Jumat, 31 Juli 2020

Tuliskan Taman Bacaanmu, Jangan Celotehkan ...

Ternyata benar kata orang dulu. Apa yang ditulis akan abadi dan apa yang diomong akan sirna ...

Seperti mengelola taman bacaan, menulis pun butuh proses. Setahap demi setahap, selangkah demi selangkah. Tidak ada yang instan, semuanya pasti butuh proses. Mie instan saja ternyata ada prosesnya, tidak instan. Sungguh, setiap proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.


Dan jangan terlalu banyak berceloteh. Jangan terlalu banyak bicara. Apalagi di media sosial. Karena itu makin mempertegas. Bahwa siapapun yang banyak bicara atau berkeluh kesah justru kian jauh dari perilaku menulis. Sepeeti pepatah, semakin banyak dia berceloteh semakin tampak kebodohannya.


Kenapa menulis?
Karena masih ada seuntai resah yang selalu saja ingin digoreskan. Ekspresikan bacaanmu, ekspresikan imajinasimu melalui tulisan. Entah sampai kapan? ... #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #BudayaLiterasi


TBM Lentera Pustaka Berjuang Keras Berantas Kaum Buta Aksara - GEBERBURA

Mumpung waktu senggang, Idul Adha kali ini saya gunakan untuk evaluasi program Gerakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor. Sudah 1,5 tahun program itu berjalan. Awalnya hanya 4 ibu, lalu susut jadi 2 ibu dan kini bertambah jadi 11 ibu-ibu. Dan hasilnya, memang mereka sudah bisa baca walau masih tersendat. Sementara menulis belum. Karena saya percaya, menulis akan lebih mudah bila terbiasa membaca. Maka ke depan, bukan hanya kesabaran Tapi butuh komitmen dan pengorbanan yang lebih besar lagi. Agar kaum ibu ini benar-benar bebas dari buta aksara.

 

Sayangnya, ada yang luput dari pengamatan saya. Ternyata, kaum ibu warga belajar tingkat pendidikannya 33,3% SD, dan 66,7% SD tapi tidak lulus. Memang benar, memberantas buta aksara itu tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu dan proses yang panjang. Apalagi bagi mereka yang sudah tidak lagi muda, ibu rumah tangga pula, dan mungkin belajar baca-tulis bukanlah prioritas dalam hidupnya. Hanya satu modal yang jadi andalan mereka, masih ada kemauan. Itu saja.



Di GEBERBURA, saya sendiri tidak pakai kurikulum keaksaraan nasional karena memang sulit diterapkan. Terlalu kaku dan step by step-nya tidak cocok. Maka saya bikin metode “be-nang” alias belajar dengan senang. Selalu berdoa, selalu ada canda, selalu ada PR, bahkan tiap datang pun tiap peserta saya hadiahi seliter beras atau mie instan atau jajan bareng asal sudah baca dan tulis.

 

Maklum, warga belajar di GEBERBURA memang tidak bisa baca. Tangannya pun terlalu kaku untuk menulis. Mulut dan lidahnya harus adaptasi dalam mengeja suku kata. Persis seperti yang mereka bilang ke saya, “Pak, maaf saya ini tidak tahu tanggal lahir bahkan menulis nama pun tidak bisa”. Dan alhamudlillah, sekarang mereka sudah bisa tulis nama dan tanda tangan walau tetap tidak tahu tanggal lahirnya. Apapun perlunya, Ibu harus tulis nama sendiri dan tanda tangan sendiri, jangan diwakilkan ke orang lain, begitu kata saya pada mereka.

 

Maka hikmah sederhana Idul Adha kali ini. Minimal buat saya. Adalah menambah pengorbanan dan kepedulian untuk tetap mengajarkan mereka. Agar benar-benar bebas dari buta aksara, agar bisa membaca dan menulis hingga tuntas. Entah, kapan waktu itu tiba?

 

Karena saya yakin, hanya kepedulian yang bisa membebaskan mereka dari belenggu buta aksara. Idul Adha adalah momen peduli kepada kaum buta aksara yang ada di dekat kita.

 

Seberapapun nikmatnya sate kambing atau sop sapi “qurban” yang saya cicipi. Serasa masih ada mengganjal bila di dekat saya masih ada kaum yang buta aksara, tidak bisa baca tidak bisa tulis. Apalagi di era digital kayak begini. Tentu, kita tidak cukup hanya dengan mengasihani mereka. Maka, ubah setiap niat baik jadi aksi nyata, kapan pun dan dimana pun. #GEBERBURA #TBMLenteraPustaka #BerantasButaAksara

Rabu, 29 Juli 2020

Perkuat Timbal Balik, Hikmah Idul Adha Di Balik Badai Covid-19

Tanggal 9 Dzulhijah disebut hari Arafah. Menurut riwayat, Arafah adalah nama tempat ketika Nabi Adam dan Hawa dipertemukan kembali setelah mereka dikeluarkan dari surga. Ada pula yang mengatakan Arafah diambil dari ucapan Nabi Ibrahim AS; Araftu (aku tahu), setelah diajarkan manasik haji dan tempat-tempat ibadah haji, termasuk padang Arafah oleh malaikat Jibril. Maka hingga kini, Arafah dijadikan tempat seluruh jamaah haji berkumpul untuk melakukan wukuf, sebuah padang luas yang terletak antara Mina dan Muzdalifah.

 

Manusia adalah hamba, bukan siapa-siapa. Bukan pula apa-apa.

Buktinya, ketika manusia diberi ujian wabah Covid-19. Tidak ada satu manusia pun yang berdaya. Apalagi berani bertempur melawan Covid-19. Di tengah wabah Covid-19, manusia hanya bisa mencegah, menghindari, lalu berdiam diri sambil memohon perlindungan dari-Nya. Bukti kuat, manusia bukan siapa-siapa. Hanya bisa berusaha lalu berdoa. Dan selebihnya berserah diri kepada Allah SWT. Itulah hamba.

 

Bila kita hamba, maka hikmah Idul Qurban (Idul Adha) 2020 adalah membangun kesadaran timbal balik. Timbal balik. Bahwa tidak ada kebencian yang melulu tanpa diimbangi cinta. Tidak ada kesombongan yang melangit tanpa diikuti kerendahan hati yang membumi. Tidak ada pula tebaran keburukan tanpa diikuti kebaikan. Bahwa sehebat-sehebatnya musuh pun pada akhirnya akan menjadi kawan. Jangan hanya mau menerima tanpa mau memberi. Segalanya ada timbal baliknya, ada sebab ada akibatnya.

 

Besok di 10 Dzulhijah, gema takbir Idul Adha 1441 H berkumandang di mana-mana, berdengung di telinga kita. Ada tangis, ada syukur, bahkan ada introspeksi diri yang mengalir dari darah mereka. Hukum timbal balik milik pada hamba. Ribuan ekor sapi dan kambing pun menangis haru. Nyawa hewan qurban pun hilang seketika. Tapi bukan pertanda duka. Namun tanda suka cita segera menghampiri kaum fakir miskin dan anak-anak yatim. Seutas senyum tersirat di bibir mereka. Bersiap menikmati daging hewan qurban yang lama sekali tidak pernah dicicipinya. Sebuah timbal balik dari orang-orang mampu kepada yang tidak mampu.

 

Hidup manusia adalah timbal balik. Karena manusia itu hanya hamba. Maka Aristoteles yang bilang “perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan”. Bila ingin dihargai, maka hargailah orang lain, Bila ingin dihormati maka hormatilah orang lain. Tentu, atas dasar keikhlasan dan apa adanya, bukan ada apanya. Timbal balik adalah keniscayaan, sebuah kepastian yang terjadi.  Apa yang ditabur, itulah yang akan dituai.

 

Hukum timbal balik pula yang bilang. Bahwa tidak mungkin semua orang bisa cocok denganmu. Maka tidak perlu pula kamu memaksa diri agar cocok dengan semua orang. Karena seorang hamba, hanya bisa ikhtiar dan doa. Tidak lebih dan tidak kurang. Karena dalam hidup, balas dendam terbaik adalah tetap berbuat baik dan membiarkan karma membereskan sisanya pada mereka.

 

Timbal balik kian menegaskan. Bahwa manusia sebagai hamba pun tidak perlu takut kehilangan. Karena di dunia ini, tidak ada yang abadi. Bila ada manusia yang takut kehilangan, berarti bukan timbal balik. Bila ada hidup maka ada mati. Itu timbal balik. Lalu kenapa takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan kekuasaan, takut kehilangan harta, takut kehilangan jabatan dan takut-takut yang lainnya. Mereka yang hidup dalam ketakutan, lalu penuh kekhawatiran. Hingga punahlah kepedulian kepada sesama.

Timbal balik adalah syariat.

Ada saat memberi ada saat menerima. Ada saat membenci ada saat mencintai. Ada saat lebih ada saat kurang. Ada salah ada benar. Semua itu lumrah dan pasti terjadi pada seorang hamba. Hukum timbal balik pasti berlaku, cepat atau lambat.

 

Jangankan kekuasaan, harta, atau jabatan. Seperti sapi dan kambing, nyawa yang menempel pada tubuh manusia pun terlalu mudah untuk hilang secara tiba-tiba. Siapa yang menduga, kemarin sehat lalu esok sakit. Kemarin bebas tidka ada yang melarang, lalu hari ini terkungkung wabah Covid-19 dan berdiam diri di rumah saja. Bahkan kemarin masih ada dan esok sudah tiada.

 

Di dunia ini, sejatinya, tidak ada orang kaya atau orang miskin. Tidak ada pula orang sukses atau tidak sukses. Bahkan tidak ada pintar atau orang bodoh. Tapi yang ada hanyalah “timbal balik”. Semakin sering memberi maka semakin kaya, semakin pelit maka semakin miskin. Semakin pintar untuk diri sendiri semakin tidak ada manfaat, semakin banyak berbuat untuk orang lain maka semakin pintar. Hukum timbal balik memang sederhana.

 

Idul Adha di terpaan Covid-19 tahun ini adalah momen. Pentingnya membangun kesadaran timbal balik antarsesama. Karena manusia hanyalah hamba. Bukan siapa-siapa, bukan pula apa-apa. Dan semua yang manusia miliki hari ini adalah titipan Allah SWT semata. Amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

 

Persis, semuanya di dunia ini. Pasti akan berjalan dalam koridor “timbal balik”. Timbalnya di dunia, baliknya di akhirat. Dan timbal balik yang paling hakiki adalah “Allah yang berikan, maka Allah pula yang akan mengambilnya”. Sebagai hamba, manusia hanya bisa ikhtiar dan doa baik. Selebihnya Allah akan bekerja sesuai kehendak-Nya.

 

Adalah hikmah Idul Adha. Memperbesar ruang timbal balik dalam hati dan pikiran manusia. Timbal balik membangun kepedulian, bukan keangkuhan. Dan sama sekali tidak perlu menghisab orang lain seolah-olah kita bertindak seperti  Tuhan. Kita semua hanyalah hamba-hamba-Nya, hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa. Dan mintalah ampun kepada Allah terus-menerus tanpa mengenal lelah.

 

Bertimbal balik-lah esok, sebelum ajal menjemput tiba. Selamat Idul Adha 1441 H. Mohon maaf lahir batin. Semoga kian bertambah keimanan kita sebagai hamba, dan makin diberkahi Allah SWT. #IdulAdha1441H #HidupTimbalBalik


Survei TBM Lentera Pustaka: 67% Siswa Terkendala Internet Saat Belajar Online di Masa Covid-19

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) dinilai banyak kalangan tidak efektif. Bukan hanya materi pelajaran, banyak siswa terkendala akses internet. Maka penting pemerintah mulai memikirkan ketersediaan akses internet di berbagai daerah, termasuk memberikan kuota gratis paket data untuk siswa.

 

Survei TBM Lentera Pustaka bertajuk “Anak Belajar Jarak Jauh Di Mata Ibu-Ibu” yang dilakukan pada Juli 2020 inim dengan 250 responden ibu-ibu menyimpulkan bahwa masalah yang dihadapi Ibu-ibu saat anak ikut belajar jarak jauh (online) terdiri dari: 1) masalah kuota internat/paket data 67%, 2) masalah ponsel 18%, 3) tidak ada masalah 12%, dan masalah komputer/laptop 3%.

 

Kondisi ini menyiratkan PJJ pada akhirnya menimbulkan masalah baru soal kuota internet bagi siswa dan orang tuanya. Maka wajar, kaum ibu beranggapan PJJ pun jadi sebab biaya lebih mahal daripada belajar di sekolah. Keadaan kian mengenaskan, ketika paket data sudah tersedia pun belum tentu sinyal internetnya bagus di beberapa daerah.

 

“Survei in dapat diartikan 7 dari 10 siswa punya masalah soal akses internet saat belajar jarak jauh. Oleh karena itu, pemerintah perlu meningkatkan infrastruktur internet di berbagai daerah Bila perlu siswa disediakan paket data secara gratis. Agar PJJ nantinya tidak menimbulkan polemik baru”” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka yang juga Dosen Unindra saat merilis hasil survei hari ini.

 

Sebagai pendamping anak saat PJJ di tengah wabah Covid-19, kaum ibu pun menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah, seperti: 1) terhambat masalah ponsel, saya mohon belajarnya diberikan tugas melalui buku paket, 2) PJJ perlu dievaluasi untuk daerah yang minim internet atau tak terjangkau internet, 3) internet ini jadi masalah keluarga yang tidak mampu, 4) saya jadi kerepotan dan tidak sanggup untuk membelikan paket internet, dan 5) biayanya terlalu mahal untuk beli paket internet.

 

Syarifudin Yunus pun mempertegas lagi bahwa dunia pendidikan tidak siap dalam sistem PJJ. Karena situasi dan kondisi wabah Covid-19 yang darurat namun cara-cara belajar yang dilakukan tetap sama seperti biasanya. Sehingga kegiatan belajar jarak jauh hanya dianggap sebagai pengganti tatap muka di sekolah. Justru di masa pandemi Covid-19 ini, paradigma tentang belajar harus diubah sesuai dengan kondisi aktual dan para siswa.

 

“Menurut saya, agak salah bila PJJ dimaknai hanya pengganti tatap muka akibat Covid-19. Harusnya sekolah atau pemerintah perlu sederhanakan kurikulum. Semua mata pelajaran diarahkan pada upaya memacu pemikiran dan pengalaman belajar siswa dari kasus Covid-19. Ini momentum untuk optimalkan pendidikan karakter siswa, tentu dengan cara-cara yang kreatif. Tidak melulu berbasis internet” tambah Syarifudin Yunus.

 

Maka sebagai solusi, pemerintah perlu segera mengubah paradigma kegiatan belajar mengajar. Dari yang tadinya di kelas di sekolah menadi di rumah. Karena di rumah maka basisnya adalah penguatan sosial dan karakter siswa, bukan akademik semata.

 

Perlu diketahui, TBM Lentera Pustaka yang berlokasi di Kaki Gunung Salak Bogor melakukan survei “persepsi kaum ibu terhadap belajar jarak jauh” sebagai upaya menguatkan pendidikan nonformal seperti taman bacaan yang dapat mengambil peran lebih besar di masa Covid-19. Karena taman bacaan lebih dekat dengan siswa yang ada di lingkungan perumahan atau perkampungan. Karena hakikatnya, pendidikan bukan hanya formal tapi nonformal seperti taman bacaan pun harus didayagunakan. #TBMLenteraPustaka #PembelajaranJarakJauh



Potret Pendidikan Indonesia, Anggaran Besar Dampak Minim (Diskusi Pedagogik IKA UNJ)

Jauhi Rasionalisasi Semu Pendidikan Indonesai, Diskusi Pedagogik IKA UNJ

 

Bertajuk “Mengenali Sumber Persoalan Bottleneck Pendidikan Nasional Untuk Melampangkan Jalan Napas Pendidikan Indonesia”, Forum Diskusi Pedagogik IKA UNJ menggelar diskusi bulanan secara daring terkait sistem pendidikan di Indonesia. Dibuka oleh Dr. Komarudin Sahid, M.Si sekali Rektor UNJ, menegaskan bahwa pendidikan adalah persoalan besar bangsa Indonesia yang terus-menerus berdinamika dan harus dicarikan solusinya.

 

Menghadirkan dua tokoh pendidikan Indonesiaa, yaitu 1) Prof. Dr. Sutjipto, Rektor UNJ 1997-2005/Direktur Pascasarjana Univ. Pancasila dan 2) Prof. Dr. Yoyon Suryono, Guru Besar UNY kian menegaskan adanya ketidak-fungsian dalam sistem pendidikan. Dipandu moderator Abdulllah Taruna, diskusi pedagodik yang dihadiri 56 peserta ini terbilang sangat mencerahkan karena mampu memetakan persoalan mendasar yang dihadapi dunia pendidikan, apalagi di masa pandemo Covid-19.

 

“Saya menyebutnya bukan bottleneck tapi lebih tepatnya entropi, ada energi yang tidak berfungsi. Maka bila dibiarkan akan berkembang menjadi kehancuran dunia pendidikan. Maka dari itu, kini saatnya semua pihak utamanya pemerintah harus muali memperlancar komunikasi dan koordinasi agar masalah pendidikan perlahan dapat dicarikan jalan keluar” ujar prof. Dr. Sutjipto dalam paparannya.

 

Karena memang faktanya, anggaran pendidikan di Indonesia yang lumayan besar 20% atau 500-an triliun tidak memberi dampak yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Maka sebagai sebuah sistem, perlu ada efisiensi terhadap sumber daya agar bisa memberi kontribusi yang lebih besar dan semua elemen harus menjalankan fungsinya dengan benar, jangan jalan sendiri-sendiri.

  

Prof. Dr. Yoyo Suryono pun menegaskan bahwa pendidikan Indonesia saat ini terjebak pada “rasionalisasi semu”. Seolah-olah program yang dibuat bagus tapi tidak punya manfaat besar. Sehingga keluaran anggaran pendidikan begitu besar tapi dampaknya tidak terasa. Karena pendidikan terbawa arus mainstrem ekonomi yang terlalu liar. “Maka hari ini, kita butuh konsep sistem pendidikan Indonesia yang benar-benar Indonesia, bukan berkiblat keman-mana. Mau seperti apa kita dengan pendidikan? Sehingga kita bisa memetakan persoalan lalu mencari solusinya” ujarnya.

 

Harus diakui, pendidikan Indonesia hari ini megalami kelangkaaan sumer daya dan pemahaman perilaku pendidikan yang bias. Maka munculan masalah dalam pendidikan. Untuk itu, sangat perlu diperkuat paradigma pendidikan yang ada di Indonesia sambil memperkuat ideologi pendidikan “berwarna” Indonesia. Dunia pendidikan pun harus berkolaborasi dengan berbagai ahli untuk mempekuat sistem dan kualitas pendidikan di Indonesia, tentu dengan basis kesejarahan Indonesia.

 

Khusus di masa pendemi Covid-19 seperti sekarang, maka jalan yang paling mungkin dilakukan para praktisi pendidikan adalah melakukan yang terbaik sesuai denga peran dan tanggung jawabnya masing-masing, baik guru maupun dosen. Pendidikan formal maupun nonformal harus diselamatkan semuanya agar saling melengkapi, jangan adda yang ditinggalkan. Dan yang paling penting, siapapun yang berkiprah di dunia pendidikan jauhilah sifat “mbati”, selalu ingin cari keuntungan.

 

Diskusi pedagogik IKA UNJ ini ditutup sambutan Juri Ardiantoro selaku Ketua Umum IKA UNJ dan Deputi IV KSP yang menekankan pentingnya kepedulian terhadap masalah pendidikan. Karena itu, IKA UNJ akan selalu mendorong diskusi berkala yang positif sebagai masukan terhadap sistem pendidikan Indonesia. Salam pedagogik … #IKAUNJ  

 

 


Selasa, 28 Juli 2020

71% Ibu-ibu Repot Anaknya Belajar Jarak Jauh, Hasil Survei TBM Lentera Pustaka

Metode belajar-mengajar siswa di sekolah berubah. Akibat merebaknya wabah Covid-19. Belajar jarak jauh pun diterapkan. Namun faktanya, banyak reaksi yang timbul akibat pembelajaran jarak jauh (PJJ). Survei TBM Lentera Pustaka bertajuk “Anak Belajar Jarak Jauh Di Mata Ibu-Ibu” pada Selasa, 28 Juli 2020 mengkonfirmasikan bahwa 71,1% Ibu-ibu merasa kerepotan atau kewalahan dengan belajar jarak jauh yang dialami anaknya, sementara 28,3% menjawab tida, dan 0,6% tidak tahu.

 

Survei yang baru dijawab 180 ibu-ibu ini menegaskan perlunya pemerintah merumuskan dengan rinci program dan petunjuk teknis PJJ. Utamanya materi belajar yang berbasis “social empowerment” ketimbang “self empowerment”. Karena agak rancu bila yang belajar anaknya. Tapi yang kerepotan ibunya. Sistem PJJ pun menyiratkan justru beban besar malah dialami kaum ibu. Apalagi bagi ibu-ibu yang selama ini kurang peduli terhadap materi pelajaran anak di sekolah.

 

Sebagai reaksi terhadap PJJ, beberapa ibu dalam survei ini memberi komentar: 1) jangan kebanyakan tugas, 2) saya sebagai ibu rumah tangga bener bener repot; harus mengerjakan semua tugas rumah, sekarang ditambah lagi ngajar anak-anak, 3) cara mengajar sy beda dengan guru, 4) anak-anak jadi susah diatur, tugas yang dikasih guru belum selesai anaknya malah nonton tv atau maen hp, 5) belajar online tidak efektif, karena anak lebih patuh pada guru, kalau pada ibunya anak tidak nurut, 6) sebaiknya sebelum diberikan tugas anak-anak diberikan penjelasan secara online tatap muka, dan 7) memberi tugasnya kalau bisa jangan banyak-banyak,

 

Harus diakui, PJJ sebagai metode belajar seharusnya tidak masalah. Reaksi kaum ibu ini bisa jadi akibat masih “terpaku” pada cara belajar yang konvensional alias tatap muka. Anak tidak terbiasa, si ibu merasa terbebani. Atau bahkan guru dan sekolah tidak punya kreasi dalam belajar jarak jauh karena tidak terbiasa.Masih mengacu pada kurikulum yang kaku.

 

Sejatinya, PJJ adalah alternatif pembelajaran yang diperlukan di era digital. Apalagi di tengah wabah Covid-19. Untuk itu, dominasi model pembelajaran seharusnya tidak lagi bersandar pada guru dan kurikulum. Itulah yang disebut dengan “Deschooling Society”, model pembelajaran yang mendorong terjadinya kolaborasi orangtua, guru, dan siswa. Sekolah bukanlah satu-satunya tempat belajar. Selain itu, PJJ harusnya lebih diarahkan pada upaya siswa mendapatkan personalisasi pengalaman belajar yang kreatif dan bermakna sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.

 

Kondisi ini menyiratkan ada ketidak-siapan dunia pendidikan dalam menjalankan PJJ. Oleh karena itu, sesuai rencana pemerintah yang akan menjadikan PJJ secara permanen. Maka diperlukan rumusan dan sosialisasi model belajar jarak jauh kepada seluruh pemangku kepentingan. Bahwa belajar jarak jauh bukanlah cara belajar semata tapi soal cara berpikir tentang belajar.

 

Ke depan, belajar jarak jauh adalah model belajar yang tidak bisa dihindari lagi. Maka harus ada koordinasi dan sinergi antara pihak sekolah, orang tua, dan guru dalam memberdayakan kegiatan belajar. Sambil perlahan mengubah perspektif tentang belajar anak di sekolah yang tidak hanya terbatas di ruang kelas atau berdasar kurikulum semata. Tapi lebih kepada membangun cara berpikir dan karakter siswa dalam kehidupan di luar pelajaran #TBMLenteraPustaka #PembelajaranJarakJauh


Senin, 27 Juli 2020

Nak, Tidak Ada Paling Hebat Atau Paling Pekat di Taman Baca

Nak, kamu adalah pencipta masa depan kamu sendiri.

Tetaplah membaca, sekalipun dalam kondisi yang sulit. Di wabah Covid-19 yang belum reda.

Percayalah, bahwa di balik tiap kesulitan pasti ada kemudahan yang menyertainya. Karena kebaikan itu harus kamu kerjakan, ia tidak datang dengan sendirinya. Berbuat baik memang harus diperjuangkan, perlu ditebarkan ke belahan bumi manapun. Apapun kendalanya.


Berbuatlah, bertindaklah. Jangan berdiam diri.

Karena kebaikan hanya punya satu jalan. Harus tetap tumbuh. Tanpa peduli diterima atau ditolak orang banyak. Seperti yang kamu lakukan di taman bacaan. Tetap membaca buku, sementara di luar sana sibuk bermain gawai.


Kamu tahu, Nak. Di luar sana, betapa banyak mereka yang meminta kepada Tuhannya setangkai bunga yang indah; tapi yang diterima hanya kaktus berduri. Berapa banyak pula yang menengadah berharap kepada Tuhan seekor kupu-kupu yang memesona; tapi yang diberi justru ulat berenyem.

Maka Nak, kamu tidak perlu sedih, tida usah kecewa apalagi marah. Karena semua itu sudah jalan-Nya. Lanjutkan saja membaca di taman bacaan, hingga tiba waktu indah untukmu di kemudian hari…

Karena dengan membaca.

Hari ini bisa lebih baik daripada hari kemarin. Namun, seandainya hari ini sama saja dengan hari kemarin, itu berarti kamu termasuk orang yang merugi.

Oke Nak, tetaplah membaca.

Ketahuilah, di bumi ini. Tidak ada orang yang terlalu hebat, tidak ada pula orang yang terlalu pekat. Semua terletak pada akhirnya. Asal punya niat dan mau bermanfaat ... #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BudayaLiterasi