Jumat, 29 Mei 2020

Jangan Ajarkan Anak Berjiwa Pengemis Di Hari Raya Lebaran

Anak-anak kecil sering meminta uang di Hari Raya. Atau sebaliknya, orang dewasa yang memberi uang atau amplop kepada anak-anak kecil. Itu tradisi yang biasa terjadi di Hari Idul Fitri atau lebaran. Entah, siapa yang mengajarkannya dulu? Agak sulit ditelusuri. Mungkin sudah jadi budaya atau kebiasaan.

 

Memberi amplop atau uang kepada anak-anak di hari raya, tentu tidak masalah. Apalagi bila si anak dikasih oleh Om atau Tante-nya, sama sekali tidak masalah.  

Sah-sah saja, bila menerima amplop bila dikasih. Tapi harus diingat, jangan sekali-sekali meminta bila tidak dikasih. Jangan biarkan anak-anak bermental pengemis di hari raya.

 

Apalagi anak-anak, pasti tidak akan salah. Karena anak-anak memang tidak meminta untuk dikasih uang atau amplop. Tapi sayangnya, banyak orang tua yang menjadikan “meminta uang” untuk anaknya di hari raya. Dianggap sebuah tradisi, sebuah kebiasaan.

 

Seperti contoh, orang tua seringkali mengucapkan kata-kata ini di hari raya:

“Ayo Nak, salam dulu sama Om. Biar nanti dikasih uang…””

“Ayo Nak, kita ke rumah tante. Dia orang kaya, kalau ke sana pasti dikasih amplop deh”

“Om dan tante, mana nih amplop buat keponakannya. Kok belum dikasih…”

“Tante dapat THR ya,, bagi dong keponakannya…”

 

Anehnya, setelah dikasih pun, tidak sedikit orang tua yang masih saja menyahut:

“Ya kok cuma segini, Om? Tante aja kasihnya banyakan. Tambahin dong Om..”

“Kok cuma 2 lembar sih Tante, tambahin lagi dong …”

“Ada lagi gak Om, kan si adek mau beli sepeda…”

Itu semua, ucapan “berani’ yang ada di mulut orang tua. Bukan anak. Karena anak, tidak punya tradisi “meminta” seperti itu. Jadi, jangan biarkan anak-anak bermental pengemis di hari raya.

 

Memang tidak semua anak atau semua orang tua seperti itu. Alhamdulillah. Tapi tidak sedikit orang tua dan anak yang berperilaku seperti itu Ketika hari raya tiba. Bahkan banyak pula orang tua yang menyuruh anak-anak untuk meminta-minta secara tidak langsung. Meminta-minta, tentu jangan dijasikan kebiasaan. Karena apapun alasanya, oitu keliru. Apalagi berkata “Ahh, maklum aja. Namanya juga anak-anak.” Karena tradisi meminta-minta itu akan terbawa hingga si anak dewasa. Maka orang tua harus menyadari. Dan tidak boleh membiarkan anak bermental pengemis. Ini soal pembentukan karakter anak.

 

Ketahuilah, orang tua harus berjuang sekuat tenaga. Agar anaknya mandiri dan tidak memiliki mental pengemis. Ajarkan anak-anak untuk tidak meminta-minta. Karena mental peminta-minta, hakikatnya dilaran dalam Agama Islam.

 

“Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidak fakir, maka seakan-akan ia memakan bara api” (HR Ahmad 4/165)

 

Jangan biarkan anak-anak bermental pengemis di hari raya.

Karena sejatinya, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Maka nilai pendidikan di hari raya yang patut diajarkan ke anak-anak. Adalah “jika dikasih silakan terima; tapi jangan sekali-kali meminta”. Lalu, ajarkan anak-anak untuk mengucapkan terima kasih kepada yang memberi. Tanpa perlu menilai berapa nominal uang yang diberikan.

 

Memberi uang atau amplop saat hari raya, tentu boleh-boleh saja. Apalagi bila niatnya untuk berbagi kegembiraan kepada anak-anak. Sekaligus mengajak anak-anak untuk bersyukur atas karunia Allah SWT. Dan untuk memotivasi anak-anak agar lebih giat dalam beribadah dan menjalin silaturahim. Bila itu yang terjadi, insya allh menjadi berkah. Bahkan menjadi ladang amal bagis siapa saja yang terlibat dalam kebaikan.

 

Intinya, jangan meminta-minta di hari raya. Apalagi terang-terangan hingga kesannya menyindir orang dewasa yang diminta, entah Om atau Tante. Meminta jatah “amplop” tanpa malu-malu lagi. Hati-hati karena mentalitas itu akan terbawa hingga anak-anak dewasa.

 

Memang, apabila bisa memberi itu sangat bagus. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat pada yang lainnya.  Tapi bila yang diharapkan memberi tidak mampu, maka ajarkan pula budaya malu untuk meminta-minta. Jadi, jangan biarkan anak-anak bermental pengemis.

 

Maka inilah momen. Untuk terus muhasabah diri. Agar jangan berjiwa pengemis; yang selalu meminta belas kasih dari orang lain. Insya Allah, rezeki sseseorang tidak akan pernah tertukar. Banyaklah bersyukur atas apa yang dikaruniai Allah SWT. Bila ada yang kurang, ikhtiar dan berdoa lagi.

 

Jangan meminta-minta di hari raya. Karena di atas ilmu ada adab. Dan ilmu tanpa adan, akan menghinakan diri sendiri …  #PesanLebaran #idulFitri

 


Senin, 25 Mei 2020

Tips Jaga Mood Tetap Oke Saat Bosan #DiRumahAja

Gara-gara wabah Covid-19, semuanya diimbau #DiRumahAja.

Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah. Ehh, lebaran pun di rumah aja.

Dan ternyata, #DiRumahAja gak mudah lho. Emang mau ngapain #DiRumahAja segini lama. Mau sampai kapan sih #DiRumahAja. Apalagi buat kamu yang sehari-hari sering di luar rumah. Bekerja, nongkrong atau lainnya. Pergi gelap pulang gelap. Pergi pagi pulang malam. Sekarang disuruh #DiRumahAja, apa gak tersiksa tuh?

 

Saya sendiri sudah 75 hari #DiRumahAja. Tepatnya sejak 15 Maret 2020 sampai hari ini. Persis 75 hari terlewati #DiRumahAja. Bikin bosan. Mood alias suasana hati jadi berantakan. Rutinitas yang biasa dilakukan, semua terhenti. Akibat Covid-19. Mau pergi gak bisa. Mau ngelancong gak boleh. Mau ke kantor takut tertular Covid-19. Jadi, #DiRumahAja mau ngapain aja?

 

Bosan #DiRumahAja itu lumrah. Harus berdiam diri #DiRumahAja bikin suasana hati jadi gak menentu itu biasa. Sangat manusiawi kok. Apalagi #DiRumahAja dalam kurun waktu yang lama. Sementara kapan berakhir wabah Covid-19 pun belum jelas. Lalu, apa mood aliasa suasana hati jadi makin galau?

 

Jujur, atas sebab apapun. #DiRumahAja pasti bikin bosan. Maka rasa bosan itu harus dikelola dengan baik. Karena bila gak dikelola dengan baik, rasa bosan itu bisa jadi penyakit. Mood aliasa suasana hati bila gak dikendalikan. Justru bisa merusak kesehatan mental, bahkan berpikirnya bisa tidak sehat. Ujung-ujungnya imunitas tubuh menurun dan akhirnya jadi sakit.

 

Jadi, buat kamu yang sudah bosan #DiRumahAja. Tetaplah berpikir positif, jangan sebaliknya. Banyaklah bersyukur, jangan banyak mengeluh. Jaga mood atau suasana hati tetap oke, jangan sebaliknya. Karena percayalah, badai pasti berlalu kok. Dan di balik tiap kesulitan pasti ada kemudahan. Saya sendiri percaya. Wabah Covid-19 ini ujian buat semua orang. Agar lebih menghargai “rumah” daripada “di luar rumah”. Karena kemarin-kemarin, kita lalai terhadap keberadaan rumah. Rumah yang hanya dijadikan tempat istirahat, tempat tidur doang. Akibat merasa sibuk, merasa aktivitas di luar rumah lebih dominan daripada di dalam rumah.

 

Terus terang aja. Saya sih happy-happy saja #DiRumahAja. Karena aktivitas rutin tetap berjalan seperti biasa. Tetap produktif dan menebar manfaat. Mulai dari kuliah daring, bimbingan skripsi daring, menulis, bahkan menyusun strategi untuk penyelesaian studi S3 – Program Doktor Manajemen Pendidikan di Pascasarjana Universitas Pakuan. Alahmdulillah, sekarang ini lagi menunggu jadwal Ujian Seminar Judul Disertasi.

 

Jadi, saya harus ngapai aja saat #DiRumahAja akibat wabah Covid-19?

Tentu, ada banyak yang bisa dilakukan. Sesuai dengan selera masing-masing. Asal yang penting, semua aktivitas itu bersifat produktif dan bermanfaat. Nah, beberapa aktivitas untuk melawan rasa jenuh dan bosan saat #DiRumahAja. Ada baiknya kamu melakukan kegiatan-kegiatan di bawah ini:

1.      Membaca buku. Karena membaca itu bisa menambah pengetahuan dan wawasan. Membaca buku itu manfaatnya banyak dan gak ada ruginya. Salah satunya, baca buku itu bisa menghilangkan stress.

2.      Menulis. Karena menulis itu kan ekpresi pikiran dan perasaan. Menulis buat blog, menulis buat catatan harian; menulis puisi. Atau menulis untuk media massa kan malah bisa dapat bayaran.  Bahkan menulis itu berarti kita berbagi info atau wawasan kepada pembaca. Itu amal yang luar biasa. Bila ada orang yang tercerahkan karena tulisan kita. Menulislah, dari apa yang kamu senangi saja. Pasti bermanfaat.

3.      Silaturahim atau diskusi via online. Karena di zaman canggih begini, silaturahim atau sosialisasi kan bisa secara online alias daring. Halal bihalal lebaran online, diskusi online. Apalagi musim Covid-19 begini, video online lagi marak-maraknya. Online itu bisa jadi solusi saat #DiRumahAja.

4.      Berkebun. Bila ada sebidang tanah kosong di rumah, bolehlah berkebun. Atau menamam pohon pakai pot. Kan gak butuh tanah luas. Karena berkebun itu melatih diri untuk bersabar. Sekaligus meredam egoisme. Belajar menghargai alam, melatih cara memperlakukan makhluk Allah SWT dengan baik lewat tangan kita.

5.      Bikin rencana ke depan. Banyak orang bilang “planning”. Nah coba bikin rencana setelah Covid-19 berakhir, kita mau apa? Saya sendiri berencana untuk mengantar anak yang akan kembali ke Univ. Brawijaya Malang sambil jalan-jalan ke Banyuwangi, terus menargetkat selesaikan proposal disertasi dan penelitian lapangan hingga akhir tahun 2020 ini. Bikin rencana itu penting. Agar kita tidak hanya menjalani rutinitas. Tanpa tujuan hidup yang jelas. Kapan mau lebih dekat pada Allah SWT? Kapan mau pensiun? Kapan mau bersosial dan membantu orang lain? Bikin rencana itu menantang dan bikin hidup jadi gak monoton.

Itu hanya contoh aktivitas saat #DiRumahAja. Utamanya yang saya lakukan. Kamu tentu bisa punya aktivitas sendiri; asal senang dan bikin mood tetap oke. Bisa olahraga di rumah, bisa berbenah, memasak, main game atau lainnya. Tapi kalua boleh saran, y acari aktivitas yang produktif dan bermanfaat.

 

Dan satu hal yang penting. Saat #DiRumahAja, jangan pernah berpikir negatif atau mengeluh terus-menerus. Apalagi ngomongin orang, itu dilarang. #DiRumahAja gak perlu kerjanya “mengintip kegiatan orang lain” apalagi membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Eman-eman banget, sayang waktu kita sayang pikiran kita. Tiap orang itu punya aktivitas sendiri, cara sendiri, dan urusan sendiri. Gak usah pengen seperti orang lain. Jadilah diri sendiri saat #DiRumahAja.

 

Jadi, jaga mood alias suasana hati saat #DiRumahAja. Bosan boleh tapi harus bisa dikelola dengan baik. Agar dampaknya jadi baik dan positif buat kamu. Biar gak jadi penyakit, baik hati pikiran maupun fisik.

 

Saya selalu pesan sama anak-anak muda. Setelah kuliah, mereka ingin kerja. Nah jika sudah bekerja untuk apa? Saya kasih tahu, silakan “beli rumah” untuk masa depan kamu dan senangi orang tua kamu. Karena itu, hargai rumah kamu yang dulu kamu susah payah untuk membelinya. Lalu, kenapa harus bosan saat berada #DiRumahAja?

 

Orang sering lupa. Rumah itu adalah “kekasih” yang paling kita cintai. Karena meski kaki kita melangkah ke luar, tapi hati tetap tertinggal di rumah. Rumah itu bukan soal di mana kamu tinggal. Tapi soal tempat yang paling mengerti kamuy a rumah.

 

Sungguh, setiap orang boleh jadi apa saja. Tapi rumah, adalah sekolah paling hebat untuk mereka yang menghuninya…. #BudayaLiterasi #DiRumahAja

 


Minggu, 24 Mei 2020

Kecanduan Gawai dan Media Sosial, Kembalikan Anak Membaca Buku di Taman Bacaan

MEMBACA itu hak semua anak, di kota atau di kampung. Kaya atau miskin; tanpa terkecuali.

Maka anak-anak di manapun harus diberi akses untuk mendekat kepada buku bacaan. Anehnya, sekalipun angka partisipasi pendidikan anak usia sekolah di Indonesia terus meningkat tiap tahunnya. Tapi hari ini, masih ada jutaan anak yang mengalami putus sekolah. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (2016) total jumlah anak putus sekolah di 34 provinsi masih berada di kisaran 4,6 juta anak.

Ada dua sebab anak putus sekolah, yaitu 1) kemiskinan dan 2) pernikahan dini. Itu semua terjadi akibat mind set atau cara pikir yang belum berubah. Apakah anak dari keluarga miskin berarti tidak bisa sekolah? Atau mereka harus segera dinikahkan? Maka siapapun, harus peduli soal ini. Apalagi pemerintah, utamanya pemerintah daerah. Terjunlah ke kampung-kampung, bikin saja survei kecil tentang tingkat partisipasi pendidikan masyarakatnya. Apa rata-ratanya? SD, SMP, SMA atau perguruan tinggi.
Silakan cek. Di kampung-kampung, apakah ada fasilitas untuk membaca buku untuk anak-anak? Entah itu perpustakaan, taman bacaan, atau pojok baca. Asal tahu saja, di kampung-kampung itu, perpustakaan sekolah saja tidak ada. Bila ada pun, sama sekali tidak dirawat bahkan buku-bukunya sudah using. Sementara sekolah di kota-kota besar, ada banyak pojok-pojok baca yang diciptakan. Hanya untuk estetika, sekadar pemandangan indah di kawasan sekolah.

Apalagi di tengah gempuran era digital seperti sekarang. Jutaan anak di Indonesia malah pandai memainkan gawai alias ponsel pintar. Penelitian yang telah dipublikasikan Uswitch.com menyebut “lebih dari seperempat anak-anak di seluruh dunia memiliki akses ponsel genggam sebelum usia 8 tahun”. Kemendikbud dalam survei bertajuk Indonesia Millennial Report 2019 menyebut 94,4% milenial Indonesia telah terkoneksi dengan internet.

Apakah kita bangga dengan anak-anak yang jago bermain gawai? Sama sekali tidak. Anak-anak yang addicted atau kecanduan gawai tidak bisa dibanggakan. Sama seperti orang tua yang kerjanya main gawai. Tapi anehnya hari ini, tidak sedikit orang tua yang justru bangga bila mampu membelikan ponsel pintar buat anaknya. Alasannya, agar anak-anaknya tidak menangis atau biar melek teknologi. Sementara si anak, makin asyik main gim online. Kian gencar eksis di media sosial. Atau chat tentang gaya hidup bersama teman-temannya. Maka wajar, ada rumah sakit di Indonesia hari ini yang 25% dari total pasien anak akibat kecanduan gawai. Butuh konsultasi dan berobat. Itulah kondisi anak-anak yang akrab dengan gawai, bukan buku bacaan.


Membaca buku. Adalah “musuh” dari anak yang putus sekolah. Musuh dari anak-anak penggila gawai. Maka tidak ada alasan, taman bacaan atau pegiat literasi di manapun. Selain terus kampanye dan menebarkan aktivitas membaca buku di kalangan anak-anak usia sekolah. Tikda masalah, kita ada di kampung apa dan di mana? Asal tetap konsisten memberikan akses buku bacaan kepada anak-anak. Menjadikan baca buku sebagai “perlawanan” terhadap gaya hidup anak-anak yang tidak produktif.

Sebut saja, Agil namanya. Siswa kelas 4 SD di Kampung Warung Loa Desa Sukaluyu, di

Kaki Gunung Salak Bogor. Bukan hanya terancam putus sekolah akibat ekonomi keluarga yang tergolong miskin. Makai a pun terus berjuang agar tetap bisa sekolah. Maka salah satu cara yang bisa ditempuh adalah mendekatkan anak-anak usia sekolah dengan buku bacaan. Harus ada kemudahan akses menyentuh buku bacaan.

Maka di kaki Gunung Salak Bogor, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka hadir untuk memberi akses buku bacaan pada anak-anak usia sekolah. Agar tidak ada lagi anak putus sekolah, di samping memperkecil porsi anak-anak bermain gawai alias ponsel pintar. Dan melalui konsep TBM-edutainment, kini terbukti ada 60 anak pembaca aktif usia sekolah, yang mampu membaca rata-rata 5-10 buku per minggu. Dengan koleksi lebih dari 3.000 buku, TBM Lentera Pustaka ingin mengubah mind set agar anak-anak tetap mau membaca. Agar  bertambah pengetahuan dan wawasan.


Saatnya orang dewasa peduli terhadap anak-anak yang membaca buku. Apalagi di kampung-kampung. Sudah terlalu lama anak-anak “tidak mampu menikmati” indahnya membaca buku. Akibat aksesnya terbatas, buku-bukunya langka.

Sungguh, hanya membaca buku. Anak-anak itu bisa menyelamatkan masa depan mereka sendiri. Terbebas dari putus sekolah, terbebas dari kemiskinan bahkan kebodohan.

Suasana Idul Fitri atau lebaran. Harusnya jadi momen bersama untuk mengembalikan anak-anak pada tradisi membaca, pada budaya literasi yang baik. Akrabkan anak-anak pada buku bacaan.

Karena membaca buku, sejatinya dapat mencairkan lautan kebekuan kemiskinan dan kebodohan yang tidak berujung. Dan terus-menerus berdebat. Tentang minat baca yang rendah; budaya literasi yang payah.

Jangan bilang cinta pada anak, bila tidak mengajak mereka untuk membaca buku … #TBMLenteraPustaka #BudayaLiterasi