Minggu, 07 Mei 2023

Taman Bacaan Itu Baik, Kerjakan Saja Tanpa Banyak Alasan

Sudahlah, jangan banyak alasan kerjakan saja. Jangan buang waktu sia-sia selain menebar manfaat dan maslahat. Apapun tidak butuh alasan namun tuntaskan saja.

Adakalanya, kita untuk sesuatu atau banyak hal cenderung membuat alasan daripada mengambil tindakan. Pandai bikin alasan itu ujungnya penyesalan. Gagal melakukan ujungnya mencari kesalahan orang lain. Karena alasan, hanya bentuk penyangkalan diri atas ketidakmampuan kita. Mencari alasan atas apa yang tidak mampu digapai. Alasan dan alasan lagi.

 

Bila sukses adalah harga mati. Maka kerjakan tanpa banyak alasan. Perkuat komitmen dan konsistensi dalam eksekusi. Sambil perbaiki niat, baguskan ikhtiar, dan selebihnya perbanyak doa. Bertekad kuat, berani bersikap, dan kerjakan tanpa banyak alasan. Agar jangan ada lagi alasan, apalagi yang dibuat-buat.

 

Cerita-cerita berbasis alasan sering kita dengar. Belum melakukan apa-apa sudah berkilah dan mencari alasan. Terlalu buru-buru untuk membuat alasan sebelum mengerjakan. Inilah 5 (lima) alasan yang sering dikatakan banyak orang, untuk urusan apapun:

1.      Saya tidak memiliki kemampuan. Lupa ya, bahwa kemampuan itu bisa dilatih dan digali. Semua orang juga dilahirkan tidak tahu apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Tapi kok bisa seperti sekarang?

2.      Saya tidak bisa mengajak orang. Belum dicoba kok sudah bilang tidak bisa. Tentukan saja tujuannya dan di mana, agar mudah mengajak siapapun. Kok giliran diajak ngopi orang lain mau?

3.      Saya sibuk kerja jadi tidak punya waktu. Coba deh cek, apa ada orang kerja sehari 24 jam? Waktu luang pasti ada, hanya mau atau tidak memanfaatkan untuk kebaikan? Kerja itu baik tapi bermanfaat untuk orang lain pun penting.

4.      Saya takut gagal. Memang ada orang di dunia ini yang tidak pernah gagal? Gagal itu guru terbaik untuk masa depan, untuk jadi lebih baik. Tidak ada sukses tanpa gagal, Silakan cek di buku-buku motivasi. Gagal itu harus dihadapi dan dicari solusinya.

5.      Saya tidak didukung banyak orang. Coba saja dulu membangun relasi dan berjuang untuk tujuan mulia. Bila kahirnya tetap tidak didukung ya biarkan saja. Karena fokus kita itu pada tujuan bukan pada hambatan. Percayalah, tiap kebaikan yang kita lakukan pasti ada hasilnya, tidak ada ruginya.

Terlalu banyak alasan, akhirnya segala hal dibungkus dengan kata-kata “saya trauma dengan …..”. Lupa ya, trauma apapun tidak akan pernah mengubah apapun. Justru yang palibg penting adalah merenungkan dan memperbaikinya. Agar essok lebih baik dari hari ini. Agar yang dikerjakan sekarang harus lebih baik dari yang sebelumnya.

 


Seperti pegiat literasi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Ada yang bilang tempatnya jauh dan sifatnya sosial. Jadi apa untungnya berkiprah di taman bacaan? Lupa ya, untung itu ada yang material, ada yang nonmaterial. Untung berupa uang atau harta, ada pula untung berupa pahala dan kebaikan dalam hidup. Jadi, cukup kerjakan saja yang baik tanpa perlu banyak alasan. Biar semuanya waktu yang akan membuktikannya, apapun itu. Asal jangan banyak alasan.

 

Intinya, alasan itu dibuat mereka yang tidak mau bertindak. Banyak alasan jadi bukti tidak ingin sukses, tidak ingin berbuat baik. Senangnya hanya bicara dan omong doang. Ciri orang sukses dan berhasil itu sederhana. Selalu punya pikiran yang positif, semangat untuk berbuat, bergairah untuk saling membantu. Bukan pesimis, apalagi hanya sekadar bicara yang tidak ada manfaatnya. Jauhi pesimis, berpikir negatif, dan perbuatan buruk sekecil apapun itu.

 

Saat alasan-alasan masih banyak dikemukakan. Itulah bukti manusia hanya dibatasi oleh cara berpikir dan mental yang pesimis. Terlalu fokus pada alasan, maka tidak akan pernah ada kemajuan, kebaikan, dan keberkahan. Jangan pernah membuat alasan, karena hari esok dan kebaikan tidak membutuhkannya.

 

Jadi, tidak usah banyak alasan apalagi bermentalitas seperti korban? Bertindak dan berbuat saja lebih baik. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka





Diamkan Mereka Tanpa Perlu Jelaskan Apapun

Tidak dapat dipungkiri, banyak orang lebih senang berkomentara atau bicara. Meninjau jalan rusak di Lampung, dikomentari bahkan dinyinyirin. Silaturahmi politik dibahas. Bahkan orang lain yang tidak ada hubungannya sekalipun ikut dikomentari. Gemar bicara banyak omong. Orang sekarang kayaknya sudah lupa diam.

 

Diam itu tidak berbicara. Tindakan tidak bersuara atau tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Karena lebih baik diam daripada banyak bicara. Apalagi bila tidak tahu banyak akan suatu hal, lebih baik diam. Tapi sayangnya, hanya sedikit orang memilih diam. Padahal diam itu penting. Agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

 

Boleh jadi, diam adalah cara terbaik untuk mengusi kebiasaan buruk. Terlalu banyak omong, segala sesuatu dikomentari. Apalagi bila bicara hanya digunakan untuk gosip,, gibah, dan fitnah. Lebih baik diam, diam lebih baik. Diam, diam, dan diam. Biarkan orang lain terus berprasangka. Toh, mereka yang akan menanggungnya sendiri akibatnya.

 

Alangkah indahnya diam, bila bicara hanya menyakiti orang lain.

Alangkah terhormatnya diam, bila bicara untuk merendahkan orang lain.

Alangkah baiknya diam, bila bicara justru menimbulkan dosa.

Dan alangkah kerennya diam, bila bicara malah menebar aib orang lain.

 

Akan tetapi betapa dahsyatnya bicara, bila diam dapat mengakibatkan celakanya orang lain.

Betapa saktinya bicara, bila diam dapat menjadikan ruginya orang lain.

Betapa pentingnya bicara, bila diam dapat mengubur harapan masa depan orang lain.

Betapa bagusnya bicara, bila diam dapat berujung direndahkannya derajat orang lain.

 


Maka berlatihlah diam bila itu baik. Dan bicaralah bila itu maslahat. Asal jangan banayk bicara tanpa alasan apalagi hanya untuk mengintimidasi orang lain. Lebih baik diam bila tidak bisa membantu apapun. Karena diam itu emas, bila bicara tidak mampu jadi Mutiara.

 

Diamlah untuk menjadi lebih baik. Karena siapapun tidak perlu menjelaskan, karena mereka memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. “Barang siapa tidak mengiringi shalatnya dengan ketaatan, maka itu bukanlah shalat. Ketaatan yang mengiringi shalat adalah rasa malu dan meninggalkan perbuatan buruk.” (Al-hadits)

 

Diam adalah perbuatan baik. Sekaligus cara sederhana untuk menghilangkan kebiasaan buruk bagi orang yang terlalu banyak bicara. Tapi nihil dalam perbuatan baik. Cukup diam dan kerjakan terus perbuatan baik. Salam literasi!

 

Sabtu, 06 Mei 2023

Mengusung TBM Edutainment, Taman Bacaan di Bogor Hadirkan Badut Ajak Anak membaca

Taman bacaan memang harus punya banyak cara untuk “mengambil hati” anak-anak. Apalagi untuk membangun kegemaran membaca dan budaya literasi. Agar tetap semangat dan termotivasi untuk datang dan rajin ke taman bacaan. Seperti Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Untuk menghibur anak-anak yang rajin membaca pun mendatangkan “Badut Gatotkaca” yang biasa keliling kampung untuk tampil di depan 60 anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka (7/5/2023).

 

Dipandu oleh wali baca dan relawan, Badut berkosutum Gatotkaca berjoget di depan anak-anak, di samping foto bersama anak-anak. Badut yang memeriahkan kegiatan Laboratorium Baca TBM Lentera Pustaka yang dilaksanakan setiap hari Minggu pukul 10.00 s.d. 12.00 WIB. Mendatangkan badut hanya cara sederhana untuk membuat nuansa hiburan di taman bacaan. Sesuai dengan konsep “TBM Edutainment” yang dianut TBM Lentera Pustaka selama ini. Sebua model pengembangan dan tata kelola taman bacaan berbasis edukasi dan hiburan.  

 

Hadirnya badut gatotkaca di TBM Lentera Pustaka atau taman bacaan, setidaknya dapat memberikan 3 (tiga) manfaat yaitu:

1.      Meningkatkan daya tarik anak-anak ke taman bacaan.  Karena badut sudah dikenal anak-anak dan mampu mengundang daya Tarik anak-anak lebih dekat dengan buku dan taman bacaan.

2.      Memeriahkan suasana membaca sekaligus menghibur. Tidak ada salahnya sesekali taman bacaan memanggil badut untuk atraksi datau berjoget di depan anak-anak sebagai hiburan anak-anak.

3.      Menjadi objek foto bersama anak-anak. Ada nuansa berbeda saat badut hadir di taman bacaan sehingga bisa jadi objek foto anak-anak, di samping mengenalkan untuk “tidak takut” kepada badut bagi anak-anak yang takut badut selama ini.


 

Intinya, taman bacaan tidak boleh kehilangan kreasi untuk mengundang daya tarik anak-anak yang rajin membaca. Sekaligus jadi momen untuk memneri nasihat dan motivasi kepada anak-anak agar tetap rajin ke taman bacaan.

 

Setelah penampilan badut, wali baca dan relawan TBM Lentera Pustaka pun mempraktikkan senam literasi, doa literasi, dan bermain games dengan anak-anak. Sebagai bagian menjadikan taman bacaan sebagai sentera kegiatan anak-anak sekaligus megkampanyekan taman bbacaan yang ramah anak. Salam literasi! #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

 

Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Luncurkan Buku-46, Antologi Cerpen "Mario Si Anak Pejabat"

Sebagai upaya mendobrak kaum mapan yang arogan dan memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2023, Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) meluncurkan buku antologi cerpen “Mario Si Anak Pejabat” di Kampus Unindra (6/5/2023). Buku ini terinpsirasi dari kasus Mario Dandy yang menganiaya David Ozora yang viral dan jadi petaka “kaum mapan yang arogan” di publik. Sebuah buku fiksi cerpen “hasil kuliah menulis kreatif” yang ditulis 103 mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FBS Universitas Indraprasta PGRI bersama Syarifudin Yunus, dosen pengampu sekaligus pegiat literasi TBM Lentera Pustaka.

 

Setelah dibimbing selama kuliah menulis kreatif, buku antologi cerpen ini menjadi cara ekspresi generasi muda menentang arogansi dan sikap semena-mena kaum mapan. Kisah realitas yang diubah menjadi khayalan, sebagai cara beda dalam menulis. Sebagai bukti mahasiswa telah “berproses” dalam mempelajari, mencipta, dan menerbitkan karya sastranya sendiri. Sebagai dosen, Syarifudin Yunus, mengajak mahasiswa untuk praktik menulis bukan hanya belajar teori. 

 

Cerpen-cerpen yang disajikan dalam buku ini bertemakan cinta sebagai “agama”. Sehingga membenarkan semua perbuatan buruk dan aniaya seperti yang dilakukan Mario Dandy. Apalagi cinta yang dibalut gelimang harta dan uang. Hingga lupa, bahwa cinta juga punya kuku-kuku yang runcing. Sering menusuk dan menikam bak pisau kematian. Saat cinta berangkat tidur, duka pun berangkat hancur. Seperti yang terjadi di kasus Mario Dandy.

 

Diterbitkan oleh LovRinz Publishing dengan 350 halaman, Antologi Cukstaw Cerpen ”Mario, Si Anak Pejabat” ingin memberi pesan. Saat kekerasan jadi pilihan, maka dunia menjadi penjaranya. Buku fiksi yang menjadi kritik bagi kaum mapan yang arogan. Kritik terhadap mereka yang percaya omongan. Tanpa bisa membuktikan kebenarannya. Ketika banyak anak manusia hidup terperangkap tipuan dunia, maka setan pun menjadi rekannya. Lalu mau sampai kapan begitu?

 

Siapa yang menanam pasti akan memanennya sendiri. Saat kekerasan jadi pilihan, maka dunia menjadi penjaranya. Saat omongan kosong jadi kebenaran, maka realitas jadi lawannya.



Menurut Syarifudin Yunus, dosen pengampu Menulis Kreatif Uni
ndra, buku ini menjadi cerminan sikap reflektif terhadap cara pandang banyak orang tentang kekerasan di masyarakat. Setelah belajar di kelas, semua mahasiswa diminta untuk menuliskan hikmah kasus Mario dalam bentuk cerpen sebagai ekspresi dalam konteks pendidikan.

“Buku ini yang ke-46 bagi saya sebagai bagian mengajar kuliah menulis kreatif. Antologi cerpen Mario Si Anak Pejabat ini adalah ekspresi mahasiswa terhadap kekerasan. Sebagai generasi muda mahasiswa harus mampu menyuarakan hikmah dari kasus nyata ke dalam cerita pendek. Sebagai generasi muda, mahasiswa harus jadi garda terdepan mengkampanyekan anti kekerasan dan kritik kaum mapan” ujar Syarifudin Yunus dalam peluncuran hari ini di Jakarta.


Cerita dalam antologi ini merupakan kisah fiksi yang reflektif dan motivatif sebagai pesan moral kepada pembaca. Cerpen yang disajikan dengan cara yang berbeda. Bahwa menulis adalah perbuatan, bukan pelajaran. Karena belajar sastra harus dimulai dan berakhir dari yang tertulis. Antologi cerpen ini diharapkan dapat menjadi "obat" untuk mengembalikan rasa, pikir dan perilaku generasi muda untuk bersikap anti kekerasan. Nantikan  buku-buku Syarifudin Yunus selanjutnya. #KuliahMenulisKreatif #UnindraKeren #CukstawCerpen




Kamis, 04 Mei 2023

Taman Bacaan dan Gerakan Literasi Hanya Tahu Terus Melangkah

Ada pelajaran penting yang sulit dilupakan. Saat tim Tonight Show NET TV pada tahun 2021 lalu meliput aktivitas taman bacaan dan berantas buta aksara di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Bahwa berkiprah di taman bacaan, cara pandang yang paling penting adalah “tetap melangkah”. Bergerak maju dan membuat terobosan apapun. Agar taman bacaan tetap eksis.

 

 

Memag sulit dipungkiri. Berkiprah di taman bacaan pasti banyak hambatan dan tantangannya. Jatuh bangun, bahkan tersandung dengan hal-hal yang menjadi sebab frustrasi. Apalagi sifatnya sosial, taman bacaan sering kali disepelekan orang. Hingga “jalan terjal” selalu menghantui taman bacaan untuk menggapai impiannya. Untuk mewujudkan giat membaca dan aktivitas literasi yang bermanfaat untuk masyarakat.

 

Karena semangat untuk terus berdiri dan melangkah maju itulah, Tonight Show NET TV mengangkat kisah TBM Lentera Pustaka dalam menegakkan kegemaran membaca dan pemberantasan buta aksara. Hingga dinobatkan sebagai “Ramadhan Heroes - Tonight Show NET TV Tahun 2021” pada acara yang digawangi Desta dan Vincent itu (simak di: https://www.youtube.com/watch?v=Ji63Diopb48&t=414s). Pesan pentingnya adalah “selalu ada seberkas cahaya di ujung terowongan gelap untuk taman bacaan bila mau tetap melangkah ".

 

Memang tidak mudah berkiprah di taman bacaan. Apalagi di tengah gempuran era digital. Belum lagi di mata orang-orang yang menyebut, “Ngapain membaca buku manual? Sekarang kan zamannya e-book”. Biarlah, karena memabg tugas orang lain meremehkan taman bacaan. Sementara pegiat literasi di taman bacaan, hanya tahu untuk terus melangkah. Melangkah dan melangkah apapun kendalanya. Karena modal terrbesar taman bacaan adalah komitmen dan konsistensi dalam berkegiatan.

 

Pegiat literasi di taman bacaan memang sadar. Di taman bacaan, tidak ada rapor. Tidak ada absensi, tidak ada kenaikan kelas. Bahkan gurunya (baca: relawan) pun tidak ada gajinya, Semuanya dikerjakan sukarela, tanpa pamrih. Jadi, berkiprah di taman bacaan sangat rentan untuk “berhenti” atau sulit untuk bertahan. Karena itu, solusi terbaik di taman bacaan adalah melangkah terus, melangkah lagi, dan melangkah tanpa henti.

 

Mengajak anak-anak membaca pasti sulit. Mengajar berantas buta aksara memang berat. Bahkan mengelola taman bacaan untuk tetap eksis pun sangat berat. Hanya sikap militan dan jiwa pantang menyerah yang masih “menyelamatkan” taman bacaan tetap eksis di Indonesia. Untuk tetap melangkah maju. Tidak ada tempat sekecil apapun untuk hal-hal yang menghambat laju taman bacaan.

 


Alhasil, setelah berjalan 6 tahun, kini TBM Lentera Pustaka telah mengelola 15 program literasi,  yaitu 1) TABA (TAman BAcaan) tadinya hanya 14 anak kini menjadi 130 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), 12) LIDAB (LIterasi ADAb),  13) Motor Pustaka atau MOBAKE (MOtor BAca KEliling), 14) Rooftop Baca, dan 15) Berantas Buta Aksara Al Quran. Koleksi buku tadinya hanya 600 buku, kini mencapai lebih dari 10.000 buku bacaan. Dengan dukungan 5 wali baca dan 12 relawan, TBM Lentera Pustaka saat ini beroperasi 6 hari dalam seminggu dan tidak kurang dari 200 orang menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka setiap minggunya. 

 

Pada akhirnya, taman bacaan memang sulit “didekati” melalui logika. Bisa jadi tidak masuk akal untuk sebagian orang. Tapi yang pasti, taman bacaan harus dikelola dengan hati. Agar dapat terus melangkah dan bergerak maju, apapun kendala yang menghadangnya.  Untuk terus menebar kebaikan dan manfaat kepada banyak orang. Sebagai “legacy” atau warisan untuk umat.

 

Siapapun yang berkiprah di taman bacaan, spiritnya hanya satu. Terus melangkah dan bergerak maju. Bila melihat ke belakang, pasti taman bacaan akan tersesat. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka




Sehat di Masa Pensiun, DPLK di Saat Bekerja

Tidak sedikit pekerja yang sakit-sakitan di saat pensiun. Sewaktu kerja gagah perkasa, setelah pensiun mulai nongol sakit yang dulunya tidak pernah terpikirkan. Apa gerangan yang terjadi di hari tua? Bagaimana untuk tetap sehat di masa pensiun?

 

Sakit atau stres di hari tua, sering terjadi dan dialami oleh seseorang apabila berada di kondisi yang tidak nyaman. Kondisi tubuh lemah, pikiran banyak, dan faktor "kantong" sering juga jadi pemicunya. Maka harus ada cara untuk tidak tertekan, utamanya di masa pensiun saat tidak bekerja lagi. Agar hidup di hari tua lebih tenang, lebih nyaman walau tidak harus kaya.

 

Faktanya, 7 dari 10 pensiunan di Indonesia mengalami masalah keuangan. Tidak punya dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Maka wajar, saat ini, 9 dari 10 pekerja di Indonesia tidak siap untuk pensiun. Sementara upah minimum dituntut dinaikkan, gaji setiap tahun ditambah. Tapi semuanya akan sia-sia bila tidak disisihkan untuk hari tua atau masa pensiun.

 

Mau tidak mau, harus ada cara dan ikhtiar sehat di hari tua. Untuk mempersiapkan masa pensiun yang lebih tenang dan nyaman. Tidak stres, tidak tertekan atas sebab apapun. Berikut adalah 3 (tiga) cara untuk tetap sehat di masa pensiun:

 

1.    Mulai membiasakan hidup sederhana dan apa adanya saat bekerja. Tidak berjiwa konsumtif atau bergaya hidup mahal selagi bekerja. Latih untuk membeli sesuatu sesuai kebutuhan, bukan keinginan.

 

2.    Membiasakan diri untuk menjaga kesehatan selagi muda, saat masih bekerja. Agar tidak ada penyakit yang tidak terduga di hari tua, entah akibat makanan, pikiran atau turunan. Jaga pikiran untuk tetap tenang dan berpikir positif. Lebih baik mencegah sakit daripada mengobati sakit.

 

3.    Menabung untuk hari tua atau masa pensiun sejak bekerja. karena cepat atau lambat, setiap pekerja pasti akan pensiun. Maka persiapkan sejak dini ketersediaan dana untuk melanjutkan kehidupan di masa pensiun. Pensiun memang masih lama tapi tetap harus dipersiapkan siapapun saat bekerja.

 


Nah, salah satu cara sederhana untuk tetap sehat di masa pensiun adalah menjadi peserta DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan).  Agar tidak mengalami masalah keuangan di hari tua. Tersedia penghasilan yang berkelanjutan saat tidak bekerja pagi. Pensiun yang tenang dan nyaman karena mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. DPLK merupakan program yang menjanjikan manfaat pensiun untuk pekerja. Bukan asuransi, bukan reksadana atau tabungan di bank. Karena hanya di DPLK program yang didedikasikan untuk mempersiapkan masa pensiun. Uang pensiun yang dibayarkan bila sudah memasuki usia pensiun.

 

Melalui DPLK, seorang pekerja menjadi lebih sehat di hari tua karena 1) ada dana yang pasti di saat pensiun, 2) ada jaminan kesinambungan "penghasilan" di hari tua, 3) ada hasil investasi yang optimal selama jadi peserta DPLK, dan 4) mendapat fasilitas perpajakan saat manfaat pensiun dibayarkan. Karena DPLK sifatnya jangka panjang, tentu akumulasi dana (iuran dan hasil investasi) yang diperoleh pasti sangat signifikan. Insya Allah, cukup untuk membiayai berbagai kebutuhan di hari tua.

 

Maka jangan tunda lagi, mulailah untuk persiapkan masa pensiun yang sehat dan nyaman dari sekarang. Tidak ada kata terlambat untuk mempersiapkan hari tua yang lebih baik dan berkualitas. Karena "kantong" saat pensiun tetap ada untuk menjaga standar hidup seperti saat masih bekerja. Pensiun yang nyaman, kalau bukan kita yang persiapkan mau siapa lagi? Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #EdukatorDanaPensiun

Rabu, 03 Mei 2023

Taman Bacaan Jangan Minta Dikasihani, Ikhtiar dan Optimis Saja!

Siapapun, sejatinya tidak di bawah kendali orang lain. Karena tiap manusia tidak akan pernah mampu mengontrol kehidupan orang lain. Tidak ada yang bisa mengatur atau mengarahkan jalan hidup orang lain kecuali Allah SWT. Jadi, kenapa masih ada yang berpikir di bawah kendali orang lain? Apalagi bergantung kepada orang lain?

 

Hakikatnya, manusia hanya dikendalikan oleh Allah SWT. Kesehatan, rezeki, jodoh, bahkan kematian bukan atas kendali orang lain. Tapi semuanya karena Allah SWT. Lagi-lagi, siapapun hanya bisa niat, ikhtiar, dan doa dalam hal apapun. Seorang mahasiswa hanya bisa niat baik untuk kuliah, ikhtiar untuk mengikuti perkuliahan, lalu berdoa agar lulus tepat waktu. Selebihnya dikendalikan Allah SWT. Hanya bisa berserah diri kepada Allah SWT.

 

Bahwa dalam perjalanannya ada masalah, ada kesulitan itu hukum alam. Jalani dan hadapi saja untuk ikhtiar mencari solusinya. Selalu optimis dalam keadaan apapun. Berpikir positif tentang apapun. Karena memang hidup tidak selamanya berjalan mulus. Kadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Ada kok saat-saat di mana yang terjadi pada diri kita tidak sesuia harapan. Jalani saja, tidak usah frustrasi atau putus asa.

 

Bila mau direnungkan, tidak ada seorang pun yang hidupnya dalam fase yang buruk terus-menerus. Hidup itu ya ada suka ada duka. Ada senang ada sedih, silih berganti. Pasang-surut, tinggal bagaimana kita menyikapinya? Saat turun hujan, maka akan ada pelangi sesudahnya. Di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Sama sekali tidak ada kendali orang lain dalam hidup kita. Hanya sikap optimis yang jadi pijakan untuk bertindak dan ikhtiar yang baik. Tanpa henti, tanpa mengenal lelah. Prinsip itu pula yang harusnya ada di pegiat literasi. Taman bacaan masyarakat tidak akan pernah dikendalikan orang lain. Karena Allah SWT sudah punya scenario terindah untuk taman bacaan di mana pun. Pegiat literasi cukup ikhtiar dan bersikap optimis, sambil membangun kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak.

 


Masih ingatkah kita kisah ini? Ketika saudara-saudara Nabi Yusuf menduga bisa menghentikan masa depan Nabi Yusuf AS. Namun, justru merekalah yang dimanfaatkan Allah SWT membangun masa depan gemilang Nabi Yusuf AS. Begitu pula Raja Fir’aun yang menduga sudah membunuh Nabi Musa AS. Namun kenyataannya, justru Fir’aun sendiri yang merawat Nabi Musa AS. Saudara-saudara Nabi Yusuf atau Raja Fir’aun berpikir telah mengendalikan hidup Nabi Yusuf AS dan Nabi Musa AS. Tapi faktnya, justru Allah SWT yang mengendalikan semuanya. Jadi tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang sanggup menghentikan ketentuan Allah SWT atas diri kita.

 

Jangan pernah meminta dikasihani orang lain. Apalagi merasa hidup kita dikendalikan orang lain. Tidak ada manusia yang mampu mengendalikan hidup manusia lainnya. Dalam kondisi apapun, yakinlah kita tidak di bawah kendali atau belas kasihan orang lain.

 

Cukup, jaga selalu sikap optimis. Kerjakan yang baik sambil perbaiki niat lalu berdoalah. Percayalah setiap masalah yang ada, justru menjadi bagian dari kebaikan yang Allah SWT takdirkan untuk kita. Karena “di balik setiap permasalahan itu selalu diikuti oleh solusinya, tidak hanya satu, namun banyak jalannya” (Al-Insyirah: 6).

 

Selalu optmis dan ikhtiar, adalah kunci segalanya. Karena boleh jadi kita tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kita. Dan boleh jadi pula kita menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kita. Allah maha mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui sesuatu. Salam literasi!

Selasa, 02 Mei 2023

Spirit Gerakan Literasi, Menang Tanpa Mengalahkan

Bila Anda ingin terang, nyalakan lampu sendiri. Jangan padamkan lampu orang lain. Maka bila Anda ingin maju, majulah tanpa menyingkirkan orang lain. Bila Anda ingin naik dan tinggi, naiklah tanpa menjatuhkan orang lain. Sederhana kan.

 

Saat di ruang kelas, seorang guru pun membuat garis sepanjang 100 cm di papan tulis. Lalu sang guru bertanya, "Anak-anak, coba perpendek garis ini!" 

Anak ke-1 maju ke depan, ia menghapus 20 cm dari garis itu menjadi 80 cm. Anak ke-2 pun maju, ia melakukan hal yang sama. Garisnya dikurangi 20cm lagi, tinggal 60 cm. Dan anak ke-3 maju ke depan, lalu mengurangi garis itu 20cm lagi. Sisanya tinggai 40cm. Hebatnya anak yang terakhir maju ke depan, lalu mengembalikan garis yang dihapus menjadi 100cm seperti semula. Dan ia membuat garis baru di bawahnya sepanjang 120 cm. Lebih panjang daripada garis yang pertama. 

 

Sang guru pun tersenyum. “Kamu memang bijak Nak, untuk membuat garis itu menjadi pendek, tidak perlu menghapusnya. Cukup membuat garis lain yang lebih panjang, maka garis pertama akan menjadi lebih pendek dengan sendirinya."

 

Begitulah kira-kira yang terjadi dalam hidup manusia. Bahwa untuk menjadi yang terbaik, tidak perlu menjatuhkan, menyingkirkan atau menjelekkan pihak lain. Maju tanpa menyingkirkan orang lain. Naik tanpa menjatuhkan orang lain.

 


Maka perbaiki niat, baguskan ikhtiar di mana pun dan untuk apapun. Jangan pernah bertekad untuk merendahkan orang lain. Apalagi menyikirkannay hanya untuk lebih maju darinya. Buang jauh-jauh rasa iri, dengki atau dendam yang merasuk di hati.

 

Momen Idul Fitri masih ada. Jadilah pemenang untuk diri sendiri tanpa perlu mengalahkan orang lain. Kemenangan hakiki itu bukan kebebasan. Jadilah lebih baik tanpa harus menjelekkan. Jadilah benar tanpa harus menyalahkan orang lain. Cukup melakukan kebaikan yang lebih baik secara konsisten. Biarkan waktu yang akan membuktikan semuanya.

 

Maka bila Anda ingin terang, nyalakan lampu Anda sendiri. Jangan padamkan lampu orang lain. Karena permata akan tetap bersinar meskipun terpendam dalam lumpur yang gelap pekat. Salam literasi!

 

Senin, 01 Mei 2023

Mas Menteri Dikbud RI, Inilah Catatan Kritis Hardiknas Indonesia

Sebuah renungan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2023. Bahwa pendidikan itu bukan menjadikan tahu sedikit tentang banyak hal, tapi tidak tahu banyak tentang satu hal.

 

Hari Pendidikan Nasional kali ini, harusnya mampu mengajak kita untuk melakukan introspeksi diri. Untuk mengukur apa yang sudah benar dan apa yang masih salah dalam proses pendidikan selama ini. Pemerintah, guru, dan orang tua harus berpikir ulang. Tentang pendidikan itu bukan membangun kecerdasan tapi keteladanan.

 

Pendidikan bukan lagi soal pelajaran tapi soal etika dan moral. Karena itu, sangat dibutuhkan upaya merevitalisasi pendidikan sesuai spirit “merdeka belajar”. Pendidikan bukan sekadar menjadikan pintar. Tapi harus menunjung tinggi etika dan moral. Agar adab tetap di atas ilmu. Maka ada 5 (lima) upaya revitalisasi pendidikan di Indonesia yang penting dilakukan, yaitu:

 

Pertama, merevitalisasi sekolah sebagai sentra pendidikan yang mandiri dan berkarakter. Sekolah tidak lagi sekadar pelaksana kurikulum. Melainkan menjadi basis pengembangan budaya dan karakter siswa.

 

Kedua, menempatkan guru sebagai kreator pembelajaran. Guru harus mampu mengendalikan konten dan arah pembelajaran sebagai kegiatan yang menyenangkan. Agar siswa lebih kreatif dan berani dalam menemukan pelajaran dan bidang yang disenanginya.

 

Ketiga, membuat pendidikan sebagai media kesetaraan, bukan kesempurnaan. Praktik dan perilaku belajar harus didorong untuk membangun kerja sama, bukan kompetisi. Belajar bukan untuk meraih nilai tinggi, melainkan untuk membangkitkan gairah belajar. Kegiatan belajar bukan bergantung pada “kunci jawaban” tapi bertumpu pada “sikap pengertian”.

 

Keempat, menjadikan orientasi belajar sebagai proses, bukan hasil belajar. Siswa lebih berani bertanya dan tidak takut salah. Karena dengan cara itu, siswa akan mampu mengeksplorasi potensi diri, di samping memacu kreativitas. Karena hasil belajar bukan satu-satunya indikator keberhasilan siswa.

 

Kelima,memandang pendidikan sebagai ikhtiar kolektif. Pemerintah, guru, orang tua dan lingkungan harus terlibat aktif dalam proses pendidikan. Karena pendidikan bukan program melainkan gerakan moral untuk meningkatkan harkat dan martabat, di samping peradaban.

 

Kelima upaya revitalisasi pendidikan mendesak untuk dilakukan. Agar proses pendidikan di Indonesia menjadi lebih berkualitas. Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang tidak hanya pintar namun ber-akhlak. Sehingga mampu mewujudkan Indonesia yang lebih literat.

 


Maka esok dan di era merdeka belajar, praktik pendidikan tidak boleh lagi menjejali siswa dengan beragam materi pelajaran. Tanpa adanya penguatan karakter. Cerdas memang penting tapi karakter jauh lebih penting. Sangat salah bila akhirnya pendidikan hanya mampu menjadikan siswa atau manusia, “tahu sedikit tentang banyak hal, tapi tidak tahu banyak tentang satu hal”. Selamat Hari Pendidikan #HariPendidikanNasional #Hardiknas #MerdekaBelajar

 r

 

Literasi Pertemanan, Jauhi Teman yang Baik di Depan Buruk di Belakang

Sulit dipungkiri, pertemanan pasti memengaruhi sifat dan sikap seseorang. Lingkungan pertemanan yang baik, maka seseorang akan baik. Sebaliknya, bila lingkungan pertemanan buruk maka akan buruklah sifat dan sikap seseorang. Teman yang baik maka akan semakin banyak ilmu, hikmah, serta manfaat yang diperoleh. Maka di stulah, letak pentingnya mempertimbangkan kualitas lingkungan pertemanan. Bukan hanya memperbanyak pertemanan.

 

Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa ukuran ketaatan seseorang bisa dilihat dari kualitas pada teman yang dimilikinya. “Seseorang tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan sebagai teman dekat.” (H.R. Abu Dawud).

 

Saatnya memilih teman yang baik. Karena zaman sekarang, banyak yang mengaku teman di saat senang. Tapi ada pula teman yang hilang di saat susah. Jadi harus hati-hati dalam memilih pertemanan. Tidak semua teman yang ada di grup WA baik. Tidak semua teman di media sosial itu baik. Karena itu sikap dalam berteman sangat penting. Bila bermanfaat maka temanilah. Bila tidak bermanfaat maka jauhilah dengan segala konsekuensinya.

 

Mencari teman pada saat senang itu sangat mudah. Tanpa dicari pun mereka akan banyak datang menghampiri kita. Namun sebaliknya, ketika kita dalam keadaan sulit, yakinlah hampir semua teman akan pergi meninggalkan kita. Jika tersisa, itu pun hanya teman yang memang ikhlas mau berteman dengan kita. Orang-orang yang jujur dalam berteman. Teman yang tidak munafik dalam kondisi dan situasi apapun. Teman yang baik.

 

Saatnya memilih teman yang baik. Bila perlu, hanya memiliki seorang teman jujur dan baik dalam segala kondisi itu jauh lebih baik. Daripada punya banyak teman namun tidak bermanfaat. Apalagi hanya teman-teman yang doyan gibah, fitnah, bahkan gosip. Jauhi dan tinggalkan lingkungan pertemanan yang buruk.  

 


Silakan diingat, siapa sih teman kita yang baik dulu?

Mungkin ada, mungkin pula tidak. Mungkin banyak teman yang datang di saat kita senang. Tapi gilirann kita terjungkal, tidak sedikit teman yang tertawa dan membicarakannya di belakang. Tanpa merasa bersalah dan prihatin sedikit pun lalu tetap mengaku teman. Maka di momen lebaran ini, saatnya memilah dan memilih teman yang baik. Caranya sederhana, carilah teman yang solih, teman yang bermanfaat, dan teman yang bertindak positif. Jika ada, pertahankan. Jika tidak ada, tinggalkan.

 

Berteman di mana pun, pasti memberi pengalaman dan pelajaran yang berbeda. Maka harus hati-hati dan waspada. Karena tidak sedikit pertemanan yang buruk di zaman begini. Agar tidak tertular kebiasaan negatif pertemanana. Maka saatnya memilih teman yang baik, yaitu: 1) teman yang taat ibadah, 2) teman yang mendukung dalam kebaikan, 3) teman yang amanah, 4) teman yang jujur dalam segala keadaan, 5) teman yang bisa mengajak kepada kegiatan positif, dan 6) teman yang menjaga silaturahim dalam bermanfaat. Bukan teman yang hanya jago ngomong tanpa bisa berbuat. Apalagi teman-teman penggibah dan pemfitnah. Jauhi dan tinggalkan saja, toh kita tidak hidup dari mereka. Ada teman yang ngomong baik saat di depan kita. Tapi ada teman yang menebar aib dan menikam saat di belakang kita.

 

Sungguh, jumlah teman yang kamu miliki mungkin terlalu banyak jika kamu menghitungnya. Akan tetapi. Mereka akan menjadi sedikit ketika kamu dalam keadaan sulit (Ali bin Abi Thalib RA).