Jumat, 12 April 2024

Gimana Lebarannya Bu? Kisah Literasi di Momen Idul Fitri

Sore hari, tanggal 3 Syawal kemarin, saat bertemu dengan salah seorang ibu, warga belajar Gerakan BERantas Buta aksaRA (GEBERBURA) TBM Lentera Pustaka di Bogor, saya bersalaman dan berucap. Selamat Idul Fitri 1445 H dan mohon maaf lahir batin. Sambil sejenak ngobrol tentang suasana lebaran.

 

“Gimana Bu, lebarannya?” tanya saya.

Si ibu menjawab, “Yah, namanya lebaran di kampung begini aja Pak”. Katanya, tidak ada yang istimewa. Pakaian baru tidak ada, ketupat pun tidak ada. Hanya masak seperti makan sehari-hari. Justru malah susah karena tukang sayur yang keliling malah libur. Lebaran atau tidak lebaran sama saja. Tetap hidup prihatin (bila tidak mau disebut miskin) dan seadanya. Serba tidak mampu, namun tetap dijalani hari-harinya.   

“Saya sih Pak, asal masih bisa makan setiap hari saja, udah alhamdulillah. Lebaran nggak lebaran biasa saja. Tetap jadi orang tidak mampu” begitu kata si ibu.

 

Mendengar kata-kata si ibu, saya pun termenung. Mungkin si ibu hanya potret dari sebagian banyak orang-orang di kampung. Bahwa lebaran sama sekali tidak berdampak terhadap kehidupannya. Tetap susah dan sama saja. Tapi tetap mampu menjalaninya dengan pasrah, dengan apa adanya tanpa keluh-kesah. Saya pun membatin, “orang-orang seperti ibu ini mungkin sudah tidak perlu lagi belajar tentang arti sabar dan syukur”. Karena sudah jadi bagian dari “urat nadi” kehidupan sehari-harinya.

 

Sementara di luar sana, tidak sedikit orang yang hanya asyik mendongak memandang ke langit. Cemburu melihat apa yang tidak mampu dicapainya. Kita lupa menunduk ke bawah, merenungkan apa yang sudah bumi berikan. Lupa mensyukuri nikmat yang telah diperoleh dan dirasakan. Lalu berkeluh kesah, merasa tersisih secara ekonomi, dan lupa bersyukur. Kita sering gagal mensyukuri nikmat yang dikaruniakan Allah. Sehingga masih meminta lebih dari apa yang telah dimiliki. Sedangkan di kampung-kampung, masih banyak orang yang serba kekurangan. Tapi tetap sabar dan bersyukur pada rezeki yang tidak seberapa di mata kita.

 

Di momen lebaran, tidak sedikit orang yang merungut. Akibat tidak bisa bergaya dengan pakaian serba baru. Tapi si ibu di kampung yang buta aksara,, merasa sudah cukup bahagia dengan hidup seadanya. Tanpa pakaian baru, tanpa ketupat. Seolah - olah tidak ada gundah di hatinya, yang terlihat hanya riak wajah yang datar saja. Hari-harinya tanpa eufria lebaran atau hari raya. Hidupnya yang prihatin tela melahirkan ketenangan dan kesabaran dalam versi yang sederhana. Allah berfirman, “Sesungguh­nya jika kalian bersyukur (atas nikmat-Ku), pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih." (Surat Ibrahim: 7).

 


Momen lebaran selalu memberi pelajaran. Bahwa siapapun dianjurkan untuk “melihat ke bawah”, bukan mendengak ke atas. Agar selalu bersyukur dan bersuyukur atas karunia Allah SWT sehingga tetap bertindak di jalan-Nya. Bukan menempuh jalan yang sembrono. “Pandanglah orang yang berada dibawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih baik membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah” (HR. Muslim)

 

Bersyukurlah, karena semua yang ada dan dimiliki memang sudah pantas utuk kita. Bersyukur atas nikmat nafas yang dihela, nikmat mata yang bisa melihat, nikmat tangan yang bisa memegang, nikmat kaki yang bisa berjalan, nikmat pakaian yang leindungi badan, nikmat kendaraan yang memudahkan perjalanan, nikmat rumah untuk perlindungan. Berhentilah merungut dan mengeluh pada sesuatu yang tidak kita miliki. Mulailah menghitung nikmat yang lupa untuk disyukuri.

 

Begitulah kisah literasi di momen Idul Fitri kali ini. Sungguh, kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang sentiasa berasa cukup. Jadilah literat #HikmahLebaran #HikmahIdulFitri #TBMLenteraPustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar