Kamis, 26 Mei 2022

Siapa Bilang Taman Bacaan Ada Batasnya?

Kata kawan saya, hidup itu ada batasnya. Sabar juga ada batasnya. Iya benar sekali, karena itu sudah kodrat manusia kan. Tapi kawan yang lain bilang, bahwa mimpi itu tidak ada batasnya. Bahkan sekolah dan pendidikan pun tidak ada batasnya. Jadi, yang benar mana? Ada batas atau tidak ada batas sih?

 

Mungkin sebagian orang lupa. Bahwa persoalannya bukan di batas. Tapi di ikhtiar. Soal apa yang sudah kita perbuat? Terus bila terbatas, maksudnya kita tidak perlu lakukan apa pun gitu? Atau bila tidak ada batas pun, apa yang bisa dikerjakan untuk orang lain? Jadi, bukan soal batasnya. Tapi soal ikhtiarnya.

 

Seperti di taman bacaan pun demikian. Jangan menuding minat baca anak rendah. Bila belum mampu sediakan akses bacaan ke anak-anak. Karena memang, tidak ada kok anak yang tidak mau membaca. Tapi masalahnya, harus ke mana dan di mana bila anak-anak itu mau membaca buku? Orang-orang dewasa sering lupa. Bahwa anak-anak itu lahir dengan desain yang baik dari Allah SWT. Mereka dirancang untuk jadi manusia bermanfaat dan berkualitas. Tapi sayang, kesempatan itulah yang langka dan jarang didapatkan anak-anak. Apalagi yang di kampung-kampung.

 


Prestasi dan kesuksesan sekalipun, sejatinya hanya bisa diraih bila tersedia akses-nya. Tidak cukup hanya kerja keras, apalagi angan-anagn belaka. Kebiasaan membaca pun hanya terjadi bila ada akses bacaannya. Maka penting untuk siapa pun, bersinergi dalam menghilangkan batasan-batasan itu. Termasuk membuang Batasan dalam diri sendiri, diri siapa pun. Fokuslah pada akses dan membangun peradaban yang lebih baik.

 

Literasi dan taman bacaan itu tidak ada batas. Asal mau berbuat dan mengabdi memperbaiki keadaan umat, keadaan lingkungan. Karenanya, saya tidak pernah terkesan dengan uang, posisi, atau gelar yang Anda miliki. Saya hanya terkesan dengan cara Anda peduli dan bertindak nyata untuk orang lain. Sekalipun hanya di taman bacaan.

 

Di taman bacaan hampir tidak ada batas. Membaca sambil ngobrol pun boleh. Main pun bisa. Asal jangan gibah atau ngomongin orang hanya berani di belakangnya. Itulah batas yang sesungguhnya. Maka di mana pun, bertindak baik itu tidak ada batas. kecuali orangnya sendiri yang harus tahu batasannya. Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen

 

Tentang Sikap Peduli di Taman Bacaan

Seorang kawan pegiat literasi bertanya ke saya. Gimana caranya bertahan di taman bacaan? Wah, agak berat pertanyaannya.

 

Tapi sederhananya gini. Untuk sebagian orang seperti saya, mungkin taman bacaan itu pilihan hidup. Bukan gaya hidup lho. Pilihan hidup kan artinya saya dengan sengaja memilih berkiprah di taman bacaan. Atau Allah SWT yang memilihkan untuk saya. Maka bila pilihan hidup ya dijalani saja. Toh, taman bacaan tidak ada jeleknya dan bahkan bisa jadi ladang amal kok bagi siapa pun.

 

Ibarat kata, kan ada orang yang beramal membangun masjid. Ada juga yang berdakwah. Nah saya pilih beramal di taman bacaan. Dakwah pendidikan akan pentingnya perilaku membaca di kalangan anak-anak. Apalagi di tengah arus deras main gawai atau efek era digital.

 

Lalu, soal kenapa bisa bertahan di taman bacaan? Ya karena sudah pilihan hidup. Tentu semua tergantung niatnya, ikhtiarnya dan doanya. Asal komit dan konsisten, bila dijalani sepenuh hati, pasti selalu ada alasan untuk bertahan. Karena hanya orang yang serius dan sepenuh hati yang bisa bertahan. Bila tidak, sudah pasti punah atau terlepaskan.

 

 

Jadi kenapa susah bertahan di taman bacaan? Karena kita masih setengah hati. Belum sepenuh hati terhadap taman bacaan. Serasa ada beban di taman bacaan, di samping terlalu banyak kekhawatiran. Enjoy saja. Semua problem pasti ada jalan keluarnya. Seperti semua penyakit pasti ada obatnya.

 


Jujur memang tidak mudah bertahan di taman bacaan. Karena dianggap jalan sunyi. Banyak yang tidak peduli. Tapi asal niat dan ikhtiarnya baik, insya Allah-lah semua akan indah pada waktunya. Suka-duka di taman bacaan itu lazim kok. Asal kita bisa kelola dengan baik. Bahkan sampai sekarang pun, di taman bacaan. Ada saja orang-orang yang tetap bertahan untuk nyinyir atau benci. Jadi biarkan saja, itu urusan mereka kan. Bukan urusan kita.

 

Bila tahu, taman bacaan adalah tempatnya perbuatan baik. Apalagi sudah jadi pilihan hidup. Maka kerjakanlah yang baik. Tidak usah gubris orang-orang yang tidak peduli. Karena ingat, tidak peduli itu penyakit yang akan mematikan kebaikan, di mana pun.

 

Jangankan di taman bacaan, dalam hidup siapa pun dilarang menyirami hari-harinya dengan keburukan. The show must go on kok. Tetaplah berpijak pada kebaikan yang sudah dirintis, apa pun keadaannya.

 

Dan di taman bacaan, selalu ada cara dan jalan untuk bertahan. Seperti kata orang yang sedang jatuh cinta. Bahwa yang tersulit dalam hidup itu bukan memilih. Tapi bertahan pada pilihan. Salam literasi. #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Selasa, 24 Mei 2022

TBM Lentera Pustaka Berbagi Pengalaman Literasi di Webinar Nasional Perpustakaan UI

Sebagai upaya untuk meningktakan budaya literasi generasi alfa dan masyarakat, UPT Perpustakaan UI hari ini menggelar webinar nasional bertajuk "Strategi Membangun Budaya Literasi pada Generasi Alfa" (25/05/2022). Kegiatan literasi ini dibuka oleh Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, M.Sc. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI) dan Mariyah, S.Sos., M.Hum. (Kepala Perpustakaan UI).

 

Dihadiri oleh 430 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan dimoderatori Maulidya Istiqfani A. (Pustakawan FKM UI), webinar digelar untuk membangun budaya literasi pada generasi alfa melalui layanan perpustakaan atau taman bacaan. Karena itu, wawasan pustakawan dan pegiat literasi perlu dioptimalkan agar dapat menarik generasi alfa yang kental dengan gaya hidup digital.

 

Gol A Gong (Duta Baca Indonesia) sebagai Narasumber ke-1 mengangkat fenomena sosial terkait budaya literasi di kalangan masyarakat Indonesia khususnya remaja, di samping berbagi pengalaman menjadi aktivis literasi hingga menjadi Duta Baca Indonesia, termasukd alam mengelola TBM Rumah Dunia.  

 

Sementara Narasumber ke-2, Syarifudin Yunus (Pendiri TBM Lentera Pustaka) memaparkan best practice atau praktik baik tata kelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) agar menjadi tempat yang asyik dan menyenangkan, bukan hanya tempat membaca buku. Dengan car aitu, taman bacaan dapat menumbuh-kembangkan minat baca anak-anak dan taman bacaan. Karena itu, solusi taman bacaan adalah 1) punya kinerja dengan aktif berkegiatan, 2) selalu promosi aktivitas literasi, dan 3) berani kolaboras dengan berbagai pihak.

 


Narasumber ke-3, David Judha Siagian, S.Hum (Pustakawan Perpustakaan Sekolah Binus School Semarang) menegaskan realitas budaya literasi di perpustakaan sekolah pada generasi Alfa dan upaya untuk mengembangkan layanan perpustakaan berbasis budaya literasi. Agar menjadi lebih menarik dan konsisten.

 

Kurniawati Yuli Pratiwi, S.Hum (Pustakawan UI) sebagai narasumber ke-4 memberikan tips akan pentingnya penyesuaian buku bacaan dengan minat anak. Agar aktivitas literasi menjadi lebih masif dan memberi nilai tambah kepada generasi alfa.

   

Webinar nasional literasi ini diikuti oleh masyarakat umum dan generasi alfa, pengelola perpustakaan sekolah, pengelola Taman Bacaan Masyarakat, pustakawan, dosen, dan mahasiswa. Ke depan, harapannya penyadaran generasi alfa dan masyarakat akan pentingnya budaya literasi menjadi lebih meningkat dan lebih konkret. Salam literasi.

Kerjakan yang Kecil Asal Manfaat, Komitmen Taman Bacaan Lentera Pustaka

Kata kawan saya, zaman begini banyak orang pengen jadi orang besar. Besar yang diartikan sukses, kaya atau hal yang hebat-hebat lainnya. Ya, tentu sah-sah saja. Dan siapa sih yang gak pengen jadi orang besar? Bila besar kayak begitu definisinya.

 

Besar itu ukuran. Berarti tidak kecil. Cuma pertanyaannya, apa ada hal yang besar tanpa dimulai dari yang kecil? Untuk apa besar bila sebatas niat atau pikiran. Tapi tidak diimbangi perbuatan. Lupa ya kawan, besar itu tercipta dari hal-hal kecil yang yang dikumpulkan terus-menerus.

 

Hati-hati, banyak orang pengen jadi orang besar sebatas di media sosial. Besar karena ingin pujian. Biar dibilang begini-begitu. Besar di mimpi bukan dunia nyata. Karena besar hanya omongan, bukan tindakan.

 


Lupa ya, semua orang besar itu memulai dari hal kecil. Apa pun dilakukan rutin lalu dievaluasi. Apa kurang dan lebihnya. Semua orang besar yang saya tahu, pasti mau belajar dan konsisten dalam melakukan sesuatu. Bukan angin-anginan atau tergantung mood. Orang besar pun berani jadikan kesalahan sebagai hikmah. Dan yang terpenting, orang besar itu selalu bertindak, berdoa dan bersyukur.

 

Kata adagium “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Maka lakukan saja yang kecil-kecil pada akhirnya pun akan besar. Seperti TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor pun begitu. Awalnya hanya ada 14 anak, kini lebih dari 100 anak pembaca aktif. Dulu hanya menjalankan program taman bacaan. Kini ada 14 program literasi, seperti: berantas buta aksara, kelas prasekolah, anak difabel, yatim binaan, jompo binaan, koperasi, dan motor baca keliling. Semuanya dimulai dari yang kecil dan sederhana kok.

 

Jadi gak usah pengen jadi orang besar. Cukup yang kecil-kecil saja tapi bermanfaat dan berkelanjutan. Lakukan apa saja yang baik dengan istiqomah. Mulailah kerjakan yang baik hingga tuntas. Jangan cuma memulai tapi tidak pernah mengakhiri. Belum sampai tujuan sudah berhenti. Buang-buang waktu.

 

Maka apa pun dan siapa pun. Cukup kerjakan yang baik dengan sepenuh hati. Selebihnya biarkan Allah SWT yang menentukan. Mulai saja dari yang kecil-kecil tapi bermanfaat. Daripada besar di pikiran dan omongan tapi tidak pernah dilakukan. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

 

Senin, 23 Mei 2022

Bila Rajin Membaca, Apa Harus Sukses?

Jangan malu promosi atau menyuarakan praktik baik di taman bacaan atu TBM (Taman Bacaan Masyarakat). Karena “hidup mati” TBM tidak ditanggung oleh negara apalagi orang lain. TBM bisa maju karena inisiatif dan kreativitas pegiat literasi-nya. TBM kan aktivitasnya positif, pemandangannya juga buku-buku. Seger dan mencerahkan. Jadi, jangan malu mempromosikan TBM. Terus kalau bukan kita, siapa yang mau promosiin?


Baca buku itu bukan soal minat. Tapi soal kebiasaan dan akses. Anak kecil yang belum baligh itu disuruh sholat untuk membiasakan diri. Agar setelah baligh jadi taat sholat dan patuh agama. Ya membaca juga begitu, dibiasakan dari kecil. Agar saat remaja apalagi dewasa jadi terbiasa dekat dengan buku. Asal akses membaca-nya ada. Nah, selagi sudah dibiasakan dan akses-nya disediakan ya sudah cukup.


Lalu, apa dengan baca buku bisa sukses dan kaya?

Tentu tidak. Sukses dan kaya itu relatif. Menurut siapa dan ukurannya apa? Semua mahasiswa yang lulus dan jadi sarjana pun belum tentu dapat kerjaan. Anak sekolah yang juara 1 di kelas pun tidak ada jaminan sukses. Tapi yang penting, ikhtiar harus dilakukan dan promosi apa kebisaan-nya. TBM juga begitu, harus ikhitar dan promosikan aktivitas-nya yang baik Tidak usah gengsi apalagi malu aktif di TBM. TBM kan tidak makan gengsi apalagi ocehan yang tidak bermanfaat.

TBM itu bisa eksis dan bertahan, syarat-nya ada tiga: 1) kinerja-nya bagus, 2) kolaborasi dengan banyak pihak, dan 3) promosi sesering mungkin. Tanpa promosi, terus siapa yang tahu aktivitasnya TBM? Makanya promosikan, publikasikan, dan suarakan terus.



Kan katanya, siapa yang ikhtiar baik atas niat yang ikhlas. Maka hasilnya pun bagus bahkan lebih. Nah, promosi TBM di medsos itu ikhtiar. Biar publik tahu, apa sih yang dikerjakan dan apa manfaat TBM? Selain aktivitas-nya rutin dan sepenuh hati, TBM pun wajib hukumnya mempromosikan diri. Asal jangan hoaks, gibah atau ocehan yang tidak berguna. Karena kalau bukan kita yang promosikan, siapa lagi yang mau?


Seperti besok Rabu sore (25/5/2022). DAAI TV pun ikut mempromosikan aktivitas MOtor BAca KEliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka untuk menjelajah ke Kampung Jami Desa Sukaluyu. Promosi soal kisah motor baca dalam menyediakan akses bacaan ke anak-anak usia sekolah di kampung-kampung. Agar lebih terbiasa membaca dan kian akrab dengan buku-buku bacaan. Sekalipun sibuk kerja, besok saya dari Jakarta akan datang ke TBM di kaki Gunung Salak hanya untuk melayani liputan DAAI TV. Setelah itu ya balik lagi ke Jakarta. Karena untuk TBM dan kebaikan, insya Allah saya komit untuk melayani. Apa pun kondisinya, apa pun kendalanya. TBM dan literasi harus terus diperjuangkan, ditegakkan.


Jadi, TBM di mana pun, memang harus lebih kerAS, cerdAS, tuntAS, dan ikhlAS (4-AS). Tidak usah malu promosikan diri. Karena TBM tidak ditanggung oleh negara atau orang lain. Salam literasi #LiputanTV
 #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka 

Minggu, 22 Mei 2022

Zaman Makin Maju Makin Miris Soal Buku

Dulu di era 1980-an, saat saya masih SD. Karena ekonomi orang tua tergolong tidak mampu, sangat sulit bisa dapatkan akses buku bacaan. Jangankan perpustakaan atau taman bacaan, ingin punya buku pelajaran sekolah saja harus "menunggu Bapak punya uang" berbulan-bulan. Maka sering dimarahi guru pelajaran karena tidak punya buku. Teman semeja pun merasa terganggu bila bukunya dibaca berdua. Nasib anak-anak zaman saya kecil.

 

Sebagai anak sekolah, saya sih pengen baca. Tapi apa daya tidak punya uang untuk beli buku. Bapak saya, sebagai seorang tentara, gajinya hanya cukup untuk menghidupi istri dan 4 anaknya. Sama sekali, tidak ada kemewahan masa kecil yang dekat dengan buku. Hanya teman yang kaya yang bisa langganan majalah ananda atau hai, beli komik petualangan tin tin. Jadi bila ditanya kenapa masa kecil saya tidak suka baca buku? Ya karena saya miskin dan tidak punya akses bacaan.

 

Tapi sekarang, miris aja banyak buku yang dibuang-buang. Dijadikan bungkus nasi, bungkus bumbu dapur. Bahkan tidak sedikit buku di rumah-rumah yang dimakan rayap. Atau dikiloin. Buku-buku yang disia-siakan. Gampang banget tidak peduli pada buku. Tapi giliran ditanya, katanya buku itu jendela dunia, gudangnya ilmu pengetahuan. Lalu kenapa banyak buku-buku yang dibuang? Bukankah buku bekas itu jadi buku baru bagi yang belum membacanya.



Maka kini, saya bersyukur bisa mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sebagai tempat membaca buku anak-anak usia sekolah. Saya tidak berharap mereka punya minat baca yang tinggi. Tapi saya ingin sediakan akses bacaan kepada anak-anak itu. Karena selama ini memang tidak ada tempat membaca buku. Alhamdulillah, TBM Lentera Pustaka akhirnya terus berkembang dan maju. Banyak orang datang dan membantu aktivitas membaca dan literasinya. Ada yang donasi buku, bakti sosial, liputan TV, hingga ber-CSR di taman bacaan. Yah ibaratnya, taman bacaan sudah jadi ladang amal banyak orang. Tempat mengabdi siapa saja. Asal ikhlas dan dijalani dengan konsisten.

 

Lalu ada yang tanya saya. Kenapa bikin taman bacaan? Ya itu tadi, buat ladang amal saya. Bila ada orang bantu bikin masjid, saya pilih bantu bikin taman bacaan atau TBM. Ikhlas dan sepenuh hati karena Allah SWT bukan karena orang lain. Karena TBM adalah "warisan" yang bisa saya tinggalkan untuk umat. Walau hanya mengajak anak-anak membaca sekaligus mengajarkan akhlak baik. Istilahnya, ubahlah niat baik jadi aksi nyata. Karena baik itu harus dikerjakan, bukan didiskusikan.

 

Jujur, karena buku pula. Saya tersadar. Dari mana saya berasal dan ke mana saya mau pergi? Dan selama perjalanan itu pula, terselip pertanyaan yang harus saya pertanggungjawabkan. APA YANG SUDAH SAYA PERBUAT? Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Kunjungi TBM Lentera Pustaka, Mahasiswa Unindra Luncurkan Kumpulan Cerpen Anak-anak Pinggiran

Ajarkan anak tetap jadi dirinya sendiri; tanpa perlu menjadi diri orang lain. Hanya cinta yang meneduhkan hati anak-anak pinggiran.

Itulah amanat buku kumpulan Cerpen “Anak-anak Pinggiran” karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI yang diluncurkan di TBM Lentera Pustaka Bogor, Minggu (22/5/2022). Buku ini merupakan hasil kuliah menulis kreatif sebagai praktik, bukan teori.

 

Buku ini menyelipkan pesan, banyak orang menginginkan anak-anaknya menjadi benar-benar baik. Tapi di saat yang sama, mereka tidak tahu cara dan ikhtiar untuk melakukan apa yang terbaik. Bahkan tidak sedikit orang tua yang lupa, bahwa anak adalah kekuatan ilahi untuk memanggil kepedulian. Seperti anak-anak pinggiran yang selalu punya harapan dan mampu menjadi cahaya untuk mempersempit perjuangan melawan kegelapan. Anak-anak pinggiran hanya ingin mengingatkan. Untuk mengecup kening anak agar tetap nyaman bersandar di bahu orang tua. Seberapapun rasa itu, ajarkan anak tetap jadi dirinya sendiri; tanpa perlu menjadi diri orang lain.

 


Kumpulan Cerpen “Anak-anak Pinggiran’ merupakan bagian dari proses menulis kreatif yang dialami mahasiswa secara langsung, selama kuliah. Mahasiswa yang “berproses” dalam mempelajari, mencipta, dan menerbitkan karyanya sendiri. Karena mereka percaya bahwa belajar sastra harus dimulai dan berakhir dari yang tertulis. Inilah karya sebagai cerminan bahwa menulis kreatif adalah perbuatan, bukan pelajaran. Kuliah dengan cara yang berbeda. Di era Merdeka Belajar, keberanian mahasiswa untuk melahirkan karya dan mampu mengekspersikan daya kreatif menjadi penting untuk dipacu. Buku ini pun menjadi karya reflektif dan motivatif sebagai saksi perjalanan kepedulian terhadap anak-anak di tengah gempuran era digital.

 

Menurut Syarifudin Yunus, dosen pengampu Menulis Kreatif Universitas Indraprasta PGRI, buku ini menjadi cerminan sikap reflektif terhadap cara pandang 96 mahasiswa yang menulis cerpen tentang sikap peduli terhadap anak-anak. “Buku ini adalah ekspresi mahasiswa terhadap persoalan anak-anak. Kaum muda yang mengekspresikan daya kreatif dan imajinasinya ke dalam cerita pendek. Kaum muda yang menyuarakan pentingnya mendengarkan suara hati anak-anak pinggiran,” ujar Syarifudin Yunus dalam peluncuran hari ini di Bogor.




BEM Faperta IPB Gelar Penanaman Pohon Hanjuang di Taman Bacaan

Selain memperindah pemandangan, penanaman pohon atau penghijauan juga dapat mengatasi polusi udara dan mensuplai oksigen bagi manusia. Sadar akan pentingnya penanaman pohon, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Faperta IPB hari ini  menggelar aksi “penanaman pohon hanjuang” bersama 60 anak Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka (22/5/2022). Dipimpin Ferry serta 17 pengurus BEM Faperta IPB melakukan penanaman pohon 50 pohon hanjuang dan edukasi pentingnya penghijauan lingkungan.

 

Tiap anak pembaca aktif pun menanam satu pohon hanjuang di area Kebun Baca disaksikan Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka. Melalui penanaman pohon ini, anak-anak pembaca aktif pun diajak berperan aktif dalam menjaga lingkungan yang asri. Karena penanaman pohon dapat 1) membuat kualitas udara menjadi lebih bersih,  2) mengontrol iklim panas, 3) meningkatkan kualitas air tanah, dan 4) memperindah pemandangan mata. Seusai penanaman poho, BEM Faperta IPB pun mengajak anak-anak taman bacaan bermain game tebak-tebakan pohonan.

 

Aksi penanaman pohon BEM Faperta IPB bersama anak-anak TBM Lentera Pustaka merupakan salah satu bentuk peran mahasiswa dan taman bacaan dalam menjaga lingkungan. Utamanya agar area membaca anak-anak menjadi lebih hijau dan bersih. Hal ini pun menjadi bukti adanya kolaborasi antara kampus dengan taman bacaan di Bogor.

Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program, TBM Lentera Pustaka pun menyambut baik aksi penanaman pohon mahasiswa BEM Faperta IPB. Sebagai wujud kepedulian sosial mahasiswa kepada masyarakat. “Aksi penanaman pohon ini penting untuk mengajarkan anak-anak akan pentingnya menjaga lingkungan. Ikut aktif menanam pohon. Agar kualitas udara jadi bersih dan indah dipandang mata, khususnya di area kebun baca TBM Lentera Pustaka.” ujar Syarifudin Yunus, saat acara penanaman pohon di TBM Lentera Pustaka.

 


Patut diketahui, BEM Faperta IPB telah bekerjasama selama 4 tahun untuk melakukan program kerja dan aksi sosial secara rutin dan terjadwal. Hal ini sebagai realiasasi pengabdian masyarakat dan kiprah sosial mahasiswa IPB di taman bacaan. Sementara TBM Lentera Pustaka saat ini menjadi tempat membaca 130 anak-anak usia sekolah yang berasal dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya). Dengan koleksi lebih dari 10.000 buku bacaan, kini tiap anak mampu membaca 5-8 buku per minggu. Selain aktivitas taman bacaan, TBM Lentera Pustaka juga menjalankan program Gerakan Beranatas Buta Aksara (Geberbura), Kelas Prasekolah (Kepra), Ramah Difabel, Yatim Binaan (Yabi), Jompo Binaan (Jombi), Koperasi Simpan Pinja, dan Motor Baca Keliling (Mobake). TBM Lentera Pustaka dikenala sebagai taman bacaan paling komprehensif, di samping dikenal aktif menggelar program literasi yang menarik.

 

Aksi sosial BEM Faperta IPB di TBM Lentera Pustaka pun jadi simbol keterlibatan kampus dalam menegakan tradisi membaca dan budaya literasi masyarakat. Sebagai cermin pengabdian sosial mahasiswa. Salam literasi. #BEMFapertaIPB #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan




Sabtu, 21 Mei 2022

Pertemuan Teman Sekelas di Taman Bacaan Lentera Pustaka

Ada benarnya ya sahabat. Bahwa kehidupan tanpa para teman itu seperti kematian tanpa para saksi. Coba deh renungi kalimat itu. Apa sih artinya teman dan untuk apa kita membutuhkan teman? Mungkin jawabnya sederhana. Karena teman-teman itulah yang menemani kita sama-sama berjuang, dalam situasi dan keadaan apa pun. Maka sering disebut “teman seperjuangan” saat di kampus atau di sekolah.

 

Agak sulit dibantah siapa pun. Hari ini atau esok, teman pasti diperlukan. Pertemanan pun

pasti dibutuhkan. Karena sejatinya, manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial. Hamba Allah yang harus bersosialisasi. Berteman karena adanya ikatan emosional. Teman seperjuangan yang tahu kita apa adanya, tidak jaim. Bahkan mampu menyingkirkan egoisme. Bukan berteman atas kepentingan sesaat apalagi karena subjektivitas. Teman itu jiwa bukan raga.

 

Seperti hari ini (21/05/2022) di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, saya pun bersilaturahim bersama teman-teman sekelas masa kuliah di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Angkatan 1989-B) FPBS IKIP Jakarta (Sekarang FBS UNJ). Ada Faizin, Dyah, Sri Mulyani, Umi, Ina, dan Wini yang semuanya berkiprah di dunia pendidikan. Teman-teman di era 1989-1994 yang berjibaku sehari-hari ikut kuliah, menjalani UTS dan UAS hingga patungan untuk fotokopi buku kuliah. Ikut kuliah Pak Parera, Pak Abdul Chaer, Ibu Zulfahnur dan dosen lainnya, entah paham atau tidak? Tanpa peduli mengejar IPK (Indeks Prestasi Kumulatif). Prinsipnya, asal bersama dalam suka duka di kampus. Sebut saja, 3 jam bersama teman-teman sekelas semasa di kampus IKIP Jakarta.

 


Tentu ada banyak kenangan dan memori yang sulit diperlukan. Apalagi saat-saat ujian kuliah Sanggar Bahasa yang harus bermain drama alias teater. Latihan teater, makan alakadarnya, hingga mempersiapkan pementasan. Berat tapi semua dijalani dengan senang hati, Akhirnya ujian dan tuntas semuanya. Dan hari ini, kami berjumpa dalam canda tawa berkisah masa-masa di kelas dulu. Sambil silaturahim dan diskusi ringan tentang kenangan masa lalu. Ahh, selalu ada banyak cerita saat masa0sama di kampus pastinya.

 

Memang benar, bahwa teman lama itu bak pohon yang meneduhkan. Karena saat bersama teman, siapa pun berani melepaskan jaket ego-nya. Untuk mengambil hikmah dari masa lalu, Seburuk atau sebaik apa pun. Karena semuanya bagian dari sejarah hidup manusia. Sambil menyadari bahwa pangkat, jabatan, atau status sosial itu hanya aksesori hari ini. Sedangkan pertemanan berlangsung dari masa lalu hingga kini. Untuk menyebut “kita bukan aku atau kamu”.

 

Teman, suka tidak suka, telah mengingatkan siapa pun. Untuk tahu dari mana kita berasal dan ke mana kita akan menuju? Karena tetap menjalin silaturahim jadi kata kuncinya. Sebagai simbol pertemanan yang abadi, di mana pun dan hingga kapan pun. Karena kumpulan para teman, pasti “dibesarkan’ pada era yang tidak mungkin terulang lagi. Era jadi mahasiswa di kampus, 28 tahun lalu. Sambil menyadari, bahwa 10 atau 20 tahun lagi, teman-teman seperjuangan pun kian menua dan mulai merasakan “kesepian”. Lalu hanya bisa tersenyum saat mengenang teman-teman dengan berbagi lakon dan karakternya.

 

Siapa pun saat bersama teman. Pasti tahu bahwa dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Itulah hakikat memelihara pertemanan. Karena manusia di mana pun, sejatinya adalah “homo homini socius”, tipa manusia adalah kawan bagi sesamanya. Semoga tetap sehat teman …. Salam literasi #IKABINDOUNJ #TBMLenteraPustaka #IKIPJakarta



Jumat, 20 Mei 2022

Cara TBM Lentera Pustaka Menjaga Eksistensi Kegiatan Literasi

Saat beberapa kawan bertanya, apa syarat taman bacaan tetap bisa eksis dan bertahan?

Maka sesuai pengalaman yang dilakukan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak, syarat taman bacaan bertahan sangatlah sederhana. Yaitu 1) ada anak-anak yang membaca, 2) ada buku-buku yang dibaca, dan 3) ada komitmen dan konsistensi dari pengelola taman bacaan itu sendiri. Hanya itulah 3 syarat yang harus dipenuhi taman bacaan, bila ingin tetap eksis dan bertahan.

 

Oleh karena itu, taman bacaan di mana pun, harus terus berjuang dan berkreasi untuk mampu memenuhi ketiga syarat itu: ada anak, ada buku, dan ada komitmen. Tanpa ketiganya atau salah satunya diabaikan, maka taman bacaan pun “pincang”. Adanya anak-anak yang membaca, buku-buku bacaan, dan komitmen pengelola adalah anugerah yang luar biasa di taman bacaan. Bisa disebut sebagai “rezeki taman bacaan”. Karena tiga hal itulah, korporasi jadi mau ber-CSR, komunitas mau berbakti sosial, dan donator buku jadi banyak. Sehingga taman bacaan jadi lebih bersemangat menjalankan aktivitas literasi dan membangun kegemaran membaca di tengah era digital begini.

 

Mau tidak mau, taman bacaan harus ikhtiar untuk mencapai ketiga syarat tersebut. Kreativitas dan terobosan pun harus dilakukan. Sebagai contoh, anak-anak yang membaca itu silih berganti, Karena sifatnya yang nonformal. Ada yang masuk dan ada yang keluar. Maka TBM Lentera Pustaka pun melakukan sosialisasi taman bacaan ke kampung-kampung lain yang jumlah anak-anak usia sekolahnya banyak. Alhamdulillah, akhirnya ada anak-anak baru yang mau membaca di taman bacaan. Begitu pula dalam hal koleksi buku, pasti ada donatur yang menyumbang buku bila tata kelola taman bacaannya optimal. Dan tata kelola taman bacaan yang baik itu sangat bergantung pada komitmen dan konsisten pengelola taman bacaannya.  Begitulah kira-kira.

 


Ketahuilah, taman bacaan yang bertahan di era digital itu harus di-ikhtiarkan bukan hanya didiamkan. Seperti rezeki pun harus dicari bukan ditunggu. Maka proses dan aktivitas taman bacaan menjadi kata kuncinya. Harus ada kegiatan yang dibikin di taman bacaan, apa pun bentuknya. Taman bacaan tidak boleh berdiam diri apalagi pasrah. Karena memang, membangun kegemaran membaca di kalangan anak-anak dan masyarakat itu tidak mudah seperti membalik telapak tangan.

 

Rezeki di taman bacaan itu ibarat “buah yang ada di pohon”. Hanya ada dua sifat, yaitu: 1) ada yang berjatuhan dan 2) ada yang bergelantungan. Rezeki yang berjatuhan itu pasti datang atas izin Allah SWT. Taman bacaan yang baik atau tidak baik pasti ada rezekinya karena sifatnya mutlak. Tapi rezeki yang bergelantungan, tentu harus diikhtiarkan dan butuh perjuangan untuk menggapainya. Rezeki yang harus dipanjat, digapai dengan ilmu pengetahuan dan kerja keras karena sifatnya ikhtiar.

 

Nah di taman bacaan, yang bikin bed aitu “berkahnya”. Taman bacaan yang berkah pada akhirnya akan memberikan manfaat dan pasti bertahan sekalipun dihadang berbagai tantangan. Bila sebaliknya, maka taman bacan pun “stag” begitu-begitu saja bahkan sulit untuk bisa bertahan. Sebagai tempat perbuatan baik, maka taman bacaan harus dikelola dengan sepenuh hati bukan setengah hati. Harus didukung oleh komitmen dan konsistens yang kokoh. Maklum, hambatan di taman bacaan itu tidak kecil.

 

Dan yang tidak kalah penting di taman bacaan. Perbaiki terus niat, ikhtiar dan doa yang baik. Selalu bersyukur dan bersabar dalam segala keadaan. Berlapang hati dalam menjalankannya. Karena taman bacaan bukanlah tujuan tapi jalan. Bila segala hal yang baik sudah dijalankan di taman bacaan, maka selebihnya serahkan kepada Allah SWT. Itulah prinsip literasi, syarat taman bacaan untuk tetap bertahan. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka




TBM Lentera Pustaka dan Novo Club Ajarkan Lagi Pola Hidup Sehat Anak-anak

Sebagai bagian dari social movement dan ikhtiar memperjuangkan pola hidup sehat, Novo Club Bogor by Paragon melakukan edukasi pola hidup sehat dan bersih yang dihadiri 40 anak-anak Taman Bacaan Masyarakat Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (20/05/2022). Bertindak sebagai edukator, Ade Maulana Mahasiswa Semester 6 Sastra Sunda Unpad) yang mengajarkan cara hidup sehat yang paling sederhana dan dapat dilakukan anak-anak usia sekolah. Mulai dari potong kuku secara rutin, memperbanyak minum air putih, dan hidup bersih.

 

Belakangan pola hidup sehat dan bersih di kalangan anak-anak hamper terabaikan. Seperti potong kuku secara rutin minimal seminggu sekali, setidaknya dapat mencegah penularan penyakit diare dan cacingan serta infeksi jamur. Minum air putih, anak-anak pun membutuhkan 2,1–2,4 liter atau 8–10 gelas per hari untuk anak usia 9–13 tahun. Agar membantu fungsi metabolisme tubuh terjaga dengan baik sehingga sulit terkena penyakit. Pola hidup sehat dan bersih pada anak-anak pun dapat membuat aktivitas harian anak jadi nyaman, di samping suasana hatijadi tenang.

 


Intinya, edukasi pola hidup sehat dan bersih dilakukan untuk menjaga tubuh anak-anak agar tidak mudah sakit dan memelihara kesehatan mental anak. Karena itu, TBM lentera Pustaka bersama Novo Club Bogor memandang pentingnya edukasi hidup sehat dan bersih di kalangan anak-anak taman bacaan. Maklum saat ini, banyak anak lupa waktu saat main gawai atau menonton TV sehingga pola hidup sehat relatif terabaikan.

 

“Saya sangat mendukung komunitas dan organisasi yang lakukan edukasi pola hidup sehat dan bersih ke anak-anak usia sekolah. Potong kuku, rajin mandi, minum air putih dan lainnya sering dianggap sepal. Sehingga anak-anak lupa, cara melakukannya dengan baik dan berkualitas. Inilah peran taman bacaan, selain jadi tempat membaca buku” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka di sela acara.

 

Sehat tentu bukan hanya fisik tapi juga mental. Maka salah satunya, anak-anak pun diajarkan untuk bersyukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa. Karena banyak bersyukur merupakan cara yang sangat ampuh untuk menjaga kesehatan tubuh dan pikiran siapa pun. Sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih baik. Seperti di taman bacaan, membaca buku pun bisa jadi obat untuk memelihara Kesehatan baik fisik maupun mental. Salam literasi #EdukasiHidupSehat #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka