Tampilkan postingan dengan label Lebaran 2023. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lebaran 2023. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 April 2023

Literasi Minta Maaf, Inilah 4 Cara Minta Maaf yang Kurang Elok di Momen Idul Fitri

Setelah ditunggu dan dinantikan setahun lamanya, akhirnya momen lebaran 2023 tiba. Selain jadi momen untuk silaturahim keluarga dan kerabat, lebaran atau Idul Fitri sering dijadikan tradisi dan momen penting untuk saling bermaaf-maafan. Untuk mengakui kesalahan dan kekhilafan yang pernah terjadi antar sesama anggota keluarga atau anggota masyarakat. Hubungan yang pernah terganggu akibat salah dan khilah dalam pergaulan, pertemanan, dan pembicaraan.

 

Meminta maaf, sering kali dianggap hal sederhana. Bahkan tidak sedikit yang menganggap sepele. Sehingga meminta maaf atau bermaaf-maafan jadi kehilangan maknanya. Padahal sejatinya, meminta maaf itu penting bagi siapapun. Sebagai bukti bahwa tiap manusia pasti berbuat salah dan khilaf baik sengaja maupun tidak sengaja. Sekaligus menjadi introspeksi diri dalam memandang masalah atau perbuatan salah yang pernah dilakukan.

 

Sayangnya, banyak orang yang sulit berkata-kata soal cara meminta maaf. Bingung harus bagaimana cara meminta maaf. Tidak tahu cara yang tepat untuk memulai obrolan meminta maaf. Memang tidak mudah meminta maaf secara gentle, secara lapang hati dan ikhlas melakukannya. Apalagi di momen lebaran yang sakral seperti sekarang.

 


Meminta maaf adalah keharusan. Atas segala sikap dan perilaku salah dan khilaf yang pernah terjadi. Jadi, meminta maaf bukan hanya penting tapi wajib dilakukan. Tentu dengan ikhlas, tulus, dan lapang hati sebagai landasan moralnya. Untuk itu, kurang elok bila meminta maaf dengan 4 (empat) cara begini di momen lebaran:

1.      Meminta maaf tanpa meminta maaf. Entah akibat marah atau dendam, banyak orang yang merasa meminta maaf tanpa meminta maaf. Tidak ada kata-kata atau tindakan bersalaman yang dilakukannya kepada orang yang mau diminta maaf atau dimaafkan? Jadi, meminta maaf ya harus dikatakan atau dilakukan.

2.      Meminta maaf tapi masih membenarkan sikap salahnya. Karena masih ada saja orang yang meminta maaf lalu menjelaskan perbuatan salahnya yang lalu. Meminta maaf tapi masih menyalahkan orang lain. Minta maaf ya minta maaf saja, tanpa alasan apapun. Apalagi masih mengungkit kesalahan orang lain padanya.

3.      Meminta maaf tapi bertele-tele. Tidak ada kata-kata yang terus terang dalam meminta maaf.
Seperti meminta maaf melalui WA atau SMA padahal harusnya bisa bertatap-muka alias ketemu. Meminta maaf secara tersirat padahal bisa bertemu langsung.

4.      Meminta maaf sambil menyakiti lagi. Saat momen lebaran memang meminta maaf tapi di saat yang sama langsung menyakiti orang lain lagi dengan cara berkata-kata yang buruk atau berperangai tidak baik saat silaturahim lebaran.

 

Sekali lagi, kurang elok meminta maaf di momen lebaran dengan 4 cara di atas. Meminta maaf ya meminta maaf saja tanpa alasan apalagi pembenaran sikap dan perilaku salah. Mungkin, pengakuan atas kesalahan yang terjadi boleh saja tidak diakui. Tapi saatnya meminta maaf ya dilakukan saja secara ikhlas dan tulus. Bila tidak mampu menyebutka kesalahannya, maka cukup berkata “meminta maaf”.

 

Meminta maaf juga tidak harus berpelukan. Cukup meminta maaf dengan kata-kata atau sambil bersalaman. Dan yang paling penting, bila sudah meminta maaf ya jangan berbuat lagi kesalahan yang sama. Jangan mengulangi kesalahan yang sudah diminta maaf.

 

Karena siapapun saat meminta maaf, tidak lagi diperlukan. Soal siapa yang salah siapa yang benar. Cukup meminta maaf saja. Salam literasi!

 

Literasi Capres 2024, 5 Ketakutan Saat PDIP Umumkan Capres Sehari Jelang Lebaran?

Teka-teki soal siapa calon presiden (capres) yang diusung PDIP sudah jelas. Kemarin (21/4/2023), Ganjar Pranowo yang kini Gubernur Jawa Tengah sekaligus kader PDIP “ditugaskan” sebagai calon presiden PDIP untuk pilpres tahun 2024. Soal siapa cawapres-nya atau bagaimana kans-nya menang di pilpres tahun depan, tentu saya tidak tertarik. Karena saya bukan pengamat politik, bukan pula peramal. Biarlah diskursus soal Ganjar sebagai capres PDIP jadi bahan ocehan dan obrolan orang-orang “sok tahu”. Mereka yang sekolahnya bukan politik tapi saat ngomong politik seperti ahli politik. Iya nggak?

 

Justru ada yang saya takutkan saat PDIP umumkan capres Ganjar sehari sebelum lebaran. Pengumuman capres di Hari Kartini. Takut dan khawatir sebagai rakyat biasa yang telah sebulan penuh berpuasa. Takut karena silaturahim “hari kemenangan” Idul Fitri jadi bergeser tidak lagi semenarik tahun-tahun kemarin. Untuk saling bermaaf-maafan sambil bersenda-gurau.   

 

Deklarasi capres 2024 yang terlalu “wow”. Sehingga bisa menyita perhatian dari banyak pihak. Bahkan mengundang julid bagi lawan politik dan kroni-kroninya. Apalagi diumumkan sehari jelang lebaran, setidaknya ada 5 (lima) sebab ketakutan saya saat PDIP umumkan capres Ganjar Pranowo sehari jelang lebaran, yaitu:

1.      Obrolan hari lebaran tidak lagi soal opor ayam dan ketupat. Kumpul lebaran jadi ngobrolin kandidat capres Ganjar Pranowo dan tetek-bengeknya. Suasana lebaran rasa politik, sedih.

2.      Jadi sedikit yang pamer baju baru dan aksesorinya. Ajang lebaran jadi kurang seru bila figur yang terbiasa pamer baju lebaran malah jadi “pindah topik” ngomongin capres. Lebaran jadi kurang senyum, sedih lagi.

3.      Cerita sudah lama tidak bertemu jadi tidak seru lagi. Karena berubah jadi bicara capres dan politik. Sehingga nggak bisa lagi bertukar cerita dan pengalaman selama tidak bertemu. Lebaran jadi kurang banyak cerita, sedih.

4.      Ajakan bisnis bareng jadi tertunda. Biasanya di momen lebaran ada saja kerabat dan rekan yang mengajak bisnis bareng atau jualan jadi “kalah” bahasan dengan capres yang baru diumumkan. Lebaran kok nggak ada bisnisnya, sedih banget deh.

5.      Topik obrolan rencana masa depan jadi terkalahkan. Baik orang tua ataupun anak muda dalam keluarga jadi nggak tertarik membahas rencana masa depan akibat ganti topik ke capres dan politik. Lebaran jadi ramai politik, sedih banget. 

 


Mungkin saya lebay, karena punya ketakutan yang berlebihan soal capres di PDIP. Tapi sebagai ekspresi pikiran sih sah-sah saja. Karena memang sejak diumumkan kemarin, beberapa grup WA yang saya ikuti sudah ramai dan gaduh membahas soal Ganjar Pranowo. Akibat diumumkan sehari jelang lebaran. Maka patut diduga, saat lebaran hari ini banyak topik silaturahim lebaran yang akhirnya membahas “soal capres PDIP” sebagai obrolan utama. Bukan lagi soal opro ayan, ketupat, pamer baju baru, cerita lama, ajakan bisnis, atau rencana masa depan.

 

Tapi di luar itu semua, ketakutan saya yang paking penting adalah banyak orang yang pada lebaran kali ini lebih banyak dikuasai keinginan  atau angan-angan semata. Pengen ini pengen itu yang berlebihan. Sehingga lupa menjadikan lebaran sebagai momen untuk memperbaiki diri, baik kepada Allah SWT, kepada sesama, maupun kepada lingkungan sosial.

 

Seperti kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, "Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari Anda ada dua hal yaitu 1) terlalu banyak angan-angan dan 2) menuruti keinginan nafsu." Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. Salam literasi!

Senin, 17 April 2023

Setelah Berhasil Ibadah Puasa, Jangan Kotori Silaturahim Lebaran dengan Omongan Buruk

Ramadan sebentar lagi pergi, Berganti lebaran untuk saling memaafkan dan bersilaturahim. Seperti jutaan pemudik yang hatinya gembira menyambut “kemenangan berpuasa” di kampung halaman. Tapi sayangnya, tidak banyak orang memahami arti ibadah puasa dengan pas. Sehingga momen lebaran “dikotori” dengan hal-hal yang kurang berkenan.

 

Untuk itu, ada baiknya mempersiapkan diri untuk lebaran. Dengan niat dan hati yang bersih. Menyesuaikan pikiran dan perilaku yang toyibbah, yang baik lagi beradab. Silaturahim yang berkualitas, karena diisi dengan obrolan, sikap, dan perilaku yang menyenangkan orang lain. Bukan sebaliknya, momen lebaran yang “dikotori” dengan omongan buruk bahkan me-roasting saudara-saudara atau orang-orang yang memang niatnya mulia. Untuk silaturahim dan saling memaafkan atas ucapan dan perilaku yang salah.

 

Silaturahim yang positif. Idul fitri yang membaikkan, dan halal bihalal yang menjadi ladang amal untuk semuanya. Bukan justru bergibah, bergosip, atau membuat orang lain justru tidak nyaman di kehadirannya. Membuang jauh-jauh kata-kata yang negatif, kalimat-kalimat yang tidak bermutu. Bahkan obrolan yang tidak ada gunanya. Untuk lebih melapangkan hati dan pikiran menerima siapapun apa adanya. Karena hati yang bersih pun harus tercermin dari sikap dan perilaku yang tidak menyakitkan orang lain.

 


Silaturahim dan idul Fitri yang tetap mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Mampu memisahkan kebenaran dan kebatilan. Seperti wasiat Umar bin Khattab yang dijuluki sebagai Al-Faruq tentang 6 wasiat dalam hidup manusia, yaitu:

1.    Bila kamu menemukan cela pada seseorang dan hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.

2.    Bila kamu hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya selain perutmu sendiri.

3.    Bila kamu hendak memuji seseorang, maka pujilah Allah SWT. Karena tidak seorang pun yang lebih banyak memberi dam lebih santun kepadamu selain Allah SWT.

4.    Bila kamu ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila kamu meninggalkan dunia berarti kamu terpuji.

5.    Bila kamu bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika kamu tidak bersiap untuk mati, kamu akan menderita, rugi, dan penuh penyesalan.

6.    Bila kamu ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena kamu tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

 

Jadikanlah lebaran dan Idul Fitri sebagai momen untuk memperbaiki diri. Momen untuk meningkatkan kualitas pikiran, sikap, dan perilaku yang lebih disukai Allah SWT. Sebagai cerminan kemenangan ibadah puasa. Bukan sebaliknya, puasa yang tidak mampu mengubah apapun dalam diri sendiri. Kecuali hanya ritual menahan lapar dna haus semata.

 

Sungguh, lebaran dan ibadah puasa sangat efektif. Bila mampu menjadikan siapapun lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya.  Sambil mengingat 6 wasiat Umar bin Khattab. Agar esok, kita menjadi lebih baik. Salam literasi