Kamis, 19 Mei 2022

Apa Makna Harkitnas di Taman Bacaan?

Tanggl 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Bangkit itu berarti “bangun lalu berdiri ...”. Maka ada makna tersirat di situ. Bangkit dari apa dan berdiri untuk apa? Sementara kita tidak lagi berhadapan dengan penjajah. Tidak pula sedang berperang dengan musuh nyata.

 

Mungkin yang paling pas. Bukan lagi kebangkitan nasional tapi kesadaran nasional. Bangkit untuk membangun kesadaran nasional. Sadar sebagai sebuah bangsa. Untuk selalu menjaga kebersamaan dan keutuhan. Berpihak pada kemanusiaaan dan kepedulian. Tidak melulu soal politik, kekuasaan atau gaya hidup. Sadar agar tidak tergerus nafsu dunia.

 

Maraknya hoaks, ujaran kebencian bahkan saling hujat, apalagi di media sosial, jadi bukti pentingnya kesadaran nasional. Sadar untuk lebih fokus pada solusi bukan masalah. Sadar mencermati ide dan gagasan bukan orang yang bicara. Sadar untuk meniadakan emosi dan menjauhi kepentingan pribadi. Sadar untuk memajukan bukan menyalahkan.

 

Hari Kebangkitan Nasional harus jadi momen untuk membangun kesadaran nasional. Sadar atas apa yang sudah diperbuat dan bagaimana ke depannya? Karena “sadar” itu artinya insaf; merasa; tahu dan mengerti (kata sifat) atau ingat kembali (kata kerja). Maka siapa pun, harus menyadari, menginsafi, atau memahami keadaan yang sesungguhnya. Agar tetap objektif dan berpihak pada realitas.

 


Di zaman begini. Siapa pun pasti punya pilihan. Apa pun dan untuk apa pun. Maka tiap pilihan harus dilandasi kesadaran. Minimal, memilih untuk memulai sesuatu yang baik hari ini. Bertumpu pada solusi bukan masalah. Sesuatu yang baik dijalanin bukan dikomentarin. Karena bila tidak, maka nantikanlah penyesalan di hari esok.

 

Kebangkitan nasional itu ya kesadaran. Sadar atas pilihan, sadar pula atas konsekuensinya. Sadar bahwa hidup tidak sendirian. Tapi untuk kebersamaan. Bangsa Indonesia itu punya potensi ke depan yang lebih baik. Bukan hanya mempersoalkan masa lalu yang buruk seakan tidak bisa diperbaiki. Bukankah memperbaiki hari esok lebih baik daripada menyalahkan hari kemarin yang buruk.

 

Jadi, apa pun kondisinya, Tidak usah risau. Lakukan saja yang baik untuk bangsanya sendiri. Untuk selalu ikhtiar dan sabar menjalaninya. Perbaiki niatnya dan sungguhkan doanya. Insya Allah, semuanya akan baik dan lebih baik. Apa pun yang gagal kemarin akan berhasil. Apa pun yang patah akan pulih, Apa pun yang kurang akhirnya akan lebih. Bahkan siapa pun yang sakit akan sembuh, siapa pun yang sedih akan gembira. Karena hakikatnya, Allah SWT selalu ada untuk umantnya dan bangsanya. Bahwa apa yang ada dan dimiliki hari ini memang sangat pantas untuk kita.

 

Kebangkitan nasional itu momen bersama untuk sadar nasional. Sadar, sadar, lalu sabar. Selamat Hari Kebangkitan Nasional. Begitulah sedikit memaknai Hari Kebangkitan Nasional di Taman Bacaan. Salam literasi #Harkitnas #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

 



Rabu, 18 Mei 2022

Kurangi Aktivitas Main Gawai, Motor Baca Keliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka Dekatkan Buku ke Anak-anak Kampung

MOtor BAca KEliling (MOBAKE) adalah salah satu program literasi yang dijalankan TBM Lentera Pustaka sejak 20 Februari 2022. Bermodalkan motor tua, MOBAKE bertelad menjelajah ke kampung-kampung yang selama ini tidak memiliki akses bacaan. Tapi saat ini, MOBAKE beroperasi ke Kampung Jami Desa Sukaluyu dan Kampung Babakan Desa Sukajaya. Untuk menyediakan akses bacaan kepada anak-anak usia sekolah.

 

Beroperasi seminggu dua kali (Rabu sore dan Minggu sore), MOBAKE dikemudikan oleh Pendiri TBM Lentera Pustaka dan relawan taman bacaan serta dilengkapi 300 buku bacaan dan 2 tikar sebagai alas baca. Motor Baca Keliling TBM Lentera Pustaka ini bisa mangkal di pinggir jalan atau di halaman rumah penduduk yang bersedia dijadikan”pangkalan” MOBAKE selama 2 jam aktivitas membaca. Di tengah gempuran era digital, MOBAKE pun dianggap mampu jadi penyeimbang aktivitas main, nongkrong atau main gawai yang dilakukan anak-anak. MOBAKE pun bisa jadi solusi di tengah terbatasnya keberadaan perpustakaan desa atau sekolah yang belum memadai.

 

Bukan hanya penting, MOBAKE pun didedikasikan sebagai ikhtiar untuk mendekatkan buku bacaan ke anak-anak yang selama ini tidak punya akses bacaan. Agar anak-anak usia sekolah di mana pun lebih akrab dengan buku bacaan (bukan akrab dengan gawai). Selain menyediakan akses bacaan, MOBAKE TBM Lentera Pustaka mengemban misi besar untuk menekan angka putus sekolah, memperkecil usia pernikahan dini, dan menjauhkan anak-anak dari kegiatan yang negatif yang tidak bermanfaat.

 


Melalui MOBAKE, TBM Lentera Pustaka meyakini jika akses bacaan ke anak-anak di kampung-kampung bisa diintensifkan pada akhirnya dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan akhlak anak-anak menjadi lebih baik. Maka aktivitas motor baca keliling akan berdampak besar terhadap masa depan anak-anak Indonesia. Sekaligus menjadi bagian untuk memberdayakan gerakan literasi secara lebih massif. Karena sejatinya, literasi untuk semua. Asalkan akses terhadap buku bacaan bisa disediakan.

 

Maka persoalan literasi dan kegemaran membaca di Indonesia bukanlah soal minat baca yang katanya rendah. Melainkan soal ketersediaan akses bacaan ke anak-anak di kampung-kampung seperti di kaki Gunung Salak Bogor. Salam literasi #MOtorBAcaKEliling #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka





Selasa, 17 Mei 2022

Aktivitas Taman Bacaan Lentera Pustaka Diangkat ke Program SAFAR RTV

RTV sebagai salah satu stasiun televisi nasional yang mengedepankan unsur edukasi dan hiburan, mengangkat kisah reality show Pendiri Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor ke program SAFAR Jejak Kebaikan. Shooting atau pengambilan gambar dilakukan pada Selasa, 17 Mei 2022. Dipandu oleh Chand Kelvin (host) yang melakukan perjalanan yang penuh inspiratif menemui Syarifudin Yunus di TBM Lentera Pustaka dan Arniati, murid berantas buta aksara.

 

Kisah reality show ini menyajikan aktivitas taman bacaan sebagai ujung tombak pendidikan masyarakat untuk menekan angka putus sekolah, di samping pemberantasan buta huruf bagi warga masyarakat yang ada di daerah. Hal ini sekaligus untuk menyajikan pesan pendidikan akan pentingnya peran taman bacaan di masyarakat. Tayangan program SAFAR jejak kebaikan RTV rencananya berlangsung dua episode.

 

Kisah reality show pertama yang inspiratif menyajikan sosok Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka. Menengok aktivitas sosial dosen Universitas Indraprasta PGRI ini dalam mengajar ibu-ibu kaum buta huruf dalam program Gerakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA, menjalankan MOtor BAca KEliling (MOBAKE), dan mengajar anak-anak KElas PRAsekolah (KEPRA) dalam naungan TBM Lentera Pustaka. Pria yang bertempat tinggal di Jakarta ini dengan penuh komitmen dan konsistensi setiap week end datang ke TBM Lentera Pustaka untuk mengabdikan diri kepada masyarakat melalui taman bacaan. Bahkan Syarif, begitu panggilannya, mampu menjadikan taman bacaan sebagai sentra pemberdayaan masyarakat, di samping menjadi tempat membaca yang asyik dan menyenangkan. Tujuannya hanya untuk menekan angka putus sekolah dan memberantas buta aksara.

 


Sementara kisah kedua yang disajikan dalam reality show RTV di TBM Lentera Pustaka juga mengangkat keseharian Arniati (54 tahun), seorang ibu yang menjadi warga belajar buta aksara di TBM Lentera Pustaka yang sekaligus berprofesi sebagai asisten rumah tangga. Di tengah aktivitas-nya sebagai ART, Arniati tetap berjuang untuk belajar baca dan tulis. Agar tidak buta huruf dan tergilas oleh zaman yang semakin digital.

 

Proses shooting reality show di taman bacaan ini pun berlangsung dari pukul 10.00 s.d. 18.00 WIB. Melalui tayangan ini, harapannya makin banyak orang terinspirasi untuk selalu menebar kebaikan kepada sesama. Untuk lebih peduli kepada taman bacaan sekaligus menjadikannya sebagai ladang amal semua pihak. Karena sejatinya, siapa pun tanpa baca akan merana di kemudian hari.

 

Nantikanlah tayangan reality show TBM Lentera Pustaka di program SAFAR Jejak Kebaikan RTV. Salam literasi #LiputanTV #TBMLenteraPustaka #SafarRTV





Senin, 16 Mei 2022

Liputan Motor Baca Keliling TBM Lentera Pustaka Sediakan Akses Bacaan Anak-anak

Peran media, khususnya televisi sangat besar untuk tumbuhnya gerakan literasi dan aktivitas taman bacaan di Indonesia. Agar dapat menyuarakan pentingnya anak-anak membaca buku, sambil mengimbangi aktivitas bermain gawai di era digital.

 

Karena itulah, TBM Lentera Pustaka memfasilitasi Jawa Pos TV untuk melakukan liputan hari ini (16/05/2022) yang mengangkat aktivitas "MOtor BAca KEliling (MOBAKE)” yang menjelajah ke Kampung Jami Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kab. Bogor. Liputan yang menguak kisah Syarifudin Yunus sebagai penggagas Motor Baca Keliling (MOBAKE) sekaligus Pendiri TBM Lentera Pustaka dalam menyediakan akses bacaan kepada anak-anak usia sekolah di kampung-kampung yang selama ini tidak punya akses bacaan. Karena faktanya, memang saat ini akses bacaan anak-anak sangat terbatas. Tidak ada perpustakaan, baik di wilayah selevel desa atau sekolah yang memadai.

 

Syarifudin Yunus yang berprofesi sebagai Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia FBS Unindra dan kandidat doktor taman bacaan dari Manajemen Pendidikan Pascasarjana Universitas Pakuan ini bertekad kuat untuk menyediakan akses bacaan melalui program motor baca keliling. Dengan beroperasi 2 kali seminggu, Motor Baca Keliling menjelajah ke 3 tempat (Kampung Jami Desa Sukaluyu, Kampung Babakan Desa Sukajadi, Kampung Buniaga Desa Tamansari) dengan membawa 300 buku di boks motor yang dilengkapi 2 buah tiker sebagai alas untuk membaca. Intinya, MOBAKE TBM Lentera Pustaka adalah ikhtiar mendekatkan buku bacaan ke anak-anak yang selama ini tidak punya akses bacaan.

 

Motor baca kelilling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka diluncurkan pada 20 Februari 2022. Dengan memanfaatkan motor tua milik pendiri TBM Lentera Pustaka yang diubah menjadi motor baca keliling. Melalui MOBAKE, TBM Lentera Pustaka berharap dapat menyediakan akses bacaan ke banyak kampung yang tidak punya taman bacaan atau perpustakaan. Agar anak-anak usia sekolah lebih akrab dengan buku (bukan akrab dengan gawai). Tujuannya sederhana, untuk menekan angka putus sekolah, memperkecil usia pernikahan dini, dan menjauhkan anak-anak dari kegiatan yang negative seperti nongkrong, naik motor saat masih anak-anak.

 


Media massa, termasuk media televisi memiliki peran penting dalam menyuarakan aktivitas taman bacaan dan Gerakan literasi di Indonesia. Setidaknya, liputan media massa di taman bacaan memiliki manfaat seperti 1) memberi informasi tentang aktivitas taman bacaan dan literasi, 2) mendidik masyarakat akan pentingnya membaca buku sekalipun di tengah era digital, 3) memengaruhi pemerintah daerah dan masyarakat untuk lebih peduli pada taman bacaan dan gerakan literasi, dan 4) mengajak korporasi, individu, dan masyarakat untuk membangun budaya literasi dan kepedulian terhadap aktivitas taman bacaan.

 

Karena itu, semua pihak dituntut untuk lebih peduli pada aktivitas literasi dan taman bacaan. Minimal, menasihati atau menyuruh anaknya untuk membaca buku. Bukan hanya main melulu apalagi nongkrong yang tidak karuan. Karena dengan membaca buku, setidaknya siapa pun telah menyelamatkan masa depan anak-anak. Untuk lebih baik dan lebih berkualitas. Termasuk peran pemerintah, korporasi dan individu untuk mendukung aktivitas literasi di taman bacaan.

 

Maka jangan bilang minat baca rendah di Indonesia, bila tidak mampu menyediakan akses bacaan ke anak-anak di kampung-kampung seperti di kaki Gunung Salak Bogor. Salam literasi #MOtorBAcaKEliling #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

 





TBM Lentera Pustaka Ajarkan Cium Tangan dan Bersalaman di Momen Lebaran

Siang itu (16/05/2022) ratusan anak-anak dan ibu-ibu berkumpul di Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Satu demi satu buku-buku yang terpajang di rak, mereka ambil dan dibaca. Masing-masing menentukan posisi duduknya sendiri yang paling nyaman, Karena membaca buku pun, membutuhkan kenyamanan.

 

Setelah satu jam membaca buku dan menyimak tausiyah literasi dari Pendiri TBM Lentera Pustaka, anak-anak pembaca aktif pun berdiri untuk antre, untuk mengikuti halal bihalal Idul Fitri 1443 H yang sudah menjadi tradisi di TBM Lentera Pustaka. Saling bersalaman dan sambil berucap “minal aidin wal faizin – mohon maaf lahir barin” kepada para wali baca, relawan, orang tua, dan sesama teman sebaya. Di TBM Lentera Pustaka, anak-anak pembaca aktif selalu diajarkan tentang pentingnya meningkatkan akhlak dan adab agar lebih baik. Antre, salaman, dan cium tangan menjadi ajaran yang selalu dijadikan kebiasaan di taman bacaan.

 

Selain membaca buku rutin 3 kali seminggu, anak-anak TBM Lentera Pustaka pun secara rutin dilatih untuk membiasakan mengucap salam, bersalaman, dan cium tangan sebagai bagian pembinaan akhlak. Karena akhlak-lah yang membaikkan setiap orang, bukan ilmu pengetahuan. Akhlak, bolehlah disebut “ibu” dari segala kebijaksanaan yang dalam diri manusia. kecerdasan, kekayaaan, bahkan kekuasaan tanpa akhlak sama sekali tidak ada manfaatnya.

 

Adalah tanggung jawab sosial taman bacaan, selain menyediakan akses bacaan kepada anak-anak di kampung. TBM Lentera Pustaka pun melatih dan mengajarkan pentingnya membentuk akhlak dan adab anak-anak. Apalagi di tengah gempuran era digital yang kian kebablasan seperti sekarang. Akhlak adalah landasan fundamental peradaban anak yang tidak akan lekang oleh waktu. Agar lebih mampu berpikir positif dan bertindak solutif. Bukan malah berjeluh-kesah atau bertahan pada pikiran negative tanpa memberikan solusi atas setiap masalah sosial yang ada.

 


"TBM Lentera Pustaka selalu mengajarkan akhlak anak-anak, selain jadi tempat membaca buku. Karena akhak atau adab di atas ilmu. Maka budaya antre, mengucap salam, bersalaman, dan cium tangan dijadikan kebiasaan di kalangan anak-anak pembaca aktif di taman bacaan ini. Jangan sampai tradisi cium tangan dan salaman di anak-anak hilang akibat sikap individualis di era digital" ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka.

 

Halal bihalal atau kegiatan lainnya di taman bacaan, sejatinya hanya cara sederhana untuk mengajarkan pentingnya akhlak dan adab di kalangan anak-anak. Seperti yang dilakukan di TBM Lentera Pustaka selama ini. Agar anak-anak memiliki karakter yang kokoh dan sopan santun selain mencintai buku untuk dibaca. Karena pegiat literasi dan taman bacaan selalu percaya, bahwa setiap ajarankebaikan pasti menyehatkan.

 

Maka jadikan taman bacaan sebagai tempat untuk mengajarkan akhlak dan adab kepada anak-anak. Selain jadi tempat membaca buku yang asyk dan menyenangkan. Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka




Minggu, 15 Mei 2022

TBM Lentera Pustaka Gelar Sosiali-Aksi ke 3 Kampung untuk Genjot Anak-anak yang Membaca

Taman bacaan di mana pun memang tidak boleh berdiam diri. Apalagi bila berada di lingkungan yang apatis atau masyarakatnya tidak peduli. Karena itu, salah satu Langkah yang bisa ditempuh adalah melakukan sosialisasi akan pentingnya keberadaan taman bacaan kepada masyarakat sekitar taman bacaan.

 

Maka sebagai uapaya untuk memberikan update aktivitas taman bacaan dan menjaring "anak-anak baru" yang mau membaca, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak menggelar “SOSIALI-AKSI TAMAN BACAAN” keliling kampung. Adapun tujuan sosiali-aksi TBM Lentera Pustaka adalah:

1.      Memberikan informasi terkait aktivitas Taman Bacaan Lentera Pustaka, tentang apa dan bagaimana peran taman bacaan di masyarakat.

2.      Mensosialisasikan akan pentingnya anak-anak membaca buku di taman bacaan sebagai penyeimbang aktivitas main gawai atau menonton TV.

3.      Mengajak orang tua, khususnya kaum ibu untuk menyuruh anak-anaknya bermain di taman bacaan sekaligus pentingnya peran orang tua dalam membentuk kebiasaan membaca anak.

 

Berbekal tujuan itulah, sosiali-aksi TBM Lentera Pustaka tahun 2022 ini dimulai di 1) Kampung Tamansari pada Sabtu, 14 Mei 2022 yang dihadiri 100-an ibu-ibu, 2) Kampung Jami pada Sabtu, 21 Mei 2022, dan 3) Kampung Sukajaya pada Sabtu, 4 Juni 2022. Sosiali-aksi taman bacaan dilakukan sendiri oleh tim TBM Lentera Pustaka lalu berkoordinasi dengan aparat RT/RW setempat atau tokoh masyarakat dengan menyampaikan undangan secara tertulis. Selain untuk memnsosialisasikan aktivitas taman bacaan, sosiali-aksi TBM Lentera Pustaka ini penting dilakukan untuk mempererat hubungan antara taman bacan dan masyarakat sekitar.

 

Adalah penting agar masyarakat menyadari pentingnya peran taman bacaan di suatu wilayah. Sehingga taman bacaan pun dapat memainkan peran yang positif dan bermanfaat pada lingkungannya. Sehingga taman bacaan tidak jalan sendiri tanpa dipahami tujuan dan fungsinya oleh masyarakat. Dan masyarakat pun menyadari pentingnya keberadaan taman bacaan, di samping mau terlibat dalam aktivitas literasi dan kegiatan membaca buku.

 


Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka dalam sosiali-aksi menegaskan pentingnya sinergi antara taman bacaan dan masyarakat. Agar kegiatan taman bacaan mendapat dukungan positif dan mampu memenuhi tujuannya. Agar anak-anak di kampung tetap memiliki kebiasaan membaca buku sekalipun di tengah gempuran era digital. “Orang tua dan anak-anak di mana pun harus tahu taman bacaan adalah tempat kegiatan yang positif. Daripada banyak main atau terlena main handphone lebih baik ke taman bacaan kan” ujar Syarif dalam paparannya.

 

Maka pesan pentingnya, taman bacaan atau TBM di mana pun harus terus bergerak. Apa pun kondisinya, taman bacaan tidak boleh berdiam diri. Apalagi bila lingkungan sekitarnya apatis, taman bacaan harus melirik warga dan orang tua yang peduli. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 


Kamis, 12 Mei 2022

Literasi Disertasi, Mahasiswa S3 Wajib Jalin Komunikasi dengan Promotor

Adalah fakta, tidak sedikit mahasiswa S3 Program Doktor di mana pun kampusnya terkendala penyelesaian disertasi sebagai syarat meraih gelar Doktor. Karena itu, harus ada tekad atau kemauan untuk bisa menuntaskan disertasi. Salah satunya dengan menjalin komunikasi dan diskusi bersama Promotor, orang yang memberi arahan dan bimbingan kepada mahasiswa S# untuk menyelesaikan disertasi dan meraih Doktor.

 

Berangkat dari kesadaran itulah, sejumlah mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan (Unpak) menjalin silaturahim dan komunikasi akademi bersama promotornya, Prof. Dr. Didik Notosudjono di Kampus Unpak Bogor (12/05/2022).  Para mahasiswa seperti: Dr. Suratni, Dasmo, Dzulkarnaen, Syarif Yunus, Dr. Helwiyah, Ichwani, Saring, Susanto beranjang sana ke Prof. Didik. Minimal untuk membangun energi dan memompa semangat untuk menuntaskan disertasi.

 

Satu jam bersama Prof. Didik, begitu kira-kira. Dalam suasana santai, para mahasiswa S3 berdiskusi dan saling memberi update terkait penyelesaian studi. Sudah sampai mana dan gimana proses selanjutnya? Prof Didik pun sebagai promotor selalu mengingatkan untuk terus menjaga semangat dan fokus untuk menulis disertasi. “Apa pun kondisinya, disertasi kerjakan kerjakan kerjakan, jangan kasih kendor” ujar Prof. Didik yang kebetulan efektif Juni 2022 pun akan dilantik sebagai Rektor Universitas Pakuan. Selamat ya Prof.

 


Bincang-bincang 60 menit bersama Prof. Didik, intinya sangat diperlukan mahasiswa S3. Sebagai upaya memompa kembali semangat meraih gelar doktor. Paling tidak untuk membangun komunikasi secara intensif tentang progress penyelesaian studi. Sebagai pembimbing mahasiswa, promotor memang memiliki peran penting untuk menganjurkan atau mendorong mahasiswa S3 untuk selalu ikhtiar menulis disertasi dan menjalani proses sesuai tahapanya hingga ujian terbuka. “Bagi saya, intinya komunikasi yang intensif sambil tetap mengerjakan disertasinya. Itu saja, agar mahasiswa bisa tuntas S3-nya dan meraih gelar doktor, Makin cepat tentu makin bagus” ujar Prof, Didik.

 

Di akhir dilaturahim dan diskusi dengan Prof. Didik sebagai promotor, mahasiswa pun menyempatkan foto bersama. Sebelum beliau dilantik menjadi Rektor Unpak pada Juni mendatang. Sambil berbisik, mahasiswa berharap. Agar saat jadi Rektor Unpak, semoga tidak sulit untuk menemui Prof. Didik. Karena beliau memang promotor yang ngemongi mahasiswa, selalu humble untuk mengingatkan penyelesaian disertas para mahasiswanya.

 

Memang benar, sebagai jenjang tertinggi pendidikan formal, kuliah S3 atau Program Doktor sangat membutuhkan komitmen dan kemauan untuk menuntaskannya. Agar tidal terbengkalai di kemudian hari. Salam semangat #S3MPUnpak #ProfDidik #PascasarjanaUnpak



Rabu, 11 Mei 2022

Warung Ibu Eeh, Usaha Mandiri Binaan Koperasi Lentera di Taman Bacaan

Warung Ibu Eeh, namina. Saya sempat menengoknya minggu lalu. Salah satu warung binaan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Lentera. Berbekal pinjaman Rp. 200.000 dari koperasi tahun lalu, Ibu Eeh merintisnya. Walau warung kecil-kecilan di rumahnya, setidaknya Ibu Eeh sudah berani ikhtiar untuk memulai usaha. Di samping mengisi waktu di hari tuanya dengan kegiatan yang positif dan mandiri. Apalagi belum lama ini, suaminya meninggal dunia. Turut berduka cita ya Bu, semoga almarhum husnul khotimaj, amiin.

 

Semangat Ibu Eeh patut jadi teladan. Selain sebagai anggota Koperasi lentera, Ibu Eeh pun bagian dari warga belajar Gerakan BERantas BUta aksaRA (GeBERBURA) dan JOMpo BInaan (JOMBI) di TBM Lentera Pustaka. Sekalipun usianya sudah melebih 66 tahun, Ibu Eeh punya kesadaran belajar yang bagus. Patut ditiru anak-anak bahakn orang tua pada umumnya. Tergolong rajin ke taman bacaan.

 

Nah setelah setahun berjalan, Koperasi Lentera mulau Mei 2022 ini menaikkan nilai pinjaman menjadi Rp. 600.000 dengan masa angsurang 4 kali. Ibu Eeh pun meminjamnya untuk menambah modal warungnya. Istilahnya, biar kecil tapi lengkap item-item yang dijualnya. Keren banget kan. Patut diketahui, setiap anggota di Koperasi Lentera tidak boleh meminjam apabila masih ada angsuran pinjaman yang belum selesai. Bahkan sebulan sekali selalu ada “rapat anggota” (tiap Sabtu akhir bulan) sebagai edukasi keuangan kepada anggota, di samping pengajuan pinjaman baru yang baru bisa diambil minggu depannya (awal bulan).

 

Awalnya hanya ada 11 anggota saat didirikan. Tapi kini setelah 1 tahun berjalan, Koperasi Lentera sudah mengelola aset lebih dari Rp. 14 juta dengan 30 anggota kaum ibu. TBM Lentera Pustaka pun menyiapkan modal Rp. 3 juta. Tiap anggota setiap Sabtu sore menyetor iuran Rp. 10.000 per minggu. Makin bermanfaat, perlahan tapi pasti. Tiap kali meminjam, harus ada akad pinjaman dan tercatat di kartu pinjaman. Iuran pun tercatat dengan rapi. Kopetrasi ini tujuannya untuk mengatasi persoalan keuangan rumah tangga agar terhindar dari rentenir atau utang berbunga tinggi. Syukur-syukur bisa dijadikan usaha kecil-kecilan seperti Warung Ibu Eeh ini. Alhasil, semua berjalan lancer dan tidak ada kredit macet. Bahkan 70% dari anggota-nya pernah meminjam. 7 dari 10 anggota pernah meminjam. Itulah bukti bahwa Koperasi Lentera bermanfaat dan berjalan sesuai tujuannya.

 


Apa yang saya mau bilang dengan Warung Ibu Eeh? Inilah bukti pemberdayaan ekonomi yag dilakukan TBM Lentera Pustaka. Selain aktivitas taman bacaan dan literasi, TBM Lentera Pustaka merasa bertanggung jawab untuk “membebaskan” masyarakat dari bahaya rentenir atau utang berbunga tinggi. Apalagi dengan mata pencaharian atau penghasilan yang tidak pasti. Harus ada ikhtiar untuk merintis usaha dan mengelolanya dengan baik sekalipun kecil-kecilan. Warung Ibu Eeh adalah conton praktik baik pemberdayaan ekonomi masyarakat. Memang kecil tapi bermakna. Karena mampu mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri.

 

Jadi sadarilah, tindakan baik sekecil apa pun jauh lebih penting daripada kata-kata. Apalagi hanya keluh-kesah atau gibah semata. Ubah niat baik jadi aksi nyata. Jangan hanya omong doang. Toh, Ibu Eeh melalui warungnya sudah membuktikannya. Selamat Ibu Eeh, semoga sehat dan berkah selalu, amiin. Salam literasi #KoperasiLentera #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Selasa, 10 Mei 2022

5 Alasan Taman Bacaan Tidak Boleh Diam, Apa Saja?

Mungkin ada yang lupa. Tubuh manusia itu didesain untuk bergerak. Agar tetap sehat dan kualitas hidupnya meningkat. Begitu pula taman bacaan pun didirikan untuk bergerak. Agar mampu menjalankan aktivitas secara berkelanjutan. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat.

 

Lalu, kenapa masih ada manusia yang “mager” alias malas gerak? Itu pertanda mulai ada gangguan kesehatan pada tubuhnya. Maka tidak ada alasan, anak-anak, remaja, dan orang dewasa untuk tidak bergerak. Taman bacaan di mana pun harus terus bergerak. Agar proses literasi tetap berjalan dan aktivitas membaca buku pun menjadi kebiasaan.

 

Berdasar dari spirit itulah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor pun terus bergerak. Seperti tidak mengenal lelah untuk literasi. Seakan tidak ada kata berhenti untuk aktivitas taman bacaan. Sekalipun masin dalam suasana Idul Fitri 1443 H, TBM Lentera Pustaka pun memiliki agenda yang tergolong padat merayap. Sebut saja aktivitas TBM Lentera Pustaka di minggu ke-2 bulan Mei 2022 ini antara lain:

1.      Sabtu, 14 Mei 2022 pukul 12.00 WIB – Kunjungan Sahabat Pendiri TBM Lentera Pustaka untuk diskusi literasi kehidupan di Rooftop Baca + bimbingan skripsi mahasiswa S1 PBSI FBS Unindra.

2.      Minggu, 15 Mei 2022 pukul 10.00 WIB - Halal Bihalal & Event Bulanan TBM Lentera Pustaka yang dihadiri seluruh pengguna layanan seperti Taman Bacaan, Gerakan Berantas Buta Aksara, Kelas Prasekolah, Yatim dan Jompo Binaan, Anak Difabel, dan Koperasi Simpan Pinjam + tersedia jajanan kampung gratis. Di sore hari pun bergerak untuk menjalankan MOBAKE (MOtor BAca KEliling) ke kampung-kampung.

3.      Senin, 16 Mei 2022 pukul 10.00 WIB - Liputan Jawa Pos TV yang ikut menjelajah kampung-kampung bersama MOBAKE (MOtor BAca KEliling) untuk mengangkat kisah pegiat literasi menyediakan akses bacaan anak-anak di kaki Gunung Salak Bogor.

4.      Selasa, 17 Mei 2022 pukul 09.00 WIB - Shooting REALITY SHOW Program Safar RTV, tentang apa dan bagaimana guru dan murid buta aksara dalam bingkai kisah inspiratif.

 


Lalu, kenapa taman bacaan tidak boleh diam alias harus terus bergerak?

Setidaknya ada 5 (lima) alasan yang mendasari taman bacaan harus bergerak, yaitu: 1) untuk membuktikan taman bacaan tergolong aktif dan sehat, 2) untuk memperkuat eksistensi taman bacaan, 3) untuk promosi dan publikasi di media sosial, 4) untuk memacu kreativitas dan dinamika tata kelola taman bacaan, 5) untuk membangun kolaborasi dan sinergi dengan pihak lain. Bila taman bacaan terus bergerak, maka dapat dipastikan taman bacaannya tidak “mati suri”.

 

Taman bacaan, tentu bukan hanya tempat baca. Apalagi ada yang menyebut sebagai gudang buku. Ada buku-buku tapi tidak ada yang membaca, tidak ada aktivitas rutin. Maka taman bacaan harus terus bergerak. Untuk mengubah niat baik jadi aksi nyata. Karena biar bagaimana pun, taman bacaan butuh tindakan nyata bukan lagi kata-kata. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka