Tampilkan postingan dengan label Ngabubu Read. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngabubu Read. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2026

Ngabubu Read, Puasa Makin Semangat karena Membaca Buku yang Sehat

Memang benar, puasa makin semangat karena membaca buku yang sehat. Karena membaca buku yang sehart berarti membaca bacaan yang positif, menenangkan, dan memberi nilai kebaikan. Seperti membaca buku-buku tentang pengembangan diri, spiritualitas, atau kehidupan.

 

Isi bacaan buku yang sehat biasanya membantu kita untuk menjaga pikiran tetap jernih saat tubuh lemah karena puasa. Mampu mengalihkan fokus dari lapar dan haus ke hal-hal yang lebih bermakna dan menambah motivasi untuk menjalani puasa dengan niat yang lebih kuat. Jadi, buku menjadi asupan mental, sebagaimana makanan adalah asupan fisik.

 

Secara simbolik, membaca buku yang sehat ibarat saat tubuh sedang menahan, jiwa justru diberi makan. Puasa bukan cuma soal menahan lapar, tapi juga membersihkan batin. Membaca “buku yang sehat” melambangkan usaha merawat pikiran dan hati sehingga puasa terasa lebih ringan, lebih sadar, dan lebih bermakna. Puasa jadi makin semangat karena pikiran diisi hal-hal baik. Hati jadi lebih tenang sehingga tujuan puasa terasa lebih dalam dan waktu luang diisi dengan pertumbuhan, bukan keluhan.

 

Realitas itulah yang dijalani anak-anak TBM Lentera Pustaka selama bulan puasa. Bertajuk “Ngabubu Read Ramadhan Ceria di TBM”, anak-anak mengisi waktu puasa dengan membaca buku, sambil khataman Al Quran seminggu sekali. Program ini bertujuan meningkatkan literasi, memperkuat akhlak, dan mendekatkan anak-anak pada buku yang  dikombinasikan dengan berbagi takjil atau mengaji bersama setiap hari Sabtu jelang waktu berbuka puasa.



Aktivitas utama Ngabubu-Read di TBM Lentera Pustaka diisi dengan membaca buku dari berbagai jenis buku cerita atau pengetahuan di taman bacaan. Khataman Al-Quran setiap hari Sabtu, di mana anak-anak dibagi kelompok untuk menyelesaikan 2-3 juz per Minggu per kelompok. Di samping ada aktivitas sosial dan donasi yang digelar oleh berbagai lembaga atau komunitas. Tujuannya adalah untuk membentuk perilaku baik dan kebiasaan akhlak yang positif selama bulan puasa. 

 

Setiap tahun di bulan puasa, Ngabubu Read selalu digelar di TBM Lentera Pustaka. Sebagai kegiatan yang edukatif dan menyenangkan di bulan puasa, di samping mengubah taman bacaan menjadi pusat aktivitas Ramadan yang produktif. Salam literasi! 

 



Selasa, 24 Februari 2026

Literasi Puasa: Hidup Ini Terlalu Singkat bila Dijalani dengan Standar Orang Lain

Kita sering lupa, bahwa hidup punya batas waktu. Usia manusia di mana pun terbatas. Kalau waktu yang terbatas itu dihabiskan untuk memenuhi standar orang lain pasti semakin berat. Hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial: status, jabatan, gaya hidup, validasi tanpa benar-benar memahami apa yang kita inginkan, maka hidup terasa “dipinjamkan”, bukan dijalani. Kita bisa sukses menurut ukuran orang lain tapi kosong secara batin.

 

Hidup ini terlalu singkat bila dijalani dengan standar orang lain. Sebab standar orang lain tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai personal kita. Setiap orang tumbuh dengan latar belakang berbeda, kondisi ekonomi berbeda. Bahkan minat dan bakat berbeda dan definisi tentang bahagia pun berbeda. Karenanya, memaksakan diri untuk mengikuti standar orang lain justru membuat kehilangan arah. Misalnya: “umur 30 harus punya rumah” atau “karier harus begini begitu” bisa membuat kita kehilangan fokus diri sendiri.

 

Apapun alasannya, standar orang lain pasti jadi tekanan. Membuat hidup jadi reaktif, bukan otentik. Saat hidup dikendalikan oleh standar orang lain, aakhirnya keputusan diambil karena takut dinilai. Bekerja karena gengsi, bukan panggilan. Menabung atau berinvestasi karena ikut tren, bukan rencana pribadi. Akhirnya hidup jadi responsif terhadap tekanan, bukan ekspresi nilai diri.

 

Banyak riset psikologi positif menunjukkan bahwa orang yang hidup sesuai nilai pribadinya lebih stabil secara emosional. Lebih tahan terhadap stres sosial dan kepuasan hidupnya jadi lebih tinggi. Artinya, kualitas hidup tidak ditentukan oleh standar umum, tetapi oleh keselarasan antara tindakan dan nilai diri. Karenanya, autentisitas “sama dengan” kesejahteraan.

 


Hidup ini terlalu singkat bila dijalani dengan standar orang lain. Bukan berarti anti nasihat atau anti sosial. Tapi pesan bahwa menggunakan standar orang lain sebagai referensi adalah penjara. Lebih baik mengikuti kata hati dan jalan hidup sendiri. Dalam konteks finansial dan karier misalnya, banyak orang mengejar karier, jabatan, atau gaya hidup karena perbandingan sosial. Padahal ada yang bahagia dengan stabilitas. Ada yang memilih sederhana tapi bebas waktu. Dan ada yang mengejar makna, bukan sekadar angka. Jadi, standar hidup ideal seharusnya selaras dengan tujuan jangka panjang pribad, bukan sekadar kompetisi sosial.

 

Hidup terlalu singkat untuk membuktikan diri pada orang yang tidak membayar tagihan hidup kita. Mengejar validasi yang tidak pernah selesai dan mngorbankan nilai diri demi penerimaan sosial. Karena pada akhirnya, yang menjalani konsekuensi hidup kita bukan “orang lain”, tetapi diri kita sendiri. Maka hidup ini terlalu singkat bila dijalani dengan standar orang lain. Lebih baik membaca buku atau mengabdi di taman bacaan. Salam literasi!

 


Rabu, 18 Februari 2026

Puasa = Ikhlas

 

Ibadah puasa, bisa jadi momen ibadah melatih ikhlas. Puasa adalah ibadah yang paling sunyi, yang paling sedikit dilihat manusia. Tapi paling jelas dirasakan oleh diri sendiri dan Allah. Puasa di bulan Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan pahala puasa. Di situlah letak latihan ikhlasnya. Maka puasa sama dengan melatih ikhlas. 

 

Puasa adalah ibadah yang "tidak terlihat". Sholat terlihat gerakannya. Zakat terlihat jumlahnya. Tapi puasa? Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang sungguh berpuasa atau tidak, kecuali dirinya dan Allah. Karena itu, puasa memurnikan niat. Kalau bukan karena Allah, untuk apa menahan lapar saat sendirian?

 

Ikhlas saat puasa, seperti ikhlas membaca buku. Pikiran jadi lebih tenang. Saat puasa, ritme hidup biasanya lebih pelan. Kita cenderung mengurangi distraksi seperti makan, nongkrong, atau aktivitas fisik berat. Fokus jadi lebih mudah terjaga, sehingga membaca terasa lebih khusyuk dan mendalam. Membaca di saat puasa, energi dialihkan ke otak. Ketika tidak sedang mencerna makanan, tubuh tidak terlalu sibuk dengan proses pencernaan. Banyak orang merasa pikirannya lebih jernih (meski ini bisa berbeda-beda tiap orang). Makanya, baca buku, refleksi, atau belajar sering terasa lebih “masuk”. Karenanya, membaca di saat puasa bikin suasana lebih reflektif. Sebagai momen kontemplasi dan memperbaiki diri. Aktivitas membaca — apalagi buku yang inspiratif atau spiritual — jadi selaras dengan suasana batin. Rasanya lebih meaningful, bukan sekadar hiburan. Puasa sambil membaca, punya sensasi “hening” yang nikmat. Karena perut kosong, tubuh cenderung lebih pelan. Detak hidup terasa lebih sunyi. Suasana hening ini cocok banget untuk tenggelam dalam bacaan.

 

Sungguh, siapapun yang berpuasa harus menahan diri dari yang halal. Saat puasa, kita tidak sedang menjauhi yang haram saja. Makan, minum, dan hubungan suami-istri itu halal tapi ditahan demi ketaatan. Ikhlas itu diuji ketika kita meninggalkan sesuatu yang kita boleh lakukan, semata-mata hanya karena perintah-Nya.

 


Puasa juga melatih sabar tanpa tepuk tangan. Lapar tidak dapat pujian. Haus tidak diberi penghargaan. Kita menahan emosi, menahan amarah, menahan keinginan tanpa ada yang tahu. Di situlah hati belajar: berbuat bukan untuk dilihat, tapi karena taat. Ikhlas mengerjakan ibadah tanpa perlu pujian.

 

Sebab puasa, kita ikhlas mengikis ego. Puasa yang meruntuhkan kesombongan fisik dan mental. Tubuh yang biasanya kuat menjadi lemah. Kita sadar bahwa kita bergantung hanya kepada-Nya. Bahwa kita bukan siapa-siapa tanpa pertolongan Allah. Ikhlas lahir saat ego mengecil.

 

Bahkan puasa mampu mengajarkan kita untuk menerima rasa tidak nyaman dengan  tenang. Bukan mengeluh, tapi menjalaninya. Ikhlas bukan berarti tidak merasa berat. Ikhlas adalah tetap taat meski terasa berat. Singkatnya, puasa adalah sekolah keikhlasan. Ia mendidik hati agar: beramal tanpa ingin dilihat, menahan diri tanpa ingin dipuji, dan taat tanpa banyak alasan.

 

Puasa sama dengan ikhlas. Kembali ke hati yang tenang tanpa gaduh. Ikhlas mengerjakan ibadah, ikhlas menerima apa yang terjadi tanpa rasa sakit. Ikhlas adalah kekuatan, yang membebaskan jiwa dari belenggu ego dan keinginan yang tidak terkendali. Dengan ikhlas, kita melepaskan harapan, menerima apa yang ada. Ikhlas adalah jalan menuju kebahagiaan hakiki.

 

Ikhlas bukan berarti pasrah tapi berserah. Untuk menerima apa yang terjadi dengan hati yang lapang. Untuk menjalankan ibadah dalam sunyi. Sebab hanya kita dan Allah yang tahu. Selamat berpuasa, mohon maaf lahir batin.

 

Sabtu, 08 Maret 2025

Mata-mata yang Tertuju ke Kitab Suci

Dalam banyak hal, kita sering mengabaikan hal-hal sederhana padahal tidak ternilai harganya. Sederhana itu penting, seperti mencium bau kopi di pagi hari. Menikmati suara halus rintik hujan yang jatuh ke tanah atau sekadar menanti sinar matahari terbenam tanda bedug maghrib. Hal sederhana yang sering dilupakan.

 

Terkadang, kehidupan mengajarkan kita bahwa hal yang paling berharga justru hal-hal sederhana yang semestinya bisa dilakukan. Mengajak anak-anak tadarusan di taman bacaan, ngeriung bareng lalu jhataman sambil menanti waktu Maghrib. Atau sekadar bernasihat baik ke anak-anak di bulan puasa. Seperti yang dilakukan di TBM Lentera Pustaka dengan "Ngabubu Read" Ramadan Ceria di taman bacaan. Sederhana tapi sangat bernilai.

 

Indah nggak sih, bila mata ini masih bisa melihat pemandangan anak-anak berjejer pada sambil memegang kitab suci? Keren nggak sih, bila kita masih sempat memandang anak-anak yang matanya tertuju ke halaman demi halaman kitab suci tanpa ngobrol macam-macam? Anak-anak yang dekat dengan kitab sucinya. Mata yang tertuju ke kitab suci. Apa ada pemandangan indah lainnya selain tadarusan di bulan puasa?

 

Kita sering lupa. Hal-hal yang dianggap sederhana justru memegang kekuatan diam yang mengundang keberkahan hidup. Memegang kitab suci, berarti kita diingatkan untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Bahkan kita bukan apa-apa di dunia ini. Disuruh untuk terus memperbaiki diri, bukan berprasangka buruk terhadap apapun. Ternyata, kemewahan terpenting bukanlah apa yang kita miliki. Tapi hal sederhana yang dapat kita rasakan secara batiniah.

 

Sungguh, ada keindahan tidak ternilai di balik kesederhanaan. Ada keajaiban di balik ikhtiar yang dianggap sepele dan kecil. Ada keheningan hati tanpa perlu suara-suara. Ada doa yang tergantung di balik suara syahdu bertadarus kitab suci. Persis seperti suara bedug yang ditunggu di bulan puasa, seperti bunga yang mekar lalu terjatuh ke tanah. Seperti memeluk erat orang-orang yang kita cintai. Sederhana tapi sering dilupakan.

 


Bersahabat dengan kesederhanaan, merawat hati yang ikhlas, dan berjuang di taman bacaan justru membuat kita makin paham. Bahwa apapun di dunia ini, sama sekali tidak perlu mengejar kesempurnaan. Tidak perlu banyak mimpi, tidak pula harus lengkap semuanya. Tapi cukup menikmati yang ada, menjalani yang bisa dilakukan.

 

Kata orang, hidup itu berjalan cepat. Waktu pun cepat berlalu. Tapi keindahan sejati justru ada terletak pada hal-hal yang sederhana. Untuk belajar melambat dari mimpi dan ambisi yang berlebihan. Lebih baik menikmati yang ada dan menghargai siapapun yang bisa bikin kitaebih baik dan bermanfaat. Daripada mengejar harapan-harapan yang tidak pernah ada habisnya.

 

Sebagai nasihat literasi, cukup kerjakan saja yang sederhana. Agar terus berproses dan akhirnya mendefinisikan sejarah kita, apa yang sudah diperbuat? Tidak melulu soal ambisi pribadi yang tidak berujung. Cukup bertindak yang kecil dan bisa dilakukan. Diketahui atau tidak diketahui orang banyak. Asal itu mampu mengisi jiwa kita, melambatkan harapan, dan dianggap sederhana tapi lebih bermakna. Salam literasi #NgabubuRead#TBMLenteraPustaka #TamanBacaan

 

Ngalap Berkah Ramadan, TBM Lentera Pustaka Khataman ke-1 dan Takjilan

Diringin hujan dan kabut pekat, anak-anak pembaca aktif dan orang tua yang tergabung di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menuntaskan khataman ke-1 pada Sabtu (8/2/2025). Dihadiri 70-an anak pembaca aktif dan para ibu, acara bertajuk “Ngabubu-Read Ramadan Ceria di TBM” menggelar khataman Al Quran ke-1 yang dipimpin langsung Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka, sekaligus doa khotmil Quran sekaligus berbagi takjil untuk buka puasa bersama.  

 

Selain membaca buku umum dan tadarusan, selama bulan ramadan  ini anak-anak TBM Lentera Pustaka dibagi 30 kelompok dan masing-masing kelompok mendapat jatah 1 juz untuk diselesaikan selama Rabu-Jumat. Sehingga pada hari Sabtu dilakukan khataman Al Quran. Itu berarti, nantinya selama ramadan, anak-anak TBM Lentera Pustaka secara “keroyokan” menuntaskan khataman 4 kali. Selain untuk membaca kitab sucinya, kegiatan “ngabubu read” juga bertujuan untuk membentuk akhlak dan adab anak-anak pembaca aktif di taman bacaan.

 

“Alhamdulillah, hari ini kami selesaikan khataman ke-1 Al Quran. Kegiatan ini sudah jadi tradisi di TBM Lentera Pustaka. Selain ngabubu-read, khataman ini sekaligus untuk ngalap berkah bulan suci ramadan. Ternyata, anak-anak pembaca aktif sangat komit tuntaskan bacaan Al Qurannya selama seminggu” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka, didampingi 13 wali baca dan relawan yang hadir sore ini.

 


Menariknya, kegiatan khataman Al Quran juga diikutu para ibu yang mengantar anaknya ke taman bacaan. Sebagai komitmen membantu bacaan tadarus si anak di taman bacaan. Hal ini menjadi tradisi literasi yang inklusif di taman bacaan, yang melibatkan para ibu. Sambil pamit pulang, anak-anak dan para ibu pun dibagikan takjil untuk buka puasa. Insya Allah melalui khataman Al Quran berkah makin melimpah untuk anak-anak dan TBM Lentera Pustaka sendiri. Terbukti menjelang maghrib, AAI Perancis sebuha komunitas diaspora Indonesia di Peranci memberi kabar mellaui WA untuk memberikan donasi kepada TBm lentera Pustaka sebesar 500 Euro. Alhamdulillah.

 

Ngabubu-Read sekaligus menjadi praktik baik taman bacaan selama bulan puasa. Selain membaca buku umum, anak-anak pun tadarusan untuk mencicil bacaan Al Quran untuk khataman setiap hari Sabtu sore.

 

Selama bulan puasa, TBM Lentera Pustaka menggelar kegiatan Ngabubu-Read, diantaranya buka puasa Bersama dengan Bank Sinarmas, khataman Al Quran Bersama anak-anak TBM sekaligus takjilan, serta berbagi takjil di jalan. Tujuannya sederhana, ngalap berkah ramadan. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 



Sabtu, 06 April 2024

Anak-anak Pembaca Aktif TBM Lentera Pustaka Tuntskan Khataman ke-4 dan Berbagi Takjil di Jalanan

Anak-anak pembaca aktif dan orang tua yang tergabung di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor menuntaskan khataman ke-4 setiap Sabtu selama Ramadan, plus berbagi takjil di jalanan (6/4/2024). Dihadiri 60-an anak pembaca aktif, TBM Lentera Pustaka sekaligus menutup aktivitas “Ngabubu Read Ramadan Ceria” selama bulan puasa. Acara khataman ke-4 dipimpin langsung Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka, sedangkan doa bersama dipimpin Danang dan Evan (anak pembaca aktif). Setelah khataman, anak-anak pun membagikann takjil sebagai makanan berbuka puasa ke para pengguna jajan di dekat taman bacaan.

 

Selama bulan ramadan, anak-anak TBM Lentera Pustaka membagi porsi membaca buku umum dan tadarusan, sesuai kelompoknya. Satu kelompok menyelesaikan 1 juz selama 3 hari seminggu. Dan setiap Sabtu melakukan khataman Al Quran. Itu berarti, selama ramadan, anak-anak TBM Lentera Pustaka secara “keroyokan” menuntaskan khataman 4 kali sepanjang bulan ramadan. Selain untuk membaca kitab sucinya, kegiatan “ngabubu read” juga untuk membentuk akhlak dan adab anak-anak pembaca aktif.

 

Bahkan hebatnya, para ibu yang mengantar anaknya ke taman bavaan pun ikut khataman alias membantu bacaan si anak. Sebuah tradisi literasi yang inklusif terjadi di taman bacaan, yang tidak hanya anak-anak tapi melibatkan para ibu. Sambil pamit pulang, anak-anak dan para ibu pun bersalaman dengan wali baca dan relawan. Sebagai cara sederhana untuk melebur dosa dan kesalahan jelang lebaran. Menyambut lebaran, TBM Lentera Pustaka pun libur dan aktivitas taman bacaan baru dimulai lagi pada 21 April 2024.

 

“Alhamdulillah, keluarga besar TBM Lentera Pustaka telah tuntaskan 4 kali khataman selama ramadhan.  Sakat mal yang disalurkan pun lebih dari Rp. 20 juta. Selain terus memelihara praktik baik di taman bacaan, semoga semuanya mendapat berkah melimpah setelah ramadan ini. Sekaligus TMB Lentera Pustaka menyampaikan selamat idul fitri, mohon maaf lahir batin” ujar Syarifudin Yunus di TBM Lentera Pustaka hari ini.

 

Sambil berjalan pulang ke rumahnya, anak-anak TBM Lentera Pustaka tampak sumringah sepulang dari taman bacaan. Semoga budaya membaca buku selalu melekat hingga dewasa nanti. Untuk mewujudkan generasi muda dan Masyarakat yang lebih literast. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 


Jumat, 05 April 2024

Literasi Setelah Berpuasa

Memang benar-benar indah. Ketika berpuasa biasanya kita akan berusaha agar mata kita tidak melihat sesuatu yang diharamkan. Ketika berpuasa biasanya kita akan berusaha agar lisan kita tidak melakukan ghibah, dusta dan caci maki. Dan ketika berpuasa pula biasanya kita akan menjadi lebih semangat untuk bersedekah, membaca Al Qur'an, dan qiyamul lail.

 

Adem banget. Ketika berpuasa biasanya kita akan berusaha meninggalkan segala bentuk maksiat, sebab kawatir hal itu akan menjadi dosa dan merusak pahala puasa. Ketika berpuasa biasanya kita akan berusaha agar menjadi hamba yang lebih baik, lebih bertakwa, menjaga ibadah dan memperbanyak amal soleh. Dan ketika berpuasa pula, biasanya kita begitu bergembira saat datangnya waktu berbuka sambil berupa alhamdulillah.

 

Ketika berpuasa, hati begitu lapang. Pikiran begitu tenang dan perilaku pun begitu tidak lagi bimbang. Tapi sayang, andaikan hari-hari kita setelah puasa kembali lagi berguncang dan bergelombang hingga berulang-ulang.

 

Sungguh, "Barangsiapa yang menjadikan hari-hari hidupnya seperti hari-harinya saat bulan Ramadhan, maka Allah akan menjadikan akhir hidupnya seperti hari raya." (Fikih Muamalah Maliyah).

 


Sebentar lagi puasa berlalu dan pergi. Sebentar lagi puasa berlari, menjauh dari kita sehari-hari. Lalu, apa yang tersisa setelah kita berpuasa? Semoga esok, setelah tidak lagi berpuasa. Kita tetap mau memperbaiki diri, menjaga kualitas diri. Tidak lagi penuh emosi dan sok paling benar sendiri.

 

Setelah berpuasa, lebih mau menghormati dan menghargai. Tetap berani hidup di atas amal soleh. Tiada henti berbuat baik dan menebar manfaat. Sebagai bukti kita telah berhasil melewati hikmah puasa. Tetap istikomah lagi penuh berkah.

 

Ya Allah, jadikanlah hari-hari kehidupan kami setelah puasa. Untuk sehat dalam manfaat, panjang umur dalam ibadah, dan berkah dalam maslahat. Hingga tutup usia dalam keadaan husnul khotimah.

 

Literasi setelah puasa. Akankah kemenangan puasa, tercermin dalam kematangan spiritual dan sosial. Setelah satu bulan penuh dididik di madrasah ramadan. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari yang kemarin. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

.

Kamis, 04 April 2024

Ngabubu Read di TBM, Inilah Namanya Di Luar Rencana Manusia

Terkadang, tanpa kita tahu. Mungkin saat ini, ada orang-orang jahat yang sedang bersekongkol untuk menjatuhkan kita. Di kantor, di lingkungan, bahkan di pergaulan sehari-hari. Orang-orang atas dasar iri dan benci ingin ingin menzolimi kita. Menebar aib, bergibah hingga memfitnah tiada henti. Semua itu bisa terjadi, dan pasti di luar rencana manusia.

 

Saat ini p[ula, bukan tidak mungkin. Ada orang-orang yang ketika bertemu dengan kita mereka tersenyum. Tapi begitu kita membalikkan punggung dan berlalu, lisan mereka begitu asyik membicarakan segala aib kita. Ada pula orang-orang yang pandai membicarakan kesalahan kita tanpa pernah bisa menemukan kesalahannya sendiri. Ada yang tampilannya relijius tapi hatinya setan. Orang yang mulutnya manis tapi hatinya busuk. Dan untuk itu semua, kita semua tidak pernah tahu. Karena di luar rencana manusia.

 

Mungkin kita bingung. Kenapa mereka jahat kepada kita. Kenapa mereka penuh prasangka buruk? Kita tidak mencuri, kita bukan penjudi, bahkan bukan bandar narkoba. Jawabnya, mungkin kita masih tidak tahu. Siapa saja mereka itu, kenapa mereka begitu? Apa yang mereka inginkan dari kita? Sekali lagi, kita tidak pernah tahu. Itu realitas yang tidak bisa dihindarkan. Karena di luar rencana manusia.

 

Tapi satu hal yang harus dipahami. Setiap orang tumbuh besar sepaket dengan pecintanya dan pembencinya. Tidak mungkin semua orang mencintai kita. Tapi tidak banyak orang juga yang membenci kita. Itu sudah sunnatullah kehidupan. Asal kita tetap eling dan waspada. Kerjakan yang baik dan tebarkan manfaat kepada sesama. Biarkan orang-orang jahat bergerak dengan pikiran dan perilakunya. Biarkan!

 


Ketahuilah, manusia paling mulia akhlaknya sekalipun. Manusia yang paling indah senyumannya. Orang yang paling menentramkan suaranya. Penuh kelembutan dan tatapannya hangat. Manusia pilihan-Nya sekaliber Nabi Muhammad SAW pun tetap ada pembencinya. Ada saja orang-orang yang memusuhinya, apalagi kita.

 

Tapi jangan khawatir. Rileks saja dan tetaplah berbuat baik. Karena sehebat-hebatnya rencana orang-orang jahat, pasti mereka tidak akan pernah bisa merencanakan untuk mencelakai kita melebihi apa yang AllAh takdirkan untuk kita. Karena apapun dan siapapun berjalan sesuai kehendak-Nya.

 

Orang-orang jahat boleh punya rencana. Mereka boleh lakukan apapun sekalipun jahat. Tapi ingat, Allah juga sudah punya rencana. Dan rencana Allah jelas lebih baik untuk kita. Lebih pasti ketetapannya. "Dan mereka membuat rencana (tipu daya), maka Allah pun punya rencana (tipu daya). Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (QS. Ali 'Imran: 54)

 

Mumpung di bulan puasa. Muhasabah diri saja, kuatkan sikap tawakal. Tidak perlu ambil pusing dengan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Jangan kepo dengan rencana jahat orang lain untuk kita. Jangan mencari tahu apa yang mereka lakukan di belakang kita. Agar hati kita tetap sehat, agar prasangka kita tetap baik. Agar ibadah kita lebih khsyuk. Dan akhirnya senyum kita tetap tulus. Sisanya, biarkan Allah saja yang urus. Dia maha berkuasa, maha besar.

 

Hikmah penting di bulan puasa. Sekalipun di kelilingi orang jahat, tetaplah berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Tanamkan sifat tawakal dan selalu sabar dalam kondisi apapun. Sehingga kita selalu menjadi hamba yang bersyukur. Salam literasi #NgabubuRead #TamanBacaaan #TBMLenteraPustaka