Tampilkan postingan dengan label Hari kebangkitan Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari kebangkitan Nasional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2022

Apa Makna Harkitnas di Taman Bacaan?

Tanggl 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Bangkit itu berarti “bangun lalu berdiri ...”. Maka ada makna tersirat di situ. Bangkit dari apa dan berdiri untuk apa? Sementara kita tidak lagi berhadapan dengan penjajah. Tidak pula sedang berperang dengan musuh nyata.

 

Mungkin yang paling pas. Bukan lagi kebangkitan nasional tapi kesadaran nasional. Bangkit untuk membangun kesadaran nasional. Sadar sebagai sebuah bangsa. Untuk selalu menjaga kebersamaan dan keutuhan. Berpihak pada kemanusiaaan dan kepedulian. Tidak melulu soal politik, kekuasaan atau gaya hidup. Sadar agar tidak tergerus nafsu dunia.

 

Maraknya hoaks, ujaran kebencian bahkan saling hujat, apalagi di media sosial, jadi bukti pentingnya kesadaran nasional. Sadar untuk lebih fokus pada solusi bukan masalah. Sadar mencermati ide dan gagasan bukan orang yang bicara. Sadar untuk meniadakan emosi dan menjauhi kepentingan pribadi. Sadar untuk memajukan bukan menyalahkan.

 

Hari Kebangkitan Nasional harus jadi momen untuk membangun kesadaran nasional. Sadar atas apa yang sudah diperbuat dan bagaimana ke depannya? Karena “sadar” itu artinya insaf; merasa; tahu dan mengerti (kata sifat) atau ingat kembali (kata kerja). Maka siapa pun, harus menyadari, menginsafi, atau memahami keadaan yang sesungguhnya. Agar tetap objektif dan berpihak pada realitas.

 


Di zaman begini. Siapa pun pasti punya pilihan. Apa pun dan untuk apa pun. Maka tiap pilihan harus dilandasi kesadaran. Minimal, memilih untuk memulai sesuatu yang baik hari ini. Bertumpu pada solusi bukan masalah. Sesuatu yang baik dijalanin bukan dikomentarin. Karena bila tidak, maka nantikanlah penyesalan di hari esok.

 

Kebangkitan nasional itu ya kesadaran. Sadar atas pilihan, sadar pula atas konsekuensinya. Sadar bahwa hidup tidak sendirian. Tapi untuk kebersamaan. Bangsa Indonesia itu punya potensi ke depan yang lebih baik. Bukan hanya mempersoalkan masa lalu yang buruk seakan tidak bisa diperbaiki. Bukankah memperbaiki hari esok lebih baik daripada menyalahkan hari kemarin yang buruk.

 

Jadi, apa pun kondisinya, Tidak usah risau. Lakukan saja yang baik untuk bangsanya sendiri. Untuk selalu ikhtiar dan sabar menjalaninya. Perbaiki niatnya dan sungguhkan doanya. Insya Allah, semuanya akan baik dan lebih baik. Apa pun yang gagal kemarin akan berhasil. Apa pun yang patah akan pulih, Apa pun yang kurang akhirnya akan lebih. Bahkan siapa pun yang sakit akan sembuh, siapa pun yang sedih akan gembira. Karena hakikatnya, Allah SWT selalu ada untuk umantnya dan bangsanya. Bahwa apa yang ada dan dimiliki hari ini memang sangat pantas untuk kita.

 

Kebangkitan nasional itu momen bersama untuk sadar nasional. Sadar, sadar, lalu sabar. Selamat Hari Kebangkitan Nasional. Begitulah sedikit memaknai Hari Kebangkitan Nasional di Taman Bacaan. Salam literasi #Harkitnas #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

 



Rabu, 19 Mei 2021

Literasi Harkitnas, Indonesia Bangkit Dari Apa Bila Tiktok Jadi Sebab Anak Dikeluarkan Dari Sekolah?

Tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Tapi kok masih ada anak sekolah yang dikeluarkan dari sekolah. Hanya karena menghina negara lain melalui tiktok. Kok masih banyak orang yang “dilarang” mudik tapi masih cari cara untuk pulang kampung. Bahkan disuruh putar balik malah mencaci-maki. Sementara korupsi masih merajalela kok bisa 75 pegawai KPK di-nonaktifkan dengan dalih gagal tes. Belum lagi, praktik “makelar” perkara atau proyek yang kian marak. Itu semua fakta. Jadi kita patut bertanya, Indonesia bangkit dari apa?

 

Indonesia mau bangkit dari apa hari ini?

Secara maknawi, bangkit itu artinya bangun lalu berdiri. Atau bangun untuk hidup kembali. Sementara penjajah sudah tidak ada. Sementara musuh tidak harus dari bangsa luar. Jadi hari ini, Harkitnas itu bangkit dari apa dan bangkit untuk apa? Bukankah bangsa Indonesia justri sedang “melawan” dirinya sendiri? Mungkin, Hari Kebangkita Nasional sudah tidak pas lagi dalam konteks sekarang.

 

Mungkin, Harkitnas sudah tidak tepat lagi. Karena tidak ada lagi yang harus dibangkitkan. Selain pembangkit listrik, pembangkit tenaga mathari, atau lainnya. Saran konkretnya, Harkitnas sebaiknya diganti jadi “Harsadnas”. Hari Kesadaran Nasional. Agar masyarakat dan bangsa ini bisa lebih sadar dari apapun, soal apapun.

 

Iya, karena faktanya masih banyak orang yang bermasalah kesadarannya. Orang Indonesia hari ini ada yang "kurang sadar", "belum sadar", atau "kelebihan sadar". Untuk hal apapun, urusan apapun. Walau tetap ada yang sudah “cukup sadar”. Sadar untuk lebih produktif daripada berisik di media sosial. Sadar untuk lebih peduli kepada masyarakat miskin yang memang harus dibantu. Sadar untuk tidak korupsi tapi bicara atas nama rakyat di TV. Sadar era digital itu menyesatkan bila pemakainya tidak literat. Sadar untuk jadi masyarakat yang lebih literat.

 


Harkitnas diganti saja jadi Harsadnas.

Agar ada Hari Kesadaran Nasional. Agar siapapun menyadari apa yang telah dilakukan dan bagaimana ke depannya? Kata “sadar” itu artinya insaf; merasa; tahu dan mengerti (kata sifat) atau ingat kembali (kata kerja). Jadi, Harsadnas bisa jadi momentum bagi bangsa Indonesia dan rakyatnya untuk menyadari, menginsafi, atau memahami keadaan yang sesungguhnya. Intinya, siapapun dengan jabatan, pangkat apapun jadi lebih sadar.

 

Seperti orang-orang di medsos. Banyak yang kok yang belum sadar. Hoaks atau berita bohong kok disebarluaskan. Sehari-hari kok kerjanya hanya nyinyir dan mencaci-maki negara. Beda pilihan politik kok jadi baper sepanjang masa. Orang-orang medsos itu senang banget mempersoalkan urusan orang lain. Sementara dirinya sendiri bermasalah. Sama sekali tidak literat. Harus diubah jadi lebih sadar. Agar lebih produktif.

 

Bangsa ini butuh kesadaran nasional. Bahwa kebersamaan dan keutuhan adalah segalanya. Untuk apa berdebat soal NKRI, soal Pancasila. Bukan tu soalnya. Justru harus ada kesadaran, untuk tidak ego dan mau menang sendiri. Untuk tidak mudah membenci dan menebar hoaks atau fitnah. Butuh kesadaran untuk menerima realitas apapun.

 

Sadar nasional. Untuk mengingatkan bangsa dan kita. Bahwa potensi baik di masa depan jauh lebih penting dari masa lalu yang buruk. Sadar akan pentingnya menyiapkan hari esok yang lebih baik dari hari kemarin. Itulah Kesadaran Nasional yang dibutuhkan, bukan lagi Kebangkitan Nasional. #Harkitnas #Harsadnas #KebangkitanNasional