Selasa, 06 Mei 2025

Literasi Pensiunan: Gaji Sih Besar Saat Kerja Tapi Merana di Masa Pensiun

Namanya Pak Syarif, karyawan tetap di sebuah perusahaan telekomunikasi ternama di Jakarta. Setiap bulan, gajinya mencapai Rp20 juta, cukup besar untuk ukuran staf senior. Biar cuma stafm gaya hidupnya tergolong mentereng. Kantornya megah, mobilnya mentereng, dan makan siang hampir selalu di restoran. Jarang di kantin kantornya.

 

Pak Syarif, setiap gajian, uangnya langsung mengalir ke berbagai kebutuhan: cicilan rumah, mobil, untuk biaya anaknya sekolah dan kebutuhan bulanan. Makannya pun tergolong enak. Dia menabung tapi untuk liburan ke Bali atau belanja online. Pak Syarif nyaman banget saat bekerja, segalanya tercukupi. Merasa aman, karena baginya "hidup kan harus dinikmati, bukan untuk dihitung-hitung."

 

Suatu kali, ketika koleganya mulai ikut dana pensiun sukarela (DPLK) dan mengatur tabungan untuk hari tua, ia tertawa kecil. "Ah, masih lama pensiun mah. Nanti juga ada pesangon dari kantor dan Jaminan Hari Tua BPJS, kan?" katanya membatin.

 

Waktu memang berjalan cepat. Tak terasa, usia Pak Syarif sudah menyentuh 55 tahun. Dia dipanggil HRD untuk menerima surat pensiunnya. Sekaligus dia menerima uang pesangon sebagai penghargaan atas masa kerjanya. Tapi uang pesangon langsung dipakai untuk melunasi utang dan sisa cicilan. Tak ada tabungan yang besar. uang JHT pun “terpaksa” harus dirit-irit untuk menutupi biaya bulanannya setiap bulan. Pak Syarif “terpaksa” harus disiplin mengandalkan hidup dari uang JHT yang dipunya walau tidak besar.  Bila untuk 60 bulan ke depan, kira-kira dia hanya bisa memgambil Rp800 ribu per bulan. Sudah tentu, tidak cukup untuk keuarganya. Untuk makan harian dan bayar listrik sudah pas. Apalagi bila dibandingkan gajinya waktu bekerja yang Rp. 20 juta, sudah pasti standar hidupnya di masa pensiun jadi menurun drastis.

 


Apa yang terjadi setelah lima tahun pensiun? Kini Pak Syarif tinggal di rumah anaknya di Bojong Gede, Bogor. Hidupnya di hari tua jauh dari gemerlap kota yang dulu ia kenal saat masih bekerja. Istrinya pun sering mengeluh soal belanja, sementara anak-anaknya sibuk dengan kehidupan masing-masing. Saat anaknya diminta bantuan pun, jawabnya enteng “lagi nggak ada uang, buat keperluan sendiri” kata anaknya.

 

Tidak tahan kondisi ekonominya yang kian merosot. Pak Syarif mencoba melamar kerja lagi, tapi usianya dianggap "sudah lewat." Tidak ada perusahaan yang tertarik mempekerjakan pensiunan tanpa tabungan. Sehebat apapun saat masih bekerja, kini ia hanya menyesali, kenapa dulu saat bekerja tidak ikut dana pensiun?

 

Setiap malam Pak Syarif termenung, menatap rembulan. Sambil mengenang masa lalu: "Dulu, kalau saja aku sisihkan 10% gajiku untuk dana pensiun... hidupku tak akan begini." Da kini, ia hanya bisa bertahan dengan uang Rp800 ribu per bulan yang dipakai untuk memenuhi biaya hidupnya di hari tua. Tabungannya tidak bisa diambil dengan boros, karean akan mengganggu kehidupan di bulan-bulan berikutnya. Pak Syarif, hanya kisah pensiunan yang sengsara di hari tua. Sementara gaji besar saat bekerja tinggal kenangan.

----

Dari kisah Pak Syarif, ternyata gaji besar tidak menjamin hari tua yang sejahtera. Tanpa perencanaan pensiun sejak dini, masa pensiun bisa jadi masa penderitaan. Untuk apa gaji besar saat bekerja bila akhirnya sengsara di masa pensiun.

 

Jadi untuk siapapun yang saat ini sedang bekerja dan pasti akan pensiun, cepat atau lambat. Silakan tentukan mau seperti apa kita di masa pensiun? Karena pensiun bukan soal waktu tapi soal keadaan. Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM



Senin, 05 Mei 2025

Dracula di Taman Bacaan, Takut Gagal?

Kawan saya cerita, dia takut gagal mau usaha. Mau begini mau begitu, semuanya takut gagal. Akhirnya, sudah 6 tahun lebih, dia tidak mengerjakan apapun. Yah, begitu-begitu saja atau begini-begini saja. Karena takut gagal.

 

Banyak orang sudah lupa. Bahwa kegagalan seringkali menjadi guru yang lebih jujur dan mendalam daripada keberhasilan. Saat kita gagal, justru kita terdorong untuk merenung, mengevaluasi, dan memahami apa yang salah. Kegagalan memaksa kita untuk belajar dengan sungguh-sungguh, mengasah ketekunan, dan memperkuat karakter. Bisa belajar tentang sabar dan apa artinya berjuang. Dalam proses itulah, pertumbuhan sejati sebenarnya terjadi.

 

Sebaliknya, ketika kita berhasil, sering kali kita terbuai dalam rasa puas dan merasa tidak perlu berubah. Jadi tinggi hati, dan paling fatal jadi tidak mau belajar lagi. Akhirnya, keberhasilan bisa membuat kita lengah, bahkan terkadang menutupi kesalahan yang sebenarnya ada. Hanya saja belum terlihat akibat hasil yang tampak baik. Karena itu, keberhasilan tidak selalu mengajarkan banyak hal, kecuali jika kita menyikapinya dengan rendah hati, tetap kritis, dan mau belajar terus.

 


Bram Stoker, penulis Irlandia yang terkenal “Dracula” pernah menegaskan jangan takut gagal, karena justru di situlah pembelajaran dan kedewasaan dibentuk. Kegagalan bukan akhir, tapi bagian penting dari perjalanan untuk menjadi lebih baik. Dan sering kali, pelajaran terpenting dalam hidup datang dari momen ketika kita jatuh, bukan saat kita berada di puncak. Gagal itu biasa, bahkan jadi hikmah untuk terus berbuat lebih baik.

 

Seperti berkiprah di taman bacaan, jangan takut gagal. Pasang surut pasti dialami pegiat literasi. Tidak ada taman bacaan yang bagus atau jelek, semuanya sedang berjuang untuk menegakkan kegemaran membaca masyarakat. Bisa jadi hari ini berhasil, besok gagal atau sebaliknya. Karena memang, tidak ada teori paling benar di taman bacaan. Yang ada, semua taman bacaan sedang berjuang di jalannya masing-masing. TBM di mana pun, wilayahnya beda, audiens beda, fasilitas beda, jumlah buku beda, dan pasti cara mengelolanya pun beda. Tidak ada TBM yang gagal, yang ada hanya diurus atau tidak diurus? Begitu kira-kira, maka jangan takut gagal di manapun. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen



Saat Indeks Literasi dan Inklusi Dana Pensiun Turun, Inilah yang Harus Dilakukan?

OJK dan BPS baru saja merilis Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat sebagai hasil Survei Nasional Literasi Dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025. Kabar gembiranya, secara umum, indeks literasi dan inklusi keuangan Masyarakat mengalami peningkatan. Indeks literasi keuangan meningkat jadi 66,46% dari tahun sebelumnya 65,43%, sedangkan indek inklusi keuangan meningkat jadi 80,51% dari tahun sebelumnya 75,02%. Okelah, tingkat literasi meningkat 1% dan inklusi melonjak 5%. Patut diapresiasi.

 

Bagaimana dengan tingkat literasi dan inklusi dana pensiun? Nah, ini menarik dicermati. SNLIK tahun 2025 ini menyebut tingkat literasi dana pensiun berada di level 25,79%, sedangkan tingkat inklusi dana pensiun di 5,37%.  Bila dibandingkan dengan tingkat literasi dana pensiun tahun 2019 yang mencapai 14,13% dan tahun 2022 sebesar 30,46%, sedangkan tingkat inklusi dana pensiun di tahun 2019 mencapai 6,18% dan di tahun 2022 berada di 5,37%. Artinya, dapat dikatakan tingkat literasi dan inklusi dana pensiun menurun. Tingkat literasi turun (2,67%), sedangkan tangkat inklusi dana pensiun turun (0,05%). Dengan begitu, dapat dikatakan dari 10 orang Indonesia, hanya 2,5 orang yang “tahu” dana pensiun dan hanya 0,5 (setengah) orang yang “punya” dana pensiun. Tiap 10 orang Indonesia tidak sampai 1 orang yang punya dana pensiun.

 

Hasil SNLIK tahun 2025 khusus dana pensiun menunjukkan industri dana pensiun punya “pekerjaan rumah” yang sangat besar untuk melakukan edukasi dan kampanye akan pentingnya dana pensiun ke masyarakat. Edukasi tidak boleh “setengah hati”, harus berani ditingkatkan secara masif dan berkelanjutan. Agar publik terfasilitasi untuk tahu dan punya dana pensiun.  Dapat diduga, menurunnya tingkat literasi dan inklusi dana pensiun tahun 2025 disebabkan karena peserta dana pensiun yang “sudah memasuki usia pensiun” yang berarti mengambil manfaat pensiun semakin banyak, sementara “kepesertaan baru” dana pensiun tidak banyak, kurang dari peserta yang mengambil manfaat pensiunnya.

 

Untuk bisa tumbuh ke depan, industri dana pensiun lagi-lagi harus meningkatkan edukasi yang massif dan berkelanjutan, di samping menyediakan akses digital agar masyarakat mudah membeli dana pensiun, khususnya DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Hal ini sesuai dengan survei  Syarifudin Yunus, edukator dana pensiun DPLK SAM tentang “Persepsi dan Preferensi Pekerja Biasa Terhadap Dana Pensiun Sebagai Perencanaan Hari Tua” yang diterbitkan  jurnal publikasi ilmu manajemen Politeknik Pratama (11 April 2025)  yang menyiimpulkan: bahwa 64% pekerja belum memiliki tabungan pensiun sebagai wujud kurangnya kesadaran terhadap perencanaan keuangan di hari tua dan 51% pekerja lebih memilih membeli dana pensiun secara online. Tingkat persepsi dan preferensi terhadap dana pensiun di kalangan pekerja masih rendah, sekalipun 77% pekerja menyatakan hanya mampu menabung maksimal Rp500.000 per bulan untuk keperluan pensiun. Rendahnya kesadaran, pendapatan yang terbatas, serta persepsi akan kompleksitas dalam mengakses dan memahami produk dana pensiun masih menjadi masalah di dana pensiun. Karena itu, kampanye edukasi yang masif dan berkelanjutan mengenai pentingnya perencanaan pensiun sangat diperlukan, di samping ketersediaan akses digital dana pensiun untuk meningkaktkan inklusi dana pensiun dengan menyederhanakan proses pembelian. Dana pensiun, jika dipromosikan dan dapat diakses dengan mudah, berpotensi menjadi instrumen yang layak untuk menjamin keberlanjutan pendapatan pekerja di masa pensiun (Simak link penelitian: https://ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/jupiman/article/view/5002).

 


Dalam Peta Jalan Dana Pensiun 2024-2028, OJK menargetkan indeks literasi dan inklusi dana pensiun masing-masing meningkat 5% tiap tahun. Sedangkan untuk mempermudah akses dana pensiun, dalam rentang 2024-2025 ditargetkan 50% DPPK dan 75% DPLK telah memiliki aplikasi program pensiun dan sebanyak 50% DPLK telah memiliki saluran pemasaran digital. Karena itu, diperlukan monitoring khusus untuk memantau implementasi dana pensiun secara digital, sudah sampai mana progress-nya? Karena tanpa digiitalisasi dana pensiun, sangat sulit untuk bisa meningkatkan inklusi dana pensiun khususnya bagi pekera mandiri dan pekerja informal.

 

Tingkat inklusi dana pensiun yang menurun berarti semakin sedikit orang atau kelompok masyarakat yang memiliki akses atau menggunakan layanan dana pensiun. Implikasinya adalah risiko “jatuh miskinnya” pekerja di masa pensiun potensinya semakin besar, ketimpangan ekonomi meningkat pesat dan semakin sulit membangun daya beli dan  ketahanan keuangan di hari tua. Karena itu, dana pensiun harus menjadi pilihan dalam menjamin kesinambungan penghasilan pekerja di masa pensiun.

 

Patut menjadi evaluasi bersama. Selain kurangnya edukasi, penyebab turunnya tingkat inklusi dana pensiun bisa jadi dikarenakan susahnya akses, biaya, ketidakpercayaan terhadap institusi keuangan, dan regulasi yang belum cukup untuk mendukung segmen pekerja dan masyarakat yang dituju. Jadi, apa sih dana pensiun? Jawabnya adalah meningkatkan tingkat literasi dan inklusi dana pensiun itu sendiri di mata masyarakat. Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

 


Belajar Merasa Cukup dari Relawan TBM

Rasa tidak puas, memang sering muncul dari kurangnya sesuatu. Sering tidak puas hanya lahir dari hati yang tidak mampu merasa cukup. Merasa kurang, merasa apa yang diinginkan kok tidak tercapai?

 

Tidak pernah merasa cukup. Hingga lupa nikmatnya secangkir kopi hangat di pagi hari.  Hingga lalai dari indahnya senyuman orang-orang terkasih yang selalu ada di kala suka dan suka. Tidak puas karena hanya melihat nikmat yang dimiliki orang lain. Lupa pada nikmat yang dimiliki sendiri. Rasa tidak puas, akhirnya membuat kita lupa bersyukur. Wajar bila anugerah seluas apa pun yang diberikan-Nya, tetap saja merasa kurang. Kenapa sih sering merasa tidak puas?

 

Lupa ya, kepuasan sejati itu tidak dijual di luar. Rasa puas itu tumbuh dari dalam, saat kita mensyukuri yang ada dan dimiliki. Hidup tanpa rasa cukup adalah lomba yang tak pernah usai, selalu ingin lebih, lebih, dan lebih lagi tanpa sempat duduk menikmati langkah yang telah dilalui.

 


Adalah Epicurus, seorang filosof Yunani yang menyebut “bahagia bukan soal memiliki lebih, tapi bisa cukup dengan yang sederhana”. Pada setiap keadaan, bukan berarti kita menyerah tapi diperlukan sikap matang dalam memahami bahwa ketenangan tidak datang dari tumpukan harta, melainkan dari hati yang tahu cara menghargai nikmat hari ini, apapun bentuknya.

 

Seperti yang dilakukan relawan TBM Lentera Pustaka kemarin (4/5/2025). Setalah aktivitas di taman bacaan dan mengajar kaum buta aksara dari pagi hingga siang, sore harinya menjelajah “kampung baru” sebagai tempat operasi motor baca keliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka. Para relawan seakan tidak peduli keadaannya, mereka hanya bersyukur masih bisa sediakan akses bacaan ke anak-anak kampung. Relawan TBM hanya belajar merasa cukup, dari begitu banyak kekurangan yang ada. Tentu demi tegaknya kegemaran membaca dan budaya literasi masyarakat.

 

Maka pesan literasi hari ini, mungkin ada baiknya untuk bertanya bukan “Apa lagi yang harus kumiliki?” tapi “Apa yang sudah aku syukuri?”. Jadilah literat!

Minggu, 04 Mei 2025

Hasil Penelitian Dana Pensiun, Berapa Uang Pensiun Anda Besok?

Harus diakui, tidak banyak penelitian dana pensiun yang dilakukan di Indonesia. Bisa jadi, hal ini menjadi sebab penetrasi dana pensiun kurang optimal di kalangan pekerja dan masyarakat Indonesia. Selain berdasarkan fakta, sudah saatnya industri dana pensiun menjadikan hasil penelitian sebagai acuan untuk meningkatkan kepesertaan dan asset kelolaan industri dana pensiun. Menjadikan data dan riset sebagai basis pengembangan dana pensiun.

 

Salah satu penelitian dana pensiun telah terbit berjudul “Analisis Tingkat Penghasilan Pensiun (TPP) Pekerja dan Faktor yang Mempengaruhinya Serta Optimalisasi Peran Dana Pensiun Swasta di Indonesia” yang dilakukan oleh Syarifudin Yunus, dosen Universitas Indraprasta PGRI dan edukator dana pensiun dari DPLK SAM (Sinarmas Asset Management), yangterbit pada 3 Mei 2025 di Lokawati  (Jurnal Penelitian Manajemen dan Inovasi Riset).

 

Hasil penelitian Syarifudin Yunus menyimpulkan bahwa Tingkat Penghasilan Pensiun (TPP) yang diterima pekerja saat pensiun hanya 10% dari gaji terakhir yang diperoleh dari program pensiun wajib, terjadi penurunan penghasilan sebesar 90% dari gaji terakhir saat masih bekerja. Kebutuhan biaya hidup bulanan pensiunan di masa pensiun (makan, belanja bulanan, biaya air - listrik, internet, gaya hidup, asuransi kesehatan, dan lain-lain) diperoleh data sebesar Rp5.600.000,- atau setara 56% dari gaji terakhir per bulan. Maka secara aktual, tingkat penghasilan pensiun (TPP) pensiunan di Indonesia terjadi kesenjangan sebesar Rp4.600.000,- atau kurang 46% dari gaji terakhir per bulan. Kondisi ini menjadi penyebab pensiunan gagal mempertahankan standar hidup di hari tua, di samping mengalami masalah keuangan di masa pensiun.  

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya TPP seseorang terdiri dari: 1) jenis pekerjaan, 2) program pensiun yang diikuti, 3) masa kerja dan besaran gaji, 4) tingkat return investasi dari program pensiun, 5) regulasi pemerintah, 6) faktor ekonomi makro dan inflasi, 7) kondisi kesehatan pensiunan, 8) tanggung jawab keluarga, dan 9) edukasi dana pensiun sangat menentukan besar kecilnya tingkat penghasilan pensiun. Oleh karena itu, optimalisasi dana pensiun swasta penting dilakukan dalam meningkatkan TPP sebagai jaminan penghasilan di masa pensiun dan menciptakan kemandirian finansial di hari tua, di samping peningkatan kualitas hidup.

 


Untuk itu, dana pensiun swasta, harus dikelola secara lebih optimal untuk meraih kinerja investasi yang signifikan, meningkatkan literasi dana pensiun, menyasar pekerja formal dan informal serta diversifikasi produk dan layanan yang memadai melalui digitalisasi akses dan layanan dana pensiun untuk mendorong kepesertaan dana pensiun swasta yang tumbuh secara signifikan. Tingkat Penghasilan Pensiun atau replacement ratio adalah besaran persentase dari gaji terakhir yang dibutuhkan seseorang untuk mempertahankan gaya hidupnya di masa pensiun. Idealnya, TPP berada di kisaran 70%-80% dari gaji terakhir untuk memastikan kesejahteraan finansial. Namun, banyak pekerja di Indonesia yang belum mencapai angka tersebut, karena TPP aktual hanya sekitar 10% dari gaji terakhir, yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa pensiun.

"Cukup mengenaskan sih, tingkat penghasilan pensiun orang Indonesia hanya 10% dari gaji terakhir. Saat kerja berjaya tapi begitu pensiun merana. Harusnya siapkan dana pensiun sejak dini" ujar Syarifudin Yunus, peneliti dana pensiun saat merilis hasil penelitiannya.

Secara lebih lengkap tentang hasil penelitian terbaru tentang “Analisis Tingkat Penghasilan Pensiun (TPP) Pekerja dan Faktor yang Mempengaruhinya Serta Optimalisasi Peran Dana Pensiun Swasta di Indonesia” yang dilakukan Syarifudin Yunus, dapat disimak melalui link berikut: https://journal.arimbi.or.id/index.php/Lokawati/article/view/1709.

 

Terbukti, kesiapan finansial pekerja atau masyarakat Indonesia saat menghadapi masa pensiun tergolong rendah. Beberapa fakta yang menggambarkan rendahnya kesiapan pensiun antara lain: 1) mayoritas pekerja tidak siap pensiun, 2) kurangnya tabungan pensiun, 3) literasi keuangan rendah, 4) inflasi dan biaya hidup, dan 5) kesenjangan tingkat penghasilan pensiun.  Maka untuk meningkatkan kesiapan finansial di masa pensiun, pekerja atau masyarakat perlu mulai menabung sejak dini untuk hari tua, meningkatkan literasi keuangan khususnya dana pensiun, dan memanfaatkan program pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) sebagai program kesinambungan penghasilan di masa pensiun.

 

Mungkin, sudah saatnya penelitian dana pensiun diperbanyak, di samping mengembangkan oenetrasi bisnis dana pensiun berbasis riset dan data. Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #PenelitiDanaPensiun



Literasi Dana Pensiun, Akibat Pekerja Tidak Punya Dana Pensiun?

Entah kenapa, banyak orang yang bekerja kesannya meremehkan program pensiun? Seakan-anak karena pensiun masih lama, lalu tidak mau mempersipakan masa pensiunnya. Ditanya kenapa tidka menabung untuk hari tua? Katanya gajinya pas-pasan, tidak tahu manfaat dana pensiun, dan segudang alasan lainnya. Begitulah faktanya hari ini, banyak orang tidak mau mempersiapkan masa pensiun atau hari tua. Ini kisah fiktif di hari tua yang patut menjadi Pelajaran.

-----

 

Di sebuah pinggiran kota Jakarta, hiduplah seorang pria bernama Pak Wiryo, usianya 61 tahun. Dahulu ia adalah pegawai perusahaan swasta, bekerja dari pagi hingga malam selama lebih dari tiga dekade. Ia rajin, tidak pernah absen, dan selalu menerima gaji bulanan dengan rasa syukur.

Namun, satu hal yang tidak pernah ia pikirkan: masa tua.

 

Semasa muda, Pak Wiryo merasa tubuhnya kuat dan penghasilannya cukup. Saat bekerja ia sangat gagah dan energik. Ia menikah, membesarkan tiga anak, dan menghabiskan sebagian besar uangnya untuk kebutuhan sehari-hari dan sedikit untuk bersenang-senang. Ia tidak memiliki “jaminan hari tua”, apalagi dana pensiun. Sama sekali tidak ikut program dana pensiun swasta, apalagi menabung secara rutin.

“Aku ini orang sederhana, nggak usah mikir pensiun segala. Asal bisa makan dan anak sekolah, sudah cukup,” begitu katanya dulu kepada rekan kerjanya yang mencoba mengajak ikut program pensiun.

 

Waktu berlalu. Usia pun menua. Perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar saat ia berumur 52 tahun. Tidak ada pesangon. Tidak ada uang pensiun. Ia hanya bisa termenung saat kantornya tutup. Tidak ada tabungan untuk masa pensiunnya.

 


Anak-anaknya kini tinggal jauh, hidup pas-pasan dengan keluarganya masing-masing. Sesekali mengirim uang, tapi tidak cukup untuk kebutuhan harian Pak Wiryo dan istri di usia tua. Kini, setiap pagi, Pak Wiryo berjalan kaki menjajakan gorengan buatan istrinya ke warung-warung sekitar rumahnya. Terkadang hasilnya hanya cukup untuk makan nasi dan tempe. Kadang-kadang, harus berpuasa. Yang paling menyakitkan baginya adalah saat tubuh mulai rapuh. Kaki sakit, penglihatan kabur, dan batuk tidak kunjung reda. Tapi berobat bukan prioritas, karena uang tidak punya. Ia hanya bisa menatap langit sore dari beranda depan rumahnya, berharap ada keajaiban di hari esok.

“Seandainya dulu aku menabung untuk masa pensiun, mungkin sekarang aku tidak harus menjual gorengan saat tubuhku sendiri sudah melemah,” gumamnya pelan.

 

Di senja yang masih rerik Pak Wiryo terduduk tanpa sandaran. Hari tua yang tidak punya pegangan secara finansial. Pak Wiryo telah memberi pelajaran yang mahal: masa tua adalah masa yang sangat nyata, dan tanpa persiapan, hidup bisa menjadi begitu sunyi dan berat.

----

Selain berhemat, mulialah menabung sejak dini untuk masa pensiun. Karena kita tidak pernah tahu akan seperti apa di hari tua? Lebih baik “sedia paying sebelum hujan”. Semakin awal kita mulai menabung untuk pensiun, semakin besar dana yang bisa terkumpul berkat hasil investasinya. Iya nggak? Salam #Yuk Siapkan Pensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

 

 

Mengenal Program KEPRA (KElas PRAsekolah)TBM Lentera Pustaka, Seperti Apa?

Saat ini ada fenomena siswa SD atau SMP tidak lancar membaca atau belum bisa membaca, utamanya terjadi di daerah-daerah. Karena itu sejak tahun 2020, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menjalankan program KElas PRAseskolah (KEPRA), bukan PAUD ya.  Setiap Selasa dan Kamis siang pukul 14.00 WIB, aktivitas KEPRA (KElas PRAsekolah) diikuti sekitar 50-an anak usia prasekolah dari 4 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajadi, Sukajaya) Kec. Tamansari Kab. Bogor. Semaraknya lagi, aktivitas KEPRA menjadi “daya tarik” sendiri bagi kaum Ibu untuk mengantar anaka ke TBM, di samping menjadi “kekuatan baru” TBM Lentera Pustaka.

 

KEPRA TBM Lentera Pustaka terdiri dari 2 kelas yaitu Kelas A (anak yang mau masuk SD) dan B (anak yang umur 3-4th). Selain melatih mental belajar dan bermain bersama, anak-anak KEPRA belajar "calistung", dengan tujuan mempersiapkan anak-anak untuk masuk ke jenjang pendidikan formal. KEPRA TBM Lentera Pustaka lebih menekankan aspek mental dan kreativitas anak sebagai pengembangan sosial dan emosional seperti bermain, bernyanyi, atau memperkenalkan konsep dasar seperti warna, bentuk, angka, dan alfabet. Aktivitas JEPRA juga membantu anak-anak belajar berinteraksi dengan teman sebaya dan mengenal lingkungan sekitar. Siapapun yang mau bergabung di KEPRA TBM Lentera Pustaka pasti gratis dan dibimbing langsung oleh wali baca TBM Lentera Pustaka.

 


Bagaimana anak-anak usia sekolah? Untuk anak-anak usia sekolah SD, SMP, SMA dapat bergabung di program TABA (TAman BAcaan) yang setiap Rabu-Jumat setelah ashar datang ke TBM untuk membaca buku. Saat ini ada 180-an usia sekolah tercata sebagai pembaca aktif di TBM Lentera Pustaka, selain menjadikan TBM sebagai tempat aktualisasi diri dengan teman sebaya. Tentu, tidak perlu diceritakan apa pentingnya membaca buku? Kemarin sempat viral ketika siswa SMP di suatu daerah belum lancar membaca, mungkin karena tidak dibiasakan dekat dengan buku atau membaca di luar jam sekolah. Dari situ, kita belajar bahwa "membaca itu penting".

 

Pada setiap Minggu pagi, anak-anak TABA dan KEPRA secara bersama-sama ada di TBM Lentera Pustaka, untuk melakukan aktivitas Bersama “Laboratorium Baca” yang dibimbing langsung belasan  relawan aktif TBM Lentera Pustaka.

 

Kenapa TBM Lentera Pustaka melakukan itu semua? Jawabnya sederhana, sebagai bukti nyata atas kepedulian dan tanggung jawab sosial untuk meningkatkan kegemaran membaca anak-anak usia sekolah, di samping menjadikan taman bacaan sebagai ladang amal. Alhamdulillah, TBM Lentera Pustaka masih dikelilingi orang-orang baik yang selalu mendukung aktivitasnya, baik dari segi biaya operasional, donasi buku, masyarakat yang antusiasi, dan relawan yang memiliki komtmen sepenuuh hati. Salam literasi #KElasPRAsekolah #TAmanBAcaan #TBMLenteraPustaka



Sabtu, 03 Mei 2025

Menengok Soliditas Angkatan 90 Bahasa Indonesia FPBS IKIP Jakarta di Pengalengan

Alumni Angkatan 90 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKABINDO 90) menggelar "Silaturahmi dan Temu Kangen" dalam balutan kebersamaan yang indah pada 3-4 Mei 2025 di Pengalengan Bandung Jabar. Diikuti 30 alumni Angkatan 90 yang dikomandoi Keyis, Widia, dan Aji, acara ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan setelah berjuang bersama menyelesaikan studi 35 tahun lalu di kampus IKIP Jakarta.  Acara ini jadi bukti soliditas alumni Angkatan 90 Bahasa Indonesia FBS UNJ

 

Masa-masa belajar mengenal fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik menjadi perekat di antara Angkatan 90 yang kini sebagian besar berkiprah di dunia pendidikan. Saling bercerita kabar, kondisi keluarga hingga mengenang momen seru selama kuliah mampu melepas lamanya rasa tidak bertemu selepas kuliah dan bekerja. Ikut hadir pula Syarifudin Yunus, Ketua IKABINDO dan alumni BINDO Angkatan 89.

 

"Kita semua semoga bisa bertemu dalam keadaan sehat wal afiat. Semoga di usia seperti sekarang kita bisa lebih banyak silaturahim sambil bernostalgia dalam nuansa yang positif dan penuh tawa" ujar Widia.

 

Setelah menempuh perjalanan dari Kampus Rawamangun di Jakarta menuju Pengalengan, acara dimulai dengan makan siang bersama sambil ramah tamah. Di waktu sore, angkatan 90 mengikuti sesi Rafting di sungai Palayangan sambil menikmati keseruan adrenalin sepanjang 4,5km. Di malam hari, sambil ramah tamah, Angkatan 90 mengirimkan doa bagi rekan-rekan yang sudah meninggal dunia dan sedang sakit dan dilanjutkan bermain games dan tukar kado.

 


 Temu kangen Angkatan 90 ini  jadi momen silaturahim yang tidak terputus sekaligus mengenang masa-masa menimba ilmu di kampus IKIP Jakarta Rawamangun. Berkisah tentang masa-masa kuliah dan menjalani pertemanan dalam bingkai kebersamaan. 

 

"Wow, seneng banget bisa ketemu teman kuliah di Bahasa Indonesia IKIP Jakarta, sehat-sehat ya semua. Insya Allah kita tetap silaturahim" kata Kosasih, alumni Angkatan 90 di tempat rafting.

 

Bagi Angkatan 90 PBSI IKIP Jakarta, usia hanyalah angka tetapi menjadi muda adalah sikap. Karenanya, usia bukan penghalang untuk tetap merajut silaturahim. Semoga sehat selalu semuanya, alumni Angkatan 90 PBSI FPBS IKIP Jakarta. Bravo the story of Rawamangun!

Jumat, 02 Mei 2025

Catatan Literasi Hari Pendidikan Nasional

Agak susah mencari cara untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Terpaksa kurikulum digonta-ganti, akhirnya mebuang waktu untuk format kurikulum yang pas hingga efektivitas hasil pembelajaran. Temuan Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) mengungkap bahwa 70 persen siswa usia 15 tahun di Indonesia memiliki keterampilan yang rendah dalam membaca dasar dan menerapkan konsep matematika. Belum lagi soal Kurikulum Merdeka yang tidak tuntas dijalankan. Ditambah soal kompetensi guru yang masih jadi “pekerjaan rumah”. Belum lagisola takutnya guru mendidik siswa, akibat sering diadukan ke polisi. Itu hanya sebagain potret pendidikan di Indonesia kini.

 

Urusan pendidikan di era Presiden Prabowo pun diubah. Tadinya hanya 1 kementerian, sekarang dipecah jadi 3 kementerian (Dikdasmen, Diktisaintek, dan Kebudayaan). Digaungkan pula mmodel pendidikan “deep learning” sebagai orientasi pendidika yang menekanakn pembelajaranuntuk pemahaman mendalam dan aplikasi pengetahuan, termasuk AI (Artificial Intellegence). Belajar, katanya bukan sekadar hafalan tai harus mendorong siswa untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan memecahkan masalah nyata. Sangat ideal sekali.

 

 

 

Sungguh, mencari cara untuk membenahi dunia pendidikan di Indonesia memang tidak mudah. Dunia pendidikan makin dihadapi tantangan besar. Belum lagi mencari cara yang pas untuk merespons era digital. Berharap adanya kualitas pendidikan di Indonesia bisa jadi masih angan-angan. Terlalu banyak batu sandungannya, membuat dunia pendidikan terus-menerus jadi polemik. Mulai dari soal kekerasan di sekolah, kurikulum, kualitas guru, model pembelajaran, hingga korupsi di dunia pendidikan.

 

Suka tidak suka, ikhtiar memajukan Pendidikan di Indonesia harus terus didengungkan. Pendidikan yang mampu merespons otomatisasi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan adalah harga mati. Maka hanya pendidikan berbasis kompetensi, kreativitas, dan karakter yang kuat yang bisa mengimbangi laju era digital dan revolusi industri.

 

Tokoh revolusioner antiapartheid dan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela,  pernah berkata, "Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia." Bila setuju pernyataan itu, maka kita berharap di era Presiden Prabowo Indonsia  bisa membawa kemajuan bagi bidang pendidikan secara signifikan. Pendidikan bukan lagi sekadar seremoni atau formalitas, tapi tawuran, geng motor hingga kekerasan masih menghantui dunia pendidikan di Indonesia. Terus, mau dibawa kemana dunia Pendidikan kita?


Tiap tanggal 2 Mei, kita peringati Hari Pendidikan Nasional. Saya pun iap Hardiknas selalu membuat catatan kritis dunia Pendidikan. Harapannya, agar bisa jadi momentum semua pihak untuk berpikir ulang tentang cara memajukan pendidikan Indonesia. Pendidikan harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa. Pendidikan tidak bisa dipandang sebagai sebuah program semata. Semua elemen masyarakat harus terlibat untuk membenahi dan memajukan dunia pendidikan. Masyarakat harus merasa memiliki dunia pendidikan, pemerintah harus memfasilitasi, dunia bisnis harus peduli, pendidik dan anak didik harus menyadari makna pendidikan yang sebenarnya. Deschooling society, kata Ivan Illich.

 


Mungkin saat ini, “rasa memiliki” terhadap duniapendidikan harus dikampanyekan lagi. Sense of belonging di dunia pedidikan, agar semua pihak punya rasa yang terhubung, diterima, dan diakui untuk memajukan dunia pendidikan. Pendidikan menjadi “gerakan” yang bertumpu pada rasa memiliki dari semua pihak terhadap masa depan Pendidikan, bukan sekadar "program" yang dianggap sebagai kegiatan dan tanggung jawabnya terbatas pada para pelaksana pendidikan. Tapi, semua pihak harus mau dan bersedia menjadi bagian dari ikhtiar untuk menyelesaikan problematika pendidikan.

 

Hingga kini, saya sudah 31 tahun mengajar dan mendidik di Universitas Indraprasta PGRI. Sebagai kontribusi dan catatan kritis terhadap dunia pendidikan, saya pun punya tanggung moral untuk ikut berkontribusi dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Apa dasarnya, karena pendidikan adalah esensi kehidupan yang lebih baik di masa depan. Tanpa pendidikan, apapun dan siapapun akan hampa dan sulit untuk membangun peradaban yang baik. Karena itu, sebagai rekomendasi terhadap pemerintah di Hari Pendidikan Nasional, beberapa pikiran untuk membenahi pendidikan di Indonesia menjadi penting diprioritaskan, yaitu:

 

 

1.       Pembelajaran berbasis penguatan karakter siswa, tidak lagi bertumpu pada kecerdasan kognitif semata. Belajar yang mampu menanamkan integritas dan membangun spiritualitas siswa sebelum belajar.  

2.       Pengembalian tradisi belajar dan budaya akademik guru sebagai bagian untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuan mengajar yang sesuai perkembangan zaman dan teknologi. Guru jangan sibuk dengan administrasi dan kepangkatan semata.

3.       Perbaikan infrastruktur dan teknologi Pendidikan yang lebih baik dan adaftif, termasuk kecerdasan buatan yang menjadi bagian dari kurikulum.

4.       Kepemimpinan sekolah dan kampus yang mendukung peningkatan kualitas SDM secara lebih konlret, dengan memperharikan kesejangan antara harapan dan kenyataan di lapangan, termasuk melibatkan profesional dan kolaborasi dengan dunia usaha.

5.       Perbaikan kebijakan, prosedur, dan pendanaan yang efektif dan efisien di dunia Pendidikan, pemanfaatan anggaran pendidikan pun lebih efisien dan akuntabel.

 

Ke depan, pendidikan semestinya dipandang sebagai ikhtiar kolektif. Agar ada kesadaran akan makna pendidikan yang lebih berdaya guna dan upaya bersama untuk menyelesaikan problematika pendidikan. Semua elemen masyarakat harus terlibat dalam proses dan dinamika Pendidikan yang terjadi. Unutk menjaga Marwah penddiikan yang se Karena pendidikan bukan sekadar program, melainkan gerakan moral bersama untuk memajukan harkat dan martabat bangsa.

 

Di sisi lain, orientasi Pendidikan bukanlah mengejar kesempurnaan melainkan kesetaraan. Praktik dan perilaku belajar harus didorong untuk membangun kesetaraan, di samping kerjasama antar siswa. Belajar bukan sarana untuk mencapai nilai tinggi, melainkan untuk membangkitkan gairah siswa dalam belajar. Kegiatan belajar bukan bergantung pada “kunci jawaban”, tetapi bertumpu pada “pengertian”. Proses dalam belajar, bukan menuntut hasil belajar. Proses agar siswa berani bertanya dan tidak takut salah. Karena dengan cara itu, siswa akan mampu mengeksplorasi potensi diri, di samping dapat memacu kreativitas dalam belajar. Hingga berujung pada integritas dan karakter personal, sebagai buah dari belajar. Agar tidak lagi “tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak tahu banyak tentang satu hal”. Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Kamis, 01 Mei 2025

Catatan Literasi, Hidup Nggak Semudah yang Dibayangkan Loh

Faktanya, harapan sering kali nggak sesuai dengan kenyataan. Memang begitu, nggak semua yang kita inginkan dikabulkan-Nya. Apapun, kita hanya berencana. Tapi hasil, pasti Allah yang menentukan. Makanya, tenang dulu aja. Nggak usah gerasa-gerusu, nggak usah terlalu sedih bila nggak sesuai harapan. Hidup itu nggak semuadah yang dibayangkan, setuju nggak?

 

Ini kisah nyata. Dulu, saat TBM Lentera Pustaka didirikan tahun 2017, anak-anak yang mau bergabung hanya 14 anak. Susah ngajak anak-anak membaca sekalipun gratis. Nggak sedikit yang mencibir, bahkan mengganggu. Entah apa alasannya? Relawan nggak punya, kebun baca pun seadanya. Masalah silih berganti. Dan sebagai Pendiri TBM Lentera Pustaka, saya hanya menjalani aja pengabdian di taman bacaan. Terserah orang lain mau suka atau nggak suka, saya nggak peduli. Mau dibenci atau dipuji, TBM Lentera Pustaka hanya menjaga buat baik untuk sediakan akses bacaan ke anak-anak usia sekolah. Sekadar membatin, semua orang aja pasti punya masalah apalagi taman bacaan. Alhamdulillah setelah 8 tahun berjalan, kini TBM Lentera Pustaka melayani 223 anak dari 4 desa di Kec. Tamansari Kab. Bogor. Beroperasi 6 hari dalam seminggu, nggak kurang 360 orang bolak-balik ke TBM setiap minggunya plus didukung 6 wali baca dan 18 relawan aktif. Begitulah adanya berjuang di taman bacaan.

 

Ehh, tenang dulu aja saat punya masalah. Tenang aja karena gelisah itu tidak mengubah hasil. Apalagi marah-marah nggak akan pernah menyelesaikan persoalan. Menyalahkan orang lain atau memvonis diri sendiri buruk pun nggak akan menghentikan takdir-Nya. Apapun dan siapapun, sejatinya udah kehendak Allah. Tenang aja dulu, kata Allah, damaikan dulu hati kita, tenang. Percayalah, semua akan indah pada waktunya. Nggak ada kok masalah yang nggak bisa diselesaikan.

 

Tenang aja dulu. Karena boleh jadi, di balik yang kita tidak sukai hari ini ada sesuatu yang baik. Dan boleh jadi di balik yang kita idam-idamkan, yang kita pengen sekarang, yang disedihkan atau yang dipikir macam-macam itu semua justru yang terbaik bagi kita. Bisa jadi yang menurut orang lain kita gagal, justru itulah yang kurang cocok dengan kita. Justru yang ada sekarang, itulah yang pantas dan pas untuk kita. Sementara esok, kita nggak pernah tahu. Kecuali cukup ikhtiar yang baik dan doa yang banyak.

 

Tena


ng aja dulu. Karena Allah itu lebih tahu masa depan kita. Allah lebih paham, apa yang terbaik untuk kita? Kita boleh sekolah tinggi tapi hidup tetap ada di tangan-Nya. Sebab kita ini terbatas pengetahuannya, nggak mampu menduga apapun ke depannya selain berserah kepada-Nya. Sama sekali, kita nggak mampu mengendalikan apapun yang di luar kemampuan kita. Maka tenang dulu aja.

 

Nggak usah berpikir berlebihan. Nggak usah punya banyak harapan kepada manusia. Kerjakan saja yang baik dan tebarkan terus manfaat di manapun. Apapun yang hari ini menyenangkan kita, belum tentu besok masih cocok dengan kita. Apa yang membuat kita tersenyum hari ini, belum tentu akan berlanjut hingga besok. Begitulah hidup berputar, kita hanya bisa memperbaiki niat dan membaguskan ikhtiar. Nggak lebih nggak kurang, jadi nggak usah terlalu berlebihan soal apapun.

 

Mau apapun dan hingga kapanpun, tenang aja dulu. Semua akan indah pada waktunya kok. Dan semua hasil yang baik butuh proses yang nggak mudah. Tapi yakinlah “Allah pasti memberikan yang terbaik untuk esok dan masa depan kita”, itu sudah janji Allah. Apa masih belum percaya? Jadilah literat, salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen



Alumni Angkatan 86 SMPN 216 Gelar Halal Bihalal dalam Balutan Kebersamaan

Tahun 1986, di bilangan Salemba Raya. Tepatnya di SMP Negeri 216 Jakarta, hidup seorang siswa bernama Jaka. Rambutnya selalu dipotong cepak, bajunya dikeluarkan dan agak kusut, dan dia tidak pernah lepas dari tas selempang panjang yang penuh dengan coretan. Dia penggemar band the Beatles, kadang-kadang pindah ke Genesis.

 

Setiap pagi, Jaka datang paling awal. Maklum jam 07.00 WIB saat bel sekolah berbunyi, pintu gerbang sudah ditutup. Bukan karena Jaka rajin, tapi karena ingin duduk di bangku paling belakang, tempat strategis untuk menyembunyikan buku “Enny Arrow” di balik buku PSPB.

 

Hari-hari Jaka jadi berubah. Sejak ada murid pindahan dari daerah: Siska, namanya. Rambutnya dikuncir dua, tulisannya rapi seperti majalah Bobo, dan yang paling mencolok, dia sering membawa ngejajanin temannya di kantin. Hampir semua anak cowok pengen dijajanin.

 

Jaka diam-diam mulai menyukai Siska. Tapi di masa itu, menyatakan cinta bukan perkara mudah. Tidak ada WhatsApp, tak ada Instagram. Yang ada hanyalah surat tulis tangan, dilipat segitiga dan diselipkan di laci meja. Dengan gugup, Jaka menulis: "Siska, aku suka cara kamu tertawa. Kalau kamu mau, kita bisa pulang bareng naik bisa tingkat. Salam, Jaka."

Dia menaruh surat itu di meja Siska saat istirahat. Tapi sial, surat itu jatuh dan dibaca Pak Bambang, guru fisika. Seketika ruang kelas menjadi teater tawa.

Namun sore harinya, saat Jaka sedang duduk di pos depan komplek sekolah, Siska datang,  membawa dua kue vanada. "Aku suka Beatles juga," katanya sambil tersenyum. Hari itu, Jaka paham: kadang cinta tidak butuh kata-kata manis. Cukup keberanian... dan sedikit rasa malu. Gimana kelanjutan cerita itu. Tidak ada lanjutannya, karena hanya ceroat fiksi di masa SMP.

------

Alumni SMPN 216 Jakarta Angkatan 86 itulah yang menggelar ”Halal Bihalal dan Silaturahim Bersama” yang dihadiri 123 alumni laskar Salemba Raya, tempat belajar semasa SMP di Omah Ndoro Cibubur (1/5/2025). Dalam balutan acara yang rileks, halalbihalal Angkatan 86 SMPN 216 ini menjadi momen untuk merajut kebersamaan yang sudah dijalani 39 tahun silam.

”Alhamdulillah, kita bisa kumpul bersama dalam halal bihalal tahun ini. Kita terus jaga silaturahim yang kita jalin semasa SMP hingga kini. Semoga kita semua sehat selalu dan insya Allah Angkatan 86 SMPN 216 akan menggelar Reuni 40th bersama di tahun depan, tahun 2026” ujar Utari, Ketua Panitia Halbil dalam sambutannya.

 

Acara yang berlangsung dari pukul 11.00 s.d. 16.00 WIB ini, jadi momen silaturahim yang tidak terputus sekaligus mengenang masa-masa menimba ilmu di Salemba Raya, sebuah SMP Negeri yang masih jadi favorit hingga kini. Berkisah tentang masa-masa sekolah dan menjalani pertemanan dalam bingkai kebersamaan. Sejak masih berseragam putih-biru dan berlogo OSIS kuning hingga kini yang semuanya tidak muda lagi. Maklum, Angkatan 86 SMPN 216, rata-rata usianya kini 55 tahun alias kelahiran tahun 70-an. Kita menyebutnya KELITA (KElewatan LImapuluh TAhun).  

 


Siapa saja yang hadir di halal bihalal tahun 2025 ini? Alhamdulillah, dihadiri 20% dari total angkatan 86 SMPN 216 yang mencapai 15 kelas, dengan stau kelasnya 40 siswa kala itu. Ikut hadir di acara halbil kali ini: Epo, Nurjana, Emil, Utari, Bagus, Revi, Amel, Temmy, Fitri,  Teditezo, Aryo, Boy, Ade Surahman, Indri, Irma, Linda, Ikmah, Deska, Hastuti, Fahrul, Ari Kediri, Hilma, Halim, Heri Sukamto, Nina Indri, Nia, Dyah Hesti, Heny, Heni tritunggal, Oci, Maysaroh, Pola, Ribka, Gusmelita, Afifah, Yayuk, Efi, Eceng, Sri Nurcahya, Bambang, Fani, Sutriana, Emilia Febrina, Ria Eviyanti,  Thamrin, Taufik Hidayat, Cut Nuruliza, Dyah Fitri, Yudi Wahyudi, Rita Sembodo, Yusran Drajat, Monica Aziz, Regina Mimosa, Medi Susanto, Andi Laoko, Imam, Abed, Dodi, Basuki, Santo, Grace Ineke, Yan Derta, Monalisa Dewi, Dewi Syafitri, Heraria Agus, Eka Okli, Joe, I Gede Adi, Santai Kurniawan, Baharudin, Upik Aslia, Rudi Citayam, Aryodilah, Maruli, Cristina, Elis , Irma Nur, Niank, Rifky Fauzi, Choi,Sukma Minangsarri, Wanti, Haryuni, Devril, Faisal, Euis, Imunk, Erwin, Yudi Erwin, Meli, Noel, Expy, Salman, Retna, Airin, Karina, Ashif Nasri, Sumi, Yaniko, Taswin, Yaltini, Riana, Atiek Kusuma, Yusvita, Irawan, Ratih, Tanhar, Ridha Yaser, Safira, Ifa, Shinta, Yusmi Devianti, Suhud, Waluyowati, Candra Dewi, Lisnatianingsih, Endang Susanto, Wahyu, Nando, Risna Wardiani, Hana, Petu, Evi Dwianasari. Semuanya Angkatan 86 SMPN 2016 di era 1986-1989 dulu.

 


“Wow, seneng banget bisa ketemu teman SMP, sehat-sehat ya semua. Insya Allah kita tetap silaturahim” ekspresi salah satu alumni Angkatan 86 di acara. Selain menjaga silaturahim, acara ini juga jadi momen untuk saling mendoakan sesama alumni Angkatan 86 agar sehat selalu, di samping mendoakan kawan-kawan yang sudah berpulang keharibaan-Nya. Seking lamanya tidak ketemu, inilah momen penting untuk menjaga kesehatan mental  sekaligus menjaga hubungan emosional yang pernah dirajut di masa 39 tahun yang lalu, saat masih berseragam putih-biru.

 

Rencananya, di tahun 2026, Alumni Angkatan 86 SMPN 216 Jakarta akan menggelar perinngata ”reuni 40 tahun Angkatan 86 SMPN 216” sebagai ajang silaturahim dan berbagi cerita masa-masa yang pernah dijalani di sekolah. Masa-masa bersama saat menempuh EBTANAS, lulus-lulusan pakai NEM dan coret-coretan baju sekolah, ikutan Valentine Day, rame abis saat Class Meeting, tanding bola sambil taruhan, main breakdance hingga ngefans sama grup semodel The Beatles, Genesis, Rolling Stones. Memang begitulah adanya.

 

Sebagai wujud cinta almamater, alumni Angkatan 86 SMPN 216 hingga kini pun masih memberi kontribusi positif terhadap SMPN 216, baik melalui PEDULI 216-86 sebagai wahana kepedulian sosial atau individu alumbi yang berkiprah di dunia pendidikan. Insya Allah ke depan, alumni Angkatan 86 SMPN 216 tetap menjaga silaturahim dan pertemanan sesama SMP.

 

Bagi alumni SMPN 216 Angkatan 86, usia hanyalah angka tetapi menjadi muda adalah sikap. Karenanya, usia bukan penghalang untuk tetap merajut silaturahim. Semoga sehat selalu semuanya, aluni Angkatan 86 SMPN 216 Jakarta. Bravo the story of Salemba!