Tampilkan postingan dengan label Kopi Lentera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kopi Lentera. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juni 2024

Patut Ditiru, Emak-emak Taman Bacaan di Bogor Ngopi Sambil Baca Buku

Ini kisah emak-emak yang beda banget. Karena emak-emak ini ngopi sambil baca buku. Sekitar 35 emak-emak TBM Lentera Pustaka ngopi bareng sambil baca di Kopi Lentera, kafenya literasi.

Di zaman yang serba digital begini, di mana bisa melihat emak-emak atau kaum ibu yang membaca buku? Jawabnya, ada di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Emak-emak TBM sebutannya, kaum ibu yang rajin mengantar anaknya ke taman bacaan untuk membaca. Awalnya hanya mengantar. Tapi secara perlahan, emak-emak TBM akhirnya akrab dengan buku-buku bacaan. Mulai tertular virus membaca buku. Hampir sama rajin dengan anaknya. 

 

Nah menariknya, emak-emak TBM ngopi bareng sambil baca buku di Kopi Lentera (16/6/2024). Sementara anak-anaknya sedang aktivitas di Kebun Baca bersama relawan, emak-emak TBM nongkrong kedai kopi sambil baca buku. Sebuah pemandangan yang langka, emak-emak ngopi sambil baca buku. 



 

Kerennya lagi, emak-emak TBM nggak seperti emak-emak kebanyakan. Bukan emak-emak yang belok kiri tanpa lampu sen. Atau emak-emak yang galak di jalanan. Tapi jadi emak-emak yang literat. Karena ngopi sambil baca buku. Keren banget emak-emak TBM.

 

Ngopi sambil baca pun jadi cara taman bacaan menjalin komunikasi dan menghargai para ibu (emak-emak) yang rajin mengantar anaknya untuk membaca buku di TBM Lentera Pustaka. Karenanya Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka pun hadir menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada emak-emak TBM. Atas komitmen dan konsistensinya dalam menegakkan kegemaran membaca anak-anak.

 

Emak-emak TBM sadar betul. Memang tidak ada cara untuk menjadi ibu yang sempurna. Tapi selalu ada sejuta cara untuk menjadi ibu yang baik dan lebih literat. Karena ibu adalah tonggak masa depan untuk anak-anaknya. Sehat selalu emak-emak TBM Lentera Pustaka, teruslah mengantar anak dan membaca di taman bacaan. Salam literasi #EmakTBM #BacaBUkanMaen #TBMLenteraPustaka

 


Senin, 03 Juni 2024

Jadilah Orang yang Pantas Dititipi Bukan Memiliki

Saat ngopi sambil baca buku di Kopi Lentera di kaki Gunung Salak Bogor, salah seorang kawan bercerita tentang kondisi dirinya yang harus melepaskan aset-aset yang telah dimilikinya. Bekerja keras dan mengumpulakn aset bertahun-tahun, hilang begitu saja akibat satu dua masalah yang menerpanya. Ia menceritakan betapa berat rasanya, jatuh bangun hingga harus melepas apa-apa yang sudah didapatnya. Kini, apa yang sudah diperjuangkannya kembali ke titik nol.

 

Dari obrolan di Kopi Lenter itu, berkembang panjang lebar sampai akhirnya mengerucut pada kesimpulan terpenting. Apa sih yang membuat berat dalam hidup ini? Jawabannya hanya satu, karena terlalu bertumpu pada perasaan memiliki. Merasa apa-apa yang sudah kita punya adalah 'milik' kita. Hati dan pikiran melekat pada rasa memiliki.

 

Dan ternyata, apapun di dunia ini tidak ada yang benar-benar ditakdirkan untuk dimiliki. Tidak ada yang saling memiliki, semua hanya saling dititipi. Kita harus sadar, bahwa kita hanya dititipi. Maka rasa tertitipi itulah yang harus menggantikan ras memiliki.

 

Sesungguhnya, bertahun-tahun kita bekerja pada akhirnya hanya dititipi harta dan kekayaan. Bertahun-tahun pula kita dititipi kemampuan dan kepiawaian untuk bisa meraih apa yang kita inginkan. Pendidikan, pangkat, jabatan, harta, adan anak-anak pun semuanya hanya titipan. Maka, semua yang hari ini dianggap kita miliki sejatinya hanyalah titipan semata.

 

Apapun dalihnya, kita harus terus bersyukur. Atas semua titipan yang diberikan-Nya. Tidak ada yang kita miliki. Tidak ada yang hilang, karean semua pergi dan kembali kepada pemiliknya. Kita hanya diberikan kesempatan untuk berbuat dan kesempatan dititipi. Rasa tertitipi, jika kita benar-benar bisa menghayati rasa tertitipi maka semua akan menjadi ringan.. Terserah pada 'Yang Memiliki', apapun dan bagaimanapun sudah kehenda-Nya.

 


Ada kalanya mungkin, tabungan atau uang yang sudah kita kumpulkan bertahun-tahun harus keluar atau terpaksa keluar. Semua yang mendekat tiba-tiba menjauh. Semua yang ada menjadi tiada. Semua terjadi tentu dengan cara-cara-Nya. Hari ini banyak orang belahar dan tahu cara-cara berjuang untuk memiliki. Tapi sayang, di saat yang sama, mereka tidak tahu cara-cara untuk menyerahkan dengan baik. Seraya berterima kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Karena selama ini, kita hanya tertitipi atau dititipi. Bukan malah menahan-nahannya dengan perasaan tidak menerima di saat memang harus benar-benar menyerahkan segalanya.

 

Hidup siapapun, pasti berjalan pada koridor-Nya. Untuk menjalani episode hidup secara bergiliran. Ada saat mendapatkan ada saat melepaskan. Ada saat mencari, ada saat memberi. Karena sejatinya, tidak ada orang miskin atau kaya. Yang ada hanyalah hamba Allah yang dititipi rejeki yang berbeda sebagai bekal ibadah. Maka semua yang dilakukan harusnya menjadi amal soleh, menjadi jalan untuk semakin dekat dengan-Nya dan dicintai-Nya.

 

Sudah saatnya, untuk membebaskan hati dari rasa ingin memiliki. Karena semua hanya titipan.. Yang paling penting justru menjadi “orang yang pantas untuk dititipi”. Sungguh, di dunia ini tidak ada yang benar-benar ditakdirkan untuk saling memiliki, semua hanya saling dititipi.

 

Begitulah Pelajaran sederhana saat ngopi sambil membaca buku di Kopi Lentera, di TBM Lentera Pustaka. Bahwa semuanya hanya titipan. Salam literasi #KopiLentera #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen

Minggu, 02 Juni 2024

Ngopi Asyik Sambil Baca Buku di Kopi Lentera, Bayar Pakai QRIS dari Bank Sinarmas

Kemarin saat beberapa anak muda ngopi sambil baca buku di Kopi Lentera, kafenya literasi di kaki Gunung Salak Bogor kebingungan. Saking asyiknya baca buku dan ngobrol, lupa kalau dia tidak bawa uang cash. Maklum lupa, ternyata di dompetnya tidak ada sama sekali uang tunai. Begitu mau bayar di kasir Kopi Lentera, dia bertanya, “Teh, bisa pakai QRIS nggak?”

 

Alhamdulillah, ternyata ngopi sambil membaca buku di Kopi Lentera bisa bayar pakai QRIS. QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai alat bayar dengan menggunakan metode QR Code dari Bank Indonesia agar proses transaksi menjadi lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya. Kebetulan efektif 2 Juni 2024, Kopi Lentera kode QRIS sudah tersedia dari Bank Sinarmas. Penyerahan QRIS dilakukan saat CSR event Bank Sinarmas di TBM Lentera Pustaka Bogor.

 

Sudah jadi tren saat, apapun transaksinya dibayar pakai QRIS. Karena QRIS memang dirancang untuk efisiensi dalam transaksi. Lebih mudah dan cepat bagi konsumen maupun pedagang. Sehingga konsumen tidak lagi “pusing” dengan urusan uang tunai, di samping lebih lebih mudah karena tinggal scan barcode dan bayar.

 


Menariknya, alat bayar QRIS di Kopi Lentera, sama sekali konsumen tidak dikenakan biaya. Tidak perlu top up pula karena akan langsung memotong sejumlah nilai transaksi dari sumber dana yang dipilih. Dengan adanya logo QRIS, konsumen atau pelanggan Kopi Lentera dapat membayar jajanan dan ngopi dari aplikasi pembayaran manapun. Bisa melalui e-wallet seperti Dana, OVO, GoPay, ShopeePay, LinkAja atau M-Banking.

 

Layanan QRIS di Kopi Lentera, pastinya tidak lagi membuat pelanggan pusing. Cukup datang, memesan kopi atau cemilan dan sambil membaca buku, Lebih asyik lagi bila ngobrol sambil ngomongin buku, bukan ngomongin orang. Karena di Kopi Lentera setiap mejanya tersedia buku-buku bacaan sebagai “teman” minum kopi. Jadi ngopi sendiri atau bersama teman tetap asyik. Agar suasana ngopi pun lebih literat karean buku-buku terlibat dan dekat dengan kita. Selamat ngopi di Kopi Lentera. Salam literasi #KopiLentera #KafeLiterasi #TBMLenteraPustaka




Sabtu, 01 Juni 2024

Jangan Membatasi Diri Berbuat Baik di Taman Bacaan

Ada benarnya berkiprah secara sosial, pasti dihadapkan pada tantangan dan perjuangan yang luar biasa. Seperti yang terjadi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sekalipun tempat berbuat baik, taman bacaan tidak luput dari masalah. Tidak luput dari prasangka buruk orang-orang yang membencinya. 

 

Masalah selalu ada di mana saja. Seperti di taman bacaan, siapapun tidak akan terlepas dari yang namanya masalah. Seiring waktu, pasti ada saja rintangan yang datang. Hambatan yang selalu menghadang. Apapun aktivitas, pekerjaan, dan profesi yang kita jalani. Sadar atau tidak, terkadang rintangan dan hambatan selalu membuat kita sedih, marah, dan parahnya lagi bisa jadi putus asa. Itu hal yang lazim terjadi, namanya juga manusia. 

 

Tapi penting disadari. Bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat terwujud. Tidak semua yang dimimpikan bisa terealisasi. Selain perlu niat yang tulus, dibutuhkan pula ikhtiar yang baik diiringi banyak doa. Dan terakhir, adalah berserah diri apa pun pada keputusan Tuhan. Jika hal itu tidak sesuai yang kita harapkan, janganlah bersedih lama-lama. Tapi saat terwujud, jangan lupa pula bersyukur dan bersyukur.

 

Memang begitu pasang surut kehidupan. Nikmat yang tersyukuri, musibah yang tersabari, ibadah yang diridhoi, dan dosa yang diampuni sejatinya membuat hidup siapapun lebih indah. Selalu ada warna yang berbeda, sehingga menjadikan hidup lebih dinamis. Tidak monoton, tidak begitu-begitu saja. Maka jangan pernah menghindar dari masalah, apapun dan di mana pun.

 


Luka, pedih, dan duka bisa menimpa siapapun saat ditimpa masalah. Tapi tetaplah jangan menyerah. Selalu ada jalan keluar bisa diusahakan. Asal tetap bersabar dan bersyukur di segala keadaan. Di situlah pentingnya iman, yang membedakan kaum peyakin dan pengingkar. Untuk selalu berharap hanya kepada Tuhan.

 

Maka apapun, hidupkan selalu niat dan ikhtiar untuk berbuat baik. Selalu menebar manfaat kepada orang lain. Jangan menyerah dan terus lakukan dengan istikomah. Hingga Tuhan ridho  dan membuka pintu-pintu karunia yang memampukan kita mewujudkannya.

 

Apapun, termasuk berkiprah secara sosial di taman bacaan. Niatkan yang baik, ikhtiar sepenuh hati, dan perbanyak doa. Karena itu semua lebih besar, lebih baik, dan lebih mulia dari sekadar keluhan. Jangan ada yang membatasi hari untuk berbuat baik dan menebar manfaat. 

 

Karena nikmat akan selalu datang pada orang-orang yang siap, bukan hanya yang berharap. Dan yang penting, syukuri apa yang sudah dimiliki bukan hanya menyesali apa yang belum dicapai. Sebab, di mana ada niat di situ ada nikmat. Di mana ada ikhtiar di situ ada jalan keluar. Siapapun yang berbuat baik, pasti dipertemukan dengan hal-hal baik. Bahkan dilimpahi dengan kabar baik. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka




Sabtu, 25 Mei 2024

Tempat Ngopi yang Literat di Kaki Gunung Salak

Urusan relawan di taman bacaan memang pelik. Entah, gampang-gampang susah atau susah-susah gampang. Tanpa dukungan relawan, taman bacaan sulit untuk tumbuh dan berkembang. Sejujurnya, jatuh bangun taman bacaan justru ada di tangan relawan. Karena relawan yang berkiprah menjalankan program dan aktivitas. Tanpa pamrih, tanpa bayaran sekalipun rentan untuk pergi.

 

Sebagai Pendiri TBM Lentera Pustaka, saya sadar betul "relawan TBM" itu dilematis. TBM perlu relawan untuk menjalankan program dan aktivitasnya. Tapi relawan pun perlu ongkos dan makan saat dari dan ke taman bacaan. Relawan pasti mau mengabdi di taman bacaan. Tapi bila tidak ada ongkos gimana? Maka saya selalu berpikir dari kama, gimana cara me-retain relawan di TBM?

 

Bersyukur TBM Lentera Pustaka punya rooftop baca yang dibangun oleh CSR Bank Sinarmas dan kini pun sudah beratap kanopi, sehingga hujan dan panas tidak masalah lagi. Tempat membaca di lantai 2 ber-view Gunung Salak. Tempat membaca sambil santai dan nuansanya literat. Selain jadi tempat baca, gimana caranya rooftop baca bisa lebih produktif dan bermanfaat untuk relawan TBM. Jujur saja, saya takut kehilangan relawan-relawan hebat di TBM Lentera Pustaka. Apalagi saya hanya ada setiap Sabtu-Minggu di TBM Lentera Pustaka.

 

Dan akhirnya, para relawan pun mengajukan usul. Untuk menjadikan rooftop baca sebagai kafe literasi. Tempat ngopi sambil membaca buku, bukan tempat baca sambil ngopi. Yah, bolehlah disebut “ngopi yang literat”. Maka sejak 3 minggu lalu, dibukalah "Kopi Lentera" sebagai tempat ngopi dan nongkrong sambil baca buku. Karena setiap mejanya selalu ada buku bacaan. Bisa foto sambil baca atau sambil pegang buku, diiringi lantunan musik yang asyik.

Jadilah "Kopi Lentera" dikelola oleh relawan TBM Lentera Pustaka. Sebagai usaha kecil-kecilan tapi halal. Sebagai cara untuk "mencarikan" ongkos relawan dari-ke TBM. Syukur-syukur bisa dapat "uang jajan" walau sedikit. Niatnya sederhana, Kopi Lentera pun bisa jadi sarana relawan untuk melatif sikap profesional dalam melayani kaum penikmat kopi plus ada pemasukan untuk para relawan juga.

 


Memang "Kopi Lentera" belum sempurna. Tapi dari konsumen yang datang selama ini, mereka cukup happy dari segi harga, rasa, dan suasana. Alhamdulillah, akhirnya Kopi Lentera bisa hadir mewarnai eksistensi “kafenya literasi”. Setidaknya, relawan atas dukungan pendiri TBM Lentera Pustaka sudah "berani" bisnis kecil-kecilan. Sebagai bukti, tidak perlu menunggu sempurna untuk berbuat apapun yan baik dan bermanfaat. Cukup jalani dan kerjakan asal niatnya baik. Insya Allah, bisa jadi ladang amal dan bertabur keberkahan.

 

Di Kopi Lentera, siapapun tetap belajar. Bahwa secangkir kopi tidak pernah berdusta atas nama rasa. Kopi selalu punya cerita, bahwa yang hitam tidak selalu kotor dan rasa pahit pun tidak selalu sedih. Kopi selalu menyajikan rasa yang orisinal, apadanya. Tanpa perlu perlu bermanis-manis di mulut namun hatinya beda. Dan pada akhirnya, kopi yang baik akan selalu menemukan penikmatnya.

 

Begitulah kisah Kopi Lentera, sebagai cara taman bacaan "mempertahankan" para relawannya. Semoga Allah ridho dan dimudahkan segalanya. Tetap semangat relawan TBM Lentera Pustaka. Yukk ngopi sambil baca buku di Kopi Lentera. #KopiLentera #RelawanTBM #TBMLenteraPustaka

 



Kamis, 23 Mei 2024

Usai Jelajah Curug Nangka, DPLK Riders Berdonasi Sosial ke Taman Bacaan di Kaki Gunung Salak

Bertajuk “One Day Trip Social”, DPLK Riders (sebutan komunitas motor profesional) hari ini menjelajah Curug Nangka Bogor, sambil berdonasi sosial ke TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak (23/5/2024). Dipimpin Ketua DPLK Riders, Alfian bersama 19 anggotanya menyempatkan “ngopi santuy dan berdiskusi senja” di Kopi Lentera, kafenya literasi bersama Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka.

 

Selain silaturahim, komunitas riders alias professional pecinta motor pun menyerahkan donasi buku dan uang sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap aktivitas taman bacaan. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah di kaki Gunung Salak Bogor. Setelah membesut ratusan kilometer dari Jakarta-Bogor, DPLK Riders punya kepedulian yang luar biasa, khususnya dalam mendukung aktivitas taman bacaan.

 

Jelajah DPLK Riders ke TBM Lentera Pustaka menjadi bukti bahwa kepedulian sosial bersifat tanpa batas. Seperti menjadi riders pun tidak mengenal perbedaan. Hanya persaudaraan dan solidaritas yang spirit DPLK Riders dalam berkiprah sosial, di samping bekerja sepenuh hati. Tidak peduli dari mana kita datang, ketika berada di atas jok motor, semua sama.

 


DPLK Riders meyakini di setiap perjalanan. Bukan tentang seberapa jauh jarak yang telah ditempuh. Bukan pula berapa kilometer yang telah dilalui. Tapi seberapa besar kita dapat memaknai sebuah perjalanan untuk tetap peduli kepada sesama. Menariknya, saat diskusi senja, semua DPLK Riders pun ngopi sambil membaca buku yang tersedia di meja Kopi Lentera. Kehadiran DPLK Riders di TBM Lentera Pustaka sekaligus menjadi bukti dukungan konkret pekerja professional terhadap taman bacaan, untuk literasi anak-anak Indonesia yang lebih baik.

 

“Terima kasih teman-teman atas solidaritas dan kepeduliannya. Sehingga kitab isa berkunjung dan berdonasi ke TBM Lentera Pustaka. Sekalipun pergi bareng pulang misah, asal kita tetap peduli kepada sesama. Inilah wujud syukur atas anugerah-Nya. Semoga donasi DPLK Riders dapat memotivasi anak-anak taman bacaan,” ujar Alfian dalam sambutannya.

 

Ada pesan penting di balik jelajah DPLK Riders hari ini. Bahwa motor kita memang beda, tapi kita tetap bersaudara karena hobi kita sama dan tetap peduli kepada sesama. Salam literasi #DPLKRiders #TBMLenteraPustaka #KopiLentera




Senin, 20 Mei 2024

Yuk Ngopi Sambil Baca Buku

Mungkin, masih ada yang beranggapan ngopi itu kebiasaan jelek. Ada benarnya sih, bila ngopi-nya seember. Atau ngopi sambil ngomongin orang alias ghibah. Sejatinya, ngopi itu bukan kebiasaan jelek. Tapi justru saat ngopi, siapapun bisa belajar, bahwa rasa pahit secangkir kopi itu dapat dinikmati. Agar lebih rileks saja dalam hidup.  

 

Kaum penikmat kopi, justru sangat bangga bisa ngopi. Bahkan jadwal ngopi-nya sudah pasti. Karena mereka yakin, pada secangkir kopi selalu ada hikmah untuk menerima rasa pahit dan manis yang bertemu dalam kehangatan. Maka jangan takut hidup terasa “pahit”. Karena rasa pahit justru membuat mata jadi terbuka. Bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Lebih baik ngopi, ada pahit ada manis. Daripada congor kaum pengghibah, rasanya Cuma pahit terus tidak ada manis-manisnya.

 

Banyak orang belum paham, Sepahit-pahitnya kopi, justru lebih pahit bila tidak ngopi. Karena saat ngopi, bila terasa pahit tinggal tambahkan gula. Asal alami dan proporsional saja, sesuai selera masing-masing. Maka hidup pun rileks saja, tidak usah terlalu serius. Karena apapun sudah ada yang atur, Tuhan Yang Maha Esa. Mau urusan kerjaan, urusan kuliah, urusan pergaulan atau apa saja, pesannya sederhana. Bila kuat ya dijalani, bila tidak kuat ya tinggal ngopi saja. Nanti juga beres sendiri.

 

Ngopi itu sumber inspirasi, bukan “kambing hitam”. Ngopi juga dapat menyembuhkan, bukan malah menyakitkan. Makanya pilih tempat ngopi dan teman ngopi yang sehat dan literat. Ngopi yang bisa menambah pahala, bukan malah nambahin dosa. Sayang banget, ngopi di tempat mahal tapi isinya ghibah dan dosa semua. Bilangnya ngopi tapi obrolannya cuma obsesi.

 


Di mana ada tempat ngopi yang bikin nambah pahala? Ada, namanya Kopi Lentera di Kaki Gunung Salak Bogor. Kopi Lenter aitu kafenya literasi, tempat ngopi sambil baca buku. Bahkan ngop di Kopi Lentera bisa sambil donasi buku, membimbing anak-anak yang membaca, mengajar kelas prasekolah, mengajar buta hurf, atau menjadi driver motor baca keliling. Keren kan, ada tempat ngopi sambil baca buku. Itulah Kopi Lentera, lokasinya di Rooftop Baca TBM Lentera Pustaka.

 

Kopi Lentera cuma mengingatkan. Mau sesibuk apapun, jangan kupa ngopi. Tiap orang butuh “Waktunya Ngopi”. Biar lebih rileks dan bisa memahami realitas hidup. Silakan giat bekerja dan mencari uang, asal tetap punya waktu untuk ngopi. Di Kopi Lentera, siapapun dapat menikmati kopi atau cemilan ringan sambil membaca buku. Karena di setiap mejanya, ada buku-buku bacaan. Sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan Gunung Salak Bogor. Bahkan di malam hari, bisa menikmati panorama gemerlap Kota Bogor dengan sepoi-sepoi angin malam.  

 

Kopi Lentera, mengusung “kafenya literasi”.  Beroperasi 3 hari dalam seminggu. Yaitu 1) Jumat pukul 15.00-23.00 WIB, 2) Sabtu pukul 15.00-23.00 WIB, dan 3) Minggu pukul 10.00-22.00 WIB dan dikelola oleh relawan taman bacaan. Ciri pembeda Kopi Lentera Café adalah konsep literasinya, "selalu ada buku di meja" yang bisa dibaca setiap pengunjung. Bila tidak mau membaca buku, bisa berdiskusi atau ngobrol seputar buku atau nilai-nilai kehidupan. Kopi Lentera tidak bersaing dengan kafe “berkelas”, makanya harganya tergolong murah dan terjangkau. Tapi Kopi Lentera, bagus untuk mengajak siapapun berpikir dan bertindak literat Silakan dicek di https://www.youtube.com/shorts/AQjE7QTD5Eo atau di IG: @kopilentera.cafe.

 

Di Tengah maraknya kafe-kafe, Kopi Lentera menghadirkan tempat ngopi sambil baca yang agak literat. Agar tidak “melupakan” buku-buku bacaan saat ngopi. Makanya ngopi dulu sahabat, agar terhindar dari orang orang dan pergaulan yang merugi. Salam literasi #KopiLentera #TBMLenteraPustaka #NgopiSambilBaca



Senin, 13 Mei 2024

Kamu Mulai Jenuh Ya, Ngopi Dulu Aja

Mungkin, tidak sedikit orang di sekitar kita gampang mengeluh tentang keadaan hidupnya. Pemicunya, bisa jadi soal keadaan ekonomi, soal pekerjaan, jodoh, rumah tangga, lingkungan, dan berbagai masalah lainnya. Mengeluh, seolah-olah nasibnya jelek. Merasa bahwa keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Hari ini pun masih mengeluh. 

 

Bila dipikir lebih mendalam, semestinya tidak ada istilah nasib buruk dan nasib baik. Sebab nasib sangat tergantung dari diri kita sendiri. Nasib tidak terjadi tanpa sebab. Tapi nasib, pasti erat hubungannya dengan ikhtiar yang kita lakukan. Nasib itu akibat dari apa yang kita kerjakan.

 

Tentu saja, nasib tiap orang berbeda. Karena niat dan ikhtiarnya pun berbeda. Tapi apapun nasibnya, perlu sikap yang bijak dalam menghadapi keadaan, baik atau buruk sekalipun. Agar tidak melulu mengeluh, tanpa berjuang untuk sabar dan bersyukur. Berpikir positif saja, agar tetap mau ikhtiar yang baik. Karena terlalu percaya pada nasib pun akan membuat seseorang menjadi pasif dan makin banyak mengeluh. Akibat harapan tidak sesuai dengan kenyataan.

 

Allah SWT menegaskan, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka" (QS. Ar-Ra'd : 11). Maka jelas, nasib sangat bergantung pada ikhtiar kita sendiri. Ubahlah cara pandang tentang nasib. Nasib hanya soal mind set.

 


Lalu, bagaimana cara mengubah nasib kita? Mungkin banyak literatur yang membahas itu. Tapi cara yang paling sederhana adalah "memperbanyak berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama" seperti yang saya lakukan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Bogor. Berkiprah secara sosial untuk membantu banyak orang walau hanya melalui buku-buku bacaan. Agar anak-anak kampung terbebas dari putus sekolah atau pernikahan dini. Setelah ikhtiar baik, tentu yang tidak kalah penting meningkatkan sikap sabar dan syukur dalam segala keadaan. Karena apapun yang kita alami dan miliki, semuanya memang sudah pantas untuk kita. 

 

Dan seringkali, hidup kita makin berat, dada terasa sempit, bahkan masalah tidak kunjung selesai. Karena kita sering kali tidak melibatkan Allah SWT dalam urusan kita. Maka libatkan Allah dalam soal apapun. Minta petunjuk-Nya. Bila niat dan ikhtiar sudah baik, maka serahkan selebihnya kepada Allah. Mau sulit, mau masalah libatkan Allah. Karena hanya karena pertolongan Allah, kita akan lebih baik dan lebih baik lagi.

 

Jadi, berhentilah mengeluh soal keadaan apapun. Karena apa yang terjadi hari ini, bisa jadi cara Allah untuk "menaikkan kelas" kita di esok hari. Atau minimal, apa yang dialami kita hari ini ternyata justru didambakan orang lain. Bersyukurlah lebih banyak. Agar keluhan itu pergi dan berganti berkah-Nya.

 

Tapi bila masih jenuh pada nasib, ngopi dulu saja di Kopi Lentera, tempat ngopi sambil naca buku di TBM Lentera Pustaka. Salam literasi #KopiLentera #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan



Jumat, 10 Mei 2024

Ngopi Dulu Baru Baca buku di Kopi Lentera

Semalam, pukul 21.00 WIB, sekelompok mahasiswa dari STAI di Bogor merapat ke Kopi Lentera. Yah, sekadar ngopi sambil baca buku. Ngobrol dan menikmati suasana malam di waktu libur dan senggang. Mungkin juga, memang sudah "waktunya ngopi' buat anak-anak muda ini.

 

Sementara di ruang diskusi yang lain, mungkin hari ini kita masih mempersoalkan minat baca yang rendah. Malas membaca, tidak ada akses baca dan lain-lain sebabnya. Sudah puluhan tahun minat baca dipermasalahkan. Entah mau sampai kapan, dan butuh berapa generasi dan berapa presiden lagi kita masih bikin seminar soal minat baca?

 

Maka melalui Kopi Lentera, TBM Lentera Pustaka komit tuk akrabkan buku dengan kaum penikmat kopi. Nggak apa-apa niatnya ngopi asal di meja selalu ada buku. Syukur-syukur dibaca, paling minimal buku ada "di dekat kita". Selalu menghadirkan buku dengan cara yang asyik dan menyenangkan. Tapi maaf, Kopi Lentera hanya buku 3 hari seminggu (Jumat-Sabtu-Minggu). Sebagai tempat ngopi sambil baca buku. Bukan tempat baca sambil ngopi ya.

 


Kopi Lentera niatnya sederhana. Bila suprastruktur membaca sudah nggak peduli, maka hanya infrastruktur di level "akar rumput" yang bisa dijalankan. Bila pesimisme sudah melanda literasi, maka optimisme individu yang bisa digerakkan di taman bacaan. Biar kita lebih mau "baca bukan maen".

 

Terima kasih mahasiswa, pelanggan Kopi Lentera. Ngopi dulu baru baca buku. Selamat ngopi, bukan selamat baca. Salam literasi #KopiLentera #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen

 



Selasa, 07 Mei 2024

Tuan Besar, Kesempatan Baik Tidak Datang Dua Kali

 Seorang tuan dari kota besar, katanya memiliki gaji 100 juta perbulan di suatu perusahaan asing. Dia tengah berdiri di depan villanya sambil memandang ke arah gunung. Ketika seorang peladang mengumpulkan hasil panen buah talas.

Sang tuan itu bertanya :

Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk memanen talas sebanyak ini?

“Tidak lama, cukup 5 jam,” jawab peladang.

“Mengapa tidak lebih lama lagi dan memanen lebih banyak lagi ?” kata sang tuan.

“Ini sudah cukup buat dijual sebagian dan sebagian lagi untuk keluargaku”

“Apa yang Anda lakukan di luar memanen talas dan berkebun?”

“Ya, sederhana saja. Bermain dengan anak-anak, tidur siang, makan bersama keluargaku, mengantar dan antar jemput anak ke sekolah, ngobrol dengan teman-teman, lalu mengabdi di taman bacaan dekat sini, yah menikmati yang ada saja".

“Aku punya ide untuk membantumu,” ujar sang tuan. 

“Aku lulusan master dari Amerika. Saranku, habiskan waktumu lebih banyak untuk berkebun, menanam talas, bikin produktif tanah garung. Agar dapat lebih banyak uang, lalu beli lagi tanah-tanah yang lainnya".

Jangan jual hasil kebun ke tengkulak. Jual saja langsung ke pasar. Modalnya kan hanya kendaraan. Bila perlu jual ke pabrik keripik atau bolu talas. Kumpulkan uangnya, sampai Anda memiliki pabrik sendiri. Kendalikan produk, distribusi dan produksinya.

Setelah itu Anda pindah ke kota besar, kemudian ke luar negeri untuk mengembangkan usaha terus” kata sang tuan menjelaskan.



“Menarik, tapi berapa lama waktu yang dibutuhkan supaya aku bisa seperti itu?” tanya peladang mulai tertarik.

“Lima belas tahun paling cepat. Dua puluh tahun paling lambat,” jawab sang tuan. 

“Setelah sukses, lalu apa?”

“Inilah bagian yang paling menarik,

Anda bisa menjual saham perusahaan di bursa dan menghasilkan uang miliaran.”

“Wah, miliaran ya. Lalu apa setelah itu Pak?”

“Lalu, Anda bisa istirahat dan pulang ke kampung. Pindah ke desa kecil di kaki gunung. Mengabdi secara sosial kepada sesama, bermain dengan anak-anak, makan bersama keluarga, mengantar anak ke sekolah, serta menolong orang lain yang membutuhkan".

Oooooooh begitu. Kalau tujuan akhirnya cuma itu, sekarang saya sudah mendapatkannya. Apa yang saya inginkan, bekerja sambil mengabdi secara sudah saya lakukan.

"Untuk apa menunggu 15-20 tahun lagi, untuk sesuatu yang bernilai. Antar jemput sekolah anak, makan siang dengan keluarga, membantu orang lain, dan membaca buku. Anak-anak saya pun sudah keburu besar. Semua yang Bapak katakan itu, sudah saya jalani dari kemarin-kemarin. Maaf Bapak telat" sahut si peladang sambil meninggalkan tuan dari kota besar yang kebingungan.

Begitulah nyatanya. Banyak orang pintar dan kaya di kota besar yang ingin berbuat baik dan menebar manfaat bila sudah sukses. Menunda perbuatan baik dan menebar manfaat pada orang lain. Maka, jangan lewatkan momen untuk berkiprah secara sosial atau menikmati hari-hari bersama keluarga. Karena kesempatan yang baik tidak akan terulang dua kali. Salam literasi #KopiLentera #TBMLenteraPustaka