Senin, 08 April 2024

Senja di Penghujung Ramadan

Entah kenapa, sebagian manusia ketika akan melakukan kebaikan selalu berkata "Ahhh nanti saja...". Katanya, besok-besok masih ada waktu. Selalu gampang berdalih, “Nanti saja”. Menunggu waktu yang tepat, menanti saat yang pas. Lalu berkata lagi, “Ahhh, nanti saja”.

 

Kumandang Azan telah menggema, waktu sholat telah tiba. Namun hati berkata, "Ahh nanti saja…". Tadarus dan tilawah sepanjang puasa harusnya khatam, namun karena enggan melakukannya lalu berkata "Ahh nanti saja...". Saat membaca pamflet yayasan anak yatim yang bertuliskan "Salurkan sedekah Anda untuk anak yatim” pun masih terbersit di hatinya, “Ahh, nanti saja…”. Kini puasa tinggal satu hari lagi, zakat fitrah pun harus dibayarkan. Mungkin masih berkata, “Ahhh, nanti saja…” Padahal uang di dompetnya sangat cukup untuk sedekah dan membayar zakat. Lagi-lagi, “Ahhh, nanti saja…”.

 

Hidupnya sudah lebih mapan dan tempat tinggal jauh dari orang tua di kampung. Sebentar lagi lebaran tiba, sang ibu pun mengirim WA untuk anaknya. Sekadar menanyakan, apakah lebaran kali ini pulang kampun? Sang ibu yang ingin sedikit mengobati rasa rindu kepada anaknya. Si anak pun bisa langsung membalas pesan WA ibunya. Tapi karena kesibukan urusan dunia, akhirnya da;lam hati berkata "Ahh nanti saja...."

 

Sang ayah pun sudah tua renta. Tidak berdaya lagi, dimakan usia. Untuk berdiri menopang tubuhnya pun berat, akibat penurunan fungsi tulang-tulang di kakinya. Sudah berbulan-bulan. Tapi ssayangnya, si anak pun belum bisa meluangkan waktu untuk menjenguknya, Sekadar menghibur dan mendoakan sang ayah yang keadaannya kian memburuk. Masih saja berkata, "Ahh nanti saja..."

 

Senja akhirnya tiba di penghujung ramadan. Di malam terakhir bulan puasa. Si anak pun belum bisa menyampaikan salam kepada orang tuanya. Karena terlalu mudah berkata, “Ahhh, nanti saja…”

 

Ahhh, nanti saja. Ungkapan yang kini disesali banyak orang saat waktu termakan usia.  Tidak lagi bisa ke sana ke sini. Urusan dunia pun mulai surut. Kesibukan telah melenakan. Waktu berharga banyak terbuang percuma. Begitu banyak tindakan yang disesalinya kini. Mana ucapan "Ahh nanti saja…"? Sementara pintu taubat telah tertutup. Ramadan pun telah pergi dan belum tentu ditemuinya kembali.



Ahh, nanti saja. Ketika cambuk malaikat sudah di depan mata. Ketika tilawah tidak lagi berguna. Ketika amalan sholat tidak lagi bisa menolong. Ketika sedekah tidak berarti lagi. Ketika ramadan tidak ditemui lagi. Ketika sang ibu telah terbujur dengan mata tertutup. Bahkan ketika sang ayah tidak lagi mampu bernafas, tutup usia. Lalu, masih berharap kabar dari orang tua? Ahh, nanti saja.

 

Akibat “Ahh nanti saja…”. Tangisan pun tidak berarti lagi. Menyesal jadi percuma. Berduka, meratap kehilangan tidak ada artinya lagi. Semua sudah terlambat, waktu pun sudah tidak bisa diputar kembali. Semuanya akibat, “Ahh, nanti saja…”

 

Lalu hari ini, masihkah di antara kita masih berani untuk berkata, “Ahh, nanti saja…”. Untuk berbuat kebaikan dan menebar manfaat kepada sesama, di mana pun. Renungkan dan renungi, sebenarnya kita ini dari mana dan mau ke mana pergi?

 

Ahh, nanti saja. Senja pun tibad di penghujung ramadan. Siapapun yang menyia-nyiakan waktu maka nanti waktulah yang akan menyia-nyiakan dirinya. Salam literasi #NgabubuRead #HikmahRamadan #TBMLenteraPustaka

.

Minggu, 07 April 2024

Mudik Itu Literat dan Jangan Ada Marah Kepada Orang Tua

Percuma puasa, sia-sia ibadah siapapun, Bila masih ada rasa marah kepada kedua orang tuanya. Bila masih tersimpan hati yang membenci kepada siapapun, apalagi kepada kedua orang tua kita. Karena marah dan benci, hanya jalan untuk merusak diri sendiri dan siapapun yang terlampiaskan. Untuk apa berlarut-larut dalam kemarahan, kebencian, dan emosi bila akhirnya membuat diri sendiri bertambah menderita. Lebih baik sabar dan bersyukur.

 

Jangan ada lagi marah pada orang tua. Hormati selalu kedua orang tua kita. Memang mereka tidak mewariskan kekayaan. Tapi orag tua adalah guru dari maha guru tentang arti sebuah penghormatan. Mereka guru terhebat bahkan gelar tertinggi di dunia ini, bagi siapapun orang-orang yang berpangkat, punya jabatan atau terkaya sekalipun.

 

Kasihi orang tua, hormati mereja apa adanya. Maklumi dan terima semua nasihantnya. Karena usianya memang tidak lagi muda. Langkah kakinya pun mulai melemah tidak berdaya. Matanya mulai terganggu ketika usia senja menyapa. Dan kini, telinganya pun sudah mulai berkurang kepekaannya. Jangan ada benci kepada orang tua, percuam ibadah sehebat apapun bila akhirnya “durhaka” kepada orang tua.

 

Bulan puasa sebentar lagi berakhir. Ibadah ramadan sulit membekas bila gagal menghormati orang tua, tidak mampu menyanyanginya. Waktu terus berputar, hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan terlewati, hingga berganti tahun. Lalu, apa yang lebih baik kita perbuat untuk kedua orag tua. Do momen idul fitri, mudiklah untuk mencium tangannya. Pulang kampunglah untuk menghormatinya. Ingat, karena siapapun tidak pernah tahu kapan ajal menjemput mereka?


Mudik itu literat. Berlutut di kaki orang tua, kecup keningnya. Cium tangannya dan peluklah orang tua. Minta maaf atas segala salah dan dosa kepadanya. Agar jangan ada marah apalagi benci kepada orang tua.

 


Anak, sehebat apapun. Tugasnya hanya menghormati orang tua. Berbakti untuk kedua orang tuanya. Berbuat baik dan jangan ada marah kepadanya. Itupun sesuai dengan kemampuan si anak. Dan hebatnya, orang tidak pernah “ngiler” mau sesuakses dan sehebat anak-anaknya. Mereka hanya diam dan terus berdoa tiada henti untuk anak-anaknya, mantunya, cucunya, bahkan cicitnya. Orang tua hebat, tanpa pamrih dan menerima segalanya.

 

Sulit untuk bisa diterima. Bila hari ini masih ada anak yang marah dan benci kepada orang tuanya. Seperti murid yang benci kepada gurunya. Seperti istri yang durhakan kepada suaminya. Bahkan seperti pemimpin yang menzolimi rakytanya. Mamengnya kenapa, orang tua sampai dibenci?

 

Tuntunannya, amar ma'ruf nahi mungkar. Perbaiki hubungan dengan orang tua, Hormati dan sayangi mereka. Kok bisa-bisanya memusuhi orang tua, lalu berbaik hati kepara orang-orang yang tidak punya pengaruh saat mendidik dan membesarkan kita. Maka di momen lebaran ini, pulanglah ke orang tua. Hormati mereka, jangan ada lagi marah pada orang tua. @Sebuah catatan seorang anak yang sudah “ditinggal” kedua orang tuanya. Salam literasi #NgabubuRead #TBMLenteraPustaka #HikmahLebaran

Hikmah NgabubuRead di Taman Bacaan, Jangan Gampang Menyerah

Sebagian orang, mungkin menyangka anak-anak tidak perlu ke taman bacaan. Sebagian yang lain tetap apriori terhadap aktivitas di taman bacaan. Sama seperti orang yang berpikir, bahwa kerja mau seperti apa pun tetap saja rezekinya cuma segitu-gitu saja. Sah-sah saja sih. Asal jangan berpikir, mau puasa atau tidak puasa yah sama saja. Lupa ya, kita manusia itu disuruh ikhtiar. Jangan pesimis, apalagi berpikir negatif soal apapun.

 

Anak-anak yang ada di taman bacaan pun begitu. Mereka hanya ikhtiar untuk membaca buku. Mumpung ada tempatnya, ada waktu untuk melangkahkan kaki ke taman bacaan. Apalahi selama di bulan puasa, ada “ngabubu-read”. Sambil membaca buku umum, sekaligus tadarusan hingga khataman Al Quran setiap Sabtu. Daripada nongkrong tidak jelas atau diam di rumah ya pastinya mendingan ke taman bacaan. Begitulah yang terjadi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Itu fakta dan realitas. Beda dengan orang yang Cuma omong, susah dibuktikan omongannya sendiri.

  

Ada yang berpikir negatif, ada pula yang positif. Ada yang pesimis tapia da yang optimis. Jadi itu semua pilihan setiap orang, mau berpikir seperti apa? Mau bertindak kayak apa? Selalu saja ada pro dan kontra, itu sudah biasa. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Jangan urusan membaca buku atau taman bacaan, apapun selalu memberi kemungkinan untuk disikapi, Bisa negatif, bisa positif. Tergantung otaknya, tergantung orangnya.

 

Literasi itu berarti memahami realitas. Bukan hanya soal membaca dan menulis. Karena di dunia ini, sesungguhnya tidak ada orang yang baik-baik saja. Semuanya pasti punya masalah, punya ujiannya masing-masing. Jadi untuk yang sudah berbuat baik dan menebar manfaat, tetap semangat saja. Jangan mudah menyerah karena sebentar lagi hasil indah akan dipanen.

 


Bulan puasa itu bulan introspeksi diri, muhasabah diri. Untuk selalu memperbaiki diri dalam segala hal. Mengakui kekurangan dan merawat kelebian yang dimiliki. Bila ada orang yang terlihat kuat menahan lapar dan haus, itu semata0mata karena patuhnya kepada perintah-Nya. Bila ada orang yang terlihat kuat di hadapan kita, bisa saja dia selalu menangis di hadapan Allah SWT karena sebetulnya dia tidak setenang dan sekuat itu, Hanya saja, dia sedang belajar mengendalikan perasaanya.

 

Jadi, selagi masih mampu berbuat baik dan menbera manfaat di manapun. Tidak ada alasan untuk berjeluh-kesah. Tetap semangat menyebarkan kebaikan, posting hal-ahal yang positif dan menjadi nasihat. Karena bisa Jadi, taat-Nya seseorang dan berhentinya mereka bermaksiat sebab dari perbuatan baik yang kita tebarkan. “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

 

Sekali lagi, teruslah berbuat baik dan menebar manfaat. Tidak usah gubris orang-orang yang berpikir negatif dan bersikap pesimis. Tugas kita hanya ikhtiar yang baik, selebihnya biarkan Allah SWT yang menentukan hasilnya. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 

Sabtu, 06 April 2024

Taman Bacaan di Bogor Latih Budaya Antre Anak-Anak, Agar Tidak Serobot Hak Orang Lain

Budaya antre atau menunggu giliran mungkin dianggap soal sepele. Tapi tidak begitu di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Seperti yang terjadi pada 80-an pengguna layanan (anak-anak dan ibu-ibu) saat antre pembagian takjil setelah khataman Al Quran ke-4 kemarin di Bogor ((6/4/2024). Setelah menutup kegiatan “Ngabubu Read Ramadan Ceria di TBM”, seluruh pengguna layanan antre takjil yang dibagikan wali baca dan relawan TBM Lentera Pustaka disaksikan Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka. Setelah antre, anak-anak pun membagikan membagikan takjil di jalanan dekat taman bacaan.

 

Di era sekarang, budaya antre tidak lagi masalah sederhana. Tapi harus dilatih dan ditanamkan kepada anak-anak dan warga sejak dini. Karena antre sulit dilaksanakan tanpa ada komitmen dan contoh praktik baik. Melatih anak untuk terbiasa antre tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu waktu dan pembiasaan serta keteladanan dari orang dewasa seperti yang dilakukan secara rurin di TBM Lentera Pustaka. Mulai dari jajanan gratis, mengambil buku bacaan, dan pembagian takjil. Agar tidak berebut dan lebih tertib.

 

Mengapa budaya antre perlu dilatih? Tentu, agar terbiasa dan menjadi prinsip etika yang dijunjung tinggi di mana pun dan kapan pun. Untuk kemaslahatan semua orang, di samping memperkokoh etika baik di Masyarakat. Budaya antre mengandung pelajaran mulia berupa etika dan akhlak. Melalui antre, anak-anak akan terbiasa 1) mengatur waktunya dengan efektif, 2) akan belajar bersabar menunggu gilirannya, 3) akan menjadi orang yang mampu menghargai hak orang lain, 4) akan belajar tentang kedisiplinan dan rasa malu jika merebut hak orang lain, dan 5) akan membentuk akhlak baik anak.

 


“Kami di TBM Lentera Pustaka, selalu mengajarkan budaya antre kepada anak-anak dan warga sebagai pengguna layanan taman bacaan. Tujuannya sederhana, membiasakan antre saja. Belajar menunggu giliran dan menghargai hak orang lain. Antre itu soal membentuk etika dan akhlak anak-anak” ujar Syarifudin Yunus di TBM Lentera Pustaka di Bogor.

 

Kebiasaan antre, sejatinya juga dapat membentuk pribadi anak lebih kreatif. Karena melalui antre, si anak memikirkan hal-hal kecil untuk mengisi waktu sembari menunggu giliran. Banyak orang menganggap anter soal kecil. Tapi antre justru menjadi pelajaran berharga tentang etika dan cara bersosialisasi dengan orang lain yang baik.

 

Maka TBM Lentera Pustaka memandang cara yang efektif untuk membentuk karakter disiplin anak adalah dengan membiasakan antre. Antre sebagai budaya untuk tertib. Pembiasaan ini dinilai sangat efektif dalam menerapkan karakter disiplin anak sejak usia dini. Berawal dari kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan sehari-hari sehingga budaya antre jadi tertanam dalam diri anak. Memang, kegiatan antre bukan hal yang baru bagi anak. Tapi anak-anak bisa menemukan budaya antre ketika berada di lingkungan rumah, di sekolah atau di mana pun. Antrelah agar tidak menyerobot hak orang lain. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka



Anak-anak Pembaca Aktif TBM Lentera Pustaka Tuntskan Khataman ke-4 dan Berbagi Takjil di Jalanan

Anak-anak pembaca aktif dan orang tua yang tergabung di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menuntaskan khataman ke-4 setiap Sabtu selama Ramadan, plus berbagi takjil di jalanan (6/4/2024). Dihadiri 60-an anak pembaca aktif, TBM Lentera Pustaka sekaligus menutup aktivitas “Ngabubu Read Ramadan Ceria” selama bulan puasa. Acara khataman ke-4 dipimpin langsung Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka, sedangkan doa bersama dipimpin Danang dan Evan (anak pembaca aktif). Setelah khataman, anak-anak pun membagikann takjil sebagai makanan berbuka puasa ke para pengguna jajan di dekat taman bacaan.

 

Selama bulan ramadan, anak-anak TBM Lentera Pustaka membagi porsi membaca buku umum dan tadarusan, sesuai kelompoknya. Satu kelompok menyelesaikan 1 juz selama 3 hari seminggu. Dan setiap Sabtu melakukan khataman Al Quran. Itu berarti, selama ramadan, anak-anak TBM Lentera Pustaka secara “keroyokan” menuntaskan khataman 4 kali sepanjang bulan ramadan. Selain untuk membaca kitab sucinya, kegiatan “ngabubu read” juga untuk membentuk akhlak dan adab anak-anak pembaca aktif.

 

Bahkan hebatnya, para ibu yang mengantar anaknya ke taman bavaan pun ikut khataman alias membantu bacaan si anak. Sebuah tradisi literasi yang inklusif terjadi di taman bacaan, yang tidak hanya anak-anak tapi melibatkan para ibu. Sambil pamit pulang, anak-anak dan para ibu pun bersalaman dengan wali baca dan relawan. Sebagai cara sederhana untuk melebur dosa dan kesalahan jelang lebaran. Menyambut lebaran, TBM Lentera Pustaka pun libur dan aktivitas taman bacaan baru dimulai lagi pada 21 April 2024.

 

“Alhamdulillah, keluarga besar TBM Lentera Pustaka telah tuntaskan 4 kali khataman selama ramadhan.  Sakat mal yang disalurkan pun lebih dari Rp. 20 juta. Selain terus memelihara praktik baik di taman bacaan, semoga semuanya mendapat berkah melimpah setelah ramadan ini. Sekaligus TMB Lentera Pustaka menyampaikan selamat idul fitri, mohon maaf lahir batin” ujar Syarifudin Yunus di TBM Lentera Pustaka hari ini.

 

Sambil berjalan pulang ke rumahnya, anak-anak TBM Lentera Pustaka tampak sumringah sepulang dari taman bacaan. Semoga budaya membaca buku selalu melekat hingga dewasa nanti. Untuk mewujudkan generasi muda dan Masyarakat yang lebih literast. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 


Jumat, 05 April 2024

Literasi Setelah Berpuasa

Memang benar-benar indah. Ketika berpuasa biasanya kita akan berusaha agar mata kita tidak melihat sesuatu yang diharamkan. Ketika berpuasa biasanya kita akan berusaha agar lisan kita tidak melakukan ghibah, dusta dan caci maki. Dan ketika berpuasa pula biasanya kita akan menjadi lebih semangat untuk bersedekah, membaca Al Qur'an, dan qiyamul lail.

 

Adem banget. Ketika berpuasa biasanya kita akan berusaha meninggalkan segala bentuk maksiat, sebab kawatir hal itu akan menjadi dosa dan merusak pahala puasa. Ketika berpuasa biasanya kita akan berusaha agar menjadi hamba yang lebih baik, lebih bertakwa, menjaga ibadah dan memperbanyak amal soleh. Dan ketika berpuasa pula, biasanya kita begitu bergembira saat datangnya waktu berbuka sambil berupa alhamdulillah.

 

Ketika berpuasa, hati begitu lapang. Pikiran begitu tenang dan perilaku pun begitu tidak lagi bimbang. Tapi sayang, andaikan hari-hari kita setelah puasa kembali lagi berguncang dan bergelombang hingga berulang-ulang.

 

Sungguh, "Barangsiapa yang menjadikan hari-hari hidupnya seperti hari-harinya saat bulan Ramadhan, maka Allah akan menjadikan akhir hidupnya seperti hari raya." (Fikih Muamalah Maliyah).

 


Sebentar lagi puasa berlalu dan pergi. Sebentar lagi puasa berlari, menjauh dari kita sehari-hari. Lalu, apa yang tersisa setelah kita berpuasa? Semoga esok, setelah tidak lagi berpuasa. Kita tetap mau memperbaiki diri, menjaga kualitas diri. Tidak lagi penuh emosi dan sok paling benar sendiri.

 

Setelah berpuasa, lebih mau menghormati dan menghargai. Tetap berani hidup di atas amal soleh. Tiada henti berbuat baik dan menebar manfaat. Sebagai bukti kita telah berhasil melewati hikmah puasa. Tetap istikomah lagi penuh berkah.

 

Ya Allah, jadikanlah hari-hari kehidupan kami setelah puasa. Untuk sehat dalam manfaat, panjang umur dalam ibadah, dan berkah dalam maslahat. Hingga tutup usia dalam keadaan husnul khotimah.

 

Literasi setelah puasa. Akankah kemenangan puasa, tercermin dalam kematangan spiritual dan sosial. Setelah satu bulan penuh dididik di madrasah ramadan. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari yang kemarin. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

.

Kamis, 04 April 2024

Inilah 12 Kendala Utama Taman Bacaan, 75 Persen Dibiayai Sendiri

Berdasarkan hasil angket terbatas tentang tata kelola taman bacaan di Kabupaten Bogor (per 5 April 2024), diperoleh data 75% taman bacaan dibiayai dana sendiri/swadaya, 17% dari CSR, 8% dari donatur pribadi, sedangkan pemerintah daerah tidak ada kontribusi sama sekali. Informasi ini diperoleh dari 12 taman bacaan yang sudah memberikan respon dari 20 taman bacaan yang diminta memberi masukan.

 

Realitas ini, tentu menjadikan taman bacaan masih dihadapkan pada kendala yang besar untuk mempertahankan eksistensinya di masyarakat. Di samping semakin sulit memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kegemaran membaca dan budaya literasi. Saat ditanya apakah kendala utama taman bacaan Anda? Maka setidaknya ter-inventarisasi kendala utama yang dihadapi taman bacaan di Kabuppaten Bogor adalah sebagai berikut:

1.     Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya taman bacaan sehingga partisipasinya di taman bacaan menjadi rendah.

2.     Pendamping literasi yang sedikit sehingga program literasi sulit dijalankan optimal.

3.     Kurangnya minat anak-anak untuk datang ke taman bacaan.

4.     Belum ada lahan dan bangunan sendiri untuk taman bacaan.

5.     Ketersediaan buku yang sedikit sehingga belum bisa memberikan layanan peminjaman buku.

6.     Diperlukannya program pemberdayaan untuk ibu-ibu pengantar anak-anak baca agar memiliki kegiatan saat jam baca berlangsung.

7.     Fasilitas sarana dan prasarana taman bacaan yang tidak memadai.

8.     Tim pengurus tidak bertahan lama.

9.     Tenaga pendidik – relawan yang tidak memadai.

10.  Kurangnya dana operasional untuk mendukung aktivitas taman bacaan.

11.  Kurang berdayanya pengurus sehingga hilang semangat menggerakkan

12.  Tidak adanya perhatian dari instansi yang berkaitan dengan taman bacaan, sehingga tidak ada peningkatan kapasitas untuk pengelolaan taman bacaan.


 

Angket terbatas tentang “tata kelola taman bacaan di Kabupaten Bogor” ini hanya salah satu cara untuk memperoleh gambaran umum tentang kondisi taman bacaan, di samping memetakan realitas taman bacaan yang ada di lapangan. Setidaknya, angket ini pun bisa jadi “benchmark” untuk melihat taman bacaan secara faktual dalam data dan angka yang lebih objektif. Dan harapannya, bisa “menjembatani” antara regulator di pemerintahan  dan pemangku kepentingan lainnya. Untuk lebih peduli dan memperhatikan taman bacaan sebagai “social movement” dalam meningkatkan kegemaran membaca dan budaya literasi. Salam literasi #TataKelolaTamanBacaan #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan

Ngabubu Read di TBM, Inilah Namanya Di Luar Rencana Manusia

Terkadang, tanpa kita tahu. Mungkin saat ini, ada orang-orang jahat yang sedang bersekongkol untuk menjatuhkan kita. Di kantor, di lingkungan, bahkan di pergaulan sehari-hari. Orang-orang atas dasar iri dan benci ingin ingin menzolimi kita. Menebar aib, bergibah hingga memfitnah tiada henti. Semua itu bisa terjadi, dan pasti di luar rencana manusia.

 

Saat ini p[ula, bukan tidak mungkin. Ada orang-orang yang ketika bertemu dengan kita mereka tersenyum. Tapi begitu kita membalikkan punggung dan berlalu, lisan mereka begitu asyik membicarakan segala aib kita. Ada pula orang-orang yang pandai membicarakan kesalahan kita tanpa pernah bisa menemukan kesalahannya sendiri. Ada yang tampilannya relijius tapi hatinya setan. Orang yang mulutnya manis tapi hatinya busuk. Dan untuk itu semua, kita semua tidak pernah tahu. Karena di luar rencana manusia.

 

Mungkin kita bingung. Kenapa mereka jahat kepada kita. Kenapa mereka penuh prasangka buruk? Kita tidak mencuri, kita bukan penjudi, bahkan bukan bandar narkoba. Jawabnya, mungkin kita masih tidak tahu. Siapa saja mereka itu, kenapa mereka begitu? Apa yang mereka inginkan dari kita? Sekali lagi, kita tidak pernah tahu. Itu realitas yang tidak bisa dihindarkan. Karena di luar rencana manusia.

 

Tapi satu hal yang harus dipahami. Setiap orang tumbuh besar sepaket dengan pecintanya dan pembencinya. Tidak mungkin semua orang mencintai kita. Tapi tidak banyak orang juga yang membenci kita. Itu sudah sunnatullah kehidupan. Asal kita tetap eling dan waspada. Kerjakan yang baik dan tebarkan manfaat kepada sesama. Biarkan orang-orang jahat bergerak dengan pikiran dan perilakunya. Biarkan!

 


Ketahuilah, manusia paling mulia akhlaknya sekalipun. Manusia yang paling indah senyumannya. Orang yang paling menentramkan suaranya. Penuh kelembutan dan tatapannya hangat. Manusia pilihan-Nya sekaliber Nabi Muhammad SAW pun tetap ada pembencinya. Ada saja orang-orang yang memusuhinya, apalagi kita.

 

Tapi jangan khawatir. Rileks saja dan tetaplah berbuat baik. Karena sehebat-hebatnya rencana orang-orang jahat, pasti mereka tidak akan pernah bisa merencanakan untuk mencelakai kita melebihi apa yang AllAh takdirkan untuk kita. Karena apapun dan siapapun berjalan sesuai kehendak-Nya.

 

Orang-orang jahat boleh punya rencana. Mereka boleh lakukan apapun sekalipun jahat. Tapi ingat, Allah juga sudah punya rencana. Dan rencana Allah jelas lebih baik untuk kita. Lebih pasti ketetapannya. "Dan mereka membuat rencana (tipu daya), maka Allah pun punya rencana (tipu daya). Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (QS. Ali 'Imran: 54)

 

Mumpung di bulan puasa. Muhasabah diri saja, kuatkan sikap tawakal. Tidak perlu ambil pusing dengan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Jangan kepo dengan rencana jahat orang lain untuk kita. Jangan mencari tahu apa yang mereka lakukan di belakang kita. Agar hati kita tetap sehat, agar prasangka kita tetap baik. Agar ibadah kita lebih khsyuk. Dan akhirnya senyum kita tetap tulus. Sisanya, biarkan Allah saja yang urus. Dia maha berkuasa, maha besar.

 

Hikmah penting di bulan puasa. Sekalipun di kelilingi orang jahat, tetaplah berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Tanamkan sifat tawakal dan selalu sabar dalam kondisi apapun. Sehingga kita selalu menjadi hamba yang bersyukur. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaaan #TBMLenteraPustaka

Rabu, 03 April 2024

Ngabubu Read, Jangan Bilang Baik Tapi Menjelekkan Orang Lain

Saat membaca seorang Ibu di Tangerang yang membunuh penjaga toko akibat tidak terima ditegur sandalnya kotor, jujur saya tidak habis pikir. Hanya urusan sepele kok bisa-bisanya emosi lalu menusuk samurai hingga tewas. Ada apa gerangan dengan emosi dan nafsu manusia?

 

Apapun alasannya, jangan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Ajarannya memang begitu, jangan dibantah. Haram mendatangkan madharat atau bahaya kepada orang lain dan diri sendiri. Manusia itu berperilaku baik saja belum tentu masuk surga, apalagi bertindak jahat. Karena kita tidak tahu apa yang ada dalam hati manusia? Mau urusan kehormatan, agama, jiwa, akal, atau harta sekalipun jangan pernah bertindak yang membahayakan diri sendiri atau orang lain. Eling, eling dan waspada!

 

Siapapun dilarang melakukan perbuatan yang menimbulkan bahaya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Maka kendalikan diri. Bila belum terjadi, segera antisipasi dan tahan diri agar tidak menyebabkan bahaya. Bila sudah terjadi, siapapun wajib untuk menghilangkan dan menghapus sisa-sisanya. Rasulullah SAW berkata, “idak boleh memudharati diri sendiri dan orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 2341).

 

Di bulan puasa seperti, orang berpuasa pun berbahaya. Karena puasanya hanya mendapatkan lapar dan haus semata. Kenapa? Karena pahala puasanya hilang akibat melakukan perbuatan tercela. Berdusta, bergunjing, atau melampiaskan hawa nafsu yang jelek. Karena perbuatan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain. Apa gunanya berpuasa bila perilakunya buruk?

 


Hati-hati dalam bersikap dan bertindak, di mana pun. Apalagi yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Jangan menyusahkan orang lain akibat perbuatan kita. Punya samurai kok buat membunuh orang lain. Punya uang kok untuk menghina orang lain. Apalagi tidak punya apa-apa tapi kerjanya menzolimi orang lain. Merampas hak orang lain, memusuhi, memfitnah, bahkan membenci tanpa ujung. Di tempat-tempat umum, di jalanan, di pasar tidak boleh menggangu orang lain. Apalagi bertindak yang membayakan diri sendiri atau orang lain. Itulah nasihat dan hikmah berpuasa.

 

Siapapun, silakan maju tanpa menyingkirkan. Naiklah setinggi mungkin asal jangan merendahkan orang lain. Jadilah baik tanpa menjelekkan orang lain. Dan jadilah benar tanpa perlu menyalahkan orang lain. Jadilah cerdas tanpa perlu menyebut bodoh orang lain. Itulah spirit yang dipegang Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Hanya menyediakan tempat membaca bagi anak-anak usia sekolah dan warga yang selama ini tidak punya akses bacaan.

 

Ketahuilah, barangsiapa membahayakan orang lain maka Allâh akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan orang lain, maka Allâh pun akan menyulitkannya. Sekali lagi, jangan bertindak yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Senin, 01 April 2024

Di Taman Bacaan Belajar, Jangan Gampang Melupakan Kebaikan Orang Lain

Salah satu hikmah puasa itu “jangan gampang melupakan kebaikan orang lain”. Lagi di jalan jelang bedug maghrib, ada yang membagi-bagikan takjil. Lagi menikmati rasa lapar, ada yang mengajak ke masjid. Bahkan saat berbuka puasa pun, ada orang yang memberi makanan. Alhamdulillah, itu semua contoh kebaikan yang diperbuat orang lain kepada kita.

 

Jangan gampang melupakan kebaikan orang lain. Jangan mudah menutup mata atas jasa orang lain. Apapun alasannya, sebenci apapun kita pada orang itu. Karena agama Islam mengajarkan untuk menjadikan semua hidup kita; perbuatan, ucapan, dan bahkan setiap hembusan nafas sebagai ibadah. Termasuk ketika kita diberi kebaikan atau memberi kebaikan. Justru perintahnya, jangan gampang melupakan kebaikan orang lain. Lebih baik gampang melupakan kebaikan diri sendiri yang pernah diberikan kepada orang lain.

 

Pandai-pandailah mengingat kebaikan orang lain. Tidak ada salahnya, agar kita bisa bersyukur. Karena masih dilingkupi orang-orang baik. Jujur saja, hari ini susah mencari orang baik. Terhindar dari orang jahat saja sudah bersyukur. Apalagi bertemu dengan orang baik, maka jangan gampang melupakannya. Dan ketahuilah, Allah SWT sangat murka kepada orang-orang yang mudah melupakan kebaikan orang lain. Apalagi untuk para istri, bila mudah melupakan kebaikan suaminya malah diganjar neraka. Maka sekali lagi, jngan pernah melupakan kebaikan orang lain.

 

Jangan gampang melupakan kebaikan orang lain. Apalagi orang yang kesehariannya jelas dan nyata. Dia bukan koruptor, bukan pemabuk, bukan penjudi, bukan pula pembual yang hanya “gede omong” tanpa aksi nyata. Sehari-harinya pun jelas bukan bingung nggak karuan. Maka hati-hati, jangan pernah meremehkan sedikit pun orang yang telah berbuat baik pada kita.

 


Seperti saya saat mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka tahun 2017, selalu menghormati orang-orang dan lembaga yang baik yang ikut mendukung. Mulai dari Asosiasi DPLK, Ciptadana Asset Management, Bank CIMB Syariah, Pertalife Insurance, Bank Sinarmas, Pacific Life Insurance, Chubb Life, dan AAI Perancis. Begitu pula orang-orang baik seperti wali baca, relawan, sahabat dan komunitas yang selalu ber-CSR dan membuat aktivitas di TBM Lentera Pustaka hingga berkembang pesat seperti sekarang. Di taman bacaan, saya sangat belajar untuk selalu menghormati dan mendoakan orang-orang baik. Sekalipun masih ada saja orang jahat yang kerjanya mengganggu TBM Lentera Pustaka, tapi biarkan saja.

 

Tapi percayalah, sesuatu yang dimulai dengan kebaikan pasti akan berbuah kebaikan pula.  Itu sudah hukum alam. Bila hasilnya belum baik pun itu bukan akhir dari perjuangan. Tapi menjadi bagian dari proses untuk berbuat lebih baik. Sekali lagi, jangan pernah menutup mata atas kebaikan yang telah dibuat orang lain.

 

Dan ketika masih ada orang-orang yang bertindak jahat, abaikan saja dan teruslah melangkah. Karena mereka pasti tidak lebih baik dari kita. Hormati orang-orang baik di sekitar kita. Sambil tetap terus memperbaiki diri sendiri. Agar lebih baik dan lebih bermanfaat. Toh, orang-orang yang menabur kebaikan dengan mencucurkan air mata, pada akhirnya akan menuai kebaikan yang telah ditaburkannya.

Pesan ramadan, jangan gampang melupakan kebaikan orang lain. Karena di situ, ada akhlak dan adab. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka