Tampilkan postingan dengan label Ngabubu Read di TBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngabubu Read di TBM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2026

Bank Sinarmas Buka Puasa Bersama 200 Anak TBM Lentera Pustaka untuk Gerakan Literasi

Siapapun yang memberi makan kepada orang yang sedang berpuasa, maka mendapat pahala sebesar pahala orang yang berpuasa. Berangkat dari kepedulian sosial dan untuk mengokohkan kegemaran membaca anak usia sekolah, Bank Sinarmas hari ini menggelar buka puasa bersama dan ngabubu-read di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (17/3/2026). Dihadiri 210 anak pembaca aktif, ibu, dan relawan TBM, acara bukber Bank Sinarmas diawali dengan sholawatan – tadarusan dan tausiyah puasa oleh Ibu Hj. Yusri. Ikut hadir di acara ini Epul Saepuloh dan Carlos dari Bank Sinarmas dan Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka.

 

Jelang Maghrib, buka puasa bersama Bank Sinarmas membagikan takjil dan teh untuk hidangan berbuka. Setelah itu, tim Bank Sinarmas memberikan nasi box untuk anak-anak, ibu-ibu dan relawan yang hadir. Bukber ini merupakan bukti kepedulian sosial Bank Sinarmas terhadap pendidikan anak untuk memekan angka pustus sekolah dan peduli gerakan literasi dalam menggiatkan aktivitas membaca anak. Bank Sinarmas sudah 6 tahun terakhir membina TBM Lentera Pustaka melalui kemitraan CSR koprorasi pun melakukan edukasi literasi keuangan secara rutin, di samping membantu biaya operasional dan memperbaiki fasilitas taman bacaan seperti rooftop baca, parkiran, Gudang buku, revitaslisasi kebn baca, dan penyediaan motor baca keliling. Selain itu, sekitar 40-an anak TBM pun telah difasilitasi membuka rekening SIMPEL di Bank Sinarmas sebagai bagian literasi keuangan.

 

“Atas nama Bank Sinarmas, kami ucapkan terima kasih atas kerjasama yang terjalin selama ini. Bank Sinarmas senang bisa ikut membina dan berkontribusi untuk meningkatkan kegemaran membaca masyarakat di TBM Lentera Pustaka. Teruslah membaca untuk mengubah masa depan yang lebih baik. Selamat Idul fitri untuk semua dan mohon maaf lahir batin” ujar Epul Saepuloh mewakili Head of Corporate Secretary Bank Sinarmas dalam sambutannya.

 

Sebagai binaan Bank sinarmas, TBM Lentera Pustaka saat ini menjadi tempat membaca buku dan beralajr calistung 200-an anak dari 4 desa di Kec. Tamansari Bogor. Beroperasi 6 hari dalam seminggu dan didukung 18 relawan aktif, TBM Lentera Pustaka kini menjalankan 15 program literasi yang berdampak nyata untuk anak-anak usia sekolah dan masyarakat, di samping memperjuangkan ketersediaan akses bacaan melalu motor baca keliling dan Gerakan berantas buta aksara kaum ibu.

 


“Saya ucapkan terima kasih dan apresiasi untuk Bank Sinarmas serta semua penggun layanan TBM Lentera Pustaka. Semoga taman bacaan ini jadi ladang amal banyak orang dan tetap meningkatkan giat membaca anak. Semoga kita semua sehat dan Bank sinarmas tetap maju menjadi bank swasta nasional yang peduli gerakan literasi” kata Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka di Bogor.

 

Untuk diketahui, sejak berdiri 9 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka kini mengelola 15 program literasi yaitu 1) TABA (TAman BAcaan) dengan 160 anak pembaca aktif dari 4 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya, Sukajadi), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 40 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 3 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 13 jompo usia lanjut dan 4 janda, 6) TBM Ramah Difabel, 7) KOPERASI LENTERA untuk simpan pinjam, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), 12) LIDAB (LIterasi ADAb), 13) MOBAKE (MOtor BAca KEliling) yang sediakan akses bacaan di 2 kampung, 14) Rooftop Baca, dan 15) Berantas Buta Aksara Al Quran. Di dukung oleh 18 relawan, TBM Lentera Pustaka kini mengoleksi lebih dari 10.000 buku bacaan.

 

Menyadari taman bacaan tidak bisa bergerak sendiri, kolaborasi TBM Lentera Pustaka dan Bank Sinarmas menjadi bukti pentingnya partisipasi swasta dalam membangun budaya literasi dan kegemaran membaca anak-anak, apalagi yang berada di wilayah prasejahtera dan masih besarnya angka putus sekolah. Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka #BankSinarmas




Sabtu, 28 Februari 2026

TBM Lentera Pustaka Optimalkan Ngabubu-Read dan Bagikan 110 Takjil untuk Pembaca Aktif

Selama bulan puasa, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menggelar program "Ngabubu-Read Ramadhan Ceria" (ngabuburit sambil membaca). Aktivitas utamanya adalah tadarusan dan khataman Al Quran setiap Sabtu dan diakhiri dengan pembagian takjil kepada 110 anak pembaca aktif yang hadir. Seperti yang terjadi tadarusan dan takjilan kemarin di Bogor (28/2/2026), seluruh pengguna layanan antre takjil yang dibagikan wali baca dan relawan TBM Lentera Pustaka.

 

Melalui kegiatan "Ngabubu-Read" selama Ramadan, aktivitas taman bacaan dikombinasikan antara membaca buku, tadarusan, khataman Al-Quran, dan berbagi takjil kepada anak-anak pembaca aktif. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kebiasaan membaca di bulan puasa, memperkuat akhlak anak-anak, dan melatih kepedulian sosial anak. Sebab kata Rasulullah SAW: “Barang siapa yang memberi makanan berbuka pada orang yang berpuasa dia memperoleh pahala seperti pahala orang tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR At-Tirmidzi)

 


Melalui takjilan, anak-anak pembaca aktif pun diajarkan antre. Untuk tidak menyerobot hak orang lain. Antre sebagai akhlak dan adab yang dijunjung tinggi di mana pun dan kapan pun. Budaya antre mengandung pelajaran mulia berupa etika dan akhlak. Melalui antre, anak-anak dilatih untuk mengatur waktunya dengan efektif, belajar bersabar menunggu gilirannya, dan mampu menghargai hak orang lain. Selain untuk tetap membaca buku, Ngabubu Read jadi momen untuk memperkuat akhlak anak dan melatih budaya antre.

 

TBM Lentera Pustaka, yang didirikan oleh Syarifudin Yunus pada tahun 2017 ini, menjadikan Ngabubu Read Ramadan Ceria sebagai momentum edukatif yang menyenangkan dengan menggabungkan aktivitas keagamaan dan literasi. Salam literasi! 

 



Kamis, 26 Februari 2026

Ngabubu-Read TBM Lentera Pustaka, Kokohkan Akhlak Anak di Bulan Puasa

Selain bulan suci, bulan puasa atau Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim di dunia. Karena di bulan suci ini, semua aktivitas yang dilakukan bernilai ibadah. Puasa untuk menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, termasuk lapar dan haus. Tadarusan, bersedekah, hingga zikir pun dilipatgandakan pahalanya. Maka, optimalkan aktivitas ibadah di bulan suci, bulan Ramadhan.

 

Ada banyak cara untuk optimalkan ibadah di bulan puasa. Salah satu yang khas adalah ngabuburit. Sebuah kegiatan menghabiskan waktu sambil menunggu waktu berbuka puasa tiba. Aktivitas menantikan azan maghrib.Tentu, ngabuburit harus diisi diisi dengan kegiatan yang positif dan baik. Sehingga ngabuburit jadi penyempurna ibadah puasa yang lebih berkualitas, seperti tadarus, pengajian, atau berzikir.

 

Agar bulan puasa lebih berfaedah dan meninggalkan bekas yang baik dalam pikiran dan tindakan sesudahnya, ada baiknya kegiatan ngabuburit dioptimalkan. Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor pun membagikan tips untuk optimalkan waktu ngabuburit saat menunggu waktu berbuka puasa dengan melakukan 4 aktivitas berikut:

1.   Tadarusan atau Khataman Al Quran. Agar bulan puasa bisa jadi momen untuk mendekatkan diri umat muslim kepada kitab sucinya. Selain menambah pahala, membaca Al Quran pun untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amalan baik. Sehingga rahmat Allah SWT selalu terlimpah setelah bulan puasa.

2.   Sedekah. Selain untuk berlimpah pahala, sedekah pun menjadi ajaran yang patut dibiasakan di bulan puasa karena untuk menggembirakan orang-orang lain yang berpuasa dan bisa meringankan beban atau kesedihan orang lain. Karena sedekah dapat meningkatkan hartanya di masa kehidupan, di samping meringankan kepedihan saat mautnya.

3.   Muhasabah diri. Untuk membuka hati dan menyadari segala dosa dan kesalahan yang diperbuat sebelumnya. Momen untuk introspeksi diri, berani mengoreksi segala sikap, perbuatan, kesalahan, dan kelemahan diri selama ini. Menyesal atas dosa untuk tidak mengulanginya. Karena penyesalan adalah taubat.

4.   Menambah Ilmu. Bulan puasa pun sangat baik dijadikan momen untuk menambah ilmu. Membaca buku, mengikuti kajian keagamaan atau tausiyah agama yang berdampak positif bagi pikiran, hati, dan perbuatan.

 


Atas spirit menambah faedah bulan puasa itulah, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menggelar program “Ngabubu-Read Ramadhan Ceria”, dengan melakukan aktivitas 1) tadarusan pada Rabu dan Jumat, 2) Khataman Al Quran setiap Sabtu, dan 3) Tausiyah Literasi dan doa jelang buka puasa setiap Sabtu. Melalui “Ngabubu-Read” di bulan puasa ini, TBM Lentera Pustaka mengajarkan 120-an anak pembaca aktif untuk makin “mengokohkan akhlak dengan iman, menaklukkan dunia dengan Al Quran”.

 

Sejatinya, bulan puasa adalah momen penggemblengan lahir batin untuk menjadi manusia yang lebih baik sesudah sebulan penuh berpuasa. Apakah kita menjadi lebih baik dalam keimanan dan ketakwaan setelah puasa? Itulah faedah yang harus dicapai di bulan puasa.

Maka, jangan meninggalkan apa pun selain jejak. Jangan membunuh apa pun kecuali waktu. Untuk selalu berpikir dan bertindak yang baik, sekalipun di taman bacaan. Salam literasi.





Rabu, 25 Februari 2026

Ngabubu Read, Puasa Makin Semangat karena Membaca Buku yang Sehat

Memang benar, puasa makin semangat karena membaca buku yang sehat. Karena membaca buku yang sehart berarti membaca bacaan yang positif, menenangkan, dan memberi nilai kebaikan. Seperti membaca buku-buku tentang pengembangan diri, spiritualitas, atau kehidupan.

 

Isi bacaan buku yang sehat biasanya membantu kita untuk menjaga pikiran tetap jernih saat tubuh lemah karena puasa. Mampu mengalihkan fokus dari lapar dan haus ke hal-hal yang lebih bermakna dan menambah motivasi untuk menjalani puasa dengan niat yang lebih kuat. Jadi, buku menjadi asupan mental, sebagaimana makanan adalah asupan fisik.

 

Secara simbolik, membaca buku yang sehat ibarat saat tubuh sedang menahan, jiwa justru diberi makan. Puasa bukan cuma soal menahan lapar, tapi juga membersihkan batin. Membaca “buku yang sehat” melambangkan usaha merawat pikiran dan hati sehingga puasa terasa lebih ringan, lebih sadar, dan lebih bermakna. Puasa jadi makin semangat karena pikiran diisi hal-hal baik. Hati jadi lebih tenang sehingga tujuan puasa terasa lebih dalam dan waktu luang diisi dengan pertumbuhan, bukan keluhan.

 

Realitas itulah yang dijalani anak-anak TBM Lentera Pustaka selama bulan puasa. Bertajuk “Ngabubu Read Ramadhan Ceria di TBM”, anak-anak mengisi waktu puasa dengan membaca buku, sambil khataman Al Quran seminggu sekali. Program ini bertujuan meningkatkan literasi, memperkuat akhlak, dan mendekatkan anak-anak pada buku yang  dikombinasikan dengan berbagi takjil atau mengaji bersama setiap hari Sabtu jelang waktu berbuka puasa.



Aktivitas utama Ngabubu-Read di TBM Lentera Pustaka diisi dengan membaca buku dari berbagai jenis buku cerita atau pengetahuan di taman bacaan. Khataman Al-Quran setiap hari Sabtu, di mana anak-anak dibagi kelompok untuk menyelesaikan 2-3 juz per Minggu per kelompok. Di samping ada aktivitas sosial dan donasi yang digelar oleh berbagai lembaga atau komunitas. Tujuannya adalah untuk membentuk perilaku baik dan kebiasaan akhlak yang positif selama bulan puasa. 

 

Setiap tahun di bulan puasa, Ngabubu Read selalu digelar di TBM Lentera Pustaka. Sebagai kegiatan yang edukatif dan menyenangkan di bulan puasa, di samping mengubah taman bacaan menjadi pusat aktivitas Ramadan yang produktif. Salam literasi! 

 



Jumat, 14 Maret 2025

NgabubuRead, Menyikapi Ujian dalam Berliterasi

Ada yang bilang, bulan puasa adalah bulan ujian. Boleh-boieh saja, ujian untuk menahan diri dari segala hal yang bisa membatalkan puasa atau mengurangi pahala berpuasa. Karena itu, di bulan puasa, siapapun dilatih untuk mempu menahan diri dari godaan dan ujian yang dihadapinya.

 

Di dunia nyata, ujian hidup pun selalu ada. Karena memang hidup memang berisi ujian dan cobaan, selain anugerah Tuhan yang harus disyukuri. Sudah pasti, tidak ada satu orang pun yang hidupnya tanpa ujian. Tidak peduli di posisi mana seseorang berada. Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan cinta bahkan ada yang diuji dengan kemewahan.

 

Kemiskinan itu menguji seseorang dengan kesabaran. Apakah ia tetap tabah, tetap berusaha, atau justru menyerah pada keadaan? Di sisi lain, kekayaan pun menguji seseorang dengan kesombongan. Apakah ia tetap rendah hati, tetap peduli pada sesama, atau malah lupa daratan? Jadi, tidak ada penggalan hidup selama di dunia yang tanpa ujian.

 


Begitu pula berkiprah secara sosial di taman bacaan pun bukan tanpa ujian. Sulitnya mengajak anak-anak yang membaca. Susahnya membagi waktu antara urusan pribadi dan sosial. Bahkan tantangan sikap apatis masyarakat yang cuek atau tidak peduli. Semuanya menjadi ujian, apakah kita tetap mau berbuat baik di taman bacaan? Apakah kita masih punya sikap peduli untuk meningkatkan kegemaran membaca masyarakat? Literasi dan taman bacaan di mana pun, sama sekali tidak bebas dari ujian dan hingga kapanpun.

 

Intinya, setiap keadaan dalam hidup membawa tantangan tersendiri. Dan setiap ujian itu bukan hanya tentang bertahan. Tapi juga tentang bagaimana seseorang menjaga karakter dan prinsipnya dalam ikhtiar. Ujian terhadap niat baik, komitmen dan konsistensi untuk menjadi lebih baik. Maka ujian hidup bukan sekadar penderitaan atau kenikmatan, tetapi cara untuk melihat siapa yang benar-benar memiliki kualitas sebagai manusia yang baik.

 

Karenanya, ujian sehebat apapun, tetaplah pada ikhtiar dan tetap berdamai dengan diri sendiri. Fokus pada solusi bukan masalah. Terus bergerak untuk mencapai tujuan baik yang sudah dicanangkan. Dan apapun, cukup dikerjakan tanpa perlu diceritakan. Karena orang yang membenci kita tidak akan pernah peduli itu dan orang yang suka kita tidak butuh itu. Semua ada hikmahnya dan akan tiba waktu indahnya. Salam literasi!

 

Jumat, 07 Maret 2025

Ngabubu Read di TBM: Gimana Caranya Sih Pengen Bahagia di Bulan Puasa?

Ada yang bilang. Bila ingin bahagia, mulailah dengan mengubah cara berpikir tentang kebahagiaan. Bila ingin sukses, ubahlah cara berusaha dan berpikir tentang kesuksesan. Karenanya, jangan melihat bahagia dan sukses pada orang lain. Tapi mulailah merintis dari dalam diri sendiri. Setuju nggak?

 

Kita, siapapun dia, adalah arsitek dari kehidupan kita sendiri. Maka bila ingin dunia di sekitar kita menjadi lebih baik, mulailah dengan memperbaiki pikiran, sikap, dan tindakan kita sendiri. Karena perubahan ke arah yang lebih baik tidak dimulai dari luar. Melainkan dari keputusan kecil dalam diri kita di hari ini, bukan besok atau lusa. Karena hukum alamnya, ketika kita berubah maka dunia di sekitar kita pun akan ikut berubah.

 

Jadi, mau tidak mau, bila kita ingin melihat perubahan dalam hidup, lingkungan, atau bahkan masyarakat, maka kita harus terlebih dahulu bertransformasi. Kita yang harus berubah terlebih dulu daripada menyuruh orang lain untuk berubah. Biar ada “raw model”, ada contoh apa dan bagaimana berubah itu?

 

Seperti yang dilakukan di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sekitar 230-an anak usia sekolah sudah terbiasa membaca buku rutin seminggu 3 kali. Dari tidak punya akses baca, kini mereka sudah terbiasa membaca buku. Dan di setiap bulan puasa, orientasi membaca buku diubah menjadi “tadarusan” untuk menuntaskan satu juz per minggu per anak atau kelompok anak. Dengan ada 30 kelompok, maka setiap Sabtu sore dipimpin Pendiri TBM Lentera Pustaka melakukan “khataman” Alquran sambil disediakan takjil. TBM pun berubah sejenak di bulan puasa. Sebagai bagian untuk menanamkan akhlak dan keimanan anak-anak selama bulan suci Ramadan. Harapannya, dengan khataman Al Qur’an, anak-anak pun mampu meraih bahagia dengan cara sederhana. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar.

 


Bahagia atau sukses memang harus dimulai dari diri sendiri. Karena berubah adalah proses internal. Kita tidak bisa berharap kehidupan menjadi lebih baik jika kita tetap sama, dengan pola pikir lama, kebiasaan lama, atau ketakutan yang sama. Berubah memang butuh keberanian untuk introspeksi, memperbaiki diri, dan mengambil tanggung jawab penuh atas hidup kita sendiri. Karena hanya dengan mengubah diri, kita bisa menciptakan realitas baru. Itulah prinsip yang ditanamkan ke anak-anak TBM Lentera Pustaka.

 

Ibaratnya bila ada air kolam yang kotor atau butek, kita tidak bisa hanya berceloteh kolamnya kotor dan butek. Selama kebiasaan berceloteh tidak berhenti, maka air kolam tidak akan pernah berubah jadi jernih. Maka untuk menjernihkan kolam, kita yang harus berhenti berceloteh dan memulai menyaring kotoran di kolam. Sama artinya, bila ingin dunia lebih baik maka kita harus memulai dengan memperbaiki kebiasaan dan pola pikir kita menjadi lebih baik. Mumpung bulan puasa, ubahlah hal-hal kecil menjadi lebih baik. Insya Allah, bahagia dan sukses menanti kita di depan. Salam literasi! #NgabubuRead #RamadanCeria #TBMLenteraPustaka

 



Senin, 08 April 2024

Semuanya Sudah Pantas untuk Kita, Catatan Penghujung Ramdan dari Taman Bacaan

Salah satu hikmah puasa adalah mengurangi frekuensi dan durasi mengeluh. Bersedia lapar dan haus dari kebiasaan makan dan minum di siang hari. Mampu menahan diri dari segala godaan. Memperbanyak tadarus, sholawat tarawih, hingga bersedekah. Tanpa ada keluhan, tanpa ada alasan. Semua dilakukan sepenuh hati, karena Allah SWT.

 

Di luar puasa, bisa jada kita termasuk yang bergelimang keluh-kesah. Berprasangka buruk dan menyalahkan orang lain. Sibuk mengejar dunia lalu melupakan akhirat. Menuntut hak tapi lupa kewajiban. Membaikkan diri sendiri tapi gampang menjelekkan orang lain. Meninggikan diri sendiri tapi merendahkan orang lain. Tapi di bulan puas,a semuanya dikurangi bahkan diberantas habis. Tidak ada ruang untuk pebuatan dan pikiran buruk akibat sedang berpuassa.

 

Sesungguhnya, tidak perlu ada keluhan, Atas alasan apapun. Karena ketika Allah memberi pada kita. Berarti Dia sedang memperlihatkan kemurahan-Nya. Sebaliknya di kala Allah Allah menolak permintaan kita, maka Dia sedang menunjukkan kekuasaan-Nya. Bahwa kita dan manusia di mana pun sangat lemah tanpa-Nya. Maka bersyukurlah ketika Allah sedang memberi, Dan bersabarlah ketika Allah belum memberi. Tanpa perlu keluh-kesah.

 

Kita sering lupa. Di balik semua ketetapan-Nya pasti ada hikmah yang terbaik untuk kita. Allah akan memberi jika Dia melihat waktu dan usaha kita telah cukup. Yaitu di saat dan waktu yang tepat bahwa kita memang pantas menerimanya. Ikhtiar kita telah bersungguh-sungguh memperjuangkannya, dengan niat dan cara-cara yang baik. Man jadda wa jadda.

 

Di lain waktu, Allah akan meminta kita bersabar. Karena waktunya belum tepat. Dan Dia melihat bahwa kita memang belum pantas menerimanya. Kita masih harus terus berjuang lagi. Allah pasti menolak, jika kita menginnginkan sesuatu yang menurut-Nya tidak baik sekalipun dianggap baik menurut kita. Krena Allah maha tahu manfaat dan mudaratnya tentang apa yang akan terjadi setelahnya.

 


Bila mau direnungkan, sungguh betapa sayangnya Allah kepada hamba-Nya. Selalu memberikan yang terbaik kepada kita.. Namun kitalah yang sering kali salah dalam memahami rahmat dan karunia-Nya. Maka sama sekali tidak pantas bila masih banyak mengeluh. Jangan mudah berputus asa. Dan sebaliknya, apapun keadaannya tetaplah bersandar hanya kepada Allah. Karena tidak ada pinta dan harap yang terluput, kecuali semua pengabulannya selalu yang terbaik,

 

Sudah pasti Allah maha tahu, soal apapun. Meski pun terkadang tidak sesuai harapan kita tapi itulah yang terbaik untuk kita. Karena Allah memberi bukan apa yang kita inginkan. Tapi Allah memberi apa yang senantiasa terbaik untuk kita. Prinsipnya sesederhana itu, bukan atas keinginan kita tapi yang terbaik untuk kita.

 

Seperti saya “ditunjuki” jalan untuk berkiprah di taman bacaan. Sejak 7 tahun lalu hingga kini, mengabdi di kampung kecil di kaki Gunung Salak Bogor. Hanya untuk menegakkan kegemaran membaca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah. Dari tidak punya akses dan tempat membaca, kini terkumpul 200-an anak dan warga yang rajin ke taman bacaan. Dan akhirnya, saya yakin taman bacaan menjadi “jalan hidup” yang terbadik dari-Nya. "Kabarkan kepada hamba-hambaKu, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..." [QS.Al Hijr : 49].

 

Maka di penghujung ramadan ini, renungkanlah apapun yang harus diperbaiki. Tanpa keluh-kesah lagi. Segeralah berlari menuju ampunan Rabb, wahai diri. Songsong hari esok dengan penuh harapan dan kedekatan bersama-Nya. Tutup masa lalu yang tidak akan terulang lagi. Melangkahlah dengan pasti dalam keyakinan bahwa Allah-lah penggenggam hidup dan mati kita. Hanya Allah-lah yang paling menyayangi dan mencintai kita lebih dari siapapun. Bahkan lebih besar cinta-Nya daripada kecintaan kita pada dirimu sendiri..

 

Hidup di dunia itu cuma sekali, maka buatlah menjadi besar dan berarti. Selalu berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama. Untuk Allah dan untuk diri kita sendiri. Salam literasi #NgabubuRead #HikmahRamadan #TBMLenteraPustaka

 

 

Minggu, 07 April 2024

Mudik Itu Literat dan Jangan Ada Marah Kepada Orang Tua

Percuma puasa, sia-sia ibadah siapapun, Bila masih ada rasa marah kepada kedua orang tuanya. Bila masih tersimpan hati yang membenci kepada siapapun, apalagi kepada kedua orang tua kita. Karena marah dan benci, hanya jalan untuk merusak diri sendiri dan siapapun yang terlampiaskan. Untuk apa berlarut-larut dalam kemarahan, kebencian, dan emosi bila akhirnya membuat diri sendiri bertambah menderita. Lebih baik sabar dan bersyukur.

 

Jangan ada lagi marah pada orang tua. Hormati selalu kedua orang tua kita. Memang mereka tidak mewariskan kekayaan. Tapi orag tua adalah guru dari maha guru tentang arti sebuah penghormatan. Mereka guru terhebat bahkan gelar tertinggi di dunia ini, bagi siapapun orang-orang yang berpangkat, punya jabatan atau terkaya sekalipun.

 

Kasihi orang tua, hormati mereja apa adanya. Maklumi dan terima semua nasihantnya. Karena usianya memang tidak lagi muda. Langkah kakinya pun mulai melemah tidak berdaya. Matanya mulai terganggu ketika usia senja menyapa. Dan kini, telinganya pun sudah mulai berkurang kepekaannya. Jangan ada benci kepada orang tua, percuam ibadah sehebat apapun bila akhirnya “durhaka” kepada orang tua.

 

Bulan puasa sebentar lagi berakhir. Ibadah ramadan sulit membekas bila gagal menghormati orang tua, tidak mampu menyanyanginya. Waktu terus berputar, hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan terlewati, hingga berganti tahun. Lalu, apa yang lebih baik kita perbuat untuk kedua orag tua. Do momen idul fitri, mudiklah untuk mencium tangannya. Pulang kampunglah untuk menghormatinya. Ingat, karena siapapun tidak pernah tahu kapan ajal menjemput mereka?


Mudik itu literat. Berlutut di kaki orang tua, kecup keningnya. Cium tangannya dan peluklah orang tua. Minta maaf atas segala salah dan dosa kepadanya. Agar jangan ada marah apalagi benci kepada orang tua.

 


Anak, sehebat apapun. Tugasnya hanya menghormati orang tua. Berbakti untuk kedua orang tuanya. Berbuat baik dan jangan ada marah kepadanya. Itupun sesuai dengan kemampuan si anak. Dan hebatnya, orang tidak pernah “ngiler” mau sesuakses dan sehebat anak-anaknya. Mereka hanya diam dan terus berdoa tiada henti untuk anak-anaknya, mantunya, cucunya, bahkan cicitnya. Orang tua hebat, tanpa pamrih dan menerima segalanya.

 

Sulit untuk bisa diterima. Bila hari ini masih ada anak yang marah dan benci kepada orang tuanya. Seperti murid yang benci kepada gurunya. Seperti istri yang durhakan kepada suaminya. Bahkan seperti pemimpin yang menzolimi rakytanya. Mamengnya kenapa, orang tua sampai dibenci?

 

Tuntunannya, amar ma'ruf nahi mungkar. Perbaiki hubungan dengan orang tua, Hormati dan sayangi mereka. Kok bisa-bisanya memusuhi orang tua, lalu berbaik hati kepara orang-orang yang tidak punya pengaruh saat mendidik dan membesarkan kita. Maka di momen lebaran ini, pulanglah ke orang tua. Hormati mereka, jangan ada lagi marah pada orang tua. @Sebuah catatan seorang anak yang sudah “ditinggal” kedua orang tuanya. Salam literasi #NgabubuRead #TBMLenteraPustaka #HikmahLebaran

Hikmah NgabubuRead di Taman Bacaan, Jangan Gampang Menyerah

Sebagian orang, mungkin menyangka anak-anak tidak perlu ke taman bacaan. Sebagian yang lain tetap apriori terhadap aktivitas di taman bacaan. Sama seperti orang yang berpikir, bahwa kerja mau seperti apa pun tetap saja rezekinya cuma segitu-gitu saja. Sah-sah saja sih. Asal jangan berpikir, mau puasa atau tidak puasa yah sama saja. Lupa ya, kita manusia itu disuruh ikhtiar. Jangan pesimis, apalagi berpikir negatif soal apapun.

 

Anak-anak yang ada di taman bacaan pun begitu. Mereka hanya ikhtiar untuk membaca buku. Mumpung ada tempatnya, ada waktu untuk melangkahkan kaki ke taman bacaan. Apalahi selama di bulan puasa, ada “ngabubu-read”. Sambil membaca buku umum, sekaligus tadarusan hingga khataman Al Quran setiap Sabtu. Daripada nongkrong tidak jelas atau diam di rumah ya pastinya mendingan ke taman bacaan. Begitulah yang terjadi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Itu fakta dan realitas. Beda dengan orang yang Cuma omong, susah dibuktikan omongannya sendiri.

  

Ada yang berpikir negatif, ada pula yang positif. Ada yang pesimis tapia da yang optimis. Jadi itu semua pilihan setiap orang, mau berpikir seperti apa? Mau bertindak kayak apa? Selalu saja ada pro dan kontra, itu sudah biasa. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Jangan urusan membaca buku atau taman bacaan, apapun selalu memberi kemungkinan untuk disikapi, Bisa negatif, bisa positif. Tergantung otaknya, tergantung orangnya.

 

Literasi itu berarti memahami realitas. Bukan hanya soal membaca dan menulis. Karena di dunia ini, sesungguhnya tidak ada orang yang baik-baik saja. Semuanya pasti punya masalah, punya ujiannya masing-masing. Jadi untuk yang sudah berbuat baik dan menebar manfaat, tetap semangat saja. Jangan mudah menyerah karena sebentar lagi hasil indah akan dipanen.

 


Bulan puasa itu bulan introspeksi diri, muhasabah diri. Untuk selalu memperbaiki diri dalam segala hal. Mengakui kekurangan dan merawat kelebian yang dimiliki. Bila ada orang yang terlihat kuat menahan lapar dan haus, itu semata0mata karena patuhnya kepada perintah-Nya. Bila ada orang yang terlihat kuat di hadapan kita, bisa saja dia selalu menangis di hadapan Allah SWT karena sebetulnya dia tidak setenang dan sekuat itu, Hanya saja, dia sedang belajar mengendalikan perasaanya.

 

Jadi, selagi masih mampu berbuat baik dan menbera manfaat di manapun. Tidak ada alasan untuk berjeluh-kesah. Tetap semangat menyebarkan kebaikan, posting hal-ahal yang positif dan menjadi nasihat. Karena bisa Jadi, taat-Nya seseorang dan berhentinya mereka bermaksiat sebab dari perbuatan baik yang kita tebarkan. “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

 

Sekali lagi, teruslah berbuat baik dan menebar manfaat. Tidak usah gubris orang-orang yang berpikir negatif dan bersikap pesimis. Tugas kita hanya ikhtiar yang baik, selebihnya biarkan Allah SWT yang menentukan hasilnya. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 

Kamis, 28 Maret 2024

Perkuat Gerakan Literasi, Bank Sinarmas Gelar Buka Puasa Bersama di Taman Bacaan Lentera Pustaka

Siapapun yang memberi makan kepada orang yang sedang berpuasa, maka mendapat pahala sebesar pahala orang yang berpuasa. Berangkat dari kepedulian sosial dan mengokohkan kegemaran membaca, Bank Sinarmas menggelar buka puasa bersama dan ngabubu-read di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (28/3/2024). Dihadiri 130 anak pembaca aktif, ibu, dan relawan, acara bukber diawali dengan sholawatan, lalu diikuti tadarusan. Ikut hadir di acara ini Epul Saepuloh dan Carlos dari Bank Sinarmas dan Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka. Bank Sinarmas hadirkan berkah Ramadan di taman bacaan.

 

Menariknya, hikmah puasa di acara ini disampaikan oleh Danang, anak pembaca aktif kelas V SD sekaligus yatim binaan TBM Lentera Pustaka. Selain memberi tausayah, Danang pun menyajikan “pupuh” puisi lisan tradisional Sunda sebagai pelestarian budaya di kalangan anak-anak. Setelah berdoa bersama dan setelah azan maghrib, buka puasa bersama Bank Sinarmas ditandai dengan menikmati takjil yang tersedia. Setelah itu, tim Bank Sinarmas memberikan nasi box untuk anak-anak dan beberapa orang tua yang hadir.

 

“Luar biasa, banyak sekali yang hadir di buka puasa bersama Bank Sinarmas kali ini. Inilah sarana silaturahim sekaligus kepedulian sosial kami kepada anak-anak TBM Lenrera Pustaka. Sebagai taman bacaan binaan, Bank Sinarmas senang bisa ikut berkontribusi untuk meningkatkan kegemaran membaca masyarakat di sini” ujar Epul Saepuloh dari Corporate Secretary Bank Sinarmas dalam sambutannya.

 

Atas komitmen terhadap dunia pendidikan dan gerakan literasi, Bank Sinarmas sudah 5 tahun terakhir membina TBM Lentera Pustaka melalui kemitraan CSR koprorasi. Selain optimalisasi rooftop baca, Bank Sinarmas pun memfasilitasi Tabungan SIMPEL (SIMpenan PELajar), menambah 1 unit motor baca keliling “Simobi” dan menjadi sponsor operasional sepanjang tahun 2024 ini. Hal ini sekaligus menegaskan komitmen Bank Sinarmas dalam mendukung aktivitas taman bacaan dan kegemaran membaca Masyarakat. Apalagi dari tahun ke tahun, jumlah pengguna layanan TBM Lentera Pustaka meingkat terus. Kini mencapai 200 pengguna layanan setiap minggunya, yang beroperasi 6 hari seminggu.  Melalui dukungan ke TBM Lentera Pustaka, Bank Sinarmas membuktikan sebagai salah satu bank swasta nasional yang memiliki komitmen tinggi dalam mengkampanyekan gerakan literasi dan taman bacaan ke masyarakat.

 

“Saya ucapkan terima kasih dan apresiasi untuk Bank Sinarmas. Hari ini kita buka puasa bersama dan antusias anak-anak pun luar biasa. Memberi makan orang puasa berpahala sangat besar. Semoga menjadi berkah untuk kemajuan Bank Sinarmas dalam bisnisnya” kata Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka di Bogor.

 


Untuk diketahui, sejak berdiri 7 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka kini mengelola 15 program literasi yaitu 1) TABA (TAman BAcaan) dengan 130 anak pembaca aktif dari 4 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya, Sukajadi), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 40 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), 12) LIDAB (LIterasi ADAb),  13) MOBAKE (MOtor BAca KEliling) yang sediakan akses bacaan di 3 kampung, 14) Rooftop Baca, dan 15) Berantas Buta Aksara Al Quran. Di dukung oleh 6 wali baca dan 12 relawan, TBM Lentera Pustaka kini mengoleksi lebih dari 10.000 buku bacaan.

 

Menyadari taman bacaan tidka bisa bergerak sendiri, kolaborasi TBM Lentera Pustaka dan Bank Sinarmas menjadi bukti pentingnya partisipasi swasta dalam membangun budaya literasi dan kegemaran membaca anak-anak, apalagi yang berada di wilayah prasejahtera dan masih besarnya angka putus sekolah. Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka #BankSinarmas




Minggu, 17 April 2022

Relawan TBM Lentera Pustaka Tetap Dinamis di Tengah Masyarakat Apatis

Relawan TBM, apa mereka dikasih duit? Apa mereka minta duti? Tidak. Bahkan mereka ongkos sendiri ke TBM. Beli bensi sendiri ke TBM. Mereka juga bukan pahlawan. Sekalipun masih muda, tapi mereka mampu dan berani menebar kebaikan di tengah masyarakat yang apatis. Saya menyebut relawan TBM Siang Bolong.

 

Siang-siang bolong, sekalipun terik matahari menyengat. Sekelompok relawan taman bacaan, siang ini (17/4/22) tetap jalan menuju Kampung Babakan untuk menjalankan MOBAKE (MOtor BAca KEliling). Seakan gak kenal lelah apalagi puasa, semangat mereka terus membara. Walau hanya mendekatkan buku-buku bacaan kepada anak-anak di kampung kecil. Mereka hanya sediakan akses bacaan untuk anak-anak. Agar mau membaca buku. Ngabubu-READ.

 

TBM Lentera Pustaka bersyukur banget. Punya relawan yang datang dari jauh-jauh (Depok, Dinding Barang, Kota Batu) hanya untuk membantu taman bacaan. Untuk menolong orang lain dan anak-anak agar bisa membaca. Saya sangat yakin pada mereka. Bila sudah mau menolong orang lain, maka hidupnya pun akan ditolong Allah SWT. Mereka muter dan jalan untuk urusan kebaikan, urusan taman bacaan yang tidak ada di kampungnya sendiri. Luar biasa.

 


Lalu, kenapa mereka mau menolong orang lain? Walau hanya menyediakan akses bacaan dengan motor baca keliling. Tentu jawabnya beragam. Tapi setidaknya ada 4 alasan kenapa harus menolong orang lain:

1. Karena dengan menolong orang lain berarti kita sedang menolong diri sendiri.

2. Karena manusia itu makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendirian. Maka selagi mampu, kenapa kita tidak menolong orang lain?

3. Karena siapa pun tidak pernah tahu kapan membutuhkan pertolongan orang lain. Sejatinya, hidup itu hanya soal menolong atau ditolong.

4. Karena manusia itu memang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Jadi mau apa lagi selain menolong orang, sebisa yang dilakukan.

 

Jujur, siapa pun yang mau berkiprah di taman bacaan. Memang tidak cukup hanya pakai otak. Tapi harus pakai hati. Karena banyak orang punya otak tapi gak punya hati. Entah, mau sampai kapan orang-orang begitu?

 

Terima kasih relawan TBM Lentera Pustaka, telah memberi hati di taman bacaan. Percayalah, apa yang kalian tanam maka itulah yang akan dituai. Di hari esok, di kebaikan yang lebih besar nanti. Salam literasi #PegiatLierasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka