Tampilkan postingan dengan label Pertemanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertemanan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2024

Kenapa Berteman dengan Relawan Taman Bacaan?

Siapapun boleh berteman, bisa teman di sekolah teman di kampus. Teman di rumah atau teman sekantor. Tapi berteman harus hati-hati. Karena tidak semua orang bisa dijadikan teman. Apalagi teman yang gemar bergosip, bergibah atau sibuk hanya cerita urusan orang lain. Urusannya sendiri sering lupa?

 

Maka kata carilah yang baik, jangan berteman dengan sembarangan orang. Teman yang mau menghargai dulu, baru dihargai. Teman yang candaannya pun berfaedah. Bikin senyum dan menyenangkan. Bukan teman yang saat di sampingnya saja merasa tidak nyaman. Teman yang baik, biasanya kesehariannya sederhana dan rendah hati. Tidak banyak tingkah, apalagi bersikap arogan dan subjektif. Seolah hanya dia yang paling benar sendiri.

 

Kata Plato, janganlah berteman dengan orang jahat karena sifat kita akan mencuri sifatnya tanpa kita sadari. Teman memang penting. Tapi jangan abaikan dengan siapa kita berteman. Karena teman menentukan baik buruknya perilaku kita.

 


Seperti saya lebih memilih untuk berteman dengan relawan di TBM Lentera Pustaka. Orang-orang baik yang tulus dan ikhlas berkiprah di taman bacaan. Setiap Minggu datang dari jauh hanya untuk membimbing anak-anak yang membaca. Berteman dengan relawan TBM, terbukti lebih nyaman dan tenang. Sambil tetap konsisten berbuat baik dan menebar manfaat. Saat di taman bacaan, siapapun jadi lebih nyaman dan enakan.

 

Jangan sembarang berteman, apalagi di zaman begini. Berteman lebih baik yang apa adanya, bukan ada apanya. Karena teman, sejatinya dia yang selalu mengingatkan dan mengajak kepada kebaikan. Mumpung masih ada waktu, carilah teman yang baik sekarang. Dan maaf tinggalkan saja teman yang buruk dan tidak membawa kita jadi lebih baik. Salam literasi #TemanBaik #RelawanSebagaiTeman #TBMLenteraPustaka

Senin, 01 Mei 2023

Literasi Pertemanan, Jauhi Teman yang Baik di Depan Buruk di Belakang

Sulit dipungkiri, pertemanan pasti memengaruhi sifat dan sikap seseorang. Lingkungan pertemanan yang baik, maka seseorang akan baik. Sebaliknya, bila lingkungan pertemanan buruk maka akan buruklah sifat dan sikap seseorang. Teman yang baik maka akan semakin banyak ilmu, hikmah, serta manfaat yang diperoleh. Maka di stulah, letak pentingnya mempertimbangkan kualitas lingkungan pertemanan. Bukan hanya memperbanyak pertemanan.

 

Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa ukuran ketaatan seseorang bisa dilihat dari kualitas pada teman yang dimilikinya. “Seseorang tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan sebagai teman dekat.” (H.R. Abu Dawud).

 

Saatnya memilih teman yang baik. Karena zaman sekarang, banyak yang mengaku teman di saat senang. Tapi ada pula teman yang hilang di saat susah. Jadi harus hati-hati dalam memilih pertemanan. Tidak semua teman yang ada di grup WA baik. Tidak semua teman di media sosial itu baik. Karena itu sikap dalam berteman sangat penting. Bila bermanfaat maka temanilah. Bila tidak bermanfaat maka jauhilah dengan segala konsekuensinya.

 

Mencari teman pada saat senang itu sangat mudah. Tanpa dicari pun mereka akan banyak datang menghampiri kita. Namun sebaliknya, ketika kita dalam keadaan sulit, yakinlah hampir semua teman akan pergi meninggalkan kita. Jika tersisa, itu pun hanya teman yang memang ikhlas mau berteman dengan kita. Orang-orang yang jujur dalam berteman. Teman yang tidak munafik dalam kondisi dan situasi apapun. Teman yang baik.

 

Saatnya memilih teman yang baik. Bila perlu, hanya memiliki seorang teman jujur dan baik dalam segala kondisi itu jauh lebih baik. Daripada punya banyak teman namun tidak bermanfaat. Apalagi hanya teman-teman yang doyan gibah, fitnah, bahkan gosip. Jauhi dan tinggalkan lingkungan pertemanan yang buruk.  

 


Silakan diingat, siapa sih teman kita yang baik dulu?

Mungkin ada, mungkin pula tidak. Mungkin banyak teman yang datang di saat kita senang. Tapi gilirann kita terjungkal, tidak sedikit teman yang tertawa dan membicarakannya di belakang. Tanpa merasa bersalah dan prihatin sedikit pun lalu tetap mengaku teman. Maka di momen lebaran ini, saatnya memilah dan memilih teman yang baik. Caranya sederhana, carilah teman yang solih, teman yang bermanfaat, dan teman yang bertindak positif. Jika ada, pertahankan. Jika tidak ada, tinggalkan.

 

Berteman di mana pun, pasti memberi pengalaman dan pelajaran yang berbeda. Maka harus hati-hati dan waspada. Karena tidak sedikit pertemanan yang buruk di zaman begini. Agar tidak tertular kebiasaan negatif pertemanana. Maka saatnya memilih teman yang baik, yaitu: 1) teman yang taat ibadah, 2) teman yang mendukung dalam kebaikan, 3) teman yang amanah, 4) teman yang jujur dalam segala keadaan, 5) teman yang bisa mengajak kepada kegiatan positif, dan 6) teman yang menjaga silaturahim dalam bermanfaat. Bukan teman yang hanya jago ngomong tanpa bisa berbuat. Apalagi teman-teman penggibah dan pemfitnah. Jauhi dan tinggalkan saja, toh kita tidak hidup dari mereka. Ada teman yang ngomong baik saat di depan kita. Tapi ada teman yang menebar aib dan menikam saat di belakang kita.

 

Sungguh, jumlah teman yang kamu miliki mungkin terlalu banyak jika kamu menghitungnya. Akan tetapi. Mereka akan menjadi sedikit ketika kamu dalam keadaan sulit (Ali bin Abi Thalib RA).

Jumat, 13 Januari 2023

Literasi Pergaulan, Jauhi Toxic Friend

Toxic friend itu istilah untuk “teman beracun”. Teman yang banyak omong tapi nggak ada manfaatnya. Teman yang melakukan intimidasi atas nama bercanda tapi nggak ada gunanya. Toxic friend itu aneh, apa saja dianggap boleh buat dia. Tapi buat orang lain nggak boleh. Toxic friend itu lupa, memangnya dia siapa?

 

Di zaman begini, toxic friend ada di mana-ama. Apalagi di media sosial, di grup-grup WA. Teman beracun, bisa jadi melimpah ruah. Dia bukan siapa-siapa, bukan pula apa-apa. Tapi lagak dan bacotnya seperti orang paling benar sendiri. Selalu mencari “pembenaran” atas omongannya. Selalu berjuang keras untuk meng-intimidasi orang lain. Selalu mencari cara agar pikiran jeleknya tersalurkan. Toxic friend itu membahayakan. Kerjanya memanipulasi orang lain, gemar hoaks, meremehkan orang lain, dan masih banyak lagi. Bila ditegur, bilangnya bercanda.

 

Toxic friend suka lupa. Dia bukan siapa-siapa, dia juga bukan apa-apa. Bilangnya berteman tapi tindakanya “memusuhi”. Hati-hati terhadap toxic friend. Saat Anda merasa tidak nyaman berteman dengannya itulah toxic friend alias teman beracun. Maka, toxic friend pantas untuk dijauhi. Memang butuh keberanian dan sikap tegas untuk “teman beracun”. Apalagi teman yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Agar kita tidak terkena dampak negatif darinya. Sekaligus membebaskan lingkungan dari toxic friend. Bahwa tidak boleh ada “teman beracun” di dekat kita!

 

Bila Anda berhadapan dengan toxic friend atau teman beracun, saat Anda tidak nyaman bersamanya. Maka, setidaknya ada 5 (lima) cara menghindari toxic friend:

1. Menjauh dari toxic friend saat membahas topik yang tidak ada manfaatnya.

2. Berhenti bercakap-cakap dengan toxic friend.

3. Abaikan apapun yang diperbuat toxic friend.

4. Bersikap berani katakan 'tidak' pada toxic friend.

5. Jangan pernah membiarkan toxic friend memengaruhi pikiran dan emosional.

 


Memang tidak mudah menghadapi toxic friend atau teman beracun. Apalagi bila toxic friend-nya mengaku teman dekat. Sehingga menganggap boleh melakukan apa saja. Saat kita ada di depannya saja “beracun”. Apalagi kita tidak ada, bisa jadi lebih parah. Seperti ungkapan umum yang menyebut “di depan lain di belakang lain”. Jadi, toxic friend cukup dijauhi dan hindari saja. Karena tidak ada guna juga melawannya.  Toh, toxic friend bukan apa-apa, bukan siapa-siapa pula.

 

Di luar sana, masih banyak kok teman-teman yang baik. Orang-orang yang berkomentar dan berceloteh untuk perbuatan baik. Mau berkolaborasi dalam kemanfaatan untuk sesama. Bukan celoteh yang tidak ada gunanya. Agar semua tindak-tanduk kita bisa jadi ladang amal.  Lagi pula, masih banyak agenda kebaikan yang belum digarap. Jadi untuk apa membuang waktu untuk bergaul dengan toxic friend?

 

Sejatinya, toxic friend itu akan melakukan apapun untuk kepentingan dirinya sendiri. Bila perlu menuntut orang lain berhenti melakukan perbuatan baik. Lalu, meladeni “racun-racun” yang diumbarnya. Sangat toxic, karena folusnya masalah dan gibah bukan solusi. Makin toxic, karena memaksakan kehendaknya agar diikuti orang lain. Toxic friend lupa ajaran"khairunnaas anfauhum linnaass". Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

 

Maka jangan kasih ruang untuk “toxic friend” alias teman beracun. Jauhi dan hindari, karena teman yang toxic tidak ada manfaatnya sama sekali. Kita harus berani menghapus teman-teman beracun. Jangan kotori hari-hari dengan toxic friend. Karena mau sampai kapan bergaul dengan teman-teman yang beracun? Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Rabu, 10 Maret 2021

Taman Bacaan Tegaskan Berteman Itu Isi Bukan Bungkus

Berteman itu Isi Bukan Bungkus

Kotax, begitu teman-teman semasa SMPN 216 dan SMAN 30 memanggilku. Kenapa kotax? Itu gak penting. Apalah arti sebuah nama, apa arti sekadar panggilan. Sesederhana itu.

Aku bisa muncul dengan berbagai cara. Lewat kata, lewat tiap tetesan tinta, atau lewat setiap tindakan nyata. Selagi mau berbuat dan bermanfaat untuk orang lain, insya Allah aku oke oke saja.

 

Sama sekali, aku gak ingin jadi apa-apa. Karena aku memang bukan apa-apa. Bahkan bukan siapa siapa. Tapi aku hanya ingin lebih bermanfaat di sisa usiaku. Meneteskan sedikit "warisan" untuk umat. Mengukir sebuah legacy kehidupan. Ketika aku pergi nanti...

 

Menjadi apa aku?

Itu juga gak terlalu penting. Seperti apa aku, pun sangat gak penting. Aku, hanya bertumpu pada "dari mana aku berasal?" dan hendak "kemana aku pergi?".

 

Maka aku, kini. Di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka, di Kaki Gunung Salak. Aku hanya ingin membuat ratusan anak-anak kampung punya akses bacaan. Ya, membaca buku sambil tersenyum menatap masa depan. Agar tidak ada anak yang putus sekolah. Agar jangan ada lagi ibu-ibu buta huruf. Agar anak-anak kelas prassekolah bisa baca dan tulis. Bahkan bertekad untuk mengajak anak-anak yatim itu tetap melangkahkan kaki ke sekolah. Karena "khairunnass anfa uhum linnass - sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya".



Berteman itu isi bukan bungkus ...

Berteman itu "isi" bukan "bungkus". Maka aku pun hanya menghargai tiap tarikan nafas pertemanan yang penuh ikhlas dan tulus. Berkomitmen menebar kebaikan, bukan sebaliknya. Tentu, dengan segala kurang dan lebihnya.

 

Begitulah seharusnya berteman. Entah, semasa di SDN Kenari 12 Salemba, SMPN 216 Salemba, SMAN 30 Rawasari. Atau semasa kuliah S1 di Universitas Negeri Jakarta (IKIP Jakarta), S2 di UKI, dan kini S3 di Universitas Pakuan Bogor. Bahkan pertemanan sesama professional di industri asuransi jiwa dan DPLK. Pertemanan yang memberi kemanfaatan untuk orang lain.

 

Panggil aku, Kotax. Begitu teman-temanku menyapa. Karena aku tahu. Teman itu hadir. Pasti untuk melengkapi bagianku yang kurang. Bersinergi, berkolaborasi untuk sebuah kebaikan; sebuah kepedulian.

 

Dari sini, aku terus belajar dan belajar. Bahwa berteman, itu harus berani untuk memahami baru kemudian dipahami. Tanpa ego, tanpa merasa benar sendiri. Maka, aku ucapkan terima kasih teman. Semoga kalian sehat dan berkah selalu...

 

Memang benar. Berteman dan apapun. Fokuslah pada isi bukan bungkus-nya ... ciamikk #TemanSekolah #TBMLenteraPustaka #IsiBukanBungkus #TamanBacaan