Tampilkan postingan dengan label literasi pertemanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literasi pertemanan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2026

8 Tipe Teman yang Dihindari di Taman Bacaan

Siapapun di keseharian, kita bisa bertemu dengan banyak orang. Beberapa di antaranya bisa menjadi teman. Tapi sebagian lain mungkin tidak pantas dijadikan teman. Sebab, berteman itu harus menyehatkan dan bermanfaat. Jangan sampai berteman tapi tidak ada manfaatnya.

 

Saat membimbing anak-anak pembaca aktif di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, salah satu nasihat yang disampaikan adalah pentingnya memilih teman. Nasihat literasi tentang bagaimana memilih teman. Maka ada tipe-tipe orang yang tidak layak dijadikan teman, karena lebih banyak meimbulkan kerugian daripada manfaat. Agar tidak merusak kebiasaan membaca anak-anak. Beberapa tipe orang yang tidak pantas dijadikan teman:

1.   Tukang mengeluh. Teman yang kerjanya mengeluh sebagai kebiasaan sehari-hari. Bawannya pikiran negatif terus sehingga dapat memengaruhi kesehatan mental jadi lebih buruk. Nenghabiskan waktu dengan teman yang hanya mengeluh, pasti menguras energi.

2.   Teman yang bertepuk sebelah tangan. Taman yang hanya ada di kala senang, sementara di saat susah menghilang. Bertemann itu harus saling memberi dan menerima di semua keadaan.

3. Tukang drama. Selalu ada teman yang kerjanya bermain drama, hal sepele dipersoalkan tanpa henti. Kepribadiannya cenderung mencari konflik untuk mendapat perhatian dan pengakuan.

4. Merasa bersaing. Semua hal dipandang seperti kontes dan maunya bersaing terus. Teman yang selalu ingin unggul dari yang lain. Teman yang bikin stress.



5. Penyebar gosip. Kerjanya membongkar rahasia bahkan menebar aib temannya sendiri. Doyan bergosip dan membuang waktu. Tidak tahu banyak tapi bicara banyak. Teman yang jadi sebab kecemasan dan ketidakpercayaan.

6. Teman yang egois. Teman yang maunya menang sendiri dan anti timbal balik. Teman yang susah menghargai orang lain.

7. Pengaruh negatif. Teman yang kerjanya berpikir buruk dan auranya jelek. Teman yang bikin tidak nyaman.

8. Teman yang hanya ada saat senang. Teman yang oportunis, hadirya hanya di saat-saat senang tapi menghilang ketika keadaan menjadi sulit.

 

Jadi, kalau ada orang mengaku teman tapi gayanya seperti di atas lebih baik tinggalkan dan hindari. Tidak usah berteman dan lebih baik lanjutkan membaca buku. Salam literasi!

 


Minggu, 16 November 2025

Literasi Pertemanan, Jauhi Teman yang Toxic

Sobats, ini seperti kalimat perintah. Bahwa tidak semua teman harus dipertahankan meskipun sudah lama. Tidak sedikit orang yang maksa untuk pertahankan teman suma karena udah kenal lama. Padahal, lamanya kenal tidak selalu setara dengan kualitas hubungan. Bertahan dengan teman yang udah nggak asyik, itu bukan tanda memghargai pertemanan tapi lebih ke takut kehilangan masa lalu.

 

Yah, namanya teman. Bisa jadi, dulu masih satu circle, satu vibes. Tapi seiring waktu kan bisa saja berubah. Atau sekarang udah beda jalan, beda arah orientasi. Dan itu normal saja, ada teman yang bisa diajak tumbuh, ada pula pertemanan begitu-begitu saja,. Ngobrol ngalor-ngidul tanpa ada manfaatnya. Bila temann bisa berubah, maka hubungan pun pasti berubah.

 

Sob, memang tidak semua teman harus dipertahankan! Seiring waktu harus lebih selektif memilih teman. Tentu, ada yang tetap dipertahankan dan terpaksa ada yang dibuang. Apalagi teman yang kerjanya meremehkan teman sendiri, membanding-bandingkan, atau bahkan kerjanya memperolek serta menjadikan kita sebagai bahan candaan. Itu bukan candaan sehat tapi justru jadi bukti lingkungan teman yang toxic. Zaman now, pilih teman yang memberi ruang kita untuk tumbuh dalam kebaikan dan kemanfaatan. Bukan teman yang hanya membuang waktu atau tidak salaing menghargai.

 

Harus diakui, pertemanan yang nggak seimbang itu berat. Pada akhirnya, harus selektif memilih teman. Sebab selalu ada yang datang saat butuh, ada yang hadir di saat perlu. Selebihnya menghilang, entah kemana? Apalagi saat kita yang lagi butuh bantuan. Makanya ada yang bilang, kalau datang cuma saat butuh itu bukan teman tapi penumpang.

 


Sudah lama berteman, tentu bukan alasan untuk bertahan. Apalagi bila hubungan pertemanannya tergolong toxic. Berteman jadi pura-pura, bukan apa adanya. Tapi lebih ke ada apanya. Di depan manis, di belakang pahit. Lagi duduk bareng yang diomongin orang lain, begitu kita yang pergi malah kita yang diomongin. Jatahnya diomongin sama teman sendiri.

 

Hati-hati saja. Membenci, memanipulasi, iri, nyebarin hoaks, dan merendahkan itu bukan ciri teman. Teman itu harusnya mensupport, minimal diam bila nggak tahu banyak. Sejelek-jeleknya teman ya mendoakan yang baik. Bukan malah menghancurkan, apalagi gembira temannya kejeblos pada keburukan. Jadi, tinggalkan teman yang nggak kondusif, nggak produktif pula. Kita lepaskan pertemanan bukan karena benci. Tapi karena kita menyanyangi diri sendiri. Biar lebih sehat, lebih objektif dalam melihat realitas.

 

Lepaskan saja circle teman yang nggak sehat. Apalagi teman yang arigan, subjektif dan merasa benar sendiri. Lebih baik bangun circle pertemanan baru yang lebih sehat. Circle yang positif bukan sekadar teman nongkrong atau cuma ramai di WA group. Tapi pertemanan yang bikin siapapun tetap bisa tumbuh, merasa dihargai, dan diterima apa adanya. Sebab pertemanan yang sehat bisajadi “pupuk” buat versi terbaik diri kita. Bukan pertemanan yang jadi “hama” untuk kita.

 

Berani tinggalkan teman, bukan berarti jauhi pergaulan. Pilih pertemanan yang sehat, memilih pergaulan yang saling menghargai dan memberi ruang pada tumbuhnya kebaikan dan mau menebar manfaat. Ketahuilah Sob, waktu itu singkat. Jadi carilah pertemanan yang bisa menjadikan kita lebih baik dari kemarin. Salam literasi!

Minggu, 15 Juni 2025

Alumni MA Annajah Healing ke Kaki Gunung Salak Bogor, Menikmati Alam

Arti pertemanan setelah bersama di sekolah SMA dan kemudian berpisah karena kuliah tentu memberi kesan yang mendalam. Hal itu pula yang dialami Najla, Andini, Kaisya, Nanda, dan Farah, alumni MA Annajah Jakarta yang melakukan ”healing” ke Kaki Gunung Salak Bogor (14-18 Juni 2025) untuk menikmati kebersamaan yang tersisa jelang kuliah di kampus masing-masing nantinya.

 

Diantar abinya Farah, perjalanan healing alumni MA Annajah kali ini sekaligus membuktikan pertemanan yang tahan uji seiring waktu berjalan. Selain menikmati suasana alam di kaki Gunung Salak, Farah dan friends juga menengok langsung dan memberi motivasi kepada puluhan anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka sebagai bentuk kepedulian sosial kepada anak-anak kampung untuk terus semangat membaca dan belajar.  Berbagai agenda alumi MA Annajah Jakarta di Bogor, antara lain: ke Curug Nangka, barbeque-an, hingga menikmati malam ”city light” nan indah.

 

Harapannya, melalui healing sesama teman, alumni MA Annajah Jakarta ini dapat memperkuat pertemanan walau dipisahkan oleh kuliah dan belajar yang dijalani esok. Sekaligus menjadi kenangan yang tak tergantikan sesama teman SMA, dalam suka dan duka, dalam emosi dan sensasi.

 

“Aku senang banget di sini, sejuk dan menakjubkan pemandangannya. Lebih fresh dan bikin semangat untuk menempuh kuliah dan semangat dalam belajar” ujar Nanda saat menikmati senja di Resto Mac99 sore ini.

 

Pengalaman dan kebersamaan ‘healing” ke kaki Gunung Salak Bogor ini sejatinya akan menjadi pengingat diantara mereja bahwa “kita pernah bersama”. Sebagai bentuk pertemanan yang berubah karena harus kuliah namun tidak hilang. Wajar kalau komunikasi tidak seintens dulu. Tapi saat bertemu kembali, rasanya seperti tidak pernah berpisah sebagai hbukti pertemanan bukan sekadar rutinitas, tapi ikatan emosional.

 


Healing alumni MA Annajah Jakarta ini sekaligus menjadi penanda “kita pernah satu sekolah”, satu dunia kecil bernama MA Annajah di Petukangan Jakarta. Pernah jajan bersama di sekolah, pernah berkediatan bersama mengisi hari-hari dengan tawa tanpa beban, terkadang mengerjakan tugas sekolah dengan setengah hati, dan rencana masa depan yang masih samar.


Ketika di masa SMA, setiap pagi saling menyapa tanpa perlu janji. Dan sebentar lagi, jarak dan kesibukan kuliah membuat pertemuan jadi langka. Tapi nyatanya, pertemanan tidak selalu harus dekat. Ada yang tetap tumbuh meski berjauhan. Ada yang tidak hilang meski tidak sering bicara. Dan ada yang diam-diam mendoakan dari jauh, berharap masing-masing dari kita tetap baik-baik saja dan bisa menggapai mimpi setelah kuliah selesai.

 

Di momen “healing” ini pula, Farah dan friends menyadari. Mungkin esok kita tidak lagi berjalan bersama. Tapi kita pernah berjalan berdampingan. Dan itu cukup untuk membuat ikatan ini tetap hidup. Karena pertemanan sejati bukan tentang seberapa sering bertemu,
tapi tentang siapa yang tetap tinggal di hati meski dunia terus berubah.

 

Inilah momen langka, healing jelang kuliah. Sebagai jembatan ke masa lalu yang membentuk masa depan. Menikmati kebersamaan yang tersisa sebelum melangkah ke kampus masing-masing. Karena biar bagaimana pun, teman SMA bisa jadi orang yang mengingatkan kita akan mimpi-mimpi awal, memberi semangat, atau bahkan menebar tawa bersama. Maka di situlah, teman terkadang menjadi “kompas” kecil yang tidak terlihat. Salam healing!

 




Kamis, 01 Mei 2025

Alumni Angkatan 86 SMPN 216 Gelar Halal Bihalal dalam Balutan Kebersamaan

Tahun 1986, di bilangan Salemba Raya. Tepatnya di SMP Negeri 216 Jakarta, hidup seorang siswa bernama Jaka. Rambutnya selalu dipotong cepak, bajunya dikeluarkan dan agak kusut, dan dia tidak pernah lepas dari tas selempang panjang yang penuh dengan coretan. Dia penggemar band the Beatles, kadang-kadang pindah ke Genesis.

 

Setiap pagi, Jaka datang paling awal. Maklum jam 07.00 WIB saat bel sekolah berbunyi, pintu gerbang sudah ditutup. Bukan karena Jaka rajin, tapi karena ingin duduk di bangku paling belakang, tempat strategis untuk menyembunyikan buku “Enny Arrow” di balik buku PSPB.

 

Hari-hari Jaka jadi berubah. Sejak ada murid pindahan dari daerah: Siska, namanya. Rambutnya dikuncir dua, tulisannya rapi seperti majalah Bobo, dan yang paling mencolok, dia sering membawa ngejajanin temannya di kantin. Hampir semua anak cowok pengen dijajanin.

 

Jaka diam-diam mulai menyukai Siska. Tapi di masa itu, menyatakan cinta bukan perkara mudah. Tidak ada WhatsApp, tak ada Instagram. Yang ada hanyalah surat tulis tangan, dilipat segitiga dan diselipkan di laci meja. Dengan gugup, Jaka menulis: "Siska, aku suka cara kamu tertawa. Kalau kamu mau, kita bisa pulang bareng naik bisa tingkat. Salam, Jaka."

Dia menaruh surat itu di meja Siska saat istirahat. Tapi sial, surat itu jatuh dan dibaca Pak Bambang, guru fisika. Seketika ruang kelas menjadi teater tawa.

Namun sore harinya, saat Jaka sedang duduk di pos depan komplek sekolah, Siska datang,  membawa dua kue vanada. "Aku suka Beatles juga," katanya sambil tersenyum. Hari itu, Jaka paham: kadang cinta tidak butuh kata-kata manis. Cukup keberanian... dan sedikit rasa malu. Gimana kelanjutan cerita itu. Tidak ada lanjutannya, karena hanya ceroat fiksi di masa SMP.

------

Alumni SMPN 216 Jakarta Angkatan 86 itulah yang menggelar ”Halal Bihalal dan Silaturahim Bersama” yang dihadiri 123 alumni laskar Salemba Raya, tempat belajar semasa SMP di Omah Ndoro Cibubur (1/5/2025). Dalam balutan acara yang rileks, halalbihalal Angkatan 86 SMPN 216 ini menjadi momen untuk merajut kebersamaan yang sudah dijalani 39 tahun silam.

”Alhamdulillah, kita bisa kumpul bersama dalam halal bihalal tahun ini. Kita terus jaga silaturahim yang kita jalin semasa SMP hingga kini. Semoga kita semua sehat selalu dan insya Allah Angkatan 86 SMPN 216 akan menggelar Reuni 40th bersama di tahun depan, tahun 2026” ujar Utari, Ketua Panitia Halbil dalam sambutannya.

 

Acara yang berlangsung dari pukul 11.00 s.d. 16.00 WIB ini, jadi momen silaturahim yang tidak terputus sekaligus mengenang masa-masa menimba ilmu di Salemba Raya, sebuah SMP Negeri yang masih jadi favorit hingga kini. Berkisah tentang masa-masa sekolah dan menjalani pertemanan dalam bingkai kebersamaan. Sejak masih berseragam putih-biru dan berlogo OSIS kuning hingga kini yang semuanya tidak muda lagi. Maklum, Angkatan 86 SMPN 216, rata-rata usianya kini 55 tahun alias kelahiran tahun 70-an. Kita menyebutnya KELITA (KElewatan LImapuluh TAhun).  

 


Siapa saja yang hadir di halal bihalal tahun 2025 ini? Alhamdulillah, dihadiri 20% dari total angkatan 86 SMPN 216 yang mencapai 15 kelas, dengan stau kelasnya 40 siswa kala itu. Ikut hadir di acara halbil kali ini: Epo, Nurjana, Emil, Utari, Bagus, Revi, Amel, Temmy, Fitri,  Teditezo, Aryo, Boy, Ade Surahman, Indri, Irma, Linda, Ikmah, Deska, Hastuti, Fahrul, Ari Kediri, Hilma, Halim, Heri Sukamto, Nina Indri, Nia, Dyah Hesti, Heny, Heni tritunggal, Oci, Maysaroh, Pola, Ribka, Gusmelita, Afifah, Yayuk, Efi, Eceng, Sri Nurcahya, Bambang, Fani, Sutriana, Emilia Febrina, Ria Eviyanti,  Thamrin, Taufik Hidayat, Cut Nuruliza, Dyah Fitri, Yudi Wahyudi, Rita Sembodo, Yusran Drajat, Monica Aziz, Regina Mimosa, Medi Susanto, Andi Laoko, Imam, Abed, Dodi, Basuki, Santo, Grace Ineke, Yan Derta, Monalisa Dewi, Dewi Syafitri, Heraria Agus, Eka Okli, Joe, I Gede Adi, Santai Kurniawan, Baharudin, Upik Aslia, Rudi Citayam, Aryodilah, Maruli, Cristina, Elis , Irma Nur, Niank, Rifky Fauzi, Choi,Sukma Minangsarri, Wanti, Haryuni, Devril, Faisal, Euis, Imunk, Erwin, Yudi Erwin, Meli, Noel, Expy, Salman, Retna, Airin, Karina, Ashif Nasri, Sumi, Yaniko, Taswin, Yaltini, Riana, Atiek Kusuma, Yusvita, Irawan, Ratih, Tanhar, Ridha Yaser, Safira, Ifa, Shinta, Yusmi Devianti, Suhud, Waluyowati, Candra Dewi, Lisnatianingsih, Endang Susanto, Wahyu, Nando, Risna Wardiani, Hana, Petu, Evi Dwianasari. Semuanya Angkatan 86 SMPN 2016 di era 1986-1989 dulu.

 


“Wow, seneng banget bisa ketemu teman SMP, sehat-sehat ya semua. Insya Allah kita tetap silaturahim” ekspresi salah satu alumni Angkatan 86 di acara. Selain menjaga silaturahim, acara ini juga jadi momen untuk saling mendoakan sesama alumni Angkatan 86 agar sehat selalu, di samping mendoakan kawan-kawan yang sudah berpulang keharibaan-Nya. Seking lamanya tidak ketemu, inilah momen penting untuk menjaga kesehatan mental  sekaligus menjaga hubungan emosional yang pernah dirajut di masa 39 tahun yang lalu, saat masih berseragam putih-biru.

 

Rencananya, di tahun 2026, Alumni Angkatan 86 SMPN 216 Jakarta akan menggelar perinngata ”reuni 40 tahun Angkatan 86 SMPN 216” sebagai ajang silaturahim dan berbagi cerita masa-masa yang pernah dijalani di sekolah. Masa-masa bersama saat menempuh EBTANAS, lulus-lulusan pakai NEM dan coret-coretan baju sekolah, ikutan Valentine Day, rame abis saat Class Meeting, tanding bola sambil taruhan, main breakdance hingga ngefans sama grup semodel The Beatles, Genesis, Rolling Stones. Memang begitulah adanya.

 

Sebagai wujud cinta almamater, alumni Angkatan 86 SMPN 216 hingga kini pun masih memberi kontribusi positif terhadap SMPN 216, baik melalui PEDULI 216-86 sebagai wahana kepedulian sosial atau individu alumbi yang berkiprah di dunia pendidikan. Insya Allah ke depan, alumni Angkatan 86 SMPN 216 tetap menjaga silaturahim dan pertemanan sesama SMP.

 

Bagi alumni SMPN 216 Angkatan 86, usia hanyalah angka tetapi menjadi muda adalah sikap. Karenanya, usia bukan penghalang untuk tetap merajut silaturahim. Semoga sehat selalu semuanya, aluni Angkatan 86 SMPN 216 Jakarta. Bravo the story of Salemba!





Minggu, 08 Oktober 2023

Jangan Bangga Punya Banyak Teman Bila Nggak Tahu Manfaatnya, Inilah 3 Tipe Teman di TBM?

Punya banyak teman dalam pergaulan, jangan senang dulu. Karena bergaul dan teman bisa membuat seseorang menjadi lebih baik atau lebih buruk. Mau disebut teman, kawan, atau sahabat yang penting manfaat dari pergaulannya apa? Sudah pernah dicek, apa yang jadi lebih baik saat bergaul dengan si A? Atau justru terjerumus ke pertemanan yang sesat? Makanya, jangan senang dulu bila punya banyak teman.

 

Hati-hati dalam bergaul, apalagi di era media sosial seperti sekarang. Karena tidak sedikit yang mengaku teman tapi justru menjerumuskan ke hal-hal yang tidak baik. Bahkan ada teman yang senang bila kita susah dan bermasalah. Sebaliknya ada juga teman yang langsung benci dan murung saat kita diberi kenikmatan dan kesenangan. Sekali lagi, sudah dicek belum. Dari ribuan atau puluhan ribu teman, mereka termasuk yang seperti apa?

 

Soal pertemanan, urusan pergaulan itu gampang saja. Bahwa hanya ada tiga tipe teman yang ada di sekitar kita:

1.     Teman-teman yang saat bergaul sering mengingatkan kita tentang dari mana dan mau ke mana kita? Selalu mengajak untuk kebaikan, melarang dari keburukan, menasehati kita untuk selalu ingat “kampung halaman” tempat kembali kita kelak. Teman yang begini bagus banget tapi langka.

2.     Teman-teman yang bergaul dengan kita hanya untuk perkara dunia semata. Bisa jadi, karena dia adalah rekan kerja, teman sekolah, tetangga atau lainnya. Berteman tapi kurang ada manfaatnya, bahkan sering sebatas kamuflase saja. Teman yang begini sih hambar, cuma buat urusan dunia dan fisik doang.

3.     Teman-teman yang saat bergaul selalu mengajak kita ke arah keburukan, membuat malas melakukan kebaikan, nggak taat juga pada agama. Kerjanya mengajak maksiat, minimal gibahin orang. Teman yang lupa akan akhirat. Akrab dan bergaul dengan teman begini bisa jadi sebab kita semakin jauh dari Allah SWT.

 

Maka dalam pergaulan atau memilih teman, ada baiknya fokus saja pada teman-teman di No. 1. Teman yang selalu mengajak kebaikan dan melarang keburukan. Niscaya kita akan beruntung, karena punya teman yang ikut menasehati bahwa hidup bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Sementara teman-teman di No. 2 sebaiknya bergaul seperlunya saja. Karena terlalu banyak bergaul dengan mereka dapat membuat kita terlena dengan kehidupan dunia. Dan bila punya teman tipe No. 3, jauhilah karena mengerikan banget. Bergaul sudah nggak ada manfaatnya malah kerjanya bikin dosa melulu. Serem banget deh.

 


Berteman atau bergaul memang harus hati-hari. Bukan soal banyak sedikitnya. Tapi soal manfaatnya ada atau tidak. Ibarat kata riwayat, siapapun yang bergaul dnegan penjual minyak wangi maka akan mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan bergaul dengan ppandai besi maka akan terkena percikan apinya atau mendapat bau asap yang tidak sedap (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Jujur saja, saya sih bersyukur bergaul dan berteman di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka. Karena saya bertemu dengan orang-orang yang peduli dan mau berbuat baik dan menebarkan manfaat kepada sesama. Ikhlas mengabdi untuk anak-anak kampung dan membangun tradisi membaca buku. Bergaul dengan kaum buta huruf, anak-anak yatim, kaum jompo, wqali baca dan relawan. Semuanya mengingatkan saya akan pentingnya bersyukur dan tahu diri. Dari mana dan  mau ke mana sebenarnya saya di dunia ini? Maka saya pilih, bergaul di taman bacaan dan meninggalkan hiruk-pikuk pertemanan yang sebatas dunia dan kamuflase. Sederhana kan?

 

Saat bergaul dan berteman di taman bacaan. Saya selalu diingatkan. Bahwa hidup tidak akan pernah sesuai dengan semua keinginan kita. Karena jangan berharap hidup tanpa masalah. Tapi fokus membuat solusi dari masalah, bukan malah mempermasalahkan lalu bertindah bodoh. Bergaul itu butuh keberanian untuk bersikap dan tetap menjadi diri sendiri dan apa adanya. Bukan cuma bertindak egois lalu biar dibilang “jago” sama orang lain. Untuk apa bergaul seperti itu?

 

Jadi, silakan bergaul dan berteman. Asal pergaulan yang digeluti mengajak kita berbuat baik dan menebar manfaat. Bukan malah untuk tidak baik dan maksiat. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Senin, 01 Mei 2023

Literasi Pertemanan, Jauhi Teman yang Baik di Depan Buruk di Belakang

Sulit dipungkiri, pertemanan pasti memengaruhi sifat dan sikap seseorang. Lingkungan pertemanan yang baik, maka seseorang akan baik. Sebaliknya, bila lingkungan pertemanan buruk maka akan buruklah sifat dan sikap seseorang. Teman yang baik maka akan semakin banyak ilmu, hikmah, serta manfaat yang diperoleh. Maka di stulah, letak pentingnya mempertimbangkan kualitas lingkungan pertemanan. Bukan hanya memperbanyak pertemanan.

 

Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa ukuran ketaatan seseorang bisa dilihat dari kualitas pada teman yang dimilikinya. “Seseorang tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan sebagai teman dekat.” (H.R. Abu Dawud).

 

Saatnya memilih teman yang baik. Karena zaman sekarang, banyak yang mengaku teman di saat senang. Tapi ada pula teman yang hilang di saat susah. Jadi harus hati-hati dalam memilih pertemanan. Tidak semua teman yang ada di grup WA baik. Tidak semua teman di media sosial itu baik. Karena itu sikap dalam berteman sangat penting. Bila bermanfaat maka temanilah. Bila tidak bermanfaat maka jauhilah dengan segala konsekuensinya.

 

Mencari teman pada saat senang itu sangat mudah. Tanpa dicari pun mereka akan banyak datang menghampiri kita. Namun sebaliknya, ketika kita dalam keadaan sulit, yakinlah hampir semua teman akan pergi meninggalkan kita. Jika tersisa, itu pun hanya teman yang memang ikhlas mau berteman dengan kita. Orang-orang yang jujur dalam berteman. Teman yang tidak munafik dalam kondisi dan situasi apapun. Teman yang baik.

 

Saatnya memilih teman yang baik. Bila perlu, hanya memiliki seorang teman jujur dan baik dalam segala kondisi itu jauh lebih baik. Daripada punya banyak teman namun tidak bermanfaat. Apalagi hanya teman-teman yang doyan gibah, fitnah, bahkan gosip. Jauhi dan tinggalkan lingkungan pertemanan yang buruk.  

 


Silakan diingat, siapa sih teman kita yang baik dulu?

Mungkin ada, mungkin pula tidak. Mungkin banyak teman yang datang di saat kita senang. Tapi gilirann kita terjungkal, tidak sedikit teman yang tertawa dan membicarakannya di belakang. Tanpa merasa bersalah dan prihatin sedikit pun lalu tetap mengaku teman. Maka di momen lebaran ini, saatnya memilah dan memilih teman yang baik. Caranya sederhana, carilah teman yang solih, teman yang bermanfaat, dan teman yang bertindak positif. Jika ada, pertahankan. Jika tidak ada, tinggalkan.

 

Berteman di mana pun, pasti memberi pengalaman dan pelajaran yang berbeda. Maka harus hati-hati dan waspada. Karena tidak sedikit pertemanan yang buruk di zaman begini. Agar tidak tertular kebiasaan negatif pertemanana. Maka saatnya memilih teman yang baik, yaitu: 1) teman yang taat ibadah, 2) teman yang mendukung dalam kebaikan, 3) teman yang amanah, 4) teman yang jujur dalam segala keadaan, 5) teman yang bisa mengajak kepada kegiatan positif, dan 6) teman yang menjaga silaturahim dalam bermanfaat. Bukan teman yang hanya jago ngomong tanpa bisa berbuat. Apalagi teman-teman penggibah dan pemfitnah. Jauhi dan tinggalkan saja, toh kita tidak hidup dari mereka. Ada teman yang ngomong baik saat di depan kita. Tapi ada teman yang menebar aib dan menikam saat di belakang kita.

 

Sungguh, jumlah teman yang kamu miliki mungkin terlalu banyak jika kamu menghitungnya. Akan tetapi. Mereka akan menjadi sedikit ketika kamu dalam keadaan sulit (Ali bin Abi Thalib RA).