Tampilkan postingan dengan label literasi kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literasi kampus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Agustus 2026

Ketika Gerbang Pendidikan Dibuka dengan Transaksi: Refleksi dari OTT Rektor Unsoed

Kasus operasi tangkap tangan (OTT) yang melibatkan Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menjadi pukulan serius bagi dunia pendidikan tinggi. Peristiwa ini bukan semata persoalan hukum yang melibatkan individu, tetapi juga menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana integritas dijaga di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu pengetahuan, karakter, dan keteladanan? Ketika seorang pimpinan perguruan tinggi terseret perkara dugaan korupsi, reputasi institusi dan kampus pun ikut dipertaruhkan.

 

Kasus ini semakin ironis adalah dugaan perkaranya berkaitan dengan proses penerimaan mahasiswa baru. Ini soal integritas, bukan ilmu pengetahuan. Karenanya, masyarakat perlu memahami, perguruan tinggi itu bukan sekadar tempat memperoleh gelar, melainkan simbol karakter, akhlak dan etika. Makanya ada budaya akademik, ada budaya kampus. Karena itu, apabila proses masuk perguruan tinggi (negeri) diduga dipengaruhi transaksi atau kepentingan tertentu, yang terancam bukan hanya aturan administratif. Tapi juga kepercayaan terhadap prinsip bahwa pendidikan harus dapat diakses berdasarkan kemampuan dan mekanisme yang adil. Semua orang berhak berpendidikan tapi cara-caranya harus etis.

 

Sudah semestinya kasus ini tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab secara hukum? Ada pertanyaan yang lebih penting bagi perguruan tinggi: apakah sistem pengawasan ada di kampus? Bagaimana budaya integritas dijalankan di perguruan tinggi? Kita sering lupa, integritas di kampus tidak cukup dibangun melalui slogan, kode etik, atau pakta integritas. Integritas itu aksi nyata, harus hadir dalam setiap proses pengambilan keputusan, apalagi yang menyangkut kepentingan mahasiswa, orang tua, dan masyarakat. Keteladanan pimpinan kampus jadi penting. Tapi sistem yang transparan dan mekanisme pengawasan yang kuat juga tidak kalah menentukan agar “nama kampus” tidak tercoreng.

 

Bila ada pimpinan kampus atau akademisi terjerat OTT atau bahkan korupsi berapapun rupiahnya, sungguh ironi. Bukan hanya mencoreng nama kampus bahkan perguruan tinggi. Apalagi bila dilakukan oleh pimpinan kampus atau guru besar bergelar professor.  Ironis paling besar adalah “menghancurkan” misi kampus sebagai tempat pendidikan karakter. Sebab kampus, bukan hanya menjadi ruang pendidikan dan mengajarkan ilmu tapi juga nilai-nilai dan karakter yang baik. Tapi begitulah faktanya, masih ada oknum yang menjadikan penerimaan mahasiswa baru sebagai “ladang transaksional”.  Di kasus Unsoed ini, diduga tokoh kuncinya akademi yang tadinya dianggap keren. Sudah jadi doktor di usia 30th,  menjabat wakil rektor di usia 40th, diangkat jadi guru besar – professor di usia 43th. Tapi akhirnya terjerat OTT di usia 44th. Sering kali, sesuatu yang kecepatan atau didasari ambisi akhirnya jadi “berantakan”.

 


Buat kalangan kampus atau perguruan tinggi, sudah semestinya kasus OTT orang kampus ini bisa jadi momentum untuk melakukan introspeksi menyeluruh terhadap tata kelola pendidikan tinggi, sekaligus pembelajaran berharga tentang integritas di kampus. Kampus harus kembali menegaskan bahwa ilmu tanpa integritas akan kehilangan maknanya bila kewenangan diberikan tanpa pengawasan. Apapun tanpa pengawasan berpotensi disalahgunakan. Kasus Unsoed menjadi pengingat bahwa menjaga nama baik kampus bukan dengan menutupi persoalan, melainkan dengan berani memperbaiki sistem, menegakkan aturan, dan memastikan bahwa ruang akademik tetap menjadi tempat di mana kejujuran dan integritas benar-benar dipraktikkan.

 

Jadi dosen atau jadi orang kampus, insya Allah cukup bila disyukuri dan menjaga integritas. Tetap sederhana, tidak punya gaya hidup, dan yang penting rajin menabung. Setelah lebih dari 32 tahun mengajar di kampus swasta di Jakarta, saya merasa cukup dan tetap menjaga integritas. Cukup, bukan berkecukupan. Tergantung orangnya, punya ambisi di kampus atau tidak?

 

Memang, integritas itu milik individu, bukan label sebuah kampus atau profesi. Kasus OTT di kampus itu jelas perbuatan oknum dan bukan representasi seluruh akademisi atau orang kampus. Tapi siapapun yang berada di lingkungan kampus “harus mikir”, kok bisa tempat pendidikan karakter sekelas kampus terjadi OTT?

 

Bila ada dari ruang akademik jadi ruang OTT, maka kita wajib bertanya “apa masih ada integritas di kampus?”



Sabtu, 10 Mei 2025

Mahasiswa yang Tertunduk Memegang Kepala saat Menulis Kreatif

Di sebuah universitas metropolitan yang ramai, hiduplah seorang mahasiswa bernama Rian. Ia mahasiswa PBSI FBS Unindra. Selain dikenal teman-temannya sebagai sosok yang Santai, Rian sangat menikmati masa kuliah sepenuhnya. Baginya, kuliah adalah tentang bersosialisasi, mengisi waktu di tengah pekerjaan sehari-hari, dan sesekali mengerjakan tugas jika mendekati tenggat waktu. Belajar sungguh-sungguh dan memikirkan masa depan karier terasa jauh dan membosankan baginya.

 

Rian memiliki seorang teman sekamar bernama Arya. Berbeda dengan Rian, Arya adalah sosok yang tekun dan fokus pada studinya. Ia selalu hadir di kelas, mencatat dengan rapi, dan sering menghabiskan waktu untuk membuat jurnal ilmiah. Yah, hitung-hitung untuk mendalami materi kuliah. Arya seringkali mengajak Rian untuk belajar bersama atau berdiskusi tentang materi kuliah, namun Rian selalu menolak dengan berbagai alasan.

"Ayolah Bro, besok ada tugas bikin jurnal ilmiah nih. Kita bikin bareng yuk," ajak Arya suatu malam ke Rian.

 

"Santai ajalah bro Arya. Nanti kalua udah deket deadline-nya aja. Sekarang lebih seru kalau kita main game online, gimana?" jawab Rian sambil tertawa.

 

Waktu terus berjalan. Semester demi semester berlalu. Arya dengan tekun membangun fondasi pengetahuannya, mengikuti seminar dan workshop tambahan, serta aktif mencari kesempatan kelompok diskusiyang relevan dengan bidang studinya, Pendidikan Bahasa san Sastra Indonesia. Sementara itu, Rian tetap asyik dengan dunianya, menganggap nilai bagus hanyalah formalitas dan pengalaman kuliah lebih penting dari segalanya.

 

Tibalah saatnya mereka memasuki semester akhir. Teman-teman seangkatan mulai sibuk mempersiapkan skripsi dan mencari judul yang mampu disenanginya. Arya, karena ilmunya dan pengalaman di kelas, berhasil mendapatkan tawaran pekerjaan di perusahaan lain bahkan sebelum ia lulus.

 

Rian baru mulai merasa panik ketika menyadari bahwa sebagian besar teman sekelasnya mulai banyak yang ujian siding skripsi. Dia sendiri tidak banyak memahami materi kuliah sejak awal. Karena kuliah hanya untuk aktualisasi diri, untuk eksistensi sosial. Pemahaman materi kuliah dangkal dan keterampilan spesifik bahasa Indonesia pun kurang dikuasai. Ia mencoba mengingat kembali materi-materi kuliah yang dulu ia abaikan, namun semuanya terasa kabur dan sulit dipahami.

 

Ia mulai menyesali keputusannya untuk tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Ia melihat Arya yang kini sudah mulai meniti kariernya dengan mantap, sementara ia masih kebingungan mencari arah masa depan. Skripsi pun belum rampung. Rasa iri dan penyesalan bercampur aduk dalam benaknya.

 


Rian akhirnya menyadari bahwa masa kuliah bukan hanya tentang kesenangan dan pengalaman sosial, tetapi juga tentang membangun bekal untuk masa depan. Ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari di bangku kuliah adalah investasi berharga yang akan menentukan arah karier dan kehidupan seseorang setelah lulus.

 

Dengan sisa waktu yang ada, Rian berusaha keras mengejar ketertinggalannya. Sekalipun terlambat, ia mulai memanggil Kembali ingatannya tentang kuliah. Buku-buku semasa kuliah dibacanya Kembali. Agar skripsinya bisa rampung, sambil meminta bantuan Arya untuk membimbingnya biar skripsinya tuntas.. Namun, ia menyadari bahwa ia telah kehilangan banyak kesempatan berharga karena kelalaiannya di masa lalu.

 

Meskipun Rian akhirnya berhasil lulus, ia menghadapi persaingan yang lebih ketat di dunia kerja. Ia tetap berada di posisi yang lama. Belum ada perubahan sejak dirinya menjadi sarjana. Hampir tidak ada bedanya sebelum kuliah dan sesudah menjadi sarjana. Rian harus bekerja lebih keras untuk membuktikan kemampuannya di kantor. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga baginya bahwa menunda-nunda persiapan masa depan bisa berakibat fatal.

----

Kisah Rian, seorang mahasiswa yang “terlalu biasa” saat menjadi mahasiswa menjadi pengingat bagi kita bahwa menikmati masa kuliah memang penting, namun mempersiapkan masa depan melalui belajar yang sungguh-sungguh adalah hal yang jauh lebih krusial. Masa depan yang cerah tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan sejak dini dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang relevan. Arya, dengan ketekunannya, telah membuktikan bahwa investasi terbesar seorang mahasiswa adalah pada pendidikannya sendiri. Untuk masa depannya yang lebih baik.

Seperti yang terjadi saat kuliah Menulis Kreatif di PBSI FBS Unindra yang diampu Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. (10/5/2025), kisah tentang Rian dan Arya pun membuat semua mahasiswa tertunduk. Mahasiswa yang tertunduk sambil memegang kepalanya, memberi hikmah akan pentingnya kuliah dengan sepenuh hati. Jangan sia-siakan waktu untuk memperbaiki diri. #MenulisKreatif #SyarifudinYunus #UnindraKeren