Senin, 12 Mei 2025

Literasi PHK, Hak Pekerja Bila Terkena PHK?

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), bisa jadi sulit dihindari oleh perusahaan. Apalagi di tengah kondisi ekonomi global yang tidak baik-baik saja, termasuk beberapa sektor industri yang mengalami masalah bisnis di tengah perang tarif belakangan ini. Akan tetapi penting bagi pekerja, untuk tahu jak-haknya bila terkena PHK.

 

Hak pekerja yang terkena PHK di Indonesia sudahdiatur dalam UU No. 6/2023 tentang UU Pengganti Perppu Cipta Kerja dan diperkuat oleh PP No. 35/2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja. Intinya, pekerja yang terkena PHK berhak atas Uang Pesangon (UP), Uang Penghargaan Masa kerja (UPMK), dan Uang Penggantian Hak (UPH). Terkait berapa besarannya, semuanya sudah diatur dalam regulasi tersebut yang disesuaikan dengan masa kerja, dan besaran gaji masing-masing pekerja,

 

Selain itu, ada pula kompensasi lainnya yang menjadi hak pekerja yang terkena PHK antara lain 1) uang pisah (jika diatur dalam perart=uran perusahaan atau perjanjian kerja atau PKB), Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP) dari BPJS Ketenagakerjaan. Sementara PHK tanpa hak dapat dialami pekerja apabila terjadi dalam kasus tertentu, seperti: pekerja mengundurkan diri secara sukarela tanpa paksaan, pekerja melakukan pelanggaran berat, atau PHK karena pidana tertentu (dengan putusan pengadilan).

 

Bila sulit dihindari, tentu PHK sah-sah saja terjad atas sebab perusahaan. Namun sesuai dengan PP No. 35/2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja pada pasal 40 ditegaskan ayat 1) “Dalam hal terjadi Pemutusan Hubungan Kerja, Pengusaha wajib membayar uang pesangon dan/atau uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima“. Artinya, perusahaan atau pemberi kerja punya kewajiban untuk  membayar uang pesangon (UP), uang penghargaan masa kerja (UPMK), dan uang penggantian hak (UPH) kepada pekerja sesuai aturan yang berlaku.

 


Tentu, besaran Uang Pesangon (UP) setiap pekerja berbeda-beda. Selain masa kerja dan besaran upah, uang pesangon juga ditentukan oleh sebab berhenti bekerjanya. Misalnya, berhenti bekerja atas sebab pensiun, maka pekerja mendapat hak 1,75 kali UP. Bila meninggal dunia, pekerja mendapat 2 kali UP. Atau bila sebab akuisisi mendapat 1 kali UP. Mengenai besaran UP ini, silakan dicek di PP 35/2021. Pesangon adalah tanggung jawab perusahaan atas Keputusan mem-PHK pekerja.

 

Oleh karena itu, perusahaan atau pemberi kerja penting memiliki dana pensiun yang didedikasikan untuk menyiapkan uang pensiun atau uang pesangon kepada pekerja. Atau biasa disebut kompensasi pascakerja. Tujuannya untuk menyiapkan pembayaran uang pensiun atau pesangon karyawan pada saat waktunya tiba. Salah satu cara yang bisa ditempuh dapat dilakukan dengan mendanakan uang pensiun atau pesangon pekerja melalui DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Karena DPLK merupakan “kendaraan” yang paling pas untuk mempersiapkan uang pensiun atau pesangon pekerja. Untuk memenuhi kewajiban pembayaran kompensasi pascakerja, seperti uang pensiun dan uang pesangon yang menjadi hak pekerja.

 

Selain itu, ditegaskan Pasal 58 pada PP 35/2021 disebutkan bawah ayat 1) “pengusaha yang mengikutsertakan pekerja dalam program pensiun sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang dana pensiun, iuran yang dibayar oleh pengusaha dapat diperhitungkan sebagai bagian dari pemenuhan kewajiban pengusaha atas uang pesangon dan uang penghargaan masa kerja serta uang pisah akibat PHK. Selanjutnya, ayat 2) menyebut "jika perhitungan manfaat dari program pensiun lebih kecil daripada uang pesangon dan uang penghargaan masa kerja serta uang pisah, maka selisihnya dibayar oleh pengusaha". Dan ayat 3) menyebutkan lagi, "pelaksanaan ketentuan dalam Pasal 58 ayat 1 tersebut diatur di dalam Peraturan Kerja, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama".

 

Atas dasar itu, pekerja yang terkena PHK harus tahu hak-haknya sebagai konsekuensi perusahaan mem-PHK pekerjanya. Karena PHK tidak boleh dilakukan tanpa pemenuhan hak-hak pekerja sesuai regulasi yang berlaku. Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #UangPesangon

Harus Punya Duit

Sudah kubilang, jadi laki-laki itu harus punya duit. Laki-laki, harus punya duit biar tidak direndahkan oleh siapapun. Biar tidak dianggap remeh. Percaya deh, sekolah mau setinggi apapun, laki-laki bila tidak punya duit pasti disingkirkan.

 

Kan sudah dibilang, laki laki itu harus punya duit. Sekali lagi ditegaskan laki-laki “harus punya duit”. Sebab bila punya duit, laki-laki baru diperhitungkan. Laki-laki ber-duit, katanya dihormati dan dikagumi. Bahkan dipersilakan bicara apa saja bila punya duit.

 

Laki-laki harus punya duit. Karena bila punya duit, kamu tidak perlu mencari jodoh. Sebab dengan kamu punya duit, mereka sendiri yang akan minta untuk dinikahi, tidak peduli wajahmu kayak apa, tidak peduli urusan fisikmu. Bahkan usiamu tua atau muda, bila punya duit tidak lagi diperhitungkan. Karena yang penting katanya, bagaimana cara untuk terlepas dari jerat kemiskinan dengan cara instan? Begitulah duit bekerja.

 

Zaman begini, duit dibilang segalanya. Realitas yang bilang begitu. Banyak orang gampang pindah dalam pergaulan karena duit. Pindah kantor, pindah pacar, bahkan pindah pasangan cuma gara-gara duit. Kenapa ada perempuan mau dibayar untuk apa saja, kenapa ada prostitusi, dan kenapa ada pertikaian? Semua ujungnya karena duit. Memang sulit disangkal, mau panjang lebar bicaranya. Bila dinilai tidak punya duit, maka semuanya tinggal kenangan belaka. Jadi jangan munafik, laki-laki harus punya duit.

 


Mungkin ada yang tidak setuju. Bahwa duit bukan segalanya. Tapi silakan dicek ke lapangan, apa ada yang mau membantu kita tanpa duit. Apa ada orang mau disuruh tanpa ada duitnya? Aparatur dan oknum polisi pun pasti gesit kerjanya bila ada duitnya. Bahkan terkadang, kamu terkesan hanya dimanfaatkan oleh orang lain karena duit. Biarlah, dan itu jadi bukti bahwa duit memang bekerja atas manusia. Maka laki-laki memang harus punya duit. Sebab kodrat laki-laki itu mencukupi, bukan melengkapi. Memenuhi bukan menyarankan.

 

Maka dari itu, carilah duit sebanyak banyaknya, sampai umurmu yang habis, bukan duitmu. Kerja keraslah agar duit yang membuktikan semuanya. Sebab banyak dari mereka yang takut hidup susah, dan karena duit kamu dianggap jadi penenang bahkan pemenangnya.

 

Sekali lagi, laki-laki harus punya duit bisa jadi motivasi. Tapi tetap jaga akhlak dan adab, agar hidup tidak dikendalikan oleh duit. Duit memang bisa menentukan tapi sikap tetap ada di diri sendiri, bukan di duit. Salam literasi!

 


Minggu, 11 Mei 2025

Hasil Webinar Sadar Pensiun, Gen Z Tertarik Punya Dana Pensiun

Gen Z hari ini dihantui “doom spending”, sebuah perilaku belanja yang impulsif atas dorongan kecemasan, stres, atau rasa takut terhadap masa depan. Akhirnya, Gen Z cenderung menghabiskan uang untuk barang-barang yang tidak terlalu penting sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari perasaan negatif yang dialaminya..


Untuk meredam kondisi doom spending dan sebagai bagian edukasi dana pensiun di kalangan Gen Z, DPLK Bumiputera menggelar webinar bertajuk “Gen Z Sadar Pensiun – Pensiun Bukan Gimana Naqnti Tapi Nanti Gimana?”yang diikuti 40 Gen Z melalui zoom meeting di Jakarta (11/5/2025). Bertindak sebagai Narasumber: Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. (Edukator Dana Pensiun, Asesor LSP Dana Pensiun, dan Dosen Universitas Indraprasta PGRI) dengan Septi Yantari dari DPLK Bumiputera sebagai host. Webinar ini bertujuan mengajak Generasi Z (Gen Z) untuk menyiapkan dana pensiun sejak dini, sebagai bagian perencanaan hari tua.

 

Dalam paparannya, Syarifudin Yunus, mengajak Gen Z mulai melakukan aksi nyata untuk mengikuti dana pensiun Lembaga keuangan (DPLK sambil mengendalikan diri dari perilaku konsumtif. Hal ini sekaligus untuk menciptakan kemandirian finansial sejak dini di kalangan Gen Z. Karena itu Gen Z yang mendominasi 28% dari total populasi di Indonesia atau mencapai 75 juta orang perlu mulai menjadi peserta DPLK, baik secara perorangan atau diikutkan tempat kerjanya. Karena itu, Gen Z harus menyadari bahwa cepat atau lambat siapapun pasti akan pensiun, termasuk Gen Z. Gen Z perlu mengelola keuangan dengan bijak, mumpung masih masih produktif sekaligus berani menjadi peserta DPLK.

 

Antusiasme Gen Z dalam seminar ini dibuktikan dengan 14 pertanyaan yang dilayangkan. Beberapa pertanyaan yang menjadi perhatian Gen Z terkain dana pensiun antara lain: 1) cara meredam nafsu konsumtif Gen Z?, 2) Hubungan perilaku konsumtif dengan masa pensiun, 3) apa risiko di dana pensiun?, 4) Bagaimana bila tidak punya penghasilan tetap untukikut DPLK, 5) bagaimana Gen Z yang penghasilannya di bawah UMR?, 6) cara meyakinkan Gen Z akan pentingnya dana pensiun yang punya karakter yang instan, 7) program khusus atau fitur DPLK yang bisa menarik bagi Gen Z, 8) produk DPLK karena dianggap "tidak fleksibel", 9) bagaimana DPLK memposisikan diri di tengah kondisi ekonomi global, 10) bagaimana cara mengecek keanggotaan DPLK, 11) syarat apa saja untuk menjadi peserta DPLK?, dan 12) apakah DPLK ada yang menjamin di dana pensiun seperti LPS menjamin simpanan di bank?

 


Sebagai konklusi dari webinar Gen Z Sadar Pensiun DPLK Bumiputera ini, para peserta dari kalangan Gen Z diajak untuk menyiapkan “Kerja Yes, Pensiun Oke”. Karena dana pensiun bukan soal biaya tapi soal komitmen dan moral, masa pensiun bukan soal waktu tapi soal “keadaan” mau seperti apa di hari tua? Karena itu, tanggung jawab setiap pekerja termasuk Gen Z untuk merencanakan dana pensiun sejak dini. Dan melalui DPLK, intinya Gen Z nantinya akan 1) ada pendanaan yang pasti untuk hari tua, 2) ada hasil investasi yang optimal selama menjadi peserta, 3) ada manfaat pajak saat dibayarkan, dan 4) jadi lebih disiplin menabung untuk hari tua.

 

Setelah 2 jam webinar berlangsung, Gen Z pun mulai paham dan sadar akan pentingnya dana pensiun. “Sangat inspiratif dan terima kasih sudah mengingatkan kami sebagai Gen Z akan pentingnya siapkan pensiun” komentar salah satu peserta.

 



Sabtu, 10 Mei 2025

Mahasiswa yang Tertunduk Memegang Kepala saat Menulis Kreatif

Di sebuah universitas metropolitan yang ramai, hiduplah seorang mahasiswa bernama Rian. Ia mahasiswa PBSI FBS Unindra. Selain dikenal teman-temannya sebagai sosok yang Santai, Rian sangat menikmati masa kuliah sepenuhnya. Baginya, kuliah adalah tentang bersosialisasi, mengisi waktu di tengah pekerjaan sehari-hari, dan sesekali mengerjakan tugas jika mendekati tenggat waktu. Belajar sungguh-sungguh dan memikirkan masa depan karier terasa jauh dan membosankan baginya.

 

Rian memiliki seorang teman sekamar bernama Arya. Berbeda dengan Rian, Arya adalah sosok yang tekun dan fokus pada studinya. Ia selalu hadir di kelas, mencatat dengan rapi, dan sering menghabiskan waktu untuk membuat jurnal ilmiah. Yah, hitung-hitung untuk mendalami materi kuliah. Arya seringkali mengajak Rian untuk belajar bersama atau berdiskusi tentang materi kuliah, namun Rian selalu menolak dengan berbagai alasan.

"Ayolah Bro, besok ada tugas bikin jurnal ilmiah nih. Kita bikin bareng yuk," ajak Arya suatu malam ke Rian.

 

"Santai ajalah bro Arya. Nanti kalua udah deket deadline-nya aja. Sekarang lebih seru kalau kita main game online, gimana?" jawab Rian sambil tertawa.

 

Waktu terus berjalan. Semester demi semester berlalu. Arya dengan tekun membangun fondasi pengetahuannya, mengikuti seminar dan workshop tambahan, serta aktif mencari kesempatan kelompok diskusiyang relevan dengan bidang studinya, Pendidikan Bahasa san Sastra Indonesia. Sementara itu, Rian tetap asyik dengan dunianya, menganggap nilai bagus hanyalah formalitas dan pengalaman kuliah lebih penting dari segalanya.

 

Tibalah saatnya mereka memasuki semester akhir. Teman-teman seangkatan mulai sibuk mempersiapkan skripsi dan mencari judul yang mampu disenanginya. Arya, karena ilmunya dan pengalaman di kelas, berhasil mendapatkan tawaran pekerjaan di perusahaan lain bahkan sebelum ia lulus.

 

Rian baru mulai merasa panik ketika menyadari bahwa sebagian besar teman sekelasnya mulai banyak yang ujian siding skripsi. Dia sendiri tidak banyak memahami materi kuliah sejak awal. Karena kuliah hanya untuk aktualisasi diri, untuk eksistensi sosial. Pemahaman materi kuliah dangkal dan keterampilan spesifik bahasa Indonesia pun kurang dikuasai. Ia mencoba mengingat kembali materi-materi kuliah yang dulu ia abaikan, namun semuanya terasa kabur dan sulit dipahami.

 

Ia mulai menyesali keputusannya untuk tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Ia melihat Arya yang kini sudah mulai meniti kariernya dengan mantap, sementara ia masih kebingungan mencari arah masa depan. Skripsi pun belum rampung. Rasa iri dan penyesalan bercampur aduk dalam benaknya.

 


Rian akhirnya menyadari bahwa masa kuliah bukan hanya tentang kesenangan dan pengalaman sosial, tetapi juga tentang membangun bekal untuk masa depan. Ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari di bangku kuliah adalah investasi berharga yang akan menentukan arah karier dan kehidupan seseorang setelah lulus.

 

Dengan sisa waktu yang ada, Rian berusaha keras mengejar ketertinggalannya. Sekalipun terlambat, ia mulai memanggil Kembali ingatannya tentang kuliah. Buku-buku semasa kuliah dibacanya Kembali. Agar skripsinya bisa rampung, sambil meminta bantuan Arya untuk membimbingnya biar skripsinya tuntas.. Namun, ia menyadari bahwa ia telah kehilangan banyak kesempatan berharga karena kelalaiannya di masa lalu.

 

Meskipun Rian akhirnya berhasil lulus, ia menghadapi persaingan yang lebih ketat di dunia kerja. Ia tetap berada di posisi yang lama. Belum ada perubahan sejak dirinya menjadi sarjana. Hampir tidak ada bedanya sebelum kuliah dan sesudah menjadi sarjana. Rian harus bekerja lebih keras untuk membuktikan kemampuannya di kantor. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga baginya bahwa menunda-nunda persiapan masa depan bisa berakibat fatal.

----

Kisah Rian, seorang mahasiswa yang “terlalu biasa” saat menjadi mahasiswa menjadi pengingat bagi kita bahwa menikmati masa kuliah memang penting, namun mempersiapkan masa depan melalui belajar yang sungguh-sungguh adalah hal yang jauh lebih krusial. Masa depan yang cerah tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan sejak dini dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang relevan. Arya, dengan ketekunannya, telah membuktikan bahwa investasi terbesar seorang mahasiswa adalah pada pendidikannya sendiri. Untuk masa depannya yang lebih baik.

Seperti yang terjadi saat kuliah Menulis Kreatif di PBSI FBS Unindra yang diampu Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. (10/5/2025), kisah tentang Rian dan Arya pun membuat semua mahasiswa tertunduk. Mahasiswa yang tertunduk sambil memegang kepalanya, memberi hikmah akan pentingnya kuliah dengan sepenuh hati. Jangan sia-siakan waktu untuk memperbaiki diri. #MenulisKreatif #SyarifudinYunus #UnindraKeren



Jumat, 09 Mei 2025

Industri DPLK Harus Genjot 4 Fitur Ini untuk Tambah Jumlah Peserta dan Aset Kelolaan

Selain terus mengioptimalkan Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) yang menjadi "core business" dari DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan), industri DPLK perlu menggenjot fitur atau layanan yang sudah ditetapkan pada POJK 27/2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Dana Pensiun, Setidaknya ada 4 (empat) fitur atau layanan yang perlu digenjot untuk meingkatkan pertumbuhan peserta dan asset kelolaan DPLK secara signigfikan ke depan. Keempat fitur DPLK yang perlu digenjot adalah:

1.       Iuran sukarela (selain iuran reguler) bagi peserta eksisting DPLK untuk memperbesar nilai manfaat pensiunnya. Apalagi akumulasi iuran sukarela peserta serta hasil pengembangannya dapat dibayarkan secara sekaligus atau berkala sesuai dengan pilihan peserta.

2.       Program manfaat pensiun lainnya, seperti dana kompensasi pascakerja; dana manfaat tambahan; dana santunan Disabilitas; dana santunan kematian; dana santunan kesehatan pensiunan. Dana kompensasi pascakerja sangat penting di tengah maraknya PHL seperti sekarang, agar perusahaan sadar akan pentingnya mendanakan uang pesangon atau pensiun bagi karyawannya.

3.       Program manfaat lainnya seperti dana pendidikan, dana perumahan, dana ibadah keagamaan; dana santunan kesehatan karyawan untuk melayani kayanan yang dibutuhkan peserta DPLK secara individual, sehingga DPLK mampu mengakomodasi tujuan keuangan peserta di luar manfaat pensiun.

4.       Pembayaran manfaat pensiun secara berkala, sebagai implementasi kesinambungan penghasilan di masa pensiun bagi peserta DPLK minmal 10 tahun setelah pensiun. Karena tidak semua peserta DPLK menginginkan pembayaran manfaat pensiun secara sekaligus.

 

Melalui ke-4 fitur DPLK yang perlu digenjot, harapannya industri DPLK dapat meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun di Indonesia. Sebagaimana diketahui, OJK dan BPS belum lama ini merilis Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat sebagai hasil Survei Nasional Literasi Dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025 di mana tingkat literasi dana pensiun berada di level 27,79% (turun 2,67%) dari tahun 2022 yang sebesar 30,46%, sedangkan tingkat inklusi dana pensiun berada di 5,37%  turun (0,05%) dari tahun 2022 yang berada di 5,37%. Saat ini, dapat dikatakan dari 10 orang Indonesia, hanya 2,5 orang yang "tahu" dana pensiun dan hanya 0,5 (setengah) orang yang "punya" dana pensiun. Artinya, tiap 10 orang Indonesia tidak sampai 1 orang yang punya dana pensiun. Tentu saja, tingkat literasi dan inklusi dana pensiun masih jauh di bawah dari indeks literasi keuangan di Indonesia yangg mencapai 66,46% dan indeks inklusi keuangan yang mencapai 80,51% (SNLIK 2025).

 


Di sisi lain, saat ini ada 150 juta total angkatan kerja di Indonesia, yang terdiri dari 60% berada di sektor informal dan 40% di sektor formal. Dari jumlah tersebut yang menjadi peserta DPLK hanya 2,8 juta pekerja, sedangkan peserta dana pensiun mencapai 4 juta orang. Bila dikalkulasi, berarti hanya 2,6% dari total angkatan kerja yang memiliki dana pensiun atau hanya 6,6% dari total pekerja sektor formal yang punya dana pensiun. Oleh karena itu, DPLK mau tidak mau harus “berjuang keras” untuk melakukan terobosan dalam memacu pertumbuhan peserta dan aset kelolaan DPLK, khsuusnya melalui 4 fitur yang perlu digenjit yaitu iurann sukarela, program manfaat pensiun lainnya, program manfaat lain, dan manfaat pensiun secara berkala.

Pentingnya menggenjot fitur dan layanan DPLK berkaitan erat pula dengan upaya menjaga kestabilan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan ketahanan fiskal negara. Industri DPLK yang bertumbuh pada akhirnya menjadi sinyal baik untuk antisipasi  terhadap tren penuaan penduduk yang semakin meningkat, di sampin untuk menjamin kesejahteraan di hari tua masyarakat. Selain itu, melalui DPLK, akan tercipta mendorong investasi yang bersifat jangka panjang dan dapat mengatasi ketimpangan sosial.

 

Maka untuk menggenjot 4 fitur atau layanan DPLK sebagai mandat regulasi, industri DPLK perlu “merevitalisasi” bisnisnya untuk meningkatkan daya saing dan daya tarik DPLK di mata masyarakat, diantaranya dengan melakukan edukasi secara berkelanjutan dan menyediakan akses digital pemasaran DPLK. Dan tidak kalah penting, DPLK harus terus meningkatkan kompetensi SDM, mengoptimalkan proses bisnis internal sesuai tata kelola dana pensiun yang baik dan penerapan manajemen risiko yang efektif.

 

DPLK adalah masa depan dana pensiun di Indonesia, di samping layak menjadi pilihan pekerja dan masyarakat dalam mempersiapkan masa pensiun yang sejahtera. Untuk itu, optimalisasi pengelolaan investasi yang kompetitif, edukasi yang sering, dan tersedianya akses digital untuk membeli DPLK sangat diperlukan. Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

Tradisi Ngaji Bareng Yatim dan Jompo di Taman Bacaan, Untuk Apa?

Minimal sebulan sekali, biasanya tiap akhir bulan, tradisi menengadahkan tangan untuk berdoa bersama YAtim BInaan (YABI) dan JOMpo BInaan (JOMBI) di TBM Lentera Pustaka selalu dilakukan, belum pernah putus. Selain mengaji dan tahlil serta doa, pengajian buolanann YABI dan JOMPI TBM Lentera Pustaka sekaligus memberikan santunan bulanan kepada 14 anak yatim, 14 kaum jompo, dan 4 janda serta penyerahan beasiswa bulanan ke 2 anak TBM untuk melanjutkan sekolah sebagai bentuk kepedulian sosial. Untuk aktivitas sosial YABI dan JOMBI ini, Pendiri TBM Lentera Pustaka dan beberapa temannya secara rutin menyisihkan sebagian rezeki untuk disedekahkan kepada yatim, jompo, dan janda.

 

Tradisi menengadahkan tangan bersama yatim dan kaum jompo tidak pernah ditinggalkan TBM Lentera Pustaka. Sebagai cara untuk “memagari” ikhtiar yang sudah dijalankan di TBM Lentera Pustaka, di samping memantapkan doa-doa yang dipanjatkan. TBM Lentera Pustaka meyakini, doa adalah kontak terkuat manusia dengan kekuatan terbesar di alam semesta. Karenayan selain cinta dan taubat, maka doa menjadi sumber kekuatan yang harus selalu dilantunkan. Karena doa tidak akan mengubah Tuhan, melainkan mengubah siapapun yang mau berdoa.

 

Melalui program YABI dan JOMBI yang sudah berjalan sejak TBM Lentera Pustaka berdiri, dengan menyantuni anak-anak yatim, kaum jompo, dan janda menjadi cara berserah diri untuk menjadikan taman bacaan sebagai jalan hidup, di samping menjalankan misi sosial untuk kaum yang membutuhkan uluran tangan. Karena itu, secara konsisten. Pendiri TBM Lentera Pustaka bersama temannya selalu bersedekah untuk membersihkan harta dan jiwa dan meningkatkan empati dan kasih sayang kepada mereka yang memang sepatutnya dibantu. Selain mendatangkan keberkahan, sedekah sekaligus dapat menjaga Kesehatan dan menghindari menghindari murka Allah. Mungkin tidak perlu lagi didiskusikan, kenapa kita harus membantu anak yatim, kaum jompo, dan janda? Karena sebuah kepedulian hanya membutuhkan aksi nyata, bukan lagi retorika.

 


Tradisi menengadahkan tangan atau berdoaselalu ada di TBM Lentera Pustaka. Karena doa adalah kekuatan terbesar manusia. Sebagai cara untuk menyelaraskan misi taman bacaan, tujuan manusia dengan tujuan Allah. Sebagai salah satu cara untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Dan doa harus dilakukan sebagai bentuk pengakuan atas ketidak-layakan dan kelemahan manusia, apapun dalihnya.

 

Saat berdoa bersama YABI dan JOMBI, ada pesan penting untuk “senangkan Allah bila mau disenangkan-Nya”. Bahwa apa yang dimiliki di dunia hanya milik-Nya, manusia hanya “ketitipan” untuk terus berbuat baik dan menebar manfaat di mana pun. Semoga duduk bersama dengan YABI dan JOMBI menjadi lebih berkah dan jadi ladang amal bersama ... @Pengajian bulanan yatim dan jompo binaan TBM Lentera Pustaka. Salam literasi!




Kamis, 08 Mei 2025

Gen Z, Mau Seperti Apa Saat Pensiun?

Namaku Raka. Aku lahir tahun 2000, bagian dari generasi Z yang tumbuh bersama teknologi. Aku memang cenderung konsumtif. Kata orang, aku ini suka menghabiskan uang untuk barang-barang yang tidak terlalu penting. Mungkin orang-orang itu salah, karena aku memang ingin “menikmati hidup”.

 

Di usia 20-an, hidupku terasa cepat dan penuh warna. Bekerja di perusahaan startup keren. Aku memang tidak loyal tapi bekerja dengan efektif. Senang nongkrong di kafe, healing ke Bali, beli gadget terbaru, semua kulakukan tanpa ragu. “Duit-duit gue ini, nikmatin aja” ujarku pada orang-orang yang mencibir.

 

Waktu itu, kupikir menabung untuk pensiun itu masalah nanti. Urusan pensiun gimana nantilah, kan masih lama. “Toh aku masih muda. Nikmati aja dulu hidup,” begitu pikirku. Gaji lumayan, tapi sebagian besar habis untuk gaya hidup dan beli-beli barang yang online. Asyik pokoknya deh hidupku.

 

Orangtuaku pernah mengingatkan, “Nak, sisihkan uangmu. Hidup itu tak selamanya muda.” Tapi nasihat itu seringkali hanya mampir di telinga, tak pernah tinggal lama di hati. Boro-boro siap-siap pensiun, kepikiran bakal pensiun aja nggak. Anak muda kok mikirin pensiun, iya nggak?

 

Tahun demi tahun berlalu. Tidak terasa, umurku kini 58. Perusahaan startup tempatku dulu bekerja sudah lama bangkrut, dan aku tidak punya dana pensiun. Saat bekerja dulu, aku menganggap dana pensiun tidak penting. Tabungan? Hampir nihil. Investasi? Tidak sempat, katanya waktu muda.

 


Sekarang, di usia senja, aku masih bekerja serabutan, jadi driver ojek online. Kadang, aa orderan antar barang. Badanku sudah tak sekuat dulu. Tapi harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupku bersama istri. Anakku sendiri juga berjuang untuk ekonomi keluarganya.

 

Dulu, aku terlalu sibuk mengejar gaya hidup, lupa menyiapkan masa tua. Tidak punya dana pensiun. Kini, aku menatap anak-anak muda yang duduk di kafe, tertawa di depan laptop sambil bermain game online, seperti aku dulu. Andai saja aku bisa berbisik kepada mereka: "Menikmati hidup itu penting, tapi menyiapkan hari tua ternyata jauh lebih penting." Agar kerja yes, pensiun oke.

 

Sayang, waktu tidak bisa aku putar Kembali. Terbukti, menyiapkan masa pensiun sejak dini penting banget. Masa pensiun itu bukan soal waktu tapi sial keadaan, mau seperti ap akita di hari tua? Maka, mau tidak mau, saat masih bekerja ada baiknya sisihkan gaji untuk hari tua. Agar tidak merana di hari tua. Walau sudah terlambat, kini aku baru sadar. Betap pentingnya menyiapkan dana pensiun sejak muda, apalagi di tengah gelombang nafsu konsumtif yang tidak pernah berujung.

 

Memang urusan pensiun, harusnya bukan gimana nanti tapi nanti gimana? Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

Tegakkan Kegemaran Membaca, Infovesta Donasi Buku ke TBM Lentera Pustaka

Memperingati Hari Pendidikan Nasional dan sebagai wujud kepedulian terhadap gerakan literasi, Infovesta mendonasikan buku bacaan ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (8/5/2023). Bertajuk “Buku untuk Negeri”, event CSR Infovesta ini dihadiri Nora (HRD Infovesta) dan tim serta diterima langsung oleh Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka didampingi wali baca dan pengguna layanan.

 

“Infovesta sangat peduli terhadap aktivitas taman bacaan di Indonesia. Maka memperingat Hari Pendidikan Nasional tahun 2025 ini, kami ke TBM Lentera Pustaka untuk berdonasi buku sambil melihat langsung aktivitas belajar calistung anak-anak taman bacaan. Luar biasa dan terbukti pentingnya membaca buku di sini”” ujar Nora dari Infovesta, mewakili Parto Kawito dan Poernomo pimpinan Infovesta.

 

Selain donasi buku, tim Infovesta menyaksikan langsung kegiatan belajar calistung KElas PRAsekolah (KEPRA) TBM Lentera Pustaka yang diikuti 60-an anak usia PAUD-prasekolah. Sambil berdialog dan terlibat dalam kegiatan belajar anak-anak sebagai motivasi akan pentingnya membaca buku. Tidak kurang 9 dus atau ratusan buku yang didonasikan ke TBM Lentera Pustaka. Donasi buku ini merupakan sumbangan dari pimpinan dan karyawan Infovesta serta mitra yang terjaring selama kampanye “Ayo Donasi Buku” selama sebulan penuh. Hal ini sekaligus mendukung gerakan literasi, utamanya dalam penyediaan akses buku bacaan yang berkualitas.

 


Melalui peringatan Hardiknas 2025, diharapkan masyarakat lebih peduli akan pentingnya membaca buku sekaligus untuk meningkatkan budaya literasi. Oleh karena itu, ketersediaan akses bacaan menjadi penting untuk dipernbanyak dan diperluas ke berbagai daerah. Agar nantinya terbentuk minat anak-anak membaca buku. Karena tidak ada minat baca tanpa tersedianya akses bacaan seperti di taman bacaan.

 

“TBM Lentera Pustaka ucapkan terima kasih kepada Infovesta atas donasi dan kepeduliannya kepada anak-anak taman bacaan. Buku-buku ini sangat penting untuk memotivasi anak-anak agar rajin membaca di TBM. Sehingga ke depan, jangan ada lagi anak-anak putus sekolah dan terjebak pernikahan dini di kampung sekitar sini” kata Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka.

 

Di balik aksi CSR dalam rangka Hardiknas 2025, ada pesan penting bahwa masyarakat harus sering mengajak anak-anak Indonesia untuk membaca buku, agar seimbang dengan main gawai atau menonton TV. Maka ikhtiar mendekatkan buku-buku bacaan ke anak-anak harus terus dilakukan dan didukung semua pihak. Selain dapat menambah ilmu pengetahuan, buku pun bisa jadi sarana pembelajaran akhlak anak sejak dini. Mari ajak anak-anak membaca buku, di rumah di sekolah atau di taman bacaan. Salam literasi #CSRInfovesta #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 



Rabu, 07 Mei 2025

Nggak Apa Perusahaan Mem-PHK, Asal Bayar Uang Pesangon Pekerja Sesuai Aturan

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kian marak. Kemnaker RI mencatat sebanyak 24.036 orang pekerja terkena PHK (23 April 2025) atau sepertiga dari jumlah PHK sepanjang 2024. Industri media, pengolahan, tekstil, sektor ritel, perhotelan, dan e-commerce paling rentan terkena dampak PHK saat ini. Sementara daya serap tenaga kerha masih “stag” di titik yang sama. Konsekuensinya, daya beli masyarakat menurun, tingkat konsumsi melemah, dan ujungnya pertumbuhan ekonomi pun melambat.

 

Terlepas dari sebab kenapa terjadinya PHK, hikmahnya adalah kondisi ekonomi dan dunia usaha tidak selalu baik-baik saja. PHK bisa terjadi kapan saja dan di industri apapun, Tapi konsekuensi PHK ada hak-hak karyawan yang harus dibayarkann yaitu uang pesangon. Pesangon merupakan uang kompensasi yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan saat berakhirnya hubungan kerja, bisa atas sebab PHK, pensiun, meninggal dunia atau efisiensi perusahaan. Tiap kali PHK, Perusahaan wajib membayar uang pesangon (UP), uang penghargaan masa kerja (UPMK) dan uang penggantian hak (UPH) sesuai dengan UU No. 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu Cipta Kerja dan regulasi turunannya.

 

Tegas dinyatakan pada PP No. 35/2021 tentang PKWT, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan PHK pasal 40 ayat 1) “Dalam hal terjadi Pemutusan Hubungan Kerja, Pengusaha wajib membayar uang pesangon dan/atau uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima“.Tapi sayangnya, saat ini masih banyak perusahaan yang tidak mencadangkan uang pesangon. Sehingga kewajiban pembayaran pesangon tidak sesuai regulasi. Maka di balik PHK, hikmahnya perusahaan atau pemberi kerja sangat penting menyiapkan dana pesangon atau disebut Dana Kompensasi Pascakerja (DKPk) untuk membayarkan uang pesangon karyawan, bila waktunya harus dibayarkan atas sebab apapun.

 

Fakta hari ini, tingkat kepatuhan perusahaan dalam membayar uang pesangon sesuai aturan hukum relatif rendah. Sebagian besar perusahaan tidak memenuhi kewajiban pembayaran uang pesangon sesuai aturan. Kasihan karyawan, sudah kehilangan pekerjaan akibat PHK, uang pesangon yang jadi hak-nya pun tidak dibayarkan. Survei menyebut, hanya 27% perusahaan yang memenuhi pembayaran kompensasi sesuai regulasi, sedangkan 73% perusahaan tidak sesuai aturan. Survei lain menyebut, 93% perusahaan tidak membayar uang pesangon saat terjadi PHK sesuai regulasi, hanya 7% perusahaan yang patuh. Alasannya karena tidak mampu dan tidak ada uangnya. Maka seharusnya, saat mampu dan bisnis berjalan lancar, uang pesangon harusnya mulai didanakan sejak dini.

 

Di balik kasus PHK, maka perusahaan yang bisnisnya baik-baik saja seharusnya mulai berani mendanakan uang pesangon atau DKPk sejak dini. Tujuannya untuk menyediakan pembayaran uang pensiun atau pesangon karyawannya. Kkarena cepat atau lambat, uang pensiun atau pesangon karyawan pasti akan dibayarkan oleh perusahaan. Salah satu program yang bisa digunakan untuk “mendanakan uang pesangon” di DPLK disebut Program Pensiun Dana Kompensasi Pascakerja (DKPk). Program ini untuk menyiapkan ketersediaan dana untuk pembayaran imbalan pascakerja kepada karyawannya, atas sebab apapun.

 




Melalui DKPk, setidaknya ada 5 (lima) alasan yang diperoleh perusahaan saat terhjadi PHK atau karyawan pensiun:

1.     Untuk memenuhi kewajiban pembayaran uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak yang harus diterima karyawan saat pensiun atau berhenti bekerja/PHK. Karena dananya sudah tersedia.

2.     Untuk menghindari masalah cash flow atau arus kas perusahaan saat karyawan pensiun atau di-PHK. Karena keuangan perusahaan tidak bisa diketahui cukup atau tidaknya.

3.     Untuk meminimalkan biaya perusahaan. Karena bila didanakan aka nada hasil investasinya.

4.     Untuk memastikan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi ketenagakerjaan yang berlaku atau UU Cipta Kerja.

5.     Menjadi asset program sesuai dengan PSAK 24 terkait kewajiban imbalan pascakerja yang tercantum dalam laporan keuangan perusahaan.

 

Dengan begitu, perusahaan “tidak pusing lagi” soal pembayaran uang pesangon atau kompensasi pascakerja bila terpaksa harus mem-PHK atau ada karyawan yang pensiun. Semuanya dapat dibayarkan melalui program DKPk, sesuai aturan yang berlaku. Sekali lagi, di balik maraknya PHK, ada sinyal kuat akan pentingnya perusahaan menyiapkan pendanaan uang pesangon untuk karyawannya. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi?

 

Melalui program DKPk yang dikelola DPLK, ada 4 (empat) keuntungan mendasar yang diperoleh perusahaan, yaitu: 1) adanya kepastian dana untuk pembayaran uang pesangon atau kompensasi pascakerja, 2) adanya hasil investasi yang optimal selama didanakandan dapat meminimalkan biaya perusahaan, dan 3) adanya fasilitas perpajakan saat manfaat pensiun dibayarkan bagi karyawan, dan 4) adanya pendanaan yang terjangkau dan sistematis untuk uang pensiun – pesangon karyawan.

 

PHK, tentu sah-sah saja dan bisa terjadi kapan saja. Akibat kondisi perusahaan atau perlunya efisiensi bisnis. Akan tetapi, uang pesangon – pensiun harus tetap dibayarkankarena kewajiban sesuai regulasi. Masalahnya, sudahkah perusahaan menyiapkan pendanaan uang pesangon – pensiun untuk karyawannya. Apapaun alasannya, perusahaan harus mulau merencanakannya. Karena setiap kali PHK, ada hak-hak karyawan yang harus dipenuhi setelah hubungan kerja berakhir. Salam literasi #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM



Selasa, 06 Mei 2025

Raka, Kisah Anak Candu Gadget Tanpa Mau Membaca Buku

Raka, anak kelas 5 SD, sangat suka main game. Di rumah, waktu luangnya habis untuk YouTube dan Mobile Legends. Sepulang sekolah gadget, sore pun main gadget. Tanpa mau membaca sedikit pun. Sampai-sampai ibunya sering membujuk: "Raka, ayo baca buku dulu, 15 menit saja."

Tapi Raka selalu menjawab, "Ngapain baca? Kan bisa nonton aja."

 

Di sekolah, ia mulai tertinggal. Raka susah memahami soal cerita di matematika. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, ia tidak bisa merangkai kalimat utuh. Nilainya turun pelan-pelan, tapi ia tidak peduli. Yang penting, rank di gamenya naik. Raka, kini candu gadget.

 

10 tahun kemudian …

Raka kini berusia 20 tahun. Teman-temannya sudah kuliah atau kerja sambil belajar. Tapi Raka gagal tes masuk universitas. Modal ijazah SMA pun sulit dapat kerja. Setiap kali wawancara lowongan kerja, ia gugup saat membaca formulir atau menjawab pertanyaan tertulis. Ia melamar jadi staf toko, tapi diminta isi aplikasi online yang cukup panjang. Ia menyerah di tengah jalan, tidak paham kalimatnya.


Ia pun mencoba jadi konten kreator, tapi tak tahu cara menulis skrip yang menarik. Videonya sepi penonton. Raka mulai sadar…

"Andai dulu aku mau membaca buku… mungkin sekarang hidupku beda."

Tapi sayang, waktu tidak bisa diputar ulang. Raka, anak yang candu gadget tanpa mau membaca buku akhirnya tidak punya masa depan yang cerah. Hingga dewasa, masih menjadi beban orang tuanya. Menyedihkan sekali …



-----

Kisah Raka, mungkin hanya sekelumit cerita tentang anak-anak yang menolak membaca buku hari ini. Terlalu dekat dengan gadget tanpa ada nasihat. Anak yang tumbuh menjadi dewasa namun kesulitan memahami dunianya sendiri di kemudian hari. Banyak orang lupa, membaca bukan untuk pintar tapi untuk bertahan hidup di masa depan.

 

Lalu, apa alasannya anak tidak mau membaca buku di taman bacaan? Jangan sampai ada Raka-Raka lainnya di dekat kita. Anak yang candu gadget dan meremehkan membaca buku. Bakal “hilang” masa depannya. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen