Minggu lalu, saya ketemu Pak Darto. Usianya 52 tahun dan baru 3 bulan lalu pensiun dini. Berhenti bekerja untuk pensiun atas kemauan sendiri. Bukan karena sudah kaya raya. Bukan pula karena warisan. Tapi karena satu keputusan yang bikin hidupnya berubah 180 derajat. Karena cara pandangnya tentang bekerja sudah berubah. Mindset tentang uang pun berubah.
Waktu itu, Pak Darto cerita,
"Dulu Mas, saya kerja tiap hari cuma mikir: gimana caranya cepet kaya."
Samnpai-sampai nggak peduli caranya. Yang penting: punya banyak aset, investasi
sana-sini, portfolio berkembang terus. Dia mengejar semua "strategi
finansial" yang ada di buku.
Dan hasilnya? Portofolio
lumayan. Rumah sudah lunas. Tapi, dia bilang: "Saya nggak pernah ngerasa merdeka."
Setiap hari kerja kayak robot. Berangkat pagi pulang malam. Terjebak rutinitas.
Stres. Kesehatan mulai drop. Hubungan rusak. Dan yang paling parah katanya, "Saya
malah nggak punya waktu buat hidup."
Dia cerita lagi. Suatu waktu,
dia hampir nggak bisa menemani anaknya yang lagi sakit. Semua
"kesuksesan" finansialnya, tiba-tiba nggak ada artinya. Di titik itu,
dia ambil keputusan besar. Dia berhenti kerja. Minta pensiun dini.
Saat memutuskan pensiun dini. Semua
orang sekantor kaget. "Gila, Pak Darto. Udah nggak waras ya. Ekonomi lagi
begini dia malah pensiun dini?" Tapi Pak Darto tenang saja. Sambil senyum
sejenak, Pak Darto bilang “Saya mau hidup bukan buat uang. Tapi uang buat
hidup."
Pergeseran mindset tentang kerja,
tentang hidup dan uang itulah yang paling penting, kata Pak Darto ke teman-teman
di kantornya saat memutuskan pensiun dini.
Apa yang dilakukan Pak Darto?
Ternyata, bukan strategi investasi. Bukan reksadana, bukan saham atau properti.
Tapi dia mengubah “prioritas”. Dari "punya banyak" jadi "punya
cukup". Dari "kerja keras" jadi "hidup bermakna". Dari
material ke psikologis. Pengen hidup yang tenang, bukan yang bergelimang.
Maka saya pun bertanya ke Pak
Darto. "Gimana caranya mengubah mindset itu Pak?"
Pak Darto menjawab,
"Pertama, lakukan definisi ulang tengan uang". Dulu, uang itu “angka”
di rekening. Tapi sekarang buat saya, uang itu waktu, kesehatan, hubungan baik,
dan pengalaman bermakna.
Kedua, hidup minimalis dann
sederhana saja. Saya menjual beberapa aset yang nggak perlu. Rumah besar
dijual. Mobil mewah dijual. Semua yang bikin dia terjebak dalam siklus konsumsi
disingkirkan. "Untuk apa uang atau harta kalau nggak bisa
dinikmatin?", katanya.
Ketiga, mulai diversifikasi
waktu. Dulu, 90% waktu hanya buat kerja. Sekarang, Pak Darro membagi waktu yang
pas buat keluarga, hobi, bersosial dan belajar hal baru. "Saya sekarang mulai
berkiprah sosial, menulis, jalan-jalan sambil kulineran. Lebih bahagia banget" .
Dan yang paling penting, keempat,
ternyata investasi terbaik itu investasi pada diri sendiri. Pelajari hal yang
baru, baca buku, dan ikuti workshop yang lagi tren. Jadi, hidup bukan cuma soal
skill kerja. Tapi skill hidup, gimana berkomunikasi, manajemen emosi, dan yang
penting cara bersyukur. “Akhirnya, saya jadi lebih kenal diri sendiri",
katanya lagi.
Saya pun bertanya lagi,
"Terus, gimana soal finansialnya, Pak?"
Dia menjawab santai, "Ya sejak
pensiun dini cukup-cukup aja. Nggak kekurangan. Malah lebih tenang secara psikologis.
Untuk bulanan, saya juga punya DPLK. Sekarang tinggal nikmatin hasilnya,
dibayar secara bulanan”.
Kerja lebih dari 25 tahun, Pak
Darto akhirnya memilih pensiun dini. Dai mulai fokus pada diri sendiri dan
menekuni hobi yang sesuai passion-nya. Tidak lagi mengejar "kekayaan"
selama masih bekerja. Dan ternyata, pensiun bukan hanya urusan uang. Tapi lebih
ke masalah psikologis, untuk meraih ketenangan yang hakiki.
Ada pesan penting dari kisah Pak
Darto. Ternyata uang memang penting tapi bukan segalanya. Jangan sampai kita
mengejar uang mati-matian, hingga lupa caranya hidup yang yang bermakna. Kerja bukan
hanya lahir tapi batin. Kerja bukan Cuma untuk hari ini tapi juga untuk masa
pensiun. Dan ternyata, di situlah banyak pekerja nggak sadar. Kerja hanya
dianggap untuk mengejar kekayaan.
Di akhir obrolan pun, saya baru
tersadar. Selama ini saya memandang kerja itu terbalik. Kerja keras dianggap
untuk “sukses". Tapi nggak pernah mikir, apa iotu arti sukses buat diri diri
saya sendiri? Saya terjebak pada rutinitas dan pola yang sama dalam hidup.
Dan akhirnya, tidak sedikit
orang yang merasa sudah bekerja keras tapi perasaanya tetap ada yang kurang.
Ini kurang itu kurang, ada yang salah dengan cara pandang tentang uang. Pilih
tenang atau uang? #YukSiapkanPensiun




