Pak Darto dulu dikenal sebagai sosok pekerja keras. Selama lebih dari tiga puluh tahun, ia datang paling pagi dan pulang paling akhir dari kantornya. Baginya, bekerja adalah segalanya. Ia percaya bahwa selama masih punya penghasilan, hidup akan selalu baik-baik saja. Tentang pensiun, ia jarang memikirkannya. “Nanti juga ada jalannya,” begitu pikirnya setiap kali topik itu muncul.
Waktu berjalan
tanpa terasa. Anak-anaknya tumbuh, lalu pergi merantau dengan kehidupan
masing-masing. Istrinya yang dulu setia menemani, lebih dulu berpulang karena
sakit. Sejak saat itu, rumah yang dulu ramai perlahan menjadi sunyi. Namun Pak
Arman masih memiliki pekerjaannya, satu-satunya hal yang membuatnya merasa
tetap hidup.
Hingga suatu
hari, masa pensiunnya tiba. Ia pensiun di usia 56 tahun. Hari terakhirnya di
kantor disambut hangat, penuh ucapan terima kasih dan kenangan. Tapi setelah
itu, hari-harinya berubah drastis. Tidak ada lagi rutinitas pagi, tidak ada
suara rekan kerja, tidak ada tujuan yang jelas setiap harinya. Ia terbangun
pagi, lalu duduk lama tanpa tahu harus melakukan apa. Pak Darto, sering termenung
memikirkan hari tuanya sendiri.
Masalah mulai
terasa ketika tabungan yang ia miliki perlahan menipis. Selama ini Pak Darto tidak
pernah benar-benar menyiapkan dana pensiun. Uang pesangon yang dulu terasa
besar, ternyata habis untuk kebutuhan sehari-hari, biaya kesehatan, dan
membantu anak-anaknya di awal kehidupannya berumah tangga. Ia mulai menghitung
pengeluaran dengan cemas, sesuatu yang dulu tidak pernah ia lakukan saat masih
bekerja. Setelah pensiun, hari-hari Pak Darto penuh kalkulasi, cukup atau tidak
uang tabungannya?
Di usia
senjanya, Pak Darto mencoba bertahan. Ia pernah mencoba berjualan kecil-kecilan
di depan rumah, tapi tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Kadang ia menerima
pekerjaan serabutan, sekadar untuk membeli beras dan membayar listrik. Namun
yang paling berat bukan hanya soal uang, melainkan rasa sepi yang perlahan
menggerogoti hatinya. Di hari tuanya, Pak Darto tidak pernah menyangka akan
hidup sendirian dan kesepian.
Hari-hari
berlalu dalam kesunyian. Telepon jarang berdering. Anak-anaknya sesekali
mengirim kabar, tapi jarak dan kesibukan membuat anak-anaknya tidak bisa sering
pulang. Pak Darto sering duduk di teras rumah saat sore, memandangi jalan yang
lengang. Ia rindu masa-masa ketika hidupnya penuh arti, ketika ia merasa
dibutuhkan saat bekerja.
Di dalam
hatinya, ia sering berandai-andai. Andai dulu ia lebih mempersiapkan masa
pensiun, mungkin hidupnya tidak seberat ini. Andai dulu ia tidak hanya bekerja
untuk hari ini, tapi juga untuk hari tuanya. Kini, yang tersisa hanyalah waktu,
penyesalan, dan harapan kecil agar hari esok masih memberinya kekuatan untuk
bertahan.
Kini, Pak Darto
jadi pensiunan yang akhirnya hidup sendiri dalam kesepian di hari tua. Dan
masalahnya, hidupnya serba kekurangan uang untuk membiayai hidupnya sendiri. Ia
menyesal karena tidak mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Agar tetap tenang
dan nyaman di masa pensiun, tetap punya uang cukup untuk menjalani hari-hari di
usia senja. #YukSiapkanPensiun

.jpg)


%20rev.jpg)





.jpg)



%20rev.jpg)
