Selasa, 26 Maret 2024

Disertasi Doktor Taman Bacaan Masyarakat dan Kisah Anak Difabel

Sore itu mendung masih menyelimuti, puncak gunung pun tertutup kabut. Terlihat anak difabel tetap tekun membaca buku. Suara paraunya terdengar membaca kata demi kata sebuah buku. Di Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.

 

Namanya Tasya, anak difabel yang tinggal sekitar 3km dari taman bacaan. Sudah empat tahun ini selalu rajin membaca di taman bacaan. Buku demi buku dibacanya. Secercah harapan tersungging dari balik bibirnya. Sejak menjadi anak taman bacaan, seperti ada surga yang bisa ditapakinya. Ibunya yang selalu mengantar ke taman bacaan pun berkata, “Tasya sekarang berbeda jauh dari sebelumnya. Dia begitu optimis dan selalu semangat bila waktunya ke taman bacaan” katanya.

 

Tasya sudah tidak melanjutkan sekolah akibat keterbatasannya, termasuk tidak tahan lagi dengan perilaku bully teman-temanya. Tasya tadinya hanya seorang anak yang pemurung dan terkadang emosional karena keadaannya. Dia lebih memilih mengurung diri. Tapi setelah bergabung di TBM Lentera Pustaka, kini Tasya tercatat sebagai anak yang paling rajin datang dan membaca buku. Selalu menunggu jadwal untuk ke taman bacaan. Tasya yang selalu fanatik datang ke taman bacaan, di samping menjadikan taman bacaan sebagai jalan hidup dan sarana aktualisasi diri di tengah keterbatasan yang dialaminya.

 

Saat diantar ibunya ke TBM Lentera Pustaka untuk bergabung 4 tahun lalu, saya pun hanya berkata, ”Baiklah Nak, silakan datang ke TBM Lentera Pustaka. Jadikan sarana aktualisasi diri, di samping tetap membaca buku. Agar hidup jadi lebih semangat dan bergairah” ujar saya selaku pendiri TBM Lentera Pustaka kala itu.

 

Apa yang dialami Tasya, hanyalah potret dari salah satu anak pembaca aktif yang ada di taman bacaan, Tentu masih banyak lagi anak-anak kampung lainnya yang merasakan secara langsung manfaat taman bacaan. Bukan hanya menyediakan akses bacaan agar bisa membaca buku. Tapi lebih dari itu, untuk memotivasi dan menyemangati anak-anak yang berasal dari keluarga prasejahtera. Bahwa mereka punya kesempatan yang sama untuk membaca buku dan menatap masa depan dengan penuh optimis, persis seperti anak-anak Indonesia lainnya.

 

Setelah berjalan 7 tahun ini, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor terus berkembang. Makin membuktikan peran nyata dan kontribusi sosial dalam meningkatkan kegemaran membaca anak-anak, di samping menjadi sentra pemberdayaan masyarakat. Ada 14 program literasi yang dijalankan, mulai dari TAman BAcaan (TABA), GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA), KElas PRAsekolah (KEPRA), YAtim BInaan (YABI), JOMpo BInaan (JOMBI), RAjin menaBUng (RABU), LITerasi DIGital (LITDIG), LITerasi FINansial (LITFIN), Koperasi Simpan Pinjam, hingga MOtor BAca KEliling (MOBAKE). Tidak kurang dari 200 orang setiap minggunya menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka, yang didukung 6 wali baca dan 12 relawan. Setelah melewati berbagai tantangan dan hambatan yang luar biasa, kini TBM Lentera Pustaka makin menegaskan komitmennya untuk berkiprah nyata untuk gerakan literasi dan pemberdayaan taman bacaan di tengah masyarakat.

 


Dari cerita Tasya dan anak-anak pembaca aktif yang ada sekarang, TBM Lentera Pustaka pun telah mengubah cara pikir dan jalan hidup seorang Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka yang mengubah garasi mobil rumahnya menjadi taman bacaan, Dari hanya 14 anak jadi ratusan anak yang terinfeksi “virus membaca”. Dari tidak punya relawan jadi ada 12 relawan. Dari tidak ada ibu-ibu yang mengantar anaknya kini jadi tempat berkumpul ibu-ibu yang literat. Tentu, berkat dukungan dari perusahaan swasta yang selalu ber-CSR di TBM Lentera Pustaka setiap tahunnya, seperti Bank Sinarmas dan Chubb Life.

 

Taman bacaan memang hanya jalan sunyi pengabdian. Taman bacaan memang masih jadi aktivitas sosial yang dipandang sebelah mata. Tapi berkat komitmen, konsistensi, dan kolaborasi pada akhirnya taman bacaan mampu menjadi sentra pemberdayaan masyarakat yang komprehensif, kawah candradimuka untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya membaca buku, ilmu, akhlak, dan adab untuk anak-anak Indonesia ke depan.

 

Sepengggal kisah anak difabel seperti Tasya dan pengalaman kiprah nyata dan pengabdian di taman bacaan, Syarifudin Yunus selaku Pendiri TBM Lentera Pustaka sebagai mahasiswa Program Studi Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan memuncakinya dengan penelitian disertasi berjudul “Peningkatan Tata Kelola Taman Bacaan Melalui Pengembangan TBM Edutainment Berbasis Model CIPP Pada Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kabupaten Bogor” dnegan promotor Prof. Dr.rer.pol. Ir. Didik Notosudjono, M.Sc., IPU dan ko-promotor Dr. Martinus Tukiran, M.T.

 

Melalui komitmen dan konsistensi berkiprah diu taman bacaan plus ditambah sikap sabar lagi ikhlas dalam mengelola taman bacaan, apapun kendalanya, disertasi tata kekola taman bacaan secara khusus dipersembahkan Syarifudin Yunus untuk dunia taman bacaan. Sebuah kemenangan hakiki yang ilmiah sebentar lagi diraih taman bacaan masyarakat. Salam literasi #DisertasiTamanBacaan #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan


Senin, 25 Maret 2024

Ngabubu-Read di TBM, Kenapa Peduli Pada Penilaian Orang Lain?

Ada benarnya nasihat yang menyuruh “jangan pusing dengan pendapat orang lain”. Karena toh orang lain tidak membantu apapun yang kita lakukan. Apalagi di saat kita terjatuh, orang lain pun hanya mengomentari. Malah seringnya hanya berkomentar negatif. Jadi, jangan pusing dengan pendapat atau komentar orang lain.

 

Apalagi urusan berbuat baik dan menebar manfaat, pasti ada saja orang yang berkomentar buruk. Berprasangka menurut versinya sendiri. Maka jangan pusing pada komentar orang lain. Apapun yang baik, kerjakan saja. Biarkan orang lain jadi komentator. Karena setiap kebaikan yang dilakukan sama sekali tidak perlu dibuktikan kepada siapapun. Kita yang melakukan maka kita pula yang lebih tahu. Orang lain sejatinya hanya sok tahu.

 

Apapun namanya, teruslah berbuat baik. Apalagi di bulan suci Ramadan, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Kerjakan apapun yang baik dan bermanfaat, karena semuanya akan kembali kepada kita. Tidak usah peduli atas apa yang dikatakan orang lain. Asal niatnya baik dan ikhtiarnya bagus, jalankan saja. Toh, tidak merugikan orang lain dan tidak mengambil hak orang lain.

 


Seperti aktivitas sosial di taman bacaan pun tidak luput dari komentar orang lain. Taman bacaan ya tempat membaca, mengajar calistung anak kelas prasekolah, memberantas buta huruf, tempat belajar computer anak-anak yang selama ini tidak pernah menyentuh keyboard, bahkan mendekatkan akses buku bacaan ke anak-anak kampung melalui mtor baca keliling, Hanya saja di mata orang yang pikirannya buruk prasangkanya jahat, pasti taman bacaan dianggap jelek. Selagi niatnya baik ikhtiarnya bagus maka kerjakan saja. Jangan pusing dengan pendapat orang lain. Biarkan waktu yang akan membuktikannya. Bila perlu katakan pada mereka, “elo bantu nggak pake komentarin, sorry ye…”

 

Berbagai literatur menyebut, prasangka dan pendapat orang lain itu lebih banyak salahnya daripada benarnya. Karena orang lain itu peduli saat ada maunya, dan terlalu gampang berubah menjadi jahat karena benci dan iri. Itu saja rumusnya. Jadi lebih baik fokus saja pada aktivitas baik dan diri kita sendiri. Tidak ada ruang bagi orang lain yang sama sekali pada orang lain yang tidak ada kontribusi apapun. Apalagi yang kerjanya hanya mengomentari dan menghakimi. Kita bertindak itu bukan mengikuti jejak orang lain tapi mendengarkan kata hati.

 

Teruslah berbuat baik dan menebar manfaat di mana pun. Dan ketahuilah, siapapun yang membenci kita pasti karena kita lebih baik darinya. Maka jangan pusing dengan pendapat orang lain, jangan dengarkan apa kata mereka. Teruslah melangkah dengan gegap gempita. Salam literasi #NgabubuRead #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

 

Minggu, 24 Maret 2024

Menata Hidup di Taman Bacaan

Sudah terbukti dalam berbagai cerita. Bahwa keberhasilan seseorang dalam hal apapun, pasti dimulai dari impian, menyusun target, dan menggelutinya dengan telaten. Karen tanpa impian, siapapun tidak punya harapan. Tanpa target, impian tidak mungkin bisa dicapai sesuai harapan. Dan tanpa ketelatenan, impian semakin jauh dari harapan. Jauh panggang dari api, apa yang diimpikan apa yang dikerjakan. Maka apapun, tidak ada yang instan, semua butuh proses.

 

Jalan hidup tiap orang pun berbeda. Kemampuan dan potensi pun berbeda-beda. Bahkan rezeki masing-masing orang pasti berbeda. Ada yang mendaki cepat meraih anak tangga tertinggi, ada yang normatif, dan ada yang harus merangkak tertatih-tatih. Jalani saja semuanya, sambil tetap menata diri.

 

Jangan pernah mengeluh atas semua hal yang telah berlalu, apalagi untuk yang akan datang, Jangan pesimis, apalagi khawatir berlebihan. Semua sudah ada jalannya, ada porsinya masing-masing. Siapapun tidak ada yang tahu bagaimana kondisi kita di masa depan? Mau jadi orang berhasil atau orang miskin tergantung dari apa yang dilakukan sekarang. Jangan membuang waktu hanya untuk mengeluh atau meratapi keadaan. Jalani apapun dengan penuh suka cita dan rasa syukur.

 

Jadi, apa targetnya selama hidup di dunia? Mau kaya, mau berhasil atau mau tenar? Silakan saja, apapun boleh. Tapi ketahuilah, ada target yang orientasinya tidak lagi duniawi. Membahagiakan orang tua di surga. Selalu berbuat baik, bisa memberikan yang terbaik kepada sesama. Atau meraih gelar sebagai sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Perbaiki target, jangan hanya urusan dunia. Tentukan juga target urusan akhirat, bekal untuk dibawa “pulang”.

 


Seperti berkiprah secara sosial di taman bacaan, apa targetnya? Menyediakan tempat membaca buku anak-anak, memfasilitasi akses bacaan, memberantas buta huruf, menekan angka putus sekolah, hingga mengajarkan akhlak-adab yang baik untuk anak-anak. Bahkan menjadikan taman bacaan sebagai ladang amal pun bagus. Bila sudah jelas targetnya, jalani dan kerjakan saja, Tanpa usah peduli pada omongan atau komentar orang lain. Toh, mereka juga tidak membantu kan? Apa pedulinya …

 

Nah, jika impian dan target sudah jelas. Mulailah menyusun langkah untuk meraihnya. Kerjakan yang harus dilakukan dengan telaten. Tentu atas dasar komitmen, tekad kuat, dan sikap istikomah. Mulai dengan penuh kesabaran, jalani dengan keikhlasan. Dan yang penting, jangan lupa untuk bersandar hanya kepada-Nya, tempat akhir memohon kemudahan. Niatkan untuk menata diri, teruslah memperbaiki diri.

 

Hasil akhir? Pasrah dan bertawakal hanya kepada Allah, sebagai pemegang kebijakan terbaik. Mari kita tata hidup lebih baik lagi, lebih bermanfaat lagi. Jangan biarkan waktu yang bergulir terbuang percuma dan sia-sia. Masih banyak kebaikan yang bisa dikerjakan, masih banyak manfaat yang bisa ditebarkan. Agar nantinya, ada jejak indah sebagai tanda menuju jannah-Nya. Sambil tetap syukuri apa yang dimiliki dan tinggalkan apapun yang telah berlalu. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka




Jumat, 22 Maret 2024

Jadilah Orang Baik di Taman Bacaan

Di era seperti sekarang, tidak mudah menemukan orang baik. Karena orang baik selalu memperlakukan semua orang dengan perhatian dan rasa hormat. Bersedia mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaga untuk kebaikan orang lain. Bukan hanya untuk dirinya sendiri. Terbiasa berbuat baik pada siapapun. Maka orang baik bersikap apa adanya, jujur, dan moralnya berpihak pada kebenaran.

 

Orang baik bukan orang yang omongannya baik tapi perbuatannya buruk. Bukan pula yang tampak depan senyum, di belakang cemberut. Orang baik sama sekali tidak suka menyalahkan orang lain. Lebih banyak diam dan tetap berada di koridor baiknya. Apapun yang disangka dan diomongkan orang lain, orang baik tetap apa adanya saja.

 

Orang baik selalu percaya. Bahwa setiap perbuatan baik pasti akan kembali kepada dirinya. Setiap perbuatan baik pasti membawa pelakunya ke kehidupan yang lebih baik. Kepada musuhnya saja tidak berpikir buruk, apalagi kepada orang lain. Maka siapapun yang benar-benar baik tidak akan melepaskan kebaikannya karena orang jahat.

 

Jadilah orang baik dan berbuatlah yang terbaik. Bila punya uang, jadikan sebagai alah untuk berbuat baik. Bila tidak punya uang, kerjakan apapun dengan baik. Jangan pernah lelah jadi orang baik di mana pun dan kapan pun. Apapun kata orang, tetaplah baik dan rendah hati. Sambil tetap sabar dan ikhlas dalam kebaikannya. Biarkan waktu yang akan membuktikannya.

 


Tapi bila belum mampu berbuat baik, jangan pula jadi orang jahat. Jangan mau jadi orang buruk dalam ucapan, sikap, dan perbuatan. Karena sehebat apapun, kesudahan orang jahat hanyalah kebinasaan dan kehancuran. Apalagi bila tidak mau sadar dan bertaubat. Ketahuilah, baik itu ada di hati bukan di omongan. Dan hanya Allah yang berkah menentukan baik buruknya seseorang. Sadarilah, siapapun tidak berhak menghakimi orang lain.

 

Prinsip berbuat baik dan menebar manfaat itulah yang dijunjung tinggi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Apapun tantangannya tetap istikomah mengajarkan kebaikan kepada anak-anak dan orang tua. Melalui buku-buku bacaan, melalui aktivitas literasi yang bermanfaat. Karena baik itu perbuatan, bukan omongan. Jadilah baik yang literat. Gaspol terus amal baik di taman bacaan.

 

“Kemudian, azab yang lebih buruk adalah kesudahan bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan …” (QS. Ar-Rum: 10).

 

Menjadi orang baik bukan hanya penting. Tapi juga jadi pengalaman yang menyenangkan. Dan pada akhirnya, insya Allah orang baik selalu diberi sehat dan berkah dalam hidupnya. Berkah pada orang baik selalu datang dengan cara yang tidak terduga. Perbaiki niat dan ikhtiar, agar hidup lebih baik. Gaspol amal baik, jangan membuang waktu dengan percuma. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Berbuat Baik di Taman Bacaan, Pasti Ada Balasannya

Pernah dengar cerita ini nggak? Alkisah di suatu pasar. Ada 2 orang yang senantiasa jadi bahan pembicaraan orang banyak. Karena keduanya, termasuk yang ramai usahanya. Banyak pengunjungnya. Satu tukang daging, satu lagi tukang jahit.

 

Tapi omongan orang banyak berbeda. Tukang daging dikenal sangat dermawan. Hampir setiap pekan di hari tertentu ia bagi-bagi daging secara gratis ke orang-orang. Semua orang memuji tukang daging, dianggap baik. Sementara tukang jahit dibicarakan buruknya.  Tidak sedikit orang yang berbicara hal negatif tentangnya. Nggak pernah sedekahlah. Nggak pernah berbagilah. Selalu dibanding-bandingkan kedermawanan antara tukang jahit dan tukang daging. Begitulah kehidupan sehari-hari orang di pasar. Ngomongin tukang daging dan tukang jahit. Hampir tidak ada topik lainnya.

 

Hingga suatu waktu. Tukang jahit pun meninggal dunia. Anehnya, sejak saat itu. Tukang daging nggak lagi berbagi daging drastis seperti biasanya. Orang-orang pasar pun akhirnya bertanya. "Kenapa sekarang kamu nggak berbagi lagi daging lagi..?"

 

Tukang daging menjawab, "Iya, karena selama ini tukang jahitlah yang menyuruh dia berbagi daging ke orang. Tukang jahit yang membiayai semua daging yang dibagikan itu".

 

Orang-orang pasar pun kaget. Mereka menyesal telah berprasangka buruk ke tukang jahit. Salah sangka dan berpikir negatif. Tapi sayang, komentar dan buruk sangka orang-orang pasar sudah terlanjur keluar.Minta maaf pun nggak ada gunanya. Sudah nggak bisa lagi bertemu dengan tukang jahit. Jadilah, prasangka buruk yang abadi di orang-orang pasar.

 


Sahabat, apapun hal baik selalu ada hikmahnya. Seperti yang dilakukan tukang jahit. Tidak akan ada kebaikan yang terkubur selamanya. Andai hari ini tidak nampak, nanti di saat waktunya tiba, pasti Allah akan membuka tabirnya. Hingga semua orang tahu kebenarannya, tahu yang sebenarnya. 

 

Menolong atau membantu sesama itu bisa lewat berbagai cara. Bisa tampak bisa tidak tampak. Asal niatnya baik, aksinya nyata. Dan tidak harus terlihat orang banyak seperti yang dilakukan tukang jahit. Asal tulus dan tidak berharap imbalan apa pun, tidak pula ingin dipuji orang banyak. 

 

Ketahuilah, nilai seseorang bukan terletak pada apa yang dilihat, apa yang diomongkan. Tapi terletak pada apa yang diberikan, baik diam-diam atau terang-terangan. Apapun yang baik pasti dibalas, pasti akan terkuat pada waktunya. Sehebat apapun manusia merekayasa, pada akhirnya akan terungkap kebenaran yang sebenarnya. 

 

Maka jangan lelah berbuat baik. Jangan khawatir tidak mendapatkan balasan ketika jadi orang baik. Teruslah berbuat baik di mana pun, selagi bisa selagi mampu. Termasuk berbuat baik dan menebar manfaat di taman bacaan. Membimbing anak-anak yang membaca, sediakan akses bacaan, ajarkan akhlak baik anak-anak, memberantas buta huruf, hingga sediakan akses bacaan ke kampung-kampung lewat motor baca keliling. Seperti yang terjadi di Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.

 

Karena itu, orang yang gemar berbuat baik harus punya dua sifat yang menyertai kebaikannya agar tidak merasa lelah dan menyerah. Yaitu sabar dan ikhlas.

 

Sabar untuk terus istiqomah. Ikhlas jika memang tidak ada satu orang pun yang tahu. Namun, Allah SWT pasti tahu dan pasti akan membalasnya. Salam literasi #BacaBukanMaem #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka 

Kamis, 21 Maret 2024

Gimana Uang DPLK Bila Saya Belum Mencapai Usia Pensiun, Apa Bisa Dicairkan?

Ada yang bertanya, apakah program DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) dapat dibayarkan kepada peserta yang belum mencapai usia paling rendah 5 (lima) tahun sebelum Usia Pensiun Normal (sebelum usia 50 tahun)? Jawabnya dengan tegas, manfaat pensiun di DPLK “tidak boleh” dibayarkan kepada peserta sebelum mencapai usia pensiun dipercepat (50 tahun) sesuai regulasi terkinikan, baik UU No. 4/2023 tentang PPSK amupun POJK 27/2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Dana Pensiun.

 

Kenapa begitu? Karena sejatinya, manfaat pensiun hanya dapat dibayarkan kepada peserta DPLK bila dikaitkan dengan usia pensiun, masa kerja, dan/atau masa mengiur Sehingga peserta DPLK memiliki penghasilan yang memadai di masa pensiun atau hari tua. Makanya manfaat pensiun disefiniskan sebagai manfaat yang diterima oleh peserta baik secara berkala dan/atau sekaligus sebagai penghasilan hari tua yang dikaitkan dengan usia pensiun, masa kerja, dan/atau masa mengiur

 

Wah, kalau begitu DPLK tidak menarik dong ya? Soal menarik atau tidak menarik DPLK itu relative. Tapi yang jelas, seharusnya peserta memahami untuk apa memiliki program DPLK. Tentu, untuk masa pensiun atau hari tua saat tidak bekerja lagi. Agar tetap punya penghasilan yang layak. Apalagi kondisi actual saat ini, manfaat pensiun yang diterima pensiunan di Indonesia tergolong rendah. Rata-rata hanya setara 10% dari penghasilan  terakhir. Salah satu sebabnya, karena program pensiun yang ada terkesan “terlalu mudah menarik dana di usia muda”. Belum masuk usia pensiun, uang DPLK-nya sudah dicairkan. Dan akhir, jadilah 7 dari 10 pensiunan mengalami masalah keuangan (alias jatuh miskin) di hari tua. Begitu realitasnya bukan?

 


Jadi, peserta DPLK saat ini tidak lagi bisa mencairkan manfaat pensiun di DPLK sebelum mencapai usia pensiun dipercepat atau usia pensiun normal? Berul sekali, karena dPLK sebagai program pensiun memang didedikasikan untuk masa pensiun atau hari tua.

 

Akan tetapi, sesuai POJK No. 27/2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Dana Pensiun, ditegaskan pada Pasal 71 ayat 1) DPLK dilarang melakukan pembayaran Manfaat Pensiun kepada Peserta sebelum mencapai usia paling rendah 5 (lima) tahun sebelum Usia Pensiun Normal, kecuali untuk: a) pembayaran Manfaat Pensiun kepada Janda/Duda atau anak; b) pembayaran Manfaat Pensiun Disabilitas; c) kondisi mendesak tertentu yaitu pada saat Peserta mengalami kesulitan keuangan dan sakit kritis; dan d) kondisi tertentu bagi Peserta yang bukan pekerja penerima upah pada badan usaha. Artinya, apabila kondisi-kondisi tersebut dialami peserta DPLK maka dapat dikecualikan sehingga manfaat pensiun dapat dibayarkan kepada si peserta DPLK.

 

Menarik untuk dicermati, kalimat “Peserta yang bukan pekerja penerima upah pada badan usaha”. Itu berarti Peserta DPLK secara mandiri yang tidak bekerja pada suatu badan usaha atau tidak memiliki Pemberi Kerja. Contohnya: pengusaha, artis, dan/atau pedagang. Asalkan kondisi di mana Peserta DPLK telah mencapai masa kepesertaan DPLK selama 10 (sepuluh) tahun, maka manfaat pensiun dapat dibayarkan. Utamanya hal ini sering terjadi pada peserta DPLK yang bersifat individual, bukan yang diikutsertakan oleh pemberi kerja.

 

Pembayaran manfaat pensiun sebelum usia pensiun dipercepat di DPLK dapat dikecualikan terhadap 1) Janda/Duda atau anak; b) Disabilitas; c) kondisi mendesak tertentu (kesulitan keuangan dan sakit kritis), dan d) kondisi tertentu bagi Peserta yang bukan pekerja penerima upah pada badan usaha. Tentu saja, untuk pembayaran manfaat pensiun atas kondisi di atas harus dibuktikan dengan dokumen pendukung atau surat keterangan dari pihak yang berwenang.

 

Maka untuk menghindari terjadinya salah tafsir atau mis-interpretasi tentang program DPLK khususnya bagi peserta individu, patut di-edukasi bahwa kepesertaan DPLK secara individu setidaknya minimal 10 tahun bila manfaat pensiunnya mau dibayarkan? Di mana calon peserta DPLK mendapat informasi tersebut? Begitulah sekilas tentang pengecualian pembayaran manfaat pensiun bagi peserta DPLK sebelum mencapai usia pensiun dipercepat atau usia pensiun normal/ Salam #YukSiapkanPensiun #DanaPensiun #EdukasiDanaPensiun

 

Rabu, 20 Maret 2024

Tadarusan, Optimalkan Ibadah Puasa di Taman Bacaan

Banyak orang gembira menyambut dan menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Karena di bulan puasa, berkah berlimpah dan pahala berlipat ganda. Maka kerjakan saja yang baik dan bermanfaat di bulan puasa. Jangan puasa hanya dipakai tidur atau ngobrol di grup WA yang tidak ada ujungnya. 

 

Optimalkan ibadah di bulan puasa. Sedikit apapun kerjakan saja. Jangan terpengaruh pada perasaan apalagi lingkungan. Sekali lagi kerjakan amal ibadah apapun. Untuk memperbanyak pahala puasa. Mumpung bulan suci, bulan penuh berkah. 

 

Jika kita tidak bisa memperbanyak ibadah bangun malam, maka hendaknya kita memperbanyak sedekah.

 

Jika kita tidak mampu bersedekah, maka hendaklah kita perbanyak membaca Al-Qur'an.

 

Jika kita tidak mampu memperbanyak membaca Al-Qur'an, maka hendaklah kita perbanyak berdzikir.

 

Jika kita tidak mampu memperbanyak berdzikir, maka minimal kita menjaga lisan, serta anggota bada dari sesuatu yang merusak dan menzalimi kemuliaan bulan ini. Jaga hati, jaga pikiran dan jaga perilaku selama di bulan puasa. 

 


Seperti anak-anak Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak juga memperbanyak tadarus Al Qur'an selama bulan puasa, di samping tetap membaca buku. Bahkan di setiap Sabtu melakukan khataman Al Qur'an sambil menikmati takjil buka puasa. Sederhana, jadikan taman bacaan sebagai ladang amal. Tempatnya berbuat baik dan menebar manfaat, bukan yang lainnya. 

 

 

Optimalkan ibadah puasa kita. Sungguh merugi orang yang menyia-nyiakan bulan ramadhan. Sungguh merugi orang yang tidak memanfaatkan keberkahan yang ada di dalamnya.

 

Lihatlah, betapa banyak orang yang terhalang dari nikmat bulan Ramadhan ini, baik karena ajal menjemput atau terhalang pekerjaan yang berat. Atau karena sakit, karena tidak mampu beribadah, atau karena sesat dan masa bodoh terhadap bulan puasa. Padahal bertemu Ramadhan adalah nikmat yang sangat besar.

 

Hentikan sejenak kebiasaan yang tidak produktif, langkahkan ikhtiar untuk meramaikan Ramadhan. Sepenuh hati, sebaik yang kita mampu. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Sebab bisa jadi, ini Ramadhan terakhir kita. Semangat kawan! #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Tingkat Penghasilan Pensiun Orang Indonesia Rendah, Cuma 10% dari Gaji Terakhir

Fakta hari ini menyebutkan, 9 dari 10 pekerja di Indonesia hari ini tidak siap pensiun. Dan 7 dari 10 pensiunan di Indonesia pun mengalami masalah keuangan (bila tidak mau disebut jatuh miskin). Semuanya terjadi akibat tidak adanya persiapan untuk masa pensiun. Tidak mau menabung untuk hari tua saat masih bekerja.

 

Hal yang cukup mengenaskan pun terjadi. Ternyata tingkat penghasilan pensiun (TPP) aktual pensiunan di Indonesia saat ini hanya 10% dari gaji terakhir. Biayanya dari JHT BPJS atau uang pensiun bulanan. Artinya, dari semua kebutuhan hidup di masa pensiun hanya 10 persen saja yang bisa dipenuhi. Bila gaji terakhir saat bekerja Rp. 10 juta, maka di masa pensiun hanya bisa punya uang Rp. 1 juta. Sementara ILO merekomendasikan masa pensiun yang kayak setidaknya memiliki tingkat penghasilan pensiun mencapai 40% dari gaji terakhir. Kerja puluhan tahun, kira-kira segitulah tingkat penghasilan pensiun Anda di hari tua. Ya, cukup tidak cukup harus diterima.

 

Bila tingkat penghasilan pensiun hanya 10% dari gaji terakhir. Sudah tentu pensiunan mengalami masalah finansial, tidak sanggup membiayai hidupnya sendiri. Konsekuensinya, meminta bantuan dari anak-anaknya. Atau bekerja lagi untuk bisa mempertahankan gaya hidup seperti waktu bekerja. Kenapa? Karena Karena tidak punya uang, tidak ada dana yang cukup untuk hidup di masa pensiun dengan lebih sejahtera.

 

Masa pensiun, semestinya jangan diabaikan. Karena usia harapan hidup orang Indonesia terus meningkat, kini berada di 72 tahun. Belum lagi biaya hidup yang terus meningkat, masalah kesehatan, dan gaya hidup saat bekerja. Untuk bisa tetap mampu di masa pensiun, mau tidak mau, dana pensiun menjadi penting. Agar tetap memiliki dana yang cukup dan berkesinambungan hingga hari tua.

 

Hidup di saat bekerja pasti berbeda dengan saat pensiun. Saat kerja masih punya gaji, masih kuat usaha lain, bahkan masih bisa pinjam sana-sini bila tidak punya uang. Tapi begitu pensiun, gaji sudah tidak ada, mau usaha pun terbatas. Mau pinjam pun bingung, mau ganti pakai apa kan sudah tidak punya gaji. Bila mau jujur, sungguh mengerikan ila tidak punya persiapan untuk masa pensiun.

 


Harusnya, urusan masa pensiun atau hari tua tidak lagi dianggap sepele. Apalagi dianggap “gimana nanti?”. Untuk apa saat bekerja cukup tapi saat pensiun berkeluh-kesah. Saat bekerja punya gaya hidup, begitu pensiun gaya hidupnya menurun drastis. Maka masa pensiun mutlak harus dipersiapkan, harus direncanakan dari sekarang. Mau seperti apa kita di masa pensiun, susah atau senang?

 

Maka salah satu cara yang dapat ditempuh agar nyaman di masa pensiun adalah menjadi peserta Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Dengan menyisihkan sebagian gaji menjadi iuran pensiun setiap bulan. Untuk dijadikan manfaat pensiun sebagai kesinambungan penghasilan di hari tua, saat tidak bekerja lagi. DPLK sangat penting bagi pelerja, setidaknya 1) agar tidak jatuh miskin di masa pensiun, 2) tetap punya penghasilan di saat pensiun, dan 3) mampu mempertahankan gaya hidup seperti saat bekerja. Melalui DPLK, siapapun akan punya dana yang pasti untuk hari tua dan bisa mendapat hasil investasi yang optimal untuk memperbesar manfaat pensiunnya.

 

Memang, semua orang tahu tentang pensiun. Tapi tidak semua orang sudah siap untuk pensiun. Jadi, bagaimana kita bisa menikmati masa pensiun dengan tenang bila tidak didukung kesiapan dana yang memadai. Maka, yuk siapkan pensiun dari sekarang. Ingat, saat ini tingkat penghasilan pensiun hanya di 10%. Sangat kurang dan berpotensi mengalami jatuh miskin atau bergantung kepada anak atau orang lain. Lalukan sesuatu untuk masa pensiun kita sendiri.

 

Ketahuilah, biaya hidup itu dari waktu ke waktu makin besar, selalu meningkat. Apalagi nanti saat kita pensiun, uang Rp. 100 ribu bisa jadi nilainya sudah turun, tidak seperti sekarang. Belum lagi, usia pensiun kita pun makin panjang. Jadi, apa yang sudah dipersiapkan untuk masa pensiun kita sendiri? Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DanaPensiun

 

Senin, 18 Maret 2024

Tips Tetap Aktif dan Produktif di Taman Bacaan

Imam Nawawi Rahimahumullah, begitu aktif dalam berkarya. Banyak kitab dan buku yang dibuatnya, jumlahnya luar biasa. Sulit untuk disaingi generasi selanjutnya. Bila karyanya di hitung dengan usianya, berarti dia sehari menulis 9 bab tema. Semasa hidupnya, dia selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid, puasa, dzikir, sabar atas terpaan badai kehidupan. Banyak sekali karya Imam Nawawi, diantaranya yang terkenal Arba’in, Riyadhush Shalihin, Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu’, dan Bustanul Arifin.


Belajar dari Imam Nawawi dan para pendahulu lainnya, mereka begitu aktif bekerja dan sibuk berkarya. Sangat produktif untuk selalu menebar manfaat kepada sesama. Berlomba dalam kebaikan, sekalipun diterpa masalah. Terus dan terus berbuat baik. Mungkin, karena hidup di dunia ini hanya berjalan satu kali saja. Maka jangan disia-siakan dengan hal-hal yang tidak baik dan tidak penting. Karena sejatinya, tidak ada perbuatan baik yang sia-sia. Baik itu tugas manusia yang paling mulia. Lebih baik bertindak baik sekecil apapun daripada berniat baik sebesar apapun.

 

Pertanyaannya, kenapa Imam Nawawi dan pendahulu kita bisa? Dalam relatif sedikit masa hidup, namun mampu sibuk dan produktif. Hidupnya begitu bermakna untuk orang lain.  Karyanya begitu abadi dan masih dibaca banyak orang hingga kini.  Bisa jadi, jawabnya karena waaktu yang dimilikinya berkah. Waktu yang digunakan untuk berbuat baik dan menebar manfaat.

 

Sementara hari ini, ada yang punya waktu sama. Hanya bisa bekerja saja. Tanpa bisa berbagi hasil kerjanya ke orang lain. Hanya mampu mengurus keluarga namun belum bisa meluas ke orang tua atau tetangga. Ada pula waktu yang hanya habis di tempat ngopi dan chat di grup WA. Waktu puasanya sama, namun ada yang hanya meratapi rasa lapar. Ada pula yang menghabiskan lembar demi lembar

 


Di lain tempat, ada pula yang punya waktu sama sehari 24 jam. Tapi mampu mengurus semuanya. Urusan pekerjaan, urusan keluarga, urusan sosial, dan urusan taman bacaan. Tetap sibuk dan masih menyediakan waktu dan tenaga untuk peduli pada orang lain. Bahkan masih sempat menulis buku sebagai karya yang ditinggalkan. Alhamdulillah, saya pun sudah menulis 47 buku hingga kini. Waktunya sama, tapi masih bisa berbuat baik dan menebar manfaat. Bahkan membuat mercusuar kebaikan seperti taman bacaan sebagai ladang amal dan “warisan” yang ditingalkan kelak.

 

Kok masih bisa tetap aktif dan produktif sekalipun sibuk? Mungkin patut direnungkan, bisa jadi mereka punya hubungan yang istimewa kepada sang Khalik-nya. Selalu beryukur di segala keadaan tanpa keluh-kesah. Tetap ikhlas berbuat baik dan menebar manfaat di mana pun. Sabar dalam badai cobaan apapun. Apapun, dianggap sudah menjadi kehendak-Nya. Hidupnya hanya dijalani dengan niat baik, ikhtiar yang bagus, dan doa yang banyak. Hanya berharap kepada-Nya, bukan kepada orang lain.



Sementara di luar sana. Banyak orang yang terlalu sibuk membicarakan perasaannya. Sehingga tidak punya waktu untuk berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama. Percaya takdir tapi tidak percaya ikhtiar. Kurang bersyukur, pesimis, tidak sabar, hingga tidak lagi gemar berbuat baik. Maka solusinya, senangkan Allah bila mau disenangkan-Nya. Agar dimudahkan segala urusan dna dibimbing dengan cara-Nya. Perbaiki car akita berhubungan dengan-Nya, itulah resep agar tetap aktif dan produktif.

 

Memang benar, kita tidak dapat mengubah tujuan dalam semalam. Tapi kita bisa mengubah arah dalam semalam. Untuk menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka



Hargai Waktumu di Bulan Puasa

Bulan puasa kadang serba salah. Atas alasan lapar dan haus, akhirnya banyak tidur. Di saat punya waktu luang, kita justru sering menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Waktu dipakai main game seharian, atau nonton serial film, atau ngobrol di grup whatsapp sampai ke sana ke mari ratusan chat. Bahkan tidak sedikit yang terjerumus ke dalam dosa besar berupa menggunjing aib orang lain. Memang benar adanya, di antara nikmat besar yang sering dilalaikan manusia adalah nikmat waktu luang. Terlalu sering dipakai untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya.

 

Penting disadari, sibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Itulah cara sederhana menghargai waktu. Karena orang sibuk, pasti tidak punya waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Siapapun, sat sedang sibuk dengan urusan-urusan penting, pasti tidak punya waktu yang cukup untuk sekedar istirahat. Apalagi untuk hal-hal yang tidak penting. Main game, nonton TV, atau ngobrol di dunia maya.

 

Hargai Waktumu. Begitu nasihat saya ke anak-anak TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Selama puasa di TBM ini, digelar "NgabubuRead - Ramadhan Ceria". Selain bisa membaca buku umum, anak-anak dikondisikan untuk tadarusan pada setiap jam baca. Sehingga nantinya di hari Sabtu sore, secara bersama-sama khataman Al Qur'an sambil disediakan takjilan. Duduk di TBM, satu dua jam sambil tadarusan itu bukan waktu yang sebentar. Membaca Al Qur'an 1-2 halaman sama sekali tidak sia-sia. Pasti ada hikmah dan pelajaran yang diperoleh, sangat bermanfaat buat masa depan anak-anak itu sendiri.

 

Kenapa tadarus itu penting? Berbagai riwayat menyebut, beberapa keutamaan tadarus antara lain 1) mendapatkan kebaikan di sisi Allah SWT, 2) mendapatkan rezeki yang berkah, 3) memperoleh ketenangan hati dan jiwa, dan 4) sebagai sumber ilmu. Makanya  Rasulullah bersabda, “Bacalah Alquran oleh kamu sekalian, karena bacaan Alquran yang sering dibaca ketika hidup di dunia ini, akan menjadi penolongnya nanti di hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim). Jadi, siapa yang bisa tolong kita di hari akhir kelak? Bukan teman, bukan tetangga. Tapi tadarus Alquran yang kita lakukan, di samping amal jariyah yang dilakukan selagi masih hidup.

 


Kadang saya iri pada anak-anak TBM Lentera Pustaka. Selagi kecil sudah mampu mengatur waktu dengan baik. Tahu kapan main, kapan membaca buku, kapan ke TBM. Anak-anak langka di zaman sekarang, karena rela membayar lebih, demi tidak kehilangan waktunya. Terlatih cara menghargai waktu dari kecil itu baik.

 

Uang yang habis bisa dicari, kain yang robek bisa ditambal, perut lapar bila bedug tiba pun kenyang. Tapi waktu yang terbuang tidak akan kembali lagi. Ferrari sanggup menciptakan mobil tercepat. Intel sanggup membuat komputer tercanggih. Barista pun mampu bikin kopi ter-enak. Tapi, sama sekali tidak seorang pun di dunia ini yang sanggup menciptakan waktu? Bahkan banyak yang merugikan karena waktu.

 

Saya lupa bukunya apa. Tapi kalimatnya masih terngiang hingga sekarang. "Barangsiapa yang meninggalkan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, padahal memungkinkan baginya untuk meraihnya (namun dia tidak mau berusaha meraihnya), maka dia akan mendapat ujian dengan disibukkan dalam hal-hal yang membahayakan dirinya. Barangsiapa yang meninggalkan ibadah kepada Allah, maka dia akan mendapat ujian berupa beribadah kepada berhala. Barangsiapa yang meninggalkan rasa cinta kepada Allah, takut, dan berharap kepada-Nya, maka dia akan mendapat ujian dengan mencintai, takut, dan berharap kepada selain Allah". Jujur, saya takut banget bila itu terjadi.

 

Yuk hargai waktu kita. Gunakan untuk yang bermanfaat. Membaca buku, tadarusan, atau saling bernasihat yang baik. Kita boleh hebat, boleh pintar, bahkan boleh populer. Tapi selagi tidak mampu menghargai waktu tetap saja akan menjadi orang yang merugi. Salam literasi #NgabubuRead #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

 

Sabtu, 16 Maret 2024

Kenapa Masih Mengejar Pangkat dan Jabatan?

Pangkat dan jabatan sering dikejar banyak orang. Kekuasaan pun selalu diperebutkan. Ujungnya, berjuang untuk meraih popularitas dan kedudukan. Agar dipuji banyak orang, dikagumi semesta bumi. Sangat wajar, dan karenanya banya orang berloba dan menjaga ambisi untuk selalu punya pangkat dan jabatan. Sah-sah saja dan sangat boleh.

 

Tapi sayangnya, tidak sedikit orang berambisi untuk mengejar pangkat dan jabatan. Hingga akhirnya mengorbankan segalanya. Merasa boelh berbuat apa saja, segala cara dilakukan untuk ambisinya. Tidak peduli lagi berbuat dosa, menyakiti orang lain. Curang, berbuat zolim, menebar fitnah, hingga mengadu domba. Bertabur kebencian dan permusuhan. Jadi, untuk apa mengejar pangkat dan jabatan dengan cara-cara kotor? Ambisi dan perbuatan buruk itulah yang hingga kini masih dijadikan bahan naskah sinetron di salah satu stasiun TV.

 

Siapapun pasti memiliki cita-cita. Setiap kita pasti punya impian yang ingin diraih.  Karena cita-cita dan Impian itu menjadikan seseorang lebih semangat menjalani kehidupan. Lebih bergairah dan termotivasi. Belajar, berpendidikan tinggi. Demi berhasil meraih cita-cita dan impian.  Tapi sayang, akhirnya berubah menjadi ambisi yang harus dikejar. Hingga membenarkan segala cara untuk meraihnya sekalipun tercela. Lupa kualitas diri, kemampuan dan kepantasan untuk menyandangnya.

 

Kenapa harus ngotot mengejar pangkat dan jabatan? Kenapa ingin punya kekuasaan agar dipuji orang lain? Jangan lupa, pangkat, jabatan dan kekuasaan akan datang dengan sendirinya pada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Asal niatnya baik, ikhtiarnya bagus, dan doanya banyak. Pangkat dan jabatan bukanlah ambisi apalagi ego. Tapi anugerah dan amanah untuk membantu orang lain, untuk kemaslatan banyak orang. Maka jangan cinta pangkat dan jabatan, biasa-biasa saja. Karena apapun, termasuk pangkat dan jabatan pada akhirnya semua akan terhenti, terganti dan tidak berarti lagi.

 

Lantas, masihkah kita mau berlomba mengejar jabatan, pangkat dan kekuasaan. Masihkah ambisi pribadi harus tercapai? Memangnya kita siapa? Dalam berbagai literatur, siapapun yang mengejar pangkat dan jabatan biasanya berakhir pad apenyesalan. Kekuasaan dan sukses pun tidak sedikit berakhir dengan cacian dan kebencian. Penyesalan atas apa yang diraih dengan cara-cara kotor. Dan semuanya yang tahun hanya diri sendiri. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, ujungnya hanya penyesalan pada hari kiamat. Di dunia ia mendapatkan kesenangan, namun setelah kematian sungguh penuh derita” (HR. Bukhari no. 7148).

 

Maka jangan habiskan waktu untuk memukuli dinding dan berharap bisa mengubahnya menjadi pintu. Pangkat, jabatan, dan kekuasaan memang baik. Bahkan jadi amanat yang berat. Maka hati-hati saat mengemban pangkat dan jabatan. Jangan sampai gila pangkat, maruk jabatan, dan haus kekuasaan. Sehingga berlaku zolim, berbuat seenaknya, lalu menjadi orang-yang lalai dan tergiur dengan pangkat dan jabatan. Ingatlah, sehebat apapun pangkat dan jabatan yang disandang pasti akan ditinggalkan. Sebanyak apapun harta pasti tidak dibawa mati. Setinggi apapun kedudukan pada akhirnya hanya aksesori belaka. Jangan sampai apa yang dikejar di dunia ini akhirnya berubah menjadi penyesalan.

 


Memiliki jabatan dan pangkat, memang tidak berdampak buruk. Ada sisi positifnya bila digunakan dengan baik dan amanah. Pangkat untuk meningkatlan harkat martabat orang lain. Jabatan untuk membantu orang lain. Pangkat yang diniatkan untuk menolong orang lain. Jabatan untuk membebaskan orang lain dari kesusahan dan kelaparan. Pangkat, jabatan, dan kekuasaan sebagai ladang amal. Untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat kepada banyak orang. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

 

Jangan lagi kejar pangkat, jabatan, dan kekuasaan. Jangan hanya getol urusan dunia. Tapi seimbangkan dunia dan akhirat. Serasikan urusan lahir dan batin. Manfaatkan hidup untuk Bersiap mati. Jangan lagi ambisi sebatas urusan jasmani lalu meninggalkan rohani. Biasa-biasa saja, dan lakukan semuanya secara seimbang, proporsional. Bukan karena ambisi, karena nafsu apalagi ego. Agar tidak berakhir penyesalan. Seperti saya berkiprah di taman bacaan dan literasi, semata-mata diniatkan untuk menjaga keseimbangan dunia dan akhirat. Menjadikan taman bacaan sebagai ladang amal untuk semua orang. Saya tidak punya ambisi untuk berpangkat, punya jabatan apalagi kekuasaan. Tapi saya berambisi untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat kepada orang lain. Dan untuk itu, saya bila lakukan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.  

 

Hari ini, banyak orang mengejar dunia dan impian lalu frustrasi. Kerja kerasnya belum membuahkan hasil, ikhtiarnya dianggap sia-sia. Mungkin sebabnya, karena terlalu berambisi, terlalu nafsu. Hingga cara-cara yang ditempuhnya tidak berkenan di banyak orang. Mengejar sesuatu yang lebih banyak mudharatnya daripada maslahatnya, lebih banyak buruknya daripada baiknya.

 

Maka istirahatlah dan berhenti sejenak. Perbaiki lagi niat, ikthiar dan doa yang lebih baik. Lebih berkenan di mata-Nya. Karena ketahuilah, untuk menjadi yang terbaik, kita harus bisa mengatasi yang terburuk pada diri kita sendiri, bukan pada orang lain.

 

Ketahuilah, penemuan terbesar sepanjang masa adalah ketika seseorang bisa mengubah masa depannya hanya dengan mengubah sikapnya saat ini. Punya hati dan perilaku yang baik lebih penting daripada pangkat dan jabatan yang dikejar. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka’