Senin, 31 Desember 2018

TBM Edutainment, Cara Beda TBM Lentera Pustaka Kelola Taman Bacaan


"TBM-Edutainment", cara beda TBM Lentera Pustaka kelola Taman Bacaan Masyarakat


Mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tidaklah mudah. Karena faktanya, tidak sedikit taman bacaan masyarakat yang seakan "mati suri", berjalan monoton sehingga seperti "ada tapi tiada". Apalagi di tengah era milenial seperti sekarang, taman bacaan kalah ramai dibandingkan coffee shop atau tepat nongkrong kulineran. Lalu, siapa yang harus peduli terhadap eksistensi taman bacaan masyarakat? Sementara di luar sana, tidak sedikit orang yang mendengungkan akan pentingnya budaya literasi di kalangan anak-anak atau masyarakat. Sungguh, keadaan yang kontraproduktif.

Mengapa taman bacaan masyarakat "mati suri"? Setidaknya ada tiga penyebabnya; 1) buku ada pembaca tidak ada, 2) pembaca ada buku tidak ada, dan 3) komitmen pengelola TBM yang lemah, tidak fokus mengelola taman bacaan.

Maka wajar, Taman Bacaan Masyarakat kian "terpinggirkan" manakala TBM dikelola tanpa kreativitas dan tanpa inovasi. Berangkat dari realitas itu, dibutuhkan cara yang ciamik untuk mengelola taman bacaan masyarakat (TBM). Cara ciamik mengelola TBM bertumpu pada "cara yang beda" dalam mengelola taman bacaan. Artinya, TBM bukan hanya menjadi tempat membaca anak-anak atau masyarakat. Tapi taman bacaan harus bisa menjadi "motor penggerak" aktivitas sosial dan kemasyarakatan di mana taman bacaan beroperasi.  Sebutlah dengan istilah "TBM-edutainment"; tata kelola taman bacaan masyarakat yang memadukan edukasi dan entertainment.


Konsep "TBM-edutainment" inilah yang diterapkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Kp. Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kab. Bogor tepatnya di Kaki Gn. Salak Bogor sepanjang tahun 2018. Di TBM Lentera Pustaka, ada 8 cara ciamik kelola "TBM-Edutainment" taman bacaan masyarakat seperti:

1. Selalu "senam -- salam - doa literasi" sebelum jam baca
TBM Lentera Pustaka memiliki dan selalu melakukan "senam literasi", "salam literasi" dan "doa literasi" sebelum membaca. Seluruh anak-anak dan siapapun yang hadir ikut memberi salam dan bersenam ria sebagai simbol semangat dan motivasi akan pentingnya tradisi baca dan budaya literasi.

2. Selalu ada event bulanan
TBM Lentera Pustaka selalu mengadakan event bulanan dengan menghadirkan "tamu dari luar" untuk ber-interaksi dan memotivasi anak-anak agar rajin membaca. Pengisi acara event bulanan ini bisa pemain band, guru pramuka, pesulap, pendongeng, motivator, dai cilik, pelukis, dan sebagainya. Hebatnya, "tamu dari luar" pengisi acara event bulanan ini tidak dibayar sama sekali, sebagai bentuk kepedulian sosial mereka terhadap peningkatan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak.

3. Pesta "jajajan kampung" gratis
Sebagai apresiasi terhadap anak-anak yang rajin membaca, TBM Lentera Pustaka setiap bulan menggelar pesta "jajanan kampung" gratis. Semua anak yang membaca bisa menikmati jajanan kampung dari pedagang keliling yang lewat sepeti cilok, bakso, cakwe untuk memotivasi agar anak-anak untuk rajin membaca.

4. Laboratorium Baca tiap hari Minggu
TBM Lentera Pustaka selalu menerapkan "Laboratoriun Baca" setiap hari Minggu; sebuah aktivitas membaca di alam (sungai, kebun, jalan, dsb) sambil diajarkan "cara memahami isi bacaan" melalui teknik metaforma yang langsung dipimpin oleh pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka, Syarifudin Yunus.

5. Tersedia WiFi gratis
Setiap hari Sabtu dan Minggu, TBM Lentera Pustaka menyediakan WiFi gratis bagi anak-anak yang rajin membaca. Di samping memberi akses internet, WiFi gratis disiapkan sebagai bagian dari program untuk memberikan pengajaran "internet sehat", di samping sebagai media belajar berbasis internet seperti nonton youtube, googling konten, dan kisah motivasi anak-anak.  

6. Anugerah pembaca terbaik setiap bulan

Setiap bulan, TBM Lentera Pustaka selalu memberikan anugerah "pembaca terbaik bulanan" kepada anak yang rajin datang saat "jam baca" seminggu 3 kali dan mampu memahami isi bacaan dengan baik. Pembaca terbaik selalu mendapatkan "piala khusus" dari TBM Lentera Pustaka.

7. Zona baca hijau "1.000 tanaman polybag"
Untuk menciptakan tempat membaca yang lebih luas, TBM Lentera Pustaka pun melakukan inisiasi "zona baca hijau -- 1.000 tanaman polybag" yang diletakkan di sepanjang jalan menuju TBM dengan tanaman tomat, strawberry dan tanaman lain untuk menciptakan "zona baca hijau", titik baca yang hijau.

8. Mengusung motto #BacaBukanMaen
TBM Lentera Pustaka mengusung motto #BacaBukanMaen, yang berarti  perlunya kesimbangan antara perilaku membaca dan bermain. Bahkan membaca pun dapat menjadi alternative dalam bermain melalui buku-buku yang ada di TBM. Hal ini dilakukan sebagai bagian untuk membentuk budaya "cinta buku cinta bacaan" kepada anak-anak yang selama ini "jauh dari akses buku".


Alhasil, sepanjang tahun 2018, TBM Lentera Pustaka melalui konsep "TBM-edutainment" berhasil meraih capaian yang luar biasa. Terciptanya tradisi baca dan budaya literasi di kalangan anak-anak usia sekolah sebagai antisipasi agar tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah. Adapun capaian TBM Lentera Pustaka hingga Desember 2018 dapat disimak hasilnya sebagai berikut:
No.
INDIKATOR
Des 2017
Des 2018
Capaian
1.
Jumlah Anak
40 anak
110 anak
175%
2.
Anak Pembaca Aktif
24 anak
80 anak
233%
3.
Jumlah Koleksi Buku
900 buku
2.850 buku
216%
4.
Rata-rata jumlah buku dibaca per minggu
1 buku
5-8 buku
500%
5.
Jam Baca Rutin per minggu
2 kali
3 kali
-
6.
Jumlah Anak Baca di Jam Baca Rutin
15 anak
35 anak
133%
7.
Event bulanan menghadirkan “tamu dari luar” untuk berbagi ilmu/keterampilan
-
Setiap bulan
-
8.
Jumlah Petugas Baca
2 orang
2 orang
-
9.
Fasilitas TBM Lentera Pustaka
7 box buku
7 box buku, free wifi, karpet baca
-
10.
Program Motivasi Bulanan

1.    Pembaca Terbaik
2.    Jajan Bulanan
-


"Konsep TBM-Edutainment saya gagas untuk TBM Lentera Pustaka agar mampu menjadikan TBM sebagai center dari edukasi dan entertainment untuk anak-anak. Hal ini sebagai penyesuaian terhadap era digital dan milenial.  Mak harus ada cara yang ciamik untuk menghudipkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah yang ada di sini. Agar tidak ada lagi anak yang putus sekolah" ujar Syarifudin Yunus, Kepala Program TBM Lentera Pustaka yang berprofesi sebagai Dosen Unindra dan tengah menempuh S3 Manajemen Pendidikan di Unpak Bogor.

Lalu, apa pengembangan konsep "TBM-Edutainment" TBM Lentera Pustaka di tahun 2019?
Selalu ada cara yang kian ciamik untuk mengelola taman bacaan masyarakat. Di tahun 2019 nanti, TBM Lentera Pustaka telah menyiapkan kreasi dan inovasi baru sebagai bagian untuk pengembangan taman bacaan. Agar dapat mengundang daya Tarik anak-anak untuk makin rajin dalam membaca. Beberapa program "TBM-Edutainment" tahun 2019 TBM Lentera Pustaka, antara lain:

1. Penyelenggaraan "Gerakan BERantas Buta  aksaRA (GEBER BURA)" bagi ibu-ibu dan bapak-bapak yang buta huruf sebagai bagian pemberantasan buta huruf.

2. Implementasi "Wisata Literasi lentera Pustaka Gn. Salak" sebagai wisata alternative edukasi buat anak-anak dan keluarga yang berbasis membaca buku sambil menyusuri sungai dan kebun di alam terbuka dengan spot-spot foto yang menarik sambil berlatih cara mudah memahami isi bacaan melalui teknik metaforma.

3. PUsat Studi LITerasi MASyarakat (PUSLITMAS) sebagai pusat studi literasi masyarakat akan pentingnya kajian dan riset tentang budaya literasi secara informal (non-sekolah) yang ada di masyarakat.

4. KOmunitas Baca Orang Kampung (KOBAK) sebagai gerakan moral untuk membangun tradisi baca dan budaya literasi orang-orang kampung yang dewasa untuk ikut serta membaca buku. Daripada ngobrol dan nongkrong lebih baik membaca agar dapat membimbing anak-anaknya yang sekolah dengan memadai.

5. Edukasi Literasi Finasial (EDULIF) sebagai bentuk program edukasi literasi keuangan anak-anak setiap bulan. Tujuannya, agar anak-anak mampu mengelola uang secara sederhana, membelanjakan uang berdasarkan "kebutuhan" bukan "keinginan" yang disponsori oleh AJ Tugu Mandiri, AJ Chubb Life Indonesia, dan Perkumpulan DPLK.


Membangun tradisi baca di kalangan anak-anak usia sekolah atau masyarakat memang tidak mudah. Membaca itu kebiasaan langka di era milenial. Apalagi ditambah himpitan ekonomi dan puluhan tahun tanpa akses bacaan seperti taman bacaan masyarkat. Maka TBM Lentera Pustaka mengajak semua pihak untuk lebih peduli terhadap tradisi baca dan budaya literasi. Karena hanya dengan membaca, kita dapat ikut serta menyelamatkan masa depan anak-anak.

Melalui buku dan perilaku membaca, TBM Lentera Pustaka bertekad "tidak ada lagi anak yang putus sekolah" sehingga tercapai ketuntasan belajar hingga jenjang SMA.
"Taman bacaan masyarakat adalah momentum semua pihak untuk ikut berbuat menyiapkan masa depan anak-anak yang lebih baik dari orang tuanya. Maka, semua pihak harus turun tangan dan mau menjadi relawan di taman bacaan. Mari ubah niat baik jadi aksi nyata yang berguna bagi masyarakat" tambah Syarifudin Yunus.

Jangan bilang kita cinta anak, bila tidak ada aksi nyata. Karena cinta bukan hanya serpihan ludah yang terpancar dari lisan semata. Tapi cinta itu  tentang pengabdian dan kepedulian yang tertumpahkan tanpa henti sepanjang masa. Baca, baca, dan bacalah ...

Jangan pernah menyerah mengelola taman bacaan masyarakat. Karena selalu ada cara ciamik yang kreatif dan inovatif untuk menjadikan taman bacaan masyarakat selalu menarik dan pantas untuk anak-anak. 

Sungguh, hanya butuh optimisme dan sikap positif dalam membangun tradisi baca dan budaya literasi anak-anak kita. Salam Literasi #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen #BudayaLiterasi


Minggu, 30 Desember 2018

Tetaplah Bergandengan Tangan; Pesan Akhir Tahun Seorang Ayah kepada Anaknya


Nak, di penghujung tahun ini tetaplah bergandengan tangan.
Gandengan tangan, menggenggam tangan satu sama lainnya. Itu sudah cukup bermakna.
Walau hari ini selalu ada banyak tafsir tentang gandengan tangan? Entah kenapa …

Gandengan tangan.
Ada yang bilang lagi pacaran, ada yang bilang sebagai tanda kasih sayang. Mungkin juga tanda cinta. Tapi satu yang paling lazim, bergandengan tangan pasti antara cowok dan cewek. Seperti kamu dan adikmu, yang selalu bergandengan tangan saat jalan di muka umum.

Gandengan tangan itu sah-sah saja, Nak.
Sejauh atas niat yang tulus. Atau ingin menunjukkan kasih sayang. Bahkan rasa cinta sekalipun. Intinya, bergandengan tangan bila terjadi secara alamiah itu tanda ada koneksi, ada harmoni. Walau belakangan, ada juga orang yang “bergandengan tangan” sebagai wujud formalitas dalam sebuah relationship.

Tapi ingat Nak, gandengan tangan; genggaman tangan.
Bukanlah tanda “selalu” saling terikat. Apalagi tidak mau lepas satu sama lainnya. Karena gandengan tangan bukan berarti kita harus mencurahkan seluruh hidup kepada orang yang dicintai. Itu tidak bagus, terlalu berlebihan dan malah bisa berdampak buruk.  Bukan pula posesif atau insecure. Gandengan tangan, apa adanya saja, adalah anugerah Allah SWT. Momentum untuk saling melindungi, saling menghargai untuk menggapai “arah dan tujuan” yang sama.

Karena dengan bergandengan tangan Nak; kamu makin paham arti kebersamaan, untuk tidak memaksakan kehendak pribadi. Tapi untuk “jalan bersama” bukan jalan masing-masing. Agar lebih mudah mencapai tujuan bersama sekalipun di tengah perbedaan.

Karena perbedaan, sekalipun kalian adik-kakak, pasti ada. Berbeda itu anugerah, tidak sama satu sama lainnya itu kodrat. Namun dengan tetap bergandengan tangan, tiap perbedaan dapat dicari “titik temu”. Persis seperti yang dialami Negara ini, yang sedang hingar-bingar akibat pilpres nanti. Biarlah perbedaan itu jadi “aset besar” untuk saling melengkapi satu sama lainnya. Sambil tetap berjalan bersama-sama menuju tujuan yang lebih mulia, yang lebih besar.


Maka di saat kalian bersama, tetaplah bergandengan tangan Nak.
Karena di negeri yang baik dan indah ini, jangan pernah berniat menghapus air mata dengan tisu. Tapi hapuslah dengan genggaman tangan yang kalian punya, untuk selalu bergandengan tangan.

Bergandengan tangan-lah.
Agar kita tetap bisa melihat “kelemahan” dari semua yang kita cintai. Agar kita tetap bisa melihat “kelebihan” dari semua yang kita benci. Agar tetap objektif dan transparan.

Ingat Nak, ujian tersulit dalam kebersamaan dan harmoni itu hanya satu. Yaitu, tetap bergandengan tangan walau tidak sepakat …
Dan yang paling penting Nak, jangan gandengan tangan dengan sesama jenis. Apalagi gandengan tangan cuma kelingking doang... karena itu aneh.

Ini hanya pesan akhir tahun dari seorang ayah untuk anak-anaknya.
Selamat bergandengan tangan, Nak. SELAMAT TAHUN BARU 2019.


Pesan Tahun Baru 2019 by TBM Lentera Pustaka


Pesan Tahun Baru 2019 by TBM Lentera Pustaka

HARI INI ADALAH HARI TERAKHIR DI TAHUN 2018.....
ESOK PUN TAHUN 2019 TIBA, MENJADI KERTAS PUTIH
DALAM LEMBARAN BUKU YANG HARUS DIBACA LALU DITULIS
OLEH KITA SENDIRI

YANG LALU, BIARLAH BERLALU. BUANGLAH SEMUA:
SAKIT HATI, KEBENCIAN, IRI HATI, DENDAM ,KEMARAHAN, KEKECEWAAN, DAN KESEDIHAN
Biarlah semua TERBENAM bersama MATAHARI TERAKHIR TAHUN 2018

KINI, SAMBUTLAH FAJAR MEBUNYINGSING DI TAHUN 2019
DENGAN SEMANGAT BARU, OPTIMISME DAN HARAPAN DARI ALLAH SWT
RAIH YANG AKAN DATANG. DAPATKAN SEMUA:

1 TAHUN KEBAHAGIAAN, 12 BULAN KEDAMAIAN, 365 HARI KEGEMBIRAAN, 8760 JAM KASIH SAYANG,
525.600 MENIT CINTA DAN PERSAHABATAN DALAM JEJAK KEBAIKAN
Biarlah semua TERIT bersama MATAHARI HARAPAN TAHUN 2019

Perbanyak Bacaan, Dikitkan Keraguan
Besarkan Kebersamaan, Kecilkan Kemarahan 
Ubah Harapan Jadi Kenyataan
Untuk Sebuah KEBAIKAN di DEPAN

TANPA BACA KITA MERANA - #BACANUKANMAEN
SELAMAT TAHUN BARU 2019


Riska, Secuil Kisah Anak Yatim Juara 3 Tahfidz dari TBM Lentera Pustaka


Harus diakui, zaman now tidak banyak anak-anak yang pandai membaca Al Quran. Kenapa? Sebagian menjawab karena malas, sebagian lagi bilang sangat sulit. Bahkan yang paling banyak bilang tidak punya waktu. Sudah pasti, alasan apapun terlalu mudah untuk dicari. Padahal bagi umat Islam, hanya di Al Quran ada petunjuk untuk hidup di dunia, ada pahala yang besar. Dan membaca Al Quran, yang paling penting, pasti mendatangkan kebaikan.

Berangkat dari realitas itu, saya menuliskan catatan ini. Sebagai bentuk apresiasi dan sekaligus “cara mudah dimudahkan segala urusan” akibat kita senang membaca Al Quran. Adalah Riska Nurul Fajirin, anak yatim kelas VI SD yang selama ini aktif dan rajin membaca di TBM Lentera Pustaka berhasil menggaet Juara III Lomba Tahfidz “Hisbah Ceria Season 2 – Menciptakan Generasi Muda Robbani” yang diselenggarakan Yayasan Al Hisbah Bogor pada 30 Desember 2018.

Di usia 12 tahun, Riska mampu bersaing dengan 30 peserta lomba tahfidz yang ada. Sebagai juara 3, dia berhak memeproleh hadiah berupa uang R. 75.000 + piala + piagam. Tentu jangan dilihat dari hadiahnya. Tapi ini sinyal bahwa anak-anak yang mampu membaca Al Quran apalagi hafal, adalah penyelamat kehidupan dunia yang kian hingar-bingar.  Silakan dicek, di balik musibah tsunami di Selat Sunda, bahkan di Palu dan Aceh dulu, pasti ada anak-anak yang diselamatkan Allah SWT karena mereka “tercatat dalam keseharian” rajin membaca Al Quran, termasuk hafiz atau penghafal Al Quran.


Maka TBM Lentera Pustaka yang terletak di Kp. Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kab. Bogor merasa penting untuk mengangkat kisah Riska, 12 tahun yang sekitar pertengahan tahun 2018 lalu baru saja ditinggalkan ayahnya. Kini Riska seorang anak yatim. Sejak TBM Lentera Pustaka berdiri November 2017 lalu, Riska adalah anak yang aktif dan rajin membaca di TBM. Bahkan ia sempat menyabet “pembaca terbaik” TBM Lentera Pustaka pada Maret 2018 lalu. Atas ketekunan dan kerajinannya untuk selalu hadir pada jam baca tiap Rabu sore, Jumat sore, dan Minggu pagi.

Harus diakui, mencetak anak-anak yang pandai membaca Al Quran tidaklah mudah. Bahkan mencetak anak yang hafal Al Quran pastinya sangat sulit. Di samping butuh kemauan dan niat yang tulus, anak yang gemar membaca Al Quran harus didukung oleh lingkungan dan keluarga yang “getol” membaca Al Quran. Inilah salah satu pentingnya membangun “budaya literasi” di sebuah lingkungan, di sebuah wilayah. Agar anak-anak rajin membaca, termasuk membaca Al Quran.

Khusus untuk Riska, kemampuan membaca Al Quran dan menjadi seorang hafiz, apalagi dalam keadaan sebagai anak yatim sudah pasti “kebiasaan” hari-harinya tidak sama dengan anak-anak lainnya. Di samping rajin sholat, keseharian Riska pasti dekat dengan kebiasaan membvacxa Al Quran di rumah di madrasah, membantu Ibu di rumah, membimbing adik-adiknya di rumah, membaca di TBM Lentera Pustaka hingga rajin belajar. Perilaku anak-anak zaman now seperti Riska inilah yang sudah langka.

"Saya menuliskan kisah tentang Riska, sebagai rasa syukur dan bangga. Karena setidaknya, kehadiran TBM Lentera Pustaka telah membuatnya berani tampil di muka umum dalam lomba tahfiz. Alhamdulillah, dia bisa meraih Juara 3. Ini prestasi anak kampung yang patut diapresiasi. Sederhana tapi harus ada yang mau mempromosikannya” ujar Syarifudin Yunus, Kepala Program TBM Lentera Pustaka yang sangat bergembira saat mendapat kabar ini.

Zaman boleh maju. Tapi sayang, peradaban dan sikap cinta kepada dunia pun makin menggila. Hingga akhirnya, berapa banyak anak-anak dan orang dewasa yang kian “menjauh” dari Al Quran. Manusia sering lupa, kehidupan dunia bukanlah tujuan tapi “jembatan” untuk menuju kehidupan yang abadi di akhirat. Oleh karena itu, ibadah wajib termasuk ibadah membaca Al Quran harus mampu mengimbangi kehidupan dunia yang kian fana.

Inilah momentum penting untuk “menghidupkan kembali” anak-anak kita untuk dekat dengan Al Quran; membacanya lalu mengahfalnya. Alasannya sederhana, karena hebatnya keutamaan membaca Al Quran. Mungkin kita lupa, Membaca Al Quran adalah perdagangan yang tidak pernah merugi. Satu huruf AL Quran yang dibaca. Selain itu, membaca Al Quran bagaimanapun akan mendatangkan kebaikan dan syafaat yang luar biasa. Dan yang paling penting, salah satu ibadah paling agung di mata Allah SWT adalah membaca Al Quran. Karena dengan membaca Al Quran, siapapun tidak akan sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat.

Maka, jadikanlah membaca Al Quran sebagai tradisi. Budaya literasi untuk membaca, membaca buku pengetahuan dan membaca Al Quran. Agar mendapat petunjuk dan tuntunan, bagaimana seharusnya kita “hidup” di dunia yang sementara ini?

Bukan hanya dimuliakan oleh Allah SWT, membaca Al Quran sevara terus-menerus dan setiap hari pada akhirnya pun mampu menyelamatkan kedua orang tua, seperti apa yang dilakukan Riska si anak yatim. Bahkan lebih dari itu, bila suatu wilayah atau keluarga ingin terbebas dari masalah di dunia dan mendapatkan anugerah Allah SWT yang tiada berbatas, menurut saya, resepnya hanya satu: “rajin-rajinlah membaca Al Quran”.

Semangat budaya literasi inilah yang menjadikan TBM Lentera Pustaka ingin berbuat lebih banyak kepada masyarakat dan anak-anak usia sekolah. Oleh karena itu, TBM Lentera Pustaka mengusung motto #BacaBukanMaen agar anak-anak “selalu dekat dengan buku”. Bahkan kini, TBM Lentera Pustaka pun telah memulai GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBER BURA) sebagai ikhtiar untuk membebaskan ibu-ibu dan bapak-bapak dari buta hurif. Sederhana saja, agar mereka bisa membaca Al Quran atau terjemahannya saat di bulan puasa.
Ini hanya secuil kisah anak yatim dari TBM Lentera Pustaka, Riska namanya yang berhasil meraih Juara 3 Tahfiz. Sementara anak-anak lainnya, tiap malam sibuk memegang remote televisi menonton acara yang tidak bermanfaat. Sementara anak-anak lain lebih senang nongkrong yang tidak ada gunanya. Mengapa kita tidak menyuruh anak-anak kita untuk rajin membaca Al Quran bila tahu kehebatan manfaatnya?

Semoga anak-anak kita, anak-anak TBM Lentera Pustaka kian rajin membaca. Karena dengan membaca, Allah akan memberi kekuasaan di tangan kanan dan kekekalan di tangan kiri. Dan di atas kepala akan dipasang “mahkota perkasa” yang harganya tidak dapat dibayar oleh seluruh penghuni dunia sekalipun.
Maka budaya literasi, harus terus tumbuh dan bersemayam di anak-anak kita. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? …. Salam Literasi  #BudayaLiterasi #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka