Kamis, 30 November 2023

Taman Bacaan Hanya Fokus pada Tujuan, Bukan Omongan Orang Lain

Taman bacaan adalah apa yang dipikirkan dan dikerjakan. Mungkin terdengar klise. Tapi begitulah adanya. Saat mengelola taman bacaan dianggap susah, maka susahlah yang dialami. Saat mengelola taman bacaan gampang, maka akan gampang segalanya. Sangat benar adanya, apa yang dipikirkan dan dikerjakan pasti akan membentuk sikap dan karakter kita. Untuk mencapai tujuan besar taman bacaan atau tidak?

 

Mungkin, tidak hanya di Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Di mana pun, kita harus hati-hati dengan pikiran dan tindakan. Jika kita berpikir positif, maka tindakan kita pun cenderung positif. Jadi, lebih mudah mencapai tujuan, meraih kesuksesan. Tapi sebaliknya, bila pikiran kita negatif maka tindakan kita pun jadi negatif.  Betapa hebatnya, pengaruh pikiran dan Tindakan pada seseorang dan organisasi. Apapun terserah kita, mau optimis atau pesimis?

 

Hari gini, penting banget untuk selalu menjaga pikiran dan bertindak ke arah yang positif. Agar kita selalu termotivasi untuk melakukan hal-hal baik. Untuk tetap semangat menebar manfaat kepada sesama sekalipun hanya di taman bacaan. Daripada selalu mengeluhkan pagi yang hujan, siang yang panas. Apalagi hanya berceloteh jelek di grup WA dan media sosial. Percayalah, tidak ada masalah atau tantangan seberata apapun yang bisa diselesaikan. Tanpa dilandasi pikiran dan tindakan yang baik.

 

You are what you think. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Maka akan begitulah yang dikerjakan. Saat bekerja dianggap susah, saat mengelola taman bacaan dianggap sia-sia. Maka susah dan sis-sialah yang dialami. Maka, apa yang dipikirkan akan begitu pula yang dikerjakan. Ini soal mindset, soal cara pandang yang ada pada setiap kita di pagi hari.

 

Barang siapa mengeluh, maka keluhan itu akan menjadi miliknya. Jika kita berpikir bisa, maka kita akan bisa. Jika kita berpikir gagal, maka kita akan gagal. Jika kita berpikir sehat, maka kita akan sehat. Sebaliknya jika kita berpikir sakit, maka kita akan sakit. Jika kita berpikir Bahagia, maka pasti bahagia. Dan jika berpikir sedih, maka kita pasti sedih. Itulah hukum tarik-menarik, the law of attraction yang berlaku di alam semesta.

 


Apa yang dipikirkan, itulah yang akan dikerjakan. Maka jaga selalu berpikir positif. Jangan biarkan pikiran negatif membelenggu otak dan kehidupan kita. Jaga selalu sikap optimis di mana pun. Jangan bergaul dengan orang-orang yang pesimis dalam memandang hidup. Jangan pernah meneyrah dengan keadaan. Harus tetap semangat untuk menjadikan diri lebih baik dan lebih baik. Karena tugas kita hanya dua, yaitu 1) ikhtiar yang optimal dan 2) berdoa yang baik. Selebihnya, biarkan Allah SWT yang bekerja untuk kita.

 

Jangan buang waktu yang tidak bermanfaat. Pikirkan yang baik-baik, berkata yang baik, dan bertindaklah yang baik-baik. Semuanya butuh komitmen dan konsistensi. Karena apapun yang terjadi, kita hanya butuh tindakan yang mendukung ke arah tujuan kita. Sekalipun ada banyak rintangan atau tantangan. Maka, jaga pikiran dan tindakan pada area yang baik dan positif.

 

Dan apapun, fokuslah pada tujuan kita. Bukan pada omongan orang lain. Itulan prinsip literasi yang saya pelajari dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Salam literasi #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka #PegiatLiterasi

Bila Baik dan Bermanfaat, Kenapa TBM Tidak Diurus?

Hampir semua orang sepakat. Bahwa baik dan bermanfaat itu penting. Tapi semua orang mau berkiprah di tempat baik dan bermanfaat. Entah karena kesibukan atau lingkungan? Mungkin, tidak akan ada habisnya berdebat soal waktu dan kesempatan. Baik dan bermanfaat itu hanya soal komitmen dan konsistensi. Seperti berkiprah di taman bacaan pun hanya soal komitmen dan konsistensi.

 

Bila taman bacaan itu baik, kenapa tidak diurus? Bila TBM itu bermanfaat, kenapa tidak diseriusi? Maka jadikan TBM sebagai ladang amal, sebagai tempat untuk mengabdikan diri kepada orang banyak. Tanpa kenal waktu, tanpa peduli usia. Cukup kerjakan saja yang baik dan bermanfaat. Sebagai ladang amal, sebagai sarana untuk ibadah.

 

Bukankah bila diri kita diciptakan untuk beribadah, lantas kenapa engkau tinggalkan?

Bukankah bila kematian kita takuti, lantas kenapa kita belum mau berbuat baik?

Dan bukankah bila kita tidak tahu mana amal yang diterima, kenapa kita tidak memperbanyak amalan?

Mau sampai kapan, waktu dihabiskan untuk hura-hura dan aktivitas yang tidak bermanfaat. Sementara kita tahu belum tentu berumur panjang. Kita tahu ajal akan menjemput. Mau sampai kapan kita terus menunda?

 


Hari ini, di tempat ini (dunia) adalah kenyataan, sedangkan akhirat hanyalah masih menjadi sebuah cerita. Namun suatu saat nanti, di tempat ini (dunia) hanyalah sebuah cerita dan akhirat menjadi tempat yang nyata, tempat penyesalan sekaligus pembalasan.


Maka renungkan sejenak, tenangkan diri. Untuk berpikir dan bersikap, bila TBM baik dan bermanfaat, kenapa tidak diurus? Sebagai tempat mengabdi dan membantu orang lain. Sambil melatih diri untuk selalu syukur dan sabar. TBM adalah praktik baik, maka harus diurus dengan perbuatan. Karena TBM tidak hidup dari seminar dan ruang diskusi. Percayalah, baik dan bermanfaat itu ranahnya perbuatan. Itulah filosofi kebaikan di taman bacaan.

 

Jadi, mau sampai kapan kita terus terlena di dunia? Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 

Rabu, 29 November 2023

Inilah 5 Tantangan Edukasi Dana Pensiun di Kalangan Pekerja, Harus Terus Bergerak

Dalam berbagai seminar dan diskusi, selalu disebutkan bahwa menabung untuk hari tua atau merencanakan masa pensiun bagi setiap pekerja itu penting dan sangat penting. Penasihat keuangan pun berkali-kali menekankan pentingnya mempersiapkan masa pensiun sejak dini itu penting. Bahkan pemerintah pun mengimbau kepada para pekerja di Indonesia untuk mau menyisihkan sebagian gaji untuk hari tuanya. Agar tetap nyaman di masa pensiun dan dapat menikmati hari tuanya sendiri.

 

Saat pensiun, siapapun tidak lagi punya gaji bulanan. Uang pesangon atau pensiun dari tempat bekerja pun tidak seberapa, akan habis digunakan untuk biaya hidup sekitar 5 tahun setelah pensiun. Sementara angka harapan hidup saat ini mencapai 72 tahun. Bila pensiun di 55 tahun, maka masih ada 17 tahun masa kehidupan di hari tua yang membutuhkan biaya tidak kecil. Sementara sudah tidak bekerja dan tidak punya gaji bulanan lagi, lalu dari mana uang untuk membiayai kehidupan di hari tua? Maka lagi-lagi, menabung untuk masa pensiun sangat penting. Mumpung masih bekerja, kan tidak ada salahnya untuk mempersiapkan jaminan hidup nyaman di hari tua.  Itulah gunanya dana pensiun sebagai produk keuangan yang dirancang khusus untuk masa pensiun seorang pekerja.

 

Tapi sayangnya saat ini. Dari 136 juta pekerja yang ada di Indonesia, tidak lebih dari 5% pekerja yang sudah memiliki dana pensiun (di luar JHT BPJS). Artinya, bila tidak edukasi akan pentingnya merencanakan masa pensiun. Berpotensi besar 95% pekerja di Indonesia akan mengalami masalah keuangan di hari tua. Tidak punya kecukupan dana untuk membiayai hidupnya sendiri di masa pensiun. Maka wajar survei menyebut, 7 dari 10 pensiunan di Indonesia mengalami masalah keuangan. Merana di masa pensiun walau belum tentu berjaya pula di masa bekerja sebelumnya.

 

Lalu, kenapa pekerja di Indonesia susah untuk menabung masa pensiunnya?

Usut punya usut dan setelah survei ke 100 pekerja biasa di Jakarta, ternyata diperoleh alasan yang “cukup masuk akal”. Bahwa gaji atau penghasilan pekerja belum bisa dipakai menabung untuk hari tua. Ternyata, inilah 5 (lima) alasan pekerja belum mau menabung untuk hari tua atau memiliki dana pensiun, yaitu:

1.     Gaji habis untuk biaya pendidikan anak

2.     Gaji habis digunakan untuk membayar utang

3.     Gaji terserap untuk menyicil kredit rumah-kendaraan

4.     Gaji digunakan untuk bergaya hidup

5.     Selalu punya alasan untuk mengelak pentingnya dana pensiun, belum punya mind set tentang pentingnya perencanaan masa pensiun



Selain itu, ada pula yang berpendapat. Urusan masa pensiun atau hari tua, katanya, menjadi kewajiban kantor atau perusahaan tempatnya bekerja. Bila begitu nyatanya, berarti edukasi dan literasi menjadi persoalan utama di dana pensiun. Untuk memberi pengetahuan dan pemahaman kepada pekerja akan pentingnya dana pensiun. Agar tidak menyesal di masa pensiun. Akibat tidak mempersiapkan masa pensiunnya sendiri.

  

Pekerja, sepatutnya tahu. Untuk bisa sejahtera dan nyaman di masa pensiun, tentu dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satu cara yang idela adalah menjadi peserta DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) yang ada di pasaran. Karena DPLK merupakan produk keuangan yang dirancang khusus untuk masa pensiun, saat pekerja tidak bekerja lagi. Melalui DPLK, pekerja dapat menyisihkan sebagian gaji untuk hari tua. Setidaknya, ada 3 (tiga) keuntungan DPLK, yaitu 1) ada ketersediaan dana yang pasti di masa pensiun, 2) ada hasil investasi yang optimal saat manfaat pensiun dibayarkan,  dan 3) ada insentif pajak saat manfaat pensiun dibayarkan, pajaknya final 5%. 

 

Mungkin, ada baiknya pekerja tidak lagi mencari-cari alasan untuk mengelak pentingnya dana pensiun. Tapi mulailah mencoba dan berani untuk menabung untuk hari tua dari sekarang, dari sejak dini. Mumpung masih bekerja dan usia pensiun belum tiba. Agar masa pensiun sama baiknya dengan masa bekerja. Karena kalau bukan kita yang peduli pada hari tua kita sendiri, mau siapa lagi? Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #LiterasiPensiun #DanaPensiun

Mengukur Minat Baca via Kartu Baca, Bukan Kartu Anggota di Taman Bacaan

Di banyak tempat baca, taman bacaan, atau perpustakaan. Biasanya untuk bisa membaca justru disuruh mendaftar menjadi anggota. Lalu dibuatkanlah "kartu anggota" sebagai syarat untuk bisa masuk dan membaca. Walau tidak tahu, bila sudah jadi anggota akhirnya membaca atau tidak? Asal anggota bisa masuk walau belum tentu membaca, begitulah faktanya.

 

Berbeda dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Justru setiap anak atau warga mana pun, tidak perlu mendaftar jadi anggota. Tapi setiap anak dan warga yang membaca pasti punya "kartu baca" (bukan kartu anggota). Melalui kartu baca, bisa dicek anak yang rajin atau tidak membaca buku. Setiap anak pasti punya "kartu baca". Karena tidak boleh anak mengambil buku baru sebelum tuntas membaca satu buku dan kartu bacanya diparaf oleh wali baca/relawan. Kartu baca adalah alat kontrol tentang membaca atau tidak. Begitulah fungsi "kartu baca" di TBM Lentera Pustaka. Dari membaca 1 buku per minggu, hingga kini ada yang anak yang bisa membaca 10-20 buku per minggu. Agar terukur minat baca sekaligus kegemaran membaca anak.

 

Kartu baca, memang hanya hal kecil. Tapi dari kartu baca itu, bisa terlihat 1) seberapa intensif anak datang ke taman bacaan, 2) perilaku membaca buku, dan 3) jadi bukti dokumen tentang aktivitas membaca anak. Dan mau tidak mau, wali baca/relawan pun harus memparaf aktivitas baca anak, selain membimbing anak saat membaca buku. Karena tanpa kartu baca, bagaimana kita bisa tahu anak-anak itu membaca atau tidak?

 


Taman bacaan itu hanya soal membiasakan hal-hal kecil yang baik dan positif. Membaca buku itu bukan untuk jadi pintar atau hebat. Tapi membiasakan melakukan hal-hal kecil tapi efektif. Selalu memberi salam saat datang ke TBM, melatih cium tangan kepada yang lebih tua, menemani anak yang membaca, memparaf kartu baca, mengajarkan buta huruf, melatih adab dengan antre, membiasakan menabung, membuang sampah di tempatnya, dan lainnya. Itu semua hal-hal kecil yang ada di TBM Lentera Pustaka. Untuk apa mengejar hal-hal yang besar, tanpa mau menghargai hal-hal kecil? Untuk apa "jago" membaca buku tapi tidak bisa menghargai hal yang kecil?

 

Maka siapapun yang ada di TBM Lentera Pustaka, pasti terus belajar. Bahwa hidup itu tidak melulu mendambakan hal-hal yang besar. Mengejar harta, pangkat, jabatan, kepandaian atau ketenaran. Tapi cukup dengan membiasakan hal-hal yang kecil yang positif. Karena hidup tidak selalu dinilai dari “untung-rugi”. Tapi cukup dinilai dari “seberapa manfaat untuk orang lain”. Dari kartu baca, siapapun bisa belajar. Seberapa besar kita mau membaca dan mau memperhatikan hal yang kecil?

 

Mulailah membaca dari yang kecil-kecil. Karena sesuatu yang baik dan bermanfaat di taman bacaan, hanya dimulai dari yang kecil, yang sederhana, dan mau dilakukan secara berulang-ulang. Salam literasi #KartuBaca #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka





Selasa, 28 November 2023

Literasi Dana Pensiun, Punya Gaji Tiap Bulan Kok Nggak Mau Nabung untuk Pensiun?

Depresi atau stres menghantui pekerja di Indonesia jelang masa pensiun. Merasa kehilangan identitas, status, kepercayaan diri, bahkan urusan finansial. Akhirnya, depresi. Selalu cemas masalah keuangan dan kesehatan di hari tua. Depresi jelang penisun makin membuncah di kepala. Akibat si pekerja 1) tidak punya tabungan pensiun yang cukup, 2) belum bisa melunasi utang hingga usia pensiun tiba, dan 3) selalu banyak alasan untuk bilang tidak bisa menabung untuk masa pensiun.

 

Belum lagi “post power syndrome” yang muncul saat masa pensiun tiba. Hilangnya pekerjaaan, hilangnya kekuasaan, dan tidak ada lagi gaji yang dan pekerjaan. Di hari tua, pekerja yang sudah pensiun jadi tidak lagi ceria, emosional, dan pemurung. Uang JHT BPJS sudah habis dipakai untuk renovasi rumah, uang pesangon dari perusahaan dipakai untuk mobil bekas. Dan akhirnya, masa pensiun dijalani dengan keprihatinan. Maka wajar survei menyebut, 7 dari 10 pensiunan mengalami masalah keuangan di hari tua. Gaya hidup tidak lagi bisa dipertahankan, standar hidup pun menurun. Masa penisun jadi begitu menakutkan.

 

Depresi di masa pensiun. Sebabnya sederhanan karena tidak mau menabung untuk hari tua. Terlalu gampang untuk berkilah “gaji sudah habis untuk hidup sehar-hari”. Tapi nongkrong di kafe-kafe seminggu dua kali bisa, beli kuota internet hampir tidak pernah lupa. Jadi, kenapa pekerja tidak mau menabung masa pensiun? Apa karena tidak ada yang meng-edukasi. Atau bingung ke mana mau membeli dana pensiun?

 

Ibarat “sedia paying sebelum hujan”. Begitulah seharusnya dana pensiun dipahami. Dengan menyisihkan sebagian gaji untuk hari tua. Tidak usah banyak-banyak, cukup 5% dari gaji dan baru diambil sebagai manfaat pensiun saat usia pensiun tiba. Agar tetap mampu membiayai hidup saat tidak bekerja lagi. Agar bisa memelihara gaya hidup seperti waktu bekerja. Dana pensiun itu persis pepatah “apa yang ditanam, itulah yang dituai”. Tapi bila tidak mau menabung, tentu tidak ada yang dituai saat pensiun.

 

Maka untuk sahabat-sahabat yang masih aktif bekerja, mulailah menabung untuk masa pensiun. Apalagi yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun, sudah saatnya mulai mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Jangan terlalu banyak mimpi, apalagi gaya. Lebih baik mempersiapkan untuk masa pensiun, Karena cepat atau lambat, masa pensiun pasti tiba. Masalahnya, mau seperti apa kita setelah pensiun? Jangan sampai kerja berjaya, pensiun merana. Hingga akhirnya, bergantung kepada anak-anak di hari tua.

 

Usut punya usut. Sebagian pekerja yang sudah pensiun bercerita. Bahwa dia menyesal di masa pensiun akibat 1) terbuai gaya hidup semasa bekerja, dan 2) tidak mau menabung untuk hari tua. Akhiirnya hari ini, mengalami masalah keuangan yang serius. Bahkan penyakit yang tasinya tidak ada jadi mulai muncul. Mana biaya kesehatan mahallagi?

 


Maka, salah satu jalan bagi pekerja agar tetap nyaman di masa pensiun. Harus mulai berani menabung untuk hari tua. Jangan hanya mengandalkan JHT BPJS. Tapi harus mulai memilik program dana pensiun. Untuk mempersiapkan masa pensiun secara lebih dini. Yaitu menabung dan menyisihkan sebagian gaji untuk masa pensiun melalui Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), sebagai produk keuangan yang dirancang khusus untuk mempersiapkan masa pensiun pekerja yang lebih nyaman. Karena melalui DPLK, pekerja mendapatkan 3 (tiga) manfaat utama, yaitu 1) ada ketersediaan dana yang pasti untuk masa pensiun, 2) ada hasil investasi yang optimal selama menjadi peserta, dan 3) ada insentif pajak saat manfaat pensiun dibayarkan, pajaknya final 5%.  Dengan begitu, setiap pekerja akan dana yang cukup di masa pensiun, Bisa untuk membiayai kebutuhan hidup,  mempertahankan gaya hidup atau bahkan untuk menikmati hari tua dengan nyaman.

 

Seperti “payung” memang tidak bisa menghentikan hujan. Tapi dengan payung kita mampu berdiri dalam hujan tanpa takut kebasahan. Begitu juga dengan DPLK, tidak menjamin kaya di hari tua. Tapi kita jadi lebih siap menghadapi apapun di hari tua, saat tidak bekerja lagi. Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #LiterasiPensiun #DanaPensiun

 

Senin, 27 November 2023

Cara Jadikan TBM Lebih Bermanfaat Tanpa Harus Senangkan Hati Semua Orang

Banyak orang mulai lupa. Bahwa menyenangkan hati semua orang adalah hal yang mustahil. Apapun dan di mana pun, pasti saja ada orang-orang yang tidak suka. Maka nggak usah berjuang untuk menyenangkan semua orang. Cukup lakukan yang baik untuk diri sendiri dan orang-orang sekitar saja. Selesaikan kuliah tepat waktu, bekerja yang baik, dan lakukan aktivitas sosial yang bermanfaat. Itu semua cukup tanpa harus memuaskan semua orang. Agar hidup lebih berharga, lebih bermanfaat.

 

Sehebat apapun kita, sekali lagi, tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Apalagi di mata orang-orang yang membenci kita. Jadi fokus saja pada perbuatan baik yang bisa dilakukan. Tebarkan manfaat sesuai kemampuan kita. Asal sesuai dengan nilai dan tujuan hidup kita sendiri. Pilih dan puaskan diri sendiri menggapai ridho-Nya. Tidak usah ingin menyenangkan semua orang.  Musathail bisa senangkan semua orang. Itulah sikap dan langkah penting untuk mencapai hidup yang lebih berharga. Hidup yang realistis, menerima apa adanya. Dan bukan demi menyenangkan diri sendiri lalu memghalalkan segala cara yang buruk.

 

Menjadi berharga itu penting, karena hidup di dunia itu hanya sementara. Berharga untuk diri sendiri, bernilai untuk orang lain. Jangan terperangkan untuk memenuhi harapan orang lain. Jangan mau di-intimidasi orang lain. Karena kita tidak punya kewajiban untuk menyenangkan semua orang. Memangnya, orang lain itu siap akita? Bukan orang tua, bukan saudara pula. Jadi, fokus saja untuk membuat hidup lebih berharga. Berani berbuat baik dan menebar manfaat sebagai ladang amal untuk kembali kepada-Nya.

 

Lalu, bagaimana bisa menjalani hidup lebih berharga tanpa harus menyenangkan hati semua orang? Sesuai pengalaman di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, setidaknya ada 6 (enam) menjadikan hidup lebih berharga tanpa harus menyenangkan semua orang, yaitu:

1.    Fokus saja pada pengembangan diri sebaik mungkin. Kerjakan apapun yang baik untuk diri sendiri. Membaca buku, bikin aktivitas sosial, atau jalani hobi yang disuka. Karena mengembangkan diri itu memuaskan hati diri sendiri sekaligus meningkatkan rasa harga diri.

2.    Berpikirlah lebih realistis dan menerima perbedaan perspektif orang lain. Siapapun bila tidak sama maka tinggalkan, hindari orang-orang toxic dalam hidup. Cukup terima perbedaaan dan sibukkan diri dengan hal-hal positif. Agar tidak membebani diri sendiri dan hidup jadi lebih santai tanpa perlu menyenangkan orang lain.

3.    Bertanggung jawab atas pilihan hidup yang diambil. Setiap keputusan, pasti ada konsekuensi baik positif maupun negatif. Maka ambil tanggung jawab atas pilihan hidup yang diambil. Karena pada akhirnya, kita hanya bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.

4.    Berlapang dada menerima hal-hal yang tidak bisa diubah. Tidak usah berjuang untuk hal-hal yang tidak bisa diubah. Cukup kerjakan yang lebih berharga dalam hidup. Ingat, siapapun tidak akan mampu mengontrol orang lain, maka cukup kendalikan diri sendiri.  

5.    Jalani hidup yang bermakna. Sejelek apapun diri kita di mata orang lain, pasti ada perbuata baik yang bermakna untuk orang lain. Maka tidak usah pengen jadi manusia sempurna. Tapi cukup jadi manusia yang mau berbuat baik dan bermanfaat untuk orang lain. Tentu, harus ada aksi nyata. Apa yang diperbuat dan di mana dilakukan?

6.    Istikomah dalam perbuatan baik. Lakukan apapun yang baik secara konsisten, terlepas dari apapun pandangan orang lain. Kita hanya kerjakan yangbisa kita lakukan. Dan jangan pernah berpikir untuk menyenanhkan semua orang. Istikomah saja dalam perbuatan baik. Semua akan indah pada waktunya.

 


Prinsip menjadikan hidup lebih berharga itulah yang diusung pegiat literasi di TBM Lentera Pustaka. Untuk selalu berbuat baik dan menebar mabfaat kepada ratusan anak-anak usia sekolah. Agar tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah, tidak ada kaum ibu yang buta huruf. Demi tegaknya kegemaran membaca di era digital. Berkiprah dan mengabdi di taman bacaan memang sederhana, Tapi tidak banyak orang yang bisa melakukannya. Karena harus punya komitmen dan konsistensi dalam berkiprah secara sosial. Apalagi untuk orang-orang yang belum kelar pada dirinya sendiri, berbuat baik itu kadang masih sebatas “mimpi”.

 

Maka siapapun, lebih baik fokus menjadikan hidup lebih berharga, lebih bermanfaat untuk orang lain di sisa usia. Tanpa perlu menyenangkan hati semua orang lain. Toh, orang lain itu bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa pula. Begitulah literasi bekerja. Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

 

Yuk Kita Buang Waktu Percuma di Taman Bacaan, Mau?

Betapa ruginya orang-orang yang punya waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, atau 12 bulan setahun. Tapi dalam catatannya tidak ada nilai kebaikan yang digoreskan. Doanya meminta umur panjang tapi digunakan untuk apa? Betapa rugi, betapa menyesal nantinya. Karena telah menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

 

Sebuah ungkapan menyebut, “Kasihanilah orang yang modal pokoknya selalu mencair".

Itu hanya perumpamaan. Seperti kisah “pedagang es batu”. Es batu adalah modal usia yang diberikan Allah SWT. Betapa banyaknya waktu yang dilalui, hari-hari yang dijalani. Tapu usia terus saja meleleh dan menguap, hingga habis tidak tersisa. Dan kita kita gagal menemukan “pembeli” terbaik dengan “harga terbaik”.

 

Jika “pembeli terbaik” itu hanya Allah SWT, dan “harga terbaik” itu adalah surga yang dijanjikan-Nya. Maka betapa ruginya perdagangan kita, yang selalu menerima tawaran setan untuk melewati waktu dan usia dalam kelalaian. Enggan berdagang yang baik, enggan menjual yang bermanfaat.Usia dan waktu yang terlewatkan begitu saja. Tanpa mau bersikap untuk berbuat baik secara nyata dan menebar manfaat di mana pun kita berada.

 

Es batu adalah air yang membeku, sementara setiap satu tetesan airnya tidak akan pernah kembali lagi. Begitu pula modal pokok usia kita di dunia. Bahwa setiap detik usia yang telah berlalu dari usia kita tidak akan pernah kembali lagi. Waktu yang tidak mungkin diputar ulang, usia muda yang tidak akan bisa dipanggil kembali bila sudah melewatinya.

 


Maka sebelum meleleh modal pokok usia kita. Sebelum ajal datang menjelang, maka jangan sia-siakan kesempatan hidup yang tersisa. Jangan abaikan waktu yang masih dimiliki. Untuk selalu meningkatkan iman dan takwa kepada-Nya. Sambil tetap beramal soleh, berbuat baik, menebar manfaat, hingga saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

 

Karena jika tidak, bukan tidak mungkin kita termasuk orang-orang yang pantas dikasihani. Karena gagal meraih “pembeli terbaik” dengan “harga terbaik”. Gagal memanfaatkan waktu dan usia untuk kebaikan. Sungguh, betapa kasihannya orang yang dagangannya terus meleleh. Seperti es batu yang mencair tanpa manfaat sedikitpun.

 

Maka mumpung masih ada waktu, masih punya usia yang tersisa. Segerlah berbuat baik, kapan pun dan di mana pun. Atas spirit itulah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor terus berkiprah. Hanya untuk menegakkan kegemaran membaca anak-anak usia sekolah, di samping menekan angkat putus sekolah yang masih tinggi. Taman bacaan sebagai ladang amal untuk semua orang. Agar berani menebar manfaat kepada sesama, sebagai bekal untuk menunju-Nya. Taman bacaan yang melayani “pembeli terbaik” untuk mendapatkan “harga terbaik” di akhirat kelak.

 

Segeralah berbuat baik. Karena betapa ruginya orang-orang yang punya waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, atau 12 bulan setahun. Tapi dalam catatannya tidak ada nilai kebaikan yang digoreskan. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 

Minggu, 26 November 2023

Gimana Masa Pensiun Anda, Adakah 1 dari 5 Fakta Pahit Pekerja di Masa Pensiun?

 Puluhan juta pekerja di Indonesia, bisa jadi “dihantui” fakta pahit di masa pensiun, saat tidak bekerja lagi. Selain ketakutan akan di-PHK dari tempatnya bekerja, tidak sedikit pekerja yang memasuki masa pensiun dalam kondisi tidak memiliki keuangan yang cukup. Untuk membiayai kehidupannya sendiri di hari tua. Sebut saja, fakta pahit di masa pensiun.

 

Dari berbagai literatur yang ada, sangat mungkin pekerja mengalami fakta pahit di masa pensiun. Akibat tidak tersedianya dana yang cukuo untuk hari tua. Terlalu mengandalkan program JHT (Jaminan Hari Tua) BPJS Ketenagakerjaan yang notabene sama sekali tidak mencukupi. Lupa bahwa JHT itu hanya sebatas memenuhi kebutuhan dasar. Tidak akan mampu membiayai standar hidup seperti waktu bekerja, apalagi gaya hidup.

 

Setidaknya, ada 5 (lima) fakta pahit yang dialami pekerja setelah memasuki usia pensiun, yaitu:

1.     Ternyata tabungan yang dimiliki saat memasuki pensiun sama sekali tidak cukup untuk membiayai hidupnya di hari tua, di masa pensiun.

2.     Masih punya utang alias cicilan di masa pensiun, sehingga uang pensiun habis dipakai untuk membayar utang.

3.     Gaya hidup sewaktu bekerja terlalu tinggi sehingga jadi beban pikiran di masa pensiun.

4.     Kesehatan mulai terganggu dan berbagai penyakit justru muncul di hari tua, ditambah biaya berobat semakin mahal.

5.     Terpaksa meminta bantuan finansial ke anak sekalipun tadinya tidak dikehendaki.

 

Kelima fakta pahit pekerja di masa pensiun pasti terjadi. Akibat saat bekerja tidak mau menabung untuk hari tua. Tidak punya dana pensiun yang didedikasikan khusus untuk masa pensiun, saat tidak bekerja lagi. Menyesal, karena saat masih bekerja diberi tahu untuk menabung untuk hari tua masih ngeyel. Selalu mencari-cari alassan untuk tidak menabung dan lebih gemar menghabiskan uang secara konsumtif. Inflasi tiap tahun sama sekali diabaikan. Maka fakta pahit di masa pensiun pun terjadi. Survei yang membenarkan. Bahwa 7 dari 10 pensiunan di Indonesia mengalami masalah keuangan. Artinya 70% pensiunan yang ada saat ini tidak punya uang yang cukup untuk biaya hidupnya.

 




Fakta pahit pekerja di masa pensiun kian menjadi. Akibat mengidap penyakit “post power syndrome”.  Sebuah kondisi kejiwaan yang serius akibat pensiun, berhenti dari dunia kerja atau kehilangan kekuasaannya. Fisiknya jadi terganggu, emosinya tidak stabil, dan perilakunya jadi pemurung -cepat marah. Maklum saat pensiun sudah tidak punya gaji, tidak punya pengaruh. Di tambah tidak punya uang. Post power syndrome, sama sekali tidak dapat dianggap enteng. Maka setiap pekerja, harus berani mengambil sikap untuk mempersiapkan hari tua yang nyaman. Masa pensiun yang tetap Sejahtera seperti waktu bekerja.

 

Lalu, bagaimana cara untuk menghindari fakat pahit di masa pensiun? Agar tidak terkena post power syndrome. Tentu ada solusinya. Salah satunya adalah dengan merencanakan masa pensiun secara lebih dini. Mulai menabung dan menyisihkan sebagian gaji untuk hari tua. Diantaranya melalui Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), sebagai produk keuangan yang dirancang khusus untuk mempersiapkan masa pensiun pekerja yang lebih sejahtera.

 

Melalui DPLK, dapat dipastikan setiap pekerja akan lebih siap pensiun. Karena memiliki dana yang cukup untuk mempertahankan gaya hidupnya, sekaligus memelihara standar hidup seperti waktu bekerja. Pekerja harus tahu, ada 3 (tiga) manfaat utama DPLK, yaitu 1) ada ketersediaan dana yang pasti untuk masa pensiun, 2) ada hasil investasi yang optimal selama menjadi peserta DPLK karena sifatnya jangka panjang, dan 3) ada insentif pajak saat manfaat pensiun dibayarkan, pajaknya final 5%.  

 

Bila Anda yang bekerja, memiliki gaji Rp. 10 juta hari ini. Maka di masa pensiun, Anda membutuhkan dana Rp. 7-8 juta per bulan. Untuk membiayai hidup dan menjaga gaya hidup tetap bisa berjalan seperti biasa. Agar tidak terkena post power syndrome. Masalahnya, dari mana uang sebesar itu diperoleh saat kita pensiun? Karena kita sudah tidak bekerja dan tidak punya gaji lagi. Jadi, siapkanlah masa pensiun kita sendiri. Kalu bukan sekarang, mau kapan lagi? Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DanaPensiun

 

Keren, Taman Bacaan di Bogor Jalankan Program Yatim dan Jompo Binaan

Ini bukan panti yatim, bukan pula panti werdha. Melainkan taman bacaan di kaki Gunung Salak Bogor. Namanya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka, ternyata tidak hanya menjalankan aktivitas membaca buku dan pemberantasan buta aksara. Namun sebagai bukti nyata kepedulian sosial, TBM Lentera Pustaka memiliki program YABI (YAtim BInaan) dan JOMBI (JOMpo BInaan).  

 

Di taman bacaan yang telah berdiri sejak 2017, saat ini membina 14 anak yatim dan 12 kaum ibu jompo yang secara rutin setiap bulan mendapatkan santunan sekaligus menggelar pengajian bulanan. Rata-rata besarannya Rp. 100.000 per anak/jompo, di samping santunan kepada kaum janda-nya (ibu dari anak yatim). Komitmen ini diwujudkan oleh TBM Lentera Pustaka sebagai bagian untuk memuliakan anak yatim dan membantu kaum jompo.

 

Selain menjadi praktik baik yang dijalankan taman bacaan, program YABI dan JOMBI TBM Lentera Pustaka juga menjadi salah satu cara untuk mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT. Sekaligus menjadi cerminan kebaikan yang dianugerahkan Allah SWT kepada TBM Lentera Pustaka. Karena faktanya, hampir semua urusan taman bacaan begitu dimudahkan. Mulai dari aktivitas dan jadwal kegiatan, tamu yang ber-CSR, donatur buku, hingga biaya operasional taman bacaan yang berjalan lancar.

 


"Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang (Ad-Duha:9). Selain mendatangkan keberkahan, kepedulian dan santunan yatim dan jompo binaan TBM Lentera Pustaka diniatkan untuk membantu kaum yang membutuhkan di tengah Masyarakat sekaligus untuk menggapai ridho dari Allah SWT.

 

Tentu saja, banyak literatur menyebut keutamaan menyantuni anak-anak yatim. Diantaranya 1) diberikan kelimpahan rezeki, 2) mendapatkan pahalan yang setara dengan berjihad, 3) segala kebutuhan hidup jadi mudah dan terpenuhi, 4) mendatangkan berkah ke taman bacaan atau rumah, dan 5) insya Allah masuk ke dalam golongan orang beriman.. Wallahu a’lam. Tapi lebih penting dari program YABI dan JOMBI TBM Lentera Pustaka adalah berbuat baik secara nyata kepada kaum yang membutuhkan. Tentu, atas dasar ikhlas dan istikomah. Tidak mengharapkan apapun dari manusia. Tapi hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT.

 

Melalui program yatim binaan dan jompo binaan, TBM Lentera Pustaka hanya ingin menebarkan ajaran literasi kepada siapapun. Untuk jangan terlalu keras pada diri sendiri, karena hasil akhir dari semua urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Cukup perbaiki niat, baguskan ikhtiar, dan jangan pernah berhenti berdoa kepada-Nya. Salam literasi #YatimBinaan #JompoBinaan #TBMLenteraPustaka




Tong Kosong Nyaring Bunyinya, Jangan Terjadi di Taman Bacaan

Memang benar adanya. Sebagus apapun perkataan tidak akan mampu mengalahkan bagusnya perbuatan. Maka apapaun,  cukup perbanyak perbuatan dan sedikitkan berbicara. Banyak berbiuat sedikit berbicara, bukan hanya sikap tapi juga akhlak. Apalahi untuk urusan yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya. Ngobrol, diskusi tentang negara apalagi gibah sangat berpotensi negatif (baca dosa).

 

Perintahnya sederhana, kerjakanlah yang baik perbanyak amal. Bukan banyak bicara dan berdebat akan hal yang sia-sia. Apalagi sekadar diskusi atay wacana yang tidak ada ujung pangkalnya. Tapi sayang, kebanyakan orang masih terjebak dan gemar melakukan hal yang sia-sia. Terlalu banyak bicara, banyak diskusi tanpa aksi nyata.

 

Hari ini, kian banyak orang yang senang mengkritik tanpa karya yang dibuatnya. Menghakimi orang lain tanpa berpikir, apakah dia sudah lebih baik dari orang yang dibicarakannya? Terlalu banyak bicara tanpa aksi nyata. Bicara seolah-olah seorang pemikir, ahli kebijakan. Tapi perangai dan perilakunya kosong. Semuanya yang keluar dari mulutnya hanya omong kosong. Persis seperti kata pepatah, “tong kosong nyaring bunyinya”.

 

Berbuat tanpa banyak bicara, bisa jadi prinsip literasi yang kian terabaikan. Karena itu, menjadi pentingnya untuk mengingatkan semua kalangan untuk “mengubah niat baik jadi aksi nyata”. Berbekal prinsip literasi “berbuat tanpa banyak bicara”, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bigor berkiprah. Hanya untuk menegakkan kegemaran membaca anak-anak usia sekolah, di samping menekan angkat putus sekolah yang masih tinggi. Bahkan memberantas buat aksara di kalangan kaum ibu-ibu, di samping meminimalisasi pengaruh “rentenir – bank emok” dengan mendirikan Koperasi Simpan Pinjam.  

 


Di TBM Lentera Pustaka, hari ini ada 15 program literasi yang dijalankan. Mulai dari TABA (Taman Bacaan) dengan 100-an anak usia sekolah pembaca aktif, GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 ibu buta huruf, KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 40 anak usai PAUD, YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim, JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 kaum ibu jompo, TBM Ramah Difabel dengan 2 anak, KOPERASI LENTERA dengan 28 anggota kaum ibu, DonBuk (Donasi Buku), RABU (RAjin menaBUng), LITDIG (LITerasi DIGital), LITFIN (LITerasi FINansial), LIDAB (LIterasi ADAb), Rooftop Baca, MOBAKE (MOtor BAca KEliling) yang keliling ke 3 kampung untuk sediakan akses bacaan, dan melek Al Quran. Didukung 5 wali baca dan 12 relawan, TBM Lentera Pustaka kini melayani tidak kurang dari 200 orang pengguna layanan setiap minggunya yang berasal dari 4 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya, Sukajadi). Beroperasi 6 hari dalam seminggu, kecuali Senin.

 

Berbuat tanpa banyak bicara. Prinsipnya, siapapun hendaknya selalu berusaha untuk mengutamakan perbuatan baik. Hindari banyak bicara yang tidak perlu. Sebab kelak sebagus apapun perkataan tak akan mampu mengalahkan bagusnya perbuatan. Memang tidak mudah, tapi mencoba mengubah sikap ke arah itu pasti bisa dan lebih baik. Tentu, landasan moralnya adalah sikap ikhlas dan sabar. Seperti berbuat baik di taman bacaan. Dan saat berbuat baik, jangan pernah gubrik komentar orang lain. Karena mereka tugasnya memang berkomentar tanpa melakukan apapun. Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

 

Jumat, 24 November 2023

Catatan Hari Guru dari Pegiat Literasi, Jangan Egois

Tanggal 25 November selalu diperingati sebagai Hari Guru. Tapi diskursus tentang guru tidak pernah ada akhir untuk dibahas. Karena guru adalah agen pembelajaran yang harus menjadi fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Hari ini, guru bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan. Maka penting dipahami, guru harus steril dari watak mendominasi peserta didik.

 

Pesan untuk guru di hari guru. Guru jangan egois dan arogan. Jangan karena guru mau rapat di sekolah, siswa dipulangkan. Jangan karena guru mau urus “borang” tunjangan fungsional, siswa ditinggal tanpa ada tugas di kelas. Guru tidak boleh arogan. Apalagi di era media sosial sekarang. Jangan biar bagaimana pun, guru masih tetap digugu dan ditiru. Guru jangan egois dan arogan. Agar guru tetap punya kesadaran belajar untuk memperbaiki diri, di samping mau berempati kepada siswanya.

 

Kasus-kasus siswa yang mengenaskan sudah terjadi. Siswa yang “terjun” di sekolah, pemukulan dan penganiyaan siswa, bahkan kemarahan guru yang berlebihan adalah bukti guru terlalu enak dengan dirinya sendiri. Sehingga tidak peduli lagi kepada siswanya. Tidak dekat dengan siswa, tidak tahu apa yang dialami siswa. Karena guru, terlalu egois dan arogan. Sayangnya hari ini, bisa jadi, banyak guru tidak menyadari sikap egois dan arogannya sendiri.

 

Jangan ada lagi, guru yang egois dan arogan di sekolah. Guru yang terlalu asyik dengan urusannya sendiri. Guru yang tidak lagi mau bekerja ekstra untuk siswa-siswanya. Guru yang terlalu mendominasi ruang kelas sehingga siswa tidak berani untuk berkata sejujurnya. Guru-guru yang selalu defensif, terlalu cuek dengan keadaan siswanya. Di zaman begini, guru-guru yang sering memaksa akan sulit berkembang. Akibat guru terlalu egois dan arogan.

 

Persoalan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, tentu tidak bisa pula dijawab dengan cara mengubah kurikulum. Apalagi hanya mengganti menteri atau dirjen. Sejatinya, kualitas pendidikan hanya bisa dijawab oleh kualitas guru. Guru yang profesional, guru yang kompeten dan berkualitas. Agar kualitas pendidikan tidak "jauh panggang dari api". Karenanya, guru tidak boleh egois dan arogan dalam menjalani profesinya.

 


Semua paham, persoalan guru memang tidak sederhana. Tapi juga tidak terlalu kompleks. Isu penting guru di era digital atau media sosial seperti sekarang, sejatinya hanya bertumpu pada 3 (tiga) aspek penting. Yaitu 1) guru harus terus-menerus meningkatkan pengetahuan yang terbarukan, sesuai disiplin ilmunya, 2) guru harus semakin terampil dalam mengelola siswa dan kelas, dan 3) guru yang punya “good attitude”, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Sehingga guru tetap mampu menjaga kompetensi personal yang memadai, di samping kualitas pembelajaran yang sesuai tuntutan zaman.

 

Guru, jangan asyik dengan dirinya sendiri. Hari ini, masih banyak guru yang "tidak mau" mengembangkan diri untuk menambah pengetahuan dan kompetensinya dalam mengajar. Keterampilan pedagogik-nya masih begitu-begitu saja. Guru-guru yang belum mau menulis, belum mau membuat artikel ilmiah yang dipublikasikan, sehingga tidak inovatif dalam kegiatan belajar. Guru yang merasa hanya cukup mengisi jam belajar.

 

Maka agenda besar guru di hari guru. Adalah menyadari bahwa guru jangan lagi egois dan arogan. Agar guru tetap digugu dan ditiru. Dan mampu menghasilkan peserta didik yang unggul dan kompetitif di masa datang. Selamat Hari Guru!