Minggu, 30 April 2023

Taman Bacaan Gelar Halal Bihalal Idul Fitri, Untuk Apa?

Halal bihalal, silaturahmi, dan berjabat tangan bukan hanya meluaskan pikiran dan memperkaya sudut pandang tapi menjadi salah dari sekian banyak pembuka pintu rezeki.

 

Dihadiri 50-an anak-anak pembaca aktif, orang tua, wali baca dan relawan, TBM Lentera Pustaka menggelar halal bihalal Idul Fitri 1444 H bertajuk “Saatnya Saling Memaafkan dan Berbuat Lebih Baik” di Bogor (30/4/2023). Nasihat lebaran diberikan oleh Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka serta secara bergantian oleh wali baca dan relawan yaitu Alwi, Ilham, Fadil, Susi, Resa, Zhia, Ai, dan Farida. Ditandai dengan tradisi salaman keliling, seluruh keluarga besar TBM Lentera Pustaka secara ikhlas saling memaafkan atas segala salah dan khilaf yang pernah terjadi di taman bacaan. Sekaligus menjadi bukti kelapangan hati untuk menyambung silaturahim dalam naungan aktivitas taman bacaan. Membaca buku seminggu 3 kali di taman bacaan.

 

Pendiri TBM Lentera Pustaka juga memberikan apresiasi berupa uang jajan kepada anak-anak pembaca aktif yang berhasil menjalankan ibadah puasa 30 hari penuh, tanpa kalah. Agar di masa datang lebih giat lagi berpuasa. Sebelumya, TBM Lentera Pustaka telah menggelar khataman Al Quran setiap hari Sabtu selama bulan puasa, di samping menyediakan takjil kepada anak-anak dan orang tua yang khataman di taman bacaan. Empat kali khatam Al Quran selama bulan puasa, alhamdulillah.

 

“Halal bihalal di TBM Lentera Pustaka sudah jadi tradisi. Untuk saling memafkan satu sama lainnya atas salah dan khilaf yang pernah terjadi. Hal ini jadi bagian untuk membentuk akhlak baik anak-anak, di samping menggapai berkah Allah SWT. Salaman menjadi penyempurna ibadah puasa dan silaturahim kami di taman bacaan” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka.

 


Dalam kesempatan ini, TBM Lentera Pustaka juga memberikan update terkait beberapa program yang dijalankan setelah lebaran, yaitu 1) launching Motor Pustaka hibah PBI, Kemdikbud RI, Dana Indonesia, dan LPDP pada Minggu, 21 Mei 2023, 2) pengenalan program baru “Sepeda Baca Pustaka” berupa sepeda listrik yang akan beroperasi seminggu sekali ke tempat-tempat nongkrong anak-anak, dan 3) rencana membuka “Kopi Lentera” kafenya literasi pada Juni 2023. Semua rencana TBM Lentera Pustaka ini didedikasikan demi tegaknya gerakan literasi dan aktivitas giat membaca di taman bacaan. Agar taman bacaan menjadi tempat asyik dan menyenangkan.

 

Selain saling memaafkan, momen halal bihalal TBM Lentera Pustaka sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga silaturahim untuk berbuat lebih baik ke depan. Mampu mengubah hubungan sesama manusia dari benci menjadi senang, sombong menjadi rendah hati, dan sadar untuk membebaskan diri dari perbuatan tercela. Karena dengan bersalaman di taman bacaan, sejatinya siapapun bukan sedang memaafkan orang lain namun justru memaafkan kesalahan dirinya sendiri.

 

Taman bacaan sadar betul. Memaafkan adalah bagian dari seni untuk memainkan peran penting dalam memperbaiki kualitas hidup, di samping membahagiakan hubungan dalam pergaulan di taman bacaan. Salam literasi! #TamanBacaan #HalalBihalal #TBMLenteraPustaka




Sediakan Akses Bacaan, Motor Pustaka Sambangi Kampung Jami di Kaki Gunung Salak

Minat baca yang tinggi sulit bisa diraih anak-anak Indonesia bila akses buku bacaan masih terbatas. Faktanya, masih banyak anak-anak kampung yang selama ini tidak punya akses bacaan, termasuk perpustaak. Apalagi di tengah gempuran era digital, keberadaan perpustakaan sekolah pun kian bermasalah. Maka wajar, tersedianya akses bacaan yang memadai kian “jauh panggang dari api”. Makin tidak diperhatikan akses bacaan ke anak-anak di kampung.

Berangkat dari keprihatinan itulah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka menjalankan program “motor pustaka” keliling dari kampung ke kampung. Untuk sediakan akses bacaan ke anak-anak usia sekolah. Berbekal motor pustaka hibah dari Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) yang didukung Kemdikbud RI, Dana Indonesiana, dan LPDP, motor pustaka seminggu dua kali menyambangi kampung padat penduduk di kaki Gunung Salak. Seperti yang dilakukan pada Minggu, 30 April 2023 ke Kampung Jami Desa Seukaluyu Kec. Tamanssari Kab. Bogor. Adalah Syarifudin Yunus, pegiat literasi TBM Lentera Pustaka menjelajah jalan bebatuan, menggelar tikar, membaca buku bersama, lalu memberi edukasi pentingnya membaca buku. Aktivitas motor pustaka ini dilengakpi 200 buku bacaan dan 2 buah tikar sebagai alas baca, serta didampingi 5 relawan TBM Lentera Pustaka.

 

“Motor Pustaka TBM Lentera Pustaka ini tidak muluk-muluk. Hanya untuk sediakan akses bacaan anak-anak di kampung yang selama ini tidak punya akses bacaan, tidak ada tempat membaca. Karenanya, kami seminggu dua kali menyambangi kampung yang padat penduduk. Dengan dukungan relawan yang ada, Insya Allah kami istikomah menjalankan program motor Pustaka hibah dari Pustaka Bergerak Indonesia ini” ujar Syarifudin Yunus, pegiat literasi TBM Lentera Pustaka di Bogor.

 

Hadirnya motor pustaka yang keliling kampung sediakan akses bacaan ini kian membuktikan bahwa minat baca anak dapat dibentuk bila tersedia akses bacaannya. Karena itu, gerakan literasi yang ideal adalah menyediakan sebanyak-banyaknya akses bacaan. Tentu, berbentuk buku-buku bacaan bukan e-book. Karena perangkat digital di kampung-kampung masih bermasalah. Apalagi di wilayah yang prasejahtera. Melalui kegiatan motor pustaka ini, TBM Lentera Pustaka juga mengkampanyekan anak-anak usia sekolah agar tidak putus sekolah atas sebab apapun dan menekan pernikahan dini.

 


Ke depan, aktivitas motor pustaka TBM Lentera Pustaka akan dikemas lebih asyik dan menyenangkan anak-anak. Misalnya sambil menyediakan makanan ringan agar anak-anak lebih tertarik membaca buku, di samping memotivasi anak-anak melalui cerita dongeng yang ada di buku-buku bacaan. Agar membaca buku tidak membosankan.

 

Patut diketahui, sejak berdiri 6 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka saat ini mengelola 15 program literasi,  yaitu 1) TABA (TAman BAcaan) dengan 130 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), 12) LIDAB (LIterasi ADAb),  13) Motor Pustaka atau MOBAKE (MOtor BAca KEliling), 14) Rooftop Baca, dan 15) Berantas Buta Aksara Al Quran. Koleksi buku tadinya hanya 600 buku, kini mencapai lebih dari 10.000 buku bacaan. Dengan dukungan 5 wali baca dan 12 relawan, kini TBM Lentera Pustaka beroperasi 6 hari dalam seminggu dan tidak kurang dari 200 orang menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka setiap minggunya.  Salam literasi!

 

Sabtu, 29 April 2023

Saatnya Tadabbur Diri di Taman Bacaan

Idul fitri sudah, ramadan pun berlalu. Lalu, apa yang membekas dari momen spiritual yang sakral tersebut? Biasa-biasa saja dan normal kembali ya. Tidak ada yang berubah? Atau hanya sebatas seremoni belaka. Semoga tidak demikian ya.

 

Saatnya tadabbur. Untuk merenungkan dengan seksama dan mendalam akan pentingnya momen idul fitri dan ramadan yang telah lewat. Bertadabbur sebagai cara untuk melihat dampak idul fitri dan ibadah ramadan serta hasil akhirnya seperti apa? Dengan tadabbur, makna idul fitri dan ramadan jadi terang benderang. Sehingga mampu mengambil manfaat dan hikmah dari lubuk hati yang paling dalam. Untuk selalu mempraktikkan kesucian lahir batin, di samping sikap istikomah dari ibadah puasa. Untuk lebih mendekat kepada Allah SWT. Tadabbur untuk menjadi lebih baik ke depan.


Tadabbur seperti kisah Nabi Musa. Ketika si bayi Musa ditemukan oleh istri Firaun, Allah SWT sudah mengatur agar Musa tidak ingin menyusu melainkan hanya kepada ibunya. Allah SWT menyatakan: “dan Kami cegah baginya menyusui dari perempuan lain sebelum itu” (Al Qashash: 12). Jadi. Allah SWT “mengharamkan” semua ASI bagi Musa, dengan tujuan yang amat indah agar ia bisa kembali ke ibunya. Begitu kira-kira?

 

Begitulah skenario Allah SWT untuk Musa. Saat menahan suatu perkara penting baginya (untuk segera menyusu) dengan tujuan agar ia mendapat susu yang lebih baik, yaitu dari ibunya sendiri.

 

Hikmahnya, cobaan itu memang seperti itu. Terlalu mudah bagi Allah SWT untuk menahan atau mengambil sesuatu dari kita, dari siapapun. Karena Allah sudah menyiapkan sesuatu yang lebih baik dari itu. Syaikh Thanthawi dalam tafsirnya menyebut, “Jika Allah mengambil sesuatu darimu apa yang tidak engkau sangka-sangka, maka ketahuilah Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang tidak engkau sangka-sangka pula”.

 


Allah Maha Besar!

Di antara nama Allah adalah Al-Hakim. Artinya, tidak ada sedikitpun kesalahan dan luput dari ketentuannya. Al-Hakim yang Maha Bijaksana dalam ketentuan dan ketetapan-Nya. Allah bisa menurunkan cobaan berupa kehilangan atau musibah ataupun cobaan lainnya dari hal-hal yang tidak kita sukai. Karena Allah tahu dan ingin dengan itu kita mendapat kebaikan di masa yang akan datang. Cobalah ditadabburi. Mungkin, kita pernah mengalaminya. Saat mendapat musibah yang tidak kita sukai, namun berujung sangat baik bagi kita di kemudian hari.

 

Ber-tadabbur-lah. Lebarkan pandangan kita, luaskan perenungan kita. Agar paham, tentang ujian hidup orang lain yang lebih besar dari ujian kepada kita. Kesulitan orang lain yang jauh lebih sulit daripada kesulitan kita. Maka, cukupkan diri dengan tadabbur dan banyak-banyaklah bersyukur. Agar semakin meningkat keimanan kita, di samping mengajak kita untuk selalu menjadi diri sendiri dalam mengabdi kepada Allah SWT. 


Tadabbur di taman bacaan, pun bisa terjadi. Untuk merenungkan, sebenarnya kita dari mana berasal dan mau ke mana menuju? Untuk selalu menebar kebaikan dan manfaat kepada orang lain. Melalui penyediaan akses bacaan kepada anak-anak dan masyarakat. Salam literasi!

Bersanding Bersama Anak Yatim dan Jompo di Taman Bacaan, Kok Bisa?

Bila ada taman bacaan yang tetap istiqomah dan selalu peduli terhadap anak-anak yatim dan kaum jompo, silakan berkunjung ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Melalui program YABI (YAtim BInaan) dan JOMBI (JOMpo BInaan), TBM Lentera Pustaka hari ini menggelar pengajian bulanan yang dihadiri 12 anak yatim binaan dan 12 jompo binaan. Acara ini sekaligus halal bihalal Idul Fitri 1444 H, di samping berdoa bersama untuk keberkahan hidup di masa mendatang.

 

Seusai mengaji, setiap anak-anak yatim, kaum jompo, dan janda diberikan santunan bulanan dari Pendiri TBM Lentera Pustaka yang didukung teman-teman dekatnya. Termasuk memberikan beasiswa bulananb kepada 3 anak yatim usia SMP dan kuliah. Kepedulian taman bacaan ini telah berlangsung bertahun-tahun, di samping membangun tradisi berbagi kebaikan kepada anak-anak yatim dan kaum jompo.

 

“Terus terang, saya selalu hadir saat pengajian yatim dan jompo binaan TBM Lentera Pustaka setiap bulan. Selain mendoakan ayah yang sudah tidak ada, saya pun diberi santunan yang berguna untuk uang kuliah. Semoga sehat dan berkah menyertai Bapak Syarif dan TBM Lentera Pustaka” ujar Mega, anak yatim yang kini kuliah semester 2 di Bogor.

 


Pengajian yatim dan jompo binaan sudah menjadi tradisi di TBM Lentera Pustaka. Sekaligus menjadi kepedulian sosial terhadap anak-anak yang membutuhkan uluran tangan orang-orang yang mampu. Karena kepedulian tidak selalu berbicara soal angka berapa yang disedekahkan. Tapi sebagai sarana melatih kepekaan sosial secara rutin. Di samping bersyukur atas karunia dan anugerah Allah SWT. Karena di dekat kita, masih banyak orang-orang yang membutuhkan kepedulian kita, sekecil apapun itu.

 

TBM Lentera Pustaka meyakini melalui pengajian bulanan yatim dan jompo binaan, pasti ada keberkahan yang diraih. Karena setiap kebaikan yang dibagikan adalah cara termudah untuk disayangi, oleh sesama manusia maupun oleh Allah SWT. Pasti ada balasan terbaik yang tidak pernah diduga sebelumnya. Asal mau bersanding dan menyantuni anak-anak yatim dan kaum jompo.

 

Saat bersanding dengan anak-anak yatim dan kaum jompo, terkadang kita hanya butuh hati dan kepedulian, Tidak lagi memerlukan kepintaran, pangkat, jabatan atau status sosial. Karena kita, bukan atas apa yang dimiliki tapi atas apa yang dibagi, Salam literasi!

 





Jumat, 28 April 2023

Kisah Praktik Baik di Taman Bacaan, Apa yang Harus Dilakukan?

Mendirikan taman bacaan atau rumah baca, di mana pun, memang tidak mudah. Harus cukup mental dan punya sikap yang jelas. Ibarat kata, mendirikan taman bacaan bagi saya, persis seperti membuka warung. Harus jelas apa yang mau dijual, siapa sasaran pembelinya? Dan yang penting, apa tujuannya? Bila gagal menjawabnya, maka taman bacaan itu akan “punah” di tengah jalan.

 

Taman bacaan pun tidak bisa didirikan hanya berdasar idealisme pendirinya. Ingin membangun minat baca. Atau hanya ingin ikut-ikutan bergerak di dunia literasi atau taman bacaan. Pasti akan sulit dalam perjalanannya. Karena faktanya, tidak sedikit taman bacaan yang berada di “lingkungan yang salah”, tidak ada anak-anak yang membaca. Hingga akhirnya, taman bacaan hanya sekadar nama. Tanpa jadwal yang jelas, aktivitas pun jadi seadanya. Terserah si pendirinya, mau dibuka atau tidak. Lalu, membangun diskusi dan seminar tentang literasi dan taman bacaan di luar sana. Jadilah, taman bacaan yang “jauh panggang dari apa”.  Taman bacaannya ke mana, tujuannya ke mana pula?

 

Taman bacaan itu sifatnya sosial. Maka ada 2 (dua) hal penting yang harus ada di taman bacaan. Yaitu 1) kreativitas dan 2) kolaborasi dengan berbagai pihak. Tanpa kreativitas, taman bacaan jadi kosong dan monoton. Tanpa kolaborasi, taman bacaan pun akan “kelelahan” di tengah jalan. Karena itu, taman bacaan harus melibatkan banyak pihak. Mulai dari anak-anak dan orang tua, aparatur masyarakat di level kampung, relawan, komunitas sosial, dan korporasi untuk ber-CSR. Siapapun mereka, apapun bentuk keterlibatannya, dan sekecil apapun kontribusinya harus terlibat. Bila tidak, maka taman bacaan pun akan “hidup segan mati tak mau”.

 

Itulah simpulan sementara saya berdasarkan pengalaman mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Taman bacaan yang saya dirikan dengan cara saya sendiri. Tempatnay di rumah saya dan program-nya pun saya rancang sendiri. Alhasil, pengalamam dan praktik baik mengelola taman bacaan itu sudah saya tuangkan ke dalam buku-44 saya berjudul “Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan Berbasis Edukasi dan Hiburan – TBM Edutainment” terbitan Footnote Press tahun 2022, ISBN 978-623-99780-5-1 (271 halaman) (Peluncuran Buku Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan Berbasis Edukasi dan Hiburan - Peristiwa - www.indonesiana.id)

 

TBM Edutainment, adalah sebuah model pengembangan dan tata kelola taman bacaan yang kini sedang saya tulis sebagai disertasi untuk meraih gelar "Doktor Manajemen Pendidikan" di S3 Manajemen Pendidikan Pascasarjana Universitas Pakuan (Unpak) Bogor. Dari sisi kreativitas, TBM Lentera Pustaka mengembangkan salam literasi, doa literasi, senam literasi, laboratorium baca tiap Minggu, event bulanan dengan mendatangkan "tamu dari luar", dan jajanan kampung gratis. Agar taman bacaan tidak membosankan dan bukan hanya tempat membaca buku. Dari sisi kolaborasi, TBM Lentera Pustaka juga melibatkan korporasi dan komunitas untuk berkiprah nyata dalam gerakan literasi. Seperti di tahun 2023 ini melibatkan 1) Bank Sinarmas, 2) Asosiasi DPLK, dan 3) AAI Perancis sebagai sponsor CSR yang ikut membina TBM Lentera Pustaka, di samping melibatkan komunitas seperti BEM Faperta IPB, komunitas motor, alumni UNJ, dan mahasiswa Unindra yang ikit berkiprah secara rutin di taman bacaan. Kata kuncinya di TBM Edutainment, berbasis edukasi dan hiburan selalu ada di TBM Lentera Pustaka.

 

Saat didirikan 6 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka hanya punya 14 anak pembaca aktif. Tapi kini sudah ada 130-an anak pembaca aktif.  Awalnya hanya menjalankan 1 program literasi yaitu taman bacaan namun kini sudah mengelola 15 program literasi,  yaitu 1) TABA (TAman BAcaan) dengan 130 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), 12) LIDAB (LIterasi ADAb),  13) MOBAKE (MOtor BAca KEliling), 14) Rooftop Baca, dan 15) Berantas Buta Aksara Al Quran. Koleksi buku tadinya hanya 600 buku, kini mencapai lebih dari 10.000 buku bacaan. Dengan dukungan 5 wali baca dan 12 relawan, kini TBM Lentera Pustaka beroperasi 6 hari dalam seminggu dan tidak kurang dari 200 orang menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka setiap minggunya.

 


Sejauh ini, berbagai catatan prestasi pun sudah ditorehkan TBM Lentera Pustaka dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak, seperti:

1.    Terpilih Ramadhan Heroes dari Tonight Show NET TV (Mei 2021)

2.    Terpilih 1 dari 30 TBM di Indonesia sebagai penyelenggara program “Kampung Literasi” dari Direktorat PMPK Kemdikbudristek RI dan Forum TBM (Juli 2021).

3.    Terpilih "31 Wonderful People tahun 2021" kategori pegiat literasi dan pendiri taman bacaan dari Guardian Indonesia (September 2021)

4.    Sosok Inspiratif Spiritual Journey PT PLN (Oktober 2021)

5.    Terpilih sebagai “Jagoan 2021” dari RTV (Desember 2021).

6.    Terpilih sebagai “Kampung Literasi” dalam meningkatkan literasi masyarakat Kabupaten Bogor dari Dinas Arsip dan Perpustakaan (DAP) Kab. Bogor (Oktober 2022).

Pada tahun 2023 ini, TBM Lentera Pustaka pun mendapat hibah “motor pustaka” dari Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) yang didukung Ditjen Kebudayaan. Dana Indonesiana, dan LPDP menyusul Revitalisasi kebun baca dari Bank Sinarmas dan CSR event dari KrispyKreme Indonesia.  

 

Secara publikasi, TBM Lentera Pustaka pun sering dijadikan narasumber liputan literasi dan taman bacaan dari berbagai media seperti: CNN TV, NET TV, Berita Satu TV, RTV, Jawa Pos TV, DAAI TV, TV Parlemen, Republika, Kompas,com., Merdeka,com., BogorKita.com., di samping pendiri TBM Lentera Pustaka dikenal aktif menulis untuk gerakan literasi dan taman bacaan.

 

Patut diketahui, spirit TBM Lentera Pustaka bukanlah “membangun minat baca”. Tapi hanya “sediakan akses bacaan” kepada anak-anak susia sekolah di kampung yang terancam putus sekolah akibat kemiskinan. Lagi pula, minat baca sudah pasti bakal terjadi bila akses bacaannya tersedia, Karena itu, TBM Lentera Pustaka pun menjalankan program “motor pustaka” atau “motor baca keliling” yang rutin keliling desa atau kampung seminggu dua kali. Hanya untuk menyediakan akses bacaan. Saat di taman bacaan, anak-anak pu tidak hanya membaca. Tapi bermain dan berinteraksi serta dimotivasi oleh relawan. Agar taman bacaan jadi tempat yang “asyik dan menyenangkan”. Karena selama ini, kelemahann terbesar dari taman bacaan adalah gagal menjadi tempat yang asyik dan menyenangkan. Terlalu monoton dan membosankan.

 

Taman bacaan di manapun harus ciamik. Mantap dan bagus karena selalu aktif berkegiatan literasi, di samping fokus mengurus taman bacaannya. Bukan sibuk ber-seremoni atau seminar tentang literasi dan taman bacaan. Bagi TBM Lentera Pustaka, tidak ada teori yang paling benar dalam ber-literasi atau taman bacaan. Taman bacaan, sejatinya akan menemukan jalannya sendiri berdasr praktik baik yang dilakukannya sendiri. Karena itu, siapapu yang aktif di taman bacaan harus “mengusir” jauh-jauh soal kendala atau hambatan yang ada. Di samping memperbesar komitmen dan konsistensi dalam mengurus taman bacaan secara sepenuh hati, bukan setengah hati.

 

Lalu, apakah saya sudah puas dengan kondisi TBM Lentera Pustaka sekarang? Maaf, tidak ada kata puas di taman bacaan atau saat berliterasi. Karena taman bacaan adalah “ladang amal” sekaligus “legacy – warisan” untuk umat. Maka taman bacaan harus tetap dijaga dan ditingkatkan eksistensinya. Agar mampu memberikan manfaat yang optimal kepada pengguna layanannya. Sekalipun Desa Sukaluyu bukan tanah kelahiran saya, tapi saya sudah menjadikan taman bacaan sebagai “jalan hidup pengabdian”. Insya Allah hingga akhir hayat nanti. Agar jangan ada anak-anak yang putu sekolah, jangan ada lagi kaum buta huruf di bumi Indonesia.

 

Maka, tetaplah berkiprah di taman bacaan. Jangan mudah menyerah apalagi “baper” di taman bacaan. Tapi juga jangan paling “sok tahu” dalam berliterasi. Cukup jalani dengan sepenuh hati. Sekali lagi, tidak ada teori paling benar di taman bacaan. Perbaiki saja niat, baguskan ikhtira, dan perbanyak doa. Insya Allah, taman bacaan di mana pun akan indah pada waktunya.

 

Karena "khairunnaas anfauhum linnaass", sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Agar taman bacaan dan literasi lebih ciamik ke depannya. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka






Literasi Jalan Tengah, Khairul Umuri Awsathuha

Entah kenapa, kawan saya selalu ingin berada di tengah? Dalam hal apapun, posisinya selalu mencari di tengah. Apalagi dalam urusan foto. Saat saya tanya, kenapa ambil posisi di tengah? Jawabnya, karena di tengah itu indah bahkan nikmat pula.

 

Mungkin ada benarnya. Untuk semua urusan, ambillah posisi di tengah. Karena di tengah lebih netral, lebih normatif. Tidak terlalu ekstrem, tidak pula cuek. Tidak berlebihan tapi tidak kurang pula. Di tengah jadi seimbang, jadi lebih pantas. Tidak terlalu jauh tidak pula terlalu dekat. Biasa-biasa saja. Ambillah posisi tengah karena di tengah itu nikmat lagi indah.

 

Zaman now, terkadang menyeramkan. Urusan politik, urusan kerjaan, urusan apa saja. Banyak orang condong miring ke kiri, condong ke kanan. Jilat sana jilat sini. Hujat sana hujat sini. Benci sini benci sana. Akhirnya, lupa untuk bersikap di tengah-tengah. Lupa bila di tengah-ytenag itu indah lagi nikmat. Jadi tidak netral lagi.

 

Rileks saja, tetaplah di tengah-tengah. Karena cinta dan benci itu silih berganti. Manis dan pahit pun bergiliran. Suka dan duka sering berganti musim. Tidak usah terlalu gembira, tidak usah pula terlalu sedih. Karena semuanya sudah pantas untuk kita. Karena memang tidak ada satu orang pun di dunia ini yang hidupnya senang terus. Seperti tidak ada pula yang hari-harinya sedih melulu. Jadi sekali lagi, rileks saja. Tidak usah merasa terlalu nestapa atau merasa paling bahagia.

 

Tengah-tengah itu indah. Tentu, sebagai jalan tengah. Bila tidak suka ya tidak usah benci melulu. Jika suka pun tidak usah terlalu gembira. Kalah menang itu biasa. Seperti benci dan cinta pun bergantian. Bila tidak mampu berbuat baik ya tidak usah jahat. Bila tidak mampu cinta ya jangan terlalu benci. Sederhana kan. Jadi, tetaplah di tengah karena itu paling pas untuk kita.

 


Tengah itu berarti seimbang. Hidup yang seimbang. Seimbang antara harapan dan kenyataan. Seimbang antara keinginan dan kebutuhan. Seimbang pikiran dan perilaku. Ego versus logika, kemauan versus tuntunan. Semuanya harus dan mesti seimbang. Seperti seimbangnya lahir dan batin, jasmani dan rohani. "Nak, kalau jalan di tengah-tengah saja ya" begitu nasihat orang tua dulu. Biar tidak jatuh bila terlalu kiri, biar tidak tumbang bila terlalu kanan.

 

Cukup di tengah saja. Tidak usah teriak-teriak saat ngomong. Tapi juga jangan terlalu diam. Tetaplah di tengah biar objektif. Karena suara hati yang tengah-tengah itu pasti LIRIH tapi JELAS. Tidak usah terlalu merasa sepi saat lagi sendiri. Dan tidak usah terlalu merasa bangga bila lagi di tempat ramai. Itu semua silih berganti kok. Allah SWT sudah punya rencana jelas untuk siapapun. Jadi, kenapa terlalu bersemangat membenci? Kenapa pula merasa penting mengintimidasi, provokasi, atau ingin menghina sesama? Karena mereka "sudah jauh" dari jalan tengah. Terlalu berlebihan. Terlalu benci, terlalu cinta. Hingga tergelincir ke jalan setan. Jalan menganggap kesalahan sebagai kebenaran.

 

Ada yang tidak suka di tengah. Maka wajar, bila akhirnya gemar "menabrak" apapun. Ugal-ugalan di jalan, bahkan gemar memporak-porandakan yang sudah ajeg. Akibat nafsu, ego, dan sikap tidak mau mengalah. Arogan dan merasa paling benar sendiri. Semua orang lain dianggap salah. Orang yang sudah lupa jalan di tengah. Maka rusaklah persaudaraan, persatuan, toleransi, dan kebhinekaan. Senang bertikai, gemar bersengketa. AKibat lupa jalan tengah.

 

Khairul umuri awsathuha, begitu kata Nabi Muhammad SAW. Sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah. Jadi siapapun, tetaplah di tengah. Agar tetap eling lan waspada. Biar tidak terjebak ke dalam pusaran kegelapan, kejelekan berbalut "semangat kebaikan". Benci itu boleh. Cinta juga boleh. Tapi jangan sampai pikiran picik dan kerdil, kejahatan pikir dan omong "dianggap" sebagai kewajaran.

 

Maka tetaplah di tengah. Berdirilah di tengah. Duduklah di tengah. Agar tetap objektif. Agar tetap seimbang. Karena setiap KEMAUAN pasti ada TUNTUNAN-nya. Karena menang, di tengah-tengah itu indah lagi nikmat. Salam tengah!

Kamis, 27 April 2023

Literasi Memaafkan, Kenapa Meminta Maaf?

Memaafkan memang hanya kata sederhana. Tapi sulit untuk dilakukan. Apalagi bagi mereka yang bertabur rasa benci, iri, dan dengki dalam hidupnya. Kaum pemarah dan pemilik sikap arogan. Sungguh, memaafkan itu tidak gampang. Sekalipun terkadang, orang lain pun tidak tahu kesalahannya apa?

 

Memaafkan, sering dikatakan banyak orang. Lagi-lagi tidak mudah untuk dilakukan. Karena membutuhkan hati yang seluas Samudra. Memaafkan harus punya ketulusan hati untuk melakukannya. Berlapang hati. Tapi siapapun yang mau memaafkan, pasti hidupnya sehat. Karena terhindar dari sifat-sifat dendam dan benci. Terhindar dari penyakit mental yang dapat merusak dirinya.

 

Memaafkan berarti mengampuni kesalahan orang lain. Memberi maaf berarti membebaskan orang lain dari hukuman atas suatu kesalahan. Memaafkan bermanfaat untuk menjaga hati lebih tenang dan lebih damai. Tanpa memendam amarah, benci, dan dendam. Di samping dapat menjadi tanda seseorang jadi lebih bijak dan realistis. Itulah kenapa saat Idul Fitri, kata-kata “mohon maaf lahir batin” begitu dominan. Banyak orang memohon maaf lahir dan batin. Agar lebih sehat, lebih tenang, dan damai.

 


Memberi maaf, tentu bukan berarti kalah. Memaafkan justru sengaja mengalah. Sebagai cara terbaik untuk membahagiakan orang lain. Tidak ada yang menang atau pun kalah. Yang ada hanya memudahkan orang yang “terpisah” untuk bertegur sapa. Maka, memaafkan harus dilakukan secara langsung dan face to face. Dari orang yang memaafkan kepada orang yang mau dimaafkan.

 

Memaafkan, sejatinya belajar. Belajar menerima walau tidak suka. Belajar untuk berpuas hati meski tidak cukup. Belajar memahami walau tidak sehati. Dan belajar ikhlas meski belum rela. Maka untuk mampu memaafkan butuh proses secara mental dan pikiran. Butuh kelapangan hati yang luar biasa, di samping pikiran yang maha jernih. Sama seperti melatih hati, perlu banyak ujian agar sabarnya meluas, syukurnya melangit, dan maafnya mudah untuk diberi.

 

Maka untuk yang sedang marah, beranilah memaafkan. Untuk memperbaiki hubungan meski harus terlebih dahulu mengucap maaf dan mengulurkan tangan. Karena memaafkan hanya butuh berani dan mau. Memang benar, dibutuhkan orang yang kuat untuk mengatakan maaf, dan orang yang makin kuat untuk memaafkan.

 

Sebenarnya, memaafkan atau meminta maaf tidak hanya saat Idul Fitri atau lebaran. Tapi bisa kapan saja, utamanya saat sadar telah berbuat salah atau khilaf. Tapi momen Idul Fitri dianggap lebih sakral, maka ucapan yang paling lazim adalah mohon maaf lahir batin.

 

Sejatinya, memaafkan bukanlah melupakan tapi melepaskan rasa sakit. Memaafkan itu baik, dan lebih baik lagi bisa saling memaafkan. Salam literasi!


Rabu, 26 April 2023

Senyum di Langit Taman Bacaan

Menunduk, bisa saja punya makna yang berbeda. Di Indonesia, menunduk sering diartikan seperti kekalahan terhadap pihak lawan. Sedangkan di Jepang, menunduk selalu dilakukan seseorang saat berbicara dengan orang lain, Begitu pula, geleng-geleng kepala dan mengangguk-angguk, barang kali tidak selalu sama pemahamannya. Antara orang Indonesia dengan orang India. Gerakannya sama tapi artinya bisa berbeda.

 

Tapi senyum yang tulus, selalu punya makna yang sama antara satu negeri dengan negeri lainnya. Bahkan di seluruh dunia, senyum punya arti yang sama, sebuah ekspresi wajah yang menunjukkan kebahagiaan. Simbol rasa senang adalah senyum. Senyum itu sedekah. Bahkan tersenyum dianggap cara paling murah dalam membangun suatu hubungan. Senyum bisa jadi “obat” paling mujarab untuk orang-orang yang marah, benci atau iri.

 

Sudah terbukti kok, senyum tidak hanya dapat menyenangkan orang lain. Tapi mampu berkontribusi untuk kesehatan jiwa seseorang. Senyum dan tertawa itu bermanfaat bagi kesehatan fisik, untuk jantung dan kekebalan tubuh. Lebih dari itu, senyum pun akan memengaruhi kondisi mental seseorang. Membuat mood jadi lebih baik, lebih bergairah.

 

Maka tersenyumlah di mana pun, dalam kondisi apapun. Karena senyum itu menyehatkan. Senyum saat senang dapat menjaga kewaspadaan. Senyum saat duka dapat meneguhkan kesabaran. Senyum saat berjuang dapat bikin indah pengorbanan. Senyum pada kekasih dapat menyuburkan cinta. Senyum pada musuh dapat mengundang rasa hormat. Senyum pada pendengki dapat menjejalkan sesal. Senyum pada si ramah dapat menjalinkan ketulusan. Senyumlah pada si pemarah dapat menuangkan kesejukan. Senyum pada si gelisah dapat mengalirkan kenyamanan. Senyum pada si miskin dapat melipur lara. Senyum pada si kaya dapat melembutkan hati. Senyum pada pengintimidasi dapat mengacuhkan, dan senyum pada si aniaya pun dapat jadi cahaya untuk gelap hatinya. Jadi, apa alasannya untuk tidak tersenyum?

 

 


 

Senyum saja dalam segala keadaan. Senyum saja di mana pun. Karena akhlak jelita seseorang pada saat senyum mengembang pada dirinya, di kala mereka sedang berbincang (Habib ibn Abi Tsabit).

 

Senyum siapapun, tidak bisa dilepaskan dari kata syukur. Senyum yang ikhlas dari hati adalah cara terbaik untuk bersyukur. Memang senyum terlihat sangat mudah dan sederhana. Tapi tidak semua orang bisa memberikan senyuman yang tulus. Apalagi mereka yang kotor hatinya, negatif pikirannya pasti sulit untuk tersenyum. Karena mereka belum rela menerima realitas hidupnya sendiri. Tidak lapang dada dalam menerma kenyataan. Merasa frustrasi, tidak suka melihat orang lain berhasil sehingga sempit hatinya. Orang yang belum kelar dengan dirinya sendiri.

 

Lalu, kenapa banyak orang belum bisa tersenyum?

Maka di momen lebaran, latihlah untuk mudah tersenyum. Senyum yang tulus atas alasan apapun. Sambil berdoa, “Ya Allah, mampukan kami tersenyum karena-Mu”. Salam literasi!

PBI Serahkan Motor Pustaka ke Taman Bacaan di Kaki Gunung Salak Bogor

Sebagai wujud dukungan pentingnya kolaborasi dalam gerakan literasi dan aktivitas taman bacaan, Nirwan Ahmad Arsuka, Pendiri Pustaka Bergerak (PBI) hari ini berkunjung ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (26/4/2023). Selain untuk koordinasi jelang peluncuran “Motor Pustaka” hibah PBI, Kemdikbud RI, Dana Indonesiana, dan LPDP ke TBM Lentera Pustaka pada 21 Mei 2021 nanti, kunjungan ini juga sekaligus berdiskusi untuk memacu semangat juang dalam menyediakan akses bacaan ke anak-anak di kampung-kampung kecil.

 

“Selain silaturahim ke taman bacaan yang keren di kaki Gunung Salak ini, saya juga berdiskusi tentang pemanfaatan motor pustaka yang dihibahkan ke TBM Lentera Pustaka. Sebagai wujud dukungan nyata terhadap gerakan literasi di Indonesia, untuk terus bergerak sediakan akses bacaan” ujar Nirwan Ahmad Arsuka di Bogor hari ini.

 

Diterima oleh Syarifudin Yunus (Pendiri TBM Lentera Pustaka), Susi, Dilla, Zhia (Wali Baca), dan Resa, Farida, Sabda (relawan), diskusi ringan literasi dilakukan di kebun baca, di rooftop baca, dan ruang baca utama TBM Lentera Pustaka. Kunjungan Pendiri Pustaka Bergerak Indonesia ini menjadi bukti pentingnya kolaborasi dalam gerakan literasi. Takdir taman bacaan bukan hanya sediakan akses bacaan tapi harus ada kolaborasi. Karena terlalu besar tantangan gerakan literasi di Indonesia. Tanpa adanya kolaborasi maka sulit dapat bertahan atau mencapai tujuan literasinya.

 

Dalam suasana rileks dan cair, diskusi makin hangat saat Nirwan Ahmad Arsuka ikut “test food – mie lentera” karya relawan TBM Lentera Pustaka yang akan membuka usaha kecil-kecilan berupa “Kopi Lentera”, kafe bernuansa literasi yang siap di-launching pada akhir Mei 2023 ini. Nirwan juga menyerahkan buku “Pidato Kebudayaan – Percakapan dengan Semesta” kepada Resa, relawan TBM Lentera Pustaka. Suasana cair dan rileks terlihat jelas dalam diskusi literasi kali ini.

 


Dalam kesempatan ini, Syarifudin Yunus (Pendiri TBM Lentera Pustaka) menegaskan pentingnya taman bacaan jangan mengingkari takdinya. Takdir untuk konsisten dalam menyediakan akses bacaan, baik di taman bacaan maupun motor pustakan yang bergerak ke kampung-kampung. Selain itu, takdir taman bacaan pun harus terlibat dalam kolaborasi. Selalu mau bersinergi untuk memajukan gerakan literasi, tanpa memandang aliansi atau organisais rujukan apapun. Karena sejatinya, literasi adalah “kerja bersama” semua orang, semua pegiat yang peduli terhadap penyediaan akses bacaan bukan hanya membangin minat baca.

 

Pegiat literasi di taman bacaan, patut memahami. Bahwa apapun yang dilakukan taman bacaan npasti ada kendalanya. Maka saat berliterasi harus punya mentalitas yang pantang menyerang, di samping sikap militan untuk bergerak sediakan akses bacaan. Taman bacaan dan literasi tidak cukup hanya bermodalkan idealism semata. Tapi harus punya komitmen dan konsistensi. Agar tetap eksis dan bermanfaat bagi pengguna layanannya.

 

Melalui aktivitas yang konsisten, pada akhirnya pegiat literasi di taman bacaan akan menemukan jalannya sendiri. Karena literasi adalah jalan bukan tujuan. Agar terus bergerak menebar kebaikan dan akses bacaan yang berkualitas untuk anak-anak Indonesia. Salam bergerak!