Jumat, 30 April 2021

Literasi Hari Buruh, Momen Mengubah Orientasi Kerja Untuk Apa?

Tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh. Dan tiap Hari Buruh selalu ada demo, selalu ada massa di jalanan. Sekalipun di masa pandemic Covid-19. Kenapa? Karena buruh itu pusing. Pusingnya pun melebihi anak sekolah menghadapi ujian naik kelas. Buruh itu pusing. Seperti atlet yang akan tanding di final ketemu musuh yang belum pernah dikalahkan.

 

Buruh itu pusing. Selain upahnya tidak cukup dan tidak sejahtera. Hari-hari begini pun para buruh “dihantui” pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan. Akibat Covid-19. Bahkan saat ini, tidak kurang 3 juta buruh sudah di-PHK. Belum yang sedang dalam rencana di-PHK. Maka wajar, buruh tidak hanya pusing, Tapi takut dan khawatir. Dengan apa mereka harus menafkahi keluarganya?

 

Buruh makin pusing. Apalagi saat memikirkan seperti apa di hari tua, di masa pensiun saat tidak bekerja lagi. Puluhan tahun bekerja, tetap saja tidak punya uang banyak. Tabungannya selalu kosong. Gaji hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Boro-boro siap untuk pensiun. Apalagi bila tiba-tiba di-PHK, diberhentikan. Pusingnya buruh seperti kiamat. Maka berapa banyak, buruh bekerja hanya untuk aktualisasi diri. Berangkat pagi pulang sore. Sesederhana itu saja.

 

Pusingnya buruh, memang jauh melebihi anak sekolah yang ujian naik kelas. Seperti atlet yang bertanding di final dengan musuh yang belum pernah dikalahkan.

 

Buruh semakin pusing. Karena saat menuntut ipah dan kesejahteraan. Saudaranya buruh yang bernama pekerja, tenaga kerja, pegawai dan karyawan ikutan mendukung, Tapi saat buruh turun ke jalan, tidak satu pun dari mereka berani berkeringat kepanasan. Apalagi membentang spanduk dan memekik “hidup buruh”. Ada yang bilang buruh berbeda dengan pekerja, tenaga kerja, pegawai atau karyawan. Tapi tidak sedikit pula yang menyebut sama saja. Menurut saya, apalah namanya semua istilah itu sama. Asal orang itu bekerja untuk orang lain dan mendapat upah. Itulah buruh, pekerja, pegawai atau karyawan. Bedanya hanya soal status sosial atau soal soal kapital semata. Soal seberapa banyak mereka mampu mengumpulkan uang.

 

Toh di Hari Buruh yang dinyatakan hari libur. Semua saudaranya buruh pun ikut libur; pekerja, pegawai, atau karyawan. Karena buruh artinya orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Jadi, siapapun yang bekerja untuk memperoleh upah atau gaji, dapat disebut buruh. Maka buruh, syaratnya kurang lebih ada 2, yaitu 1) bekerja untuk mendapat upah atau gaji dan 2) punya majikan, baik orang atau perusahaan. Itulah buruh.

 


Soal buruh kian kompleks. Apalagi soal bahasa dan terminologinya Saya ini seorang “pekerja sosial” tapi tidak boleh disebut “buruh sosial”. Ada si mbak yang “pekerja seks komersial - PSK” tapi tidak bisa disebut sebagai “buruh seks komersial – BSK”. Sementara ada sebutan “buruh tani” tapi tidak bisa dipanggil “pegawai tani”. Lalu kalau “karyawan bank”, mau tidak dipanggil “buruh bank”? Seperti  ASN, dulu namanya “pegawai negeri” tapi kerjanya untuk negara. Kenapa tidak disebut “pegawai negara”? Sungguh, urusan buruh memang pusing. Kompleks dan tidak sederhana.

 

Asal tahu saja. Dalam filsafat bahasa, tidak ada diksi atau istilah yang bebas nilai. Semuanya ada kepentingannya. Selalu ada yang tersirat dari yang tersurat. Mau disebut buruh, pegawai, pekerja atau karyawan. Tujuannya sederhana, untuk menciptakan dikotomi dan kelas sosial semata. Agar tidak ada konsolidasi di antara mereka.

 

Jadi di “Hari Buruh”, kita sedang menghormati apa?

Tentu, jawabnya relatif. Tergantung pada si buruh. Hanya masing-masing buruh yang tahu jawabnya. Tapi saya sebagai buruh, hanya ingin merefleksi diri. Bahwa siapapun, baik buruh, pekerja, pegawai atau karyawan patut berpikir ulang. Harus berani mengubah orientasi. Untuk menggeser orientasi. Harusnya pekerjaan atau profesi apapun tidak semata-mata diukur dari material. Bekerja itu bukan hanya soal upah. Apalagi mendewakan pangkat atau jabatan.

 

Tapi bekerja adalah aktualisasi diri. Kerja sebagai moralitas, soal spiritualitas. Karena bekerja adalah anugerah sekaligus amanah yang patut disyukuri. Darma bakti yang harus dijalankan dengan ikhlas, sepenuh hati untuk kebaikan. Selebihnya, biarkan Allah SWT yang “bekerja” untuk si buruh.

 

Bila buruh pusing. Bisa jadi karena hidupnya terlalu diukur dari untung-rugi. Karena hidupnya lebih banyak mengeluh daripada bersyukur. Karena gaya hidupnya melebihi biaya hidupnya. Maka selagi masih jadi buruh, cukup terima apa adanya sambil terus bersyukur. Sementara yang jadi majikan atau pengusaha, ya tidak boleh sewenang-wenang. Tidak boleh merasa sok berkuasa. Agar buruh atau pengusaha bisa bersinergi, bisa “bertemu di jalan yang sama”.

 

Bekerja hari ini, harusnya diukur dari nilai sosialnya, bukan hanya nilai materialnya. Bukankah bekerja juga untuk kemaslahatan umat; untuk kepedulian terhadapa sesama. Bukan hanya untuk mengejar pangkat, untuk jabatan, untuk tunjangan dan sebagainya. Katanya bekerja agar berkah. Di mana berkahnya bila tidak ada manfaatnya untuk orang lain?

 

Buruh jangan pusing lagi. Karena buruh hanya statusm hanya simbol. Dan pekerjaan pun bukan beban, bukan hukuman. Melainkan anugerah dan kekuatan agar buruh bisa lebih berdaya dan lebih bermanfaat untuk orang lain. Selamat Hari Buruh. #HariBuruh #Mayday #CatatanHariBuruh

Kamis, 29 April 2021

Catatan Perjalanan Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka, Apa Suka Dukanya?

Ini hanya sedikit kisah. Tentang taman bacaan dan pegiat literasi di Kaki Gunung Salak Bogor. Namanya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka. Apa sih taman bacaan? Bolehlah disebut sebagai “jalan sunyi” pendidikan nonformal yang tidak banyak dipilih orang. Taman bacaan, sebuah jalan pengabdian yang sepi dari lalu-lalang gaya hidup atau popularitas sekalipun.

 

Taman bacaan ini, sungguh saya bangun dengan cara saya sendiri. Bukan soal benar atau salah Tapi  soal cara yang “di luar pakem”. Lokasinya di rumah saya sendiri. Program dan aktivitasnya pun saya rancang sendiri. Tanpa referensi, tanpa buku panduan apalagi bertanya. Akibat kondisi masyarakat di kampung ini, 81% hanya sebatas SD. Di situlahsaya terpanggul untuk berkontribusi, berbuat untuk masyarakat. Di mulai dari garasi mobil yang saya ubah jadi rak-rak buku. Mencari donasi buku dari teman-teman. Dan berdirilah TBM Lentera Pustaka pada 5 November 2017.

 

Di taman bacaan ini, saya mengahajarkan. Bahwa di taman bacaan, anak-anak harus membaca bersuara bukan membaca dalam hati. Lalu, saya ciptakan 1) salam literasi, 2) doa literasi, 3) senam literasi, 4) selalu ada labpratorium baca tiap hari Minggu, 5) selalu ada event bulanan dengan mendatangkan "tamu dari luar" utamanya dari Jakarta, dan 6) ada jajanan kampung gratis sebulan sekali. Semua aktivitas itu, saya sebut sebagai "TBM Edutainment", sebuah model tata kelola taman bacaan yang kreatif, menyenangkan, dan mau  berkolaborasi dengan banyak pihak. Sebuah taman bacaan yang dikelola dengan basis edukasi dan entertainment. Bahak TBM Edutainment ini pula yang kini saya kembangkan menjadi bahan disertasi "Doktor Manajemen Pendidikan" dari Pascasarjana Universitas Pakuan Bogor. Saya calon doctor yang fokus di bidang taman bacaan. Mungkin, calon doktor pertama bidang taman bacaan di Indonesia.


Saat didirikan 4 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka hanya dihuni 14 anak yang membaca. Tapi kini sudah mencapai 170 anak-anak pembaca aktif usia sekolah yang berasal dari 3 desa (Sukaluyu-Tamansari-Sukajaya) Kec. Tamansari Kab. Bogor. Anak-anak yang dulunya tidak punya akses membaca buku, kini bisa membaca 3-10 buku per minggu. Koleksi bukunya pun dulu hanya 600 buah. Tapi sekarang, koleksinya sudah lebih dari 6.000 buku. Dan hebatnya, 95% buku-buku itu berasal dari donasi orang-orang baik atau organisasi. Sulit disangkal, TBM Lentera Pustaka memang punya kekuatan pada kreativitas dan kolaborasi dalam mengelola taman bacaan. Maka tak ayal, sejak berdiri hingga kini selalu berkolaborasi dengan pihak swasta sebgaai sponsor CSR di taman bacaan ini. Tahun 2021 ini, TBM Lentera Pustaka disponsori 1) Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, 2) Bank Sinarmas, dan 3) Pacific Life Insurance. Perusahaan yang peduli untuk ikut mendukung biaya operasional dan programnya sebagai bagian dari CSR korporasi. Tiap bulannya, selalu saja ada organisasi, komunitas, dan organisasi serta kampus yang berbakti sosial, mengabdi di kampung, dan ber-CSR atau ber-KKN di taman bacaan di kaki Gunung Salak ini.

 


Seiring mulai sadarnya akan pentingnya gerakan literasi di bumi Indonesia. Saya pun kini “hanyut” dalam berbagai kegiatan literasi. Pun tercatat sebagai salah satu pegiat literasi yang sering diminta jadi narasumber gerakan literasi atau taman bacaan di DAII TV, TV Parlemen, CNN TV, dan NET TV. Belum lagi di media online atau media mainstream. Taman bacaan ini pun menerapkan “wali baca” yang diberi honor setiap bulan untuk mengatur anak-anak membaca seminggu 3 kali. Mulai dari absen, memeriksa kartu baca, dan kartu pinjam buku. Belum lagi dukungan dari relawan yang rutin hadir setiap Minggu. Untuk mengabdi sepenih hati dna bukan warga sekitar pula. Jadi saya, patut berucap alhamdulillah dan bersyukur. Atas apa yang dilakukan di TBM Lentera Pustaka, selalu didukung orang-orang baik. Itulah sepenggal kisah suka atau coretan prestasi TBM Lentera Pustaka. Sebuah sejarah perjalanan taman bacaan agar diketahui orang, sekalipun tetap jadi “jalan sunyi”.

 

Lalu, apa dukanya di taman bacaan? Duka, tentu ada. Karena tiap perbuatan baik itu pasti ada orang yang tidak suka. Mulai dari oran-orang yang tidak peduli. Bahkan membenci taman bacaan pun ada. Tapi prinsipnya sederhana “the show must go on”. Taman bacaan harus terus bergerak, harus jalan terus. Karena di zaman begini, hanya taman bacaan yang bisa jadi “musuh atau lawan tanding” dari putus sekolah, pernikahan dini, narkoba, atu gim online. Jadi, bila ada orang-orang yang tidak suka pada taman bacaan tidak usah digubris. Maklumin saja, karena mereka tidak literat. Tidak paham apa pentingnya taman bacaan? Lagipula, kan setiap orang tidak sama. Tidak suka atau benci itu, wajar dan sangat manusiawi. Maka, siapa pun pegiat literasi di taman bacaan tetap fokus saja pada aktivitas membangun tradisi baca dan budaya literasi anak-anak dan masyarakat. Jalankan setiap program di taman bacaan dengan kreatif dan menyenangkan. Biarkan waktu yang akan membuktikan semuanya.

 

Terus gimana sekarang TBM Lentera Pustaka? Pertama ya bersyukur dan bersyukur. Karena siapa sangka? Kini TBM Lentera Pustaka sudah punya 8 program yang berjalan; 1) TABA (TAman BAcaan), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA), 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah), 4) YABI (YAtim BInaan), 5) JOMBI (JOMpo BInaan), 6) DONBUK (DONasi BUKu), 7) RABU (RAjin MenaBUng), dan 8) KOPERASI LENTERA. Dan ke depan, saya akan mulai merintis program pemberdayaan ekonomi. Insya Allah, saya ingin merintis beberapa usaha di dekat TBM Lentera Pustaka. Di samping tetap istiqomah dengan gerakan literasi yang telah berjalan.

 


Apa sudah puas? Tidak dan belum. Membangun tradisi baca dan gerakan literasi tidak boleh ada kata puas. Karena di luar sana, era digital dan revolusi industri terus menggempur dan kian menjauhkan anak-anak dari buku bacaan. Taman bacaan harus tetap eksis dan hadir di tengah masyarakat. Saya justru harus terus ikhtiar dan berdoa agar tetap "komitmen dan konsisten" di “jalan sunti” taman bacaan, yang tidak banyak dipilih orang. Apalagi kampung ini bukan tanah kelahiran saya. Tidak ada ikatan apa pun, untuk menjawab "kenapa saya harus di taman bacaan ini?"

 

Sungguh berjuang di taman bacaan memang tidak mudah. Tapi selalu ada jalan untuk sebuah kebaikan yang diap ditebarkan Di TBM Lentera Pustaka, saya hanya ingin memberi ruang anak-anak agar akses membaca buku. Agar tidak putus sekolah, atas sebab apapun. Mungkin nanti, 10 atau 20 tahun lagi, daerah ini akan berubah. Tidak lagi miskin, tidak lagi banyak anak putus sekolah. Setelah anak-anak pembaca buku itu dewasa esok. Sehingga apa yang saya rintis dan perjuangkan, akhirnya hanya akan jadi "legacy", warisan untuk umat yang saya tinggalkan.


Karena
sejatinya, "khairunnaas anfauhum linnaass". Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dan di taman bacaan ini, saya memastikan saya sudah kelar dengan diri saya sendiri. Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka #PegiatLiterasi