Tampilkan postingan dengan label hikmah kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah kehidupan. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Juni 2023

Literasi di Taman Bacaan, Pasti Ada Kebaikan di Balik Musibah

Untuk siapapun, terkadang tertimpa takdir yang menyakitkan. Harus menerima takdir yang tidak disukai. Merasa sedih, bahkan mengira bahwa takdir itu menjadi pukulan yang akan memusnahkan harapan hidup dan cita-citanya. Ternyata tidak, justru di balik takdir yang tidak disukai. Ada kebaikan yang begitu banyak yang tidak diketahui. Di balik pukulan hidup, ternyata Allah SWT memberikan kebaikan kepadanya dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.

 

Sebaliknya, tidak sedikit orang yang berusaha kelihatannya baik-baik saja, berjuang mati-matian untuk mendapatkan nafsu dunianya. Seolah telah berbuat baik padahal hanya “bungkus” semata, bercerita kemana-mana merasa dizolimi padahal hanya ekspresi bermentalitas”korban”. Setiap yang dilakukan, bisa jadi tidak ada kebaikan sedikitpun. Apa yang dinyatakan sama sekali berbeda dengan faktanya..


Sungguh pada takdir yang tidak disukai, ada kebaikan yang tidak diketahui.

Maka penting, belajar husnudzon mulai sekarang. Apa yang terjadi tidak seperti yang kita lihat, bahkan tidak seperti yang kita omongkan. Bila mau direnungkan, sungguh di setiap apa yang telah Allah SWT takdirkan untuk hamba-hamba-Nya, di dalamnya terdapat hikmah dan maslahat tertentu. Ada banyak kebaikan yang kita tidak ketahui. Maka saat tertimpa takdir buryk atau musibah, wajib hukumnya berprasangka baik kepada-Nya. Sudah sepantasnya meyakini, bahwa apapun yang kita alami akan membawa kebaikan bagi kita, di dunia maupun di akhirat. Minimal dengan musibah yang terjadi, sebagian dosa kita diampuni oleh Allah SWT.

 


“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216). Oleh karena itu, lihatlah takdir ini dengan kacamata nikmat dan rahmat. Tetap sabar sambil berprasangka baik kepada-Nya. Tidak perlu menyalhakan orang lain, apalagi mengintimidasi lalu berkata-kata buruk yag tidak ada faedahnya.

 

Pada takdir yang tidak disukai, ada kebaikan yang tidak diketahui. Persis jangan pernah mencela angin, karena angin itu hanya berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki dan diperintahkan oleh Allah SWT. Sama sekali tidak perlu mengumpat atau mencaci-maki apabila melihat suatu hal yang tidak menyenangkan.  

 

Berdoalah, “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang untuknya Kau perintahkan ia, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan yang untuknya Kau perintahkan ia.” (HR. Tirmidzi).

 

Seperti yang dialami Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Di balik cobaan dan musibah yang terjadi, justru ada kebaikan yang begitu banyak dianugerahkan Allah SWT. Donasi buku melimpah, orang-orang baik datang dan berdonasi dana, hingga mendapat motor pustaka dan sepeda baca listik. Dan masih banyak lainnnya, hingga kini TBM Lentera Pustaka tetap bergerak menegakkan tradisi membaca dan budaya literasi masyarakat. Karena yakin, ada kebaikan di dalamnya. Sebagai ladang amal bagi semua orang.

Maka patut direnungkan siapapun. Pada takdir yang tidak disukai, ada kebaikan yang tidak diketahui. Pasti ada kebaikan di balik musibah yang dialami. Salam literasi!

Senin, 15 Mei 2023

BIla Orang Lain Buruk, Apa Kita Baik?

Entah kenapa, hari ini banyak orang gemar membicarakan masa lalu seseorang? Katanya ber-akhlak tapi senang membahas sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Lupa ya, masa lalu itu hanya kenangan. Sudah terlewati dan tidak lagi berpengaruh di hari ini. Maka simpan saja masa lalu sebagai pelajaran. Untuk masa depan yang lebih baik.

 

Jangan pernah menilai seseorang dari masa lalunya. Apa karena orang lain masa lalunya jelek, lalu kita baik? Atau karena kita senang bergaul dengan orang-orang yang gemar bergosip bahkan bergibah? Memangnya, kita membantu apa pada mereka. Terus bila masa lalu seseorang buruk, apa kita pasti baik? Kita menjelek-jelekkan masa lalu orang lain. Tapi kita sendiri hanya bicara dan berpikir yang jelek tanpa mampu berbuat yang baik secara nyata, kok bisa? 

 

Manusia sering lupa. Sejatinya, hampir semua manusia pasti memiliki masa lalu yang kelam. Jauh dari sunnah Allah SWT, jauh dari hidayah, bahkan terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista. Bukankah banyak sahabat Rasulullah yang dahulunya pelaku kemaksiatan, peminum khamar, penjudi bahkan pelaku kesyirikan? Akan tetapi, tatkala cahaya hidayah menyapa mereka. Jadilah, mereka sebagai generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.

 

Maka bisa jadi, kita adalah salah satu dari mereka yang memiliki masa lalu kelam. Lalu, kenapa kita sudi menilai seseorang hanya dari masa lalunya? Sekali lagi, masa lalu untuk siapapun hanya sebatas kenangan dan pelajaran. Justru, sebaik-sebaik manusia adalah pada akhirnya. Seperti diriwayatkan, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, No. 6607).

 


Amalan itu ada yang jelek, ada yang bagus. Amalan yang sangat manusiawi lagi lumrah. Tapi, amalan yang terbaik ada pada akhirnya. Amalan yang dilakukan di akhir umur kita. Sebagai penentu atas balasan yang dihisab. Siapa yang beramal jelek lalu beralih beramal baik, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat. Sebaliknya, siapa yang berpindah dari iman menjadi kufur, maka ia dianggap murtad. Bisa jadi, seseorang yang dinilai buruk masa lalunya. Namun dalam batinnya kini, masih ada benih kebaikan dan istikomah bertindak baik. Maka di situlah, seseorang dapat meraih husnul khotimah, bukan suul khotimah.

 

Jangan pernah menilai seseorang dari masa lalunya. Cukup jadikan masa lalu sebagai hikmah dan pelajaran. Untuk terus bergerak dan bertindak baik di manapun. Mumpung masih ada waktu, masih ada umur yang tersisa. Agar menjadikan semua aktivitas sebagai ladang amal. Menebar manfaat dan kebaikan kepada orang lain.

 

Maka, janganlah menilai seseorang dari masa lalunya. Karena yang menjadi acuan adalah kesudahan seseorang saat meninggal dunia. Dalam keadaan baik atau buruk yang dilakukannya, bukan pada masa lalunya. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka