Tampilkan postingan dengan label lebaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lebaran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 April 2024

Jadilah Pemaaf, Catatan Lebaran dari Taman Bacaan

Hubungan antarmanusia itu, di mana pun memang rumit. Ada kalanya salah paham, ada kalanya berbaik hati bahkan benci. Akibat amarah dan sikap ego, sering kali hubungan kita dengan orang lain jadi renggang. Bermusuhan atau tidak lagi bertegur sapa. Memang tidak semuah membalik telapak tangan. Tapi meminta maaf atau memaafkan adalah solusinya. Terlepas dari siapa yang salah?

 

Sayangnya, acap kali banyak orang terselip rasa gengsi untuk meminta maaf atau memaafkan. Maaf menjadi sulit karena gengsi, karena sikap ego yang merasa tinggi. Apalagi mengingat perbuatan orang lain yang telah melukai hati, sungguh memaafkan pun semakin sulit. Tapi semua terpulang kepada diri sendiri. Apa sih gunanya menyimpan amarah, benci, dan dendam kepada orang lain? Bila akhirnya membuat kita menjadi lebih menderita. Maka suka tidak suka, memaafkan siapapun memang membutuhkan ketulusan dan keikhlasan. Allah ta'ala berfirman, “Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah" (QS. Asy-Syura: 40).

 

Hari ini, 10 April 2024, sudah hari Idul Fitri 1445 H. Inilah momen penting jadi pemaaf. Pilihannya hanya dua, meminta maaf atau memaafkan orang lain. Maaf lahir batin, atas segala khilaf dan salah yang pernah terjadi. Atas ucapan, sikap, dan perilaku yang kurang berkenan. Disengaja atau tidak disengaja, telah membuat tersinggung. Dan manusia memang tempatnya khilaf dan salah. Bahwa yang benar hanya dapat dari Allah SWT. Jadilah pemaaf!

 

Sebulan penuh kita telah berpuasa. Menanam kesucian hati dari subuh hingga maghrib. Melatih menahan diri dari perbuatan buruk dan sia-sia. Memperoleh mahmat-Nya, memohon ampunan-Nya, dan berdoa dibebaskan dari siksa api neraka. Dan kini dianggap meraih kemenangan hakiki, kemenangan ruhaniah. Untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki diri. Sambil meminta maaf atau memaafkan orang lain. Lalu, untuk apa berpuasa bila tidak mau memaafkan?

 

Sungguh, tidak ada di dunia ini, manusia yang tidak berbuat salah. Tidak satupun manusia yang tidak punya masalah. Dan tidak ada pula manusia yang sempurna. Kini di momen idul fitri, kita hanya membutuhkan kelapangan hati. Untuk meminta maaf atau memaafkan. Untuk bersedia menjadi pemaaf.

 


Adalah anugerah-Nya, tiap orang pasti dikaruniai kelembutan hati. Kepekaan psikologis untuk saling memaafkan. Agar tidak ada lagi tersimpan rasa dendam, marah, benci, iri dan dengki, bahkan buruk sangka kepada sesama anak manusia. Yang sudah berlalu biarlah dan maafkanlah. Agar tidak ada lagi ganjalan dan beban yang bergelayut di hati dan pikiran. Karena benci dan marah yang tidak termaaafkan, menjadi sumber doa-doa yang terhalang. Menjadi “kerikil” yang menghalangi keluarnya keajaiban Allah SWT.  Puasa sudah, ibdaha terbaik pun sudah, amalan baik pun sudah. Berdia pun sampai menangis. Tapi apa geranagan “miracle” atau keajaiban-Nya belum datang juga?

 

Jawabnya, mungkin hati dan pikiran kita yang tidak bersih. Masih menyimpan segudang rasa dendam, marah, benci, iri dan dengki, bahkan buruk sangka kepada orang lain. Masih ada “ganjalan” yang belum dilepaskan. Maka hilangkan ganjalan dan beban itu, dengan cara jadilah pemaaf!

 

Yuk, jadilah pemaaf. Mari bersihkan “sampah-sampah” emosi dan nafsu yang tidak berujung. Buang jauh-jauh pikiran negatif dan cara berpikir yang menyalahkan orang lain. Bahwa apapun yang terjadi adalah sifat manusiawi semata dan atas kehendak Allah SWT. Kembalikan semuanya ke fitrah manusia. Untuk selalu memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

 

 

Jadilah pemaaf, itulah catatan lebaran dari taman bacaan. Agar kita tidak perlu bersusah payah untuk membalas dendam. Cukup maafkan setiap kesalahan orang lain karena memaafkan adalah pembalasan yang terbaik. Sungguh, emosi dan kemarahan hanya membuat kita lebih kecil. Sementara memaafkan menjadikan kita berkembang melampaui diri kita yang sebelumnya. Salam literasi #IdulFitri #HikmahLebaran #TBMLenteraPustaka

 


Jumat, 28 April 2023

Literasi Jalan Tengah, Khairul Umuri Awsathuha

Entah kenapa, kawan saya selalu ingin berada di tengah? Dalam hal apapun, posisinya selalu mencari di tengah. Apalagi dalam urusan foto. Saat saya tanya, kenapa ambil posisi di tengah? Jawabnya, karena di tengah itu indah bahkan nikmat pula.

 

Mungkin ada benarnya. Untuk semua urusan, ambillah posisi di tengah. Karena di tengah lebih netral, lebih normatif. Tidak terlalu ekstrem, tidak pula cuek. Tidak berlebihan tapi tidak kurang pula. Di tengah jadi seimbang, jadi lebih pantas. Tidak terlalu jauh tidak pula terlalu dekat. Biasa-biasa saja. Ambillah posisi tengah karena di tengah itu nikmat lagi indah.

 

Zaman now, terkadang menyeramkan. Urusan politik, urusan kerjaan, urusan apa saja. Banyak orang condong miring ke kiri, condong ke kanan. Jilat sana jilat sini. Hujat sana hujat sini. Benci sini benci sana. Akhirnya, lupa untuk bersikap di tengah-tengah. Lupa bila di tengah-ytenag itu indah lagi nikmat. Jadi tidak netral lagi.

 

Rileks saja, tetaplah di tengah-tengah. Karena cinta dan benci itu silih berganti. Manis dan pahit pun bergiliran. Suka dan duka sering berganti musim. Tidak usah terlalu gembira, tidak usah pula terlalu sedih. Karena semuanya sudah pantas untuk kita. Karena memang tidak ada satu orang pun di dunia ini yang hidupnya senang terus. Seperti tidak ada pula yang hari-harinya sedih melulu. Jadi sekali lagi, rileks saja. Tidak usah merasa terlalu nestapa atau merasa paling bahagia.

 

Tengah-tengah itu indah. Tentu, sebagai jalan tengah. Bila tidak suka ya tidak usah benci melulu. Jika suka pun tidak usah terlalu gembira. Kalah menang itu biasa. Seperti benci dan cinta pun bergantian. Bila tidak mampu berbuat baik ya tidak usah jahat. Bila tidak mampu cinta ya jangan terlalu benci. Sederhana kan. Jadi, tetaplah di tengah karena itu paling pas untuk kita.

 


Tengah itu berarti seimbang. Hidup yang seimbang. Seimbang antara harapan dan kenyataan. Seimbang antara keinginan dan kebutuhan. Seimbang pikiran dan perilaku. Ego versus logika, kemauan versus tuntunan. Semuanya harus dan mesti seimbang. Seperti seimbangnya lahir dan batin, jasmani dan rohani. "Nak, kalau jalan di tengah-tengah saja ya" begitu nasihat orang tua dulu. Biar tidak jatuh bila terlalu kiri, biar tidak tumbang bila terlalu kanan.

 

Cukup di tengah saja. Tidak usah teriak-teriak saat ngomong. Tapi juga jangan terlalu diam. Tetaplah di tengah biar objektif. Karena suara hati yang tengah-tengah itu pasti LIRIH tapi JELAS. Tidak usah terlalu merasa sepi saat lagi sendiri. Dan tidak usah terlalu merasa bangga bila lagi di tempat ramai. Itu semua silih berganti kok. Allah SWT sudah punya rencana jelas untuk siapapun. Jadi, kenapa terlalu bersemangat membenci? Kenapa pula merasa penting mengintimidasi, provokasi, atau ingin menghina sesama? Karena mereka "sudah jauh" dari jalan tengah. Terlalu berlebihan. Terlalu benci, terlalu cinta. Hingga tergelincir ke jalan setan. Jalan menganggap kesalahan sebagai kebenaran.

 

Ada yang tidak suka di tengah. Maka wajar, bila akhirnya gemar "menabrak" apapun. Ugal-ugalan di jalan, bahkan gemar memporak-porandakan yang sudah ajeg. Akibat nafsu, ego, dan sikap tidak mau mengalah. Arogan dan merasa paling benar sendiri. Semua orang lain dianggap salah. Orang yang sudah lupa jalan di tengah. Maka rusaklah persaudaraan, persatuan, toleransi, dan kebhinekaan. Senang bertikai, gemar bersengketa. AKibat lupa jalan tengah.

 

Khairul umuri awsathuha, begitu kata Nabi Muhammad SAW. Sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah. Jadi siapapun, tetaplah di tengah. Agar tetap eling lan waspada. Biar tidak terjebak ke dalam pusaran kegelapan, kejelekan berbalut "semangat kebaikan". Benci itu boleh. Cinta juga boleh. Tapi jangan sampai pikiran picik dan kerdil, kejahatan pikir dan omong "dianggap" sebagai kewajaran.

 

Maka tetaplah di tengah. Berdirilah di tengah. Duduklah di tengah. Agar tetap objektif. Agar tetap seimbang. Karena setiap KEMAUAN pasti ada TUNTUNAN-nya. Karena menang, di tengah-tengah itu indah lagi nikmat. Salam tengah!

Rabu, 26 Mei 2021

Obrolan Literasi Antara Kakek dan Tiga Cucunya

Pertemuan kakek dengan cucu-cucunya di momen Idul Fitri mungkin sudah biasa. Bahkan bukan hanya di lebaran pun lazim terjadi. Tapi apa yang dibicarakan antara kakek dan cucunya, itulah yang jarang dituliskan orang. Lalu apa yang dibicarakan seiarang kakek berusia 76 tahun saat berjumpa dengan ketiga cucunya. Menarik untuk disimak.

 

Sang cucu yang dulu masih kecil, kini beranjak dewasa dan sudah bekerja. Lalu bertanya, “Kek, kenapa sih kita harus hidup sederhana?”

 

Sang Kakek pun tersenyum. Lalu dengan suara parau menjelaskan. Begini cucuku. Sederhana itu sikap, bukan keadaan. Maka siapapun boleh kok bekerja keras untuk jadi kaya. Boleh kok hidup mewah. Punya ini, punya itu. Asal tetap bersikap sederhana. Nafsu meraih kekayaan dan kemewahan itu seringkali diikuti denfan cara yang salah untuk mendapatkannya. Jadi cucuku, tidak ada yang salah bila apa yang kamu peroleh hari ini itu sesuai kemampuanmu. Tapi sangat salah bila diraih dengan cara yang tidak baik.

 

“Kenapa begitu Kek?” tanya sang cucu penasaran.

Iya, pasti semua orang ingin hidup serba ada, serba berkecukupan tanpa kekurangan.

Ingin banyak harta, ingin banyak ilmu, ingin punya jabatan. Bahkan ingin banyak temaa. Atau berpengaruh kepada lingkungan atau orang banyak. Itu sah-sah saja bila mampu melakukannya.

 

Tapi itu semua sangat salah dan tidak ada guna. Bila keinginan itu diraih dengan cara mengganggu kenyamanan orang lain atau menyakitinya. Apalagi harus memfitnah dan ngin menyingkirkan orang lain. Hari ini banyak orang sudah lupa, apa arti menekan, mengancam, menakuti orang lain? Berkata-kata seolah-olah benar. Tapi bertabur kebencian, bahkan kemunafikan di belakangnya.

 

Istilahnya, apapun berani dilakukan. Asal obsesinya tercapai, asal tujuan hidupnya terpenuhi. Itulah orang-orang yang lupa akan Tuhannya. Seolah dia hidup tidak akan mati. Maka cucuku, berhati-hatilah di zaman sekarang. Karena banyak yang salah mengaku benar. Tapi jelas ada yang benar tapi disalahkan beramai-ramai.


 

“Jadi, gimana seharusnya hidup kita kek?” tanya si cucu lagi.

Begini cucuku. Kata Kanjeng Sunan Kalijaga, “Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan, lan kemareman." Itu artinya, jangan terkukung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi semata. Karena hidup bukan hanya tentang memiliki harta, jabatan atau pangkat. Agar dipuji dan disegani orang lain. Bukan pula tentang kekayaan sebagai tolak ukur tingginya martabat diri.

Semua itu hanya soal kepuasan duniawi. Lalu kita lupa. Bahwa kita punya jiwa dan hati nurani yang mungkun terasa berat menyangga harta, pangkat dan kepuasan duniawi itu.

 

Hati-hati cucuku. Di depan mata kita hari ini, itu semua hanya nafsu yang menikmatinya. Maka jangan libatkan hati nurani hingga ternodai pula.

 

Sudah ya cucuku. Segitu saja. Tetaplah kalian hidup untuk selalu merasa cukup, banyak bersyukur terhadap apa yang didapat. Silakan hidup berlebih, silakan raih apa yang bisa kamu raih. Asalkan baik dan benar cara mendapatkannya.

 

Dan setelah Kakek cerita begini. Jangan hanya bilang paham tapi praktikkan ya cucuku. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #PegiatLiterasi #Tamanbacaan #KampanyeLiterasi