Sabtu, 25 April 2020

Peduli Literasi Anak, TBM Lentera Pustaka Gelar "Ngabubu-Read" Selama Puasa


Peduli Anak Di Tengah Wabah Covid-19, TBM Lentera Pustaka Selenggarakan “Ngabubu-Read” Bulan Puasa.

Bulan suci Ramadhan 1431 H telah tiba, bulan puasa telah menghampiri kita. Sementara anak-anak  kampung usia sekolah di Kaki Gunung Salak Bogor sudah 1 bulan “belajar di rumah”. Akibat wabah covid-19 yang tak kunjung usai. PSBB masih diberlakukan. Sementara netizen, masih sibuk berdebat soal kata “mudik” dan “pulang kampung”. Lalu, siapa lagi yang peduli anak-anak kampung?

Maka kini, TBM Lentera Pustaka pun memberanikan diri untuk menggelar program “NGABUBU-READ” di bulan puasa. Agar anak-anak kampung itu tetap dapat membaca saat sedang puasa. Karena sebelumnya, TBM Lentera Pustaka pun “lockdown” alias tutup sementara akibat wabah Covid-19. Melalui “Ngabubu-Read”, TBM Lentera Pustaka membuka diri di sore hari pukul 16.00-17.30 WIB agar anak-anak tetap membaca sambal menunggu azan Maghrib. Daripada main atau nongkrong. Asal tetap menggunakan masker dan menjaga jarak saat membaca.

Intinya, NGABUBU-READ di bulan puasa. Untuk memotivasi anak-anak agar tetap membaca dan mengaji di bulan puasa. Sekaligus berdoa agar wabah Covid-19 segera berakhir di Indonesia. Tiap hari Rabu-Jumat-Sabtu, anak-anak kampung itu pun tetap membaca. Bahkan di hari Sabtu, TBM Lentera Pustaka pun menyediakan “takjil buka puasa” yang dapat dibawa pulang setelah membaca. Cara inilah yang ditempuh TBM Lentera Pustaka agar anak-anak tetap dapat akses buku bacaan, di samping memelihara tradisi baca yag sudah terbentuk dalam 3 tahun terakhir ini. Agar semangat baca anak-anak tidak punah.
"NGABUBU-READ TBM Lentera Pustaka ini digelar agar anak-anak tetap punya waktu membaca. Apalagi di bulan puasa, sekalipun ada wabah virus corona. Daripada main lebih baik membaca buku sambil menunggu waktu buka puasa. Selain membaca, mereka pun mengaji di taman bacaan" ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak.


Untuk diketahui, TBM Lentera Pustaka saat ini memiiki 60 anak usia sekolah yang menjadi pembaca aktif. Tiga kali seminggu membaca dan mampu menghabiskan 5-10 buku per minggu pe anak. Sebuah tradisi baca yang sudah terbentuk selama ini. Dalam kesempatan ini pula, TBM Lentera Pustaka membuka kampanye “DONASI BUKU BACAAN #DiRumahAja”. Agar para masyarakat yang peduli taman bacaan mau dan bersedia mendonasikan buku bekasnya ke taman bacaan. Mumpung lagi #DiRumahAja. Karena TBM Lentera Pustaka pun kini membantu taman bacaan lain akan buku bacaan, sperti TBM di Kab. Bulungan Kalimantan Utara dan TBM di Surade Sukabumi.

Melalui program "NGABUBU-READ", TBM Lentera Pustaka mengimbau seluruh pihak, orang tua dan masyarakat untuk peduli terhadap kebiasaan membaca anak-anak di rumah. Karena membaca dapat menumbuhkan kejujuran anak dan membuat mereka memegang nilai-nilai positif di tengah gempuran era digital seperti sekarang.

Sebagai satu-satunya taman bacaan resmi di Kec. Tamansari Kab. Bogor, TBM Lentera Pustaka bertekad untuk terus membangun tradisi baca di kalangan anak-anak usia sekolah. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi. Agar terhindar dari ancaman putus sekolah.

Marilah kita ambil bagIan dan terlibat aktif dalam membangun tradisi baca anak-anak di tengah gempuran era digital. Tidak perlu pula memperdebatkan soal “mudik” atau “pulang kampung”. Karena Pendiri TBM Lentera Pustaka yang tinggal di Tangerang Banten pun mengakui. Bahwa Kaki Gunung Salak Bogor bukan kampung halaman, bukan pula tempat mudik yang sesaat. Tapi tiap minggu, pendiri TBM Lentera Pustaka selalu datang dan hadir ke Kaki Gunung Salak. Tentu, demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi anak-anak kampung. Aksi nyata kepedulian teradap taman bacaan, bukan sekadar niat baik semata.

Mulailah peduli pada taman bacaan.
Karena sedikit tindakan itu tetap lebih bernilai daripada banyak khotbah. Mari berbuat, bukan berceloteh … #TBMLenteraPustaka #BudayaLiterasi #BacaBukanMaen #Ngabubu-Read


Rabu, 22 April 2020

Pengakuan Seorang Pegiat Literasi (Catatan Hari Buku Sedunia 23 April)


Sebuah “pengakuan” di Hari Buku Sedunia, hari ini 23 April 2020. Persis jelang 1 Ramadhan 1441 H, bulan puasa. Bulannya kaum muslim untuk menahan diri, memperbanyak ibadah.

Pengakuan, bisa jadi hal yang paling langka di dunia ini. Hari-hari belakangan ini.
Sebuah keberanian, bagi siapapun, untuk mengaku atau mengakui. Mengaku tentang apa saja. Tentang cara atau perbuatan untuk mengaku, dalam hal apapun. Sesuatu yang harus diakui, megakui realitas yang terjadi. Sebut saja sebuah pengakuan.

Siapapun, harus mengakui. Hingga hari ini tidak kurang dari 568 hoaks atau kabar bohong terkait Covid-19 telah beredar. Covid-19 bukan dicegah atau disembuhkan. Tapi di-eksplor jadi bahan kebohongan. 1 dari 2 orang Indonesia pun kini punya akses terhadap internet. Tapi sayang, tradisi bacanya tidak lebih dari 1 jam sehari. Sementara berselancar di dunia maya bisa 5,5 jam sehari. PSBB akibat wabah virus corona Covid-19 pun sudah diterapkan. Tapi keramaian dan lalu-lalang masih ada di jalanan, di tempat nongkrong. Mudik sudah dilarang tapi pemudik terus mengalir. Hingga semua bingung, gimana kita seharusnya sebagai bangsa? Sungguh, semua itu harus diakui. Sebuah pengakuan yang harus diakui.

Sebuah pengakuan lagi.
Hari ini #DiRumahAja tapi hati galau, pikiran bete. Persis seperti orang yang puyeng tapi berlagak tenang. Iya, seperti orang gak punya duit tapi bergaya selangit. Seperti kaum jomblo yang sibuk ingin berduaan. Seperti orang serius kuliah tapi pas ditanya tidak tahu apa-apa. Orang-orang yang merasa peduli. Tapi tidak berbuat apa-apa, tidak pernah terjun ke lapangan untuk peduli. Ibarat “orang yag memegang buku tapi tidak pernah dibacanya”. Realitas itu harus diakui, sebuah pengakuan.

Sebuah pengakuan. Entah, kenapa sulit sih untuk mengakui kekurangan dalam diri? Kenapa harus sulit meminta maaf bila terjadi kesalahan? Dan kenapa pula harus membenci pada orang yang tidak seharusnya dibenci? Tanya kenapa? Itu sebuah pengakuan.

Suatu kali. Ada orang-orang pintar ngobrol di kedai kopi. Orang-orang hebat ngobrol bareng. Lalu, mereka bilang gini “Kenapa ya, bangsa Indonesia yang kaya raya gini kok penduduknya masih banyak yang miskin?”

Buat saya, itu obrolan orang keder. Karena mereka yang ngobrol, lalu mereka yang tanya pula. Tapi anehnya, tidak ada yang bisa menjawab. Padahal jawabannya sederhana. Karena mereka tidak mau mengakui bahwa mereka itu tidak bisa ngapa-ngapain. Mereka yang banyak bicara tapi sangat sedikit berbuat.

Maka mumpung mau puasa. Harus diakui, momen pengakua telah tiba.
Bahwa orang kalah itu bukan berarti salah. Orang tidak sepaham itu bukan berarti benci. Tidak akrab itu bukan musuh. Lagi pula, urusan surge atau neraka itu atas kehendak Allah SWT. Bukan karena pikiran atau sangkaan manusia. Entah, kenapa sulit mengakui?


PENGAKUAN itu penting.
Seperti adanya Hari Buku Sedunia, 23 April ini.  Hari yang ditetapkan untuk mengakui bahwa membaca itu penting. Budaya literasi harusnya jadi bagian hidup setiap anak manusia. Pentingnya buku-buku yang bukan hanya dipajang atau ditumpuk. Tapi dibaca dan diterapkan ilmunya. Sebuah pengakuan terhadap tradisi baca dan budaya literasi. Agar jangan ada lagi hoaks, jangan ada ujaran kebencian. Dan jangan ada hujatan tanpa ada perbuatan baik. Bak tubuh tanpa jiwa, itu persis Seperti ruangan tanpa buku; hidup tanpa baca.

Sebuah pengakuan. Untuk introspeksi diri, muhasabah diri.
Bahwa kita tidak lebih baik dari orang lain yang disangkakan. Bahwa tidak sama itu bukan berarti tidak boleh beda. Bahwa hidup itu atas apa yang kita perbuat bukan atas yang kita omongkan. Untuk apa berbanyak-banyak dalam keburukan. Lebih baik sendiri dalam kebaikan. Itulah sebuah pengakuan.

Di bulan puasa tahun ini, saat wabah virus corona Covid-19 merebak.
Harus diakui, banyak hal yang harus terus diperbaiki. Sebagai diri, sebagai lingkungan maupun sebagai bangsa. Untuk berpikir lebih positif dan berbuat baik. Bukan berpikiri negatif dan tidak ada yang diperbuat. Ubah niat baik jadi aksi nyata. Walau hanya membaca buku #DiRumahAja.

Sebuah pengakuan, itulah catatan penting Hari Buku Sedunia.
Untuk tetap membangun tradisi baca dan budaya literasi. Untuk selalu membersihkan hati, meningkatkan iman. Karena tidak ada iman yang baik tanpa hati yang bersih. Bahwa baik dan buruk manusia itu bukan dilihat dari penampilan atau omongan. Tetapi dilihat dari hatinya.

Jadi kerjakan saja yang seharusnya dikerjakan.
Sungguh, pengakuan itu lebih terhormat daripada mencari pembenaran. Karena pengakuan itu bukan mencari kesalahan orang lain. Tapi mengakui kesalahan diri sendiri. Bahwa kita mengakui diri kita apa adanya, bukan berjuang menjadi seperti yang ingin diakui orang lain… tabik #HariBukuSedunia #BudayaLiterasi #BulanPuasa #PegiatLiterasi


  

Selasa, 21 April 2020

Nasehat Bapaknya Najwa Buat Anaknya

Tulisan bertajuk “Nasehat Bapaknya Najwa Buat Anaknya” belakangan menjadi viral di sejumlah platform media sosial. Netizen merasa tulisan Prof. Dr. Quraish Shihab, yang juga dikenal sebagai ayah dari Najwa Shihab tersebut sangatlah menginspirasi.

Berikut ini adalah tulisan mantan Menteri Agama yang sangat menginspirasi netizen:

"Keberuntungan” kadang memainkan perannya dalam kehidupan manusia, sekalipun kerap tidak masuk akal. Karena itulah takdir mereka.
Boleh jadi keterlambatanmu dari suatu perjalanan adalah keselamatanmu. Boleh jadi tertundanya pernikahanmu adalah suatu keberkahan. Boleh jadi dipecatnya engkau dari pekerjaan adalah suatu maslahat.
Boleh jadi sampai sekarang engkau belum dikarunia anak itu adalah kebaikan dalam hidupmu. Boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi ternyata itu baik untukmu, karena Allah Maha Mengetahui Sedangkan engkau tidak mengetahui.

Sebab itu, jangan engkau merasa gundah terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu, karena semuanya sudah atas izin Allah. Jangan banyak mengeluh karena hanya akan menambah kegelisahan.

Perbanyaklah bersyukur, Alhamdulillah, itu yang akan mendatangkan kebahagiaan. Terus ucap alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.
Selama kita masih bisa tidur tanpa obat tidur, kita masih bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara, kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita, itu pertanda bahwa kita hidup sejahtera.

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, ucapkan sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Jangan selalu melihat ke belakang karena disana ada masa lalu yang menghantuimu. Jangan selalu melihat ke depan karena terkadang ada masa depan yang membuatmu gelisah. Namun lihatlah ke atas karena di sana ada Allah yang membuatmu bahagia.

Tidak harus banyak teman agar engkau menjadi populer, singa sang raja hutan lebih sering berjalan sendirian. Tapi kawanan domba selalu bergerombol. Jari-jari juga demikian; kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, semuanya berjajar bersampingan kecuali jari jempol dia yang paling jauh diantara keempat itu.

Namun perhatikan engkau akan terkejut kalau semua jari-jari itu tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya jempol yang sendiri yang jauh dari mereka.

Karena itu, sebenarnya yang diperhitungkan bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu akan tetapi banyaknya cinta dan manfaat yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka.

Menyibukkan diri dalam pekerjaan akan menyelamatkan dirimu dari tiga masalah; yaitu kebosanan, kehinaan, dan kemiskinan.
Aku tidak pernah mengetahui adanya rumus kesuksesan, tapi aku menyadari bahwa “rumus kegagalan adalah sikap asal semua orang”.

Teman itu seperti anak tangga, boleh jadi ia membawamu ke atas atau ternyata sebaliknya membawamu ke bawah, maka hati-hatilah anak tangga mana yang sedang engkau lalui.

Hidup ini akan terus berlanjut baik itu engkau tertawa ataupun menangis, karena itu jangan jadikan hidupmu penuh kesedihan yang tidak bermanfaat sama sekali.

Berlapang dadalah, maafkanlah, dan serahkan urusan manusia kepada ALLAH, karena engkau, mereka, dan kita semua, semuanya akan berpulang kepada Nya.

*Jangan Tinggalkan Sholatmu Sekali pun. Karena di sana, jutaan manusia yang berada di bawah tanah, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah SWT walau sekali sujud*

Jangan selalu bersandar pada cinta, karena itu jarang terjadi. Jangan bersandar kepada manusia karena ia akan pergi. Tapi bersandarlah kepada Allah SWT, Tuhan YME, karena Dialah yang menentukan segala nya.

Demikian tulisan Prof. Dr. Quraish Shihab untuk Najwa.

Senin, 20 April 2020

Renungan Hari Kartini, Emansipasi Itu Sikap Bukan Ambisi


Siapa sih yang gak kenal Ibu RA Kartini? Semua pasti kenal la yauw.
Ibu Kartini itu pejuang emansipasi wanita. Persis seperti Siti Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW juga demikian. Sama-sama berjuang untuk martabat wanita. Ibu Kartini dan Siti Aisyah, sama-sama beragama Islam dan mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan wanita. Walau keduanya juga bersuamikan seorang tokoh yang menjalani poligami. Cuma bedanya, Ibu Kartini berjuang di ranah budaya, sementara Siti Aisyah di ranah agama. Dan keduanya hidup di zamannya masing-masing.

Hebatnya hari ini. Apa yang diperjuangkan Ibu Kartini sejatinya sudah kelar. Emansipasi dan kesetaraan gender sudah tidak jadi isu. Buat siapapun, bahkan di bangsa Indonesia. Karena wanita dan pria sudah sama. Persamaan hak telah usai, emansipasi pun sudah jadi kenyataan.

Tapi sayangnya, di zaman now. Emansipasi pun sudah bergeser. Bahkan salah kaprah dalam tafsir dan perilaku. Sehingga kebablasan. Emansipasi bukan lagi values atau nilai-nilai. Tapi emansipasi dianggap “harga” dan sebuah status. Feminisme hanya sebatas gerakan. Hingga gak sedikit kaum wanita yang terjebak pada gaya hidup dan mengejar ekspektasi sosial. Coba deh dicek realitasnya.

Maka buat saya, emansipasi itu harusnya sikap. Bukan ambisi. Emansipasi yang orientasinya ditanam ke dalam diri, bukan dikejar ke luar diri. Sekali lagi, emansipasi itu sikap, bukan ambisi. Karena sikap itu cerminannya ada pada perbuatan yang berdasar pendirian, keyakinan. Sementara ambisi hanya keinginan berupa hasrat atau nafsu untuk menjadi sesuatu. Perilaku yang ngotot meraih status, pangkat atau kedudukan untuk mengangkat ekspektasi sosial.

Di zaman now, emansipasi wanita sama sekali bukan isu lagi.
Kartini zaman now sudah banyak yang pergi pagi pulang malam. Kartini yang bekerja, bahkan jadi tulang punggung keluarga. Atau biasa disebut wanita karier. Kartini hari ini ada di berbagai sektor, di berbagai profesi. Kartini sudah sangat setara dengan Kartono; Wanita pria sudah sama saja. Tidak ada lagi perbedaan. Itu realitas.

Segala urusan tentang wanita harus diatur, harus dibela. Makanya ada "Menteri Urusan Wanita" dulu. Sekarang namanya "Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak". Sangat jelas, perempuan harus berdaya dan harus melindungi anak.

Catatan sejarah sudah membuktikan.
Kartini itu wanita hebat. Seperti juga Tjut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan Martha Tiahahu. Di peradaban Islam, ada pula perempuan hebat seperti Siti Hajar yang tangguh, Siti Aisyah RA dan Zulaikha yang solehah. Tapi ada kisah wanita-wanita sesat seperti Wahilah istri Nabi Nuh AS dan Wa’ilah istri Nabi Luth AS.


Jadi apa artinya Hari Kartini?
Artinya, kaum Kartini harus tetap mawas diri. Tetap eling lan waspada. Harus lebih hati-hati, seperti menghadapi wabah virus corona Covid-19. Jangan gampang marah apalagi panik. Tetap jaga jarak dan menghindari kerumunan. Gak boleh sombong karena Covid-19 itu mematikan. Rajin jangan hanya “di luar”, tapi rajin pula “di dalam”. Dalam segala hal tentunya….

Karena fakta hari ini. Menjadi wanita yang sukses, wanita yang pintar dan wanita yang kaya nyata-nya tidaklah susah. Tapi untuk menjadi wanita yang solehah, wanita yang bersyukur, wanita yang sabar itu sama sekali tidak mudah. Wanita yang sadar bahwa "ada di dunia" untuk "tetap ada di akhirat".

Kartini ya kartini. Wanita ya wanita. Maka butuh sikap, bukan hanya ambisi.
Karena berapa banyak wanita hari ini yang gampang lupa kewajibannya. Akibat mengejar urusan dunia. Berapa banyak wanita yang hebat dalam pendidikan dan karier. Tapi di saat yang sama gagal mengemban amanah. Entah sebagai ibu atau istri di rumahnya.

Kartini zaman now. Emansipasi itu bukanlah pemberontakan wanita terhadap kodrat kewanitaannya. Bukan pula berjuang untuk setara di satu sisi. Tapi salah guna membebaskan diri di sisi lain. Emansipasi bukan itu. Emansipasi bukan wanita sibuk yang akhirnya membiarkan anak-anak kesepian. Atau terjebak narkoba. Bukan pula anak-anak yang mudah dicaci maki karena ibuny merasa sudah berjuang mati-matian untuk anaknya. Maka bila hari ini, masih ada anak-anak yang "terluka hatinya" karena ibu mereka. Itu tanda bahwa Kartini hanya sebatas ambisi bukan sikap.

Emansipasi itu sikap bukan ambisi.
Maka jangan pernah ada. Kaum wanita yang berani berkata "ya" untuk orang lain. Tapi berkata mudah berkata “tidak” untuk keluarganya. Kartini memang harus bahagia. Tapi bukan hanya di dunia. Harus berjuang hingga ke akhirat. Karena bahagia itu perjuangan yang direstui oleh Tuhan. Bukan perjuangan berdasar ambisi atau obsesi.

Pesan penting Hari Kartini. Adalah membangun sikap bukan mengokohkan ambisi. Karena emansipasi adalah sikap bukan ambisi. Salam sayang dari Kartono... tabikk. #SelamatHariKartini

Minggu, 19 April 2020

TBM Lentera Pustaka Bagikan Warga Masker dan Mie Instan di Masa Covid-19


Peduli sosial, bisa jadi spirit itu yang perlu dihidupkan di tengah merebaknya wabah virus corona seperti sekarang. Karena terbukti, wabah ini telah melumpuhkan ekonomi rumah tangga banyak orang. Tidak terkecuali warga di sekitar TBM Lentera Pustaka di Kampung Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kab. Bogor. Mereka yang sehat secara fisik dan mengikuti imbauan untuk #DiRumahAja. Tapi ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kian sulit. Sungguh, siapa bilang ada bantuan sosial di Kaki Gunung Salak Bogor?

 

Maka berangkat dari keadaan itulah, TBM Lentera Pustaka hari Minggu, 19 April 2020 menggelar aksi “Taman Bacaaan Peduli Sosial” dengan berbagi sedekah mie instan - masker - beras kepada 50 keluarga anak-anak pembaca aktif dan ibu-ibu warga buta aksara di sekitar taman bacaan yang terletak di Kaki Gunung Salak. Semua sedekah yang diberikan merupakan donasi dari sahabat-sahabat TBM Lentera Pustaka yang peduli terhadap keadaan sesama di masa-masa sulit sekarang ini.

 

Semangat filantropi memang harus lebih banyak dan sering digaungkan. Apalagi di tengah wabah virus corona yang belim tahu akan berakahir. Sekalipun lagi #DiRumahAja, siapapun tidak boleh kehilangan cinta untuk berbagi dan peduli kepada sesama. Sebagai aksi nyata untuk peduli meringankan beban hidup saudara-saudara kita di kalangan masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Sebuah semangat kedermawanan yang bernilai kemanusiaan di tengah pandemi virus corona.


Untuk diketahui, TBM Lentera Pustaka yang terletak di Kaki Gunung Salak Bogor berada di daerah prasejahtera atau miskin. Karena 72% masyarakatnya bermata pencahariannya tidak tetap dan tingkat pendidikan masyarakatnya 81% hanya SD. Karena itu, taman bacaan ini hadir untuk menekan angka putus sekolah di samping meyediakan akses bacaan kepada anak-anak usia sekolah.

"Taman Bacaan Peduli Sosial ini merupakan donasi dari para sahabat TBM Lentera Pustaka yang menyumbang masker, mie intsan, beras, dan hand sanitizer. Atas nama TBM, saya mengucapkan terima kasih. Sungguh, program ini sangat bermanfaat untuk masyarakat di sini. Semoga kegiatan ini menjadi ladang amal dan berkah. Termasuk wabah virus corona bisa segera berakhir. Agar anak-anak dapat membaca buku kembali” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka yang mempimpin langsung pembagian peduli sosial ini.


Ada banyak cara untuk membangun kepedulian di masa wabah virus corona Covid-19. Tidak terkecuali para sabahat TBM Lentera Pustaka yang bergotong royong dan mendonasikan apa yang bisa dibantu untuk meringankan masyarakat yang membutuhkan. Apalagi di daerah, tidakada kejelasan berkaitan dengan “bantuan sosial” yang digagas pemerintah. Sementara masyarakatnya dalam keadaan minus dan mengalami kesulitan ekonomi.

Siapa bilang ada bantuan sosial di Kaki Gunung Salak.
Hingga saat ini tidak ada. Bahkan informasi yang ada hanya 7-8 keluarga per RT yang diajukan datanya. Sementara hamper sebagian besar warga prasejahtera. Entah, gimana cara berpikirnya? Katanya masyarakat miskin harus dibantu. Tapi faktanya tidak sebagus narasinya. Karena itu, TBM Lentera Pustaka melakukan aksi nyata “peduli sosial” untuk meringankan beban masyarakat sekitar. Bahkan di awal bulan puasa, insya Allah TBM Lentera Pustaka pun akan membagikan “sembako peduli sosial” kepada 50 keluarga di sekitar taman bacaan.

Hingga saat ini, TBM Lentera Pustaka  telah menjadi tempat membaca buku dan budaya literasi bagi 6o anak-anak pembaca aktif. Dengan 3 kali seminggu membaca, tiap anak rata-rata mampu menghabiskan 5-8 buku per minggu. Koleksi buku yang tersedia mencapai 3.500 bacaan. Dengan menerapkan model “TBM Edutainment”, saat ini TBM Lentera Pustaka dikenal sebagai taman bacaan yang unik, kreatif, dan menyenangkan.

“Mari kita sambut bulan suci Ramadhan dengan menyibukkan diri untuk ibadah dan peduli kepada sesama. Agar bermanfaat untuk masyarakat, sekaligus tetap #DiRumahAja karena adanya wabah virus corona. Semoga ini menjadikan kita lebih baik di masa mendatang” tambah Syarifudin Yunus yang juga kandidat Doktor bidang taman bacaan.

Siapa bilang ada bantuan sosial di Kaiki Gunung Salak? Sungguh, pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Karena itu berbuatlah dan berbagilah dengan nyata. Ubah niat baik jadi aksi nyata … #BudayaLiterasi #TBMLenteraPustaka



Rabu, 15 April 2020

Sebagai Edukasi, Wabah Virus Corona Sudah Waktunya Untuk Mengingatkan Bukan Menyiksa


Sejak saya lahir sampai usia 50 tahun ini, jujur saja, baru kali ini ada wabah penyakit bisa bikin dunia bergetar kerepotan. Ramai diperbincangkan dan seluruh manusia sejagat raya “bersiap” menghadapinya. Namanya virus corona Covid-19. Dari namanya aja susah. Wajar bila sangat membingungkan.

Bisa jadi, ini wabah paling aneh. Virus tapi bisa melumpuhkan anak sekolah, anak muda kuliahan, sampai pekerja kantoran. Tiap hari pasien-nya nambah. Tapi gak jelas siapa yang menularkan dan siapa yang ditularkan. Istilahnya juga banyak; ada ODP, PDP, APD, PSBB, yang baru OTG. Sementara si virus corona OTW terus ke manusia. Mengerikan sekaligus menakutkan.

Apa yang mau saya bilang tentang virus corona Covid-19 ini?
Ya, mungkin SUDAH WAKTUNYA. Virus ini hadir ke tengah-tengah manusia. Untuk mengingatkan bukan menyiksa. Bahwa hidup itu ada dalam kehendak-Nya. Mungkin kemarin-kemarin, banyak manusia yang sudah merasa jadi “tuhan”. Atau bahkan “menuhankan” uang, pekerjaaan, atasan atau apa saja. Hingga kita lupa TUHAN yang sesungguhnya. Bahwa manusia itu tetap bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

SUDAH WAKTUNYA.
Agar kita introspeksi diri. Sambil merenung apa yang sudah kita perbuat selama ini. Karena manusia itu kadang tahu tapi pura-pura tidak tahu. Entah karena apa? Sudah tahu baik dan maslahat, tapi belagak tidak tahu. Sebaliknya, sudah tahu tidak baik dan mudharat tapi tenang-tenang saja melakoninya. Apalagi yang kerjanya menyalah-nyalahkan orang lain. Menebar kebencian yang tidak berkesudahan. Virus corona yang jelas-jelas musibah dan bencana pun masih saja dipolemikkan dan diperdebatkan. Hingga kita banyak yang lupa, ini semua terjadi atas kuasa Allah SWT. Jadi, memang sudah waktunya.

Semua sudah waktunya.
Janin di dalam perut hingga 9 bulan, ya sudah waktunya lahir. Orang kerja juga bila tua, ya sudah waktunya pensiun. Anak kuliah pun bila sudah waktunya selesai ya jadi sarjana. Kira-kira begitulah hidup ini. Kadang ada suka ada duka. Ada sakit ada sehat. Ada yang masih hidup ada yang meninggal. Jika kita sepakat, ya itu semua memang sudah waktunya.

Sudah waktunya. Seperti si Moammar Khadafy, umur 27 tahun sudah jadi Presiden Libya. Sedangkan si Donald Trump itu baru jadi Presiden AS di usia 70 tahun. Si Mark Zurkerberg yang punya Facebook itu jadi CEO di usia 24 tahun. Sementara si Liliane Bettencourt, pewaris L' Oreal itu masih jadi CEO di usia 93 tahun. Sama persis sama wabah virus corona Covid-19 melanda seluruh dunia, sekarang pun ada di Indonesia. Apa artinya? Ya, sudah waktunya.

Jadi, tidak usah takut apalagi panik. Tidak perlu juga keluh-kesah. Galau atau gelisah sama sekali tidak perlu. Mengkritik juga boleh silakan. Asal jangan setiap hari. Benci juga boleh asal jangan terus-menerus. Mana ada sih, kebaikan atau kemajuan yang dihasilkan dari kritikan maupun kebencian. Seimbang sajalah, objektif. Biar tidak berat sebelah. Karena memang semua sudah waktunya. Justru dalam situasi sekarang, sangat perlu ikhtiar baik dan doa. Agar wbah Covid-19 ini bisa segera berakhir. Ya harus sama-sama, bukan pemerintah doang atau tenaga medis doang. Saya dan kamu, ya harus ikut sama-sama.


Tiga hari lalu pun, saya kaget. Dapat kabar seorang kawan meninggal dunia akibat Covid-19. Sebelumnya sehat wal afiat.  Saya pun sempat bertemu di kantornya. Sementara Ibu saya sendiri, sejak umur 50 tahun sakit bertahun-tahun dan meninggal di usia 67 tahun. Tentu, saya hanya bisa mendoakan keduanya. Karena memang sudah waktunya.

Jadi tidak usah banyakin benci, apalagi dengki. Jangan pula sombong apalagi merasa hebat dan paling benar. Karena bila sudah waktunya, semua akan terbukti kok. Orang salah ya tetap salah. Orang benar ya tetap benar. Gak bakal ketukar, tenang saja. Karena semua sudah waktunya.

Bila tidak suka sama pemimpinnya ya diam saja. Bila tidak suka sama negaranya silakan pindah. Bila takut sama Covid-19 ya sudah diam #DiRumahAja. Bila tidak mau sakit ya jaga kesehatan. Tidak usah dilebih-lebihkan, tidak usah pula dikurang-kurangkan. Karena memang semua sudah waktunya.

Mungkin virus corona Covid-19 ini datang. Karena kita sudah terlalu banyak sifat buruk. Gemar menghujat, emosian, dan membenci yang tidak berkesudahan. Maka virus ini mengingatkan, bukan siksaan. Bahwa sudah waktunya bersifat buruk. Berubahlah untuk menjadi pelopor kebaikan. Lebih objektif dan lebih jernih melihat realitas. Jangan memaksa pikiran sendiri. Mungkin kemarin-kemarin kita kurang ibadah, ya virus ini mengingatkan untuk lebih rajin ibadah. Mungkin kemarin kurang peduli, ya virus ini mengajak kita untuk lebih peduli. Kenapa? Karena memang sudah waktunya.

Seperti penjahat dan preman, juga ada masanya. Mereka pada akhirnya pun akan insyaf. Karena memang sudah waktunya. Coba cari, mana ada preman umur 70 tahun? Gak ada kan. Malu-maluin banget jadi preman umur 80 tahun. Duel lawan anak SMA juga kolaps. Lalu, kenapa kita “memaksa” untuk selalu bilang si penjahat dan preman terus-menerus? Kita ini mengerti atau tidak sih? Kan semua juga ada waktunya.

Laut saja ada pasang ada surut. Cuaca pun bisa cerah, bisa mendung. Hawa bisa panas, bisa dingin. Ada saat kerja ada saat pensiun. Suami BCL sudah pergi. Glenn Fredly pun mangkat. Karena semua sudah waktunya.

Jadi bila sudah waktunya, apapun bisa terjadi. Termasuk wabah virus corona merebak pun sudah waktunya. Tidak usah pusing, nikmati saja #DiRumahAja. Toh, kita sudah ikhtiar yang baik dan berdoa yang baik. Agar wabah virus corona segera berakhir.

Maka dapat disimpulkan, semua sudah waktunya dan atas kehendak-Nya.’
Jalani saja tiap realitas hidup. Dan kembalilah hargai waktu. Karena waktu itu hal yang paling diinginkan banyak orang. Tapi juga paling sering disia-siakan sebagian besar orang. Hargai waktu dan manfaatkanlah sebaik mungkin.

Karena semua orang pun akan menghilang pada waktunya… #BudayaLiterasi #LawanVirusCorona


Selasa, 14 April 2020

7 Cara Membangun Budaya Literasi Orang Indonesia Versi Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Sekalipun lagi #DiRumahAja saat wabah Covid-19, belum tentu baca,
Ini fakta. Orang Indonesia hanya punya durasi waktu membaca per hari rata-rata hanya 30-59 menit, kurang dari 1 jam. Tapi hebatnya, orang Indonesia mampu menghabiskan waktu bermain gawai hingga 5,5 jam sehari. Jadi, apa artinya? Artinya suka tidak suka, budaya literasi orang Indonesia dapat dikategorikan rendah. Wajar, masyarakat-nya pun tidak literat. Alias sulit bisa memahami keadaan, memampukan diri mengendalikan situasi. Budaya literasi adalah sikap untuk memahami dan memampukan keadaan, keterpahaman atas segala kondisi.  

Memang, membaca bukan satu-satunya indikator. Tapi membaca adalah landasan penting dalam menegakkan budaya literasi. Dengan durasi membaca kurang dari 1 jam sehari, menjadi bukti tradisi baca dan budaya literasi orang Indonesia masih jauh tertinggal. Sebagi pembanding, di negara maju rata-rata durasi waktu membaca bisa 6-8 jam per hari. Sementara standar Unesco menyebutkan durasi waktu membaca yang diharapkan tiap orang adalah 4-6 jam per hari.

Rendahnya tradisi baca dan budaya literasi orang Indonesia, pun bisa dilihat pada kurangnya sikap patuh terhadap imbauan pencegahan wabah virus corona. Tidak disiplin untuk #DiRumahAja, hindari kerumunan saat pembatasan sosial berskala besar. Contoh lainnya adalah maraknya hoaks atau berita bohong pada setiap event nasional, merebaknya ujaran kebencian, terlalu mudah tersulut emosi. Dan yang paling penting, tidak produktof karena lebih senang memperdebatkan masalah bukan menyelesaikan masalah. Itu semua bukti rendahnya budaya literasi orang Indonesia.

Pendidikan makin tinggi, teknologi makin melek. Tapi itu tidak menjamin budaya literasi di Indonesia makin baik. Orang makin kaya belum tentu makin peduli pada budaya literasi. Orang makin intelek pun tetap cuek pada budaya literasi kecuali untuk urusannya sendiri. Bahkan faktanya, tidak sedikit orang-orang pintar yang malah meninggalkan kegiatan literasi. Minimal, makin malas membaca, makin malas menulis.

Bak “angan-angan setinggi langit”. Maka ada orang yang bilang, membangun tradisi baca dan budaya literasi di Indonesia seperti angan-angan. Memang benar, budaya literasi kian berat. Ketika banyak orang lebih sennag menonton TV daripada membaca. Lebih gemar main gawai daripada menulis. Akhirnya budaya literasi lebih sering diseminarkan daripada dilakukan. Agak sulit menjadikan budaya literasi sebagai gaya hidup. Kalah jauh daripada gaya hidup lainnya.

Maka, upaya terus menghidupkan tradisi baca dan budaya literasi di masyarakat sama sekali tidak boleh berhenti. Khususnya di kalangan anak-anak. Agar tidak tergilas oleh gempuran teknologi internet. Agar tidak terlena dengan gaya hidup instan yang tidak produktif. Inilah tantangan besarnya membangun tradisi baca dan budaya literasi orang Indonesia di tenga era digital. 

Berangkat dari keprihatinan terhadap tradisi baca dan budaya literasi itulah, di Kaki Gunung Salak Bogor, sebuah taman bacaan didirikan. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka yang berlokasi di Desa Sukaluyu berjuang keras untuk menghidupkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak kampung. Agar anak-anak usia sekolah tetap dapat menikmati akses bacaan dan memiliki perilaku gemar membaca. Anak-anak yang lebih akrab dengan buku bacaan. Melalui model taman bacaan yang disebut “TBM-Edutainment”, TBM Lentera Pustaka dalam 3 tahun terakhir ini telah menjadi tempat membaca bagi 60-an anak pembaca aktif. Dengan jam baca 3 kali seminggu, rata-rata setiap anak membaca 5-10 buku. Tidak kurang dari 3.500 buku bacaan menjadi santapan anak-anak kampung di taman bacaan ini.

Dengan pengalaman yang telah dimplementasikan, TBM Lentera Pustaka menyebut upaya membangun tradisi baca dan budaya literasi masyarakat harus bertumpu pada 7 (tujuh) tahapan sebagai berikut:
1.    Jadikan membaca sebagai kegiatan yang asyik dan menyenangkan. Agar tidak monoton.
2.    Tanamkan pentingnya membaca sebagai landasan kehidupan di masa, khususnya wawasan luas, sikap bijak, dan karakter yang baik.
3.    Optimalkan tata kelola taman bacaan se-kreatif mungkin. Agar anak-anak betah di taman bacaan.
4.    Libatkan partisipasi dan kepedulian warga sekitar di taman bacaan. Agar taman bacaan tidak jalan sendirian.
5.    Promosikan aktivitas membaca dan semua kegiatan di taman bacaan di media sosial. Agar orang tahu membaca itu harus dilakukan, bukan diinginkan.
6.    Tebarkan dampak positif dan cerita baik tentang anak-anak yang membaca di taman bacaan. Agar taman bacaan tidak diremehkan.
7.    Tuliskan pengalamam membaca secara produktif, sedikitkan omongan yang tidak perlu.
Melalui 7 tahapan di atas, insya Allah tradisi baca dan budaya literasi dapat terbentuk. Karena minimal, budaya literasi dicirikan dari konsitensi kegiatan membaca dan menulis.

“Tradisi baca dan budaya literasi orang Indonesia, suka tidak suka, makin ke sini makin memprihatinkan. Maka taman bacaan masyarakat harus bisa jadi ujung tombak dalam membangun dan menguatkan budaya literasi. Agar jangan ada hoaks, jangan ada kebencian. Minimal anak-anak dibiasakan membaca dan menulis. Agar tidak terlindas era digital dan hidup mereka tidak dikendalikan gawai. Demi masa depan anak-anak kita” ujar Syarifudin Yunus, pegiat literasi sekaligus Pendiri TBM Lentera Pustaka yang sedang menulis disertasi S3 tentang taman bacaan.

Sejatinya, tradisi baca dan budaya literasi harus tercermin pada keberhasilan menciptakan perubahan. Baik pada diri sendiri maupun pada lingkungan. Dan untuk itu, taman bacaan bisa mengambil peran lebih besar. Karena siapapun, jauh dari buku maka akan merana. Bila dekat dengan buku maka akan bahagia.

Budaya literasi adalah peradaban manusia. Ketika membaca, ia membangun kebaikan. Ketika menulis, ia mencipta perubahan. Sungguh, tidak ada cinta tanpa kepedulian terhadap tradis baca dan budaya literasi…. #TBMLenteraPustaka #BudayaLiterasi #TradisiBaca #BacaBukanMaen


Kisah Hadirnya Taman Bacaan di Kaki Gunung Salak Bogor


Akrabkan anak-anak dengan buku bacaan. Biarkan mereka tersenyum sambil menatap masa depan yang lebih baik.... @kisah hadirnya sebuah taman bacaan di Kaki Gunung Salak Bogor...

Dapat disimak pula di channel Youtube: https://youtu.be/uYUPswoBV0U

Sabtu, 11 April 2020

Literasi Sadar, Pelajaran Dari Wabah Virus Corona


Suka gak suka. Wabah virus corona itu bikin sadar banyak orang. Bahwa virus yang gak kelihatan kok bisa menjalar ke seluruh belahan dunia. Bikin pusing sejagat. Bikin repot se-negara. Virus yang berubah jadi penyakit yang mematikan. Semuanya terperangah, walau agak sedikit bingung. Entah sebab apa virus itu merebak? Lalu, apa pula salahnya manusia yang diserangnya? Sungguh, sulit menjawabnya.

Tapi setidaknya, virus corona itu bikin sadar; sangat menyadarkan. Bahwa manusia itu tidak ada apa-apanya. Tiba-tiba diserang virus, lantas detak kehidupan pun terganggu. Sekolah dan kampus disuruh belajar jarak jauh. Kantor-kantor disuruh kerja dari rumah. Orang bergerombol dilarang. Cuci tangan yang dulu disepelekan kini jadi mata pelajaran penting lagi. Kemarin-kemarin muka dibungkus kosmetik, kini dibungkus masker. Makin sadar.

Sadar. Manusia, mau setinggi apapun bicaranya tetap gak ada apa-apanya. Mau sehebat apapun pendidikannya, tetap makhluk tak berdaya. Jadi, apalah yang harus disombongkan. Pangkat, jabatan apalagi harta sama sekali gak ada makna. Terlalu lemah. Dikasih dentuman di malam hari pun, bingung dan bertanya entah dari mana asalnya?

Maka esok, setelah wabah virus ini berlalu. Harusnya kita makin sadar. Bukan makin lupa. Bahwa pernah ada virus di dunia ini yang “mudah” mematikan. Sehingga hidup jangan dibikin “sulit” lalu menyingkirkan kesadaran. Jadi lebih sadar.

Hari ini kita makin sadar. Bahwa orang yang bisa ketawa begitu keras. Pasti pula bisa menjerit sama kerasnya. Maka harusnya, orang-orang yang pandai mencari kekurangan siapapun. Pasti sama pandainya untuk bisa menemukan kelebihan pada orang lain. Agar seimbang. Sebagai tanda sadar.

Saya hanya ingin sadar. Bahwa sebelum saya mengeluh soal apapun. Maka saya harus lebih dulu mensyukuri dulu apa yang sudah saya nikmati. Sebelum saya teriak-teriak soal apapun, saya harus berdiam diri dan sabar terlebih dulu. Sebelum saya menyombongkan diri maka saya harus merasa rendah diri dulu. Karena di luar sana, masih banyak orang yang tidak bernasib baik seperti saya. Persis, seperti masih banyak pula bangsa yang tidak sebaik Indonesia.

Saya makin sadar. Wabah virus corona ini pasti bisa dilewati. Asal semua orang mau patuh, dan bersedia taat pada aturan. Untuk tetap #DiRumahAja, rajin cuci tangan, selalu jaga jarak satu sama lainnya, dan hindari kerumunan. Karena saya punya pilihan; mau patuh atau tidak patuh. Sekalipun masih ada saudara saya yang “tidak punya pilihan” dan terpaksa harus keluar rumah demi sesuap nasi. Semua itu harus disadari, dan makin menyadarkan kita bersama.

Kadang kita sering lupa. Cinta itu tidak pernah menciptakan pernikahan. Tapi pernikahan yang sadar, itulah yang menciptakan cinta. Maka yang sama, kesadaran dalam bernegara dan berharmoni itulah yang menciptakan kesehatan, keselamatan bersama.

Virus corona memberi satu pelajaran. Tentang sadar, tentang kesadaran. Bahwa hidup gak bisa hanya bersandar pada logika atau otak. Tapi harus diimbangi dengan hati nurani, bahkan etika. Bila berani membenci, maka harus berani pula menyukai. Berani bilang buruk, maka harus berani pula bilang baik.

Sadar. Karena seorang alim itu makin punya banyak ilmu. Semakin sadar akan luasnya ilmu Allah SWT. Makin sadar, manusia sehebat apapun tetap bukan apa-apa saat diterpa cobaan. Makin tambah usia pun harus makin tambah manfaatnya buat orang lain. Karena semua ada dalam genggaman-Nya … tabikk #BudayaLiterasi #LawanVirusCorona