Jumat, 12 April 2024

Silaturahim Tidak Literat, Sempat-sempatnya Menilai Pakaian Orang

Saat lebaran kemarin, saya bersama dua orang teman pergi silaturahmi ke rumah Pak Ustaz, sang guru spiritual. Sekaligus ngobrool ringan tentang puasa dan idul fitri, bukan soal politik seperti khutbah sholat Ied di Yogya yang “ditinggal” jamaahnya. Setibanya kami di rumah Pak Ustaz, saya fokus memandangi foto-foto di ruang tamu, sambil bertanya ke Pak Ustaz, “Itu foto saat kapan Pak Ustaz?” ujar saya.

 

Bagaimana dengan teman saya? Tentu berbeda lagi. Tatapan matanya lebih ke arah Pak Ustaz. Entah, apa yang dilihat dan dipandangi. Seperti agak takjub gitu.   

 

Hingga suatu hari, teman saya yang satu bilang. Bahwa baju gamis Pak Ustaz yang dipakai kemarin itu terbuat dari tenun mahal, kualitasnya tinggi. Memang, teman saya bekerja di pasar pakaian. Jadi wajar, penilaiannya tertuju pada apa yang dikenakan Pak Ustaz.

 

Sementara teman yang satu lagi berbeda. Ia justru sempat-sempatnya memperhatikan cincin yang melingkari jari Pak Ustaz. Katanya, batu cincinnya dari jenis permata. Mahal banget itu batunya. Nah, teman saya yang satu ini memang hobi dengan batu permata dan perhiasan. Jadi wajar juga, mungkin karena dia paham soal batu-batu cincin.

 

Dari cerita di atas, kita bisa mengambil hikmahnya. Ada contoh tentang bagiamana orang-orang menilai orang lain. Bahwa seseorang akan mendapat penilaian yang berbeda dari tipa-tiap orang. Sudut pandangnya berbeda, cara menilainya berbeda. Tergantung siapa yang menilai dan kepada siapa dinilai?

 

Pesan utamanya adalah penilaian kita tentang apapun, mencerminkan diri kita sendiri. Sikap kit aitu menunjukkan kualitas diri kita sendiri. Apa yang jadi perhatian kita, itulah kita. Dan bagaimanapun penilaian kita maka itulah diri kita sendiri.

 


Orang baik pasti akan melihat dan mendapati orang lain yang baik-baiknya saja. Sebaliknya orang yang tidak baik pun fokusnya akan selalu tertuju pada keburukan orang lain. Begitulah hidup, ada orang yang sangat fokus pada keburukan orang lain. Ada pula yang hanya diam dan tidak berkomentar banyak. Terserah kita, mau bagaimana?

 

"When you judge another, you do not define them, you define yourself." Ketika kita menilai seseorang, sebenarnya kita bukan sedang menunjukkan siapa dia. Tapi justru menunjukkan siapa kita sebenarnya.

 

Maka di momen lebaran ini, jagalah prasangka baik kepada semua orang. Fokus pada yang baik-baik dan bermanfaat. Hingga kita lupa bagaimana caranya berburuk sangka? Hilangkan semua prasangka buruk dari benak kita. Karena prasangka buruk itu hanya menyakitkan diri sendiri.

 

Silarahim tidak literat, sempatnya-sempatnya ngomong pakaian Pak Ustaz. Tidak usah berkomentar yang hanya tahu sedikit saja. Tanpa tahu banyak yang sebenarnya. Maka jangan terburu-buru berprasangka buruk bila tidak mampu berprasangka baik. Salam literasi #HikmahLebaran #CatatanIdulFitri #TBMLenteraPustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar