Tampilkan postingan dengan label Menulis Kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis Kreatif. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2026

Cukstaw Cerpen, Cerita Reflektif yang Memikat

Cerpen atau cerita pendek adalah salah satu jenis karya sastra. Tapi secara teoretik, cerpen ya begitu-begitu saja (bila tidak mau dibilang “kurang” mengalami banyak perkembangan). Sebagai bentuk prosa narasi yang bersifat fiktif, kini cerpen kian kehilangan pembacanya. Cerpen yang didefinisikan sebagai cerita tentang intisari kehidupan manusia (short story) yang memuat satu peristiwa pokok bisa dibilang “kalah bersaing” dengan konten digital cepat seperti: video pendek (TikTok, Reels), thread singkat atau konten visual. Harus diakui, saat ini cerpen sering kalah dari segi “daya tarik instan”.

 

Suka tidak suka, cerpen terlalu terikat pada tokoh, alur, tema, dan gaya bahasa semata. Sebagai karya sastra, cerpen harus dibangun oleh dua unsur yaitu: 1) unsur intrinsik yang terdiri dari: tema adalah ide pokok sebuah cerita, latar (setting), suasana cerita, dan alur (plot) sebagai susunan kejadian yang membentuk cerita dan 2) unsur ekstrinsik yang terdiri dari: nilai-nilai cerita (agama, budaya, politik, ekonomi), latar belakang pengarang, dan situasi sosial cerita. Dari ukuran fisik, cerpen harus dapat dibaca dalam waktu sekali duduk (Edgar Allan Poe dalam "The Philosophy of Composition”). Bahkan jumllah kata dalam cerpen berada di antara 1.000 – 20.000 kata.

 

Cerpen memang tetap relevan, namun memiliki beberapa kelemahan ketika berhadapan dengan pola konsumsi dan budaya di era modern. Selain kedalaman cerita yang terbatas, cerpen kurang mengantisipasi perilaku pembaca yang cenderung menurun. Ibaratnya, cerpen terasa “lebih berat” dibanding scroll cepat. Pasar cerpen dan pembacanya kian lama semakin sempit, ditambah lebih sulit dimonetisasi dibanding novel atau film. Bahkan penerbitan cerpen pun sering terbatas.

 

Berangkat dari realitas itulah hadir “Cukstaw Cerpen”, tentu bukan istilah baku dalam dunia sastra. Cukstaw cerpen mrupakan cerita pendek yang cara penceritaannya lebih singkat lagi dari cerpen biasa. Cukstaw berasal dari istilah bahasa gaul di jejaring sosial, singkatan dari “cukup tahu”. Cukstaw singkatan dari cukup tahu. Cukstaw = cukup tau aja, bersifat sekilas, tidak butuh waktu lama (lihat: http://kamusslang.com/arti/cukstaw). Jadi, Cukstaw Cerpen adalah cerita pendek sekilas yang lebih singkat dari cerpen, tidak butuh waktu lama untuk membacanya dan isi ceritanya memuat inspirasi yang motivatif-reflektif bagi pembaca. Ciri cukstaw cerpen adalah memikat, bisa menarik atau memancing.  Membaca Cukstaw Cerpen hanya butuh waktu 5-10 menit. Secara fisik, Cukstaw Cerpen dibangun dari 400-600 kata atau tidak lebih dari 5.000 karakter/huruf.

 

Beberapa contoh Cukstaw Cerpen dapat disimak sebagai berikut: (Cukstaw aja ya ....)

1.   Air Mata Surti - http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/04/27/air-mata-surti--550678.html

2.   Maafkan Mama Ya Nak - http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/04/20/maafkan-mama-ya-nak-kisah-pilu-ibu-pada-anaknya--548308.html

3.   Surti, Gadis Buta & Kekasihnya - http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/04/13/surti-gadis-buta-kekasihnya--545763.html

 

Di dalam cukstaw cerpen, ceritanya boleh tidak ada konflik namun tetap memikat. Tokohnya pun tidak harus bersedih atau bergembira, melainkan bersifat alami namun tetap memberi inspirasi yang bersifat motivatif – reflektif. Bisa jadi, cukstaw cerpen disajikan secara “kurang tajam” seperti obrolan biasa tapi tetap emosional.

 


Boleh saja, Cukstaw Cerpen digolongkan dalam genre fiksi kilat (flash fiction). Namun yang jelas, Cukstaw Cerpen “sedikit keluar” dari pakem cerita pendek pada umumnya. Beberapa ciri Cukstaw Cerpen antara lain:

1.   Cerita bersifat sekilas, singkat tidak lebih 10 menit

2.   Ceritanya relevan dengan realitas hidup

3.   Gaya bahasa bebas

4.   Memuat pesan moral yang eksplisit, motivatif-reflektif

5.   Ceritanya antara fiksi dan nonfiksi

 

Cukstaw cerpen bukan “lawan” dari cerpen. Tapi menjadi cerita yang komplementer dari cerpen yang saat ini makin “kehilangan” pembacanya. Setidaknya, cukstaw cerpen disajikan untuk memotivasi kalangan muda dan awam untuk menulis cerita secara singkat dan mengalami secara langsung berjibaku dengan imajinasinya sendiri. Cerita yang sekilas dan tidak butuh waktu lama. Cukstaw Cerpen tidak membutuhkan bagian perkenalan, pertikaian, dan penyelesaian seperti dianjurkan H.B. Jassin. Sebab cukstaw cerpen, fokusnya melatih siapapun untuk menulis cerita, baik fiksi maupun nonfiksi yang berdasar pada realitas kehidupan. Di tengah dinamika kehidupan yang makin digital, Cukstaw Cerpen dapat menjadi alternatif dalam bersastra. Tapi secara ilmiah, Cukstaw Cerpen tetap relevan dengan acuan pakar cerita pendek dunia, Edgar Allan Poe, yang tetap memenuhi ciri: 1) cerita harus pendek, 2) menciptakan efek tunggal dan unik, dan 3) ketat dan padat, 4) harus menimbulkan kesan yang tuntas.

 

Dan melalui cukstaw cerpen, siapapun dapat bercerita. Sebagai sarana melatih kreativitas dalam menulis, melatih cara berpikir yang beda. Cerita reflektif yang memikat itulah disebut cukstaw cerpen. Terkadang, ceritanya “nyeleneh” atau absurd pun dipersilakan. Cukstaw cerpen memang bukan genre resmi. Tapi bisa jadi alternatif anak-anak zaman now berkreasi melalui cerita. Salam cukstaw!

 

Sabtu, 06 Mei 2023

Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Luncurkan Buku-46, Antologi Cerpen "Mario Si Anak Pejabat"

Sebagai upaya mendobrak kaum mapan yang arogan dan memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2023, Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) meluncurkan buku antologi cerpen “Mario Si Anak Pejabat” di Kampus Unindra (6/5/2023). Buku ini terinpsirasi dari kasus Mario Dandy yang menganiaya David Ozora yang viral dan jadi petaka “kaum mapan yang arogan” di publik. Sebuah buku fiksi cerpen “hasil kuliah menulis kreatif” yang ditulis 103 mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FBS Universitas Indraprasta PGRI bersama Syarifudin Yunus, dosen pengampu sekaligus pegiat literasi TBM Lentera Pustaka.

 

Setelah dibimbing selama kuliah menulis kreatif, buku antologi cerpen ini menjadi cara ekspresi generasi muda menentang arogansi dan sikap semena-mena kaum mapan. Kisah realitas yang diubah menjadi khayalan, sebagai cara beda dalam menulis. Sebagai bukti mahasiswa telah “berproses” dalam mempelajari, mencipta, dan menerbitkan karya sastranya sendiri. Sebagai dosen, Syarifudin Yunus, mengajak mahasiswa untuk praktik menulis bukan hanya belajar teori. 

 

Cerpen-cerpen yang disajikan dalam buku ini bertemakan cinta sebagai “agama”. Sehingga membenarkan semua perbuatan buruk dan aniaya seperti yang dilakukan Mario Dandy. Apalagi cinta yang dibalut gelimang harta dan uang. Hingga lupa, bahwa cinta juga punya kuku-kuku yang runcing. Sering menusuk dan menikam bak pisau kematian. Saat cinta berangkat tidur, duka pun berangkat hancur. Seperti yang terjadi di kasus Mario Dandy.

 

Diterbitkan oleh LovRinz Publishing dengan 350 halaman, Antologi Cukstaw Cerpen ”Mario, Si Anak Pejabat” ingin memberi pesan. Saat kekerasan jadi pilihan, maka dunia menjadi penjaranya. Buku fiksi yang menjadi kritik bagi kaum mapan yang arogan. Kritik terhadap mereka yang percaya omongan. Tanpa bisa membuktikan kebenarannya. Ketika banyak anak manusia hidup terperangkap tipuan dunia, maka setan pun menjadi rekannya. Lalu mau sampai kapan begitu?

 

Siapa yang menanam pasti akan memanennya sendiri. Saat kekerasan jadi pilihan, maka dunia menjadi penjaranya. Saat omongan kosong jadi kebenaran, maka realitas jadi lawannya.



Menurut Syarifudin Yunus, dosen pengampu Menulis Kreatif Uni
ndra, buku ini menjadi cerminan sikap reflektif terhadap cara pandang banyak orang tentang kekerasan di masyarakat. Setelah belajar di kelas, semua mahasiswa diminta untuk menuliskan hikmah kasus Mario dalam bentuk cerpen sebagai ekspresi dalam konteks pendidikan.

“Buku ini yang ke-46 bagi saya sebagai bagian mengajar kuliah menulis kreatif. Antologi cerpen Mario Si Anak Pejabat ini adalah ekspresi mahasiswa terhadap kekerasan. Sebagai generasi muda mahasiswa harus mampu menyuarakan hikmah dari kasus nyata ke dalam cerita pendek. Sebagai generasi muda, mahasiswa harus jadi garda terdepan mengkampanyekan anti kekerasan dan kritik kaum mapan” ujar Syarifudin Yunus dalam peluncuran hari ini di Jakarta.


Cerita dalam antologi ini merupakan kisah fiksi yang reflektif dan motivatif sebagai pesan moral kepada pembaca. Cerpen yang disajikan dengan cara yang berbeda. Bahwa menulis adalah perbuatan, bukan pelajaran. Karena belajar sastra harus dimulai dan berakhir dari yang tertulis. Antologi cerpen ini diharapkan dapat menjadi "obat" untuk mengembalikan rasa, pikir dan perilaku generasi muda untuk bersikap anti kekerasan. Nantikan  buku-buku Syarifudin Yunus selanjutnya. #KuliahMenulisKreatif #UnindraKeren #CukstawCerpen




Sabtu, 01 April 2023

Punya Ilmu Tinggi, Kok Nggak Menulis?

Saat mengajar kuliah Menulis Kreatif di PBSI FBS Unindra pagi ini (1/4/2023), seorang mahasiswa bertanya. Mengapa Bapak menulis?

 

Pertanyaan sederhana tapi butuh penjelasan saat menjawabnya. Saya menulis karena ingin tetap sehat dan waras. Sehat karena mampu mencari gaya hidup yang menyehatkan. Waras agar cara berpikir tetap realistis. Maka siapapun yang sakit, obatnya adalah menulis. Siapa yang kurang waras pun ya menulis resepnya. Jadi, menulis itu obat.

 

Seperti gagalnya Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Bisa jadi karena orang-orang yang tidak sehat (sakit) dan kurang waras. Sudah jadi tuan rumah, tinggal tanding tanpa kualifikasi, stadion sudah dirapikan, dan antusias masyarakat juga tinggi. Ehh, cuma gara-gara “menolak Israel”, semuanya punah sekejap mata. Timnas Garuda muda pun kehilangan mimpi main di piala dunia. Masyarakat pun berang karena event besar dunia gagal digelar. Memangnya, Indonesia bisa sampai ke piala dunia bila harus melalui babak kualifikasi? Ya, realistis sajalah.

 

Saat menulis, entah kenapa energi saya meledek-ledak. Nafsu banget ingin menulis. Selain jadi inspirasi untuk orang lain, menulis juga memotivasi diri saya sendiri. Syukur-syukur bila orang lain termotivasi. Karena dengan menulis, saya bisa mengekspresikan perasaan atau menyuarakan isi hati yang kadang nggak bisa diungkapkkan. Menuliskan pengetahuan atau pengalaman yang saya punya. Hanya menulis yang membuat saya punya dunia baru dalam hidup. Dan yang terpenting, saya bisa bebas mau jadi apa saja dengan menulis.

 

Menulis itu keren. Bisa melepas stres, apalagi sumul di kepala. Saat menulis, saya merasa“lebih baik menjadi burung yang terbang bebas daripada raja yang terbelenggu”. Seperti orang-orang yang doyan flexing, itu sejatinya terbelunggu. Tidak percaya diri pada harta dan kekayaannya sendiri. Coba seperti saya, justru bisa pamer karena tulisan.

 

Satu hal lagi. Orang yang gemar menulis sudah pasti gemar membaca. Dan orang yang menulis pasti ngomong atau berbicara atas apa yang dia tulis. Tapi orang yang gemar membaca belum tentu gemar menulis. Dan orang yang jago ngomong atau berbicara belum tentu pernah menuliskannya. Apa artinya? Bila ada orang ngomong dari apa yang ditulisnya, insya Allah JUJUR. Tapi bila ada orang jago ngomong tapi belum ditulisnya “pantas diduga” itu TUKANG BOHONG.

 

Jujur saja, karena menulis saya tetap sehat dan waras. Lebih punya energi yang tiada tara. Menulis jelas-jelas bikin fisik sehat, intelektual cerdas, moral baik, sosial senang, estetika menarik, dan spiritual luar biasa. Jadi, apa alasannya saya nggak menulis? Fisik lelah, intelektual kacau balau, moral drop, sosial nggak punya, estetika buntu, dan spiritual kosong. Semuanya pasti “terobati” hanya dengan MENULIS.

 


Dah hasilnya, kini saya telah menulis 45 buku dari kurun 2010-2022. Itu artinya, ada 3,75 buku per tahun yang saya terbitkan. Mulai dari buku Jurnalistik Terapan, Kompetensi Menulis Kreatif, Kumpulan Cerpen Surti Bukan Perempuan Metropolis, dan yang terakhir buku “Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan Berbasis Edukasi dan Hiburan – TBM Edutainment”. Bahkan hingga kini saya tetap menulis setiap hari di Kompasiana, Kumparan, Indonesiana Tempo, dan tbmlenterapustaka.com.

 

Scripta manent verba volant, apa yang tertulis akan abadi apa yang terucap akan hilang. Itulah pentingnya menulis. Dan lagi buat saya, jangan mengajar menulis bila nggak menulis. Jadi, menulislah. Tulis, tulis, dan tulis apapun serta di mana pun. Salam literasi



Minggu, 22 Mei 2022

Kunjungi TBM Lentera Pustaka, Mahasiswa Unindra Luncurkan Kumpulan Cerpen Anak-anak Pinggiran

Ajarkan anak tetap jadi dirinya sendiri; tanpa perlu menjadi diri orang lain. Hanya cinta yang meneduhkan hati anak-anak pinggiran.

Itulah amanat buku kumpulan Cerpen “Anak-anak Pinggiran” karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI yang diluncurkan di TBM Lentera Pustaka Bogor, Minggu (22/5/2022). Buku ini merupakan hasil kuliah menulis kreatif sebagai praktik, bukan teori.

 

Buku ini menyelipkan pesan, banyak orang menginginkan anak-anaknya menjadi benar-benar baik. Tapi di saat yang sama, mereka tidak tahu cara dan ikhtiar untuk melakukan apa yang terbaik. Bahkan tidak sedikit orang tua yang lupa, bahwa anak adalah kekuatan ilahi untuk memanggil kepedulian. Seperti anak-anak pinggiran yang selalu punya harapan dan mampu menjadi cahaya untuk mempersempit perjuangan melawan kegelapan. Anak-anak pinggiran hanya ingin mengingatkan. Untuk mengecup kening anak agar tetap nyaman bersandar di bahu orang tua. Seberapapun rasa itu, ajarkan anak tetap jadi dirinya sendiri; tanpa perlu menjadi diri orang lain.

 


Kumpulan Cerpen “Anak-anak Pinggiran’ merupakan bagian dari proses menulis kreatif yang dialami mahasiswa secara langsung, selama kuliah. Mahasiswa yang “berproses” dalam mempelajari, mencipta, dan menerbitkan karyanya sendiri. Karena mereka percaya bahwa belajar sastra harus dimulai dan berakhir dari yang tertulis. Inilah karya sebagai cerminan bahwa menulis kreatif adalah perbuatan, bukan pelajaran. Kuliah dengan cara yang berbeda. Di era Merdeka Belajar, keberanian mahasiswa untuk melahirkan karya dan mampu mengekspersikan daya kreatif menjadi penting untuk dipacu. Buku ini pun menjadi karya reflektif dan motivatif sebagai saksi perjalanan kepedulian terhadap anak-anak di tengah gempuran era digital.

 

Menurut Syarifudin Yunus, dosen pengampu Menulis Kreatif Universitas Indraprasta PGRI, buku ini menjadi cerminan sikap reflektif terhadap cara pandang 96 mahasiswa yang menulis cerpen tentang sikap peduli terhadap anak-anak. “Buku ini adalah ekspresi mahasiswa terhadap persoalan anak-anak. Kaum muda yang mengekspresikan daya kreatif dan imajinasinya ke dalam cerita pendek. Kaum muda yang menyuarakan pentingnya mendengarkan suara hati anak-anak pinggiran,” ujar Syarifudin Yunus dalam peluncuran hari ini di Bogor.