Rabu, 30 Juni 2021

TBM Lentera Pustaka Tegaskan Vaksid Covid-19 Sebagai Ikhtiar Sehat, Jangan Takut

 AYO VAKSIN COVID-19, JANGAN TAKUT


Wabah Covid-19 varian baru menelan banyak korban. Tiap hari ada saja berita duka dari saudara, kawan atau komunitas. PPKM darurat pun "terpaksa" dilakukan untuk Jawa & Bali pada 3-20 Juli 2021. Sementara di Piala EURO 2021, ribuan orang nonton bola begitu gembira dan terlihat tidak pakai masker. Kok bisa?

Bedanya, mungkin di sini vaksin Covid-19 belum seluruhnya. Tempat vaksin gratis pun dibuka di mana-mana. Tapi masih banyak yang tidak mau atau ketakutan. Sementara di luar Eropa, mungkin vaksin berlangsung sangat massal. Aktivitas warga pun berangsur pulih.

Hari-hari ini, di grup WA disebar cara penanganan Covid-19 di rumah. Cara isolasi mandiri yang benar. Dan berbagai resep untuk meningkatkan imnuitas tubuh. Tapi korban terus berjatuhan. Cerita-cerita jelek terus dibangun. Kabar duka ditunggu setiap hari. Siapa lagi, siapa lagi? Sementara pergi ke tempat vaksin Covid-19 tidak dilakukan? Alasannya takut, belum sempat. Dan entah apalagi.

Sahabat, ayo vaksin. Vaksin itu ikhtiar sehat. Bukan jaminan untuk tidak sakit. Katanya hidup sehat itu kan pilihan. Lalu, kenapa kita tidak memilih jalan untuk sehat? Sambil tetap patuhi protokes dan jaga imunitas tubuh. Apalagi manusia itu serba terbatas. Gampang capek, mudah sakit, panikan. Bahkan kadang marah-marah atau doyan ngomongin orang. Keadaan itu semua sanat rentan sakit. Lalu, kenapa masih belum mau vaksin?

Ikhtiar itu hak manusia. Tapi hasil itu hak Allah. Jangan dicampur aduk. Seperti anak yang membaca buku itu bukan untuk pintar. Sekolah juga bukan untuk jadi juara kelas. Tapi untuk menjalankan hak sebagai manusia. Asal sudah ikhtiar ditambah doa, hasil serahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Ayo vaksin sebagai ikhtiar sehat. Stop berita menebar ketakutan. Jangan terlalu banyak prasangka terhadap vaksin. Hentikan menebar berita buruk tentang Covid-19. Ikhtiar yang baik saja, jaga pikiran dan jaga hati tetap baik. Ketahuilah, Covid-19 harus diimbangi (ukan dilawan) dengan kondisi tubuh yang sehat dan bugar. Pikiran harus tetap rileks dan gembira. Selalu dekat dengan Sang Pencipta. Agar imunitas tubuh tetap tinggi kokoh sebagai penangkal virus Covid-19. Maka vaksin-lah sebagai ikhtiar sehat. Dan siapa pun punya tanggung jawab moral untuk sehat pada dirinya sendiri, pada keluarganya. Sehingga bangsa Indonesia segera pulih dari wabah Covid-19.


Sahabat, situasi sulit pandemi Covid-19 ini harus diakhiri. Butuh ikhtiar bersama untuk segera pulih. Bukan hanya pemerintah, bukan pula tenaga media. Siapa pun mampu ikhtiar baik. Minimal rela dan ikhlas melangkahkan kaki ke tempat vaksin gratis yang tersedia. Bila mau berjuang untuk hidup ya berarti mau berjuang untuk sehat. Agar esok jangan lagi bilang. "Ya Allah, kemarin kawan saya sehat. Kenapa hari ini meninggal dunia?"

Ayo vaksin, sebagai ikhtiar sehat. Dan ketahuilah, kullu nafsin dzaiqotul maut. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Wallahu a’lam bishowab. Salam literasi. #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #LiterasiCovid19 

Silakan simak: https://tbmlenterapustaka.com/tbm-lentera-pustaka-imbau-warga-segera-vaksin-covid-19-jangan-takut-dan-ikhtar-sehat/


TBM Lentera Pustaka Jadi Mitra KKN Tematik IPB, Optimalkan Peran Taman Bacaan di Desa

Setelah melalui audiensi dan visitasi, 20 mahasiswa IPB terbagi dalam dua kelompok melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) Tematik tahun 2021 bermitra dengan TBM Lentera Pustaka di Desa Sukaluyu kec. Tamansari Kab. Bogor.  Selama 40 hari dan tetap mematuhi protokol Kesehatan, KKNT mahasiswa IPB akan berkontribusi nyata dalam mengoptimalkan peran taman bacaan bagi masyarakat.

 

Bertajuk "Ceria di Taman Bacaan", hari ini (30/06/2021), para mahasiswa terjun langsung mendampingi aktivitas gita membaca 32 anak-anak TBM lentera Pustaka sekaligus menyosialisasikan program KKN yang dijalankannya kepada anak-anak pembaca aktif yang berjumlah 168 anak usia sekolah. Selain itu, aktivitas KKN pun akan melibatkan warga sekitar dan ibu-bu warga belajar buta aksara.

.

Melalui KKNT ini, nantinya, mahasiswa IPB akan berkiprah dalam dua kelompok dengan menjalankan program yang terdiri dari:

1.      Optimalisasi peran taman bacaan yang dilakukan Wildan dkk. Mulai dari aktivitas pendampingan giat baca, data base koleksi buku, revitalisasi tanaman pekarangan rumah, pemeriksaan hewan, literasi digital, literasi finansial, pra event kampung literasi, dan aktivitas nyata bersama masyarakat, anak-anak pembaca aktif, dan warga belajar buta aksara.

2.      Pengkinian data demografi Desa Sukaluyu yang dilakukan Irsyad dkk. Aktivitas yang dijalankan seperti pendataan ulang secara random di 12 RW di Desa Sukaluyu menyangkut tingkat pendidikan masyarakat, mata pencaharian, buta aksara, jumlah anak usia sekolah, dan tingkat penghasilan bulanan.

Melalui kedua kegiatan di atas, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi nyata melalui KKN Tematik yang efektif dan berdaya guna. Di samping mempersiapkan program "Kampung Literasi Warung Loa Sukaluyu" yang akan mulai digarap TBM Lentera Pustaka pada Juli 2021.

 

"TBM Lentera Pustaka menyambut baik program KKN-T IPB di taman bacaan. Hal ini menjadi bukti pentingnya kolaborasi dan kemitraan antara mahasiswa, kampus, dan taman bacaan di Bogor. Hal ini bisa jadi model kontribusi nyata mahasiswa kepada masyrakat dalam gerakan literasi, di Desa Sukaluyu. Sebagai mitra KKN, TBM Lentera Pustaka siap mengarahkan para mahasiswa" ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Porgram TBM Lentera Pustaka di Bogor.

 


Kegiatan KKN-T IPB tahun 2021 ini akan berlangsung dari 28 Juni - 8 Agustus 2021. Seluuruh program akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi Covid-19 dan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

 

Sebagai mitra KKNT IPB, TBM Lentera Pustaka merupakan satu-satunya taman bacaan resmi yang ada di Kecamatan Tamansari Kab. Bogor. Saat ini memiliki 6.500 buku bacaan dan menerapkan "TBM Edutainment" sebagai tata kelola taman bacaan berbasis edukasi dan hiburan. Dengan 168 anak pembaca aktif dan membaca 3 kali seminggu, kini tiap anak rata-rata mampu membaca 5-8 buku per minggu. Selain itu, TBM Lentera Pustaka pun memiliki program, seperti: 1) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 9 ibu-ibu buta huruf, 2) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 14 anak, 3) YABI (Yatim BInaan) dengan 14 anak, 4) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 7 lansia, 5) Koperasi Lentera dengan 16 anggota, 6) DONBUK (DONasi BUKU), dan 7) RABU (RAjin menaBUng). Semua program bertujuan untuk pemberdayaan masyaralat, di samping menekan angka putus sekolah yang masih tergolong tinggi di wilayah ini.

 

KKNT IPB pun jadi momen mahasiswa untuk mendekati persoalan sosial secara nyata. Di samping membuktikan kepedulain sosial dengan melakukan aktivitas konkret yang menyentuh persoalan kemasyarakatan, termasuk meningkatkan peran taman bacaan di desa. Ubah niat baik jadi aksi nyata ... #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #KKNTIPB #BacaBukanMaen

 





Selasa, 29 Juni 2021

Saat Pandemi Covid-19, TBM Lentera Pustaka Aktif Bangkitkan Optimisme Anak-Anak Kampung Via Taman Bacaan

Hari-hari gini di masa pandemi Covid-19. Publik dihadapkan pada berita tentang Covid-19 yang mengganas. Setiap hari selalu saja ada yang meninggal dunia. Bikin takut dan khawatir. Sementara di sisi lain, edukasi untuk tidak takut Covid-19 pun begitu gencar. Agar imunitas tubuh tetap baik dan tetap patuh protokol kesehatan. Ada dua kutub di situ soal Covid-19. Ada yang membangun ketakutan, ada pula yang menebar optimisme.

 

Pesan moralnya, penyakit dan kematian bisa terjadi pada siapa pun. Bisa karena sakit, bisa karena kena covid, bisa kecelakaan. Kematian itu pasti datang. Tapi dia tidak bisa dipercepat, tidak bisa diperlambat. Karena bukan area manusia. Tapi sudah kehendak Allah SWT.

 

Bila sakit dan kematian bisa terjadi pada siapa pun. Maka siapa pun bisa jadi apapun.

Bahasa kerennya, kata orang bule “anyone can be anything”. Siapapun bisa jadi apapun.

Setiap orang bisa jadi apa saja. Siapa pun bisa memilih mau seperti apa dalam hidup ini. Mau sehat atau sakit? Mau optimis atau pesimis? Asal jangan mau jadi Tuhan. Karena manusia hanya bisa ikhtiar dan doa.

 

Anyone can be anything. Siapa pun bisa jadi apapun. Begitulah spirit yang seharusnya ada di taman bacaan. Karena sebelumnya, anak-anak di kampung itu tidak punya akses buku bacaan. Tidak terbiasa membaca buku. Maka di taman bacaan, katakan mereka sudah bisa membaca buku. Dan untuk itu, berhak menjadi apapun. Mereka bisa jadi presiden, guru, dokter, polisi, CEO, arsitek atau apapun. Anak-aak yang boleh dan bisa jadi apapun. Tidak penting, mereka berasal dari mana? Dari kampung atau dari kota. Dari keluarga miskin atau kaya, sama sekali tidak peduli. Asal kalian punya semangat dan tekad untuk berhasil. Energi untuk mencapai cita-cita, itu sudah cukup.

 

Siapa yang tidak kenal. Cut Nyak Dien itu dari Aceh. Jenderal Sudirman pun orang kampung di Purbalingga. Ibu R.A. Kartini dari Jepara. Bahkan semua presiden di Indonesia tidak ada yang lahir di Jakarta. Itulah contoh, siapa pun bisa jadi apapun. Sosok yang bisa jadi contoh baik. Karena mau membaca, mau belajar, mau berjuang tanpa lupa berdoa. Hingga bisa mencapai cita-citanya, menapak jalan hidup yang lebih baik.

 

Seperti anak-anak di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Ada 168 anak pembaca aktif yang rutin membaca 3 kali seminggu. Rata-rata kini “melahap” 5-8 buku per minggu per anak. Padahal mereka terancam putus sekolah. Akibat keterbatasan ekonomi orang tua. Maklum, wilayahnya termasuk kawasan prasejahtera. Maka tingkat pendidikan masyarakatnya saat ini 81% ada di SD dan 9% di SMP.

 

Di masa pandemi Covid-19. Justru jadi momen taman bacaan untuk merenda masa depan anak-anak lebih optimis melalui buku bacaan. Apalagi di tengah PJJ (pembelajaran jarak jauh) yang tidak efektif atau libur sekolah. Sungguh, taman bacaan justru menjadi media untuk meningkatkan imunitas tubuh. Sekaligus “ladang amal” untuk selalu menggiatkan anak-anak membaca buku. Di taman bacaan, anak-anak pun dilatih berpikir positif. Bukan malah ketakutan dan pesimis terhadap realitas hidup yang harus dihadapi.

 


Anyone can be anything. Setiap anak, sejatinya bebas memilih jalan hidupnya sendiri.

Mau baca buku di taman bacaan, silakan. Mau nongkrong dan main doang, silakan. Mau berhasil atau gagal. Mau terang benderang atau gelap di masa depan. Tapi satu yang pasti, bahwa anak-anak itu terlahir untuk sukses, untuk berhasil. Itu takdir. Tapi bila saat dewasa nanti mereka tetap miskin, itu bukan takdir tapi piliham. Karena lalai di masa kecil, di masa muda. Tertipu oleh Kesehatan dan waktu luang yang tidak digunakan untuk kebaikan.

 

Ketahuilah, tanpa membaca bisa jadi, siapa pun sulit untuk berhasil. Sulit untuk meraih cita-cita. Jalan ke depan jadi lebih gelap, tidak ada kompas atau arahan. Maka jangan tertipu. Untuk sukses tidaklah harus kaya. Asal mau membaca, mau berbuat baik. Dan siap berubah, insya Allah bisa lebih baik. Asal caranya baik dan benar.

 

Akhirnya, Covid-19 itu satu urusan. Dan taman bacaan pun urusan yang harus diperhatikan. Tegakkan protocol Kesehatan untuk sehat dan terhindar Covid-19. Dan tetaplah membaca buku untuk merenda masa depan anak-anak kita. Itulah peran taman bacaan.

 

Anyone can be anything. Maka teruslah membaca buku di taman bacaan. Tetaplah belajar sepenuh hati. Karena tidak ada cita-cita yang bisa diraih siapa pun bila hanya berdiam diri. Membacalah, belajarlah, dan bertindaklah untuk meraih mimpi. Dan orang dewasa hanya cukup mendampingi mereka.

 

Maka di taman bacaan, katakan dengan lantang. Anyone can be anything, siapa pun bisa jadi apapun! Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen #AnyoneCanBeAnything

Anak Muda Tidak Literat, Di Balik Cuitan "The King of Lip Service"

Lagi-lagi dunia maya dibikin heboh. Saat BEM UI mengungggah cuitan "King of Lip Service" dengan gambar Pak Presiden. Agak sulit untuk menjelaskan hal-hal begini di dunia maya. Maklum, rakyat dunia maya dan netizen itu terlalu universal. Bisa jadi, banyak interpretasi banyak tafsir soal itu. Atau paling tidak, cuitan itu memancing sentimen kaum kontra yang belum bisa move on. Dan sebaliknya, bikin geram kaum pro yang merasa terganggu kenyamanannya.

 

Maka terlepas dari konten. Menarik untuk menanggapi soal "King of Lip Service" ini. Bila diterjemahkan berarti "raja layanan bibir". Apa yang salah dengan layanan bibir? Bukankah di dunia maya, tidak sedikit orang yang "juara" layanan bibir? Orang-orang yang jago ngomong tapi gagal berbuat. Bila diartikan "mengumbar janji manis", mungkin hampir semua laki-laki pernah mengumbar janji manis kepada wanitanya. Akhirnya, harapan pun tidak sesuai dengan kenyataan.

 

Maka saya tidak mau mengomentari konten-nya. Terlalu relatif dan debatable. Tapi justru saya ingin bernasehat kepada adik-adik mahasiswa BEM UI. Untuk anak muda yang menyebut "King of Lip Service". Mungkin dengan cuitan Anda, boleh jadi, sebagian orang bilang Anda hebat, keren, dan berani. Dan sangat mungkin juga sebagian orang tadi, persis seperti Anda pula dapat dikatakan "buta etika". Ya, gagal paham soal etika.

 

Anda tahu apa itu etika? Izinkan saya memberi tahu ya.

Etika itu ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau moral. Soal yang mampu membedakan perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk. Maka etika masuk ke filsafat, karena di dalamnya ada nilai-nilai, tentang baik dan buruknya tindakan. Maka etika terkait erat dengan moral. Memang tidak mengikat, tapi anak kampus pun punya tanggung jawab moral.  Karena etika, hidup kita jadi ada tatatan; ada kendali dalam bertingkah laku, di antara yang pantas dan tidak pantas.

 

Begini anak muda. Kalau urusan mencetak orang pintar, bangsa ini sudah sangat mahir. Dan itu tidak perlu lahir dari kampus. Kalau urusan mencetak orang pemberani, bangsa ini pun banyak yang pemberani. Pergi dan bergaullah dengan tukang daging di pasar, hidupmu akan sangat berani dan penuh darah. Kalau urusan pengen jadi orang keren, bangsa ini pun bejibun orang-orang keren. Di senayan ada, di televisi ada, di medsos banyak. Orang keren segudang di negeri ini.

 

Tapi sayang anak muda. Semua orang pintar, orang berani, dan orang keren yang Anda temui itu sering "buta etika". Tidak paham etika tapi jago ngomong etika untuk orang lain. Tahu aturan tapi sulit memahami aturan itu. Persis seperti Anda dan sebagian orang yang bilang Anda keren hanya soal cuitan doang.

 


Kenapa bisa buta etika?

Karena Anda sendiri tidak tahu cara ber-media sosial. Bila istilah "The King of Lip Service" artinya janji manis. Maka buktikan dengan data dan kirimkan kajian serta rekomendasinya seperti apa? Apa yang harus dilakukan negara ini dan Pak Presiden. Silakan mengkritik dengan cara-cara yang ilmiah dan berdasar data. Bukan tidak tuntas dan hanya mencari viral-nya doang. Buktikan saja berapa yang "janji manis" dan berapa yang "tidak janji manis". Biar fair dan objektif. Anda patut tahu, anak muda. Di dunia maya, kalimat yang lengkap saja bisa dipotong jadi hoaks atau ujaran kebencian. Apalagi cuma slogan "The King of Lip Service" jadi terlalu multitafsir. Saya yakin niat Anda pasti baik. Tapi sayang Anda, tidak tahu etika dan mungkin sedikit bermasalah secara moral.

 

Anda harus tahu, prinsip etika itu sederhana, hanya butuh 2 syarat: 1) tahu mana yang benar dan 2) tahu mana yang salah. Nah, Anda kan mahasiswa. Buktikan mana yang benar dan mana yang salah? Jangan menghakimi atau mengeneralisasi 1 soal salah untuk 9 soal yang benar. Di situlah, saya menyebut "buta etika". Maaf ya anak muda.

 

Jangan lupa anak muda. Dalam bernegara persoalan itu banyak. Dan tidak ada masalah yang kelar karean di-cuitkan. Apalagi cuma didiskusikan di grup WA. Maka ambillah bagian untuk menjadi solusi. Bukan malah koar-koar di medsos atau di grup WA. Saya jadi bertanya, Anda sedang belajar atau sedang memusuhi negaranya? Apa sih prestasi yang sudah Anda kerjakan? Atau apa karya Anda untuk bangsa ini? Terus, apa presiden atau negara ini pantas Anda cuitkan? Anda lagi belajar atau lagi apa? Ahh, mungkin Anda belum paham tentang etika. Tentang moral seorang yang intelektual, cara berpikir anak kampus.

 

Percayalah anak muda. Sama sekali tidak ada presiden yang mau mencederai rakyatnya.Tidak ada pula negara yang mau bikin susah rakyatnya.  Sama seperti orang tua, tidak ada yang ingin membohongi anaknya. Tapi bila ada anak kampus yang harusnya belajar, lalu mgomongin yang belum waktunya diomongin. Apa namanya itu? Bila anak saya, menyebut seorang Bapak tetangganya "The King of Lip Service". Maka saya katakan, anak saya itu buta etika. Tidak pantas dan tidak patut.

 

Semoga Anda tidak lupa anak muda. Siapa pun yang bekerja atas amanah di negeri ini pasti tujuannya meraih kemenangan. Seperti Anda yang sedang kuliah, saya pun yakin Anda akan belajar sebaik-baiknya. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk mencederai lawannya, apalagi rakyatnya. Anak muda, mungkin Anda menduga Pak Presiden sudah melanggar. Silakan saja sampaikan dengan baik. Tapi Anda harus tahu ada aturannya untuk menyalurkan aspirasi atau kritikan. Bukan hanya ingin viral saja. 

 

Jujur anak muda, buat saya soal "The King of Lip Service". Itu pernyataan yang tidak ada arti apa-apa. Terlalu rabun, hingga layak disebut "buta etika". Sama sekali, tidak ada isu yang "membumi" yang Anda utarakan. Sayang sekali anak muda, jika Anda hanya berlelah-lelah untuk sensasi bukan esensi. Bukti bahwa Anda masih harus banyak belajar, bukan banyak berkoar. Tidak literat dan gagal paham etika.

 

Berhati-hatilah, anak muda. Saya khawatir, Anda jadi manusia yang "terlalu keras berteriak mulut ketimbang berjibaku pikiran dan berdarah-darah dalam berbuat". Jangan buta etika anak muda. Apalagi Anda kuliah di kampus negeri. Tapi Anda lupa berterima kasih kepada negeri ini. Belajarlah lagi, anak muda.

 

Anda harus tahu anak muda. Hidupmu bahkan negaramu ini bisa baik bukan hanya ditentukan oleh cuitan atau medsos yang viral. Tapi kita butuh etika dan karya nyata untuk berbuat yang terbaik untuk bangsa ini, untuk saudara kita sebangsa. Ini sekadar nasehat untuk Anda, anak muda. #CuitanViral #NasehatUntukAnakMuda #KampanyeLiterasi

 


Senin, 28 Juni 2021

Pergilah Ke Taman Bacaan, Agar Tidak Memaksa Diri Untuk Hidup Terlihat Keren

Hidup itu sederhana. Sesederhana siapapun yang ingin baik dan bahagia. Dan sederhana itu tidak ada hubungannya dengan kaya atau miskin. Tidak ada hubungannya pula dengan pangkat dan jabatan. Tapi hidup sederhana terletak pada akhlak, pada karakter manusianya.

 

Siapa pun yang berkiprah di taman bacaan atau gerakan literasi. Itu pun contoh hidup sederhana. Berjuang untuk membangun giat baca anak-anak dan masyarakat. Menyediakan tempat baca, menyiapkan buku dan melayani anak-anak di taman bacaan. Itu semua sederhana. Bisa dilakukan banyak orang. Tapi hanya sedikit saja yang bisa melakukannya.

 

Saat anak-anak butuh buku bacaan, taman bacaan menyediakan aksesnya. Saat buku-buku bekas di-kilo-in, taman bacaan menampungnya. Saat anak-anak nongkron di jalan-jalan, taman bacaan dijadikan tempat nongkrng anak-anak yang membaca. Jadi, hidup sederhana itu siapa pun bisa mempertemukan “harapan dan kenyataan” sekalipun hanya buku bacaan.

 

Maka hidup sederhana itu memang sederhana. Yaitu “BERBUAT BAIK SAJA UNTUK LINGKUNGAN KITA. WALAU HANYA MENYEDIAKAN BUKU BACAAN. URUS SAJA URUSAN KITA. TANPA PERLU MENGURUS URUSAN ORANG LAIN”. Karena sederhana itu, saat kita tidak pernah mengukur sepatu orang lain dengan ukuran kaki kita. Jangan pernah mengukur kehidupan orang lain dengan ukuran hidup kita. Sederhana kan.

 


Tapi, entah kenapa? Hari ini, makin banyak orang yang terlalu mudah menghakimi orang lain. Terlalu gampang menilai orang lain. Terlalu gemar bergosip lalu percaya perkataan orang lain. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka yang gemar berlomba-lomba dalam keburukan. Itulah oang-orang yang tidak literat. Hidupnya tidak sederhana bahkan hidup dibikin rumit. Hal yang tidak perlu diomongkan malah dijadikan omongan.

 

Maka di taman bacaan, siapapun diingatkan. Bahwa tidak ada perbuatan baik yang sia-sia. Berlomba-lombalah dalam kebaikan, dalam amal saleh. Sekalipun hanya membaca buku atau belajar baca-tulis.

 

Berhati-hatilah dalam hidup. Jangan terburu-buru menghakimi orang lain. Karena, keadaan buruk itu sering kali datang dari pikiran yang buruk. Manusia literat itu terjadi saat kita berani berhenti menyalahkan orang lain. Dan mampu melihat kesalahan diri sendiri. Jangan paksa diri untuk hidup terlihat keren. Apa adanya saja.

 

Di taman bacaan, ada hidup yang sederhana. Saat hidup apa adanya. Bukan hidup mewah atau terlihat keren tapi memaksa diri. Karena hidup itu sederhana. Apabila sesuatu yang kita tidak senangi terjadi. Maka senangilah apa yang terjadi.  Salam literasi. #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen #KampanyeLiterasi

Saatnya Taman Bacaan Berpikir Di Luar Kotak, Kenapa?

Ini pikiran banyak orang. Perubahan boleh asal jangan ganggu kenyamanan mereka. Orang lain diminta berubah. Tapi dia sendiri tidak mau berubah. Menuntut orang lain berpikir di luar kotak. Tapi dia bertahan di dalam kotak.

 

Berpikir di luar kotak itu. Artinya, cara berpikir di luar batasan masalah yang ada. Berpikir dengan perspektif yang baru. Sementara kotak itu hanya ilustrasi. Tentang orang yang membatasi diri hanya melihat masalah pada dirinya sendiri. Bukan masalah fundamental.

 

Maka berpikir di luar kotak, tumpuannya ada pada cara pikir baru di luar kebiasaan. Di luar pikiran sebelumnya, berbeda dari orang-orang pada umumnya. Lebih kreatif dalam melihat masalah. Atau benar-benar berpikir keluar dari yang pernah ada dari sebelumnya. Jadi, berpikir di luar kotak berarti berani untuk berpikir lebih jauh, tidak terfokus hanya pada apa yang dihadapi atau yang dianggap menganggu kenyaman diri sendiri.

 

Berpikir di luar kotak, sungguh hanya bisa dan terjadi apabila kita:

1.      Berani keluar dari zona nyaman.

2.      Berani meninggalkan keraguan atau ketakutan.

3.      Mau mendengarkan orang lain, terbuka, dan menerima. Bukan memaksa atau bertahan.

4.      Mau terbuka terhadap kemungkinan baru, beda dengan yang sebelumnya.

5.      Tidak memaksakan kepentingan sendiri tanpa tahu kepentingan yang lebih besar.

 


Si Albert Einstein yang bilang “Hanya orang-orang gila yang mengharapkan hasil berbeda akan tetapi menggunakan cara-cara yang sama”. Bagaimana mungkin?


Entah kebijakan, regulasi, peraturan atau apa pun. Bila mau berubah ke arah lebih baik ya harusnya siapa pun berani “berpikir di luar kotak”. Bukan fokus dan berjuang pada 1) bila menguntungkan oke dan 2) bila merugikan tidak. Itu bukan berpikir di luar kotak tapi egois.

 

Seperti di taman bacaan pun begitu. Apa iya masalahnya hanya buku. Atau soal anak-anak yang membaca. Atau soal sifatnya yang sosial. Belum tentu kok. Tiap taman bacaan pasti punya masalah dan tata kelola yang berbeda. Maka di situlah dibutuhkan kreativita untuk mencari solusinya. Bukan mengungkap masalahnya. Taman bacaan pun patt “berpikir di luar kotak”. Keluar dari masalah klasikal selama ini.


Dan agak penting. Bahwa “berpikir di luar kotak” itu basisnya harus ada
keterbukaan, tidak keras kepala, dan tidak bertahan pada pendapat sendiri. Opininya selalu ingin dianggap benar. Lalu sesuatu yang baru dianggap salah.

 

Kedengarannya sederhana. Pengen terjadi perubahan. Tapi pikiran dan sikapnya justru bertahan dan berlama-lama pada cara lama. Itu pun belum tentu sepenuhnya benar. Menuntut orang lain berpikir “di luar kotak” tapi diri sendiri tetap bersemayam “di dalam kotak”. Jadi mau gimana dong? Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #GerakanLiterasi

Minggu, 27 Juni 2021

Pengakuan Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka, Kenapa Saya Menulis?

 KENAPA SAYA MENULIS?

 

Hingga saat ini, sudah 34 buku saya hasilkan. Sepanjang 11 tahun, dari 2010-2021 ini, rata-rata 3,1 buku per tahun diterbitkan. Ada bisa diperoleh di toko buku ternama, ada juga yang menulis bareng-bareng anak atau mahasiswa. Intinya saya menulis. Sebab menurut saya, ada hal-hal sederhana yang selalu bisa ditulis. Dalam hidup siapa pun, termasuk saya.

 

Saat ditanya orang, kenapa saya menulis? Jawab saya, saya menulis untuk diri sendiri. Sebab menulis itu seperti olahraga, atau makan, atau tidur. Untuk menyehatkan pikiran. Agar membangun mental positif. Menulis pula yang bikin saya “berteman” dengan pengalaman, pengetahuan atau perasaan. Dan juga buku-buku. Karena tidak ada orang yang menulis tanpa membaca. Seperti tidak ada orang yang pandai bicara tanpa pandai mendengarkan.

 

Scripta manent verba volant; yang tertulis akan abadi dan yang terucap akan hilang. Maka saya menulis. Menulis juga perbuatan bukan pelajaran. Menulis itu keberanian bukan kekhawatiran. Maka saya sering “memaksa” diri saya dan orang lain menulis.


 

Saya menulis juga karena saya sedih. Kok bisa-bisanya orang-orang sekarang menebar hoaks alias berita bohong. Terus untuk apa pula bikin ujaran kebencian kepada orang lain. Banyak orang terlalu mudah menghakimi dan meyalahkan orang. Itu bukti orang-orang tersebut tidak pernah menulis. Hanya bisa marah-marah dan menulis sedikit doang untuk hal-hal yang tidak penting. Maka menulis itu “obat” dari kesedihan saya terhadap keadaan. Teknologi makin canggih, zaman makin maju. Tapi sayang orang-orangnya tidak lebih baik. Karena tidak mau menulis. Padahal menulis itu ekspresi yang lebih bertanggung jawab.

 

Saya pun tidak menulis untuk cari uang. Bukan pula untuk menyelamatkan dunia. Atau mengejar popularitas. Saya menulis karena menulis Sudha jadi gaya hidup, sudah jadi kebiasaan. Ibarat “tidak bisa tidur bila belum menulis”. Tiap hari saya menulis. Minimal 300 kata atau bisa juga 6.000 karakter. Tentang apa saja, tentang apa pun. Asal berdasar pengalaman, pengetahuan atau perasaan saya. Bukan pengalaman atau perasaan orang lain, karena out susah banget.

 

Dan yang penting, menulis itu bukan untuk diseminarkan atau didiskusikan. Karena resep menulis yang paling jitu adalah “menulis, menulis, dan menulis”. Salam literasi. #KenapaSayaMenulis #MenulisBuku #PegiatLiterasi



7 Manfaat Anak Membaca Buku Versi TBM Lentera Pustaka

Era digital, suka tidak suka, kian menjauhkan anak-anak dari buku bacaan. Anak-anak yang lebh senang bermain gim online. Atau asyik sendiri dengan gawai atau laptop. Tanpa kita tahu, apakah yang dilakukannya dengan perangkat digital itu positif atau negatif? Maka siapa pun, orang tua atau orang dewasa perlu menemani anak-anak saat ber-gawai, saat ber-digital.

 

Tapi untuk menjaga keseimbangan, cara terbaik dinamika era digital di anak-anak adalah dengan menyeimbangkan anak-anak untuk membaca buku. Selalu menyediakan waktu untuk anak membaca buku. Apalagi di masa pandemi Covid-19 yang mulai menyasar kalangan anak-anak. Caranya, orang tua bisa membelikan buku bacaan. Atau bisa pula datang ke taman bacaan yang ada di dekat rumah. Tentu, menyuruh anak membaca buku tidak mudah. Butuh perjuangan, butuh kedisiplinan bahkan keteladanan.

 

Kenapa anak-anak harus membaca buku di era digital?

Karena membaca buku memberikan banyak manfaat. Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak menyebutkan ada tujuh manfaat yang bisa diperoleh saat membaca buku. Tujuh manfaat membaca buku bagi anak-anak, antara lain: 

Pertama, memperkaya pengetahuan dan wawasan. Karena setiap buku berisikan pengetahuan atau wawasan yang dapat memperkaya khasanah keilmuan anak-anak. 

Kedua, mengembangkan imajinasi dan kreativitas. Karena membaca buku mampu memacu daya imajinasi dan kreativitas yang terus bertambah akibat rasa ingin tahu yang lebih tinggi.

Ketiga, menambah rasa percaya diri. Karena membaca buku mampu menambah sikap percaya. Terbatasnya pengetahuan dan wawasan adalah sebab rendahnya sikap percaya diri.

Keempat adalah meningkatkan budaya baca. Karena membaca buku bisa menjadi budaya anak-anak, sehingga memiliki perilaku untuk memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku.

Kelima, menambah kosakata baru.  Karena dengan membaca buku, anak-anak akan memperoleh berbagai kosakata baru yang berguna untuk keterampilan komunikasi, baik lisan maupun tulisan.

Keenam, meningkatkan keterampilan komunikasi. Karena makin banyak membaca buku dan makin banyak kosakata yang dikuasai, maka makin mudah dan terampil dalam komunikasi.

Ketujuh, menyelamatkan masa depan anak-anak. Karena anak-anak yang membaca buku akan lebih mampu bersaing dan bekerja ketika dewasa, sehingga mampu mempersiapkan masa depan lebih baik.



Sebagai informasi saja, di TBM Lentera Pustaka, saat ini ada 168 anak-anak usia sekolah dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya) yang rutin membaca buku di taman bacaan seminggu 3 kali. Kini mereka terbiasa membaca habis 5-8 buku per minggu per anak. Padahal sebelumnya, mereka anak-anak yang tidak memiliki akses buku bacaan. Tidak ad ataman bacaan sebelumnya. Maka angka putus sekolah pun tinggi. Tingkat Pendidikan masyarakat-nya 81% sebatas SD. Karena itu, membaca buku bagi anak-anak menjadi penting.


Jadi, membaca buku sangat penting untuk anak-anak. Apalagi di tengah ancaman era digital yang kian masif. Maka harus ada kontrol terhadap anak-anak. Agar mau membaca buku, bukan hanya bermain gawai atau gim online.  Karena dengan membaca buk, anak-anak akhirnya mampu memahami dunia yang terus berubah, memperluas kekuatan imajinasi, dan meningkatkan pemikiran kreatif. Dan pada akhirnya, anak-anak pun menjadi lebih literat. Lebih memahami realitas kehidupan yang ada di sekitarnya. Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen

Mahasiswa IPB KKN Tematik Tahun 2021 di TBM Lentera Pustaka

Untuk kali ke-2, TBM Lentera Pustaka menjadi mitra KKN tematik mahasiswa IPB. Akan ada 2 kelompok (20 orang) akan kuliah kerja nyata di Taman Bacaan dan di Desa Sukaluyu. Mereka selama 40 hari akan “bermukim” di dekat TBM. Untuk berkiprah nyata “mendekati persoalan kemasyarakatan”.

 
Tujuannya sederhana, agar ilmu pengetahuan lebih dekat dengan realitas lapangan. Di samping membangun kepedulian mahasiswa terhadap persoalan yang ada. Maka di situ akan ada kolaborasi, etos kerja, dan tanggung jawab. Antara dunia kampus dan taman bacaan.
 
Melalui KKN Tematik tahun 2021 ini, mahasiswa IPB nantinya akan meakukan serangkaian aktivitas di TBM Lentera Pustaka yang melibatkan anak-anak pembaca aktif, iu-ibu buta aksara, dan warga sekitar. Untuk penguatan tradisi baca dan ketahanan lingkungan. Sementara itu, mahasiswa pun akan melakukan pengkinan data demografi Desa Sukaluyu yang terkait dengan tingkat pendidikan, mata pencaharian, dan status buta aksara. Semuanya dilakukan dengan melibatkan mahasiswa dan aparatur desa. 
 
KKN ini jadi momen untuk memperkuat TBM Lentera Pustaka sebagai inisiator terpilih dari Dit. PMPK Kemdikbud RI untuk program "KAMPUNG LITERASI" yang siap dijalankan Juli 2021. Selamat datang adik-adik mahasiswa KKN Tematik IPB, salam literasi #KKNTematikIPB #TBmLenteraPustaka #DesaSukaluyu #TamanBacaan





Anak yang Membaca, Pemandangan Indah yang Kalahkan Gunung yang Eksotis

KETIKA PEMANDANGAN INDAH ITU TIDAK LAGI GUNUNG

Banyak orang takjub saat melihat pemandangan alam yang indah. Entah itu gunung yang eksotis. Matahari terbenam, hamparan lautan yang luas atau bunga-bunga di taman. Bahkan kata pendaki gunung, makin tinggi mendaki makin indah pemandangannya.

 

Maka, semakin kita melihat jauh ke alam. Maka kita akan semakin paham. Bahwa Tuhan Yang Maha Esa sangat sempurna, semua anugerah-Nya baik.

 

Hanya banyak orang lupa. Pemandangan itu tidak selalu alam. Tidak lagi gunung. Tapi anak-anak yang membaca buku juga pemandangan indah. Anak-anak yang dulu tidak punya akses buku bacaan. Di sebuah kampung kecil di kaki Gunung Salak, kini berubah jadi anak-anak yang giat membaca. Seminggu 3 kali. Bahkan di hari Minggu ini (27/6/21) harusnya jam baca pukul 10.00 WIB, mereka sudah ada di TBM Lentera Pustaka sejak pukul 08.00 WIB. Ngapain? Hanya untuk membaca buku sambil menanti “Laboratorium Baca” jam 10.00 WIB setiap hari Minggu. Hebatnya, tidak sedikit dari anak-anak ini diantar orang tuanya. Bahkan, 5-6 pedagang keliling pun sudah mangkal di depan taman bacaan.


 

Ada 160-an anak-anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka setiap minggu selalu di-doktrin. Untuk selalu membaca buku, jangan putus sekolah, dan bersyukur atas segala keadaan. Karena di daerah lain, banyak yang tidak punya taman bacaan. Sementara mereka kini punya akses membaca di taman bacaan. Bahkan terbiasa membaca 5-8 buku per minggu per anak. Alhamdulillah.

 

Anak-anak yang membaca di taman bacaan. Bukan hanya pemandangan indah. Tapi sebuah praktik baik yang harus terus dipelihara. LEBIH BAIK MANA, GUNUNG YANG INDAH NAMUN TIDAK PERNAH DIDAKI ATAU BUKU KECIL TAMAN BACAAN YANG SELALU DIBACA ANAK?

 

Jadi, pemandangan indah tidak lagi sebatas gunung, laut atau bunga-bunga. Tapi anak-anak yang membaca di era digital pun pemandangan indah. Panorama sosial yang harus dipelihara. Anak-anak yang membaca di tengah ancaman gawai atau dunia digital. Agar mereka tetap menjadi anak-anak di dunia nyata dan dunia maya. Jangan biarkan mereka tergerus nafsu digital yang tidak produktif dan tidak bermanfaat. Sehingga mereka hanya menjadi “korban” bukan “pelaku” perubahan.

 

Maka, jangan mengambil apapun selain gambar praktik baik. Jangan meninggalkan apapun selain jejak baik. Dan jangan membunuh apapun selain waktu yang tidak bermanfaat. Teruslah membaca, salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen #PemandanganIndah #AnakGiatBaca