Tampilkan postingan dengan label Sedekah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sedekah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2024

Literasi Isra Mi'raj, Kejar Terus Dunia Jangan Pernah Berhenti

Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW diperingati 8 Februari 2024, bertepatan pada 27 Rajab 1445. Tentu saja, Isra Mi’raj memberi banyak hikmah yang sangat dalam. Agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Utamanya teladan Nabi Muhammad dalam menempuh perjalananan dakwahnya, untuk mengasah ketangguhannya. 


Maka peringatan Isra Mi’raj, khususnya bagi pegiat literasi yang berkiprah di taman bacaan, menjadi momentum untuk muhasabah diri, introspeksi diri. Menengok kembali apa-apa yang telah dilakukannya. Untuk mendapat pujian atau sebagai bagian dari perjalanan ibadah? Untuk lebih sabar dan bersyukur atas kiprah literasi dan aktivitas taman bacaan yang sudah digelontorkan. Sambil menjaga sikap komitmen dan konsisten, apapun alasannya. Bahwa kiprah literasi dan taman bacaan bukan lagi urusan dunia tapi urusan nanti ….

 

Berkiprah di taman bacaan bukanlah tujuan tapi jalan. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Maka dalam perjalanannya, jangan ada lagi ragu dalam tindakan. Untuk mengubah niat baik jadi aksi nyata. Tanpa terpengaruh oleh opini orang lain. Isra Mi’raj di taman bacaan pun memberi pesan. Akan pentingnya terus belajar dan mengasah diri, sambil tetap beradaptasi dengan perubahan. Untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat sekalipun hanya melalui buku-buku bacaan. Hingga akhirnya, literasi dan taman bacaan menjadi jalan hidup.

 

Karena di luar sana, kita sering menyaksikan orang-orag yang begitu semangat dan kuat dalam mengejar perkara dunia. Namun tiba-tiba menjadi lemah dan malas untuk urusan ibadah dan perkara kemanusiaan. Orang-orang yang begitu tahan banting untuk berlama-lama nongkrong di kafe, berjam-jam muter di tempat hiburan. Bahkan berhari-hari ngobrol urusan yang tidak ada faedahnya. Terbuai gaya hidup, terlena obsesi diri. Semuanya hanya urusan dunia yang akan ditinggalkan, cepat atau lambat.

 


Di luar sana, banyak orang sanggup memecah batu-batu yang keras di bawah terik matahari. Atau dibalut dinginnya hujan. Demi mencari dunia, mengejar materi. Tapi hanya sedikit orang yang mau berbuta baik secara nyata. Menebar manfaat yang sederhana di lingkungan sekitar. Apalagi bersemangat urusan akhirat; sholat lima waktu, membaca Al Quran, atau bersedekah. Saatnya introspeksi diri. Bahwa kebanyakan kita pada hari ini, lebih sennag mengejar kenikmatan dunia tapi berpaling dari kenikmatan akhirat. Itu semua terjadi, bukan karena kita lemah bukan fisik tapi lemah hati.

 

Muhasabah diri. Rezeki dikejar dan dicari tanpa mau dialirkan. Maka rezeki akan cepat habis tanpa manfaat. Selalu merasa tidak cukup atau kurang. Rezekinya bocor lalu menyalahkan Allah atau orang lain. Hingga lupa, rezeki itu kuncinya pada sedekah. Karena di dalamnya ada hak orang lain. Maka resepnya, cukup alirkan rezeki melalui sedekah. Selagi bisa selagi mampu di mana pun. Perbanyak sedekah maka rezeki melimpah.

 

Isra Mi’raj kali ini sangat penting. Sebagai momentum untuk muhasabah diri. Mengukur diri apa yang sudah baik dan apa yang belum baik? Bukan mengukur orang lain atau menilai urusan orang lain. Muhasabah unutk lebih banyak bersyukur dan bersabar dalam segala keadaan. Sambil tetap menjaga komitmen dan sikap istikomah dalam berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama.

 

Yuk jangan tunda lagi, untuk muhasabah dan berbenah. Bahwa di langit selalu ada yang kita tatap dan ada doa yang kita titip. Karne akita hamba, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Sabtu, 09 Juli 2022

7 Hikmah Idul Adha di Mata Pegiat Literasi Taman Bacaan

Idul Adha selalu identik dengan menyembelih hewan. Berkurban sebagai simbol cinta dan pengorbanan seorang ayah kepada anaknya. Saat Nabi Ibrahim AS mendapat wahyu untuk menyembelih anak kandungnya sendiri, Ismail AS. Ibrahim dihadapkan pada kondisi dilematis. Cinta kepada Allah SWT sebagai bukti ketaatannya dan pengorbanan merelakan anaknya disembelih atas perintah-Nya. Hingga akhirnya digantikan oleh seekor hewan kurban.

 

Kisah Nabi Ibrahim AS adalah bukti. Ketika iman dan takwa atas dasar cinta kepada Allah SWT, tidak ada yang dapat melebihi segalanya. Sebagai hamba, siapa pun hidup di dunia, sejatinya untuk mengabdi kepada Allah SWT. Selalu melangkah di jalan kebenaran dan kebaikan, apa pun kondisinya.

 

Lebih dari itu, Idul Adha tidak hanya sekedar menyembelih hewan.

Ada pelajaran penting di dalamnya. Dengan berkurban, kita tidak hanya sekedar melaksanakan perintah Allah SWT. Tapi juga diberi kesempatan untuk memanifestasikan rasa solidaritas sosial sebagai simbol ketakwaan. Melalui hewan kurban, siapa pun dapat belajar untuk terus meningkatkan sikap istikomah dalam menebarkan kebaikan dan kepedulian terhadap sesama. Karena wajib hukumnya bagi orang yang “kuat” membantu orang yang “lemah”.

 


Idul Adha bukan sekedar menyembelih hewan. Tapi mampu membentuk sikap untuk lebih ikhlas dalam berbuat, lebih baik dalam bertindak, dan lebih mawas diri dari godaan hidup di dunia. Karena dengan berkurban, ada makna lebih luas yang patut direnungkan, seperti:

1. Belajar untuk tetap rendah hati atau tawadhu

2. Belajar untuk tidak gila pujian, karena hanya Allah SWT yang berhak dipuji

3. Belajar untuk tidak membedakan status sosial, semua sama di hadapan Allah SWT

4. Belajar untuk memiliki jiwa dan perilaku peduli sosial

5. Belajar untuk mencintai Allah SWT yang diikuti amal soleh yang nyata

6. Belajar untuk bersyukur atas apa yang sudah dimiliki

7. Belajar untuk berbuat baik, kapan pun dan di mana pun

 

Jadi Idul Adha bukan hanya sekadar menyembelih hewan. Tapi sekalligus keberanian kita sebagai hamba untuk “menyembelih” ego diri sendiri. Menjauhkan diri dari sikap sombong, angkuh, mau menang sendiri, dan benci kepada orang lain. Dilarang merendahkan orang lain, menebar aib bahkan berkeluh kesah dalam hidup tanpa mau bersabar dan bersyukur.

 

Hikmah terbesar dari Idul Adha adalah keberanian untuk belajar menjadi lebih baik dalam amal ibadah dan menebar manfaat kepada banyak orang. Khoirunnaas anfa’uhum linnaass, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Salam literasi #IdulAdha #TBMLenteaPustaka #PeduliSosial

 

Minggu, 02 Mei 2021

Selain Taman Bacaan, TBM Lentera Pustaka Rutin Gelar Pengajian Yatim dan Jompo Binaan

 Tegas dikatakan Nabi Muhammad SAW, "Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian. Tapi DIA melihat hati dan amal kalian". 


Berbekal spirit itulah TBM Lentera Pustaka, selain menjadi tempat membaca 170 anak-anak pembaca aktif usia sekolah, tempat belajar baca tulis 10 ibu buta aksara GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA), dan 21 anak KElas PRAsekolahh (KEPRA). Pun selama ini, TBM Lentera Pustaka menyantuni 16 anak-anak YAtim BInaan (YABI) yang sekaligus pembaca aktif di taman bacaan dan 7 JOMpo BInaan (JOMBI). 

Di bulan suci Ramadhan kali ini, seperti biasa TBM Lentera Pustaka pun menggelar "Pengajian Bulanan" bersama 16 YAtim BInaan dan 7 JOMpo BInaan pada Minggu, 25 April 2021. Dipimpin langsung oleh Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka, pengajian ini dilakukan dengan membacakan surat alfatihah kepada kakek-nenek, orang tua mereka baik yang masih ada maupun yang telah meninggal dunia. Alfatihah dan doa pun dilantunkan kepada orang-orang baik yang menitipkan sedekah untul anak-anak yatim binaan, di samping doa untuk saudara-saudara para pihak yang sedang sakit agar disembuhkan, termasuk bila sedang mengalami kesulitan jadi dimudahkan Allah SWT.

Setelah tahlil dan pembacaan doa, Pendiri TBM Lentera Pustaka pun memberikan sedekah atau santunan kepada 16 anak-anak yatim binaan dan 87 jompo binaan. Termasuk 3 anak yatim yang mendapat beasiswa secara rutin setiap bulan. Anak-anak yatim binaan dan jompo binaan merupakan warga di sekitar TBM Lentera Pusraka yang memang patut dibantu. Agar ada seuntai senyum untuk mereka, apalagi jelang hari raya Idul Fitri 1442H.

Pengajian yatim binaan dan jompo binaan secara rutin dilakukan setiap bulan. Selain sebagai bentuk kepedulian sosial, pengajian ini digelar untuk menyalurkan sedekah dari Pendiri TBM Lentera Pustaka dan rekan-rekannya yang menitipkan untuk disalurkan. Karena TBM Lentera Pustaka menyadari sedekah merupakan salah satu perbuatan yang sangat dianjurkan. Dari kaum yang mampu kepada yang tidak mampu. Tidak jadi soal, mau dilakukan secara terang-terangan atau sembunyi. Asal sedekah itu dilakukan, bukan hanya diniatkan apalagi diomongkan. 



Dan patut diketahui, sedekah tentu tidak harus berupa uang atau harta benda. Tapi sedekah bisa bersifat nonmaterial, seperti berbuat baik, menolong orang lain dengan nasihat baik, mengajarkan membaca anak-anak atau senyum sekalipun. Apalagi di bulan suci Ramadhan.

Karena sedekah, sejatinya bukan hanya dapat meringankan beban bagi yang menerimanya. Namun sedekah pun bermanfaat bagi yang memberinya. Adalah janji Allah SWT untuk memudahkan dan memuliakan orang-orang yang bersedekah, di samping ganjaran yang luar biasa. 

Setidaknya, ada beberapa keutamaan sedekan, antara lain:

1. Mencegah dari kematian yang buruk.

2. Memudahkan urusan orang bersedekah.

3. Melipatgandakan pahala.

4. Mendapat ganti dari Allah SWT.

5. Menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan.

Karena itu, TBM Lentera Pustaka selalu mentradisikan pengajian bulanan bersama yatim binaan dan jompo binaan. Selain meringankan beban mereka, pengajian ini juga sebagai sarana memberi perhatian kepada anak-anak yatim dan jompo binaan. Ngonrol ringan sambil bercengkrama lalu menikmati hindangan apapunyag tersedia di atas tikar.

Sungguh, sedekah itu untuk kebaikan diri sendiri. Maka ubah niat baik jadi aksi nyata. #PengajianBulanan #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #NgabubuREAD #YatimBinaan #JompoBinaan