Tampilkan postingan dengan label literasi gaya hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literasi gaya hidup. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2026

Bed Rotting, Penyakit Rebahan Berjam-jam Main HP di Musim Lebaran

Bed rotting itu penyakit rebahan berjam-jam main handphone, minim gerak. Apalagi di musim lebaran, ditambah sambil ngemil atau makan ketupat sayur. Bed rotting lagi tren di media sosial, saat seseorang hanya menghabiskan waktu hampir seharian di atas kamar atau tempat tidur. Untuk beristirahat dari kelelahan fisik maupun mental, sayangnya disambih bermain ponsel, menonton film, atau makan. Bikin malas gerak.

 

Di musim Lebaran, bed rotting perlu diwaspadai sebagai bentuk penyalahgunaan momen sacral dan waktu libur. Lebaran seringkali melelahkan karena mudik atau silaturahmi. Alih-alih memulihkan energi, bed rotting berlebihan dapat membuat tubuh terasa semakin lelah, pegal-pegal, dan lesu karena kurang bergerak. Selain mengganggu pola tidur, rebahan seharian sambil sambil main ponsel dapat memicu insomnia sekaligus kesehatan mental. Jadi gampang cemas, depresi, dan perasaan tidak berdaya, bukan membuat pikiran lebih sehat. Lebih dari itu, bed rotting jadi sebab kehilangan momen sosial. Sebab terlalu asyik "membusuk" di kasur dapat membuat kita melewatkan waktu berkualitas bersama keluarga dan kerabat saat lebaran.

 

Tentu boleh-boleh saja,, rebahan sambil main ponsel. Tapi perlu dibatasi, durasinya tidak berlebihan. Lebih baik ditopang dengan aktivitas fisik ringan, seperti peregangan atau jalan santai di pagi-sore hari. Karena keseimbangan istirahat dan beraktivitas tetap diperlukan agar energi kembali pulih secara maksimal.

 


Kebiasaan rebahan terlalu lama di tempat tidur sambil main HP, scroll media sosial, atau menonton konten tanpa henti jadi tidak rileks. Bukannya melepas stress malah tambah stress, bikin tambah lelal dan Lelah. Dampaknya, bed rotting bisa mengganggu energi dan  produktivitas. Tubuh menjadi terlalu pasif, sementara otak terus menerima paparan konten tanpa jeda. Apakagi anank-anak muda – Gen Z, hati-hati dengan bed rotting sbab bisa jadi gaya hidup yang susah diperbaiki.

 

Kok bisa rebahan berjam-jam sambil main HP dan minim Gerak. Selamat Idul Fitri – mohon maaf  lahir batin.

Minggu, 05 Mei 2024

Perkuat Literasi Gaya Hidup, Mahasiswa Unindra Luncurkan Antologi Cerpen Titik Waktu

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2024 dan mempersoalkan gaya hidup modern. Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) meluncurkan buku antologi cerpen Titik Waktu di TBM Lentera Pustaka Bogor (4/5/2024). Dihadiri 60-an anak pembaca aktif usia sekolah, antologi cerpen ini menegaskan pentingnya mengelola waktu, bukan membuang-buang waktu.

 

Buku antologi cerpen “Titik Waktu” ini merupakan bagian dari proses menulis kreatif yang dialami mahasiswa secara langsung, selama kuliah. Sebagai bukti proses  dalam mempelajari, mencipta, dan menerbitkan karyanya sendiri. Mahasiswa yang diajarkan bahwa belajar sastra harus dimulai dan berakhir dari yang tertulis. Antologi cerpen ini terinpsirasi dari fenomema mengaukanya gaya hidup yang kian tidak produktif. Sebuah buku fiksi cerpen “hasil kuliah menulis kreatif” yang ditulis 80 mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FBS Universitas Indraprasta PGRI bersama dosen pengampunya.

 

Hari ini kian banyak orang membeli gaya hidup, bukan menjalani hidup. Hingga terbuai gaya hidup dan menyia-nyiakan waktu. Menjauh dari kesederhanaan, bermimpi tentang kemewahan. Hati-hati, gaya hidup telah menyingkirkan jati diri sesungguhnya. Jadilah diri sendiri, jangan khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan tentangmu. Jangan lagi meratapi waktu yang telah berlalu. Tapi gunakanlah untuk membuat perubahan yang lebih baik. Jangan pernah menunda-nunda, karena waktu tidak akan pernah menunggu kita lagi. Titik waktu, siapapun tidak bisa memperpanjangnya. Kita hanya bisa membuatnya berarti.

 

Cerpen-cerpen yang disajikan dalam buku ini bertemakan gaya hidup. Diterbitkan oleh LovRinz Publishing dengan 281 halaman, Antologi Cukstaw Cerpen Titik Waktu ingin memberi pesan bahwa setiap detik yang dilewati adalah pelajaran berharga bagi siapapun yang menyadarinya.



Menurut Syarifudin Yunus, dosen pengampu Menulis Kreatif Unindra, buku ini menjadi cerminan sikap reflektif terhadap cara pandang anak-anak muda tentang gaya hidup yang berkembang dalam kehidupan. Setelah belajar di kelas, semua mahasiswa diminta untuk menuliskan hikmah gaya hidup yang diketahui atau dialaminya dalam bentuk cerpen sebagai ekspresi dalam konteks pendidikan.

 

“Antologi cerpen Titik Waktu ini adalah ekspresi mahasiswa terhadap gaya hidup. Sebagai generasi muda mahasiswa harus mampu menyuarakan pentingnya mengelola gaya hidup di tengah dinamika peradaban ke dalam cerita pendek. Gaya hidup jangan sampai membuang-buang waktu,” ujar Syarifudin Yunus dalam acara peluncuran hari ini di Bogor.


Cerita dalam antologi ini merupakan kisah fiksi yang reflektif dan motivatif sebagai pesan moral kepada pembaca. Cerpen yang disajikan dengan cara yang berbeda. Bahwa menulis adalah perbuatan, bukan pelajaran. Antologi cerpen ini diharapkan dapat menjadi "obat" untuk mengembalikan rasa, pikir dan perilaku generasi muda untuk bersikap terhadap gaya hidup. #KuliahMenulisKreatif #UnindraKeren #CukstawCerpen




Senin, 08 Mei 2023

Literasi Gaya Hidup, Jadikan Sesuai Levelmu Bukan Level Orang Lain

Ini hanya renungan sekaligus cara untuk introspeksi diri. Hidup sesuai levelmu, jangan hidup di level orang lain. Agar nantinya tidak jadi masalah. Apapun dan di mana pun, gunakan rezeki untuk hidup yang lebih baik. Bukan untuk gaya hidup, untuk pamer.  Karena gaya hidup sama sekali tidak akan pernah membuatmu merasa cukup.

 

Hidup sesuai levelmu. Bukan berarti harus hidup sederhana. Tapi hiduplah secara pantas. Hidup yang patut atau layak. Hidup yang sesuai  atau cocok. Sehingga menimbulkan pertanyaan atau curiga orang lain. Apalagi di media sosial, hiduplah sesuai levelmu. Bila tidak, akhirnya dipanggil KPK untuk memgklarifikasi harta dan kekyaannya. Dari mana diperoleh? Karena dianggap tidak pantas.

 

Hari ini makin banyak orang hidup tidak lagi di levelnya sendiri. Lebih senang hidu-p di level orang lain. Terlalu memaksa diri. Hingga berani utang, terjebak pinjaman online, bahkan berani mengambil apapun yang bukan haknya. Akibat hidup bukan di level sendiri. Terlalu memaksa diri untk hidup di level orang lain.

 


Bertindaklah semampunya. Berbuat baik dari yang sederhana. Bersedekah sebisa yang dilakukan. Sama sekali mempertontonkan apapun yang tidak sesuai dengan level kita. Bukan karena orang lain. Tapi karena Allah SWT yang tahu sebenarnya siapa kita? Pantaskan diri sendiri untuk soal apapun dan di mana pun. Maka hiduplah sesuai kemampuanmu, jangan sesuai dengan kemauanmu.

 

Sekarang banyak orang yang tidak bisa mengukur diri. Hingga lupa untuk bersyukur. Makin banyak orang yang tidak sadar sehingga lupa untuk sabar. Bahagia itu bukan dari apa yang ditampilkan. Tapi dari apa yang diperbuat. Bahagia itu bukan karena ingin dipuji orang. Tapi karena sesuai dengan level diri sendiri. Apapun bukan karena mewahnya tapi karena berkahnya.

 

Maka jika rezekimu bertambah, naikkanlah level sedekahmu bukan pertontonkan level gaya hidupmu. Salam literasi!