Selasa, 03 Maret 2026

Kamu Tahu Nggak? Pensiun Bukan Masalah Orang Tua Tapi Orang Muda yang Belum Sadar

Pensiun adalah satu-satunya kepastian dalam karier yang sering kita abaikan. Setiap orang yang bekerja pasti akan berhenti bekerja. Entah karena usia, kesehatan, atau kebijakan perusahaan. Namun anehnya, sebagian besar dari kita baru mulai memikirkan pensiun ketika usia sudah mendekati 50 tahun, bahkan lebih. Padahal, masa pensiun bisa berlangsung 15–25 tahun setelah seseorang berhenti menerima gaji tetap. Persiapan pensiun cenderung ditunda oleh pekerja di Indonesia.

 

Sebuah survei menyebut 24% pekerja (kamu) mengaku tidak memiliki rencana pensiun dan 34% lagi baru menyusun rencana dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja penuh waktu. Dapat dikatakan, 60% tidak punya rencana pensiun atau terlambat mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Padahal idealnya, masa pensiun yang Sejahtera setidaknya harus dipersiapkan lebih dari 20 tahun, dengan cara menabung di dana pensiun untuk hari tua.

 

Pertanyaannya, mengapa pekerja (kamu0 selalu terlambat menyiapkan masa pensiunnya sendiri? Masalah terbesar dalam perencanaan pensiun adalah soal psikologis. Usia 25 atau 30 terasa terlalu muda untuk memikirkan hidup di usia 60. Otak manusia cenderung memprioritaskan kebutuhan yang terasa dekat: cicilan rumah, kendaraan, sekolah anak, liburan, gaya hidup. Pensiun dianggap masih lama, jadi tidak perlu dipersiapkan sedini mungkin. Perspesi yang salah.

 

Pensiun juga dianggap abstrak. Tidak mendesak, tidak terlihat. Padahal dalam skema iuran pasti seperti yang dikelola Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), waktu adalah faktor terpenting. Seseorang yang mulai menabung di usia 25 dengan nominal kecil bisa mengumpulkan dana jauh lebih besar dibanding mereka yang mulai di usia 40 dengan nominal dua kali lipat. Di dana pensiun, justru waktu bekerja untuk pekerja yang memulai lebih awal. Dan waktu pula yang akan menghukumnya bila menunda.

 

Hari ini, banyak pekerja merasa cukup karena sudah terdaftar dalam program JHT BPJS TK. Namun manfaat dari program dasar umumnya dirancang sebagai perlindungan minimum, bukan sebagai pengganti penghasilan penuh saat pensiun. Tanpa tambahan tabungan atau program pensiun sukarela, standar hidup saat pensiun hampir pasti turun. Program wajib seperti JHT hanya bisa meng-cover 10%-15% dari kebutuhan bulanan di hari tua. Masalahnya bukan pada sistemnya, tetapi pada ekspektasi pekerja yang terlalu optimistis, terlalu bergantung pada program wajib.

 


Harus diakui, hari ini kita hidup dalam era di mana keberhasilan diukur dari apa yang terlihat sekarang. Rumah, kendaraan, liburan, dan gaya hidup semuanya memiliki panggung di media sosial. Berlomba untuk budaya konsumtif dan status sosial. Media sosial jadi ajang pamer. Tidak ada yang memamerkan saldo dana pensiun, sudah menabung berapa per bulan dan berapa akumulasi dana untuk hari tuanya? Akibatnya, alokasi dana lebih sering diarahkan untuk kepuasan jangka pendek dibanding keamanan jangka panjang di waktu pensiun. Kita rela mencicil barang selama 5 tahun, tetapi ragu berkomitmen menabung untuk 25 tahun ke depan yang berguna di masa pensiun.

 

Pensiun jarang menjadi topik obrolan di meja makan atau diskusi publik. Pendidikan formal hampir tidak pernah mengajarkan bagaimana menghitung kebutuhan dana hari tua. Pekerja tidak di-edukasi, gimana menjaga standar hidup di hari tua saat tidak punya gaji lagi. Kita hanya diajarkan mencari pekerjaan, tetapi tidak diajarkan bagaimana berhenti bekerja dengan tenang? Sangat jelas, literasi dan obrolan soal dana pensiun sangat minin. Tanpa literasi yang cukup, banyak orang baru sadar pentingnya dana pensiun ketika usia produktif hampir habis. Pada titik itulah, risiko dan pilihan menjadi lebih berat: menaikkan iuran untuk dana pensiun atau menunda usia pensiun.

 

Pekerja selalu terlambat menyiapkan pensiun. Dan “terpaksa” harus membayar harga dari penundaan menjadi lebih mahal. Yang berarti harus menyisihkan lebih besar uang untuk tabungan hari tua, risiko kekurangan dana kian meningkat, dan ketergantungan pada anak atau keluarga saat pensiun menjadi lebih besar. Atau terpaksa terus bekerja ketika fisik tidak lagi sekuat dulu. Kita sering berpikir pensiun adalah akhir karier. Padahal tanpa persiapan, pensiun bisa menjadi awal dari kecemasan baru.

 

Maka saatnya mengubah pola pikir tentang pensiun. Pertanyaannya bukan lagi “berapa besar gaji kita hari ini?” melainkan “berapa lama kita ingin hidup mandiri tanpa gaji nanti?” Memulai lebih awal bukan soal nominal besar tapi soal disiplin dan konsistensi. Bahkan jumlah kecil yang disisihkan sejak usia 20-an di dana pensiun bisa menjadi fondasi kemandirian di usia 60-an.

 

Jangan lupa, pensiun bukan masalah orang tua. Tapi masalah orang muda yang belum sadar. Dan mungkin alasan kita selalu terlambat adalah karena kita terlalu sibuk membangun kehidupan hari ini, tanpa memastikan kehidupan esok tetap berdiri. Salam literasi! #YukSiapkanPensiun



Suara dari TBM: Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

Ada benarnya sih, ungkapan yang menyebut “Jangan pernah menilai seseorang hanya dari bungkusnya saja”. Karena memang, bungkusnya bisa indah tapi belum tentu isinya. Bisa bungkusnya cakep tapi isinya jelek. Atau bungkusnya buruk tapi isinya sangat bagus. Begitulah realitas yang sering terjadi.

 

Jangan pernah menilai seseorang hanya dari bungkusnya saja. Seperti pepatah di taman bacaan, “don’t judge a book by its cover”. Saat kita melihat buku, yang pertama terlihat memang sampulnya: warna, desain, judul. Tapi buku bisa dipahami dari isinya. Tentang pengetahuan, pemikran, cerita, atau makna. Tentu setelah membacanya.

 

Di taman bacaan, ternyata memang sampul tidak selalu mencerminkan kualitas isi buku. Ada buku dengan desain sederhana tapi isinya sangat dalam dan mengubah cara pandang hidup pembacanya. Sebaliknya, ada juga yang tampilannya menarik tapi isinya biasa saja. Begitu pula manusia, ada yang merekayasa diri ada pula yang apa adanya saja. Semuanya demi citra.

 

Terburu-buru menilai dari bungkusnya belum tentu valid. Sebab tidak ada hasil yang baik tanpa proses. Dan setiap proses butuh waktu. Seperti membaca halaman demi halaman, memahami seseorang juga butuh proses. Tidak cukup hanya melihat penampilan, latar belakang, atau kesan pertama. Kita harus menyelami lebih dalam, untuk tahu apa dan bagaimananya? Maka, jangan pernah menilai seseorang hanya dari bungkusnya saja. Karena setiap orang punya “cerita”. Sama seperti buku yang punya alur dan pesan tersembunyi, setiap orang punya pengalaman, perjuangan, dan nilai yang mungkin tidak terlihat dari luar.

 


Begitulah kesan kuat setelah berkiprah 9 tahun lebih di taman bacaan. Ketika anak-anak sedang membaca buku, duduk di lantai dan belajar. Bahwa semuanya sama dan setara. Tidak ada yang Istimewa, kecuali proses yang dijalani dengan penuh komitmen dan konsistensi. Anak-anak yangg tadinya tidak punya akses baca kini jadi rajin membaca. Tadinya hanya berdiam diri, kini berubah penuh energi. Semuanya, bukan dari bungkusnya tapi dari isinya. Memang manusia, bukan dilihat dari status atau pangkatnya. Tapi dari ikhtiarnya dalam berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama.

 

Maka, bila kita berkecukupan biarlah tetap rendah hati. Bila kita dalam kekurangan jangan sampai menjadi rendah diri. Karena manusia dinilai dari harkat dan martabatnya. Bukan dari penampilan dan materi belaka. Sebab bungkusnya bagus, belum tentu isinya bermanfaat. Kadang yang “apa adanya” bisa jauh lebih terhormat dan lebih bisa dipercaya daripada yang “ada apanya” dengan segala trik dan sikap angkuhnya.

 

Memang seperti buku, manusia punya sampul dan isi. Sampul mungkin menarik perhatian, tapi hanya dengan ‘membaca’ lebih dalam kita bisa memahami makna sebenarnya. Maka bacalah. Karena membaca melatih kita untuk tidak cepat menghakimi, tapi belajar memahami, berpikir kritis, dan melihat lebih dalam. Dan yang penting, jangan pernah menilai seseorang hanya dari bungkusnya saja. Salam literasi!




Berkiprah Di Taman Bacaan Itu Nggak Prestius

Saat kita berkiprah di taman bacaan, sudah pasti tidak semua orang melihat apa yang kita lihat. Sebagian besar orang mungkin hanya melihat hasilnya kecil, tidak menghasilkan uang besar, atau dianggap kurang “prestisius”. Padahal, kita sedang membangun sesuatu yang dampaknya jangka panjang: budaya baca, ruang aman untuk anak-anak, dan harapan untuk masa depan.

 

Menang tidak semua orang mengerti jalan kita. Alasannya sederhana, karena nilainya tidak langsung terlihat Dampak taman bacaan itu pelan tapi dalam. Tidak seperti bisnis yang keuntungannya bisa dihitung cepat. Lagi pula, sudut pandang tiap orang berbeda. Ada yang mengukur keberhasilan dari materi, jabatan, atau popularitas. Sementara kita mungkin mengukurnya dari perbuatan dan perubahan hidup seseorang. Apalagi kiprah di taman bacaan yang prosesnya sunyi. Mengelola taman bacaan sering penuh perjuangan: cari buku, urus relawan, dana terbatas. Dari luar terlihat sederhana, padahal penuh dedikasi.

 

Ibaratnya, “Saat berkiprah di taman bacaan, kita mungkin tidak membangun gedung tinggi, tapi kita membantu membangun mimpi anak-anak lewat buku. Hasilnya mungkin tidak terlihat hari ini, tapi akan terasa di masa depan.” Intinya, tidak semua orang harus mengerti jalan kita di taman bacaan. Yang penting, kita paham alasannya untuk melangkah dan tahu nilai-nilai yang kita perjuangkan.


Saat orang tidak mengerti jalan kita, tentu bukan berarti salah. Ada pesimisme, ada pikiran negatif bahkan selalu dipertanyakan. Biarlah, berbeda bukan tanda kesalahan. Sebab, jalan hidup dan persepsi tentang kebaikan setiap orang memang tidak sama. Dan ketikaa kita menyadari bahwa tidak dipahami bukan berarti keliru, beban di dada terasa lebih ringan. Lebih dari itu, setiap orang punya hidupnya sendiri. Semuanya dibentuk oleh pilihan, pendidikan, lingkungan, dan pengalaman emosional. Jadi, sangat wajar saat berkiprah di taman bacaan terlihat asing bagi yang tidak memahaminya. Yang penting, kita tidak perlu mengubah arah hanya demi menyesuaikan diri dengan peta orang lain.

 


Spirit itulah yang melekat pada relawan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Untuk tetap mengabdi dan memilih jalan hidup berkiprah di taman bacaan. Membimbing anak-anak yang membaca, bermain bersama, mengajar kaum buta aksara, hingga menjalankan aktivitas taman bacaan dengan sepenuh hati. Atas komitmen dan konsistensi personal. Sekalipun di bulan puasa, tetap menjalankan “Ngabubu Read di TBM” sebagai bagian mendidik akhlak dan adab anak-anak usia sekolah di taman bacaan. Dan akhirnya, menjadi relawan TBM memang berhadapan dengan realitas. Bahwa tidak semua orang mengerti jalan kita dan yang penting kita mengerti arah Langkah kita sendiri.

 

Sungguh, betapa menenangkannya ketika kita berhenti memaksa dunia untuk selalu setuju dan mulai fokus merawat kompas dalam diri. Untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat di taman bacaan. Jadi, tidak semua orang mengerti jalan kita. Salam literasi!

 


Komparasi Iuran Masuk vs Manfaat DPLK yang Dibayarkan dalam 5 Tahun Terakhir?

Dalam lima tahun terakhir, tren di industri Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) menunjukkan dinamika yang menarik: pembayaran manfaat pensiun meningkat signifikan, bahkan melampaui total iuran yang masuk atau pertmabahan aset yang dikelola. Untuk periode 2021 s.d. 2025, rata-rata iuran masuk atau pertambahan aset sebesar Rp. 10,2 triliun, sedangkan manfaat pensiun yang dibayarkan DPLK rata-rata Rp. 16,1 triliun per tahun. Artinya, rasio iuran masuk terhadap manfaat yang dibayar hanya 63%.

 

Apa artinya kondisi tersebut di DPLK? Kondisi ini menunjukkan dana pensiun seperti DPLK memiliki siklus yang alami. Pada fase awal, iuran yang terkumpul jauh lebih besar daripada manfaat yang dibayarkan karena mayoritas peserta masih dalam masa kerja. Namun ketika waktu berjalan dan peserta mulai memasuki usia pensiun, arus dana berbalik arah. Manfaat pensiun mulai mengalir lebih deras daripada iuran yang masuk.

 

Dapat dikatakan industri DPLK kini mulai memasuki fase “mature” (fase distribusi, bukan hanya menghimpun), di mana banyak peserta DPLK mulai memasuki usia pensiun dan gelombang pensiun meningkat. Dana yang dulu dikumpulkan untuk masa pensiun kini mulai dibayarkan. Tentu saja, manfaat pensiun yang dibayarkan memang hak peserta, yang berasal dari akumulasi dana masing-masing peserta sesuai dengan ketentuan “jatuh tempo” usia pensiun.

 

Siapapun yang menjadi peserta DPLK sejak lama dan disiplin menyetor iuran, kini mulai memetik hasilnya. Meningkatnya pembayaran manfaat pensiun di DPLK jadi bukti bahwa program dan skema dana pensiun di DPLK berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuannya. Para pekerja yang menjadi peserta DPLK, kini bisa merasakan langsung manfaat DPLK untuk hari tua, saat tidak bekerja lagi. Dengan menerima pembayaran manfaat pensiun, baik secara sekaligus ataupun berkala.

 

 

Akan tetapi, ketika manfaat pensiun yang dibayar lebih besar daripada iuran yang masuk ke DPLK maka memberi tantangan besar bagi industri DPLK mulai melakukan inovasi dalam meningkatkan kepesertaan baru DPLK. Agar setidaknya, manfaat yang dibayar minimal sama besar dengan iuran yang diterima. Karena bila manfaat terus naik sementara iuran stagnan, maka dalam jangka panjang menjadi sinyal atas 1) pertumbuhan aset kelolaan melambat, 2) ruang ekspansi industri DPLK menyempit, dan 3) keutuhan atas likuiditas pembayaran kian meningkat. Karena ittu, kepesertaan baru dan strategi investasi jadi poin penting.

 

Manfaat pensiun yang dibayar lebih besar daripada iuran yang masuk di DPLK juga menjadi cermin kondisi demografi dan literasi dana pensiun. Bonus demografi perlahan bergerak menuju fase penuaan populasi. Lebih banyak orang memasuki usia nonproduktif. Tanpa kesadaran menyiapkan dana pensiun sejak dini, tekanan sosial dan ekonomi bisa meningkat. Di sisi lain, partisipasi pekerja informal dan generasi muda dalam program pensiun sukarela seperti DPLK masih relatif terbatas. Banyak yang merasa pensiun masih terlalu jauh untuk dipikirkan. Padahal, data pembayaran manfaat yang terus meningkat menunjukkan satu hal: pensiun bukan teori, tapi pensiun itu nyata terjadi. Maka harus disiapkan sejak dini.

 


Inilah momentum DPLK untuk terus melakukan edukasi dan inovasi. Caranya, bisa dilakukan dengan memperluas inklusi kepesertaan DPLK secara individual dan pekerja informal, meningkatkan literasi dana pensiun, menyediakan akses digital yang lebih mudah untuk mendaftar, dan mengembangkan strategi investasi yang lebih efektif.

 

Bagi pekerja aktif, ini adalah pengingat keras bahwa masa produktif memiliki batas. Dalam skema iuran pasti, besar kecilnya manfaat sepenuhnya ditentukan oleh disiplin menabung dan waktu. Cepat atau lambat, siapapun akan pensiun. Masalahnya, sudahkah kita menyiapkan dana pensiun kesinambungan penghasilan di hari tua. Atau menjaga kemandirian finansial di masa pensiun agar tidak bergantung kepada anak?

  

Ketika manfaat pensiun mulai melampaui iuran yang masuk di DPLK, sesungguhnya yang dapat dicermati adalah generasi yang dulu bersiap dan generasi yang belum tentu siap. Maka pertanyaannya kini, apakah kita sudah berada di jalur yang benar untuk menjadi penerima manfaat pensiun DPLK berikutnya?

 

Saat bekerja tidak masalah karena masih punya gaji. Tapi di saat pensiun, dari mana uang untuk bisa menjaga standar hidup kita di hari tua saat tidak punya gaji lagi? #YukSiapkanPensiun



Minggu, 01 Maret 2026

40 Persen Pekerja Indonesia Terpaksa Turunkan Gaya Hidup Saat Pensiun

Meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia yang kini mencapai 73 tahun, mau tidak mau memperbesar kebutuhan perencanaan pensiun untuk menjaga standar dan gaya hidup. Karenanya setelah pensiun, sebagian besar pekerja masih tetap ingin bekerja setelah pensiun sekaligus konsekuensi atas tekanan ekonomi di hari tua.

 

Survei bertajuk “Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide” (SunLife, 2025)  meyebut 40% pekerja di Indonesia mengaku akan menurunkan ekspektasi gaya hidup saat pensiun. Artinya, 4 dari 10 pekerja “terpaksa” menurunkan gaya hidupnya di hari tua. Kondisi ini terjadi akibat adanya kecemasan finansial dan ketidaksiapan dana pensiun. Kurangnya ketersediaan dana yang cukup untuk masa pensiun.

 

Menurunkan gaya hidup di saat pensiun, tentu bukan tanpa alasan. Ketidakpastian penghasilan setelah berhenti bekerja menjadi alasan utama. Saat masih aktif bekerja, penghasilan rutin bisa memberi rasa aman. Namun ketika pensiun, arus kas berubah drastis. Akibat tidak memiliki dana pensiun yang cukup, pekerja cenderung menurunkan gaya hidup, mengurangi traveling, menunda hobi, mempersempit standar konsumsi, dan menghindari pengeluaran besar. Ini bukan sekadar soal hidup sederhana di hari tua. Tapi sebagai konsekuensi dan adaptasi terhadap risiko kehabisan dana di saat menjalani masa pensiun.

 

Belum lagi soal kekhawatiran biaya Kesehatan yang terus meningkat. Memasuki usia lanjut, biaya kesehatan semakin meningkat. Tanpa perlindungan dan tabungan yang memadai, banyak pekerja memilih “mengencangkan ikat pinggang” sejak awal untuk berjaga-jaga. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi dari tidak punya program dana pensiun yang memadai. Sebagian besar pekerja di Indonesia memang tidak memiliki program pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) atau hanya mengandalkan manfaat minimal dari jaminan sosial seperti JHT BPJS TK.

 

Sebagai contoh, peserta di BPJS Ketenagakerjaan memang mendapatkan manfaat JHT atau JP, namun bagi banyak pekerja, nilai manfaat tersebut belum tentu cukup untuk mempertahankan standar hidup sebelumnya. Sementara itu, kepesertaan pada program tambahan seperti DPLK masih relatif terbatas.

 


Fenomena menurunkan ekspektasi gaya hidup ini sering kali menjadi indikator bahwa tingkat penghasilan pensiun (replacement ratio) sangat rendah. Idealnya, saat pensiun seorang pekerja memiliki 60–80% dari penghasilan terakhirnya. Atau bila mengacu pada rekomendasi ILO minimal 40% dari gaji terakhir. Sementara bila mengandalkan program wajib seperti JHT hanya mampu meng-cover 10%-15% dari gaji terakhir. Karena itu, dana pensiun menjadi sangat diperlukan untuk menopang standar dan gaya hidup di hari trua.

 

Faktanya, banyak pekerja baru memikirkan pensiun di usia mendekati 50 tahun. Padahal, akumulasi dana pensiun membutuhkan waktu panjang dan kekuatan bunga majemuk. Tanpa iuran rutin ke dana pensiun maka nilai manfaat pensiun relative tidak memadai, aset tidak berkembang optimal, inflasi menggerus daya beli, dan standar hidup terpakasa harus turun. Lebih dari itu, makin banyak pensiunan akhirnya bergantung secara finansial kepada anak-anaknya. Fakatanya, 1 dari 2 pensiunan mengandalkan transferan dari anaknya setia bulan untuk memenuhi biaya hidup (ADB, 2024).

 

Adalah paradoks, bila hari tua akahinrnya menurunkan gaya hidup sementara perencanaan pensiun saat bekerja diabaikan. Menurunkan gaya hidup bukanlah solusi ideal di haro tua. Tapi sebaliknya, saat masaih bekerja justru semestinya mempersiapkan masa pensiun. Mulai menjadi peserta DPLK dan menyetor iuran sedini mungkin untuk manfaat pensiun. Berani menghitung kebutuhan pensiun berbasis inflasi dan menargetkan tingkat penghasilan pensiun atau replacement ratio minimal di atas 40% dari gaji terakhir. Idealnya, bisa mencapai 60%-705 dari gaji terakhir.

 

Pada akhirnya, pensiun bukan sekadar berhenti bekerja. Tpi memastikan martabat hidup tetap terjaga tanpa harus menurunkan kualitas hidup secara drastic di hari tua.

Sabtu, 28 Februari 2026

5 Sebab Pekerja Gelisah Jelang Pensiun

Kegelisahan saat mendekati pensiun adalah fenomena yang sangat manusiawi. Pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi jadi sebab perubahan besar dalam identitas, ritme hidup, dan keamanan finansial seseorang. Setelah puluhan tahun kerja, ternyata pekerja tetap gelisah saat memasuki usia pensiun.

 

Apa sebab pekerja gelisah jelang pensiun? Setelah menanyakan pekerja di Jakarta yang 2-3 tahun lagi akan pensiun, sebab kegelisahan jelang pensiun terdiri dari:

1.   Tidak dapat memberikan dukungan finansial kepada keluarga lagi karena sudah tidak punya gaji.

2.   Ketidak-amanan finansial karena tabungan belum cukup.

3.   Menyesal tidak punya rentang waktu yang cukup perencanaan pensiun

4.   Tidak membuat rencana apa pun sebelum pensiun.

5.   Khawatir tidak mandiri secara finansial atau bergantung kepada anak-anak.

Bahkan realitas yang ada menunjukkan banyak pekerja baru menyusun rencana pensiun dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja.

 

Kenapa gelisah jelang pensiun? Tentu, alasan utama terletak pada khawatir akan ketidakpastian finansial. Banyak pekerja baru berpikir dan bertanya dalam hati apakah tabungannya cukup untuk hari tua? Berapa lama dana yang dimilikinya akan bertahan? Bagaimana jika nanti sakit?

 


Setelah dihitung sendiri jelang pensiun, sebagian besar pekerja menyatakan program JHT dari BPJS TK manfaat yang diterima sama sekali tidak cukup untuk mempertahankan standar hidup. Apalagi manfaatnya diterima secara sekaligus. Karenanya, Menurut pekerja yang mau pensiun, program pensiun seperti DPLK sangat diperlukan. Sayangnya, para pekerja yang mau pensiun menyatakan “sudah terlambat” karena waktunya sebentar lagi akan pensiun.

 

Akibat tidak siap pensiun, banyak pekerja jadi gelisah jelasng pensiun. Dan akhirnta, pensiun dipersepsikan sebagai fase kehilangan penghasilan tetap. Tanpa bisa mempersiapkan apapun karena waktunya terlambat. Maka siapkanlah dana pensiun sejak dini. #YukSiapkanPensiun

TBM Lentera Pustaka Optimalkan Ngabubu-Read dan Bagikan 110 Takjil untuk Pembaca Aktif

Selama bulan puasa, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menggelar program "Ngabubu-Read Ramadhan Ceria" (ngabuburit sambil membaca). Aktivitas utamanya adalah tadarusan dan khataman Al Quran setiap Sabtu dan diakhiri dengan pembagian takjil kepada 110 anak pembaca aktif yang hadir. Seperti yang terjadi tadarusan dan takjilan kemarin di Bogor (28/2/2026), seluruh pengguna layanan antre takjil yang dibagikan wali baca dan relawan TBM Lentera Pustaka.

 

Melalui kegiatan "Ngabubu-Read" selama Ramadan, aktivitas taman bacaan dikombinasikan antara membaca buku, tadarusan, khataman Al-Quran, dan berbagi takjil kepada anak-anak pembaca aktif. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kebiasaan membaca di bulan puasa, memperkuat akhlak anak-anak, dan melatih kepedulian sosial anak. Sebab kata Rasulullah SAW: “Barang siapa yang memberi makanan berbuka pada orang yang berpuasa dia memperoleh pahala seperti pahala orang tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR At-Tirmidzi)

 


Melalui takjilan, anak-anak pembaca aktif pun diajarkan antre. Untuk tidak menyerobot hak orang lain. Antre sebagai akhlak dan adab yang dijunjung tinggi di mana pun dan kapan pun. Budaya antre mengandung pelajaran mulia berupa etika dan akhlak. Melalui antre, anak-anak dilatih untuk mengatur waktunya dengan efektif, belajar bersabar menunggu gilirannya, dan mampu menghargai hak orang lain. Selain untuk tetap membaca buku, Ngabubu Read jadi momen untuk memperkuat akhlak anak dan melatih budaya antre.

 

TBM Lentera Pustaka, yang didirikan oleh Syarifudin Yunus pada tahun 2017 ini, menjadikan Ngabubu Read Ramadan Ceria sebagai momentum edukatif yang menyenangkan dengan menggabungkan aktivitas keagamaan dan literasi. Salam literasi! 

 



Studi 81% Ingin Bekerja Melewati Usia Pensiun: Antara Produktivitas dan Kecemasan Finansial

Sebuah studi menyebutkan bahwa 81% masyarakat Indonesia ingin tetap bekerja walaupun sudah melampaui usia pensiun. Hal ini jadi bukti masyarakat Indonesia memiliki etos kerja yang tinggi, semangat yang produktif, dan keinginan untuk terus berkarya tanpa dibatasi usia. Sangat menggembirakan. Tapi patut dipertanyakan, apakah ingin tetap bekerja karena passion dan makna hidup? Atau karena dana pensiun belum cukup menjamin keberlanjutan hidup di hari tua?

 

Bekerja setelah pensiun, apa untuk semangat produktif atau terpaksa? Dalam sistem ideal, pensiun bukanlah akhir produktivitas. Ia adalah transisi dari kerja wajib menjadi kerja pilihan. Seseorang yang memiliki kesiapan finansial seharusnya bebas menentukan apakah ingin tetap bekerja, menjadi relawan, membangun usaha kecil, atau menikmati waktu bersama keluarga. Masalahnya, banyak pekerja Indonesia belum memiliki perencanaan pensiun yang memadai. Partisipasi dalam program pensiun tambahan seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) masih relatif terbatas dibandingkan jumlah angkatan kerja nasional. Sementara itu, perlindungan dasar seperti program dari BPJS Ketenagakerjaan sering kali belum cukup untuk menjaga standar hidup sebelumnya. Akibatnya, bekerja setelah usia pensiun bukan lagi pilihan gaya hidup, melainkan strategi untuk bertahan secara finansial.

 

Bisa jadi, tetap ingin bekerja setelah pensiun karena realitas risiko umur panjang. Indonesia memasuki fase peningkatan usia harapan hidup. Artinya, masa pensiun bisa berlangsung selama 15 hingga 25 tahun setelah pensiun. Tanpa dana yang memadai, risiko yang muncul bukan hanya penurunan kualitas hidup, tetapi juga ketergantungan pada keluarga. Banyak orang mengira bahwa pesangon atau tabungan yang terkumpul sudah cukup. Padahal, inflasi, biaya kesehatan, dan kebutuhan tidak terduga dapat menggerus nilai dana tersebut dengan cepat. Dalam konteks ini, keinginan bekerja lebih lama bisa dipahami sebagai respons terhadap “longevity risk”, risiko hidup lebih lama daripada kemampuan finansial untuk menopangnya.

 

Karena itu, dana pensiun semestinya memberi kebebasan, bukan membatasi. Tujuan utama dana pensiun bukanlah menghentikan orang dari bekerja. Tapi sebaliknya, untuk memberi kebebasan untuk memilih di hari tua. Ketika seseorang memiliki dana pensiun yang cukup maka dapat tetap bekerja karena “ingin”, bukan karena “harus”. Dapat menolak pekerjaan yang eksploitatif, di samping dapat menjaga kesehatan tanpa tekanan finansial. Sebaliknya, tanpa kesiapan dana pensiun, usia lanjut bisa menjadi periode paling rentan secara ekonomi dan psikologis. Di sinilah, peran program pensiun seperti DPLK menjadi krusial dalam menjamin kesinambungan penghasilan di hari tua dan kemandirian finansial setelah pensiun.

 


Bekerja atau tidak bekerja setelah pensiun adalah pilihan. Tapi faktanya banyak pekerja menunda menabung karena merasa pensiun masih jauh. Masih banyak yang orientasinya konsumsi jangka pendek lalu mengabaikan dana pensiun. Dan akhirnya menganggap dana pensiun sebagai prioritas terakhir. Padahal, prinsip compounding bekerja paling optimal ketika dana pensiun dimulai lebih awal. Menunda lima atau sepuluh tahun saja dapat membuat kebutuhan kontribusi dana pensiun menjadi berlipat ganda. Jika 81% masyarakat ingin bekerja lebih lama, bisa jadi itu adalah sinyal bahwa pekerja belum merasa aman secara finansial. Dan rasa aman finansial tidak muncul tiba-tiba di usia 55 atau 60 tahun, justru dibangun sejak usia produktif semasa bekerja.

 

Angka 81% ingin bekerja sekalipun melewati usia pensiun seharusnya menjadi alarm perlunya penguatan edukasi pensiun sejak dini, bahkan sejak awal bekerja. Perusahaan perlu mendorong skema pendanaan pensiun sejak dini, baik untuk imbalan pascakerja atau pesangon dan perencanaan pensiun karyawan. Karenanya, desain produk dana pensiun seharusnya lebih fleksibel dan disesuaikan dengan karakteristik pekerja di sektor formal dan informal. Untuk itu, dana pensiun harus bergerak dari pendekatan administratif menjadi pendekatan berbasis kesejahteraan jangka panjang.

 

Pensiun yang bermartabat, ukuran keberhasilan dana pensiun bukanlah berapa banyak orang yang berhenti bekerja di usia tertentu. Ukurannya adalah apakah mereka memiliki pilihan? Jika seseorang memilih tetap bekerja karena ia menikmati pekerjaannya, itu adalah keberhasilan. Namun jika ia bekerja karena takut kehabisan uang, itu adalah kegagalan sistem perencanaan pensiun.

 

Masyarakat yang sejahtera bukanlah masyarakat yang dipaksa produktif hingga akhir hayat, melainkan masyarakat yang tetap produktif karena merasa aman secara finansial. Bekerja di usia tua sebagai aktualisasi diri, bukan keterpaksaan. Angka 81% ingin tetap bekerja di usia tua bisa dibaca sebagai optimisme. Tetapi juga bisa dicermati sebagai kecemasan kolektif yang belum terselesaikan tentang masalah finansial di masa pensiun.

 

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah orang ingin bekerja melewati usia pensiun. Tapi apakah kita siap jika suatu hari tidak lagi bisa bekerja? Di situlah dana pensiun menemukan urgensinya. #YukSiapkanPensiun

 

Jumat, 27 Februari 2026

Renungan Puasa: Jangan Pernah Duduk Bersama Orang Yang Suka Menceritakan Keburukan Orang Lain

Bulan puasa adalah momen penting untuk meninjau ulang pergaulan kita. Untuk selalu menjaga kualitas lingkungan pergaulan dan menjaga kesehatan mental. Tentang dengan siapa kita berteman dan pada siapa kita bergaul?

 

Hati-hati, di dekat kita. Mungkin saja ada orang yang suka bicara keburukan orang lain. Maka, jangan pernah duduk bersama orang-orang yang suka menceritakan keburukan orang lain. Karena begitu kita tidak ada di sana, kamu adalah topik cerita berikutnya. Duduklah bersama orang-orang yang membahas ide, gagasan, visi dan misi untuk kemajuan diri. Ingat, siapapun yang suka membicarakan keburukan orang lain, adalah orang yang menunjukkan keburukan dirinya yang sebenarnya. Sebab cara seseorang berbicara tentang orang lain kepada kita adalah cara yang sama dia akan berbicara tentang kita dengan orang lain. Itulah realitas tukang gosip.

 

Kenapa tidak disarankan duduk bersama orang yang suka membicarakan keburukan orang lain? Karena orang yang gemar bergosip atau membicarakan aib orang lain biasanya menyebarkan energi negatif dan membentuk pola pikir sinis serta penuh prasangka. Tipe orang begitu tidak bisa dipercaya (karena kalau dia membicarakan orang lain, suatu hari bisa jadi dia membicarakan kita juga). Hanya menghabiskan waktu untuk hal yang tidak produktif. Lingkungan pergaulan seperti ini pelan-pelan bisa memengaruhi cara kita berpikir, berbicara, dan memandang orang lain.

 

Ada pepatah yang sering dikaitkan dengan Eleanor Roosevelt: “Great minds discuss ideas. Average minds discuss events. Small minds discuss people.” Pikiran yang besar membicarakan ide-ide. Pikiran yang biasa membicarakan peristiwa. Dan pikiran yang kecil membicarakan orang. Artinya, kualitas obrolan sering mencerminkan kualitas cara berpikir.

 


Ini bukan sekadar soal gosip. Tapi pesannya adalah pilih lingkungan yang membuat kita bertumbuh, bukan yang menarik kita ke bawah. Karena kita akan dipengaruhi oleh siapa-siapa orang terdekat. Topik yang sering kita dengar akan membentuk cara berpikir kita. Dan energi di sekitar kita akan memengaruhi emosi kita sendiri.

 

Bila pun ada di dekat kita orang yang gemar menceritakan keburukan orang lain, secara perlahan tidak perlu dijauhi. Tapi cukup dengan mengalihkan topik pembicaraan atau tidak ikut menanggapi. Dan lebih baik membatasi intensitas pertemuan dengannya. Tapi jika lingkungannya benar-benar toxic, maka menjaga jarak atau menghindarinya adalah bentuk menjaga kualitas diri.

 

Daripada membicarakan keburukan orang lain, lebih baik membaca buku. Karena membaca buku dapat menambah wawasan dan membuat pikiran lebih terbuka. Membaca buku juga memberikan ketenangan sekaligus membantu perkembangan diri. Daripada waktu habis untuk membicarakan keburukan orang, membaca buku memberi kita nilai tambah. Bertambah pengetahuan, wawasan, inspirasi, bahkan solusi hidup. Seperti itulah kebiasaan yang dibangun pada anak-anak TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. Bahkan di bulan puasa, mereka melakukan “ngabubu-read”, membaca buku sambil khataman al Quran setiap Minggu. Sebagai upaya membentuk akhlak dan adab yang baik seja dini kepada anak-anak usia sekolah.

 

Jadi, jangan pernah duduk bersama orang yang suka menceritakan keburukan orang lain. Toh, setiap orang pasti ada buruknya. Bersikaplah untuk selalu menjaga kualitas lingkungan pergaulan dan menjaga kesehatan mental. Jadilah terang dan berjalanlah meski dunia terasa gelap sekalipun. Salam literasi!




Hindari Pensiun Miskin, Inilah 7 Sebab Pentingnya Edukasi Dana Pensiun

Tahun 2025 lalu, OJK dan BPS merilis Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat sebagai hasil Survei Nasional Literasi Dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025. Khusus untuk dana pensiun diperoleh tingkat literasi dana pensiun berada di level 25,79%, sedangkan tingkat inklusi dana pensiun di 5,37%. Kondisi ini tergolong masih rendah. Karena dari 10 orang Indonesia, hanya 2,5 orang yang "tahu" dana pensiun dan hanya 0,5 (setengah) orang yang "punya" dana pensiun. Artinya, tiap 10 orang Indonesia tidak sampai 1 orang yang punya dana pensiun.

 

Karena itu, edukasi dana pensiun kepada publik sangat penting. Di samping untuk memberikan pemahaman akan pentingnya perencanaan masa pensiun, edukasi juga diperlukan untuk membangun kesadaran bahwa massa pensiun sama pentingnya dengan masa bekerja.

 

Pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi fase hidup panjang yang tetap membutuhkan kestabilan finansial, mental, dan sosial. Banyak orang baru menyadari pentingnya persiapan saat sudah mendekati usia pensiun. Banyak pekerja terlambat menyiapkan masa pensiunnya sendiri. Karena itu, edukasi dana pensiun sangat penting dilakukan.

 

Setidaknya ada 7 (tujuh) alasan utama mengapa edukasi pensiun penting dilakukan?

1. Meningkatkan kesadaran dini (early awareness). Sebagian besar pekerja aktif merasa pensiun masih jauh. Akibatnya tidak menghitung kebutuhan dana pensiun, tidak memahami inflasi dan risiko umur panjang, dan tidak memiliki strategi investasi jangka panjang. Padahal, semakin dini seseorang memahami pentingnya perencanaan pensiun, semakin ringan beban yang harus ditanggung setiap bulan.

2. Mengurangi risiko “pensiun miskin”. Berbagai survei menunjukkan banyak pensiunan di Indonesia bergantung pada anak, tetap bekerja karena kebutuhan ekonomi atau mengalami penurunan kualitas hidup. Tanpa edukasi, orang cenderung mengandalkan pesangon saja (yang nyatanya tidka cukup), tidak memahami program pensiun seperti DPLK, dan tidak menghitung risiko biaya kesehatan. Edukasi membantu masyarakat memahami bahwa pensiun tanpa perencanaan = risiko finansial yang serius.

3. Membantu perencanaan yang rasional, bukan emosional. Banyak keputusan keuangan didasarkan pada gaya hidup, tekanan sosial, dan keinginan sesaat. Karenanya, edukasi pensiun mengajarkan perhitungan kebutuhan dana (replacement ratio), pentingnya diversifikasi investasi, dan strategi kontribusi rutin dan konsisten untuk hari tua. Dana pensiun penting disiapkan keputusannya berbasis data, bukan sekadar perasaan.

4. Mengantisipasi risiko umur panjang (longevity risk). Angka harapan hidup orang Indonesia saat ini mencapai 73 tahun. Setiap tahun semakin meningkat. Artinya masa pensiun yang dijalani setiap orang bisa 15–25 tahun setelah berhenti bekerja. Tabungan harus cukup untuk membiayai hidup lebih lama, selama pensiun. Tanpa edukasi, orang sering mengira dana Rp. 500 juta atau Rp. 1 miliar sudah cukup, padahal belum tentu, tergantung gaya hidup dan tingkat inflasi.

5. Mendorong disiplin investasi jangka panjang. Program pensiun atau tabungan hari tua seperti DPLK, Program pensiun perusahaan, atau investasi pasar modal memerlukan konsistensi. Edukasi membuat peserta memahami manfaat compounding, risiko jika tidak punya dana pensiun, atau pentingnya evaluasi keuangan jangka panjang secara berkala

6. Mengurangi bban sosial dan keluarga. Tanpa kesiapan finansial untuk masa pensiiun maka beban ekonomi akan berpindah ke anak, berpotensi konflik keluarga meningkat, dan ketergantungan sosial bertambah di usia lanjut. Edukasi pensiun membantu menciptakan generasi lansia yang lebih mandiri dan bermartabat, di samping memiliki kesinambungan penghasilan di hari tua.

7. Mempersiapkan aaspek non-finansial. Pensiun bukan hanya soal uang, tetapi juga identitas diri, aktivitas pasca kerja, dan kesehatan menta. Edukasi pensiun membantu seseorang merancang aktivitas produktif di hari tua, rencana usaha, cara aktualisasi diri, dan peran sosial baru setelah tidak bekerja lagi.

 


Fakta hari ini, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan transferan dari anaknya setiap bulan untuk memenuhi biaua hidup (ADB, 2024). Bahkan 8 dari 10 pensiunan atau lansia menggantungkan hidupnya dari anggota keluarga yang bekerja. Sementara di kalangan pekerja, saat ini 9 dari 10 pekerja sama seklai tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Kondisi ini bukan hanya memprihatinkann tapi menegaskan pentingnya edukasi dana pensiun secara terus-menerus.

 

Suka tidak suka, edukasi pensiun diperlukan. Karena tanpa perencanaan, masa pensiun bisa menjadi fase krisis. Dapat menimbulkan ancaman finansial di hari tua. Dengan edukasi, masa pensiun bisa menjadi fase kebebasan sekaligus kemandirian secara finansial. Bahkan untuk program DPLK, edukasi sangat penting untuk mendongkrak tingkat literasi dan inklusi dana pensiun, termasuk memengaruhi partisipasi, loyalitas, dan keberlanjutan program.

 

Ketahuilah, masa pensiun setiap orang Indonesia semakin panjang durasinya, bisa 15 hingg 25 tahun kehidupan setelah berhenti bekerja. Dan pastinya, biaya hidup pun semakin lama semakin besar. Masalahnya, sudahkah kita mempersiapkan masa pensiun kita sendiri? #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

 


Kamis, 26 Februari 2026

Keinginan Mengontrol Hal yang Tidak Bisa Dikontrol, Kok Bisa?

Hari ini banyak orang cemas, bukan karena apa yang terjadi. Tapi cemas dan khawatir atas apa yang belum terjadi. Kebiasaan manusia sering cepat merasa cemas terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Merasa takut, khawatir, dan stres sebelum masalah itu benar-benar datang. Akibatnya, menderita dua kali. Pertama, karena bayangan di pikirannya sendiri. Kedua, saat masalah itu benar-benar terjadi (bila memang terjadi).

 

Padahal, banyak hal yang kita takutkan ternyata tidak pernah terjadi. Artinya, penderitaan itu hanya diciptakan oleh pikiran kita sendiri.  Cemas karena ingin mengontrol hal yang tidak bisa dikontrol. Cemas yang muncul karena ingin kepastian di tengah ketidakpastian. Sesuatu yang belum jelas, justru otak mengajak untuk mengisinya dengan prediksi. Sayangnya, prediksi kita sering condong ke skenario negative. Bias dan penuh kecemasan.

 


Maka jangan menyiksa diri dengan kekhawatiran masa depan. Hadapi masalah saat memang waktunya tiba, bukan sebelumnya. Fokuslah pada hari ini. Karena pikiran yang tidak terkontrol bisa membuat beban kecil terasa berkali-kali lebih berat.

 

Jangan terlalu cemas atas hal-hal yang berlum terjadi. Mulai kendalikan imajinasi yang teralu aktif. Sebab terlalu sulit “menagih” kepastian di dunia yang tidak pasti. Masalahnya bukan pada “rasa cemas”-nya. Tapi kita mempercayai semua pikiran cemas itu sebagai fakta.

 

Rileks saja dan tetaplah ikhtiar, seperti anak-anak TBM Lentera Pustaka yang tetap “ngabuburead” membaca buku di bulan puasa. Jangan terlalu cemas. Salam literasi!



 

Ngabubu-Read TBM Lentera Pustaka, Kokohkan Akhlak Anak di Bulan Puasa

Selain bulan suci, bulan puasa atau Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim di dunia. Karena di bulan suci ini, semua aktivitas yang dilakukan bernilai ibadah. Puasa untuk menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, termasuk lapar dan haus. Tadarusan, bersedekah, hingga zikir pun dilipatgandakan pahalanya. Maka, optimalkan aktivitas ibadah di bulan suci, bulan Ramadhan.

 

Ada banyak cara untuk optimalkan ibadah di bulan puasa. Salah satu yang khas adalah ngabuburit. Sebuah kegiatan menghabiskan waktu sambil menunggu waktu berbuka puasa tiba. Aktivitas menantikan azan maghrib.Tentu, ngabuburit harus diisi diisi dengan kegiatan yang positif dan baik. Sehingga ngabuburit jadi penyempurna ibadah puasa yang lebih berkualitas, seperti tadarus, pengajian, atau berzikir.

 

Agar bulan puasa lebih berfaedah dan meninggalkan bekas yang baik dalam pikiran dan tindakan sesudahnya, ada baiknya kegiatan ngabuburit dioptimalkan. Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor pun membagikan tips untuk optimalkan waktu ngabuburit saat menunggu waktu berbuka puasa dengan melakukan 4 aktivitas berikut:

1.   Tadarusan atau Khataman Al Quran. Agar bulan puasa bisa jadi momen untuk mendekatkan diri umat muslim kepada kitab sucinya. Selain menambah pahala, membaca Al Quran pun untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amalan baik. Sehingga rahmat Allah SWT selalu terlimpah setelah bulan puasa.

2.   Sedekah. Selain untuk berlimpah pahala, sedekah pun menjadi ajaran yang patut dibiasakan di bulan puasa karena untuk menggembirakan orang-orang lain yang berpuasa dan bisa meringankan beban atau kesedihan orang lain. Karena sedekah dapat meningkatkan hartanya di masa kehidupan, di samping meringankan kepedihan saat mautnya.

3.   Muhasabah diri. Untuk membuka hati dan menyadari segala dosa dan kesalahan yang diperbuat sebelumnya. Momen untuk introspeksi diri, berani mengoreksi segala sikap, perbuatan, kesalahan, dan kelemahan diri selama ini. Menyesal atas dosa untuk tidak mengulanginya. Karena penyesalan adalah taubat.

4.   Menambah Ilmu. Bulan puasa pun sangat baik dijadikan momen untuk menambah ilmu. Membaca buku, mengikuti kajian keagamaan atau tausiyah agama yang berdampak positif bagi pikiran, hati, dan perbuatan.

 


Atas spirit menambah faedah bulan puasa itulah, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menggelar program “Ngabubu-Read Ramadhan Ceria”, dengan melakukan aktivitas 1) tadarusan pada Rabu dan Jumat, 2) Khataman Al Quran setiap Sabtu, dan 3) Tausiyah Literasi dan doa jelang buka puasa setiap Sabtu. Melalui “Ngabubu-Read” di bulan puasa ini, TBM Lentera Pustaka mengajarkan 120-an anak pembaca aktif untuk makin “mengokohkan akhlak dengan iman, menaklukkan dunia dengan Al Quran”.

 

Sejatinya, bulan puasa adalah momen penggemblengan lahir batin untuk menjadi manusia yang lebih baik sesudah sebulan penuh berpuasa. Apakah kita menjadi lebih baik dalam keimanan dan ketakwaan setelah puasa? Itulah faedah yang harus dicapai di bulan puasa.

Maka, jangan meninggalkan apa pun selain jejak. Jangan membunuh apa pun kecuali waktu. Untuk selalu berpikir dan bertindak yang baik, sekalipun di taman bacaan. Salam literasi.