Tampilkan postingan dengan label Literasi diam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi diam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Februari 2026

Kenapa Diam Saat Berpuasa?

Diam, memang bukan syariat dalam berpuasa. Tidak ada yang menyuruh diam saat berpuasa. Karena puasa fokusnya adalah menahan diri dari makan dan minum, hubungan suami istri, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar hingga maghrib. Tapi ada tradisi orang yang berpuasa untuk tidak berbiacara alias diam.

 

Walaupun tidak wajib, sebagian orang memilih diam saat puasa. Semata-mata untuk menjaga lisan. Agar tidak terjebak pada pembicaraan yang sia-sia atau dapat mengurangi pahala puasa. Diam untuk menghindari ghibah (menggunjing), menghindari fitnah dan dusta. Diam agar terhindar dari perkataan kasar atau debat yang tidak perlu. Makanya ada hadis yang menyebut bahwa jika seseorang diajak bertengkar saat puasa, hendaknya menjawab: “Saya sedang berpuasa.”

 

Diam saat berpuasa, intinya untuk mengendalikan ucapan, mengurangi hal sia-sia, dan menjaga kualitas ibadah. Akan tetapi, diam menjadi wajib bila saat berpuasa bertemu dengan 5 (lima) jenis orang seperti ini:

1.  Orang yang selalu ingin menang dalam setiap percakapan. Bicara bukan untuk mencari kebenaran, tapi mengejar kemenangan. Karenany, diam bukan tanda kalah tapi tanda kita tidak mau masuk ke medan yang penuh egoisme.

2. Orang yang senang menjelekkan orang lain. Apa yang keluar dari mulutnya mencerminkan isi hatinya. Bicara hanya akan menyeret kita ke energi yang sama rendahnya, lebih baik diam.

3. Orang yang menolak memahami. Sebanyak apa pun kita menjelaskan, ia hanya mendengar untuk membalas. Bukan untuk mengerti. Diam adalah bentuk perlindungan diri dari kebisingan batinnya.

4. Orang yang hidup dari drama dan konflik. Orang-orang yang butuh penonton, bukan solusi. Ketika kita diam, maka panggung mereka runtuh dengan sendirinya.

5. Orang yang senang menguji kesabaran kita. Mereka muncul untuk mengajarkan kendali bahkan kontrol diri. Diam adalah bentuk kemenangan batin atas dorongan untuk bereaksi.

 


Bertemu dengan orang-orang seperti di atas, lebih baik diam. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita sedang menjaga energi agar tidak terpapar getaran yang merusak kedamaian batin. Apalagi di saat sedang berpuasa, lebih baik diam.

 

Diam, kadang diperlukan saat puasa. Memang tidak disyariatkan tapi diam adalah cara untuk menjaga lisan dari hal-hal yang tidak perlu atau mengurangi pahala puasa. Saat puasa, justru bicara yang baik-baik bisa bernilai pahala atau lebih baik membaca buku saja.

 



Minggu, 07 Mei 2023

Diamkan Mereka Tanpa Perlu Jelaskan Apapun

Tidak dapat dipungkiri, banyak orang lebih senang berkomentara atau bicara. Meninjau jalan rusak di Lampung, dikomentari bahkan dinyinyirin. Silaturahmi politik dibahas. Bahkan orang lain yang tidak ada hubungannya sekalipun ikut dikomentari. Gemar bicara banyak omong. Orang sekarang kayaknya sudah lupa diam.

 

Diam itu tidak berbicara. Tindakan tidak bersuara atau tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Karena lebih baik diam daripada banyak bicara. Apalagi bila tidak tahu banyak akan suatu hal, lebih baik diam. Tapi sayangnya, hanya sedikit orang memilih diam. Padahal diam itu penting. Agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

 

Boleh jadi, diam adalah cara terbaik untuk mengusi kebiasaan buruk. Terlalu banyak omong, segala sesuatu dikomentari. Apalagi bila bicara hanya digunakan untuk gosip,, gibah, dan fitnah. Lebih baik diam, diam lebih baik. Diam, diam, dan diam. Biarkan orang lain terus berprasangka. Toh, mereka yang akan menanggungnya sendiri akibatnya.

 

Alangkah indahnya diam, bila bicara hanya menyakiti orang lain.

Alangkah terhormatnya diam, bila bicara untuk merendahkan orang lain.

Alangkah baiknya diam, bila bicara justru menimbulkan dosa.

Dan alangkah kerennya diam, bila bicara malah menebar aib orang lain.

 

Akan tetapi betapa dahsyatnya bicara, bila diam dapat mengakibatkan celakanya orang lain.

Betapa saktinya bicara, bila diam dapat menjadikan ruginya orang lain.

Betapa pentingnya bicara, bila diam dapat mengubur harapan masa depan orang lain.

Betapa bagusnya bicara, bila diam dapat berujung direndahkannya derajat orang lain.

 


Maka berlatihlah diam bila itu baik. Dan bicaralah bila itu maslahat. Asal jangan banayk bicara tanpa alasan apalagi hanya untuk mengintimidasi orang lain. Lebih baik diam bila tidak bisa membantu apapun. Karena diam itu emas, bila bicara tidak mampu jadi Mutiara.

 

Diamlah untuk menjadi lebih baik. Karena siapapun tidak perlu menjelaskan, karena mereka memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. “Barang siapa tidak mengiringi shalatnya dengan ketaatan, maka itu bukanlah shalat. Ketaatan yang mengiringi shalat adalah rasa malu dan meninggalkan perbuatan buruk.” (Al-hadits)

 

Diam adalah perbuatan baik. Sekaligus cara sederhana untuk menghilangkan kebiasaan buruk bagi orang yang terlalu banyak bicara. Tapi nihil dalam perbuatan baik. Cukup diam dan kerjakan terus perbuatan baik. Salam literasi!