Kamis, 18 Mei 2023

Taman Bacaan Menjunjung Akal Sehat, Kenapa?

Semua orang pasti punya akal. Tapi sayangnya, banyak orang yang berpikir tanpa menggunakan akalnya. Padahal, akal itulah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT lainnya. Maka sering kali Kyai di tempat pengajian menjelaskan bahwa “akal manusia penting karean menjadikan hati mampu memilih mana yang benar dan mana yang batil”.

 

Dalam banyak literatur, orang yang berakal disebut ulul albab. Yaitu orang yang menggunakan akalnya untuk mencermati realitas, mengurai masalah. Akal sejatinya menjadi pengikat manusia agar tidak melakukan tindakan yang melanggar aturan atau perilaku memalukan. Akal yang mengajak pemiliknya untuk mentadabburi, mengobservasi, memikirkan, menghayati, dan mengintrospeksi sesuatu dalam kehidupannya.

 

Jadi, siapa orang yang berakal itu?

Jawabnya sederhana, Orang yang berakal adalah 1) orang yang mampu mencerna masalah yang ada untuk mencari solusi dengan bijak, 2) orang yang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dan 3) orang yang berani mencegah dirinya dari perbuatan yang buruk untuk selalu berbuat baik. Menurut Ibnu Sirin, seorang ulama fikih ditegaskan, “Bahwa orang berakal bukanlah yang bisa membedakan antara baik dan buruk semata. Tapi, tatkala melihat kebaikan dia mengikutinya, dan bila melihat keburukan dia menghindarinya”.

 

Maka tidak dinamakan orang yang berakal kecuali orang yang mengetahui kebaikan lalu mencarinya dan mengetahui keburukan lalu meninggalkannya. Sejatinya “amar ma’ruf nahi munkar’ tidak hanya berhent pada perbuatan bauk. Tapi berani untuk mencegah perbuatan buruk. Sayangnya, banyak orang memahaminya sebatas berbuat baik. Tapi gagal meninggalkan atau mencegah berbuat mungkar, entah dari dirinya sendiri atau pada lingkungannya. Untuk menjauhkan setiap hal-hal negatif di tengah masyarakat.

 


Meningkatkan kapasitas akal itulah yang menjadi spirit Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Dengan menyediakan akses bacaan puluhan anak-anak kampung usia sekolah untuk bisa membaca. Demi tegaknya kegemaran membaca, di samping memotivasi akan pentingnya sekolah. Agar tidak ada anak yang putus sekolah. Selain memacu ilmu pengetahuan melalui buku bacaan, TBM Lentera Pustaka pun mengajarkan akhlak dan adab anak untuk menyeimbangkan akal dan hati. #BacaBukanMaen, sebagai motto taman bacaan yang selalu didengungkan di tengah gempuran era digital.

 

Menjunjung tinggi akal sehat namun tetap berpijak pada hati. Karena akal mampu memilah yang baik dan buruk. Tapi hati yang akan meneguhkan eksekusi dan perbuatan atas dasar kemanusiaan, kebaikan, kemanfaatan, dan kearifan. Akal yang memacu untuk tetap logis dan berpikir baik. Tapi hati yang menjaga akal dengan akhlak dan adab. Pada akhirnya, akal sering menciptakan hukum yang baik. Dan hati yang menyempurnakannya.

 

Hingga suatu saat nanti, akal yang memberitahu kita untuk melaljukan atau tidak melakukannya sesuatu. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #PegiatLiterasi

 

Literasi Menahan Diri untuk Tidak Berbuat Jahat

Bila diamati, makin banyak orang sulit menahan diri dari berbuat jahat. Apalagi yang ada di tayangan TV atau media sosial. Seakan ada lomba bertindak buruk, berbuat jahat. Lalu, kenapa susah untuk menahan diri dari berbuat jahat?

 

Apabila terlintas di pikiran untuk melakukan sesuatu yang buruk, ada baiknya berpikir pula tentang akibatnya. Saat ingin berbuat zolim kepada orang lain, harusnya berhitung tentang konsekuensinya. Siapapun yang ingin berbuat jahat, tentu harus menanggung risikonya. Karena sekecil apapaun kejahatan dan kezoliman yang dilakukan, pasti akan kembali kepada orang yang melakukannya. Bahkan bisa jadi berdampak jangka panjang atas perbuatan jahatnya.

 

Perbuatan jahat atau pikiran buruk ya sama saja. Seperti bergosip, gibah, menebar aib orang lain, membenci, memusuhi hingga memfitnah, apapun motifnya akhirnya akan menjadi candu. Sulit berhenti dari berbuat jahat, di samping tidak ada manfaatnya sama sekali. Kecuali mendekatkan orangnya pada kemaksiatan. Lalu, kenapa banyak orang gagal menahan diri dari berbuat jahat?

 

Dalam riwayat disebutkan, di antara amalan yang paling utama adalah jihad fisabilillah, memerdekakan seorang budak, atau membantu orang yang fakir dan miskin. Namun bila tidak mampu melakukannya, maka Rasulullah SAW bersabda, “Engkau menahan diri untuk tidak berbuat kejahatan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu merupakan sedekah darimu untuk dirimu sendiri.” (HR. Al-Bukhari, No. 2518 dan Muslim No. 84).

 

Maka siapapun, menahan diri untuk tidak berbuat jahat itu lebih baik. Karena dengan menahan diri dari berbuat jahat, berarti ada kesadaran untuk menjadikan dunia sebagai tempat berbuat kebaikan dan kebajikan. Apapun alasannya.

 


Bila tidak biasa membantu dan meringankan beban orang lain, maka cukup untuk tidak menyusahkannya. Apalagi membuatnya jadi sedih. Berani untuk menahan diri agar tidak mengganggu dan menzolimi orang lain. Jangankan berbuat jahat, menhana diri untuk tidak bertanya hal-hal yang tidak disukai orang lain saja sangat dianjurkan.

 

Memang sih, berbuat jahat itu gampang bagi sebagian orang. Tapi berbuat baik pun sangat dianjurkan untuk diperjuangkan. Sebagai cerminan kemuliaan akhlak seseorang. Sebagai pembuka pintu-pintu kebaikan bagi yang mengamalkannya. Dan sesuatu yang baik memang harus dimulai diri sendiri. Seperti menahan diri dari berbuat jahat pun harus dari diri sendiri.

 

Kini, tinggal di tangan kita. Mana yang mau dipilih. Tetap gemar berbuat jahat atau beraih untuk menebar kebaikan di mana pun, kepada siapapun. Atau cukup diam dalam sabar dan syukur. Apapun pilihannya, pasti ada konsekuensinya. Tinggal tunggu waktu hingga tabir perbuatan kita terkuat di hadapan-Nya. Salam literasi!

Rabu, 17 Mei 2023

Untuk Kamu yang Masih Mencari Jawaban, Mau Sampai Kapan?

Tiga puluh dua tahun Timnas Indonesia bertanya untuk bisa meraih medali emas Sea Games? Kemarin sudah terjawab saat mengalahkan Thailand 5-2. Di Liga Champions, tradisi juara Real Madrid pun pupus saat dibantai Manchester City semalam 4-0 tanpa balas. Indonesia yang menanti jadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pun akhirnya lenyap dan hilang kesempatan untuk kedua kalinya. Itulah yang disebut, semua sudah waktunya.

 

Untuk kamu yang masih bertanya dan mencari jawaban dalam hidup. Ketahuilah, apapun bila sudah waktunya pasti akan terjadi. Sayangnya masih banyak di antara kita yang tidak memedulikan waktu yang tersisa. Gagal memanfaatkan waktu dengan baik, untuk menebar manfaat dan kebaikan kepada orang lain. Jadi, kapan “medali emas” itu menghampiri kita?

 

Kemarin, seorang kawan tertegun bertanya pada diri sendiri. Ia tersadar usianya tidak lagi muda. Uban telah tersimpul di balik rambutnya.  Langkah kakinya mulai melemah tidak berdaya. Mata tidak lagi jernih dan harus memakai kacamata. Telinga pun sudah mulai berkurang kepekaannya. Masa tua sudah mulai ditapakinya. Waktu senja pun telah tiba untuk dirinya. Lalu ia masih bertanya, kebaikan apa yang sudah saya perbuat selama ini?

 

Untuk kamu yang masih bertanya dan mencari jawaban. Detik pun berganti menit. Hari berganti pekan. Bulan-bulan berlalu pergi dan tahuan demi tahun datang. Sama sekali tidak ada yang bisa menahan putaran waktu. Hingga akhirnya, tiba di penghujung kehidupan. Sakit, lemah dan tidak berdaya. Lalu masih bertanya, kapan waktu ajal itu tiba?

 

Tentang ajal, siapapun masih bertanya. Tapi tidak ada jawaban yang pasti. Siapapun tidak akan pernah tahu kapan ajalnya tiba. Kapan waktu hidup akan berakhir. Kematian bukan soal usia. Ada yang baru terlahir di dunia sudah panggil-Nya. Ada yang masih remaja ternyata sudah habis masanya. Ada yang mulai tumbuh dewasa tapi telah sampai di batas umurnya. Bahkan tidak sedikit yang sudah tua renta tapi masih diizinkan untuk menikmati hidupnya. Jadi, apa yang mau diperbuat esok?

 


Suatu ketika Imam Hasan Al-Bashri berpetuah. Bahwa semua petani setelah menanam, waktu yang tunggu-tunggu adalah masa panen. Tapi ingatlah, adakalanya tanaman itu justru layu sebelum dipanen. Adakalanya tanaman dirusak oleh hama. Bahkan terhempas oleh angin kencang sehingga gagal panen. Bukti bahwa manusia hanya bisa ikhtiar, tanpa tahu hingga kapan batas waktunya?

 

Berbekal renungan itulah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak berdiri. Sebagai ladang amal untuk semua orang. Sebagai lahan untuk berbagi kebaikan dan menebar manfaat kepada sesama. Sebuah ikhtiar kebaikan untuk menyediakan akses bacaan ke anak-anak yang terancam putus sekolah. Sekaligus menekan angka pernikahan dini. Taman bacaan sebagai jalan hidup untuk pengabdian kepada sesama. Demi tegaknya kegemaran membaca dan budaya literasi masyarakat. Atas nama kemanusiaan, atas nama kebaikan yang sepenuh hati. Apapun risiko yang harus dihadapi, seberapa banyak pun orang yang akan merusaknya.

 

Jadi, kenapa kita masih bertanya dan mencari jawaban. Di sisa waktu yang ada, hanya niat dan ikhtiar baik yang bisa dilakukan. Sambil berdoa dan selebihnya diserahkan kepada-Nya. Penuh tawakal, sabar, dan syukur dalam menjalaninya. Agar kita berhenti bertanya dan tanpa perlu mencari jawaban. Berbuat baik saja, berbuat baik lagi, dan berbuat baik terus. Di mana pun dan kapan pun.

  

Karena semua yang telah berlalu tidak akan bisa kembali. Waktu yang terlewan pun tidak akan bisa diputar kembali. Dan yang tersisa, adalah kesempatann dan waktu untuk menanam kebaikan. Hingga esok berjumpa ajal, saat kematian datang menghampiri.

 

Sambil berdoa, Ya Allah, karuniakanlah aku cinta kepada-Mu, cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta kepada amal-amal yang mendekatkan aku kepada cinta-Mu". Agar tidak lagi menyia-nyiakan waktu yang tersisa. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

 




MNC Peduli dan iNews Peringati Hari Buku Nasional di Taman Bacaan Lentera Pustaka

Memperingati Hari Buku Nasional 17 Mei, MNC Peduli mendonasikan buku bacaan dan aksi dongeng bersama 40 anak pembaca aktif Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (17/5/2023). Bertajuk “Buku untuk Anak Indonesia”, event CSR MNC Peduli ini dihadiri Dini dan tim MNC Peduli dan diterima oleh Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka didampingi wali baca dan relawan.

 

“MNC Peduli sangat peduli terhadap aktivitas taman bacaan di Indonesia. Maka di Hari Buku Nasional ini, kami ke TBM Lentera Pustaka untuk berdonasi buku sambil memotivasi akan pentingnya membaca buku bagi anak-anak usia sekolah. Apalagi di tengah gempuran era digital, buku dapat menyelamatkan anak-anak kita” ujar Dini dari MNC Peduli dalam sambutannya.

 

Selain donasi buku, MNC Peduli juga membacakan buku cerita dan senam literasi bersama anak-anak pembaca aktif sebagai bagian menjadikan taman bacaan sebagai tempat yang asyik dan menyenangkan. Dalam kesempatan ini, MNC Media pun melakukan liputan event CSR Hari Buku Nasional MNC peduli dan liputan aktivitas MOtor BAca KEliling (MOBAKE) atau motor pustaka ke Kampung Tamansari yang selama ini anak-anaknya tidak memiliki akses bacaan.

 


Melalui peringatan Hari Buku Nasional inni diharapkan masyarakat lebih peduli akan pentingnya membaca buku sekaligus untuk meningkatkan literasi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, ketersediaan akses bacaan menadi penting untuk dipernbanyak dan diperluan ke berbagai daerah. Agar nantinya terbentuk minat anak-anak membaca buku. Tidak ada minat baca tanpa tersedianya akses bacaan. Maka Motor Baca KEliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka berkeliling kampung setiap Minggu untuk menyediakan akses bacaan ke anak-anak kampung.

 

“TBM Lentera Pustaka ucapkan terima kasih kepada MNC Peduli atas donasi dan kepeduliannya kepada anak-anak taman bacaan. Acara ini sangat penting untuk memotivasi anak-anak agar rajin membaca di TBM. Sehingga ke depan, jangan ada lagi anak-anak putus sekolah dan terjebak pernikahan dini” kata Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka dalam sambutannya.

 

Di balik aksi CSR MNC Peduli, ada pesan penting bahwa masyarakat harus sering mengajak anak-anak Indonesia untuk membaca buku, agar seimbang dengan main gawai atau menonton TV. Maka ikhtiar mendekatkan buku-buku bacaan ke anak-anak harus terus dilakukan. Selain dapat menambah ilmu pengetahuan, buku pun bisa jadi sarana pembelajaran akhlak anak sejak dini.

 

Mari ajak anak-anak membaca buku, di rumah di sekolah atau di taman bacaan. Karena tanpa baca, bisa jadi masa depan anak-anak Indonesia merana. Salam literasi #MNCPeduli #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka


Senin, 15 Mei 2023

Literasi Waktu, Untuk Apa Dihabiskan Hari-harimu?

Ini soal, bagaimana kita menghabiskan waktu? Ada yang habis waktunya untuk main gawai, ada pula yang menonton TV. Tapi tidak sedikit yang habis waktunya untuk membaca buku, olahraga atau berbuat kebaikan. Ada juga yang habis waktunya untuk kesibukan. Entah sibuk apa?

 

Kata banyak orang, waktu adalah harta yang paling berharga. Waktu pula yang sering disia-siakan banyak orang. Waktu yang terbuang percuma lalu disesali. Waktu yang kemudian dibicarakan saat tua. Menyesal karena banyak waktu di saat muda yang disia-siakan.

 

Waktu itu relatif. Ada yang dimanfaatkan untuk kegiatan positif. Tapi ada pula yang memakai waktu untuk hal-hal negatif. Tapi satu yang pasti tentang waktu. Seperti kata Dr. Bilal Philips yang menyebut “Bagaimana kita menghabiskan masa muda akan menentukan keadaan kita di usia tua dan keadaan kita saat akan mati!”

 

Waktu bisa jadi pahala, bisa jadi dosa. Begitulah waktu terus berputar. Tinggal mau dimanfaatkan atau tidak? Karena “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tiin: 4-6).

 


Patut direnungkan, manfaatkanlah waktu sebaik mungkin. Sebab waktu tidak akan pernah terulang kembali. Siapapun yang memanfaatkan waktu dengan baik. Bisa jadi, kita termasuk orang-orang yang kemungkinan memiliki penyesalan akan waktu lebih kecil ketimbang orang-orang yang sering membuang-buang waktu. Itulah nasihat yang paling pas.

 

Literasi waktu, untuk apa hari-harimu dihabiskan? Seperti di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Pegiat literasi dan relawan dilatih untuk menghabiskan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat. Membimbing anak-anak yang membaca, mengajar berantas buta aksara, menjalankan motor baca keliling, hingga menata rak-rak buku. Semuanya dilakukan tanpa pamrih dan sepenuh hati. Sebuah cara sederhana untuk menghabiskan waktu di taman bacaan.


Jika dalam keseharian masih sering menunda pekerjaan atau mengisi waktu dengan hal-hal yang kurang baik, saatnya untuk memperbaiki. Karena kehidupan yang lebih baik dan perasaan yang lebih tenang, hanya diperoleh pada saat mampu menggunakan waktu untuk aktivitas yang bermanfaat dan positif, bukan sebaliknya. Apapun, tidak ada kebiasaan baik yang terjadi secara instan. Semuanya butuh proses dan tergantung car akita memperlakukan waktu.

 

Mulailah untuk menghargai waktu. Gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, kapan pun dan di mana pun. Karena waktu adalah sesuatu yang tidak bisa diulur atau pun diputar ke belakang. Salam literasi!

BIla Orang Lain Buruk, Apa Kita Baik?

Entah kenapa, hari ini banyak orang gemar membicarakan masa lalu seseorang? Katanya ber-akhlak tapi senang membahas sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Lupa ya, masa lalu itu hanya kenangan. Sudah terlewati dan tidak lagi berpengaruh di hari ini. Maka simpan saja masa lalu sebagai pelajaran. Untuk masa depan yang lebih baik.

 

Jangan pernah menilai seseorang dari masa lalunya. Apa karena orang lain masa lalunya jelek, lalu kita baik? Atau karena kita senang bergaul dengan orang-orang yang gemar bergosip bahkan bergibah? Memangnya, kita membantu apa pada mereka. Terus bila masa lalu seseorang buruk, apa kita pasti baik? Kita menjelek-jelekkan masa lalu orang lain. Tapi kita sendiri hanya bicara dan berpikir yang jelek tanpa mampu berbuat yang baik secara nyata, kok bisa? 

 

Manusia sering lupa. Sejatinya, hampir semua manusia pasti memiliki masa lalu yang kelam. Jauh dari sunnah Allah SWT, jauh dari hidayah, bahkan terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista. Bukankah banyak sahabat Rasulullah yang dahulunya pelaku kemaksiatan, peminum khamar, penjudi bahkan pelaku kesyirikan? Akan tetapi, tatkala cahaya hidayah menyapa mereka. Jadilah, mereka sebagai generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.

 

Maka bisa jadi, kita adalah salah satu dari mereka yang memiliki masa lalu kelam. Lalu, kenapa kita sudi menilai seseorang hanya dari masa lalunya? Sekali lagi, masa lalu untuk siapapun hanya sebatas kenangan dan pelajaran. Justru, sebaik-sebaik manusia adalah pada akhirnya. Seperti diriwayatkan, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, No. 6607).

 


Amalan itu ada yang jelek, ada yang bagus. Amalan yang sangat manusiawi lagi lumrah. Tapi, amalan yang terbaik ada pada akhirnya. Amalan yang dilakukan di akhir umur kita. Sebagai penentu atas balasan yang dihisab. Siapa yang beramal jelek lalu beralih beramal baik, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat. Sebaliknya, siapa yang berpindah dari iman menjadi kufur, maka ia dianggap murtad. Bisa jadi, seseorang yang dinilai buruk masa lalunya. Namun dalam batinnya kini, masih ada benih kebaikan dan istikomah bertindak baik. Maka di situlah, seseorang dapat meraih husnul khotimah, bukan suul khotimah.

 

Jangan pernah menilai seseorang dari masa lalunya. Cukup jadikan masa lalu sebagai hikmah dan pelajaran. Untuk terus bergerak dan bertindak baik di manapun. Mumpung masih ada waktu, masih ada umur yang tersisa. Agar menjadikan semua aktivitas sebagai ladang amal. Menebar manfaat dan kebaikan kepada orang lain.

 

Maka, janganlah menilai seseorang dari masa lalunya. Karena yang menjadi acuan adalah kesudahan seseorang saat meninggal dunia. Dalam keadaan baik atau buruk yang dilakukannya, bukan pada masa lalunya. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Apa Ada Taman Bacaan Hebat di Indonesia?

Saat ditanya, apakah ada taman bacaan hebat? Jawab saya tegas, tidak ada. Alasannya hanya dua. Satu, karena tidak ada teori paling benar di taman bacaan. Kedua, karena tidak perjuangan dan proses di taman bacaan yang selesai. Katika taman bacaan merasa selesai, maka di situlah taman bacaan “bangkrut” alias tidak dapat bertahan.

 

Lagi pula, apa ukuran hebat dan tidak hebatnya taman bacaan? Subjektif atau objektif. Maka di taman bacaan, yang ada adalah proses. Bagaimana taman bacaan berjuang untuk memberi manfaat kepada pengguna layanannya secara konsisten, dari waktu ke waktu. Taman bacaan yang tetap eksis karena kegiatan dan aktivitas yang berkelanjutan, sejak berdiri hingga sekarang. Bukan taman bacaan yang ramai saat ada event atau tamu doang.

 

Di mana pun, taman bacaan punya cara sendiri untuk bertahan. Punya strategi sendiri untuk berproses dan menebar manfaat kepada pengguna layanannya. Karena itu, tidak ada taman bacaan hebat. Yang ada taman bacaan yang dibesarkan oleh komitmen dan konsistensi dalam berproses. Berkegiatan literasi di taman bacaan. Tanpa label dan sebutan apapun. Itu saja sudah cukup.

 

Taman bacaan, sejatinya “dibesarkan” oleh kreativitas dan kolaborasi. Semakin kreatif maka semakin hidup. Semakin kolaborasi maka semakin eksis. Taman bacaan di mana pun tidak akan pernah bisa “survive” tanpa kolaborasi, tanpa sinergi dengan berbagai pihak di luar sana. Maka penting, taman bacaan selalu melayani dan berkolaborasi dengan para pihak yang peduli dan mau berbagi. Sambil tetap berproses kreatif saat berliterasi. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi anak-anak serta masyarakat di tengah gempuran era digital.

 

Sayangnya, proses di taman bacaan sering diabaikan. Karena tidak ada taman bacaan yang instan. Tidak ada yang “sekedipan mata” lalu mengaku hebat. Taman bacaan pasti pasang-surut, pasti punya harapan dan hambatan. Semuanya harus dijalani secara nyata. Silih bergantinya peluang dan tantangan adalah realitas taman bacaan. Karena taman bacaan adalah jalan, bukan tujuan.

 


Ketika taman bacaan berproses. Maka tujuan besar meningkatkan kegemaran membaca adalah fokusnya. Giat membaca sebagai substansi bukan seremoni. Literasi yang esensi, bukan sekadar narasi. Karena itu, siapapun yang ada di taman bacaan tidak pernah ditakdirkan untuk disukai semua orang. Pasti ada yang membenci, dengan alasan-alasannya sendiri. Taman bacaan sukses itu karena proses. Bukan seperti orang gagal yang banyak protes.

 

Maka pesan pentingnya, taman bacaan harus terus bergerak dan berkreasi dalam membuat program-aktivitas yang menarik dan menyenangkan. Terserah mau dibilang hebat atau tidak hebat. Taman bacaan harus lebih istiqomah (konsisten) dan selalu qonaah (bersyukur dan tidak boleh cepat puas). Orang-orang taman bacaan hanya diminta untuk ikhtiar baik dan doa baik. Bukan banyak berpikir, banyak diskusi dan seminar hingga lupa bertindak nyata untuk taman bacaan.

 

Dan tidak kalah penting, taman bacaan sangat pantas jadi ladang amal semua orang. Sebagai tempat eksekusi amal jariah secara sosial. Untuk menebar manfaat dan kebaikan kepada sesama. Agar segala sesuatu yang ada di muka bumi ini menjadi tersingkap ke arah yang lebih baik. Karena baik itu harus diciptakan, bukan ditunggu.

 

Literasi harus tahu, tidak ada taman bacaan hebat. Yang ada, taman bacaan yang berproses. Untuk membahas ini, silakan kunjungi www.tbmlenterapustaka.com.

Salam literasi. #TamanBacaan #HikmahTamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

 



Sabtu, 13 Mei 2023

Komunitas Ibu Muda Kunjungi Taman Bacaan, Apa Yang Dilakukan?

Sebagai bentuk kepedulian terhadap tradisi membaca anak-anak Indonesia, Komunitas Ibu Muda yang diwakili Kak Huma dan Kak Sita melakukan “story telling” dan donasi ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (14/5/2023). Selain bermain kuis, komunitas ibu muda yang gemar menulis ini membacakan buku di hadapan 60 anak pembaca aktif TBM Lentera Pustaka. Sambil memberi pemahaman arti penting membaca buku.

 

“Kami senang bisa kunjung ke TBM Lentera Pustaka sekaligus membacakan cerita sebuah buku. Selain mengingatkan pentingnya membaca buku, kami pun ikut peduli dan berbagi dengan anak-anak taman bacaan. Anak-anak kita harus semangat membaca pokoknya” ujar Kak Huma didampingi Kak Sita.

 

Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka didampingi wali baca dan relawan mewakili TBM Lentera Pustaka memberi apresiasi luar biasa kepada komunitas ibu muda atas kepeduliannya kepada aktivitas taman bacaan. Hal ini jadi bukti dukungan komunitas untuk meningkatkan kegemaran membaca anak. Khususnya dalam penyediaan akes bacaan seperti taman bacaan. Agar anak-anak mampu “mengerem” dari gempuran era digital.

 


Komunitas ibu muda yang penulis ini pun membagikan kue donat ke setiap anak. Di samping memberikan donasi ke TBM Lentera Pustaka sambil ramah tamah tentang ikhtiar membangun tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Ada pesan penting di balik kunjungan komunitas ibu muda ke TBM Lentera Pustaka. Bahwa anak-anak Indonesia memang didekatkan pada buku-buku bacaan. Selain dapat menambah ilmu pengetahuan, sekaligus menjadi sarana pembelajarana akhlak anak sejak dini.

 

Aktivitas taman bacaan dan literasi memang harus bersifat kolaboratif. Ada Kerjasama dan sinergi dari berbagai pihak. Demi tegaknya budaya membaca yang lebih masif di kalangan anak-anak Indonesia. Karena tanpa baca, bukan tidak mungkin masa depan merana. Salam literasi #KomunitasIbuMuda #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 



Pustaka Bergerak Indonesia Tegaskan Sebagai Komunitas Egaliter untuk Literasi

Sebagai ikhtiar dan kontribusi dalam membangun Republik Indonesia untuk mencerdaskan anak bangsa, Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) menyiapkan “Buku Komik Bergerak Membangun Republik dari Pelosok”, buku yang menyajikan cerita bergambar perjuangan pegiat literasi Indonesia dalam menyediakan akses bacaan ke pelosok-pelosok. Simpul Pustaka yang bergerak melalui lapak buku, perahu nusantara, kuda, pedati, mobil, motor, bahkan sepeda bernuansa kearifan lokal dari masing-masing daerah dituangkan ke dalam cerita bergambar. Selain untuk menyajikan kisah yang menarik anak-anak, buku komik ini juga mempelopori kisah-kisah berliterasi dengan segala hambatan dan tantangannya.

 

Komitmen PBI ini disepakati dalam acara “Halal Bihalal Maya” yang dihadiri 25 pegiat literasi di Indonesia (13/5/2023) sebagai sarana silaturahmi dan berbagi cerita tentang ikhtiar menyediakan akses bacaan kepada anak-anak Indonesia di berbagai negeri. Sekaligus memberikan update terkait pengembangan website: pustakabergerak.id yang menambahkan fitur komik, dan menyusul mempersilakan pegiat literasi di Indonesia untuk berkontribusi konten baik dalam bentuk artikel, cerota foto, maupun video. Pengembangan fitur website PBI ini digawangi oleh Gus Arinal dari Motor Listrik Pustaka Madura.

 

“Selain jadi media silaturahmi, halal bihalal maya Pustaka Bergerak ini sangat inspiratif. Karena semua pegiat literasi di berbagai daerah ikut nimbrung bercerita pengalamam dan saran baik dalam membangun republic ini melalui akses bacaan. Semoga buku komik kisah bergerak pegiat literasi di Indonesia bisa segera terwujud. Sebuah kontribusi untuk Indonesia yang lebih baik” ujar Nirwan Ahmad Arsuka, Pendiri Pustaka Bergerak Indonesia dalam penutupnya.

 


Sebagai karya kolaboratif, buku komik Bergerak Membangun Republik dari pelosok ini dipimpin Mas Fathul Rokhman dari Lombok. Karena itu, semua pegiat literasi yang menjalankan aktivitas bergerak menyediakan akses bacaan belalu berbagai cara dapat berkontribusi naskah cerita yang akan dijadikan komik. Ditulis kisahnya maksimal 500 kata dengan mengutamakan pesan utama, agar tidak terlalu banyak narasi. “Insya Allah nanti kami akan bantu untuk memvisualisasikan ke dalam komik atau cerita bergambar. Buku ini pasti menarik dan berguna untuk anak-anak Indonesia” kata Fathul Rokhman.

 

Seperti diketahui, Pustaka Bergerak Indonesia tahun 2023 ini telah menyalurkan bantuan dan hibah dari Dirjen Kebudayaan RI, Dana Indonesiana, dan LPDP berupa mobil pustaka, motor pustaka, perahu pustaka, kuda pustaka, rumah pustaka, dan sepeda pustaka ke pegiat literasi yang telah berkiprah bergerak membangun republik sebagai gerakan kewargaaan. Untuk Indonesia yang berbudaya dan berliterasi ke depan.

 

Melalui ajang ini pula, pegiat literasi menegaskan pentingnya Pustaka Bergeraka Indonesia tetap sebagai lembaga literasi yang bersifat egaliter, tanpa struktur organisasi resmi namun punya orientasi untuk terus bergerak membangun Republik Indonesia melalui buku-buku bacaan. Memerdekakan anak bangsa untuk punya tempat membaca sesuai amanat “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Bertumpu sebagai “para pencipta peristiwa” di berbagai daerah dalam bentuk aksi nyata bukan narasi, bergerak bukan berdiam diri.

 

PBI yakin tidak akan pernah ada minat baca tanpa ketersediaan akses bacaan yang memadai untuk anak-anak Indonesia. Karena itu, PBI hanya akan bergerak terus, bergerak lagi, dan bergerak saja. Hingga waktu dan manfaat yang membuktikannya suatu hari nanti. Seperti “harimau yang terus mengaum tanpa menghiarukan anjing yang menggonggong”.

 

Nantikan komik Bergerak Membangun Republik dari Pelosok untuk Indonesia. Salam bergerak #PustakaBergerakIndonesia #KomiPustaka #BergerakMembangunRepublik

Orang-orang yang Datang dan Pergi di Literasi, Kenapa?

Ini soal orang-orang yang datang ke taman bacaan. Untuk apa dan mau apa ke taman bacaan di zaman serba instan begini? Berkiprah di taman bacaan yang kian terpinggirkan. Sebuah “jalan terjal” pengabdian yang tidak lagi dilirik banyak orang. Taman bacaan yang hanya bergiat menegakkan kegemaran membaca dan budaya literasi masyarakat. Orang yang mau dan berani datang ke taman bacaan, untuk apa?

 

Orang-orang yang datang ke taman bacaan. Seperti yang terjadi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sejak lebaran tahun 2023, selalu saja ada orang-orang yang datang ke taman bacaan yang dikenal komprehensif ini. Mulai dari donatur buku, Pendiri Pustaka Bergerak Indonesia, hingga mahasiswa yang mau mengabdi di taman bacaan. Bahkan orang-orang yang datang kian bergiliran ke TBM Lentera Pustaka, seperti 1) Kepala Dinas Perpustakaan Kab. Badung Bali bersama 6 orang timnya (11 Mei 2023) untuk studi tiru taman literasi, 2) CR Community Manulife Indonesia untuk aksi sosial dan berdonasi (12 Mei 2023), 3) Komunitas Anak Muda Depok untuk bermain games dan membacakan buku (14 Mei 2023), 4) MNC Peduli menggelar Hari Buku Nasional (17 Mei 2023), dan 5) Peluncuran Motor Pustaka hibah PBI, Dirjen Kebudayaan RI, Dana Indonesiana, LPDP (21 Mei 2023), belum lagi BEM Faperta IPB yang sepanjang tahun 2023 ini menjadikan TBM Lentera Pustaka sebagai mitra pengabdian masyarakat.

 

Orang-orang yang datang ke taman bacaan. Sama sekali bukan perkara mudah. Kata seorang kawan yang pernah berkunjung ke TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, setidaknya membutuhkan biaya Rp. 110.000 untuk ongkos. Bila naik motor, paling minim meneguk 5 liter bensin. Sementara bi;a naik mobil pribadi paling tidak menghabiskan bensin Rp. 100.000 bila tidak macet. Biaya dan ongkos wajib keluar dari kantong , belum termasuk makan di jalan atau ngaso di kafe. Orang-orang yang datang ke taman bacaan, sekali lagi tidak mudah. Apalagi harus bertanya, untuk apa di taman bacaan?

 


Tapi ketahuilah, orang-orang yang datang ke taman bacaan memang digerakkan oleh hati. Bukan cuma "logika" semata. Soal sosial bukan material. Ibarat kata, hitung-hitungannya bukan bertumpu pada dunia tapi buat nanti, di akhirat. Sebuah kepedulian dan pengabdian atas nama kemanusiaan. Peduli kepada anak-anak yang membaca, anak-anak yang terancam putus sekolah. Mengabdi untuk kaum ibu yang masih dibelenggu buta aksara, dihantu praktik rentenir. Orang-orang yang datang ke taman bacaan memang langka. Karenam menoreh pengabdian di jalan yang sepi, sekalipun tidak bertepi.

 

Orang-orang yang mau dan berani datang ke taman bacaan. Bisa jadi, mereka itulah orang-orang baik di dekat kita. Selalu menyediakan waktu dan tenaga untuk berada di taman bacaan. Walau hanya menemani anak-anak membaca buku. Sekalipun di bawah sengatan terik matahari dan di bawah terpaan hujan tetap mau datang ke  taman bacaan. Sementara di luar sana, tidak sedikit orang "lari tunggang langgang" menjauh dari taman bacaan dan tempat. Maka orang-orang yang datang ke taman bacaan, selalu menempatkan akhlak dan adab di atas ilmu. Hati di atas logika.

 

Memang sudah biasa di taman bacaan, selalu ada yang datang dan pergi. Tapi sangat luar biasa orang-orang yang mengabdi di taman bacaan. Maka di taman bacaan, kian terbukti. Hanya "orang yang tepat" yang akan tetap tinggal bersama taman bacaan. Hanya orang yang punya hati mau dan berani mengabdi di taman bacaan.

 

Sampai suatu saat nanti, kita bertanya. Di mana kita selama ini? Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #PegiatLiterasi




Jumat, 12 Mei 2023

Ganti Gaya Saja Sekarang, Gimana?

Ada yang rambut Panjang dipotong jadi pendek. Ada p[ula yang mengubah hidung-nya agar lebih menarik. Bahkan, ada di antara kita yang tadinya banyak omong. Lalu, kini berubah jadi pendiam alias tidak lagi banyak omong. Ganti gaya saja, jangan begitu-begitu melulu.

 

Ganti gaya itu berubah. Mengubah dari yang sebelumnya menjadi seperri sekarang yang berbeda. Apapun alasannya, ganti gaya saja. Agar lebih terlihat menarik, lebih segar atau apapun. Karena ganti gaya berarti mau dan berani berubah. Berubah menjadi lebih baik, kenapa tidak? Jadi, ganti gaya saja.

 

Ganti gaya kan bisa apa saja. Berubah gaya hidup dari yang glamour jadi sederhana. Ganti gaya dari boros jadi lebih hemat. Berubah dari tidak bisa apa-apa jadi punya keterampilan. Berubah dari hidup yang tidak manfaat jadi lebih bermanfaat untuk orang lain. Ganti gaya dalam hidup untuk lebih baik, lebih manfaat. Memang tidak mudah, namun harus diperjuangkan. Berubah dalam proses, ganti gaya dalam bersikap. Jangan begini-begini saja atau begitu-begitu saja.

 

Katanya ujian hidup makin banyak. Katanya lagi rintangan pun selalu menghadang. Cobaan makin bertebaran di mana-mana. Maka, ada baiknya untuk berubah mumpung belum terlambat. Ganti gaya saja, biar nggak begitu-begitu melulu. Cuma bingung, mau ganti gaya gimana lagi? Apa yang harus diubah?

 

Nah, ini penting. Ganti gaya tidak selalu bersifat fisik. Berubah pun bukan hanya jasmani. Tapi ganti gaya untuk mentalitas. Berubah ke arah ruhaniah. Ganti gaya untuk dua poros kehidupan yang penting. Yaitu “sabar dan syukur”. Ganti gaya saja untuk lebih sabar dan bersyukur. Berubah menjadi lebih sabar dan syukur. Sabar dan syukur yang selalu bergantian, bahkan beriringan dalam kehidupan siapapun.

 

Sabar, mampu menahan diri dari apapun. Sabar dalam kesulitan dan kesedihan. Bahkan tetap sabar dari segala sesuatu yang tidak disukai dan dibenci. Entah akibat perbuatan orang lain atau karena diri sendiri. Sabar dalam taat, sabar dalam maksiat, dan sabar saat menghadapi takdir-Nya. Tetap dan perbanyak sabar dalam kondisi apapun.

 

Syukur, untuk berterima kasih atas segala sesuatu yang diperoleh. Mengakui atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT. Tidak perlu keluh-kesah apalagi menyalahkan siapapun. Bersyukur bisa seperti sekarang, bersyukur pada setiap keadaan. Selalu bersyukur atas atas karunia yang dianugerahkan Allah SWT.  Tetap dan perbanyak syukur, dalam keadaan apapun dan dimanapun.

 


Saat sabar dan syukur jadi prioritas, maka segala urusan menjadi lebih baik. Apabila mendapatkan kesenangan, bersyukur. Dan apabila tertimpa kesusahan, tetap bersabar, Maka sabar dan syukur akan memberikan kebaikan [HR Muslim: 2999]. Saat sabar dan syukur, siapapun akan eling dan waspada. Untuk selalu “melihat ke bawah”, bukan “menengok ke atas”. Agar tidak meremehkan nikmat Allah SWT yang terlimpahkan untuk kita [HR. Muslim: 2963].

 

Hari-hari begini, banyak orang merasa paling menderita. Tidak sedikit yang merasa susah dan sulit dalam hidup. Bahkan ada yang menuding orang lain sebagai biang kerok, lalu mentalitasnya merasa “korban” akibat perbuatan orang lain. Sama sekali tidak, yang ada hanya tidak sabar dan tidak bersyukur. Silakan saja singgah ke rumah sakit atau ke kolong jembatan. Maka sabar dan syukur akan menyeruak ke kepala tiap anak manusia.

 

Jadi, ganti gaya saja sekarang. Berubahlah dalam hidup. Untuk lebih sabar dan syukur. Karena setiap kejenuhan bersabar pasti akan berganti limpahan rasa syukur. Sebab itu, bila sudah lelah banyak bersabar. Bila merasa kurang, ucapkan syukur. Ganti gaya dengan sabar dan syukur, itu sudah cukup.

 

Ketika sabar dan syukur, maka siapapun tidak akan pernah menjadi “tawanan” dari masa lalu atau menyalahkan siapapun. Sebab ada sabar dan syukur dalam dada. Salam literasi!