Minggu, 08 Mei 2022

Kenapa Saya Ibadah Sosial di Taman Bacaan?

Setelah Idul Fitri kali ini, salah satu hikmah yang saya peroleh adalah ibadah itu bukan hanya ritual tapi juga sosial. Ibadah sosial sama pentingnya dengan ibadah ritual kepada Allah SWT. Berbuat baik kepada sesama manusia selama di dunia tidak kalah penting dibandingkan kepatuhan terhadap perintah-Nya untuk akhirat. Maka, kualitas ibadah siapa pun harus terus-menerus diperbaiki, baik ritual maupun sosial.

 

Menjaga hubungan dengan sesama manusia itu sama pentingnya dengan memelihara hubungan dengan Allah SWT. Ibadah tidak cukup hanya ritual. Menjalankan sholat 5 waktu, menjadi hafizh, bahkan pandai ilmu agama. Namun, kesalehan ritual yang dimilikinya tidak bermanfaat dan berdampak baik kepada sesama umat. Orang lain tetap terpuruk dan tidak beranjak menjadi lebih baik dalam hidupnya. Sekali lagi, ibadah itu bukan hanya ritual tapi juga sosial.

 

Mungkin hari ini, kian banyak orang-orang yang belajar agama dan jago dalam urusan ibadah ritual. Tapi sayang secara sosial, tetap gemar mengumpat atau mencela pemimpin atau orang lain dengan segala cara. Hobi bergibah atau berbicara banyak atas hal-hal yang tidak manfaat untuk dirinya, bahkan untuk orang yang dibicarakannya. Jadi percuma, ahli ibadah ritual namun mengabaikan ibadah sosial. Hidup tidak cukup hanya kesalehan ritual tanpa diimbangi kesalehan sosial.

 

Ibadah apa pun bentuknya, ritual maupun sosial, sejatinya bukan karena ingin mendapat pahala. Agama yang dipahami sebatas mengganjar ibadah dengan pahala patut diperbaiki. Ibadah, tentu dilakukan bukan untuk membayar "utang budi" pada siapa pun, bukan pula meminta upah pahala sebagai balasan. Ibadah kok egois.

 

Bukti bahwa ibadah sosial pun lebih bernilai daripada ibadah ritual. Ibadah apa pun bukan karena ingin pahala atau dipuji, terlalu egois. Tapi ibadah adalah wujud rasa cinta kepada sesama dan bukti syukur atas segala nikmat dan anugerah Allah SWT. Karena sejatinya, ibadah di agama apa pun memiliki misi untuk menggerakkan ekonomi rakyat, memeratakan kesejahteraan, memberdayakan kalangan tidak mampu, bahkan membaguskan akhlak dalam berpolitik atau bermasyarakat.

 

Maka salah, bila hari ini ibadah dijalankan seperti agamanya pedagang yang hanya mikirin untung (surga). Salah pula bila ibadah dikerjakan seperti agamanya para budak yang hanya takut disiksa majikan (neraka). Apalagi menjadikan ibadah sebagai agitasi personal. Sebagai luapan rasa gelisah, benci, dan amarah yang tiada pernah berhenti. Ibadah-lah seperti hamba yang bebas. Ibadah untuk mencintai dengan penuh kesadaran, mensyukuri dengan penuh ketakwaan. Ibadah yang berdaulat dan tetap enjoy menjalankannya. Seperti riwayat Aisyah yang heran, kenapa Rasulullah masih sangat rajin beribadah kepada Allah walau surganya sudah dijamin? Maka Rasulullah pun bersabda, bahwa “beliau beribadah atas rasa terima kasih dan syukur kepada Allah SWT, karena terlalu banyak nikmat yang dilimpahkan-Nya”.

 


Banyak kisah menyebutkan, bahwa ibadah sosial sangat bernilai di mata Allah SWT, bahkan mungkin jauh lebih bernilai dari ibadah ritual. Karena Allah SWT berada di antara orang-orang yang kesusahan. Maka salah satu cara untuk menemui Allah SWT adalah dengan membantu orang-orang yang susah. Membantu sesama akan hal apa pun yang bernilai ibadah.

 

Dalam kitab “Mukasyafatm al-Qulub”, suatu kali Nabi Musa berdialog dengan Allah, lalu bertanya, “Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah yang engkau perintahkan. Manakah di antara ibadahku yang engkau senangi, apakah sholatku? Allah menjawab, “Sholatmu itu hanya untukmu sendiri, karena shalat membuat engkau terpelihara dari perbuatan keji dan mungkar.” Lalu ibadah apa yang membuat engkau senang? tanya Nabi Musa lagi. Maka jawabnya, “Memasukkan rasa bahagia ke dalam diri orang lain”. Menyenangkan hati orang lain pun ibadah. Menjaga hubungan baik dengan orang lain justru lebih dari ibadah ritual.

 

Ibadah sosial pun terjadi di taman bacaan. Walau hanya menyediakan akses bacaan kepada anak-anak. Memberantas buka aksara, mengajari anak-anak prasekolah. Bahkan membina anak-anak yatim dan kaum jompo. Termasuk membebaskan kaum ibu dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi melalui koperasi simpan pinjam. Hal itulah yang dilakukan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, sebagai wujud ibadah sosial. Ibadah yang tidak hanya sebatas ritual.

 

Ibadah sosial sama pentingnya dengan ibadah ritual. Maka berhati-hatilah terhadap dosa-dosa sosial. Seperti menyakiti hati manusia, bergibah, berprasangka buruk, berkata kotor, menghakimi, apalagi menzolimi dan mengambil hak orang lain. Jangan sepelekan dosa sosial sekecil apa pun. Itulah pentingnya silaturahim dan saling memaafkan. Dosa kepada Allah SWT, siapa pun bisa memohon ampunan-Nya.  Karena ampunan Allah SWT jauh lebih luas daripada murka-Nya. Tapi dosa kepada manusia, Allah SWT tidak akan mengampuni sebelum manusia yang dizolimi itu ridho. Korupsi, mencuri, menjual hak orang lain tidak bisa diampuni dosanya dengan banyak sholat. Karena di situ, ada dosa sosial dan kezoliman terhadap orang lain.

 

Jadi, ibadah sosial dan ritual itu penting. Sebagai wujud cinta kepada sesama dan syukur kepada Allah SWT. Bukan karena merasa jadi orang penting atau disebut dermawan atau dipuji orang. Karena bukankah segala yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya.

 

Lalu, kenapa berani mengambil milik Allah? Selalu ada jalan untuk memperbaiki ibadah sosial. Salam literasi #IbdahaSosial #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 




Kopi Lentera, Aroma Kopi Pegiat Literasi dari Taman Bacaan

Kopi itu punya kelebihan tanpa perlu dibicarakan. Kopi juga punya kekurangan tanpa perlu diperdebatkan. Karena lazim kok, bila ada kelebihan pasti ada kekurangan. Kalo punya plus pasti punya minus. Jadi, rileks saja dan nikmatilah secangkir kopi.

 

Di mata kaum penikmat kopi, sejatinya hanya ada 2 tipe manusia: 1) orang-orang yang reaksinya negatif. Pikirannya jelek, sikapnya menghasut, dan perilakunya penuh amarah, benci dan dendam dan 2) orang-orang yang reaksinya positif. Pikirannya bagus, sikapnya bijaksana dan perilakunya rileks dan enjoy saja karena tidak ada satupun orang yang sempurna.

 

Kaum penikmat kopi sadar betul.

Bahwa siapa pun tidak bisa mengontrol pikiran dan perilaku orang lain. Penikmat kopi hanya bisa mengontrol dirinya sendiri. Karena ngopi itu yang penting "substansi" bukan "reaksi". Tapi ingat, di mata kaum penikmat kopi, tidak boleh ada orang lain yang ikut menentukan cara kita dalam bertindak. Seperti aroma pada secangkir kopi hanya ditentukan oleh kopi itu sendiri, bukan oleh penikmatnya.

 


Setiap pagi, setiap hari. Nikmati dan syukurilah apa yang ada. Agar semuanya tetap baik. Dan yang paling penting, tidak usah menunggu untuk jadi orang baik. Karena saat ngopi selalu ada ajaran untuk "tidak terburu-buru dalam mengerjakan sesuatu, nikmati saja apa yang ada". Seperti kita meneguk secangkir kopi, tepatnya di “Kopi Lentera” di kaki Gunung Salak. Kopi-nya literasi, ngopi sambil baca dalam naungan Taman Bacaan Lentera Pustaka.

 

Maka jangan pernah membenci secangkir kopi, apa pun alasannya. Bila tidak mau jadi kaum penikmat kopi. Cukup bergaul saja dengan kaum penikmat kopi. Agar lebih literat dalam hidup. Salam Kopi Lentera. #KopiLentera #KaumPenikmatKopi #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Filosofi Kopi Lentera silakan cek di:

https://www.kompasiana.com/syarif1970/5ca7fa14a8bc154f396aee6c/kisah-kaum-penikmat-kopi?fbclid=IwAR1uN4JpG9VRcDwJld6D-hH3nEj8MjfrSjhDO6CVFmpLDFi85HNbprTyLTk

 

Sabtu, 07 Mei 2022

TBM Lentera Pustaka Ngapain Saat Libur Lebaran?

Selain identik dengan silaturahim dan musim mudik, lebaran biasanya juga identik dengan libur panjang. Sebagai momen untuk berkumpul bersama keluarga maupun sahabat. Bahkna tidak sedikit pula yang memanfaatkan untuk jalan-jalan atau rekereasi. Lalu, bagaimana bila saat lebaran hanya di rumah saja?

 

Tentu ada banyak hal yang bisa dilakukan saat libur lebaran. Mulai dari membersihkan rumah, membaca buku, atau bahkan menulis. Asal jangan berdiam diri di rumah apalagi kebanyakan menonton TV. Libur lebaran justru jadi momen untuk ber-inisiatif melakukan yang bermanfaat di rumah. Bahkan terhadap lingkungan sekitar rumah. Apa pun bisa dilakukan asal ada manfaatnya.  

 

Begitu pula pegiat literasi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Libur lebaran yang Panjang pun dapat dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi terhadap taman bacaan. Agar setelah lebaran, taman bacaan tetap dapat menjalankan perannya untuk menyediakan akses bacaan kepada anak-anak. Di samping dapat menjalankan aktivitas literasi yang lebih baik lagi, Tentu, setiap taman bacaan punya cara sendiri-sendiri untuk mengisi libur lebaran. Namun sayangnya, tidak sedikit taman bacaan yang bingung saat libur lebaran. Apa yang harus dilakukan di taman bacaan?

 

Libur lebaran jarang terjadi atau hanya ada setahun sekali. Maka harus dapat dimanfaatkan ebaik mungkin oleh siapa pun, termasuk taman bacaan. Nah berdasar pengalaman saat libur lebaran tahun 2022 ini, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak memanfaatkan libur lebaran dengan berbagai aktivitas. Kebetulan, TBM Lentera Pustaka meliburkan kegiatan hingga 14 Mei 2022 dan akan kembali berkegiatan pada Minggu, 15 Mei 2022.

 


Berikut ini lima kegiatan yang Taman Bacaan bisa lakukan saat libur lebaran:

1.      Menata buku-buku di rak. Kegiatan ini dilakukan untuk membersihkan rak-rak buku dari debu atau kotoran rayap, di samping untuk mengelompokkan buku-buku sesuai dengan jenis bacaannya, seperti buku-buku akhlak dan religious, ensiklopedia, cerita, pengetahuan, sejarah, dan sebagainya.

2.      Membenahi fasilitas taman bacaan. Kegiatan ini dilakukan untuk menata kembali ruang baca, hiasan-hiasan atau mempercantik fasilitas taman bacaan. Misalnya membuat tulisan-tulisan yang sifatnya memotivasi pembaca atau mengecat ulang ruang baca agar lebih menarik.

3.      Mengklasifikasikan buku bacaan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengklasifikasikan buku-buku bacaan yang ada di taman bacaan, baik yang ada di rak buku atau yang belum sempat diklasifikasikan. Setelah itu dilanjutkan untuk dimasukkan ke data base koleksi buku bacaan. Agar taman bacaan pun punya administrasi dan dokumen koleksi buku secara tertib di laptop atau komputer.

4.      Merapikan taman bacaan. Kegiatan ini dilakukan untuk melakukan perubahan di taman bacaan setelah libur lebaran dengan cara merapikan ruang baca atau buku-buku yang tersedia dengan cara yang beda dari sebelumnya. Untuk itu, dibutuhkan kreativitas pegiat literasi di taman bacaan. Intinya menjadikan taman bacaan berbeda antara sebelum lebaran dan sesudah lebaran. Agar membuat tampilan taman bacaan lebih nyaman dan estetis.

5.      Menulis tentang taman bacaan dan akvititas literasi. Kegiatan ini dilakukan untuk mempublikasikan apa yang telah dialami taman bacaan, seperti jumlah anak yang membaca, jumlah koleksi buku, donatur buku, atau prestasi yang diraih taman bacaan. Semua tulisan tentu berdasarkan pengalaman yang telah terjadi di taman bacaan. Pegiat literasi harus berani menulis, selain terbiasa membaca. Karena setiap yang tertulis itu dapat dibaca orang lain dan menjadi jejak digital aktivitas taman bacaan.

Jadi kira-kira, begitulah kegiatan yang dapat dilakukan taman bacaan saat libur lebaran. Intinya, taman bacaan tidak boleh berhenti berkreasi atau berkarya. Karena selalu ada yang dapat dilakukan di taman bacaan. Maka mulailah untuk menata kembali taman bacaan sehingga optimisme akan selalu menjadi spirit dan energi baru di taman bacaan setelah lebaran.

 

Karena momen lebaran, sejatinya bukanlah untuk menjadikan taman bacaan lebih baik dari taman bacaan lain. Tapi untuk menjadikan taman bacaan esok lebih baik dari taman bacaan sebelumnya. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka



Jumat, 06 Mei 2022

Luruskan Niat dan Tetap Melangkah di Gerakan Literasi

Kata orang bijak “Betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niat. Dan sebaliknya, betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat pula”. Itulah hal yang patut direnungkan di momen Idul Fitri kali ini. Luruskan niat dan tetap melangkan untuk hal apa pun dan di mana pun, termasuk aktivitas pegiat literasi di taman bacaan.

 

Benar kata orang bijak lagi, Bahwa niat itu seperti surat. Salah tulis alamat maka akan salah tempat, salah tujuan. Maka, luruskan niat dalam hal apa pun. Agar lebih tetap tujuan, lebih manfaat pada tempatnya. Sebagai pangkal tolak segalanya, niat itulah yang menentukan ikhtiar dan proses yang dilakukan berikutnya. Bila niatnya benar, maka prosesnya pun mudah. Tapi bila niatnya salah, maka ikhtiar sehebat apa pun tidak memberikan hasil yang memadai.

 

Segala sesuatu tergantung niatnya. Percayalah, bila niatnya buruk maka hasilnya buruk pada akhirnya. Sebaliknya bila niatnya baik, maka insya Allah hasilnya pun baik. Semua niat baik pasti akan tercermin pada ikhtiar yang ikhlas. Niat baik dan ikhlas memang mudah diucapkan, namun sulit untuk dijalankan. Karena niat yang lurus dan hati yang ikhlas adalah jalan menuju hati yang lebih tenang, penuh rasa syukur, dan hidup yang lebih baik untuk senantiasa berserah diri kepada Allah SWT. Apa pun kondisinya.

 

Maka kini, luruskan niat untuk tetap melangkah lebih baik ke depan. Untuk urusan apa pun dan atas alasan apa pun. Perbaiki niatnya sekarang. Mumpung belum terlambat. Bahwa segala hal yang dilakukan sebaiknya ditujukan untuk mencari rahmat dan ridho Allah SWT, termasuk aktivitas literasi di taman bacaan. Agar semua ikhtiar dan proses yang dijalankan lebih mudah dan diberkahi-Nya. Sejatinya, niat yang lurus dan hati yang ikhlas yang dibalut doa yang baik adalah “tantara” yang sulit dikalahkan. Dengan begitu, segala hal yang dianggap tidak mungkin dapat berubah menjadi mungkin. Insya Allah.

 


Luruskan niat dan tetap melangkah di taman bacaan. Itulah spirit yang diperkuat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor bertepatan dengan momen Idul Fitri 1443 H. Untuk menata kembali niat dan ikhtiar yang dilakukan dalam tata kelola taman bacaan. Agar tetap fokus pada tujuan literasinya, di samping menjaga komitmen dan konsistensi aktivitas taman bacaan. Caranya adalah: 1) taman bacaan yang selalu menghindari pantangan yang tidak boleh terjadi di taman bacaan seperti: membiarkan anak-anak yang hanya main tanpa mau membaca, menjalankan taman bacaan sebagai rutinitas tanpa melakukan inisiatif baru atau kreativitas dan 2) taman bacaan yang selalu mencari “obat” literasi bukan membahas “penyakit”. Selalu memperbaiki keadaan taman bacaan yang bertumpu pada solusi, bukan mempersoalkan hambatannya.

 

Melalui 14 program literasi yang dijalankan TBM Lentera Pustaka saat ini seperti: 1) TABA (TAman BAcaan) dengan 140 anak, 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 31 ibu-ibu anggota koperasi simpan pinjam agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), 12) LIDAB (LIterasi ADAb), 13) MOBAKE (MOtor Baca KEliling) dan 14) Rooftop Baca. TBM Lentera Pustaka tidak boleh jumawa dan harus selalu introspeksi diri untuk dapat mengelola taman bacaan lebih baik lagi dan lebih baik lagi. Mengingat saat ini, tidak kurang dari 250 orang yang menjadi penerima layanan literasi TBM Lentera Pustaka setiap minggunya.

 

Jadi jelas, luruskan niat dan tetap melangkah di taman bacaan. Sejatinya, hidup dan aktivitas apa pun itu ringan karena sudah ada dalam genggaman-Nya. Tapi yang berat adalah meluruskan niat dan ikhlas menjalankannya karena Allah SWT semata. Untuk selalu menjaga lahir dan batin dalam perbuatan baik, dalam Tindakan amal soleh yang berkelanjutan. Bukan lagi sebatas omongan baik tanpa perbuatan baik secara nyata.  

Aktivitas taman bacaan itu sudah cukup. Bila berani meluruskan niat dan membaguskan ikhtiar-nya. Adapun setelahnya, amal perbuatan digibahi, dicemooh, disalah-pahami, atau sengaja dimanipulasi oleh orang-orang yang tidak suka cukup biarkanlah. Tetaplah melangkah di taman bacaan.

Toh nantinya, tiap-tiap manusia akan sibuk sendiri-sendiri di yaumil hisab. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Kamis, 05 Mei 2022

Momen Idul Fitri, Biarlah Kebersamaan Menemukan Jalan Ceritanya Sendiri

Mungkin terdengar klise. Anggapan yang menyebut "lebih baik mencintai orang jauh tapi sangat menginginkan kebersamaan daripada orang yang dekat tapi justru berperangai merusak kebersamaan." Apalagi di momen Idul Fitri seperti sekarang. Ketika banyak orang justru saling mengedepankan silaturahim, sambil merekatkan kebersamaan.

 

Siapa pun, tentu boleh jadi apa pun. Asalkan tidak merusak kebersamaan yang ada. Apalagi berulah dan berperilaku buruk atas nama ego, kebencian dan permusuhan. Lalu mengabaikan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Berani memutuskan tali silaturahim, termasuk merusak hubungan dan kebersamaan hanya dengan kepentingan ego yang sesaat. Uang, materi, dan harta bukanlah segalanya. Lalu, untuk apa berjuang mati-matian hanya untuk uang atau harta? Apa tujuannya, coba renungkan kembali?

 

Hari ini, mungkin ada orang-orang yang mengorbankan kebersamaan dan hubungan baik. Akibat uang atau permusuhan yang dibangunnya sendiri. Orang yang menjual tanah atas alasan ego, mengambil hal orang lain tanpa izin, bahkan terlibat dalam pergaulan dan gaya hidup yang sesat. Sehingga menghalalkan segala cara yang dilarang agama. Itulah cerita-cerita yang sering dan beredar di masyarakat. Pengen ini pengen itu tapi cara dan prosesnya salah. Hingga menodai kebersamaan, melukai kebaikan sebagai ajaran hidup manusia.

 

Faktanya, kebersamaan siapa pun begitu mudah dihancurkan oleh orang-orang yang egois. Kebersamaan yang dihancurkan hanya karena orientasi materi. Gelap mata dan sesat pikiran hanya persoalan uang. Bahkan lupa kemampuna diri sebenarnya. Pertanyaannya sederhana, untuk apa mengejar uang atau gengsi dengan cara menodai kebersamaan. Memang untuk apa dan mau apa dalam hidup?

 


Menyadari pentingnya memelihara kebersamaan itulah, keluaraga besar Alm. Bapak Lotang Yunus dan almh Ibu Tati Raenawaty menegaskan tekad untuk selalu menjaga kebersamaan. Bahwa tiap manusia pasti ada masalah, ada pasang-surut dalam komunitas tentu menjadi hal yang lazim terjadi. Asalkan tetap dalam spirit menjaga kebersamaan, bukan malah merusaknya. Karena itu, sepeninggal alm Bapak Lotang Yunus pula tradisi silaturahim tetap dijaga di momen Idul Fitri 1443 H. Bertempat di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, keluarga besar Alm Bapak Lotang Yunus yang terdiri dari 4 anaknya (Syarif, Leha, Udin, Andri) dan anak-anaknya berkumpul bersama. Selain untuk saling memaafkan lahir dan batin, sekaligus untuk menjaga kebersamaan. Di samping membaca doa bersama untuk alm Bapak Lotang Yunus dan almh Ibu Tati Raenawaty. Agar diampuni segala dosa dan salahnya, serta mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, amiin.

 

Biarlah kebersamaan menemukan jalan ceritanya sendiri. Tanpa ada rekayasa, apalagi intimidasi. Tetaplah berbuat dan membangun hubungan baik dengan siapa pun. Karena siapa pun bertanggung jawab untuk menjaga kebersamaan, bukan malah merusaknya. Atas nama apa pun dan atas alasan apa pun. Karena pada akhirnya, siapa yang menanam maka akan menuai hasilnya, insya Allah. #IdulFitri #KeluargaLotangYunus #CatatanPegiatLiterasi

 




Rabu, 04 Mei 2022

Pegiat Literasi Taman Bacaan Lentera Pustaka Pernah Raih Lokal Heroes dari Tonight Show NET TV

Taman bacaan dan pegiat literasi jangan pernah lupa sejarah. Persis tepat setahun lalu (4 Mei 2022 lalu), crew Tonight Show NET TV (Vincent-Desta) menobatkan "Ramadhan Heroes 2021" kepada Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka. Atas komitmen dan konsistensinya dalam menjalankan peran taman bacaan untuk pemberantasan buta aksara di lingkungan masyarakat prasejahtera dengan tingkat putus sekolah yang tergolong tinggi.

 

Saat itu crew Tonigt Show NET TV Indonesia melakukan liputan tentang aktivitas dan geliat pemberantasan buta aksara yang dilakukan Taman Bacaan Masyaralat (TBM) Lentera Pustaka di Desa Sukaluyu Kaki Gunung Salak Bogor. Sebagai kisah inspiratif tentang kepedulian dan berbuat baik kepada sesama, sekalipun hanya mengajar membaca dan menulis kaum buta aksara yang masih tersisa. Selain itu, TBM Lentera Pustaka pun tetap menjalankan program lainnya seperti 1) TAman Bacaan (TABA), 2) KElas PRAsekolah (KEPRA), 3) YAtim BInaan (YABI), 4) JOMpo BInaan (JOMBI), 5) TBM Ramah Difabel, dan 6) Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Lentera.

 

Hasil liputan ini pun sudah tayang di Tonigh Show NET TV pada 5 Mei 2022 yang dipandu langsung oleh Vincent-Desta bertajuk “Semangat Untuk Membasmi Buta Aksara Kepada Ibu-Ibu yang Kurang Beruntung” (Cek Youtube Tonight Show: https://www.youtube.com/watch?v=Ji63Diopb48).

 


Apa yang dilakukan Tonight Show NET TV memberi pesan penting akan pentingnya kepedulian terhadap sesama walau hanya memberantas buta aksara atau menyediakan tempat membaca anak-anak. Di samping pentingnya sinergi dan kolaborasi di taman bacaan agar aktivitas literasi tetap berjalan di tengah godaan era digital dan gawai yang kian masif.

 

Maka apa pun kondisinya, taman bacaan semestinya fokus saja dalam proses. Nikmati semua proses yang ada di taman bacaan dan yang dialami pegiat literasi seperti yang dialami Pendiri TBM Lentera Pustaka. Tentu dengan tekad dan ikhtiar yang sepenuh hati dan istiqomah, tidak usah peduli kepada orang-orang yang apatis atau bersikap "bodoh" terhadap kebaikan.  

 

Maka siapa pun, kerjakanlah yang baik. Sebab Allah SWT punya segalanya. Dan ketika tangan taman bacaan tidak mampu untuk meraihnya, biarkan tangan Allah SWT yang akan menggapainya sekalipun di luar kemampuan anak manusia. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka





Selasa, 03 Mei 2022

Pegiat Literasi: Idul Fitri Menagih Bukti Bukan Janji

Idul Fitri 1443 H sebagai simbol kemenangan sudah terlewati. Puasa sebulan penuh telah usai. Ungkapan mohon maaf lahir batin pun telah bersemi. Lalu setelah itu, mau apa lagi? Kini, Idul Fitri menanti bukti.


Maka kemenangan itu pun bukan kebebasan. Euforia lebaran pun lagi sebatas ucapan. Semuanya harus dapat dibuktikan dalam pikiran, sikap, dan perbuatan. Untuk mejjadi pribadi yang lebih baik lagi. Lebih baik dan lebih baik lagi. Minimal, tetaplah tunaikan sholat wajib tepat waktu, menjaga sholat dhuha, tetap rajin tilawah dan membaca Al Quran, dan berani sedekah tiap kali ada kesempatan. 


Idul Fitri, tentu bukan basa-basi. Apalagi hanya jago berbicara, pandai berpikir. Tapi semuanya tanpa aksi tanpa bukti. Karena kebaikan dan kepedulian di manapun. Tidak cukup hanya sekadar kata-kata tanpa tindakan nyata. Idul Fitri memberi pesan, jangan jadikan kebaikan hanya ada di tutur kata atau imajinasi belaka. Tapi kebaikan harus dibuktikan. 


Mari refleksi diri. Bahwa Idul Fitri benar-benar menanti bukti. Zaman begini, tidak cukup hanya janji apalagi mimpi. Tiap perkataan harus mampu dibuktikan. Untuk membuktikan apa yang dikatakan. Bukan cuma mengobral janji tanpa ada aksi. 


Sebagai contoh, tidak sedikit orang yang mengaku peduli. Tapi sayang peduli-nya hanya di media sosial dan kata-kata. Tanpa aksi sama sekali. Peduli orang miskin, peduli anak yatim, peduli taman bacaan. Tapi sayang, semua itu sebatas narasi dan diskusi. Tanpa bukti tanpa aksi. Maka Idul Fitri, menanti untuk mengubah niat baik jadi aksi yang ciamik. 



Kata pegiat literasi di taman bacaan. Idul Fitri menanti bukti. Aksi tentang kebaikan, eksekusi tentang kepedulian. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Sebagai cerminan kualitas diri yang lebih baik. Jika tidak bisa memberi bukti, maka berhentilah berjanji. Apalagi hidup hanya dalam mimpi.


Karena di mata pegiat literasi, kebaikan bukan hanya narasi. Omong besar tapi aksi kosong. Hidup hanya sebatas kata-kata bijak. Tanpa aksi nyata yang menjejak. Karena di dunia literasi, semua harus ada bukti. Tidak ada pengorbanan dan kebaikan yang sia-sia. Hingga sejarah yang akan membuktikannya nanti. 


Maka Idul Fitri menanti bukti. Jangan berhenti sampai di sini. Tetaplah berbuat untuk memberi bukti. Karena esok, ada segudang lahan kebaikan yang siap dieksekusi. Inilah hari dimulainya pembuktian seusai Idul Fitri. 


Akan menjadi lebih baik dengan aksi. Atau tetap begitu saja dengan segudang janji. Selamat mengisi kembali diri yang sudah fitrah dengan amalan ibadah dan amal soleh yang menjadikan kita lebih baik lagi.


SELAMAT IDUL FITRI - Mohon Maaf Lahir Batin. Salam literasi #IdulFitri #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Senin, 02 Mei 2022

Idul Fitri dan Hardiknas di Mata Pegiat Literasi, Pentingnya Pendidikan yang Memaafkan

Agak istimewa, Idul Fitri 1443 H kali ini bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2022. Idul Fitri dimaknai sebagai simbol kemenangan umat muslim dalam melawan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa. Karena itu, siapa pun berhak atas anugerah kesucian lahir dan batin di momen Idul Fitri. Manusia yang kembali suci. Dalam konteks pendidikan, sucinya lahir batin pun ditegaskan dalam teori “tabula rasa” John Locke, yang menyebut bahwa setiap anak lahir ibarat 'kertas kosong'. Maka terserah orang dewasa untuk mengisi dan memengaruhinya kemudian.

 

Tentu, kesucian lahir dan batin sulit diperoleh. Bila manusianya tidak berani meminta maaf dan memberi maaf. Mengapa meminta maaf? Karena setiap manusia di mana pun, pasti pernah berbuat salah dan khilaf. Untuk itu dibutuhkan sikap berani untuk meminta maaf. Sebaliknya, mengapa memberi maaf? Karena tidak ada kesalahan seseorang yang tidak termaafkan. Allah SWT pun memberi ruang untuk mengampuni dosa dan salah hamba-Nya, lalu kenapa manusia tidak mau memberi maaf.

 

Idul Fitri dan Hardiknas diikat oleh kata kunci, pendidikan yang memaaafkan. Bahwa dalam hidup ini, tidak ada manusia yang sempurna. Pasti ada salah, khilaf dan dosa. Pendidikan yang memaafkan selalu mengajak siapa pun ikhtiar memamaafkan apa pun dan siapa pun. Agar terbebas dari sifat dan perilaku buruk atau kemarahan. Itulah substansi ibadah puasa, yang tidak hanya menahan rasa lapar dan haus. Bila hari ini, masih ada manusia yang tidak memaafkan. Itu berarti manusianya telah mengabaikan tuntutan agama, terlalu egois, angkuh,  dan inferior dalam hidupnya.  Sikap tidak memaafkan sangat bertentangan dengan karakter alami manusia, akibat lupa bahwa manusia sejatinya bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa.

 

Memang benar, sebagian orang merasa sulit untuk meminta maaf dan memberi maaf. Atas alasan apa pun.  Saat merasa dilukai atau dizolimi, sengaja atau tidak sengaja, sebagian besar orang pasti marah dan terlukai. Sebagai manusia, tentu sangat lazim. Maka butuh waktu untuk meminta maaf atau memberi maaf. Namun Ketika waktu itu tiba, seperti momen Idul Fitri, seharusnya meminta maaf atau memberi maaf itu benar-benar direalisasikan. Jika tidak, mau berapa lama lagi dalam keadaan marah dan bermusuhan yang tidak menyehatkan itu?

 


Pendidikan yang memaafkan, menjadi penting hari ini. Untuk Lembaga Pendidikan, guru, atau siswa sekalipun. Bahwa pendidikan sebagai proses penting dalam membentuk karakter manusia. Agar tercipta manusia yang berkualitas iptek dan imtak. Pendidikan yang mampu mengadirkan karakter 1) kebaikan hati (agreeableness) yang menonjol. 2) lebih peduli orang lain (tender-mindedness), 3) rendah hati (humility), 4) murah hati (altruism), dan 5) ramah (compliance). Karakter itulah yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai contoh terbaik pribadi yang berani memaafkan.  Seperti kisah Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan kemurahan hatinya atas seorang warga Madinah yang matanya buta dan beragama Yahudi. Sekalipun orangtua si buta selalu saja mencercanya, Nabi tetap saja menyuapi si but dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Sesuai anjuran Surat Ali Imran (QS 3:159), yang artinya “Maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarah-lah dengan mereka.”

 

Maka momen Idul Fitri dan Hari Pendidikan Nasional ini menegaskan kian pentingnya pendidikan karakter. Bukan hanya Pendidikan yang mencerdaskan intelektual. Pendidikan yang berani meminta maaf dan memberi maaf. Apa pun alasannya dan siapa pun pelakunya. Pendidikan yang mengajarkan pentingnya memaafkan. Karena dalam beningnya hati, pasti ada secuil benih rasa benci. Dalam santunnya ucapan, pasti ada hal menyinggung perasaan. Dalam bijaknya sikap pun pasti ada khilaf yang terjadi. Agar Pendidikan tidak lagi bertumpu pada kecerdasan tapi keteladanan. Pendidikan yang menjadi basis pengembangan karakter dan emosional manusianya.



Untuk itu dengan segala kerendahan hati pun, saya memohon maaf lahir batin. Atas segala kesalahan dan kekhilafan yang pernah terjadi. Selamat Idul Fitri dan Selamat Hari Pendidikan Nasional. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Minggu, 01 Mei 2022

Literasi Buruh di Indonesia, Seperti Apa?

Hari Buruh selalu diperingati setiap tanggal 1 Mei. Buruh, pada dasarnya siapa pun yang bekerja untuk mendapatkan upah atau gaji. Mau upahnya besar atau kecil, tetap saja buruh. Selain mendapatkan upah, maka syarat buruh pun harus punya majikan. Ada yang majikannnya orang, ada pula yang majikannnya perusahaan atau lembaga. Nah berarti, bila ada orang yang bekerja. Tapi tidak mendapatkan upah dan tidak jelas majikannya, maka dapat dikategorikan bukan buruh. Bisa jadi, mereka adalah pengusaha atau entrepreneur.

 

Istilah buruh, sejatinya dapat disamakan dengan pekerja, pegawai, karyawan, atau tenaga kerja. Yaitiu orang yang bekerja dan mendapatkan upah. Walau terkadang istilah itu membingungkan. Bahkan tidak dapat dipertukarkan. Misalnya, bila ada mbak-mbak yang disebut “pekerja seks komersial - PSK”, kenapa tidak boleh dipanggil “buruh seks komersial – BSK”. Begitu pula orang bekerja sebagai “buruh tani” pun tidak bisa disebut “pegawai tani”. Lalu, apa mau “karyawan bank” dipanggil “buruh bank”? Bahkan dulu, sebelum dipanggil ASN (Aparatur Sipil Negara), mereka disebut “pegawai negeri” tapi kerjanya untuk negara. Maka jelas, urusan buruh itu kompleks dan sedikit memusingkan.

 

Sekarang ini di Indonesia, setidaknya ada 130-an juta buruh atau pekerja. Baik di sektor formal maupun informal. Di musim lebaran begini, mungkin semua yang mudik atau pulang kampung statusnya buruh. Sebagian besar yang terkena dampak mahalnya minyak goreng pun buruh dan keluarganya. Termasuk bila ada kasus korupsi atau OTT KPK pun yang dirugikan sebenarnya buruh. Jadi segala hal dan urusan apa pun, sejatinya tidak bisa dipisahkan dari problematikan buruh di Indonesia.

 

Satu hal yang patut dipahami. Buruh itu bekerja bukan untuk kaya atau mengumpulkan harta. Tapi bekerja untuk aktualisasi diri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menafkahi keluarga. Sesederhana itulah buruh memandang pekerjaan. Maka para pengusaha dan perusahaan, sepatutnya tidak boleh bertindak semena-mena terhadap buruh. Karena hari ini, para buruh tetap dihantui problematika. Seperti 1) masalah upah atau gaji, 2) masalah pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan hidup, 3) masalah pemutusan hubungan kerja (PHK), dan 4) masalah tunjangan dan kesehatan. Maka di mata buruh, tidak ada pekerjaan yang tetap atau permanen. Karena kapan pun, buruh nasibnya tergantung “majikan”. Dan pada level itu, bila terpaksa berhenti atau diberhentikan dari pekerjaan pun, buruh hanya bisa pasrah.

 


Di era digital begini, buruh itu makin pusing. Semua urusan makin gampang via online. Tapi daya beli buruh makin kalang-kabut. Puluhan tahun bekerja, buruh tetap saja tidak punya uang banyak. Kebutuhan hidup makin meningkat, sementara kesejahteraan tidak kunjung membaik. Buruh selalu khawatir. Bila seaktu-waktu di-PHK atau tempat bekerjanya bangkrut. Belum lagi urusan masa pensiun buruh yang kian tidak pasti. Maka jadi buruh itu pusing banget. Selain masalahnya kompleks, kondisinya pun ketar-ketir.

 

Bila hari ini, ada yang mengaku buruh tapi tidak pusing. Ya berarti itu bukan buruh. Karena sejatinya, buruh itu hanya hanya simbol. Dan pusing adalah ciri terpenting dari buruh. Jadi, saya buruh atau bukan? Selamat Hari Buruh #HariBuruh #Mayday

Jumat, 29 April 2022

Literasi Mudik, Agar Tidak Lupa Jalan Pulang

Bisa mudik lagi tahun ini, setelah 2 tahun dilarang mudik akibat pandemi Covid-19. Bila terjadi macet di mana-mana, terpaksa dilakukan rekayasa lalu lintas. Itu semua hanya konsekuensi dari euforia mudik yang telah lama dinantikan. Jadi, tidak usah marah-marah di jalan. Nikmati saja perjalanannya dan syukuri atas anugerah-Nya. Karena akhirnya bisa mudik lagi.

 

Mudik itu memberi energi tersendiri. Bukan soal orang kampung atau orang kota. Tapi mudik adalah sikap tentang cara menghargai kampung halaman, cara menghormati tanah kelahiran dan bumi pijakan para leluhur. Tidak peduli macet, tidak peduli panas terik matahari. Demi menjenguk rindu akan kampung halaman dan segala kenangan yang ada di dalamnya.

 

Mudik berarti pulang kampung. Tradisi leluhur bangsa Indonesia. Kebiasaan yang sama sekali tidak terpengaruh oleh kemajuan teknologi. Mau secanggih apapun otak manusia, sehebat apapun teknologi. Mudik tetap jadi pilihan banyak orang. Ibaratnya, mudik adalah simbol “lonceng disuruh pulang”. Sebuah panggilan psikologis untuk pulang. Karena dengan mudik, siapa pun dapat “menemukan” kembali jati dirinya, seperti aslinya.

 

Literasi mudik sulit dibantah. Karena mudik adalah sebuah panggilan batin. Untuk mengingatkan manusia tentang “dari mana ia berasal dan mau ke mana ia menuju …”. Mudik hanya simbol. Bahwa setiap manusia pasti akan pulang. Pulang ke kampung halaman, pulang ke orang tua. Dan pada akhirnya akan pulang ke haribaan sang pencipta. Karena ke mana pun manusia pergi dan berjalan, akhirnya akan “pulang” juga.

 

Mudik adalah ritual sederhana. Untuk mengenali siapa sebenarnya manusia, di samping jadi momen untuk mencapai kesucian lahir dan batin. Sebuah proses tazkiyatun nafs, membersihkan jiwa yang pernah dikotori oleh diri sendiri. Di kampung halaman, pemudik siap melapangkan hati untuk menemui orang tua dan sanak saudara. Lalu berani meminta maaf dan memaafkan kesalahan orang lain.

 


Maka mudik seharusnya bukan hanya seremoni. Tapi harus dilihat dari esensi. Sebagai cara untuk mereposisi hakikat hidup dan kehidupan manusia. Mudik untuk kembali pada empat filsafat hidup manusia, yaitu:

1.      Lebaran, sebagai tanda tuntasnya  kewajiban berpuasa, zakat fitrah, dan ibadah sunah lainnya. Tanda kemenangan orang-orang yang berpuasa.

2.      Luberan sebagai tanda melimpahnya rezeki dan karunia Allah SWT untuk berani berbagi dan sedekah kepada kaum yang membutuhkan.

3.      Leburan sebagai tanda melebur dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat sebelumnya. Berani dan bersedia meminta maaf dan memaafkan agar terlebur dalam kesucian lahir dan batin.

4.      Laburan sebagai tanda “kembali fitrah”, suci kembali. Dan senantiasa menjaga kebersihan lahir dan batin di usia tersisa, di samping hijrah pada kebaikan.

 

Mudik, tentu bukan hilir-mudik. Bukan pula ajang memamerkan kekayaan atau status sosial. Tapi mudik jadi momen membangun kesadaran diri. Bahwa manusia itu bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Mudik sebagai proses untuk mengingatkan kembali. Akan arti penting hidup yang sederhana, ikhlas, dan sabar. Bahwa manusia itu berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepada Allah.

 

Kenapa mudik? Karena hari ini makin banyak manusia yang lupa “jalan untuk pulang”. Akibat terlalu cinta pada dunia, pada pangkat pada jabatan. Salam literasi #LiterasiMudik #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka