Jumat, 22 April 2022

Kisah Nyata Taman Bacaan Mendapat Bantuan CSR Tiap Tahun, Kok Bisa?

Alhamdulillah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka pada tahun 2022 ini, seluruh aktivitas taman bacaan dan kegiatan literasi yang diprogramkan dibiayai oleh para sponsor CSR (Corporate Social Responsibility) korporasi yang terdiri dari” 1) Bank Sinarmas, 2) PertaLife Insurance, 3) Aosiasi DPPL, dan 4) Pacific Life Insurance. Ini pula kali pertama, TBM Lentera Pustaka disponsori CSR oleh 4 perusahaan/lembaca swasta. Karena di tahun-tahun sebelumnya hanya 3 perusahaan yang berkontribusi.

 

Lalu untuk apa bantuan CSR untuk taman bacaan?

Terus terang secara operasional, TBM Lentera Pustaka membutuhkan dana minimal Rp. 60 juta per tahun untuk menjalankan aktivitas taman bacaan dan program literasi-nya. Diantaranya adalah membayar honor wali baca, event bulanan dan jajanan kampung gratis, membayar listrik + wifi, membeli buku, makan siang relawan seminggu sekali, event tahunan seperti 17 Agustusan dan Festival Literasi Gunung Salak, dan event lainnya yang tidak terduga. Jadi, tidak bisa dipungkiri. Bahwa sekalipun bersifat sosial, taman bacaan pasti membutuhkan biaya operasional untuk menjalankan aktivitas dan program literasi sesuai dengan yang ditetapkan setiap tahunnya.

 

Nah, ada satu hal yang selalu dihindari TBM Lentera Pustaka. Yaitu sekalipun bersifat sosial, taman bacaan tidak boleh dikelola dengan asal-asalan, kesannya tidak profesional. Pengelola-nya terkesan tidak serius, taman bacaannya kadang buka kadang tidak. Anak-anak yag membaca tidak bertambah, lalu koleksi bukunya pun minim. Alasannya klasik, karena tidak ada dananya dan selama ini seluruh biaya ditanggung dari kocek pribadi pengelola taman bacaan. Atas dasar itu, TBM Lentera Pustaka setiap tahun menyodorkan proposal CSR kepada perusahaaan swasta untuk terlibat dan mau mendonasikan “sedikit dana CSR” ke taman bacaan.

 

Zaman begini, jujur saja, sangat tidak mungkin aktivitas sosial di taman bacaan tidak membutuhkan biaya. Pasti ada biaya-nya. Apalagi pegiat litetasi yang mengelola taman bacaan sebisa mungkin “dilarang” mengeluarkan uang dari kantong pribadinya. Karena pegiat literasi sudah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk taman bacaan. Bila ditambah mengeluarkan uang ssendiri, maka itulah tanda-tanda taman bacaan akan “mati suri” atau “kepayahan” dalam menjalankan aktivitas dan program literasinya.

 

Atas alasan itulah TBM Lentera Pustaka selalu berjuang setiap tahun untuk mencari dan menawarkan proposal CSR kepada perusahaan swasta. Selama ini, setidaknya ada 5 proposal yang dikeluarkan dan dikirimkan ke perusahaan atau lembaga swasta. Dan alhamdulillah, sejak berdiri tahun 2017 hingga kini, TBM Lentera Pustaka selalu sponsor CSR korporasi untuk biaya operasional dan programnya. Sehingga tidak alasan, pegiat literasi tidak aktif atau malas-malasan. Karena seluruh biaya operasional sudah tersedia dari CSR. Maka tinggal menjalankan program literasi dan aktivitas taman bacaan dengan baik, kreatif, dan menyenangkan. Sebagai pertanggungjawaban ke mitra CSR korporasi yang sudah “rela” mendoasikan sejumlah dana ke taman bacaan. Aktivitas taman bacaan harus berjalan aktif dan reguler. Pegiat literasi dan relawan harus berjiwa “spartan” untuk menjalankan program literasi yang sudah ditetapkan. Karena semuanya, harus dilaporkan ke perusahaan swasta yang ber-CSR ke TBM Lentera Pustaka.

 


Atas pengalaman CSR di taman bacaan itu, ada pertanyaan. Bagaimana memperoleh CSR dari perusahaan swasta ke taman bacaan?

Maka berdasarkan pengalaman TBM Lentera Pustaka yang selalu disponsori CSR selama 5 tahun ini (2017-2022), dapat dikatakan tips taman bacaan memperoleh bantuan CSR adalah sebagai berikut:

1.      Pastikan aktivitas taman bacaan selalu aktif dan memiliki kinerja yang dapat dinilai pihak swasta memang layak mendapatkan bantuan CSR.

2.      Selalu ber-promosi dan mempublikasi aktivitas taman bacaannya di media sosial, sehingga saat pihak swasta mengecek dengan mudah bisa ditemukan.

3.      Perkuat relasi dan hubungan baik dengan pihak swasta yang peduli terhadap aktivitas taman bacaan. Memang tidak mudah membangun relasi tapi harus dimulai agar pihak swasta pun yakin akan kinerja dan reputasi pengelola TBM.

4.      Siapkan kontraprestasi atau benefits perusahaan swasta bila ber-CSR di taman bacaan. Ketahuilah, zaman begini tidak ada orang atau pihak swasta yang mau mengeluarkan biaya atau memberi bantuan CSR tanpa ada benefits-nya. Cari jawaban, apa untungnya saya ber-CSR di taman bacaan Anda?

5.      Jangan lupa laporkan setiap aktivitas taman bacaan secara reguler (bulanan/triwulanan) kepada pihak swasta yang memberi bantuan CSR. Sebagai bukti profesionalisme dan transparansi pengelola taman bacaan kepada pemberi CSR.

Apa poin pentingnya? Bahwa taman bacaan di era digital begini tidak mungkin lagi “menutup diri” dari pengaruh pihak lain. Taman bacaan di mana pun harus membuka diri untuk berkolaborasi dengan siapa pun. Pihak swasta yang mau CSR, donatur buku, atau lembaga lain yang peduli literasi dan taman bacaan. Maka, pegiat literasi di taman bacaan harus berani “jual diri” untuk berkolaborasi. Kolaborasi di taman bacaan adalah keniscayaan. Kolaborasi mutlak dibutuhkan taman bacaan.

 

Nah sebagai pelengkap, taman bacaan pasti dipertimbangkan untuk diberikan CSR oleh pihak swasta, apabila 1) pengelola dan pegiat literasi taman bacaan bekerja sepenuh hati, bukan setengah hati, 2) pastikan anak-anak yang membaca banyak dan bertambah dari waktu ke waktu, 3) koleksi buku pun jumlahnya memadai, dan 4) membuat laporan khusus manfaat kehadiran taman bacaan, apa pun bentuknya.

 

Adalah keharusan, perusahaan swasta apalagi BUMN untuk menyisihkan sekitar 3% dari pendapatan tahunan-nya untuk CSR.  CSR itu wajib bagi perusahaan swasta, di samping menjadi bukti tanggung jawab sosial yang harus direalisasikan. Tapi masalahnya, ke mana dana CSR itu dialokasikan? Nah karena itu, taman bacaan harus membuktikan kepada perusahaan swasta, kenapa taman bacaan layak dibantu CSR oleh mereka? Tentu jawabnya, lihat dan pelajari aktivitasnya, kinerjanya, promosinya, dan benefits-nya.

 

Ituah sedikit ulasan tentang CSR ke taman bacaan. Kenapa kami harus salurkan CSr ke taman bacaan Anda? Silakan dijawab. Salam literasi #CSRTamanBacaan #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka



Serahkan Bantuan CSR ke TBM Lentera Pustaka, PertaLife Dukung Aktivitas Taman Bacaan

PertaLife Insurance menyalurkan bantuan CSR korporasi ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka Bogor sebagai bukti kepedulian terhadap gerakan literasi di Indonesia. Penyerahan bantuan CSR PertaLife tahun 2022 ini dilakukan langsung oleh Hanindio W. Hadi (Direktur Utama PertaLife Insurance) didampingi Rosmainita (Direktur Operational) dan Haris Anwar (Direktur Pemasaran) kepada Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka di Kantor Pusat Tamansari Parama Boutique Jakarta (22/4/2022).

 

Melalui CSR koprorasi ini. PertaLife Insurance tercatat sebagai satu-satunya perusahaan asuransi jiwa dan korporasi yang peduli dan berkontribusi dalam program CSR kepada Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka dalam 5 tahun berturut-turut dari tahun 2017 s.d. 2022.  Hal ini dilakukan untuk mendukung aktivitas taman bacaan anak-anak usia sekolah dan pemberantasan buta aksara di Desa Sukaluyu  Kec. Tamansari Kab. Bogor Jawa Barat.

 

“Bantuan CSR PertaLife Insurance ini adalah realisasi tanggung jawab sosial kami sebagai perusahaan asuransi jiwa. Untuk mendukung aktivitas taman bacaan dan gerakan literasi di Indonesia. Karena literasi menjadi kata kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kami pun secara rutin melakukan edukasi dan literasi keuangan untuk anak-anak dan masyarakat di daerah taman bacaan Lentera Pustaka,” ujar Hanindio W. Hadi saat penyerahan bantuan CSR di acara buka bersama dan penyerahan santunan anak yatim di kantor Pusat PertaLife.

 

Sebagai perusahaan asuransi jiwa nasional, PertaLife Insurance berkomitmen untuk selalu memberikan edukasi literasi keuangan terkait pentingnya asuransi jiwa dan dana pensiun kepada masyarakat. Agar ke depan, makin banyak generasi muda yang sadar akan pentingnya protoksi diri dan perencanaan masa pensiun. Selain menjadikan sebagai taman bacaan binaan, Pertalife Insurance pun akan menjadikan TBM Lentera Pustaka sebagai laboratorium edukasi literasi keuangan untuk meningkatkan pengetahuan bidang keuangan, asuransi jiwa, dan dana pensiun. Patut diketahui, PertaLife Insurance, sebelumnya bernama Asuransi Jiwa Tugu Mandiri merupakan  perusahaan asuransi jiwa yang berdiri sejak tahun 1985 dan berkantor pusat di Jakarta yan dimiliki oleh Dana Pensiun Pertamina, PT Timah Tbk. dan Kementerian Keuangan RI.

 


TBM Lentera Pustaka sendiri dipilih sebagai taman bacaan binaan PertaLife Insurance karena dikenal sebagai taman bacaan yang kreatif dan memiliki program yang komprehensif di Indonesia. Mulai dari taman bacaan, berantas buta aksara, koperasi simpan pinja, kelas prasekolah, anak difabel, yatim dan jompo binaan. Sebagai taman bacaan satunya-satunya yang resmi di Kecamatan Tamansari Kab. Bogor, TBM Lentera Pustaka menerapkan model “TBM-Edutainment”, sebuah tata kelola taman bacaan berbasis edukasi dan entertainment. Dengan koleksi lebih dari 10.000 buku, taman bacaan di kaki Gunung Salak Bogor ini menjadi tempat membaca 130 anak usia sekolah dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sinarwangi) yang mampu membaca 5-10 buku per minggu.

 

Selain taman bacaan, saat ini TBM Lentera Pustaka kini menjalankan 13 program literasi lainnya seperti:1) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 9 warga belajar buta huruf agar terbebas dari belenggu buta aksara, 2) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, 3) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 4) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo usia lanjut, 5) TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel, 6) KOPERASI LENTERA dengan 28 ibu-ibu anggota koperasi simpan pinjam agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 7) DonBuk (Donasi Buku), 8) RABU (RAjin menaBUng), 9) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 10) LITFIN (LITerasi FINansial), 11) LIDAB (LIterasi ADAb), 12) MOBAKE (MOtor Baca KEliling) dan 13) Rooftop Baca. Tidak kurang dari 250 orang menjadi penerima layanan literasi TBM Lentera Pustaka setiap minggunya.

 

Pada tahun 2021 lalu, TBM Lentera Pustaka menorehkan berbagai prestasi, seperti:  1) Terpilih “Jagoan 2021” dari RTV (tayang 29 Des 2021), 2) Sosok Inspiratif Spiritual Journey dari PLN (Okt 2021), 3) Terpilih “31 Wonderful People 2021” dari Guardian Indonesia (24 Sept 2021), 4) Terpilih “Ramadhan Heroes” dari Tonight Show NET TV (6 Mei 2021), dan 5) Terpilih program “Kampung Literasi 2021” dari Dit. PMPK Kemdikbud RI (14 Nov 2021).

 

"Alhamdulillah dan terima kasih kepada PertaLife Insurance karena sangat komitmen untuk mendukung aktivitas Taman Bacaan Lentera Pustaka. Sudah 5 tahun berturut-turut Pertalife mendukung dalam bentuk CSR secara rutin. Inilah bagian dari kolaborasi yang penting agar gerakan literasi untuk membangun kegemaran membaca anak-anak Indonesia” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM lentera Pustaka.

 

Di tengah gempuran era digital, PertaLife Insurance dan TBM Lentera Pustaka sepakat aktivitas literasi dan taman bacaan harus terus digiatkan. Agar tetap tegak tradisi membaca anak-anak untuk masa depan yang lebih baik. Salam literasi #PertaLifeInsurance #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Rabu, 20 April 2022

Ibu Kartini Bertanya, Apa Sih Emansipasi Wanita?

Catatan sejarah sudah membuktikan. Bahwa Ibu Raden Ajeng Kartini, sang pahlawan nasional adalah perempuan hebat. Selain dikenal pejuang emansipasi, Kartini pun punya cita-cita besar untuk memajukan perempuan Indonesia pada masanya. Semasa hidupnya, Kartini terpaksa tidak melanjutkan sekolah dan menjalani pingitan. Akibat budaya dan tradisi Jawa pada saat itu,Namun begitu, Kartini tetap bermimpi untuk bisa meneruskan pendidikannya. Di sela aktivitas surat-menyurat dengan teman-temannya yang berada di Belanda, Kartini pun tertarik pada kehidupan dan cara berpikir perempuan di Eropa. Kartini bermimpi agar perempuan pribumi dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin tanpa terbatas dengan tradisi. 


Namun sejatinya, apa yang diperjuangkan Ibu Kartini sejatinya sudah kelar. Emansipasi dan kesetaraan gender sudah tidak jadi isu di Indonesia. Karena perempuan dan laki-laki memang sudah setara, sudah sama dari sisi apa pun. Maka persamaan hak perempuan telah usai, emansipasi bukan lagi masalah.  Bahkan tidak sedikit tafsir tentang emansipasi perempuan pun jadi kebabalasan.

 

Bila mau jujur, fakta hari ini emansipasi pun sudah bergeser. Karena emansipasi perempuan, banyak yang menafisrkan sebagai perilaku dan ambisi. Emansipasi tidak lagi dilihat sebagai values atau nilai-nilai ke-perempunan-an seperti yang diperjuangkan Ibu Kartini. Emansipasi sering dianggap sebagai “harga” dan status sosial. Feminisme hanya sebatas gerakan. Sehingga tidak sedikit kaum perempuan yang terjebak untuk mengejar statsu sosial dan gaya hidup. Sosialita dan komunitas gaya hidup di kantor-kantor justru berkembang pesat. Semata-mata hanya untuk mengejar ambisi dan  memenuhi ekspektasi sosial.

 

Maka sebagai bahan renungan, penting bila hari ini, emansipasi perempuan dikembalikan kepada sikap, bukan ambisi. Sikap perempuan yang dinaungi nilai-nilai positif di dalam diri sendiri, bukan justru mencari dan dikejar ke luar dirinya. Emansipasi sebagai sikap yang dalam perbuatan yang berdasar pendirian dan keyakinan yang baik. Sementara emansipasi yang dipersepsi sebagai ambisi, tentu hanya menjadi pelampiasan hasrat atau nafsu untuk menjadi sesuatu. Ambisi untuk meraih status, pangkat atau kedudukan  agar dianggap “berhasil” di mata publik.

 

Tidak dapat dipungkiri, perempuan hari ini sudah banyak yang pergi pagi pulang malam. Menjadi Menteri, direktur, Wanita karier, bahakn menjadi tulang punggung keluarga. Di berbagai sector industri, di berbagai profesi. Tidak ada lagi perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Bahkan lebih dari itu, saking pedulinya negara, ada kementerian khusus bernama "Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA)" yang dulunya bernama "Menteri Urusan Wanita". Sebuah komitmen negara untuk memberdayakan perempuan.

 


Akibat emansipasi, terus terang, untuk menjadi perempuan sukses, wanita yang pintar, dan wanita yang kaya nyata-nya tidaklah susah. Tapi di tengah kesuksesannya, perempuan pun harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai. Untuk menjadi perempuan yang solehah, selalu bersyukur, sabar, dan Sesuai kodrat ke-perempuanan-nya. Karena perempuan tetap perempuan, apapun stuatus dan jabatannya. Karenanya emansipasi perempuan butuh sikap, bukan ambisi.

 

Sikap perempuan yang tidak gampang lupa atas kewajibannya dan kodratnya. Perempuan yang tidak hanya mengejar urusan dunia. Tapi mampu pula menjadi tiang keluarga, Amanah, dan tetap mendidikan anak-anaknya melalui contoh pikiran dan perilaku baiknya. Karena sejatinya, emansipasi bukanlah pemberontakan terhadap kodrat kewanitaannya. Bukan pula berjuang untuk setara di satu sisi. Tapi salah kaprah dengan keberhasilan dan kebebasan dirinya di sisi lain.

 

Emansipasi bukan perempuan sibuk yang akhirnya membiarkan anak-anak kesepian. Bukan pula anak-anak yang mudah dicaci maki karena ibunya merasa benar tanpa mampu introspeksi diri. Bila hari ini, masih ada anak-anak yang "terluka hatinya" karena ibu mereka. Itu tanda bahwa Kartini hanya sebatas ambisi bukan sikap.

 

Sekali lagi, emansipasi itu sikap bukan ambisi. Maka jangan pernah ada. Kaum perempuan yang berani berkata "ya" untuk orang lain. Tapi mudah berkata “tidak” untuk keluarganya. Maka di Hari Kartini, perempuan harus tetap introspeksi diri. Untuk berubah menjadi sosok yang lebih baik. Tentu, harus dimulai dengan memperbaiki sikapnya bukan mengubah kondisi di luar dirinya.  Apalagi hanya untuk mengejar ambisi atau obsesi.

 

Makna Hari Kartini adalah memperbaiki sikap bukan mengokohkan ambisi. Karena emansipasi adalah sikap bukan ambisi. Salam dari Kartono untuk Kartini. #HariKartini #EmansipasiWanita #TBMLenteraPustaka

Selasa, 19 April 2022

Tidak Ada yang Sempurna di Taman Bacaan, Teruslah Berproses untuk Literasi

Tak ada gading yang tak retak, begitu kata peribahasa. Artinya tidak ada sesuatu yang sempurna. Tiada seorang pun di dunia ini yang tidak ada salahnya. Karena kesalahan bukanlah kegagalan. Tapi bukti bahwa seseorang telah melakukan sesuatu. Siapa pun yang tidak pernah mengenal kesalahannya, maka ia tidak akan pernah mengenal kebaikan dirinya sendiri.

 

Tapi sayangnya hari ini, betapa banyak orang berlomba-lomba untuk tampil sempurna. Berjuang keras untuk jadi perfeksionis. Apalagi di media sosial. Sehingga merekayasa diri dan menutupi pikiran dan perilaku buruknya. Hingga lupa, ingin tampil sempurna itu sangat menyiksa. Bertekad menjadi orang perfeksionis itu sia-sia. Hanya berharap pujian dari orang lain. Taka da gading yang tak retak.

 

Seperti aktivitas literasi di taman bacaan pun, tidak ada yang sempurna. Pegiat literasi pun bukan orang tidak luput dari kesalahan. Koleksi buku yang segitu-segitu saja. Jumlah pembaca yang tidak kurun bertambah. Bahkan taman bacaan dari sejak berdiri hingga sekarang pun masih sama saja. Itu semua bukti tidak sempurna. Maka pegiat literasi dan taman bacaan tidak perlu berkecil hati. Tetaplah berproses dan terus ikhtiar sebaik mungkin. Hingga taman bacaan pun mampu menemukan jalan terbaiknya sendiri.

 

Tak ada gading yang tak retak. Itu hanya peribahasa, isinya nasihat. Pesan baik untuk direnungi maknya dan diambil hikmahnya. Peribahasa pun bisa jadi peringatan. Agar tidak terlalu "menuhankan" otak atau pikiran. Agar tidak mudah menyalahkan orang lain lalu lupa kesalahannya sendiri. Dan merasa menjadi orang selalu benar dan membenarkan perilakunya.

 


Di balik peribahaa “tak ada gading yang tak retak”, ada pelajaran untuk tidak perlu malu mengakui kesalahan. Karena salah adalah sifat yang manusiawi. Dengan mengakui kesalahan, maka siapa pun tahu konsekuensinya dan mau berusaha untuk memperbaiki diri. Sebaliknya pula, siapa pun tidak perlu mencela atas kesalahan atau kekurangan orang lain. Karena setiap orang dilahirkan sepaket dengan kelebihan dan kekurangannya. Jadi untuk apa focus pada kesalahan orang lain tanpa mau membantu memperbaikinya. Tak ada gading yang tak retak pun mampu jadi spirit setiap orang untuk tidak usah terlalu sedih jika ikhtiar dan perbuatan baik yang dilakukan masih saja dianggap kurang oleh orang lain, termasuk aktivitas yang ada di taman bacaan.

 

Ingatlah selalu, tak ada gading yang tak retak. Tidak ada manusia yang tak berdosa. Tidak ada usaha tanpa gagal, dan tak ada senyum tanpa tangis. Maka jangan terlalu banyak mengeluh apalagi menyudutkan diri sendiri. Karena sejatinya, setiap kesalahan atau kekurangan pasti memberi pelajaran untuk terus memperbaiki diri. Agar mampu menjadikan sesuatu lebih baik daripada sebelumnya.

 

Dan bila salah terjadi pun, tidak usah sungkan untuk menyatakan “mohon maaf lahir dan batin”. Sebagai hikmah dari ibadah puasa yang telah dijalankan. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

Senin, 18 April 2022

Literasi Tudingan, Tanya Diri Sendiri Sehat atau Nggak?

Zaman boleh canggih, fasilitasnya digitalnya pun boleh hebat. Tapi itu semua bukan jaminan hidup orangnya jadi lebih sehat. Buktinya gampang, apa karena benci terus boleh mengeroyok dan melukai orang yang tidak disukainya? Tiap hari sibuk di medsos tapi hanya sibuk nge-share hoaks, fitnah, dan sedikit ujaran kebencian. Begitu viral, bilangnya hanya becanda. Tanya diri sendiri, saya sehat atau nggak?

Ada lagi anak muda di BEM SI, tiba-tiba menyebut “masyarakat dapat memperoleh kebebasan dan kesejahteraan di era Orde Baru”. Apa dia sudah lahir di zaman orba? Jadi apa dasar dia bicara begitu? Pengalaman, pengetahuan, atau perasaan? Ini bukan soal kritik atau kebebasan berbicara. Tapi soal sikap ilmiah. Sebuah sikap untuk berhati-hati dan tidak berbicara apa yang tidak dikuasai ilmunya. Maka saya pun harus bertanya lagi, saya sehat atau nggak?

Tanya diri sendiri dulu, sehat atau nggak?

Sehat itu kata penting untuk setiap orang. Sehat pikiran, sehat sikap, dan sehat perilaku dan ocehannya. Nasihatnya, internet disuruh sehat. Kompetisi yang sehat. Hidup disuruh sehat. Puasa maunya sehat. Tapi pikiran dan perilakunya kok malah tidak sehat. Hatinya pun sakit. Akibat sikap egosi dan merasa paling benar sendiri. Hidup, dalam pikirannya, seolah-olah isinya keburukan dan kejelekan. Orang lain buruk, bangsanya jelek, dan pemimpinnya selalu dibenci. Hingga lupa bersyukur dalam hidup, dan sulit membangun pikiran yang baik dan positif. Hari-hari hidupnya bermentalitas jadi “korban”. Lalu menyalahkan keadaan dan orang lain. Lebih baik bertanya pada diri sendiri, sehat atau nggak?

Jadi tanya pada diri sendiri saja, sehat atau nggak?

Anda selalu tidak suka pada orang yang Anda benci tapi meraih kesuksesan dan kemajuan. Anda selalu berharap dan berdoa agar orang yang Anda benci gagal dalam hidupnya. Anda bergembira bila musuh Anda mengalami masalah dan dilukai. Atau Anda menebar hoaks agar orang lain yang Anda benci bercitra buruk. Anda membangun opini buruk agar orang lain ikut atas kebencian yang Anda miliki. Bila begitu sikap Anda, lalu orang lain harus berdoa apa untuk Anda? Coba deh tanya diri sendiri dulu, Anda sehat atau nggak?

Katanya ini bulan puasa, bulannya ibadah. Tapi kenapa gagal menahan diri? Puasa itu bukan hanya menaham lapar dan haus, Tapi harus mampu menahan diri pula dari pikiran negatif, perilaku jelek, bahkan ocehan yang tidak berguna. Agar ibadah puasanya tidak sia-sia. Kan katanya ada hadistnya, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga (HR An-Nasa’i)”. Kok bisa? Tentu karena, orang yang berpuasa gagal mencegah dirinya dari hal-hal buruk. Puasa tapi tetap gibah, berpikir negatif, berkomentar buruk. Bahkan puasa tapi tidak sholat. Yah wajar, puasanya tidak mandapatkan pahala kecuali lapar dan dahaga.



Tanya diri sendiri, sehat atau nggak?

Seperti aktivitas taman bacaan dan literasi yang dilakukan TBM Lenteta Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sekalipun perbuatan baik untuk menyediakan akses bacaan, taman bacaan pun tidak luput dari prasangka buruk dan kebencian. Dari orang-orang yang tidak suka dan membenci taman bacaan. Melarang anaknya membaca buku, membiarkan anak-anak yang putus sekolah lalu terjerembab pada pernikahan dini, nongkrong yang tidak jelas. Jangan membantu aktivitas taman bacaan, malah membencinya. Maka bertanyalah pada diri sendiri, saya sehat atau nggak?

Kadang, banyak orang makin aneh. Zaman makin canggih tapi makin berpikir kerdil.

Tidak suka melihat orang lain maju. Kerjanya mengintip laju orang lain. Tapi dirinya sendiri tidak melakukan apa pun. Lalu menuding orang lain curang, tidak becus, dan segudang tudingan buruk. Sehari-hari kerjanya membangun opini buruk dan menyebarkan ke banyak orang melalui media sosial atau grup-grup WA. Baca tulisan seperti ini pun langsung tersinggung. Tulisan literat yang isinya nasihat saja dibenci. Tapi motto hidupnya “katakanlah apa adanya sekalipun itu pahit”. Jadi memang nyata, ada kok orang-orang yang hidupnya bertentangan dengan akal sehat dan hati nurani. Karena jarang bertanya pada diri sendiri, saya sehat atau nggak sih?

Sehat itu berarti bebas dari sakit, waras, yang mendatangkan kebaikan pada badan. Normal dalam berpikir atau masuk akal bahkan dijalankan dengan hati-hati. Sehat itu cageur (Sunda), healthy (Inggris), صحي sihiy (Arab), 健康Jiànkāng (Cina) atau gesund (Jerman).  Jangan fisik sehat tapi hati dan pikirannya sakit. Hanya bisa mempermasalahkan tanpa mampu memberi solusi. Bila saya sehat dan Anda sehat, mari kendalikan diri. Tidak perlu berprasnagka buruk, apalagi menebar kebencian dan hoaks. Kan Anda yang bilang, bila tidak sama kenapa tidak boleh berbeda. Ikuti saja semua prosesnya dan terima lapang dada. Tidak perlu ada tendensi buruk. Percayalah, baik-buruk seseorang itu ganjarannnya akan kembali pada dirinya sendiri. Karena semuanya, sudah ada dalam ketentuan Allah SWT.

Jadi tanya diri sendiri saja, saya sehat atau nggak?

Mumpung di bulan puasa, jadi momen untuk muhasabah diri sambil menggembleng diri untuk jadi lebih baik di kemudian hari. Maaf lahir batin bila tidak berkenan ya. Hiduplah lebih sehat, lahir dan batin. Dan tebarkan terus pembelajaran hidup yang lebih cerdas, lebih sehat. Karena sejatinya, siapa pun itu jauh lebih sulit untuk membuat dirinya sendiri sehat daripada menuding orang lain sakit? Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 

Minggu, 17 April 2022

Relawan TBM Lentera Pustaka Tetap Dinamis di Tengah Masyarakat Apatis

Relawan TBM, apa mereka dikasih duit? Apa mereka minta duti? Tidak. Bahkan mereka ongkos sendiri ke TBM. Beli bensi sendiri ke TBM. Mereka juga bukan pahlawan. Sekalipun masih muda, tapi mereka mampu dan berani menebar kebaikan di tengah masyarakat yang apatis. Saya menyebut relawan TBM Siang Bolong.

 

Siang-siang bolong, sekalipun terik matahari menyengat. Sekelompok relawan taman bacaan, siang ini (17/4/22) tetap jalan menuju Kampung Babakan untuk menjalankan MOBAKE (MOtor BAca KEliling). Seakan gak kenal lelah apalagi puasa, semangat mereka terus membara. Walau hanya mendekatkan buku-buku bacaan kepada anak-anak di kampung kecil. Mereka hanya sediakan akses bacaan untuk anak-anak. Agar mau membaca buku. Ngabubu-READ.

 

TBM Lentera Pustaka bersyukur banget. Punya relawan yang datang dari jauh-jauh (Depok, Dinding Barang, Kota Batu) hanya untuk membantu taman bacaan. Untuk menolong orang lain dan anak-anak agar bisa membaca. Saya sangat yakin pada mereka. Bila sudah mau menolong orang lain, maka hidupnya pun akan ditolong Allah SWT. Mereka muter dan jalan untuk urusan kebaikan, urusan taman bacaan yang tidak ada di kampungnya sendiri. Luar biasa.

 


Lalu, kenapa mereka mau menolong orang lain? Walau hanya menyediakan akses bacaan dengan motor baca keliling. Tentu jawabnya beragam. Tapi setidaknya ada 4 alasan kenapa harus menolong orang lain:

1. Karena dengan menolong orang lain berarti kita sedang menolong diri sendiri.

2. Karena manusia itu makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendirian. Maka selagi mampu, kenapa kita tidak menolong orang lain?

3. Karena siapa pun tidak pernah tahu kapan membutuhkan pertolongan orang lain. Sejatinya, hidup itu hanya soal menolong atau ditolong.

4. Karena manusia itu memang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Jadi mau apa lagi selain menolong orang, sebisa yang dilakukan.

 

Jujur, siapa pun yang mau berkiprah di taman bacaan. Memang tidak cukup hanya pakai otak. Tapi harus pakai hati. Karena banyak orang punya otak tapi gak punya hati. Entah, mau sampai kapan orang-orang begitu?

 

Terima kasih relawan TBM Lentera Pustaka, telah memberi hati di taman bacaan. Percayalah, apa yang kalian tanam maka itulah yang akan dituai. Di hari esok, di kebaikan yang lebih besar nanti. Salam literasi #PegiatLierasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Kamis, 14 April 2022

Di Taman Bacaan, Semua Sudah Ada Waktunya Bukan Indah Pada Waktunya

Dulu, siapa pun mau naik ojek harus cari pangkalan ojek. Sekarang, cukup pakai aplikasi ojek online. Dulu, beli tiket harus ke bandara atau stasiun, minimal travel agent. Sekarang, cukup buka aplikasi online sudah bisa pesan mau naik apa dan ke mana? Bahkan dulu, hoaks dan kebencian itu barang langka. Tapi sekarang siapa pun bisa menebar hoaks dan kebencian, pada orang yang tidak dikenal sekalipun. Jadi, memang semua sudah ada waktunya.

 

Sekali lagi, memang semua sudah waktunya.

Seperti si crazy rich palsu pun dulu dikagumi. Anak muda, kaya, dan berlimpah harta. Kini mereka mendekam di penjara. Moammar Khadafy, dia itu saat umur 27 tahun sudah jadi Presiden Libya, sedangkan Donald Trump baru jadi Presiden AS di usia 70 tahun. Begitu pula, Mark Zurkerberg yang punya Facebook pun jadi CEO di usia 24 tahun. Sementara Liliane Bettencourt, pewaris L' Oreal itu masih jadi CEO di usia 93 tahun. Kok bisa terjadi? Karena semua sudah waktunya.

 

Mungkin hari ini, ada orang yang kerjanya keluh-kesah. Bawaannya marah-marah dan terus-menerus membenci orang lain. Mentalitasnya seperti “korban”. Tapi tidak sedikit orang yang rileks dan tetap berbuat baik kepada siapa pun. Ada orang yang gemar berpikir negatif, pesimis, dan serba menyalahkan orang lain. Sementara masih banyak orang yang selalu berpikir positif, optimis, dan tetap introspeksi untuk memperbaiki diri. Tentu itu bukan setingan, tapi memang sudah waktunya. Begitulah hidup manusia bergulir, tinggal memilih mau positif atau negatif? Karena apa pun bila sudah waktunya, pasti akan terjadi atas kehendak-Nya.

 

Di Papua, hampir semua toko buka lebih awal 2 jam daripada di Jakarta. Itu bukan karena orang Papua lebih rajin dan orang Jakarta lebih malas. Tapi karena semua sudah sesuai waktunya. Seperti anak kuliahan, ada yang baru lulus langsung dapat kerja. Gajinya lumayan tapi belum nikah-nikah. Sementara anak kuliahan yang lain, sudah lulus 3 tahun tapi belum dapat kerja namun sudah nikah. Kenapa terjadi? Karena sudah waktunya.

 

Jadi yang benar itu karena memang sudah waktunya. Bukan indah pada waktunya.

Seperti pegiat literasi di taman bacaan. Ada taman bacana yang puluhan tahun berdiri akhirnya mati. Ada pula taman bacaan yang seakan hidup mati pun tidak mau. Bahkan ada taman bacaan yang belum lama tapi bisa maju pesat. Ada taman bacaan yang gampang banget dapat donasi buku. Tapi ada pula yang susah banget menambah koleksi bukunya. Itu semua realitas di taman bacaan. Kenapa terjadi? Karena sudah waktunya dan sesuai dengan ikhtiar yang dilakukannya. Percayalah, apa yang ditanam maka itulah yang akan dituai. Semua hasil itu pasti pas dengan proses yang dijalaninya.

 


Jadi, apa arti semua memang sudah waktunya?

Sederhana saja, hidup itu tidak usah dibikin pusing. Jalani, nikmati, dan syukuri yang ada. Tetaplah ikhtiar dan doa yang baik, untuk apa pun dan di mana pun. Silakan membenci asal benar alasannnya. Silakan tetap berbuat baik bila paham konsekuensinya. Tapi satu yang pasti, siapa pun saat berbuat baik pun belum ada jaminan surga Allah SWT. Apalagi memelihara iri, benci dan berperilaku negating, mau jadi apa nantinya?

 

Waktu itu modal yang paling berharga bagi siapa pun. Apabila bisa menggunakan waktu dengan baik maka hasilnya pun baik. Sebaliknya, bila hanya menyia-nyiakan waktu yang dimiliki, sungguh hasilnya pun akan buruk. Merugilah siapa pun yang membuang-buang waktu untuk perbuatan buruk. Uang, harta, dan pangkat bila hilang masih bisa dicari. Tapi siapa pun yang kehilangan waktu, tidak ada tempat untuk mencarinya?

 

Semua memang sudah waktunya, Maka hargai dan gunakan waktu yang tersisa sebaik mungkin. Jalani setiap detik waktu untuk kebaikan. Belajarlah dari masa lalu, bersiaplah untuk masa depan, dan gunakan waktu hari ini sebaik mungkin. Jangan buang waktu untuk pikiran dan perbuatan buruk. Bila perlu, jangan bergaul dengan orang-orang yang hanya bisa membuang waktu, Maka gunakan waktu yang tersisa untuk kebaikan. Agar tidak menyesal di kemudian hari.

 

Kenapa waktu begitu penting? Karena waktu adalah hal yang paling diinginkan banyak orang. Tapi juga paling sering diabaikan sebagian besar orang. Hingga dunia pun mampu menipu waktu yang dimiliki siapa pun. Demi waktu, berubahlah untuk menjadi lebih baik. Apalagi setelah ibadah Ramadhan tahun ini. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka



Rektor UNJ Lantik Pengurus IKA UNJ Periode 2021-2025, Ayo Mantapkan Kampus Kita

Dengan tekad ikut meningkatkan kualitas kampus UNJ bereputasi Asia, Rektor UNJ hari ini melantik pengurus IKA UNJ periode 2021-2025 yang komandoi Juri Ardiantoro, Ph.D. (Ketua Umum) dan Dr. Suherman Saji, M.Pd. (Sekjen) di Jakarta (14/04/2022). Dihadiri 150-an pengurus yang dilantik, IKA UNJ mengemban peran yang sangat strategis dalam memperkuat tradisi akademis dan citra pendidikan UNJ sebagai kampus kependidikan di pusat kota Jakarta. Karena itu, para alumni UNJ di bawah naungan IKA UNJ diimbau untuk bersinergi dalam mewujudkan kiprah nyata di masyarakat khususnya terkait dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

 

“Selain melantik pengurus IKA UNJ periode 2021-2025, UNJ mengajak para alumninya untuk memperkuat sinergi dan aksi nyata yang bermanfaat untuk masyarakat dan bangsa Indonesia. Sebagai kampus berakreditasi unggul, inilah momen bersama keluarga besar UNJ untuk wujudkan reputasi dan nama baik UNJ dalam skala nasional maupun Asia” ujar Prof. Dr. Komarudin Sahid, M.Si., Rektor UNJ dalam pelantikan IKA UN.

 

Prof. Sylviana Murni (Ketua Dewan Penasihat),, Prof. Sofyan Hanif (Ketua Dewan Pakar) dan Dr. Dewi Motik Pramono dalam sambutannya menegaskan dukungan penuh terhadp aktivitas IKA UNJ dan siap untuk bekerjasama secara optimal demi nama baik kampus UNJ ke depan.

 

Bertepatan dengan ibadah Ramadhan 1443 H, pelantikan pengurus IKA UNJ kali ini ditandai pula dengan 100 paket santunan yatim piatu dan kaum dhuafa yang dari para alumni UNJ. Santunan ini menjadi bukti kepedulian IKA UNJ untuk dalam membantu masyarakat yang membutuhkan, di samping realisasi ilmu yang bermanfaat untuk masyarakat. Juri Ardiantoro, Ph.D. selaku Ketua Umum IKA UNJ menegaskan komitmen IKA UNJ untuk mengabdi dan berkontribusi nyata kepada almamater UNJ, masyarakat, dan bangsa Indonesia.

 

“Komposisi pengurus IKA UNJ periode 2021-2025 ini sangat besar. Tujuannya, untuk membangun sinergi alumni yang lebih besar ke depan. Agar tercipta sinergi dan fokus menghimpun potensi alumni UNJ sebagai bukti pengabdian kepada almamater. Ayo kita bekerja bersama” ujar Juri Ardiantoro dalam sambutannya.

 


Di kepengurusan IKA UNJ kali ini, sejumlah nama-nama beken seperti Prof. Dr. Sylviana Murni, Dr. H. Ali Masykur Musa, Dr. Jazilul Fawaid, Abdullah Azwar Anas, Prof. Dr. A. Sofyan Hanif, Prof. Dr. Hafid Abas, Dr. Ali Mochtar Ngabalin, Dr. Sundari Sukotjo, Dr. Helvy Tiana Rosa, Rahmad Darmawan, Prof. Dr. Thomas Suyatno, Soegeng Suparwoto, Dr. Mundiharno, Dr. Dewi Motik Pramono, Dr. Ir. Giwo Rubiyanto Wiyogo, Dr. Erman Suparno, Erlinda, Retno Listiyarti, dan Dr. Oki Setiana Dewi masuk ke dalam jajaran pengurus. Hal ini menjadi bukti pentingnya sinergi dan unjuk kompetensi yang dimiliki para alumni UNJ ke depan. UNJ yang dulunya bernama IKIP Jakarta memiliki lebih dari 100.000 alumni dan 70% diantaranya berkiprah sebagai pendidik bertekad menjadi inkubator pendidikan yang berkualitas dan memerdekakan di Indonesia.

 

Memang, mengelola organisasi alumni kampus tidaklah mudah. Selain dibutuhkan militansi, komitmen, dan energi tinggi, IKA UNJ berharap alumni UNJ memiliki sikap dan emosi patriotik kepada almamater agar organisasi alumni tetap bergerak, berdinamika, dan mampu memberi maslahat kepada masyarakat. IKA UNJ diharapkan mampu memfasilitasi dialog-dialog positif untuk merekatkan tali persatuan para alumni dan UNJ untuk merealisasikan pengabdian kepada masyarakat. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Salam IKA UNJ #KampusUNJ #IKAUNJ #AlumniMengabdi

Rabu, 13 April 2022

Literasi Respek di Taman Bacaan, Kenapa Dilarang Persekusi?

Jangan memukul bila tidak bisa memberi senyum. Itulah hikmah ibadah puasa Ramadhan 1443 H yang patut direnungkan semua pihak. Apalagi setelah terjadinya pemukulan dan tindakan anarki saat demo mahasiswa lalu. Siapa pun, bila membenci atau tidak suka terhadap Tindakan seseorang. Maka sama sekali tidak dibenarkan untuk melakukan pemukulan, pengeroyokan, dan berperilaku anarkis. Karena pemukulan dan anarkis tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

 

Sebagian orang tua, mungkin, mengeluhkan dan kesal atas perilaku naka anaknya. Tapi sejatinya, di situlah tantangan orang tua untuk terus menasihat dan membangun dialig dengan anak. Bukan sebaliknya, justru menghukum atau memukul agar anaknya tidak nakal. Orang tua patut memahami, tidak semua harapan sesuai dengan kenyataan. Ingin anaknya tidak nakal tapi yang terjadi justru nakal. Karena itu, dibutuhkan sikap bijak orang tua untuk terus mendidik sang anak dalam pergaulan dan pendewasaan dirinya. Sekali lagi apa pun alasannya, dilarang orang tua memukul anaknya. Karena memukul tidak akan menyelesaikan masalah.

 

Jangan memukul bila tidak bisa memberi senyum.

Itu hanya kalimat sederhana. Namun memiliki kekuatan makna yang luar biasa. Mungkin saja, di sekitar saja, ada orang-orang yang menyebalkan. Bahkan kadang membangkitkan emosi untuk membencinya. Tapi semua rasa itu sama sekali tidak dapat dibenarkan untuk melakukan tindakan kekerasan kepadanya. Apalagi di era media sosial, semua orang memang boleh ngomong apa saja, termasuk yang menyakitkan hati. Tapi di situlah, dibutuhkan sikap bijak untuk tetap bertindak Sesuai dengan norma dan hukum yang berlaku. Karena kekerasan dan kebencian sebesar apa pun, tidak akan pernah mampu menyelesaikan masalah.

 

Siapa pun boleh tidak suka, tidak setuju terhadap cara dan perilaku seseorang. Siapa pun boleh membenci orang lain atas perbedaan pendapat yang terjadi. Tapi itu semua, tidak dapat dibenarkan untuk melakukan kekerasan, pemukulan, pengeroyokan atau penelanjangan di muka umum. Apalagi di tengah ibadah puasa. Sangat tidak dibenarkan melukai orang lain, apa pun dalinya. Karena ajarannya, jangankan manusia yang dilukai, binatang pun dilarang untuk dilukai oleh siapa pun, Bila tidak mampu mencintai, bila tidak bisa memberi senyum maka jangan melukainya. Dalam konteks Pendidikan, setidaknya ada 3 (tiga) alasan kenapa pemukulan atau kekerasan terhadap siswa atau orang lain tidak dibolehkan?

1.      Tidak ada bukti memukul atau kekerasan menjadi cara yang efektif dalam menyelesaikan masalah. Kekerasan mungkin bisa membuat kapok seseorang tapi bukan cara efektif untuk mencegah perilaku yang tidak diharapkan. Tidak ada manfaat positif apa pun dari kekerasan.

2.      Memukul berarti mengajarkan kekerasan. Siswa itu akan menjadi seperti apa yang dilihat, bukan apa yang didengar. Maka perilaku memukul atau kekerasan akan memengaruhi perilaku anak-anak ke depannya. Jangan ajarkan kekerasan saat marah atau benci karena itu cara yang tidak dibenarkan dan tidak patut dicontoh.

3.      Memukul bukan cara baik untuk mengatasi rasa marah atau kebencian. Tidak boleh menyelesaikan amarah dan kebencian dengan cara-cara kekesaran. Emosi negatif bisa terjadi pada siapa pun tapi harus diselesaikan dengan dialog dan nasihat, bukan malah menggunakan kekerasan.  

Maka pelajaran pentingnya, jangan gunakan pemukulan atau kekerasan dalam menyikapi perbedaan. Bila tidak mampu memberi senyum, jangan memukul siapa pun.  Ada koridor hukum dan norma yang harus dijunjung tinggi. Semarah dan sebenc I apa pun harus tetap sabar dan bijak dalam menyikapinya. Sekali lagi, sama sekali tidak dibenarkan melukai orang lain.

 


Maka atas apa yang terjadi, siapa pun harus berhati-hati dalam berkomentar atau berkata-kata di media sosial atau media massa. Agar tidak menyinggung atau memancing emosi orang lain. Pilihlah kata-kata yang baik dan berterima untuk menyikapi perbedaan. Di situlah pentingnya literasi bagi bangsa Indonesia. Agar mampu memahami realitas dan perbedaan secara bijak tanpa emosi yang kahirnya melukai orang lain.

 

Jangan memukul bila tidak bisa memberi senyum.

Maka untuk menghindari kejadian terulang di masa datang, ada kata kunci yang harus selalu dijadikan spirit semua orang. Yaitu, sikap respek untuk saling menghargai dan  menghormati perbedaan yang terjadi. Hanya sikap respek yang bisa menjaga harmoni siapa pun, bukan sebaliknya justru membangun konflik dan kekerasan. Karena respek maka benih cinta akan bertebaran hingga menjadi bibit percaya.

 

Respek itu urusan moral, urusan hari nurani. Maka perkuatlah sikap respek di bulan puasa untuk sesama. Dan ketahuilah, bila tidak sama, kenapa tidak boleh beda? Asal jangan dengan pemukulan atau kekerasan. Salam literasi #PegiatLiterasi #LiterasiRespek #TBMLenteraPustaka