Sabtu, 28 September 2019

Raih Anugerah Sastra VIO RRI 2019, Mahasiswa Al Azhar Kaior dan Buruh Migran Hongkong Kunjungi TBM Lentera Pustaka


Kampanyekan Budaya Literasi, Pemenang Anugerah Sastra VOI RRI Kunjungi Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak

Sebagai bentuk kepedulian untuk mengkampanyekan budaya literasi di kalangan anak-anak dan masyarakat kampung, pemenang lomba cerpen Anugerah Sastra “Guratan Pena 2019” VOI RRI kunjungi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor, Sabtu 28 September 2019. https://www.facebook.com/syarif.yunus/videos/10214678696820469/

Didampingi Pak Asep dan Ibu Rita dari VOI RRI, pemenang Anugerah Sastra VOI RRI 2019, yaitu: 1) Daud Farma (mahasiswa Al Azhar University, Kairo, Mesir yang berasal dari Aceh) dengan Cerpen berjudul "Pedas Manis" dan 2) Ahla Jenan (Pekerja Migran Indonesia di Hongkong) dengan Cerpen berjudul "Jejak Cinta Asmaradhana” berbagi pengalaman dan motivasi akan pentingnya tradisi baca dan budaya literasi. Sebagai warga negara Indonesia yang bermukin di luar negeri, keduanya mengisahkan kebiasaan menulis cerpen di tengah kesibukan kuliah dan dan bekerja sebagai cerminan budaya literasi.

TBM Lentera Pustaka merupakan taman bacaan yang didirikan oleh Syarifudin Yunus, pegiat literasi Indonesia – Dosen Universitas Indraprasta PGRI yang kebetulan sebagai salah satu juri Anugerah Sastra “Guratan Pena” VOI RRI 2019 bersama Irwan Kelana (redaktur senior Harian Republika, cerpenis dan novelis) dan Pipiet Senja (cerpenis, novelis, "teroris" dunia kepenulisan).


Pemenang Anugerah Sastra 2019 VOI RRI pun berbagi kisah kegigihan dalam menulis cerpen sehingga terpilih menjadi pemenang dengan skor tertinggi. Hal ini layak menjadi inspirasi bagi 40-an anak-anak TBM Lentera Pustaka yang hadir, di samping bagi para penulis muda dan calon penulis.

Kami senang dapat berkunjung ke taman bacaan Lentera Pustaka dan menyaksikan sendiri semangat anak-anak Indonesia yang gemar membaca. Manusia itu bukan dilihat dari kaya-nya atau sukses-nya. Tapi dari ilmu-nya, seberapa manfaat buat orang lain. Maka, adik-adik harus terus membaca di taman baca" kata Ahla Jenan yang menjadi buruh migran dan bermukim di Hongkong sejak 2006.

“Subhanallah, saya senang sekali melihat semangat anak-anak di sini dalam membaca. Apalagi bisa mencapai 5-10 buku per minggu. Sepertinya ini sudah kehendak Allah, saya diingatkan untuk rajin membaca. Semoga kalian bisa lebih baik di masa depan ya” ujar Daud Farma, mahasiswa Al Azhar Kairo Mesir saat berbagi pengalaman di TBM Lentera Pustaka.

Seperti diketahui, penyerahan hadiah pemenang Anugerah Sastra VOI RRI 2019 telah dilaksanakan di Gedung RRI Pusat, Jakarta pada Kamis, 26/9/2019. Penghargaan yang telah memasuki tahun ke-10 dari VOI RRI ini menjadi bukti komitmen RRI dalam memotivasi kaum diaspora atau buruh migran untuk tetap menulis dan karyanya dibacakan di acara rutin di VOI RRI seminggu sekali. Dari cerpen-cerpen yang telah dibacakan itulah, kemudian dilombakan dan dipilih pemenang Anugerah Sastra VOI RRI.

“VOI RRI sangat senang bisa menyelenggarakan Anugerah Sastra Guratan Pena setiap tahun. Hal ini sebagai komitmen VOI RRI dalam menyediakan acara yang bermakna bagi warga negara Indonesia di luar negeri, di samping kepedulian terhadap kebangkitan sastra migran di Indonesia” ujar Pak Asep di sela acara.

Maka dari itu, sebagai antisipasi terhadap era digital dan revolusi industri, aktivitas budaya literasi dan tradisi baca seperti yang dijalankan TBM Lentera Pustaka patut didukung oleh semua pihak. Kampanyekan terus budaya literasi di tengah masyarakat Indonesia, itulah pesan pentingnya.


“Melalui penghargaan Anugerah Sastra, hal ini menjadi bukti kepedulian VOI RRI terhadap budaya literasi anak-anak Indonesia. Seperti sastra, budaya literasi pun menegaskan sifatnya yang universal tanpa mengenal batas ras, bangsa, ataupun negara. Seperti warga Indonesia di luar negeri yang tetap mau membaca dan menulis sekalipun sibuk” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka.

Pesan moralnya, kampanyekan terus budaya literasi dan tradisi baca bagi anak-anak Indonesia. Karena tanpa baca, kita merana. Tebarkan terus virus membaca, dan ekspresikan pengalaman melalui anugerah sastra VOI RRI…. Salam Literasi #TBMLenteraPustaka #VOIRRI #AnugerahSastraVOIRRI2019


Rabu, 11 September 2019

TBM Lentera Pustaka Ikut Berduka Kepergian Pak Habibie

BJ Habibie, Selamat Jalan Eyang Demokrasi dan Ilmuwan Indonesia, TBM Lentera Pustaka pun ikut berduka cita atas kepergian beliau...

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Selamat jalan BJ Habibie, eyang demokrasi dan ilmuwan Indonesia. Di usia 83 tahun, sosok Presiden ke-3 Republik Indonesia telah berpulang ke rahmatullah; ke pangkuan Allah SWT. Hari ini, Rabu 11 Septemebr 2019 pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Subroto Jakarta.

Sangat pantas, bangsa Indonesia menyebutnya Eyang Demokrasi dan Ilmuwan Indonesia.
Eyang, berarti kakak atau mbah. BJ Habibie, beliaulah sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk bangsa Indonesia. Bisa jadi, beliau menteri terlama yang mendampingi Presiden ke-2 Soeharto selama masa pemerintahannya. Bahkan pemikiran teknologi “berkelas dunia” pun didedikasikan untuk bangsa ini.

BJ Habibie adalah paket komplit negarawan yang dimiliki Indonesia.

Eyang demokrasi Indonesia, pantas disematkan pada beliau.
Karena di tangan-nyalah kehidupan berdemokrasi di Indonesia meraih momentum dan tonggak kebebasannya. Era yang disebut “reformasi”. Sekalipun ia mewarisi kondisi negara yang kacau balau saat itu; marak kerusuhandan krisis ekonomi. Dengan berani, beliau membebaskan seluruh tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat serta berorganisasi. Bahkan dari balik perut pemerintahannya, lahir sejumlah undang-undang “demokrasi” di bumi Indonesia. UU Partai Politik, UU Pemilu, UU  Susunan Kedudukan DPR/MPR. Bahkan UU Pers, UU Anti-Monopoli, UU Otonomi Daerah berkibar di eranya. Kita ingat, bila ada Presiden Indonesia yang mengajak wartawan untuk berdiskusi di istana presiden, beliaulah yang memulainya. Termasuk mencabut larangan berdirinya serikat buruh independen. Bahkan sebagai konsekuensi logis berpihak kepada demokrasi pula, di era beliau membolehkan referendum Timor Timur hingga warga Timor Timur memilih melepaskan diri dari Indonesia. Dan berujung pada penolakan MPR RI terhadap laporan pertanggungjawabannya sebagai Presiden.

Eyang ilmuwan Indonesia, titel yang lebih pantas disematkan pada beliau.
Karena di tangannya, teknologi industri di negeri ini mulai dibangun. Lompatan besar terjadi dari pemikiran dan cita-cita besarnya menjadikan bangsa Indonesia lebih maju, lebih bermartabat. Industri strategis, seperti PT Pindad, IPTN, Dirgantara Indonesia, hingga PT PAL direvitalisasi menjadi lebih berdaya. Penguasan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mencapai puncak keemasan di era beliau. Bila hari ini banyak orang getol teknologi, itu tidak dapat dilepaskan dari spirit beliau memajukan teknologi bangsa ini.

BJ Habibie memang telah pergi. Tapi ini momentum buat bangsa Indonesia agar jangan lupa sejarah. Karena hari ini, banyak anak bangsa yang terlalu mudah melupakan sejarah.

Bukan hanya demokrasi dan IPTEK, Pak Habibie pun telah menoreh catatan ekonomi yang luar biasa. Beliau-lah yang memecah problem ekonomi dan krisis moneter yang dialami bangsa ini kala itu.Nilai tukar terhadap US Dollar yang terus tertekan di masa itu hingga menyentuh Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu, di era Pak Habibie mampu menguat hingga Rp 6.500.


Hari ini, sekalipun Eyang Demokrasi dan Ilmuwan Indonesia telah pergi, jasa BJ Habibie sangat pantas dikenang dan menjadi perenungan bangsa Indonesia untuk meneladani nilai-nilai nasionalisme dan cinta tanah air yang telah beliau torehkan semasa hidupnya. Beliaulah putra terbaik bangsa yang berani dan rela melepaskan karier bagusnya di luar negeri hanya untuk membangun Indonesia agar lebih maju di masa depan.

Bahkan bila kita menonton film “Habibie dan Ainun”, BJ Habibie pun menjadi sosok yang patut dikagumi dalam menjalani hari-hari dalam berumah tanggan. Bak Romeo-Juliet Indonesia, kisah keromantisan bersama sang istri harus diakui membuat banyak orang meleleh iri.

Dan jauh lebih hebat lagi. Sebelum beliau pergi, sempat beredar tulisannya berjudul “KALAULAH SEMPAT”. Tulisan yang mengingatkan pesan agar kita “berlaku adil pada diri sendiri. Untuk lebih serius dalam menyiapkan ‘bekal’ untuk menghadap-Nya dan mempertanggungjawabkan kepadaNya. Jangan terbuai dengan ‘Kehidupan Dunia’ yang bisa melalaikan. Kita boleh saja giat berusaha di dunia, tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang dan kekal di akhir hidup kita. Kata Pak Habibie di tulisan itu “Teruslah menjadi si penabur kebajikan selama hayat masih dikandung badan meski hanya sepotong pesan”. (baca: https://www.jagatngopi.com/kalaulah-sempat-tulisan-pak-habibie-yang-wajib-baca/)

Selamat Jalan Eyang Demokrasi dan Ilmuwan Indonesia, paket komplite negarawan yang pernah dimiliki Indonesia. Semoga amal ibadah Pak Habibie diterima Allah SWT. Dan bangsa Indonesia mampu menjadi bangsa yang beradab dan menjaga keharmonian sepeninggal Bapak …

Seperti kata beliau hanya manusia yang berbudaya dan taat pada nilai ajaran agama yang mampu mengembangkan dan menguasai IPTEK serta berkembang menjadi manusia yang terampil dan unggul”. Selamat jalan Pak Habibie, kami akan selalu mendoakan dan mengenangmu … #BJHabibie #InMemoriamPakHabibie


Selasa, 03 September 2019

Pendiri TBM Lentera Pustaka Jadi Narsum Majalah Kartini tentang Literasi Anak


Pentingnya Literasi dalam Memilih Buku Bacaan Anak

Belakangan banyak event “pesta buku impor” di berbagai kota di Indonesia.
Namun pada saat yang sama, keluhan muncul dari kalangan orang tua. Karena konten buku-buku impor banyak yang ceritanya tidak sesuai dengan nilai-nilai dalam keluarga. Maka di sini ujian orang tua, mampu atau tidak lebih selektif dalam memilih buku bacaan anak?

Menarik dan patut diikuti. Majalah Wanita “KARTINI” No. 2497 edisi Agustus 2019 secara gamblang 8 halaman full mengupas tuntas. Bertajuk "Pentingnya Literasi Dalam Memilih Buku Bacaan Di Tengah Gelombang Buku Impor". Agar orang tua tidak tergoda diskon besar dan konten global dari buku impor yang dipamerkan. Tapi harus selektif dalam memilih buku bacaan untuk anak-anak.

Majalah Kartini pun mengajak pegiat literasi Indonesia, Syarifudin Yunus yang sekaligus Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gn. Salak Bogor sebagai nara sumber soal “literasi anak” pada edisi kali ini.

Intinya, minat baca anak Indonesia mulai bangkit seiring makin derasnya arus informasi. Terbukti setiap bazar buku murah selalu dipadati pengunjung. Anak dan orang tua rela berdesakan untuk membeli buku. “Karena itu, minta baca anak tidak akan pernah mati” ujar Syarifudin Yunus yang juga Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Indraprasta PGRI Jakarta.


Maka tips sederhana bagi orang tua dalam memilih buku anak.
Pertama, adalah dengan metode “edutainment” agar membaca buku ditangkap sebagai kegiatan yang edukatif dan menyenangkan bagi anak. Pilihkan buku yang sesuai dengan minat anak. Lalu observasi buku yang cocok sehingga saat buku dibeli anak bisa menikmatinya. “Apapun bukunya, orang tua harus bisa mengubah pesan menjadi edukatif dan menyenangkan anak” kata pria yang disapa Syarif.

Kedua, bila orang tua tergolong sibuk akibat bekerja. Dan terbiasa menitipkan anak kepada pengasuh. Maka buku bacaan yang dipilih adalah buku-buku moralitas agar dapat menanamkan karakter anak.
“Berikanlah anak-anak, buku yang pesannnya tentang nilai moral atau karakter.Bukan buku yang ingin menjadikan anak pintar atau bertambah pengetahuan semata” tambah Syarif yang juga Alumni UNJ dan tengah studi S3 Manajemen Pendidikan di Pascasarjana Unpak Bogor.

Ketiga, dalam kaitan dengan kemajuan teknologi seperti e-book. Tidak sepenuhnya baik dan tepat untuk anak. “Karena e-book itu bisa mengganggu fokus membaca si anak. Anak malah terkesima pada teknologi bukan isi bacaan. Maka khusus anak-anak usia sekolah, membaca lebih baik konvensional. Ada bukunya, bila perlu sambil bersuara” tambah Syarif yang tiap hari Minggu mengajarkan cara membaca anak-anak di TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Slaak Bogor.

Empat, perlunya hati-hati orang tua dengan konten buku tokoh fiktif dan karakter yang tidak cocok untuk kepribadian anak Indonesia. “Buku impor tidak selalu baik. Harus hati-hati orang tua. Karena buku impor biasanya 1) nilai karakter tokohnya tidak cocok, 2) memicu imajinasi anak yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, dan 3) pesan moralnya sering bertentangan dengan agama dan budaya Indonesia” jelas Syarif lagi.

Dan kelima, demi pentingnya literasi dalam memilih buku bacaan anak. Orang tua harus terlibat aktif dan mau menemani anak saat membaca buku. Makanya biasalkan membaca bersuara bukan dalam hati. Agar orang tua tahu isi buku bacaannya. “Maka biasakan di rumah, anak membaca buku secara bersuara. Bila perlu, orang tua menjadi ‘story teller’ yang ikut memaknakan isi bacaan kepada anaknya” pungkas Syarif yang juga konsultan di DSS Consulting dan Ketua Bidang Humas Asosiasi DPLK Indonesia.

Di era digital, di era revolusi industri sekarang ini. Kelemahan terbesar dalam literasi anak adalah orang tua justru tidak mau lagi menemani anak saat membaca buku. Inilah titik kritis. Sehingga buku bisa jadi kontraproduktif dengan harapan orang tua.

Dan yang terpenting dalam literasi anak. Adalah kepedulian orang tua terhadap budaya literasi. Jangan anaknya disuruh baca, orang tua malah main HP .... Capek deh.

Maka akrabkan anak kita dengan buku. Karena tanpa baca, masa depan anak merana … Salam literasi anak #MajalahKartini #TBMLenteraPustaka #LiterasiAnak #BukuAnak #BudayaLiterasi #BacaBukanMaen