Minggu, 11 Februari 2024

Chubb Life Indonesia Salurkan CSR ke TBM Lentera Pustaka, Perkokoh Literasi Asuransi Jiwa

Sebagai upaya meningkatkan literasi finansial anak-anak usia sekolah khususnya asuransi jiwa, Chubb Life Indonesia melakukan edukasi pentingnya bijak mengelola uang dan proteksi jiwa kepada 50 anak Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (11/2/2024). Hal ini sekaligus menandai dukungan tanggung jawab sosial (CSR) Chubb Life Indonesia terhadap gerakan literasi dan aktivitas taman bacaan di Indonesia.

 

Edukasi asuransi jiwa Chubb Life Indonesia dilakukan oleh Syarifudin Yunus, Kepala Program TBM Lentera Pustaka dengan tujuan untuk memberikan pengenalan dan pemahaman fungsi dan manfaat asuransi jiwa, baik untuk perlindungan diri, kesehatan, maupun pendidikan. Sebagai Perusahaan asuransi jiwa multinasional, Chubb Life Indonesia memiliki komitmen untuk terus meningkatkan literasi dan inklusi asuransi jiwa di masyarakat Indonesia. Karena itu melalui dukungan CSR ke TBM Lentera Pustaka, Chubb Life Indonesia akan proaktif dalam memberikan pemahaman akan pentingnya asuransi jiwa.

 

Sesuai dengan pesan regulator, Chubb Life Indonesia akan proaktif meningkatkan literasi dan inklusi asuransi jiwa ke masyarakat, termasuk anak-anak usia sekolah. Dukungan Chubb Life Indonesia ke Taman Bacaan Lentera Pustaka di Bogor ini menjadi bagian dari tanggung jawab sosial kami, di samping menjadi sarana literasi finansial yang inklusif. Edukasi literasi finansial Chubb Life Indonesia ini pun berdasar pada hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2022, di mana tingkat literasi pada sektor perasuransian berada pada level 31,72 persen, sedangkan inklusi pada level 16,63 persen. Untuk itu, Chubb Life Indonesia akan memperkuat tiga komponen literasi finansial yang mencakup perilaku (behavior), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude) terkait keuangan dan proteksi jiwa.

 


Selain akan digunakan untuk program edukasi literasi finansial ke puluhan anak-anak usia sekolah, dukungan CSR Chubb Life Indonesia ke TBM Lentera Pustaka juga akan digunakan untuk menambah koleksi buku bacaan yang berkualitas dan aktivitas berantas buta aksara kaum ibu dan operasional motor baca keliling ke kampung-kampung. Saat ini TBM Lentera Pustaka beroperasi 6 hari dalam seminggu dan didukung 12 wali baca dan relawan.

 

"TBM Lentera Pustaka sangat berterima kasih dan mengapresiasi dukungan CSR Chubb Life Indonesia di tahun 2024 ini, di samping edukasi literasi finansial yang sangat diperlukan. Agar anak-anak bisa lebih bijak mengelola uang daripada untuk jajan. Kami menanti kunjungan CSR bagi keluarga besar Chubb Life Indonesia ke TBM Lentera Pustaka" ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka.

 

Aksi CSR Chubb Life Indonesia ini menjadi bukti pentingnya kolaborasi dalam menegakkan tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Hadirnya Chubb Life Indonesia di TBM Lentera Pustaka adalah bukti pentingnya edukasi asuransi jiwa ke masyarakat. Salam literasi #ChubbLifeIndonesia #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

Sabtu, 10 Februari 2024

Kenapa Anak Harus Membaca di Taman Bacaan?

Kalau orang dewasa membaca buku, bisa jadi sudah biasa. Entah, karena kebutuhan akan ilmu pengetahuan atau karena terbiasa membaca sejak kecil. Tapi bagaimana dengan anak-anak usia sekolah saat ini? Bisa jadi, anak-anak sudah tidak lagi gemar membaca. Akibat era media sosial yang masif atau tontonan TV yang kian marak. Maka jadilah, anak-anak kita tidak lagi suka membaca buku.

 

Faktanya, memang tidak mudah mengajak anak-anak membaca buku.Apalagi di Tengah gempuran era digital. Membaca buku manual dianggap kuno. Sementara membaca e-book belum tentu paham atau tersedia fasilitasnya. Sementara katanya, buku adalah jendela dunia. Membaca buku itu penting. Jadi, bagaimana cara untuk mengajak anak-anak membaca buku?

 

Membaca buku, hakikatnya bukan sekadar melafalkan huruf. Tapi membaca buku pasti melibatkan intelegensia, minat, sikap, bakat, motivasi, dan tujuan membaca itu sendiri. Membaca buku harus disertai daya pikir yang total. Untuk mengingat, membayangkan, atau menganalisis isi bacaan. Karena itu, anak-anak usia sekolah harus dibiasakan untuk membaca buku.

 

Orang tua atau orang dewasa harus memahami. Anak-anak yang membaca buku bukan untuk pintar apalagi juara kelas. Tapi untuk pembiasaan membaca. Sebagai kebiasaan atau budaya yang positif. Karena itu, membaca buku bagi anak-anak harus dibiasakan, dilakukan secara terus-menerus. Agar terbiasa membaca buku, di mana pun.

 
Setidaknya ada 5 (lima) manfaat anak yag terbiasa membaca buku, antara lain:

1.    Membaca memberi nilai lebih bagi anak karena dapat menambah ilmu pengetahuan.

2.    Membaca dapat melatih anak menyelami pikiran orang lain dan berguna sebagai referensi kehidupan.

3.    Membaca sebagai aktivitas mengisi waktu anak yang positif dan bermanfaat, daripada main media sosial atau menonton TV.

4.    Membaca dapat memotivasi anak untuk lebih percaya diri dan optimis menggapai cita-cita.

5.    Membaca dapat membentuk karakter baik anak yang penting di zaman seperti sekarang.

 


Bahkan lebih dari itu, membaca juga dapat menjadi sarana aktualisasi dan sosialisasi diri anak dalam bergaul yang positif, seperti yang terjadi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. Selain secara rutin membaca buku 3 kali seminggu, anak-anak TBM Lentera Pustaka pun saling interaksi yang baik. Dengan program literasi dan aktivitas taman bacaan yang asyik dan menyenangkan, TBM Lentera Pustaka pada akhirnya mampu membiasakan anak-anak usia sekolah untuk membaca buku. Padahal sebelumnya, mereka anak-anak yang tidak punya akses bacaan.

 

Maka di TBM Lentera Pustaka, aktivitas membaca buku dibuat menarik dan didukung tempat – situasi yang menyenangkan. Sehingga kebiasaan membaca anak-anak jadi lebih mudah dibentuk dan dipelihara. Tentu saja, proses membaca untuk anak-anak tidak akan pernah selesai. Karena harus tetap dipupuk dan dijalani dari hari ke hari. Agar nantinya, anak-anak benar-benar terbiasa membaca buku.

 

Siapapun, tanpa baca bisa merana. Karena itu membentuk kebiasaan membaca anak jadi sangat penting. Maka biasakanlah anak-anak kita untuk membaca buku, di rumah atau di taman bacaan. Baca bukan maen. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 

Menjaga Pikiran Positif di Taman Bacaan

“Menabur dalam pikiran akan menuai tindakan” begitu kalimat kiasannya. Tentang apa yang ditanamkan dalam pikiran pasti berubah jadi Tindakan. Dan setiap tindakan akan melahirkan kebiasaan. Lalu kebiasaan setiap hari, akan membuahkan karakter. Bergitu seterusnya yang terjadi pada siapapun, bila mau disadari. Boleh percaya boleh tidak?

 

Maka benar, bila ada yang menyebut. Bahwa pikiran manusia itu seperti tanah. Tanah yang tidak pernah peduli terhadap jenis benih apa yang hendak ditanam. Bila kita menabur benih jagung, tanah akan meresponnya lalu tumbuhlah jagung di tanah itu. Bila kita menabur singkong, tanah pun akan menerimanya dan tumbuhlah singkong. Jadi, apapun yang kita tanamkan dalam pikiran. Maka pikiran pun akan merespon dan menumbuhkannya. Terserah, apa yang mau ditanamkan dalam pikiran kita?

 

Disadari atau tidak, kita sering berpikir dan berkata hal-hal buruk dalam keseharian. Akibat pikiran kita sendiri, akibat sikap pesimis pada diri sendiri. Misalnya menyebut, hidup penuh masalah, sakit tidak akan sembuh, aku tidak akan berhasil, masa depan suram, malas bergerak karena hujan, tiap hari bete, merasa capek, dan sebagainya. Tiap hari selalu saja ada omongan dan pikiran yang negatif. Terlalu pesimis pada diri sendiri. Hal-hal negatif yang diucapkan pun akan direspon oleh pikiran kita sendiri. Akhirnya menjadi sikap dan tindakan sehari-hari. Dan konsekuensinya, akan menghasilkan sesuatu yang sama persis seperti yang ditanamkan dalam pikiran. Mau sampai kapan seperti itu?

 

Oleh sebab itu, biasakan tanamkan pikiran yang positif, sikap yang optimis. Jadikan pikiran sebagai “lahan” untuk menabur hal-hal yang baik dan benar, tempatnya pikirannya yang positif. Memang tidak mudah tapi harus tersu diperjuangkan. Karena berpikir positif memang membutuhkan keberanian dan kearifan. Harus mampu bersikap yang bijak dan realistis, apapun alasannya.  

 

Setiap memulai pagi, biasakan berpikir yang baik. Menyebut dalam hati, alhamdulillah masih sehat, saya sangat beruntung, hidup penuh berkah, saya pasti biasa, masa depan sangat cerah, hari ini penuh semangat, selalu ada jalan, bersyukur atas karunia Allah. Saya akan berjuang terus, dan sebagainya. Kesannya memang klise. Tapi begitulah pikiran bekerja. Karena hidup adalah permainan pikiran. Siapapun yang mampu mengelola pikiran dengan baik, maka akan memperoleh kebaikan. Silakan dicek, semua orang yang sukses, orang yang sejahtera, orang yang sehat pasti karena mampu mengelola pikirannya. Hanya fokus pada tujuan, bukan pada orang lain. Pikrannya tenang dan solutif, bukan bertumpu pada masalah.

 


Kita sering lupa. Banyak orang punya sifat sama punya masalah sama. Tapi cara berpikir dan kebiasaanlah yang membedakan mereka. Membiasakan pikiran yang positif sebagai tempat hidup, tempat bekerja, teman bergaul, dan tubuh sehat. Boleh percaya atau tidak, hati yang baik itu kebun. Pikiran yang baik itu akarnya, perkataaan yang baik itu bunganya, dan perbuatan yang baik itu buahnya. Jadi bila mau baik dalam hidup, mulailah dengan membiasakan pikiran yang baik. Ketahuilah, bayang-bayang itu tidak pernah meninggalkan benda aslinya. Bayang-bayang selalu mengikuti pemiliknya.

 

Hanya pikiran baik yang bisa membentuk karakter. Hanya kebiasaan yang positif yang akan membuat pemiliknya pasti maju. Termasuk saat berkiprah sosial di taman bacaan Masyarakat, saat mau berbuat baik dan menebar manfaat di taman bacaan, maka pikiran yang positif pun menjadi fondasinya. Mulailah perbaiki dan ubah pikiran kita, jangan pikiran orang lain. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Hukum Keterhubungan Sosial di Taman Bacaan

Jika lingkungan yang dibangun baik maka hasilnya pun baik. Tapi sebaliknya, bila suatu lingkungan didiamkan dalam keburukan maka akan buruk pula hasilnya. Siapapun yang menebar energi positif maka baik dampaknya, begitu sebaliknya. Begitulah prinsip keterhubungan sosial yang ditulis Michael J. Losier dalam buku “Law of Attraction”.

 

Apa yang terjadi di dunia ini, tidak ada yang kebetulan. Tidak ada pula realitas yang berdiri sendiri, selalu ada kaitan diantaranya. Kita tidak akan dibantu orang lain, bila kita tidak mau membantu orang lain pula. Kualitas hidup seseorang sulit untuk menjadi lebih baik bila dirinya tidak mau meningkatkan kualitas hidup orang lain. Hukum alam pasti bekerja dan sulit dihindari, sekeras apapun kita berjuang. Siapapun tidak akan menikmati kebaikan bila tidak mau menabur kebaikan. Sesederhana itulah hidup di dunia ini.

 

Maka siapapun yang ingin bahagia, suka tidak suka, harus membahagiakan orang lain. Bila ingin sejahtera hidupnya, maka hukumnya harus mau menyejahterakan hidup orang lain dulu. Dan jangan pernah coba-coba untuk berbuat jahat kepada orang lain, bila tidak ingin ditimpa kejahatan sepanjang hidup kita. Berani berbuat buruk kepada orang lain, maka bersiaplah untuk diselimuti keburukan sepanjang hidup kita. Siapa yang menanam, maka dialah yang akan memanen.

 

Sehebat apapun kita, tidak akan pernah menjadi pribadi yang baik bila tidak mau berbuat baik kepada sesama. Akan percuma sekalipun berpendidikan tinggi, bila ilmu pengetahuan yang dimiliki tidak diamalkan untuk mencerdaskan orang lain. Sulit dibantah lagi, bahwa kualitas hidup kita sangat ditentukan oleh orang-orang di sekitar kita. Seberapa baik dan bermanfaat kita untuk orang-orang sekitar kita?

 


Atas spirit “law of attraction” itulah, pegiat literasi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor bertindak. Selalu komitmen untuk berbuat baik dan menebar manfaat di taman bacaan. Secara rutin seminggu 6 hari membimbing anak-anak usia sekolah membaca buku, mengajar kaum buta huruf, mengajar calistung anak-anak kelas prasekolah, hingga menjalankan motor baca keliling ke kampung-kampung yang tidak punya akses bacaan. Tidak kurang dari 200 orang seminggu menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka. Hingga literasi dan taman bacaan dijadikan sebagai ladang amal, demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Apapun alasannya, bila sudah berkiprah nyata di taman bacaan. Insya Allah, kebaikan akan selalu menghampiri. Sangat yakin hukum alam pasti bekerja untuk siapapun.

 

Karena sejatinya, orang yang cerdas itu pasti bekerja untuk mencerdaskan orang lain. Orang yang baik itu pasti bekerja untuk membaikkan orang lain. Orang yang berilmu itu pasti mengamalkan ilmunya untuk orang lain. Memang benar menjadi orang penting itu baik tapi menjadi orang baik itu lebih penting.

 

Maka hukum keterhubungan (law of attraction) menyuruh siapapun untuk lebih berhati bersih, berpikiran jernih, berkata baik, dan bertindak positif, di mana pun dan hingga kapanpun. Pantang menyerah untuk berbuat baik dan menebar manfaat selagi bisa dan selagi masih punya waktu. Dan percayalah di balik itu semua, ada Allah SWT yang selalu memampukan kita untuk melakukan hal - hal baik. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Jumat, 09 Februari 2024

Santai Baca Buku di Rooftop Baca

Izinkan tubuhmu untuk bersantai. Nggak usah terlalu serius-serius. Jalani dan nikmati yang ada. Apapun masalahnya, tenang saja. Semua akan selesai pada waktunya. Nggak usah gegabah untuk urusan apapun. Apalagi soal masa lalu, cukup dijadikan hikmah dan Pelajaran. Santai saja, karena santai itu salah satu cara terbaik untuk bersyukur.

 

Benar kata Pidi Baiq, Santai di dalam pembawaan, serius di dalam pemikiran, ya itulah yang sangat baik. Bersantailah di waktu yang tepat. Karena santai bukan lalai, dan membutuhkan kebijaksanaan. Hidup itu santai saja, bila tidak mau menertawakannya. Jangan serius-serius, karena semuanya sudah ada yang mengatur. Pahit manis, duka duka hingga senang sedih sudah ada waktunya. Seperti selalu ada sinar matahari yang terang setelah malam yang gelap.

 

Fokus saja pada diri sendiri. Nggak usah mikirin orang lain. Bila ada orang lain yang mikirin kita pun, dibawa santai saja. Mungkin hobby-nya memang begitu. Toh, orang lain nggak nyekolahin nggak juga ngasih makan. Lebih baik santai saja. Sambil merenung, amalan apa yang sudah dilakukan? Biar nggak lupa pada jalan sendiri. Jangan sampai sibuk mikirin jalan orang lain atau jalan yang sudah kelar dilalui. Ketahuilah, waktu it uterus bergulir tanpa pernah menunggu.

 


Santai dan nikmati saja. Sebagai penghargaan pada diri, Lakukan apapun yang kita mau.carilah waktu dan ambillah kesempatan untuk menikmati waktumu sendiri. Nikmati semuanya dan izinkan tubuhmu untuk bersantai. Karena sejatinya, hanya diri kita sendiri yang dapat menyelamatkan kita. Alokasikan waktu bersantai, untuk memulihkan segala perasaan lelah. Karena siapapun berhak mendapatkan apa yang dikerjakan, bukan apa yang diinginkan.

 

Santai pun bisa di taman bacaan, Sambil membaca buku, sambil ngobrol atau menikmati suasana yang ada. Itulah yang terjadi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, khususnya di Rooftop Baca sebagi tempat asyik dan menyenangkan yang menjadi cikal bakal Kopi Lentera, kafenya literasi. Santailah di taman bacaan, karena kalau bukan kita mau siapa lagi yang bisa menghargai waktu yang kita miliki. Santai itu berarti menikmati yang ada dan meninggalkan yang nggak penting.

 

Izinkan tubuhmu untuk bersantai. Karena santai pun butuh komitmen untuk direalisasikan. Dan ketahuilah, apapun yang ada memang sudah pantas untuk kita. Biar jangan hanya santai saat ngomongin orang. Santailah dengan waktu yang kita punya. Jangan kebanyakan “entar” tapi lakukan dengan “enter”. Ingat, kita tidak bertanggung jawab terhadap hidup orang lain. Tapi bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Jadilah literat! #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 


Kamis, 08 Februari 2024

Literasi Dialog Batin Kakek dan Cucunya

Bila ada satu dekapan yang paling kuat, bisa jadi itu adalah dekapan seorang kakek kepada cucunya. Dan sebaliknya, bila ada satu genggaman tangan yang paling kokoh itu bisa terjadi pada genggaman jari seorang cucu kepada kakeknya. Kalimat itu hanya mempertegas eratnya hubungan kakek dan cucunya.

 

Tentu saja, menjadi seorang kakek tergolong istimewa. Bergerak ke sana ke mari, sambil bersenandung kecil. Agar sang cucu tertawa. Berjalan-jalan sambil melantunkan doa agar sang cucu tumbuh sehat dan dilindungi-Nya. Mau tidak mau, sang kakek pun jadi lebih aktif. Sambil mengulang kembali masa-masa saat menggendong anaknya sewaktu bayi atau balita. Sungguh, kebahagiaan seorang kakek sulit diungkapkan dengan kata-kata saat menggendong sang cucu.

 

Dekapan erat untuk sang cucu, itulah yang saya lakukan kepada Aleena Thalia Saqeenarava, anak dari putra sulung saya sekaligus cucu pertama saya yang baru berusia 6 bulan. Persis saat libur peringatan Isra Mi’raj (8/2/2024), Aleena mengunjungi TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sebagai kakek, saya pun menggendong dan bermain dengannya. Sambil melantunkan “lagu-lagu lama anak kecil” dan bersholawat untuk Aleena. Bersenandung sambil menggendong cucu, bisa jadi spirit dan energi baru seorang kakek dalam mengarungi sisa kehidupannya.

 

Saat menggendong cucu, siapapun terbersit pikiran yang sederhana. Bahwa menjadi seorang kakek bukan tentang mau menjadikan apa cucu-cucunya. Bukan pula tentang bagaimana orang tua harus mendidiknya. Tapi cukup untuk menghargai waktu dan kondrat alam semesta. Bahwa selalu ada ikatan emosional yang tidak dapat dipisahkan antara seorang kakek dan cucunya. Persis seperti seorang anak dengan kedua orang tuanya. Karena relasi itu sudah menjadi hukum alam, hukum semesta yang tidak bisa dihambat oleh siapapun.

 

Lebih dari itu, saat seorang kakek menggendong cucunya. Pasti imunitas tubuh sang kakek meningkat pesat. Sentuhan cucu yang memberi energi Istimewa dan mampu memperkuat kekebalan tubuh. Selalu ingin memeluk dan menciumnya. Hingga memberikan rasa tenang dan damai, bahkan membuang stres. Senyuman kecil sang cucu seakan “memberi nasihat” kepada sang kakek untuk terus menjaga kesehatan dan bersyukur atas nikmat karunia yang sudah diperolehnya hingga menjadi kakek-kakek. Cucu adalah obat untuk mencegah kehilangan memori di usia tua. Di samping dapat menjadi reminder sang kakek untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, di samping terus ikhtiar memperbaiki diri.

 


Ada benarnya pesan orang tua dulu. Bahwa saat kakek menggendong cucunya, ada kebijaksanaan, kehangatan, dan cinta yang mengalir apa adanya. Tanpa rekayasa, tanpa motif apapun. Semuanya terjadi secara alamiah. Dekapan hangat seorang kakek untuk cucunya tidak bisa dianalisis secara ilmiah. Karena soal batin, soal ikatan emosional yang sudah menjadi hukum alam. Di dalam diri seorang kakek, ada telinga yang benar-benar mendengarkan, ada lengan yang selalu menggenggam, ada cinta yang tidak berkesudahan, dan ada hati yang selalu ikhlas.

 

Faktanya, manusia punya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan mulut untuk berbicara. Sayangnya, terlalu banyak manusia yang lebih senang banyak berbicara daripada mencoba mendengar dan melihat. Sehingga tidak sedikit orang-orang dewasa terbuai oleh waktu yang tidak bermanfaat, bahkan gemar melakukan aktivitas yang buruk. Maka sambil menggendong Aleena, saya pun berbisik dan berdoa di telinganya. Agar kelak cucu saya Aleen, tumbuh menjadi anak yang solehah dan diberkahi Allah SWT. Menjadi anak yang selalu 1) menjaga sholat lima waktu, 2) selalu berbuat baik kepada siapapun, 3) gemar bersedekah, 4) rajin membaca Al Quran, 5) selalu berzikir dan bertasbih, 6) memperbanyak istighfar, dan 7) selalu sabar dan bersyukur dalam segala keadaan. Sehingga kelak, alam semesta pun bergetar karena akhlaknya.

 

Seorang cucu pasti menjadi perisai bagi orang tuanya. Tapi cucu juga mampu menjadi sahabat bagi kakeknya. Karena saat dialog cucu dan kakeknya, selalu ada pesan untuk mencintai dan memperbaiki diri. Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

Rabu, 07 Februari 2024

Literasi Isra Mi'raj, Kejar Terus Dunia Jangan Pernah Berhenti

Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW diperingati 8 Februari 2024, bertepatan pada 27 Rajab 1445. Tentu saja, Isra Mi’raj memberi banyak hikmah yang sangat dalam. Agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Utamanya teladan Nabi Muhammad dalam menempuh perjalananan dakwahnya, untuk mengasah ketangguhannya. 


Maka peringatan Isra Mi’raj, khususnya bagi pegiat literasi yang berkiprah di taman bacaan, menjadi momentum untuk muhasabah diri, introspeksi diri. Menengok kembali apa-apa yang telah dilakukannya. Untuk mendapat pujian atau sebagai bagian dari perjalanan ibadah? Untuk lebih sabar dan bersyukur atas kiprah literasi dan aktivitas taman bacaan yang sudah digelontorkan. Sambil menjaga sikap komitmen dan konsisten, apapun alasannya. Bahwa kiprah literasi dan taman bacaan bukan lagi urusan dunia tapi urusan nanti ….

 

Berkiprah di taman bacaan bukanlah tujuan tapi jalan. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Maka dalam perjalanannya, jangan ada lagi ragu dalam tindakan. Untuk mengubah niat baik jadi aksi nyata. Tanpa terpengaruh oleh opini orang lain. Isra Mi’raj di taman bacaan pun memberi pesan. Akan pentingnya terus belajar dan mengasah diri, sambil tetap beradaptasi dengan perubahan. Untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat sekalipun hanya melalui buku-buku bacaan. Hingga akhirnya, literasi dan taman bacaan menjadi jalan hidup.

 

Karena di luar sana, kita sering menyaksikan orang-orag yang begitu semangat dan kuat dalam mengejar perkara dunia. Namun tiba-tiba menjadi lemah dan malas untuk urusan ibadah dan perkara kemanusiaan. Orang-orang yang begitu tahan banting untuk berlama-lama nongkrong di kafe, berjam-jam muter di tempat hiburan. Bahkan berhari-hari ngobrol urusan yang tidak ada faedahnya. Terbuai gaya hidup, terlena obsesi diri. Semuanya hanya urusan dunia yang akan ditinggalkan, cepat atau lambat.

 


Di luar sana, banyak orang sanggup memecah batu-batu yang keras di bawah terik matahari. Atau dibalut dinginnya hujan. Demi mencari dunia, mengejar materi. Tapi hanya sedikit orang yang mau berbuta baik secara nyata. Menebar manfaat yang sederhana di lingkungan sekitar. Apalagi bersemangat urusan akhirat; sholat lima waktu, membaca Al Quran, atau bersedekah. Saatnya introspeksi diri. Bahwa kebanyakan kita pada hari ini, lebih sennag mengejar kenikmatan dunia tapi berpaling dari kenikmatan akhirat. Itu semua terjadi, bukan karena kita lemah bukan fisik tapi lemah hati.

 

Muhasabah diri. Rezeki dikejar dan dicari tanpa mau dialirkan. Maka rezeki akan cepat habis tanpa manfaat. Selalu merasa tidak cukup atau kurang. Rezekinya bocor lalu menyalahkan Allah atau orang lain. Hingga lupa, rezeki itu kuncinya pada sedekah. Karena di dalamnya ada hak orang lain. Maka resepnya, cukup alirkan rezeki melalui sedekah. Selagi bisa selagi mampu di mana pun. Perbanyak sedekah maka rezeki melimpah.

 

Isra Mi’raj kali ini sangat penting. Sebagai momentum untuk muhasabah diri. Mengukur diri apa yang sudah baik dan apa yang belum baik? Bukan mengukur orang lain atau menilai urusan orang lain. Muhasabah unutk lebih banyak bersyukur dan bersabar dalam segala keadaan. Sambil tetap menjaga komitmen dan sikap istikomah dalam berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama.

 

Yuk jangan tunda lagi, untuk muhasabah dan berbenah. Bahwa di langit selalu ada yang kita tatap dan ada doa yang kita titip. Karne akita hamba, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Kisah Amplop Kosong, Sekampung Berpikir Sama

Akibat banjir bandang di musim hujan, jembatan di kampung A hancur. Kepala kampung pun bermusyawarah dengan warga. Karena tanpa jembatan, warga tidak bisa menjalankan aktivitas mereka. Setelah dihitung, biaya perbaikan jembatan dibagi rata dengan jumlah warga di kampung itu. Akhirnya diputuskan secara mufakat, setiap kepala keluarga wajib menyumbang seratus ribu rupiah untuk membangun kembali jembatan yang hancur.

 

Malam harinya, sang kepala kampung berkeliling membagikan sebuah amplop kosong kepada masing-masing warga. Agar esok pagi, amplop-amplop tersebut dikembalikan ke kepala kampung dan sudah berisi uang seratus ribu rupiah di dalamnya.

 

Tanpa disangka, seorang warga berpikir picik, “Kalau aku tidak mengisi uang ke dalam amplop ini, toh tidak ada yang tahu. Sebab semua amplop tidak diberi nama. Lagi pula satu amplop kosong tidak akan mempengaruhi perolehan uang yang didapat. Jembatan akan tetap dibangun dari sumbangan warga yang lain.” pikir si warga.

 

Dan esok harinya, seluruh warga berduyun-duyun mengumpulkan amplop tersebut. Sang kepala kampung mulai membuka amplop satu persatu. Betapa mengejutkan apa yang ia saksikan, karena seluruh amplop dalam keadaan kosong. Rupanya semua warga memiliki pikiran yang sama dengan apa yang dipikirkan si warga picik. Dari situlah kisah jembatan yang tidak pernah dibangun kembali.

 

Di mana kampung itu berada? Maaf, kampung banyak di dekat kita. Karena berada di dalam diri kita masing-masing. Kita selalu merasa ada hal penting yang harus diperbaiki. Agar bisa mengubah hidup lebih bermanfaat untuk orang lain. Mau berbuat baik untuk tujuan yang baik. Begitu rencananya.

 


Tapi nyatanya, ketika harinya tiba. Kita sering berpikir picik. Justru tidak lakukan apapun. Seolah satu hari kosong tidak akan berpengaruh. Masih banyak hari yang lain. Begitulah yang terjadi kemarin, hari ini, besok, dan seterusnya. Berpikir begini-begitu tapi tidak ada yang dilalukan. Seluruh hari dalam keadaan kosong! Kita sering punya pikiran yang sama dengan kemarin. Rencana tinggal rencana. Maka di situlah, akhir dari kisah runtuhnya cita-cita yang tidak pernah dibangun kembali.

 

Maka saatnya ubah niat baik jadi aksi nyata. Kerjakan yang baik dan tebarkan manfaat di manapun. Seperti berkiprah di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat.

 

Jadi, bila kita sanggup menang terhadap diri sendiri maka tidak akan pernah membiarkan satu amplop pun dalam keadaan kosong. Selalu ada yang bisa diperbuat. Bacalah dan bacalah. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Selasa, 06 Februari 2024

Catatan Literasi, Prinsip Berkiprah di Taman Bacaan

Di langit yang kita tatap, ada doa yang kita titip. Di bumi yang kita pijak, selalu ada hasil yang kita harap. Maka jalani tiap langkah kebaikan, tebarkan terus manfaat di manapun. Nikmati prosesnya, jalani realitasnya. Pasti ada memuji, pasti ada yang membenci. Maka janga pernah berharap pada orang yang tidak perlu diharapkan. Berharaplah kepada-Nya.

 

Saat berjuang dalam kebaikan, apalagi masih berada di dunia, selalu saja ada peristiwa dan situasi yang membuat kita terluka. Rasa sedih bisa datang dari berbagai sumber. Mulai dari kecewa dalam persahabatan, kesal akibat perbuatan orang lain, cinta yang terpuruk, hingga kebaikan dibalas kejahatan. Apapun kondisinya, tetaplah berbuat baik dna berpikir positif.

 

Ketahuilah, dunia ini sangat luas. Tidak sesempit yang kita bayangkan. Biarkan bila ada sebagian orang yang meninggalkan karena masih ada banyak orang baik yang tetap bersama. Biarkan bila ada orang yuang merangkai cerita buruk karena masih banyak cerita baik yang bisa dibuat. Bahkan biarkan bila ada orang yang selalu berlaku jahat, karena masih ada orang yang bertindak baik di samping kita. Tidak perlu sakit hati atau berduka cita. Karena semuanya membuat kita semakin hati-hati ke depan. Untuk selalu memperbaiki diri.

 

Apapun kondisinya, the show must go on. Pertunjukan di dunia belum berakhir. Tataplah langit dengan sikap optimis. Lihatlah masa depan dengan gairah. Jangan mudah terjebak pikiran negatif. Jangan mudah tergoda rayuan sesaat. Jangan mudah tergoda pandangan yang bias. Karena siapapun, berhak menikmati keindahan dunia yang Allah ciptakan. Asal tetap baik dan bermanfaat di mana pun.

 

Tetaplah tenang dan rendah hati. Tidak usah terlalu heboh, tidak usah seperti orang yang paling menderita. Berhentilah mengkhawatirkan hal-hal yang tidak bisa dikontrol diri sendiri. Jangan cemas terhadap apapun yang belum terjadi. Santai saja dan tidak perlu larut dalam kesedihan, apapun alasannya. Berceritalah kepada Allah, jangan bercerita kepada manusia. Karena manusia hanya bisa memberi saran, sementara Allah sangat berkuasa memberi jalan. Hamparkan indahnya alam semesta, bentangkan ayat-ayatNya di muka bumi. Syukurilah apa yang dimiliki, lihatlah apapun dengan optimis. Bahwa selalu ada hal baru, harapan baru, kondisi baru seiring dengan berjalannya waktu.

 


Di langit yang kita tatap, ada doa yang kita titip. Begitulah spirit yang dijalankan pegiat literasi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. Untuk selalu optimis dan berpikir positif dalam menjalankan aktivitas taman bacaan. Mulai dari membimbing anak-anak yang membaca, mengajar baca tulis kaum buta huruf, mengajar calistung kelas prasekolah, menemani anak-anak difabel, hingga menjalankan motor baca keliling. Semuanya dijalani sepenuh hati dan konsisten. Tanpa peduli apa kata orang lain, tanpa peduli mau dipuji atau dibenci. Karena apapun yang kita kerjakan, sejatinya akan kembali kepada kita sendiri. Tinggal waktu yang membuktikannya.

 

Di langit yang kita tatap, ada doa yang kita titip. Maka tetaplah berbuat baik dan menebar manfaat di mana pun, sekalipun hanya di taman bacaan. Jangan terbuai oleh pergaulan, jangan terlena dalam kesenangan sesaat. Bahkan jangan larut dalam kesedihan. Teruslah bergerak, melangkah, dan menapaki jalan ke tempat tujuan. Karena sebentar lagi, keindahan alam semesta akan terkuak di depan. Sambil tetap bersyukur dan bersabar dalam segala keadaan.

 

Di langit yang kita tatap, ada doa yang kita titip. Begitulah prinsip berkiprah di taman bacaan. Sedih, sakit, dan susah hari ini tetaplah bersabar. Karena esok segera berganti senang, sehat, dan mudah segalanya. Seperti kata Umar bin Khattab, “Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku”. Di langit yang kita tatap, ada doa yang kita titip. Jadilah literat! Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Senin, 05 Februari 2024

Bersama-sama Kita Dapat Lakukan Banyak Hal di Taman Bacaan

"Sendirian kita tidak dapat melakukan banyak hal; bersama-sama kita dapat melakukan banyak hal." - Helen Keller

 

Berbekal spirit kerja sama itulah, Departemen Sosling BEM Faperta IPB sore ini menyambangi TBM Lentera Pustaka untuk menjajaki program pengabdian Masyarakat selama tahun 2024 (5/2/2024) di Bogor. Kepengurusan baru BEM Faperta IPB yang terdiri dari Arfan Alwizdan, Agung Prasetyo, Muhammad Cito Ramadhan, Giyanita Wahyu, Arya Asmara, dan Fajril Nuryasin diterima oleh Susilawati (Wali Baca TBM Lentera Pustaka) untuk membahas program konkret yang akan digelar, sekaligus mendiskusikan fact finding anak-anak dan orang tua pengguna layanan taman bacaan yang dikenal komprehensif.

 

Bertempat di Rooftop Baca TBM Lentera Pustaka, beberapa program Faperta Mengajar yang digagas untuk dieksekusi selama tahun 2024 antara lain:1) penyuluhan sampah organik, 2) daur ulang sampah, 3) cerdas matematika, dan lain-lain. Untuk merealisasilannya, BEM Faperta IPB nantinya akan menyesuaikan dengan permasalahan yang ada di TBM. TBM Lentera Pustaka pun menyampaikan beberapa problem yang dihadapi taman bacaan untuk dicarikan Solusi dari persfektif mahasiswa antara lain: 1) soal sampah yang rencananya bisa disolusikan dengan “ecobrick” yang nantinya bisa jadi daya jual pula, 2) pemberdayaan untuk ibu-ibu yang mengantar anaknya ke TBM, dan 3) pentingnya kurikulum literasi digital.

 


Patut diketahui, kerja sama BEM Faperta IPB dan TBM Lentera Pustaka pada tahun 2-24 ini telah memasuki tahun ke-5, dimulai sejak 2020. Sebuah tradisi baik dan konkret yang sudah jadi budaya kepengurusan BEM Faperta IPB. Selain banyak menginisiasi program dan aktivitas baru untuk anak-anak TBM Lentera Pustaka, kehadiran BEM Faperta IPN di taman bacaan pun menjadi bukti  pengabdian masyarakat dan kontribusi nyata mahasiswa terhadap gerakan literasi dan aktivitas taman bacaan di Indonesia. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi di anak-anak usia sekolah dan warga masyarakat.

 

Sambil menikmati suasana senaj di Rooftop Baca TBM Lentera Pustaka, tim Departemen Sosling BEM Faperta IPB pun bertekad untuk menyepakati bahwa “kebaikan secara individu, maka kita hasilkan satu tetes. Tapi bila bersama-sama, kita menghasilkan lautan”. Maka nantikan kiprah sosial BEM Faperta IPB di TBM Lentera Pustaka!

 

Dari kolaborasi BEM Faperta IPB dan TBM Lentera Pustaka ada pesan penting untuk semua pihak. Bahwa jika kamu ingin pergi cepat, pergilah sendiri. Jika kamu ingin pergi jauh, pergilah bersama-sama". Salam literasi #BEMFapertaIPB #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 


Matahari di Langit Taman Bacaan

Matahari mulai meninggi siang tadi. Mulai memancar panas Terik yang tidak bisa dihindari. Seorang yang karyawan yang hendak makan siang pun menggerutu. Sambil menatap matahari, menyebut panas sekali siang ini. Ia merasa silau, dan merasa tidak nyaman akibat sinar matahari. Panas dan matahari pun salah.

 

Karena semakin panas dan tidak mungkin menghindari Terik matahari. Sang karyawan pun memilih untuk mengurung diri di dalam ruangan AC. Agar tetap sejuk. Tanpa gangguan hawa panas. Ia tidak ingin disinari matahari. Dari waktu ke waktu, sang karyawan begitu terus setiap hari. Mengurung diri dari sinar matahari. Tanpa terasa 3 tahun berlalu, sang karyawan lebih senang di tempat sejuk dan ber-AC.

 

Dan kini, tubuh sang karyawan mulai lemas. Hari-harinya lesu, tidak bergairah. Entah apa penyakit yang dialaminya. Tubuhnya mulai mengurus. Diagnosa dokter, menyebut katanya kurang sinar matahari. Kurang sengatan hawa panas matahari. Terbukti, perbuatan mengurung diri dari sinar maatahari justru merugikan dirinya sendiri.

 

Sang karyawan pun mengaku salah. Ia baru menyadari dan menyesal. Sikap egois dan angkuh terhadap matahari membuatnya sakit. Akibat mengurung diri dan menghindari sinar matahari setiap hari. Sakit, lalu merugikan dirinya sendiri.

 

Banyak orang mungkin lupa. Tanpa diminta, matahari tiap hari pasti menyinari semesta. Dibenci atau tidak, matahari selalu bersinar. Disukai atau tidak, matahari tetap menyemburkan hawa panas. Karena sejak diciptakan, menyinari adalah tugas dan misi matahari dari-Nya.

 

Begitulah manusia, untuk apa ada di bumi? Pasti untuk beribadah kepada-Nya, di samping menjalani fungsi sosialnya. Untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama. Niat yang baik, ikhtiar yang bagus. Selebihnya hanya berdoa yang terbaik kepada-Nya. Mau dipuji atau dibenci, harus tetap menjalankan misi kemanusiaannya. Mumpung belum dicabut nyawa dari raganya.

 


Spirit menjalankan misi itulah yang dipegang oleh pegiat literasi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Berkiprah sepenuh hati untuk membimbing anak-anak yang membaca buku, mengajar kaum buta huruf, mengajar calistung anak kelas prasekolah, memfasilitasi komputer untuk literasi digital, hingga menjalankan aktivitas motor baca keliling untuk sediakan akses bacaan ke kampung-kampung. Semuanya dilakukan atas nama kemanusiaan, untuk tetap peduli kepada sesama. Jangan hindari kesempatan untuk berbuat baik, karena tidak banyak yang bisa melakukannya.

 

Maka esok, jangan lagi menghindari matahari. Sibukkan terus diri dengan perbuatan baik dan bermanfaat. Kapan pun dan di mana pun. Karena esok, kita akan ditanya tentang diri kita sendiri, bukan tentang urusan orang lain. Jadilah literat di waktu tersisa.

 

Karena hakikat manusia ada di bumi, yaitu “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

Sabtu, 03 Februari 2024

Rezekinya Orang-orang Taman Bacaan

Ini nyata terjadi. Ketika seseorang berusaha hidup ngirit. Berjuang untuk menabung dan mengurangi pengeluaran. Biar punya banyak uang. Bahkan sampai menunda-nunda zakat dan sedekah. Hampir tiap hari dia cek saldo rekening. Seperti punya target angka khusus jumlahnya. Setiap pengeluarannya dipantau dan dihitung sebagai beban. Pendek kata, dia berusaha pelit dan kikir. Kira-kira begitu.

 

Apa yang terjadi? Sekarang ini dan beberapa bulan kemarin, dia justru mengalami ujian finansial. Urusan keuangan sedang diuji. Karena Allah “merampas”nya dengan cara yang sungguh di luar dugaan. Mulai dari harus renovasi rumah, bolak-balik servis mobil, hingga pengeluaran kecil tapi sering. Akhirnya, tabungannya ludes. Dia tetap saja nggak punya uang. Betul-betul ngirit dan terbatas semuanya. Beli bensin pun boleh dibilang nggak mampu.

 

Dia sadar betul. Kejadian seperti itu bukan sekali. Tapi berulang kali. Polanya selalu sama. Ketika berusaha untuk “ngirit”, termasuk menunda kebiasaan sedekah dan berbagi pasti mengalami kondisi sebaliknya. Makin sudah, makin nggak punya apa-apa.

Realitas itu berbeda dengan yang dialami Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Justru karena taman bacaan dijadikan ladang amal, bukan hanya tempat membaca buku. Alhamdulillah, rezekinya mengalir. Tahun 2024 ini, CSR korporasi yang membiayai aktivitas TBM dapat dari Bank Sinarmas, Chubby Life Insurance, dan Kopi Lentera milik sang pendiri. Rooftop baca “ditutup” kanopi senilai Rp. 69 juta dan tambahan motor baca keliling dari Bank Sinarmas, dukungan dana dari Groopy Id, hingga sedekah korporasi dari Asosiasi DPLK dan Bank CIMB Niaga Syariah.

 

Kok bisa? Jawabnya sederhana, karena TBM Lentera Pustaka bukan hanya tempat baca tapi ladang amal. Ada 14 anak yatim yang dibina dan biayai agar tetap sekolah, ada 12 ibu jompo yang disantuni di usia tuanya, ada jajanan kampung gratis untuk anak dan warga TBM tiap bulan, Pendiri TBM Lentera Pustaka selalu sediakan makan siang untuk relawan dan wali baca tipa Minggu hingga sekadar nongkrong di kafe bila lelah melanda aktivitas di TBM. Jelas, TBM bukan hanya tempat baca tapi jadi ladang amal. Tempat berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama. Insya Allah, begitu niat dan ikhtiar di taman bacaan.

 


Apa yang mau dikatakan? Bahwa rezeki, harta, dan kekayaan itu unik. Justru r zeki datang dan berkembang ketika dia dialirkan. Semakin deras aliran di bawahnya (ke yang membutuhkan) maka semakin deras pula aliran di atasnya (datangnya).
Adapun mengenai besarnya harta yang dimiliki, bukan dari seberapa besar kita disiplin dalam mengatur pengeluaran. Tapi dari seberapa besar kita mengalirkannya, maka kita pantas mendapatkannya lagi.

 

Ketika kita mampu menjadi perantara atas rezeki orang lain salah satunya, dengan memberi baik dan berbagi kepada kaum yang membutuhkan, maka kita sedang memantaskan diri untuk menerima lebih. Karena ada hak mereka dalam harta kita. Dan bersedekah atau berbagi itu kepada yang membutuhkan. Agar ada senyum dan rasa senang pada dirinya. Bukan ngebayarin ngopi kawan di kafe.

 

Jadi, boleh percaya atau tidak, bahwa dapat disimpulkan ada 2 pola terkait dengan rezeki atau harta: 1) jika kita tidak mengeluarkannya, maka Allah-lah yang dengan paksa akan mengeluarkannya atau 2) rezeki atau harta tidak akan menumpuk ketika kita menimbunnya, tapi rezeki akan semakin banyak ketika kita mengalirkannya dan pantas untuk mendapatkan yang lebih lagi.

 

Boleh percaya atau tidak. Rezeki yang disyukuri pasti lapang sedangkan rezeki yang dikufuri pasti kurang. Percayalah, kita sudah diciptakan lengkap dengan rezekinya masing-masing, tidak akan tertukar. Tinggal jemput dengan ikhtiar dan doa yang baik. Cari berkah-Nya dengan bersedekah dan berbagi kepada yang membutuhkan. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 

Jumat, 02 Februari 2024

Emak-emak Pembaca Buku, Bukan Emak-emak Belok Kiri Tanpa Lampu Sen

Ini kisah nyata emak-emak pembaca buku di taman bcaaan. Bukan emak-emak yang belok kiri tanpa lampu sen. Bukan emak-emak yang galak di jalanan.

 

Di zaman yang serba digital begini, di mana bisa melihat emak-emak atau kaum ibu yang membaca buku? Jawabnya, ada di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Saya menyebutnya “emak-emak TBM”. Kaum ibu yang rajin mengantar anaknya ke taman bacaan untuk membaca buku. Awalnya hanya mengantar. Tapi secara perlahan, emak-emak TBM akhirnya akrab dengan buku-buku bacaan. Mulai tertular virus membaca buku. Hampir sama rajin dengan anaknya. Di TBM Lentera Pustaka, tidak kurang dari 30-an emak-emak selalu ada di taman bacaan, seminggu 5 hari (Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Minggu).

 

Emak-emak TBM adalah kekuatan baru di taman bacaan. Karena kaum ibu inilah, taman bacaan terpromosikan. Mereka jadi humas, jadi juru bicara TBM ke ibu-ibu lainnya. Dari mulut ke mulut, para ibu inilah yang memberi tahu keberadaan TBM Lentera Pustaka. Ibu-ibu yang mempublikasikan aktivitas membaca anak-anaknya di media sosial, di status WA, bahkan memberi tahu akan pentingnya membaca buku. Para ibu yang pantas menjadi “Menteri Pendidikan” yang sesungguhnya. Karena mau dan berani mendidik anak-anaknya agar punya kepribadian dan kebiasaan yang baik, sekalipun di taman bacaan

 

Ibu-ibu yang membaca buku di taman bacaan, ternyata punya peran besar terhadap gerakan literasi. Anak-anaknya pun jadi semangat datang ke taman bacaan. Emak-emak TBM bukan hanya paham soal mengasuh dan melindungi anaknya. Tapi lebih dari itu, mereka sadar akan tanggung jawabnya untuk memastikan tumbuh-kembang anak secara positif dan bermanfaat. Bersedia menyuguhkan pendidikan karakter dan budi pekerti anak di taman bacaan. Berani menyiapkan akhlak dan ilmu anak-anaknya lebih baik lagi. Untuk apa? Tentu, untuk masa depan anak-anaknya agar tidak menyesal di kemudian hari, akibat “terlambat peduli” urusan membaca buku anak-anaknya.

 


Sulit dibantah, kaum ibu di TBM adalah akhlak social. Tempatnya kebijaksanaan, keberanian, bahkan tumbuhnya aktivitas membaca. Kaum ibu yang sabar dan mau mengantar anaknya ke taman bacaan. Tidak gengsi untuk melangkahkan kaki ke taman bacaan. Selalu memberi dukungan anak-anaknya berada di TBM. Ibu-ibu yang tidak pernah lelah berjuang untuk literasi anaknya. Ibu-ibu yang tidak digaji, tidak bisa izin sakit, kadang kurang dihargai. Namun, tekad kuat dan cintanya untuk literasi anak-anaknya tidak terbatas.

 

Tentu saja, menjadi emak-emak yang mau ke TBM bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi di tengah kesibukan urusan rumah, urusan keluarag. Tapi sulit dibantah pula, menjadi ibu-ibu yang dekat dengan buku pun jadi pekerjaan terbaik yang bisa diminta siapa pun. Emak-emak TBM sadar betul. Memang tidak ada cara untuk menjadi ibu yang sempurna. Tapi selalu ada sejuta cara untuk menjadi ibu yang baik dan lebih literat. Karena ibu adalah tonggak masa depan untuk anak-anaknya. Sehat selalu emak-emak TBM Lentera Pustaka, teruslah mengantar anak dan membaca di taman bacaan. Salam literasi #EmakTBM #BacaBUkanMaen #TBMLenteraPustaka