Kesalahan bukan hanya milik orang lain kepada kita. Tapi kita juga sering salah terhadap diri sendiri. Ada banyak banyak hal yang belum tercapai, banyak rencana yang tertunda. Dan banyak pula salah serta penyesalan yang diam-diam disimpan. Karenanya di momen lebaran, aku mencoba menerima dan mengakuinya. Bahwa hidup memang tidak harus selalu sempurna, selalu ada salah yang diperbuat pada diri sendiri.
Aku belajar memaafkan bukan hanya orang lain tapi diri sendiri. Kalimat
itu memang sederhana, tapi dalam sekali maknanya. Memaafkan diri sendiri justru
lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Kenapa? Karena kita hidup dengan
diri kita setiap hari. Kita ingat kesalahan, kegagalan, keputusan yang keliru, bahkan
hal-hal kecil yang orang lain mungkin sudah lupa tapi kita masih menyimpan
rapat. Salah kita, bukan salah orang lain.
Dalam hidup dan hari-hari kemarin, ada hal-hal yang sudah terjadi
dan tidak bisa diubah. Memaafkan diri sendiri berarti berhenti terus-menerus
menghukum diri atas apa yang sudah lewat. Bukan melupakan, tapi menerima bahwa
saat itu kita bertindak dengan kemampuan dan pemahaman yang kita punya. Selalu
ada potensi salah dan khilaf. Maka aku belajar memaafkan bukan hanya orang lain
tapi diri sendiri. untuk berdamai dengan masa lalu.
Memaafkan diri sendiri berarti melepaskan rasa bersalah yang
berlebihan. Rasa bersalah itu manusiawi, tapi kalau terus disimpann akan berubah
jadi beban. Memaafkan diri sendiri adalah memberi ruang untuk bernapas: mengakui
salah tapi tidak menjadikannya identitas diri. Siapapun pasti dan pernah
berbuat salah, maka maafkanlah. Kita juga layak diperlakukan dengan baik. Seringkali
kita sangat baik pada orang lain, tapi keras pada diri sendiri. Padahal, diri
kita juga butuh dimengerti. Memaafkan diri sendiri berarti memperlakukan diri
dengan empati yang sama seperti kita memperlakukan orang yang kita sayangi.
Memaafkan diri sendiri, membuka jalan untuk melangkah lagi. Selama
kita belum memaafkan diri sendiri, maka kita cenderung tertahan. Takut mencoba
lagi, takut gagal lagi dan penuh rasa khawatir. Padahal hidup terus berjalan.
Memaafkan diri sendiri itu seperti membuka pintu yang lama terkunci.
Setelah memaafkan diri sendiri, kemudian memaafkan orang lain. Apapun
bentuknya dan perlakuannya. Fitnah, ghibah, kezoliman bahkan sikap merendahkan
dari orang lain di masa lampau biarkan dan maafkanlah. Diminta atau tidak
diminta, maafkanlah. Sebagai bentuk kelapangan hati dan sikap sabar yang utuh. Sebab
dalam hidup, lebih baik fokus memperbaiki diri daripada menghitung kesalahan
orang lain. Lapang dada dan lapang hati atas setiap perlakuan orang lain.
Aku belajar memaafkan bukan hanya orang lain tapi diri sendiri. Sebuah
spirit momen lebaran atau idul fitri yang maknanya jadi lebih kuat. Kita saling
memaafkan dengan orang lain, tapi sering lupa bahwa ada “diri sendiri” yang
juga menunggu dimaafkan. Karena pada akhirnya, hati yang benar-benar lapang itu
bukan hanya yang sudah memaafkan orang lain. Tapi juga hati yang sudah berhenti
memusuhi dirinya sendiri. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.
.jpg)
%20rev.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar