Tampilkan postingan dengan label Eksistensi TBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eksistensi TBM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Mei 2023

Taman Bacaan dan Gerakan Literasi Hanya Tahu Terus Melangkah

Ada pelajaran penting yang sulit dilupakan. Saat tim Tonight Show NET TV pada tahun 2021 lalu meliput aktivitas taman bacaan dan berantas buta aksara di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Bahwa berkiprah di taman bacaan, cara pandang yang paling penting adalah “tetap melangkah”. Bergerak maju dan membuat terobosan apapun. Agar taman bacaan tetap eksis.

 

 

Memag sulit dipungkiri. Berkiprah di taman bacaan pasti banyak hambatan dan tantangannya. Jatuh bangun, bahkan tersandung dengan hal-hal yang menjadi sebab frustrasi. Apalagi sifatnya sosial, taman bacaan sering kali disepelekan orang. Hingga “jalan terjal” selalu menghantui taman bacaan untuk menggapai impiannya. Untuk mewujudkan giat membaca dan aktivitas literasi yang bermanfaat untuk masyarakat.

 

Karena semangat untuk terus berdiri dan melangkah maju itulah, Tonight Show NET TV mengangkat kisah TBM Lentera Pustaka dalam menegakkan kegemaran membaca dan pemberantasan buta aksara. Hingga dinobatkan sebagai “Ramadhan Heroes - Tonight Show NET TV Tahun 2021” pada acara yang digawangi Desta dan Vincent itu (simak di: https://www.youtube.com/watch?v=Ji63Diopb48&t=414s). Pesan pentingnya adalah “selalu ada seberkas cahaya di ujung terowongan gelap untuk taman bacaan bila mau tetap melangkah ".

 

Memang tidak mudah berkiprah di taman bacaan. Apalagi di tengah gempuran era digital. Belum lagi di mata orang-orang yang menyebut, “Ngapain membaca buku manual? Sekarang kan zamannya e-book”. Biarlah, karena memabg tugas orang lain meremehkan taman bacaan. Sementara pegiat literasi di taman bacaan, hanya tahu untuk terus melangkah. Melangkah dan melangkah apapun kendalanya. Karena modal terrbesar taman bacaan adalah komitmen dan konsistensi dalam berkegiatan.

 

Pegiat literasi di taman bacaan memang sadar. Di taman bacaan, tidak ada rapor. Tidak ada absensi, tidak ada kenaikan kelas. Bahkan gurunya (baca: relawan) pun tidak ada gajinya, Semuanya dikerjakan sukarela, tanpa pamrih. Jadi, berkiprah di taman bacaan sangat rentan untuk “berhenti” atau sulit untuk bertahan. Karena itu, solusi terbaik di taman bacaan adalah melangkah terus, melangkah lagi, dan melangkah tanpa henti.

 

Mengajak anak-anak membaca pasti sulit. Mengajar berantas buta aksara memang berat. Bahkan mengelola taman bacaan untuk tetap eksis pun sangat berat. Hanya sikap militan dan jiwa pantang menyerah yang masih “menyelamatkan” taman bacaan tetap eksis di Indonesia. Untuk tetap melangkah maju. Tidak ada tempat sekecil apapun untuk hal-hal yang menghambat laju taman bacaan.

 


Alhasil, setelah berjalan 6 tahun, kini TBM Lentera Pustaka telah mengelola 15 program literasi,  yaitu 1) TABA (TAman BAcaan) tadinya hanya 14 anak kini menjadi 130 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), 12) LIDAB (LIterasi ADAb),  13) Motor Pustaka atau MOBAKE (MOtor BAca KEliling), 14) Rooftop Baca, dan 15) Berantas Buta Aksara Al Quran. Koleksi buku tadinya hanya 600 buku, kini mencapai lebih dari 10.000 buku bacaan. Dengan dukungan 5 wali baca dan 12 relawan, TBM Lentera Pustaka saat ini beroperasi 6 hari dalam seminggu dan tidak kurang dari 200 orang menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka setiap minggunya. 

 

Pada akhirnya, taman bacaan memang sulit “didekati” melalui logika. Bisa jadi tidak masuk akal untuk sebagian orang. Tapi yang pasti, taman bacaan harus dikelola dengan hati. Agar dapat terus melangkah dan bergerak maju, apapun kendala yang menghadangnya.  Untuk terus menebar kebaikan dan manfaat kepada banyak orang. Sebagai “legacy” atau warisan untuk umat.

 

Siapapun yang berkiprah di taman bacaan, spiritnya hanya satu. Terus melangkah dan bergerak maju. Bila melihat ke belakang, pasti taman bacaan akan tersesat. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka




Selasa, 22 Juni 2021

Mampukah Taman Bacaan Bertahan di Era Digital?

Mampukah taman bacaan bertahan di era digital?

Pertanyaan yang sulit lagi tidak bisa buru-buru dijawab.  Sementara semua sisi kehidupan tidak lagi bisa dipisahkan dari dunia digital.  Taman bacaan masih bertahan dengan cara membaca buku manual. Kenapa sih tidak membaca e-book? Kenapa harus taman bacaan? Repot banget harus membimbing anak-anak membaca buku? Tentu, masih banyak sederet pertanyaan yang “melemahkan” eksistensi taman bacaan.

 

Gempuran era digital, realitasnya memang sulit dibantah. Tidak mungkin ditolak. Karena digitalisasi sudah jadi kebutuhan, bahkan gaya hidup banyak orang. Hidup tanpa digital seakan hampa. Digital pula yang menjadikan orang lebih instan, menuntut kebebasan, dan senang mengekspresikan diri. Bahkan era digital pula anak-anak jadi punya banyak sumber belajar. Tidak lagi terbatas buku. Lalu, kenapa masih ad ataman bacaan di era digital?

 

Era digital, mau tidak mau, kian meminggirkan eksistensi taman bacaan. Perilaku membaca buku secara manual pun kini tidak populer. Sehingga buku-buku manual yang ada di taman bacaan, di perpustakaan pun ingin segera diganti e-book. Maka taman bacaan pun kian jadi “jalan sunyi” di tengah keramaian era digital?

 

Sementara semuanya serba online. Taman bacaan masih saja berhadapan dengan persoalan klasik. Masalah taman bacaan yang belum beranjak pulih. Satu, ada anak tidak ada buku. Dua, ada buku tidak ada anak. Dan ketiga, komitmen dan konsistensi pengelola taman bacaan yang setengah hati. Jadi, mampukah taman bacaan bertahan di era digital?

 

Benar sekali. Terlalu banyak tantangan dan ujian di taman bacaan. Maka pantas banyak pegiat literasi yang gampang frustrasi. Serba salah mengembangkan taman bacaannya. Tidak sedikit taman bacaan yang “mati suri”. Dibilang ada tapi tidak ada. Dibilang tidak ada tapi ada. Lalu, bagaimana taman bacaan mau “mengharmonisasikan” dengan dunia digital? Perjuangan untuk bisa bertahan dan tetap eksis saja tidak kunjung usai.

 

Maka isu penting taman bacaan di era digital adalah bukan soal mendirikan taman bacaan. Bukan pula soal buku atau anak. Tapi soal kemampuan bertahan di tengah era digital. Agar tahu, apa saja yang harus diperjuangkan taman bacaan. Apa saja yang harus diabaikan di taman bacaan?

 


Ini kisah nyata di taman bacaan. Saat tahun 2017, saya mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Awalnya, hanya ada 14 anak yang mau membaca di taman bacaan. Koleksinya pun hanya 600 buku donasi dari kawan-kawan. Setelah berjalan 3-6 bulan pun saya terus berpikir. Lalu bertanya, apa iya daerah ini (Desa Sukaluyu), anak-anaknya mau diajak membaca seminggu 3 kali? Maklum, sebelumnya mereka tidak punya akses bacaan. Anak-anak kampung yang tidak punya kebiasaan membaca buku.

 

Sebagai pegelola bingung, taman bacaan pun bingung. Mau bagaimana ke depannya taman bacaan ini? Sepi dan garing. Dugaan saya kian tepat, berkiprah di taman bacaan itu memang “jalan sunyi”. Jarang dipedulikan orang, tidak ada uangnya. Dan membaca buku itu memang dihindari banyak orang. Wajar, bila taman bacaan jadi serba salah. Pengelolanya pun frustrasi. Apalagi sifatnya sosial. Sangat paripurna, tantangan yang ada di taman bacaan. Apalagi digempur perangkat yang serba digital.

 

Tapi apa pun yang terjadi, apapun keadaaanya. Saya tetap bertekad untuk “menghidupkan” taman bacaan. Tentu, butuh kreativitas dan cara yang menarik. Saya pun tetap datang seminggu sekali dari Jakarta ke Kaki Gunung Salak Bogor. Hanya untuk menemani dan memotivasi anak-anak kampung yang membaca. Berapapun jumlah anaknya? Saya urus apa yang harus saya urus di taman bacaan.

 

Alhasil kini, proses dan ikhtiar di taman bacaan memang tidak pernah mengkhianati hasil. Perlahan, anak-anak yang membaca di TBM Lentera Pustaka terus bertambah. Dan kini di tahun 2021, ada 168 anak usia sekolah sebagai pembaca aktif. Rutin datang ke taman bacaan seminggu 32 kali dan mampu melahap 5-8 buku per minggu per anak. Bahkan lebih dari itu, kini TBM Lentera Pustaka pun menjalakan program lainnya: 1) GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) dengan 9 ibu warga belajar, 2) KElas PRAsekolah (KEPRA) dengan 17 anak, 3) YAtim Binaan (YABI) dengan 16 anak yatim, 4) JOMpo Binaan (JOMBI) dengan 7 lansia, 5) Koperasi LENTERA dengan 16 anggota sebagai “perlawanan terhadap praktik rentenir”, 6) DONasi BUKu (DONBUK) untuk menerima dan menyalurkan doansi buku. 7) RAjin menaBUng (RABU) mengajarkan pentingnya menabung sebagai literasi finansial, dan 8) LITerasi DIGital (LITDIG) untuk mengajarkan internet sehat dengan fasilitas 5 komputer hibah.  Bahkan kini, TBM Lentera Pustaka terus berkiprah dan dampaknya meluas hingga ke 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya).

 

Media massa seperti NET TV, CNN TV, DAAI TV, TV Parlemen, Jawa Pos, Media Indonesia, Majalah Kartini, Bogor-kita.com, dan Liputan6.com pun sudah meliput dan menjadikan TBM Lentera Pustaka sebagai narasumber taman bacaan, buta aksara , dan gerakan literasi. Lebih dari itu, kini pun telah berdiri “Yayasan Lentera Pustaka Indonesia” dan hadirnya website:

https://tbmlenterapustaka.com/ sebagai penguatan kiprah taman bacaan ke depannya. Untuk memastikan tercapainya 6 kecakapan literasi dasar (baca-tulis, numerasi, finansial, digital, sains, budaya-kewargaan). Tentu atas dukungan CSR korporasi sebagai sponsor dan orang-orang baik yang sudah ada selama ini, para wali baca dan relawan.

 

Jadi, taman bacaan pasti dapat bertahan di era digital. Karena taman bacaan adalah satu-satunya “lawan tanding” yang memadai untuk anak-anak dalam belenggu ancaman putus sekolah, pernikahan dini, narkoba, bahkan gim online. Hanya taman bacaan, yang masih mampu menjaga perilaku anak untuk tetap dekat dengan buku. Sekalipun tradisi membaca anak kian langka.

 

Maka ada pelajaran penting di taman bacaan. “Jangan pernah menyerah dalam berkiprah dan jangan terlalu mudah bilang tidak bisa bertahan”. Taman bacaan adalah perbuatan baik, maka pelihara dengan apik. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen