Tampilkan postingan dengan label mentalitas korban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mentalitas korban. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Maret 2024

Mentalitas Korban di Taman Bacaan, Kok Bisa?

Puasa, mungkin bisa jadi momen untuk introspeksi diri. Khususnya bagi mereka yang saat ini menganggap dirinya sebagai korban dari orang lain atau keadaan. Sebut saja, victim mentality atau victimhood. Tercermin dari perbuatannya yang membenci orang lain berketerusan, meneror orang lain, hingga merasa paling benar sendiri. Bahkan membaca tulisan seperti ini pun tersinggung, dianggap menyindir bukan nasihat. Apa yang terjadi hari ini dianggap perbuatan orang lain. Maka jadilah disebut “victim mentality”, menganggap dirinya sebagai korban.

 

Kaum victim mentality sering lupa. Bahwa “tidak ada asap tanpa ada api”. Tidak pula ada akibat tanpa sebab. Cuma hebatnya pemilik victim mentality yang “menerima akibat” rajin dan jago bersilat lidah, bicara ke sana-sini seolah-olah dia adalah korban. Sementara si pemilik sebab, hanya bisa diam dan bersikap sabar. Ketika itu terjadi, di situlah pemilik “victim mentality” merasa menang dan semakin jumawa untuk melakukan apa saja yang dianggapnya benar.

 

Victim mentality, mentalitasnya sebagai korban. Lalu mengabaikan alasan kenapa akhirnya dia merasa jadi korban? Seolah-olah apa yang dialaminya atas sebab orang lain, hingga lupa kesalahannya sendiri. Merasa insecure, benci yang pantang menyurut, cemas yang berlebihan, depresi, hingga ujungnya berharap orang lain mengasihani dirinya. Kasihan pada orang-orang yang mentalitasnya korban (victim mentality). Karena mereka gagal introspeksi diri, lalu menyalahkan orang lain. Tiap ada masalah justru mencari penyebab salahnya, bukan mencari solusi atau memperbaiki diri. Cara berpikirnya tidak ada jalan keluar, dan menghakimi salahnya kepada orang lain.

 

Mungkin perlu dibuktikan melalui riset. Tapi victim mentality biasanya terjadi pada orang-orang yang gemar berbuat zolim. Bertindak tidak adil, kejam atau sewenang-wenang kepada orang lain. Zolim karena menuntut hak tanpa mau mengerjakan kewajiban. Menyerang orang lain, sambil membenarkan tindakan buruknya sendiri. Zolim karena 1) berpaling dari perintah Allah SWT, 2) melanggar hukum-hukum Allah SWT dan rasul-Nya, 3) suka melakukan kemungkaran, 4) selalu mengingkari kebenaran, dan 5) gemar melakukan perilaku tercela seperti dusta, khianat, aniaya, menghina, dan sebagainya. Bertindak zolim tidak pernah sadar, tahunya hanya menjadi korban. Victim mentality

 


Victim mentality, kata-katanya atau narasinya sering berkebalikan. Tidak sesuai fakta, justru memanipulasi fakta menjadi bahan argumen untuk kepentingannya sendiri. Merasa menjadi korban, untuk memengaruhi orang lain. Agar peduli dan dikasihani. Seperti di taman bacaan pun ada orang-orang yang bermentalitas korban – victim mentality. Tidak mau menyuruh anaknya membaca, tidak pernah mau membantu taman bacaan, hingga cuek atas aktivitas taman bacaan. Lalu bilangnya, tidak dapat apa-apa dari taman bacaan. Lah kok bisa?

 

Jadi, hati-hati dengan mentalitas korban alias victim mentality. Karena akhirnya menjadikan orangnya merasa paling benar, bertindak defensif, dan selalu menyalahkan orang lain. Tanpa mau introspeksi diri, tanpa mau bertanya tentang “kenapa semuanya terjadi pada saya?”. Jangan menganggap diri jadi korban tanpa menyadari kesalahan diri sendiri. The show must go on, lebih baik introspeksi diri dan ikhtiar memperbaiki diri. Katanya “Allah tidak pernah salah menempatkan takdirnya”. Nah, itulah yang patut direnungkan.

 

Daripada bertindak victim mentality, lebih baik diam. Diam untuk merenung akan pentingnya memperbaiki diri. Diam untuk berfokus pada solusi, bukan mencari siapa yang salah. Karena sejatinya, diam bukan berarti lemah. Tapi lebih baik untuk masa yang akan datang. Sambil tetap sabar dan syukur dalam segala keadaan. Hanya diam yang seringkali lebih efektif daripada berkata-kata seolah-olah menjadi korban dari orang lain. Jadilah literat #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Minggu, 07 Mei 2023

Taman Bacaan Itu Baik, Kerjakan Saja Tanpa Banyak Alasan

Sudahlah, jangan banyak alasan kerjakan saja. Jangan buang waktu sia-sia selain menebar manfaat dan maslahat. Apapun tidak butuh alasan namun tuntaskan saja.

Adakalanya, kita untuk sesuatu atau banyak hal cenderung membuat alasan daripada mengambil tindakan. Pandai bikin alasan itu ujungnya penyesalan. Gagal melakukan ujungnya mencari kesalahan orang lain. Karena alasan, hanya bentuk penyangkalan diri atas ketidakmampuan kita. Mencari alasan atas apa yang tidak mampu digapai. Alasan dan alasan lagi.

 

Bila sukses adalah harga mati. Maka kerjakan tanpa banyak alasan. Perkuat komitmen dan konsistensi dalam eksekusi. Sambil perbaiki niat, baguskan ikhtiar, dan selebihnya perbanyak doa. Bertekad kuat, berani bersikap, dan kerjakan tanpa banyak alasan. Agar jangan ada lagi alasan, apalagi yang dibuat-buat.

 

Cerita-cerita berbasis alasan sering kita dengar. Belum melakukan apa-apa sudah berkilah dan mencari alasan. Terlalu buru-buru untuk membuat alasan sebelum mengerjakan. Inilah 5 (lima) alasan yang sering dikatakan banyak orang, untuk urusan apapun:

1.      Saya tidak memiliki kemampuan. Lupa ya, bahwa kemampuan itu bisa dilatih dan digali. Semua orang juga dilahirkan tidak tahu apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Tapi kok bisa seperti sekarang?

2.      Saya tidak bisa mengajak orang. Belum dicoba kok sudah bilang tidak bisa. Tentukan saja tujuannya dan di mana, agar mudah mengajak siapapun. Kok giliran diajak ngopi orang lain mau?

3.      Saya sibuk kerja jadi tidak punya waktu. Coba deh cek, apa ada orang kerja sehari 24 jam? Waktu luang pasti ada, hanya mau atau tidak memanfaatkan untuk kebaikan? Kerja itu baik tapi bermanfaat untuk orang lain pun penting.

4.      Saya takut gagal. Memang ada orang di dunia ini yang tidak pernah gagal? Gagal itu guru terbaik untuk masa depan, untuk jadi lebih baik. Tidak ada sukses tanpa gagal, Silakan cek di buku-buku motivasi. Gagal itu harus dihadapi dan dicari solusinya.

5.      Saya tidak didukung banyak orang. Coba saja dulu membangun relasi dan berjuang untuk tujuan mulia. Bila kahirnya tetap tidak didukung ya biarkan saja. Karena fokus kita itu pada tujuan bukan pada hambatan. Percayalah, tiap kebaikan yang kita lakukan pasti ada hasilnya, tidak ada ruginya.

Terlalu banyak alasan, akhirnya segala hal dibungkus dengan kata-kata “saya trauma dengan …..”. Lupa ya, trauma apapun tidak akan pernah mengubah apapun. Justru yang palibg penting adalah merenungkan dan memperbaikinya. Agar essok lebih baik dari hari ini. Agar yang dikerjakan sekarang harus lebih baik dari yang sebelumnya.

 


Seperti pegiat literasi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Ada yang bilang tempatnya jauh dan sifatnya sosial. Jadi apa untungnya berkiprah di taman bacaan? Lupa ya, untung itu ada yang material, ada yang nonmaterial. Untung berupa uang atau harta, ada pula untung berupa pahala dan kebaikan dalam hidup. Jadi, cukup kerjakan saja yang baik tanpa perlu banyak alasan. Biar semuanya waktu yang akan membuktikannya, apapun itu. Asal jangan banyak alasan.

 

Intinya, alasan itu dibuat mereka yang tidak mau bertindak. Banyak alasan jadi bukti tidak ingin sukses, tidak ingin berbuat baik. Senangnya hanya bicara dan omong doang. Ciri orang sukses dan berhasil itu sederhana. Selalu punya pikiran yang positif, semangat untuk berbuat, bergairah untuk saling membantu. Bukan pesimis, apalagi hanya sekadar bicara yang tidak ada manfaatnya. Jauhi pesimis, berpikir negatif, dan perbuatan buruk sekecil apapun itu.

 

Saat alasan-alasan masih banyak dikemukakan. Itulah bukti manusia hanya dibatasi oleh cara berpikir dan mental yang pesimis. Terlalu fokus pada alasan, maka tidak akan pernah ada kemajuan, kebaikan, dan keberkahan. Jangan pernah membuat alasan, karena hari esok dan kebaikan tidak membutuhkannya.

 

Jadi, tidak usah banyak alasan apalagi bermentalitas seperti korban? Bertindak dan berbuat saja lebih baik. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka