Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 April 2026

Silaturahim Menguatkan Keberkahan Menyatukan, Pesan Halalbihalal ADPI tahun 2026

Bertajuk "Silaturahim yang Menguatkan, Keberkahan yang Menyatukan", ADPI (Asosiasi Dana Pensiun Indonesia) sebagai lembaga yang menaungi pelaku industri DPPK di Indonesia menggelar Halalbihalal Idul Fitri 1447 H di Jakarta (7/4/2026). Dibuka oleh Abdul Hadi (Ketua Umum ADPI), acara ini dihadiri 70 pengurus DPP dan Komda ADPI di Indonesia.

 

"Atas nama ADPI, kami memohon maaf lahir batin. Mari pererat silaturahmi untuk kolaborasi dan soliditas organisasi ADPI untuk memajukan industri dana pensiun dan hari tua pekerja di Indonesia" ujar Abdul Hadi, Ketua Umum ADPI dalam sambutannya.

 

Dalam suasana akrab dan hangat, halalbihalal ADPI dihadiri pula oleh Sularno (Sekjen), Chairi Pitono (Waka 1), Antonius R. Tyas (Waka 2), Budi Sutrisno (Waka 3), Abdul Hadie (Bendahara), Budi Sulistion (Direktur eksekutif), Mujiharno (Ketua Dewan Pengawas), Jonny Rolindrawan (Dewan Penasihat), dan pengurus DPP ADPI.

 

Nasehat halal bihalal disampaikan oleh Ust. Nur Fajri Romadhon (Anggota MUI Pusat) yang menekankan pentingnya silaturahim dan tulus memaafkan dalam sikap dan perilaku. Tujuannya, untuk membersihkan hati termasuk dalam memberikan pelayanan terbaik kepada peserta dana pensiun. Momen ini adalah kesempatan memperbaiki hubungan dengan sesama (hablum minannas) agar kembali harmonis, serta introspeksi diri untuk meningkatkan persaudaraan tanpa konflik yang berkepanjangan.

 


ADPI menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri dan permohonan maaf lahir batin kepada seluruh anggota ADPI atas salah dan kekurangan yang terjadi. Di samping mengajak untuk terus bekerjasama dalam memajukan industri dana pensiun ke depan, termasuk menyejahterakan para peserta yang pensiun.

 

"Hikmah halal bihalal ini, mari kita tingkatkan silaturahim karena dapat memanjangkan umur dan menambah rezeki. Kita jadi lebih sehat karena silaturahmi" ujar Ust. Nur Fajri Romadhon dalam tausiyahnya.

 

Di akhir acara halalbihalal, pengurus DPP ADPI dan Komda yang hadir saling bersalaman dan memaafkan sebelum ramah tamah. Setelah ini, ADPI menggelar Musyawarah Nasional 1 tahun 2026 yang membahas kinerja dan operasioanl ADPI sebagai organisasi pelaku dana pensiun. Salam #YukSiapkanPensiun

 

Sabtu, 21 Maret 2026

Momen Lebaran: Belajar Memaafkan Diri Sendiri, Bukan Hanya Orang Lain

Kesalahan bukan hanya milik orang lain kepada kita. Tapi kita juga sering salah terhadap diri sendiri. Ada banyak banyak hal yang belum tercapai, banyak rencana yang tertunda. Dan banyak pula salah serta penyesalan yang diam-diam disimpan. Karenanya di momen lebaran, aku mencoba menerima dan mengakuinya. Bahwa hidup memang tidak harus selalu sempurna, selalu ada salah yang diperbuat pada diri sendiri.

 

Aku belajar memaafkan bukan hanya orang lain tapi diri sendiri. Kalimat itu memang sederhana, tapi dalam sekali maknanya. Memaafkan diri sendiri justru lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Kenapa? Karena kita hidup dengan diri kita setiap hari. Kita ingat kesalahan, kegagalan, keputusan yang keliru, bahkan hal-hal kecil yang orang lain mungkin sudah lupa tapi kita masih menyimpan rapat. Salah kita, bukan salah orang lain.

 

Dalam hidup dan hari-hari kemarin, ada hal-hal yang sudah terjadi dan tidak bisa diubah. Memaafkan diri sendiri berarti berhenti terus-menerus menghukum diri atas apa yang sudah lewat. Bukan melupakan, tapi menerima bahwa saat itu kita bertindak dengan kemampuan dan pemahaman yang kita punya. Selalu ada potensi salah dan khilaf. Maka aku belajar memaafkan bukan hanya orang lain tapi diri sendiri. untuk berdamai dengan masa lalu.

Memaafkan diri sendiri berarti melepaskan rasa bersalah yang berlebihan. Rasa bersalah itu manusiawi, tapi kalau terus disimpann akan berubah jadi beban. Memaafkan diri sendiri adalah memberi ruang untuk bernapas: mengakui salah tapi tidak menjadikannya identitas diri. Siapapun pasti dan pernah berbuat salah, maka maafkanlah. Kita juga layak diperlakukan dengan baik. Seringkali kita sangat baik pada orang lain, tapi keras pada diri sendiri. Padahal, diri kita juga butuh dimengerti. Memaafkan diri sendiri berarti memperlakukan diri dengan empati yang sama seperti kita memperlakukan orang yang kita sayangi.

 


Memaafkan diri sendiri, membuka jalan untuk melangkah lagi. Selama kita belum memaafkan diri sendiri, maka kita cenderung tertahan. Takut mencoba lagi, takut gagal lagi dan penuh rasa khawatir. Padahal hidup terus berjalan. Memaafkan diri sendiri itu seperti membuka pintu yang lama terkunci.

 

Setelah memaafkan diri sendiri, kemudian memaafkan orang lain. Apapun bentuknya dan perlakuannya. Fitnah, ghibah, kezoliman bahkan sikap merendahkan dari orang lain di masa lampau biarkan dan maafkanlah. Diminta atau tidak diminta, maafkanlah. Sebagai bentuk kelapangan hati dan sikap sabar yang utuh. Sebab dalam hidup, lebih baik fokus memperbaiki diri daripada menghitung kesalahan orang lain. Lapang dada dan lapang hati atas setiap perlakuan orang lain.

 

Aku belajar memaafkan bukan hanya orang lain tapi diri sendiri. Sebuah spirit momen lebaran atau idul fitri yang maknanya jadi lebih kuat. Kita saling memaafkan dengan orang lain, tapi sering lupa bahwa ada “diri sendiri” yang juga menunggu dimaafkan. Karena pada akhirnya, hati yang benar-benar lapang itu bukan hanya yang sudah memaafkan orang lain. Tapi juga hati yang sudah berhenti memusuhi dirinya sendiri. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.

 


Jumat, 20 Maret 2026

Bed Rotting, Penyakit Rebahan Berjam-jam Main HP di Musim Lebaran

Bed rotting itu penyakit rebahan berjam-jam main handphone, minim gerak. Apalagi di musim lebaran, ditambah sambil ngemil atau makan ketupat sayur. Bed rotting lagi tren di media sosial, saat seseorang hanya menghabiskan waktu hampir seharian di atas kamar atau tempat tidur. Untuk beristirahat dari kelelahan fisik maupun mental, sayangnya disambih bermain ponsel, menonton film, atau makan. Bikin malas gerak.

 

Di musim Lebaran, bed rotting perlu diwaspadai sebagai bentuk penyalahgunaan momen sacral dan waktu libur. Lebaran seringkali melelahkan karena mudik atau silaturahmi. Alih-alih memulihkan energi, bed rotting berlebihan dapat membuat tubuh terasa semakin lelah, pegal-pegal, dan lesu karena kurang bergerak. Selain mengganggu pola tidur, rebahan seharian sambil sambil main ponsel dapat memicu insomnia sekaligus kesehatan mental. Jadi gampang cemas, depresi, dan perasaan tidak berdaya, bukan membuat pikiran lebih sehat. Lebih dari itu, bed rotting jadi sebab kehilangan momen sosial. Sebab terlalu asyik "membusuk" di kasur dapat membuat kita melewatkan waktu berkualitas bersama keluarga dan kerabat saat lebaran.

 

Tentu boleh-boleh saja,, rebahan sambil main ponsel. Tapi perlu dibatasi, durasinya tidak berlebihan. Lebih baik ditopang dengan aktivitas fisik ringan, seperti peregangan atau jalan santai di pagi-sore hari. Karena keseimbangan istirahat dan beraktivitas tetap diperlukan agar energi kembali pulih secara maksimal.

 


Kebiasaan rebahan terlalu lama di tempat tidur sambil main HP, scroll media sosial, atau menonton konten tanpa henti jadi tidak rileks. Bukannya melepas stress malah tambah stress, bikin tambah lelal dan Lelah. Dampaknya, bed rotting bisa mengganggu energi dan  produktivitas. Tubuh menjadi terlalu pasif, sementara otak terus menerima paparan konten tanpa jeda. Apakagi anank-anak muda – Gen Z, hati-hati dengan bed rotting sbab bisa jadi gaya hidup yang susah diperbaiki.

 

Kok bisa rebahan berjam-jam sambil main HP dan minim Gerak. Selamat Idul Fitri – mohon maaf  lahir batin.

Minggu, 30 April 2023

Taman Bacaan Gelar Halal Bihalal Idul Fitri, Untuk Apa?

Halal bihalal, silaturahmi, dan berjabat tangan bukan hanya meluaskan pikiran dan memperkaya sudut pandang tapi menjadi salah dari sekian banyak pembuka pintu rezeki.

 

Dihadiri 50-an anak-anak pembaca aktif, orang tua, wali baca dan relawan, TBM Lentera Pustaka menggelar halal bihalal Idul Fitri 1444 H bertajuk “Saatnya Saling Memaafkan dan Berbuat Lebih Baik” di Bogor (30/4/2023). Nasihat lebaran diberikan oleh Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka serta secara bergantian oleh wali baca dan relawan yaitu Alwi, Ilham, Fadil, Susi, Resa, Zhia, Ai, dan Farida. Ditandai dengan tradisi salaman keliling, seluruh keluarga besar TBM Lentera Pustaka secara ikhlas saling memaafkan atas segala salah dan khilaf yang pernah terjadi di taman bacaan. Sekaligus menjadi bukti kelapangan hati untuk menyambung silaturahim dalam naungan aktivitas taman bacaan. Membaca buku seminggu 3 kali di taman bacaan.

 

Pendiri TBM Lentera Pustaka juga memberikan apresiasi berupa uang jajan kepada anak-anak pembaca aktif yang berhasil menjalankan ibadah puasa 30 hari penuh, tanpa kalah. Agar di masa datang lebih giat lagi berpuasa. Sebelumya, TBM Lentera Pustaka telah menggelar khataman Al Quran setiap hari Sabtu selama bulan puasa, di samping menyediakan takjil kepada anak-anak dan orang tua yang khataman di taman bacaan. Empat kali khatam Al Quran selama bulan puasa, alhamdulillah.

 

“Halal bihalal di TBM Lentera Pustaka sudah jadi tradisi. Untuk saling memafkan satu sama lainnya atas salah dan khilaf yang pernah terjadi. Hal ini jadi bagian untuk membentuk akhlak baik anak-anak, di samping menggapai berkah Allah SWT. Salaman menjadi penyempurna ibadah puasa dan silaturahim kami di taman bacaan” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka.

 


Dalam kesempatan ini, TBM Lentera Pustaka juga memberikan update terkait beberapa program yang dijalankan setelah lebaran, yaitu 1) launching Motor Pustaka hibah PBI, Kemdikbud RI, Dana Indonesia, dan LPDP pada Minggu, 21 Mei 2023, 2) pengenalan program baru “Sepeda Baca Pustaka” berupa sepeda listrik yang akan beroperasi seminggu sekali ke tempat-tempat nongkrong anak-anak, dan 3) rencana membuka “Kopi Lentera” kafenya literasi pada Juni 2023. Semua rencana TBM Lentera Pustaka ini didedikasikan demi tegaknya gerakan literasi dan aktivitas giat membaca di taman bacaan. Agar taman bacaan menjadi tempat asyik dan menyenangkan.

 

Selain saling memaafkan, momen halal bihalal TBM Lentera Pustaka sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga silaturahim untuk berbuat lebih baik ke depan. Mampu mengubah hubungan sesama manusia dari benci menjadi senang, sombong menjadi rendah hati, dan sadar untuk membebaskan diri dari perbuatan tercela. Karena dengan bersalaman di taman bacaan, sejatinya siapapun bukan sedang memaafkan orang lain namun justru memaafkan kesalahan dirinya sendiri.

 

Taman bacaan sadar betul. Memaafkan adalah bagian dari seni untuk memainkan peran penting dalam memperbaiki kualitas hidup, di samping membahagiakan hubungan dalam pergaulan di taman bacaan. Salam literasi! #TamanBacaan #HalalBihalal #TBMLenteraPustaka




Jumat, 28 April 2023

Literasi Jalan Tengah, Khairul Umuri Awsathuha

Entah kenapa, kawan saya selalu ingin berada di tengah? Dalam hal apapun, posisinya selalu mencari di tengah. Apalagi dalam urusan foto. Saat saya tanya, kenapa ambil posisi di tengah? Jawabnya, karena di tengah itu indah bahkan nikmat pula.

 

Mungkin ada benarnya. Untuk semua urusan, ambillah posisi di tengah. Karena di tengah lebih netral, lebih normatif. Tidak terlalu ekstrem, tidak pula cuek. Tidak berlebihan tapi tidak kurang pula. Di tengah jadi seimbang, jadi lebih pantas. Tidak terlalu jauh tidak pula terlalu dekat. Biasa-biasa saja. Ambillah posisi tengah karena di tengah itu nikmat lagi indah.

 

Zaman now, terkadang menyeramkan. Urusan politik, urusan kerjaan, urusan apa saja. Banyak orang condong miring ke kiri, condong ke kanan. Jilat sana jilat sini. Hujat sana hujat sini. Benci sini benci sana. Akhirnya, lupa untuk bersikap di tengah-tengah. Lupa bila di tengah-ytenag itu indah lagi nikmat. Jadi tidak netral lagi.

 

Rileks saja, tetaplah di tengah-tengah. Karena cinta dan benci itu silih berganti. Manis dan pahit pun bergiliran. Suka dan duka sering berganti musim. Tidak usah terlalu gembira, tidak usah pula terlalu sedih. Karena semuanya sudah pantas untuk kita. Karena memang tidak ada satu orang pun di dunia ini yang hidupnya senang terus. Seperti tidak ada pula yang hari-harinya sedih melulu. Jadi sekali lagi, rileks saja. Tidak usah merasa terlalu nestapa atau merasa paling bahagia.

 

Tengah-tengah itu indah. Tentu, sebagai jalan tengah. Bila tidak suka ya tidak usah benci melulu. Jika suka pun tidak usah terlalu gembira. Kalah menang itu biasa. Seperti benci dan cinta pun bergantian. Bila tidak mampu berbuat baik ya tidak usah jahat. Bila tidak mampu cinta ya jangan terlalu benci. Sederhana kan. Jadi, tetaplah di tengah karena itu paling pas untuk kita.

 


Tengah itu berarti seimbang. Hidup yang seimbang. Seimbang antara harapan dan kenyataan. Seimbang antara keinginan dan kebutuhan. Seimbang pikiran dan perilaku. Ego versus logika, kemauan versus tuntunan. Semuanya harus dan mesti seimbang. Seperti seimbangnya lahir dan batin, jasmani dan rohani. "Nak, kalau jalan di tengah-tengah saja ya" begitu nasihat orang tua dulu. Biar tidak jatuh bila terlalu kiri, biar tidak tumbang bila terlalu kanan.

 

Cukup di tengah saja. Tidak usah teriak-teriak saat ngomong. Tapi juga jangan terlalu diam. Tetaplah di tengah biar objektif. Karena suara hati yang tengah-tengah itu pasti LIRIH tapi JELAS. Tidak usah terlalu merasa sepi saat lagi sendiri. Dan tidak usah terlalu merasa bangga bila lagi di tempat ramai. Itu semua silih berganti kok. Allah SWT sudah punya rencana jelas untuk siapapun. Jadi, kenapa terlalu bersemangat membenci? Kenapa pula merasa penting mengintimidasi, provokasi, atau ingin menghina sesama? Karena mereka "sudah jauh" dari jalan tengah. Terlalu berlebihan. Terlalu benci, terlalu cinta. Hingga tergelincir ke jalan setan. Jalan menganggap kesalahan sebagai kebenaran.

 

Ada yang tidak suka di tengah. Maka wajar, bila akhirnya gemar "menabrak" apapun. Ugal-ugalan di jalan, bahkan gemar memporak-porandakan yang sudah ajeg. Akibat nafsu, ego, dan sikap tidak mau mengalah. Arogan dan merasa paling benar sendiri. Semua orang lain dianggap salah. Orang yang sudah lupa jalan di tengah. Maka rusaklah persaudaraan, persatuan, toleransi, dan kebhinekaan. Senang bertikai, gemar bersengketa. AKibat lupa jalan tengah.

 

Khairul umuri awsathuha, begitu kata Nabi Muhammad SAW. Sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah. Jadi siapapun, tetaplah di tengah. Agar tetap eling lan waspada. Biar tidak terjebak ke dalam pusaran kegelapan, kejelekan berbalut "semangat kebaikan". Benci itu boleh. Cinta juga boleh. Tapi jangan sampai pikiran picik dan kerdil, kejahatan pikir dan omong "dianggap" sebagai kewajaran.

 

Maka tetaplah di tengah. Berdirilah di tengah. Duduklah di tengah. Agar tetap objektif. Agar tetap seimbang. Karena setiap KEMAUAN pasti ada TUNTUNAN-nya. Karena menang, di tengah-tengah itu indah lagi nikmat. Salam tengah!

Rabu, 26 April 2023

Senyum di Langit Taman Bacaan

Menunduk, bisa saja punya makna yang berbeda. Di Indonesia, menunduk sering diartikan seperti kekalahan terhadap pihak lawan. Sedangkan di Jepang, menunduk selalu dilakukan seseorang saat berbicara dengan orang lain, Begitu pula, geleng-geleng kepala dan mengangguk-angguk, barang kali tidak selalu sama pemahamannya. Antara orang Indonesia dengan orang India. Gerakannya sama tapi artinya bisa berbeda.

 

Tapi senyum yang tulus, selalu punya makna yang sama antara satu negeri dengan negeri lainnya. Bahkan di seluruh dunia, senyum punya arti yang sama, sebuah ekspresi wajah yang menunjukkan kebahagiaan. Simbol rasa senang adalah senyum. Senyum itu sedekah. Bahkan tersenyum dianggap cara paling murah dalam membangun suatu hubungan. Senyum bisa jadi “obat” paling mujarab untuk orang-orang yang marah, benci atau iri.

 

Sudah terbukti kok, senyum tidak hanya dapat menyenangkan orang lain. Tapi mampu berkontribusi untuk kesehatan jiwa seseorang. Senyum dan tertawa itu bermanfaat bagi kesehatan fisik, untuk jantung dan kekebalan tubuh. Lebih dari itu, senyum pun akan memengaruhi kondisi mental seseorang. Membuat mood jadi lebih baik, lebih bergairah.

 

Maka tersenyumlah di mana pun, dalam kondisi apapun. Karena senyum itu menyehatkan. Senyum saat senang dapat menjaga kewaspadaan. Senyum saat duka dapat meneguhkan kesabaran. Senyum saat berjuang dapat bikin indah pengorbanan. Senyum pada kekasih dapat menyuburkan cinta. Senyum pada musuh dapat mengundang rasa hormat. Senyum pada pendengki dapat menjejalkan sesal. Senyum pada si ramah dapat menjalinkan ketulusan. Senyumlah pada si pemarah dapat menuangkan kesejukan. Senyum pada si gelisah dapat mengalirkan kenyamanan. Senyum pada si miskin dapat melipur lara. Senyum pada si kaya dapat melembutkan hati. Senyum pada pengintimidasi dapat mengacuhkan, dan senyum pada si aniaya pun dapat jadi cahaya untuk gelap hatinya. Jadi, apa alasannya untuk tidak tersenyum?

 

 


 

Senyum saja dalam segala keadaan. Senyum saja di mana pun. Karena akhlak jelita seseorang pada saat senyum mengembang pada dirinya, di kala mereka sedang berbincang (Habib ibn Abi Tsabit).

 

Senyum siapapun, tidak bisa dilepaskan dari kata syukur. Senyum yang ikhlas dari hati adalah cara terbaik untuk bersyukur. Memang senyum terlihat sangat mudah dan sederhana. Tapi tidak semua orang bisa memberikan senyuman yang tulus. Apalagi mereka yang kotor hatinya, negatif pikirannya pasti sulit untuk tersenyum. Karena mereka belum rela menerima realitas hidupnya sendiri. Tidak lapang dada dalam menerma kenyataan. Merasa frustrasi, tidak suka melihat orang lain berhasil sehingga sempit hatinya. Orang yang belum kelar dengan dirinya sendiri.

 

Lalu, kenapa banyak orang belum bisa tersenyum?

Maka di momen lebaran, latihlah untuk mudah tersenyum. Senyum yang tulus atas alasan apapun. Sambil berdoa, “Ya Allah, mampukan kami tersenyum karena-Mu”. Salam literasi!

Sabtu, 22 April 2023

Kok Kamu Galau di Momen Lebaran, Kenapa?

Silaturahim lebaran masih terus berlanjut. Untuk mengembalikan diri ke fitrah-Nya. Berkunjung, bercengkrama sambil menikmati hidangan lebaran yang apa adanya. Ketupat, opor ayam, kue nastar, hingga berbagi rezeki sedikit ke sanak saudara. Euforia lebaran masih terasa di dada. Tapi kenapa masih ada galau menyelimuti hati dan pikiran? Apa gerangan yang menyebabkan kegalauan di hari nan fitri?

 

Sahabat, meminta maaf dan memaafkan memang membutuhkan keikhlasan. Tulus dan sepenuh hati untuk mengakui kekurangan diri. Berlapang dada untuk meminta maaf dan memaafkan. Apapun alasannya. Sebagai momen membersihkan diri dari penyakit hati, sekaligus menyambung tali silaturahim yang pernah terputus.

 

Ikhlas, itulah obat kegalauan. Karena mengikhlaskan itu lebih menenangkan. Agar tidak berlama-lama bergelut dengan benci, dendam, bahkan cacian. Merelakan setiap yang dirasa itu lebih menyenangkan. Agar tidak ada sesak menerpa atau gundah merana. Lebaran, adalah momen untuk memperbaiki niat, membaguskan ikhtiar, dan memperbanyak doa baik. Setelah menggembleng diri melalui ibadah puasa sebulan penuh. Tanpa pamrih dan sepenuh hati.

 

Masih galau, mungkin karena belum ikhlas. Sehingga merasa tergores, terjatuh, dan terluka. Merasa sakit atau disakiti. Memang selalu ada ujian dan cobaan dalam diri. Atas sebab apapun, oleh siapapun. Maka biarkanlah pancaran senyum merasuk hingga ke hati. Untuk tetap berlaku bijak dan mengontrol emosi. Sebab sabar memang tidak ada batas. Apalagi di momen lebaran yang suci.

 


Sahabat, apapun kondisinya. Ikhlaskan semuanya. Damaiman semua dengan iman dan takwa yang ada. Buka karena ingin surga. Bukan pula karena malaikat tidak pernah alpa. Tapi semuanya karena tiap manusia memang penuh potensi dosa. Maka solusinya, hanya meminta maaf atau memaafkannya. Selebihnya, tinggal selaraskan hdup sesuai dengan ketentuan dan ketetapan Ilahi Rabbi.

 

Galau itu manusiawi. Maka mengeluhlah, menangislah, dan tersungkurlah di hadapan-Nya. Karena apapun cobaannya, semuanya hanya pantas dilihat oleh-Nya. Bukan oleh manusia lain yang juga lemah. Hanya Allah SWT kuncinya segala beban dan ujian. Hanya kepada-Nya, berbagi dan mengadu masalahnya. Sebagai buah iman dan takwa dari ibadah puasa.

 

Sahabat, hanya lingkar iman dan takwa yang melindungi kita. Hanya Allah SWT yang menjaga kita. Dengan qalbu yang menguatkan gerakan. Melalui lisan yang menjadikan cerminan. Dan karena pikiran dan perilaku yang menjadi kekuatan. Seluas apapun ujiannya. Seberat apapun cobaannya. Tetaplah iman dan takwa yang kita simpan.

 

Maka di momen lebaran dan sesudahnya nanti. Hanya iman dan takwa yang mampu menjasi oase di dalam hati. Untuk lebih tenang, lebih bijak tanpa perlu dijangkau pikiran. Karena iman dan takwa, sejatinya bukanlah keyakinan tanpa bukti. Tapi sebuah kepercayaan tanpa syarat.

 

Agar esok dan hari-hari mendatang, menjaga iman dan takwa itulah “pekerjaan terbesar” kita. Untuk lebih realistis dalam hidup. Karena hanya iman dan takwa yang bisa melihat apa yang kita percayai. Salam literasi!

 

Literasi Menjaga Lisan, Jangan Kotori Lebaran dengan Omongan Buruk

Idul Fitri telah tiba, suasana lebaran menyelimuti seluruh aktivitas umat muslim di Indonesia. Selain merayakan “kemenangan” sebulan penuh berpuasa, lebaran sangat identik dengan silaturahim. Saling kunjung-mengunjungi ke sanak saudara dan kerabat. Saling bermaaf-maafan sambil bercengkrama menikmati hidangan lebaran.

 

Tapi sayang, nyatanya, tidak sedikit orang yang merasa tidak nyaman saat silaturahim lebaran. Akibat masih adanya omongan atau kata-kata yang terkadang menyakitkna, menyindir, atau menyinggung orang lain. Entah, apa sebabnya? Akibat kesalahan yang tidak termaafkan atau sakit hati. Atau bahkan memang ada orang-orang yang memang saat bicara selalu mengedapankan “sentimen” personal. Kultur negatif yang melekat pada diri seseorang. Nah, begitulah faktanya di sekitar kita.

 

Meminta maaf dilakukan atau diminta memaafkan pun diterima. Tapi di saat yang sama, masih saja berkata-kata yang negatif atau membuat orang lain tidak nyaman. Berkata-kata yang lebih banyak negatif-nya daripada positif. Bertanya yang membuat orang lain tidak senang, memamerkan harta dan dirinya, berbicara sombong, bahkan berkata-kata yang menyakitkan orang lain. Bila itu terjadi, maka suasana silaturahim dan lebaran pun dikotori oleh lisan yang tidak terjaga.

 

Lisan atau ucapan itu nakhoda. Maka dalam suasana lebaran penting untuk menjaga lisan. Sebagai salah satu akhlak yang baik dan menjadi perilaku yang perlu untuk dibiasakan. Agar lisan tidak menjadi pisau yang dapat melukai orang lain dan diri sendiri. Lagi pula sayang kan. Bila sebulan penuh saat berpuasa, lisan sudah dilatih untuk tadarus, zikir, hingga berdoa yang baik-baik. Tapi akhirnya dikotori saat silaturahim lebaran.

 

Saatnya menjaga lisan di momen lebaran. Hadist Nabi Muhammad SAW menyebut, “Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (H.R. Al-Bukhari). Maka penting menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang kotor atau menyakitkan. Karena lisan yang terjaga dengan baik, insya Allah akan menjadi “jembatan” hidup yang baik, tubuh yang selamat, dan mendatangkan rezeki yang berkah. Lisan yang baik pun menjadi penenang hati, penentram jiwa.

 


Jangan kotori suasana lebaran dengan lisan yang tidak baik, tidak sepantasnya. Sehingga membuat orang lain tersinggung, apalagi tersakiti. Patut diketahui, setidaknya ada 5 (lima) keutamaan pentingnya seseorang menjaga lisan, yaitu:

1.    Mendapatkan derajat mulia sebagai orang muslim. Seperti ditegaskan “Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain.” (HR. Bukhari).

2.    Menjadi bukti kadar ketakwaan yang meningkat. Karenan kuat-lemahnya kualitas takwa seseorang tercermian dari apa yang diucapkan. Maka penting, tutur kata dijaga setiap saat.

3.    Menjadi amalan yang berpahala. Lisan yang baik dan terjaga sejatinya menjadi amalan yang memberikan keberkahan dan berselimutkan pahala yang melimpah.

4.    Menyelamatkan di akhirat. Siapapun yang tidak mampu menjaga lisannya selama di dunia, maka binasalah di akhirat.

5.    Mendapat ganjaran surga. Selain dijauhkan dari neraka, lisan yang terjaga “dijanjikan” mendapat ganjaran surga.

 

Maka siapapun, jadikanlah momen lebaran untuk melatih menjaga lisan. Lebaran memakai baju baru boleh, memakai sandal baru boleh. Tapi jauh lebih penting menjaga lisan dan berperilaku yang baik. Untuk saling menghargai dan saling memaafkan dengan ikhlas dan tulus.

 

Karena sebaik-baik manusia adalah mereka mampu menjaga lisannya. Agar tidak membuat orang lain bisa tersinggung. Menjaga lisan dari ucapan-ucapan kotor karena sejatinya Allah SWT tidak menyukai perkataan yang kotor dan buruk. Salam literasi!

 

Jumat, 21 April 2023

Literasi Minta Maaf, Inilah 4 Cara Minta Maaf yang Kurang Elok di Momen Idul Fitri

Setelah ditunggu dan dinantikan setahun lamanya, akhirnya momen lebaran 2023 tiba. Selain jadi momen untuk silaturahim keluarga dan kerabat, lebaran atau Idul Fitri sering dijadikan tradisi dan momen penting untuk saling bermaaf-maafan. Untuk mengakui kesalahan dan kekhilafan yang pernah terjadi antar sesama anggota keluarga atau anggota masyarakat. Hubungan yang pernah terganggu akibat salah dan khilah dalam pergaulan, pertemanan, dan pembicaraan.

 

Meminta maaf, sering kali dianggap hal sederhana. Bahkan tidak sedikit yang menganggap sepele. Sehingga meminta maaf atau bermaaf-maafan jadi kehilangan maknanya. Padahal sejatinya, meminta maaf itu penting bagi siapapun. Sebagai bukti bahwa tiap manusia pasti berbuat salah dan khilaf baik sengaja maupun tidak sengaja. Sekaligus menjadi introspeksi diri dalam memandang masalah atau perbuatan salah yang pernah dilakukan.

 

Sayangnya, banyak orang yang sulit berkata-kata soal cara meminta maaf. Bingung harus bagaimana cara meminta maaf. Tidak tahu cara yang tepat untuk memulai obrolan meminta maaf. Memang tidak mudah meminta maaf secara gentle, secara lapang hati dan ikhlas melakukannya. Apalagi di momen lebaran yang sakral seperti sekarang.

 


Meminta maaf adalah keharusan. Atas segala sikap dan perilaku salah dan khilaf yang pernah terjadi. Jadi, meminta maaf bukan hanya penting tapi wajib dilakukan. Tentu dengan ikhlas, tulus, dan lapang hati sebagai landasan moralnya. Untuk itu, kurang elok bila meminta maaf dengan 4 (empat) cara begini di momen lebaran:

1.      Meminta maaf tanpa meminta maaf. Entah akibat marah atau dendam, banyak orang yang merasa meminta maaf tanpa meminta maaf. Tidak ada kata-kata atau tindakan bersalaman yang dilakukannya kepada orang yang mau diminta maaf atau dimaafkan? Jadi, meminta maaf ya harus dikatakan atau dilakukan.

2.      Meminta maaf tapi masih membenarkan sikap salahnya. Karena masih ada saja orang yang meminta maaf lalu menjelaskan perbuatan salahnya yang lalu. Meminta maaf tapi masih menyalahkan orang lain. Minta maaf ya minta maaf saja, tanpa alasan apapun. Apalagi masih mengungkit kesalahan orang lain padanya.

3.      Meminta maaf tapi bertele-tele. Tidak ada kata-kata yang terus terang dalam meminta maaf.
Seperti meminta maaf melalui WA atau SMA padahal harusnya bisa bertatap-muka alias ketemu. Meminta maaf secara tersirat padahal bisa bertemu langsung.

4.      Meminta maaf sambil menyakiti lagi. Saat momen lebaran memang meminta maaf tapi di saat yang sama langsung menyakiti orang lain lagi dengan cara berkata-kata yang buruk atau berperangai tidak baik saat silaturahim lebaran.

 

Sekali lagi, kurang elok meminta maaf di momen lebaran dengan 4 cara di atas. Meminta maaf ya meminta maaf saja tanpa alasan apalagi pembenaran sikap dan perilaku salah. Mungkin, pengakuan atas kesalahan yang terjadi boleh saja tidak diakui. Tapi saatnya meminta maaf ya dilakukan saja secara ikhlas dan tulus. Bila tidak mampu menyebutka kesalahannya, maka cukup berkata “meminta maaf”.

 

Meminta maaf juga tidak harus berpelukan. Cukup meminta maaf dengan kata-kata atau sambil bersalaman. Dan yang paling penting, bila sudah meminta maaf ya jangan berbuat lagi kesalahan yang sama. Jangan mengulangi kesalahan yang sudah diminta maaf.

 

Karena siapapun saat meminta maaf, tidak lagi diperlukan. Soal siapa yang salah siapa yang benar. Cukup meminta maaf saja. Salam literasi!

 

Literasi Capres 2024, 5 Ketakutan Saat PDIP Umumkan Capres Sehari Jelang Lebaran?

Teka-teki soal siapa calon presiden (capres) yang diusung PDIP sudah jelas. Kemarin (21/4/2023), Ganjar Pranowo yang kini Gubernur Jawa Tengah sekaligus kader PDIP “ditugaskan” sebagai calon presiden PDIP untuk pilpres tahun 2024. Soal siapa cawapres-nya atau bagaimana kans-nya menang di pilpres tahun depan, tentu saya tidak tertarik. Karena saya bukan pengamat politik, bukan pula peramal. Biarlah diskursus soal Ganjar sebagai capres PDIP jadi bahan ocehan dan obrolan orang-orang “sok tahu”. Mereka yang sekolahnya bukan politik tapi saat ngomong politik seperti ahli politik. Iya nggak?

 

Justru ada yang saya takutkan saat PDIP umumkan capres Ganjar sehari sebelum lebaran. Pengumuman capres di Hari Kartini. Takut dan khawatir sebagai rakyat biasa yang telah sebulan penuh berpuasa. Takut karena silaturahim “hari kemenangan” Idul Fitri jadi bergeser tidak lagi semenarik tahun-tahun kemarin. Untuk saling bermaaf-maafan sambil bersenda-gurau.   

 

Deklarasi capres 2024 yang terlalu “wow”. Sehingga bisa menyita perhatian dari banyak pihak. Bahkan mengundang julid bagi lawan politik dan kroni-kroninya. Apalagi diumumkan sehari jelang lebaran, setidaknya ada 5 (lima) sebab ketakutan saya saat PDIP umumkan capres Ganjar Pranowo sehari jelang lebaran, yaitu:

1.      Obrolan hari lebaran tidak lagi soal opor ayam dan ketupat. Kumpul lebaran jadi ngobrolin kandidat capres Ganjar Pranowo dan tetek-bengeknya. Suasana lebaran rasa politik, sedih.

2.      Jadi sedikit yang pamer baju baru dan aksesorinya. Ajang lebaran jadi kurang seru bila figur yang terbiasa pamer baju lebaran malah jadi “pindah topik” ngomongin capres. Lebaran jadi kurang senyum, sedih lagi.

3.      Cerita sudah lama tidak bertemu jadi tidak seru lagi. Karena berubah jadi bicara capres dan politik. Sehingga nggak bisa lagi bertukar cerita dan pengalaman selama tidak bertemu. Lebaran jadi kurang banyak cerita, sedih.

4.      Ajakan bisnis bareng jadi tertunda. Biasanya di momen lebaran ada saja kerabat dan rekan yang mengajak bisnis bareng atau jualan jadi “kalah” bahasan dengan capres yang baru diumumkan. Lebaran kok nggak ada bisnisnya, sedih banget deh.

5.      Topik obrolan rencana masa depan jadi terkalahkan. Baik orang tua ataupun anak muda dalam keluarga jadi nggak tertarik membahas rencana masa depan akibat ganti topik ke capres dan politik. Lebaran jadi ramai politik, sedih banget. 

 


Mungkin saya lebay, karena punya ketakutan yang berlebihan soal capres di PDIP. Tapi sebagai ekspresi pikiran sih sah-sah saja. Karena memang sejak diumumkan kemarin, beberapa grup WA yang saya ikuti sudah ramai dan gaduh membahas soal Ganjar Pranowo. Akibat diumumkan sehari jelang lebaran. Maka patut diduga, saat lebaran hari ini banyak topik silaturahim lebaran yang akhirnya membahas “soal capres PDIP” sebagai obrolan utama. Bukan lagi soal opro ayan, ketupat, pamer baju baru, cerita lama, ajakan bisnis, atau rencana masa depan.

 

Tapi di luar itu semua, ketakutan saya yang paking penting adalah banyak orang yang pada lebaran kali ini lebih banyak dikuasai keinginan  atau angan-angan semata. Pengen ini pengen itu yang berlebihan. Sehingga lupa menjadikan lebaran sebagai momen untuk memperbaiki diri, baik kepada Allah SWT, kepada sesama, maupun kepada lingkungan sosial.

 

Seperti kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, "Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari Anda ada dua hal yaitu 1) terlalu banyak angan-angan dan 2) menuruti keinginan nafsu." Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. Salam literasi!

Senin, 17 April 2023

Setelah Berhasil Ibadah Puasa, Jangan Kotori Silaturahim Lebaran dengan Omongan Buruk

Ramadan sebentar lagi pergi, Berganti lebaran untuk saling memaafkan dan bersilaturahim. Seperti jutaan pemudik yang hatinya gembira menyambut “kemenangan berpuasa” di kampung halaman. Tapi sayangnya, tidak banyak orang memahami arti ibadah puasa dengan pas. Sehingga momen lebaran “dikotori” dengan hal-hal yang kurang berkenan.

 

Untuk itu, ada baiknya mempersiapkan diri untuk lebaran. Dengan niat dan hati yang bersih. Menyesuaikan pikiran dan perilaku yang toyibbah, yang baik lagi beradab. Silaturahim yang berkualitas, karena diisi dengan obrolan, sikap, dan perilaku yang menyenangkan orang lain. Bukan sebaliknya, momen lebaran yang “dikotori” dengan omongan buruk bahkan me-roasting saudara-saudara atau orang-orang yang memang niatnya mulia. Untuk silaturahim dan saling memaafkan atas ucapan dan perilaku yang salah.

 

Silaturahim yang positif. Idul fitri yang membaikkan, dan halal bihalal yang menjadi ladang amal untuk semuanya. Bukan justru bergibah, bergosip, atau membuat orang lain justru tidak nyaman di kehadirannya. Membuang jauh-jauh kata-kata yang negatif, kalimat-kalimat yang tidak bermutu. Bahkan obrolan yang tidak ada gunanya. Untuk lebih melapangkan hati dan pikiran menerima siapapun apa adanya. Karena hati yang bersih pun harus tercermin dari sikap dan perilaku yang tidak menyakitkan orang lain.

 


Silaturahim dan idul Fitri yang tetap mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Mampu memisahkan kebenaran dan kebatilan. Seperti wasiat Umar bin Khattab yang dijuluki sebagai Al-Faruq tentang 6 wasiat dalam hidup manusia, yaitu:

1.    Bila kamu menemukan cela pada seseorang dan hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.

2.    Bila kamu hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya selain perutmu sendiri.

3.    Bila kamu hendak memuji seseorang, maka pujilah Allah SWT. Karena tidak seorang pun yang lebih banyak memberi dam lebih santun kepadamu selain Allah SWT.

4.    Bila kamu ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila kamu meninggalkan dunia berarti kamu terpuji.

5.    Bila kamu bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika kamu tidak bersiap untuk mati, kamu akan menderita, rugi, dan penuh penyesalan.

6.    Bila kamu ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena kamu tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

 

Jadikanlah lebaran dan Idul Fitri sebagai momen untuk memperbaiki diri. Momen untuk meningkatkan kualitas pikiran, sikap, dan perilaku yang lebih disukai Allah SWT. Sebagai cerminan kemenangan ibadah puasa. Bukan sebaliknya, puasa yang tidak mampu mengubah apapun dalam diri sendiri. Kecuali hanya ritual menahan lapar dna haus semata.

 

Sungguh, lebaran dan ibadah puasa sangat efektif. Bila mampu menjadikan siapapun lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya.  Sambil mengingat 6 wasiat Umar bin Khattab. Agar esok, kita menjadi lebih baik. Salam literasi