Tampilkan postingan dengan label Memaafkan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memaafkan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 April 2026

Silaturahim Menguatkan Keberkahan Menyatukan, Pesan Halalbihalal ADPI tahun 2026

Bertajuk "Silaturahim yang Menguatkan, Keberkahan yang Menyatukan", ADPI (Asosiasi Dana Pensiun Indonesia) sebagai lembaga yang menaungi pelaku industri DPPK di Indonesia menggelar Halalbihalal Idul Fitri 1447 H di Jakarta (7/4/2026). Dibuka oleh Abdul Hadi (Ketua Umum ADPI), acara ini dihadiri 70 pengurus DPP dan Komda ADPI di Indonesia.

 

"Atas nama ADPI, kami memohon maaf lahir batin. Mari pererat silaturahmi untuk kolaborasi dan soliditas organisasi ADPI untuk memajukan industri dana pensiun dan hari tua pekerja di Indonesia" ujar Abdul Hadi, Ketua Umum ADPI dalam sambutannya.

 

Dalam suasana akrab dan hangat, halalbihalal ADPI dihadiri pula oleh Sularno (Sekjen), Chairi Pitono (Waka 1), Antonius R. Tyas (Waka 2), Budi Sutrisno (Waka 3), Abdul Hadie (Bendahara), Budi Sulistion (Direktur eksekutif), Mujiharno (Ketua Dewan Pengawas), Jonny Rolindrawan (Dewan Penasihat), dan pengurus DPP ADPI.

 

Nasehat halal bihalal disampaikan oleh Ust. Nur Fajri Romadhon (Anggota MUI Pusat) yang menekankan pentingnya silaturahim dan tulus memaafkan dalam sikap dan perilaku. Tujuannya, untuk membersihkan hati termasuk dalam memberikan pelayanan terbaik kepada peserta dana pensiun. Momen ini adalah kesempatan memperbaiki hubungan dengan sesama (hablum minannas) agar kembali harmonis, serta introspeksi diri untuk meningkatkan persaudaraan tanpa konflik yang berkepanjangan.

 


ADPI menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri dan permohonan maaf lahir batin kepada seluruh anggota ADPI atas salah dan kekurangan yang terjadi. Di samping mengajak untuk terus bekerjasama dalam memajukan industri dana pensiun ke depan, termasuk menyejahterakan para peserta yang pensiun.

 

"Hikmah halal bihalal ini, mari kita tingkatkan silaturahim karena dapat memanjangkan umur dan menambah rezeki. Kita jadi lebih sehat karena silaturahmi" ujar Ust. Nur Fajri Romadhon dalam tausiyahnya.

 

Di akhir acara halalbihalal, pengurus DPP ADPI dan Komda yang hadir saling bersalaman dan memaafkan sebelum ramah tamah. Setelah ini, ADPI menggelar Musyawarah Nasional 1 tahun 2026 yang membahas kinerja dan operasioanl ADPI sebagai organisasi pelaku dana pensiun. Salam #YukSiapkanPensiun

 

Jumat, 15 Desember 2023

Literasi Memaafkan, Seperti Apa?

Kita pasti sepakat. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Itu berarti, siapapun pasti punya kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Karena tidak ada satupun manusia yang sempurna. Tapi yang terpenting, ketika kita berbuat salah maka harus mengakui dan meminta maaf. Maka di saat yang sama, saat orang lain berbuat salah pun kita harus dapat memaafkann orang lain. Jadi, meminta atau memberi maaf itu soal jiwa besar. Bukan soal benar atau salah.

 

Semua salah itu pasti masa lalu. Karena tidak ada orang berniat berbuat salah untuk masa datang. Sungguh, tidak ada kesuksesan yang diraih dari hati yang penuh luka dan masih berkutat dengan masa lalu. Tidak ada pula kesuksesan diraih dari hati yang galau dan dipenuhi kebencian. Sudah pasti, tidak ada sukses yang diraih dari hati yang tidak bersangka baik.

 

Bersedih boleh, kesal juga boleh. Benci boleh, marah pun boleh. Karena emosi itu normal. Sangat manusia dan pasti terjadi pada siapapun. Tapi yang tidak boleh adalah sedih atau benci berkepanjangan lalu sulit memaafkan. Jangan sampai susah mengakui kesalahan dan sulit meminta atau memberi maaf. Jadi, cukup perbaiki diri. Untuk selalu mau berubah dan memaafkan orang lain. Apapun alasannya. Agar lebih rileks dan tidak lagi jadi beban untuk masa datang.

 


Maka, maafkanlah siapapun yang pernah menyakiti dan mendzolimi kita di masa lalu. Lupakan saja perbuatan buruk orang lain. Biarkan saja waktu yang membuktikan. Karena Allah tidak tidur. Allah yang maha tahu, mana yang baik dan tidak baik. Kata Allah bukan kata mulut manusia. Hanya Allah yang tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya.

 

Cukup maafkan saja siapapun. Tanpa perlu mengingatnya lagi. Agar Allah pun mau memaafkan kita. Lebih baik introspeksi diri, muhasabah. Sambil memperbanyak istighfar dan perbanyak dzikir. Kerjakan yang baik dan bermanfaat. Jangan membuang waktu untuk sebuah kebencian atau kemarahan, sekecil apapun.

 

Meminta atau memberi maaf sama pentingnya. Tapi terkadang meminta maaf atas kesalahan yang terjadi di masa lalu, cukup dengan melakukan sesuatu yang baik dan benar di masa depan. Selebihnya cukup diam atau mengalah karena itu lebih baik daripada menjelaskan segalanya kepada orang yang salah.

 

Ketahuilah, memaafkan kadang bukan untuk melupakan. Tapi untuk menyehatkan hati dan melepaskan sakit jiwa. Maka maafkanlah karena Allah pun Maha Pemaaf. Salam literasi! #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Kamis, 27 April 2023

Literasi Memaafkan, Kenapa Meminta Maaf?

Memaafkan memang hanya kata sederhana. Tapi sulit untuk dilakukan. Apalagi bagi mereka yang bertabur rasa benci, iri, dan dengki dalam hidupnya. Kaum pemarah dan pemilik sikap arogan. Sungguh, memaafkan itu tidak gampang. Sekalipun terkadang, orang lain pun tidak tahu kesalahannya apa?

 

Memaafkan, sering dikatakan banyak orang. Lagi-lagi tidak mudah untuk dilakukan. Karena membutuhkan hati yang seluas Samudra. Memaafkan harus punya ketulusan hati untuk melakukannya. Berlapang hati. Tapi siapapun yang mau memaafkan, pasti hidupnya sehat. Karena terhindar dari sifat-sifat dendam dan benci. Terhindar dari penyakit mental yang dapat merusak dirinya.

 

Memaafkan berarti mengampuni kesalahan orang lain. Memberi maaf berarti membebaskan orang lain dari hukuman atas suatu kesalahan. Memaafkan bermanfaat untuk menjaga hati lebih tenang dan lebih damai. Tanpa memendam amarah, benci, dan dendam. Di samping dapat menjadi tanda seseorang jadi lebih bijak dan realistis. Itulah kenapa saat Idul Fitri, kata-kata “mohon maaf lahir batin” begitu dominan. Banyak orang memohon maaf lahir dan batin. Agar lebih sehat, lebih tenang, dan damai.

 


Memberi maaf, tentu bukan berarti kalah. Memaafkan justru sengaja mengalah. Sebagai cara terbaik untuk membahagiakan orang lain. Tidak ada yang menang atau pun kalah. Yang ada hanya memudahkan orang yang “terpisah” untuk bertegur sapa. Maka, memaafkan harus dilakukan secara langsung dan face to face. Dari orang yang memaafkan kepada orang yang mau dimaafkan.

 

Memaafkan, sejatinya belajar. Belajar menerima walau tidak suka. Belajar untuk berpuas hati meski tidak cukup. Belajar memahami walau tidak sehati. Dan belajar ikhlas meski belum rela. Maka untuk mampu memaafkan butuh proses secara mental dan pikiran. Butuh kelapangan hati yang luar biasa, di samping pikiran yang maha jernih. Sama seperti melatih hati, perlu banyak ujian agar sabarnya meluas, syukurnya melangit, dan maafnya mudah untuk diberi.

 

Maka untuk yang sedang marah, beranilah memaafkan. Untuk memperbaiki hubungan meski harus terlebih dahulu mengucap maaf dan mengulurkan tangan. Karena memaafkan hanya butuh berani dan mau. Memang benar, dibutuhkan orang yang kuat untuk mengatakan maaf, dan orang yang makin kuat untuk memaafkan.

 

Sebenarnya, memaafkan atau meminta maaf tidak hanya saat Idul Fitri atau lebaran. Tapi bisa kapan saja, utamanya saat sadar telah berbuat salah atau khilaf. Tapi momen Idul Fitri dianggap lebih sakral, maka ucapan yang paling lazim adalah mohon maaf lahir batin.

 

Sejatinya, memaafkan bukanlah melupakan tapi melepaskan rasa sakit. Memaafkan itu baik, dan lebih baik lagi bisa saling memaafkan. Salam literasi!


Selasa, 21 Februari 2023

Mampukah Anda Memaafkan?

Benar kata banyak orang. Hidup bukan hanya mencapai keinginan dan kepedulian. Tapi juga soal kemauan untuk belajar. Belajar Belajar untuk menerima realitas, belajar untuk berbesar hati pada setiap keadaan. Apapun bentuknya, apapun alasannya. Tidak cukup hanya berpuas hati di saat mencapai kemenangan. Tapi harus belajar ikhlas meski belum rela. Berani belajar bersikap objektif walau tidak sepakat dan berbeda.

 

Besok-besok jelang tahun politik dan kampanye pilpres. Bukan tidak mungkin, makin banyak perilaku saling mencaci, menghujat, bahkan fitnah. Hoaks dan ujaran kebencian berbasis sentimen olitik pun ditebarkan kemana-mana. Hanya untuk mendukung kandidat yang diusungnya. Belum lagi politik identitas yang jadi sebab masyarakat kian terkotak-kotak. Selain belajar untuk meraih kemenangan dengan cara yang elegan, politik pun harus belajar untuk memaafkan di antara elit politik dan pendukungnya.

 

Apapun alasannya, belajar memaafkan itu penting. Apalagi di tahun politik, di media sosial, atau di dalam pergaulan. Memaafkan orang lain atas apa yang mereka lakukan memang tidak mudah. Memaafkan atas apa yang orang lain katakan tentang kita memang tidak gampang. Apalagi wujudya fitnah, hoaks, atau aib yang tercela. Memaafkan, bukan dimaaafkan, butuh hati hati yang lapang dan seluas Samudra. Memaafkan, sungguh butuh ketulusan hati untuk bisa melakukannya.

 

Memaafkan kesalahan orang lain memang sulit. Tapi harus diikhtiarkan sebisa mungkin. Sambil menjauhi lingkungan dan pergaulan yang buruk. Karena memaafkan sangat bermanfaat untuk pemiliknya. Agar hidup lebih tenang dan damai, hati lebih lapang. Perlu dipahami, siapapun yang memendam amarah, rasa benci atau dendam terhadap orang lain hanya akan merugikan dan merusak diri sendiri. Karena itu, memaafkan menjadi sikap yang harus dikedepankan siapapun. Sebuah perilaku yang patut didengungkan, di mana pun dan kapanpun.

 


Memaafkan adalah proses. Harus dilatih dan dibiasakan, selain pasti banyak cobaannya. Maka di saat yang sama, memaafkan jadi bukti seseorang yang sabarnya meluas, syukurnya melangit, dan maafnya mudah untuk diberikan. Bagi siapapun, memaafkan bukanlah melupakan tapi melepaskan rasa sakit. Membuang amarah, benci, iri, dan dendam. Maka, maafkan setiap musuh atau orang lain yang jahat kepada kita. Karena maaf tidak dimiliki orang-orang lemah. Justru dimiliki oleh orang-orang yang kuat untuk memahami orang yang membuat kesalahan.

 

Memaafkan, hanya butuh keberanian dan kemauan. Itulah yang paking dibutuhkan masyarakat dan bangsa Indonesia hari ini. Sebagai ikhtiar untuk selalu memperbaiki diri, di samping menggapai ketenangan hati. Bila memaafkan dianggap sebagai perbuatan mengalah, biarlah bila mampu membahagiakan orang lain. Karena hidup, sejatinya tidak ada yang menang atau kalah. Yang ada, mudah atau tidak untuk memaafkan siapapun.

 

Seperti mentari di balik awan, pasti ada suka di balik duka. Pasti ada terang di pagi hari setelah melewati gelapnya malam. Beranilah memaafkan, bila tidak tercapai saling memaafkan. Karena memaafkan, tak sulit bagi yang mau tak mudah bagi yang enggan. Salam literasi