Sabtu, 13 April 2024

Literasi Lebaran, Momen Untuk Lebih Zuhud Terhadap Dunia

Bulan Syawal, sebagai tanda hadirnya Idul Fitri, adalah bulan peningkatan. Meningkat dalam amal ibadah setelah ditempa habis-habisan di bulan Ramadan, di samping kesalehan sosial. Sekaligus sedih “ditinggal” bulan Ramadan yang belum tentu bertemu lagi tahun depan. Sehingga Idul Fitri di bulan Syawal hasrunya tidak hanya identik dengan mudik, silaturahim, pakaian baru, makanan lezat, dan lainnya yang bersifat konsumtif. Tapi juga momen penting untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas ibadah.

 

Karenanya, Insya Allah besok Minggu sore (14 s.d 23 April 2024), saya bersama anak bungsu saya Farah G. Elsyarif menunaikan ibadah umroh ke tanah suci Mekah dan Madinah sebagai perjalanan mendekatkan diri pada Sang Khalik. Difasilitasi oleh AlHijaz Indowisata dengan Tour Leader Bagas Wirantoro dan muthowif Ustadz Muhammad Huraibi bersama 43 jamaah lainnya, Insya Allah “hijrah” melalui Dubai sebelum ke Madinah dan Mekah sebagai momen umroh awal Syawal untuk merenung dan memperbaiki diri dalam ibadah konkret kepada-Nya.

 

Selain menghadapkan diri pada kebesaran dan keagungan Allah SWT, umroh Syawal pun diniatkan menjadi ajang pembersihan diri dari dosa-dosa yang telah dilakukan plus mendidik hati menjadi lebih ikhlas dalam berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama.

 

Umroh kali ini memang bukan yang pertama. Tapi melalui umroh Syawal ini, saya berniat untuk belajar lebih zuhud terhadap dunia. Untuk menjalankan pola hidup yang menjaga diri dari pengaruh harta atau soal keduniaan. Untuk tidak terlalu sibuk terhadap hal-hal yang bersifat materi. Tapi lebih fokus pada urusan akhirat. Selain karena alasan usia, juga untuk menggapai ketenangan hati dan komitmen menebar manfaat kepada sesama, khususnya melalui kiprah sosial di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.  Semoga umroh kali ini berjalan lancar, sehat dan mendapat ridho Allah SWT.

 


Dengan berzuhud, seperti memakai ihram dan melepas pakaian yang berjahit, berarti bersedia untuk menjuauhkan diri dari sifat iri, dengki, hasud, benci yang ada dalam tubuh ini. Untuk melangkah ke sifat-sifat Allah, seperti “rahman” dan “rahim”, penuh cinta dan kasih sayang atas nama kemanusiaaan. Agar lebih peduli kepada orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita.

 

Umroh untuk lebih bersemangat dalam mencari akhriat. (At Tabshirah karya Ibnul Jauzi). Membesarkan asma Allah di Masjid Nabawi dan pintu raudhah (Madinah), serta menitikkan air mata syahdu kehambaan di Masjidil Haram dan Ka’bah (Mekah). Untuk menjalankan thawaf, sholat wajib dan sunnah, zikir, i’tikaf, dan memanjatkan doa terbaik keharibaan-Nya.

 

Karena saat ber-umroh, siapapun harus bersedia untuk menjauhkan diri dari kesibukan dunia. Untuk lebih banyak berhijrah menuju tempat yang lebih baik sambil merenung untuk selalu memperbaiki diri. Sehingga ibadah apapun, termasuk umroh dan puasa, sejatinya bukan sekadar rirual semata. Tapi mampu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. 


Literasi lebaran menyiratkan. Untuk lebih zuhud terhadap dunia. Salam literasi #UmrohSyawal #TBMLenteraPustaka #HikmahLebaran



Tidak ada komentar:

Posting Komentar