Selasa, 28 April 2026

Gimana Hidup dengan Baik di Taman Bacaan?

Saat lagi membimbing anak-anak yang membaca di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung salak, seorang tamu yang sengaja berkunjung bertanya. Apa sih tanda seseorang benar-benar hidup dengan baik?

 

Jujur saja, itu pertanyaan yang susah dijawabnya. Apalagi bila dibalikin, apa kita sudah hidup dengan baik? Tapi secara literasi, kira-kira begini. Orang yang hidup dengan baik itu bukan dari apa yang dia tunjukkan. Tapi dari apa yang dia nggak lagi butuh tunjukkan? Ketika kita sudah tidak tertarik untuk menunjukkan apapun.

 

Orang baik nggak sibuk membuktikan diri. Nggak haus validasi. Nggak merasa perlu dilihat terus-menerus. Karena saat hidup kita benar-benar sudah “penuh”, kita nggak lagi butuh tepuk tangan. Yang kita cari, justru ketenangan. Ya, tenang itu barang mahal di zaman sekarang.   

 

Makanya orang yang benar-benar bahagia itu “aneh”. Semakin baik hidupnya, semakin dia menjaga “privasinya”. Bukan karena sombong. Tapi karena dia tahu. Nggak semua hal perlu diumumkan. Nggak semua kebahagiaan perlu dibagikan.  

 


Tahu nggak? ada fase dalam hidup, di mana kita sudah berhenti “menampilkan” hidup dan mulai benar-benar menjalaninya. Segala yang baik dan bermanfata hanya dikerjaka tanpa lagi diumumkan atau meminta validasi orang lain.  

 

Sebab di titik itu, kita nggak lagi peduli siapa yang melihat. Karena kita sudah cukup dengan apa yang kita rasakan kita alami sendiri. Bukan berarti nggak boleh berbagi. Tapi kalau semua harus ditunjukkan, mungkin kita belum benar-benar “tenang”.   

 

Karena hidup yang paling terasa “cukup”, biasanya biasanya justru yang paling sedikit terlihat. Kalau boleh bertanya, kapan terakhir kali kita merasa bahagia tanpa perlu orang lain tahu? Coba dicek dan mulai dijalankan deh, sebab nggak semua perlu validasi orang lain. Salam literasi!

 


Banyak Pria Teman Saya Takut Tua dan Pensiun, Kenapa?

Setelah ngobrol sambil ngopi dengan teman-teman kerja, ternyata banyak teman pria yang takut tua. Khawatir akan masa pensiunnya sendiri, entah kenapa?

Tapi bila dipikir-pikir, pria takut tua mungkin ada banyak penyebabnya. Bisa karena tidak punya uang di hari tua, bisa takut bingung kalau tidak kerja, atau karena lainnya. Tentu, pria-pria itulah yang lebih tahu, kenapanya?

 

Ada teman saya. Dia sepanjang hidupnya berdiri paling depan. Disapa banyak orang, ditanya pendapatnya. Diandalkan dalam setiap keputusan penting. Dia tumbuh dengan identitas mentereng. Dia merasa “bernilai” karena sibuk dan dibutuhkan di kantornya. Tapi ketika masa pensiun tiba, panggung itu tiba-tiba gelap. Sekarang dia sudah pensiun, tidak bekerja lagi.

 

Di minggu-minggu awal pensiun, semuanya terasa seperti liburan panjang. Bangun siang, minum kopi, olahraganya jalan santai. Tapi setelah beberapa minggu, sunyi mulai terdengar dengan nyata. HP yang dulu penuh panggilan, kini sepi. Rapat yang dulu padat, kini tidak ada.

 

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia tidak tahu harus ke mana. Ada ketakutan yang jarang ia akui ke siapa pun: “Kalau saya nggak kerja… siapa saya?” Karena sejak kecil ia diajarkan: laki-laki harus kuat, harus berguna, dan harus menghasilkan. Bisa jadi, ini alasannya kenapa teman-teman saya takut tua hehehe.


Pria memang tidak pernah diajarkan untuk merasakan. Inner child-nya dulu tidak pernah diizinkan menangis. Setelah pensiun, baru terasa. Teman saya kembali ke masa kecilnya, mengingat “Dulu aku pengen diperhatikan…”. “Dulu aku takut…”. “Dulu aku sendirian…”

 

Dan sekarang, di usia senjanya, perasaan itu menagih untuk dipeluk. Post power syndrome bukan soal hilangnya jabatan. Bukan soal pensiun. Tapi yang sebenarnya hilang adalah: penghargaan diri, identitas, dan pelarian dari rasa yang pernah ditahan.

 

Ketika sibuk, ia tidak sempat merasa. Ketika bekerja, iya seakan tidak punya waktu. Ketika berhenti kerja, kini ia tidak bisa lagi lari. Dan di situ, semuanya terungkap. Dan memang, sepertinya banyak pria sebenarnya takut tua. Takut bila duduk berdampingan dengan hatinya sendiri. Takut melawan badai pikirannya sendiri di hari tua.

 


Banyak pria lupa, apalagi saat belerja.upa hal yang paling menakutkan adalah kejujuran pada diri sendiri. Saat kerja boleh rapi, keren dengan outfit barang-barang branded. Gagah perkasa. Tapi begitu pensiun, para pria itu cerita mengalami depresi berat, linglung. Makanya psikolog, menganjurkan para pria bekerja apa saja di hari tua. Asal punya aktivitas, alasannya. Agar kesehatan mentalnya tidak terganggu. 

 

Semua pria pasti akan pensiun, akan tua. Maka jangan takut tua. Karena para pria harus mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Nabung di dana pensiun, karena pria butuh hobi butuh aktivitas. Bila pensiun dengan uang banyak maka bisa menjalani hobi dengan bebas. Waktu tersedia, fisik masih sehat dan uang pensiun yang akan membantu untuk mewujudkannya. 

 

Begitulah kisah pria di masa pensiun. Ternyata, pensiun bukan hanya urusan berhenti kerja. Tapi harus punya kesiapan mental, psikologis, dan uang tentunya. Agar tetap mandiri secara finansial di hari tua. Dan yang penting, pensiun itu mengajarkan para pria untuk "berhenti sejenak" dari hiruk pikuk dunia atau apapun. Selamat menjalani masa pensiun teman!

Bottom of Form

 

Minggu, 26 April 2026

Arah Hidup itu Dicari atau Ditemukan?

Seorang anak pembaca aktif di TBM Lentera Pustaka bertanya. “Pak, arah hidup itu dicari atau ditemukan?”

 

Dan anehnya, saya yang sehari-hari berdiri di depan kelas dan mengajar agak terdiam cukup lama sebelum menjawab. Karena ternyata, tidak semua pertanyaan harus langsung dijawab. Ada yang perlu direnungkan dulu.  

 

Begini ya Nak, saya melihat banyak anak-anak mulai benar-benar memegang kemudi hidupnya sendiri. Biasanya dimulai saat SMA. Memilih kampus sendiri, memilih jurusan. Memilih teman dan memilih lingkungan. Ada yang terlihat siap. Tapi lebih banyak yang masih kebingungan. Ada yang cepat belajar dan beradaptasi. Ada yang masih keras kepala, belum paham arah. Ada yang memilih mengalir. Ada yang kritis, terus bertanya dan mempertanyakan. Ada yang punya privilege. Ada juga yang harus mulai dari nol—bahkan dari minus.  

 

Maka saya sadar, jadi dosen atau guru saja tidak cukup. Kadang kita juga dipaksa belajar menjadi “pemikir”. Dan ini yang ingin saya sampaikan untuk kita yang sedang ada di fase 18–20 tahun, tentang arah hidup:  

 

1. Punya referensi yang solid. Belajarlah tentang hidup dari “Yang memberi hidup”. Pelajari, pahami, dan perbarui terus cara pandang kita. Bahkan dari ayat yang sama, pemahaman yang berbeda bisa melahirkan nilai dan keyakinan yang berbeda. Dan dua hal itu, nilai dan keyakinan, sering jadi fondasi cara kita mengambil keputusan. Baca juga kisah orang-orang terdahulu. Karena dalam banyak hal, pola hidup manusia itu berulang. Yang berubah hanya konteksnya.  

 


2. Hiduplah dengan cara pikir ilmuwan. Mencoba, gagal atau berhasil. Belajar. Lalu ulangi lagi di aspek lain. Dengan cara ini, arah hidup bukan sesuatu yang “ditunggu”, tapi sesuatu yang perlahan terbentuk. Memang tetap relatif cepat atau lambatnya, karena setiap orang mulai dari titik yang berbeda.  

 

3. Fokus pada diri sendiri. Saat ini media sosial media membuat standar hidup terasa sangat ramai. Kita jadi mudah terpicu oleh pencapaian orang lain. Padahal yang sering kita lihat hanyalah “highlight”, bukan keseluruhan cerita. Proses jatuh bangun, gagal, ragu—jarang sekali ditampilkan. Maka mungkin bukan soal berhenti bermain sosial media, tapi belajar untuk tetap sadar dan tidak kehilangan arah diri di dalamnya.  

 

Jadi, arah hidup itu bukan sekadar dicari atau ditemukan. Tapi dibangun, pelan-pelan, dari pilihan kecil yang kita ambil setiap hari. Mulailah dari yang sederhana, asal baik dan bermanfaat lakukan dan kerjakanlah. Seperti anak-anak TBM Lentera Pustaka yang konsisten membaca buku di taman bacaan. Salam literasi!

 


Naik Jabatan Malah Stress, Pengen Kerja yang Biasa-Biasa Aja

Ini cuma cerita di kantor sebelah. Seorang kawan awal tahun 2026 ini baru dapat promosi jabatan. Jadi manajer di kantornya, gajinya naik dan dapat fasilitas mobil. Hampir semua orang di kantor tepuk tangan buat dia.

 

Saat ketemuan sambil ngopi dengan dia, saya ucapkan selamat dan doa semoga sukses selalu di kerjaannya. Tapi mimik wajahnya malah kayak orang gelisah. Dia bilang "Gue merasa semua ini cuma kebetulan aja bro. Sebenarny ague belum pantas. Sekarang, malah tiap hari gue takut kalau orang kantor sadar, sebenernya nggak jago-jago amat. Takut dipecat kalau gue ketahuan aslinya” ujar dia.

 

Agak aneh kawan saya ini. Naik jabatan kok malah merasa kayak “pencuri yang lagi nunggu ditangkap”. Naik pangkat malah stress dan bilangnya mendingan jadi pekerja biasa-biasa saja. Bukannya bersyukur dan bangga, kok malah jadi gelisah.

 

Mungkin, perasaan seperti kawan saya ini bisa terjadi di banyak orang. Pekerja yang justru khawatir saat dapat promosi. Gelisah saat naik jabatan atau pangkat. Orang-orang yang stress bukan pada saat gagal. Tapi stress gara-gara ptomoosi jabatan atau llagi sukses-suksesnya. Dan ternyata, di kalangan pekerja, itulah yang disebut dengan “imposter syndrome”. Sebuah kondisi psikologis di mana seseorang merasa tidak layak atas pencapaiannya, meragukan kemampuan diri, dan takut dianggap sebagai penipu meskipun ada bukti kompetensi yang jelas.

 

​Ada benarnya di kalangan pekerja. Semakin tinggi pencapaian justru semakin besar suara batin yang bilang "ini cuma keberuntungan" atau "ini cuma hasil akting atas kerjaan”. Naik jabatan dianggap hasil spekulasi. Sehingga pengidapnya sering merasa kesuksesan hanyalah faktor keberuntungan, bukan kerja keras. Dan akhirnya, si pekerja yang imposter syndrome jadi cemas dan burnout. Lelah sendiri dengan jabatan dan kerjaannya.

 

Saya pun berpikir, kok ada ya pekerja yang tidak yakin dengan pencapaiannya sendiri? Dan ternyata, memang sebagian pekerja menganut “perfeksionis”.  Pekerja yang tidak mampu melihat keberhasilan kerjanya sendiri yang begitu banyak. Karena fokusnya pada satu hal kecil yang dirasa kurang. Dari perasaan inilah, si pekerja akan merasa dirinya tidak kompeten.

 


​Kasihan juga ya, pekerja yang mengalami imposter syndrome. Malah tersikssa batin dan pikiran saat naik jabatan atau dipromosikan di kantornya, Tidak bisa menikmati “kemenangan” yang diraihnya sendiri. Merasa kemampuan dan kerjanya biasa saja tapi diapresiasi bos atau kantor. Dia merasa jadi penipu, karena apa yang dikerjakannya bukan kehebatan tapi standar yang bisa dilakukan semua orang.

 

Tidak sedikit pekerja yang kurang percaya diri. Bahkan menyatakan dirinya tidak kompeten. Bikin simpel saja di kantor, semua apresiasi harusnya diterima karena ada mekanismenya. Berhentilah berpikir perfeksionis. Teruslah ikhtiar untuk membuktikan bahwa apa yang diraih sepada dengan kerja dan tanggung jawab yang dijalankan.

 

Jangan gampang bilang hoki atau keberuntungan. Sebab tidak ada di dunia ini yang “kebetulan”, semuanya sudah ada jalannya masing-masing. Hoki itu tidak mungkin bisa diulang. Justru karena kita punya kapasitas maka diapresiasi orang lain atau kantor. Jangan terllau merendahkan apa yang sudah dicapai diri sendiri, apalagi yang diraih orang lain. Sikap menghargai itu penting, buat diri sendiri dan orang lain.

 

Jadi, buat siapapun yang lagi ada di posisi sekarang. Bersyukurlah, karena itu adalah hasil ikhtiar yang panjang. Berhenti merasa bersalah atas kesuksesan diri sendiri. Dan kita memang panras untuk mendapatkannya.

 

Jangan sampai naik jabatan malah stress, lalu berpikir pengen kerja yang biasa-biasa aja. Pikiran itu salah. Justru dengan naik jabatan dan gaji besar, muali nabung untuk masa pensiun. Bila perlu bilang ke kantor, tolong sediakan dana pensiun untuk semua karyawan. Sebab cepat atau lambat, semua pekerja akan pensiun. #YukSiapkanPensiun

 

Sabtu, 25 April 2026

Riset Dana Pensiun: 80% Pekerja Tidak Mengandalkan Dana Pensiun dari Tempat Kerjanya

Sebuah penelitian dana pensiun terbaru berjudul “Determinasi Rendahnya Literasi Dana Pensiun pada Pekerja: Peran Edukasi dan Digitalisasi dalam Industri Dana Pensiun di Indonesia” yang dilakukan oleh Syarifudin Yunus (Dosen Unindra & Dewas DPLK SAM) dan Farid Nabil Elsyarif (KKA Edial) yang diterbitkan jurnal ilmiah pada April 2026 menyebutkan mayoritas pekerja belum memiliki kesiapan pensiun yang memadai. Terdapat 86% pekerja belum siap pensiun dan 89% pekerja belum punya dana pensiun sukarela. Artinya, dapat disimpulkan 9 dari 10 pekerja tidak siap untuk pensiun. Hanya 1 pekerja yang siap berhenti bekerja atas sebab apapun.

 

Untuk menjawab, apakah pekerja mengandalkan penyediaan dana pensiun dari tempatnya bekerja? Ternyata, 80% pekerja tidak mengandalkan dana pensiun dari tempat kerjanya. Tapi hanya 45,5% pekerja yang merasa yakin dapat memenuhi kebutuhan hidup di masa tua. Kondisi ini menyiratkan adanya pseudo-awareness (kesadaran semu), di mana pekerja tahu dana pensiun penting tapi sebenaranya belum punya dana pensiun. Terbukti pula, rendahnya literasi dana pensiun pada pekerja tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tapi hasil dari kombinasi berbagai faktor, seperti rendahnya kesadaran, perilaku keuangan jangka pendek, kompleksitas produk, serta belum optimalnya edukasi dan pemanfaatan digitalisasi di dana pensiun.

 

Penelitian yang menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksplanatori ini mempertegas tingkat determinasi rendahnya literasi dana pensiun pada pekerja. Dengan melibatkan 66 responden pekerja sektor formal dan informal di Jakarta, penelitian dana pensiun ini mempertegas adanya ketidaksesuaian antara persepsi dan realitas perilaku dana pensiun di kalangan pekerja. Terjadi kesenjangan antara pemahaman (awareness) dan implementasi (action) soal dana pensiun. Karenanya, peningkatan literasi dana pensiun memerlukan pendekatan yang terintegrasi antara edukasi yang bersifat transformatif dan digitalisasi yang mempermudah akses kepesertaan dana pensiun sukarelai. Edukasi harus mampu mendorong perubahan perilaku, sementara digitalisasi berperan sebagai enabler yang menyederhanakan proses, meningkatkan keterjangkauan, dan memperluas jangkauan literasi. Sinergi antara edukasi, teknologi digital, dan dukungan kebijakan menjadi kunci dalam meningkatkan kesiapan finansial pekerja menghadapi masa pensiun yang berkualitas.

 


Penelitian tentang “Determinasi Rendahnya Literasi Dana Pensiun pada Pekerja: Peran Edukasi dan Digitalisasi dalam Industri Dana Pensiun di Indonesia” secara lengkap dapat disimak di Jurnal Manajemen Bisnis Digital Terkini, Volume. 3 No. 2 April 2026 hal 01-15 dengan DOI: https://doi.org/10.61132/jumbidter.v3i2.1308 di link: https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JUMBIDTER/article/view/1308

 

Memang potensi pasar dana pensiun, khususnya DPLK di kalangan pekerja sangat besar. Ada 150 juta pekerja (60% di sektor informal dan 40% di sektor informal) di Indonesia, namun inovasi pendekatannya ke pekerja harus lebih divariasikan, sesuai kebutuhann dan kondisi pekerja. Salah satunya, berbasis data seperti penelitian dan melihat tren yang terjadi di pasar pekerja Indonesia. Tujuannya hanya satu, untuk menyiapkan masa pensiun atau hari tua pekerja yang lebih nyaman dan berkualitas. Punya kesinambungan penghasilan di hari tua, tanpa merepotkan anak atau keluarga di masa pensiun. #YukSiapkanPensiun #PenelitianDanaPensiun #EdukasiDPLK

 


Jumat, 24 April 2026

Rumah Itu Bernama Diri Sendiri

Ini sebuah catatan literasi. Tentang “rumah” atau “tempat kita pulang”. Bukan secara fisik atau material. Tapi rumah jiwa, rumah pikiran. Ternyata, rumah dalam hidup kita adalah diri kita sendiri. Di dalam diri kita terdapat tempat untuk kembali, merenung, dan menentukan arah langkah. Maka ketika kita mampu memimpin diri sendiri dengan kesadaran, hidup tidak lagi terasa tanpa arah, melainkan menjadi perjalanan yang dipandu oleh pemahaman yang dalam. Menjaga pikiran tetap jernih adalah kunci untuk mempertahankan kebenaran dalam hidup. 

 

Pikiran yang jernih tidak mudah dipengaruhi oleh kebingungan atau tekanan dari luar. Tapi mampu menimbang setiap hal dengan bijaksana. Dari kejernihan itu, lahir keputusan yang selaras dengan nilai yang benar dan membawa kebaikan. Rawatlah diri kita dengan menjaga pikiran dan hati tetap seimbang. Jadikan kebenaran sebagai dasar dalam setiap langkah yang kita ambil. Karena hati dan pikiran adalah “rumah” tempat pulang.

 


Kita tidak hanya memiliki tempat pulang dalam diri kita sendiri, tetapi juga menjadi pemimpin yang menuntun hidup kita menuju arah yang penuh makna dan kebijaksanaan. Maka jagalah “rumah” kita sendiri, tempat pulang kita yang paling tepat. Dan teruslah berbuat baik dan menebar manfaat di mana pun. Agar pikiran dan hati kita bisa memberi kenyamanan ketika kita hendak pulang. Salam literasi!

Entah Sampai Kapan Pekerja Bergelut dengan Sandwich Generation?

Setiap pagi, Raka berangkat kerja sebelum matahari benar-benar naik. Di usianya yang baru menginjak 35 tahun, ia bukan hanya memikirkan kebutuhan dirinya sendiri, tetapi juga kehidupan dua generasi sekaligus. Ia harus membiayai sekolah dua anaknya yang masih kecil, sekaligus membantu kebutuhan orang tuanya yang sudah tidak lagi bekerja. Raka adalah potret nyata dari fenomena yang kini semakin banyak terjadi di Indonesia: sandwich generation.

 

Data menyebut bahwa 8 dari 10 orang Indonesia sekarang tergolong sandwich generation. Artinya, sebagian besar pekerja berada dalam posisi harus menopang kehidupan keluarga di atas dan di bawahnya sekaligus. Bukan hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari, tetapi juga biaya kesehatan orang tua, pendidikan anak, cicilan rumah, hingga kebutuhan darurat yang datang tanpa pemberitahuan. Beban ini membuat banyak orang bekerja keras hanya untuk bertahan, bukan untuk benar-benar merencanakan masa depan.

 

Hal yang sama dirasakan oleh Sari, seorang pegawai swasta berusia 40 tahun. Ia mengaku gajinya hampir selalu habis sebelum akhir bulan. Bukan karena gaya hidup mewah, tetapi karena harus membantu biaya pengobatan ibunya yang sakit dan biaya kuliah adiknya, sambil tetap memenuhi kebutuhan anak-anaknya sendiri. Ia pernah berkata, “Saya bekerja bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk semua orang yang bergantung pada saya.” Namun diam-diam, ia takut memikirkan masa pensiunnya sendiri.

 

Data menunjukkan bahwa 7 dari 10 pekerja mengaku menanggung orang tua dan anak sekaligus. Kondisi ini membuat banyak pekerja lupa atau menunda menyiapkan dana pensiun. Mereka merasa pensiun masih jauh, sementara kebutuhan saat ini terasa jauh lebih mendesak. Padahal, tanpa persiapan sejak dini, masa tua justru bisa menjadi beban baru, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi anak-anak mereka kelak.

 


Raka pernah melihat ayah temannya yang setelah pensiun harus bergantung sepenuhnya pada anak-anaknya karena tidak memiliki tabungan hari tua. Dari situlah ia mulai berpikir bahwa ia tidak ingin mengulang siklus yang sama. Ia ingin ketika usianya menua nanti, ia tetap bisa hidup mandiri tanpa membebani anak-anaknya. Ia sadar bahwa menyiapkan dana pensiun bukan tentang menjadi kaya, tetapi tentang menjaga harga diri dan kemandirian finansial di hari tua.

 

Mulailah Raka menyisihkan sebagian kecil penghasilannya untuk program dana pensiun, meskipun jumlahnya tidak besar. Ia memahami bahwa konsistensi lebih penting daripada nominal yang besar tetapi tidak berkelanjutan. Baginya, dana pensiun adalah bentuk tanggung jawab, bukan hanya kepada dirinya sendiri, tetapi juga kepada keluarganya di masa depan. Ia ingin memutus rantai ketergantungan antar generasi yang sering kali menjadi beban diam-diam dalam banyak keluarga Indonesia.

 

Kisah Raka dan Sari adalah cermin dari jutaan pekerja Indonesia hari ini. Menjadi sandwich generation memang bukan pilihan mudah, tetapi justru karena itulah dana pensiun menjadi sangat penting. Bekerja hari ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sekarang, tetapi juga untuk memastikan masa tua tetap bermartabat. Karena pensiun yang sejahtera bukan terjadi begitu saja, ia harus direncanakan sejak masih bekerja.

 

Sayangnya, saat ini masih banyak pekerja yang belum berani menyisihkan sebagian gajinya untuk mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Entah sampai kapan? #YukSiapkanPensiun

 

Kamis, 23 April 2026

Penelitian Taman Bacaan: Akses Literasi Terbatas 60 Persen TBM di Indonesia Beroperasi 2-5 Hari Seminggu

Minat baca itu tergantung pada akses. Sebab tanpa akses bacaan sangat sulit mint abaca ditingkatkan. Karenanya, akses literasi masyarakat merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan pendidikan, khususnya pada jalur nonformal. Di situlah pentingnya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai sarana strategis dalam menyediakan bahan bacaan serta ruang belajar yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Melalui TBM, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan minat baca, memperluas wawasan, serta mengembangkan kemampuan belajar sepanjang hayat.

 

Sayangnya, pemanfaatan TBM sebagai pusat literasi masih menghadapi berbagai kendala, salah satunya terkait keterbatasan akses layanan yang belum sepenuhnya menjangkau kebutuhan masyarakat. Salah satu faktor yang memengaruhi aksesibilitas TBM adalah waktu operasional. Banyak TBM yang memiliki jam layanan terbatas dan kurang fleksibel, sehingga tidak sesuai dengan pola aktivitas masyarakat yang beragam. Pelajar, pekerja, maupun kelompok masyarakat lainnya seringkali tidak dapat mengakses TBM karena waktu buka yang bersamaan dengan jam sekolah atau jam kerja. Kondisi ini menyebabkan rendahnya tingkat kunjungan dan partisipasi dalam kegiatan pembelajaran nonformal, meskipun kebutuhan terhadap akses literasi sebenarnya cukup tinggi.

 

Keterbatasan waktu operasional juga berdampak pada rendahnya intensitas interaksi masyarakat dengan sumber belajar yang tersedia di TBM. TBM yang tidak mampu menyesuaikan jadwal layanan dengan kebutuhan pengguna cenderung kurang optimal dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat pembelajaran nonformal. Padahal, peningkatan akses literasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan koleksi buku, tetapi juga oleh kemudahan masyarakat dalam mengakses layanan tersebut secara waktu dan kesempatan.

 

Sebagai sarana pendidikan nonformal, TBM berperan penting dalam menyediakan bahan bacaan, ruang belajar, serta aktivitas literasi bagi masyarakat. Saah satu faktor yang memengaruhi tingkat kunjungan dan jumlah pembaca di TBM adalah waktu operasional. Banyak TBM yang beroperasi pada jam-jam tertentu yang kurang fleksibel, sehingga membatasi akses masyarakat yang memiliki kesibukan pada waktu tersebut. Bahkan tidak sedikit TBM yang beroperasi pada saat ada kegiatan atau kunjungan tamu dari luar. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan waktu operasional menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan efektivitas layanan TBM.

 


Sebuah penelitian yang dilakukan Syarifudin Yunus, pegiat literasi TBM Lentera Pustaka tentang “Optimalisasi Waktu Operasional Taman Bacaan Masyarakat dalam Meningkatkan Akses Literasi dan Partisipasi Pembelajaran Nonformal” menyebutkan terdapat 60% TBM di Indonesia beroperasi antara 2-5 hari dalam seminggu sehingga jumlah pembaca TBM yang tidak optimal. Sebanyak 50% TBM hanya memiliki jumlah pembaca di bawah 30 anak, 39% TBM pembacanya di antara 30-60 anak. Ini berarti 9 dari 10 TBM secara rata-rata pembacanya di bawah 60 anak. Waktu operasional TBM menjadi faktor strategis yang sangat memengaruhi tingkat akses literasi masyarakat terhadap layanan TBM. Waktu layanan yang terbatas dan tidak sesuai dengan pola aktivitas masyarakat dapat menghambat pemanfaatan TBM sebagai sumber belajar.

 

Fleksibilitas waktu layanan TBM menjadi kunci dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber literasi. Waktu operasional TBM terbukti membatasi akses literasi dan partisipasi pembelajaran nonformal. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan waktu operasional yang lebih efektif, seperti pengaturan jadwal layanan yang fleksibel, pelibatan relawan, serta dukungan komunitas agar TBM dapat berfungsi secara maksimal sebagai pusat literasi dan pembelajaran nonformal yang inklusif serta berkelanjutan bagi masyarakat. Penelitian  ini dilakukan dengan kuesioner yang melibatkan sampel 172 pengelola TBM di seluruh Indonesia sebagai responden dan wawancara dengan 3 pengelola TBM. Penelitian bertajuk “Optimalisasi Waktu Operasional Taman Bacaan Masyarakat dalam Meningkatkan Akses Literasi dan Partisipasi Pembelajaran Nonformal” dapat disimak pada Jurnal Pengabdian Masyarakat “Inspirasi” Vol. 4 (1) terbit 30 Maret 2026 dengan link:https://jurnal.kolibi.id/index.php/inspirasi/article/view/371

 

Selain menjalankan kiprah di TBM, gerakan literasi dan TBM Indonesia ada baiknya melakukan penelitain sebagai bahan evaluasi sekaligus membuat strategi berbasis data/riset. Khususnya untuk optimalisasi waktu operasional TBM sebagai strategi dalam meningkatkan akses literasi dan partisipasi pembelajaran nonformal di masyarakat. Agar ada gambaran mengenai pola waktu kunjungan masyarakat dan pola pelayana TBM  yang lebih adaptif dan responsive sehingga TBM dapat berfungsi secara lebih efektif sebagai pusat literasi yang inklusif, serta mampu mendorong peningkatan kualitas pembelajaran nonformal secara berkelanjutan. Salam literasi!



Apa Sih Financial Independence Retire Early (FIRE)?

Ada yang bertanya, apa sih Financial Independence Retire Early atau disingkat FIRE? Jawaban simpelnya, FIRE itu intinya “kita punya uang cukup untuk hidup tanpa kerja lagi”. Hanya penekanan FIRE bukan “tidak kerja lagi” tapi lebih ke perilaku dan gerakan gaya hidup yang fokusnya pada penghematan ekstrem dan investasi agresif. Gimana caranya hdup hemat (bukan pelit) dan punya passive income agar bisa mencapai kemandirian finansial. Di luar kerja, kita bisa punya income yang cukup untuk menutupi biaya hidup. Kata penganut FIRE, kira-kira antara 50% s.d. 75% dari pendapatan bulanan. Bila kondisi itu terjadi, maka silakan “pensiun dini”, sekalipun “pensiun normal” pun tidak dilarang.

 

Tujuan utama FIRE bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan yang disukai tanpa ketergantungan pada gaji bulanan. Punya uang yang cukup untuk menutupi biaya hidup. Caranya, tentu dengan menurunkan pengeluaran drastic (apalagi yang tidak diperlukan), meningkatkan pendapatan, dan menginvestasikan sisa dana secara konsisten untuk tujuan FIRE. Berapa besarnya uang yang disediakan? Umumnya untuk menutupi biaya hidup selama 25 tahun ke depan. Bila mengacu pada usia harapan hidup orang Indonesia yang 73 tahun (setelah pensiun di uisa 55 tahun), setidaknya butuh 18 tahun setara pendapatan bulanan.

 

Senagai contoh saja, bila pengeluaran atau biaya hidup kita setahun Rp.120 juta (Rp.10 juta/bulan). Berarti kita harus punya aset Rp. 2,16 miliar (18 tahun x Rp.120 juta). Gede ya jumlahnya? Iyalah, bila kita punya gaji Rp. 20 juta per bulan saja butuh 9 tahun untuk punya uang segitu. Tapi di Indonesia, angka segitu bisa lebih "ringan", kenapa? 

 

Karena Cost of living (biaya hidup) di Indonesia tergolong “murah”. Makanan hari-hari, transportasi, biaya tempat tinggal jauh lebih terjangkau dibandingkan di Eropa atau Amerika. Bahkan di Jakarta yang kota besar saja, survei saya ke pensiunan pegawai swasta dibutuhkan biaya hidup pensiunan sebesar 56% dari gaji terakhir. Berapaun gaji terakhirnya. Misal gaji terakhir Rp. 10 juta, maka dibutuhkan Rp. 5,6 juta per bulan untuk menutupi biaya hidup.

 

 


Tentu ada tapinya. Karena FIRE tidak memperhitungkan beberapa hal yang penting di Indoneisa. Yaitu 1) inflasi, 2) gaya hidup, dan 3) kesehatan. Inflasi jadi sebab uang Rp. 2 miliar tahun 2026 tidak akan sama nilainya di tahun 2030. Di Indonesia rata-rata inflasi 3-4% per tahun. Artinya, pengeluaran akan terus naik maka aset – income kita harus tumbuh lebih besar dari laju inflasi. Kira-kira begitu.

 

Gaya hidup, mungkin waktu kita kerja bisa hemat. Makan di warteg, naik KRL, ngopi di warung (bukan di kafe). Tapi gaya hidup di sini apalagi godaan buat "reward ke diri sendiri" tergolong besar. Liburan rutin, makan enak, dan beli barang. Tanpa disadari, pengeluaran gaya hidup itu bisa “meledak”. Dan yang paling mengkhawatirkan itu soal kesehatan. Asuransi Kesehatan memang penting tapi biaya berubat atau rumah sakit juga terus naik setiap tahun. Apalagi kalau punya penyakit serius. Makanya, FIRE tanpa proteksi Kesehatan sama dengan “bunuh diri finansial”. Bila tidak siap, aset berapa pun akan habis “dimakan” biaya kesehatan”.

  

Terus sebagai pekerja, gimana caranya bisa FIRE? Coba dilatih untuk “hitung biaya hidup”, berapa yang uang yang kita butuhkan agar “bebas” secara finansial. Realistis saja, apa 25 kali pengeluaran bulanan atau 18 kali biaya bulanan? Lalu, bikin anggaran yang detail, catat semua pengeluaran untuk apa saja? Kemudian, mulai berpikir dan eksekusi diversifikasi sumber pengeluaran, dari mana? Dan yang penting, upgrade diri untuk berhemat dan menambah sumber pemasukan. Terus belajar dan tingkatkan skill untuk menambah aset atau pendapatan.

 

Jangan ngeyel, bilangnya “gaji tidak cukup melulu”. Cona dulu untuk berhemat dan berhemat, bila pengen pensiun nyaman ya mulai menabung di dana pensiun untuk hari tua. Tetap investasi di mana pun, mulai juga bikin bisnis kecil atau jadi freelance. Intinya, agar punya passive income sekalipun tetap bekerja. Dan mulai berani siapkan “dana darurat” yang cukup. Minimal untuk 6-12 bulan pengeluaran. Biar kalau ada masalah (seperti PHK, sakit), kita tetap aman. Financial Independence Retire Early (FIRE) itu bukan soal siapa yang lebh cepat? Tapi soal “ketahanan” finansial, soal kemandirian finansial yang tidak perlu tergantung kepada siapapun.

 

Jadi gimana, FIRE itu berat atau mudah? Kita tetap punya uang cukup untuk hidup sekalipun tanpa kerja lagi. Tapi yang penting, mulailah untuk punya perilaku dan gaya hidup yang fokus pada penghematan dan tabungan sesuai tujuan keuangan kita. Punya uang cukup untuk pendidikan anak, kesehatan, bahkan pensiun. Bira tidak menyusahkan anak, keluarga atau orang lain. #YukSiapkanPensiun

 

 

Literasinya Orang Kerja: Semuanya Pengen Tampil di Kantor tapi …

Elo pernah nggak? Kerja bareng satu tim, yang isinya anak-anak muda ambisius. Saking ambisiusnya, semua pengen "tampil." Hebatnya lagi, ada satu orang di antara mereka. Setiap ada project, dia selalu kelihatan sibuk. Rapat sana-sini. Email sana-sini. Tapi anehnya, nggak pernah ngerjain apa-apa. Semua tugas selalu didelegasikan ke orang lain, termasuk ke gue.

 

Kesal banget gue. Karena yang ngerjain orang lain tapi yang dapat kredit dia. Bahkan lebih dari itu. Gue inget banget, waktu itu, sebut saja namanya Alex. dia baru selesai presentasi. Keringet dingin. Mikir keras. Proyeknya gede. Hasilnya bagus. Tapi pas nama tim disebut, nama dia yang paling banyak disebut. Padahal, dia nggak ngapa-ngapain.  Gue diam aja. Si Alex senyum.

 

Gue langsung inget kata-kata mentor gue. "Kalau lo gak ngerti kenapa orang sukses, mungkin karena lo gak tahu apa yang mereka lakuin." Malam itu gue nggak bisa tidur. Ada yang salah. 

Gue mulai perhatiin si Alex. Rapat selalu datang paling telat, pulang paling cepat. Tapi emailnya selalu paling banyak. Isinya: "Tolong bantu ini," "Cek ini ya," "Update progress dong." Delegasi-nya jago, dan itulah yang dia lakuin.  

 

Gue mulai ngitung. Di proyek terakhir, Alex mendelegasikan 80% pekerjaannya. Tapi di akhir, dia dapat 30% pujian dari atasan. Gue? 10%. Padahal gue yang ngurus semua. Gue mulai paham, ini bukan soal kerja keras. Ini soal "penampilan." Alex jago banget bikin dirinya kelihatan sibuk. Rapat. Email. Diskusi. Presentasi. Semuanya buat nunjukkin dia "berkontribusi." Padahal, dia cuma "mengatur."

 


Jadi, ya kayak begitulah, keahlian yang harus kita kuasai di dunia kerja. Kenapa? Karena: 1) Era spesialisasi. Nggak mungkin lo bisa semua. Delegasi adalah kunci, 2) "Soft skill" lebih penting dari "hard skill." Komunikasi, negosiasi, manajemen, itu yang dicari, dan 3) "Visibility" = mata uang baru. Lo harus kelihatan, meskipun nggak ngerjain.  

 

Gue mulai coba. Gue belajar mendelegasikan tugas yang nggak gue kuasai. Gue bikin tim kecil yang fokus di satu hal. Gue mulai berani minta bantuan. Hasilnya?  

 

Gue lebih fokus. Kerja lebih efisien. Gue punya waktu buat belajar hal baru. Dan yang paling penting: orang lain mulai ngeliat gue sebagai "pemimpin," bukan cuma "tukang kerja." Tapi ada satu hal yang harus lo perhatiin: delegasi bukan cuma nyuruh. Lo harus jelasin: tujuan,  kenapa tugas ini penting – ekspektasi, hasil yang diharapkan – deadline, kapan harus selesai?  

 

Dan jangan lupa, kasih apresiasi ke yang teman yang ikut ngerjain. Beri kredit yang pantas dan mention mereka. Kalau nggak, lo akan ditinggalin teman. Setelah itu, mulailah  "mengatur" diri sendiri. atur waktu untuk belajar hal-hal baru, bangun jaringan, dan rencanakan karier. Biar nggak cuma jadi "tukang kerja" dan sering kena tipu di dunia kerja. Salam literasi!


Rabu, 22 April 2026

ADPI Gelar Goes to Campuss di UKSW Salatiga, Tingkatkan Literasi Dana Pensiun di Generasi Muda


Sebagai bagian dari kampanye GENCARKAN (Gerakan Nasional Cerdas Keuangan) yang diinisiasi OJK sekaligus untuk meningkatkan literasi keuangan khususnya dana pensiun, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menggelar acara "ADPI Goes tp Campuss" bertajuk “Kuliah Umum -  Sosialisasi Dana Pensiun dan Pengelolaan Keuangan kepada Generasi Milenial dan Gen Z" di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (22/4/2026). Dihadiri 125 peserta (mahasiswa, dosen dan umum), bertindak sebagai narasumber: Budi Sutrisno, BEc, MM, CFIA, CRP. (Direktur Utama Dana Pensiun BCA & Wakil Ketua ADPI Bidang Edukasi & Kompetensi dan Sosialisasi & Literasi) dengan moderator : Prof. Apriani Dorkas Rambbu Atahu, S.E., M.Com., Ph.D. (Dosen FEB UKSW). 

 

Acara ADPI Goes to Campuss ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan dan kesadaran (awareness) mahasiswa serta generasi muda mengenai pentingnya mempersiapkan dana pensiun sejak dini, di samping memberikan pemahaman fungsi dan manfaat dana pensiun. Sebagai organisasi tempat berhimpunnya DPPK di Indonesia, ADPI memiliki komitmen untuk terus meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun bagi masyarakat Indonesia.

 

"Kami di ADPI secara rutin melakukan edukasi dana pensiun, baik ke kampus atau industri dan melalui podcast. Agar generasi muda dan publik paham sejak dini pentingnya dana pensiun untuk kemandirian finansial di hari tua. Untuk menjaga stabilitas finansial seseorang di saat pensiun. Karenanya, edukasi dana pensiun harus terus disosialisasikan" ujar Budi Sutrisno, Wakil Ketua ADPI Bidang Edukasi & Kompetensi dan Sosialisasi & Literasi) dalam pemaparannya.




Sesuai dengan pesan regulator, ADPI akan proaktif meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun ke masyarakat, termasuk mahasiswa, Gen Z, dan milenial. Hal ini sejalan dengan Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK tahun 2025, di mana tingkat literasi pada sektor dana pensiun berada pada level 27,79 persen, sedangkan inklusi pada level 5,37 persen. Untuk itu, ADPI bertekad memperkuat tiga komponen literasi finansial yang mencakup perilaku (behavior), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude) terkait literasi keuangan di dana pensiun.

 

Kegiatan ADPI Goes to Campuss ini menjadi bukti pentingnya edukasi dan kolaborasi  dalam memperkuat pemahaman masyarakat akan pentingnya membangun kemandirian finansial di masa pensiun, di samping aktif mengkampanyekan GENCARKAN (Gerakan Nasional Cerdas Keuangan).  #ADPIGoesToCampuss #YukSiapkanPensiun #GencarkanDanaPensiun

 

Membaca Buku Biar Tahu Semua Itu Ada Batasnya

Hidup itu nikmat karena ada batasnya. Makanya, kalau suka ikan tidak usah punya empangnya. Kalau suka durian, jangan miliki kebunnya.  Kalau suka somay, nggak usah punya tokonya. Itu pesan sederhana yang mengingatkan kita pada satu hal penting tentang hidup. Semua ada batasnya dan batas itu yang membuat nikmat.  

 

Banyak kenikmatan dalam hidup justru lahir dari “adanya batas”. Tanpa ada batas, sesuatu yang dulu terasa istimewa perlahan bisa menjadi biasa saja. Liburan terasa menyenangkan karena kita “tidak liburan setiap hari”. Ada waktu penantian. Ada jeda dengan kerja. Ada momen yang membuat liburan terasa special bila tepat waktunya.  

 

Pertemuan dengan orang yang kita sayangi terasa hangat dan bermakna karena ada “jarak ddan waktu” yang membuat kita kembali saling menghargai. Makanan favorit terasa luar biasa nikmat bukan karena rasanya saja, tapi karena “kita tidak memakannya setiap saat”.  

 

Tahu batasan, ada batasnya. Tanpa adanya batasan, hal yang awalnya sangat kita nikmati perlahan bisa berubah menjadi “sesuatu yang biasa saja”. Dari situ kita belajar satu hal penting: “tidak semua hal yang kita sukai harus kita miliki sepenuhnya”. Karena sering kali yang membuat sesuatu terasa berharga bukan karena kepemilikannya, melainkan “karena “jarak, jeda, dan kesempatan untuk merindukannya”.  

 

Ketika semuanya selalu tersedia, rasa syukur perlahan menghilang. Namun ketika ada batas, kita belajar untuk “menghargai setiap momen”. Belajar mengenal batas, berarti mengajarkan kita untuk menikmati dan bersyukur di segala keadaan.   

 


Jadi, terkadang cara terbaik menikmati sesuatu bukan dengan “memiliki sepeneuhnya”, tetapi dengan “menjaganya tetap Istimewa”. Tahu batasnya, ada batasnya. Karena dalam hidup, “batas sering kali membuat sesuatu tetap bernilai”.

 

Semua ada batasnya. Jadi, kalau kita suka minyak goreng, bukan berarti semua hutan harus diubah jadi kebun kelapa sawit. Kalau pengen makanan yang bergizi, tidak semua harus di-MBG-kan. Kalau pengen ketupat sayur, nggak usah punya warungnya. Kalau tahu kerja ada batasnya (pensiun), ya siapkan gaji untuk masa pensiun kita sendiri. Bila paham semua ada batasnya, itulah yang membuat kita tetap waras di segala keadaan. 

Mau marah, mau benci juga ada batasnya kan. Dan akhirnya, lebih baik membaca buku biar tahu batas setiap halaman. Sesederhana itulah hidup. Salam literasi!

 

Urusan Pekerjaan, Banyak yang Capek tapi Dilakukan Setiap Hari

Seorang kawan mengeluh soal kerjaan di kantor. Katanya, kerja sudah lebih dari 10 tahun tapi merasa tidak maju. Semua kerjaan dikerjain dan beres tapi merasa tidak dihargai. Dia bertanya, “apa yang salah dengan gue soal kerjaan?”

 

Jawabnya, sederhana sih. Tidak ada yang salah. Tapi kita sering kurang paham. Bahwa di tempat kerja, kita nggak akan naik kalau rajin mengerjakan semua hal. Kedengarannya aneh. Tapi begitulah nyatanya. Sebab, semakin kita ambil semua kerjaan justru semakin kita kelihatan sebagai karyawan yang biasa. Karena yang bikin kita naik bukan banyaknya kerja, tapi nilai dari kerjaan kita.  

 

Banyak karyawan di tempat kerja, mikirnya “yang penting semua kerjaan beres dulu.” Akhirnya, semua dikerjain. Dari yang penting, sampai yang cuma numpang lewat. Kita jadi sibuk terus tiap hari. Tapi di akhir hari, kita merasa capek tanpa merasa maju. Lelah tapi demotivasi. Nah, kalau kita merasa kerja kayak gitu, itu bukan karena kita nggak mampu milih kerjaan. Tapi kita belum pernah diajarin: “mana kerjaan yang punya value tinggi, dan mana yang cuma buang energi?”.

 

Anehnya di tempat kerja, sistem kerja itu jarang dibahas. Job desc ada tapi apresiasi jarang ada. Bahkan ada yang dikotori politik kantor, akhirnya jadi pilih kasih soal carrier path. Makanya ada karyawan yang kerja lebih sedikit, tapi naik lebih cepat. Bukan karena dia malas. Tapi karena dia fokus ke kerjaan yang berdampak. Sementara kita? Hanya menghabiskan waktu untuk kerjaan-kerjaan yang seharusnya nggak perlu kita sentuh.  

 


Kita sering lupa. Di tempat kerja, yang bikin kita naik bukan jumlah kerjaan. Tapi pilihan kerjaan. Kita dibayar bukan untuk sibuk, tapi buat memberi dampak. Dan selama kita belum bisa memilih, kita bakal terus muter di situ.  

 

Kerja yang bernilai itu bukan soal jadi lebih rajin. Tapi soal mulai sadar: “mana yang harus kita ambil, dan mana yang harus kita lepas”. Kerjaan memang nggak sesimpel kelihatannya tapi harus ada sikap yang jelas dalam bekerja. Sama seperti urusan dana pensiun, sangat gampang bilang nanti saja atau masih lama pensiun. Tapi bila kerja sudah puluhan tahun, tapi nggak punya dana pensiun, itu berarti kita tidak punya prioritas dalam bekerja. Bukankah cepat atau lambat, setiap karyawan pasti pensiun?

 

Urusan kerjaan di kantor memang pelik. Banyak orang tahu mereka capek di hal yang salah, tapi tetap dilakukan setiap hari. Karena nggak tahu harus mulai dari mana., dan akhirnya kerja jadi begitu-begitu saja. Sama halnya banyak karyawan tahu dana pensiun itu penting tapi kok belum mau mulai nabung untuk masa pensiunnya sendiri? Akhirnya, berjaya hanya saat bekerja, setelah pensiun jadi merana. Hari tua yang bergantung pada anak dan tidak mandiri secara finansial. Jadi, relasi kerjaan di kantor dan dana pensiun: bukan soal jumlahnya tapi dampaknya buat si karyawan. #YukSiapkanPensiun

Bottom of Form