pensiun) pada Juli 2026 dengan sampel 80 generasi milenial di Jabodetabek.

 

Jadi, salah bila ada anggapan milenial tidak peduli dana pensiun. Justru milenial punya kesadaran finansial yang cukup matang untuk masa pensiunnya. Hanya saja faktor edukasi dan akses yang relative masih jadi masalah. Berdasarkan hasil survei DPLK pada kaum milenial tahun 2026, kesiapan milenial untuk menyisihkan penghasilan demi masa pensiun menunjukkan tren yang sangat positif dengan rincian sebagai berikut:

1.    Keinginan Menyisihkan Penghasilan: Mayoritas besar milenial, yaitu sebanyak 70% menyatakan "Ya" atau mau menyisihkan sebagian gaji mereka untuk masa pensiun. Sementara itu, 25% lainnya menyatakan "Mungkin", dan hanya 5% yang secara tegas menyatakan tidak mau.

2.    Kemandirian dalam Perencanaan: Tingkat kesiapan ini juga terlihat dari kemauan mereka untuk membeli program pensiun DPLK secara mandiri (bukan melalui kantor), di mana 78,5% responden menyatakan bersedia melakukannya.

3.    Besaran Iuran yang Disisihkan: Mengenai jumlah yang akan ditabung, sebagian besar milenial cenderung memilih persentase yang moderat. Sebanyak 56% berencana menyisihkan 1-5% dari gaji, sementara 40% bersedia menyisihkan 6-10%. Hanya ada sekitar 4% yang siap menyisihkan antara 11-15% dari penghasilan mereka.

4.    Preferensi Akses: Dalam hal cara membeli program tersebut, kaum milenial lebih siap dengan metode digital, di mana 62,5% lebih memilih akses secara online dibandingkan metode manual atau datang langsung (walk-in) yang dipilih oleh 37,5% responden.

 


Generasi milenial sadar betul masa pensiun memang harus disiapkan. Salah satu caranya, dengan menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin melalui program dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Kuncinya bukan pada besarnya iuran, melainkan pada konsistensi dan waktu memulai. Dan untuk itu, platform digital DPLK sangat diperlukan. Karena itu, di era digital begini, DPLK yang memberi akses digital (mendaftar secara online) dan mau edukasi jadi penting. Agar generasi milenial lebih mudah akses, lebih transparan, dan mendapat layanan cepat. Maka untuk mendaftar DPLK secara online, salah satunya bisa dilakukan melalui  aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) yang berkomitmen memberi kemudahan akses pekerja milenial (formal dan informal) untuk memiliki DPLK. Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).

 

Milenial patut paham, semakin muda seseorang mulai menabung untuk pensiun maka semakin besar manfaat pensiun yang akan diperolehnya. Uang yang disisihkan hari ini tidak hanya tersimpan, tetapi juga bertumbuh dari tahun ke tahun sehingga membentuk dana yang jauh lebih besar saat memasuki usia pensiun. #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDPLK

 


Kesenjangan Finansial antara Pendapatan Saat Bekerja dan Dana yang Tersedia Saat Pensiun di Indonesia

Data menunjukkan bahwa tingkat penghasilan pensiun (TPP) aktual di Indonesia hanya mencapai 10 persen dari gaji terakhir, angka yang jauh di bawah standar yang direkomendasikan oleh ILO (40%) maupun rata-rata negara OECD (60%). Bahkan sebuah riset merinci kebutuhan biaya hidup bulanan seorang pensiunan idealnya mencapai 56% dari gaji terakhir. Bila gaji terakhir Rp. 10.000.000 maka kebutuhan di saat pensiun mencapai Rp5.600.000. Sementara dana yang benar-benar tersedia hanya sebesar Rp1.000.000. Simak penelitian Syarifudin Yunus berjudul “Analisis Tingkat Penghasilan Pensiun (TPP) Pekerja dan Faktor yang Mempengaruhinya Serta Optimalisasi Peran Dana Pensiun Swasta di Indonesia” (2025) di Jurnal Lokawati Vol. 3 No. 3 - https://journal.arimbi.or.id/index.php/Lokawati/article/view/1709.

 

Bagaimana kemampuan pensiunan dalam mempertahankan standar hidup pensiunan di hari tua? Perbandingan tingkat penghasilan pensiun (TPP) atau Replacement Rate di Indonesia dengan standar global menunjukkan kesenjangan yang sangat signifikan:

·      TPP Aktual di Indonesia: Saat ini hanya mencapai 10% dari gaji terakhir. Sebagai contoh, seseorang dengan gaji terakhir Rp 10.000.000 hanya akan menerima dana pensiun sebesar Rp 1.000.000 per bulan.

·      Rekomendasi ILO (International Labour Organization): Standar internasional yang direkomendasikan oleh ILO adalah sebesar 40% dari gaji terakhir. Ini berarti Indonesia masih tertinggal jauh di bawah standar minimum organisasi perburuhan internasional.

·      Rata-rata Negara OECD: Negara-negara yang tergabung dalam OECD memiliki rata-rata TPP yang jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 60% dari gaji terakhir.

 

Dampaknya terhadap standar hidup di hari tua, pengeluaran bulanan pensiun ideal yang diperkirakan mencapai Rp 5.600.000 (atau 56% dari gaji terakhir untuk menutupi kebutuhan makan, listrik, kesehatan, dll.), sementara dana yang tersedia secara aktual (seperri JHT BPJS) sebesar Rp 1.000.000. Tentu tidak mencukupi untuk mempertahankan standar hidup yang layak di masa pensiun.

 


Dampak kesenjangan antara pengeluaran dan uang yang tersedia bagi pensiunan sangat drastis karena terdapat selisih kekurangan sebesar Rp4.600.000 setiap bulannya (kebutuhan Rp5.600.000 sementara dana yang tersedia hanya Rp1.000.000). Dampak spesifik dari kesenjangan ini meliputi:

·      Ketidakmampuan Memenuhi Kebutuhan Pokok: Dana pensiun sebesar Rp1.000.000 tidak cukup bahkan hanya untuk menutupi biaya makan saja yang mencapai Rp2.700.000, apalagi ditambah belanja bulanan sebesar Rp800.000.

·      Risiko Layanan Dasar dan Kesehatan: Biaya untuk air, listrik, dan asuransi kesehatan jika dijumlahkan mencapai Rp1.100.000, yang berarti total dana pensiun bulanan sudah habis bahkan sebelum membayar kebutuhan-kebutuhan mendasar ini.

·      Penurunan Standar Hidup yang Drastis: Pensiunan dipastikan tidak akan mampu mempertahankan standar hidup yang sama seperti saat masih bekerja, karena dana yang tersedia hanya 10% dari gaji terakhir, sementara biaya hidup minimal mencapai 56% dari gaji tersebut.

·      Ketidakpastian Masa Tua: Sumber tersebut secara eksplisit mempertanyakan apa yang akan terjadi di hari tua dengan kondisi keuangan yang timpang tersebut, yang mengindikasikan adanya risiko kerentanan finansial yang serius bagi para pensiunan di Indonesia.

Maka, siapkanlah pensiun sejak dini.



Senin, 06 Juli 2026

Mengenal Platform Digital DPLK “SimPensiun”

Di era seperti sekarang, aplikasi digital memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas layanan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Tujuannya untuk memberikan memberikan kemudahan akses bagi peserta kapan saja dan di mana saja. Melalui aplikasi, peserta dapat memantau saldo dana pensiun, melakukan perubahan arahan investasi, melihat riwayat transaksi iuran dan hasil pengembangan investasi, memperbarui data pribadi, memperoleh informasi mengenai dana pensiunnya secara cepat dan transparan hingga mempermudah proses pencairan manfaat pensiun. Kemudahanaplikasi digital DPLK tidak hanya meningkatkan pengalaman peserta, tetapi juga mendorong keterlibatan mereka dalam merencanakan masa pensiun secara lebih aktif.

 

Dari sisi penyelenggara DPLK, aplikasi digital membantu meningkatkan efisiensi operasional melalui otomatisasi berbagai proses administrasi, mengurangi penggunaan dokumen fisik, serta mempercepat pelayanan kepada peserta dan perusahaan pemberi kerja. Selain itu, data yang terkumpul secara digital dapat dimanfaatkan untuk analisis perilaku peserta, pengembangan layanan yang lebih personal, serta pengambilan keputusan yang lebih tepat. Dengan demikian, aplikasi digital menjadi salah satu fondasi utama dalam mendukung transformasi layanan DPLK yang modern, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan peserta.

 

Sebagai DPLK pertama di Indonesia yang didirikan oleh perusahaan manajer investasi, DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) memiliki fokus utama pada layanan berbasis teknologi digital melalui aplikasi "SimPensiun". Layanan yang ditawarkan mencakup program pensiun untuk individu maupun korporasi (PPIP dan DKPK), dana pendidikan anak,, dan pembayaran manfaat pensiun secara bulanan guna mendukung kesejahteraan finansial masyarakat di masa depan. Didukunga aplikasi digital “SimPensin”, DPLK SAM memiliki beberapa keunggulan utama antara lain:

1.   Pelopor dari Manajer Investasi: DPLK SAM merupakan DPLK pertama di Indonesia yang berasal dari Manajer Investasi, yang didukung oleh pengalaman Sinarmas Asset Management sebagai salah satu manajer investasi terkemuka dengan dana kelolaan mencapai Rp62 triliun dan melayani lebih dari 75.000 nasabah.

2.   Berbasis Teknologi Digital: Salah satu keunggulan utamanya adalah penyediaan layanan berbasis digital melalui aplikasi online bernama “SimPensiun”. Pengintegrasian teknologi ini bertujuan untuk menciptakan layanan yang efisien, transparan, dan terpercaya.

3.   Inklusif dan Mudah Diakses: Produk yang ditawarkan dirancang agar inklusif dan mudah diakses, sesuai dengan gaya hidup serta kebutuhan generasi masa kini, baik untuk pekerja di sektor formal maupun informal.

4.   Produk dan Layanan yang Variatif: Selain program pensiun standar seperti Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) dan Dana Kompensasi Pascakerja (DKPK), DPLK SAM juga menyediakan layanan pembayaran manfaat pensiun berkala (bulanan) serta dana pendidikan anak.

5.   Dukungan Tim Profesional: Layanan ini dikelola oleh tim profesional yang bertujuan membantu masyarakat Indonesia menyiapkan masa pensiun yang aman, nyaman, dan sejahtera demi mewujudkan kemandirian finansial.

 


Aplikasi digital SimPensiun merupakan platform utama bagi DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) untuk menyediakan layanan dana pensiun yang modern. Bebrbagai  fitur dan fungsi utama dalam aplikasi SimPensiun meliputi:

1.    Akses Layanan Dana Pensiun Terintegrasi: SimPensiun berfungsi sebagai platform digital atau aplikasi online yang memungkinkan pengguna mengakses seluruh layanan DPLK SAM secara praktis.

2.    Pengelolaan Program Individu dan Korporasi: Melalui aplikasi ini, pengguna dapat mengakses produk DPLK untuk individu (baik pekerja formal maupun informal) serta DPLK untuk korporasi, yang mencakup Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) dan Dana Kompensasi Pascakerja (DKPK).

3.    Fitur Dana Pendidikan Anak: Selain untuk masa tua, SimPensiun juga menyediakan akses untuk pengelolaan dana pendidikan anak sebagai salah satu manfaat tambahan.

4.    Manajemen Manfaat Pensiun Berkala: Aplikasi ini memfasilitasi administrasi untuk pembayaran manfaat pensiun secara berkala atau bulanan.

5.    Efisiensi dan Transparansi: Penggunaan teknologi digital pada SimPensiun dirancang untuk memberikan layanan yang efisien, transparan, dan terpercaya bagi para pesertanya.

 

Aplikasi ini dapat diakses melalui alamat situs web resmi di https://simpensiun.com/ atau di download melalui playstore “SimPensiun”. Intinya, melalui SimPensiun, setiappekerja atau siapapun lebih mudah untuk mendaftar jadi peserta DPLK, mengubah arahan investasi, mengecek Riwayat transaksi iuran, mengkinikan data pribadi, membuat kalkulator DPLK, hingga mencairkan manfaat pensiun secara online. #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDPLK



Bank Sinarmas Perkuat Literasi Keuangan bagi Relawan TBM

Sebagai bukti komitmen terhadap literasi keuangan, Bank Sinarmas menggelar diskusi pentingnta literasi keuangan bagi relawan dan pegiat literasi TBM Lentera Pustaka Bogor (4/6/2026). Diikuti 12 relawan yang selama ini aktif mendampingi anak-anak dan masyarakat dalam kegiatan membaca, melalui diskusi ini para relawan mendapatkan wawasan mengenai pengelolaan keuangan pribadi, pentingnya menabung, serta strategi sederhana mengatur pemasukan dan pengeluaran secara bijak.

 

Bertindak sebagai pemantik diskusi, Syarifudin Yunus yang menekankan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk dana darurat dan persiapan masa depan. Relawan sosial juga perlu memiliki kemampuan mengelola keuangan agar dapat menjaga keberlanjutan aktivitas dan pengabdiannya di masyarakat. Edukasi dilakukan dengan pendekatan praktis melalui diskusi kasus, simulasi anggaran sederhana, dan berbagi pengalaman antarrelawan.

 


Selain membahas pengelolaan keuangan pribadi, program ini turut mengenalkan literasi keuangan digital kepada para relawan TBM. Peserta diberikan pemahaman tentang penggunaan layanan perbankan digital secara aman, transaksi non tunai, hingga pentingnya menjaga keamanan data pribadi dalam aktivitas keuangan online. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, relawan TBM diharapkan dapat menjadi agen edukasi yang mampu menyampaikan pemahaman keuangan digital kepada masyarakat sekitar.

 

Para relawan pun menyambut positif kegiatan edukasi ini karena dinilai memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam aktivitas sosial yang dijalankan. Dengan meningkatnya pemahaman literasi keuangan, relawan TBM diharapkan tidak hanya menjadi penggerak budaya baca, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat di lingkungan masyarakat. Program ini sekaligus memperlihatkan bahwa pemberdayaan relawan tidak hanya berkaitan dengan pendidikan literasi baca tulis, tetapi juga literasi keuangan untuk menciptakan masyarakat yang lebih mandiri dan sejahtera. Salam literasi!

 


Penyuluhan Tabungan SIMPEL Bank Sinarmas untuk Anak Usia Sekolah

Sebagai bagian untuk memperkuat literasi keuangan, Bank Sinarmas mengadakan penyuluhan Tabungan SimPel (Simpanan Pelajar) yang diikuti 90-an anak usia sekolah di TBM Lentera Pustaka Bogor untuk menanamkan budaya menabung sejak dini (24/5/2026). Kegiatan edukatif ini berlangsung dengan suasana ceria dan interaktif agar mudah dipahami anak-anak. Bertindak sebagai narasumber Syarifudin Yunus yang menjelaskan akan pentingnya menabung.

 

Dalam kesempatan ini, setiap anak dibekali pengetahuan menabung melalui “celengan kaleng” yang disediakan Bank Sinarmas. Setelah celengan penuh, maka disetor ke tabungan SIMPEL. Melalui permainan, cerita inspiratif, dan kuis ringan, anak-anak diajak mengenal pentingnya mengelola uang serta manfaat memiliki tabungan untuk masa depan. Program ini menjadi bagian dari komitmen Bank Sinarmas dalam meningkatkan literasi keuangan di kalangan anak usia sekolah.

 

Sebagai bank swasta nasional yang peduli terhadap pendidikan dan literasi, Bank Sinarmas memberikan pemahaman sederhana mengenai perbedaan kebutuhan dan keinginan, cara menyisihkan uang saku, serta pentingnya hidup hemat. Tabungan SimPel dirancang khusus untuk pelajar agar anak-anak dapat belajar menabung dengan mudah, aman, dan menyenangkan. Setiap anak pun diberi tahu pentingnya kebiasaan mencatat pengeluaran kecil agar lebih disiplin dalam menggunakan uang sehari-hari.

 


Kegiatan literasi keuangan ini berlangsung penuh antusias karena anak-anak tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam berbagai simulasi menabung dan permainan edukatif. Saat ini anak-anak TBM Lentera Pustaka yang sudah memiliki tabungan SEMPEL sebanyak 32 anak, dan anak-anak tersebut pun berbagi pengalaman cara menyimpan uang jajan di celengan sebelum ditabung ke bank. Para orang tua yang hadir menyambut baik kegiatan penyuluhan ini karena dinilai mampu membangun karakter disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian finansial pada anak-anak sejak usia dini.

 

Melalui penyuluhan Tabungan SimPel ini, Bank Sinarmas berharap anak-anak semakin memahami bahwa kebiasaan menabung merupakan langkah kecil yang memiliki manfaat besar di masa depan. Pendidikan literasi keuangan sejak usia sekolah dinilai penting untuk membentuk generasi muda yang cerdas dalam mengelola keuangan. Dengan dukungan sekolah, keluarga, dan dunia perbankan, budaya menabung diharapkan dapat tumbuh menjadi bagian dari kebiasaan positif anak-anak Indonesia. Salam literasi!

 


Ibu Cerdas Finansial, Keluarga Lebih Sejahtera: Edukasi Keuangan Bank Sinarmas untuk Kaum Ibu

Bank Sinarmas menggelar program edukasi keuangan bagi kaum ibu sebagai upaya meningkatkan literasi finansial keluarga dan memperkuat peran perempuan dalam mengatur ekonomi rumah tangga di TBM Lentera Pustaka (3/5/2026). Kegiatan yang berlangsung secara interaktif tersebut diikuti 35 ibu rumah tangga pengantar anak ke TBM, pelaku UMKM, dan anggota komunitas perempuan yang antusias mempelajari cara mengelola keuangan secara bijak. Bertindak sebagai narasumber Syarifudin Yunus, edukator dana pensiun yang menjelaskan pentingnya menabung, membuat anggaran rumah tangga, hingga menghindari perilaku konsumtif dan jebakan pinjaman ilegal.

 

Melalui program ini, Bank Sinarmas menekankan bahwa kaum ibu memiliki peran strategis sebagai pengelola keuangan keluarga. Karena itu, kemampuan mengatur pemasukan dan pengeluaran rumah tangga menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki. Para peserta juga diberikan edukasi mengenai perencanaan keuangan jangka panjang, seperti dana pendidikan anak, dana darurat, dan persiapan masa pensiun keluarga. Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami dan dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 


Selain materi pengelolaan keuangan, peserta juga dikenalkan pada layanan perbankan digital yang aman dan praktis. Diperkenalkan pula layanan perbankan dari Bank Sinarmas seperti produk tabungan, penggunaan mobile banking, transaksi non tunai, hingga pentingnya menjaga keamanan data pribadi dalam transaksi digital. Edukasi tersebut dinilai penting mengingat semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan keuangan berbasis digital dalam aktivitas sehari-hari. Para ibu diharapkan mampu menjadi pengguna layanan keuangan yang cerdas, aman, dan bertanggung jawab.

 

Program edukasi keuangan ini mendapat sambutan positif dari peserta karena dinilai memberikan manfaat nyata bagi kehidupan keluarga. Banyak peserta mengaku lebih memahami cara menyusun prioritas kebutuhan dan pentingnya disiplin dalam mengelola uang. Bank Sinarmas berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar semakin banyak perempuan Indonesia yang memiliki kemampuan literasi keuangan yang baik. Dengan ibu yang cerdas finansial, keluarga akan menjadi lebih mandiri, sejahtera, dan siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. Salam literasi!

 

Menabung Sejak Dini Membangun Masa Depan, Literasi Finansial Bank Sinarmas di TBM Lentera Pustaka

Bertajuk “Menabung Sejak Dini, Membangun Masa Depan”, Bank Sinarmas menggelar edukasi literasi keuangan untuk anak-anak usia sekolah di TBM Lentera Pustaka (12/4/2026). Peogram literasi keuangan ini menjadi langkah nyata Bank Sinarmas dalam mengenalkan pengelolaan keuangan kepada anak-anak usia sekolah sejak dini. Kegiatan yang berlangsung di kaki Gunung Salak, Bogor ini diikuti 60-an anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka dengan suasana yang interaktif.

 

Bertindak sebagai Narasumber Syarifudin Yunus, edukator dana pensiun yang menjelaskan akan pentingnya menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga mengenal fungsi bank dalam kehidupan sehari-hari. Program ini menjadi bagian dari komitmen CSR Bank Sinarmas dalam mendukung pendidikan dan gerakan literasi masyarakat. Melalui kegiatan ini, Bank Sinarmas memberikan penyuluhan sederhana mengenai kebiasaan mengelola uang secara bijak melalui metode cerita, kuis, dan simulasi menabung. Anak-anak tampak antusias saat diperkenalkan dengan budaya menabung melalui rekening SIMPEL (Simpanan Pelajar) yang dirancang khusus bagi pelajar. Pendekatan yang digunakan dibuat ringan dan mudah dipahami agar anak-anak tidak hanya mengenal uang sebagai alat belanja, tetapi juga sebagai sarana merencanakan masa depan. Program ini sekaligus memperkuat budaya literasi finansial yang selama ini dikembangkan TBM Lentera Pustaka.

 


Bank Sinarmas menegaskan pendidikan literasi keuangan bagi anak-anak sangat penting di tengah perkembangan era digital dan konsumtif saat ini. Anak-anak perlu dibekali kemampuan mengelola uang sejak dini agar tumbuh menjadi generasi yang mandiri, bijak, dan memiliki tanggung jawab finansial. Kolaborasi antara dunia perbankan dan taman bacaan dinilai menjadi contoh praktik baik yang mampu menghadirkan pendidikan nonformal yang berdampak langsung bagi masyarakat. Selain meningkatkan minat baca, kegiatan ini juga membuka wawasan anak-anak terhadap dunia keuangan dan perbankan.

 

Program literasi keuangan Bank Sinarmas di TBM Lentera Pustaka memperlihatkan bahwa taman bacaan bukan hanya tempat membaca buku, tetapi juga ruang pembelajaran kehidupan. Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak belajar bahwa masa depan dapat dipersiapkan dari kebiasaan kecil, seperti rajin menabung dan hidup hemat. Kegiatan tersebut diharapkan terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi lembaga keuangan lainnya untuk ikut mendukung pendidikan literasi dan pemberdayaan anak-anak di komunitas masyarakat. Salam literasi!

 


Jumat, 03 Juli 2026

Peluncuran DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM): Manajer Investasi Pertama Pendiri DPLK di Indonesia dan Sediakan Layanan DPLK Digital

Sebagai upaya untuk mengembangkan kepesertaan dana pensiun berbasis digital, Sinarmas Asset Management hari ini meluncurkan DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) di Jakarta (3/7/2026). DPLK SAM menjadi dana pensiun lembaga keuangan pertama di Indonesia yang berasal dari manajer investasi sesuai dengan izin resmi OJK No. KEP-39/D.05/2026 tertanggal 5 Juni 2026. Melalui aplikasi digital “SimPensiun”, DPLK SAM memberi kemudahan akses pekerja di Indonesia untuk memiliki dana pensiun sebagai perencanaan hari tua.  

 

Peluncuran DPLK SAM tandai dengan penekanan tombol digital oleh Alex Setyawan W.K. (Direktur Utama Sinarmas Asset Management), Soegeng Wibowo (Komisaris Utama Sinarmas Asset Management), Stephanus Rudi (Ketua Pengurus), dan Syarifudin Yunus (Ketua Dewan Pengawas). Hadinya DPLK SAM diharapkan dapat mendorong peningkatan kesadaran tentang pentingnya perencanaan pensiun sejak dini, di samping meenyediakan produk DPLK yang inklusif dan mudah diakses secara digital.

 

“Kami bersyukur dan berterima kasih kepada OJK atas izin yang diberikan kepada DPLK Sinarmas Asset Management. Hadirnya DPLK SAM menjadi bagian dalam mendukung Indonesia Emas tahun 2045 khususnya dalam menyiapkan kesejahteraan hari tua bagi pekerja dan masyarakat Indonesia melalui layanan DPLK berbasis digital” ujar Alex Setyawan W.K., Direktur Utama Sinarmas Asset Management saat acara peluncuran hari ini.

 

Dengan beroperasinya DPLK SAM yang didirikan manajer investasi, harapannya dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan industri dana pensiun, khususnya untuk menggarap pekerja individual dan sektor informal yang saat ini masih sedikit ikut dalam program dana pensiun. DPLK SAM bertekad menjadi pilar terpercaya dalam mewujudkan kemandirian finansial bagi masyarakat Indonesia di hari tua melalui pengelolaan dana pensiun yang aman dan berbasis teknologi digital.

 

Berbekal visi “Menjadi pilar terpercaya dalam mewujudkan kemandirian finansial bagi masyarakat Indonesia di hari tua melalui pengelolaan dana pensiun yang aman dan berbasis teknologi digital. Sebagai upaya ikut mengembangkan dana pensiun di Indonesia, DPLK SAM menyediakan produk dan layanan utama DPLK yang terdiri dari: 1) DPLK untuk individu (pekerja formal dan informal), 2) DPLK untuk korporasi berupa PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti) dan DKPK (Dana Kompensasi Pasca Kerja, 3) Pembayaran Manfaat Pensiun Berkala (pensiun bulanan), dan 4) Dana Pendidikan Anak. Dengan orientasi digitalisasi dana pensiun, produk-produk DPLK SAM dapat dibeli secara online baik melalui aplikasi digital maupun website untuk memudahkan akses pekerja/individu memiliki program DPLK. (Silakan kunjungi: https://simpensiun.com/atau download aplikasi "SimPensiun" di playstore.

 


DPLK SAM akan menyasar berbagai perusahaan di pilar usaha Group Sinarmas dan perusahaan swasta di Indonesia, di samping pekerja individual (formal maupun informal) dengan iuran yang ringan, minimal Rp. 50.000 per bulan dan akumulasi dananya dapat dipantau melalui aplikasi SimPensiun. Selain itu, DPLK SAM akan memperluas pemasaran melalui kerjasama dengan fintech dan jaringan pemasaran yang tersebar di 40 kantor cabang Sinarmas Asset Management. Dengan tagline menjadi “Mitra Terpercaya Anda untuk Hari Tua Sejahtera”, DPLK SAM didukung tim profesional yang berdedikasi mendampingi pekerja dan masyarakat Indonesia dalam merencanakan masa depan dengan tenang dan pasti. Selalu bersedia membantu setiap individu membangun masa depan yang aman, tenang, dan sejahtera melalui perencanaan pensiun yang terpercaya dan berkelanjutan, di samping meningkatkan edukasi dan literasi dana pensiun melalui digitalisasi.

 

Melalui layanan berbasis digital, kepesertaan DPLK SAM dapat diakses secara digital untuk pendaftaran, perubahan arahan investasi, dan pencairan manfaat DPLK, termasuk pembayaran manfaat pensiun secara berkala sehingga peserta DPLK tidak hanya membayar iuran tapi dapat memantau secara langsung akumulasi dana yang terkumpul di DPLK untuk masa pensiunnya.